Feedback

Protection policy and management of water resources based on voluntary approach in Hydropower Plants

Informasi dokumen
KEBIJAKAN PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR BERBASIS SUKARELA DI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR ZAKIYAH SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 ii HALAMAN PERNYATAAN Dengan ini penulis menyatakan bahwa Disertasi Perlindungan dan Pengelolaan Sumber Daya Air Berbasis Sukarela di Pembangkit Listrik Tenaga Air adalah karya penulis dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di akhir Disertasi. Bogor, Januari 2012 Zakiyah P062040151 iii ZAKIYAH, Protection Policy and Management of Water Resources Based on Voluntary Approach in Hydropower Plants, Supervised by SURJONO H. SUTJAHJO, BUNASOR SANIM and SUNARYA. ABSTRACT The main objective of this research was to formulate a voluntary-based environmental management and protection policy at PLTA Saguling, Cirata, Tanggari I dan II. The changes of land use was analyzed based on data image from the satellite of Landsat-7 ETM. The results indicated that the area of forest at up watershed of PLTA Saguling (17.12%) and of Cirata (18.87%) in 2001 decreased by respectively 5.62% and 5.03% in 2007. The decrease was only 0.0021% each year at PLTA Tanggari. The quality of water (inlet-outlet) was described based on the T-test statistics that indicated there was no significant change (α=0.005). The activity of PLTA did not add the load of water contamination. The level of interests and power of the stakeholders was analyzed using stakeholder analysis in which indicated that PLTA was the key stakeholder. The result of legal review required PLTA to conduct the conservation of water resources in accordance with the present regulations. Values of the environment services of those water resources were approached by TEV showed that the value of PLTA Saguling was Rp 885.95 billions; PLTA Cirata was Rp 1,669.50 billions; PLTA Tanggari was Rp 252.88 billions. The alternative policy was analyzed using AHP showed incentive and disincentive policies as priority. The dynamic model designed with the Powersim showed the projection of several options of the future. A conceptual model of policy that indicated the relationships of stakeholders, operational systems, financial supports, and policy implication in order to reach the goals of water resources protection and management based on voluntary approach at PLTA. Keywords: voluntary approach, protection policy and management of water resources, hydropower plant, conceptual model of voluntary policy. iv ZAKIYAH, Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Sumberdaya Air Berbasis Sukarela di Pembangkit Listrik Tenaga Air, dibawah bimbingan SURJONO H.SUTJAHJO, BUNASOR SANIM and SUNARYA. RINGKASAN Kebijakan berbasis sukarela dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan merupakan respon pragmatis organisasi (firma) atas kebutuhan publik pada lingkungan hidup yang bersih dengan cara fleksibel (Higley et al 2001). Pragmatis dalam suatu kebijakan tidak identik dengan oportunistik dan praktisisme, namun mengacu pada keharusan bahwa setiap ide merujuk pada konsekuensi implementasinya, etis dan strategis untuk kepentingan publik bukan elite (Nugroho 2011). Pendekatan sering disebut swa-regulasi, inisiatif sukarela, kode sukarela, environmental charters, penjanjian sukarela, pengaturan lingkungan negosiasi. Secara taksonomi pendekatan ini dikelompokkan ke dalam tiga kelompok utama, yaitu (1) komitmen unilateral yang dibuat oleh pencemar, (2) Perjanjian negosiasi antara institusi dan pihak yang berwenang, dan (3) skema sukarela publik yang dikembangkan oleh lembaga publik. ISO 14001 menjadi salah satu tool yang digunakan PLTA untuk menetapkan kebijakan dan pengelolaan sumberdaya air sehingga pemanfaatannya tetap menjaga kepentingan ekonomi, sosial, budaya, dan perlindungan serta pelestarian ekosistem. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk merumuskan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Tujuan spesifik penelitian yaitu untuk: (1) menganalisis kondisi perubahan penggunaan lahan dan kualitas sumberdaya air yang dimanfaatkan PLTA; (2) menganalisis tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder, serta landasan regulasi terkait pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA; (3) menganalisis nilai jasa lingkungan yang diberikan sumberdaya air PLTA secara berkelanjutan; dan (4) merumuskan model kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Kegiatan pengumpulan data penelitian di empat PLTA yaitu PLTA Saguling, PLTA Cirata, PLTA Tanggari I dan PLTA Tanggari II yang di laksanakan selama 14 bulan. Pemenuhan regulasi dilakukan dengan pendekatan deskriptif atas parameter kualitas air pada inlet dan outlet PLTA kurun waktu 2005 – 2010. Selain itu analis perubahan lahan DAS hulu dengan GIS based landsat image. Akseptasi stakeholder dianalisis dengan analisis stakeholder atas dasar justifikasi pakar. Regulasi saat ini ditinjau dengan legal review. Nilai jasa lingkungan dihitung dengan pendekatan Total Economic Value (TEV). Sedangkan pemilihan alternatif kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela dengan metode Analytical Hierarchy Process. Model dinamik dibangun berdasarkan basis data dan basis knowledge. Semua hasil analisis disintesis menjadi sebuah model konseptual kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik sumberdaya air berupa kualitas, kuantitas, dan kontinuitas air yang dimanfaatkan PLTA saat ini menurun signifikan karena dipengaruhi perubahan penggunaan lahan pada DAS hulu PLTA. Perubahan penggunaan lahan terjadi pada DAS hulu PLTA Cirata dan Saguling (DAS Citarum) di Provinsi Jawa Barat, maupun DAS hulu PLTA v Tanggari I dan II (DAS Tondano) di Provinsi Sulawesi Utara dengan menganalisis citra satelit pada tahun 2001 dan tahun 2007. Luas hutan pada DAS Waduk Saguling menurun pesat dari 38.139,80 ha (17,12%) pada tahun 2001 menjadi hanya 12.531 ha (5,62%) pada tahun 2007. Sementara pada DAS Waduk Cirata, luas hutan juga menurun pesat dari 87.817 ha (18,87%) pada tahun 2001 menjadi hanya 23.392 ha (5,03%) pada tahun 2007. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan dari hutan terutama menjadi perkebunan. Hasil interpretasi yang berbeda terjadi pada DAS Tondano, dengan luas hutan sebesar 18.323 ha pada tahun 2001 berubah menjadi sekitar 18.098 ha pada tahun 2007. Hal ini menunjukkan terjadinya pengurangan luas hutan hanya sekitar 0,0021% setiap tahunnya. Kualitas air waduk di lokasi studi, secara umum masih memenuhi peraturan pemerintah No. 82 Tahun 2001 (Kelas 4) yang berlaku untuk keperluan operasional PLTA. Hasil uji-T menunjukkan tidak ada perubahan nyata (α=0,005) kualitas air inlet dan outlet PLTA. Hal ini mengindikasikan bahwa kegiatan PLTA tidak menambah beban pencemaran air. PLTA harus tetap menjaga kelestarian sumberdaya air sesuai dengan UU Nomor 7 Tahun 2004 secara sukarela, guna mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Akseptasi stakeholder merupakan hal sangat krusial dalam penerapan Sistem Manajemen Lingkungan di PLTA. PLTA belum memberi peluang yang cukup bagi stakeholder terkait untuk memberi input baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan sistem manajemen lingkungan dan melaksanakan komunikasi aktif dengan stakeholder kunci seperti Kementerian Kehutanan, PLN (Persero), Perhutani/HTI, Dinas LH, Dinas Kehutanan, Dinas PU, Perusahaan pengguna lainnya dan masyarakat. Selain itu masih terdapat stakeholder pendukung (sekunder) dan stakeholder eksternal yang bisa diajak bekerja sama dan diberdayakan untuk mendukung program perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air PLTA berbasis sukarela. Terkait dengan pemenuhan peraturan perundang-undangan yang berlaku, PLTA berkomitmen untuk melakukan konservasi sumberdaya air sesuai dengan konsepsi yang terdapat dalam UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air, PP Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumberdaya air, PP Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, dan Kepmen LH Nomor KEP-02/MENKLH/I/1988 tentang Penetapan Baku Mutu Lingkungan. Penerapan SML di PLTA memiliki nilai ekonomi jasa lingkungan yang cukup besar baik ditinjau dari nilai guna (use value), maupun nilai bukan guna (non-use value). Besar nilai ekonomi total (TEV) per tahun dari penerapan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA (1) Saguling mencapai Rp 885,95 milyar; (2) Cirata mencapai Rp 1.669,50 milyar; (3) Tanggari mencapai Rp 252,88 milyar.. Alternatif desain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela pada PLTA yang diprioritaskan adalah insentif dan disinsentif. Faktor yang paling berpengaruh untuk melaksanakan alternatif di atas adalah tekanan pemerintah. Peran pemerintah sangat besar untuk implementasi kebijakan pendekatan sukarela ini. Kebijakan insentif dan disinsentif merupakan tool regulasi yang fundamental untuk mencapai tujuan perlindungan lingkungan berbasis sukarela. Namun demikian untuk tujuan kontinuitas PLTA, pengakuan vi publik dan liabilitas lingkungan diperlukan alternatif desain kebijakan penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional. Model dinamik perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA bisa didesain berdasarkan basis data dan basis pengetahuan (knowledge). Kinerja sumberdaya air PLTA menjadi basis data pemodelan lingkungan (perubahan penggunaan lahan, kualitas, dan kuantitas air) serta nilai guna jasa lingkungan. Pemilihan kebijakan prioritas menggunakan AHP, hasil analisis stakeholder dan perhitungan nilai bukan guna jasa lingkungan menjadi basis knowledge pemodelan. Model dinamik mampu memperlihatkan proyeksi pilihan-pilihan kondisi di masa depan yang bisa dijadikan penunjang penetapan kebijakan terkait perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air PLTA berbasis sukarela. Berdasarkan sistem input output dalam pengelolaan sumberdaya air terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh aspek kepentingan lingkungan hidup, kepentingan ekonomi, dan kepentingan sosial, serta aspek operasional. Kebijakan dalam aspek operasional terdiri dari: (1) program pemenuhan regulasi; (2) program penataan kelembagaan; serta (3) program implementasi insentif dan disinsentif. Kebijakan dalam aspek sosial terdiri dari: (1) program peningkatan komunikasi eksternal; dan (2) program pemberdayaan masyarakat. Kebijakan dalam aspek ekonomi terdiri dari: (1) program peningkatan nilai jasa lingkungan sumberdaya air. Kebijakan dalam aspek lingkungan terdiri dari: (1) program perbaikan penggunaan lahan; dan (2) program peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya air. Pengembangan infrastruktur kelembangaan dan institusional pendekatan sukarela kelihatannya dapat meningkatkan pengakuan masyarakat termasuk investor. Independensi lembaga dan transparansi pelaksanaan perlu dikembangkan termasuk memberi ruang bagi stakeholder dalam pengembangan infrastuktur ini. Sementara dari sisi pendanaan, pengelola PLTA berperan aktif sebagai leading sektor secara operasional menyisihkan sebagain keuntungannya untuk pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. Mekanisme yang digunakan melalui biaya sukarela (Corporate Sosial Responsibility – CSR) maupun skema pengelolaan nilai jasa lingkungan lainnya berdasarkan kesadaran dan partisipasi semua pihak. Keywords: pendekatan sukarela, perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air, Pembangkit Listrik Tenaga Air, model konseptual kebijakan sukarela. vii ©Hak cipta milik IPB, tahun 2012 Hak cipta dilindungi Undang-undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebut sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk laporan apapun tanpa izin IPB. viii KEBIJAKAN PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR BERBASIS SUKARELA DI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR ZAKIYAH Disertasi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor Pada Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 ix Penguji pada ujian tertutup : Dr. Ir. Etty Riani, MS Dr. Ir. M. Yanuar Jarwadi Purwanto, MS. Penguji pada ujian terbuka : Dr. Albert Napitupulu, SE., MSi. Dr. Zulkifli Rangkuti, SE., MM., MSi. x Judul Disertasi : Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Sumber Daya Air Berbasis Sukarela di Pembangkit Listrik Tenaga Air Nama : Zakiyah NIM : P062040151 Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Disetujui Komisi Pembimbing Prof. Dr. Ir. Surjono Hadi Sutjahjo, M.S. Ketua Drs. Sunarya, Ph.D Anggota Prof. Dr. Bunasor Sanim, M.Sc. Anggota Diketahui Ketua Program Studi PSL Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, M.S Tanggal Ujian : 7 Januari 2012 Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Dahrul Syah,M.Sc.Agr Tanggal Lulus : ..................... xi PRAKATA Seiring dengan meluasnya konteks pembangunan berkelanjutan yang mengkaitkan korporasi dengan isu sosial dan lingkungan hingga penggunaan sumberdaya dan teknologi, memunculkan pendekatan kebijakan perlindungan lingkungan berbasis sukarela (voluntary approach) untuk membangun perilaku industri dalam mengurangi polusi. Suatu pendekatan yang melengkapi pendekatan berbasis hukum dan paradigma ekonomi yang telah dikenal sebelumnya. Fleksibilitas yang ditawarkan menjadikan konsep ini sangat diminati karena perusahaan dapat merespon dengan cepat kebutuhan stakeholder akan perlindungan lingkungan melalui berbagai inovasi sesuai dengan skala dan kondisi mereka tanpa mengabaikan perundang-undangan dan kewajiban yang terkait bagi dirinya. Sekilas esensi ini menjadi bagian penting dari disertasi yang berjudul “Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Sumberdaya Air Berbasis Sukarela di PLTA”. Dalam proses pembuatan disertasi tidak terlepas dari proses diskusi akademik yang intensif dengan para pembimbing yakni : Prof. Dr. Ir. Surjono Hadi Sutjahjo, MS (Ketua), Prof. Dr. Ir. Bunasor Sanim, MSc. (anggota) dan Drs. Sunarya, Ph.D (anggota). Para pembimbing telah memberikan masukan berupa kritik dan saran terhadap disertasi dan memberi pengayaan terhadap perkembangan intelektual penulis. Oleh karenanya tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada mereka. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana,MS selaku Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan atas dukungan, motivasi dan pelayanan akademik yang baik selama masa studi. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Rektor Institut Pertanian Bogor dan Dekan Sekolah Pascasarjana IPB atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan di IPB. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan Badan Standardisasi Nasional yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan studi ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Manajemen PLTA Saguling, Manajemen PLTA Cirata, Manajemen PLTA Tanggari I, dan Manajemen PLTA Tanggari II yang telah menerima penulis untuk melakukan penelitian. Akhirnya penulis juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta atas dorongan dan doanya yang tidak pernah putus siang-malam. Semoga disertasi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pengembangan kebijakan perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang. Bogor, Januari 2012 Zakiyah xii RIWAYAT HIDUP Zakiyah dilahirkan di Jakarta pada tanggal 10 Oktober 1964 dari pasangan H. Marzuki dan Hj. Maswa. Anak kesepuluh dari dua belas bersaudara ini menikah dengan Prof. Dr. Dwi Purwoko, MS dan dikaruniai putri yang bernama Nabila. Pendidikan sarjana diselesaikan di Institut Teknologi Bandung Jurusan Kimia. Pendidikan Strata 2 di selesaikan pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ipwija. Kemudian melanjutkan Strata 3 di Institut Pertanian Bogor, Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Kini penulis bekerja di Badan Standardisasi Nasional (BSN). Sebelum bergabung di BSN, penulis bekerja di Pusat Standardisasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Selama bekerja penulis pernah menjadi peneliti LIPI dan pernah dipercaya sebagai Kepala Pusat Akreditasi Lembaga Sertifikasi BSN dan Direktur Akreditasi Lembaga Sertifikasi Komite Akreditasi Nasional (KAN). Saat ini penulis menjadi Management Representative BSN, dan di tingkat regional menjadi Quality Manager for Pacific Accredition Cooperation (PAC). Penulis juga menjadi salah satu anggota (expert) di ISO/CASCO WG 30 bidang Conformity Assessment - Personnel Certification System. Salah satu tulisan yang dimuat di jurnal terakreditasi terkait dengan disertasi ini adalah Akseptasi stakeholder terhadap program lingkungan berbasis ISO 14001: studi kasus PLTA pada Majalah Berita Iptek (BIPT) LIPI edisi 49 Tahun 2011. xiii DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xvi DAFTAR TABEL ..........................................................................................xviii DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... xix I. PENDAHULUAN ........................................................................................... 1 1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 1 1.2. Kerangka Pemikiran ................................................................................. 4 1.3. Perumusan Masalah.................................................................................. 6 1.4. Tujuan Penelitian ................................................................................... 10 1.5. Manfaat Penelitian ................................................................................. 10 1.6. Novelty (Kebaruan)................................................................................ 10 II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 12 2.1. Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan............................ 13 2.2. Kebijakan Perlindungan Lingkungan Pendekatan Sukarela..................... 17 2.3. Sistem Manajemen Lingkungan.............................................................. 20 2.3.1. Komitmen dan Kebijakan Lingkungan........................................ 22 2.3.2. Tinjauan Lingkungan Awal......................................................... 23 2.3.3. Perencanaan Kebijakan Lingkungan ........................................... 23 2.3.4. Implementasi Kebijakan Lingkungan.......................................... 25 2.3.5. Pengukuran dan Evaluasi ............................................................ 26 2.3.6. Audit dan Tinjauan Manajemen .................................................. 26 2.3.7. Komunikasi dan Pelaporan Lingkungan...................................... 27 2.4. Sumberdaya Air dan Pemanfaatanya ...................................................... 27 2.4.1. Jasa Lingkungan Sumberdaya Air............................................... 36 2.4.2. Metode Valuasi Ekonomi............................................................ 39 2.4.3. Metode Valuasi Kontingensi (Contingent Valuation Method) ..... 40 2.4.4. Metode Metode Biaya Perjalanan (Travel Cost Method) ............. 41 2.4.5. Perhitungan Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA................. 42 2.5. Pendekatan Sistem ................................................................................. 45 xiv III. METODE PENELITIAN ............................................................................ 48 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian................................................................. 48 3.2. Tahapan Penelitian ................................................................................. 50 3.3. Penentuan Responden............................................................................. 53 3.3.1. Responden Pakar ........................................................................ 53 3.3.2. Responden Valuasi Ekonomi ...................................................... 53 3.4. Jenis dan Sumber Data ........................................................................... 54 3.5. Metode Pengumpulan Data..................................................................... 54 3.6. Metode Analisis Data ............................................................................. 56 3.6.1. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan ....................................... 56 3.6.2. Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value) ............................. 56 3.6.3. Analisis Legal Review................................................................. 57 3.6.4. Analisis Stakeholder ................................................................... 57 3.6.5. Analytical Hierarchy Process (AHP) .......................................... 59 3.6.6. Analisis Kebijakan...................................................................... 63 3.6.7. Analisis Sistem Dinamik............................................................. 64 3.6.8. Verifikasi dan Validasi ............................................................... 64 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................... 66 4.1. Gambaran Umum PLTA ........................................................................ 66 4.1.1. PLTA Saguling dan Cirata di Provinsi Jawa Barat ...................... 66 4.1.2. PLTA Tanggari I dan II di Provinsi Sulawesi Utara ................... 69 4.2. Perubahan Penggunaan Lahan di Wilayah PLTA.................................... 70 4.2.1. Perubahan Penggunaan Lahan pada DAS Citarum ...................... 70 4.2.2. Perubahan Penggunaan Lahan pada DAS Tondano ..................... 77 4.3. Kualitas Air Sungai di Wilayah PLTA.................................................... 81 4.3.1. Kualitas Air Sungai di PLTA Saguling dan Cirata ...................... 82 4.3.2. Kualitas Air Sungai di PLTA Tanggari I dan II........................... 85 4.4. Institusi dan Regulasi Terkait Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA......... 89 4.4.1. Stakeholder dalam Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA.............. 90 4.4.2. Tinjauan Regulasi dalam Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA ......................................................................................... 94 4.5. Nilai Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA ...................................... 97 xv 4.5.1. Nilai Ekonomi Total Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA Saguling dan Cirata di Provinsi Jawa Barat ...................... 98 4.5.2. Nilai Ekonomi Total Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA Tanggari I dan II di Provinsi Sulawesi Utara .................. 106 4.6. Prioritas Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA ...................... 109 4.6.1. Struktur AHP dan Nilai Eigen................................................... 110 4.6.2. Kontribusi Peran Setiap Level................................................... 113 4.6.3. Pengembangan Keputusan Alternatif Kebijakan ....................... 116 4.7. Model Dinamik Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA............................ 119 4.7.1. Sub-model Sosial...................................................................... 122 4.7.2. Sub-model Lingkungan............................................................. 123 4.7.3. Sub-model Ekonomi ................................................................. 124 4.7.4. Skenario Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA........................... 127 4.7.5. Validasi Model ......................................................................... 129 4.8. Model Konseptual Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA....... 131 4.9. Implikasi Kebijakan ............................................................................. 134 V. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 138 5.1. Kesimpulan .......................................................................................... 138 5.2. Saran.................................................................................................... 140 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 144 xvi DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Kerangka pemikiran kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA.................................................... 6 2. Perumusan masalah perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. ........................................................................... 8 3. Model sistem manajemen lingkungan (Sumber: ISO 2004). ........................ 21 4. Komponen SML dan interaksinya (Sumber: Cheremisinoff 2006) .............. 22 5. Nilai ekonomi total ekosistem air (Kamer 2005). ........................................ 39 6. Metode valuasi lingkungan (Sumber: Rianse 2010)..................................... 40 7. Diagram input-output model perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela .................................................................................... 46 8. Lokasi penelitian : (a) DAS PLTA Saguling dan (b) DAS PLTA Cirata di Propinsi Jawa Barat..................................................................................... 49 9. Lokasi penelitian PLTA Tanggari di Propinsi Sulawesi Utara ..................... 50 10. Tahapan pelaksanaan penelitian .................................................................. 52 11. Tingkat pengaruh dan kepentingan berbagai stakeholder............................. 58 12. Desain struktur hierarki analitik kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela............................................. 60 13. Citra satelit pada DAS Citarum: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007 ............ 71 14. Penggunaan lahan DAS Saguling: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007. ........ 72 15. Penggunaan lahan DAS Cirata: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007.............. 73 16. Citra satelit pada DAS Tondano: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007 ........... 78 17. Penggunaan lahan DAS Tondano pada tahun 2001...................................... 78 18. Penggunaan lahan DAS Tondano pada tahun 2007...................................... 79 19. Nilai median konsentrasi COD di PLTA Tanggari I tahun 2005-2010 ......... 88 20. Nilai median konsentrasi COD di PLTA Tanggari II 2005-2010 ................. 88 21. Pemetaan para pemangku kepentingan PLTA berdasarkan tingkat kepentingan dan pengaruhnya ..................................................................... 91 22. Struktur AHP dan nilai eigen pada hirarki model disain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA.................................................................................................... 112 23. Kontribusi faktor terhadap alternatif kebijakan.......................................... 113 24. Kontribusi aktor terhadap alternatif kebijakan. .......................................... 114 xvii 25. Kontribusi tujuan terhadap alternatif kebijakan. ........................................ 115 26. Pengambilan keputusan dengan cara histogram dalam penetapan kebijakan perlindungan lingkungan sukarela di PLTA.............................. .116 27. Pengambilan keputusan dengan cara scatter plot dalam penetapan kebijakan perlindungan lingkungan sukarela di PLTA ...............117 28. Diagram simpul kausal (causal loop) model pengelolaan sumberdaya air di PLTA.................................................................................................. ..120 29. Stock flow diagram model pengelolaan sumberdaya air PLTA berbasis sukarela ........................................................ ...............................121 30. Hasil simulasi jumlah penduduk................................................................ 122 31. Hasil simulasi perubahan penggunaan lahan ............................................. 123 32. Hasil simulasi nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air ........................ 125 33. Hasil simulasi nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air ............... 126 34. Hasil simulasi skenario penggunaan lahan................................................ 128 35. Perbandingan jumlah penduduk aktual dan simulasi.................................. 130 36. AME dari hasil validasi jumlah penduduk aktual dan simulasi .................. 131 37. Model konseptual pengelolaan sumberdaya air PLTA berbasis sukarela.... 133 xviii DAFTAR TABEL Halaman 1. Asas perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup ................................ 15 2. Matriks rangkuman metode penelitian ........................................................ 55 3. Matriks perbandingan berpasangan berdasarkan skala Saaty ...................... 61 4. Nilai indeks random ................................................................................... 62 5. Perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Saguling........................... 74 6. Perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Cirata .............................. 75 7. Perubahan penggunaan lahan pada DAS Tondano....................................... 80 8. Hasil uji T kualitas air di PLTA Saguling .................................................. 82 9. Hasil uji T kualitas air di PLTA Cirata ........................................................ 83 10. Hasil uji T kualitas air di PLTA Tanggari I ................................................. 86 11. Hasil uji T kualitas di PLTA Tanggari II ..................................................... 87 12. Matrik analisis stakeholder perlindungan sumberdaya air di PLTA ............. 90 13. Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Saguling ........ 103 14. Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Cirata............. 106 15. Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Tanggari I dan II............................................................................................................... 108 16. Nilai kontribusi faktor dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela .................................... 113 17. Nilai kontribusi aktor dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela .................................... 114 18. Nilai kontribusi tujuan dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan sumberdaya air berbasis sukarela .............................................................. 115 19. Nilai alternatif kebijakan perlindungan lingkungan sukarela...................... 116 20. Hasil simulasi Hasil simulasi perubahan penggunaan lahan....................... 124 21. Hasil simulasi nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air ......................... 125 22. Hasil simulasi nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air ............... 126 23. Hasil simulasi nilai total jasa lingkungan sumberdaya air .......................... 127 24. Hasil simulasi skenario perubahan penggunaan lahan................................ 129 xix DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Kualitas Air Rata-rata Inlet dan Oulet di PLTA Saguling Tahun 20052010 ........................................................................................................... 15 2. Kualitas Air Rata-rata Inlet dan Oulet di PLTA Cirata Tahun 2005-2010 ... 55 3. Kualitas Air Rata-rata Inlet dan Oulet di PLTA Tanggari I Tahun 20052010 ........................................................................................................... 61 4. Kualitas Air Rata-rata Inlet dan Oulet di PLTA Tanggari II Tahun 20052010 ........................................................................................................... 62 5. Dinamika Sebaran Kualitas Air Inlet dan Oulet di PLTA Saguling Tahun 2005-2010................................................................................................... 74 6. Dinamika Sebaran Kualitas Air Inlet dan Oulet di PLTA Cirata Tahun 2005-2010 .................................................................................................. 75 7. Dinamika Sebaran Kualitas Air Inlet dan Oulet di PLTA Tanggari I Tahun 2005-2010 ....................................................................................... 80 8. Dinamika Sebaran Kualitas Air Inlet dan Oulet di PLTA Tanggari II Tahun 2005-2010 ...................................................................................... 82 9. Rincian Nilai Ekonomi Total (TEV) Jasa Lingkungan Sumberdaya Air ...... 83 10. Model Perlindungan dan Pengelolaan Sumberdaya air di PLTA Berbasis Sukarela...................................................................................................... 86 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Konsep pembangunan berkelanjutan yang menekankan perlunya pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara berkesinambungan untuk memenuhi kebutuhan antar generasi, mendorong dilakukannya penggunaan sumberdaya secara efisien. Oleh karena itu dikembangkan sejumlah kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan yang menguraikan prinsip dan instrumen lingkungan sebagai acuan semua pihak yang berkepentingan (WCED 1987). Kebijakan lingkungan yang awalnya dikembangkan dengan pendekatan command and control dan hanya menjadi domain regulator, selanjutnya menggunakan pendekatan baru yang lebih lentur untuk membangun perilaku industri dalam mengurangi polusi (Hart 1997). Hal ini disebabkan berkembangnya konteks pembangunan berkelanjutan yang mengkaitkan penggunaan sumberdaya dan teknologi yang digunakan oleh perusahaan dengan isu sosial dan lingkungan. Pendekatan ini disebut dengan pendekatan sukarela (voluntary approach) (Higley et al. 2001; Potoski & Prakash 2003). Kebijakan perlindungan lingkungan berbasis sukarela memberi kelenturan kepada organisasi (industri, perusahaan, firma) untuk meningkatkan kinerja lingkungan sesuai dengan aktivitas yang mereka lakukan (Barde 2000). Organisasi dapat mengambil tindakan dengan segera untuk menyelesaikan masalah lingkungan yang dihadapi, tanpa menunggu adanya aturan legislasi atau ketentuan pajak terlebih dahulu (OECD 2003). Pendekatan ini diyakini mampu memberi manfaat bagi masyarakat, industri dan pemerintah. Masyarakat memperoleh manfaat berupa lingkungan hidup yang baik; organisasi dapat menekan biaya melalui penggunaan sumberdaya secara efisien; dan pemerintah juga dapat mengurangi kegiatan pemantauan yang akhirnya menurunkan beban administrasi maupun biaya penegakan hukum (Potoski 2003; Uchida 2004). 2 Salah satu tool yang banyak diacu oleh organisasi untuk memperagakan komitmen mereka terhadap perlindungan lingkungan sekaligus untuk memenuhi peraturan perundang-undangan adalah standar sistem manajemen lingkungan yang diterbitkan oleh International Organization for Standardization (ISO). Beberapa penelitian dan kajian mengenai penerapan standar ini menunjukkan bahwa organisasi dapat mengurangi polusi secara progresif dan memenuhi peraturan perundangan-undangan yang lebih baik (Dasgupta et al. 2000); menghemat biaya dan mencegah isu lingkungan yang tidak diharapkan (Wesly & Rogoff 2008); membangun corporate image (Yusoff et al. 2010); dan program sukarela berbasis standar mampu mendorong terciptanya rantai nilai korporasi multinasional antara perusahaan dan pemasok (Prakash et al. 2006). Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebagai salah satu pihak yang memanfaatkan sumberdaya air dalam kegiatan industrinya, sangat tergantung pada ketersediaan sumberdaya air baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Oleh karena itu, PLTA berkepentingan untuk melakukan berbagai tindakan perlindungan lingkungan. Saat ini, tindakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air di banyak PLTA masih banyak terpola pada ketentuan yang terdapat di dalam aturan legislasi dan cenderung terbatas pada penyampaian laporan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL). Pengelolaan sumberdaya air oleh PLTA perlu dilakukan dengan pendekatan sukarela, karena PLTA dapat mengkreasikan tindakan perlindungan dan pengelolaan sumber daya air sesuai dengan keperluan dan tanggungjawabnya. Selaku pemanfaat sumberdaya air, PLTA selain harus memperhatikan persyaratan teknis juga memiliki tanggungjawab untuk menjaga fungsi sumberdaya air setelah digunakannya agar tetap bisa dimanfaatkan oleh pihak lain. Sumberdaya air harus dikelola sebagai sumberdaya yang terbatas dan vulnarable, serta sumberdaya alam yang bernilai ekonomi. Menurut Sanim (2011), UU No 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air secara eksplisit merupakan kontrak sosial antara pemerintah dan warga negaranya, serta menjamin akses setiap orang ke sumber air untuk mendapatkan air. Sumberdaya air mempunyai fungsi sosial, lingkungan hidup, serta ekonomi yang diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras. Hal ini menunjukkan bahwa 3 pemanfaataan dan peruntukan sumberdaya air lebih diprioritaskan untuk kepentingan umum dari pada kepentingan individu. Fungsi lingkungan hidup menempatkan sumberdaya sebagai bagian dari ekosistem, dan tempat kelangsungan hidup flora dan fauna. Sedangkan fungsi ekonomi lebih menekankan pada pendayagunaan air untuk menunjang kehidupan usaha. Komitmen untuk mencegah terjadinya pencemaran, mengharuskan PLTA untuk memastikan bahwa bahan baku (material) yang digunakannya memenuhi ketentuan teknis maupun peraturan perundang-undangan yang berlaku. PLTA juga harus memastikan air yang dilepaskan ke badan sungai tidak mengurangi fungsinya untuk dimanfaatkan pihak lainnya. Selain itu daya air yang dikonversi menjadi energi listrik berasal dari air sungai yang tergolong barang publik yang tidak dimiliki oleh siapapun, melainkan dalam bentuk kepemilikan bersama (global common/common resources) dan memiliki nilai intrinsik yang harus diasumsikan terbatas dan langka (Sanim 2011). Berdasarkan paparan di atas, perlu dilakukan penelitian perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Inisiatif pengendalian aspek lingkungan dari pemanfaatan sumberdaya air untuk mencegah dampak negatif lingkungan, tidak hanya memberi manfaat bagi PLTA tetapi juga bagi ekosistem dan stakeholder lainnya. PLTA harus memahami secara baik kondisi sumberdaya air, serta pandangan dan tekanan stakeholder dalam pengembangan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Selain itu, nilai jasa lingkungan sumberdaya air perlu dihitung guna meningkatkan pemahaman pentingnya nilai ekonomi sumberdaya air. Penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA secara jelas untuk dipertimbangkan dalam pengambilan kebijakan yang bisa mendorong pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Penelitian dirancang terhadap PLTA yang telah mendapat sertifikat ISO 14001 yang berada di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa dengan karakteristik tekanan populasi penduduk, kebutuhan energi listrik, kapasitas produksi, dan jenis bendung yang relatif berbeda. PLTA Saguling dan Cirata di Provinsi Jawa Barat menjadi objek penelitian mewakili PLTA di Pulau Jawa, sementara PLTA 4 Tanggari I dan II di Provinsi Sulawesi Utara menjadi objek penelitian mewakili PLTA di luar Pulau Jawa. PLTA Saguling dan Cirata berada pada wilayah dengan tekanan populasi dan kebutuhan energi tinggi, sehingga relatif berada pada lingkungan dengan tingkat perubahan penggunaan lahan yang tinggi juga. Selain itu, PLTA ini memiliki kapasitas produksi yang cukup besar dan berada pada waduk yang memiliki bendungan buatan dengan genangan relatif luas. Sementara PLTA Tanggari I dan II berada pada wilayah dengan tekanan penduduk dan kebutuhan energi yang relatif lebih rendah, sehingga berada pada lingkungan dengan tingkat perubahan penggunaan lahan yang lebih rendah juga. PLTA ini juga merupakan PLTA yang tidak berada di waduk, tetapi langsung di badan sungai dengan mengalirkan langsung air sungai (run off river) ke dalam instalasi pembangkitan, serta memiliki kapasitas produksi yang lebih kecil. Perbedaan karakteristik tersebut diperkirakan memberikan perilaku sumberdaya alam yang relatif berbeda, sehingga perlu dikaji pendekatan perlindungan dan pengelolaan lingkungannya. 1.2. Kerangka Pemikiran Undang Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air menyatakan bahwa “Sumberdaya air mempunyai fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi yang diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras”. Pengelolaan sumberdaya air perlu mempertimbangkan prinsip pendekatan holistik, yang mengkaitkan pembangunan sosial dan ekonomi dengan perlindungan ekosistem alam; pendekatan partisipasi yang melibatkan para pengguna, perencana dan pembuat keputusan; serta mengakui hak asasi manusia untuk memperoleh akses terhadap air dan sanitasi yang bersih dengan harga yang tinggi. Inisiatif sukarela dalam perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air dapat memperkuat dan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan, karena bergeraknya semua komponen atau stakeholder secara sukarela untuk melindungi sumberdaya air. Meskipun secara teoritis total volume air di permukaan bumi relatif tetap, dan air akan selalu ada karena air bersirkulasi secara berkesinambungan dari bumi ke atmosfir dan kembali ke bumi ini relatif tetap. Namun ketersediaan air pada 5 tempat yang sesuai sepanjang waktu baik kuantitas maupun kualitas yang memadai akan terancam jika dalam pengelolaannya tidak mengindahkan prinsip pelestarian (Cunningham et al. 1999; Titienberg 2003) dan pertimbangan ekonomi (Sanim 2011). Pemanfaatan sumberdaya air yang tidak dikendalikan secara bijaksana dapat menurunkan kemampuan sumberdaya tersebut dalam memberikan jasa lingkungannya. Pemanfaatan sumberdaya air dan perubahan penggunaan lahan di wilayah hulu menghasilkan dinamika kuantitas dan kualitas air. Tidak hanya PLTA yang memperoleh implikasi dari kerusakan sumberdaya air tetapi juga pemanfaat air sungai lainnya. Secara umum, saat ini kondisi sumberdaya air pada PLTA di Jawa Barat (Saguling dan Cirata) serta PLTA di Sulawesi Utara (Tanggari I dan II) terancam oleh menurunnya kualitas dan kuantitas air akibat adanya perubahan penggunaan lahan pada DAS hulu PLTA (Gambar 1). Untuk mengantisipasi hal tersebut dan mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan, perlu dilakukan pengelolaan sumberdaya air secara komprehensif. Pengelolaan yang bersifat komprehensif ini diharapkan mampu mendorong kebijakan yang bisa mendukung perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air oleh PLTA berbasis sukarela. Kondisi tersebut mendorong pengelola PLTA untuk meningkatkan kepedulian terhadap pencapaian kinerja lingkungan melalui berbagai pengendalian dampak lingkungan yang diakibatkannya sesuai dengan kebijakan dan tujuan lingkungan mereka. Inisiatif sukarela dan pemenuhan amanat regulasi tentang sumberdaya air diharapkan mampu menjadi solusi terhadap permasalahan yang mengancam kelestarian sumberdaya air di PLTA. Pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela ini bisa diterapkan PLTA dengan melakukan komunikasi eksternal dengan seluruh pihak terkait (stakeholder) untuk secara aktif bersama-sama melakukan program yang mendukung pengelolaan sumberdaya air secara berkelanjutan. Program-program tersebut antara lain perbaikan kelembagaan dan pelaksanaan regulasi berbasis sukarela. Kelembagaan yang kuat dengan dasar regulasi diharapkan mampu berperan melakukan perbaikan kondisi lingkungan, khususnya penggunaan lahan pada DAS hulu PLTA guna meningkatkan perbaikan kualitas dan kuantitas 6 sumberdaya air. Selain itu, perlu dilakukan inventarisasi, sosialisasi, edukasi dan diseminasi tentang pentingnya nilai ekonomi jasa lingkungan sumberdaya air. Gambar 1 Kerangka pemikiran kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Implementasi semua program tersebut diharapkan mampu mendukung perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air dalam kerangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan perumusan model kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela oleh PLTA melalui kajian yang mendalam dan komprehensif. 1.3. Perumusan Masalah Air merupakan barang yang sangat esensial bagi keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di planet ini. Air berfungsi penting bagi budidaya pertanian, industri pembangkit tenaga listrik dan transportasi dan fungsi sosial lainnya, dan semuanya berharap air memiliki nilai yang sangat tinggi (Sanim 2011). Seiring dengan bertambahkanya penduduk dan pembangunan ekonomi, maka permintaan air menjadi terus meningkat. Sementara pasokan air 7 semakin kritis. Hal ini membawa konsekuensi fungsi dari air sering terganggu (Fauzi 2004). Pada sisi lain, pemanfaatan air sungai oleh banyak pihak (industri, rumah tangga dan pertanian) membawa dampak terhadap kualitas air. Umumnya keluaran air yang berasal dari lokasi kegiatan tersebut langsung masuk ke dalam daerah aliran sungai tanpa adanya suatu penyangga, baik berupa pengolahan limbah rumah tangga, industri maupun pertanian. Jumlah keseimbangan bahan juga berkontribusi pada tingkat polusi yang akan ditimbulkan oleh kegiatan tersebut (Tjokrokusumo et al. 2000). Pemanfaatan lahan di daerah hulu atau kawasan greenbelt, atau penggundulan hutan berpengaruh terhadap infiltrasi dan aliran permukaan. Tanpa adanya tetumbuhan di atas permukaan tanah, air akan mengalir lebih cepat secara signifikan. Aliran dari lahan gundul umumnya lebih banyak membawa sedimen (Indarto 2010). Erosi yang terjadi dengan adanya aliran permukaan yang terbawa oleh sungai akhirnya masuk ke dalam waduk dan terendapkan pada dasar waduk, lebih lanjut akan mempengaruhi debit air yang masuk. Permasalahan lain pada sungai atau waduk adalah banyak sampah organik dan non organik baik dari kegiatan KJA maupun perubahan fungsi lahan. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sangat tergantung pada ketersediaan sumberdaya air dimana sumber air tersebut berada sehingga layak dalam jangka panjang dan bisa mendukung kontinuitas operasional pembangkit tersebut (Afandi 2010). Ketersediaan air sungai yang masuk dan keluar dari aliran sungai sangat mempengaruhi kontinuitas produksi listrik yang dihasilkannya. Korosi pada instalasi pembangkit tenaga listrik sangat dipengaruhi oleh menurunnya kualitas air dari faktor lingkungan di sekitar (fisika, kimia dan biologi). Korosi pada instalasi pembangkit tenaga listrik telah terlihat pada turbin, pemutar poros, radiator dan sistem pendingin yang terbuat dari logam. Apabila ini terjadi maka biaya pemeliharaan semakin tinggi dan operasional pembangkit menjadi terganggu (Putra 2010). Alur rumusan masalah dalam pengelolaan sumberdaya air di PLTA tersebut disajikan dalam Gambar 2. 8 Gambar 2 Perumusan masalah perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. PLTA yang diteliti memanfaatkan aliran air (pasokan air dari air permukaan dan air tanah) Sungai Citarum di Jawa Barat untuk PLTA Saguling dan PLTA Cirata, dan aliran Sungai Tondano di Sulawesi Utara untuk PLTA Tanggari I dan Tanggari II. Dalam kegiatan PLTA, energi potensial dari dam atau air terjun diubah menjadi energi mekanik dengan bantuan turbin, dan selanjutnya menjadi energi listrik dengan bantuan generator. Keberadaan air sungai atau waduk menempati posisi sentral untuk menjamin ketersediaan air dan sumber energi untuk pembangkit listrik guna memenuhi kebutuhan dan menjamin aktivitas sosial, ekonomi dan pembangunan. Pemanfaatan air oleh PLTA sebagai bahan baku untuk menghasilkan listrik, akan memberikan dampak negatif jika pengelolaannya tidak mengindahkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Sebagai salah satu aktor dalam 9 pemanfaatan sumberdaya air, keempat PLTA yang diteliti mengambil tindakan perlindungan lingkungan secara proaktif melalui penerapan sistem manajemen lingkungan. Suatu sistem yang menawarkan fleksibilitas yang bertanggungjawab bagi perusahaan untuk menetapkan kebijakan dan program lingkungan sesuai dengan sifat dan karakteristik PLTA, dan menggunakan pendekatan Plan–Do– Check–Action (PDCA) untuk memperoleh hasil dan memberi keuntungan dalam konteks sosial ekonomi secara optimal PLTA yang telah menerapkan basis sukarela melakukan tindakan perlindungan sumberdaya air secara terprogram agar tidak terjadi penurunan kualitas air dan mempertahankan ketersediaan air yang dibutuhkannya. Kualitas air harus memenuhi peraturan perundangan yang ditetapkan pemerintah dan ketetapan lain yang berlaku. Pemanfaatan sumberdaya air yang memiliki banyak fungsi, memberi karakteristik unik bagi PLTA dalam penetapan program lingkungannya. Program lingkungan PLTA tidak bisa berdiri sendiri, PLTA perlu mempertimbangkan masukan dan tanggapan stakeholder. Akseptabilitas stakeholder akan mempercepat pencapaian target dan tujuan lingkungan PLTA. Hal ini bisa didukung dengan melakukan inventarisasi dan perhitungan, serta peningkatan pemahaman semua stakeholder tentang pentingnya nilai valuasi ekonomi jasa lingkungan yang berasal dari pemanfaatan air. Dengan demikian dari waktu ke waktu, perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air yang dilakukannya akan memberikan benefit kepada PLTA dan lingkungan hidup secara berkelanjutan. Dari uraian diatas, permasalahan penelitian dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut : 1. Bagaimana kondisi perubahan penggunaan lahan, serta pengaruhnya terhadap kualitas dan kuantitas sumberdaya air yang dimanfaatkan PLTA ? 2. Bagaimana tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder, serta landasan regulasi terkait pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA ? 3. Berapa besar nilai jasa lingkungan yang diberikan sumberdaya air PLTA secara berkelanjutan ? 4. Bagaimana model kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA ? 10 1.4. Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah untuk merumuskan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Untuk mencapai tujuan umum tersebut terdapat tujuan spesifik penelitian yaitu: 1. Menganalisis kondisi perubahan penggunaan lahan dan kualitas sumberdaya air yang dimanfaatkan PLTA; 2. Menganalisis tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder, serta landasan regulasi terkait pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA; 3. Menganalisis nilai jasa lingkungan yang diberikan sumberdaya air PLTA secara berkelanjutan; 4. Merumuskan model kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. 1.5. Manfaat Penelitian Penelitian kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA memiliki nilai strategis dalam pembangunan berkelanjutan. Adapun manfaat penelitian sebagai berikut: 1. Menjadi acuan dalam penyusunan dan perencanaan pemanfaatan sumberdaya air secara efektif, berkeadilan dan berkelanjutan; 2. Sebagai pertimbangan pengambil keputusan dalam merumuskan dan menetapkan aturan maupun kebijakan perlindungan lingkungan; 3. Memperbanyak khasanah ilmiah di bidang perlindungan lingkungan dengan pendekataan sukarela. 1.6. Novelty (Kebaruan) Desain perlindungan lingkungan selama ini masih menggunakan pendekatan mandatori (command and control) dimana peran regulator sangat dominan dan adanya keterbatasan ruang inovasi bagi perusahaan untuk melakukan perbaikan lingkungan. Sementara dalam penelitian ini menghasilkan desain kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan yang berbeda dari pendekatan mandatori. Penelitian ini menggunakan pendekatan sistem (system approach) yang menggabungkan tiga aspek secara bersama yaitu: (1) aspek perbaikan 11 karakteristik sumberdaya air; (2) aspek perbaikan kelembagaan dan pemenuhan regulasi; serta (3) aspek pemahaman nilai ekonomi jasa lingkungan sumberdaya air melalui komunikasi eksternal dengan pendekatan sukarela. Ketiga aspek ini menjadi pilar utama dalam desain model kebijakan berbasis sukarela yang mendudukkan peran perusahaan dan stakeholder secara bijaksana dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. II. TINJAUAN PUSTAKA Pembangunan ekonomi seringkali menghadapi trade-off antara pemenuhan kebutuhan pembangunan dan upaya mempertahankan kelestarian lingkungan. Ketersediaan sumberdaya alam yang terbatas menyebabkan penyediaan barang dan jasa tidak akan bisa dilakukan secara terus menurus (Fauzi 2004). Isu keberlanjutan sudah dimulai tahun 1798 ketika Malthus mengkhawatirkan ketersedian lahan akibat ledakan penduduk Inggris tumbuh pesat. Kemudian semakin menjadi perhatian saat Meadow menyimpulkan dalam buku the Limit to Growth bahwa pertumbuhan ekonomi akan sangat dibatasi oleh ketersediaan sumberdaya alam (Meadow 1972). Generasi kini yang memanfaatkan sumberdaya alam dan lingkungan memiliki kewajiban moral untuk menyisakan layanan sumberdaya alam untuk generasi mendatang, yaitu dengan tidak mengekstraksi sumberdaya alam yang menghilangkan kesempatan generasi mendatang untuk menikmati layanan yang sama. Keanekaragaman hayati yang dimiliki sumberdaya alam memiliki nilai ekologi yang sangat tinggi sehingga aktivitas ekonomi perlu memperhatikan fungsi ekologi tersebut. Pemanfaatan sumberdaya alam perlu memberi manfaat dan kesejahteraan antar generasi ( Perman et al. dalam Fauzi 2004). Paradigma pembangunan berkelanjutan yang mengkaitkan hubungan tujuan ekosistem, ekonomi dan sosial, menghendaki manusia untuk selalu mempertimbangkan resiko lingkungan, memberi value sumberdaya alam dan biaya sosial yang akan ditanggung masyarakat dan lingkungan ketika sumberdaya alam tersebut akan dimanfaatkan untuk tujuan pembangunan ekonomi. Konsepsi pembangunan berkelanjutan ini diperluas oleh World Business Council on Sustainable Development yang mengkaitkan peran korporasi dengan isu sosial, lingkungan, dan politik dengan memberi peluang kepada stakeholder untuk mendiskusikan penyelesaian problem pembangunan berkelanjutan secara bersama (Demirag et al. 2005). PLTA merupakan salah satu kegiatan yang mengggunakan sumberdaya air perlu mengkaitkan aktivitasnya dengan paradigma pembangunan berkelanjutan. 13 PLTA perlu memposisikan air sebagai sumberdaya alam yang terbatas dan memiliki nilai ekonomi. Oleh karena itu pemanfaatan sumberdaya air harus diikuti dengan upaya mencegah terjadinya kelangkaan air atau terbatasnya fungsi sumberdaya air. PLTA bekerja dengan cara merubah energi potensial (dari dam atau air terjun) menjadi energi mekanik dengan bantuan turbin dan dari energi mekanik menjadi energi listrik dengan bantuan generator. Komponen dasar PLTA berupa dam, turbin, generator dan transformator. Dam berfungsi untuk menampung air dalam jumlah besar karena turbin memerlukan pasokan air yang cukup dan stabil. Untuk menggerakkan turbin agar bisa berputar harus memiliki debit air 0,004 – 0,01 m3/detik dan ketinggian air 10 - 22 meter dari permukaan turbin. Turbin air mempunyai fungsi untuk mengkonversi energi potensial air menjadi energi mekanik. Air akan memukul sudu-sudu dari turbin sehingga turbin berputar berupa putaran poros. Perputaran turbin dihubungkan ke generator dengan bantuan poros dan gerbox. Generator berfungsi mengkonversi energi mekanik berupa putaran poros turbin menjadi energi listrik. Transformator digunakan untuk mentransformasikan tegangan (V) yang dihasilkan generator dan selanjutnya didistribusikan ke konsumen. 2.1. Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Perlindungan lingkungan dan sumberdaya alam disadari sangat penting untuk mencapai kemakmuran rakyat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari Undang Undang Dasar 1945 yang menegaskan penggunaan sumberdaya alam untuk kemakmuran rakyat generasi sekarang dan mendatang. Kemudian UndangUndang Nomor 4 Tahun 1982 menegaskan perlunya pengelolaan lingkungan hidup dilandasi oleh kebijaksanaan nasional yang terpadu dan menyeluruh. Untuk itu, lingkungan hidup wajib dikembangkan dan dilestarikan kemampuannya agar tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bangsa dan rakyat Indonesia serta makhluk lainnya, demi kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri. Menyadari pentingnya kontribusi dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perlindungan lingkungan, dilakukan penyempurnaan atas UU Nomor 4 Tahun 1982 menjadi UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan 14 Hidup.UU ini memantapkan tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. Seiring dengan perlunya jaminan atas kepastian hukum dan perlindungan hak setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, sebagai bagian dari perlindungan terhadap keseluruhan ekosistem, maka pada tahun 2009 UU Nomor 23 Tahun 1997 tersebut disempurnakan menjadi UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam UU Nomor 32 Tahun 2009, didefinisikan sebagai upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan dan penegakan hukum. Lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Asas untuk melaksanakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup terdiri atas tanggung jawab negara, kelestarian dan keberlanjutan, keserasian dan keseimbangan, keterpaduan, manfaat, kehati-hatian, keadilan, ekoregion, keanekaragaman hayati, pencemar membayar, partisipatif, kearifan lokal, tata kelola pemerintahan yang baik; dan otonomi daerah. Adapun penjelasan maksud dari setiap asas tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Gambaran di atas menunjukkan telah terjadinya pergeseran dalam pengembangan kebijakan perlindungan lingkungan dari mengatur pola hubungan antara pemerintah dan industri hingga memberi perlindungan kepada setiap individu untuk memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat. Awal tahun tujuh puluhan, kebijakan lingkungan difokuskan pada pengembangan prinsip lingkungan yang didesain sebagai landasan kebijakan lingkungan pada dunia usaha dan pengakuan internasional, dan pengembangan instrumen lingkungan untuk keperluan implementasi kebijakannya. Kebijakan perlindungan lingkungan umumnya ditetapkan langsung oleh pemerintah. Penetapan baku mutu 15 lingkungan, standar emisi, perizinan, pemberian lisensi, pajak, pembebanan biaya (pollution charges) digunakan sebagai instrumen (Barde 2000). Tabel 1 Asas perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup Asas Tanggung jawab negara Maksud asas a) Negara menjamin pemanfaatan sumberdaya alam akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat, baik generasi masa kini maupun generasi masa depan. b) Negara menjamin hak warga atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. c) Negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. Kelestarian dan keberlanjutan Setiap orang memikul kewajiban dan tanggungjawab terhadap generasi mendatang dan terhadap sesamanya dalam satu generasi dengan melakukan upaya pelestarian daya dukung ekosistem dan memperbaiki kualitas lingkungan hidup. Keserasian dan keseimbangan Pemanfaatan lingkungan hidup harus memperhatikan berbagai aspek seperti kepentingan ekonomi, sosial, budaya, dan perlindungan serta pelestarian ekosistem. Keterpaduan Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilakukan dengan memadukan berbagai unsur atau menyinergikan berbagai komponen terkait. Manfaat Segala usaha dan/atau kegiatan pembangunan yang dilaksanakan disesuaikan dengan potensi sumberdaya alam dan lingkungan hidup untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan harkat manusia selaras dengan lingkungannya. Kehati-hatian Ketidakpastian mengenai dampak suatu usaha dan/atau kegiatan karena keterbatasan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan merupakan alasan untuk menunda langkah-langkah meminimisasi atau menghindari ancaman terhadap pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. Keadilan Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara, baik lintas daerah, lintas generasi maupun lintas gender. Ekoregion Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan karakteristik sumberdaya alam, ekosistem, kondisi geografis, budaya masyarakat setempat dan kearifan lokal. Keanekaragaman hayati Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan upaya terpadu untuk mempertaruhkan keberadaan, keragaman, dan keberlanjutan sumber daya alam hewani yang bersama dengan unsur nonhayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. 16 Tabel 1 lanjutan Asas Pencemar membayar Maksud asas Setiap penanggungjawab yang usaha dan/atau kegiatannya menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup wajib menanggung biaya pemulihan lingkungan. Partisipatif Setiap anggota masyarakat didorong untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kearifan lokal Dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat. Tata kelola pemerintahan yang baik Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dijiwai oleh prinsip partisipasi, transparansi, akuntabilitas, efisiensi, dan keadilan. Otonomi daerah Pemerintah dan pemerintah daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dengan memperhatikan kekhususan dan keragamaan daerah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sumber : UU No. 32/2009 Untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan, terdapat tiga pendekatan kebijakan lingkungan yang digunakan secara umum yaitu pendekatan negosiasi langsung dengan pihak yang bermasalah, pendekatan hukum (command and control) dan pendekatan ekonomi-mekanisme pasar. Pendekatan negosiasi langsung merupakan cara yang paling sederhana untuk menciptakan efisiensi. Pendekatan ini dapat berjalan dengan baik apabila hak kepemilikan telah didefinisikan dengan jelas. Ketidakjelasan hak kepemilikan akan memungkinkan timbulnya konflik kepentingan (Coase dalam Yakin 2004). Pendekatan hukum atau dikenal dengan command and control approach merupakan pendekatan yang paling umum digunakan oleh lembaga pemerintah. Pemerintah menetapkan standar baku untuk proses, peralatan, dan emisi yang harus ditaati oleh pencemar dan mewajibkan perusahaan untuk melakukan tindakan perlindungan lingkungan. Jika perusahaan tidak memenuhi atau melanggar akan dikenai denda di pengadilan. Pelaksanaan kebijakan ini memerlukan ketentuan dan persyaratan administratif, ketersediaan infrastruktur, dan biaya yang sangat besar. Umumnya biaya perlindungan lingkungan diiringi 17 dengan menaikkan harga produk, sehingga konsumen ikut terbebani secara tidak langsung (Barde 2000; Thomas 2003). Meskipun pendekatan hukum merupakan alat efektif untuk mencegah kerusakan lingkungan, memungkinkan terjadinya interaksi pemerintah pendekatan ini hanya dan industri, belum memperhatikan kekuatan masyarakat serta pasar (Afsah et al. 1996). Pendekatan paradigma ekonomi atau sering disebut market instruments berargumen bahwa degradasi lingkungan terjadi akibat pasar tidak memberi nilai (value) atas jasa lingkungan. Kelangkaan tidak dihargai sebagai aset yang harus digunakan secara efisien. Pendekatan ini memasukkan konsep ekonomi seperti pembebanan pajak atau ongkos atas jumlah polusi per unit waktu yang dapat diserap. Pasar yang didalamnya ada masyarakat dan konsumen menjadi aktor untuk memberi tekanan perlunya perlindungan lingkungan atas pengelolaan dan produk perusahaan. Perusahaan menggunakan sumberdaya alam secara efisien dan menerapkan teknologi terbaik untuk mengendalikan pencemaran. Pendekatan ini dinilai lebih mampu mendorong pencegahan polusi yang lebih fleksibel dan ekonomis (Barde 2000). 2.2 Kebijakan Perlindungan Lingkungan Pendekatan Sukarela Pendekatan hukum dan mekanisme pasar dinilai memiliki kelemahan secara substansial untuk perlindungan lingkungan. Pembatasan regulasi dapat mengurangi kemampuan perusahan untuk merespon dengan cepat tantangan baru di bidang pengembangan proses produksi dan produk. Sementara regulator menjadi lebih terbebani biaya. Ketidaklenturan dan tingginya biaya administrasi yang ditemui saat penerapan pendekatan di atas, memunculkan bentuk kebijakan baru yang dilandasi dengan pendekatan sukarela (OECD 2003, Arimura et al. 2007). Pendekatan sukarela (voluntary approaches) bukanlah produk intervensi pemerintah atau teori ekonomi. Ia merupakan respon pragmatis atas kebutuhan cara yang lebih fleksibel untuk melindungi perhatian publik terhadap lingkungan yang bersih (Higley et al. 2001). Perusahaan dapat mengambil tindakan dengan segera untuk menyelesaikan masalah lingkungan yang dihadapi, tanpa menunggu adanya aturan legislasi atau ketentuan pajak (OECD 2003). Pendekatan ini 18 dimaksudkan untuk lebih responsif membangun perilaku industri dalam mengurangi Polusi (Higley et al. 2001; Potoski & Prakash 2003). Pendekatan sukarela sering disebut sebagai “generasi mendatang dalam kebijakan lingkungan” (Esty et al. 1997). Sebagai instrumen kebijakan, inisiatif sukarela semakin luas digunakan oleh pemerintah maupun organisasi non pemerintah terutama di Eropa. Perkembangan pendekatan ini didorong oleh kepentingan publik dan meningkatnya kesadaran produsen, konsumen dan shareholder terhadap pembangunan berkelanjutan dan sekaligus menjadi tindakan yang membedakan proses produksi dan produk mereka di pasar (APEC 2005). Inisiatif sukarela merupakan pelengkap (complement) yang penting dalam kebijakan dan tindakan yang diregulasikan (regulatory action) baik di bidang sosial maupun lingkungan. Ia dapat didesain oleh perusahaan/industri dan diimplementasikan oleh berbagai stakeholder, termasuk pemerintah, serikat dagang dan lembaga swadaya masyarakat (APEC 2005). Beberapa istilah inisiatif sukarela antara lain skema sertifikasi, perjanjian sukarela (voluntary agreement), aturan pelaksanaan (code of conduct), audit lingkungan dan sosial, skema tangung jawab sosial korporasi dan skema perdagangan yang fair (Higley et al. 2001). Tindakan inisiatif perlindungan lingkungan yang dilakukan disesuaikan dengan kebijakan dan tata kelola yang baik (good governance) yang dianut perusahaan, industri atau sektor. Tindakan ini harus memperhatikan penciptaan hubungan yang lebih kooperatif antara pemerintah, industri dan partisipasi pihak ketiga lainnya. Peningkatan kinerja lingkungan dapat melebihi (beyond) ketentuan dan peraturan perundang-undangan ditetapkan oleh pemerintah dan bisa menjadi alternatif legislasi (RNMISD 1998; Higley et al. 2001). Di beberapa negara, program ini berkembang dengan baik karena pemerintah mengintervensi desain dan implementasinya melalui penyediaan sarana seperti insentif keuangan, bantuan teknis, hak pemantauan, maupun dengan menetapkan regulasi yang memaksa mereka untuk berpartisipasi. Kolaborasi dengan stakeholder (non-industri) dan mekanisme pemantauan sangat diperlukan untuk menjaga kredibilitas dan memberi benefit kepada seluruh aktor yang terlibat dalam inisiatif ini (RNMISD 1998). 19 Secara taksonomi pendekatan sukarela dibagi ke dalam tiga kelompok utama, yaitu komitmen unilateral yang dibuat oleh pencemar, perjanjian resmi yang dinegosiasi antara industri dengan pihak yang berwenang, dan skema sukarela publik yang dikembangkan oleh badan lingkungan (RNMISD 1998; Higley et al. 2001). Komitmen unilateral merupakan program peningkatan lingkungan yang dibangun oleh perusahaan dan dikomunikasikan kepada stakeholder-nya. Sebagai contoh program “Responsible Care” yang diinisiasi oleh Industri Kimia Canada merupakan tipe ini. Setiap peserta harus mengirimkan rencana lingkungannya untuk diverifikasi pemenuhannya oleh komite eksternal. Komite Eksternal terdiri atas para ahli di bidang industri dan wakil masyarakat. Hasil monitoring disampaikan kepada publik. Contoh lain adalah penerapan sistem manajemen lingkungan (SML) di perusahaan untuk meningkatkan kinerja lingkungan (Higley et al. 2001). SML juga digunakan sebagai tool oleh negara negara Organization foe Economic Co-operation and Development (OECD) untuk memberi bantuan teknis dan pengakuan publik dalam kebijakan lingkungan (Uchida 2004). Pada skema sukarela publik, pihak yang berwenang menetapkan seperangkat standar mengenai proses dan prosedur yang harus diikuti, atau target yang harus dicapai. Perusahaan setuju untuk memenuhi target tersebut. Contoh penerapan skema ini adalah kesesuaian dengan standar Eco-management and Auditing Scheme (EMAS) Uni Eropa. Perusahaan harus memiliki kebijakan lingkungan, meninjau aspek lingkungan di semua lokasi, menetapkan dan menerapkan program lingkungan, serta melakukan tinjauan kebijakan dan memverifikasi pemenuhan persyaratan tersebut (RNMISD 1998; Higley et al. 2001). Perjanjian negosiasi dilakukan antara perusahaan dengan pihak yang berwenang (pemerintah) untuk memenuhi target lingkungan yang ditetapkan dalam periode waktu tertentu. Dalam perjanjian negosiasi ini kedua pihak berperan aktif (RNMISD 1998; Higley et al. 2001). Pendekatan berbasis sukarela juga memiliki kelemahan, yaitu jika perusahaan tidak memiliki sistem pengendalian lingkungan yang tepat dapat memungkinkan adanya Free-riding yang akan memanfaatkan peluang untuk tidak 20 memasukkan kewajiban perusahaan untuk memenuhi persyaratan regulasi atau kewajiban pajak maupun tindakan kolektif yang sudah dipersyaratkan. Selain itu perusahaan bisa melakukan negosiasi dalam proses perumusan dan penerapan regulasi untuk keuntungan mereka. Ketiadaan regulasi akan menyebabkan masyarakat menanggung biaya sosial atau lingkungan. Bila hal ini terjadi, maka pendekatan sukarela memberi risiko akan terjadinya pelaksanaan regulasi menurut keinginan mereka (regulatory capture) (RNMISD 1998). Keterbukaan dan transparansi sangat krusial untuk mengurangi kelemahan pendekatan sukarela, sehingga stakeholder/masyarakat dapat berpartisipasi dan memberi umpan balik. Keterlibatan stakeholder memberi peluang tercapainya tujuan dan sasaran lingkungan yang melebihi peraturan yang ditetapkan. Selain itu, untuk menjamin efektivitas diperlukan sistem pemantauan dan pencegahan, serta struktur kelembagaan pendekatan sukarela (RNMISD 1998). Pemantauan dapat dilakukan oleh pemerintah atau lembaga independen. Hasil pemantauan disampaikan kepada pihak berwenang dan publik secara terbuka. Hasil pemantauan ini menjadi informasi bagi pemerintah untuk memfasilitasi tindakan perbaikan yang diperlukan. Sanksi dapat diberikan apabila terdapat ketidaksesuaian dengan isi perjanjian sukarela. Bentuk sanksi bisa melalui pencabutan subsidi atau dikeluarkan dari para pihak yang berperanserta. Sanksi perlu dicantumkan dalam perundang-undangan atau dimasukkan dalam perjanjian tersebut. Semua inisiatif sukarela harus mengatur liabilitas untuk menanggung ganti rugi atas kerugian yang diterima oleh pihak lain. Perusahaan yang terbukti melakukan kerusakan secara sengaja atau lalai dapat dikenakan aturan liabilitas ini. Situasi yang berbeda dapat terjadi jika kerusakan terjadi meskipun perusahaan telah memenuhi seluruh perjanjian sukarela. Dalam hal ini pihak pemerintah perlu segera meninjau perjanjian dan mencari solusi yang efektif. 2.3 Sistem Manajemen Lingkungan Salah satu tool untuk melaksanakan tindakan sukarela diperkenalkannya standar Sistem Manajemen Lingkungan (SML). Secara tipikal, SML terdiri atas 21 penetapan, implementasi dan tinjauan kebijakan lingkungan yang diarahkan untuk mengurangi dampak lingkungan akibat operasi yang dilakukan perusahaan (ISO 2004; Arimura et al. 2007). Metodologi implementasi sistem manajemen lingkungan dilakukan dengan Plan-Do-Check-Act (PDCA) suatu model yang mengikuti sistem manajemen yang dikenal dengan Siklus Deming seperti disajikan dalam Gambar 3. Gambar 3 Model sistem manajemen lingkungan (Sumber: ISO 2004). Standar didefinisikan sebagai suatu dokumen, yang ditetapkan melalui konsensus dan disahkan oleh badan yang diakui, memuat aturan, panduan atau karakteristik kegiatan atau hasilnya yang dapat digunakan secara umum dan berulang, yang bertujuan untuk mencapai tingkat keteraturan yang optimum dalam konteks tertentu. Standar juga sering digunakan oleh pemerintah untuk menetapkan regulasi teknis untuk keperluan intervensi pasar guna melindungi masyarakat dan konsumennya dari produk yang tidak aman, tidak sehat dan rusaknya lingkungan hidup (ISO/IEC 2002). Secara umum ada tujuh komponen utama dalam SML yaitu komitmen dan kebijakan lingkungan, tinjauan lingkungan awal, perencanaan kebijakan lingkungan, penerapan kebijakan lingkungan, pengukuran dan evaluasi, audit dan tinjauan, dan komunikasi lingkungan eksternal (Chereminisoff 2006). Ketujuh komponen dan interaksinya dilustrasikan pada Gambar 4. 22 Gambar 4 Komponen SML dan interaksinya (Sumber: Cheremisinoff 2006) 2.3.1 Komitmen dan Kebijakan Lingkungan Penerapan sistem manajemen lingkungan harus memperoleh komitmen manajemen puncak. Tanpa komitmen resmi, suatu sistem tidak akan memiliki kredibilitas dan tidak efektif (Lessem 1989). Kebijakan merupakan suatu deklarasi yang ditandatangi oleh manajemen puncak organisasi bahwa perlindungan lingkungan menjadi prioritas organisasi. Manajemen puncak perlu menyediakan sumberdaya termasuk finansial yang diperlukan (ISO 2004; BSN 2005, Cheremisinoff 2006). Kebijakan lingkungan yang merupakan keseluruhan maksud dan arah organisasi mengenai kinerja lingkungan memberikan kerangka untuk menetapkan tindakan dan penentuan tujuan serta sasaran lingkungan (ISO 2004, BSN 2005). Kebijakan lingkungan memuat komitmen untuk mencegah polusi, memenuhi peraturan regulasi lingkungan dan aturan yang berlaku, menerapkan proses perbaikan berkelanjutan. Manajemen puncak harus memastikan bahwa kebijakan tersebut diimplementasikan di seluruh organisasi. (ISO 2004, BSN 2005). Kebijakan lingkungan harus relevan dengan sifat, skala, dan dampak lingkungan dari kegiatan, produk dan jasa organisasi. Dengan demikian kebijakan lingkungan diformulasikan sesuai dengan kebutuhan organisasi dan merefleksikan realitas situasi lingkungan organisasi (ISO 2004, BSN 2005). 23 Komitmen untuk memenuhi peraturan perundang-undangan lingkungan yang berlaku dan persyaratan lainnya yang diikuti organisasi, bukan berarti organisasi wajib memenuhi seluruh regulasi dalam waktu bersamaan. Organisasi disyaratkan untuk memiliki rencana atau cara untuk memastikan pemenuhan seluruh peraturan perundang-undangan yang ditetapkan tersebut termasuk yang terdapat dalam perjanjian sukarela jika ada. Kebijakan lingkungan juga harus memberi kerangka untuk menetapkan dan meninjau sasaran dan target lingkungan. Kebijakan lingkungan juga harus didokumentasikan, diimplementasikan, dipelihara dan dikomunikasikan kepada seluruh pegawai. Implementasi dapat diperagakan melalui instruksi, sasaran dan target, rencana strategik, dan program lingkungan. Hal penting lainnya, dalam kebijakan lingkungan harus tersedia bagi publik dan pihak yang berkepentingan. Kebijakan harus ditinjau untuk memastikan kesesuaiannya dengan perubahan (internal maupun eksternal) yang mempengaruhi organisasi, misalnya adanya perubahan penggunaan sumberdaya, teknologi produksi, ketentuan regulasi, budaya dan norma yang berlaku (Gabel dan Folme 2000). 2.3.2 Tinjauan Lingkungan Awal Tinjauan lingkungan awal (TLA) merupakan langkah awal sebelum perusahaan dapat merencanakan dan menerapkan kebijakan lingkungan. Perusahaan melalukan tinjauan yang lengkap terkait isu/aspek lingkungan perusahaan. TLA akan menghasilkan karakteritik baseline perusahaan dalam mengelola isu lingkungan, yang dapat digunakan sebagai basis untuk mengidentifikasi deficiency atau area yang tidak sesuai (noncompliance). Atas dasar ini, perusahaan melakukan inisiatif untuk menghilangkan kesenjangan yang ada. 2.3.3 Perencanaan Kebijakan Lingkungan Perencanaan yang baik memerlukan pengetahuan interaksi antara perusahaan dengan lingkungan dan publik. Organisasi perlu memahami peraturan perundang-undangan yang berlaku dan kewajiban yang ada di dalamnya. Program 24 sebaiknya menetapkan target dan sasaran lingkungan secara spesifik dan jelas, menetapkan cara dan sumberdaya yang diperlukan untuk mencapai hasil serta waktu pelaksanaannya. Elemen penting dalam perencanaan sistem manajemen lingkungan yaitu identifikasi aspek lingkungan, evaluasi resultansi dampak lingkungan, pertimbangan persyaratan perundang-undangan, penetapan sasaran dan target, serta program lingkungan. Aspek lingkungan merupakan unsur kegiatan atau produk atau jasa organisasi yang dapat berinteraksi dengan lingkungan. Dampak lingkungan adalah setiap perubahan pada lingkungan, baik yang merugikan atau bermanfaat, keseluruhannya ataupun sebagian disebabkan oleh aspek lingkungan organisasi. Identifikasi aspek lingkungan dalam lingkup sistem manajemen lingkungan dilakukan pada aspek yang dapat dikendalikan dan yang dapat dipengaruhi (ISO 2004, BSN 2005). Kriteria untuk mengevaluasi aspek lingkungan antara lain isu lingkungan dan peraturan perundang-undangan, tingkat pengendalian organisasi terhadap aspek lingkungan; sifat sumberdaya alam yang digunakan (terbaharui atau tidak); ketersediaan aturan dan praktek organisasi, dan pandangan para pihak yang berkepentingan (ISO 2004, Gilbert 1998). Persyaratan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan aspek lingkungan organisasi perlu diidentifikasi dan ditentukan bagaimana persyaratan tersebut diterapkan. Persyaratan peraturan perundang-undangan dapat mencakup skala nasional dan internasional; atau peraturan pemerintahan daerah (Ritchie 1997). Tujuan dan sasaran lingkungan perlu mempertimbangkan persyaratan perundang-undangan, aspek lingkungan penting, pilihan teknologi, keuangan, persyaratan operasional dan bisnis; serta pandangan pihak yang berkepentingan. Program manajemen lingkungan merupakan peta lintasan (roadmap) perusahaan yang akan diikuti menuju pencapaian tujuan dan target lingkungan. Program memuat memuat langkah aksi, jadwal, sumberdaya, tanggungjawab yang diperlukan, dan jangka waktu untuk mencapai tujuan, sasaran dan kebijakan lingkungan. 25 2.3.4 Implementasi Kebijakan Lingkungan Penerapan sistem manajemen lingkungan (SML) akan berhasil bila manajemen dan pegawai memahami program keseluruhan, fungsi dan tanggungjawabnya, menggunakan instruksi kerja, merekam dan mengendalikan dokumen. Perusahaan harus mengembangkan kemampuan dan mekanisme yang diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan, dan sasaran lingkungan (Ritchie 1997; ISO 2004). Terdapat tujuh elemen dalam prinsip ini, yaitu sumber daya, peran, tanggung jawab dan kewenangan; kompetensi, pelatihan dan kesadaran; komunikasi; dokumentasi; pengendalian dokumen; pengendalian dokumen, pengendalian operasional, dan kesiagaan dan tanggap darurat (Ritchie 1997; ISO 2004). Sumber daya, peran, tanggung jawab untuk menerapkan, memelihara dan meningkatkan sistem manajemen lingkungan perlu dipastikan. Sumberdaya termasuk sumberdaya manusia dan keterampilan khusus, sarana operasional, teknologi dan sumberdaya keuangan. Kebutuhan sumberdaya diidentifikasi pada setiap fungsi dan tingkat organisasi, serta memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan dengan pencapaian sasaran kinerja lingkungan. Organisasi harus memastikan setiap orang yang bertugas untuk atau atas nama organisasi yang pekerjaan berpotensi menyebabkan dampak lingkungan penting, mempunyai kompetensi (pendidikan, pelatihan atau pengalaman) yang memadai. Organisasi perlu memberikan pelatihan mengenai aspek lingkungan dan sistem manajemen lingkungan termasuk value dan kebijakan lingkungan organisasi. Pelatihan sangat menentukan keberhasilan dan efektifitas penerapan SML. Identifikasi kebutuhan pelatihan perlu dilakukan untuk mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan dan kompetensi karyawan yang diperlukan untuk membangun SML (ISO 2004, BSN 2005). Aspek lingkungan dan SML perlu dikomunikasikan dengan pihak internal maupun dengan pihak eksternal guna menangapi kepentingan mereka terkait dengan aspek dan dampak lingkungan operasi organisasi. Komunikasi juga perlu dilakukan dengan pihak otoritas publik mengenai perencanaan situasi darurat dan isu lainnya yang sesuai. Komunikasi eksternal perlu mempertimbangkan 26 pandangan dan kepentingan semua pihak yang berkepentingan (ISO 2004, BSN 2005). Dokumentasi SML mencakup kebijakan, tujuan dan sasaran lingkungan. Dokumentasi perlu dikendalikan, termasuk kemutakhiran dan aksesibilitas dokumen tersebut. Penggunaan dokumen yang salah atau sudah tidak berlaku dapat membawa ketidakefektifan penerapan SML. Pengendalian operasional perlu ditetapkan pada operasi yang terkait dengan aspek lingkungan penting yang telah teridentifikasi. Evaluasi perlu dilakukan untuk memastikan bahwa operasi berjalan dalam mengendalikan atau mengurangi dampak negatif lingkungan (ISO 2004, BSN 2005). 2.3.5 Pengukuran dan Evalusi Kegiatan pengukuran dan pemeriksaan perlu dilakukan untuk mengetahui adanya defisiensi dan selanjutnya organisasi mengambil langkah untuk melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan yang dibutuhkan sehingga defisiensi (ketidaksesuian) tidak terulang kembali. Kegiatan ini merupakan bagian dari perbaikan berkelanjutan yang disyaratkan standar. Dalam melakukan kegiatan pemeriksaan, organisasi perlu memastikan peralatan pemantauan dan peralatan pengukuran guna memperoleh data yang benar. Begitupun halnya dengan komitmen manajemen untuk menataati persyaratan peraturan perundang-undangan yang berlaku perlu dievaluasi penaatannya. Bila teridentifikasi adanya ketidaktaatan atau defisiensi maka organisasi harus melaksanakan tindakan perbaikan dan tindakan pencegahan. 2.3.6 Audit dan Tinjauan Manajemen Audit internal SML harus dilakukan organisasi untuk mengetahui tingkat efektifiktas penerapan SML pada jangka waktu yang direncanakan. Hasil audit diinformasikan kepada manajemen. Manajemen puncak harus meninjau SML pada jangka waktu tertentu, untuk memelihara kesesuaian, kecukupan dan efektivitas sistem yang berkelanjutan. Tinjauan manajemen harus mengkaji peluang perbaikan dan keperluan untuk melakukan perubahan sistem manajemen lingkungan, kebijakan lingkungan, tujuan dan sasaran lingkungan. Keluaran 27 tinjauan manajemen harus memuat setiap keputusan dan tindakan yang diambil untuk menindaklanjuti perubahan kebijakan, tujuan dan sasaran lingkungan serta unsur lain sistem manajemen lingkungan, sesuai dengan komitmen perbaikan berkelanjutan. 2.3.7 Komunikasi dan Pelaporan Lingkungan Peran komunikasi lingkungan sangat penting, baik di lingkungan internal maupun eksternal organisasi. Peran ini bertujuan menyampaikan maksud dan kepentingan manajemen puncak mengenai keputusan yang dibuat. Komunikasi dan pelaporan merupakan elemen kunci dalam praktek sistem manajemen lingkungan dan menjadi bukti sah bahwa perusahaan beroperasi secara berrtanggung jawab (Cheremisinoff 2006). Persyaratan ISO 14001 pada klausul 4.4.3 butir b mewajibkan perusahaan untuk melakukan komunikasi kepada stakeholder yang terkait guna menyampaikan aspek lingkungan dan sistem manajemen lingkungan mereka. Pemangku kepentingan sebagai kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh suatu pencapaian tujuan tertentu. Stakeholder sebaiknya mencakup shareholder, legislator dan regulator, masayarakat setempat, pemasok, konsumen, kelompok lingkungan termasuk LSM, dan analis keuangan (Bryson 2003).. Komunikasi dengan stakeholder sebaiknya dilakukan secara reguler dan memiliki tujuan yang jelas, sehingga dapat diperoleh kesepahaman untuk melakukan tindakan bersama. Komunikasi harus menjadi strategi yang tidak sekedar menyampaikan laporan. Strategi komunikasi perlu memperhatikan kepentingan stakeholder, mempercepat kerjasama, tercipta risk-sharing, dan memberikan penyelesaian yang saling menguntungkan (Cheremisinoff 2006). 2.4 Sumberdaya Air dan Pemanfaatannya Air merupakan sumberdaya alam yang sangat vital bagi semua makhluk di muka bumi ini. Manusia tidak dapat bertahan hidup bila tidak ada air. Air memiliki multi fungsi baik untuk kegiatan ekonomi, lingkungan maupun sosial. 28 Sumberdaya air didefinisikan sebagai air, sumber air, dan daya air yang terkandung didalamnya. Air adalah semua air yang terdapat pada, diatas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan dan air laut yanga berada di darat. Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah. Daya air adalah potensi yang terkandung dalam air pada sumber air yang dapat memberikan manfaat atau kerugian bagi kehidupan manusia dan lingkungannya (UU No.7/2004). Air tergolong sebagai barang publik yang tidak dimiliki oleh siapapun, namun kepemilikan bersama (global commons atau common services). Implikasi yang dengan jelas terlihat adalah adanya berbagai kepentingan yang berbeda dalam memanfaatakan sumberdaya air. Pemanfaatan sumberdaya air yang tidak menghiraukan pelestariannya akan membawa dampak (eksternalitas) negatif terhadap lingkungan maupun sumberdaya itu sendiri. Eksternalitas negatif atau dampak lingkungan akan muncul bila satu variabel yang dikontrol oleh suatu pihak ekonomi tertentu terganggu fungsi utilitasnya oleh pihak lainnya. Eksternalitas juga dapat diartikan sebagai dampak yang dirasakan pihak ketiga yang diakibatkan oleh suatu kegiatan transaksi kegiatan ekonomi tertentu. Bila residu melebihi kemampuan media lingkungan untuk melakukan daur ulang, maka akan menimbulkan pencemaran. Kenyataan yang ada, air sebagai unsur yang sangat vital dan seharusnya diberi nilai tinggi belum sepenuhnya dimanfaataan secara optimal (Fauzi 2004). Konferensi Internasional tentang Air dan Lingkungan, di Dublin Irlandia, tanggal 31 Januari 1992, merekomendasikan perlunya setiap instrumen pembangunan berkelanjutan dikaitkan dengan strategi pengelolaan sumberdaya air secara integral. Sumberdaya air perlu dikelola sebagai sumberdaya yang terbatas dan vulnarable, sebagai sumberdaya alam dan ekonomi. Statemen Dublin tentang Air dan Pembangunan Berkelanjutan (Dublin Statement on Water and Sustainable Development), atau dikenal dengan Dublin Principles”, mengakui meningkatnya kelangkaan air sebagai akibat adanya perbedaan kepentingan dalam penggunaan air dan penggunaan air yang berlebih. Air juga sebagai sumberdaya alam yang 29 terbatas dan memiliki nilai ekonomi. Oleh karena itu diperlukan tindakan nyata untuk mengurangi kelangkaan air pada tingkat lokal, regional dan internasional. Empat prinsip yang dihasilkan dalam konferensi tersebut sebagai landasan dalam pengelolaan air yaitu : Prinsip 1: Air bersih (fresh water) merupakan sumberdaya yang terbatas dan vulnerable, dan penting untuk kelangsungan hidup, pembangunan dan lingkungan. Prinsip 1 memiliki makna air untuk kelangsungan hidup, maka sumberdaya air perlu dikelola secara efektif melalui pendekatan holistik yang mengkaitkan pembangunan sosial dan ekonomi dengan perlindungan ekosistem alam. Pengelolaan sumberdaya air yang efektif berkaitan dengan lahan dan air disepanjang area tangkapan atau air tanah (groundwater aquifer). Prinsip 2: Pengembangan dan pengelolaan air sebaiknya didasarkan pada pendekatan partisipatori, yang melibatkan pengguna, perencana, dan pengambil keputusan di semua tingkatan. Pendekatan partisipatori ditunjukkan untuk meningkatkan kesadaran (awarness) akan pentingnya air bagi pengambil keputusan dan masyarakat umum. Prinsip 2 memiliki arti bahwa keputusan pengembangan dan pengelolaan air berasal dari bottom up yang dilakukan melalui mekanisme konsultasi publik dan melibatkan semua stakeholder dalam perencanaan dan implementasinya. Prinsip 3: Peran Perempuan sebagai bagian sentral dalam pengaturan, pengelolaan dan perlindungan air. Peran perempuan sebagai penyedia dan pengguna dan pelindung air lingkungan hidup jarang dilibatkan dalam pengaturan dalam kelembagaan, pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air. Akseptasi dan implementasi prinsip ini mensyaratkan kebijakan yang memperhatikan kebutuhan khusus perempuan, mengikutsertakan dan memberdayakan perempuan dalam program sumberdaya air di semua tingkatan, termasuk pada tingkat pengambilan keputusan dan implementasinya, sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Prinsip 4: Air memiliki nilai ekonomi bagi semua penggunanya dan sebaiknya diakui sebagai barang ekonomi. 30 Prinsip ini mengakui pentingnya hak dasar semua makhluk hidup untuk memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi dengan harga yang tidak ternilai (affordable price). Kegagalan masa lalu yang tidak mengakui adanya nilai ekonomi air telah menyebabkan penggunaan sumberdaya air diiringi dengan kerusakan lingkungan dan menghadirkan limbah. Konservasi dan perlindungan sumberdaya air dikelola sebagai barang ekonomi yang perlu dikelola secara efisien. Prinsip-prinsip diatas juga telah tercermin dalam UU No. 7 Tahun 2004. Menurut Sanim (2011), UU No 7/2004 secara eksplisit merupakan kontrak sosial antara pemerintah dan warga negaranya, serta menjamin akses setiap orang ke sumber air untuk mendapatkan air. Sumberdaya air mempunyai fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi yang diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan dan peruntukan sumberdaya air lebih diprioritaskan untuk kepentingan umum dari pada kepentingan individu. Fungsi lingkungan hidup menempatkan sumberdaya sebagai bagian dari ekosistem, dan tempat kelangsungan hidup flora dan fauna. Sedangkan fungsi ekonomi lebih menekankan pada pendayagunaan air untuk menunjang kehidupan usaha. Air memiliki nilai intrinsik yang tinggi nilainya dan pemanfaatannya memiliki nilai tambah karena dari ekstraksi sampai pemanfaatan langsung untuk konsumsi memerlukan biaya yang cukup substansial (Fauzi 2004). Dua pandangan mengenai pemanfaatan sumberdaya air yaitu pandangan anthopocentrisme dan pandangan ecosentrisme. Pandangan anthopocentrisme mengedepankan kepentingan manusia di atas kepentingan elemen alam lainnya. Kebutuhan konsumsi merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku pemanfaat sumberdaya alam dan menjadi cenderung destruktif. Pada paham ini, manusia sebagai konsumen sekaligus produsen. Disisi lain, pasar sebagai satu satunya lembaga pengatur alokasi sumberdaya alam. Pandangan ecosentrisme melihat faktor ekonomi setara dengan ekologi. Setiap ekosistem (manusia, hewan, tumbuhan) memiliki hak yang sama dalam memperjuangkan kepentingannya. Benda-benda yang ada di alam memiliki intrincsic value yang tidak dapat dinilai secara konvensional oleh piranti 31 ekonomi. Pemanfaatan sumberdaya air harus diperlakukan secara ramah lingkungan, serta derajat manusia ditentukan oleh derajat “persahabatan” manusia dengan alam termasuk dalam hal konsumsi, produksi dan distribusi. Dalam hal ini kelembagaan politik, kelembagaan masyarakat dan pasar juga penting (Sanim 2011). Pemanfaatan sumberdaya alam memberi eksternalitas positif maupun negatif bagi manusia, oleh karena itu penting untuk mengetahui seberapa besar sumberdaya dapat diekstraksi sehingga memberi manfaat yang sebesar-besarnya kepada masyarakat. Dari sudut ekonomi, efisiensi atas alokasi sumberdaya dilakukan dengan efisiensi teknis dan efisiensi alokasi. Efisiensi teknis mensyaratkan penggunaan input dan biaya seminimal mungkin untuk menghasilkan output yang besar. Efisiensi alokasi menyatakan bahwa input yang digunakan untuk menghasilkan barang yang paling menguntungkan konsumen. Bila transaksi dan alokasi sumberdaya tidak memperhitungkan dampak lingkungan yang ditimbulkan, maka alokasi dianggap tidak efisien. Menurut UU No. 7 Tahun 2004 bahwa segala bentuk pemanfaatan air perlu dibarengi dengan perlindungan terhadap sumberdaya air. Konservasi sumberdaya air ditujukan untuk menjaga kelangsungan dan keberadaan daya dukung, daya tampung, dan daya fungsi sumberdaya air. Konservasi sumberdaya air harus dilakukan melalui kegiatan perlindungan dan pelestarian sumberdaya air, pengawetan air, pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air, yang mengacu pada pola pengelolaan sumberdaya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. Dalam pemanfaatan sumber air sungai, keseimbangan ekosistem antara wilayah hulu dan hilir sebagai neraca lingkungan hidup dalam aktivitas ekonomi dan pelestarian lingkungan perlu mendapat perhatian yang sejajar dan selaras dari seluruh stakeholder yang terkait. Untuk tetap mempertahankan multifungsi sumberdaya air, maka pemanfaatan sumber daya air perlu diikuti dengan cara terbaik termasuk manajemen lingkungan (Sutopo 2011). Kegiatan pembangkitan listrik tenaga air memerlukan ketersediaan sumberdaya air yang memadai dimana sumber air berada, sehingga operasional pembangkit layak dalam jangka panjang. Ketersediaan air sungai yang masuk dan 32 keluar dari aliran sungai sangat mempengaruhi kontinuitas produksi listrik yang dihasilkannya. Ketersediaan air yang dibutuhkan oleh PLTA harus ditinjau dari aspek kuantitas maupun kualitas air. Volume air yang terbatas akan mengurangi jumlah produksi listrik yang seharusnya dapat diproduksi oleh PLTA. Sementara kualitas air yang buruk akan mempengaruhi kemampuan PLTA untuk memproduksi listrik, karena adanya dampak (eksternalitas) negatif yang diterima oleh PLTA akibat menurunnya kualitas air tersebut. Peralatan pembangkit (turbin, pemutar poros, radiator dan sistem pendingin) akan terkorosi dengan cepat dan menggangu operasional pembangkit (Sutopo 2011). Pada sisi lain, pemanfaatan air sungai oleh banyak pihak (industri, rumah tangga dan pertanian) membawa dampak terhadap kualitas air. Umumnya keluaran air yang berasal dari lokasi kegiatan tersebut langsung masuk ke dalam daerah aliran sungai tanpa adanya suatu penyangga, baik berupa pengolahan limbah rumah tangga, industri maupun pertanian. Jumlah keseimbangan bahan juga berkontribusi pada tingkat polusi yang akan ditimbulkan oleh kegiatan tersebut (Tjokrokusumo et al. 2000). Kualitas air suatu perairan pada prinsipnya merupakan pencerminan kualitas lingkungan. Air merupakan medium bagi hidupnya jasad perairan. Oleh karena itu kualitas air ini akan mempengaruhi dan menentukan kemampuan hidup jasad perairan tersebut. Kelayakan suatu perairan sebagai lingkungan hidup dipengaruhi oleh sifat fisika kimia perairan tersebut (Krismono et al. 1987; Kartamihardja et al. 1987). Beberapa parameter kimia dan fisika yang mempengaruhi kualitas air antara lain suhu, padatan, derajat keasaman, alkalinitas, oksigen terlarut, besi, nitrogen dan phosfat. Suhu berfungsi memperlihatkan aktifitas kimiawi dan biologis (Ginting 2008). Perubahan suhu di suatu perairan yang mengalir sebaiknya tidak lebih dari 2,80C dan untuk perairan yang tergenang tidak lebih dari 1,70C dari suhu normal (NTAC 1968, Pescod 1973 dalam Krismono et al. 1987). Suhu yang dikeluarkan suatu limbah cair harus merupakan suhu alami (Ginting 2008). Padatan secara umum diklasifikasi ke dalam dua golongan besar yaitu padatan terlarut dan padatan tersuspensi. Padatan tersuspensi terdiri dari partikel koloid dan partikel biasa. Jenis padatan terlarut maupun tersuspensi dapat bersifat 33 organis maupun anorganis tergantung dari mana sumber limbah. Zat padat tersuspensi yang mengandung zat organik umumnya terdiri dari protein dan bakteri (Ginting 2008). Derajat keasaman (pH) air merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat berhubungan dengan susunan spesies dan proses hidupnya. Toleransi pH sangat bervariasi dan dipengaruhi banyak faktor antara lain suhu, oksigen terlarut, alkalinitas dan adanya berbagai anion dan kation. Air yang memiliki pH rendah membuat air menjadi korosif terhadap bahan-bahan kontruksi besi yang kontak dengan air. Sedangkan alkalinitas air ditentukan senyawa karbonat, garam hidroksida, kalsium, magnesium dan natrium dalam air. Tingginya zat-zat ini mengakibatkan air sulit berbuih. Penggunaan air untuk pipa pendingin selalu diupayakan dengan kesadahan rendah untuk mencegah terjadinya kerak (Ginting 2008), Biological oxigen demand (BOD) merupakan kebutuhan oksigen bagi sejumlah bakteri untuk menguraikan (mengoksidasi) semua zat organik yang terlarut maupun sebagai tersuspensi dalam air menjadi bahan organik yang lebih sederhana. Nilai BOD merupakan jumlah bahan organik yang dikonsumsi bakteri. Aktifnya bakteri menguraikan bahan organik bersamaan dengan habisnya oksigen. Hal ini berimplikasi dengan berkurangnya oksigen yang dibutuhkan oleh biota lain dan lebih lanjut biota tersebut tidak dapat hidup. Chemical oxigen demand (COD) merupakan sejumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis dan anorganis. Angka COD menunjukkan ukuran bagi pencemaran air oleh zat anorganik. Oksigen terlarut berlawanan dengan keadaan BOD. Semakin tinggi BOD semakin rendah oksigen terlarut. Keadaan oksigen terlarut dalam air dapat menunjukkan tanda-tanda kehidupan ikan dan biota dalam perairan. Kemampuan air untuk mengadakan pemulihan secara alami banyak tergantung pada tersedianya oksigen terlarut. Angka oksigen terlarut yang tinggi menunjukkan keadaan air yang semakin baik. Adanya arus turbulensi pada sungai membuat kandungan oksigen dalam air semakin tinggi. Lumut dan ganggang menjadi sumber oksigen karena proses fotosentesis melalui bantuan sinar matahari (Ginting 2008) 34 Besi umumnya terdapat di sungai dalam jumlah yang sangat kecil. Pada sungai yang tidak tercemar, besi berada dalam bentuk feri karena oksigen cukup tersedia. Kandungan besi di perairan bagi kehidupan jasad perairan tidak boleh lebih dari 0,02 ppm (Krismono et al. 1987). Besi yang teroksidasi dalam air berwarna kecoklatan dan tidak larut mengakibatkan penggunaan air menjadi terbatas. Umumnya dalam buangan limbah industri kandungan besi berasal dari korosi pipa air mineral logam sebagai hasil reaksi elektro kimia yang terjadi pada perubahan air yang mengandung padatan larut yang mempengaruhi sifat menghantarkan listrik dan hal ini akan mempercepat terjadinya korosi (Ginting 2008). Sementara nitrogen hampir seluruhnya berasal dari atmosfir dan sebagian kecil berasal dari metabolisme perairan. Nitrogen salah satu unsur penting bagi pertumbuhan tanaman dan berperan dalam membentuk dan memelihara protein, yang merupakan bagian dari jasad-jasad hidup. Sumber senyawa nitrogen di waduk juga berasal dari pemasukan air yang membawa kandungan nitrogen yang berasal dari limbah pertanian, rumah tangga, dan industri. Dalam keadaan aerob dengan bantuan bakteri, ammonia diubah menjadi nitrit dan nitrat, dimana nitrat dapat digunakan oleh tumbuhan hijau terutama algae serta produsen primer lainnya ( Krimono et al. 1987; Kartamihardja et al. 1987). Kandungan phosfat yang tinggi menyebabkan suburnya algae dan organisme lainnya atau dikenal dengan eutropikasi. Pengukuran kandungan phosfat dalam air limbah berfungsi untuk mencegah tingginya kadar phosfat yang dapat menyebabkan tumbuhan dalam air berkurang jenisnya yang akhirnya tidak merangsang pertumbuhannya. Kesuburan tanaman akan menghalangi kelancaran arus air. Ketersediaan sumber daya air sangat dipengaruhi oleh kegiatan pemanfaatan lahan di daerah hulu atau kawasan greenbelt. Penggundulan hutan berpengaruh terhadap infiltrasi dan aliran permukaan. Tanpa adanya tetumbuhan di atas permukaan tanah, air akan mengalir lebih cepat secara signifikan. Aliran dari lahan gundul umumnya lebih banyak membawa sedimen. Erosi yang terjadi dengan adanya aliran permukaan yang terbawa oleh sungai akhirnya masuk ke 35 dalam waduk dan terendapkan pada dasar waduk, lebih lanjut akan mempengaruhi debit air yang masuk (Indarto 2010). Kerusakan lingkungan di wilayah hulu merupakan keuntungan ekonomi yang hilang karena adanya biaya yang ditimbulkan untuk perbaikan keadaan semula. Sebaliknya perbaikan kualitas lingkungan merupakan keuntungan ekonomi karena terhindarnya biaya yang ditimbulkan oleh kerusakan lingkungan. Perkiraan nilai kerusakan lingkungan memerlukan penilaian moneter untuk menggambarkan nilai sosial dari perbaikan kondisi lingkungan atau biaya sosial dari kerusakan lingkugan (Pearce et al. 1964 dalam Sutopo 2011). Konservasi sumberdaya air meliputi kegiatan perlindungan dan pelestarian air, pengawetan air serta pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air. Dalam pelaksanaan konservasi sumberdaya air terdapat tiga hal penting yang perlu dipahami yaitu: pertama, kelangsungan sumberdaya air yang ditandai dengan terjaganya keberlanjutan keberadaan air dan sumber air termasuk potensi yang terkandung di dalamnya. Kedua, daya dukung sumberdaya air adalah untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Ketiga, daya tampung air yang berkaitan dengan kemampuan air dan sumberdaya air untuk menyerap zat, energi dan komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya. Perlindungan dan pelestarian sumberdaya air dapat dilakukan secara vegetatif maupun sipil teknis dengan pendekatan sosial, ekonomi dan budaya. Secara vegetatif melalui penanaman pohon yang sesuai pada daerah tangkapan air/sempadan air. Sedangkan sipil teknis dilakukan dengan rekayasa teknik seperti pembangunan penahan sedimen, pembuatan teras dan penguatan tebing sumber air (Sanim 2011). Perlindungan dan pelestarian sumberdaya air dengan pendekatan vegetatif ini sangat terkait dengan upaya pencegahan terjadinya aliran permukaan yang besar. Permukaan tanah yang gundul akan menyebabkan air mengalir dengan cepat dan menurunkan kemampuan infiltrasi air hujan ke dalam tanah. Jika air tidak dapat terinfiltrasi ke dalam tanah akan mengurangi penyimpanan dan memperbesar aliran permukaan. Aliran permukaan yang besar akan membawa 36 partikel tanah menuju bada-badan perairan seperti sungai dan waduk (Indarto 2010). 2.4.1 Jasa Lingkungan Sumberdaya Air Sumberdaya air memiliki multi fungsi dan manfaat yang sangat besar baik dari sisi ekologi, ekonomi maupun sosial, secara kuantitatif maupun kualitatif. Semua ini dapat terus berlangsung bila sumberdaya air terpelihara sesuai fungsinya. Namun, kebutuhan komersial yang lebih tinggi menyebabkan pemanfaatan sumberdaya air cenderung merusak ekosistem yang ada. Saat ini, penilaian ekosistem jasa sumberdaya air masih menekankan pada keuntungan finansial dan mengabaikan nilai intrinsik ekosistem sumberdaya air dalam mendukung kehidupan jangka panjang. Ketersediaan air yang berfluktuasi, permintaan air yang terus meningkat dan kelangkaan air bersih menyebabkan informasi mengenai nilai air sangat dibutuhkan bagi pengambil keputusan guna mengambil langkah pengembangan, konservasi maupun alokasi sumberdaya air. Penilaian terhadap nilai sumberdaya air juga diperlukan untuk meningkatkan kesadaran terhadap kebutuhan dan manfaat konservasi sumberdaya air dan hubungannya dengan pembangunam ekonomi. Pemberian nilai kuantitatif terhadap barang atau jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan baik atas dasar nilai pasar maupun nilai pasar disebut sebagai valuasi ekonomi. Penilaian ekonomi sumberdaya merupakan suatu alat ekonomi yang menggunakan teknik penilaian tertentu untuk mengestimasi nilai uang dari barang dan jasa yang diberikan oleh sumber daya alam dan lingkungan. Untuk mengestimasi nilai sumber daya alam dan lingkungan, manfaat dan biaya, digunakan satuan moneter sebagai patokan penghitungan yang dianggap sesuai. Pengukuran terhadap keuntungan dan kerugian bertujuan untuk memperlihatkan bagaimana pentingnya nilai sumberdaya alam dan lingkungan. Meskipun ada keraguan terhadap pemberian nilai uang untuk mengukur nilai instrinsik sumberdaya air misalnya, namun pilihan harus diambil dalam konteks kelangkaan sumber daya tersebut. Oleh karena itu, satuan moneter sebagai patokan pengukuran merupakan ukuran kepuasan untuk suatu tindakan. 37 Perhitungan moneter terhadap nilai yang diberikan oleh sumberdaya alam diharapkan dapat meningkatkan kepedulian yang kuat terhadap sumberdaya alam dan dapat dijadikan dukungan terhadap keberpihakan terhadap kualitas lingkungan (Rianse 2010). Analisis ekonomi terhadap dampak lingkungan dari kegiatan dan kebijakan dikembangkan oleh Pigou (1920) dan Hicks (1939). Mereka menyatakan bahwa kebijakan dan kegiatan sebaiknya didasarkan pada perubahan yang dihasilkan dalam kesejahteraan sosial yang merupakan jumlah dari kesejahteraan individu. Kesejahteraan individu diukur dengan keinginan pembayar (WTP) seseorang terhadap perubahan yang dihasilkan dari kegiatan atau kebijakan tersebut. Nilai ekonomi total (TEV) sumberdaya lingkungan dapat dihitung sebagai jumlah dari empat komponen utama yaitu: nilai guna (use value), nilai guna tidak langsung (indirect use value), nilai pilihan (option value) dan nilai bukan guna (non use value). • Use value mengacu pada manfaat yang diterima orang dari penggunaan sumberdaya lingkungan secara langsung. Use value adalah nilai yang diperoleh dari pemanfaatan aktual lingkungan pada aliran produksi dan konsumsi. Use value dikelompokkan ke dalam Direct Use value dan Indirect use value.  Direct use value pada sumberdaya air di bagi menjadi marketed output dan unpriced benefits. Marketed output merupakan output yang langsung dapat dikonsumsi misalnya hasil panen, ikan, energi terbarukan, industri, kayu. Sedangkan unpriced benefit seperti rekreasi, lansekap, pemandangan yang indah (estetika). • Indirect use value mengacu pada manfaat yang berasal dari jasa yang pengguna peroleh secara tidak langsung dan seringkali dalam waktu yang lama. Indirect use value ditentukan oleh manfaat yang berasal dari jasa-jasa lingkungan dalam mendukung aliran produksi dan konsumsi (Munasinghe 1993). Misalnya, mengendalikan banjir, fungsi wetland sebagai penyaring polusi, penyimpan karbon dan keragaman ekologi. Indirect use value sering juga disebut ecological function (Kamer; 2005)  Option value mengacu pada keinginan membayar para pengguna terhadap perlindungan lingkungan yang akan digunakan di masa depan. Sebagai contoh 38 manfaat perlindungan waduk karena untuk keperluan sumber air minum penduduk setempat di masa depan. Pernyataan preferensi (kesediaan membayar) untuk konservasi sistem lingkungan atau komponen sistem berhadapan dengan beberapa kemungkinan pemanfaatan oleh individu di hari kemudian. Option value oleh beberapa pakar ekonomi lingkungan juga dimasukkan ke dalam non-use value. • Non-use value mencerminkan apa yang orang akan bayar untuk melindungi sumberdaya yang mereka tidak akan pernah menggunakannya. Non-use value dikaitkan dengan nilai intrinsik yang dimiliki sumberdaya yaitu terkait dengan nilai warisan (bequest value) dan nilai keberadaan (existence value). Nilai intrinsik berhubungan dengan kesediaan orang untuk membayar positif, meskipun orang tersebut tidak bermaksud dan tidak berkeinginan untuk memanfaatkannya. Nilai warisan berhubungan dengan kesediaan membayar untuk melindungi manfaat lingkungan bagi generasi mendatang. Nilai ini bukanlah nilai penggunaan untuk individu penilai, tetapi merupakan potensi penggunaan atau bukan penggunaan di masa datang (Turner et al. 1994). Nilai keberadaan berkenaan dengan adanya kepuasan atas keberadaan sumber daya, meskipun penilai tidak ada keinginan untuk memanfaatkannya. Dalam konteks sumberdaya air ini, beberapa orang mungkin memiliki keinginan untuk menjaga lingkungan agar spesies akuatik yang dilindungi atau langka dapat hidup bebas di air sungai yang mengalir, dan tidak berkaitan dengan penggunaan langsung maupun tidak langsung, saat ini atau di masa depan. Secara matematis Total Economic Value (TEV) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut: TEV = UV +NUV =(DUV+IUV+OV+(XV+BV) Keterangan : TEV = total economic value (nilai ekonomi total); UV = use value (nilai guna); NUV = non use value (nilai bukan guna); DUV = direct use value (nilai guna langsung); IUV = indirect use value (nilai guna tidak langsung); OV = option value (nilai pilihan); BV = bequest value (nilai warisan); XV = existence value (nilai penggunaan pasif/nilai keberadaan); 39 Nilai ekonomi total ekosistem air yang dihasilkan, oleh Kamer (2005) digambarkan sebagaimana terlihat pada Gambar 5. Total Economic Value Use Value Direct Use Value Marketed outputs - Hasil panen - Ikan - Kayu - Energi terbaruka n - Industri Unpriced benefits - Rekreasi - Landscape - Estetika Non-use Value Ecological function value Bequest Value Option Value Existence Value Benefits Benefits Benefits Benefits - Pengendali banjir - Penyimpan karbon - Penyimpan air - Asimilasi limbah - Keragaman ekologi - Obatobatan masa depan - Kolam plasma potensial - Pilihan rekreasi Manafaat yang tersisa untuk generasi masa depan Nilai dari pengetahuan untuk mempertahankan keberadaan didasarkan pada moral dan keyakinan Gambar 5 Nilai ekonomi total ekosistem air (Kamer 2005). 2.4.2 Metode Valuasi Ekonomi Para ekonom lingkungan mengembangkan seperangkat metode untuk mengestimasi nilai ekonomi atas jasa lingkungan yang diberikan oleh ekosistem air yang tidak memiliki “harga” dan tidak diperdagangkan. Dua kategori utama yang digunakan yaitu : metode preferensi tertentu (stated preference methods) dan metode preferensi terbuka (revealed preference methods). Metode preferensi tertentu, nilai ekonomi diperoleh dari nilai survei yang diberikan oleh individu terhadap jasa ekosistem non pasar. Metode preferensi terbuka mengacu pada hasil observasi terhadap beberapa pilihan yang individu menetapkan perkiraaan (dugaan) nilai atas sumberdaya yang mereka gunakan. Namun demikian, disadari 40 tidak ada metode yang tepat untuk mengestimasi nilai ekonomi jasa lingkungan untuk tuk setiap situasi valuasi (Rianse 2010). Adanya berbagai kepentingan dari sudut pandang yang berlainan dari sisi akademik, pemerintah, non pemerintah, juga mempengaruhi valuasi ekonomi lingkungan ini, mulai dari perdebatan isu metodologi, pilihan metode, desain survei dan pilihan model ekonometrik hingga perhatian etika (Foster Foster 1997). Berbagai metode yang tercakup dalam kedua pendekatan ini disajikan pada Gambar 6. Gambar 6 Metode valuasi aluasi lingkungan (Sumber: Rianse 2010) 2.4.3 Metode Valuasi aluasi Kontingensi (Contingent Valuation Method) Contingent valuation method (CVM) merupakan metode valuasi sumberdaya alam (SDA SDA) dan lingkungan dengan cara menanyakan yakan secara langsung kepada konsumen tentang nilai manfaat SDA dan lingkungan yang mereka rasakan. Teknik CVM dilakukan dengan survei melalui wawancara langsung dengan ngan responden yang memanfaatkan SDA lingkungan yang dimaksud. dim Metode ini diharapkan dapat menentukan preferensi responden terhadap barang SDA dengan mengemukakan gemukakan kesanggupan untuk membayar (Willingness illingness to pay WTP) yang dinyatakan dalam bentuk nilai uang. Teknik penilaian manfaat, didasarkan pada kesediaan konsumen membayar perbaikan atau kesediaan 41 menerima kompensasi dengan adanya kemunduran kualitas lingkungan dalam sistem alami serta kualitas lingkungan sekitar (Hufschmidt et al. 1987). Kesediaan membayar atau kesediaan menerima merefleksikan preferensi individu., kesediaan membayar dan kesediaan menerima adalah ”bahan mentah” dalam penilaian ekonomi. Pearce dan Moran (1994) menyatakan kesediaan membayar dari rumah tangga ke–i untuk perubahan dari kondisi lingkungan awal (Q0) menjadi kondisi lingkungan yang lebih baik (Q1) dapat disajikan dalam bentuk fungsi, sebagai berikut: WTP i= f(Q1 – Q0, P0wn,I, Psub,I, Si,) Keterangan : WTPi Pown Psub,i, Si, = = = = kesediaan membayar dari rumah tangga ke i harga dari penggunaan sumber daya lingkungan harga subtitusi untuk penggunaan sumber daya lingkungan karakteristik social ekonomi rumah tangga ke i 2.4.4. Metode Biaya Perjalanan (Travel Cost Method) Pendekatan biaya perjalanan merupakan suatu cara untuk menilai barang yang tidak memiliki harga. Rekreasi di luar merupakan contoh yang dapat digunakan untuk barang-barang yang tidak memiliki harga. Kebanyakan pendekatan ini menggunakan contoh pemanfaatan fasilitas rekreasi diluar yang dianggap sebagai barang lingkungan yang dipertimbangkan. Karena para pemakai tempat rekreasi ini sering tidak membayar atau tidak membayar tarif masuk nominal, pendapatan yang dikumpulkan untuk membayar pasilitas ini bukannya merupakan indikator. Keputusan pendekatan biaya perlu diambil sehubungan dengan penyediaan sumber daya untuk melestarikan tempat yang ada atau menciptakan yang baru. Makin jauh tempat tinggal seseorang yang dapat memanfaatkan fasilitas tersebut, makin berkurang harapan pemanfaatan tempat (barang lingkungan) tersebut. Pemakai barang yang memiliki tempat tinggal yang lebih dekat dengan tempat rekreasi diharapkan lebih banyak memanfaatkan barang lingkungan, ditinjau dari faktor harga misalnya biaya perjalanan yang dikeluarkan lebih rendah dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan oleh pemakai yang jauh tempat 42 tinggalnya dari barang lingkungan tersebut. Dalam kaitannya surplus konsumen, maka para pemakai yang datang dari tempat yang terjauh dengan biaya perjalanan yang termahal dianggap memiliki surplus konsumen paling rendah (atau tidak sama sekali). Sebaliknya, yang bertempat tinggal lebih dekat dengan biaya perjalan lebih rendah akan memiliki surplus konsumen yang lebih besar. Biaya perjalanan dapat berpengaruh terhadap tingkat kunjungan dalam melakukan rekreasi, sebagai mana dituliskan persamaan berikut: Q = f(TC, X1, …Xn) Keterangan: Q = tingkat kunjungan (banyaknya pengunjung dari zona I tiap 1000 penduduk para zona i TC = biaya perjalanan X1,..Xn = variabel sosial ekonomi (penghasilan, tingkat, dan variable lain yang sesuai 2.4.5 Perhitungan Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA A. Nilai Guna Langsung (Direct Use Value) Sumberdaya Air PLTA  Nilai Potensi Benefit Listrik Potensi benefit (keuntungan) dari produksi listrik merupakan keuntungan yang diperoleh dari besarnya energi listrik yang dihasilkan dikalikan dengan harga jualnya, kemudian dikurangi komponen biaya produksinya. Potensi benefit produksi listrik bisa dihitung melalui persamaan berikut: Potensi benefit = nilai produksi – biaya produksi  Nilai Potensi Ekonomi Produksi Ikan Usaha KJA Nilai ekonomi usaha KJA di sekitar PLTA dihitung dari jumlah maksimum KJA sesuai daya dukung lingkungan pada wilayah genangan/badan air dikalikan dengan jumlah produksi ikan dan harga jualnya. Hal ini bisa dihitung dengan rumus nilai ekonomi ikan sebagai berikut : Nilai ekonomi ikan = ∑ KJA x produksi ikan per petak x harga ikan per petak 43  Nilai Ekonomi Kegiatan Ekowisata Nilai ekowisata di sekitar PLTA, terutama pada daerah genangan (waduk/bendung) dihitung dari besarnya biaya perjalanan wisata yang dikeluarkan oleh setiap pengunjung yang datang pada setiap tahunnya. Nilai ekonomi ekowisata di sekitar PLTA dapat dihitung dengan persamaan: Nilai ekowisata = rata-rata pengunjung/tahun x biaya perjalanan wisata B. Nilai Guna Tidak Langsung (Indirect Use Value) Sumberdaya Air PLTA  Nilai Ekonomi Penghijaun (Serapan Karbon) Jumlah karbon yang ditimbun dalam tanaman seperti pohon-pohonan sangat tergantung pada jenis dan sifat pohon itu sendiri. Proses penimbunannya disebut sebagai proses sekuestrasi (carbon sequestration) yaitu proses penyimpanan karbon di dalam tanaman yang sedang tumbuh. Tanaman atau pohon di hutan dianggap berfungsi sebagai tempat penimbunan atau pengendapan karbon (rosot karbon atau carbon sink). Dibandingkan dengan berbagai jenis tanaman umumnya pohon-pohon kayu merupakan penyerap karbon yang paling besar. Nilai ekonomi penyerapan karbon dapat dihitung berdasarkan besarnya kandungan karbon yang tersimpan di dalam vegetasi hutan yang dikonversikan dalam nilai finansial. Menurut Brown dan Peaece (1994) dalam Widada (2004), hutan alam primer, hutan sekunder, dan hutan terbuka memiliki kemampuan menyimpan masing-masing karbon sebesar 283 ton per hektar, 194 ton per hektar, dan 115 ton per hektar. Setiap 1 ton karbon dapat dihargai dengan nilai finansial yang berkisar antara $1 US sampai $28 US (Soemarwoto 2001). Untuk menghindari penilaian yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, maka nilai finansial yang diambil adalah nilai tengah dari yang ditetapkan oleh Soemarwoto yaitu sebesar $19 US per ton. Nilai ekonomi penyerapan karbon di sekitar PLTA, dapat dihitung dengan persamaan: Nilai ekonomi serapan karbon = luas hutan (ha) x harga karbon/ha  Nilai Cadangan Air Tanah Nilai cadangan air tanah dihitung dari volume air yang masuk ke dalam tanah, dikurangi volume yang terbuang dari permukaan. Volume input 44 dihasilkan dari luas DAS dikalikan dengan curah hujan rata-rata sebagai inputannya. Sementara volume yang terbuang dihasilkan dari penguapan rata-rata di seluruh permukaan DAS ditambah dengan air yang mengalir di permukaan (run off).  Nilai Cadangan Air Waduk Cadangan air yang tergenang di hulu waduk atau di hulu sungai merupakan pemasok air utama bagi pembangkit listrik. Jika cadangan air ini tergantikan oleh sedimentasi yang masuk ke badan air/waduk, maka akan terjadi kehilangan potensi air sebagai sumber pembangkit. Nilai ekonomi cadangan air ini sebanding dengan besarnya harga volume air yang bisa membangkitkan energi listrik. C. Nilai Bukan Guna (Non-Use Value) Sumberdaya Air PLTA  Nilai Pilihan (Option Value) Nilai pilihan waduk adalah nilai pemanfaatan sumberdaya waduk untuk pemanfaatan di masa yang akan datang. Nilai pilihan waduk dihitung sama dengan dengan nilai keberadaan di atas yaitu menggunakan metode Contingent Valuation Method (CVM) yang didasarkan pada seberapa besar seseorang atau masyarakat mau membayar (willingness to pay) untuk melindungi sumberdaya waduk. Nilai pilihan ini dihitung berdasarkan bagaimana manfaat sumberdaya alam yang terkandung dalam waduk dapat dipertahankan sehingga dapat dimanfaatkan untuk masa yang akan datang. Untuk mengumpulkan data berkaitan dengan nilai pilihan ini, disebarkan kuisioner kepada responden. Nilai pilihan waduk dihitung berdasarkan nilai manfaat (WTP) dikalikan dengan jumlah penduduk di wilayah penelitian.  Nilai Pilihan Kelestarian Waduk Nilai kelestarian waduk juga dihitung dengan metode Contingent Valuation Method (CVM). Nilai kelestarian waduk dihitung berdasarkan pentingnya dilestarikan kawasan waduk terutama untuk mempertahankan fungsinya sebagai kawasan konservasi air untuk operasional PLTA dan kebutuhan air bagi masyarakat sekitar. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuisioner terhadap responden. Informasi yang ingin digali dalam kuisioner 45 dituangkan dalam bentuk pertanyaan. Nilai kelestarian waduk dihitung berdasarkan nilai kelestarian (WTP) dikalikan dengan jumlah kepala keluarga di wilayah penelitian. D. Nilai Ekonomi Total (TEV) Nilai ekonomi total perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air di PLTA merupakan jumlah dari keseluruhan nilai guna langsung dan nilai guna tidak langsung dengan rumus seperti di bawah ini. TEV = [NPL+NPTL] NT = [{NProd.Listrik + NEP.ikan + NEEkowisata + NEPenghijaua + NC Air Tanah + NC Air Waduk } + {NPel+NPil}] Keterangan: TEV = Total Economic Value NPL = Nilai Penggunaan Langsung NPTL = Nilai Penggunaan Tak Langsung N E P.Ikan = Nilai Ekonomi Produksi Ikan Keramba Jaring Apung NE Ekowisata = Nilai Ekonomi Ekowisata NE Penghijauan = Nilai Ekonomi Pengijauan (serapan karbon) NC Air tanah = Nilai Cadangan Air Tanah NC Air Waduk = Nilai Cadangan Air Waduk NPel = Nilai Pelestarian NPil = Nilai Pilihan 2.5 Pendekatan Sistem Pendekatan sistem adalah pendekatan terpadu yang memandang suatu objek atau masalah yang kompleks dan bersifat antar disiplin sebagai bagian dari sistem. Pendekatan sistem adalah suatu pendekatan analisa organisatoris yang menggunakan ciri-ciri sistem sebagai titik tolak analisa (Marimin 2005). Sementara sistem sendiri adalah suatu gugus dari elemen yang saling berhubungan dan terorganisasi untuk mencapai suatu tujuan atau suatu gugus dari 46 tujuan-tujuan (Manetsch & Park 1979 dalam Eriyatno 1999). Pendekatan sistem memiliki dua hal umum sebagai tandanya, yaitu (1) dalam semua faktor penting yang ada dalam mendapatkan solusi yang baik untuk menyelesaikan masalah; dan (2) dibuat suatu model kuantitatif untuk membentuk keputusan secara rasional (Marimin 2005). Sistem yang diberi abstrak dan deskripsi yang disederhanakan memudahkan penggunaan model untuk menentukan usaha-usaha penelitian atau menguraikan garis besar suatu masalah untuk pengkajian yang lebih mendetail (Odum 1993). Representasi umum berbagai kaitan tersebut bisa digambarkan dalam sebuah diagram input-output. Diagram tersebut merepresentasikan input lingkungan, input terkendali dan tak terkendali, output dikehendaki dan tak dikehendaki, serta manajemen pengendalian. Sedangkan parameter rancangan sistem dipresentasikan sebagai kotak gelap (black box) pada tengah diagram, yang menunjukkan terjadinya proses transformasi input menjadi output (Gambar 7). Gambar 7 Diagram input-output model perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Analisis terhadap cara berfikir sistemik bisa dilakukan dengan analisis 47 sistem dinamik. Dalam analisis sistem dinamik, gambaran keadaan dunia nyata (real world) disimplifikasi dalam sebuah model. Model tersebut dapat disimulasikan untuk menggambarkan prilaku sistem (Kurniawan 2010). Hal ini bisa digunakan untuk mencari berbagai kombinasi yang bisa memenuhi tujuan perlindungan dan pengelolaan lingkungan PLTA berbasis sukarela. III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di PLTA yang telah memperoleh sertifikat ISO 14001 yaitu PLTA Cirata dan PLTA Saguling yang berada di Provinsi Jawa Barat, PLTA Tanggari I dan PLTA Tanggari II yang berada di Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian dilaksanakan selama 14 (empat belas) bulan. Objek penelitian di Provinsi Jawa Barat terdiri dari PLTA Saguling dan PLTA Cirata. Sehingga lokasi wilayah penelitian yang dikaji terhadap DAS (daerah aliran sungai) Waduk Saguling dan DAS Waduk Cirata (Gambar 8). Sementara objek penelitian di Provinsi Sulawesi Utara terdiri dari PLTA Tanggari I dan PLTA Tanggari II. Lokasi wilayah penelitian disajikan pada Gambar 9 yang merupakan wilayah DAS Tondano yang melingkupi DAS PLTA Tanggari I dan II. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan desain model kebijakan dan strategi perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Tidak semua PLTA di Indonesia menerapkan sistem manajemen lingkungan ISO 14001, sehingga teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Dari 55 PLTA yang ada di Indonesia, berdasarkan data yang diperoleh dari Lembaga Sertifikasi Sistem Manajemen Lingkungan yang terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), Januari 2011, terdapat 6 PLTA yang telah disertifikasi berdasarkan ISO 14001 (telah diadopsi Indonesia menjadi SNI ISO 14001). Kemudian dari 6 PLTA tersertifikasi ISO 14001, peneliti mengambil PLTA yang memanfaatkan sumberdaya air yang berasal dari aliran sungai yang mengikuti pola kaskade. Dari 6 PLTA ada sebanyak 4 PLTA yang memenuhi yaitu air dari daerah aliran sungai yaitu PLTA Saguling, PLTA Cirata, PLTA Tanggari I dan PLTA Tanggari II. Sehingga penelitian dilakukan terhadap 4 PLTA tersebut. 49 (a) (b) Gambar 8 Lokasi penelitian: (a) DAS PLTA Saguling dan (b) DAS PLTA Cirata di Provinsi Jawa Barat. 50 Gambar 9 Lokasi penelitian PLTA Tanggari di Provinsi Sulawesi Utara. 3.2. Tahapan Penelitian Penelitian ini dirancang dalam empat tahapan yang bertujuan untuk mengkaji berbagai permasalahan yang terkait (Gambar 10). Pada tahap awal dilakukan kajian terhadap data sekunder yang terdapat di perpustakaan umum dan instansi yang terkait dengan kegiatan penilaian dan perlindungan lingkungan terkait kualitas dan kuantitas sumber daya air pensuplai PLTA. Pada tahap ini dilakukan kajian deskriptif mengenai implementasi sistem manajemen lingkungan dalam perlindungan lingkungan dan pemenuhan persyaratan lingkungan yang 51 berlaku terkait dengan pengendalian aspek lingkungan penting PLTA. Keempat PLTA yang diteliti menetapkan pemanfaatan sumberdaya air merupakan aktivitas yang memiliki aspek lingkungan penting. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan kajian deskriptif terhadap pemenuhan persyaratan perundang-undangan lingkungan terkait sumberdaya air. Peneliti mengumpulkan data sekunder kualitas air sungai sebelum dan sesudah dimanfaatkan PLTA, mulai dari tahun 2005 hingga tahun 2010. Selain itu, dilakukan analisis perubahan penggunaan lahan (landuse change) berdasarkan data citra satelit di sekitar DAS di mana PLTA berada. Hal ini dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SIG (sistem informasi geografis) yang diklarifikasi dengan data lapangan melalui observasi. Kedua langkah analisis ini mampu menggambarkan kondisi aktual lingkungan dan sumber daya air terkait PLTA yang dikaji. Tahap kedua, melakukan kajian terhadap regulasi (legal review) terkait pengelolaan sumberdaya air PLTA. Pada tahap ini juga dilakukan kajian terhadap akseptasi stakeholder terhadap program sistem manajemen lingkungan. Kajian dilakukan untuk mengetahui tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder terhadap program lingkungan PLTA. Tahap ketiga melakukan kajian program sistem manajemen lingkungan PLTA dalam rangka konservasi sumberdaya air untuk melestarikan fungsi sumberdaya air. Manfaat lingkungan dianalisis dengan pendekatan Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value -TEV) . Tahap terakhir, dilakukan kajian kebijakan prioritas menggunakan AHP (analitycal hierarchy process), serta analisis kebijakan guna menggambarkan kebijakan aktual yang ada, serta prioritas pengelolaan sumber daya air PLTA. Semua hasil analisis di atas menjadi bahan perumusan model dinamik kebijakan pengelolaan sumberdaya air PLTA. Proyeksi kebijakan ke depan berdasarkan kondisi aktual yang ada bisa disimulasikan dalam model dinamik tersebut. Hal ini akan menjadi bahan rumusan pengembangan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela dan skenario penerapannya. 52 Gambar 10 Tahapan pelaksanaan penelitian. 53 3.3 Penentuan Responden 3.3.1 Responden Pakar Responden untuk keperluan kajian akseptasi stakeholder merupakan para pakar yang mewakili struktur stakeholder PLTA yang berasal dari wakil pemerintah, asosiasi/profesi di bidang penilaian kesesuaian, wakil shareholder wakil masyarakat, dan wakil konsumen. Sementara responden pakar untuk AHP merupakan para pakar yang mengetahui seluk beluk pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Dasar pertimbangan dalam pemilihan pakar digunakan kriteria sebagai berikut : a. Keberadaan dan kesedian pakar/responden untuk dimintakan pendapat. b. Memiliki kredibilitas sebagai ahli pada substansi yang diteliti. c. Memiliki pengalaman dalam bidangnya. d. Keterwakilan stakeholder. Berdasarkan hal ini, maka pakar yang dimintakan pandangannya minimal berjumlah 5 responden. 3.3.2 Responden Valuasi Ekonomi Analisisis TEV bertujuan untuk mengetahui seberapa besar benefit dari penerapan kebjakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air di PLTA dilihat dari value yang dapat diperoleh dari ekosistem yang dilindungi. Value yang diperoleh bisa berupa use value maupun non-use value sebagai output dari program manajemen lingkungan. Kedua value ini dapat dirasakan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat di sekitar PLTA, baik masyarakat di hulu, sepanjang aliran sungai maupun di hilir sungainya. Maka dari itu, dalam analisis TEV ini, responden yang akan menjadi target analisis adalah masyarakat yang berada di sekitar PLTA yang tinggal di sepanjang daerah aliran sungai. Tentunya tidak semua warga diikutkan menjadi target survei dalam analisis TEV ini, karena warga yang berada di daerah yang sama dengan karakteristik lingkungan yang hampir sama akan memiliki pola pikir dan kondisi yang sama akibat dari program lingkungan ini. Secara statistik, dalam teori pengambilan sampel untuk suatu survei, perlu mengambil minimal 30 responden 54 agar hasil penelitian bisa dikatakan valid. Maka dari itu, pada saat survei, penulis mengambil sebanyak 30 responden dari masing-masing PLTA untuk menjadi responden dalam penelitian analisis TEV ini. Sehingga jumlah responden yang menjadi target sampel dalam penelitian ini sebanyak 4 x 30 responden yaitu 120 responden. 3.4 Jenis dan Sumber Data Data penelitian yang dibutuhkan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder, yang meliputi data kualitas air PLTA, program perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air di PLTA, pendapat pakar, persepsi masyarakat, stakeholder, dan data kelembagaan. Jenis dan sumber data yang dianalisis secara ringkas disajikan matriks rangkuman metode penelitian pada Tabel 2. 3.5 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran dan observasi langsung terhadap data-data yang terkait dengan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Dalam tahap implementasi rancangan, data yang akurat diperoleh melalui (1) studi literatur, (2) observasi lapangan (3) kuisioner survei pakar (expert survey methods). Penggunaan ketiga metode ini dapat saling menutupi kelemahan/melengkapi informasi yang dibutuhkan sehingga dalam menangkap realitas masalah lebih bisa diandalkan (Eriyatno dan Sofyar, 2007). Dalam penelitian ini, data sekunder diperoleh dari penelusuran data-data yang terkait dengan kebijakan pemerintah. Data primer diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara melalui pengisian kuesioner tentang karakteristik sosial ekonomi, masyarakat yang memanfaatkan keberadaan PLTA serta melalui diskusi dengan pihak terkait seperti pihak instansi pemerintah, pihak PLTA, Perguruan Tinggi dan masyarakat. 55 Tabel 2 Matriks rangkuman metode penelitian Metode Pengumpulan Data Tujuan Primer Menganalisis kondisi perubahan penggunaan lahan dan kualitas sumberdaya air yang dimanfaatkan PLTA Menganalisis tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder, serta landasan regulasi terkait pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA Menganalisis nilai jasa lingkungan yang diberikan sumberdaya air PLTA secara berkelanjutan  Ground check point (GCP) landuse Merumuskan model kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA  Kuisioner Sekunder  Data citra satelit Metode Analisis Data Output  Data kualitas SD Air  Perubahan penggunaan lahan  Parameter fisika air  Parameter kimia air  Observasi  Analisis SIG  Analisis Deskriptif  Grafik kualitas air  Tingkat kepentingan & pengaruh stakeholder  Pemetaan regu  lasi  Analisis Stakeholder  Pemetaan stakeholder  Dokumen peraturan dan perundangan terkait  Legal review  Gambaran regulasi terkait saat ini  Kapasitas power listrik  Biaya produksi listrik  Produksi budidaya ikan  Biaya produksi budidaya ikan  Jumlah penduduk  Jumlah pengunjung wisata  Biaya perjalanan wisata  Luas lahan penghijauan  Nilai simpanan karbon  Luas DAS  Struktur hierarki  Aspek lingkungan  Aspek ekonomi  Aspek Sosial  Sintesa hasil analisis  Analisis valuasi ekonomi  Nilai ekonomi total (TEV) jasa lingkungan  AHP  Analisis Sistem Dinamik  Prioritas kebijakan  Model dinamik  Analisis kebijakan  Model konseptual kebijakan  Kuisioner  Kuisioner Parameter     Data produksi listrik Data potensi perikanan Data wisata Data potensi serapan karbon  Data Curah hujan  Data laju sedimentasu  Data limpasan permukaan  Kompilasi data  Peta penggunaan lahan 56 3.6 Metode Analisis Data Dalam penelitian ini, digunakan tujuh teknik analisis utama yaitu analisis kualitas air, analisis perubahan penggunaan lahan, nilai manfaat konservasi sumberdaya air oleh PLTA dapat dinilai melalui Nilai Ekonomi Total (NET), legal review, analisis stakeholder, AHP (Analytical Hierarchy Process dan analisis sistem dinamik. 3.6.1 Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Perubahan penggunaan lahan diteliti untuk melihat besarnya tekanan penduduk dan aktifitasnya terhadap penggunaan lahan pada wilayah yang mempengaruhi sumberdaya air PLTA. Analisis perubahan penggunaan lahan dilakukan terhadap perubahan penggunaan lahan pada tahun 2001 hingga tahun 2007. Data yang digunakan adalah citra satelit Landsat-7 ETM+ yang diinterpretasi penggunaan lahannya. Perubahan penggunaan lahan bisa dikaji menggunakan kombinasi metode penginderaan jauh (analisis citra digital), SIG dan pemodelan (Weng 2002; Wu et al. 2006; Azo’car 2007). Analisis citra digital adalah kegiatan penguraian dan atau penelaahan data serta hubungan antar komponen data itu sendiri, dalam hal ini adalah nilai kecerahan (brightness value, BV) atau nilai digital (digital number, DN) (Jaya 2006). Data citra digital setiap tahun perekaman akan diuraikan menjadi nilai digital yang akan dibandingkan perubahannya secara temporal. Hasil analisis didigitasi dan dianalisis perubahan luasan spasialnya dengan perangkat sistem informasi geografis (SIG) (Kurniawan 2010). Menurut Prahasta (2002), perangkat ini bisa digunakan untuk menyimpan, memperbaharui, menganalisis dan menyajikan kembali semua bentuk informasi spasial tersebut. 3.6.2 Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value) Total Economic Value (TEV) yaitu analisis kebijakan untuk menilai manfaat lingkungan secara ekonomis dengan menggabungkan unsur dari berbagai disiplin ilmu yang bersifat deskriptif, valuatif, dan normatif. Dalam konsep penilaian nilai ekonomi total, nilai lingkungan tidak hanya bergantung pada nilai pemanfaatan langsung, namun juga pada seluruh fungsi sumberdaya lain yang 57 memberi nilai (ekonomis dan non ekonomis) yang setinggi-tingginya. Model ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaataan sumberdaya yang dapat diukur secara nyata berdasarkan tolok ukur nilai moneter. Secara generik model TEV dirumuskan sebagai berikut : TEV = UV + NUV = (DUV + IUV + OV) + (XV + BV) Keterangan : UV NUV DUV IUV OV EV BV = Use value = Non use value = Direct use value = Indirect use value = Option value = Existensi value = Bequest value Penggunaan TEV dalam penelitian ini dikaitkan pada penilaian manfaat dan biaya lingkungan atas penerapan sistem manajemen lingkungan berbasis sukarela (voluntary) dalam mendukung kebijakan perlindungan lingkungan. 3.6.3. Analisis Legal Review Metoda yang digunakan untuk menelaah regulasi adalah metode legal review yang merupakan pendukung dalam analisis kebijakan (policy analysis). Analisis legal review dilakukan untuk mengkaji restriksi dan peluang yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai tujuan dan kondisi yang diharapkan dari aspek legal (Hermawan et al. 2005). Analisis ini dilakukan terhadap berbagai regulasi terkait pengelolaan sumberdaya air secara umum dan pengelolaan sumberdaya air di wilayah sekitar PLTA. Hal ini dilakukan untuk memberikan landasan regulasi serta peluang perbaikannya di masa mendatang dalam menerapkan kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan sumberdaya air berbasis sukarela secara berkelanjutan 3.6.4. Analisis Stakeholder Analisis stakeholder adalah sistem pengumpulan informasi dari individu atau sekelompok orang yang berpengaruh dalam memutuskan, mengelompokkan 58 informasi dan menilai kemungkinan konflik yang terjadi antara kelompokkelompok berkepentingan dengan areal dimana akan dilakukan trade-off (Brown et al. 2001). Analisis stakeholder dilakukan dengan mengidentifikasi aktivitas stakeholder kunci dan melakukan penilaian terhadap tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder dalam program perlindungan lingkungan PLTA berbasis sukarela. Peran stakeholder digambarkan dalam bentuk hubungan dengan aktivitas yang direncanakan, mengemukakan masalah, mengidentifikasi kepentingan dan pengaruh setiap stakeholder, mengidentifikasi hubungan yang akan dibangun antar stakeholder, dan usaha/tindakan bersama (koalisi) guna mencapai sasaran bersama yang kooperatif. Alat analisis yang digunakan adalah ”stakeholder grid” dengan bantuan perangkat lunak komputer program Microsoft Excel XLSTAT 7.1 yang telah dimodifikasi menjadi software Analisis Stakeholder. Stakeholder dikategorikan menurut kepentingan dan pengaruhnya dalam perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di perusahaan listrik pembangkit tenaga air (PLTA). Tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholder diilustrasikan pada Gambar 11. Tingkat Pengaruh Gambar 11 Tingkat pengaruh dan kepentingan pada stakeholder. 59 Tingkat kepentingan dan pengaruh masing-masing stakeholder diberi skor berdasarkan justifikasi pakar dan dikelompokkan menurut jenis indikatornya kemudian disandingkan sehingga membentuk koordinat. Selanjutnya diterjemahkan ke dalam klasifikasi stakeholder. Posisi pada kuadran dapat menggambarkan ilustrasi mengenai posisi dan peranan yang dimainkan oleh masing-masing stakeholder. Pengelompokan stakeholder tergantung pada tingkat kepentingan dan pengaruhnya terhadap proses pengambilan keputusan, yakni: primary stakeholders, secondary stakeholders, dan external stakeholders (Gambar 11). a. Primary stakeholders, dimana tingkat kepentingan tinggi dengan pengaruh yang rendah dalam proses (penentuan kebijakan); b. Secondary stakeholders, dimana tingkat kepentingan dan pengaruh dalam proses (penentuan kebijakan) dengan proporsi sama; c. External stakeholders, dimana tingkat kepentingan rendah dengan pengaruh yang tinggi dalam proses (penentuan kebijakan). 3.6.5 Analytical Hierarchy Process (AHP) Penggunaan AHP dimaksudkan untuk membantu pengambilan keputusan memilih strategi terbaik dengan cara: (1) mengamati dan meneliti ulang tujuan dan alternatif strategi atau cara bertindak untuk mencapai tujuan, dalam hal ini kebijakan yang baik; (2) membandingkan secara kuantitatif dari segi biaya/ekonomis, manfaat dan resiko dari setiap alternatif; (3) memilih alternatif terbaik untuk diimplementasikan, dan (4) membuat strategi secara optimal, dengan menentukan prioritas kegiatan. Tahapan AHP dimulai dengan yang bersifat umum, yaitu menjabarkan ke dalam sub tujuan yang lebih rinci yang dapat menjelaskan apa yang dimaksud dalam tujuan umum. Penjabaran terus dilakukan hingga diperoleh tujuan yang bersifat operasional. Pada setiap hierarki dilakukan proses evaluasi atas alternatif. Tahap terpenting dari AHP adalah melakukan penilaian perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) guna mengetahui tingkat kepentingan suatu kriteria terhadap kriteria lain. Penilaian dilakukan dengan membandingkan sejumlah kombinasi elemen yang ada pada setiap hierarki sehingga dapat dilakukan penilaian kuantitatif untuk mengetahui 60 besarnya nilai setiap elemen. Penilaian perbandingan berpasangan dilakukan melalui pendapat pakar. Prinsip kerja AHP adalah: (1) penyusunan hierarki, (2) penilaian kriteria dan alternatif, (3) penentuan prioritas, (4) konsistensi logis. Proses perbandingan berpasangan dilakukan pada setiap level (Gambar 12), yaitu level 1 (goal) , level 2 (faktor), level 3 (aktor), level 4 (tujuan), dan level 5 (alternatif). Menurut Saaty (1994) bahwa tahapan analisa data dengan AHP adalah sebagai berikut : 1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi masalah; 2. Membuat struktur hierarki yang dimulai dengan penentuan tujuan umum, subsub tujuan, kriteria dan kemungkinan alternatif pada tingkat kriteria yang paling bawah. Penyusunan hierarki dilakukan melalui diskusi mendalam dengan pakar yang mengetahui persoalan yang sedang dikaji. Adapun struktur hierarki disain kebijakan perlindungan lingkungan berbasis sukarela di PLTA seperti pada Gambar 12. Gambar 12 Desain struktur proses hierarki analitik kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. 3. Membuat matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan pengaruh relatif setiap elemen terhadap masing-masing tujuan yang setingkat diatasnya, perbandingan berdasarkan judgement dari para pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan satu elemen dibandingkan dengan elemen lainnya, 61 Untuk mengkuantifikasi data kualitatif digunakan nilai skala 1-9, Skala perbandingan secara berpasangan seperti Tabel 3. Tabel 3 Matrik perbandingan berpasangan berdasarkan skala Saaty Tingkat Kepentingan 1 Definisi Penjelasan Kedua elemen sama pentingnya Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar terhadap tujuan 3 Elemen kunci satu sedikit lebih penting dari pada elemen yang lainnya Pengalaman dan penilaian sangat kuat mendukung satu elemen dibanding elemen lainnya 5 Elemen yang satu lebih penting dari pada elemen yang lainnya Pengalaman dan penilaian sangat kuat mendukung satu elemen dibanding elemen lainnya 7 Satu elemen jelas lebih penting daripada elemen yang lainnya Stau elemen dengan didukung dan didominasi terlihat dalam praktek 9 Nilai-nilai antara dua pertimbangan yang berdekatan Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen yang lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan 2,4,6,8 Nilai diberikan jika ada dua kompromi antara dua pilihan Sumber : Saaty (1993). 4. Melakukan pengolahan perbandingan berpasangan. Pengolahan dilakukan untuk menyusun prioritas setiap elemen dalam hierarki terhadap sasaran utama. Jika NPpq didefinisikan sebagai nilai prioritas pengaruh elemen ke-p pada tingkat ke-q terhadap sasaran utama, maka : S NPpq =  NPHpq(t , q  1) xNPTt (q  1) t 1 Keterangan p = 1,2,....,r T = 1,2,.....,s NPpq = Nilai prioritas pengaruh elemen ke-p pada tingkat ke-q terhadap sasaran utama 62 NPHpq = Nilai prioritas elemen ke-p pada tingkat ke-q NPTt = Nilai prioritas pengaruh elemen ke-t pada tingkat q-1 5. Mengisi konsistensi judgment stakeholder dengan menghitung Consistency Ratio. Nilai konsistensi yang dianggap baik adalah < 0,1 Jika tidak konsisten (nilainya > 0,1) maka pengambilan data diulangi atau dikoreksi. Consistency Ratio merupakan parameter yang digunakan untuk memeriksa apakah perbandingan berpasangan yang dilakukan oleh pakar telah dilakukan dengan konsekuen atau tidak (Marimin, 2004). Nilai Consistency Ratio dihitung dengan rumus : CI CR = RI Dimana : CI = Indeks konsistensi RI = Indeks Random CI = (p – n) / (n – 1) Dimana : p = rata-rata Consistensy Vector n = Banyak alternatif Sedangkan RI merupakan nilai random indeks sebagaimana yang ditetapkan oleh Oarkridge laboratory (Marimin 2004) seperti pada Tabel 4. Tabel 4 Nilai indeks random N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 RI 0,00 0,00 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49 1,51 1,48 1,56 Setelah diperoleh alternatif kebijakan sebagai kebijakan prioritas yang perlu diterapkan dalam pengembangan PLTA berbasis sukarela, selanjutnya disusun skenario kegiatan sebagai program-program yang dapat dilakukan untuk masa yang akan datang. Penyusunan skenario dilakukan dengan menggunakan metode analisis sistem dinamik. 3.6.6 Analisis Kebijakan 63 Kebijakan merupakan perangkat pedoman yang memberikan arah terhadap pelaksanaan strategi pembangunan dan berfungsi untuk memberikan rumusan mengenai berbagai pilihan tindakan dan prioritas agar dapat mencapai tujuan pembangun dengan efektif (Suharto 2008). Kebijakan dapat dinyatakan dalam berbagai bentuk: 1) instrumen legal (hukum), seperti peraturan perundangan, 2) instrumen ekonomi, seperti kebijakan fiskal, subsidi dan harga, 3) petunjuk, arahan ataupun ketetapan, 4) pernyataan politik, dan 5) kebijakan dapat dituangkan dalam garis-garis besar arah pembangunan, strategi, maupun program. Keberhasilan kebijakan sangat ditentukan oleh proses pembuatannya dan implementasinya (Djogo et al. 2003). Kebijakan publik adalah apapun yang akan dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah, mengapa pemerintah mengambil tindakan tersebut dan apa akibat dari tindakan tersebut terkait dengan suatu isu atau persoalan publik (Dye 1992). Pengertian ini mengandung makna bahwa kebijakan publik dibuat oleh badan pemerintah, baik pusat maupun daerah dan kebijakan publik menyangkut pilihan. Analisis kebijakan didefinisikan oleh Dunn (2003) sebagai suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi yang relevan untuk dapat memberikan landasan bagi para pengambil kebijakan dalam membuat suatu keputusan yang terkait dengan masalah-masalah publik. Dalam analisis kebijakan, kata analisis digunakan dalam pengertian yang luas, termasuk penggunaan intuisi dan pengungkapan pendapat serta mencakup tidak hanya pengujian kebijakan dengan memilah-milahkannya ke dalam sejumlah komponen melainkan juga perancangan dan sintesis alternatif-alternatif baru. Analisis kebijakan juga didefinisikan sebagai aktifitas yang produknya adalah saran yang dapat digunakan oleh pengambil keputusan untuk pembuatan kebijakan publik (Weimer & Vining 1989). Dalam melakukan analisis kebijakan diperlukan identifikasi masalah kebijakan dan kebutuhan masyarakat penerima, mengevaluasi respon pemerintah terhadap masalah, pengembangan alternatif kebijakan, rekomendasi, implementasi dan evaluasi kebijakan (Hogwood & Gunn 1984; Soebarsono 2008). Dunn (2003) 64 menyebutkan analisis kebijakan dapat dilakukan dengan menggunakan 3 pendekatan, yaitu pendekatan prospektif, retrospektif dan integratif. 3.6.7 Analisis Sistem Dinamik Analisis model dinamik dilakukan terhadap variabel-variabel yang telah teridentifikasi yang meliputi aspek ekologi, sosial dan ekonomi. Analisis model dinamik dilakukan melalui 2 tahap, yaitu pembuatan diagram sebab akibat dan diagram alir. Diagram simpal kausal menunjukkan hubungan antar variabel dalam proses sistem yang dikaji. Prinsip dasar pembuatannya adalah suatu proses sebagai sebab yang akan menghasilkan keadaan, atau sebaliknya suatu keadaan sebagai sebab akan menghasilkan proses. Sedangkan diagram alir dibuat berdasarkan persamaan model dinamik yang mencakup variabel keadaan (level), aliran (rate), auxiliary, dan konstanta (constant). Variabel tersebut berupa lambang-lambang yang digunakan dalam pembuatan model dengan menggunakan piranti lunak Powersim. Model yang dikembangkan selanjutnya digunakan sebagai alat simulasi. Simulasi ini dilakukan setelah uji validitas dan hasil pengujian menunjukkan adanya kesesuaian atau keabsahan antara hasil simulasi dengan data empiris (Sushil 1993; Muhammadi et al. 2001). Analisis dan simulasi sistem dinamik dilakukan dengan bantuan program powersim studio 2005E untuk memproyeksikan kecenderungan kondisi perlindungan dan pengelolaan sumber daya air PLTA. 3.6.8 Verifikasi dan Validasi Verifikasi model dilakukan sebagai proses uji sahih untuk mengetahui berbagai kelemahan maupun kekurangan, serta identifikasi berbagai persoalan yang harus diantisipasi dalam kaitan penerapan kebijakan yang dihasilkan (Eriyatno & Sofyar 2007). Verifikasi diartikan sebagai menyatakan kebenaran, ketepatan atau kenyataan (to establish the truth, accuracy or reality), sedangkan kata valid didefinisikan sebagai mendapatkan hasil kesimpulan yang benar, berdasarkan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan (Hartrisari 2007) Keabsahan suatu hasil simulasi dapat dilakukan melalui tiga pendekatan. Setiap pendekatan memerlukan tim pengembangan model yang melakukan 65 verifikasi dan validasi sebagai bagian dari proses pengembangan model. Pendekatan yang digunakan untuk menentukan suatu model yang valid dalam kajian ini disebut sebagai independent verification and validation (IV and V). Pendekatan ini menggunakan pihak ketiga (independent) untuk memutuskan validitas suatu model (Sargent 1998). Validitas adalah salah satu kriteria penilaian keobyektifan yang ditunjukkan dengan sejauh mana model dapat menirukan fakta (Muhammadi et al. 2001). Sementara validasi model menurut Sargent (1998) memiliki berbagai teknik untuk melaksanakannya. Kajian ini memanfaatkan face validity terhadap para pakar guna memeriksa kesesuaian antara prilaku model dengan prilaku sistem yang diwakilinya. Validasi soft system dilakukan terhadap beberapa pakar yang dipilih secara purposif mewakili keahlian memahami sinergitas konvensi internasional bidang lingkungan hidup dan implementasinya. Validasi dilakukan secara face validity terhadap para pakar guna memeriksa kesesuaian antara perilaku model hasil kajian dengan perilaku sistem yang diwakilinya. Untuk model dinamik, kinerja beberapa variabel dilakukan dengan uji statistik. Uji statistik dimaksudkan untuk melihat penyimpangan antara keluaran simulasi dengan data aktual. Pengujian statistik meliputi uji penyimpangan ratarata absolut (AME), penyimpangan variasi absolut (AVE), saringan Kalman (KF), koefisien diskrepansi (U-Theils) dan Durbin Watson (DW) (Barlas 1998). Absolute means error (AME) adalah penyimpangan antara nilai rata-rata simulasi terhadap data aktual. Sedangkan absolute variation error (AVE) adalah penyimpangan nilai variasi simulasi terhadap data aktual. U-Theils adalah koefisien diskrepansi antara nilai simulasi dengan data aktual. U-Theils dapat menggambarkan ada tidaknya penyimpangan yang menonjol. Batas penyimpangan yang dapat diterima untuk AME, AVE dan U-Theils adalah antara 5-10%. 66 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum PLTA 4.1.1 PLTA Saguling dan Cirata di Propinsi Jawa Barat Guna memanfaatkan debit air yang dialirkan Sungai Citarum, sungai terpanjang dan terbesar di provinsi Jawa Barat luas 1.448.279,25 ha, pemerintah membuat tiga bendungan dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di sungai ini yaitu PLTA Saguling, PLTA Cirata, dan PLTA Ir. H. Djuanda (PLTA Jatiluhur). Pengoperation ketiga waduk ini diintegrasikan dalam satu pola operasi yang disebut “Pola operasi waduk kaskade Citarum” dengan pendekatan equal sharing yang dilakukan setiap bulan Oktober oleh ketiga pengelola waduk, yaitu Perum Jasa Tirta II (Waduk Jatiluhur), PT Pembangkit Jawa Bali (Waduk Cirata), dan PT Indonesia Power (Waduk Saguling). PLTA yang menjadi objek penelitian adalah PLTA Saguling dan PLTA Cirata. A. PLTA Saguling PLTA Saguling adalah salah satu unit bisnis pembangkitan di bawah PT. Indonesia Power. PLTA Saguling yang mulai beroperasi tahun 1986 memiliki visi menjadi perusahaan publik dengan kinerja kelas dunia dan bersahabat dengan lingkungan. Misi PLTA Saguling melakukan usaha dalam bidang ketenagalistrikan dan mengembangkan usaha-usaha lainnya yang berkaitan, berdasarkan kaidah industri dan niaga yang sehat, guna menjamin keberadaan dan pengembangan perusahaan dalam jangka panjang. UPB Saguling mengelola 29 mesin pembangkit yang tersebar di Jawa Barat dengan total kapasitas terpasang 797,36 MW. Keuntungan PLTA ini antara lain waktu pengoperasian relatif lebih cepat (15 menit), biaya produksi lebih murah karena menggunakan air, rotasi turbin rendah dan tidak mengeluarkan panas sehingga peralatan jarang mengalami kerusakan. PLTA juga ramah lingkungan, karena tidak adanya proses pembakaran sehingga tidak ada limbah bekas pembakaran yang ditimbulkan. Dam (waduk) bertindak cultivation multifungsi, seperti pengendalian banjir dan sistem irigasi sawah. 67 PLTA Saguling memanfaatkan air Sungai Citarum yang terbagi atas 11 sub DAS. Tujuh diantara Sub Das tersebut mempengaruhi pola aliran Sungai Citarum baik kuantitas maupun kualitasnya yaitu Sub DAS Citarik, Sub DAS Cirasea, Sub DAS Cihaur, Sub DAS Ciminyak, Sub DAS Cisangkuy, Sub DAS Ciwidey, dan Sub DAS Cikapundung. Sungai ini bermata air utama di Gunung Wayang, di selatan Bandung pada ketinggian 2.182 m, dan bermuara ke Laut Jawa di daerah Tanjung Karawang. Luas DAS sekitar 6.080 km2 dan panjang sungai sekitar 270 km (Marganingrum 2007). Pengelolaan sumberdaya air secara berkelanjutan diintegrasikan ke dalam sistem manajemen perusahaan. Program penghijauan ditetapkan dalam road map tahun 2003-2016. PLTA Saguling melibatkan masyarakat sekitar lokasi pembangkitan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus sebagai bentuk partisipasi perusahaan membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. PLTA bekerjasama dengan Kabupaten Bandung Barat menghimpun kepedulian 56 perusahaan untuk berpartisipasi pada program penghijauan Dinas Lingkungan Kabupaten dan melakukan kerjasama dengan Perhutani Kabupaten pada acara Tepung Lawung. Kerjasama juga dilakukan dengan masyarakat pendidikan lingkungan untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat di Kabupaten Bandung mengenai kelestarian lingkungan DAS sebagai sumber kehidupan masyarakat sekitar DAS dan keberlangsungan operasional Waduk Saguling. B. PLTA Cirata PT. Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) adalah anak perusahaan PT. PLN (Persero) yang mengelola PLTA Cirata. PLTA Cirata beroperasi pada akhir September 1988. Visi PT.PJB adalah menjadi perusahaan pembangkit tenaga listrik Indonesia yang terkemuka dengan standar kelas dunia. Misi: (1) Memproduksi tenaga listrik yang handal dan berdaya saing. (2) Meningkatkan kinerja secara berkelanjutan melalui implementasi tata kelola pembangkitan dan sinergi business partner dengan metoda best practice dan ramah linngkungan, (3) 68 Mengembangkan kepasitas dan kapabilitas SDM yang mempunyai kompetensi teknik dan manjerial yang unggul serta berwawasan bisnis. Dalam menjalankan bisnisnya, PT. PJB menerapkan tiga pilar strategis yaitu pengelolaan aset (asset management), sistem manajemen SDM (human capital), dan teknologi informasi sebagai business enabler. Tiga pilar strategis dijabarkan ke dalam 10 sistem manajemen best practice yang antara lain: Manajemen aset, Manajemen Risiko, Manajemen Mutu ISO 9001, Manajemen Lingkungan ISO 14001, dan K3 OHSAS 18000, Good Corporate Governance (GCG), Manajemen Teknologi Informasi, Knowlegde Management, Manajemen SDM Berbasis Kompetensi, Manajemen Baldrige, dan Manajemen House Keeping 5S. Unit Pembangkitan Cirata berlokasi di Desa Cadas, Kecamatan Tegal Waru Plered Purwakarta. PLTA terbesar di Asia Tenggara dengan bangunan Power House 4 lantai di bawah tanah. Waduk Cirata memiliki luas 62 km2 dengan elevasi muka air banjir 223 m, elevasi muka air normal 220 m dan elevasi muka air rendah 205 m. Volume air waduk sebesar 2.165 juta meter3 dan efektif waduk 796 juta m3. PLTA Cirata mengoperasikan 8 x 126 MW atau 1008 MW dan mampu memproduksi listrik rata-rata sebesar 1.428 juta kilowatt jam per tahun yang disalurkan melalui transmisi tegangan ekstra tinggi 500 KV ke sistem interkoneksi Jawa Bali . Kemampuan memproduksi listrik PLTA ini setara dengan kemampuan pembangkit termal yang menggunakan BBM 428 ton .Untuk menghasilkan energi listrik sebesar 1.428 GWh, di operasikan 8 buah turbin dengan kapasitas masing– masing 120.000 KW dengan putaran 187,5 RPM. Adapun tinggi air jatuh efektif untuk memutar turbin 112,5 meter dengan debit air maksimum 135 m3/detik. Penerapan sistem manajemen lingkungan di unit pembangkitan Cirata, merupakan bagian tak terpisahkan dari proses produksi yang diwujudkan dalam bentuk upaya pengelolaan lingkungan yang terencana, terintegrasi pada semua bidang kegiatan dengan melibatkan seluruh komponen dalam manajemen unit pembangkitan Cirata untuk kepentingan masyarakat, tuntutan pasar serta akrab lingkungan dan sejalan dengan visi perusahaan yang ingin menjadikan perusahaan ini peduli lingkungan. 69 4.1.2 PLTA Tanggari I dan II di Propinsi Sulawesi Utara Energi listrik di Sulawesi Utara bersumber dari sistem pembangkitan PLTA Tonsea Lama, PLTA Tanggari I, PLTA Tanggari II, PLTD Manado dan PLTD Bitung. PLTA yang menjadi objek penelitian adalah PLTA Tanggari I dan II. Kedua PLTA ini menggunakan sumber energi gravitasi “air terjun” Sungai Tondano yang bersumber dari Danau Tondano dengan hulunya Desa Tolour dan bermuara di Pantai Manado. Panjang Sungai Tondano hampir 40 km. Tahun 2006 Manajemen puncak PLTA Tanggari I dan Tanggari II memutuskan untuk menerapkan sistem manajemen lingkungan pada pengelolaan dan pengoperasian PLTA. PLTA Tanggari I berlokasi di Desa Tanggari termasuk Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara. Terletak pada 124º 56’ 11” BT dan 1º 21’ 26” LU. PLTA Tanggari I dibangun pada tahun 1984 dan beroperasi pada tahun 1987. PLTA Tanggari I memiliki dua unit mesin, dengan kapasitas daya terpasang sebesar 18 MW. PLTA Tanggari II berlokasi di Desa Tanggari Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara. Terletak pada 124º 56’ 49” BT dan 1º 22’ 16” LU. PLTA Tanggari II dibangun pada tahun 1995 dan mulai beroperasi pada tahun 1998. PLTA Tanggari II mampu membangkitkan tenaga listrik dengan kapasitas daya terpasang sebesar 19 MW dengan tegangan sebesar 13.2 KV. Tipe pambangkit run off river (aliran langsung), dengan headrace tunnel yang mempunyai panjang 800 meter, diameter 2.6 meter, tinggi jatuh 103 meter, dan debit maksimum sebesar 16,5 m3/detik. Apabila Sungai Tondano sudah tidak mampu menyalurkan debit air sebesar 16 m3/s pada saat permukaan Danau Tondano mencapai elevasi 629,27 (Low lower Level/LWL), maka pengoperasian PLTA menjadi terganggu. Pendangkalan dasar sungai sejak mulut danau hingga pintu pengambilan (intake) PLTA Tonsea lama baik yang ditimbulkan oleh bahan sedimen maupun tumbuhan ganggang yang tumbuh subur sepanjang 2 - 3 kilometer di hulu sungai mempengaruhi pengoperasian PLTA Tanggari. Debit air terus berkurang dapat menggangggu perputaran turbin. 70 Sungai Tondano mulai dari mulut danau hingga PLTA Tonsea lama melewati tengah kota Manado. Hampir di sepanjang tepi sungai telah dihuni oleh penduduk. Tidak mengherankan Sungai Tondano juga merupakan tempat pembuangan sampah baik oleh pemukim maupun oleh pasar kota. Sampah yang diperkirakan 5 – 6 ton per hari sangat terasa gangguannya dalam pengoperasian turbin. Danau Tondano sejak dahulu merupakan sumber ikan tawar bagi penduduk. Kini perkembangan nelayan meningkat dan penggunaan sistem “keramba” untuk meningkatkan volume tanggakan ikan. Sistem keramba menggunakan tepian danau untuk dijadikan tempat pemeliharaan ikan yang diberi makanan tertentu (pellet dsb). Kondisi ini menyebabkan kadar nitrogen dalam air yang mendorong pertumbuhan gulma air. PLTA Tanggari juga mengalami permasalahan pasokan air akibat waktu tempuh air dari Tonsea Lama sampai intake PLTA Tanggari. Lamanya waktu tempuh disebabkan oleh kondisi dasar sungai yang terlalu banyak hambatan berupa batuan dan sampah buangan disamping profil sungai yang tidak teratur. 4.2 Perubahan Penggunaan Lahan di Wilayah PLTA 4.2.1 Perubahan Penggunaan Lahan pada DAS Citarum Analisis perubahan penggunaan lahan (landuse change) DAS dari citra satelit 2001 dan 2007. Citra satelit yang digunakan adalah citra Landsat ETM 7. Secara umum hasil analisis perubahan penggunaan lahan memperlihatkan adanya perubahan tutupan dan peruntukan lahan pada DAS Citarum di Jawa Barat. Peta penutupan dan penggunaan lahan berdasarkan citra satelit dan hasil analisisnya pada wilayah DAS Citarum tersebut ditampilkan dalam Gambar 13 berikut. 71 (a) (b) Gambar 13 Citra satelit pada DAS Citarum: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007. Gambar 13 menunjukkan penutupan lahan berdasarkan citra satelit pada tahun 2001 (a) dan 2007 (b) di wilayah DAS Citarum. DAS Citarum sendiri meliputi DAS Citarum hulu di mana terdapat DAS Waduk Saguling dan DAS Citarum hilir di mana DAS Waduk Cirata berada. Guna memudahkan pemahaman selanjutnya, dalam peta penggunaan lahan kedua DAS ini dipisahkan menjadi DAS Waduk Saguling (hulu) dan DAS Waduk Cirata (hilir), meskipun keduanya merupakan satu sistem DAS yang berhubungan secara langsung. DAS Waduk Saguling merupakan bagian dari DAS Waduk Cirata yang berada di bagian hulu. Gambar 14 menunjukkan peta penggunaan lahan di DAS Saguling pada tahun 2001 dan 2007 berdasarkan hasil interpretasi citra satelit. Sementara Gambar 15 menunjukkan peta penggunaan lahan di DAS Cirata pada tahun 2001 dan 2007. Perbedaan penggunaan lahan pada tahun 2001 dan 2007 menjadi dasar analisis perubahan lahan di DAS Citarum yang menjadi daerah tangkapan air Waduk Saguling dan Cirata. Penggunaan lahan yang ditampilkan dalam kedua peta tersebut terdiri dari berbagai kelas penutupan atau liputan lahan (land cover), antara lain tutupan hutan, permukiman, sawah, semak belukar, tanah terbuka, rawa, perkebunan, pertanian dan badan air (waduk), serta tutupan awan. 72 (a) (b) Gambar 14 Penggunaan lahan DAS Saguling: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007. 73 (a) (b) Gambar 15 Penggunaan lahan DAS Cirata: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007. 74 Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa luas DAS Waduk Saguling yang berada pada wilayah paling hulu Sungai Citarum kurang lebih meliputi wilayah seluas 222.830 ha. Sementara luas DAS Waduk Cirata meliputi wilayah sekitar 465.286 ha, di mana DAS Waduk Saguling tercakup di dalamnya. Hasil analisis terhadap perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Saguling disajikan dalam Tabel 5. Tabel 5 Perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Saguling Jenis Penggunaan Lahan Luas tahun 2001 Luas tahun 2007 (ha) (%) (ha) Hutan 38.139,80 17,12 12.531,77 Permukiman 39.782,58 17,85 41.458,90 Sawah 64.940,11 29,14 65.007,33 29,17 Semak belukar 1.060,72 0,48 30.604,91 Lahan terbuka Pertanian lahan kering Perkebunan 1.867,27 0,84 190,95 72.864,11 32,70 2.300,34 1,03 Rawa Badan air Total (%) Perubahan PL (ha) (ha/thn) (%/thn) 5,62 (25.608,03) (4.268,01) (11,19) 18,61 1.676,32 279,39 0,70 67,22 11,20 0,02 13,73 29.544,19 4.924,03 464,22 0,09 (1.676,32) (279,39) (14,96) 43.252,87 19,41 (29.611,24) (4.935,21) (6,77) 27.908,94 12,52 25.608,60 4.268,10 185,54 521,49 0,23 520,81 0,23 (0,68) (0,11) (0,02) 1.353,58 0,61 1.353,52 0,61 (0,06) (0,01) (0,00) 222.830,00 100,00 222.830,00 100,00 Tabel 5 di atas menunjukkan terjadinya dinamika perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Saguling selama kurun waktu 6 tahun dari tahun 2001 hingga tahun 2007. Luas hutan di bagian hulu waduk pada tahun 2001 sebesar 38.139,80 ha atau sebesar 17,12% dari luas DAS. Luasan hutan berubah menjadi hanya 5,62% atau sekitar 12.531 ha pada tahun 2007, sehingga diperkirakan terjadi pengurangan luas hutan 11,19% setiap tahunnya. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi berbagai penggunaan lahan lainnya, terutama menjadi perkebunan. Luas perkebunan meningkat pesat sekitar 185% setiap tahunnya, dari luas sekitar 2.300 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 25.608 ha yang hampir seluruhnya berasal dari konversi terhadap hutan. Sementara penggunaan lahan lainnya yang mengalami pengurangan adalah lahan terbuka yang berkisar seluas 1.867 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 190 ha saja 75 pada tahun 2007. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa hampir seluruh lahan terbuka pada tahun 2001 ini berubah menjadi lahan permukiman pada tahun 2007. Penggunaan lahan lainnya yang mengalami pertumbuhan cukup pesat adalah semak belukar yang tumbuh sekitar 462% setiap tahunnya, dari seluas 1.060 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 29.544 ha pada tahun 2007. Semak belukar ini sebagian besar berasal dari lahan pertanian kering yang berubah dari luas sekitar 72.864 ha pada tahun 2001 yang menyusut menjadi 43.252 ha pada tahun 2007. Sementara penggunaan lahan lainnya relatif berubah secara perlahan, seperti permukiman (0,7% per tahun), sawah dan rawa (0,02% per tahun), serta relatif tidak berubah, seperti badan air (0,0007% per tahun). Sementara Tabel 6 menunjukkan terjadinya dinamika perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Cirata pada kurun waktu yang sama. Hampir sebagian luas DAS Waduk Cirata sebenarnya merupakan DAS Waduk Saguling, yang berada di hulu Waduk Cirata. Hal ini menunjukkan dinamika perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Cirata, sebagian merupakan sumbangan dari perubahan yang terjadi pada DAS Waduk saguling. Tabel 6 Perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Cirata Jenis Penutupan Lahan Luas tahun 2001 Luas tahun 2007 (ha) (%) (ha) Hutan 87.817,72 18,87 23.392,37 Permukiman 48.489,76 10,42 55.233,83 135.217,40 29,06 135.348,93 3.259,97 0,70 70.056,67 Sawah Semak belukar Lahan terbuka Pertanian lahan kering Perkebunan Rawa (%) Perubahan PL (ha) (ha/thn) (%/thn) 5,03 (64.425,35) (10.737,56) (12,23) 11,87 6.744,07 1.124,01 2,32 29,09 131,53 21,92 0,02 15,06 66.796,70 11.132,78 341,50 6.935,02 1,49 190,95 0,04 (6.744,07) (1.124,01) (16,21) 135.677,20 29,16 68.749,14 14,78 (66.928,06) (11.154,68) (8,22) 34.523,69 7,42 98.949,60 21,27 64.425,91 10.737,65 31,10 840,08 0,18 839,81 0,18 (0,27) (0,04) (0,01) 11.534,08 2,48 11.533,88 2,48 (0,20) (0,03) (0,00) Awan 991,08 0,21 990,82 0,21 (0,26) (0,04) (0,00) Total 465.286,00 100,00 465.286,00 100,00 - - - Badan air Hutan pada wilayah DAS Waduk Cirata memiliki luas sekitar 87.817 ha atau sebesar 18,87% dari luas DAS pada tahun 2001. Luasan hutan berubah menjadi hanya 5,03% atau sekitar 23.392 ha pada tahun 2007, sehingga 76 diperkirakan terjadi pengurangan luas hutan 12,23% setiap tahunnya. Seperti halnya pada DAS Waduk Saguling, perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi berbagai penggunaan lahan lainnya, terutama disebabkan konversi terhadap lahan perkebunan. Hal ini mendorong peningkatan luas lahan perkebunan dari luas sekitar 34.523 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 98.949 ha, atau meningkat sekitar 12,23% setiap tahunnya. Penggunaan lahan lainnya yang mengalami pengurangan adalah lahan terbuka yang berkisar seluas 6.935 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 190 ha saja pada tahun 2007. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa hampir seluruh lahan terbuka pada tahun 2001 ini berubah menjadi lahan permukiman pada tahun 2007. Seperti pada DAS Waduk saguling, semak belukar pada DAS Waduk Cirata mengalami pertumbuhan cukup pesat dari sekitar 3.259 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 66.796 ha pada tahun 2007, atau tumbuh sekitar 341% setiap tahunnya. Semak belukar ini sebagian besar berasal dari lahan pertanian kering yang berubah dari luas sekitar 135.677 ha pada tahun 2001 yang menyusut menjadi 68.749 ha pada tahun 2007. Penggunaan lahan lainnya relatif berubah secara perlahan, seperti sawah (0,02% per tahun) dan rawa (0,01% per tahun), serta relatif tidak berubah, seperti badan air (0,0007% per tahun). Sementara permukiman di bagian hilir memiliki tingkat pertumbuhan yang relatif lebih tinggi dibandingkan bagian hulu (DAS Waduk Saguling). Hal ini terlihat dari tingkat pertumbuhan permukiman secara keseluruhan di DAS Cirata sebesar 2,32% setiap tahun, atau lebih tinggi dari DAS Waduk Saguling (0,7% per tahun). Secara umum pengurangan luas hutan bisa meningkatkan laju degradasi lahan, karena tutupan hutan bisa mencegah terjadinya peningkatan laju erosi dan sedimentasi (Indriyanto 2008). Menurut PPSDAL UNPAD (2008), tingkat erosi di DAS Citarum Hulu pada tahun 2001 sekitar 2,20 mm/tahun dan sedimentasi 4.296.268 m3/tahun. Pada tahun 2007, tingkat erosi meningkat menjadi 2,23 mm/tahun dan laju sedimentasi meningkat menjadi 4.315.404 m3/tahun. Tingkat erosi dan laju sedimentasi yang tinggi dapat mengancam keberlanjutan Waduk Saguling dan Waduk Cirata yang memasok air ke PLTA. Sesuai perencanaan waduk, tingkat erosi dan laju sedimentasi yang diperbolehkan secara berturut yaitu 2,10 mm/tahun dan 4.000.000 m3/tahun. Berdasarkan 77 prediksi PPSDAL UNPAD (2008), peningkatan sedimentasi akan mengurangi kemampuan waduk untuk menampung air sebab sedimen akan terakumulasi baik di dead storage dan life storage waduk. Peningkatan sedimen ini akan mengurangi fungsi waduk sebagai penampung air. Hutan dapat mempertahankan debit air sungai sehingga tidak akan banjir pada musim hujan dan tidak akan kekeringan pada musim kemarau (Indriyanto 2008). Air dari Waduk Saguling berasal dari Sungai Cikapundung, Sungai Cikeruh, Sungai Citarik, Sungai Cisangkuy, Sungai Ciwidey dan Sungai Cisarea. Berdasarkan data tahun 1990-2010, debit air sungai sangat berfluktuasi. Debit air minimum dan maksimum sungai ke Waduk Saguling yaitu 4,08 - 66,92 m3/dtk dan 141,46 - 306,39 m3/dtk (PLTA Saguling 2011). Waduk Cirata memperoleh air dari Sungai Cisokan, Sungai Cibalagung, Sungai Cimeta, Sungai Cikundul dan Sungai Citarum. Debit minimum dan maksimum air sungai ke Waduk Cirata yaitu 31,18 - 103,02 m3/dtk dan 205,21- 488,66 m3/dtk (PLTA Cirata 2011). 4.2.2 Perubahan Penggunaan Lahan pada DAS Tondano Gambar 16 menunjukkan penutupan lahan berdasarkan citra satelit pada tahun 2001 (a) dan 2007 (b) di wilayah DAS PLTA Tanggari dan II (DAS Tondano). Gambar 17 dan 18 menunjukkan peta penggunaan lahan di DAS Tondano pada tahun 2001 dan 2007 berdasarkan hasil interpretasi citra satelit. Perbedaan penggunaan lahan pada tahun 2001 dan 2007 menjadi dasar analisis perubahan lahan di DAS Tondano yang menjadi daerah tangkapan air PLTA Tanggari I dan II. Seperti pada peta penggunaan lahan DAS Citarum, penggunaan lahan yang ditampilkan dalam kedua peta penggunaan lahan DAS Tondano juga terdiri dari berbagai kelas penutupan lahan. Penggunaan lahan tersebut terdiri dari tutupan hutan, permukiman, sawah, semak belukar, tanah terbuka, rawa, perkebunan, pertanian dan badan air (waduk), serta tutupan awan. Penggunaan lahan berdasarkan analisis terhadap citra satelit tersebut ditampilkan dalam peta penggunaan lahan pada tahun 2001 dan tahun 2007. Perbedaan luas penggunaan lahan antara kedua tahun tersebut menjadi dasar dalam memperkirakan terjadinya perubahan penggunaan lahan di DAS Tondano setiap tahunnya. 78 (a) (b) Gambar 16 Citra satelit pada DAS Tondano: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007. Gambar 17 Penggunaan lahan DAS Tondano pada tahun 2001. 79 Gambar 18 Penggunaan lahan DAS Tondano pada tahun 2007. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa luas DAS Tondano di mana PLTA Tanggari I dan II berada meliputi wilayah seluas 24.708 ha. Penampakan tutupan lahan melalui citra satelit menunjukkan bahwa sebagian besar wilayahnya tertutup oleh vegetasi (hijau). Sementara pemukiman (merah) tersebar di beberapa wilayah, terutama terkonsentrasi di wilayah pesisir pantai pada bagian utara lokasi studi dan di pesisir Danau Tondano yang ada di bagian selatan lokasi studi. Hasil analisis terhadap perubahan penggunaan lahan pada DAS Tondano yang mempengaruhi PLTA Tanggari I dan II disajikan dalam Tabel 7. 80 Tabel 7 Perubahan penggunaan lahan pada DAS Tondano Jenis Penutupan Lahan Hutan Luas tahun 2001 Luas tahun 2007 (ha) (%) (ha) (%) Perubahan PL (ha) (ha/thn) (%/thn) 18.323,83 74,16 18.098,12 73,25 (225,71) (37,62) (0,0021) Permukiman 2.000,39 8,10 2.198,62 8,90 198,23 33,04 0,0165 Sawah 1.739,37 7,04 1.739,38 7,04 0,01 0,00 0,000001 Semak belukar 794,91 3,22 796,41 3,22 1,50 0,25 0,0315 Lahan terbuka 789,03 3,19 551,05 2,23 (237,98) (39,66) (0,0503) Bayangan Awan 18,90 0,08 17,40 0,07 (1,50) (0,25) (1,3228) Badan air 15,85 0,06 15,56 0,06 (0,29) (0,05) (0,0030) 265,74 44,29 0,0431 Awan 1.026,59 4,15 1.292,33 5,23 Total 24.708,87 100,00 24.708,87 100,00 Perubahan penggunaan lahan pada DAS Tondano selama kurun waktu 6 tahun dari tahun 2001 hingga tahun 2007 relatif tidak terlalu dinamis. Hal ini dilihat dari sedikitnya prosentase perubahan penggunaan lahan setiap tahunnya. Hasil analisis penggunaan lahan terhadap data citra satelit menunjukkan bahwa pada tahun 2001, sebagian besar wilayah DAS Tondano ditutupi oleh hutan seluas 74,16% dari luas DAS secara keseluruhan. Selain hutan, wilayah ini juga ditempati oleh permukiman (8,1%), sawah (7,04%), semak belukar (3,22%), lahan terbuka (3,19%), badan air (0,06%), serta selebihnya ditutupi awan dan bayangan awan. Penggunaan lahan pada tahun 2001 ini tidak berbeda jauh dengan penggunaan lahan pada tahun 2007, sehingga bisa disimpulkan perubahan penggunaan lahan yang terjadi di wilayah ini relatif kecil. Luas hutan di DAS Tondano pada tahun 2001 sebesar 18.323 ha berubah menjadi sekitar 18.098 ha pada tahun 2007, sehingga diperkirakan terjadi pengurangan luas hutan hanya sekitar 0,0021% setiap tahunnya. Luas permukiman relatif meningkat sekitar 0,0165% setiap tahunnya, dari luas sekitar 2.000 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 2.198 ha pada tahun 2007. Sementara penggunaan lahan lainnya relatif berubah secara perlahan, seperti sawah (0,000001% per tahun), semak belukar (0,0315 per tahun) dan lahan terbuka (0,0503% per tahun). Jenis tanah di perbukitan sekitar danau Tonado adalah latosol sehingga jumlah erosi diduga atas dasar curah hujan. Tingkat erosi di DAS Tondano pada tahun 1992 telah mencapai 0,213 ton/ha di lahan bervegetasi, serta sebesar 24,932 81 ton/ha di lahan terbuka tanpa vegetasi. Sementara erosi yang masih dapat ditoleransi sebesar 11,0 ton/ha. Jadi lahan harus tertutup vegetasi untuk menghindari bahaya erosi (DPE 1992). Sungai yang bermuara di Danau Tondano adalah Sungai Noogan, Sungai Panasen, Sungai Ema. Kondisi debit air minimum Sungai Tondano yang masuk ke PLTA saat ini berkisar 4,005 – 20,324 m3/dtk dan maksimum berkisar 53,351 181,225 m3/dtk. PLTA Tanggari I dan II hanya akan beroperasi jika debit air Sungai Tondano minimum 16 m3/dtk. Debit Sungai Tondano dipengaruhi musim. Wilayah Manado, Tondano, dan Airmadidi memiliki iklim dengan nisbah bulan kering (bulan dengan curah hujan < 60 mm) berkisar 0 % – 14,30 %. Faktor lain yang mempengaruhi debit air adanya rumput air di tepian danau sampai sejauh 500 meter dari danau dan erosi dari wilayah sekitarnya. Hal ini merupakan sumber pendangkalan yang menghambat laju air (DPE 1992). 4.3 Kualitas Air Sungai di Wilayah PLTA Kualitas air suatu perairan mencerminkan kualitas lingkungan. Kualitas air waduk sangat dipengaruhi kualitas lingkungan catchment area di wilayah hulu, perubahan penutupan lahan dan penggunaannya. Kualitas air ini akan mempengaruhi dan menentukan kemampuan hidup jasad perairan tersebut dan proses teknis/produksi pembangkit listrik. Kelayakan suatu perairan sebagai lingkungan hidup dipengaruhi oleh sifat fisika kimia perairan tersebut (Krismono et al. 1987; Kartamihardja et al. 1987). Data-data yang berkaitan dengan karakteristik fisik dan kimia yang berpengaruh terhadap PLTA meliputi suhu, TDS, TSS, Fe, COD, DO, H2S, pH, NO3-2, dan PO4-3. Analisis kualitas air sungai pada empat PLTA menggunakan uji T berpasangan dan metode deksriptif dengan membandingkan kualitas air di wilayah PLTA dengan baku mutu kualitas air kelas 4 (PP No.82/2001). Uji T dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kualitas air di inlet dan outlet PLTA. Bilamana nilai P < 0,05 maka H0 ditolak (Siregar 2004). 4.3.1 Kualitas air PLTA Saguling dan Cirata 82 Hasil uji T terhadap kualitas air di inlet dan outlet PLTA dilihat pada Tabel 8. Hasil uji T kualitas air di wilayah PLTA Saguling menunjukkan bahwa secara umum kualitas air di outlet sama dengan kualitas air di inlet. Perbedaan secara nyata (α=0,05) pada kualitas air di inlet dan outlet berdasarkan hasil uji T hanya terlihat pada BOD pada tahun 2005, TSS pada tahun 2008, dan pH tahun 2008 dan tahun 2009. Tabel 8 Hasil uji T kualitas air di PLTA Saguling Parameter P-Value Saguling Tahun 2005 2006 2007 2008 Suhu 0,560 0,396 0,426 0,787 TDS 0,288 0,117 0,220 0,058 TSS 0,620 0,409 0,365 0,031 pH 0,433 0,213 0,453 0,021 H2S 0,391 0,291 0,395 0,221 NO3-2 0,517 0,600 0,850 0,224 PO4-3 0,561 0,074 0,637 0,672 DO 0,103 0,885 COD 0,081 0,833 0,596 0,211 BOD 0,039* 0,621 0,951 0,146 Fe 0,275 0,155 0,078 0,473 Ket: nilai P < 0,05 maka H0 ditolak (sumber : Siregar 2004) ; - : tidak ada data 2009 0,166 0,102 0,112 0,005 0,132 0,155 0,804 0,240 0,467 0,871 0,537 2010 0,076 0,079 0,191 0,199 0,391 0,672 0,342 0,184 0,436 0,714 0,116 Konsentrasi nilai rata-rata median TSS (3 mg/L) dan pH (7,1) di oulet lebih rendah dibandingkan dengan TSS (4 mg/L) dan pH (7.9) di inlet pada tahun 2008. Konsentrasi BOD di outlet (7,85 mg/L) lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi rata-rata median BOD (8,75) di inlet pada tahun 2005 (Lampiran 1). Walaupun ada parameter pada tahun yang berbeda tersebut menunjukkan adanya perbedaan nyata (α=0,05) namun hal tersebut tidak menggambarkan hasil keseluruhan tentang kualitas air waduk. Dari Tabel 8 hanya sekitar 6,25 % data yang menunjukkan ada perbedaan nyata. Kualitas air yang tidak berbeda nyata secara statistik (α=0,05) sebelum dan sesudah dimanfaatkan oleh PLTA menunjukkan bahwa PLTA Saguling dalam kegiatan operasionalnya tidak menurunkan kualitas air. Hasil uji T terhadap kualitas air di inlet dan outlet PLTA Cirata secara umum menunjukkan kualitas air di PLTA Cirata di outlet sama dengan kualitas air di inlet. Perbedaan secara nyata (α=0,05) kualitas air di inlet dan outlet hanya terlihat pada konsentrasi TDS pada tahun 2010 dan phosfat pada tahun 2009. 83 Tabel 9 Hasil uji T kualitas air di PLTA Cirata Parameter P-Value Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 Suhu 0,391 0,406 0,467 0,989 0,074 TDS 0,116 0,759 0,217 0,163 0,110 TSS 0,225 0,401 0,886 0,372 0,375 pH 0,532 0,118 0,623 0,139 0,097 H2S 0,391 0,227 0,333 0,459 NO30,381 0,198 0,759 0,310 0,627 PO4-3_ 0,103 0,153 0,571 0,722 0,034 DO 0,861 0,779 0,373 0,192 0,018 COD 0,960 0,904 0,207 0,781 0,080 BOD 0,892 0,378 0,348 0,692 0,096 Fe 0,319 0,389 0,735 0,428 0,108 Ket: nilai P < 0,05 maka H0 ditolak (sumber : Siregar 2004) ; - : tidak ada data 2010 0,134 0,007 0,577 0,059 0,193 0,284 0,470 0,832 0,638 0,521 0,541 Konsentrasi rata-rata median TDS (150 mg/L) di outlet Cirata pada tahun 2010 lebih tinggi dibandingkan konsentrasi TDS (112 mg/L) di inlet. Konsentrasi phosfat (0,26 mg/L) di outlet lebih tinggi dibandingkan di inlet (0,23 mg/L) pada 2009 sebagaimana tertera pada Lampiran 2. Walaupun terdapat dua parameter pada tahun yang berbeda menunjukkan adanya perbedaan nyata namun hal tersebut tidak menggambarkan hasil keseluruhan tentang kualitas air waduk atau hanya sekitar 3,08 % data yang menunjukkan ada perbedaan nyata. Dengan demikian kualitas air tidak berbeda nyata secara statistik (α=0,05) sebelum dan sesudah dimanfaatkan oleh PLTA Cirata. Hal ini menunjukkan bahwa PLTA Cirata dalam kegiatan operasionalnya tidak menurunkan kualitas air. Analisis hasil uji T memperlihatkan secara statistik kualitas air (kelas IV) di inlet dan outlet PLTA Saguling dan PLTA Cirata tidak berbeda nyata (α=0,05). Proses konversi energi potensial air sungai menjadi energi mekanik kemudian energi listrik di pembangkit tidak ada indikasi adanya tambahan material dalam kegiatan konversi energi tersebut. Sehingga air yang keluar dari turbin pembangkit listrik tenaga air tidak menambah beban lingkungan. Air yang keluar dari turbin PLTA bukan merupakan sisa kegiatan PLTA (Penjelasan pasal 38 ayat 1 dari PP Nomor 82/2001). Berdasarkan data sebaran kualitas air di Waduk Saguling dan Citara secara keseluruhan masih di bawah ambang batas dari baku mutu untuk Kelas 4 (PP No.82/2001), kecuali untuk parameter Biological Oxygen Demand (BOD). 84 Biological Oxygen Demand (BOD) atau kebutuhan oksigen biologis merupakan jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada di dalam air dapat diurai oleh mikroorganisma. Dinamika kualitas air inlet di Waduk Saguling untuk parameter BOD tahun 2005, tahun 2007 hingga tahun 2010 adalah kurang baik. Sebaran konsentrasi BOD telah melewati ambang batas dari baku mutu untuk Kelas 4 (Lampiran 5). Hal tersebut juga terjadi di waduk di PLTA Cirata. Dinamika kualitas air BOD di waduk di Cirata telah melewati ambang baku mutu Kelas 4 dari PP No. 82/2001 pada tahun 2005, 2006, dan 2008 (Lampiran 6). Perairan yang memiliki nilai BOD yang tinggi tidak cocok bagi kepentingan perikanan dan pertanian. PLTA harus memperhatikan dinamika kualitas air baik di inlet dan outlet, sebelum dan sesudah dimanfaatkan oleh PLTA. Sesuai dengan komitmen manajemen puncak untuk selalu memenuhi ketentuan yang berlaku dan mencegah terjadinya polusi dan kerusakan lingkungan yang diikuti dengan melakukan perbaikan secara berkelanjutan. Evaluasi kualitas air terhadap pemenuhan regulasi (audit internal maupun tinjauan manajemen) tidak hanya difokuskan dampak kualitas air terhadap operasional PLTA, PLTA sebagai pemanfaat sumberdaya perlu memperhatikan keseimbangan ekosistem antara wilayah hulu dan hilir baik dalam aspek ekonomi dan pelestarian lingkungan sehingga multifungsi air tetap dapat dipertahankan. Konsentrasi Fe meskipun tidak ditetapkan persyaratan baku mutunya dalam PP No. 82/2001, Fe yang teroksidasi di dalam air berwarna kecoklatan dan tidak dapat larut dapat mengakibatkan penggunaan air menjadi terbatas untuk keperluan fungsi lainnya. Selain itu diketahui bahwa air yang terdapat pada waduk di PLTA Saguling dan Cirata digunakan juga untuk aktivitas lain seperti untuk kegiatan budidaya keramba jaring apung (KJA). Aktivitas KJA merupakan salah satu bentuk untuk mengurangi dampak sosial ekonomi saat pendirian PLTA dan pembangunan waduk dengan jumlah maksimum yang ditetapkan. Sisa limbah pakan ikan dari kegiatan KJA akan menurunkan kualitas air waduk. Peningkatan kontentrasi nitrat dan phosfat dapat terjadi karena masuknya bahan pencemar yang mengandung unsur N dan P seperti dari pakan ikan. Limbah yang berasal dari KJA (tahun 1996-2000) di Waduk Saguling mengandung 1.359.028 kg N dan 85 214.059 kg P, dan di Waduk Cirata mengandung 6.611.787 kg N dan 1.041.417 kg P (Garno 2002). Sementara peningkatan jumlah KJA terus meningkat hingga berjumlah 7209 petak unit pada tahun 2010 di Waduk Saguling dan sebanyak 51418 unit di Waduk Cirata. Jumlah ini telah melewati kapasitas daya dukung waduk. Daya dukung Waduk Saguling hanya dapat menampung 4514 unit petak KJA (Maulana 2010), sedangkan daya dukung Waduk Cirata dapat menampung sebanyak 24000 unit petak KJA (Hapsari 2010). Hal penting lainnya adalah keberlangsungan fungsi waduk juga tergantung pada kondisi keadaan lahan di sekitar daerah tangkapan air (DTA). Berbagai penggunaan lahan sebagaimana diuraikan dalam analisis perubahan penutupan lahan lahan dapat menghasilan berbagai bahan pencemar atau limbah yang akan mengalir ke perairan waduk. Hal ini dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan perairan waduk. Adanya dinamika kualitas air di kedua waduk tersebut menunjukkan bahwa PLTA tidak bisa berhenti melakukan pengendalian terhadap kualitas air yang akan dimanfaatkannya meskipun secara statistik kualitas air waduk di wilayah PLTA Saguling dan Cirata masih sesuai untuk keperluan operasional PLTA. Pendekatan sukarela untuk perlindungan lingkungan dan sumberdaya air perlu ditunjukkan dengan adanya konsistensi untuk mempertahankan kualitas air dan melebihi (beyond) ketentuan dan persyaratan yang berlaku atau yang ditetapkan pihak yang berwenang. Selain itu, keberlanjutan sumberdaya air juga berarti keberlanjutan operasional PLTA itu sendiri. Walaupun pelestarian kualitas air inlet PLTA, terutama di bagian hulu, di luar kendali manajemen PLTA, manajemen PLTA harus mengkomunikasikan kepada stakeholder terkait yang memanfaatkan dan/atau berkepentingan terhadap sumberdaya air waduk. 4.3.2 Kualitas Air PLTA Tanggari I dan II Hasil uji T terhadap kualitas air di inlet dan outlet PLTA Tanggari I dapat dilihat pada Tabel 10. Hasil uji T menunjukkan bahwa secara umum kualitas air di outlet sama dengan kualitas air di inlet. Perbedaan secara nyata (α=0,05) pada kualitas air di inlet dan outlet berdasarkan hasil uji T hanya terlihat pada konsentrasi BOD pada tahun 2006 dan COD pada tahun 2009. 86 Tabel 10 Hasil uji T kualitas air di wilayah PLTA Tanggari I Parameter P-Value Tanggari I 2005 2006 2007 2008 2009 Suhu 0,500 0,252 0,224 0,151 TDS 0,500 1,000 0,055 0,143 0,116 TSS 0,305 0,642 0,295 0,062 0,387 pH 0,391 0,090 0,238 0,209 H2S 0,393 0,541 NO3-2 0,063 0,391 0,483 0,236 0,478 PO4-3 0,391 DO COD 0,514 0,206 0,248 0,134 0,013* BOD 0,823 0,048* 0,340 0,204 0,379 Fe 0,100 0,346 0,232 Ket: nilai P < 0,05 maka H0 ditolak (sumber : Siregar 2004) ; - : tidak ada data 2010 0,675 0,779 0,170 0,570 0,313 0,807 0,604 Pada tahun 2005, konsentrasi rata-rata median BOD ( 5,93 mg/L) di oulet lebih rendah dibandingkan dengan BOD (6,01 mg/L) di inlet. Sedangkan konsentrasi rata-rata median COD (11,35 mg/L) di outlet lebih tinggi dibandingkan dengan COD (10,40 mg/L) di inlet pada tahun 2009 sebagaimana tertera pada Lampiran 3. Walaupun dua parameter yang pada tahun yang berbeda tersebut menunjukkan adanya perbedaan nyata namun hal tersebut tidak menggambarkan hasil keseluruhan tentang kualitas air waduk atau hanya sekitar 4,35 % data di wilayah PLTA Tanggari I yang menunjukkan ada perbedaan nyata (α=0,05). Kualitas air di Tanggari I tidak berbeda nyata secara statistik (α=0,05) sebelum dan sesudah dimanfaatkan oleh PLTA, menunjukkan bahwa PLTATanggari I dalam kegiatan operasionalnya tidak menurunkan kualitas air sungat yang dimanfaatkannya . Hasil uji T terhadap kualitas air di inlet dan outlet PLTA Tanggari II dapat dilihat pada Tabel 11. Hasil uji T menunjukkan bahwa secara umum kualitas air di PLTA Tanggari II di outlet sama dengan kualitas air di inlet. Berdasarkan hasil uji T perbedaan secara nyata (α=0,05) kualitas air di inlet dan outlet hanya terlihat pada suhu dan COD pada tahun 2006, dan pH, BOD, NO3-2 pada tahun 2008. Tabel 11 Hasil uji T kualitas air di wilayah PLTA Tanggari II Parameter Suhu TDS 2005 0,156 0,070 2006 0,036 0,008 P-Value 2007 2008 0,346 0,706 0,241 0,202 2009 0,443 0,456 2010 0,878 0,626 87 TSS 0,071 0,387 pH 0,500 0,474 0,005 H2S NO3-2 0,698 0,718 0,002 PO4-3 DO COD 0,358 0,121 0,123 0,237 BOD 0,218 0,383 0,689 0,036 Fe 0,252 0,929 Ket: nilai P < 0,05 maka H0 ditolak (sumber : Siregar 2004) ; - : tidak ada data 0,313 0,092 0,421 0,171 0,391 0,391 0,656 0,082 0,339 0,949 0,252 0,064 Konsentrasi rata-rata median pada tahun 2006 COD (25,85 mg/L) di oulet Tanggari II adalah lebih tinggi dibandingkan COD (22,5 mg/L) di inlet. Sementara pada tahun 2008, konsentrasi rata-rata median di outlet Tanggari II untuk NO3-2, BOD dan pH lebih rendah dibandingkan di inlet sebagaimana terlihat pada Lampiran 4. Dengan demikian Kualitas air di Tanggari II secara umum tidak berbeda nyata secara statistik (α=0,05) sebelum dan sesudah dimanfaatkan oleh PLTA. Hal ini menunjukkan bahwa PLTA dalam kegiatan operasionalnya tidak menurunkan kualitas air sungai yang dimanfaatkannya. Secara keseluruhan kualitas air di inlet PLTA Tanggari I dan Tanggari II masih di bawah ambang batas dari baku mutu untuk Kelas 4 dari PP No.82/2001 sebagaimana ditunjukkan pada Lampiran 7 dan 8. Namun demikian dinamika kualitas air parameter COD dan Fe di PLTA Tanggari I dan Tanggari II cenderung lebih tinggi di wilayah outlet dibandingkan di wilayah inlet meskipun tetap masih di bawah baku mutu untuk Kelas 4 (PP No.82/2001). Adanya kecenderungan konsentrasi COD dan Fe yang selalu lebih tinggi di wilayah outlet dibandingkan dengan di inlet perlu di evaluasi lebih lanjut oleh manajemen PLTA. Dinamika konsentrasi COD di outlet Tanggari I dan II (Gambar 19 dan 20) juga cenderung lebih tinggi dibandingkan di wilayah inlet mungkin disebabkan adanya aktivitas pemakaian bahan pelumas dalam pemeliharaan peralatan pembangkit yang relatif tua (tahun 1984 dan tahun 1987). Kenaikan konsentrasi besi kemungkinan terjadi karena adanya korosi pada mesin yang sudah relatif lama (berumur kurang lebih 26 tahun). Konsentrasi Fe yang melebihi 0,3 ppm dapat menyebabkan air bersifat toksik (Krismono et al. 1987, Kartamihardjo et al. 1987). 88 25 COD (mg/L) 20 15 10 COD_in COD_out 5 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Gambar 19 Nilai median konsentrasi COD inlet-outlet di PLTA Tanggari I tahun 2005-2010. 30 COD (mg/L) 25 20 15 COD_in 10 COD_out 5 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Gambar 20 Nilai median konsentrasi COD inlet-outlet di PLTA Tanggari II tahun 2005-2010. Selain itu air sungai Tondano juga digunakan untuk aktivitas lainnya. Oleh karena itu PLTA tetap harus memperhatikan kelestarian sumberdaya air tersebut sehingga multifungsi sumberdaya air tetap terpelihara. Keberlanjutan sumberdaya air juga berarti keberlanjutan operasional PLTA. 4.4 Institusi dan Regulasi Terkait Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Mengacu pada kebijakan dan perencanaan pengelolaan sumberdaya air, PLTA melakukan serangkaian program lingkungan dengan melakukan perlindungan terhadap sumberdaya air secara berkelanjutan. Titik fokus kegiatan 89 konservasi sumberdaya air yang dilakukan PLTA yaitu pertama untuk menahan aliran permukaan (run-off) yang sebesar-besarnya dan memberi kesempatan selama-lamanya air untuk masuk ke dalam tanah (infiltrasi) atau tertahan di muka tanah di daerah aliran sungai bagian hulu. Serangkian program lingkungan untuk melindungi sumberdaya air secara berkelanjutan dilakukan melalui program penghijauan di wilayah Green Belt Waduk PLTA hingga daerah batas konstruksi. Pengelolaan vegetasi ini mempengaruhi waktu dan penyebaran aliran air, sehingga wilayah yang ditanami dapat menyimpan air selama musin hujan dan melepaskannya pada musim kemarau (Asdak, 2010). Kemampuan vegetasi menangkap butir air hujan sehingga energi kinetik terserap dalam tanaman dan tidak langsung ke tanah juga akan untuk memperkecil laju erosi (Suripin, 2001). PLTA Saguling menanam 963.175 pohon di areal seluas 1.403 ha sebagaimana ditetapkan Roadmad Program Penghijauan tahun 2003-2016. Jenis pohon yang ditanam adalah pohon buah-buahan, kopi, aren dan jarak. PLTA Cirata mulai tahun 2003 hingga 2011 (dikelola oleh BPWC) telah menanam sebanyak 210.120 pohon dengan jenis tanaman buah-buhan, aren dan kayuan seperti mahoni, mindi, angsana, karet dan trambesi. PLTA Tanggari I dan II memiliki program 10.000 pohon per tahun. Penghijauan di wilayah DAS (Green Belt) Waduk PLTA belum menunjukkan pencapaian tujuan konservasi sumberdaya air secara signifikan dibandingkan dengan penurunan daya dukung lingkungan akibat tingginya perubahan tutupan di wilayah hulu PLTA. Untuk mencapai tujuan perlindungan sumberdaya alam dan lingkungan, pendekatan voluntari memberi fleksibilitas untuk mengembangkan cara untuk mencapai perlindungan lingkungan yang tentu saja memperhitungan aspek ekonomi dan sosial dan secara teknis dapat dilakukan. Pengendalian kualitas maupun kuantitas air sungai (waduk) tidak bisa dikendalikan sendiri. Pemanfaataan sumberdaya air yang notabene sebagai barang publik meminta PLTA perlu memahami perspektif dan concern stakeholder yang memiliki kepentingan terhadap ekosistem dan sumberdaya air. Selain itu, strategi dan teknik operasional pelaksanaannya harus mengacu pada regulasi yang telah ditetapkan. Pemetaan tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder dijadikan sebagai dasar membangun kelembagaan terkait pengelolaan sumberdaya air 90 PLTA. Sementara tinjauan regulasi (legal review) dijadikan dasar pelaksanaan pengelolaan sumberdaya air PLTA yang taat aturan. 4.4.1 Stakeholder dalam Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Stakeholder yang teridentifikasi terkait dengan pengelolaan sumberdaya air PLTA meliputi Kementerian Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Perhutani/HTI, PLN, Dinas Kehutanan, Dinas Pekerjaan Umum, Perusahaan Pengguna, Masyarakat, Pemerintah Daerah, Investor, P3B dan LSM. Hasil justifikasi pakar mengenai tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholder terhadap pencapaian program pengelolaan sumberdaya air di PLTA ditunjukkan pada Tabel 12. Tabel 12 Matrik analisis stakeholder perlindungan sumberdaya air di PLTA Pemangku kepentingan Kementerian Kehutanan Kementerian Pekerjaan Umum Perhutani/HTI Kementerian ESDM Kementerian Kelautan dan Perikanan PLN Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) PLTA Dinas Kehutanan Dinas Pekerjaan Umum Kementerian Pertanian DPRD Perusahaan pengguna Masyarakat Pemerintah Daerah Investor LSM P3B Tingkat Kepentingan Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Tinggi Rendah Rendah Rendah Rendah Tingkat Pengaruh Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Rendah Rendah Tinggi Rendah Rendah Tinggi Tinggi Rendah Rendah Sumber : data primer dari justifikasi pakar Hasil pendapat pakar mengenai besarnya tingkat kepentingan dan pengaruh masing-masing stakeholder dipetakan dalam empat kuadaran yaitu kuadaran I, II, III, dan IV yang menunjukan posisi kepentingan dan pengaruh masing-masing stakeholder. Melalui pemetaan ini, dapat diketahui peran masing-masing 91 stakeholder. Adapun posisi setiap stakeholder berdasarkan hasil pemetaan digambarkan seperti pada Gambar 21. Kemenhut 5.00 Stakeholders ders Primer PLTA PLN (Persero) Perhutani Kementerian KP Masyarakat Kementan Kepentingan Kementerian PU Kementerian ESDM Dishut Dinas PU Perusahaan Pengguna 4.00 Dinas LH KLH DPRD 3.00 Pemda Investor Stakeholders ders Sekunder 2.00 P3B LSM 1.00 Stakeholders Eksternal 0.00 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Pengaruh Gambar 21 Pemetaan para pemangku kepentingan PLTA berdasarkan tingkat kepentingan dan pengaruhnya. pengaruhnya Gambar 21 menunjukkan bahwa terdapat 3 kelompok pemangku kepentingan (stakeholder) terkait pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Ketiga kelompok pemangku kepentingan tersebut adalah stakeholder primer, stakeholder sekunder dan stakeholder eksternal. Stakeholder primer (primary rimary stakeholders) atau stakeholder kunci memiliki tingkat kepentingan tinggi dengan pengaruh yang relatif lebih rendah dalam proses penentuan kebijakan kebijakan. Stakeholder sekunder (secondary econdary stakeholders) memiliki tingkat kepentingan ngan dan pengaruh dalam proses penentuan kebijakan dengan proporsi relatif sama. sama Sementara stakeholder ekternal (external stakeholders) memiliki tingkat 92 kepentingan relatif lebih rendah dengan pengaruh yang tinggi dalam proses penentuan kebijakan. Stakeholder kunci terdiri dari Kementerian Kehutanan, PLN (Persero), PLTA, Perhutani/HTI, Dinas LH, Dinas Kehutanan, Dinas PU, Perusahaan Pengguna dan masyarakat. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menjadi pihak yang memiliki pengaruh dan tingkat kepentingan tertinggi. Hal ini diterkait mungkinkan karena aspek pengelolaan sumberdaya air sangat dekat dengan wilayah hulu DAS yang sebagian besar merupakan kawasan hutan yang menjadi tupoksi Kemenhut. Kemenhut menjadi pihak yang paling berpengaruh dalam proses penyusunan kebijakan strategis terkait pengelolaan sumberdaya air PLTA, karena output kebijakan Kemenhut mampu menjangkau semua pihak terkait. Pada kelompok tengah stakeholder primer (kunci), PLTA menjadi pihak yang paling berkepentingan, sehingga harus menjadi pihak yang proaktif pada tataran operasional. PLTA perlu melakukan komunikasi eksternal dan kerjasama dengan stakeholder kunci lain agar program perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air PLTA tercapai. Stakeholder yang memenuhi kriteria tersebut yaitu Kemenhut, PLN dan Perhutani di tataran pusat, serta Dinas LH, Dinas Kehutanan, Dinas PU, perusahaan pengguna, dan masyarakat pada tataran daerah. Sementara masyarakat menjadi pihak kunci yang berkepentingan, tetapi memiliki pengaruh yang relatif rendah. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat merupakan pihak kunci yang lebih banyak menerima dampak kebijakan pengelolaan sumberdaya air. Oleh karena itu, setiap proses penyusunan dan pengambilan kebijakan tetap harus melibatkan masyarakat yang akan menjadi objek penerima dampak di tataran hilir pelaksanaan kebijakan. PLTA harus melibatkan masyarakat agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam pelaksanaan kebijakan pada tataran operasional. Program lingkungan yang tidak melibatkan masyarakat tidak akan berhasil. Mereka banyak bergantung pada sumberdaya alam di wilayah ini untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Kepentingan masyarakat lebih dipengaruhi oleh kebutuhan mereka akan kelestarian sumberdaya untuk menopang hidup mereka. Masyarakat sebagian besar bersedia lahannya dijadikan lahan untuk rehabilitasi (Sundawati & Sanudin 2009). 93 Kementerian PU, Kementerian ESDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Lingkungan Hidup menjadi institusi pusat yang bisa mendukung program pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Hal ini disebabkan, semua institusi pusat ini berada pada kuadran stakeholder sekunder. Pada kuadran ini juga terdapat DPRD dan Pemda sebagai lembaga daerah yang bisa mendukung keberhasilan program. Sementara pihak swasta yang berada pada kuadran ini adalah pihak investor. Kelompok ini penting untuk mendukung program konservasi SDA namum perlu pemberdayaan dalam tataran operasional. PLTA harus mengajak dan meminta dukungan pihakpihak tersebut. Pemda dan investor patut diajak kerjasama dalam tataran operasional. Pemda berperan sebagai fasilitator dan pemberian izin yang terkait dengan program lingkungan. Investor meskipun memiliki tingkat kepentingan yang rendah namun penting diperhatikan karena memiliki tingkat pengaruh dalam pembentukan opini green product PLTA di pasar internasional. LSM dan Pusat Penyaluran dan pengatur Beban (P3B) memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang relatif rendah dalam konservasi sumberdaya air. PLTA perlu memperhatikan kebutuhan P3B terkait dengan kebutuhan energi listrik yang dibuutuhkan. LSM dapat diajak untuk membantu memberikan advokasi dan pelatihan kepada masyarakat. PLTA perlu mengembangkan upaya untuk membangun potensi kolaborasi yang dapat dikembangkan dari stakeholder ini. Upaya konservasi sumberdaya air tidak dapat dikerjakan sendiri, tetapi membutuhkan upaya bersama dari berbagai pihak. Sebagai pihak yang memanfaatkan sumberdaya air, PLTA perlu mengetahui tipikal dan concern masing-masing stakeholder guna menetapkan kunci keberhasihan. Secara umum stakeholder memiliki perhatian lebih pada kredibilitas dan kemudahan aksesibilitas data, dan ingin mengetahui apakah tujuan pengelolaan sumberdaya air PLTA sesuai dengan strategi lingkungan mereka. Komunikasi eksternal perlu dilakukan lebih intensif dengan pemangku kepentingan guna keberhasilan program lingkungan PLTA dan memperoleh akseptasi mereka. 4.4.2 Tinjauan Regulasi dalam Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA 94 Peraturan perundang-undangan yang diacu oleh ke-empat PLTA dalam melakukan perlindungan sumberdaya air pada tahap operasional adalah Undangundang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumberdaya Air, PP Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, dan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor KEP-02/MENKLH/I/1988 tentang Penetapan Baku Mutu Lingkungan. Selain itu, terkait pengelolaan dan perlindungan kawasan yang lebih luas (DAS hulu PLTA), PLTA juga harus megacu pada UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Secara umum UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air terdiri dari 3 komponen utama yaitu konservasi, pemanfaatan dan pengendalian daya rusak air. Hal ini menunjukkan bahwa untuk melakukan pengelolaan waduk dengan melakukan konservasi, pemanfaatan, pengendalian daya rusak air. Berdasarkan UU ini, penetapan kebijakan pengelolaan sumberdaya air berada pada pemerintah sesuai dengan wilayah penyebarannya. Wilayah sungai yang melintasi provinsi menjadi kewenangan Pemerintah Pusat, wilayah sungai yang melintasi kabupaten/kota menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi, dan wilayah sungai yang hanya ada di kabupaten/kota menjadi kewenangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Sementara PP Nomor 42 Tahun 2008, memberikan kewenangan kepada Dinas pada tingkat provinsi untuk membantu wadah koordinasi pengelolaan sumberdaya air pada wilayah sungai-sungai lintas kabupaten/kota dalam penyusunan rancangan pola pengelolaan sumberdaya air. Hal ini sejalan dengan arahan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan PP 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemda Provinsi, dan Pemda Kabupaten/Kota yang mengatur kewenangan otonomi daerah. Pengelolaan DAS Citarum di mana PLTA Saguling dan Cirata berada yang melintasi dua kabupaten, menurut UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan tanggung jawab pemerintah 95 provinsi. Sementara DAS Tondano di mana PLTA Tanggari I dan II berada dalam satu kabupaten yang sama. Sebagai langkah antisipasi, UU Nomor 7 Tahun 2009 ini juga melarang berbagai pihak untuk melakukan kegiatan yang bisa mengakibatkan daya rusak air. Selain itu, UU ini juga memberi peluang kepada masyarakat untuk terlibat dalam proses penentuan kebijakan terkait pengelolaan sumberdaya air sekaligus memperoleh manfaat dari pengelolaannya. Berbagai peran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan juga diatur dalam UU Nomor 32 Tahun 2009 yang tentu saja terkait dengan pengelolaan sumberdaya air sebagai salah satu aspek dari lingkungan. Kebijakan lain terkait pengelolaan sumber daya air adalah pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran yang diatur dalam PP Nomor 82 Tahun 2001 dan PP No 42 Tahun 2008. Pengelolaan kualitas air tersebut dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas air pada sumber air dan prasarana sumberdaya air. Perbaikan kualitas air pada sumber air dan prasarana sumberdaya air sendiri diatur untuk dilakukan Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai wewenang dan tanggung jawabnya. Sementara itu, penerapan konsep daya dukung dan daya tampung lingkungan perlu diimplementasikan dalam pengelolaan sumberdaya air, karena merupakan bagian dari aspek lingkungan. Hal ini ditegaskan dalam UU Nomor 32 Tahun 2009. Pengelolaan yang terkait kawasan lindung dan budidaya yang berada pada wilayah PLTA diatur dalam UU 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. UU ini mengatur juga tentang pembangunan berkelanjutan dengan mendefinisikan keberlanjutan dalam konteks penataan ruang adalah diselenggarakan dengan menjamin kelestarian dan kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan dengan memperhatikan kepentingan generasi mendatang. Selain itu, kondisi kualitas lingkungan fisik dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan, termasuk pula antisipasi untuk mengembangkan orientasi ekonomi kawasan setelah habisnya sumber daya alam tak terbarukan. Terkait dengan pemenuhan peraturan perundang-undangan yang berlaku, PLTA berkomitmen untuk melakukan konservasi sumberdaya air sesuai dengan konsepsi yang terdapat dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang 96 Sumberdaya Air, Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumberdaya Air, Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, dan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor KEP02/MENKLH/I/1988 tentang Penetapan Baku Mutu Lingkungan. Konservasi air ditujukan untuk meningkatkan volume air, meningkatkan efisiensi penggunaannya, memperbaiki kualitas sesuai dengan peruntukkannya, dan menjaga keberlanjutan kemampuan sumberdaya air untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Gambaran berbagai hal tentang perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air dari aspek regulasi tersebut harus menjadi acuan dalam melakukan implementasi kebijakan. Kondisi saat ini pada empat PLTA yang diteliti, masih terjadi penurunan kualitas air akibat pemanfaatannya sebagai pembangkit tenaga listrik. Hal ini terlihat dari hasil analisis deskriptif kualitas air pada inlet dan outlet PLTA yang masih menunjukkan adanya penurunan kualitas air setelah dimanfaatkan. Hal ini bertentangan dengan ketentuan regulasi yang melarang kegiatan yang bisa menyebabkan daya rusak air, termasuk penurunan kualitasnya. Selain itu, pada sisi pengelolaan masih terjadi konflik kepentingan dan lemahnya koordinasi antar berbagai stakeholder terkait sumberdaya air. Hal ini bisa menghambat pencapaian pengelolaan sumberdaya air secara berkelanjutan. Masyarakat dan pihak swasta lainnya yang diberi peluang untuk mendapat manfaat dari sumberdaya air juga masih melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Salah satunya pemanfaatan badan air waduk/genangan untuk kegiatan budidaya ikan KJA. Saat ini, sudah terjadi pemanfaatan Waduk Cirata dam Saguling untuk budidaya ikan KJA yang melampaui batas daya dukung dan daya tampung lingkungannya. Selain itu, ada juga pemanfaatan waduk untuk budidaya ikan KJA yang tidak sesuai zonasi peruntukannya. Berbagai kesenjangan antara regulasi yang harus ditaati dengan kondisi saat ini di lapangan menjadi gap yang harus dikurangi hingga dihilangkan. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan penaatan terhadap berbagai peraturan yang 97 telah ditetapkan, serta inisiatif sukarela dari stakeholder guna mengimplementasikan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air. 4.5 Nilai Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA Perusahaan akan mengembangkan suatu program, bila benefit yang diperoleh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan. Benefit akibat perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air diperoleh dari jasa yang diberikan ekosistem air yang terlindungi. Jasa ekosistem memberikan use value dan non -use value. Use value terdiri atas direct use value, indirect use value dan option value. Non-use value terkait dengan existence value. Nilai ekonomi dari akibat perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air mempertimbangkan seluruh value yang dikandung dari program tersebut jarang sekali dihitung. Berkaitan dengan program pelestaraian sumberdaya air di PLTA, dilakukan analisis valuasi ekonomi akibat program lingkungan dengan mengambil kasus di PLTA Saguling. Analisis data menggunakan pendekatan Total Economic Value (TEV) yaitu analisis kebijakan untuk menilai manfaat lingkungan secara ekonomis dengan menggabungkan unsur dari berbagai disiplin ilmu yang bersifat deskriptif, valuatif dan normatif. Nilai lingkungan tidak hanya bergantung pada nilai pemanfaatan langsung, namun juga pada seluruh fungsi sumberdaya lain yang memberi nilai (ekonomis dan non ekonomis) yang setinggi-tingginya. Model ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaataan sumberdaya yang dapat diukur secara nyata berdasarkan tolok ukur nilai moneter. Potensi benefit use value dihitung dari market output yang langsung terkait dengan PLTA yaitu nilai produksi listrik, market output tidak langsung dengan PLTA akibat dampak positif dari program lingkungan yang dilakukan PLTA, yaitu nilai produksi ikan, unprices benefit dihitung dari nilai ekowisata, serta ecological function value dihitung dari potensi nilai karbon dari program penghijauan, cadangan air tanah, dan cadangan air waduk. Sedangkan non-use terdiri atas option value, bequest value dan existence value yang dinilai melalui nilai pasar. 98 4.5.1 Nilai Ekonomi Total Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA Saguling dan Cirata di Provinsi Jawa Barat Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA di Provinsi Jawa Barat terdiri dari nilai guna langsung (direct use value), nilai guna tidak langsung (indirect use value), dan nilai bukan guna (non-use value). Nilai guna langsung terdiri dari nilai produksi listrik, nilai produksi ikan, dan nilai ekowisata. Sementara nilai guna tidak langsung yang juga merupakan nilai fungsi ekologis (ecological function value) terdiri dari nilai serapan karbon, nilai cadangan air tanah, dan nilai cadangan air waduk. Sementara nilai bukan guna terdiri dari nilai pilihan dan nilai kelestarian. A. PLTA Saguling  Nilai Guna Langsung  Nilai Produksi Listrik Nilai produksi listrik merupakan keuntungan yang bisa diperoleh dari penjualan energi listrik yang diproduksi oleh PLTA. Nilai keuntungan ini ditentukan oleh jumlah produksi listrik yang bisa dijual dikurangi biaya produksinya. Produksi listrik PLTA Saguling setiap tahunnya sebesar 2.158 GWh. Berdasarkan statistik listrik PLN, harga jual rata-rata per kWh sebesar Rp 591,11 dengan biaya produksi Rp 463, maka bisa diperoleh keuntungan sebesar Rp 276.008.200.000 atau Rp 276 milyar setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Produksi Ikan Usaha KJA Nilai ekonomi produksi ikan yang berasal dari usaha keramba jaring apung (KJA) merupakan keuntungan yang bisa diperoleh dari penjualan ikan hasil budidaya setiap tahunnya. Nilai keuntungan ini ditentukan oleh jumlah KJA, jumlah produksi ikan, harga jual ikan, dan biaya usaha budidaya yang dikeluarkan. Berdasarkan data pada Waduk Saguling terdapat 4.514 unit KJA (Maulana 2010) dengan rata-rata produksi 2 ton per tahun ikan mas dan ikan nila setiap unitnya. Harga jual ikan mas berkisar sebesar Rp 14.000 per kg dan harga jual ikan nila sebesar Rp 15.000 per kg. Jika biaya produksi yang dikeluarkan Rp 28.731.610.000 per unit KJA setiap 99 tahunnya, maka bisa diperoleh keuntungan sebesar Rp 233.080.390.000 atau Rp 233,08 milyar setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Kegiatan Ekowisata Nilai ekonomi ekowisata di Waduk Saguling dihitung dari besarnya biaya perjalanan wisata yang dikeluarkan oleh setiap pengunjung yang datang setiap tahunnya. Pengunjung yang datang umumnya wisatawan transit ke wilayah ini dan rata rata hanya berkunjung 1 kali dalam setahun. Biaya Pengeluaran terdiri atas biaya transportasi dan biaya akomodasi dan konsumsi. Dari hasil kuesioner diperoleh bahwa biaya rata rata transportasi sebesar Rp 116.000,- dan biaya akomodasi dan konsumsi sebesar Rp 33.000,-. Jadi biaya Pengeluaran sebesar Rp. 149.000,-/orang. Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan diperoleh data bahwa ratarata pengunjung yang datang ke waduk Saguling pada hari-hari biasa (Senin-Jumat) berkisar 10 orang, sedangkan pada hari libur seperti hari Sabtu dan Minggu dapat mencapai 20 orang pengunjung. Dari data tersebut diketahui jumlah pengunjung rata-rata 4 orang per hari atau 1.460 pengunjung per tahun. Nilai ekonomi wisata di sekitar Waduk Saguling yaitu sebesar Rp. 149.000 x 1.460 pengunjung = Rp 217, 54 juta = Rp. 0,217 milyar setiap tahunnya.  Nilai Guna Tidak Langsung  Nilai Ekonomi Penghijaun (Serapan Karbon) Nilai ekonomi penyerapan karbon dapat dihitung berdasarkan besarnya kandungan karbon yang tersimpan di dalam vegetasi hutan yang dikonversikan dalam nilai finansial. Menurut Brown dan Peaece (1994) dalam Widada (2004), hutan alam primer, hutan sekunder, dan hutan terbuka memiliki kemampuan menyimpan masing-masing karbon sebesar 283 ton per hektar, 194 ton per hektar, dan 115 ton per hektar. Setiap 1 ton karbon dapat dihargai dengan nilai finansial yang berkisar antara $1 US sampai $28 US (Soemarwoto, 2001). Berdasarkan data ini, maka nilai ekonomi penyerapan karbon di kawasan hutan sekitar Waduk Saguling dapat dihitung. Untuk menghindari penilaian yang terlalu tinggi atau terlalu 100 rendah, maka nilai finansial yang diambil adalah nilai tengah dari yang ditetapkan oleh Soemarwoto yaitu sebesar $19 US per ton. Nilai ekonomi penyerapan karbon di sekitar Waduk Saguling , dapat dihitung dengan asumsi sebagai berikut 1. Luas kawasan hutan di sekitar Waduk Saguling 1.403 hektar dimana keseluruhan merupakan hutan sekunder. 2. Satu hektar hutan sekunder di kawasan hutan sekitar Waduk Saguling menyimpan karbon sebesar menyimpan karbon sebesar 194,00 ton karbon. 3. Nilai karbon sebesar $US 19 per ton dimana untuk $US 1 = Rp 9.425,85 Adapun nilai ekonomi serapan karbon di kawasan Waduk Saguling adalah = 1403 ha x 194,00 ton x $US 19 x Rp. 9425,85 = Rp 35,57 milyar setiap tahunnya.  Nilai Cadangan Air Tanah Jumlah cadangan air tanah di DAS Saguling pada dasarnya merupakan sumber utama bagi air permukaan yang mengalir di Sungai Citarum hulu. Secara tidak langsung air ini juga menjadi pemasok utama pembangkit listrik PLTA Saguling. Sehingga cadangan air tanah ini memiliki potensi ekonomi setara dengan jumlah pembangkitan energi listrik yang bisa dihasilkannya. Besarnya potensi tersebut bisa dihitung dari volume air input yang berasal dari curah hujan di seluruh DAS, dikurangi yang mengalir di air permukaan (run off) dan penguapan yang terjadi di seluruh permukaan DAS. Berdasarkan data diketahui bahwa luas DAS Waduk Saguling adalah 222.830 ha, dengan rata-rata curah hujan sebesar 3.378 mm/tahun dan ratarata penguapan sebesar 1.116 mm/tahun, serta debit air permukaan sebesar 108 m3/detik. Volume cadangan air tanah dihitung dari volume input curah hujan dikali luas DAS, dikurangi volume output penguapan dikali luas DAS dan aliran permukaan. Setiap m3 cadangan air tanah ini berpotensi menghasilkan energi listrik senilai Rp 202. Hasil perhitungan menunjukkan volume cadangan air tanah tersebut bernilai sebesar Rp 330.174.373.200 atau Rp 330,17 milyar setiap tahunnya. 101  Nilai Cadangan Air Waduk Seperti hanya cadangan air tanah, air yang tergenang dalam waduk juga berpotensi untuk dikonversi menjadi energi listrik senilai Rp 202/m3. Potensi ini bisa hilang jika volume air di waduk mengalami pengurangan akibat sedimentasi. Sehingga volume sedimentasi yang masuk ke dalam waduk berpotensi menghilangkan nilai ekonomi cadangan air waduk. Besarnya nilai ekonomi cadangan air waduk sebanding dengan banyaknya sedimen yang masuk ke waduk setiap tahunnya. Berdasarkan data PT Indonesia Power (2010) diketahui rata-rata volume sedimen yang masuk ke dalam Waduk Saguling sebesar 4,2 juta m3 setiap tahunnya. Sehingga nilai cadangan air waduk yang hilang sebesar Rp 848,4 juta setiap tahunnya.  Nilai Bukan Guna  Nilai Pilihan Nilai pilihan waduk adalah nilai pemanfaatan sumberdaya waduk untuk pemanfaatan dimasa yang akan datang. Nilai pilihan waduk dihitung sama dengan dengan nilai keberadaan di atas yaitu menggunakan metode Contingent Valuation Method (CVM) yang didasarkan pada seberapa besar seseorang atau masyarakat mau membayar (willingness to pay) untuk melindungi sumberdaya waduk. Nilai pilihan ini dihitung berdasarkan bagaimana manfaat sumberdaya alam yang terkandung dalam waduk dapat dipertahankan sehingga dapat dimanfaatkan untuk masa yang akan datang. Untuk mengumpulkan data berkaitan dengan nilai pilihan ini, disebarkan kuisioner kepada responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua responden menyatakan bahwa Waduk perlu dipertahankan manfaat yang terkandung di dalamnya terutama untuk pemanfaatan dimasa yang akan datang. Terkait dengan kesediaan membayar agar manfaat SDA dalam hutan sekitar waduk tetap dipertahankan, sekitar 50% menyatakan bersedia membayar dan sisanya (50%) menyatakan tidak bersedia membayar. Adapun besar biaya yang bersedia dibayarkan untuk mempertahankan manfaat Waduk Saguling adalah sekitar 75 % bersedia membayar sebesar Rp. 5.000,- dan hanya sekitar 25 % bersedia membayar sebesar Rp. 10.000,-. 102 Dari kisaran kesediaan membayar tersebut, jika dirata-ratakan maka dapat diketahui besaran kesediaan membayar setiap responden yaitu sebesar Rp. 12.500,00/orang Berdasarkan data di atas, dihitung nilai pilihan waduk yaitu nilai manfaat (WTP) dikalikan dengan jumlah penduduk di wilayah penelitian. Berdasarkan data statistik, jumlah penduduk di sekitar waduk sebanyak 618.479 jiwa, sehingga nilai pilihan Waduk Saguling = Rp 12.500 x 618.479 jiwa = Rp 7.730.987.500 atau Rp 7,73 milyar.  Nilai Kelestarian Waduk Nilai kelestarian waduk juga dihitung dengan metode Contingent Valuation Method (CVM). Nilai kelestarian waduk dihitung berdasarkan pentingnya dilestarikan kawasan waduk terutama untuk mempertahankan fungsinya sebagai kawasan konservasi air untuk operasional PLTA dan kebutuhan air bagi masyarakat sekitar. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuisioner untuk 120 responden. Informasi yang ingin digali dalam kuisioner dituangkan dalam bentuk pertanyaan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa semua responden menyatakan bahwa waduk perlu dilestarikan untuk mempertahankan fungsinya sebagai kawasan konservasi air dan pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat. Berkaitan dengan kesediaan membayar untuk melestarikan fungsi Waduk, sekitar 62,5 % menyatakan bersedia membayar dan 37,2 % menyatakan tidak bersedia membayar. Adapun besar biaya yang bersedia dibayarkan untuk melestarikan Waduk adalah sekitar 37,5 % bersedia membayar sebesar Rp. 5.000, sekitar 12,5 % bersedia membayar sebesar Rp. 10.000 dan sekitar 12,5 % bersedia membayar sebesar Rp. 15.000 serta sisanya yaitu sekitar 37,3 % tidak bersedia membayar. Dari kisaran kesediaan membayar tersebut, jika dirataratakan maka dapat diketahui besaran kesediaan membayar setiap responden yaitu sebesar Rp. 15.000,00/orang . Berdasarkan data di atas, dapat dihitung nilai kelestarian waduk yaitu nilai kelestarian (WTP) dikalikan dengan jumlah kepala keluarga di wilayah penelitian. Jumlah kepala keluarga sebanyak diasumsikan ¼ dari jumlah 103 penduduk atau setiap keluarga rata-rata terdiri dari 4 orang. Nilai Pelestarian Waduk = Rp 15.000,00 x (35.638 jiwa/4) = Rp 2.319.296.250 2,31 milyar setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Total Nilai ekonomi total perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air di PLTA Saguling merupakan jumlah dari keseluruhan nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung, dan nilai bukan guna disajikan dalam Tabel 13. Berdasarkan hasil penelitian seperti diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa perlindungan dan pengeloaan sumberdaya air di PLTA dengan studi kasus di PLTA Saguling memiliki nilai ekonomi yang cukup besar terkait pemanfaatan jasa lingkungan waduk. Nilai ekonomi ini dihitung dari perbaikan sistem perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air PLTA dan perbaikan hubungan antara perusahaan (PLTA) dengan masyarakat sekitar sebagai manfaat utama yang diperoleh PLTA Saguling. Tabel 13 Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Saguling No Parameter 1 Nilai Benefit Listrik 2 Nilai Keuntungan Ikan 3 Nilai Ekowisata Nilai Guna Langsung 4 Nilai Serapan Karbon 5 Nilai Potensi Cadangan Air 6 Nilai Potensi Kelestarian Air Nilai Guna Tidak Langsung 7 Option Value 8 Preservation Value Nilai Bukan Guna Nilai Ekonomi Total Jumlah (Rp) 276.008.200.000 233.080.390.000 217.540.000 509.306.130.000 35.577.531.494 330.174.373.200 848.400.000 366.600.304.694 7.730.987.500 2.319.296.250 10.050.283.750 885.956.718.444 Besar nilai ekonomi total (Total Economic Value) dari pengelolaan sumberdaya air di PLTA Saguling mencapai Rp. 885.956.718.444 atau sekitar Rp. 0,885 triliyun. B. PLTA Cirata 104  Nilai Guna Langsung  Nilai Produksi Listrik Berdasarkan perhitungan yang sama, maka potensi nilai ekonomi produksi listrik PLTA Cirata yang bisa diperoleh sebesar Rp 182.385.400.000 atau Rp 182,38 milyar setiap tahunnya. Nilai ini diperoleh karena PLTA Cirata memproduksi rata-rata energi listrik sebesar 1.426 GWh setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Produksi Ikan Usaha KJA Sementara potensi nilai ekonomi produksi ikan PLTA Cirata dipengaruhi oleh daya dukung waduk terhadap jumlah KJA maksimum yang bisa diusahakan, yaitu sejumlah 24.000 unit (Hapsari 2010). Jumlah ini memungkinkan diperolehnya nilai ekonomi produksi budidaya perikanan sebesar Rp 1.239.240.000.000 atau Rp 1,23 triliun setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Kegiatan Ekowisata Jmlah kunjungan wisatawan sebanyak 17.516 setiap tahun ke lokasi sekitar PLTA Cirata berkontribusi terhadap nilai ekonomi kegiatan ekowista. Berdasarkan jumlah wisatawan tersebut, maka potensi nilai ekonomi yang bisa diperoleh dari kegiatan ekowisata di sekitar PLTA Cirata sebesar Rp 2.627.400.000 atau Rp 2,62 milyar setiap tahunnya.  Nilai Guna Tidak Langsung  Nilai Ekonomi Penghijaun (Serapan Karbon) Luasan lahan yang telah direboisasi seluas 525 ha di sekitar PLTA Cirata menghasilkan potensi nilai ekonomi penyerapan sebesar Rp 18.250.856.732 atau Rp 18,25 milyar setiap tahunnya.  Nilai Cadangan Air Tanah DAS Waduk Cirata yang merupakan perluasan dari DAS Waduk Saguling memiliki cadangan air tanah yang lebih banyak. DAS Cirata mencakup wilayah seluas 465.286 ha dengan curah hujan rata-rata 2.557 mm/tahun dan penguapan rata-rata 1.116 mm/tahun. Berdasarkan kondisi tersebut, diperoleh potensi nilai ekonomi cadangan air tanah PLTA Cirata sebesar Rp 222.230.744.400 atau Rp 222,23 milyar setiap tahunnya.  Nilai Cadangan Air Waduk 105 Waduk Cirata yang berada di hilir Waduk Saguling tentu saja menerima erosi dan sedimentasi yang lebih besar. Hal ini disebabkan luas DAS yang lebih besar, sehingga perhitungan potensi nilai ekonomi cadangan air waduk PLTA Cirata menghasilkan nilai sebesar Rp 961.520.000 atau Rp 0,96 milyar setiap tahunnya.  Nilai Bukan Guna  Nilai Pilihan Jumlah penduduk di sekitar Waduk Cirata yang berjumlah sebesar 234.322 jiwa berpengaruh terhadap besarnya nilai pilihan. Berdasarkan perhitungan potensi nilai pilihan PLTA Cirata sebesar Rp 2.929.025.000 atau Rp 2,92 milyar setiap tahunnya.  Nilai Kelestarian Waduk Jumlah penduduk tersebut berkontribusi juga terhadap banyaknya kepala keluarga (KK) yang bermukim di sekitar Waduk Cirata. Hal ini menghasilkan perhitungan potensi nilai ekonomi kelestarian waduk PLTA Cirata sebesar Rp 878.707.500 atau Rp 0,87 milyar setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Total Nilai ekonomi total perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air di PLTA Cirata merupakan jumlah dari keseluruhan nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung, dan nilai bukan guna disajikan dalam Tabel 14. Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa perlindungan dan pengeloaan sumberdaya air di PLTA dengan studi kasus di PLTA Cirata juga memiliki nilai ekonomi yang cukup besar terkait pemanfaatan jasa lingkungan waduk. Nilai ekonomi ini dihitung dari perbaikan sistem perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air PLTA dan perbaikan hubungan antara perusahaan (PLTA) dengan masyarakat sekitar sebagai manfaat utama yang diperoleh PLTA Cirata. Besar nilai ekonomi total dari pengelolaan sumberdaya air di PLTA Cirata mencapai Rp. 1.669.503.653.632 atau sekitar Rp. 1,66 triliyun. Tabel 14 Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Cirata No 1 Parameter Nilai Benefit Listrik Jumlah (Rp) 182.385.400.000 106 2 3 4 5 6 7 8 Nilai Keuntungan Ikan Nilai Ekowisata Nilai Guna Langsung Nilai Serapan Karbon Nilai Potensi Cadangan Air Nilai Potensi Kelestarian Air Nilai Guna Tidak Langsung Option Value Preservation Value Nilai Bukan Guna Nilai Ekonomi Total 1.239.240.000.000 2.627.400.000 1.424.252.800.000 18.250.856.732 222.230.744.400 961.520.000 241.443.121.132 2.929.025.000 878.707.500 3.807.732.500 1.669.503.653.632 4.5.2 Nilai Ekonomi Total Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA Tanggari I dan Tanggari II di Provinsi Sulawesi Utara Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA di Provinsi Sulawesi Utara terdiri dari nilai NET PLTA Tanggari I dan II. Berbeda dengan PLTA di Provinsi Jawa Barat, PLTA di Provinsi Sulawesi Utara hampir seluruh parameternya memiliki fungsi ekonomi secara bersama. Fungsi ekonomi jasa lingkungan yang dihitung terpisah hanya nilai produksi listrik masing-masing PLTA. Sehingga nilai ekonomi total PLTA Tanggari I dan II merupakan jumlah nilai ekonomi produksi listrik masing-masing PLTA ditambah nilai ekonomi parameter lainnya secara bersama-sama. Persamaan dan teknik perhitungan yang digunakan sama dengan yang dilakukan pada PLTA di Provinsi Jawa Barat.  Nilai Guna Langsung  Nilai Produksi Listrik Berdasarkan perhitungan, potensi nilai ekonomi produksi listrik PLTA Tanggari I yang bisa diperoleh sebesar Rp 1.164.350.440 atau Rp 1,16 milyar setiap tahunnya. Sementara potensi nilai ekonomi produksi listrik PLTA Tanggari II adalah sebesar Rp 1.391.374.859 atau Rp 1,39 milyar setiap tahunnya. Sehingga total nilai produksi listrik untuk PLTA Tanggari I dan II adalah sebesar Rp 2.555.725.299 atau Rp 2,55 milyar per tahunnya.  Nilai Ekonomi Produksi Ikan Usaha KJA Potensi nilai ekonomi produksi ikan PLTA Tanggari I dan II dengan keberadaan KJA sebanyak 6000 unit. Hal ini menghasilkan potensi nilai 107 ekonomi produksi ikan sebesar Rp 235.350.000.000 atau Rp 0,23 triliun setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Kegiatan Ekowisata Potensi nilai ekonomi yang bisa diperoleh dari kegiatan ekowisata di sekitar PLTA Tanggari I dan II sebesar Rp 9.317.430.000 atau Rp 9,31 milyar setiap tahunnya. Hal ini diperoleh berdasarkan rata-rata jumlah wisatawan yang berkunjung sebanyak 34.509 orang setiap tahunnya. Selain itu, hal ini diperoleh dari besarnya pengeluaran wisatawan yang berupa biaya transportasi dan biaya akomodasi selama melakukan kunjungan wisata.  Nilai Guna Tidak Langsung  Nilai Ekonomi Penghijaun (Serapan Karbon) Saat ini di sekitar PLTA Tanggari I dan II telah dilakukan penghijauan seluas 125 ha. Luas areal penghijauan tersebut menghasilkan potensi nilai ekonomi penyerapan karbon di sekitar PLTA Tanggari I dan II sebesar Rp 4.342.960.388 atau Rp 4,34 milyar setiap tahunnya.  Nilai Cadangan Air Tanah Potensi nilai ekonomi cadangan air tanah PLTA Tanggari I dan II berada pada DAS Tondano seluas 24.708 ha. DAS seluas ini dengan tingkat curah hujan tahunan rata-rata sebesar 1.936 mm menghasilkan potensi ekonomi cadangan air tanah senilai Rp 481.745.760 atau Rp 0,48 milyar setiap tahunnya.  Nilai Cadangan Air Sungai Sementara cadangan air sungai yang menjadi potensi ekonomi PLTA Tanggari I dan II senilai Rp 404.000.000 atau Rp 0,40 milyar setiap tahunnya.  Nilai Bukan Guna  Nilai Pilihan Nilai pilihan pada PLTA Tanggari I dan II dihitung dari rata-rata WTP sebesar Rp 12.500 dikalikan dengan jumlah penduduk di sekitar PLTA. Hasil perhitungan menunjukkan potensi nilai pilihan sebesar Rp 331.975.000 atau Rp 0,33 milyar setiap tahunnya. 108  Nilai Kelestarian Waduk Berdasarkan perhitungan yang sama dengan nilai pilihan, tetapi terhadap jumlah KK di sekitar PLTA Tanggari I dan II diperoleh nilai ekonomi kelestarian menurut penduduk diperoleh sebesar Rp 99.592.500 atau Rp 0,09 milyar setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Total Nilai ekonomi total perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air di PLTA Tanggari I dan II disajikan dalam Tabel 15. Tabel 15 Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Tanggari I dan II No 1 2 3 4 5 6 7 8 Parameter Nilai Benefit Listrik Nilai Keuntungan Ikan Nilai Ekowisata Nilai Guna Langsung Nilai Serapan Karbon Nilai Potensi Cadangan Air Nilai Potensi Kelestarian Air Nilai Guna Tidak Langsung Option Value Preservation Value Nilai Bukan Guna Nilai Ekonomi Total Jumlah (Rp) 2.555.725.299 235.350.000.000 9.317.430.000 247.223.155.299 4.342.960.388 481.745.760 404.000.000 5.228.706.148 331.975.000 99.592.500 431.567.500 251.492.054.088 Hasil perhitungan menunjukkan bahwa perlindungan dan pengeloaan sumberdaya air di PLTA dengan studi kasus di PLTA Tanggari I dan II juga memiliki nilai ekonomi yang relatif besar terkait pemanfaatan jasa lingkungan sumberdaya air, meskipun tidak sebesar PLTA di Provinsi Jawa Barat. Hal ini disebabkan kapasitas produksi listrik dan potensi ekonomi lainnya yang memiliki skala lebih kecil. Nilai ekonomi total dari pengelolaan sumberdaya air di PLTA Tanggari I dan II mencapai Rp. 251.492.054.088 atau sekitar Rp. 0,25 triliyun. 109 4.6 Prioritas Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Upaya penyelamatan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, sebab fenomena ini menyentuh semua lapisan masyarakat dan institusi dan kehidupan selanjutnya. Kesadaran akan pentingnya kualitas lingkungan juga merupakan tanggungjawab global, sehingga berbagai kesepakatan dunia dilakukan untuk meningkatkan kinerja lingkungan. Tekanan konsumen, tekanan pemerintah dan kekuatan pasar dan kepentingan individu organisasi terhadap perlindungan lingkungan memotivasi penerapan sistem manajemen lingkungan (Uchida 2004). Perlindungan lingkungan berbasis pendekatan sukarela semakin diminati oleh pengambil keputusan sebagai tool untuk mengajak pencemar berpartisipasi dalam perlindungan lingkungan (Segerson & Thomas, 1998). Kehadiran kebijakan sukarela untuk mengurangi ketidakfleksibelan kebijakan mandatori dapat menjadi salah satu alternatif yang bersinergi dalam mempercepat perlindungan lingkungan. Kebijakan perlindungan berbasis sukarela perlu dirumuskan untuk implementasi ke depan, mengingat dalam penerapannya banyak pihak yang terkait. Untuk merumuskan desain kebijakan ini menggunakan teknik analisis hirarki proses (AHP). Teknik AHP umumnya dikembangkan untuk memecahkan persoalan yang tidak terstruktur dan komplek dalam kerangka berfikir yang terorganisir sehingga pengambilan keputusan yang efektif dan menyeluruh dapat dilakukan. 4.6.1 Struktur AHP dan Nilai Eigen Dalam merumuskan desain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA, terlebih dahulu disusun hierarki kebijakan untuk mendukung pengambilan keputusan desain kebijakan tersebut. Hierarki kebijakan tersebut disusun berdasarkan justifikasi pakar dimana pakar menetapkan lima level hierarki yaitu :  Level pertama merupakan fokus kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA.  Level kedua merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi/memotivasi perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA yang 110 terdiri atas tekanan pemerintah, tekanan global, tekanan masyarakat, tekanan pembeli dan kepentingan PLTA.  Level ketiga adalah aktor yang berperan dalam pengembangan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA antara lain pemerintah, masyarakat, pembeli, investor, dan industri  Level keempat adalah tujuan yang ingin dicapai dalam pengembangan kebijakan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA terdiri atas perlindungan lingkungan, kontinuitas PLTA, pengakuan publik, dan liabilitas lingkungan.  Level kelima adalah alternatif kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA yang meliputi penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional, pemberian insentif dan disinsentif, peningkatan nilai lingkungan internal. Setiap elemen pada setiap level selanjutnya diboboti oleh pakar dengan menggunakan nilai bobot seperti yang telah ditetapkan oleh Saaty (1993). Pengolahan data untuk menentukan elemen prioritas dalam pengambilan keputusan kebijakan perlindungan lingkungan berbasis sukarela menggunakan software Criterium Decision Plus (CDP) versi 3,0. Hasil sintesis menghasilkan nilai eigen (bobot) untuk setiap pilihan yang ada di dalam struktur AHP. Untuk memudahkan dalam interpretasi hasil terhadap nilei eigen maka nilai tersebut dimasukkan dalam struktur AHP secara kumulatif sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 22. Hasil sistesis AHP atas pendapat pakar menunjukkan bahwa faktor yang berperan memotivasi pengembangan dan implementasi kebijakan sukarela (voluntari) di PLTA adalah tekanan pemerintah dengan nilai eigen 0,462. Kemudian tekanan global dengan bobot 0,198. Sedangkan tekanan masyarakat, kepentingan PLTA dan tekanan pembeli memiliki nilai eigen masing sebesar 0.143; 0,111 dan 0,087. 111 Gambar 22 Struktur AHP dan nilai eigen pada hirarki model disain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. 112 4.6.2 Konstribusi Peran Setiap Level Konstribusi peran dari masing masing level yaitu level faktor, level aktor dan level tujuan kemudian dianalisis terhadap pengembangan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA sebagai berikut: Pertama, konstribusi peran faktor dalam disain insentif dan disinsentif kebijakan Perlindungan lingkungan berbasis sukarela, pakar melihat bahwa faktor yang paling berpengaruh adalah tekanan pemerintah (0,201), tekanan global (0,087), tekanan masyarakat (0,063), kepentingan PLTA (0,048) dan tekanan pembeli (0,038). Nilai konstribusi faktor dalam menetapkan alternatif kebijakan perlindungan lingkungan berbasis sukarela ditunjukkan pada Tabel 16 dan Gambar 23. Tabel 16 Nilai kontribusi faktor dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela Alternatif kebijakan Insentif & Disinsentif Penguatan Infrastruktur kelembagaan Peningkatan Nilai Lingkungan Internal Tekanan Pemerintah 0,201 Nilai Konstribusi Faktor Kepentin Tekanan Tekanan gan Global Masyarakat PLTA 0,087 0,063 0,048 Tekanan Pembeli 0,038 0,172 0,073 0,053 0,042 0,032 0,088 0,038 0,028 0,021 0,017 sumber : hasil analisis, 2011 Contributions to Perlindungan Lingk Berbasis Sukarela from Level:Faktor 0.45 0.45 0.40 0.40 0.35 0.35 0.30 0.30 0.25 0.25 0.20 0.20 0.15 0.15 0.10 0.10 0.05 0.05 0.00 0.00 Insentif & Disinsentif Penguatan Inf kelembagaan Peningkatan Nilai Ling Internal Gambar 23 Kontribusi faktor terhadap alternatif kebijakan. T. Pemerintah T. Global T. Masyarakat K. PLTA T. Pembeli 113 Kedua, kontribusi peran aktor dalam disain kebijakan perlindungan lingkungan berbasis sukarela bahwa pemerintah, pembeli, perusahaan lain dan PLTA lebih mengutamakan alternatif insentif dan disinsentif dengan nilai masing masing sebesar 0,188; 0,057; 0,037 dan 0,021. Sedangkan masyarakat dan investor lebih cenderung menginginkan penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional dengan nilai masing-masing 0,102 dan 0,051. Adapun nilai konstribusi peran aktor hasil analisis pendapat pakar secara rinci disajikan pada Tabel 17 dan Gambar 24. Tabel 17 Nilai kontribusi aktor dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela Alternatif kebijakan Pemerintah Nilai Kontribusi Aktor Masyarakat Pembeli Investor Perusahaan lainnya PLTA Insentif & Disinsentif 0,188 0,087 0,057 0.048 0,037 0,021 Penguatan Infrastruktur kelembagaan 0,139 0,102 0,045 0,051 0,021 0,014 Peningkatan Nilai Lingkungan Internal 0,082 0,038 0,025 0,021 0,016 0,008 sumber : hasil analisis, 2011 Contributions to Perlindungan Lingk Berbasis Sukarela from Level:Aktor 0.45 0.45 0.40 0.40 0.35 0.35 0.30 0.30 0.25 0.25 0.20 0.20 0.15 0.15 0.10 0.10 0.05 0.05 0.00 0.00 Insentif & Disinsentif Gambar 24 Penguatan Inf kelembagaan Peningkatan Nilai Ling Internal Kontribusi aktor terhadap alternatif kebijakan. Pemerintah Masyarakat Pembeli Investor Perusahaan lain PLTA 114 Ketiga, berbagai tujuan yang diharapkan dalam mendisain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumber daya air adalah perlindungan lingkungan, liabilitas lingkungan, kontinuitas PLTA, dan pengakuan publik. Hasil analisis atas justifikasi pakar menunjukkan bahwa untuk mencapai tujuan perlindungan lingkungan memerlukan kebijakan insentif dan disintentif. Sedangkan untuk mencapai tujuan kuntinuitas PLTA, pengakuan publik dan liabilitas lingkungan yang paling diperlukan adalah penguatan infrastruktur kelembagaan. Adapun hasil analisis secara rinci seperti pada Tabel 18 dan Gambar 25. Tabel 18 Nilai kontribusi tujuan dalam menetapkan perlindungan sumberdaya air berbasis sukarela Alternatif Kebijakan Perlindungan Lingkungan pilihan Nilai Kontribusi Tujuan Kontinuitas Pengakuan PLTA Publik kebijakan Liabilitas Lingkungan Insentif & Disinsentif 0,317 0,052 0,041 0,026 Penguatan Infrastruktur kelembagaan 0,033 0,116 0,122 0,102 Peningkatan Nilai Lingkungan Internal 0,145 0,017 0,018 0,011 Sumber : hasil analisis, 2011 Contributions to Perlindungan Lingk Berbasis Sukarela from 0.45 0.45 0.40 0.40 0.35 0.35 0.30 0.30 0.25 0.25 0.20 0.20 Pengakuan Publik 0.15 0.15 0.10 0.10 0.05 0.05 0.00 0.00 Insentif & Disinsentif Penguatan Inf kelembagaan Peningkatan Nilai Ling Internal Gambar 25 Kontribusi tujuan terhadap alternatif kebijakan. Perlind. Lingkung Kuntinuitas PLTA Liabilitas Lingku 115 4.6.3 Pengembangan Keputusan Alternatif Kebijakan Hasil sintesis AHP menetapkan bahwa alternatif kebijakan yang paling tinggi untuk dipilih adalah kebijakan insentif dan disinsentif. Hal ini terlihat dari nilai bobot yang lebih besar dibandingkan dengan alternatif lainnya yaitu sebesar 0,436. Alternatif selanjutnya adalah penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional dengan nilai bobot 0,372 dan iikuti dengan peningkatan nilai lingkungan internal dengan bobot 0,080. Nilai dan ranking alternatif kebijakan ditunjukkan pada Tabel 19. Sedangkan gambaran secara menyeluruh antar pilihan kebijakan yang ada ditunjukkan pada grafis histogram. Nilai skor keputusan tertinggi ditunjukkan dengan diagram batang terpanjang yaitu insentif dan disinsentif. Gambaran menyeluruh antar pilihan kebijakan dalam bentuk grafis histogram ditunjukkan pada Gambar 26, sedangkan dalam bentuk scatter plot pada Gambar 27. Tabel 19 Nilai alternatif kebijakan perlindungan lingkungan sukarela Level Alternatif Bobot Ranking Insentif & disinsentif 0,436 I Penguatan infrastruktur kelembagaan 0,372 II Peningkatan nilai lingkungan internal 0,192 III Konsistensi ratio = 0,080 Sumber : hasil analisis, 2011 Gambar 26 Pengambilan keputusan dengan cara histogram dalam penetapan kebijakan perlindungan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. 116 1 0.8 0.6 Insentif & Disinsentif 0.4 Penguatan Inf kelembagaan 0.2 Peningkatan Nilai Ling Internal 0 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 Decision Score Gambar 27 Pengambilan keputusan dengan cara scatter plot dalam penetapan kebijakan perlindungan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Analisa di atas memperlihatkan bahwa kebijakan terbaik dalam desain pengembangan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA adalah dengan menerapkan kebijakan memberikan insentif dan disinsentif dibandingkan dengan kebijakan pengembangan infrastuktur kelembangaan dan institusional, dan penguatan valuasi lingkungan internal. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebagaimana diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa alternatif desain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela pada kasus PLTA adalah insentif dan disinsentif (0,436), diikuti penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional (0,372) dan Penguatan nilai lingkungan internal (0,192). Untuk memperkuat instensif dan disintentif, maka faktor yang paling berpengaruh adalah tekanan pemerintah (0,462) dibandingkan dengan tekanan global (0,198), tekanan masyarakat (0,143), kepentingan PLTA (0,111) dan tekanan pembeli (0,087). Pemerintah, pembeli, perusahaan dan PLTA lebih mengutamakan alternatif insentif dan disinsentif dalam desain kebijakan, sedangkan masyarakat dan investor cenderung menginginkan penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional. Kebijakan insentif dan disinsentif merupakan tool regulasi yang fundamental untuk mencapai perlindungan lingkungan berbasis sukarela. 117 Penguatan infrastruktur kelembagaan dan isntitusional diperlukan untuk mencapai tujuan kuntinuitas PLTA, pengakuan publik dan liabilitas lingkungan. Hasil di atas memperlihatkan faktor yang paling mempengaruhi PLTA untuk melakukan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air secara sukarela adalah tekanan pemerintah. Daya tekan masyarakat dan pembeli belum banyak mempengaruhi organisasi (PLTA) untuk melaksanakan program perlindungan sukarela. Hal ini dimungkinkan tekanan pemerintah telah terdiskripsikan dalam suatu tata aturan legislasi secara jelas dan dapat menjadi acuan organisasi (PLTA) untuk melaksanakan suatu tindakan. Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian Uchida (2004) yang menyebutkan bahwa tekanan pemerintah memotivasi perusahaan di Jepang untuk mengembangkan perlindungan lingkungan. Tekanan pemerintah dalam bentuk regulasi dan penyelenggaraannya merupakan dorongan utama praktek perlindungan lingkungan sumberdaya alam (Delmas et al. 2004). Pemerintah juga masih menjadi aktor utama untuk mendukung pencapaian tujuan perlindungan lingkungan sumberdaya air. Sektor swasta masih belum menjadi aktor utama untuk menggulirkan program perlindungan berbasis sukarela. Konsepsi pendekatan sukarela yang menekankan upaya proaktif perusahaan untuk merespon ketentuan regulasi, kebutuhan masyarakat dan pasar yang kemudian diterjemahkan dalam perencanaan strategisnya belum sepenuhnya dipahami. Keputusan penerapan inisiatif sukarela sangat penting untuk dipahami oleh pengambil keputusan dalam organisasi. Benefit inisiatif sukarela belum diterjemahkan secara luas oleh perusahaan dalam kontek sosial ekonomi yang lebih luas. Sehingga keuntungan tidak hanya terkait dengan peningkatan efisiensi penggunaan sumberdaya dan proses produksi, serta corporate image. Perbaikan sumberdaya air yang dilakukan juga berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dan dapat meningkatkan keterlibatan perusahaan untuk memberikan input terhadap penyempurnaan regulasi saat ini untuk pelaksanaan yang lebih baik (Lyon et al. 1998). Peran pemerintah dan tekanan regulasi yang tinggi dalam pengembangan kebijakan sukarela saat ini, bisa digunakan untuk penyusunan program bersama antara pemerintah dan perusahaan dalam bentuk perjanjian negosiasi. Regulasi menjadi landasan untuk pengembangan kebijakan sukarela dan sebagai target 118 lingkungan yang harus disetujui oleh perusahaan dalam periode waktu tertentu. Perjanjian ini juga dapat digunakan sebagai acuan untuk mempromosikan program insentif dan disinsentif untuk mencapai tujuan perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. 4.7 Model Dinamik Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Secara umum dari aspek lingkungan, PLTA sangat bergantung dengan kualitas dan kuantitas sumberdaya air yang menjadi pasokan bagi pembangkitan energi listriknya. Sementara kuantitas air sangat bergantung dari sumbernya di bagian hulu PLTA. Keberadaan dan kontinuitas kuantitas air ini sangat dipengaruhi kondisi penutupan dan penggunaan lahan di hulu PLTA. Perubahan penggunaan lahan akan sangat berpengaruh terhadap karakteristik air permukaan dan air bawah permukaan yang bisa diserap lahan. Hal ini akan berpengaruh secara langsung terhadap kuantitas dan kontinuitas air pasokan bagi PLTA. Selain itu, kinerja PLTA juga masih dipengaruhi oleh kualitas air yang akan dialirkan ke dalam turbin pembangkit listrik. Kualitas air akan sangat berpengaruh terhadap mesin pembangkitan yang dialiri air. Sifat kimia yang korosif dan cemaran sedimen bisa mempengaruhi kinerja dan usia teknis mesin pembangkit listrik. Aspek sosial yang terkait pengelolaan sumberdaya air PLTA adalah hubungan antara pengelola PLTA dengan semua stakeholder terkait. Hubungan ini terkait komunikasi yang terjalin antar stakeholder serta kolaborasi dalam melakukan pengelolaan yang berbasis sukarela. Selain aspek sosial, terdapat juga aspek ekonomi baik dari pengelolaan PLTA, maupun dari jasa lingkungan sumberdaya air yang bisa dimanfaatkan oleh semua stakeholder. Pengelola PLTA bisa mendapatkan manfaat ekonomi dengan mengkonversi tenaga air menjadi tenaga listrik yang bisa dijual kepada lembaga penyalur tenaga listrik kepada konsumen. Selisih antara biaya yang dikeluarkan untuk pembangkitan dengan nilai energi listrik yang dihasilkan bisa menjadi keuntungan pengelola PLTA. Sementara jasa lingkungan sumberdaya air bisa bersifat langsung maupun tidak langsung. Manfaat jasa lingkungan air, antara lain sebagai sarana ekowisata, budidaya perikanan, dan manfaat ekologis lainnya. 119 Ketiga aspek terkait pengelolaan PLTA dan interaksinya tersebut disimplifikasi menjadi model dinamik pengelolaan sumberdaya air PLTA. Model dinamik ini mencakup sub-model sosial terkait aspek stakeholder, sub-model lingkungan terkait kualitas air dan perubahan penggunaan lahan, dan sub-model nilai ekonomi jasa lingkungannya. Untuk memahami sistem tersebut dilakukan simplifikasi awal melalui diagram lingkar sebab-akibat (causal loop), seperti disajikan pada Gambar 28. Gambar tersebut menunjukkan setiap sub-model memiliki keterkaitan sebab-akibat. Gambar 28 Diagram simpul-kausal (causal loop) model pengelolaan sumberdaya air PLTA. Semua sub-model tersebut ditransformasi menjadi stock flow diagram (SFD) sebagai penjabaran causal loop di atas disajikan dalam Gambar 29. Perilaku submodel dijabarkan dalam aliran energi dan informasi dalam SFD dengan pendekatan matematis. Penyusunan SFD dan pendekatan matematisnya dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Powesim Studio 2005E. Model dirancang berdasarkan hasil pembahasan berbagai aspek pada babbab sebelumnya. Aspek yang mendasari rancang bangun model adalah basis data dan basis knowledge (pengetahuan pakar dan stakeholder) yang telah dibahas sebelumnya. 120 Gambar 29 Stock flow diagram model pengelolaan sumberdaya air PLTA berbasis sukarela. Basis data terutama diterapkan pada elemen-elemen yang menyangkut kondisi fisik lingkungan dan nilai ekonomi langsung terkait pengelolaan PLTA. Elemen tersebut terdiri dari perubahan penggunaan lahan dan kuantitas sumberdaya air, serta nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air. Sementara basis knowledge diterapkan pada nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air dan sistem keterkaitan berbagai elemen pengelolaan dari berbagai aspek berdasarkan persepsi pakar dan stakeholder. Model terbagi atas beberapa sub-model, yaitu sub-model sosial, sub-model lingkungan dan sub-model ekonomi. Berbagai asumsi diterapkan untuk memenuhi kelengkapan model secara keseluruhan, sehingga bisa dilakukan simulasi terhadap model tersebut. Model ini dibangun berdasarkan data dan knowledge di sekitar PLTA Saguling, karena memiliki basis data terlengkap untuk semua sub-model yang dibangun. Simulasi model dilakukan terhadap data aktual sejak tahun 2001 dan proyeksinya antara tahun 2010 hingga tahun 2021. 121 Tampilan menu model pengelolaan sumber daya air PLTA berbasis sukarela dibuat guna memudahkan alur simulasi yang akan dilakukan. Menu model tersebut menampilkan judul dengan hyperlink pada setiap sub-menu yang akan ditampilkan dalam simulasi. 4.7.1 Sub-model Sosial Sub-model sosial dibangun berdasarkan pertumbuhan penduduk yang terjadi di sekitar PLTA. Selain itu sub-model ini terkait dengan sub-model ekonomi, khususnya penyisihan dana CSR oleh perusahaan yang ditujukan untuk pemberdayaan masyarakat. Dinamika pendanaan CSR tersebut diprediksi akan mempengaruhi indeks pemberdayaan masyarakat. Hasil simulasi model terhadap komponen sosial menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah penduduk. Penduduk sekitar PLTA berjumlah sekitar 717.770 jiwa pada tahun 2011 dan akan meningkat terus hingga mencapai jumlah sekitar 833.001 jiwa pada tahun 2021 (Gambar 30). Peningkatan jumlah penduduk tersebut akan memberikan tekanan terhadap penggunaan sumberdaya alam yang ada di sekitar PLTA. Salah satunya adalah meningkatnya kebutuhan lahan untuk pemenuhan kehidupan penduduk. Kebutuhan tersebut antara lain lahan untuk permukiman yang terus meningkat seiiring meningkatnya jumlah penduduk. Penggunaan lahan untuk permukiman ini akan mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di sekitar PLTA. Penduduk 600,000 300,000 0 Ja n 01, 2001 Ja n 01, 2006 Jan 01, 2011 Tahun Gambar 30 Hasil simulasi jumlah penduduk. Ja n 01, 2016 Jan 01, 2021 122 Hasil simulasi dinamika pendanaan CSR (corporate social responsibility) dan indeks pemberdayaan masyarakat menunjukkan kaitan yang sangat signifikan. Penurunan nilai CSR secara langsung akan menekan indeks pemberdayaan masyarakat. 4.7.2 Sub-model Lingkungan Sub-model lingkungan terutama direpresentasikan oleh aspek penggunaan lahan pada DAS hulu PLTA. Hasil simulasi penggunaan lahan menunjukkan luas lahan semak belukar meningkat secara pesat dari 1.060 ha pada tahun 2001 menjadi seluas 108.141 ha pada tahun 2011, tetapi akan melambat pertumbuhannya hingga mencapai luas sekitar 110.989 ha pada tahun 2021. Hal ini merupakan konversi terhadap berbagai penggunaan lahan lainnya, terutama lahan terbuka dan pertanian lahan kering. Peningkatan luas perkebunan juga berkembang pesat dari 2.300 ha pada tahun 2001 menjadi seluas 31.007 ha pada tahun 2021. Peningkatan luas perkebunan ini terutama menurunkan luasan hutan secara signifikan. Semula lahan terbuka meningkat pada tahun 2001 hingga tahun 2006, tetapi menurun drastis hingga diperkirakan habis menjadi lahan terbangun pada tahun 2011. Penggunaan lahan yang relatif kecil perubahannya adalah sawah dan permukiman. Hasil simulasi perubahan penggunaan lahan secara lengkap disajikan pada Gambar 31 dan Tabel 20. Luas (ha) 100,000 Hutan Perm ukim an Pertanian Lahan Kering Sa wah 50,000 Lahan Terbuka Se m ak Perkebunan 0 Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Jan 01, 2011 Jan 01, 2016 Jan 01, 2021 Tahun Gambar 31 Hasil simulasi perubahan penggunaan lahan. 123 Tabel 20 Hasil simulasi perubahan penggunaan lahan. Sawah Semak Jan 01, 2001 Time 38,139.80 Hutan Permukiman 39,782.58 64,940.11 1,060.72 Lahan Terbuka Pertanian Lahan Kering 8,452.20 66,280.20 Perkebunan 2,300.00 Jan 01, 2006 15,114.14 40,762.82 64,998.58 17,409.69 14,993.78 49,240.84 18,435.76 Jan 01, 2011 5,989.47 41,767.22 65,057.10 108,141.82 0.00 40,694.02 26,529.34 Jan 01, 2016 2,373.52 42,796.36 65,115.67 110,670.05 0.00 37,307.06 29,736.68 Jan 01, 2021 940.59 43,850.86 65,174.29 110,989.86 0.00 35,964.87 31,007.70 Sumber : hasil analisis, 2011 Hasil simulasi penggunaan lahan tersebut juga akan mempengaruhi kondisi sumberdaya air yang terkonservasi pada lahan tersebut. Perubahan penggunaan lahan akan mengubah karakteristik air permukaan dan bawah permukaan. Perubahan karakteristik sumberdaya air juga akan mempengaruhi nilai jasa lingkungan yang dihasilkannya. Hal ini disebabkan jasa lingkungan sumberdaya air dipengaruhi kualitas, kuantitas dan kontinuitas air yang dimanfaatkan. 4.7.3 Sub-model Ekonomi Sub model ekonomi direpresentasikan oleh nilai ekonomi jasa lingkungan sumber daya air PLTA berbasis sukarela. Nilai total jasa lingkungan terbagi atas nilai guna langsung (direct use value), nilai guna tidak langsung (indirect use value) dan nilai bukan guna (non-use value). Nilai guna langsung jasa lingkungan terdiri dari nilai keuntungan produksi listrik dan budidaya ikan, dan nilai ekowisata. Nilai guna tidak langsung terdiri dari nilai serapan karbon, nilai cadangan air tanah, dan nilai cadangan air waduk/sungai. Sementara nilai bukan guna jasa lingkungan terdiri dari nilai pilihan dan nilai kelestarian. Hasil simulasi nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air disajikan pada Gambar 32. Nilai keuntungan dari produksi listrik, produksi budidaya ikan dan ekowisata diperkirakan cenderung menurun dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan terjadinya degradasi sumberdaya alam yang berakibat pada kerusakan sumberdaya air secara langsung. Menurunnya kuantitas, kualitas, dan kontinuitas sumberdaya air akan menurunkan nilai produksi listrik dan budidaya ikan secara langsung. Selain itu, kerusakan sumberdaya alam secara keseluruhan juga akan mengurangi nilai ekowisata di sekitar kawasan PLTA. Secara ekonomis, hal ini akan menurunkan nilai guna langsung dari jasa lingkungan sumberdaya air dari Rp 511 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp 505 miliar pada tahun 2021. 124 Nilai Ekonomi (Rp) 500,000,000,000 400,000,000,000 Be ne fit Listrik Be ne fit Ik a n 300,000,000,000 Nila i Ek owisa ta Nila i Guna La ngsung Nila i Se ra pa n Ka rbon 200,000,000,000 Nila i Air Ta na h Nila i Air W a duk 100,000,000,000 Nila i Guna Ta k -Langsung 0 Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Ja n 01, 2011 Ja n 01, 2016 Ja n 01, 2021 Tahun Gambar 32 Hasil simulasi nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air. Sementara nilai guna tak langsung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun meskipun pada kisaran pertumbuhan yang relatif kecil. Hal ini disebabkan nilai cadangan air tanah dan cadangan air waduk dihitung secara rata-rata per tahun, sehingga tidak mengalami peningkatan nilai dari tahun ke tahun. Hal yang mendorong pertumbuhan hanya berasal dari peningkatan nilai serapan karbon yang bergantung dari peningkatan harga karbon dari tahun ke tahun. Secara keseluruhan. Nilai guna setiap jasa lingkungan disajikan secara lengkap pada dan Tabel 21. Tabel 21 Hasil simulasi nilai guna langsung (a) dan tidak langsung (b) jasa lingkungan sumberdaya air Time Benefit Listrik Benefit Ikan Nilai Ekowisata Nilai Guna Langsung Jan 01, 2001 280,948,440,280.44 233,080,390,000.00 217,540,000.00 514,246,370,280.44 Jan 01, 2006 279,763,437,467.97 231,976,102,124.16 228,636,726.30 511,968,176,318.42 Jan 01, 2011 278,583,432,838.31 230,876,471,986.35 240,299,497.16 509,700,204,321.82 Jan 01, 2016 277,408,405,309.80 229,781,479,940.88 252,557,186.55 507,442,442,437.23 Jan 01, 2021 276,238,333,889.69 228,691,106,424.89 265,440,141.29 505,194,880,455.87 (a) Time Nilai Serapan Karbon Nilai Air Tanah Nilai Air Waduk Nilai Guna Tak-Langsung Jan 01, 2001 35,577,531,494.40 330,174,373,200.00 848,400,000.00 366,600,304,694.40 Jan 01, 2006 37,392,343,158.36 330,174,373,200.00 848,400,000.00 368,415,116,358.36 Jan 01, 2011 39,299,728,456.23 330,174,373,200.00 848,400,000.00 370,322,501,656.23 Jan 01, 2016 41,304,409,573.70 330,174,373,200.00 848,400,000.00 372,327,182,773.70 Jan 01, 2021 43,411,349,575.40 330,174,373,200.00 848,400,000.00 374,434,122,775.40 (b) Sumber: hasil analisis, 2011 Hasil simulasi nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air disajikan 125 pada Gambar 33. Nilai bukan guna jasa lingkungan cenderung akan terus meningkat dari Rp 11 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp 13 miliar pada tahun 2021. Hal ini disebabkan nilai jasa lingkungan pilihan dan kelestarian juga cenderung meningkat terus. Nilai bukan guna setiap jasa lingkungan disajikan Nilai Ekonomi (Rp) secara lengkap pada dan Tabel 22. 10,000,000,000 Nila i P ilihan Nila i Kelesta ria n 5,000,000,000 0 Ja n 01, 2001 Nila i Buk a n Guna Ja n 01, 2006 Ja n 01, 2011 Jan 01, 2016 Ja n 01, 2021 Tahun Gambar 33 Hasil simulasi nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air. Tabel 22 Hasil simulasi nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air Time Nilai Pilihan Nilai Kelestarian Nilai Bukan Guna Jan 01, 2001 7,730,987,500.00 2,319,296,250.00 10,050,283,750.00 Jan 01, 2006 8,328,469,167.98 2,498,540,750.39 10,827,009,918.37 Jan 01, 2011 8,972,126,611.51 2,691,637,983.45 11,663,764,594.96 Jan 01, 2016 9,665,528,479.40 2,899,658,543.82 12,565,187,023.23 Jan 01, 2021 10,412,519,219.95 3,123,755,765.99 13,536,274,985.94 Sumber : hasil analisis, 2011 Secara keseluruhan nilai total ekonomi (total economic value – TEV) tetap meningkat karena adanya peningkatan nilai guna dan nilai bukan guna. TEV diperkirakan akan meningkat dari Rp 894 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp 895 miliar pada tahun 2021. Hal ini menunjukkan bahwa nilai ekonomi total sebagian besar disumbang oleh nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air. Hasil simulasi nilai guna, nilai bukan guna, dan nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air disajikan pada Tabel 23. Hasil simulasi nilai jasa lingkungan sumberdaya air menunjukkan bahwa air 126 bisa sangat bernilai ekonomis tinggi dari aspek lingkungan, meskipun tidak seluruhnya secara langsung dalam bentuk uang tunai. Meskipun demikian penggunaan langsung jasa lingkungan air, seperti pembangkit produksi listrik, produksi budidaya ikan, dan pemanfaatan oleh industri bisa mendukung perlindungan dan pengelolaannya. Adanya penyisihan keuntungan produksi listrik dan budidaya ikan secara sukarela dalam bentuk CSR diharapkan mampu mendukung program perlindungan sumberdaya air. Oleh karena itu, nilai ekonomi jasa lingkungan sumberdaya air ini harus disosialisasikan dan didiseminasikan kepada seluruh stakeholder untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya nilai ekonomi sumberdaya air. Tabel 23 Hasil simulasi nilai total jasa lingkungan sumberdaya air Time Nilai Guna Langsung Nilai Guna Tak-Langsung Nilai Bukan Guna TEV Jan 01, 2001 514,246,370,280 368,767,413,200 10,050,283,750 893,064,067,230 Jan 01, 2006 511,968,176,318 370,692,769,177 10,827,009,918 893,487,955,414 Jan 01, 2011 509,700,204,322 372,716,337,660 11,663,764,595 894,080,306,576 Jan 01, 2016 507,442,442,437 374,843,128,472 12,565,187,023 894,850,757,932 Jan 01, 2021 505,194,880,456 377,078,406,989 13,536,274,986 895,809,562,431 Sumber : hasil analisis, 2011 Sesuai dengan asumsi penyisihan dana perusahaan sebesar 2% dari dana keuntungan bersih, maka dari produksi listrik dan budidaya ikan diperkirakan dapat menghasilkan dana CSR sebesar Rp 15 milyar per tahunnya. Dana ini bisa digunakan untuk mendukung pengelolaan dan perlindungan sumberdaya air dalam berbagai program aksi. Program-program tersebut antara lain untuk konservasi wilayah DAS hulu PLTA melalui penghijauan, sosialisasi konservasi, pemberdayaan masyarakat, penurunan beban pencemar dan lain sebagainya. 4.7.4 Skenario Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Degradasi lahan akan terus berlangsung jika dibiarkan seperti kondisi yang ada saat ini. Jika program perlindungan dan pengelolaan lingkungan bisa diimplementasikan, maka akan ada perbaikan lingkungan. Skenario disusun terhadap perbaikan penggunaan lahan sebagai hulu masalah dalam pengelolaan sumberdaya air. Skenario dibuat terdiri dari skenario saat ini (existing), skenario moderat, dan skenario optimis. 127 Skenario existing merupakan proyeksi kondisi aktual jika tidak dilakukan intervensi. Skenario moderat merupakan proyeksi existing dengan pencapaian perbaikan kondisi lingkungan pada tingkat sedang. Sementara skenario optimis dibangun dengan asumsi bisa terjadi pencapaian perbaikan lingkungan yang cukup baik. Skenario disimulasikan terhadap sub-model lingkungan terutama pada aspek perubahan penggunaan lahan. Kondisi eksisting menunjukkan adanya penurunan luas hutan sebesar 16,9% per tahun dan peningkatan luas lahan perkebunan sebesar 51,5% per tahunnya. Jika program reboisasi yang dapat menahan laju penggundulan hutan sebesar 10% pada skenario moderat dan sebesar 15% pada skenario optimis, maka akan terjadi perbaikan kondisi lingkungan. Hasil simulasi dengan asumsi tersebut disajikan pada Gambar 34 dan Tabel 24. Skenario dilakukan terutama terhadap perubahan penggunaan lahan hutan dan perkebunan yang berdasarkan interpretasi spasial saling mempengaruhi. Hasil simulasi dengan beberapa skenario tersebut menunjukkan bahwa masih terjadi laju pengurangan luas hutan, tetapi terjadi pengurangan secara signifikan pada skenario moderat dan lebih besar lagi pada skenario optimis. Hal ini juga berimplikasi pada pengurangan laju pertumbuhan lahan perkebunan yang dibangun dari konversi lahan hutan. Luas (ha) 30,000 Hutan Mod_Hutan 20,000 O pt_Hutan Perkebunan Mod_Perkebunan O pt_ Perkebunan 10,000 0 Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Jan 01, 2011 Jan 01, 2016 Tahun Gambar 34 Hasil simulasi skenario penggunaan lahan. Jan 01, 2021 128 Jika bisa dilakukan pengurangan laju konversi hutan menjadi lahan perkebunan sebesar 10% setiap tahunnya, maka laju pengurangan hutan akan berkurang menjadi sekitar 6,9% dari kondisi awal sebesar 16,9% setiap tahunnya. Hal ini akan berimplikasi pada pengurangan laju pertumbuhan lahan perkebunan dari hasil konversi hutan. Tabel 24 Hasil simulasi skenario perubahan penggunaan lahan Time Hutan Jan 01, 2001 38,139.80 Mod_Hutan Opt_Hutan Perkebunan Mod_Perkebunan Opt_ Perkebunan 38,139.80 38,139.80 2,300.00 2,300.00 2,300.00 Jan 01, 2006 15,114.14 15,114.14 15,114.14 18,435.76 18,435.76 18,435.76 Jan 01, 2011 5,989.47 5,989.47 5,989.47 26,529.34 26,529.34 26,529.34 Jan 01, 2016 2,373.52 3,739.28 4,977.25 29,736.68 28,525.26 27,427.18 Jan 01, 2021 940.59 2,615.39 4,977.25 31,007.70 29,522.15 27,427.18 Kondisi eksisting saat ini diperkirakan akan mengurangi luas hutan dari 5.989 ha pada tahun 2011 menjadi hanya 940 ha pada tahun 2021. Skenario moderat diprediksikan mampu mempertahankan hutan menjadi 2.615 ha hingga tahun 2021. Sementara skenario optimis diperkirakan mampu mempertahankan hutan hingga 4.977 ha pada tahun 2021. Hal ini berimplikasi pada berkurangnya pertumbuhan luas perkebunan yang seharusnya mencapai 31.007 pada tahun 2021, diprediksikan akan menjadi 29.522 ha pada skenario moderat dan menjadi 27.427 ha pada skenario optimis. 4.7.5 Validasi Model Simulasi model sebelumnya diuji dengan melakukan validasi terhadap struktur dan kinerja outputnya. Validasi dilakukan untuk mendapatkan hasil kesimpulan yang benar berdasarkan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan (Hartrisari 2007) terhadap model pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Menurut Muhammadi et al. (2001), validasi dilakukan melalui perbandingan validasi kinerja model dengan data empiris untuk melihat sejauh mana perilaku kinerja model sesuai dengan data empiris. Validasi perilaku model dilakukan dengan membandingkan antara besar dan sifat kesalahan dapat digunakan: 1) absolute mean error (AME) adalah penyimpangan (selisih) antara nilai rata-rata (mean) hasil simulasi terhadap nilai 129 actual, 2) absolute variation error (AVE) adalah penyimpangan nilai variasi (variance) simuasi terhadap aktual. Batas penyimpangan yang dapat diterima adalah antara 1 -10%. Validasi yang digunakan dalam simulasi model pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA adalah AME. Validasi ini dilakukan dengan memakai persamaan seperti di bawah ini. AME = S  A x100% ; A S  Si N A  Ai N S, A dan N berturut-turut adalah nilai simulasi, nilai aktual, dan interval waktu pengamatan. Validasi dilakukan terhadap dengan membandingkan besarnya jumlah penduduk hasil simulasi model dengan data jumlah penduduk aktual. Validasi berupa perbandingan jumlah pendududuk aktual dan simulasi disajikan Jumlah Penduduk (jiwa) pada Gambar 35. 650,000 Pe nduduk Sim ulasi Pe nduduk Ak tual 600,000 550,000 01 02 03 04 05 06 Tahun Gambar 35 Perbandingan jumlah penduduk aktual dan simulasi. Berdasarkan hasil perbandingan tersebut terlihat bahwa perilaku model pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA memenuhi batas toleransi yang ditentukan. Hasil uji validasi berdasarkan jumlah penduduk (Gambar 36) menunjukkan bahwa, AME menyimpang setiap tahunnya sebesar antara 0,1% 130 hingga 3,1% atau rata-rata sebesar 1,83% untuk pertambahan penduduk dari data aktual. Batas penyimpangan variabel pada parameter AME adalah 0 H2S mg/L 0,077 0,154 0,003 0,002 0.01 0 (-) pH C - 7,6 7,4 7,6 7,9 8,3 7,7 5 -9 - mg/L 1,4 1,99 0,64 1,15 2,61 2,65 20 -3 PO4 _ mg/L 0,21 0,21 0,14 0,16 0,23 0,20 5 Suhu 0 TDS NO3 OUTLET 26.85 26.6 26.05 26.6 26.5 26.7 Deviasi 5 mg/L 227 197 204 174 115 17.5 2000 TSS mg/L 9 14 14.5 3 47 26 400 Fe mg/L 0.1 0.15 0.13 0.02 0.20 0.93 (-) COD mg/L 16.98 17.44 18.43 14.58 15.25 20.42 100 BOD mg/L 7.85 9.79 12.25* 6.37 12.63* 11.72 12 DO mg/L 0 0 1.93 3.2 1.5 2.1 >0 H2S mg/L 0.285 0.009 0 0.176 0.078 0 (-) 7.2 7.3 7.4 7.1 7.1 7.2 5 -9 pH C - NO3 -2 mg/L 1.81 2.14 0.75 0.69 4.72 2.42 20 PO4 -3 mg/L 0.25 0.19 0.11 0.22 0.30 0.24 5 * Keterangan : : melewati baku mutu; (-) : tidak ada dipersyaratkan; -:tidak ada data Sumber : diolah dari laporan PLTA Saguling Tahun 2005 -2010 152 Lampiran 2. Kualitas Air Rata-rata Median inlet dan outlet di PLTA Cirata Tahun 2005 -2010 Parameter Satuan 2005 2006 Tahun ke 2007 2008 2009 2010 Baku Mutu Kelas IV PP No. 82/2001 INLET Suhu 0 TDS 27,9 27,5 27,9 28,2 28,3 27,7 Deviasi 5 mg/L 160 146 15,7 123 75 112 2000 TSS mg/L 17,2 15,8 7,2 3,6 7,4 3,6 400 Fe mg/L 0,34 0,23 0,2 0,07 0,04 0,27 (-) COD mg/L 18,84 23,60 16,3 17,42 14.22 16,83 100 BOD mg/L 10,44 14,36 * 8,5 8,82 8,85 10,94 12 DO mg/L 5,65 5,17 3,50 3,72 3.77 3,77 >0 H2S mg/L - - - 0,009 0,005 0,057 (-) pH C - 7,7 7,2 7,5 7,6 7,7 7,6 5 -9 NO3 -2 mg/L 0.03 0,04 0,6 1,23 2,03 1,53 20 PO4 -3 mg/L 0,35 0,32 0,20 0,32 0,23 0,27 5 OUTLET Suhu 0 TDS 25,8 28 27,5 28,3 27,3 27,5 Deviasi 5 mg/L 129 142 167 141 101 150 2000 TSS mg/L 70,3 14 11,6 4 12,1 2,4 400 Fe mg/L 4,36 0,38 0,20 0,06 0,33 0,05 (-) COD mg/L 18,04 23,44 13,70 15,57 10,72 13,66 100 BOD mg/L 9,49 15,85* 6,70 8,97 6,28 8,08 12 DO mg/L 7,2 5,5 3.1 4,6 2,1 2 >0 H2S mg/L 0 0 0 0 0 0,002 (-) pH C - 7,4 7,4 7,4 7,3 7,4 7 5 -9 NO3 -2 mg/L 0,52 0,17 0,60 1,61 1,38 3,45 20 PO4 -3 mg/L 0,02 0,11 0,3 0,35 0,26 0,26 5 * Keterangan : : melewati baku mutu; (-) : tidak ada dipersyaratkan; -:tidak ada data Sumber : diolah dari laporan PLTA Cirata Tahun 2005 -2010 153 Lampiran 3. Kualitas Air Rata-rata Median inlet dan outlet di PLTA Tanggari I Tahun 2005 -2010 Parameter Satuan Tahun ke 2005 2006 2007 2008 2009 Baku Mutu Kelas IV PP No.82/2001 2010 INLET TANGGARI I Suhu 0 TDS 24.0 26.0 29.8 28.5 28.1 27.4 mg/L 128 121 214 301 299 62 2000 TSS mg/L 12.4 12.2 8.4 18.0 24.9 51.6 400 Fe mg/L 0.28 0.24 0.46 0.01 2.65 0.02 (-) COD mg/L 18.01 19.90 7.15 9.41 10.40 - 100 BOD mg/L 6.01 6.60 1.00 2.37 2.95 - 12 DO mg/L - - - - - - >0 H2S mg/L 0 - - - 0.002 - (-) 6.7 6.9 6.7 7.5 7.0 7.2 5 -9 pH C - Deviasi 5 -2 mg/L 1.06 0.50 3.74 3.51 5.50 0.92 20 -3 PO4 _ mg/L 0.00 0.00 - - - 0.13 5 Suhu 0 Deviasi 5 TDS NO3 OUTLET TANGGARI I 24.5 26.0 30.0 29.3 28.6 27.3 mg/L 132 122 159 368 312 63 2000 TSS mg/L 11.1 11.8 18.8 28.5 26.4 69.6 400 Fe mg/L 0.36 0.30 0.16 0.00 3.40 0.02 (-) COD mg/L 18.45 20.25 15.45 11.26 11.35 - 100 BOD mg/L 5.93 7.00 2.55 2.72 2.74 - 12 DO mg/L - - - - - - >0 H2S mg/L - - - - 0.002 - (-) 6.7 6.9 7.2 7.2 6.9 7.3 5 -9 pH C - NO3 -2 mg/L 0.86 0.61 4.12 4.41 5.42 1.10 20 PO4 -3 mg/L 0.00 0.00 - - - 0.14 5 * Keterangan : : melewati baku mutu; (-) : tidak ada dipersyaratkan; -: tidak ada data Sumber : diolah dari laporan PLTA TANGGARI I Tahun 2005 -2010 154 Lampiran 4. Kualitas Air Rata-rata Median inlet dan outlet di PLTA Tanggari II Tahun 2005 -2010 Parameter Satuan Suhu 0 TDS 2005 Tahun ke 2007 2008 2006 2009 Baku Mutu Kelas IV PP No.82/2001 2010 PLTA TANGGARI II 29.8 25.4 29.7 29.4 29.3 27.6 Deviasi 5 mg/L 115 121 182 317 203 123 2000 TSS mg/L 12.4 12.9 6.2 20.9 18.9 16.0 400 Fe mg/L 0.00 0.32 0.14 - 2.70 0.02 (-) COD mg/L 15.60 22.50 6.10 11.00 0.00 - 100 BOD mg/L 3.33 8.45 2.30 2.25 0.00 - 12 DO mg/L - - - - - - >0 H2S mg/L - - 0.001 - 0.0015 - (-) 6.9 6.9 7.0 7.4 7.2 7.3 5 -9 20 pH C - mg/L 0.66 0.50 - 5.37 4.80 1.20 -3 PO4 _ mg/L - 0.16 - - - 0.08 5 Suhu 0 TDS NO3 OUTLET PLTA TANGGARI II 29.9 26.7 29.8 29.7 30.1 27.3 Deviasi 5 mg/L 111 119 162 318 221 123 2000 TSS mg/L 16.0 16. 5 18.4 21.5 17.9 17. 5 400 Fe mg/L 0.00 0.32 0.15 3.10 0.03 (-) COD mg/L 10.99 25.85 17.65 12.18 0.00 - 100 BOD mg/L 2.05 8.85 2.00 3.48 0.00 - 12 DO mg/L - - - - - >0 H2S mg/L 0 - 0.001 - 0.002 0 (-) 6.7 6.9 7.2 7.6 7.1 7.3 5 -9 mg/L 0.56 0.50 - 6.01 5.85 1.25 20 mg/L - 0.21 - - - 0.06 5 pH NO3 C -3 PO4 _ * Keterangan : : melewati baku mutu; (-) : tidak ada dipersyaratkan; -: tidak ada data Sumber : diolah dari laporan PLTA TANGGARI II Tahun 2005 -2010 155 Lampiran 5 Dinamika Sebaran Kualitas Air inlet dan outlet di PLTA Saguling Tahun 2005-2010 Tahun keParameter 2005 Satuan Min. Suhu 0 2006 Maks. Min. 2007 Maks. Min. 2008 Maks. INLET Min. 2009 Maks. Min. 2010 Maks. Min. Maks. Baku mutu Kelas IV PP no.82/2001 C 26.3 27.9 26.2 27.7 25.8 27 26 26.8 26.9 27.6 26.9 27.3 Deviasi 5 TDS mg/L 153 268 148 257 170 260 141 179 92 143.7 122.3 158.7 2000 TSS mg/L 9 26.5 9 13 3.2 54 2.5 7.3 2.8 9.56667 4.3 12.9 400 Fe mg/L 0.03 0.42 0.04 0.18 0 0.13 0 0.41 0 0.469 0.05 0.861 (-) COD mg/L 8.89 31.88 15 20.72 12.19 34.5 11.52 26.23 16.83 24.66 13.21 16.91 100 BOD mg/L 4.49 16.94 6.85 11.3 6.77 21.35 5.44 15.01 12.3 14.53 8.78 12.33 12 DO mg/L 0 0 0 0 2.3 4.4 2.03 4.1 2.3 4.5 2.4 4.6 >0 H2 S mg/L 0 0.289 0.027 1.216 0 0.091 0.0009 0.4 0 0.081 0 0.045 (-) pH - 6. 9 8.6 7.3 8.6 0 7.9 7.4 8 8.1 8.4 7.3 8.3 5-9 NO3- mg/L 0.002 3.041 0.663 4.498 0.416 1.301 0.613 3.53 1.69 2.76 1.61 3.45 20 PO4-3 mg/L 0.075 0.251 0.048 0.29 0.112 0.16 0.13 0.53 0.163 0.29 0.165 0.313 5 OUTLET Suhu 0 C 25.8 27.5 25.5 27.5 26 26.6 25.6 27.9 25.9 27.3 26.2 26.9 Deviasi 5 TDS mg/L 144 300 148 270 170 310 169 205 108 188 127 178 2000 TSS mg/L 7 40.6 8 25 3 37 2.2 5.8 3.2 58 7.7 70 400 Fe mg/L 0.04 0.25 0.09 0.16 0 0.19 0 0.029 0 0.243 0 1.544 (-) COD mg/L 4.94 23.19 14.52 22.91 15.3 31 13.74 15.3 13.03 29.96 10.04 29.85 100 BOD mg/L 2.72 15.3 6.53 13.5 8.75 15.54 5.77 6.56 10.42 17.98 4.52 17.91 12 DO mg/L 0 0 0 0 0.4 2.1 2.8 5 0.7 5.6 1.8 2.4 >0 H2 S mg/L 0 334 0 0.08 0 1 0.038 0.352 0.02 0.095 0 0.094 (-) pH - 7.1 7.6 6.6 7.7 6.9 7.6 7.1 7.6 7.0 7.4 6.8 7.3 5-9 0.001 3.043 0.448 4.688 0.488 0.897 0.46 2.3 1.38 5.981 0.92 3.911 20 mg/L 0.021 0.29 0.017 0.287 0.053 0.207 0.06 0.536 0.049 PO4 Keterangan : * = melewati baku mutu, ** = lebig rendah dari baku mutu, (-) = tidak ada persyaratan; - : tidak ada data 0.342 0.217 0.283 5 NO3-3 mg/L 156 Lampiran 6 Dinamika Sebaran Kualitas Air inlet dan outlet di PLTA Cirata Tahun 2005-2010 Tahun keParameter Satuan 2005 Min. Suhu 0 2006 Maks. Min. Baku mutu 2007 Maks. 2008 Min. Maks. INLET Min. 2009 Maks. Min. 2010 Maks. Min. Maks. Kelas IV PP no.82/2001 C 27.9 27.9 27. 28 26. 7 28.6 28.0 28.4 27.1 28.8 28.4 30.1 Deviasi 5 TDS mg/L 120 169 124 166.667 141 160 88 142 68 87.6 106 149 2000 TSS mg/L 9.3 26.5 11. 7 20.0 2.5 30.0 0.92 7.87 4.07 15.0 2.000 9.13 400 Fe mg/L 0.15 0.46 0.19 0.36 0.00 0.31 0.00 0.15 0.03 0.09 0.23 0.41 (-) COD mg/L 14.49 24.39 19.55 26.01 14.24 19.65 14.44 19.73 11.05 16.23 14.26 17.9 100 BOD mg/L 5.80 13.90 8.20 6.68 11.593 5.78 12.36 6.97 10.49 6.76 11.3 12 DO mg/L 4.67 6.52 4.30 16.39 6.52 3.03 3.98 3.26 4.10 3.17 4.10 3.53 4.33 >0 H2 S mg/L 0.000 0.000 0.000 0.125 0.000 0.161 0.002 0.150 0.000 0.168 (-) - 7.1 8.5 6.7 0.000 7.4 0.000 pH 7.4 7.8 7.3 7.7 7.5 7.9 7.3 7.8 5-9 NO3- mg/L 0.000 3.041 0.025 0.092 0.411 0.750 0.489 1.303 1.150 3.067 0.460 1.687 20 PO4-3 mg/L 0.219 0.485 0.150 0.573 0.144 0.219 0.173 0.483 0.181 0.358 0.254 0.354 5 25.8 25.8 26.5 30.5 27.0 27.9 27.1 29.3 27.000 28.0 27.4 27.900 Deviasi 5 OUTLET Suhu 0 C TDS mg/L 58 165 113 164 157 180 118 170 87. 147 135 185 2000 TSS mg/L 19.0 30,8 10.0 30,8 3.2 18. 3.4 8.6 2.4 36. 1.8 15. 400 Fe mg/L 0.15 54.68 0.14 54.68 0.16 0.34 0.005 0.39 0.054 0.69 0.023 0.47 (-) COD mg/L 10.96 30.16 14.02 30.16 9.71 19.03 5.03 27.08 8.04 12.62 7.92 20.19 100 BOD mg/L 4.20 18.40 8.84 11.40 4.02 18.95 5.53 8.83 4.75 10.92 12 mg/L 1.78 8.80 1.90 18.50 7.2 5.34 DO 0.20 4.24 3.80 7.30 1.50 3.40 1.70 6.70 >0 H2 S mg/L 0.00 0.033 0.000 0.010 0.010 0.000 0.000 0.030 0.030 0.002 0.127 (-) 7.1 7.7 6.8 0.0 7.8 7.3 8.0 7.2 7.5 6.8 7.9 6.9 7.2 5-9 NO3- mg/L 0.000 2.810 0.058 0.58 0.575 0.692 0.488 5.061 1.150 7.281 1.150 3.911 20 -3 mg/L 0.000 0.283 0.042 0.18 0.035 0.299 0.036 0.495 0.193 0.374 0.055 0.369 5 pH PO4 - Keterangan : * = melewati baku mutu, ** = lebig rendah dari baku mutu, (-) = tidak ada persyaratan; - : tidak ada data 157 Lampiran 7 Dinamika Sebaran Kualitas Air inlet dan outlet di PLTA Tanggari I Tahun 2005-2010 Tahun keParameter 2005 Satuan Min. 0 2006 Maks. Min. 2007 Maks. Min. 2008 Maks. INLET 2009 Min. Maks. Min. Baku mutu Kelas IV PP no.82/2001 2010 Maks. Min. Maks. C 24 24 24 28.2 27.1 31.2 - - TDS mg/L 126 130 104 157 122 361 121 342 TSS mg/L 9.6 15.1 10.2 12.5 7.78 21.49 2.2 Fe mg/L 0.28 0.28 0.01 0.28 0 0.96 0.01 COD mg/L 6.41 29.6 8 29.6 5.02 8 5.2 10.8 BOD mg/L 2.12 9.9 9.9 1 4.01 DO mg/L 0 0 0 0 H2 S mg/L 0.001 3.44 0 0 0.0001 0.004 0 0 (-) pH - 6.16 7.1 7.2 7.81 6.7 7.2 7.06 8.72 5-9 Suhu NO3- mg/L PO4-3 mg/L 0 0 6.5 6.9 1 1.12 - - 2.1 - - - - 6.79 7.5 0.2 0.9 0.21 0.21 - 0.8 27.5 30.1 27.1 27.7 Deviasi 5 13 310 3.1 177 2000 22 13.2 30.3 1.8 120 400 0.01 0.68 3.1 0.01 0.04 (-) 10.11 10.8 - - 3.1 - - 12 - - >0 1.4 2.8 - 2.5 - - - 4.86 0.03 4.56 4.11 5.78 - - - - - 100 0.8 1.2 20 0.09 0.18 5 OUTLET 0 C 24 25 24 28.1 30.01 31.9 - - TDS mg/L 130 134 107 153 120 240 365 TSS mg/L 9 13.2 9.1 13.2 6.8 124.6 Fe mg/L 0.36 0.36 0 0.36 0 0.93 COD mg/L 6.39 30.5 9.7 30.5 4.2 42 BOD mg/L 1.76 10.1 2.8 10.1 1.8 45 DO mg/L 0 0 - - - H2 S mg/L 0 0 - - 0.021 0.021 Suhu - 28 30.2 27.04 27.5 Deviasi 5 371 27.8 369 3.9 174 2000 26 31 25.8 30 2.2 142 400 0 0 2.5 3.4 0.02 0.07 (-) 11.21 11.3 11.21 11.4 - - 100 2.72 2.72 2.72 2.75 - - 12 - - - - - - - 0.0001 0.01 - >0 0 0 (-) - 6.5 6.9 6.8 7.5 6.7 7.64 7.01 7.4 6.67 7.1 7.2 8.65 5-9 NO3- mg/L 0.82 0.9 0.5 0.9 0.5 5 4.3 4.51 5.28 5.81 0.72 2.9 20 -3 mg/L 0.26 0.26 - - - 0.06 0.2 5 pH PO4 - - - - - Keterangan : * = melewati baku mutu, ** = lebig rendah dari baku mutu, (-) = tidak ada persyaratan; - : tidak ada data 158 Lampiran 8 Dinamika Sebaran Kualitas Air inlet dan outlet di PLTA Tanggari II Tahun 2005-2010 Tahun keParameter 2005 Satuan Min. 0 2006 Maks. Min. 2007 Maks. Min. 2008 Maks. INLET 2009 Min. Maks. Min. Baku mutu Kelas IV PP no.82/2001 2010 Maks. Min. Maks. C 29.8 29.8 24 28.3 28.1 30.1 - - 28.4 30.1 27.2 28.1 Deviasi 5 TDS mg/L 107 123 107 152.5 122.03 240 119 371 32 372 119 172 2000 TSS mg/L 11.2 13.6 10.3 13.6 5.2 20.4 3.1 26 12.1 25 2.3 31.1 400 Fe mg/L 0 0 0.01 0.38 0 0.79 0.7 5.2 0.003 0.03 COD mg/L 14.79 16.4 10 31 4.03 15 5.2 12.4 11.8 11.8 - - BOD mg/L 2.44 4.21 2.1 9.8 1.2 4.4 1.9 2.8 3.1 3.1 - - 12 DO mg/L - - >0 H2 S mg/L 0 0 0 0 pH - 6.8 6.9 6.3 7.7 - - 7.2 7.6 NO3- mg/L 0.21 1.1 0.25 1.1 - - 4.72 6.01 3.7 PO4-3 mg/L - 0.16 0.16 - - - - - - 28.2 Suhu - - - - - - - - 0.001 - - 0.001 - - - - - (-) 100 0.0001 0.04 0 0 (-) 6.9 7.3 7.1 8.64 5-9 5.8 0.96 1.5 20 0 0.1 5 30.1 27.2 28 Deviasi 5 OUTLET 0 C 29.9 29.9 26 28.3 27.2 29.9 - - mg/L 104 118 104 149 120 236 120 361 60 360 120 171 2000 TSS mg/L 14.4 17.6 12.1 17.6 6.5 20.1 4.8 25.7 13.2 23.2 1.7 30.2 400 Fe mg/L 0 0 0 0.38 0 0.9 3.1 4.2 0.03 0.05 (-) COD mg/L 7.28 14.7 13 38.5 6.4 BOD mg/L 1.62 2.48 2.8 10.9 1.2 - - - - - 0.001 Suhu TDS DO mg/L H2 S mg/L pH NO3-3 - 0 0 - - 22 11.9 12.8 12.4 12.4 - - 100 3.8 2.15 3.9 3.7 3.7 - - 12 0.001 - - - - - 0.001 0.004 - 0 0 (-) >0 - 6.5 6.9 6.4 7.5 - - 7.3 7.8 6.7 7.2 7.12 8.61 5-9 mg/L 0.3 0.82 0.35 0.9 - - 5.51 6.51 4.2 6.2 0.93 1.4 20 0 0.1 5 0.21 0.21 mg/L PO4 Keterangan : * = melewati baku mutu, ** = lebig rendah dari baku mutu, (-) = tidak ada persyaratan; - : tidak ada data - 159 Lampiran 9. Rincian Total Economic Value (TEV) Jasa Lingkungan Sumberdaya Air di PLTA Parameter Saguling Cirata 2.158.000.000 591,11 1.275.615.380.000 463 999.607.180.000 276.008.200.000 4.514 2.000 2.000 14.000 15.000 261.812.000.000 1.482.000 4.500.000 234.000 149.000 28.731.610.000 233.080.390.000 1.460 116.000 33.000 217.540.000 1.024 194 179.091 35.577.531.494 2.228.300.000 3,378 3.405.888.000 1,116 202 1.426.000.000 591,11 842.922.860.000 463 660.537.460.000 182.385.400.000 24.000 2.000 2.000 14.000 15.000 1.392.000.000.000 1.482.000 4.500.000 234.000 149.000 152.760.000.000 1.239.240.000.000 17.516 120.000 30.000 2.627.400.000 525 194 179.091 18.250.856.732 4.652.860.000 2,557 5.739.552.000 1,087 202 9.103.600 591,11 5.381.228.996 463 4.216.878.556 1.164.350.440 6.000 2.000 1.000 15.000 12.500 255.000.000.000 1.100.000 1.825.000 50.000 300.000 19.650.000.000 235.350.000.000 34.509 200.000 70.000 9.317.430.000 125 194 179.091 4.342.960.388 247.080.000 1,936 315.360.000 0,650 202 10.878.615 591,11 6.430.458.113 463 5.039.083.254 1.391.374.859 - Nilai Cadangan Air Tanah Sedimentasi Harga air (energi) Nilai Cadangan Air Waduk Jumlah Penduduk WTP Option Value Jumlah KK WTP Preservation Value 330.174.373.200 4.200.000 202 848.400.000 618.479 12.500 7.730.987.500 154.620 15.000 2.319.296.250 222.230.744.400 4.760.000 202 961.520.000 234.322 12.500 2.929.025.000 58.581 15.000 878.707.500 481.745.760 2.000.000 202 404.000.000 26.558 12.500 331.975.000 6.640 15.000 99.592.500 - Nilai Guna Langsung Nilai Guna Tidak Langsung Nilai Bukan Guna TEV 509.306.130.000 366.600.304.694 10.050.283.750 885.956.718.444 1.424.252.800.000 241.443.121.132 3.807.732.500 1.669.503.653.632 245.831.780.440 5.228.706.148 431.567.500 251.492.054.088 1.391.374.859 1.391.374.859 Power Harga Jual Potensi keuntungan listrik Biaya per kWh Biaya listrik Nilai Benefit Listrik Jumlah KJA Ikan Mas Ikan Nila Harga Ikan Mas Harga Ikan Nila Nilai Ikan Biaya Benih Biaya Pakan Biaya Obat Biaya Lain Biaya Produksi Nilai Keuntungan Ikan Jumlah Pengunjung Biaya Transport Biaya Akomodasi Nilai Ekowisata Luas Penghijauan (ha) Simpan karbon/ha Nilai Karbon/ton Nilai Karbon Luas DAS Rata-rata curah hujan Debit air (inlet PLTA) Penguapan Harga air (energi) Jabar 2.555.460.372.077 Tanggari I Tanggari Sulut Tanggari II - 252.883.428.946 160 Lampiran 10. Model Perlindungan dan da Pengelolaan Sumberdaya Air di PLTA Berbasis Sukarela TAMPILAN MODEL 161 PERSAMAAN MODEL NO PARAMETER 1 AME Penduduk NILAI / PERSAMAAN ABS(((Penduduk - 'Penduduk Aktual') / 'Penduduk Aktual') * 100) + (0 * 'Batas AME') 2 Batas AME 10 3 Benefit Ikan 'Nilai Ikan Total' - 'Biaya Produksi Ikan' 4 Benefit Listrik 'Nilai Listrik' - 'Biaya Listrik' 5 Biaya Akomodasi 33000 6 Biaya KJA 6365000 7 Biaya Listrik 'Power Listrik' * 'Biaya Produksi Listrik' 8 Biaya Produksi Ikan 'Jumlah KJA' * 'Biaya KJA' 9 Biaya Produksi Listrik 235 10 Biaya Transportasi 116000 11 Debit air 83.6 * 3600 12 eg 0.94 13 FP_Debit air 0.005 * FP_Hutan 14 FP_Hutan - 0.111 15 FP_Nilai Karbon 0.07 16 FP_Penduduk 0.015 17 FP_Pengunjung 0.01 18 FP_Permukiman 0.262 - ('Indeks Pemberdayaan Masyarakat' / 10) 19 FP_Produksi Ikan 'FP_Debit air' 20 FP_Sawah -0.00018 21 FP_Semak 0.75 22 H_efektif 631.27 23 Harga Air Energi 202 24 Harga Ikan Mas 14000 25 Harga Ikan Nila 15000 26 Harga Listrik 591,11 27 Hutan MAX(38139.8,0) 28 Indeks Pemberdayaan Masyarakat ('Kinerja Lingkungan PLTA' * 35000) / Penduduk 29 Input 2283000000 * 3.378 30 Jumlah KJA 4514 162 31 K_power 1.251765 32 Kapasitas Serapan Karbon 194 33 Kinerja Lingkungan PLTA = 'CSR Listrik' / 15000000000 34 konstanta 9.81 35 Kurs US$ 9425,85 36 Lahan Terbuka MAX((MIN(('Luas DAS' - (Hutan + Permukiman + Sawah + Semak + 'Luas Waduk Cirata' + 'Luas Waduk Saguling')),('Luas DAS' - Hutan Permukiman - Sawah - Semak - 'Luas Waduk Cirata' - 'Luas Waduk Saguling'))), 0) 37 LP_Debit air 'Debit air' * 'FP_Debit air' 38 LP_Hutan Hutan * FP_Hutan 39 LP_Nilai Karbon 'Nilai Karbon' * 'FP_Nilai Karbon' 40 LP_Penduduk Penduduk * FP_Penduduk 41 LP_Pengunjung Pengunjung * FP_Pengunjung 42 LP_Permukiman LPermukiman * FP_Permukiman 43 LP_Produksi Ikan 'Produksi Ikan' * 'FP_Produksi Ikan' 44 LP_Sawah Sawah * FP_Sawah 45 LP_Semak LSemak * FP_Semak 46 LPermukiman 39782.58 47 LSemak 1060.72 48 Luas DAS 222830 49 Luas Penghijauan 1024 50 Luas Waduk Cirata 9814.12 51 Luas Waduk Saguling 13508.88 52 Nilai Air Tanah (Input - Output) * 'Harga Air Energi' 53 Nilai Air Waduk Sedimentasi * 'Harga Air Energi' 54 Nilai Bukan Guna 'Nilai Pilihan' + 'Nilai Kelestarian' 55 Nilai Ekowisata Pengunjung * ('Biaya Akomodasi' + 'Biaya Transportasi') 56 Nilai Guna 'Benefit Listrik' + 'Benefit Ikan' + 'Nilai Ekowisata' + 'Nilai Serapan Karbon' + 'Nilai Air Tanah' + 'Nilai Air Waduk' 57 Nilai Ikan Mas 'Jumlah KJA' * 'Produksi Ikan' * 'Harga Ikan Mas' 163 58 Nilai Ikan Nila 'Jumlah KJA' * 'Produksi Ikan' * 'Harga Ikan Nila' 59 Nilai Ikan Total 'Nilai Ikan Mas' + 'Nilai Ikan Nila' 60 Nilai Karbon 19 * 'Kurs US$' 61 Nilai Kelestarian Penduduk * 'WTP Kelestarian' 62 Nilai Listrik 'Power Listrik' * 'Harga Listrik' 63 Nilai Pilihan Penduduk * 'WTP Pilihan' / 4 64 Nilai Serapan Karbon 'Luas Penghijauan' * 'Kapasitas Serapan Karbon' * 'Nilai Karbon' 65 Penduduk Aktual IF(TIME 0,1) maka pengambilan data diulangi atau dikoreksi. Consistency Ratio merupakan parameter yang digunakan untuk memeriksa apakah perbandingan berpasangan yang dilakukan oleh pakar telah dilakukan dengan konsekuen atau tidak (Marimin, 2004). Nilai Consistency Ratio dihitung dengan rumus : CI CR = RI Dimana : CI = Indeks konsistensi RI = Indeks Random CI = (p – n) / (n – 1) Dimana : p = rata-rata Consistensy Vector n = Banyak alternatif Sedangkan RI merupakan nilai random indeks sebagaimana yang ditetapkan oleh Oarkridge laboratory (Marimin 2004) seperti pada Tabel 4. Tabel 4 Nilai indeks random N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 RI 0,00 0,00 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49 1,51 1,48 1,56 Setelah diperoleh alternatif kebijakan sebagai kebijakan prioritas yang perlu diterapkan dalam pengembangan PLTA berbasis sukarela, selanjutnya disusun skenario kegiatan sebagai program-program yang dapat dilakukan untuk masa yang akan datang. Penyusunan skenario dilakukan dengan menggunakan metode analisis sistem dinamik. 3.6.6 Analisis Kebijakan 63 Kebijakan merupakan perangkat pedoman yang memberikan arah terhadap pelaksanaan strategi pembangunan dan berfungsi untuk memberikan rumusan mengenai berbagai pilihan tindakan dan prioritas agar dapat mencapai tujuan pembangun dengan efektif (Suharto 2008). Kebijakan dapat dinyatakan dalam berbagai bentuk: 1) instrumen legal (hukum), seperti peraturan perundangan, 2) instrumen ekonomi, seperti kebijakan fiskal, subsidi dan harga, 3) petunjuk, arahan ataupun ketetapan, 4) pernyataan politik, dan 5) kebijakan dapat dituangkan dalam garis-garis besar arah pembangunan, strategi, maupun program. Keberhasilan kebijakan sangat ditentukan oleh proses pembuatannya dan implementasinya (Djogo et al. 2003). Kebijakan publik adalah apapun yang akan dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah, mengapa pemerintah mengambil tindakan tersebut dan apa akibat dari tindakan tersebut terkait dengan suatu isu atau persoalan publik (Dye 1992). Pengertian ini mengandung makna bahwa kebijakan publik dibuat oleh badan pemerintah, baik pusat maupun daerah dan kebijakan publik menyangkut pilihan. Analisis kebijakan didefinisikan oleh Dunn (2003) sebagai suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyajikan informasi yang relevan untuk dapat memberikan landasan bagi para pengambil kebijakan dalam membuat suatu keputusan yang terkait dengan masalah-masalah publik. Dalam analisis kebijakan, kata analisis digunakan dalam pengertian yang luas, termasuk penggunaan intuisi dan pengungkapan pendapat serta mencakup tidak hanya pengujian kebijakan dengan memilah-milahkannya ke dalam sejumlah komponen melainkan juga perancangan dan sintesis alternatif-alternatif baru. Analisis kebijakan juga didefinisikan sebagai aktifitas yang produknya adalah saran yang dapat digunakan oleh pengambil keputusan untuk pembuatan kebijakan publik (Weimer & Vining 1989). Dalam melakukan analisis kebijakan diperlukan identifikasi masalah kebijakan dan kebutuhan masyarakat penerima, mengevaluasi respon pemerintah terhadap masalah, pengembangan alternatif kebijakan, rekomendasi, implementasi dan evaluasi kebijakan (Hogwood & Gunn 1984; Soebarsono 2008). Dunn (2003) 64 menyebutkan analisis kebijakan dapat dilakukan dengan menggunakan 3 pendekatan, yaitu pendekatan prospektif, retrospektif dan integratif. 3.6.7 Analisis Sistem Dinamik Analisis model dinamik dilakukan terhadap variabel-variabel yang telah teridentifikasi yang meliputi aspek ekologi, sosial dan ekonomi. Analisis model dinamik dilakukan melalui 2 tahap, yaitu pembuatan diagram sebab akibat dan diagram alir. Diagram simpal kausal menunjukkan hubungan antar variabel dalam proses sistem yang dikaji. Prinsip dasar pembuatannya adalah suatu proses sebagai sebab yang akan menghasilkan keadaan, atau sebaliknya suatu keadaan sebagai sebab akan menghasilkan proses. Sedangkan diagram alir dibuat berdasarkan persamaan model dinamik yang mencakup variabel keadaan (level), aliran (rate), auxiliary, dan konstanta (constant). Variabel tersebut berupa lambang-lambang yang digunakan dalam pembuatan model dengan menggunakan piranti lunak Powersim. Model yang dikembangkan selanjutnya digunakan sebagai alat simulasi. Simulasi ini dilakukan setelah uji validitas dan hasil pengujian menunjukkan adanya kesesuaian atau keabsahan antara hasil simulasi dengan data empiris (Sushil 1993; Muhammadi et al. 2001). Analisis dan simulasi sistem dinamik dilakukan dengan bantuan program powersim studio 2005E untuk memproyeksikan kecenderungan kondisi perlindungan dan pengelolaan sumber daya air PLTA. 3.6.8 Verifikasi dan Validasi Verifikasi model dilakukan sebagai proses uji sahih untuk mengetahui berbagai kelemahan maupun kekurangan, serta identifikasi berbagai persoalan yang harus diantisipasi dalam kaitan penerapan kebijakan yang dihasilkan (Eriyatno & Sofyar 2007). Verifikasi diartikan sebagai menyatakan kebenaran, ketepatan atau kenyataan (to establish the truth, accuracy or reality), sedangkan kata valid didefinisikan sebagai mendapatkan hasil kesimpulan yang benar, berdasarkan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan (Hartrisari 2007) Keabsahan suatu hasil simulasi dapat dilakukan melalui tiga pendekatan. Setiap pendekatan memerlukan tim pengembangan model yang melakukan 65 verifikasi dan validasi sebagai bagian dari proses pengembangan model. Pendekatan yang digunakan untuk menentukan suatu model yang valid dalam kajian ini disebut sebagai independent verification and validation (IV and V). Pendekatan ini menggunakan pihak ketiga (independent) untuk memutuskan validitas suatu model (Sargent 1998). Validitas adalah salah satu kriteria penilaian keobyektifan yang ditunjukkan dengan sejauh mana model dapat menirukan fakta (Muhammadi et al. 2001). Sementara validasi model menurut Sargent (1998) memiliki berbagai teknik untuk melaksanakannya. Kajian ini memanfaatkan face validity terhadap para pakar guna memeriksa kesesuaian antara prilaku model dengan prilaku sistem yang diwakilinya. Validasi soft system dilakukan terhadap beberapa pakar yang dipilih secara purposif mewakili keahlian memahami sinergitas konvensi internasional bidang lingkungan hidup dan implementasinya. Validasi dilakukan secara face validity terhadap para pakar guna memeriksa kesesuaian antara perilaku model hasil kajian dengan perilaku sistem yang diwakilinya. Untuk model dinamik, kinerja beberapa variabel dilakukan dengan uji statistik. Uji statistik dimaksudkan untuk melihat penyimpangan antara keluaran simulasi dengan data aktual. Pengujian statistik meliputi uji penyimpangan ratarata absolut (AME), penyimpangan variasi absolut (AVE), saringan Kalman (KF), koefisien diskrepansi (U-Theils) dan Durbin Watson (DW) (Barlas 1998). Absolute means error (AME) adalah penyimpangan antara nilai rata-rata simulasi terhadap data aktual. Sedangkan absolute variation error (AVE) adalah penyimpangan nilai variasi simulasi terhadap data aktual. U-Theils adalah koefisien diskrepansi antara nilai simulasi dengan data aktual. U-Theils dapat menggambarkan ada tidaknya penyimpangan yang menonjol. Batas penyimpangan yang dapat diterima untuk AME, AVE dan U-Theils adalah antara 5-10%. 66 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum PLTA 4.1.1 PLTA Saguling dan Cirata di Propinsi Jawa Barat Guna memanfaatkan debit air yang dialirkan Sungai Citarum, sungai terpanjang dan terbesar di provinsi Jawa Barat luas 1.448.279,25 ha, pemerintah membuat tiga bendungan dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di sungai ini yaitu PLTA Saguling, PLTA Cirata, dan PLTA Ir. H. Djuanda (PLTA Jatiluhur). Pengoperation ketiga waduk ini diintegrasikan dalam satu pola operasi yang disebut “Pola operasi waduk kaskade Citarum” dengan pendekatan equal sharing yang dilakukan setiap bulan Oktober oleh ketiga pengelola waduk, yaitu Perum Jasa Tirta II (Waduk Jatiluhur), PT Pembangkit Jawa Bali (Waduk Cirata), dan PT Indonesia Power (Waduk Saguling). PLTA yang menjadi objek penelitian adalah PLTA Saguling dan PLTA Cirata. A. PLTA Saguling PLTA Saguling adalah salah satu unit bisnis pembangkitan di bawah PT. Indonesia Power. PLTA Saguling yang mulai beroperasi tahun 1986 memiliki visi menjadi perusahaan publik dengan kinerja kelas dunia dan bersahabat dengan lingkungan. Misi PLTA Saguling melakukan usaha dalam bidang ketenagalistrikan dan mengembangkan usaha-usaha lainnya yang berkaitan, berdasarkan kaidah industri dan niaga yang sehat, guna menjamin keberadaan dan pengembangan perusahaan dalam jangka panjang. UPB Saguling mengelola 29 mesin pembangkit yang tersebar di Jawa Barat dengan total kapasitas terpasang 797,36 MW. Keuntungan PLTA ini antara lain waktu pengoperasian relatif lebih cepat (15 menit), biaya produksi lebih murah karena menggunakan air, rotasi turbin rendah dan tidak mengeluarkan panas sehingga peralatan jarang mengalami kerusakan. PLTA juga ramah lingkungan, karena tidak adanya proses pembakaran sehingga tidak ada limbah bekas pembakaran yang ditimbulkan. Dam (waduk) bertindak cultivation multifungsi, seperti pengendalian banjir dan sistem irigasi sawah. 67 PLTA Saguling memanfaatkan air Sungai Citarum yang terbagi atas 11 sub DAS. Tujuh diantara Sub Das tersebut mempengaruhi pola aliran Sungai Citarum baik kuantitas maupun kualitasnya yaitu Sub DAS Citarik, Sub DAS Cirasea, Sub DAS Cihaur, Sub DAS Ciminyak, Sub DAS Cisangkuy, Sub DAS Ciwidey, dan Sub DAS Cikapundung. Sungai ini bermata air utama di Gunung Wayang, di selatan Bandung pada ketinggian 2.182 m, dan bermuara ke Laut Jawa di daerah Tanjung Karawang. Luas DAS sekitar 6.080 km2 dan panjang sungai sekitar 270 km (Marganingrum 2007). Pengelolaan sumberdaya air secara berkelanjutan diintegrasikan ke dalam sistem manajemen perusahaan. Program penghijauan ditetapkan dalam road map tahun 2003-2016. PLTA Saguling melibatkan masyarakat sekitar lokasi pembangkitan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus sebagai bentuk partisipasi perusahaan membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. PLTA bekerjasama dengan Kabupaten Bandung Barat menghimpun kepedulian 56 perusahaan untuk berpartisipasi pada program penghijauan Dinas Lingkungan Kabupaten dan melakukan kerjasama dengan Perhutani Kabupaten pada acara Tepung Lawung. Kerjasama juga dilakukan dengan masyarakat pendidikan lingkungan untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat di Kabupaten Bandung mengenai kelestarian lingkungan DAS sebagai sumber kehidupan masyarakat sekitar DAS dan keberlangsungan operasional Waduk Saguling. B. PLTA Cirata PT. Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) adalah anak perusahaan PT. PLN (Persero) yang mengelola PLTA Cirata. PLTA Cirata beroperasi pada akhir September 1988. Visi PT.PJB adalah menjadi perusahaan pembangkit tenaga listrik Indonesia yang terkemuka dengan standar kelas dunia. Misi: (1) Memproduksi tenaga listrik yang handal dan berdaya saing. (2) Meningkatkan kinerja secara berkelanjutan melalui implementasi tata kelola pembangkitan dan sinergi business partner dengan metoda best practice dan ramah linngkungan, (3) 68 Mengembangkan kepasitas dan kapabilitas SDM yang mempunyai kompetensi teknik dan manjerial yang unggul serta berwawasan bisnis. Dalam menjalankan bisnisnya, PT. PJB menerapkan tiga pilar strategis yaitu pengelolaan aset (asset management), sistem manajemen SDM (human capital), dan teknologi informasi sebagai business enabler. Tiga pilar strategis dijabarkan ke dalam 10 sistem manajemen best practice yang antara lain: Manajemen aset, Manajemen Risiko, Manajemen Mutu ISO 9001, Manajemen Lingkungan ISO 14001, dan K3 OHSAS 18000, Good Corporate Governance (GCG), Manajemen Teknologi Informasi, Knowlegde Management, Manajemen SDM Berbasis Kompetensi, Manajemen Baldrige, dan Manajemen House Keeping 5S. Unit Pembangkitan Cirata berlokasi di Desa Cadas, Kecamatan Tegal Waru Plered Purwakarta. PLTA terbesar di Asia Tenggara dengan bangunan Power House 4 lantai di bawah tanah. Waduk Cirata memiliki luas 62 km2 dengan elevasi muka air banjir 223 m, elevasi muka air normal 220 m dan elevasi muka air rendah 205 m. Volume air waduk sebesar 2.165 juta meter3 dan efektif waduk 796 juta m3. PLTA Cirata mengoperasikan 8 x 126 MW atau 1008 MW dan mampu memproduksi listrik rata-rata sebesar 1.428 juta kilowatt jam per tahun yang disalurkan melalui transmisi tegangan ekstra tinggi 500 KV ke sistem interkoneksi Jawa Bali . Kemampuan memproduksi listrik PLTA ini setara dengan kemampuan pembangkit termal yang menggunakan BBM 428 ton .Untuk menghasilkan energi listrik sebesar 1.428 GWh, di operasikan 8 buah turbin dengan kapasitas masing– masing 120.000 KW dengan putaran 187,5 RPM. Adapun tinggi air jatuh efektif untuk memutar turbin 112,5 meter dengan debit air maksimum 135 m3/detik. Penerapan sistem manajemen lingkungan di unit pembangkitan Cirata, merupakan bagian tak terpisahkan dari proses produksi yang diwujudkan dalam bentuk upaya pengelolaan lingkungan yang terencana, terintegrasi pada semua bidang kegiatan dengan melibatkan seluruh komponen dalam manajemen unit pembangkitan Cirata untuk kepentingan masyarakat, tuntutan pasar serta akrab lingkungan dan sejalan dengan visi perusahaan yang ingin menjadikan perusahaan ini peduli lingkungan. 69 4.1.2 PLTA Tanggari I dan II di Propinsi Sulawesi Utara Energi listrik di Sulawesi Utara bersumber dari sistem pembangkitan PLTA Tonsea Lama, PLTA Tanggari I, PLTA Tanggari II, PLTD Manado dan PLTD Bitung. PLTA yang menjadi objek penelitian adalah PLTA Tanggari I dan II. Kedua PLTA ini menggunakan sumber energi gravitasi “air terjun” Sungai Tondano yang bersumber dari Danau Tondano dengan hulunya Desa Tolour dan bermuara di Pantai Manado. Panjang Sungai Tondano hampir 40 km. Tahun 2006 Manajemen puncak PLTA Tanggari I dan Tanggari II memutuskan untuk menerapkan sistem manajemen lingkungan pada pengelolaan dan pengoperasian PLTA. PLTA Tanggari I berlokasi di Desa Tanggari termasuk Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara. Terletak pada 124º 56’ 11” BT dan 1º 21’ 26” LU. PLTA Tanggari I dibangun pada tahun 1984 dan beroperasi pada tahun 1987. PLTA Tanggari I memiliki dua unit mesin, dengan kapasitas daya terpasang sebesar 18 MW. PLTA Tanggari II berlokasi di Desa Tanggari Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara. Terletak pada 124º 56’ 49” BT dan 1º 22’ 16” LU. PLTA Tanggari II dibangun pada tahun 1995 dan mulai beroperasi pada tahun 1998. PLTA Tanggari II mampu membangkitkan tenaga listrik dengan kapasitas daya terpasang sebesar 19 MW dengan tegangan sebesar 13.2 KV. Tipe pambangkit run off river (aliran langsung), dengan headrace tunnel yang mempunyai panjang 800 meter, diameter 2.6 meter, tinggi jatuh 103 meter, dan debit maksimum sebesar 16,5 m3/detik. Apabila Sungai Tondano sudah tidak mampu menyalurkan debit air sebesar 16 m3/s pada saat permukaan Danau Tondano mencapai elevasi 629,27 (Low lower Level/LWL), maka pengoperasian PLTA menjadi terganggu. Pendangkalan dasar sungai sejak mulut danau hingga pintu pengambilan (intake) PLTA Tonsea lama baik yang ditimbulkan oleh bahan sedimen maupun tumbuhan ganggang yang tumbuh subur sepanjang 2 - 3 kilometer di hulu sungai mempengaruhi pengoperasian PLTA Tanggari. Debit air terus berkurang dapat menggangggu perputaran turbin. 70 Sungai Tondano mulai dari mulut danau hingga PLTA Tonsea lama melewati tengah kota Manado. Hampir di sepanjang tepi sungai telah dihuni oleh penduduk. Tidak mengherankan Sungai Tondano juga merupakan tempat pembuangan sampah baik oleh pemukim maupun oleh pasar kota. Sampah yang diperkirakan 5 – 6 ton per hari sangat terasa gangguannya dalam pengoperasian turbin. Danau Tondano sejak dahulu merupakan sumber ikan tawar bagi penduduk. Kini perkembangan nelayan meningkat dan penggunaan sistem “keramba” untuk meningkatkan volume tanggakan ikan. Sistem keramba menggunakan tepian danau untuk dijadikan tempat pemeliharaan ikan yang diberi makanan tertentu (pellet dsb). Kondisi ini menyebabkan kadar nitrogen dalam air yang mendorong pertumbuhan gulma air. PLTA Tanggari juga mengalami permasalahan pasokan air akibat waktu tempuh air dari Tonsea Lama sampai intake PLTA Tanggari. Lamanya waktu tempuh disebabkan oleh kondisi dasar sungai yang terlalu banyak hambatan berupa batuan dan sampah buangan disamping profil sungai yang tidak teratur. 4.2 Perubahan Penggunaan Lahan di Wilayah PLTA 4.2.1 Perubahan Penggunaan Lahan pada DAS Citarum Analisis perubahan penggunaan lahan (landuse change) DAS dari citra satelit 2001 dan 2007. Citra satelit yang digunakan adalah citra Landsat ETM 7. Secara umum hasil analisis perubahan penggunaan lahan memperlihatkan adanya perubahan tutupan dan peruntukan lahan pada DAS Citarum di Jawa Barat. Peta penutupan dan penggunaan lahan berdasarkan citra satelit dan hasil analisisnya pada wilayah DAS Citarum tersebut ditampilkan dalam Gambar 13 berikut. 71 (a) (b) Gambar 13 Citra satelit pada DAS Citarum: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007. Gambar 13 menunjukkan penutupan lahan berdasarkan citra satelit pada tahun 2001 (a) dan 2007 (b) di wilayah DAS Citarum. DAS Citarum sendiri meliputi DAS Citarum hulu di mana terdapat DAS Waduk Saguling dan DAS Citarum hilir di mana DAS Waduk Cirata berada. Guna memudahkan pemahaman selanjutnya, dalam peta penggunaan lahan kedua DAS ini dipisahkan menjadi DAS Waduk Saguling (hulu) dan DAS Waduk Cirata (hilir), meskipun keduanya merupakan satu sistem DAS yang berhubungan secara langsung. DAS Waduk Saguling merupakan bagian dari DAS Waduk Cirata yang berada di bagian hulu. Gambar 14 menunjukkan peta penggunaan lahan di DAS Saguling pada tahun 2001 dan 2007 berdasarkan hasil interpretasi citra satelit. Sementara Gambar 15 menunjukkan peta penggunaan lahan di DAS Cirata pada tahun 2001 dan 2007. Perbedaan penggunaan lahan pada tahun 2001 dan 2007 menjadi dasar analisis perubahan lahan di DAS Citarum yang menjadi daerah tangkapan air Waduk Saguling dan Cirata. Penggunaan lahan yang ditampilkan dalam kedua peta tersebut terdiri dari berbagai kelas penutupan atau liputan lahan (land cover), antara lain tutupan hutan, permukiman, sawah, semak belukar, tanah terbuka, rawa, perkebunan, pertanian dan badan air (waduk), serta tutupan awan. 72 (a) (b) Gambar 14 Penggunaan lahan DAS Saguling: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007. 73 (a) (b) Gambar 15 Penggunaan lahan DAS Cirata: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007. 74 Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa luas DAS Waduk Saguling yang berada pada wilayah paling hulu Sungai Citarum kurang lebih meliputi wilayah seluas 222.830 ha. Sementara luas DAS Waduk Cirata meliputi wilayah sekitar 465.286 ha, di mana DAS Waduk Saguling tercakup di dalamnya. Hasil analisis terhadap perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Saguling disajikan dalam Tabel 5. Tabel 5 Perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Saguling Jenis Penggunaan Lahan Luas tahun 2001 Luas tahun 2007 (ha) (%) (ha) Hutan 38.139,80 17,12 12.531,77 Permukiman 39.782,58 17,85 41.458,90 Sawah 64.940,11 29,14 65.007,33 29,17 Semak belukar 1.060,72 0,48 30.604,91 Lahan terbuka Pertanian lahan kering Perkebunan 1.867,27 0,84 190,95 72.864,11 32,70 2.300,34 1,03 Rawa Badan air Total (%) Perubahan PL (ha) (ha/thn) (%/thn) 5,62 (25.608,03) (4.268,01) (11,19) 18,61 1.676,32 279,39 0,70 67,22 11,20 0,02 13,73 29.544,19 4.924,03 464,22 0,09 (1.676,32) (279,39) (14,96) 43.252,87 19,41 (29.611,24) (4.935,21) (6,77) 27.908,94 12,52 25.608,60 4.268,10 185,54 521,49 0,23 520,81 0,23 (0,68) (0,11) (0,02) 1.353,58 0,61 1.353,52 0,61 (0,06) (0,01) (0,00) 222.830,00 100,00 222.830,00 100,00 Tabel 5 di atas menunjukkan terjadinya dinamika perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Saguling selama kurun waktu 6 tahun dari tahun 2001 hingga tahun 2007. Luas hutan di bagian hulu waduk pada tahun 2001 sebesar 38.139,80 ha atau sebesar 17,12% dari luas DAS. Luasan hutan berubah menjadi hanya 5,62% atau sekitar 12.531 ha pada tahun 2007, sehingga diperkirakan terjadi pengurangan luas hutan 11,19% setiap tahunnya. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi berbagai penggunaan lahan lainnya, terutama menjadi perkebunan. Luas perkebunan meningkat pesat sekitar 185% setiap tahunnya, dari luas sekitar 2.300 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 25.608 ha yang hampir seluruhnya berasal dari konversi terhadap hutan. Sementara penggunaan lahan lainnya yang mengalami pengurangan adalah lahan terbuka yang berkisar seluas 1.867 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 190 ha saja 75 pada tahun 2007. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa hampir seluruh lahan terbuka pada tahun 2001 ini berubah menjadi lahan permukiman pada tahun 2007. Penggunaan lahan lainnya yang mengalami pertumbuhan cukup pesat adalah semak belukar yang tumbuh sekitar 462% setiap tahunnya, dari seluas 1.060 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 29.544 ha pada tahun 2007. Semak belukar ini sebagian besar berasal dari lahan pertanian kering yang berubah dari luas sekitar 72.864 ha pada tahun 2001 yang menyusut menjadi 43.252 ha pada tahun 2007. Sementara penggunaan lahan lainnya relatif berubah secara perlahan, seperti permukiman (0,7% per tahun), sawah dan rawa (0,02% per tahun), serta relatif tidak berubah, seperti badan air (0,0007% per tahun). Sementara Tabel 6 menunjukkan terjadinya dinamika perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Cirata pada kurun waktu yang sama. Hampir sebagian luas DAS Waduk Cirata sebenarnya merupakan DAS Waduk Saguling, yang berada di hulu Waduk Cirata. Hal ini menunjukkan dinamika perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Cirata, sebagian merupakan sumbangan dari perubahan yang terjadi pada DAS Waduk saguling. Tabel 6 Perubahan penggunaan lahan pada DAS Waduk Cirata Jenis Penutupan Lahan Luas tahun 2001 Luas tahun 2007 (ha) (%) (ha) Hutan 87.817,72 18,87 23.392,37 Permukiman 48.489,76 10,42 55.233,83 135.217,40 29,06 135.348,93 3.259,97 0,70 70.056,67 Sawah Semak belukar Lahan terbuka Pertanian lahan kering Perkebunan Rawa (%) Perubahan PL (ha) (ha/thn) (%/thn) 5,03 (64.425,35) (10.737,56) (12,23) 11,87 6.744,07 1.124,01 2,32 29,09 131,53 21,92 0,02 15,06 66.796,70 11.132,78 341,50 6.935,02 1,49 190,95 0,04 (6.744,07) (1.124,01) (16,21) 135.677,20 29,16 68.749,14 14,78 (66.928,06) (11.154,68) (8,22) 34.523,69 7,42 98.949,60 21,27 64.425,91 10.737,65 31,10 840,08 0,18 839,81 0,18 (0,27) (0,04) (0,01) 11.534,08 2,48 11.533,88 2,48 (0,20) (0,03) (0,00) Awan 991,08 0,21 990,82 0,21 (0,26) (0,04) (0,00) Total 465.286,00 100,00 465.286,00 100,00 - - - Badan air Hutan pada wilayah DAS Waduk Cirata memiliki luas sekitar 87.817 ha atau sebesar 18,87% dari luas DAS pada tahun 2001. Luasan hutan berubah menjadi hanya 5,03% atau sekitar 23.392 ha pada tahun 2007, sehingga 76 diperkirakan terjadi pengurangan luas hutan 12,23% setiap tahunnya. Seperti halnya pada DAS Waduk Saguling, perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi berbagai penggunaan lahan lainnya, terutama disebabkan konversi terhadap lahan perkebunan. Hal ini mendorong peningkatan luas lahan perkebunan dari luas sekitar 34.523 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 98.949 ha, atau meningkat sekitar 12,23% setiap tahunnya. Penggunaan lahan lainnya yang mengalami pengurangan adalah lahan terbuka yang berkisar seluas 6.935 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 190 ha saja pada tahun 2007. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa hampir seluruh lahan terbuka pada tahun 2001 ini berubah menjadi lahan permukiman pada tahun 2007. Seperti pada DAS Waduk saguling, semak belukar pada DAS Waduk Cirata mengalami pertumbuhan cukup pesat dari sekitar 3.259 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 66.796 ha pada tahun 2007, atau tumbuh sekitar 341% setiap tahunnya. Semak belukar ini sebagian besar berasal dari lahan pertanian kering yang berubah dari luas sekitar 135.677 ha pada tahun 2001 yang menyusut menjadi 68.749 ha pada tahun 2007. Penggunaan lahan lainnya relatif berubah secara perlahan, seperti sawah (0,02% per tahun) dan rawa (0,01% per tahun), serta relatif tidak berubah, seperti badan air (0,0007% per tahun). Sementara permukiman di bagian hilir memiliki tingkat pertumbuhan yang relatif lebih tinggi dibandingkan bagian hulu (DAS Waduk Saguling). Hal ini terlihat dari tingkat pertumbuhan permukiman secara keseluruhan di DAS Cirata sebesar 2,32% setiap tahun, atau lebih tinggi dari DAS Waduk Saguling (0,7% per tahun). Secara umum pengurangan luas hutan bisa meningkatkan laju degradasi lahan, karena tutupan hutan bisa mencegah terjadinya peningkatan laju erosi dan sedimentasi (Indriyanto 2008). Menurut PPSDAL UNPAD (2008), tingkat erosi di DAS Citarum Hulu pada tahun 2001 sekitar 2,20 mm/tahun dan sedimentasi 4.296.268 m3/tahun. Pada tahun 2007, tingkat erosi meningkat menjadi 2,23 mm/tahun dan laju sedimentasi meningkat menjadi 4.315.404 m3/tahun. Tingkat erosi dan laju sedimentasi yang tinggi dapat mengancam keberlanjutan Waduk Saguling dan Waduk Cirata yang memasok air ke PLTA. Sesuai perencanaan waduk, tingkat erosi dan laju sedimentasi yang diperbolehkan secara berturut yaitu 2,10 mm/tahun dan 4.000.000 m3/tahun. Berdasarkan 77 prediksi PPSDAL UNPAD (2008), peningkatan sedimentasi akan mengurangi kemampuan waduk untuk menampung air sebab sedimen akan terakumulasi baik di dead storage dan life storage waduk. Peningkatan sedimen ini akan mengurangi fungsi waduk sebagai penampung air. Hutan dapat mempertahankan debit air sungai sehingga tidak akan banjir pada musim hujan dan tidak akan kekeringan pada musim kemarau (Indriyanto 2008). Air dari Waduk Saguling berasal dari Sungai Cikapundung, Sungai Cikeruh, Sungai Citarik, Sungai Cisangkuy, Sungai Ciwidey dan Sungai Cisarea. Berdasarkan data tahun 1990-2010, debit air sungai sangat berfluktuasi. Debit air minimum dan maksimum sungai ke Waduk Saguling yaitu 4,08 - 66,92 m3/dtk dan 141,46 - 306,39 m3/dtk (PLTA Saguling 2011). Waduk Cirata memperoleh air dari Sungai Cisokan, Sungai Cibalagung, Sungai Cimeta, Sungai Cikundul dan Sungai Citarum. Debit minimum dan maksimum air sungai ke Waduk Cirata yaitu 31,18 - 103,02 m3/dtk dan 205,21- 488,66 m3/dtk (PLTA Cirata 2011). 4.2.2 Perubahan Penggunaan Lahan pada DAS Tondano Gambar 16 menunjukkan penutupan lahan berdasarkan citra satelit pada tahun 2001 (a) dan 2007 (b) di wilayah DAS PLTA Tanggari dan II (DAS Tondano). Gambar 17 dan 18 menunjukkan peta penggunaan lahan di DAS Tondano pada tahun 2001 dan 2007 berdasarkan hasil interpretasi citra satelit. Perbedaan penggunaan lahan pada tahun 2001 dan 2007 menjadi dasar analisis perubahan lahan di DAS Tondano yang menjadi daerah tangkapan air PLTA Tanggari I dan II. Seperti pada peta penggunaan lahan DAS Citarum, penggunaan lahan yang ditampilkan dalam kedua peta penggunaan lahan DAS Tondano juga terdiri dari berbagai kelas penutupan lahan. Penggunaan lahan tersebut terdiri dari tutupan hutan, permukiman, sawah, semak belukar, tanah terbuka, rawa, perkebunan, pertanian dan badan air (waduk), serta tutupan awan. Penggunaan lahan berdasarkan analisis terhadap citra satelit tersebut ditampilkan dalam peta penggunaan lahan pada tahun 2001 dan tahun 2007. Perbedaan luas penggunaan lahan antara kedua tahun tersebut menjadi dasar dalam memperkirakan terjadinya perubahan penggunaan lahan di DAS Tondano setiap tahunnya. 78 (a) (b) Gambar 16 Citra satelit pada DAS Tondano: (a) tahun 2001 dan (b) tahun 2007. Gambar 17 Penggunaan lahan DAS Tondano pada tahun 2001. 79 Gambar 18 Penggunaan lahan DAS Tondano pada tahun 2007. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa luas DAS Tondano di mana PLTA Tanggari I dan II berada meliputi wilayah seluas 24.708 ha. Penampakan tutupan lahan melalui citra satelit menunjukkan bahwa sebagian besar wilayahnya tertutup oleh vegetasi (hijau). Sementara pemukiman (merah) tersebar di beberapa wilayah, terutama terkonsentrasi di wilayah pesisir pantai pada bagian utara lokasi studi dan di pesisir Danau Tondano yang ada di bagian selatan lokasi studi. Hasil analisis terhadap perubahan penggunaan lahan pada DAS Tondano yang mempengaruhi PLTA Tanggari I dan II disajikan dalam Tabel 7. 80 Tabel 7 Perubahan penggunaan lahan pada DAS Tondano Jenis Penutupan Lahan Hutan Luas tahun 2001 Luas tahun 2007 (ha) (%) (ha) (%) Perubahan PL (ha) (ha/thn) (%/thn) 18.323,83 74,16 18.098,12 73,25 (225,71) (37,62) (0,0021) Permukiman 2.000,39 8,10 2.198,62 8,90 198,23 33,04 0,0165 Sawah 1.739,37 7,04 1.739,38 7,04 0,01 0,00 0,000001 Semak belukar 794,91 3,22 796,41 3,22 1,50 0,25 0,0315 Lahan terbuka 789,03 3,19 551,05 2,23 (237,98) (39,66) (0,0503) Bayangan Awan 18,90 0,08 17,40 0,07 (1,50) (0,25) (1,3228) Badan air 15,85 0,06 15,56 0,06 (0,29) (0,05) (0,0030) 265,74 44,29 0,0431 Awan 1.026,59 4,15 1.292,33 5,23 Total 24.708,87 100,00 24.708,87 100,00 Perubahan penggunaan lahan pada DAS Tondano selama kurun waktu 6 tahun dari tahun 2001 hingga tahun 2007 relatif tidak terlalu dinamis. Hal ini dilihat dari sedikitnya prosentase perubahan penggunaan lahan setiap tahunnya. Hasil analisis penggunaan lahan terhadap data citra satelit menunjukkan bahwa pada tahun 2001, sebagian besar wilayah DAS Tondano ditutupi oleh hutan seluas 74,16% dari luas DAS secara keseluruhan. Selain hutan, wilayah ini juga ditempati oleh permukiman (8,1%), sawah (7,04%), semak belukar (3,22%), lahan terbuka (3,19%), badan air (0,06%), serta selebihnya ditutupi awan dan bayangan awan. Penggunaan lahan pada tahun 2001 ini tidak berbeda jauh dengan penggunaan lahan pada tahun 2007, sehingga bisa disimpulkan perubahan penggunaan lahan yang terjadi di wilayah ini relatif kecil. Luas hutan di DAS Tondano pada tahun 2001 sebesar 18.323 ha berubah menjadi sekitar 18.098 ha pada tahun 2007, sehingga diperkirakan terjadi pengurangan luas hutan hanya sekitar 0,0021% setiap tahunnya. Luas permukiman relatif meningkat sekitar 0,0165% setiap tahunnya, dari luas sekitar 2.000 ha pada tahun 2001 menjadi sekitar 2.198 ha pada tahun 2007. Sementara penggunaan lahan lainnya relatif berubah secara perlahan, seperti sawah (0,000001% per tahun), semak belukar (0,0315 per tahun) dan lahan terbuka (0,0503% per tahun). Jenis tanah di perbukitan sekitar danau Tonado adalah latosol sehingga jumlah erosi diduga atas dasar curah hujan. Tingkat erosi di DAS Tondano pada tahun 1992 telah mencapai 0,213 ton/ha di lahan bervegetasi, serta sebesar 24,932 81 ton/ha di lahan terbuka tanpa vegetasi. Sementara erosi yang masih dapat ditoleransi sebesar 11,0 ton/ha. Jadi lahan harus tertutup vegetasi untuk menghindari bahaya erosi (DPE 1992). Sungai yang bermuara di Danau Tondano adalah Sungai Noogan, Sungai Panasen, Sungai Ema. Kondisi debit air minimum Sungai Tondano yang masuk ke PLTA saat ini berkisar 4,005 – 20,324 m3/dtk dan maksimum berkisar 53,351 181,225 m3/dtk. PLTA Tanggari I dan II hanya akan beroperasi jika debit air Sungai Tondano minimum 16 m3/dtk. Debit Sungai Tondano dipengaruhi musim. Wilayah Manado, Tondano, dan Airmadidi memiliki iklim dengan nisbah bulan kering (bulan dengan curah hujan < 60 mm) berkisar 0 % – 14,30 %. Faktor lain yang mempengaruhi debit air adanya rumput air di tepian danau sampai sejauh 500 meter dari danau dan erosi dari wilayah sekitarnya. Hal ini merupakan sumber pendangkalan yang menghambat laju air (DPE 1992). 4.3 Kualitas Air Sungai di Wilayah PLTA Kualitas air suatu perairan mencerminkan kualitas lingkungan. Kualitas air waduk sangat dipengaruhi kualitas lingkungan catchment area di wilayah hulu, perubahan penutupan lahan dan penggunaannya. Kualitas air ini akan mempengaruhi dan menentukan kemampuan hidup jasad perairan tersebut dan proses teknis/produksi pembangkit listrik. Kelayakan suatu perairan sebagai lingkungan hidup dipengaruhi oleh sifat fisika kimia perairan tersebut (Krismono et al. 1987; Kartamihardja et al. 1987). Data-data yang berkaitan dengan karakteristik fisik dan kimia yang berpengaruh terhadap PLTA meliputi suhu, TDS, TSS, Fe, COD, DO, H2S, pH, NO3-2, dan PO4-3. Analisis kualitas air sungai pada empat PLTA menggunakan uji T berpasangan dan metode deksriptif dengan membandingkan kualitas air di wilayah PLTA dengan baku mutu kualitas air kelas 4 (PP No.82/2001). Uji T dilakukan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kualitas air di inlet dan outlet PLTA. Bilamana nilai P < 0,05 maka H0 ditolak (Siregar 2004). 4.3.1 Kualitas air PLTA Saguling dan Cirata 82 Hasil uji T terhadap kualitas air di inlet dan outlet PLTA dilihat pada Tabel 8. Hasil uji T kualitas air di wilayah PLTA Saguling menunjukkan bahwa secara umum kualitas air di outlet sama dengan kualitas air di inlet. Perbedaan secara nyata (α=0,05) pada kualitas air di inlet dan outlet berdasarkan hasil uji T hanya terlihat pada BOD pada tahun 2005, TSS pada tahun 2008, dan pH tahun 2008 dan tahun 2009. Tabel 8 Hasil uji T kualitas air di PLTA Saguling Parameter P-Value Saguling Tahun 2005 2006 2007 2008 Suhu 0,560 0,396 0,426 0,787 TDS 0,288 0,117 0,220 0,058 TSS 0,620 0,409 0,365 0,031 pH 0,433 0,213 0,453 0,021 H2S 0,391 0,291 0,395 0,221 NO3-2 0,517 0,600 0,850 0,224 PO4-3 0,561 0,074 0,637 0,672 DO 0,103 0,885 COD 0,081 0,833 0,596 0,211 BOD 0,039* 0,621 0,951 0,146 Fe 0,275 0,155 0,078 0,473 Ket: nilai P < 0,05 maka H0 ditolak (sumber : Siregar 2004) ; - : tidak ada data 2009 0,166 0,102 0,112 0,005 0,132 0,155 0,804 0,240 0,467 0,871 0,537 2010 0,076 0,079 0,191 0,199 0,391 0,672 0,342 0,184 0,436 0,714 0,116 Konsentrasi nilai rata-rata median TSS (3 mg/L) dan pH (7,1) di oulet lebih rendah dibandingkan dengan TSS (4 mg/L) dan pH (7.9) di inlet pada tahun 2008. Konsentrasi BOD di outlet (7,85 mg/L) lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi rata-rata median BOD (8,75) di inlet pada tahun 2005 (Lampiran 1). Walaupun ada parameter pada tahun yang berbeda tersebut menunjukkan adanya perbedaan nyata (α=0,05) namun hal tersebut tidak menggambarkan hasil keseluruhan tentang kualitas air waduk. Dari Tabel 8 hanya sekitar 6,25 % data yang menunjukkan ada perbedaan nyata. Kualitas air yang tidak berbeda nyata secara statistik (α=0,05) sebelum dan sesudah dimanfaatkan oleh PLTA menunjukkan bahwa PLTA Saguling dalam kegiatan operasionalnya tidak menurunkan kualitas air. Hasil uji T terhadap kualitas air di inlet dan outlet PLTA Cirata secara umum menunjukkan kualitas air di PLTA Cirata di outlet sama dengan kualitas air di inlet. Perbedaan secara nyata (α=0,05) kualitas air di inlet dan outlet hanya terlihat pada konsentrasi TDS pada tahun 2010 dan phosfat pada tahun 2009. 83 Tabel 9 Hasil uji T kualitas air di PLTA Cirata Parameter P-Value Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 Suhu 0,391 0,406 0,467 0,989 0,074 TDS 0,116 0,759 0,217 0,163 0,110 TSS 0,225 0,401 0,886 0,372 0,375 pH 0,532 0,118 0,623 0,139 0,097 H2S 0,391 0,227 0,333 0,459 NO30,381 0,198 0,759 0,310 0,627 PO4-3_ 0,103 0,153 0,571 0,722 0,034 DO 0,861 0,779 0,373 0,192 0,018 COD 0,960 0,904 0,207 0,781 0,080 BOD 0,892 0,378 0,348 0,692 0,096 Fe 0,319 0,389 0,735 0,428 0,108 Ket: nilai P < 0,05 maka H0 ditolak (sumber : Siregar 2004) ; - : tidak ada data 2010 0,134 0,007 0,577 0,059 0,193 0,284 0,470 0,832 0,638 0,521 0,541 Konsentrasi rata-rata median TDS (150 mg/L) di outlet Cirata pada tahun 2010 lebih tinggi dibandingkan konsentrasi TDS (112 mg/L) di inlet. Konsentrasi phosfat (0,26 mg/L) di outlet lebih tinggi dibandingkan di inlet (0,23 mg/L) pada 2009 sebagaimana tertera pada Lampiran 2. Walaupun terdapat dua parameter pada tahun yang berbeda menunjukkan adanya perbedaan nyata namun hal tersebut tidak menggambarkan hasil keseluruhan tentang kualitas air waduk atau hanya sekitar 3,08 % data yang menunjukkan ada perbedaan nyata. Dengan demikian kualitas air tidak berbeda nyata secara statistik (α=0,05) sebelum dan sesudah dimanfaatkan oleh PLTA Cirata. Hal ini menunjukkan bahwa PLTA Cirata dalam kegiatan operasionalnya tidak menurunkan kualitas air. Analisis hasil uji T memperlihatkan secara statistik kualitas air (kelas IV) di inlet dan outlet PLTA Saguling dan PLTA Cirata tidak berbeda nyata (α=0,05). Proses konversi energi potensial air sungai menjadi energi mekanik kemudian energi listrik di pembangkit tidak ada indikasi adanya tambahan material dalam kegiatan konversi energi tersebut. Sehingga air yang keluar dari turbin pembangkit listrik tenaga air tidak menambah beban lingkungan. Air yang keluar dari turbin PLTA bukan merupakan sisa kegiatan PLTA (Penjelasan pasal 38 ayat 1 dari PP Nomor 82/2001). Berdasarkan data sebaran kualitas air di Waduk Saguling dan Citara secara keseluruhan masih di bawah ambang batas dari baku mutu untuk Kelas 4 (PP No.82/2001), kecuali untuk parameter Biological Oxygen Demand (BOD). 84 Biological Oxygen Demand (BOD) atau kebutuhan oksigen biologis merupakan jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada di dalam air dapat diurai oleh mikroorganisma. Dinamika kualitas air inlet di Waduk Saguling untuk parameter BOD tahun 2005, tahun 2007 hingga tahun 2010 adalah kurang baik. Sebaran konsentrasi BOD telah melewati ambang batas dari baku mutu untuk Kelas 4 (Lampiran 5). Hal tersebut juga terjadi di waduk di PLTA Cirata. Dinamika kualitas air BOD di waduk di Cirata telah melewati ambang baku mutu Kelas 4 dari PP No. 82/2001 pada tahun 2005, 2006, dan 2008 (Lampiran 6). Perairan yang memiliki nilai BOD yang tinggi tidak cocok bagi kepentingan perikanan dan pertanian. PLTA harus memperhatikan dinamika kualitas air baik di inlet dan outlet, sebelum dan sesudah dimanfaatkan oleh PLTA. Sesuai dengan komitmen manajemen puncak untuk selalu memenuhi ketentuan yang berlaku dan mencegah terjadinya polusi dan kerusakan lingkungan yang diikuti dengan melakukan perbaikan secara berkelanjutan. Evaluasi kualitas air terhadap pemenuhan regulasi (audit internal maupun tinjauan manajemen) tidak hanya difokuskan dampak kualitas air terhadap operasional PLTA, PLTA sebagai pemanfaat sumberdaya perlu memperhatikan keseimbangan ekosistem antara wilayah hulu dan hilir baik dalam aspek ekonomi dan pelestarian lingkungan sehingga multifungsi air tetap dapat dipertahankan. Konsentrasi Fe meskipun tidak ditetapkan persyaratan baku mutunya dalam PP No. 82/2001, Fe yang teroksidasi di dalam air berwarna kecoklatan dan tidak dapat larut dapat mengakibatkan penggunaan air menjadi terbatas untuk keperluan fungsi lainnya. Selain itu diketahui bahwa air yang terdapat pada waduk di PLTA Saguling dan Cirata digunakan juga untuk aktivitas lain seperti untuk kegiatan budidaya keramba jaring apung (KJA). Aktivitas KJA merupakan salah satu bentuk untuk mengurangi dampak sosial ekonomi saat pendirian PLTA dan pembangunan waduk dengan jumlah maksimum yang ditetapkan. Sisa limbah pakan ikan dari kegiatan KJA akan menurunkan kualitas air waduk. Peningkatan kontentrasi nitrat dan phosfat dapat terjadi karena masuknya bahan pencemar yang mengandung unsur N dan P seperti dari pakan ikan. Limbah yang berasal dari KJA (tahun 1996-2000) di Waduk Saguling mengandung 1.359.028 kg N dan 85 214.059 kg P, dan di Waduk Cirata mengandung 6.611.787 kg N dan 1.041.417 kg P (Garno 2002). Sementara peningkatan jumlah KJA terus meningkat hingga berjumlah 7209 petak unit pada tahun 2010 di Waduk Saguling dan sebanyak 51418 unit di Waduk Cirata. Jumlah ini telah melewati kapasitas daya dukung waduk. Daya dukung Waduk Saguling hanya dapat menampung 4514 unit petak KJA (Maulana 2010), sedangkan daya dukung Waduk Cirata dapat menampung sebanyak 24000 unit petak KJA (Hapsari 2010). Hal penting lainnya adalah keberlangsungan fungsi waduk juga tergantung pada kondisi keadaan lahan di sekitar daerah tangkapan air (DTA). Berbagai penggunaan lahan sebagaimana diuraikan dalam analisis perubahan penutupan lahan lahan dapat menghasilan berbagai bahan pencemar atau limbah yang akan mengalir ke perairan waduk. Hal ini dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan perairan waduk. Adanya dinamika kualitas air di kedua waduk tersebut menunjukkan bahwa PLTA tidak bisa berhenti melakukan pengendalian terhadap kualitas air yang akan dimanfaatkannya meskipun secara statistik kualitas air waduk di wilayah PLTA Saguling dan Cirata masih sesuai untuk keperluan operasional PLTA. Pendekatan sukarela untuk perlindungan lingkungan dan sumberdaya air perlu ditunjukkan dengan adanya konsistensi untuk mempertahankan kualitas air dan melebihi (beyond) ketentuan dan persyaratan yang berlaku atau yang ditetapkan pihak yang berwenang. Selain itu, keberlanjutan sumberdaya air juga berarti keberlanjutan operasional PLTA itu sendiri. Walaupun pelestarian kualitas air inlet PLTA, terutama di bagian hulu, di luar kendali manajemen PLTA, manajemen PLTA harus mengkomunikasikan kepada stakeholder terkait yang memanfaatkan dan/atau berkepentingan terhadap sumberdaya air waduk. 4.3.2 Kualitas Air PLTA Tanggari I dan II Hasil uji T terhadap kualitas air di inlet dan outlet PLTA Tanggari I dapat dilihat pada Tabel 10. Hasil uji T menunjukkan bahwa secara umum kualitas air di outlet sama dengan kualitas air di inlet. Perbedaan secara nyata (α=0,05) pada kualitas air di inlet dan outlet berdasarkan hasil uji T hanya terlihat pada konsentrasi BOD pada tahun 2006 dan COD pada tahun 2009. 86 Tabel 10 Hasil uji T kualitas air di wilayah PLTA Tanggari I Parameter P-Value Tanggari I 2005 2006 2007 2008 2009 Suhu 0,500 0,252 0,224 0,151 TDS 0,500 1,000 0,055 0,143 0,116 TSS 0,305 0,642 0,295 0,062 0,387 pH 0,391 0,090 0,238 0,209 H2S 0,393 0,541 NO3-2 0,063 0,391 0,483 0,236 0,478 PO4-3 0,391 DO COD 0,514 0,206 0,248 0,134 0,013* BOD 0,823 0,048* 0,340 0,204 0,379 Fe 0,100 0,346 0,232 Ket: nilai P < 0,05 maka H0 ditolak (sumber : Siregar 2004) ; - : tidak ada data 2010 0,675 0,779 0,170 0,570 0,313 0,807 0,604 Pada tahun 2005, konsentrasi rata-rata median BOD ( 5,93 mg/L) di oulet lebih rendah dibandingkan dengan BOD (6,01 mg/L) di inlet. Sedangkan konsentrasi rata-rata median COD (11,35 mg/L) di outlet lebih tinggi dibandingkan dengan COD (10,40 mg/L) di inlet pada tahun 2009 sebagaimana tertera pada Lampiran 3. Walaupun dua parameter yang pada tahun yang berbeda tersebut menunjukkan adanya perbedaan nyata namun hal tersebut tidak menggambarkan hasil keseluruhan tentang kualitas air waduk atau hanya sekitar 4,35 % data di wilayah PLTA Tanggari I yang menunjukkan ada perbedaan nyata (α=0,05). Kualitas air di Tanggari I tidak berbeda nyata secara statistik (α=0,05) sebelum dan sesudah dimanfaatkan oleh PLTA, menunjukkan bahwa PLTATanggari I dalam kegiatan operasionalnya tidak menurunkan kualitas air sungat yang dimanfaatkannya . Hasil uji T terhadap kualitas air di inlet dan outlet PLTA Tanggari II dapat dilihat pada Tabel 11. Hasil uji T menunjukkan bahwa secara umum kualitas air di PLTA Tanggari II di outlet sama dengan kualitas air di inlet. Berdasarkan hasil uji T perbedaan secara nyata (α=0,05) kualitas air di inlet dan outlet hanya terlihat pada suhu dan COD pada tahun 2006, dan pH, BOD, NO3-2 pada tahun 2008. Tabel 11 Hasil uji T kualitas air di wilayah PLTA Tanggari II Parameter Suhu TDS 2005 0,156 0,070 2006 0,036 0,008 P-Value 2007 2008 0,346 0,706 0,241 0,202 2009 0,443 0,456 2010 0,878 0,626 87 TSS 0,071 0,387 pH 0,500 0,474 0,005 H2S NO3-2 0,698 0,718 0,002 PO4-3 DO COD 0,358 0,121 0,123 0,237 BOD 0,218 0,383 0,689 0,036 Fe 0,252 0,929 Ket: nilai P < 0,05 maka H0 ditolak (sumber : Siregar 2004) ; - : tidak ada data 0,313 0,092 0,421 0,171 0,391 0,391 0,656 0,082 0,339 0,949 0,252 0,064 Konsentrasi rata-rata median pada tahun 2006 COD (25,85 mg/L) di oulet Tanggari II adalah lebih tinggi dibandingkan COD (22,5 mg/L) di inlet. Sementara pada tahun 2008, konsentrasi rata-rata median di outlet Tanggari II untuk NO3-2, BOD dan pH lebih rendah dibandingkan di inlet sebagaimana terlihat pada Lampiran 4. Dengan demikian Kualitas air di Tanggari II secara umum tidak berbeda nyata secara statistik (α=0,05) sebelum dan sesudah dimanfaatkan oleh PLTA. Hal ini menunjukkan bahwa PLTA dalam kegiatan operasionalnya tidak menurunkan kualitas air sungai yang dimanfaatkannya. Secara keseluruhan kualitas air di inlet PLTA Tanggari I dan Tanggari II masih di bawah ambang batas dari baku mutu untuk Kelas 4 dari PP No.82/2001 sebagaimana ditunjukkan pada Lampiran 7 dan 8. Namun demikian dinamika kualitas air parameter COD dan Fe di PLTA Tanggari I dan Tanggari II cenderung lebih tinggi di wilayah outlet dibandingkan di wilayah inlet meskipun tetap masih di bawah baku mutu untuk Kelas 4 (PP No.82/2001). Adanya kecenderungan konsentrasi COD dan Fe yang selalu lebih tinggi di wilayah outlet dibandingkan dengan di inlet perlu di evaluasi lebih lanjut oleh manajemen PLTA. Dinamika konsentrasi COD di outlet Tanggari I dan II (Gambar 19 dan 20) juga cenderung lebih tinggi dibandingkan di wilayah inlet mungkin disebabkan adanya aktivitas pemakaian bahan pelumas dalam pemeliharaan peralatan pembangkit yang relatif tua (tahun 1984 dan tahun 1987). Kenaikan konsentrasi besi kemungkinan terjadi karena adanya korosi pada mesin yang sudah relatif lama (berumur kurang lebih 26 tahun). Konsentrasi Fe yang melebihi 0,3 ppm dapat menyebabkan air bersifat toksik (Krismono et al. 1987, Kartamihardjo et al. 1987). 88 25 COD (mg/L) 20 15 10 COD_in COD_out 5 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Gambar 19 Nilai median konsentrasi COD inlet-outlet di PLTA Tanggari I tahun 2005-2010. 30 COD (mg/L) 25 20 15 COD_in 10 COD_out 5 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Gambar 20 Nilai median konsentrasi COD inlet-outlet di PLTA Tanggari II tahun 2005-2010. Selain itu air sungai Tondano juga digunakan untuk aktivitas lainnya. Oleh karena itu PLTA tetap harus memperhatikan kelestarian sumberdaya air tersebut sehingga multifungsi sumberdaya air tetap terpelihara. Keberlanjutan sumberdaya air juga berarti keberlanjutan operasional PLTA. 4.4 Institusi dan Regulasi Terkait Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Mengacu pada kebijakan dan perencanaan pengelolaan sumberdaya air, PLTA melakukan serangkaian program lingkungan dengan melakukan perlindungan terhadap sumberdaya air secara berkelanjutan. Titik fokus kegiatan 89 konservasi sumberdaya air yang dilakukan PLTA yaitu pertama untuk menahan aliran permukaan (run-off) yang sebesar-besarnya dan memberi kesempatan selama-lamanya air untuk masuk ke dalam tanah (infiltrasi) atau tertahan di muka tanah di daerah aliran sungai bagian hulu. Serangkian program lingkungan untuk melindungi sumberdaya air secara berkelanjutan dilakukan melalui program penghijauan di wilayah Green Belt Waduk PLTA hingga daerah batas konstruksi. Pengelolaan vegetasi ini mempengaruhi waktu dan penyebaran aliran air, sehingga wilayah yang ditanami dapat menyimpan air selama musin hujan dan melepaskannya pada musim kemarau (Asdak, 2010). Kemampuan vegetasi menangkap butir air hujan sehingga energi kinetik terserap dalam tanaman dan tidak langsung ke tanah juga akan untuk memperkecil laju erosi (Suripin, 2001). PLTA Saguling menanam 963.175 pohon di areal seluas 1.403 ha sebagaimana ditetapkan Roadmad Program Penghijauan tahun 2003-2016. Jenis pohon yang ditanam adalah pohon buah-buahan, kopi, aren dan jarak. PLTA Cirata mulai tahun 2003 hingga 2011 (dikelola oleh BPWC) telah menanam sebanyak 210.120 pohon dengan jenis tanaman buah-buhan, aren dan kayuan seperti mahoni, mindi, angsana, karet dan trambesi. PLTA Tanggari I dan II memiliki program 10.000 pohon per tahun. Penghijauan di wilayah DAS (Green Belt) Waduk PLTA belum menunjukkan pencapaian tujuan konservasi sumberdaya air secara signifikan dibandingkan dengan penurunan daya dukung lingkungan akibat tingginya perubahan tutupan di wilayah hulu PLTA. Untuk mencapai tujuan perlindungan sumberdaya alam dan lingkungan, pendekatan voluntari memberi fleksibilitas untuk mengembangkan cara untuk mencapai perlindungan lingkungan yang tentu saja memperhitungan aspek ekonomi dan sosial dan secara teknis dapat dilakukan. Pengendalian kualitas maupun kuantitas air sungai (waduk) tidak bisa dikendalikan sendiri. Pemanfaataan sumberdaya air yang notabene sebagai barang publik meminta PLTA perlu memahami perspektif dan concern stakeholder yang memiliki kepentingan terhadap ekosistem dan sumberdaya air. Selain itu, strategi dan teknik operasional pelaksanaannya harus mengacu pada regulasi yang telah ditetapkan. Pemetaan tingkat pengaruh dan kepentingan stakeholder dijadikan sebagai dasar membangun kelembagaan terkait pengelolaan sumberdaya air 90 PLTA. Sementara tinjauan regulasi (legal review) dijadikan dasar pelaksanaan pengelolaan sumberdaya air PLTA yang taat aturan. 4.4.1 Stakeholder dalam Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Stakeholder yang teridentifikasi terkait dengan pengelolaan sumberdaya air PLTA meliputi Kementerian Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Perhutani/HTI, PLN, Dinas Kehutanan, Dinas Pekerjaan Umum, Perusahaan Pengguna, Masyarakat, Pemerintah Daerah, Investor, P3B dan LSM. Hasil justifikasi pakar mengenai tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholder terhadap pencapaian program pengelolaan sumberdaya air di PLTA ditunjukkan pada Tabel 12. Tabel 12 Matrik analisis stakeholder perlindungan sumberdaya air di PLTA Pemangku kepentingan Kementerian Kehutanan Kementerian Pekerjaan Umum Perhutani/HTI Kementerian ESDM Kementerian Kelautan dan Perikanan PLN Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) PLTA Dinas Kehutanan Dinas Pekerjaan Umum Kementerian Pertanian DPRD Perusahaan pengguna Masyarakat Pemerintah Daerah Investor LSM P3B Tingkat Kepentingan Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Tinggi Rendah Rendah Rendah Rendah Tingkat Pengaruh Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Rendah Rendah Tinggi Rendah Rendah Tinggi Tinggi Rendah Rendah Sumber : data primer dari justifikasi pakar Hasil pendapat pakar mengenai besarnya tingkat kepentingan dan pengaruh masing-masing stakeholder dipetakan dalam empat kuadaran yaitu kuadaran I, II, III, dan IV yang menunjukan posisi kepentingan dan pengaruh masing-masing stakeholder. Melalui pemetaan ini, dapat diketahui peran masing-masing 91 stakeholder. Adapun posisi setiap stakeholder berdasarkan hasil pemetaan digambarkan seperti pada Gambar 21. Kemenhut 5.00 Stakeholders ders Primer PLTA PLN (Persero) Perhutani Kementerian KP Masyarakat Kementan Kepentingan Kementerian PU Kementerian ESDM Dishut Dinas PU Perusahaan Pengguna 4.00 Dinas LH KLH DPRD 3.00 Pemda Investor Stakeholders ders Sekunder 2.00 P3B LSM 1.00 Stakeholders Eksternal 0.00 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 Pengaruh Gambar 21 Pemetaan para pemangku kepentingan PLTA berdasarkan tingkat kepentingan dan pengaruhnya. pengaruhnya Gambar 21 menunjukkan bahwa terdapat 3 kelompok pemangku kepentingan (stakeholder) terkait pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Ketiga kelompok pemangku kepentingan tersebut adalah stakeholder primer, stakeholder sekunder dan stakeholder eksternal. Stakeholder primer (primary rimary stakeholders) atau stakeholder kunci memiliki tingkat kepentingan tinggi dengan pengaruh yang relatif lebih rendah dalam proses penentuan kebijakan kebijakan. Stakeholder sekunder (secondary econdary stakeholders) memiliki tingkat kepentingan ngan dan pengaruh dalam proses penentuan kebijakan dengan proporsi relatif sama. sama Sementara stakeholder ekternal (external stakeholders) memiliki tingkat 92 kepentingan relatif lebih rendah dengan pengaruh yang tinggi dalam proses penentuan kebijakan. Stakeholder kunci terdiri dari Kementerian Kehutanan, PLN (Persero), PLTA, Perhutani/HTI, Dinas LH, Dinas Kehutanan, Dinas PU, Perusahaan Pengguna dan masyarakat. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menjadi pihak yang memiliki pengaruh dan tingkat kepentingan tertinggi. Hal ini diterkait mungkinkan karena aspek pengelolaan sumberdaya air sangat dekat dengan wilayah hulu DAS yang sebagian besar merupakan kawasan hutan yang menjadi tupoksi Kemenhut. Kemenhut menjadi pihak yang paling berpengaruh dalam proses penyusunan kebijakan strategis terkait pengelolaan sumberdaya air PLTA, karena output kebijakan Kemenhut mampu menjangkau semua pihak terkait. Pada kelompok tengah stakeholder primer (kunci), PLTA menjadi pihak yang paling berkepentingan, sehingga harus menjadi pihak yang proaktif pada tataran operasional. PLTA perlu melakukan komunikasi eksternal dan kerjasama dengan stakeholder kunci lain agar program perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air PLTA tercapai. Stakeholder yang memenuhi kriteria tersebut yaitu Kemenhut, PLN dan Perhutani di tataran pusat, serta Dinas LH, Dinas Kehutanan, Dinas PU, perusahaan pengguna, dan masyarakat pada tataran daerah. Sementara masyarakat menjadi pihak kunci yang berkepentingan, tetapi memiliki pengaruh yang relatif rendah. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat merupakan pihak kunci yang lebih banyak menerima dampak kebijakan pengelolaan sumberdaya air. Oleh karena itu, setiap proses penyusunan dan pengambilan kebijakan tetap harus melibatkan masyarakat yang akan menjadi objek penerima dampak di tataran hilir pelaksanaan kebijakan. PLTA harus melibatkan masyarakat agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam pelaksanaan kebijakan pada tataran operasional. Program lingkungan yang tidak melibatkan masyarakat tidak akan berhasil. Mereka banyak bergantung pada sumberdaya alam di wilayah ini untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Kepentingan masyarakat lebih dipengaruhi oleh kebutuhan mereka akan kelestarian sumberdaya untuk menopang hidup mereka. Masyarakat sebagian besar bersedia lahannya dijadikan lahan untuk rehabilitasi (Sundawati & Sanudin 2009). 93 Kementerian PU, Kementerian ESDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Lingkungan Hidup menjadi institusi pusat yang bisa mendukung program pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Hal ini disebabkan, semua institusi pusat ini berada pada kuadran stakeholder sekunder. Pada kuadran ini juga terdapat DPRD dan Pemda sebagai lembaga daerah yang bisa mendukung keberhasilan program. Sementara pihak swasta yang berada pada kuadran ini adalah pihak investor. Kelompok ini penting untuk mendukung program konservasi SDA namum perlu pemberdayaan dalam tataran operasional. PLTA harus mengajak dan meminta dukungan pihakpihak tersebut. Pemda dan investor patut diajak kerjasama dalam tataran operasional. Pemda berperan sebagai fasilitator dan pemberian izin yang terkait dengan program lingkungan. Investor meskipun memiliki tingkat kepentingan yang rendah namun penting diperhatikan karena memiliki tingkat pengaruh dalam pembentukan opini green product PLTA di pasar internasional. LSM dan Pusat Penyaluran dan pengatur Beban (P3B) memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang relatif rendah dalam konservasi sumberdaya air. PLTA perlu memperhatikan kebutuhan P3B terkait dengan kebutuhan energi listrik yang dibuutuhkan. LSM dapat diajak untuk membantu memberikan advokasi dan pelatihan kepada masyarakat. PLTA perlu mengembangkan upaya untuk membangun potensi kolaborasi yang dapat dikembangkan dari stakeholder ini. Upaya konservasi sumberdaya air tidak dapat dikerjakan sendiri, tetapi membutuhkan upaya bersama dari berbagai pihak. Sebagai pihak yang memanfaatkan sumberdaya air, PLTA perlu mengetahui tipikal dan concern masing-masing stakeholder guna menetapkan kunci keberhasihan. Secara umum stakeholder memiliki perhatian lebih pada kredibilitas dan kemudahan aksesibilitas data, dan ingin mengetahui apakah tujuan pengelolaan sumberdaya air PLTA sesuai dengan strategi lingkungan mereka. Komunikasi eksternal perlu dilakukan lebih intensif dengan pemangku kepentingan guna keberhasilan program lingkungan PLTA dan memperoleh akseptasi mereka. 4.4.2 Tinjauan Regulasi dalam Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA 94 Peraturan perundang-undangan yang diacu oleh ke-empat PLTA dalam melakukan perlindungan sumberdaya air pada tahap operasional adalah Undangundang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumberdaya Air, PP Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, dan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor KEP-02/MENKLH/I/1988 tentang Penetapan Baku Mutu Lingkungan. Selain itu, terkait pengelolaan dan perlindungan kawasan yang lebih luas (DAS hulu PLTA), PLTA juga harus megacu pada UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Secara umum UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air terdiri dari 3 komponen utama yaitu konservasi, pemanfaatan dan pengendalian daya rusak air. Hal ini menunjukkan bahwa untuk melakukan pengelolaan waduk dengan melakukan konservasi, pemanfaatan, pengendalian daya rusak air. Berdasarkan UU ini, penetapan kebijakan pengelolaan sumberdaya air berada pada pemerintah sesuai dengan wilayah penyebarannya. Wilayah sungai yang melintasi provinsi menjadi kewenangan Pemerintah Pusat, wilayah sungai yang melintasi kabupaten/kota menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi, dan wilayah sungai yang hanya ada di kabupaten/kota menjadi kewenangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Sementara PP Nomor 42 Tahun 2008, memberikan kewenangan kepada Dinas pada tingkat provinsi untuk membantu wadah koordinasi pengelolaan sumberdaya air pada wilayah sungai-sungai lintas kabupaten/kota dalam penyusunan rancangan pola pengelolaan sumberdaya air. Hal ini sejalan dengan arahan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan PP 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemda Provinsi, dan Pemda Kabupaten/Kota yang mengatur kewenangan otonomi daerah. Pengelolaan DAS Citarum di mana PLTA Saguling dan Cirata berada yang melintasi dua kabupaten, menurut UU 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan tanggung jawab pemerintah 95 provinsi. Sementara DAS Tondano di mana PLTA Tanggari I dan II berada dalam satu kabupaten yang sama. Sebagai langkah antisipasi, UU Nomor 7 Tahun 2009 ini juga melarang berbagai pihak untuk melakukan kegiatan yang bisa mengakibatkan daya rusak air. Selain itu, UU ini juga memberi peluang kepada masyarakat untuk terlibat dalam proses penentuan kebijakan terkait pengelolaan sumberdaya air sekaligus memperoleh manfaat dari pengelolaannya. Berbagai peran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan juga diatur dalam UU Nomor 32 Tahun 2009 yang tentu saja terkait dengan pengelolaan sumberdaya air sebagai salah satu aspek dari lingkungan. Kebijakan lain terkait pengelolaan sumber daya air adalah pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran yang diatur dalam PP Nomor 82 Tahun 2001 dan PP No 42 Tahun 2008. Pengelolaan kualitas air tersebut dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas air pada sumber air dan prasarana sumberdaya air. Perbaikan kualitas air pada sumber air dan prasarana sumberdaya air sendiri diatur untuk dilakukan Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai wewenang dan tanggung jawabnya. Sementara itu, penerapan konsep daya dukung dan daya tampung lingkungan perlu diimplementasikan dalam pengelolaan sumberdaya air, karena merupakan bagian dari aspek lingkungan. Hal ini ditegaskan dalam UU Nomor 32 Tahun 2009. Pengelolaan yang terkait kawasan lindung dan budidaya yang berada pada wilayah PLTA diatur dalam UU 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. UU ini mengatur juga tentang pembangunan berkelanjutan dengan mendefinisikan keberlanjutan dalam konteks penataan ruang adalah diselenggarakan dengan menjamin kelestarian dan kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan dengan memperhatikan kepentingan generasi mendatang. Selain itu, kondisi kualitas lingkungan fisik dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan, termasuk pula antisipasi untuk mengembangkan orientasi ekonomi kawasan setelah habisnya sumber daya alam tak terbarukan. Terkait dengan pemenuhan peraturan perundang-undangan yang berlaku, PLTA berkomitmen untuk melakukan konservasi sumberdaya air sesuai dengan konsepsi yang terdapat dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang 96 Sumberdaya Air, Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumberdaya Air, Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, dan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor KEP02/MENKLH/I/1988 tentang Penetapan Baku Mutu Lingkungan. Konservasi air ditujukan untuk meningkatkan volume air, meningkatkan efisiensi penggunaannya, memperbaiki kualitas sesuai dengan peruntukkannya, dan menjaga keberlanjutan kemampuan sumberdaya air untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Gambaran berbagai hal tentang perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air dari aspek regulasi tersebut harus menjadi acuan dalam melakukan implementasi kebijakan. Kondisi saat ini pada empat PLTA yang diteliti, masih terjadi penurunan kualitas air akibat pemanfaatannya sebagai pembangkit tenaga listrik. Hal ini terlihat dari hasil analisis deskriptif kualitas air pada inlet dan outlet PLTA yang masih menunjukkan adanya penurunan kualitas air setelah dimanfaatkan. Hal ini bertentangan dengan ketentuan regulasi yang melarang kegiatan yang bisa menyebabkan daya rusak air, termasuk penurunan kualitasnya. Selain itu, pada sisi pengelolaan masih terjadi konflik kepentingan dan lemahnya koordinasi antar berbagai stakeholder terkait sumberdaya air. Hal ini bisa menghambat pencapaian pengelolaan sumberdaya air secara berkelanjutan. Masyarakat dan pihak swasta lainnya yang diberi peluang untuk mendapat manfaat dari sumberdaya air juga masih melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Salah satunya pemanfaatan badan air waduk/genangan untuk kegiatan budidaya ikan KJA. Saat ini, sudah terjadi pemanfaatan Waduk Cirata dam Saguling untuk budidaya ikan KJA yang melampaui batas daya dukung dan daya tampung lingkungannya. Selain itu, ada juga pemanfaatan waduk untuk budidaya ikan KJA yang tidak sesuai zonasi peruntukannya. Berbagai kesenjangan antara regulasi yang harus ditaati dengan kondisi saat ini di lapangan menjadi gap yang harus dikurangi hingga dihilangkan. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan penaatan terhadap berbagai peraturan yang 97 telah ditetapkan, serta inisiatif sukarela dari stakeholder guna mengimplementasikan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air. 4.5 Nilai Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA Perusahaan akan mengembangkan suatu program, bila benefit yang diperoleh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan. Benefit akibat perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air diperoleh dari jasa yang diberikan ekosistem air yang terlindungi. Jasa ekosistem memberikan use value dan non -use value. Use value terdiri atas direct use value, indirect use value dan option value. Non-use value terkait dengan existence value. Nilai ekonomi dari akibat perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air mempertimbangkan seluruh value yang dikandung dari program tersebut jarang sekali dihitung. Berkaitan dengan program pelestaraian sumberdaya air di PLTA, dilakukan analisis valuasi ekonomi akibat program lingkungan dengan mengambil kasus di PLTA Saguling. Analisis data menggunakan pendekatan Total Economic Value (TEV) yaitu analisis kebijakan untuk menilai manfaat lingkungan secara ekonomis dengan menggabungkan unsur dari berbagai disiplin ilmu yang bersifat deskriptif, valuatif dan normatif. Nilai lingkungan tidak hanya bergantung pada nilai pemanfaatan langsung, namun juga pada seluruh fungsi sumberdaya lain yang memberi nilai (ekonomis dan non ekonomis) yang setinggi-tingginya. Model ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaataan sumberdaya yang dapat diukur secara nyata berdasarkan tolok ukur nilai moneter. Potensi benefit use value dihitung dari market output yang langsung terkait dengan PLTA yaitu nilai produksi listrik, market output tidak langsung dengan PLTA akibat dampak positif dari program lingkungan yang dilakukan PLTA, yaitu nilai produksi ikan, unprices benefit dihitung dari nilai ekowisata, serta ecological function value dihitung dari potensi nilai karbon dari program penghijauan, cadangan air tanah, dan cadangan air waduk. Sedangkan non-use terdiri atas option value, bequest value dan existence value yang dinilai melalui nilai pasar. 98 4.5.1 Nilai Ekonomi Total Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA Saguling dan Cirata di Provinsi Jawa Barat Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA di Provinsi Jawa Barat terdiri dari nilai guna langsung (direct use value), nilai guna tidak langsung (indirect use value), dan nilai bukan guna (non-use value). Nilai guna langsung terdiri dari nilai produksi listrik, nilai produksi ikan, dan nilai ekowisata. Sementara nilai guna tidak langsung yang juga merupakan nilai fungsi ekologis (ecological function value) terdiri dari nilai serapan karbon, nilai cadangan air tanah, dan nilai cadangan air waduk. Sementara nilai bukan guna terdiri dari nilai pilihan dan nilai kelestarian. A. PLTA Saguling  Nilai Guna Langsung  Nilai Produksi Listrik Nilai produksi listrik merupakan keuntungan yang bisa diperoleh dari penjualan energi listrik yang diproduksi oleh PLTA. Nilai keuntungan ini ditentukan oleh jumlah produksi listrik yang bisa dijual dikurangi biaya produksinya. Produksi listrik PLTA Saguling setiap tahunnya sebesar 2.158 GWh. Berdasarkan statistik listrik PLN, harga jual rata-rata per kWh sebesar Rp 591,11 dengan biaya produksi Rp 463, maka bisa diperoleh keuntungan sebesar Rp 276.008.200.000 atau Rp 276 milyar setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Produksi Ikan Usaha KJA Nilai ekonomi produksi ikan yang berasal dari usaha keramba jaring apung (KJA) merupakan keuntungan yang bisa diperoleh dari penjualan ikan hasil budidaya setiap tahunnya. Nilai keuntungan ini ditentukan oleh jumlah KJA, jumlah produksi ikan, harga jual ikan, dan biaya usaha budidaya yang dikeluarkan. Berdasarkan data pada Waduk Saguling terdapat 4.514 unit KJA (Maulana 2010) dengan rata-rata produksi 2 ton per tahun ikan mas dan ikan nila setiap unitnya. Harga jual ikan mas berkisar sebesar Rp 14.000 per kg dan harga jual ikan nila sebesar Rp 15.000 per kg. Jika biaya produksi yang dikeluarkan Rp 28.731.610.000 per unit KJA setiap 99 tahunnya, maka bisa diperoleh keuntungan sebesar Rp 233.080.390.000 atau Rp 233,08 milyar setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Kegiatan Ekowisata Nilai ekonomi ekowisata di Waduk Saguling dihitung dari besarnya biaya perjalanan wisata yang dikeluarkan oleh setiap pengunjung yang datang setiap tahunnya. Pengunjung yang datang umumnya wisatawan transit ke wilayah ini dan rata rata hanya berkunjung 1 kali dalam setahun. Biaya Pengeluaran terdiri atas biaya transportasi dan biaya akomodasi dan konsumsi. Dari hasil kuesioner diperoleh bahwa biaya rata rata transportasi sebesar Rp 116.000,- dan biaya akomodasi dan konsumsi sebesar Rp 33.000,-. Jadi biaya Pengeluaran sebesar Rp. 149.000,-/orang. Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan diperoleh data bahwa ratarata pengunjung yang datang ke waduk Saguling pada hari-hari biasa (Senin-Jumat) berkisar 10 orang, sedangkan pada hari libur seperti hari Sabtu dan Minggu dapat mencapai 20 orang pengunjung. Dari data tersebut diketahui jumlah pengunjung rata-rata 4 orang per hari atau 1.460 pengunjung per tahun. Nilai ekonomi wisata di sekitar Waduk Saguling yaitu sebesar Rp. 149.000 x 1.460 pengunjung = Rp 217, 54 juta = Rp. 0,217 milyar setiap tahunnya.  Nilai Guna Tidak Langsung  Nilai Ekonomi Penghijaun (Serapan Karbon) Nilai ekonomi penyerapan karbon dapat dihitung berdasarkan besarnya kandungan karbon yang tersimpan di dalam vegetasi hutan yang dikonversikan dalam nilai finansial. Menurut Brown dan Peaece (1994) dalam Widada (2004), hutan alam primer, hutan sekunder, dan hutan terbuka memiliki kemampuan menyimpan masing-masing karbon sebesar 283 ton per hektar, 194 ton per hektar, dan 115 ton per hektar. Setiap 1 ton karbon dapat dihargai dengan nilai finansial yang berkisar antara $1 US sampai $28 US (Soemarwoto, 2001). Berdasarkan data ini, maka nilai ekonomi penyerapan karbon di kawasan hutan sekitar Waduk Saguling dapat dihitung. Untuk menghindari penilaian yang terlalu tinggi atau terlalu 100 rendah, maka nilai finansial yang diambil adalah nilai tengah dari yang ditetapkan oleh Soemarwoto yaitu sebesar $19 US per ton. Nilai ekonomi penyerapan karbon di sekitar Waduk Saguling , dapat dihitung dengan asumsi sebagai berikut 1. Luas kawasan hutan di sekitar Waduk Saguling 1.403 hektar dimana keseluruhan merupakan hutan sekunder. 2. Satu hektar hutan sekunder di kawasan hutan sekitar Waduk Saguling menyimpan karbon sebesar menyimpan karbon sebesar 194,00 ton karbon. 3. Nilai karbon sebesar $US 19 per ton dimana untuk $US 1 = Rp 9.425,85 Adapun nilai ekonomi serapan karbon di kawasan Waduk Saguling adalah = 1403 ha x 194,00 ton x $US 19 x Rp. 9425,85 = Rp 35,57 milyar setiap tahunnya.  Nilai Cadangan Air Tanah Jumlah cadangan air tanah di DAS Saguling pada dasarnya merupakan sumber utama bagi air permukaan yang mengalir di Sungai Citarum hulu. Secara tidak langsung air ini juga menjadi pemasok utama pembangkit listrik PLTA Saguling. Sehingga cadangan air tanah ini memiliki potensi ekonomi setara dengan jumlah pembangkitan energi listrik yang bisa dihasilkannya. Besarnya potensi tersebut bisa dihitung dari volume air input yang berasal dari curah hujan di seluruh DAS, dikurangi yang mengalir di air permukaan (run off) dan penguapan yang terjadi di seluruh permukaan DAS. Berdasarkan data diketahui bahwa luas DAS Waduk Saguling adalah 222.830 ha, dengan rata-rata curah hujan sebesar 3.378 mm/tahun dan ratarata penguapan sebesar 1.116 mm/tahun, serta debit air permukaan sebesar 108 m3/detik. Volume cadangan air tanah dihitung dari volume input curah hujan dikali luas DAS, dikurangi volume output penguapan dikali luas DAS dan aliran permukaan. Setiap m3 cadangan air tanah ini berpotensi menghasilkan energi listrik senilai Rp 202. Hasil perhitungan menunjukkan volume cadangan air tanah tersebut bernilai sebesar Rp 330.174.373.200 atau Rp 330,17 milyar setiap tahunnya. 101  Nilai Cadangan Air Waduk Seperti hanya cadangan air tanah, air yang tergenang dalam waduk juga berpotensi untuk dikonversi menjadi energi listrik senilai Rp 202/m3. Potensi ini bisa hilang jika volume air di waduk mengalami pengurangan akibat sedimentasi. Sehingga volume sedimentasi yang masuk ke dalam waduk berpotensi menghilangkan nilai ekonomi cadangan air waduk. Besarnya nilai ekonomi cadangan air waduk sebanding dengan banyaknya sedimen yang masuk ke waduk setiap tahunnya. Berdasarkan data PT Indonesia Power (2010) diketahui rata-rata volume sedimen yang masuk ke dalam Waduk Saguling sebesar 4,2 juta m3 setiap tahunnya. Sehingga nilai cadangan air waduk yang hilang sebesar Rp 848,4 juta setiap tahunnya.  Nilai Bukan Guna  Nilai Pilihan Nilai pilihan waduk adalah nilai pemanfaatan sumberdaya waduk untuk pemanfaatan dimasa yang akan datang. Nilai pilihan waduk dihitung sama dengan dengan nilai keberadaan di atas yaitu menggunakan metode Contingent Valuation Method (CVM) yang didasarkan pada seberapa besar seseorang atau masyarakat mau membayar (willingness to pay) untuk melindungi sumberdaya waduk. Nilai pilihan ini dihitung berdasarkan bagaimana manfaat sumberdaya alam yang terkandung dalam waduk dapat dipertahankan sehingga dapat dimanfaatkan untuk masa yang akan datang. Untuk mengumpulkan data berkaitan dengan nilai pilihan ini, disebarkan kuisioner kepada responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua responden menyatakan bahwa Waduk perlu dipertahankan manfaat yang terkandung di dalamnya terutama untuk pemanfaatan dimasa yang akan datang. Terkait dengan kesediaan membayar agar manfaat SDA dalam hutan sekitar waduk tetap dipertahankan, sekitar 50% menyatakan bersedia membayar dan sisanya (50%) menyatakan tidak bersedia membayar. Adapun besar biaya yang bersedia dibayarkan untuk mempertahankan manfaat Waduk Saguling adalah sekitar 75 % bersedia membayar sebesar Rp. 5.000,- dan hanya sekitar 25 % bersedia membayar sebesar Rp. 10.000,-. 102 Dari kisaran kesediaan membayar tersebut, jika dirata-ratakan maka dapat diketahui besaran kesediaan membayar setiap responden yaitu sebesar Rp. 12.500,00/orang Berdasarkan data di atas, dihitung nilai pilihan waduk yaitu nilai manfaat (WTP) dikalikan dengan jumlah penduduk di wilayah penelitian. Berdasarkan data statistik, jumlah penduduk di sekitar waduk sebanyak 618.479 jiwa, sehingga nilai pilihan Waduk Saguling = Rp 12.500 x 618.479 jiwa = Rp 7.730.987.500 atau Rp 7,73 milyar.  Nilai Kelestarian Waduk Nilai kelestarian waduk juga dihitung dengan metode Contingent Valuation Method (CVM). Nilai kelestarian waduk dihitung berdasarkan pentingnya dilestarikan kawasan waduk terutama untuk mempertahankan fungsinya sebagai kawasan konservasi air untuk operasional PLTA dan kebutuhan air bagi masyarakat sekitar. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuisioner untuk 120 responden. Informasi yang ingin digali dalam kuisioner dituangkan dalam bentuk pertanyaan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa semua responden menyatakan bahwa waduk perlu dilestarikan untuk mempertahankan fungsinya sebagai kawasan konservasi air dan pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat. Berkaitan dengan kesediaan membayar untuk melestarikan fungsi Waduk, sekitar 62,5 % menyatakan bersedia membayar dan 37,2 % menyatakan tidak bersedia membayar. Adapun besar biaya yang bersedia dibayarkan untuk melestarikan Waduk adalah sekitar 37,5 % bersedia membayar sebesar Rp. 5.000, sekitar 12,5 % bersedia membayar sebesar Rp. 10.000 dan sekitar 12,5 % bersedia membayar sebesar Rp. 15.000 serta sisanya yaitu sekitar 37,3 % tidak bersedia membayar. Dari kisaran kesediaan membayar tersebut, jika dirataratakan maka dapat diketahui besaran kesediaan membayar setiap responden yaitu sebesar Rp. 15.000,00/orang . Berdasarkan data di atas, dapat dihitung nilai kelestarian waduk yaitu nilai kelestarian (WTP) dikalikan dengan jumlah kepala keluarga di wilayah penelitian. Jumlah kepala keluarga sebanyak diasumsikan ¼ dari jumlah 103 penduduk atau setiap keluarga rata-rata terdiri dari 4 orang. Nilai Pelestarian Waduk = Rp 15.000,00 x (35.638 jiwa/4) = Rp 2.319.296.250 2,31 milyar setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Total Nilai ekonomi total perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air di PLTA Saguling merupakan jumlah dari keseluruhan nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung, dan nilai bukan guna disajikan dalam Tabel 13. Berdasarkan hasil penelitian seperti diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa perlindungan dan pengeloaan sumberdaya air di PLTA dengan studi kasus di PLTA Saguling memiliki nilai ekonomi yang cukup besar terkait pemanfaatan jasa lingkungan waduk. Nilai ekonomi ini dihitung dari perbaikan sistem perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air PLTA dan perbaikan hubungan antara perusahaan (PLTA) dengan masyarakat sekitar sebagai manfaat utama yang diperoleh PLTA Saguling. Tabel 13 Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Saguling No Parameter 1 Nilai Benefit Listrik 2 Nilai Keuntungan Ikan 3 Nilai Ekowisata Nilai Guna Langsung 4 Nilai Serapan Karbon 5 Nilai Potensi Cadangan Air 6 Nilai Potensi Kelestarian Air Nilai Guna Tidak Langsung 7 Option Value 8 Preservation Value Nilai Bukan Guna Nilai Ekonomi Total Jumlah (Rp) 276.008.200.000 233.080.390.000 217.540.000 509.306.130.000 35.577.531.494 330.174.373.200 848.400.000 366.600.304.694 7.730.987.500 2.319.296.250 10.050.283.750 885.956.718.444 Besar nilai ekonomi total (Total Economic Value) dari pengelolaan sumberdaya air di PLTA Saguling mencapai Rp. 885.956.718.444 atau sekitar Rp. 0,885 triliyun. B. PLTA Cirata 104  Nilai Guna Langsung  Nilai Produksi Listrik Berdasarkan perhitungan yang sama, maka potensi nilai ekonomi produksi listrik PLTA Cirata yang bisa diperoleh sebesar Rp 182.385.400.000 atau Rp 182,38 milyar setiap tahunnya. Nilai ini diperoleh karena PLTA Cirata memproduksi rata-rata energi listrik sebesar 1.426 GWh setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Produksi Ikan Usaha KJA Sementara potensi nilai ekonomi produksi ikan PLTA Cirata dipengaruhi oleh daya dukung waduk terhadap jumlah KJA maksimum yang bisa diusahakan, yaitu sejumlah 24.000 unit (Hapsari 2010). Jumlah ini memungkinkan diperolehnya nilai ekonomi produksi budidaya perikanan sebesar Rp 1.239.240.000.000 atau Rp 1,23 triliun setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Kegiatan Ekowisata Jmlah kunjungan wisatawan sebanyak 17.516 setiap tahun ke lokasi sekitar PLTA Cirata berkontribusi terhadap nilai ekonomi kegiatan ekowista. Berdasarkan jumlah wisatawan tersebut, maka potensi nilai ekonomi yang bisa diperoleh dari kegiatan ekowisata di sekitar PLTA Cirata sebesar Rp 2.627.400.000 atau Rp 2,62 milyar setiap tahunnya.  Nilai Guna Tidak Langsung  Nilai Ekonomi Penghijaun (Serapan Karbon) Luasan lahan yang telah direboisasi seluas 525 ha di sekitar PLTA Cirata menghasilkan potensi nilai ekonomi penyerapan sebesar Rp 18.250.856.732 atau Rp 18,25 milyar setiap tahunnya.  Nilai Cadangan Air Tanah DAS Waduk Cirata yang merupakan perluasan dari DAS Waduk Saguling memiliki cadangan air tanah yang lebih banyak. DAS Cirata mencakup wilayah seluas 465.286 ha dengan curah hujan rata-rata 2.557 mm/tahun dan penguapan rata-rata 1.116 mm/tahun. Berdasarkan kondisi tersebut, diperoleh potensi nilai ekonomi cadangan air tanah PLTA Cirata sebesar Rp 222.230.744.400 atau Rp 222,23 milyar setiap tahunnya.  Nilai Cadangan Air Waduk 105 Waduk Cirata yang berada di hilir Waduk Saguling tentu saja menerima erosi dan sedimentasi yang lebih besar. Hal ini disebabkan luas DAS yang lebih besar, sehingga perhitungan potensi nilai ekonomi cadangan air waduk PLTA Cirata menghasilkan nilai sebesar Rp 961.520.000 atau Rp 0,96 milyar setiap tahunnya.  Nilai Bukan Guna  Nilai Pilihan Jumlah penduduk di sekitar Waduk Cirata yang berjumlah sebesar 234.322 jiwa berpengaruh terhadap besarnya nilai pilihan. Berdasarkan perhitungan potensi nilai pilihan PLTA Cirata sebesar Rp 2.929.025.000 atau Rp 2,92 milyar setiap tahunnya.  Nilai Kelestarian Waduk Jumlah penduduk tersebut berkontribusi juga terhadap banyaknya kepala keluarga (KK) yang bermukim di sekitar Waduk Cirata. Hal ini menghasilkan perhitungan potensi nilai ekonomi kelestarian waduk PLTA Cirata sebesar Rp 878.707.500 atau Rp 0,87 milyar setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Total Nilai ekonomi total perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air di PLTA Cirata merupakan jumlah dari keseluruhan nilai guna langsung, nilai guna tidak langsung, dan nilai bukan guna disajikan dalam Tabel 14. Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa perlindungan dan pengeloaan sumberdaya air di PLTA dengan studi kasus di PLTA Cirata juga memiliki nilai ekonomi yang cukup besar terkait pemanfaatan jasa lingkungan waduk. Nilai ekonomi ini dihitung dari perbaikan sistem perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air PLTA dan perbaikan hubungan antara perusahaan (PLTA) dengan masyarakat sekitar sebagai manfaat utama yang diperoleh PLTA Cirata. Besar nilai ekonomi total dari pengelolaan sumberdaya air di PLTA Cirata mencapai Rp. 1.669.503.653.632 atau sekitar Rp. 1,66 triliyun. Tabel 14 Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Cirata No 1 Parameter Nilai Benefit Listrik Jumlah (Rp) 182.385.400.000 106 2 3 4 5 6 7 8 Nilai Keuntungan Ikan Nilai Ekowisata Nilai Guna Langsung Nilai Serapan Karbon Nilai Potensi Cadangan Air Nilai Potensi Kelestarian Air Nilai Guna Tidak Langsung Option Value Preservation Value Nilai Bukan Guna Nilai Ekonomi Total 1.239.240.000.000 2.627.400.000 1.424.252.800.000 18.250.856.732 222.230.744.400 961.520.000 241.443.121.132 2.929.025.000 878.707.500 3.807.732.500 1.669.503.653.632 4.5.2 Nilai Ekonomi Total Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA Tanggari I dan Tanggari II di Provinsi Sulawesi Utara Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA di Provinsi Sulawesi Utara terdiri dari nilai NET PLTA Tanggari I dan II. Berbeda dengan PLTA di Provinsi Jawa Barat, PLTA di Provinsi Sulawesi Utara hampir seluruh parameternya memiliki fungsi ekonomi secara bersama. Fungsi ekonomi jasa lingkungan yang dihitung terpisah hanya nilai produksi listrik masing-masing PLTA. Sehingga nilai ekonomi total PLTA Tanggari I dan II merupakan jumlah nilai ekonomi produksi listrik masing-masing PLTA ditambah nilai ekonomi parameter lainnya secara bersama-sama. Persamaan dan teknik perhitungan yang digunakan sama dengan yang dilakukan pada PLTA di Provinsi Jawa Barat.  Nilai Guna Langsung  Nilai Produksi Listrik Berdasarkan perhitungan, potensi nilai ekonomi produksi listrik PLTA Tanggari I yang bisa diperoleh sebesar Rp 1.164.350.440 atau Rp 1,16 milyar setiap tahunnya. Sementara potensi nilai ekonomi produksi listrik PLTA Tanggari II adalah sebesar Rp 1.391.374.859 atau Rp 1,39 milyar setiap tahunnya. Sehingga total nilai produksi listrik untuk PLTA Tanggari I dan II adalah sebesar Rp 2.555.725.299 atau Rp 2,55 milyar per tahunnya.  Nilai Ekonomi Produksi Ikan Usaha KJA Potensi nilai ekonomi produksi ikan PLTA Tanggari I dan II dengan keberadaan KJA sebanyak 6000 unit. Hal ini menghasilkan potensi nilai 107 ekonomi produksi ikan sebesar Rp 235.350.000.000 atau Rp 0,23 triliun setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Kegiatan Ekowisata Potensi nilai ekonomi yang bisa diperoleh dari kegiatan ekowisata di sekitar PLTA Tanggari I dan II sebesar Rp 9.317.430.000 atau Rp 9,31 milyar setiap tahunnya. Hal ini diperoleh berdasarkan rata-rata jumlah wisatawan yang berkunjung sebanyak 34.509 orang setiap tahunnya. Selain itu, hal ini diperoleh dari besarnya pengeluaran wisatawan yang berupa biaya transportasi dan biaya akomodasi selama melakukan kunjungan wisata.  Nilai Guna Tidak Langsung  Nilai Ekonomi Penghijaun (Serapan Karbon) Saat ini di sekitar PLTA Tanggari I dan II telah dilakukan penghijauan seluas 125 ha. Luas areal penghijauan tersebut menghasilkan potensi nilai ekonomi penyerapan karbon di sekitar PLTA Tanggari I dan II sebesar Rp 4.342.960.388 atau Rp 4,34 milyar setiap tahunnya.  Nilai Cadangan Air Tanah Potensi nilai ekonomi cadangan air tanah PLTA Tanggari I dan II berada pada DAS Tondano seluas 24.708 ha. DAS seluas ini dengan tingkat curah hujan tahunan rata-rata sebesar 1.936 mm menghasilkan potensi ekonomi cadangan air tanah senilai Rp 481.745.760 atau Rp 0,48 milyar setiap tahunnya.  Nilai Cadangan Air Sungai Sementara cadangan air sungai yang menjadi potensi ekonomi PLTA Tanggari I dan II senilai Rp 404.000.000 atau Rp 0,40 milyar setiap tahunnya.  Nilai Bukan Guna  Nilai Pilihan Nilai pilihan pada PLTA Tanggari I dan II dihitung dari rata-rata WTP sebesar Rp 12.500 dikalikan dengan jumlah penduduk di sekitar PLTA. Hasil perhitungan menunjukkan potensi nilai pilihan sebesar Rp 331.975.000 atau Rp 0,33 milyar setiap tahunnya. 108  Nilai Kelestarian Waduk Berdasarkan perhitungan yang sama dengan nilai pilihan, tetapi terhadap jumlah KK di sekitar PLTA Tanggari I dan II diperoleh nilai ekonomi kelestarian menurut penduduk diperoleh sebesar Rp 99.592.500 atau Rp 0,09 milyar setiap tahunnya.  Nilai Ekonomi Total Nilai ekonomi total perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air di PLTA Tanggari I dan II disajikan dalam Tabel 15. Tabel 15 Nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air PLTA Tanggari I dan II No 1 2 3 4 5 6 7 8 Parameter Nilai Benefit Listrik Nilai Keuntungan Ikan Nilai Ekowisata Nilai Guna Langsung Nilai Serapan Karbon Nilai Potensi Cadangan Air Nilai Potensi Kelestarian Air Nilai Guna Tidak Langsung Option Value Preservation Value Nilai Bukan Guna Nilai Ekonomi Total Jumlah (Rp) 2.555.725.299 235.350.000.000 9.317.430.000 247.223.155.299 4.342.960.388 481.745.760 404.000.000 5.228.706.148 331.975.000 99.592.500 431.567.500 251.492.054.088 Hasil perhitungan menunjukkan bahwa perlindungan dan pengeloaan sumberdaya air di PLTA dengan studi kasus di PLTA Tanggari I dan II juga memiliki nilai ekonomi yang relatif besar terkait pemanfaatan jasa lingkungan sumberdaya air, meskipun tidak sebesar PLTA di Provinsi Jawa Barat. Hal ini disebabkan kapasitas produksi listrik dan potensi ekonomi lainnya yang memiliki skala lebih kecil. Nilai ekonomi total dari pengelolaan sumberdaya air di PLTA Tanggari I dan II mencapai Rp. 251.492.054.088 atau sekitar Rp. 0,25 triliyun. 109 4.6 Prioritas Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Upaya penyelamatan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, sebab fenomena ini menyentuh semua lapisan masyarakat dan institusi dan kehidupan selanjutnya. Kesadaran akan pentingnya kualitas lingkungan juga merupakan tanggungjawab global, sehingga berbagai kesepakatan dunia dilakukan untuk meningkatkan kinerja lingkungan. Tekanan konsumen, tekanan pemerintah dan kekuatan pasar dan kepentingan individu organisasi terhadap perlindungan lingkungan memotivasi penerapan sistem manajemen lingkungan (Uchida 2004). Perlindungan lingkungan berbasis pendekatan sukarela semakin diminati oleh pengambil keputusan sebagai tool untuk mengajak pencemar berpartisipasi dalam perlindungan lingkungan (Segerson & Thomas, 1998). Kehadiran kebijakan sukarela untuk mengurangi ketidakfleksibelan kebijakan mandatori dapat menjadi salah satu alternatif yang bersinergi dalam mempercepat perlindungan lingkungan. Kebijakan perlindungan berbasis sukarela perlu dirumuskan untuk implementasi ke depan, mengingat dalam penerapannya banyak pihak yang terkait. Untuk merumuskan desain kebijakan ini menggunakan teknik analisis hirarki proses (AHP). Teknik AHP umumnya dikembangkan untuk memecahkan persoalan yang tidak terstruktur dan komplek dalam kerangka berfikir yang terorganisir sehingga pengambilan keputusan yang efektif dan menyeluruh dapat dilakukan. 4.6.1 Struktur AHP dan Nilai Eigen Dalam merumuskan desain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA, terlebih dahulu disusun hierarki kebijakan untuk mendukung pengambilan keputusan desain kebijakan tersebut. Hierarki kebijakan tersebut disusun berdasarkan justifikasi pakar dimana pakar menetapkan lima level hierarki yaitu :  Level pertama merupakan fokus kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA.  Level kedua merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi/memotivasi perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA yang 110 terdiri atas tekanan pemerintah, tekanan global, tekanan masyarakat, tekanan pembeli dan kepentingan PLTA.  Level ketiga adalah aktor yang berperan dalam pengembangan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA antara lain pemerintah, masyarakat, pembeli, investor, dan industri  Level keempat adalah tujuan yang ingin dicapai dalam pengembangan kebijakan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA terdiri atas perlindungan lingkungan, kontinuitas PLTA, pengakuan publik, dan liabilitas lingkungan.  Level kelima adalah alternatif kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA yang meliputi penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional, pemberian insentif dan disinsentif, peningkatan nilai lingkungan internal. Setiap elemen pada setiap level selanjutnya diboboti oleh pakar dengan menggunakan nilai bobot seperti yang telah ditetapkan oleh Saaty (1993). Pengolahan data untuk menentukan elemen prioritas dalam pengambilan keputusan kebijakan perlindungan lingkungan berbasis sukarela menggunakan software Criterium Decision Plus (CDP) versi 3,0. Hasil sintesis menghasilkan nilai eigen (bobot) untuk setiap pilihan yang ada di dalam struktur AHP. Untuk memudahkan dalam interpretasi hasil terhadap nilei eigen maka nilai tersebut dimasukkan dalam struktur AHP secara kumulatif sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 22. Hasil sistesis AHP atas pendapat pakar menunjukkan bahwa faktor yang berperan memotivasi pengembangan dan implementasi kebijakan sukarela (voluntari) di PLTA adalah tekanan pemerintah dengan nilai eigen 0,462. Kemudian tekanan global dengan bobot 0,198. Sedangkan tekanan masyarakat, kepentingan PLTA dan tekanan pembeli memiliki nilai eigen masing sebesar 0.143; 0,111 dan 0,087. 111 Gambar 22 Struktur AHP dan nilai eigen pada hirarki model disain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. 112 4.6.2 Konstribusi Peran Setiap Level Konstribusi peran dari masing masing level yaitu level faktor, level aktor dan level tujuan kemudian dianalisis terhadap pengembangan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA sebagai berikut: Pertama, konstribusi peran faktor dalam disain insentif dan disinsentif kebijakan Perlindungan lingkungan berbasis sukarela, pakar melihat bahwa faktor yang paling berpengaruh adalah tekanan pemerintah (0,201), tekanan global (0,087), tekanan masyarakat (0,063), kepentingan PLTA (0,048) dan tekanan pembeli (0,038). Nilai konstribusi faktor dalam menetapkan alternatif kebijakan perlindungan lingkungan berbasis sukarela ditunjukkan pada Tabel 16 dan Gambar 23. Tabel 16 Nilai kontribusi faktor dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela Alternatif kebijakan Insentif & Disinsentif Penguatan Infrastruktur kelembagaan Peningkatan Nilai Lingkungan Internal Tekanan Pemerintah 0,201 Nilai Konstribusi Faktor Kepentin Tekanan Tekanan gan Global Masyarakat PLTA 0,087 0,063 0,048 Tekanan Pembeli 0,038 0,172 0,073 0,053 0,042 0,032 0,088 0,038 0,028 0,021 0,017 sumber : hasil analisis, 2011 Contributions to Perlindungan Lingk Berbasis Sukarela from Level:Faktor 0.45 0.45 0.40 0.40 0.35 0.35 0.30 0.30 0.25 0.25 0.20 0.20 0.15 0.15 0.10 0.10 0.05 0.05 0.00 0.00 Insentif & Disinsentif Penguatan Inf kelembagaan Peningkatan Nilai Ling Internal Gambar 23 Kontribusi faktor terhadap alternatif kebijakan. T. Pemerintah T. Global T. Masyarakat K. PLTA T. Pembeli 113 Kedua, kontribusi peran aktor dalam disain kebijakan perlindungan lingkungan berbasis sukarela bahwa pemerintah, pembeli, perusahaan lain dan PLTA lebih mengutamakan alternatif insentif dan disinsentif dengan nilai masing masing sebesar 0,188; 0,057; 0,037 dan 0,021. Sedangkan masyarakat dan investor lebih cenderung menginginkan penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional dengan nilai masing-masing 0,102 dan 0,051. Adapun nilai konstribusi peran aktor hasil analisis pendapat pakar secara rinci disajikan pada Tabel 17 dan Gambar 24. Tabel 17 Nilai kontribusi aktor dalam menetapkan pilihan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela Alternatif kebijakan Pemerintah Nilai Kontribusi Aktor Masyarakat Pembeli Investor Perusahaan lainnya PLTA Insentif & Disinsentif 0,188 0,087 0,057 0.048 0,037 0,021 Penguatan Infrastruktur kelembagaan 0,139 0,102 0,045 0,051 0,021 0,014 Peningkatan Nilai Lingkungan Internal 0,082 0,038 0,025 0,021 0,016 0,008 sumber : hasil analisis, 2011 Contributions to Perlindungan Lingk Berbasis Sukarela from Level:Aktor 0.45 0.45 0.40 0.40 0.35 0.35 0.30 0.30 0.25 0.25 0.20 0.20 0.15 0.15 0.10 0.10 0.05 0.05 0.00 0.00 Insentif & Disinsentif Gambar 24 Penguatan Inf kelembagaan Peningkatan Nilai Ling Internal Kontribusi aktor terhadap alternatif kebijakan. Pemerintah Masyarakat Pembeli Investor Perusahaan lain PLTA 114 Ketiga, berbagai tujuan yang diharapkan dalam mendisain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumber daya air adalah perlindungan lingkungan, liabilitas lingkungan, kontinuitas PLTA, dan pengakuan publik. Hasil analisis atas justifikasi pakar menunjukkan bahwa untuk mencapai tujuan perlindungan lingkungan memerlukan kebijakan insentif dan disintentif. Sedangkan untuk mencapai tujuan kuntinuitas PLTA, pengakuan publik dan liabilitas lingkungan yang paling diperlukan adalah penguatan infrastruktur kelembagaan. Adapun hasil analisis secara rinci seperti pada Tabel 18 dan Gambar 25. Tabel 18 Nilai kontribusi tujuan dalam menetapkan perlindungan sumberdaya air berbasis sukarela Alternatif Kebijakan Perlindungan Lingkungan pilihan Nilai Kontribusi Tujuan Kontinuitas Pengakuan PLTA Publik kebijakan Liabilitas Lingkungan Insentif & Disinsentif 0,317 0,052 0,041 0,026 Penguatan Infrastruktur kelembagaan 0,033 0,116 0,122 0,102 Peningkatan Nilai Lingkungan Internal 0,145 0,017 0,018 0,011 Sumber : hasil analisis, 2011 Contributions to Perlindungan Lingk Berbasis Sukarela from 0.45 0.45 0.40 0.40 0.35 0.35 0.30 0.30 0.25 0.25 0.20 0.20 Pengakuan Publik 0.15 0.15 0.10 0.10 0.05 0.05 0.00 0.00 Insentif & Disinsentif Penguatan Inf kelembagaan Peningkatan Nilai Ling Internal Gambar 25 Kontribusi tujuan terhadap alternatif kebijakan. Perlind. Lingkung Kuntinuitas PLTA Liabilitas Lingku 115 4.6.3 Pengembangan Keputusan Alternatif Kebijakan Hasil sintesis AHP menetapkan bahwa alternatif kebijakan yang paling tinggi untuk dipilih adalah kebijakan insentif dan disinsentif. Hal ini terlihat dari nilai bobot yang lebih besar dibandingkan dengan alternatif lainnya yaitu sebesar 0,436. Alternatif selanjutnya adalah penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional dengan nilai bobot 0,372 dan iikuti dengan peningkatan nilai lingkungan internal dengan bobot 0,080. Nilai dan ranking alternatif kebijakan ditunjukkan pada Tabel 19. Sedangkan gambaran secara menyeluruh antar pilihan kebijakan yang ada ditunjukkan pada grafis histogram. Nilai skor keputusan tertinggi ditunjukkan dengan diagram batang terpanjang yaitu insentif dan disinsentif. Gambaran menyeluruh antar pilihan kebijakan dalam bentuk grafis histogram ditunjukkan pada Gambar 26, sedangkan dalam bentuk scatter plot pada Gambar 27. Tabel 19 Nilai alternatif kebijakan perlindungan lingkungan sukarela Level Alternatif Bobot Ranking Insentif & disinsentif 0,436 I Penguatan infrastruktur kelembagaan 0,372 II Peningkatan nilai lingkungan internal 0,192 III Konsistensi ratio = 0,080 Sumber : hasil analisis, 2011 Gambar 26 Pengambilan keputusan dengan cara histogram dalam penetapan kebijakan perlindungan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. 116 1 0.8 0.6 Insentif & Disinsentif 0.4 Penguatan Inf kelembagaan 0.2 Peningkatan Nilai Ling Internal 0 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 Decision Score Gambar 27 Pengambilan keputusan dengan cara scatter plot dalam penetapan kebijakan perlindungan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA. Analisa di atas memperlihatkan bahwa kebijakan terbaik dalam desain pengembangan kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA adalah dengan menerapkan kebijakan memberikan insentif dan disinsentif dibandingkan dengan kebijakan pengembangan infrastuktur kelembangaan dan institusional, dan penguatan valuasi lingkungan internal. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebagaimana diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa alternatif desain kebijakan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela pada kasus PLTA adalah insentif dan disinsentif (0,436), diikuti penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional (0,372) dan Penguatan nilai lingkungan internal (0,192). Untuk memperkuat instensif dan disintentif, maka faktor yang paling berpengaruh adalah tekanan pemerintah (0,462) dibandingkan dengan tekanan global (0,198), tekanan masyarakat (0,143), kepentingan PLTA (0,111) dan tekanan pembeli (0,087). Pemerintah, pembeli, perusahaan dan PLTA lebih mengutamakan alternatif insentif dan disinsentif dalam desain kebijakan, sedangkan masyarakat dan investor cenderung menginginkan penguatan infrastruktur kelembagaan dan institusional. Kebijakan insentif dan disinsentif merupakan tool regulasi yang fundamental untuk mencapai perlindungan lingkungan berbasis sukarela. 117 Penguatan infrastruktur kelembagaan dan isntitusional diperlukan untuk mencapai tujuan kuntinuitas PLTA, pengakuan publik dan liabilitas lingkungan. Hasil di atas memperlihatkan faktor yang paling mempengaruhi PLTA untuk melakukan perlindungan dan pengelolaan sumberdaya air secara sukarela adalah tekanan pemerintah. Daya tekan masyarakat dan pembeli belum banyak mempengaruhi organisasi (PLTA) untuk melaksanakan program perlindungan sukarela. Hal ini dimungkinkan tekanan pemerintah telah terdiskripsikan dalam suatu tata aturan legislasi secara jelas dan dapat menjadi acuan organisasi (PLTA) untuk melaksanakan suatu tindakan. Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian Uchida (2004) yang menyebutkan bahwa tekanan pemerintah memotivasi perusahaan di Jepang untuk mengembangkan perlindungan lingkungan. Tekanan pemerintah dalam bentuk regulasi dan penyelenggaraannya merupakan dorongan utama praktek perlindungan lingkungan sumberdaya alam (Delmas et al. 2004). Pemerintah juga masih menjadi aktor utama untuk mendukung pencapaian tujuan perlindungan lingkungan sumberdaya air. Sektor swasta masih belum menjadi aktor utama untuk menggulirkan program perlindungan berbasis sukarela. Konsepsi pendekatan sukarela yang menekankan upaya proaktif perusahaan untuk merespon ketentuan regulasi, kebutuhan masyarakat dan pasar yang kemudian diterjemahkan dalam perencanaan strategisnya belum sepenuhnya dipahami. Keputusan penerapan inisiatif sukarela sangat penting untuk dipahami oleh pengambil keputusan dalam organisasi. Benefit inisiatif sukarela belum diterjemahkan secara luas oleh perusahaan dalam kontek sosial ekonomi yang lebih luas. Sehingga keuntungan tidak hanya terkait dengan peningkatan efisiensi penggunaan sumberdaya dan proses produksi, serta corporate image. Perbaikan sumberdaya air yang dilakukan juga berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dan dapat meningkatkan keterlibatan perusahaan untuk memberikan input terhadap penyempurnaan regulasi saat ini untuk pelaksanaan yang lebih baik (Lyon et al. 1998). Peran pemerintah dan tekanan regulasi yang tinggi dalam pengembangan kebijakan sukarela saat ini, bisa digunakan untuk penyusunan program bersama antara pemerintah dan perusahaan dalam bentuk perjanjian negosiasi. Regulasi menjadi landasan untuk pengembangan kebijakan sukarela dan sebagai target 118 lingkungan yang harus disetujui oleh perusahaan dalam periode waktu tertentu. Perjanjian ini juga dapat digunakan sebagai acuan untuk mempromosikan program insentif dan disinsentif untuk mencapai tujuan perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. 4.7 Model Dinamik Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Secara umum dari aspek lingkungan, PLTA sangat bergantung dengan kualitas dan kuantitas sumberdaya air yang menjadi pasokan bagi pembangkitan energi listriknya. Sementara kuantitas air sangat bergantung dari sumbernya di bagian hulu PLTA. Keberadaan dan kontinuitas kuantitas air ini sangat dipengaruhi kondisi penutupan dan penggunaan lahan di hulu PLTA. Perubahan penggunaan lahan akan sangat berpengaruh terhadap karakteristik air permukaan dan air bawah permukaan yang bisa diserap lahan. Hal ini akan berpengaruh secara langsung terhadap kuantitas dan kontinuitas air pasokan bagi PLTA. Selain itu, kinerja PLTA juga masih dipengaruhi oleh kualitas air yang akan dialirkan ke dalam turbin pembangkit listrik. Kualitas air akan sangat berpengaruh terhadap mesin pembangkitan yang dialiri air. Sifat kimia yang korosif dan cemaran sedimen bisa mempengaruhi kinerja dan usia teknis mesin pembangkit listrik. Aspek sosial yang terkait pengelolaan sumberdaya air PLTA adalah hubungan antara pengelola PLTA dengan semua stakeholder terkait. Hubungan ini terkait komunikasi yang terjalin antar stakeholder serta kolaborasi dalam melakukan pengelolaan yang berbasis sukarela. Selain aspek sosial, terdapat juga aspek ekonomi baik dari pengelolaan PLTA, maupun dari jasa lingkungan sumberdaya air yang bisa dimanfaatkan oleh semua stakeholder. Pengelola PLTA bisa mendapatkan manfaat ekonomi dengan mengkonversi tenaga air menjadi tenaga listrik yang bisa dijual kepada lembaga penyalur tenaga listrik kepada konsumen. Selisih antara biaya yang dikeluarkan untuk pembangkitan dengan nilai energi listrik yang dihasilkan bisa menjadi keuntungan pengelola PLTA. Sementara jasa lingkungan sumberdaya air bisa bersifat langsung maupun tidak langsung. Manfaat jasa lingkungan air, antara lain sebagai sarana ekowisata, budidaya perikanan, dan manfaat ekologis lainnya. 119 Ketiga aspek terkait pengelolaan PLTA dan interaksinya tersebut disimplifikasi menjadi model dinamik pengelolaan sumberdaya air PLTA. Model dinamik ini mencakup sub-model sosial terkait aspek stakeholder, sub-model lingkungan terkait kualitas air dan perubahan penggunaan lahan, dan sub-model nilai ekonomi jasa lingkungannya. Untuk memahami sistem tersebut dilakukan simplifikasi awal melalui diagram lingkar sebab-akibat (causal loop), seperti disajikan pada Gambar 28. Gambar tersebut menunjukkan setiap sub-model memiliki keterkaitan sebab-akibat. Gambar 28 Diagram simpul-kausal (causal loop) model pengelolaan sumberdaya air PLTA. Semua sub-model tersebut ditransformasi menjadi stock flow diagram (SFD) sebagai penjabaran causal loop di atas disajikan dalam Gambar 29. Perilaku submodel dijabarkan dalam aliran energi dan informasi dalam SFD dengan pendekatan matematis. Penyusunan SFD dan pendekatan matematisnya dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Powesim Studio 2005E. Model dirancang berdasarkan hasil pembahasan berbagai aspek pada babbab sebelumnya. Aspek yang mendasari rancang bangun model adalah basis data dan basis knowledge (pengetahuan pakar dan stakeholder) yang telah dibahas sebelumnya. 120 Gambar 29 Stock flow diagram model pengelolaan sumberdaya air PLTA berbasis sukarela. Basis data terutama diterapkan pada elemen-elemen yang menyangkut kondisi fisik lingkungan dan nilai ekonomi langsung terkait pengelolaan PLTA. Elemen tersebut terdiri dari perubahan penggunaan lahan dan kuantitas sumberdaya air, serta nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air. Sementara basis knowledge diterapkan pada nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air dan sistem keterkaitan berbagai elemen pengelolaan dari berbagai aspek berdasarkan persepsi pakar dan stakeholder. Model terbagi atas beberapa sub-model, yaitu sub-model sosial, sub-model lingkungan dan sub-model ekonomi. Berbagai asumsi diterapkan untuk memenuhi kelengkapan model secara keseluruhan, sehingga bisa dilakukan simulasi terhadap model tersebut. Model ini dibangun berdasarkan data dan knowledge di sekitar PLTA Saguling, karena memiliki basis data terlengkap untuk semua sub-model yang dibangun. Simulasi model dilakukan terhadap data aktual sejak tahun 2001 dan proyeksinya antara tahun 2010 hingga tahun 2021. 121 Tampilan menu model pengelolaan sumber daya air PLTA berbasis sukarela dibuat guna memudahkan alur simulasi yang akan dilakukan. Menu model tersebut menampilkan judul dengan hyperlink pada setiap sub-menu yang akan ditampilkan dalam simulasi. 4.7.1 Sub-model Sosial Sub-model sosial dibangun berdasarkan pertumbuhan penduduk yang terjadi di sekitar PLTA. Selain itu sub-model ini terkait dengan sub-model ekonomi, khususnya penyisihan dana CSR oleh perusahaan yang ditujukan untuk pemberdayaan masyarakat. Dinamika pendanaan CSR tersebut diprediksi akan mempengaruhi indeks pemberdayaan masyarakat. Hasil simulasi model terhadap komponen sosial menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah penduduk. Penduduk sekitar PLTA berjumlah sekitar 717.770 jiwa pada tahun 2011 dan akan meningkat terus hingga mencapai jumlah sekitar 833.001 jiwa pada tahun 2021 (Gambar 30). Peningkatan jumlah penduduk tersebut akan memberikan tekanan terhadap penggunaan sumberdaya alam yang ada di sekitar PLTA. Salah satunya adalah meningkatnya kebutuhan lahan untuk pemenuhan kehidupan penduduk. Kebutuhan tersebut antara lain lahan untuk permukiman yang terus meningkat seiiring meningkatnya jumlah penduduk. Penggunaan lahan untuk permukiman ini akan mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di sekitar PLTA. Penduduk 600,000 300,000 0 Ja n 01, 2001 Ja n 01, 2006 Jan 01, 2011 Tahun Gambar 30 Hasil simulasi jumlah penduduk. Ja n 01, 2016 Jan 01, 2021 122 Hasil simulasi dinamika pendanaan CSR (corporate social responsibility) dan indeks pemberdayaan masyarakat menunjukkan kaitan yang sangat signifikan. Penurunan nilai CSR secara langsung akan menekan indeks pemberdayaan masyarakat. 4.7.2 Sub-model Lingkungan Sub-model lingkungan terutama direpresentasikan oleh aspek penggunaan lahan pada DAS hulu PLTA. Hasil simulasi penggunaan lahan menunjukkan luas lahan semak belukar meningkat secara pesat dari 1.060 ha pada tahun 2001 menjadi seluas 108.141 ha pada tahun 2011, tetapi akan melambat pertumbuhannya hingga mencapai luas sekitar 110.989 ha pada tahun 2021. Hal ini merupakan konversi terhadap berbagai penggunaan lahan lainnya, terutama lahan terbuka dan pertanian lahan kering. Peningkatan luas perkebunan juga berkembang pesat dari 2.300 ha pada tahun 2001 menjadi seluas 31.007 ha pada tahun 2021. Peningkatan luas perkebunan ini terutama menurunkan luasan hutan secara signifikan. Semula lahan terbuka meningkat pada tahun 2001 hingga tahun 2006, tetapi menurun drastis hingga diperkirakan habis menjadi lahan terbangun pada tahun 2011. Penggunaan lahan yang relatif kecil perubahannya adalah sawah dan permukiman. Hasil simulasi perubahan penggunaan lahan secara lengkap disajikan pada Gambar 31 dan Tabel 20. Luas (ha) 100,000 Hutan Perm ukim an Pertanian Lahan Kering Sa wah 50,000 Lahan Terbuka Se m ak Perkebunan 0 Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Jan 01, 2011 Jan 01, 2016 Jan 01, 2021 Tahun Gambar 31 Hasil simulasi perubahan penggunaan lahan. 123 Tabel 20 Hasil simulasi perubahan penggunaan lahan. Sawah Semak Jan 01, 2001 Time 38,139.80 Hutan Permukiman 39,782.58 64,940.11 1,060.72 Lahan Terbuka Pertanian Lahan Kering 8,452.20 66,280.20 Perkebunan 2,300.00 Jan 01, 2006 15,114.14 40,762.82 64,998.58 17,409.69 14,993.78 49,240.84 18,435.76 Jan 01, 2011 5,989.47 41,767.22 65,057.10 108,141.82 0.00 40,694.02 26,529.34 Jan 01, 2016 2,373.52 42,796.36 65,115.67 110,670.05 0.00 37,307.06 29,736.68 Jan 01, 2021 940.59 43,850.86 65,174.29 110,989.86 0.00 35,964.87 31,007.70 Sumber : hasil analisis, 2011 Hasil simulasi penggunaan lahan tersebut juga akan mempengaruhi kondisi sumberdaya air yang terkonservasi pada lahan tersebut. Perubahan penggunaan lahan akan mengubah karakteristik air permukaan dan bawah permukaan. Perubahan karakteristik sumberdaya air juga akan mempengaruhi nilai jasa lingkungan yang dihasilkannya. Hal ini disebabkan jasa lingkungan sumberdaya air dipengaruhi kualitas, kuantitas dan kontinuitas air yang dimanfaatkan. 4.7.3 Sub-model Ekonomi Sub model ekonomi direpresentasikan oleh nilai ekonomi jasa lingkungan sumber daya air PLTA berbasis sukarela. Nilai total jasa lingkungan terbagi atas nilai guna langsung (direct use value), nilai guna tidak langsung (indirect use value) dan nilai bukan guna (non-use value). Nilai guna langsung jasa lingkungan terdiri dari nilai keuntungan produksi listrik dan budidaya ikan, dan nilai ekowisata. Nilai guna tidak langsung terdiri dari nilai serapan karbon, nilai cadangan air tanah, dan nilai cadangan air waduk/sungai. Sementara nilai bukan guna jasa lingkungan terdiri dari nilai pilihan dan nilai kelestarian. Hasil simulasi nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air disajikan pada Gambar 32. Nilai keuntungan dari produksi listrik, produksi budidaya ikan dan ekowisata diperkirakan cenderung menurun dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan terjadinya degradasi sumberdaya alam yang berakibat pada kerusakan sumberdaya air secara langsung. Menurunnya kuantitas, kualitas, dan kontinuitas sumberdaya air akan menurunkan nilai produksi listrik dan budidaya ikan secara langsung. Selain itu, kerusakan sumberdaya alam secara keseluruhan juga akan mengurangi nilai ekowisata di sekitar kawasan PLTA. Secara ekonomis, hal ini akan menurunkan nilai guna langsung dari jasa lingkungan sumberdaya air dari Rp 511 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp 505 miliar pada tahun 2021. 124 Nilai Ekonomi (Rp) 500,000,000,000 400,000,000,000 Be ne fit Listrik Be ne fit Ik a n 300,000,000,000 Nila i Ek owisa ta Nila i Guna La ngsung Nila i Se ra pa n Ka rbon 200,000,000,000 Nila i Air Ta na h Nila i Air W a duk 100,000,000,000 Nila i Guna Ta k -Langsung 0 Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Ja n 01, 2011 Ja n 01, 2016 Ja n 01, 2021 Tahun Gambar 32 Hasil simulasi nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air. Sementara nilai guna tak langsung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun meskipun pada kisaran pertumbuhan yang relatif kecil. Hal ini disebabkan nilai cadangan air tanah dan cadangan air waduk dihitung secara rata-rata per tahun, sehingga tidak mengalami peningkatan nilai dari tahun ke tahun. Hal yang mendorong pertumbuhan hanya berasal dari peningkatan nilai serapan karbon yang bergantung dari peningkatan harga karbon dari tahun ke tahun. Secara keseluruhan. Nilai guna setiap jasa lingkungan disajikan secara lengkap pada dan Tabel 21. Tabel 21 Hasil simulasi nilai guna langsung (a) dan tidak langsung (b) jasa lingkungan sumberdaya air Time Benefit Listrik Benefit Ikan Nilai Ekowisata Nilai Guna Langsung Jan 01, 2001 280,948,440,280.44 233,080,390,000.00 217,540,000.00 514,246,370,280.44 Jan 01, 2006 279,763,437,467.97 231,976,102,124.16 228,636,726.30 511,968,176,318.42 Jan 01, 2011 278,583,432,838.31 230,876,471,986.35 240,299,497.16 509,700,204,321.82 Jan 01, 2016 277,408,405,309.80 229,781,479,940.88 252,557,186.55 507,442,442,437.23 Jan 01, 2021 276,238,333,889.69 228,691,106,424.89 265,440,141.29 505,194,880,455.87 (a) Time Nilai Serapan Karbon Nilai Air Tanah Nilai Air Waduk Nilai Guna Tak-Langsung Jan 01, 2001 35,577,531,494.40 330,174,373,200.00 848,400,000.00 366,600,304,694.40 Jan 01, 2006 37,392,343,158.36 330,174,373,200.00 848,400,000.00 368,415,116,358.36 Jan 01, 2011 39,299,728,456.23 330,174,373,200.00 848,400,000.00 370,322,501,656.23 Jan 01, 2016 41,304,409,573.70 330,174,373,200.00 848,400,000.00 372,327,182,773.70 Jan 01, 2021 43,411,349,575.40 330,174,373,200.00 848,400,000.00 374,434,122,775.40 (b) Sumber: hasil analisis, 2011 Hasil simulasi nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air disajikan 125 pada Gambar 33. Nilai bukan guna jasa lingkungan cenderung akan terus meningkat dari Rp 11 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp 13 miliar pada tahun 2021. Hal ini disebabkan nilai jasa lingkungan pilihan dan kelestarian juga cenderung meningkat terus. Nilai bukan guna setiap jasa lingkungan disajikan Nilai Ekonomi (Rp) secara lengkap pada dan Tabel 22. 10,000,000,000 Nila i P ilihan Nila i Kelesta ria n 5,000,000,000 0 Ja n 01, 2001 Nila i Buk a n Guna Ja n 01, 2006 Ja n 01, 2011 Jan 01, 2016 Ja n 01, 2021 Tahun Gambar 33 Hasil simulasi nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air. Tabel 22 Hasil simulasi nilai bukan guna jasa lingkungan sumberdaya air Time Nilai Pilihan Nilai Kelestarian Nilai Bukan Guna Jan 01, 2001 7,730,987,500.00 2,319,296,250.00 10,050,283,750.00 Jan 01, 2006 8,328,469,167.98 2,498,540,750.39 10,827,009,918.37 Jan 01, 2011 8,972,126,611.51 2,691,637,983.45 11,663,764,594.96 Jan 01, 2016 9,665,528,479.40 2,899,658,543.82 12,565,187,023.23 Jan 01, 2021 10,412,519,219.95 3,123,755,765.99 13,536,274,985.94 Sumber : hasil analisis, 2011 Secara keseluruhan nilai total ekonomi (total economic value – TEV) tetap meningkat karena adanya peningkatan nilai guna dan nilai bukan guna. TEV diperkirakan akan meningkat dari Rp 894 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp 895 miliar pada tahun 2021. Hal ini menunjukkan bahwa nilai ekonomi total sebagian besar disumbang oleh nilai guna jasa lingkungan sumberdaya air. Hasil simulasi nilai guna, nilai bukan guna, dan nilai ekonomi total jasa lingkungan sumberdaya air disajikan pada Tabel 23. Hasil simulasi nilai jasa lingkungan sumberdaya air menunjukkan bahwa air 126 bisa sangat bernilai ekonomis tinggi dari aspek lingkungan, meskipun tidak seluruhnya secara langsung dalam bentuk uang tunai. Meskipun demikian penggunaan langsung jasa lingkungan air, seperti pembangkit produksi listrik, produksi budidaya ikan, dan pemanfaatan oleh industri bisa mendukung perlindungan dan pengelolaannya. Adanya penyisihan keuntungan produksi listrik dan budidaya ikan secara sukarela dalam bentuk CSR diharapkan mampu mendukung program perlindungan sumberdaya air. Oleh karena itu, nilai ekonomi jasa lingkungan sumberdaya air ini harus disosialisasikan dan didiseminasikan kepada seluruh stakeholder untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya nilai ekonomi sumberdaya air. Tabel 23 Hasil simulasi nilai total jasa lingkungan sumberdaya air Time Nilai Guna Langsung Nilai Guna Tak-Langsung Nilai Bukan Guna TEV Jan 01, 2001 514,246,370,280 368,767,413,200 10,050,283,750 893,064,067,230 Jan 01, 2006 511,968,176,318 370,692,769,177 10,827,009,918 893,487,955,414 Jan 01, 2011 509,700,204,322 372,716,337,660 11,663,764,595 894,080,306,576 Jan 01, 2016 507,442,442,437 374,843,128,472 12,565,187,023 894,850,757,932 Jan 01, 2021 505,194,880,456 377,078,406,989 13,536,274,986 895,809,562,431 Sumber : hasil analisis, 2011 Sesuai dengan asumsi penyisihan dana perusahaan sebesar 2% dari dana keuntungan bersih, maka dari produksi listrik dan budidaya ikan diperkirakan dapat menghasilkan dana CSR sebesar Rp 15 milyar per tahunnya. Dana ini bisa digunakan untuk mendukung pengelolaan dan perlindungan sumberdaya air dalam berbagai program aksi. Program-program tersebut antara lain untuk konservasi wilayah DAS hulu PLTA melalui penghijauan, sosialisasi konservasi, pemberdayaan masyarakat, penurunan beban pencemar dan lain sebagainya. 4.7.4 Skenario Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Degradasi lahan akan terus berlangsung jika dibiarkan seperti kondisi yang ada saat ini. Jika program perlindungan dan pengelolaan lingkungan bisa diimplementasikan, maka akan ada perbaikan lingkungan. Skenario disusun terhadap perbaikan penggunaan lahan sebagai hulu masalah dalam pengelolaan sumberdaya air. Skenario dibuat terdiri dari skenario saat ini (existing), skenario moderat, dan skenario optimis. 127 Skenario existing merupakan proyeksi kondisi aktual jika tidak dilakukan intervensi. Skenario moderat merupakan proyeksi existing dengan pencapaian perbaikan kondisi lingkungan pada tingkat sedang. Sementara skenario optimis dibangun dengan asumsi bisa terjadi pencapaian perbaikan lingkungan yang cukup baik. Skenario disimulasikan terhadap sub-model lingkungan terutama pada aspek perubahan penggunaan lahan. Kondisi eksisting menunjukkan adanya penurunan luas hutan sebesar 16,9% per tahun dan peningkatan luas lahan perkebunan sebesar 51,5% per tahunnya. Jika program reboisasi yang dapat menahan laju penggundulan hutan sebesar 10% pada skenario moderat dan sebesar 15% pada skenario optimis, maka akan terjadi perbaikan kondisi lingkungan. Hasil simulasi dengan asumsi tersebut disajikan pada Gambar 34 dan Tabel 24. Skenario dilakukan terutama terhadap perubahan penggunaan lahan hutan dan perkebunan yang berdasarkan interpretasi spasial saling mempengaruhi. Hasil simulasi dengan beberapa skenario tersebut menunjukkan bahwa masih terjadi laju pengurangan luas hutan, tetapi terjadi pengurangan secara signifikan pada skenario moderat dan lebih besar lagi pada skenario optimis. Hal ini juga berimplikasi pada pengurangan laju pertumbuhan lahan perkebunan yang dibangun dari konversi lahan hutan. Luas (ha) 30,000 Hutan Mod_Hutan 20,000 O pt_Hutan Perkebunan Mod_Perkebunan O pt_ Perkebunan 10,000 0 Jan 01, 2001 Jan 01, 2006 Jan 01, 2011 Jan 01, 2016 Tahun Gambar 34 Hasil simulasi skenario penggunaan lahan. Jan 01, 2021 128 Jika bisa dilakukan pengurangan laju konversi hutan menjadi lahan perkebunan sebesar 10% setiap tahunnya, maka laju pengurangan hutan akan berkurang menjadi sekitar 6,9% dari kondisi awal sebesar 16,9% setiap tahunnya. Hal ini akan berimplikasi pada pengurangan laju pertumbuhan lahan perkebunan dari hasil konversi hutan. Tabel 24 Hasil simulasi skenario perubahan penggunaan lahan Time Hutan Jan 01, 2001 38,139.80 Mod_Hutan Opt_Hutan Perkebunan Mod_Perkebunan Opt_ Perkebunan 38,139.80 38,139.80 2,300.00 2,300.00 2,300.00 Jan 01, 2006 15,114.14 15,114.14 15,114.14 18,435.76 18,435.76 18,435.76 Jan 01, 2011 5,989.47 5,989.47 5,989.47 26,529.34 26,529.34 26,529.34 Jan 01, 2016 2,373.52 3,739.28 4,977.25 29,736.68 28,525.26 27,427.18 Jan 01, 2021 940.59 2,615.39 4,977.25 31,007.70 29,522.15 27,427.18 Kondisi eksisting saat ini diperkirakan akan mengurangi luas hutan dari 5.989 ha pada tahun 2011 menjadi hanya 940 ha pada tahun 2021. Skenario moderat diprediksikan mampu mempertahankan hutan menjadi 2.615 ha hingga tahun 2021. Sementara skenario optimis diperkirakan mampu mempertahankan hutan hingga 4.977 ha pada tahun 2021. Hal ini berimplikasi pada berkurangnya pertumbuhan luas perkebunan yang seharusnya mencapai 31.007 pada tahun 2021, diprediksikan akan menjadi 29.522 ha pada skenario moderat dan menjadi 27.427 ha pada skenario optimis. 4.7.5 Validasi Model Simulasi model sebelumnya diuji dengan melakukan validasi terhadap struktur dan kinerja outputnya. Validasi dilakukan untuk mendapatkan hasil kesimpulan yang benar berdasarkan persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan (Hartrisari 2007) terhadap model pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela. Menurut Muhammadi et al. (2001), validasi dilakukan melalui perbandingan validasi kinerja model dengan data empiris untuk melihat sejauh mana perilaku kinerja model sesuai dengan data empiris. Validasi perilaku model dilakukan dengan membandingkan antara besar dan sifat kesalahan dapat digunakan: 1) absolute mean error (AME) adalah penyimpangan (selisih) antara nilai rata-rata (mean) hasil simulasi terhadap nilai 129 actual, 2) absolute variation error (AVE) adalah penyimpangan nilai variasi (variance) simuasi terhadap aktual. Batas penyimpangan yang dapat diterima adalah antara 1 -10%. Validasi yang digunakan dalam simulasi model pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA adalah AME. Validasi ini dilakukan dengan memakai persamaan seperti di bawah ini. AME = S  A x100% ; A S  Si N A  Ai N S, A dan N berturut-turut adalah nilai simulasi, nilai aktual, dan interval waktu pengamatan. Validasi dilakukan terhadap dengan membandingkan besarnya jumlah penduduk hasil simulasi model dengan data jumlah penduduk aktual. Validasi berupa perbandingan jumlah pendududuk aktual dan simulasi disajikan Jumlah Penduduk (jiwa) pada Gambar 35. 650,000 Pe nduduk Sim ulasi Pe nduduk Ak tual 600,000 550,000 01 02 03 04 05 06 Tahun Gambar 35 Perbandingan jumlah penduduk aktual dan simulasi. Berdasarkan hasil perbandingan tersebut terlihat bahwa perilaku model pengelolaan sumberdaya air berbasis sukarela di PLTA memenuhi batas toleransi yang ditentukan. Hasil uji validasi berdasarkan jumlah penduduk (Gambar 36) menunjukkan bahwa, AME menyimpang setiap tahunnya sebesar antara 0,1% 130 hingga 3,1% atau rata-rata sebesar 1,83% untuk pertambahan penduduk dari data aktual. Batas penyimpangan variabel pada parameter AME adalah 0 H2S mg/L 0,077 0,154 0,003 0,002 0.01 0 (-) pH C - 7,6 7,4 7,6 7,9 8,3 7,7 5 -9 - mg/L 1,4 1,99 0,64 1,15 2,61 2,65 20 -3 PO4 _ mg/L 0,21 0,21 0,14 0,16 0,23 0,20 5 Suhu 0 TDS NO3 OUTLET 26.85 26.6 26.05 26.6 26.5 26.7 Deviasi 5 mg/L 227 197 204 174 115 17.5 2000 TSS mg/L 9 14 14.5 3 47 26 400 Fe mg/L 0.1 0.15 0.13 0.02 0.20 0.93 (-) COD mg/L 16.98 17.44 18.43 14.58 15.25 20.42 100 BOD mg/L 7.85 9.79 12.25* 6.37 12.63* 11.72 12 DO mg/L 0 0 1.93 3.2 1.5 2.1 >0 H2S mg/L 0.285 0.009 0 0.176 0.078 0 (-) 7.2 7.3 7.4 7.1 7.1 7.2 5 -9 pH C - NO3 -2 mg/L 1.81 2.14 0.75 0.69 4.72 2.42 20 PO4 -3 mg/L 0.25 0.19 0.11 0.22 0.30 0.24 5 * Keterangan : : melewati baku mutu; (-) : tidak ada dipersyaratkan; -:tidak ada data Sumber : diolah dari laporan PLTA Saguling Tahun 2005 -2010 152 Lampiran 2. Kualitas Air Rata-rata Median inlet dan outlet di PLTA Cirata Tahun 2005 -2010 Parameter Satuan 2005 2006 Tahun ke 2007 2008 2009 2010 Baku Mutu Kelas IV PP No. 82/2001 INLET Suhu 0 TDS 27,9 27,5 27,9 28,2 28,3 27,7 Deviasi 5 mg/L 160 146 15,7 123 75 112 2000 TSS mg/L 17,2 15,8 7,2 3,6 7,4 3,6 400 Fe mg/L 0,34 0,23 0,2 0,07 0,04 0,27 (-) COD mg/L 18,84 23,60 16,3 17,42 14.22 16,83 100 BOD mg/L 10,44 14,36 * 8,5 8,82 8,85 10,94 12 DO mg/L 5,65 5,17 3,50 3,72 3.77 3,77 >0 H2S mg/L - - - 0,009 0,005 0,057 (-) pH C - 7,7 7,2 7,5 7,6 7,7 7,6 5 -9 NO3 -2 mg/L 0.03 0,04 0,6 1,23 2,03 1,53 20 PO4 -3 mg/L 0,35 0,32 0,20 0,32 0,23 0,27 5 OUTLET Suhu 0 TDS 25,8 28 27,5 28,3 27,3 27,5 Deviasi 5 mg/L 129 142 167 141 101 150 2000 TSS mg/L 70,3 14 11,6 4 12,1 2,4 400 Fe mg/L 4,36 0,38 0,20 0,06 0,33 0,05 (-) COD mg/L 18,04 23,44 13,70 15,57 10,72 13,66 100 BOD mg/L 9,49 15,85* 6,70 8,97 6,28 8,08 12 DO mg/L 7,2 5,5 3.1 4,6 2,1 2 >0 H2S mg/L 0 0 0 0 0 0,002 (-) pH C - 7,4 7,4 7,4 7,3 7,4 7 5 -9 NO3 -2 mg/L 0,52 0,17 0,60 1,61 1,38 3,45 20 PO4 -3 mg/L 0,02 0,11 0,3 0,35 0,26 0,26 5 * Keterangan : : melewati baku mutu; (-) : tidak ada dipersyaratkan; -:tidak ada data Sumber : diolah dari laporan PLTA Cirata Tahun 2005 -2010 153 Lampiran 3. Kualitas Air Rata-rata Median inlet dan outlet di PLTA Tanggari I Tahun 2005 -2010 Parameter Satuan Tahun ke 2005 2006 2007 2008 2009 Baku Mutu Kelas IV PP No.82/2001 2010 INLET TANGGARI I Suhu 0 TDS 24.0 26.0 29.8 28.5 28.1 27.4 mg/L 128 121 214 301 299 62 2000 TSS mg/L 12.4 12.2 8.4 18.0 24.9 51.6 400 Fe mg/L 0.28 0.24 0.46 0.01 2.65 0.02 (-) COD mg/L 18.01 19.90 7.15 9.41 10.40 - 100 BOD mg/L 6.01 6.60 1.00 2.37 2.95 - 12 DO mg/L - - - - - - >0 H2S mg/L 0 - - - 0.002 - (-) 6.7 6.9 6.7 7.5 7.0 7.2 5 -9 pH C - Deviasi 5 -2 mg/L 1.06 0.50 3.74 3.51 5.50 0.92 20 -3 PO4 _ mg/L 0.00 0.00 - - - 0.13 5 Suhu 0 Deviasi 5 TDS NO3 OUTLET TANGGARI I 24.5 26.0 30.0 29.3 28.6 27.3 mg/L 132 122 159 368 312 63 2000 TSS mg/L 11.1 11.8 18.8 28.5 26.4 69.6 400 Fe mg/L 0.36 0.30 0.16 0.00 3.40 0.02 (-) COD mg/L 18.45 20.25 15.45 11.26 11.35 - 100 BOD mg/L 5.93 7.00 2.55 2.72 2.74 - 12 DO mg/L - - - - - - >0 H2S mg/L - - - - 0.002 - (-) 6.7 6.9 7.2 7.2 6.9 7.3 5 -9 pH C - NO3 -2 mg/L 0.86 0.61 4.12 4.41 5.42 1.10 20 PO4 -3 mg/L 0.00 0.00 - - - 0.14 5 * Keterangan : : melewati baku mutu; (-) : tidak ada dipersyaratkan; -: tidak ada data Sumber : diolah dari laporan PLTA TANGGARI I Tahun 2005 -2010 154 Lampiran 4. Kualitas Air Rata-rata Median inlet dan outlet di PLTA Tanggari II Tahun 2005 -2010 Parameter Satuan Suhu 0 TDS 2005 Tahun ke 2007 2008 2006 2009 Baku Mutu Kelas IV PP No.82/2001 2010 PLTA TANGGARI II 29.8 25.4 29.7 29.4 29.3 27.6 Deviasi 5 mg/L 115 121 182 317 203 123 2000 TSS mg/L 12.4 12.9 6.2 20.9 18.9 16.0 400 Fe mg/L 0.00 0.32 0.14 - 2.70 0.02 (-) COD mg/L 15.60 22.50 6.10 11.00 0.00 - 100 BOD mg/L 3.33 8.45 2.30 2.25 0.00 - 12 DO mg/L - - - - - - >0 H2S mg/L - - 0.001 - 0.0015 - (-) 6.9 6.9 7.0 7.4 7.2 7.3 5 -9 20 pH C - mg/L 0.66 0.50 - 5.37 4.80 1.20 -3 PO4 _ mg/L - 0.16 - - - 0.08 5 Suhu 0 TDS NO3 OUTLET PLTA TANGGARI II 29.9 26.7 29.8 29.7 30.1 27.3 Deviasi 5 mg/L 111 119 162 318 221 123 2000 TSS mg/L 16.0 16. 5 18.4 21.5 17.9 17. 5 400 Fe mg/L 0.00 0.32 0.15 3.10 0.03 (-) COD mg/L 10.99 25.85 17.65 12.18 0.00 - 100 BOD mg/L 2.05 8.85 2.00 3.48 0.00 - 12 DO mg/L - - - - - >0 H2S mg/L 0 - 0.001 - 0.002 0 (-) 6.7 6.9 7.2 7.6 7.1 7.3 5 -9 mg/L 0.56 0.50 - 6.01 5.85 1.25 20 mg/L - 0.21 - - - 0.06 5 pH NO3 C -3 PO4 _ * Keterangan : : melewati baku mutu; (-) : tidak ada dipersyaratkan; -: tidak ada data Sumber : diolah dari laporan PLTA TANGGARI II Tahun 2005 -2010 155 Lampiran 5 Dinamika Sebaran Kualitas Air inlet dan outlet di PLTA Saguling Tahun 2005-2010 Tahun keParameter 2005 Satuan Min. Suhu 0 2006 Maks. Min. 2007 Maks. Min. 2008 Maks. INLET Min. 2009 Maks. Min. 2010 Maks. Min. Maks. Baku mutu Kelas IV PP no.82/2001 C 26.3 27.9 26.2 27.7 25.8 27 26 26.8 26.9 27.6 26.9 27.3 Deviasi 5 TDS mg/L 153 268 148 257 170 260 141 179 92 143.7 122.3 158.7 2000 TSS mg/L 9 26.5 9 13 3.2 54 2.5 7.3 2.8 9.56667 4.3 12.9 400 Fe mg/L 0.03 0.42 0.04 0.18 0 0.13 0 0.41 0 0.469 0.05 0.861 (-) COD mg/L 8.89 31.88 15 20.72 12.19 34.5 11.52 26.23 16.83 24.66 13.21 16.91 100 BOD mg/L 4.49 16.94 6.85 11.3 6.77 21.35 5.44 15.01 12.3 14.53 8.78 12.33 12 DO mg/L 0 0 0 0 2.3 4.4 2.03 4.1 2.3 4.5 2.4 4.6 >0 H2 S mg/L 0 0.289 0.027 1.216 0 0.091 0.0009 0.4 0 0.081 0 0.045 (-) pH - 6. 9 8.6 7.3 8.6 0 7.9 7.4 8 8.1 8.4 7.3 8.3 5-9 NO3- mg/L 0.002 3.041 0.663 4.498 0.416 1.301 0.613 3.53 1.69 2.76 1.61 3.45 20 PO4-3 mg/L 0.075 0.251 0.048 0.29 0.112 0.16 0.13 0.53 0.163 0.29 0.165 0.313 5 OUTLET Suhu 0 C 25.8 27.5 25.5 27.5 26 26.6 25.6 27.9 25.9 27.3 26.2 26.9 Deviasi 5 TDS mg/L 144 300 148 270 170 310 169 205 108 188 127 178 2000 TSS mg/L 7 40.6 8 25 3 37 2.2 5.8 3.2 58 7.7 70 400 Fe mg/L 0.04 0.25 0.09 0.16 0 0.19 0 0.029 0 0.243 0 1.544 (-) COD mg/L 4.94 23.19 14.52 22.91 15.3 31 13.74 15.3 13.03 29.96 10.04 29.85 100 BOD mg/L 2.72 15.3 6.53 13.5 8.75 15.54 5.77 6.56 10.42 17.98 4.52 17.91 12 DO mg/L 0 0 0 0 0.4 2.1 2.8 5 0.7 5.6 1.8 2.4 >0 H2 S mg/L 0 334 0 0.08 0 1 0.038 0.352 0.02 0.095 0 0.094 (-) pH - 7.1 7.6 6.6 7.7 6.9 7.6 7.1 7.6 7.0 7.4 6.8 7.3 5-9 0.001 3.043 0.448 4.688 0.488 0.897 0.46 2.3 1.38 5.981 0.92 3.911 20 mg/L 0.021 0.29 0.017 0.287 0.053 0.207 0.06 0.536 0.049 PO4 Keterangan : * = melewati baku mutu, ** = lebig rendah dari baku mutu, (-) = tidak ada persyaratan; - : tidak ada data 0.342 0.217 0.283 5 NO3-3 mg/L 156 Lampiran 6 Dinamika Sebaran Kualitas Air inlet dan outlet di PLTA Cirata Tahun 2005-2010 Tahun keParameter Satuan 2005 Min. Suhu 0 2006 Maks. Min. Baku mutu 2007 Maks. 2008 Min. Maks. INLET Min. 2009 Maks. Min. 2010 Maks. Min. Maks. Kelas IV PP no.82/2001 C 27.9 27.9 27. 28 26. 7 28.6 28.0 28.4 27.1 28.8 28.4 30.1 Deviasi 5 TDS mg/L 120 169 124 166.667 141 160 88 142 68 87.6 106 149 2000 TSS mg/L 9.3 26.5 11. 7 20.0 2.5 30.0 0.92 7.87 4.07 15.0 2.000 9.13 400 Fe mg/L 0.15 0.46 0.19 0.36 0.00 0.31 0.00 0.15 0.03 0.09 0.23 0.41 (-) COD mg/L 14.49 24.39 19.55 26.01 14.24 19.65 14.44 19.73 11.05 16.23 14.26 17.9 100 BOD mg/L 5.80 13.90 8.20 6.68 11.593 5.78 12.36 6.97 10.49 6.76 11.3 12 DO mg/L 4.67 6.52 4.30 16.39 6.52 3.03 3.98 3.26 4.10 3.17 4.10 3.53 4.33 >0 H2 S mg/L 0.000 0.000 0.000 0.125 0.000 0.161 0.002 0.150 0.000 0.168 (-) - 7.1 8.5 6.7 0.000 7.4 0.000 pH 7.4 7.8 7.3 7.7 7.5 7.9 7.3 7.8 5-9 NO3- mg/L 0.000 3.041 0.025 0.092 0.411 0.750 0.489 1.303 1.150 3.067 0.460 1.687 20 PO4-3 mg/L 0.219 0.485 0.150 0.573 0.144 0.219 0.173 0.483 0.181 0.358 0.254 0.354 5 25.8 25.8 26.5 30.5 27.0 27.9 27.1 29.3 27.000 28.0 27.4 27.900 Deviasi 5 OUTLET Suhu 0 C TDS mg/L 58 165 113 164 157 180 118 170 87. 147 135 185 2000 TSS mg/L 19.0 30,8 10.0 30,8 3.2 18. 3.4 8.6 2.4 36. 1.8 15. 400 Fe mg/L 0.15 54.68 0.14 54.68 0.16 0.34 0.005 0.39 0.054 0.69 0.023 0.47 (-) COD mg/L 10.96 30.16 14.02 30.16 9.71 19.03 5.03 27.08 8.04 12.62 7.92 20.19 100 BOD mg/L 4.20 18.40 8.84 11.40 4.02 18.95 5.53 8.83 4.75 10.92 12 mg/L 1.78 8.80 1.90 18.50 7.2 5.34 DO 0.20 4.24 3.80 7.30 1.50 3.40 1.70 6.70 >0 H2 S mg/L 0.00 0.033 0.000 0.010 0.010 0.000 0.000 0.030 0.030 0.002 0.127 (-) 7.1 7.7 6.8 0.0 7.8 7.3 8.0 7.2 7.5 6.8 7.9 6.9 7.2 5-9 NO3- mg/L 0.000 2.810 0.058 0.58 0.575 0.692 0.488 5.061 1.150 7.281 1.150 3.911 20 -3 mg/L 0.000 0.283 0.042 0.18 0.035 0.299 0.036 0.495 0.193 0.374 0.055 0.369 5 pH PO4 - Keterangan : * = melewati baku mutu, ** = lebig rendah dari baku mutu, (-) = tidak ada persyaratan; - : tidak ada data 157 Lampiran 7 Dinamika Sebaran Kualitas Air inlet dan outlet di PLTA Tanggari I Tahun 2005-2010 Tahun keParameter 2005 Satuan Min. 0 2006 Maks. Min. 2007 Maks. Min. 2008 Maks. INLET 2009 Min. Maks. Min. Baku mutu Kelas IV PP no.82/2001 2010 Maks. Min. Maks. C 24 24 24 28.2 27.1 31.2 - - TDS mg/L 126 130 104 157 122 361 121 342 TSS mg/L 9.6 15.1 10.2 12.5 7.78 21.49 2.2 Fe mg/L 0.28 0.28 0.01 0.28 0 0.96 0.01 COD mg/L 6.41 29.6 8 29.6 5.02 8 5.2 10.8 BOD mg/L 2.12 9.9 9.9 1 4.01 DO mg/L 0 0 0 0 H2 S mg/L 0.001 3.44 0 0 0.0001 0.004 0 0 (-) pH - 6.16 7.1 7.2 7.81 6.7 7.2 7.06 8.72 5-9 Suhu NO3- mg/L PO4-3 mg/L 0 0 6.5 6.9 1 1.12 - - 2.1 - - - - 6.79 7.5 0.2 0.9 0.21 0.21 - 0.8 27.5 30.1 27.1 27.7 Deviasi 5 13 310 3.1 177 2000 22 13.2 30.3 1.8 120 400 0.01 0.68 3.1 0.01 0.04 (-) 10.11 10.8 - - 3.1 - - 12 - - >0 1.4 2.8 - 2.5 - - - 4.86 0.03 4.56 4.11 5.78 - - - - - 100 0.8 1.2 20 0.09 0.18 5 OUTLET 0 C 24 25 24 28.1 30.01 31.9 - - TDS mg/L 130 134 107 153 120 240 365 TSS mg/L 9 13.2 9.1 13.2 6.8 124.6 Fe mg/L 0.36 0.36 0 0.36 0 0.93 COD mg/L 6.39 30.5 9.7 30.5 4.2 42 BOD mg/L 1.76 10.1 2.8 10.1 1.8 45 DO mg/L 0 0 - - - H2 S mg/L 0 0 - - 0.021 0.021 Suhu - 28 30.2 27.04 27.5 Deviasi 5 371 27.8 369 3.9 174 2000 26 31 25.8 30 2.2 142 400 0 0 2.5 3.4 0.02 0.07 (-) 11.21 11.3 11.21 11.4 - - 100 2.72 2.72 2.72 2.75 - - 12 - - - - - - - 0.0001 0.01 - >0 0 0 (-) - 6.5 6.9 6.8 7.5 6.7 7.64 7.01 7.4 6.67 7.1 7.2 8.65 5-9 NO3- mg/L 0.82 0.9 0.5 0.9 0.5 5 4.3 4.51 5.28 5.81 0.72 2.9 20 -3 mg/L 0.26 0.26 - - - 0.06 0.2 5 pH PO4 - - - - - Keterangan : * = melewati baku mutu, ** = lebig rendah dari baku mutu, (-) = tidak ada persyaratan; - : tidak ada data 158 Lampiran 8 Dinamika Sebaran Kualitas Air inlet dan outlet di PLTA Tanggari II Tahun 2005-2010 Tahun keParameter 2005 Satuan Min. 0 2006 Maks. Min. 2007 Maks. Min. 2008 Maks. INLET 2009 Min. Maks. Min. Baku mutu Kelas IV PP no.82/2001 2010 Maks. Min. Maks. C 29.8 29.8 24 28.3 28.1 30.1 - - 28.4 30.1 27.2 28.1 Deviasi 5 TDS mg/L 107 123 107 152.5 122.03 240 119 371 32 372 119 172 2000 TSS mg/L 11.2 13.6 10.3 13.6 5.2 20.4 3.1 26 12.1 25 2.3 31.1 400 Fe mg/L 0 0 0.01 0.38 0 0.79 0.7 5.2 0.003 0.03 COD mg/L 14.79 16.4 10 31 4.03 15 5.2 12.4 11.8 11.8 - - BOD mg/L 2.44 4.21 2.1 9.8 1.2 4.4 1.9 2.8 3.1 3.1 - - 12 DO mg/L - - >0 H2 S mg/L 0 0 0 0 pH - 6.8 6.9 6.3 7.7 - - 7.2 7.6 NO3- mg/L 0.21 1.1 0.25 1.1 - - 4.72 6.01 3.7 PO4-3 mg/L - 0.16 0.16 - - - - - - 28.2 Suhu - - - - - - - - 0.001 - - 0.001 - - - - - (-) 100 0.0001 0.04 0 0 (-) 6.9 7.3 7.1 8.64 5-9 5.8 0.96 1.5 20 0 0.1 5 30.1 27.2 28 Deviasi 5 OUTLET 0 C 29.9 29.9 26 28.3 27.2 29.9 - - mg/L 104 118 104 149 120 236 120 361 60 360 120 171 2000 TSS mg/L 14.4 17.6 12.1 17.6 6.5 20.1 4.8 25.7 13.2 23.2 1.7 30.2 400 Fe mg/L 0 0 0 0.38 0 0.9 3.1 4.2 0.03 0.05 (-) COD mg/L 7.28 14.7 13 38.5 6.4 BOD mg/L 1.62 2.48 2.8 10.9 1.2 - - - - - 0.001 Suhu TDS DO mg/L H2 S mg/L pH NO3-3 - 0 0 - - 22 11.9 12.8 12.4 12.4 - - 100 3.8 2.15 3.9 3.7 3.7 - - 12 0.001 - - - - - 0.001 0.004 - 0 0 (-) >0 - 6.5 6.9 6.4 7.5 - - 7.3 7.8 6.7 7.2 7.12 8.61 5-9 mg/L 0.3 0.82 0.35 0.9 - - 5.51 6.51 4.2 6.2 0.93 1.4 20 0 0.1 5 0.21 0.21 mg/L PO4 Keterangan : * = melewati baku mutu, ** = lebig rendah dari baku mutu, (-) = tidak ada persyaratan; - : tidak ada data - 159 Lampiran 9. Rincian Total Economic Value (TEV) Jasa Lingkungan Sumberdaya Air di PLTA Parameter Saguling Cirata 2.158.000.000 591,11 1.275.615.380.000 463 999.607.180.000 276.008.200.000 4.514 2.000 2.000 14.000 15.000 261.812.000.000 1.482.000 4.500.000 234.000 149.000 28.731.610.000 233.080.390.000 1.460 116.000 33.000 217.540.000 1.024 194 179.091 35.577.531.494 2.228.300.000 3,378 3.405.888.000 1,116 202 1.426.000.000 591,11 842.922.860.000 463 660.537.460.000 182.385.400.000 24.000 2.000 2.000 14.000 15.000 1.392.000.000.000 1.482.000 4.500.000 234.000 149.000 152.760.000.000 1.239.240.000.000 17.516 120.000 30.000 2.627.400.000 525 194 179.091 18.250.856.732 4.652.860.000 2,557 5.739.552.000 1,087 202 9.103.600 591,11 5.381.228.996 463 4.216.878.556 1.164.350.440 6.000 2.000 1.000 15.000 12.500 255.000.000.000 1.100.000 1.825.000 50.000 300.000 19.650.000.000 235.350.000.000 34.509 200.000 70.000 9.317.430.000 125 194 179.091 4.342.960.388 247.080.000 1,936 315.360.000 0,650 202 10.878.615 591,11 6.430.458.113 463 5.039.083.254 1.391.374.859 - Nilai Cadangan Air Tanah Sedimentasi Harga air (energi) Nilai Cadangan Air Waduk Jumlah Penduduk WTP Option Value Jumlah KK WTP Preservation Value 330.174.373.200 4.200.000 202 848.400.000 618.479 12.500 7.730.987.500 154.620 15.000 2.319.296.250 222.230.744.400 4.760.000 202 961.520.000 234.322 12.500 2.929.025.000 58.581 15.000 878.707.500 481.745.760 2.000.000 202 404.000.000 26.558 12.500 331.975.000 6.640 15.000 99.592.500 - Nilai Guna Langsung Nilai Guna Tidak Langsung Nilai Bukan Guna TEV 509.306.130.000 366.600.304.694 10.050.283.750 885.956.718.444 1.424.252.800.000 241.443.121.132 3.807.732.500 1.669.503.653.632 245.831.780.440 5.228.706.148 431.567.500 251.492.054.088 1.391.374.859 1.391.374.859 Power Harga Jual Potensi keuntungan listrik Biaya per kWh Biaya listrik Nilai Benefit Listrik Jumlah KJA Ikan Mas Ikan Nila Harga Ikan Mas Harga Ikan Nila Nilai Ikan Biaya Benih Biaya Pakan Biaya Obat Biaya Lain Biaya Produksi Nilai Keuntungan Ikan Jumlah Pengunjung Biaya Transport Biaya Akomodasi Nilai Ekowisata Luas Penghijauan (ha) Simpan karbon/ha Nilai Karbon/ton Nilai Karbon Luas DAS Rata-rata curah hujan Debit air (inlet PLTA) Penguapan Harga air (energi) Jabar 2.555.460.372.077 Tanggari I Tanggari Sulut Tanggari II - 252.883.428.946 160 Lampiran 10. Model Perlindungan dan da Pengelolaan Sumberdaya Air di PLTA Berbasis Sukarela TAMPILAN MODEL 161 PERSAMAAN MODEL NO PARAMETER 1 AME Penduduk NILAI / PERSAMAAN ABS(((Penduduk - 'Penduduk Aktual') / 'Penduduk Aktual') * 100) + (0 * 'Batas AME') 2 Batas AME 10 3 Benefit Ikan 'Nilai Ikan Total' - 'Biaya Produksi Ikan' 4 Benefit Listrik 'Nilai Listrik' - 'Biaya Listrik' 5 Biaya Akomodasi 33000 6 Biaya KJA 6365000 7 Biaya Listrik 'Power Listrik' * 'Biaya Produksi Listrik' 8 Biaya Produksi Ikan 'Jumlah KJA' * 'Biaya KJA' 9 Biaya Produksi Listrik 235 10 Biaya Transportasi 116000 11 Debit air 83.6 * 3600 12 eg 0.94 13 FP_Debit air 0.005 * FP_Hutan 14 FP_Hutan - 0.111 15 FP_Nilai Karbon 0.07 16 FP_Penduduk 0.015 17 FP_Pengunjung 0.01 18 FP_Permukiman 0.262 - ('Indeks Pemberdayaan Masyarakat' / 10) 19 FP_Produksi Ikan 'FP_Debit air' 20 FP_Sawah -0.00018 21 FP_Semak 0.75 22 H_efektif 631.27 23 Harga Air Energi 202 24 Harga Ikan Mas 14000 25 Harga Ikan Nila 15000 26 Harga Listrik 591,11 27 Hutan MAX(38139.8,0) 28 Indeks Pemberdayaan Masyarakat ('Kinerja Lingkungan PLTA' * 35000) / Penduduk 29 Input 2283000000 * 3.378 30 Jumlah KJA 4514 162 31 K_power 1.251765 32 Kapasitas Serapan Karbon 194 33 Kinerja Lingkungan PLTA = 'CSR Listrik' / 15000000000 34 konstanta 9.81 35 Kurs US$ 9425,85 36 Lahan Terbuka MAX((MIN(('Luas DAS' - (Hutan + Permukiman + Sawah + Semak + 'Luas Waduk Cirata' + 'Luas Waduk Saguling')),('Luas DAS' - Hutan Permukiman - Sawah - Semak - 'Luas Waduk Cirata' - 'Luas Waduk Saguling'))), 0) 37 LP_Debit air 'Debit air' * 'FP_Debit air' 38 LP_Hutan Hutan * FP_Hutan 39 LP_Nilai Karbon 'Nilai Karbon' * 'FP_Nilai Karbon' 40 LP_Penduduk Penduduk * FP_Penduduk 41 LP_Pengunjung Pengunjung * FP_Pengunjung 42 LP_Permukiman LPermukiman * FP_Permukiman 43 LP_Produksi Ikan 'Produksi Ikan' * 'FP_Produksi Ikan' 44 LP_Sawah Sawah * FP_Sawah 45 LP_Semak LSemak * FP_Semak 46 LPermukiman 39782.58 47 LSemak 1060.72 48 Luas DAS 222830 49 Luas Penghijauan 1024 50 Luas Waduk Cirata 9814.12 51 Luas Waduk Saguling 13508.88 52 Nilai Air Tanah (Input - Output) * 'Harga Air Energi' 53 Nilai Air Waduk Sedimentasi * 'Harga Air Energi' 54 Nilai Bukan Guna 'Nilai Pilihan' + 'Nilai Kelestarian' 55 Nilai Ekowisata Pengunjung * ('Biaya Akomodasi' + 'Biaya Transportasi') 56 Nilai Guna 'Benefit Listrik' + 'Benefit Ikan' + 'Nilai Ekowisata' + 'Nilai Serapan Karbon' + 'Nilai Air Tanah' + 'Nilai Air Waduk' 57 Nilai Ikan Mas 'Jumlah KJA' * 'Produksi Ikan' * 'Harga Ikan Mas' 163 58 Nilai Ikan Nila 'Jumlah KJA' * 'Produksi Ikan' * 'Harga Ikan Nila' 59 Nilai Ikan Total 'Nilai Ikan Mas' + 'Nilai Ikan Nila' 60 Nilai Karbon 19 * 'Kurs US$' 61 Nilai Kelestarian Penduduk * 'WTP Kelestarian' 62 Nilai Listrik 'Power Listrik' * 'Harga Listrik' 63 Nilai Pilihan Penduduk * 'WTP Pilihan' / 4 64 Nilai Serapan Karbon 'Luas Penghijauan' * 'Kapasitas Serapan Karbon' * 'Nilai Karbon' 65 Penduduk Aktual IF(TIME
Protection policy and management of water resources based on voluntary approach in Hydropower Plants Analisis Kebijakan Metode Analisis Data Analisis Legal Review Analisis Stakeholder Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Nilai Ekonomi Total Total Economic Value Analisis Sistem Dinamik Verifikasi dan Validasi Analytical Hierarchy Process AHP Audit dan Tinjauan Manajemen Implementasi Kebijakan Lingkungan Sistem Manajemen Lingkungan Implikasi Kebijakan HASIL DAN PEMBAHASAN Jasa Lingkungan Sumberdaya Air Jenis dan Sumber Data Metode Pengumpulan Data Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Kebijakan Perlindungan Lingkungan Pendekatan Sukarela Kesimpulan KESIMPULAN DAN SARAN Komitmen dan Kebijakan Lingkungan Komunikasi dan Pelaporan Lingkungan Kualitas air PLTA Saguling dan Cirata Kualitas Air PLTA Tanggari I dan II Metode Valuasi Ekonomi Metode Valuasi Kontingensi Metode Valuasi Ekonomi Sumberdaya Air dan Pemanfaatannya Metode Valuasi Kontingensi Sumberdaya Air dan Pemanfaatannya Model Konseptual Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Nilai Bukan Guna Non-Use Value Sumberdaya Air PLTA  Nilai Pilihan Option Value Nilai Bukan Guna Non-Use Value Sumberdaya Air PLTA  Nilai Pilihan Option Value Nilai Ekonomi Total TEV Nilai Jasa Lingkungan Sumberdaya Air PLTA Pendekatan Sistem TINJAUAN PUSTAKA Pengembangan Keputusan Alternatif Kebijakan Pengukuran dan Evalusi Audit dan Tinjauan Manajemen Komunikasi dan Pelaporan Lingkungan Pengukuran dan Evalusi Sistem Manajemen Lingkungan Perencanaan Kebijakan Lingkungan Sistem Manajemen Lingkungan Perubahan Penggunaan Lahan pada DAS Tondano PLTA Tanggari I dan II di Propinsi Sulawesi Utara Responden Valuasi Ekonomi Penentuan Responden .1 Responden Pakar Saran KESIMPULAN DAN SARAN Skenario Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Stakeholder dalam Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Struktur AHP dan Nilai Eigen Sub-model Ekonomi Model Dinamik Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Sub-model Lingkungan Model Dinamik Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Sub-model Sosial Model Dinamik Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Sub-model Sosial Sub-model Lingkungan Tahapan Penelitian METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Tinjauan Lingkungan Awal Perencanaan Kebijakan Lingkungan Tinjauan Lingkungan Awal Sistem Manajemen Lingkungan Tinjauan Regulasi dalam Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Novelty Kebaruan Validasi Model Model Dinamik Pengelolaan Sumberdaya Air PLTA
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Protection policy and management of water resources based on voluntary approach in Hydropower Plants

Gratis