Erotisme dalam Lirik Lagu Dangdut Indonesia (Analisis Semiotika terhadap Lirik Lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda)

 7  129  140  2017-06-11 21:39:54 Laporkan dokumen yang dilanggar
LAMPIRAN 1 “Cinta Satu Malam” Bait 1 Walau cinta kita sementara Aku merasa bahagia Kalau kau kecup mesra di keningku Ku rasa bagai di surga Reff Cinta satu malam oh indahnya Cinta satu malam buatku melayang Walau satu malam Akan selalu ku kenang Dalam hidupku Cinta satu malam oh indahnya Cinta satu malam buatku melayang Walau satu malam Akan selalu ku kenang Selama- lamanya Bait 2 Sentuhanmu membuatku terlena Aku telah terbuai mesra Yang ku rasa hangat indahnya cinta Hasratku kian membara Sumber: http://liriklagudangdut.com/melinda-cinta-satu-malam.html Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 2 “Mojok di Malam Jumat” Bait 1 Bang kemana aja sih Aku sudah gak tahan Bang apelin aku dong Malam Jumat pun oke lah Reff 1 Mojok di malam Jumat Aku tak takut Asal abang selalu dekatku Mojok di malam Jumat Aku tak resah Jurig juga ingin pacaran seperti kita Bait 2 Bang kok belum datang juga Please deh aku mulai bete Bang cepet dong ke sini Jangan keduluan setan gundul Reff 2 Mojok di malam Jumat aduh asyiknya Cumbulah aku sesukamu Mojok di malam Jumat aduh senangnya Melepas rindu tak tertahan Abangku sayang Sumber: http://liriklagudangdut.com/melinda-mojok-di-malam-jumat.html Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 3 “Aw Aw” Bait 1 Tadi malam aw aw ku dibuai aw aw Sayang- sayangan aw aw mesra- mesraan aw aw Ku dimanja aw aw ku dicumbu aw aw Basah hatiku aw aw betapa indah aw aw Bait 2 Walau cinta satu jam saja tapi aku puas rasanya Rinduku mencairlah sudah Reff Oh melayang- layang Serasa terbang di atas awan sampai ke surga Dibuai cinta betapa indahnya Walaupun hanya satu jam saja oh oh Sumber: http://liriklagudangdut.com/melinda-aw-aw.html Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 4 DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Jl. Dr. A. Sofyan No. 1 Telp (061) 8217168 LEMBAR CATATAN BIMBINGAN SKRIPSI No. NAMA : Susiana Br Naibaho NIM : 090904046 PEMBIMBING : Yovita Sabarina Sitepu, M.Si Tanggal Pertemuan Pembahasan 1. 30 Mei 2013 ACC Seminar Proposal 2. 20 Juli 2013 Seminar Proposal 3. 11 Oktober 2013 Bimbingan Bab I- III 4. 25 November 2013 Bimbingan Bab I- III 5. 19 Desember 2013 Bimbingan Bab IV 6. 18 Februari 2014 Bimbingan Bab IV 7. 20 Februari 2014 Bimbingan Bab IV 8. 25 Februari 2014 Bimbingan Bab IV 9. 04 Maret 2014 Bimbingan Bab IV 10. 18 Maret 2014 Bimbingan Bab IV 11. 15 April 2014 Bimbingan Bab I- V 12. 17 April 2014 ACC Sidang Paraf Pembimbing Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 5 BIODATA PENELITI NAMA : SUSIANA BR NAIBAHO TEMPAT/ TANGGAL LAHIR : LAUBALENG/ 28 AGUSTUS 1990 JENIS KELAMIN : PEREMPUAN AGAMA : KRISTEN PROTESTAN ALAMAT : JL. SAUDARA NO. 4 PADANG BULAN MEDAN NAMA ORANGTUA : A. NAIBAHO H. PURBA ALAMAT ORANGTUA : JL. RENUN NO. 6 LAUBALENG PENDIDIKAN : SD RK RAMBEMBELANG 3 LAUBALENG (1996- 2002) SMP NEGERI 1 LAUBALENG (20022005) SMA METHODIS 1 MEDAN (20052008) Universitas Sumatera Utara Daftar Referensi Agoes, Dariyo. 2004. Psikologi Perkembangan Remaja. Bogor Selatan: Ghalia Indonesia. Ahmad, Saiyad Fareed. 2008. 5 Tantangan Abadi terhadap Agama. Jakarta: Mizan Pustaka. Ardianto, Elvinaro. 2010. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Bachtiar, Aziz. 2004. Manajemen Kasih Sayang: Kiat Melanggengkan Hubungan dan Menikmati Indahnya Dunia Cinta. Jogjakarta: Saujana Jogjakarta. Bungin, Burhan. 2008. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Chodjim, Achmad. 2005. Membangun Surga. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. El- Bantanie, Muhammad Syafi‟ie. 2010. Shalat Jarik Jodoh. Jakarta: Elex Media Komputindo. Elvinaro Ardianto & Lukiati Komala. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hidayat, Komaruddin. 2011. Psikologi Kematian: Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme. Bandung: Hikmah. Hoed, Benny. 2008. Dari Logika Tuyul ke Erotisme. Yogyakarta: Indonesia Tera. Idrus, Muhammad. 2009. Metode Penelitian Ilmu Sosial. Jakarta: Erlangga. Kartono, Kartini. 1992. Psikologi Wanita Mengenai Gadis Remaja dan Wanita Dewasa. Bandung: Mandar Maju. Kusmaryanto. 2002. Kontroversi Aborsi. Jakarta: Grasindo. Lubis, Mochtar. 2011. Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Mauly Purba & Ben Pasaribu. 2006. Musik Populer. Jakarta: Lembaga Pendidikan Seni Nusantara. Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Universitas Sumatera Utara Piliang, Yasraf Amir. 2012. Semiotika dan Hipersemiotika. Bandung: Matahari. Pranoto, Naning. 2010. Her Story: Sejarah Perjalan Payudara. Yogyakarta: Kanisius. R. Supanggah, M. Sumarno, I.G.N.P. Wijaya, A.S. Anwar. 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Seni Pertunjukan dan Seni Media. Jakarta: Rajawali Pers. Sarwono, Sarlito Wirawan. 1997. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya. __________. 2004. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Untoro, Bambang. 2009. Benarkah Aku Mengasihimu?. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Vardiansyah, Dani. 2008. Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Jakarta: Indeks. Yesmil Anwar & Adang. 2008. Pengantar Sosiologi Hukum. Jakarta: Grasindo. Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wibowo, Indiwan. 2011. Semiotika Komunikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media. Widianti, Dian. 2006. Ensiklopedi Cinta. Bandung: Dar! Mizan. Wuisman, Jan J.J.M. 2013. Teori dan Praktek: Memperoleh Kembali Kenyataan Supaya Memperoleh Masa Depan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Zamroni, Mohammad. 2009. Filsafat Komunikasi: Pengantar Ontologis, Epistemologis, Aksiologis. Yogyakarta: Graha Ilmu. Universitas Sumatera Utara Sumber lain: http://kpid.jatengprov.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=52 &Itemid=102 http://m.liputan6.com/health/read/628867/rhoma-irama-lirik-dan-goyang-dangduttak-harus-erotis http://psychcentral.com/news/2009/02/26/song-lyrics-influence-sexualbehavior/4366.html http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00018654.html http://m.okezone.com/read/2011/11/25/386/534403/dicekal-lagu-hamil-duluancinta-satu-malam-di-jabar http://liriklagudangdut.com/melinda-cinta-satu-malam.html http://www.chicmagz.com/read/3134/arti-di-balik-sebuah-ciuman http://www.satuharapan.com/life/tujuh-makna-ciuman-sayang-dan-cinta http://m.detik.com/wolipop/read/2013/03/18/190532/2197200/227/?u18=1 http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=300 489:arti-ciuman-dari-si-dia&catid=61:seks&temid=136 http://forum.kompas.com/teras/269113-arti-dari-setiap-ciuman.html http://m.detik.com//wolipop/read/2010/07/02160901/852/makna-tersembunyisentuhan-wanita-pada-pria http://www.dailysylvia.com/2013/04/23/membaca-arti-sentuhan-pria/ http://id.m.wikipedia.org/wiki/Surga http://breadofwisdom.blogspot.com/2011/05/enam-tipe-cinta.html http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=11924.0 http://sosbud.kompasiana.com/2012/06/30/fenomena-seks-pra-nikah-di-kalanganmahasiswa-di-yogyakarta-468112.html http://liriklagudangdut.com/melinda-mojok-di-malam-jumat.html http://www.berita2.com/daerah/jawa-timur/6256-sering-berduaan-di-tempat-sepigadis-desa-hamil-html Universitas Sumatera Utara http://id.m.wikipedia.org/wiki/Apel http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/adab-pada-hari-jumat-sesuai-sunnahnabi.html http://dewandakwahjabar.com/etika-pergaulan-remaja-dalam-pandangan-islam/ http://www.radartarakan.co.id/index.php/kategori/detail/Utama/46598 http://edukasi.kompasiana.com/2013/09/30/7000-wanita-melakukan-aborsi-setiaphari-597304.html http://liriklagudangdut.com/melinda-aw-aw.html http://www.pesatnews.com/read/2012/03/01/1453/lirik-vulgar-kak-seto-geram Universitas Sumatera Utara BAB III METODOLOGI PENELITIAN III. 1. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif, yang mengharuskan peneliti menganalisis topik kajiannya melalui alat bantu pemahaman seperti cerita, mitos, dan tema. Alat- alat ini membantu peneliti untuk dapat memahami bagaimana orang memaknai pengalamannya. Dalam penerapannya, pendekatan kualitatif tidak tergantung pada analisis statistik untuk mendukung sebuah interpretasi tetapi lebih mengarahkan peneliti untuk membuat sebuah pernyataan retoris atau argumen yang masuk akal mengenai temuannya. Metode kualitatif lebih tepat untuk peneliti interpretif dan kritis (West & Turner, 2008: 77). Melalui pendekatan kualitatif, memusatkan perhatian pada prinsip- prinsip umum yang mendasari perwujudan sebuah makna dari gejala- gejala sosial di dalam masyarakat (Bungin, 2008: 302). Peneliti menggunakan analisis semiotika model analisis Roland Barthers. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes, dengan menggunakan analisis lima kode pembacaan yaitu: kode hermeneutika (kode penceritaan), kode semik (makna konotasi), kode simbolik, kode proaretik (kode tindakan), dan kode gnomik. Lima kode inilah yang menjadi acuan peneliti dalam pemaknaan terhadap erotisme lirik lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw”. III. 2. Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah makna erotisme dalam lirik lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda. Universitas Sumatera Utara III. 3. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah lirik lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda. Lagu “Cinta Satu Malam” dirilis pada awal November 2009, lagu “Mojok di Malam Jumat” dirilis pada tahun 2010, dan lagu “Aw Aw” dirilis 13 September 2011. III. 4. Kerangka Analisis Kerangka analisis adalah dasar pemikiran dari peneliti (argumentasi peneliti) yang dilandasi dengan konsep-konsep dan teori yang relevan guna memecahkan masalah penelitian. Kerangka pemikiran yang baik akan mampu menjelaskan operasional fenomena-fenomena penelitian dalam penelitian kualitatif, serta akan melahirkan asumsi-asumsi yang dapat digunakan dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang akan dicapai. Adapun kerangka analisis dalam penelitian ini adalah memakai analisis Semiologi Roland Barthes signifikasi dua tahap (two order signification); denotasi dan konotasi. Semiologi Roland Barthes dipilih karena mampu memaknai tanda. Unsur- unsur yang terdapat dalam di dalam lagu tidak bisa secara gamblang “bercerita” melainkan harus dimaknai oleh pendengar (pembaca). Walaupun sebuah tanda telah memiliki makna denotasi dan konotasi, tetapi juga dibutuhkan keaktifan pendengar (pembaca) agar dapat berfungsi. Dalam semiologi Roland Barthes, kode- kode komunikasi yang ada nantinya akan dicari makna riil-nya (denotasi), kemudian hubungan antara satu tanda dengan tanda lainnya akan dicari makna tersirat di dalamnya (konotasi). Universitas Sumatera Utara First Order Second Order Reality Signs Culture Form Connotation Signifier ---------Signified Denotation Myth Content Gambar: III.1. Signifikasi Dua Tahap Barthes Sumber: Sobur, 2004: 127 III. 5. Teknik Pengumpulan Data Dalam sebuah penelitian, dibutuhkan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan pengamatan secara menyeluruh pada objek penelitian. Adapun untuk mengumpulkan data yang diperlukan, Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut: III. 5. 1. Studi Dokumentasi (Document Research) Studi Dokumentasi (Document Research), metode ini berupa pengumpulan data dengan cara merujuk pada buku-buku atau literatur- literatur yang berkaitan dengan masalah-masalah penelitian. Pengumpulan data diperoleh dengan cara memanfaatkan dokumentasi dengan menggunakan lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda sebagai alat utama untuk mengkaji objek penelitian. III. 5. 2. Studi Kepustakaan (Library Research) Studi Kepustakaan (Library Research), dengan cara mengumpulkan semua data yang berasal dari literatur serta berbagai sumber bacaan yang relevan dan mendukung penelitian. Universitas Sumatera Utara III. 6. Teknik Analisis Data Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan perangkat metode analisis semiotika Roland Barthes. Analisis data merupakan bagian yang penting selain pengumpulan data, karena proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Adapun jenis penelitian analisis semiotika, dengan menggunakan model Roland Barthes, yaitu model sistematis dalam menganalisis makna dengan tanda- tanda. Fokus perhatiannya tertuju kepada gagasan tentang signifikasi dua tahap (two order of signification). Signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Barthers menyebutnya sebagai denotasi, yaitu makna paling nyata dari tanda. Sedangkan signifikasi tahap kedua yang disebut konotasi dan juga memasukkan unsur mitos di dalamnya, menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai- nilai dari kebudayaannya. Analisis dilakukan melalui semua lirik lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw”. Peneliti akan melakukan penjabaran makna setiap kalimat yang terdiri dari rangkaian kalimat. Setiap kata mengandung makna denotatif dan konotatif. Leksia adalah satuan- satuan bacaan dengan panjang pendek bervariasi yang membangun dan mengorganisasikan suatu cerita atau narasi. Dipilih dan ditentukan berdasarkan kebutuhan pemaknaan yang akan dilakukan. Kemudian kalimat- kalimat tersebut akan dianalisis melalui lima kode pembacaan Roland Barthes yaitu: kode hermeneutika (kode penceritaan), kode semik (makna konotasi), kode simbolik, kode proaretik (kode tindakan), dan kode gnomik. Lima kode inilah yang menjadi acuan peneliti dalam pemaknaan terhadap erotisme dalam lirik lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda. Universitas Sumatera Utara BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Hasil 4. 1. 1. Gambaran Umum Lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” Seorang seniman dalam menyampaikan suatu ide dan kreativitas akan menampilkannya dengan berbagai macam cara. Seperti halnya seniman musik secara aktif dan kreatif dalam menyajikan suatu idenya menjadi sebuah karya dengan ragam nada atau suara yang berirama yang disebut dengan lagu. Sebagaimana terjadi pada produk suatu karya umumnya, dalam sebuah lagu ada saja daya tarik tertentu yang digunakan sebagai pemikat. Umpamanya dengan menciptakan lagu- lagu bertemakan religi, kekerasan, seks, dan sebagainya. Hasil kreativitasnya diharapkan akan diminati oleh semua orang. Melinda yang bernama asli Eka May Linda yang lahir di Jakarta pada 29 Mei 1982. Melinda mengeluarkan single “Cinta Satu Malam” pada awal November 2009 pada album keenam yang dirilis dibawah naungan Nagaswara. Lagu dengan menggunakan irama house music sengaja dipilih karena irama musik yang identik dengan anak muda, yang menjadi sasaran penikmat lagunya tersebut. Sekilas lagu Melinda ini menceritakan tentang seorang wanita yang bersedia melakukan hubungan intim dengan seorang pria sebelum berpisah keesokan harinya. Wanita tersebut merasa bahagia dengan pengalaman percintaan yang singkat tersebut. Lagu “Cinta Satu Malam” ini diakui oleh Melinda sebagai pengalaman pribadinya. Dimana Melinda bertemu dengan kekasihnya di Singapura. Mereka kencan selama satu malam saja, dan esoknya Melinda ditinggalkan begitu saja oleh sang kekasih. Dengan demikian, lirik lagu tersebut menunjukkan suatu gambaran kehidupan hubungan percintaan Melinda yang disampaikan lewat lirik lagu. Lagu “Cinta Satu Malam” sempat dicekal oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Lagu tersebut dicekal karena dinilai memiliki lirik vulgar dan Universitas Sumatera Utara mengandung muatan seks secara eksplisit. Lagu tersebut dianggap memiliki citra buruk yang akan merusak mental kalangan remaja (http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00018654.html). Lagu “Cinta Satu Malam” tidak hanya dicekal KPI, tetapi sempat dicekal juga oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat karena mengandung lirik yang cabul alias porno. Komisionel Bidang Isi Siaran KPID Jawa Barat, Nursyahwal, tidak melarang menciptakan karya lagu tersebut, tetapi melarang penyiarannya. UU Penyiaran pasal 8 melarang lirik lagu mengandung seks, kekerasan, sadisme (http://m.okezone.com/read/2011/11/25/386/534403/dicekal-lagu-hamil-duluancinta-satu-malam-di-jabar). Uniknya lagu “Cinta Satu Malam” berhasil mendapat banyak penghargaan walaupun sempat dicekal oleh KPI dan KPID Jawa Barat, seperti Indosat Award dalam kategori “Lagu Dangdut Populer”, AMI Award 2011 nominasi “Karya Produksi Dangdut House/ Techno Terbaik”, dan lain- lain. Tidak hanya single saja yang sukses di pasaran, Ring Back Tone (RBT) “Cinta Satu Malam” juga sukses. Melinda juga berhasil terpilih menjadi duta budaya pada tahun 2008. Lagu “Mojok di Malam Jumat” dirilis pada tahun 2010. Lagu ini berirama dangdut house music, mengandalkan lirik- lirik vulgar, agak sedikit nakal. Sekilas lagu ini menceritakan tentang seorang wanita yang sangat rindu ingin bertemu dengan pacarnya yang tidak tahu berada dimana. Keinginan seorang wanita yang ingin melakukan hubungan asmara dengan pacarnya di tempat sepi dan gelap. Walaupun seorang wanita tersebut dan pasangannya masih berstatus pacaran, namun hubungan mereka sudah mengarah pada prilaku seks bebas (free sex). Seorang wanita yang ditampilkan berani mengekspresikan keinginannya untuk berhubungan seks yang menggebu- gebu dengan kekasihnya yang ternyata belum datang juga untuk menemuinya hingga membuatnya kesal. Lagu “Aw Aw” diciptakan oleh Endang Raes, dirilis 13 September 2011. Lagu ini berirama dangdut house music, mengandalkan lirik- lirik vulgar, agak sedikit nakal. Lagu ini sekilas mengisahkan tentang hubungan sepasang kekasih yang tengah kasmaraan yang terjadi hanya satu jam saja, bagaimana pasangan tersebut bergaul bebas menikmati pengalaman percintaannya yang erotis dan Universitas Sumatera Utara perempuan digambarkan hanya sebagai objek seksual. Hal ini menunjukkan suatu hubungan asmara yang singkat dan mengarah kepada perilaku seks bebas. Lagu “Aw Aw” juga sempat dicekal KPID Provinsi Jawa Tengah. Lagunya dinilai terlalu vulgar karena berkonotasi pada aktivitas seksual dan kenikmatan seksual sehingga dapat membangkitkan rangsangan dan keinginan seks bagi siapa saja yang mendengar lagu tersebut. Hal ini juga dilakukan oleh KPID Provinsi Jawa Tengah setelah mendapat pengaduan dari masyarakat dan sejumlah tokoh agama yang merasa resah akibat beredarnya lagu- lagu dangdut yang dinilai terlalu vulgar baik goyangannya, gaya berpakaian dan juga liriknya, yang akan berpotensi untuk ditiru oleh masyarakat terutama anak- anak dan remaja. Hal ini tentu tidak baik untuk dikonsumsi oleh masyarakat, karena dapat berpotensi merusak mental masyarakat. Akibatnya KPID Provinsi Jawa Tengah melarang atau membatasi penyiarannya (http://kpid.jatengprov.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=5 2&Itemid=102). 4. 1. 2. Analisis Leksia Lagu “Cinta Satu Malam” “Cinta Satu Malam” Bait 1 Walau cinta kita sementara Aku merasa bahagia Kalau kau kecup mesra di keningku Ku rasa bagai di surga Reff Cinta satu malam oh indahnya Cinta satu malam buatku melayang Walau satu malam Akan selalu ku kenang Dalam hidupku Cinta satu malam oh indahnya Cinta satu malam buatku melayang Walau satu malam Universitas Sumatera Utara Akan selalu ku kenang Selama- lamanya Bait 2 Sentuhanmu membuatku terlena Aku telah terbuai mesra Yang ku rasa hangat indahnya cinta Hasratku kian membara Sumber: http://liriklagudangdut.com/melinda-cinta-satu-malam.html Pada lagu ini penyampai pesan adalah sosok aku, yaitu seorang wanita penyanyi lagu dangdut itu sendiri yang merasakan kenikmatan hasrat bercinta pada satu malam bersama sosok kau, seorang pria yang dapat membuatnya terbuai dan melayang- layang dengan kecupan mesra dan sentuhannya. Namun, sosok aku hanya dapat mengenangnya sebagai pengalaman yang indah karena hanya dilakukan satu malam atau tidak berkelanjutan, tidak adanya komitmen diantara mereka berdua. Walaupun cinta yang dijalin hanyalah sebuah cinta yang sementara, tidak adanya komitmen diantara mereka berdua akan tetapi sosok aku tetap merasa bahagia dan menjadikannya sebagai suatu kenangan indah yang akan selalu dikenang. Perasaan terhadap tindakan cinta satu malam dianggapnya sesuatu yang lumrah yang dilakukan untuk mencari suatu kebahagiaan dan mendapatkan kenikmatan sesaat. 4. 1. 2. 1. Kode Pembacaan Kode Hermeneutika Kode hermeneutika yang didapat dalam lirik lagu “Cinta Satu Malam”, antara lain: “Mengapa cinta sementara?” “Mengapa walau cinta sementara sosok aku merasa bahagia?” “Mengapa sosok kau melakukan kecupan mesra di kening sosok aku?” “Mengapa kecup mesra di kening yang dilakukan sosok kau membuat perasaan sosok aku seperti di surga?” “Mengapa sosok aku melakukan cinta satu malam?” “Mengapa sosok aku menganggap cinta satu malam hal yang indah?” “Mengapa cinta satu malam membuat sosok aku melayang?” “Mengapa Universitas Sumatera Utara sentuhannya (sosok kau) membuat sosok aku terlena?” “Mengapa sosok aku telah terbuai mesra?” “Mengapa sosok aku merasakan hangat indahnya cinta?” “Mengapa hasrat sosok aku kian membara?” Kode Proairetik Sosok aku menyatakan bahwa ia melakukan cinta sementara. Terlihat pada kalimat lirik “Walau cinta kita sementara”. Ini menunjukkan suatu hubungan yang berbeda pada hubungan percintaan pada umumnya. Kata “sementara” adalah tidak untuk selama- lamanya. Dalam konteks lagu ini, kata “sementara” disini menunjukkan bahwa cinta yang hanya dilakukan pada satu malam itu saja, tidak ada malam- malam berikutnya. Cinta sementara lebih kepada perasaan hanya tertarik atau suka akan seseorang ataupun sesuatu hal yang hanya sementara. Jika kita suka kepada seseorang maka kita ingin memilikinya, namun setelah kita mendapatkannya belum tentu kita menjaganya. Pada umumnya, cinta sementara tujuannya hanya untuk mencari kesenangan, cinta yang hanya didasarkan atas nafsu yang mengarah kepada free sex, bukan cinta yang tahan lama, tidak jelas kelanjutan hubungannya karena tidak memiliki komitmen. Cinta seperti ini tujuannya hanya untuk mencari kesenangan dan biasanya dilakukan dengan orang yang baru dikenal. Itu cinta yang mementingkan diri sendiri dan serakah. Hal ini sangat bertentangan dengan norma kebudayaan bangsa Indonesia, dimana seorang pria dan wanita melakukan suatu hubungan seksual tanpa adanya ikatan pernikahan. Hubungan yang dijalin oleh sosok aku dan pasangan cinta satu malamnya yaitu sosok kau dalam lagu tersebut menunjukkan suatu hubungan asmara yang hanya bertujuan untuk memuaskan nafsu. Sosok aku menyatakan bahwa ia merasa bahagia walau cintanya bersama sosok kau hanya sementara. Terlihat pada kalimat lirik “Walau cinta kita sementara, aku merasa bahagia”. Terdapat kata “walau”, ini menunjukkan bahwa sosok aku mengetahui dan menyadari kalau hubungan percintaan mereka hanyalah sesaat dan tidak adanya komitmen, namun sosok aku tetap merasa bahagia karena memang tujuan dari melakukan cinta sementara ini adalah hanya untuk mencari kesenangan dan kenikmatan. Ia tidak memikirkan atau ambil Universitas Sumatera Utara pusing terhadap kelanjutan hubungan mereka. Terpenting adalah kisah cinta sementara itu berkesan untuk dilalui dan memberikan pengalaman baru yang indah untuk dikenang seumur hidupnya. Cinta sementara dalam konteks lagu tersebut adalah cinta satu malam. Artinya bahwa cinta yang hanya dilakukan pada satu malam itu saja, tidak ada malam- malam berikutnya. Kata malam bermakna saat matahari terbenam sampai matahari terbit atau dari pukul 18.00 sampai dengan pukul 06.00. Pada saat melakukan cinta sementara ini, sosok kau dalam lirik lagu tersebut melakukan kotak fisik terhadap sosok aku. Kontak fisik yang dilakukan adalah kecupan mesra di kening. Terlihat pada kalimat lirik “Kalau kau kecup mesra di keningku”. Kecupan mesra di kening yang dilakukan sosok kau yaitu dengan melekatkan bibirnya di dahi sosok aku, dengan mengecup di dahi secara otomatis akan berhadap- hadapan muka sehingga mereka secara fisik semakin intim. Hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah pasangan yang memiliki kedekatan yang sangat erat atau karib dan mendalam. Saat melakukan cinta satu malam sosok aku dikecup mesra oleh sosok kau hingga yang ia rasakan hanyalah kebahagiaan yang amat sangat. Terlihat pada kalimat lirik “Kalau kau kecup mesra di keningku, ku rasa bagai di surga”. Perasaan yang timbul pada sosok aku saat dikecup mesra ini digambarkan dengan kenikmatan yang tiada tara, keindahan yang tiada bandingannya dalam lagu ini disamakan dengan tempat di surga, sesuatu yang secara umum digambarkan sebagai kebahagiaan yang amat sangat. Sosok aku menyatakan dengan jelas bahwa sedang menyampaikan pengalaman indahnya saat melakukan cinta satu malam. Sosok aku memandang bahwa cinta satu malam hanya sebagai bentuk hiburan saja, suatu cara untuk mendapatkan kebahagiaan dan kenikmatan. Karena dalam hal ini sosok aku dengan sadar mengetahui dan menyadari bahwa hubungan cinta satu malam hanya dilakukan sementara dan tidak ada kelanjutan hubungan tetapi dia merasa senang melakukan hal tersebut. Sosok aku menyampaikan kebahagiaannya melakukan cinta satu malam dengan menganggapnya sebagai sesuatu hal yang dapat memberikan kenikmatan dan suatu pengalaman yang indah. Terlihat pada kalimat lirik “Cinta satu malam Universitas Sumatera Utara oh indahnya”. Dengan menggunakan kata seru “oh” yang berfungsi sebagai penekanan yang menunjukkan bahwa sosok aku mengagumi keindahan terhadap apa yang mereka lakukan dengan pasangannya sosok kau, suatu luapan emosi yang timbul akibat cinta satu malamnya. Sosok aku menyebutkan bahwa dalam melakukan hubungan cinta satu malam, sosok aku merasa dibuat melayang hingga membuatnya lupa diri. Terlihat pada kalimat lirik “Cinta satu malam buatku melayang”. Kata “melayang” memiliki makna perasaan yang luar biasa, perasaan yang ringan yang sangat menyenangkan namun tidak menentu arahnya. Rasanya melayang seperti orang yang berada dibawah pengaruh alkohol dan obat- obat terlarang, adanya perasaan santai dan kehidupan lebih menyenangkan tetapi tidak dapat mengontrol dirinya. Orang yang dibawah pengaruh alkohol akan kehilangan kesadaran dirinya sehingga sulit mengendalikan pikiran, perasaan, dan tindakan. Dan juga mempengaruhi kewarasaan pikiran manusia. Saat seperti ini seseorang akan bertindak tanpa akal sehat, seperti melakukan tindakan pencabulan. Suatu hubungan percintaan selalu menyangkut kontak fisik tertentu. Kontak fisik yang dilakukan dalam lirik lagu tersebut berupa sentuhan. Terlihat pada kalimat lirik “Sentuhanmu membuatku terlena”. Sentuhan dapat berupa seperti berpegangan tangan, berciuman, sentuhan pipi, merangkul secara penuh, merangkul bahu dan punggung atau melakukan hubungan seksual. Secara naluri, sentuhan fisik memang membuat daya tarik dari minat seks bertambah kuat. Sosok aku dalam lirik lagu tersebut menyatakan bahwa sentuhan sosok kau membuatnya terlena. Ini menunjukkan bahwa ia telah terbawa pada suasana yang asyik. Adanya kenikmatan- kenikmatan seksual yang ia rasakan. Ini menunjukkan sosok kau telah berhasil membangkitkan hasrat sosok aku dalam melakukan hubungan percintaan. Sosok aku juga menyatakan bahwa ia telah terbuai mesra. Terlihat pada kalimat lirik “Aku telah terbuai mesra”. Hal ini menunjukkkan bahwa ternyata ia sangat menikmati hubungan seksual hingga membuatnya lupa akan hal lainnya. Sosok aku telah terlena oleh rayuan dan sentuhan- sentuhan yang dilakukan sosok kau. Sentuhan yang dilakukan sosok kau terhadap sosok aku dalam lirik lagu tersebut dapat berupa seperti berpegangan tangan, berciuman, sentuhan pipi, Universitas Sumatera Utara merangkul secara penuh, merangkul bahu dan punggung atau melakukan hubungan seksual. Sosok aku juga mengungkapkan perasaan akan hangat indahnya cinta. Terlihat pada kalimat lirik “Yang ku rasa hangat indahnya cinta”. Kata “hangat” memiliki makna berarti adanya rasa gembira dan ketika dikaitkan dengan kata “cinta” dalam kalimat tersebut dapat diartikan suatu perilaku mereka ketika bercinta pada malam itu memberikan rasa gembira dan kenikmatan. Dan selanjutnya ia juga mengungkapkan perasaannya bahwa ia telah terbuai. Ini menunjukkan bahwa pada saat melakukan cinta satu malam yang ia rasakan hanya suatu fantasi bercinta yang luar biasa sehingga membuatnya terbuai. Sosok aku merasa senang atas apa yang dilakukan oleh sosok kau terhadap dirinya. Di akhir lagu tersebut, sosok aku menyatakan bahwa hasratnya semakin membara. Terlihat pada kalimat lirik “Hasratku kian membara”. Kata “hasrat” berarti mampu membangkitkan semangat diri setiap manusia untuk mendapatkan sesuatu yang sangat diinginkan untuk didapatkan, bagaimanapun caranya. Hasrat bisa juga membuat seseorang menjadi “gila”, membuat manusia tidak peduli akan hal bahaya yang mereka hadapi, membuat hal- hal di luar kendali dan luar biasa, hasrat juga membuat manusia tidak kenal lelah untuk berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Sedangkan kata “membara” memiliki makna berapiapi (semangat). Hal ini menunjukkan suatu keinginan sosok aku yang sangat kuat dan menggebu- gebu yang semakin tidak tertahankan untuk melakukan seks semalam. Ia tidak peduli akan hal bahaya yang mereka hadapi apabila melakukan free sex. Awalnya dibangun suatu situasi kemesraan dengan melakukan tindakantindakan erotis. Dengan kemesraan akhirnya membangkitkan gejolak hasrat seksualnya. Mereka yaitu sosok aku dan sosok kau membiarkan gejolak hawa nafsu menumpuk dalam diri mereka hingga batas menginginkan hubungan seksual, padahal mereka tidak berhak melakukannya karena belum adanya ikatan pernikahan yang sah. Hasrat atau nafsu adalah sesuatu hal yang sulit untuk diajak kompromi dan juga susah untuk dikendalikan. Hasrat juga bisa memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, namun juga bisa menghancurkan siapa saja dalam sekejap Universitas Sumatera Utara dan akibatnya akan terasa sepanjang hayat. Menurut para ahli psikologi, nafsu dibagi menjadi empat bagian, yaitu: 1. Egosentris Nafsu ini adalah nafsu kepada hal- hal yang bersifat materialistis, ateistis, dan destruktif terhadap orang lain. Artinya, orang yang mempunyai nafsu ini biasanya suka menumpuk- numpuk harta, suka makan yang banyak dan berlebihan, anti agama, mudah terserang penyakit perut dan berjiwa kikir, serta menganut filsafat homo homini lupus- nya Thomas Hobbes, yaitu memandang orang lain sebagai objek pemerasan untuk memperkaya diri. 2. Polemos Nafsu ini adalah nafsu yang sangat memanjakan nafsu amarah atau gila tahta dan kekuasaan. Orang yang memiliki nafsu ini akan suka berkelahi, membanggakan diri, suka menghina, mengejek orang lain, cenderung diktator, kejam, sadis, militeristik, dan dipenuhi hawa dendam dalam kehidupannya. 3. Eros Nafsu ini merupakan nafsu syahwat atau nafsu berahi yang seringkali membawa bencana bagi kehidupan manusia bila nafsu tersebut mengarah kepada hubungan intim di luar nikah. Orang yang memuja nafsu ini adalah orang yang selalu pamer keindahan diri, suka berhias, pencabulan, pornografi dan pornoaksi, suka kawin cerai, free sex, melacur, dan hidup bermewahmewahan. 4. Religius atau Insting Religius Nafsu ini merupakan nafsu untuk menjalankan agamanya secara sempurna dan konsekuen. Orang seperti ini biasanya selalu menjalankan ibadah, berbuat baik demi agama, dan selalu menjunjung tinggi agamanya (Bachtiar, 2004: 150). Pada kasus percintaan sosok aku dan sosok kau tersebut nafsu eroslah yang menjadikan mereka akhirnya melakukan cinta satu malam. Tujuannya hanya untuk memenuhi nafsu berahi, nafsu yang sudah mengarah kepada hubungan intim di luar nikah. Universitas Sumatera Utara Kode Simbolik Kode simbolik yang didapat dalam lirik lagu “Cinta Satu Malam” yaitu pada kata “kecupan”. Kecupan adalah bahasa komunikasi untuk mengungkapkan rasa sayang dan cinta tanpa kata- kata (secara nonverbal). Secara sederhana, pesan nonverbal adalah semua isyarat atau pesan yang disampaikan tidak dengan menggunakan kata- kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, simbolsimbol, serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya bicara. Komunikasi nonverbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima. Jadi, defenisi ini mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan. Kita mengirim banyak pesan nonverbal tanpa menyadari bahwa pesan- pesan tersebut bermakna bagi orang lain (Mulyana, 2007: 343). Sosok kau dalam lirik lagu tersebut melakukan bentuk komunikasi nonverbal yang termasuk dalam kategori sentuhan. Studi tentang sentuh- menyentuh disebut haptika (haptics). Sentuhan adalah bahasa komunikasi sebagai ungkapan keakraban dan kasih sayang tanpa kata- kata (secara nonverbal). Alat penerima sentuhan adalah kulit, yang mampu menerima dan membedakan berbagai emosi yang disampaikan orang melalui sentuhan. Sentuhan ini bisa merupakan tamparan, pukulan, cubitan, senggolan, tepukan, belaian, pelukan, pegangan (jabatan tangan), rabaan, berciuman, sentuhan di punggung, mengelus- elus, hingga sentuhan lembut sekilas. Sentuhan kategori terakhirlah yang sering diasosiasikan dengan sentuhan. Konon, menurut orang muda, seseorang dapat merasa seperti terkena strum ketika disentuh oleh lawan jenis (Mulyana, 2007: 379). Masing- masing bentuk komunikasi ini menyampaikan pesan tentang tujuan atau perasaan dari si penyentuh. Sentuhan juga dapat menyebabkan suatu perasaan pada si penerima sentuhan, baik positif ataupun negatif. Universitas Sumatera Utara Banyak riset menunjukkan bahwa orang berstatus lebih tinggi lebih sering menyentuh orang berstatus lebih rendah daripada sebaliknya. Jadi sentuhan juga berarti “kekuasaan”. Seorang dosen menyentuh mahasiswa, direktur menyentuh sekretaris, orangtua menyentuh anak, semua itu hal biasa. Namun, hal sebaliknya jarang terjadi. Pria lebih sering menyentuh daripada wanita daripada sebaliknya, baik di tempat kerja ataupun dalam interaksi sosial umumnya. Sentuhan merupakan suatu strategi komunikasi yang penting. Beberapa studi menunjukkan bahwa sentuhan bersifat persuasif. Sentuhan mungkin lebih bermakna dari kata- kata. Ketika Anda sebagai bos menyentuh pundak pegawai Anda yang salah satu anggota keluarganya baru meninggal, tepukan lembut itu lebih efektif daripada sekadar kata- kata “Saya turut berduka cita atas musibah yang Saudara alami”. Sentuhan adalah perilaku nonverbal yang multimakna, dapat menggantikan seribu kata. Lima kategori sentuhan yang merupakan suatu rentang dari yang sangat impersonal hingga yang sangat personal. Kategori- kategori tersebut adalah sebagai berikut: a. Fungsional- profesional. Disini sentuhan bersifat “dingin” dan berorientasi bisnis, misalnya pelayan toko membantu pelanggan memilih pakaian. b. Sosial- sopan. Perilaku dalam situasi ini membangun dan memperteguh pengharapan, aturan dan praktik sosial yang berlaku, misalnya berjabatan tangan. c. Persahabatan- kehangatan. Kategori ini meliputi setiap sentuhan yang menandakan afeksi atau hubungan yang akrab, misalnya dua orang yang saling merangkul setelah mereka lama berpisah. d. Cinta- keintiman. Kategori ini merujuk pada sentuhan yang menyatakan keterikatan emosional atau ketertarikan, misalnya mencium pipi orangtua dengan lembut, orang yang sepenuhnya memeluk orang lain, dua orang yang “bermain kaki” di bawah meja, orang Eskimo yang saling menggosokkan hidung. e. Rangsangan seksual. Kategori ini berkaitan erat dengan kategori sebelumnya, hanya saja motifnya bersifat seksual. Rangsangan seksual tidak otomatis bermakna cinta atau keintiman (Mulyana, 2007: 380). Universitas Sumatera Utara Sentuhan menandai keberadaan ikatan antara si penyentuh dengan orang yang disentuh. Oleh karena itu, respon seseorang yang disentuh tergantung pada kedekatan hubungan antara orang yang disentuh dengan orang yang menyentuhnya. Selain itu, konteks dan situasi dimana sentuhan itu dilakukan juga mempengaruhi makna sentuhan tersebut. Seperti makna pesan verbal, makna pesan nonverbal, termasuk sentuhan, memiliki makna yang berkaitan dengan budaya dan konteks dimana sentuhan tersebut dilakukan. Kita tidak dapat membuat generalisasi mengenai gerakan tubuh dalam semua situasi. Jabatan tangan kepada seorang kawan lama bisa menunjukkan bahwa adanya rasa senang dapat berjumpa kembali. Jabatan tangan kepada sahabat yang baru pulang dan lulus studi di luar negeri menunjukkan bahwa kita turut bangga dengan keberhasilannya. Salah satu sentuhan yang dilakukan oleh sosok kau terhadap sosok aku dalam lirik lagu tersebut adalah kecupan mesra. Kecupan termasuk ke dalam bentuk komunikasi nonverbal. Sebagai suatu bentuk komunikasi, tentu saja ada makna di balik setiap sentuhan yang berupa kecupan. Pria lebih sering menyentuh wanita daripada sebaliknya. Berikut beberapa makna dari kecupan pria terhadap wanita: a. Kecupan di Tangan Daerah ini bukan area yang bisa membangkitkan gairah perempuan. Namun bila mendapatkan ciuman di punggung tangan, telapak tangan, atau lengan, maknanya lebih besar dari daerah lain karena menjadi tanda bahwa si pria sangat mempercayai pasangan wanitanya tersebut. Sekaligus menunjukkan kelembutan dan penghargaan kepada si wanita (http://www.chicmagz.com/read/3134/arti-di-balik-sebuah-ciuman). Banyak suku di Indonesia yang menerapkan cium tangan sebagai wujud penghormatan kepada orang yang lebih tua. Kita bisa lihat misalnya banyak anak yang mencium tangan orangtuanya saat pamit. Berbeda dengan negara barat, ciuman di tangan menunjukkan pada rasa kagum dan penghargaan yang tinggi, dan tidak harus kepada yang orang lebih tua. Seorang laki- laki mencium tangan perempuan pujaan hatinya sebagai bentuk kekaguman (http://www.satuharapan.com/life/tujuh-makna-ciuman-sayang-dan-cinta). Universitas Sumatera Utara Kecupan di tangan merupakan ungkapan kekaguman, menghargai, menghormati, dan kesetiaan pria pada wanita. Jika pasangan memberikan ciuman di punggung tangan, dapat diartikan bahwa pria tersebut mengharapkan hubungan yang lebih dewasa dan serius dari si wanita. Kecupan ini juga sering dilakukan oleh pria yang ingin melamar kekasihnya (http://m.detik.com/wolipop/read/2013/03/18/190532/2197200/227/?u18=1). b. Kecupan di Kening Kecupan di kening dalam suatu hubungan kekasih adalah sebuah kecupan yang menandakan kedekatan. Ciuman ini mengindikasikan bahwa si pria ingin bisa bersama selamanya dengan pasangan wanitanya tersebut. Orang yang menerima ciuman ini akan merasa dirinya benar- benar disayang dan dimanja. Kecupan mesra di kening dapat membuat orang merasa bahagia (http://www.chicmagz.com/read/3134/arti-di-balik-sebuah-ciuman). Kecupan di kening mengungkapkan rasa sayang yang lebih menuju kepada rasa hormat. Pria tersebut tidak berani berbuat terlalu jauh terhadap pasangan wanitanya. Mungkin karena masih ragu karena hubungan masih baru atau bisa jadi dia seorang pria yang pemalu (http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=30 0489:arti-ciuman-dari-si-dia&catid=61:seks&temid=136). c. Kecupan di Pipi Kecupan di pipi sering dilakukan tidak hanya oleh pasangan. Kecupan ini menunjukkan kasih sayang secara universal karena tidak hanya dilakukan kepada pasangan tetapi juga kepada orangtua, anak, saudara, maupun teman. Bila si wanita mendapat ciuman di pipi dari pasangan prianya, artinya si wanita tersebut mendapatkan perhatian, dukungan, keterlibatan, dan pujian darinya (http://www.chicmagz.com/read/3134/arti-di-balik-sebuah-ciuman). d. Kecupan di Telinga Kecupan di telinga menunjukkan bahwa si pria sedang mencoba untuk membujuk pasangan wanitanya ke tahap hubungan intim. Bagi beberapa perempuan, telinga adalah daerah sensitif yang dapat membuat daya tarik dari minat seks bertambah kuat. Jadi, kalau si pria menciumi telinga si wanita, selain isyarat mau lebih intim lagi, juga ingin membangkitkan gairah pasangan Universitas Sumatera Utara wanitanya tersebut (http://www.chicmagz.com/read/3134/arti-di-balik-sebuah-ciuman). Kecupan di telinga menunjukkan hal yang bersifat intim. Kecupan di telinga disertai dengan bisikan lembut dan sebuah dekapan mesra akan membangkitkan gairah (http://www.satuharapan.com/life/tujuh-makna-ciuman- sayang-dan-cinta). e. Kecupan di Leher Leher adalah salah satu titik erotis. Apabila seorang pria melakukan kecupan di bagian leher si wanita, ini menunjukkan bahwa dia ingin melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih serius (http://www.chicmagz.com/read/3134/artidi-balik-sebuah-ciuman). Saat pasangan mencium di bagian leher, itu berarti bahwa dia menginginkan hubungan intim. Karena di bagian leher terletak banyak titik ransangan. Ciuman ini juga menandakan perasaan memiliki yang dirasakan oleh pria terhadap pasangan wanitanya (http://forum.kompas.com/teras/269113-artidari-setiap-ciuman.html). Kecupan di leher menandakan hasrat, romantisme, dan sensualitas. Ciuman ini kerap digunakan untuk memulai foreplay sebelum bercinta. Jadi, untuk yang berpacaran, jika tidak mengharapkan seks dalam hubungan, jangan pernah mencoba ciuman ini. Sebaliknya bagi yang sudah menikah, ciuman ini disarankan untuk lebih membangkitkan gairah bercinta (http://m.detik.com/wolipop/read/2013/03/18/190532/2197200/227/?u18=1). f. Kecupan di Pundak Kecupan di pundak adalah tanda bahwa pria menginginkan pasangan wanitanya dan tidak mau berpisah. Kecupan ini juga menjadi tanda bahwa dia ingin dimanjakan (http://www.satuharapan.com/life/tujuh-makna-ciuman-sayangdan-cinta). g. Kecupan di Bibir Kecupan di bibir menandakan rasa cinta. Saat dilakukan lebih dalam, maka akan menimbulkan gairah untuk berhubungan intim. Bagi yang masih pacaran diharapkan untuk berhati- hati. Kecupan di bibir meskipun tidak akan mengakibatkan kehamilan tetapi dapat memicu gairah yang luar biasa, sehingga Universitas Sumatera Utara harus siap- siap untuk menahan dan mengontrol diri (http://www.satuharapan.com/life/tujuh-makna-ciuman-sayang-dan-cinta). h. Kecupan di Perut Kecupan di perut adalah kelanjutan dari kecupan di leher, telinga, dan bibir. Biasanya kecupan di perut terjadi saat pasangan siap berhubungan intim (http://www.satuharapan.com/life/tujuh-makna-ciuman-sayang-dan-cinta). Pada saat melakukan aktivitas hubungan cinta satu malam, sosok kau melakukan kontak fisik terhadap sosok aku yaitu berupa kecupan mesra di kening. Terlihat pada kalimat lirik “Kalau kau kecup mesra di keningku, ku rasa bagai di surga”. Kecupan mesra di kening memang dapat membuat orang merasa bahagia dan juga untuk membangkitkan hasrat bercinta. Bagi yang melakukannya, konon bisa merasakan kenikmatan yang tiada tara. Kecupan mesra yang dilakukan sosok kau terhadap sosok aku untuk membuat daya tarik dari minat seks bertambah kuat dan hingga membuatnya merasa senang luar biasa. Sosok kau memberikan kecupan mesra di kening sosok aku karena ingin berusaha untuk membangkitkan hasrat untuk bercinta. Kecupan mesra dilakukan dengan penuh nafsu sedemikian rupa sehingga pasangan itu menjadi sangat terangsang secara seks, karena pada akhirnya mereka melakukan seks semalam. Kecupan mesra yang sensual tersebut dapat mengarahkan mereka akhirnya melakukan persetubuhan. Daya tarik seks yang menguasai diri mereka sehingga membuat pasangan itu siap untuk melakukan persetubuhan, walaupun hal itu hanya bisa dilakukan bagi orang yang sudah menikah. Sosok aku menggambarkan dengan jelas kemesraan dengan pasangan cinta satu malamnya. Terlihat pada kalimat lirik “Kalau kau kecup mesra di keningku kurasa bagai di surga”. Sosok aku menggambarkan bagaimana ia ketika disentuh oleh sosok kau dan bagaimana perasaannya saat disentuh. Sentuhan yang dilakukan berupa kecupan mesra. Kecupan- kecupan yang menunjukkan emosi yang tinggi dan keinginannya untuk melakukan hubungan seksual. Dengan menggunakan ungkapan- ungkapan yang vulgar dalam mengungkapkan kejadiankejadian tadi malam bersama sosok kau. Ungkapan- ungkapan sosok aku yang ditampilkan dalam lirik lagu tersebut akan sangat memungkinkan merangsang Universitas Sumatera Utara hasrat seksual orang yang mendengarkan atau membacanya. Dimana pembaca akan mengkhayalkan apa yang disampaikan lewat lirik lagu tersebut, seolah- olah ia yang merasakan dan menikmatinya sehingga perasaan itu muncul. Ini menunjukkan bahwa erotisme ditampilkan lewat lirik lagu tersebut. Sosok aku pada lirik lagu tersebut menyatakan bahwa sentuhan sosok kau membuatnya terlena. Terlihat pada kalimat lirik “Sentuhanmu membuatku terlena”. Kode simbolik yang didapat dalam lirik lagu tersebut yaitu pada kata “sentuhan”. Saat menjalin suatu hubungan cinta satu malam yang dilakukan sosok aku dan sosok kau dalam lagu tersebut menyangkut sentuhan fisik tertentu. Sentuhan dapat berupa seperti berpegangan tangan, berciuman, sentuhan pipi, merangkul secara penuh, merangkul bahu dan punggung atau melakukan hubungan seksual. Secara naluri, sentuhan fisik memang membuat daya tarik dari minat seks bertambah kuat. Ada makna tersendiri di setiap sentuhan kepada pasangan. Dalam menjalin hubungan percintaan menyangkut sentuhan fisik tertentu, seperti memegang tangan, menggandeng, memeluk atau lebih dari itu. Sentuhan memiliki makna yang sangat berarti. Sentuhan adalah bahasa komunikasi untuk mengungkapkan perasaan tanpa kata- kata. Sebagai suatu bentuk komunikasi, tentu saja ada makna di balik setiap sentuhan. Berikut beberapa makna dari sentuhan: a. Memegang Tangan Memegang tangan pasangan dapat berarti bahwa Anda ingin bersama si dia. Hal ini jelas membuat pasangan Anda merasa nyaman meskipun Anda tidak mengatakan hal tersebut. b. Menggandeng Dengan menggandeng pasangan maka tandanya Anda telah memberi kesan memiliki sang pasangan. Orang di sekitar akan dengan mudah mengetahui bahwa pasangan Anda sudah not available. c. Memeluk Sebuah pelukan sifatnya universal. Namun, bila dilakukan oleh pria dan wanita yang masih dalam proses pacaran, Anda memberikan tanda bahwa Anda tidak ingin kehilangan dirinya. Jarang terjadi pelukan jika perasaan tidak terlalu dalam. Bila pelukan lebih sering terjadi, maka tingkat sayang lebih tinggi Universitas Sumatera Utara ketimbang nafsu belaka (http://m.detik.com//wolipop/read/2010/07/02160901/852/makna-tersembunyisentuhan-wanita-pada-pria). Pria dan wanita, saling bertukar sentuhan hampir dalam setiap waktu dan kesempatan. Sentuhan adalah salah satu cara pria untuk berkomunikasi dengan pasangan wanitanya. Mengenali arti sentuhan lawan jenis bisa jadi hal misterius dan susah diartikan oleh wanita. Ini beberapa penjelasan tentang arti sentuhan pria: a. Wajah Arti sentuhan pada wajah sebenarnya sangat jelas, karena dalam keadaan normal kita jarang membiarkan orang lain menyentuh wajah kita. Bila pria menyentuh pipi, dahi atau bagian manapun di wajah kita, itu merupakan isyarat bahwa ia ingin memiliki kita (walaupun kadang- kadang mereka bersikap seakan- akan hendak mengambilkan bulu mata yang jatuh). Bila ia tidak tertarik dengan kita, ia akan memberitahukannya secara verbal dan dia tidak akan menyentuh wajah kita. b. Rambut Rambut merupakan gambaran akan kepribadian kita. Apabila seorang pria menyentuh rambut kita, ini merupakan tanda bahwa ia merasa nyaman berada di dekat kita dan juga hal- hal positif yang mengelilingi kita. Walau menyentuh rambut tidak selalu melibatkan perasaan romantis, apabila ia melakukannya secara terus- menerus bisa jadi jawabannya adalah iya. c. Tangan Tangan dirancang untuk bersentuhan, mulai dari bersalaman sampai melakukan “tos” di udara. Walau kegiatan bersalaman sendiri tidak memberikan indikasi emosi dan romantisme, durasi bersalaman bisa membuka arti salaman itu sendiri. Apabila seorang pria menjabat tangan kita lebih lama dari biasanya. Mungkin ia mencoba menyampaikan pesan kepada kita, seperti rasa suka dan ketertarikan. d. Kaki Bagi sebagian besar pria, kaki wanita memiliki daya ransang sendiri bagi mereka. Sentuhan ringan pada paha, apalagi saat kita sedang duduk berhadapan Universitas Sumatera Utara dengannya adalah cara pria untuk mendekati kita (walau ia akan berlagak tidak sengaja menyentuhnya). Hal ini bisa juga merupakan caranya untuk mengetes reaksi kita. Apabila ia melihat reaksi positif, ia akan melakukan sentuhan berikutnya dengan sedikit lebih lama dan kemudian membelai kaki kita dengan sentuhan ringan. e. Punggung Menyentuh punggung seseorang merupakan dukungan serta rasa aman yang kita tunjukkan pada orang yang bersangkutan. Akan tetapi apabila ia menyentuh bagian punggung bagian bawah hingga mendekati ke area pinggang, bisa jadi ia berusaha menyampaikan pesan intimasi kepada kita. Bagian punggung bawah adalah daerah yang sangat sensitif, semakin lama pria menyentuh bagian tersebut, dapat dipastikan ia menyimpan rasa ketertarikan terhadap kita. f. Bahu Dalam kebudayaan universal, meyentuh atau menepuk bagian bahu merupakan bahasa tubuh yang menunjukkan pujian atau memberikan dukungannya dan pria jenis ini biasanya memiliki kepribadian yang pemalu dan tertutup. g. Pinggul Bagian samping tubuh perempuan, termasuk pinggang dan pinggulnya merupakan simbol seksualitas. Apabila pria menyentuh bagian tersebut sambil berdiri berhadapan dengan kita, ini merupakan indikasi yang sangat jelas bahwa ia ingin menarik kita untuk lebih dekat kepadanya. Jangat kaget, kalau kemudian ia mungkin juga akan berusaha mencium (http://www.dailysylvia.com/2013/04/23/membaca-arti-sentuhan-pria/). Sentuhan- sentuhan yang dilakukan oleh sosok kau terhadap sosok aku dalam lagu ini menunjukkan sentuhan yang menyatakan keterikatan emosional atau ketertarikan dengan adanya rangsangan seksual. Motifnya hanya untuk melakukan sentuhan bersifat seksual. Rangsangan seksual yang lebih mengarah kepada cinta atau keintiman. Hal ini terbukti karena pada akhirnya sosok aku melakukan hubungan intim layaknya suami istri dengan pasangan cinta satu malamnya sosok kau. Universitas Sumatera Utara Si pencipta lagu juga ingin menggambarkan dalam suatu hubungan kekasih, pihak laki- laki lah yang berkuasa. Pada saat melakukan cinta satu malam tersebut sosok kau yang melakukan sentuhan terhadap sosok aku. Sosok kau mengecup dengan mesra kening sosok aku dan menyentuh sosok aku hingga membuat sosok aku terlena. Hal ini terlihat dari kalimat lirik lagunya “Kalau kau kecup mesra di keningku”, “Sentuhanmu membuatku terlena”. Banyak riset menunjukkan bahwa orang berstatus lebih tinggi lebih sering menyentuh orang berstatus lebih rendah daripada sebaliknya. Jadi sentuhan juga berarti “kekuasaan”. Sehingga sosok kau adalah pihak penguasa sedangkan sosok aku sebagai wanita adalah objek seks bagi pria tersebut. Gambaran ini tidak terlepas dari konsep gender patriarki. Laki- laki digambarkan dengan sperma yang mempunyai ciri- ciri aktif, menyerang. Sedangkan perempuan digambarkan dengan sel telur yang mempeunyai ciri- ciri pasif, menunggu, menurut, lemah, dan pasrah. Sosok aku dalam lirik lagu tersebut mengungkapkan suatu aktivitas seksual dengan kekasih seperti kecupan, dibuai, dan sentuhan- sentuhan. Lirik lagu dinilai terlalu vulgar karena berkonotasi pada aktivitas seksual dan kenikmatan seksual, mencirikan hawa nafsu, liar yang dapat menimbulkan rangsangan seksual. Hal ini dapat menimbulkan nafsu atau hasrat seksual, memancing berahi dan erotisme bagi orang yang mendengar atau membaca lirik lagu tersebut. Si pencipta lagu dalam lirik- lirik lagu “Cinta Satu Malam” seringkali menawarkan kenikmatan- kenikmatan dalam melakukan cinta satu malam seperti “Walau cinta kita sementara, aku merasa bahagia”; “Kalau kau kecup mesra di keningku kurasa bagai di surga”; “Cinta satu malam oh indahnya”; “Walau satu malam akan ku kenang”. Ungkapan- ungkapan yang menunjukkan kenikmatankenikmatan cinta satu malam yakni: bahagia; bagai di surga; oh indahnya; akan ku kenang. Bahagia berarti keadaan atau perasaan senang tenteram (lepas dari segala yang menyusahkan). Orang yang mencapai kebahagiaan dengan mengejar kenikmatan- kenikmatan, baik jangka panjang atau jangka pendek. Universitas Sumatera Utara Pada dasarnya motif yang menggerakkan manusia untuk melakukan apa pun adalah untuk mencapai kebahagiaan, namun pendefenisian tentang kebahagiaan bagi masing- masing orang berbeda. Sehingga tindakan setiap orang untuk mencapai kebahagiaan tersebut juga berbeda- beda, bahkan kerap berkontradiksi antara yang satu dengan yang lainnya. Menurut Anttithenes, kebahagiaan adalah dengan meninggalkan kesenangan- kesenangan materil, karena sejatinya kebahagiaan adalah bersifat metafisik. Sebaliknya Aristippus berpendapat bahwa kebahagiaan adalah bagaimana memuaskan hasrat jasmaniah seperti makan, minum, dan seks. Surga memiliki makna kenikmatan (kesenangan, kebahagiaan) yang tiada tara, keindahan yang tiada bandingannya suatu tempat dengan keadaan yang penuh kebahagiaan. Setiap agama menjanjikan yang namanya surga. Kata “surga” memiliki makna yang bermacam- macam bagi para penganut beberapa agama. Sorga atau surga (bahasa Sanskerta svarga) adalah suatu tempat di alam akhirat yang dipercaya oleh para penganut beberapa agama sebagai tempat berkumpulnya roh- roh manusia semasa hidupnya berbuat kebajikan sesuai ajaran agamanya di dunia (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Surga). Surga dalam konsep agama Hindu dan Buddha adalah bahwa di atas dunia dan di atas antariksa yang terbuka, ada “dunia ketiga”. Dunia yang penuh dengan cahaya dan sinar. Matahari yang tidak pernah tenggelam. Kata svarga sendiri berasal dari suku kata svar dan ga. Svar artinya cahaya, dan ga artinya perjalanan. Dengan demikian, surga pada mulanya berarti perjalanan ke dunia cahaya. Dan, cahaya di surga tidak pernah padam atau kegelapan. Di dalam surga ada “swargaloka”, yaitu tempat para makhluk yang bercahaya. Seperti Dewa, Maharesi, dan orang- orang suci yang telah mencapai keabadian. Meskipun di dalamnya penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan, tetapi surga tetap sebuah dunia. Jelas sudah bahwa di surga terdapat loka, tempat tinggal. Surga adalah bagian dari tiga dunia (triloka) dalam agama Hindu. Surga adalah dunia atas. Tetapi, tetap sebagai dunia. Bukan tempat tujuan terakhir. Bukan pemberhentian terakhir. Ia hanyalah stasiun menuju alam spiritual sejati. Ia hanyalah tempat sementara untuk melanjutkan perjalanan kepada- Nya. Memang, di surga digambarkan tidak ada kematian lagi. Tempat istirahat yang nyaman serta Universitas Sumatera Utara abadi. Tidak ada duka dan derita dalam surga (Chodjim, 2005: 12). Kata “surga” tidak ditemukan dalam konsep agama Islam, baik di dalam AlQuran maupun hadis. Kata jannah yang ada, kata jamaknya ialah jannât (Chodjim, 2005: 18). Tidak kurang dari 145 kata jannah dan jannât disebut dalam AlQuran. Kata itu sendiri berarti kebun atau taman. Namanya saja kebun, yang tergambar adalah banyaknya pohon buah- buahan yang ada di dalamnya. Kadang juga bermakna taman. Sehingga yang tergambar disitu adalah tempat peristirahatan. Adanya sungai- sungai untuk rekreasi. Adanya kamar- kamar peristirahatan dengan dipan- dipan yang tertata dengan anggun (Chodjim, 2005: 19). Jadi, sebenarnya surga itu tempat berlindung yang abadi, yang segala kebutuhan untuk hidup penghuninya tidak pernah mengalami kekurangan. Oleh karena tumbuh- tumbuhan hidup lestari, maka cahaya matahari tidak terasa terik bagi penghuninya. Di dalam kehidupan surgawi manusia tidak tersengat matahari. Jadi, bukan berarti mataharinya tidak ada, tetapi alamnya penuh dengan tumbuhan. Ozonnya tebal sehingga kondisinya terasa sejuk dan nyaman (Chodjim, 2005: 21). Dipandang dari sudut tata bahasa, kata jannah berasal dari kata kerja janna yang artinya menutupi, menyembunyikan, atau menudungi. Maka, dalam makna kiasan, jannah merupakan sesuatu yang masih tersembunyi. Sesuatu yang masih tertutup dari pandangan mata fisik atau mata jasmani. Wajar saja bila di AlQuran dikatakan bahwa surga yang digambarkan di dalamnya itu hanyalah perumpamaan dan bukan alam nyata. Jadi, AlQuran tidak menceritakan kenyataan jannah. AlQuran hanyalah memberikan perumpamaan tentang kebahagiaan yang akan dicapai oleh mereka yang beriman dan beramal saleh. Ungkapan kebahagiaan psikologis. Kebahagiaan batiniah yang akan dialami oleh mereka yang beriman dan beramal saleh (Chodjim, 2005: 19). AlQuran banyak bercerita tentang sebuah kehidupan setelah mati di surga untuk orang yang selalu berbuat baik. Surga itu sendiri sering dijelaskan dalam AlQuran surat Ar- Ra‟du 13- 35. “Perumpamaan sorga yang dijanjikan kepada orang- orang yang takwa ialah (seperti taman), mengalir sungai- sungai di dalamnya; Universitas Sumatera Utara buahnya tak henti- henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang- orang kafir ialah neraka” (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Surga). Surga atau kerajaan surga dalam konsep agama Kristen adalah kehidupan kekal yang dijanjikan Yesus kepada orang- orang yang percaya kepada- Nya. Istilah “surga” yang dipakai oleh penulis Alkitab menunjuk kepada tempat yang kudus dimana Allah saat ini berada. Kehidupan kekal, ciptaan yang sempurna, tempat dimana Allah menghendaki untuk tinggal secara permanen dengan umatNya. “Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah- tengah manusia dan Ia akan diam bersama- sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umatNya dan Ia akan menjadi Allah mereka” (Wahyu 21: 3)”. Di dalam surga atau kerajaan surga tidak akan ada lagi pemisahan antara Allah dan manusia. Orang- orang beriman sendiri akan hidup dengan kemuliaan, dibangkitkan dengan tubuh yang baru, tidak akan ada penyakit, tidak akan ada kematian, dan tidak ada air mata (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Surga). Kalimat “Kalau kau kecup mesra di keningku kurasa bagai di surga” bearti bahwa saat melakukan satu satu kontak fisik saat melakukan cinta satu malam memberikan kenikmatan yang tiada tara yang disamakan dengan tempat di surga. Oh indahnya, berasal dari kata indah. Keindahan adalah sifat dari sesuatu yang memberikan rasa senang bila melihatnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan yang bersifat abstrak yaitu keindahan yang tidak dapat terlihat secara fisik dan bersifat tidak beraturan, tetapi nilai dari keindahan itu dapat dirasakan, seperti keindahan ketika merasakan angin yang berhembus. Sedangkan keindahan sebagai sebuah benda tertentu yang indah adalah kebalikan dari keindahan yang bersifat abstrak, dimana keindahan itu dapat dirasakan dan dilihat. Keindahan adalah sesuatu yang memberikan kenikmatankenikmatan. Seperti keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, keindahan intelektual. Kalimat “Cinta satu malam oh indahnya” berarti bahwa cinta satu Universitas Sumatera Utara malam memberikan kenikmatan. Kata indahnya ditambahkan kata seru “oh” menjadi oh indahnya. Kata seru “oh” yang berfungsi sebagai penekanan yang menunjukkan bahwa sosok aku sangat menikmati hubungan seksual bersama sosok kau, emosi yang timbul akibat cinta satu malamnya. Akan ku kenang juga menunjukkan sosok aku menjadikan pengalaman cinta satu malamnya sebagai kenangan. Kenangan adalah sesuatu yang masih ataupun selalu ada dalam ingatan dan pikiran seseorang dari sesuatu yang terjadi pada masa lalu, apakah itu sebuah kisah, kejadian maupun sesuatu yang pernah dijalani dan dialami oleh seseorang manusia yang masih punya jiwa dan perasaan. Setiap kenangan akan membuat diri seseorang mengingat sesuatu yang ia alami di masa lalu yang terkadang membuatnya terbawa pada ingatan yang terbayang dalam pikirannya tentang suatu kisah ataupun kejadian yang akan membuat seseorang itu merasakan bahagia ataupun merasa sedih atas kenangan tersebut. Dan pada umumnya setiap manusia pasti selalu hanya ingin mengingat suatu kenangan yang terindah dalam hidupnya dan mencoba melupakan kenangankenangan buruk yang selalu menghantui pikirannya. Kalimat “Walau satu malam akan ku kenang” menunjukkan bahwa cinta satu malam adalah suatu keindahan, karena orang biasanya mengenang kenangan yang indah. Keindahan berarti adanya rasa kenikmatan. Berarti cinta satu malam memberikan kenikmatan. Si pencipta lagu menggambarkan kenikmatan- kenikmatan apabila melakukan cinta satu malam dengan menggunakan istilah- istilah yang bervariasi yaitu bahagia; bagai di surga; oh indahnya; akan ku kenang. Ini menunjukkan kenikmatan- kenikmatan secara fisik yang lebih diutamakan yaitu seks. Pandangan si pencipta lagu “Cinta Satu Malam” terhadap kenikmatankenikmatan apabila melakukan cinta satu malam menunjukkan bahwa si pencipta lagu tersebut memberikan harga dan makna hidup sebatas pada pencapaian kenikmatan fisik dan tidak sejalan dengan ajaran norma- norma yang berlaku di masyarakat kita (norma agama, moral, kesopanan, dan hukum). Kenikmatan yang ditawarkan si pencipta lagu tersebut adalah kenikmatan fisik yang hanya berlangsung sangat singkat yaitu melakukan seks semalam. Bila sudah seperti ini Universitas Sumatera Utara berarti si pencipta lagu dan juga penyanyi lagu tersebut mendukung yang namanya free sex. Si pencipta lagu juga ingin menggambarkan kehidupan manusia masa kini yang mengarah kepada kehidupan hedonisme. Hedonisme memandang kehidupan itu bermakna apabila memberikan kenyamanan dan kenikmatan. Oleh karena itu banyak sekali aktivitas manusia bertujuan untuk mengejar kenikmatan. Mungkin saja sejak kita memasuki bangku kuliah, melamar pekerjaan, memburu gaji, membangun rumah, membeli kendaraan, memiliki kekasih idaman dan seterusnya kesemuanya tidak luput dari bayangan untuk meraih kenikmatan hidup (Hidayat, 2011: 73). Manusia masa kini menekankan pemuasan kesenangan jasmani. Memandang kehidupan itu bermakna apabila memberikan kenyamanan dan kenikmatan. Pada pokoknya, pandangan seperti ini tidak hanya menegaskan bahwa mencari kesenangan merupakan suatu kewajiban moral, tetapi juga bahwa orang secara alamiah cenderung berusaha mencari kesenangan, baik itu disadari atau tidak. Kode simbolik berikutnya yang didapat dalam lirik lagu tersebut yaitu pada kata “cinta”. Seorang psikolog asal Amerika Serikat, Ashley Montagu, memandang cinta sebagai sebuah perasaan memerhatikan, menyayangi, dan menyukai yang mendalam. Biasanya rasa cinta itu disertai rasa rindu dan hasrat terhadap sang objek (Widianti, 2006: 37). Menurut psikolog Elain dan William Walsten, cinta adalah suatu keterlibatan yang sangat mendalam. Keterlibatan itu diasosiasikan dengan timbulnya ransangan fisiologis yang kuat dan diiringi dengan perasaan mendambakan pasangan dan keinginan untuk memuaskannya (Widianti, 2006: 39). Ada enam macam model cinta dalam mitologi Yunani. Keenam model tersebut adalah, Eros, Ludus, Mania, Storge, Pragma, dan Agape. Berikut penjelasan keenam model cinta tersebut: 1. Eros Eros merupakan cinta yang bersifat jasmaniah yang menjadikan aktivitas seksual dalam bentuk persetubuhan sebagai tujuannya. Secara umum hal ini Universitas Sumatera Utara dipandang sebagai cinta yang paling rendah dan harus dikendalikan dengan sangat ketat. Ada kelompok- kelompok tertentu yang memandang eros sebagai suatau kehinaan sehingga harus dimusnahkan (Untoro, 2009: 15). Cinta eros alias cinta berahi. Cinta ini identik dengan cinta seksual dan erotik yang bersumber melekatnya cairan seksual dalam tubuh dan bermuara pada nafsu. Cinta ini ditandai dengan keinginan memiliki, menuntut, merengek, mendesak, mengambil, dan bukan memberi (Widianti, 2006: 40). Eros adalah jenis cinta sebatas fisik, romantis, bahkan terkadang erotis. Biasanya cinta Eros terjadi pada pandangan pertama. Kebanyakan punya ketertarikan kuat terhadap penampilan fisik disertai emosi dan komitmen yang kuat terhadap pasangannya. Jenis cinta ini banyak dialami remaja. Cinta eros menggebu- gebu dan berani mengambil resiko. Dalam pacaran, mereka menganggap penting mengenai ciuman dan pelukan. Biasanya kehangatan cinta ini dapat dirasakan sampai tiga bulan pertama. Dunia seolah- olah hanya milik berdua. 2. Ludus Jenis cinta yang penuh dengan permainan, godaan dan cumbu rayu yang tiada hentinya. Penganut cinta Ludus tidak pernah serius dalam soal cinta. Cinta yang seperti ini sering dilakukan anak muda jaman sekarang untuk bermain cinta, tidak ada keseriusan sama sekali. Mereka mudah bosan dengan pasangannya. Biasanya kedua belah pihak hanya mendapatkan kerugian. Tipikal pencinta Ludus adalah percaya diri. Melakukan permainan cinta memerlukan kepribadian yang kuat. Oleh karena itu, mereka pandai membohongi pasangannya. Jenis cinta ini bersifat dangkal dan mudah beralih (http://breadofwisdom.blogspot.com/2011/05/enam-tipe-cinta.html). 3. Mania Mania sebenarnya merupakan gabungan dari Eros dan Ludus. Cinta yang obsesif, penuh cemburu, suka menguasai, dan selalu bergantung pada pasangannya. Mania cenderung memiliki sifat destruktif. Dunia serasa kiamat apabila penganut ini mengalami putus cinta. Penganut cinta ini selalu merasakan ketakutan untuk berpisah, cenderung untuk cemburu, dan posesif. Tahapan ini mengubah hubungan menjadi nyata. Penganut Mania tidak pernah Universitas Sumatera Utara membiarkan pasangannya melihat ketidaksempurnaan di dalam diri sendiri (http://breadofwisdom.blogspot.com/2011/05/enam-tipe-cinta.html). 4. Storge Cinta storge alias persahabatan. Cinta yang ini tumbuh subur di benak hati seseorang karena adanya sebuah persahabatan yang hangat dan akrab sehingga tidak menemukan unsur passion dan hurt (Widianti, 2006: 42). Storge adalah cinta antara orangtua dan anak- anak dan antarsaudara. Kegiatan seksual yang bermuara pada persetubuhan sangat dikutuk pada jenis kasih ini (Untoro, 2009: 15). Cinta seperti ini akan bertumbuh perlahan melalui pengalaman bersama. Cinta Storge muncul dari sebuah persahabatan yang mantap, membumi, dan dapat bertahan lama. Asmaranya tidak lagi menggebu, karena selalu merasa bahagia saat bersama- sama. Pertengkaran tidak lagi menjadi isu yang dominan. 5. Pragma Cinta pragma alias cinta yang mempertimbangkan untung dan rugi, yaitu kualitas suatu hubungan dipikirkan dan dihitung dengan rumus jumlah keuntungan yang didapatkan oleh sebuah pasangan yang sedang dimabuk cinta (Widianti, 2006: 42). Kombinasi dari Storge dan Ludus. Biasanya, Pragma dianut oleh mereka yang memiliki kepribadian dewasa dan matang. Mereka cenderung bersikap realistis dan praktis. Kebersamaan yang dirasakan seolah- olah seperti bersama dengan seorang sahabat baik. Dalam tahapan ini, getaran cinta sudah mantap. 6. Agape Agape (kasih mulia) merupakan kasih dengan tingkat kemurniaan tertinggi. Pada tingkatan kasih ini terdapat totalitas, ketulusan, dan kerelaan untuk melayani. Tidak sedikit pun pamrih untuk mendapatkan manfaat pribadi dari apa yang dilakukan. Kerelaan untuk berkorban demi kebahagiaan orang yang dikasihi menjadi ciri khas dari kasih ini. Agape merupakan kasih murni tanpa setitik pun noda (Untoro, 2009: 15). Agape selalu memberi tanpa pamrih. Jenis cinta ini menunjukkan bahwa cinta memiliki kekuatan yang melebihi ego dan fisik semata. Inilah cinta yang Universitas Sumatera Utara tidak egois. Seseorang yang dengan setia mengurus kedua orang tuanya yang sudah renta merupakan salah satu perwujudan cinta Agape. Hanya memberi dan tidak mengharap kembali. Agape merupakan perwujudan cinta yang tertinggi. Jenis kasih sayang seperti ini adalah kasih sayang yang timbul dari hati sanubari tanpa mengharapkan suatu balasan. Cinta kasih ini adalah kasih sayang memberi. Kasih sayang seperti inilah kasih sayang yang paling tinggi mutunya. Barangkali tidak ada manusia yang yang dapat melakukan ini, kalaupun ada mungkin sangat jarang. Contohnya cinta Tuhan kepada umatNya dan cinta seorang ibu kepada anaknya. Cinta yang dialami oleh sosok aku dan sosok kau pada lagu tersebut adalah hubungan cinta satu malam. Dalam hal ini terdapat kata “malam”. Malam menunjukkan suatu kondisi yang gelap. Gelap berarti tidak adanya cahaya, kelam. Pada umumnya gelap memiliki cap sesuatu yang negatif, gambaran sesuatu yang tidak diinginkan, sesuatu yang tidak senonoh. Kita dapat melihat pada istilahistilah seperti uang gelap, pasar gelap, imigran gelap, penumpang gelap, toto gelap (togel), gelap mata, hubungan gelap, dan kekasih gelap. Sehingga penggunaan kata “malam” dalam hubungan cinta yang dibuat oleh si pencipta lagu menunjukkan pada hubungan yang mengarah kepada hal- hal negatif. Dimana seorang pria dan seorang wanita melakukan hubungan gelap, hubungan yang tidak sah antara pria dan wanita yang dilakukan atas dasar suka sama suka atau melakukan suatu bentuk perzinahan. Cinta satu malam dapat dikategorikan sebagai cinta eros. Cinta yang sangat dan terlalu memuja kesenangan belaka. Cinta satu malam sebuah cinta berahi yang pada hakekatnya hanyalah mencintai tubuh dan kenikmatan seksual sebagai pemenuhan kebutuhan biologis. Cinta yang hanya bertujuan untuk memuaskan kebutuhan syahwat dan kesenangan belaka yang mengarah kepada free sex tanpa ada maksud untuk memaknai suatu ikatan sebagai hubungan yang suci dan mulia. Tidak adanya komitmen yang kuat terhadap pasangannya. Pasangan hanya dianggap sebagai rekan seks. Cinta yang menggebu- gebu dan berani mengambil resiko. Universitas Sumatera Utara Pada umumnya, cinta seperti ini adalah cinta ternoda yang menyalahi norma- norma yang berlaku di masyarakat. Bagi yang melakukannya, akan merasakan kenikmatan dan kesenangan yang tiada tara. Namun, sebuah kesenangan tanpa keterikatan ini dapat mengakibatkan penyakit kelamin. Sang wanita dapat menjadi hamil, hal ini dapat memaksa pasangan itu untuk menikah padahal mereka sebenarnya belum siap, dan hal itu sangat mempengaruhi kebahagiaan mereka di kemudian hari. Atau si pria itu mungkin menolak untuk menikahi si wanita, dan ia akan membesarkan anak seorang diri tanpa suami. Atau mungkin ia tergoda untuk melakukan aborsi, yang merupakan suatu bentuk pembunuhan. Kode Gnomik Sikap hidup seksual yang permisif seperti ini telah menghilangkan sakralitas seksual manusia, dan mengaburkan nilai- nilai yang berlaku di masyarakat. Sehingga kegiatan seksual selalu dipandang sebagai kebutuhan biologis, seolah- olah seperti halnya kebutuhan akan makanan dan minuman yang harus dipenuhi dengan segera. Hal ini telah merendahkan kesakralan seksual. Padahal di Indonesia sarat dengan nilai- nilai ketimuran. Nilai- nilai ketimuran mengatur tingkah laku seksual masyarakat. Umpamanya lembaga perkawinan, mengatur bagaimana laki- laki dan perempuan terikat dengan ikatan keluarga, sebagai perlindungan terhadap hak- hak dan kewajiban seks serta keturunan mereka. Perkawinan membentuk keluarga akan menghasilkan keturunanketurunan yang baik. Di samping itu bahwa seksualitas dalam keluarga sangat memainkan peranan penting serta menjadi syarat sempurnanya perkawinan. Sesuatu yang dianggap tabu dan dosa itu, di budaya Indonesia yang masih menjunjung adat ketimuran ini sepertinya kini semakin dapat dimaklumi. Bagai terbawa arus barat, cinta satu malam pun menjalar di semua kalangan, sah- sah saja dilakukan asal suka sama suka. Sebuah fenomena hubungan seks semalam ini bahkan telah menjalar di kalangan wanita- wanita muda, sukses, mapan, dan juga para lajang dan sebagian wanita menikah. Jumlahnya yang kian hari semakin bertambah sebagai wujud dari refleksi emansipasi yang nyaring diserukan di kalangan perempuan. Demi memperjuangkan kesetaraan hak dengan kaum pria, Universitas Sumatera Utara dalam hal kebebasan menikmati seks pun para wanita juga ingin mengambil peran. Pada lagu “Cinta Satu Malam” juga ingin menunjukkan suatu hubungan cinta satu malam yang dilakukan atas dasar suka sama suka sehingga pihak perempuan tidak begitu peduli dengan kondisinya yang sudah tidak perawan lagi. terlihat pada kalimat lirik “Walau cinta kita sementara, aku merasa bahagia”; “Cinta satu malam oh indahnya, cinta satu malam buatku melayang”; “Walau satu malam, akan selalu ku kenang dalam hidupku”. Si wanita tidak merasa dirugikan. Sebagai seorang wanita, dianggap sudah tidak jamannya lagi menjadi pihak yang dirugikan dalam suatu hubungan. Seorang wanita dan pasangan merupakan rekan yang sejajar. Pandangan pada umumnya menganggap kaum perempuan dalam hubungan pacaran maupun suami istri biasanya menjadi pihak yang paling dirugikan. Perempuan distereotipekan sebagai makhluk yang lemah, gampang ditipu, pasif, pasrah, rendah kognitif dan rasionya, serta tidak akan mampu melakukan apapun dan tidak akan mampu berdiri sendiri tanpa ditopang oleh laki- laki, sehingga muncullah kedudukan yang mensubordinasikan perempuan untuk berada di bawah laki- laki. Namun, dalam lirik lagu “Cinta Satu Malam” adanya perlawanan atas stereotipe yang mensubordinasikan perempuan untuk berada di bawah laki- laki. Nilai tradisional yang semakin terlupakan, yaitu bahwa dalam perilaku seks yang paling utama adalah tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Nilai ini tercermin dalam bentuk keinginan untuk mempertahankan kegadisan seorang wanita sebelum menikah. Kegadisan pada wanita seringkali dilambangkan sebagai “mahkota” atau “harta yang paling berharga” atau “tanda kesucian” atau “tanda kesetiaan kepada suami”. Nilai kegadisan dihargai rendah nampaknya sudah menggejala di kalangan bangsa Indonesia. Setiap orang yang normal ingin menikmati kebahagiaan. Banyak orang mengganggap menjalin suatu hubungan percintaan sebagai suatu cara untuk mendapatkan kebahagiaan, walaupun cinta yang hanya sementara seperti cinta satu malam yang mengarah kepada pola pergaulan bebas. Berdasarkan sumber dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terdapat kehamilan di luar nikah karena diperkosa sebanyak Universitas Sumatera Utara 3.2 %, sama- sama mau 12.9 %, tidak terduga 45 %, dan seks bebas sendiri mencapai 22.6 % (http://www.lautanindonesia.com/forum/index.php?topic=11924.0). Dan juga penelitian pada tahun 2002 lalu, masyarakat Yogyakarta dikejutkan oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan (LSCK) dengan tema virginitas di kalangan mahasiswa Yogyakarta. Survei dilakukan terhadap 1.660 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa 97.5 % mahasiswa perempuan sudah pernah melakukan hubungan seksual. Penelitian yang dilakukan LSCK mendapat dukungan dari banyak pihak, termasuk BKKBN (http://sosbud.kompasiana.com/2012/06/30/fenomena-seks-pra-nikah-dikalangan-mahasiswa-di-yogyakarta-468112.html). Hal ini mengisyaratkan telah terjadi pergeseran pola pikir tentang pergaulan, yang semakin cenderung pada pergaulan bebas. Banyak orang menuntut kebebasan untuk melakukan hubungan seks dengan siapa saja yang mereka inginkan dan dengan cara apapun yang mereka kehendaki. Sikap seperti itu membuat banyak orang menjadi bingung. Kaum yang melakukan hal seperti itu umumnya percaya bahwa karena mereka secara fisik dapat melakukan hubungan seks, dan karena kata orang hal itu “sangat menyenangkan”, maka mereka bisa saja melakukannya. Hal seperti ini sudah melanggar norma yang berlaku di masyarakat kita, selain itu juga telah melakukan suatu bentuk perzinahan. Perzinahan dapat mengakibatkan penyakit kelamin. Sang wanita dapat menjadi hamil, hal ini dapat memaksa pasangan itu untuk menikah. Namun, si pria itu mungkin menolak untuk menikahi si wanita, dan ia akan membesarkan anak seorang diri tanpa suami. Atau mungkin ia tergoda untuk melakukan aborsi, yang merupakan suatu bentuk pembunuhan. Hubungan antara pria dan wanita yang selama ini diyakini oleh bangsa ini adalah menganut adat ketimuran dan tidak menganut pola pergaulan bebas. Pernikahan menjadi syarat legalisasi dari hubungan seksual antara pria dan wanita. Arus globalisasi dan kemajuan teknologi telah membuat budaya barat memiliki andil dalam mempengaruhi budaya generasi muda saat ini. Dalam lirik Universitas Sumatera Utara lagu yang populer yang beredar di masyarakat, mengisyaratkan telah terjadi pergeseran pola pikir tentang pergaulan, yang semakin cenderung pada pergaulan bebas. Di era yang modern, informasi dapat diperoleh dari berbagai media seperti radio, televisi, internet, koran, tabloid, atau buku bacaan lainnya yang membuat seseorang merasa memiliki kebebasan, tidak peduli terhadap peraturan yang ada di negaranya. Perilaku tidak etis dilakukan agar terkesan tidak ketinggalan jaman. Hal yang ditiru adalah budaya asing yang dianggap tidak membawa pengaruh buruk bagi mereka. Perilaku dalam menjalin hubungan percintaan yang sementara seperti cinta satu malam ini merupakan hal yang wajar untuk dilakukan dan dianggap bukan dianggap suatu perzinahan. Kode Semik Peneliti melihat si pencipta lagu “Cinta Satu Malam” menggambarkan tentang cinta yang sementara, hanya satu malam. Cinta sementara dianggap dapat memberikan lebih banyak kebahagiaan pribadi dan hal itu sangat menyenangkan. Cinta sementara yang ditampilkan dalam lirik lagu tersebut memang tidak lepas dari kebudayaan masyarakat masa kini. Masyarakat masa kini yang selalu mengatasnamakan kemudahan, serba cepat, dan serba menyenangkan. Gaya hidup manusia masa kini yang ingin serba cepat dan serba menyenangkan dapat kita lihat dalam berbagai bidang kehidupan seperti memilih apartemen sebagai tempat tinggal, wanita hamil yang lebih memilih melahirkan secara caesar dibandingkan normal, orang tua lebih memilih jasa penitipan anak atau jasa baby sitter untuk mengasuh anaknya, tinggal membeli Air Conditioning (AC) ketika ingin udara di dalam rumah sejuk, dan juga dalam hal pemilihan makanan yang ingin cepat saji. Kecenderungan untuk hidup praktis tersebut juga berimbas pada seksualitas. Permasalahan tingkah laku seksual seperti cinta satu malam lebih banyak berhubungan dengan sikap ingin serba praktis yang mulai merasuki masyarakat kita, yang menempatkan kesenangan yang dicapai sebagai nilai tertinggi yang ingin dicapai dengan mudah. Dalam konteks masyarakat seperti ini orang tidak mau hidup susah. Orang akan mencari enak dan kesenangan dengan segala cara, Universitas Sumatera Utara juga dengan cara pencapaiannya harus mengorbankan hidup orang lain dan diri sendiri. Saat seseorang merasa kesepian, saat ingin membalas dendam pada pasangan, sebagai pengalaman yang dianggap menarik dan menantang, saat muncul hasrat yang tidak tertahankan untuk melakukan hubungan seksual, saat ingin merasakan kebebasan untuk melakukan apa pun setelah putus dari pacar maka solusi instannya adalah dengan melakukan cinta satu malam. Sadar ataupun tidak, pergeseran sosial yang terjadi di masyarakat pada kondisi yang kontroversial serta membingungkan masyarakat itu sendiri tentang bagaimana berlaku seks yang benar, termasuk bagaimana mempertahankan keberadaan nilai seksual yang telah ada. Kehidupan individualis, materialis, serta perkembangan industri yang spektakuler terutama di bidang komunikasi, senantiasa memberikan ruang yang cukup luas untuk melemahnya norma- norma seksualitas yang ada. Dewasa ini tekanan untuk berhubungan seks sementara seperti cinta satu malam ini sangat banyak terdapat di berbagai tempat. Hubungan seks tanpa menikah sekarang dikenal secara meluas oleh orangtua, perguruan tinggi serta khalayak ramai. Hal ini seakan- akan menunjukkan bahwa seks bebas dapat diterima dan sepertinya sia- sia untuk menolak suatu arus baru yang tidak dapat dikendalikan lagi. Akibat dari berhubungan seks semalam ini, sang wanita dapat menjadi hamil. Namun, kehamilan bukan lagi dipandang sebagai berkat, tetapi sebagai penghalang mencapai hidup enak, kesenangan, dan kebebasan. Hingga akhirnya tergoda untuk melakukan aborsi, yang merupakan suatu bentuk pembunuhan. Jumlah aborsi di Indonesia dari data yang diperoleh menunjukkan kenaikan yang mencolok dari tahun ke tahun. Di Jakarta pada tahun 1997 setiap harinya ada sekitar 100 kasus aborsi. Pada tahun 1984 di Jakarta saja sudah terjadi sekitar 250 kasus aborsi disengaja setiap hari. Sementara itu Khofifah Indar Parawansa, Menteri Negara Urusan Pemberdayaan Perempuan dan ketua BKKBN mengungkapkan bahwa di Indonesia pada tahun 2000 aborsi dilakukan oleh 2 juta orang tiap tahun. Dari jumlah itu sebanyak 750 ribu dilakukan oleh remaja putri yang belum menikah. Setahun kemudian terjadi kenaikan cukup besar. Menurut seorang ginekolog dan konsultan seks Dr. Boyke Dian Nugraha SpOG, bahwa setiap tahunnya jumlah Universitas Sumatera Utara wanita yang melakukan aborsi sebanyak 2.5 juta (Kusmaryanto, 2002: 44). Prof. DR. Dr. Budi Utomo melaporkan hasil penelitian yang dilakukan di 10 kota besar dan 6 kabupaten di Indonesia pada tahun 2000, yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Lembaga Penelitian Universitas Indonesia menyimpulkan bahwa di Indonesia terjadi 43 aborsi per 100 kelahiran hidup atau lebih dari 30 % dari kehamilan. Prof. DR. Dr. Budi Utomo juga menyampaikan bahwa sebagian besar aborsi adalah aborsi yang disengaja, terutam di kota- kota. Ada 78 % wanita di perkotaan dan 40 % di pedesaan yang melakukan aborsi dengan sengaja (Kusmaryanto, 2002: 45). 4. 1. 3. Analisis Leksia Lagu “Mojok di Malam Jumat” “Mojok di Malam Jumat” Bait 1 Bang kemana aja sih Aku sudah gak tahan Bang apelin aku dong Malam Jumat pun oke lah Reff 1 Mojok di malam Jumat Aku tak takut Asal abang selalu dekatku Mojok di malam Jumat Aku tak resah Jurig juga ingin pacaran seperti kita Bait 2 Bang kok belum datang juga Please deh aku mulai bete Bang cepet dong ke sini Jangan keduluan setan gundul Reff 2 Mojok di malam Jumat aduh asyiknya Cumbulah aku sesukamu Mojok di malam Jumat aduh senangnya Universitas Sumatera Utara Melepas rindu tak tertahan Abangku sayang Sumber: http://liriklagudangdut.com/melinda-mojok-di-malam-jumat.html Tema lagu menggambarkan seorang wanita yaitu sosok aku, seorang wanita yang menyanyikan lagu tersebut. Sosok aku berhubungan cinta atau pacaran dengan sosok abang. Digambarkan bahwa sosok aku yang menginginkan pacarnya sosok abang untuk ngapelin dia dan mojok di malam Jumat. Ingin merasakan kenikmatan berpacaran di tempat sepi bersama kekasihnya sosok abang, seorang pria yang telah membuatnya resah karena tidak kunjung datang juga untuk menemuinya. Sosok aku hanya dapat berharap dan menunggu agar kekasihnya itu segera menemuinya untuk memenuhi hasrat berahinya. Sosok aku dalam lirik lagu tersebut sangat menginginkan dirinya dapat mojok di malam Jumat dengan kekasihnya. Menganggap bahwa mojok di malam Jumat sesuatu yang asyik untuk dilakukan bersama dengan pasangan. Sosok aku tetap bersedia mojok dengan pacarnya sosok abang di malam Jumat. Malam Jumat bukanlah waktu yang biasa dilakukan untuk bertemu dengan pacar, tetapi justru malam yang dianggap penuh kengerian. Namun, sosok aku bersedia berduaan dengan pacarnya di malam Jumat. 4. 1. 3. 1. Kode Pembacaan Kode Hermeneutika Kode hermeneutika yang didapat dalam lirik lagu “Mojok di Malam Jumat”, antara lain: “Mengapa sosok aku menanyakan kemana sosok abang?” “Mengapa sosok aku sudah tidak tahan?” “Mengapa sosok aku meminta sosok abang untuk ngapelin dia?” “Mengapa ngapel di malam Jumat pun oke lah bagi sosok aku?” “Mengapa sosok aku tidak takut mojok di malam Jumat asal sosok abang selalu didekatnya?” “Mengapa Jurig juga ingin pacaran seperti sosok aku dan sosok abang?” “Mengapa sosok aku meminta sosok abang untuk segera menemuinya agar tidak didahului oleh setan gundul?” “Mengapa mojok di malam Jumat adalah hal yang mengasyikkan bagi sosok aku?” “Mengapa sosok aku Universitas Sumatera Utara meminta sosok abang untuk mencumbunya dengan sesuka hati pria tersebut?” “Mengapa sosok aku meganggap bahwa mojok di malam Jumat melepas rindu yang tidak tertahan? Kode Proairetik Sosok aku mulai resah menunggu sosok abang yang tidak tahu sedang berada dimana. Terlihat pada kalimat lirik “Bang kemana aja sih”. Sosok aku dengan agresif dan sangat ingin tahu keberadaan pacarnya sosok abang yang belum datang juga menemuinya. Ada yang membuat hatinya resah dan tidak sabar menunggu sosok abang yang belum datang juga menemuinya. Selanjutnya sosok aku juga mengungkapkan bahwa ia sudah tidak tahan lagi. Terlihat pada kalimat lirik “Aku sudah gak tahan”. Suatu kondisi perasaan sosok aku yang sudah tidak kuat atau tidak sabar lagi untuk bertemu dengan sosok abang. Sosok aku dalam lirik lagu tersebut terlihat berperan aktif. Bagaimana ia yang agak sedikit memaksa sekaligus merayu sosok abang untuk ngapelin dia. Terlihat pada kalimat lirik “Bang apelin aku dong, malam Jumat pun oke lah”. Suatu luapan emosi yang timbul akibat tidak tahan ingin bertemu dan melampiaskan kerinduannya terhadap sosok abang. Ngapel adalah suatu tradisi dalam berpacaran, dimana seorang pria mendatangi rumah seorang wanita yang merupakan pasangannya untuk sekedar melampiaskan kerinduan. Bagi orang yang punya pacar dan telah pernah pacaran, maka akan selalu merasakan rindu ingin bertemu dan berduaan terus dengan pasangannya. Hal ini menunjukkan bahwa sosok aku dan sosok abang memiliki hubungan yang masih berada pada tahap pacaran. Sosok aku meminta pacarnya yaitu sosok abang ngapelin dia. Ini menunjukkan bahwa sudah semakin meningginya rasa rindu sosok aku dengan pacarnya, maka sosok aku semakin ingin cepat bertemu dengan kekasihnya sosok abang. Semakin mengebu- gebu rasa rindu dalam dirinya, maka sosok aku semakin tidak dapat mengontrol hubungan dirinya dengan pacarnya. Berdasarkan ungkapan dari sosok aku menunjukkan bahwa ia mengalami rasa rindu yang menggebu- gebu dan tidak Universitas Sumatera Utara dapat menahannya dan merasa harus melampiaskan rasa ingin bertemu dengan pacarnya tersebut. Bagi orang yang mepunyai pacar dan telah pernah pacaran, maka akan selalu merasakan rindu ingin bertemu dengan pacarnya. Orang yang merasa rindu akan ingin melampiaskan kerinduannya. Kalau rasa rindu tidak dapat dilampiaskan, maka pasti akan menjadi penyakit. Orang- orang biasanya mengatakan “penyakit mala rindu”. Penyakit seperti ini banyak dialami oleh para remaja terutama para remaja yang telah pacaran. Rasa rindu bisa diatasi jika mereka dapat saling bertemu atau berpacaran. Apabila pada suatu saat mengalami rasa rindu yang menggebu- gebu dan salah satu pihak tidak dapat menahannya dan merasa harus melampiaskan nafsu seksualnya, maka biasanya akan sangat mudah menuju putus cinta. Bahkan kalau kedua- duanya tidak bisa saling menahannya, maka perzinahan dapat terjadi. Kalau sampai terjadi pada perzinahan sedangkan di salah satu pihak belum siap, maka yang akan dialami dan dirasakan adalah menderita dan sakit hati yang berkepanjangan. Kalau tidak sampai pada tahap perzinahan, maka sangat mungkin akan mengalami rasa gelisah, rasa bersalah, depresi, dan trauma dalam kehidupannya. Sosok aku menawarkan pacarnya untuk mengunjunginya walaupun di malam Jumat ia pun tetap besedia. Terlihat pada kalimat lirik “Bang apelin aku dong, malam Jumat pun oke lah”. Malam Jumat adalah hari Kamis malam. Hari Kamis dengan waktu pada malam hari, saat matahari masih terbenam sampai matahari terbit atau dari pukul 18.00 sampai dengan pukul 06.00. Waktu kunjung pacar biasanya dilakukan pada malam Minggu, tetapi sosok aku bersedia apabila sosok abang mengunjunginya di malam Jumat. Menunjukkan bahwa harapannya yang sangat besar agar dapat bertemu dengan pacarnya. Sosok aku juga menyatakan bahwa mojok di malam Jumat ia tidak takut asal sosok abang selalu didekatnya. Terlihat pada kalimat lirik “Mojok di malam Jumat, aku tak takut asal abang selalu dekatku”. Mojok berasal dari kata pojok merupakan sudut; sisi- sisi suatu tempat. Pojokan juga menunjukkan suatu kondisi tempat yang gelap dan sepi, seperti di pojokan kelas, di pojokan rumah, di pojokan taman, di pojokan kantin, atau di pojokan perpustakaan. Sedangkan Universitas Sumatera Utara mojok adalah suatu tindakan untuk memilih berada pada keadaan yang jauh dari orang- orang atau tidak terlihat dari pandangan orang lain, juga menunjukkan kondisi sepi dari segala- galanya. Sosok aku dalam lirik lagu tersebut ingin mojok dengan pacarnya sosok abang, berarti dia ingin berdua- duaan di tempat sepi. Kondisi sepi dimana hanya ada sosok aku dan pacarnya bisa leluasa untuk bermesra- mesraan, tidak hanya ciuman, bahkan dapat melakukan lebih dari itu. Kadang di tempat umum orang pacaran merasa risih atau tidak nyaman karena tempatnya yang terlalu terbuka. Mereka memilih untuk mojok agar tidak ada orang yang melihat dan mengganggu mereka saat bermesra- mesraan. Ini akibat dari perasaan sebagai orang yang sedang kasmaraan, ingin berduaan terus dengan pasangannya. Tujuan masingmasing orang untuk memilih mojok dengan pacar bermacam- macam. Sosok aku dalam lirik lagu tersebut menyatakan keinginannya untuk pacaran dengan kekasihnya sosok abang di pojokan. Apabila orang yang pacaran lebih memilih mojok dengan kekasihnya sudah mengarah kepada pengertian yang negatif. Dimana hanya terdapat dua insan manusia perempuan dan laki- laki berada di tempat gelap dan sepi akan memunculkan hawa nafsu yang sangat memungkinkan untuk berbuat hal- hal yang mengarah kepada hubungan seksual. Pacaran yang sudah mengarah kepada kontak fisik, mulai dari berpegangan tangan, pelukan, ciuman, atau lebih dari itu. Disaat mojok seperti ini, pasangan kekasih tidak akan memikirkan hal- hal ke masa depan, tetapi telah dikuasai oleh hawa nafsu seksualnya, hanya memikirkan kenikmatan pada saat itu. Nafsu adalah sesuatu hal yang sulit untuk diajak kompromi dan juga susah untuk dikendalikan. Nafsu juga bisa memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, namun juga bisa menghancurkan siapa saja dalam sekejap dan akibatnya akan terasa sepanjang hayat. Keinginan sosok aku untuk mojok dengan pacarnya sangat memungkinkan mereka lebih dekat secara fisik di tempat sepi dan bermesra- mesraan merupakan nafsu sosok aku yang mengarah pada syahwat atau nafsu berahi. Seringkali nafsu berahi ini membawa bencana bagi kehidupan manusia bila nafsu tersebut mengarah kepada hubungan intim di luar nikah. Sosok aku memuja dan lebih mengutamakan nafsu syahwat atau nafsu berahi ini karena melakukan tindakan- Universitas Sumatera Utara tindakan yang mengarah kepada hubungan seksual saat mojok dengan pacarnya sosok abang. Sosok aku menyatakan walaupun mojok di malam Jumat dengan pacarnya ia tidak takut, sedangkan malam Jumat bukanlah waktu yang biasa digunakan untuk menemui sang pacar. Malam Jumat adalah malam yang disakralkan oleh sebagian orang yang masih berpegang teguh kepada adat istiadat dan keyakinankeyakinan tertentu. Mojok di malam Jumat bukanlah hal yang menakutkan bagi sosok aku asalkan dapat berduaan dengan sosok abang di tempat gelap dan sepi. Dengan mojok sosok aku dan sosok abang sangat memungkinkan mereka dekat secara fisik. Sosok aku juga mengungkapkan bahwa Jurig juga ingin pacaran seperti mereka. Terlihat pada kalimat lirik “Jurig juga ingin pacaran seperti kita”. Sosok aku menyebutkan hantu dengan kata “Jurig”. Jurig sendiri merupakan salah satu kata dari bahasa Sunda yang memiliki makna hantu. Ini menunjukkan bahwa lagu tersebut dilatarbelakangi oleh suku Sunda. Karena sosok aku pacaran dan mojok di malam Jumat, yaitu waktu pada malam hari sehingga sosok aku mengatakan bahwa Jurig juga ingin pacaran seperti sosok aku dan sosok abang. Pada malam hari adalah waktu dimana hantu- hantu biasanya berkeliaran. Sosok aku meminta agar sosok abang cepat- cepat menemuinya agar tidak didahului oleh setan gundul. Terlihat pada kalimat lirik “Bang cepet dong ke sini, jangan keduluan setan gundul”. Menunjukkan sosok aku sudah tidak sabar lagi menunggu sosok abang yaitu pacarnya agar datang menemuinya untuk pacaran di tempat sepi dan gelap. Dalam hal ini sosok aku digambarkan berperan aktif secara seksual. Menunjukkan bagaimana sosok aku agak sedikit memaksa sekaligus merayu pacarnya, suatu luapan emosi yang timbul akibat tidak tahan ingin pacaran dengan sang kekasih yaitu sosok abang. Menggambarkan dengan jelas, bagaimana sosok aku mengekspresikan keinginannya terhadap sosok abang yang dijadikannya untuk pemuas nafsunya. Apabila ia sendirian di malam hari, maka setan gundul akan mendekatinya. Sosok aku mengungkapkan bahwa mojok di malam Jumat adalah hal yang mengasyikkan. Terlihat pada kalimat lirik “Mojok di malam Jumat aduh asyiknya”. Kata aduh untuk menegaskan maksud tuturan atau memberikan Universitas Sumatera Utara tekanan pada kata yang bersangkutan. Sedangkan asyik mengandung arti berahi; cinta kasih; sangat suka. Dalam hal ini sosok aku menyatakan bahwa mojok di malam Jumat sesuatu yang memberikan kenikmatan. Sosok aku menyatakan perasaannya bahwa hasrat berahinya sudah mulai meningkat apabila dia dan pacarnya melakukan aktivitas seksual sewaktu mojok di malam Jumat. Ungkapan ini juga menggambarkan betapa ia sangat mengutamakan nafsu seksualnya saat pacaran, dengan melakukannya di tempat- tempat sepi agar tidak ada yang mengganggunya saat besmesra- mesraan dengan pacarnya sosok abang. Berduaan dengan kekasih memang mengasyikan. Segalanya akan terasa begitu indah. Tidak heran bila akhirnya banyak pasangan yang memilih untuk berduaan di tempat- tempat sepi seperti di pojokan kelas, di pojokan kantin, di pojokan perpustakaan, di pojokan rumah, atau di pojokan taman. Berduaan di tempat sepi seringkali menciptakan suasana yang begitu syahdu sehingga dapat mengakibatkan pikiran- pikiran negatif. Tidak heran jika kemudian banyak berita yang mengabarkan kejadian negatif antara sepasang kekasih di tempat sepi. Seperti kasus berikut ini: Sering Berduaan di Tempat Sepi, Gadis Desa Hamil Berita2.com (Jombang) Karena telah menghamili gadis desa, Didik Angga Arianto (22), warga desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Jombang dilaporkan ke Polres setempat. Dia dilaporkan Rukanah (40), warga dusun Kabunan, Desa Kebontemu, Kecamatan Peterongan. Rukanah tidak terima, karena anak gadisnya, sebut saja Nita (16), hamil 6 bulan. Ironisnya, Didik yang notabene pacar Nita, enggan bertanggung jawab. “Karena tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya itu, Didik akhirnya dilaporkan oleh Rukanah. Kasus ini sudah ditangani Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Polres Jombang”, kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Jombang, AKP Heru Nurhidayat, Minggu (18/7/2010). Didik dan Nita adalah pasangan yang sedang dimabuk asmara. Layaknya pasangan yang sedang pacaran, mereka kerap berduaan di tempat sepi. Baik itu saat di rumah atau di luar rumah. Candu asmara membuat muda- mudi ini lupa diri. Pada 29 Januari 2010 sekitar pukul 19.00, kondisi rumah Nita tengah sepi. Saat itu, kedua orangtuanya tengah bepergian untuk suatu keperluan. Melihat adanya kesempatan tersebut dan sempat melihat paha mulus saat rok sedikit tersingkap, timbul nafsu terlapor terhadap korban. Universitas Sumatera Utara Malam itu Didik dan Nita melakukan perbuatan yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Hubungan suami istri antara dua pasangan ini terjadi dengan mengatasnamakan cinta. Sebelum meninggalkan rumah korban, Didik berjanji siap menikahi jika Nita mengalami kehamilan. Usai kejadian itu mereka kerap melakukan hal serupa. Beberapa waktu kemudian, warga desa Kebutemu ini kaget karena tamu bulanannya tidak datang. Saat diperiksa, diketahui dirinya tengah hamil. Mendapati hal tersebut, Nita berusaha menagih janji terlapor. Namun, setiap kali bertemu, terlapor hanya janji- janji saja dengan kata- kata manisnya. Ketakutan gadis berambut sebahu ini semakin bertambah, ketika perutnya semakin membesar. Akhirnya, orangtuanya curiga melihat perubahan bentuk tubuh Nita. Ketika didesak, ia mengakui telah dihamili terlapor. Bak disambar petir di siang bolong, orangtua Nita seketika tak terima dan ingin meminta pertanggungjawaban terlapor. Namun usaha mereka menemui jalan buntu. Pasalnya, terlapor tak menunjukkan itikad baik dan berusaha menghindar. “Orangtua Nita akhirnya melaporkannya ke polisi. Kami tengah meminta keterangan sejumlah saksi. Untuk sementara ini, kami sudah meminta keterangan pelapor”, jelas Heru (http://www.berita2.com/daerah/jawa-timur/6256-sering-berduaandi-tempat-sepi-gadis-desa-hamil-html). Lebih sering daripada tidak, dalam berkencan dan pacaran apalagi di pojokan menyangkut sentuhan fisik tertentu seperti berpegangan tangan, berciuman, sentuhan pipi, merangkul secara penuh, merangkul bahu dan punggung atau lebih dari itu. Mula- mula, hanya dengan menyentuh tangan orang lain mungkin sangat menyenangkan, membuat muka seseorang menjadi merah. Tetapi setelah beberapa waktu sensasi tersebut dapat hilang dan mungkin tidak lagi memiliki pengaruh yang sama. Sesuatu yang lebih, seperti berciuman, mungkin jadi menarik. Tetapi, kemudian berciuman juga mungkin jadi biasa bahkan sedikit membosankan hingga akhirnya melakukan hubungan seksual. Karena di mana nafsu seks muncul, semua itu merupakan bagian dari rangkaian kejadian yang membawa kepada tujuan tertentu. Tahap pertama adalah sentuhan pertama, lalu berciuman, saling menyentuh bagian- bagian yang sensitif dari tubuh pasangannya. Tahap terakhir adalah hubungan seksual, yang seharusnya hanya dilakukan bagi orang- orang yang sudah terikat pernikahan yang sah. Universitas Sumatera Utara Fase genital pada masa remaja ini diwujudkan melalui tiga hal, yaitu: a. Melalui rangsangan dari luar (rabaan, sentuhan) terhadap daerah- daerah “erogen” (bagian tubuh yang dapat menimbulkan gairah seksual). b. Melalui ketegangan dari dalam dan kebutuhan faali untuk menyalurkan sekresi seksual (sperma). c. Melalui kegairahan psikologik yang disebabkan oleh karena hal yang pertama tadi dan menyebabkan terjadinya dorongan untuk beronani. Hal yang terakhir ini sesuai dengan laporan Kinsey tentang perilaku seksual di Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa tingkah laku masturbasi (onani) paling sering terjadi pada anak- anak berusia 13- 15 tahun (Sarwono, 1997: 31). Secara naluri, sentuhan fisik memang membuat daya tarik dari minat seks bertambah kuat. Jadi karena menyadari akibat- akibat yang bisa ditimbulkan, beberapa orang mungkin lebih suka membatasi diri dengan sangat ketat berkenaan sentuhan fisik selama pacaran. Sentuhan juga bisa menjadi alternatif cara menyatakan simpati, upaya menularkan semangat positif, serta ajakan untuk melakukan sesuatu. Kian dekat intensitas hubungan, maka semakin bervariasi pula bahasa yang bisa disampaikan lewat sentuhan. Sosok aku juga mengungkapkan bahwa cumbulah aku sesukamu. Terlihat pada kalimat lirik “Cumbulah aku sesukamu, abangku sayang”. Ia yang menawarkan dirinya untuk dicumbu oleh sosok abang dengan sesuka hatinya pada saat mojok. Sosok aku kelihatan pasrah untuk dicumbu oleh sosok abang. Ini menunjukkan bahwa sosok aku sebagai wanita memposisikan dirinya sebagai objek bagi kaum laki- laki. Sentuhan yang dilakukan didominasi oleh sosok kau, berarti sosok kau yang berkuasa akan tubuh sosok aku. Makna “cumbu” dalam hal ini adalah bujukan dan sebagainya dengan menggunakan kata- kata manis; melakukan gerakan menyentuh yang membuat berahi seseorang menjadi bergejolak. Sentuhan fisik dapat berupa berpegangan tangan, berciuman, sentuhan pipi, merangkul secara penuh, merangkul bahu dan punggung atau lebih dari itu. Sentuhan fisik bagi sebagian orang diartikan sebagai ungkapan kasih sayang. Namun, bagi masyarakat yang menganut budaya ketimuran, sentuhan fisik seperti ini pada tahap pacaran justru tidak diperkenankan. Sebab hal ini Universitas Sumatera Utara menyalahi norma yang ada. Prinsip ungkapan kasih sayang tidak harus selalu dengan sentuhan fisik seperti itu. Dalam berpacaran harus mengetahui batas- batas yang telah ditentukan oleh norma dan budaya yang telah ada di masyarakat. Caranya adalah dengan mengendalikan nafsu syahwat agar tidak terjadi hal- hal yang tidak diinginkan yang hanya akan membawa kehidupan kepada kehinaan. Kode Simbolik Kode simbolik yang didapat dalam lirik lagu “Mojok di Malam Jumat” yaitu pada kata “apelin”. Apelin berasal dari kata ngapel. Istilah ngapel memiliki makna pacar (umumnya cowok) berkunjung ke rumah atau berkencan dengan pacarnya (ceweknya). Momen istimewa bagi sepasang kekasih untuk saling melepas rindu. Hari dimana pria melakukan ngapel dapat dilakukan hari apa saja, namun pada umumnya ngapel sering dilakukan pada malam Minggu. Kata apelin berarti seseorang meminta pacarnya untuk ngapel ke tempatnya. Istilah ngapel adalah cara hubungan pacaran tradisional dimana pria mendatangi rumah wanita yang merupakan pasangannya. Hari dimana pria melakukan ngapel dapat dilakukan hari apa saja, namun pada umumnya ngapel sering dilakukan pada malam Minggu. Ngapel menunjukkan bahwa hubungan pacaran direstui oleh kedua orangtua baik dari pihak pria maupun pihak wanita. Namun, istilah ngapel pada jaman sekarang mulai berbeda. Dimana seorang pria mendatangi rumah wanita yang merupakan pasangannya untuk mengajaknya berduaan yang dilakukan di luar rumah dan tidak ada pengawasan dari orang tua, istilahnya adalah kencan. Tempat berkencan umumnya di rumah atau ke tempattempat hiburan seperti di bioskop, taman, diskotik dan lain- lain. Pacaran seperti ini memungkinkan pasangan untuk lebih dekat secara fisik. Ngapel yang dimaksud dalam lirik lagu tersebut juga menyatakan bahwa dimana sosok abang mengunjungi pacarnya yaitu sosok aku. Hal seperti ini dianggap momen yang istimewa bagi orang yang pacaran untuk dapat saling melepas rasa rindu. Pacar (umumnya cowok) berkunjung ke rumah atau berkencan dengan pacarnya (ceweknya) diistilah dengan ngapel. Ini ada ceritanya, terkait dengan Universitas Sumatera Utara kisah diusirnya Adam dan Hawa dari surga, setelah mereka memakan buah terlarang atas bujukan setan yang menyamar sebagai ular. Buah terlarang tersebut dilambangkan dengan buah apel dengan penjabaran: apel merupakan buah terlezat. Kisahnya, apel tersebut membuat pemakannya mengenal dan tahu halhal yang baik maupun yang buruk. Padahal, Tuhan hanya menginginkan manusia mengenal atau tahu hal- hal yang baik saja. Sebab, jika manusia mengenal dan tahu hal- hal yang buruk akan melakukan tindakan serupa itu dan berarti menjadi pendosa. Meskipun buah terlarang dalam kitab Kejadian tidak diidentifikasi, namun banyak penganut nasrani percaya bahwa buah yang digunakan Hawa untuk membujuk Adam agar mencobanya adalah buah apel. Apel menjadi lambang pengetahuan, hidup abadi, godaan, kejatuhan manusia karena dosa, dan dosa itu sendiri. Dalam bahasa latin, kata untuk “apel” dan “kejahatan” adalah serupa dalam bentuk tunggal (malus: apel, malum: jahat), dan identik dalam bentuk jamak (mala), dan mungkin ini juga yang mempengaruhi gagasan apel sebagai buah terlarang dalam Alkitab. Mitos lainnya di Yunani kuno apel adalah buah suci dewi Aprodhite, maka tindakan melempar apel ke arah seseorang adalah simbol pernyataan cinta kepada kepadanya; begitu juga, orang yang menyambut apel merupakan lambang penerimaan cinta (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Apel). Sosok aku dalam lirik lagu tersebut mengatakan “Bang apelin aku dong”. Suatu ungkapan sosok aku yang ingin agar pacarnya yaitu sosok abang untuk berkunjung ke rumahnya dan mereka akan berkencan. Kalau orang pacaran memang ingin berduaan terus dengan pasangannya. Dalam hal ini sosok aku digambarkan berperan aktif secara seksual. Menunjukkan bagaimana sosok aku agak sedikit memaksa sekaligus merayu pacarnya, suatu luapan emosi yang timbul akibat tidak tahan ingin pacaran dengan sang kekasih yaitu sosok abang. Ungkapan- ungkapan sosok aku yang penuh rayuan untuk berduaan dengan pacar. Ajakan yang dapat mengarah kepada hubungan seksual. Ungkapanungkapan seperti ini mengakibatkan timbulnya hasrat berahi atau nafsu seksual pembacanya. Kode simbolik berikutnya yang didapat dalam lirik lagu tersebut yaitu “malam Jumat”. Malam Jumat adalah malam yang disakralkan oleh sebagian Universitas Sumatera Utara orang yang masih berpegang teguh kepada adat istiadat dan keyakinan- keyakinan tertentu bagi masyarakat Indonesia. Berbagai mitos dan keyakinan marak tersebar sehingga menghasilkan bermacam tradisi yang biasa dihadirkan pada malam Jumat. Berbagai acara yang digelar di malam Jumat sarat akan muatan misteri atau mistik. Inilah salah satu penyebab kenapa malam Jumat dianggap malam yang penuh kengerian dan penuh misteri. Malam Jumat dalam tradisi Islam adalah dimulai dari Kamis pagi sampai subuh hari Jumat atau hari Kamis siang, Kamis sore, dan Kamis malam. Hari Jumat atau malam Jumat adalah hari raya pekanan bagi kaum muslimin. Hari Jumat diagungkan dan diutamakan dari hari- hari lainnya, karena ia merupakan hari raya mingguan umat Islam, hari terbaik yang disinari matahari. Kebiasaan yang seharusnya dilakukan seorang muslim setiap Jumat. Pertama, memperbanyak sholawat nabi. Kedua, mandi Jumat. Mandi Jumat ini diwajibkan bagi setiap muslim pria yang telah baligh, tetapi tidak wajib bagi anak- anak, wanita, orang sakit, dan musafir. Ketiga, menggunakan minyak wangi. Keempat, bersegera untuk berangkat ke masjid. Kelima, sholat sunnah ketika menunggu iman atau khatib. Keenam, tidak duduk dengan memeluk lutut ketika khatib berkhotbah. Ketujuh, sholat sunnah setelah sholat Jumat. Kedelapan, membaca surat Al Kahfi (http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/adab-pada-harijumat-sesuai-sunnah-nabi.html). Sosok aku juga seharusnya mengetahui bahwa hari Jumat atau malam Jumat itu adalah waktu yang baik dalam beramal untuk menambah pahala. Tetapi sosok aku lebih memilih untuk mojok dengan pacarnya sosok abang. Menunjukkan bahwa sosok aku yang lebih mengutamakan kenikmatankenikmatan duniawi daripada surgawi. Nafsu berahinya sulit untuk dikendalikan sehingga di malam yang seharusnya untuk lebih dekat dengan sang pencipta, digunakan dengan tidak bermanfaat yang dapat menjerumuskannya ke hal- hal yang negatif. Sosok aku dalam lirik lagu tersebut juga menganggap bahwa malam Jumat adalah malam yang penuh kengerian. Malam dimana hantu akan berkeliaran ingin mengganggu manusia agar berbuat hal- hal yang tidak baik. Sosok aku dalam lirik lagu tersebut menyatakan bahwa pada saat ia dan pacarnya mojok, Jurig juga ingin Universitas Sumatera Utara pacaran seperti mereka dan bisa saja akan didekati setan gundul. Terlihat dari kalimat lirik “Jurig juga ingin pacaran seperti kita”; “Bang cepet dong ke sini, jangan keduluan setan gundul”. Kata jurig merupakan salah satu kata dari bahasa Sunda yang memiliki arti hantu atau setan. Hantu atau setan biasanya suka merayu manusia untuk melakukan hal- hal yang tidak baik. Kata jurig atau setan merupakan simbol keburukan yang menandakan bahwa adanya roh- roh jahat yang ingin mengganggu keimanan seseorang. Sependapat dengan hal itu, orang Sunda mengatakan bahwa setan mulai datang pada saat pergantian waktu antara sore dan malam, tepatnya saat menjelang sholat Maghrib. Jika dihubungkan dengan katakata di malam Jumat, maka simbol jurig atau setan merupakan sebuah petunjuk bahwa adanya roh- roh jahat dalam kehidupan manusia yang akan mengganggu. Sehingga pencipta lagu dalam lagunya tersebut ingin mengatakan bahwa mojok berdua dengan kekasih sangat memungkinkan melakukan hal- hal yang buruk. Hantu yang dimaksud dalam lagu ini adalah setan gundul. Terlihat dari kalimat “Bang cepat dong ke sini, jangan keduluan setan gundul”. Gundul memiliki makna kepala yang tidak memiliki rambut atau mahkota atau dengan kata lain dalam bahasa Indonesia adalah botak. Kepala merupakan bagian anggota tubuh manusia yang berada paling atas, sehingga makna kata dari gundul tersebut adalah simbol sesuatu yang sangat berharga telah kehilangan kehormatan atau kekuasaan. Kehormatan disimbolkan dengan rambut atau mahkota karena mahkota tersebut berada di atas kepala. Masyarakat Indonesia kebetulan masih banyak yang percaya pada hal- hal gaib dan irasional. Hal ini ditunjang pula oleh kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia yang masih suka ke dukun, kuburan, atau paranormal untuk meminta nasehat atau petunjuk. Kita dapat melihat keadaan sekarang, siaran televisi menampilkan segala macam sihir, kuntilanak, jelangkung, pocong, genderuwo, dan aksi perdukunan. Belum lagi ditambah film- film bioskop yang menampilkan segala macam judul yang berkaitan dengan setan dan makhluk halus, dan filmfilm tersebut dibuat atas dasar adanya permintaan pasar terhadap jenis film misteri horor. Universitas Sumatera Utara Untuk masyarakat Indonesia, kebiasaan menjelajahi dunia mistik dilakukan bukan sebagai salah satu hiburan semata namun juga sebuah pembenaran budaya, kepercayaan, atau bahkan cara bersikap dan berperilaku. Karena itu, hal- hal yang berkaitan dengan mistik begitu berkesan, menarik, bahkan menjadi sumber inspirasi seseorang dalam hubungannya dengan orang lain dan sebagainya. Orang Indonesia gemar sekali mengarang mitos- mitos dan percaya pada mistik seolah- olah dengan itu manusia Indonesia memperoleh perisai untuk menolak segala macam bahaya dan ancaman. Mengenai mitos dan mistik ini sebenarnya bukan monopoli manusia Indonesia, melainkan merupakan sifat hakiki dari seluruh insan di dunia (Lubis, 2011: 85). Dari pandangan psikologi, kebutuhan akan mitos dan mistik memang merupakan kebutuhan yang hakiki manusiawi, yaitu untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman (security need). Selama manusia masih belum bisa mengatasi bahaya- bahaya dan ancaman- ancaman dengan kemampuan dan ilmu pengetahuannya sendiri, selama itu manusia masih akan mencari perlindungan kepada mitos dan mistik (Lubis, 2011: 85). Si pencipta lagu juga menunjukkan bahwa kepercayaannya pada hal- hal yang mistik. Dimana dia menganggap bahwa hantu atau setan gundul ada di sekelilingnya yang bisa saja akan mengganggu orang- orang saat mojok dengan pacarnya. Apalagi mojok di malam Jumat, malam yang juga dianggap penuh misteri dan kengerian. Hal ini menunjukkan bahwa si pencipta lagu dan penyanyi lagu tersebut yang mewakili masyarakat Indonesia yang percaya kepada hal- hal yang mistik. Kode simbolik berikutnya yang didapat dalam lirik lagu tersebut yaitu pada kata “mojok”. Mojok adalah berduaan dengan pacar di tempat sepi dan gelap sambil mencurahkan kasih sayang masing- masing. Bentuk ungkapan rasa cinta (kasih sayang) dalam hal ini dapat mengungkapkan rasa cinta (kasih sayang) dinyatakan dengan berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, dan bahkan melakukan hubungan seksual. Mojok di malam Jumat yang ingin dilakukan oleh sosok aku dan sosok abang menggambarkan pertemuan mereka adalah pertemuan erotis. Yaitu sampai Universitas Sumatera Utara melakukan cumbu. Cumbu memiliki makna kata- kata manis (bujukan dan sebagainya); menyentuh bagian- bagian yang sensitif dari tubuh pasangannya dan mengarah pada pembangkitan gairah seksual. Dalam hal ini seperti saling berpegangan tangan beralih ke pelukan dan ciuman. Sosok aku dan sosok abang dalam lirik lagu tersebut masih dalam tahap pacaran, terlihat dari bagian kalimat lirik dalam lagu “Jurig juga ingin pacaran seperti kita”. Sosok aku dalam lirik lagu tersebut menyatakan bahwa mojok adalah saat yang tepat untuk dapat bermesra- mesraan dengan pacar. Saling mencurahkan kasih sayang dengan melakukan kontak fisik. Terlihat pada kalimat lirik “Mojok di malam Jumat aduh asyiknya, cumbulah aku sesukamu”. Dalam hal ini sosok aku ingin dicumbu oleh pacarnya sosok abang. Dengan mojok sangat memungkinkan bagi mereka untuk lebih dekat secara fisik dan bebas melakukan hal- hal yang mengarah kepada hubungan seksual. Sosok aku memilih mojok agar tidak ada yang mengganggunya saat berdua- duaan dengan pacarnya. Apabila melakukannya di tempat ramai akan merasa risih. Sosok aku dalam lirik lagu tersebut berduaan dengan kekasihnya sosok abang di tempat sepi dan meminta pacarnya untuk mencumbunya sesuka hati. Mojok yang dilakukan sosok aku dan pacarnya sudah mengarah kepada hal- hal yang negatif, karena pada saat mojok itu mereka melakukan kontak fisik padahal hubungan sosok aku dan sosok abang masih pada tahap pacaran. Kontak fisik berupa berpegangan tangan, berciuman, sentuhan pipi, merangkul secara penuh, merangkul bahu dan punggung atau melakukan hubungan seksual. Mojok dalam istilah pacaran memang sangat memungkinkan untuk melakukan hal- hal yang tidak baik yang mengarah kepada hubungan seksual. Di saat mojok yaitu berduaan dengan pacar di tempat gelap atau sepi, hingga kedekatan secara fisik semakin intim. Saling bermesra- mesraan, tidak hanya ciuman, bahkan dapat melakukan lebih dari itu. Kadang di tempat umum orang pacaran merasa risih atau tidak nyaman karena tempatnya yang terlalu terbuka. Mereka memilih untuk mojok agar tidak ada orang yang melihat dan mengganggu mereka saat bermesra- mesraan. Banyak anak remaja dalam kehidupan sehari- hari bergaul secara bebas dengan lawan jenis tanpa batasan- batasan dan tidak dikawal oleh orangtua. Hal Universitas Sumatera Utara ini juga terjadi karena banyak fasilitas yang mendukung untuk melakukan aktivitas seksual seperti diskotik, tempat karaoke, bahkan warnet (warung internet) pun kadang disalahgunakan bagi mereka untuk melakukan aktivitas seksual. Berdua- duaan dengan pacar di tempat sepi dengan bermesra- mesraan atau mojok bagi sebagian orang adalah saat dimana dapat saling melepas rasa rindu dengan kekasih, saling mengungkapkan kasih sayang dengan melakukan kontak fisik. Namun, bagi masyarakat yang menganut budaya ketimuran, berduaduaan di tempat gelap dan bermesra- mesraan pada tahap pacaran justru tidak diperkenankan. Hal ini menyalahi norma atau kebudayaan yang berlaku di masyarakat. Menurut Daud Effendi Ali, dosen psikologi Universitas Islam Negeri Jakarta, pemikiran ini muncul karena konsep dari pacaran sendiri hanyalah bagian dari proses pengenalan karakteristik dan adaptasi dua pasang manusia (Bachtiar, 2004: 148). Sosok aku dalam lirik lagu tersebut berulang- ulang menyebutkan ajakan untuk mojok dengan pacarnya. Mojok dalam istilah pacaran mengarah ke hal- hal negatif, terlepas dari apa tujuannya dua insan lawan jenis yang sedang dimabuk asmara berada di tempat sepi. Dengan mojok ia dapat lebih dekat secara fisik dengar pacarnya, sosok abang juga akan dapat mencumbunya dengan sesuka hatinya tanpa khawatir ada orang lain yang melihat karena kondisi yang sepi. Ungkapan- ungkapan aktivitas seksual seperti yang ditampilkan dalam lirik lagu tersebut akan sangat memungkinkan pembaca atau pendengar lirik lagu tersebut untuk menafsirkan teks yang bersangkutan sehingga menimbulkan dampak erotis padanya. Kode simbolik berikutnya yang didapat dalam lirik lagu tersebut yaitu kata pacaran. Pacaran berasal dari kata pacar. Pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Pacar diartikan sebagai orang yang spesial dalam hati selain orangtua, keluarga, dan sahabat. Selain itu kata pacar berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno) artinya calon pengantin. Akhiran –an bermakna kegiatan. Jadi pacaran adalah aktivitas persiapan pernikahan. Pacaran adalah untuk saling mengenal satu sama lain, agar Universitas Sumatera Utara ketika ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan dapat menghadapi masalah secara bersama- sama. Sementara masyarakat sekarang cenderung memahami pacaran sebagai hubungan spesial dengan pasangan lawan jenis yang dipenuhi dengan jalinan rasa dan kontak fisik. Hubungan pacaran dianggap sebagai sarana dimana adanya persahabatan, mendapatkan dukungan emosional, kasih sayang, kesenangan dan eksplorasi seksual. Masa pacaran, dianggap sebagai masa pendekatan antarindividu dari kedua lawan jenis, yaitu ditandai dengan saling mengenali pribadi baik kekurangan dan kelebihan dari masing- masing individu. Bila berlanjut, masa pacaran dianggap sebagai masa persiapan individu untuk memasuki masa pertunangan atau masa pernikahan. Umumnya, menurut teori cinta dari Sternberg, ketertarikan antarremaja yang berpacaran tersebut dipengaruhi oleh dua aspek yakni intimasi dan passion. Yang dimaksud dengan intimasi adalah hubungan yang akrab, intim, menyatu, saling percaya dan saling menerima antara individu yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan aspek passion adalah terjadinya hubungan antarindividu tersebut, lebih dikarenakan oleh unsur- unsur biologis, ketertarikan fisik, atau dorongan seksual (Dariyo, 2004: 105). Pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Ada juga yang mengatakan bahwa pacaran adalah suatu proses untuk menjadi lebih dewasa, dapat berbagi pengalaman dan kasih sayang. Pada kenyataannya, penerapan proses tersebut masih sangat jauh dari tujuan yang sebenarnya. Manusia yang belum cukup umur dan masih jauh dari kesiapan memenuhi persyaratan menuju pernikahan telah dengan nyata membiasakan tradisi yang semestinya tidak mereka lakukan. Gaya pacaran jaman dulu, betapa sulit seorang pria menjumpai sang kekasih. Pasangan jaman dulu tidak diperkenankan saling berdekatan. Bahkan masa pacaran mereka, tidak terlalu lama. Kalau memang pasangan sudah serius, mereka harus langsung menikah. Pada jaman sekarang sangat berbeda, seorang pria malah dapat dengan leluasa melakukan kontak fisik terhadap si wanita walaupun hubungan masih dalam tahap pacaran. Ada banyak alasan yang menyebabkan para remaja akhirnya memutuskan Universitas Sumatera Utara untuk berpacaran. Tapi sering kali alasan- alasan itu adalah demi memuaskan kebutuhan pribadi. Seperti untuk kesenangan, pemenuhan kebutuhan akan kebersamaan, mengenal lebih jauh pasangannya, supaya ada yang memperhatikan, atau menguji cinta dan seks. Atau ada juga yang berpacaran hanya untuk menacari sosok yang pas dan bisa mengerti dirinya. Selain efek negatif tersebut, ada efek lain yang akan sangat berbahaya, yaitu kecenderungan untuk terjerumus ke dalam seks bebas. Kemungkinan ini akan semakin besar karena setiap orang akan dipengaruhi oleh gejolak hormon seksual. Keberadaan pacar bisa dijadikan kesempatan untuk menguji dan mengeksploitasi daya seksual seseorang. Tanpa disadari, keintiman fisik antara seseorang dengan pacarnya semakin meningkat dan meningkat. Padahal, belum tentu orang itu siap menghadapi konsekuensinya, seperti hamil di luar nikah atau ketularan penyakit kelamin (Bachtiar, 2004: 44). Pada kasus sosok aku dan sosok abang dalam lirik lagu tersebut mengarah kepada pacaran yang mengarah kepada hal yang negatif. Pacaran yang dilakukan lebih dikarenakan oleh unsur- unsur biologis, ketertarikan fisik, atau dorongan seksual. Pacarnya dianggap sebagai pemuas keinginan seksualnya, dimana sosok aku memilih untuk mojok dan dengan penuh rayu meminta agar pacarnya mencumbunya dengan sesuka hati pada saat mojok. Kode Gnomik Kalimat lirik “Jurig juga ingin pacaran seperti kita” dalam lagu “Mojok di Malam Jumat”, kata “Jurig” adalah bahasa Sunda yang artinya hantu. Hal ini menunjukkan beberapa kemungkinan bahwa lagu tersebut diciptakan di Sunda, si pencipta lagu suku Sunda, atau si pencipta lagu bertempat tinggal di Jawa Barat. Pada intinya lagu tersebut dilatarbelakangi oleh suku Sunda. Dalam budaya Sunda, hubungan laki- laki dan perempuan sangat ketat. Namun dalam lagu “Mojok di Malam Jumat”, keduanya ingin melanggar etika pergaulan tersebut. Hal ini terlihat dari kalimat “Bang apelin aku dong”, “Mojok di malam Jumat”, “Cumbulah aku sesukamu”. Kalimat- kalimat tersebut memperlihatkan sosok aku dan pacarnya sosok abang melanggar etika pergaulan. Mereka keluar bahkan pada malam hari. Universitas Sumatera Utara Masyarakat Sunda juga pada umumnya adalah masyarakat yang religius, dimana agama sebagai petunjuk hidup yang akan membimbing dan mengatur perilaku masyarakat, sehingga agama menjadi yang utama. Masyarakat Sunda mayoritas beragama Islam, agama yang sarat dengan aturan tatakrama dan budi pekerti dalam hal pergaulan sesama manusia. Oleh karena itu, wanita salehah senantiasa merujuk pada pola pergaulan yang diajarkan dalam agama Islam. Wanita harus meyakini bahwa dengan mengikuti aturan- aturan Islam mengenai etika bergaul, maka akan terhindar dari segala hal yang dapat mencemarkan dirinya. Islam mengatur interaksi antara laki- laki atau perempuan dalam pergaulan sehari- hari untuk menjaga fitrah manusia sebagai makhluk yang mulia. Norma- norma dalam pergaulan antara laki- laki atau perempuan yang ditanamkan dilandasi oleh ajaran Islam, diantaranya: 1. Menjaga Pandangan Islam mengharuskan umatnya, baik laki- laki maupun perempuan untuk menundukkan pandangan agar terhindar dari fitrah seskual melalui mata. Pandangan mata terhadap lawan jenis secara biologis dapat menimbulkan dorongan seksual dan dorongan seksual ini senantiasa untuk dipenuhi (ElBantanie, 2010: 106). 2. Tidak Berdua- duaan dengan Orang yang Bukan Mahram Yang dimaksud mahram adalah orang- orang (laki- laki atau perempuan) yang haram dinikahi selama- lamanya, seperti bapak dan ibu, kakak dan adik kandung, atau paman dan bibi. Sedangkan, pria atau wanita yang bukan mahram adalah setiap pria atau wanita yang boleh dinikahi secara mutlak sekalipun masih ada kekerabatan, seperti sepupu. Islam melarang laki- laki dan perempuan yang bukan mahram berduaduaan. Karena, dalam kondisi demikian, setanlah yang ketiga. Setan akan menggoda keduanya untuk melakukan hal- hal yang dilarang agama. Awalnya berpandang- pandangan, lalu berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, dan akhirnya melakukan suatu bentuk perzinahan (El-Bantanie, 2010: 109). Universitas Sumatera Utara 3. Menjauhi Melunakkan Ucapan Seorang wanita dilarang melunakkan ucapannya atau berkata- kata yang menggoda ketika berbicara selain kepada suaminya. Menjauhi pembicaraan atau cara berbicara yang dapat „membangkitkan hasrat‟ (http://dewandakwahjabar.com/etika-pergaulan-remaja-dalam-pandanganislam/). 4. Tidak Menyentuh Kaum Berlawanan Jenis Laki- laki dan perempuan yang bukan mahram tidak boleh bersentuhan secara fisik. Saling bersentuhan yang dilarang dalam Islam adalah sentuhan yang disengaja dan disertai nafsu berahi. Tetapi bersentuhan yang tidak disengaja tanpa disertai nafsu berahi tidaklah dilarang (http://dewandakwahjabar.com/etika-pergaulan-remaja-dalam-pandanganislam/). Sosok aku ingin melanggar etika pergaulan dalam agama Islam. Terlihat pada kalimat- kalimat lirik “Mojok di malam Jumat aku tak takut, asal abang s'lalu dekatku”; Mojok di malam Jumat aduh asyiknya, cumbulah aku sesukamu. Dia bahkan ingin berdua- duaan atau mojok dengan pacarnya sosok abang pada malam Jumat. Sosok aku juga berkata- kata yang menggoda. Terlihat pada kalimat- kalimat lirik “Bang kemana aja sih, aku sudah nggak tahan”; “Bang apelin aku dong”; “Mojok di malam Jumat aku tak takut, asal abang s'lalu dekatku”; “Bang cepet dong ke sini”; “Mojok di malam Jumat aduh asyiknya, cumbulah aku sesukamu”. Pada kasus hubungan sosok aku dan sosok abang tersebut masih dalam tahap pacaran, seorang perempuan juga seringkali yang mengajak laki- laki untuk melakukan hal- hal yang mengarah kepada hubungan seksual. Terlihat dari kalimat- kalimat “Bang apelin aku dong”, “Mojok di malam Jumat”, “Cumbulah aku sesukamu”. Dari kalimat- kalimat lirik tersebut, sosok aku yang berinisiatif untuk dapat berdua- duaan dengan sosok abang. Hampir keseluruhan lirik lagu ini menggambarkan tentang bagaimana hubungan intim yang dilakukan oleh sepasang kekasih. Lirik lagu yang menggunakan ungkapan- ungkapan hubungan percintaan. Ungkapan- ungkapan Universitas Sumatera Utara sosok aku tersebut dapat menimbulkan nafsu syahwat dalam pikiran setelah medengar atau membacanya yang kemudian memunculkan khayalan seksual. Pada lirik lagu ini, pencipta lagu tidak memposisikan dirinya sebagai subjek, karena yang menyanyikan lagu tersebut adalah seorang perempuan. Sedangkan, si pencipta lagu tersebut adalah seorang laki- laki. Dengan penggunaan kata aku sebagai pengganti sosok perempuan dalam lirik lagu tersebut digambarkan yang mengajak mojok seorang laki- laki yaitu sosok abang. Lirik lagu tersebut dapat menerjemahkan pandangan atau pemikiran si pencipta lagu. Si pencipta lagu adalah seorang pria, hal ini menunjukkan bahwa pria memandang rendah perempuan. Perempuan dianggap sebagai pemuas kebutuhan laki- laki dan mengesankan bahwa perempuan adalah murahan, penggoda, dan perempuan tidak lagi malu untuk menyatakan keinginannya untuk melakukan hubungan yang mengarah kepada hubungan seksual. Bagi pendengar perempuan, lirik lagu ini menggambarkan perasaan, keinginan, dan sikapnya. Lirik lagu ini menunjukkan penggambaran sosok perempuan yang berani menanggung resiko dari perbuatan yang dilakukan dan tidak malu untuk mengungkapkan keinginannya untuk melakukan hubungan seksual. Perempuan dalam lirik lagu tersebut yang digambarkan menggoda dan murahan. Lagu “Mojok di Malam Jumat” tersebut mencerminkan suatu realitas sosial yang terjadi mengalami pergeseran budaya dalam menjalin suatu hubungan sebagai sepasang kekasih atau pacaran. Perilaku- perilaku orang yang menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih terutama remaja semakin bebas untuk melakukan kontak fisik karena pengaruh dari budaya luar (westernisasi) dan kemajuan teknologi informasi yang tidak sesuai dengan norma- norma yang berlaku di masyarakat kita (norma agama, moral, kesopanan, dan hukum). Setiap orang yang normal ingin menikmati kebahagiaan. Banyak orang menganggap pacaran sebagai suatu cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Mereka seringkali menghabiskan waktu bersama lawan jenis tanpa dikawal. Hal ini mengisyaratkan telah terjadi pergeseran pola pikir tentang pergaulan, yang semakin cenderung mengarah pada pergaulan bebas. Banyak remaja yang pacaran tidak berpikir secara serius untuk apa ia Universitas Sumatera Utara pacaran. Di kebanyakan tempat dimana pacaran atau berkencan dianggap hal yang biasa, hal itu dipandang sebagai hanya suatu bentuk hiburan saja, suatu cara untuk mendapatkan kenikmatan. Dan beberapa orang, yang tidak ingin dipandang “aneh”, pacaran karena teman sebaya mereka melakukannya. Di masa pacaran, sentuhan adalah sinyal bahwa dua orang yang bergandengan tangan merupakan sepasang kekasih. Bagi pasangan baru, sentuhan sangatlah berarti. Pada hubungan yang berlangsung lama, hal yang sama bisa berlaku juga. Cinta pasangan sering diukur melalui sentuhannya. Masih adakah cinta itu atau sudah lenyap. Sebuah hubungan dikatakan pacaran jika telah menjalin hubungan cinta kasih yang ditandai dengan aktivitas- aktivitas seksual atau percumbuan. Tradisi seperti ini dipraktikkan oleh orang- orang yang tidak memahami makna kehormatan diri perempuan, tradisi seperti ini dipengaruhi oleh media massa yang menyebarkan kebiasaan yang tidak memuliakan kaum perempuan. Sampai sekarang, tradisi berpacaran yang telah nyata melanggar norma yang berlaku di Indonesia (norma hukum, norma agama, maupun norma sosial) masih terjadi dan dilakukan secara turun- temurun dari generasi ke generasi yang tidak memiliki pengetahuan menjaga kehormatan dan harga diri yang semestinya mereka jaga dan pelihara. Hubungan antara pria dan wanita yang selama ini diyakini oleh bangsa ini adalah menganut adat ketimuran dan tidak menganut pola pergaulan bebas. Gaya pacaran remaja sekarang ini lebih mengarah kepada pergaulan bebas (free sex). Arus globalisasi dan kemajuan teknologi telah membuat budaya barat memiliki andil dalam mempengaruhi budaya generasi muda saat ini. Dalam lirik lagu yang populer yang beredar di masyarakat, mengisyaratkan telah terjadi pergeseran pola pikir tentang pergaulan, yang semakin cenderung pada pergaulan bebas. Beberapa kasus kenakalan remaja yang sering ditangani Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) diantaranya berduaan (pria dan wanita) di tempat gelap saat malam hari, mengonsumsi minuman beralkohol, mengisap lem, berkelahi dan pelajar bolos sekolah. Kepala seksi penertiban dan penyidikan (Tibdik) Satpol PP Tarakan, Mezak JB S. H menyatakan bahwa telah mengamankan remaja tersebut pada saat patroli malam dengan menyisir tempat- tempat yang dianggap rawan. Universitas Sumatera Utara Hal ini dilakukan karena mendapat laporan dari warga sekitar yang mulai merasa resah. Banyak laporan yang disampaikan oleh masyarakat, seperti anak- anak menggunakan narkoba, anak- anak yang pacaran, atau membuat keributan di malam hari. Bahkan ada yang mengonsumsi minuman beralkohol. Namun demikian, dari sekian perilaku kenakalan remaja yang paling banyak terjadi adalah kasus berduaan di tempat gelap atau berpacaran, yang kebanyakan pelakunya adalah anak- anak remaja yang masih duduk di bangku sekolah (http://www.radartarakan.co.id/index.php/kategori/detail/Utama/46598). Banyak anak remaja dalam kehidupan sehari- hari bergaul secara bebas dengan lawan jenis tanpa batasan- batasan dan tidak dikawal oleh orangtua. Hal ini juga terjadi karena banyak fasilitas yang mendukung untuk melakukan aktivitas seksual seperti diskotik, tempat karaoke, bahkan warnet (warung internet) pun kadang disalahgunakan bagi mereka untuk melakukan aktivitas seksual. Berdua- duaan dengan pacar di tempat gelap dengan bermesra- mesraan atau mojok bagi sebagian orang adalah saat dimana dapat saling melepas rasa rindu dengan kekasih, saling mengungkapkan kasih sayang dengan melakukan kontak fisik. Namun, bagi masyarakat yang menganut budaya ketimuran, berduaduaan di tempat gelap dan bermesra- mesraan pada tahap pacaran justru tidak diperkenankan. Hal ini menyalahi norma atau kebudayaan yang berlaku di masyarakat. Menurut Daud Effendi Ali, dosen psikologi Universitas Islam Negeri Jakarta, pemikiran ini muncul karena konsep dari pacaran sendiri hanyalah bagian dari proses pengenalan karakteristik dan adaptasi dua pasang manusia (Bachtiar, 2004: 148). Perempuan adalah pihak yang pasif menerima dalam suatu hubungan seksual. Ini berkaitan dan dipengaruhi stereotipe tentang sifat khas perempuan. Contohnya, dalam kebanyakan lingkungan budaya, norma yang berlaku adalah dalam hubungan berpacaran prialah yang mengambil prakarsa untuk mulai pacaran, dengan menaruh minat kepada seorang wanita. Ketika berhubungan seksual, perempuan bukanlah pihak yang secara aktif mengambil inisiatif. Ia harus Universitas Sumatera Utara menunggu. Ini membuat kebanyakan perempuan tidak punya keberanian dan kemampuan untuk bernegoisasi dengan partnernya tentang waktu dan sifat aktivitas seksualnya. Pada lirik ini terlihat bahwa ajakan untuk melakukan hubungan seksual datang langsung dari pihak wanita. Hal ini menunjukkan bahwa wanita jaman sekarang lebih berani mengekspresikan dirinya. Sebagai seorang wanita, dianggap sudah tidak jamannya lagi menjadi pihak yang dirugikan dalam suatu hubungan. Seorang wanita dan pasangan adalah rekan yang sejajar. Adanya perlawanan atas stereotipe yang mensubordinasikan perempuan untuk berada di bawah laki- laki. Pihak perempuan tidak begitu peduli dengan kondisinya yang akan tidak perawan lagi apabila melakukan kontak fisik dengan pacar. Nilai tradisional semakin terlupakan, yaitu bahwa dalam perilaku seks yang paling utama adalah tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Nilai ini tercermin dalam bentuk keinginan untuk mempertahankan kegadisan seorang wanita sebelum menikah. Kegadisan pada wanita seringkali dilambangkan sebagai “mahkota” atau “harta yang paling berharga” atau “tanda kesucian” atau “tanda kesetiaan kepada suami”. Nilai kegadisan dihargai rendah nampaknya sudah menggejala di kalangan bangsa Indonesia. Wanita tidak lagi hanya dijadikan objek, namun juga sebagai pelaku aktif dan sangat menikmati pengalaman seksualnya. Dalam lagu ini pihak wanita yang mengajak pihak pria untuk melakukan aktivitas seksual untuk mendapatkan kepuasaan yang sama dengan pria. Kode Semik Kondisi lingkungan dan budaya yang semakin liberal dan cenderung semakin bebas akan membuat semakin sulit membuat batasan pacaran. Hal ini juga dipengaruhi oleh media massa yang turut membentuk pola pikir bagi kalangan remaja mengenai mana yang dapat dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan pada masa pacaran. Semakin banyak orang terutama remaja menuntut kebebasan untuk melakukan hubungan seks dengan siapa saja yang mereka inginkan dan dengan cara apapun yang mereka kehendaki. Sikap seperti itu membuat banyak orang menjadi bingung. Kaum yang melakukan hal seperti itu umumnya percaya bahwa, Universitas Sumatera Utara karena mereka secara fisik dapat melakukan hubungan seks, dan karena kata orang hal itu “sangat menyenangkan”, maka mereka bisa saja melakukannya. Dalam pacaran, sering terjadi kontak fisik saat berduaan, bahkan memilih di tempat sepi untuk berduaan. Seperti halnya yang telihat dalam lagu “Mojok di malam Jumat” ini menunjukkan bahwa sosok aku, seorang wanita yang menyanyikan lagu tersebut yang berinisiatif mengajak pacarnya berduaan di tempat sepi dan gelap untuk melakukan hubungan yang mengarah kepada seksual. Ini juga menunjukkan bahwa wanita tersebut tidak merasa keberatan untuk melakukan pergaulan bebas. Dikutip oleh Tempo dari Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Maria Ulfah Anshor, mulainya berbagai adegan yang mengarah kepada hubungan seksual ini tidak lepas dari aktivitas pacaran yang masih dini. Dari hasil survei kesehatan reproduksi remaja yang diselenggarakan BKKBN, remaja pacaran pertama kali rata- rata pada usia 12 tahun. Perilaku pacaran remaja, kata dia, juga semakin permisif. Sekitar 92 persen remaja saling berpegangan tangan saat pacaran, 82 persen berciuman, dan 63 persen saling menyentuh bagian- bagian yang sensitif dari tubuh pasangannya (petting). Perilaku- perilaku tersebut kemudian memicu remaja melakukan hubungan seksual. Di era yang modern, informasi dapat diperoleh dari berbagai media seperti radio, televisi, internet, buku bacaan yang membuat seseorang merasa memiliki kebebasan, tidak peduli terhadap peraturan yang ada di negaranya. Disamping itu juga kurangnya pendidikan formal dan pengawasan dari keluarga dapat menjadi penyebab perilaku tidak etis. Perilaku tidak etis dilakukan agar terkesan tidak ketinggalan jaman. Hal yang ditiru adalah budaya asing yang dianggap tidak membawa pengaruh buruk bagi mereka. Perilaku dalam menjalin hubungan yang masih pacaran seperti ini dianggap hal yang wajar untuk dilakukan padahal sudah melakukan suatu bentuk perzinahan. Perzinahan dapat mengakibatkan penyakit kelamin. Sang wanita dapat menjadi hamil, hal ini dapat memaksa pasangan remaja itu untuk menikah padahal mereka sebenarnya belum siap, dan hal itu sangat mempengaruhi kebahagiaan mereka di kemudian hari. Atau si pria itu mungkin menolak untuk menikahi si Universitas Sumatera Utara wanita, dan ia akan membesarkan anak seorang diri tanpa suami. Atau mungkin ia tergoda untuk melakukan aborsi, yang merupakan suatu bentuk pembunuhan. Kasus yang lebih sering terjadi adalah kasus- kasus aborsi. Biasanya mereka datang dengan kebimbangan yang sangat besar antara mau melakukan pengguguran kandungan atau tidak melakukannya. Resiko medis pengguguran kandungan pada wanita terutama remaja cukup tinggi, disamping perbuatan ini dinilai sebagai dosa. Akan tetapi membiarkan anak lahir tanpa persiapan yang matang, tanpa upacara perkawinan yang resmi juga merupakan aib bagi seluruh keluarga. Ditambah lagi pendidikan wanita remaja itu pasti akan terganggu (Sarwono, 1997: 173). Sebagian dari wanita remaja yang hamil tanpa rencana akhirnya memang melakukan aborsi, namun banyak diantaranya yang tidak berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli. Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah dokter Hartono Hadisaputro SpOG menyatakan di Indonesia diperkirakan terdapat 2.5 juta kasus aborsi setiap tahunnya. Itu artinya diperkirakan ada 6.944 s/d 7.000 wanita melakukan praktik aborsi dalam setiap harinya. Tingginya angka kasus aborsi tersebut sebagai pengaruh dari kasus kehamilan tidak diinginkan yang dialami oleh wanita, terutama kaum remaja yang terjerumus dalam pergaulan bebas tak terbatas, baik itu atas inisiatif sendiri maupun atas tekanan dari pasangannya (http://edukasi.kompasiana.com/2013/09/30/7000-wanita-melakukan-aborsisetiap-hari-597304.html). Salah satu akibat lain dari meningkatnya aktivitas seksual pada remaja adalah meningkatnya penyakit kelamin di kalangan remaja. Jenis penyakit kelamin yang terbanyak sebagaimana dilaporkan di RSUP Dr. Sarjito, Yogyakarta pada tahun 1985 dan 1986 adalah kencing nanah (71.9 %), keputihan (15.8 %), kandiloma akuminatum (6.2 %), tukak genital (3.9 %) dan sifilis (2.2 %) (Sarwono, 1997: 175). Salah satu penyakit kelamin yang sangat ditakuti oleh remaja sejak tahun 1986 adalah Aquired Immuno Deffierency Syndrome (AIDS). Penyakit ini diketahui disebabkan oleh virus- virus tertentu yang dikenal dengan nama Human Immuno deficiency Virus (HIV). Jika virus- virus tersebut menyerang manusia Universitas Sumatera Utara menyebabkan daya tahan tubuh terhadap serangan kuman penyakit menjadi hilang dan akibatnya penderita pelan- pelan akan meninggal karena badannya makin lama makin lemah (Sarwono, 1997: 177). 4. 1. 4. Analisis Leksia Lagu “Aw Aw” “Aw Aw” Bait 1 Tadi malam aw aw ku dibuai aw aw Sayang- sayangan aw aw mesra- mesraan aw aw Ku dimanja aw aw ku dicumbu aw aw Basah hatiku aw aw betapa indah aw aw Bait 2 Walau cinta satu jam saja tapi aku puas rasanya Rinduku mencairlah sudah Reff Oh melayang- layang Serasa terbang di atas awan sampai ke surga Dibuai cinta betapa indahnya Walaupun hanya satu jam saja oh oh Sumber: http://liriklagudangdut.com/melinda-aw-aw.html Pemilihan judul selalu disesuaikan dengan tema dan isi cerita. “Aw Aw” adalah suatu judul yang dapat menyiratkan sekilas gambaran isi pada lagu tersebut. “Aw aw” sendiri adalah suatu ungkapan ekspresi senang saat melakukan hubungan seksual. Kegiatan yang dilakukan pada suatu malam membangkitkan hasrat seksualnya dan perasaan senang sosok aku mengucapkan aw aw, oleh karenanya muncul ungkapan aw aw. Sosok aku yaitu seorang wanita penyanyi lagu dangdut itu sendiri sebagai penyampai pesan menceritakan pengalaman bercintanya pada satu malam. Walaupun hanya satu jam sosok aku mendapatkan kenikmatan, kepuasaan, dan rasa rindunya telah terpenuhi. Sosok aku dengan jelas menyatakan aktivitas Universitas Sumatera Utara seksual yang dilakukan dengan pasangannya dan bagaimana perasaannya ketika melakukan aktivitas seksual tersebut. Sosok aku telah terbuai hingga lupa akan hal lainnya karena aktivitas cinta yang dianggapnya indah. Lagu “Aw Aw” mencerminkan suatu realitas sosial yang terjadi mengalami pergeseran budaya dalam menjalin suatu hubungan sebagai sepasang kekasih. Perilaku- perilaku orang yang menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih hanya dengan waktu yang singkat dan semakin bebas untuk melakukan kontak fisik. 4. 1. 4. 1. Kode Pembacaan Kode Hermeneutika Kode hermeneutika yang didapat dalam lirik lagu “Aw Aw”, antara lain: “Mengapa tadi malam dibuai, sayang- sayangan, dan mesra- mesraan?” “Mengapa dimanja dan dicumbu?” “Mengapa sosok aku basah hatinya dan merasakan betapa indah saat dimanja dan dicumbu?” “Mengapa walau cinta satu jam saja tetapi sosok aku merasa puas?” “Mengapa rasa rindu sosok aku sudah mencair?” “Mengapa sosok aku merasa melayang- layang seperti terbang di atas awan sampai ke surga?” “Mengapa dibuai cinta betapa indahnya walaupun hanya satu jam saja?” Kode Proairetik Sosok aku menyatakan bagaimana ia telah diperlakukan saat bersama pasangannya pada suatu malam. Terlihat pada kalimat lirik “Tadi malam aw aw ku dibuai aw aw, sayang- sayangan aw aw mesra- mesraan aw aw”. Ini mengungkapkan suatu aktivitas seksual yang dilakukan sosok aku dan pasangannya pada malam hari. Bagaimana ia baru saja bermesra- bermesraan dengan pasangannya. Ia dibuat terbuai oleh pasangannya dan sangat menikmati hubungan seksual tersebut. Hal ini juga dipertegas dengan ungkapan “aw aw” yang berfungsi sebagai penekanan yang menunjukkan bahwa sosok aku mengagumi sensasi kenikmatan yang amat sangat terhadap apa yang sosok aku lakukan dengan pasangannya, suatu luapan emosi yang timbul akibat cinta yang terjadi dengan pasangannya tadi malam. Universitas Sumatera Utara Ia dan pasangannya melakukan kontak fisik dengan penuh mesra. Kontak fisik dalam hal ini dapat berupa seperti berpegangan tangan, berciuman, memeluk, dan bercumbu atau saling menyentuh beberapa bagian tubuh yang merangsang dan itu dilakukan oleh orang terdekatnya atau kekasihnya. Hal ini tentu bertentangan dengan budaya ketimuran. Pada diri wanita ada yang khas yaitu kebutuhan sangat besar akan kemesraan. Oleh karena itu sebagai permainan pendahuluan dituntut adanya pelukan mesra sebagai pendorong kegairahan seksual. Pada saat itu, yaitu pada kontak fisik tadi, wanita biasanya masih bersifat pasif (Kartono, 1992: 239). Untuk sebagian wanita, dicium, dipeluk, dan diperhatikan serta disayang- sayang dengan penuh kemesraan oleh pasangan akan membuatnya lupa akan yang lainnya. Sosok aku juga menyatakan bahwa ia dimanja, dicumbu hingga basah hatinya dan betapa indah. Terlihat pada kalimat lirik “Ku dimanja aw aw ku dicumbu aw aw, basah hatiku aw aw betapa indah aw aw”. Menunjukkan kemesraan sosok aku dengan pasangannya, dimana ia diperlakukan dengan penuh pengertian, terpenuhi segala keinginannya hingga merasakan kepuasan. Diakhir ungkapan selalu menggunakan kata seru aw aw. Kata seru aw aw merupakan suatu ungkapan sensasi kenikmatan yang amat sangat. Bagaimana sosok aku dimanja, dicumbu dan itu dilakukan oleh kekasihnya. Dalam hal ini sosok aku dimanja tidak hanya dengan rayuan melalui kata- kata tetapi juga melalui tindakan seperti dipeluk, dicium, diraba- raba bagian tubuh yang sensitif atau bahkan lebih dari itu. Ini tentu bukan budaya asli bangsa ini. Sosok aku kelihatan pasrah atas apa yang dilakukan pasanganya atau terbuai dengan bujuk rayu pasangannya, bagaimana mereka saling menunjukkan kasih sayang mereka dengan memenuhi segala keinginan hasrat berahinya. Ini menunjukkan bahwa sosok aku sebagai wanita memposisikan dirinya sebagai objek bagi kaum laki- laki, sebagai “pemuas” bagi kaum laki- laki. Sosok aku menyatakan bahwa walau cintanya satu jam saja tapi ia merasa puas dan rasa rindunya telah mencair. Terlihat pada kalimat lirik “Walau cinta satu jam saja tapi aku puas rasanya”. Dalam hal ini cinta yang terjadi adalah cinta sementara, cuma dilakukan dengan waktu satu jam saja. Satu jam saja berarti Universitas Sumatera Utara waktu yang cuma 60 menit. Pada umumnya, cinta sementara seperti ini hanya didasarkan atas nafsu yang mengarah kepada free sex (seks bebas) tujuannya untuk mencari kesenangan saja. Hubungan yang dijalin oleh sosok aku dan pasangannya dalam lagu tersebut menunjukkan suatu hubungan asmara yang hanya berdasarkan nafsu yang mengarah kepada free sex, hubungan yang tidak sah atau di luar nikah. Dimana mereka melakukan hubungan yang mengarah kepada free sex selama satu jam. Sosok aku mengetahui dan menyadari kalau hubungan percintaan mereka cuma satu jam. Terlihat pada kalimat lirik “Walau cinta satu jam saja tapi aku puas rasanya”. Walau cinta hanya satu jam, namun sosok aku tetap merasa bahagia dan mendapatkan kepuasan karena memang tujuan awalnya melakukan cinta sementara ini adalah hanya sekedar ingin mencari kenikmatan seksual dan tidak adanya komitmen. Sosok aku dalam lirik lagu tersebut juga menyatakan bahwa rasa rindunya sudah mencair walau cinta satu jam saja. Terlihat pada kalimat lirik “Rinduku mencairlah sudah”. Menunjukkan bahwa sosok aku mengetahui dan menyadari kalau hubungan percintaan mereka tidak untuk selama- lamanya hanya dilakukan satu jam saja, namun sosok aku tetap merasa bahagia karena ia mendapatkan kepuasan atau kenikmatan berhubungan dekat atau intim. Semakin mengebugebu rasa rindu dalam diri sosok aku dan akhirnya telah “mencair”, ini menyatakan bahwa sosok aku semakin tidak dapat mengontrol hubungan dirinya dengan pasangannya. Ia lemah tidak berdaya, menunjukkan kepasrahannya. Melakukan hubungan intim hanya satu jam dengan pasangannya untuk melampiaskan nafsu seksualnya. Kedua- duanya tidak bisa saling menahannya, maka perzinahan dapat terjadi. Sosok aku menyatakan perasaannya melayang- layang serasa terbang di atas awan sampai ke surga. Terlihat pada kalimat lirik “Oh melayang- layang, serasa terbang di atas awan sampai ke surga”. Kata “melayang” memiliki makna perasaan yang luar biasa, perasaan yang ringan yang sangat menyenangkan namun tidak menentu arahnya. Sedangkan “terbang” memiliki makna bergerak atau melayang- layang di udara. Rasanya melayang seperti orang yang berada dibawah pengaruh alkohol dan obat- obat terlarang sehingga adanya perasaan santai dan Universitas Sumatera Utara kehidupan lebih menyenangkan tetapi tidak dapat mengontrol dirinya. Orang yang dibawah pengaruh alkohol akan kehilangan kesadaran dirinya sehingga sulit mengendalikan pikiran, perasaan, dan tindakan. Dan juga mempengaruhi kewarasaan pikiran manusia. Saat seperti ini seseorang akan bertindak tanpa akal sehat, seperti melakukan tindakan pencabulan. Sosok aku dalam lagu tersebut juga menggambarkan perasaannya seperti melayang- layang serasa terbang di atas awan sampai ke surga. Menunjukkan perasaannya yang sangat menyenangkan, terbawa kepada suasana seperti di surga, kenikmatan yang tiada tara dan keindahan yang tiada bandingannya saat melakukan aktivitas seksual. Sosok aku menyatakan bahwa ia dibuai cinta dan merasakan betapa indahnya walaupun hanya satu jam saja. Terlihat pada kalimat lirik “Dibuai cinta betapa indahnya, walaupun hanya satu jam saja oh oh”. Sosok aku menyampaikan kebahagiaannya melakukan cinta yang singkat tersebut, hanya satu jam, dengan menganggapnya sebagai sesuatu hal yang indah. Dengan menggunakan kata seru “oh oh” di akhir kalimat, berfungsi sebagai penekanan yang menunjukkan bahwa sosok aku mengagumi keindahan terhadap apa yang mereka lakukan saat berduaan secara intim dengan pasangannya, suatu luapan emosi yang timbul akibat cinta satu jamnya. Sosok aku menyebutkan bahwa walau melakukan hubungan cinta satu jam saja, sosok aku dapat merasakan kenikmatan hingga dibuat melayang sampai lupa diri. Pada hubungan percintaan yang hanya satu jam, ada ketertarikan hasrat atau gairah untuk mencari, mendekati, dan memiliki sesuatu yang terasa nikmat. Itu dorongan dan harapan yang normal alamiah, setiap manusia memang tercipta demikian. Hal- hal yang terasa nikmat dan membangkitkan hasrat seperti penampilan yang indah atau seksi. Sesuatu yang dianggap permainan atau suatu tantangan. Hal ini akan membuat seseorang merasa “jatuh cinta”. Tapi bukan jatuh cinta dalam arti yang sebenarnya, itu hanya hasrat atau gairah karena terpancing kenikmataan tertentu. Universitas Sumatera Utara Kode Simbolik Sosok aku menyatakan bahwa tadi malam ia dibuai. Terlihat dari kalimat lirik “Tadi malam aw aw, ku dibuai aw aw”. Pada kalimat lirik tersebut terdapat kata “malam”. Malam menunjukkan suatu kondisi yang gelap. Gelap berarti tidak adanya cahaya, kelam. Pada umumnya gelap memiliki cap sesuatu yang negatif, gambaran sesuatu yang tidak diinginkan, sesuatu yang tidak senonoh. Kita dapat melihat pada istilah- istilah seperti uang gelap, pasar gelap, imigran gelap, penumpang gelap, toto gelap (togel), gelap mata, hubungan gelap, dan kekasih gelap. Sehingga penggunaan kata “malam” dalam hubungan cinta yang dibuat oleh si pencipta lagu menunjukkan pada hubungan yang mengarah kepada hal- hal negatif. Dimana seorang pria dan seorang wanita melakukan hubungan gelap, hubungan yang tidak sah antara pria dan wanita yang dilakukan atas dasar suka sama suka atau melakukan suatu bentuk perzinahan. Hal ini juga dipertegas dengan aktivitas seksual dan kenikmatan seksual yang ditampilkan dalam lirik lagu tersebut yakni “Ku dibuai aw aw”; “Sayang- sayangan aw aw mesramesraan aw aw”; “Ku dimanja aw aw ku dicumbu aw aw”. Pengulangan penggunaan kata seru aw aw di setiap akhir kalimat menunjukkan ungkapan emosi sensasi kenikmatan yang amat sangat. Suatu ungkapan menegaskan ekspresi senang atau kenikmatan yang dirasakan saat melakukan aktivitas seksual. Aw aw juga dapat diartikan sebagai kata seru yang digunakan sebagai ekspresi sedang kesakitan. Selain itu aw aw juga dapat sebagai ekspresi rasa menyesal atau kasihan pada orang lain. Ungkapan makna aw aw dapat memberikan makna yang berlainan, bergantung pada bagaimana cara orang tersebut mengucapkannya, apakah dengan suara yang keras, datar, pilu, lembut, atau berdesah. Biasanya disebut dengan parabahasa. Parabahasa atau vokalika (vocalics), merujuk pada aspek- aspek suara selain ucapan yang dapat dipahami, misalnya kecepatan berbicara, nada (tinggi atau rendahnya), intesitas (volume) suara, intonasi, kualitas vokal (kejelasan), warna suara, dialek, suara serak, suara sengau, suara terputus- putus, suara yang gemetar, suitan, siualan, tawa, erangan, tangisan, gerutuan, desahan, dan sebagainya. Setiap karakteristik suara ini mengkomunikasikan emosi dan pikiran Universitas Sumatera Utara kita. Suara yang terengah- engah menandakan kelemahan, sedangkan ucapan yang terlalu cepat menandakan ketegangan, kemarahan, atau ketakutan (Mulyana, 2007: 387). Sosok aku dalam lirik lagu tersebut menggunakan ucapan aw aw di setiap akhir kalimat untuk mempertegas pernyataannya akan kenikmatan dan kebahagiaan yang dia rasakan saat melakukan aktivitas seksual. Dalam hal ini menunjukkan sosok aku sebagai wanita tidak keberatan untuk melakukan aktivitas seksual, tidak merasa dirugikan karena dalam lirik tersebut terlihat kebahagiaan sosok aku dengan dipertegas dengan ucapan aw aw. Ungkapan aw aw sosok aku dalam lirik lagu tersebut terlalu sugestif, menunjukkan ungkapan perasaan kenikmatan- kenikmatan saat melakukan ativitas seksual. Orang yang mendengar ucapan- ucapan sosok aku seperti itu akan membayangkan kemesraan saat bercinta, hingga membangkitkan gairah seksual dan fantasi berahi. Sosok aku juga menyatakan kalau hatinya basah saat dimanja dan dicumbu. Terlihat dari kalimat lirik “Ku dimanja aw aw ku dicumbu aw aw, basah hatiku aw aw betapa indah aw aw”. Pada kalimat lirik tersebut terdapat kata- kata “basah hatiku”. Basah memiliki makna mengandung air. Orang akan basah apabila terkena air, baik itu karena kehujanan, mandi, atau tenggelam. Itu artinya bahwa sosok aku “terlanjur tenggelam”. Sosok aku “tenggelam” dalam aktivitas seksual, sehingga permainan harus dilanjutkan sampai habis- habisan selama satu jam. Pada lirik lagu tersebut, sosok aku pada awalnya dibuai, disayang- sayang, mesra- mesraan, dimanja, dan dicumbu. Akan tetapi, tanpa disadari oleh sosok aku bahwa hasrat bercintanya yang semakin tidak tertahankan. Akhirnya, sosok aku tidak mampu mengekang dirinya. Ia tidak sadar bahwa telah menyerahkan mahkota kehormatannya. Kode simbolik berikutnya yang didapat dalam lirik lagu tersebut yaitu hati. Hati merupakan alat organ badan yang berwarna kemerah- merahan di bagian atas sisi kanan rongga perut, kebanyakan di belakang sangkar tulang rusuk. Fungsinya untuk menghasilkan dan mengeluarkan empedu ke dalam usus dimana empedu membantu pencernaan lemak makanan, membantu membersihkan darah Universitas Sumatera Utara dengan merubah kimia- kimia yang secara potensial membahayakan ke dalam kimia- kimia yang tidak membahayakan, mengeluarkan kimia- kimia dari darah, menghasilkan banyak senyawa- senyawa yang penting, terutama protein- protein yang perlu untuk kesehatan yang baik. Di Indonesia dimana simbol cinta disebut hati. Hati lebih mengarah kepada perasaan. Hati adalah sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat atau pusat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian- pengertian atau perasaan- perasaan. Hati yang dimaksud dalam lirik lagu tersebut lebih kepada perasaan batin dari sosok aku. Perasaan- perasaan saat melakukan aktivitas seksual. Dalam hal ini sosok aku digambarkan bahwa ia merasa bahagia dan tidak ada rasa menyesal. Terlihat dari setiap ungkapannya dalam setiap lirik lagu tersebut bahwa ia bahagia dan tidak merasa dirugikan. Kode simbolik berikutnya yang didapat dalam lirik lagu tersebut yaitu pada kata “cinta”. Seorang psikolog asal Amerika Serikat, Ashley Montagu, memandang cinta sebagai sebuah perasaan memerhatikan, menyayangi, dan menyukai yang mendalam. Biasanya rasa cinta itu disertai rasa rindu dan hasrat terhadap sang objek (Widianti, 2006: 37). Menurut psikolog Elain dan William Walsten, cinta adalah suatu keterlibatan yang sangat mendalam. Keterlibatan itu diasosiasikan dengan timbulnya rangsangan fisiologis yang kuat dan diiringi dengan perasaan mendambakan pasangan dan keinginan untuk memuaskannya (Widianti, 2006: 39). Cinta yang dialami oleh sosok aku pada lagu tersebut adalah hubungan cinta yang hanya satu jam. Selama satu jam melakukan aktivitas seksual, yaitu dibuai, sayang- sayangan, mesra- mesraan, dimanja, dicumbu. Hubungan yang tidak sah antara pria dan wanita yang dilakukan atas dasar suka sama suka, namun hanya dilakukan satu jam. Cinta yang dilakukan sosok aku dalam lirik lagu tersebut dapat dikategorikan sebagai cinta eros. Cinta yang sangat dan terlalu memuja kesenangan belaka. Sebuah cinta berahi yang pada hakekatnya hanyalah mencintai tubuh dan kenikmatan seksual sebagai pemenuhan kebutuhan biologis. Universitas Sumatera Utara Cinta yang hanya bertujuan untuk memuaskan kebutuhan syahwat dan kesenangan belaka yang mengarah kepada free sex tanpa ada maksud untuk memaknai suatu ikatan sebagai hubungan yang suci dan mulia. Tidak adanya komitmen yang kuat terhadap pasangannya. Pasangan hanya dianggap sebagai rekan seks. Cinta yang menggebu- gebu dan berani mengambil resiko. Munculnya rangsangan pada diri sosok aku akibat aktivitas seksualnya. Terlihat dari kalimat lirik “Basah hatiku aw aw betapa indah aw aw”; “Oh melayang- layang serasa terbang di atas awan sampai ke surga”; “Dibuai cinta betapa indahnya, walaupun hanya satu jam oh oh”. Ungkapan- ungkapan rangsangan yang dirasakan sosok aku dalam lirik lagu tersebut dapat menimbulkan erotisme. Pada umumnya, cinta seperti ini adalah cinta ternoda yang menyalahi norma- norma yang berlaku di masyarakat. Bagi yang melakukannya, akan merasakan kenikmatan dan kesenangan yang tiada tara. Namun, sebuah kesenangan tanpa keterikatan ini dapat mengakibatkan penyakit kelamin. Sang wanita dapat menjadi hamil, hal ini dapat memaksa pasangan itu untuk menikah padahal mereka sebenarnya tidak siap, dan hal itu sangat mempengaruhi kebahagiaan mereka di kemudian hari. Atau si pria itu mungkin menolak untuk menikahi si wanita, dan ia akan membesarkan anak seorang diri tanpa suami. Atau mungkin ia tergoda untuk melakukan aborsi, yang merupakan suatu bentuk pembunuhan. Si pencipta lagu juga ingin menggambarkan dalam suatu hubungan kekasih, pihak laki- laki lah yang berkuasa. Hal ini terlihat dari kalimat lirik lagunya “Ku dibuai aw aw”, “Ku dimanja aw aw”, “Ku dicumbu aw aw”. Sosok aku dibuai, dimanja, dicumbu oleh sosok aku. Banyak riset menunjukkan bahwa orang berstatus lebih tinggi lebih sering menyentuh orang berstatus lebih rendah daripada sebaliknya. Jadi sentuhan juga berarti “kekuasaan”. Sehingga sosok kau adalah pihak penguasa sedangkan sosok aku sebagai wanita adalah objek seks bagi pria tersebut. Gambaran ini tidak terlepas dari konsep gender patriarki. Laki- laki digambarkan dengan sperma yang mempunyai ciri- ciri aktif, menyerang. Sedangkan perempuan digambarkan Universitas Sumatera Utara dengan sel telur yang mempeunyai ciri- ciri pasif, menunggu, menurut, lemah, dan pasrah. Pada lagu “Aw Aw”, sosok aku dan pasangannya melakukan cinta satu jam, tidak terikat hubungan suami istri, karena cinta mereka hanya satu jam. Terlihat pada kalimat lirik lagu “Walau cinta satu jam saja, tapi aku puas rasanya”. Tetapi mereka tidak sungkan- sungkan melakukan kontak fisik. Terlihat dari ungkapan- ungkapan sosok aku: “Tadi malam aw aw ku dibuai aw aw”, “Sayang- sayangan aw aw mesra- mesraan aw aw”, “Ku dimanja aw aw ku dicumbu aw aw”. Hubungan keduanya tidak terikat pernikahan yang sah tetapi si wanita tersebut bersedia melakukan kontak fisik. Si wanita tersebut terlihat tidak menolak dan bukan pula terlihat pasrah, karena dari ungkapan- ungkapan sosok aku menunjukkan rasa senang dengan dipertegas juga dengan kata “aw aw”. Laki- laki cenderung menganggap praktik seksual sebagai sebuah pertarungan dimana ia menjadi tokohnya, tetapi wanita selalu tidak meninginkan kekasaran dan keganasan, bahkan ia banyak membutuhkan kelembutan dan kasih sayang. Jika rangsangan seksual terbesar bagi wanita adalah sentuhan, remasan, dan cumbuan, maka penyebabnya karena ia biasanya menunggu laki- laki untuk menyebarkan kebutuhannya akan kepasrahan di seluruh bagian tubuhnya. Kode Gnomik Dari hasil pemaknaan di atas diketahui bahwa lirik lagu “Aw Aw” mencerminkan suatu realitas sosial yang terjadi mengalami pergeseran budaya dalam menjalin suatu hubungan sebagai sepasang kekasih. Perilaku- perilaku orang yang menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih hanya dengan waktu yang singkat dan semakin bebas untuk melakukan kontak fisik karena pengaruh dari budaya luar (westernisasi) dan kemajuan teknologi informasi yang tidak sesuai dengan norma- norma yang berlaku di masyarakat kita (norma agama, moral, kesopanan, dan hukum). Sikap hidup seksual yang permisif telah menghilangkan kesakralan seksualitas manusia, dan mengaburkan nilai luhurnya, sehingga kegiatan seksual dipandang melulu sebagai kebutuhan biologis, seolah- olah seperti halnya Universitas Sumatera Utara rekreasi, makan, dan minum yang harus dipenuhi dengan segala macam cara. Sekedar untuk memenuhi hidup enak, kesenangan, dan kenikmatan. Banyak gadis dan wanita modern dalam masyarakat kita sekarang terlampau mudah menyerah diajak melakukan hubungan seksual, yaitu mengadakan seks bebas dan melakukan cinta bebas. Tidak berdayanya wanita menolak ajakan hubungan seks bebas ini pada umumnya disebabkan karena: ketidakmampuannya mengekang nafsunya sendiri; kontrol dirinya yang lemah, dominannya sifat- sifat kekanak- kanakan dan sangat naif, ketidakmampuan menahan diri untuk menerima kenikmatan- kenikmatan seks kecil yang segera dan mengorbankan kenikmatan seks yang lebih besar di kemudian hari dengan suami dalam ikatan pernikahan yang sah, keinginan untuk memutuskan rantai- rantai kewibawaan dan kekuasaan orang tua atau belenggu larangan tradisional yang dirasa mengikat. Pada hubungan pacaran maupun suami istri, biasanya kaum perempuanlah yang menjadi pihak yang paling dirugikan. Hal ini terjadi karena pada dasarnya, relasi antara laki- laki dan perempuan sudah terkontruksi secara tidak seimbang di dalam kehidupan masyarakat, dimana ketika perempuan distereotipekan sebagai makhluk yang lemah, gampang ditipu, pasif, pasrah, rendah kognitif dan rasionya, serta tak akan mampu melakukan apapun dan tidak akan mampu berdiri sendiri tanpa ditopang oleh laki- laki, sehingga muncullah kedudukan yang mensubordinasikan perempuan untuk berada di bawah laki- laki. Posisi yang menyebabkan perempuan berada di bawah kedudukan laki- laki, tidak sedikit membawa kerugian pada perempuan di dalam hubungan yang ada. Permasalahan ini sebenarnya cukup serius namun sayangnya sering diabaikan, apalagi ketika hal tersebut dianggap sebagai kodrat. Kode Semik Lagu “Aw Aw” menggambarkan realitas perempuan masa kini. Perempuan tidak lagi didominasi oleh laki- laki. Lagu “Aw Aw” menunjukkan suatu hubungan cinta yang bebas melakukan kontak fisik dengan pasangannya yang dilakukan atas dasar suka sama suka sehingga pihak perempuan tidak begitu peduli dengan kondisinya yang sudah tidak perawan lagi. Sebagai seorang wanita, Universitas Sumatera Utara dianggap sudah tidak jamannya lagi menjadi pihak yang dirugikan dalam suatu hubungan. Seorang wanita dan pasangan adalah rekan yang sejajar. Adanya perlawanan atas stereotipe yang mensubordinasikan perempuan untuk berada di bawah laki- laki. Tidak ada rasa penyesalan dan sangat menikmati pengalaman seksualnya, terutama bagi pihak wanita yang selama ini dikonstruksi sebagai pihak yang selalu dirugikan dalam aktivitas seksual. Perempuan adalah pihak yang pasif menerima dalam suatu hubungan seksual. Ini berkaitan dan dipengaruhi stereotipe tentang sifat khas perempuan. Contohnya, dalam kebanyakan lingkungan budaya, norma yang berlaku adalah dalam hubungan berpacaran prialah yang mengambil prakarsa untuk mulai pacaran, dengan menaruh minat kepada seorang wanita. Ketika berhubungan seksual, perempuan bukanlah pihak yang secara aktif mengambil inisiatif. Ia harus menunggu. Ini membuat kebanyakan perempuan tidak punya keberanian dan kemampuan untuk bernegoisasi dengan rekannya tentang waktu dan sifat aktivitas seksualnya. Pada lagu ini terlihat bahwa si wanita merasa senang melakukan cinta satu jamnya tersebut, ia seakan rela tubuhnya dinikmati oleh pasangannya tersebut. “Tadi malam aw aw ku dibuai aw aw, sayang- sayangan aw aw mesramesraan aw aw”; “Ku dimanja aw aw, ku dicumbu aw aw”. Hal ini juga menunjukkan bahwa wanita jaman sekarang lebih berani mengekspresikan dirinya. Lagu “Aw Aw” menunjukkan suatu hubungan cinta satu malam yang dilakukan atas dasar suka sama suka sehingga pihak perempuan tidak begitu peduli dengan kondisinya yang sudah tidak perawan lagi. Nilai tradisional semakin terlupakan, yaitu bahwa dalam perilaku seks yang paling utama adalah tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Nilai ini tercermin dalam bentuk keinginan untuk mempertahankan kegadisan seorang wanita sebelum menikah. Kegadisan pada wanita seringkali dilambangkan sebagai “mahkota” atau “harta yang paling berharga” atau “tanda kesucian” atau “tanda kesetiaan kepada suami”. Nilai kegadisan dihargai rendah nampaknya sudah menggejala di kalangan bangsa Indonesia. Sebagai seorang wanita, dianggap sudah tidak jamannya lagi menjadi pihak yang dirugikan dalam suatu hubungan. Seorang wanita dan pasangan adalah Universitas Sumatera Utara rekan yang sejajar. Adanya perlawanan atas stereotipe yang mensubordinasikan perempuan untuk berada di bawah laki- laki. 4. 2. Pembahasan Lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw”, dari judul lagu tersebut saja sudah menunjukkan hubungan percintaan. Lagu- lagu dangdut yang dipopulerkan oleh Melinda tersebut bertemakan percintaan dan segala masalah seputar percintaan, sehingga secara otomatis seks lebih diutamakan dalam penggunaan lirik- lirik lagunya. Lagu “Cinta Satu Malam” merupakan salah satu lagu yang berusaha mengungkapkan suatu bentuk hubungan seks sebelum menikah dengan menggunakan bahasa secara eksplisit dengan menggunakan kata- kata yang bermakna konotasi. Begitu juga halnya dengan lagu “Mojok di Malam Jumat” menggambarkan seorang wanita dengan penuh rayuan mengajak pacarnya untuk berdua- duaan di tempat sepi di malam hari yang dapat mengarah kepada free sex. Hubungan masih dalam tahap pacaran tetapi sudah bebas untuk melakukan kontak fisik dengan lawan jenis. Lagu “Aw Aw” dengan jelas menggambarkan aktivitas seksual dan kenikmatan- kenikmatan yang dirasakan saat melakukan aktivitas seksual. Dilihat dari lirik lagu “Cinta Satu Malam” yang dipopulerkan oleh penyanyi dangdut Melinda menunjukkan pemahaman yang kontra dengan norma yang berlaku di masyarakat kita, dimana seks bukan lagi hal yang tabu untuk dibicarakan di masyarakat umum. Bangsa Indonesia yang masih menjunjung tinggi adat timur, maka lagu tersebut dinilai erotis dan hal ini telah melanggar norma- norma yang berlaku di masyarakat kita (norma agama, moral, kesopanan, dan hukum). Erotisme dalam lirik lagu- lagu tersebut dapat dilihat dari judul, pemilihan kata- kata, istilah- istilah seks. Erotisme dalam lagu ini ditampilkan lewat liriklirik lagu yang mengacu pada aktivitas yang intim dan pola pergaulan bebas antara pria dan wanita, seperti “Kalau kau kecup mesra di keningku, ku rasa bagai di surga”; “Cinta satu malam oh indahnya”; “Sentuhanmu membuatku terlena”; “Aku telah terbuai mesra”; “Hangat indahnya cinta”; “Hasratku kian Universitas Sumatera Utara membara”; “Bang kemana aja sih, aku sudah nggak tahan”; “Bang apelin aku dong”; “Mojok di malam Jumat aku tak takut, asal abang s'lalu dekatku”; “Mojok di malam Jumat ku tak resah, jurig juga ingin pacaran seperti kita”; “Bang cepet dong ke sini”; “Mojok di malam Jumat aduh asyiknya”; “Cumbulah aku sesukamu”; “Melepas rindu tak tertahan, abangku sayang”; “Tadi malam aw aw ku dibuai aw aw”; “Sayang- sayangan aw aw mesra- mesraan aw aw”; “Ku dimanja aw aw ku dicumbu aw aw”; “Dibuai cinta betapa indahnya”. Lagu- lagu Melinda tersebut mencirikan hawa nafsu, liar, dan hubungan yang tidak jelas statusnya. Dilihat dari lirik lagunya, terlalu menggumbar kemesraan dalam suatu hubungan asmara yang seharusnya tidak layak untuk ditampilkan kepada khalayak luas, karena hal itu sangat berhubungan dengan masalah pribadi. Apalagi kisah percintaan yang ditampilkan dalam lirik lagu tersebut menunjukkan suatu pasangan yang belum adanya ikatan pernikahan bebas melakukan kontak fisik seperti ciuman, saling menyentuh, bahkan sampai melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Lagu tersebut juga ingin menyatakan bahwa kebebasan seks, walaupun hanya sementara memberikan lebih banyak kebahagiaan pribadi dan hal itu sangat menyenangkan. Kenikmatankenikmatan seksual yang mengarah ke free sex lebih diutamakan dalam lirik- lirik lagu tersebut. Mengingat lagu- lagu tersebut dianggap memiliki citra buruk yang akan merusak mental anak- anak dan kalangan remaja. Menggunakan lirik- lirik vulgar dan mengandung muatan seks secara eksplisit. Akhirnya KPI melakukan pencekalan terhadap dua diantara lagu- lagu Melinda tersebut yaitu lagu “Cinta Satu Malam” dan lagu “Aw Aw”. Namun, disamping itu lagu Melinda “Cinta Satu Malam” mendapat banyak penghargaan. Menunjukkan bahwa lagu- lagu dangdut bertema seksual seperti itu dapat diterima. Seakan- akan sensasi yang ditampilkan dalam lirik lagu tersebut suatu keunikan yang dapat menghibur, dengan tidak memikirkan dampak dari lirik- lirik erotis yang ditampilkan terhadap moral generasi bangsa. Hampir setiap hari terdengar alunan lagu- lagu dangdut yang memiliki tema- tema yang hampir serupa percintaan antara pria dan wanita ditampilkan lewat media massa dan menjadi konsumsi masyarakat umum. Namun yang perlu Universitas Sumatera Utara diketahui bahwa masyarakat umum juga meliputi anak- anak dan kalangan remaja. Lagu- lagu yang memiliki aspek erotika memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap anak- anak dan remaja. Mengingat usia anak- anak dan remaja yang masih dalam tahap pencarian jati diri, sulit menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Di masa ini, seorang anak akan langsung mengikuti apa yang didengar atau dilihat. Bila masih usia dini sudah disuguhi dengan lirik lagu- lagu dangdut yang erotis, maka mereka akan sangat mungkin melakukan penyimpangan seksual. Hal ini juga dipertegas dari pendapat aktivis peduli anak Seto Mulyadi. Lagu- lagu yang berunsur vulgar tersebut menimbulkan dampak yang negatif bagi anak- anak, apalagi apresiasinya terhadap sebuah lagu. Mereka tentu saja tidak mengerti makna lirik lagu tersebut. Jika mereka menyanyikannya dan ditanya apa maknanya, mereka tidak bisa menjawabnya, bisa saja menjadi ejekan dari lingkungan. Hal inilah yang akan berdampak pada anak. Anak- anak memang tidak secara langsung terkena dampaknya, namun hal ini tidak akan pernah kita ketahui ketika dalam benak mereka masih ada rasa penasaran ingin tahu (http://www.pesatnews.com/read/2012/03/01/1453/lirik-vulgar-kak-seto-geram). Musik dalam hal ini lirik lagu memang ada pengaruhnya atas emosi, sehingga dapat mempengaruhi hati setiap orang yang menikmati lagu tersebut. Memang pengaruh yang kuat dari musik hanya sementara, tetapi sering kali cukup lama untuk memberikan dorongan yang nyata ke arah tertentu, atau untuk mengurangi perlawanan terhadap daya tarik atau godaan tertentu. Seperti yang ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Brian A. Primack, M.D., Ed.M, M.S., dari Pusat Penelitian Kesehatan di University of Pittsburgh School of Medicine. Menemukan adanya hubungan antara lirik lagu bertema seks dalam perannya mensugesti otak untuk memberikan rangsangan seksual. Dr Primack juga mengatakan lagu- lagu bertema seks juga punya pengaruh sebagai sugesti untuk melanjutkan ke sesi seks yang sebenarnya. Ia juga berkomentar bahwa lirik yang mengandung seks yang disampaikan melalui pesan media dapat menjadi faktor resiko untuk perkembangan seksual dini (http://psychcentral.com/news/2009/02/26/song-lyrics-influence-sexualbehavior/4366.html). Universitas Sumatera Utara Lirik- lirik seperti ini dapat menimbulkan stimulus atau rangsangan dalam pikiran dan imajinasi seksual. Hal ini akan membuat orang yang mendengar atau membaca lagu tersebut membayangkan kenikmatan- kenikmatan seks sementara dan akan sangat memungkinkan akhirnya membangkitkan nafsu berahi. Ungkapan- ungkapan yang tidak layak dijadikan lagu yang nantinya akan ditampilkan lewat media massa dan menjadi konsumsi masyarakat umum. Disadari atau tidak, akhir- akhir ini banyak lagu- lagu dangdut yang mengandalkan lirik- lirik vulgar. Menurut pengamat musik Denny Syakrie menyebutkan kalau lagu berlirik porno itu jelas- jelas hanya mencari sensasi saja, namun mereka tidak memikirkan dampak ke depannya. Karena lagu dengan lirik nyeleneh akan mudah diingat oleh masyarakat. Perlu diingat, lagu- lagu seperti itu tidak hanya didengarkan oleh orang dewasa tapi anak- anak juga mendengarkannya. Kita semua memiliki kelemahan dan kecenderungan tertentu untuk berbuat kesalahan, dan kadang- kadang merasa tergoda untuk melakukan kesalahankesalahan. Sehingga musik dengan lirik yang tidak baik dapat menjadi penyebab untuk melakukan suatu kesalahan sesuai dengan pesan negatif apa yang disampaikan lewat lagu tersebut. Dan dalam lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” milik Melinda ini memiliki tema percintaan yang mesra, mengandalkan lirik- lirik vulgar, agak sedikit nakal. Hal ini dapat membangkitkan cinta dan kasih sayang dan dengan demikian menjadi rangsangan yang membangkitkan keinginan seks pada khalayak yang menikmati lagu tersebut. Lagu tersebut menyebabkan perasaan itu muncul. Universitas Sumatera Utara BAB V SIMPULAN DAN SARAN V. 1. Simpulan Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan teori Barthes, penelitian terhadap erotisme dalam lirik lagu dangdut “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw”, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” menampilkan erotisme dengan menggunakan kata- kata erotis baik pada judul maupun lirik lagunya. Semua lagunya bertemakan tentang hubungan percintaan antara pria dan wanita yang mengarah pada free sex. Lagu “Cinta Satu Malam” mengangkat tema pola pergaulan seks bebas. Lagu “Mojok di Malam Jumat” mengangkat tema aktivitas percintaan di tempat sepi atau mojok pada malam Jumat. Lagu “Aw Aw” menggambarkan tentang kenikmatankenikmatan aktivitas seksual yang mengarah kepada perilaku seks bebas. 2. Lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” disebut bagian dari seni yaitu seni musik yang tidak hanya bertujuan untuk menghibur khalayak luas, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan pesan atau aspirasi. Ternyata lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” kurang menampilkan sisi keseniannya. 3. Adanya perbedaan- perbedaan mitos mengenai seks yang selama ini diyakini di masyarakat. Diantaranya bahwa aktivitas seksual tidak hanya dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah. Tidak ada yang merasa dirugikan dalam melakukan hubungan intim tanpa adanya ikatan pernikahan yang sah, baik pihak perempuan dan pihak laki- laki. Sebagaimana yang dipahami dalam masyarakat bahwa pihak perempuanlah yang dianggap sebagai korban atau yang paling dirugikan. Namun dalam hal ini tidak ada rasa penyesalan dan sangat menikmati pengalaman seksualnya, terutama bagi pihak wanita yang selama ini dikonstruksi sebagai pihak yang selalu dirugikan dalam aktivitas seksual. Selanjutnya, mitos yang menyatakan bahwa wanita adalah pihak sebagai “pemuas” kaum laki- laki. Pada lagu- lagu dangdut tersebut yang Universitas Sumatera Utara terjadi bahwa wanita tidak lagi hanya dijadikan objek, namun juga sebagai pelaku aktif dan sangat menikmati pengalaman seksualnya. Dalam lagu ini pihak wanita yang mengajak pihak pria untuk melakukan aktivitas seksual untuk mendapatkan kepuasaan yang sama dengan pria. Dan yang terakhir, wanita tidak lagi merasa sungkan untuk mengungkapkan keinginannya untuk melakukan hubungan seksual. Wanita berani mengekspresikan keinginan dirinya. Mengungkapkan gambaran hubungan seksual yang dilakukan dengan pasangannya dan bagaimana wanita tersebut sangat menikmati pengalaman seksualnya. Padahal wanita diyakini adalah pihak yang menunggu, pihak yang pasif dalam menyatakan cinta. 4. Lagu- lagu yang bertemakan percintaan, dimana seks yang lebih diutamakan dengan menggunakan kata- kata erotis secara eksplisit sebagai pemikat khalayak luas. Namun yang perlu diketahui bahwa khalayak luas juga meliputi anak- anak dan kalangan remaja. Lagu- lagu yang memiliki aspek erotika memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap anak- anak dan remaja. Mengingat usia anak- anak dan remaja yang masih dalam tahap pencarian jati diri, sulit menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Maka, apa yang didengar akan langsung meresap ke dalam hati dan pikirannya. Awalnya anakanak dan remaja merasa bingung, lalu timbul rasa penasaran. Anak- anak dan remaja yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi akan berusaha untuk mengetahui apa yang dimaksud oleh lirik- lirik lagu yang seharusnya tidak pantas untuk didengarkan oleh mereka. Mereka akan sangat mungkin melakukan penyimpangan seksual, bila masih usia dini sudah disuguhi dengan lagu- lagu bertemakan seksualitas. V. 2. Saran V. 2. 1. Saran dalam Kaitan Akademis Teknik penelitian dengan menggunakan analisis semiotika yang diutamakan adalah peran dari si peneliti. Bahasa manusia tidak sekadar menyangkut masalah makna denotatif tetapi juga konotatif. Hal inilah yang membutuhkan kemampuan dan kecermatan peneliti dalam menafsirkan makna dari tanda- tanda yang ada dengan mencari referensi sebanyak mungkin melalui Universitas Sumatera Utara buku, jurnal, dan sumber internet yang dapat dipercaya keakuratannya. Masih banyak yang perlu diperhatikan dalam penelitian- penelitian selanjutnya dalam melihat erotisme dalam lagu- lagu dangdut. Melalui tandatanda seperti cara penyanyi menyanyikan lagu, cara bergoyang, dan cara berpakaian yang minim. V. 2. 2. Saran dalam Kaitan Praktis 1. Pencipta lagu sebagai seniman musik yang mengatasnamakan lagu dangdut adalah bagian dari seni yaitu seni musik kiranya tidak hanya menganggap bahwa sebuah lagu digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga bisa digunakan sebagai media untuk menyalurkan aspirasi. Untuk itu harus mempertanggungjawabkan apa yang menjadi tujuan utamanya untuk menyajikan ide dan kreativitasnya tersebut. 2. Pencipta lagu hendaknya berhati- hati dalam membuat lirik- lirik lagu. Carilah kata- kata yang lebih sopan dan pantas sesuai dengan norma- norma dan kiranya tidak hanya mementingkan keuntungan saja. Lagu- lagu yang hanya ingin menarik perhatian para penikmat musik dengan menggunakan lirik- lirik yang erotis. Pencipta lagu seharusnya tidak menggunakan peluang selera pasar yang secara bisnis menguntungkan, namun dapat merusak moral bangsa. 4. Khalayak pendengar hendaknya kritis dalam memilih lagu- lagu mana yang bagus mana yang jelek, baik- buruk, indah- tidak indah untuk didengar, karena lagu memiliki kuasa. Hal itu bisa dilakukan untuk sesuatu yang baik dan sesuatu yang buruk. Jika khalayak pendengar telah kritis, maka pilihan akan lagu juga semakin ketat. Universitas Sumatera Utara BAB II KAJIAN PUSTAKA II. 1. Paradigma Kajian Paradigma adalah cara melihat dunia, atau “cara berpikir secara umum yang dimiliki bersama dalam komunitas ilmuwan”. Paradigma mempengaruhi nilai, tujuan, dan gaya penelitian ilmuwan, dan tradisi tersebut mempengaruhi kerja para peneliti. Paradigma yang akan mendasari teori- teori yang kita baca dan gunakan. Paradigma menawarkan cara pandang umum mengenai komunikasi antarmanusia; sementara teori merupakan penjelasan yang lebih spesifik terhadap aspek tertentu dari perilaku komunikasi (West & Turner, 2008: 54). Paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Karenanya, paradigma sangat menentukan bagaimana seorang ahli memandang komunikasi yang menjadi objek ilmunya (Vardiansyah, 2008: 27). Sebuah paradigma sangat dibutuhkan dalam melakukan sebuah penelitian, dimana paradigma tersebut diibaratkan sebagai wadah dalam menganalisis berbagai fenomena komunikasi. Sebelum melakukan penelitian komunikasi, peneliti harus tahu dengan tepat perspektif mana yang digunakan dalam penelitian. Banyak paradigma memberikan arahan kepada peneliti untuk bekerja saat ini. Beberapa peneliti dipengaruhi oleh pandangan feminis, konstruktivisme, atau Marxisme. Contohnya, peneliti yang beroperasi pada paradigma feminis mempercayai bahwa wanita dimarginalkan dan bahwa keadaan ini harus diubah. Paradigma konstruktivisme sosial menyatakan bahwa para individu secara berkala menciptakan struktur sosial melalui aksi dan interaksi mereka; karenanya tidak terdapat kebenaran abstrak. Para peneliti yang menganut paradigma Marxis meyakini bahwa perilaku sosial dapat dipahami secara baik sebagai sebuah proses konflik. Paradigma berkisar pada tiga area yaitu ontologi (ontology), pertanyaan mengenai sifat realita; epistemologi (epistemology), pertanyaan mengenai bagaimana kita mengetahui sesuatu; dan aksiologi (axiology), pertanyaan mengenai apa yang layak untuk diketahui (West & Turner, 2008: 55). Artinya, Universitas Sumatera Utara pemikiran- pemikiran yang berorientasi paradigmatik mengandung konsekuensi terhadap objektivitas, sistematika, dan juga metodologi dari suatu disiplin ilmu. II. 1. 1. Paradigma Konstruktivisme Paradigma ini berpendapat bahwa alam semesta, secara epistemologis adalah sebagai hasil konstruksi sosial. Di samping itu, paham ini hampir merupakan antitesis dari paham yang meletakkan pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atau pengetahuan (Anwar & Adang, 2008: 59). Konstruktivisme menegaskan bahwa pengetahuan tidak lepas dari subjek yang sedang belajar mengerti. Konstruktivisme merupakan salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri. Para konstruktivis percaya bahwa pengetahuan itu ada dalam diri seseorang yang sedang mengetahui. Pada proses komunikasi, pesan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang ke kepala orang lain. Penerima pesan sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap pengalaman mereka. Konsep penting perspektif ini adalah bahwa pengetahuan bukanlah tertentu dan deterministik, tetapi suatu proses menjadi tahu (Ardianto, 2020: 154). Proses konstruktivisme harus mempunyai kemampuan mengingat dan mengungkap kembali pengalaman; kemampuan membandingkan; mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan; dan kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu daripada yang lain (Anwar & Adang, 2008: 60) . Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu menginterpretasikan dan beraksi menurut kategori konseptual dari pikiran. Realitas tidak menggambarkan diri individu namun harus disaring melalui cara pandang orang terhadap realitas tersebut (Ardianto, 2010: 158). Dalam penjelasan ontologi paradigma konstruktivis, realitas merupakan konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu. Namun demikian kebenaran suatu realitas sosial bersifat nisbi, yang berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial (Bungin, 2008: 187). Von Glaserrsfeld membedakan adanya tiga macam tahap konstruktivisme: 1. Konstruktivisme radikal, yaitu yang mengesampingkan hubungan pengetahuan Universitas Sumatera Utara sebagai suatu kriteria kebenaran. Bagi konstruktivisme radikal, pengetahuan tidak merefleksikan suatu kenyataan ontologis subjektif tetapi merupakan suatu pengaturan dan organisasi dari suatu dunia yang dibentuk oleh pengalaman seseorang. 2. Realisme hipotesis, yaitu suatu aliran yang menyatakan bahwa pengetahuan (ilmiah) kita pandang sebagai suatu hipotesis dari struktur kenyataan dan berkembang menuju suatu pengetahuan yang sejati, yang dekat dengan realitas. 3. Konstruktivisme yang biasa, yaitu filsafat yang menyatakan pengetahuan kita merupakan suatu gambaran dari relaitas itu, pengethuan kita dipandang sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari kenyataan suatu objek dari dalam dirinya sendiri. Terdapat kesamaan dari ketiga macam konstruktivisme di atas. Hal tersebut terjadi karena terdapat relasi sosial antara individu dengan lingkungan atau orang sekitarnya. Kemudian individu membangun sendiri pengetahuannya atas realitas yang dilihatnya tersebut (Anwar & Adang, 2008: 60). II. 2. Uraian Teoritis II. 2. 1. Komunikasi Massa Komunikasi (communication) adalah proses sosial di mana individuindividu yang menggunakan menginterpretasikan makna simbol- dalam simbol lingkungan untuk mereka, menciptakan yang dan mencakup komunikasi tatap muka maupun komunikasi dengan menggunakan media (West & Turner, 2008: 5). Pada abad ini disebut dengan abad komunikasi massa. Komunikasi telah mencapai suatu tingkat di mana orang mampu berbicara dengan jutaan manusia secara bersamaan. Komunikasi massa merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh (terpencar), sangat heterogen, dan menimbulkan efek tertentu (Ardianto & Komala, 2004: 3). Komunikasi yang dilakukan melalui media massa, dimana komunikan yang terdiri dari jumlah masyarakat yang sangat banyak dan sangat heterogen yang menyebar dimana- mana, dimana satu dengan yang lainnya tidak saling tahu- menahu Universitas Sumatera Utara bahkan tidak pernah bertemu dan berhubungan secara personal. Karena sifat komunikasi massa yang melibatkan banyak orang, maka proses komunikasinya sangat kompleks dan rumit. Komunikasi massa adalah komunikasi yang berlangsung pada tingkat masyarakat luas. Pada tingkat ini komunikasi dilakukan dengan menggunakan media massa (Bungin, 2008: 33). Media massa melakukan penyebaran informasi secara massal dan dapat juga diakses oleh masyarakat secara massal. Media komunikasi yang termasuk media massa adalah radio siaran dan televisi, dikenal sebagai media elektronik; surat kabar dan majalah, disebut sebagai media cetak; serta media film. Dengan demikian komunikan dapat dengan leluasa memilih bentuk pesan dan melalui media apa pesan tersebut akan disampaikan. Dilihat dari defenisinya yaitu komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (Ardianto & Komala, 2004: 3). Jadi, walaupun komunikasi massa itu disampaikan kepada khalayak yang banyak, seperti rapat akbar yang dihadiri oleh ribuan orang, jika tidak menggunakan media massa, maka tidak disebut komunikasi massa. Oleh karenanya, konteks komunikasi massa mencakup baik saluran maupun khalayak. Sedangkan dari karakteristiknya, terdapat delapan karakter komunikasi massa, yaitu: a. Komunikator terlembagakan, dimana komunikasi massa melibatkan lembaga dan komunikatornya bergerak dalam organisasi yang kompleks. b. Pesan bersifat umum, yaitu komunikasi yang ditujukan untuk semua orang dan tidak ditunjukkan untuk sekelompok orang tertentu, sehingga menghasilkan pesan yang bersifat umum, berupa fakta, peristiwa, atau opini. c. Komunikan anonim atau heterogen, dimana dalam komunikasi massa komunikator tidak mengenal komunikannya (anonim). Pesan disampaikan melalui media massa dan tidak tatap muka. Komunikasinya bersifat heterogen, yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat dan dapat dikelompokkan berdasarkan faktor: usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, latar belakang budaya, agama, dan tingkat ekonomi. d. Media massa menimbulkan keserempakan. Dalam hal ini, komunikasi massa memiliki kelebihan dalam hal jumlah sasaran khalayak atau komunikan yang Universitas Sumatera Utara relatif banyak dan tidak terbatas. Keserempakan media massa yakni keserempakan kontak antara komunikator dengan sejumlah besar penduduk dalam jarak yang jauh, dan penduduk tersebut berada dalam keadaan terpisah antara satu dengan yang lainnya. e. Komunikasi mengutamakan isi dibandingkan hubungan. Pesan yang disampaikan sedemikian rupa berdasarkan sistem tertentu dan disesuaikan berdasarkan karakteristik media massa yang akan digunakan. f. Komunikasi massa bersifat satu arah, yaitu komunikasi massa dilakukan tanpa kontak langsung antara komunikator dengan komunikan. Komunikasi terjadi melalui media massa, di mana komunikator aktif menyampaikan pesan dan komunikan aktif menerima pesan. Namun keduanya tidak dapat melakukan feed back dalam proses komunikasinya, sehingga dikatan bersifat satu arah. g. Stimulasi alat indra “terbatas”, yaitu penyampaian pesan dalam komunikasi massa bersifat terbatas atau sesuai dengan media massa yang dugunakan komunikan, seperti media cetak, radio, televisi, atau film yang masing- masing memiliki stimulasi indra manusia yang sifatnya terbatas. h. Umpan balik tertunda (delayed), yaitu penyampaian pesan dalam komunikasi massa yang dilakukan melalui media massa tidak mampu menjalankan fungsi umpan balik, karena sifatnya yang satu arah (Ardianto & Komala, 2004: 7). Komunikasi massa berbeda dengan komunikasi lainnya, seperti komunikasi antarpersona dan komunikasi kelompok. Perbedaan itu meliputi komponen- komponen yang terlibat di dalamnya dan juga proses berlangsungnya komunikasi tersebut. Sedangkan dari segi fungsi terlihat ada kesamaan baik secara umum maupun khusus. Fungsi komunikasi massa secara umum yaitu: a. Fungsi Informasi Media massa merupakan penyebar informasi bagi pembaca, pendengar atau pemirsa. Berbagai informasi disajikan bagi khalayak sesuai dengan kebutuhannya, di mana informasi tersebut mencakup segala sesuatu yang terjadi disekitarnya. b. Fungsi Pendidikan Media massa mampu menyajikan hal-hal yang bersifat mendidik lewat nilai Universitas Sumatera Utara norma, etika serta aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan khalayak. c. Fungsi Mempengaruhi Media massa mampu mempengaruhi khalayak sesuai dengan apa yang diinginkan media. Secara implisit terdapat dalam tajuk/ editorial, features, iklan, artikel, dan sebagainya. d. Fungsi Proses Pengembangan Mental Media massa mampu menambah wawasan serta mengembangkan intelektualitas khalayak. Berbagai pemberitaan mengenai peristiwa yang disampaikan media juga akan semakin menambah pengalaman dan ketergantungan khalayak dalam pengembangan mentalnya. e. Fungsi Adaptasi Lingkungan Proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan memerlukan penyesuaian agar tetap tercipta tujuan komunikasi berupa kesamaan makna diantara pelaku komunikasi. f. Memanipulasi Lingkungan Komunikasi massa merupakan alat kontrol utama dan pengaturan lingkungan (Ardianto & Komala, 2004: 19). Komunikasi massa merupakan aktivitas sosial yang berfungsi di masyarakat. Penting untuk mengetahui fungsi- fungsi komunikasi massa, agar dapat melihat konsekuensi komunikasi melalui media massa. Media massa akan terus mengalami perubahan. Apakah nantinya fungsi komunikasi massa sebagai memberi informasi, memberi pendidikan, mempengaruhi, sebagai proses pengembangan mental, sebagai adapatasi lingkungan, dan memanipulasi lingkungan hanya sekedar teori. Sedangkan fungsi komunikasi massa secara khusus yaitu: a. Meyakinkan Dalam hal ini persuasi dapat datang dalam bentuk mengukuhkan atau memperkuat sikap, kepercayaan atau nilai seseorang; mengubah sikap, kepercayaan atau nilai seseorang; menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu; dan menawarkan sistem nilai tertentu. Universitas Sumatera Utara b. Menganugerahkan Status Penganugerahan status terjadi apabila berita yang disebarluaskan melaporkan kegiatan individu- individu tertentu sehingga gengsi mereka meningkat. Dengan memfokuskan kekuatan media massa pada orang- orang tertentu, maka masyarakat akan menjadikan orang- orang tertentu mendapatkan suatu status publik yang tinggi dalam masyarakat. c. Membius Apabila media menyajikan informasi tentang sesuatu, penerima pesan percaya dengan sepenuhnya bahwa tindakan tertentu harus diambil. Sebagai akibatnya, pemirsa atau penerima pesan terbius ke dalam keadaan pasif. d. Menciptakan Rasa Kebersatuan Komunikasi mampu untuk membuat para penerima pesannya merasa menjadi anggota suatu kelompok. e. Privatisasi Kecenderungan bagi seseorang untuk menarik diri dari kelompok sosial dan mengucilkan diri ke dalam dunianya sendiri (Ardianto & Komala, 2004: 23). Pada satu sisi, konsep komunikasi massa mengandung pengertian sebagai suatu proses di mana institusi media massa memproduksi dan menyebarkan pesan kepada publik secara luas, namun pada sisi lain, komunikasi massa merupakan proses di mana pesan tersebut dicari, digunakan, dan dikonsumsi oleh audience, yang menjadi fokus kajian dalam komunikasi massa adalah media massa. Media massa adalah institusi yang menebarkan informasi berupa pesan berita, peristiwa, atau produk budaya yang memengaruhi dan merefleksikan suatu masyarakat (Bungin, 2008: 258). Dalam konteks komunikasi massa, memberikan kemampuan baik kepada pengirim maupun pada penerima untuk melakukan kontrol. Selain itu, dalam konteks komunikasi massa, komunikasi yang terjadi biasanya lebih terkendali dan terbatas. Maksudnya, komunikasi dapat dipengaruhi oleh biaya, politik, dan kepentingan- kepentingan lainnya. Universitas Sumatera Utara II. 2. 2. Musik sebagai Media Massa Musik merupakan cabang kesenian yang menggunakan media suara merupakan bentuk ungkapan perasaan dan nilai kejiwaan manusia yang dianggap paling tua. Musik dapat berbicara melalui unsur- unsurnya, seperti ia bisa dianggap sebagai alat atau bahasa komunikasi yang menggunakan kosa kata, tata bahasa, struktur, idiom, dan simbol tertentu. Bahan, bentuk, atau konstruksi instrumen, penggunaan jumlah dan jenis instrumentasi, pembentukan ansambel musikal, penggunaan tanda nada, pengaturan organisasi musikal, penciptaan dan bentuk/ struktur komposisi musik, teknik, pola, dan gaya permainan instrumen dan vokal dan segala aspeknya, sangat berhubungan erat dengan cara berpikir, cara hidup, cara bermasyarakat serta pandangan hidup seniman pengkarya, pelaku serta masyarakat pemiliknya (Supanggah, Sumarno, Wijaya, & Anwar, 2009: 4). Saat ini musik merupakan perangkat hiburan yang dipadukan dengan berbagai seni lainnya. Hampir tidak dapat ditemui sebuah hiburan tanpa mengabaikan peran musik. Salah satu hal terpenting dalam sebuah musik adalah keberadaan lirik lagunya kecuali musik instrumen yang memang tidak membutuhkan lirik di dalamnya. Lirik lagu merupakan suatu bentuk ekspresi penulis lagu tentang sesuatu hal yang sudah dilihat, didengar, maupun dialaminya dan berusaha untuk menyampaikannya kepada khalayak. Sudah tentu banyak hal yang bisa diungkapkan atau dikomunikasikan lewat lirik lagu. Artinya, lirik lagu menjadi acuan untuk dapat memahami apa yang dikomunikasikan oleh penulis lagu kepada khalayak. Penulis lagu dalam mengekspresikan pengalamannya melakukan permainan kata- kata dan bahasa untuk menciptakan daya tarik dan menunjukkan ciri khas terhadap liriknya. Permainan bahasa ini dapat berupa permainan vokal, gaya bahasa maupun penyimpangan makna kata dan diperkuat dengan lirik lagunya sehingga pendengar semakin terbawa dengan apa yang dipikirkan oleh penulis lagu. Komunikasi massa sebagai suatu bentuk komunikasi yang ditujukan untuk semua orang, anonim, dan heterogen melalui media massa, baik media cetak maupun elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara Universitas Sumatera Utara serempak oleh komunikan yang banyak tersebut. Demikian juga halnya dengan penyanyi sebagai komunikator untuk menyampaikan pesan yang berbentuk lagu menggunakan media seperi kaset, Compact Disk (CD), maupun Video Compact Disk (VCD) kepada komunikan dalam jumlah yang banyak melalui media massa. Musik dikemas, dipasarkan, dan disebarkan lewat media massa. Musik merupakan salah satu bentuk komunikasi massa, memiliki beberapa unsur, karakteristik dan fungsi yang sama dengan komunikasi massa. Musik, dalam hal ini lirik lagu adalah pesan yang akan disampaikan pada khalayak melalui media massa tertentu seperti radio, televisi, dan internet. Pesannya yang bersifat linier, dan dari segi fungsi, musik dapat digunakan sebagai sarana hiburan, dan juga bisa digunakan sebagai media untuk menyalurkan aspirasi. II. 2. 3. Semiotika Secara etimologis, istilah semiotik berasal dari kata Yunani semeion yang berarti “tanda”. Tanda itu sendiri didefenisikan sebagai sesuatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain (Sobur, 2004: 95). Secara terminologis, semiotika dapat diidentifikasikan sebagai ilmu yang mempelajari sederatan luas objek- objek, peristiwa- peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Pada dasarnya, analisis semiotika merupakan sebuah ikhtiar untuk merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang dipertanyakan lebih lanjut ketika kita membaca teks atau narasi/ wacana tertentu. Analisisnya bersifat paradigmatic dalam arti berupaya menemukan makna termasuk dari hal- hal yang tersembunyi di balik sebuah teks (Wibowo, 2011: 5). Semiotika sebagai suatu model dari ilmu pengetahuan sosial memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar yang disebut dengan „tanda‟. Dengan demikian semiotika mempelajari hakikat tentang keberadaan suatu tanda. Umberto Eco menyebut tanda tersebut sebagai “kebohongan”, dalam tanda ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya dan bukan merupakan tanda itu sendiri. Menurut Saussure, persepsi dan pandangan kita tentang realitas, dikonstruksikan oleh kata- kata dan tanda- tanda lain yang digunakan dalam konteks sosial (Sobur, 2004: 87). Universitas Sumatera Utara Semiotika telah digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam menelaah sesuatu yang berhubungan dengan tanda, misalnya karya sastra, dan teks berita dalam media. Semiotika merupakan varian dari teori struktualisme. Struktualisme berasumsi bahwa teks adalah fungsi dari isi dan kode, sedangkan makna adalah produksi dari sistem hubungan (Sobur, 2006: 122). Tanda- tanda (sign) adalah basis atau dasar dari seluruh komunikasi kata pakar Komunikasi Littlejohn yang terkenal dengan bukunya: “Theories on Human Behaviour” (1996). Menurutnya, manusia dengan perantaraan tandatanda dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya dan banyak hal yang bisa dikomunikasikan di dunia ini. Sedangkan menurut Umberto Eco ahli semiotika yang lain, kajian semiotika sampai sekarang membedakan dua jenis semiotika yakni semiotika komunikasi dan semiotika signifikasi. Dimana semiotika komunikasi menekankan pada teori tentang produksi tanda yang salah satu diantaranya mengasumsikan adanya enam faktor dalam komunikasi yaitu pengirim, penerima kode atau sistem tanda, pesan, saluran komunikasi dan acuan yang dibicarakan. Sedangkan semiotika signifikasi tidak mempersoalkan adanya tujuan berkomunikasi, yang lebih diutamakan adalah segi pemahaman suatu tanda sehingga proses kognisinya pada penerima tanda lebih diperhatikan daripada prosesnya (Vardiansyah, 2008: 6). Lebih lanjut dijelaskan bahwa semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda- tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah- tengah manusia dan bersama- sama manusia. Semiotika, atau dalam istilah Barthers, semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai halhal (things). Memaknai (to signify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objekobjek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek- objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Sobur, 2003: 15). Sembilan macam semiotika yang kita kenal yaitu: 1. Semiotika analitik, yakni semiotika yang menganalisis sitem tanda. Peirce menyatakan bahwa semiotik berobjekkan tanda menganalisisnya menjadi ide, Universitas Sumatera Utara objek dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan makna adalah beban yang terdapat dalam lambang yang mengacu kepada objek tertentu. 2. Semiotika deskriptif, yakni semiotika yang memperhatikan sistem tanda yang dapat kita alami sekarang, meskipun ada tanda yang sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan sekarang, misalnya langit yang mendung menandakan bahwa hujan tidak lama lagi akan turun. 3. Semiotika faunal, yakni semiotika yang khusus memperhatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan, misalnya ayam yang sedang berkotek- kotek menandakan telah bertelur. 4. Semiotika kultural, yakni semiotika yang khusus menelaah sistem tanda yang berlaku dalam kebudayaan masyarakat tertentu. 5. Semiotika naratif, yakni semiotika yang menelaah sistem tanda dalam narasi yang berwujud mitos dan cerita lisan ada diantaranya mempunyai nilai kultural tinggi. 6. Semiotika natural, yakni semiotika yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh alam. Air sungai yang keruh menandakan di hulu telah turun hujan, banjir, atau tanah longsor memberi tanda bahwa manusia- manusia telah merusak alam. 7. Semiotika normatif, yakni semiotika yang khusus menelaah sistem tanda yang dibuat oleh manusia berwujud norma-norma misalnya rambu-rambu lalu lintas. 8. Semiotika sosial, yani semiotika yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia yang berwujud lambang, baik lambang berwujud kata maupun lambang yang berwujud kata dalam satuan yang disebut kalimat. Semiotika sosial menelaah sistem tanda yang terdapat dalam bahasa. 9. Semiotika struktural, yakni semiotika yang khusus menelaah sistem tanda yang dimanifestikan melalui struktur bahasa (Zamroni, 2009: 93). Semiotika menaruh perhatian pada apa pun yang dapat dinyatakan sebagai tanda. Sebuah tanda adalah semua hal yang dapat diambil sebagai penanda yang mempunyai arti penting untuk menggantikan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain tersebut tidak perlu harus ada, atau tanda itu secara nyata ada disuatu tempat pada waktu tertentu. Dengan begitu semiotika pada prinsipnya adalah sebuah disiplin Universitas Sumatera Utara yang mempelajari apa pun yang bisa digunakan untuk menyatakan sesuatu kebohongan. Jika sesuatu tersebut tidak dapat digunakan untuk mengatakan sesuatu kebohongan, sebaliknya tidak bisa digunakan untuk mengatakan kebenaran (Sobur, 2004:18). II. 2. 4. Semiotika Roland Barthes Roland Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir struktualis yang tekun mempraktikkan model linguistik dan semiologi Saussurean. Ia juga intelektual dan kritikus sastra Perancis yang ternama; eksponen penerapan strukturalisme dan semiotika pada studi sastra, dan dikenal sebagai tokoh yang memainkan peranan sentral dalam strukturalisme tahun 1960- an dan 70- an (Sobur, 2004: 63). Semiotika, atau dalam istilah Barthers, semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal- hal (things). Memaknai (to signify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek- objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek- objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Sobur, 2003: 15). Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes mengulas sistem pemaknaan tataran ke- dua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. Sistem kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang didalamnya mitologinya secara tegas ia bedakan dari denotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama. Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekadar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya (Sobur, 2004: 69). Barthes menciptakan peta bagaimana tanda bekerja sebagai berikut: Universitas Sumatera Utara 1. Signifier 2. Signified (Penanda) (Petanda) 3. Denotative Sign (Tanda Denotatif) 4. Connotative Signifier 5. Connotative Signified (Penanda Konotatif) (Petanda Konotatif) 6. Connotative Sign (Tanda Konotatif) Gambar II.1. Peta Tanda Roland Barthes Sumber: Sobur, 2004: 69 Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekadar memiliki makna tambahan, namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Hal tersebut merupakan unsur material: hanya jika kita mengenal tanda “singa”, barulah konotasi seperti harga diri, kegarangan dan keberanian menjadi mungkin. Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya dengan „mitos‟, dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai- nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda, namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran kedua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda (Sobur, 2004: 71). Salah satu cara yang digunakan untuk membahas lingkup makna yang lebih besar adalah dengan membedakan makna denotatif dengan makna konotatif. Roland Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang mempraktikkan model linguistik dan semiologi Saussurean. Ia berpendapat bahasa adalah sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi- asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Universitas Sumatera Utara Barthes melontarkan konsep tentang denotatif dan konotatif sebagai kunci dari analisisnya. Makna denotatif suatu kata adalah makna yang biasa kita temukan dalam kamus, sedangkan makna konotatif adalah makna denotatif ditambah dengan segala gambaran, ingatan dan perasaan yang ditimbulkan oleh kata dari makna denotatif tersebut. Denotasi adalah hubungan yang digunakan di dalam tingkat pertama sebuah kata secara bebas memegang peranan penting di dalam ujaran. Makna denotasi bersifat langsung, yaitu makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda, dan pada intinya dapat disebut sebagai gambaran sebuah petanda. Makna konotasi adalah suatu jenis makna dimana stimulus dan respon mengandung nilai-nilai emosional. Makna konotatif sebagian terjadi karena pembicara ingin menimbulkan perasaan setuju- tidak setuju, senang- tidak senang dan sebagainya kepada pendengar; dipihak lain kata yang dipilih itu memperlihatkan bahwa pembicaranya juga memendam perasaan yang sama. Pada dasarnya, konotasi timbul disebabkan masalah hubungan sosial atau hubungan interpersonal, yang mempertalikan kita dengan orang lain, karena itu bahasa manusia tidak sekadar menyangkut masalah makna denotatif atau ideasional dan sebagainya (Sobur, 2004: 263). Roland Barthes memberi pelajaran berharga tentang bagaimana menganalisis tanda-tanda komunikasi yang ia sebut semiologi komunikasi, yaitu mementingkan hubungan antara tanda dengan pengirim dan penerimanya. Dengan begitu seorang Peneliti menganalisis setiap teks berdasarkan konteksnya, referensinya dan dapat menggunakan penjelasan sintaksis (ketatabahasaan), dan analisis semantik (makna tanda-tanda) dan teks tertulis (Zamroni, 2009: 92). Semiotika membahas tentang keragaman bahasa dari tiga perspektif yakni: a. Semantik Semantik adalah studi tentang hubungan antara bentuk- bentuk linguistik dengan entitas di dunia; yaitu bagaimana hubungan kata- kata dengan sesuatu secara harafiah. Analasis semantik juga berusaha membangun hubungan antara deskripsi verbal dan pernyataan- pernyataan hubungan di dunia secara akurat atau tidak, tanpa menghiraukan siapa yang menghasilkan deskripsi tersebut (Yule, 2006: 5). Semantik adalah studi mengenai relasi antara tanda dan signifikasi atau maknanya. Semantik merupakan studi tentang makna. Universitas Sumatera Utara b. Sintaktik Sintaktik adalah studi tentang hubungan antara bentuk- bentuk kebahasaan, bagaimana menyusun bentuk- bentuk kebahasaan itu dalam suatu tatanan atau urutan dan tatanan mana yang tersusun dengan baik. Tipe studi ini biasanya terjadi tanpa mempertimbangkan dunia referensi atau pemakai bentuk- bentuk itu (Yule, 2006: 4). Sintaktik berkaitan dengan studi mengenai tanda itu sendiri secara individual maupun kombinasinya, khususnya analisis yang bersifat deskriptif mengenai tanda dan kombinasinya (Piliang, 2012: 300). Sintaktik berurusan dengan kaidah dan struktur yang menghubungkan tanda- tanda satu sama lain misalnya tata bahasa. c. Pragmatik Pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk- bentuk linguistik dan pemakai bentuk- bentuk itu. Manfaat belajar bahasa melalui pragmatik ialah bahwa seseorang dapat bertutur kata tentang makna yang dimaksudkan orang, asumsi mereka, dan jenis- jenis tindakan yang mereka perlihatkan ketika mereka sedang berbicara (Yule, 2006: 5). Pragmatik adalah studi mengenai relasi antara tanda dan penggunanya, khususnya yang berkaitan dengan penggunaan tanda secara konkrit dalam peristiwa serta efek atau dampaknya terhadap pengguna. Ia berkaitan dengan nilai, maksud dan tujuan dari sebuah tanda, yang menjawab pertanyaan: untuk apa dan kenapa, serta pertanyaan mengenai pertukaran dan nilai utilitas tanda bagi pengguna. Pragmatik merupakan analisis penggunaan dan akibat permainan kata (Piliang, 2012: 300). II. 2. 4. 1. Tanda Tanda adalah representasi dari gejala yang memiliki sejumlah kriteria seperti: nama (sebutan), peran, fungsi, tujuan, keinginan. Tanda tersebut berada di seluruh kehidupan manusia. Apabila tanda berada di seluruh kehidupan manusia, maka ini berarti tanda dapat pula berada pada kebudayaan manusia, dan menjadi sistem tanda yang digunakannya sebagai pengatur kehidupannya. Oleh karenanya tanda- tanda itu (yang berada pada sistem tanda) sangatlah akrab dan bahkan Universitas Sumatera Utara melekat pada kehidupan manusia yang penuh makna (meaningful action) seperti teraktualisasi pada bahasa, religi, seni sejarah, ilmu pengetahuan (Sobur, 2004: 124). Ada beberapa cara untuk menggolongkan tanda- tanda, cara itu yakni: tanda yang ditimbulkan oleh alam, yang kemudian diketahui manusia melalui pengalamannya; misalnya kalau langit sudah mendung menandakan akan turun hujan, tanda yang ditimbulkan oleh binatang; misalnya kalau anjing menyalak kemungkinan ada tamu yang memasuki halaman rumah, atau tanda bahwa ada pencuri; dan tanda yang ditimbulkan oleh manusia, dapat dibedakan atas verbal dan nonverbal. Yang bersifat verbal adalah tanda- tanda yang digunakan sebagai alat komunikasi yang dihasilkan oleh alat bicara, sedangkan yang bersifat nonverbal dapat berupa: (1) tanda yang menggunakan anggota badan, lalu diikuti dengan lambang, misalnya “Mari”; (2) suara, misalnya bersiul, atau membunyikan ssst... yang bermakna memanggil seseorang; (3) tanda yang diciptakan oleh manusia untuk menghemat waktu, tenaga, dan menjaga kerahasiaan misalnya rambu- rambu lalu lintas, bendera, tiupan terompet; dan (4) benda- benda yang bermakna kultural dan ritual, misalnya buah pinang muda yang menandakan daging, gambir yang menandakan darah (Sobur, 2004: 122). Tanda merupakan cerminan dari realitas, yang dikonstruksikan lewat katakata. Persepsi dan pandangan kita tentang realitas dikonstruksikan oleh kata- kata dan tanda- tanda lain yang digunakan dalam konteks sosial (Wibowo, 2011: 7). Saussure meletakkan tanda dalam konteks komunikasi manusia dengan melakukan pemilahan antara apa yang disebut signifier (penanda) dan signified (petanda). Signifier adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna (aspek material), yakni apa yang dikatakan dan apa yang ditulis atau dibaca. Signified adalah gambaran mental, yakni pikiran atau konsep aspek mental dari bahasa. Hubungan antara keberadaan fisik tanda dan konsep mental tersebut dinamakan signification. Dengan kata lain, signification adalah upaya dalam memberi makna terhadap dunia. Pada dasarnya apa yang disebut signifier dan signified tersebut adalah produk kultural. Hubungan diantara keduanya bersifat arbitrer (manasuka) dan hanya berdasarkan konvensi, kesepakatan, atau peraturan Universitas Sumatera Utara dari kultur pemakai bahasa tersebut. Hubungan antara signifier dan signified dibagi tiga, yaitu: 1. Ikon adalah tanda yang memunculkan kembali benda atau realitas yang ditandainya, misalnya foto atau peta. 2. Indeks adalah tanda yang kehadirannya menunjukkan adanya hubungan dengan yang ditandai, misalnya asap adalah indeks dari api. 3. Simbol adalah sebuah tanda di mana hubungan antara signifier dan signified semata- mata adalah masalah konvensi, kesepakatan atau peraturan, misalnya gambar timbangan di pengadilan sebagai lambang keadilan (Sobur, 2004: 125). II. 2. 4. 2. Mitos Setiap kebudayaan memiliki berbagai macam mitos yang selalu ada dan berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mitos- mitos tersebut hanya selalu ada dan diwariskan melalui bahasa dan tanda. Dengan perkataan lain, mitos selalu terlihat melalui tanda- tanda. Mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam. Mitos merupakan produk kelas sosial yang sudah mempunyai suatu dminasi. Mitos primitif, misalnya mengenai hidup dan mati, manusia dan dewa. Sedangkan mitos masa kini misalnya mengenai feminitas, maskulinitas, ilmu pengetahuan dan kesuksesan. Mitos suatu wahana dimana suatu ideologi terwujud. Mitos dapat berangkai menjadi mitologi yang memainkan peranan penting dalam kesatuan- kesatuan budaya. Ditegaskan bahwa siapapun bisa menemukan ideologi dalam teks dengan jalan meneliti konotasi- konotasi yang terdapat di dalamnya (Wibowo, 2011: 17). Mitos menurut pandangan Barthes terletak pada tingkatan tanda lapis kedua, yang maknanya bersifat konvensional yaitu disepakati bahkan dipercayai secara luas oleh sebuah anggota masyarakat. Mitos, dalam pemahaman semiotika Barthes, adalah pengkodean makna dan nilai- nilai sosial (yang sebetulnya arbitrer, terbuka, plural dan konotatif) sebagai sesuatu yang dianggap alamiah. Artinya, mitos menambatkan atau mematok (anchorage) makna yang sebetulnya mengapung bebas dan terbuka menjadi makna yang pasti dan terpatok. Mitos mengalamiahkan sesuatu yang arbitrer (Piliang, 2012: 353). Universitas Sumatera Utara Mitos tidak dibentuk melalui penyelidikan, tetapi melalui anggapan berdasarkan observasi kasar yang digeneralisasikan. Oleh karenanya lebih banyak hidup dalam masyarakat. Sikap kita terhadap sesuatu ditentukan oleh mitos yang ada dalam diri kita. Mitos ini menyebabkan kita mempunyai prasangka tertentu terhadap sesuatu hal yang dinyatakan dalam mitos. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda, namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran kedua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda (Sobur, 2004: 71). II. 2. 4. 3. Lima Kode yang Ditinjau Roland Barthes a. Kode Hermeneutika Kode hermeneutika atau kode teka- teki berkisar pada harapan pembaca untuk mendapatkan “kebenaran” bagi pertanyaan yang muncul dalam teks. Kode teka- teki merupakan unsur struktur yang utama dalam narasi tradisional. Di dalam narasi ada suatu kesinambungan antara pemunculan suatu peristiwa tekateki dan penyelesaiannya di dalam cerita (Sobur, 2004: 65). Kode hermeneutika adalah kode yang mengandung unit- unit tanda yang secara bersama- sama berfungsi untuk mengartikulasikan dengan berbagai macam cara dialektik pertanyaan, respon, yang di dalam prosesnya jawaban atau kesimpulan (cerita) ditangguhkan, sehingga menimbulkan semacam enigma (Piliang, 2012: 162). Sebagai contoh di dalam novel, pembaca dibawa dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain (misalnya “siapakah sang pembunuh?”) dan kesimpulan akan terlihat pada akhir cerita. b. Kode Proaretik Kode proaretik atau kode tindakan/ lakuan dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang; artinya antara lain semua teks yang bersifat naratif. Secara teoretis Barthes melihat semua lakuan dapat dikodifikasi, dari terbukanya pintu sampai petualangan yang romantis. Pada praktiknya, ia menerapkan beberapa prinsip seleksi. Kita mengenal kode lakuan atau peristiwa Universitas Sumatera Utara karena kita dapat memahaminya. Pada kebanyakan fiksi, kita selalu mengharap lakuan di “isi” sampai lakuan utama menjadi perlengkapan utama suatu teks (Sobur, 2004: 65). Kode proaretik adalah kode yang mengatur alur satu cerita atau narasi. Ia disebut juga kode aksi. Setiap aksi dalam satu cerita dapat dipilih lagi menjadi sub- bagiannya yang secara berurutan, dan urutan- urutan ini hanya dapat dilihat dalam proses membaca satu aksi dalam konteks totalitasnya. Aksi tertentu berdasarkan logika tertentu memampukan seorang pembaca memperkirakan aksi sebelum dan aksi berikutnya. Kemampuan untuk menentukan hasil atau akibat dari suatu tindakan secara rasional (Piliang, 2012: 162). c. Kode Simbolik Kode simbolik merupakan aspek pengkodean fiksi yang paling khas bersifat struktural, atau tepatnya menurut konsep Barthes, pascastruktural. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa makna berasal dari beberapa oposisi biner atau pembedaan, baik dalam taraf bunyi menjadi fonem dalam proses produksi wicara, maupun pada taraf oposisi psikoseksual yang melalui proses. Dalam suatu teks verbal, perlawanan yang bersifat simbolik seperti ini dapat dikodekan melalui istilah- istilah retoris seperti antitesis, yang merupakan hal yang istimewa dalam sistem simbol Barthes (Sobur, 2004: 65). Kode simbolik adalah kode yang mengatur kawasan anti- tesis dari tandatanda, dimana satu ungkapan atau tanda meleburkan dirinya ke dalam berbagai substitusi, keanekaragaman penanda dan referensi, sehingga menggiring kita dari satu kemungkinan makna ke kemungkinan lainnya dalam interdeterminasi. Kode simbolik adalah kode yang juga mengatur aspek tak sadar dari tanda, dan dengan demikian merupakan kawasan dari psikoanalisis (Piliang, 2012: 162). d. Kode Gnomik Kode gnomik atau kode kultural banyak jumlahnya. Kode ini merupakan acuan teks ke benda- benda yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya. Menurut Barthes, realisme tradisional didefenisi oleh acuan ke apa yang telah diketahui. Rumusan suatu budaya atau subbudaya adalah hal- hal kecil yang telah Universitas Sumatera Utara dikodifikasi yang di atasnya para penulis bertumpu. Tujuan analisis Barthes ini bukan hanya untuk membangun suatu sistem klasifikasi unsur- unsur narasi yang sangat formal, namun lebih banyak untuk menunjukkan bahwa tindakan yang paling masuk akal, rincian yang paling meyakinkan, atau teka- teki yang paling menarik, merupakan produk buatan, dan bukan tiruan dari yang nyata (Sobur, 2004: 65). Kode gnomik adalah kode yang mengatur dan membentuk suara- suara kolektif dan anonim dari pertandaan, yang berasal dari pengalaman manusia dan tradisi yang beraneka ragam. Unit- unit ini dibentuk oleh beraneka ragam pengetahuan dan kebijaksanaan yang bersifat kolektif (Piliang, 2012: 162). e. Kode Semik Kode semik atau kode konotatif banyak menawarkan banyak sisi. Dalam proses pembacaan, pembaca menyusun tema suatu teks. Ia melihat bahwa konotasi kata atau frase tertentu dalam teks dapat dikelompokkan dengan konotasi kata atau frase yang mirip. Jika kita melihat suatu kumpulan satuan konotasi, kita menemukan suatu tema di dalam cerita. Jika sejumlah konotasi melekat pada suatu nama tertentu (Sobur, 2004: 65). Kode semik adalah kode yang berada pada kawasan penanda, yakni penanda khusus yang memiliki konotasi, atau penanda yang materialistisnya sendiri, tanpa rantai pertandaan pada tingkat ideologis, sudah menawarkan makna konotasi. Memanfaatkan isyarat, petunjuk, kilasan makna yang ditimbulkan oelh penanda- penanda tertentu. Sebagai contoh, makna konotatif yang terdapat pada nama, misalnya Tukiyem. Di dalam komunitas bahasa Jawa, akhiran yem pada nama seseorang, sudah langsung menampilkan konotasi, tidak saja konotasi feminimitas, akan tetapi juga asal geografis dari nama, yaitu ndeso (Piliang, 2012: 162). Universitas Sumatera Utara II. 2. 5. Erotisme dan Pornografi Erotisme didefenisikan sebagai: 1. Keadaan bangkitnya nafsu berahi; 2. Keinginan akan nafsu seks secara terus- menerus. Pada dasarnya erotisme didasari oleh libido yang dalam perkembangannya selanjutnya teraktualisasi dalam keinginan seksual (Hoed, 2011: 188). Pornografi didefenisikan sebagai: 1. Penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; 2. Bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata- mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dalam seks (Hoed, 2011: 189). Pornografi sebagai materi yang disajikan di media tertentu yang dapat atau ditujukan untuk membangkitkan hasrat seksual khalayak atau mengeksploitasi seks. Media tertentu tersebut yakni media cetak dan elektronik, secara audio atau visual. Lebih lanjut dijelaskan bahwa jika sesuatu yang membangkitkan hasrat seksual tidak ditampilkan di media, maka hal tersebut tidak masuk dalam kategori pornografi. Keterkaitan antara erotisme dan pornografi, merujuk pada dasarnya yaitu libido, nafsu, berahi, dan nafsu seksual. Perbedaan antara keduanya adalah bahwa erotisme, libido merupakan dasar atau ilham untuk menggambarkan sesuatu yang lebih luas (misalnya, konsep cinta, perbedaan antarjenis, atau masalah yang timbul dalam tradisi interaksi sosial), sedangkan dalam pornografi yang menonjol adalah penggambaran secara sengaja tingkah laku seksual dengan tujuan membangkitkan nafsu seksual (Hoed, 2011: 189). Erotisme adalah suatu bentuk estetika yang menjadikan dorongan seksual sebagai kajiannya. Dorongan seksual yang dimaksud adalah perasaan yang timbul yang membuat orang siap beraktivitas seksual. Ini bukanlah sekadar menggambarkan keadaan terangsang atau antisipasi (melayani rangsangan), melainkan mencakup pula segala bentuk upaya atau bentuk representasi untuk membangkitkan perasaan- perasaan tersebut. Ekspresi dari erotisme diistilahkan dengan erotika atau sesuatu yang dianggap erotik, yaitu suatu bentuk estetika yang menjadikan dorongan seksual sebagai kajiannya, yang dapat berupa mimik, gerak, sikap tubuh, suara, kalimat, benda- benda, aroma, sentuhan, dan sebagainya; serta kombinasinya (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Erotisisme). Disadari bahwa erotika Universitas Sumatera Utara dapat membangkitkan gairah seksual, fantasi birahi yang indah mengenai objek seks yang alami, sehat, dan menyenangkan. Perdebatan tentang pornografi dan erotisme sering muncul ke permukaan, perdebatan muncul hanya untuk menentukan makna sesungguhnya dari pornografi atau erotisme itu sendiri. Istilah „porno‟ selalu dikaitkan dengan objek- objek seks yang menjijikkan, tidak sehat dan merugikan individu. Sedangkan erotisme adalah mengenai objek seks yang alami, sehat, dan menyenangkan. Pada kebanyakan orang, pornografi terkadang dianggap tidak mampu merangsang nafsu birahi, karena lebih dianggap menjijikkan, sedangkan erotisme dianggap secara lembut dapat membangkitkan fantasi birahi yang indah dan membahagiakan. Pornografi secara sengaja mengeksploitasi objek seks (tubuh dan alat kelamin) sehingga merangsang syahwat dan untuk mencari keuntungan, sedangkan erotisme menampilkan seni sebagai bagian kreativitas atas objek seks sehingga dominasi seni menghilangkan syahwat. Defenisi ini pasti tidak memuaskan banyak pihak karena begitu banyak benang merah yang harus ditarik dari sudut ke sudut lain, terutama juga karena siapa yang bisa menentukan perbedaan antara pornografi dan erotisme. Masing- masing orang yang berada pada konteks budaya dan sosiologis ini memiliki kepentingan masing- masing untuk membuat defenisi tentang pornografi dan erotisme sebagai bentuk dari eksistensi mereka (Bungin, 2008: 344). Pada saat karya patung Auguste Rodin Ketika Ciuman dipamerkan di Paris tahun 1898, seorang pengkritik mengatakan: “sebuah karya besar!”. Namun karya tersebut pada dasawarsa yang sama tidak jadi dipamerkan di Amerika yang pada saat itu memiliki adat yang ketat mengenai masalah seks. Lalu karya Rodin itu disingkirkan ke dalam kamar tersendiri pada Pekan Pameran Dunia dan bagi siapa saja yang ingin melihatnya, harus memperoleh ijin khusus. Lain halnya pada masyarakat suku Shavante di Brasilia Tengah yang hidup tanpa busana. Masyarakatnya bahkan orang lain menganggap itu sebagai suatu kewajaran subkultural, karena nilai- nilai masyarakat itu tidak melihatnya sebagai suatu porno. Dalam hal ini perlu dilihat konteksnya, di mana berbagai persoalannya, terutama yang bersumber dari konteks budaya dan sosiologis. Konteks budaya Universitas Sumatera Utara berhubungan dengan bagaimana kultur lokal mengakomodasikan masalahmasalah porno sebagai bagian dari kearifan lokal, termasuk bagaimana budaya lokal memberi konstribusi terhadap sikap dan perilaku porno itu sendiri. Dalam konteks sosiologis, disini muncul persoalan kreativitas, persoalan seni, ekonomi dan mata pencarian, perilaku dan sikap keagamaan, sampai dengan persoalan politik dan kekuasaan, serta hubungan antara warga negara dan negara termasuk juga hubungan dengan Tuhan (Bungin, 2008: 343). Erotisme dan pornografi terdapat batasan- batasan yang samar. Hal ini terjadi karena dalam pornografi selalu ada erotisme, tetapi tidak semua yang erotis itu disebut pornografi. II. 2. 6. Teks Erotisme Erotisme dalam sebuah teks adalah penggambaran secara kebahasaan tindakan, keadaan, atau suasana yang berkaitan dengan hasrat seksual. Jadi, tindakan seksual itu bukanlah tindakan yang digambarkan secara visual melainkan secara verbal. Namun, erotisme yang dilukiskan itu tidak ditujukan untuk mengakibatkan timbulnya hasrat berahi atau nafsu seksual pembacanya. Timbulnya nafsu seksual pada pembaca adalah karena pembaca menafsirkan teks yang bersangkutan sehingga menimbulkan dampak erotis padanya (Hoed, 2011: 194). Teks yang berdampak erotis pada pembaca adalah teks tentang berkaitan dengan tindakan, keadaan, atau suasana erotis atau teks lain yang memberikan kemungkinan itu. Teks erotis adalah teks yang menggambarkan kegiatan erotis atau situasi atau suasana erotis. Disamping itu, ada pula teks yang disebut “berdampak erotis”, yaitu yang menimbulkan hasrat seksual pada pembacanya. Teks erotis dibedakan dengan teks pornografis dari segi tujuannya. Teks erotis tidak ditujukan untuk menimbulkan dampak erotis, sedangkan teks pornografis memang bertujuan memberikan dampak erotis (Hoed, 2011: 211). Karya pornografis yang ditulis sebagai naskah cerita, testimonial, atau pengalaman pribadi secara detail dan vulgar, sehingga pembaca merasa seakanakan ia menyaksikan sendiri, mengalami atau melakukan sendiri peristiwa hubungan seks itu. Penggambaran yang detail secara narasi terhadap hubungan Universitas Sumatera Utara seks ini menyebabkan pembaca sedang mengalaminya sendiri, sehingga fantasi seksual pembaca menjadi menggebu- gebu terhadap objek hubungan seks yang digambarkan itu. Teks erotis mempunyai tujuan- tujuan yang lebih luas. II. 2. 7. Musik atau Lagu Dangdut Dangdut adalah musik yang lahir dari perpaduan musik populer India, Arab, Barat, dan Melayu. Pada masa awal perkembangannya, musik dangdut disebut Orkes Melayu (disingkat OM). Dalam periode awal itu, yaitu tahun 1960an, muncul beberapa penyanyi dan pencipta lagu terkenal. Diantaranya, Emma Gangga, Hasnah Tahar, Said Effendi, Munif Bahaswan, Elly Khadam dan sebagainya. Penyebutan nama „dangdut‟ sendiri merupakan peniruan bunyi tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang), yaitu dang dan ndut. Pada awalnya nama ini dianggap merendahkan musik tersebut. Selanjutnya perkembangan musik dangdut sudah banyak dipengaruhi oleh aliran musik lainnya, antara lain musik Pop, House Music, dan Rock. Pada awal tahun 1970- an, mantan pemusik rock Rhoma Irama (sebelumnya bernama Oma Irama), bersama kelompok OM Soneta (kemudian Soneta Group) dan pasangan duet Elvie Sukaesih, masuk dalam blantika musik dangdut. Rhoma Irama mengurangi warna India dalam dangdut dan meningkatkan warna Timur Tengah serta warna rock. Dengan perubahan ini dangdut menjadi sangat populer, dan Rhoma Irama kemudian dinobatkan menjadi “Raja Dangdut” (Purba & Pasaribu, 2006: 78). Dangdut adalah musik yang digemari oleh kaum marginal baik secara ekonomis maupun geografis. Secara ekonomis, dangdut merupakan musik yang digemari oleh masyarakat dengan tingkat ekonomi yang rendah, misalnya para buruh, sopir angkot, dan tukang beca. Sedangkan, dari segi geografis, dangdut merupakan musik yang digemari oleh masyarakat yang tinggal di kota tetapi bukan di bagian elit gedongan tetapi yang tinggal di kampung- kampung pinggiran kota besar, yang tidak terdidik dan sedikit terdidik. Musik dangdut mengalami pasang naik, dari segi penjualan rekaman, pertunjukan dan produksi film. Kemudian semakin marak, seiring munculnya penyanyi- penyanyi baru yang memiliki gaya tersendiri, diantaranya, A. Rafiq, Universitas Sumatera Utara Mansyur S, Muchsin Alatas, Rita Sugiarto, Meggi Z, Rama Aiphama, Itje Tresnawati, Inul Daratista, Evie Tamala, Camelia Malik dan lain- lain. Hingga akhirnya memasuki dasawarsa 90- an ke tahun 2000, dangdut dapat diterima sebagai salah satu milik budaya bangsa. Bahkan di kalangan generasi muda yang sebelumnya menganggap dangdut adalah musik kurang bermutu dan norak. Namun, musik dangdut mulai mendapat sentuhan alat- alat musik modern seperti gitar elektrik, organ elektrik, perkusi, terompet dan lain- lain untuk meningkatkan kreativitas para musisi. Hingga akhirnya musik dangdut terus berkembang dari tahun ke tahun. Musik dangdut kini terdengar lebih modern. Kini akhirnya musik dangdut telah menjangkau semua kalangan masyarakat mulai dari kalangan kelas bawah, kalangan menengah hingga kelas ataspun sudah mulai menikmati seni musik dangdut. Popularitas dangdut juga banyak ditolong oleh telah berkembangnya industri kaset, peranan radio- radio swasta, surat kabar, dan majalah hiburan populer, iklan, dan akhirnya menjangkau dunia film. Kalau masalah popularitas mau diukur dengan jumlah pendukung, penggemar, dan peminat boleh jadi dangdut jaman kini dapat diartikan mass- music (musik yang digemari orang banyak), sehingga disebut sebagai musik rakyat. Untuk memperoleh sebutan “musik rakyat” tentu akan diperlukan rentang waktu yang panjang disamping aspek dukungan yang mapan yang terdapat dalam dangdut. Sekarang kita mengenal berbagai corak dangdut. Ada dangdut model Rhoma Irama; dangdut gaya India dari Mansyur S, dangdut gaya Arab dari A.Rafiq. Ada juga yang memasukkan unsur musik populer lainnya misalnya: dangdut rock, keroncong dangdut, dan dangdut house music. Disamping itu, dangdut pada umumnya menggunakan banyak liukan dalam gaya bernyanyinya, serta warna suaranya yang khas, sehingga dimanapun musik ini disajikan, semua orang pasti dapat mengidentifikasinya. Universitas Sumatera Utara II. 3. Model Teoritis SEMIOTIKA ROLAND BARTHES LIRIK LAGU “CINTA SATU MALAM”, “MOJOK DI MALAM JUMAT”, DAN “AW AW”    DENOTASI KONOTASI MITOS Gambar: II. 2. Model Teoritis Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN I. 1. Konteks Masalah Cinta Satu Malam Cinta satu malam Oh indahnya Cinta satu malam Buatku melayang Walau satu malam Akan selalu ku kenang Mojok di Malam Jumat Mojok di malam Jumat aduh asyiknya Cumbulah aku sesukamu Mojok di Malam Jumat aduh senangnya Melepas rindu tak tertahan Abangku sayang Aw Aw Tadi malam aw aw ku dibuai aw aw Sayang-sayangan aw aw mesra-mesraan aw aw Ku dimanja aw aw ku dicumbu aw aw Basah hatiku aw aw betapa indah aw aw Kutipan di atas merupakan penggalan dari lirik lagu- lagu penyanyi dangdut Melinda yang bernama asli, Eka May Linda, ia lahir di Jakarta pada 29 Mei 1982. Lirik- lirik lagu yang ia bawakan kebanyakan memiliki tema tentang percintaan dan segala masalah seputar percintaan, seperti cinta yang sementara, hubungan pria dan wanita yang tidak wajar (hubungan seks). Lirik- lirik tersebut mengeksploitasi tema- tema seksual atau erotisme sebagai pemikat utamanya. Erotisme yaitu suatu bentuk estetika yang menjadikan dorongan seksual sebagai kajiannya. Dorongan seksual tidak harus selalu diikuti dengan melakukan perbuatan seksual. Tanda- tanda yang dapat menimbulkan dorongan seksual dapat berupa mimik, gerak, sikap tubuh, suara, kalimat, benda- benda, aroma, sentuhan, dan juga lirik; serta kombinasinya. Lirik lagu digunakan sebagai alat untuk berekspresi dan berkomunikasi. Pada lirik lagu ada pesan yang ingin disampaikan pencipta lagu kepada khalayak. Universitas Sumatera Utara Pesan dapat memiliki berbagai macam bentuk baik lisan maupun tulisan. Lirik lagu memiliki bentuk pesan berupa tulisan kata- kata dan kalimat yang dapat digunakan untuk menciptakan suatu perasaan, suasana hati atau semangat tertentu kepada setiap pendengarnya dan juga dapat menggetarkan setiap perasaan manusia seperti kasih, kelembutan, penghormatan, kesedihan, kemarahan, kebencian, dan nafsu. Sehingga lirik lagu menjadi sesuatu yang menarik dalam sebuah lagu, namun tak jarang juga dapat menjadi suatu persoalan apabila menampilkan unsur erotisme di dalamnya. Mengingat dalam lirik lagu adalah suatu bentuk pesan komunikasi yang dapat mempengaruhi sikap atau nilai. Satu inti persoalan yang belakangan ini banyak diperbincangkan orang tentang musik atau lagu dangdut adalah kedudukan liriknya. Kritik telah banyak dilontarkan mengenai pemilihan kata- kata yang dipakai guna mengangkat ide musik dalam sebuah lagu. Lagu dangdut seringkali menampilkan lirik- lirik yang erotis. Lagu “Cinta Satu Malam” diciptakan oleh Cahyadi dan dirilis pada awal November 2009. Lagu ini berirama dangdut house music, karena menurutnya irama ini lebih identik dengan anak muda. Sekilas lirik lagu yang dinyanyikan oleh Melinda ini menceritakan tentang seorang wanita yang bertemu dengan seorang pria, kemudian keduanya sepakat untuk berkencan dan akhirnya melakukan hubungan intim sebelum berpisah keesokan harinya. Wanita tersebut merasa bahagia dengan pengalaman percintaan yang singkat tersebut. Lagu “Cinta Satu Malam” menggunakan lirik yang dinilai terlalu vulgar. Lagu tersebut dinilai akan merusak mental masyarakat, tidak hanya pada kalangan anak muda, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat yang menikmati alunan lagu tersebut. Hal ini patut untuk diperhatikan, mengingat bahwa musik dangdut sangat akrab dengan khalayak. Sehingga tidak heran lagu tersebut akhirnya dicekal oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Uniknya lagu “Cinta Satu Malam” berhasil mendapat banyak penghargaan walaupun sempat dicekal oleh KPI, seperti Anugerah Musik Indonesia (AMI) Award dengan dua kategori “Lagu Terpopuler” dan “Artis Terpopuler”, Indosat Award dengan dua kategori “Lagu Terpopuler” dan “Artis Terpopuler”, Hongkong Award dengan kategori “Artis Populer”, Telkomsel dengan kategori Universitas Sumatera Utara “The Best House Music”. Tidak hanya single saja yang sukses di pasaran, Ring Back Tone (RBT) “Cinta Satu Malam” juga sukses dan Melinda juga berhasil terpilih menjadi duta budaya pada tahun 2008. Ini menunjukkan bahwa lagu dangdut tersebut diterima dan diminati oleh banyak orang, sehingga menjadi populer di berbagai kalangan. Selanjutnya, lagu “Mojok di Malam Jumat” dirilis pada tahun 2010. Sekilas lagu ini menceritakan tentang hubungan seorang wanita dan pria yang masih berstatus pacaran, namun hubungan mereka sudah mengarah pada perilaku seks bebas (free sex). Seorang wanita yang ditampilkan berani mengekspresikan keinginannya untuk bermesra- mesraan di tempat sepi dengan kekasihnya yang ternyata belum datang untuk menemuinya hingga membuatnya kesal. Setelah sukses dengan single “Cinta Satu Malam” dan “Mojok di Malam Jumat”, Melinda kembali mendendangkan lagu “Aw Aw” pada tahun 2011. Lagu “Aw Aw” diciptakan oleh Endang Raes dan dirilis pada tanggal 13 September 2011. Lagu ini berirama dangdut house music, dengan mengandalkan lirik- lirik vulgar dan agak sedikit nakal. Lagu “Aw Aw” tidak jauh berbeda dengan lagu “Cinta Satu Malam” dan “Mojok di Malam Jumat”. Lagu ini mengisahkan tentang suatu hubungan asmara yang singkat dan mengarah kepada perilaku seks bebas. Lagu “Aw Aw” milik Melinda ini juga mendapat pencekalan. Lagu “Aw Aw” dicekal Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Tengah setelah mendapat pengaduan dari masyarakat dan sejumlah tokoh agama yang merasa resah akibat beredarnya lagu- lagu dangdut yang dinilai terlalu vulgar baik goyangannya, gaya berpakaian dan juga liriknya, yang akan berpotensi untuk ditiru oleh masyarakat terutama anak- anak dan remaja. Lagunya dinilai terlalu vulgar karena berkonotasi pada aktivitas seksual dan kenikmatan seksual sehingga dapat membangkitkan rangsangan dan keinginan seks bagi siapa saja yang mendengar lagu tersebut. Hal ini tentu tidak baik untuk dikonsumsi oleh masyarakat, karena dapat berpotensi merusak mental masyarakat. Akibatnya KPID Provinsi Jawa Tengah melarang atau membatasi penyiarannya (http://kpid.jatengprov.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=5 2&Itemid=102). Lagu ini sekilas mengisahkan tentang percintaan sepasang kekasih yang Universitas Sumatera Utara tengah kasmaraan yang terjadi hanya satu jam saja. Kemudian, bagaimana pasangan tersebut bergaul bebas menikmati pengalaman percintaannya yang erotis dan perempuan digambarkan hanya sebagai objek seksual. Lagu- lagu Melinda tersebut tepat menggambarkan bahwa lirik- liriknya mengandung unsur erotisme, terlihat dari pencekalan- pencekalan yang dilakukan oleh KPI. Tidak dapat dipungkiri bahwa pencipta lagu memiliki pengaruh dalam proses menghasilkan sebuah lagu. Sebuah karya seni selalu diidentifikasikan dengan seniman atau penciptanya. Seorang pencipta lagu dalam menciptakan sebuah lagu sangat berhubungan erat dengan cara berpikir, cara hidup, cara bermasyarakat serta pandangan hidup seniman pengkarya, pelaku serta masyarakat pemiliknya. Gambaran dari ide pencipta lagu terdapat pada lagu yang diciptakannya. Si pencipta lagu dalam menciptakan lagu yang bertema percintaan menggunakan lirik- lirik yang mengandung unsur erotisme agar karyanya tersebut diperhatikan orang. Mengingat sejak dulu seks adalah tema- tema yang tidak pernah habis dibicarakan serta menarik minat banyak orang. Lagu dangdut yang harus dituntut untuk dapat bersaing dengan lagu Pop, Rock, K-Pop, J-Pop sehingga si pencipta lagu melihat peluang ini. Menggunakan lagu- lagu yang bertemakan percintaan dengan menggunakan lirik- lirik yang mengandung unsur erotisme untuk menarik minat khalayak pendengar. Para musisi atau pencipta lagu akan meniru segala sesuatu yang sedang “naik daun” atau laris agar karyanya laku di pasaran dan secara otomatis akan menghasilkan untung yang besar. Sehingga tidak heran akhir- akhir ini lagu dangdut bertemakan seksualitas semakin populer. Jika pencipta lagu tidak mampu berusaha dengan menggunakan akal dan budi yang baik karena ia terlalu terpaku pada selera pasar, maka dengan begitu juga artinya pencipta lagu sebagai seniman telah membiarkan hal- hal yang dapat merusak moral terus berkembang. Melihat akhir- akhir ini musik atau lagu dangdut telah menjangkau semua kalangan masyarakat mulai dari kalangan kelas bawah, kalangan menengah hingga kelas ataspun sudah mulai menikmati seni musik dangdut. Banyaknya peminat lagu- lagu dangdut, menyebabkan lagu dangdut sering dihadirkan pada stasiun radio dan juga diapresiasi oleh hampir semua stasiun televisi swasta Universitas Sumatera Utara nasional dengan membuat acara- acara kontes dangdut, seperti acara “D’Academy” di Indosiar, “D’Terong” di Indosiar, “Tunjuk Satu Bintang” di MNC. Bahkan, acara- acara musik yang biasanya menampilkan musik- musik pop populer seperti “Dahsyat” di RCTI dan “Inbox” di SCTV juga menyuguhkan lagu- lagu dangdut yang populer saat ini. Namun musik atau lagu dangdut seringkali menuai kontroversi terkait unsur erotisme yang ditampilkan, tidak hanya pada goyangannya tetapi juga lirik lagunya. Ini tentu menjadi suatu fenomena dalam masyarakat. Bagi sebagian orang hal ini sangat menarik, tetapi bagi sebagian orang lainnya menganggap risih dan dianggap tidak layak diperdengarkan kepada khalayak luas. Perdebatan pro dan kotra yang muncul dari berbagai pihak, karena dianggap tidak sesuai dengan tata nilai budaya yang masih menjunjung tinggi adat ketimuran. Banyak kalangan merasa prihatin, mulai dari masyarakat biasa, pakar hukum, pakar media, bahkan raja dangdut sendiri Rhoma Irama menganggap lirik lagu- lagu dangdut sekarang erotis dan dapat merusak citra musik dangdut itu sendiri. Rhoma Irama mengaku sangat prihatin dengan semakin banyaknya penyanyi dangdut yang mempertontonkan goyangan vulgar. Tidak hanya itu saja “Raja Dangdut” itu juga menghimbau agar pencipta lagu tidak hanya menulis lirik- lirik lagu yang erotis, agar tidak mengundang kontroversi dan merugikan banyak pihak (http://m.liputan6.com/health/read/628867/rhoma-irama-lirik-dangoyang-dangdut-tak-harus-erotis). Lirik lagu yang menonjolkan unsur bermuatan cabul, memperolok, merendahkan, melecehkan, atau mengabaikan nilai- nilai agama dan martabat manusia Indonesia merupakan bentuk pelanggaran terhadap Undang- Undang no 32 tahun 2002 tentang Penyiaran yakni pasal 36 ayat 5 dan ayat 6. Dan juga bertentangan dengan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3/ SPS) tahun 2009 yakni pasal 9, pasal 17, pasal 18, dan pasal 19. Selain itu, lirik lagu bertema seksual dapat menimbulkan dampak erotis pada setiap orang yang menikmati lagu tersebut. Seperti yang ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Brian A. Primack, M.D., Ed.M, M.S., dari Pusat Penelitian Kesehatan di University of Pittsburgh School of Medicine, menemukan adanya hubungan antara lirik lagu bertema seks dalam perannya mensugesti otak Universitas Sumatera Utara untuk memberikan rangsangan seksual. Dr Primack juga mengatakan lagu- lagu bertema seks juga mempunyai pengaruh sebagai sugesti untuk melanjutkan ke sesi seks yang sebenarnya (http://psychcentral.com/news/2009/02/26/song-lyricsinfluence-sexual-behavior/4366.html). Lagu- lagu dangdut dengan menggunakan lirik- lirik yang mengandung aspek erotisme yang dulu dianggap tabu, tidak menutup kemungkinan akan menjadi dianggap lumrah dalam masyarakat. Seperti kata “dicumbu”, dulu dianggap tabu namun sekarang dianggap lumrah dan menjadi budaya baru. Lagu- lagu dangdut tersebut nantinya akan ditampilkan lewat media massa dan menjadi konsumsi masyarakat umum. Namun yang perlu diketahui bahwa masyarakat umum juga meliputi anak- anak dan kalangan remaja. Lagu- lagu yang memiliki aspek erotika memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap anakanak dan remaja. Mengingat usia anak- anak dan remaja yang masih dalam tahap pencarian jati diri, sulit menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Di masa ini, seorang anak akan langsung mengikuti apa yang didengar atau dilihat. Bila masih usia dini sudah disuguhi dengan lirik lagu- lagu dangdut yang erotis, maka mereka akan sangat mungkin melakukan penyimpangan seksual. Dangdut adalah musik yang lahir dari perpaduan musik populer India, Arab, Barat, dan Melayu. Pada masa awal perkembangannya, musik dangdut disebut Orkes Melayu (disingkat OM). Dalam periode awal itu, yaitu tahun 1960an, muncul beberapa penyanyi dan pencipta lagu terkenal. Diantaranya, Emma Gangga, Hasnah Tahar, Said Effendi, Munif Bahaswan, Elly Khadam dan sebagainya. Penyebutan nama „dangdut‟ sendiri merupakan peniruan bunyi tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang), yaitu dang dan ndut. Pada awalnya nama ini dianggap merendahkan musik tersebut. Selanjutnya perkembangan musik dangdut sudah banyak dipengaruhi oleh aliran musik lainnya, antara lain musik Pop, House Music, dan Rock. Pada awal tahun 1970- an, mantan pemusik rock Rhoma Irama (sebelumnya bernama Oma Irama), bersama kelompok OM Soneta (kemudian Soneta Group) dan pasangan duet Elvie Sukaesih, masuk dalam blantika musik dangdut. Rhoma Irama mengurangi warna India dalam dangdut dan meningkatkan warna Timur Tengah serta warna rock. Dengan perubahan ini Universitas Sumatera Utara dangdut menjadi sangat populer, dan Rhoma Irama kemudian dinobatkan menjadi “Raja Dangdut” (Purba & Pasaribu, 2006: 78). Musik atau lagu dangdut mengalami pasang naik, dari segi penjualan rekaman, pertunjukan, dan produksi film. Kemudian semakin marak, seiring munculnya penyanyi- penyanyi baru yang memiliki gaya tersendiri, diantaranya, A. Rafiq, Mansyur S, Muchsin Alatas, Rita Sugiarto, Meggi Z, Rama Aiphama, Itje Tresnawati, Inul Daratista, Evie Tamala, Camelia Malik dan lain- lain. Hingga akhirnya memasuki dasawarsa 90- an ke tahun 2000, dangdut dapat diterima sebagai salah satu milik budaya bangsa. Dangdut terus berkembang dari tahun ke tahun. Dangdut kini terdengar lebih modern. Musik dangdut mulai mendapat sentuhan alat- alat musik modern seperti gitar elektrik, organ elektrik, perkusi, terompet dan lain- lain untuk meningkatkan kreativitas para musisi. Dangdut juga semakin populer akibat pengaruh dari berkembangnya industri kaset, peranan radio- radio swasta, surat kabar dan majalah hiburan populer, iklan, dan akhirnya menjangkau dunia film. Populer merupakan istilah yang menggambarkan musik yang memiliki daya tarik yang luas dan biasanya didistribusikan kepada khalayak yang besar melalui industri musik. Beberapa ciri dari musik populer adalah sebagai berikut: (1) Lagu dan lirik akrab dengan pendengar; (2) Pemain profesional dengan teknologi canggih; (3) Penyanyi adalah bintang; (4) Disebarluaskan lewat media; (5) Mencari konsumen (audiens) secara maksimal; (6) Strategi pasar, menawarkan unsur baru: penyanyi, gaya, lagu, aransemen, produksi, serta menyoroti gaya hidup si penyanyi (sistem bintang/ idola); (7) Versi rekaman menjadi standar atau patokan (Supanggah, Sumarno, Wijaya, & Anwar, 2009: 35). Musik dalam hal ini lirik lagu merupakan salah satu bentuk komunikasi massa. Dimana komunikasi massa merupakan proses penyampaian pesan yang dikomunikasikan melalui media massa kepada sejumlah besar orang. Musik merupakan media yang efektif untuk menyampaikan pesan. Penyampaian pesan dapat dilakukan melalui lirik lagu kepada khalayak luas. Pada dasarnya lirik lagu mengandung pesan dan makna yang ingin disampaikan oleh pencipta lagu kepada khalayak. Musik, dalam hal ini lirik lagu adalah pesan yang akan disampaikan pada khalayak melalui media tertentu. Musik dikemas, dipasarkan, dan disebarkan Universitas Sumatera Utara lewat media massa. Media massa digunakan untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Dalam hal ini penyanyi sebagai komunikator untuk menyampaikan pesannya yang berbentuk lagu dengan menggunakan media massa tertentu seperti radio dan televisi kepada komunikannya yaitu khalayak luas. Pesannya yang bersifat linier, dan dari segi fungsi, musik dapat digunakan sebagai sarana hiburan, dan juga bisa digunakan sebagai media untuk menyalurkan aspirasi. Penelitian dengan objek lagu dangdut sudah pernah dilakukan oleh Ermita Febriani dari Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara dalam penelitian yang berjudul Membongkar Makna Pesan Verbal dalam Lagu Dangdut Kontemporer: Analisis Semiotika dalam Lirik Lagu Dangdut “Hamil Duluan” yang dipopulerkan oleh Tuty Wibowo (2013). Kesamaan penelitian dengan penelitian yang sudah ada terletak pada jenis lagu yaitu lagu dangdut, metode yang digunakan yaitu metode kualitatif, dan paradigma yang digunakan yaitu konstruktivisme. Sedangkan perbedaan dari keduanya terlihat dari segi metode analisis dan kerangka teori. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, Peneliti tertarik melakukan penelitian terhadap erotisme dalam lirik lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda. I. 2. Fokus Masalah Berdasarkan konteks masalah yang telah diurai, Peneliti merumuskan bahwa fokus masalah, yaitu: 1. Bagaimana erotisme ditampilkan dalam lirik lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda? 2. Bagaimana mitos terhadap erotisme dalam lirik lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda? Universitas Sumatera Utara I. 3. Tujuan Penelitian Berdasarkan fokus dan pembatasan masalah di atas, maka diketahuilah tujuan- tujuan dari penelitian yang dilakukan, yaitu: 1. Untuk mengetahui erotisme ditampilkan dalam lirik lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda. 2. Untuk mengetahui mitos terhadap erotisme dalam lirik lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda. I. 4. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian adalah sebagai berikut ini: 1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu komunikasi, sebagai tambahan referensi, dalam hal ini yang berhubungan dengan kajian lagu dan semiotika. Penelitian ini juga ingin melihat bagaimana konstruksi dan pemaknaan terhadap erotisme dalam lirik lagu- lagu dangdut, serta menambah pengetahuan dan pengalaman ilmu mahasiswa di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU. 2. Secara teoritis, untuk menerapkan ilmu yang didapat selama menjadi mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU serta menambah cakrawala dan wawasan peneliti mengenai analisis semiotika. 3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran dalam membaca makna yang terkandung dalam sebuah lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda melalui semiotika, serta dapat menjadi masukan untuk perbaikan kepada siapa saja yang ingin melakukan penelitian sejenis. Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Erotisme dalam Lirik Lagu Dangdut Indonesia (Analisis Semiotika terhadap Lirik Lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda”. Lagu- lagu tersebut pernah dicekal oleh KPI karena lirik yang digunakan mengandung unsur erotis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui erotisme yang ditampilkan lewat lirik lagu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan paradigma konstruktivisme. Sementara untuk teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis semiotika Roland Barthes. Semiotika Roland Barthes fokus pada two orders of signification (signifikasi dua tahap). Signifikasi tahap pertama yaitu mencari makna denotasi, lalu signifikasi tahap kedua yaitu mencari makna konotasi dan mitos. Lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda” menuai banyak kontroversi karena penggunaan katakata pada lirik lagu mengandung unsur erotisme. Sesuai dengan fokus masalah yang akan diteliti yaitu bagaimana erotisme ditampilkan dalam lirik lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda dan bagaimana mitos terhadap erotisme dalam lirik lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda. Lagu dangdut dengan tema dan lirik yang erotis banyak ditampilkan lewat media massa. Penemuan penelitian ini menunjukkan bahwa erotisme dalam lagu dangdut ditampilkan melalui tema, judul, penggunaan kata- kata, dan istilah yang erotis. Apalagi kisah percintaan yang ditampilkan dalam lirik lagu tersebut menunjukkan suatu pasangan yang belum adanya ikatan pernikahan bebas melakukan kontak fisik seperti ciuman, saling menyentuh, bahkan sampai melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Lagu tersebut juga ingin menyatakan bahwa kebebasan seks, walaupun hanya sementara memberikan lebih banyak kebahagiaan pribadi dan hal itu sangat menyenangkan. Kata Kunci: Erotisme, Lirik lagu, Lagu Dangdut, Semiotika Universitas Sumatera Utara ABSTRACT This study aims to find out the eroticism of lyric Dangdut Indonesian (Semiotic analysis of the song lyrics “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, and “Aw Aw” by Melinda). The songs has banned for using erotic lyrics. This research was conducted with the aims to find out eroticism displayed through song lyrics. This research used qualitative method with constructivism paradigm approach. And technical of semiotic theories of Roland Barthes. The method used in this theory, using a two orders of significations. The first signification find denotative sign, and the second signification find conotative sign and myths. The songs of “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, and “Aw Aw” by Melinda get many problems because use of erotic lyrics. According to the problem formulated, how eroticism conducted with the aim to find out eroticism displayed through song lyrics “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, and “Aw Aw” by Melinda and how myth of the eroticism song lyrics “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw”. Dangdut’s song with erotic themes and erotic lyric was conduct mass media. The result of research indicated that eroticism in dangdut song displayed by theme, the title, the use of word, and erotic term. Moreover, love story used of the song lyrics show a unmarried couples. They are free to make physical contact like kissing, petting, and then intercrouse. The songs would also like to state that free sex, although temporary can get happy live dan that very nice. Key Words: Eroticism, Song Lyric, Dangdut, Semiotic Universitas Sumatera Utara EROTISME DALAM LIRIK LAGU DANGDUT INDONESIA (Analisis Semiotika terhadap Lirik Lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda ) SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Program Strata 1 (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Susiana Br Naibaho 090904046 Hubungan Masyarakat DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014 Universitas Sumatera Utara EROTISME DALAM LIRIK LAGU DANGDUT INDONESIA SKRIPSI Susiana Br Naibaho 090904046 Hubungan Masyarakat DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014 Universitas Sumatera Utara UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI Lembar Persetujuan Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh : Nama : Susiana Br Naibaho NIM : 090904046 Departemen : Ilmu Komunikasi Skripsi : Erotisme dalam Lirik Lagu Dangdut Indonesia (Analisis Semiotika terhadap Lirik Lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda) Medan, April 2014 Dosen Pembimbing Ketua Departemen Yovita Sabarina Sitepu, M.Si Dra. Fatma Wardi Lubis, M.A NIP. 198011072006042002 NIP.195102191987011001 Dekan FISIP USU Prof. Dr. Badaruddin, M.Si NIP. 196805251992031002 Universitas Sumatera Utara HALAMAN PENGESAHAN Skripsi ini diajukan oleh : Nama : Susiana Br Naibaho NIM : 090904046 Departemen : Ilmu Komunikasi Judul Skripsi : EROTISME DALAM LIRIK LAGU DANGDUT INDONESIA (Analisis Semiotika terhadap Lirik Lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda) Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Majelis Penguji Ketua Penguji : ( ) Penguji : ( ) Penguji Utama : ( ) Ditetapkan di : Medan Tanggal : April 2014 Universitas Sumatera Utara HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika dikemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Nama : Susiana Br Naibaho NIM : 090904046 Tanda Tangan : Tanggal : April 2014 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan penyertaanNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Saya menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit bagi saya menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, saya menyampaikan penghargaan dan rasa cinta kasih yang setingi- tingginya kepada ayahanda A. Naibaho dan ibunda H. Purba yang senantiasa dengan sabar memberikan dukungan dengan tulus dan mendoakan penulis. Demikian juga buat saudara- saudara penulis yang setia memotivasi, Ronal, Corry, Lasria, Adri, Parulian, Meri Arion, dan Wahyu Putriani. Selain itu penulis juga ingin menyampaikan terima kasih kepada: 1. Bapak Prof. Dr. M. Badaruddin, M.Si selaku Dekan FISIP USU. 2. Ibu Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi. 3. Ibu Dra. Dayana Manurung, M.Si selaku Dosen Wali penulis yang telah banyak membantu selama masa perkuliahan. 4. Kak Yovita Sabarina Sitepu, M.Si selaku dosen pembimbing penulis yang telah memberikan masukan, kritik, saran, motivasi yang sangat bernilai serta meluangkan waktu, tenaga, dan kesabaran dalam membantu pengerjaan skripsi ini. 5. Semua Dosen di Departemen Ilmu Komunikasi dan pegawai administrasi FISIP USU. 6. Bapak Tangkas dan Kak Maya atas semua bantuannya dalam urusan administrasi. 7. Teman- teman Komunikasi angkatan 2009 khususnya kepada Lya, Sarah, Lucy, Ensy, Kristiana, Jernih, Felina, Liberty, Windo, dan Yosefin yang telah memberikan motivasi dan bantuan kepada penulis selama menjalani perkuliahan dan dalam pengerjaan skripsi ini. 8. KK Alzire (Nora, Damai, Arnold, Tika, Meydita, dan Kak Frensi) yang tanpa henti dan tanpa lelah telah memberikan berbagai masukan dan motivasi kepada penulis dalam pengerjaan skripsi ini. Universitas Sumatera Utara 9. Sahabat- sahabat saya HIPATITU atas dukungan, semangat, serta doanya. Penulis merasa senang menjadi bagian dari HIPATITU yang selalu kompak dan saling mendukung satu dengan yang lainnya. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini belum mencapai kesempurnaan, karena itu dengan kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Terima kasih. Medan, April 2014 Penulis Susiana Br Naibaho Universitas Sumatera Utara LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai civitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Susiana Br Naibaho NIM : 090904046 Departemen : Ilmu Komunikasi Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Sumatera Utara Jenis Karya : Skripsi Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Ekslusif (Non-ekslusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul: EROTISME DALAM LIRIK LAGU DANGDUT INDONESIA (Analisis Semiotika terhadap Lirik Lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda) beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Nonekslusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media/ format- kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/ pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di : Medan Pada Tanggal : April 2014 Yang Menyatakan Susiana Br Naibaho Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Erotisme dalam Lirik Lagu Dangdut Indonesia (Analisis Semiotika terhadap Lirik Lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda”. Lagu- lagu tersebut pernah dicekal oleh KPI karena lirik yang digunakan mengandung unsur erotis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui erotisme yang ditampilkan lewat lirik lagu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan paradigma konstruktivisme. Sementara untuk teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis semiotika Roland Barthes. Semiotika Roland Barthes fokus pada two orders of signification (signifikasi dua tahap). Signifikasi tahap pertama yaitu mencari makna denotasi, lalu signifikasi tahap kedua yaitu mencari makna konotasi dan mitos. Lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda” menuai banyak kontroversi karena penggunaan katakata pada lirik lagu mengandung unsur erotisme. Sesuai dengan fokus masalah yang akan diteliti yaitu bagaimana erotisme ditampilkan dalam lirik lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda dan bagaimana mitos terhadap erotisme dalam lirik lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw” oleh Melinda. Lagu dangdut dengan tema dan lirik yang erotis banyak ditampilkan lewat media massa. Penemuan penelitian ini menunjukkan bahwa erotisme dalam lagu dangdut ditampilkan melalui tema, judul, penggunaan kata- kata, dan istilah yang erotis. Apalagi kisah percintaan yang ditampilkan dalam lirik lagu tersebut menunjukkan suatu pasangan yang belum adanya ikatan pernikahan bebas melakukan kontak fisik seperti ciuman, saling menyentuh, bahkan sampai melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Lagu tersebut juga ingin menyatakan bahwa kebebasan seks, walaupun hanya sementara memberikan lebih banyak kebahagiaan pribadi dan hal itu sangat menyenangkan. Kata Kunci: Erotisme, Lirik lagu, Lagu Dangdut, Semiotika Universitas Sumatera Utara ABSTRACT This study aims to find out the eroticism of lyric Dangdut Indonesian (Semiotic analysis of the song lyrics “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, and “Aw Aw” by Melinda). The songs has banned for using erotic lyrics. This research was conducted with the aims to find out eroticism displayed through song lyrics. This research used qualitative method with constructivism paradigm approach. And technical of semiotic theories of Roland Barthes. The method used in this theory, using a two orders of significations. The first signification find denotative sign, and the second signification find conotative sign and myths. The songs of “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, and “Aw Aw” by Melinda get many problems because use of erotic lyrics. According to the problem formulated, how eroticism conducted with the aim to find out eroticism displayed through song lyrics “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, and “Aw Aw” by Melinda and how myth of the eroticism song lyrics “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw”. Dangdut’s song with erotic themes and erotic lyric was conduct mass media. The result of research indicated that eroticism in dangdut song displayed by theme, the title, the use of word, and erotic term. Moreover, love story used of the song lyrics show a unmarried couples. They are free to make physical contact like kissing, petting, and then intercrouse. The songs would also like to state that free sex, although temporary can get happy live dan that very nice. Key Words: Eroticism, Song Lyric, Dangdut, Semiotic Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................. LEMBAR PERSETUJUAN.................................................................... HALAMAN PENGESAHAN.................................................................. HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS................................... KATA PENGANTAR.............................................................................. LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH............ ABSTRAK................................................................................................. DAFTAR ISI.............................................................................................. DAFTAR GAMBAR................................................................................ i ii iii iv v vii viii x xii BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Konteks Masalah…….…….…….….….…….…….…..….……….… 1 1. 2. Fokus Masalah.….….….….….….….….….…………………………. 8 1. 3. Tujuan Penelitian……………………………………………………... 9 1. 4. Manfaat Penelitian……………………………………………………. 9 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2. 1. Paradigma Kajian................................................................................. 10 2. 1. 1. Paradigma Konstruktivisme................................................. 11 2. 2. Uraian Teoritis...................................................................................... 12 2. 2. 1. Komunikasi Massa................................................................ 12 2. 2. 2. Musik sebagai Media Massa................................................. 17 2. 2. 3. Semiotika.............................................................................. 18 2. 2. 4. Semiotika Roland Barthes.................................................... 21 2. 2. 4. 1. Tanda....................................................................... 24 2. 2. 4. 2. Mitos....................................................................... 26 2. 2. 4. 3. Lima Kode yang Ditinjau Roland Barthes.............. 27 2. 2. 5. Erotisme dan Pornografi....................................................... 30 2. 2. 6. Teks Erotisme....................................................................... 32 2. 2. 7. Musik atau Lagu Dangdut.................................................... 33 2. 3. Model Teoritis....................................................................................... 35 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3. 1. Metode Penelitian................................................................................ 3. 2. Objek Penelitian................................................................................... 3. 3. Subjek Penelitian.................................................................................. 3. 4. Kerangka Analisis................................................................................. 3. 5. Teknik Pengumpulan Data................................................................... 3. 5. 1. Studi Dokumentasi............................................................... 3. 5. 2. Studi Kepustakaan................................................................ 3. 6. Teknik Analisis Data............................................................................ 36 36 37 37 38 38 38 39 Universitas Sumatera Utara BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Hasil...................................................................................................... 4. 1. 1. Gambaran Umum Lagu “Cinta Satu Malam”, “Mojok di Malam Jumat”, dan “Aw Aw”............................ 4. 1. 2. Analisis Leksia Lagu “Cinta Satu Malam”........................... 4. 1. 2. 1. Kode Pembacaan.................................................. 4. 1. 3. Analisis Leksia Lagu “Mojok di Malam Jumat”.................. 4. 1. 3. 1. Kode Pembacaan.................................................. 4. 1. 4. Analisis Leksia Lagu “Aw Aw”........................................... 4. 1. 4. 1. Kode Pembacaan.................................................. 4. 2. Pembahasan.......................................................................................... 40 42 43 72 73 98 99 110 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5. 1. Simpulan............................................................................................... 5. 2. Saran..................................................................................................... 5. 2. 1. Saran dalam Kaitan Akademis............................................. 5. 2. 2. Saran dalam Kaitan Praktis................................................... 114 115 115 116 40 DAFTAR REFERENSI LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Nomor Judul Halaman II. 1 Peta Tanda Roland Barthes 22 II. 2 Model Teoritis 34 III. 1 Signifikasi Dua Tahap Barthes 37 Universitas Sumatera Utara
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

Analisis Semiotika Dalam Lirik Lagu

Analisis Isi Unsur Erotisme Pada Lirik Lagu Dangdut Koplo

Analisis Semiotika Lirik Lagu

Skripsi Analisis Semiotika Lirik Lagu

Contoh Analisis Semiotika Lirik Lagu

Analisis Semiotika Pada Lirik Lagu

Analisis Semiotik Lirik Lagu

Analisis Lirik Lagu Bertema Cinta Karya Sheila On

Lirik Lagu

Skripsi Analisis Semiotik Lirik Lagu

Erotisme dalam Lirik Lagu Dangdut Indonesia (..

Gratis

Feedback