Pengaruh Karakteristik Pekerja dan Konsentrasi Debu terhadap Gangguan Faal Paru pada Pekerja Industri Pakan Ternak Medan Tahun 2010

Gratis

1
34
83
2 years ago
Preview
Full text

PENGARUH KARAKTERISTIK PEKERJA DAN KONSENTRASI DEBU TERHADAP GANGGUAN FAAL PARU PADA PEKERJA DI

  S ) Tanggal Lulus : 25 Juli 2011 Telah diuji Pada Tanggal : 25 Juli 2011PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Prof. Sc : 1.

3. Eka Lestari Mahyuni, S.K.M, M.Kes

PERNYATAAN PENGARUH KARAKTERISTIK PEKERJA DAN KONSENTRASI DEBU TERHADAP GANGGUAN FAAL PARU PADA PEKERJA DI

INDUSTRI PAKAN TERNAK MEDAN TAHUN 2010 TESIS

  Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dansepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalamnaskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik pekerja(masa kerja, lama kerja, kebiasaan merokok, alat pelindung diri) dan konsentrasi debu terhadap gangguan faal paru di industri pakan ternak tahun 2010.

KATA PENGANTAR

  Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat karuniaNya penulis telah dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “P engaruh Karakteristik Pekerja dan Konsentrasi Debu terhadap Gangguan Faal Paru pada Pekerja Industri Pakan Ternak Medan Tahun 2010 ”. M selaku anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak membantu dan meluangkan waktu dan pikiran serta dengan penuh kesabaranmembimbing penulis dalam penyusunann tesis ini.

RIWAYAT HIDUP

  Gold Coin Indonesia terlihat potensi konsentrasi debu yang tinggi terhadap pekerja seperti paparan debu di area penggilingan jagung, sehingga dapat menyebabkanpekerja menderita gangguan faal paru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik pekerja(masa kerja, lama kerja, kebiasaan merokok, alat pelindung diri) dan konsentrasi debu terhadap gangguan faal paru di industri pakan ternak tahun 2010.

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Penyakit ini menyebabkan kelainan ventilasi berupa gangguan obstruksi saluran nafas yang disebabkan oleh bronkitis kronik dan atau emfisema obstruksisaluran nafas yang berlangsung progresif dan dapat bersamaan dengan keadaan hiperekatifitas (Umar, 2003). Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menganalisis pengaruh karakteristik pekerja dan konsentrasi debu terhadap gangguan faal paru pada pekerjadi industri pakan ternak.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Debu

2.1.1. Definisi Debu

  Partikel-partikel debu yang dapatdilihat oleh mata adalah yang berukuran lebih besar dari 10 µm, sedangkan yang berukuran kurang dari 5 µm, hanya dapat dideteksi oleh mata bila terdapat pantulancahaya yang kuat dari partikel debu tersebut. Debu juga dapat mengakibatkan gangguan pernafasan bagi pekerja pada industri- industri yang berhubungan dengan debu pada proses produksinya.

2.1.2. Sifat-sifat Debu

  Sifat listrik statisDebu mempunyai sifat listrik statis yang dapat menarik partikel lain yang berlawanan. Sifat optisDebu atau partikel basah atau lembab lainnya dapat memancarkan sinar yang dapat terlihat dalam kamar gelap.

2.1.3. Klasifikasi Debu

  Secara garis besar, ada tiga macam debu, yaitu: 1. Debu organik seperti debu kapas, debu daun-daunan tembakau dan sebagainya 2.

3. Debu metal, seperti timah hitam, mercuri, Cadmiun, aseton dan lain-lain (Depkes RI, 2003)

  − Tidak termasuk inert dust dan poliferatif dustKelompok debu ini merupakan kelompok debu yang tidak tahan di dalam paru, namun dapat menimbulkan efek iritasi yaitu debu yang bersifat asamatau asam kuat. Selain dapat membahayakan terhadap kesehatan juga dapat mengganggu daya tembus pandang mata dan dapat mengadakan berbagai reaksi kimia sehinggakomposisi debu di udara menjadi partikel yang sangat rumit karena merupakan campuran dari berbagai bahan dengan ukuran dan bentuk yang relatif berbeda-beda(Pujiastuti, 2000).

2.1.6. Nilai Ambang Batas

  Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 261/MENKES/SK/II/1998 tanggal 27 Februari 1998, Lampiran II Tentang Persyaratan Kesehatan LingkunganKerja Industri, kandungan debu total maksimal dalam udara ruangan dalam 3 pengukuran rata-rata 8 jam adalah 10 mg/m .

2.2. Anatomi Pernafasan Manusia

  Laring Laring atau tenggorok merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara yang terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakea dibawahnya. ParuParu-paru mengisi rongga dada, terletak di sebelah kanan dan kiri dan di tengah dipisahkan oleh jantung beserta pembuluh darah besarnya dan struktur lainnyayang terletak di dalam mediastinum Paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung (gelembung hawa atau alveoli).

2.2.1. Fisiologi Saluran Pernapasan Fungsi paru-paru ialah pertukaran gas oksigen dan karbondioksida

  Kerja inspirasi dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu (1) Sesuatu yang dibutuhkan untuk pengembangan paru dalam melawan daya elastisitas paru dan dada, yaitu kerja compliance atau kerja elastis, (2) Sesuatu yang dibutuhkan untuk mengatasi viskositas jaringan paru dan struktur dinding dada, disebut kerja resistensi jaringan, (3) Sesuatu yang dibutuhkan untuk mengatasi resistensi jalan napas selama udara masuk ke dalam paru, disebut kerja resistensi jalan napas (Cleimens dan Soetjipto,1995). Kerja ekspirasi dapat dibagi menjadi tiga stadium, yaitu (1) Ventilasi, yaitu masuknya campuran gas-gas ke dalam dan keluar paru-paru, (2) Transportasi, yangterdiri dari beberapa aspek yaitu difusi gas-gas antara alveolus dan kapiler paru-paru dan antara daerah sistemik da sel-sel jaringan, distribusi darah dalam sirkulasipulmoner dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus dan reaksi kimia dan fisik dari oksigen dan karbondioksida dengan darah.

2.2.2. Kapasitas Paru dan Kapasitas Vital Paru

  Nilainya diukur dengan menyuruh individu melakukan inspirasi maksimum, kemudianmenghembuskan sebanyak mungkin udara di dalam parunya ke alat pengukur, dan terdiri dari: Kapasitas inspirasi yaitu jumlah udara yang dapat dihirup oleh seseorang, dimulai pada tingkat ekspirasi normal dan pengembangan paru sampai jumlah maksimum(kira-kira 350 ml) b. Ini adalah jumlah udara maksimum yang dapat dikeluarkan seorang dariparu, setelah terlebih dahulu mengisi paru secara maksimum dan dikeluarkan sebanyak-banyaknya (kira-kira 4600 ml) Menurut Al Sagaff dkk (2000), VC merupakan refleksi dari kemampuan elastisitas jaringan paru, atau kekakuan pergerakan dinding toraks.

2.2.3. Nilai Normal Faal Paru

  Nilai normal faal paru antara wanita dan pria berbeda, hal ini dapat dilihat pada tabel mengenai kapasitas pernafasan yang bisa dilakukan. Sumber : Milos (1991) Pada uji fungsi paru yang perlu diperhatikan atau yang mempengaruhi pemeriksaan adalah umur, tinggi badan, dan terutama kebiasaan merokok (Al Sagaffdkk, 2000).

VEP1/KVP DLCO

VO2 Max Kategori (kapasitas vital (% pred) (%) (% pred.) (ml/kg/ml) paksa) Normal≥ 80 ≥ 80 ≥ 75 ≥ 80 ≥ 25 Ringan 60 – 79 60 – 79 60 – 74 60 – 79 16 – 24Sedang 51 – 59 41 – 59 41 – 59 41 – 59 16 – 24Berat ≤ 50 ≤ 40 ≤ 40 ≤ 40 ≤ 15 Sumber : Milos( 2001)

2.3. Gangguan Faal paru

  Gangguan fungsi paru adalah gangguan atau penyakit yang dialami oleh paru- paru yang disebabkan oleh berbagai sebab, misalnya virus, bakteri, debu maupunpartikel lainnya. Penyakit-penyakit pernapasan yang diklasifikasikan karena uji spirometri ada 2 macam, yaitu penyakit-penyakit yang menyebabkan gangguanventilasi obstruktif dan penyakit-penyakit yang menyebabkan ventilasi restriktif (Guyton, 1995).

2.3.1. Penyakit Paru-paru

  Penyakit Paru-paru Obstruktif Menahun (PPOM) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lamadan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara (Suyono, 1995). Bronkitis kronik Bronkitis kronik merupakan suatu gangguan klinis yang ditandai oleh pembentukan mukus yang berlebihan dalam bronkus dan bermanifestasi sebagaibatuk kronik dan pembentukan sputum selama sedikitnya 3 bulan dalam setahun.

2.3.2. Penyakit Pernapasan Restriktif

  Respons yang terjadi terhadap infeksi atau jejas radang pada paru, secara klinis terkait dengan batuk, sesak napas, dan sering dengan infeksi paru yang baru,hubungan etiologi lain adalah toksin terinhalasi, obat, dan penyakit vaskuler- kolagen. g.hemoragi paru difus Komplikasi yang serius pada beberapa penyakit paru interstisial, terutama yang disebut sindrom paru hemoragik, termasuk dalam penyakit ini adalah sindrom goodpasture, hemosiderosis pulmonal idiopatik dan pendarahan yang berkaiatan dengan vaskulitis.

2.4. Karakteristik Pekerja

  Fungsi paru yang ditampilkan dalam kapasitas vital paru dan daya fisik berubah-ubah akibat sejumlah faktor karakteristik pekerja yaitu usia, jenis kelamin,ukuran paru, lama bekerja, kelompok etnik, tinggi badan, kebiasaan merokok, toleransi latihan, kekeliruan pengamat, kekeliruan alat, dan suhu lingkungan sekitar (Harrington, 2005). Secara faali pada orang usia lanjut terjadi peningkatan volume udara residual di dalam saluran udara paling perifer akibat dari disfungsi serabut elastik alveolus dan bronchiplus terminal,karena kapasitas paru total sifatnya konstan, maka meningkat volume udara residual akan berakibat menurunnya udara melalui respirasi maksimal, sehinggamengakibatkan kapasitas vital tidak optimal (Sanusi, 1996).

2.5. Alat Pelindung Pernafasan

2.5.1. Definisi Alat Pelindung Pernafasan

  Alat pelindung diri ini tidaklah secara sempurna dapat melindungi tubuhnya tetapi akan dapat mengurangi tingkatkeparahan yang mungkin terjadi (Budiono, 2003) Perlindungan tenaga kerja melalui usaha-usaha teknis pengamanan tempat, peralatan dan lingkungan kerja adalah sangat perlu diutamakan. Alat pelindung pernafasan adalah bagian dari alat pelindung diri yang digunakan untuk melindungi pernafasan terhadap gas, uap, debu, atau udara yangterkontaminasi di tempat kerja yang dapat bersifat racun ataupun korasi.

2.5.2 Jenis Alat Pelindung Pernafasan

  Macam-macam masker di bedakan atas: (1) Masker penyaring debu yang berguna untuk melindungi pernafasan dari sebuk logam penggerindaan,penggergajian atau serbuk kasar lainya; (2) Masker berhidung berguna untuk menyaring debu atau benda sampai ukuran 0,5 mikron; dan (3) Masker bertabungyang mempunyai filter yang lebih baik dari pada masker berhidung dan sangat tepat di gunakan untuk melindungi pernafasan dari gas tertentu (Horrington,2005). Alat ini dapat di bedakan atas : (1) Respirator pemurni udara yangberfungsi untuk membersikan udara dengan cara menyaring atau menyerap kontaminan dengan toksinitas rendah sebelum memasuki sistem pernafasan; (2)Respirator penyalur udara yang berfungsi untuk membersikan aliran udara yang tidak terkontaminasi secara terus menerus dan digunakan di tempat kerja yangterdapat gas beracun atau kekurangan oksigen (Horrington, 2005).

2.6. Landasan Teori

  Gangguan fungsi paru adalah gangguan atau penyakit yang dialami oleh paru- paru yang disebabkan oleh berbagai sebab, misalnya virus, bakteri, debu maupunpartikel lainnya. Penelitian Asep Irfan (2003) menunjukan bahwa; (1) Kadar debu kayu yang melebihi NAB berhubungan dan berpengaruh terhadap kejadian gangguan fungsiparu pada pekerja, (2) Responden dengan masa kerja ≥ 5 tahun mengalami gangguan fungsi paru sebanyak 34,2% dan 65,8% tidak mengalami gangguan fungsi paru.

2.7. Kerangka Konsep Penelitian

  Variabel Bebas Karakteristik Pekerja 2 Masa Kerja 3 Kebiasaan merokok Gangguan Faal Penggunaan APD Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian Karakteristik pekerja dan konsentrasi debu di lingkungan kerja akan berpengaruh terhadap gangguan faal paru pada pekerja di industri pakan ternak.

BAB 3 METODE PENELITIAN

  Peneliti juga mendapatkan informasi keluhan subjektif saluran pernafasan yang sering terjadi pada tenaga kerja berupa sesak nafas, batuk dan pilekbaik pada saat bekerja atau selesai bekerja. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kerja di bagian proses produksi PT.

3.3.1. Sampel

  Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi yang berjumlah 34 pekerja yang terdiri dari : bekerja di bagian packing (9 pekerja), drilling (7 pekerja), gudang(5 pekerja), mixer (6 pekerja) dan receiving (7 pekerja). Data sekunder dalam penelitian ini berupa daftar nama pekerja, masa kerja, lama kerja dan data-data lain yang diperlukan untuk menunjang penelitian.

3.5.1. Variabel a

Variabel bebas yaitu karakteristik pekerja yang meliputi masa kerja, lama kerja, kebiasaan Konsentrasi debu Variabel terikat yaitu gangguan faal paru

3.5.2. Definisi Operasional a

  Penggunaan APDYaitu alat pelindung yang digunakan untuk melindungi mulut & hidung dari dampak paparan debu, dinyatakan dalam bentuk skala pengukuran: 1 = memakai, jika tenaga kerja memakai masker selama bekerja atau selama berada di lingkungan kerja2 = tidak memakai, jika tenaga kerja tidak memakai masker selama bekerja atau selama berada di lingkungan kerjae. Konsentrasi debu yaitu jumlah debu yang terdapat di dalam ruangan proses produksi yang diukur dengan alat pengukur debu LVDS.

3.6. Metode Pengukuran a

Pengukuran konsentrasi debu di tempat kerja dengan menggunakan Low Volume Dust Sampler (LVDS), pada 5 titik dalam ruangan packing, drilling, gudang, mixer, dan receiving kemudian dibandingkan dengan standar Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor SE. 01/MEN/1997 tentang NAB faktor kimia di tempat kerja adalah 10 mg/m

3 Prosedur pengukuran konsentrasi debu menggunakan LVDS: (Lampiran 2)

  Penentuan titik sampling, yang ditetapkan 5 titik sampling yaitu; (1) titik pertama di tengah ruangan, dan (2) titik kedua, ketiga, keempat, dan kelimadi sudut areal ruangan proses produksi dan packing. Alat fiberglass dihubungkan dengan pompa penghisap udara kemudian diletakkan pada titik pengukuran di dekat tenaga kerja yang terpapar debudan filter dipasang kira – kira setinggi pernafasan tenaga kerja.

3.7 Metode Analisis Data

  Analisis Univariat Analisis yang dilakukan untuk mendiskripsikan variabel-variabel penelitian dalam bentuk tabel distribusi frekuensi seluruh variabel yang diteliti. Uji statistik yang digunakan untukmengetahui ada tidaknya hubungan antara karakteristik pekerja dengan 2 gangguan faal paru adalah uji statistik chi square ).

BAB 4 HASIL PENELITIAN

  Hubungan Karakteristik Pekerja dan Konsentrasi Debu dengan Gangguan Faal Paru Hasil pengukuran hubungan karakteristik pekerja (masa kerja, lama kerja, kebiasaan merokok, APD) dan konsentrasi debu yang ada pada 5 titik dalam ruangandengan gangguan faal paru pekerja dapat di lihat pada Table 4.4 dan Tabel 4.5. Pengaruh Karakteristik Pekerja dan Konsentrasi Debu terhadap Gangguan Faal Paru Hasil pengukuran pengaruh karakteristik pekerja dan konsentrasi debu terhadap gangguan faal paru dapat dilihat pada Tabel 4.6.

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1. Gangguan Faal Paru

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 34 pekerja, terdapat 13 (38,23%) pekerja yang memiliki faal paru normal dan 21 (61,77%) pekerja positif mengalamigangguan faal paru dengan rincian jumlah pekerja yang mengalami gangguan faal paru kategori obstriksi ringan sebanyak 6 pekerja (17,64%), kategori retriksi ringansebanyak 6 pekerja (17,64%), dan kategori campuran sebanyak 9 pekerja (26,49%). Penelitian Hendrawati dkk (2006) menunjukan bahwa; (1) masa kerja yang mempunyai kecenderungan sebagai faktor risiko terjadinya obstruktif pada pekerja diindustri yang berdebu lebih dari 10 tahun, (2) Responden yang menggunakan APD mengalami gangguan fungsi paru 19,0% dan 81,0% tidak mengalami gangguanfungsi paru, (3) Kebiasaan merokok merupakan faktor risiko untuk terjadinya gangguan fungsi paru.

5.2. Hubungan Karakteristik Pekerja dengan Gangguan Faal Paru

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 15 (65,2%) pekerja yang merokok positif mengalami gangguan faal paru dibandingkan pekerja yang tidakmerokok 6 (34,8%), Hal ini mengindikasikan bahwa kebiasaan merokok sambil bekerja di lingkungan penuh dengan debu akan mempercepat terjadi gangguan faalparu secara perlahan maupun permanen. Hasil penelitian dengan uji square menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan penggunaan APD dengan terjadinya gangguan-gangguan fungsi salurannafas dengan nilai p=0,042 (p<0,05), artinya bahwa semakin sering pekerja tidak menggunakan APD maka semakin besar kemungkinan untuk terjadi gangguan paru,karena tanpa pelindung mulut atau hidung akan memudahkan debu untuk masuk dan mengendap di paru-paru.

5.3. Hubungan Konsentrasi Debu dengan Gangguan Faal Paru

  Artinya bahwa gangguan faal paru pekerja disebabkan oleh adanya debu-debu dalam pabrik yang setiap hari dihirup oleh pekerja, sehinggaberdampak terhadap kemampuan dan kapasitas paru yang mengarah pada terjadinya gangguan-gangguan fungsi saluran nafas. Temuan penelitian menunjukkan berdasarkan dari aspek ventilasi keseluruhan ruangan pabrik belum memiliki ventilasi Menurut Yunus (1997), bahwa debu yang berukuran antara 5-10 mikron bila terhisap akan tertahan dan tertimbun pada sakuran nafas bagian atas; yang berukuran3-5 mikron tertahan dan tertimbun pada saluran nafas tengah.

5.4. Pengaruh Karakteristik Pekerja dan Konsentrasi Debu dengan Gangguan Faal Paru

  Fungsi faal paru yang ditampilkan dalam kapasits vital paru dan daya fisik berubah-ubah akibat sejumlah faktor karakteristik pekerja, yaitu masa kerja, lamakerja, usia, jenis kelamin, ukuran paru, kelompok etnik, tinggi badan, kebiasaan merokok, toleransi latihan, kekeliruan pengamat, kekeliruan alat, dan suhulingkungan sekitar (Harrington, 2005). Penggunaan APD berkaitan dengan banyaknya partikulat yang tertimbun di dalam organ paru akibat pencemaran yang dapat mengurangikemampuan fungsi paru sehingga dengan digunakannya APD maka akan dapat mencegah menumpuknya partikulat pencemar dalam organ paru sehingga akanmengurangi terjadinya penurunan fungsi faal paru.

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

  Gold Coin Indonesia di lima 3 lokasi yang diukur yaitu bagian packing sebesar 171,30 mg/m , driling sebesar 3 3 3 160,5 mg/m , gudang sebesar 166,70 mg/m , mixer sebesar 138,58 mg/m , dan 3receiving sebesar 181,40 mg/m 2. Gold Coin Indonesia adalah tidak mengalami gangguan faal paru (normal) yaitu sebanyak 13 pekerja(38,23%), sedangkan pekerja yang mengalami gangguan faal paru kategori obstriktif ringan sebanyak 6 pekerja (17,64%), faal paru kategori restriktif ringansebanyak 6 pekerja (17,64%), pekerja yang mengalami gangguan faal paru kategori campuran sebanyak 9 pekerja (26,49%), dan tidak ditemukan pekerjadengan gangguan faal paru kategori berat.

3. Karakteristik pekerja dan konsentrasi debu pada industri pakan ternak PT. Gold

  Coin Indonesia berpengaruh signifikan terhadap gangguan faal paru. Hasil uji regresi linier ganda diperoleh angka koefisien determinasi sebesar 0,611 yangberarti bahwa pengaruh antara karakteristik pekerja dan konsentrasi debu terhadap gangguan faal paru pekerja adalah kuat (nilai R > 0,5).

6.2. Saran 1

  Gold Coin diharapkan dapat menggunakan atau memasang instalasi udara seperti exhauster untuk mengurangi kadar debu dalam ruangan. Pendisiplinan penggunaan pelindung pernafasan jenis respirator yang berguna untuk menyaring debu sampai ukuran 0,5 mikron untuk pekerja yang bekerja dilokasi yang memiliki konsentrasi debu diatas NAB yaitu packing, drilling, gudang, mixer, dan receiving.

3. Pemberian sanksi berupa reward bagi pekerja yang mematuhi dan berkinerja baik serta punishment pada pekerja yang tidak menerapkan K

DAFTAR PUSTAKA

  Hubungan Paparan Debu Kayu dengan Keluhan Subjektif SaluranPernapasan dan Gangguan Ventilasi Paru pada Tenaga Kerja PT. Hubungan Kadar Debu Ambien dan Tindakan Berisiko dengan Gangguan Fungsi Saluran Nafas pada Pekerja Pabrik Kopi di Kabupaten Aceh Tengah.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (83 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Hubungan Paparan Partikel Debu dan Karakteristik Individu dengan Kapasitas Paru pada Pekerja di Gudang Pelabuhan Belawan
3
70
146
Pengaruh Karakteristik Pekerja dan Paparan Debu serta Kondisi Fisik Lingkungan Kerja terhadap Kapasitas Vital Paru Pekerja di PTP Nusantara III (Persero) PKS Rambutan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2013
7
65
168
Pengaruh Karakteristik Pekerja dan Konsentrasi Debu terhadap Gangguan Faal Paru pada Pekerja Industri Pakan Ternak Medan Tahun 2010
1
34
83
Pengaruh Keadaan Lingkungan Kerja, Karakteristik Pekerja dan Kadar Debu Kayu (PM10) terhadap Kapasitas Vital Paru Pekerja Industri Kecil Meubel Di Kota Banda Aceh Tahun 2010
9
76
120
Hubungan Karakteristik Pekerja Dengan Faal Paru Di Kilang Padi Kecamatan Porsea Tahun 2010
3
64
81
Hubungan Kadar Debu Dan Karakteristik Pekerja Dengan Gangguan Paru Pekerja Pada Unit Produksi Tablet Industri Farmasi X Tahun 2002
0
22
89
Analisis Upaya Pencegahan Teknis Dan Medis Dari Dampak Debu Terhadap Faal Paru Pekerja Penggilingan Padi Di Kecamatan Beringin Kabupaten Deli Serdang
0
38
100
Pengaruh Debu Padi Pada Faal Paru Pekerja Kilang Padi Yang Merokok dan Tidak Merokok
0
25
36
Pengaruh Debu Padi Pada Faal Paru Pekerja Kilang Padi Yang Merokok Dan Tidak Merokok
0
25
115
Pengaruh Konsentrasi PM2,5 dan Karakteristik Pekerja Terhadap Fungsi Paru pada Pekerja di Industri Penggilingan Padi Desa Tanjung Selamat Kecamatan Sunggal Tahun 2014
2
46
130
Pengaruh Karakteristik Pekerja dan Kualitas Udara terhadap Gangguan Pernafasan Pekerja di Pabrik Gula Sei Semayang Kabupaten Deli Serdang Tahun 2014
3
89
152
Analisis Perbedaan Gangguan Faal Paru Pada Pekerja Bagian Produksi Dengan Bagian Administrasi Akibat Paparan Debu Asap Di Pabrik Gula Malang
0
10
23
Hubungan faktor lingkungan dengan Gangguan Fungsi Paru pada Pekerja Unit II Pengolahan NPK di Industri PT.Petrokimia Gresik
0
5
13
Faal Paru Pekerja Pabrik Rokok Bagian Panel PT. Nojorono Tobacco International Kudus
0
1
72
BAB 1 PENDAHULUAN - Hubungan Paparan Partikel Debu dan Karakteristik Individu dengan Kapasitas Paru pada Pekerja di Gudang Pelabuhan Belawan
0
0
7
Show more