Analisis hasil tangkapan pukat ikan kaitannya dengan kandungan klorofil a dan suhu permukaan laut di Perairan Tapanuli Tengah

Gratis

12
40
118
2 years ago
Preview
Full text
ANALISIS HASIL TANGKAPAN PUKAT IKAN KAITANNYA DENGAN KANDUNGAN KLOROFIL-A DAN SUHU PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN TAPANULI TENGAH MARDAME PANGIHUTAN SINAGA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Analisis Hasil Tangkapan Pukat Ikan Kaitannya dengan Kandungan Klorofil-a dan Suhu Permukaan Laut di Perairan Tapanuli Tengah” adalah karya sendiri dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Februari 2009 Mardame Pangihutan Sinaga NRP C551050051 ABSTRACT Mardame P Sinaga. 2008. Catch Analysis of fish net in its relationship to Chlorophyll-a concentration and Sea Surface Temperature in Tapanuli Tengah Waters. Supervise by Mr. Domu Simbolon and Mr. Budy Wiryawan. Sea surface temperature (SST) and chlorophyll-a are two important oceanographic parameters determining the abundance and distribution of fish. The aim of this research is to determine distribution of SST, chlorophyll-a, composition of fish catch and the relationship between SST, chlorophyll-a with fish catch. This study was conducted in Tapanuli Tengah waters. Catch analysis data has been taken from field of research on the 7-19 July 2007 and satellite imagery was taken Laboratorium Matra Laut-Pusat Penginderaan Jauh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Pekayon, Jakarta Timur at July 2007. The amount of fish catch from Tapanuli Tengah waters landed at PPN Sibolga city was 31.076 kgs. The catch of 15 species of dominant by peperek/keke (Leiognathus decorus), teri (Stolephorus commersonii), belado kuning (Atule mate), layang (Decapterus spp), kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma), buncilak (Alepes djeddaba) dan parang-parang (Chirocentrus dorab). There was no relationship between SST, chlorophyll-a with fish catch. Key words: Catch analysis, Chlorophyll-a and SST, Tapanuli Tengah Waters. RINGKASAN Perairan Tapanuli Tengah memiliki peranan yang cukup strategis sebagai sentra produksi perikanan laut di Sumatera Utara. Hasil tangkapan yang dihasilkan oleh para nelayan Tapanuli Tengah terdiri atas ikan pelagis dan demersal. Hasil tangkapan ikan pelagis umumnya lebih dominan dibandingkan ikan demersal selama lima tahun dari tahun 2000-2004, yaitu sebesar 188.190 ton. Salah satu permasalahan utama yang dihadapi dalam kegiatan eksploitasi sumberdaya perikanan di Sibolga dan sekitarnya adalah ketidakpastian letak dan sulitnya mencari daerah penangkapan (fishing ground), sehingga menyebabkan hasil tangkapan ikan belum optimal. Parameter oseanografi merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap variabilitas hasil tangkapan ikan, sperti klorofil-a dan suhu permukaan laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan sebaran SPL optimum dan kandungan klorofil-a untuk penangkapan ikan pelagis, komposisi hasil tangkapan ikan pelagis dan hubungan antara SPL dan kandungan klorofil-a terhadap hasil tangkapan. Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai informasi dasar untuk pengelolaan perikanan ikan pelagis di perairan Tapanuli Tengah, bagi industri penangkapan, informasi yang akan diperoleh nantinya dapat digunakan sebagai salah satu petunjuk untuk merencanakan operasi penangkapan ikan dan untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan daerah penangkapan ikan pelagis. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama dimaksudkan untuk pengambilan data lapangan, yang meliputi data hasil tangkapan, posisi penangkapan dan kondisi daerah penangkapan. Pengambilan data lapangan ini dilaksanakan di perairan Sibolga pada tanggal 7-19 Juli 2007. Posisi penangkapan di lokasi penelitian disajikan pada Gambar 13. Tahap kedua untuk pengolahan serta analisis data klorofil-a dan suhu permukaan laut (SPL) hasil deteksi satelit diambil dari Laboratorium Matra Laut-Pusat Penginderaan Jauh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Pekayon, Jakarta Timur pada bulan Juli 2007. Data meteorologi berupa curah hujan, penyinaran matahari, kelembaban udara, kecerahan perairan dan kecepatan angin diperoleh dari Stasiun BMG Balai Besar Wilayah 1 Medan. Data perikanan dianalisis yang meliputi komposisi jenis ikan (spesies), jenis dan jumlah ikan yang dominan tertangkap, komposisi jumlah dan spesies ikan yang dominan tertangkap pada setiap posisi penangkapan yang berbeda. Data hasil tangkapan yang diperoleh selama 11 hari penangkapan, data suhu permukaan laut dan klorofil-a selama bulan Juli 2007, dianalisis secara statistik deskriptif untuk menggambarkan hasilnya dan selanjutnya dirata-ratakan untuk mendapatkan hasil tangkapan dominan dari 15 spesies dari tanggal 7-19 Juli 2007 untuk setiap posisi daerah penangkapan. Data hasil tangkapan ikan yang dominan tertangkap hubungannya dengan SPL dan klorofil-a ditentukan dengan Analisis Regresi Linear. Hasil tangkapan ikan pelagis kecil pemakan plankton seperti teri (Stolephorus commersonii), layang (Decapterus spp), kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma) tidak berpengaruh terhadap klorofil-a karena sebaran kandungan klorofil-a di perairan Tapanuli Tengah adalah bervariasi sehingga ikan tersebut tidak dapat mentolerir perubahan kandungan klorofil-a secara tiba-tiba pada setiap hari, dan banyaknya pemangsa terutama bagi gerombolan ikan teri yang memiliki tujuan migrasi secara periodik sehingga menyebar secara tidak merata serta mengakibatkan hasil tangkapan nelayan khususnya untuk ikan pelagis kecil lainnya seperti ikan kembung perempuan, layang, belado kuning, buncilak dan parang-parang berkurang. Kekurangan dalam metode pengumpulan data adalah hasil tangkapan yang diperoleh sangat sedikit karena sewaktu melakukan penangkapan ikan, kapal lainnya sudah melakukan penangkapan pada posisi penangkapan yang sama sebelum kapal pukat ikan melakukan penangkapan di posisi daerah penangkapan tersebut dan kapal pukat ikan yang digunakan oleh peneliti tidak boleh mengambil hasil tangkapan mereka di posisi yang sama, apabila terjadi bisa menimbulkan konflik. Kegiatan pengukuran sampel klorofil-a tidak menggunakan alat dalam melakukan penangkapan ikan di laut selama penelitian karena alat yang digunakan sangat susah diperoleh sehingga hanya melakukan pengukuran dari citra satelit MODIS. Sedangkan suhu permukaan laut ada dilakukan pengukuran terhadap daerah penangkapan tetapi data hasil pengukuran SPL di lapangan ternyata tidak sama dengan data SPL pengukuran dari citra satelit NOAAAVHRR jadi hanya menggunakan data pengukuran SPL dari citra satelit NOAAAVHRR saja. Mengacu pada keterbatasan yang ditemukan selama penelitian, maka disarankan umtnk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan hasil tangkapan terhadap faktor oseanografi lainnya, serta dilakukan penelitian mengenai analisis perut ikan (stomach content) sehingga dapat diketahui apakah ikan pemakan fitoplankton, zooplankton maupun jenis-jenis organisme lainnya. © Hak cipta milik IPB, tahun 2009 Hak cipta dilindungi undang-undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber : a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah. b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB. ANALISIS HASIL TANGKAPAN PUKAT IKAN KAITANNYA DENGAN KANDUNGAN KLOROFIL-A DAN SUHU PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN TAPANULI TENGAH MARDAME PANGIHUTAN SINAGA Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Prof. Dr. Ir. Mulyono S Baskoro, M.Sc. Judul Tesis : Analisis Hasil Tangkapan Pukat Ikan Kaitannya dengan Kandungan Klorofil-a dan Suhu Permukaan Laut di Perairan Tapanuli Tengah Nama : Mardame Pangihutan Sinaga NRP : C551050051 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Domu Simbolon, M.Si Ketua Dr.Ir. Budy Wiryawan, M.Sc Anggota Diketahui Ketua Program Studi Teknologi Kelautan Prof. Dr. Ir. John Haluan, M.Sc Tanggal Ujian : 23 Januari 2009 Dekan Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS Tanggal Lulus : PRAKATA Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa penulis panjatkan karena dengan rahmat dan karunia-Nya tesis ini dapat diselesaikan. Tesis yang berjudul ”Analisis Hasil Tangkapan Pukat Ikan Kaitannya dengan Klorofil-a dan Suhu Permukaan Laut di Perairan Tapanuli Tengah” diselesaikan tepat pada waktunya. Ucapan terimakasih kepada Bapak Dr. Ir. Domu F. Simbolon, M.Si (selaku Ketua Komisi Pembimbing) dan Dr. Ir. Budy Wiryawan, M.Sc (selaku Anggota Komisi Pembimbing) yang telah banyak mengorbankan waktu dan tenaganya dalam mengarahkan, mengoreksi dan memberikan saran kepada penulis, sehingga penulisan usulan penelitian ini dapat terwujud. Demikian juga ucapan terimakasih penulis haturkan kepada Bapak Prof Dr. Ir John Haluan, M.Sc selaku Ketua Program Studi dan Prof Dr. Ir Mulyono S Baskoro, M.Sc sebagai penguji luar komisi serta para staf pengajar yang telah banyak berperan dalam menambah wawasan keilmuan. Pada kesempatan ini penulis ucapkan terimakasih kepada Ibu Dr. Dra. Mariani, M.Sc dan Bapak B Nainggolan yang telah banyak membantu penulis dalam memperoleh data-data penelitian yang dibutuhkan serta saran kritikannya serta teman-teman TKL lainnya maupun teman-teman dekat yang tidak dapat saya sebutkan nama-namanya yang banyak mendukung penulis dalam segala hal. Dengan penuh rasa sayang dan penuh kasih penulis ucapkan terimakasih kepada Ayahanda Mangasa Sinaga dan Ibunda Tiodora Simanullang, abangku Gira B P Sinaga, adekku Johannes Sinaga yang banyak terabaikan, kasih sayang dan doa yang tiada putus selama penyelesaian studi ini, saya hanya bisa berdoa semoga semua pengorbananmu dicatat dihati Tuhan Yesus Kristus. Akhirnya penulis menyadari tulisan ini masih banyak kekurangan yang akan ditemui pembaca, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kirtikan yang sifatnya konstruktif demi penyempurnaan tesis ini di masa mendatang. Bogor, Februari 2009 Penulis RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan dari pasangan Bapak Mangasa Sinaga dan Ibu Tiodora Simanullang pada tanggal 26 Desember 1979 di Jalan Pintu Air IV No. 106, Medan Johor, Sumatera Utara. Pada tahun 1992 penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Swasta Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Padang Bulan Medan, tahun 1995 menyelesaikan pendidikan SMP Kristen 1 Medan, tahun 1995 melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) IMMANUEL Medan, tahun 1998 penulis melanjutkan studinya pada Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan Universitas Riau, lulus pada tahun 2005 dengan Skripsi berjudul ”Pengaruh Jumlah Lampu terhadap Hasil Tangkapan Bagan Apung di Perairan Sibolga Kecamatan Tapanuli Tengah”. Pada bulan Agustus tahun 2005, penulis melanjutkan studi S2 di program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dengan program studi Teknologi Kelautan (TKL). Pada tanggal 23 Januari 2009, penulis menyelesaikan studi S2 di program studi Teknologi Kelautan (TKL) dengan judul Thesis : ”Analisis Hasil Tangkapan Pukat Ikan Kaitannya dengan Kandungan Klorofil-a dan Suhu Permukaan Laut di Perairan Tapanuli Tengah”. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ............................................................................................ xii DAFTAR TABEL...................................................................................... xiv DAFTAR GAMBAR ................................................................................ xv DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xvii 1 2 3 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1.2 Perumusan Masalah ................................................................. 1.3 Tujuan ...................................................................................... 1.4 Manfaat .................................................................................... 1.5 Hipotesis................................................................................... 1.6 Kerangka Pemikiran................................................................. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aplikasi Penginderaan Jauh untuk Pemetaan Daerah Penangkapan Ikan........................................................ 2.2 Parameter Oseanografi ............................................................. 2.2.1 Suhu permukaan laut.................................................... 2.2.2 Produktivitas perairan .................................................. 2.3 Sumberdaya Ikan Pelagis ......................................................... 2.3.1 Ikan peperek/keke (Leiognathus decorus) ................... 2.3.2 Ikan kembung (Rastrelliger spp) ................................. 2.3.3 Ikan layang (Decapterus spp) ...................................... 2.3.4 Ikan belado kuning/selar hijau (Atule male) ................ 2.3.5 Ikan buncilak/selar como (Alepes djeddaba) ............... 2.3.6 Ikan parang-parang (Chirocentrus dorab) ................... 2.3.7 Ikan teri (Stolephorus commersonii)............................ 2.4 Karakteristik Alat Tangkap Trawl dan Pukat Ikan .................. 2.4.1 Karakteristik alat tangkap trawl ................................... 2.4.2 Karakteristik pukat ikan ............................................... 2.5 Operasi Penangkapan Ikan Pelagis dengan Trawl dan Pukat Ikan........................................................................................... 2.5.1 Operasi penangkapan ikan pelagis dengan trawl ......... 2.5.2 Operasi penangkapan ikan pelagis dengan pukat ikan. Metode Penelitan 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian ................................................... 3.2 Bahan dan Alat......................................................................... 3.3 Metode Pengumpulan Data ..................................................... 3.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data .................................... 1 5 6 6 6 6 8 12 12 14 16 17 19 21 23 24 25 26 27 27 31 33 33 34 36 37 37 38 3.4.1 3.4.2 3.4.3 4 Analisis komposisi hasil tangkapan ............................. Pengolahan citra satelit ................................................ Pengolahan citra SPL dan klorofil-a dari Er Mapper ke ArcView GIS........................................................... 38 37 40 HASIL PENELITIAN 4.1 Komposisi Hasil Tangkapan .................................................... 4.2 Suhu Permukaan Laut .............................................................. 4.3 Klorofil-a.................................................................................. 4.4 Hubungan antara SPL dan Klorofil-a terhadap Hasil Tangkapan ................................................................................ 4.4.1 Hubungan suhu permukaan laut terhadap hasil Tangkapan .................................................................... 4.4.2 Hubungan klorofil-a terhadap hasil tangkapan ............ 58 59 5 PEMBAHASAN ............................................................................... 62 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan .............................................................................. 6.2 Saran......................................................................................... 71 71 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 72 LAMPIRAN............................................................................................... 78 43 47 52 58 DAFTAR TABEL Halaman 1 Produksi ikan pelagis dari perairan Sibolga, tahun 2000-2004 ........... 1 2 Karakteristik satelit NOAA dan Fengyun-1......................................... 9 3 Perbandingan kanal sensor antara AVHRR dan MVISR..................... 9 4 Komposisi ikan (spesies) ..................................................................... 43 5 CPUE hasil tangkapan dominan menurut daerah penangkapan .......... 47 6 Penyebaran suhu permukaan laut dari satelit NOAA-AVHRR di empat wilayah perairan Tapanuli Tengah....................................................... 52 Penyebaran klorofil-a di empat wilayah perairan Tapanuli Tengah.................................................................................................. 58 7 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Satelit NOAA-AVHRR dan satelit FY-1 MVISR ............................... 9 2 Ikan peperek/keke (Leiognathus decorus) ........................................... 18 3 Ikan kembung (Rastrelliger spp) ......................................................... 20 4 Ikan layang (Decapterus spp) .............................................................. 22 5 Ikan belado kuning/selar hijau (Atule mate) ........................................ 23 6 Ikan buncilak/selar como (Alepes djeddaba) ....................................... 24 7 Ikan parang-parang (Chirocentrus dorab) ........................................... 26 8 Ikan teri (Stolephorus commersonii).................................................... 26 9 Alat tangkap beam trawl ...................................................................... 28 10 Alat tangkap otter trawl ....................................................................... 29 11 Alat tangkap paranzella ....................................................................... 29 12 Desain bentuk baku konstruksi pukat tarik dasar kecil tipe 2 seam atau panel ..................................................................................................... 33 13 Peta lokasi penelitian............................................................................ 36 14 Diagram alir penelitian......................................................................... 42 15 Persentase tangkapan yang dominan.................................................... 44 16 Komposisi hasil tangkapan .................................................................. 45 17 Frekuensi tertangkapnya ikan pada setiap kali operasi Penangkapan.. 46 18 Sebaran nilai CPUE dan jumlah setting pada 11 lokasi Penangkapan. 45 19 Citra SPL untuk tanggal 7 Juli 2007 .................................................... 48 20 Citra SPL untuk tanggal 9 Juli 2007 .................................................... 48 21 Citra SPL untuk tanggal 12 Juli 2007 .................................................. 49 22 Citra SPL untuk tanggal 15 Juli 2007 .................................................. 50 23 Citra SPL untuk tanggal 17 Juli 2007 .................................................. 51 24 Citra SPL untuk tanggal 19 Juli 2007 .................................................. 51 25 Citra klorofil-a untuk tanggal 7 Juli 2007 ............................................ 53 26 Citra klorofil-a untuk tanggal 9 Juli 2007 ............................................ 54 27 Citra klorofil-a untuk tanggal 12 Juli 2007 .......................................... 54 28 Citra klorofil-a untuk tanggal 15 Juli 2007 ......................................... 56 29 Citra klorofil-a untuk tanggal 17 Juli 2007 ......................................... 56 30 Citra klorofil-a untuk tanggal 19 Juli 2007 ......................................... 57 31 Hubungan suhu permukaan laut terhadap CPUE pada masing-masing DPI ....................................................................................................... 59 32 Hubungan klorofil-a terhadap CPUE pada masing-masing DPI.......... 61 33 Sebaran vertikal suhu secara umum di Perairan Indonesia.................. 70 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Jenis ikan yang dominan ...................................................................... 79 2 Jenis hasil tangkapan untuk setiap daerah penangkapan ikan pelagis kecil ..................................................................................................... 80 3 Tanggal operasi penangkapan ikan ...................................................... 81 4 Hubungan suhu permukaan laut terhadap CPUE pada masing-masing DPI menurut jenis ikan (Kg) ................................................................ 86 Hubungan klorofil-a terhadap CPUE pada masing-masing DPI menurut jenis ikan (Kg)...................................................................................... 88 6 Pengumpulan data selama penelitian ................................................... 90 7 Diagram pengolahan citra suhu permukaan laut.................................. 91 8 Diagram pengolahan citra klorofil-a .................................................... 94 5 9 Kecepatan angin, curah hujan, radiasi matahari, suhu udara dan kecerahan perairan di daerah Sibolga dan sekitarnya tahun 2007......................... 97 10 Perifikasi antara nilai SPL exsitu dan insitu ........................................ 98 11 Grafik hubungan kolerasi antara SPL exsitu dengan insitu ................. 99 12 Gambar Kapal Pukat Ikan .................................................................... 99 13 Gambar Alat Tangkap Pukat Ikan........................................................ 100 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perairan Tapanuli Tengah cukup strategis sebagai sentra produksi perikanan laut di Sumatera Utara. Hasil tangkapan yang dihasilkan oleh para nelayan Tapanuli Tengah terdiri atas ikan pelagis dan demersal. Hasil tangkapan ikan pelagis umumnya lebih dominan dibandingkan ikan demersal. Adapun perkembangan hasil tangkapan ikan pelagis selama lima tahun terakhir dari perairan Tapanuli Tengah dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Produksi ikan pelagis dari perairan Tapanuli Tengah, tahun 2000-2004 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 Produksi (Ton) 42.082 41.915 42.025 30.960 31.208 Jumlah 188.190 Sumber : Harahap (2006). Jenis-jenis ikan yang tertangkap pada umumnya adalah kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma), kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta), parang-parang (Chirocentrus dorab), peperek/keke (Leiognathus decorus), beloso (Saurida rumbii), teri (Stolephorus commersonii), layang (Decapterus spp), belado kuning (Atule male), teter/alu-alu (Sphyraena genie), biji nangka (Upeneus sulphurcus), bentong/buncilak (Alepes djeddaba), selar (Selar crumenopthalmus), baledang dan sotong. Pendapatan para nelayan Sibolga dan sekitarnya bervariasi menurut musim, karena harga ikan berbeda pada musim puncak, sedang dan paceklik. Menurut Harahap (2006), harga rata-rata ikan pelagis di Tapanuli Tengah menurut musim dan produktivitas yang diperoleh nelayan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : (1) Pada musim puncak jumlah ikan hasil tangkapan rata-rata 2.750 kg/trip dengan harga Rp.5.000,- per kg/trip (2) Pada musim sedang jumlah ikan hasil tangkapan rata-rata 1.500 kg/trip dengan harga Rp.1.500,- per kg/trip. (3) Pada musim paceklik jumlah ikan hasil tangkapan rata-rata 7.000 kg/trip dengan harga Rp.750,- per kg/trip. Harga ikan pelagis kecil yang bernilai ekonomis penting biasanya sudah ditentukan oleh para pengecer/tengkulak sesuai dengan peraturan-peraturan yang telah mereka terapkan. Eksploitasi sumberdaya perikanan di perairan Tapanuli Tengah telah memicu terjadinya konflik antar nelayan setempat yang disebabkan oleh perebutan daerah penangkapan ikan (DPI) yang baik. Persoalan semakin bertambah dengan hadirnya nelayan-nelayan asing dari Thailand, Malaysia dan Vietnam yang melakukan illegal fishing (penangkapan liar) dengan menggunakan peralatan dan armada/kapal modern. Nelayan-nelayan tersebut datang ke perairan Tapanuli Tengah sudah dilengkapi dengan peta daerah penangkapan ikan (DPI) sehingga ketika melaut mereka tidak lagi datang dengan tujuan ‘mencari’ ikan tetapi langsung ‘menangkap’ ikan karena dalam penentuan suatu daerah penangkapan ikan (DPI) oleh nelayan di perairan Tapanuli Tengah umumnya didasarkan pada faktor pengalaman yang dikaitkan dengan faktor musim. Sedangkan untuk mendapatkan gerombolan ikan dilakukan dengan cara-cara tradisional yaitu dengan memperhatikan tanda-tanda di laut, misalnya adanya gerombolan burung di atas/di dekat permukaan laut, ada tidaknya riak-riak ataupun buih air di permukaan laut dan juga warna air laut. Dengan cara ini tingkat keberhasilannya rendah dan mengandung keterbatasan-keterbatasan dalam skala ruang dan waktu. Keberadaan daerah penangkapan yang bersifat dinamis dan selalu berpindah mengikuti pergerakan ruaya ikan menjadi faktor utama konflik perebutan DPI pelagis. Secara alami ikan akan memilih lingkungan yang lebih sesuai baginya sedangkan lingkungan tersebut dipengaruhi oleh kondisi oseanografi perairan. Oleh karena itu DPI pelagis haruslah dapat diduga dan ditentukan terlebih dahulu sebelum armada penangkapan ikan dioperasikan menuju lokasi penangkapan. Informasi tentang penyebaran daerah penangkapan ikan sangat perlu sekali untuk mendukung pemanfaatan sumberdaya perikanan. Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan perikanan adalah daerah penangkapan (fishing ground). Daerah penangkapan dapat berubah sesuai dengan perubahan kondisi perairan seperti perubahan suhu, arus, salinitas, produktivitas perairan dan sebagainya. Pola kehidupan ikan tidak dapat dipisahkan dari adanya berbagai kondisi lingkungan tersebut. Menurut Gunarso (1985), fluktuasi keadaan lingkungan mempunyai pengaruh besar terhadap periode migrasi musiman serta keberadaan ikan. Keadaan perairan serta perubahannya akan mempengaruhi kehidupan dan pertumbuhan biota laut termasuk ikan. Faktor musiman dan perubahan suhu tahunan serta berbagai keadaan lainnya akan mempengaruhi penyebaran serta kelimpahan suatu jenis ikan pada daerah penangkapan ikan. Informasi daerah penangkapan ikan dapat diperoleh melalui analisis parameter lingkungan seperti suhu perairan dan kandungan klorofil-a serta hasil tangkapan sehingga nelayan dapat meningkatkan efisien operasi penangkapan melalui penghematan waktu, tenaga dan biaya operasi penangkapan. Informasi tentang parameter lingkungan dapat diperoleh dengan cara memanfaatkan perkembangan teknologi inderaja sedangkan hasil tangkapan diperoleh melalui kegiatan operasi penangkapan. Namun demikian pemetaan daerah penangkapan ikan adalah pekerjaan yang sangat rumit mengingat banyak sekali faktor-faktor lingkungan perairan yang mempengaruhinya dan faktor tersebut bersifat dinamis. Adapun faktor-faktor tersebut cukup banyak yang meliputi faktor fisik, kimiawi, biologi dan ekologis. Parameter lingkungan yang menjadi fokus perhatian dalam penelitian ini dibatasi pada SPL dan kandungan klorofil-a karena kedua parameter tersebut sangat berperan penting terhadap keberadaan ikan di perairan. Informasi tentang suhu perairan sangat penting karena dapat pula digunakan untuk mempelajari proses-proses fisika, kimia dan biologi di laut. Pola distribusi SPL dapat dipergunakan untuk mengidentifikasikan parameter-parameter laut seperti arus, umbalan dan front. Umumnya setiap spesies ikan mempunyai kisaran suhu optimum untuk makan, memijah, beruaya dan aktivitas lainnya (Laevastu 1981). Lebih lanjut Laevastu (1981) mengatakan bahwa, batasan arus serta variasi arus permukaan mempengaruhi migrasi musiman dan tahunan dari ikan pelagis dan semi pelagis serta berperan dalam transportasi telur, larva dan ikan-ikan kecil. Dengan mengetahui distribusi SPL dan pola arus suatu wilayah perairan maka akan dapat diamati fenomena upwelling dan thermal front yang merupakan daerah potensial penangkapan ikan. Ikan pelagis yang bersifat predator menyukai perairan yang banyak ikan teri pemakan kandungan nutrien sebagai makanan utama. Kandungan nutrien tersebut dapat diestimasi melalui analisis sebaran klorofil-a. Valiela (1984) mengatakan bahwa sebaran klorofil-a di laut bervariasi secara geografis maupun berdasarkan kedalaman perairan. Variasi tersebut diakibatkan oleh perbedaan intensitas cahaya matahari, dan konsentrasi nutrien yang terdapat di dalam suatu perairan. Di laut, sebaran klorofil-a lebih tinggi konsentrasinya pada perairan pantai dan pesisir, serta rendah di perairan lepas pantai. Tingginya sebaran konsentrasi klorofil-a di perairan pantai dan pesisir disebabkan karena adanya suplai nutrien dalam jumlah besar melalui run-off dari daratan, sedangkan rendahnya konsentrasi klorofil-a di perairan lepas pantai karena tidak adanya suplai nutrien dari daratan secara langsung. Namun pada daerah-daerah tertentu di perairan lepas pantai dijumpai konsentrasi klorofil-a dalam jumlah yang cukup tinggi. Keadaan ini disebabkan oleh tingginya konsentrasi nutrien yang dihasilkan melalui proses fisik masa air, dimana massa air dalam mengangkat nutrien dari lapisan dalam ke lapisan permukaan. Sebelum melakukan penangkapan ikan pelagis terlebih dahulu perlu mengetahui keberadaan ikan yang bersangkutan, sedangkan dalam upaya pengembangan sebagai salah satu potensi bidang kelautan adalah pemanfaatan sumberdaya hayati laut (ikan) secara optimal dan lestari. Oleh karena itu dibutuhkan informasi yang lengkap mengenai keadaan sumberdaya ikan dan lingkungannya di suatu perairan agar efisiensi operasi penangkapan ikan, perencanaan daerah penangkapan ikan dapat terlaksana dengan baik. Informasi ini sangat penting diketahui untuk perencanaan suatu usaha pemanfaatan sumberdaya ikan. Informasi tentang daerah penangkapan ikan mempunyai peranan penting untuk menghemat waktu, tempat dan biaya penangkapan. Dengan demikian, informasi tentang penyebaran kepadatan stok sumberdaya ikan yang sesuai dengan waktu dan tempat merupakan salah satu dasar bagi keberhasilan usaha penangkapan ikan. Penginderaan jauh (inderaja) kelautan saat ini telah berkembang seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Pemanfaatan teknologi inderaja dalam pemanfaatan sumberdaya ikan telah dilakukan di beberapa negara maju seperti Jepang, Australia, Amerika dan beberapa negara-negara Eropa. Hal ini dapat membantu berbagai penelitian untuk memahami dinamika sumberdaya ikan. Menurut Aboet (1985), keberhasilan dari teknologi penginderaan jauh dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama adalah kecanggihan dan ketelitian sensor, dalam hal ini dipengaruhi oleh rancangan sensor yang tepat dan kalibrasi instrumen yang benar. Kedua adalah kemampuan pengguna dalam menginterpretasikan citra, karena hasil observasi alat bukanlah pengukuran secara langsung akan tetapi merupakan hasil perekaman satelit sesuai dengan karakter reflektansi objek yang berbeda-beda. Hal ini berarti seorang pengguna data satelit harus mengetahui dasar-dasar penginderaan jauh dan proses interpretasi citra untuk mendeteksi suatu fenomena alam pada suatu wilayah. 1.2 Perumusan Masalah Para nelayan Sibolga dan sekitarnya masih menghadapi kendala untuk dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas operasi penangkapan ikan. Adapun kendala yang dihadapi nelayan adalah sulitnya mencari daerah penangkapan ikan karena ketidaktahuan tentang faktor oseanografi, tidak dapat merencanakan operasi penangkapan ikan yang tepat. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan informasi daerah penangkapan ikan. Penentuan daerah penangkapan ikan potensial yang dilakukan oleh para masyarakat perikanan nelayan termasuk di Sibolga dan sekitarnya masih bersifat tradisional. Waktu, tenaga dan biaya operasional cukup tinggi untuk mencari daerah penangkapan ikan yang potensial dan tingkat ketidakpastian hasil tangkapan masih cukup tinggi. Untuk mengatasi tingkat ketidakpastian hasil tangkapan maka perlu dilakukan berbagai upaya antara lain : (1) Mempelajari keberadaan ikan melalui analisis paramater-parameter lingkungan yang mempengaruhinya, seperti suhu permukaan laut dan kandungan klorofil-a, (2) Mempelajari hubungan antara suhu permukaan laut (SPL) dan kandungan klorofil-a terhadap hasil tangkapan dan (3) Mempelajari sebaran suhu permukaan laut (SPL) dan kandungan klorofil-a di perairan Tapanuli Tengah. Kegiatan eksplorasi yang terkait dengan parameterparameter lingkungan yang mempengaruhinya (seperti mempelajari hubungan suhu permukaan laut (SPL) dan kandungan klorofil-a terhadap hasil tangkapan, sebaran SPL dan kandungan klorofil-a di perairan Tapanuli Tengah) masih sangat terbatas padahal manfaatnya sangat penting dalam perencanaan pemanfaatan sumberdaya perikanan. 1.3 Tujuan Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Menentukan sebaran SPL dan kandungan klorofil-a di perairan Tapanuli Tengah. 2. Menganalisis komposisi hasil tangkapan. 3. Menentukan pengaruh sebaran SPL dan kandungan klorofil-a terhadap hasil tangkapan. 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Sebagai informasi dasar untuk pengelolaan perikanan tangkap di perairan Tapanuli Tengah. 2. Bagi industri penangkapan, informasi yang akan diperoleh nantinya dapat digunakan sebagai salah satu petunjuk untuk merencanakan operasi penangkapan ikan. 3. Untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan daerah penangkapan ikan pelagis. 1.5 Hipotesis Sebaran suhu permukaan laut (SPL) dan klorofil-a tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan. 1.6 Kerangka Pemikiran Di dalam melakukan operasi penangkapan ikan, nelayan Tapanuli Tengah dhadapkan dengan berbagai kendala dalam penentuan daerah penangkapan ikan, yaitu : (1) Daerah penangkapan tidak pasti, (2) Waktu operasi lebih lama, (3) Hasil tangkapan tidak pasti, (4) Resiko operasi penangkapan tinggi. Akibatnya, biaya operasionalnya mahal, mutu hasil tangkapan sedikit dan produktivitas hasil tangkapan juga sedikit. Dengan berbagai kendala tersebut perlu dilakukan penentuan daerah penangkapan ikan potensial, melalui analisis indikator yang mempengaruhinya. Adapun indikator-indikator daerah penangkapan ikan potensial adalah suhu permukaan laut (SPL) untuk melihat kejadian-kejadian thermocline dan upwelling, klorofil-a untuk melihat upwelling dan produktivitas perairan, komposisi hasil tangkapan yang diperoleh melalui kegiatan penangkapan ikan. 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aplikasi Penginderaan Jauh untuk Pemetaan Daerah Penangkapan Ikan National Oceanic Atmosperic Administration (NOAA) merupakan program penginderaan jauh satelit untuk lingkungan kelautan yang dimulai sejak tahun 1960-an oleh negara Amerika Serikat yang pada awalnya bernama program television infrared observation satellite (TIROS). Dan hingga tahun 2001 NOAA masih mengoperasikan lima satelit dengan seri NOAA-12, 14, 15, 16 dan 17. Satelit serial NOAA ini beredar pada orbit polar dengan ketinggian 833 km di atas permukaan bumi. Untuk aktivitas pemantauan lingkungan kelautan satelit serial NOAA memanfaatkan sensor advanced very high resolution radiometer (AVHRR). Sementara itu pada tahun 1988, badan antariksa Cina meluncurkan satelit lingkungan kelautan Fengyun-1 (FY-1 A) dan programnya terus berlanjut hingga peluncuran satelit FY-1 D pada bulan Mei 2002. Satelit Fengyun tersebut memiliki spesifikasi orbitnya mirip NOAA dan memilki sensor multispectral visible and infrared scan radiometer (MVISR) dengan 10 kanal (band). Selain perbedaan dari jenis sensor, FY-1 memiliki 3 kanal yang dapat dipergunakan untuk kegiatan pendugaan sebaran klorofil-a (fitoplankton) dan kekeruhan di perairan. Gambar 1, Tabel 2 dan Tabel 3 berikut ini menunjukkan beberapa perbedaan dan persamaan kedua satelit beserta sensor yang dibawanya. Satelit NOAA merupakan generasi kedua dari satelit TIROS yang dilengkapi dengan sensor AVHRR. Satelit ini digunakan untuk prakiraan cuaca dan sejumlah terapan untuk ilmu lingkungan termasuk antara lain pemantauan albedo permukaan bumi, pengukuran suhu permukaan laut dan memantau front laut. Dengan menggunakan data infra red dari satelit NOAA-14/AVHRR dapat dilakukan pemetaan distribusi sebaran temperatur permukaan laut. Data suhu permukaan laut ini akan sangat bermanfaat untuk perikanan, penelitian meteorologi kelautan dan analisis perubahan cuaca dan iklim. Tabel 2 Karakteristik satelit NOAA dan FY-1 Karakteristik Jumlah satelit yang masih beroperasi Orbit Ketinggian orbit dari permukaan bumi Periode pengulangan Lebar sapuan data Resolusi spasial Resolusi radiometric Sumber: Kushardono (2003). NOAA FY-1 5 satelit (NOAA-12, 15,16,17) Polar (sun-synchronous) 833 km 14, 102 menit 2048 piksel (pixel) 1,1 km (nadir) 10 bits/data 2 satelit (FY-1 C, D) Polar (sun-synchronous) 863 Km FY-1 102,3 menit 2048 piksel (pixel) 1,1 km (nadir) 10 bits/data Tabel 3 Perbandingan kanal sensor antara AVHRR dan MVISR Kanal Panjang Gelombang Sensor (m) AVHRR MVISR 1 0,58-0,68 0,58-0,68 2 3 0,84-0,89 4 0,725-1,10 A. 1,57-1,64 B. 3,55-3,93 10,5-11,5 10,3-11,3 5 11,5-12,5 11,5-12,5 3,55-3,95 6 7 8 9 10 Sumber: Kushardono (2003). 1,58-1,64 0,43-0,48 0,48-0,53 0,53-0,58 0,90-0,985 a Keutamaan Kecerahan awan, tutupan es dan salju, tutupan vegetasi Kecerahan awan dan tutupan vegetasi Sumber panas, kecerahan awan malam hari Suhu Permukaan Laut harian (malam/siang), Kecerahan awan Suhu Permukaan Laut harian (malam/siang), Kecerahan awan Kepadatan tanah Warna laut (klorofil-a) Warna laut (klorofil-a) Warna laut (klorofil-a) Kekeruhan perairan b Sumber: Kushardono (2003). Gambar 1 (a) Satelit NOAA-AVHRR dan (b) Satelit FY-1 MVISR. Satelit Penginderaan Jauh adalah proses perolehan informasi muka bumi dari instrumentasi yang ditempatkan di satelit. Satelit penginderaan jauh memberikan kemampuan pemantauan daerah yang luas secara periodik dan berkesinambungan (Kartasasmita 1999). Pemanfaatan data satelit penginderaan jauh khususnya data satelit National Oceanic Atmosphere and Administration Advanced Very High Resolution Radimeter (NOAA–AVHRR) merupakan alternatif yang sangat tepat dalam penentuan daerah penangkapan ikan karena dari data ini dapat ditentukan nilai dan distribusi SPL pada perairan yang luas secara sinoptik, mempunyai frekwensi pengamatan yang tinggi dan biaya operasional yang jauh lebih murah jika dibandingkan dengan cara lainnya. Kemampuan ini akan sangat berguna untuk pengamatan fenomena oseanografi khususnya umbalan air dan front yang merupakan indikator daerah penangkapan potensial bagi ikan. Informasi ini dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasi penangkapan di laut (Hasyim 1999). Penentuan posisi daerah penangkapan ikan di laut lepas secara tepat sangat sulit dilakukan karena perairan tersebut sangat dipengaruhi oleh sifat dinamis dari parameter-parameter oseanografi seperti SPL, kekeruhan, konsentrasi klorofil-a, pola dan arah angin, pasang surut dan arus. Informasi tentang zona potensial perikanan dan dinamika perubahan sudah dapat dijadikan sebagai suatu alat bantu dalam mendukung perencanaan strategis pembangunan pada sektor perikanan khususnya penangkapan ikan (Kartasasmita 1999) Penggunaan citra satelit untuk pengukuran SPL telah banyak digunakan sebagai sumber data untuk melengkapi SPL hasil pengukuran langsung. Perbedaan pengukuran antara SPL dari citra satelit dengan pengukuran lapang lebih kecil dari 1oC (McClain et al. 1985; Gaol 2003). Perbedaan ini umumnya disebabkan pengaruh atmosfer seperti uap air dan awan. Pengaruh awan dapat menurunkan SPL sampai 1,5oC dibanding suhu pengukuran in-situ (Gaol 2003). Butler et al. (1988) mengatakan bahwa, deteksi ikan secara langsung tidak selalu dapat dikerjakan dengan mudah maka deteksi secara tidak langsung mungkin saja dilakukan dengan melaksanakan berbagai observasi terhadap beberapa fenomena permukaan laut yang dikaitkan dengan distribusi spesies. Menurut Widodo (1999), peta SPL telah banyak digunakan oleh armada penangkapan salmon dan tuna. Secara jelas diketahui bahwa beberapa spesies tuna mencari makan pada bagian air laut yang panas dari suatu front sedangkan salmon mencari makan pada bagian yang dingin. Dalam bidang perikanan, salah satu alternatif yang mulai dikembangkan adalah monitoring suhu permukaan laut khususnya lebih diaplikasikan pada ikanikan pelagis kecil yang bernilai ekonomis penting seperti ikan tongkol, kembung dan sebagainya. Fenomena suhu permukaan laut akan sangat memungkinkan dalam menduga upwelling (penaikkan masa air dari bawah permukaan) karena fenomena upwelling merupakan salah satu indikator utama dalam penentuan lokasi ikan. Sensor ocean color yang dibawa satelit dapat menyediakan data kuantitatif tentang global ocean bio-optical properties yang dapat memberikan data atau informasi tentang adanya variasi warna perairan (ocean color) sebagai implementasi dari adanya perbedaan konsentrasi klorofil-a dalam perairan. Pendeteksian klorofil-a dalam suatu perairan adalah dengan pengukuran radiansi warna perairan pada spektrum 433-520 nm dari kanal 2, 3 dan 4 dari sensor SeaWIFS. Dengan menggunakan sensor dari satelit SeaStar ini maka tingkat kandungan klorofil-a dari suatu perairan dapat diketahui. Pengukuran konsentrasi klorofil-a dengan metode remote sensing dapat dilakukan oleh beberapa satelit yang salah satunya adalah satelit TERRA dengan sensor MODIS yang dimilikinya. MODIS (Moderate Imaging Spektroradiometer) adalah salah satu perangkat/piranti utama yang dibawa oleh Earth Observing System (EOS) satelit TERRA, yang merupakan bagian dari program antariksa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA). Program ini merupakan program jangka panjang untuk mengamati, meneliti dan menganalisa lahan, lautan, atmosfir bumi dan interaksi di antara faktor-faktor ini (Mustafa 2004). 2.2 Parameter Oseanografi 2.2.1 Suhu permukaan laut Suhu adalah besaran fisika yang menyatakan banyaknya bahang yang terkandung dalam suatu benda. Suhu air laut terutama di lapisan permukaan sangat tergantung pada jumlah bahang yang diterima dari sinar matahari (Weyl 1970). Suhu permukaan laut perairan Indonesia umumnya berkisar antara 25oC hingga 30oC dan mengalami penurunan satu atau dua derajat dengan bertambahnya kedalaman hingga 80 db (± 8 m) (Tomascik et al. 1997). Menurut Soegiarto dan Birowo (1975), suhu pada lapisan permukaan di Perairan Indonesia berkisar antara 26oC hingga 30oC, lapisan termoklin berkisar 9oC hingga 26oC dan lapisan dalam berkisar antara 2oC hingga 8oC. Suhu air laut berkisar antara -2ºC hingga 30oC dimana nilai terendah disebabkan karena adanya formasi es dan nilai tertinggi disebabkan oleh proses radiasi dan perubahan atau pergantian bahang dengan atmosfer (Ingmanson dan Wallace 1973). Sedangkan di daerah tropis suhu permukaan laut berkisar antara 27oC hingga 29oC dan 15oC hingga 20oC di daerah subtropis. Suhu ini menurun secara teratur sesuai dengan kedalaman. Reddy (1993) menyatakan bahwa, ikan adalah hewan berdarah dingin yang suhu tubuh selalu menyesuaikan dengan suhu sekitarnya. Selanjutnya dikatakan pula bahwa ikan mempunyai kemampuan untuk mengenali dan memilih kisaran suhu tertentu yang memberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas secara maksimum dan pada akhirnya mempengaruhi kelimpahan dan distribusinya. Menurut Laevastu dan Hela (1970), pengaruh suhu terhadap ikan adalah dalam proses metabolisme, seperti pertumbuhan dan pengambilan makanan, aktivitas tubuh seperti kecepatan renang serta dalam rangsangan syaraf. Pengaruh suhu air pada tingkah laku ikan paling jelas terlihat selama pemijahan. Suhu air laut dapat mempercepat atau memperlambat mulainya pemijahan pada beberapa spesies ikan. Suhu air dan arus selama dan setelah pemijahan adalah faktor-faktor yang paling penting dalam menentukan kekuatan keturunan dan daya tahan larva pada spesies-spesies ikan penting yang komersil. Suhu ekstrim pada daerah pemijahan (spawning ground) selama musim pemijahan dapat memaksa ikan untuk memijah di daerah lain daripada di daerah tersebut. Perubahan suhu jangka panjang dapat mempengaruhi perpindahan tempat pemijahan (spawning ground) dan daerah penangkapan (fishing ground) secara periodik (Reddy 1993). Secara alami suhu air permukaan merupakan lapisan hangat karena mendapat radiasi matahari pada siang hari. Karena pengaruh angin maka di lapisan teratas sampai kedalaman kira-kira 50 hingga 70 m terjadi pengadukan sehingga di lapisan tersebut terdapat suhu hangat (sekitar 28,00oC) yang homogen. Oleh sebab itu, lapisan teratas ini sering pula disebut lapisan homogen. Karena adanya pengaruh arus dan pasang surut, lapisan ini bisa menjadi lebih tebal lagi. Di perairan dangkal lapisan homogen bisa mencapai kedalaman hingga ke dasar. Lapisan permukaan laut yang hangat terpisah dari lapisan dalam yang dingin oleh lapisan tipis dengan perubahan suhu yang cepat yang disebut termoklin atau lapisan diskontinuitas suhu. Suhu pada lapisan permukaan adalah seragam karena percampuran oleh angin dan gelombang sehingga lapisan ini dikenal sebagai lapisan percampuran (mixed layer). Mixed layer mendukung kehidupan ikan-ikan pelagis secara pasif mengapungkan plankton, telur ikan dan larva sementara lapisan air dingin di bawah termoklin mendukung kehidupan hewan-hewan bentik dan hewan laut dalam (Reddy 1993). Nontji (1993) mengatakan bahwa, pada saat terjadi penaikkan massa air (upwelling), lapisan termoklin ini bergerak ke atas dan gradien menjadi tidak terlalu tajam sehingga massa air yang kaya zat hara dari lapisan dalam naik ke lapisan atas. Fluktuasi jangka pendek dari kedalaman termoklin dipengaruhi oleh pergerakan permukaan, pasang surut dan arus. Di bawah lapisan termoklin suhu menurun secara perlahan-lahan dengan bertambahnya kedalaman. Wyrtki (1961) mengatakan bahwa, kedalaman termoklin di dalam Lautan Hindia mencapai 120 m menuju ke Selatan di daerah Arus Equatorial Selatan, kedalaman termoklin mencapai 140 m. Laevastu (1981) yang telah mempelajari pengaruh faktor oseanografi terhadap sebaran ikan pelagis dari berbagai daerah penangkapan menunjukkan bahwa, salah satu parameter utama yang sangat mempengaruhi sebaran ikan pelagis adalah suhu dan arus. Banyaknya hasil tangkapan dan melimpahnya populasi ikan pelagis sangat terkait dengan perubahan suhu perairan. Semakin dalam gerombolan ikan pelagis berenang ke dasar perairan tergantung pada struktur vertikal suhu. Selanjutnya ditambahkan bahwa beberapa jenis ikan pelagis akan berenang lebih dalam apabila suhu di permukaan perairan hangat. Kedalaman gerombolan ikan herring sangat tergantung pada luasnya lapisan campuran di permukaan pada malam hari. 2.2.2 Produktivitas perairan Plankton adalah organisme yang hidup melayang atau mengambang di dalam air. Kemampuan geraknya sangat terbatas sehingga selalu terbawa oleh arus. Plankton dibagi menjadi dua golongan utama yakni fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton (plankton nabati) merupakan tumbuhan yang amat banyak ditemukan di semua perairan, tetapi karena ukurannya mikrokopis sukar dilihat kehadirannya. Konsentrasinya bisa ribuan hingga jutaan sel per liter air laut. Zooplankton (plankton hewani) terdiri dari sangat banyak jenis hewan. Ukurannya lebih besar dari fitoplankton, bahkan ada pula yang bisa mencapai satu meter seperti ubur-ubur. Plankton, baik fitoplankton maupun zooplankton mempunyai peranan penting dalam ekosistem laut karena plankton menjadi bahan makanan bagi berbagai jenis hewan laut lainnya. Selain itu hampir semua hewan laut memulai kehidupannya sebagai plankton terutama pada tahap masih berupa telur dan larva (Nontji 2007). Klorofil-a adalah salah satu pigmen fotosintesis yang paling penting bagi organisme yang ada di perairan. Ada tiga macam klorofil yang dikenal hingga saat ini yang dimiliki fitoplankton yaitu klorofil-a, klorofil-b dan klorofil-c. Disamping itu ada beberapa jenis pigmen fotosintesis yang lain seperti karoten dan xantofil. Dari pigmen tersebut klorofil-a merupakan pigmen yang paling umum terdapat pada fitoplankton, oleh karena itu konsentrasi fitoplankton sering dinyatakan dalam konsentrasi klorofil-a (Parson et al. 1984). Klorofil-a berkaitan erat dengan produktivitas primer yang ditunjukkan dengan besarnya biomassa fitoplankton yang menjadi rantai pertama makanan ikan pelagis kecil. Produktivitas primer lingkungan perairan pantai umumnya lebih tinggi dari produktivitas primer laut terbuka. Menurut Barnabe dan Barbane (2000), produktivitas primer perairan pantai melebihi 60% dari produktivitas yang ada di laut. Laju produktivitas primer di lingkungan laut ditentukan oleh berbagai faktor fisika. Faktor fisika utama yang mengontrol produktivitas primer di perairan eutropik adalah percampuran vertikal, arus dan turbulensi, efek biologi dari masuknya air tawar di daerah pesisir, struktur vertikal dan pergerakan dari perairan pesisir (Barnabe dan Barbane 2000; Mann dan Lazier 1996). Sebaran klorofil-a di laut bervariasi secara geografis maupun berdasarkan kedalaman perairan. Variasi tersebut diakibatkan oleh perbedaan intensitas cahaya matahari, dan konsentrasi nutrien yang terdapat di dalam suatu perairan. Di laut, sebaran klorofil-a lebih tinggi konsentrasinya pada perairan pantai dan pesisir, serta rendah di perairan lepas pantai. Tingginya sebaran konsentrasi klorofil-a di perairan pantai dan pesisir disebabkan karena adanya suplai nutrien dalam jumlah besar melalui run-off dari daratan, sedangkan rendahnya konsentrasi klorofil-a di perairan lepas pantai karena tidak adanya suplai nutrien dari daratan secara langsung. Namun pada daerah-daerah tertentu di perairan lepas pantai dijumpai konsentrasi klorofil-a dalam jumlah yang cukup tinggi. Keadaan ini disebabkan oleh tingginya konsentrasi nutrien yang dihasilkan melalui proses fisik massa air, dimana massa air dalam mengangkat nutrien dari lapisan dalam ke lapisan permukaan (Valiela 1984). Nontji (1993) menyatakan bahwa, faktor yang dapat meningkatkan konsentrasi klorofil-a di lautan adalah adanya peristiwa upwelling yang salah satu pemicunya adalah sistem angin muson ; hal ini berkaitan dengan dae

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Hubungan Kondisi Oseanografi (Suhu Permukaan Laut, Klorofil-a dan Arus) dengan Hasil Tangkapan lkan Pelagis Kecil di Perairan Selat Sunda
0
8
242
Hubunga Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a terhadap Hasil Tangkapan Cakalang (Katsuwonus pelamis, Linnaeus) di Perairan Bagian Timur Sulawesi Tenggara
0
7
139
Analisis sebaran suhu permukaan laut dan kandungan klorofil-a dengan menggunakan data modis di perairan Nusa Tenggara Timur
0
12
113
Analisis sebaran suhu permukaan laut dan kandungan klorofil-a dengan menggunakan data modis di perairan Nusa Tenggara Timur
1
13
5
Hubungan Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-A terhadap Hasil Tangkapan Ikan Cakalang (Kasuwonus pelamis, Linne) di Perairan Bagian Timur Sulawesi Tenggara
0
11
16
Variabilitas konsentrasi klorofil-a dan suhu permukaan laut dari citra satelit aqua modis serta hubungannya dengan hasil tangkapan ikan lemuru di perairan selat bali.
2
56
135
Pengaruh Suhu Permukaan Laut terhadap Hasil Tangkapan Ikan Tenggiri di Perairan Indramayu, Jawa Barat
13
98
120
Eksplorasi Daerah Penangkapan Ikan Cakalang Melalui Analisis Suhu Permukaan Laut dan Hasil Tangkapan di Perairan Teluk Palabuhanratu
0
4
10
Variabilitas konsentrasi klorofil-a dan suhu permukaan laut dari citra satelit MODIS serta hubungannya dengan hasil tangkapan ikan pelagis di perairan Laut Jawa
4
8
197
Analisis Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a dari Citra Aqua-Modis Dan Hubungannya dengan Hasil Tangkapan Ikan Pelagis di Selat Sunda.
7
20
113
Variabilitas Suhu Permukaan Laut Dan Klorofil-A Kaitannya Dengan Produksi Tuna Di Ppp Tamperan
0
4
29
Variabilitas hasil tangkapan ikan hubungannya dengan sebaran klorofil a dan suhu pemukaan Laut Data Inderaja di Perairan Kalimantan Timur
0
3
109
Analisis Suhu Permukaan Laut dan Klorofil a, Hubungannya dengan Hasil Tangkapan Madidihang (Thunnus albacares) di Perairan Selatan Sulawesi Tenggara
0
3
128
Hubungan Kondisi Oseanografi (Suhu Permukaan Laut, Klorofil a dan Arus) dengan Hasil Tangkapan lkan Pelagis Kecil di Perairan Selat Sunda
0
4
116
Analisis Suhu Permukaan Laut dan Klorofil-a, Hubungannya dengan Hasil Tangkapan Madidihang (Thunnus albacares) di Perairan Selatan Sulawesi Tenggara
0
4
138
Show more