Pengendalian Kualitas Proses Pengemasan Pupuk Urea Di PT. Pupuk Kujang Cikampek

Gratis

21
73
70
2 years ago
Preview
Full text

Bab 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah PT. Pupuk Kujang adalah salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pembuatan

  Pada Salah satu metode yang bisa digunakan untuk meningkatkan mutu kualitas produk agar memiliki kesesuaian dengan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaanyaitu dengan menerapkan metode six sigma, six sigma adalah suatu metode yang memiliki tujuan untuk mengurangi cacat hasil produksi dan meminimalkan ongkosproduksi. b)Proses apa saja yang dapat menyebabkan menurunya kualitas proses pengemasan pupuk urea prill di PT Pupuk Kujang?c) Apakah pengendalian mutu proses pengemasan pada periode agustus 2013 Tujuan penelitian Dalam melakukan penelitian pengendalian kualitas menggunakan metode six sigma ini Tujuan yang ingin dicapai adalah:a) Mengidentifikasikan jenis cacat apa saja yang terjadi pada proses pengemasan di PT Pupuk Kujang.

b) Penelitian hanya dilakukan di bagian bagging di PT. Pupuk Kujang Cikampek

1.6. Sistematika Penulisan

Lembar PengesahanLembar PernyataanAbstrakLembar PeruntukanKata PengantarDaftar IsiDaftar TabelDaftar GambarDaftar Lampiran

Bab 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah Bagian ini berisikan tentang asal masalah dari apa yang akan diselesaikan dan metode apa yang dipilih untuk menyelesaikan permasalahan tersebut

  Bab 3 Kerangka Pemecahan Masalah Bab ini berisikan tentang kerangka pemecahan masalah (flowchart) yang digunakan untuk memecahkan permasalahan dan tentang cara-cara urutan yang sistematik di dalam memecahkan permaslahan. Pupuk Kujang Cikampek dan memberi saran yang bermanfaat atas hasil penelitian untuk peningkatan mutu dan kualitas dari produkyang dihasilkan.

Bab 2 Landasan Teori

  Pengertian Mutu Definisi mutu atau kualitas menurut para ahli dikemukakan secara berbeda akan tetapi memiliki maksud yang sama yang berarti mutu atau kualitas adalah tingkatbaik buruknya sesuatu; kadar, derajat atau taraf yang artinya secara bebas adalah standar sesuatu sebagai pengukur yang membedakan suatu benda dengan yanglainnya. Konsep dan Tujuan Pengendalian Mutu Pengendalian mutu merupakan suatu sistem kendali yang efektif untuk mengordinasikan usaha penjagaan kualitas, dan perbaikan mutu dari kelompok- Agar produk yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan oleh pengguna sebelumnya, sehingga dapat memuaskankonsumen didalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya.

2.4. Six sigma

  Ukuran 6 Sigma (six sigma) pada kurva normal mewakili tingkatan utilitas jumlah produk yang harus dalam kondisi baik dengan probabilitas 0,9999996660(probabilitas defect yang diijinkan berarti 1 - 0,9999996660), yang artinya hanya diijinkan jumlah produk yang cacat adalah 3,4 per satu juta produk. Atau dengankata lain enam Sigma adalah tingkatan yang setara dengan variasi proses sejumlah setengah dari yang ditoleransi oleh tahap desain dan dalam waktu yang samamemberi kesempatan agar rata-rata produksinya bergeser sebanyak 1,5 defiasi standar dari target.

2.4.3. Metrik dan Pengukuran Six sigma

  Tingkat Kecacatan Per Unit = Jumlah Cacat Yang Ditemukan/Jumlah Unit Yang Diproduksi Akan tetapi jenis pengukuran output seperti ini cenderung lebih berfokus pada produk akhir, buka pada proses yang menghasilkan produk tersebut. Dua proses yang berbeda bisa saja memiliki jumlah peluangkesalahan yang amat berbeda, sehingga menyulitkan perbandingan konsep.

2.4.4. Metodologi Six sigma

Didalam implementasinya metode six sigma memerlukan sejumlah tahap yang dikenal dengan DMAIC, yaitu:

1. Define Langkah awal dalam pelaksanaan metodologi six sigma adalah proses define

  Dimana manajemen perusahaan yaitu pimpinan-pimpinan perusahaan yang ingin mencoba six sigma, yang pertama perusahaan atau manajemen harusmengidentifikasi secara jelas problema-problema yang dihadapi. Define bertujuan untuk mengidentifikasi produk atau proses yang akan diperbaiki dan menentukan sumber-sumber (resources) apa yang dibutuhkan dalampelaksanaan proyek.

2. Measure

  Artinya dalamtahap ini kita harus mengetahui kegagalan atau cacat yang terjadi dalam produk atau proses yang akan kita perbaiki. Secara umum tahap Measure bertujuan untukmengetahui CTQ dari produk atau proses yang ingin kita perbaiki, selanjutnya mengumpulkan beberapa informasi dasar (baseline information) dari produk atauproses dan terakhir kita menetapkan target perbaikan yang kita ingin capai.

5. Control

  Pada tahap terakhir ini, manajemen harus mempertahankan perubahan-perubahan yang telah dilakukan terhadap variabel-variabel x dalam rangka melestarikan hasil(Y) yang senantiasa memuaskan pelanggan. Secara berkala manajemen tetap wajib membuktikan kebenaran sambil memantau proses kegiatan yang sudahdisempurnakan melalui alat-alat ukur dan metode yang telah ditentukan sebelumnya untuk menilai kapabilitas perusahaan.

2.5. Seven Tools

  Didalam membantu pelaksanaanya metode six sigma didalamnya terdapat alat-alat bantu yang bisa membantu memaksimalkan kegunaan metode tersebut, seven toolsadalah alat bantu yang bisa digunakan untuk memetakan suatu persoalan sengan cara menyusun data di dalam suatu diagram agar lebih mudah dimengerti dandipahami serta untuk mengetahui inti penyebab dari suatu permasalahan. 2.5.1 Check Sheet Lembar pengamatan adalah lembar yang digunakan untuk mencatat data produk termasuk juga waktu pengamatan, permasalahn yang dicari, dan jumlah cacat padasetiap permasalahan.

SCATTER DIAGRAM

90 80 70 60y 50it al

40 Qu

30 20 10 20 40 60 80 100 120Price Gambar 2.3 scatter diagram

2.5.3 Fishbone Diagram

  Diagram sebab akibat juga sering disebut ishikawa diagram karena diagram ini diperkenalkan oleh dokter Kaoru Ishikawa pada tahun 1943. Diagram ini terdiri darisebuah panah horizontal yang panjang dengan deskripsi masalah.

3. Menyediakan tampilan yang jelas untuk mengetahui sumber-sumber variasi

  Pareto Chart20.000 150,00% 15.000100,00% 10.00050,00% 5.0000,00% A B C Jumlah Cacat (unit) Persentase Cacat Kumulatif Gambar 2.5 Diagram Pareto 2.5.5 Stratifikasi Stratifikasi adalah suatu upaya untuk mengurai atau mengklasifikasi persoalan menjadi kelompok atau golongan sejenis yang lebih kecil atau menjadi unsur-unsurtunggal dari persoalan. 2.5.6 Histogram Histogram adalah diagram batang yang menunjukan tabulasi dari data yang diatur Menentukan apakah suatu produk dapat diterima atau tidak.

2.5.7 Control Chart

Peta kendali merupakan sekumpulan data yang ditulis dalam bentuk grafik dan digunakan unuk membuat penilaian status pengendalian kualitas pada sebuahproses produksi.X chart adalah jenis kontrol chart yang menggunakan angka rata-rata dari contoh yang diambil dari suatu paket produk output yang akan diukur variabel atau atribut Gambar 2.7 Peta Kendali

2.6. Istilah-Istilah Dalam Konsep Six sigma

  Dihitung menggunakan formula: DPO = banyaknya cacat atau kegagalan yang ditemukan dibagi dengan (banyak unit yang diperiksa dikalikan banyaknya CTQ potensial yang menyebabkan cacat atau kegagalan itu). Target dari pengendalian kualitas Six sigma sebesar 3,4 DPMO seharusnya tidak diinterprestasikan sebagai 3,4 unit output yang cacat dari sejuta unit output yang diproduksi, tetapi diinterprestasikan sebagai dalam satu unit produk tunggal terdapat rata-rata kesempatan untuk gagal dari suatu karakteristik CTQ (critical-to-quality) adalah hanya 3,4 kegagalan per satu juta kesempatan (DPMO).

2.7. Teori Kemasan

  Kemasan adalah suatu metode pemasaran yang digunakan dalam perindustrian untuk menjaga produk yang dikemas didalamnya agar mutu dan kualitasdidalamnya tetap terjaga sebelum sampai ditangan konsumen atau dipasarkan. Kemasan yang di desain dengan menarik secara langsung akan menarik perhatian konsumen untuk membeli produk yang berada di dalamnya.

Bab 3 Kerangka Pemecahan Masalah

3.1 Flowchart Pemecahan Masalah

  Kerangka pemecahan masalah (flowchart) yang digunakan untuk memecahkan permasalahan dan tentang cara-cara urutan yang sistematik di dalam memecahkanpermaslahan. Proses langkah-langkah dalam menyelesaikan permasalahan ini dibuat kedalam kerangka pemecahan masalah pada gambar dibawah ini.

1.2. Langkah-langkah Pemecahan Masalah

  Analyze Pada tahap analis ini dilakukan proses menganalisis dan mengidentifikasi menggunakan diagram sebab akibat (fishbone) untuk mengetahui faktor-faktor apasaja yang mempengaruhi cacat serta memberikan ususlan dan rekomendasi untuk dalam upaya peningkatan kualitas. Metode yang dipakai untuk tahap ini yaitu dengan menggunakan 5W + 1H (what, when, where, who, why, how).metode ini merupakan tahap selanjutnya dari diagram sebab akibat yang hasilnya telah diketahui pada tahap analyze.

2. When: kapan pelaksanaan perbaikan akan dilaksanakan 3

  Why: mengapa perbaikan perlu dilakukan dengan membandingan apakah hasil produk yang dihasilkan sesuai dengan standar perusahaan 6. Kesimpulan dan Saran Proses menarik kesimpulan dari proses penelitian secara keseluruhan yang didapatkan dari hasil menganalisis hasil dari pengolahan data yang telah dilakukanserta memberikan sara-saran yang bermanfaat bagi kemajuan persahaan.

Bab 4 Pengumpulan dan Pengolahan Data

4.1 Pengumpulan Data

4.1.1. Unit Produksi PT Pupuk Kujang

  PT Pupuk Kujang Cikampek dalam proses produksinya mulai dari bahan baku sampai produk yang siap dipasarkan memiliki 5 unit produksi yang saling berkaitandan bekerja sama didalam prosesnya. Unit Urea Amonia dan Karbondioksida yang diperoleh dari unit Amonia kemudian diproses di unit Urea.

4.1.2. Proses Produksi Urea Bahan baku utama dalam proses produksi urea adalah gas alam, air, dan udara

  Tahap selanjutnya kemudian gas yang terbentuk dari proses campuran gas dari CO2 dan NH3 dipisahkan untuk menjadi kemudian diolah menjadiamonia. Pada tahap keempat ini amonia yang terjadi pada unit dekomposisi maupun amonia yang didapatkan dari hasil rework diserap dan dikondensikansebagai umpan yang berguna untuk proses absurbent.

6. Pada tahap keenam kemudian urea yang telah dikristalkan kemudian dilelehkan mencapai titik lelehnya agar menjadi bentuk butiran urea

  Kemudian urea ada yang langsung dipasarkan dan ada yang disimpan dahulu kedalamgudang. Tahap terakhir untuk urea yang disimpan dalam gudang, sebelum urea tersebut siap untuk dikirimkan ke konsumen urea tersebut dipindahkan daridalam gudang kedalam truk melalui proses loading truk.

4.1.3. Proses Pengemasan Urea di Unit Bagging

   Sewing Machine memiliki kegunaan untuk menjahit karung yang akan digunakan sebagai kemasan urea. Accumulator Conveyor memiliki kegunaan untuk mengirim karung yang telah dijahit untuk diloading ke dalam truk atau disimpan didalam gudang. Alat Pada Bag handling system No Nama Alat 1 Accumulator Conveyor 2 Short Conveyor 3 Floor Conveyor 4 Over Head Conveyor 5 Stacking Unit Conveyor 6 Fork Lift 7 PalletSumber: Unit Bagging PT Pupuk Kujang Dari ketujuh alat diatas memiliki kegunaan dan cara kerjanya masing-masing yaitu: Accumulator Conveyor memiliki kegunaan untuk mengirim karung yang telah dijahit untuk diloading ke dalam truk atau disimpan didalam gudang.

4.1.4. Klasifikasi Produk Cacat Unit Bagging

  Klasifikasi Cacat Unit Bagging Nomor Jenis cacat 1 Kemasan Sobek 2 Jahitan kemasan terbuka 3 Berat timbangan tidak sesuaiTerdapat 3 jenis cacat yang diklasifikasikan oleh unit bagging diantaranya adalah kemasan yang sobek atau bolong, jahitan kemasan yang terbuka, dan berattimbangan yang tidak sesuai.  Kemasan sobek diantaranya dikarenakan kemasan yang bergesekan dengan mesin bagging pada saat proses pengemasan dan bergesekan dengan forklift pada saat pembongkaran gudang.

4.1.5. Data Produksi Urea dan Reject Urea Prill 50 Kg

Mei-14 41.693,90 833.878 88,07 1.760 Jun-14 38.435,00 768.700 62,73 1.254Jul-14 0,00 0,050,10 0,150,20 0,250,30 0,350,40 0,45 0,21 0,160,22 0,28 0,40 0,310,28 0,30 0,28 0,370,34 0,22 Dari tabel (4.5) diatas dapat dilihat bahwa masih terdapatnya produk cacat yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Pada gambar (4.4) dibawah ini akanditampilkan persentase cacat urea prill 50 kg periode September 2013 Agu-14 30.459,55 609.191 86,50 1.729 Total 425.721,27 8.531.289 1207,36 24.145 32.623,00 652.460 71,91 1.438 33.063,50 661.270 99,91 1.997 Feb-14 33.050,50 661.010 102,60 2.051 Mar-14 30.980,00 619.600 87,51 1.749Apr-14 39.901,50 798.030 161,45 3.229 Jan-14 37.963,00 759.260 82,50 1.649 Okt-13 40.043,00 800.860 149,05 2.980 Nop-13 38.327,00 766.540 130,65 2.612Des-13 30.024,50 600.490 84,48 1.688 DATA PRODUKSI UREA (UNIT) SEPTEMBER 2013 - AGUSTUS 2014 Periode Produksi (Ton) Unit Reject (Ton) UnitSep-13 Tabel 4.5. Data Produksi Urea Dan Reject Urea Prill 50 Kg Periode September 2013 – Agustus 2014 Pada tabel (4.5) dibawah ini terdapat data produksi urea prill 50 kg dan data produk cacat di unit bagging Periode September 2013

PENSENTASE CACAT UREA PRILL 50KG

  Dari tabel (4.6) akan diperlihatkan data jumlah masing-masing jenis cacat di unit bagging PT. Pupuk Kujang Cikampek periode September 2013 – Agustus 2014.

4.2 Pengolahan Data

Pada pengolahan data untuk membantu memecahkan permasalahannya akan menggunakan metode DMAIC (define, measure, analyze, improve, control).

4.2.1. Define

  Pada tahap define bertujuan untuk mengidentifikasi produk atau proses yang akan diperbaiki dan menentukan sumber-sumber dalam pelaksanaan. Dalam proses di unit bagging ini urea yang dialirkan dari unitpengeringan kemudian dialirkan melalui conveyor pada bulk handling system untuk kemudian siap dimasukan kedalam kemasan.

4.2.1.1. Histogram

  Histogram Jenis Cacat periode september 2013 – agustus 2014 Dari gambar (4.6) dapat dilihat bahwa terdapat 3 jenis klasifikasi produk cacat di unit bagging yaitu, kemasan yang sobek, jahitan pada kemasan yang terbuka, berattimbangan yang tidak sesuai dengan ketetapan perusahaan. Dalam grafik histogram ini dapat terlihat juga jumlah cacat yang memiliki jumlah cacat yang dominan setiapperiodenya.

4.2.1.2. Identifikasi Critical To Quality (CTQ)

  Pada (tabel 4.7) bisa dilihat bahwa klasifikasi jenis cacat pada urea 50kg yaitu terdapat 3 jenis jenis cacat yaitu, kemasan yang sobek, jahitan pada kemasan yangterbuka, dan berat timbangan yang tidak sesuai dengan ketetapan perusahaan. Measure Pada tahap ini jenis cacat yang telah didapat pada tahap define kemudian diurutkan mulai dari yang besar sampai yang paling kecil tingkat pengaruhnya.

4.2.2.1 Menentukan Cacat Dominan Pada Urea Prill 50kg

  Setelah itu pada tahap ini kitaurutkan jenis cacat yang paling dominan dari yang terbesar sampai yang terkecil pengaruhnya. Diagram Pareto Persentase Cacat Kumulatif Urea Pril 50kg Dari diagram pareto pada gambar (4.7) terlihat bahwa cacat akibat kemasan yang sobek pada saat memiliki dampak paling dominan yang menghasilkan jumlah cacathingga 14.394 unit atau mencapai persentase sebesar 59,62% dari keseluruhan jumlah cacat yang terjadi dan berpengaruh pada kualitas urea prill 50kg yang tidakmemenuhi standard yang telah ditetapkan.

4.2.2.2 Menentukan Level Sigma

  Tahap selanjutnya setelah mengetahui penyebab cacat yang paling dominan yaitu menghitung nilai sigma dengan cara menghitung defect per million opportunity(DPMO) yang berarti menghitung jumlah kesalahan persejuta kesempatan, yang selanjutnya nilai tersebut dikonversikan kedalam nilai sigma. Analyze Pada tahap analyze ini dilakukan proses menganalisis dan mengidentifikasi menggunakan diagram sebab akibat (fishbone), setelah pada tahap sebelumnyadiketahui jenis cacat yang dominan yaitu kemasan yang sobek dengan jumlah cacat mencapai 14.394 unit atau persentase sebesar 59,62%, berat timbangan yang tidaksesuai sebanyak 8.522 unit atau sebesar 35,30%, dan cacat jahitan kemasan yang terbuka sebanyak 1223 unit atau sebesar 5,08 %.

3. Cacat Jahitan Yang Terbuka

  Pada tahap improve dilakukan memberikan rekomendasi perbaikan yang bertujuan untuk mengurangi jumlah cacat yang terjadi dari hasil implementasi six sigma. Metode yang dipakai untuk tahap ini yaitu dengan menggunakan 5W + 1H (what, when, where, who, why, how).metode ini merupakan tahap selanjutnya dari diagram sebab akibat yang hasilnya telah diketahui pada tahap analyze.

Bab 5 Analisis

5.1. Analisis Define

  Pada tahap define ini dilakukannya tahap mendefinisikan proses pengemaan urea prill yang terjadi di unit bagging yang digambarkan kedalam aliran prosespengemasan yang terjadi di unit bagging serta proses-proses yang bisa mengakibatkan produk termasuk kedalam klasifikasi cacat. Analisis Histogram Dari grafik histogram yang digambarkan dapat dilihat bahwa didalam proses produksi urea prill di unit bagging terdapat 3 buah jenis cacat pada prosespengemasan yang telah ditetapkan di unit bagging yaitu:  Cacat kemasan sobek Cacat jahitan terbuka Cacat berat timbangan yang tidak sesuai 5.1.2.

5.2. Analisis Measure

  Analisis Penentuan Cacat Dominan Urea Prill Tahap awal pada measure yaitu menentukan cacat dominan dari produk urea prill 50 kg, dari hasil perhitungan persentase cacat yang dilakukan mendapatkan hasilsebagai berikut: . Dari hasil perhitugan dapat dilihat bahwa cacat kemasan yang sobek menjadi faktor yang memiliki pengaruh paling dominan sebesar 14.394 unit dengan persentasecacat sebesar 59,62%, kemudian penyebab kedua cacat berat timbangan yang tidak sesuai sebesar 8.522 unit dengan persentase cacat sebesar 35,30%, dan yangterakhir yaitu cacat jahitan yang terbuka sebesar 1.220 unit dengan persentase cacat sebesar 5,08%.

5.3. Analisis Tahap Analyze

  Pada tahap analyze ini untuk memperjelas dan mengidentifikasikan faktor penyebab cacat akan dibantu dengan sebuah tools berupa diagram sebab akibat(cause-effect diagram). Dalam diagram sebab akibat jenis cacat akan diklasifikasikan berdasarkan sumber penyebabnya yaitu manusia, mesin, material,metode.

1. Cacat Kemasan Sobek

   Metode Penyebab metode menjadi faktor dari cacat timbangan yang tidak sesuai dikarenakan metode penjadwalan mesin yang terlalu lama 1 tahun dalam sekali perawatan dan metode penjadwalan penggunaan mesin  Material Penyebab material menjadi faktor dari cacat berat timbangan tidak sesuai dikarenakan kualitas bahan kemasan yang buruk sehingga bahan kemasan mudah sobek dan rajutan kemasan yang tidak rapi sehingga mengakibatkan kemasan yang berlubang.  Manusia Penyebab manusia menjadi faktor dari cacat jahitan yang terbuka dikarenakan kurangnya kehlian pekerja dalam memakai mesin jahit kemasan serta pekerjaan dari pekerja yang tergesa-gesa sehingga tidak rapi  Metode Penyebab metode menjadi faktor dari cacat jahitan yang terbuka dikarenakan lamanya pergantian shift untuk mesin yang beroprasi mengingat umur mesin yang sudah tua.

5.4. Analisis Improve

  Pada tahap improve yang merupakan tahap lanjutan dari analyze yaitu memberikan rekomendasi-rekomendasi perbaikan dari penyebab cacat adalah akibat berattimbangan yang tidak sesuai, kemasan yang sobek, jahitan kemasan yang terbuka, dan urea yang terkontaminasi.. Agar nantinya pekerja dan buruh yang bekerja pada unit bagging memahami bagaimanatahapan proses pekerjaanya agar hasilnya karyawan dan buruh dapat bekerja lebih optimal, dan dapat memahami pentingnya sebuah mutu dan kualitas 2.

Bab 6 Kesimpulan dan Saran

6.1 Kesimpulan

  Untuk mengatasi penyebab cacat yang terjadi di unit bagging maka rekomendasi yang diberikan untuk perusahaan adalah sebagai berikut:a. Diadakannya pelatihan proses pengemasan untuk para pekerja dan buruh yang akan dan telah menjadi pekerja PT Pupuk Kujang agar pekerjamemahami pentingnya kualitas dan mutu dari sebuah produk.

6.2 Saran

  Didalam pelaksanaanya masihterdapat produk cacat salah satunya adalah cacat kemasan yang sobek dikarenakan bahan kemasan yang mudah sobek dan pemakaian alat bantu oleh buruh yang salahmemakai gancu. saran yang diberikan untukperusahaan adalah tinjauan ulang kembal pemilihan bahan kemasan pada saat akan membeli kemasan, agar bahan kemasan yang dipakai untuk menutupi produkdidalamnya tidak mudah sobek dan produk tidak berceceran keluar.

PENGENDALIAN KUALITAS PROSES PENGEMASAN PUPUK UREA DI PT.PUPUK KUJANG CIKAMPEK

  TUGAS AKHIRKarya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik Program Studi Teknik IndustriOleh: Garna Wibawa Rainsya NIM. Data Produksi Urea dan Reject Urea Prill 50 kg .............................

DAFTAR PUSTAKA

  Kajian Proses Produksi Dan Pengendalian Mutu Proses Pengemasan Pupuk Urea Di PT Pupuk Kujang. Usulan Perbaikan Kualitas Dengan Mengurangi Jumlah Produk Yang Di Recycle Menggunakan Metode Lean Six Sigma Di PT.

KATA PENGANTAR

  iniAtas dasar itulah, dalam kesempatan ini banyak ucapan terima kasih yang ingin peneliti ucapkan kepada pihak Orang tua, saudara - saudara kami dan segenap keluarga tercinta serta teman- teman terdekat yang telah banyak memberikan Do’a dan dukungan moril danmateril tentunya kepada kami selama ini. PUPUK KUJANG CIKAMPEK adalah hasil karya sendiri dan bukan merupakan duplikasi sebagian atau seluruhnya dari hasil karya orang lain yang pernah dipublikasikan atau yang sudah pernah dipakai untuk mendapatkan gelar di Universitas lain, kecuali padabagian dimana sumber informasi dicantumkan dengan cara referensi yang semestinya.

Dokumen baru

Download (70 Halaman)
Gratis