ANALISIS PERENCANAAN PEMBANGUNAN DALAM UPAYA PENGURANGAN KETIMPANGAN EKONOMI DI KABUPATEN JEMBER TAHUN 2006-2011

 9  49  108  2017-04-13 19:07:00 Report infringing document

TANDA PERSETUJUAN SKRIPSI

  Judul Skripsi : ANALISIS PERENCANAAN PEMBANGUNANDALAM UPAYA PENGURANGAN KETIMPANGANEKONOMI DI KABUPATEN JEMBER TAHUN 2006-2011 Nama Mahasiswa : Donny SuryanaNIM : 080810101001Jurusan : Ilmu Ekonomi dan Studi PembangunanKonsentrasi : Ekonomi RegionalTanggal Persetujuan : 24 Oktober 2012 Pembimbing I,Prof. I Wayan Subagiarta, SE, M.

JEMBER TAHUN 2006-2011

  Yang dipersiapkan dan disusun oleh:Nama : Donny SuryanaNIM : 080810101001Jurusan : Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Telah dipertahankan di depan panitia penguji pada tanggal: 13 Juni 2013 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima sebagai kelengkapan gunamemperoleh Gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Jember. Hasil penelitian kabupaten Jember terbagi dari 4 kuadran, yaitu kecamatan yang maju dan cepat tumbuh, kecamatan yang berkembang cepat, kecamatan yangmaju tetapi tertekan dan kecamatan yang relatif tertinggal.

PEMBANGUNAN DALAM UPAYA PENGURANGAN PERENCANAAN

  Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan DosenPembimbing kedua saya yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan, masukan, kritik, kesabaran, sertaarahannya yang sangat berarti bagi penulisan skripsi ini. Someone Special , Resti yang telah memberi perhatian dan kasih sayangnya, terima kasih atas kesabaran untuk menemani penulis mencari data dan atassemangat yang diberikan saat penulis menyelesaikan skripsi ini.

DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 8 Perhitungan Indeks Entrophi Theil Kabupaten Jember Tahun 2006 9. Lampiran 11 Perhitungan Indeks Entrophi Theil Kabupaten Jember Tahun 2009 12.

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat untuk mengelola semua sumber daya yang ada danmembentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dan sektor swasta guna menciptakan lapangan kerja baru serta mendorong perkembangan ekonomi dimanapada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seharusnya pembangunan tersebut selalu mengacu pengalaman pembangunan terdahulu dengan membuat perencanaan dan mengkoordinasikansegala kebutuhan mengenai pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Jember agar pembangunan dari tahun ke tahun berjalan secara simultan dan konsisten sertabermanfaat bagi kepentingan masyarakat Kabupaten Jember.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi

  Pembangunan ekonomi dipandang sebagai kenaikan dalam pendapatan perkapita dan lajunya pembangunan ekonomi ditunjukkan dengan menggunakantingkat pertumbuhan PDB untuk tingkat nasional dan PDRB untuk tingkat wilayah. Bedanya, pembangunan ekonomi hanya meliputi usaha suatu masyarakat untukmengembangkan kegiatan ekonomi dan mempertinggi tingkat pendapatan masyarakat, sedangkan pembangunan itu dalam pengertian yang paling mendasarharus mencakup masalah materi dan finansial dalam kehidupan masyarakat (Todaro, 2000).

2.1.2 Tujuan Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi

  Menciptakan keadaan yang dapat membantu pertumbuhan rasa harga diri melalui pembangunan sistem dan kelembagaan sosial dan ekonomi yang dapatmengembangkan rasa harga diri dan rasa hormat terhadap kemanusian. Mempertinggi tingkat penghidupan bangsa yaitu tingkat pendaptan dan konsumsi pangan, pelayanan kesehatan, pendidikan dan sebagainya melalui prosespembanguan ekonomi.

2.1.3 Teori Perencanaan Pembangunan Daerah

  Dengan demikian perencanaan pembangunan dapat diartikan sebagai suatu proses perumusan alternatif-alternatif atau keputusan-keputusan yang didasarkanpada data-data dan fakta-fakta yang akan digunakan sebagai bahan untuk melaksanakan suatu rangkaian kegiatan/aktivitas kemasyarakatan, baik yang bersifatfisik (material) maupun non fisik (mental dan spiritual), dalam rangka mencapai tujuan yang lebih baik. Selain itu Perencanaan Pembangunan Daerah harus mampumenentukan prioritas program dan kegiatan berdasarkan fakta dan data dari potensi daerahnya, serta harus mempunyai sumber daya yang mempunyai kemampuan yangbaik secara interdisipliner, sehingga koordinasi sekali lagi sangat diperlukan dalam pembuatan sebuah perencanaan pembangunan yang terintegrasi, tersinkronisasi, danmenyeluruh.

2.1.4 Pendekatan dalam Perencanaan Pembangunan

  Dengan demikian pendekatan regional (wilayah) melihat perbedaan fungsi ruang yang satu dengan ruang yang lainnya dan mengamatibagaimana ruang itu saling berinteraksi untuk diarahkan ke arah pencapaian efisiensi dan kenyamanan yang optimal demi kemakmuran daerahnya. Pendekatan regional (wilayah) memandang wilayah sebagai kumpulan bagian-bagian yang wilayah yang lebih kecil dengan potensi dan daya tarik yang sertadaya dorong yang berbeda-beda, yang mengharuskan mereka menjalin hubungan Perencanaan wilayah mencakup berbagai kehidupan yang komprehensif (satu sama lain saling bersentuhan), yang semuanya berawal dari upaya peningkatankehidupan masyarakat.

2.1.5 Indikator Pengukuran Pembangunan Regional

  Beberapa istilah yang muncul antaralain adalah (i) perbandingan pembangunan regional (ii) disparitas pembangunan, dan Sejumlah indikator yang dinilai representatif dipilih untuk mengukur kemajuan pembangunan sosial ekonomi. Target yang ditetapkan pada MDG akan dicapai melalui kebijakanpembangunan yang terukur dan dapat dievaluasi dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan pada MDGIs.

2.1.6 Teori Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan Perkapita Daerah

  Disini proses mendapat penekanan karena mengandung Peningkatan dari Produk Domestik Regional Bruto merupakan salah satu pemaknaan pembangunan tradisional, namun muncul kemudian sebuah alternativedefinisi pembangunan ekonomi yang lebih menekankan kepada peningkatan income per capita (pendapatan per capita). Dalam konteks pertumbuhan ekonomi daerah (rog) dapat dihitung dengan : Rog = (PDRBt-PDRBt-1) / PDRBt-1 x 100% Dimana :PDRBt : Produk Domestik Regional Bruto pada tahun tPDRBt-1 : Produk Domestik Regional Bruto pada satu tahun sebelum tahun tSedangkan pendapatan per kapita (Y) dihitung dengan : Y = PDRB / Jumlah Penduduk Dengan menggunakan angka-angka Produk Domestik Regional Bruto sebagai dasar ternyata pertumbuhan ekonomi pada masing-masing daerah sangat bervariasi.

2.1.7 Ketimpangan Pembangunan Antar Wilayah

  Oleh karena itu, untuk dapatmenghasilkan pembangunan ekonomi yang sebenar-benarnya dapat dirasakan oleh semua masyarakat, harus ada keberanian dari pemerintah daerah untuk mengubahcara pandang dan strategi pembangunan ekonominya ke arah yang lebih sehat dan kompetitif. 2.1.8 Tipologi Daerah Berdasarkan Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan Per Kapita Bila fakta tentang tingkat pertumbuhan ekonomi digabung secara sistematis dengan tingkat pendapatan per kapita maka akan diperoleh gambaran tentang poladan struktur perekonomian suatu daerah yang pada satu segi dapat dipergunakan untuk memperkirakan prospek pertumbuhan ekonomi daerah di masa mendatang(Sjafrizal, 1997).

2.2 Penelitian Terdahulu

  Hasil penelitianya adalah Berdasarkan tipologi Klassen, daerah/kecamatan di Kabupaten Masli (2007) dengan judul “Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten / kota di propinsiJawa Barat” menggunakan Tipologi Klassen, Indeks Williamson, Indeks EntropiTheil dengan hasil penelitian bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Jawa Barat selama tahun 1993-2006. Penelitian ini menggunakan Tipologi klassen, Indeks Williamson, IndeksEntrophi Theil dimana alat analisis tersebut digunakan untuk mengukur seberapa besar tingkat ketimpangan antar daerah dalam lingkup kecamatan di kabupatenjember sehingga dapat diketahui perencanaan pembangunan yang tepat untuk mengatasi permasalahan ketimpangan yang ada.

2.3 Kerangka Konseptual

  Perbedaan Potensi Sumber Daya Perbedaan Persebaran dan Kualitas Alam Sumber Daya ManusiaTingkat Ketimpangan Tipologi Daerah Pertumbuhan Ekonomi Daerah Indeks WilliamsonAnalisis Tipologi Klassen Kesejahteraan Masyarakat Indeks EntrophiTheil Pemerataan Pembangunan Korelasi Pearson Gambar 1.1 Kerangka Konseptual Dalam upaya pengurangan tingkat ketimpangan antar daerah dibutuhkan analisis perencanaan pembangunan. Upaya ini membutuhkan beberapa indikatoruntuk dianalisis seperti perbedaan potensi sumber daya di tiap-tiap daerah serta mengklasifikasi tiap-tiap daerah dengan menggunakan analisis tipologi klassenkemudian indeks Williamson dan indeks entropi theil digunakan untuk mengukur seberapa besar tingkat ketimpangan ekonomi di Jember.

BAB 3. METODE PENELITIAN

  3.2 Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada 31 Kecamatan di Kabupaten Jember melalui observasi dan penggunaan data sekunder untuk mengidentifikasi tingkatketimpangan antar daerah dan potensi sumber daya di tiap-tiap daerah (kecamatan) agar dapat dilakukan analisis lebih lanjut melalui perencanaan pembangunan. Dengan demikian, formulasi Indeks Williamson ini secara statistik dapat ditampilkan sebagai berikut:2 i n ( y Y ) ∑ i −n IW= Y Tingkat kabupaten/kota yi = PDRB perkapita di kecamatan iY = PDRB perkapita rata-rata kab/kota ni = jumlah penduduk di kecamatan in = jumlah penduduk di kab/kota Besar kecilnya ketimpangan PDRB perkapita antar kecamatan memberikan gambaran mengenai kondisi dan perkembangan pembangunan di wilayah kabupatenatau kota.

3.4.4 Korelasi Pearson dan Hipotesis Kusnetz

  Dalam penelitian ini analisis korelasi diperlukan untuk mengetahui hubungan antara variabel pertumbuhan ekonomi dengan variabel ketimpangan pendapatan(diukur dengan indeks Williamson dan indeks enthropi theil). Pengukuran korelasi ini untuk menguji hipotesis Kuznets.

3.4.5 Definisi Operasional

  Definisi Operasional bertujuan untuk memberikan batasan pengertian terhadap istilah yang digunakan dalam penelitian yang bertujuan untuk menghindarikesalahpahaman mengenai permasalahan yang dihadapi oleh penulis dengan pembaca. Indeks Ketimpangan Pembangunan Ekonomi diukur dengan menggunakan rumus Indeks Williamson dan Indeks Entropi Theil, dimana pendapatan diukurdengan menggunakan PDRB per kapita atas dasar harga konstan tahun 2000 untuk setiap kecamatan dari tahun 2006 sampai tahun 2010 di KabupatenJember.

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Kabupaten Jember

4.1.1 Keadaan Geografis

  Keberadaan Kabupaten Jember secara geografis memiliki posisi yang sangat strategis dengan berbagai potensi sumber daya alam yang potensial dan secarageografis terletak pada posisi 7°59’6’’- 8°33’56’’ Lintang Selatan dan 6°27’9’’-7°14’33 Bujur Timur. Bagian selatan dan tengah berbentuk dataran ngarai subur, dikelilingi pegunungan yang memanjang sepanjang batas utara dan timur, sertaSamudra Indonesia dan Pulau Nusa Barong yang merupakan cagar alam yang dimiliki Kabupaten Jember.

4.1.2 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Jember

  Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan gambaran kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia(SDM) yang dimiliki. Mulai publikasi tahun 2007 sampai 2012,Kabupaten Jember melakukan penghitungan PDRB dengan menggunakan tahun dasar 2000 dan harga-harga yang berlaku saat ini.

4. Inflasi 7,08 11,10 5,72 5,46 4,93

  Pada tahun 2011 merupakan tahun yang berkah bagi para petani di Jember dikarenakan kondisi cuaca yang kondusif untuk semua jenis tanaman baik tanamanpangan, hortikultura dan perkebunan. Hal iniditandai dengan berkembangnya mini market atau supermarket seperti indomaret dan alfamart di berbagai pelosok kecamatan dan pusat perbelanjaan seperti GoldenMarket, Carefour, Matahari, Nico dan Roxy.

4.1.3 Kependudukan Kabupaten Jember

  Petumbuhan alami penduduk menjadi faktorutama yang berpengaruh pada ekonomi di suatu wilayah karena menciptakan kebutuhan akan berbagai barang dan jasa. Dari 31Kecamatan di Kabupaten Jember yang mempunyai jumlah penduduk paling banyak pada tahun 2006-2009 adalah Kecamatan Bangsalsari, namun pada tahun 2010-2011kecamatan Sumbersari yang paling banyak.

4.1.4 Produk Domestik Bruto Per Kapita Tiap Kecamatan Kabupaten Jember

  25 19 20 21 22 23 24 27 26 17 28 29 30 31 PantiSukowonoKalisatJenggawahSemboroTempurejoAjungLedokomboArjasaSumberjambeJombangMayangMumbulsariSukorambiPakusariJelbuk 4.092,983.655,163.631,693.560,763.507,103.380,893.230,833.186,822.860,252.859,622.750,292.608,892.497,752.394,482.251,292.272,11 Pembangunan ekonomi baik dalam konteks negara maupun daerah kerapkali tidak merata dan mempunyai laju pertumbuhan yang berbeda. Beberapa daerahmencapai pertumbuhan cepat, sementara pertumbuhan daerah lain mengalami 18 16 Tabel 4.5.

4.2 Hasil Analisis Data

4.2.1 Hasil Analisis Tipologi Klassen

  Denganmenentukan rata-rata PDRB per kapita sebagai sumbu horizontal dan laju pertumbuhan ekonomi sebagai sumbu vertikal, sedangkan daerah per kecamatandibagi menjadi empat golongan yaitu kecamatan yang cepat maju dan cepat tumbuh(high growth and high income), kecamatan maju tapi tertekan (high income but low ), kecamatan yang berkembang cepat (high growth but low income) dan growth kecamatan yang relatif tertinggal (low growth and low income). Daerah yang diamati dalam penelitian ini merupakan kecamatan yang terdapat di Kabupaten Jember dengan pengklasifikasian menjadi empat kuadran, yaitu daerahcepat maju dan cepat tumbuh (High Growth and High Income), daerah maju tapi pertumbuhan ekonominya lambat (High Income but Low Growth), daerahberkembang cepat (High Growth but Low Income) dan daerah relatif tertinggal (LowGrowth and Low Income).

4.2.2 Hasil Analisis Indeks Williamson

  Sektorindustri pengolahan maupun sektor perdagangan, hotel dan restoran hanya berpusat pada kecamatan yang masuk dalam daerah yang memiliki fasilitas, sarana danprasarana memadai. Sedangkan di kecamatan yang masuk daerah yang tertinggal masih minim akan fasilitas, sarana dan prasarana.

4.2.3 Hasil Analisis Indeks Entropi Theil

  Karakteristik utama dari indeks Entropi Theil ini adalahkemampuannya untuk membedakan ketimpangan antar wilayah (between-region inequality ) dan menyediakan pengukuran ketimpangan secara rinci dalam sub unit geografis selama periode tertentu, sedangkan yang lebih penting ketika kita mengkaji gambaran yang lebih rinci mengenai ketimpangan spasial. Apabila ditarik kesimpulan maka hasil analisis dengan menggunakan indeks entropi theil menunjukkan tingkat ketimpangan yang rendah dan menunjukkandistribusi pendapatan cenderung lebih merata.

4.2.4 Korelasi Pearson dan Hipotesis Kuznets

  Untuk menghitung dan mengetahui tingkat signifikansi ini Berdasarkan hasil analisis perhitungan sebelumnya maka dapat dihitung korelasi antara pertumbuhan ekonomi dengan hasil analisis Indeks Williamson danindeks Entrophi Theil sebagai berikut : CorrelationsPertumbuhan Indeks Ekonomi Williamson Pertumbuhan Ekonomi Pearson Correlation 1 ,779 Sig. Kurva Hubungan antara Indeks Ketimpangan dengan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Jember Tahun 2006-2011 Adanya heterogenitas dan beragamnya karakteristik suatu wilayah menyebabkan adanya kecenderungan terjadi ketimpangan antar daerah dan antarsektor ekonomi suatu daerah.

4.3 Pembahasan

  Untuk mengetahui klasifikasi daerah (Kecamatan) yang terdapat di KabupatenJember didasarkan kepada dua indikator utama yaitu pertumbuhan ekonomi dan pendapatan atau PDRB per kapita. Dengan menentukan rata-rata PDRB per kapitasebagai sumbu horizontal dan laju pertumbuhan ekonomi sebagai sumbu vertikal, sedangkan daerah per kecamatan dibagi menjadi empat golongan yaitu kecamatanyang cepat maju dan cepat tumbuh (high growth and high income), kecamatan maju tapi tertekan (high income but low growth), kecamatan yang berkembang cepat (high growth but low income) dan kecamatan yang relatif tertinggal (low growth and low income ).

4.3.2 Analisis Indeks Williamson dan Analisis Entrophi Theil

  Hasil analisis Indeks Williamson dan Indeks Enthropi Theil yang semakin kecil atau mendekati nol menunjukkan ketimpangan yang semakin kecil atau dengankata lain makin merata, dan bila semakin jauh dari nol menunjukkan ketimpangan yang semakin lebar. Penelitian sebelumnya mengenai Indeks Williamson yang juga dilakukan olehSuryawati (2010) dalam makalahnya yang berjudul “Model PerencanaanPembangunan Wilayah Dalam Perspektif Klassen Tipology Menuju PembangunanWilayah Kabupaten Jember yang Komprehensif” menunjukkan Angka IndeksWilliamson yang menggunakan PDRB perkapita antar kecamatan di Jember selama2004-2007 adalah 0,071 dan dapat disimpulkan tingkat ketimpangan cenderung merata.

4.3.3 Analisis Korelasi Pearson dan Hipotesis Kusnetz

  Kabupaten Jember yang termasuk kategori wilayah yang berpenghasilan rendah hingga menengah tidak dapat memasukkan pengaruh-pengaruh terhadap perkembangan di masing-masing kecamatan secara individu sebab konsep pendapatan unit penduduk dan cakupan survei yang berbeda. Dengan semakin dikenalnya budaya suatu daerah dengan keunikan serta ciri khas yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesiaapalagi di luar negeri, maka potensi daerah di bidang budaya akan semakin berkembang dan mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan daerah.

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

  Masalah fundamental yang dihadapi oleh pemerintah Kabupaten Jember adalah kemiskinan dan ketimpangan, di mana ada kecenderungan bahwa ketimpangan inimeningkat sepanjang waktu. Ada daerah yang relatif maju yaitu KecamatanKaliwates, Sumbersari, Patrang dan ada daerah yang relatif tertinggal yaituKecamatan Kencong, Gumukmas, Silo, Umbulsari, Panti, Sukowono, Kalisat,Jenggawah, Semboro, Tempurejo, Ajung, Ledokombo, Arjasa, Sumberjambe,Jombang, Mayang, Mumbulsari, Sukorambi, Pakusari dan Jelbuk.

5.2 Saran

  Dengan adanya hal ini, diharapkan masyarakat yang tinggal di daerah sudah maju dapat menularkanketerampilan atau skill yang dimiliki terhadap masyarakat di daerah yang tertinggal. Bagi kecamatan yang termasuk daerah relatif tertinggal, diperlukan campur tangan pemerintah daerah dengan meningkatkan sarana transportasi, terutama / perdagangan barang dan jasa, karena dengan perdagangan perekonomian daerah tertinggal dapat “catch up” perekonomian daerah yang relatif lebih maju /berkembang.

DAFTAR PUSTAKA

  Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional antar kabupaten / kota di propinsi Jawa Barat . Kemiskinan, Ketimpangan dan Kebijakan Pembangunan.http://zuhrisaputrahutabarat.blogspot.com/2011/07/kemiskinan-ketimpangan- dan-kebijakan/.html [29 September 2012] Lampiran 1 Klasifikasi Kecamatan Berdasarkan PDRB per Kapita dan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2011No.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

ANALISIS PERENCANAAN PEMBANGUNAN DALAM UPAYA..

Gratis

Feedback