Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (Smk3) Pada Proyek Pembangunan Gedung (Studi Kasus: Siloam Hospital Di Jln. Imam Bonjol Medan)

Gratis

26
202
120
2 years ago
Preview
Full text

EVALUASI PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) PADA

TUGAS AKHIR

PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG (Studi Kasus: Siloam Hospital di Jln. Imam Bonjol Medan) Diajukan untuk Melengkapi Tugas - Tugas dan Memenuhi Syarat untuk Menempuh Ujian Sarjana Teknik Sipil Disusun oleh :

SHERLY MEYKLYA SEMBIRING 09 0424 066 BIDANG STUDI STRUKTUR PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA EKSTENSI DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013

LEMBAR PENGESAHAN EVALUASI PENERAPAN SISTEM MANAJEMENKESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG (Studi Kasus: Siloam Hospital di Jln. Imam Bonjol Medan)TUGAS AKHIR Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat untuk Menempuh Ujian Sarjana Teknik Sipil Dikerjakan oleh :

SHERLY MEYKLYA SEMBIRING

  Syahrizal, MT NIP : 19611231 198111 1 001 Penguji IPenguji II Ir. Sipil FT USU Departemen T.

KATA PENGANTAR

  Penyebarankuesioner diberikan kepada 9 responden untuk pekerja dan 9 responden untuk pegawai/staff manajemen yang berdasarkan 5 kriteria dalam SMK3 yang masing-masing memiliki elemen. Penelitian ini menghasilkan hasil evaluasi untuk nilai tingkat keberhasilan penerapan SMK3 di proyek pembangunan gedung Siloam Hospital dengan perincian;Kebijakan K3 (92.19%), Perencanaan (87.54%), Penerapan dan Operasi Kegiatan(91.05%), Evaluasi (92%) dan Tinjauan Manajemen (96.29%).

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

  Jumlah Reponden Kriteria Penerapan dan Operasi Kegiatan ..................... Jumlah Reponden Kriteria Penerapan dan Operasi Kegiatan .....................

DAFTAR NOTASI

  Penyebarankuesioner diberikan kepada 9 responden untuk pekerja dan 9 responden untuk pegawai/staff manajemen yang berdasarkan 5 kriteria dalam SMK3 yang masing-masing memiliki elemen. Penelitian ini menghasilkan hasil evaluasi untuk nilai tingkat keberhasilan penerapan SMK3 di proyek pembangunan gedung Siloam Hospital dengan perincian;Kebijakan K3 (92.19%), Perencanaan (87.54%), Penerapan dan Operasi Kegiatan(91.05%), Evaluasi (92%) dan Tinjauan Manajemen (96.29%).

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

  Penyebab utama kecelakaan kerja adalahkurang optimalnya pelaksanaan K3, sedangkan penyebab dasar yang sebenarnya SMK3 merupakan sistem yang lebih bertanggung jawab dalam berupaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat dan sejahtera beserta bebasdari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Salah satu kendala yang mengganjal penerapan Sistem ManajemenKeselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) pada proyek konstruksi adalah adanya anggapan bahwa penerapan SMK3 di sektor konstruksi memakan biaya tinggi danpengusaha yang peduli keselamatan kerja para karyawannya apabila memasukkan biaya K3 dalam dokumen penawarannya kemungkinan jadi pemenang tender sebabtawarannya pasti bukanlah tawaran yang terendah.

1.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang disusun dalam penyusunan tugas akhir ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

  (SMK3) pada proyek pembangunan gedung Siloam Hospital? Kendala apa yang dapat menghambat penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) pada proyek ini?

1.3. Tujuan Penelitian

  Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui pelaksanaan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) pada proyek pembangunan gedung Siloam Hospital.

2. Mengetahui tingkat keberhasilan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) pada proyek tersebut

1.4. Manfaat Penelitian

  Bahan masukan untuk para instansi pengguna jasa yang dalam ketentuan SMK3 disebut juga sebagai pihak yang turut berperan dalam kegiatan penerapan SMK3. Batasan MasalahBagaimana kondisi penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( SM K3) pada proyek pembangunan gedung Siloam Hospital danapa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja pada proyek tersebut .

3. Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka diperoleh dari bacaan buku-buku, makalah, majalah dan internet yang berhubungan dengan masalah yang ditinjau untuk penulisan TugasAkhir ini yang di dalamnya terdapat susunan seperti pengertian, undang-undang, faktor-faktor terbentuknya dan gambaran prinsip dasar Sistem ManajemenKeselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).

1.7. Sistematika Penulisan

  ANALISIS DAN PEMBAHASAN Berisi tentang pelaksanaan penelitian yang dilakukan berdasarkan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang ada di lapangan, serta memuat perbandingan dan kesimpulan antara studi kasus di lapangan danpenerapan SMK3 menurut undang-undang. KESIMPULAN DAN SARAN Berisi tentang penutup dari penelitian, yang terdiri dari kesimpulan dari hasil penelitian yang dilaksanakan, serta saran-saran yang dapat diberikan berdasarkanhasil penelitian yang telah dilakukan.

BAB II LANDASAN TEORI

  Dalam melaksanakan pekerjaannya,setiap tenaga kerja akan menghadapi ancaman bagi keselamatan dan kesehatan kerja yang datang dari pelaksanaan tugas mereka tersebut karena setiap perusahaan yangmemperkerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih mempunyai potensi bahaya dalam kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran danpenyakit akibat kerja. (Sutarto, 2008) Dari keinginan tersebut, penerapan Sistem Manajemen Keselamatan danKesehatan Kerja (SMK3) yang secara berkesinambungan merupakan hal yang perlu didorong agar dapat lebih meyakinkan tercapainya lingkungan kerja yang aman,sehat dan sejahtera.

2.2.1. Keselamatan Kerja

  Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja danlingkungannya serta cara-cara melakukan suatu pekerjaan. (Suma‟mur, 1981)Keselamatan kerja dapat berkenaan di suatu tempat kerja konstruksi bangunan yang berhubungan dengan para pekerja dan karyawan.

2.2.2. Kesehatan Kerja

  3) Menjalankan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kecepatan geraknya.4) Memakai Alat Pelindung Diri (APD) atau safety hanya berpura-pura.5) Menggunakan peralatan yang tidak layak.6) Pengurusan alat pengaman peralatan yang digunakan untuk melindungi manusia. Kondisi yangmembahayakan (unsafe conditions) dapat berupa situasi sebagai berikut:1) Dalam keadaan pengamanan yang berlebihan.2) Alat dan peralatan yang sudah tidak layak digunakan.3) Terjadi kemacetan dalam penggunaan alat/mesin (congestion).4) Sistem peringatan yang berlebihan (in adequate warning system).5) Ada api di tempat yang berbahaya.

2.5. Alasan Mendasar Perlunya Standar K3

  Faktor ini sangat ditonjolkan pemerintah dan organisasi pekerja, sehingga kriteria accident adalah bila terjadi kecelakaan yang mengakibatkanmeninggalnya manusia atau cacat permanen. (Beesono, 2012)Sesuai ketentuan pada Pasal 4 ayat 1 Permen PU No.9 Tahun 2008 kegiatan jasa konstruksi yang dilaksanakan oleh pengguna jasa terdiri dari jasa pemborongan,jasa konsultansi dan kegiatan swakelola yang aktifitasnya melibatkan tenaga kerja dan peralatan kerja.

2.6. Defenisi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)

  Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi,perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian danpemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang selamat, aman, efisien dan produktif. Tujuan dan sasaran manajemen k3 adalah menciptakan sistem keselamatan dan kesatuan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenagakerja, kondisi, dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yangaman dan efisien, dan produktif.

2.7. Prinsip Dasar SMK3 dalam Perundang-undangan

  Prinsip dasar SMK3 yang terdapat dalam perundang-undangan dalam mengatur dan mendefenisikan mengenai K3 sudah ada sejak tahun 1970. Ayat (b) menyatakan bahwa untuk menjamin keselamatan dan kesehatan tenaga kerja maupun orang lain yang berada di tempat kerja, serta sumber produksi,proses produksi dan lingkungan kerja dalam keadaan aman, maka perlu penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

2.8. Acuan/Elemen - Elemen Penerapan SMK3

  Sebagaimana yang telah disebutkan dalam peraturan Menteri PekerjaanUmun Nomor: 09/PRT/M/2008 tentang pedoman SMK3 konstruksi bidangPekerjaan Umum tercantum elemen-elemen yang harus dilaksanakan oleh PenyediaJasa sebagai berikut: Pengurus dan pengusaha menunjukkan komitmen terhadap K3 sehingga mengeluarkan suatu kebijakan K3 demi memulai sebuah aturan terhadap pelaksanaanSMK3 di proyek konstruksi. Kebijakan K3 suatu pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh pengusaha dan pengurus yang memuat seluruh visi dan tujuan perusahaan, komitmen dan tekadmelaksanakan K3, kerangka dan program kerja yang mencakup kegiatan perusahaan secara menyeluruh yang bersifat umum dan atau operasinal.

2.8.2.2. Pemenuhan Perundang-undangan dan Persyaratan lainnya

  Pemenuhan perundang-undangan dan persyaratan lainnya merupakan bagian dari perencanaan (safety plan) yang di dalamnya terdapat item pekerjaan yang resikobahaya pengendaliannya diatur oleh perundang-undangan. Perusahaan harus menetapkan dan memelihara prosedur untuk inventarisasi, identifikasi dan pemahaman pemenuhan perundangan dan persyaratan lainnya yangberkaitan dengan K3 sesuai dengan kegiatan perusahaan yang bersangkutan.

5) Memelihara informasi ini selalu mutakhir

  (Permenaker, 1996) Sasaran dan program kebijakan K3 yang ditetapkan oleh perusahaan setidaknya harus memenuhi kualifikasi oleh Penyedia Jasa sebagaimana yangtercantum dalam permen Nomor: 08/PRT/M/2008 sebagai berikut:1) Membuat sasaran K3 yang terdokumentasi.2) Menyusun sasaran K3 dengan ketentuan: Relevan pada fungsi dan tingkat yang di dalam perusahaan Penyedia Jasa. Adapun persyaratan kompetensi, pelatihan dan kepedulian yang tercantum dalamPermen Nomor: 09/PRT/M/2008 adalah sebagai berikut:1) Menjamin setiap karyawan yang terlibat dalam pekerjaan yang mengandung risikoK3 memiliki kompetensi atas dasar pendidikan dan pelatihan atau pengalaman yang sesuai.

a. Komunikasi

  Keterlibatan dan Konsultansi Keterlibatan dan konsultansi keterlibatan kerja mencakup dalam beberapa hal sebagai berikut:1) Membuat, menerapkan dan memelihara keterlibatan kerja dalam hal: Identifikasi bahaya, pnilaian resiko dan menentukan pengendalian. 2) sasaran K3.3) uraian lingkup SMK3.4) uraian unsur-unsur utama dari SMK3 dan kaitannya.5) acuan yang terkait.6) rekaman yang diperlukan.7) hal-hal penting untuk menjamin efektivitas perencanaan, operasi dan pengendalianproses dikaitkan dengan risiko K3.

d. Pengendalian Dokumen

Pengendalian dokumen memenuhi ketentuan seperti berikut:

1) Dokumen yang diperlukan oleh SMK3 dan pedoman ini harus dikendalikan

   memastikan versi terbaru dari dokumen yang dipakai telah teridentifikasi dan tersedia di tempat-tempat yang digunakan.  memastikan dokumen eksternal asli yang penting unutuk perencanaan dan operasi SMK3 telah diidentifikasi dan dikendalikan pendistribusiannya.

2.8.4. Pemeriksaan (Evaluasi)

  Pengukuran dan Pemantauan Adapun syarat dalam pengukuran dan pemantauan adalah sebagai berikut:1) Membuat, menerapkan dan memelihara prosedur untuk pengukuran dan pemantauan kinerja K3 secara teratur yang meliputi:pengukuran kualitatif dan kuantitatif.  pemantauan penyakit, insiden (termasuk kecelakaan, hampir kena) dan bukti  historis.pencatatan data, hasil pemantauan dan pengukuran harus dapat mencukupi  kebutuhan untuk analisa tindakan perbaikan dan pencegahan.

2) Mengevaluasi kepatuhan terhadap persyaratan lainnya yang diikuti

  Ketidaksesuaian, Tindakan Perbaikan dan Pencegahan Semua hasil temuan dari pelaksanaan pemantauan, audit dan tinjauan ulangSMK3 didokumentasi dan digunakan untuk identifikasi tindakan perbaikan dan pencegahan serta pihak manajemen menjamin pelaksanaannya secara sistematik danefektif. Adapun syarat untuk membuat dan memelihara prosedur untuk menentukan potensi ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan pencegahan ialah:1) Memperbaiki ketidaksesuaian dan mengambil tindakan untuk mencegah resiko K3.

2.8.4.4. Pengendalian Rekaman

  Adapun hal yang dilaksanakan pada saat pengendalian rekaman adalah sebagai berikut:1) Membuat dan memelihara rekaman yang diperlukan.2) Membuat, menerapkan dan memelihara prosedur untuk identifikasi, penyimpanan kemamputelusuran, masa simpan dan pemusnahan rekaman. 3) Rekaman harus dapat terbaca dan teridentifikasi dengan mudah diperoleh.

2.8.4.5. Audit Intenal

  4)Program audit harus dibuat, diterapkan dan dipelihara yang mengacu kepada:  Tanggung jawab, kompetensi dan persyaratan untuk merncanakan dan melaksanakan audit, melaporkan hasil dan menyimpan rekaman yang terkait. (Permen,2008) Pimpinan yang ditunjuk harus melaksanakan tinjauan manajemen SMK3 secara berkala untuk menjamin kesesuaian dan keefektifan yang berkesinambungandalam pencapaian kebijakan dan tujuan K3.

5) Hasil tinjauan manajeman harus berupa keputusan untuk perbaikan: Kinerja K3

  Resiko K3 adalah perpaduan antara peluang dan frekuensi terjadinya peristiwa K3 dengan akibat yang ditimbulkannya dalam konstruksi. (Permen, 2008)Setelah melihat kategori resiko tersebut, maka proyek pembangunan Siloam Resiko kecil, mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya tidak Hospital termasuk kategori resiko tinggi mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya dapat beresiko membahayakan keselamatan umum, harta benda,jiwa manusia dan lingkungan serta terganggunya kegiatan konstruksi.

2.9. Pengendalian Resiko

  Alat pelindung diri (APD) yang terdiri dari sabuk pengaman, sarung tangan, pelindung kepala, pelindung wajah (masker) dan lain-lain. Pengendalian resiko akan direalisasikan ke dalam Program Kerja K3 yang terdiri dari:1) Item program kerja.2) Durasi masing-masing program kerja.3) Waktu dimulainya program kerja.4) Keterkaitan satu program kerja dengan program kerja lainnya.5) Penanggung jawab masing-masing program kerja.

2.10. Program Kerja K3

Hasil dari IBPR diutamakan dalam penyusunan sasaran dan program K3 konstruksi, yaitu merencanakan kebutuhan fasilitas dan kegiatan K3 yang diperlukandalam pelaksanaan proyek konstruksi tersebut. Perlindungan dari bahaya kecelakaan harus diprogramkan dengan cara memberi keterampilan kerja dengan memperhatikanupaya K3 agar terlindung dan mencegah dari resiko bahaya yang mengancam kepada Adapun beberapa bagian dari program kerja Keselamtan dan Kesehatan Kerja(K3) adalah sebagai berikut:

a. Kelengkapan Administrasi K3

  Setiap pelaksanaan pekerjaan konstruksi wajib memenuhi kelengkapan administrasi K3, meliputi:1) Pendaftaran proyek ke departemen tenaga kerja setempat.2) Pendaftaran dan pembayaran asuransi tenaga kerja (Astek).3) Pendaftaran dan pembayaran asuransi lainnya, bila disyaratkan proyek.4) Ijin dari kantor kimpraswil tentang penggunaan jalan atau jembatan yang menuju lokasi untuk lalu lintas alat berat. 5)Keterangan layak pakai untuk alat berat maupun ringan dari instansi yang berwenang memberikan rekomendasi.

b. Pelaksanakan Kegiatan K3 di Lapangan

  Pelaksanaan kegiatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lapangan meliputi:1) Kegiatan K3 di lapangan berupa pelaksanaan safety plan melalui kerja sama dengan instansi yang terkait K3 yaitu depnaker, polisi dan rumah sakit. 2)Pengawasan pelaksanaan K3, meliputi kegiatan:  Safety patrol, yaitu suatu tim K3 yang terdiri dari 2 atau 3 orang yang melaksanakan patroli untuk mencatat hal-hal yang tidak sesuai ketentuan K3 dan yang memiliki resiko kecelakaan.

c. Pelatihan K3

  Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terdiri atas 2 bagian yaitu pelatihan secara umum dan pelatihan khusus:1) Pelatihan secara umum diberikan dengan materi pelatihan tentang panduan K3 di proyek, misalnya:  Pedoman praktis pelaksanaan K3 pada proyek bangunan gedung. 2) Pelatihan khusus proyek yang diberikan pada saat awal proyek dan di tengah periode pelaksanaan proyek sebagai penyegaran dengan peserta seluruh petugasyang terkait dalam pengawasan proyek dan materi pengetahuan umum tentangK3 atau safety plan proyek yang bersangkutan.

2.11. Perlengkapan dan Peralatan K3

  Pengendalian Administrasi Pengendalian administrasi ini mencakup promosi program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang terdiri dari:1) Pemasangan bendera K3, bendera RI dan bendera perusahaan,2) Pemasangan sign board K3 yang berisi slogan-slogan yang mengingatkan perlunya bekerja dengan selamat.  larangan memasuki area tertentu dan larangan membawa bahan-bahan berbahaya, petunjuk untuk melapor (keluar masuk proyek).  berbahaya (untuk lokasi tertentu).peringatan larangan untuk masuk ke lokasi power listrik (untuk orang-orang peringatan untuk memakai alat pengaman kerja dan peringatan ada alat/mesin yang  tertentu).

2.13.2. Teknik Pengolahan Data

  Metode Kuantitatif Untuk mengetahui tingkat keberhasilan penerapan SMK3 pada proyek pembangunan gedung Siloam Hospital, maka metode yang digunakan adalah metode (Prasetyo, 2005) Kedua metode ini dipakai untuk mengukur tingkat keberhasilan penerapan SMK3 pada proyek pembangunan gedung Siloam Hospital berdasarkanhasil penyebaran kuesioner. (Prasetyo, 2005) Penyajian data untuk jumlah responden dan rata-rata persentase yang digunakan dalam penelitian ini dibuat dalam bentuk angka (tabel distribusi frekuensi)dan gambar yang disajikan dalam bentuk piechart.

c. Metode Analisis Univariat

  Penganalisiasan data merupakan suatu proses lanjutan dari proses pengolahan data untuk melihat bagaimana menginterpretasikan data, kemudian menganalisis datadari hasil yang sudah ada pada tahap hasil pengolahan data. Untuk menentukan nilai rata-rata hitung dapat dilakukan tergantung dari sekumpulan data yang dipunyai, atau dengan kata lain apakah data-data itu masihmerupakan kumpulan data yang belum disusun ke dalam tabel frekuensi ataukah data-data yang dipunyai telah disusun menjadi suatu daftar tabel frekuensi, sehinggaperhitungan nilai rata-ratanya dikategorikan ke dalam model.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Uraian Umum

  Untuk pengkodean dan pemindahan data disusunsedemikian rupa dalam bentuk tabel untuk mengetahui banyaknya jumlah responden yang menyatakan “ya” dan “tidak” untuk setiap kategori, sedangkan penyajian datadibuat dalam bentuk numerik (angka) yang disajikan dalam tabel frekuensi dan dalam bentuk grafik (gambar) yang disajikan dalam piechart. Penerapan dan operasi kegiatan: untuk mengetahui apakah para pekerja melaksanakan dan mematuhi atau bahkan melanggar program K3 yang telahdibentuk oleh petugas yang berwenang dan menggunakan dengan baik fasilitas keamanan yang telah diberikan.

3.5. Hasil Analisis Data

3.6. Diagram Alir Penelitian

Hasil analisis data berdasarkan rata-rata untuk setiap persentase yang ada dalam 5 elemen penerapan SMK3 tersebut yang sudah diperoleh dari hasil evaluasi,sehingga mendapatkan kesimpulan untuk tingkat pencapaian keberhasilan penerapanSMK3 di Siloam Hospital ini berdasarkan penentuan nilai keberhasilan yang tertulis dalam Permenaker Nomor: 05 tahun 1995. Gambar 3.1.: Bagan Alir Penelitian Data Sekunder untuk analisis pelaksanaan penerapan SMK3 Data Primer untuk analisis keberhasilan SMK3 di lapangan Analisis Keberhasilan SMK3 Analisis Pelaksanaan SMK3  Metode Kuantitatif untuk menyusun banyaknya jumlah responden dalam setiap kriteria yang terdiri dari 3 tahap:  Metode Analisis Univariat untuk mengetahui:  Metode Deskriptif Kualitatif mengetahui: Pelaksanaan SMK3 di lapangan berdasarkan 5 kriteria dasar; kebijakan, perencanaan, penerapan dan operasi kegiatan, evaluasi dan tinjauan manajemenHasil Analisis Nilai pelaksanaan penerapan SMK3 di proyekBerdasarkan Hasil Audit Internal di lapangan (Safety Asessment) Berdasarkan Permen Nomor 5 tahun 1996 (Klasifikasi nilai ukur pencapaian keberhasilan SMK3) Tingkat atau kategori pencapaian keberhasilan penerapan SMK3Faktor yang mempengaruhi penerapan SMK3 Kesimpulan dan Saran

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

  Agar tercapainya misi dan visi yang bertujuanuntuk keselamatan dan kesehatan kerja pada proyek ini, maka dibuatlah SistemManajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Sebab tujuan dan sasaranSMK3 adalah menciptakan sistem keselamatan dan kesatuan kerja di tempat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerjayang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

1. Kebijakan K3 2

5. Tinjauan manajemen K3

  Penerapan dan operasi kegiatan 4. Evaluasi/ Pemeriksaan Dalam bab ini akan dibahas mengenai evaluasi penerapan Sistem ManajemenKeselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) sesuai dengan tujuan penelitian Tugas Akhir dalam 5 elemen yang tercakup di dalamnya.

4.2. Profil Perusahaan

  Deskripsi Proyek Adapun deskripsi umum pembangunan gedung Siloam Hospital di Medan ini tercantum sebagai berikut:Nama Proyek : Siloam Hospital MedanPemilik : PT. Jumlah Lantai : Basement 3 lantai dan upper structure 10 lantai.

4.2.3. Lokasi Proyek Siloam Hospital terletak di Jln. Imam Bonjol Medan, Petisah, Medan Sumut

Di bawah ini merupakan denah peta lokasi di sekitaran Siloam Hospital yang ditandai dengn huruf berwarna merah yang menunjukkan lokasi proyek tersebut. Gambar 4.1.: Denah Lokasi Proyek

4.3. Visi dan Misi Perusahaaan

  Proyek pembangunan gedung Siloam Hospital ini dibangun oleh PerusahaanPerumahan (PP) yang berlandaskan sustaining performance with sustanable environment through green construction yang artinya memiliki komitmen yang tinggiterhadap lingkungan yang menjadi bahagian dari kesehatan lingkungan. Misi : - Menjaga ketenangan dan kenyamanan lingkungan di sela aktifitas kerja yang tinggi untuk menuju hasil kerja yang baik dan sempurna.

4.4. Pelaksanaan Penerapan SMK3 Proyek Siloam Hospital

  Sebagai perusahaan yang bergerak dalam uasaha jasa konstruksi dan investasi, PT PP (Persero) menetapkan kebijakan di bidang kualitas, K3 danlingkungan yang berlaku bagi seluruh unit di perusahaan yang dimana telah terdapat item-item perjanjian yang akan dipatuhi oleh para pekerja serta pihak-pihak yangbersangkutan. Adapun komitmen dan kebijakan dalam bidang K3 yang tercantum secara tertulis untuk pembangunan proyek ini adalah sebagai berikut:a.

4.4.2. Perencanaan K3 (Safety Plan) Perusahaan

Sebelum memulai penerapan atau pelaksanaan K3, maka dibuatlah perencanaan K3 demi mencapai target dan sasaran keselamatan setiap pekerja dankaryawan yang bekerja di proyek tersebut. Perencanaan di perusahaan ini memuat hal sebagai berikut:

4.4.2.1. Identifikasi Bahaya, Penilaian dan Pengendalian Risiko (IBPR)

  4)Pekerjaan arsitektur/finishing, meliputi beberapa kegiatan yang cukup beresiko tinggi seperti; Pekerjaan kulit luar, pekerjaan water proofing membrane roof top/couting, pekerjaan pasangan batu bata, plester dan acian, pemasangan pintu dan jendela, pekerjaan plafond, pengecatan plafond, pekerjaan marmer dan keramik,pengecatan dinding gedung, sanitary dan pemasangan railing. Pengendalian resiko atau penanggulangan resiko yang dibuat untuk meminimalkan kecelakaan dapat dilihat dalam matriks rekomendasi control potensibahaya signifikan yang dibuat dalam 12 jenis pekerjaan berdasarkan 5 cara pengendalian resiko yaitu: 1)Eliminasi, tidak dilakukan pada proyek ini karena tidak ada bahaya yang signifikan untuk menghilangkan sumber bahaya yang ada di tempat kerja.

4) Pengendalian administrasi, mencakup rambu K3 dan SIB (Surat Ijin Berkendara)

  Perundang-undangan yang dipakai dalam proyek ini ada dalam peraturan:1) PER 01/MEN/1980 terdapat pada pasal 51 dan pasal 58 yang ada pada ayat (1) dan (2):  . Pasal 51: Mesin-mesin pekerjaan kayu yang digunakan harus dipelihara dengan baik sehingga terjamin keselamatan dan kesehatan dalam pemakaiannya  sedemikian rupa untuk menjamin agar dapat menahan tekanan dan muatan maksimum yang diijinkan dan dapat dikemudikan serta direm dengan aman dalam situasi bagaimanapun juga.

2) Undang-undang No.1 thn 1970, III.pasal 3 (ayat (b), (f), (h), (l) dan (q)

  Sasaran dan program K3 merupakan tujuan dan target yang dilaksanakan melalui program kerja K3 demi mencapai keselamatan dan kesehatan kerja bagipekerja dan karyawan yang bekerja di proyek ini. 3)Induksi K3 (SHE Induction) SHE induction merupakan pendekatan dan pegarahan tentang SHE, housekeeping dan ketertiban proyek kepada pekerja baru dan pekerja sebelummelakukan pekerjaan yang berpotensi bahaya.4) Himbauan K3 (SHE Talk)SHE talk adalah salah satu program kerja yang terdapat di proyek Siloam Hospital yang merupakan himbauan yang diberikan kepada pekerja oleh pihak project manager dan bagian SHEO di lapangan.

4.4.3.2. Kompetensi, Pelatihan dan Kepedulian

   SHEO menjelaskan peraturan-peraturan yang berlaku di proyek dan syarat-syarat  safety yang wajib dilaksanakan oleh sub kontraktor/mandor. SHEO memeriksa semua peralatan yang sudah direkomendasikan untuk disediakan  SHEO meneruskan SIB ke GSP apabila subkontraktor/mandor sudah memenuhi persyaratan safety sesuai dengan yang tertera pada SIB dan setelah penandatanganan SIB oleh SHEO.

4.4.3.3. Komunikasi, Keterlibatan dan Konsultasi

  Dalam hal keterlibatan dan konsultansi, penyedia jasa sudah menerapkan pekerja dalam hal pelaksanaan untuk siap siaga terhadap setiap item pekerjaan yangterdapat dalam IBPR demi tercapainya tujuan dan sasaran K3 di proyek ini. Dokumentasi Pelaksanaan program K3 yang sudah dibuat dalam program kerja K3 disimpan dan didokumentasi sebagai bukti pelaksanaannya dan supaya mengetahuisecara jelas apa saja kekurangan yang terdapat dalam perencanaan yang sudah dibuat dalam suatu program.

c. Pengendalian Operasional

d. Kesiagaan dan Tanggap Darurat

  Struktur organisasi tanggap darurat yang telah dibentuk melaksanakan kewajiban sesuai tugas dan tanggungjawab yang diembannya untuk meminimalkankerugian yang ditimbulkan. Pelaksanaan Program Kerja Program kerja yang terdiri dari safety induction, safety talk, K3 meeting,Inspeksi K3, SHE Patrol, training K3, simulasi tanggap darurat, rekomendasi K3 dan housekeeping telah diatur dalam schedule pelaksanaan jadwal masing-masingprogram.

4.4.3. Pengukuran dan Evaluasi

  Pengukuran dan evaluasi merupakan tahap pemeriksaan apakah SMK3 di proyek pembangunan gedung Siloam Hospital telah terukur dengan baik. Pengukuran dan evaluasi yang dilaksanakan di proyek Siloam Hospital ini terdapat dalam audit internal.

4.4.3.1. Audit Internal

  4) Perluasan sasaran yang telah dicapai.5) Status penyelidikan insiden tindakan perbaikan dan pencegahan.6) Tindak lanjut tinjauan manajemen sebelumnya.7) Perubahan lingkup termasuk pengembangan dari persyaratan, peraturan dan persyaratan lainnya yang terkait dengan K3. Menurut kriteria penilaian yang terdapat pada audit internal ada 4 keterangan nilai yang ditandai dengan warna:1) Merah, pencapaian nilai kurang dari 55% yang berarti memiliki nilai yang kurang.2) Kuning, pencapaian nilai >55%-75% yang berarti memiliki nilai yang cukup.3) Hijau, pencapaian nilai >75%-90% yang berarti memiliki nilai yang baik.4) Biru, pencapaian nilai >90% yang berarti memiliki nilai yang istimewa.

4.5. Keberhasilan Penerapan SMK3 Proyek Siloam Hospital

  Keberhasilan penerapan SMK3 di proyek ini dapat dilihat dalam 5 kriteria dasar SMK3 yang datanya berasal dari penyebaran kuesioner yang menunjukkanjumlah responden dalam setiap elemen. Hasil dari ukuran pemusatan yang menyatakan rata-rata penjumlahan antara pekerja dan pegawai/staffmanajemen menunjukkan keberhasilan penerapan SMK3.

4.5.1. Evaluasi Penerapan SMK3 Pada Para Pekerja

Evaluasi ini dimulai dengan peninjauan penerapan SMK3 pada para pekerja untuk melihat jumlah respondennya yang dipersentasekan hingga hasilnya dicariukuran pemusatannya dengan penjumlahan para pegawai/staff manajemen. Adapun evaluasi untuk para pekerja ini terbagi atas 3 elemen yaitu:

4.5.1.1. Kebijakan K3 di Perusahaan

  Jumlah(Jumlah Responden) Ya TidakA1 8 1 9 A2 8 1 9 Jumlah 16 2 18 Banyaknya jumlah responden yang mengetahui adanya kebijakan K3 dibuat ke dalam diagram sebagai berikut: Kebijakan K311.11 % YaTidak 88.89 % Gambar 4.3.: Kebijakan K3 Keterangan: A1 dan A2 terdapat dalam lampiran kuesioner. Dari hasil survey dalam tabel dan diagram di atas dapat disimpulkan bahwa para pekerja yang mengetahui adanya kebijakan sebesar 88.89% dan yang tidakmengetahui adanya kebijakan sebesar 11.11%.

4.5.1.2. Perencanaan K3 (Safety Plan)

  Dari hasil survey dalam tabel dan diagram di atas dapat disimpulkan bahwa para pekerja yang mengetahui adanya perencanaan sesuai dengan elemen-elemenyang terdapat di dalamnya sebesar 87.65% dan yang tidak mengetahui adanya perencanaan sesuai dengan elemen-elemen yang terdapat di dalamnya sebesar12.35%. Dari hasil survey dalam tabel dan diagram di atas dapat disimpulkan bahwa para pekerja yang mengetahui dan melaksanakan penerapan dan operasi kegiatansesuai dengan elemen-elemen yang terdapat di dalamnya sebesar 87.96% dan yang tidak mengetahui adanya perencanaan sesuai dengan eelemen-elemen yang terdapatdi dalamnya sebesar 12.04%.

4.5.2. Jumlah Frekuensi Penerapan SMK3 Pada Para Pekerja

  Dari hasil evaluasi pengolahan data survey yang telah dibuat dalam tabel dan diagram di atas, maka penerapan SMK3 untuk para pekerja yang terdiri darikebijakan, perencanaan dan penerapan & operasi kegiatan dipersentasekan agar mendapat hasil persenatse keberhasilan penerapan SMK3 di proyek Siloam HospitalMedan. Penerapan dan operasi kegiatan K3: jumlah responden yang mengetahui, melaksanakan serta menjalankan penerapan dan operasi kegiatan K3 diperusahaan tersebut sebesar 88.83%.

2. Perencanaan: jumlah responden yng mengetahui adanya perencanaan K3 di perusahaan tersebut sebesar 87.85%

4.5.3. Evaluasi Penerapan SMK3 Pada Pegawai/Staff Manajemen

  Setelah peninjauan penerapan SMK3 pada para pekerja, maka ditinjau evaluasi penerapan SMK3 kepada para pegawai/staff manajemen untuk melihatjumlah respondennya. Jumlah responden akan dipersentasekan hingga hasilnya dicari ukuran pemusatannya (rata-rata).

4.5.3.1. Kebijakan K3

  JumlahYa Tidak 9 A8 Kebijakan K3(Jumlah Responden) 90 Banyaknya jumlah responden (karyawan/staff manajemen) yang mengetahui adanya kebijakan K3 dibuat ke dalam diagram persentase sebagai berikut: 4 86 81 Jumlah 2 7 9 A10 9 9 A9 1 8 9 A1 9 A7 Kebijakan K3 merupakan arah yang ditentukan untuk dipatuhi dalam proses kerja dan organisasi perusahaan. Dari hasil survey dalam tabel dan diagram di atas dapat disimpulkan bahwa para pegawai/staff manajemen yang mengetahui adanya perencanaan sesuai denganelemen-elemen yang terdapat di dalamnya sebesar 87.23% dan yang tidak mengetahui adanya perencanaan sesuai dengan elemen-elemen yang terdapat didalamnya sebesar 12.77%.

4.5.3.4. Evaluasi/Pemeriksaan

  Dari hasil survey dalam tabel dan diagram di atas dapat disimpulkan bahwa para pegawai/staff yang mengetahui dan melaksanakan evaluasi sesuai denganelemen-elemen yang terdapat di dalamnya sebesar 92% dan yang tidak mengetahui adanya evaluasi sesuai dengan elemen-elemen yang terdapat di dalamnya sebesar8%. Pimpinan yang ditunjuk harus melaksanakan tinjauan SMK3 secara berkala untuk menjamin kesesuaian dan keefektifan yang berkesinambungan dalampencapaian kebijakan dan tujuan keselamatan dan kesehatan kerja.

4.5.4. Jumlah Frekuensi untuk Pegawai/ Staff Manajemen

  Rata-rata persentase untuk pegawai/staff manajemen yang bersangkutan dapat kita lihat dalam tabel jumlah frekuensi sebagai berikut:Tabel 4.11.: Jumlah Frekuensi SMK3 untuk Pegawai/Staff Manajemen 90 68 79.06 76 66.66 73.94 8 10085.1 100 100 100 97.02 9 90.69 80 100 93.71 7 90.86 Rata-Rata(%) 95.6 87.7 93.6 92 96.3 93.1 Seperti yang terlihat dalam tabel 4.12. Jumlah frekuensi ini telah diakumulasikanberdasarkan survey kepada pegawai/staff manajemen yang bekerja di proyek SiloamHospital.

1. Kebijakan K3: jumlah responden yang mengetahui adanya kebijakan K3 di perusahaan tersebut sebesar 95.6%

  Penerapan dan operasi kegiatan: jumlah responden yang mengetahui, melaksanakan serta menjalankan penerapan dan operasi kegiatan di perusahaantersebut sebesar 93.28%. Dari hasil evaluasi tersebut dapat diperoleh keberhasilan penerapan SistemManajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang diambil dari rata-rata penjumlahan kebijakan, perencanaan, penerapan dan operasi kegiatan, evaluasi sertatinjauan manajemen adalah sebesar 92.86%.

4.6. Pembahasan Hasil Penelitian

  Kebijakan K3: jumlah responden yang mengetahui adanya kebijakan K3 di perusahaan tersebut untuk pekerja sebesar 88.88%, sedangkan jumlah respondenyang mengetahui adanya kebijakan K3 untuk pegawai/staff manajemen sebesar95.5%. Penerapan dan operasi kegiatan: jumlah responden yang mengetahui, melaksanakan serta menjalankan penerapan dan operasi kegiatan di perusahaan iniuntuk pekerja sebesar 88.83%, sedangkan jumlah responden yang mengetahui, melaksanakan serta menjalankan penerapan dan operasi kegiatan untukpegawai/staff manajemen sebesar 93.28%.

5. Tinjauan manajemen: jumlah responden yang menjalankan, melaksanakan dan memelihara tinjauan manajemen perusahaan ini sebesar 96.29%

  Dari hasil evaluasi tersebut dapat disimpulkan bahwa keberhasilan penerapanSistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) untuk para pekerja dan untuk para pegawai/staff manajemen pada proyek pembangunan gedung SiloamHospital sebesar 91.81 %. Dari ketentuan permenaker tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa hasil dari evaluasi keberhasilan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan KesehatanKerja (SMK3) di proyek pembangunan gedung Siloam Hospital yang mencapai nilai91.81% tergolong dalam kategori nomor 3 yaitu tingkat pencapaian penerapan 85- 100% yang pengertiannya layak untuk diberi sertifikat dan peringkat bendera emas.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

  Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) mencakup program-program dalam setiap kriteria sebagai berikut:Kebijakan K3: penerapan kebijakan yang diambil cukup teralisasi dengan baik  dan diketahui oleh para pekerja. Nilai tingkat keberhasilan penerapan untuk masing-masing elemen adalah sebagai berikut:  : 92.19%Kebijakan K3  : 87.54%Perencanaan K3Penerapan dan operasi kegiatan : 91.05%   : 92.00%Evaluasi/Pemeriksaan  3.

5.2. Saran

  Perusahaan sebaiknya memberikan pengertian dan peringatan kepada pekerja agar tetap menjaga alat pelindung diri (APD) seperti sepatu, sarung tangan dansebagainya agar tidak ada pemborosan waktu dan biaya. Perlunya pengawasan yang lebih baik dalam pengecekan dan perawatan APD secara berkala agar terjaminnya pemenuhan pelaksanaan program SMK3 yangada.

DAFTAR PUSTAKA

  Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Evaluasi dan Perancangan SMK3 dalam RangkaPerbaikan Safety Behaviour Pekerja.

Dokumen baru

Aktifitas terbaru

Download (120 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Analisis Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (Smk3) Di Pt Madjin Crumb Rubber Factory Indrapura Kabupaten Batubara Tahun 2014
28
227
137
Analisis Sistem Pondasi Pile–Raft Pada Pembangunan Proyek Siloam Hospital Medan
12
103
118
Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (Smk3) Pada Proyek Pembangunan Gedung (Studi Kasus: Siloam Hospital Di Jln. Imam Bonjol Medan)
26
202
120
Kajian Potensi Terjadinya Tuntutan Kontraktor Pelaksana Pada Proyek Konstruksi (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Gedung Hotel Santika Medan)
4
77
93
Perlindungan Hukum Mengenai Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Dalam Perjanjian Kerja (Studi Pada CV. Aneka Usaha Cabang Medan)
3
39
165
Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Oleh P2K3 Untuk Meminimalkan Kecelakaan Kerja Di PT Wijaya Karya Beton Medan Tahun 2008
6
75
124
Analisa Daya Dukung Pondasi Bored Pile Tunggal Pada Proyek Pembangunan Gedung Crystal Square JL. Imam Bonjol No. 6 Medan
5
80
93
Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (Smk3) Pada Proyek Pembangunan Jembatan Rel Kereta Api
11
87
96
Evaluasi Penjadwalan Waktu Dan Biaya Pada Proyek Pembangunan Gedung Kelas Di Fakultas Ekonomi Universitas Jember Dengan Metode PERT
3
14
94
Perancangan Kampanye Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Pada Proyek Konstruksi
1
10
67
Penerapan Sistem Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Di Pt. Iskandar Indah Printing Textile Laweyan Surakarta
0
0
15
1.2. Tanggung Jawab dan Wewenang Untuk Bertindak - Analisis Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (Smk3) Di Pt Madjin Crumb Rubber Factory Indrapura Kabupaten Batubara Tahun 2014
0
1
28
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) - Analisis Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (Smk3) Di Pt Madjin Crumb Rubber Factory Indrapura Kabupaten Batubara Tahun 2014
0
1
53
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - Analisis Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (Smk3) Di Pt Madjin Crumb Rubber Factory Indrapura Kabupaten Batubara Tahun 2014
0
1
8
Analisis Sistem Pondasi Pile–Raft Pada Pembangunan Proyek Siloam Hospital Medan
0
0
15
Show more