Feedback

Kajian cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai agens hayati terhadap rayap Macrotermes gilvus hagen (Isoptera: Termitidae) pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.)

Informasi dokumen
KAJIAN CENDAW WAN ENT TOMOPATOGEN Metarh hizium bru unneum Peetch SEBA AGAI AG GENS HAY YATI TERH HADAP RA AYAP Maacrotermess gilvus Haagen (Isop ptera: T Termitidae e) PADA TANAMA T AN JARAK K PAGAR R (Jatrop opha curcaas L.) MUHAM MMAD SA AYUTHI SE EKOLAH H PASCAS SARJANA A INS STITUT PERTANIA AN BOGO OR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi dengan judul”Kajian Cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai Agens Hayati terhadap Rayap Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) pada Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.)” adalah karya saya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan di dalam Daftar Pustaka pada bagian akhir disertasi ini. Bogor, Januari 2012 Muhammad Sayuthi NIM A461060031 ABSTRACT MUHAMMAD SAYUTHI.Study of Entomopathogenic Fungus Metarhizium brunneum Petch as Biocontrol Agent Against Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) in Castor (Jatropha curcas L.) Plantantion. Under Supervision of TEGUH SANTOSO, IDHAM SAKTI HARAHAP and UTOMO KARTOSUWONDO. Macrotermes gilvus Hagen is primary pest of castor (Jatropha curcas L.), as the termites can damage roots and stems. The purposes of this research were: (1) to estimate population size of colony in field stations at KIJP Pakuwon, (2) to study M. gilvus foraging range, (3) to study the symptomatology and lethal time of M. brunneum as biocontrol agent to M. gilvus in the laboratory, (4) to study the effectiveness of the M. brunneum Petch as biological control agents against M. gilvus in KIJP Pakuwon. The study was conducted from November 2009 to October 2010 in the insect pathology laboratory and insect taxonomy laboratory Departement of Plant Protection, Bogor Agricultural University (IPB), Zoology Laboratory LIPI Cibinong and in the KIJP Pakuwon. Laboratory test was designed using Completely Randomized Design (CRD) and the data were subject to probit analysis. Triple mark recapture methods were used to estimate termite population in the field. In the laboratorium the effective density of conidia as biotermiticide was 1,21x106 konidia/mL, and this led to mortality of M. gilvus up to 85,45%, while the density of 1,08x106conidia/mL resulting in mortality of 78,63%. The suspension of fungi at density 1,21x106conidia/mL was poured at each experimental station (150 mL/station). The result showed that in block I (15.210 m2), block II (5.700 m2), block III (27.000 m2), 8, 1 and 15 termite colonies have been detected respectively from which, 150.388, 59.219, and 149.459 individus were found. In block I, the termites maximum foraging range as far as 140,5 m, as compared to 140 m in block III. In all blocks, we noted the significant decrease of termite population after application of M. brunneum, from initial population 359.066 individus to 15.015 individus. Keywords: M. brunneum, M. gilvus, foraging range, effectiveness, triple mark recapture technique. RINGKASAN MUHAMMAD SAYUTHI. Kajian Cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai Agens Hayati terhadap Rayap Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) pada Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.).Di bawah bimbingan TEGUH SANTOSO, IDHAM SAKTI HARAHAP dan UTOMO KARTOSUWONDO. Rayap Macrotermes gilvus Hagen merupakan salah satuhama penting tanaman jarak pagar yang merusak sistem perakaran pada pangkal batang tanaman, dan mengakibatkan tanaman terluka, patah dan akhirnya mati. Serangan hama ini semakin lama semakin meningkat hingga meluas pada tanaman sehat lainnya.Selama ini pengendalian rayap di KIJP Pakuwon dilakukan dengan menggunakan insektisida yang disiramkan disekitar perakaran tanaman yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.Oleh karena itudiperlukancarapengendalian lain yang ramah lingkungandengan memanfaatkan agens hayati. Cendawan entomopatogen Metarhizium brunneum mempunyai patogenisitas lebih tinggi dibandingkan beberapa cendawan entomopatogen lainuntuk mengendalikan hama ordo Isoptera. Informasi mengenai pemanfaatan cendawan M. brunneum sebagai agens biokontrol yang berpotensi terhadap hama rayap M. gilvuspada tanaman jarak pagar belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan: (1) Menduga ukuran populasi koloni rayap M. gilvus dari setiap koloni pada stasiun pengamatan di KIJP Pakuwon, (2) Mempelajari daya jelajah rayap M.gilvus di KIJP Pakuwon, (3) Mempelajari simtomatologi dan waktu kematian rayap M. gilvussetelah diinfeksi oleh cendawan M. brunneum sebagai biotermitisida di laboratorium, (3) Mempelajari keefektifan cendawan M. brunneum sebagai agens biokontrol terhadap hama rayap M. gilvuspada tanaman jarak pagar di KIJP Pakuwon.Penelitian ini dilakukan di laboratorium Patologi Serangga, Laboratorium Taxonomi Serangga Departemen Proteksi Tanaman, Faperta IPB, Laboratorium Zoologi LIPI Cibinong dan di Kebun Induk Jarak Pagar (KIJP) Pakuwon Sukabumi Jawa Barat,sejak bulanNopember 2009 sampai Oktober 2010. Rancangan acak lengkap (RAL) digunakan untuk penelitian laboratorium sedangkan metode triple mark recapture technique untuk penelitian di lapangan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa spesies rayap M. gilvussebagai hama dominan di KIJP Pakuwon. Di Blok I dengan luas areal 15.210 m2didapatkan 8 koloni dengan jumah 150.388 individu. Di Blok II dengan luas areal 5.700 m2 didapatkan 1 koloni dengan jumlah 59.219 individu. Di Blok III dengan luas areal 27.000 m2didapatkan 15 koloni dengan jumlah 149.459 individu. Daya jelajah maksimum yang di lepas dari blok II, dan seminggu kemudian diamati pada blok I, sejauh 140,5 m dan pada blok III sejauh 140 m. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kerapatan konidia1,21x106 konidia/mL mampu menghasilkan mortalitas rayap M. gilvus hingga mencapai 85,45%, dibandingkan 1,08x106 konidia/mL yang menghasilkan mortalitas 78,63%. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi tingkat kerapatan konidiasemakin meningkat mortalitas rayap. Untuk aplikasi Lapangan di KIJP Pakuwon digunakan kerapatan 1,21x106konidia/mL. Setelah aplikasi cendawan M. brunneum dengan kerapatan konidia 1,21x106/mL, ukuran populasi koloni rayap M. gilvus menjadi 15.015 individu, dengan rincian sebagai berikut: blok I (4.385 individu), blok II(2.595 individu) dan blokIII (8.037 individu) atau terjadi penurunan ukuran populasi koloni hingga mencapai 95,48% dibandingkan ukuran populasi koloni awal (100%) dan tersisa 4,12%. Hal ini membuktikan bahwa cendawan M. brunneum efektif sebagai agens biokontrol terhadap rayap M. gilvus. ©Hak cipta milik IPB, tahun 2012 Hak cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB KAJIAN CENDAWAN ENTOMOPATOGEN Metarhizium brunneum Petch SEBAGAI AGENS HAYATI TERHADAP RAYAP Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) PADA TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) MUHAMMAD SAYUTHI Disertasi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Entomologi-Fitopatologi SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 Judul Disertasi : Kajian Cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai Agens Hayati terhadap Rayap Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) pada Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Nama : Muhammad Sayuthi NRP : A461060031 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Teguh Santoso, DEA. Ketua Dr. Ir. Idham Sakti Harahap, M.Si. Prof. Dr. Ir. Utomo Kartosuwondo, M.S. Anggota Anggota Mengetahui Ketua Program Studi Entomologi / Fitopatologi Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, M.Sc Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc. Agr. Tanggal Lulus: 4 Januari 2012 PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nyalah, penulis telah dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan disertasiyang berjudul “Kajian Cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai Agens Hayati terhadap Rayap Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) pada Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.)” Terima kasih penulis ucapkan kepada : 1. Dr. Ir. Teguh Santoso, DEA, selaku Ketua Komisi Pembimbing, serta Dr. Ir. Idham Sakti Harahap, M.Si, dan Prof. Dr. Ir. Utomo Kartosuwondo, M.S, masing-masing sebagai Anggota Komisi Pembimbing, yang selalu mengarahkan, membimbing, memberi saran atau masukan, serta memotivasi, dan memberi bantuan sarana maupun prasarana yang memadai kepada penulis mulai dari penyusunan proposal penelitian dan pelaksanaan penelitian hingga sampai penyusunan disertasi ini. 2. Dekan Sekolah Pascasarjana IPB, Ketua Program Studi EntomologiFitopatologi (Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, M.Sc.) dan Ketua Program Studi Mayor Entomologi (Dr. Ir. Pudjianto, M. Si) serta seluruh staf pengajar di Departemen Proteksi Tanaman IPB atas motivasi dan dorongannya kepada penulis untuk menyelesaikan studinya. Kepada Dr. Ir. Pudjianto, M.Si dan Dr. Ir. Haryadi, M.Si, penulis ucapkan banyak terima kasih sebagai penguji luar komisi pada Ujian Prelim Lisan. 3. Kedua orang tua saya tercinta, isteri dan kedua putra saya tercinta, kedua mertua saya tercinta, kakanda saya tercinta (Prof. Dr. Faisal A. Rani, SH, M.Hum dan Keluarga, Dra. Hj. Rosnaini, Dra. Hj. Nurazimah dan Keluarga, Taufik, A.Md dan Keluarga, Hj. Kartini, S.Ag, dan adinda saya tercinta ( Hastuti dan Keluarga, H. Isra Fahlevi, dan dr. Hj. Fitriani) yang selalu memberi dukungan moril maupun materil kepada penulis untuk menyelesaikan Studi Program Doktor di IPB. 4. Rektor, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala yang telah memberi rekomendasi kepada penulis untuk melanjutkan studi Program Doktor di Institut Pertanian Bogor. Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (Dr. Ir. Afizar, DAA, Prof. Dr. Ir. Supardi, M.S, Prof. Dr. Ir. Lukman, M.Si. Prof. Dr. Ir. Sabarauddin, M.Agric.Sc, Dr. Ir. Rosmaidar, M.S, Dr. Ir. Husni, M. Agric. Sc, Dr. Ir. Fajri, M.Sc, Dr. Ir. Syamsuddin, M.Si, Iswadi SPd, Muklis SPd dan lain-lain). 5. Staf Pengajar Universitas Iskandar Muda (UNIDA) Banda Aceh (Prof. Dr. Drs. Syafi,i Ibrahim, M.S, Dr. Drs. Ridwan, M.Si (Almarhum), Ir. Basyir Ahmad, M.S (Almarhum), Alwi Budiman, S.Si M. Si, Ir. Jauhari, MP., Alwi Ibrahim, S.Si., M.Si. 6. Kepala Balai Tanaman Industri (BALITRI), Bapak Ir. Dibyo (Penanggung Jawab KIJP Pakuwon), Bapak Andi, Bapak Uyun, Ebed, Neka, dan Aan, serta teman-teman tenaga harian lepas lainnya yang tidak tersebut namanya secara rinci di lingkungan KIJP Pakuwon Sukabumi Jawa Barat, yang telah membantu penulis dalam kegiatan penelitian. 7. Lembaga pemberi beasiswa BPPS DIKTI (2006-2009) dan Pemda NAD (2006-2008) yang telah banyak membantu penulis dalam mendukung terhadap kebutuhan yang berhubungan dengan penyelesaian studi Program Pendidikan Doktor (S3) di IPB. 8. Teman-teman mahasiswa/i di Laboratorium Patologi Serangga, Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian (Yunimar, Dendi, Rendi, Teguh, Faishol, Iin, Mira, dan lain-lain) atas bantuan dan kerjasamanya yang baik untuk menyelesaikan studi di IPB. 9. Bapak Endang, Bapak Dede, Bapak Slamet, Ibu Aisyah (Teknisi Laboratoriun di Departemen Proteksi Tanaman) yang dengan tulus iklas telah membantu penulis dalam menyelesaikan studi di Departemen Proteksi Tanaman IPB. 10. Teman-teman Mahasiswa Program Pascasarjana Departemen Proteksi Tanaman IPB (Bambang Supeno, Edi, Syamsuddin, Yusmani, Iwa, Efi Taufik, Susiati, Rita, Fardedi, Husda, Kikidan lain-lain) yang dengan sukarela selalu meluangkan waktu untuk berbagi ilmu melalui diskusiselama studi di sekolah pascasarjana IPB. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan dalam penulisan disertasi ini, oleh karena itu penulis mengharapkan saran atau masukan dari Komisi Pembimbing untuk membantu kesempurnaan penulisan disertasi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Ketua Komisi dan Anggota Komisi Pembimbing, yang selama ini terus membimbing dan memantau perkembangan studi penulis untuk menyelesaikan Program Pendidikan Doktor di IPB. Semoga Allah SWT memberikan balasan amal baik kepada mereka semua dengan balasan kebaikan yang tak terhingga.Akhirnya semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, Januari 2012 Muhammad Sayuthi RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 23 Nopember 1972 di Aceh Besar, anak ke enam dengan delapan bersaudara dari pasangan H. Abdul Rani Usman dan Hj. Razian Umar. Penulis menempuh Pendidikan Program Doktor (S3) pada Program Studi Entomologi-Fitopatologi di Institut Pertanian Bogor, tahun 2006-2012. Program Magister (S2) ditempuh di Universitas Padjadjaran Bandung pada Program Studi Ilmu Tanaman dengan Bidang Kajian Utama Ekofisiologi Tanaman, tahun 2000-2003. Pendidikan sarjana (S1) ditempuh di Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, tahun 1991-1996. Penulis adalah staf pengajar Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Penulis menikah dengan Afrida SP, tahun 2002, dan telah dikaruniai dua orang putra yaitu: Farhas Alfarisi (8 tahun) dan Salman Alfarisi (5 tahun). DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ............................................................................... xii DAFTAR GAMBAR........................................................................... xiii DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................... xvi BAB I PENDAHULUAN ............................................................ Latar Belakang .................................................................. Tujuan Penelitian .............................................................. Manfaat Penelitian ............................................................ 1 1 3 3 TINJAUAN PUSTAKA .................................................... Biologi Rayap ................................................................... Polimorfisme ....................................................................................... Pembentukan Koloni ........................................................ Siklus Hidup Rayap .......................................................... Perilaku Rayap.................................................................. Aktivitas Makan ............................................................... Aktivitas Kawin ................................................................ Daya Jelajah ...................................................................... Ekologi Rayap .................................................................. Pendugaan Ukuran Populasi ............................................. Teknik Tanda Tangkap ..................................................... Teknik Penandaan............................................................. Pengendalian Rayap ......................................................... Cendawan Metarhizium brunneum Petch ......................... Jarak Pagar (Jatropha curcasL.) ...................................... 5 5 BAB II BAB.III POPULASI KOLONI RAYAP Macrotermes givus HagenDI KIJP PAKUWON SUKABUMI JAWA BARAT ............ Abstrak.............................................................................. Abstract ............................................................................. Pendahuluan ...................................................................... Bahan dan Metode ............................................................ Hasil dan Pembahasan ...................................................... Simpulan ........................................................................... Daftar Pustaka................................................................... 6 7 7 8 8 9 9 11 11 12 13 14 16 17 17 17 18 19 22 25 25 BAB IV. KEMAMPUAN DAYA JELAJAH RAYAP Macrotermes gilvusHagen.DI KIJP PAKUWON SUKABUMI JAWA BARAT ............................................................................ Abstrak ............................................................................. Abstract ............................................................................ Pendahuluan ..................................................................... Bahan dan Metode ............................................................ Hasil dan Pembahasan ...................................................... Simpulan .......................................................................... Daftar Pustaka .................................................................. 27 27 28 28 29 33 33 BAB V STUDI SIMTOMATOLOGI DAN WAKTU KEMATIAN RAYAP Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera:Termitidae) SETELAH INFEKSI OLEH CENDAWAN Metarhizium brunneum Petch ................................................................ Abstrak ............................................................................. Abstract ............................................................................ Pendahuluan ..................................................................... Bahan dan Metode ............................................................ Hasil dan Pembahasan ...................................................... Simpulan........................................................................... Daftar Pustaka .................................................................. 35 35 35 36 37 40 47 48 BAB.VI KEEFEKTIFAN CENDAWAN ENTOMOPATOGEN Metarhizium brunneum Petch SEBAGAI BIOTERMITISIDA TERHADAP RAYAP Macrotermes gilvus Hagen DI KIJP PAKUWON SUKABUMI JAWA BARAT ............................................................................ Abstrak ............................................................................. Abstract ............................................................................ Pendahuluan .................................................................... Bahan dan Metode ........................................................... Hasil dan Pembahasan ..................................................... Simpulan .......................................................................... Daftar Pustaka ................................................................. 27 51 51 51 52 53 56 57 57 BAB VII.. PEMBAHASAN UMUM ............................................... 59 BAB VIII. SIMPULAN DAN SARAN ............................................. Simpulan.......................................................................... Saran ................................................................................ 63 63 63 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 65 DAFTAR TABEL No 1 2 3 4 5 Halaman Spesies rayap M. gilvus dari stasiun pengamatan di KIJP Pakuwon ............. Ukuran populasi koloni rayap M. gilvus Hagen di KIJP Pakuwon ................ Stasiun pengamatan terpilih untuk menduga daya jelajah rayap M. gilvus ... Mortalitas M. gilvus selama 7 hari setelah aplikasi M. brunneum ................ LT cendawan entomopatogen M. brunneum terhadap M. gilvus ................. 22 22 29 44 46 DAFTAR GAMBAR No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Perakitan stasiun pengamatan ...................................................... Stasiun pengamatan dan pemasangannya di KIJP Pakuwon ....... Rayap Macrotermes gilvus yang telah diwarnai dengan neutral red 0,25 dan nile blue A 0,05% .................................................... Rayap M. gilvus: (a) kasta prajurit mayor, (b) kasta prajurit minor, dan (c) kasta pekrja ............................................................ Ukuran populasi koloni rayap M. gilvus pada blok I .................... Ukuran populasi koloni rayap M. gilvus pada blok II ................... Ukuran populasi koloni rayap M. gilvus pada blok III .................. Daya jelajah rayap M. gilvus di KIJP Pakuwon pada blok I ......... Daya jelajah rayap M. gilvus pada blok III di KIJP Pakuwon ...... Kondisi tanaman jarak pagar (J. curcas) pada blok I ................... Kondisi tanaman jarak pagar (J. curcas) pada blok III ................ Pengukuran daya jelajah rayap M. gilvus ...................................... Rayap M. gilvus: (a) kasta prajurit dan (b) kasta pekerja .............. Konidia cendawan M. brunneum diamati dengan mikroskop optik pembesaran (400×) ............................................................... (a) kadaver M. gilvus berubah menjadi gelap setelah diinfeksi oleh konidia M. brunneum (b) miseliumM. brunneum tampak pada bagian tubuh rayap M. gilvus ................................................ Pengamatan dengan Scanning Electron Microscope (SEM) pembesaran5000×, yaitu: (a) miselia dari M. brunneum keluar dari internal tubuh inangmelalui lubang alami, (b) miselia hampir menutupi seluruh permukaan tubuh inang ....................... Konidia pada permukaan tubuh rayap M. gilvus diamati menggunakan SEM pembesaran 5000× ........................................ Infeksi konidia cendawan M. brunneum terhadap rayap M. gilvus memasuki tahapan destruksi (a) hampir seluruh permukaan tubuh rayap telah tertutupi miselia, dan (b) kadaver rayapkering kehitaman terutama bagian abdomen ........................ Kematian rayap M. gilvus selama 7 hari pengamatanakibat perlakuan konidia cendawan M. brunneum (LC95) ........................ Kematian rayap M. gilvus selama 7 hari pengamatanakibat perlakuan konidia cendawan M. brunneum(LC85) ........................ Populasi koloni Rayap M. gilvus pada blokI ................................. Populasi koloni rayap M. gilvus pada blok II ................................ Populasi koloni rayap M. gilvus pada blok III ............................... Halaman 19 20 21 22 23 24 24 30 30 31 31 32 37 38 40 41 41 42 46 47 55 56 56 DAFTAR LAMPIRAN No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Halaman Bagan alir percobaan ............................................................................ Peta stasiun pengamatan di KIJP Pakuwon ....................................... Rekapitulasi data blok I (Percobaan I) ................................................ Rekapitulasi data blok II (Percobaan I) ............................................... Rekapitulasi data blok III (Percobaan I) .............................................. Data hasil pengamatan persentase mortalitas rayap Macrotermes gilvus setelah aplikasi cendawan Metarhizium brunneum dengan kerapatan konidia 1,21×106/mL di laboratorium (Percobaan III) ....... Data hasil pengamatan persentase mortalitas rayap Macrotermes gilvus setelah aplikasi cendawan Metarhizium brunneum dengan kerapatan konidia 1,08×106/mL di laboratorium (Percobaan III) ....... Rekapitulasi data blok I(Percobaan IV) ............................................... Rekapitulasi data blok II (Percobaan IV) ............................................. Rekapitulasi data blok III (Percobaan IV) ........................................... 71 72 73 75 75 79 79 82 82 82 1 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Selama ini Indonesia dikenal sebagai negara pengekspor bahan bakar minyak dari fosil, namun dengan meningkatnya penduduk dan industri diperkirakan sepuluh tahun mendatangakan menjadi negara pengimpor bahan bakar minyak bumi. Oleh karenanya pemerintah perlu memikirkan alternatif pengganti bahan bakar minyak bukan darifosil tetapi berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia (Hendriadi et al. 2005). Salah satu sumber energi alternatif yang dapat terbarukan adalah biodisel dari tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) yang hanya digunakan sebagai sumber bahan bakar (Mahmud et al. 2006).Beberapa keunggulan biodisel dari tanaman jarak pagar yaitu tidak mengandung sulfur, tidak beraroma, dapat diperbaharui, ramah lingkungan, aman dalam penyimpanan dan transportasi karena tidak mengandung racun, meningkatkan nilai produk pertanian, menurunnya ketergantungan suplai minyak dari negara asing, dan mudah terurai oleh mikroorganisme (Susilo 2006). Tingkat produktivitas jarak pagar sangat tergantung dari cara pemeliharaan, lingkungan, sumber benih, ada tidaknya serangan hama dan penyakit. Produktivitas jarak pagar di berbagai negara, yaitu Nicaragua (5 ton/ ha), Paraguay (4 ton/ha) dan Mali (2,8 ton/ha) (Henning & Reinhard 2000). Indonesia diperkirakan mampu menghasilkan produktivitas hingga 5 ton biji kering/ha (Hasnam 2006). Permasalahan yang dihadapi dalam agribisnis jarak pagar adalah belum tersedianya varietas unggul, ketersediaan benih sangat terbatas, teknik budidayanya belum memadai, dan adanya serangan hama dan penyakit (Asbani et al. 2007). Salah satu hama penting yang merusak tanaman jarak pagar adalah rayap Macrotermes gilvus Hagen, yang merusak mulai dari akarhingga pada batang tanaman (Tarumingkeng 2001). Hasil pengamatan di Kebun Induk Jarak Pagar (KIJP) Pakuwon menunjukkan bahwa tingkat serangan hama rayap M. gilvus terhadap tanaman 2 jarak pagar mencapai 15 sampai 24% dengan rata-rata 16,33%. Menurut informasi dari penanggung jawab KIJP Pakuwon,jarak pagar yang ditanamdengan menggunakan stek ukuran 30 cm di permukaan tanah, 60 sampai 80% terserang rayap M. gilvus hingga mengalami kematian. Hama ini merusak bagian pangkal akar hingga batang tanaman dengan membuat tabung kembara dari bahan tanah yang ditempelkan pada batang tanaman atau dengan cara masuk ke dalam jaringan tanaman hinggahanyalapisan epidermisyang tersisa. Kondisi ini mengakibatkan tanaman menjadi patah, roboh dan mengalami kematian. Semakin lama intensitas serangannya semakin meningkat hingga pada tanaman sehat lainnya. Oleh karenanya walaupuntingkat serangan hama ini kurang dari 10% tetapi harus segera dilakukan pengendalian agar tidak menyebar kepada tanaman lain, sehingga hasil produksi tetap maksimal (Asbani et al. 2007).Selama ini pengendalian rayap di KIJP Pakuwon menggunakan termitisida sintetik dengan caradisiramkan sekitar perakaran tanaman yang mengakibatkan pencemaran lingkungan dan keracunan bagi pengguna (Oka 2005). Keberadaan agens hayati secara alami yang telah ada di KIJP Pakuwon kurang memberikan dampak positif terhadap rayap hama M. gilvus. Oleh karena itu perlu pengendaliancaralain seperti pemanfaatan agens hayati yang mungkin dapat diterapkan di KIJP Pakuwon.Namun sebelum melakukan pengendalian terhadap spesieshama ini terlebih dahulu perlu dipelajari ukuran populasi koloni dan daya jelajah maksimumnya,sehingga populasirayap hama M.gilvus dapat tereliminasi lebih maksimal. Dari penelitian sebelumnya dinyatakan bahwa cendawan M. brunneum memiliki tingkat patogenisitas dan virulensi yang lebih tinggi terhadap serangga rayap Schedorhinotermes javanicus dibandingkan beberapa spesies cendawan entomopatogen lain, seperti Metarhizium anisopliae, Beauveria bassiana, Fusarium oxysporum dan Aspergillus flavus(Desyanti 2007, Ginting 2008). Penelitian ini mempelajari keefektifan cendawan entomopatogen M. brunneum dalam menekan ukuran populasi koloni rayap M. gilvus yang menjadi hama penting pada pertanaman jarak pagar di KIJP Pakuwon. 3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini yaitu: 1. Menduga ukuran populasi koloni rayap Macrotermes gilvus di KIJP Pakuwon. 2. Mempelajari daya jelajah rayap M.gilvus di KIJP Pakuwon. 3. Mempelajari simtomatologi dan waktu kematian rayap M. gilvussetelah diinfeksi oleh cendawan M. brunneum sebagai biotermitisida di laboratorium. 4. Mempelajari keefektifan cendawan entomopatogen M. brunneum sebagai biotermitisida terhadap rayap M. gilvusdi KIJP Pakuwon. Manfaat Penelitian Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi informasi awal dan sebagai pedoman dasar untuk penyusunan rekomendasi pengendalian hama rayap Macrotermes gilvus pada tanaman jarak pagar menggunakan cendawan entomopatogen Metarhizium brunneum sebagai agens biokontrol. 4 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Biologi Rayap Krishna dan Weesner (1969) menyatakan bahwa rayapdiklasifikasikan ke dalam 6 Famili(Mastotermitidae, Rhinotermitidae, Serritermitidae, Kalotermitidae, dan Hodotermitidae, Rayap Termitidae). tanahMacrotermesgilvus termasuk famili Termitidae sub famili Macrotermitinae, klasifikasinya adalah sebagai berikut: filum: Arthropoda kelas: Insecta sub-kelas: Pterigota ordo: Isoptera famili: Termitidae sub-Famili: Macrotermitinae genus: Macrotermes spesies: Macrotermes gilvus Hagen. Menurut Krishna dan Weesner (1969) rayap M. gilvushidup berkoloni yang mempunyaikasta prajurit mayor dan minor.Ciri-ciri kasta prajuritsecara umumadalah kepala bewarna coklat tua, mandibel berkembang dan berfungsi, mandibel kiri dan kanan simetris,tidak memiliki gigi marginal, ujung mandibel melengkung yang berfungsi untuk menjepit. Ujung labrum tidak jelas, pendek dan melingkar, antena terdiri atas 16-17 ruas. Thapa (1981) dan Tho (1992)menjelaskan ciri-ciri dari kasta prajuritmayor yaitu kepala bewarna coklat kemerahan, panjang kepala dengan mandibel 4,80-5,00 mm, lebar kepala 2,883,10 mm,antena 17 ruas, ruas ketiga sama panjang dengan ruas kedua dan ruas ketiga lebih panjang dari ruas keempat. Sedangkan kasta prajurit minor kepala bewarna coklattua, panjang kepala 1,84-2,08 mm dan lebar 1,52-1,71 mm sertapanjang kepala dengan mandibel 3,07-3,27 mm. Antena17 ruas, ruas kedua sama panjangdengan ruas keempat. Menurut Nandika et al. (2003) rayap M. gilvus banyak tersebar di Indonesia, umumnya bersarang dalam tanah atau di dalam kayu yang 6 berhubungan dengan tanah.Rayap membiakkan cendawan yang berbentuk bunga karang, serta bangunan-bangunan liat dalam tanah dan untuk menemukan sumber makanan dengan membuat tabung kembara dari humus atau tanahsebagai jalur jelajah (Nandika et al. 2003). Polimorfisme Polimorfismemerupakan ciri rayap yang hidup secara terorganisir dengan bentuk, ukuran, dan fungsi yang berbedadalam sebuah koloni, sepertiordo Isopteraterdiri atas kasta prajurit, kasta pekerja dan kasta reproduktif. Kasta pekerja bertugas sebagai pencari makan, perawat telur, pembuat dan pemelihara sarang. Kasta ini pada saat tertentu dapat bersifatkanibalterhadap individu rayap yang sakit dalam koloninya untuk mempertahankan prinsip efisiensi dan konservasi energi, serta mengatur keseimbangan koloni (Tarumingkeng 1993, Tambunan & Nandika 1989). Kasta prajurit dengan ukuran kepalanyabesar dan mengalami penebalan pada bagian tersebut serta memiliki mandibelkuat untuk melindungianggota koloni dari gangguan luar (Tambunan & Nandika 1989). Apabila terjadi gangguan dari luar, maka kasta prajurit segera menginformasikan kepada anggota kasta prajurit lain dalam koloninya dengan tanda tertentu, dan semua kasta prajurit segera menuju sumber gangguan untuk mengatasinya (Harris 2001). Kasta reproduktif berfungsi untuk bertelur dan jantan membuahi betina, seperti kasta reproduktifdari rayap Macrotermes spp dapat menghasilkan telur seminggu setelah melakukan swarming (Harris 1971). Neoten akan muncul bila kasta reproduktif primer mati atau terpisahdari koloni induk akibat adanya gangguan luar. Neoten dapat terbentuk beberapa kali dalam jumlah besar sesuai dengan perkembangan koloni (Richards & Davies 1996). Pembentukan Koloni Sebuah koloni rayap dapat terbentuk dari sepasang laron betina dan jantan dengan melakukan kopulasi, kemudian mencari habitat yang sesuai untuk membentuk koloni baru (Tarumingkeng 1993). Koloni rayap dapat terbentuk melalui tiga cara, yaitu: (1) melalui sepasang imago rayap yang bersayap (laron), 7 (2) melalui pemisahan koloni dari koloni utama dengan membentuk kasta reproduktif suplementer, dan (3) melalui proses migrasi dari sebagian koloni rayap menuju tempat baru dan koloni yang tertinggal mengembangkan kasta reproduktif suplementer (Lee & Wood 1971, Harris 1971). Kasta reproduktif bersayap akan muncul pada musim-musim tertentu, yang berkumpul dalam koloninya sebelum bersialang (swarming) keluar sarang. Umumnya beberapa spesies rayap di daerah tropis bersialang pada awal musim hujan (Lee & Wood 1971). Selama bersialang sepasang imago (jantan dan betina) bertemu dan segera menanggalkan sayap untuk mencari tempat yang sesuai (Tambunan & Nandika 1989). Di Amerika Selatan rayap Contrictotermes cavifronsuntuk membentuk koloni baru melalui fragmentasi koloni dengan bermigrasi untuk menemukan habitat baru(Krishna & Weesner 1969). Demikian juga rayap Anoplotermes,Trinervitermes di Afrika (Rismayadi 1999) danMastotermes darwinensismembentuk koloni baru melaluifragmentasi koloni (Lee & Wood 1971). Siklus Hidup Rayap Rayap mengalami metamorfosis tidak sempurna (paurometabola). Siklus hidupnya dimulai dari telur, nimfa, dan imago. Nimfa muda yang baru keluar dari telur dan akan berkembang menjadi kasta pekerja, kasta prajurit, atau alata di dalam koloninya (Natawigena 1990). Lama siklus hidup rayap dari fase telur 5060 hari. Ratu rayap Macrotermes sp yang telah berumur 5 tahun mampu menghasilkan telur hingga 36.000 butir perhari (Hasan 1986). Memasuki instar I membutuhkan waktu 11-13 hari, instar II (13-18 hari), instar III (16-32 hari), instar ke IV (30-50 hari), dan instar ke V (14 hari), dan sekali siklus hidup rayap dibutuhkan waktu 4-6 bulan (Grasse 1984). Perilaku Rayap Sebagai serangga sosial, rayap memiliki beberapa prilaku yang khas (Nandika & Tambunan 1987; Tarumingkeng 2004), yaitu: Trophallaxis adalahtransfer material (makanan dan protozoa) antara anggota koloni rayap. Transfer materialmelalui anusdisebut proctodeal 8 feedingsedangkan melalui mulut disebut dengan stomodeal feeding. Sifat trofalaksis merupakan cara memperoleh protozoa flagellatabagi individu yang baru melakukan ganti kulit (ekdisis), karena pada saat ekdisis integumen proctodeum tanggal sehingga protozoa simbion yang diperlukan untuk mencerna selulosa ikut keluar dan diperlukan reinfeksi dengan jalan trophallaxis. Grooming adalah berkumpul dengan mengosokkan tubuh antara individu dalam sebuah koloni, dan menjilat bagian tubuhnya yang bertujuan untuk membersihkan diri dari serangan patogen. Cryptobiotic adalah menyembunyikan dan menghindar dari cahaya kecuali laron yang menyukai cahaya pada saat swarming. Rayap hidup dalam tanah dan pada saat mencari makanan dipermukaan tanah, membentuk tabung kembara dari bahan tanah atau humus. Cannibalistic yaitu perilaku memakan individu sejenis, seperti kasta prajurit yang lemah tidak dapat menjaga koloninyasecara efektif, akan dimakan oleh kasta pekerja. Demikian juga betina dan jantan baik ratu, raja maupun neoten yang tidak mampu memberikan kontribusi pada koloninya. Nekrofagi yaitu memakan kadaver sesamanya (Tarumingkeng 2004). Aktifitas Makan Sumber makanan rayap berupa selulosa.Terdapat hubungan antara rayap dengan mikoorganisme simbion pada saluran pencernaan rayap, yaitu protozoa pada rayap tingkat rendah dan bakteri pada rayap tingkat tinggi. Sumber makanan rayap pada umumnya dikelompokkan ke dalam dua tipe, yaitu sumber makanan mentah (crude nutrient) dan sumber makanan dari kasta pekerja. Sumber makanan mentah berupa tanaman atau pohon hidup, kayu atau tanaman yang sudah mati, bahan makanan lain seperti humus, rumput, jamur (Nandika et al. 2003). Aktifitas Kawin Kopulasi rayap dapat ditandai dengan terbangnya laron (swarming) yang dipengaruhi oleh perubahan cuaca di luar sarang. Laron akan berkumpul pada tempat tertentu di dalam sarang yang menunjukkan atraksi tertentu dengan gerakantidak teratur,seperti mengembangkan sayap dan segera terbang 9 mencaricahaya. Kemudian menanggalkan sayapnya untuk menemukan pasangan.Setelah menemukanpasangannya,calon ratuakanberjalan di depan dan calon raja mengikuti dari belakang untuk menemukan habitat yang sesuai.Setelah 3-8 hari berada pada habitat yang baruditemukan akan berkopulasi (Nandika et al.2003). Daya Jelajah Rayap akanberjelajah untuk menemukan sumber makanan dengan lingkungan yang optimal. Persentuhan fisik antar individu rayap dan bau yang dikeluarkan melalui jejaknya merupakan sebuah mekanisme penyampaian informasi dalam sebuah koloniterhadap sumber makanan yang baru ditemukan. Rayap Nasutitermes dalam melakukan daya jelajah berhubungan dengan feromon yang dikeluarkan melalui jejak dan dihasilkan oleh kelenjer sternal yang terdapat pada abdomen(Krishna & Weesner 1969). Rayap tanah C. formosanus melakukan daya jelajah hingga mencapai 100 m dengan jumlah individu 1-7 juta individu perkoloni. Reticulitermes flavivesmenjelajah hingga 79 m dengan 2-5 juta individu anggota koloni yang mengikutinya (Su 1994). Ekologi Rayap Rayap berperan penting dalam siklus biogeochemical (dekomposisi bahan organik), seperti nitrogen, carbon, oksigen, fosfor, yang dapat meningkatkan kesuburan tanah, karena mampu mengubah profil tanah, mempengaruhi tekstur tanah dan mendistribusikan bahan organik (Khrisna & Weesner 1969). Dengan beralih fungsinya hutan menjadi perkebunan monokultur menyebabkan rayap ini menjadi hama penting di dunia pertanian khususnya di bidang perkebunan(Tarumingkeng 2001).Pengembangan sektor perkebunan dan hutan tanaman industri yang dilakukan pada lahan gambut dan lahan bekas hutan primer merupakan salah satu penyebab terjadinya serangan rayap terhadap tanaman perkebunan (Sudohadi 2001). Serangan hama rayapsulit dideteksi secara dini karena merusak tanaman mulai dari bagian akar tunggang di dalam tanahdan diketahui setelahmembentuk tabung kembara di sekitar batang tanaman (Hasan 1986). Rayap hama M. gilvus 10 ini menyerang tanaman Eucalyptus alba pada umur enam bulan dengan tingkat kematiannya secara berturut-turut adalah 60% dan 100% di Kebun Percobaan Darmaga dan Demplot HTI Universitas Winaya Mukti (Nandika et al. 2003). Serangan rayap hama pada tanaman perkebunan biasanya dipengaruhi oleh tingkat preferensinya terhadap jenis tanaman, tingkat kesehatan tanaman, dan kondisi tempat tumbuh, serta tanaman yang tertekan karena serangan patogen, kerusakan fisik, atau akibat kekurangan air dan unsur hara. Biasanya tanaman eksotik lebih tinggi tingkat serangan rayap dibandingkan tanaman lokal, hal ini diduga tanaman lokal dapat mengembangkan mekanisme resistensinya terhadap gangguan rayap, yaitu melalui proses adaptasi dan evolusi. Tanaman yang berada di dataran rendah lebih banyak diserang oleh rayap dibandingkan tanaman yang berada di dataran tinggi. Hal ini berhubungan dengan distribusi rayap yang dibatasi oleh faktor suhu, kelembaban serta ketinggian tempat (Pribadi 2009). Aktivitas rayap disuatu daerah dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tanah, tipe vegetasi, faktor iklim dan ketersediaan air. Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi dan saling mempengaruhi satu sama lain. Kelembaban dan suhu merupakan faktor yang mempengaruhi aktivitas rayap. Bila kondisi lingkungan berubah akan mempengaruhi perkembangan, aktifitas dan perilaku rayap (Nandika et al. 2003). Curah hujan merupakan salah satu faktor pemicu perkembangan eksternal yang merangsang keluarnya kasta reproduktif dari sarang. Laron biasanya keluar pada saat musim hujan. Bila curah hujan terlalu tinggi dapat menurunkan daya jelajah rayap yang berpengaruh langsung terhadap koloni rayap, terutama bila sarangnya berada diatas permukaan tanah. Koloni Neotermes tectonae bersarang di dalam kayu dan terlindungi secaralangsung dari pengaruh curah hujan. Di hutan jati rayap ini memiliki kisaran suhu optimum 22‐26°C dengan ketinggian 0- 700 m dpl (Nandika et al. 2003). Rayap Macrotermes spmenyukai kelembaban 75 sampai 90% dan pada saat musim panas melakukan daya jelajah membentuk tabung kembara menuju habitat dengan suhu yang lebih rendah. Cryptotermes sp merupakan rayap kayu kering dan dengan suhu optimum 15-38°C dapat melakukan daya jelajah tanpa memerlukan air atau kelembaban tinggi(Khrisna & Weesner 1969). Rayap Coptotermes formosanus memiliki toleransi suhu lebih 11 tinggi dibandingkan rayap Reticulitermes flavipes. Bila suhu sangat tinggi rayap akan berada di bawah permukaan tanah atau masuk dalam sarangnya atau tetap beradadi permukaan tanah bila terdapat naungan agar mendapatkan suhu optimum. Di daerah semi gurun dengan penutupan vegetasi yang rendah, rayap Psammotermes sering ditemukan di bawah batu atau naungan karena dapat menciptakan suhu dan kelembaban yang lebih baik. Jenis tanaman penutup tanah juga mempengaruhi suhu tanah. Di lapangan dengan tanaman sereal dapat memberikan sedikit perlindungan dibandingkan jenis tanaman lain atau semak (Lee & Wood 1971). Pendugaan Ukuran Populasi Menurut Krebs (1978) dua kriteria mendasar yang mempengaruhi pemilihan metode pendugaan ukuran populasi adalah kerapatan dan mobilitas dari individu-individu penyusun populasi yang akan diteliti. Pengukuran kepadatan populasi dapat dilakukan dengandua cara,yaitu (a) kepadatan absolut; jumlah organisme per unit areal atau volume (b) kerapatan relatif; kerapatan satu populasi relatif terhadap populasi lainnya (Krebs 1989). Penggunaan metode untuk memperoleh informasi mengenai ukuran populasi biasanya berhubungan dengan sifat mobilitas organisme yang diteliti. Untuk organisme yang bergerak umumnya menggunakan teknik tanda tangkap dan transek garis. Sedangkan untuk organisme yang tidak bergerak menggunakan metode kuadrat, seperti pada tumbuhan (Tarumingkeng 2001). Umumnya ukuran populasi kolonirayap tingkat rendah terdiri atas beberapa ratus atau beberapa ribu ekor.Rayap Kalotermes flavicollis menghasilkan 15-20 ekor rayap untuk tahun pertama, namun beberapa tahun kemudian populasi koloninya menjadi bertambah hingga 600-1.000 ekor (Richards& Davies 1996).Di Afrikarayap Macrotermes spplebih besar ukuran populasi koloninya yang terdiri atas beberapa juta ekor(Lee & Wood 1971). Teknik Tanda Tangkap Menurut Rismayadi (1999)teknik tanda tangkap pertama kali digunakan di bidang ekologi oleh G.J. Petersen. Su et al.(1984,1994) dan Sornnuwat et al. 12 (1996) juga mempelajari ukuran populasi dan daya jelajah rayap tanah dengan metode teknik tanda tangkap.Asumsi-asumsi yang mendasari semua analisis teknik tanda tangkap adalah: (1) individu bertanda tidak dipengaruhi oleh penandaan dan tanda yang digunakan tidak hilang selama periode pengamatan, (2) individu bertanda bercampursecaraacak dalam populasi, (3) penarikan contoh dilakukan secaraacak (berdasarkan asumsi ini maka individu dalam populasi dari kelompok umur dan dari jenis kelamin berbeda akan memiliki peluang tertangkap berdasarkan perbandingan yang ada dalam populasi dan semua individu mempunyai peluang yang sama untuk tertangkap dalam habitatnya), (4) pengambilan contoh dilakukan dalam waktu tertentu (Southwood 1975, Krebs 1978& 1989). Metode Schnabel menjadi dasar dari teknik yang digunakan oleh Su (1994) dan Surnnuwat et al.(1996) untuk mempelajari ukuran populasi dan daya jelajah rayap tanah. Namun dalam penelitian ini untuk pendugaan ukuran populasi koloni rayap digunakan metode triple mark reupture technique, yaitu: N = (∑Mi.ni)/[(∑mi)+1] SE = N/{[1/(∑mi)+1)]}+{(2/((∑mi)+1)2+[(6/(∑mi)+1)3]}1/2  dimana: N = Ukuran populasi SE = Simpangan baku ni = Jumlah keseluruhan rayap yang tertangkap pada penangkapan ke-i mi = Jumlah rayap bertanda yang tertangkap pada penangkapan ke-i Mi = Jumlah total rayap bertanda sampai penangkapan ke-i Teknik Penandaan Menurut Southwood (1975) bahan penanda yang digunakan oleh para peneliti terhadap beberapa studi populasi adalah: cat dan larutan bahan pewarna, penandaan internal dengan penyuntikan, bahan pewarna fluorescent, label, mutilasi (pemotongan) dan penandaan melalui pengumpanan yang mengandung bahan pewarna. Pada penelitian pendugaan ukuran populasi koloni dan daya jelajah rayap tanah Coptotermes formosanus, digunakan bahan pewarna sudan red 7B (Su et 13 al.1984). Kemudian Su et al. (1991) menggunakan beberapa bahan pewarna neutral red dan nile blue A, ternyata hasilnya sangat efektif digunakan sebagai pewarna rayap. Setelah itu bahan pewarna ini telah banyak digunakan untuk studi populasi rayap. Su (1994) pernah menggunakan bahan pewarna ini untuk menandai Reticulitermes flavipes dan C.formosanus, juga pernah di pakai untuk menandai C. gestroi. Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Harahap et al. (2005) dalam mengamati perilaku agonistik pada rayap R. flavipes dan R. nirginicus; menggunakan bahan pewarna nile blue A (0,05%) dan neutral red (0,25%), ternyata sangat efektif digunakan sebagai bahan penandaan rayap. Pengendalian Rayap Pengendalian rayap dengan teknik pengumpanan lebih menguntungkan karena tanah tidak terkontaminasi oleh bahan kimia dan meringankan pekerjaan dari perlakuan yang intensif.Melalui penempatan umpan pertama tidak beracun pada koloni rayap dandengan mengulangi penempatan umpan beracun yang slow action, akan lebih efektif untuk menyebarkan racun terhadap individu lain dalam sebuah koloni. Agar pengendalian cara ini lebih efektif maka umpan harus lebih menarik dari makanan di sekitarnya. Penambahan gula, madu, jamur pelapuk, asam amino, sumber nitrogen, bahkan feromon dapat meningkatkan laju komsumsi rayap (Pearce 1997). Pengendalian rayap dengan menggunakan chlorprenapyr pada berbagai konsentrasi melalui pengumpanan mampu menghasilkan mortalitas yang berkorelasi positif dengan waktu aplikasi dan konsentrasi perlakuan(Sudohadi Y 2001). Menurut Scheffrahn dan Su (1994) kelebihan dari metode pengumpanan yaitu ramah lingkungan, mudah diterima oleh masyarakat karena sedikit menggunakan bahan kimia yang telah dikemas dalam bentuk yang efektif, dan di sukai rayap dengan kerja racun yang slow action, sehingga dapat mengeliminasi koloni rayap. Menurut Su et al. (1994) penggunaan hexaflumuron dengan dosis 0,5% yang dilarutkan pada gulungan kertas tissue (Whatman No. 1) dan diumpankan pada rayap, maka semua rayap yang mencerna umpan tersebut tidak segera akan menunjukkan gejala keracunan, tetapi mengganggu proses 14 metabolisme dan menghambat proses ganti kulit, kemudian setelah beberapa hari rayap akan mati. Hingga saat ini pengendalian rayap masih tergantung pada insektisida sintetik yang berdampak negatif terhadap lingkungan (Kartika et al. 2007), keracunan bagi penggunadan lainnya. Oleh karena itu perlu alternatif pengendalian cara lain yang ramah lingkungan. Salah satunya dengan memanfaatkan bioinsektisida (Soetopo kelompokmikroorganisme yang & bermanfaat Indrayani 2009). Ada enam sebagai bioinsektisida, yaitu cendawan, bakteri, nematoda, virus protozoa, dan riketsia (Santoso 1993). Cendawan Metarhizium brunneum Petch CendawanM. brunneummerupakan salah satu jenis bioinsektisida yang dapat menimbulkan penyakit terhadap serangga dandapat ditemukan hampir di berbagai tempat, seperti tanah gambut di USA dan Oregon (CABI 2001). Desyanti (2007) mengisolasikan cendawan M. brunneum dari tanah. Untuk pertumbuhannya memerlukan suhu optimum 22-27°C (Roddam & Rath 1997), dengan tingkat keasaman (pH) antara 3,3-8,5, sedangkan pH optimal 6,5 (Domsch & Gams 1980). Konidia akan berkecambah pada kelembaban 90% dan dapat tumbuh baik pada media PDA, jagung dan beras (Ginting 2008). Butt et al. (2001) mengklasifikasikan cendawan kepada dua divisi yaitu Myxomycota dan Eumycota.Lebih rinci Roy et al.(2006) mengklasifikasikan cendawan entomopatogen Metarhizium sp sebagai berikut: devisi: Ascomycota kelas: Sordariomycetes ordo: Hypocreales famili: Clavicipitaceae genus: Metarhizium spesies:Metarhizium brunneum Petch CendawanM. anisopliaemempunyai koloni berwarna putih dan dengan bertambahnya umurwarnanya berubah menjadi gelap, sedangkan strain M. brunneum pada awal pertumbuhannya bewarna putih hingga kekuningan, selanjutnya berubah menjadi coklat. Miseliumnya bersekat, diameter 1,98-2,97 15 µm, konidiofor tersusun tegak, berlapis, dan bercabang yang dipenuhi oleh konidia. Konidia bersel satu berwarna hialin, berbentuk bulat silinder dengan ukuran 9,94 x 3,96 mμ (Strack 2003, Ginting 2008). Keragaman intraspesiespada cendawan entomopatogen umumnya terlihat pada perbedaan virulensinya (Hajek& Leger 1994). Faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan keragaman tersebut adalah sumber isolat, inang dan daerah geografis asal isolat (Varela & Morales 1995, Baretta et al. 1998). Umumnya strain cendawan entomopatogen yang diisolasi dari inang yang sama akan lebih virulen untuk diaplikasikan terhadap inang tersebut, dibandingkan dari inang yang berbeda. Seperti cendawanB. bassiana yang koleksi dari kadaver rayap apabila kembali diinfeksikan terhadap individu rayap lain dari spesies yang sama maka toxisitasnya lebih efektif (Boucias& Pendland 1998). Pemanfaatan agens hayati cendawanM. brunneum di areal pertanaman belum pernah dilakukan. Penggunaan cendawan ini baru dilakukan Desyanti (2007) dalam studi pengendalian rayap tanah Coptotermes spp di laboratorium dan hasilnya efektif sebagai agens hayati dengan tingkat patogenisitasnya lebih tinggi dan dapat membunuh rayap Coptotermes spp dengan LC50 terendah dibandingkan spesies M. anisopliae, B. bassiana, Fusarium oxysporum danAspergillus flavus (Desyanti 2007). Keefektifan dalam penggunaan cendawan tersebut didukung oleh daya kecambah dan kerapatan konidia yang dihasilkan. Menurut Desyanti (2007) daya kecambah dari cendawan M. brunneum dan M. anisopliaesetelah diinkubasiselama 12-24 jammasing-masing 97,20% dan 85 sampai 90%.Kerapatan konidia yang dihasilkan oleh cendawan M. brunneumlebih tinggi (223,66 x 107/cawan Petri) dibandingkan cendawan M. anisopliae(6,18 x 107/cawan Petri). Cendawanini mempunyai kemampuan untuk menempel dan menembus kutikula inang dan tumbuh ke bagian internal tubuh inang (hemocoel) sebagai sumber nutrisi untuk pertumbuhan yang mengakibatkan kematian inang. Kemudian cendawan tersebut juga dapat menghancurkan jaringan lain dengan melepaskan toksin dan akan mempengaruhi perkembangan inang secara normal (Boucias& Pendland 1998). Beberapa jenistoksinyang dihasilkan oleh 16 Metarhizium spp terhadap serangga yaitu:destruxin, cytohalasins, swainsonine (Desyanti 2007,Boucias& Pendland 1998). Diharapkandengan memanfaatkan potensi sumber daya hayati lokal yang berpotensi di alam Indonesia, seperti pemanfaatan cendawan M. brunneumsebagai agens hayati yang berpotensi akan dapat mengurangipenggunaan pestisida sintetik yang selama ini banyak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan (Desyanti 2007). Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Tahun 1912 tanaman jarak pagar telah diperkenalkan di Indonesia oleh bangsa Jepang (Hambali et al. 2007). Tanaman ini dapat tumbuh pada tanah kritis unsur hara, beriklim panas danpada ketinggian tempat 0-1.000 m diatas permukaan laut (dpl). Namun lebih optimal pertumbuhannya pada tanah yang berstruktur ringan atau tanah lempung berpasir pH(5,0-6,5), suhu (18-30°C), dan curah hujan (300-1.200 mm) per tahun (Hariyadi 2005). Pada lahan yang kurang subur populasitanaman jarak pagar 1.666 per hektar (Prihandana & Hendroko 2006). Sedangkan lahan yang subur daya tampungnya2.500 tanamanper hektar dengan jarak tanam setiap tanaman 2 m. Tanaman jarak pagar dapat menghasilkan 3,5-4,5 kg biji/pohon/tahun . Bila rendemen minyak dari bijitanaman jarak pagar sebesar 30% maka setiap hektar lahan dapat diperoleh 1,5-3 ton minyak/ha/tahun. Produksi akan stabil setelah tanaman berumur lebih dari 5 tahun.Kemungkinan jarak pagar ini dapat bertahan hidup lebih dari 20 tahun apabilaperawatannya efektif(Hambali et al. 2007). Di KIJP Pakuwon budidaya tanaman jarak pagar mengalami beberapa kendala, salah satu diantaranyaadalah serangan hama rayap M. gilvus yang merusak sistem perakaran tanaman dan mengakibatkan pengambilan unsur haradari dalam tanah oleh tanaman menjadi terhambat.Semakin lama serangan hama ini semakin meningkat hingga meluas pada tanaman lainnya.Data kuantitatif serangan rayap terhadap tanaman jarak pagar umur tegakan 5 tahun mencapai16,33%. Oleh karenanya serangan rayap hama ini perlu segera dikendalikanagar tidak semakin meluashingga tanaman sehat lainnya. 17 BAB III POPULASI KOLONI RAYAP Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) DI KIJP PAKUWON SUKABUMI JAWA BARAT [Colony size population ofMacrotermes gilvus Hagen(Isoptera:Termitidae) in KIJP Pakuwon Sukabumi West Java] Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk menduga ukuran populasi koloni rayap M. gilvus di KIJP Pakuwon dengan menggunakan tekniktriple markrecapture. M. gilvus dikoleksi dari perkebunan jarak pagar (J. curcas) yang ditentukan dalam tiga blok (I, II, III).Koleksi rayap diwarnai denganneutral red0,25% dan nile blueA 0,05% di laboratorium.Di blok1 dengan luas areal 15.210 m2ditemukan 8 koloni (150.388 individu), di blok 2 dengan luas areal 5.700 m2hanya ditemukan satu koloni (59.459 individu), dan di blok 3 dengan luas areal 27.000 m2 15 koloni(149.459 individu). Total populasi M. gilvusyang ditemukan terdiri atas 24 koloni dengan 359.066 individu yang tersebar dalam luas areal 47.910 m2. Kata kunci: Populasi, Macrotermes gilvus, Jatropha curcas, KIJP Pakuwon Abstract The aim of this study was to predict the population size of M. gilvus colonyat KIJP Pakuwon using Triple Mark Recapture Technique. M. gilvus was collected from castor plantation whichwas divided in to three blocks (I,II, III). Later M. gilvus were cleaned, counted and maintained in a Petri dish fed with filter papers that have been colored by neutral red 0,25% and nile blue A 0,05%. Eight colonies were found on block 1 and the area width is 15.210 m2 (150.388 individuals), only one colony on block 2 with the area width is 5.700 m2 (59.459 individuals), and 15 colonies on block 3 with area width is 27.000 m2 (149.459 individuals). The total population of M. gilvus was 24 colonies counsisted of 359.066 individuals with total area width 47.910 m2. Key words: Population,Macrotermes gilvus, Jatropha curcas, KIJP Pakuwon 18 Pendahuluan Populasi merupakan sekelompok individu suatu organismedan termasuk dalam satu spesies yang dapat melangsungkan interaksi genetik dengan spesies yang sama pada waktu tertentu di suatu wilayah atau ruang tertentu (Tarumingkeng 1992). Karakteristik suatu populasi yaitu kepadatan (densitas), laju kelahiran (natalitas), laju kematian (mortalitas), sebaran (distribusi) umur, potensi biotik, sifat genetik, perilaku dan pemencaran (dispersal) (Tarumingkeng 1992). Ukuran populasi sebuah koloni rayap sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh habitat, mikroklimat (kelembaban, suhu, curah hujan), jenis tanah dan umur ratu (Khrishna & Weesner 1969). Ukuran populasi koloni merupakan bagian penting dari sebuah koloni rayap (Riklefs 1990). Dasar kriteria menggunakan metode pendugaan ukuran populasi adalah kerapatan dan mobilitas individu penyusun populasi (Krebs 1978). Untuk organisme bergerak, umumnya digunakan teknik tanda tangkap, metode kuadrat atau transek garis, sedangkan organisme yang tidak bergerak seperti tumbuhan digunakan metode kuadrat (Tarumingkeng 2001). Meskipun ukuran populasi rayap tanah sulit dipelajari karena hampir semua aktivitasnya di bawah permukaan tanah, namun penelitian di bidang tersebut telah berkembang menggunakan berbagai macan metode baru. Penelitian tentang pendugaan ukuran populasi koloni rayap C. curvignathus dan M. inspiratusdapat dilakukan menggunakan metode triple mark reapture tehnique(teknik tanda tangkap) (Tarumingkeng 1992). Agar pengendalianrayap dapat berlangsung lebih efektif dan efisien perlu diketahui ukuran populasi koloninya (Nandika et al. 2003). Rayap hama M. gilvus pada tanaman jarak pagar perlu dikendalikan sedini mungkin agar kerusakan yang ditimbulkan tidak mencapai ambang ekonomi. Bahan dan Metode Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Taksonomi Serangga, Laboratorium Patologi Serangga Departemen Proteksi Tanaman Fakultas 19 P Pertanian Institut I Perttanian Bogoor, dan di Kebun K Induuk Jarak Paggar (KIJP) P Pakuwon Su ukabumi Jaw wa Barat, sejaak Nopembeer 2009 samppai Juli 20100. P Persiapan Stasiun S Peng gamatan daan Pemasan ngannya Lokaasi percobaaan adalah llahan KIJP Pakuwon. Percobaan ditentukan d dalam tiga blok b (I,II, dan III) yang m masing- massing terdiri ddari 23 stasiuun (blok I), 9 stasiun (bllok II), dan 45 stasiun (blok ( III). Stasiun S penggamatan yang dipasang t terdiri dari 10 1 potong kaayu pinus (1 cm × 2 cm× ×10cm) yangg dimasukkan ke dalam p pipa PVC Ф 5 inci. Kem mudian pipaa PVC dimassukkan dalam m lubang gaalian 15 cm y yang ditutupp dengan bahhan plastik berwarna b geelap, agar tiddak tembus cahaya c dan k kemungkina an gangguann dari luar. Jarakantaraastasiun penngamatan 200 m dalam dan cara s setiap blokk. Berikut ini bagian-bagian darii stasiun pengamatan p p pemasangan nnya di KIJP P Pakuwon (G Gambar 1 daan 2). a b c G Gambar 1 Perakitan P Staasiun Pengaamatan: (a) potongan p kayyu pinus (1 cm × 2 cm ×10 × cm) dibbungkus denngan kertas kardus bekkas, (b) poto ongan pipa PVC P berisi kayu pinus yang terbun ngkus karduus bekas, dann (c) tutup dari d bahan plastik (waater strainer) sebagai penutup paada bagian permukaan p s stasiun pengamatan. I Identifikasi i Rayap Seranngga yang digunakan d ddalam penelitian ini adaalah spesiess M. gilvus y yang dikoleksi dari Keb bun Induk JJarak pagar (KIJP) Pakkuwon Sukabbumi Jawa B Barat. Conttoh beberappa individuu rayap (kaasta pekerjaa dan kasta prajurit) d dimasukkan ke dalam m botol berrisi alkoholl 70%. Ideentifikasi dilakukandi d L Laboratorium m Taksono omi Seranggga Departtemen Protteksi Tanam man IPB. 20 Karakkteristik morffologi spesiees rayap ini diketahui beerdasarkan kkunci identiffikasi pengen nalan rayap (Tarumingkkeng 1971). a b Gambar 2 (a) stasiun pengam matan, dan (bb) pemasang gannya di KIJP Pakuwonn. Pelaksanaan P n Penelitian Percobaan ini meenggunakan metode triple m mark recappture technique(Marini & Roberto 1998). 1 Adappun tahapan kerja k dari m metode ini sebbagai beriku ut: Tahap p Pertama pan yang terrserang rayapp dikumpulkkandan dipisahkan rayaapnya Kayu ump dari taanahserta diihitung jum mlahnya. Pew warnaannya menggunakkan kertas tissue t (Whattman No 1) yang telah direndam daalam bahan pewarna neeutral red 0,25% dan niile blue A 0,05% 0 (Harahapet al. 20005). Kertas tissue dium mpankan terhhadap rayap selama 3 haari, sehinggaa diperoleh rrayap warna biru dan meerah (Gambaar 3). Rayap p yang telah h berwarna tersebut dihhitung kembbali jumlahnnya dan kem mbali dilepaskan ke stassiun pengam matan tempaat rayap ditaangkap. Satuu minggu seetelah b yu umpan ddari setiap stasiun s penggamatan kem mbali pelepaasan rayap bertanda.Kay dikum mpulkan. Raayap yang tertangkapp baik yanngberwarna maupun tidak berwarnadihitung kembali. Tahap p Kedua 21 Rayaap yang terrtangkap padda tahap peertama, diw warnai kembbali seperti p prosedur pad da tahap perrtamadan kkembali dileppas ke stasiuun pengamaatan tempat s semula ditanngkap. Sem minggu setelaah pelepasan n diamati keembali. Interval waktu t tahap pertam ma dengan taahap berikutnnya (kedua dan d ketiga) sselama 10 haari. T Tahap Ketiiga Penaandaan, peleepasan dan penangkapan p n rayap untuuk tahap tigga diulangi s seperti prosedur tahap pertama daan kedua. Peendugaan ukkuran populasi koloni r rayap M. gillvusdigunakaan metode B Begon (Marin ni & Robertoo 1998) yaitu u: N = (∑Mi.nni)/[(∑mi)+1] S = N/{[1/(∑mi)+1)]+{(2/((∑mi)+ SE +1)2+[(6/(∑m mi)+1)3]}1/2 d dimana: N = Uk kuran populaasi. S SE = Sim mpangan Baaku. ni = Jum mlah keselurruhan rayap yang tertanggkap pada peenangkapan ke-i. mi = Jum mlah rayap bertanda b yanng tertangkap p pada penanngkapan ke--i. Mi = Jum mlah total raayap bertandda sampai peenangkapan kke-i a b G Gambar 3 Rayap R M. giilvus yang teelah diwarnaii dengan (a)) neutral redd 0,25 % dan d (b) nilee blue A 0,055%. 22 Hasil dan n Pembahasan 1. Id dentifikasi Rayap R Semua conntoh rayap yang y dijumpaai di stasiun n pengamatann pada blok I, II, dan IIII di KIJP Paakuwon adallah Macroterrmes gilvus Hagen (Tabel 1). Tabel 1 Spesies raayap dari staasiun pengam matan di KIJJP Pakuwon.. Blook I III IIII Jumllah stasiun penngamatan 23 9 45 Spessies rayap Macroteermes gilvuss Macroteermes gilvuss Macroteermes gilvuss Bahan ideentifikasi adaalah rayap kkasta pekerjja, kasta praajurit minorr dan mayorr (Gambar 4)). a b c Gambar 4 Rayap p Macroterm mes gilvus (aa) kasta pekeerja (b) kastta prajurit minor (c) kassta prajurit mayor m 2. U Ukuran Popu ulasi Kolonii Rayap Maacrotermes gilvus g Hagen n Hasil penggamatan meenunjukkan bahwa ukuuran populaasi koloni rayap r M..gilvvus di KIJP Pakuwon digolongkan kepada ukurranpopulasi koloni besarr dan ukurann populasi koloni k kecil. Persentase uukuran popuulasi koloni bbesar pada blok b I sebesaar 25% (A) dan d 75% kolloni kecil (B B,D,E,F,G,H H) (Gambar 55). Blok II hanya h terdiri dari satu ko oloni besar (A A) (Gambarr 6). Blok IIII 13,13% koloni besar (A A, B) dan 866,87% kolon ni kecil(D,E,F F,G,H,I,J,K,,L,M,N dan O) (Gambarr 7) 23 Tabel 2Ukuran populasi koloni rayap Macrotermes gilvus Hagen di KIJP Pakuwon. No Blok I II III Jumlah Jumlah Koloni 8 1 15 24 Ukuran Populasi (N) 150.388 59.219 149.459 359.066 Luas areal (m2) 15.210 5.700 27.000 47.910 Ukuran populasi koloni tiap blok berbeda. Persentase koloni pada blok I, II, dan III termasuk koloni ukuran kecil 73,17%, sedangkan 20,83% termasuk koloni ukuran besar (Tabel 2).Karakteristik koloni rayap M. gilvus di KIJP Pakuwon banyak didominasioleh kasta pekerja dan hanya dalam jumlah kecil terdapat kasta prajurit. Hal inimenunjukkan bahwa kasta pekerja berperan penting terhadappembangunan sebuah koloni terutamakoloni yang baru terbentuk. Di KIJP Pakuwon jugaterdapat koloni rayap M. gilvusyang mempunyai kasta prajurit hampir seperempat dari jumlah kasta pekerja. Hal inididuga karena banyaksemut di sekitar stasiun pengamatan sebagai musuh utama rayap.Ratu dalam koloni tersebutmenghasilkan lebih banyak kasta prajurit untuk melindungi anggota koloninya dari serangan semut. Pada koloni yang tidak terdapat sarang semut jumlah kasta prajurit minor sangat sedikitbahkantidak terdapat kasta prajurit mayor. 24 100.000 90.000 88.062 Ukuran populasi koloni 80.000 70.000 60.000 50.000 40.000 30.000 23.819 20.000 16.478 10.000 3.436 3.132 4.572 5.699 5.190 D E F G H 0 A B C Koloni Rayap Macrotermes gilvus Gambar 5 Ukuran populasi setiap koloni rayap M. gilvus pada blok I Ukuran populasi koloni 70.000 59.219 60.000 50.000 40.000 30.000 20.000 10.000 0 A1 Koloni rayap Macrotermes gilvus Gambar 6 Ukuran populasi setiap koloni rayap M. gilvus pada blokII 25 35.000 32.913 Ukuran Populasi Koloni 30.000 25.000 21.061 17.675 18.469 20.000 15.799 13.834 15.000 7.394 10.000 5.275 5.045 904 570 5.172 4.369 5.000 540 439 0 A B C D E F G H I J K L M N O Koloni Rayap Macrotermes gilvus Gambar 7 Ukuran populasi setiap koloni rayap M. gilvus pada blokIII Ukuran populasi koloni rayap diduga tergantung pada umur ratu (umur koloni), semakin tua umur ratu maka kapasitas untuk meletakkan telur akan lebih tinggi demikian juga sebaliknya semakin muda umur ratu, kemampuan untuk meletakkan telursemakin rendah. Menurut Faulet et al. (2006)ukuran populasisebuah kolonirayap dengan jumlah individu kurang dari 20.223 individu (50% kasta pekerja dan 10% kasta prajurit) termasuk dalam koloni ukuran kecil, sedangkan lebih besar dari ukuran tersebut dikelompokkan ke dalam koloni ukuran besar. Ukuran populasi koloni dipengaruhi oleh umur ratu dan lingkungan sertaadanya gangguan organisme lain seperti semut (Khrisna &Weesner 1969). Lee at al. (2007) menambahkan bahwaapabila lingkungan tidak mendukung maka ukuran populasi koloni rayap tidak akan meningkat bahkan semakin rendah.Berbagai faktor lingkungan seperti tanah, tipe vegetasi, iklim, dan ketersediaan air, sangat mempengaruhi ukuran populasi koloni rayap. Lingkungan KIJP Pakuwon dengan ciri tingkat kelembaban relatif 76 sampai 88%, suhu permukaan22-26°C, sirkulasi udararelatif lebih baik, 26 kandungan bahan organik banyak sangat menunjang perkembangan populasi koloni rayap Simpulan 1. Jenis rayap yang dijumpai di KIJP Pakuwon adalah Macrotermes gilvus. 2. Ukuran populasi koloni rayap M. gilvusdi KIJP Pakuwon sebesar 359.066 individu dari 24 koloni. 3. Umumnya lebih banyak terdapat koloni ukuran kecil dibandingkan koloni ukuran besar. Daftar Pustaka Faulet BM, Niamke S, Gonnety JT, Kouame LP. 2006. Purification and biochemical properties of a new thermostable xalanase from symbiotic fungusTermitomyces sp. African Journal of Biotechnology 5(3): 273-282. Harahap IS, Benson EP, Zungoli PA, Adler PH, Hill HS. 2005. Inter-and intracolony agonistic behavior of nativesubterranean termites, Reticulitermes flavipes and Reticulitermes virginicus (Isoptera: Rhinotermitidae). Sociobiology 46: 305-316. Khrishna K, Weesner FM. 1969. Biology of Termites.Volume II. New York: Academic Press. Krebs J. 1978. Ecology the Experimental Analysis of Distribution and Abundance.Second Edition.Harper and Row Publisher. New York. Lee CY, Vongkaluang , Lenz M. 2007. Challenges to subterranean termite tunnel branches for efficient food search and resource transportation. BioSystems 90:802-807. Marini M, Roberto F 1998. A Population survey of the Italian subterranean termite Reticulitermes lucifuguslucifugus Rossi in Bacnacavallo (Rovenna, Italy) using the Triple Mark Recupture Techninque (TMR). Zoological sciencie 15:963-969 Nandika D, Rismayadi Y, Diba F. 2003. Rayap, biologi dan pengendaliannya Surakarta.Muhammadiyah University Press. Riklefs H. 1990. Ecology.Third Edition. W.H. Freeman and Company. New York. 27 Tarumingkeng R. 1971. Biologi dan Pengenalan Rayap Perusak Kayu di Indonesia. Laporan Lembaga Penelitian Hasil Hutan. No. 138. Bogor. Tarumingkeng R. 1992. Insektisida: sifat, mekanisme kerja dan dampak penggunaannya. Ukrida Press. Jakarta. Tarumingkeng. R. 2001.Biologi dan Perilaku Rayap.http://tumoutou.net/ biologi_dan perilaku_Rayap. htm. PSIHIPB [7 Februari 2008] 28 BAB IV DAYA JELAJAH RAYAP Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) DI KIJP PAKUWON SUKABUMI JAWA BARAT [The foraging range of Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) in KIJP Pakuwon Sukabumi West Java] Abstrak Daya jelajah maksimum rayap Macrotermes gilvus Hagen dipengaruhi oleh faktor lingkungan terutama sumber makanan yang tersedia pada habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari daya jelajah maksimum rayap M. gilvus di KIJP Pakuwon. RayapM. gilvusditangkapdari stasiun pengamatan, dipisahkan dari tanah dan diwarnai denganneutral reddan nile blue.Rayap berwarna kemudian kembali dilepaskan pada stasiun pengamatan dan seminggu kemudian diamati. Rata-rata daya jelajah maksimum rayap M. gilvussejauh 140,5 m Kata kunci : Macrotermes gilvus, daya jelajah,KIJP Pakuwon Abstract The maximum foraging range of M. gilvusinfluenced by environmental factors especially the availability of food resourcesin their habitat. The aim of this reseacrh was to study the maximum foraging range of M.gilvus in KIJP Pakuwon. The reseacrh was carried out by capturing M. gilvus from observation stations separated from the soil and marked with neutral red and nile blue. Marked termites then released back to the station and observed a week later. Average maximum foraging range of M. gilvus extent to140,5 m. Key word: Macrotermes gilvus, foraging range, KIJP Pakuwon. 29 Pendahuluan Wilayah jelajah didefinisikan sebagai daerah yang dikunjungi oleh organisme secara tetap kerena tersedia sumber makanan dan dapat berfungsi sebagai tempat berlindung, beristirahat, dan bereproduksi (Moen 1973, Alikodra 1990).Beberapa spesies rayap memiliki daya jelajah lebih luas untuk mendapatkan sumber makanan. Perilaku persentuhan fisik dan bau yang dikeluarkan melalui jejak dari individu rayap untuk disampaikan kepada anggota koloninya merupakan suatu mekanisme penyampaian informasi terhadap sumber makanan yang baru ditemukan (Pearce 1997). Mempelajari daya jelajah rayap tanah mengalami kesulitan karena hampir semua aktivitasnya di bawah permukaan tanah (Su et al. 1994).Pendugaan daya jelajah rayap dapat dilakukan dengan menggali galeri rayap(King & Spink 1969) atau menggunakan penanda radioisotop (Spragg & Paton 1980). Sornnuwat et al. (1996) menyatakan bahwakedua cara tersebut kurang efektif digunakan untuk mempelajari daya jelajah rayap. Metode tanda-lepas-tangkap (mark-releaserecapture method) telah banyak digunakan untuk melakukan penelitian terhadap daya jelajah rayap (Su et al. 1994, Su et al. 1991, Sornnuwat et al. 1996). Beberapa bahan penanda sangat efektif digunakan untuk penelitian daya jelajah rayapC. formosanus seperti neutral red dan nile blue A (Su et al. 1991). Bahan dan Metode Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan sejak Nopember 2009 sampai Juli 2010 di Kebun Induk Jarak Pagar (KIJP) Pakuwon, Sukabumi, Jawa Barat. Perakitan Stasiun Pengamatan dan Pemasangannya Cara kerja sama seperti yang telah diuraikan pada BAB III Pelaksanaan Penelitian Seluruh stasiun pengamatan yang terdapat pada blok II diberi nomor 1 sampai 9. Stasiun pengamatan tersebut kemudian diundi sehingga akan terpilih 30 dua stasiun pengamatan sebagai tempat pelepasan awal. Rayap yang terdapat pada stasiun pengamatan terpilih (3 dan 9) dikoleksisecara terpisah dan diwarnai melalui pengumpanan menggunakan kertas saring yang telah direndam ke dalam neutral red (0,25 %) dan nile blue A (0,05%) dalam Petridishsecara terpisah (Harahap et al. 2005) selama tiga hari (Tabel 3). Setelah berwarna merah dan biru, rayap dilepas kembali di stasiun pengamatan tempat semula. Pengamatan terhadap daya jelajah maksimum rayap M. gilvusdilakukan mulai dari blok II(stasiun pengamatan tempat pelepasan rayap bertanda) hingga pada blok I dan blok III (stasiun pengamatan tempat ditemukan kembali rayap bertanda) menggunakan alat ukur meteran pita 50 m (Gambar 12). Tabel 3 Stasiun pengamatan terpilih untuk menduga daya jelajah rayap M. gilvus. Nomor stasiun Rayap tertangkap 3 9 556 495 Tanda Merah 556 Lepas Biru 495 Merah 482 Biru 411 Hasil dan Pembahasan Rayap M. gilvus melakukan daya jelajah untuk mendapatkan sumber makanan dan sangat ditentukan oleh lingkungan yang optimal. Rata-rata jarak linier daya jelajah rayap M. gilvus pada blok I sejauh 140,5 m (324,25 individu) dari luas areal 15.210 m2 (Gambar 8), dan blok III sejauh 140 m (311,26 individu) dari luas areal 27.000 m2 (Gambar 9). Cara pengukuran daya jelajah rayap M. gilvus pada (Gambar 13). Sedangkan hasil pengamatan daya jelajah setiap koloni dari blok (I dan III) dapat di lihat pada Gambar (4 dan 5). Rayap M. gilvusmelakukan daya jelajah lebih jauh pada blok I diduga pengaruh dari beberapa faktor lingkungan terutama makanan yang tersedia sangat terbatas (Gambar 10). Di blok Ipertumbuhan tanaman jarak pagar kerdil dengan kerapatan tajuk tananam lebih rendah dan luas kanopinya lebih sempit. Tidak terdapat serasah dari sisa tanaman seperti daun dan cabang yang patah pada habitat tersebut. Sanitasi gulma dilakukan secara berkelanjutan di sekitar pangkal akar tanaman jarak pagar.Kesemua faktor-faktortersebut dapat menyebabkan 31 Jarak jelajah (m) 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 169 m 155 m 114 m 22 28 32 124 m 36 Stasiun Penngamatan Jarak Jelajah (m) G Gambar 8 dayya jelajah raayap Macrotermes gilvuss pada blok I 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 165 m 110 m 18 160 m 125 m 25 29 42 Staasiun Pengamaatan Gaambar 9 day ya jelajah rayyap Macroterrmes gilvus pada blok IIII Gambar 10 Kondisi tanaman t jaraak pagar padda blok I 32 Gambar 11Kondisi tan naman jarakk pagar pada blok III cahayaa mataharri langsunng dapat menyinarri permukkaan tanahh,dan meninngkatkansuhuu permukaaan tanah dan rendaahnya tingkkat kelembbaban tanah.K Kondisi haabitat ini kuurang efekttif dan kurrang disukaai rayap. Untuk U menem mukan habittat yang opttimal rayap M. gilvushaarus melakukkan daya jeelajah hinggaa dapat meneemukannya. Pada blok III daya jeelajah rayap M. gilvusleebih dekat, ddiduga penggaruh dari beeberapa fakttor lingkunggan seperti jeenis tanah laatosol dan kkandungan bahan b organiik.Pertumbuhhan tanamaan jarak paggar lebih effektif (tanam man lebih tinggi, jumlahh cabang dan d daunnyaa lebih bannyak) yang berkorelasii positif deengan perkem mbangan kaanopi tanam man (Gambbar 11).Cahhaya matahhari tidak dapat d langsuung menyinari permukaaan tanah karena k terhaambat oleh kerapatan tajuk tanam man dan kannopinya.Sisaa tanaman sseperti serassah dari daaun atau caabang tanam man yang tellah mati dann jatuh dipeermukaan taanah dapat bberperan seb bagai mulsa dan mening gkatkan kanddungan bahaan organik taanah yang berkorelasi positif n meningkattnya kesuburran tanah. dengan Dari uraiann tersebut daapat disimpuulkan bahwa kondisi habbitat pada blook III ini san ngat optimaal terhadap rayap r M. gilvus, karenaa kuantitas ssumber makkanan yang tersedia t sang gat maksimaal. Bila sumbber makanan n telah habis kasta pekerjjanya akan berjelajah b u untuk menem mukan sum mber makanaan lain denngan membeentuk tabung g kembara. Daya jelajah rayap saangat ditenttukan oleh kualitas haabitat, semak kin baik kuallitas habitat akan semakiin dekat day ya jelajah rayyap, dan sem makin 33 r rendah kualiiatas habitat maka semaakin jauh dayya jelajahnya. Menurut Nandika N et a (2003) daaya jelajah rayap al. r berlangsung secaraaacak dengaan meletakkaan feromon p penanda jejaak. Namun beberapa b fakktor lingkunngan seperti suhu dan kelembaban k s sangat meneentukan agarr berhasil meelakukan dayya jelajah. T Tabung kembbarasebagai s salah satu caara rayap un ntuk mengatuur suhu dalaam melakukan daya jelaajah (Liu et a 2007). Tabung al. T kembbaraberfungssi untuk mellindungi dirii dari lingkuungan yang t tidak menguuntungkan serta untuk mendeteksi m bila b ada ganngguan dari luar, serta s sebagai salaah satu strattegi pengheematan energgi pada saaat melakukan n foraging r range. Tabu ung kembaraa dibuat daalam jumlahh banyak, diimana tabun ng kembara p pertama beraada dekat deengan saranggnya, Semenntara kelanjuutannya disebut cabang d tabung kembara (L dari Li & Su 2008). Banyaknnya tabung kkembara menjadi salah s satu ciri darri banyaknya sumber makanan m yan ng ditemukann pada lokaasi tersebut ( (Hoi 2007). r M. gilvus menggunakan Gambarr 12 Pengukkuran dayaa jelajah rayap meteraan pita ukuraan 50 m. Dari hasil penelitian ini teelah diketahhui kemamppuan jarak linier l daya j jelajah makssimum. Oleh h karena itu tteknik pengeendaliannya dengan mem manfaatkan a agens hayatii cendawanM M. brunneum m yang diapllikasikan pada stasiun pengamatan p d dari setiap koloni, mu ulai dari rayyap berjelajjah hingga melebihi kemampuan k m maksimum daya jelajahhnya. Harappannya akann terjadi trannsfer agens hayati (M. b brunneum) d satu inddividu ke inndividu lainn dari nya dalam seetiap kolonii. Sehingga s setiap indiviidu rayap darri setiap kolooni dapat terrinfeksi dan mengalami kematian. k 34 Simpulan Rata-rata daya jelajah maksimum rayap M. gilvusdi KIJP 140,5 m. Daftar Pustaka Alikodra HS. 1990. Pengelolaan Satwa Liar. Jilid I. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat IPB. Bogor Harahap IS, Benson EP, Zungoli PA, Adler PH, Hill HS. 2005. Inter-and intracolony agonistic behavior of nativesubterranean termites, Reticulitermes flavipes and Reticulitermes virginicus (Isoptera: Rhinotermitidae). Sociobiology 46: 305-316. Hoi YB 2007. Tunneling behaviour and barrier penetration of subterranean termites with special reference to Coptotermes gestroi (Wasmann) (Isoptera: Rhinotermitidae) [tesis]. Malaysia: University Saint Malaysia. King FG, Spink WT 1969. Foraging galleries of the formosan termite Coptotermes formosanus in Louisiana.Ann Entomol Society. Vol 62. Li HF, Su NY. 2008. Sand displacement during tunnel excavation by the fermoson subterranean termite (Isoptera: Rhinotermitidae). Ann Entomol. Soc Am. 101(2):456-462. Liu X, Monger HC, Whitford WG. 2007. Calcium carbonate in termite galieries biomineralization or upward transport. Biogeohemistery 82:241-250. Moen AN. 1973. Wildlife of Ecology. W.H. Freeman Company. London. Nandika D, Rismayadi Y, Diba F. 2003. Rayap Biologi dan Pengendaliannya. Surakarta: Muhammadiyah University Press Pearce MJ. 1997. Termites: Biology and Management. New York. CAB International. Sornnuwat, Y. 1996. Studiet on damage of contruction caused by subterranean Termites and its Control in Thailand.Royal Forest Departement. Bangkok. Spragg WT, Paton R.1980. Tracing trophallaxis and measurement of colonies of subterranean termite (Isoptera) using a radioactive tracer. Ann J EntomolSociety.Vol 72. Su NY, Ban RM, Scheffrahn RH.1991. Evaluation of dyes marker for population studies of the eastern and formoson subterranean termites (Isoptera:Rhinotermitidae). Sociobiology.Vol 19. Su NY, BanRM, Scheffrahn RH,1994. Field evalution of hexaflumoron bait for population suppresion of subterranean termite (Isoptera: Rhinotermitidae).J Economic Entomology. 87(2):389-397.USA 35 36 BAB V STUDI SIMTOMATOLOGI DAN WAKTU KEMATIAN RAYAPMacrotermes gilvus Hagen (ISOPTERA:FAMILI TERMITIDAE) SETELAH INFEKSI CENDAWAN Metarhizium brunneum Petch [Symptomatology and lethal time studyof MacrotermesgilvusHagen(Isoptera: Termitidae)after infection by MetarhiziumbrunneumPetch] Abstrak Cendawan Metarhizium brunneum sebagai agen biokontrol yang berpotensi terhadap rayap Macrotermes gilvus telah diuji secara kualitatif di laboratorium. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari simtomatologi dan waktu kematian rayap M. gilvus setelah infeksi cendawan M. brunneum. Kerapatan konidia 1,21x106 konidia/mL lebih efektif untuk menghasilkan mortalitas rayap M. gilvus dibandingkan 1,08x106 konidia/mL. M. gilvus setelah mengalami kematian akibat infeksi cendawan M. brunneum tubuhnya berwarna gelap. Miselia mulai menembus permukaan integumen pada hari ke-4 dan pada hari ke-7 seluruh permukaan integumen hampir tertutupi seluruhnya oleh miselia. Mortalitas mulai muncul pada hari ke-2, dan mortalitas tertinggi dicapai pada hari ke-7. Waktu kematian 50% populasi rayap M. gilvus (LT50) dicapai pada 5 hari (5,14), dan LT95 dicapai pada hari ke 10 (10,03). Kata kunci:simtomatologi,infeksi, waktu kematian, M. brunneum, M. gilvus. Abstract The potential of entomopathogenicMetarhiziumbrunneumas biocontrol agent to termiteMacrotermes gilvus, has been tested in the laboratory. The purpose of thisresearch is to study the symptomatology and lethal time of the M.gilvus after infection by M. brunneum. The density of conidia at 1,21×106conidia/mL showed as effective concentration in causing M.gilvus mortality, when compared to1,08×106conidia/mL, and control. The infection stage of M. brunneun on the host until the death of its host occurred on day 2, and the sporulation of M. brunneum on the surface of the host integument occur on day 4. The entire surface of M. gilvus was covered by the mycelium and conidia of M. brunneum on day 7. Lethal time50% of population of M. gilvus(LT50) was achieved in5 days(5,14), andLT95achievedonday 10(10,03). Keyword:symptomatology, infection, lethal time, M. brunneum, M. gilvus. 37 Pendahuluan Rayap Macrotermesgilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) merupakan salah satu spesies hama penting pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas). Serangga ini mulai merusak tanaman dari bagian akar hingga permukaan batang tanaman dengan membuat tabung kembara dari bahan tanah yang mengakibatkan tanaman terluka, patah dan mati.Serangan hama ini harus segeradikendalikan walaupun tingkat serangannya kurang dari 10% tetapi segera harus dikendalikan agar tidak melebar ke tanaman lain (Asbani et al. 2007). Selama ini di Indonesia pengendalian terhadap rayap hama menggunakan insektisida sintetik, seperti Blokade 100 EC, Lentrek 400 EC, dan Premise 200 SL (Nandika et al. 2003). Namun sebagian masyarakat mulai menyadari dampak negatif akibat penggunaan insektisida sintetik, seperti meningkatnya resistensi hama, ledakan hama sekunder, meningkatnya resiko keracunan pada hewan ternak, menurunnya biodiversitas, serta keracunan terhadap manusia dan lingkungan (Butt2001). Alternatif pengendalian cara lain yang ramah lingkungan dan mulai banyak menarik perhatian para peneliti, salah satunya adalah penggunaan cendawan entomopatogen (Yoshimura et al. 1992, Yoshimura & Takahashi 1998, Desyanti 2007). Melalui eksplorasi dan uji hayati terhadap rayap tanah Coptotermes spp telah ditunjukkan keefektifan cendawan Metarhizium brunneum isolat lokal (Desyanti 2007). Desyanti (2007) menguji keefektifan cendawan entomopatogen M. brunneumdengan kerapatan konidia 1,21x106/mLdan ternyata hasilnya sangat efektif untuk mengendalikan rayap Coptotermes gestroi dan Coptotermes curvignathus, dibandingkan beberapa jenis cendawan entomopatogen lainnya seperti Metarhizium anisopliae, Beauveria bassiana, Fusarium oxysporum, dan Aspergillus flavus. Penelitian Desyanti (2007) dilakukan sebagai uji awal yang tidak terlalu kuantitatif dan belum memberikan informasi tentang waktu kematian dan simtomatologi. Pada penelitian ini akan dipelajari kecepatan infeksi yang di ukur melalui waktu kematian dan simtomatologi rayap M. gilvus setelah aplikasi cendawan M. brunneum di laboratorium. 38 Bahan dan n Metode Waktu u dan Temp pat Penelitian ini dilakksanakan ddi Laborato orium Patoologi Seranngga, Deparrtemen Proteeksi Tanaman n, Fakultas P Pertanian, Innstitut Pertannian Bogor, yang dimulaai dari bulan n Januarisam mpai Maret 20010. Rayap p Macroterm mes gilvus Serangga yang y digunakkan dalam ppenelitian inii adalah rayaap M. gilvus yang dikoleeksi dari Kebbun Induk Jaarak pagar (K KIJP), Pakuuwon, Sukabumi, Jawa Barat. B Rayap p contoh diam mbil dari saatu koloni seehingga dapaat dikatakan berasal darii satu spesies M. gilvuss (Gambar 13). Pemeliharaan rayap dilakukaan dalam caawan Petribeerisikan kerrtas kardus sebagai pakkan yang tellah dilembab abkan dengaan air steril, kemudian di bungkuss dengan kertas k koran n, yang diteempatkan dalam d n terhindar dari sinar mattahari. ruangaan gelap dan a b Gamb bar 13 RayaapMacroterm mes gilvus (a) kasta prajuurit (b) kasta pekerja. Cenda awan Metarrhizium bru unneum Cendawan n entomopaatogen M. brunneum yang y digunaakan meruppakan kolekssi laboratoriuum Patologii Serangga, Departemen D Proteksi Taanaman, Fakkultas Pertan nian, Institutt Pertanian Bogor (IPB B). Cendawaan diperbannyak pada media m PDA, dengan kom mposisi 200 g kentang, 220 g dextrosee, dan 200 g agar dapur yang wan ditumbbuhkan dalam m inkubator pada dilaruttkan dalam 1 liter air. Biiakan cendaw suhu ± 25°C. 39 P Penyiapan s suspensi Cenddawan M. brunneum m digunakan n untuk perrlakuan apaabila telah b berumur 21 hari. Konidiia yang terbeentuk dikero ok dengan kuuas halus steeril yang di b basahi dengan air steril kemudian dimasukkan d kedalam tabbung reaksi yang y berisi a steril denngan menam air mbahkan Tw ween 20 deng gan konsentrrasi 0,1 ppm m. Suspensi c cendawan t tersebut diko ocok mengggunakan vorttex selama 30 3 detik dann kerapatan k konidianya dihitung menggunakan m n haemocytoometer merkk Neubauerr-Improved u untuk men ndapatkan kerapatan k 11,21x106kon ndia/mL (G Gambar 14).Kerapatan k konidia 1,211x106/mL addalah estimaasi LC95 yangg telah diperroleh Desyaanti (2007). D Dalam penellitian ini, diggunakan juga kerapatan konidia LC85 8x106/mL. 8 , yaitu 1,08 G Gambar 14K Konidia cenndawan M Metarhiziumbrunneum ddiamati menggunakan mikroskop optik merk Olympus (C CX21FS1)deengan pembeesaran (400 x). R Revirulensi i Metarhiziu um brunneu um Virulensi meru upakan keemampuan suatu miikroorganism me untuk m menimbulka an penyakit terhadap t inaangnya. Isolaat cendawan M. brunneuum sebagai k koleksi labboratorium telah lamaa tersimpan n, sehinggaa kemampuuan untuk m menginfeksi i inangnya sudah s menuurun. Oleh karena k itu teerhadap cend dawan M. b brunneum p perlu dilakukkan reviruleensi kembalii terhadap iinangnya, ag gar tingkat p patogenisita snya kembaali efektif. B Biasanya isollat yang viruulen untuk mematikan m i inangnya m membutuhkan n waktu leebih cepat, sedangkan yang kuranng virulen m membutuhka an waktu lebbih lama (Taanada & Kayya 2003). Prosees revirulennsi dilakukaan dengan menangkap m sejumlah 55 individu r rayap M. gillvus (50 indiividu dari kaasta pekerja dan 5 indiviidu dari kastta prajurit). 40 Rayap tersebut dicelupkanke dalam suspensi konidia M. brunneum yang telah disiapkan dalam cawanPetri pada kerapatan 1,21x106konidia/mL, dan ditempatkan dalam cawan Petri lain yang berisikan kertas saring lembab sebagai pakan. Kemudian dibungkus dengan kertas koran agar terlindungi dari cahaya, dan diinkubasikan pada suhu kamar selama tiga minggu. Kadaver rayap yang telah terkoloni cendawan M. brunneum dipindahkan ke tabung reaksi yang telah disterilkan, diisolasi dan dimurnikan pada media PDA. Setelah mendapatkan isolat murni, cendawan diperbanyak untuk penelitian berikutnya. Uji Hayati Waktu Kematian (LT) Percobaan ini terdiri dari tiga perlakuan (1,21x106 konidia/mL, 1,08x106 konidia/mLdan kontrol). Tiap perlakuan diulang empat kali. Untuk setiap ulangan dari masing-masing perlakuan digunakan 55 individu rayap M. gilvus (50 individu kasta pekerja dan 5 individu kasta prajurit).Rayap dicelupkan kedalam suspensi cendawan M. brunneum selama 4 detik dengan kerapatan konidia telah ditetapkan sebelumnya, kecuali kontrol hanya menggunakan aquades steril (Desyanti 2007). Setiap unit ulangan dari masing-masing perlakuan disimpan pada suhu kamar antara 26-28°C dengan kelembaban relatif 70 sampai 95% pada kondisi gelap. Pengamatan dilakukan setiap hari selama tujuh hari menggunakan mikroskop optik merk Olympus (CX21FS1)terhadap simtomatologi dan mortalitas rayap. Pada hari kelima perkecambahan konidia cendawan M. brunneum pada integumen tubuh inang diamati dengan menggunakan Scanning Microscope Electron (SEM) type JSM 5310 LV Japan di laboratorium zoologi LIPI Cibinong. Analisis Data Data dianalisis berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan program SAS versi 6,12. Bila terdapat perbedaan di antara perlakuan maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda (Duncans’s Multiple Range Test) pada taraf nyata 0,05. Hubungan kerapatan konidia dengan mortalitas dan waktu aplikasi diduga menggunakan analisis probit (Finney 1971). 41 Haasil dan Pem mbahasan 1 1. Simtom matologi Rayap Macrrotermes gilvus g Hagensetelah Terinfeksi Cendaw wan Metarh hizium brunneum Petch h Setellah aplikasi cendawan M. M brunneum m terhadap rayap M. gilvus maka menjadi lam g gerakannya mbat.Beberaapa saat settelah mengaalami kemattian warna t tubuhnya beerubah menjadi gelap, dan d belum teerlihat tandaa pertumbuhhan miselia p pada permuukaan inang g (Gambar 15a).Tanadaa dan Kayaa (1993) meenyebutkan b bahwa setellah terjadi infeksi, i inanng menjadi kurang aktiif, gelisah atau a stress. A Apabila telaah memasukii tahap akhirr infeksi, ray yap menjadi lemas, diam m di tempat, d dan mati. Namun N padda awal kem matian miselia belum kelihatan jelas j pada p permukaan t tubuh inang (Desyanti 20007). (b) (a) G Gambar 15 (a) kadaveerM. gilvusbberubah meenjadi gelapp setelah diiinfeksioleh konidia M. brunnneum, (b)) cendaw wan M. brunneum mulaiberkeecambah padda bagian abdomen dan m mandibelnyaa. Orgaan infektif berupa konnidia (Gambbar 14) berperan pentting untuk m menimbulka an kematian terhadap inaang dengan menempel dan d berkecam mbah pada i integumen inang, i kemuudian berpennetrasi dan menyerang m s seluruh jarinngan tubuh i inang mengg gunakanhifaa penetran (ap apresorium). Menuurut Ferronn (1985) infeksi kon nidia cendawan entom mopatogen d diawalideng gan kontakkantarapropaagul cendaw wan dengaan tubuh serangga. K Kemudian propagul berkecambah b h pada inteegumen serrangga.Apab bilakeadaan l lingkungan optimal, dengan d meemanfaatkan n senyawa kimia yaiitu enzim, c cendawanme empenetrasi melalui kuttikula danmaasuk dalam tuubuh inang. 42 (a) (b) Gambar16Pengam matan dengaanscanning electron microscope((JSM 5310 LV, Japann)pembesaraan5000×, (a) miselia kelu uar dari inteernal tubuh inang i melaalui lubang alami (b) miselia hampir meenutupi selluruh perm mukaan tubuhh inang. Gambar tubuh raayap M. gilvus 17Koniidiapada permukaan p mengggunakanSEM M(JSM 5310 L LV, Japan) pembesaran5000×. diaamati Pengamataan hari ke-3 menunjukkaan miselia beelum keluar pada permuukaan integuumen inang. Pada pengam matan hari ke-4 k miselia mulai tumbuuh terutama pada mandiibel dan beberapa segmeen pertama abdomen. a Seedangkan di beberapa baagian lain teerutama pad da bagian keepala dan bbeberapa seggmen terakhhir dari abdoomen tampak masih jelaas terlihat daan belum terrtutupi selurruhnya oleh miselia (Gambar 15 b). Pada hari ke-5 k perkecaambahan miselia terlihatt dengan jelaas keluar meelalui spiraccledan menembus permuukaan integuumen inang menggunakkan hifa pen netran (apressorium) (Gam mbar 16a), hingga h koniddia mulai keelihatan jelass yang berbeentuk bulat lonjong (G Gambar 17).. Pertumbuhhan miseliaa hampir menutupi m selluruh permu ukaan tubuh inang (Gamb mbar 16b). 43 Padaa hari ke-6 pertumbuhhan cendaw wan tidak berbeda b nyaata dengan p pengamatan y seluruhh permukaann integumen inang telah h diselimuti hari ke-7 yaitu o oleh miselia berwarnaa putih.Padaa bagian annterior (maandibel) dan n pasterior ( (abdomen)ju umlahmiseliaanya lebih padat dib bandingkan dengan baagian lain ( (Gambar 18a). Permukaaan tubuh innang tampak k kering, meengkerut denngan warna g gelap khusu usnya pada segmen terakkhir abdomenyang semaakin mengecil (Gambar 18b). Hal inni diduga caiiran sel darii tubuh inan ng telah diseerap oleh cenndawan M. b brunneum h hingga menjadi kering dan mengerras seperti mumi. m Perkeecambahan m miselia hany ya berlangsung di dalaam internal tubuh inangg, dan diduuga kondisi di luar inteernal tubuh inang kuran l lingkungan ng optimal untuk perkeecambahan m miselia.Men nurut Ferronn (1985) serrangga mati dan kerass seperti muumi akibat c cairan tubu uh inang telahdiserap oleh cendaw wanentomoppatogensebagai nutrisi h hingga kerinng. (b) (a) G Gambar 18IInfeksi koniidia cendaw wan M. brunneum terhadap rayap M. gilvus memasuki tahapan deestruksi (a) hampir seluuruh permukkaan tubuh rayap telahh tertutupi miselia, m dan (b) ( kadaver rrayapkering kehitaman terutama baagian abdom men. (Freimoser Umuumnya serangga sudah m mati sebelum m proliferasi blastospora b e al. 2003). Terjadi peerubahan biookimia dalam et m hemolimffa terutama kandungan p protein, deefisiensi nuutrien, suaatutoksinyangg dikeluarkkan oleh cendawan ( (beauverisin n, beauverollid, bassiooliid, isarolit dan d asam okksalat) yang membantu m merusak jariingan internnal tubuh rayyap dan men nyebabkan terjadinya paaralisis dan k kematian (Tanada & Kaaya 1993). 44 Secara skematis Ferron (1985) menjelaskan empat tahap etiologi penyakit serangga yang disebabkan oleh aktivitas cendawan entomopatogen yaitu: Tahapan Infeksi Penjelasan Inokulasi: Kontak konidia (propagul infektif) cendawanM.brunneum dengan serangga inang dan senyawa mukopolisakarida berperan penting pada proses ini (Barnett & Hunter 1972). Penempelan dan Proses ini dipengaruhi oleh kelembapan udara yang tinggi, perkecambahan dan air diperlukan untuk perkecambahan propagul infektif konidia: dengan memanfaatkan senyawa-senyawa yang terdapat pada integumen inang sebagai nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangannya (Ferron 1985). Penetrasi dan invasi: CendawanM. brunnuem dalam melakukan penetrasi menembus integumen inang dengan membentuk tabung kecambah berupa hifa penetran (appresorium) dan masuk ke dalam hemoseldengan cara mekanis dan kimiawi mengeluarkan enzym dan toxin.Titik penetrasi dipengaruhi oleh konfigurasi morfologi integumen (Bidochka et al. 2000). Destruksi: Titik penetrasi akan terbentuk blastospora, kemudian beredar ke dalam hemosel membentuk hifa sekunder dan menyerang jaringan lainnya (Strack 2003), seperti jaringan lemak, sistem syaraf, trakhea, serta saluran pencernaan. Umumnya serangga sudah mati sebelum proliferasi blastospora, karena cendawan mengeluarkan senyawa metabolit misalnya enzim lipase, khitinase, amilase, proteinase, pospatase, dan esterase (Freimoser et al. 2003). Terjadi perubahan biokimia dalam hemolimfa terutama kandungan protein, defisiensi nutrien, adanya toxin dikeluarkan oleh cendawan (beauverisin, beauverolid, bassioolid, isarolit dan asam oksalat) yang membantu merusak jaringan internal tubuh rayap dan 45 menyebabkan terjadinya paralisis dan kematian (Santoso 1993; Tanada & Kaya 1993). 2. Mortalitas Serangga Uji Konsentrasi letal (LC) adalah konsentrasi yang dapat membunuh suatu populasi organisme dengan jumlah tertentu yang dinyatakan dalam persen (%). Untuk mengetahui hubungan regresi kerapatan konidia/mL dengan mortalitas dilakukan analisis probit (Finney 1971). Aplikasi cendawan M. brunneum dengan kerapatankonidia 1,21x106/mL dan 1,08x106konidia/mL efektif untuk menghasilkan mortalitas (Tabel 1). Pengamatan pada hari pertama setelah aplikasi cendawan M. brunneum dengan kerapatan konidia 1,08x106/mL dan 1,21x106konidia/mLterhadap rayap M. gilvusbelum menunjukkan adanya mortalitas, dan memasuki hari ke-2 mulai menghasilkan mortalitas yang terus meningkat setiap hari.Mortalitas tertinggi untuk setiap kerapatan konidia (1,21x106/mL) dan (1,08x106/mL)terjadi pada hari ke-7(Tabel 4). Tabel4 Mortalitas rayap M. gilvus selama 7 hari setelah aplikasi cendawan M. brunneum. Hari Setelah Perlakuan 1 2 3 4 5 6 7 LC95 0.00 h 2,71 h 9,99 g 24,08 f 40,44 e 63,17 c 85,45 a Mortalitas (%) LC85 0,00 h 1,35 h 3,17 h 11,83 g 26,81 f 47,26 d 78,63 b Kontrol 0h 0h 0h 0h 0h 0h 0h Keterangan:Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada setiap hari pengamatan. Kerapatan 1,21x106konidia/mL menghasilkan mortalitas lebih tinggi dibandingkan 1,08x106 konidia/mL.Kerapatan 1,21x106konidia/mLdiduga menghasilkan toksin lebih besar, sehingga tingkat mortalitas yang dihasilkan lebih tinggi. Dosis aplikasi dan virulensi isolat merupakan faktor yang menentukan terhadap timbulnya mortalitas(Neves & Alves 2004). Setiap spesies 46 cendawan entomopatogen mempunyai tingkat virulensi dan cara untuk menyerang inangnya. Untuk melumpuhkan pertahanan inang cendawan entomopatogen menghasilkan metabolit sekunder berupa toxin, seperti destruxins yang dikeluarkan oleh cendawanM. anisopliae(Amiri-Besheli et al. 2000). Kematian inang akibat infeksi cendawan entomopatogen sangat bervariasi, biasanya terjadi dalam waktu singkat (3 hari), dan selambat-lambatnya 12 hari (Tanada & Kaya 1993). Umumnya kematian inang akibat infeksi cendawan entmopatogen terjadi antara 5 sampai 8 hari, dan sangat tergantung pada ukuran inangnya. Penularan cendawan entomopatogen terhadap inangnya di duga dapat terjadi melalui perilaku grooming yaitu terjadi gesekan atau sentuhan antara sesama individu rayap pada saat berkumpul dalam koloninya, dan menyebabkan tertularnya konidia cendawan M. brunneum dari individu sakit ke individu sehat.Melalui perilaku ini konidia langsung dapat menempel, berkecambah dan berpenetrasi pada bagian antar ruas tubuh serangga inang dengan lingkunganyang optimal. Diperkirakan lewat perilaku grooming cendawan dapat tertular dari satu individu vektor ke individu lainnya(Strack 2003). Penularan konidia cendawan terhadap inangnya juga dapat terjadi melalui perilaku cannibalistic yaitu perilaku rayap memakan kadaver rayap atau individu rayap sakit (tidak produktif lagi terhadap koloninya) dan perilaku yang trophalaxis yaitu perilaku rayap kasta pekerja untuk memberi asupan makanan kepada anggota koloninya, yang mengakibatkan berpindahnya penyakit dari individu yang sakit ke individu yang sehat. Umumnya cendawan tidak bekerja melalui saluran makanan. Hasil penelitian Bayon et al. (2000) dengan metode kontak dan pengumpanan secara langsung dengan menempatkan konidia cendawan M. anisopliae pada rayap Reticulitermes flavipes mampu menghasilkan mortalitas hingga 100% dengan waktu yang dibutuhkan 5 sampai 12 hari. Waktu Kematian (Lethal Time =LT) Lethal Time (LT)adalah waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu populasi sejumlah tertentu yang dinyatakan dalam (%).Hubungan regresi waktu aplikasi dengan tingkat kematian dilakukan Analisis probit yang digunakan untuk menghitung LT(Finney.1971). 47 Tabel5 LT cendawan entomopatogen M. brunneumterhadap M. gilvus. Waktu kematian (LT) (Hari) LT 95 LT 50 10,03 5,14 10,50 5,87 Kerapatan konidia (mL) 1,21x106 1,08x106 Hasil analisis probit dengan kerapatan konidia kurang lebih LC95 dan LC85 menunjukkan bahwa untuk menimbulkan mortalitas hingga 50% dibutuhkan waktu 5 hari, dan untuk menghasilkan mortalitas hingga 95% dibutuhkan waktu 10 hari. Aplikasi cendawan M. brunneum dengan metode kontak melalui pencelupan selama 4 detik, sangat efektif untuk menimbulkan mortalitas terhadap rayap M. gilvus. Perbedaanantarakedua nilai (LT95 dan LT50) berhubungan dengan dosis aplikasi, virulensi isolat (Neves & Alves 2004). Menurut Butt et al. (2001) kemampuan patogenisitas cendawan entomopatogen untuk menginfeksi inangnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sifat fisiologi cendawan, seperti viabilitas, laju pertumbuhan, kemampuan bersporulasi, metabolit sekunder yang dihasilkan (enzym dan toxin), dan pengaruh lingkungan. Persamaan regresimengindikasikan korelasi positif antara waktu pengamatan dengan mortalitas probit (Gambar 19 dan 20). 90 80 y = 14.56x ‐ 25.98 R² = 0.938 Mortalitas (Probit) % 70 60 50 LC 95% 40 Linear (LC 95%) 30 20 10 0 1 2 3 4 Waktu (hari) 5 6 7 Gambar 19 Kematian rayap M. gilvusselama 7 hari pengamatan akibat perlakuankonidia cendawan M. brunneum (LC95) 48 90 80 y = 12.54x ‐ 26.04 R² = 0.847 Mortalitas (Probit) % 70 60 50 40 LC 85% Linear (LC 85%) 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 Waktu (hari) Gambar 20 Kematian rayap M. gilvusselama 7 hari pengamatan akibat perlakuan konidia cendawan M. brunneum (LC85) Simpulan Kerapatan 1,21x106konidia/mLefektif untuk menginfeksi rayap M. gilvus. Mortalitas terjadi mulai hari ke-2, meningkat mencapai angka tertinggi pada pengamatan hari ke-7. Miselia pada tubuh serangga mulai jelas terlihat pada hari ke-4, dan memasuki hari ke-7 seluruh permukaan tubuh rayap hampir tertutupi oleh miselia yang bewarna putih. Dengan kerapatan konidia1,21x106/mLuntuk dapat mematikan hingga 50% populasi dibutuhkan waktu 5 hari dan kematian 95% membutuhkan waktu 10 hari. 49 Daftar Pustaka Amiri-Besheli B, Khambay B, Cameron S, Deadman ML, Butt TM. 2000. Inter and intraspecific variation in destruxin production by insect pathogenicMetharhizium spp and its significance to pathogenesis. Mycological Research 104(4): 447-452. Asbani N, Amir AM, Subiyakto 2007. Inventarisasi hama tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). Proseding Lokakarya II: Status teknologi tanaman jarak pagar(Jatropha curcas L). Puslitbang Perkebunan, Bogor Hal 7-16. Barnett HL, Hunter BB. 1972. Ilustrated Genera of Imferfect Fungi.Ed ke-4. New York. Macmillan Publishing Company. Bayon IL, Ansard D, Brunet C, Girardi S, PaulmierI.2000. Biocontrol of Reticulitermes santonensisby Entomopathogenic Fungi Improment of the Contamination Process.Stokholm Sweden.IRG Secretariat KTH SE-100 44. Bidochka MJ, Kamp AM, Decroos JNA. 2000.Insect pathogenic fungi: from genes to populations. Fungal Pathology :171-193. Butt TM, Jakson W, MaganN. 2001.Fungi as Biocontrol Agents; Progres, Problem and Potential. United Kingdom: CABI Publishing is a divisions of CAB International. New York. Desyanti. 2007. Kajian pengendalian rayap tanah Coptotermes spp. (Isoptera: Rhinotermitidae) dengan menggunakan cendawan entomopatogen isolat lokal (Disertasi). Bogor: Program Pascasarjana.Institut Pertanian Bogor. Ferron P. 1985.Pest Control by FungiBeauveria and Metarhizium. Di dalam: Burgers HD, editor. Microbial of Pest and Plant Dieseses 1970-1980. London: Academic Press Inc. pp 465-482. Finney DJ. 1971. Probit Analisis. ED ke-3.Combridge. Universitas Press. Freimoser FM, Screen S, Bagga S, Hu G, Leger St RJ. 2003. Expressed Sequence tag (EST) analisys of two subspecies of Metarhizium anisopliae reveals a plethora of secreted proteins with potential activity in insect hosts. Microbiology (149):239-247. Nandika D, Rismayadi Y, Diba F. 2003. Rayap Biologi dan Pengendaliannya. Surakarta. Muhammadiyah University Press. Neves PMOJ, Alves SB. 2004. External events related to the infection process of Cornitermes cumulans (Kollar) (Isoptera: Termitidae) by the entomopathogenic fungi Beauveria bassiana and Metarhizium anisopliae. Neotropical Entomol 33(1): 051-056 Santoso T. 1993. Dasar-Dasar Patologi Serangga. Di dalam : Simposium Patologi Serangga I. Prosiding Makalah Simposium Patologi serangga I. Yogyakarta 12-13 Oktober 1993. Yogyakarta: Persatuan Entomologi Indonesia, Cabang Yogyakarta, pp 1-15. 50 Strack BH. 2003. Biological control of termites by the fungal entomopathogenicMetarhizium anisopliae.Urban entomology laboratory University of Toronto.http://:\My%Dokumens\Internet\Fungal% 20 ontrol%20termites [18 Maret 2009] Tanada Y, Kaya HK. 1993. Insect Pathology. New York: Akademic Press, Inc. Yoshimura T, Tsunoda K, Takahashi M, Katsuda Y. 1992. Pathogenicity of An Entomopathogenous Fungus, Conidiobolus coronatus TYRRELL.And MACLEOD, toCoptotermes formosanus SHIRAKI; Jpn.J Environ.Entomol.Zool. 4(1):11-16. Yoshimura T, Takahashi M. 1998 Termiticidal performance of an entomogenous fungusBeauveria brongniartii (SACCARDO) PETCH in laboratory tests. Jpn. J Environ Entomol.Zool9(1):16-22. 51 52 BAB VI KEEFEKTIFAN CENDAWAN ENTOMOPATOGENMetarhizium brunneum Petch SEBAGAI BIOTERMITISIDA TERHADAP RAYAP Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) DI LAPANGAN [Theeffectiveness ofentomopathogenicfungus Metarhizium brunneum Petchasbiotermiticideagainsttermite Macrotermesgilvus Hagen (Isoptera: Termitidae)inthe field] Abstrak Salah satu hama penting tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L) adalah rayapMacrotermes gilvus Hagen. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keefektifan cendawanMetarhiziumbrunneumsebagai agens biokontrol terhadap rayapM. gilvus di KIJP Pakuwon.Disetiap stasiun pengamatan disiramkan 150 mL suspensi konidia M. brunneum dengan kerapatan konidia 1,21×106/mL. Pengamatan populasi sebelum dan sesudah perlakuan dilakukan dengan menggunakan Triple Mark Recapture Technique.Setelah perlakuan, populasi rayap di setiap stasiun pengamatan mengalami penurunan. Di blok I, II, dan III tersisa rayap berturut-turut2,9%,4,4%, dan 5,4% dari populasi awal sebelum perlakuan cendawan. Kata kunci: M. brunneum, M.gilvus, J.curcas, KIJP Pakuwon, mortalitas. Abstract One of the importants pest of castor plant in Indonesia is Macrotermes gilvusHagen. The aim of the research is to study the effectiveness of the entomopathogenic fungus Metarhizium brunneumPetchas biological control agents against to M. gilvus in KIJP Pakuwon. Into each experimental station was poured 150 mL fungal suspension (density 1,21×106conidia/mL).Termite population before and after application was estimated using triple mark recapture technique. After application the population of termite decreased significantly at each experimental station. In block I,II and III we noted the decrease until 2,9%, 4,4%, and 5,4% respectively from initial population before fungal treatment. Key words: M. brunneum, M.gilvus, J.curcas,KIJP Pakuwon, mortality. 53 Pendahuluan Selama ini pengendalian rayap dilakukan dengan menggunakan insektisida kimia dengan volume semprot dan konsentrasi yang tidak mengikuti dosis anjuran yang menyebabkan pengendaliannya kurang berhasil. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa rayap hama masih menjadi salah satu kendala utama dalam usaha meningkatkan produksi tanaman jarak pagar (Asbani et al. 2007). Sementara ituaplikasi insektisida kimia yang berlebihan dan kurang bijaksana dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan keracunan bagi pengguna (Badji et al. 2007). Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, dilakukan cara pengendalian lain yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan agens hayati cendawan entomopatogen (Pearce 1997). Untuk mengendalikan rayap Coptotermes sp, Reticulitermes flavipes atau Odontotermesdengan agens hayati cendawanM. anisopliae dan B. bassianamelalui pengumpananmampu menghasilkan mortalitas hingga 100% dalam waktu 5sampai 12 hari, sedangkan denganmemindahkan rayap kasta pekerja terinfeksi cendawan entomopatogen dan dikumpulkan bersama rayap sehat dalam sebuah cawan Petri dish, setelah 8 hari rayap sehat mengalami kematian (Bayon et al. 2000). Berdasarkan informasi dari berbagai hasil penelitian mengenai keefektifan beberapa spesies cendawan entomopatogen, M. brunneumberpotensi untuk mengendalikan rayap hama M. gilvus (Desyanti 2007, Ginting 2008). Kerapatan konidia cendawan M. brunneum1,21x106konidia/mL sebagai kerapatan yang efektif berdasarkan hasil uji laboratorium dan akan digunakan di lapangan. Penularan konidia cendawan M. brunneum terhadap setiap individu rayap M. gilvusdalam setiap koloninya di lapangan diharapkan dapat berhasil dengan maksimal melalui pemanfaatanbeberapa perilaku rayap (grooming, trophallaxis dan cannibalistic). Di dalam penelitian ini akan dipelajaritingkat keefektifan cendawan entomopatogen M. brunneumterhadap rayap M. gilvus di KIJP Pakuwon Sukabumi Jawa Barat. 54 Bahan dan Metode Waktu dan Tempat Penelitian lapangan dilakukan di KIJP Pakuwon Sukabumi Jawa Barat sejak bulanNopember 2009 sampaiOktober 2010, sedangkan penelitian laboratorium dilakukan di laboratorium patologi serangga Departemen Proteksi Tanaman IPB. Perbanyakan pada Media PDA Cendawan M. brunneum diperbanyak pada media Potato Dextrose Agar (PDA), dengan komposisi 200g kentang, 20g dextrose, dan 200g agar-agar dapur yang dilarutkan dalam 1 liter air kemudian disimpan dalam incubator. Biakan cendawan diinkubasikan pada suhu ± 25°C di laboratorium. Perbanyakan Cendawan M. brunneum Isolat M. brunneum yang digunakan untuk aplikasi di KIJP Pakuwon adalah isolathasilrevirulensi di laboratorium terhadap rayap M. gilvuskemudian dimurnikan pada media PDA. Perbanyakan cendawan dilakukan pada media beras yang diinkubasikan pada suhu 25°C selama 3 minggu. Media beras dipersiapkan terlebih dahulu dengan cara mengukus beras selama 10 menit kemudian dimasukkan ke dalam setiap kantong plastik sebanyak 30g/kantong yang ditutup dengan rapat. Kemudian disterilisasikan di dalampressure sterlizermodel no 1925x pada suhu 121°C selama 30 menit. Satu hari kemudian kedalam kantong plastik diinokulasikan konidia cendawanM. brunneum yang telah dimurnikan dari media PDA. Pengamatan dilakukan setiap hari selama seminggu untuk mengetahui pertumbuhan dan kemurnian cendawanM. brunneum. Penyiapan Suspensi Cendawan M. brunneum yang digunakan untuk perlakuan adalah cendawan yang berumur 21 hari. Konidia yang terbentuk dikerok dengan kuas halus steril yang dibasahi dengan air steril kemudian dimasukkan kedalam tabung 55 reaksi yang berisi air steril dengan menambahkan Tween 20 dengan konsentrasi 0,025 ml per 50 ml akuades steril, kemudian suspensinya dikocok menggunakan vortex selama 30 detik. Kerapatan konidiaM. brunneumdihitung menggunakan haemacytometer(Neubauer -Improved) untuk mendapatkan kerapatan 1,21×106 konidia/mL.Kerapatan konidia 1,21×106/mL adalah estimasi LC95 yang telah diperoleh Desyanti (2007). Pelaksanaan Penelitian Hasil percobaan laboratorium menunjukkan bahwa kerapatan konidia cendawan M. brunneum1,21x106/mL terbukti efektif untuk menimbulkan mortalitas rayap M. gilvus. Selanjutnya suspensi dengan kerapatan tersebut (1,21x106konidia/mL) diaplikasi ke lapangan dengan cara disiramkan ke dalam stasiun pengamatan sebanyak 150 mL pada masing-masing koloni rayap M. gilvus dari setiap blok, yaitu: blok I (8 koloni dengan 23 stasiun pengamatan), blok II (1 koloni dengan 9 stasiun pengamatan), dan blok III (15 koloni dengan 45 stasiun pengamatan). Penyiraman dilakukan pada pukul 17.00 wib sampai dengan selesai. Untuk mengetahui keefektifan cendawan entomopatogen terhadap rayap M. gilvus digunakan metode triple mark recapture technique (Marini &Roberto 1998). Tahap Pertama Kayu umpan yang terserang rayap dikumpulkandan dipisahkan rayapnya dari tanahserta dihitung jumlahnya. Kertas tissue (Whatman No 1) direndam dalam bahan pewarna neutral red 0,25% dan nile blue A 0,05% (Harahapet al. 2005). Kertas tissue diumpankan terhadap rayap selama 3 hari, sehingga diperoleh rayap warna merah dan biru (Gambar 3). Rayap yang telah berwarna tersebut dihitung kembali jumlahnya dan kembali dilepaskan ke stasiun pengamatan tempat rayap ditangkap. Satu minggu setelah pelepasan rayap bertanda,kayu umpan dari setiap stasiun pengamatan kembali dikumpulkan. Rayap yang tertangkap baik yang berwarna maupun tidak berwarnadihitung kembali. Tahap Kedua Rayap yang tertangkap pada tahap pertama, diwarnai kembali seperti prosedur pada tahap pertamadan kembali dilepas ke stasiun pengamatan tempat 56 semula ditangkap. Seminggu setelah pelepasan diamati kembali. Interval waktu tahap pertama dengan tahap berikutnya (kedua dan ketiga) adalah 10 hari. Tahap Ketiga Penandaan, pelepasan dan penangkapan rayap untuk tahap tiga diulangi seperti prosedur tahap pertama dan kedua. Pendugaan ukuran populasi koloni rayap M. gilvusmenggunakan metode Begon (Marini & Roberto 1998) yaitu: N = (∑Mi.ni)/[(∑mi)+1] SE = N/{[1/(∑mi)+1)]+{(2/((∑mi)+1)2+[(6/(∑mi)+1)3]}1/2 dimana: N = Ukuran populasi. SE = Simpangan Baku. ni = Jumlah keseluruhan rayap yang tertangkap pada penangkapan ke-i. mi = Jumlah rayap bertanda yang tertangkap pada penangkapan ke-i. Mi = Jumlah total rayap bertanda sampai penangkapan ke-i Hasil dan Pembahasan Aplikasi cendawan M. brunneum dengan kerapatan 1,21x106 konidia/ mL terhadap rayap hama (M. gilvus) dalam sebuah stasiun pengamatan pada setiap koloninya mengakibatkan ukuran populasi setiap koloni menjadi berkurang (Gambar 6, 7 dan 8). Ukuran populasi koloni 2.500 2.000 2.014 1.500 1.288 856 1.000 500 0 0 0 127 100 G H 0 A B C D E F Koloni rayap Macrotermes gilvus Gambar 6 Populasi koloni rayap Macrotermes gilvuspada blokI 57 Ukuran populasi koloni 3.000 2.593 2.500 2.000 1.500 1.000 500 0 1 A Kolonii rayap Macrootermes gilvuss Gambar 7 Populasi koloni rayap M Macrotermess gilvuspadabblokII 2.5000 Ukuran populasi koloni 2..083 2.0000 1.755 2 1.402 1.5000 1.186 1.0000 5 562 386 5000 150 0 118 219 78 98 0 0 0 0 A B C D E F G H I J K L M N O Koloni rayap M.acrrotermes gilvuus Gambar 8 Populasi P kolloni rayap M Macrotermes gilvuspada bblokIII Bila dibandingkkan total ukkuran populasi koloni awal a rayap M. gilvus s sebesar 3599.066 individdu (Gambarr 1, 2 dan 3) 3 telah terjjadi penurunnan hingga t tersisa 15.0115 individu, atau persenttase penurunnan ukuran ppopulasi kolloni hingga 58 mencapai 95,82% dan tersisa 4,18 % dari total ukuran populasi koloni awal. Hal ini diduga perilaku grooming, trophallaxis dan cannibalisticberperan penting menularkan konidia cendawan M. brunneum dari individu terinfeksi ke individu sehat. Menurut Jones et al. (1996) melalui perilaku rayap patogen dapat tertular dari individu rayap terinfeksi ke individu rayap sehat yang akan tereleminasi keseluruh anggota koloninya. Rayap yang terifeksi menjadi tidak aktif, diam hingga mengalami kematian. Untuk menghasilkan konidia baru dari bangkai rayap yang terinfeksi cendawan entomopatogen dibutuhkan waktu selama 5 hari. Kontaminasi selanjutnya dapat terjadi jika cendawan dapat bersporulasi pada permukaan tubuh rayap mati (cadaver) yang terinfeksi langsung, atau ditularkan oleh vektor yang terjadi sebelum semua vektor mati. Sebagai propagul infektif konidia dapat menempel pada kutikula inang dan dengan mudah dapat berpindah ke individu lainnya melalui interaksi perilakunya (Strack 2003). Individu rayap yang tertular dapat meningkat sejalan dengan meningkatnya persentase proporsi vektor dalam koloninya, dan kesempatan kontak antara vektor dengan individu rayap sehat untuk menularkan konidia cendawan akan terus meningkat (Thomas et al. 1987). Simpulan Perlakuan cendawan M. brunneum dengan kerapatan 1,21x106konidia/mLefektif menurunkan ukuran populasi koloni rayap M. gilvus hingga 95,82 % (344.051 individu) dari ukuran populasi awal 359.066 individu. Daftar Pustaka Asbani N, Amir AM, Subiyakto 2007. Inventarisasi Hama Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L). Proseding Lokakarya II: Status teknologi tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). Puslitban Perkebunan, Bogor Hal 7-16. Badji CA, Guedes RNC, Silva AA, Correa AS, Queriroz MELR, Michereff-Filho M. 2007.Non-target impact of deltamethrin on soil arthropods of maize fields under conventional and no-tillage cultivation. J Appl Entomol 131(1):50-58. Bayon IL, Ansard D, Brunet, Girardi S, Paulmier I. 2000.Biocontrol of Reticulitermes santonensis by entomopathogenic fungi: improvement of the contamination process. Stockholm Sweden, IRG Secretariat KTH SE-100 44. 59 Desyanti. 2007. Kajian pengendalian rayap tanah Coptotermes spp. (Isoptera: Rhinotermitidae) dengan menggunakan cendawan entomopatogen isolat lokal [Disertasi]. Bogor.Program Pascasarjana.Institut Pertanian Bogor. Ginting S. 2008. Patogenisitas beberapa isolat cendawan entomopatogen terhadaprayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren dan Schedorhinotermes javanicus Kemmer (Isoptera: Rhinotermitidae) [Tesis]. Bogor.Program Pascasarjana.Institut Pertanian Bogor. Harahap IS, Benson EP, Zungoli PA, Adler PH, Hill HS. 2005. Inter-and intracolony agonistic behavior of nativesubterranean termites, Reticulitermes flavipes and Reticulitermes virginicus (Isoptera: Rhinotermitidae). Sociobiology 46: 305-316. Jones WE, Grase JK, Tamashiro M. 1996. Virulens of seven isolates of Beuveria bassiana and Metarhizium anisopliae to Coptotermes formosanus (Isoptera: Rhinotermitidae). J. boil contr 25 (2): 481-487. Marini M, Roberto F. 1998 A Populationsurvey of the Italian Subterranean termite Reticulitermes lucifuguslucifugus Rossi in Bacgnacavallo (Rovenna, Italy), using the Triple Mark Recapture Technique (TMR). JZoological Sience (15):963-969. Pearce MJ. 1997. Termite: Biologi and Manajement. New York: AB Internasional Publisher. Thomas K, KhachatouriansGG, Ingledew WM. 1987. Production and Properties of Beauveria bassiana conidia cultivated in submerged culture Can. J. Microbial. 33: 12-20. Strack BH.200.Biologicalcontrol of termites by the fungal entomopathogenic Metarhizium anisopliae.Urban entomology laboratory university of toronto.http://:\N\My%20Dokumens\Internet\Fungal1% 20of% 20termites .htm [18Juli 2010]. 60 BAB VII PEMBAHASAN UMUM Rayap Macrotermes gilvus dikenal sebagai rayap tingkat tinggi dengan ukuran populasi koloni yang umumnya besar.Ukuran populasi koloni rayap M. gilvusdi KIJP Pakuwon sebesar359.066individu yang tersebar dalam 24 koloni dengan luas areal 4,8 ha.Ukuran populasi koloni setiap blok berbedayangdiduga dipengaruhi olehumur ratu dari setiap koloni dan lingkungan. Ukuran populasi koloni rayap M. gilvus di KIJP Pakuwon umumnyalebih kecil.Rendahnya ukuran populasi koloni di KIJP Pakuwon diduga pengaruhdari beberapa faktor, antara lain: (1)adanya rotasi tanaman dan aktivitas manusia dilapangan seperti pengolahan tanah menggunakan traktor.Kondisi tersebut dapat menghambat aktivitas rayap M. gilvus dan merusakperkembangan koloninya, (2) koloni rayap M. gilvusyang terdapat di KIJP Pakuwon didugatermasuk koloni baruterbentukyangberasal dari luar lingkungan KIJP Pakuwon,(3) umur tanaman jarak pagar belum terlalu tua, sehingga tumpukan daun atau serasah belum banyak,akibatnyakandungan bahan organik masih rendah.Umumnya rayap membutuhkan bahan organik tinggi untuk pertumbuhannya. Faktor utama yang mempengaruhi kelangsungan hidup rayap M. gilvus adalah ketersediaan sumber makanan.Untuk menemukan sumber makanan rayap melakukanpenjelajahan.Pada blok I dan IIIrayap menjelajah sejauh 140,25 m. Beberapa faktor lingkungan menentukan daya jelajah rayap, seperti pertumbuhan tanaman.Tanaman yang tidak rimbun menyebabkan sinar matahari langsung mengenai permukaan tanah sehingga suhu permukaan tanah meningkat sedangkan kelembaban tanah menurun.Adanya sanitasi gulma disekitar akar tanaman dapat meningkatkan suhu mikro sekitar tanaman.Untuk menghindarikondisi lingkungan yang tidak menguntungkan rayap M. gilvus akan bergerak menuju tempat yang lebih optimal dengan membuat tabung kembara sampai menemukan sumber makanan.Terhadap tanaman jarak pagar,M. gilvus mulai merusak bagian akar dengan membentuk tabung kembara untuk merusak bagian batang atas tanaman hingga mengalami kematian. Bila makanan telah habis akan mencari sumber makanan baru dengan berjelajah. 61 Bila sumber makanan yangtersedia terbatas maka daya jelajah rayap akan lebih jauh.Penyampaian informasi mengenai sumber makanan yang ditemukandapat melalui persentuhan fisik antarasetiap individu dalam sebuah koloni dengan mengeluarkan feromon penanda (Krishna & Weesner 1969). Aplikasi cendawan M. brunneum terhadap satu koloni rayap hamaM. gilvus dilakukan dengan menyiramkan 150 mL suspensi cendawan dengan kerapatan konidia 1,21x106/mL. Di KIJP Pakuwon terdapat 24 koloni rayap M. gilvus dari luas areal 4,8 ha, berarti rata-rata per hektar terdapat 5 koloni. Kebutuhan rata-rata konidia cendawan M. brunneum untuk sekali aplikasi terhadap setiap koloni rayap M. gilvusadalah 1,8x108 konidia. Untuk tiga kali aplikasi dibutuhkan 2,7×109 konidia/ha.M. brunneum yang dibiakkan pada 30g media beras di dalam kantong plastik anti panas setelah 21 hari mampu menghasilkan kerapatan konidia 6,9x109konidia.Sebagai perbandingan cendawan Lecanicillium lecanii yang dibiakkan pada media 100 berassetelah 21 hari diperoleh 1,9x109 konidia.Media beras sebagai media biakan cendawan M. brunneumdianggapsangat ekonomis.Dengan demikian untuk pengendalian rayap di KIJP Pakuwon dibutuhkan biakan cendawan M. brunneum 12 gram beras per hektar. Faktor lingkungan, terutama kelembaban dan temperatur berperan penting dalam proses infeksi dan sporulasi cendawan entomopatogen (Roberts& Campbell 1977, McCoy et al. 2004). Sebagai serangga yang hidup berkoloni dalam tanah keadaan tersebut dapat tercapai dan menunjang terciptanya epizooti penyakit oleh cendawan.Temperatur optimum untuk perkembangan, patogenisitas, dan kelangsungan hidup cendawan biasanya antara 20-30°C (McCoy et al. 2004).Konidia untuk dapat berkecambah dan bersporulasi pada permukaan tubuh inang membutuhkan kelembaban lebih dari 90%(Millstein et al. 1983, Nordin et al. 1983). Dalam mekanisme infeksi, cendawan memiliki beberapa kelebihan dibanding patogen lain (virus dan bakteri) yaitu kemampuan menginfeksi melalui kutikula (Tanada & Kaya1993), melalui stigmaatau spirakel (Clark et al. 1968) saluran pencernaan (Miranpuri melaluipharynx(Siebeneicher et al.1992). & Khachatourians 1991) atau 62 Keefektifan cendawan M. brunneum dengan kerapatan 1,21x106konidia/ mL terhadap rayap hama M. gilvustelah ditunjukkan di laboratorium yang dapat menimbulkan mortalitas hingga 50% selama 5 hari, dan untuk menimbulkan mortalitas hingga 95% dibutuhkan waktu 10 hari. Aplikasi cendawan M. brunneum dengan kerapatan 1,21×106/mL dalam 150 mL akuades yang disiramkan pada stasiun pengamatan dengan tiga kali aplikasi selama 30 hari mampu menurunkan ukuran populasi koloni rayap hama M. gilvus hingga 95,8% dari ukuran populasi koloni awal. Di dalam skala laboratorium untuk mematikan 95% populasi rayap dibutuhkan waktu hanya 10 hari, sedangkan di lapangandibutuhkan waktu hingga30 hari.Karena populasi rayap di lapangan sangat tinggi, maka waktu yang di butuhkan untuk mematikan rayap pun semakin panjang. Infeksi berlangsung melalui penularan antar individu, berbeda dengan infeksi terhadap serangga melalui aplikasi secara langsung (kasus hama aerial atau terrestrial). Dengan meninggikan dosis aplikasi atau memperpendek interval aplikasi, diduga waktu kematian dapat berlangsung lebih singkat sehingga kerusakan tanaman dapat lebih diperkecil. 63 64 BAB VIII SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Dari luas areal penelitian per hektarditemukan 5 koloni rayap M. gilvus dengan rata-rata ukuran populasi koloni 119.688 individu per hektar. 2. Rata-rata daya jelajah maksimum rayap M. gilvussejauh 140,25 m. 3. Kerapatan konidia1,21x106/mLmampu menghasilkan mortalitas rayap M. gilvushampir 90% di laboratorium. 4. Perlakuan cendawan M. brunneum (1,21x106konidia/mL) sebanyak 3 kali mampu menurunkan ukuran populasi koloni rayap M. gilvus hingga mencapai 95,82% (344.051 individu) dari ukuran populasi awal 359.066 individu. Saran Perlu penelitianlebih lanjut mengenai hubungan kualitas habitat dengan ukuran populasi koloni rayap M. gilvus di KIJP Pakuwon. 65 66 DAFTAR PUSTAKA Asbani N, Amir AM, Subiyakto. 2007. Inventarisasi hama tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). Prosiding Lokakarya II: Status teknologi tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). Bogor 29 Nopember 2006.Puslitbang Perkebunan, Bogor 83-90. Baretta NF, Lecuona RE, Zandomeni RO, Grau O. 1998. Genotyping isolate of the entomopthogenic fungus Beauveria bassiana by RAPD with Fluorescent Labels. J Invertebrate Pathology71: 145-150. Boucias DG, Pendland JC. 1998. Principles of insect pathology. London: Kluwer Academic Publishers. Butt TM, Jackson C, Magan N. 2001. Fungi as biocontrol Agents: progress, problems and potential. United Kingdom: CABI Publishing. CABI.2001. Crop Protection Compedium (CD-ROM), CABI,Rome. Clark. TB, Kellen WR,FukudaT, Lindegren JE. 1968. Field and laboratory studies of the pathologycity of the fungus Beauveria bassiana to the three genera of mosquitoes. J Invertebrate Pathology 11: 1-7. Desyanti. 2007. Kajian pengendalian rayap tanah Coptotermes spp. (Isoptera: Rhinotermitidae) dengan menggunakan cendawan entomopatogen isolat lokal (Disertasi). Bogor: Program Pascasarjana.Institut Pettanian Bogor. Domsch KH, Gams W, Anderson TH. 1980. Compedium of soil fungi.London Acedemic Press Ginting S. 2008. Patogenisitas beberapa isolat cendawan entomopatogen terhadaprayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren dan Schedorhinotermes javanicus Kemmer (Isoptera: Rhinotermitidae). [Tesis].Program Pascasarjana.Institut Pertanian Bogor. Grasse PP. 1984.New Experiment with Macrotermes mulleri and consideration on the theory of stigmergy. Insectes Sociaux 14: 3-102. Hajek AE, Leger RJ. 1994. Interactions between fungal pathogens and insect hosts. Ann ReviewEntomol 39: 293-322. Hambali E. 2007. Prospek pengembangan tanaman jarak pagar untuk biodiesel dan produk turunan lainnya.Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi, LPPM-IPB.Workshop Pendirian Kebun Bibit Sumber, Demplot dan Feasibility Studyuntuk Perkebunan Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn.) Harahap IS, Benson EP, Zungoli PA, Adler PH, Hill HS. 2005. Inter-and intracolony agonistic behavior of nativesubterranean termites, Reticulitermes 67 flavipes and Reticulitermes Sociobiology46:305-316. virginicus (Isoptera: Rhinotermitidae). Hariyadi. 2005. Sistem budidaya tanaman jarak pagar (Jatropha curcas Linn). Makalah disampaikan pada seminar nasional jarak pagar (Jatropha curcas Linn) untuk Biodisel dan Minyak Bakar.Diselenggarakan Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi Institut Pertanian Bogor.22 Desember 2005. Harris. 1971. Termite: Their recognition and control. Second Edition.Longmans and Holtd. London. Hasan T. 1986. Rayap dan Pemberantasannya pencegahanya). Jakarta: Yasaguna. (penangulangan dan Hasnam. 2006. Variasi jatropha L. Info Tek Jarak Pagar. 1 (2): 5. Hendriadi A, Handaka, Lilik TM. 2005. Prospektif teknologi pengolahan biodiesel dari biji jarak (Crude Jatropha curcas Oil) skala pedesaan. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian. Bogor 28 September 2005. Henning, Reinhard K. 2000. The jatropha booklet.A. guido to the system and its dissemination in Zambia.GTZ-ASIP-Support- Project Southtrm Prvince. P 6 Kartika T, Sulaeman Y, Didi T, Arief HP, Ikhsan G. 2007. Pengembangan formula bahan infeksi cendawan sebagai alternatif biokontrol rayap tanah Coptotermes sp. development of infection material formula for fungi as biocontrol alternative to subterranean termites Coptotermes sp. [Google 15 Juli 2009]. Krebs CJ. 1978. Ecology the experimental analysis of distribution and abundance. Second Edition.Harper and Row Publisher. New York. Krebs. 1989. Ecological Methodology. Harper and Row Publisher. New York. Krishna K, Weesner FM. 1969.Biology of Termites.New York: Academic. Press. Lee KE, Wood TG. 1971. Termites and Soil. Academic Press.London and New York. Mahmud Z, Rivaie AA, Allorerung D. 2006. Petunjuk teknis bududaya jarak pagar (Jatropha curcas L). Pusat penelitian dan pengembangan perkebunan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. 35 hal. McCoy C, Quintela ED, de-Faria M. 2004.Enviromental persistence of entomopathogenic fungi.University of Florida.http://www.agctr.Isu. edu./ S265/mccoy.htm [28mei 2010] Millstein JA,Brown GC, Nordin GL. 1983. Microclimatic moisture and conidial production in Erynia sp (Entomopathorales): In vivo moisture balance and conidiation phenology. Environ Entomol12:1339-1343. 68 Mirampuri GS, Khachatourians GG 1991. Infection sites of the entomopathogenic fungus Beauveria bassiana in the larvae of the mosquito Aedes aegypti. Entomologia Experimentalist et Applicata 59:19-77 Nandika D, Rismayadi Y, Diba F. 2003. Rayap Biologi dan Pengendaliannya. Surakarta: Muhammadiyah University Press. Natawigena H, 1990. Entomologi Pertanian. Orba Shakti Bandung. Nordin. GL, Brown GC, Millstein JA. 1983. Epizootic phenology of Ernia disease of the alfalfa weevil, Hypera postica (Gyllenhal) (Coleoptera: Curculionidae), in central Kentuky, Environ Entomol 12: 1350-1355. Oka IN. 2005.Pengendalian hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gajah Mada University Press.Yogyakarta. 225 hal Pearce MJ. 1997. Termite: Biology and Management.New York: CAB International Publisher. Prihandana R, Hendroko R. 2006. Petunjuk Budidaya Jarak Pagar. Agromedia Pustaka. Jakarta. 84 hal. Pribadi T. 2009. Keaneragaman komunitas rayap pada tipe penggunaan lahan yang berbeda sebagai bioindikator kualitas lingkungan (Tesis). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian. Bogor. Richards OW, Davies RG. 1996. IMM’S General Textbook of Entomology. Tenth Edition. Vol II. Chapman and Hall. Australia. Rismayadi Y. 1999. Penelaahan daya jelajah dan ukuran populasi koloni rayap tanah Schedorhinotermes javanicus Kemmer (Isoptera:Rhinotermitidae) serta Microtermes inspiratus Kemmer (Isoptera:Termitidae) (Tesis). Program Pascasarjana.Institut Pertanian Bogor. Roberts, DW, CampbellAS. 1977. Stability of entomopathogenic fungi. Misc. Publ. Entomol Soc Am 10(3):19-76. Roddam LF, Rath AD. 1997. Isolation and characterisation of Metarhizium anisopliae andBeauveria bassiana from subantarctic Macquarie Island. J Invertebr Pathol (69):285-288. Roy HE, Stainkraus DC, Eilenberg J, Hajek AE, Pell JK. 2006. Bizarre interaction and endgames: entomopathogenic fungi and thair arthropod host. Annu Entomol 51: 57-133 Santoso T. 1993. Dasar-dasar patologi serangga. Dalam: E Martono (Eds.). Simposium Patologi Serangga I. Universitas Gadjahmada. Yogyakarta,1213 Oktober 1993.1-15 hal. 69 Siebeneicher SR, Vinson SB, Kenerley CM. 1992. Infection of the red imported fire ant by Beauveria bassiana through various routes of exposure. J. Inverterbrate pathology 59:280-285. Soetopo D, Indrayani I. 2009 Status teknologi dan prospek Beauveria bassiana untuk pengendalian serangga hama tanaman perkebunan yang ramah lingkungan. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat.[Google 20 Juni 2009). Southwood TRE. 1975. Ecological methodology: With particular refference to the study of insect population. Chapman and Hall. London. Sornnuwat YC. 1996. Studiet on damage of contruction caused by subterranean termites and its control in thailand. royal forest departement. Bangkok. Strack BH. 2003. Biological control of termites by the fungal entomopathogen Metarhiziun anisopliae, urban entomology laboratory university of Toronto. [Google: 20 Desember 2008]. Sudohadi Y. 2001. Current Termite Management in Indonesia.TRG 1, Pacific Rim Termite Research Group; Malaysia, 8-9 March. Su NY, Ban PM, Scheffrahn RH. 1991. Evaluation of twelve dyes marker for population studies of the eastern and Formosan subteranean termites (Isoptera: Rhinotermitidae). Sociobiology 19:349-362. Su NY, Tamashiro, JR Yates, HavertyMI. 1984. Foraging Behavior of the Formosan Subterranean Termite (Isoptera: Rhinotermitidae). Environ Entomo Vol 13. Su NY. 1994. Field Evalution of A Hexaflumuron Bait for Popultion Suppresion of Subterranean Termites (Isoptera: Rhinotermitidae). J Economic Entomology No. 87:389-397. USA. Susilo B. 2006 Biodisel.Pemanfaatan Biji Jarak Pagar sebagai Alternatif Bahan Bakar. Trubus Agrisarana. Surabaya. Tho YP. 1992. Termite of Paninsular Malaysia. Malayan Forest Records 36:1224 Thapa RS. 1981. Termites of Sabah India: Entomology Branh Forest Researh Institute and Colleges Dehradun. Tambunan B, Nandika D. 1989.Deteriorasi Kayu oleh Faktor Biologis.Pusat Antar Universitas Bioteknologi- Institut Pertanian Bogor. Tanada Y, Kaya HK. 1993. Insect Pathology. New York: Akademic Press, Inc hlm 459-483. 70 Tarumingkeng RC. 1993. Biologi dan Perilaku Rayap. Makalah Seminar Pengendalian Hama Berwawasan Lingkungan sebagai Pendukung Pembangunan Nasional.IPPHAMI Dirjen PPM & PLP Depkes, Jakarta. Tarumingkeng RC. 2001.Biologi dan Perilaku Rayap. http: //tumoutou.net/ biologi_ dan _perilaku_Rayap. htm. PSIH . IPB [7 Februari 2008] Tarumingkeng RC. 2004. Pengenalan Rayap Perusak Kayu yang Penting di Indonesia, Manajemen Deteriorasi Hasil Hutan [19 Juli 2009] Varela A, Morales E. 1996. Characterization of some Beauveria bassianaisolate and their virulence toward the coffee berry borer Hypothenemus hampei, L. JInvert Pathol 67: 147-152. ABSTRACT MUHAMMAD SAYUTHI.Study of Entomopathogenic Fungus Metarhizium brunneum Petch as Biocontrol Agent Against Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) in Castor (Jatropha curcas L.) Plantantion. Under Supervision of TEGUH SANTOSO, IDHAM SAKTI HARAHAP and UTOMO KARTOSUWONDO. Macrotermes gilvus Hagen is primary pest of castor (Jatropha curcas L.), as the termites can damage roots and stems. The purposes of this research were: (1) to estimate population size of colony in field stations at KIJP Pakuwon, (2) to study M. gilvus foraging range, (3) to study the symptomatology and lethal time of M. brunneum as biocontrol agent to M. gilvus in the laboratory, (4) to study the effectiveness of the M. brunneum Petch as biological control agents against M. gilvus in KIJP Pakuwon. The study was conducted from November 2009 to October 2010 in the insect pathology laboratory and insect taxonomy laboratory Departement of Plant Protection, Bogor Agricultural University (IPB), Zoology Laboratory LIPI Cibinong and in the KIJP Pakuwon. Laboratory test was designed using Completely Randomized Design (CRD) and the data were subject to probit analysis. Triple mark recapture methods were used to estimate termite population in the field. In the laboratorium the effective density of conidia as biotermiticide was 1,21x106 konidia/mL, and this led to mortality of M. gilvus up to 85,45%, while the density of 1,08x106conidia/mL resulting in mortality of 78,63%. The suspension of fungi at density 1,21x106conidia/mL was poured at each experimental station (150 mL/station). The result showed that in block I (15.210 m2), block II (5.700 m2), block III (27.000 m2), 8, 1 and 15 termite colonies have been detected respectively from which, 150.388, 59.219, and 149.459 individus were found. In block I, the termites maximum foraging range as far as 140,5 m, as compared to 140 m in block III. In all blocks, we noted the significant decrease of termite population after application of M. brunneum, from initial population 359.066 individus to 15.015 individus. Keywords: M. brunneum, M. gilvus, foraging range, effectiveness, triple mark recapture technique. RINGKASAN MUHAMMAD SAYUTHI. Kajian Cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai Agens Hayati terhadap Rayap Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) pada Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.).Di bawah bimbingan TEGUH SANTOSO, IDHAM SAKTI HARAHAP dan UTOMO KARTOSUWONDO. Rayap Macrotermes gilvus Hagen merupakan salah satuhama penting tanaman jarak pagar yang merusak sistem perakaran pada pangkal batang tanaman, dan mengakibatkan tanaman terluka, patah dan akhirnya mati. Serangan hama ini semakin lama semakin meningkat hingga meluas pada tanaman sehat lainnya.Selama ini pengendalian rayap di KIJP Pakuwon dilakukan dengan menggunakan insektisida yang disiramkan disekitar perakaran tanaman yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.Oleh karena itudiperlukancarapengendalian lain yang ramah lingkungandengan memanfaatkan agens hayati. Cendawan entomopatogen Metarhizium brunneum mempunyai patogenisitas lebih tinggi dibandingkan beberapa cendawan entomopatogen lainuntuk mengendalikan hama ordo Isoptera. Informasi mengenai pemanfaatan cendawan M. brunneum sebagai agens biokontrol yang berpotensi terhadap hama rayap M. gilvuspada tanaman jarak pagar belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan: (1) Menduga ukuran populasi koloni rayap M. gilvus dari setiap koloni pada stasiun pengamatan di KIJP Pakuwon, (2) Mempelajari daya jelajah rayap M.gilvus di KIJP Pakuwon, (3) Mempelajari simtomatologi dan waktu kematian rayap M. gilvussetelah diinfeksi oleh cendawan M. brunneum sebagai biotermitisida di laboratorium, (3) Mempelajari keefektifan cendawan M. brunneum sebagai agens biokontrol terhadap hama rayap M. gilvuspada tanaman jarak pagar di KIJP Pakuwon.Penelitian ini dilakukan di laboratorium Patologi Serangga, Laboratorium Taxonomi Serangga Departemen Proteksi Tanaman, Faperta IPB, Laboratorium Zoologi LIPI Cibinong dan di Kebun Induk Jarak Pagar (KIJP) Pakuwon Sukabumi Jawa Barat,sejak bulanNopember 2009 sampai Oktober 2010. Rancangan acak lengkap (RAL) digunakan untuk penelitian laboratorium sedangkan metode triple mark recapture technique untuk penelitian di lapangan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa spesies rayap M. gilvussebagai hama dominan di KIJP Pakuwon. Di Blok I dengan luas areal 15.210 m2didapatkan 8 koloni dengan jumah 150.388 individu. Di Blok II dengan luas areal 5.700 m2 didapatkan 1 koloni dengan jumlah 59.219 individu. Di Blok III dengan luas areal 27.000 m2didapatkan 15 koloni dengan jumlah 149.459 individu. Daya jelajah maksimum yang di lepas dari blok II, dan seminggu kemudian diamati pada blok I, sejauh 140,5 m dan pada blok III sejauh 140 m. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kerapatan konidia1,21x106 konidia/mL mampu menghasilkan mortalitas rayap M. gilvus hingga mencapai 85,45%, dibandingkan 1,08x106 konidia/mL yang menghasilkan mortalitas 78,63%. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi tingkat kerapatan konidiasemakin meningkat mortalitas rayap. Untuk aplikasi Lapangan di KIJP Pakuwon digunakan kerapatan 1,21x106konidia/mL. Setelah aplikasi cendawan M. brunneum dengan kerapatan konidia 1,21x106/mL, ukuran populasi koloni rayap M. gilvus menjadi 15.015 individu, dengan rincian sebagai berikut: blok I (4.385 individu), blok II(2.595 individu) dan blokIII (8.037 individu) atau terjadi penurunan ukuran populasi koloni hingga mencapai 95,48% dibandingkan ukuran populasi koloni awal (100%) dan tersisa 4,12%. Hal ini membuktikan bahwa cendawan M. brunneum efektif sebagai agens biokontrol terhadap rayap M. gilvus. 1 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Selama ini Indonesia dikenal sebagai negara pengekspor bahan bakar minyak dari fosil, namun dengan meningkatnya penduduk dan industri diperkirakan sepuluh tahun mendatangakan menjadi negara pengimpor bahan bakar minyak bumi. Oleh karenanya pemerintah perlu memikirkan alternatif pengganti bahan bakar minyak bukan darifosil tetapi berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia (Hendriadi et al. 2005). Salah satu sumber energi alternatif yang dapat terbarukan adalah biodisel dari tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) yang hanya digunakan sebagai sumber bahan bakar (Mahmud et al. 2006).Beberapa keunggulan biodisel dari tanaman jarak pagar yaitu tidak mengandung sulfur, tidak beraroma, dapat diperbaharui, ramah lingkungan, aman dalam penyimpanan dan transportasi karena tidak mengandung racun, meningkatkan nilai produk pertanian, menurunnya ketergantungan suplai minyak dari negara asing, dan mudah terurai oleh mikroorganisme (Susilo 2006). Tingkat produktivitas jarak pagar sangat tergantung dari cara pemeliharaan, lingkungan, sumber benih, ada tidaknya serangan hama dan penyakit. Produktivitas jarak pagar di berbagai negara, yaitu Nicaragua (5 ton/ ha), Paraguay (4 ton/ha) dan Mali (2,8 ton/ha) (Henning & Reinhard 2000). Indonesia diperkirakan mampu menghasilkan produktivitas hingga 5 ton biji kering/ha (Hasnam 2006). Permasalahan yang dihadapi dalam agribisnis jarak pagar adalah belum tersedianya varietas unggul, ketersediaan benih sangat terbatas, teknik budidayanya belum memadai, dan adanya serangan hama dan penyakit (Asbani et al. 2007). Salah satu hama penting yang merusak tanaman jarak pagar adalah rayap Macrotermes gilvus Hagen, yang merusak mulai dari akarhingga pada batang tanaman (Tarumingkeng 2001). Hasil pengamatan di Kebun Induk Jarak Pagar (KIJP) Pakuwon menunjukkan bahwa tingkat serangan hama rayap M. gilvus terhadap tanaman 2 jarak pagar mencapai 15 sampai 24% dengan rata-rata 16,33%. Menurut informasi dari penanggung jawab KIJP Pakuwon,jarak pagar yang ditanamdengan menggunakan stek ukuran 30 cm di permukaan tanah, 60 sampai 80% terserang rayap M. gilvus hingga mengalami kematian. Hama ini merusak bagian pangkal akar hingga batang tanaman dengan membuat tabung kembara dari bahan tanah yang ditempelkan pada batang tanaman atau dengan cara masuk ke dalam jaringan tanaman hinggahanyalapisan epidermisyang tersisa. Kondisi ini mengakibatkan tanaman menjadi patah, roboh dan mengalami kematian. Semakin lama intensitas serangannya semakin meningkat hingga pada tanaman sehat lainnya. Oleh karenanya walaupuntingkat serangan hama ini kurang dari 10% tetapi harus segera dilakukan pengendalian agar tidak menyebar kepada tanaman lain, sehingga hasil produksi tetap maksimal (Asbani et al. 2007).Selama ini pengendalian rayap di KIJP Pakuwon menggunakan termitisida sintetik dengan caradisiramkan sekitar perakaran tanaman yang mengakibatkan pencemaran lingkungan dan keracunan bagi pengguna (Oka 2005). Keberadaan agens hayati secara alami yang telah ada di KIJP Pakuwon kurang memberikan dampak positif terhadap rayap hama M. gilvus. Oleh karena itu perlu pengendaliancaralain seperti pemanfaatan agens hayati yang mungkin dapat diterapkan di KIJP Pakuwon.Namun sebelum melakukan pengendalian terhadap spesieshama ini terlebih dahulu perlu dipelajari ukuran populasi koloni dan daya jelajah maksimumnya,sehingga populasirayap hama M.gilvus dapat tereliminasi lebih maksimal. Dari penelitian sebelumnya dinyatakan bahwa cendawan M. brunneum memiliki tingkat patogenisitas dan virulensi yang lebih tinggi terhadap serangga rayap Schedorhinotermes javanicus dibandingkan beberapa spesies cendawan entomopatogen lain, seperti Metarhizium anisopliae, Beauveria bassiana, Fusarium oxysporum dan Aspergillus flavus(Desyanti 2007, Ginting 2008). Penelitian ini mempelajari keefektifan cendawan entomopatogen M. brunneum dalam menekan ukuran populasi koloni rayap M. gilvus yang menjadi hama penting pada pertanaman jarak pagar di KIJP Pakuwon. 3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini yaitu: 1. Menduga ukuran populasi koloni rayap Macrotermes gilvus di KIJP Pakuwon. 2. Mempelajari daya jelajah rayap M.gilvus di KIJP Pakuwon. 3. Mempelajari simtomatologi dan waktu kematian rayap M. gilvussetelah diinfeksi oleh cendawan M. brunneum sebagai biotermitisida di laboratorium. 4. Mempelajari keefektifan cendawan entomopatogen M. brunneum sebagai biotermitisida terhadap rayap M. gilvusdi KIJP Pakuwon. Manfaat Penelitian Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi informasi awal dan sebagai pedoman dasar untuk penyusunan rekomendasi pengendalian hama rayap Macrotermes gilvus pada tanaman jarak pagar menggunakan cendawan entomopatogen Metarhizium brunneum sebagai agens biokontrol. 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Biologi Rayap Krishna dan Weesner (1969) menyatakan bahwa rayapdiklasifikasikan ke dalam 6 Famili(Mastotermitidae, Rhinotermitidae, Serritermitidae, Kalotermitidae, dan Hodotermitidae, Rayap Termitidae). tanahMacrotermesgilvus termasuk famili Termitidae sub famili Macrotermitinae, klasifikasinya adalah sebagai berikut: filum: Arthropoda kelas: Insecta sub-kelas: Pterigota ordo: Isoptera famili: Termitidae sub-Famili: Macrotermitinae genus: Macrotermes spesies: Macrotermes gilvus Hagen. Menurut Krishna dan Weesner (1969) rayap M. gilvushidup berkoloni yang mempunyaikasta prajurit mayor dan minor.Ciri-ciri kasta prajuritsecara umumadalah kepala bewarna coklat tua, mandibel berkembang dan berfungsi, mandibel kiri dan kanan simetris,tidak memiliki gigi marginal, ujung mandibel melengkung yang berfungsi untuk menjepit. Ujung labrum tidak jelas, pendek dan melingkar, antena terdiri atas 16-17 ruas. Thapa (1981) dan Tho (1992)menjelaskan ciri-ciri dari kasta prajuritmayor yaitu kepala bewarna coklat kemerahan, panjang kepala dengan mandibel 4,80-5,00 mm, lebar kepala 2,883,10 mm,antena 17 ruas, ruas ketiga sama panjang dengan ruas kedua dan ruas ketiga lebih panjang dari ruas keempat. Sedangkan kasta prajurit minor kepala bewarna coklattua, panjang kepala 1,84-2,08 mm dan lebar 1,52-1,71 mm sertapanjang kepala dengan mandibel 3,07-3,27 mm. Antena17 ruas, ruas kedua sama panjangdengan ruas keempat. Menurut Nandika et al. (2003) rayap M. gilvus banyak tersebar di Indonesia, umumnya bersarang dalam tanah atau di dalam kayu yang 6 berhubungan dengan tanah.Rayap membiakkan cendawan yang berbentuk bunga karang, serta bangunan-bangunan liat dalam tanah dan untuk menemukan sumber makanan dengan membuat tabung kembara dari humus atau tanahsebagai jalur jelajah (Nandika et al. 2003). Polimorfisme Polimorfismemerupakan ciri rayap yang hidup secara terorganisir dengan bentuk, ukuran, dan fungsi yang berbedadalam sebuah koloni, sepertiordo Isopteraterdiri atas kasta prajurit, kasta pekerja dan kasta reproduktif. Kasta pekerja bertugas sebagai pencari makan, perawat telur, pembuat dan pemelihara sarang. Kasta ini pada saat tertentu dapat bersifatkanibalterhadap individu rayap yang sakit dalam koloninya untuk mempertahankan prinsip efisiensi dan konservasi energi, serta mengatur keseimbangan koloni (Tarumingkeng 1993, Tambunan & Nandika 1989). Kasta prajurit dengan ukuran kepalanyabesar dan mengalami penebalan pada bagian tersebut serta memiliki mandibelkuat untuk melindungianggota koloni dari gangguan luar (Tambunan & Nandika 1989). Apabila terjadi gangguan dari luar, maka kasta prajurit segera menginformasikan kepada anggota kasta prajurit lain dalam koloninya dengan tanda tertentu, dan semua kasta prajurit segera menuju sumber gangguan untuk mengatasinya (Harris 2001). Kasta reproduktif berfungsi untuk bertelur dan jantan membuahi betina, seperti kasta reproduktifdari rayap Macrotermes spp dapat menghasilkan telur seminggu setelah melakukan swarming (Harris 1971). Neoten akan muncul bila kasta reproduktif primer mati atau terpisahdari koloni induk akibat adanya gangguan luar. Neoten dapat terbentuk beberapa kali dalam jumlah besar sesuai dengan perkembangan koloni (Richards & Davies 1996). Pembentukan Koloni Sebuah koloni rayap dapat terbentuk dari sepasang laron betina dan jantan dengan melakukan kopulasi, kemudian mencari habitat yang sesuai untuk membentuk koloni baru (Tarumingkeng 1993). Koloni rayap dapat terbentuk melalui tiga cara, yaitu: (1) melalui sepasang imago rayap yang bersayap (laron), 7 (2) melalui pemisahan koloni dari koloni utama dengan membentuk kasta reproduktif suplementer, dan (3) melalui proses migrasi dari sebagian koloni rayap menuju tempat baru dan koloni yang tertinggal mengembangkan kasta reproduktif suplementer (Lee & Wood 1971, Harris 1971). Kasta reproduktif bersayap akan muncul pada musim-musim tertentu, yang berkumpul dalam koloninya sebelum bersialang (swarming) keluar sarang. Umumnya beberapa spesies rayap di daerah tropis bersialang pada awal musim hujan (Lee & Wood 1971). Selama bersialang sepasang imago (jantan dan betina) bertemu dan segera menanggalkan sayap untuk mencari tempat yang sesuai (Tambunan & Nandika 1989). Di Amerika Selatan rayap Contrictotermes cavifronsuntuk membentuk koloni baru melalui fragmentasi koloni dengan bermigrasi untuk menemukan habitat baru(Krishna & Weesner 1969). Demikian juga rayap Anoplotermes,Trinervitermes di Afrika (Rismayadi 1999) danMastotermes darwinensismembentuk koloni baru melaluifragmentasi koloni (Lee & Wood 1971). Siklus Hidup Rayap Rayap mengalami metamorfosis tidak sempurna (paurometabola). Siklus hidupnya dimulai dari telur, nimfa, dan imago. Nimfa muda yang baru keluar dari telur dan akan berkembang menjadi kasta pekerja, kasta prajurit, atau alata di dalam koloninya (Natawigena 1990). Lama siklus hidup rayap dari fase telur 5060 hari. Ratu rayap Macrotermes sp yang telah berumur 5 tahun mampu menghasilkan telur hingga 36.000 butir perhari (Hasan 1986). Memasuki instar I membutuhkan waktu 11-13 hari, instar II (13-18 hari), instar III (16-32 hari), instar ke IV (30-50 hari), dan instar ke V (14 hari), dan sekali siklus hidup rayap dibutuhkan waktu 4-6 bulan (Grasse 1984). Perilaku Rayap Sebagai serangga sosial, rayap memiliki beberapa prilaku yang khas (Nandika & Tambunan 1987; Tarumingkeng 2004), yaitu: Trophallaxis adalahtransfer material (makanan dan protozoa) antara anggota koloni rayap. Transfer materialmelalui anusdisebut proctodeal 8 feedingsedangkan melalui mulut disebut dengan stomodeal feeding. Sifat trofalaksis merupakan cara memperoleh protozoa flagellatabagi individu yang baru melakukan ganti kulit (ekdisis), karena pada saat ekdisis integumen proctodeum tanggal sehingga protozoa simbion yang diperlukan untuk mencerna selulosa ikut keluar dan diperlukan reinfeksi dengan jalan trophallaxis. Grooming adalah berkumpul dengan mengosokkan tubuh antara individu dalam sebuah koloni, dan menjilat bagian tubuhnya yang bertujuan untuk membersihkan diri dari serangan patogen. Cryptobiotic adalah menyembunyikan dan menghindar dari cahaya kecuali laron yang menyukai cahaya pada saat swarming. Rayap hidup dalam tanah dan pada saat mencari makanan dipermukaan tanah, membentuk tabung kembara dari bahan tanah atau humus. Cannibalistic yaitu perilaku memakan individu sejenis, seperti kasta prajurit yang lemah tidak dapat menjaga koloninyasecara efektif, akan dimakan oleh kasta pekerja. Demikian juga betina dan jantan baik ratu, raja maupun neoten yang tidak mampu memberikan kontribusi pada koloninya. Nekrofagi yaitu memakan kadaver sesamanya (Tarumingkeng 2004). Aktifitas Makan Sumber makanan rayap berupa selulosa.Terdapat hubungan antara rayap dengan mikoorganisme simbion pada saluran pencernaan rayap, yaitu protozoa pada rayap tingkat rendah dan bakteri pada rayap tingkat tinggi. Sumber makanan rayap pada umumnya dikelompokkan ke dalam dua tipe, yaitu sumber makanan mentah (crude nutrient) dan sumber makanan dari kasta pekerja. Sumber makanan mentah berupa tanaman atau pohon hidup, kayu atau tanaman yang sudah mati, bahan makanan lain seperti humus, rumput, jamur (Nandika et al. 2003). Aktifitas Kawin Kopulasi rayap dapat ditandai dengan terbangnya laron (swarming) yang dipengaruhi oleh perubahan cuaca di luar sarang. Laron akan berkumpul pada tempat tertentu di dalam sarang yang menunjukkan atraksi tertentu dengan gerakantidak teratur,seperti mengembangkan sayap dan segera terbang 9 mencaricahaya. Kemudian menanggalkan sayapnya untuk menemukan pasangan.Setelah menemukanpasangannya,calon ratuakanberjalan di depan dan calon raja mengikuti dari belakang untuk menemukan habitat yang sesuai.Setelah 3-8 hari berada pada habitat yang baruditemukan akan berkopulasi (Nandika et al.2003). Daya Jelajah Rayap akanberjelajah untuk menemukan sumber makanan dengan lingkungan yang optimal. Persentuhan fisik antar individu rayap dan bau yang dikeluarkan melalui jejaknya merupakan sebuah mekanisme penyampaian informasi dalam sebuah koloniterhadap sumber makanan yang baru ditemukan. Rayap Nasutitermes dalam melakukan daya jelajah berhubungan dengan feromon yang dikeluarkan melalui jejak dan dihasilkan oleh kelenjer sternal yang terdapat pada abdomen(Krishna & Weesner 1969). Rayap tanah C. formosanus melakukan daya jelajah hingga mencapai 100 m dengan jumlah individu 1-7 juta individu perkoloni. Reticulitermes flavivesmenjelajah hingga 79 m dengan 2-5 juta individu anggota koloni yang mengikutinya (Su 1994). Ekologi Rayap Rayap berperan penting dalam siklus biogeochemical (dekomposisi bahan organik), seperti nitrogen, carbon, oksigen, fosfor, yang dapat meningkatkan kesuburan tanah, karena mampu mengubah profil tanah, mempengaruhi tekstur tanah dan mendistribusikan bahan organik (Khrisna & Weesner 1969). Dengan beralih fungsinya hutan menjadi perkebunan monokultur menyebabkan rayap ini menjadi hama penting di dunia pertanian khususnya di bidang perkebunan(Tarumingkeng 2001).Pengembangan sektor perkebunan dan hutan tanaman industri yang dilakukan pada lahan gambut dan lahan bekas hutan primer merupakan salah satu penyebab terjadinya serangan rayap terhadap tanaman perkebunan (Sudohadi 2001). Serangan hama rayapsulit dideteksi secara dini karena merusak tanaman mulai dari bagian akar tunggang di dalam tanahdan diketahui setelahmembentuk tabung kembara di sekitar batang tanaman (Hasan 1986). Rayap hama M. gilvus 10 ini menyerang tanaman Eucalyptus alba pada umur enam bulan dengan tingkat kematiannya secara berturut-turut adalah 60% dan 100% di Kebun Percobaan Darmaga dan Demplot HTI Universitas Winaya Mukti (Nandika et al. 2003). Serangan rayap hama pada tanaman perkebunan biasanya dipengaruhi oleh tingkat preferensinya terhadap jenis tanaman, tingkat kesehatan tanaman, dan kondisi tempat tumbuh, serta tanaman yang tertekan karena serangan patogen, kerusakan fisik, atau akibat kekurangan air dan unsur hara. Biasanya tanaman eksotik lebih tinggi tingkat serangan rayap dibandingkan tanaman lokal, hal ini diduga tanaman lokal dapat mengembangkan mekanisme resistensinya terhadap gangguan rayap, yaitu melalui proses adaptasi dan evolusi. Tanaman yang berada di dataran rendah lebih banyak diserang oleh rayap dibandingkan tanaman yang berada di dataran tinggi. Hal ini berhubungan dengan distribusi rayap yang dibatasi oleh faktor suhu, kelembaban serta ketinggian tempat (Pribadi 2009). Aktivitas rayap disuatu daerah dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tanah, tipe vegetasi, faktor iklim dan ketersediaan air. Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi dan saling mempengaruhi satu sama lain. Kelembaban dan suhu merupakan faktor yang mempengaruhi aktivitas rayap. Bila kondisi lingkungan berubah akan mempengaruhi perkembangan, aktifitas dan perilaku rayap (Nandika et al. 2003). Curah hujan merupakan salah satu faktor pemicu perkembangan eksternal yang merangsang keluarnya kasta reproduktif dari sarang. Laron biasanya keluar pada saat musim hujan. Bila curah hujan terlalu tinggi dapat menurunkan daya jelajah rayap yang berpengaruh langsung terhadap koloni rayap, terutama bila sarangnya berada diatas permukaan tanah. Koloni Neotermes tectonae bersarang di dalam kayu dan terlindungi secaralangsung dari pengaruh curah hujan. Di hutan jati rayap ini memiliki kisaran suhu optimum 22‐26°C dengan ketinggian 0- 700 m dpl (Nandika et al. 2003). Rayap Macrotermes spmenyukai kelembaban 75 sampai 90% dan pada saat musim panas melakukan daya jelajah membentuk tabung kembara menuju habitat dengan suhu yang lebih rendah. Cryptotermes sp merupakan rayap kayu kering dan dengan suhu optimum 15-38°C dapat melakukan daya jelajah tanpa memerlukan air atau kelembaban tinggi(Khrisna & Weesner 1969). Rayap Coptotermes formosanus memiliki toleransi suhu lebih 11 tinggi dibandingkan rayap Reticulitermes flavipes. Bila suhu sangat tinggi rayap akan berada di bawah permukaan tanah atau masuk dalam sarangnya atau tetap beradadi permukaan tanah bila terdapat naungan agar mendapatkan suhu optimum. Di daerah semi gurun dengan penutupan vegetasi yang rendah, rayap Psammotermes sering ditemukan di bawah batu atau naungan karena dapat menciptakan suhu dan kelembaban yang lebih baik. Jenis tanaman penutup tanah juga mempengaruhi suhu tanah. Di lapangan dengan tanaman sereal dapat memberikan sedikit perlindungan dibandingkan jenis tanaman lain atau semak (Lee & Wood 1971). Pendugaan Ukuran Populasi Menurut Krebs (1978) dua kriteria mendasar yang mempengaruhi pemilihan metode pendugaan ukuran populasi adalah kerapatan dan mobilitas dari individu-individu penyusun populasi yang akan diteliti. Pengukuran kepadatan populasi dapat dilakukan dengandua cara,yaitu (a) kepadatan absolut; jumlah organisme per unit areal atau volume (b) kerapatan relatif; kerapatan satu populasi relatif terhadap populasi lainnya (Krebs 1989). Penggunaan metode untuk memperoleh informasi mengenai ukuran populasi biasanya berhubungan dengan sifat mobilitas organisme yang diteliti. Untuk organisme yang bergerak umumnya menggunakan teknik tanda tangkap dan transek garis. Sedangkan untuk organisme yang tidak bergerak menggunakan metode kuadrat, seperti pada tumbuhan (Tarumingkeng 2001). Umumnya ukuran populasi kolonirayap tingkat rendah terdiri atas beberapa ratus atau beberapa ribu ekor.Rayap Kalotermes flavicollis menghasilkan 15-20 ekor rayap untuk tahun pertama, namun beberapa tahun kemudian populasi koloninya menjadi bertambah hingga 600-1.000 ekor (Richards& Davies 1996).Di Afrikarayap Macrotermes spplebih besar ukuran populasi koloninya yang terdiri atas beberapa juta ekor(Lee & Wood 1971). Teknik Tanda Tangkap Menurut Rismayadi (1999)teknik tanda tangkap pertama kali digunakan di bidang ekologi oleh G.J. Petersen. Su et al.(1984,1994) dan Sornnuwat et al. 12 (1996) juga mempelajari ukuran populasi dan daya jelajah rayap tanah dengan metode teknik tanda tangkap.Asumsi-asumsi yang mendasari semua analisis teknik tanda tangkap adalah: (1) individu bertanda tidak dipengaruhi oleh penandaan dan tanda yang digunakan tidak hilang selama periode pengamatan, (2) individu bertanda bercampursecaraacak dalam populasi, (3) penarikan contoh dilakukan secaraacak (berdasarkan asumsi ini maka individu dalam populasi dari kelompok umur dan dari jenis kelamin berbeda akan memiliki peluang tertangkap berdasarkan perbandingan yang ada dalam populasi dan semua individu mempunyai peluang yang sama untuk tertangkap dalam habitatnya), (4) pengambilan contoh dilakukan dalam waktu tertentu (Southwood 1975, Krebs 1978& 1989). Metode Schnabel menjadi dasar dari teknik yang digunakan oleh Su (1994) dan Surnnuwat et al.(1996) untuk mempelajari ukuran populasi dan daya jelajah rayap tanah. Namun dalam penelitian ini untuk pendugaan ukuran populasi koloni rayap digunakan metode triple mark reupture technique, yaitu: N = (∑Mi.ni)/[(∑mi)+1] SE = N/{[1/(∑mi)+1)]}+{(2/((∑mi)+1)2+[(6/(∑mi)+1)3]}1/2  dimana: N = Ukuran populasi SE = Simpangan baku ni = Jumlah keseluruhan rayap yang tertangkap pada penangkapan ke-i mi = Jumlah rayap bertanda yang tertangkap pada penangkapan ke-i Mi = Jumlah total rayap bertanda sampai penangkapan ke-i Teknik Penandaan Menurut Southwood (1975) bahan penanda yang digunakan oleh para peneliti terhadap beberapa studi populasi adalah: cat dan larutan bahan pewarna, penandaan internal dengan penyuntikan, bahan pewarna fluorescent, label, mutilasi (pemotongan) dan penandaan melalui pengumpanan yang mengandung bahan pewarna. Pada penelitian pendugaan ukuran populasi koloni dan daya jelajah rayap tanah Coptotermes formosanus, digunakan bahan pewarna sudan red 7B (Su et 13 al.1984). Kemudian Su et al. (1991) menggunakan beberapa bahan pewarna neutral red dan nile blue A, ternyata hasilnya sangat efektif digunakan sebagai pewarna rayap. Setelah itu bahan pewarna ini telah banyak digunakan untuk studi populasi rayap. Su (1994) pernah menggunakan bahan pewarna ini untuk menandai Reticulitermes flavipes dan C.formosanus, juga pernah di pakai untuk menandai C. gestroi. Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Harahap et al. (2005) dalam mengamati perilaku agonistik pada rayap R. flavipes dan R. nirginicus; menggunakan bahan pewarna nile blue A (0,05%) dan neutral red (0,25%), ternyata sangat efektif digunakan sebagai bahan penandaan rayap. Pengendalian Rayap Pengendalian rayap dengan teknik pengumpanan lebih menguntungkan karena tanah tidak terkontaminasi oleh bahan kimia dan meringankan pekerjaan dari perlakuan yang intensif.Melalui penempatan umpan pertama tidak beracun pada koloni rayap dandengan mengulangi penempatan umpan beracun yang slow action, akan lebih efektif untuk menyebarkan racun terhadap individu lain dalam sebuah koloni. Agar pengendalian cara ini lebih efektif maka umpan harus lebih menarik dari makanan di sekitarnya. Penambahan gula, madu, jamur pelapuk, asam amino, sumber nitrogen, bahkan feromon dapat meningkatkan laju komsumsi rayap (Pearce 1997). Pengendalian rayap dengan menggunakan chlorprenapyr pada berbagai konsentrasi melalui pengumpanan mampu menghasilkan mortalitas yang berkorelasi positif dengan waktu aplikasi dan konsentrasi perlakuan(Sudohadi Y 2001). Menurut Scheffrahn dan Su (1994) kelebihan dari metode pengumpanan yaitu ramah lingkungan, mudah diterima oleh masyarakat karena sedikit menggunakan bahan kimia yang telah dikemas dalam bentuk yang efektif, dan di sukai rayap dengan kerja racun yang slow action, sehingga dapat mengeliminasi koloni rayap. Menurut Su et al. (1994) penggunaan hexaflumuron dengan dosis 0,5% yang dilarutkan pada gulungan kertas tissue (Whatman No. 1) dan diumpankan pada rayap, maka semua rayap yang mencerna umpan tersebut tidak segera akan menunjukkan gejala keracunan, tetapi mengganggu proses 14 metabolisme dan menghambat proses ganti kulit, kemudian setelah beberapa hari rayap akan mati. Hingga saat ini pengendalian rayap masih tergantung pada insektisida sintetik yang berdampak negatif terhadap lingkungan (Kartika et al. 2007), keracunan bagi penggunadan lainnya. Oleh karena itu perlu alternatif pengendalian cara lain yang ramah lingkungan. Salah satunya dengan memanfaatkan bioinsektisida (Soetopo kelompokmikroorganisme yang & bermanfaat Indrayani 2009). Ada enam sebagai bioinsektisida, yaitu cendawan, bakteri, nematoda, virus protozoa, dan riketsia (Santoso 1993). Cendawan Metarhizium brunneum Petch CendawanM. brunneummerupakan salah satu jenis bioinsektisida yang dapat menimbulkan penyakit terhadap serangga dandapat ditemukan hampir di berbagai tempat, seperti tanah gambut di USA dan Oregon (CABI 2001). Desyanti (2007) mengisolasikan cendawan M. brunneum dari tanah. Untuk pertumbuhannya memerlukan suhu optimum 22-27°C (Roddam & Rath 1997), dengan tingkat keasaman (pH) antara 3,3-8,5, sedangkan pH optimal 6,5 (Domsch & Gams 1980). Konidia akan berkecambah pada kelembaban 90% dan dapat tumbuh baik pada media PDA, jagung dan beras (Ginting 2008). Butt et al. (2001) mengklasifikasikan cendawan kepada dua divisi yaitu Myxomycota dan Eumycota.Lebih rinci Roy et al.(2006) mengklasifikasikan cendawan entomopatogen Metarhizium sp sebagai berikut: devisi: Ascomycota kelas: Sordariomycetes ordo: Hypocreales famili: Clavicipitaceae genus: Metarhizium spesies:Metarhizium brunneum Petch CendawanM. anisopliaemempunyai koloni berwarna putih dan dengan bertambahnya umurwarnanya berubah menjadi gelap, sedangkan strain M. brunneum pada awal pertumbuhannya bewarna putih hingga kekuningan, selanjutnya berubah menjadi coklat. Miseliumnya bersekat, diameter 1,98-2,97 15 µm, konidiofor tersusun tegak, berlapis, dan bercabang yang dipenuhi oleh konidia. Konidia bersel satu berwarna hialin, berbentuk bulat silinder dengan ukuran 9,94 x 3,96 mμ (Strack 2003, Ginting 2008). Keragaman intraspesiespada cendawan entomopatogen umumnya terlihat pada perbedaan virulensinya (Hajek& Leger 1994). Faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan keragaman tersebut adalah sumber isolat, inang dan daerah geografis asal isolat (Varela & Morales 1995, Baretta et al. 1998). Umumnya strain cendawan entomopatogen yang diisolasi dari inang yang sama akan lebih virulen untuk diaplikasikan terhadap inang tersebut, dibandingkan dari inang yang berbeda. Seperti cendawanB. bassiana yang koleksi dari kadaver rayap apabila kembali diinfeksikan terhadap individu rayap lain dari spesies yang sama maka toxisitasnya lebih efektif (Boucias& Pendland 1998). Pemanfaatan agens hayati cendawanM. brunneum di areal pertanaman belum pernah dilakukan. Penggunaan cendawan ini baru dilakukan Desyanti (2007) dalam studi pengendalian rayap tanah Coptotermes spp di laboratorium dan hasilnya efektif sebagai agens hayati dengan tingkat patogenisitasnya lebih tinggi dan dapat membunuh rayap Coptotermes spp dengan LC50 terendah dibandingkan spesies M. anisopliae, B. bassiana, Fusarium oxysporum danAspergillus flavus (Desyanti 2007). Keefektifan dalam penggunaan cendawan tersebut didukung oleh daya kecambah dan kerapatan konidia yang dihasilkan. Menurut Desyanti (2007) daya kecambah dari cendawan M. brunneum dan M. anisopliaesetelah diinkubasiselama 12-24 jammasing-masing 97,20% dan 85 sampai 90%.Kerapatan konidia yang dihasilkan oleh cendawan M. brunneumlebih tinggi (223,66 x 107/cawan Petri) dibandingkan cendawan M. anisopliae(6,18 x 107/cawan Petri). Cendawanini mempunyai kemampuan untuk menempel dan menembus kutikula inang dan tumbuh ke bagian internal tubuh inang (hemocoel) sebagai sumber nutrisi untuk pertumbuhan yang mengakibatkan kematian inang. Kemudian cendawan tersebut juga dapat menghancurkan jaringan lain dengan melepaskan toksin dan akan mempengaruhi perkembangan inang secara normal (Boucias& Pendland 1998). Beberapa jenistoksinyang dihasilkan oleh 16 Metarhizium spp terhadap serangga yaitu:destruxin, cytohalasins, swainsonine (Desyanti 2007,Boucias& Pendland 1998). Diharapkandengan memanfaatkan potensi sumber daya hayati lokal yang berpotensi di alam Indonesia, seperti pemanfaatan cendawan M. brunneumsebagai agens hayati yang berpotensi akan dapat mengurangipenggunaan pestisida sintetik yang selama ini banyak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan (Desyanti 2007). Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Tahun 1912 tanaman jarak pagar telah diperkenalkan di Indonesia oleh bangsa Jepang (Hambali et al. 2007). Tanaman ini dapat tumbuh pada tanah kritis unsur hara, beriklim panas danpada ketinggian tempat 0-1.000 m diatas permukaan laut (dpl). Namun lebih optimal pertumbuhannya pada tanah yang berstruktur ringan atau tanah lempung berpasir pH(5,0-6,5), suhu (18-30°C), dan curah hujan (300-1.200 mm) per tahun (Hariyadi 2005). Pada lahan yang kurang subur populasitanaman jarak pagar 1.666 per hektar (Prihandana & Hendroko 2006). Sedangkan lahan yang subur daya tampungnya2.500 tanamanper hektar dengan jarak tanam setiap tanaman 2 m. Tanaman jarak pagar dapat menghasilkan 3,5-4,5 kg biji/pohon/tahun . Bila rendemen minyak dari bijitanaman jarak pagar sebesar 30% maka setiap hektar lahan dapat diperoleh 1,5-3 ton minyak/ha/tahun. Produksi akan stabil setelah tanaman berumur lebih dari 5 tahun.Kemungkinan jarak pagar ini dapat bertahan hidup lebih dari 20 tahun apabilaperawatannya efektif(Hambali et al. 2007). Di KIJP Pakuwon budidaya tanaman jarak pagar mengalami beberapa kendala, salah satu diantaranyaadalah serangan hama rayap M. gilvus yang merusak sistem perakaran tanaman dan mengakibatkan pengambilan unsur haradari dalam tanah oleh tanaman menjadi terhambat.Semakin lama serangan hama ini semakin meningkat hingga meluas pada tanaman lainnya.Data kuantitatif serangan rayap terhadap tanaman jarak pagar umur tegakan 5 tahun mencapai16,33%. Oleh karenanya serangan rayap hama ini perlu segera dikendalikanagar tidak semakin meluashingga tanaman sehat lainnya. 17 BAB III POPULASI KOLONI RAYAP Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) DI KIJP PAKUWON SUKABUMI JAWA BARAT [Colony size population ofMacrotermes gilvus Hagen(Isoptera:Termitidae) in KIJP Pakuwon Sukabumi West Java] Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk menduga ukuran populasi koloni rayap M. gilvus di KIJP Pakuwon dengan menggunakan tekniktriple markrecapture. M. gilvus dikoleksi dari perkebunan jarak pagar (J. curcas) yang ditentukan dalam tiga blok (I, II, III).Koleksi rayap diwarnai denganneutral red0,25% dan nile blueA 0,05% di laboratorium.Di blok1 dengan luas areal 15.210 m2ditemukan 8 koloni (150.388 individu), di blok 2 dengan luas areal 5.700 m2hanya ditemukan satu koloni (59.459 individu), dan di blok 3 dengan luas areal 27.000 m2 15 koloni(149.459 individu). Total populasi M. gilvusyang ditemukan terdiri atas 24 koloni dengan 359.066 individu yang tersebar dalam luas areal 47.910 m2. Kata kunci: Populasi, Macrotermes gilvus, Jatropha curcas, KIJP Pakuwon Abstract The aim of this study was to predict the population size of M. gilvus colonyat KIJP Pakuwon using Triple Mark Recapture Technique. M. gilvus was collected from castor plantation whichwas divided in to three blocks (I,II, III). Later M. gilvus were cleaned, counted and maintained in a Petri dish fed with filter papers that have been colored by neutral red 0,25% and nile blue A 0,05%. Eight colonies were found on block 1 and the area width is 15.210 m2 (150.388 individuals), only one colony on block 2 with the area width is 5.700 m2 (59.459 individuals), and 15 colonies on block 3 with area width is 27.000 m2 (149.459 individuals). The total population of M. gilvus was 24 colonies counsisted of 359.066 individuals with total area width 47.910 m2. Key words: Population,Macrotermes gilvus, Jatropha curcas, KIJP Pakuwon 18 Pendahuluan Populasi merupakan sekelompok individu suatu organismedan termasuk dalam satu spesies yang dapat melangsungkan interaksi genetik dengan spesies yang sama pada waktu tertentu di suatu wilayah atau ruang tertentu (Tarumingkeng 1992). Karakteristik suatu populasi yaitu kepadatan (densitas), laju kelahiran (natalitas), laju kematian (mortalitas), sebaran (distribusi) umur, potensi biotik, sifat genetik, perilaku dan pemencaran (dispersal) (Tarumingkeng 1992). Ukuran populasi sebuah koloni rayap sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh habitat, mikroklimat (kelembaban, suhu, curah hujan), jenis tanah dan umur ratu (Khrishna & Weesner 1969). Ukuran populasi koloni merupakan bagian penting dari sebuah koloni rayap (Riklefs 1990). Dasar kriteria menggunakan metode pendugaan ukuran populasi adalah kerapatan dan mobilitas individu penyusun populasi (Krebs 1978). Untuk organisme bergerak, umumnya digunakan teknik tanda tangkap, metode kuadrat atau transek garis, sedangkan organisme yang tidak bergerak seperti tumbuhan digunakan metode kuadrat (Tarumingkeng 2001). Meskipun ukuran populasi rayap tanah sulit dipelajari karena hampir semua aktivitasnya di bawah permukaan tanah, namun penelitian di bidang tersebut telah berkembang menggunakan berbagai macan metode baru. Penelitian tentang pendugaan ukuran populasi koloni rayap C. curvignathus dan M. inspiratusdapat dilakukan menggunakan metode triple mark reapture tehnique(teknik tanda tangkap) (Tarumingkeng 1992). Agar pengendalianrayap dapat berlangsung lebih efektif dan efisien perlu diketahui ukuran populasi koloninya (Nandika et al. 2003). Rayap hama M. gilvus pada tanaman jarak pagar perlu dikendalikan sedini mungkin agar kerusakan yang ditimbulkan tidak mencapai ambang ekonomi. Bahan dan Metode Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Taksonomi Serangga, Laboratorium Patologi Serangga Departemen Proteksi Tanaman Fakultas 19 P Pertanian Institut I Perttanian Bogoor, dan di Kebun K Induuk Jarak Paggar (KIJP) P Pakuwon Su ukabumi Jaw wa Barat, sejaak Nopembeer 2009 samppai Juli 20100. P Persiapan Stasiun S Peng gamatan daan Pemasan ngannya Lokaasi percobaaan adalah llahan KIJP Pakuwon. Percobaan ditentukan d dalam tiga blok b (I,II, dan III) yang m masing- massing terdiri ddari 23 stasiuun (blok I), 9 stasiun (bllok II), dan 45 stasiun (blok ( III). Stasiun S penggamatan yang dipasang t terdiri dari 10 1 potong kaayu pinus (1 cm × 2 cm× ×10cm) yangg dimasukkan ke dalam p pipa PVC Ф 5 inci. Kem mudian pipaa PVC dimassukkan dalam m lubang gaalian 15 cm y yang ditutupp dengan bahhan plastik berwarna b geelap, agar tiddak tembus cahaya c dan k kemungkina an gangguann dari luar. Jarakantaraastasiun penngamatan 200 m dalam dan cara s setiap blokk. Berikut ini bagian-bagian darii stasiun pengamatan p p pemasangan nnya di KIJP P Pakuwon (G Gambar 1 daan 2). a b c G Gambar 1 Perakitan P Staasiun Pengaamatan: (a) potongan p kayyu pinus (1 cm × 2 cm ×10 × cm) dibbungkus denngan kertas kardus bekkas, (b) poto ongan pipa PVC P berisi kayu pinus yang terbun ngkus karduus bekas, dann (c) tutup dari d bahan plastik (waater strainer) sebagai penutup paada bagian permukaan p s stasiun pengamatan. I Identifikasi i Rayap Seranngga yang digunakan d ddalam penelitian ini adaalah spesiess M. gilvus y yang dikoleksi dari Keb bun Induk JJarak pagar (KIJP) Pakkuwon Sukabbumi Jawa B Barat. Conttoh beberappa individuu rayap (kaasta pekerjaa dan kasta prajurit) d dimasukkan ke dalam m botol berrisi alkoholl 70%. Ideentifikasi dilakukandi d L Laboratorium m Taksono omi Seranggga Departtemen Protteksi Tanam man IPB. 20 Karakkteristik morffologi spesiees rayap ini diketahui beerdasarkan kkunci identiffikasi pengen nalan rayap (Tarumingkkeng 1971). a b Gambar 2 (a) stasiun pengam matan, dan (bb) pemasang gannya di KIJP Pakuwonn. Pelaksanaan P n Penelitian Percobaan ini meenggunakan metode triple m mark recappture technique(Marini & Roberto 1998). 1 Adappun tahapan kerja k dari m metode ini sebbagai beriku ut: Tahap p Pertama pan yang terrserang rayapp dikumpulkkandan dipisahkan rayaapnya Kayu ump dari taanahserta diihitung jum mlahnya. Pew warnaannya menggunakkan kertas tissue t (Whattman No 1) yang telah direndam daalam bahan pewarna neeutral red 0,25% dan niile blue A 0,05% 0 (Harahapet al. 20005). Kertas tissue dium mpankan terhhadap rayap selama 3 haari, sehinggaa diperoleh rrayap warna biru dan meerah (Gambaar 3). Rayap p yang telah h berwarna tersebut dihhitung kembbali jumlahnnya dan kem mbali dilepaskan ke stassiun pengam matan tempaat rayap ditaangkap. Satuu minggu seetelah b yu umpan ddari setiap stasiun s penggamatan kem mbali pelepaasan rayap bertanda.Kay dikum mpulkan. Raayap yang tertangkapp baik yanngberwarna maupun tidak berwarnadihitung kembali. Tahap p Kedua 21 Rayaap yang terrtangkap padda tahap peertama, diw warnai kembbali seperti p prosedur pad da tahap perrtamadan kkembali dileppas ke stasiuun pengamaatan tempat s semula ditanngkap. Sem minggu setelaah pelepasan n diamati keembali. Interval waktu t tahap pertam ma dengan taahap berikutnnya (kedua dan d ketiga) sselama 10 haari. T Tahap Ketiiga Penaandaan, peleepasan dan penangkapan p n rayap untuuk tahap tigga diulangi s seperti prosedur tahap pertama daan kedua. Peendugaan ukkuran populasi koloni r rayap M. gillvusdigunakaan metode B Begon (Marin ni & Robertoo 1998) yaitu u: N = (∑Mi.nni)/[(∑mi)+1] S = N/{[1/(∑mi)+1)]+{(2/((∑mi)+ SE +1)2+[(6/(∑m mi)+1)3]}1/2 d dimana: N = Uk kuran populaasi. S SE = Sim mpangan Baaku. ni = Jum mlah keselurruhan rayap yang tertanggkap pada peenangkapan ke-i. mi = Jum mlah rayap bertanda b yanng tertangkap p pada penanngkapan ke--i. Mi = Jum mlah total raayap bertandda sampai peenangkapan kke-i a b G Gambar 3 Rayap R M. giilvus yang teelah diwarnaii dengan (a)) neutral redd 0,25 % dan d (b) nilee blue A 0,055%. 22 Hasil dan n Pembahasan 1. Id dentifikasi Rayap R Semua conntoh rayap yang y dijumpaai di stasiun n pengamatann pada blok I, II, dan IIII di KIJP Paakuwon adallah Macroterrmes gilvus Hagen (Tabel 1). Tabel 1 Spesies raayap dari staasiun pengam matan di KIJJP Pakuwon.. Blook I III IIII Jumllah stasiun penngamatan 23 9 45 Spessies rayap Macroteermes gilvuss Macroteermes gilvuss Macroteermes gilvuss Bahan ideentifikasi adaalah rayap kkasta pekerjja, kasta praajurit minorr dan mayorr (Gambar 4)). a b c Gambar 4 Rayap p Macroterm mes gilvus (aa) kasta pekeerja (b) kastta prajurit minor (c) kassta prajurit mayor m 2. U Ukuran Popu ulasi Kolonii Rayap Maacrotermes gilvus g Hagen n Hasil penggamatan meenunjukkan bahwa ukuuran populaasi koloni rayap r M..gilvvus di KIJP Pakuwon digolongkan kepada ukurranpopulasi koloni besarr dan ukurann populasi koloni k kecil. Persentase uukuran popuulasi koloni bbesar pada blok b I sebesaar 25% (A) dan d 75% kolloni kecil (B B,D,E,F,G,H H) (Gambar 55). Blok II hanya h terdiri dari satu ko oloni besar (A A) (Gambarr 6). Blok IIII 13,13% koloni besar (A A, B) dan 866,87% kolon ni kecil(D,E,F F,G,H,I,J,K,,L,M,N dan O) (Gambarr 7) 23 Tabel 2Ukuran populasi koloni rayap Macrotermes gilvus Hagen di KIJP Pakuwon. No Blok I II III Jumlah Jumlah Koloni 8 1 15 24 Ukuran Populasi (N) 150.388 59.219 149.459 359.066 Luas areal (m2) 15.210 5.700 27.000 47.910 Ukuran populasi koloni tiap blok berbeda. Persentase koloni pada blok I, II, dan III termasuk koloni ukuran kecil 73,17%, sedangkan 20,83% termasuk koloni ukuran besar (Tabel 2).Karakteristik koloni rayap M. gilvus di KIJP Pakuwon banyak didominasioleh kasta pekerja dan hanya dalam jumlah kecil terdapat kasta prajurit. Hal inimenunjukkan bahwa kasta pekerja berperan penting terhadappembangunan sebuah koloni terutamakoloni yang baru terbentuk. Di KIJP Pakuwon jugaterdapat koloni rayap M. gilvusyang mempunyai kasta prajurit hampir seperempat dari jumlah kasta pekerja. Hal inididuga karena banyaksemut di sekitar stasiun pengamatan sebagai musuh utama rayap.Ratu dalam koloni tersebutmenghasilkan lebih banyak kasta prajurit untuk melindungi anggota koloninya dari serangan semut. Pada koloni yang tidak terdapat sarang semut jumlah kasta prajurit minor sangat sedikitbahkantidak terdapat kasta prajurit mayor. 24 100.000 90.000 88.062 Ukuran populasi koloni 80.000 70.000 60.000 50.000 40.000 30.000 23.819 20.000 16.478 10.000 3.436 3.132 4.572 5.699 5.190 D E F G H 0 A B C Koloni Rayap Macrotermes gilvus Gambar 5 Ukuran populasi setiap koloni rayap M. gilvus pada blok I Ukuran populasi koloni 70.000 59.219 60.000 50.000 40.000 30.000 20.000 10.000 0 A1 Koloni rayap Macrotermes gilvus Gambar 6 Ukuran populasi setiap koloni rayap M. gilvus pada blokII 25 35.000 32.913 Ukuran Populasi Koloni 30.000 25.000 21.061 17.675 18.469 20.000 15.799 13.834 15.000 7.394 10.000 5.275 5.045 904 570 5.172 4.369 5.000 540 439 0 A B C D E F G H I J K L M N O Koloni Rayap Macrotermes gilvus Gambar 7 Ukuran populasi setiap koloni rayap M. gilvus pada blokIII Ukuran populasi koloni rayap diduga tergantung pada umur ratu (umur koloni), semakin tua umur ratu maka kapasitas untuk meletakkan telur akan lebih tinggi demikian juga sebaliknya semakin muda umur ratu, kemampuan untuk meletakkan telursemakin rendah. Menurut Faulet et al. (2006)ukuran populasisebuah kolonirayap dengan jumlah individu kurang dari 20.223 individu (50% kasta pekerja dan 10% kasta prajurit) termasuk dalam koloni ukuran kecil, sedangkan lebih besar dari ukuran tersebut dikelompokkan ke dalam koloni ukuran besar. Ukuran populasi koloni dipengaruhi oleh umur ratu dan lingkungan sertaadanya gangguan organisme lain seperti semut (Khrisna &Weesner 1969). Lee at al. (2007) menambahkan bahwaapabila lingkungan tidak mendukung maka ukuran populasi koloni rayap tidak akan meningkat bahkan semakin rendah.Berbagai faktor lingkungan seperti tanah, tipe vegetasi, iklim, dan ketersediaan air, sangat mempengaruhi ukuran populasi koloni rayap. Lingkungan KIJP Pakuwon dengan ciri tingkat kelembaban relatif 76 sampai 88%, suhu permukaan22-26°C, sirkulasi udararelatif lebih baik, 26 kandungan bahan organik banyak sangat menunjang perkembangan populasi koloni rayap Simpulan 1. Jenis rayap yang dijumpai di KIJP Pakuwon adalah Macrotermes gilvus. 2. Ukuran populasi koloni rayap M. gilvusdi KIJP Pakuwon sebesar 359.066 individu dari 24 koloni. 3. Umumnya lebih banyak terdapat koloni ukuran kecil dibandingkan koloni ukuran besar. Daftar Pustaka Faulet BM, Niamke S, Gonnety JT, Kouame LP. 2006. Purification and biochemical properties of a new thermostable xalanase from symbiotic fungusTermitomyces sp. African Journal of Biotechnology 5(3): 273-282. Harahap IS, Benson EP, Zungoli PA, Adler PH, Hill HS. 2005. Inter-and intracolony agonistic behavior of nativesubterranean termites, Reticulitermes flavipes and Reticulitermes virginicus (Isoptera: Rhinotermitidae). Sociobiology 46: 305-316. Khrishna K, Weesner FM. 1969. Biology of Termites.Volume II. New York: Academic Press. Krebs J. 1978. Ecology the Experimental Analysis of Distribution and Abundance.Second Edition.Harper and Row Publisher. New York. Lee CY, Vongkaluang , Lenz M. 2007. Challenges to subterranean termite tunnel branches for efficient food search and resource transportation. BioSystems 90:802-807. Marini M, Roberto F 1998. A Population survey of the Italian subterranean termite Reticulitermes lucifuguslucifugus Rossi in Bacnacavallo (Rovenna, Italy) using the Triple Mark Recupture Techninque (TMR). Zoological sciencie 15:963-969 Nandika D, Rismayadi Y, Diba F. 2003. Rayap, biologi dan pengendaliannya Surakarta.Muhammadiyah University Press. Riklefs H. 1990. Ecology.Third Edition. W.H. Freeman and Company. New York. 27 Tarumingkeng R. 1971. Biologi dan Pengenalan Rayap Perusak Kayu di Indonesia. Laporan Lembaga Penelitian Hasil Hutan. No. 138. Bogor. Tarumingkeng R. 1992. Insektisida: sifat, mekanisme kerja dan dampak penggunaannya. Ukrida Press. Jakarta. Tarumingkeng. R. 2001.Biologi dan Perilaku Rayap.http://tumoutou.net/ biologi_dan perilaku_Rayap. htm. PSIHIPB [7 Februari 2008] 28 BAB IV DAYA JELAJAH RAYAP Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) DI KIJP PAKUWON SUKABUMI JAWA BARAT [The foraging range of Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) in KIJP Pakuwon Sukabumi West Java] Abstrak Daya jelajah maksimum rayap Macrotermes gilvus Hagen dipengaruhi oleh faktor lingkungan terutama sumber makanan yang tersedia pada habitatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari daya jelajah maksimum rayap M. gilvus di KIJP Pakuwon. RayapM. gilvusditangkapdari stasiun pengamatan, dipisahkan dari tanah dan diwarnai denganneutral reddan nile blue.Rayap berwarna kemudian kembali dilepaskan pada stasiun pengamatan dan seminggu kemudian diamati. Rata-rata daya jelajah maksimum rayap M. gilvussejauh 140,5 m Kata kunci : Macrotermes gilvus, daya jelajah,KIJP Pakuwon Abstract The maximum foraging range of M. gilvusinfluenced by environmental factors especially the availability of food resourcesin their habitat. The aim of this reseacrh was to study the maximum foraging range of M.gilvus in KIJP Pakuwon. The reseacrh was carried out by capturing M. gilvus from observation stations separated from the soil and marked with neutral red and nile blue. Marked termites then released back to the station and observed a week later. Average maximum foraging range of M. gilvus extent to140,5 m. Key word: Macrotermes gilvus, foraging range, KIJP Pakuwon. 29 Pendahuluan Wilayah jelajah didefinisikan sebagai daerah yang dikunjungi oleh organisme secara tetap kerena tersedia sumber makanan dan dapat berfungsi sebagai tempat berlindung, beristirahat, dan bereproduksi (Moen 1973, Alikodra 1990).Beberapa spesies rayap memiliki daya jelajah lebih luas untuk mendapatkan sumber makanan. Perilaku persentuhan fisik dan bau yang dikeluarkan melalui jejak dari individu rayap untuk disampaikan kepada anggota koloninya merupakan suatu mekanisme penyampaian informasi terhadap sumber makanan yang baru ditemukan (Pearce 1997). Mempelajari daya jelajah rayap tanah mengalami kesulitan karena hampir semua aktivitasnya di bawah permukaan tanah (Su et al. 1994).Pendugaan daya jelajah rayap dapat dilakukan dengan menggali galeri rayap(King & Spink 1969) atau menggunakan penanda radioisotop (Spragg & Paton 1980). Sornnuwat et al. (1996) menyatakan bahwakedua cara tersebut kurang efektif digunakan untuk mempelajari daya jelajah rayap. Metode tanda-lepas-tangkap (mark-releaserecapture method) telah banyak digunakan untuk melakukan penelitian terhadap daya jelajah rayap (Su et al. 1994, Su et al. 1991, Sornnuwat et al. 1996). Beberapa bahan penanda sangat efektif digunakan untuk penelitian daya jelajah rayapC. formosanus seperti neutral red dan nile blue A (Su et al. 1991). Bahan dan Metode Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan sejak Nopember 2009 sampai Juli 2010 di Kebun Induk Jarak Pagar (KIJP) Pakuwon, Sukabumi, Jawa Barat. Perakitan Stasiun Pengamatan dan Pemasangannya Cara kerja sama seperti yang telah diuraikan pada BAB III Pelaksanaan Penelitian Seluruh stasiun pengamatan yang terdapat pada blok II diberi nomor 1 sampai 9. Stasiun pengamatan tersebut kemudian diundi sehingga akan terpilih 30 dua stasiun pengamatan sebagai tempat pelepasan awal. Rayap yang terdapat pada stasiun pengamatan terpilih (3 dan 9) dikoleksisecara terpisah dan diwarnai melalui pengumpanan menggunakan kertas saring yang telah direndam ke dalam neutral red (0,25 %) dan nile blue A (0,05%) dalam Petridishsecara terpisah (Harahap et al. 2005) selama tiga hari (Tabel 3). Setelah berwarna merah dan biru, rayap dilepas kembali di stasiun pengamatan tempat semula. Pengamatan terhadap daya jelajah maksimum rayap M. gilvusdilakukan mulai dari blok II(stasiun pengamatan tempat pelepasan rayap bertanda) hingga pada blok I dan blok III (stasiun pengamatan tempat ditemukan kembali rayap bertanda) menggunakan alat ukur meteran pita 50 m (Gambar 12). Tabel 3 Stasiun pengamatan terpilih untuk menduga daya jelajah rayap M. gilvus. Nomor stasiun Rayap tertangkap 3 9 556 495 Tanda Merah 556 Lepas Biru 495 Merah 482 Biru 411 Hasil dan Pembahasan Rayap M. gilvus melakukan daya jelajah untuk mendapatkan sumber makanan dan sangat ditentukan oleh lingkungan yang optimal. Rata-rata jarak linier daya jelajah rayap M. gilvus pada blok I sejauh 140,5 m (324,25 individu) dari luas areal 15.210 m2 (Gambar 8), dan blok III sejauh 140 m (311,26 individu) dari luas areal 27.000 m2 (Gambar 9). Cara pengukuran daya jelajah rayap M. gilvus pada (Gambar 13). Sedangkan hasil pengamatan daya jelajah setiap koloni dari blok (I dan III) dapat di lihat pada Gambar (4 dan 5). Rayap M. gilvusmelakukan daya jelajah lebih jauh pada blok I diduga pengaruh dari beberapa faktor lingkungan terutama makanan yang tersedia sangat terbatas (Gambar 10). Di blok Ipertumbuhan tanaman jarak pagar kerdil dengan kerapatan tajuk tananam lebih rendah dan luas kanopinya lebih sempit. Tidak terdapat serasah dari sisa tanaman seperti daun dan cabang yang patah pada habitat tersebut. Sanitasi gulma dilakukan secara berkelanjutan di sekitar pangkal akar tanaman jarak pagar.Kesemua faktor-faktortersebut dapat menyebabkan 31 Jarak jelajah (m) 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 169 m 155 m 114 m 22 28 32 124 m 36 Stasiun Penngamatan Jarak Jelajah (m) G Gambar 8 dayya jelajah raayap Macrotermes gilvuss pada blok I 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 165 m 110 m 18 160 m 125 m 25 29 42 Staasiun Pengamaatan Gaambar 9 day ya jelajah rayyap Macroterrmes gilvus pada blok IIII Gambar 10 Kondisi tanaman t jaraak pagar padda blok I 32 Gambar 11Kondisi tan naman jarakk pagar pada blok III cahayaa mataharri langsunng dapat menyinarri permukkaan tanahh,dan meninngkatkansuhuu permukaaan tanah dan rendaahnya tingkkat kelembbaban tanah.K Kondisi haabitat ini kuurang efekttif dan kurrang disukaai rayap. Untuk U menem mukan habittat yang opttimal rayap M. gilvushaarus melakukkan daya jeelajah hinggaa dapat meneemukannya. Pada blok III daya jeelajah rayap M. gilvusleebih dekat, ddiduga penggaruh dari beeberapa fakttor lingkunggan seperti jeenis tanah laatosol dan kkandungan bahan b organiik.Pertumbuhhan tanamaan jarak paggar lebih effektif (tanam man lebih tinggi, jumlahh cabang dan d daunnyaa lebih bannyak) yang berkorelasii positif deengan perkem mbangan kaanopi tanam man (Gambbar 11).Cahhaya matahhari tidak dapat d langsuung menyinari permukaaan tanah karena k terhaambat oleh kerapatan tajuk tanam man dan kannopinya.Sisaa tanaman sseperti serassah dari daaun atau caabang tanam man yang tellah mati dann jatuh dipeermukaan taanah dapat bberperan seb bagai mulsa dan mening gkatkan kanddungan bahaan organik taanah yang berkorelasi positif n meningkattnya kesuburran tanah. dengan Dari uraiann tersebut daapat disimpuulkan bahwa kondisi habbitat pada blook III ini san ngat optimaal terhadap rayap r M. gilvus, karenaa kuantitas ssumber makkanan yang tersedia t sang gat maksimaal. Bila sumbber makanan n telah habis kasta pekerjjanya akan berjelajah b u untuk menem mukan sum mber makanaan lain denngan membeentuk tabung g kembara. Daya jelajah rayap saangat ditenttukan oleh kualitas haabitat, semak kin baik kuallitas habitat akan semakiin dekat day ya jelajah rayyap, dan sem makin 33 r rendah kualiiatas habitat maka semaakin jauh dayya jelajahnya. Menurut Nandika N et a (2003) daaya jelajah rayap al. r berlangsung secaraaacak dengaan meletakkaan feromon p penanda jejaak. Namun beberapa b fakktor lingkunngan seperti suhu dan kelembaban k s sangat meneentukan agarr berhasil meelakukan dayya jelajah. T Tabung kembbarasebagai s salah satu caara rayap un ntuk mengatuur suhu dalaam melakukan daya jelaajah (Liu et a 2007). Tabung al. T kembbaraberfungssi untuk mellindungi dirii dari lingkuungan yang t tidak menguuntungkan serta untuk mendeteksi m bila b ada ganngguan dari luar, serta s sebagai salaah satu strattegi pengheematan energgi pada saaat melakukan n foraging r range. Tabu ung kembaraa dibuat daalam jumlahh banyak, diimana tabun ng kembara p pertama beraada dekat deengan saranggnya, Semenntara kelanjuutannya disebut cabang d tabung kembara (L dari Li & Su 2008). Banyaknnya tabung kkembara menjadi salah s satu ciri darri banyaknya sumber makanan m yan ng ditemukann pada lokaasi tersebut ( (Hoi 2007). r M. gilvus menggunakan Gambarr 12 Pengukkuran dayaa jelajah rayap meteraan pita ukuraan 50 m. Dari hasil penelitian ini teelah diketahhui kemamppuan jarak linier l daya j jelajah makssimum. Oleh h karena itu tteknik pengeendaliannya dengan mem manfaatkan a agens hayatii cendawanM M. brunneum m yang diapllikasikan pada stasiun pengamatan p d dari setiap koloni, mu ulai dari rayyap berjelajjah hingga melebihi kemampuan k m maksimum daya jelajahhnya. Harappannya akann terjadi trannsfer agens hayati (M. b brunneum) d satu inddividu ke inndividu lainn dari nya dalam seetiap kolonii. Sehingga s setiap indiviidu rayap darri setiap kolooni dapat terrinfeksi dan mengalami kematian. k 34 Simpulan Rata-rata daya jelajah maksimum rayap M. gilvusdi KIJP 140,5 m. Daftar Pustaka Alikodra HS. 1990. Pengelolaan Satwa Liar. Jilid I. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat IPB. Bogor Harahap IS, Benson EP, Zungoli PA, Adler PH, Hill HS. 2005. Inter-and intracolony agonistic behavior of nativesubterranean termites, Reticulitermes flavipes and Reticulitermes virginicus (Isoptera: Rhinotermitidae). Sociobiology 46: 305-316. Hoi YB 2007. Tunneling behaviour and barrier penetration of subterranean termites with special reference to Coptotermes gestroi (Wasmann) (Isoptera: Rhinotermitidae) [tesis]. Malaysia: University Saint Malaysia. King FG, Spink WT 1969. Foraging galleries of the formosan termite Coptotermes formosanus in Louisiana.Ann Entomol Society. Vol 62. Li HF, Su NY. 2008. Sand displacement during tunnel excavation by the fermoson subterranean termite (Isoptera: Rhinotermitidae). Ann Entomol. Soc Am. 101(2):456-462. Liu X, Monger HC, Whitford WG. 2007. Calcium carbonate in termite galieries biomineralization or upward transport. Biogeohemistery 82:241-250. Moen AN. 1973. Wildlife of Ecology. W.H. Freeman Company. London. Nandika D, Rismayadi Y, Diba F. 2003. Rayap Biologi dan Pengendaliannya. Surakarta: Muhammadiyah University Press Pearce MJ. 1997. Termites: Biology and Management. New York. CAB International. Sornnuwat, Y. 1996. Studiet on damage of contruction caused by subterranean Termites and its Control in Thailand.Royal Forest Departement. Bangkok. Spragg WT, Paton R.1980. Tracing trophallaxis and measurement of colonies of subterranean termite (Isoptera) using a radioactive tracer. Ann J EntomolSociety.Vol 72. Su NY, Ban RM, Scheffrahn RH.1991. Evaluation of dyes marker for population studies of the eastern and formoson subterranean termites (Isoptera:Rhinotermitidae). Sociobiology.Vol 19. Su NY, BanRM, Scheffrahn RH,1994. Field evalution of hexaflumoron bait for population suppresion of subterranean termite (Isoptera: Rhinotermitidae).J Economic Entomology. 87(2):389-397.USA 36 BAB V STUDI SIMTOMATOLOGI DAN WAKTU KEMATIAN RAYAPMacrotermes gilvus Hagen (ISOPTERA:FAMILI TERMITIDAE) SETELAH INFEKSI CENDAWAN Metarhizium brunneum Petch [Symptomatology and lethal time studyof MacrotermesgilvusHagen(Isoptera: Termitidae)after infection by MetarhiziumbrunneumPetch] Abstrak Cendawan Metarhizium brunneum sebagai agen biokontrol yang berpotensi terhadap rayap Macrotermes gilvus telah diuji secara kualitatif di laboratorium. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari simtomatologi dan waktu kematian rayap M. gilvus setelah infeksi cendawan M. brunneum. Kerapatan konidia 1,21x106 konidia/mL lebih efektif untuk menghasilkan mortalitas rayap M. gilvus dibandingkan 1,08x106 konidia/mL. M. gilvus setelah mengalami kematian akibat infeksi cendawan M. brunneum tubuhnya berwarna gelap. Miselia mulai menembus permukaan integumen pada hari ke-4 dan pada hari ke-7 seluruh permukaan integumen hampir tertutupi seluruhnya oleh miselia. Mortalitas mulai muncul pada hari ke-2, dan mortalitas tertinggi dicapai pada hari ke-7. Waktu kematian 50% populasi rayap M. gilvus (LT50) dicapai pada 5 hari (5,14), dan LT95 dicapai pada hari ke 10 (10,03). Kata kunci:simtomatologi,infeksi, waktu kematian, M. brunneum, M. gilvus. Abstract The potential of entomopathogenicMetarhiziumbrunneumas biocontrol agent to termiteMacrotermes gilvus, has been tested in the laboratory. The purpose of thisresearch is to study the symptomatology and lethal time of the M.gilvus after infection by M. brunneum. The density of conidia at 1,21×106conidia/mL showed as effective concentration in causing M.gilvus mortality, when compared to1,08×106conidia/mL, and control. The infection stage of M. brunneun on the host until the death of its host occurred on day 2, and the sporulation of M. brunneum on the surface of the host integument occur on day 4. The entire surface of M. gilvus was covered by the mycelium and conidia of M. brunneum on day 7. Lethal time50% of population of M. gilvus(LT50) was achieved in5 days(5,14), andLT95achievedonday 10(10,03). Keyword:symptomatology, infection, lethal time, M. brunneum, M. gilvus. 37 Pendahuluan Rayap Macrotermesgilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) merupakan salah satu spesies hama penting pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas). Serangga ini mulai merusak tanaman dari bagian akar hingga permukaan batang tanaman dengan membuat tabung kembara dari bahan tanah yang mengakibatkan tanaman terluka, patah dan mati.Serangan hama ini harus segeradikendalikan walaupun tingkat serangannya kurang dari 10% tetapi segera harus dikendalikan agar tidak melebar ke tanaman lain (Asbani et al. 2007). Selama ini di Indonesia pengendalian terhadap rayap hama menggunakan insektisida sintetik, seperti Blokade 100 EC, Lentrek 400 EC, dan Premise 200 SL (Nandika et al. 2003). Namun sebagian masyarakat mulai menyadari dampak negatif akibat penggunaan insektisida sintetik, seperti meningkatnya resistensi hama, ledakan hama sekunder, meningkatnya resiko keracunan pada hewan ternak, menurunnya biodiversitas, serta keracunan terhadap manusia dan lingkungan (Butt2001). Alternatif pengendalian cara lain yang ramah lingkungan dan mulai banyak menarik perhatian para peneliti, salah satunya adalah penggunaan cendawan entomopatogen (Yoshimura et al. 1992, Yoshimura & Takahashi 1998, Desyanti 2007). Melalui eksplorasi dan uji hayati terhadap rayap tanah Coptotermes spp telah ditunjukkan keefektifan cendawan Metarhizium brunneum isolat lokal (Desyanti 2007). Desyanti (2007) menguji keefektifan cendawan entomopatogen M. brunneumdengan kerapatan konidia 1,21x106/mLdan ternyata hasilnya sangat efektif untuk mengendalikan rayap Coptotermes gestroi dan Coptotermes curvignathus, dibandingkan beberapa jenis cendawan entomopatogen lainnya seperti Metarhizium anisopliae, Beauveria bassiana, Fusarium oxysporum, dan Aspergillus flavus. Penelitian Desyanti (2007) dilakukan sebagai uji awal yang tidak terlalu kuantitatif dan belum memberikan informasi tentang waktu kematian dan simtomatologi. Pada penelitian ini akan dipelajari kecepatan infeksi yang di ukur melalui waktu kematian dan simtomatologi rayap M. gilvus setelah aplikasi cendawan M. brunneum di laboratorium. 38 Bahan dan n Metode Waktu u dan Temp pat Penelitian ini dilakksanakan ddi Laborato orium Patoologi Seranngga, Deparrtemen Proteeksi Tanaman n, Fakultas P Pertanian, Innstitut Pertannian Bogor, yang dimulaai dari bulan n Januarisam mpai Maret 20010. Rayap p Macroterm mes gilvus Serangga yang y digunakkan dalam ppenelitian inii adalah rayaap M. gilvus yang dikoleeksi dari Kebbun Induk Jaarak pagar (K KIJP), Pakuuwon, Sukabumi, Jawa Barat. B Rayap p contoh diam mbil dari saatu koloni seehingga dapaat dikatakan berasal darii satu spesies M. gilvuss (Gambar 13). Pemeliharaan rayap dilakukaan dalam caawan Petribeerisikan kerrtas kardus sebagai pakkan yang tellah dilembab abkan dengaan air steril, kemudian di bungkuss dengan kertas k koran n, yang diteempatkan dalam d n terhindar dari sinar mattahari. ruangaan gelap dan a b Gamb bar 13 RayaapMacroterm mes gilvus (a) kasta prajuurit (b) kasta pekerja. Cenda awan Metarrhizium bru unneum Cendawan n entomopaatogen M. brunneum yang y digunaakan meruppakan kolekssi laboratoriuum Patologii Serangga, Departemen D Proteksi Taanaman, Fakkultas Pertan nian, Institutt Pertanian Bogor (IPB B). Cendawaan diperbannyak pada media m PDA, dengan kom mposisi 200 g kentang, 220 g dextrosee, dan 200 g agar dapur yang wan ditumbbuhkan dalam m inkubator pada dilaruttkan dalam 1 liter air. Biiakan cendaw suhu ± 25°C. 39 P Penyiapan s suspensi Cenddawan M. brunneum m digunakan n untuk perrlakuan apaabila telah b berumur 21 hari. Konidiia yang terbeentuk dikero ok dengan kuuas halus steeril yang di b basahi dengan air steril kemudian dimasukkan d kedalam tabbung reaksi yang y berisi a steril denngan menam air mbahkan Tw ween 20 deng gan konsentrrasi 0,1 ppm m. Suspensi c cendawan t tersebut diko ocok mengggunakan vorttex selama 30 3 detik dann kerapatan k konidianya dihitung menggunakan m n haemocytoometer merkk Neubauerr-Improved u untuk men ndapatkan kerapatan k 11,21x106kon ndia/mL (G Gambar 14).Kerapatan k konidia 1,211x106/mL addalah estimaasi LC95 yangg telah diperroleh Desyaanti (2007). D Dalam penellitian ini, diggunakan juga kerapatan konidia LC85 8x106/mL. 8 , yaitu 1,08 G Gambar 14K Konidia cenndawan M Metarhiziumbrunneum ddiamati menggunakan mikroskop optik merk Olympus (C CX21FS1)deengan pembeesaran (400 x). R Revirulensi i Metarhiziu um brunneu um Virulensi meru upakan keemampuan suatu miikroorganism me untuk m menimbulka an penyakit terhadap t inaangnya. Isolaat cendawan M. brunneuum sebagai k koleksi labboratorium telah lamaa tersimpan n, sehinggaa kemampuuan untuk m menginfeksi i inangnya sudah s menuurun. Oleh karena k itu teerhadap cend dawan M. b brunneum p perlu dilakukkan reviruleensi kembalii terhadap iinangnya, ag gar tingkat p patogenisita snya kembaali efektif. B Biasanya isollat yang viruulen untuk mematikan m i inangnya m membutuhkan n waktu leebih cepat, sedangkan yang kuranng virulen m membutuhka an waktu lebbih lama (Taanada & Kayya 2003). Prosees revirulennsi dilakukaan dengan menangkap m sejumlah 55 individu r rayap M. gillvus (50 indiividu dari kaasta pekerja dan 5 indiviidu dari kastta prajurit). 40 Rayap tersebut dicelupkanke dalam suspensi konidia M. brunneum yang telah disiapkan dalam cawanPetri pada kerapatan 1,21x106konidia/mL, dan ditempatkan dalam cawan Petri lain yang berisikan kertas saring lembab sebagai pakan. Kemudian dibungkus dengan kertas koran agar terlindungi dari cahaya, dan diinkubasikan pada suhu kamar selama tiga minggu. Kadaver rayap yang telah terkoloni cendawan M. brunneum dipindahkan ke tabung reaksi yang telah disterilkan, diisolasi dan dimurnikan pada media PDA. Setelah mendapatkan isolat murni, cendawan diperbanyak untuk penelitian berikutnya. Uji Hayati Waktu Kematian (LT) Percobaan ini terdiri dari tiga perlakuan (1,21x106 konidia/mL, 1,08x106 konidia/mLdan kontrol). Tiap perlakuan diulang empat kali. Untuk setiap ulangan dari masing-masing perlakuan digunakan 55 individu rayap M. gilvus (50 individu kasta pekerja dan 5 individu kasta prajurit).Rayap dicelupkan kedalam suspensi cendawan M. brunneum selama 4 detik dengan kerapatan konidia telah ditetapkan sebelumnya, kecuali kontrol hanya menggunakan aquades steril (Desyanti 2007). Setiap unit ulangan dari masing-masing perlakuan disimpan pada suhu kamar antara 26-28°C dengan kelembaban relatif 70 sampai 95% pada kondisi gelap. Pengamatan dilakukan setiap hari selama tujuh hari menggunakan mikroskop optik merk Olympus (CX21FS1)terhadap simtomatologi dan mortalitas rayap. Pada hari kelima perkecambahan konidia cendawan M. brunneum pada integumen tubuh inang diamati dengan menggunakan Scanning Microscope Electron (SEM) type JSM 5310 LV Japan di laboratorium zoologi LIPI Cibinong. Analisis Data Data dianalisis berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan program SAS versi 6,12. Bila terdapat perbedaan di antara perlakuan maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda (Duncans’s Multiple Range Test) pada taraf nyata 0,05. Hubungan kerapatan konidia dengan mortalitas dan waktu aplikasi diduga menggunakan analisis probit (Finney 1971). 41 Haasil dan Pem mbahasan 1 1. Simtom matologi Rayap Macrrotermes gilvus g Hagensetelah Terinfeksi Cendaw wan Metarh hizium brunneum Petch h Setellah aplikasi cendawan M. M brunneum m terhadap rayap M. gilvus maka menjadi lam g gerakannya mbat.Beberaapa saat settelah mengaalami kemattian warna t tubuhnya beerubah menjadi gelap, dan d belum teerlihat tandaa pertumbuhhan miselia p pada permuukaan inang g (Gambar 15a).Tanadaa dan Kayaa (1993) meenyebutkan b bahwa setellah terjadi infeksi, i inanng menjadi kurang aktiif, gelisah atau a stress. A Apabila telaah memasukii tahap akhirr infeksi, ray yap menjadi lemas, diam m di tempat, d dan mati. Namun N padda awal kem matian miselia belum kelihatan jelas j pada p permukaan t tubuh inang (Desyanti 20007). (b) (a) G Gambar 15 (a) kadaveerM. gilvusbberubah meenjadi gelapp setelah diiinfeksioleh konidia M. brunnneum, (b)) cendaw wan M. brunneum mulaiberkeecambah padda bagian abdomen dan m mandibelnyaa. Orgaan infektif berupa konnidia (Gambbar 14) berperan pentting untuk m menimbulka an kematian terhadap inaang dengan menempel dan d berkecam mbah pada i integumen inang, i kemuudian berpennetrasi dan menyerang m s seluruh jarinngan tubuh i inang mengg gunakanhifaa penetran (ap apresorium). Menuurut Ferronn (1985) infeksi kon nidia cendawan entom mopatogen d diawalideng gan kontakkantarapropaagul cendaw wan dengaan tubuh serangga. K Kemudian propagul berkecambah b h pada inteegumen serrangga.Apab bilakeadaan l lingkungan optimal, dengan d meemanfaatkan n senyawa kimia yaiitu enzim, c cendawanme empenetrasi melalui kuttikula danmaasuk dalam tuubuh inang. 42 (a) (b) Gambar16Pengam matan dengaanscanning electron microscope((JSM 5310 LV, Japann)pembesaraan5000×, (a) miselia kelu uar dari inteernal tubuh inang i melaalui lubang alami (b) miselia hampir meenutupi selluruh perm mukaan tubuhh inang. Gambar tubuh raayap M. gilvus 17Koniidiapada permukaan p mengggunakanSEM M(JSM 5310 L LV, Japan) pembesaran5000×. diaamati Pengamataan hari ke-3 menunjukkaan miselia beelum keluar pada permuukaan integuumen inang. Pada pengam matan hari ke-4 k miselia mulai tumbuuh terutama pada mandiibel dan beberapa segmeen pertama abdomen. a Seedangkan di beberapa baagian lain teerutama pad da bagian keepala dan bbeberapa seggmen terakhhir dari abdoomen tampak masih jelaas terlihat daan belum terrtutupi selurruhnya oleh miselia (Gambar 15 b). Pada hari ke-5 k perkecaambahan miselia terlihatt dengan jelaas keluar meelalui spiraccledan menembus permuukaan integuumen inang menggunakkan hifa pen netran (apressorium) (Gam mbar 16a), hingga h koniddia mulai keelihatan jelass yang berbeentuk bulat lonjong (G Gambar 17).. Pertumbuhhan miseliaa hampir menutupi m selluruh permu ukaan tubuh inang (Gamb mbar 16b). 43 Padaa hari ke-6 pertumbuhhan cendaw wan tidak berbeda b nyaata dengan p pengamatan y seluruhh permukaann integumen inang telah h diselimuti hari ke-7 yaitu o oleh miselia berwarnaa putih.Padaa bagian annterior (maandibel) dan n pasterior ( (abdomen)ju umlahmiseliaanya lebih padat dib bandingkan dengan baagian lain ( (Gambar 18a). Permukaaan tubuh innang tampak k kering, meengkerut denngan warna g gelap khusu usnya pada segmen terakkhir abdomenyang semaakin mengecil (Gambar 18b). Hal inni diduga caiiran sel darii tubuh inan ng telah diseerap oleh cenndawan M. b brunneum h hingga menjadi kering dan mengerras seperti mumi. m Perkeecambahan m miselia hany ya berlangsung di dalaam internal tubuh inangg, dan diduuga kondisi di luar inteernal tubuh inang kuran l lingkungan ng optimal untuk perkeecambahan m miselia.Men nurut Ferronn (1985) serrangga mati dan kerass seperti muumi akibat c cairan tubu uh inang telahdiserap oleh cendaw wanentomoppatogensebagai nutrisi h hingga kerinng. (b) (a) G Gambar 18IInfeksi koniidia cendaw wan M. brunneum terhadap rayap M. gilvus memasuki tahapan deestruksi (a) hampir seluuruh permukkaan tubuh rayap telahh tertutupi miselia, m dan (b) ( kadaver rrayapkering kehitaman terutama baagian abdom men. (Freimoser Umuumnya serangga sudah m mati sebelum m proliferasi blastospora b e al. 2003). Terjadi peerubahan biookimia dalam et m hemolimffa terutama kandungan p protein, deefisiensi nuutrien, suaatutoksinyangg dikeluarkkan oleh cendawan ( (beauverisin n, beauverollid, bassiooliid, isarolit dan d asam okksalat) yang membantu m merusak jariingan internnal tubuh rayyap dan men nyebabkan terjadinya paaralisis dan k kematian (Tanada & Kaaya 1993). 44 Secara skematis Ferron (1985) menjelaskan empat tahap etiologi penyakit serangga yang disebabkan oleh aktivitas cendawan entomopatogen yaitu: Tahapan Infeksi Penjelasan Inokulasi: Kontak konidia (propagul infektif) cendawanM.brunneum dengan serangga inang dan senyawa mukopolisakarida berperan penting pada proses ini (Barnett & Hunter 1972). Penempelan dan Proses ini dipengaruhi oleh kelembapan udara yang tinggi, perkecambahan dan air diperlukan untuk perkecambahan propagul infektif konidia: dengan memanfaatkan senyawa-senyawa yang terdapat pada integumen inang sebagai nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangannya (Ferron 1985). Penetrasi dan invasi: CendawanM. brunnuem dalam melakukan penetrasi menembus integumen inang dengan membentuk tabung kecambah berupa hifa penetran (appresorium) dan masuk ke dalam hemoseldengan cara mekanis dan kimiawi mengeluarkan enzym dan toxin.Titik penetrasi dipengaruhi oleh konfigurasi morfologi integumen (Bidochka et al. 2000). Destruksi: Titik penetrasi akan terbentuk blastospora, kemudian beredar ke dalam hemosel membentuk hifa sekunder dan menyerang jaringan lainnya (Strack 2003), seperti jaringan lemak, sistem syaraf, trakhea, serta saluran pencernaan. Umumnya serangga sudah mati sebelum proliferasi blastospora, karena cendawan mengeluarkan senyawa metabolit misalnya enzim lipase, khitinase, amilase, proteinase, pospatase, dan esterase (Freimoser et al. 2003). Terjadi perubahan biokimia dalam hemolimfa terutama kandungan protein, defisiensi nutrien, adanya toxin dikeluarkan oleh cendawan (beauverisin, beauverolid, bassioolid, isarolit dan asam oksalat) yang membantu merusak jaringan internal tubuh rayap dan 45 menyebabkan terjadinya paralisis dan kematian (Santoso 1993; Tanada & Kaya 1993). 2. Mortalitas Serangga Uji Konsentrasi letal (LC) adalah konsentrasi yang dapat membunuh suatu populasi organisme dengan jumlah tertentu yang dinyatakan dalam persen (%). Untuk mengetahui hubungan regresi kerapatan konidia/mL dengan mortalitas dilakukan analisis probit (Finney 1971). Aplikasi cendawan M. brunneum dengan kerapatankonidia 1,21x106/mL dan 1,08x106konidia/mL efektif untuk menghasilkan mortalitas (Tabel 1). Pengamatan pada hari pertama setelah aplikasi cendawan M. brunneum dengan kerapatan konidia 1,08x106/mL dan 1,21x106konidia/mLterhadap rayap M. gilvusbelum menunjukkan adanya mortalitas, dan memasuki hari ke-2 mulai menghasilkan mortalitas yang terus meningkat setiap hari.Mortalitas tertinggi untuk setiap kerapatan konidia (1,21x106/mL) dan (1,08x106/mL)terjadi pada hari ke-7(Tabel 4). Tabel4 Mortalitas rayap M. gilvus selama 7 hari setelah aplikasi cendawan M. brunneum. Hari Setelah Perlakuan 1 2 3 4 5 6 7 LC95 0.00 h 2,71 h 9,99 g 24,08 f 40,44 e 63,17 c 85,45 a Mortalitas (%) LC85 0,00 h 1,35 h 3,17 h 11,83 g 26,81 f 47,26 d 78,63 b Kontrol 0h 0h 0h 0h 0h 0h 0h Keterangan:Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada setiap hari pengamatan. Kerapatan 1,21x106konidia/mL menghasilkan mortalitas lebih tinggi dibandingkan 1,08x106 konidia/mL.Kerapatan 1,21x106konidia/mLdiduga menghasilkan toksin lebih besar, sehingga tingkat mortalitas yang dihasilkan lebih tinggi. Dosis aplikasi dan virulensi isolat merupakan faktor yang menentukan terhadap timbulnya mortalitas(Neves & Alves 2004). Setiap spesies 46 cendawan entomopatogen mempunyai tingkat virulensi dan cara untuk menyerang inangnya. Untuk melumpuhkan pertahanan inang cendawan entomopatogen menghasilkan metabolit sekunder berupa toxin, seperti destruxins yang dikeluarkan oleh cendawanM. anisopliae(Amiri-Besheli et al. 2000). Kematian inang akibat infeksi cendawan entomopatogen sangat bervariasi, biasanya terjadi dalam waktu singkat (3 hari), dan selambat-lambatnya 12 hari (Tanada & Kaya 1993). Umumnya kematian inang akibat infeksi cendawan entmopatogen terjadi antara 5 sampai 8 hari, dan sangat tergantung pada ukuran inangnya. Penularan cendawan entomopatogen terhadap inangnya di duga dapat terjadi melalui perilaku grooming yaitu terjadi gesekan atau sentuhan antara sesama individu rayap pada saat berkumpul dalam koloninya, dan menyebabkan tertularnya konidia cendawan M. brunneum dari individu sakit ke individu sehat.Melalui perilaku ini konidia langsung dapat menempel, berkecambah dan berpenetrasi pada bagian antar ruas tubuh serangga inang dengan lingkunganyang optimal. Diperkirakan lewat perilaku grooming cendawan dapat tertular dari satu individu vektor ke individu lainnya(Strack 2003). Penularan konidia cendawan terhadap inangnya juga dapat terjadi melalui perilaku cannibalistic yaitu perilaku rayap memakan kadaver rayap atau individu rayap sakit (tidak produktif lagi terhadap koloninya) dan perilaku yang trophalaxis yaitu perilaku rayap kasta pekerja untuk memberi asupan makanan kepada anggota koloninya, yang mengakibatkan berpindahnya penyakit dari individu yang sakit ke individu yang sehat. Umumnya cendawan tidak bekerja melalui saluran makanan. Hasil penelitian Bayon et al. (2000) dengan metode kontak dan pengumpanan secara langsung dengan menempatkan konidia cendawan M. anisopliae pada rayap Reticulitermes flavipes mampu menghasilkan mortalitas hingga 100% dengan waktu yang dibutuhkan 5 sampai 12 hari. Waktu Kematian (Lethal Time =LT) Lethal Time (LT)adalah waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu populasi sejumlah tertentu yang dinyatakan dalam (%).Hubungan regresi waktu aplikasi dengan tingkat kematian dilakukan Analisis probit yang digunakan untuk menghitung LT(Finney.1971). 47 Tabel5 LT cendawan entomopatogen M. brunneumterhadap M. gilvus. Waktu kematian (LT) (Hari) LT 95 LT 50 10,03 5,14 10,50 5,87 Kerapatan konidia (mL) 1,21x106 1,08x106 Hasil analisis probit dengan kerapatan konidia kurang lebih LC95 dan LC85 menunjukkan bahwa untuk menimbulkan mortalitas hingga 50% dibutuhkan waktu 5 hari, dan untuk menghasilkan mortalitas hingga 95% dibutuhkan waktu 10 hari. Aplikasi cendawan M. brunneum dengan metode kontak melalui pencelupan selama 4 detik, sangat efektif untuk menimbulkan mortalitas terhadap rayap M. gilvus. Perbedaanantarakedua nilai (LT95 dan LT50) berhubungan dengan dosis aplikasi, virulensi isolat (Neves & Alves 2004). Menurut Butt et al. (2001) kemampuan patogenisitas cendawan entomopatogen untuk menginfeksi inangnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sifat fisiologi cendawan, seperti viabilitas, laju pertumbuhan, kemampuan bersporulasi, metabolit sekunder yang dihasilkan (enzym dan toxin), dan pengaruh lingkungan. Persamaan regresimengindikasikan korelasi positif antara waktu pengamatan dengan mortalitas probit (Gambar 19 dan 20). 90 80 y = 14.56x ‐ 25.98 R² = 0.938 Mortalitas (Probit) % 70 60 50 LC 95% 40 Linear (LC 95%) 30 20 10 0 1 2 3 4 Waktu (hari) 5 6 7 Gambar 19 Kematian rayap M. gilvusselama 7 hari pengamatan akibat perlakuankonidia cendawan M. brunneum (LC95) 48 90 80 y = 12.54x ‐ 26.04 R² = 0.847 Mortalitas (Probit) % 70 60 50 40 LC 85% Linear (LC 85%) 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 Waktu (hari) Gambar 20 Kematian rayap M. gilvusselama 7 hari pengamatan akibat perlakuan konidia cendawan M. brunneum (LC85) Simpulan Kerapatan 1,21x106konidia/mLefektif untuk menginfeksi rayap M. gilvus. Mortalitas terjadi mulai hari ke-2, meningkat mencapai angka tertinggi pada pengamatan hari ke-7. Miselia pada tubuh serangga mulai jelas terlihat pada hari ke-4, dan memasuki hari ke-7 seluruh permukaan tubuh rayap hampir tertutupi oleh miselia yang bewarna putih. Dengan kerapatan konidia1,21x106/mLuntuk dapat mematikan hingga 50% populasi dibutuhkan waktu 5 hari dan kematian 95% membutuhkan waktu 10 hari. 49 Daftar Pustaka Amiri-Besheli B, Khambay B, Cameron S, Deadman ML, Butt TM. 2000. Inter and intraspecific variation in destruxin production by insect pathogenicMetharhizium spp and its significance to pathogenesis. Mycological Research 104(4): 447-452. Asbani N, Amir AM, Subiyakto 2007. Inventarisasi hama tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). Proseding Lokakarya II: Status teknologi tanaman jarak pagar(Jatropha curcas L). Puslitbang Perkebunan, Bogor Hal 7-16. Barnett HL, Hunter BB. 1972. Ilustrated Genera of Imferfect Fungi.Ed ke-4. New York. Macmillan Publishing Company. Bayon IL, Ansard D, Brunet C, Girardi S, PaulmierI.2000. Biocontrol of Reticulitermes santonensisby Entomopathogenic Fungi Improment of the Contamination Process.Stokholm Sweden.IRG Secretariat KTH SE-100 44. Bidochka MJ, Kamp AM, Decroos JNA. 2000.Insect pathogenic fungi: from genes to populations. Fungal Pathology :171-193. Butt TM, Jakson W, MaganN. 2001.Fungi as Biocontrol Agents; Progres, Problem and Potential. United Kingdom: CABI Publishing is a divisions of CAB International. New York. Desyanti. 2007. Kajian pengendalian rayap tanah Coptotermes spp. (Isoptera: Rhinotermitidae) dengan menggunakan cendawan entomopatogen isolat lokal (Disertasi). Bogor: Program Pascasarjana.Institut Pertanian Bogor. Ferron P. 1985.Pest Control by FungiBeauveria and Metarhizium. Di dalam: Burgers HD, editor. Microbial of Pest and Plant Dieseses 1970-1980. London: Academic Press Inc. pp 465-482. Finney DJ. 1971. Probit Analisis. ED ke-3.Combridge. Universitas Press. Freimoser FM, Screen S, Bagga S, Hu G, Leger St RJ. 2003. Expressed Sequence tag (EST) analisys of two subspecies of Metarhizium anisopliae reveals a plethora of secreted proteins with potential activity in insect hosts. Microbiology (149):239-247. Nandika D, Rismayadi Y, Diba F. 2003. Rayap Biologi dan Pengendaliannya. Surakarta. Muhammadiyah University Press. Neves PMOJ, Alves SB. 2004. External events related to the infection process of Cornitermes cumulans (Kollar) (Isoptera: Termitidae) by the entomopathogenic fungi Beauveria bassiana and Metarhizium anisopliae. Neotropical Entomol 33(1): 051-056 Santoso T. 1993. Dasar-Dasar Patologi Serangga. Di dalam : Simposium Patologi Serangga I. Prosiding Makalah Simposium Patologi serangga I. Yogyakarta 12-13 Oktober 1993. Yogyakarta: Persatuan Entomologi Indonesia, Cabang Yogyakarta, pp 1-15. 50 Strack BH. 2003. Biological control of termites by the fungal entomopathogenicMetarhizium anisopliae.Urban entomology laboratory University of Toronto.http://:\My%Dokumens\Internet\Fungal% 20 ontrol%20termites [18 Maret 2009] Tanada Y, Kaya HK. 1993. Insect Pathology. New York: Akademic Press, Inc. Yoshimura T, Tsunoda K, Takahashi M, Katsuda Y. 1992. Pathogenicity of An Entomopathogenous Fungus, Conidiobolus coronatus TYRRELL.And MACLEOD, toCoptotermes formosanus SHIRAKI; Jpn.J Environ.Entomol.Zool. 4(1):11-16. Yoshimura T, Takahashi M. 1998 Termiticidal performance of an entomogenous fungusBeauveria brongniartii (SACCARDO) PETCH in laboratory tests. Jpn. J Environ Entomol.Zool9(1):16-22. 52 BAB VI KEEFEKTIFAN CENDAWAN ENTOMOPATOGENMetarhizium brunneum Petch SEBAGAI BIOTERMITISIDA TERHADAP RAYAP Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) DI LAPANGAN [Theeffectiveness ofentomopathogenicfungus Metarhizium brunneum Petchasbiotermiticideagainsttermite Macrotermesgilvus Hagen (Isoptera: Termitidae)inthe field] Abstrak Salah satu hama penting tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L) adalah rayapMacrotermes gilvus Hagen. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keefektifan cendawanMetarhiziumbrunneumsebagai agens biokontrol terhadap rayapM. gilvus di KIJP Pakuwon.Disetiap stasiun pengamatan disiramkan 150 mL suspensi konidia M. brunneum dengan kerapatan konidia 1,21×106/mL. Pengamatan populasi sebelum dan sesudah perlakuan dilakukan dengan menggunakan Triple Mark Recapture Technique.Setelah perlakuan, populasi rayap di setiap stasiun pengamatan mengalami penurunan. Di blok I, II, dan III tersisa rayap berturut-turut2,9%,4,4%, dan 5,4% dari populasi awal sebelum perlakuan cendawan. Kata kunci: M. brunneum, M.gilvus, J.curcas, KIJP Pakuwon, mortalitas. Abstract One of the importants pest of castor plant in Indonesia is Macrotermes gilvusHagen. The aim of the research is to study the effectiveness of the entomopathogenic fungus Metarhizium brunneumPetchas biological control agents against to M. gilvus in KIJP Pakuwon. Into each experimental station was poured 150 mL fungal suspension (density 1,21×106conidia/mL).Termite population before and after application was estimated using triple mark recapture technique. After application the population of termite decreased significantly at each experimental station. In block I,II and III we noted the decrease until 2,9%, 4,4%, and 5,4% respectively from initial population before fungal treatment. Key words: M. brunneum, M.gilvus, J.curcas,KIJP Pakuwon, mortality. 53 Pendahuluan Selama ini pengendalian rayap dilakukan dengan menggunakan insektisida kimia dengan volume semprot dan konsentrasi yang tidak mengikuti dosis anjuran yang menyebabkan pengendaliannya kurang berhasil. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa rayap hama masih menjadi salah satu kendala utama dalam usaha meningkatkan produksi tanaman jarak pagar (Asbani et al. 2007). Sementara ituaplikasi insektisida kimia yang berlebihan dan kurang bijaksana dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan keracunan bagi pengguna (Badji et al. 2007). Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, dilakukan cara pengendalian lain yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan agens hayati cendawan entomopatogen (Pearce 1997). Untuk mengendalikan rayap Coptotermes sp, Reticulitermes flavipes atau Odontotermesdengan agens hayati cendawanM. anisopliae dan B. bassianamelalui pengumpananmampu menghasilkan mortalitas hingga 100% dalam waktu 5sampai 12 hari, sedangkan denganmemindahkan rayap kasta pekerja terinfeksi cendawan entomopatogen dan dikumpulkan bersama rayap sehat dalam sebuah cawan Petri dish, setelah 8 hari rayap sehat mengalami kematian (Bayon et al. 2000). Berdasarkan informasi dari berbagai hasil penelitian mengenai keefektifan beberapa spesies cendawan entomopatogen, M. brunneumberpotensi untuk mengendalikan rayap hama M. gilvus (Desyanti 2007, Ginting 2008). Kerapatan konidia cendawan M. brunneum1,21x106konidia/mL sebagai kerapatan yang efektif berdasarkan hasil uji laboratorium dan akan digunakan di lapangan. Penularan konidia cendawan M. brunneum terhadap setiap individu rayap M. gilvusdalam setiap koloninya di lapangan diharapkan dapat berhasil dengan maksimal melalui pemanfaatanbeberapa perilaku rayap (grooming, trophallaxis dan cannibalistic). Di dalam penelitian ini akan dipelajaritingkat keefektifan cendawan entomopatogen M. brunneumterhadap rayap M. gilvus di KIJP Pakuwon Sukabumi Jawa Barat. 54 Bahan dan Metode Waktu dan Tempat Penelitian lapangan dilakukan di KIJP Pakuwon Sukabumi Jawa Barat sejak bulanNopember 2009 sampaiOktober 2010, sedangkan penelitian laboratorium dilakukan di laboratorium patologi serangga Departemen Proteksi Tanaman IPB. Perbanyakan pada Media PDA Cendawan M. brunneum diperbanyak pada media Potato Dextrose Agar (PDA), dengan komposisi 200g kentang, 20g dextrose, dan 200g agar-agar dapur yang dilarutkan dalam 1 liter air kemudian disimpan dalam incubator. Biakan cendawan diinkubasikan pada suhu ± 25°C di laboratorium. Perbanyakan Cendawan M. brunneum Isolat M. brunneum yang digunakan untuk aplikasi di KIJP Pakuwon adalah isolathasilrevirulensi di laboratorium terhadap rayap M. gilvuskemudian dimurnikan pada media PDA. Perbanyakan cendawan dilakukan pada media beras yang diinkubasikan pada suhu 25°C selama 3 minggu. Media beras dipersiapkan terlebih dahulu dengan cara mengukus beras selama 10 menit kemudian dimasukkan ke dalam setiap kantong plastik sebanyak 30g/kantong yang ditutup dengan rapat. Kemudian disterilisasikan di dalampressure sterlizermodel no 1925x pada suhu 121°C selama 30 menit. Satu hari kemudian kedalam kantong plastik diinokulasikan konidia cendawanM. brunneum yang telah dimurnikan dari media PDA. Pengamatan dilakukan setiap hari selama seminggu untuk mengetahui pertumbuhan dan kemurnian cendawanM. brunneum. Penyiapan Suspensi Cendawan M. brunneum yang digunakan untuk perlakuan adalah cendawan yang berumur 21 hari. Konidia yang terbentuk dikerok dengan kuas halus steril yang dibasahi dengan air steril kemudian dimasukkan kedalam tabung 55 reaksi yang berisi air steril dengan menambahkan Tween 20 dengan konsentrasi 0,025 ml per 50 ml akuades steril, kemudian suspensinya dikocok menggunakan vortex selama 30 detik. Kerapatan konidiaM. brunneumdihitung menggunakan haemacytometer(Neubauer -Improved) untuk mendapatkan kerapatan 1,21×106 konidia/mL.Kerapatan konidia 1,21×106/mL adalah estimasi LC95 yang telah diperoleh Desyanti (2007). Pelaksanaan Penelitian Hasil percobaan laboratorium menunjukkan bahwa kerapatan konidia cendawan M. brunneum1,21x106/mL terbukti efektif untuk menimbulkan mortalitas rayap M. gilvus. Selanjutnya suspensi dengan kerapatan tersebut (1,21x106konidia/mL) diaplikasi ke lapangan dengan cara disiramkan ke dalam stasiun pengamatan sebanyak 150 mL pada masing-masing koloni rayap M. gilvus dari setiap blok, yaitu: blok I (8 koloni dengan 23 stasiun pengamatan), blok II (1 koloni dengan 9 stasiun pengamatan), dan blok III (15 koloni dengan 45 stasiun pengamatan). Penyiraman dilakukan pada pukul 17.00 wib sampai dengan selesai. Untuk mengetahui keefektifan cendawan entomopatogen terhadap rayap M. gilvus digunakan metode triple mark recapture technique (Marini &Roberto 1998). Tahap Pertama Kayu umpan yang terserang rayap dikumpulkandan dipisahkan rayapnya dari tanahserta dihitung jumlahnya. Kertas tissue (Whatman No 1) direndam dalam bahan pewarna neutral red 0,25% dan nile blue A 0,05% (Harahapet al. 2005). Kertas tissue diumpankan terhadap rayap selama 3 hari, sehingga diperoleh rayap warna merah dan biru (Gambar 3). Rayap yang telah berwarna tersebut dihitung kembali jumlahnya dan kembali dilepaskan ke stasiun pengamatan tempat rayap ditangkap. Satu minggu setelah pelepasan rayap bertanda,kayu umpan dari setiap stasiun pengamatan kembali dikumpulkan. Rayap yang tertangkap baik yang berwarna maupun tidak berwarnadihitung kembali. Tahap Kedua Rayap yang tertangkap pada tahap pertama, diwarnai kembali seperti prosedur pada tahap pertamadan kembali dilepas ke stasiun pengamatan tempat 56 semula ditangkap. Seminggu setelah pelepasan diamati kembali. Interval waktu tahap pertama dengan tahap berikutnya (kedua dan ketiga) adalah 10 hari. Tahap Ketiga Penandaan, pelepasan dan penangkapan rayap untuk tahap tiga diulangi seperti prosedur tahap pertama dan kedua. Pendugaan ukuran populasi koloni rayap M. gilvusmenggunakan metode Begon (Marini & Roberto 1998) yaitu: N = (∑Mi.ni)/[(∑mi)+1] SE = N/{[1/(∑mi)+1)]+{(2/((∑mi)+1)2+[(6/(∑mi)+1)3]}1/2 dimana: N = Ukuran populasi. SE = Simpangan Baku. ni = Jumlah keseluruhan rayap yang tertangkap pada penangkapan ke-i. mi = Jumlah rayap bertanda yang tertangkap pada penangkapan ke-i. Mi = Jumlah total rayap bertanda sampai penangkapan ke-i Hasil dan Pembahasan Aplikasi cendawan M. brunneum dengan kerapatan 1,21x106 konidia/ mL terhadap rayap hama (M. gilvus) dalam sebuah stasiun pengamatan pada setiap koloninya mengakibatkan ukuran populasi setiap koloni menjadi berkurang (Gambar 6, 7 dan 8). Ukuran populasi koloni 2.500 2.000 2.014 1.500 1.288 856 1.000 500 0 0 0 127 100 G H 0 A B C D E F Koloni rayap Macrotermes gilvus Gambar 6 Populasi koloni rayap Macrotermes gilvuspada blokI 57 Ukuran populasi koloni 3.000 2.593 2.500 2.000 1.500 1.000 500 0 1 A Kolonii rayap Macrootermes gilvuss Gambar 7 Populasi koloni rayap M Macrotermess gilvuspadabblokII 2.5000 Ukuran populasi koloni 2..083 2.0000 1.755 2 1.402 1.5000 1.186 1.0000 5 562 386 5000 150 0 118 219 78 98 0 0 0 0 A B C D E F G H I J K L M N O Koloni rayap M.acrrotermes gilvuus Gambar 8 Populasi P kolloni rayap M Macrotermes gilvuspada bblokIII Bila dibandingkkan total ukkuran populasi koloni awal a rayap M. gilvus s sebesar 3599.066 individdu (Gambarr 1, 2 dan 3) 3 telah terjjadi penurunnan hingga t tersisa 15.0115 individu, atau persenttase penurunnan ukuran ppopulasi kolloni hingga 58 mencapai 95,82% dan tersisa 4,18 % dari total ukuran populasi koloni awal. Hal ini diduga perilaku grooming, trophallaxis dan cannibalisticberperan penting menularkan konidia cendawan M. brunneum dari individu terinfeksi ke individu sehat. Menurut Jones et al. (1996) melalui perilaku rayap patogen dapat tertular dari individu rayap terinfeksi ke individu rayap sehat yang akan tereleminasi keseluruh anggota koloninya. Rayap yang terifeksi menjadi tidak aktif, diam hingga mengalami kematian. Untuk menghasilkan konidia baru dari bangkai rayap yang terinfeksi cendawan entomopatogen dibutuhkan waktu selama 5 hari. Kontaminasi selanjutnya dapat terjadi jika cendawan dapat bersporulasi pada permukaan tubuh rayap mati (cadaver) yang terinfeksi langsung, atau ditularkan oleh vektor yang terjadi sebelum semua vektor mati. Sebagai propagul infektif konidia dapat menempel pada kutikula inang dan dengan mudah dapat berpindah ke individu lainnya melalui interaksi perilakunya (Strack 2003). Individu rayap yang tertular dapat meningkat sejalan dengan meningkatnya persentase proporsi vektor dalam koloninya, dan kesempatan kontak antara vektor dengan individu rayap sehat untuk menularkan konidia cendawan akan terus meningkat (Thomas et al. 1987). Simpulan Perlakuan cendawan M. brunneum dengan kerapatan 1,21x106konidia/mLefektif menurunkan ukuran populasi koloni rayap M. gilvus hingga 95,82 % (344.051 individu) dari ukuran populasi awal 359.066 individu. Daftar Pustaka Asbani N, Amir AM, Subiyakto 2007. Inventarisasi Hama Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L). Proseding Lokakarya II: Status teknologi tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). Puslitban Perkebunan, Bogor Hal 7-16. Badji CA, Guedes RNC, Silva AA, Correa AS, Queriroz MELR, Michereff-Filho M. 2007.Non-target impact of deltamethrin on soil arthropods of maize fields under conventional and no-tillage cultivation. J Appl Entomol 131(1):50-58. Bayon IL, Ansard D, Brunet, Girardi S, Paulmier I. 2000.Biocontrol of Reticulitermes santonensis by entomopathogenic fungi: improvement of the contamination process. Stockholm Sweden, IRG Secretariat KTH SE-100 44. 59 Desyanti. 2007. Kajian pengendalian rayap tanah Coptotermes spp. (Isoptera: Rhinotermitidae) dengan menggunakan cendawan entomopatogen isolat lokal [Disertasi]. Bogor.Program Pascasarjana.Institut Pertanian Bogor. Ginting S. 2008. Patogenisitas beberapa isolat cendawan entomopatogen terhadaprayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren dan Schedorhinotermes javanicus Kemmer (Isoptera: Rhinotermitidae) [Tesis]. Bogor.Program Pascasarjana.Institut Pertanian Bogor. Harahap IS, Benson EP, Zungoli PA, Adler PH, Hill HS. 2005. Inter-and intracolony agonistic behavior of nativesubterranean termites, Reticulitermes flavipes and Reticulitermes virginicus (Isoptera: Rhinotermitidae). Sociobiology 46: 305-316. Jones WE, Grase JK, Tamashiro M. 1996. Virulens of seven isolates of Beuveria bassiana and Metarhizium anisopliae to Coptotermes formosanus (Isoptera: Rhinotermitidae). J. boil contr 25 (2): 481-487. Marini M, Roberto F. 1998 A Populationsurvey of the Italian Subterranean termite Reticulitermes lucifuguslucifugus Rossi in Bacgnacavallo (Rovenna, Italy), using the Triple Mark Recapture Technique (TMR). JZoological Sience (15):963-969. Pearce MJ. 1997. Termite: Biologi and Manajement. New York: AB Internasional Publisher. Thomas K, KhachatouriansGG, Ingledew WM. 1987. Production and Properties of Beauveria bassiana conidia cultivated in submerged culture Can. J. Microbial. 33: 12-20. Strack BH.200.Biologicalcontrol of termites by the fungal entomopathogenic Metarhizium anisopliae.Urban entomology laboratory university of toronto.http://:\N\My%20Dokumens\Internet\Fungal1% 20of% 20termites .htm [18Juli 2010]. 60 BAB VII PEMBAHASAN UMUM Rayap Macrotermes gilvus dikenal sebagai rayap tingkat tinggi dengan ukuran populasi koloni yang umumnya besar.Ukuran populasi koloni rayap M. gilvusdi KIJP Pakuwon sebesar359.066individu yang tersebar dalam 24 koloni dengan luas areal 4,8 ha.Ukuran populasi koloni setiap blok berbedayangdiduga dipengaruhi olehumur ratu dari setiap koloni dan lingkungan. Ukuran populasi koloni rayap M. gilvus di KIJP Pakuwon umumnyalebih kecil.Rendahnya ukuran populasi koloni di KIJP Pakuwon diduga pengaruhdari beberapa faktor, antara lain: (1)adanya rotasi tanaman dan aktivitas manusia dilapangan seperti pengolahan tanah menggunakan traktor.Kondisi tersebut dapat menghambat aktivitas rayap M. gilvus dan merusakperkembangan koloninya, (2) koloni rayap M. gilvusyang terdapat di KIJP Pakuwon didugatermasuk koloni baruterbentukyangberasal dari luar lingkungan KIJP Pakuwon,(3) umur tanaman jarak pagar belum terlalu tua, sehingga tumpukan daun atau serasah belum banyak,akibatnyakandungan bahan organik masih rendah.Umumnya rayap membutuhkan bahan organik tinggi untuk pertumbuhannya. Faktor utama yang mempengaruhi kelangsungan hidup rayap M. gilvus adalah ketersediaan sumber makanan.Untuk menemukan sumber makanan rayap melakukanpenjelajahan.Pada blok I dan IIIrayap menjelajah sejauh 140,25 m. Beberapa faktor lingkungan menentukan daya jelajah rayap, seperti pertumbuhan tanaman.Tanaman yang tidak rimbun menyebabkan sinar matahari langsung mengenai permukaan tanah sehingga suhu permukaan tanah meningkat sedangkan kelembaban tanah menurun.Adanya sanitasi gulma disekitar akar tanaman dapat meningkatkan suhu mikro sekitar tanaman.Untuk menghindarikondisi lingkungan yang tidak menguntungkan rayap M. gilvus akan bergerak menuju tempat yang lebih optimal dengan membuat tabung kembara sampai menemukan sumber makanan.Terhadap tanaman jarak pagar,M. gilvus mulai merusak bagian akar dengan membentuk tabung kembara untuk merusak bagian batang atas tanaman hingga mengalami kematian. Bila makanan telah habis akan mencari sumber makanan baru dengan berjelajah. 61 Bila sumber makanan yangtersedia terbatas maka daya jelajah rayap akan lebih jauh.Penyampaian informasi mengenai sumber makanan yang ditemukandapat melalui persentuhan fisik antarasetiap individu dalam sebuah koloni dengan mengeluarkan feromon penanda (Krishna & Weesner 1969). Aplikasi cendawan M. brunneum terhadap satu koloni rayap hamaM. gilvus dilakukan dengan menyiramkan 150 mL suspensi cendawan dengan kerapatan konidia 1,21x106/mL. Di KIJP Pakuwon terdapat 24 koloni rayap M. gilvus dari luas areal 4,8 ha, berarti rata-rata per hektar terdapat 5 koloni. Kebutuhan rata-rata konidia cendawan M. brunneum untuk sekali aplikasi terhadap setiap koloni rayap M. gilvusadalah 1,8x108 konidia. Untuk tiga kali aplikasi dibutuhkan 2,7×109 konidia/ha.M. brunneum yang dibiakkan pada 30g media beras di dalam kantong plastik anti panas setelah 21 hari mampu menghasilkan kerapatan konidia 6,9x109konidia.Sebagai perbandingan cendawan Lecanicillium lecanii yang dibiakkan pada media 100 berassetelah 21 hari diperoleh 1,9x109 konidia.Media beras sebagai media biakan cendawan M. brunneumdianggapsangat ekonomis.Dengan demikian untuk pengendalian rayap di KIJP Pakuwon dibutuhkan biakan cendawan M. brunneum 12 gram beras per hektar. Faktor lingkungan, terutama kelembaban dan temperatur berperan penting dalam proses infeksi dan sporulasi cendawan entomopatogen (Roberts& Campbell 1977, McCoy et al. 2004). Sebagai serangga yang hidup berkoloni dalam tanah keadaan tersebut dapat tercapai dan menunjang terciptanya epizooti penyakit oleh cendawan.Temperatur optimum untuk perkembangan, patogenisitas, dan kelangsungan hidup cendawan biasanya antara 20-30°C (McCoy et al. 2004).Konidia untuk dapat berkecambah dan bersporulasi pada permukaan tubuh inang membutuhkan kelembaban lebih dari 90%(Millstein et al. 1983, Nordin et al. 1983). Dalam mekanisme infeksi, cendawan memiliki beberapa kelebihan dibanding patogen lain (virus dan bakteri) yaitu kemampuan menginfeksi melalui kutikula (Tanada & Kaya1993), melalui stigmaatau spirakel (Clark et al. 1968) saluran pencernaan (Miranpuri melaluipharynx(Siebeneicher et al.1992). & Khachatourians 1991) atau 62 Keefektifan cendawan M. brunneum dengan kerapatan 1,21x106konidia/ mL terhadap rayap hama M. gilvustelah ditunjukkan di laboratorium yang dapat menimbulkan mortalitas hingga 50% selama 5 hari, dan untuk menimbulkan mortalitas hingga 95% dibutuhkan waktu 10 hari. Aplikasi cendawan M. brunneum dengan kerapatan 1,21×106/mL dalam 150 mL akuades yang disiramkan pada stasiun pengamatan dengan tiga kali aplikasi selama 30 hari mampu menurunkan ukuran populasi koloni rayap hama M. gilvus hingga 95,8% dari ukuran populasi koloni awal. Di dalam skala laboratorium untuk mematikan 95% populasi rayap dibutuhkan waktu hanya 10 hari, sedangkan di lapangandibutuhkan waktu hingga30 hari.Karena populasi rayap di lapangan sangat tinggi, maka waktu yang di butuhkan untuk mematikan rayap pun semakin panjang. Infeksi berlangsung melalui penularan antar individu, berbeda dengan infeksi terhadap serangga melalui aplikasi secara langsung (kasus hama aerial atau terrestrial). Dengan meninggikan dosis aplikasi atau memperpendek interval aplikasi, diduga waktu kematian dapat berlangsung lebih singkat sehingga kerusakan tanaman dapat lebih diperkecil. 64 BAB VIII SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Dari luas areal penelitian per hektarditemukan 5 koloni rayap M. gilvus dengan rata-rata ukuran populasi koloni 119.688 individu per hektar. 2. Rata-rata daya jelajah maksimum rayap M. gilvussejauh 140,25 m. 3. Kerapatan konidia1,21x106/mLmampu menghasilkan mortalitas rayap M. gilvushampir 90% di laboratorium. 4. Perlakuan cendawan M. brunneum (1,21x106konidia/mL) sebanyak 3 kali mampu menurunkan ukuran populasi koloni rayap M. gilvus hingga mencapai 95,82% (344.051 individu) dari ukuran populasi awal 359.066 individu. Saran Perlu penelitianlebih lanjut mengenai hubungan kualitas habitat dengan ukuran populasi koloni rayap M. gilvus di KIJP Pakuwon. KAJIAN CENDAW WAN ENT TOMOPATOGEN Metarh hizium bru unneum Peetch SEBA AGAI AG GENS HAY YATI TERH HADAP RA AYAP Maacrotermess gilvus Haagen (Isop ptera: T Termitidae e) PADA TANAMA T AN JARAK K PAGAR R (Jatrop opha curcaas L.) MUHAM MMAD SA AYUTHI SE EKOLAH H PASCAS SARJANA A INS STITUT PERTANIA AN BOGO OR BOGOR 2012 66 DAFTAR PUSTAKA Asbani N, Amir AM, Subiyakto. 2007. Inventarisasi hama tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). Prosiding Lokakarya II: Status teknologi tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L). Bogor 29 Nopember 2006.Puslitbang Perkebunan, Bogor 83-90. Baretta NF, Lecuona RE, Zandomeni RO, Grau O. 1998. Genotyping isolate of the entomopthogenic fungus Beauveria bassiana by RAPD with Fluorescent Labels. J Invertebrate Pathology71: 145-150. Boucias DG, Pendland JC. 1998. Principles of insect pathology. London: Kluwer Academic Publishers. Butt TM, Jackson C, Magan N. 2001. Fungi as biocontrol Agents: progress, problems and potential. United Kingdom: CABI Publishing. CABI.2001. Crop Protection Compedium (CD-ROM), CABI,Rome. Clark. TB, Kellen WR,FukudaT, Lindegren JE. 1968. Field and laboratory studies of the pathologycity of the fungus Beauveria bassiana to the three genera of mosquitoes. J Invertebrate Pathology 11: 1-7. Desyanti. 2007. Kajian pengendalian rayap tanah Coptotermes spp. (Isoptera: Rhinotermitidae) dengan menggunakan cendawan entomopatogen isolat lokal (Disertasi). Bogor: Program Pascasarjana.Institut Pettanian Bogor. Domsch KH, Gams W, Anderson TH. 1980. Compedium of soil fungi.London Acedemic Press Ginting S. 2008. Patogenisitas beberapa isolat cendawan entomopatogen terhadaprayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren dan Schedorhinotermes javanicus Kemmer (Isoptera: Rhinotermitidae). [Tesis].Program Pascasarjana.Institut Pertanian Bogor. Grasse PP. 1984.New Experiment with Macrotermes mulleri and consideration on the theory of stigmergy. Insectes Sociaux 14: 3-102. Hajek AE, Leger RJ. 1994. Interactions between fungal pathogens and insect hosts. Ann ReviewEntomol 39: 293-322. Hambali E. 2007. Prospek pengembangan tanaman jarak pagar untuk biodiesel dan produk turunan lainnya.Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi, LPPM-IPB.Workshop Pendirian Kebun Bibit Sumber, Demplot dan Feasibility Studyuntuk Perkebunan Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn.) Harahap IS, Benson EP, Zungoli PA, Adler PH, Hill HS. 2005. Inter-and intracolony agonistic behavior of nativesubterranean termites, Reticulitermes 67 flavipes and Reticulitermes Sociobiology46:305-316. virginicus (Isoptera: Rhinotermitidae). Hariyadi. 2005. Sistem budidaya tanaman jarak pagar (Jatropha curcas Linn). Makalah disampaikan pada seminar nasional jarak pagar (Jatropha curcas Linn) untuk Biodisel dan Minyak Bakar.Diselenggarakan Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi Institut Pertanian Bogor.22 Desember 2005. Harris. 1971. Termite: Their recognition and control. Second Edition.Longmans and Holtd. London. Hasan T. 1986. Rayap dan Pemberantasannya pencegahanya). Jakarta: Yasaguna. (penangulangan dan Hasnam. 2006. Variasi jatropha L. Info Tek Jarak Pagar. 1 (2): 5. Hendriadi A, Handaka, Lilik TM. 2005. Prospektif teknologi pengolahan biodiesel dari biji jarak (Crude Jatropha curcas Oil) skala pedesaan. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian. Bogor 28 September 2005. Henning, Reinhard K. 2000. The jatropha booklet.A. guido to the system and its dissemination in Zambia.GTZ-ASIP-Support- Project Southtrm Prvince. P 6 Kartika T, Sulaeman Y, Didi T, Arief HP, Ikhsan G. 2007. Pengembangan formula bahan infeksi cendawan sebagai alternatif biokontrol rayap tanah Coptotermes sp. development of infection material formula for fungi as biocontrol alternative to subterranean termites Coptotermes sp. [Google 15 Juli 2009]. Krebs CJ. 1978. Ecology the experimental analysis of distribution and abundance. Second Edition.Harper and Row Publisher. New York. Krebs. 1989. Ecological Methodology. Harper and Row Publisher. New York. Krishna K, Weesner FM. 1969.Biology of Termites.New York: Academic. Press. Lee KE, Wood TG. 1971. Termites and Soil. Academic Press.London and New York. Mahmud Z, Rivaie AA, Allorerung D. 2006. Petunjuk teknis bududaya jarak pagar (Jatropha curcas L). Pusat penelitian dan pengembangan perkebunan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. 35 hal. McCoy C, Quintela ED, de-Faria M. 2004.Enviromental persistence of entomopathogenic fungi.University of Florida.http://www.agctr.Isu. edu./ S265/mccoy.htm [28mei 2010] Millstein JA,Brown GC, Nordin GL. 1983. Microclimatic moisture and conidial production in Erynia sp (Entomopathorales): In vivo moisture balance and conidiation phenology. Environ Entomol12:1339-1343. 68 Mirampuri GS, Khachatourians GG 1991. Infection sites of the entomopathogenic fungus Beauveria bassiana in the larvae of the mosquito Aedes aegypti. Entomologia Experimentalist et Applicata 59:19-77 Nandika D, Rismayadi Y, Diba F. 2003. Rayap Biologi dan Pengendaliannya. Surakarta: Muhammadiyah University Press. Natawigena H, 1990. Entomologi Pertanian. Orba Shakti Bandung. Nordin. GL, Brown GC, Millstein JA. 1983. Epizootic phenology of Ernia disease of the alfalfa weevil, Hypera postica (Gyllenhal) (Coleoptera: Curculionidae), in central Kentuky, Environ Entomol 12: 1350-1355. Oka IN. 2005.Pengendalian hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gajah Mada University Press.Yogyakarta. 225 hal Pearce MJ. 1997. Termite: Biology and Management.New York: CAB International Publisher. Prihandana R, Hendroko R. 2006. Petunjuk Budidaya Jarak Pagar. Agromedia Pustaka. Jakarta. 84 hal. Pribadi T. 2009. Keaneragaman komunitas rayap pada tipe penggunaan lahan yang berbeda sebagai bioindikator kualitas lingkungan (Tesis). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian. Bogor. Richards OW, Davies RG. 1996. IMM’S General Textbook of Entomology. Tenth Edition. Vol II. Chapman and Hall. Australia. Rismayadi Y. 1999. Penelaahan daya jelajah dan ukuran populasi koloni rayap tanah Schedorhinotermes javanicus Kemmer (Isoptera:Rhinotermitidae) serta Microtermes inspiratus Kemmer (Isoptera:Termitidae) (Tesis). Program Pascasarjana.Institut Pertanian Bogor. Roberts, DW, CampbellAS. 1977. Stability of entomopathogenic fungi. Misc. Publ. Entomol Soc Am 10(3):19-76. Roddam LF, Rath AD. 1997. Isolation and characterisation of Metarhizium anisopliae andBeauveria bassiana from subantarctic Macquarie Island. J Invertebr Pathol (69):285-288. Roy HE, Stainkraus DC, Eilenberg J, Hajek AE, Pell JK. 2006. Bizarre interaction and endgames: entomopathogenic fungi and thair arthropod host. Annu Entomol 51: 57-133 Santoso T. 1993. Dasar-dasar patologi serangga. Dalam: E Martono (Eds.). Simposium Patologi Serangga I. Universitas Gadjahmada. Yogyakarta,1213 Oktober 1993.1-15 hal. 69 Siebeneicher SR, Vinson SB, Kenerley CM. 1992. Infection of the red imported fire ant by Beauveria bassiana through various routes of exposure. J. Inverterbrate pathology 59:280-285. Soetopo D, Indrayani I. 2009 Status teknologi dan prospek Beauveria bassiana untuk pengendalian serangga hama tanaman perkebunan yang ramah lingkungan. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat.[Google 20 Juni 2009). Southwood TRE. 1975. Ecological methodology: With particular refference to the study of insect population. Chapman and Hall. London. Sornnuwat YC. 1996. Studiet on damage of contruction caused by subterranean termites and its control in thailand. royal forest departement. Bangkok. Strack BH. 2003. Biological control of termites by the fungal entomopathogen Metarhiziun anisopliae, urban entomology laboratory university of Toronto. [Google: 20 Desember 2008]. Sudohadi Y. 2001. Current Termite Management in Indonesia.TRG 1, Pacific Rim Termite Research Group; Malaysia, 8-9 March. Su NY, Ban PM, Scheffrahn RH. 1991. Evaluation of twelve dyes marker for population studies of the eastern and Formosan subteranean termites (Isoptera: Rhinotermitidae). Sociobiology 19:349-362. Su NY, Tamashiro, JR Yates, HavertyMI. 1984. Foraging Behavior of the Formosan Subterranean Termite (Isoptera: Rhinotermitidae). Environ Entomo Vol 13. Su NY. 1994. Field Evalution of A Hexaflumuron Bait for Popultion Suppresion of Subterranean Termites (Isoptera: Rhinotermitidae). J Economic Entomology No. 87:389-397. USA. Susilo B. 2006 Biodisel.Pemanfaatan Biji Jarak Pagar sebagai Alternatif Bahan Bakar. Trubus Agrisarana. Surabaya. Tho YP. 1992. Termite of Paninsular Malaysia. Malayan Forest Records 36:1224 Thapa RS. 1981. Termites of Sabah India: Entomology Branh Forest Researh Institute and Colleges Dehradun. Tambunan B, Nandika D. 1989.Deteriorasi Kayu oleh Faktor Biologis.Pusat Antar Universitas Bioteknologi- Institut Pertanian Bogor. Tanada Y, Kaya HK. 1993. Insect Pathology. New York: Akademic Press, Inc hlm 459-483. 70 Tarumingkeng RC. 1993. Biologi dan Perilaku Rayap. Makalah Seminar Pengendalian Hama Berwawasan Lingkungan sebagai Pendukung Pembangunan Nasional.IPPHAMI Dirjen PPM & PLP Depkes, Jakarta. Tarumingkeng RC. 2001.Biologi dan Perilaku Rayap. http: //tumoutou.net/ biologi_ dan _perilaku_Rayap. htm. PSIH . IPB [7 Februari 2008] Tarumingkeng RC. 2004. Pengenalan Rayap Perusak Kayu yang Penting di Indonesia, Manajemen Deteriorasi Hasil Hutan [19 Juli 2009] Varela A, Morales E. 1996. Characterization of some Beauveria bassianaisolate and their virulence toward the coffee berry borer Hypothenemus hampei, L. JInvert Pathol 67: 147-152.
Kajian cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai agens hayati terhadap rayap Macrotermes gilvus hagen (Isoptera: Termitidae) pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) Mortalitas Serangga Uji TINJAUAN PUSTAKA PEMBAHASAN UMUM Kajian cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai agens hayati terhadap rayap Macrotermes gilvus hagen (Isoptera: Termitidae) pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) PENDAHULUAN Kajian cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai agens hayati terhadap rayap Macrotermes gilvus hagen (Isoptera: Termitidae) pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) SIMPULAN DAN SARAN Kajian cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai agens hayati terhadap rayap Macrotermes gilvus hagen (Isoptera: Termitidae) pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Kajian cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai agens hayati terhadap rayap Macrotermes gilvus hagen (Isoptera: Termitidae) pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.)

Gratis