Feedback

Efek Pakan Mengandung Isoflavon Kedelai terhadap Bobot Badan dan Kadar Androgen Serum Tikus Jantan

Informasi dokumen
1 EFEK PAKAN MENGANDUNG ISOFLAVON KEDELAI TERHADAP BOBOT BADAN DAN KADAR ANDROGEN SERUM TIKUS JANTAN BINA PERTAMASARI DEPARTEMEN BIOKIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 2 ABSTRAK BINA PERTAMASARI. Efek Pakan Mengandung Isoflavon Kedelai terhadap Bobot Badan dan Kadar Androgen Serum Tikus Jantan. Dibimbing oleh EDY DJAUHARI PURWAKUSUMAH dan WARAS NURCHOLIS. Isoflavon merupakan fitoestrogen yang dapat memberikan efek estrogenik dan atau antiestrogenik. Kedelai adalah sumber utama penghasil isoflavon. Isoflavon kedelai diduga antiestrogenik terhadap bobot badan dan kadar androgen tikus jantan. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh pemberian pakan mengandung isoflavon kedelai terhadap bobot badan dan kadar androgen tikus jantan Sprague-Dawley. Dua puluh delapan ekor tikus dibagi ke dalam 7 kelompok yaitu satu kelompok kontrol negatif dan enam kelompok perlakuan (tiga kelompok diberikan pakan isoflavon serbuk kacang kedelai (K1, K2, K3) dan tiga kelompok diberikan pakan isolat kacang kedelai (I1, I2, I3)). Parameter yang diamati meliputi bobot badan, konsumsi-efisiensi pakan, berat feses, dan kadar androgen serum (testosteron dan dihidrotestosteron). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan isoflavon K2, K3, I1, I2, dan I3 berpengaruh meningkatkan bobot badan tikus jantan sedangkan pakan K1 menurunkan. Semua pakan isoflavon kedelai dalam penelitian ini berpengaruh signifikan (p0.05) meningkatkan kadar androgen dihidrotestosteron. Persentase rata-rata tertinggi dari peningkatan tersebut diamati pada kelompok pakan K2 (325.44%), dan terendah adalah pada kelompok pakan K1 (175.05%). Kata kunci: Isoflavon kedelai, bobot badan, antiestrogenik, testosteron, dihidrotestosteron 3 ABSTRACT BINA PERTAMASARI. The Effect of Soybean Isoflavone Containing Feed against Serum Androgen Level of Male Rats. Under supervision of EDY DJAUHARI PURWAKUSUMAH and WARAS NURCHOLIS. Isoflavone is a phytoestrogen. It can trigger both of estrogenic and antiestrogenic effects. Soybean was known as main source of isoflavone. It was suspected that soybean isovlavone had an antiestrogenic effect against body weight and androgen level of male rats. The objective of this research was to examine the influence of soybean isoflavone feeding against the body weight and androgen level of Sprague-Dawley male rats. Twenty eight rats were divided into seven groups which consist of one negative control group and six experimental groups (three groups were given soybean powder feedings (K1, K2, and K3) and three groups on soybean isolate feedings (I1, I2, and I3). The examined parameters were body weight, feeding consumption-efficiency, feces weight, and serum androgen levels (testosterone and dihydrotestosterone). The result showed that K2, K3, I1, I2, and I3 feeding increased body weight of male rats, whereas K1 feeding decreased them. The isoflavones used in this research has significantly reduced (p0.05) androgen dihydrotestosterone. The highest average percentage of this increase was seen at the group of K2 feeding (325.44%), while the lowest one was on group of K1 feeding (175.05%). Key words: Soybean isoflavone, body weight, antiestrogenic, testosterone dihydrotestosterone 4 EFEK PAKAN MENGANDUNG ISOFLAVON KEDELAI TERHADAP BOBOT BADAN DAN KADAR ANDROGEN SERUM TIKUS JANTAN BINA PERTAMASARI Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada Departemen Biokimia DEPARTEMEN BIOKIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 5 Judul Skripsi :rEfek Pakan Mengandung Isoflavon Kedelai terhadap Bobot Badan dan Kadar Androgen Serum Tikus Jantan Nama : Bina Pertamasari NIM : G84070008 Disetujui, Komisi Pembimbing Drs. Edy Djauhari Purwakusumah, M.Si Ketua Waras Nurcholis, S.Si, M.Si Anggota Diketahui, Dr. I Made Artika, M.App.Sc Ketua Departemen Biokimia Tanggal lulus: 6 PRAKATA Assalamu’alaikum Wr. Wb. Puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang atas rahmat, nikmat, dan karunia-Nya sehingga memberikan kekuatan bagi Penulis untuk dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan karya ilmiah yang diberi judul Efek Pakan Mengandung Isoflavon Kedelai terhadap Bobot Badan dan Kadar Androgen Serum Tikus Jantan. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan April 2011 sampai dengan Desember 2011 di Animal Laboratory, Pusat Studi Biofarmaka dan Laboratorium Biokimia, Institut Pertanian Bogor. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Edy Djauhari dan Bapak Waras Nurcholis selaku komisi pembimbing atas bimbingan, saran, dan motivasi yang telah diberikan. Ungkapan terima kasih terdalam penulis sampaikan kedua orang tua Penulis Baban Aswin (alm.) dan Rina Suminarsih, S.Pd, M.Pd, serta kedua adik Penulis Deta Lestari dan Tiray Winandasari yang selalu memberikan kasih sayang, doa, dan dukungan bagi Penulis. Terima kasih pula kepada Elsa, Kurnia, Danio selaku rekan kerja, Bapak Aulia, Ibu Susi, dan Ibu Salina, yang telah memberikan bantuan. Akhir kata, penulis berharap karya ilmiah ini dapat berguna bagi Penulis sendiri maupun bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Bogor, Juli 2012 Bina Pertamasari 7 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Sukabumi pada 1 Oktober 1989 dari ayah Baban Aswin (alm.) dan ibu Rina Suminarsih, S.Pd, M.Pd. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun 2007, Penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cicurug dan di tahun yang sama Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui undangan seleksi masuk (USMI) di Departemen Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Selama perkuliahan, penulis pernah aktif di sejumlah unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan organisasi kemahasiswaan. Tahun 2007-2008 Penulis menjadi staf human resources development (HRD) Century IPB. Penulis di tahun 2008-2009 aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) IPB menjadi staf Kementerian Pendidikan, dan dilanjutkan pada tahun 2009-2010. Selain itu di tahun yang sama (2008-2009), Penulis juga aktif di Himpunan Profesi Community of Research and Education in Biochemistry (CREBs) sebagai staf divisi Bioanalisis. Tahun 2010-2011 Penulis menjadi sekretaris kementerian di Kementrian Pengembangan Potensi Sumber Daya Manusia (PPSDM) BEM KM IPB. Penulis juga aktif dari tahun 2009 sebagai asisten praktikum Biokimia Umum untuk Mahasiswa Departemen Biologi, Budi Daya Perairan, dan Fakultas Kedokteran Hewan dan tahun 2010 sebagai asisten praktikum Pengantar Penelitian Biokimia untuk mahasiswa Departemen Biokimia. Selain itu, di tahun 2011 penulis menjadi asisten praktikum Biokimia Umum untuk mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Perairan, Budi Daya Perairan, dan Fakultas Kedokteran Hewan. Selama perkuliahan, Penulis pernah melakukan praktik lapang di Laboratorium Fisika Kimia PT INDOLAKTO di Sukabumi selama 2 bulan dan menulis laporan ilmiah yang berjudul Analisis Fisika Kimia pada Produk Akhir Susu Kental Manis Indomilk PT Indolakto. Sebagai pengalaman profesi, Penulis pernah mengajar di bimbingan belajar mahasiswa “Katalis” tahun 2009-2010. 8 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL .............................................................................................. ix DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... ix DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ x PENDAHULUAN ............................................................................................... 1 TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................... 1 Kedelai ............................................................................................................ 1 Isoflavon .......................................................................................................... 2 Bobot Badan .................................................................................................... 4 Estrogenik dan Antiestrogenik ......................................................................... 4 Androgen ......................................................................................................... 4 Hewan Coba .................................................................................................... 6 Enzym-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) ................................................. 7 BAHAN DAN METODE .................................................................................... 7 Bahan dan Alat ................................................................................................ 7 Metode............................................................................................................. 7 HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................ 9 Pengaruh Perlakuan Pemberian Pakan terhadap Bobot Badan Hewan Coba .... 9 Pengaruh Perlakuan Pemberian Pakan terhadap Kadar Testosteron dan dihidrotestosteron Hewan Coba ...................................................................... 13 SIMPULAN DAN SARAN ............................................................................... 17 Simpulan........................................................................................................ 17 Saran.............................................................................................................. 18 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 18 LAMPIRAN ...................................................................................................... 23 9 DAFTAR TABEL Halaman 1 Komposisi zat gizi kedelai 100 gram bahan kering .......................................... 2 2 Kadar isoflavon pada berbagai bahan makanan ............................................... 3 3 Kadar protein pakan perlakuan ....................................................................... 8 4 Bobot badan, konsumsi pakan, efisiensi pakan, dan berat feses .................... 13 5 Kadar testosteron dan DHT .......................................................................... 17 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Tanaman kedelai ............................................................................................. 2 2 Biosintesis isoflavon ....................................................................................... 3 3 Biosintesis androgen ....................................................................................... 5 4 Tikus Sprague-Dawley .................................................................................... 7 5 ELISA reader .................................................................................................. 7 6 Bobot badan selama perlakuan ...................................................................... 10 7 Konsumsi pakan kelompok tikus ................................................................. 11 8 Berat feses selama perlakuan ......................................................................... 12 9 Kadar testosteron dan DHT kelompok tikus .................................................. 16 10 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Diagram penelitian secara umum .................................................................. 24 2 Rancangan percobaan.................................................................................... 25 3 Komposisi bahan untuk pembuatan 50 kg pakan ........................................... 26 4 Analisis testosteron ....................................................................................... 27 5 Analisis dihidrotestosteron ............................................................................ 28 6 Koefisien korelasi Pearson bobot badan, konsumsi pakan, efisiensi pakan, dan berat feses hewan coba ........................................................................... 29 7 Data bobot badan tikus selama perlakuan ...................................................... 30 8 Data konsumsi pakan tikus selama perlakuan ............................................... 31 9 Data berat feses tikus selama perlakuan ......................................................... 32 10 Koefisien korelasi Pearson kadar testosteron dan dihidrotestosteron.............. 33 11 Hasil analisis statistik kadar testosteron dan dihidrotestosteron...................... 34 12 Data dan kurva standar testosteron hewan coba ............................................. 35 13 Data dan kurva standar dihidrotestosteron hewan coba ................................. 37 14 Data konsentrasi isoflavon ........................................................................... 39 1 PENDAHULUAN Kedelai merupakan komoditas tanaman pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Tanaman ini kaya akan protein nabati yang sangat penting dalam rangka peningkatan gizi masyarakat karena aman bagi kesehatan dan murah harganya. Kedelai biasanya dikenal sebagai tanaman pangan dan sayuran. Namun kini diketahui bahwa kedelai juga berkhasiat sebagai obat. Hal ini dikarenakan oleh adanya senyawa bioaktif pada kedelai yang bermanfaat menjaga dan memperbaiki sistem fisiologis, maupun pencegahan penyakit, terutama terdapat pada bagian biji (Asih 2009). Senyawa bioaktif tersebut adalah isoflavon (Okamato et al. 2006). Isoflavon umum ditemukan pada kacang-kacangan dan utama ditemukan pada kedelai (Cornwell et al. 2004). Isoflavon dikenal sebagai fitoestrogen karena struktur molekul isoflavon mirip dengan struktur estrogen endogen. Hal ini menyebabkan isoflavon dapat berikatan dengan reseptor estrogen (RE), dan mampu memberikan efek estrogenik dan atau efek antiestrogenik (Robertson 2000). Penelitian banyak menyoroti efek estrogenik isoflavon di antaranya isoflavon dapat membantu meringankan gejala pascamenopause dan melindungi terhadap penyakit kronik, seperti kanker payudara dan endometrium (Anupongsanugool et al. 2005). Namun perlu diketahui isoflavon dapat pula bersifat antiestrogenik. Rendahnya kejadian kanker prostat dan ginekomastia pada pria di negara-negara Asia, seperti Cina dan Jepang dibandingkan dengan kejadian di Amerika, diduga akibat efek antiestrogenik dari isoflavon kedelai yang dikonsumsi tinggi di Asia (White et al. 2010). Efek antiestrogenik isoflavon pada pria berbentuk kompetisi isoflavon dengan estrogen endogen dalam mengikat RE. Keterikatan isoflavon dengan RE mengakibatkan estrogen endogen tinggi. Normalnya ketika estrogen endogen tinggi, akan terjadi umpan balik negatif sekresi gonadotropin releasing hormone (GnRH) hipotalamus, yang selanjutnya mengurangi sensivitas hipofisis anterior dalam memproduksi luteinizing hormone (LH), kemudian menurunkan sintesis testosteron di sel Leydig, menyebabkan kadar testosteron berkurang, dan menghambat aromatisasi testosteron (Hoffman et al. 2009). Namun, ketika isoflavon berikatan dengan RE, isoflavon diduga memicu terjadinya inhibisi mekanisme umpan balik negatif estrogen terhadap GnRH (Shabsigh et al. 2005). Isoflavon berikatan dengan RE, diduga mencegah estrogen dari membatasi pelepasan GnRH. GnRH kemudian menstimulasi hipofisis anterior untuk melepaskan LH, sehingga terjadi peningkatan sintesis testosteron oleh testis, dan terjadi peningkatan kadar testosteron (Shabsigh et al. 2005). Menurut Astuti dan Sutyarso (2010), pemberian tepung kedelai kaya isoflavon dengan dosis isoflavon 1.5 mg/ekor/hari terhadap tikus jantan strain Sprague-Dawley dapat menyebabkan peningkatan kadar hormon testosteron serum. Efek antiestrogenik isoflavon lainnya adalah isoflavon diduga dapat meningkatkan katabolisme sel lemak sehingga dapat menurunkan kadar lemak tubuh, dan berakibat pada turunnya bobot badan (Tolman et al. 2008). Hal ini bermanfaat karena obesitas dan kelebihan berat badan merupakan faktor risiko penyakit kronis, termasuk diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, serta rendahnya kadar testosteron (Kuntana 2009). Menurut Zhang et al. (2009) konsumsi isoflavon kedelai dosis 1.5 dan 4.5 g/kg bb/ekor/hari dapat menyebabkan penurunan bobot badan pada tikus jantan Sprague-Dawley. Namun penelitian mengenai pengaruh berbagai macam pakan isoflavon kedelai (serbuk kacang kedelai dan isolat kacang kedelai) terhadap bobot badan dan kadar androgen tikus jantan Sprague-Dawley belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh pemberian pakan mengandung isoflavon kedelai terhadap bobot badan dan kadar androgen tikus jantan Sprague-Dawley. Hipotesis penelitian ini adalah pemberian pakan mengandung isoflavon kedelai mampu menurunkan bobot badan, serta meningkatkan kadar testosteron dan dihidrotestosteron tikus jantan Sprague-Dawley. Penelitian ini diharapkan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai manfaat isoflavon kedelai sehingga dapat dijadikan pengobatan alternatif penyakit kekurangan androgen. TINJAUAN PUSTAKA Kedelai Tanaman kedelai termasuk kingdom Plantae, divisi Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Dikotiledon, ordo Polipetales, famili Leguminosae, genus Glycine, dan spesies Glycine max L. Merill (Gambar 1). Kedelai dapat tumbuh baik di 2 daerah dengan ketinggian maksimal 500 m di atas permukaan laut. Akar kedelai adalah akar tunggang dengan bintil-bintil yang menempel pada akar yang merupakan kumpulan bakteri Rhizobium. Batang kedelai beruas-ruas 3-6 cm, cabang tumbuh tegak, berdaun lebar, dan tinggi berkisar antara 30-100 cm. Daun kedelai termasuk daun majemuk dengan tiga buah anak daun, bentuk oval, dan ujung lancip. Bunga kedelai berbentuk seperti kupukupu, warnanya ungu atau putih, dan muncul pada ketiak daun. Buah kedelai berbentuk polong, berisi 4 biji setiap polong, dan warna polong kuning kecoklatan atau abu-abu (Marsudi 2007). Biji kedelai dibedakan atas tiga warna, yaitu kuning, hitam, dan hijau, yang secara kimia tidak terdapat perbedaan komposisi gizi (Astawan 2009). Kedelai mengandung sekitar 35-45% protein, 12-30% karbohidrat, 18-32% lemak, dan 7% air per 100 gram (Ristek 2012), serta sejumlah vitamin, yakni vitamin B kompleks (Fafioye et al. 2005), mineral seperti kalsium, tembaga, besi, magnesium, mangan, kalium, natrium, seng (Ibrahim et al. 2008), dan serat (Tabel 1). Kedelai memiliki 8 asam amino esensial yaitu isoleusin, leusin, lisin, treonin, valin, metionin, fenilalanin, dan triptofan, dengan asam amino pembatas metionin dan sistein, serta kandungan asam amino yang cukup tinggi lisin dan treonin. Kandungan lisin yang tinggi dalam kedelai sangat menguntungkan, karena pada umumnya makanan pokok sangat miskin akan lisin. Kombinasi kedelai dengan sumber karbohidrat seperti beras, jagung, sagu, terigu, dan singkong adalah sangat baik untuk kelengkapan gizi (Astawan 2009). Kedelai juga kaya akan asam amino glisin dan arginin yang berperan aktif menurunkan kadar kolesterol, rendah kandungan asam amino bersulfur yang dapat mencegah osteoporosis, dan komponen antikanker antara lain inhibitor protease, fitat, saponin, fitosterol, dan asam lemak omega-3 (Silalahi 2006). Gambar 1 Tanaman kedelai (Deptan 2012) Tabel 1 Komposisi zat gizi kedelai dalam 100 gram bahan kering Zat gizi kedelai Abu Protein Lemak Karbohidrat Serat Kalsium Fosfor Besi Tiamin Riboflavin Niasin Asam pantotenat Piridoksin Biotin Kobalamin Asam amino esensial Jumlah 6.1 gram 46.2 gram 19.1 gram 28.2 gram 3.7 gram 254 mgram 781 mgram 11 mgram 0.48 mgram 0.15 mgram 0.67 mgram 430 mkg 180 mkg 35 mkg 0.2 mkg 17.7 gram Sumber: Astawan (2009) Isoflavon Isoflavon termasuk golongan senyawa flavonoid, salah satu metabolit sekunder tanaman, dicirikan sebagai deretan senyawa C6-C3-C6, dan melimpah pada tanaman polong-polongan (Gueven 2011). Isoflavon pada tanaman berfungsi sebagai fitoaleksin (Robinson 1995). Fitoaleksin adalah suatu senyawa antimikrobial yang dibiosintesis dan diakumulasikan oleh tanaman setelah terjadi infeksi dari mikroorganisme patogen, terpapar senyawa kimia tertentu, atau iradiasi dengan sinar ultraviolet yang berguna mencegah patogenisasi. Isoflavon juga merupakan persinyalan yang dibentuk oleh kedelai guna menarik bakteri rizhobial (Barnes 2010). Biosintesis isoflavon ditunjukkan pada Gambar 2. Prekursor biosintesis isoflavon adalah asam amino L-fenilalanin. Enzim fenilalanin amonia liase (PAL) mengkatalisis hilangnya gugus amina dari asam amino fenilalanin menghasilkan asam sinamat. Reaksi kedua dan ketiga, sinamat 4-hidroksilase (C4H) dan 4-kumarat KoA ligase (4CL) mengkonversi asam sinamat menjadi p-kumariol-KoA. Kalkon sintase (CHS) selanjutnya melakukan katalisis pada kondensasi p-kumaroil-KoA dengan tiga molekul malonil-KoA untuk membentuk kerangka flavonoid C15, kalkon. Tanaman legum menghasilkan dua jenis kalkon, tetrahidroksi kalkon (naringenin kalkon) dan trihidroksi kalkon (isoliquiritigenin kalkon) dengan reaksi enzimatik tambahan yang dikatalisis oleh kalkon reduktase (CHR), sedangkan tanaman non-legum hanya menghasilkan naringenin kalkon (Dhaubhadel et al. 2003). 3 Naringenin kalkon dan isoliquiritigenin kemudian dikonversi ke flavanon. Naringenin kalkon dikonversi ke naringenin flavanon dan isoliquiritigenin dikonversi ke liquiritigenin oleh enzim kalkon isomerase (CHI). Migrasi aril untuk menciptakan isoflavon dimediasi oleh isoflavon sintase (IFS). Reaksi ini juga membutuhkan reduksi nicotinamide adenine dinucleotide phosphate (NADPH) dan molekul oksigen sehingga menghasilkan 2hidroksiisoflavanon. Hasil reaksi dari IFS, 2hidroksiisoflavanon, sangat tidak stabil dan mengalami dehidrasi dengan membentuk ikatan ganda antara C2 dan C3 oleh dehidratase untuk membentuk genistein atau daidzein (Dhaubhadel et al. 2003). Empat bentuk isoflavon pada kedelai, yaitu aglikon (bentuk bebas) yang terdiri atas genistein, daidzein, dan glisitein, bentuk glikosida yang beranggotakan genistin, daidzin, dan glisetin, bentuk asetilglikosida yang terdiri atas 6''-O-asetilgenistin, 6''-Oasetildaidzin, dan 6''-O-asetilglisetin, dan bentuk malonilglikosida yang terbagi atas 6''O-malonilgenistin, 6''-O malonildaidzin, 6''-Omalonilglisetin. Isoflavon pada olahan kedelai non-fermentasi umumnya berada dalam bentuk glikosida, yaitu 64 % genistin, 23 % daidzin, dan 13 % glisetin. Bentuk fermentasi kedelai seperti tempe, isoflavon berada dalam bentuk aglikon (Astawan 2009). Tabel 2 Kadar isoflavon pada berbagai bahan makanan Produk Kacang kedelai Biji bunga matahari Kacang tanah Gandum Beras Jagung Bawang putih Asparagus Wortel Ubi jalar Kadar isoflavon (µg/100g) 863 396 161 490 297 230 407 374 346 295 Sumber: Wirakusumah (2007) Kedelai serta produk olahannya merupakan sumber isoflavon, dan hanya sejumlah kecil ditemukan di tanaman lain (Tabel 2) (Barnes 2010). Konsumsi isoflavon dari kedelai diketahui dapat melindungi terhadap penyakit yang berkaitan dengan usia misalnya penyakit jantung dan osteoporosis, kanker tertentu misalnya payudara dan prostat, dan gejala postmenopausal misalnya hot flushes (Lephart 2004). Telah diketahui berbagai teknik pengolahan kedelai utuh. Tempe, tauco, tahu, susu kedelai, kecap merupakan produk hasil olahan kedelai. Proses pengekstrakan minyak dari kedelai akan menghasilkan bungkil kedelai dengan kadar protein hingga 40%, dan Gambar 2 Biosintesis isoflavon (Dhaubhadel et al. 2003) 4 dapat diolah lebih lanjut menjadi konsentrat protein kedelai atau isolat protein kedelai. Isolat protein kedelai merupakan salah satu hasil isolasi protein dari kedelai yang memiliki kemurnian protein paling tinggi (di atas 90% berdasarkan berat kering) sehingga produk ini hampir terbebas dari zat-zat lain, seperti karbohidrat, serat, dan lemak (Permadi 2011). Menurut Astawan (2009), isolat protein kedelai dibuat dengan cara melarutkan protein tepung kedelai dengan larutan basa encer pada pH 7-9, serta membuang endapan tidak larutnya dengan cara pemusingan atau penyaringan. Ekstrak yang didapat kemudian diasamkan sampai pH-nya mencapai 4.5 agar terjadi pengendapan protein. Endapan protein ini selanjutnya dinetralkan dengan basa dan dikeringkan dengan pengering semprot (spray dryer) sampai diperoleh bentuk tepung. Jadi, pada prinsipnya isolat protein kedelai diperoleh dengan cara pengendapan seluruh protein pada titik isoelektrik yaitu pH sehingga seluruh protein menggumpal. Isolat protein kedelai telah banyak diaplikasikan dalam industri pangan seperti produk daging tiruan, karena isolat protein kedelai memiliki sifat fungsional (di luar sifat nutrisi) yang dapat menyumbangkan karakteristik yang diinginkan pada makanan. Bobot Badan Bobot badan adalah ukuran tubuh dalam sisi beratnya yang ditimbang dalam keadaan tanpa perlengkapan apapun. Bobot badan diukur dengan alat ukur bobot badan dengan satuan gram (g) atau kilogram (kg). Bobot badan merupakan ukuran yang lazim atau sering dipakai untuk menilai kesehatan atau keadaan gizi. Bobot badan diketahui maka akan dapat memperkirakan tingkat kesehatan atau gizi. Bobot badan dianjurkan untuk mengukur kesehatan dan keadaan gizi karena mudah dilihat perubahannya dalam waktu singkat, memberikan gambaran keadaan gizi pada saat sekarang dan kesehatan bila dilakukan secara periodik, ketelitian pengukuran tidak dipengaruhi oleh keterampilan yang mengukur, dan alat ukur mudah diperoleh (Muntaha 2011). Pertumbuhan bobot badan dapat dikatakan secara sederhana adalah perubahan ukuran yang meliputi perubahan berat, bentuk, dimensi linear, dan komposisi tubuh, termasuk perubahan komponen-komponen tubuh seperti otot, lemak, tulang, dan organ, serta komponen-komponen kimia, terutama air, lemak, protein, dan abu. Faktor jenis kelamin, hormon, kastrasi, serta genotif mempengaruhi pertumbuhan bobot badan. Konsumsi protein dan energi yang lebih tinggi akan menghasilkan laju pertumbuhan bobot badan yang lebih cepat (Soeparno 1992). Estrogenik dan Antiestrogenik Estrogen diproduksi dalam ovarium dan testis. Reseptor estrogen berada di inti, sebagian kecil (2-3%) berada pada membran sel, dan membentuk dimer ketika berikatan dengan estrogen. Dimer kemudian berinteraksi dengan elemen reseptor estrogen (ERE) yang mengatur transkripsi gen responsif estrogen untuk menghasilkan efek estrogenik atau agonis estrogen. Bentuk dominan estrogen endogen dalam tubuh adalah 17β-estradiol, meskipun senyawa yang dapat menginduksi dimerisasi reseptor estrogen, dan selanjutnya mengikat ERE, bisa dianggap estrogen. Efek antiestrogenik atau antagonis estrogen dapat terjadi ketika senyawa mampu dapat berikatan dengan reseptor estrogen namun menghambat respon estrogen dengan cara pembentukan dimer tidak terjadi atau konfigurasi yang benar untuk mengaktifkan ERE tidak tercapai (Robertson 2000). Beberapa senyawa bertindak sebagai estrogenik dan juga antiestrogenik disebut sebagai selektif estrogen receptor modulator (SERM) (Vissac-Sabatier 2003). Senyawa-senyawa SERM secara struktural mirip dengan 17β-estradiol sehingga molekulmolekul senyawa yang mirip dengan estradiol ini dianggap memiliki aktivitas agonis sekaligus antagonis estrogen (Vissac-Sabatier 2003). Antiestrogen tamoxifen, sebagai, contoh bertindak sebagai antiestrogenik dalam jaringan payudara tetapi sebagai estrogenik dalam rahim, tulang, dan sistem pembuluh darah (Cornwell et al. 2004). Androgen Androgen adalah hormon yang bertanggungjawab terhadap berbagai sifat maskulinisasi tubuh (Umam 2010). Hormon ini disintesis di testis, kelenjar adrenal, serta dalam jaringan perifer seperti prostat dan kulit (Hsing 2001). Androgen pada pria memainkan peran penting dalam pengembangan, pemeliharaan, serta regulasi dari fenotip dan fisiologi reproduksi pria (Gobinet et al. 2002) Lima androgen utama dalam tubuh pria yaitu dehidroepiandrosteron, dehidroepiandrosteron sulfat, dihidrotestosteron, androstenedion, dan testosteron (Hsing 2001). Jalur biosintesis androgen ditunjukkan pada Gambar 3. 5 Biosintesis androgen memerlukan kolesterol sebagai prekursornya. Kolesterol dapat disintesis di dalam kelenjar andrenal atau diambil dari plasma darah. Kolesterol yang diambil dari plasma darah memerlukan high density lipoprotein (HDL), sebagai komponen plasma darah yang memberikan kolesterol kepada kelenjar adrenal. Pengambilan kolesterol dari HDL dipacu oleh adrenocorticotropic hormone (ACTH) (Kapsul 2007). Kolesterol dengan demikian jika diambil dari darah, sintesis kolesterol oleh kelenjar adrenal dihambat tetapi jika pengambilan kolesterol dari plasma darah menurun, sintesis kolesterol oleh kelenjar adrenal meningkat. Bila kolesterol tidak segera digunakan untuk sintesis androgen dan hormon steroid lainnya, maka kolesterol disimpan di dalam kelenjar adrenal sebagai ester kolesterol. Ester kolesterol yang akan digunakan untuk sintesis androgen atau steroid lainnya dihidrolisis oleh hidrolase ester sterol yang diaktifkan oleh fosforilasi melalui protein kinase yang kerjanya bergantung pada cyclic adenosine monophosphate (cAMP) (Kapsul 2007). Langkah awal dalam jalur biosintesis testosteron tersebut adalah konversi C27 kolesterol ke C21 steroid pregnenolon. Reaksi ini dikatalisis oleh enzim pemutus rantai samping sitokrom P450 (P450scc). Pregnenolon berdifusi menembus membran mitokondria dengan bantuan steroidogenic acute regulatory protein (StAR) dan selanjutnya dimetabolisme oleh enzim yang ada di retikulum endoplasma halus. Pregnenolon dalam sel Leydig dikonversi ke progesteron oleh kerja enzim 3-βhidroksisteroid dehidrogenase (3β HSD) (Kapsul 2007). Enzim 17-α-hidroksilase mengkatalisis pengubahan progesteron menjadi 17-αhidroksiprogesteron, yang selanjutnya diubah menjadi androstenedion, prekursor testosteron, oleh enzim C17,20–liase. Androstenedion kemudian dikatalisis oleh 17– β-hidroksisteroid dehidrogenase menjadi testosteron. Sel Leydig juga mengekspresikan sitokrom P450 aromatase, yang mengkatalisis aromatisasi dari testosteron ke estradiol (Kapsul 2007). Androgen juga memiliki jalur biosintesis lain, tidak melalui progesteron tetapi melalui dehidroepiandrosteron. Pregnenolon yang terbentuk dari kolesterol diubah menjadi 17-αhidroksipregnenolon dengan bantuan enzim 17-α-hidroksilase. 17-α-hidroksipregnenolon selanjutnya diubah oleh C17,20–liase menjadi dehidroepiandrosteron, dan androstenedion terbentuk dengan bantuan enzim 3βhidroksisteroid dehidrogenase. Testosteron kemudian terbentuk dengan bantuan enzim 17-β-hidroksisteroid dehidrogenase (Kapsul 2007). Gambar 3 Biosintesis androgen (Murray et al. 2003) 6 Tiga komponen penting dalam produksi androgen dalam sistem reproduksi pria yaitu hipotalamus, hipofisis anterior, dan testis, yang membentuk sistem yang disebut dengan hipotalamus-hipofisis-gonad atau HHG (Emanuele dan Emanuele 1998). GnRH dari hipotalamus menstimulasi hipofisis anterior untuk mensekresikan FSH dan LH. FSH bertugas menstimulasi sel Sertoli untuk memproduksi androgen binding protein (ABP), dengan adanya ABP, testosteron mendukung spermatogonesis, sementara LH bertugas menstimulasi sel Leydig untuk memproduksi testosteron. Jika testis mulai memproduksi testosteron terlalu banyak, hal ini dirasakan oleh otak, dan hipotalamus akan mengirimkan sinyal GnRH ke hipofisis untuk mereduksi sintesis LH. LH berkurang pada gilirannya memicu produksi perlambatan sintesis testosteron. Jika testis mulai memproduksi testosteron terlalu sedikit, hipotalamus akan mengirimkan sinyal ke kelenjar hipofisis untuk membuat LH berlebih, yang merangsang testis untuk membuat testosteron lebih banyak (Cunningham et al. 2003). Hewan Coba Hewan percobaan adalah hewan yang sengaja dipelihara dan diternakkan untuk dipakai sebagai hewan model dalam mempelajari dan mengembangkan berbagai bidang ilmu dalam skala penelitian atau pengamatan laboratorik (Malole dan Pramono 1989). Syarat hewan sebagai hewan coba adalah sedapat mungkin hewan percobaan bebas dari mikroorganisme patogen, mempunyai kemampuan dalam memberikan reaksi imunitas yang baik, kepekaan terhadap sesuatu penyakit, performa atau prestasi hewan percobaan yang dikaitkan dengan sifat genetiknya (Sulaksono 1987). Hewan percobaan terbagi atas 5 kelompok, yaitu hewan laboratorium berukuran kecil, seperti mencit, tikus, dan kelinci, karnivora, seperti kucing dan anjing, primata, seperti Macaca dan babon, kelompok domestik besar, seperti domba, sapi, dan kelompok hewan lainnya, seperti unggas (Wolfensohn dan Lloyd 1998). Pemilihan hewan percobaan untuk penelitian biasanya didasarkan pada tujuan penelitian yang akan dilakukan. Kelinci misalnya merupakan hewan percobaan yang cocok dan paling sering digunakan untuk penelitian tentang hiperkolesterolemia karena kelinci memiliki cadangan lemak tubuh yang banyak (Sirois 2005) dan peka terhadap kolesterol (Muliasari 2009). Berbeda dengan anjing, kucing, dan tikus yang resisten terhadap pakan kolesterol (Sirois 2005). Primata merupakan hewan yang sangat cocok digunakan dalam penelitian ilmiah yang ada kaitannya dengan manusia karena kekerabatan, serta kemiripan anatomis, fisiologis, dan patologis. Namun penggunaan hewan coba primata menemui banyak kendala seperti sulitnya pengadaan hewan, perawatan yang rumit dan mahal, penanganan yang sulit, serta adanya bahaya penyakit menular (Sirois 2005). Hewan percobaan lain yang memiliki karakter fisiologis mirip dengan manusia maupun mamalia lain adalah tikus. Tikus terdiri atas dua spesies, yaitu tikus hitam (Rattus rattus) dan tikus putih (Rattus norvegicus). Spesies yang sering dipakai sebagai hewan model pada penelitian mengenai mamalia adalah Rattus norvegicus (Malole dan Pramono 1989). Rattus norvegicus merupakan kingdom Animalia, famili Muridae, sub famili Murinae, ordo Rodentia, sub ordo Myomorpha, genus Rattus, dan spesies Rattus norvegicus. Tikus putih memiliki 5 macam basic stock yaitu Long Evans, Osborne Mendel, Sherman, Sprague-Dawley, dan Wistar (Lane dan Petter 1976). Rattus norvegicus memiliki ciri rambut berwarna putih dan mata berwarna merah (Malole dan Pramono 1989). Tikus yang baru lahir biasanya memiliki berat badan 5-6 gram dan memiliki kecepatan tumbuh 5 gram/hari. Berat badan tikus dewasa rata-rata 200-250 gram, tetapi bervariasi tergantung pada galurnya. Tikus jantan tua dapat mencapai 500 gram dan tikus betina jarang lebih dari 350 gram. Galur Sprague-Dawley paling besar hampir sebesar tikus liar (Gambar 4) (Smith dan Mangkoewidjojo 1988). Rattus norvegicus sebagai hewan percobaan, memiliki beberapa keunggulan, yaitu pemeliharaan dan penanganan mudah, kemampuan reproduksi tinggi dan masa kebuntingan singkat, serta cocok untuk berbagai penelitian (Malole dan Pramono 1989). Tikus putih banyak digunakan pada penelitian-penelitian toksikologi, metabolisme lemak, obat-obatan, maupun mekanisme penyakit infeksius (Berata et al. 2010). Penelitian yang telah pernah dilakukan menggunakan Rattus norvegicus adalah penelitian tentang hipertensi, diabetes insipidus, katarak, obesitas, diabetes melitus, dan lain-lain (Sirois 2005). Tikus Rattus norvegicus juga diketahui merupakan hewan model yang baik digunakan untuk penelitian yang berkaitan dengan reproduksi (Tamboss 2001). 7 Gambar 4 Tikus Sprague-Dawley Tikus Sprague-Dawley memiliki ciri-ciri berwarna albino putih, berkepala kecil, dan ekornya lebih panjang daripada badannya. Keuntungan utamanya adalah ketenangan dan kemudahan penanganannya. Dua sifat utama yang membedakan tikus dengan hewan percobaan lain, yaitu tikus tidak dapat muntah karena struktur anatomi yang tidak lazim pada tempat bermuara esofagus ke dalam lambung sehingga mempermudah dalam perlakuan pencekokan, dan tidak mempunyai kantong empedu (Smith dan Mangkoewidjojo 1988). Enzym-linked immunosobent assay (ELISA) ELISA merupakan suatu metode uji serologis. Prinsip kerja dari ELISA adalah adanya ikatan antigen dengan antibodi spesifik. Ikatan antigen antibodi akan dilabel dengan enzim dan substrat yang akan memberikan warna, dan dibaca pada ELISA reader (Rasmana 2009). Metode ELISA dibagi 2 jenis teknik yaitu teknik kompetitif dan non kompetitif. Teknik non kompetitif ini dibagi menjadi dua yaitu sandwich dan indirect. Pemeriksaan hormon biasanya menggunakan teknik kompetitif dan sandwich (Asihara dan Kasahara 2001). Keuntungan metode ELISA yaitu sangat sensitif, spesifik, analisisnya cepat, hasil analisis dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama, dapat memeriksa beberapa parameter sekaligus, peralatan mudah didapat, dan tidak menggunakan zat radiasi. Kerugian metode ELISA adalah pemeriksaan menggunakan enzim sebagai label cukup kompleks karena aktivitas enzim dipengaruhi oleh berbagai faktor (Asihara dan Kasahara 2001). Hasil uji ELISA dibaca menggunakan ELISA reader. ELISA reader adalah jenis spektrofotometer khusus (Gambar 5). Berbeda dengan spektrofotometer konvensional yang memfasilitasi pembacaan pada berbagai panjang gelombang, ELISA reader memiliki filter atau kisi-kisi difraksi yang membatasi rentang panjang gelombang, umumnya antara 400-750 nm (nanometer). Beberapa pembacaan beroperasi dijangkauan ultraviolet dan melakukan analisis antara 340-700 nm. Sistem optik yang banyak digunakan adalah serat optik untuk memasok cahaya ke sumur microplate berisi sampel. Beberapa ELISA reader juga menggunakan sistem cahaya berkas ganda. Sampel uji diletakkan di plate khusus. Plate umumnya terdiri atas 8 kolom dengan 12 baris dengan total 96 sumur, namun ada juga plate dengan jumlah sumur yang lebih besar. Lokasi dari sensor optik ELISA reader bervariasi, ada yang terletak di atas plate sampel atau langsung di bawah sumur plate (WHO 2009). Gambar 5 ELISA reader BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian adalah kasein, serbuk kacang kedelai, isolat kacang kedelai, minyak jagung, mineral, serat, vitamin, maizena, air, eter, kit ELISA testosteron, dihidrotestosteron, tisu, dan tikus putih jantan galur Sprague-Dawley berumur ±2 bulan yang diperoleh dari Pusat Studi Biofarmaka, Bogor. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian adalah masker, sarung tangan, kandang ukuran 50x30x10 cm, serbuk kayu, timbangan digital, neraca analitik, tabung reaksi kecil, toples, gunting, pinset, nampan, spoit, Eppendorf, sentrifus, freezer, mikropipet, pipet multichannel, tip, dan seperangkat alat ELISA. Metode Pembuatan Pakan Perlakuan Komposisi pakan perlakuan disesuaikan dengan anjuran Association of Official Analytical Chemists (AOAC) (1984) (Lampiran 2). Pakan terdiri atas kasein, serbuk kacang kedelai atau isolat kacang kedelai, minyak jagung, mineral, vitamin, maizena, dan air. Semua bahan pakan diaduk hingga homogen kemudian dilakukan pemadatan hingga bentuk akhir pakan menjadi bentuk pelet. Tujuh macam pakan yang dibuat dilakukan analisis kadar protein, isoflavon 8 daidzein bebas, total, genistein bebas, dan total di Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology Center IPB (SEAFAST Center IPB). Perlakuan dan Rancangan Percobaan Penelitian ini menggunakan hewan percobaan berupa tikus putih jantan SpragueDawley sebanyak 28 ekor. Tikus ditempatkan dalam kandang berukuran 50x30x10 cm, 1 ekor per kandang, beralaskan serbuk kayu, dengan kondisi cahaya dan ventilasi cukup, dan suhu ruang. Tikus dibagi menjadi 7 kelompok secara acak. Setiap kelompok terdiri atas 4 ekor tikus. Pemberian perlakuan dilakukan selama 1 bulan. Perlakuan yang digunakan adalah perlakuan pakan. Kelompok kontrol adalah kelompok kontrol negatif yang selama perlakuan diberi pakan kasein dan air. Pakan kasein merupakan pakan yang seluruh kandungan proteinnya bersumber dari kasein dan tanpa mengandung isoflavon. Kelompok lainnya merupakan kelompok perlakuan. Pakan perlakuan merupakan pakan yang masing-masing kandungan protein dan isoflavon bersumber dari masing-masing isoflavon kedelai (serbuk kacang kedelai atau isolat kacang kedelai). Kelompok K1 diberikan pakan perlakuan serbuk kacang kedelai 100% dan air. Kelompok K2 diberikan pakan perlakuan serbuk kacang kedelai 50% dan air. Kelompok K3 diberikan pakan perlakuan serbuk kacang kedelai 10% dan air. Kelompok I1 diberikan pakan perlakuan isolat kacang kedelai 100% dan air. Kelompok I2 diberikan pakan perlakuan isolat kacang kedelai 50% dan air. Kelompok I3 diberikan pakan perlakuan isolat kacang kedelai 10% dan air. Pakan 100% merupakan pakan yang seluruh kandungan proteinnya masing-masing dan isoflavonnya bersumber dari masingmasing isoflavon kedelai (serbuk kacang kedelai atau isolat kacang kedelai). Kelompok pakan 50% merupakan pakan yang 50% kandungan proteinnya dan isoflavonnya bersumber dari masing-masing isoflavon kedelai dan 50% bersumber dari kasein. Kelompok 10% merupakan 10% kandungan protein dan isoflavon pakan bersumber dari masing-masing isoflavon kedelai dan 90% dari kasein. Komposisi pakan per kelompok dapat dilihat pada Lampiran 3. Kadar protein pada masing-masing pakan perlakuan ditunjukkan pada Tabel 3. Konsumsi pakan dan berat feses hewan coba ditimbang, dan diamati setiap harinya. Tabel 3 Kadar protein pakan perlakuan Tipe pakan Kontrol Kedelai 100% Isolat 100% Unit % % % Kadar protein 19.10 26.80 25.58 Pengambilan Darah Pengambilan darah dilakukan melalui pembuluh darah vena ekor. Sebelum pengambilan darah suhu tubuh tikus ditingkatkan terlebih dahulu dengan tikus ditempatkan dibawah terik matahari. Hal ini membantu untuk melebarkan pembuluh darah sebelum perdarahan. Namun tidak boleh terlalu panas karena dapat menyebabkan dehidrasi dan hipertemia. Ekor tikus dibersihkan dengan alkohol 70%. Alkohol berfungsi sebagai disinfeksi ekor (Joslin 2009). Ujung ekor dipotong 1 cm dengan menggunakan gunting. Ketika dibutuhkan penambahan darah, ekor dapat dipotong kembali hanya 2-3 mm. Pemotongan ekor terlalu pendek dapat menyebabkan trauma pada tulang rawan (Hoff 2002). Ekor tikus diurut hingga darah menetes. Tetesan darah ditampung dalam tabung reaksi kecil. Tikus kemudian dikorbankan dengan cara dibius dengan eter, dan dilakukan nekropsi untuk pengambilan darah dari jantung. Darah kemudian didiamkan 15 menit, disentrifus pada 3000 g selama 30 menit, dan diambil serumnya. Serum dimasukkan tabung Eppendorf dan disimpan -2°C sampai siap dianalisis. Penentuan Kadar Testosteron Penentuan kadar testosteron dilakukan dengan menganalisis serum darah tikus percobaan dengan menggunakan kit ELISA. Metode yang digunakan mengacu pada Innovation Beyond Limits International (IBL International) (2007). Sebanyak 25 µL blanko, standar, dan sampel serum darah tikus masing-masing dimasukkan ke dalam sumur microtiter plate, ditambahkan masing-masing 200 µL enzim konjugat, kemudian diaduk selama 10 detik. Campuran larutan diinkubasikan selama 60 menit pada suhu ruang (tanpa menutup plat). Isi sumur-sumur dikeluarkan secara cepat, dicuci sebanyak 3 kali dengan menggunakan wash solution (400 µL per sumur). Sumur-sumur diletakkan secara terbalik pada kertas absorben untuk membuang sisa-sisa tetesan yang ada. Setelah itu ditambahkan 200 µL substrate solution pada tiap-tiap sumur, kemudian diinkubasikan selama 15 menit pada suhu ruang. Sebanyak 9 100 µL stop solution pada tiap-tiap sumur ditambahkan untuk menghentikan reaksi enzimatik, dan diamkan selama 10 menit. Setelah 10 menit, densitas optik (OD) dibaca pada panjang gelombang 415 nm dengan menggunakan microtiter plate reader. Penentuan Kadar Dihidrotestosteron Penentuan kadar dihidrotestosteron didasarkan pada metode IBL International (2006) dengan menganalisis serum darah tikus percobaan dengan menggunakan kit ELISA. Sebanyak 50 µL dipipet dari masing-masing blanko, standar, dan sampel serum darah tikus ke dalam sumur berlabel yang sesuai beberapa kali, kemudian 100 µL larutan konjugat dipipet ke dalam tiap-tiap sumur (dengan pipet multichannel). Campuran larutan diinkubasi di dalam plate shaker (sekitar 200 rpm) selama 1 jam dalam suhu ruang. Sumursumur dicuci sebanyak 3 kali dengan menggunakan 300 µL bufer pencuci yang telah diencerkan per sumur dan plat diletakkan secara perlahan-lahan pada kertas tisu untuk memastikan bahwa plat benar-benar kering. Setelah itu 150 µL substrat 3,3,5,5tetrametilbenzidin (TMB) dipipet ke dalam tiap-tiap sumur dengan interval waktu yang tepat, kemudian diinkubasi di dalam plate shaker selama 10-15 menit pada suhu ruang (sampai kalibrator A memiliki warna biru tua untuk mendapatkan nilai OD yang diinginkan). Sebanyak 50 µL stopping solution dipipet ke dalam tiap-tiap sumur dengan interval waktu yang tepat, dan diamkan selama 20 menit. Setelah 20 menit, plat dibaca dengan menggunakan microwell plate reader dengan panjang gelombang 490 nm. Analisis Data Analisis data penelitian yang diperoleh mengacu pada Mattjik (2002). Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap. Model persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut: Yij= µ + τi+ εij Keterangan: yij= pengamatan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = pengaruh rataan umum τi = pengaruh perlakuan ke-i, i=1,2,3,4,5,6,7 εij= pengaruh galat perlakuan ke-i dan ulangan ke-j i1 = kelompok kontrol i2 = kelompok perlakuan K1 i3 = kelompok perlakuan K2 i4 = kelompok perlakuan K3 i5 = kelompok perlakuan I1 i6 = kelompok perlakuan I2 i7 = kelompok perlakuan I3 Data bobot badan, konsumsi pakan, efisiensi pakan, berat feses, dan kadar androgen diolah dengan analisis one-way analysis of varians (ANOVA) pada tingkat kepercayaan 95% dan taraf α=0.05, dan uji lanjut yang digunakan adalah uji Duncan. Pengolahan data statistika ini menggunakan perangkat lunak Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 17.0. Korelasi antara data yang diperoleh dihitung menggunakan koefisien korelasi Pearson (r). HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Perlakuan Pemberian Pakan terhadap Bobot Badan Hewan Coba Hewan coba yang digunakan pada penelitian ini adalah tikus Sprague-Dawley jantan berumur ±2 bulan. Tikus betina tidak digunakan karena kondisi hormonal yang berfluktuasi pada waktu beranjak dewasa, sehingga dikhawatirkan akan memberikan respon yang berbeda, dan dapat mempengaruhi hasil penelitian. Selain itu parameter yang diuji pada penelitian ini adalah androgen. Kadar androgen pada betina lebih rendah jika dibandingkan dengan jantan sehingga untuk memudahkan dalam mendapatkan kadar androgen digunakan tikus jantan (Dabbs et al. 1997). Hewan percobaan yang sehat merupakan faktor penting dan merupakan syarat untuk memenuhi asumsi percobaan. Kondisi hewan yang sehat berguna untuk memperkecil galat percobaan. Bobot badan merupakan parameter yang mudah diukur dan diamati untuk memantau kondisi kesehatan tikus (Tara 2011). Bobot badan tikus rata-rata pada akhir adaptasi atau awal perlakuan (minggu ke-0) sebesar 142.61 gram dengan bobot badan berkisar antara 116-162 gram (Lampiran 7). Menurut lembaga riset Ace Animal (2006) dalam Meutia (2011), bobot badan tikus jenis Sprague-Dawley pada usia 59-61 hari adalah 275-299 gram. Bobot tikus Sprague-Dawley penelitian lebih rendah 50.31% yang dilaporkan Ace Animal (2006). Hal ini diduga disebabkan perbedaan kadar protein pada pakan, konsumsi pakan, ataupun faktor genetik tikus percobaan. Setelah dilakukan adaptasi, hewan coba kemudian masuk masa perlakuan. Perlakuan yang diberikan adalah perlakuan pakan selama 1 bulan. Terlihat setelah perlakuan bobot badan tikus mengalami perubahan. 10 Peningkatan bobot badan terjadi pada K2, K3, dan I1. Kontrol, I2, dan 13 juga mengalami peningkatan bobot badan tetapi fluktuatif. Bobot badan kelompok tikus meningkat dari rata-rata 142.83±10.31 g menjadi 165.29±17.80 g dengan presentase kenaikan sebesar 15.72%. Berbeda dengan kelompok lainnya, kelompok K1 mengalami penurunan bobot badan dengan presentase penurunan sebesar 3.72%, menurun dari rata-rata bobot badan 141.25±14.75 g menjadi 136±20.51 g (Gambar 6). Penurunan bobot badan ini diduga disebabkan tikus mengalami sakit diare selama masa perlakuan. Fluktuasi bobot badan yang terjadi diduga karena nafsu makan yang berbeda-beda antar tikus dengan tikus yang lainnya. Bobot badan kelompok tikus yang diberikan pakan perlakuan kecuali K1 lebih besar jika dibandingkan dengan bobot badan kelompok tikus yang diberi pakan kontrol (tanpa kandungan isoflavon) (Tabel 4). Hal ini menunjukkan bahwa isoflavon yang terkandung dalam pakan diduga berpengaruh meningkatkan bobot badan. Hasil uji korelasi Pearson juga menunjukkan terdapat korelasi antara kandungan isoflavon pada pakan dengan pertambahan bobot badan kelompok tikus perlakuan pakan kacang kedelai (K) (0.7
Efek Pakan Mengandung Isoflavon Kedelai terhadap Bobot Badan dan Kadar Androgen Serum Tikus Jantan
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Efek Pakan Mengandung Isoflavon Kedelai terhadap Bobot Badan dan Kadar Androgen Serum Tikus Jantan

Gratis