Politik Multikulturalisme (Studi Analisis Pada Struktur Pemerintahan Kota Pematangsiantar)

 4  46  112  2017-06-12 02:08:12 Laporkan dokumen yang dilanggar
Pedoman Wawancara: 1. Bagaimana penilaian Anda terhadap perkembangan politik di Kota Pematangsiantar? 2. Bagaimana penilaian Anda terhadap kondisi politik di Kota Pematangsiantar ditengah keberagaman etnis dan agama? 3. Seberapa penting politik multikultural dilakukan? 4. Bagaimana implementasi politik multikultural di lingkungan Pemko Pematangsiantar? 5. Mengapa jumlah etnis Batak Toba dan Batak Simalungun lebih banyak mengisi pospos/jabatan di struktur Pemko Pematangsiantar? 6. Dan mengapa etnis lainnya seperti Mandailing, Nias dan lain-lain sedikit menduduki jabatan di struktur Pemko Pematangsiantar? 7. Apakah faktor etnis dan agama mayoritas menjadi pilihan utama? 8. Bagaimanakah sistem perekrutan pejabat di Pemko Pematangsiantar? Apakah berdasarkan profesionalitas kerja atau berdasarkan perwakilan mayoritas/minoritas? 9. Bagaimana kedudukan masyarakat minoritas di dalam susunan birokrasi pemerintahan? 10. Bagaimana partisipasi politik masyarakat minoritas dalam kegiatan Pemko Pematangsiantar? 11. Apakah yang sudah dan akan dilakukan pemerintah dalam politik multikultural bagi kaum minoritas, adakah tindakan khusus yang dilakukan? Universitas Sumatera Utara A. Kepada Kepala Daerah – Hulman Sitorus, S.E 1. Bagaimana penilaian anda terhadap perkembangan politik dikota pematangsiantar? Perkembangan politik dikota pematangsiantar sangat dinamis, dimana tingkat kepedulian dan partisipatif masyarakat sangat tinggi dan dinamikanya juga sangat tinggi. Sehingga Dinamika Politik di Siantar terkenal dengan “ yang tidak mungkin terjadi, bisa menjadi mungkin terjadi “ 2. Bagaimana penilaian anda terhadap kondisi politik dikota pematangsiantar ditengah keberagaman etnis dan agama? Tujuan politik adalah untuk mencapai kekuasaan, oleh karenanya hal yang wajar dalam strategi para elit politik memakai pendekatan etnis dan agama dalam pencapaian kemenangan merebut kekuasaan, namun dalam beberapa kali pelaksanaan Pemilu maupun Pemilihan Kepala Daerah tidak begitu efektif. Sebagai contoh dalam pemilihan anggota DPRD maupun Kepala Daerah, Jika memakai logika dalam pemilihan legislative maka perwakilan di DPRD tersebut dengan jumlah 30 anggota Dewan, untuk calon muslim yang terpilih idealnya minimal 13 kursi, namun relitanya lain, begitu juga dalam pemilihan KDH. 3. Seberapa penting politik multikultural dilakukan? Sangat penting, karena politik multikultural lebih dapat diterima oleh masyarakat. 4. Bagaimana implementasi politik multikultural dikota pematangsiantar? Politik multikultural selalu menjadi pemenang. 5. Bagaimana hubungan masyarakat mayoritas dan minoritas dikawasan kota pematangsiantar? Sangat Harmonis dan sulit untuk dipecah belah. 6. Bagaimana peran masyarakat beda etnis dalam komposisi eksekutif? Sangat kritis, secara prinsip masyarakat sangat berharap adanya cerminan keseimbangan etnis dan agama dalam komposisi eksekutif meskipun hal tersebut tidak selalu menjadi dominan, namun tetap menjadi harapan. Universitas Sumatera Utara 7. Bagaimana peran dan program pemerintah dalam politik multikultural khususnya dalam persamaan kesempatan dan peluang dalam partisipasi politik dikota pematangsiantar? Pemerintah secara nasional dan diikuti secara khusus di daerah sangat begitu baik dan tersistem dimana tetap mengedepankan persamaan semua hak dan kewajiban yang sama bagi setiap warga masyarakat dan warga bangsa serta menjamin kebebasan hak konstitusi dari warga negara Indonesia sebagaimana diatur dalam perundanganundangan negara. 8. Bagaimana sistem perekrutan pejabat dipemko pematangsiantar ? apakah berdasarkan profesionalitas kerja atau berdasarkan perwakilan mayoritas/minoritas? Sepengetahuan saya ya, karena tetap melakukan perekrutan dengan mengedepankan fit and profer tes yang dilaksanakan oleh tim baperjakat yang ada di BKD termasuk menempatkan calon pejabat yang sudah mengetahui secara jelas Tupoksi yang akan dilakukan guna menyelaraskan program kinerja pemerintah daerah dalam mewujudkan pembangunan sesuai dengan visi misi daerah kota Pematangsiantar Siantar Mantap, Maju dan Jaya. 9. Bagaimana kondisi masyarakat minoritas didalam susunan birokrasi pemerintah? Kota siantar ini unik, bagi kalangan minoritas katakanlah salah satunya suku Tionghoa, mereka ini mayoritas jarang yang ada mau duduk dibirokrasi (PNS) mereka lebih cenderung ke dunia bisnis/perdanganan dan jika adapun satu dua orang mereka juga diperlakukan secara sama dengan yang lain sepanjang mempunyai kemampuan serta persyaratan yang lengkap sebagaimana mekanisme yang berlaku dan sesuai aturan yang ada tetap punya kesempatan. 10. Bagaimana kondisi masyarakat minoritas ditengah-tengah masyarakat mayoritas? Siantar adalah kota yang paling toleran secara nasional, oleh karenanya patut diapreasiasi bahwa keberagaman etnis, suku dan budaya sudah membaur dan terjalin dengan baik didiri warga kota siantar sehingga antara minoritas dab mayoritas sudah tidak nampak ada perbedaan yang signifikan dimana rasa toleranasi juga sudah sangat baik dimana hal ini dapat kita lihat dalam aktifitas masyarakat di kota siantar yang sudah sangat paham arti pentingnya kebersamaan hidup ditengah keberagaman. Universitas Sumatera Utara 11. Bagaimana partisipasi politik masyarakat minoritas dalam kegiatan pemko siantar? sangat baik, dimana mereka juga sangat memberikan andil pembangunan dan kemajuan kota ini termasuk pemahaman politik juga sudah sangat baik, hal ini dapat dilihat dari beberapa kali pemilu diwaktu lalu bahwa partisipasi masyarakat minoritas juga sangat mau peduli ikut serta dalam kegitan dimaksud dan malah ada yang langsung aktif ikut dalam kepanitian. 12. Apakah yang sudah dan akan dilakukan pemerintah dalam politik multikultural bagi kaum minoritas, adakah tindakan khusus yang dilakukan ? saya rasa perlakuan politik multikultural disiantar ini tidak ada pembedaan antara minoritas dan mayoritas, semuanya mempunyai hak dan kewajiban yang sama terkhusus dalam hal politik sama-sama mempunyai kesempatan yang sama. Universitas Sumatera Utara B. Kepada Wakil Kepala Daerah – Drs. Koni Ismael Siregar 1. Bagaimana penilaian Anda terhadap perkembangan politik di Kota Pematangsiantar? Perkembangan politik pada saat ini masih bagus, karena kondusifitas politik yang ada di Kota Pematangsiantar masih terjaga dengan baik. 2. Bagaimana penilaian Anda terhadap kondisi politik di Kota Pematangsiantar ditengah keberagaman etnis dan agama? Sangat baik, hal ini dapat dilihat dari sikap toleransi antar agama dan etnis yang ada di Kota Pematangsiantar. Sampai saat ini sara atau bentrok antar agama dan etnis tidak pernah terjadi, dan harus kita akui stabilitas politik di Pematangsiantar sangat baik, dan diharapkan ini menjadi contoh buat daerah lain di Sumatera Utara. 3. Seberapa penting politik multikultural dilakukan? Sangat penting, karena multikutural merupakan salah satu persyaratan agar stabilitas dan kondusifitas di Kota Pematangsiantar tetap terjaga, multikultural ini juga tidak menjadikan perbedaan antara agama dan etnis yang ada, melainkan sebagai perekat. Multikultural ini saya lihat juga sebagai penguatan antar agama dan etnis. 4. Bagaimana implementasi politik multikultural di lingkungan Pemko Pematangsiantar? Berkaitan dengan implementasi politik multikultural dari sudut struktural pemerintahan Kota Pematangsiantar, dimana seseorang yang memiliki prestasi kerja di struktur pemerintahan sangat diperhatikan. Jadi tidak ada diskriminasi antar agama dan etnis, kalau memang prestasi kerjanya baik, dia layak untuk diperhitungkan. 5. Mengapa jumlah etnis Batak Toba dan Batak Simalungun lebih banyak mengisi pos-pos/jabatan di struktur Pemko Pematangsiantar? Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sampai hari ini struktur jabatan di Pemko Pematangsiantar di dominasi oleh Batak Toba. Tapi pada awalnya etnis yang mendominasi adalah etnis Simalungun, tapi mungkin ada perpindahan pejabat dari daerah lain dan memiliki prestasi, maka di promosikan ke dalam lingkungan Pemko Pematangsiantar. Jumlah penduduk Batak Toba di Pematangsiantar yang merupakan etnis terbanyak menjadi salah satu alasan juga. 6. Dan mengapa etnis lainnya seperti Mandailing, Nias dan lain-lain sedikit menduduki jabatan di struktur Pemko Pematangsiantar? Universitas Sumatera Utara Mengenai sedikit atau banyaknya etnis lain diluar etnis mayoritas dalam hal menduduki jabatan, ini tergantung pemimpinnya, dalam hal ini walikota dan wakil walikota. Sampai saat ini struktur pemerintahan di Kota Pematangsiantar masih merangkul dan merekrut etnis-etnis lainnya. 7. Apakah faktor etnis dan agama mayoritas menjadi pilihan utama? Sebaiknya tidak demikian, tapi timbul memang kalau pemimpin itu lebih memperhatikan dan merangkul sukunya. Karena dia merasa itu merupakan bagian dari kulturnya, tapi tetap saja tidak terlepas dari kinerja dan prestasi pegawai itu sendiri. Jangan asal milih tapi tidak memenuhi syarat untuk mengisi jabatan. Selain faktor etnis, faktor agama juga menjadi pertimbangan, kalau misalnya pemimpin tersebut seorang, tidak dapat dipungkiri dia akan lebih memilih yang seagama dengannya. Jadi terkadang yang tidak seetnis dengan pemimpin merasa di “anak tirikan” atau tidak diberdayakan. 8. Bagaimanakah sistem perekrutan pejabat di Pemko Pematangsiantar? Apakah berdasarkan profesionalitas kerja atau berdasarkan perwakilan mayoritas/minoritas? Kalau terkait dengan sistem perekrutan pejabat atau promosi jabatan terdiri dari sistem karir dan prestasi kerja. Tetapi di Kota Pematangsiantar sistem ini bisa dibilang belum terlaksana dengan baik dan tidak berpedoman pada aturan dan peraturan. Artinya seseorang itu dilihat gak prestasinya atau kinerjanya, jangan kesannya jadi suka-suka. Nah ini juga berkaitan dengan etnis dan agama tadi, yang tidak pantas menduduki jabatan tersebut, malah mendudukinya hanya karena kesamaan etnis dan agama dengan pemimpinnya, ini bukan hal yang bagus. Jadi kedepannya pemimpin harus memperhatikan pejabat yang ingin dipromosi berdasarkan prestasi kerja, pendidikan, pengalaman, loyalitas dan lain sebagainya. 9. Bagaimana kedudukan masyarakat minoritas di dalam susunan birokrasi pemerintahan? Jadi kita ketahui bahwasanya ada etnis minoritas di lingkungan Pemko Pematangsiantar, akan tetapi mereka ini tetap diperhatikan. Universitas Sumatera Utara 10. Bagaimana partisipasi politik masyarakat minoritas dalam kegiatan Pemko Pematangsiantar? Mereka ini tetap ikut berkiprah membangun Kota Pematangsiantar dan tiap-tiap etnis minoritas ini memiliki paguyuban, dan sampai saat ini mereka ikut berpartisipasi dalam membangun Kota Pematangsiantar. 11. Apakah yang sudah dan akan dilakukan pemerintah dalam politik multikultural bagi kaum minoritas, adakah tindakan khusus yang dilakukan? Sebaiknya pemerintah Kota Pematangsiantar memperhatikan kaum minoritas, karena ini merupakan aset dan peduli dengan perkembangan Kota Pematangsiantar. Kalau dia mendiami Siantar, berarti dia aset yang harus diperhatikan oleh pemerintah Kota Siantar. Universitas Sumatera Utara C. Kepada Anggota DPRD – Arapen Ginting (51 Tahun) 1. Bagaimana penilaian Anda terhadap perkembangan politik di Kota Pematangsiantar? Perkembangan politik sudah berjalan dengan baik. Dari Pemerintah Kota sudah berusaha meningkatkan perubahan-perubahan yang nyata. Selain itu sinergitas antara eksekutif dengan legislatif juga telah dibangun untuk memaksimalkan program kerja pemerintah Kota Pematangsiantar. 2. Bagaimana penilaian Anda terhadap kondisi politik di Kota Pematangsiantar ditengah keberagaman etnis dan agama? Keberagaman etnis dan agama di Kota Pematangsiatar tentu sedikit banyak berpengaruh terhadap kondisi politik, namun keberagaman ini hendaknya tidak digunakan sebagai alat untuk mengkotak-kotakkan masyarakat di periode-periode pemilihan. 3. Apa yang sudah dan akan dilakukan pemerintah legislatif terkait politik multikultural? Tentunya pemerintah legislatif tidak menutup kemungkinan kepada seluruh masyarakat dari lintas etnis dan agama karena memang sudah seharusnya kapasitas dan kompetensi yang diutamakan. 4. Bagaimana partisipasi masyarakat minoritas dalam mencalonkan diri menjadi anggota legislatif? Masyarakat minoritas dalam mencalonkan pemilihan legislatif sangat minim karena kebanyakan dari mereka sekedar memikirkan hidup aman sudah lebih dari cukup dan juga banyak terlibat di tim pemenangan salah satu calon tertentu. Selain itu cost politic yang cukup besar menjadi perhatian khusus. Universitas Sumatera Utara 5. Apabila ada yang mencalonkan dari masyarakat minoritas, apa yang menjadi motivasi masyarakat untuk mengikuti pencalonan? Dari calon yang ada sepertinya mereka lebih mengarah kepada peningkatan taraf hidup mereka yang minoritas. Atau bisa dibilang mereka yang mencalonkan ingin menaikkan taraf etnis mereka. 6. Bagaimana penilaian anggota legislatif terhadap kinerja pemerintah kota Pematangsiantar terkait partisipasi politik masyarakat minoritas dalam politik miltikultural? Sejauh ini memang tidak ada program khusus dari pemerintah. Akan tetapi selaku pelaksana pemerintahan mereka harus memberikan perhatian kepada etnis minoritas di Kota Pematangsiantar. Akan tetapi yang saya lihat, tetap berjalan dengan baik, karena belum pernah ada tindakan diskriminasi terhadap etnis minoritas. Universitas Sumatera Utara D. Tokoh Masyarakat – Russel Sipayung (60 Tahun) 1. Bagaimana penilaian Anda terhadap perkembangan politik di Kota Pematangsiantar? Politik di Kota Pematangsiantar bisa dikatakan sudah berjalan dengan cukup baik, dengan terus berkembangnya terobosan-terobosan yang sudah dilakukan baik dari aparatur pemerintah kota dan juga perkembangan yang terjadi di masyarakat. 2. Bagaimana penilaian Anda terhadap kondisi politik di Kota Pematangsiantar ditengah keberagaman etnis dan agama? Kita tahu bahwa komposisi penduduk di Kota Pematangsiantar terdiri dari beberapa etnis dan agama, dan hal ini tentu saja memberikan dampak pada kondisi politik di Kota Pematangsiantar. Akan tetapi yang saya lihat keberagaman ini perpolitikan di Kota Pematangsiantar lebih berwarna. 3. Apakah politik multikultural sudah dilaksanakan dengan baik oleh pemerintah Kota Pematangsiantar? Saya rasa sudah dilaksanakan dengan baik, hal ini dibuktikan dengan adanya suku lain diluar suku mayoritas yang menduduki jabatan baik di pemerintahan eksekutif maupun legislatif, dan tentunya menurut saya sesuai dengan kemampuan dan profesionalitas kerja yang dia miliki. 4. Apakah politik multikultural memberikan peluang bagi masyarakat minoritas untuk memperoleh jabatan di pemerintahan eksekutif? Seperti yang saya katakan tadi bahwa baik mayoritas maupun minoritas memiliki peluang yang sama dalam memperoleh jabatan di pemerintahan eksekutif, asalkan memenuhi kriteria untuk menduduki jabatan tersebut. 5. Apa yang menyebabkan masyarakat minoritas minim peran dalam pemerintahan baik eksekutif maupun legislatif? Keinginan dari masyarakat minoritas sendiri yang kurang tertarik dalam pencalonan pemilihan, selain itu kemampuan finansial untuk mencalonkan juga menjadi pertimbangan yang sangat penting. Universitas Sumatera Utara E. Masyarakat Minoritas – 1. Bagaimana penilaian Anda terhadap kondisi politik di Kota Pematangsiantar? Sampai sejauh ini kondisi politik di Kota Pematangsiantar aman dan saya rasa mengalami peningkatan, terlebih disaat periode-periode pemilihan, terlihat dari antusias masyarakat yang semakin tinggi dan tidak dapat dipungkiri dapat menjadi tambahan pendapatan bagi masyarakat kecil. 2. Bagaimana penilaian Anda akan kenyamanan bertempat tinggal di Kota Pematangsiantar selama ini? Walaupun saya berasal dari kalangan minoritas, tetapi tingkat kenyamanan di daerah tempat saya tinggal sangat aman dan juga saling menghargai satu dengan yang lain. 3. Bagaimana penilaian Anda akan partisipasi politik masyarakat minoritas di Kota Pematangsiantar? Kalau berbicara mengenai partisipasi politik, saya rasa sudah mengalami peningkatan dibanding masa sebelumnya. Akan tetapi masyarakat minoritas pada umumnya masih lebih tertarik menjadi tim sukses kandidat daripada terjun menjadi kandidat. 4. Apa yang menyebabkan tingkat partisipasi politik masyarakat minoritas di Kota Pematangsiantar tergolong rendah? Hal ini dikarenakan keinginan masyarakat sendiri yang kurang tertarik untuk terjun dalam pencalonan, selain itu kemampuan finansial jadi pertimbangan yang sangat penting. Universitas Sumatera Utara Keterangan wawancara: 1 Wawancara dengan mantan Walikota Pematangsiantar Bapak Hulman Sitorus, dilakukan pada tanggal 25 Januari 2016 pukul 15.00 WIB di kediaman pribadi beliau, Kota Pematangsiantar. 2 Wawancara dengan mantan Wakil Walikota Pematangsiantar Bapak Koni Ismael Siregar, dilakukan pada tanggal 11 April 2016 pukul 15.00 WIB di salah satu rumah makan di Kota Medan. 3 Wawancara dengan anggota DPRD Kota Pematangsiantar periode 2014-2019 Bapak Arapen Ginting, dilakukan pada tanggal 26 Januari 2016 pukul 10.00 WIB di kediaman pribadi beliau, Kota Pematangsiantar. 4 Wawancara dengan Tokoh Masyarakat Etnis Simalungun Bapak Russel Sipayung, dilakukan pada tanggal 26 Januari 2016 pukul 16.00 WIB di kediaman pribadi beliau, Kota Pematangsiantar. 5 Wawancara dengan Tokoh Agama Bapak Pendeta Robert, dilakukan pada tanggal 24 Januari 2016 pukul 16.00 di kediaman pribadi beliau, Kota Pematangsiantar. 6 Wawancara dengan masyarakat sipil etnis mayoritas (Simalungun) Bapak Carlos Purba, dilakukan pada tanggal 27 Januari 2016 pukul 14.00 WIB, di kediaman pribadi beliau, Kota Pematangsiantar. 7 Wawancara dengan masyarakat sipil etnis minoritas (Minang) Bapak Aprijal Koto, dilakukan pada tanggal 27 Januari 2016 pukul 10.00 WIB, di kediaman pribadi beliau, Kota Pematangsiantar. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Buku: Agger, Ben. 2005. Teori Sosial Kritis: Kritik, Penerapan dan Implikasinya. Yogyakarta: Kreasi Wacana. Azyumardi, Azra. 2007. Identitas dan Krisis Budaya, Membangun Multikulturalisme di Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Bakker SJ. J.W.M. 1984. Filsafat Kebudayaan Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Kanisius. Budiarjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia PustakaUtama. Danin, Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif ; Ancangan Metodologi, Presentasi dan publikasi hasil penelitian untuk mahasiswa dan peneliti pemula bidang ilmu-ilmu sosial, pendidiakan dan humaniora. Bandung: Pustaka Setia. Gaus, Gerald F dan Kukathas Chandran. 2012. Handbook Teori Politik. Jakarta: Nusa Media. Machfud, Choirul. 2005. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Moleong, Lexy J. 1994. Metode Penelitian Kualitatif. Rosdakarya. Bandung: Remaja Nawawi, Hadari. 1987. Metodologi Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Gajahmada University Press. Purwasito, Andrik. 2002. Komunikasi Multikultural. Solo: Muhammadiyah University Press. Putra, I Nyoman Darma. 2008. Bali Dalam Kuasa Politik. Denpasar: Arti Foundation. Satori, Akhmat. 2012. Merajut Masyarakat Multikultural dalam Bingkai Otonomi Daerah. Simanjuntak, Bungaran. 2006. Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 83 Universitas Sumatera Utara Tilaar, H.A.R. 2004. Multikulturalisme: Tantangan-Tantangan Global Masa Depan Dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo. Prof. Drs. S. Pamudji, MPA. 1993. Kepemimpinan Pemerintahan di Indonesia. Jakarta. Bumi Aksara Jakarta. Jurnal : Lubis, Nur A. Fadhil. 2006. “Multikulturalisme Dalam Budaya”, Jurnal Antropologi Sosial Budaya, ETNIVISI. Vol II. No. 1 April 2006. Sudharto. 2012. ”Multikulturalisme Dalam Perspektif Empat Pilar Kebangsaan”, Jurnal ilmiah CIVIS, Volume II, No 1, Januari 2012. A Hogg, Michael. 2004. The Social Identity Prespective: Intergroup Relation. Self-Conception, and Small Group Research, Vol 35 No. 3 June 2004. (Sage Publication, 2004). Hatta, Prof. Dr. Meutia F. 2006. Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI Vol II No. 1. Dwiatmadja, Christantius, dkk. 2011. Menyama Braya (Studi Perubahan Masyarakat Bali) Multikulturalisme Dalam Perspektif Teori. Fakultas Teologi UKSW. Hanum, Farida dan Setya Raharja. 2011. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan: Pengembangan Model Pembelajaran Pendidikan Multikultural Menggunakan Modul Sebagai Suplemen Pelajaran IPS di Sekolah Dasar, Volume 04 No. 2. Wattimena, Reza A.A. 2011. Menuju Indonesia Yang Bermakna: Analisis Tekstual-Empiris Terhadap Pemikiran Charles Taylor Tentang Politik Pengakuan dan Multikulturalisme, Serta Kemungkinan Penerapannya di Indonesia. Studia Philosophica et Theologica, Vol 11 No 1. Kamal, Muhiddinur. 2013. Pendidikan Multikultural Bagi Masyarakat Indonesia Yang Majemuk: Jurnal Al-ta’lim, Jilid 1 No 6. Undang-undang: Undang-Undang Dasar 1945 pasal 32 tentang Keberagaman di Indonesia. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 84 Universitas Sumatera Utara Situs Internet: http://www.academia.edu/8586020/Istilah_dalam_Politik_Multikulturalisme, Dhena, diakses tanggal 8 Juli 2015, pukul 17.40 WIB. www.pematangsiantarkota.go.id 85 Universitas Sumatera Utara BAB III ANALISIS POLITIK MULTIKULTURALISME DI KOTA PEMATANGSIANTAR Multikulturalisme adalah sikap dan paham yang menerima adanya berbagai kelompok manusia yang memiliki kultur dan struktur yang berbeda. Perbedaan ini bukanlah ancaman atas keberadaannya baik secara individu amupun kelompok, meskipun bukan berarti dia mau mengadopsi dan menganggap kultur pihak lain itu sama baiknya dengan kultur entisnya sendiri. 24 Sementara itu menurut Parekh dalam Farida Hanum dan Setya Raharja, pengertian multikulturalisme meliputi tiga hal yaitu: 1) multikulturalisme berkenaan dengan budaya; 2) merujuk pada keragaman yang ada; 3) berkenaan dengan tindakan spesifik pada respon terhadap keragaman tersebut. Akhiran “isme” menunjukkan suatu doktrin normatif yang diharapkan bekerja pada setiap orang dengan konteks masyarakat dengan beragam budaya. 25 Multikulturalisme di Indonesia tercermin dalam simbol yang telah disepakati bersama, yakni Bhineka Tunggal Ika. Bhineka Tunggal Ika merupakan suatu pengakuan terhadap heterogenitas etnik, budaya, agama, ras, dan gender, namun menuntut adanya persatuan dalam komitmen politik membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bhineka Tunggal Ika sebagai simbol yang 24 Nur A. Fadhil Lubis. 2006. Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI Vol II No.1, Multikulturalisme Dalam Politik. hal. 22. 25 Farida Hanum dan Setya Raharja. 2011. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan: Pengembangan Model Pembelajaran Pendidikan Multikultural Menggunakan Modul Sebagai Suplemen Pelajaran IPS di Sekolah Dasar, Volume 04 No. 2. hal. 115. 46 Universitas Sumatera Utara seharusnya dapat difungsikan sebagai roh penggerak perilaku masyarakat Indonesia, di dalam kenyataan belum secara sungguh-sungguh dijadikan kekuatan untuk membangun bangsa dan negara. Bahkan pada beberapa tempat, kemajemukan masih dianggap sebagai sumber permasalahan bahkan konflik, yang membuktikan bahwa realitas heterogenitas belum dipahami dan diakui oleh seluruh lapisan masyarakat. 26 Teori Multikulturalisme sistematis pertama dikembangkan oleh Will Kymlicka. Inti teori multikulturalisme Kymlica adalah sebentuk nasionalisme. Kymlica berpendapat bahwa tradisi liberal memiliki sejarah yang mengakui hakhak yang dibedakan berdasarkan golongan. Sehingga dapat dikatakan bahwa Politik Multikulturalisme merupakan sebuah teori yang menekankan akan upaya pencapaian sebuah kekuasaan di tengah-tengah keberagaman yang ada. Dapat dikatakan pula sebagai suatu proses mewakilkan secara keseluruhan keanekaragaman yang ada, dalam upaya pencapaian sebuah kekuasaan. Menurut Kymlicka, politik multikulturalisme adalah politik tentang hakhak minoritas. Politik multikulturalisme berdiri dalam tegangan antara hak untuk diperlakukan sama di hadapan hukum. Politik multikulturalisme mendorong suatu Negara untuk memperluas respek terhadap otonomi kultural terhadap minoritas bangsa dalam bentuk pengakuan hak-hak kelompok minoritas. 26 Prof. Dr. Meutia F. Hatta. 2006. Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI Vol II No. 1. hal. 1. 47 Universitas Sumatera Utara 3.1 Kondisi Politik Multikulturalisme Pada Struktur Pemerintahan Eksekutif Kota Pematangsiantar Kota Pematangsiantar merupakan kota yang memiliki keberagaman etnis dan agama. Secara umum mayoritas penduduk di kota Pematangsiantar merupakan etnis Batak Toba dan merupakan pemeluk agama Kristen Protestan. Selain Batak Toba, Kota Pematangsiantar juga dihuni oleh etnis lain yaitu Jawa, Batak Simalungun, Batak Mandailing, Tionghoa, Minang, Batak Karo, Melayu, Nias, Aceh, Pakpak dan lain-lain. Komposisi penduduk memang belum tentu memberikan pengaruh terhadap politik multikulturalisme, akan tetapi dapat memberikan sebuah gambaran tentang keberagaman yang ada di daerah tertentu. Memiliki penduduk yang mayoritas Batak Toba membuat Kota Pematangsiantar menjadi daerah yang masih memiliki budaya dan adat yang sangat kental, sehingga dalam kegiatan sosial apapun keberadaan adat Batak Toba sering dikaitkan dengan norma-norma sosial lainnya, dengan arti lain bahwa hukum adat tetap memegang pengaruh yang cukup kuat dalam mengatur kehidupan sosial masyarakat di Pematangsiantar. Sistem kekerabatan masyarakat Batak Toba menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam tiga posisi yang disebut Dalihan Na Tolu. Bungaran Simanjuntak menjelaskan bahwa Dalihan Na Tolu dapat diartikan sebagai tumpuan tiga serangkai atau dalam defenisi lebih jelas, Dalihan Na Tolu merupakan suatu sistem sosial di tanah Batak yang 48 Universitas Sumatera Utara menempatkan posisi masing-masing orang Batak pada kedudukan tertentu dimana setiap kedudukan ini mempunyai fungsi dan tanggung jawab tersendiri. 27 Dalihan Na Tolu yang dimaksud adalah : a. Hula-hula atau Tondong yaitu kelompok orang yang posisinya “diatas”. Dalam hal ini adalah keluarga marga pihak istri, sehingga disebut “somba marhula-hula” yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan. b. Dongan tubu atau Sanina, yaitu kelompok orang yang posisinya “sejajar”. Dalam hal ini adalah teman atau saudara semarga, sehingga disebut “manat mardongan tubu” yang artinya menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan. c. Boru, yaitu kelompok orang yang posisinya “dibawah”. Dalam hal ini saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, sehingga disebut “elek marboru” yang artinya selalu saling mengasihi agar mendapat berkat. Dalihan Na Tolu bukan kasta, karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut. Ada saatnya menjadi hula-hula, ada saatnya menempati posisi dongan tubu dan ada saatnya menempati posisi boru. Dengan Dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang. 27 Bungaran Simanjuntak. 2006. Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. hal. 100. 49 Universitas Sumatera Utara Dalam masyarakat Batak Toba terdapat suatu susunan silsilah marga yang disebut “Tarombo”. Hubungan sosial kemasyarakatan Batak tidak dapat berjalan tanpa marga dan tarombo. Marga dan tarombo memudahkan hubungan antar orang Batak dimanapun berada, karena orang Batak bersaudara dan satu nenek moyang. Selain konsep Dalihan Na Tolu terdapat pula 9 nilai budaya Batak yang mencakup segala aspek kehidupan orang Batak yaitu kekerabatan, religi (haporseaon atau ketaatan kepada Tuhan), hagabeon, hukum, kemajuan, konflik, hamoraon, hasangapon dan pangayoman. Tiga dari nilai tersebut dipandang sebagai misi budaya suku Batak, yaitu hagabeon (anak), hamoraon (kekayaan), dan hasangapon (kehormatan). Adat Batak Toba di Pematangsiantar masih cukup kuat, terlihat pada pola hidup dan pesta-pesta seperti pesta pernikahan yang diselenggarakan sesempurna mungkin sesuai aturan Batak Toba, tanpa adanya penyederhanaan adat. Dalihan Na Tolu terlihat sudah dipahami dengan baik oleh masyarakat mayoritas bahkan minoritas di Kota Pematangsiantar. Hal ini terlihat dalam beberapa peristiwa, baik itu pertemuan jual-beli di pasar, saling tegur-sapa, bahkan ketika etnis lain menghadiri upacara adat etnis Batak, masyarakat di luar etnis Batak di Kota Pematangsiantar seolah paham untuk memaknai tiga dasar norma tersebut. Mereka sudah menganggap tiga dasar norma itu juga merupakan salah satu bagian dari kehidupan sehari-hari dan tidak bisa lepas dari mereka. Masyarakat etnis minoritas juga tidak sedikit yang sudah lancar melafalkan dan berbicara dalam 50 Universitas Sumatera Utara Bahasa Batak. Bukti pembauran lainnya adalah, dalam setiap pesta adat Batak, masyarakat etnis minoritas juga memiliki tempat tersendiri. Pesta adat Batak yang biasanya kental dengan keberadaan daging babi, memberikan tempat tersendiri dengan hidangan yang berbeda pula. Hidangan yang tersedia bagi mereka di luar etnis Batak disebut dengan Parsubang yang artinya hidangan tersebut tidak menghidangkan daging babi atau hidangan nasional. Kota Pematangsiantar adalah Kota yang tenang dan toleran. Di sepanjang sisi Kota ini dapat ditemukan berbagai tempat ibadah dari berbagai agama. Terdapat pula beberapa rumah ibadah yang berdiri berdampingan, seperti Masjid Bakti dan Gereja Kristen Protestan Indonesia di Kelurahan Pondok Sayur, Kecamatan Martoba. Juga terdapat Wihara Avalokitesvara yang di depannya berdiri kokoh patung Dewi Kwan Im setinggi 22,8 meter. Setara Institute pada bulan Agustus hingga Oktober 2015 mengadakan penelitian terkait tingkat toleransi beragama di setiap kota di Indonesia dengan berpedoman pada empat variabel yakni regulasi pemerintah, tindakan pemerintah, regulasi sosial atau peristiwa dan juga demografi agama. Dari penelitian yang diadakan oleh Setara Institute tersebut dapat disimpulkan bahwa dua kota dari Sumatera Utara masuk dalam daftar peringkat tertinggi dimana Pematangsiantar berada di peringkat pertama dan diikuti oleh Kota Sibolga di urutan keenam. Harmoni dalam kehidupan pasar juga berlangsung dengan baik. Pedagang yang berbeda etnis dan agama berjualan secara berdampingan. Kemajemukan 51 Universitas Sumatera Utara yang ada tersebut tidak menyebabkan adanya diskriminasi. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan sosial karena perbedaan etnis tidaklah memberikan dampak yang negatif. Sebaliknya, adanya perbedaan tersebut meningkatkan toleransi serta memberikan keindahan dan warna tersendiri bagi Kota Pematangsiantar. Hal ini sesuai dengan pernyataan salah satu masyarakat etnis minoritas dari etnis Minang Bapak Aprijal Koto yang mengatakan: 28 “Tidak ada perbedaan antara masyarakat mayoritas dan minoritas. Perbedaan suku dan agama merupakan hal yang dianggap wajar. Saling menghormati dan tolong-menolong adalah hal yang harus dilakukan setiap saat untuk menjaga kerukunan bersama”. Kota Pematangsiantar memiliki masyarakat yang majemuk. Kemajemukan yang ada terdiri dari keanekaragaman suku bangsa, budaya, agama, ras dan bahasa. Keanekaragaman memang identik dengan perbedaan, namun perbedaan yang dimiliki itu bukanlah suatu hal yang dapat dijadikan alasan untuk saling memisahkan diri sebaliknya sebagai perekat yang mempersatukan setiap masyarakat di Kota Pematangsiantar. Kondisi masyarakat yang hidup berdampingan sangat erat dengan budaya yang dianut oleh masyarakat mayoritas yakni etnis Batak Toba dimana saling menghargai, bekerja sama dan saling membantu merupakan prinsip dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Kondisi yang demikian tidaklah berlangsung secara tiba-tiba. Setiap masyarakat harus mempelajari budaya yang ada hingga kemudian memahami dan 28 Hasil wawancara dengan salah seorang etnis minoritas di Kota Pematangsiantar. 52 Universitas Sumatera Utara menerima perbedaan tersebut sebagai kekayaan negara. Di antara unsur budaya yang paling signifikan yang harus dipelajari seseorang adalah nilai (values), norma (norms), dan peranan (roles). 1. Nilai-nilai sebuah kultur dianggap mengidentifikasi dianggap ideal, tujuan paling tinggi dan standar paling umum untuk memastikan baik dan buruk atau yang disukai dan yang dibenci. 2. Norma merupakan kaidah yang mengatur perilaku ( rules governing behavior). Norma menetapkan perilaku yang diperlukan, yang dapat diterima, atau yang dilarang dalam keadaan tertentu. Norma mengidentifikasi bahwa seseorang seharusnya bertindak dengan cara tertentu. Nilai dengan norma saling terkait dan nilai membenarkan norma. 3. Sedangkan peranan (role) adalah kumpulan norma yang terkait dengan kedudukan tertentu dalam suatu masyarakat. Ini berarti norma-norma menjelaskan bagaimana kita mengharapkan seseorang dalam kedudukan tertentu berbuat atau tidak berbuat. Struktur sosial ditata oleh peranan, dimana dalam setiap situasi sosial, kita memiliki peranan yang relatif jelas untuk dijalankan. 29 Perkembangan politik di Kota Pematangsiantar sudah berlangsung dengan cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari pastisipasi masyarakat yang sangat tinggi dan kondusifitasnya yang masih terjaga. Selain itu, kondisi Kota Pematangsiantar 29 Nur A Fadhil Lubis. 2006. Multikulturalisme Dalam Budaya. Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNIVISI. Vol II. No. 1 April 2006. hal. 53 Universitas Sumatera Utara yang terdiri dari berbagai etnis dan agama juga tidak menimbulkan diskriminasi dalam partisipasi politik. Mantan Walikota Bapak Hulman Sitorus mengatakan bahwa : 30 “Perkembangan politik dikota Pematangsiantar sangat dinamis, dimana tingkat kepedulian dan partisipatif masyarakat sangat tinggi dan dinamikanya juga sangat tinggi. Sehingga Dinamika Politik di Siantar terkenal dengan “ yang tidak mungkin terjadi, bisa menjadi mungkin terjadi “. Dan jika dilihat dari keberagaman etnis dan agama yang ada di Kota Pematangsiantar, tidak ada pengaruh yang bermakna dalam perkembangan politik. Tujuan politik adalah untuk mencapai kekuasaan, oleh karenanya hal yang wajar dalam strategi para elit politik memakai pendekatan etnis dan agama dalam pencapaian kemenangan merebut kekuasaan, namun dalam beberapa kali pelaksanaan Pemilu maupun Pemilihan Kepala Daerah tidak begitu efektif. Sebagai contoh dalam pemilihan anggota DPRD maupun Kepala Daerah, Jika memakai logika dalam pemilihan legislative maka perwakilan di DPRD tersebut dengan jumlah 30 anggota Dewan, untuk calon muslim yang terpilih idealnya minimal 13 kursi, namun relitanya lain, begitu juga dalam pemilihan KDH”. Hal yang serupa juga dikatakan oleh mantan Wakil Walikota Bapak Koni Ismael Siregar bahwa : 31 “Kondisi politik di Kota Pematangsiantar sangat baik jika dilihat dari segi agama dan etnis yang beragam. Hal ini dapat dilihat dari sikap toleransi antar agama dan etnis yang ada di Kota Pematangsiantar. Sampai saat ini sara atau bentrok antar agama dan etnis tidak pernah terjadi, dan harus kita akui stabilitas politik di Pematangsiantar sangat baik, dan diharapkan ini menjadi contoh buat daerah lain di Sumatera Utara.” 30 31 Hasil wawancara dengan mantan walikota Kota Pematangsiantar. Hasil wawancara dengan mantan wakil walikota Kota Pematangsiantar. 54 Universitas Sumatera Utara Berdasarkan hasil wawancara diatas, tidak diragukan lagi bahwa Kota Pematangsiantar adalah kota yang memiliki toleransi yang tinggi ditengah-tengah keberagaman etnis bahkan agama. Bapak Hulman Sitorus memang tidak memungkiri adanya strategi para elit politik yang menggunakan pendekatan etnis dan agama untuk mencapai kekuasaan. Namun hal ini tidak memberikan pengaruh yang bermakna dalam Pemilihan Kepala Daerah maupun anggota DPRD. Sebagai contoh dalam pemilihan anggota legislatif dengan kandidat terpilih sebanyak 30 anggota dewan yang jika dilihat dari segi agama tidak berimbang antara Kristen dan Islam. Multikulturalisme di Indonesia bersumber pada UUD 1945 yang menyatakan bahwa bangsa dan masyarakat Indonesia terdiri dari beragam kelompok etnis yang memiliki komitmen untuk membangun Indonesia sebagai suatu bangsa. Multikulturalisme di Kota Pematangsiantar dapat dinilai dari segi keanekaragaman yang terdapat dalam pemerintahan, baik legislatif maupun eksekutif. Sudharto mengatakan bahwa multikulturalisme mensyaratkan adanya keterlibatan atau peran serta antar pihak dalam sebuah komunitas besar bernama bangsa. Multikulturalisme mensyaratkan persemaian dalam ruang publik dimana masing-masing saling memberdayakan, tidak sekedar toleransi, tetapi mempersyaratkan usaha untuk saling memahami antara satu dengan yang lain. Dalam masyarakat multikultural haruslah terjadi komitmen antara masyarakat 55 Universitas Sumatera Utara budaya yang satu terhadap masyarakat budaya lain dengan segala karakteristiknya. 32 Dalam wawancara dengan mantan walikota Bapak Hulman Sitorus dikatakan bahwa : 33 “Politik multikultural sudah berjalan dengan baik di Kota Pematangsiantar. Masyarakat dapat menerima adanya perbedaaan etnis yang ada dalam struktur Pemerintahan Kota Pematangsiantar.” Mantan wakil walikota Bapak Koni Ismael Siregar juga mengatakan hal yang sama: 34 “Politik multikultural sangat penting untuk dilakukan karena multikutural merupakan salah satu persyaratan agar stabilitas dan kondusifitas di Kota Pematangsiantar tetap terjaga, multikultural ini juga tidak menjadikan perbedaan antara agama dan etnis yang ada, melainkan sebagai perekat. Multikultural ini saya lihat juga sebagai penguatan antar agama dan etnis.” Kondisi diatas menunjukkan bahwa Kota Pematangsiantar adalah tempat yang aman bagi setiap etnis dan agama yang ada di Indonesia karena toleransi yang dimiliki oleh masyarakatnya sangat tinggi. Keberagaman yang ada tidak menyebabkan perpecahan, sebaliknya menjadi kekuatan untuk pengembangan Kota Pematangsiantar. Hal ini dapat dilihat dari sejarah Kota Pematangsiantar bahwa tidak ada bentrok yang pernah terjadi karena keanekaragaman etnis dan 32 Sudharto. 2012. Multikulturalisme dalam Perspektif Empat Pilar Kebangsaan, Jurnal ilmiah CIVIS, Volume II, No 1. hal. 121. 33 Hasil wawancara dengan mantan walikota Kota Pematangsiantar. 34 Hasil wawancara dengan mantan wakil walikota Kota Pematangsiantar. 56 Universitas Sumatera Utara agama. Masyarakat di Kota Pematangsiantar sebagai masyarakat multikultural sudah mampu menerima adanya perbedaan etnis yang tentunya akan mempengaruhi pola hidup masyarakat di Kota Pematangsiantar. Politik multikulturalisme, bukan hanya sekedar melihat keanekaragaman yang ada dalam komposisi penduduk, tetapi lebih menyeluruh terhadap keanekaragaman yang terdapat dalam pemerintahan kota. Berjalannya politik multikulturalisme di Kota Pematangsiantar dibuktikan dengan pembagian pejabat pada masa kepemimpinan Hulman Sitorus pada tahun 2010-2015 yang terdiri dari berbagai etnis mulai dari pejabat Eselon IV sampai Eselon II yakni: 36 orang suku Batak Toba, 11 orang suku Batak Simalungun, 2 orang suku Batak Karo, 4 orang suku Batak Mandailing, 7 orang suku Jawa dan 1 suku Nias. Dan keberagaman tersebut sudah disadari dan disambut baik oleh masyarakat, bahwa adanya politik multikulturalisme diharapkan dapat meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa khususnya di Kota Pematangsiantar. Salah satu anggota legislatif periode 2014-2019 Bapak Arapen Ginting mengatakan bahwa : 35 “Kondisi politik multikultural di kota Pematangsiantar sudah berjalan dengan baik. Dari Pemerintah Kota sudah berusaha meningkatkan perubahan-perubahan yang nyata. Selain itu sinergitas antara eksekutif dengan legislatif juga telah dibangun untuk memaksimalkan program kerja pemerintah Kota Pematangsiantar. Beliau juga berpendapat bahwa dalam sistem perekrutan di lingkungan Pemerintah Kota Pematangsiantar dalam menduduki jabatan tertentu yaitu berdasarkan kemampuan 35 Hasil wawancara dengan salah seorang anggota legislatif Kota Pematangsiantar. 57 Universitas Sumatera Utara dan kapasitas yang dimiliki oleh tiap individu. Sehingga tidak ada diskriminasi antara etnis mayoritas dan minoritas dalam hal menduduki jabatan di lingkungan Pemerintah Kota Pematangsiantar. Pernyataan yang serupa juga dikatakan oleh salah seorang tokoh masyarakat Bapak Russel Sipayung : 36 “Perkembangan politik di kota Pematangsiantar sudah berjalan dengan baik. Dilihat dari keberagaman etnis dan agama di kota Pematangsiantar, beliau berpendapat bahwa hal ini berpengaruh terhadap kondisi politik akan tetapi dapat diterima sebagai warna tersendiri dalam pemerintahan. Terkait dengan politik multikultural, beliau mengatakan bahwa pemerintah kota sudah melaksanakan dengan baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya etnis yang berbeda dari etnis mayoritas yang menduduki jabatan baik di pemerintahan eksekutif. Beliau berpendapat bahwa kemampuan dan profesionalitas kerja yang dimiliki merupakan kriteria utama yang menjadi prioritas untuk memperoleh kedudukan dalam pemerintahan di Kota Pematangsiantar”. Selain itu, seorang tokoh agama yakni Bapak Pendeta Robert mengatakan bahwa : 37 “Perkembangan politik di Kota Pematangsiantar bertumbuh dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari elemen masyarakat yang cukup berperan sesuai dengan porsi yang ada. Beliau juga mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada ketegangan yang terjadi di tengah masyarakat, misalnya adanya perselisihan dikarenakan perbedaan pendapat. Terkait politik multikultural yang berjalan di pemerintahan Kota Pematangsiantar, beliau berpendapat bahwa sudah terlaksana dengan baik, terarah dan teratur. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya masyarakat diluar etnis mayoritas yang menduduki posisi jabatan di pemerintahan 36 37 Hasil wawancara dengan salah seorang tokoh masyarakat di Kota Pematangsiantar. Hasil wawancara dengan salah seorang tokoh agama di Kota Pematangsiantar. 58 Universitas Sumatera Utara eksekutif. Akan tetapi beliau tidak menyangkal bahwa etnis mayoritas masih tetap mendominasi di tingkat pemerintahan eksekutif. Hasil wawancara dengan beberapa narasumber diatas dapat disimpulkan bahwa kondisi politik multikulturalisme dalam pemerintahan eksekutif sudah berjalan dengan baik di Kota Pematangsiantar. Hal ini dapat dilihat dari komposisi pemerintahan eksekutif yang diwarnai oleh berbagai suku dan agama yang berbeda. Mereka mengatakan bahwa perbedaaan etnis dan agama tidak memberikan pertimbangan khusus bagi sebagian besar masyarakat untuk memilih kandidatnya. Akan tetapi kemampuan dan profesionalitas kerja yang dimiliki merupakan kriteria utama yang menjadi prioritas untuk memperoleh kedudukan dalam pemerintahan di Kota Pematangsiantar. Kondisi diatas sesuai dengan pendapat Taylor yang mengatakan bahwa inti dari konsep parlemen multikultural adalah, setiap kelompok yang ada di Indonesia memiliki perwakilannya langsung di parlemen atau lembaga legislatif. Tugas mereka adalah menyalurkan suara masing-masing kelompok untuk menciptakan keputusan yang didasarkan atas kepentingan bersama. Namun kelompokkelompok tersebut tidak hanya terbatas pada teritori, suku ataupun agama semata melainkan kelompok-kelompok yang memiliki pandangan hidup yang unik serta partikular. 38 38 Reza A.A Wattimena. 2011. Menuju Indonesia Yang Bermakna: Analisis Tekstual-Empiris Terhadap Pemikiran Charles Taylor Tentang Politik Pengakuan dan Multikulturalisme, Serta Kemungkinan Penerapannya di Indonesia. Studia Philosophica et Theologica, Vol 11 No 1. hal. 20. 59 Universitas Sumatera Utara 3.2 Implementasi Politik Multikulturalisme Dalam Komposisi Pemerintahan Eksekutif di Kota Pematangsiantar Kota Pematangsiantar merupakan kota terbesar kedua di Provinsi Sumatera Utara setelah Medan. Keberagaman etnis di Kota Pematangsiantar memberikan warna tersendiri. Mayoritas penduduk yang merupakan etnis Batak Toba mampu memberikan dampak yang positif bagi Kota Pematangsiantar dengan falsafah yang dianut yaitu Dalihan Na Tolu. Dalihan Na Tolu mengajak masyarakat untuk hidup rukun dan bekerja sama dalam mencapai sebuah tujuan. Kota Pematangsiantar adalah Kota yang tenang dan toleran. Di sepanjang sisi Kota ini dapat ditemukan berbagai tempat ibadah dari berbagai agama. Terdapat pula beberapa rumah ibadah yang berdiri berdampingan, seperti Masjid Bakti dan Gereja Kristen Protestan Indonesia di Kelurahan Pondok Sayur, Kecamatan Martoba. Juga terdapat Wihara Avalokitesvara yang di depannya berdiri kokoh patung Dewi Kwan Im setinggi 22,8 meter. Setara Institute pada bulan Agustus hingga Oktober 2015 mengadakan penelitian terkait tingkat toleransi beragama di setiap kota di Indonesia dengan berpedoman pada empat variabel yakni regulasi pemerintah, tindakan pemerintah, regulasi sosial atau peristiwa dan juga demografi agama. Dari penelitian yang diadakan oleh Setara Institute tersebut dapat disimpulkan bahwa dua kota dari Sumatera Utara masuk dalam daftar peringkat tertinggi dimana Pematangsiantar berada di peringkat pertama dan diikuti oleh Kota Sibolga di urutan keenam. 60 Universitas Sumatera Utara Harmoni dalam kehidupan pasar juga berlangsung dengan baik. Pedagang yang berbeda etnis dan agama berjualan secara berdampingan. Kemajemukan yang ada tersebut tidak menyebabkan adanya diskriminasi. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan sosial karena perbedaan etnis tidaklah memberikan dampak yang negatif. Sebaliknya, adanya perbedaan tersebut meningkatkan toleransi serta memberikan keindahan dan warna tersendiri bagi Kota Pematangsiantar. Bangsa Indonesia sebagai negara Bhineka Tunggal Ika terdiri dari berbagai kelompok etnis, budaya, agama, strata sosial, dan lain-lainnya, tentu sangat mendambakan keserasian dalam perbedaan-perbedaan baik dalam hal agama, politik, keamanan, strata sosial maupun pendidikan dalam upaya menciptakan negara dan bangsa yang berkeadilan sosial sebagai cerminan dari negara Pancasila. Multikulturalisme di Indonesia bersumber pada UUD 1945 yang menyatakan bahwa bangsa dan masyarakat Indonesia terdiri dari beragam kelompok etnis yang memiliki komitmen untuk membangun Indonesia sebagai suatu bangsa. 39 Kota Pematangsiantar memiliki masyarakat yang majemuk. Kemajemukan yang ada terdiri dari keanekaragaman suku bangsa, budaya, agama, ras dan bahasa. Keanekaragaman memang identik dengan perbedaan, namun perbedaan yang dimiliki itu bukanlah suatu hal yang dapat dijadikan alasan untuk saling memisahkan diri sebaliknya sebagai perekat yang mempersatukan setiap 39 Sudharto. 2012. Multikulturalisme dalam Perspektif Empat Pilar Kebangsaan Jurnal ilmiah CIVIS, Volume II, No 1. hal. 130. 61 Universitas Sumatera Utara masyarakat di Kota Pematangsiantar. Kondisi masyarakat yang hidup berdampingan sangat erat dengan budaya yang dianut oleh masyarakat mayoritas yakni etnis Batak Toba dimana saling menghargai, bekerja sama dan saling membantu merupakan prinsip dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Di Kota Pematangsiantar sendiri politik multikulturalisme seperti tertulis dalam pembahasan sebelumnya sudah berjalan dengan baik. Hal ini dpaat dilihat pada posisi Pemerintahan eksekutif maupun legislatif yang diduduki oleh berbagai macam etnis dan agama yang berbeda-beda. Bahkan terdapat etnis minoritas di dalamnya seperti suku Nias. Mantan Wakil Walikota Kota Pematangsiantar Bapak Koni Ismael Siregar mengatakan : 40 “Berkaitan dengan implementasi politik multikultural dari sudut struktural pemerintahan Kota Pematangsiantar, dimana seseorang yang memiliki prestasi kerja di struktur pemerintahan sangat diperhatikan. Jadi tidak ada diskriminasi antar agama dan etnis, kalau memang prestasi kerjanya baik, dia layak untuk diperhitungkan.” Berdasarkan pernyataan diatas, perbedaan etnis bukanlah menjadi penghalang bagi mereka yang berprestasi untuk diperhitungkan menempati posisi sebagai pejabat eksekutif di Kota Pematangsiantar. Berdasarkan posisi yang ada di dalam struktur pemerintahan eksekutif di Kota Pematangsiantar, memang masih didominasi oleh etnis mayoritas. Akan tetapi kehadiran etnis lainnya tetap diharapkan mampu bersaing dalam 40 Hasil wawancara dengan mantan wakil walikota Kota Pematangsiantar. 62 Universitas Sumatera Utara memperoleh kedudukan di struktur Pemko Pematangsiantar. Hal ini diakui oleh mantan walikota Bapak Hulman Sitorus yang mengatakan bahwa : 41 “Masyarakat beda etnis dalam komposisi eksekutif masih sangat minim. prinsip masyarakat sangat berharap adanya cerminan keseimbangan etnis dan agama dalam komposisi eksekutif meskipun hal tersebut tidak selalu menjadi dominan, namun tetap menjadi harapan.” Mantan wakil walikota Bapak Koni Ismael Siregar juga mengatakan hal serupa bahwa : 42 “Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sampai hari ini struktur jabatan di Pemko Pematangsiantar di dominasi oleh Batak Toba. Tapi pada awalnya etnis yang mendominasi adalah etnis Simalungun, tapi mungkin ada perpindahan pejabat dari daerah lain dan memiliki prestasi, maka di promosikan ke dalam lingkungan Pemko Pematangsiantar. Jumlah penduduk Batak Toba di Pematangsiantar yang merupakan etnis terbanyak menjadi salah satu alasan juga.” Partisipasi masyarakat minoritas dalam kegiatan politik sudah berlangsung dengan baik, meskipun dalam struktur Pemko Pematangsiantar kehadiran mereka masih minim. Kondisi ini tergantung pada Kepala dan Wakil Kepala Daerah dalam hal ini Walikota dan Wakil Walikota dalam menyeleksi atau merekrut etnis-etnis lainnya. Dalam hal ini tidaklah mengedepankan etnis atau agama tertentu, akan tetapi berdasarkan profesionalitas kerja para kandidat. Seperti yang dikatakan oleh mantan walikota Bapak Hulman Sitorus : 43 41 Hasil wawancara dengan mantan walikota Kota Pematangsiantar. Hasil wawancara dengan mantan wakil walikota Kota Pematangsiantar. 43 Hasil wawancara dengan mantan walikota Kota Pematangsiantar. 42 63 Universitas Sumatera Utara “Pemerintah secara nasional dan diikuti secara khusus di daerah sangat begitu baik dan tersistem dimana tetap mengedepankan persamaan semua hak dan kewajiban yang sama bagi setiap warga masyarakat dan warga bangsa serta menjamin kebebasan hak konstitusi dari warga negara Indonesia sebagaimana diatur dalam perundangan-undangan negara.” Beliau mengatakan bahwa peran pemerintah dalam politik multikultural khususnya dalam persamaan kesempatan dan peluang dalam partisipasi politik di Kota Pematangsiantar sudah berjalan dengan baik. Pemerintah tetap mengedepankan persamaan semua hak dan kewajiban yang sama bagi setiap warna masyarakat serta menjamin kebebasan hak konstitusi dari warga negara Indonesia sebagaimana diatur dalam perundangan-undangan negara. Hal berbeda dikatakan oleh mantan wakil walikota Bapak Koni Ismael Siregar yakni : 44 “Sebaiknya tidak demikian, tapi timbul memang kalau pemimpin itu lebih memperhatikan dan merangkul sukunya. Karena dia merasa itu merupakan bagian dari kulturnya, tapi tetap saja tidak terlepas dari kinerja dan prestasi pegawai itu sendiri. Jangan asal milih tapi tidak memenuhi syarat untuk mengisi jabatan. Selain faktor etnis, faktor agama juga menjadi pertimbangan, kalau misalnya pemimpin tersebut tidak dapat dipungkiri dia akan lebih memilih yang seagama dengannya. Jadi terkadang yang tidak seetnis dengan pemimpin merasa di “anak tirikan” atau tidak diberdayakan.” Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Koni Ismael Siregar diatas tidak dipungkiri oleh beliau bahwa di Kota Pematangsiantar seharusnya etnis dan agama masyarakat itu tidaklah menjadi patokan yang berarti untuk memilih anggota eksekutif. Beliau mengakui bahwa seorang pemimpin dalam hal ini Kepala Daerah memilih calon anggota yang memiliki etnis dan agama yang sama 44 Hasil wawancara dengan mantan wakil walikota Kota Pematangsiantar. 64 Universitas Sumatera Utara dengannya. Meskipun demikian tetap memperhatikan kinerja dan prestasi pegawai itu sendiri. Hal tersebut lebih lanjut diakui oleh beliau bahwa terkait perekrutan pejabat di Pemerintah Kota Pematangsiantar memang terdiri dari sistem karir dan prestasi kerja. Akan tetapi sistem tersebut belum berjalan dengan baik serta tidak berpedoman pada aturan dan peraturan. “Kalau terkait dengan sistem perekrutan pejabat atau promosi jabatan terdiri dari sistem karir dan prestasi kerja. Tetapi di Kota Pematangsiantar sistem ini bisa dibilang belum terlaksana dengan baik dan tidak berpedoman pada aturan dan peraturan. Artinya seseorang itu dilihat gak prestasinya atau kinerjanya, jangan kesannya jadi suka-suka. Nah ini juga berkaitan dengan etnis dan agama tadi, yang tidak pantas menduduki jabatan tersebut, malah mendudukinya hanya karena kesamaan etnis dan agama dengan pemimpinnya, ini bukan hal yang bagus. Jadi kedepannya pemimpin harus memperhatikan pejabat yang ingin dipromosi berdasarkan prestasi kerja, pendidikan, pengalaman, loyalitas dan lain sebagainya.” 45 Dengan jujur beliau mengakui bahwa kesamaan etnis bahkan agama cukup berpengaruh dalam pemilihan pejabat eksekutif di Kota Pematangsiantar. Ketidaksesuaian dengan kriteria yang seharusnya digunakan itu memberikan dampak yang negatif bagi masyarakat minoritas dimana dalam pernyataan sebelumnya seperti “dianaktirikan”. Sehingga beliau berharap agar untuk kepemimpinan selanjutnya harus tetap memperhatikan pejabat yang ingin dipromosikan harus berdasarkan prestasi kerja, pendidikan, pengalaman, loyalitas dan lain sebagainya. 45 Hasil wawancara dengan mantan wakil walikota Kota Pematangsiantar. 65 Universitas Sumatera Utara Sedangkan menurut mantan walikota Bapak Hulman Sitorus, sistem perekrutan pejabat di Pemko Pematangsiantar tetap mengedepankan profesionalitas kerja seperti dikatakan berikut ini : 46 “Sepengetahuan saya ya, karena tetap melakukan perekrutan dengan mengedepankan fit and profer tes yang dilaksanakan oleh tim baperjakat yang ada di BKD termasuk menempatkan calon pejabat yang sudah mengetahui secara jelas Tupoksi yang akan dilakukan guna menyelaraskan program kinerja pemerintah daerah dalam mewujudkan pembangunan sesuai dengan visi misi daerah kota Pematangsiantar Siantar Mantap, Maju dan Jaya.” Pendapat yang berbeda dari Kepala dan Wakil Kepala Daerah tersebut memang menimbulkan pertanyaan tersendiri bagi penulis tentang keharmonisan hubungan pemimpin dalam menjalankan tugasnya pada sistem pemerintahan Pemko Pematangsiantar. Akan tetapi juga menjadi sebuah gambaran realita yang tersirat dalam sebuah kepemimpinan dan kaitannya dengan strategi politik. Meskipun demikian hasil wawancara dengan kaum minoritas seperti tertulis pada pembahasan sebelumnya dikatakan bahwa beliau tidak merasakan adanya perbedaan dalam persamaan hak sebagai masyarakat. Mereka mengakui bahwa masyarakat mayoritas memang masih dominan dalam jabatan eksekutif akan tetapi bukanlah menjadi hal yang penting karena mereka dianggap memiliki kemampuan dan profesionalitas kerja yang baik. Kondisi diatas tidaklah terlepas dari perjuangan masyarakat minoritas untuk menunjukkan eksistensi diri dalam pemerintahan di Kota Pematangsiantar. 46 Hasil wawancara dengan mantan walikota Kota Pematangsiantar. 66 Universitas Sumatera Utara Hal ini sesuai dengan defenisi politik multikulturalisme menurut Charles Taylor yaitu perjuangan untuk mendapatkan pengakuan, yakni pengakuan akan keberadaan berbagai kelompok dengan pandangan hidup yang berbeda-beda, dan kebijakan politik yang mampu memungkinkan kelompok-kelompok tersebut tumbuh dan berkembang, lepas dari keterbatasan serta keunikan identitas yang dimiliki masing-masing kelompok. 47 Konsep ini didukung oleh teori multikulturalisme Kymlica yang menyatakan bahwa multikulturalisme adalah sebentuk nasionalisme dimana tradisi liberal memiliki sejarah yang mengakui hak-hak yang dibedakan berdasarkan golongan. Menurut Kymlica, hak-hak minoritas tidak dapat digolongkan sebagai hak asasi manusia karena standar-standar hak asasi manusia tidak mampu menyelesaikan persoalan yang paling penting dan kontroversial terkait golongan minoritas budaya. Karena itu Kymlica berambisi mengembangkan sebuah teori liberal untuk hak-hak minoritas yang menjelaskan bagaimana hak minoritas hidup berdampingan dengan hak asasi manusia, bagaimana hak minoritas akan dibatasi dengan prinsip kemerdekaan individu, demokrasi, dan keadilan sosial. 48 Kondisi yang demikian sudah berlangsung di Kota Pematangsiantar, dimana masyarakat mayoritas dan minoritas memiliki kesempatan dan hak yang sama dalam kegiatan-kegiatan politik. 47 Reza A.A Wattimena. 2011. Menuju Indonesia Yang Bermakna: Analisis Tekstual-Empiris Terhadap Pemikiran Charles Taylor Tentang Politik Pengakuan dan Multikulturalisme, Serta Kemungkinan Penerapannya di Indonesia. Studia Philosophica et Theologica, Vol 11 No 1. hal. 18. 48 Gerald F. Gaus dan Kukathas Chandran. 2012. Handbook Teori Politik. Jakarta: Nusa Media. Hal. 67 Universitas Sumatera Utara Pada teorinya, Kymlica juga membedakan hak minoritas ke dalam tiga pembagian yaitu: 1. Hak menyelenggarakan pemerintahan sendiri Mengharuskan adanya pendelegasian kekuasaan kepada golongan minoritas bangsa. 2. Hak polietnis Menjamin dukungan financial dan perlindungan hukum bagi praktikpraktik yang menjadi ciri khas beberapa golongan etnis atau agama. 3. Hak perwakilan khusus Menjamin tempat bagi wakil-wakil golongan minoritas di badan atau lembaga negara. Bila dianalisa terhadap keadaan masyarakat minoritas di Kota Pematangsiantar, yang paling mungkin terpenuhi adalah hak polietnis dan hak perwakilan khusus. Hak polietnis di Kota Pematangsiantar sudah berlangsung dengan baik, hal ini dapat dilihat dari kedudukan masyarakat mayoritas dan minoritas yang sama di depan hukum. Masyarakat minoritas hidup dengan aman dan nyaman. Tidak ada diskriminasi dari pemerintah maupun dari masyarakat setempat. Selain itu, terjaminnya kebebasan berkumpul bagi masyarakat minoritas, merupakan sebuah pembuktian bahwa masyarakat minoritas di Kota Pematangsiantar mendapatkan adanya hak Polietnis. Sementara dengan adanya calon anggota legislatif yang berasal dari luar etnis Batak dan adanya beberapa jabatan yang diduduki oleh masyarakat minoritas, membuktikan bahwa 68 Universitas Sumatera Utara masyarakat minoritas di Kota Pematangsiantar memperoleh adanya hak perwakilan khusus, dimana mereka tetap memiliki kesempatan yang sama dengan masyarakat minoritas untuk menduduki jabatan-jabatan tertentu pada pemerintahan eksekutif. Sedangkan untuk hak menyelenggarakan pemerintahan sendiri di Kota Pematangsiantar sejauh ini belum terlaksana. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya perlakuan ataupun program khusus pemerintah bagi masyarakat minoritas disana, sehingga belum terdapat gambaran apapun akan sebuah pendelegasian kekuasaan kepada masyarakat minoritas. Kesempatan yang sama bagi masyarakat mayoritas maupun minoritas dalam struktur pemerintahan eksekutif memang menjadi poin penting. Demikian juga dalam susunan birokrasi Pemko Pematangsiantar. Bapak Hulman Sitorus mengatakan : 49 “Kota siantar ini unik, bagi kalangan minoritas katakanlah salah satunya suku Tionghoa, mereka ini mayoritas jarang yang ada mau duduk di birokrasi (PNS) mereka lebih cenderung ke dunia bisnis/perdanganan dan jika adapun satu dua orang mereka juga diperlakukan secara sama dengan yang lain sepanjang mempunyai kemampuan serta persyaratan yang lengkap sebagaimana mekanisme yang berlaku dan sesuai aturan yang ada tetap punya kesempatan.” Meskipun masyarakat minoritas masih minim dalam susunan birokrasi Pemko Pematangsiantar, namun partisipasi mereka sangat baik dalam kegiatankegiatan di Kota Pematangsiantar. Mereka juga sangat memberikan andil 49 Hasil wawancara dengan mantan walikota Kota Pematangsiantar. 69 Universitas Sumatera Utara pembangunan dan kemajuan kota ini termasuk pemahaman politik juga sudah sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kali Pemilu pada periode yang lalu bahwa masyarakat minoritas juga sangat peduli bahkan ikut serta dalam berbagai kegiatan termasuk kegiatan politik. Seperti yang dikatakan oleh Bapak Koni Ismael yakni: 50 “Masyarakat minoritas tetap ikut berkiprah membangun Kota Pematangsiantar dan tiap-tiap etnis minoritas ini memiliki paguyuban, dan sampai saat ini mereka ikut berpartisipasi dalam membangun Kota Pematangsiantar.” Dari wawancara tersebut beliau menegaskan bahwa meskipun masyarakat minoritas minim dalam struktur pemerintahan kota pematangsaintar, akan tetapi mereka tetap memiliki peran yang berarti dengan mendirikan paguyuban yang tujuannya adalah ikut serta dalam membangun Kota Pematangsiantar. Toleransi yang tercipta di lingkungan Kota Pematangsiantar memang sudah tidak diragukan lagi. Oleh karena itu patut diapreasiasi bahwa keberagaman etnis, suku dan budaya sudah membaur dan terjalin dengan baik di dalam diri warga kota Pematangsiantar sehingga antara minoritas dan mayoritas sudah tidak nampak ada perbedaan yang signifikan dimana rasa toleranasi juga sudah sangat baik dimana hal ini dapat kita lihat dalam aktifitas masyarakat di kota Pematangsiantar yang sudah sangat paham arti pentingnya kebersamaan hidup ditengah keberagaman. 50 Hasil wawancara dengan mantan wakil walikota Kota Pematangsiantar. 70 Universitas Sumatera Utara Dalam hal ini dapat dilihat bagaimana peran politik multikultural itu menjadi pemersatu antara beda etnis bahkan agama ditengah keberagaman yang ada di Kota Pematangsiantar. Seperti yang dikatakan oleh Kymlicka bahwa arah atau tujuan politik multikulturalisme adalah : ”Pengakuan keberagaman budaya yang menumbuhkan kepedulian agar berbagai kelompok yang termarjinalisasi dapat terintegrasi, dan masyarakat mengakomodasi perbedaan budaya agar kekhasan identitas mereka diakui”. Keanekaragaman yang terdapat di Kota Pematangsiantar diterima oleh masyarakat dengan baik yang dibuktikan dengan adanya kerukunan dan toleransi diantara masyarakat beda agama dan etnis. Keberhasilan multikultural dalam memerankan fungsinya sebagai perekat sosial (social integrative factor), dipengaruhi oleh suasana sosial yang berjalan. Suasana sosial ini dipengaruhi oleh kemampuan pemerintah dan kepemimpinan nasional dalam mengendalikan berbagai aktifitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Apabila sistem pemerintah, sitem politik, sistem ekonomi, dan sistem pertahanan keamanan berjalan sedemikian rupa sehingga masyarakat aman, tertib dan sejahtera maka fungsi multikulturalisme sebagai perekat akan mudah membawa keberhasilan. Sebaliknya jika sistem dan faktor tersebut tidak berjalan semestinya fungsi perekat tersebut akan kurang berhasil, sehingga integritas NKRI akan terancam. 51 51 Sudharto. 2012. Multikulturalisme dalam Perspektif Empat Pilar Kebangsaan, Jurnal ilmiah CIVIS, Volume II, No 1. hal. 130. 71 Universitas Sumatera Utara Kondisi keberagaman yang ada di Kota Pematangsiantar sepertinya lebih sesuai bila disandingkan dengan teori multikultural Parekh. Dengan teori multikultural Parekh, kondisi keberagaman di Kota Pematangsiantar dijelaskan kedalam beberapa bagian: 52 - Multikulturalisme Isolasionis Masyarakat minoritas di Kota Pematangsiantar menjalankan kehidupannya secara otonom. Mereka dapat mengatur kehidupan mereka sendiri tanpa perlu ada campur tangan dari masyarakat mayoritas maupun pemerintah, sekalipun komunikasi mereka terlibat dalam interaksi yang luas terhadap masyarakat mayoritas dan pemerintah. - Multikulturalisme Akomodatif Masyarakat etnis Batak yang merupakan masyarakat mayoritas di Kota Pematangsiantar memberikan penyesuaian bagi masyarakat minoritas. Mereka memperlakukan masyarakat minoritas sebagai anggota keluarga yang harus dihormati dan dihargai kedudukannya dalam masyarakat. Masyarakat minoritas dianggap merupakan sebuah bagian dari masyarakat Kota Pematangsiantar yang tidak dapat terpisahkan oleh karena beda etnis dan agama. - Multikulturalisme Otonomis Masyarakat mayoritas di Kota Pematangsiantar tetap memberikan peluang terhadap masyarakat minoritas. Terlihat dalam kesetaraan sosial, 52 Muhiddinur Kamal. 2013. Pendidikan Multikultural Bagi Masyarakat Indonesia Yang Majemuk: Jurnal Alta’lim, Jilid 1 No 6. hal. 454. 72 Universitas Sumatera Utara pengakuan hak-hak administasi dari pemerintah, pencalonan anggota legislatif, dan adanya jabatan eksekutif yang dipangku oleh masyarakat minoritas. Masyarakat minoritas tetap dapat berkumpul dalam perkumpulan mereka, dan bebas berinteraksi kepada etnis manapun di Kota Pematangsiantar. - Multikulturalisme Kritikal Masyarakat mayoritas maupun masyarakat minoritas di Kota Pematangsiantar, sama-sama tidak mengedepankan etnis masing-masing. Sesama etnis berusaha untuk melebur antara satu sama lain untuk menciptakan kondisi lingkungan hidup yang rukun dan kondusif di tengah keanekaragaman yang ada. Terlihat dari aktifnya masing-masing etnis untuk mengikuti aktifitas sosial dan politik. - Multikulturalisme Kosmopolitan Masyarakat minoritas dan masyarakat mayoritas di Kota Pematangsiantar sama-sama menghapuskan perbedaan yang ada sebagai imbas dari keaenekaragaman yang ada. Masing-masing etnis berusaha menerima pola dan kebudayaan antara satu dengan yang lain. Melihat pembagian multikultural menurut Parekh, bila dibandingkan dengan keadaan yang ada dalam masyarakat Pematangsiantar, terdapat sebuah gambaran bahwa tidak ada diskriminasi etnis maupun sentiment etnis antara etnis 73 Universitas Sumatera Utara mayoritas dan minoritas. Masing-masing etnis berusaha untuk memberikan kondisi hidup yang nyaman di antara pembauran kebudayaan yang ada. Kondisi masyarakat yang beragam di Kota Pematangsiantar secara tidak langsung menciptakan identitas yang berbeda pada masing-masing etnis. Identitas sebagai ciri khas masing-masing etnis menciptakan pola interaksi yang berbeda pula. Sehingga dengan pola interaksi yang berbeda melahirkan peran yang berbeda, dimana peran mengacu pada bagaimana seseorang melakukan perannya ketika menduduki posisi tertentu dalam konteks sosial tertentu. Pembagian pribadi dalam identitas sosial di Kota Pematangsiantar, bila dibandingkan dengan teori indentitas sosial menurut Hecht adalah: - Pribadi Lapisan Masyarakat minoritas maupun masyarakat mayoritas sama-sama ambil bagian dalam proses kehidupan sosial dan politik. Masyarakat minoritas yang minim peran dalam proses pencalonan anggota legislatif, juga mengambil peran yang lain, dengan tidak menjadi calon, tetap aktif menjadi tim pemenangan dan ikut menggunakan hak pilihnya. Masyarakat minoritas juga ikut ambil bagian dalam pemangku jabatan eksekutif. Adanya masyarakat minoritas yang menduduki jabatan eksekutif menjadi pembuktian bahwa tidak ada diskriminasi penggolongan jabatan dari pemerintah terhadap masyarakat minoritas di Kota Pematangsiantar. 74 Universitas Sumatera Utara - Berlaku Masyarakat minoritas mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang didominasi oleh masyarakat etnis Batak baik dalam kehidupan sosial maupun politik. Dalam kehidupan sosial mereka dapat berbaur dengan kebiasaan hidup masyarakat Batak, terlebih dalam proses adat. Dalam hakhak politik, sekalipun ada kecenderungan untuk sekedar mengikuti pemerintahan yang ada, masyarakat minoritas tetap berusaha memberikan peran dengan menduduki jabatan di eksekutif. - Relasional Layer Antara masyarakat mayoritas dan masyarakat minoritas sama-sama hidup berbaur dengan tujuan yang sama, mencapai hidup rukun dan toleran. Terdapat persamaan peluang dalam kehidupan politik, baik dalam pengakuan Hak Asasi Manusia, perolehan hukum yang setara, pengakuan hak-hak politik dan hak-hak administrasi yang sama. Mereka tidak merasa bahwa pemerintah mendiskriminasikan mereka. - Komunal Masyarakat mayoritas maupun minoritas memiliki corak tersendiri yang menggambarkan karakteristik umum dan ingatan kolektif. Kemajemukan yang ada di Kota Pematangsiantar tidak menyamarkan ikatan yang ada dalam suatu kelompok masyarakat dengan etnis tertentu. Misalnya, masyarakat minoritas dalam hal politik memberikan hak pilihnya pada beberapa calon yang sama sebagai bukti bahwa mereka memiliki indikator penilaian tertentu 75 Universitas Sumatera Utara yang sama para calon yang mengharapkan hak suara mereka dalam pemilihan anggota legislatif. Identitas sosial tidak terbentuk dengan sendirinya. Hogg memberikan penjelasan bahwa dalam proses pembentukan identitas individu memiliki 2 motivasi yaitu : 53 - Self Enchancemen (peningkatan diri) Self Enchancemen oleh individu dimanfaatkan untuk memajukan atau menjaga status kelompok mereka terhadap kelompok lain yang berada di luar dirinya. Selain itu juga berfungsi untuk mengavaluasi identitas kolektif. Bila dibandingkan dengan masyarakat di Kota Pematangsiantar, hal ini menjadi jelas bahwa masyarakat minoritas dianggap mampu bersaing untuk menunjukkan kemampuannya dalam bidang politik. Hal ini dapat dilihat dari beberapa pejabat eksekutif yang berasal dari masyarakat etnis minoritas. Kondisi tersebut tidak menjadi penghalang untuk ikut serta dalam kegiatankegiatan politik karena tidak adanya perbedaan hak dan kesempatan baik di dalam pemerintahan maupun di masyarakat. Bahkan hasil wawancara dengan seorang narasumber mengatakan bahwa masyarakat minoritas yang duduk dalam struktur pemerintahan di Kota Pematangsiantar dapat meningkatkan rasa bangga dan diharapkan dapat mewakili hak-hak masyarakat minoritas dengan baik. 53 Michael A. Hogg. 2004. The Social Identity Prespective: Intergroup Relation. Self-Conception, and Small Group Research, Vol 35 No.3 June 2004. Sage Publication. hal. 254. 76 Universitas Sumatera Utara - Uncertainty Reduction (reduksi yang tidak menentu) Untertainty Reduction dilakukan untuk mengetahui posisi kondisi sosial dimana ia berada. Tanpa motivasi ini individu tidak tau dirinya sendiri, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana mereka harus melakukannya. Berdasarkan hasil analisa wawancara dengan narasumber masyarakat minoritas di Kota Pematangsiantar memang sudah ada yang ikut serta sebagai kandidat dalam pemilihan anggota eksekutif maupun legislatif. Bahkan sudah ada masyarakat minoritas yang duduk di bangku eksekutif maupun legislatif. Meskipun demikian, jumlahnya masih sangat sedikit. Hal ini disebabkan karena kurangnya minat masyarakat untuk mencalonkan diri disamping kondisi finansial yang belum memadai. Berdasarkan konsep motivasi ini, masyarakat minoritas sudah memiliki kesadaran akan posisi sosial nya sebagai masyarakat sehingga tidak sedikit yang berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan politik di Kota Pematangsiantar. Melihat kondisi yang ada di Kota Pematangsiantar dimana masyarakat minoritas masih minim dalam struktur pemerintahan eksekutif di Kota Pematangsiantar timbul pertanyaan apakah ada kebijakan tertentu yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk masyarakat minoritas. Pertanyaan tersebut dijawab oleh Bapak Hulman Sitorus demikian : 54 “Saya rasa perlakuan politik multikultural di Pematangsiantar ini tidak ada pembedaan antara minoritas dan mayoritas, semuanya mempunyai hak dan kewajiban yang sama terkhusus dalam hal politik sama-sama mempunyai kesempatan yang sama.” 54 Hasil wawancara dengan mantan walikota Kota Pematangsiantar. 77 Universitas Sumatera Utara Hal serupa juga dikatakan oleh Bapak Koni Ismael Siregar yaitu : 55 “Tidak ada kebijakan khusus terhadap masyarakat minoritas. Akan tetapi sebaiknya pemerintah Kota Pematangsiantar memperhatikan kaum minoritas, karena ini merupakan aset dan peduli dengan perkembangan Kota Pematangsiantar. Kalau dia mendiami Siantar, berarti dia aset yang harus diperhatikan oleh pemerintah Kota Siantar.” Berdasarkan ekonomi masyarakat minoritas, memang tidak sedikit dari masyarakat etnis minoritas, tergolong dalam keadaan ekonomi masyarakat prasejahtera. Namun, dengan keadaan ekonomi yang demikian, bukan berarti menutup kemungkinan bagi mereka untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan politik. Pemerintah eksekutif sebagai roda pemerintahan daerah, haruslah memberi perhatian khusus bagi masyarakat etnis minoritas yang ada. Masyarakat minoritas yang tergolong dalam golongan prasejahtera, harus diberikan bimbingan khusus dalam pola-pola perbaikan ekonomi. Tidak dapat dipungkiri, bahwa kondisi ekonomi pasti mempengaruhi tingkat entisitas politik sebuah masyarakat, maka pemerintah harus memberikan program khusus bagi masyarakat etnis minoritas yang ada di Kota Pematangsiantar. Program pemerintah eksekutif terhadapat masyarakat minoritas, bukan semata hanya pada bidang ekonomi. Pemerintah eksekutif juga dapat memberikan pendidikan politik bagi masyarakat etnis minoritas melalui pertemuan-pertemuan maupun seminar politik dengan masyarakat desa, dengan menghadirkan mereka sebagai objek bimbingan pemerintah dalam politik. 55 Hasil wawancara dengan mantan wakil walikota Kota Pematangsiantar. 78 Universitas Sumatera Utara Dalam susunan pemerintahan birokrasi, pemerintah juga tidak boleh lupa untuk memberikan tempat khusus bagi masyarakat minoritas yang memiliki potensi kinerja yang baik, demi menjaga keterwakilan masyarakat minoritas dalam pemerintahan eksekutif. Peran pemerintah eksekutif dan legislatif dalam membimbing masyarakat etnis minoritas untuk meningkatkan minat dalam kegiatan politik, tidak terlepas dari peran komponen pemerintahan demokrasi. Komponen pemerintahan demokrasi terdiri oleh: 56 1. Para Pemilih Terdiri dari rakyat yang secara sah memenuhi syarat untuk memberikan suaranya pada lembaga-lembaga yang akan memiliki kekuasaan memerintah. 2. Partai-partai atau kelompok kekuatan sosial politik Muncul dari tengah-tengah rakyat dan dalam demokrasi, mereka mengadakan asosiasi secara bebas. 3. Badan legislatif Suatu lembaga perwakilan yang otoritatif yang memikirkan dan membentuk kemauan pemerintah, membuat statute, menetapkan kebijakan dan menentukan anggaran. 4. Badan Eksekutif Badan/lembaga inilah yang sebagian tugasnya membuat peraturan-peraturan, sebagian melaksanakan peraturan- 56 Prof. Drs. S. Pamudji, MPA. 1993. Kepemimpinan Pemerintahan di Indonesia. Jakarta. Bumi Aksara Jakarta. hal. 52. 79 Universitas Sumatera Utara peraturan dan yang sebagian lagi bertanggung jawab untuk menetapkan politik luar negeri dan melaksanakan kepemimpinan umum dalam pemerintahan. 5. Pejabat-pejabat karier Membantu pejabat-pejabat eksekutif dan secara tidak langsung juga badan eksekutif. Pembagian komponen-komponen pemerintahan demokrasi di atas, memberikan penjelasan bahwa masing-masing komponen memiliki fungsi masing-masing dalam masyarakat politik. Pemerintah eksekutif dan legislatif harus memiliki kombinasi yang baik dengan masyarakat, terlebih pada pemerintah legislatif yang langsung mewakili rakyat di parlemen. 80 Universitas Sumatera Utara BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan 1. Politik multikulturasme adalah politik tentang hak-hak minoritas. Politik multikulturalisme mendorong suatu negara untuk memperluas respek terhadap otonomi kultural terhadap minoritas bangsa dalam bentuk pengakuan hak-hak minoritas. Seperti halnya di Kota Pematangsiantar, dimana dalam pemrintahan eksekutif yang dipimpin oleh etnis Batak Toba lebih dominan dalam hal penentuan pejabat di struktur pemerintahan eksekutif Kota Pematangsiantar tanpa mengesampingkan etnis-etnis yang ada dalam pemrintahan Kota Pematangsiantar. 2. Identitas merupakan produk interaksi simbolik yang menjelaskan hubungan antara masyarakat dan individu atas dasar peran. Peran inin mengacu kepada fungsi atau bagaimana seorang melakukan perannya ketika menduduki posisi tertentu dalam konteks sosial tertentu. Hal ini terjadi pada pemerintahan Kota Pematangsaintar dimana pemrintahan dijalankan oleh walikota sesuai dengan adat istiadat dan asal-usul daai wallikota tersebut. Hal ini terlihat dari bagaimana pejabat-pejabat di struktur pemerintahan eksekutif Kota Pematangsiantar hampir didominasi orang-orang yang satu etnis dengan walikota. 3. Dampak positif dari politik multikulturalisme di Kota Pematangsiantar adalah sistem pemerintahan di Kota Pematangsiantar berjalan dengan baik. Hal ini 81 Universitas Sumatera Utara ditunjukkan dengan bagaimana etnis mayoritas dapat menaungi kepentingan dari etnis minoritas. 4. Dampak negatif dari politik multikulturalisme di Kota Pematangsiantar adalah belum sejajarnya keberagaman etnis dalam komposisi pemerintahan eksekutif di Kota Pematansiantar dan sangat kuatnya peran dari walikota untuk menentukan pejabat-pejabat dalam struktur pemerintahan eksekutif Kota Pematangsiantar. 4.2 Saran 1. Perlunya kesejajaran dalam pembagian pejabat di struktur pemerintahan Kota Pematangsiantar. 2. Dalam mengisi struktur pemerintahan diharapkan dilihat dari kualitas pendidikan dari tiap-tiap orang yang ada dalam struktur pemerintahan eksekutif. 82 Universitas Sumatera Utara BAB II PROFIL KOTA PEMATANGSIANTAR, SUMATERA UTARA 2.1 Kondisi Geografis Kota Pematangsiantar Kota Pematangsiantar merupakan wilayah yang berada di tengah-tengah Kabupaten Simalungun, yakni pada ketinggian 400-500 meter dpl (diatas permukaan laut), yang secara geografis terletak pada garis 2o 53’ 20”-3o 01’ 00” Lintang Utara dan 99o 1’ 00”-99o 6’ 35” Bujur Timur. Kota Pematangsiantar tergolong ke dalam daerah tropis dan daerah datar, beriklim sedang dengan suhu maksimum 30,4oC dan suhu minimum 21,10C. Selama tahun 2013, kelembapan udara rata-rata 85%. Rata-rata tertinggi pada bulan Januari dan Oktober, masingmasing mencapai 88%, sedangkan curah hujan rata-rata 314mm dimana curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember yang mencapai 560mm 23. Luas daratan Kota Pematangsiantar adalah 79.971 Km2, yang secara Administratif terdiri dari 8 Kecamatan, yaitu : 1. Kecamatan Siantar Marihat 2. Kecamatan Siantar Marimbun 3. Kecamatan Siantar Selatan 4. Kecamatan Siantar Barat 5. Kecamatan Siantar Utara 6. Kecamatan Siantar Timur 7. Kecamatan Siantar Martoba 23 Badan Pusat Statistik, 2014. Pematangsiantar dalam angka 2014. 30 Universitas Sumatera Utara 8. Kecamatan Siantar Sitalasari Adapun luas daerah berdasarkan Kecamatan adalah sebagai berikut: Tabel 2.1: Luas Daerah Berdasarkan Kecamatan No Kecamatan Jumlah Kelurahan Luas Wilayah (Km2) 1 Siantar Marihat 7 7,825 2 Siantar Marimbun 6 18,006 3 Siantar Selatan 6 2,020 4 Siantar Barat 8 3,205 5 Siantar Utara 7 3,650 6 Siantar Timur 7 4,520 7 Siantar Martoba 7 18,022 8 Siantar Sitalasari 5 22,723 Jumlah 53 79,971 Sumber Data: Pematangsiantar Dalam Angka 2014. Luas (%) 9,78 22,52 2,53 4,01 4,56 5,65 22,54 28,41 100,00 Melihat hasil dari Tabel 2.1, bahwa Kecamatan Siantar Sitalasari merupakan kecamatan dengan ukuran wilayah yang paling luas dengan luas 22,723 Km2 atau dengan 28,41% luas wilayah Kota Pematangsiantar. Sedangkan kecamatan dengan ukuran wilayah yang paling kecil adalah Kecamatan Siantar Selatan dengan luas 2,020 Km2 atau sekitar 2,53% dari luas wilayah Kota Pematangsiantar. 2.2 Sejarah Kota Pematangsiantar Pematangsiantar merupakan Daerah Kerajaan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Pematangsiantar yang berkedudukan di Pulau Holing dan raja terakhir dari dinasti ini adalah keturunan marga Damanik yaitu 31 Universitas Sumatera Utara Tuan Sang Nawaluh Damanik yang memegang kekuasaan sebagai raja tahun 1906. Di sekitar Pulau Holing kemudian berkembang menjadi perkampungan tempat tinggal penduduk diantaranya Kampung Suhi Haluan, Siantar Bayu, Suhi Kahean, Pantoan, Suhi Bah Bosar, dan Tomuan. Daerah-daerah tersebut kemudian menjadi daerah hukum Kota Pematangsiantar yaitu : 1. Pulau Holing menjadi Kampung Pematang 2. Siantar Bayu menjadi Kampung Pusat Kota 3. Suhi Kahean menjadi Kampung Sipinggol-pinggol, Kampung Melayu, Martoba, Sukadame, dan Bane 4. Suhi Bah Bosar menjadi Kampung Kristen, Karo, Tomuan, Pantoan, Toba dan Martimbang. Setelah Belanda memasuki Daerah Sumatera Utara, Daerah Simalungun menjadi daerah kekuasaan Belanda sehingga pada tahun 1907 berakhirlah kekuasaan raja-raja. Kontroleur Belanda yang semula berkedudukan di Perdagangan, pada tahun 1907 dipindahkan ke Pematangsiantar. Sejak itu Pematangsiantar berkembang menjadi daerah yang banyak dikunjungi pendatang baru, Bangsa Cina mendiami kawasan Timbang Galung dan Kampung Melayu. Pada tahun 1910 didirikan Badan Persiapan Kota Pematangsiantar. Kemudian pada tanggal 1 Juli 1917 berdasarkan Stad Blad No. 285 Pematangsiantar berubah menjadi Gemente yang mempunyai otonomi sendiri. 32 Universitas Sumatera Utara Sejak Januari 1939 berdasarkan Stad Blad No. 717 berubah menjadi Gemente yang mempunyai Dewan. Pada zaman Jepang berubah menjai Siantar State dan Dewan dihapus. Setelah Proklamasi kemerdekaan Pematangsiantar kembali menjadi Daerah Otonomi. Berdasarkan Undang-undang No. 22/ 1948 Status Gemente menjadi Kota Kabupaten Simalungun dan Walikota dirangkap oleh Bupati Simalungun sampai tahun 1957. Berdasarkan Undang-undang No. 1/ 1957 berubah menjadi Kota Praja Penuuh dan dengan keluarnya Undang-undang No. 18/ 1965 berubah menjadi Kota, dan dengan keluarnya Undang-undang No. 5/ 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah berubah menjadi Kota Daerah Tingkat II Pematangsiantar sampai sekarang. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1981 Kota Daerah Tingkat II Pematangsiantar terbagi atas empat wilayah kecamatan yang terdiri atas 29 Desa/ Kelurahan dengan luas wilayah 12,48 Km2 yang peresmiannya dilaksanakan oleh Gubernur Sumatera Utara pada tanggal 17 Maret 1982. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah : 1. Kecamatan Siantar Barat 2. Kecamatan Siantar Timur 3. Kecamatan Siantar Utara 4. Kecamatan Siantar Selatan 33 Universitas Sumatera Utara Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 1986 tanggal 10 Maret 1986 Kota Daerah Tingkat II Pematangsiantar diperluas menjadi 6 wilayah kecamatan, dimana 9 desa/ kelurahan dari wilayah Kabupaten Simalungun masuk menjadi wilayah Kota Pematangsiantar, sehingga Kota Pematangsiantar terdiri dari 38 desa/ kelurahan dengan luas wilayah menjadi 70,230 Km2. Kecamatan-kecamatan tersebut yaitu : 1. Kecamatan Siantar Barat 2. Kecamatan Siantar Timur 3. Kecamatan Siantar Utara 4. Kecamatan Siantar Selatan 5. Kecamatan Siantar Marihat, dan 6. Kecamatan Siantar Martoba Selanjutnya, pada tanggal 23 Mei 1994 dikeluarkan kesepakatan bersama Penyesuaian Batas Wilayah Administrasi antara Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun. Adapun hasil kesepakatan tersebut adalah wilayah Kota Pematangsiantar menjadi seluas 79,9706 Km2. Pada tahun 1997 Wilayah Administrasi di Kota Pematangsiantar mengalami perubahan status sesuai dengan SK yang meliputi : 1. SK Gubsu No. 140. 050. K/ 97 tertanggal 13 Februari 1997 dan direalisasikan oleh SK Walikota KDH Tk II Kota Pematangsiantar No. 34 Universitas Sumatera Utara 140/1961/Pem/97 tertanggal 15 April 1997 tentang: Pembentukan Lima Kelurahan Persiapan di Kec. Siantar Martoba 2. SK Gubsu No. 140/2610. K/95 tertanggal 4 Oktober 1995 serta direalisasikan oleh SK Walikota KDH TK II Kota Pematangsiantar No. 140/1961/Pem/97 tertanggal 2 Juli 1997 tentang Perubahan Status 9 (Sembilan) Desa menjadi Kelurahan. Sehingga pada tahun 1997 wilayah administrasi Kota Pematangsiantar menjadi 43 Kelurahan. Pada tahun 2007, diterbitkan 5 Peraturan Daerah tentang pemekaran wilayah administrasi Kota Pematangsiantar yaitu : 1. Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kecamatan Siantar Sitalasari 2. Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kecamatan Siantar Marimbun 3. Peraturan Daerah No. 7 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kelurahan Bah Sorma 4. Peraturan Daerah No. 8 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kelurahan Tanjung Tongah, Naga Pitu dan Tanjung Pinggir 5. Peraturan Daerah No. 9 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kelurahan Parhorasan Nauli, Sukamakmur, Marihat Jaya, Tong Marimbun, Mekar Nauli, dan Nagahuta Timur. 35 Universitas Sumatera Utara Dengan demikian jumlah Kecamatan di Kota Pematangsiantar ada sebanyak 8 (delapan) kecamatan dengan jumlah kelurahan sebanyak 53 (lima puluh tiga) Kelurahan. Pada tabel berikut ini dicantumkan para pejabat Walikota KDH yang penuh memegang tampuk pimpinan di Kota Pematangsiantar sampai sekarang. Tabel 2.2: Nama Pejabat Walikota KDH TK. II Pematangsiantar Sejak Tahun 1956 Sampai Sekarang NO Nama Masa Jabatan 1. O.K.H Salamuddin 1956-1957 2. Jamaluddin Tambunan 1957-1959 3. Rakoetta Sembiring 1960-1964 4. Abner Situmorang Juni 1964 - Agustus 1964 5. Pandak Tarigan 10 Agustus 1964 – 31 Agustus 1965 6. Zainuddun Hasan 31 Agustus 1965 – 17 Desember 1966 7. Tarif Siregar 1 Oktober 1965 – 7 Desember 1966 8. Drs. M. Pardede 28 Desember 1966 – 24 April 1967 9. Letkol Leurimba Saragih 25 April 1967 – 28 Juni 1974 10. Kol. Sanggup Ketaren 29 Juni 1974 – 29 Juni 1979 11. Kol. Drs. MJT. Sihotang 29 Juni 1979 – 29 Juni 1984 12. Drs. Jabanten Damanik 29 Juni9 1984 – 29 Juni 1989 13. Drs. Zulkufli Harahap 29 Juni 1989 – 29 Juni 1994 14. Drs. Abu Hanifah 29 Juni 1994 – 25 Mei 2000 15. Drs. Marim Purba 25 Mei 2000 – Januari 2005 16. Ir. R.E Siahaan Agustus 2005 – Oktober 2010 17. Hulman Sitorus, S.E Oktober 2010 – Sekarang Sumber: www.pematangsiantarkota.go.id 2.3 Komposisi Penduduk Kota Pematangsiantar Kota Pematangsiantar dihuni oleh masyarakat asli setempat dan pendatang, dengan total jumlah penduduk sebanyak 237.434 jiwa dengan kepadatan penduduk 2969 jiwa per km2. Penduduk perempuan di Kota Pematangsiantar lebih banyak dari penduduk laki-laki. Pada tahun 2013, 36 Universitas Sumatera Utara penduduk Kota Pematangsiantar yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 115.787 jiwa dan penduduk perempuan 121.647 jiwa. Dengan demikian sex ratio penduduk Kota Pematangsiantar sebesar 97,30. Berikut adalah jumlah penduduk di Kota Pematangsiantar, berdasarkan masing-masing kecamatan: Tabel 2.3: Jumlah Penduduk Per Kecamatan Menurut Jenis Kelamin Jumlah/ LK PR Total (laki-laki) (perempuan) 18.274 Siantar Marihat 9.012 9.262 14.946 Siantar Marimbun 7.259 7.687 17.169 Siantar Selatan 8.126 9.043 35.587 Siantar Barat 17.454 18.133 46.659 Siantar Utara 22.546 24.113 38.646 Siantar Timur 18.431 20.215 38.831 Siantar Martoba 19.428 19.403 27.322 Siantar Sitalasari 13.531 13.791 237.434 Total 115.787 121.647 Sumber Data: Kota Pematangsiantar Dalam Angka 2014. KECAMATAN Ratio Jenis Kelamin 97,30 94,43 89,86 96,26 93,50 91,17 100,13 98,11 95,18 Dari hasil Tabel 2.3 tentang jumlah penduduk per kecamatan adalah, bahwa sebagai ibukota Kota Pematangsiantar maka Kecamatan Siantar Utara merupakan kecamatan dengan jumlah penduduk yang paling banyak dengan jumlah 22.546 orang laki-laki dan 24.113 orang perempuan. Diikuti dengan Kecamatan Siantar Martoba dengan jumlah penduduk sebanyak 19.428 orang laki-laki dan 19.403 orang perempuan. 37 Universitas Sumatera Utara Masyarakat Kota Pematangsiantar secara keseluruhan tersebar ke dalam 6 (enam) agama yaitu Kristen, Islam, Katolik, Budha, Hindu, Konghuchu dan sisanya merupakan pemeluk Aliran Kepercayaan lain. Mayoritas masyarakat di Kota Pematangsiantar adalah pemeluk agama Kristen dengan jumlah 153.234 jiwa dari total jumlah penduduk sebesar 333.812 jiwa. Berikut adalah pembagian jumlah penduduk berdasarkan pemeluk agama: Tabel 2.4: Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama KRISTEN KATOLIK HINDU PROTESTAN Siantar Marihat 4.620 17.796 3.126 7 Siantar Marimbun 2.872 17.404 1.675 0 Siantar Selatan 3.100 16.803 1.741 22 Siantar Barat 37.242 6.680 507 82 Siantar Utara 27.543 28.019 3.101 86 Siantar Timur 13.569 32.015 3.647 156 Siantar Martoba 33.249 20.178 2.779 11 Siantar Sitalasari 21.946 14.339 2.387 4 Total 368 144.141 153.234 18.963 Sumber Data: Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Pematangsiantar. KECAMATAN ISLAM BUDDHA 38 Universitas Sumatera Utara 26 20 2.722 5.449 6.351 2.218 225 70 17.081 K Pendidikan memiliki peran yang penting dalam meningkatkan pembangunan nasional. Hal ini didukung oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, agar sumber daya manusia yang dihasilkan dapat menjadi sumber untuk pembangunan negara baik di tingkat daerah maupun nasional, dan salah satu usaha pemerintah untuk memajukan pendidikan yaitu dengan mencanangkan program wajib belajar 9 tahun. Hal ini diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa setiap warga negara yang berusia 7 sampai dengan 15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Jika terjadi masalah karena hal biaya, pemerintah dianggap telah mengingkari amanat UU dan mengingkari tugas bangsa. Karena dalam ketetapan pemerintah, 20% dari APBN adalah dialokasikan untuk pendidikan. 39 Universitas Sumatera Utara Tabel dibawah ini menunjukkan tingkat pendidikan di Kota Pematangsiantar pada tahun 2015: Tabel 2.5: Tingkat Pendidikan Terakhir Penduduk Per Kecamatan PENDIDIKAN TERAKHIR KECAMATAN Siantar Marihat Siantar Marimbun Siantar Selatan Siantar Barat Siantar Utara Siantar Timur Siantar Martoba Siantar Sitalasari TOTAL Tidak Tidak Tamat SMP SMA D1/D2 Sekolah Tamat SD SD 4.126 2.097 2.630 3.534 10.236 143 3.263 1.991 1.991 2.989 9.100 131 3.239 2.001 2.287 2.952 10.713 142 7.420 4.656 4.841 6.554 21.065 207 10.482 6.063 6.599 9.784 26.764 244 7.335 4.843 4.670 6.636 21.773 241 9.614 5.765 7.755 9.016 20.935 246 6.231 3.576 3.943 4.802 15.388 331 51.710 30.992 82.702 46.267 135.974 182.241 Sumber Data: Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Pematangsiantar. D3 S1 S2 S3 842 708 788 1.066 1.227 1.550 886 1.083 8.150 1.925 1.856 2.208 4.004 3.882 4.282 2.212 3.464 28.833 71 97 85 192 135 300 201 134 31.983 2 10 14 15 9 8 11 4 73 Berdasarkan data tabel tentang pendidikan terakhir, terlihat bahwa masyarakat pada umumnya memiliki tingkat pendidikan Tamat D1/D2. Hal ini terlihat dari jumlah penduduk yang terbanyak terdapat pada Tamat D1/D2 dengan jumlah 182.241 jiwa. Sementara jumlah penduduk yang tidak bersekolah pada jumlah 51.710 jiwa dan jumlah ini tergolong cukup tinggi dibanding tingkat pendidikan lainnya. 40 Universitas Sumatera Utara 2.4 Komposisi Pemerintahan Kota Pematangsiantar Administrasi pemerintahan Kota Pematangsiantar pada tahun 2013 terdiri atas 8 Kecamatan dan 53 Kelurahan dengan tipe Swasembada. Adapun Struktur Organisasi Pemerintah Kota Pematangsiantar tahun 2010-2015 dapat dilihat dari tabel dibawah ini: Tabel 2.6: Struktur Organisasi Pemerintahan Kota Pematangsiantar Periode 2010-2015 PIMPINAN DAERAH Walikota Hulman Sitorus, S.E Wakil Walikota Drs. Koni Ismael Siregar SEKRETARIAT DAERAH Sekretaris Daerah Drs. Donver Panggabean, M.Si SEKRETARIAT DPRD Sekretaris DPRD Mahaddin Sitanggang, S.H. ASISTEN ADMINISTRASI Pemerintahan dan Kesra Leonardo H. Simanjuntak, S.H., M.Hum Ekonomi dan Pembangunan Drs. M Akhir Harahap Umum Baren Alijoyo Purba, S.H. STAF AHLI Bidang Pembangunan Drs. Eddy Nuah Saragih Bidang Hukum dan Politik Drs. Midian Sianturi Bidang Kemasyarakatan dan SDM Chaidir Sitompul, S.H Bidang Ekonomi dan Keuangan Dra. Neslianita Sinaga Bidang Pemerintahan Drs. Pardamean Silaen M.Si. Inspektur Robert Dontes Simatupang, S.E. 41 Universitas Sumatera Utara KEPALA BADAN Pelayanan Perizinan Terpadu Drs.Esron Sinaga, M.Si. Bappeda Ir. Reinwart Simanjuntak, M.M. Kepegawaian, Pendidikan dan Pariaman Silaen, S.H. Pelatihan Penganggulangan Bencana Daerah Drs. Daniel H. Siregar Kesbangpol Linmas Drs. Gunawan Purba Ketahanan Pangan Drs. Tuahman Saragih Penelitian Statistik Naik Lubis, S.H. Pemberdayaan Masyarakat Jhon Pieter Sitorus, S.Sos., Penanaman Modal dan Promosi Agus Salam, S.E. Daerah Lingkungan Hidup Drs. Jekson Gultom Pemberdayaan Perempuan dan KB Drg. Rumondang Sinaga, MARS. KEPALA DINAS Pendidikan Drs. Resman Panjaitan Kesehatan Dr. Ronald H. Saragih Bina Marga dan Pengairan Rufinus, S.T. Pendapatan, Keuangan, dan Aset Ir. Adiaksa Purba, M.M. Daerah Tata Ruang, Perumahan, dan Drs. Lukas Barus Permukiman Sosial dan Tenaga Kerja Perhubungan, Komunikasi, Poltak Manurung, S.E. dan Posma Sitorus, S.H. Informatika Kependudukan dan Catatan Sipil S. M. Ulinasari Girsang, S.H. Kebersihan Drs. Robert Samosir Koperasi dan UKM Drs. Kalbiner Lumbantungkup, M.Si. Pemuda, Olah Raga, Budaya dan Dra. Fatimah Siregar 42 Universitas Sumatera Utara Pariwisata Pertanian dan Peternakan Robert Pangaribuan, S.P., M.Si. Perindustrian dan Perdagangan Zainal Siahaan, S.E. DIREKTUR RSU dr. Djasamen Saragih dr. Ria Novida Telaumbanua, M.Kes. PDAM Tirtauli Badri Kalimantan, S.E., M.M. PD Pasar Horas Jaya Drs. Setia Siagian, M.Si. PD Pembangunan dan Aneka Herowin Sinaga, Ap, M.Si. Usaha KEPALA KANTOR Satuan Polisi Pamong Praja Drs. Julham Situmorang, M.Si. Perpustakaan dan Arsip Daerah Soefie Saragih, S.STP Pemadam Kebakaran Sugiarto, S.H. SEKRETARIAT KPU Sekretaris KPU Drs. Hermanto Panjaitan, M.Si. KEPALA BAGIAN Administrasi Pemerintahan Umum Josua Sihaloho, S.STP. Administrasi Kemasyarakatan Corry Purba, S.H. Humas dan Protokoler Jalatua Hasugian, M.H. Administrasi Perekonomian Andri, S.E. Administrasi Pembangunan Drs. L. Pardamean Manurung Hukum dan Perundang-undangan Gilbert Ambarita, S.H. Organisasi dan Tata Laksana Robert Irianto, S.H. Keuangan dan Aset Jadimpan Pasaribu, S.H. Umum dan Perlengkapan Dra. Patresia Ruth Marbun Kesejahteraan Rakyat Drs. Sa'amsah CAMAT Siantar Barat Heryanto Siddik, S.STP. Siantar Utara Junaedi Sitanggang, S.STP. 43 Universitas Sumatera Utara Siantar Selatan Hasudungan Hutahulu, S.H. Siantar Timur Ir. JPM. Sitanggang Siantar Marihat Johannes Sihombing, S.STP. Siantar Martoba Rafidin Saragih, S.H. Siantar Sitalasari Irwansyah Saragih, S.Sos., M.Si. Siantar Marimbun Fidelis Sembiring, S.STP. Sumber: www.pematangsiantarkota.go.id Sementara itu, anggota legislatif (DPRD) Kota Pematangsiantar adalah sebanyak 29 orang yang terdiri dari 16 partai. Berikut adalah jumlah anggota legislatif Kota Pematangsiantar periode 2009-2014 berdasarkan partai dan jenis kelamin: Tabel 2.7: Jumlah Anggota DPRD Menurut Partai dan Jenis Kelamin Periode 2009-2014 Partai Politik Partai Hati Nurani Rakyat Partai Amanat Nasional Partai Perjuangan Indonesia Baru Partai Pemuda Indonesia Partai Demokrat Partai Matahari Bangsa Partai Golongan Karya Partai PDI Perjuangan Partai Damai Sejahtera Partai Buruh Partai Patriot Partai Peduli Rakyat Nasional Partai PKS Partai PNBK Partai Persatuan Daerah Laki-laki 2 2 1 2 6 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 Perempuan 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 Total 2 3 1 2 6 1 2 2 2 1 1 1 2 1 1 44 Universitas Sumatera Utara Partai Bintang Reformasi 1 Jumlah 26 Sumber Data: Sekretariat DPRD Kota Pematangsiantar. 0 3 1 29 Berdasarkan data tabel tentang susunan partai politik dan susunan anggota dewan perwakilan rakyat di Kota Pematangsiantar periode 2009-2014, terlihat bahwa kursi legislatif diwarnai oleh 16 partai politik yang dominan terdiri dari laki-laki berjumlah 26 orang. Sementara perempuan hanya berjumlah 3 orang yang berasal dari Partai Amanat Nasional, Partai Golongan Karya dan Partai Damai Sejahtera. Kursi terbanyak diisi oleh Partai Demokrat dengan jumlah 6 orang dan disusul oleh Partai Amanat Nasional yang berjumlah 3 orang. 45 Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia adalah sebuah negeri yang sangat heterogen. Bangsa Indonesia terdiri dari ras dan suku bangsa yang beragam, berbicara dalam bahasa dan dialek yang berbeda, serta hidup dalam budaya yang plural. Alam Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, memang juga beraneka ragam, terdiri dari ribuan pulau, terpisah oleh selat dan laut, dihuni oleh flora yang bermacam-macam serta ditumbuhi oleh fauna yang beraneka. 1 Di dalam penelitian etnologis, diketahui bahwa bangsa Indonesia terdiri atas kurang lebih 600 suku bangsa dengan identitasnya masing-masing serta kebudayaannya yang berbeda-beda. 2 Keanekaragaman ini melahirkan banyak corak warna dalam satu wadah negara yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki banyak perbedaan. Perbedaan yang beragam ini pulalah yang melahirkan semboyan Indonesia dengan sebutan “Bhineka Tunggal Ika”, yang memiliki arti “berbeda-beda tetapi tetap satu”. Pada dasarnya, multikulturalisme yang terbentuk di Indonesia merupakan akibat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. 1 Nur A. Fadhil Lubis. 2006. Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI Vol II No.1, Multikulturalisme Dalam Politik. hal. 19. 2 Ibid. hal. 19. 1 Universitas Sumatera Utara Multikulturalisme secara Etimologis dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya), dan isme (aliran/paham). Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang unik. 3 Dengan demikian setiap individu merasa dihargai sekaligus merasa bertanggung jawab untuk hidup bersama komunitasnya. Menurut kondisi geografis, Indonesia memiliki banyak pulau dimana setiap pulau tersebut dihuni oleh sekelompok manusia yang membentuk suatu masyarakat. Dari masyarakat tersebut terbentuklah sebuah kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri. Tentu saja hal ini berimbas pada keberadaan kebudayaan yang sangat banyak dan beraneka ragam. Negara Indonesia menganut multikulturalisme yang tercermin dalam simbol yang telah disepakati bersama, yakni Bhineka Tunggal Ika. Bhineka Tunggal Ika merupakan suatu pengakuan terhadap heterogenitas etnik, budaya, agama, ras, dan gender, namun menuntut adanya persatuan dalam komitmen politik membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bhineka Tunggal Ika sebagai simbol yang seharusnya dapat difungsikan sebagai roh penggerak perilaku masyarakat Indonesia, di dalam kenyataan belum secara sungguh-sungguh dijadikan kekuatan untuk membangun bangsa dan negara. Bahkan pada beberapa tempat, kemajemukan masih dianggap sebagai sumber 3 Choirul Mahfud. 2006. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hal. 75. 2 Universitas Sumatera Utara permasalahan bahkan konflik, yang membuktikan bahwa realitas heterogenitas belum dipahami dan diakui oleh seluruh lapisan masyarakat. 4 Multikulturalisme muncul pertama kali di Amerika Serikat tahun 1850-an dan berkembang melalui tiga fase, yakni: 1) perjuangan mencapai kesamaan kedudukan dari ras-ras berbeda; 2) penolakan gerakan rasisme dalam penegakan hak asasi manusia; dan 3) pengakuan terhadap pluralisme budaya. 5 Dalam sejarahnya di bidang politik, istilah multikulturalisme muncul pada tahun 1971 ketika pemerintah Kanada meneguhkan berdirinya Komisi Kerajaan tentang Bilingualism and Biculturalism. Islitah multikulturalisme begitu populer di Kanada, Australia, Amerika Serikat, tetapi tidak banyak diminati Jerman dan Perancis. Multikulturalisme adalah varian teori perbedaan, yang mengambil ide dari gagasan posmodernisasi bahwa perbedaan secara analis lebih penting daripada kebersamaan mereka. 6 Sementara di Asia sendiri multikulturalime memasuki wacana budaya berawal dari tahun 1990-an. Multikulturalisme muncul sebagai akibat reaksi internal suatu bangsa karena anti disintegrasi dari dalam dirinya pengaruh ekternal global, gerakan arus demokrasi dan desakan hak asasi manusia global yang sering 4 Prof. Dr. Meutia F. Hatta. 2006. Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI Vol II No. 1. hal. 1. H.A.R Tilaar. 2004. Multikulturalisme: Tantangan-Tantangan Global Masa Depan Dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo. hal. 89-90. 6 Ben Agger. 2005. Teori Sosial Kritis: Kritik, Penerapan dan Implikasinya. Yogyakarta: Kreasi Wacana. hal. 140. 5 3 Universitas Sumatera Utara kali tidak dipertimbangkan keintegrasiannya. Dalam konsep ini multikulturalisme ingin memaknai dirinya tidak hanya tingkat lokal, regional, nasional dan global. 7 Di Indonesia, menurut Darma Putra istilah multikulturalisme mulai mendominasi wacana publik awal tahun 2000-an sebagai akibat dari krisis ekonomi yang berlarut-larut, meletusnya konflik kekerasan antar-etnik, dan gerakan-gerakan separatisme di Indonesia.Menurutnya bahwa sebelum istilah multikulturalisme populer dalam wacana publik dan wacana akademik, istilah yang banyak dipakai adalah pluralisme. 8 Berbicara mengenai multikuluralisme pasti berkaitan erat dengan keanekaragaman suku dan agama. Dengan keanekaragaman ini tentunya akan membawa dampak positif dan negatif. Kenyataan bahwa kebudayaan yang terdapat antara manusia sangat beraneka ragam. Hal itu dapat menimbulkan beberapa dampak positif dan negatif pada perubahan kebudayaan dan kehidupan masyarakat. Dampak positif itu di antaranya: a) Keanekaragaman memberikan ruang bagi masyarakat untuk terbuka dalam menjalin hubungan sosial maupun berbudaya. b) Memberikan ikatan dan hubungan antar sesama. c) Dapat saling berbagi bersahabat dan menghargai antar setiap budaya, tanpa adanya batasan-batasan karena sebuah perbedaan. 7 Christantius Dwiatmadja, dkk. 2011. Menyama Braya (Studi Perubahan Masyarakat Bali) Multikulturalisme Dalam Perspektif Teori. Fakultas Teologi UKSW. hal. 27. 8 I Nyoman Darma Putra. 2008. Bali Dalam Kuasa Politik. Denpasar: Arti Foundation. hal. 120. 4 Universitas Sumatera Utara Di samping itu keanekaragaman budaya ini memiliki pengaruh negatif, di antaranya: a) Rentan terhadap konflik. Perbedaan nilai-nilai budaya dan norma dasar akan sulit disesuaikan antara masing-masing agama, akan selalu bertentangan dan ini akan memudahkan munculnya sebuah konflik. b) Munculnya sikap etnosentrisme, yaitu sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain. c) Munculnya sikap fanatisme dan ekstrim. Fanatisme atau fanatik adalah suatu keyakinan yang kuat terhadap agama, kebudayaan, kelompok, dan lain-lain. Ekstrim adalah sangat kuat, keras yang solidaritas terhadap persamaan atau kelompoknya sendiri. Secara khusus negara juga mengatur tentang keberagaman di Indonesia. Hal ini tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 32 9: a) Ayat 1: Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. b) Ayat 2: Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. 9 Undang-Undang Dasar 1945 pasal 32. 5 Universitas Sumatera Utara Hal ini menunjukkan secara langsung, bahwa negara juga turut serta berperan aktif dalam menjaga keanekaragaman di dalam kesederajatan. Akan tetapi, dengan keanekaragaman yang ada, Indonesia secara langsung memiliki celah yang sangat rentan menjadi titik-titik yang berbuah konflik. Hal mendasar yang menjadi buah dari keberagaman adalah sudah pasti ada yang mayoritas dan minoritas, terlepas dari ada atau tidaknya pihak yang mendominasi dan didominasi. Melalui hal ini pulalah bahwa di dalam keberagaman itu, akan muncul pembagian kelompok-kelompok kecil di masyarakat secara kuantitas, yang didasarkan pada kesamaan ciri pada masing-masing kelompok. Oleh sebab itu, dengan keanekaragaman yang dimiliki Indonesia, merupakan sebuah tantangan yang besar di balik keindahan keberagamannya. Sebab, dibalik indahnya keberagaman itu, melalui kelompok-kelompok kecil yang berdasar pada kesamaan ciri, akan memudahkan munculnya konflik dalam bentuk agama, suku, warna kulit, golongan, dan keragaman lainnya. Keragaman, atau kebhinekaan atau multikultural merupakan salah satu realitas utama yang dialami masyarakat dan kebudayaan Indonesia di masa lampau, masa kini dan mendatang. Multikulturalisme perlu ditegaskan kembali, secara sederhana dapat pula dipahami sebagai pengakuan, bahwa sebuah negara atau masyarakat adalah beragam dan majemuk. Multikulturalisme bukan hanya sebuah wacana, tetapi juga sebagai sebuah ideologi yang harus diperjuangkan, karena dia dibutuhkan sebagai landasan bagi tegaknya demokrasi, HAM, dan kesejahteraan hidup masyarakat. 6 Universitas Sumatera Utara Sebagai sebuah ideologi, multikulturalisme terserap ke dalam berbagai interaksi yang ada dalam berbagai struktur kegiatan kehidupan, mencakup kehidupan sosial, kehidupan ekonomi, bisnis dan politik. 10 Politik multikulturalisme adalah pemerintahan dimana semua identitas khusus yang muncul dan berkembang di dalam masyarakat mendapat ruang. Setiap kelompok tersebut haruslah memiliki wakil diparlemen maupun di kabinet. Semua kelompok dari berbagai kalangan harus mendapat tempat untuk menyalurkan aspirasinya dan ikut berpartisipasi dalam pemerintahan. 11 Menurut Kymlicka arah atau tujuan politik multikulturalisme adalah : ”Pengakuan keberagaman budaya yang menumbuhkan kepedulian agar berbagai kelompok yang termarjinalisasi dapat terintegrasi, dan masyarakat mengakomodasi perbedaan budaya agar kekhasan identitas mereka diakui”. Dalam era diberlakukannya otonomi daerah, siapa yang sepenuhnya berhak atas sumber daya alam, fisik, dan sosial budaya, juga diberlakukan oleh pemerintahan lokal, yang dikuasai dan didominasi administrasi dan politiknya oleh putra daerah atau mereka yang secara suku bangsa adalah suku bangsa yang asli setempat. Ini berlaku pada tingkat provinsi maupun pada tingkat kabupaten dan wilayah administrasinya. Ketentuan otonomi daerah ini menghasilkan golongan dominan dan golongan minoritas yang bertingkat-tingkat sesuai dengan kesukubangsaan yang bersangkutan. Situasi ini secara tidak langsung akan 10 Choirul Machfud. 2005. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hal. 302. http://www.academia.edu/8586020/Istilah_dalam_Politik_Multikulturalisme, Dhena, diakses tanggal 8 Juli 2015, pukul 17.40 WIB. 11 7 Universitas Sumatera Utara melahirkan sebuah pola, dimana putra daerah akan memiliki peluang yang lebih besar dalam memangku dan melaksanakan kepentingan. Sementara mereka dengan jumlah yang lebih kecil dan bukan penduduk asli setempat memiliki kesempatan maupun kemampuan yang lebih terbatas. Sebagai bagian dari negara Indonesia yang beragam, Sumatera Utara sebagai salah satu provinsi yang memiliki keberagaman yang cukup kompleks. Bukan hanya sekedar wilayah geografis yang beragam, tetapi juga suku dan agama. Kota Pematangsiantar termasuk salah satu kotamadya yang tergabung dalam wilayah provinsi Sumatera Utara. Pada tanggal 23 Mei 1994 dikeluarkan kesepakatan bersama Penyesuaian Batas Wilayah Administrasi antara Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun, yang menjadikan Kota Pematangsiantar berdiri sendiri sebagai kotamadya. Dan pada saat itu, walikota Pematangsiantar adalah Abu Hanifah, yang memimpin pada tanggal 29 Juni 1994 sampai tanggal 25 Mei 2000. Sampai pada saat ini Kota Pematangsiantar telah melakukan pergantian walikota sebanyak tiga kali. Dan saat ini Kota Pematangsiantar dipimpin oleh Walikota Hulman Sitorus. Kota Pematangsiantar dihuni oleh 236.893 jiwa yang tersebar dalam 8 Kecamatan dan 53 Kelurahan. Kota Pematangsiantar merupakan daerah yang terkenal dengan Etnis Batak Toba, tetapi bukan berarti daerah ini tidak memiliki keberagaman di dalamnya. Kota Pematangsiantar memiliki masyarakat yang di antaranya memeluk agama Kristen Protestan, Islam, Katolik dan Budha. Kota Pematangsiantar juga terdiri dari beberapa etnis, yaitu etnis Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Mandailing, 8 Universitas Sumatera Utara Batak Karo, Jawa, Minang, dan Tionghoa. Keberagaman ini tersebar pula di beberapa kecamatan di wilayah Pematangsiantar, dengan arti lain ada beberapa daerah yang memang memiliki corak tersendiri. Tabel 1.1: Struktur Organisasi Pemerintahan Kota Pematangsiantar Periode 2010-2015 NO 1 Instansi Walikota 2 Wakil Walikota 3 Sekretaris Daerah Kota 4 Sekretaris DPRD 5 7 Ass. Adm. Pemerintahan dan Kesra Ass. Adm Ekonomi dan Pembangunan Ass. Adm. Umum 8 Staf Ahli Bidang Pemerintahan 9 Staf Ahli Bidang Hukum dan Politik Staf Ahli Bidang Pembangunan 6 10 11 12 13 14 15 16 Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Inspektur Nama Pejabat Hulman Sitorus, SE Suku Toba Drs. Koni Ismael Siregar Drs. Donver Panggabean, M.Si Mahaddin Sitanggang, S.H Leonardo Simanjuntak, S.H., M.Hum. Drs. M Akhir Harahap Mandailing Baren Alijoyo Purba, S.H. Drs. Pardamean Silaen. M.Si. Drs. Midian Sianturi Simalungun Drs. Eddy Nuah Saragih Chaidir Sitompul, S.H. Simalungun Dra. Neslianita Sinaga Toba Toba Toba Toba Mandailing Toba Toba Toba Robert Dontes Toba Simatupang, S.E. Drs.Esron Sinaga, M.Si. Toba Kaban Pelayanan Perizinan Terpadu Kaban Perencanaan dan Ir. Reinwart Pembangunan Daerah (Bappeda) Simanjuntak, M.M. Kaban Kepegawaian, Pariaman Silaen, S.H. Pendidikan dan Pelatihan Toba Toba 9 Universitas Sumatera Utara 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 Kaban Penganggulangan Bencana Daerah Kaban Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kaban Ketahanan Pangan Kaban Penelitian Statistik Kaban Pemberdayaan Masyarakat Kaban Penanaman Modal dan Promosi Daerah Kaban Lingkungan Hidup Kaban Pemberdayaan Perempuan dan KB Kadis Pendidikan Kadis Kesehatan Kadis Bina Marga dan Pengairan Kadis Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset Daerah Kadis Tata Ruang, Perumahan, dan Permukiman Kadis Sosial dan Tenaga Kerja Kadis Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kadis Kependudukan dan Catatan Sipil Kadis Kebersihan Kadis Koperasi dan UKM Kadis Pemuda, Olah Raga, Budaya dan Pariwisata Kadis Pertanian dan Peternakan Kadis Perindustrian dan Perdagangan Direktur RSU dr. Djasamen Saragih Dirut PDAM Tirtauli Dirut PD Pasar Horas Jaya Dirut PD Pembangunan dan Aneka Usaha Kakan Satuan Polisi Pamong Drs. Daniel H. Siregar Mandailing Drs. Gunawan Purba Simalungun Drs. Tuahman Saragih Naik Lubis, S.H. Jhon Pieter Sitorus, S.Sos., M.Si. Agus Salam, S.E. Simalungun Mandailing Toba Drs. Jekson Gultom Drg. Rumondang Sinaga, MARS Drs. Resman Panjaitan Dr. Ronald H. Saragih Rufinus, S.T. Toba Toba Ir. Adiaksa Purba, M.M. Drs. Lukas Barus Simalungun Poltak Manurung, S.E. Posma Sitorus, S.H. Toba Toba S. M. Ulinasari Girsang, S.H. Drs. Robert Samosir Drs. Kalbiner Lumbantungkup, M.Si. Dra. Fatimah Siregar Simalungun Robert Pangaribuan, S.P., M.Si. Zainal Siahaan, S.E. Toba dr. Ria Novida Telaumbanua, M.Kes. Badri, S.E., M.M. Drs. Setia Siagian, M.Si. Herowin Sinaga, Ap, M.Si. Drs. Julham Nias Jawa Toba Simalungun Jawa Karo Toba Toba Mandailing Toba Jawa Toba Toba Toba 10 Universitas Sumatera Utara Situmorang, M.Si. Soefie Saragih, S.STP Simalungun 44 Praja Kakan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kakan Pemadam Kebakaran Sugiarto, S.H. Jawa 45 Sekretaris KPU Toba 46 Corry Purba, S.H. Simalungun Jalatua Hasugian, M.H. Andri, S.E. Toba Jawa Drs. L. Pardamean Manurung Gilbert Ambarita, S.H. Toba Robert Irianto, S.H. Toba 53 Kabag Administrasi Pemerintahan Umum Kabag Administrasi Kemasyarakatan Kabag Humas dan Protokoler Kabag Administrasi Perekonomian Kabag Administrasi Pembangunan Kabag Hukum dan Perundangundangan Kabag Organisasi dan Tata Laksana Kabag Keuangan dan Aset Drs. Hermanto Panjaitan, M.Si. Josua Sihaloho, S.STP Toba 54 Kabag Umum dan Perlengkapan 55 56 57 Kabag Kesejateraan Rakyat Camat Siantar Barat Camat Siantar Utara 58 Camat Siantar Selatan 59 60 Camat Siantar Timur Camat Siantar Marihat 61 62 Camat Siantar Martoba Camat Siantar Sitalasari 63 Camat Siantar Marimbun Jadimpan Pasaribu, S.H. Dra. Patresia Ruth Marbun Drs. Sa'amsah Heryanto Siddik, S.STP Junaedi Sitanggang, S.STP Hasudungan Hutahulu, S.H. Ir. JPM. Sitanggang Johannes Sihombing, S.STP Rafidin Saragih, S.H. Irwansyah Saragih, S.Sos., M.Si. Fidelis Sembiring, S.STP 43 47 48 49 50 51 52 Toba Toba Toba Jawa Jawa Toba Toba Toba Toba Simalungun Simalungun Karo Sumber: www.pematangsiantarkota.go.id Jika dilihat dari tabel diatas, pembagian struktural pemerintahan Kota Pematangsiantar di masa kepemimpinan Hulman Sitorus memang masih di 11 Universitas Sumatera Utara dominasi oleh suku Batak terutama Batak Toba, hal ini dapat dilihat dengan banyaknya jabatan ditiap instansi yang diisi oleh orang yang bersuku Batak Toba, akan tetapi masih ada variasi suku yaitu suku Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Karo, Batak Mandailing, Nias serta Jawa di dalamnya. Dimana pembagian pejabat dalam pemerintahan Kota Pematangsiantar pada masa kepemimpinan Hulman Sitorus mulai dari pejabat Eselon IV sampai Eselon II yaitu 36 orang suku Batak Toba, 11 orang suku Batak Simalungun, 2 orang suku Batak Karo, 4 orang suku Batak Mandailing, 7 orang suku Jawa dan 1 suku Nias. Hal menarik dari Kota Pematangsiantar adalah bahwa pemerintahan Hulman Sitorus periode 2010-2015, merupakan untuk ketiga kalinya Pematangsiantar memiliki kepala daerah yang berasal dari etnis Batak Toba. Sehingga penelitian ini berfokus pada multikulturalisme dalam susunan pemerintahan Hulman Sitorus yang merupakan Walikota ketiga dari etnis Batak di Kota Pematangsiantar. Dengan komposisi yang terdapat dalam struktur pemerintahan Kota Pematangsiantar pada masa kepemimpinan Walikota Hulman Sitorus, ada pertanyaan yang muncul dalam, apakah jabatan-jabatan dalam struktur pemerintahan ini memang berdasarkan kemampuan dari pejabat tersebut, atau karena ada hal lain. Dari beberapa unsur ini, maka Kota Pematangsiantar termasuk salah satu bagian dari keberagaman yang ada di Indonesia. Maka dari penjelasan 12 Universitas Sumatera Utara sebelumnya, penelitian ini akan mengkaji tentang gambaran dan situasi multikulturalisme di Kota Pematangsiantar dari segi politik. Dimana yang akan dikaji adalah bagaimana situasi dan kondisi politik multikultural di dalam struktur pemerintahan eksekutif di Kota Pematangsiantar periode pemerintahan 20102015. Penelitian yang dilakukan oleh Akhmad Satori, menunjukkan bahwa pemahaman multikulturalisme dalam masyarakat berdampak positif dalam sistem pemerintahan dengan meningkatkan pembangunan otonomi daerah. 12 Dalam jurnal yang ditulis oleh Muhammad Taqyuddin yang berjudul Pendidikan Multikultural Terhadap Masyarakat di Indonesia menjelaskan bahwa pentingnya masyarakat untuk paham dan sadar terhadap keberagaman yang ada ditengah-tengah masyarakat Indonesia. Keberagaman rentan menimbulkan konflik dan perselisihan dalam masyarakat sehingga perlunya ada aksi dan tindakan untuk mengatasinya. Jadi pemerintah dalam hal ini haruslah memberikan pendidikan multikultural yang bertujuan agar masyarakat lebih peka dalam menghadapi gejala-gejala yang berakar pada perbedaan kebudayaan di dalam masyarakat. Berdasarkan penjelasan di atas maka penulis akan melakukan penelitian tentang situasi politik multikulturalisme di Kota Pematangsiantar. Penulis memberi judul penelitian ini dengan “POLITIK MULTIKULTURALISME (Studi Analisis Pada Struktur Pemerintahan Eksekutif Kota Pematangsiantar).” 12 Akhmat Satori. 2012. Merajut Masyarakat Multikultural dalam Bingkai Otonomi Daerah 13 Universitas Sumatera Utara 1.2 Rumusan Masalah Kota Pematangsiantar merupakan kota yang memiliki keberagaman etnis, terlihat dari kota ini dihuni oleh etnis Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Mandailing, Batak Karo, Jawa, Minang dan Tionghoa, juga dihuni oleh pemeluk agama yang beragam yaitu Kristen Protestan, Katolik, Islam, Hindu dan Budha. Secara historis, suku asli yang mendiami daerah ini adalah etnis Batak Simalungun. Sejak diberlakukannya Undang-undang No. 32 Tahun 2004 13 tentang otonomi daerah, pembauran masyarakat di luar etnis Batak Simalungun semakin terasa. Berdasarkan penjelasan sebelumnya tentang keberagaman di Kota Pematangsiantar, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana kondisi politik multikulturalisme pada masa kepemimpinan Hulman Sitorus periode 2010-2015 di struktur pemerintahan eksekutif Kota Pematangsiantar ?” 1.3 Pembatasan Masalah Dalam sebuah penelitian dibutuhkan adanya pembatasan masalah terhadap hal yang akan diteliti, pembatasan ini diperlukan agar hasil penelitian lebih terfokus dan tidak menyimpang dari tujuan yang ingin dicapai menjadi karya tulis yang sistematis. Adapun yang mejadi batasan masalah dalam penelitian ini adalah: 13 Undang-Undang No. 32 Tahun 2004. 14 Universitas Sumatera Utara 1. Bagaimana kondisi keberagaman dari segi politik pada pemangku jabatan eksekutif di Kota Pematangsiantar pada masa kepemimpinan walikota Hulman Sitorus? 2. Bagaimana implementasi politik multikulturalisme di dalam pemerintahan eksekutif Kota Pematangsiantar pada masa kepemimpinan walikota Hulman Sitorus? 1.4 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mengeksplorasi kondisi Pematangsiantar pada Politik struktur Multikulturalisme pemerintahan di Kota eksekutif Kota Pematangsiantar. 2. Menganalisis peran masyarakat etnis minoritas dalam komposisi pemerintahan eksekutif Kota Pematangsiantar. 1.5 Manfaat Penelitian Dalam setiap penelitian, secara teoritis diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.Terlebih lagi untuk perkembangan Ilmu pengetahuan. Adapun yang menjadi manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Secara Teori Penelitian ini diharapkan mampu menganalisis dan memberikan informasi tentang Politik Multikulturalisme. Dalam penelitian ini yang akan dikaji adalah Politik Multikulturalisme di Kota Pematangsiantar. 15 Universitas Sumatera Utara 2. Secara Lembaga Penelitian ini diharapkan mampu untuk menjadi bahan rujukan tentang Politik Multikulturalisme bagi kaum akademisi terlebih dalam studi politik lokal. Secara khusus bagi mahasiswa Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. 3. Secara Kemasyarakatan Penelitian ini kiranya mampu untuk menambah informasi sebagai bahan bacaan tentang Politik Multikulturalisme, khususnya bagi masyarakat di Kota Pematangsiantar. 1.6 Kerangka Teori 1.6.1 Teori Politik Multikultural Teori politik adalah teori yang lebih menekankan bahwa politik adalah semua kegiatan mempertahankan yang menyangkut kekuasaan. Biasanya masalah memperebutkan dianggap bahwa dan perjuangan kekuasaan (power struggle) ini mempunyai tujuan yang menyangkut kepentingan seluruh masyarakat 14. Deliar Noer dalam Pengantar ke Pemikiran Politik menyebutkan bahwa: teori tentang ilmu politik memusatkan perhatian pada masalah kekuasaan dalam kehidupan bersama atau masyarakat. Kehidupan seperti ini tidak terbatas pada bidang hukum semata-mata, dan tidak pula pada negara yang tumbuhnya dalam sejarah hidup manusia relatif baru. 14 Prof. Miriam Budiharjo. 2009.Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka. hal. 18. 16 Universitas Sumatera Utara Sementara Multikultural pada dasarnya merupakan konsep yang berbicara mengenai keberagaman. Keberagaman adalah istilah yang menggambarkan satu cara khusus untuk merespons keanekaragaman etnis. Namun dalam kenyataannya tidak ada pandangan multikulturalis tunggal, melainkan macam-macam sikap tentang syarat multikulturalisme. Teori Multikulturalisme sistematis pertama dikembangkan oleh Will Kymlica. Menurut Kymlica, hak-hak minoritas tidak dapat digolongkan sebagai hak asasi manusia karena standar-standar hak asasi manusia tidak mampu menyelesaikan persoalan yang paling penting dan kontroversial terkait golongan minoritas budaya. Karena itu Kymlica berambisi mengembangkan sebuah teori liberal untuk hak-hak minoritas yang menjelaskan bagaimana hak minoritas hidup berdampingan dengan hak asasi manusia, bagaimana hak minoritas akan dibatasi dengan prinsip kemerdekaan individu, demokrasi, dan keadilan sosial 15 . Teori yang akhirnya diajukan Kymlica membedakan tiga jenis hak minoritas yaitu: 1. Hak menyelenggarakan pemerintahan sendiri Mengharuskan adanya pendelegasian kekuasaan kepada golongan minoritas bangsa. 2. Hak polietnis 15 Gerald F Gaus, Chandran Kukathas. 2012. Hand Book Teori Politik. Bandung: Nusa Media. hal. 574. 17 Universitas Sumatera Utara Menjamin dukungan financial dan perlindungan hukum bagi praktik-praktik yang menjadi ciri khas beberapa golongan etnis atau agama. 3. Hak perwakilan khusus Menjamin tempat bagi wakil-wakil golongan minoritas di badan atau lembaga negara. Penjelasan Kymlica untuk hak-hak yang dibedakan berdasarkan golongan ini berpusat pada pembedaan antara dua jenis golongan minoritas, Golongan minoritas bangsa dan Golongan minoritas etnis. Golongan minoritas bangsa adalah suku bangsa yang kebudayaannya dahulu memerintah sendiri dan terpusat secara teritorial, namun kini telah dilebur ke dalam suatu negara yang lebih besar. Sementara, Golongan minoritas etnis adalah suku bangsa yang telah bermigrasi ke suatu masyarakat baru dan tidak ingin menyelenggarakan pemerintahan sendiri, tetapi tetap ingin mempertahankan tradisi dan identitas etnisnya. Inti teori multikulturalisme Kymlica adalah sebentuk nasionalisme. Kymlica berpendapat bahwa tradisi liberal memiliki sejarah yang mengakui hak-hak yang dibedakan berdasarkan golongan. Berbicara tentang multikultural tentu tidak dapat terlepas dari berbicara tentang masyarakat majemuk. Hal ini selalu beriringan bila menelaah tentang keanekaragaman. Konsep masyarakat majemuk atau masyarakat plural sering kali dibicarakan bersama-sama dengan konsep 18 Universitas Sumatera Utara masyarakat multikultural, karena keduanya sama-sama menggambarkan keanekaragaman sosial dan kebudayaan. Pembahasan tentang masyarakat majemuk mulai memasuki dunia Antropologi mengenai kebijakan dan praktik kolonial di Indonesia dan Burma. Masyarakat majemuk sebagai masyarakat dimana orang-orang yang secara rasial berbeda hanya bertemu di pasar-pasar, suatu gambaran mengenai politik ekonomi kolonial. Kebudayaan-kebudayaan penyusun masyarakat majemuk dilihat sebagai entitas otonom, distinktif, yang berbeda satu sama lain. Batas-batas antara kebudayaan-kebudayaan satu sama lain tegas, dan interaksi di antaranya minimal kecuali dalam arena pasar atau arena publik lainnya yang memungkinkan orang bertemu karena kepentingan tertentu. Masyarakat majemuk adalah “kumpulan orang-orang dan mereka bergaul tapi tidak bercampur. Setiap kelompok memegang agama sendiri, kebudayaan dan kebiasaan sendiri, gagasan dan cara hidup sendiri. Inilah masyarakat majemuk, dengan bagian-bagian komunitas yang hidup berdampingan tetapi terpisah dalam satuan politik yang sama”. 16 Kemajemukan masyarakat Indonesia adalah kenyataan yang sudah berjalan secara berkelanjutan hingga saat ini. Masyarakat Indonesia yang terdiri atas berbagai budaya secara logis akan mengalami berbagai permasalahan, di mana persentuhan antar budaya akan selalu terjadi karena permasalahan silang budaya selalu terkait erat dengan kultural materialisme yang mencermati budaya dari pola pikir dan tindakan dari kelompok sosial 16 Andrik Purwasito.Op.Cit. Hal. 37. 19 Universitas Sumatera Utara tertentu. Nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan menjadi acuan sikap dan perilaku manusia sebagai mahkluk individual yang tidak terlepas dari kaitannya pada kehidupan masyarakat dengan orientasi kebudayaannya yang khas, sehingga baik pelestarian maupun pengembangan nilai-nilai budaya merupakan proses yang sekaligus bermatra individual, sosial, dan kultural. Dalam kenyataannya persentuhan nilai-nilai budaya sebagai manifestasi dinamika kebudayaan tidak selamanya berjalan secara mulus. Permasalahan silang budaya dalam masyarakat majemuk (heterogen) dan jamak (pluralistis) seringkali bersumber dari masalah kesenjangan komunikasi, serta kesenjangan tingkat pengetahuan, status sosial, geografis, dan adat kebiasaan yang merupakan kendala bagi tercapainya suatu konsensus yang perlu disepakati dan selanjutnya ditaati secara luas. Tambahan lagi dengan posisi Indonesia sebagai negara berkembang, akan selalu mengalami perubahan yang pesat dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga membuat celah-celah masalah keberagaman dapat menjadi sebuah potensi konflik di dalam masyarakat. Berbagai macam pengertian dan kecenderungan perkembangan konsep serta praktik multikulturalisme yang diungkapkan oleh para ahli, membuat seorang tokoh bernama Parekh membedakan lima macam multikulturalisme: 17 17 Azra, Azyumardi. 2007. Identitas dan Krisis Budaya, Membangun Multikulturalisme Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. hal. 37. 20 Universitas Sumatera Utara a) Multikulturalisme Isolasionis, mengacu pada masyarakat dimana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain. b) Multikulturalisme Akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat penyesuaian dan akomodasiakomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan meraka. Begitupun sebaliknya, kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini diterapkan di beberapa negara Eropa. c) Multikulturalisme kelompok-kelompok Otonomis, kutural masyarakat utama plural berusaha dimana mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Perhatian pokok-pokok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana semua kelompok bisa eksis sebagai mitra sejajar. 21 Universitas Sumatera Utara d) Multikulturalisme Kritikal atau Interaktif, yakni masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu terfokus (concern) dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka. e) Multikulturalisme Kosmopolitan, berusaha menghapus batasbatas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing. Sehingga dapat dikatakan bahwa Politik Multikulturalisme merupakan sebuah teori yang menekankan akan upaya pencapaian sebuah kekuasaan di tengah-tengah keberagaman yang ada. Dapat dikatakan pula sebagai suatu proses mewakilkan secara keseluruhan keanekaragaman yang ada, dalam upaya pencapaian sebuah kekuasaan. 1.6.2 Teori Identitas Sosial Fokus utama dari teori ini adalah pembentukan identitas sebagai produk kategorisasi sosial. Kategori sosial, seperti etnis, gender, dan afiliasi politik, adalah bagian dari masyarakat terstruktur. Individu berasal dari berbagai kategori sosial dan identitas bentuk berdasarkan keanggotaan dari kategori sosial. Pemikiran proses ini, masyarakat diinternalisasi oleh individu 22 Universitas Sumatera Utara dalam bentuk identitas sosial berdasarkan kategori sosial. Identitas sosial, pada gilirannya, terhubung individu untuk masyarakat berpikir keanggotaan kelompok mempengaruhi keyakinan individu, sikap, dan perilaku dalam hubungan mereka dengan anggota kelompok sosial lainnya. Akibatnya, unit dasar yang hubungan masyarakat individu diteliti adalah kelompok sosial. Teori Identitas Sosial menekankan aspek sosial lebih dari aspek individu, sedangkan Teori Identitas membayar lebih memperhatikan aspek-aspek individu dalam hubungan masyarakat-individu. Teori identitas, sebagai produk interaksi simbolik menjelaskan hubungan antara masyarakat dan individu atas dasar peran. Peran mengacu pada fungsi atau bagaimana seorang melakukan perannya ketika menduduki posisi tertentu dalam konteks sosial tertentu. Peran seseorang adalah pola perilaku sosial yang muncul sesuai dengan ekspektasi orang lain dan tuntutan dari situasi. Peran yang diinternalisasikan dan membentuk identitas peran. Identitas dibentuk dalam oposisi terhadap dan dalam selasi kepada orang lain, maka peran inheren memiliki aspek sosial. Menurut Hecht, identitas memiliki pembagian kedalam empat lapisan. Keempat lapisan identitas adalah pribadi, berlaku, relasional, dan komunal 18. 1. Pribadi lapisan 18 J.W.M. Bakker SJ. 1984. Filsafat Kebudayaan Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Kanisius. hal. 31. 23 Universitas Sumatera Utara Sebuah lapisan Pribadi merujuk kepada individu sebagai lokus identitas.Identitas sebagai lapisan pribadi memahami bagaimana individu mendefinisikan diri mereka secara umum serta dalam situasi tertentu. 2. Berlaku Bagaimana pemahaman tentang identitas mampu menyesuaikan diri dengan suatu kondisi sosial tertentu. 3. Relasional Layer Dalam lapisan ini, hubungan adalah fokus identitas.Identitas adalah produk bersama, bersama-sama dan saling dinegosiasikan dibentuk dalam hubungan melalui komunikasi. 4. Komunal Kelompok juga merupakan tempat di mana identitas ada. Anggota kelompok biasanya memiliki karakteristik umum dan memiliki ingatan kolektif. Anggota kelompok membentuk identitas kelompok umum berdasarkan karakteristik umum dan sejarah. 1.7 Metodologi Penelitian 1.7.1 Metode penelitian Metode yang dipergunakan penulis dalam penelitian ini adalah deskriptif. Metode penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan suatu situasi atau arena populasi tertentu yang bersifat faktual secara sistematis dan 24 Universitas Sumatera Utara akurat 19. Metode penelitian ini dimaksudkan sebuah proses pemecahan suatu masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau menerangkan keadaan sebuah objek maupun subjek penelitian seseorang, lembaga maupun masarakat pada saat sekarang dengan berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya 20. 1.7.2 Jenis Penelitian Jenis penelian ini adalah kualitatif, Penelitian kualitatif bermaksud untuk memberi makna atas fenomena secara holistik dan harus memerankan dirinya secara aktif dalam keseluruhan prose studi. Orientasi penelitian kualitatif yaitu pada upaya memahami fenomena secara menyeluruh. Penelitian kualitatif berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan, mengandalkan manusia sebagai alat penelitian, memanfaatkan metode kualitatif, mengadalkan analisis data secara induktif, bersifat deskriftif, membatasi studi dengan fokus 21. 1.7.3 Teknik Pengumpulan Data Ada beberapa teknik pengumpulan data yang dapat digunakan, antara lain penelitian perpustakaan (library research), yang sering disebut metode dokumentasi, dan penelitian lapangan, seperti wawancara dan observasi 22 . 19 Sudarwan Danin. 2002. Menjadi peneliti kualitatif ; Ancangan Metodologi, Presentasi dan Publikasi hasil penelitian untuk mahasiswa dan peneliti pemula bidang ilmu ilmu sosial, pendidiakan dan humaniora. Bandung: Pustaka Setia. hal. 41. 20 Hadari Nawawi.1987.Metodologi Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajahmada University Press. Hal.63. 21 Lexy J Moleong. 1994. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hal. 27. 22 Hadari Nawawi. Op.Cit. Hal. 63. 25 Universitas Sumatera Utara Untuk dapat memperoleh data berupa fakta di lapangan yang adalah informasi asli maka penulis melakukan teknik pengumpulan data sebagai berikut: 1. Metode Library Research atau Studi Kepustakaan Studi yang dilakukan ini adalah dengan cara pengumpulan data dengan cara menghimpun dan mengumpul buku-buku, dokumen- dokumen, makalah, arsip-arsip dan literatur-literatur serta seluruh sarana informasi lainnya yang tentu saja berhubungan dengan masalah penelitian ini. 2. Wawancara Teknik pengumpulan data secara langsung dengan memberikan kepada pertanyaan pertanyaan kepada informan, untuk mendapatkan data secara langsung yang berkaitan dengan penelitian ini. Dalam hal ini peneliti menggunakan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang disesuaikan dengan tujuan dan syarat tertentu yang ditetapkan berdasarkan tujuan dan masalah penelitian. Oleh karena penelitian ini menggunakan metode kualitatif maka peneliti membutuhkan informan kunci (key informan). Informan kunci yang dipilih yaitu Pemangku Jabatan Eksekutif, Anggota Legislatif, Tokoh Agama, dan Tokoh Adat serta masyarakat yang merupakan perwakilan etnis mayoritas dan etnis minoritas yang ada di Kota Pematangsiantar dengan daftar pertanyaan yang telah disusun sebelumnya. Peneliti akan melaksanakan wawancara secara langsung dan bertemu dengan 26 Universitas Sumatera Utara informan yang dianggap dapat memberikan informasi mengenai judul penelitian. Pihak-pihak yang diwawancarai dilibatkan dalam penggalian data sebagai informan dengan tujuan agar memperoleh informasi yang tersaring tingkat akurasinya sehingga keseimbangan informasi dapat diperoleh. 1.7.4 Teknik Analisa Data Sesuai dengan metode penelitian dalam menganalisis data pada penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik kualitatif, yaitu teknik tanpa menggunakan alat bantu dengan rumus statistik. 27 Universitas Sumatera Utara 1.8 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan merupakan penjabaran rencana penulisan agar lebih mudah dan terarah untuk menyusun karya ilmiah. Maka penulis membagi sistematika penulisan ini menjadi empat bab, yaitu: BAB I : PENDAHULUAN Bab ini berisi tentang latar belakang masalah yang akan diteliti, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, metodologi penelitian dan sistematika penulisan. BAB II : PROFIL KOTA PEMATANGSIANTAR, SUMATERA UTARA Dalam bab ini akan menguraikan tentang profil daerah Kota Pematangsiantar, Provinsi Sumatera Utara. BAB III : ANALISIS POLITIK MULTIKULTURALISME DI KOTA PEMATANGSIANTAR Dalam bab ini akan membahas secara garis besar hasil penelitian sekaligus menganalisis kondisi Politik Multikulturalisme di Kota Pematangsiantar dalam struktur pemerintahan eksekutif dalam upaya pemenuhan hak-hak politik. BAB IV : PENUTUP Dalam bab yang terakhir ini, berisi tentang kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti. Pada bab ini juga akan terjawab pertanyaan terhadap penelitian yang dilakukan. Kemudian berisi saran-saran yang diharapkan penulis 28 Universitas Sumatera Utara dapat memberikan manfaat bagi penulis sendiri dan lembaga-lembaga yang terkait. 29 Universitas Sumatera Utara UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK ARFAN JUWANDA SILITONGA (100906088) POLITIK MULTIKULTURALISME (Studi Analisis Pada Struktur Pemerintahan Kota Pematangsiantar) Rincian isi Skripsi xii + 85 halaman, 8 tabel, 15 buku, 8 jurnal, 2 undang-undang, 2 situs internet, serta 7 wawancara. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi kondisi politik multikulturalisme di Kota Pematangsiantar pada struktur pemerintahan eksekutif kota Pematangsiantar. Dalam hal ini untuk melihat dan menganalisis peran masyarakat etnis minoritas dalam komposisi pemerintahan eksekutif Kota Pematangsiantar. Peneliti merasa tertarik dan tertantang untuk melakukan penelitian ini, karena dari penelitian ini akan menemukan fakta-fakta bahwa struktur pemerintahan eksekutif, kepala daerah sangat berperan dalam penentuan struktur pemerintahan Kota Pematangsiantar. Dengan menganalisis politik multikulturalisme pada struktur pemerintahan Kota Pematangsiantar, maka peneliti memberi jawaban bagaimana kepala daerah menjadi penentu struktur pemerintahan eksekutif dengan mengesampingkan keberagaman etnis yang ada dalam pemerintahan eksekutif Kota Pematangsiantar. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode wawancara. Teori yang digunakan dalam menjelaskan penelitian ini adalah teori politik multikultural dari Will Kymlica, untuk melihat secara lebih luas tentang hak-hak minoritas dalam berpolitik, dan juga teori identitas yang dijelaskan oleh Hecht untuk menyimpulkan bagaimana identitas dari kepala daerah menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan struktur pemerintahan eksekutif di Kota Pematangsiantar. Identitas dari kepala daerah sangat berpengaruh dalam penentuan struktur pemerintahan eksekutif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan kepala daerah sangat berpengaruh dalam penentuan struktur pemerintahan eksekutif. Kepala daerah dapat dengan mudah untuk mengganti setiap struktur pemerintahan eksekutif di Kota Pematangsiantar. Salah satu yang menjadi alasannya adalah adanya identitas yang sama antara kepala daerah dengan setiap pemangku jabatan di Pemrintahan eksekutif Kota Pematangsiantar. Kata Kunci: Pemerintahan eksekutif, Politik multikulturalisme i Universitas Sumatera Utara UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA FACULTY OF SOCIAL AND POLITICAL SCIENCE DEPARTMENT OF POLITICAL SCIENCE ARFAN JUWANDA SILITONGA (100906088) POLITICS MULTICULTURALISM (Analysis Study On Government Structure Pematangsiantar) Details of the contents of Thesis xii + 85 pages, 8 tables, 15 books, 8 journals, 2 laws, 2 internet sites, and 7 interviews. ABSTRACT The purpose of this study is to explore the political conditions on multiculturalism in Pematangsiantar, Pematangsiantar city executive governance structure. In this case to see and analyze the role of minority ethnic communities in the composition of the executive government of the City Pematangsiantar. Researchers were interested and challenged to do this study, because of the research will discover facts that the structure of the executive government, head of the region was instrumental in determining the governance structure Pematangsiantar. By analyzing the politics of multiculturalism in the governance structure Pematangsiantar, the researchers gave the answer to how the regional head determines the structure of the executive government to the exclusion of ethnic diversity that exists in the executive government of the City Pematangsiantar. Data collection techniques using interview method. The theory used to describe this research is the political theory of multicultural of Will Kymlica, to look more broadly about the rights of minorities in politics, and also the theory of identity described by Hecht to deduce how the identity of the head of the region into one of the considerations in determining the structure executive government in Pematangsiantar. The identity of the head of the region very influential in determining the structure of the executive government. The results of this study show the head area is very influential in determining the structure of the executive government. The regional head can be easy to replace any executive governance structure in Pematangsiantar. One of the reasons is their common identity between the head area with every office holders in the executive Governance for Pematangsiantar. Keywords: Executive governance, multiculturalism Politics ii Universitas Sumatera Utara POLITIK MULTIKULTURALISME (Studi Analisis Pada Struktur Pemerintahan Kota Pematangsiantar) Disusun Oleh : ARFAN JUWANDA SILITONGA 100906088 Dosen Pembimbing : DR. WARJIO, MA DEPARTEMEN ILMU POLITIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2016 Universitas Sumatera Utara UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK ARFAN JUWANDA SILITONGA (100906088) POLITIK MULTIKULTURALISME (Studi Analisis Pada Struktur Pemerintahan Kota Pematangsiantar) Rincian isi Skripsi xii + 85 halaman, 8 tabel, 15 buku, 8 jurnal, 2 undang-undang, 2 situs internet, serta 7 wawancara. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi kondisi politik multikulturalisme di Kota Pematangsiantar pada struktur pemerintahan eksekutif kota Pematangsiantar. Dalam hal ini untuk melihat dan menganalisis peran masyarakat etnis minoritas dalam komposisi pemerintahan eksekutif Kota Pematangsiantar. Peneliti merasa tertarik dan tertantang untuk melakukan penelitian ini, karena dari penelitian ini akan menemukan fakta-fakta bahwa struktur pemerintahan eksekutif, kepala daerah sangat berperan dalam penentuan struktur pemerintahan Kota Pematangsiantar. Dengan menganalisis politik multikulturalisme pada struktur pemerintahan Kota Pematangsiantar, maka peneliti memberi jawaban bagaimana kepala daerah menjadi penentu struktur pemerintahan eksekutif dengan mengesampingkan keberagaman etnis yang ada dalam pemerintahan eksekutif Kota Pematangsiantar. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode wawancara. Teori yang digunakan dalam menjelaskan penelitian ini adalah teori politik multikultural dari Will Kymlica, untuk melihat secara lebih luas tentang hak-hak minoritas dalam berpolitik, dan juga teori identitas yang dijelaskan oleh Hecht untuk menyimpulkan bagaimana identitas dari kepala daerah menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan struktur pemerintahan eksekutif di Kota Pematangsiantar. Identitas dari kepala daerah sangat berpengaruh dalam penentuan struktur pemerintahan eksekutif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan kepala daerah sangat berpengaruh dalam penentuan struktur pemerintahan eksekutif. Kepala daerah dapat dengan mudah untuk mengganti setiap struktur pemerintahan eksekutif di Kota Pematangsiantar. Salah satu yang menjadi alasannya adalah adanya identitas yang sama antara kepala daerah dengan setiap pemangku jabatan di Pemrintahan eksekutif Kota Pematangsiantar. Kata Kunci: Pemerintahan eksekutif, Politik multikulturalisme i Universitas Sumatera Utara UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA FACULTY OF SOCIAL AND POLITICAL SCIENCE DEPARTMENT OF POLITICAL SCIENCE ARFAN JUWANDA SILITONGA (100906088) POLITICS MULTICULTURALISM (Analysis Study On Government Structure Pematangsiantar) Details of the contents of Thesis xii + 85 pages, 8 tables, 15 books, 8 journals, 2 laws, 2 internet sites, and 7 interviews. ABSTRACT The purpose of this study is to explore the political conditions on multiculturalism in Pematangsiantar, Pematangsiantar city executive governance structure. In this case to see and analyze the role of minority ethnic communities in the composition of the executive government of the City Pematangsiantar. Researchers were interested and challenged to do this study, because of the research will discover facts that the structure of the executive government, head of the region was instrumental in determining the governance structure Pematangsiantar. By analyzing the politics of multiculturalism in the governance structure Pematangsiantar, the researchers gave the answer to how the regional head determines the structure of the executive government to the exclusion of ethnic diversity that exists in the executive government of the City Pematangsiantar. Data collection techniques using interview method. The theory used to describe this research is the political theory of multicultural of Will Kymlica, to look more broadly about the rights of minorities in politics, and also the theory of identity described by Hecht to deduce how the identity of the head of the region into one of the considerations in determining the structure executive government in Pematangsiantar. The identity of the head of the region very influential in determining the structure of the executive government. The results of this study show the head area is very influential in determining the structure of the executive government. The regional head can be easy to replace any executive governance structure in Pematangsiantar. One of the reasons is their common identity between the head area with every office holders in the executive Governance for Pematangsiantar. Keywords: Executive governance, multiculturalism Politics ii Universitas Sumatera Utara UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK Halaman Pengesahan Skripsi ini telah di pertahankan dihadapan panitia penguji Skripsi Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, oleh: Nama : Arfan Juwanda Silitonga Nim : 100906088 Judul : Politik Multikulturalisme (Studi Analisis Pada Struktur Pemerintahan Kota Pematangsiantar) Dilaksanakan pada Hari : Tanggal : Pukul : Tempat : Majelis Penguji Ketua : Nama : Nip : Penguji Utama : Nama : Nip : Penguji : Nama : Nip : ( ) ( ) ( ) iii Universitas Sumatera Utara UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK Halaman Persetujuan Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan dan diperbanyak oleh: Nama : Arfan Juwanda Silitonga Nim : 100906088 Departemen : Ilmu Politik Judul : Politik Multikulturalisme (Studi Analisis Pada Struktur Pemerintahan Kota Pematangsiantar) Menyetujui : Ketua Departemen Ilmu Politik Dosen Pembimbing (Dra.T.Irmayani, M.Si) NIP. 196806301994032001 (DR. Warjio, MA) NIP. 197408062006041003 Mengetahui : Dekan FISIP USU (Prof.DR.Badaruddin, M.Si) NIP. 196805251992031002 iv Universitas Sumatera Utara Karya Ini Dipersembahkan Kepada Ayahanda dan Ibunda Tercinta v Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas setiap penyertaan, kekuatan dan kemampuan yang dianugerahkan-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penelitian dan skripsi ini. Ada begitu banyak tantangan yang peneliti alami dalam penelitian dan penulisan skripsi ini. Akan tetapi, Tuhan tetap sertai, berkati dan mampukan penulis untuk bisa menyelesaikan skripsi ini yang merupakan salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan Strata satu (S1) di Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini berjudul “Politik Multikulturalisme (Studi Analisis Pada Struktur Pemerintahan Kota Pematangsiantar)”. Skripsi ini membahas tentang bagaimana kondisi politik multikulturalisme pada masa kepemimpinan Hulman Sitorus periode 2010-2015 di struktur pemerintahan eksekutif Kota Pematangsiantar. Skripsi ini terdiri dari empat bab. Pada Bab I, peneliti menguraikan latar belakang masalah, perumusan dan pembatasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kerangka teoritis, metode penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, dan sistematika penulisan. Bab II berisikan profil dan deskripsi singkat mengenai Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara. Bab III berisikan uraian analisis terhadap penyajian data-data yang diperoleh selama berlangsungnya penelitian. Pada bab terakhir berisi kesimpulan dan saran. Proses penyelesaian skripsi ini berlangsung ketika penulis berada pada semester keduabelas di Departemen Ilmu Politik, FISIP, USU. Hal ini terlaksana karena banyak pihak yang turut mendukung penyelesaian skripsi ini. Oleh vi Universitas Sumatera Utara karenanya peneliti ingin berterimakasih kepada Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M. Si, selaku Dekan FISIP USU. Kepada Ibu Dra. T. Irmayani, M.Si sebagai Ketua Jurusan Departemen Ilmu Politik, Bapak Drs. P. Anthonius Sitepu, M.Si, Sekretaris Departemen Ilmu Politik FISIP USU yang sudah mendukung mahasiswa seperti peneliti untuk meneliti mengenai persoalan ini. Peneliti juga berterimakasih kepada Bapak DR. Warjio, MA sebagai Dosen Pembimbing yang senantiasa memberikan waktu dan banyak bimbingan berupa masukan dan kritik yang sangat membangun dalam penyelesaian skripsi ini. Selanjutnya, peneliti ingin berterimakasih kepada seluruh staf pengajar Departemen Ilmu Politik yang telah membimbing, menambah wawasan dan pengetahuan peneliti selama perkuliahan. Terimakasih kepada pegawai Departemen Ilmu Politik dan FISIP USU yang membantu penulis dalam urusan administratif kampus, peneliti berterimakasih untuk semuanya. Dalam penulisan skripsi ini, secara khusus peneliti menyampaikan rasa terima kasih kepada orangtua tercinta, Ayahanda Julian Arnold Silitonga dan Ibunda Nursia br. Siahaan yang telah membesarkan, mendidik, menyayangi, mendukung dan mendoakan peneliti sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Kepada abang, kakak dan adik tersayang dan juga kepada seluruh keluarga besar peneliti yang tidak dapat di sebutkan satu persatu. Kepada teman-teman Bozzour Fams saya ucapkan terimakasih telah memberi pembelajaran, dukungan, semangat, nasehat, doa dan kehadiran sebagai keluarga kecil selama menjalankan study di Departemen Ilmu Politik dan teman-teman Ilmu Politik stambuk 2010. Peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan IMKA PASID. Dan juga kepada sahabat penulis Riska Liani Hutagalung yang selalu mendukung vii Universitas Sumatera Utara dan juga menanyakan kapan wisuda, dan juga kepada semua sahabat-sahabat penulis yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Peneliti menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak terlepas dari kesalahan dan kekurangan. Oleh sebab itu, peneliti sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak untuk kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya peneliti mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan studi Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Medan, 30 Maret 2016 Penulis viii Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ABSTRAK ..................................................................................................... i ABSTRACT ................................................................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................... iv LEMBAR PERSEMBAHAN ....................................................................... v KATA PENGANTAR .................................................................................. vi DAFTAR ISI ................................................................................................. ix DAFTAR TABEL DAN GAMBAR.............................................................. xii BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1 1.1 Latar Belakang Masalah ................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 14 1.3 Pembatasan Masalah ...................................................................... 14 1.4 Tujuan Penelitian............................................................................ 15 1.5 Manfaat Penelitian.......................................................................... 15 1.6 Kerangka Teori............................................................................... 16 1.6.1 Teori Politik Multikultural...................................................... 16 1.6.2 Teori Identitas Sosial .............................................................. 22 1.7 Metodologi Penelitian ................................................................... 25 1.7.1 Metode Penelitian ................................................................... 25 1.7.2 Jenis Penelitian ....................................................................... 25 ix Universitas Sumatera Utara 1.7.3 Teknik Pengumpulan Data ..................................................... 26 1.7.4 Teknik Analisa Data ............................................................... 27 1.8 Sistematika Penulisan .................................................................... 28 BAB II PROFIL KOTA PEMATANGSIANTAR, SUMATERA UTARA ............................................................................................ 30 2.1 Kondisi Geografis Kota Pematangsiantar .................................... 30 2.2 Sejarah Kota Pematangsiantar ..................................................... 31 2.3 Komposisi Penduduk Kota Pematangsiantar .............................. 36 2.4 Komposisi Pemerintahan Kota Pematangsiantar ........................ 41 BAB III ANALISIS POLITIK MULTIKULTURALISME DI KOTA PEMATANGSIANTAR ................................................................. 46 3.1 Kondisi Politik Multikulturalisme Pada Struktur Pemerintahan Eksekutif Kota Pematangsiantar .................................................. 48 3.2 Implementasi Politik Multikulturalisme Dalam Komposisi Pemerintahan Eksekutif di Kota Pematangsiantar ...................... 60 BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan ................................................................................. 81 4.2 Saran ............................................................................................ 82 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 83 x Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Pedoman Wawancara Lampiran 2. Transkrip Wawancara dengan Hulman Sitorus Lampiran 3. Transkrip Wawancara dengan Koni Ismael Siregar Lampiran 4. Transkrip Wawancara dengan Arapen Ginting Lampiran 5. Transkrip Wawancara dengan Russel Sipayung Lampiran 6. Transkrip Wawancara dengan Pendeta Robert Lampiran 7. Transkrip Wawancara dengan Aprijal Koto Lampiran 8. Transkrip Wawancara dengan Carlos Purba xi Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL DAN GAMBAR Tabel 1.1 Struktur Organisasi Pemerintahan Kota Pematangsiantar Periode 2010-2015 .......................................................................... 38 Tabel 2.1 Luas Daerah Berdasarkan Kecamatan ............................................. 31 Tabel 2.2 Nama Pejabat Walikota KDH TK. II Pematangsiantar Sejak Tahun 1956 Sampai Sekarang ............................................... 36 Tabel 2.3 Jumlah Penduduk Per Kecamatan Menurut Jenis Kelamin ............ 37 Tabel 2.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama ........................................... 38 Tabel 2.5 Tingkat Pendidikan Terakhir Penduduk Per Kecamatan ................. 40 Tabel 2.6 Struktur Organisasi Pemerintahan Kota Pematangsiantar Periode 2010-2015........................................................................... 41 Tabel 2.7 Jumlah Anggota DPRD Menurut Partai dan Jenis Kelamin Periode 2009-2014 .......................................................................... 44 xii Universitas Sumatera Utara
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Politik Multikulturalisme (Studi Analisis Pad..

Gratis

Feedback