Hubungan Gaya Kepemimpinan Bisnis terhadap Kinerja Perusahaan pada CV. Mitra Tani Farm Ciampea Kabupaten Bogor

68 

Full text

(1)

ARIEF SUGANDHA

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2014

HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN BISNIS TERHADAP

KINERJA PERUSAHAAN PADA CV. MITRA TANI FARM

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Hubungan Gaya Kepemimpinan Bisnis terhadap Kinerja Perusahaan CV. Mitra Tani Farm adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Februari 2014

Arif Sugandha

(3)

Perusahaan CV. Mitra Tani Farm Ciampea Kabupaten Bogor. Dibimbing oleh BURHANUDIN.

Gaya kepemimpinan bisnis merupakan magnet bagi keberlangsungannya roda kehidupan di dalam sebuah perusahaan. Gaya kepemimpinan bisnis yang diterapkan di dalam suatu organisasi sedikit banyaknya akan berpengaruh pada kinerja perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi gaya kepemimpinan bisnis yang diterapkan perusahaan CV. Mitra Tani Farm Ciampea kabupaten Bogor, menganalisis bagaimana pengaruh gaya kepemimpinan bisnis tersebut terhadap kualitas diri atau internal karyawan baik dari aspek kepuasan kerja, kinerja dan motivasi kerja karyawan. Kemudian terakhir bagaimana menganalisis pengaruh gaya kepemimpinan bisnis terhadap kinerja perusahaan melalui kepuasan kerja, kinerja dan motivasi kerja. Dalam pembuktian secara kuantitatif terdapat pengaruh gaya kepemimpinan bisnis terhadap kinerja perusahaan pada CV. Mitra Tani Farm Ciampea Bogor.

Kata kunci: gaya kepemimpinan bisnis, kepuasan kerja, kinerja dan motivasi kerja serta kinerja perusahaan.

ABSTRACT

ARIF SUGANDHA. Business Leadership Style toward the Firm Performances on Reliationship. Supervised by BURHANUDDIN.

Business leadership style is a magnetism to realize the firm to be good. Busisness leadership style applied in the organization more and less to have influence on the firm performances. The objectives of this research are to identify the business leadership style applied in the CV. Mitra Tani Farm of Ciampea Bogor, and to analyze the business leadership style that applied in the firm and then how to influences employee job satisfication, employee performance and employee work motivation. And at last how to analyze business leadership style effects toward firm performance to pass through employee job satisfication, employee performance and employee work motivation. Quantitatively said that business leadership style is a correlation toward the firm performance in the CV. Mitra Tani Farm of Ciampea Bogor.

(4)

CIAMPEA KABUPATEN BOGOR

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2014 Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

(5)

NIM : H34114049

Disetujui oleh

Ir Burhanuddin, MM Dosen pembimbing

Diketahui oleh

Dr Ir Nunung Kusnadi, MS Ketua Departemen

(6)
(7)

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Desember 2013 ini ialah gaya kepemimpinan bisnis, dengan judul Hubungan Gaya Kepemimpinan Bisnis terhadap Kinerja Perusahaan pada CV. Mitra Tani Farm Ciampea Kabupaten Bogor.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Ir. Burhanudin. MM selaku pembimbing, serta Bapak Dr Ir Wahyu Budi Priatna M.Si yang telah banyak memberi saran. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Afnan, Bapak Amrul dan Bapak Budi sebagai jajaran direksi CV. Mitra Tani Farm beserta staff yang telah membantu saya selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya dan teman-teman mahasiswa Alih Jenis 2 Agribisnis yang telah memberi dukungan dan semangat bagi saya serta masyarakat Tegalmanggah khususnya teman-teman pengajian Masjid Nurul Hidayah G. Batu Bogor.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Februari 2014

(8)

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vii

DAFTAR LAMPIRAN vii

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 6

Tujuan Penelitian 7

Manfaat Penelitian 7

Ruang Lingkup Penelitian 8

TINJAUAN PUSTAKA 8

Gaya Kepemimpinan Bisnis 8

KERANGKA PEMIKIRAN 10

Konsep Teoritis 10

Konsep Kepemimpinan Bisnis 10

Gaya Kepemimpinan Bisnis 17

Kinerja Perusahaan 24

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Perusahaan 25

Kepuasan Kerja Karyawan 25

Kinerja Karyawan 26

Motivasi Kerja Karyawan 28

Kerangka Pemikiran Operasional 30

METODE 32

Lokasi dan Waktu Penelitian 32

Teknik Pengumpulan Data 32

Responden 33

Analisis Data 33

Uji Signifikansi Rank Spearman 34

HASIL DAN PEMBAHASAN 35

Gambaran Umum Perusahaan 35

Sejarah Umum Perusahaan 35

Visi dan Misi Perusahaan 35

(9)

Gambaran Umum Responden Penelitian 38

Usia Responden 38

Jenis Kelamin Responden 39

Pendidikan Responden 39

Masa Kerja Responden 40

Analisis Data 40

Identifikasi Gaya Kepemimpinan Bisnis yang Berhubungan dengan Kepuasan Kerja, Kinerja dan Motivasi Kerja Karyawan 41

Hubungan Gaya Kepemimpinan Bisnis dengan Kinerja Perusahaan 45

SIMPULAN DAN SARAN 48

Simpulan 48

Saran 48

DAFTAR PUSTAKA 48

RIWAYAT HIDUP 57

DAFTAR TABEL

1 Penggunaan lahan peternakan dan pertanian di CV. Mitra Tani Farm 37 2 Pencapaian laba perusahaan CV. Mitra Tani Farm selama 4 tahun 37

3 Usia responden di CV. Mitra Tani Farm 38

4 Jenis kelamin responden di CV. Mitra Tani Farm 39 5 Pendidikan responden di CV. Mitra Tani Farm 40 6 Masa kerja responden di CV. Mitra Tani Farm 41 7 Gaya yang diterapkan pemimpin bisnis menurut persepsi kepuasan kerja

karyawan pada CV. Mitra Tani Farm 42

8 Gaya yang diterapkan pemimpin bisnis menurut persepsi kinerja

karyawan pada CV. Mitra Tani Farm 43

9 Gaya yang diterapkan pemimpin bisnis menurut persepsi motivasi kerja

karyawan pada CV. Mitra Tani Farm 44

10 Hasil pengujian 1 gaya kepemimpinan bisnis terhadap kepuasan kerja,

kinerja dan motivasi kerja karyawan CV. Mitra Tani Farm 46 11 Hasil pengujian 2 kepuasan kerja, kinerja dan motivasi kerja karyawan

(10)

1 Kemampuan pemimpin 15

2 Proses kepemimpinan teori jalur tujuan 22

3 Konsep yang dikembangkan dalam penelitian hubungan gaya

kepemimpinan bisnis terhadap kinerja perusahaan 32

4 Struktur organisasi CV. Mitra Tani Farm 36

DAFTAR LAMPIRAN

1 Hasil korelasi rank spearman hubungan gaya kepemimpinan bisnis

(11)
(12)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Manajemen (management) adalah ilmu yang mencakup pemikiran dan perasaan (seni) untuk mengatur, mengarahkan dan menggerakkan individu manusia, kelompok manusia dan perangkat organisasi lainnya untuk bekerja sesuai arahan yang dimaksud. Dessler (2005) menyatakan “… Management process involves the five basic functions of planning, organizing, staffing, leading, and controlling…”. Manajemen memiliki tiga definisi, yang pertama adalah managing dan kedua adalah treatment sehingga apabila digabungkan dari definisi tersebut maka manajemen adalah pengelolaan atau pengendalian suatu badan organisasi yang tersistematisasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Pengelolaan atau pengendalian dalam suatu pekerjaan di dalam organisasi baik itu badan organisasi formal maupun non formal, profit

maupun non-profit haruslah dikelola atau dikendalikan dengan baik. Hampir setiap aspek kehidupan manusia memerlukan pengelolaan atau pengendalian. Maka untuk memuluskan jalannya suatu kegiatan organisasi diperlukan adanya manajemen atau pengelolaan yang baik.

Kepemimpinan merupakan ilmu bagaimana memanajemen perangkat-perangkat suatu organisasi agar bekerja sesuai dengan rel atau koridornya baik yang berhubungan dengan tugas dan kewenangan yang telah disusun organisasi tersebut untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Sumber daya terpenting dalam suatu organisasi adalah manusia (anggota organisasi) yang mana mereka adalah orang-orang yang memberikan tenaga, bakat, kreatifitas dan usaha mereka kepada organisasi. Manusia di dalam suatu organisasi dianalogikan seperti magnet yang mampu menarik semua kepentingan perusahaan sehingga mampu mencapai tujuan organisasi tersebut.

Menurut Dessler (2005) mengemukakan pendapatnya tentang manajemen sumber daya manusia, ia menyatakan bahwa, “… Human resource management forms the policies and practices involved in carrying out the people or human resource aspects of a management position, including recruiting, screening, training, rewarding, and appraising…”. Dari

pendapat di atas mengisyaratkan betapa pentingnya arti dan peran sumber daya manusia yang mana menjadi sentral dari tercapainya tujuan dalam suatu organisasi dan pengendali dari manusia itu sendiri adalah pemimpin.

Kepemimpinan merupakan suatu keniscayaan dalam suatu sistem organisasi kehidupan baik formal maupun non formal baik juga organisasi bisnis maupun non bisnis. Bahasan yang lebih sempit lagi yang akan diketengahkan dalam karya ini adalah mengenai kepemimpinan bisnis yang mana teori ini diarahkan untuk me-manage organisasi yang memang sudah terstruktural dan terorganisir serta memiliki fokus satu tujuan profit oriented

(13)

karyawan. Manusia adalah faktor penting dalam perusahaan untuk menjalankan visi, misi, dan tujuan organisasi melalui kerjasama tim

(teamwork) sehingga mencapai tujuan.

Suatu organisasi yang berorientasi pada keuntungan (profit making organization) memiliki cara atau konsep yang berbeda bagaimana pemimpin mengendalikan organisasi bisnisnya agar berjalan baik. Setiap organisasi bisnis memiliki banyak metode, strategi dan program yang berbeda serta banyak lagi perbedaan lainnya agar organisasi bisnis (perusahaan) tersebut dapat berkompetisi dalam industri sejenis dan juga mencapai tujuan yang diinginkan.

Herujito (2001) menganalisis pendapat F.W. Taylor tentang kepemimpinan bahwa kepemimpinan adalah gerak-menggerakkan bagaimana agar bawahannya berkeinginan bekerja bersama-sama sehingga mampu mencapai suatu tujuan perusahaan yang diinginkan. Untuk mencapai tujuan organiasi bisnis atau perusahaan dibutuhkan kebersamaan dan kerjasama, para karyawan diharapkan memiliki rasa solidaritas dan saling membantu, antara pimpinan dan karyawan harus memiliki rasa saling menghormati dan juga saling menjaga hubungan baik antara atasan ke bawahan maupun sebaliknya kemudian juga adanya dukungan semangat yang positif antar sesama karyawan maupun pimpinan.

Kurangnya rasa kebersamaan antar elemen organisasi dapat mempengaruhi ketidaknyamanan dan menurunkan kinerja perusahaan melalui kepuasan kerja, kinerja karyawan dan motivasi kerja ditambah lagi komitmen kerja, lingkungan kerja dan budaya organisasi berpengaruh terhadap kinerja perusahaan pula. Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut dibutuhkan

Pemimpin yang mampu menjalankan organisasi perusahaan dengan sebaik-baiknya, karena hakikat seorang pemimpin (leader) bukan saja ditentukan oleh hasil yang dicapai secara pribadi, melainkan juga oleh kemampuan organisasi yang dipimpinya tersebut dalam menjalankan fungsi-fungsi manajemen guna mencapai hasil yang diinginkan perusahaan.

Kepemimpinan dalam suatu organisasi bisnis diibaratkan sebagai pusat kekuatan (center of power) bagi berjalannya fungsi-fungsi manajerial perusahaan. Kepemimpinan pada organisasi bisnis dapat dianggap penting atau tidak, bergantung dari kepentingan itu sendiri yaitu bagaimana individu atau kelompok menyikapi rangsangan kepemimpinan tersebut sehingga mampu menjalankan manajemen organisasi perusahaan. Kepemimpinan dalam konsep dunia bisnis adalah cara bagaimana mengatur berbagai macam pikiran dan perbuatan bawahan dan atau kumpulan bawahan (organisasi) agar bekerja sesuai apa yang diinginkan pemimpin demi mencapai tujuan perusahaan.

Kepemimpinan bisnis juga merupakan seni dimana kecerdasan intelegensi (IQ) dipadukan dan diselaraskan dengan kecerdasan emosional (EQ) untuk memikat hati orang-orang disekelilingnya baik para bawahan maupun para koleganya sehingga berkeinginan dan berkemampuan untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan demi mencapai tujuan perusahaan.

(14)

kerja untuk mencapai tujuan organisasi. Kemampuan pemimpin dalam organisasi bisnis dalam mempengaruhi karyawannya akan menentukan cara yang digunakan oleh karyawannya itu sendiri dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya di suatu organisasi bisnis atau perusahaan. Hal ini didasari pada argumen bahwa seorang pemimpin bisnis memiliki otoritas atau kewenangan dalam merencanakan, mengarahkan, mengkoordinasikan, dan mengawasi perilaku karyawannya agar sesuai arahan atau sistem di perusahaan tersebut sehingga dapat mencapai tujuan perusahaan dengan nyata.

Koordinasi yang dibangun oleh pemimpin kepada bawahan ataupun sebaliknya merupakan fungsi kepemimpinan. Keterlibatan peran bawahan yang disinergikan dengan model kepemimpinan bisnis yang diterapkan akan menciptakan keharmonisan pekerjaan sehingga berpengaruh untuk tercapainya tujuan perusahaan. Keharmonisan ini terjadi melalui hubungan baik antara bawahan dengan atasan dan juga sebaliknya, ada keharmonisan dimana atasan memiliki sikap melayani dengan baik kepada bawahan, dan keharmonisan juga dapat tumbuh antara sesama karyawan dimana mereka sebagai sesama pekerja memiliki hubungan interpersonal yang baik dengan tetap berorientasikan pada terpenuhinya kebutuhan, keinginan dan tujuan masing-masing. Budaya organisasi dimana terdapat sikap saling menghormati, melayani, menghargai dan kasih sayang antar sesama karyawan ini akan membuat suasana kerja pada organisasi atau perusahaan tersebut akan berada pada kondisi nyaman sehingga akan tercipta motivasi dan komitmen dalam bekerja .

George R. Terry dalam Herujito (2001) menyatakan “… leadership is the relationship in which one person, the leader influenses other to work together willingly on related task to attain that which the leader desires…”. Dari pendapat di atas, apabila dikaitkan dengan kepemimpinan bisnis maka dapat diinterpretasikan bahwa kepemimpinan bisnis merupakan kemampuan untuk mempengaruhi dan menggerakkan bawahan agar rela, mampu dan berkeinginan mengikuti arahan pemimpin demi tujuan perusahaan yang ingin dicapai secara efektif, efisien dan ekonomis. Penerepan kepemimpinan dalam suatu organisasi bisnis dalam dunia bisnis modern ini sangatlah banyak sekali, dan setiap pemimpin bisnis memiliki model atau gaya kepemimpinan bisnis tertentu yang diterapkan dalam kepemimpinannya.

(15)

efek buruk karyawannya dalam bekerja.

Pendapat di atas juga dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan dapat dipengaruhi oleh model atau gaya kepemimpinan bisnis, semakin baik dan tepat gaya kepemimpinan bisnis yang diterapkan oleh pemimpin berarti semakin baik pula kinerja perusahaan. Kesimpulan ini mengisyaratkan bahwa perusahaan yang berhasil dalam pencapaian tujuan perusahaanya adalah bergantung pada pemimpinnya dan bagaimana memimpinnya, secara zhahiriyah untuk mengetahui kebenaran pendapat tersebut maka perlu dianalisa bagaimana gaya pemimpin yang diterapkan dalam suatu sistem manajemen perusahaan sehingga mampu mempengaruhi kinerja perusahaan.

Peningkatan kinerja perusahaan tidak serta-merta hanya dipengaruhi dari gaya kepemimpinan bisnis saja akan tetapi ada banyak variabel lainnya yang turut serta dalam peningkatan kinerja perusahaan dan salah satunya adalah karyawan. Karena perusahaan itu dibangun oleh banyak bagian-bagian atau elemen-elemen yang kompleks misalkan diantaranya adalah modal (perusahaan itu sendiri), sumber daya baik alam maupun manusia diantaranya pemimpin bisnis dan karyawan juga, sistem manajerial perusahaan dan ada tujuan (goal) yang ingin dicapai. Agar mampu meningkatkan kinerja perusahaan maka variabel-variabel tersebut harus disinergikan dan dikorelasikan dalam suatu sistem manajerial yang baik sehingga mampu mencapai tujuan perusahaan.

Suatu perusahaan yang sudah mapan (establish) dimana perusahaan sudah memiliki modal dan sumber daya yang cukup maka kendala yang biasanya terjadi adalah sistem manajemen yang kurang baik (rancu). Kerancuan ini biasanya terjadi pada sistem hirarki pendelagasian tugas, pembagian tugas dan deskripsi tugas yang dirasakan cukup rumit. Maka perlu adanya sinergitas antara sistem manajemen tersebut sehingga peran pemimpin bisnis sangat berpengaruh untuk mengendalikan dan menggerakkan sistem manajemen tersebut sehingga mencapai tujuan.

Motor penggerak sistem manajemen dalam suatu perusahaan itu sendiri adalah karyawan perusahaan, sehingga bagaimana karyawan mampu bekerja untuk menggerakan sistem manajemen perusahaan agar mencapai tujuan, ini sangatlah perlu untuk mendapat perhatian dari pemimpin perusahaan tersebut. Diantara banyak variabel yang mempengaruhi kualitas kerja karyawan, pada penelitian ini akan dibahas tiga variabel yang dianggap penting oleh peneliti yaitu kepuasan kerja, kinerja karyawan dan motivasi kerja karyawan.

(16)

dan juga bagi organisasi manajemen secara keseluruhan.

CV. Mitra Tani Farm merupakan salah satu usaha perseorangan berbentuk perusahaan perseroan komanditer yang dalam bahasa Belanda disebut Commanditaire Vennootschaap (CV). Mitra Tani Farm sebagai perusahaan perseroan komanditer dalam penyedia (distributor) sapi, kambing dan domba sebagai bisnis utamanya dan kegiatan bisnis distribusi sayuran, pakan dan pupuk sebagai bisnis tambahannya yang akan dipasarkan bagi masyarakat Bogor khususnya dan masyarakat diluar Bogor umumnya. CV. Mitra Tani Farm memiliki arti penting yang tidak hanya sebagai perusahaan penyedia sapi, kambing dan domba serta produk pertanian lainnya, melainkan juga bagaimana perusahaan harus mampu memberi keuntungan bagi pemegang saham dan perusahaan dari kegiatan bisnis yang dijalankannnya.

Penilaian kinerja perusahaan yang menjadi bahasan pada karya ilmiah ini adalah dilihat dari sisi finansial yaitu penilaian terhadap profit yang diterima peruasahaan. Apabila keuntungan yang diterima oleh CV. Mitra Tani Farm meningkat, dapat diasumsikan kinerja perusahaan meningkat namun apabila keuntungan perusahaan menurun maka dapat diasumsikan kinerja perusahaan sedang mengalami penurunan. Kemudian pada penilaian terhadap kinerja perusahaan ini akan dihubungkan (final analysis) terhadap gaya pemimpin yang diterapkan dan bagaimana kualitas kerja karyawan baik kepuasan kerja, motivasi kerja dan kinerja karyawan (middle analysis) mampu memediasi hubungan antara gaya kepemimpinan bisnis terhadap kinerja perusahaan.

Keberhasilan kinerja perusahaan di CV. Mitra Tani Farm yang dapat dicapai adalah dengan bagaimana sikap pemimpin untuk memperhatikan internal organisasi yang dipimpinnya, terutama yang berhubungan dengan perihal karyawan. Upaya ini merupakan hal yang perlu menjadi perhatian, karena karyawan merupakan elemen penting terjadinya proses manajerial perusahaan. Penilaian terhadap karyawan yang akan dibahas adalah bagaimana kepuasan kerja, motivasi kerja dan kinerja karyawan di CV. Mitra Tani Farm, apakah aspek-aspek tersebut semakin hari semakin meningkat atau semakin hari semakin turun. Apabila kualitas kerja karyawan ini meningkat maka dapat diasumsikan keuntungan perusahaan akan meningkat karena adanya semangat kerja dan semangat berfikir bagaimana produk terjual dengan banyak tanpa mengurangi kepuasan konsumen sehingga mampu menyeret kinerja perusahaan berbanding lurus dengan keuntungan yang diterima.

(17)

lagi dengan gaji yang tetap dan pengalaman yang tetap, sehingga memerlukan tipe pemimpin yang lebih efektif dan ideal lagi sehingga perusahaan tetap mendapatkan keuntungan (profit) seperti yang diharapkan dan menjadi target perusahaan.

Berdasarkan literatur yang ada, bahwa ada hubungan positif antara gaya kepemimpinan terhadap kepuasan kerja, kinerja karyawan dan motivasi kerja karyawan. Pada middle analysis ini akan dibahas bagaimana hubungan dari variabel-variabel tersebut. Maksudnya jika kepuasan kerja, kinerja karyawan dan motivasi kerja itu baik atau meningkat maka kinerja perusahaan akan baik atau meningkat pula.

Sebaliknya, jika kepuasan kerja, motivasi kerja dan kinerja karyawan itu buruk atau menurun maka kinerja perusahaan akan buruk atau menurun pula. Sehingga analisa yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah, apakah gaya kepemimpinan bisnis (top management) pada CV. Mitra Tani Farm tersebut memiliki efek atau pengaruh terhadap kepuasan kerja, kinerja dan motivasi kerja karyawan pada CV. Mitra Tani Farm sehingga mampu mempengaruhi kinerja perusahaan menjadi lebih baik. Karena hal ini dianggap penting maka kajian ini menjadi hal yang mendasar untuk melatar belakangi penelitian ini dilakukan.

Perumusan Masalah

Banyak penelitian menganalisa bagaimana pengaruh antara gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan, motivasi kerja karyawan ataupun terhadap kepuasan kerja karyawan. Inti dari penelitian-penelitian tersebut adalah bermuara pada, bagaimana pengaruh gaya kepemimpinan yang diterapkan terhadap kinerja karyawan. Hampir tidak ada penelitian yang membahas bagaimana hubungan pengaruh gaya kepemimpinan bisnis terhadap kinerja perusahaan melalui kepuasan kerja, kinerja dan motivasi kerja karyawan sebagai mediasinya atau jembatan dan bagaimana kedua hubungan tersebut terjalin sehingga ini menjadi poin pertama dari dasar penelitian ini.

(18)

koordinasi antar pemimpin dan sinergitas yang mantap sehingga apa yang menjadi tujuan perusahaan dapat tercapai dengan baik sesuai harapan yang dicita-citakan.

Begitu pentingnya kajian tentang hubungan gaya kepemimpinan bisnis terhadap kinerja perusahaan pada CV. Mitra Tani Farm ini sehingga menjadi rumusan masalah yang kemudian diangkat menjadi judul atau topik dalam penelitian ini. Dari uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah :

1 Apakah gaya yang diterapkan Direktur CV. Mitra Tani Farm dalam menjalankan bisnisnya di CV. Mitra Tani Farm yang berlokasi di Kampung Tegal Waru, Desa Ciampea Kabupaten Bogor.

2 Apakah ada hubungan yang terjadi antara gaya kepemimpinan bisnis yang diterapkan terhadap kepuasan kerja, motivasi kerja dan kinerja karyawan pada CV. Mitra Tani Farm.

3 Apakah ada hubungan yang terjadi antara kepuasan kerja, kinerja dan motivasi kerja karyawan terhadap kinerja perusahaan pada CV. Mitra Tani Farm tersebut.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan dari latar belakang dan perumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat disimpulkan tujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :

1 Mengidentifikasi gaya kepemimpinan bisnis, kepuasan kerja, kinerja dan motivasi kerja karyawan yang diterapkan pada CV. Mitra Tani Farm. 2 Menganalisis hubungan antara gaya kepemimpinan bisnis terhadap

kepuasan kerja, kinerja dan motivasi kerja karyawan pada CV. Mitra Tani Farm.

3 Menganalisis hubungan kepuasan kerja, kinerja dan motivasi kerja karyawan terhadap kinerja perusahaan pada CV. Mitra Tani Farm.

Manfaat Penelitian

Penelitian tentang hubungan gaya kepemimpinan bisnis terhadap kinerja perusahaan ini diharapkan bermanfaat, diantaranya untuk :

1 Merekomendasikan gaya kepemimpinan bisnis terbaik kepada Jajaran Direksi CV. Mitra Tani Farm sehingga mampu menghantarkan CV. Mitra Tani Farm menjadi lebih baik kedepannya.

2 Menjadi sumber informasi dan referensi untuk kajian penelitian tentang gaya kepemimpinan bisnis selanjutnya.

(19)

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini secara umum membahas tentang kepemimpinan melalui teori-teori dan aplikasi (praktek) tentang kepemimpinan bisnis dari sumber-sumber atau literatur yang ada baik tentang kepemimpinan secara umum dan juga tentang kepemimpinan bisnis secara khusus. Sumber-sumber atau literatur yang dikupas pada bahasan di dalam penelitian ini berasal dari buku, skripsi, tesis, disertasi maupun literatur lainnya baik dari dalam maupun luar negeri. Penjabaran secara sempit maupun luas diketengahkan pada konsep-konsep kepemimpinan ini dengan pandangan teoritik dari berbagai sumber dan juga pandangan yang bersifat subjektif dari peneliti. Pengujian kuantitatif akan dilakukan guna mendukung judgment agar lebih komplit, general dan representatif.

Pengujian kuantitatif bertujuan untuk mengidentifikasi gaya kepemimpinan bisnis, kepuasan kerja, kinerja dan motivasi kerja karyawan yang akan diinterpretasikan dengan tabulasi silang (crosstabs) dan hubungan korelasi antara gaya kepemimpinan bisnis dengan kepuasan kerja, kinerja dan motivasi kerja karyawan serta hubungan korelasi antara kepuasan kerja, kinerja dan motivasi kerja karyawan dengan kinerja perusahaan yang mana akan dianalisis dengan uji korelasi signifikansi Rank Spearman. Lingkup yang akan diketengahkan secara khusus adalah tentang gaya kepemimpinan bisnis yang diterapkan pemimpin perusahaan yaitu Direktur CV. Mitra Tani Farm yang secara langsung berpengaruh terhadap kinerja perusahaan dengan mediatornya adalah kepuasan kerja karyawan, kinerja karyawan dan motivasi kerja karyawan.

TINJAUAN PUSTAKA

Gaya Kepemimpinan Bisnis

Menurut Rubidjito (2009) dalam disertasinya menyatakan bahwa gaya kepemimpinan bisnis yang sekarang dianut oleh banyak pemimpin organisasi bisnis pada era modernisasi ini adalah kepemimpinan bersifat transformasional. Dalam pandangannya, dia menyatakan gaya kepemimpinan bisnis ini dianggap efektif diterapkan pada perusahaan yang ingin meningkatkan kenerjanya baik dari sisi finansial maupun operasional melalui motivasi bawahan atau karyawannya.

(20)

Peran kepemimpinan pada gaya kepemimpinan transformasional ini telah teruji mampu memotivasi bawahan guna meraih kinerja yang tinggi dan meningkatkan ekspektasi mereka sehingga hasilnya adalah kinerja perusahaan yang meningkat pula. Studi ini telah terbukti bahwa pemimpin yang menerapkan kepemimpinan transformasional akan menghasilkan kinerja perusahaan dengan predikat baik seperti perusahaan BUMN yaitu PTPN 3. Hasil dari penerapan gaya kepemimpinan bisnis transformasional adalah kinerja perusahaan PTPN 3 dinobatkan sebagai perusahaan berpredikat baik.

Randhita (2009) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan (Lurah) pada studi kasus Lurah Ciparigi Kelurahan Bogor Utara berkolerasi positif terhadap kinerja pegawai kelurahan tersebut. Lurah sebagai pemimpin desa itu menerapkan gaya kepemimpinan bersifat direktif, konsultatif, partisipatif dan delegatif. Gaya yang diterapkan ini berdasarkan pada fungsi pemimpin dalam lembaga atau institusi pemerintah (non profitable).

Pernyataan yang disimpulkan pada penelitian tersebut adalah bahwa penerapan gaya kepemimpinan dapat berpengaruh positif pada kinerja Pegawai Kelurahan yang dalam hal ini berkaitan dengan beberapa kegiatan, yaitu pada kegiatan berkaitan dengan kesejahteraan pegawai, kegiatan berkaitan dengan pendelegasian tugas dari Lurah kepada pegawai, kegiatan berkaitan dengan musibah/bencana yang terjadi di lingkungan Kelurahan, serta pada kegiatan berkaitan dengan pemberian pelayanan Kelurahan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Maydiana (2008) dinyatakan bahwa karyawan Bakmi Japos Cabang Bogor mendapatkan pengaruh dari gaya kepemimpinan bisnis yang diterapkan pemimpin. Adanya kinerja karyawan dan keefektifitasan kerja karyawan yang meningkat menjadi solusi bagi penerapan gaya kepemimpinan tersebut.

Pemimpin dalam hal ini yaitu Manajer, dimana pemimpin tersebut adalah pemimpin komunikator yang efektif. Gaya kepemimpinan bisnis yang diterapkan oleh manajer tersebut sebagai pemimpin unit bisnis Bakmi Japos Cabang Bogor ternyata dibutuhkan dan sesuai dengan lingkungan organisasi perusahaan sehingga mendukung dalam pencapaian tujuan usaha restoran tersebut sehingga mampu mendongkrak kinerja perusahaan dari sebelumnya.

(21)

ini bermuara pada kinerja perusahaan dimana perusahaan tersebut mengalami peningkatan pula.

Siregar (2009) dalam tesisnya yang mengkaji pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja pegawai pada RSU Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara. Gaya kepemimpinan yang diterapkan pemimpin tersebut disinergikan dengan kemampuan pemimpin dalam berkomunikasi kepada para pegawainya. Pada penelitian tersebut dinyatakan bahwa, ada hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan terhadap kenerja pegawai di RSU tersebut melalui kemampuan komunikasi yang diterapkan pemimpin. Hal itu ditunjukkan dengan adanya pengaruh gaya kepemimpinan di RSU Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara yang mampu secara nyata dan signifikan meningkatkan kinerja karyawan pada RSU Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara tersebut. Gaya kepemimpinan yang diterapkan di RSU Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara ternyata memiliki efek terhadap keberhasilan kinerja pada rumah sakit tersebut dari hasil yang sebelumnya. Tabel 1 di bawah ini akan menerangkan secara singkat hasil-hasil penelitian terdahulu tentang konsep gaya kepemimpinan.

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Teoritis

Kerangka teoritis adalah gambaran bagaimana atau hal apa yang menjadi konsep dalam penelitian yang dilakukan dan dari mana sumbernya. Konsep ini berupa kutipan yang diambil dari literatur yang menjadi yang diketengahkan oleh peneliti dan juga bahasan dari pandangan atau pemikiran secara subjektif dari bahasan yang diteliti.

Konsep Kepemimpinan Bisnis

Kepemimpinan merupakan keniscayaan yang telah didapatkan sejak manusia terlahir ke dunia. Pendapat dari Siagian (2010) bahwa, telah terjadi dikotomi mengenai pendapat tentang teori kepemimpinan. Madzhab pertama mengatakan bahwa pemimpin itu merupakan titisan atau bakat yang melekat semenjak seseorang tersebut dilahirkan (leaders are born). Kecendrungannya bahwa seseorang tersebut akan menjadi pemimpin yang efektif dikarenakan memang bakat-bakat kepemimpinan yang alamiah. Sedangkan madzhab kedua berpendapat bahwa pemimpin itu dapat dibentuk atau ditempa (leaders are made). Kecendrungannya bahwa siapapun dia, dapat menjadi pemimpin yang efektif jika seseorang tersebut mendapat pendidikan (teoritical) dan pelatihan (practical) tentang kepemimpinan. Secara garis besar, pendapat yang dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi pemimpin yang efektif dibutuhkan 3 (tiga) unsur yaitu :

(22)

3 Mendapat pendidikan dan pelatihan kepemimpinan

Sejalan dengan pendapat tersebut maka dapat ditarik kesimpulan sederhana bahwa modal memiliki bakat pemimpin saja tidaklah cukup, perlu adanya penempaan atau pembentukan pendidikan dan pelatihan kepemimpinan yang kemudian ditambah lagi dengan memiliki kesempatan untuk terjun langsung sebagai pemimpin. Apabila ketiga unsur ini dimiliki oleh seseorang, maka ini merupakan kesempurnaan atau keidealisan untuk menjadi seorang pemimpin. Unsur-unsur kepemimpinan dapat juga dibagi menjadi 4 (empat) bagian yaitu :

1 Ada orang atau kekuatan yang memberikan pengaruh 2 Ada orang atau pengikut yang menerima pengaruh

3 Ada pengarahan atau bimbingan yang disampaikan kepada pengikutnya. 4 Ada tujuan yang ingin dicapai

Kepemimpinan terbentuk dari empat unsur tersebut, dimana satu sama lain saling berhubungan. Kehilangan satu unsur pembentuk kepemimpinan akan menyebabkan terjadinya kepincangan dalam proses kepemimpinan sehingga proses tersebut tidak akan berjalan dengan baik dan efektif. Kepemimpinan merupakan hal yang sangat mendasar dalam manajerial kehidupan, karena kepemimpinan maka proses manajerial kehidupan dapat berjalan dengan baik. Begitu pula dengan kehidupan bisnis contohnya di dalam perusahaan, kepemimpinan merupakan hal yang penting dalam mengarahkan atau mengendalikan manusia sebagai sumber daya yang penting dalam perusahaan agar dapat bekerja sesuai arahan untuk mencapai tujuan perusahaan. Kepemimpinan yang dilakukan untuk mengelola atau mengendalikan sebuah organisasi bisnis atau untuk tujuan menghasilkan keuntungan (profit oriented) maka kepemimpinan ini disebut kepemimpinan bisnis.

Kepemimpinan merupakan fitrah yang telah dibebankan kepada setiap manusia dan kepemimpinan bisnis adalah kepemimpinan yang didapat melalui pendidikan dan latihan. Sejalan dengan pendapat sebelumnya bahwa kepemimpinan dibentuk oleh dua aspek yaitu alamiah dan melalui treatment

baik pendidikan maupun latihan. Dalam pandangan para ahli kepemimpinan dunia, seperti yang diterangkan oleh George R. Terry yang dikutip dari Herujito (2001) bahwa, “… Leadership is the relationship in which one person, the leader influenses other to work together willingly on related task to attain that which the leader desires…”. Dari pendapat diatas kepemimpinan merupakan suatu tindakan mempengaruhi orang lain, menggerakkan orang lain agar berkeinginan mengikuti keinginan pemimpin dalam mencapai tujuan organisasi yang telah dicita-citakan.

(23)

orang-orang dalam suatu organisasi dan individu (manusia) itu sendiri dianalogikan seperti perusahaan yang memiliki sumber daya, aturan perusahaan, visi dan misi dan program untuk mencapai tujuan perusahaan, dan kemudian adanya hasilan yang ingin dicapai.

Pengertian lain mengenai konsep kepemimpinan bisnis tidak hanya didasarkan kepada konteks bisnis atau manajemen saja akan tetapi diluar dari itu, bahwa kepemimpinan bisnis adalah seni yaitu bagaimana seorang pemimpin menerapkan gaya kepemimpinannya dengan ungkapan jiwa (perasaan) yang mengalir dalam setiap perintah. Herudjito (2001) juga mengemukakan pendapatnya tentang kepemimpinan, bahwa kepemimpinan adalah seni yaitu kemampuan mempengaruhi perilaku manusia dan kemampuan untuk mengendalikan orang-orang dalam organisasi agar bekerja sesuai dengan yang diinginkan pemimpin.

Seni dalam kepemimpinan bisnis ini dapat dilihat dalam pandangan yang luas. Layaknya seorang pelukis yang melukis sebuah lukisan, terkadang ia gores dengan lembut terkadang terdapat juga goresan yang jelas, menyesuaikan dengan ketertarikan perasaan hatinya sehingga lukisan tersebut memiliki arti yang terdeskripsi dari zhahirnya lukisan tersebut. Pemimpin bisnis menjalankan kepemimpinannya dengan mengikuti perasaan hatinya atau sesuai dengan aliran perasaan hatinya yaitu kapan pemimpin harus melakukan penegasan, menjaga kewibawaan, menghormati bawahan, menjaga hubungan baik pada bawahan dan berbagai keterkaitan hubungan emosional lainnya. Semua ini adalah seni atau berhubungan dengan perasaan (hati) yang nantinya akan memberi hikmah kepada bawahan sehingga lingkungan atau situasi kerja pada organisasi perusahaan yang dipimpinya diharapkan kedepannya dapat berjalan dengan baik.

Pendapat yang lain menjelaskan bahwa kepemimpinan bisnis secara konsepsional meliputi proses bagaimana mempengaruhi orang lain sehingga mencapai tujuan perusahaan, memotivasi bawahannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok atau bawahan dan budaya kelompok tersebut dalam bekerja secara tim (teamwork) menjadi lebih baik dan solid. Selain itu juga kepemimpinan bisnis secara konsepsional mempengaruhi paradigma (individuality perception) bawahan mengenai aktifitas-aktifitas pengorganisasian dan bagaimana sasaran dapat dicapai, memelihara hubungan kerjasama antar individu dan kelompok, adanya dukungan dan kerja sama dari seorang maupun kelompok baik internal ataupun eksternal pada organisasi perusahaan tersebut.

(24)

bagaimana sikap atau karakteristik dari seoarang pemimpin itu sendiri. Bagaimana sosok pemimpin itu, apakah superior untuk menjadi inspirasi dan model panutan bagi pengikutnya dalam melakukan hubungan kerjasama dan mengendalikan sistem manajemen organisasinya atau menjadi inferior, tidak bijak dan tidak berwibawa dalam melakukan hubungan kerjasama dan mengendalikan sistem manajemen organisasinya sehingga mampu mencapai tujuan perusahaan.

Pada jurnal yang ditulis oleh Kwang-Kuo Hwang berjudul Leadership Theory of Legalism and its Function in Confucian Society di dalam buku

Leadership and Management in China karangan Chao–Chuan Chen dan

Yueh–Ting Lee (2008) mengemukakan tentang teori kepemimpinan Hanfei

bahwa, “… Hanfei argued that all human behaviors are motivated by a ruthless pursuit of self-interest, not by moral values. A physician will often

suck men’s wounds clean and hold the bad blood in his mouth, not because he is bound to them by any tie of kinship but because he knows there is profit in it..”. Artinya bahwa adanya motivasi terhadap perilaku pemimpin dikarenakan adanya kepentingan diri sendiri dari pemimpin untuk mengejar suatu tujuan sehingga ada upaya mempengaruhi dan mengendalikan orang lain agar bekerja untuk memuluskan tercapainya tujuan pemimpin tersebut.

Chao–Chuan Chen dan Yueh–Ting Lee (2008) menganalisa tentang teori kepemimpinan Hanfei bahwa teori tersebut dibangun atas 3 (tiga) konsep yaitu 1) kekuasaan (power), 2) hukum (law), 3) tekhnik manajerial (management technique). Bagaimana pemimpin sebagai pemegang kekuasaan mendistribusikan atau memanajemen agar kekuasaannya sejalan dengan peraturan serta pelaksanaannya dalam sistem manajerial kepemimpinan.

Secara luas bila dihubungkan dengan kepemimpinan bisnis mengenai pendapat tentang teori kepemimpinan Hanfei adalah bahwa kepemimpinan bisnis merupakan sifat dasar atau karakter dasar (basically behaviors) di dalam diri seseorang pemimpin bisnis, yaitu bagaimana seseorang pemimpin bisnis tersebut mengorganisasikan atau mengatur prisip-prinsip kepemimpinannya kepada bawahannya akibat desakan atau adanya hubungan dari kepentingan dirinya sendiri untuk mencapai suatu tujuan baik terikat sistem (organisasi perusahaan) atau terlepas dari sistem.

Menurut Yuki dalam Mariam (2009) menyatakan “… Kepemimpinan adalah proses untuk mempengaruhi orang lain, untuk memahami dan setuju dengan apa yang perlu dilakukan dan bagaimana tugas itu dilakukan secara efektif, serta proses untuk memfasilitasi upaya individu dan kolektif untuk mencapai tujuan bersama…”. Suyuti dalam Fauzan (2010) menyatakan “... Kepemimpinan adalah proses mengarahkan, membimbing dan mempengaruhi pikiran, perasaan, tindakan dan tingkah laku orang lain untuk digerakkan kearah tujuan tertentu…”. Secara harfiah bahwa pemimpin disini berfungsi sebagai koordinator dan integrator bagi organisasi yang dipimpinnya.

(25)

mencapai tujuan perusahaan.

Apabila kita ingin menamsilkan kepemimpinan bisnis dalam suatu perusahaan, maka perusahaan adalah seperti pesawat, co-pilotnya adalah informasi yang dibutuhkan oleh pemimpin dan pilotnya adalah pemimpin. Pilot akan menggerakkan atau menekan tombol-tombol untuk menjalankan pesawat dan melalui arahan co-pilotnya pesawat akan diterbangkan sesuai kota tujuan yang ditujukan. Pemimpin melakukan tugasnya dengan bersandarkan kepada informasi tentang suatu program kegiatan, masalah atau isu yang dihadapi oleh perusahaan yang mana informasi tersebut memberikan metode bagaimana pemimpin menjalankan prinsip dan kepemimpinannya. Ketiga alat tersebut (pesawat, pilot dan co-pilot) satu sama lain saling beriringan dan saling berhubungan bagaimana agar kemudi tetap dalam kehendak pilot dan sampailah mereka ke kota yang dituju.

Begitu juga halnya pemimpin bisnis, harus saling berhubungan dan berjalan beriringan dalam menjalankan kepemimpinannya baik dengan internal organisasi perusahaan dan juga eksternal organisasi perusahaan. Semakin baik aplikasi metode yang diterapkan pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya maka membawa perusahaan akan lebih baik lagi.

Kepemimpinan yang ideal merupakan pemimpin yang harus memiliki sifat-sifat unggul melebihi orang lain yang menjadi penciri bagi seorang pemimpin tersebut sehingga layak disebut sebagai pemimpin. Menurut Arep dan Tanjung dalam Rachmawati (2006) menggambarkan secara garis besar bahwa seorang pemimpin idealnya memiliki tiga kategori umum, yakni: 1 Kemampuan pemimpin untuk menganalisa problematika organisasi,

kemudian adanya inisiatif pemimpin dalam solving problem.

2 Kemampuan pemimpin untuk menyusun struktur organisasi dilihat dari kompetensi bawahannya sehingga mampu menempatkan orang-orang yang tepat dalam suatu jabatan organisasi sehingga organisasi dapat berjalan baik.

3 Kemampuan pemimpin menciptakan suasana atau lingkungan kerja yang baik dengan cara pemimpin menjalin kerjasama dan hubungan yang baik kepada bawahan.

Menurut Siagian (2010) yang dikutip dalam bukunya berjudul teori dan praktek kepemimpinan menyatakan bahwa fungsi-fungsi kepemimpinan yang hakiki terdapat dalam 5 hal yaitu :

1 Pemimpin sebagai penentu arah dari organisasi yang dipimpinnya, usaha ini yaitu bagaimana mengarahkan perusahaan mencapai tujuan.

2 Pemimpin sebagai sebagai wakil dan juru bicara dalam organisasi untuk hubungannya terhadap eksternal perusahaan.

3 Pemimpin sebagai komunikator yang efektif untuk mengakomodasi kepentingan perusahaan terhadap peran karyawannya dalam perusahaan itu sendiri.

4 Pemimpin sebagai mediator yang handal untuk mengakomodasi internal organisasi dari permasalahan atau konflik sosial yang terjadi dalam perusahaan yang dipimpinnya.

(26)

Siagian juga mengemukakan pendapatnya dalam buku karangannya sendiri tentang teori kepemimpinan situasional, dikatakan bahwa kepemimpinan situasional akan efektif bergantung pada dua hal yaitu : 1 Pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat sesuai situasi.

2 Kematangan jiwa dan kematangan professional bawahan terhadap tugas. Rachmawati (2006) menjelaskan bagaimana menjadi pemimpin efektif, dia menjelaskan bagaimana menjadi pemimpin yang efektif melalui deskripsi seperti yang dijelaskan melalui gambar seperti dibawah ini :

Gambar 1 Kemampuan pemimpin (Rachmawati, 2006)

Dari pernyataan diatas, apabila dihubungkan dengan kepemimpinan bisnis maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan bisnis yang ideal juga harus memiliki ciri-ciri atau karakteristik seperti berikut ini :

1 Pemimpin adalah pelayan, artinya pemimpin harus mampu melayani urusan bawahannnya. Pelayan disini bukan hanya berhubungan tugas dan kewenangan manajerial sebagai pemimpin bisnis saja tetapi berhubungan juga dengan keterkaitan emosional (pelayanan sosial kepada bawahannya). 2 Pemimpin yang peduli, yaitu peduli terhadap nasib dan kepentingan

bawahannya dan ini mutlak menjadi tanggung jawab bagi pemimpin tersebut. Peduli terhadap kebutuhan maupun tujuan masing-masing individu.

3 Pemimpin yang adil, maksudnya pemimpin harus mampu meletakkan segala sesuatunya sesuai dengan porsi atau ukurannya dan juga pada tempatnya. Keadilan yang diterapkan akan membawa kemudahan bagi organisasinya perusahaan berjalan menuju kepada tujuan yang dicita-citakan.

(27)

5 Pemimpin yang percaya terhadap bawahannya, maksudnya pemimpin menaruh kepercayaan terhadap kinerja bawahannya dan tidak mencari-cari kesalahan yang dibuat bawahannya. Cara yang baik untuk memanusiakan bawahannya agar dewasa, bebas dan berani terhadap ide atau gagasannya agar lebih kreatif dan inovatif sehingga dapat meningkatkan prestasi kerjanya sendiri.

6 Pemimpin yang ulet dan bekerja keras, artinya pemimpin yang tidak mudah putus asa, bersungguh-sungguh, gigih dalam berkarya dan tidak mudah menyerah sebelum berhasil mewujudkan tujuan pribadinya maupun tujuan perusahaan.

7 Pemimpin yang memiliki pandangan luas, cerdas dan bijak yaitu pemimpin yang memiliki pengetahuan dan kecakapan dalam memimpin perusahaan, kemahiran dalam bidang teknis maupun strategis dan memiliki kecerdasan intelektual dalam memimpin perusahaan.

8 Pemimpin yang memiliki sifat teliti dan hati-hati, artinya pemimpin yang tidak gegabah dan hati-hati dalam memutuskan solusi suatu permasalahan, memiliki pandangan jangka pendek dan jangka panjang terhadap rencana yang akan disusun maupun resiko apabila salah melangkah atau memutuskan suatu kebijakan di dalam organisasi perusahaan yang dipimpinnya tersebut.

Dalam pandangan yang luas dari pendapat Siagian bahwa, pemimpin yang efektif bergantung pada tiga (3) hal yang salah satunya adalah adanya kesempatan untuk menjadi sebagai pemimpin, maka bagaimana kesempatan kepemimpinan dapat terwujud misalnya dengan hirarki keturunan, pengangkatan secara bijak oleh musyawarah atas pilihan orang-orang dibawahnya atau malah yang lebih sadis adalah bagaimana proses kepemimpinan ini terwujud akibat hal-hal yang menyimpang misalnya kudeta atau penggulingan oleh orang-orang yang tidak suka kepada pemimpin sebelumnya. Dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa unsur–unsur terbentuknya proses kepemimpinan atau bagaimana kepemimpinan itu terwujud dapat dibagi sebagai berikut :

1 Pengangkatan

Pemimpin seperti ini lahir dari atas dasar pengangkatan formal maupun informal. Pemimpin ini dibagi atas 3 (tiga) proses pembentukannya yaitu :

a Pengangkatan melalui putusan/penunjukan pimpinan tertinggi

Pengangkatan seperti ini terjadi dalam suatu lingkup formal misalnya lembaga atau instansi dan organisasi formal lainnya, dimana atasan tertinggi menunjuk seseorang menjadi pimpinan di suatu lembaga atau bidang tertentu.

b Pengangkatan melalui musyawarah mufakat/ rapat voting

Pengangkatan ini berdasarkan putusan yang disandarkan pada kesepakatan bersama yang diambil atau diputuskan dari orang–orang (kalangan) yang merasa yakin bahwa seseorang tersebut layak menjadi pemimpin dengan kompetensi dan kapabilitasnya sebagai seorang pemimpin.

c Politik dan Kekuasaan

(28)

akan menikahi putri raja dari kerajaan lainnya agar kerajaan tersebut tidak diserang atau dikuasai atau untuk menggabungkan dua kekuatan besar. Raja tersebut nantinya akan menjadi pemimpin tunggal atau pemimpin tertinggi ketika raja (ayahanda/mertua) telah mangkat (meninggal).

Contoh yang dapat dibuktikan dari proses munculnya seorang pemimpin atas dasar politik dan kekuasaan adalah raja Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit, Raja Hayam Wuruk berniat menikahi atau meminang putri dari kerajaan Padjajaran yang bernama Dyah Pitaloka hanya untuk menaklukan kerajaan Padjajaran karena dari hampir semua kerajaan di Indonesia hanya kerajaan Padjajaran yang belum bisa ditaklukan. Walaupun akhirnya pernikahan ini gagal karena adanya konflik oleh patih Gajah Mada yang membunuh Sri Baduga Maharaja Raja Padjajaran yaitu Ayahanda dari Dyah Pitaloka dalam peperangan Bubat tahun 1351. Intinya adalah, bahwa proses kepemimpinan dapat terbentuk atas dasar politik dan kekuasaan. 2 Faktor Keturunan

Seorang anak raja secara otomatis akan menjadi raja menggantikan ayahnya yang telah mangkat (meninggal) untuk menjadi raja atau pemimpin. Pengangkatan ini berlaku turun temurun kecuali terjadi kudeta atau perebutan kekuasaan. Proses terbentuknya kepemimpian ini umunya terjadi pada sistem kerajaan (monarchi constitutional) atau kesultanan. Dalam dunia bisnis, proses terbentuknya kepemimpinan bisnis adalah biasanya ditetapkan secara hirarki atau jenjang karir yang sudah ditetapkan secara sistematis oleh perusahaan walaupun tidak menutup kemungkinan ada cara lainnya. Bisnis keluarga akan lebih cendrung mengangkat pemimpin bisnis dari keluarga mereka sendiri walaupun bisa terjadi kemungkinan lainnya. Secara umum banyak perusahaan baik nasional maupun multinasional lebih mengedepankan sosok pemimpin bisnis dari prestasi kerja dan pengalamannya di lapangan. Kedua hal ini memberikan pengaruh terhadap terbentuknya proses kepemimpinan yang lebih konkret di dalam dunia bisnis. Prestasi kerja yang baik akan menjadikan seorang tersebut dapat menaiki tangga hirarki jabatan untuk sampai menjadi pimpinan perusahaan. Pengalaman yang banyak untuk menjalankan perusahaan atau menyelesaikan masalah perusahaan menjadi keharusan bagi pemimpin sehingga perusahaan dapat menyelesaikan masalahnya dan tetap survive dalam menjalankan kegiatan bisnis perusahaan tersebut yang lebih disesuaikan dengan perkembangan jaman dan tekhnologi.

Gaya Kepemimpinan Bisnis

(29)

gaya kepemimpinan adalah cara atau metode yang digunakan seorang pemimpin dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kepemimpinannya.

Siagian (2010) mengemukakan pendapatnya tentang gaya kepemimpinan bahwa gaya kepemimpinan dapat bersifat tetap (fixed) dan ada pula bersifat situasional. Bersifat tetap maksudnya adalah gaya kepemimpinan tersebut tidak akan berubah walau dalam situasi bagaimanapun, sehingga dalam situasi bagaimanapun, situasilah yang harus disesuaikan dengan gaya kepemimpinan yang ada. Jika hal tersebut tidak memungkinkan untuk terjadi maka pilihan terakhir adalah jatuh pada pergantian pemimpin, sehingga pemimpin lama harus diganti dengan pemimpin yang baru yang memiliki gaya kepemimpinan yang sesuai dengan situasi yang dihadapi. Kemudian maksud dari gaya bersifat situasional bahwa gaya kepemimpinan tersebut akan berubah sesuai situasi yang dihadapi oleh seorang pemimpin. Teori ini menitikberatkan kepada efektifitas kepemimpinan yang bergantung pada dua hal yaitu, pemilihan gaya yang tepat terhadap situasi tertentu dan profisionalisme para bawahan terhadap tugas dan tanggung jawab yang diemban.

Didalam kehidupan nyata terlebih di massa industri modern (modern industry), kecendrungan seorang pemimpin bisnis untuk menerapkan gaya kepemimpinannya lebih kepada konsep atau teori gaya kepemimpinan situasional (contingency theory) meskipun masih banyak lagi gaya kepemimpinan yang dipakai oleh pemimpin bisnis dimana menjadi icon di dekade sekarang ini yaitu konsep kepemimpinan transaksional (transactional leadership) dan konsep kepemimpinan transformasional (transformational leadership).

Konsep gaya kepemimpinan situasional banyak diterapkan di dunia bisnis karena gaya kepemimpinan ini lebih cocok dan bermanfaat terhadap perusahaan terutama bagi dunia bisnis dimana sekarang strategi bisnis global

atau modern dimana konsumen atau pelanggan adalah raja, apa produk yang dibutuhkan para raja untuk memenuhi kebutuhannya dan bagaimana perusahaan dengan produknya mampu memuaskan raja-raja tersebut. Sehingga dalam hal ini peran kepemimpinan harus disesuaikan pada situasi yang ada dalam masyarakat baik regional apabila perusahaan yang dipimpinnya adalah perusahaan regional, atau sesuai situasi pada masyarakat nasional jika perusahaan yang dipimpinnya adalah perusahaan nasional atau sesuai situasi yang ada dalam masyarakat internasional jika perusahaan yang dipimpinnya adalah perusahaan multinasional.

Konsep kepemimpinan transformasional berdasarkan prinsip pengembangan bawahan (follower development). Pemimpin transformasional mengevaluasi kemampuan dan potensi masing-masing bawahan untuk menjalankan suatu tugas/pekerjaan, sekaligus melihat kemungkinan untuk memperluas tanggung jawab dan kewenangan bawahan di masa mendatang. Konsep kepemimpinan transformasional lebih menitikberatkan kepada perbaikan internal organisasi yaitu sumber daya manusia (human resource) dalam organisasi.

(30)

wewenang bawahan demi kemajuan bawahan. Konsep kepemimpinan transaksional menitikberatkan kepada perbaikan organisasi dengan pergantian sumber daya yang tidak memenuhi syarat.

Gaya kepemimpinan di dalam organisasi bisnis merupakan modal yang menjadi metode atau cara bagi pemimpin bisnis menggunakan media tersebut untuk menjalankan kepemimpinannya. Herujito (2001) menyebutkan bahwa, “… Gaya kepemimpinan adalah cara yang diambil seseorang dalam rangka mempraktekkan kepemimpinannya…”. Menurut Darwito (2008) gaya kepemimpinan adalah, “… Suatu cara yang digunakan oleh seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku orang lain…”. Secara umum pendapat tersebut bahwa gaya kepemimpinan adalah tekhnik mempengaruhi.

Merujuk dari pendapat diatas, apabila dihubungkan dengan kepemimpinan bisnis maka gaya kepemimpinan bisnis merupakan cara atau metode dari seorang pemimpin bisnis dalam menjalankan kepemimpinannya untuk mempengaruhi, mengendalikan dan mengarahkan bawahan dan organisasinya sehingga mencapai tujuan perusahaan. Gaya kepemimpinan bisnis juga dapat didefinisikan sebagai cara pandang dan pola tindakan sang pemimpin bisnis untuk melancarkan agresi taktisnya kepada bawahan dan organisasinya demi mencapai suatu tujuan perusahaan. Gaya kepemimpinan seseorang di dalam organisasi baik bisnis maaupun non bisnis adalah seperti nur kharisma ruhaniat dan jasmaniat yang terpancar dalam diri seorang pemimpin yang mempengaruhi para bawahan dan organisasinya yang tidak hanya didasarkan pada tugas dan kewenangan dari seorang pemimpin bisnis saja akan tetapi diluar dari itu semua sehingga memberikan contoh bagaimana bawahan menjalankan tugas dan kewenangan yang semestinya dalam mencapai tujuan yang diharapkan pemimpin dan organisasinya.

Menurut Robbins dalam Habsoro (2011) terdapat 4 (empat) macam gaya kepemimpinan yaitu sebagai berikut :

Gaya Kepemimpinan Karismatik

Gaya kepemimpinan yang karismatik memiliki ciri-ciri seperti berikut : 1 Kehebatan dari jiwa seorang pemimpin yang tak semua pemimpin

memilikinya.

2 Memiliki kemampuan heroik atau luar biasa dari seorang pemimpin. 3 Menginginkan perilaku yang dibuat pemimpin ini dapat ditiru dan diikuti

oleh bawahannya dengan kapasitas mereka masing-masing. Gaya Kepemimpinan Transaksional

Gaya kepemimpinan ini dilukiskan seperti berikut : 1 Pemimpin sebagai jembatan (fasilitator).

2 Fungsinya adalah mengakomadasikan suatu hal dari satu rel ke rel lainnya (akomodator).

3 Gaya pemimpin yang satu ini memandu atau memotivasi para pengikutnya menuju ke sasaran yang ditetapkan dengan memperjelas arah dan kebijakan peran dan tugas mereka masing-masing.

Gaya Kepemimpinan Transformasional

Gaya kepemimpinan yang dapat disebut pemimpin transformasional seperti dicirikan sebagai berikut :

1 Berperan sebagai pembawa perubahan (agent of change).

(31)

program.

3 Pemimpin ini menginspirasi para pengikut untuk melampaui kepentingan pribadi mereka sendiri.

4 Pemimpin ini juga mampu membawa dampak yang mendalam dan luar biasa pada pribadi para pengikut bagaimana pengikut dapat berprestasi lebih.

Gaya Kepemimpinan Visioner

Gaya kepemimpinan visioner dapat dicirikan seperti berikut :

1 Gaya kepemimpinan yang mampu menciptakan dan mengartikulasikan visi yang realistis.

2 Pemimpin dengan kredibelitas tinggi.

3 Pemimpin yang memiliki motivasi mengenai massa depan organisasi atau unit organisasi yang tengah tumbuh dan membaik.

Model kepemimpinan berdasarkan teori situasional (Siagian, 2010) bahwa efektifitas kepemimpinan seseorang ditentukan melalui kemampuan seorang pemimpin untuk membaca situasi dan keadaan yang dihadapi serta menyesuaikan dengan gaya kepemimpinannya sebagai solving problem. Terdapat 5 (lima) model kepemimpinan yang situasional, yaitu :

1 Model Kontinuum “ Otokratik-Demokratik”

Pendekatan yang dilakukan dalam model ini adalah dengan pendekatan keprilakuan, selain itu perlu juga adanya penyeseuaian gaya dan perilaku terhadap situasi atau kondisi yang dihadapi kemudian untuk menyempurnakannya adalah dengan penyelenggaraan fungsi kepemimpinan dari pemimpin yang menerapkan model ini. Seorang pemimpin yang menerapkan gaya yang otokratik maka kecendrungan terhadap penyelesaian tugas sangatlah diperhatikan dan untuk menjalankan misi tersebut, pemimpin ini akan menggunakan ketegasan dari kewenangan yang dimiliki. Lain halnya dengan pemimpin yang menerapkan gaya demokratik, pemimpin ini akan menjadi fasilitator dalam setiap pengambilan keputusan dan adanya hubungan emosional dengan bawahan untuk menjalankan tugas sehingga mampu mencapai tujuan bersama. Intinya adalah pemimpin yang demokratik akan lebih mengutamakan kepuasan kerja bawahannya sedangkan pemimpin otokratik lebih mengutamakan produktivitas kerja para bawahannya. 2 Model “ Interaksi Atasan-Bawahan”

Model ini beranjak dari kebutuhan terhadap prestasi kerja bawahan, bagaimana interaksi dari pemimpin kepada bawahan mempengaruhi prestasi kerja para bawahannya. Pertimbangan dalam model ini adalah bagaimana hubungan antara atasan dan bawahan berjalan baik, bagaimana tugas-tugas dilaksanakan dengan mengikuti arahan prosedur yang jelas dan bagaimana posisi kewenangan seorang pemimpin mampu secara baik menjalankan fungsi kepemimpinannya.

3 Teori Situasional

(32)

harus dilakukan bawahannya, bagaimana cara dan kapan dilaksanakannya tugas tersebut. Kedua adalah perilaku pemimpin yang “ menjual ”. Pemimpin ini memberikan petunjuk-petunjuk pelaksanaan yang disinergikan dengan dukungan yang diperlukan oleh bawahannya (intensif). Ketiga adalah perilaku pemimpin untuk “ mengajak bawahan berperan serta ”. Peranan pemimpin adalah mengajak bawahan agar berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan dan juga bersama-sama untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Keempat adalah perilaku pemimpin untuk melakukan “ pendelegasian ”. Pemimpin ini mengarahkan dan menyerahkan kepada bawahan agar menjalankan tugasnya dengan atau tanpa campur tangan atasannya.

4 Model ” Pimpinan Peran-Serta Bawahan ”

Model ini menyoroti perilaku pemimpin sebagai pengambil keputusan. Dengan menyadari bahwa struktur tugas menimbulkan berbagai tuntutan yang mana tuntutan itu menjadi keharusan untuk diselesaikan oleh bawahannya. Serangkaian ketentuan yang harus ditaati oleh para bawahan dalam menentukan bentuk dan tingkat peran oleh bawahan dalam pengambilan keputusan. Bentuk dan tingkat peran serta bawahan tersebut didiktekan oleh situasi yang dihadapi dan masalah yang ingin dipecahkan melalui proses pengambilan keputusan tersebut. Konsep-konsep yang ingin dipaparkan dalam teori ini digambarkan dalam apa yang dikenal dengan “ pohon keputusan ”. Konsep dari teori ini sebenarnya lebih cendrung pada gaya kepemimpinan yang bersifat fleksibel. Artinya konsep ini benar-benar sesuai dengan keadaan yang dihadapi dalam dunia kenyataan. Lima perilaku yang pimpinan yang tercermin dalam pengemabangan model gaya kepemimpinan diantaranya yaitu, 1). Otokratik I, 2). Otokratik II, 3). Konsultatif I, 4). Konsultatif II dan 5). Kelompok II.

5 Teori “ Jalan-Tujuan ”

Teori ini menyatakan bahwa tugas pemimpin adalah membantu bawahannya dalam mengarahkan dan memberikan dukungan dalam melaksanakan tugas pekerjaan untuk mencapai tujuan. Pemimpin juga memberikan jaminan bahwa tujuan bawahan (tujuan individu) tidak bertentangan dengan tujuan organisasi perusahaan. Artinya jika bawahan ingin mendapatkan tujuannya masing-masing sebagaimana yang diarahkan oleh pemimpin maka karyawan harus mampu untuk mendapatkan atau menggapai tujuan organisasi perusahaan. Keefektifan pemimpin yang menerapkan teori ini adalah lebih kepada kemampuan pemimpin untuk menunjukkan jalan yang dapat ditempuh oleh bawahannya sehingga tujuan pribadinya dan organisasi perusahaan akan tercapai.

(33)

juga bagaimana pemimpin bersama-sama dengan bawahan untuk menetapkan tujuan mereka masing-masing dan bagaimana pencapaian atau pelaksanaan yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Pada intinya dari teori ini disimpulkan bahwa pertama pemimpin harus membantu menjelaskan arah yang harus ditempuh para bawahan dengan penyusunan struktur tugas yang sejelas mungkin, kedua pemimpin memberikan perhatian besar terhadap kepentingan dan kebutuhan bawahan dari tugas yang mereka akan jalankan dan pemimpin juga memiliki keyakinan bahwa mereka memiliki kompetensi dan kapabiliti untuk melaksanakan tugas tersebut secara baik. Teori ini seperti pada gambar 2 di bawah ini :

Gambar 2 Proses kepemimpinan teori jalur tujuan (Nurjanah 2008) Siagian (2010) dalam bukunya tentang teori dan praktek kepemimpinan menyatakan bahwa terdapat lima tipe kepemimpinan. Dan teori ini menjadi dasar pemikiran untuk menilai bagaimana gaya kepemimpinan bisnis pada CV. Mitra Tani Farm, adapun lima tipe kepemimpinan menurut Siagian sebagai berikut :

Tipe yang Otokratik

(34)

1 Menganggap organisasi sebagai milik pribadi dan cendrung egois. 2 Mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.

3 Mengharapkan disiplin kerja yang tinggi terhadap karyawannya.

4 Ketergantungan organisasi terhadap pemimpin otokratik sangatlah besar. 5 Organisasi adalah alat pencapai tujuan sehingga untuk mencapai tujuan

tersebut dalam melakukan hal-hal apa saja sehingga tujuan tercapai. 6 Dalam pelaksanaan kepemimpinannya melakukan punitive (hukuman). Tipe yang Paternalistik

Tipe pemimpin yang paternalistik ini memiliki karakter seperti berikut : 1 Mendapatkan penghormatan dari orang-orang di sekitarnya.

2 Bersikap terlalu melindungi.

3 Memberikan perhatian yang terlalu besar kepada bawahannya.

4 Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk bersikap kreatif dan inovatif.

5 Pemimpin memiliki sifat serba tahu. Tipe yang Karismatik

Tipe pemimpin yang kharismatik dalam banyak literatur tidak dapat dijelaskan secara konkrit, tapi yang khas dari tipe pemimpin ini adalah seperti berikut :

1 Memiliki daya tarik yang luar biasa (nur karismatik). 2 Memiliki kewibawaan yang alamiah dari dirinya.

3 Memiliki pengaruh besar kepada bawahan sehingga bawahan merasa perintah dan pandangan pemimpin kharismatik adalah hujjah yang harus diikuti.

4 Memiliki pengikut yang loyal kepada pemimpin kharismatik tersebut. Tipe yang Laissez Faire

Pemimpin yang laissez faire biasanya memiliki karakter seperti berikut : 1 Peranan yang pasif dari pemimpin.

2 Bersikap tidak terlalu menekan atau mengintervensi terhadap tugas dan tanggung jawab bawahan.

3 Memberikan keleluasaan kepada bawahan dan perhatian yang terlalu besar kepada bawahannya.

4 Memiliki pandangan bahwa organisasi akan berjalan lancar karena bawahan atau anggota organisasi tersebut memiliki kedewasaan berfikir. Tipe yang Demokratik

Pemimpin yang demokratik memiliki karakteristik seperti berikut ini :

1 Pemimpin ini menerima saran, pendapat dan bahkan kritikan dari bawahan.

2 Selalu berusaha mengutamakan kerjasama teamwork dalam usaha mencapai tujuan.

3 Pemimpin ini bersifat koordinator dan integrator.

4 Memiliki pandangan bahwa bawahan adalah makhluk mulia yang berfikir. 5 Berusaha menjadikan bawahan lebih sukses daripadanya.

6 Selalu berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

(35)

Kinerja Perusahaan

Kinerja perusahaan merupakan acuan atau rujukan dari suatu perusahaan untuk melihat capaian kerja yang telah dilakukan dan apa yang menjadi kekurangan bagi perusahaan tersebut untuk dievaluasi sehingga kedepannya kinerja perusahaan dapat menjadi baik. Fidhayatin dan Dewi (2012) menyatakan “… kinerja perusahaan dapat dijadikan pedoman dalam mengukur keberhasilan suatu perusahaan. Kinerja perusahaan merupakan pengukuran atas prestasi perusahaan yang timbul akibat proses pengambilan keputusan manajemen, karena memiliki hubungan efektivitas pemanfaatan modal, efisiensi dan rentabilitas dari kegiatan kinerja…”. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan secara general bahwa kinerja perusahaan merupakan pengukuran prestasi yang telah dikerjakan atau yang telah dicapai oleh perusahaan.

Sedangkan pendapat lainnya seperti yang disampaikan Widodo (2011) menyatakan “… kinerja perusahaan adalah suatu tampilan keadaan secara utuh atas perusahaan selama periode waktu tertentu, merupakan hasil atau prestasi yang dipengaruhi oleh kegiatan operasional perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya-sumber daya yang dimiliki…”. Kinerja perusahaan adalah aktifitas organisasi perusahaan baik yang dimulai dari input, proses maupun output perusahaan. Kinerja perusahaan ini dinilai secara standar dengan standarisasi yang telah ditentukan baik oleh perusahaan itu sendiri atau lembaga lainnya dalam kurun waktu atau periode tertentu. Widodo mendefinisikan mengenai penilaian kinerja bahwa penilaian kerja adalah penilaian tentang efektivitas operasional organisasi, bagian organisasi, dan karyawannya berdasarkan sasaran, standar, dan kriteria yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Penilaian kinerja perusahaan dapat dilakukan dapat dilakukan melalui berbagai aspek baik yang berhubungan internal maupun eksternal. Pada kajian penelitian yang diangkat kali ini lebih diprioritaskan terhadap aspek finansial yaitu bagaimana rentabilitas atau tingkat keuntungan yang diterima perusahaan CV. Mitra Tani Farm itu sendiri. Apakah keuntungan yang diterima oleh perusahaan semakin meningkat atau malah semakin menurun. Penilaian kinerja perusahaan ini akan dilihat hubungannya dengan kualitas kerja karyawan baik melalui kepuasan kerja, motivasi kerja dan kinerja karyawan. Ini dilakukan karena tanpa karyawan, sebanyak apapun sumber daya modal perusahaan, semegah apapun bangunan perusahaan dibuat dan semodern apapun sistem manajemen yang diterapkan tetap perusahaan akan tidak dapat berjalan sehingga mustahil tujuan perusahaan akan tercapai.

(36)

Faktor - Faktor Internal yang Mempengaruhi Kinerja Perusahaan

Kepuasan Kerja Karyawan

Kepuasan kerja adalah salah satu variabel yang menjadikan karyawan berkomitmen dalam bekerja dan dapat juga menjadi standar bagi karyawan tersebut untuk bekerja lebih lama lagi di perusahaan yang memayunginya sekarang. Banyak di Indonesia sendiri dimana banyak karyawan yang biasa untuk berpindah kerja ke perusahaan lainnya. Salah satu masalah yang mendasari dan melatarbelakangi kasus tersebut adalah kepuasan kerja, maka sudah sepatutnya perusahaan dapat menciptakan suasana kerja yang nyaman dan kondusif dalam organisasi perusahaan. Persepsi yang sangat subjektif untuk mendefinisikan arti dari kepuasan kerja dan memungkinkan setiap orang memiliki pendapat yang berbeda untuk mendefinisikan kata tersebut.

Menurut Setyowati (2009) mengemukakan pendapatnya tentang kepuasan kerja yang intinya adalah kepuasan kerja merupakan kepuasan yang dirasakan seorang pekerja secara individual melalui perbandingan antara input yang digunakan dan hasil yang diperoleh, apakah sesuai dengan yang diharapkan. Maka apabila mendekati tingkat harapan terhadap hasil yang diperoleh maka pekerja mengalami kepuasan kerja yang tinggi. Hal ini juga tidak terlepas dari berbagai faktor dari dalam maupun dari luar pekerja. Secara sederhana untuk mengartikan arti dari kata kepuasan kerja bahwa kepuasan kerja merupakan respon atau tanggapan yang baik dari perasaan seseorang tentang hasil yang diterima dari apa yang telah dilakukan di dalam suatu lingkup pekerjaan. Respon atau tanggapan yang baik ini adalah hal apa saja yang sesuai seperti apa yang telah diharapkan. Untuk menilai kepuasan tersebut, jawaban yang akan dihadapkan hanya ada dua jawaban saja yaitu puas atau tidak puas atau mungkin senang atau tidak senang.

Martoyo dalam Fauzan (2010) menyebutkan bahwa, “… kepuasan kerja merupakan keadaan emosional karyawan dimana terjadi atau tidak terjadi titik temu antara nilai balas jasa kerja karyawan dari perusahaan atau organisasi dengan tingkat nilai balas jasa yang memang diinginkan untuk karyawan yang bersangkutan…”. Penekanan yang sangat mendasar (basically) dari pendapat-pendapat diatas dimana kepuasan kerja merupakan respon emosional (perasaan), apabila respon baik atau positif berarti secara gambling menyatakan adanya kepuasan kerja tetapi bila respon buruk atau negatif berarti tidak adanya kepuasan kerja. Kepuasan kerja secara umum juga merupakan respon emosional terhadap hasil kerja yang telah dilakukan oleh seseorang dalam suatu lingkup kerja dimana respon tersebut adalah puas atau tidak puas. Kepuasan kerja juga merupakan feedback dari pekerjaan yang telah dilakukan oleh seorang karyawan di dalam suatu organisasi perusahaan. Robbins dalam Darwito (2008) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai suatu sikap (attitude) seorang individu terhadap pekerjaannya baikberinteraksi dengan rekan sekerja dan atasan, mengikuti aturan dan kebijaksanaan organisasi, memenuhi standar kinerja.

Gambar

Gambar 1  Kemampuan pemimpin (Rachmawati, 2006)
Gambar 1 Kemampuan pemimpin Rachmawati 2006 . View in document p.26
Gambar 2  Proses kepemimpinan teori jalur tujuan (Nurjanah 2008)
Gambar 2 Proses kepemimpinan teori jalur tujuan Nurjanah 2008 . View in document p.33
Gambar 3  Konsep yang dikembangkan dalam penelitian hubungan gaya
Gambar 3 Konsep yang dikembangkan dalam penelitian hubungan gaya . View in document p.43
Gambar 4  Struktur organisasi CV. Mitra Tani Farm
Gambar 4 Struktur organisasi CV Mitra Tani Farm . View in document p.47
Tabel 2  Pencapaian  laba perusahaan CV. Mitra Tani Farm  selama 4 tahun
Tabel 2 Pencapaian laba perusahaan CV Mitra Tani Farm selama 4 tahun . View in document p.48
Tabel 1  Penggunaan lahan peternakan dan pertanian di CV. MT Farm
Tabel 1 Penggunaan lahan peternakan dan pertanian di CV MT Farm . View in document p.48
Tabel 4  Jenis kelamin responden di CV. Mitra Tani Farm
Tabel 4 Jenis kelamin responden di CV Mitra Tani Farm . View in document p.50
Tabel 5  Pendidikan responden di CV. Mitra Tani Farm
Tabel 5 Pendidikan responden di CV Mitra Tani Farm . View in document p.51
Tabel 6  Masa kerja responden di CV. Mitra Tani Farm
Tabel 6 Masa kerja responden di CV Mitra Tani Farm . View in document p.52
Tabel 7  Gaya yang diterapkan pemimpin bisnis menurut persepsi kepuasan
Tabel 7 Gaya yang diterapkan pemimpin bisnis menurut persepsi kepuasan . View in document p.53
Tabel 8  Gaya yang diterapkan pemimpin bisnis menurut persepsi kinerja  karyawan CV. Mitra Tani Farm
Tabel 8 Gaya yang diterapkan pemimpin bisnis menurut persepsi kinerja karyawan CV Mitra Tani Farm . View in document p.54
Tabel 9  Gaya yang diterapkan pemimpin bisnis menurut persepsi motivasi kerja karyawan CV
Tabel 9 Gaya yang diterapkan pemimpin bisnis menurut persepsi motivasi kerja karyawan CV. View in document p.55
Tabel 10  Hasil pengujian 1 gaya kepemimpinan bisnis terhadap kepuasan
Tabel 10 Hasil pengujian 1 gaya kepemimpinan bisnis terhadap kepuasan . View in document p.57
Tabel 11  Hasil pengujian 2 kepuasan kerja, kinerja dan motivasi kerja karyawan  terhadap kinerja perusahaan CV
Tabel 11 Hasil pengujian 2 kepuasan kerja kinerja dan motivasi kerja karyawan terhadap kinerja perusahaan CV. View in document p.58

Referensi

Memperbarui...

Download now (68 pages)