Feedback

Kandungan Nutrisi, Komposisi Asam Lemak, dan Kadar Kolesterol Daging Domba Garut Muda Berbeda Umur yang Diberi Ransum Mengandung Limbah Tauge

Informasi dokumen
ABSTRACT Nutrition, Fatty Acid Composition, and Cholesterol Content of Different Ages GarutLamb Fed Diet Containing Mungbeans Waste Prabawati, S.A., T. Suryati, dan S. Rahayu Garut lambs from two different ages, under five month oldand up to eight month old used for meat production, were fed a concentrate diet containing mungbean waste.The effect of different ages on nutrition, fatty acid composition, and cholesterol content were studied. After fattened about 3 months in individual cage, a total of six male lambs (3 lambs under five month old and 3 lambs up to eight month old) were slaughtered. Lambs meat were taken from Longissimus thoracis et lumborum. Nutrition content of lamb meat was quantified by proximate analysis. Fatty acid compositionand cholesterol content were analyzed bygas chromatography. Analysis of variance was used to compare differences of age effect on nutrition, fatty acid composition, and cholesterol content. The different ages in this study had no significant effect on nutrition content, fatty acid composition, and cholesterol content (P > 0,05). Lamb meat was more rich on saturated fatty acid (SFA) than unsaturated fatty acid (USFA). Keywords: nutrition,fatty acid, cholesterol, lamb, mungbean waste iv PENDAHULUAN Latar Belakang Daging domba merupakan salah satu sumber protein hewani yang digemari oleh masyarakat. Salah satu jenis domba yang populer adalah domba garut. Domba ini memiliki berbagai kelebihan, seperti performa yang baik dan memiliki pertambahan bobot badan harian yang tinggi sehingga cocok dikembangkan sebagai ternak pedaging. Meskipun digemari, daging domba memiliki kekurangan yaitu lebih kaya asam lemak jenuh daripada asam lemak tak jenuh. Konsumsi asam lemak jenuh secara berlebih dapat meningkatkan resiko kolesterol tinggi. Kolesterol tinggi pada daging domba dianggap dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan aterosklerosis. Kandungan nutrisi daging domba juga perlu dipelajari lebih jauh lagi, khususnya pada umur muda yang berbeda. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghasilkan daging domba yang berkualitas dan aman untuk dikonsumsi. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengatur pakan yang diberikan kepada ternak. Limbah tauge merupakan salah satu jenis pakan yang ketersediaannya melimpah namun belum banyak dimanfaatkan. Ketersediaan limbah tauge di Kota Bogor mencapai 1,5 ton/ hari (Rahayu et al., 2010). Limbah tauge ini diharapkan dapat mempengaruhi kandungan nutrisi, kadar kolesterol, dan asam lemak yang terkandung pada daging domba. Selain itu umur pemotongan juga berperan dalam menentukan kandungan nutrisi, komposisi asam lemak dan kolesterol daging domba. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk mempelajari kandungan nutrisi, komposisi asam lemak, dan kadar kolesterol daging domba yang diberi ransum mengandung limbah tauge pada umur yang berbeda. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan mempelajari kandungan nutrisi, komposisi asam lemak, dan kadar kolesterol daging domba garut yang diberi ransum mengandung limbah tauge pada umur yang berbeda. 1 TINJAUAN PUSTAKA Domba Garut Domba garut merupakan bangsa domba tersendiri yang dikenal baik dan banyak digemari oleh masyarakat. Domba ini dikenal oleh juga dengan sebutan domba priangan. Populasinya di propinsi Jawa Barat pada tahun 2010 sebanyak 509.025 ekor (Pemkab Garut, 2011). Mansjoer et al. (2007) menambahkan bahwa domba garut memiliki tingkat kesuburan yang tinggi (prolifik) sehingga mempunyai potensi yang baik bila dikembangkan sebagai sumber daging. Gambar 1. Domba Garut Domba garut yang dipelihara oleh masyarakat secara umum dibedakan menjadi dua jenis, yaitu domba tipe tangkas dan domba tipe pedaging. Mansjoer et al. (2007) menyatakan bahwa domba tipe pedaging memiliki tubuh kompak, wol halus dengan warna dasar dominan putih, serta paha belakang yang cukup besar. Selanjutnya Riwantoro (2005) menambahkan bahwa domba garut pedaging jantan maupun betina memiliki ciri-ciri garis muka lurus, bentuk mata normal, garis punggung lurus, bentuk telinga hiris dan rubak. Domba garut memiliki berbagai keunggulan seperti cepat mencapai dewasa kelamin, performa baik, memiliki pertambahan bobot badan harian yang tinggi, lebih mudah beradaptasi, dan tahan terhadap berbagai parasit dan penyakit. 2 Otot Longissimus thoracis et lumborum Otot Longissimus thoracis et lumborum menempati sudut yang terbentuk oleh thoracis, lumbar vertebrae, rusuk, dan processus transverses, seperti yang terlihat pada Gambar 2. Otot ini berperan sebagai ekstensor utama pada dorsum dan fleksor lateral di sisi otot kontraksi. Karena menyisip pada cervical vertebrae, otot ini juga berfungsi untuk mengangkat leher (Getty, 1975). Longissimus thoracis et lumborum banyak digunakan untuk menganalisis kualitas daging dan menaksir komposisi karkas (Silva et al., 2007). semispinalis capitis longissimus captis longissimus captis semispinalis cervicis longissimus cervicis iliocostalis cervicis semispinalis thoracis longissimus thoracis iliocostalis thoracis iliocostalis lumborum longissimus lumborum Gambar 2. Skema Otot Dorsal pada Domba Sumber: Getty (1975) 3 Daging Domba Daging domba adalah bagian otot skeletal dari karkas domba yang disembelih secara halal, aman, layak, dan lazim dikonsumsi oleh manusia (BSN, 2008). Lawrie (2003) menyatakan bahwa daging domba memiliki bobot jaringan muskuler atau urat daging, berkisar 46% - 65% bobot karkas. Daging domba banyak dikonsumsi dengan berbagai alasan diantaranya adalah tradisi, nilai gizi, mudah didapat, menyehatkan, dan sebagai variasi makanan (Forrest et al., 2001). Kandungan gizi daging domba dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kandungan Gizi yang Terkandung pada Daging Domba (per 100 g) Zat gizi Kandungan Muda Dewasa Air (g) 72,9 73,2 Protein (g) 21,9 21,5 Lemak (g) 4,7 4,0 - - Ca (mg) 7,2 6,6 P (mg) 194 290 A (µg) 8,6 7,8 Thiamin (mg) 0,12 0,16 Ribovlafin (mg) 0,23 0,25 Niacin (mg) 5,2 8,0 - - Karbohidrat (g) Mineral : Vitamin : C (mg) Sumber: William (2007) Daging domba juga disukai karena memiliki flavor yang khas. Flavor khas daging domba disebabkan adanya komponen yang mengandung sulfur, fenol, dan produk oksidasi lemak (Duckett dan Kuber, 2001). Young et al. (1997) menambahkan bahwa komponen volatil golongan asam lemak rantai menengah mempunyai keterikatan yang kuat dengan flavor daging domba. Kelebihan daging domba muda antara lain lebih empuk, juiciness tinggi, serta rendah lemak. Daging domba yang dipotong pada usia dewasa memiliki flavor domba yang lebih kuat. Hal 4 tersebut erat kaitannya dengan komposisi dan komponen asam lemak yang dihasilkan pada umur potong domba (Rousset-Akrim et al., 1997). Limbah Tauge Limbah tauge adalah limbah dari kecambah kacang hijau berupa kulit atau tudung yang lebih dikenal dengan angkup tauge. Ketersediaannya cukup banyak karena tidak dimanfaatkan oleh manusia. Hasil survei potensi ketersediaan limbah tauge di Kotamadya Bogor yang telah dilakukan oleh Rahayu et al. (2010) menunjukkan bahwa ketersediaan limbah tauge di Kota Bogor sebesar 1,5 ton/hari. Gambar 3. Limbah Tauge Setiap kilogram kacang hijau dapat menghasilkan 5 kg tauge, 20% – 40% merupakan kulit kecambahnya. Kulit kecambah kacang hijau menjadi bahan pakan ternak yang potensial digunakan sebagai salah satu bahan pakan penyusun konsentrat. Kandungan nutrien yang terdapat dalam kulit kecambah kacang hijau adalah protein kasar 13% - 14%, serat kasar 49,44%, lemak dan TDN 64,65% (Rahayu et al., 2010). Penggunaan limbah tauge hingga 50% dalam ransum domba menghasilkan pertambuhan bobot badan harian sebesar 145 g/ekor/hari. Pertambahan bobot badan ini lebih besar bila dibandingkan dengan hanya diberi konsentrat yaitu sebesar 96 g/ekor/hari (Rahayu et al., 2011). Air Air merupakan komponen kimia utama pada makhluk hidup. Air berfungsi melarutkan berbagai molekul organik dan anorganik pada tubuh (Murray et al., 5 2009). Semua komponen kimia pada daging meningkat seiring bertambahnya umur kecuali air. Tubuh ternak muda mengandung lebih banyak air daripada ternak yang lebih tua (Lawrie, 2003). Kadar air menentukan daya terima konsumen, kesegaran, dan daya tahan daging. Menurut Forrest et al. (2001) daging mengandung 75% air dengan kisaran 60% - 80%. Kadar air berbanding terbalik dengan kadar lemak, semakin tinggi kadar lemak maka kadar airnya semakin rendah. Sebaliknya, semakin rendah kadar lemak, maka kadar air semakin tinggi (Gaman et al., 1998). Protein Bagian yang penting dalam jaringan urat daging adalah serat yang terdiri atas bentukan elemen-elemen protein. Protein merupakan zat makanan yang sangat penting sebagai pembangun dan pengatur tubuh. Menurut Lawrie (2003) secara umum protein yang ada dalam urat daging dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu (1) protein larut air atau larutan garam encer (sarkoplasma); (2) protein yang larut dalam larutan garam pekat (protein-protein myofibril); dan (3) protein yang tidak larut dalam larutan garam pekat pada suhu rendah (tenunan pengikat dan struktur-struktur bentuk lain). Daging domba merupakan sumber protein yang tinggi. Menurut Linder (2006) konsumsi protein diperlukan sebagai sumber nitrogen tubuh untuk pembentukan zat-zat yang mengandung N (nitrogenous) dan sebagai sumber asam amino esensial yang tidak dapat disintesis oleh tubuh. Protein juga dapat berperan sebagai sumber energi dalam jumlah kecil. Kadar protein pada daging berkisar 16% - 22%. Kandungan protein meningkat seiring pertambahan umur ternak (Lawrie, 2003). Karbohidrat Karbohidrat adalah senyawa polihidroksi aldehida atau keton atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini bila dihidrolisa (Lehninger, 1982). Secara umum karbohidrat mempunyai rumus empiris (CH2O)n (Davis et al., 2002). Berdasarkan jumlah unit gulanya, terdapat tiga golongan karbohidrat yaitu monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida. 6 Ternak dapat menyintesis karbohidrat dari asam amino, tetapi sebagian besar karbohidrat ternak berasal dari pakan. Senyawa ini menjadi sumber energi utama pada tubuh (Murray et al., 2009). Karbohidrat dalam tubuh ternak disimpan dalam bentuk glikogen pada otot dan hati. Kadar karbohidrat normal pada otot adalah sebesar 0,5% - 1% (Sorensen et al., 1983). Kadar karbohidrat pada daging dipengaruhi umur, semakin bertambah umur maka terjadi peningkatan kandungan karbohidrat daging (Lawrie, 2003). Abu Kadar abu menggambarkan jumlah mineral anorganik yang ada pada suatu bahan pangan. Kadar abu dalam daging pada umumnya terdiri atas kalsium, fosfor, potasium, sulfur, sodium, klorin, magnesium dan besi (Lawrie, 2003). Forrest et al. (2001) menyatakan bahwa kadar abu umumnya sedikit bervariasi. Kadar abu ternak meningkat dengan laju paling rendah dibandingkan dengan komposisi kimia lainnya (Berg et al., 1983). Menurut Gaman et al. (1998) kadar abu yang baik dalam daging domba sebesar 0,7%. Lipida Lipida adalah senyawa organik berminyak atau berlemak yang tidak larut di dalam air, yang dapat diekstrak dari sel dan jaringan oleh pelarut nonpolar, seperti kloroform atau eter (Lehninger, 1982). Beberapa lipida berfungsi sebagai komponen pembentuk membran, yang lain sebagai bentuk penyimpanan bahan bakar. Lipida yang berperan sebagai pembentuk membran terdiri atas kolesterol dan ester kolesterol, gliserofosfolipida, dan spingolipida, sedangkan lipida yang paling banyak didepositkan adalah trigliserida (Sorensen et al., 1983). Trigliserida merupakan senyawa lipida utama yang terkandung dalam bahan makanan. Trigliserida yang juga sering dinamakan triasilgliserol adalah ester dari alkohol gliserol dengan tiga molekul asam lemak. Trigliserida adalah molekul hidrofobik nonpolar, karena molekul ini tidak mengandung muatan listrik atau gugus fungsional dengan polaritas tinggi (Lehninger, 1982). Proses metabolisme lipida sebagai komponen bahan makanan yang masuk dalam tubuh hewan dimulai dengan proses pencernaannya dalam usus halus. Enzim yang paling berperan dalam pemecahan lipida adalah lipase. Enzim lipase yang dikeluarkan oleh kantung empedu, pankreas, dan sel usus halus mengkatalisis proses hidrolisis ikatan ester 7 pada trigliserida menghasilkan asam lemak bebas dan gliserol (Wirahadikusumah, 1985). Asam Lemak Asam lemak merupakan suatu senyawa yang terdiri atas rantai panjang hidrokarbon yang berikatan dengan gugus karboksilat pada ujungnya. Asam lemak memiliki peranan fisiologis yang penting bagi tubuh. Pertama, asam lemak berperan sebagai satuan pembentuk fosfolipid dan glikolipid yang merupakan molekul amfipatik komponen membran biologi. Kedua, asam lemak berperan sebagai molekul sumber energi (Wirahadikusumah, 1985). Asam lemak tidak terdapat secara bebas atau berbentuk tunggal di dalam sel atau jaringan, tertapi terdapat dalam bentuk yang terikat secara kovalen pada berbagai kelas lipida yang berbeda. Asam lemak terdiri atas dua jenis, yaitu asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh adalah asam lemak yang hanya mengandung ikatan tunggal. Asam lemak tak jenuh adalah asam lemak yang memiliki satu atau lebih ikatan ganda. Asam Lemak Jenuh Asam Lemak Tak Jenuh Gambar 4. Struktur Asam Lemak Jenuh dan Asam Lemak Tak Jenuh Sumber: Purves et al. (1995) 8 Demirel et al. (2006) dalam hasil penelitiannya menyebutkan bahwa asam lemak yang ada pada daging domba dipengaruhi oleh perlakuan pakan dan perbedaan bangsa. Daging domba umumnya kaya akan asam lemak jenuh dan miskin asam lemak tak jenuh rantai panjang sehingga cenderung meningkatkan kadar kolesterol (Manso et al., 2005). Komposisi asam lemak juga mempengaruhi flavor daging domba (Duckett dan Kuber, 2001). Lawrie (2003) menyatakan bahwa asam lemak yang terdapat pada daging domba antara lain palmitat, stearat, oleat, linoleat, arakhidonat. Komposisi asam lemak domba dapat dilihat dalam Tabel 2. Tabel 2. Komposisi Asam Lemak Domba Asam Lemak Presentase dalam lemak(%) Palmitat (C 16:0) 25 Stearat (C 18:0) 25 Oleat (C 18:1) 39 Linoleat (C 18:2) 4 Linolenat (C 18:3) 0,5 Arakhidonat (C20:4) 1,5 Sumber : Lawrie (2003) Biosintesis Asam Lemak Biosintesis asam lemak merupakan suatu proses metabolisme yang penting bagi ternak. Mengingat jaringan hewan mempunyai keterbatasan kemampuan untuk menyimpan energi dalam bentuk karbohidrat. Asam lemak disintesis oleh sistem di luar mikondria yang bertanggungjawab untuk menyintesis palmitat dari asetil-KoA di sitosol. Keberadaan asetil-KoA dikatalisis oleh ATP-sitrat liase, namun pada hewan pemamah biak, jumlah ATP-sitrat liase atau enzim malat sangat sedikit sehingga asetat diaktifkan menjadi asetil-KoA di luar mitokondria. Substrat utama dalam lipogenesis pada hewan pemamah biak adalah asetat (Murray et al., 2009). Lehninger (1982) menjelaskan bahwa ada tiga hal utama dalam biosintesis asam lemak. Pertama, molekul tunggal asetil-KoA di dalam sintesis asam lemak bertindak sebagai unit pemulai. Kedua, senyawa antara asil di dalam proses ini adalah senyawa tioester, bukan KoA seperti yang terjadi pada oksidasi asam lemak, tetapi merupakan protein dengan berat molekul rendah yang disebut protein pembawa asil (ACP) yang mempunyai gugus SH-esensial. Ketiga, biosintesis asam 9 lemak terjadi di dalam sitosol sel eukariotik, sedangkan oksidasi asam lemak terjadi terutama di dalam mitokondria. Wirahadikusumah (1985) menjelaskan bahwa ada tiga tahapan biosistesis asam lemak. Biosintesis asam lemak dimulai dengan penggiatan asetil-KoA menjadi malonil-KoA. Tahapan kemudian dilanjutkan dengan proses pemanjangan rantai secara kontinyu (de novo). Proses terakhir adalah pemanjangan rantai sam lemak secara bertahap. Biosintesis asam lemak secara ringkas dipaparkan pada Gambar 5. I. Penggiatan asetil-KoA, pembentukan malonil-KoA CO ADP+Pi ATP Biotin HOOC-CH2-CO-SCoA Malonil-KoA Asetil-KoA Asetil-KoA karboksilase II. Pemanjangan rantai secara kontinyu (de novo) ACP-SH KoA-SH 7 Malonil-KoA 7 Malonil-S-ACP ACP-SH KoA-SH Asetil-S-ACP Asetil-KoA Komplek enzim sintase asam lemak KoA-SH ACP-SH Palmitoil-S-ACP Palmitoil-S-KoA III. Pemanjangan rantai secara bertahap Asetil-S-KoA Palmitoil-S-KoA Asetil-S-KoA Stearoil-S-KoA dan seterusnya Gambar 5. Biosintesis Asam Lemak Sumber: Wirahadikusumah (1985) 10 Asam lemak jenuh menempati komposisi paling besar dalam daging domba. Proses pembentukan asam lemak dengan bantuan enzim sintase asam lemak hanya berhenti sampai palmitoil-S-KoA yang akan menjadi asam palmitat. Proses pembentukan asam lemak lainnya terjadi karena adanya pemanjangan rantai asam palmitat, namun proses pemanjangan ini hanya berhenti pada asam oleat saja. Asam linoleat dan linolenat bersifat esensial bagi ternak, dan harus didapatkan pada pakan (Lehninger, 1982). Kolesterol Kolesterol adalah lipida amfipatik dan merupakan komponen struktural esensial pada membran dan lapisan luar lipoprotein plasma. Kolesterol merupakan prekursor semua steroid lain seperti kortikosteroid, hormon seks, asam empedu, dan vitamin D. Kolesterol dalam tubuh berikatan dengan protein membentuk lipoprotein yang terdiri atas dua jenis yaitu low density lipoprotein (LDL) dan high density lipoprotein (HDL). LDL plasma merupakan kendaraan untuk membawa kolesterol dan ester kolesterol ke banyak jaringan. HDL plasma bertugas mengeluarkan kolesterol bebas dan membawanya ke hati untuk dieleminasi baik sebelum maupun sesudah diubah menjadi asam empedu (Murray et al., 2009). Gambar 6. Struktur molekul kolesterol Sumber: Murray et al. (2009) Linder (2006) dan Murray et al. (2009) menyatakan bahwa kolesterol mempunyai beberapa peranan penting bagi tubuh untuk pembentukan beberapa zat esensial yaitu: (1) asam empedu yang dibuat oleh hati, (2) hormon-hormon steroid, 11 (3) vitamin D3 dan (4) pembentukan semua jaringan sel tubuh hewan dan manusia. Sebagai produk tipikal metabolisme hewan, kolesterol terdapat dalam makanan yang berasal dari hewan misalnya kuning telur, daging, hati, dan otak. Menurut Chizzolini et al. (1999) kadar kolesterol daging domba lebih rendah dibandingkan sapi maupun babi. Kadar kolesterol daging dari beberapa jenis ternak disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Kadar Kolesterol Daging Beberapa Jenis Ternak Jenis Ternak Kadar Kolesterol (mg/100 g) Ayam 81,00 Kalkun 74,00 Domba 75,00 Sapi 99,00 Babi 93,00 Sumber: Chizzolini et al. (1999) Kolesterol umumnya terdapat di dalam semua macam jaringan hewan dan manusia. Sebagian besar sintesa kolesterol terjadi di hati kemudian disebarkan ke jaringan serta plasma darah (Murray et al., 2009). Masukan energi yang berlebihan baik energi yang berasal dari karbohidrat, lemak, maupun protein dapat meningkatkan trigliserida dan kolesterol dalam darah (Linder, 2006). Astuti (2006) menyatakan bahwa perbedaan umur mempengaruhi kadar kolesterol domba. Kadar kolesterol dalam daging meningkat seiring dengan meningkatnya umur domba. Biosintesis Kolesterol Sekitar separuh kolesterol tubuh berasal dari proses sintesis (sekitar 700 mg/hari). Hampir semua jaringan yang mengandung sel berinti mampu membentuk kolesterol, yang berlangsung di retikulum endoplasma dan sitosol (Murray et al., 2009). Jaringan dan organ yang aktif mensintesis kolesterol antara lain hati, kortek adrenal, kulit, usus, testis, dan aorta. Bioesintesis kolesterol di dalam tubuh berasal dari asetil-KoA yang diubah menjadi asam mevalonat dengan bantuan enzim hidroksimetilglutaril-KoA reduktase (HMG-KoA reduktase), kemudian diubah menjadi squalen baru terakhir menghasilkan kolesterol (Wirahadikusumah, 1985). Skema biosintesis kolesterol dapat dilihat pada Gambar 7. 12 Asetil-KoA KoA tiolase Asetoasetil-KoA H2O + Asetil-KoA H+ + KoA-SH Hidroksimetilglutaril-KoA sintase (HMG-KoA sintase) 3-Hidroksi-3-metil-glutaril-KoA 2 H+ + 2 NADPH 2 NADP+ + KoA-SH Hidroksimetilglutaril-KoA reduktase (HMG-KoA redukatse) Mevalonat Squalen Kolesterol Gambar 7. Biosintesis Kolesterol Sumber: Murray et al. (2009) Ada sebuah mekanisme umpan balik untuk menghambat pembentukan kolesterol di hati, yaitu dengan cara menghambat kerja enzim HMG-KoA reduktase sehingga menghambat pembentukan 3-hidroksi-3-metil-glutaril-KoA. Apabila ada masukan makanan dengan kolesterol tinggi, maka hati akan menurunkan sintesis kolesterol demikian pula sebaliknya. Mekanisme ini bertujuan untuk mempertahankan kadar kolesterol normal dalam tubuh. Insulin atau hormon tiroid 13 meningkatkan aktivitas HMG-KoA reduktase sementara glukagon atau glukokortikoid menurunkannya (Ness dan Chambers, 2000). Keseimbangan kolesterol dalam jaringan diatur oleh faktor yang menyebabkan bertambahnya kolesterol (sintesis, penyerapan melalui reseptor scavenger atau LDL) dan faktor yang menyebabkan berkurangnya kolesterol (sintesis steroid, pembentukan ester kolesteril, ekskresi). Aktivitas reseptor LDL dimodulasi oleh kadar kolesterol di dalam sel agar mencapai keseimbangan. Proses transpor kolesterol terbalik, HDL menyerap kolesterol dari jaringan dan LCAT mengesterifikasikannya serta mengendapkannya di bagian tengah partikel. Ester kolesteril pada HDL diserap oleh hati, baik secara langsung maupun setelah berpindah ke VLDL, IDL, atau LDL melalui proses transfer ester kolesteril. Kelebihan kolesterol diekskresikan dalam bentuk empedu. Sebagian asam empedu direabsorpsi, sisanya didegradasi usus besar dan dibuang melalui feces (Murray et al., 2009). 14 MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-November 2011. Pemeliharaan ternak prapemotongan dilakukan di Laboratorium Lapang Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Kecil Blok B Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, sedangkan pengujian pascapemotongan dilakukan di Laboratorium Instrumen, Balai Besar Industri Agro. Materi Ternak Ternak yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 6 ekor yang terdiri atas 3 ekor domba garut lepas sapih berumur sekitar 2 bulan dan 3 ekor domba garut berumur 8 bulan. Domba yang digunakan merupakan domba garut tipe pedaging. Ternak dikandangkan secara individu dan dipelihara selama tiga bulan. Ternak dipotong pada umur 5 dan 11 bulan. Daging Domba Daging domba yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging domba bagian otot Longissimus thoracis et lumborum. Pakan Pakan diberikan kepada domba dalam bentuk pelet dengan rasio hijauan dibanding konsentrat 30:70. Sumber hijauan yang digunakan adalah limbah tauge. Bahan dan formulasi ransum yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada Tabel 4. Bahan Kimia Bahan yang digunakan untuk analisis proksimat antara lain petroleum eter, K2SO4, HgO, H2SO4, NaOH, Na2S2O3, metilen merah dan biru. Bahan kimia yang digunakan untuk analisis asam lemak antara lain akuades, KOH, HCl, heksana, helium, nitrogen, asam heptadekanoat, dan komponen asam lemak murni. Bahan yang digunakan untuk analisis kolesterol antara lain alkohol, KOH, akuades, eter, helium, nitrogen, dan sampel kolesterol murni. 15 Tabel 4. Bahan dan Komposisi Kimia Ransum Limbah Tauge Bahan Pakan Komposisi (%) Limbah tauge 30 Onggok 10 Jagung 10 Bungkil kelapa 32 Bungkil kedelai 10 CaCO3 2,5 Molases 5 NaCl 0,3 Premix 0,2 Jumlah 100 Komposisi Kimia *) Bahan Kering 100 Protein Kasar 18 Serat Kasar 22,60 Lemak 5,70 Ca 0,83 P 0,10 TDN 72,22 Keterangan: *) Hasil analisis Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan IPB (2011) Peralatan Peralatan yang digunakan untuk analisis adalah oven, labu destruksi, labu destilasi, cawan porselen, desikator, batu didih, labu lemak, alat ekstrak soxhlet merek FATEX-S, tabung reaksi, labu erlenmeyer, gelas beaker, pipet mikroliter, injektor, evaporator, timbangan analitik, timbangan digital, hot plate magnetic stirrer, peralatan gas kromatografi merek Shimadzu tipe GC-2010AF untuk analisis asam lemak dan merek HP tipe 2010 untuk analisis kadar kolesterol. 16 Prosedur Analisis Proksimat Analisis proksimat merupakan analisis yang sering digunakan untuk menentukan nilai nutrisi daging. Analisis proksimat dilakukan berdasarkan prosedur AOAC (2005). Kadar Air. Cawan dimasukkan ke oven pada suhu 105 °C, didinginkan dalam desikator, kemudian ditimbang (X1). Sampel ditimbang sebanyak 3 g (A). Sampel dikeringkan dengan cara dimasukkan ke dalam oven suhu 105 °C hingga beratnya konstan (X2). Kadar air dihitung sebagai berikut: Kadar Air (%) = × 100% Kadar Protein. Kadar protein diukur menggunakan metode Kjeldahl. Sampel sebanyak 0,2 gram didestruksi dengan H2SO4, HgO, K2SO4 masing-masing 10 ml kemudian dipanaskan sampai filtrat menjadi jernih. Selanjutnya dilakukan destilasi. Filtrat yang telah jernih ditambahkan 20 ml akuades dan 10 ml NaOH-Na2S2O3, sebagai penampung digunakan larutan asam borat 5,5% serta campuran 2 tetes indikator metil merah dan metil biru 0,2% dalam alkohol. Terakhir adalah tahap titrasi. Air bilasan salam tabung kondensor ditampung dalam labu erlenmeyer tempat destilasi. Isi labu erlenmeyer diencerkan hingga 50 ml kemudian dititrasi dengan HCl sampai terjadi perubahan warna. Kadar N dihitung sebagai berikut: Kadar N (%) = × × , × 100% Kadar protein = 6,25 × N Kadar Lemak. Sampel ditimbang sebanyak 5 g dan dihancurkan, kemudian dibungkus dengan kertas saring. Sampel tersebut dimasukkan ke dalam alat ekstrak soxhlet, selanjutnya diekstraksi dengan pelarut petroleum eter selama 4 jam. Lemak atau minyak yang tertampung dalam soxhlet dimasukkan ke dalam oven pada suhu 105 °C untuk dikeringkan. Kadar lemak dihitung sebagai berikut: Kadar Lemak (%) = × 100% 17 Keterangan: A = Berat labu dan lemak yang telah diekstraksi B = Berat labu yang belum diekstraksi C = Berat sampel awal Kadar Abu. Sampel sebanyak 3 g dipanaskan di atas hot plate sampai tidak berasap, kemudian diabukan dalam tanur pada suhu 600°C selama 4 jam sampai diperoleh abu berwarna keputih-putihan. Kadar abu dihitung menggunakan rumus berikut: Kadar Abu (%) = × 100% Keterangan: X1 = Berat cawan dan abu X2 = Berat cawan kosong C = Berat sampel awal Kadar Karbohidrat. Kadar karbohidrat dihitung dengan menggunakan cara by differences dengan rumus sebagai berikut: % Karbohidrat = 100% - (abu+lemak+air+protein)% Analisis Komposisi Asam Lemak Analisis komposisi asam lemak dilakukan sesuai metode AOAC (2005). Sampel daging sebanyak 5 g dicampur 50 ml akuades kemudian dipanaskan. Sebanyak 3 ml KOH ditambahkan kemudian dipanaskan kembali selama 30 menit. Sampel yang telah disaponifikasi ditambah dengan 5 ml HCl 6 N, dimasukkan ke tabung ekstraktor dengan 100 ml heksana, selanjutnya dipanaskan dan direfluks dengan magnetic stirrer dengan kecepatan 250 siklus/menit selama 30 menit. Fraksi yang tidak tersaponifikasi ditambahkan heksana 10 ml. Kondisi alat gas kromatografi yang digunakan adalah: menggunakan kolom silika SPTM-2560 (3 m x 4 mm x 0,2 µm; Supelco, Inc., Bellefonte, PA) dengan detector FID (flame ionization detection). Suhu oven diprogram pada 175°C selama 14 menit dan meningkat menjadi 185°C dengan kecepatan 5°C/menit, dan 18 dipertahankan selama 50 menit. Suhu port detektor dan injektor adalah 185 °C dan 220 °C. Gas pembawa yang digunakan adalah gas helium dengan laju aliran 0,7 ml/menit dan nitrogen dengan laju aliran 40 ml/menit. Identifikasi metal ester asam lemak berdasarkan waktu retensi dan puncak sampel dengan standar senyawa murni setiap komponen asam lemak. Kuantifikasi asam lemak dilakukan berdasarkan standar internal metal ester asam heptadekanoat. Analisis Kadar Kolesterol Saponifikasi dan Ekstraksi. Analisis dilakukan sesuai dengan metode AOAC (2005). Saponifikasi kolesterol dimulai dengan menimbang 2-2,5 g sampel, ditambahkan 25 ml alkohol dan 1,5 ml KOH. Campuran tersebut diaduk, dididihkan, dan direfluks selama 30 menit, kemudian dituang ke separator yang berisi 50 ml akuades. Tabung saponifikasi dibilas dengan 50 ml eter. Bilasan dituangkan ke separator kemudian dikocok hingga lapisan terpisah. Lapisan eter dituang ke separator kedua yang berisi 20 ml akuades. Selanjutnya larutan penyabunan diekstraksi dengan 50 ml eter. Ekstrak eter dikocok perlahan dengan 20 ml akuades kemudian lapisan eter yang terpisah dituang ke tabung berikutnya. Tabung berisi lapisan eter tersebut dituangi akuades 20 ml lalu dikocok. Larutan eter dibilas 3 kali dengan 20 ml KOH 0,5 N dan air, kemudian dikocok kembali. Ekstrak eter dipindahkan pada gelas dan dievaporasi untuk dikeringkan di bawah aliran nitrogen. Pengukuran Kolesterol. Pengukuran dilakukan menggunakan alat kromatografi dengan kolom kapiler (1,8 m x 4 mm x 0,15 µm). Sebanyak 2 ml sampel diinjeksikan ke sistem GC kemudian diinjeksikan 2 ml larutan standar internal kolesterol. Suhu split injektor 200°C dan suhu detektor 250°C. Detektor yang digunakan adalah flame ionization detection (FID). Laju alir gas pembawa yaitu helium sebesar 45 ml/menit, nitrogen 20-25 psi, udara 300-340 ml/menit. Kuantifikasi kolesterol berdasarkan waktu retensi dan puncak sampel dengan standar senyawa murni kolesterol. Rancangan Percobaan Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola searah untuk kandungan nutrisi, komposisi asam lemak, 19 dan kadar kolesterol dengan tiga kali ulangan untuk daging domba garut 5 dan 11 bulan. Model analisis dari rancangan acak lengkap pola searah adalah sebagai berikut (Steel dan Torrie, 1991): Yij = µ + αi + €ij Keterangan: Yij = Hasil nilai pengamatan µ = Nilai tengah umum αi = Pengaruh taraf ke-i faktor umur €ij = Galat percobaan Pengaruh perlakuan dianalisis dengan analisis ragam (analysis of variance/ ANOVA). Apabila perlakuan berpengaruh nyata digunakan uji Duncan untuk melihat perbedaan nilai tengah. 20 HASIL DAN PEMBAHASAN Ke Keadaan Umum Pemeliharaan Ternak Proses Penggemukan Domba yang digunakan di pada penelitian ini merupakan kan domba hasil penggemukan. Domba dipilih Proses di dengan bobot dan tingkat umur yangg seragam. s penggemukan dilakukan an selama tiga bulan dengan masa adapta ptasi selama dua minggu. Penggemukan dilakukan di Laboratorium Lapang Ilmuu Produksi P Ternak Ruminansia Kecil Blok ok B Fakultas Peternakan Institut Pertaniann Bogor. Domba dikandangkan secara indi ndividu, pada kandang panggung. (a) (b) Gambar 8. Lokasi Peneli nelitian. (a) Kandang Penggemukan Laboratorium orium Lapang Ilmu Produksi Terna ernak Ruminansia Kecil Blok B; (b) Kandangg Individu. I Ransum yang diberikan di pada penelitian ini adalah ransum nsum mengandung limbah tauge. Limbahh tauge diberikan ad libitum dalam bentuk ntuk pelet. Alasan pemilihan limbah tauge sebagai bahan dasar pakan dasar pakan adal dalah pemanfaatan limbah pasar yang dapat dap mencemari lingkungan bila tidak diolah, diol ekonomis, memiliki nilai nutrisi yang ya baik, dan dapat meningkatkan pertambaha bahan bobot badan harian (PBBH). Rahayu yu et al. (2011) menyatakan bahwa penggunaa unaan limbah tauge sampai 50% dalam rans nsum menghasilkan PBBH sebesar 145 g/eko ekor/hari. Limbah tauge dapat digolongkan kan sebagai hijauan karena mengandung serat kasar ka yang tinggi mencapai 49,44% (Raha hayu et al., 2010). Limbah tauge segar diper peroleh dari pasar Bogor, kemudian dikerin ringkan dan diformulasikan menjadi ransum berbentuk be pelet. 21 (a) (b) (c) Gambar 9. Limbah Tauge dan Ransum Pelet yang Mengandung Limbah Tauge. (a) Limbah Tauge Segar; (b) Limbah Tauge Kering Udara; (c) Pelet Limbah tauge Selama penggemukan ada beberapa jenis perawatan yang dilakukan pada domba meliputi pemberian obat cacing pemotongan kuku, pencukuran wol, pengobatan ektoparasit, dan pengobatan diare. Investasi ektoparasit pada mingguminggu awal penelitian cukup mengganggu pertumbuhan domba, namun bisa segera diatasi. Pengobatan oral untuk domba yang sakit dilakukan secara tradisional untuk menghindari pengaruh bahan kimia terhadap daging domba. Pertumbuhan ternak dipantau dengan cara penimbangan bobot badan setiap dua minggu sekali. Proses Pemotongan Setelah digemukkan selama tiga bulan, domba dipotong untuk dapat dianalisis kandungan kimia dagingnya. Pemotongan dilakukan pada umur potong yang berbeda. Domba dipotong pada umur 5 dan 11 bulan. Sebelum pemotongan, domba dimandikan untuk mengurangi resiko kontaminasi pada karkas akibat kotoran yang menempel pada tubuh domba. Domba juga dipuasakan selama 18 jam. Puasa ini bertujuan untuk mengurangi resiko pencemaran akibat digesta dan untuk mengurangi feces dalam usus agar kualitas daging terjaga. Air minum tetap diberikan ad libitum. Pemotongan ternak dimulai dengan memotong leher hingga vena jugularis, oesophagus, dan trachea terputus (dekat tulang rahang bawah) agar terjadi pengeluaran darah yang sempurna. Kemudian ujung oesophagus diikat agar cairan rumen tidak keluar apabila ternak tersebut digantung. Kepala dan kaki dilepaskan. Ternak tersebut digantung pada tendo-achiles pada kedua kaki belakang, kemudian 22 kulitnya dilepas. Karkas segar diperoleh setelah semua organ tubuh bagian dalam dikeluarkan, yaitu alat reproduksi, hati, limpa, jantung, paru-paru, trachea, alat pencernaan, empedu, dan pankreas kecuali ginjal. Karkas segar dipotong bagian ekornya, kemudian dilayukan pada suhu 18 °C selama 24 jam. Gambar 10. Pelayuan Karkas Domba Karkas yang telah dilayukan dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas kanan dan karkas kiri. Karkas kiri dipotong menjadi sembilan bagian potongan komersial. Masing-masing bagian dipisahkan antara daging dan tulang (deboning). Sampel daging diambil dari potongan komersial loin, rack, dan shoulder. Ketiga potongan ini merupakan bagian dari otot Longissimus thoracis et lumborum. (a) (b) (c) Gambar 11. Bagian Daging yang Digunakan sebagai Sampel. (a) Loin; (b) Rack; (c) Shoulder 23 Laju Pertumbuhan Dom omba Proses pertumbuha buhan ternak terjadi dalam dua bentuk, yaituu pertumbuhan pe dan perkembangan. Pertum umbuhan adalah pertambahan dalam bobot tubuh sampai mencapai dewasa tubuh, ubuh, sedangkan perkembangan adalah per perubahan dalam komposisi dan bentuk ntuk serta bermacam-macam fungsi tubuh. ubuh. Pola umum pertumbuhan ternak mem embentuk kurva seperti huruf “S” (sigmoid),, yyang merupakan hubungan antara bobot badan dengan umur ternak (Berg et al.,, 1983). 1983) Menurut Inounu et al. (2007) model m kurva pertumbuhan mempunyai manf nfaat diantaranya dapat memperkirakann umur u pada saat bobot potong optimal serta ta bisa digunakan sebagai parameter dalam lam metode seleksi pada waktu prasapih dan berguna untuk menganalisis efisiensi produksi pr ternak selama hidup (lifetime product oduction efficiency). Faktor yang mem empengaruhi pertumbuhan dan perkembanga gan ternak terdiri atas genetik, fisiologis, s, nutrisi, dan manipulasi eksogen (Lawrie, 2003). 2003) Penelitian dilakukan dengan mem emperhatikan faktor-faktor tersebut. Kerag agaman individu diminimalkan dengann adanya ad masa adaptasi. Lingkungan dibuat seny nyaman mungkin dan kebutuhan nutrisii dipenuhi sehingga mengoptimalkan pertum umbuhan domba. Rataan konsumsi ransum um harian disajikan pada Gambar 12. 997 1000 900 774 Konsumsi (g/ekor/hari) 800 700 600 500 400 300 200 100 0 5 bulan 11 bulan Gambar 12. Rataan Kons onsumsi Ransum Harian Domba Garut Umur 5 dan 11 Bulan 24 Pertumbuhan domba pada penelitian ini dilihat dengan cara mengukur pertambahan bobot badan per dua mingguan selama penggemukan. Laju pertumbuhan domba garut 5 dan 11 bulan pada penelitian ini disajikan pada Gambar 13. Secara umum, baik domba garut 5 maupun 11 bulan menunjukkan pola laju pertumbuhan yang sama. Kedua kelompok umur domba masih menunjukkan pertumbuhan bobot badan. 35 Bobot badan (Kg) 30 25 20 5 bulan 15 11 bulan 10 5 0 2 4 6 8 10 12 (minggu ke-) Gambar 13. Laju Pertumbuhan Domba Garut 5 dan 11 Bulan Selama Penggemukan Domba pada penelitian ini dipotong pada umur 5 dan 11 bulan. Berdasarkan grafik laju pertumbuhan dapat dilihat bahwa domba 5 maupun 11 bulan masih menunjukkan pertumbuhan bobot badan yang artinya pertumbuhan masih terkonsentrasi pada pembentukan otot. Pertumbuhan postnatal terdiri atas periode pertumbuhan sebelum penyapihan dan setelah penyapihan (Aberle et al. 2001). Proses pertumbuhan pada ternak 75% terjadi hingga umur satu tahun dan 25% pada saat ternak mencapai dewasa. Pertumbuhan suatu bagian tubuh ternak dikontrol oleh aktivitas bagianbagian lainnya. Setiap bagian tubuh ternak pertumbuhannya tidak berhenti secara bersamaan, tetapi ada beberapa jaringan yang tumbuh terus sepanjang ternak itu hidup. Beberapa bagian tumbuh dengan cepat dan beberapa bagian yang lainnya tumbuh lebih lambat. Kecepatan pertumbuhan maksimum dapat terjadi dalam suatu rangkaian yang teratur sehingga dikenal adanya titik infleksi. Titik infleksi 25 merupakan titik maksim imum pertumbuhan bobot hidup. Pada titikk tersebut terjadi peralihan yang semulaa percepatan p pertumbuhan menjadi perlambata atan pertumbuhan (Inounu et al., 2007). Rataan R pertambahan bobot badan harian (PB BBH) domba 11 bulan lebih tinggi diban bandingkan domba 5 bulan. Hal ini disebabkan bkan domba 5 bulan masih berada pada mas asa awal percepatan pertumbuhan, baru seba bagian otot yang terbentuk. Berdasarkann data rataan konsumsi harian, dapat dilihatt bahwa ba konsumsi domba 11 bulan lebihh tinggi t sehingga PBBH juga cenderung lebih bih tinggi. Rataan PPBH domba garut 5 dan 11 bulan disajikan pada Gambar 14. 153 160 PPBH (g/ekor/hari) 140 127 120 100 80 60 40 20 0 5 bulan 11 bulan (Umur) ur) Gambar 14. Rataan Perta rtambahan Bobot Badan Harian Domba Garut ut Umur U 5 dan 11 Bulan Karena pertumbuha buhan masih ditujukan untuk pembentuka ukan otot, maka konsumsi pakan pun dim manfaatkan untuk tujuan tersebut. Hal ini men enyebabkan tidak adanya perbedaan yangg nyata antara domba 5 dan 11 bulan dalam m hal kandungan nutrisi, komposisi asam m lemak, dan kadar kolesterol daging. Kedua dua kelompok k umur ini masih pada fase pertumbuhan per yang sama, yaitu fase percepatan tan pertumbuhan. Inounu et al. (2003) da dalam hasil penelitiannya terhadap anakan domba dom garut dan persilangannya juga men enyebutkan bahwa sampai umur 12 bulan, maasih terus terjadi percepatan pertambahan han bobot badan. 26 Kandungan Nutrisi Daging Domba Kandungan nutrisi yang dianalisis pada penelitian ini antara lain kadar air, protein, lemak, kadar abu, dan karbohidrat. Kandungan nutrisi biasanya digunakan sebagai salah satu penentu kualitas bahan pangan seperti daging. Kandungan nutrisi daging domba yang diamati selama penelitian tercantum pada Tabel 5. Tabel 5. Rataan Kandungan Nutrisi dan Kadar Kolesterol Daging Domba Garut 5 dan 11 Bulan Umur 5 bulan Peubah 11 bulan Segar 100% BK Segar 100% BK Kadar Air (%) 69,17 ± 3,17 − 71,33 ± 4,09 − Protein (%) 20,19 ± 2,07 66,24 ± 12,10 21,97 ± 0,68 77,65 ± 10,40 Lemak (%) 5,74 ± 1,12 18,56 ± 2,50 5,50 ± 3,60 18,24 ± 10,46 Kadar Abu (%) 1,88 ± 1,63 6,05± 4,95 1,13 ± 0,19 3,94 ± 0,25 Karbohidrat (%) 0,05 ± 0,01 0,16 ± 0,03 0,05 ± 0,01 0,18 ± 0,02 Keterangan: BK= Bahan Kering Kadar Air Tidak ada perbedaan yang nyata antara kadar air daging domba garut 5 bulan dan domba 11 bulan (P > 0,05). Rataan kadar air daging domba garut 5 bulan sebesar 69,17% ± 3,17%, sedangkan rataan kadar air daging domba garut 11 bulan sebesar 71,33% ± 4,09%. Rataan kadar air pada penelitian ini sesuai dengan pendapat Forrest et al. (2001) yang menyatakan bahwa daging mengandung air sekitar 75% dengan kisaran 60%-80%. Kadar air pada penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Astuti (2006), yang melaporkan bahwa kadar air domba garut 5 bulan lebih tinggi (73,64%) daripada domba garut 11 bulan (71,30%). Kadar air yang didapat pada penelitian ini lebih rendah daripada hasil penelitian Purbowati et al. (2006) pada domba jantan lokal, yaitu sebesar 75,13%. Hal ini menunjukkan bahwa kadar air pada tubuh ternak juga dipengaruhi oleh bangsa ternak (Lawrie, 2003). 27 Protein Perbedaan umur tidak berpengaruh terhadap kadar protein pada daging domba (P > 0,05). Hal ini disebabkan domba garut 5 dan 11 bulan dipotong pada umur di bawah satu tahun. Kedua kelompok umur potong ini ada pada fase pertumbuhan yang sama, yaitu masa percepatan pertumbuhan. Pertumbuhan pada masa ini difokuskan pada pembentukan otot, yang berarti terjadi deposisi protein. Inounu et al. (2003) menyatakan bahwa percepatan pertumbuhan akan tetap berlangsung sampai umur 12 bulan. Rataan kadar protein daging domba garut 5 bulan adalah sebesar 20,19 % ± 2,07%, sedangkan domba garut 11 bulan sebesar 21,99% ± 0,68%. Kadar protein daging pada penelitian ini sesuai dengan pendapat William (2007) bahwa kandungan protein pada daging domba dewasa sebesar 21,5%. Rataan kadar protein domba garut 5 bulan berbeda dengan penelitian Astuti (2006) sebesar 14,57%. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh perbedaan pakan yang digunakan dalam penelitian. Lemak Berdasarkan analisis ragam, umur yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kadar lemak daging (P > 0,05). Rataan kadar lemak daging domba garut 5 bulan sebesar 5,74% ± 1,12% dan 11 bulan sebesar 5,50% ± 3,60%. Kandungan lemak tidak berbeda karena domba masih pada fase pertumbuhan yang sama yaitu percepatan pertumbuhan. Pertumbuhan masih difokuskan pada pembentukan otot sehingga belum banyak terjadi deposit lemak. Rataan kadar lemak daging domba pada penelitian ini lebih tinggi daripada hasil penelitian Purbowati et al. (2006) pada domba lokal umur 5 bulan sebesar 5,08% dan umur 12 bulan sebesar 3,90%. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh perbedaan bangsa domba yang diteliti. Rataan kadar lemak pada penelitian ini lebih rendah daripada hasil penelitian Astuti (2006) pada domba garut umur 12 bulan yang menghasilkan kadar lemak sebesar 6,24%. Perbedaan ini dapat disebabkan perbedaan pakan yang diberikan. Konsentrat komersil dan rumput lapang merupakan pakan yang diberikan dalam penelitian tersebut. Menurut Lawrie (2003), salah satu faktor yang mempengaruhi deposit lemak intramuskuler adalah nutrisi. 28 Kadar Abu Kadar abu menggambarkan jumlah mineral anorganik yang ada pada suatu bahan pangan. Mineral yang ada dalam daging pada umumnya terdiri atas kalsium, fosfor, potasium, sulfur, sodium, klorin, magnesium dan besi (Lawrie, 2003). Kadar abu daging domba garut 5 dan 11 bulan tidak menunjukkan perbedaan nyata (P > 0,05). Rataan kadar abu daging domba 5 bulan sebesar 1,88% ± 1,63%, sedangkan kadar abu daging domba 11 bulan sebesar 1,13% ± 0,19%. Tidak berbedanya kadar abu disebabkan variasi kadar abu pada daging relatif kecil. Menurut Berg et al. (1983), kadar abu ternak meningkat dengan laju paling rendah dibandingkan dengan komposisi lainnya. Kadar abu daging domba 11 bulan yang didapatkan pada penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Lee et al. (2008) sebesar 1,17%,. Kadar abu domba 11 bulan pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dilakukan oleh Purbowati hasil penelitian yang et al. (2006) yang menghasilkan kadar abu sebesar 1,06%. Perbedaan ini dapat disebabkan jenis domba lokal yang digunakan dalam penelitian berbeda. Karbohidrat Perbedaan umur tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan karbohidrat daging domba (P > 0,05). Rataan kadar karbohidrat pada daging domba 5 bulan adalah sebesar 0,05% ± 0,01%, sedangkan kadar karbohidrat pada daging domba 11 bulan adalah sebesar 0,05% ± 0,01%. Kandungan karbohidrat pada daging umumnya rendah. Hal ini dikarenakan jaringan hewan mempunyai keterbatasan untuk menyimpan energi dalam bentuk karbohidrat (Wirahadikusumah, 1985). Kadar karbohidrat daging domba pada penelitian ini lebih rendah daripada hasil penelitian Astuti (2006) yang menghasilkan kadar karbohidrat sebesar 3,56% pada domba 12 bulan. Kadar karbohidrat pada penelitian ini juga berbeda dengan pendapat Sorensen et al. (1983), yang menyatakan kadar karbohidrat pada daging domba sebesar 0,5%-1%. Kadar karbohidrat yang didapatkan pada penelitian ini lebih kecil karena domba garut yang diteliti ini memiliki tingkat aktivitas tinggi sehingga karbohidrat digunakan untuk energi. 29 Komposisi Asam Lemak Komposisi asam lemak daging domba garut 5 dan 11 bulan yang diberi ransum mengandung limbah tauge tidak berbeda nyata (P > 0,05). Hasil analisis komposisi asam lemak daging domba garut 5 dan 11 bulan disajikan pada Tabel 6. Asam lemak jenuh daging domba yang teridentifikasi adalah asam palmitat (C16:0) dan asam stearat (C 18:0). Selain itu juga terdapat asam kaprilat (C8:0), asam laurat (C12:0), asam kaprat (C10:0), asam miristat (C14:0). Asam lemak tak jenuh yang teridentifikasi adalah asam oleat (C18:1), asam linoleat (C18:2), dan asam linolenat (C18:3). Tabel 6. Komposisi Asam Lemak Daging Domba Garut 5 dan 11 Bulan yang Diberi Ransum Mengandung Limbah Tauge Umur Asam Lemak 5 bulan 11 bulan Rataan -----------------------% dalam lemak------------------------C8:0 (asam kaprilat) 0,02 ± 0,03 0,01 ± 0,01 0,02 ± 0,02 C10:0 (asam kaprat) 0,01 ± 0,01 0,01 ± 0,01 0,01 ± 0,01 C12:0 (asam laurat) 0,18 ± 0,17 0,08 ± 0,06 0,13 ± 0,13 C14:0 (asam miristat) 0,39 ± 0,29 0,19 ± 0,14 0,29 ± 0,23 C16:0 (asam palmitat) 1,21 ± 0,76 0,59 ± 0,32 0,90 ± 0,62 C18:0 (asam stearat) 0,43 ± 0,25 0,19 ± 0,10 0,31 ± 0,22 C18:1 (asam oleat) 1,27 ± 0,75 0,51 ± 0,21 0,89 ± 0,65 C 18:2 (asam linoleat) 0,21 ± 0,13 0,13 ± 0,09 0,17 ± 0,11 C 18:3 (asam linolenat) 0,01 ± 0,01 0,01 ± 0,01 0,01 ± 0,01 Total 3,73 ± 0,49 1,71 ± 0,22 Komposisi Asam Lemak Jenuh Komposisi asam lemak jenuh daging domba garut 5 dan 11 bulan yang diberi ransum mengandung limbah tauge tidak berbeda nyata (P > 0,05). Perbandingan komposisi asam lemak jenuh daging domba garut 5 dan 11 bulan dapat dilihat pada Gambar 15. Asam lemak jenuh khas domba yang teridentifikasi adalah asam palmitat (C16:0) dan asam stearat (C18:0). Selain itu juga terdapat asam kaprilat (C8:0), asam kaprat (C10:0), asam laurat (C12:0), asam miristat (C14:0). 30 1,40 1,21 1,20 1,00 0,80 5 bulan 0,59 0,60 11 bulan 0,43 0,39 0,40 0,19 0,18 0,20 0,020,01 0,01 0,01 0,19 0,08 0,00 C8:0 C10: 10:0 C12:0 C14:0 C16:0 C18:0 Gambar 15. Perbandinga gan Asam Lemak Jenuh Daging Domba Garut rut 5 dan 11 Bulan yangg Diberi Ransum Mengandung Limbah Tauge Sesuai hasil penelitian pene yang dilakukan oleh Manso et al. (2005), daging domba lebih kaya akan an asam lemak jenuh. Komposisi asam lem mak yang paling dominan baik pada domba dom garut 5 maupun 11 bulan adalah asam palmitat. pa Hal ini terjadi karena pada proses pro biosintesis asam lemak, sistem enzim m yang berperan dalam sintesis asam lem emak secara de novo (pemanjangan dua rantai ntai) menghasilkan produk akhir berupa pal almitoil-S-KoA yang menjadi asam palmitat. at. Asam palmitat diubah menjadi asam lemak lain melalui proses pemanjangann secara s bertahap dengan enzim yang berb rbeda dari tahap pembentukan asam palmitat,, tergantung t pada keadaan dan komposisii di dalam sel (Wirahadikusumah, 1985). Hasil penelitiann ini i sejalan dengan penelitian yang dilakukan kukan oleh Bernes et al. (2012) bahwa pem mberian pakan silase rumput tidak membe berikan pengaruh terhadap komposisi asa sam lemak daging domba pada umur yangg berbeda. Asam lemak jenuh tidak berbed eda pada semua tingkat umur. Hal yang paling ng mempengaruhi m pengaturan penyerapann llemak dalam tubuh ruminansia adalah biohidr ohidrogenasi dalam rumen oleh bakteri (Bau auman et al., 2006). Meskipun ternak domba ba diberikan di pakan dengan kadar asam lemak lem tak jenuh yang tinggi, namun bakte kteri rumen akan mengubahnya menjadi di asam stearat (C18:0) melalui proses hidr hidrogenasi. Asam stearat akan diserap dann didepositkan (Sorensen et al., 1983). 31 Berdasarkan hasil pengamatan, secara umum rataan komposisi asam lemak pada domba 5 bulan lebih besar daripada domba 11 bulan. Hal ini disebabkan semakin muda umur domba, maka proporsi persen molar asam asetat dalam rumen lebih besar dibandingkan dengan asam lemak bebas yang lain. Menurut Murray et. al (2009), asam asetat merupakan bahan utama pembentuk asetil-KoA pada hewan pemamah biak. Asetil-KoA ini merupakan komponen penting dalam pembentukan asam lemak. Menurut Bessa et al. (2008) cara yang efektif untuk menurunkan kadar asam lemak jenuh adalah dengan memberikan sumber pakan yang banyak mengandung asam lemak tak jenuh. Pemberian minyak kedelai yang kaya akan asam lemak tak jenuh dapat menurunkan kadar asam lemak jenuh. Cara lain yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar lemak jenuh pada daging domba adalah dengan memberikan lemak terproteksi. Lemak yang diproteksi banyak digunakan supaya tidak terjadi biohidrogenasi rumen dan dapat menyediakan asam lemak tak jenuh esensial pasca rumen. Proteksi lemak menyebabkan penghematan energi untuk proses pemanjangan rantai karbon asam lemak sehingga energi tersebut dapat digunakan untuk pertumbuhan domba (Adawiyah et al., 2006). Upaya penurunan kadar asam lemak jenuh dalam daging domba terus dilakukan untuk mengurangi resiko penyakit yang disebabkan oleh konsumsi asam lemak jenuh dari daging domba. Linder (2006) menyatakan bahwa semakin tinggi konsumsi asam lemak jenuh akan menyebabkan peningkatan kadar LDL-kolesterol pada darah manusia. Konsumsi asam lemak jenuh secara terus-menerus dapat menyebabkan aterosklerosis dan meningkatkan resiko penyakit kardiovaskuler. Komposisi Asam Lemak Tak Jenuh Komposisi asam lemak tak jenuh daging domba garut 5 dan 11 bulan yang diberi pakan mengandung limbah tauge tidak berbeda nyata (P > 0,05). Perbandingan komposisi asam lemak tak jenuh daging domba garut 5 dan 11 bulan dapat dilihat pada Gambar 16. Asam lemak tak jenuh yang teridentifikasi adalah asam oleat (C18:1), asam linoleat (C18:2), dan asam linolenat (C18:3). 32 1,40 1,27 1,20 1,00 0,80 5 bulan 0,51 0,60 0,40 11 bulan 0,21 0,20 0,13 0,01 0,01 0,00 C18: 18:1 C18:2 C18:3 Gambar 16. Perbandinga gan Asam Lemak Tak Jenuh Daging Domba G Garut 5 dan 11 Bulan yan ang Diberi Ransum Mengandung Limbah Taug uge Komposisi asam m lemak tak jenuh yang paling besar pada daging d domba 5 maupun 11 bulan adalah ah asam oleat dengan rataan 0,89 ± 0,65 %. Haal ini disebabkan asam oleat dapat disinte ntesis dari asam palmitat. Sistem perpanjanga ngan asam lemak yang terjadi pada retikul kulum endoplasma menambahkan unit 2-karbon bon yang diberikan dalam bentuk malonil-K KoA, mengubah palmitoil-S-ACP menjadi di bentuk steroilACP dalam lintas yang ng sama seperti lintas sintesis palmitat. Asa sam stearat yang terbentuk selanjutnya kembali k mengalami perpanjangan, membent bentuk asam oleat (Lehninger, 1982). Mekanisme pem mbentukan asam lemak tak jenuh dari perpa rpanjangan asam palmitat hanya berhenti nti sampai asam oleat saja. Hal ini dapat menjel njelaskan mengapa komposisi asam oleat hasil h penelitian ini paling besar bila dibandi ndingkan dengan asam tak jenuh lain yait aitu asam linoleat dan linolenat. Jaringan hew ewan tidak dapat mengubah asam oleat m menjadi asam linoleat, sehingga hewan mem embutuhkan asam lemak tersebut dalam asupan as makanannya. Asam lemak ini banyak di diperoleh hewan dari tanaman (Lehninger er, 1982). Asam lemak esens ensial harus didapatkan oleh ternak dalam jum umlah yang cukup. Ternak yang diberi maakan diet nonlemak yang mengandung vitamin vita A dan D mengalami penurunann laju la pertumbuhan dan difisiensi reproduksi.. Keadaan Ke ini dapat dipulihkan dengan pembberian sumber asam linoleat, asam linolenat, t, dan da arakhidonat 33 dalam pakan. Asam lemak esensial diperlukan oleh ternak untuk membentuk prostaglandin, tromboksan, leukotrien, dan lipoksin (Murray et.al, 2009). Asam lemak tak jenuh merupakan asam lemak yang baik bagi tubuh. Konsumsi asam lemak tak jenuh ganda kelompok omega-3 nyata menurunkan trigliserida plasma, kolesterol, LDL, dan VLDL. Aktivitas omega-3 dalam menurunkan trigliserida plasma dan kolesterol ini dapat menekan resiko aterosklerosis. Selain itu, konsumsi asam lemak tak jenuh dapat meningkatkan tingkat kelancaran (clearance) aliran darah (Linder, 2006). Pemberian ransum mengandung limbah tauge dengan kadar serat tinggi tidak berpengaruh nyata terhadap komposisi asam lemak tidak jenuh daging domba garut. Kandungan asam lemak tidak jenuh pada limbah tauge belum cukup untuk meningkatkan kadar asam lemak tak jenuh pada daging domba. Menurut USDA (2012) kandungan asam lemak tak jenuh pada tauge adalah sebesar 0,058 g/ 100 g. Hal ini serupa dengan hasil penelitian Wiryawan et al. (2007) bahwa pemberian bungkil inti sawit terproteksi formaldehida pun tidak berpengaruh terhadap komposisi asam lemak tidak jenuh pada domba priangan. Daging domba mengandung jumlah asam lemak tak jenuh rantai tunggal yang lebih tinggi. Bila dibandingkan dengan sapi, komposisi asam lemak tak jenuh pada daging domba lebih tinggi. Menurut penelaahan yang dilakukan Banskalieva et al. (2000), asam lemak tak jenuh rantai tunggal pada longissimus dorsi sapi sebesar 40,10% dari total lemak, sedangkan pada longissimus dorsi domba sebesar 43,58% dari total lemak. Asam lemak tak jenuh rantai ganda pada sapi sebesar 10% dari total lemak sedangkan domba sebesar 5,77% dari total lemak. Data ini menunjukkan bahwa pendapat masyarakat mengenai kandungan asam lemak jenuh daging domba yang tinggi tidak tepat. Selama ini masyarakat beranggapan bahwa mengkonsumsi daging domba yang tinggi asam lemak jenuh akan memicu kolesterol tinggi. Penelaahan tersebut menunjukkan bahwa asam lemak tak jenuh yang ada pada daging domba lebih tinggi daripada daging sapi. 34 Kadar Kolesterol Umur yang berb berbeda tidak berpengaruh terhadap kadar kolesterol kol daging domba (P > 0,05). Perba bandingan kadar kolesterol daging domba garut rut 5 dan 11 bulan yang diberi ransum men engandung limbah tauge disajikan pada Gam ambar 17. Rataan kadar kolesterol daging ng domba 5 bulan adalah sebesar 65,47 ± 22,25 mg/100g, sedangkan rataan kadar dar kolesterol daging domba 11 bulan adalahh sebesar s 71,30 ± 29,90 mg/100 g. Kadar Kolesterol (mg/100g) 71,30 72,00 71,00 70,00 69,00 68,00 67,00 66,00 65,00 64,00 63,00 62,00 65,47 5 bulan 11 bulan (Umur) ngan Kadar Kolesterol Daging Domba Garut 5 dan 11 Bulan Gambar 17. Perbanding yang Diberi beri Ransum Mengandung Limbah Tauge Ada beberapa hal ha yang mempengaruhi kadar kolesterol domba dom garut. Salah satunya adalah aktivitas as gerak otot. Aktivitas yang dilakukan oleh dom domba garut juga dapat mempengaruhi kandungan kan kolesterol pada daging. Kadar koles esterol yang tidak berbeda nyata dapat disebabkan di oleh aktivitas bergerak masing-m masing individu domba yang diteliti. Mansjoer M et al. (2007) menyebutkan bahw hwa domba garut merupakan domba yang ng lincah dan aktif bergerak. Baik kelompok pok domba dom 5 bulan, maupun 11 bulan selalu lu aktif a melakukan pergerakan pada masa pemeeliharaan. Faktor lain yang ang mempengaruhi kadar kolesterol dagingg adalah genetik (Sorensen et al., 1983). Setiap individu domba mempunyai respon pon yang berbedabeda terhadap pakann yang diberikan. Selain faktor kelincahan han gerak, tidak berbedanya kadar kolest esterol antara domba 5 dan 11 bulan pada penelitian pene ini dapat 35 pula disebabkan oleh keragaman genetik yang tinggi pada domba yang diteliti. Mengingat domba yang diteliti berasal dari beberapa tempat yang berbeda. Meskipun mengalami masa adaptasi, namun upaya ini kurang dapat menyeragamkan respon fisiologis domba. Kadar kolesterol domba garut 5 bulan yang didapatkan pada penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Astuti (2006) sebesar 65,91 mg/ 100 g. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kadar kolesterol daging domba pada potongan karkas yang berbeda yaitu 57,04 mg/100 g pada bagian silverside dan 45,23 mg/100 g pada bagian leg. Semakin tinggi aktivitas otot, maka kadar kolesterol daging domba menjadi lebih rendah. Kadar kolesterol domba garut 5 bulan yang didapat pada penelitian ini lebih tinggi daripada hasil penelitian Widiansyah (2006) yaitu sebesar 51,15 mg/100g. Selain menganalisis kadar kolesterol daging mentah, Widiansyah (2006) juga melakukan pemasakan untuk mengetahui pengaruh metode pemasakan yang berbeda terhadap kadar kolesterol daging domba. Hasilnya, pemasakan dapat menurunkan kadar kolesterol daging domba. Kadar kolesterol daging domba dapat turun sampai 66% setelah dikukus. Penelitian tentang kadar kolesterol juga dilakukan oleh Adawiyah et al. (2006) yang meneliti kadar kolesterol serum domba garut betina dewasa. Pakan yang diberikan adalah kedelai sangrai dengan berbagai suplementasi minyak dan mineral organik. Hasilnya, pada serum domba garut betina yang diberi pakan kedelai sangrai menunjukkan kadar kolesterol sebesar 79 mg/dl, lebih tinggi dibandingkan hasil analisis kadar kolesterol daging domba jantan pada penelitian ini. Hal ini menunjukkan bahwa jenis kelamin turut mempengaruhi kadar kolesterol dalam tubuh terkait deposit lemak (Sorensen et al., 1983). Betina cenderung memiliki kadar kolesterol yang lebih tinggi daripada jantan. Studi tentang kadar kolesterol pada domba lokal juga dilakukan oleh Wijaksani (2002) yang mengamati kadar kolesterol musculus longissimus dorsi domba priangan jantan. Domba diberi pakan bungkil inti sawit terproteksi formaldehida dengan presentase berbeda. Domba yang diberi pakan bungkil inti sawit terproteksi formaldehida 45% memiliki kadar kolesterol daging sebesar 71,68 36 mg/100g. Perbedaan kadar kolesterol ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan bangsa domba yang diteliti. Terlepas dari kadar kolesterol daging domba garut yang lebih tinggi dari kolesterol daging domba bangsa lain, ternyata kadar kolesterol daging domba tetap lebih rendah bila dibandingkan dengan jenis ternak lain. Secara umum kadar kolesterol domba sebesar 75 mg/ 100 g, sapi sebesar 99 mg/100 g, dan babi sebesar 93 mg/100 g (Chizzolini et al., 1999). Berdasarkan rendahnya kadar kolesterol, daging domba relatif lebih aman untuk dikonsumsi dibandingkan dengan daging sapi ataupun babi. Sama halnya dengan konsumsi asam lemak jenuh, konsumsi kolesterol mempunyai korelasi positif dengan kejadian penyakit kardiovaskuler. Konsumsi kolesterol dalam jumlah besar secara terus menerus menyebabkan penyumbatan pembuluh darah dan meningkatkan resiko jantung koroner. Konsumsi kolesterol harus diimbangi dengan mengkonsumsi serat dan mikronutrien seperti vitamin B6 dan vitamin E (Linder, 2006). Berdasarkan angka kecenderungan rendahnya kadar kolesterol, meskipun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan, daging domba 5 bulan pada penelitian ini lebih baik untuk dikonsumsi daripada daging domba 11 bulan. 37 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Daging domba garut umur 5 dan 11 bulan yang diberi ransum mengandung limbah tauge tidak berbeda dalam kandungan nutrisi, komposisi asam lemak dan kadar kolesterolnya. Saran Penelitian mengenai lemak dan komponennya sebaiknya menggunakan domba dengan tingkat umur yang berbeda, misalnya antara domba muda (lamb) dengan domba dewasa (mutton). Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang asam lemak bentuk khusus seperti conjugated linoleic acid (CLA) yang banyak bermanfaat bagi tubuh. Perlu juga dilakukan penelitian lanjut mengenai komponen asam lemak yang mempengaruhi flavor daging, baik menggunakan alat maupun panelis ahli. 38 DAN KANDUNGAN N NUTRISI, KOMPOSISI ASAM LEMAK, LEM KADAR KOLESTER KOLESTEROLDAGING DOMBA GARU UT MUDA BERBED BEDA UMUR YANG DIBERI RANSUM SUM MEN ENGANDUNG LIMBAH TAUGE SKRIPSI SITA ARUM PRABAWATI DEPARTEMEN ILM LMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PET TERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN I INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 i DAN KANDUNGAN N NUTRISI, KOMPOSISI ASAM LEMAK, LEM KADAR KOLESTER KOLESTEROLDAGING DOMBA GARU UT MUDA BERBED BEDA UMUR YANG DIBERI RANSUM SUM MEN ENGANDUNG LIMBAH TAUGE SKRIPSI SITA ARUM PRABAWATI DEPARTEMEN ILM LMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PET TERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN I INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 i RINGKASAN SITA ARUM PRABAWATI. D14080206. 2012.Kandungan Nutrisi, Komposisi Asam Lemak, dan Kadar Kolesterol Daging Domba Garut Muda Berbeda Umur yang Diberi Ransum Mengandung Limbah Tauge. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pembimbing Utama : Tuti Suryati, S.Pt., M.Si. Pembimbing Anggota : Ir. Sri Rahayu, M.Si. Terdapat jenisdomba garut yang cocok digunakan sebagai ternak pedaging karena memiliki berbagai kelebihan, seperti performa yang baik dan pertambahan bobot badan harian yang tinggi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghasilkan daging domba yang berkualitas dan aman untuk dikonsumsi. Salah satu cara yang ditempuh adalah melakukan pemotongan ternak pada umur tertentu. Umur pemotongan berperan dalam menentukan kandungan nutrisi, komposisi asam lemak, dan kadar kolesterol daging domba. Selain itu dilakukan pengaturan pakan yang diberikan pada ternak. Limbah tauge merupakan salah satu jenis pakan yang ketersediaannya melimpah namun belum banyak dimanfaatkan. Limbah tauge ini diharapkan dapat mempengaruhi kandungan nutrisi, kadar kolesterol, dan asam lemak yang terkandung pada daging domba. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan mempelajari kandungan nutrisi, komposisi asam lemak, dan kadar kolesterol daging domba garut yang diberi ransum mengandung limbah tauge pada umur yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-November 2011 yang berlokasi di Laboratorium Lapang Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Kecil Blok B Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, sedangkan pengujian pascapemotongan dilakukan di Laboratorium Instrumen, Balai Besar Industri Agro.Domba garut yang digunakan terdiri atas 3 ekor domba garut jantan umur 5 bulan dan 3 ekor domba garut jantan umur 11 bulan. Faktor perlakuannya adalah pemotongan pada umur yang berbeda. Peubah yang diteliti adalah kandungan nutrisi, komponen asam lemak, dan kadar kolesterolnya. Rancangan acak lengkap (RAL) adalah rancangan yang digunakan dalam penelitian ini. Data dianalisis menggunakananalysis of variance(ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan umur tidak berpengaruh terhadap kandungan nutrisi daging domba garut muda yang diberi ransum mengandung limbah tauge (P > 0,05). Rataan kadar air daging domba 5 dan 11 bulan berturut-turut 69,17%± 3,17% dan 71,33% ± 4,09%. Protein daging domba 5 bulan sebesar 20,19% ± 2,07% dan 11 bulan 21,99% ± 0,68%. Kadar lemak daging domba 5 bulan 5,74% ± 1,12%, sedangkan pada domba 11 bulan 5,50% ± 3,60%. Kadar abu daging domba 5 bulan sebesar 1,88% ± 1,63%, pada daging domba 11 bulan 1,13% ± 0,19%. Karbohidrat sebesar 0,05% ± 0,01% pada daging domba 5 bulan dan 0,05% ± 0,01%pada daging domba 11 bulan. Perbedaan umur juga tidak berpengaruh terhadap komposisi asam lemak dan kadar kolesterol daging domba garut (P > 0,05). Komposisi asam lemak yang teridentifikasi pada penelitian ini terdiri atas lemak jenuh dan tak jenuh. Asam lemak jenuh yang terdeteksi antara lain C8:0 (asam kaprilat), C10:0 (asam kaprat), C 12:0 (asam laurat), C14:0 (asam miristat), C16:0 (asam palmitat), C18:0 (asam stearat), sedangkan asam lemak tak jenuh yang terdeteksi antara lain C18:1 (asam oleat), ii C18:2 (asam linoleat), dan C18:3 (asam linolenat). Rataan kadar kolesterol daging domba garut 5 bulan (65,467 ± 22,251) mg/100 g dan rataan kadar kolesterol daging domba garut 11 bulan (71,300 ± 29,902) mg/100 g. Kata-kata kunci: nutrisi, asam lemak, kolesterol, daging domba, limbah tauge iii ABSTRACT Nutrition, Fatty Acid Composition, and Cholesterol Content of Different Ages GarutLamb Fed Diet Containing Mungbeans Waste Prabawati, S.A., T. Suryati, dan S. Rahayu Garut lambs from two different ages, under five month oldand up to eight month old used for meat production, were fed a concentrate diet containing mungbean waste.The effect of different ages on nutrition, fatty acid composition, and cholesterol content were studied. After fattened about 3 months in individual cage, a total of six male lambs (3 lambs under five month old and 3 lambs up to eight month old) were slaughtered. Lambs meat were taken from Longissimus thoracis et lumborum. Nutrition content of lamb meat was quantified by proximate analysis. Fatty acid compositionand cholesterol content were analyzed bygas chromatography. Analysis of variance was used to compare differences of age effect on nutrition, fatty acid composition, and cholesterol content. The different ages in this study had no significant effect on nutrition content, fatty acid composition, and cholesterol content (P > 0,05). Lamb meat was more rich on saturated fatty acid (SFA) than unsaturated fatty acid (USFA). Keywords: nutrition,fatty acid, cholesterol, lamb, mungbean waste iv KANDUNGAN NUTRISI, KOMPOSISI ASAM LEMAK, DAN KADAR KOLESTEROL DAGING DOMBA GARUT MUDA BERBEDA UMUR YANG DIBERI RANSUM MENGANDUNG LIMBAH TAUGE SITA ARUM PRABAWATI D14080206 Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 v Judul : Kandungan Nutrisi, Komposisi Asam Lemak, dan Kadar Kolesterol Daging Domba Garut Muda Berbeda Umur yang Diberi Ransum Mengandung Limbah Tauge Nama : Sita Arum Prabawati NIM : D14080206 Menyetujui, Pembimbing Utama, Pembimbing Anggota, (Tuti Suryati, S.Pt., M.Si.) NIP: 19720516 199702 2 001 (Ir. Sri Rahayu, M.Si.) NIP: 19570611 198703 2 001 Mengetahui, Ketua Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Agr.Sc. NIP: 19591212 198603 1 004 Tanggal Ujian: 4 Juni 2012 Tanggal Lulus: vi RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 20 Februari 1991 di Blora, Jawa Tengah. Penulis adalah anak bungsu dari lima bersaudara pasangan Bapak Istad, S.Pd dan Ibu Sujiati S.Pd.I. Penulis mengawali pendidikan dasar pada tahun 1996 di SD Muhammadiyah 1 Blora dan diselesaikan pada tahun 2002. Pendidikan lanjutan tingkat pertama dimulai tahun 2002 dan diselesaikan pada tahun 2005 di SMP Negeri 1 Blora. Penulis melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Blora pada tahun 2005 dan diselesaikan pada tahun 2008. Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2008 melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan diterima di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan pada tahun 2009. Penulis aktif dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Peternakan sebagai Sekretaris Departemen Riset dan Pengembangan Mahasiswa Internal periode 2009-2010, dan sebagai Sekretaris Umum periode 2010-2011. Penulis juga aktif dalam Forum Alumni SMAN 1 Blora (FASMABA) sebagai Bendahara periode 2009-2010 dan Wakil Ketua periode 2010-2011. Penulis pernah mengikuti kegiatan magang di Mixed Farming dan BIBD Dinas Peternakan Kabupaten Blora pada tahun 2010. Dalam bidang akademik, penulis pernah menjadi Asisten Praktikum mata kuliah Teknik Pengolahan Daging pada tahun 2011 serta mata kuliah Metodologi Penelitian dan Rancangan Percobaan pada tahun 2012. Penulis juga berkesempatan menjadi penerima beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik) tahun 2009-2012. vii KATA PENGANTAR Puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis memperoleh kemudahan dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan, di Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini berjudul “Kandungan Nutrisi, Komposisi Asam Lemak, dan Kadar Kolesterol Daging Domba Garut Muda Berbeda Umur yang Diberi Ransum Mengandung Limbah Tauge”. Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang pengaruh umur potong terhadap kandungan nutrisi, komposisi asam lemak, dan kadar kolesterol daging domba garut. Selama ini daging domba banyak dihindari oleh masyarakat karena diduga mengandung kadar kolesterol tinggi dan memiliki aroma yang prengus. Penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi tentang kandungan nutrisi, komposisi asam lemak, dan kadar kolesterol domba secara faktual. Selain itu, penulis juga berharap dengan adanya penelitian ini memacu kreativitas dalam mencari alternatif bahan pakan berdasarkan potensi lokal. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, namun penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Bogor, Juni 2012 Penulis viii DAFTAR ISI Halaman LEMBAR SAMPUL DALAM .................................................................... i RINGKASAN .............................................................................................. ii ABSTRACT................................................................................................. iv LEMBAR PERNYATAAN ......................................................................... v LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................... vi RIWAYAT HIDUP ..................................................................................... vii KATA PENGANTAR ................................................................................. viii DAFTAR ISI ............................................................................................... ix DAFTAR TABEL ....................................................................................... xi DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xii DAFTAR LAMPIRAN................................................................................ xiii PENDAHULUAN ....................................................................................... Latar Belakang ................................................................................. Tujuan .............................................................................................. 1 1 1 TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. Domba Garut .................................................................................... Otot Longissimus thoracis et lumborum .......................................... Daging Domba ................................................................................. Limbah Tauge .................................................................................. Air .................................................................................................... Protein .............................................................................................. Karbohidrat ...................................................................................... Abu ................................................................................................... Lipida ............................................................................................... Asam Lemak .................................................................................... Biosintesis Asam Lemak .................................................................. Kolesterol ......................................................................................... Biosintesis Kolesterol ...................................................................... 2 2 3 4 5 5 6 6 7 7 8 9 11 12 MATERI DAN METODE ........................................................................... Lokasi dan Waktu ............................................................................ Materi ............................................................................................... Prosedur ........................................................................................... Analisis Proksimat ............................................................... Analisis Komposisi Asam Lemak ........................................ Analisis Kadar Kolesterol .................................................... Rancangan Percobaan ...................................................................... 15 15 15 17 17 18 19 19 ix HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................... 21 Keadaan Umum Pemeliharaan Ternak ............................................ Kandungan Nutrisi Daging Domba.................................................. Komposisi Asam Lemak .................................................................. Kadar Kolesterol .............................................................................. 21 27 30 35 KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 38 Kesimpulan ...................................................................................... Saran................................................................................................. 38 38 UCAPAN TERIMAKASIH ........................................................................ 39 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 40 LAMPIRAN ................................................................................................ 43 x DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1. Kandungan Gizi yang Terkandung pada Daging Domba(per 100g) 4 2. Komposisi Asam Lemak Domba ..................................................... 9 3. Kadar Kolesterol Daging Beberapa Jenis Ternak ............................ 12 4. Bahan dan Komposisi Kimia Ransum Limbah Tauge ..................... 16 5. Kandungan Nutrisi Daging Domba Garut 5 dan 11 bulanyang Diberi Ransum Mengandung Limbah Tauge....................................... 27 Komposisi Asam Lemak Daging Domba Garut 5 dan 11 bulan yang Diberi RansumMengandung Limbah Tauge ........................... 30 6. xi DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1. Domba Garut.................................................................................... 2 2. Otot Longissimus thoracis et lumborum .......................................... 3 3. Limbah Tauge .................................................................................. 5 4. Struktur Asam Lemak Jenuh dan Asam Lemak Tak Jenuh ............. 8 5. Biosintesis Asam Lemak ................................................................. 10 6. Struktur Molekul Kolesterol ............................................................ 11 7. Biosintesis Kolesterol ...................................................................... 13 8. (a) Kandang Penggemukan Laboratorium Lapang Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Kecil Blok B; (b) Kandang Individu ............... 21 Limbah Tauge dan Ransum Pelet yang Mengandung Limbah Tauge ............................................................................................... 22 10. Pelayuan Karkas Domba .................................................................. 23 11. Bagian Daging yang Digunakan sebagai Sampel (a) Loin; (b) Rack; (c) Shoulder...................................................................................... 23 Rataan Konsumsi Ransum Harian Domba Garut Umur 5 dan 11 Bulan ................................................................................................ 24 Laju Pertumbuhan Domba Garut 5 dan 11 Bulan selama Penggemukan............................................................................................... 25 Rataan Pertambahan Bobot Badan Harian Domba Garut Umur 5 dan 11 Bulan .................................................................................... 26 Perbandingan Asam Lemak Jenuh Daging Domba Garut 5 dan 11 Bulan yang Diberi RansumMengandung Limbah Tauge ................ 31 Perbandingan Asam Lemak Tak Jenuh Daging Domba Garut 5 dan 11 Bulan yang Diberi Ransum Mengandung Limbah Tauge .......... 33 Perbandingan Kadar Kolesterol Daging Domba Garut 5 dan 11 Bulan yang Diberi RansumMengandung Limbah Tauge ..................... 35 9. 12. 13. 14. 15. 16. 17. xii DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Hasil Analisis Ragam Kadar Air ..................................................... 44 2. Hasil Analisis Ragam Kadar Protein ............................................... 44 3. Hasil Analisis Ragam Kadar Lemak ................................................ 44 4. Hasil Analisis Ragam Kadar Abu .................................................... 44 5. Hasil Analisis Ragam Kadar Karbohidrat ....................................... 44 6. Hasil Analisis Ragam Asam Kaprilat (C8:0) ................................... 45 7. Hasil Analisis Ragam Asam Kaprat (C10:0) ................................... 45 8. Hasil Analisis Ragam Asam Laurat (C12:0) ................................... 45 9. Hasil Analisis Ragam Asam Miristat (C14:0) ................................. 45 10. Hasil Analisis Ragam Asam Palmitat (C16:0) ................................ 45 11. Hasil Analisis Ragam Asam Stearat (C18:0) ................................... 46 12. Hasil Analisis Ragam Asam Oleat (C18:1) ..................................... 46 13. Hasil Analisis Ragam Asam Linoleat (C18:2) ................................ 46 14. Hasil Analisis Ragam Asam Linolenat (C18:3) .............................. 46 15. Hasil Analisis Ragam Kadar Kolesterol .......................................... 46 xiii PENDAHULUAN Latar Belakang Daging domba merupakan salah satu sumber protein hewani yang digemari oleh masyarakat. Salah satu jenis domba yang populer adalah domba garut. Domba ini memiliki berbagai kelebihan, seperti performa yang baik dan memiliki pertambahan bobot badan harian yang tinggi sehingga cocok dikembangkan sebagai ternak pedaging. Meskipun digemari, daging domba memiliki kekurangan yaitu lebih kaya asam lemak jenuh daripada asam lemak tak jenuh. Konsumsi asam lemak jenuh secara berlebih dapat meningkatkan resiko kolesterol tinggi. Kolesterol tinggi pada daging domba dianggap dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan aterosklerosis. Kandungan nutrisi daging domba juga perlu dipelajari lebih jauh lagi, khususnya pada umur muda yang berbeda. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghasilkan daging domba yang berkualitas dan aman untuk dikonsumsi. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan mengatur pakan yang diberikan kepada ternak. Limbah tauge merupakan salah satu jenis pakan yang ketersediaannya melimpah namun belum banyak dimanfaatkan. Ketersediaan limbah tauge di Kota Bogor mencapai 1,5 ton/ hari (Rahayu et al., 2010). Limbah tauge ini diharapkan dapat mempengaruhi kandungan nutrisi, kadar kolesterol, dan asam lemak yang terkandung pada daging domba. Selain itu umur pemotongan juga berperan dalam menentukan kandungan nutrisi, komposisi asam lemak dan kolesterol daging domba. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk mempelajari kandungan nutrisi, komposisi asam lemak, dan kadar kolesterol daging domba yang diberi ransum mengandung limbah tauge pada umur yang berbeda. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan mempelajari kandungan nutrisi, komposisi asam lemak, dan kadar kolesterol daging domba garut yang diberi ransum mengandung limbah tauge pada umur yang berbeda. 1 TINJAUAN PUSTAKA Domba Garut Domba garut merupakan bangsa domba tersendiri yang dikenal baik dan banyak digemari oleh masyarakat. Domba ini dikenal oleh juga dengan sebutan domba priangan. Populasinya di propinsi Jawa Barat pada tahun 2010 sebanyak 509.025 ekor (Pemkab Garut, 2011). Mansjoer et al. (2007) menambahkan bahwa domba garut memiliki tingkat kesuburan yang tinggi (prolifik) sehingga mempunyai potensi yang baik bila dikembangkan sebagai sumber daging. Gambar 1. Domba Garut Domba garut yang dipelihara oleh masyarakat secara umum dibedakan menjadi dua jenis, yaitu domba tipe tangkas dan domba tipe pedaging. Mansjoer et al. (2007) menyatakan bahwa domba tipe pedaging memiliki tubuh kompak, wol halus dengan warna dasar dominan putih, serta paha belakang yang cukup besar. Selanjutnya Riwantoro (2005) menambahkan bahwa domba garut pedaging jantan maupun betina memiliki ciri-ciri garis muka lurus, bentuk mata normal, garis punggung lurus, bentuk telinga hiris dan rubak. Domba garut memiliki berbagai keunggulan seperti cepat mencapai dewasa kelamin, performa baik, memiliki pertambahan bobot badan harian yang tinggi, lebih mudah beradaptasi, dan tahan terhadap berbagai parasit dan penyakit. 2 Otot Longissimus thoracis et lumborum Otot Longissimus thoracis et lumborum menempati sudut yang terbentuk oleh thoracis, lumbar vertebrae, rusuk, dan processus transverses, seperti yang terlihat pada Gambar 2. Otot ini berperan sebagai ekstensor utama pada dorsum dan fleksor lateral di sisi otot kontraksi. Karena menyisip pada cervical vertebrae, otot ini juga berfungsi untuk mengangkat leher (Getty, 1975). Longissimus thoracis et lumborum banyak digunakan untuk menganalisis kualitas daging dan menaksir komposisi karkas (Silva et al., 2007). semispinalis capitis longissimus captis longissimus captis semispinalis cervicis longissimus cervicis iliocostalis cervicis semispinalis thoracis longissimus thoracis iliocostalis thoracis iliocostalis lumborum longissimus lumborum Gambar 2. Skema Otot Dorsal pada Domba Sumber: Getty (1975) 3 Daging Domba Daging domba adalah bagian otot skeletal dari karkas domba yang disembelih secara halal, aman, layak, dan lazim dikonsumsi oleh manusia (BSN, 2008). Lawrie (2003) menyatakan bahwa daging domba memiliki bobot jaringan muskuler atau urat daging, berkisar 46% - 65% bobot karkas. Daging domba banyak dikonsumsi dengan berbagai alasan diantaranya adalah tradisi, nilai gizi, mudah didapat, menyehatkan, dan sebagai variasi makanan (Forrest et al., 2001). Kandungan gizi daging domba dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kandungan Gizi yang Terkandung pada Daging Domba (per 100 g) Zat gizi Kandungan Muda Dewasa Air (g) 72,9 73,2 Protein (g) 21,9 21,5 Lemak (g) 4,7 4,0 - - Ca (mg) 7,2 6,6 P (mg) 194 290 A (µg) 8,6 7,8 Thiamin (mg) 0,12 0,16 Ribovlafin (mg) 0,23 0,25 Niacin (mg) 5,2 8,0 - - Karbohidrat (g) Mineral : Vitamin : C (mg) Sumber: William (2007) Daging domba juga disukai karena memiliki flavor yang khas. Flavor khas daging domba disebabkan adanya komponen yang mengandung sulfur, fenol, dan produk oksidasi lemak (Duckett dan Kuber, 2001). Young et al. (1997) menambahkan bahwa komponen volatil golongan asam lemak rantai menengah mempunyai keterikatan yang kuat dengan flavor daging domba. Kelebihan daging domba muda antara lain lebih empuk, juiciness tinggi, serta rendah lemak. Daging domba yang dipotong pada usia dewasa memiliki flavor domba yang lebih kuat. Hal 4 tersebut erat kaitannya dengan komposisi dan komponen asam lemak yang dihasilkan pada umur potong domba (Rousset-Akrim et al., 1997). Limbah Tauge Limbah tauge adalah limbah dari kecambah kacang hijau berupa kulit atau tudung yang lebih dikenal dengan angkup tauge. Ketersediaannya cukup banyak karena tidak dimanfaatkan oleh manusia. Hasil survei potensi ketersediaan limbah tauge di Kotamadya Bogor yang telah dilakukan oleh Rahayu et al. (2010) menunjukkan bahwa ketersediaan limbah tauge di Kota Bogor sebesar 1,5 ton/hari. Gambar 3. Limbah Tauge Setiap kilogram kacang hijau dapat menghasilkan 5 kg tauge, 20% – 40% merupakan kulit kecambahnya. Kulit kecambah kacang hijau menjadi bahan pakan ternak yang potensial digunakan sebagai salah satu bahan pakan penyusun konsentrat. Kandungan nutrien yang terdapat dalam kulit kecambah kacang hijau adalah protein kasar 13% - 14%, serat kasar 49,44%, lemak dan TDN 64,65% (Rahayu et al., 2010). Penggunaan limbah tauge hingga 50% dalam ransum domba menghasilkan pertambuhan bobot badan harian sebesar 145 g/ekor/hari. Pertambahan bobot badan ini lebih besar bila dibandingkan dengan hanya diberi konsentrat yaitu sebesar 96 g/ekor/hari (Rahayu et al., 2011). Air Air merupakan komponen kimia utama pada makhluk hidup. Air berfungsi melarutkan berbagai molekul organik dan anorganik pada tubuh (Murray et al., 5 2009). Semua komponen kimia pada daging meningkat seiring bertambahnya umur kecuali air. Tubuh ternak muda mengandung lebih banyak air daripada ternak yang lebih tua (Lawrie, 2003). Kadar air menentukan daya terima konsumen, kesegaran, dan daya tahan daging. Menurut Forrest et al. (2001) daging mengandung 75% air dengan kisaran 60% - 80%. Kadar air berbanding terbalik dengan kadar lemak, semakin tinggi kadar lemak maka kadar airnya semakin rendah. Sebaliknya, semakin rendah kadar lemak, maka kadar air semakin tinggi (Gaman et al., 1998). Protein Bagian yang penting dalam jaringan urat daging adalah serat yang terdiri atas bentukan elemen-elemen protein. Protein merupakan zat makanan yang sangat penting sebagai pembangun dan pengatur tubuh. Menurut Lawrie (2003) secara umum protein yang ada dalam urat daging dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu (1) protein larut air atau larutan garam encer (sarkoplasma); (2) protein yang larut dalam larutan garam pekat (protein-protein myofibril); dan (3) protein yang tidak larut dalam larutan garam pekat pada suhu rendah (tenunan pengikat dan struktur-struktur bentuk lain). Daging domba merupakan sumber protein yang tinggi. Menurut Linder (2006) konsumsi protein diperlukan sebagai sumber nitrogen tubuh untuk pembentukan zat-zat yang mengandung N (nitrogenous) dan sebagai sumber asam amino esensial yang tidak dapat disintesis oleh tubuh. Protein juga dapat berperan sebagai sumber energi dalam jumlah kecil. Kadar protein pada daging berkisar 16% - 22%. Kandungan protein meningkat seiring pertambahan umur ternak (Lawrie, 2003). Karbohidrat Karbohidrat adalah senyawa polihidroksi aldehida atau keton atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini bila dihidrolisa (Lehninger, 1982). Secara umum karbohidrat mempunyai rumus empiris (CH2O)n (Davis et al., 2002). Berdasarkan jumlah unit gulanya, terdapat tiga golongan karbohidrat yaitu monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida. 6 Ternak dapat menyintesis karbohidrat dari asam amino, tetapi sebagian besar karbohidrat ternak berasal dari pakan. Senyawa ini menjadi sumber energi utama pada tubuh (Murray et al., 2009). Karbohidrat dalam tubuh ternak disimpan dalam bentuk glikogen pada otot dan hati. Kadar karbohidrat normal pada otot adalah sebesar 0,5% - 1% (Sorensen et al., 1983). Kadar karbohidrat pada daging dipengaruhi umur, semakin bertambah umur maka terjadi peningkatan kandungan karbohidrat daging (Lawrie, 2003). Abu Kadar abu menggambarkan jumlah mineral anorganik yang ada pada suatu bahan pangan. Kadar abu dalam daging pada umumnya terdiri atas kalsium, fosfor, potasium, sulfur, sodium, klorin, magnesium dan besi (Lawrie, 2003). Forrest et al. (2001) menyatakan bahwa kadar abu umumnya sedikit bervariasi. Kadar abu ternak meningkat dengan laju paling rendah dibandingkan dengan komposisi kimia lainnya (Berg et al., 1983). Menurut Gaman et al. (1998) kadar abu yang baik dalam daging domba sebesar 0,7%. Lipida Lipida adalah senyawa organik berminyak atau berlemak yang tidak larut di dalam air, yang dapat diekstrak dari sel dan jaringan oleh pelarut nonpolar, seperti kloroform atau eter (Lehninger, 1982). Beberapa lipida berfungsi sebagai komponen pembentuk membran, yang lain sebagai bentuk penyimpanan bahan bakar. Lipida yang berperan sebagai pembentuk membran terdiri atas kolesterol dan ester kolesterol, gliserofosfolipida, dan spingolipida, sedangkan lipida yang paling banyak didepositkan adalah trigliserida (Sorensen et al., 1983). Trigliserida merupakan senyawa lipida utama yang terkandung dalam bahan makanan. Trigliserida yang juga sering dinamakan triasilgliserol adalah ester dari alkohol gliserol dengan tiga molekul asam lemak. Trigliserida adalah molekul hidrofobik nonpolar, karena molekul ini tidak mengandung muatan listrik atau gugus fungsional dengan polaritas tinggi (Lehninger, 1982). Proses metabolisme lipida sebagai komponen bahan makanan yang masuk dalam tubuh hewan dimulai dengan proses pencernaannya dalam usus halus. Enzim yang paling berperan dalam pemecahan lipida adalah lipase. Enzim lipase yang dikeluarkan oleh kantung empedu, pankreas, dan sel usus halus mengkatalisis proses hidrolisis ikatan ester 7 pada trigliserida menghasilkan asam lemak bebas dan gliserol (Wirahadikusumah, 1985). Asam Lemak Asam lemak merupakan suatu senyawa yang terdiri atas rantai panjang hidrokarbon yang berikatan dengan gugus karboksilat pada ujungnya. Asam lemak memiliki peranan fisiologis yang penting bagi tubuh. Pertama, asam lemak berperan sebagai satuan pembentuk fosfolipid dan glikolipid yang merupakan molekul amfipatik komponen membran biologi. Kedua, asam lemak berperan sebagai molekul sumber energi (Wirahadikusumah, 1985). Asam lemak tidak terdapat secara bebas atau berbentuk tunggal di dalam sel atau jaringan, tertapi terdapat dalam bentuk yang terikat secara kovalen pada berbagai kelas lipida yang berbeda. Asam lemak terdiri atas dua jenis, yaitu asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh adalah asam lemak yang hanya mengandung ikatan tunggal. Asam lemak tak jenuh adalah asam lemak yang memiliki satu atau lebih ikatan ganda. Asam Lemak Jenuh Asam Lemak Tak Jenuh Gambar 4. Struktur Asam Lemak Jenuh dan Asam Lemak Tak Jenuh Sumber: Purves et al. (1995) 8 Demirel et al. (2006) dalam hasil penelitiannya menyebutkan bahwa asam lemak yang ada pada daging domba dipengaruhi oleh perlakuan pakan dan perbedaan bangsa. Daging domba umumnya kaya akan asam lemak jenuh dan miskin asam lemak tak jenuh rantai panjang sehingga cenderung meningkatkan kadar kolesterol (Manso et al., 2005). Komposisi asam lemak juga mempengaruhi flavor daging domba (Duckett dan Kuber, 2001). Lawrie (2003) menyatakan bahwa asam lemak yang terdapat pada daging domba antara lain palmitat, stearat, oleat, linoleat, arakhidonat. Komposisi asam lemak domba dapat dilihat dalam Tabel 2. Tabel 2. Komposisi Asam Lemak Domba Asam Lemak Presentase dalam lemak(%) Palmitat (C 16:0) 25 Stearat (C 18:0) 25 Oleat (C 18:1) 39 Linoleat (C 18:2) 4 Linolenat (C 18:3) 0,5 Arakhidonat (C20:4) 1,5 Sumber : Lawrie (2003) Biosintesis Asam Lemak Biosintesis asam lemak merupakan suatu proses metabolisme yang penting bagi ternak. Mengingat jaringan hewan mempunyai keterbatasan kemampuan untuk menyimpan energi dalam bentuk karbohidrat. Asam lemak disintesis oleh sistem di luar mikondria yang bertanggungjawab untuk menyintesis palmitat dari asetil-KoA di sitosol. Keberadaan asetil-KoA dikatalisis oleh ATP-sitrat liase, namun pada hewan pemamah biak, jumlah ATP-sitrat liase atau enzim malat sangat sedikit sehingga asetat diaktifkan menjadi asetil-KoA di luar mitokondria. Substrat utama dalam lipogenesis pada hewan pemamah biak adalah asetat (Murray et al., 2009). Lehninger (1982) menjelaskan bahwa ada tiga hal utama dalam biosintesis asam lemak. Pertama, molekul tunggal asetil-KoA di dalam sintesis asam lemak bertindak sebagai unit pemulai. Kedua, senyawa antara asil di dalam proses ini adalah senyawa tioester, bukan KoA seperti yang terjadi pada oksidasi asam lemak, tetapi merupakan protein dengan berat molekul rendah yang disebut protein pembawa asil (ACP) yang mempunyai gugus SH-esensial. Ketiga, biosintesis asam 9 lemak terjadi di dalam sitosol sel eukariotik, sedangkan oksidasi asam lemak terjadi terutama di dalam mitokondria. Wirahadikusumah (1985) menjelaskan bahwa ada tiga tahapan biosistesis asam lemak. Biosintesis asam lemak dimulai dengan penggiatan asetil-KoA menjadi malonil-KoA. Tahapan kemudian dilanjutkan dengan proses pemanjangan rantai secara kontinyu (de novo). Proses terakhir adalah pemanjangan rantai sam lemak secara bertahap. Biosintesis asam lemak secara ringkas dipaparkan pada Gambar 5. I. Penggiatan asetil-KoA, pembentukan malonil-KoA CO ADP+Pi ATP Biotin HOOC-CH2-CO-SCoA Malonil-KoA Asetil-KoA Asetil-KoA karboksilase II. Pemanjangan rantai secara kontinyu (de novo) ACP-SH KoA-SH 7 Malonil-KoA 7 Malonil-S-ACP ACP-SH KoA-SH Asetil-S-ACP Asetil-KoA Komplek enzim sintase asam lemak KoA-SH ACP-SH Palmitoil-S-ACP Palmitoil-S-KoA III. Pemanjangan rantai secara bertahap Asetil-S-KoA Palmitoil-S-KoA Asetil-S-KoA Stearoil-S-KoA dan seterusnya Gambar 5. Biosintesis Asam Lemak Sumber: Wirahadikusumah (1985) 10 Asam lemak jenuh menempati komposisi paling besar dalam daging domba. Proses pembentukan asam lemak dengan bantuan enzim sintase asam lemak hanya berhenti sampai palmitoil-S-KoA yang akan menjadi asam palmitat. Proses pembentukan asam lemak lainnya terjadi karena adanya pemanjangan rantai asam palmitat, namun proses pemanjangan ini hanya berhenti pada asam oleat saja. Asam linoleat dan linolenat bersifat esensial bagi ternak, dan harus didapatkan pada pakan (Lehninger, 1982). Kolesterol Kolesterol adalah lipida amfipatik dan merupakan komponen struktural esensial pada membran dan lapisan luar lipoprotein plasma. Kolesterol merupakan prekursor semua steroid lain seperti kortikosteroid, hormon seks, asam empedu, dan vitamin D. Kolesterol dalam tubuh berikatan dengan protein membentuk lipoprotein yang terdiri atas dua jenis yaitu low density lipoprotein (LDL) dan high density lipoprotein (HDL). LDL plasma merupakan kendaraan untuk membawa kolesterol dan ester kolesterol ke banyak jaringan. HDL plasma bertugas mengeluarkan kolesterol bebas dan membawanya ke hati untuk dieleminasi baik sebelum maupun sesudah diubah menjadi asam empedu (Murray et al., 2009). Gambar 6. Struktur molekul kolesterol Sumber: Murray et al. (2009) Linder (2006) dan Murray et al. (2009) menyatakan bahwa kolesterol mempunyai beberapa peranan penting bagi tubuh untuk pembentukan beberapa zat esensial yaitu: (1) asam empedu yang dibuat oleh hati, (2) hormon-hormon steroid, 11 (3) vitamin D3 dan (4) pembentukan semua jaringan sel tubuh hewan dan manusia. Sebagai produk tipikal metabolisme hewan, kolesterol terdapat dalam makanan yang berasal dari hewan misalnya kuning telur, daging, hati, dan otak. Menurut Chizzolini et al. (1999) kadar kolesterol daging domba lebih rendah dibandingkan sapi maupun babi. Kadar kolesterol daging dari beberapa jenis ternak disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Kadar Kolesterol Daging Beberapa Jenis Ternak Jenis Ternak Kadar Kolesterol (mg/100 g) Ayam 81,00 Kalkun 74,00 Domba 75,00 Sapi 99,00 Babi 93,00 Sumber: Chizzolini et al. (1999) Kolesterol umumnya terdapat di dalam semua macam jaringan hewan dan manusia. Sebagian besar sintesa kolesterol terjadi di hati kemudian disebarkan ke jaringan serta plasma darah (Murray et al., 2009). Masukan energi yang berlebihan baik energi yang berasal dari karbohidrat, lemak, maupun protein dapat meningkatkan trigliserida dan kolesterol dalam darah (Linder, 2006). Astuti (2006) menyatakan bahwa perbedaan umur mempengaruhi kadar kolesterol domba. Kadar kolesterol dalam daging meningkat seiring dengan meningkatnya umur domba. Biosintesis Kolesterol Sekitar separuh kolesterol tubuh berasal dari proses sintesis (sekitar 700 mg/hari). Hampir semua jaringan yang mengandung sel berinti mampu membentuk kolesterol, yang berlangsung di retikulum endoplasma dan sitosol (Murray et al., 2009). Jaringan dan organ yang aktif mensintesis kolesterol antara lain hati, kortek adrenal, kulit, usus, testis, dan aorta. Bioesintesis kolesterol di dalam tubuh berasal dari asetil-KoA yang diubah menjadi asam mevalonat dengan bantuan enzim hidroksimetilglutaril-KoA reduktase (HMG-KoA reduktase), kemudian diubah menjadi squalen baru terakhir menghasilkan kolesterol (Wirahadikusumah, 1985). Skema biosintesis kolesterol dapat dilihat pada Gambar 7. 12 Asetil-KoA KoA tiolase Asetoasetil-KoA H2O + Asetil-KoA H+ + KoA-SH Hidroksimetilglutaril-KoA sintase (HMG-KoA sintase) 3-Hidroksi-3-metil-glutaril-KoA 2 H+ + 2 NADPH 2 NADP+ + KoA-SH Hidroksimetilglutaril-KoA reduktase (HMG-KoA redukatse) Mevalonat Squalen Kolesterol Gambar 7. Biosintesis Kolesterol Sumber: Murray et al. (2009) Ada sebuah mekanisme umpan balik untuk menghambat pembentukan kolesterol di hati, yaitu dengan cara menghambat kerja enzim HMG-KoA reduktase sehingga menghambat pembentukan 3-hidroksi-3-metil-glutaril-KoA. Apabila ada masukan makanan dengan kolesterol tinggi, maka hati akan menurunkan sintesis kolesterol demikian pula sebaliknya. Mekanisme ini bertujuan untuk mempertahankan kadar kolesterol normal dalam tubuh. Insulin atau hormon tiroid 13 meningkatkan aktivitas HMG-KoA reduktase sementara glukagon atau glukokortikoid menurunkannya (Ness dan Chambers, 2000). Keseimbangan kolesterol dalam jaringan diatur oleh faktor yang menyebabkan bertambahnya kolesterol (sintesis, penyerapan melalui reseptor scavenger atau LDL) dan faktor yang menyebabkan berkurangnya kolesterol (sintesis steroid, pembentukan ester kolesteril, ekskresi). Aktivitas reseptor LDL dimodulasi oleh kadar kolesterol di dalam sel agar mencapai keseimbangan. Proses transpor kolesterol terbalik, HDL menyerap kolesterol dari jaringan dan LCAT mengesterifikasikannya serta mengendapkannya di bagian tengah partikel. Ester kolesteril pada HDL diserap oleh hati, baik secara langsung maupun setelah berpindah ke VLDL, IDL, atau LDL melalui proses transfer ester kolesteril. Kelebihan kolesterol diekskresikan dalam bentuk empedu. Sebagian asam empedu direabsorpsi, sisanya didegradasi usus besar dan dibuang melalui feces (Murray et al., 2009). 14 MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-November 2011. Pemeliharaan ternak prapemotongan dilakukan di Laboratorium Lapang Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Kecil Blok B Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, sedangkan pengujian pascapemotongan dilakukan di Laboratorium Instrumen, Balai Besar Industri Agro. Materi Ternak Ternak yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 6 ekor yang terdiri atas 3 ekor domba garut lepas sapih berumur sekitar 2 bulan dan 3 ekor domba garut berumur 8 bulan. Domba yang digunakan merupakan domba garut tipe pedaging. Ternak dikandangkan secara individu dan dipelihara selama tiga bulan. Ternak dipotong pada umur 5 dan 11 bulan. Daging Domba Daging domba yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging domba bagian otot Longissimus thoracis et lumborum. Pakan Pakan diberikan kepada domba dalam bentuk pelet dengan rasio hijauan dibanding konsentrat 30:70. Sumber hijauan yang digunakan adalah limbah tauge. Bahan dan formulasi ransum yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada Tabel 4. Bahan Kimia Bahan yang digunakan untuk analisis proksimat antara lain petroleum eter, K2SO4, HgO, H2SO4, NaOH, Na2S2O3, metilen merah dan biru. Bahan kimia yang digunakan untuk analisis asam lemak antara lain akuades, KOH, HCl, heksana, helium, nitrogen, asam heptadekanoat, dan komponen asam lemak murni. Bahan yang digunakan untuk analisis kolesterol antara lain alkohol, KOH, akuades, eter, helium, nitrogen, dan sampel kolesterol murni. 15 Tabel 4. Bahan dan Komposisi Kimia Ransum Limbah Tauge Bahan Pakan Komposisi (%) Limbah tauge 30 Onggok 10 Jagung 10 Bungkil kelapa 32 Bungkil kedelai 10 CaCO3 2,5 Molases 5 NaCl 0,3 Premix 0,2 Jumlah 100 Komposisi Kimia *) Bahan Kering 100 Protein Kasar 18 Serat Kasar 22,60 Lemak 5,70 Ca 0,83 P 0,10 TDN 72,22 Keterangan: *) Hasil analisis Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan IPB (2011) Peralatan Peralatan yang digunakan untuk analisis adalah oven, labu destruksi, labu destilasi, cawan porselen, desikator, batu didih, labu lemak, alat ekstrak soxhlet merek FATEX-S, tabung reaksi, labu erlenmeyer, gelas beaker, pipet mikroliter, injektor, evaporator, timbangan analitik, timbangan digital, hot plate magnetic stirrer, peralatan gas kromatografi merek Shimadzu tipe GC-2010AF untuk analisis asam lemak dan merek HP tipe 2010 untuk analisis kadar kolesterol. 16 Prosedur Analisis Proksimat Analisis proksimat merupakan analisis yang sering digunakan untuk menentukan nilai nutrisi daging. Analisis proksimat dilakukan berdasarkan prosedur AOAC (2005). Kadar Air. Cawan dimasukkan ke oven pada suhu 105 °C, didinginkan dalam desikator, kemudian ditimbang (X1). Sampel ditimbang sebanyak 3 g (A). Sampel dikeringkan dengan cara dimasukkan ke dalam oven suhu 105 °C hingga beratnya konstan (X2). Kadar air dihitung sebagai berikut: Kadar Air (%) = × 100% Kadar Protein. Kadar protein diukur menggunakan metode Kjeldahl. Sampel sebanyak 0,2 gram didestruksi dengan H2SO4, HgO, K2SO4 masing-masing 10 ml kemudian dipanaskan sampai filtrat menjadi jernih. Selanjutnya dilakukan destilasi. Filtrat yang telah jernih ditambahkan 20 ml akuades dan 10 ml NaOH-Na2S2O3, sebagai penampung digunakan larutan asam borat 5,5% serta campuran 2 tetes indikator metil merah dan metil biru 0,2% dalam alkohol. Terakhir adalah tahap titrasi. Air bilasan salam tabung kondensor ditampung dalam labu erlenmeyer tempat destilasi. Isi labu erlenmeyer diencerkan hingga 50 ml kemudian dititrasi dengan HCl sampai terjadi perubahan warna. Kadar N dihitung sebagai berikut: Kadar N (%) = × × , × 100% Kadar protein = 6,25 × N Kadar Lemak. Sampel ditimbang sebanyak 5 g dan dihancurkan, kemudian dibungkus dengan kertas saring. Sampel tersebut dimasukkan ke dalam alat ekstrak soxhlet, selanjutnya diekstraksi dengan pelarut petroleum eter selama 4 jam. Lemak atau minyak yang tertampung dalam soxhlet dimasukkan ke dalam oven pada suhu 105 °C untuk dikeringkan. Kadar lemak dihitung sebagai berikut: Kadar Lemak (%) = × 100% 17 Keterangan: A = Berat labu dan lemak yang telah diekstraksi B = Berat labu yang belum diekstraksi C = Berat sampel awal Kadar Abu. Sampel sebanyak 3 g dipanaskan di atas hot plate sampai tidak berasap, kemudian diabukan dalam tanur pada suhu 600°C selama 4 jam sampai diperoleh abu berwarna keputih-putihan. Kadar abu dihitung menggunakan rumus berikut: Kadar Abu (%) = × 100% Keterangan: X1 = Berat cawan dan abu X2 = Berat cawan kosong C = Berat sampel awal Kadar Karbohidrat. Kadar karbohidrat dihitung dengan menggunakan cara by differences dengan rumus sebagai berikut: % Karbohidrat = 100% - (abu+lemak+air+protein)% Analisis Komposisi Asam Lemak Analisis komposisi asam lemak dilakukan sesuai metode AOAC (2005). Sampel daging sebanyak 5 g dicampur 50 ml akuades kemudian dipanaskan. Sebanyak 3 ml KOH ditambahkan kemudian dipanaskan kembali selama 30 menit. Sampel yang telah disaponifikasi ditambah dengan 5 ml HCl 6 N, dimasukkan ke tabung ekstraktor dengan 100 ml heksana, selanjutnya dipanaskan dan direfluks dengan magnetic stirrer dengan kecepatan 250 siklus/menit selama 30 menit. Fraksi yang tidak tersaponifikasi ditambahkan heksana 10 ml. Kondisi alat gas kromatografi yang digunakan adalah: menggunakan kolom silika SPTM-2560 (3 m x 4 mm x 0,2 µm; Supelco, Inc., Bellefonte, PA) dengan detector FID (flame ionization detection). Suhu oven diprogram pada 175°C selama 14 menit dan meningkat menjadi 185°C dengan kecepatan 5°C/menit, dan 18 dipertahankan selama 50 menit. Suhu port detektor dan injektor adalah 185 °C dan 220 °C. Gas pembawa yang digunakan adalah gas helium dengan laju aliran 0,7 ml/menit dan nitrogen dengan laju aliran 40 ml/menit. Identifikasi metal ester asam lemak berdasarkan waktu retensi dan puncak sampel dengan standar senyawa murni setiap komponen asam lemak. Kuantifikasi asam lemak dilakukan berdasarkan standar internal metal ester asam heptadekanoat. Analisis Kadar Kolesterol Saponifikasi dan Ekstraksi. Analisis dilakukan sesuai dengan metode AOAC (2005). Saponifikasi kolesterol dimulai dengan menimbang 2-2,5 g sampel, ditambahkan 25 ml alkohol dan 1,5 ml KOH. Campuran tersebut diaduk, dididihkan, dan direfluks selama 30 menit, kemudian dituang ke separator yang berisi 50 ml akuades. Tabung saponifikasi dibilas dengan 50 ml eter. Bilasan dituangkan ke separator kemudian dikocok hingga lapisan terpisah. Lapisan eter dituang ke separator kedua yang berisi 20 ml akuades. Selanjutnya larutan penyabunan diekstraksi dengan 50 ml eter. Ekstrak eter dikocok perlahan dengan 20 ml akuades kemudian lapisan eter yang terpisah dituang ke tabung berikutnya. Tabung berisi lapisan eter tersebut dituangi akuades 20 ml lalu dikocok. Larutan eter dibilas 3 kali dengan 20 ml KOH 0,5 N dan air, kemudian dikocok kembali. Ekstrak eter dipindahkan pada gelas dan dievaporasi untuk dikeringkan di bawah aliran nitrogen. Pengukuran Kolesterol. Pengukuran dilakukan menggunakan alat kromatografi dengan kolom kapiler (1,8 m x 4 mm x 0,15 µm). Sebanyak 2 ml sampel diinjeksikan ke sistem GC kemudian diinjeksikan 2 ml larutan standar internal kolesterol. Suhu split injektor 200°C dan suhu detektor 250°C. Detektor yang digunakan adalah flame ionization detection (FID). Laju alir gas pembawa yaitu helium sebesar 45 ml/menit, nitrogen 20-25 psi, udara 300-340 ml/menit. Kuantifikasi kolesterol berdasarkan waktu retensi dan puncak sampel dengan standar senyawa murni kolesterol. Rancangan Percobaan Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola searah untuk kandungan nutrisi, komposisi asam lemak, 19 dan kadar kolesterol dengan tiga kali ulangan untuk daging domba garut 5 dan 11 bulan. Model analisis dari rancangan acak lengkap pola searah adalah sebagai berikut (Steel dan Torrie, 1991): Yij = µ + αi + €ij Keterangan: Yij = Hasil nilai pengamatan µ = Nilai tengah umum αi = Pengaruh taraf ke-i faktor umur €ij = Galat percobaan Pengaruh perlakuan dianalisis dengan analisis ragam (analysis of variance/ ANOVA). Apabila perlakuan berpengaruh nyata digunakan uji Duncan untuk melihat perbedaan nilai tengah. 20 HASIL DAN PEMBAHASAN Ke Keadaan Umum Pemeliharaan Ternak Proses Penggemukan Domba yang digunakan di pada penelitian ini merupakan kan domba hasil penggemukan. Domba dipilih Proses di dengan bobot dan tingkat umur yangg seragam. s penggemukan dilakukan an selama tiga bulan dengan masa adapta ptasi selama dua minggu. Penggemukan dilakukan di Laboratorium Lapang Ilmuu Produksi P Ternak Ruminansia Kecil Blok ok B Fakultas Peternakan Institut Pertaniann Bogor. Domba dikandangkan secara indi ndividu, pada kandang panggung. (a) (b) Gambar 8. Lokasi Peneli nelitian. (a) Kandang Penggemukan Laboratorium orium Lapang Ilmu Produksi Terna ernak Ruminansia Kecil Blok B; (b) Kandangg Individu. I Ransum yang diberikan di pada penelitian ini adalah ransum nsum mengandung limbah tauge. Limbahh tauge diberikan ad libitum dalam bentuk ntuk pelet. Alasan pemilihan limbah tauge sebagai bahan dasar pakan dasar pakan adal dalah pemanfaatan limbah pasar yang dapat dap mencemari lingkungan bila tidak diolah, diol ekonomis, memiliki nilai nutrisi yang ya baik, dan dapat meningkatkan pertambaha bahan bobot badan harian (PBBH). Rahayu yu et al. (2011) menyatakan bahwa penggunaa unaan limbah tauge sampai 50% dalam rans nsum menghasilkan PBBH sebesar 145 g/eko ekor/hari. Limbah tauge dapat digolongkan kan sebagai hijauan karena mengandung serat kasar ka yang tinggi mencapai 49,44% (Raha hayu et al., 2010). Limbah tauge segar diper peroleh dari pasar Bogor, kemudian dikerin ringkan dan diformulasikan menjadi ransum berbentuk be pelet. 21 (a) (b) (c) Gambar 9. Limbah Tauge dan Ransum Pelet yang Mengandung Limbah Tauge. (a) Limbah Tauge Segar; (b) Limbah Tauge Kering Udara; (c) Pelet Limbah tauge Selama penggemukan ada beberapa jenis perawatan yang dilakukan pada domba meliputi pemberian obat cacing pemotongan kuku, pencukuran wol, pengobatan ektoparasit, dan pengobatan diare. Investasi ektoparasit pada mingguminggu awal penelitian cukup mengganggu pertumbuhan domba, namun bisa segera diatasi. Pengobatan oral untuk domba yang sakit dilakukan secara tradisional untuk menghindari pengaruh bahan kimia terhadap daging domba. Pertumbuhan ternak dipantau dengan cara penimbangan bobot badan setiap dua minggu sekali. Proses Pemotongan Setelah digemukkan selama tiga bulan, domba dipotong untuk dapat dianalisis kandungan kimia dagingnya. Pemotongan dilakukan pada umur potong yang berbeda. Domba dipotong pada umur 5 dan 11 bulan. Sebelum pemotongan, domba dimandikan untuk mengurangi resiko kontaminasi pada karkas akibat kotoran yang menempel pada tubuh domba. Domba juga dipuasakan selama 18 jam. Puasa ini bertujuan untuk mengurangi resiko pencemaran akibat digesta dan untuk mengurangi feces dalam usus agar kualitas daging terjaga. Air minum tetap diberikan ad libitum. Pemotongan ternak dimulai dengan memotong leher hingga vena jugularis, oesophagus, dan trachea terputus (dekat tulang rahang bawah) agar terjadi pengeluaran darah yang sempurna. Kemudian ujung oesophagus diikat agar cairan rumen tidak keluar apabila ternak tersebut digantung. Kepala dan kaki dilepaskan. Ternak tersebut digantung pada tendo-achiles pada kedua kaki belakang, kemudian 22 kulitnya dilepas. Karkas segar diperoleh setelah semua organ tubuh bagian dalam dikeluarkan, yaitu alat reproduksi, hati, limpa, jantung, paru-paru, trachea, alat pencernaan, empedu, dan pankreas kecuali ginjal. Karkas segar dipotong bagian ekornya, kemudian dilayukan pada suhu 18 °C selama 24 jam. Gambar 10. Pelayuan Karkas Domba Karkas yang telah dilayukan dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas kanan dan karkas kiri. Karkas kiri dipotong menjadi sembilan bagian potongan komersial. Masing-masing bagian dipisahkan antara daging dan tulang (deboning). Sampel daging diambil dari potongan komersial loin, rack, dan shoulder. Ketiga potongan ini merupakan bagian dari otot Longissimus thoracis et lumborum. (a) (b) (c) Gambar 11. Bagian Daging yang Digunakan sebagai Sampel. (a) Loin; (b) Rack; (c) Shoulder 23 Laju Pertumbuhan Dom omba Proses pertumbuha buhan ternak terjadi dalam dua bentuk, yaituu pertumbuhan pe dan perkembangan. Pertum umbuhan adalah pertambahan dalam bobot tubuh sampai mencapai dewasa tubuh, ubuh, sedangkan perkembangan adalah per perubahan dalam komposisi dan bentuk ntuk serta bermacam-macam fungsi tubuh. ubuh. Pola umum pertumbuhan ternak mem embentuk kurva seperti huruf “S” (sigmoid),, yyang merupakan hubungan antara bobot badan dengan umur ternak (Berg et al.,, 1983). 1983) Menurut Inounu et al. (2007) model m kurva pertumbuhan mempunyai manf nfaat diantaranya dapat memperkirakann umur u pada saat bobot potong optimal serta ta bisa digunakan sebagai parameter dalam lam metode seleksi pada waktu prasapih dan berguna untuk menganalisis efisiensi produksi pr ternak selama hidup (lifetime product oduction efficiency). Faktor yang mem empengaruhi pertumbuhan dan perkembanga gan ternak terdiri atas genetik, fisiologis, s, nutrisi, dan manipulasi eksogen (Lawrie, 2003). 2003) Penelitian dilakukan dengan mem emperhatikan faktor-faktor tersebut. Kerag agaman individu diminimalkan dengann adanya ad masa adaptasi. Lingkungan dibuat seny nyaman mungkin dan kebutuhan nutrisii dipenuhi sehingga mengoptimalkan pertum umbuhan domba. Rataan konsumsi ransum um harian disajikan pada Gambar 12. 997 1000 900 774 Konsumsi (g/ekor/hari) 800 700 600 500 400 300 200 100 0 5 bulan 11 bulan Gambar 12. Rataan Kons onsumsi Ransum Harian Domba Garut Umur 5 dan 11 Bulan 24 Pertumbuhan domba pada penelitian ini dilihat dengan cara mengukur pertambahan bobot badan per dua mingguan selama penggemukan. Laju pertumbuhan domba garut 5 dan 11 bulan pada penelitian ini disajikan pada Gambar 13. Secara umum, baik domba garut 5 maupun 11 bulan menunjukkan pola laju pertumbuhan yang sama. Kedua kelompok umur domba masih menunjukkan pertumbuhan bobot badan. 35 Bobot badan (Kg) 30 25 20 5 bulan 15 11 bulan 10 5 0 2 4 6 8 10 12 (minggu ke-) Gambar 13. Laju Pertumbuhan Domba Garut 5 dan 11 Bulan Selama Penggemukan Domba pada penelitian ini dipotong pada umur 5 dan 11 bulan. Berdasarkan grafik laju pertumbuhan dapat dilihat bahwa domba 5 maupun 11 bulan masih menunjukkan pertumbuhan bobot badan yang artinya pertumbuhan masih terkonsentrasi pada pembentukan otot. Pertumbuhan postnatal terdiri atas periode pertumbuhan sebelum penyapihan dan setelah penyapihan (Aberle et al. 2001). Proses pertumbuhan pada ternak 75% terjadi hingga umur satu tahun dan 25% pada saat ternak mencapai dewasa. Pertumbuhan suatu bagian tubuh ternak dikontrol oleh aktivitas bagianbagian lainnya. Setiap bagian tubuh ternak pertumbuhannya tidak berhenti secara bersamaan, tetapi ada beberapa jaringan yang tumbuh terus sepanjang ternak itu hidup. Beberapa bagian tumbuh dengan cepat dan beberapa bagian yang lainnya tumbuh lebih lambat. Kecepatan pertumbuhan maksimum dapat terjadi dalam suatu rangkaian yang teratur sehingga dikenal adanya titik infleksi. Titik infleksi 25 merupakan titik maksim imum pertumbuhan bobot hidup. Pada titikk tersebut terjadi peralihan yang semulaa percepatan p pertumbuhan menjadi perlambata atan pertumbuhan (Inounu et al., 2007). Rataan R pertambahan bobot badan harian (PB BBH) domba 11 bulan lebih tinggi diban bandingkan domba 5 bulan. Hal ini disebabkan bkan domba 5 bulan masih berada pada mas asa awal percepatan pertumbuhan, baru seba bagian otot yang terbentuk. Berdasarkann data rataan konsumsi harian, dapat dilihatt bahwa ba konsumsi domba 11 bulan lebihh tinggi t sehingga PBBH juga cenderung lebih bih tinggi. Rataan PPBH domba garut 5 dan 11 bulan disajikan pada Gambar 14. 153 160 PPBH (g/ekor/hari) 140 127 120 100 80 60 40 20 0 5 bulan 11 bulan (Umur) ur) Gambar 14. Rataan Perta rtambahan Bobot Badan Harian Domba Garut ut Umur U 5 dan 11 Bulan Karena pertumbuha buhan masih ditujukan untuk pembentuka ukan otot, maka konsumsi pakan pun dim manfaatkan untuk tujuan tersebut. Hal ini men enyebabkan tidak adanya perbedaan yangg nyata antara domba 5 dan 11 bulan dalam m hal kandungan nutrisi, komposisi asam m lemak, dan kadar kolesterol daging. Kedua dua kelompok k umur ini masih pada fase pertumbuhan per yang sama, yaitu fase percepatan tan pertumbuhan. Inounu et al. (2003) da dalam hasil penelitiannya terhadap anakan domba dom garut dan persilangannya juga men enyebutkan bahwa sampai umur 12 bulan, maasih terus terjadi percepatan pertambahan han bobot badan. 26 Kandungan Nutrisi Daging Domba Kandungan nutrisi yang dianalisis pada penelitian ini antara lain kadar air, protein, lemak, kadar abu, dan karbohidrat. Kandungan nutrisi biasanya digunakan sebagai salah satu penentu kualitas bahan pangan seperti daging. Kandungan nutrisi daging domba yang diamati selama penelitian tercantum pada Tabel 5. Tabel 5. Rataan Kandungan Nutrisi dan Kadar Kolesterol Daging Domba Garut 5 dan 11 Bulan Umur 5 bulan Peubah 11 bulan Segar 100% BK Segar 100% BK Kadar Air (%) 69,17 ± 3,17 − 71,33 ± 4,09 − Protein (%) 20,19 ± 2,07 66,24 ± 12,10 21,97 ± 0,68 77,65 ± 10,40 Lemak (%) 5,74 ± 1,12 18,56 ± 2,50 5,50 ± 3,60 18,24 ± 10,46 Kadar Abu (%) 1,88 ± 1,63 6,05± 4,95 1,13 ± 0,19 3,94 ± 0,25 Karbohidrat (%) 0,05 ± 0,01 0,16 ± 0,03 0,05 ± 0,01 0,18 ± 0,02 Keterangan: BK= Bahan Kering Kadar Air Tidak ada perbedaan yang nyata antara kadar air daging domba garut 5 bulan dan domba 11 bulan (P > 0,05). Rataan kadar air daging domba garut 5 bulan sebesar 69,17% ± 3,17%, sedangkan rataan kadar air daging domba garut 11 bulan sebesar 71,33% ± 4,09%. Rataan kadar air pada penelitian ini sesuai dengan pendapat Forrest et al. (2001) yang menyatakan bahwa daging mengandung air sekitar 75% dengan kisaran 60%-80%. Kadar air pada penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Astuti (2006), yang melaporkan bahwa kadar air domba garut 5 bulan lebih tinggi (73,64%) daripada domba garut 11 bulan (71,30%). Kadar air yang didapat pada penelitian ini lebih rendah daripada hasil penelitian Purbowati et al. (2006) pada domba jantan lokal, yaitu sebesar 75,13%. Hal ini menunjukkan bahwa kadar air pada tubuh ternak juga dipengaruhi oleh bangsa ternak (Lawrie, 2003). 27 Protein Perbedaan umur tidak berpengaruh terhadap kadar protein pada daging domba (P > 0,05). Hal ini disebabkan domba garut 5 dan 11 bulan dipotong pada umur di bawah satu tahun. Kedua kelompok umur potong ini ada pada fase pertumbuhan yang sama, yaitu masa percepatan pertumbuhan. Pertumbuhan pada masa ini difokuskan pada pembentukan otot, yang berarti terjadi deposisi protein. Inounu et al. (2003) menyatakan bahwa percepatan pertumbuhan akan tetap berlangsung sampai umur 12 bulan. Rataan kadar protein daging domba garut 5 bulan adalah sebesar 20,19 % ± 2,07%, sedangkan domba garut 11 bulan sebesar 21,99% ± 0,68%. Kadar protein daging pada penelitian ini sesuai dengan pendapat William (2007) bahwa kandungan protein pada daging domba dewasa sebesar 21,5%. Rataan kadar protein domba garut 5 bulan berbeda dengan penelitian Astuti (2006) sebesar 14,57%. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh perbedaan pakan yang digunakan dalam penelitian. Lemak Berdasarkan analisis ragam, umur yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kadar lemak daging (P > 0,05). Rataan kadar lemak daging domba garut 5 bulan sebesar 5,74% ± 1,12% dan 11 bulan sebesar 5,50% ± 3,60%. Kandungan lemak tidak berbeda karena domba masih pada fase pertumbuhan yang sama yaitu percepatan pertumbuhan. Pertumbuhan masih difokuskan pada pembentukan otot sehingga belum banyak terjadi deposit lemak. Rataan kadar lemak daging domba pada penelitian ini lebih tinggi daripada hasil penelitian Purbowati et al. (2006) pada domba lokal umur 5 bulan sebesar 5,08% dan umur 12 bulan sebesar 3,90%. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh perbedaan bangsa domba yang diteliti. Rataan kadar lemak pada penelitian ini lebih rendah daripada hasil penelitian Astuti (2006) pada domba garut umur 12 bulan yang menghasilkan kadar lemak sebesar 6,24%. Perbedaan ini dapat disebabkan perbedaan pakan yang diberikan. Konsentrat komersil dan rumput lapang merupakan pakan yang diberikan dalam penelitian tersebut. Menurut Lawrie (2003), salah satu faktor yang mempengaruhi deposit lemak intramuskuler adalah nutrisi. 28 Kadar Abu Kadar abu menggambarkan jumlah mineral anorganik yang ada pada suatu bahan pangan. Mineral yang ada dalam daging pada umumnya terdiri atas kalsium, fosfor, potasium, sulfur, sodium, klorin, magnesium dan besi (Lawrie, 2003). Kadar abu daging domba garut 5 dan 11 bulan tidak menunjukkan perbedaan nyata (P > 0,05). Rataan kadar abu daging domba 5 bulan sebesar 1,88% ± 1,63%, sedangkan kadar abu daging domba 11 bulan sebesar 1,13% ± 0,19%. Tidak berbedanya kadar abu disebabkan variasi kadar abu pada daging relatif kecil. Menurut Berg et al. (1983), kadar abu ternak meningkat dengan laju paling rendah dibandingkan dengan komposisi lainnya. Kadar abu daging domba 11 bulan yang didapatkan pada penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Lee et al. (2008) sebesar 1,17%,. Kadar abu domba 11 bulan pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dilakukan oleh Purbowati hasil penelitian yang et al. (2006) yang menghasilkan kadar abu sebesar 1,06%. Perbedaan ini dapat disebabkan jenis domba lokal yang digunakan dalam penelitian berbeda. Karbohidrat Perbedaan umur tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan karbohidrat daging domba (P > 0,05). Rataan kadar karbohidrat pada daging domba 5 bulan adalah sebesar 0,05% ± 0,01%, sedangkan kadar karbohidrat pada daging domba 11 bulan adalah sebesar 0,05% ± 0,01%. Kandungan karbohidrat pada daging umumnya rendah. Hal ini dikarenakan jaringan hewan mempunyai keterbatasan untuk menyimpan energi dalam bentuk karbohidrat (Wirahadikusumah, 1985). Kadar karbohidrat daging domba pada penelitian ini lebih rendah daripada hasil penelitian Astuti (2006) yang menghasilkan kadar karbohidrat sebesar 3,56% pada domba 12 bulan. Kadar karbohidrat pada penelitian ini juga berbeda dengan pendapat Sorensen et al. (1983), yang menyatakan kadar karbohidrat pada daging domba sebesar 0,5%-1%. Kadar karbohidrat yang didapatkan pada penelitian ini lebih kecil karena domba garut yang diteliti ini memiliki tingkat aktivitas tinggi sehingga karbohidrat digunakan untuk energi. 29 Komposisi Asam Lemak Komposisi asam lemak daging domba garut 5 dan 11 bulan yang diberi ransum mengandung limbah tauge tidak berbeda nyata (P > 0,05). Hasil analisis komposisi asam lemak daging domba garut 5 dan 11 bulan disajikan pada Tabel 6. Asam lemak jenuh daging domba yang teridentifikasi adalah asam palmitat (C16:0) dan asam stearat (C 18:0). Selain itu juga terdapat asam kaprilat (C8:0), asam laurat (C12:0), asam kaprat (C10:0), asam miristat (C14:0). Asam lemak tak jenuh yang teridentifikasi adalah asam oleat (C18:1), asam linoleat (C18:2), dan asam linolenat (C18:3). Tabel 6. Komposisi Asam Lemak Daging Domba Garut 5 dan 11 Bulan yang Diberi Ransum Mengandung Limbah Tauge Umur Asam Lemak 5 bulan 11 bulan Rataan -----------------------% dalam lemak------------------------C8:0 (asam kaprilat) 0,02 ± 0,03 0,01 ± 0,01 0,02 ± 0,02 C10:0 (asam kaprat) 0,01 ± 0,01 0,01 ± 0,01 0,01 ± 0,01 C12:0 (asam laurat) 0,18 ± 0,17 0,08 ± 0,06 0,13 ± 0,13 C14:0 (asam miristat) 0,39 ± 0,29 0,19 ± 0,14 0,29 ± 0,23 C16:0 (asam palmitat) 1,21 ± 0,76 0,59 ± 0,32 0,90 ± 0,62 C18:0 (asam stearat) 0,43 ± 0,25 0,19 ± 0,10 0,31 ± 0,22 C18:1 (asam oleat) 1,27 ± 0,75 0,51 ± 0,21 0,89 ± 0,65 C 18:2 (asam linoleat) 0,21 ± 0,13 0,13 ± 0,09 0,17 ± 0,11 C 18:3 (asam linolenat) 0,01 ± 0,01 0,01 ± 0,01 0,01 ± 0,01 Total 3,73 ± 0,49 1,71 ± 0,22 Komposisi Asam Lemak Jenuh Komposisi asam lemak jenuh daging domba garut 5 dan 11 bulan yang diberi ransum mengandung limbah tauge tidak berbeda nyata (P > 0,05). Perbandingan komposisi asam lemak jenuh daging domba garut 5 dan 11 bulan dapat dilihat pada Gambar 15. Asam lemak jenuh khas domba yang teridentifikasi adalah asam palmitat (C16:0) dan asam stearat (C18:0). Selain itu juga terdapat asam kaprilat (C8:0), asam kaprat (C10:0), asam laurat (C12:0), asam miristat (C14:0). 30 1,40 1,21 1,20 1,00 0,80 5 bulan 0,59 0,60 11 bulan 0,43 0,39 0,40 0,19 0,18 0,20 0,020,01 0,01 0,01 0,19 0,08 0,00 C8:0 C10: 10:0 C12:0 C14:0 C16:0 C18:0 Gambar 15. Perbandinga gan Asam Lemak Jenuh Daging Domba Garut rut 5 dan 11 Bulan yangg Diberi Ransum Mengandung Limbah Tauge Sesuai hasil penelitian pene yang dilakukan oleh Manso et al. (2005), daging domba lebih kaya akan an asam lemak jenuh. Komposisi asam lem mak yang paling dominan baik pada domba dom garut 5 maupun 11 bulan adalah asam palmitat. pa Hal ini terjadi karena pada proses pro biosintesis asam lemak, sistem enzim m yang berperan dalam sintesis asam lem emak secara de novo (pemanjangan dua rantai ntai) menghasilkan produk akhir berupa pal almitoil-S-KoA yang menjadi asam palmitat. at. Asam palmitat diubah menjadi asam lemak lain melalui proses pemanjangann secara s bertahap dengan enzim yang berb rbeda dari tahap pembentukan asam palmitat,, tergantung t pada keadaan dan komposisii di dalam sel (Wirahadikusumah, 1985). Hasil penelitiann ini i sejalan dengan penelitian yang dilakukan kukan oleh Bernes et al. (2012) bahwa pem mberian pakan silase rumput tidak membe berikan pengaruh terhadap komposisi asa sam lemak daging domba pada umur yangg berbeda. Asam lemak jenuh tidak berbed eda pada semua tingkat umur. Hal yang paling ng mempengaruhi m pengaturan penyerapann llemak dalam tubuh ruminansia adalah biohidr ohidrogenasi dalam rumen oleh bakteri (Bau auman et al., 2006). Meskipun ternak domba ba diberikan di pakan dengan kadar asam lemak lem tak jenuh yang tinggi, namun bakte kteri rumen akan mengubahnya menjadi di asam stearat (C18:0) melalui proses hidr hidrogenasi. Asam stearat akan diserap dann didepositkan (Sorensen et al., 1983). 31 Berdasarkan hasil pengamatan, secara umum rataan komposisi asam lemak pada domba 5 bulan lebih besar daripada domba 11 bulan. Hal ini disebabkan semakin muda umur domba, maka proporsi persen molar asam asetat dalam rumen lebih besar dibandingkan dengan asam lemak bebas yang lain. Menurut Murray et. al (2009), asam asetat merupakan bahan utama pembentuk asetil-KoA pada hewan pemamah biak. Asetil-KoA ini merupakan komponen penting dalam pembentukan asam lemak. Menurut Bessa et al. (2008) cara yang efektif untuk menurunkan kadar asam lemak jenuh adalah dengan memberikan sumber pakan yang banyak mengandung asam lemak tak jenuh. Pemberian minyak kedelai yang kaya akan asam lemak tak jenuh dapat menurunkan kadar asam lemak jenuh. Cara lain yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar lemak jenuh pada daging domba adalah dengan memberikan lemak terproteksi. Lemak yang diproteksi banyak digunakan supaya tidak terjadi biohidrogenasi rumen dan dapat menyediakan asam lemak tak jenuh esensial pasca rumen. Proteksi lemak menyebabkan penghematan energi untuk proses pemanjangan rantai karbon asam lemak sehingga energi tersebut dapat digunakan untuk pertumbuhan domba (Adawiyah et al., 2006). Upaya penurunan kadar asam lemak jenuh dalam daging domba terus dilakukan untuk mengurangi resiko penyakit yang disebabkan oleh konsumsi asam lemak jenuh dari daging domba. Linder (2006) menyatakan bahwa semakin tinggi konsumsi asam lemak jenuh akan menyebabkan peningkatan kadar LDL-kolesterol pada darah manusia. Konsumsi asam lemak jenuh secara terus-menerus dapat menyebabkan aterosklerosis dan meningkatkan resiko penyakit kardiovaskuler. Komposisi Asam Lemak Tak Jenuh Komposisi asam lemak tak jenuh daging domba garut 5 dan 11 bulan yang diberi pakan mengandung limbah tauge tidak berbeda nyata (P > 0,05). Perbandingan komposisi asam lemak tak jenuh daging domba garut 5 dan 11 bulan dapat dilihat pada Gambar 16. Asam lemak tak jenuh yang teridentifikasi adalah asam oleat (C18:1), asam linoleat (C18:2), dan asam linolenat (C18:3). 32 1,40 1,27 1,20 1,00 0,80 5 bulan 0,51 0,60 0,40 11 bulan 0,21 0,20 0,13 0,01 0,01 0,00 C18: 18:1 C18:2 C18:3 Gambar 16. Perbandinga gan Asam Lemak Tak Jenuh Daging Domba G Garut 5 dan 11 Bulan yan ang Diberi Ransum Mengandung Limbah Taug uge Komposisi asam m lemak tak jenuh yang paling besar pada daging d domba 5 maupun 11 bulan adalah ah asam oleat dengan rataan 0,89 ± 0,65 %. Haal ini disebabkan asam oleat dapat disinte ntesis dari asam palmitat. Sistem perpanjanga ngan asam lemak yang terjadi pada retikul kulum endoplasma menambahkan unit 2-karbon bon yang diberikan dalam bentuk malonil-K KoA, mengubah palmitoil-S-ACP menjadi di bentuk steroilACP dalam lintas yang ng sama seperti lintas sintesis palmitat. Asa sam stearat yang terbentuk selanjutnya kembali k mengalami perpanjangan, membent bentuk asam oleat (Lehninger, 1982). Mekanisme pem mbentukan asam lemak tak jenuh dari perpa rpanjangan asam palmitat hanya berhenti nti sampai asam oleat saja. Hal ini dapat menjel njelaskan mengapa komposisi asam oleat hasil h penelitian ini paling besar bila dibandi ndingkan dengan asam tak jenuh lain yait aitu asam linoleat dan linolenat. Jaringan hew ewan tidak dapat mengubah asam oleat m menjadi asam linoleat, sehingga hewan mem embutuhkan asam lemak tersebut dalam asupan as makanannya. Asam lemak ini banyak di diperoleh hewan dari tanaman (Lehninger er, 1982). Asam lemak esens ensial harus didapatkan oleh ternak dalam jum umlah yang cukup. Ternak yang diberi maakan diet nonlemak yang mengandung vitamin vita A dan D mengalami penurunann laju la pertumbuhan dan difisiensi reproduksi.. Keadaan Ke ini dapat dipulihkan dengan pembberian sumber asam linoleat, asam linolenat, t, dan da arakhidonat 33 dalam pakan. Asam lemak esensial diperlukan oleh ternak untuk membentuk prostaglandin, tromboksan, leukotrien, dan lipoksin (Murray et.al, 2009). Asam lemak tak jenuh merupakan asam lemak yang baik bagi tubuh. Konsumsi asam lemak tak jenuh ganda kelompok omega-3 nyata menurunkan trigliserida plasma, kolesterol, LDL, dan VLDL. Aktivitas omega-3 dalam menurunkan trigliserida plasma dan kolesterol ini dapat menekan resiko aterosklerosis. Selain itu, konsumsi asam lemak tak jenuh dapat meningkatkan tingkat kelancaran (clearance) aliran darah (Linder, 2006). Pemberian ransum mengandung limbah tauge dengan kadar serat tinggi tidak berpengaruh nyata terhadap komposisi asam lemak tidak jenuh daging domba garut. Kandungan asam lemak tidak jenuh pada limbah tauge belum cukup untuk meningkatkan kadar asam lemak tak jenuh pada daging domba. Menurut USDA (2012) kandungan asam lemak tak jenuh pada tauge adalah sebesar 0,058 g/ 100 g. Hal ini serupa dengan hasil penelitian Wiryawan et al. (2007) bahwa pemberian bungkil inti sawit terproteksi formaldehida pun tidak berpengaruh terhadap komposisi asam lemak tidak jenuh pada domba priangan. Daging domba mengandung jumlah asam lemak tak jenuh rantai tunggal yang lebih tinggi. Bila dibandingkan dengan sapi, komposisi asam lemak tak jenuh pada daging domba lebih tinggi. Menurut penelaahan yang dilakukan Banskalieva et al. (2000), asam lemak tak jenuh rantai tunggal pada longissimus dorsi sapi sebesar 40,10% dari total lemak, sedangkan pada longissimus dorsi domba sebesar 43,58% dari total lemak. Asam lemak tak jenuh rantai ganda pada sapi sebesar 10% dari total lemak sedangkan domba sebesar 5,77% dari total lemak. Data ini menunjukkan bahwa pendapat masyarakat mengenai kandungan asam lemak jenuh daging domba yang tinggi tidak tepat. Selama ini masyarakat beranggapan bahwa mengkonsumsi daging domba yang tinggi asam lemak jenuh akan memicu kolesterol tinggi. Penelaahan tersebut menunjukkan bahwa asam lemak tak jenuh yang ada pada daging domba lebih tinggi daripada daging sapi. 34 Kadar Kolesterol Umur yang berb berbeda tidak berpengaruh terhadap kadar kolesterol kol daging domba (P > 0,05). Perba bandingan kadar kolesterol daging domba garut rut 5 dan 11 bulan yang diberi ransum men engandung limbah tauge disajikan pada Gam ambar 17. Rataan kadar kolesterol daging ng domba 5 bulan adalah sebesar 65,47 ± 22,25 mg/100g, sedangkan rataan kadar dar kolesterol daging domba 11 bulan adalahh sebesar s 71,30 ± 29,90 mg/100 g. Kadar Kolesterol (mg/100g) 71,30 72,00 71,00 70,00 69,00 68,00 67,00 66,00 65,00 64,00 63,00 62,00 65,47 5 bulan 11 bulan (Umur) ngan Kadar Kolesterol Daging Domba Garut 5 dan 11 Bulan Gambar 17. Perbanding yang Diberi beri Ransum Mengandung Limbah Tauge Ada beberapa hal ha yang mempengaruhi kadar kolesterol domba dom garut. Salah satunya adalah aktivitas as gerak otot. Aktivitas yang dilakukan oleh dom domba garut juga dapat mempengaruhi kandungan kan kolesterol pada daging. Kadar koles esterol yang tidak berbeda nyata dapat disebabkan di oleh aktivitas bergerak masing-m masing individu domba yang diteliti. Mansjoer M et al. (2007) menyebutkan bahw hwa domba garut merupakan domba yang ng lincah dan aktif bergerak. Baik kelompok pok domba dom 5 bulan, maupun 11 bulan selalu lu aktif a melakukan pergerakan pada masa pemeeliharaan. Faktor lain yang ang mempengaruhi kadar kolesterol dagingg adalah genetik (Sorensen et al., 1983). Setiap individu domba mempunyai respon pon yang berbedabeda terhadap pakann yang diberikan. Selain faktor kelincahan han gerak, tidak berbedanya kadar kolest esterol antara domba 5 dan 11 bulan pada penelitian pene ini dapat 35 pula disebabkan oleh keragaman genetik yang tinggi pada domba yang diteliti. Mengingat domba yang diteliti berasal dari beberapa tempat yang berbeda. Meskipun mengalami masa adaptasi, namun upaya ini kurang dapat menyeragamkan respon fisiologis domba. Kadar kolesterol domba garut 5 bulan yang didapatkan pada penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Astuti (2006) sebesar 65,91 mg/ 100 g. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kadar kolesterol daging domba pada potongan karkas yang berbeda yaitu 57,04 mg/100 g pada bagian silverside dan 45,23 mg/100 g pada bagian leg. Semakin tinggi aktivitas otot, maka kadar kolesterol daging domba menjadi lebih rendah. Kadar kolesterol domba garut 5 bulan yang didapat pada penelitian ini lebih tinggi daripada hasil penelitian Widiansyah (2006) yaitu sebesar 51,15 mg/100g. Selain menganalisis kadar kolesterol daging mentah, Widiansyah (2006) juga melakukan pemasakan untuk mengetahui pengaruh metode pemasakan yang berbeda terhadap kadar kolesterol daging domba. Hasilnya, pemasakan dapat menurunkan kadar kolesterol daging domba. Kadar kolesterol daging domba dapat turun sampai 66% setelah dikukus. Penelitian tentang kadar kolesterol juga dilakukan oleh Adawiyah et al. (2006) yang meneliti kadar kolesterol serum domba garut betina dewasa. Pakan yang diberikan adalah kedelai sangrai dengan berbagai suplementasi minyak dan mineral organik. Hasilnya, pada serum domba garut betina yang diberi pakan kedelai sangrai menunjukkan kadar kolesterol sebesar 79 mg/dl, lebih tinggi dibandingkan hasil analisis kadar kolesterol daging domba jantan pada penelitian ini. Hal ini menunjukkan bahwa jenis kelamin turut mempengaruhi kadar kolesterol dalam tubuh terkait deposit lemak (Sorensen et al., 1983). Betina cenderung memiliki kadar kolesterol yang lebih tinggi daripada jantan. Studi tentang kadar kolesterol pada domba lokal juga dilakukan oleh Wijaksani (2002) yang mengamati kadar kolesterol musculus longissimus dorsi domba priangan jantan. Domba diberi pakan bungkil inti sawit terproteksi formaldehida dengan presentase berbeda. Domba yang diberi pakan bungkil inti sawit terproteksi formaldehida 45% memiliki kadar kolesterol daging sebesar 71,68 36 mg/100g. Perbedaan kadar kolesterol ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan bangsa domba yang diteliti. Terlepas dari kadar kolesterol daging domba garut yang lebih tinggi dari kolesterol daging domba bangsa lain, ternyata kadar kolesterol daging domba tetap lebih rendah bila dibandingkan dengan jenis ternak lain. Secara umum kadar kolesterol domba sebesar 75 mg/ 100 g, sapi sebesar 99 mg/100 g, dan babi sebesar 93 mg/100 g (Chizzolini et al., 1999). Berdasarkan rendahnya kadar kolesterol, daging domba relatif lebih aman untuk dikonsumsi dibandingkan dengan daging sapi ataupun babi. Sama halnya dengan konsumsi asam lemak jenuh, konsumsi kolesterol mempunyai korelasi positif dengan kejadian penyakit kardiovaskuler. Konsumsi kolesterol dalam jumlah besar secara terus menerus menyebabkan penyumbatan pembuluh darah dan meningkatkan resiko jantung koroner. Konsumsi kolesterol harus diimbangi dengan mengkonsumsi serat dan mikronutrien seperti vitamin B6 dan vitamin E (Linder, 2006). Berdasarkan angka kecenderungan rendahnya kadar kolesterol, meskipun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan, daging domba 5 bulan pada penelitian ini lebih baik untuk dikonsumsi daripada daging domba 11 bulan. 37 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Daging domba garut umur 5 dan 11 bulan yang diberi ransum mengandung limbah tauge tidak berbeda dalam kandungan nutrisi, komposisi asam lemak dan kadar kolesterolnya. Saran Penelitian mengenai lemak dan komponennya sebaiknya menggunakan domba dengan tingkat umur yang berbeda, misalnya antara domba muda (lamb) dengan domba dewasa (mutton). Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang asam lemak bentuk khusus seperti conjugated linoleic acid (CLA) yang banyak bermanfaat bagi tubuh. Perlu juga dilakukan penelitian lanjut mengenai komponen asam lemak yang mempengaruhi flavor daging, baik menggunakan alat maupun panelis ahli. 38 UCAPAN TERIMA KASIH Syukur Alhamdulillah, penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis memperoleh kemudahan dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, insan mulia yang senantiasa dirindukan syafaatnya di hari akhir. Ungkapan terima kasih penulis sampaikan kepada Tuti Suryati, S.Pt., M.Si. dan Ir. Sri Rahayu, M.Si. selaku komisi pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyelesaian tugas akhir ini. Terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. Irma Isnafia Arief, S.Pt., M.Si. dan Ir. Lilis Khotijah, M.S. selaku dewan penguji atas saran dan kritik yang membangun sehingga penulisan skripsi ini menjadi lebih baik. Penulis juga menyampaikan terimakasih kepada IPB yang telah membiayai penelitian ini dalam program Penelitian Unggulan Fakultas (PUF) 2011. Rasa cinta, hormat, dan terima kasih penulis sampaikan untuk ayahanda Istad, S.Pd. dan ibunda Sujiati, S.Pd.I. atas segala kasih sayang, perhatian, dukungan, dan doa yang tak pernah henti. Terima kasih penulis sampaikan kepada segenap keluarga besar yang selalu mendukung dan memberikan semangat. Terima kasih penulis sampaikan kepada Siti Hafsah dan Reni Nurhayani yang banyak membantu penulis selama berada di Bogor. Terima kasih penulis sampaikan kepada segenap teknisi Laboratorium Ruminansia Besar yang banyak sekali membantu dalam pelaksanaan penelitian ini. Terima kasih penulis sampaikan kepada Devi Murtini, S.Pt. dan Dwi Febriantini, atas bantuannya selama penelitian. Terima kasih penulis sampaikan kepada temanteman tim penelitian PUF atas kerjasama dan kebersamaannya. Terima kasih penulis sampaikan kepada rekan-rekan IPTP 45 dan BEM-D atas kebersamaannya. Terima kasih penulis sampaikan kepada Dini, Tia, Ika, Indah, Alexandra, Yeni, dan keluarga besar Kilimanjaro atas persahabatannya selama ini. Terima kasih penulis sampaikan kepada Hanifah Arief Muqaddam, atas segala bentuk bantuan, doa, dan dukungan kepada penulis. Terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang banyak membantu penulis selama masa perkuliahan dan penelitian yang tidak dapat disebutkan satu persatu. 39 DAFTAR PUSTAKA Adawiah, T. Sutardi, T. Toharmat, W. Manalu, & N. Ramli. 2006. Respons suplementasi sabun mineral dan mineral organik serta kacang kedelai sangrai pada kecernaan nutrien pakan dan lemak serum domba. J.Indon.Trop.Anim. Agric. 31(4): 211-218. AOAC International. 2005. Official Method of Analysis of the Assosiation of Official Analytical Chemists. Benyamin Franklin Station, Washington D.C. Astuti N. 2006. Kandungan nutrisi dan kadar kolesterol daging domba garut masa menyusu (milk lamb), muda (lamb), dan dewasa (mutton). Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor. Banskalievaa V., T. Sahlub, & A.L. Goetschc. 2000. Fatty acid composition of goat muscles and fat depots: a review. Small Ruminant Research (37): 255-268. Bauman, D.E. & A.L. Lock. 2006. Concepts in lipid digestion and metabolism in dairy cows. Proceeding. Tri-State Dairy Nutrition Conference April 25 and 26, 2006. Berg, R.T. & L. E. Walters. 1983. The meat animal: changes and challenges. J Anim. Sci. 57:133-146. Bernes, G. T. Turner, & J. Pikova. 2012. Sheep fed only silage or silage supplemented with concentrates 2. Effects on lamb performance and fatty acid profile of ewe milk and lamb meat. Small Ruminant Research 102: 114– 124. Bessa R.J.B, M. Lourenço, P.V. Portugal, & J. Santos-Silva. 2008. Effects of previous diet and duration of soybean oil supplementation on light lambs carcass composition, meat quality and fatty acid composition. Meat Sci. 80: 1100–1105. BSN[Badan Standardisasi Nasional]. 2008. SNI 3925:2008: Mutu karkas dan daging kambing/domba. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta. Chizzolini R., E. Zanardi, V. Dorigoni, & S. Ghidini. 1999. Caloric value and cholesterol content of normal and low-fat meat and meat products. Trends in Food Science & Technology (10): 119-128. Davis, B.G. & A.J. Fairbanks. 2002. Carbohydrate Chemistry. Oxford University Press, New York. Demirel G., H.Ozpinar, B.Nazli, & O. Keser. 2006. Fatty acids of lamb meat from two breeds fed different forage: concentrate ratio. Meat Sci. 72: 229-235. Duckett S.K. & P.S Kuber. 2001. Genetic and nutritional effects on lamb flavor. J. Anim. Sci. 79: E249-E254. 40 Forrest, J.C., E.D Aberle, H.B. Hedrick, M.D. Judge, & R.A Merkel. 2001. Principle of Meat Science. W.H. Freeman and Company, San Fransisco. Gaman, P.M. & K.B. Sherrington. 1998. Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi, dan Mikrobiologi. terjemahan M. Gardjito, S. Naruki, A. Murdiati, & Sarjono. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Getty, R. 1975. The Anatomy of the Domestic Animal, Sisson and Grossman’s, 5th Ed. W.B. Saunders Company, London. Inounu I., N. Hidayati, Subandriyo, B. Tiesnamurti, & L. O. Nafiu. 2003. Analisis keunggulan relatif domba garut anak dan persilangannya. JITV 8(3): 170-182. Inounu I., D. Mauluddin, R.R. Noor & Subandriyo. 2007. Analisis kurva partumbuhan domba garut dan persilangannya. JITV 12(4): 286-299. Lawrie, R. A. 2003. Ilmu Daging. Terjemahan: A. Parakkasi. UI-Press, Jakarta. Lehninger A.L. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid I. Penerjemah: M. Thenawidjaja. Penerbit Erlangga, Jakarta. Lehninger A.L. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid II. Penerjemah: M. Thenawidjaja. Penerbit Erlangga, Jakarta. Linder, M.C. 2006. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Terjemahan: Aminuddin Parakkasi dan A.Y. Amwila. UI-Press, Jakarta Mansjoer, S.S., T. Kertanugraha, & C. Sumantri. 2007. Estimasi jarak genetik antar domba garut tipe tangkas dengan tipe pedaging. Med. Pet. 30(2):129-138. Manso T., R. Bodas, T. Castro, V. Jimeno, & A.R. Mantecon. 2009. Animal performance and fatty acid composition of lambs fed with different vegetable oils. Meat Sci.83: 511-516. Murray R.K, D.K. Granner, & V.W. Rodwell. 2009. Biokimia Harper. Terjemahan: B.U. Pendit. EGC, Jakarta. Ness G.C & C.M. Chambers. 2000. Feedback and hormonal regulation of hepatic 3hidroxy-3methylglutaril coenzyme A reductase: the concept of cholesterol buffering capacity. Departement of Biochemistry and Molecular Biology, Coolege of Medicine, University of South Florida, Florida. Pemerintah Kabupaten Garut. 2011. Potensi Daerah Kabupaten Garut. Pemerintah Kabupaten Garut, Garut. Purbowati, E., C.I. Sutrisno, E. Baliarti, S.P.S. Budhi, & W. Lestariana. 2006. Komposisi kimia otot Longissimus dorsi dan Biceps femoris domba lokal jantan yang dipelihara di pedesaan pada bobot potong yang berbeda. J. Animal Production 8(1): 1 – 7. 41 Purves, W.K., G.H. Orians, & H.C. Heller. 1995. Life: The Science of Biology, 4th Edition. Sinauer Associates, Sunderland. Rahayu, S., D. Diapari, D.S. Wandito, & W.W. Ifafah. 2010. Survey potensi ketersediaan limbah tauge sebagai pakan ternak alternatif di Kodya Bogor. Laporan Penelitian. Dept. IPTP. Fakultas Peternakan IPB, Bogor. Rahayu, S., M. Baihaqi, & D.S Wandito. 2011. Pemanfaatan limbah tauge sebagai pakan alternatif pada peternakan penggemukan domba di wilayah urban. Laporan Penelitian. Dept. IPTP. Fakultas Peternakan IPB, Bogor. Riwantoro. 2005. Konservasi plasma nutfah domba garut dan strategi pengembangannya secara berkelanjutan. Disertasi. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Rousset-Akrim, S., O.A. Young, & J.L. Berdague. 1997. Diet and growth effects in panel assessment of sheepmeat odour and flavour. Meat Sci. 45: 169-181. Sorensen A.N & D.E Tribe. 1983. Dinamic Biochemistry of Animal Production. Elsevier Science Pubhlising Company Inc, New York. Steel R.G.D. & J.H. Torrie. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Biometrik. Terjemahan: B. Sumantri. Edisi ke-2 PT. Gramedia, Jakarta. USDA. 2012. Nutrient data for 11043, Mung beans, mature seeds, sprouted, raw. http://www.nal.usda.gov/fnic/foodcomp/. [9 Maret 2012]. Widiansyah, E. 2006. Kadar kolesterol daging domba garut menyusui lepas sapih dan dewasa dengan cara pemasakan yang berbeda. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor. Wijaksani, T.T. 2002. Asam lemak, kolesterol musculus longissimus dorsi domba jantan priangan hasil penggemukan dengan ransum mengandung bungkil inti sawit diproses dengan formaldehida. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor. Williams, P.G. 2007. Nutritional composition of red meat. Faculty of Health & Behavioural Science, University of Wollongong. Wirahadikusumah, M. 1985. Biokimia Metabolisme Energi, Karbohidrat dan Lipid. Institut Teknologi Bandung, Bandung. Wiryawan, K.G., A. Parakkasi, R. Priyanto, & I.P. Nanda. 2007. Evaluasi penggunaan bungkil inti sawit terproteksi formaldehida terhadap performa ternak, efisiensi penggunaan nitrogen dan komposisi asam lemak tidak jenuh domba priangan. JITV 12(4): 249-254. Young, O.A, J.L. Berdague, C. Viallon, S. Rousset-Akrim, & M. Theriez. 1997. Fatborne volatiles and sheepmeat odour. Meat Sci. 45: 183-200. 42 LAMPIRAN 43 Lampiran 1. Analisis Ragam Kadar Air Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 7,0222 7,0222 0,52 0,5089 Galat 4 53,5204 13,3801 Total 5 60,5426 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh = F hitung. Lampiran 2. Analisis Ragam Kadar Protein Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 4,8366 4,83663 2,04 0,2263 Galat 4 9,4798 2,36995 Total 5 14,3164 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 3. Analisis Ragam Kadar Lemak Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,0862 0,08616 0,01 0,9176 Galat 4 28,4084 7,10209 Total 5 28,4945 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 4. Analisis Ragam Kadar Abu Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,83851 0,83851 0,62 0,4734 Galat 4 5,36659 1,34165 Total 5 6,20509 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 5. Analisis Ragam Karbohidrat Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,0000067 0,0000067 0,14 0,9176 Galat 4 0,000018 0,0000047 Total 5 0,000019 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. 44 Lampiran 6. Analisis Ragam Asam Kaprilat (C8:0) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,00015 0,00015 0,37 0,5734 Galat 4 0,00160 0,00040 Total 5 0,00175 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 7. Analisis Ragam Asam Kaprat (C10:0) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,000067 0,000067 0,80 0,4216 Galat 4 0,00033 0,000083 Total 5 0,0004 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 8. Analisis Ragam Asam Laurat (C12:1) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,01707 0,01707 1,08 0,3564 Galat 4 0,06293 0,01573 Total 5 0,08000 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 9. Analisis Ragam Asam Miristat (C14:0) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,05802 0,05802 1,13 0,3478 Galat 4 0,20547 0,05137 Total 5 0,26348 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 10. Analisis Ragam Asam Palmitat (C16:0) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,56427 0,56427 1,67 0,2653 Galat 4 1,34773 0,33693 Total 5 1,91200 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. 45 Lampiran 11. Analisis Ragam Asam Stearat (C18:0) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,88167 0,88167 2,89 0,1645 Galat 4 1,22133 0,30533 Total 5 2,10300 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 12. Analisis Ragam Asam Oleat (C18:1) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,00960 0,00960 0,80 0,4205 Galat 4 0,04773 0,01193 Total 5 0,05733 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 13. Analisis Ragam Asam Linoleat (C18:2) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,00960 0,00960 0,80 0,4205 Galat 4 0,04773 0,01193 Total 5 0,05733 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 14. Analisis Ragam Asam Linolenat (C18:3) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,000067 0,000067 0,80 0,4216 Galat 4 0,00033 0,000033 Total 5 0,00040 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 15. Analisis Ragam Kadar Kolesterol Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 51,04 51,04 0,07 0,8006 Galat 4 2802,69 700,672 Total 5 2853,73 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. 46 DAFTAR PUSTAKA Adawiah, T. Sutardi, T. Toharmat, W. Manalu, & N. Ramli. 2006. Respons suplementasi sabun mineral dan mineral organik serta kacang kedelai sangrai pada kecernaan nutrien pakan dan lemak serum domba. J.Indon.Trop.Anim. Agric. 31(4): 211-218. AOAC International. 2005. Official Method of Analysis of the Assosiation of Official Analytical Chemists. Benyamin Franklin Station, Washington D.C. Astuti N. 2006. Kandungan nutrisi dan kadar kolesterol daging domba garut masa menyusu (milk lamb), muda (lamb), dan dewasa (mutton). Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor. Banskalievaa V., T. Sahlub, & A.L. Goetschc. 2000. Fatty acid composition of goat muscles and fat depots: a review. Small Ruminant Research (37): 255-268. Bauman, D.E. & A.L. Lock. 2006. Concepts in lipid digestion and metabolism in dairy cows. Proceeding. Tri-State Dairy Nutrition Conference April 25 and 26, 2006. Berg, R.T. & L. E. Walters. 1983. The meat animal: changes and challenges. J Anim. Sci. 57:133-146. Bernes, G. T. Turner, & J. Pikova. 2012. Sheep fed only silage or silage supplemented with concentrates 2. Effects on lamb performance and fatty acid profile of ewe milk and lamb meat. Small Ruminant Research 102: 114– 124. Bessa R.J.B, M. Lourenço, P.V. Portugal, & J. Santos-Silva. 2008. Effects of previous diet and duration of soybean oil supplementation on light lambs carcass composition, meat quality and fatty acid composition. Meat Sci. 80: 1100–1105. BSN[Badan Standardisasi Nasional]. 2008. SNI 3925:2008: Mutu karkas dan daging kambing/domba. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta. Chizzolini R., E. Zanardi, V. Dorigoni, & S. Ghidini. 1999. Caloric value and cholesterol content of normal and low-fat meat and meat products. Trends in Food Science & Technology (10): 119-128. Davis, B.G. & A.J. Fairbanks. 2002. Carbohydrate Chemistry. Oxford University Press, New York. Demirel G., H.Ozpinar, B.Nazli, & O. Keser. 2006. Fatty acids of lamb meat from two breeds fed different forage: concentrate ratio. Meat Sci. 72: 229-235. Duckett S.K. & P.S Kuber. 2001. Genetic and nutritional effects on lamb flavor. J. Anim. Sci. 79: E249-E254. 40 Forrest, J.C., E.D Aberle, H.B. Hedrick, M.D. Judge, & R.A Merkel. 2001. Principle of Meat Science. W.H. Freeman and Company, San Fransisco. Gaman, P.M. & K.B. Sherrington. 1998. Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi, dan Mikrobiologi. terjemahan M. Gardjito, S. Naruki, A. Murdiati, & Sarjono. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Getty, R. 1975. The Anatomy of the Domestic Animal, Sisson and Grossman’s, 5th Ed. W.B. Saunders Company, London. Inounu I., N. Hidayati, Subandriyo, B. Tiesnamurti, & L. O. Nafiu. 2003. Analisis keunggulan relatif domba garut anak dan persilangannya. JITV 8(3): 170-182. Inounu I., D. Mauluddin, R.R. Noor & Subandriyo. 2007. Analisis kurva partumbuhan domba garut dan persilangannya. JITV 12(4): 286-299. Lawrie, R. A. 2003. Ilmu Daging. Terjemahan: A. Parakkasi. UI-Press, Jakarta. Lehninger A.L. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid I. Penerjemah: M. Thenawidjaja. Penerbit Erlangga, Jakarta. Lehninger A.L. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid II. Penerjemah: M. Thenawidjaja. Penerbit Erlangga, Jakarta. Linder, M.C. 2006. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Terjemahan: Aminuddin Parakkasi dan A.Y. Amwila. UI-Press, Jakarta Mansjoer, S.S., T. Kertanugraha, & C. Sumantri. 2007. Estimasi jarak genetik antar domba garut tipe tangkas dengan tipe pedaging. Med. Pet. 30(2):129-138. Manso T., R. Bodas, T. Castro, V. Jimeno, & A.R. Mantecon. 2009. Animal performance and fatty acid composition of lambs fed with different vegetable oils. Meat Sci.83: 511-516. Murray R.K, D.K. Granner, & V.W. Rodwell. 2009. Biokimia Harper. Terjemahan: B.U. Pendit. EGC, Jakarta. Ness G.C & C.M. Chambers. 2000. Feedback and hormonal regulation of hepatic 3hidroxy-3methylglutaril coenzyme A reductase: the concept of cholesterol buffering capacity. Departement of Biochemistry and Molecular Biology, Coolege of Medicine, University of South Florida, Florida. Pemerintah Kabupaten Garut. 2011. Potensi Daerah Kabupaten Garut. Pemerintah Kabupaten Garut, Garut. Purbowati, E., C.I. Sutrisno, E. Baliarti, S.P.S. Budhi, & W. Lestariana. 2006. Komposisi kimia otot Longissimus dorsi dan Biceps femoris domba lokal jantan yang dipelihara di pedesaan pada bobot potong yang berbeda. J. Animal Production 8(1): 1 – 7. 41 Purves, W.K., G.H. Orians, & H.C. Heller. 1995. Life: The Science of Biology, 4th Edition. Sinauer Associates, Sunderland. Rahayu, S., D. Diapari, D.S. Wandito, & W.W. Ifafah. 2010. Survey potensi ketersediaan limbah tauge sebagai pakan ternak alternatif di Kodya Bogor. Laporan Penelitian. Dept. IPTP. Fakultas Peternakan IPB, Bogor. Rahayu, S., M. Baihaqi, & D.S Wandito. 2011. Pemanfaatan limbah tauge sebagai pakan alternatif pada peternakan penggemukan domba di wilayah urban. Laporan Penelitian. Dept. IPTP. Fakultas Peternakan IPB, Bogor. Riwantoro. 2005. Konservasi plasma nutfah domba garut dan strategi pengembangannya secara berkelanjutan. Disertasi. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Rousset-Akrim, S., O.A. Young, & J.L. Berdague. 1997. Diet and growth effects in panel assessment of sheepmeat odour and flavour. Meat Sci. 45: 169-181. Sorensen A.N & D.E Tribe. 1983. Dinamic Biochemistry of Animal Production. Elsevier Science Pubhlising Company Inc, New York. Steel R.G.D. & J.H. Torrie. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Biometrik. Terjemahan: B. Sumantri. Edisi ke-2 PT. Gramedia, Jakarta. USDA. 2012. Nutrient data for 11043, Mung beans, mature seeds, sprouted, raw. http://www.nal.usda.gov/fnic/foodcomp/. [9 Maret 2012]. Widiansyah, E. 2006. Kadar kolesterol daging domba garut menyusui lepas sapih dan dewasa dengan cara pemasakan yang berbeda. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor. Wijaksani, T.T. 2002. Asam lemak, kolesterol musculus longissimus dorsi domba jantan priangan hasil penggemukan dengan ransum mengandung bungkil inti sawit diproses dengan formaldehida. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor. Williams, P.G. 2007. Nutritional composition of red meat. Faculty of Health & Behavioural Science, University of Wollongong. Wirahadikusumah, M. 1985. Biokimia Metabolisme Energi, Karbohidrat dan Lipid. Institut Teknologi Bandung, Bandung. Wiryawan, K.G., A. Parakkasi, R. Priyanto, & I.P. Nanda. 2007. Evaluasi penggunaan bungkil inti sawit terproteksi formaldehida terhadap performa ternak, efisiensi penggunaan nitrogen dan komposisi asam lemak tidak jenuh domba priangan. JITV 12(4): 249-254. Young, O.A, J.L. Berdague, C. Viallon, S. Rousset-Akrim, & M. Theriez. 1997. Fatborne volatiles and sheepmeat odour. Meat Sci. 45: 183-200. 42 LAMPIRAN 43 Lampiran 1. Analisis Ragam Kadar Air Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 7,0222 7,0222 0,52 0,5089 Galat 4 53,5204 13,3801 Total 5 60,5426 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh = F hitung. Lampiran 2. Analisis Ragam Kadar Protein Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 4,8366 4,83663 2,04 0,2263 Galat 4 9,4798 2,36995 Total 5 14,3164 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 3. Analisis Ragam Kadar Lemak Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,0862 0,08616 0,01 0,9176 Galat 4 28,4084 7,10209 Total 5 28,4945 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 4. Analisis Ragam Kadar Abu Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,83851 0,83851 0,62 0,4734 Galat 4 5,36659 1,34165 Total 5 6,20509 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 5. Analisis Ragam Karbohidrat Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,0000067 0,0000067 0,14 0,9176 Galat 4 0,000018 0,0000047 Total 5 0,000019 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. 44 Lampiran 6. Analisis Ragam Asam Kaprilat (C8:0) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,00015 0,00015 0,37 0,5734 Galat 4 0,00160 0,00040 Total 5 0,00175 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 7. Analisis Ragam Asam Kaprat (C10:0) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,000067 0,000067 0,80 0,4216 Galat 4 0,00033 0,000083 Total 5 0,0004 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 8. Analisis Ragam Asam Laurat (C12:1) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,01707 0,01707 1,08 0,3564 Galat 4 0,06293 0,01573 Total 5 0,08000 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 9. Analisis Ragam Asam Miristat (C14:0) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,05802 0,05802 1,13 0,3478 Galat 4 0,20547 0,05137 Total 5 0,26348 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 10. Analisis Ragam Asam Palmitat (C16:0) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,56427 0,56427 1,67 0,2653 Galat 4 1,34773 0,33693 Total 5 1,91200 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. 45 Lampiran 11. Analisis Ragam Asam Stearat (C18:0) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,88167 0,88167 2,89 0,1645 Galat 4 1,22133 0,30533 Total 5 2,10300 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 12. Analisis Ragam Asam Oleat (C18:1) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,00960 0,00960 0,80 0,4205 Galat 4 0,04773 0,01193 Total 5 0,05733 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 13. Analisis Ragam Asam Linoleat (C18:2) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,00960 0,00960 0,80 0,4205 Galat 4 0,04773 0,01193 Total 5 0,05733 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 14. Analisis Ragam Asam Linolenat (C18:3) Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 0,000067 0,000067 0,80 0,4216 Galat 4 0,00033 0,000033 Total 5 0,00040 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. Lampiran 15. Analisis Ragam Kadar Kolesterol Sumber Keragaman db JK KT Fh P Umur 1 51,04 51,04 0,07 0,8006 Galat 4 2802,69 700,672 Total 5 2853,73 Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah; Fh= F hitung. 46 RINGKASAN SITA ARUM PRABAWATI. D14080206. 2012.Kandungan Nutrisi, Komposisi Asam Lemak, dan Kadar Kolesterol Daging Domba Garut Muda Berbeda Umur yang Diberi Ransum Mengandung Limbah Tauge. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Pembimbing Utama : Tuti Suryati, S.Pt., M.Si. Pembimbing Anggota : Ir. Sri Rahayu, M.Si. Terdapat jenisdomba garut yang cocok digunakan sebagai ternak pedaging karena memiliki berbagai kelebihan, seperti performa yang baik dan pertambahan bobot badan harian yang tinggi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menghasilkan daging domba yang berkualitas dan aman untuk dikonsumsi. Salah satu cara yang ditempuh adalah melakukan pemotongan ternak pada umur tertentu. Umur pemotongan berperan dalam menentukan kandungan nutrisi, komposisi asam lemak, dan kadar kolesterol daging domba. Selain itu dilakukan pengaturan pakan yang diberikan pada ternak. Limbah tauge merupakan salah satu jenis pakan yang ketersediaannya melimpah namun belum banyak dimanfaatkan. Limbah tauge ini diharapkan dapat mempengaruhi kandungan nutrisi, kadar kolesterol, dan asam lemak yang terkandung pada daging domba. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan mempelajari kandungan nutrisi, komposisi asam lemak, dan kadar kolesterol daging domba garut yang diberi ransum mengandung limbah tauge pada umur yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-November 2011 yang berlokasi di Laboratorium Lapang Ilmu Produksi Ternak Ruminansia Kecil Blok B Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, sedangkan pengujian pascapemotongan dilakukan di Laboratorium Instrumen, Balai Besar Industri Agro.Domba garut yang digunakan terdiri atas 3 ekor domba garut jantan umur 5 bulan dan 3 ekor domba garut jantan umur 11 bulan. Faktor perlakuannya adalah pemotongan pada umur yang berbeda. Peubah yang diteliti adalah kandungan nutrisi, komponen asam lemak, dan kadar kolesterolnya. Rancangan acak lengkap (RAL) adalah rancangan yang digunakan dalam penelitian ini. Data dianalisis menggunakananalysis of variance(ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan umur tidak berpengaruh terhadap kandungan nutrisi daging domba garut muda yang diberi ransum mengandung limbah tauge (P > 0,05). Rataan kadar air daging domba 5 dan 11 bulan berturut-turut 69,17%± 3,17% dan 71,33% ± 4,09%. Protein daging domba 5 bulan sebesar 20,19% ± 2,07% dan 11 bulan 21,99% ± 0,68%. Kadar lemak daging domba 5 bulan 5,74% ± 1,12%, sedangkan pada domba 11 bulan 5,50% ± 3,60%. Kadar abu daging domba 5 bulan sebesar 1,88% ± 1,63%, pada daging domba 11 bulan 1,13% ± 0,19%. Karbohidrat sebesar 0,05% ± 0,01% pada daging domba 5 bulan dan 0,05% ± 0,01%pada daging domba 11 bulan. Perbedaan umur juga tidak berpengaruh terhadap komposisi asam lemak dan kadar kolesterol daging domba garut (P > 0,05). Komposisi asam lemak yang teridentifikasi pada penelitian ini terdiri atas lemak jenuh dan tak jenuh. Asam lemak jenuh yang terdeteksi antara lain C8:0 (asam kaprilat), C10:0 (asam kaprat), C 12:0 (asam laurat), C14:0 (asam miristat), C16:0 (asam palmitat), C18:0 (asam stearat), sedangkan asam lemak tak jenuh yang terdeteksi antara lain C18:1 (asam oleat), ii C18:2 (asam linoleat), dan C18:3 (asam linolenat). Rataan kadar kolesterol daging domba garut 5 bulan (65,467 ± 22,251) mg/100 g dan rataan kadar kolesterol daging domba garut 11 bulan (71,300 ± 29,902) mg/100 g. Kata-kata kunci: nutrisi, asam lemak, kolesterol, daging domba, limbah tauge iii
Kandungan Nutrisi, Komposisi Asam Lemak, dan Kadar Kolesterol Daging Domba Garut Muda Berbeda Umur yang Diberi Ransum Mengandung Limbah Tauge
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Kandungan Nutrisi, Komposisi Asam Lemak, dan Kadar Kolesterol Daging Domba Garut Muda Berbeda Umur yang Diberi Ransum Mengandung Limbah Tauge

Gratis