PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY LEARNING DENGAN GUIDED INQUIRY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR ASPEK KOGNITIF DAN AFEKTIF SISWA (Studi Komparatif pada Materi Pokok Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan Siswa Kelas VII SMP PGRI 1 Band

Gratis

3
58
95
2 years ago
Preview
Full text
PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY LEARNING DENGAN GUIDED INQUIRY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR ASPEK KOGNITIF DAN AFEKTIF SISWA (Studi Komparatif pada Materi Pokok Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan Siswa Kelas VII SMP PGRI 1 Bandar Lampung TP. 2014/2015) (Skripsi) Oleh INTANIA RISKA PUTRIE FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUG 2015 ABSTRAK PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY LEARNING DENGAN GUIDED INQUIRY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR ASPEK KOGNITIF DAN AFEKTIF SISWA (Studi Komparatif pada Materi Pokok Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan Siswa Kelas VII SMP PGRI 1 Bandar Lampung TP. 2014/2015) Oleh Intania Riska Putrie Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar aspek kognitif dan afektif siswa antara pembelajaran yang menggunakan model Guided Discovery Learning dengan Guided Inquiry Learning pada materi pokok peran manusia dalam pengelolaan lingkungan. Penelitian dilakukan di SMP PGRI 1 Bandar Lampung pada siswa kelas VII tahun pelajaran 2014/2015, merupakan studi komparatif dengan desain the randomized pretest-posttest control group design. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII A sebagai kelas eksperimen 1 dan VII B sebagai kelas eksperimen 2 yang dipilih dengan teknik Purposive sampling. Data penelitian berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa hasil belajar aspek kognitif siswa, diperoleh dari pretest, posttest dan N-gain yang dianalisis menggunakan Uji-t dan U pada taraf kepercayaan 5% dengan program SPSS 17. Data kualitatif berupa hasil belajar aspek afektif siswa yang diperoleh dan dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan lembar observasi afektif. Hasil penelitian ini yaitu rata-rata N-gain siswa kelas eksperimen 2 (71,21) dengan kriteria tinggi lebih baik dibandingkan kelas eksperimen 1 (43,69) dengan kriteria sedang. Hasil analisis rata-rata nilai N-gain per indikator soal pada kelas eksperimen 2 juga lebih tinggi baik indikator soal C2 (91,08) dan C3 (25,69) dibandingkan kelas eksperimen 1 dengan indikator soal C2 (89,36) dan C3 (11,11). Begitu pula halnya dengan hasil belajar aspek afektif siswa mengalami perbedaan, rata-rata hasil belajar aspek afektif siswa kelas eksperimen 2 lebih baik daripada kelas eksperimen 1. Hal ini dapat dibuktikan dengan rata-rata hasil belajar aspek afektif siswa kelas eksperimen 2 (71,69) berkriteria baik, sedangkan kelas eksperimen 1 (68,75) berkriteria cukup. Dengan demikian, model pembelajaran Guided Inquiry Learning lebih baik dibandingkan Guided Discovery Learning dalam meningkatkan hasil belajar aspek kognitif dan afektif siswa SMP PGRI 1 Bandar Lampung. Kata kunci : Guided Discovery Learning, Guided Inquiry Learning, hasil belajar, aspek kognitif, aspek afektif, peran manusia, dan pengelolaan lingkungan iii PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY LEARNING DENGAN GUIDED INQUIRY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR ASPEK KOGNITIF DAN AFEKTIF SISWA (Studi Komparatif pada Materi Pokok Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan Siswa Kelas VII SMP PGRI 1 Bandar Lampung TP. 2014/2015) Oleh INTANIA RISKA PUTRIE Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN Pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan pada 18 Januari 1994, yang merupakan anak keempat dari empat bersaudara pasangan Bapak Suharto dengan Ibu Rahmawati. Alamat penulis yaitu Perumahan Citra Persada Blok R.2, Kelurahan Kaliawi Persada, Kecamatan Tanjung Karang Pusat, Kota Bandar Lampung. Nomor HP penulis 085279982294. Pendidikan yang ditempuh penulis adalah SD Negeri 3 Putri Lubuk Linggau (1999-2002), SD Negeri 1 Tanjung Agung (2002-2004), SD Negeri 3 Palapa (2004-2005), SMP Kartika II-2 Bandar Lampung (2005-2008), SMA Negeri 7 Bandar Lampung (2008-2011). Pada tahun 2011, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Unila melalui jalur seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Penulis melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP Negeri 1 Semaka dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik di Kabupaten Tanggamus (Tahun 2014), dan penelitian pendidikan di SMP PGRI 1 Bandar Lampung untuk meraih gelar sarjana pendidikan/S.Pd. (Tahun 2015). Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang PERSEMBAHAN Segala puji hanya milik Allah SWT, atas rahmat dan nikmat yang tercurah. Sholawat serta salam selalu tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, semoga kita senantiasa melaksanakan sunah-sunah beliau. Kupersembahkan karya ini sebagai tanda bakti dan cinta kasihku kepada: Papa dan Mama yang selalu sabar dalam mendidik dan membesarkanku dengan segala doa dan usaha terbaik mereka, limpahan kasih sayang, selalu menguatkanku, mendukung segala langkah ku menuju kesuksesan dan kebahagian. dr. Rininta Wulandari, Muhammad Aditya Nugraha, S.E., Prambadi Hidayat, S.Hi., Arwin Agustri Nugraha, S.T., dan Yasinta Octavia, Saudara-saudaraku yang selalu memberikan bantuan, dukungan dan keceriaan ketika aku dalam kesulitan, memotivasiku dan menyayangiku; serta keluarga besarku di Lahat dan Bandar Lampung yang selalu kurindukan. Guru dan dosen atas ilmu, nasihat, arahan dan bimbingan yang telah diberikan. Almamater tercinta, Kampus Hijau Universitas Lampung. MOTO “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (Qs. Al-an’aam: 162) “Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada pada di jalan Allah sampai ia kembali” (HR. Tirmidzi) “Ilmu tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa ilmu adalah buta” (Albert Einstein) “Bila kau tak tahan lelahnya belajar, maka kau harus tahan menanggung perihnya kebodohan” (Imam Syafi’i) “Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu” (HR. Bukhari) SANWACANA Puji Syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan nikmat-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat dalam meraih gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Unila. Skripsi ini berjudul “PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY LEARNING DENGAN GUIDED INQUIRY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR ASPEK KOGNITIF DAN AFEKTIF SISWA (Studi Komparatif Pada Materi Pokok Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan Siswa Kelas VII SMP PGRI 1 Bandar Lampung Semester Genap TP. 2014/2015)”. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari peranan dan bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung; 2. Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung; 3. Berti Yolida, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi sekaligus Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan motivasi hingga skripsi ini dapat selesai; 4. Drs. Arwin Achmad, M.Si., selaku Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan motivasi hingga skripsi ini dapat selesai; 5. Rini Rita T. Marpaung, S.Pd., M.Pd, selaku Pembahas atas saran-saran perbaikan dan motivasi yang sangat berharga; 6. Nofianti, S.Pd., selaku Kepala SMP PGRI 1 Bandar Lampung serta Aida Fatia dan Wahyuningsih, S.Si., selaku guru mitra, yang telah memberikan izin dan bantuan selama penelitian serta motivasi yang sangat berharga; 7. Seluruh dewan guru, staf, dan siswa-siswi kelas VII A dan VII B SMP PGRI 1 Bandar Lampung atas kerjasama yang baik selama penelitian berlangsung; 8. Sahabat-sahabatku Septia Dies Nurcahyani, Meisyi Ardina, Dwi Agusliani, Emily Prihatina Yama, Junaidi, Rizki Mirantika, S.Pd., Herda Silviana, Rima Permata Sari, Nurhesti Santika, S.Pd., Riyan Mustafa, pendidikan biologi angkatan 2011, atas kekeluargaan dan persahabatan yang terjalin hingga saat ini; para guru atas motivasi dan arahannya; 9. Kakak dan adik tingkat Pendidikan Biologi FKIP UNILA atas persahabatan yang kalian berikan; 10. Semua pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Akhir kata, penulis mengucapkan syukur yang sebesarnya karena telah mampu menyelesaikan skripsi ini semoga dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua. Aamiin. Bandar Lampung, 20 Agustus 2015 Penulis Intania Riska Putrie xii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ............................................................................................. xv DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvii I. PENDAHULUAN A. B. C. D. E. F. G. Latar Belakang Masalah ....................................................................... Rumusan Masalah ................................................................................ Tujuan Penelitian ................................................................................. Manfaat Penelitian ............................................................................... Ruang Lingkup Penelitian .................................................................... Kerangka Pikir ..................................................................................... Hipotesis ............................................................................................... 1 7 8 8 9 11 13 II. TINJAUAN PUSTAKA A. B. C. D. E. F. Model Pembelajaran Guided Discovery Learning ............................... Model Pembelajaran Guided Inquiry Learning ................................... Hasil Belajar ......................................................................................... Hasil Belajar Aspek Kognitif ............................................................... Hasil Belajar Aspek Afektif ................................................................ Materi Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan ....................... 14 20 27 30 38 49 III. METODE PENELITIAN A. B. C. D. E. F. Waktu dan Tempat Penelitian .............................................................. Populasi dan Sampel ............................................................................ Desain Penelitian .................................................................................. Prosedur Penelitian................................................................................ Jenis dan Teknik Pengambilan Data .................................................... Teknik Analisis Data ............................................................................ 57 57 58 58 67 70 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian .................................................................................... B. Pembahasan .......................................................................................... 75 78 V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan .............................................................................................. B. Saran ..................................................................................................... 88 88 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 90 LAMPIRAN 1. Silabus ................................................................................................... 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ..................................................... 3. Soal Pretest/Posttest ............................................................................. 4. Rubrik Pretest/Posttest ......................................................................... 5. Lembar Kerja Kelompok ....................................................................... 6. Kunci Jawaban Lembar Kerja Kelompok .............................................. 7. Rubrik Lembar Kerja Kelompok .......................................................... 8. Lembar Observasi Afektif Siswa ........................................................... 9. Foto-Foto Penelitian ............................................................................... xiv 94 110 120 124 126 138 144 149 153 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Tahap Pembelajaran Inkuiri Terbimbing ............................................. 25 2. Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa ... 45 3. Struktur Desains Penelitian .................................................................. 58 4. Tabulasi Data Hasil Observasi Sikap Peduli Lingkungan Siswa ......... 69 5. Kriteria Persentase Afektif Siswa ........................................................ 74 6. Lembar Observasi Sikap Peduli Lingkungan Siswa Eksperimen 1 ..... 149 7. Lembar Observasi Sikap Peduli Lingkungan Siswa Eksperimen 2 ..... 151 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat .......................... 13 2. Siswa sedang mengerjakan pretest ..................................................... 153 3. Guru memberi apresepsi dan memberitahu siswa cara pengerjaan LKK .................................................................................................... 153 4. Guru membimbing siswa dalam merumuskan masalah (Merumuskan Masalah) .............................................................................................. 153 5. Siswa berdiskusi dengan kelompoknya untuk menjawab soal LKK (Membuat Hipoesis, Mengumpulkan dan Mengolah Data, Membuat Kesimpulan) ......................................................................................... 154 6. Siswa mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas (Mengkomunikasikan) ........................................................................ 154 7. Siswa sedang mengerjakan posttest .................................................... 154 8. Siswa sedang mengerjakan pretest .. ................................................... 155 9. Guru memberi apresepsi dan memberitahu siswa cara pengerjaan LKK .................................................................................................... 155 10. Guru membimbing siswa dalam membuat hipotesis pada rumusan masalah yang ada di LKK . .................................................................. 155 11. Siswa berdiskusi dengan kelompoknya untuk menjawab LKK (Melakukan Penyelidikan, Mengumpulkan dan Mengolah Data, Membuat Kesimpulan) . ....................................................................... 156 12. Siswa mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas ........................ 156 13. Siswa sedang mengerjakan posttest .................................................... 156 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan suatu sistem pembelajaran, antara lain bergantung pada guru. Hal ini disebabkan guru merupakan orang yang secara langsung berhadapan dengan siswa. Peran guru sangat penting dalam meningkatkan kemauan belajar siswa. Seorang guru dapat memotivasi dan memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana cara belajar yang baik dan mengembangkan potensi lebih yang terdapat pada siswa. Menurut Sanjaya (2012: 15), dalam sistem pembelajaran guru bisa berperan sebagai perencana (planer) atau desainer (designer) pembelajaran, sebagai implementator dan atau mungkin keduanya. Demikian pula yang diungkapan oleh Suryani dan Agung (2012: 73) bahwa guru adalah jabatan dan pekerja profesional. Sebagai pendidik, profesionalisme seorang guru bukanlah pada kemampuannya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi lebih pada kemampuannya untuk melaksanakan pembelajaran yang menarik dan bermakna. Dengan adanya penjelasan mengenai peran guru inilah yang menjadikan seorang guru memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam keberhasilan proses pembelajaran, yang mana keberhasilan suatu proses pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar siswa. 2 Hasil observasi di SMP PGRI 1 Bandar Lampung menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran IPA di dalam kelas tidak bervariasi karena dalam mengajar guru hanya menggunakan metode ceramah dan diskusi, bahkan guru SMP PGRI 1 Bandar Lampung ini belum pernah menggunakan model pembelajaran selama mengajar di kelas. Hal ini menyebabkan pembelajaran di kelas menjadi monoton sehingga banyak siswa yang merasa bosan, bahkan berdampak buruk terhadap hasil belajar IPA siswa, terutama hasil belajar aspek kognitif siswa kelas VII yang masih tergolong rendah. Hasil belajar tersebut tampak dari nilai ulangan umum semester genap tahun pelajaran 2013/2014 siswa kelas VII A tertinggi hanya sebesar 62,50 sedangkan nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) pada mata pelajaran IPA adalah 70,00. Selain itu, nilai tertinggi ini hanya didapat oleh satu orang siswa dari 41 siswa di kelas VII A. Untuk nilai ulangan harian IPA siswa kelas VII A yang dapat memperoleh nilai di atas 70 KKM : 80 hanya terdapat 9 orang dari 41 orang siswa. Masih rendahnya hasil belajar aspek kognitif siswa kelas VII SMP PGRI 1 Bandar Lampung ini menyebabkan hasil belajar aspek afektif yang diperoleh siswa juga tidak maksimal, meskipun nilai aspek afektif yang diperoleh siswa ini tergolong baik (B) dengan rentang nilai yaitu 76-85. Namun, dari 41 orang siswa di kelas VII A tidak ada satu pun siswa yang memperoleh nilai afektif yang tergolong sangat baik (A) dengan rentang nilai yaitu >85. Rentang penilaian afektif di SMP PGRI 1 Bandar Lampung, yaitu: A > 86; B 76-85; C < 76. Adapun keterangan untuk penilaian tersebut, yakni: A (Sangat Baik); B (Baik); C (Tidak Tuntas). 3 Selain itu, selama kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi, aktivitas belajar siswa menunjukkan kurang baik. Berdasarkan hasil wawancara antara peneliti dengan guru IPA kelas VII SMP PGRI 1 Bandar Lampung, menunjukkan bahwa siswa yang diajar oleh metode ceramah dan diskusi kurang memperlihatkan antusias yang tinggi terhadap pelajaran IPA dan juga para siswa kurang aktif dalam kegiatan proses pembelajaran seperti bertanya, menjawab ataupun menanggapi. Solusi untuk mengatasi permasalahan yang terjadi pada SMP PGRI 1 Bandar Lampung tersebut yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Guided Discovery Learning dan Guided Inquiry Learning. Guided Discovery Learning merupakan model pembelajaran penemuan yang dilakukan dengan bimbingan dari guru. Hal ini dikarenakan siswa SMP masih memerlukan bantuan guru sebelum menjadi penemu murni. Siswa tidak hanya disodori dengan sejumlah teori (pendekatan deduktif), tetapi mereka pun berhadapan dengan sejumlah fakta (pendekatan induktif) (Kosasih, 2014: 83). Model Guided Inquiry Learning yaitu guru membimbing siswa untuk melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkannya pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukkan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya. Dengan inquiry terbimbing ini, siswa yang belajar lebih berorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru sehingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran. Siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri (Hamiyah dan Jauhar, 2014: 190). 4 Kelebihan dari model pembelajaran Guided Discovery Learning menurut Suryosubroto (2009: 185-186) yaitu: (1) membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan keterampilan proses dan kognitif siswa; (2) pengetahuan yang diperoleh sangat pribadi sifatnya dan mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh; (3) membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan; (4) memberikan kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuan sendiri; (5) menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya; (6) dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri, melalui proses-proses penemuan; (7) membantu perkembangan siswa menuju skeptisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak. Model pembelajaran Guided Inquiry Learning menurut Hosnan (2014: 344), memiliki banyak keunggulan, diantaranya sebagai berikut: (1) menekankan pada pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran ini dianggap lebih bermakna; (2) dapat memberikan ruang kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka; (3) dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman; (4) dapat melayani kebutuhan peserta didik yang memiliki kemampuan diatas rata-rata. 5 Kedua model pembelajaran ini, baik model pembelajaran Guided Discovery Learning maupun Guided Inquiry Learning sama-sama memiliki kelebihan sehingga perlu dilakukan perbandingan terhadap kedua model tersebut. Perbandingan ini dilakukan dengan tujuan agar dapat melihat dan menilai model mana yang lebih efektif digunakan dalam pembelajaran di sekolah, terutama dalam mengatasi masalah yang terjadi di SMP PGRI 1 Bandar Lampung. Selain itu, dengan dilakukannya perbandingan kedua model tersebut maka dapat memberikan alternatif pembelajaran bagi guru di sekolah. Penggunaan model pembelajaran Guided Discovery Learning dan Guided Inquiry Learning bukanlah suatu hal yang baru. Banyak penelitian terdahulu yang menggunakan kedua model tersebut bahkan tidak sedikit penelitian yang membandingkan kedua model tersebut yang pada umumnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Beberapa penelitian tersebut diantaranya adalah dari Hermawan dan Sondang (2011: 31), menunjukkan bahwa model Inquiry lebih baik dibandingkan model Guided Discovery dan model konvensional. Hasil penelitian Jaya (2012: 8), menunjukkan bahwa metode Discovery-Inquiry terbimbing lebih baik dari metode ceramah bervariasi. Selain itu hasil penelitian Dwiguna (2013: 72), menunjukkan bahwa model pembelajaran Guided Inquiry lebih baik dalam meningkatkan prestasi belajar secara signifikan dibanding Guided Discovery Learning. Dari hasil beberapa penelitian yang telah dikemukakan, dapat dilihat bahwa penelitian tersebut cenderung hanya menunjukkan pengukuran hasil belajar pada aspek kognitif saja. Sedangkan telah diketahui bahwa dalam proses 6 pembelajaran perlu pengukuran hasil belajar aspek afektif siswa. Aspek afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Beberapa ahli mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramal perubahannya, bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Penilaian hasil belajar aspek afektif kurang mendapat perhatian dari guru. Padahal seharusnya aspek afektif harus menjadi bagian integral dari bahan pengajaran dan harus tampak dalam proses pembelajaran serta hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Oleh karena itu, penting kiranya untuk melakukan pengukuran pada aspek afektif. Hasil belajar mencakup prestasi belajar, kecepatan belajar, dan hasil afektif. Karakteristik manusia meliputi cara yang tipikal dari berpikir, berbuat, dan perasaan. Tipikal berpikir berkaitan dengan aspek kognitif dan tipikal perasaan berkaitan dengan aspek afektif. Kedua aspek tersebut merupakan karakteristik manusia sebagai hasil belajar dalam bidang pendidikan. Aspek kognitif menurut Bloom dkk (dalam Sudaryono, 2012: 43) mencakup: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation). Aspek afektif menurut taksonomi Krathwol (dalam Sudaryono, 2012: 43) meliputi: penerimaan (receiving), partisipasi (responding), penilaian/penentuan sikap (valuing), organisasi (organization), dan pembentukan pola hidup (characteristic by a value or value complex). Hasil belajar yang diukur dalam penelitian ini adalah hasil belajar aspek kognitif dan hasil belajar aspek afektif. Pada hasil belajar aspek kognitif terdapat strategi kognitif yang merupakan organisasi keterampilan yang 7 internal (internal organized skill) yang perlu untuk belajar mengingat dan berpikir. Hasil belajar aspek afektif atau yang lebih dikenal sebagai hasil belajar sikap. Sikap merupakan kemampuan yang tidak dapat dipelajari dengan ulangan-ulangan, tidak bergantung atau dipengaruhi oleh hubungan verbal seperti halnya domain yang lain. Sikap ini penting dalam proses belajar, tanpa kemampuan ini belajar tidak akan berhasil dengan baik (Slameto, 2010: 14-15). Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka peneliti merasa perlu melakukan penelitian mengenai penggunaan model pembelajaran Guided Discovery Learning dan Guided Inquiry Learning dalam pembelajaran biologi dengan judul “Perbandingan Model Pembelajaran Guided Discovery Learning dengan Guided Inquiry Learning Terhadap Hasil Belajar Aspek Kognitif dan Afektif Siswa (Studi Komparatif pada Materi Pokok Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan Siswa Kelas VII SMP PGRI 1 Bandar Lampung TP.2014/2015)”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka peneliti merumuskan beberapa rumusan masalah antara lain: 1. Apakah terdapat perbedaan antara pembelajaran yang menggunakan model Guided Discovery Learning dengan model Guided Inquiry Learning terhadap hasil belajar aspek kognitif siswa pada materi pokok peran manusia dalam pengelolaan lingkungan? 8 2. Apakah terdapat perbedaan antara pembelajaran yang menggunakan model Guided Discovery Learning dengan model Guided Inquiry Learning terhadap hasil belajar aspek afektif siswa pada materi pokok peran manusia dalam pengelolaan lingkungan? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan yang telah diuraikan dalam rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1. Perbedaan hasil belajar aspek kognitif siswa antara pembelajaran yang menggunakan model Guided Discovery Learning dengan model Guided Inquiry Learning pada materi pokok peran manusia dalam pengelolaan lingkungan. 2. Perbedaan hasil belajar aspek afektif siswa antara pembelajaran yang menggunakan model Guided Discovery Learning dengan model Guided Inquiry Learning pada materi pokok peran manusia dalam pengelolaan lingkungan. D. Manfaat Hasil Penelitian Hasil penelitian diharapkan dapat memberi manfaat bagi sekolah, guru, dan siswa. 1. Bagi Sekolah Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan model pembelajaran Guided Discovery Learning dan Guided Inquiry Learning dapat meningkatkan hasil 9 belajar IPA pada aspek kognitif dan aspek afektif siswa di SMP PGRI 1 Bandar Lampung serta juga diharapkan dapat memberikan masukan positif bagi sekolah sehingga sekolah dapat meningkatkan mutu lulusan. 2. Bagi Guru Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan guru bidang studi dapat menjadikan kedua model pembelajaran dalam penelitian ini sebagai pilihan dalam proses pembelajaran, serta dapat mengembangkan keterampilan dan penguasaan guru dalam mengelola dan melaksanakan model pembelajaran Guided Discovery Learning dan model pembelajaran Guided Inquiry Learning sesuai konsep yang direncanakan. 3. Bagi Siswa Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat: a. Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dengan terlibat langsung dalam proses pembelajaran. b. Melatih sikap berani, sikap disiplin, sikap peduli dan sikap bertanggung jawab siswa pada saat melaksanakan pembelajaran IPA. c. Memotivasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan mendorong siswa untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran. E. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dibatasi pada hal-hal sebagai berikut: 1. Perbandingan dua model pembelajaran yaitu model pembelajaran Guided Discovery Learning dengan model pembelajaran Guided Inquiry Learning. 10 2. Model pembelajaran Guided Discovery Learning adalah model pembelajaran yang dilakukan dengan cara siswa melakukan penemuan yang dibimbing oleh guru. 3. Langkah-langkah dalam pembelajaran model Guided Discovery Learning yaitu merumuskan masalah, membuat hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, membuat kesimpulan, dan mengkomunikasikan (Kosasih, 2014: 85-88). 4. Model pembelajaran Guided Inquiry Learning merupakan model pembelajaran yang dilakukan dengan cara guru membimbing siswa melakukan penyelidikan. 5. Langkah-langkah dalam pembelajaran model Guided Inquiry Learning yaitu menyajikan masalah, membuat hipotesis, melakukan penyelidikan, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan (Trianto, 2013: 168-169). 6. Pengukuran hasil belajar siswa hanya pada aspek kognitif dan afektif, peningkatan hasil belajar aspek kognitif dilihat dari nilai pretest sebagai penilaian awal siswa, posttest sebagai penilaian akhir siswa dan N-gain. 7. Pengukuran pada aspek afektif mencakup indikator sikap yakni: (1) sikap berani; (2) sikap disiplin; (3) sikap peduli; (4) sikap bertanggung jawab yang diukur dengan menggunakan lembar observasi sikap peduli lingkungan (Wardoyo, 2013: 9-10). 8. Materi yang disampaikan hanya pada kompetensi dasar mengaplikasikan peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan. 11 9. Penggunaan kelas eksperimen dalam penelitian ini hanya sebatas 2 kelas di tingkat 1 SMP PGRI 1 Bandar Lampung, yakni dengan kelas VII A menggunakan model pembelajaran Guided Discovery Learning dan kelas VII B menggunakan model pembelajaran Guided Inquiry Learning. F. Kerangka Pikir Penjelasan yang tertulis pada latar belakang di atas, menunjukkan bahwa hasil belajar IPA siswa kelas VII masih tergolong rendah, dilihat dari ulangan umum semester genap salah satu kelas yakni kelas VII A diperoleh data bahwa dari 41 orang siswa tidak ada satu orang pun yang nilai ulangan umumnya mencapai nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yaitu sebesar 70. Selain itu, dilihat dari ulangan harian hanya terdapat 9 orang dari 41 orang siswa di kelas VII A yang mendapat nilai ulangan harian mencapai nilai 80 ke atas. Selain hasil belajar yang tergolong rendah, guru SMP PGRI 1 Bandar Lampung khususnya guru kelas VII hanya menerapkan metode mengajar yang sama dari tahun ke tahun yaitu metode ceramah dan diskusi sehingga menyebabkan siswa cenderung cepat jenuh dan merasa bosan dalam kegiatan belajar. Ditambah lagi sekolah ini belum pernah menerapkan berbagai macam model pembelajaran, padahal banyak sekali model pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah tersebut. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor rendahnya hasil belajar IPA siswa kelas VII SMP PGRI 1 Bandar Lampung. Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan pemberian stimulus-stimulus kepada siswa dengan harapan terjadinya respon yang positif pada diri siswa. 12 Guru harus mampu memberi stimulus dalam proses pembelajaran agar siswa memberi respon positif. Siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran dan juga akan berpengaruh pada penguasaan materi yang diserap siswa akan optimal. Oleh sebab itu, seorang guru harus dapat mensiasati agar proses pembelajaran tersebut bisa berjalan dengan baik. Salah satu cara untuk mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah dengan menggunakan model pembelajaran Guided Discovery Learning dan Guided Inquiry Learning, pada materi pokok peran manusia dalam pengelolaan lingkungan. Dengan belajar menggunakan model pembelajaran Guided Discovery Learning dan Guided Inquiry Learning siswa akan lebih tertarik dan bergairah serta dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dalam mengikuti proses pembelajaran. Model pembelajaran Guided Discovery Learning menekankan pada kemampuan siswa dalam menemukan data atau fakta dari apa yang diamatinya, sedangkan model pembelajaran Guided Inquiry Learning menekankan kepada kemampuan siswa dalam menyelidiki data atau fakta yang diperolehnya selama melakukan pengamatan. Kedua model pembelajaran ini juga menekankan pada aktivitas interaksi diantara siswa untuk saling membantu dan bekerja sama dalam menguasai materi pelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yang menggunakan dua kelas. Pada penelitian ini dilakukan pengujian untuk membandingkan hasil belajar aspek kognitif dan afektif siswa antara kelas yang menggunakan model pembelajaran Guided Discovery Learning dengan kelas yang menggunakan model pembelajaran Guided Inquiry Learning, pada materi pokok peran manusia dalam pengelolaan lingkungan. 13 Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah X1, X2 dan variabel terikat Y1, Y2. Variabel X1 adalah variabel bebas dengan model pembelajaran Guided Discovery Learning, variabel X2 adalah variabel bebas dengan model pembelajaran Guided Inquiry Learning. Sedangkan variabel Y1 adalah variabel terikat yaitu hasil belajar aspek kognitif siswa dan variabel Y2 adalah variabel terikat yaitu hasil belajar aspek afektif siswa dengan materi pokok peran manusia dalam pengelolaan lingkungan. Hubungan antara variabel tersebut digambarkan dalam diagram berikut ini: X1 Y1 X2 Y2 Keterangan: X1= Model pembelajaran Guided Discovery Learning X2= Model pembelajaran Guided Inquiry Learning Y1= Hasil belajar aspek kognitif siswa Y2= Hasil belajar aspek afektif siswa (dimodifikasi dari Sugiyono, 2011: 71) Gambar 1. Hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat G. Hipotesis Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan maka hipotesis yang diajukan yaitu: “Terdapat perbedaan antara penggunaan model pembelajaran Guided Discovery Learning dengan model pembelajaran Guided Inquiry Learning terhadap hasil belajar aspek kognitif dan afektif siswa.” 14 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Guided Discovery Learning Model pembelajaran Guided Discovery Learning merupakan nama lain dari pembelajaran penemuan. Sesuai dengan namanya, model ini mengarahkan siswa untuk terbiasa menjadi seorang saintis (ilmuwan). Mereka tidak hanya sebagai konsumen, tetapi diharapkan pula bisa berperan aktif, bahkan sebagai pelaku dari pencipta ilmu pengetahuan. Model pembelajaran penemuan ini merupakan bagian dari kerangka pendekatan saintifik. Siswa tidak hanya disodori dengan sejumlah teori (pendekatan deduktif), tetapi mereka pun berhadapan dengan sejumlah fakta (pendekatan induktif). Dari teori dan fakta itulah, mereka diharapkan dapat merumuskan sejumlah penemuan. Penemuan yang dimaksud berarti pula sesuatu yang sederhana, namun memiliki makna dengan kehidupan siswa itu sendiri (Kosasih, 2014: 83). Model discovery (penemuan) yang mungkin dilaksanakan pada siswa SMP adalah model penemuan terbimbing. Hal ini dikarenakan siswa SMP masih memerlukan bantuan guru sebelum menjadi penemu murni. Oleh sebab itu, model discovery (penemuan) yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah discovery (penemuan) terbimbing (guided discovery) (Hamiyah dan Jauhar, 2014: 184-185). 15 Menurut Hamiyah dan Jauhar (2014: 181) terdapat tiga ciri utama belajar menemukan, yaitu: (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasikan pengetahuan; (2) berpusat pada siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada. Kosasih (2014: 84) menyatakan bahwa baik pembelajaran discovery maupun inquiry mendorong siswa untuk berperan kreatif dan kritis. Guru lebih berperan dalam memerhatikan pertumbuhan dan perkembangan kognitif dan kreativitas siswa. Dalam hal inilah peran guru sebagai motivator, fasilitator, manajer, pembelajaran sangat diharapkan. Proses pembelajaran semacam inilah yang sering disebut sebagai student-centered dengan tujuan mengembangkan kompetensi siswa dan membantu siswa mengembangkan self-concept-nya. Selain itu guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif. Kegiatan belajar mengajar berlangsung dari teacher oriented menjadi student oriented. Dalam hal ini siswa melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkatagorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan, serta membuat kesimpulan sebagai produk dari penemuan-penemuannya. Kegiatan inti untuk model penemuan menurut Kosasih (2014: 85-88), adalah sebagai berikut: 1. Merumuskan Masalah Guru menyampaikan suatu permasalahan untuk yang menggunggah dan menimbulkan kepenasaran-kepenasaran tentang fenomena tertentu. Masalah 16 itu mendorong siswa untuk mau melakukan suatu rangkaian pengamatan mendalam. Contoh: a. Apa yang menandai bahwa teks berjudul “Si Kabayan Naik Panggung” tergolong ke dalam teks anekdot? b. Faktor apa yang memengaruhi seorang atlet bola voli pada pertandingan kemarin bisa memenangi pertandingan? c. Agama manakah yang lebih cepat perkembangannya di wilayah timur Indonesia? Dalam hal ini harus diperhatikan pula akan kemungkinan munculnya pertanyaan-pertanyaan yang tidak diskoveris; artinya pertanyaanpertanyaan yang jawabannya cukup dengan membaca buku. Berikut contohnya. a. Apa yang dimaksud dengan anekdot? b. Siapakah atlet bola voli yang memenangi pertandingan kemarin? c. Agama Hindu berasal dari negeri mana? 2. Membuat Jawaban Sementara (Hipotesis) Siswa diajak melakukan identifikasi masalah yang kemudian diharapkan bisa bermuara pada perumusan jawaban sementara. Misalnya, ketika para siswa dihadapkan pada pertanyaan “Bagaimana karakteristik masyarakat Medan ketika berhadapan dengan budaya baru di tengah-tengah kehidupannya ?”, mereka melakukan identifikasi sebagai berikut: a. Masyarakat Medan sangat majemuk. Oleh karena itu, mereka sudah terbiasa dengan perbedaan-perbedaan. 17 b. Masyarakat Medan sangat toleran. Oleh karena itu, mereka sangat menghargai perbedaan. Dengan adanya tahapan identifikasi seperti itu, mudah pula bagi siswa ketika harus merumuskan hipotesis. Misalnya, sebagai berikut: “Ketika berhadapan dengan budaya baru di tengah-tengah kehidupannya, masyarakat Medan begitu mudah menerimanya”. 3. Mengumpulkan Data Hipotesis merupakan jawaban sementara. Oleh karena itu, perlu ada pembuktian untuk merumuskan benar atau tidaknya. Caranya adalah dengan serangkaian pengumpulan data, yakni dengan: (a) membaca berbagai dokumen; (b) melakukan pengamatan lapangan; (c) penelitian laboratorium; (d) melakukan wawancara; (e) menyebarkan angket. Dengan cara tersebut, diharapkan siswa dapat memperoleh data yang benar-benar faktual, kuat dan meyakinkan. Data itu pun dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya karena mereka sendiri yang mengumpulkan. Diharapkan data itu pun dapat memberikan jawaban atas permasalahan sebelumnya dan dibandingkan pula dengan hipotesis yang telah mereka rumuskan. 4. Perumusan Kesimpulan (Generalization) Setelah data terkumpul dan dianalisis, kemudian dikoreksi dengan rumusan masalah yang dirumuskan sebelumnya. Data-data tersebut digunakan untuk menjawab permasalahan tersebut. Kesimpulan itulah yang dimaksud sebagai penemuan di dalam rangkaian kegiatan yang dilakukan siswa. 18 5. Mengkomunikasikan Temuan-temuan berharga siswa jangan dibiarkan terhenti dalam bentuk catatan-catatan berserakan. Hasil kegiatan mereka perlu ditindaklanjuti dengan kegiatan mengkomunikasikan. Temuan-temuan mereka perlu dihargai, yakni dengan berupa kegiatan seminar. Masing-masing siswa, baik individu ataupun kelompok, melaporkan hasil kegiatannya di depan forum diskusi untuk ditanggapi oleh siswa lain. Dalam proses ini pun memungkinkan bagi para siswa untuk saling memberikan masukan sehingga temuan yang mereka rumuskan menjadi lebih penting dan bermanfaat. Adapun kelebihan model pembelajaran ini menurut Suryosubroto (2009: 185186), adalah sebagai berikut: 1. Dianggap membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan keterampilan dan proses kognitif siswa, andai kata siswa itu dilibatkan terus dalam penemuan terpimpin. Kekuatan dari proses penemuan datang dari usaha untuk menemukan; jadi seseorang belajar bagaimana belajar itu. 2. Pengetahuan diperoleh sangat pribadi sifatnya dan mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh; dalam arti pendalaman dari pengertian, retensi, dan transfer. 3. Membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan. 4. Memberikan kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuan sendiri. 19 5. Menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya, sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek penemuan khusus. 6. Dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri, melalui proses-proses penemuan. Dapat memungkinkan siswa sanggup mengatasi kondisi yang mengecewakan. 7. Membantu perkembangan siswa menuju skeptisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak. Sedangkan kekurangan dari model ini menurut Suryosubroto (2009: 186-187) adalah sebagai berikut: 1. Dipersyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini. Misalnya, siswa yang lamban mungkin bingung dalam usahanya mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal-hal yang abstrak, atau menemukan saling ketergantungan antara pengertian dalam suatu subjek, atau dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis. Siswa yang lebih pandai mungkin akan memonopoli penemuan dan akan menimbulkan frustasi pada siswa lain. 2. Kurang berhasil untuk mengajar kelas besar. Misalnya sebagian besar waktu dapat hilang karena membantu seorang siswa menemukan teori-teori, atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu. 3. Harapan yang ditumpahkan mungkin mengecewakan guru dan siswa yang sudah biasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional. 4. Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang sebagai terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan 20 diperolehnya sikap dan keterampilan. Sedangkan sikap dan keterampilan diperlukan untuk memperoleh pengertian atau sebagai perkembangan emosional sosial secara keseluruhan. 5. Dalam beberapa ilmu (misalnya IPA) fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide mungkin tidak ada. 6. Mungkin tidak akan memberikan kesempatan untuk berpikir kreatif, kalau berpikir kreatif, kalau pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi terlebih dahulu oleh guru, demikian pula proses-proses dibawah pembinaannya. Tidak semua pemecahan masalah menjamin penemuan yang penuh arti. Pemecahan masalah dapat bersifat membosankan mekanisasi, formalitas, dan pasif seperti bentuk terburuk dari metode ekspositories verbal. B. Model Pembelajaran Guided Inquiry Learning Menurut Indrawati (dalam Trianto, 2013: 165), suatu pembelajaran pada umumnya akan lebih efektif bila diselenggarakan melalui model-model pembelajaran yang termasuk rumpun pemrosesan informasi. Hal ini dikarenakan model-model pemrosesan informasi menekankan pada bagaimana seseorang berpikir dan bagaimana dampaknya terhadap cara-cara mengolah informasi. Inquiry terbimbing yaitu dimana guru membimbing siswa untuk melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkannya pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukkan permasalahan dan 21 tahap-tahap pemecahannya. Inquiry terbimbing ini digunakan oleh siswa yang kurang berpengalaman dalam belajar yang menggunakan pendekatan inquiry. Bimbingan yang diberikan dapat berupa pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multiarah yang dapat menggiring siswa agar dapat memahami konsep pelajaran. Di samping itu, bimbingan juga diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur. Selama berlangsungnya proses belajar, guru harus memantau kelompok diskusi siswa, sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk dan arahan yang diperlukan oleh siswa. Siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri (Hamiyah dan Jauhar, 2014: 190). Inkuiri yang dalam bahasa Inggris inquiry, berarti pertanyaan atau pemeriksaan, penyelidikan. Inquiry sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi. Sasaran utama kegiatan pembelajaran inquiry menurut Trianto (2013: 166) adalah: (1) keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar; (2) keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran; (3) mengembangkan sikap percaya diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inquiry. Trianto (2013: 166) menyatakan kondisi umum yang merupakan syarat timbulnya kegiatan inquiry bagi siswa adalah: (1) aspek sosial di kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa berdiskusi; (2) inquiry berfokus pada hipotesis; (3) penggunaan fakta sebagai evidensi (informasi, fakta). 22 Untuk menciptakan kondisi seperti itu, menurut Trianto (2013: 166-167) peranan guru adalah sebagai berikut: 1. Motivator, memberi rangsangan agar siswa aktif dan bergairah berpikir. 2. Fasilitator, menunjukkan jalan keluar jika siswa mengalami kesulitan. 3. Penanya, menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka buat. 4. Administator, bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan kelas. 5. Pengarah, memimpin kegiatan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan. 6. Manajer, mengelola sumber belajar, waktu dan organisasi kelas. 7. Rewarder, memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa. Gulo (dalam Trianto, 2013: 168-169) menyatakan bahwa kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan pembelajaran inquiry adalah sebagai berikut: a. Mengajukan Pertanyaan atau Permasalahan Kegiatan inquiry dimulai ketika pertanyaan atau permasalahan diajukan. Untuk meyakinkan bahwa pertanyaan sudah jelas, pertanyaan tersebut dituliskan dipapan tulis, kemudian siswa diminta untuk merumuskan hipotesis. b. Merumuskan Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan atau solusi permasalahan yang dapat diuji dengan data. Untuk memudahkan proses ini, guru menanyakan kepada siswa gagasan mengenai hipotesis yang mungkin. Dari semua gagasan yang ada, dipilih salah satu hipotesis yang relevan dengan permasalahan yang diberikan. 23 c. Mengumpulkan Data Hipotesis digunakan untuk menuntun proses pengumpulan data. Data yang dihasilkan dapat berupa tabel, matrik, atau grafik. d. Analisis Data Siswa bertanggung jawab menguji hipotesis yang telah dirumuskan dengan menganalisis data yang telah diperoleh. Faktor penting dalam menguji hipotesis adalah pemikiran „benar‟ atau „salah‟. Setelah memperoleh kesimpulan, dari data percobaan, siswa dapat menguji hipotesis yang telah dirumuskan. Bila ternyata hipotesis itu salah atau ditolak, siswa dapat menjelaskan sesuai dengan proses inquiry yang telah dilakukannya. e. Membuat Kesimpulan Langkah penutup dari pembelajaran inquiry adalah membuat kesimpulan sementara berdasarkan data yang diperoleh siswa. Langkah-langkah penerapan inquiry learning menurut Wardoyo (2013: 6971) adalah sebagai berikut: 1. Proses Identifikasi Proses identifikasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hal-hal yang dibutuhkan oleh siswa dan juga kebutuhan pendukung lainnya untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Proses ini dilakukan oleh guru dengan cara mengidentifikasi hal-hal mendasar yang perlu diketahui, dipahami dan dipersiapkan oleh guru. 2. Proses Seleksi Proses seleksi merupakan proses yang dilakukan oleh guru untuk melakukan kegiatan penyeleksian secara selektif terhadap konsep-konsep 24 yang akan dipelajari maupun bahan materi yang akan diberikan kepada siswa dengan disesuaikan pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. 3. Proses Persiapan Guru melakukan proses persiapan secara cermat terkait dengan manajemen kelas, manajemen pembelajaran dan manajemen penilaian. Artinya bahwa sarana prasarana kelas harus dipersiapkan secara baik untuk mendukung terlaksananya rencana kegiatan pembelajaran dan rencana penilaian yang telah dipersiapkan oleh guru. 4. Proses Penyelidikan dan Penemuan Dalam proses penyelidikan dan penemuan guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan eksplorasi kemampuan diri mereka sebagai sarana menemukan hal yang baru. Dalam kegiatan ini guru juga melakukan tindakan pembimbingan terhadap hal-hal yang dibutuhkan oleh siswa. 5. Proses Analisis Proses kegiatan belajar selanjutnya adalah analisis temuan yang dilakukan oleh siswa untuk menyimpulkan temuan-temuan baru yang mereka dapatkan. Proses ini dapat dilakukan dengan cara presentasi oleh siswa ataupun pembuatan rangkuman materi oleh siswa. 6. Proses Penguatan Guru memberikan penguatan dan penyempurnaan terhadap hal-hal yang telah dirangkum atau dipresentasikan oleh siswa. Dalam proses penguatan dibutuhkan kehati-hatian guru agar apa yang telah menjadi hasil temuan siswa tidak terabaikan. 25 Tabel 1. Tahap Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Fase 1. Menyajikan Pertanyaan atau Masalah 2. Membuat Hipotesis 3. Merancang Percobaan 4. Melakukan Percobaan untuk Memperoleh Informasi 5. Mengumpulkan dan Menganalisis Data 6. Membuat Kesimpulan Sumber: Trianto (2013: 172). Perilaku Guru Guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan masalah dituliskan di papan tulis. Guru membagi dalam kelompok. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan mempriotaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan. Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukkan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa mengurutkan langkahlangkah percobaan. Guru membimbing siswa mendapat informasi melalui percobaan. Guru memberi kesempatan pada tiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul. Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan 26 Pembelajaran inquiry menurut Hosnan (2014: 344) merupakan pembelajaran yang banyak dianjurkan, karena memiliki banyak keunggulan, diantaranya sebagai berikut: a. Pembelajaran inquiry menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran inquiry ini dianggap lebih bermakna. b. Pembelajaran inquiry dapat memberikan ruang kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka. c. Inquiry dianggap sesuai den

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PERBANDINGAN MOTIVASI BERPRESTASI DAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA ANTARA MODEL PEMBELAJARAN GUIDED INQUIRY DENGAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E(LC3E)
0
7
59
PERBANDINGAN PENGUASAAN KONSEP SISWA ANTARA PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN MODEL GUIDED INQUIRY (GI) DENGAN MODEL LEARNING CYCLE 3E (LC3E) PADA MATERI LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT
0
13
50
PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED INQUIRY LEARNING DENGAN GUIDED DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR RANAH KOGNITIF DAN AFEKTIF SISWA (Studi Komparatif pada Materi Pokok Pengaruh Kepadatan Populasi Manusia Terhadap Lingkungan Siswa Kelas VII SM
0
7
70
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL GUIDED DISCOVERY LEARNING TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA
3
19
60
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MODEL GUIDED DISCOVERY LEARNING DITINJAU DARI PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Al-Kautsar Bandar Lampung T.P.2014/2015)
2
7
45
STUDI PERBANDINGAN HASIL BELAJAR IPS TERPADU SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DAN PROJECT-BASED LEARNING
0
12
82
PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY LEARNING DENGAN GUIDED INQUIRY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR ASPEK KOGNITIF DAN AFEKTIF SISWA (Studi Komparatif pada Materi Pokok Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan Siswa Kelas VII SMP PGRI 1 Band
3
58
95
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR SISWA (Eksperimen pada Siswa Kelas VII SMP Kartika II-2 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Ajaran 2014/2015 Materi Pokok Ekosistem)
2
15
58
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR SISWA (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas VII MTs Negeri 1 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015 Materi Pokok Ekosistem)
4
39
61
PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SISWA ANTARA PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN PBL DAN DISCOVERY LEARNING (Artikel)
0
0
10
PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL DISCOVERY LEARNING DENGAN PROBLEM BASED LEARNING
2
7
13
PENGARUH MODEL GUIDED DISCOVERY LEARNING TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA SMAN 2 SUNGAI RAYA MATERI LAJU REAKSI
0
0
16
PENERAPAN MODEL GUIDED DISCOVERY LEARNING DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI BELAJAR SISWA SMKN 3 PONTIANAK ARTIKEL PENELITIAN
0
0
11
EKSPERIMENTASI MODEL PROBLEM BASED LEARNING DAN MODEL GUIDED DISCOVERY LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS DITINJAU DARI SELF EFFICACY SISWA
1
1
7
PERBEDAAN KREATIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA POKOK BAHASAN TEGANGAN PERMUKAAN DAN VISKOSITAS DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL GUIDED INQUIRY LEARNING DAN MODEL CREATIVE PROBLEM SOLVING SKRIPSI
1
1
22
Show more