PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK SISWA KELAS IVA SD NEGERI 05 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Gratis

0
9
76
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRACT IMPLEMENTATION OF CONTEXTUAL APPROUCH FOR TEMATHICS LEARNING IN IVA CLASS AT SD NEGERI 05 METRO TIMUR 2013/2014th By RIMBAWATI HESTI HARDIYANTO The research was based on observation result in class IVA at SD Negeri 05 Metro Timur that showed thematics learning was not implemented optimally yet and the exhaustiveness of study result was 32,14%. The aims of research were to increase activity and study result by implementation of contextual approach. The method of research was Classroom Action Research that consisted of planning, implementing, observing, and reflecting. The instrument of data collection used observation sheet and test. The technique of data analyze used qualitative and quantitative analyze. The result of research showed that percentage of active student in first cycle was 53,6% and in second cycle was 89,3%. Percentage of cognitive result in first cycle was 57,14% and in second cycle was 82,14%. Percentage of affective result with “Good” category in first cycle was 57,14% and in second cycle was 75,00%. Percentage of psychomotor result in first cycle was 35,71% and in second cycle was 75,00%. Implementation of contextual approach can improve the activity of thematics learning and study result of cognitive, affective, and psychomotor. Keywords: activity, study result, contextual approach. ABSTRAK PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK SISWA KELAS IVA SD NEGERI 05 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Oleh RIMBAWATI HESTI HARDIYANTO Penelitian dilatarbelakangi dari hasil observasi pembelajaran tematik di kelas IVA SD Negeri 05 Metro Timur, yang menunjukkan bahwa pembelajaran tematik belum dilaksanakan secara optimal, dan ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 32,14%. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan menerapkan pendekatan kontekstual. Metode penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan tahapan setiap siklus, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Alat pengumpul data penelitian adalah lembar observasi dan soal tes. Teknik analisis data menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase siswa yang aktif pada siklus I sebesar 53,6% dan pada siklus II sebesar 89,3%. Persentase ketuntasan hasil belajar kognitif siklus I sebesar 57,14% dan pada siklus II sebesar 82,14%. Persentase siswa dengan kategori “Baik” pada hasil belajar afektif siklus I sebesar 57,14% dan siklus II sebesar 75,00%. Persentase ketuntasan hasil belajar psikomotor pada siklus I sebesar 35,71% dan pada siklus II sebesar 75,00%. Penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran tematik dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor siswa. Kata kunci: aktivitas siswa, hasil belajar, pendekatan kontekstual. RIWAYAT HIDUP Peneliti dilahirkan di Gaya Baru, Kabupaten Lampung Tengah pada tanggal 29 Januari 1993. Peneliti adalah anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak Harmiyanto dan Ibu Sujati. Pendidikan formal dimulai dari Taman Kanakkanak (TK) Al-Qur’an Metro dan diselesaikan pada tahun 1998. Peneliti melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Dasar di SD Negeri 02 Metro Timur pada tahun 1998-2004. Pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ditempuh di SMP Negeri 4 Metro dan selesai pada tahun 2007. Program pendidikan berlanjut hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA Negeri 4 Metro dan selesai pada tahun 2010. Pada tahun 2010, peneliti terdaftar sebagai mahasiswa S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung. MOTO “Bacalah…” (Q.S. 96: 1) “… maka, nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. 55: 13 ) “Wahai Allah, perbaikilah agamaku yang ia adalah penjaga perkaraku, dan perbaikilah untukku duniaku yang di dalamnya kehidupanku, dan perbaikilah akhiratku yang di dalamnya tempat kembaliku, dan jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian ini sebagai istirahat untukku dari setiap keburukan.” (HR. Muslim) “Lakukanlah segala sesuatu hanya untuk Yang Maha Satu” (Rimbawati Hesti Hardiyanto) PERSEMBAHAN Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Alhamdulillahirobbil’alamin, berhimpun syukur kepada Sang Maha, dengan segala kerendahan hati, ku persembahkan karya sederhana ini kepada: Ayahanda Harmiyanto dan Ibunda Sujati tercinta, yang telah ikhlas memberikan segala pengorbanan bagi kebaikan ananda. Terimakasih telah memberikan cinta dan kasih sayang tanpa batas, serta segala untaian doa yang senantiasa dimohonkan pada Illahi untuk kebaikan ananda. Kakakku Hendri Trio Hardiyanto dan Dyna Haryati, Adikku Rimbawati Gita Hardiyanto, terimakasih atas doa, dukungan, dan motivasi untuk keberhasilanku. Kedua keponakanku Nayzilla Airra Zahwa dan Kinara Assyifa Putri, yang telah menghadirkan keceriaan dan semangat di sela-sela kepenatan. Semoga kelak menjadi anak-anak sholehah dan bermanfaat bagi umat. Almamater tercinta “Universitas Lampung”. SANWACANA Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur peneliti ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas ridha-Nya skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi dengan judul “Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Tematik Siswa Kelas IVA SD Negeri 05 Metro Timur Tahun Pelajaran 2013/2014” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Lampung. Skripsi ini dapat diselesaikan dengan bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini peneliti mengucapkan terimakasih kepada: 1. Bapak Dr. Hi. Bujang Rahman, M. Si, selaku Dekan FKIP Universitas Lampung. 2. Bapak Drs. Baharuddin Risyak, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 3. Bapak Dr. Hi. Darsono, M. Pd., selaku Ketua Program Studi PGSD FKIP Universitas Lampung dan selaku penguji skripsi. Terimakasih atas kritik dan saran yang berharga, mulai dari seminar proposal hingga ujian skripsi. 4. Ibu Dra. Asmaul Khair M.Pd., selaku Ketua Unit Pelaksanaan Program PGSD Metro. 5. Bapak Dr. Alben Ambarita, M. Pd., selaku Pembimbing Utama atas kesediaan untuk memberikan keleluasaan waktu dalam membimbing, serta memotivasi dalam proses penyelesaian skripsi ini. 6. Ibu Dra. Hj. Yulina H., M. Pd.I., selaku Pembimbing Kedua atas kesediaan memberikan waktu untuk membimbing, serta memotivasi dalam proses penyelesaian skripsi ini. ii 7. Ibu Yuliana, S.Pd., selaku kepala SD Negeri 05 Metro Timur yang telah mengizinkan peneliti untuk melakukan penelitian, terimakasih atas kerja sama selama ini. 8. Ibu Fitri Avirianti H., S.Pd.I., selaku guru kelas IVA yang berperan sebagai observer I peneliti dalam melakukan penelitian. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada peneliti untuk mempelajari keadaan yang sesungguhnya dalam mendidik. 9. Saudari Putu Ayu Dahliawati, selaku teman sejawat yang berperan sebagai observer II peneliti dalam penelitian. Terima kasih atas waktu dan keikhlasannya dalam membantu penelitian ini. 10. Anak-anakku kelas IVA SD Negeri 05 Metro Timur, semoga kalian menjadi anak yang taqwa, cerdas, dan berprestasi. 11. Sahabat-sahabatku angkatan 2010, khususnya Gester_B yang selalu menghadirkan semangat dan kebersamaan yang tak terlupakan. 12. Seseorang yang telah menghadirkan semangat tersendiri untuk peneliti. Terimakasih atas doa, bantuan, dan motivasi yang diberikan. 13. Teman-teman yang memotivasi dan menemani perjuangan untuk menyelesaikan skripsi ini, terimakasih Tante Rizky, Tsany, Mbak Putu, Mbak Mega, Mbak Rani, Deasy, Furi, Ratih, dan Melsa. 14. Seluruh pihak yang tak dapat peneliti sebutkan namanya, terimakasih atas doa dan dukungan yang diberikan. Akhir kata, peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi peneliti berharap skripsi yang sederhana ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Metro, Juni 2014 Peneliti iii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ........................................................................................... vi DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... vii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... viii I. PENDAHULUAN ................................................................................... A. Latar Belakang .................................................................................... B. Identifikasi Masalah ............................................................................ C. Rumusan Masalah ............................................................................... D. Tujuan Penelitian ................................................................................. E. Manfaat Penelitian ............................................................................... 1 1 6 7 7 8 II. KAJIAN PUSTAKA ................................................................................ A. Pendekatan Kontekstual ...................................................................... 1. Pengertian Pendekatan Kontekstual ............................................... 2. Karakteristik Pendekatan Kontekstual ............................................ 3. Komponen-komponen Pendekatan Kontekstual ............................ 4. Langkah-langkah Penerapan Pendekatan Kontekstual ................... 5. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Kontekstual ..................... B. Pendekatan Scientific ........................................................................... C. Belajar ................................................................................................. 1. Pengertian Belajar ........................................................................... 2. Pengertian Aktivitas Belajar ........................................................... 3. Pengertian Hasil Belajar ................................................................. D. Penilaian Autentik ............................................................................... E. Pembelajaran Tematik ......................................................................... F. Hasil Penelitian yang Relevan ............................................................. G. Kerangka Pikir ..................................................................................... H. Hipotesis Tindakan .............................................................................. 10 10 10 12 14 17 18 20 23 23 25 27 29 31 33 34 36 III. METODE PENELITIAN.......................................................................... A. Rancangan Penelitian .......................................................................... B. Setting Penelitian ................................................................................. 1. Lokasi Penelitian ............................................................................ 2. Waktu Penelitian ............................................................................ 3. Rancangan Penelitian ..................................................................... C. Subjek Penelitian ................................................................................. D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ................................................... 37 37 37 38 38 38 38 39 iv 1. Teknik Pengumpulan Data ............................................................. 2. Alat Pengumpulan Data .................................................................. E. Teknik Analisis Data ........................................................................... 1. Teknik Analisis Data Kualitatif ...................................................... 2. Teknik Analisis Data Kuantitatif .................................................... F. Prosedur Penelitian .............................................................................. G. Indikator Keberhasilan ........................................................................ 39 39 42 42 45 46 53 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ........................................ A. Hasil Penelitian ................................................................................... 1. Profil SD Negeri 05 Metro Timur .................................................. 2. Pelaksanaan Kegiatan Penelitian .................................................... 3. Pelaksanaan Kegiatan dan Hasil Penelitian Siklus I ...................... 4. Pelaksanaan Kegiatan dan Hasil Penelitian Siklus II ..................... B. Pembahasan Hasil Penelitian .............................................................. 1. Kinerja Guru dalam Penerapan Pendekatan Kontekstual ............... 2. Aktivitas Siswa ............................................................................... 3. Hasil Belajar Afektif ....................................................................... 4. Hasil Belajar Psikomotor ................................................................ 5. Hasil Belajar Kognitif ..................................................................... 54 54 54 56 57 84 109 109 111 114 116 118 V. KESIMPULAN DAN SARAN................................................................. A. Kesimpulan .......................................................................................... B. Saran .................................................................................................... 121 121 122 DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... LAMPIRAN .................................................................................................... 125 129 v DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Persentase Ketuntasan Siswa Kelas IVA Semester Ganjil T.P. 2013/2014 ............................................................................................... 5 2. Kisi-kisi Instrumen Kinerja Guru ........................................................... 40 3. Kisi-kisi Instrumen Aktivitas Siswa ....................................................... 40 4. Kisi-kisi Instrumen Hasil Belajar Afektif Siswa .................................... 41 5. Kisi-kisi Instrumen Hasil Belajar Psikomotor Siswa ............................. 41 6. Kategori Keberhasilan Kinerja Guru ...................................................... 42 7. Kategori Nilai Aktivitas Siswa ............................................................... 43 8. Kategori Nilai Aktivitas Siswa Secara Klasikal ..................................... 43 9. Kategori Nilai Hasil Belajar Afektif Siswa ............................................ 44 10. Kriteria Persentase Hasil Belajar Afektif Secara Klasikal ..................... 44 11. Predikat Nilai Psikomotor Siswa ........................................................... 45 12. Kriteria Persentase Hasil Belajar Psikomotor Secara Klasikal .............. 45 13. Predikat Nilai Kognitif Siswa ................................................................ 46 14. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ..................... 56 15. Nilai Kinerja Guru Siklus I .................................................................... 75 16. Nilai Rata-rata Indikator Aktivitas Siswa Secara Klasikal Siklus I ....... 76 17. Persentase Siswa Berdasarkan Kategori Aktivitas Siklus I .................... 78 18. Nilai Rata-rata Afektif Siswa Secara Klasikal Siklus I ......................... 78 19. Persentase Siswa Berdasarkan Kategori Afektif pada Siklus I ............. 79 20. Nilai Rata-rata Psikomotor Siswa Siklus I ............................................ 79 21. Nilai Kinerja Guru Siklus II ................................................................... 103 22. Nilai Rata-rata Indikator Aktivitas Siswa Secara Klasikal Siklus II ...... 103 23. Persentase Siswa Berdasarkan Kategori Aktivitas Siklus II ................. 105 24. Nilai Rata-rata Afektif Siswa Secara Klasikal Siklus II ........................ 105 25. Persentase Siswa Berdasarkan Kategori Afektif Siklus II ..................... 106 26. Nilai Rata-rata Psikomotor Siswa Secara Klasikal Siklus II ................. 106 27. Rekapitulasi Kinerja Guru dalam Penerapan Pendekatan Kontekstual .. 110 28. Rekapitulasi Aktivitas Siswa Tiap Siklus .............................................. 113 29. Rekapitulasi Hasil Belajar Afektif Siswa Tiap Siklus ........................... 114 30. Rekapitulasi Hasil Belajar Psikomotor Siswa Tiap Siklus ..................... 116 31. Rekapitulasi Hasil Belajar Kognitif Siswa Tiap Siklus ......................... 118 vi DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Kerangka Pikir Penelitian ................................................................... 34 2. Alur siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ..................................... 38 3. Diagram Kinerja Guru dalam Menerapkan Pendekatan Kontekstual .. 110 4. Diagram Peningkatan Aktivitas Siswa Melalui Penerapan Pendekatan Kontekstual ...................................................................... 112 5. Diagram Peningkatan Hasil Belajar Afektif Siswa Melalui Penerapan Pendekatan Kontekstual ..................................................... 115 6. Diagram Peningkatan Hasil Belajar Psikomotor Siswa Melalui Penerapan Pendekatan Kontekstual ..................................................... 117 7. Diagram Peningkatan Hasil Belajar Kognitif Siswa Melalui Penerapan Pendekatan Kontekstual ..................................................... 118 vii 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu proses memanusiakan manusia atau lazim disebut sebagai proses humanisasi. Proses humanisasi ini diperoleh melalui berbagai pengalaman berkesinambungan yang berorientasi pada pendidikan sepanjang hayat (long life education). Hal ini sesuai dengan prinsip pendidikan yang tercantum dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pasal 1 ayat (1), yang menjelaskan bahwa pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Salah satu bentuk perwujudan proses tersebut ialah melalui pembelajaran. Penyelenggaraan pendidikan yang sesuai dengan amanat Undangundang No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1, diharapkan dapat mewujudkan proses humanisasi ke arah positif melalui pembentukan kualitas pribadi generasi masa depan, yang notabene menjadi tolak ukur kemajuan sebuah bangsa. Pernyataan lebih jelas tertulis dalam Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, terutama pasal 19 ayat 1. Dalam pasal tersebut tertulis bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, 2 memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Berdasarkan landasan tersebut, menunjukkan bahwa pemerintah melalui dinas pendidikan berupaya melakukan inovasi pendidikan guna tercapainya tujuan pendidikan Nasional. Salah satu bentuk inovasi pendidikan adalah perubahan kurikulum, hal ini merupakan bentuk usaha dalam memajukan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia khususnya. Perubahan kurikulum dianggap urgent manakala kurikulum yang berlaku (current curriculum) dipandang sudah tidak efektif dan tidak relevan dengan tuntutan dan konsekuensi kehidupan yang dinamis, sehingga perubahan kurikulum dipilih sebagai alternatif solusi dalam memperbaiki dan menyelaraskan dinamika dunia pendidikan dengan tuntutan dunia yang tidak statis. Kurikulum yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah; dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. (Kemendikbud. 2013: 71) Peran pendidikan dalam upaya pembentukan generasi di masa mendatang menuntut guru sebagai bagian dari elemen pendidikan untuk proaktif dalam meningkatkan mutu pembelajaran di kelas, sehingga terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang mengarah pada tujuan pendidikan. Jenjang pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang paling fundamental dalam pemberian konsep pengetahuan. Kurikulum 2013 mengarahkan proses pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar 3 menggunakan pembelajaran tematik. Menurut Prastowo (2013: 117) pada dasarnya pembelajaran tematik adalah salah satu model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran, sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna. Berdasarkan pernyataan tersebut, pembelajaran tematik dipandang sebagai pembelajaran berbasis tema yang dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman belajar yang bermakna. Pembelajaran dapat menjadi bermakna karena berbagai faktor, salah satunya adalah penerapan pendekatan pembelajaran yang dipandang mampu menunjang proses belajar. Kurikulum 2013 sebagai inovasi baru dalam dunia pendidikan di Indonesia menjadikan pendekatan scientific sebagai elemen penting dalam proses pembelajaran tematik. Kemendikbud (2013: 208), bahwa langkah-langkah penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran adalah mengamati (observing), menanya (questioning), menalar (associating), mencoba (experimenting), membentuk jaringan (networking). Pendekatan scientific mengarahkan proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria ilmiah. Proses pembelajaran ini dimaksudkan agar memberikan pengetahuan dan pengalaman bermakna bagi siswa, sebab siswa dituntut berperan aktif dalam membangun konsep pengetahuan melalui langkah-langkah yang sistematis dan melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran. Selain itu, pendekatan scientific memberikan relevansi materi ajar dengan konteks dunia nyata siswa, sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi bekal bagi kehidupan nyata siswa. 4 Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kelas IV A SD Negeri 05 Metro Timur pada tanggal 22 - 23 Januari 2014, diperoleh informasi bahwa proses pembelajaran tematik belum dilaksanakan secara optimal dan belum merujuk pada tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum 2013. Dalam proses pembelajaran, guru masih mendominasi sebagai sumber utama (teacher centered). Cara penyampaian materi ajar masih terpaku pada buku pelajaran yang digunakan, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan belum menampakkan adanya proses konstruktivis yang optimal dan bermakna bagi siswa. Guru masih mengutamakan pemberian materi ajar secara formal, mengarahkan siswa untuk memahami sesuatu yang abstrak tanpa proses yang real, dan berkaitan dengan konteks dunia nyata, sehingga dalam pelaksanaannya siswa hanya belajar secara terstruktur sesuai dengan prosedur yang tertulis dalam buku pelajaran. Selain itu, prosedur pembelajaran tematik kurang bervariasi, penerapan pendekatan scientific yang dituntut dalam pelaksanaan pembelajaran tematik pada kurikulum 2013 belum optimal dilaksanakan, sehingga suasana pembelajaran cenderung membosankan dan stagnan dalam setiap pertemuan. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang diterapkan oleh guru bertolak belakang dengan tuntutan kurikulum 2013 yang sebenarnya, sehingga berdampak pada rendahnya motivasi siswa untuk mempelajari materi ajar yang disampaikan. Rendahnya motivasi tersebut mempengaruhi keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Sebagian besar siswa cenderung pasif untuk bertanya atau mengajukan pendapat, sehingga berdampak pada proses pembelajaran 5 yang kurang interaktif dan komunikatif antara siswa dan guru. Masalahmasalah yang dihadapi oleh siswa tersebut berdampak pada hasil belajar siswa yang belum maksimal. Hal ini dibuktikan dari data hasil ulangan semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014. Tabel 1. Persentase Ketuntasan Siswa Kelas IVA Semester Ganjil T.P. 2013/2014 KKM Jumlah siswa ≥66 28 Jumlah siswa yang tuntas 9 Persentase ketuntasan (%) 32,14 Jumlah siswa yang tidak tuntas 19 Persentase ketidaktuntasan (%) 67,86 Berdasarkan Tabel 1, diketahui bahwa Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan yaitu ≥66, hanya 9 siswa yang tuntas dari 28 siswa yang ada di kelas IV A. Melihat fakta-fakta yang telah dipaparkan, perlu diadakan perbaikan pembelajaran agar aktivitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat. Upaya perbaikan pembelajaran sebaiknya dapat diwujudkan melalui pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Mengingat kembali teori kognitif yang dipaparkan oleh Jean Piaget (Sumantri dan Nana, 2007: 1.15), bahwa siswa pada usia 7 – 11 tahun berada pada tahap operasional konkret, sehingga dalam pembelajaran siswa harus dihadapkan dengan permasalahan yang konkret dan relevan dengan kehidupannya. Berdasarkan masalah tersebut, pendekatan kontekstual merupakan alternatif perbaikan yang tepat. Hal ini didukung oleh pendapat Komalasari (2010: 7) bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, 6 masyarakat maupun warga negara, dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya. Selaras dengan pendapat tersebut, Depdiknas (Supinah, 2008: 9) menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan dengan produktif dan bermakna bagi siswa adalah pembelajaran kontekstual. Penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual akan membantu guru untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membentuk hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dengan kehidupan mereka. Prinsip pendekatan kontekstual ini selaras dengan prinsip pendekatan scientific yang menjadi elemen tak terpisahkan dalam pembelajaran tematik pada kurikulum 2013. Oleh sebab itu, penerapan konsep pembelajaran scientific dapat mengarahkan pembelajaran menjadi lebih bermakna dan komprehensif, bila dipadukan dengan pendekatan kontekstual. Berdasarkan paparan masalah di atas, maka perlu diadakan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas, dengan menerapkan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar, dalam pembelajaran tematik siswa kelas IVA SD Negeri 05 Metro Timur Tahun Pelajaran 2013/2014. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut. 1. Guru masih mendominasi proses pembelajaran sebagai sumber utama (teacher centered). 7 2. Guru masih memberikan materi ajar secara formal dan terpaku pada buku pelajaran, sehingga penerapan proses konstruktivis belum optimal. 3. Guru mengarahkan siswa untuk memahami sesuatu yang abstrak tanpa proses yang real dan berkaitan dengan konteks dunia nyata. 4. Sebagian besar siswa cenderung pasif untuk bertanya dan mengajukan pendapat, sehingga proses pembelajaran menjadi kurang komunikatif. 5. Rendahnya hasil belajar tematik yang dibuktikan dengan persentase siswa yang mencapai KKM, yaitu 32,14%. C. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut. 1. Bagaimanakah penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran tematik untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IVA SD Negeri 05 Metro Timur Tahun Pelajaran 2013/2014? 2. Bagaimanakah penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran tematik untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IVA SD Negeri 05 Metro Timur Tahun Pelajaran 2013/2014? D. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa melalui penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran tematik siswa kelas IVA SD Negeri 05 Metro Timur Tahun Pelajaran 2013/2014. 8 2. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran tematik siswa kelas IVA SD Negeri 05 Metro Timur Tahun Pelajaran 2013/2014. E. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis Diharapkan dapat menambah khasanah kepustakaan kependidikan tentang pembelajaran dengan menerapkan pendekatan kontekstual. Selain itu, dapat memberikan kontribusi informasi bagi dunia pendidikan. 2. Manfaat praktis a. Bagi siswa Melalui pendekatan kontekstual, diharapkan siswa dapat memperoleh pembelajaran bermakna yang berkaitan dengan situasi dunia nyata, dan mampu mengembangkan pengetahuannya sesuai dengan pengalaman belajar yang dialami. b. Bagi guru Pendekatan kontekstual dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam melakukan inovasi pembelajaran tematik, sehingga dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman melaksanakan pembelajaran melalui penerapan pendekatan kontekstual. c. Bagi sekolah Menjadi referensi bagi pihak sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran di SD Negeri 05 Metro Timur, khususnya pengalaman pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran tematik. Sehingga, diharapkan sekolah akan lebih meningkatkan mutu 9 pendidikan, berupaya untuk beradaptasi, dan selektif terhadap perubahan serta pembaharuan dalam dunia pendidikan. d. Bagi peneliti Penelitian ini dapat memotivasi peneliti untuk terus belajar, dan menggali pengetahuan mengenai perkembangan dalam dunia pendidikan yang dinamis, guna menambah wawasan dan pengalaman kontekstual. Sehingga, diharapkan memiliki kredibilitas tinggi dalam dunia pendidikan. 10 II. KAJIAN PUSTAKA A. Pendekatan Kontekstual 1. Pengertian Pendekatan Kontekstual Secara harfiah, kontekstual berasal dari kata context yang berarti “hubungan, konteks, suasana, dan keadaan konteks”. Sehingga, pembelajaran kontekstual diartikan sebagai pembelajaran yang berhubungan dengan konteks tertentu. Menurut Suprijono (2009: 79), pendekatan pembelajaran kontekstual atau Contexstual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata, dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan prosedur pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik memahami makna bahan pelajaran yang mereka pelajari, dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sendiri dalam lingkungan sosial dan budaya masyarakat. Sehingga, proses belajar tidak hanya berpengaruh pada hasil belajar yang menjadi tujuan pembelajaran, namun memberikan kebermaknaan pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat dalam konteks dunia nyata peserta didik. 11 Jhonson (2006: 15) mengungkapkan bahwa pendekatan kontekstual adalah pembelajaran yang bertujuan menolong siswa melihat makna di dalam materi akademik dengan konteks kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka. Hal ini berarti, bahwa pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa menghubungkan isi materi dengan konteks kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna. Sanjaya (2006: 109) mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh, untuk dapat memahami materi yang dipelajari, dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata, sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Penjelasan lebih lanjut dikemukakan oleh Muchith (2008: 86), bahwa pendekatan kontekstual merupakan pembelajaran yang bermakna dan menganggap tujuan pembelajaran adalah situasi yang ada dalam konteks tersebut, konteks itu membantu siswa dalam belajar bermakna dan juga untuk menyatakan hal-hal yang abstrak. Pernyataan selaras juga diungkapkan oleh Komalasari (2010: 7), bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat maupun warga negara, dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupannya. 12 Berdasarkan beberapa pendapat yang telah dikemukakan para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa pendekatan kontekstual merupakan pendekatan dengan konsep belajar mengajar yang mengaitkan antara materi yang diajarkan oleh guru dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan nyata. 2. Karakteristik Pendekatan Kontekstual Pembelajaran kontekstual memiliki beberapa karakteristik yang khas, yang membedakannya dengan pendekatan pembelajaran lain. Karakteristik pendekatan kontekstual menurut Depdiknas (2011: 11) adalah: (a) kerjasama, (b) saling menunjang, (c) menyenangkan, (d) tidak membosankan, (e) belajar dengan gairah, (f) pembelajaran terintegrasi, (g) siswa aktif, (h) sharing dengan teman, (i) menggunakan berbagai sumber, (j) siswa kritis dan guru kreatif, (k) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, dan (l) laporan kepada orang tua bukan rapor, melainkan hasil karya siswa. Sementara itu, Jhonson (2006: 15) mengidentifikasi delapan karakteristik pendekatan kontekstual, yaitu: a. Making meaningful connections (membuat hubungan penuh makna) b. Doing significant work (melakukan kerja signifikan) c. Self-regulated learning (belajar mengatur sendiri) d. Collaborating (kerjasama) e. Critical and creative thinking (berpikir kritis dan kreatif) f. Nurturing the individual (memelihara pribadi) g. Reaching high standard (mencapai standar yang tinggi) 13 h. Using authentic assessment (penggunaan penilaian autentik) Sounders (Komalasari, 2010: 8) bahwa pembelajaran kontekstual difokuskan pada REACT (Relating: belajar dalam konteks pengalaman hidup; Experiencing: belajar dalam konteks pencarian dan penemuan; Applying: belajar ketika pengetahuan diperkenalkan dalam konteks penggunaannya; Cooperating: belajar melalui konteks komunikasi interpersonal dan saling berbagi; Transfering: belajar penggunaan pengetahuan dalam suatu konteks atau situasi baru). Trianto (2011: 101) menambahkan bahwa karaketristik pendekatan kontekstual, yaitu (1) kerjasama; (2) saling menunjang; (3) menyenangkan, mengasyikkan; (4) tidak membosankan (joyfull, comfortable); (5) belajar dengan bergairah; (6) pembelajaran terintegrasi; dan (7) menggunakan berbagai sumber siswa aktif. Penjelasan lebih lanjut dikemukakan oleh Komalasari (2010: 13) bahwa karakteristik pembelajaran kontekstual meliputi pembelajaran yang menerapkan konsep keterkaitan (relating), konsep pengalaman langsung (experiencing), konsep aplikasi (applying), konsep kerjasama (cooperating), konsep pengaturan diri (self-regulating), dan konsep penilaian autentik (authentic assessment). Berdasarkan berbagai pendapat para ahli tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa pendekatan kontekstual memiliki ciri khusus, yakni pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi kehidupan nyata, mengarahkan siswa untuk berpikir kritis dengan melakukan eksplorasi terhadap konsep dan informasi yang dipelajari, 14 serta adanya penerapan penilaian autentik untuk menilai pembelajaran secara holistik. 3. Komponen-komponen Pendekatan Kontekstual Menurut Muslich (2012: 44) pendekatan pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama: a. Konstruktivisme (Constructivism) Konstruktivisme merupakan landasan filosofis pendekatan pembelajaran kontekstual, bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit melalui sebuah proses. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Menurut pandangan konstruktivisme, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara: (a) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa; (b) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan (c) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. b. Inkuiri (Inquiry) Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Inkuiri artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. 15 c. Bertanya (Questioning) Bertanya adalah cerminan dalam kondisi berpikir. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya dimaksudkan untuk menggali informasi, mengkomunikasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Bertanya adalah proses dinamis, aktif, dan produktif serta merupakan fondasi dari interaksi belajar mengajar. d. Masyarakat Belajar (Learning Community) Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Ketika menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual di dalam kelas, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompokkelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen, yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberi tahu yang belum tahu, yang cepat mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan seterusnya. e. Pemodelan (Modeling) Pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukanlah satu-satunya model. Pemodelan dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seseorang bisa 16 ditunjuk dengan memodelkan sesuatu berdasarkan pengalaman yang diketahui. f. Refleksi (Reflection) Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan ketika pembelajaran. Refleksi merupakan respons terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru dipelajari. Nilai hakiki dari komponen ini adalah semangat instropeksi untuk perbaikan pada kegiatan pembelajaran berikutnya. g. Penilaian Autentik (Authentic Assessment) Penilaian autentik adalah upaya pengumpulan berbagai data yang dapat memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Data dikumpulkan dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan pembelajaran. Selaras dengan paparan tersebut, Depdiknas (2003: 4-8) mengemukakan bahwa pendekatan pengajaran kontekstual harus menekankan pada hal-hal sebagai berikut. a. Belajar berbasis masalah (problem-based learning) b. Pengajaran autentik (authentic instruction) c. Belajar berbasis inkuiri (inquiry-based learning) d. Belajar berbasis proyek (project-based learning) e. Belajar berbasis kerja (work-based learning) f. Belajar jasa layanan (service learning) g. Belajar kooperatif (cooperative learning) 17 Berdasarkan uraian pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan kontekstual dalam proses pembelajaran memiliki komponen yang komprehensif. Komponen-komponen tersebut mencakup proses konstruktivis, melakukan proses berpikir secara sistematis melalui inkuiri, kegiatan bertanya antara siswa dengan guru maupun sesama siswa, membentuk kerjasama antarsiswa melalui diskusi, adanya peran model untuk membantu proses pembelajaran, melibatkan siswa dalam melakukan refleksi pembelajaran, serta penilaian sebenarnya yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung sampai diperoleh hasil belajar. 4. Langkah-langkah Penerapan Pendekatan Kontekstual Setiap pendekatan, model, atau teknik pembelajaran memiliki prosedur pelaksanaan yang terstruktur sesuai dengan karakteristiknya. Begitupun dengan pendekatan kontekstual, berikut ini langkah-langkah penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran yang dikemukakan oleh Trianto (2010: 111), yaitu: a. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan bertanya. b. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. c. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. d. Ciptakan masyarakat belajar. e. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. f. Lakukan refleksi di akhir pertemuan. g. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assesment) dengan berbagai cara. Pendapat selaras dikemukakan oleh Mulyasa (2013: 111), bahwa terdapat lima elemen yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pendekatan kontekstual, yakni: 18 a. Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik. b. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagianbagiannya secara khusus (dari umum ke khusus). c. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara: 1) menyusun konsep sementara 2) melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain 3) merevisi dan mengembangkan konsep. d. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktikkan secara langsung apa-apa yang dipelajari. e. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari. Berdasarkan paparan pendapat tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa langkah-langkah dalam penerapan pendekatan kontekstual, diawali dengan pengonstruksian pengetahuan yang dimiliki siswa dengan materi yang akan dipelajari, dan dikaitkan dengan konteks dunia nyata. Mengembangkan pengetahuan awal siswa dengan bertanya. Adanya model sebagai alat bantu penyampaian materi. Dilanjutkan dengan proses inkuiri melalui kegiatan diskusi antara siswa dengan guru, maupun sesama siswa. Hasil dari proses ini dipresentasikan melalui diskusi kelas dan diakhiri dengan refleksi berdasarkan pembelajaran yang telah dilakukan. 5. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Kontekstual Kelebihan dan kelemahan selalu terdapat dalam setiap model, strategi, atau metode pembelajaran. Namun, kelebihan dan kelemahan tersebut hendaknya menjadi referensi untuk penekanan-penekanan terhadap hal yang positif dan meminimalisir kelemahan-kelemahannya dalam pelaksanaan pembelajaran. Menurut Sanjaya (2006: 111) kelebihan pendekatan kontekstual adalah sebagai berikut: 19 a. Menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran. b. Dalam pembelajaran kontekstual siswa belajar dalam kelompok, kerjasama, diskusi, saling menerima dan memberi. c. Berkaitan secara riil dengan dunia nyata. d. Kemampuan berdasarkan pengalaman. e. Dalam pembelajaran kontekstual perilaku dibangun atas kesadaran sendiri. f. Pengetahuan siswa selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya. g. Pembelajaran dapat dilakukan dimana saja sesuai dengan kebutuhan. h. Pembelajaran kontekstual dapat diukur melalui beberapa cara, misalnya evaluasi proses, hasil karya siswa, penampilan, observasi, rekaman, wawancara, dll. Selanjutnya, kelemahan pendekatan kontekstual menurut Komalasari (2010: 15), yaitu (a) jika guru tidak pandai mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata siswa, maka pembelajaran akan menjadi monoton, (b) jika guru tidak membimbing dan memberikan perhatian yang ekstra, siswa sulit untuk melakukan kegiatan inkuiri, dan membangun pengetahuannya sendiri. Berdasarkan kajian yang telah dipaparkan tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa pendekatan kontekstual merupakan pendekatan dengan konsep belajar mengajar yang mengaitkan antara materi yang diajarkan oleh guru dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan nyata. Komponen dalam kontekstual meliputi proses konstruktivis, melakukan proses berpikir secara sistematis melalui inkuiri, kegiatan bertanya antara siswa dengan guru maupun sesama siswa, membentuk kerjasama antarsiswa melalui diskusi, adanya peran model untuk 20 membantu proses pembelajaran, melibatkan siswa dalam melakukan refleksi pembelajaran, serta penilaian sebenarnya yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung sampai diperoleh hasil belajar. Adapun langkah-langkah dalam penerapan pendekatan kontekstual, diawali dengan pengonstruksian pengetahuan yang dimiliki siswa dengan materi yang akan dipelajari, dan dikaitkan dengan konteks dunia nyata. Mengembangkan pengetahuan awal siswa dengan bertanya. Adanya model sebagai alat bantu penyampaian materi. Dilanjutkan dengan proses inkuiri melalui kegiatan diskusi antara siswa dengan guru, maupun sesama siswa. Hasil dari proses ini dipresentasikan melalui diskusi kelas dan diakhiri dengan refleksi berdasarkan pembelajaran yang telah dilakukan. Penilaian keseluruhan kegiatan pembelajaran dilakukan menggunakan penilaian autentik. B. Pendekatan Scientific Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. Karena itu, kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah (scientific) dalam pembelajaran. Kemendikbud (2013: 209) menyatakan bahwa kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud, meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran. Pendekatan ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru atau mengoreksi, dan memadukan 21 pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Kemendikbud (2013: 207) menambahkan bahwa proses pembelajaran dapat dikatakan sebagai pembelajaran ilmiah, jika memenuhi kriteria-kriteria berikut ini. 1. Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. 2. Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. 3. Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. 4. Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu dengan yang lain dari substansi atau materi pembelajaran. 5. Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran. 6. Berbasis pada konsep, dipertanggungjawabkan. teori, dan fakta empiris yang dapat 22 7. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana, jelas, dan menarik sistem penyajiannya. Pernyataan lebih lanjut dikemukakan oleh Kemendikbud (2013: 208209), bahwa langkah-langkah penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran adalah mengamati (observing), menanya (questioning), menalar (associating), mencoba (experimenting), membentuk jaringan (networking). Proses pembelajaran menggunakan pendekatan scientific harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang “mengapa”. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang “bagaimana”. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang “apa”. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Berdasarkan paparan tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pendekatan scientific merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk merangsang kemampuan berfikir siswa dalam memperoleh pengetahuan bermakna melalui pembelajaran berbasis kaidah ilmiah. Pendekatan ini mencakup tiga ranah, yakni kognitif, afektif, dan psikomotor melalui langkah-langkah sistematis yang meliputi kegiatan 23 mengamati (observing), menanya (questioning), menalar (associating), mencoba (experimenting), membentuk jaringan (networking). Adapun langkah-langkah perbaikan dalam pembelajaran berkenaan dengan penerapan pendekatan kontekstual dan scientific, yakni (1) memfasilitasi siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan melalui kegiatan mengamati, (2) mengarahkan siswa untuk menemukan pengetahuan awal melalui proses menalar, (3) melakukan kegiatan pemodelan dengan melibatkan siswa secara langsung, (4) mengarahkan siswa untuk bertanya berdasarkan kegiatan mengamati, menalar, dan pemodelan, (5) membagi siswa ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan diskusi, (6) melakukan refleksi pembelajaran dengan melibatkan siswa, dan (7) melakukan penilaian secara autentik. C. Belajar 1. Pengertian Belajar Belajar bukanlah istilah baru. Pengertian belajar terkadang diartikan secara common sense atau pendapat umum saja. Seseorang yang belajar akan mengalami perubahan setelah mengalami belajar. Perubahan itu bersifat intensional, positif-aktif, dan efektif-fungsional. Sifat intensional berarti perubahan itu terjadi karena pengalaman atau praktik yang dilakukan pelajar dengan sengaja dan disadari, bukan kebetulan. Sifat positif

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENERAPAN METODE INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IVA SD NEGERI 8 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2010/2011
0
8
53
PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IVA SD NEGERI 11
0
11
46
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE TALKING STICK UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS IV SD NEGERI 4 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
1
27
83
PENERAPAN STRATEGI PAIKEM PADA PEMBELAJARAN TEMATIK UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV C SD NEGERI 1 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
5
47
PENERAPAN METODE PROBLEM SOLVING DENGAN MEDIA GRAFIS PADA PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS I B SD NEGERI 7 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
6
76
PENERAPAN MAPPING DALAM MODEL PAIKEM PADA PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU KELAS IVA SD NEGERI 8 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
6
79
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE EXAMPLE NON-EXAMPLE UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS IVB SD NEGERI 01 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
8
142
PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA GRAFIS UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PADA PEMBELAJARAN TEMATIK SISWA KELAS IV B SD NEGERI 1 NUNGGALREJO TAHUN PELAJARAN 2013/2014
2
4
71
PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE GROUP INVESTIGATION UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MELALUI TEMA CITA-CITAKU SISWA KELAS IVB SD NEGERI 05 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
1
4
88
PENERAPAN TEAM GAME TOURNAMENT UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PADA PEMBELAJARAN TEMATIK SISWA KELAS IVB SD NEGERI 01 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
6
70
PENGGUNAAN METODE INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI KERJA KELOMPOK DAN HASIL BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK SISWA KELAS IVB SD NEGERI 1 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2013/2014
1
8
63
PENERAPAN STRATEGI CONCEPT MAPPING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PADA PEMBELAJARAN TEMATIK SISWA KELAS IVA SDN 05 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
6
60
71
PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK SISWA KELAS IVA SD NEGERI 05 METRO TIMUR TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
9
76
PENERAPAN METODE GUIDED DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN TEMATIK KELAS IVA SD NEGERI 1 NUNGGALREJO TAHUN PELAJARAN 2013/2014
0
5
75
PENERAPAN MAPPING DALAM MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IVA SD NEGERI 11 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2014/2015
0
10
77
Show more