Feedback

Strategi Pengembangan Usaha Pembibitan Domba (Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor)

Informasi dokumen
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA PEMBIBITAN DOMBA (Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor) SKRIPSI ANDINA AVIKA HASDI DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 i RINGKASAN Andina Avika Hasdi. D14080083. 2012. Strategi Pengembangan Usaha Pembibitan Domba (Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor). Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Pembimbing utama : Ir. Dwi Joko Setyono, MS Pembimbing anggota : Dr. Ir. Moh. Yamin, M.Agr.Sc Salah satu subsektor peternakan yang berpeluang untuk dikembangkan adalah peternakan domba. Seiring dengan meningkatnya jumlah populasi manusia maka akan meningkatkan kebutuhan daging sebagai sumber pangan. Cara untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan melakukan pembibitan. Salah satu peternakan yang telah memulai usaha pembibitan adalah peternakan domba Tawakkal. Usaha ini masih tergolong baru sehingga memerlukan strategi pengembangan usaha pembibitan agar lebih berkembang dan bertahan. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan usaha pembibitan domba di Peternakan Domba Tawakkal dan menyusun strategi yang tepat untuk mengembangan usaha pembibitan domba di Peternakan Domba Tawakkal. Penelitian dilaksanakan di Peternakan Domba Tawakkal yang terletak di Desa Cimande Hilir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor dengan menggunakan metode studi kasus. Data yang digunakan adalah data primer diperoleh melalui pengamatan langsung, wawancara, dan menggunakan kuisioner serta data sekunder yang diperoleh dari literatur perpustakaan, buku, jurnal, skripsi maupun data lainnya. Metode pengolahan data yang digunakan adalah dengan menggunakan Analisis Deskriptif, Matriks IFE dan EFE, dan Matriks SWOT. Perkawinan dilakukan secara alami tanpa menggunakan inseminasi buatan. Domba yang tidak birahi tidak bisa dipaksakan kawin sehingga lamanya pejantan dikandang kawin yaitu 2x siklus birahi atau sekitar 35 hari. Pembibitan yang dilakukan adalah sekitar 60 hari sesudah induk beranak, induk tersebut akan dikawinkan kembali sehingga dalam 2 tahun, domba akan beranak 3 kali. Berdasarkan analisis faktor-faktor internal dan eksternal di usaha pembibitan domba Tawakkal, Faktor-faktor internal yang menjadi kekuatan terbesar pada usaha pembibitan ini adalah bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, menggunakan induk dan pejantan yang bagus, kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau. Skor pembobotan untuk masing-masing faktor sama yaitu 0,332. Kelemahan terbesar yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah sistem recording yang tidak teratur (skor pembobotan 0,332). Faktor eksternal yang menjadi ancaman terbesar pada usaha pembibitan domba ini adalah penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa (skor pembobotan 0,404). Peluang terbesar yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah permintaan bibit domba yang tinggi, persaingan usaha pembibitan masih sedikit, dan tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi. Skor pembobotan untuk masing-masing faktor adalah 0,404. Strategi yang dapat diterapkan untuk pengembangan usaha pembibitan domba Tawakkal adalah (1) mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan peternakan, (2) meningkatkan kapasitas usaha pembibitan dengan melakukan kerja sama dengan pihak swasta dalam segi penanaman modal, (3) pengadaaan kandang i karantina untuk domba yang baru datang dari perjalanan jauh, (4) melakukan sistem kontrak yang jelas dengan pihak pemasok induk, dan (5) melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam pengadaan hijauan. Strategi yang dapat diterapkan dalam waktu dekat (jangka pendek) adalah mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan peternakan. Sehingga usaha pembibitan domba memiliki potensial untuk dikembangkan dengan strategi dan manajement yang benar dan tepat. Kata-kata kunci : Strategi, pembibitan, SWOT ii ABSTRACT Development Strategy of Breeding Sheep Farming (Case Study at Tawakkal Farm, Cimande Village, Caringin Subdistrict, Bogor District) Hasdi, A. A, D. J. Setyono, M. Yamin Sheep breeding becomes a key factor in the development to increase sheep population. Nowadays, the sheep breeding is still rarely developed because it is considered as a less profitable and more complicated business, therefore, it is very important to make sheep breeding business development strategy. The research was aimed to identify and analyze internal and external environments factors that influence the development of breeding sheep in Tawakkal Sheep Farm to formulate appropriate of sheep breeding business. This research was conducted at Tawakkal sheep farm to identify internal and external factors of the business and by using SWOT analysis. The results showed that sheep mating program was done naturally without the use of artificial insemination. Breeding program was applied 3 times pregnancy in 2 years, consisting 3 periods of 8 month (5 month of pregnancy, 2 months of lactation and 1 month of mating. Based on the SWOT analysis, the results showed that there were five steps which can be applied for developing sheep breeding in Tawakkal Farm. Firstly, collaboration for research and development of farm. Secondly, increase the breeding capacity by developing the private business relation in terms of capital investment. Thirdly, devolepment a quarantine cage for new arrival sheep. Forthly, clear contract system with the supplier. Lastly, collaboration with public people in supplying animal feed. In conclusion, sheep breeding business could be potential to develop with the right management system and strategy. Keywords: strategy, breeding, SWOT iii STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA PEMBIBITAN DOMBA (Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor) ANDINA AVIKA HASDI D14080083 Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 iv vi RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 13 Desember 1990 di Pontianak, Kalimantan Barat. Penulis adalah anak kedua dari dua bersaudara, dari pasangan bapak Ery Hasdi Ahmad dan ibu Lusfiani. Penulis mengawali pendidikan dasar pada tahun 1997 di SD Muhammadiyah 2 Pontianak dan pindah ke SD Islam Masyithah Bukittinggi dan diselesaikan pada tahun 2003. Pendidikan lanjutan tingkat pertama dimulai pada tahun 2003 dan diselesaikan pada tahun 2005 di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bukittinggi. Penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bukittingi pada tahun 2005 dan diselesaikan pada tahun 2008. Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2008 melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan diterima di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan pada tahun 2009. Selama kuliah penulis aktif dalam berbagai kegiatan organisasi mahasiswa diantaranya, Staf Kementerian Sosial Lingkungan dan Kemasyarakatan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa IPB 2010-2011, staf Kewirausahaan Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Seluruh Indonesia (ISMAPETI) Wilayah 2, staf Biro Public Relation BEM Fakultas Peternakan 2009-2010, Tim Advertising Majalah Emulsi 2009-2010 dan Anggota Paduan Suara Agriaswara. Prestasi yang pernah diraih yaitu sebagai Duta Lingkungan Fakultas Peternakan 2010-2011, Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) bidang pengabdian masyarakat didanai dikti pada tahun 2010. Penulis berkesempatan menjadi penerima Djarum Beasiswa Plus pada tahun 2010-2011. vi KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Strategi Pengembangan Usaha Pembibitan Domba (Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor)” ini dengan baik. Shalawat beserta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Penelitian ini dilakukan atas dasar ketertarikan yang besar dari penulis terhadap strategi pengembangan usaha bidang peternakan mengingat masih besarnya peluang untuk mengembangkan sektor usaha peternakan khususnya pembibitan domba. Penelitian ini menganalisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kegiatan usaha pembibitan domba untuk selanjutnya menyusun strategi pengembangan usaha yang tepat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak terutama pada usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal agar lebih berkembang. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan mengingat keterbatasan dan kendala yang dihadapi. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan guna penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memperkaya ilmu pengetahuan serta menjadi karya terindah yang bermanfaat bagi kehidupan. Bogor, April 2012 Andina Avika Hasdi vii DAFTAR ISI halaman RINGKASAN ................................................................................................ i ABSTRACT ................................................................................................... iii LEMBAR PERNYATAAN ………………………………………………… iv LEMABAR PENGESAHAN……………………………………………….. v RIWAYAT HIDUP………………………………………………………….. vi KATA PENGANTAR……………………………………………………….. vii DAFTAR ISI……………………………………………………………….... viii DAFTAR TABEL…………………………………………………………… x DAFTAR GAMBAR………………………………………………………... xi DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………… xii PENDAHULUAN ......................................................................................... 1 Latar Belakang ................................................................................... Tujuan Penelitian ............................................................................... 1 2 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................. 3 Domba .................................................................................................. Usaha Ternak Domba........................................................................... Usaha Pembibitan..................................................................... Usaha Penggemukan ............................................................... Strategi Pengembangan Usaha ........................................................... Analisis Lingkungan Internal ................................................... Analisis Lingkungan Eksternal ................................................ Analisis SWOT ........................................................................ 3 5 6 7 8 9 10 12 MATERI DAN METODE ............................................................................. 14 Lokasi dan Waktu .............................................................................. Materi ................................................................................................. Prosedur ............................................................................................. Desain Penelitian...................................................................... Rancangan dan Analisis Data .............................................................. 14 14 14 15 15 HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................................... 18 Kondisi Umum Usaha ........................................................................ Lokasi Usaha ............................................................................ Status Usaha ............................................................................. Kandang ................................................................................... Pakan ........................................................................................ Tenaga Kerja ............................................................................ Pencegahan dan Perwatan Kesehatan ...................................... 18 18 18 18 19 19 19 viii Bibit .......................................................................................... Sistem Perkawinan ................................................................... Produktivitas ............................................................................ Analisis keuntungan ................................................................. Analisis Lingkungan Internal ............................................................. Manajemen SDM ..................................................................... Manajemen Pembibitan............................................................ Pemasaran ................................................................................ Analisis Lingkungan Eksternal ............................................................ Potensi Pasar ............................................................................ Ekonomi ................................................................................... Persaingan Usaha ..................................................................... Sosial Budaya ........................................................................... Kebijakan Pemerintah Daerah.................................................. Kekuatan Tawar Menawar ....................................................... Penyusunan Strategi Pengembangan ................................................... Matriks IFE .............................................................................. Matriks EFE ............................................................................. Analisis SWOT ........................................................................ 20 20 21 23 24 24 26 31 33 33 34 35 36 37 38 39 40 43 45 KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................................... Kesimpulan ......................................................................................... Saran..................................................................................................... 50 50 51 UCAPAN TERIMA KASIH ........................................................................... 52 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 53 LAMPIRAN ………………………………………………………………….. 56 ix DAFTAR TABEL Nomor halaman 1. Data Teknis Reproduksi Ternak Domba ............................................ 4 2. Model Matriks IFE ………………………………………………….. 16 3. Model Matriks EFE………………………………………………...... 16 4. Data Koefisien Teknis dan Reproduksi……………………………… 21 5. Keuntungan Usaha Pembibitan………………………………………. 23 6. Karakteristik Sumber daya Manusia ………………………………… 24 7. Komposisi Ampas Tahu …………………………………………….. 27 8. Kegiatan Manajemen Pembibitan Domba ………………………….. 30 9. Usaha Peternakan Domba di Wilayah Bogor ………………………. 35 10. Hasil Matriks Internal Factor Evaluation ………………………….. 43 11. Hasil Matriks Internal Factor Evaluation ………………………….. 45 x DAFTAR GAMBAR Nomor halaman 1. Matriks Analisis SWOT................................................................... 17 2. Siklus Reproduksi Domba ............................................................... 22 3. Hasil Analisis Matriks SWOT…………………………………… 49 xi DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Data Kuantitatif Bibit Domba……………………………………… 57 2. Analisis Matriks EFE ……………………………………………….. 58 3. Analisis Matriks IFE………………………………………………… 59 4. Kata Kunci Pertanyaan Terbuka dalam Indentifikasi Faktor Internal 60 5. Kata Kunci Pertanyaan Terbuka dalam Indentifikasi Faktor Eksternal 61 6. Rekapan Pembobotan dan Peringkat pada Faktor Internal…………. 62 7. Rekapan Pembobotan dan Peringkat pada Faktor Eksternal……….. 63 xii PENDAHULUAN Latar Belakang Peternakan merupakan sektor yang berpeluang untuk dikembangkan sebagai sebuah usaha. Salah satu subsektor peternakan yang berpeluang untuk dikembangkan adalah peternakan domba. Usaha peternakan domba termasuk salah satu jenis usaha yang harus mendapat perhatian untuk dikembangkan. Populasi domba di Indonesia tahun 2011 adalah 11.372.000 ekor (Direktorat Jenderal Peternakan, 2012). Jumlah populasi manusia Indonesia tahun 2010 adalah 237.641.326 jiwa (Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, 2012). Seiring dengan meningkatnya jumlah populasi manusia maka akan meningkatkan kebutuhan daging sebagai sumber pangan yang salah satunya berasal dari daging domba. Peternakan domba di Indonesia saat ini belum berkembang dengan baik dan masih dikembangkan dengan skala kecil yaitu peternakan rakyat padahal domba memiliki kelebihan mudah dalam beradaptasi dengan lingkungan dan lebih mudah dalam pemeliharaan. Populasi domba terbesar berada di wilayah Jawa Barat yang mana pada tahun 2011 berjumlah 6.768.735 ekor yang hampir 50% dari jumlah populasi nasional. Kabupaten Bogor merupakan wilayah yang memiliki jumlah domba yang cukup banyak. Populasi ternak domba tahun 2010 di kabupaten Bogor adalah 280.798 ekor (Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat, 2012). Salah satu peternakan yang telah melakukan usaha ternak domba adalah peternakan Tawakkal yang berada di Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Usaha Peternakan yang dilakukan pada awalnya bergerak dibidang penggemukan domba. Usaha penggemukan domba ini dirintis sejak tahun 1993. Usaha penggemukan pun berkembang dan mengalami peningkatan permintaan domba. Permintaan domba yang semakin bertambah, mengakibatkan peternakan Tawakkal kesulitan untuk mendapatkan bakalan untuk digemukkan sehingga pemilik peternakan berkeinginan untuk dapat menyediakan bakalan sendiri yang berkualitas maka peternakan ini memulai untuk melakukan usaha pembibitan domba. Peternakan Domba Tawakkal pun melakukan pembibitan domba pada tahun 2010. Pembibitan domba adalah salah satu usaha untuk memperbanyak produksi domba yang bertujuan untuk menghasilkan keturunan sehingga jumlah ternaknya bertambah banyak serta mutunya pun meningkat (Sugeng, 2007). Usaha pembibitan 1 domba ini dilakukan untuk dapat terus menyediakan ternak domba yang berkualitas, namun masih sedikit peternak yang mau mencoba dan memulai untuk pembibitan domba karena dinilai rumit dan sulit untuk dilakukan. Keberhasilan usaha pembibitan ternak domba tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan induk atau pejantan yang memiliki sifat-sifat yang baik. Pembibitan domba yang dilakukan di peternakan Tawakkal masih tergolong baru sehingga perlu dilakukan suatu strategi khusus. Salah satu kendala berkembangnya usaha pembibitan ini adalah keterbatasan modal serta jumlah kandang yang digunakan. Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan (Rangkuti, 1997), yang merupakan rencana yang disatukan, luas dan terintegrasi yang menghubungkan keunggulan perusahaan dengan tantangan lingkungan dan dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi (Jauch dan Glueck, 1995). Usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal membutuhkan strategi yang tepat untuk mengembangkan usaha pembibitannya sehingga perlu dilakukan penyusunan strategi pengembangan usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk : 1. Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan usaha pembibitan domba di Peternakan Domba Tawakkal. 2. Penyusunan strategi yang tepat untuk mengembangan usaha pembibitan domba di Peternakan Domba Tawakkal. 2 TINJAUAN PUSTAKA Domba Menurut Tomaszewska et al. (1993) domba berasal dari Asia, yang terdiri atas 40 varietas. Domba-domba tersebut menyebar hampir di setiap negara. Ternak domba merupakan hasil domestikasi domba Argali (Ovis ammon), domba Urial (Ovis vignei) yang berasal dari Asia Tengah dan domba Moufflon (Ovis muimon) yang berasal dari Asia kecil dan Eropa. Semua domba mempunyai karakteristik yang sama sehingga diklasifikasikan sebagai kingdom Animalia, phylum Chordata atau hewan bertulang belakang, class Mammalia atau hewan menyusui, ordo Artiodactyla atau hewan berkuku genap, family Bovidae atau hewan memamah biak, genus Ovis, spesies Ovis aries. Jenis domba lokal antara lain domba garut dan domba ekor tipis. Menurut Merkens dan Soemirat (1926) yang dicatat oleh Heriyadi (2002), bahwa asal usul domba Priangan adalah merupakan perkawinan silang segi tiga, antara domba lokal dengan domba Merino dan kemudian dengan domba Kaapstad dari Afrika. Menurut Heryadi (2002) domba Priangan/Garut memiliki ciri-ciri morfologi yang meliputi: (1). Kepala pendek, lebar dan dalam serta profilnya cembung. (2).Ekornya berbentuk segitiga terbalik dengan timbunan lemak pada pangkal ekor dan mengecil pada bagian bawah. (3). Telinga rumpung sampai ngadaun hiris (4 – 8 cm) (4). Domba Priangan yang jantan bertanduk besar, kokoh dan melingkar sedangkan domba betina tidak bertanduk, kalaupun bertanduk ukurannya kecil. (5). Domba jantan memiliki bobot badan rata-rata 57,74 kg dan yang betina adalah 36,89 kg. (6). Warna bulu pada domba Priangan adalah masih berkombinasi ada yang hitam, coklat dan putih. Domba Priangan/Garut mencapai pubertas pada umur 7 – 10 bulan dengan bobot badan rata-rata untuk jantan 16,8 – 24,0 kg dan betina 14,5 kg. Bobot badan pada waktu pubertas berkisar antara 38 – 60% dari bobot badan dewasa. Jarak kelahiran domba Priangan/Garut adalah 240 hari (8 bulan) atau dalam dua tahun dapat melahirkan tiga kali. Hal ini disebabkan karena pada umumnya kegiatan reproduksi domba-domba di Indonesia berlangsung sepanjang tahun (Toelihere, 1985). Einstiana (2006) menyatakan bahwa jenis domba ekor tipis memiliki tubuh yang kecil, sehingga disebut domba kacang atau biasa dikenal sebagai domba Jawa. 3 Ekor relatif kecil dan tipis, bulu badan berwarna putih, kadang-kadang berwarna lain, belang-belang hitam di sekitar mata, hidung atau bagian tubuh lain. Domba betina umumnya tidak memiliki tanduk, sedangkan pada jantan memiliki tanduk kecil dan melingkar. Gatenby (1991) menyatakan bahwa domba ekor tipis jawa memiliki berat sekitar 20 kg, tatepi terdapat variasi. Domba yang hidup di dataran tinggi memiliki berat badan rata-rata sebesar 27 kg, sedangkan dataran rendah sebesar 16 kg. Domba ekor tipis Jawa termasuk domba prolifik, dan secara umum mampu menghasilkan dua sampai tiga anak dalam satu kelahiran. Williamson dan Payne (1993) menyatakan bahwa domba lokal di daerah tropik dapat kawin sepanjang tahun. Namun, hal ini memberikan dampak pada persentase beranak cenderung rendah. Dewasa kelamin yang dicapai domba di daerah tropik akan lebih lambat dibandingkan domba di daerah dingin. Perkawinan yang baik biasanya dilakukan setelah 12 – 34 jam mengalami birahi yang merupakan puncak birahi pada betina. Biasanya tingkat keberhasilannya 90% untuk menghasilkan betina bunting dengan lama bunting 5 bulan. Data teknis reproduksi ternak domba pada Tabel 1. Tabel 1. Data Teknis Reproduksi Ternak Domba Parameter Jantan Betina Masak kelamin 6-8 bulan 6-8 bulan Kawin pertama >12bulan 12-15 bulan Siklus birahi - Setiap 17 hari sekali Lama birahi - 30-40 jam Lama bunting - 5-6 bulan (144-152 hari) Afkir 6-8 tahun 5 tahun Sumber : Sudarmono dan Sugeng (2005) Suharno dan Nazarudin (1994) mengatakan bahwa pakan domba dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu hijauan sebagai makanan utama dan konsentrat sebagai makanan tambahan. Jumlah pemberian konsentrat untuk induk bunting tua adalah 0,5 kg/ekor/hari dimulai pada 1,5 bulan menjelang kelahiran. Jumlah pemberian konsentrat untuk induk yang sedang menyusui disesuaikan dengan 4 jumlah anak yang disusuinya, induk yang memiliki 1 ekor anak, cukup diberi konsentrat 0,9 kg/ekor/hari, induk yang beranak 2 ekor atau lebih diberi konsentrat sebanyak 1,4 kg/ekor/hari dan pejantan yang sedang dipergunakan sebagai pemacek perlu diberi konsentrat sebanyak 0,5-1,0 kg/ekor/hari. Hadiningrum (2006) dalam penelitiannya menyatakan faktor nutrisi menjadi sangat penting artinya dalam usaha menghasilkan daging yang berkualitas baik. Pakan yang bermutu tinggi, murah dan tersedia sepanjang tahun merupakan criteria yang digunakan dalam pemilihan jenis pakan. Jenis pakan yang digunakan pada usaha domba Tawakkal adalah hijauan berupa rumput lapang dan ampas tahu. Pengadaan rumput lapang dilakukan setiap hari dengan jumlah konsumsi per ekor per hari sekitar 2,25 kg. Rumput lapang yang digunakan adalah rumput lapang yang tidak terlalu muda dan terlalu tua. Usaha Ternak Domba Peternakan merupakan salah satu subsektor pertanian. Pemeliharaan ternak dianggap sebagai bagian dari pekerjaan bertani. Kondisi ini tercermin dari intregrasi yang dilakukan oleh petani peternak dengan menggabungkan usaha pertanian dengan pemeliharaan ternak (Suharno dan Nazaruddin, 1994). Usaha ternak domba sudah lama dikembangkan di Indonesia namun pemeliharaannya masih bersifat tradisional artinya usaha tersebit hanya memenuhi kebutuhan sendiri dan bersifat sambilan (Sugeng, 2007). Beternak domba merupakan salah satu yang dapat diandalkan untuk meningkatkan kehidupan peternak karena keunggulannya. Ternak domba di Indonesia kebanyakan diusahakan oleh petani ternak di daerah pedesaan. Domba yang diusahakan umumnya dalam jumlah kecil, 3-5 ekor per keluarga, dipelihara secara tradisonal dan merupakan bagian dari usahatani sehingga tingkat pendapatan yang diperolehpun kecil (Sugeng dan Sudarmono, 2005). Domba merupakan salah satu jenis ternak potong kecil yang memberikan beberapa keuntungan, seperti : a) mudah beradaptasi dengan lingkungan, b) cepat berkembang biak, c) memiliki sifat hidup berkelompok, d) modal yang dibutuhkan kecil (Sugeng, 2007). Potensi ekonomi lainnya yang dimiliki ternak domba diantaranya modal usaha cepat berputar karena pemasaran yang mudah, proses perkembangbiakanya dapat diatur, dan ternak domba suka bergerombol sehingga dalam hal tenaga kerja yang melakukan sistem penggembalaan akan lebih efisien (Mulyono, 2005). Pasar ternak domba masih terbuka (belum jenuh). Selera konsumen untuk menikmati 5 daging domba dalam bentuk sate atau gulai cukup besar. Dikatakan perkembangan kota-kota besar dan ilmu pengetahuan serta perbaikan pendapatan mendorong masyarakat untuk memenuhi gizi, khususnya protein hewani termasuk daging domba. Hasil penelitian Winarso (2000), mengenai analisis pemasaran ternak domba di Kabupaten Bogor mengungkapkan bahwa harga domba yang dipasarkan tidak dipengaruhi oleh kualitas domba karena domba yang dipasarkan pada umumnya adalah untuk ternak potong kecuali konsumen membeli domba untuk keperluan tertentu, misalnya pembibitan atau acara keluarga. Kusumaningrum (2004) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa bangsa domba yang dipelihara peternak biasanya adalah domba garut dan domba lokal. Domba tersebut dikelompokkan berdasarkan tujuan pemeliharaan, yaitu untuk pembibitan, pembesaran dan penggemukkan. Usaha Pembibitan Domba Usaha ternak domba sudah lama dikembangkan di Indonesia, salah satu jenis usaha ternak domba adalah usaha pembibitan. Pembibitan merupakan salah satu usaha untuk menghasilkan bibit. Keberhasilan dalam usaha ternak domba sangat ditentukan oleh bibit domba yang digunakan dalam usahaternak domba. Menurut Blakely, J dan D. H. Bade (1991) mengemukakan cara seleksi seekor domba bervariasi, tergantung pada tujuan pemanfaatan domba itu. Seleksi dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik yang dapat dibagi menjadi seleksi berdasarkan penilaian (judging) individual, seleksi berdasarkan silsilah, seleksi berdasarkan penampilans atau performans, serta seleksi berdasarkan pengujian atau test produksi. Mulyono (2005) menyatakan bahwa syarat calon induk yaitu ukuran badan besar, tetapi tidak terlalu gemuk, bentuk tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus, bulu bersih dan mengkilap. Keempat kakinya lurus dan terlihat kokoh serta tumit tinggi, tidak ada cacatdi bagian tubuhnya, bentuk dan ukuran alat kelamin normal, umur lebih dari 1 tahun, jumlah gigi dipilih yang lengkap dan berdasarkan buku catatan, domba yang dipilih yang lahir kembar atau kelahiran tunggal yang berasal dari induk muda dan mempunyai pertumbuhan yang baik. Syarat calon pejantan yang baik adalah ukuran badan normal, tubuh panjang, dan besar, bentuk perut normal, dada dalam dan lebar, kakinya kokoh, lurus, kuat dan terlihat tonjolan tulang yang besar pada kaki serta mata tidak rabun atau buta. 6 Pertumbuhanya relative cepat, gerakanya lincah dan terlihat ganas, alat kelaminya normal dan simetris serta sering terlihat ereksi, tidak pernah mengalami penyakit yang serius, umurnya antara 15 bulan hingga 5 tahun dan calon pejantan berasal dari kelahiran kembar dan berasal dari induk dengan jumlah anak lahir lebih dari dua. Bila berasal dari kelahiran tunggal, pilih pejantan yang berasal dari induk dengan jumlah anak satu (Mulyono, 2005). Pemilihan bibit harus memperhatikan usia ternak yang masih muda dan tidak pernah terserang penyakit yang membahayakan (Duldjaman dan Rahayu, 1996). Menurut Dinas Peternakan (1997), bibit ternak yang baik juga harus berbulu bersih dan mengkilat serta mempunyai daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan. Usaha Penggemukan Domba Penggemukan domba adalah pemeliharaan domba yang bertujuan untuk menghasilkan jumlah dan kualitas daging yang baik sebagai mana dikehendaki konsumen (Sugeng, 2007). Hasil penelitian Hadiningrum (2006) mengatakan bahwa bakalan yang digemukkan adalah domba ekor tipis dan domba garut. Pertambahan bobot badan domba Tawakkal selama periode penggemukan dapat mencapai 9-10 kg per ekor atau sekitar 110 gram ekor per hari. Cara penggemukan di usaha ternak domba Tawakkal menggunakan sistem dry lot fattening. Sugeng (2007) mengatakan bahwa dry lot fattening merupakan salah satu cara penggemukan dimana domba-dombayang digemukkan tinggal di dalam kandang terus-menerus. Domba-domba tersebut tidak digembalakan karena semua kebutuhan pakan telah terpenuhi dan disediakan dalam kandang oleh kepala kandang. Keuntungan sistem ini adalah domba cepat menjadi gemuk karena banyak mendapat unsure protein, karbohidrat, dan lemak. Usaha penggemukan domba ekor tipis akhir-akhir ini cukup diminati oleh masyarakat sebagai usaha ternak komersial karena usaha ini dinilai lebih ekonomis, relative lebih cepat, rendah modal serta lebih praktis (Yamin, 2001). Strategi Pengembangan Usaha Strategi adalah rencana yang disatukan, luas dan terintegrasi yang menghubungkan keunggulan perusahaan dengan tantangan lingkungan, dan dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi (Jauch dan Glueck, 1995). Menurut Rangkuti 7 (1997), strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan. Strategi menjelaskan bagaimana perusahaan akan mencapai semua tujuan yang telah ditetapkan berdasarkan misi yang telah ditentukan sebelumnya. Ada beberapa strategi pengembangan penting yang perlu mendapat perhatian. Termasuk didalamnya tujuan yang jelas dari pemeliharaan, pengembangan kesempatan berproduksi yang berkelanjutan, penelitian berkelanjutan dan pengabsahan hasil-hasil penelitian (Mastika et al., 1993). Rangkuti (1997) mengatakan bahwa suatu perusahaan dapat mengembangkan strategi untuk mengatasi ancaman eksternal dan merebut peluang yang ada. Proses analisis, perumusan dan evaluasi strategi-strategi itu disebut perencanaan strategis. Tujuan utama perencanaan strategis adalah agar perusahaan dapat melihat secara obyektif kondisi-kondisi internal dan eksternal, sehingga perusahaan dapat mengantisipasi perubahan lingkungan eksternal. Rangkuti (1997) menyatakan bahwa pada perinsipnya strategi dapat dikelompokkan bersadarkan tiga tipe strategi yaitu, strategi manajemen, strategi investasi dan strategi bisnis. Strategi manajemen meliputi strategi yang dapat dilakukan oleh manajemen dengan orientasi pengembangan strategi secara makro misalnya, strategi pengembangan produk, strategi penerapan harga, strategi akuisisi, strategi pengembangan pasar, strategi mengenai keuangan dan sebagainya. Strategi investasi adalah kegiatan yang berorientasi pada investasi. Misalnya, apakah perusahaan ingin melakukan strategi pertumbuhan yang agresif atau berusaha mengadakan penetrasi pasar, strategi bertahan, strategi pembangunan kembali suatu divisi baru atau strategi divestasi, dan sebagainya. Strategi bisnis ini berorientasi pada fungsi-fungsi kegiatan manajemen, misalnya strategi pemasaran, strategi produksi atau operasional, strategi distribusi, strategi organisasi, dan strategi-strategi yang berhubungan dengan keuangan. Analisis Lingkungan Internal Lingkungan internal merupakan lingkungan organisasi yang berada di dalam organisasi tersebut dan secara normal memiliki implikasi langsung dan khusus pada perusahaan. Pearce dan Robinson (1997) mengungkapkan bahwa lingkungan internal meliputi faktor- faktor internal perusahaan yang teridentifikasi sebagai kekuatan (strengths) atau kelemahan (weaknesses) yang digunakan untuk mengembangkan 8 serangkaian langkah strategik bagi perusahaan. Tujuan analisis lingkungan internal adalah untuk dapat menilai kekuatan dan kelemahan dalam mencapai tujuan perusahaan. Identifikasi faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan adalah dalam upaya untuk memanfaatkan peluang dan menghindari ancaman. David (2009) membagi bidang fungsional bisnis menjadi beberapa variabel dalam analisis lingkungan internal, yaitu : 1. Manajemen Manajemen merupakan suatu tingkatan sastem pengaturan organisasi yang mencakup sistem produksi, distribusi, pemasaran, pengelolaan sumber daya manusia, dan keuangan. Fungsi manajemen terdiri atas lima aktivitas besar yaitu perencanaan (planing), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), pengarahan (leading), serta pengontrolan (controling). 2. Pemasaran Pemasaran dapat diuraikan sebagai proses menetapkan, menciptaka, dan memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan akan produk. Ada tujuh fungsi dasar pemasaran yaitu (a). analisis pelanggan, (b). menjual produk, (c). merencanakan produk dan jasa, (d). menetapkan harga, (e). distribusi, (f). riset pemasaran, dan (g). analisis peluang. 3. Keuangan Kondisi keuangan sering dianggap ukuran tunggal terbaik dari posisi bersaing perusahaan dan daya tarik bagi investor. Menetapkan kekuatan dan kelemahan keuangan amat penting utnuk merumuskan strategi secara efektif. 4. Produksi dan Operasi Fungsi produksi terdiri dari aktivitas mengubah masukan (input) menjadi barang atau jasa (output). Manajemen produksi dan operasi menangani masukan, pengubahan, dan keluaran yang bervariasi antar industri dan pasar.. 5. Penelitian dan Pengembangan Istilah penelitian dan pengembangan digunakan untuk menggambarkan beragam kegiatan. Dalam beberapa institusi, para ilmuwan melakukan penelitian dan pengembangan dasar di laboratorium dan berkonsentrasi pada masalah teoritis, 9 sementara di perusahaan para ahli melakukan pengembangan prodik dengan berkonsentrasi pada peningkatan kualitas produk. 6. Sumber Daya Manusia Sumber Daya Manusia merupakan aset utama bagi perusahaan. Strategi yang terbaik sekalipun tidak akan menjadi berarti apabila sumber daya manusianya tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk menjalankan tugas-tugas tersebut. Kualitas SDM sangat berpengaruh terhadap kinerja, kepuasan karyawan, maupun keberlangsungan hidup perusahaan. 7. Sistem Informasi Manajemen Sistem infomasi manajemen bertujuan untuk meningkatkan kinerja perusahaan dengan cara meningkatkan kulitas keputusan manajerial. Sistem informasi manajemen yang efektif berusaha mengumpulkan, memebri kode, menyimpan, mensintesa emudian baru menyjikan informasi yang bernama database. Dengan adanya database perusahaan dapat melaksanakan kegiatan operasional dan menyusun strategi secara akurat. Analisis Lingkungan Eksternal David (2009) menjelaskan bahwa analisis terhadap lingkungan eksternal bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi suatu perusahaan sehingga manajemen perusahaan memiliki kemampuan untuk dapat merumuskan suatu strategi. Analisis lingkungan eksternal menekankan pada evaluasi terhadap peristiwa di luar kendali sebuah perusahaan. Tujuan dari analisis lingkungan eksternal adalah untuk mengembangkan daftar terbatas peluang yang dapat dimanfaatkan perusahaan dan ancaman yang dihindari. Lingkungan eksternal perusahaan merupakan lingkungan yang terdiri dari faktor-faktor yang dapat menjadi peluang (opportunities) dan ancaman (threats) yang berada di luar pengawasan dan kontrol pihak manajemen perusahaan (Pearce dan Robinson, 1997). Pearce dan Robinson (1997) membagi lingkungan eksternal menjadi tiga sub kategori faktor yang saling berkaitan yakni faktor-faktor dalam lingkungan jauh (remote), faktorfaktor dalam lingkungan industri, dan faktor-faktor dalam lingkungan operasional. Faktor-faktor tersebut dijelaskan sebagai berikut: 1. Lingkungan Jauh 10 Lingkungan jauh perusahaan terdiri dari faktor- faktor yang pada dasarnya di luar dan terlepas dari perusahaan. Menurut Pearce dan Robinson (1997), lingkungan jauh adalah faktor- faktor yang bersumber dari luar, dan biasanya tidak berhubungan dengan situasi operasional suatu perusahaan tertentu. Faktor- faktor tersebut meliputi faktor politik, ekonomi, sosial, dan teknologi (PEST). Faktor politik adalah peraturan-peraturan, undang-undang dan kebijaksanaan pemerintah baik pada tingkat nasional, propinsi maupun daerah yang menentukan beroperasinya suatu perusaha an. Arah, kebijakan, dan stabilitas politik pemerintah menjadi faktor penting bagi para pengusaha untuk berusaha. Oleh karena itu, faktorfaktor politik, pemerintah, dan hukum dapat mencerminkan peluang atau ancaman kunci untuk organisasi kecil dan besar (David, 2009). Faktor ekonomi berkaitan dengans sifat dan arah sistem ekonomi tempat suatu perusahaan beroperasi (Pearce dan Robinson, 1997). Beberapa faktor kunci yang perlu diperhatikan dalam menganalisis faktor ekonomi adalah siklus bisnis, ketersediaan energi, inflasi, suku bunga, investasi, harga-harga produk dan jasa, produktivitas dan tenaga kerja (Umar, 2003). Faktor sosial yang mempengaruhi suatu perusahaan adalah kepercayaan, nilai, sikap, opini, dan gaya hidup orang-orang di lingkungan ekstern perusahaan. Faktor-faktor tersebut biasanya dikembangkan dari kondisi kultural, ekologis, demografis, religius, pendidikan dan etnis. Faktor teknologi perlu diperhatikan untuk menghindari keusangan dan mendorong inovasi karena dapat mempengaruhi industri. Adaptasi teknologi yang kreatif dapat membuka kemungkinan terciptanya produk baru, penyempurna produk yang sudah ada, atau penyempurnaan dalam teknik produksi dan pemasaran. 2. Lingkungan Industri Struktur industri mempunyai pengaruh yang kuat dalam menentukan aturan persaingan dan strategi yang secara potensial tersedia bagi perusahaan. Analisis struktur industri merupakan penunjang fundamental untuk menentukan posisi relatif perusahaan yang kemudian dapat digunakan untuk merumuskan strategi keunggulan bersaing. Lingkungan industri terdiri dari hambatan masuk, kekuatan pemasok, kekuatan pembeli, ketersediaan substitusi dan persaingan antar perusahaan. 11 3. Lingkungan Operasional Strategi dan tujuan perusahaan dipengaruhi oleh daya tarik industri dimana mereka memilih untuk menjalankan bisnis dan posisi daya saingnya dalam industri tersebut. Lingkungan operasional terdiri dari pesaing, pelanggan, kreditor, tenaga kerja, dan pemasok. Analisis SWOT Rangkuti (1997) mengatakan bahwa analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan. SWOT adalah singkatan dari lingkungan Internal Strengths dan Weaknesses serta lingkungan eksternal Opportunities dan Threats yang dihadapi dunia bisnis. Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal peluang (opportunities) dan ancaman (threats ) dengan faktor internal kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness). Alat yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis perusahaan adalah matrix SWOT. Matrix ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matrix ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis. 1) Strategi S-O, strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya; 2) Strategi W-O, strategi yang diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada; 3) Strategi S-T, strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman; dan 4) Strategi W-T, strategi yang didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. Analisis ini dilakukan untuk melihat kelemahan, kekuatan, peluang dan ancaman dalam merencanakan pengembangan usaha pembibitan domba di Peternakan Tawakkal Farm. Beberapa faktor yang dianalisis adalah internal yang meliputi kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness), serta faktor eksternal yaitu 12 peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Dengan analisis SWOT dapat diidentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan suatu strategi pengembangan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang tapi secara bersamaan juga bisa meminimalkan kelemahan dan ancaman. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun matriks SWOT adalah sebagai berikut : 1. Menentukan faktor-faktor peluang eksternal perusahaan 2. Menentukan faktor-faktor ancaman eksternal perusahaan 3. Menentukan faktor-faktor kekuatan internal perusahaan 4. Menetukan faktor-faktor kelemahan internal perusahaan 5. Menyesuaikan kekuatan internal dengan peluang eksternal untuk dengan peluang eksternal untuk mendapatkan strategi S-O 6. Menyesuaikan kelemahan internal mendapatkan strategi W-O 7. Menyesuaikan kekuatan internal dengan ancaman eksternal untuk mendapatkan strategi S-T 8. Menyesuaikan kelemahan internal dengan ancaman eksternal untuk mendapatkan strategi W-T Pada dasarnya analisis SWOT haruslah membandingkan kondisi sama yang dihadapi oleh pesaingnya berdasarkan kriteria subjektif ataupun objektif (skala industri), sebab dengan membandingkan maka perusahaan yang berkepentingan dapat menentukan rencana strategis untuk menghadapi persaingan tersebut. Akan tetapi bila perusahaan yang dimaksud hingga pada saat dilakukan kajian situasi ternyata tidak memiliki data tentang pesaing atau pesaingnya belum terpetakan baik dalam skala industri (kumpulan perusahaan yang menghasilkan barang sama) maupun gari inteligen perusahaan, sedangkan perusahaan mendesak sekali untuk mempersiapkan rencana usaha strategis terutama dari manajemen organisasi, maka dengan menggunakan segi pemasaran dan analisis SWOT yang dimodifikasi sedemikian hingga menjadikan ia dapat digunakan oleh perusahaan tanpa harus mengetahui skala industri atau data inteligen mengenai pesaingnya (Putong, 2003). 13 MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di Peternakan Domba Tawakkal yang terletak di Jl. Raya Sukabumi Dusun Cimande Hilir No. 32 Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan yaitu pada bulan Oktober-November 2011. Materi Materi yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung, wawancara, dan menggunakan kuisioner. Data sekunder adalah data pelengkap dari data primer yang diperoleh dari literatur perpustakaan, buku, jurnal, skripsi maupun data lainnya. Peralatan yang digunakan adalah pulpen, pita ukur, kertas kuisioner, dan kamera. Prosedur Prosedur penelitian yang dilakukan adalah tahap pertama pengumpulan data. Pada tahap ini data dapat dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dan wawancara menggunakan kuisioner. Responden terdiri dari pemilik usaha peternakan domba Tawakkal, kepala kandang, pekerja, dan masyarakat yang berada di peternakan Tawakkal Farm yang berjumlah empat orang untuk pengisian bobot dan rating faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor yang diamati pada usaha pembibitan domba terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi karakteristik bibit, lokasi peternakan, jumlah pekerja, keterampilan pekerja, dan faktor internal lainnya yang ditemukan saat penelitian. Faktor eksternal meliputi permintaan bibit domba, penerimaan masyarakat terhadap usaha pembibitan domba, penyebaran penyakit, dukungan pemerintah, tingkat kepercayaan konsumen, persaingan, dan faktor eksternal lainnya. Data sekunder adalah data pelengkap dari data primer yang diperoleh dari literatur perpustakaan, buku, jurnal, skripsi maupun data lainnya. Faktor-faktor tersebut selanjutnya disusun dan dibuat kuisioner untuk melihat apakah faktor tersebut masuk ke dalam kekuatan atau kelemahan untuk faktor internal sedangkan faktor eksternal apakah termasuk ke dalam peluang atau ancaman. Setiap faktor 14 diberi bobot dan rating. Tahap kedua yaitu tahap analisis. Tahap analisis ini menggunakan model matriks SWOT. Tahap ketiga yaitu tahap penyusunan strategi pengembangan yang dapat diterapkan di Peternakan Domba Tawakkal. Desain Penelitian Penelitian ini dilakukan menggunakan metode studi kasus. Tujuan studi kasus ini adalah memperoleh gambaran yang luas dan lengkap serta mengetahui keadaaan atau kondisi di lokasi penelitian yaitu usaha pembibitan domba di Peternakan Domba Tawakkal. Rancangan dan Analisis Data Data primer berasal dari kuisioner dan wawancara kepada pemilik peternakan, pekerja dan masyarakat yang berjumlah empat orang untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal pada usaha pembibitan di Peternakan Domba Tawakkal. Putong (2003) menyatakan bahwa setiap faktor diberi bobot mulai dari skala 4 (sangat penting), 3 (penting), 2 (kurang penting) dan 1 (tidak penting). Setiap faktor diberi peringkat atau rating mulai dari skala 4 (sangat tinggi), 3 (tinggi), 2 (sedang), dan 1 (rendah). Fakor-faktor yang telah didapatkan yang diperolah dari hasil kuisioner dan wawancara kepada narasumber kemudian dikelompokkan menjadi faktor internal terdiri dari kekuatan dan kelemahan, sedangkan faktor eksternal terdiri dari peluang dan ancaman. Bobot pada tabel IFE (Internal Factor Evaluation) dan EFE (External Factor Evaluation) untuk setiap faktornya merupakan hasil dari bobot tiap faktor dibagi dengan jumlah total bobot setiap tabel IFE dan EFE sedangkan rating pada tabel IFE dan EFE untuk setiap faktor dengan meratakan-ratakan rating yang diperoleh jumlah rating yang didapatkan (Tabel 2 dan Tabel 3). Skor pembobotan diperoleh dengan cara mengalikan bobot dengan rating sehingga diperoleh hasil kombinasi antara beberapa situasi pada matriks SWOT yang terdiri atas empat kuadran (Rangkuti, 1997), seperti yang ditunjukkan Gambar 1. 15 Tabel 2. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) Faktor internal Bobot Peringkat Bobot x (A) (B) Peringkat Kekuatan : Kelemahan : Total Tabel 3. Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFE) Faktor Strategis Eksternal Bobot Rating Bobot x (A) (B) Peringkat Peluang : Ancaman : Total Analisis Matriks Strengths-Weaknesses-Opportunities-Threaths (SWOT) Matriks SWOT merupakan salah satu tahap dalam teknik perumusan strategi. Hasil yang diperoleh dari matriks SWOT adalah berupa alternatif strategi yang layak dipakai dalam strategi usaha. Matriks ini dapat menghasilkan empat sel kemungkinan alternatif strategi, yaitu S-O (Strengths-Opportunities), strategi W-O (WeaknessesOpportunities), strategi W-T (Weaknesses-Threaths), dan strategi S-T (StrengthsThreaths) (Rangkuti, 1997). 16 Internal eksternal Opportunies (O) *Peluang eksternal Treaths (T) *Ancaman eksternal Strengths (S) Weaknesses (W) *kelemahan internal *kekuatan internal Strategi SO Strategi WO Ciptakan strategi uang Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan untuk memanfaatkan peluang peluang Strategi ST Strategi WT Ciptakan strategi yang Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan meminimalkan kelemahan untuk mengatasi ancaman dan menghindari ancaman Gambar 1. Matriks Analisis SWOT (Rangkuti, 1997) 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Usaha Pembibitan Domba Tawakkal Lokasi Usaha Peternakan domba Tawakkal terletak di Jl. Raya Sukabumi Dusun Cimande Hilir No.32 Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Usaha ternak yang berjarak sekitar 2 m dari pemukiman penduduk menempati lahan 5100 m2 yangberbatasan langsung dengan Dusun Lemah Duhur di sebelah Barat, Desa Ciderum di sebelah Timur serta Desa Caringin di sebelah Utara dan Selatan. Di sekitar lokasi peternakan terdapat pepohonan yang rindang dan ditanami dengan tanaman pertanian seperti singkong, kacang panjang, kol. Keadaaan fisik jalan masih jalan tanah (setapak) dan harus menempuh jarak 150 m untuk mencapai jalan aspal. Keadaan topografi daerah cukup datar, dengan ketinggian 400-700 m diatas permukaan laut. Temperatur lingkungan berkisar antara 28°C (17-30°C) dengan kelembaban udara 70-80% dan curah hujan antara 3000-3400 mm per tahun. Status Usaha Pembibitan Domba Usaha pembibitan domba Tawakkal didirikan oleh H. Bunyamin pada tahun 2010. Usaha pembibitan domba Tawakkal adalah salah satu bentuk usaha home industry. Usaha ini merupakan milik pribadi H. Bunyamin yang memiliki 4 orang pekerja yang terdiri dari 1 kepala kandang dan 3 orang pekerja. Peternakan Tawakkal memiliki 1 kandang pembibitan. Kandang Kandang yang digunakan berbentuk panggung. Posisi kandang membentang dari utara ke selatan dan dinding kandang menghadap timur dan barat sehingga sinar matahari pagi dapat masuk ke kandang. Sinar matahari penting bagi domba serta menjaga agar kandang tidak lembab. Atap kandang terbuat dari asbes, karena harganya relatif lebih murah serta melindungi domba dari panas dan hujan dan menajaga kehangatan kandang di waktu malam. Dinding kandang setinggi 200 cm terbuat dari bilah-bilah bambu di bagian atas dan papan kayu setinggi 100 cm pada dinding bagian bawah. Luas kandang pembibitan adalah 30 m x 7 m. Bangunan kandang mampu menampung ±300 ekor, yang terdiri dari 10 kandang kawin dengan ukuran panjang 3 18 m, lebar 1,5 m, 40 kandang yang meliputi kandang melahirkan, kandang induk, kandang anak lepas sapih yang berukuran panjang 1,2 m dan lebar 1,5 m dan 3 kandang yang berukuran panjang 219 cm, lebar 177 cm yang digunakan untuk kandang lepas sapih dan induk. Luas kandang pejantan yaitu panjang 127 cm, lebar 112 cm, tinggi 115 cm. Tempat pakan pejantan memiliki panjang 93 cm, lebar 52 cm, tinggi 37 cm. Kandang pejantan dibuat individu sedangkan kandang betina merupakan kandang koloni. Lantai kandang terbuat dari bambu dengan jarak 1,5 cm sehingga kotoran dan air kencing mudah jatuh ke tempat penampungan. Kandang panggung mempunyai ketinggian antara satu sampai satu setengah meter dari tanah. Kolong kandang tidak disemen dan kotoran yang jatuh ke bawah kandang. Pakan Pakan merupakan faktor penting yang mutlak dipenuhi peternak. Pakan yang bermutu tinggi, murah dan tersedia sepanjang tahun merupakan kriteria yang digunakan usaha ternak dalam pemilihan jenis pakan. Jenis pakan yang diberikan pada ternak terdiri dari rumput lapang, premix, vitamin, mineral, dan ampas tahu. Tenaga Kerja Usaha pembibitan domba hanya di pegang oleh 4 orang yaitu 1 kepala kandang dan 3 orang pekerja. Kriteria khusus dalam memilih pekerja pada usaha pembibitan tidak ada asalkan tekun, bertenaga, dan mau bekerja keras dapat menjadi pekerja. Kepala kandang dipilih berdasarkan keterampilan lebih yang dimilikinya seperti mampu mencukur bulu, menggunting kuku domba, memandikan dan keterampilan lainnya karena kepala kandang selalu berada di kandang dari pagi sampai sore sedangkan 3 orang pekerja lainnya mencari rumput dan membantu tugas kepala kandang. Tenaga kerja berasal dari daerah di sekitar peternakan. Umur pekerja yang digunakan pada usaha pembibitan domba ini berkisar antara 25 tahun – 45 tahun. Pencegahan dan Perawatan Kesehatan Ternak Perawatan kesehatan dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal dari usaha. Jenis perawatan yang dilakukan antara lain memandikan, mencukur bulu, dan memotong kuku. Pencukuran bulu domba dilakukan agar bulu domba tersebut dapat tumbuh yang baru dan bagus. Pencukuran bulu domba ini biasanya dilakukan saat 19 domba datang dari perjalanan jauh. Pencukuran domba bisanya diikuti dengan pemotongan kuku. Domba dimandikan ± 1 minggu sekali. Jenis obat-obatan yang digunakan pada usaha pembibitan domba ini hampir sama dengan obat yang digunakan pada usaha penggemukan. Obat yang digunakan seperti obat mencret, obat cacing, obat untuk sakit mata, mata merah, penambah nafsu makan, obat luka atau borok. Bibit Bangsa domba yang digunakan dalam usaha pembibitan adalah domba ekor tipis dan domba garut. Jumlah populasi di kandang pembibitan ini adalah 356 ekor yang terdiri dari 150 induk dan 206 anak sedangkan terdapat 10 pejantan yang digunakan namun ditempatkan di kandang yang berbeda. Sistem Perkawinan Domba Domba betina yang akan dikawinkan dipilih yang memiliki postur tubuh yang baik, tinggi, panjang, sehat dan berumur 1 tahun-1,5 tahun. Pejantan yang digunakan untuk perkawinan dipilih yang sehat, postur tubuh proporsional dan berumur >1,5 tahun. Perkawinan dilakukan secara alami tanpa menggunakan inseminasi buatan. Pembibitan ini tidak melakukan persilangan antara domba ekor tipis dan garut. Domba betina dimasukkan ke kandang kawin secara bertahap, lima ekor domba betina dimasukkan dan kemudian ditambah terus dengan melihat kemampuan dari pejantan. Domba mau menerima pejantan atau bisa dikawinkan hanya pada saat-saat birahi. Domba yang tidak birahi tidak bisa dipaksakan kawin sehingga lamanya pejantan dikandang kawin yaitu 2x siklus birahi atau sekitar 35 hari. Domba yang sedang birahi biasanya menunjukkan tanda-tanda selalu mengembik-embik, selalu berusaha mendekati atau mencari domba jantan, kalau dinaiki domba jantan tak akan mengelak, tetapi justru diam saja dan vulva bengkak, merah, hangat, dan kadang-kadang berlendir. Lama birahi ternak domba berlangsung 1-2 hari dan peristiwa ini akan terulang kembali setiap 15-20 hari sekali atau rata-rata 17 hari. Sesudah terjadi kebuntingan, maka siklus birahi yang terjadi setiap kurang lebih 17 hari sekali itu menjadi terhenti. Domba-domba betina yang mulai bunting akan mengalami perubahan tingkah laku seperti domba menjadi lebih tenang, tak suka mendekat kepada pejantan lagi apabila dinaiki pejantan atau sesama betina pun mereka tak mau, birahi berikutnya 20 tidak timbul lagi dan nafsu makan meningkat. Betina yang bunting segera dipisahkan. Sesudah sampai waktunya 5 bulan, maka anak yang dikandung akan lahir. Betina yang akan melahirkan dipindahkan ke kandang beranak. Anak akan disapih setelah berumur 3 bulan. Anak jantan akan dipindahkan ke kandang penggemukan untuk digemukkan sedangan anak betina akan dipelihara untuk calon induk maupun dijual. Kira-kira 60 hari sesudah induk beranak, peternak memperhatikan induk tersebut untuk dikawinkan kembali sehingga dalam 2 tahun, domba akan beranak 3 kali. Siklus reproduksi domba dapat dilihat pada Gambar 2. Cara-cara seleksi yang paling menyakinkan untuk tujuan produksi, bisa diperoleh dengan melakukan pencatatan (recording). Sistem recording yang dilakukan masih belum lengkap baru dalam hal tanggal lahir, jumlah anak dan jenis anak yang dilahirkan. Beberapa pencatatan penting yang dapat dicantumkan pada recording ternak agar lebih lengkap yaitu tetua (induk dan pejantan), kelahiran (tanggal, bobot sapih, panjang badan, jumlah anak), perkawinan (tanggal kawin dan pejantan), tanggal beranak kembali, penyakit, temperamen, produksi susu, dan bangsa atau tipe domba. Produktivitas Bibit Usaha pembibitan domba tidak terlepas dari produktivitas induk dan pejantan yang digunakan. Produktivitas usaha pembibitan domba Tawakkal dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Data Koefisien Teknis dan Reproduksi Usaha Pembibitan domba Tawakkal Uraian Litter Size (ekor) Mortalitas Domba (%) Data koefisien teknis 1,5 1 Lamb Crop (%) 150 Sex Ratio Pejantan : Induk 1:5 Masa Bunting (bulan) 5 Calving Internal (bulan) 7 Masa Sapih (bulan) 3 Sex Ratio Anak Jantan : Betina 50:50 Sumber : Data primer 21 kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bulan ke 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Domba dikawinkan Domba bunting Domba beranak Laktasi Domba dikawinkan kembali penyapihan Domba bunting Domba beranak Laktasi Domba dikawinkan kembali Penyapihan Domba bunting Domba beranak laktasi Gambar 2. Siklus Reproduksi Domba dengan Pola 2 Tahun 3 Kali Beranak 21 22 23 24 22 Analisis Keuntungan Pengeluaran usaha pembibitan ini terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisaran perubahan volume kegiatan tertentu sedangkan biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya tetap usaha pembibitan domba Tawakkal yaitu biaya penyusutan kandang dan peralatan sedangkan biaya variabelnya terdiri dari biaya pakan, obat-obatan, upah pekerja, transportasi, listrik dan air. Biaya ini dikeluarkan untuk 240 hari (8 bulan) masa produksi pembibitan. Penerimaan usaha pembibitan domba Tawakkal terdiri atas penjualan anak betina, anak jantan dan kotoran ternak domba. Semakin banyak sumber penerimaan yang diperoleh akan semakin meningkat jumlah penerimaan yang didapatkan. Besarnya keuntungan yang diperoleh, berasal dari penerimaan dikurangi pengeluaran. Analisis keuntungan usaha pembibitan domba Tawakkal untuk satu kali siklus reproduksi (8 bulan) dapat dilihat pada tabel Tabel 5. Tabel 5. Analisis Keuntungan Usaha Pembibitan Domba Tawakkal Uraian Pengeluaran 1. Biaya tetap Penyusutan kandang Penyusutan peralatan 2. Biaya variabel Pakan (160 ekor x 240 hari x Rp 1000) Obat-obatan Upah pekerja (4 orang x 8 bulan x Rp 1.000.000) Transportasi (240 hari x Rp 9000) Listrik dan air (8 bulan x Rp 80.000) Total pengeluaran Penerimaan 1. Penjualan anak betina (103 ekor x Rp 450.000) 2. Penjualan anak jantan (103 ekor x Rp 600.000) 3. Penjualan kotoran (0,75 kg/ekor/hari x 160 ekor x 240 hari x Rp 500 Total Penerimaan Keuntungan (penerimaan – pengeluaran) Harga (Rp) 150.000 150.000 38.400.000 500.000 32.000.000 2.160.000 640.000 74.000.000 46.350.000 61.800.000 14.400.000 122.550.000 48.550.000 23 Analisis Lingkungan Internal Usaha Pembibitan Domba Lingkungan internal merupakan lingkungan organisasi yang berada di dalam organisasi tersebut dan secara normal memiliki implikasi langsung dan khusus pada perusahaan. Pearce dan Robinson (1997) mengungkapkan bahwa lingkungan internal meliputi faktor- faktor internal perusahaan yang teridentifikasi sebagai kekuatan (strengths) atau kelemahan (weaknesses) yang digunakan untuk mengembangkan serangkaian langkah strategik bagi perusahaan. Analisis lingkungan internal sangat perlu dilakukan oleh suatu usaha dalam menilai kondisi lingkungan yang dimilki oleh usaha tersebut. Kondisi lingkungan internal usaha pembibitan domba pada peternakan Tawakkal dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu manajemen sumberdaya manusia, manajemen pembibitan domba dan pemasaran. Manajemen Sumberdaya Manusia Karakteristik sumberdaya manusia di usaha pembibitan domba Tawakkal dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Karakteristik Sumberdaya Manusia di Usaha Pembibitan Tawakkal No. Karakteristik Pekerja Uraian 1. Jumlah pekerja 4 orang yang terdiri dari 1 orang kepala kandang dan 3 orang pekerja 2. Umur pekerja 25-35 tahun dan 35-45 tahun 3. Jam kerja 06.00-16.00 setiap hari 4. Tugas kepala kandang Membersihkan kandang, mencukur bulu, menggunting kuku domba, memandikan dan berada di kandang dari pagi sampai sore untuk memantau keadaan ternak 5. Tugas pekerja Mencari rumput dan membantu kepala kandang Keterangan : Data primer berdasarkan hasil wawancara Peternakan Domba Tawakkal dimiliki oleh Bapak Bunyamin yang memiliki latar belakang sarjana dan bekerja di dinas kesehatan. Usaha pembibitan domba hanya di pegang oleh 4 orang yaitu 1 kepala kandang dan 3 orang pekerja. Kriteria khusus dalam memilih pekerja pada usaha pembibitan domba tidak ada asalkan tekun, bertenaga, dan mau bekerja keras dapat menjadi pekerja. Kepala kandang 24 dipilih berdasarkan keterampilan lebih yang dimilikinya seperti mampu mencukur bulu, menggunting kuku domba, memandikan dan keterampilan lainnya karena kepala kandang selalu berada di kandang dari pagi sampai sore sedangkan 3 orang pekerja lainnya mencari rumput dan membantu tugas kepala kandang. Para pekerja bekerja setiap hari pada pukul 06.00-16.00. Pekerja yang mencari rumput harus tiba di kandang pada pukul 14.00. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat pembagian kerja yang jelas antar pekerja sehingga pekerjaan yang dilakukan setiap hari menjadi optimal. Pembagian kerja yang jelas menjadi salah satu kekuatan dalam mengembangkan usaha. Keterampilan dan pengetahuan peternak dalam bekerja tidak lepas dari campur tangan pemilik ternak sendiri, pemiliki peternakan selalu mengawasi dan memantau setiap pekerjaan dan sering kali memberikan ilmu, pelatihan, pengarahan dan turun langsung dalam usaha ini. Pemilik usaha pun melakukan penilaian prestasi kerja baik pengawasan secara langsung yang dilakukan setiap satu minggu sekali dan evaluasi akhir tahun usaha. Umur pekerja yang ada di peternakan domba Tawakkal 1,5 tahun. Umur kawin ternak domba penting untuk diperhatikan kerena menyangkut produktifitas ternak selanjutnya. Ternak domba yang dikawinkan terlalu muda biasanya mempunyai bobot hidup relatif masih rendah, akibatnya anak domba yang dihasilkan mempunyai bobot lahir yang rendah dan pertumbuhan yang lambat. Peternakan domba ini memiliki pejantan unggul sebanyak 10 ekor yang diletakkan di kandang yang berbeda dengan kandang induk. Jumlah induk yang dimiliki oleh usaha pembibitan domba Tawakkal sebanyak 150 induk dan saat ini telah menghasilkan 206 anak domba. Hal ini menandakan bahwa persentase produktivitas usaha pembibitan ini cukup baik yaitu 73%. Data produktivitas bibit dapat dilihat pada Tabel 4. Manajemen pembibitan yang dilakukan adalah perkawinan secara alami tanpa menggunakan inseminasi buatan karena sudah pernah mencobanya namun gagal dan harganya pun sangat mahal. Pembibitan ini tidak melakukan persilangan antara domba ekor tipis dan garut. Rasio yang digunakan adalah 1:5 (pejantan : betina). Betina yang telah diilih dimasukkan kedalam kandang kawin yang terdapat 1 pejantan. Lamanya pejantan dikandang kawin yaitu 2x siklus birahi atau sekitar 35 hari. Betina yang bunting dan akan melahirkan segera dipindahkan ke kandang beranak. Anak akan disapih setelah berumur 3 bulan. Setelah 60 hari melahirkan, induk akan dikawinkan kembali. Penyapihan anak dapat dilakukan setelah tiga bulan melahirkan dan dapat dikawinkan saat birahi sebelum penyapihan. Pengaturan selang kelahiran yang baik akan meningkatkan jumlah kelahiran anak menjadi tiga kali dalam dua tahun (Mulyono, 2005). Anak jantan akan dipindahkan ke kandang penggemukan untuk digemukkan sedangan anak betina akan dipelihara untuk calon induk maupun dijual. Induk dan pejantan yang digunakan untuk perkawinan tidak ditimbang dan hanya dilihat dari sifat fisik saja begitu juga anak hasil perkawinan pun tidak ditimbang dan hanya melihat dari sifat fisik domba tersebut, dengan alasan karena akan ditimbang saat penggemukan domba untuk anak jantan. Domba yang baru datang dari daerah Jawa dimasukkan ke dalam 1 kandang namun masih dalam 1 bangunan kandang karena tidak ada kandang karantina. Hal ini dapat menyebabkan tertularnya penyakit dari domba yang baru tiba dari perjalanan jauh dengan domba yang sudah ada di kandang, seperti penyakit mata (mata merah) 28 pada domba dari perjalanan jauh, pekerja memberikan obat tetes mata agar tidak menular ke domba yang sehat. Domba yang baru datang akan diberikan dengan obat cacing karena pemilik ternak mempunyai anggapan bahwa seluruh domba yang baru datang dari pasar sebagian besar berpenyakit cacingan. Penyakit yang banyak menyerang ternak domba di peternakan rakyat adalah penyakit yang menyerang pencernaan seperti cacingan (Wicaksono, 2002). Domba yang baru datang dari perjalanan jauh akan dilakukan pencukuran bulu domba agar bulu domba tersebut dapat tumbuh yang baru dan bagus serta pemotongan kuku. Domba dimandikan ± 1 minggu sekali. Pada usaha ternak domba, kandang merupakan salah satu faktor penting dalam memelihara domba. Kandang digunakan untuk melindungi ternak domba dari angin, hujan, serangan penyakit, parasit dan juga untuk efisiensi produksi. Luas kandang kawin yang digunakan pada usaha pembibitan ini ukuran panjang 3 m dan lebar 1,5 m telah sangat memadai untuk dijadikan kandang kawin. Rata-rata untuk ukuran kandang kawin, induk yang hendak dikawinkan dimasukkan ke dalam satu kandang yang cukup luas, dengan kapasitas 1-1,5 meter persegi/ekor. Dengan kapasitas ini, setiap satu kandang bisa diisi kurang lebih 10 ekor induk. Lantai kandang terbuat dari bambu dengan jarak 1,5 cm agar kotoran dan urin bisa langsung jatuh ke kolong kandang dan tidak menumpuk dilantai kandang untuk menjaga kebersihan dari kandang tersebut. Kolong kandang tidak disemen dan kotoran yang jatuh ke bawah kandang diambil 4 hari sekali. Zona termonetral domba berkisar antara suhu 28°C sampai 30°C sedangkan rata-rata suhu di peternakan Tawakkal berkisar 28°C dan ditambah lagi keadaaan di sekitar kandang yang teduh karena terdapatnya pohon yang rindang sehingga akan membuat domba tidak kepanasan dan terhindar dari cekaman panas. Manajemen usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal dapat dilihat pada Tabel 8. 29 Tabel 8. Kegiatan Manajemen Pembibitan Domba di Peternakan Tawakkal No. 1. Kegiatan Manajemen Uraian Bibit a. Seleksi pejantan sehat, postur tubuh proporsional, berumur >1,5 tahun, tubuh panjang, alat kelaminya normal dan simetris b. Seleksi induk sehat, tidak terlalu gemuk, bentuk tubuh kompak, garis punggung dan pinggang lurus, bulu bersih dan mengkilap, umur 1-1,5 tahun c. Seleksi anak jantan akan digemukkan dan betina sebagai calon induk atau dijual. 2. Pakan a. Waktu pemberian pukul 06.00 (rumput) dan sore pada pukul 15.00 (rumput, ampas tahu dan mineral) b. Jenis pakan rumput lapang, premix, vitamin, mineral, dan ampas tahu c. Jumlah pemberian 3. 3 kg ampas tahu dan 2-2,5 kg rumput lapang Kandang a. Luas kandang kawin 45 m² b. Jumlah kandang 10 kandang kawin, 43 kandang yg meliputi kandang melahirkan, kandang induk, kandang anak lepas sapih c. Jenis kandang 4. kandang panggung Reproduksi a. Perkawinan domba Perkawinan alami tanpa inseminasi buatan b. Lama penjantan di 2x siklus birahi (35 hari) kandang kawin c. Pengaturan kelahiran d. Pengaturan perkawinan Domba yang bunting dipindahkan ke kandang melahirkan Domba dikawinkan lagi, 60 hari setelah beranak Keterangan : Data primer 30 Pemasaran Usaha pembibitan domba ini menghasilkan ternak berupa bakalan domba untuk digemukkan dan induk yang dapat dijual. Bakalan untuk digemukkan yaitu bibit anak yang jantan, yang digemukkan sendiri oleh pemilik maupun dijual kepada peternak lain. Domba-domba tersebut dijual baik kepada peternak maupun pihak pemerintah dalam skala kecil maupun besar seperti ke daerah Jawa Barat maupun luar Jawa Barat. Penentuan harga untuk domba yang dijual dalam usaha pembibitan ini tidak dilihat dari bobot badan tapi ditentukan berdasarkan penampilan fisik dari domba tersebut. Harga yang ditentukan pun berdasarkan kesepakatan diantara kedua belah pihak dengan melihat kualitas dari ternak itu sendiri. Misal dengan harga Rp 700.000 domba yang dijual harus bibit yang baik karena peternakan ini menganut sistem kejujuran kepada setiap konsumennya. Harga jual untuk bakalan jantan yaitu Rp 650.000 sedangkan betina Rp 400.000. Sistem pemasaran yang dilakukan masih sangat sederhana yaitu dengan mulut ke mulut, kerabat maupun dari konsumen yang datang langsung ke peternakan. Usaha pembibitan ini belum menggunakan media cetak maupun elektronik dan internet untuk memasarkan ternaknya. Pembeli dapat langsung ke peternakan untuk memilih domba yang akan dibeli maupun memberikan kepercayaan kepada pemilik untuk mengirimkan domba yang akan dipesan. Usaha pembibitan ini dapat mengarahakan salah satu pekerjanya untuk menjadi penanggung jawab dalam pemasaran maupun mengurus sistem online ini tanpa harus mengganggu kegiatan dan tugas utama pekerja. Peluang yang cukup tinggi dalam segi permintaan bibit domba, persaingan usaha pembibitan yang masih sedikit dan kepercayaan pelanggan yang tinggi dapat dijadikan alasan untuk melakukan sistem pemasaran ini. Hasil penelitian Sasongko (2006) mengatakan bahwa penggunaan jaringan komputer dan internet telah banyak dilakukan oleh para pelaku bisnis dalam melakukan negosiasi, transaksi, dan pemasaran produknya kepada setiap relasi. Pemanfaatan teknologi internet ini bisa meningkatkan jumlah permintaan domba dan informasi terkait keberadaan usaha pembibitan Tawakkal sehingga akan menyebar dan diketahui tidak hanya di pulau Jawa saja namun Indonesia bahkan mancanegara sehingga dengan menggunakan strategi ini diharapakan usaha pembibitan ini dapat dipromosikan lebih luas lagi baik untuk 31 penjualan, informasi dan kegiatan lain yang mendukung berkembangnya usaha pembibitan. Pelayanan ini akan menciptakan hubungan yang saling menguntungkan bagi usaha pembibitan maupun pelanggan dimana pelanggan tidak merasa dirugikan sedangkan disisi lain usaha pembibitan akan memperoleh kepercayaan. Hal ini merupakan salah satu cara untuk menjaga kepercayaan, pelayanan dan kepuasaan pembeli. Usaha penggemukan domba yang telah dikenal masyarakat pun mengakibatkan usaha pembibitan ini dapat dengan cepat diketahui oleh masyarakat dan pelanggan. Sistem pembayaran dilakukan secara tunai maupun bertahap sampai domba yang dikirim datang ke daerah yang dituju. Kerjasama yang terjalin antara peternakan Tawakkal dengan peternakan di daerah Jawa dalam segi pengiriman indukan tidak melakukan kontrak kerjasama yang jelas dan hanya mengandalkan kepercayaan dan kejujuran. Hal ini karena pemilik peternakan Tawakkal sudah mengenal pihak pemasok induk dari Jawa dan sering berkunjung ke peternakannya. Perjanjian kerjasama yang tidak kuat antara dua belah pihak dapat menimbulkan ancaman untuk peternakan karena tidak adanya kontrak yang jelas dan secara tiba-tiba dapat memutuskan pengiriman domba karena beberapa faktor yang tidak dapat diduga sebelumnya. Tidak adanya pembukuan yang jelas mengenai penjualan dan pembelian domba menjadi salah satu kesulitan dalam penelitian ini karena tidak adanya informasi yang jelas terkait dana dan jumlah domba yang dibeli dan dijual. Berdasarkan analisis lingkungan internal tersebut maka faktor-faktor lingkungan internal yang meliputi kekuatan dan kelemahan yang terdapat di dalam usaha pembibitan ini yaitu : 1. Bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik 2. Induk dan pejantan yang digunakan dipilih yang bagus 3. Lokasi peternakan yang strategis 4. Jumlah pekerja yang memadai 5. Pekerja yang digunakan terampil, ramah dan mau belajar 6. Adanya mess, mushola, saung dan fasilitas lainya di peternakan 7. Adanya pembagian kerja yang jelas 8. Kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau 32 9. Lokasi peternakan yang aman dari pencurian Adapun kelemahan yang dimilki usaha pembibitan domba ini adalah 1. Sistem recording yang tidak teratur 2. Keterbatasan modal 3. Teknologi pembibitan tidak digunakan 4. Jumlah kandang masih terbatas 5. Lahan yang masih terbatas Analisis Lingkungan Eksternal Usaha Pembibitan Domba David (2009) menjelaskan bahwa analisis terhadap lingkungan eksternal bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi suatu perusahaan sehingga manajemen perusahaan memiliki kemampuan untuk dapat merumuskan suatu strategi. Analisis lingkungan eksternal menekankan pada evaluasi terhadap peristiwa di luar kendali sebuah perusahaan. Tujuan dari analisis lingkungan eksternal adalah untuk mengembangkan daftar terbatas peluang yang dapat dimanfaatkan perusahaan dan ancaman yang dihindari. Lingkungan eksternal perusahaan merupakan lingkungan yang terdiri dari faktor-faktor yang dapat menjadi peluang (opportunities) dan ancaman (threats) yang berada di luar pengawasan dan kontrol pihak manajemen perusahaan (Pearce dan Robinson, 1997). Lingkungan eksternal pada usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal dapat dilihat dari beberapa aspek berikut : Potensi Pasar Populasi domba di Indonesia tahun 2011 adalah 11.372.000 ekor (Direktorat Jenderal Peternakan, 2012). Jumlah populasi manusia Indonesia tahun 2010 adalah 237.641.326 jiwa (Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, 2012). Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan Kementan, konsumsi daging nasional pada 2010 sebesar 1,27 kg per kapita per tahun. Seiring dengan meningkatnya jumlah populasi manusia maka akan meningkatkan kebutuhan daging sebagai sumber pangan yang salah satunya berasal dari daging domba. Pencapaian konsumsi protein hewani masyarakat Kabupaten Bogor belum dapat mencapai target nasonal yang ditetapkan yaitu konsumsi protein hewani secara normal sebesar 6 g/kapita/hari (Dinas Peternakan Kabupaten Bogor, 2006). 33 Data dari dinas peternakan Jawa Barat (2007) menyatakan bahwa permintaan domba setiap tahun mengalami kenaikan sebesar 24 % dan permintaan tersebut masih kewalahan untuk dipenuhi oleh peternak yang ada di Jawa Barat dikarenakan kapasitas produksi yang masih rendah. Permintaan ekspor produk-produk peternakan untuk negara-negara ASEAN dan Timur Tengah yang sejumlah 4000-4500 ton per tahun dan 200.000-250.000 ekor per tahun pada saat ini belum dapat terpenuhi (Sasongko, 2006). Semakin banyaknya usaha penggemukan domba yang memerlukan bakalan domba yang tiap tahunnya kurang lebih sekitar 5,6 juta ekor untuk kebutuhan ibadah kurban saja, dan belum termasuk kebutuhan pasokan untuk aqiqah, industri restoran sampai dengan warung sate kaki lima yang membutuhkan 2 sampai 3 ekor tiap hari. Permintaan yang meningkat dan kebutuhan yang belum mencukupi merupakan peluang yang besar untuk melakukan usaha pembibitan ini ditambah lagi pertumbuhan populasi domba dan kambing adalah belum sebanding dengan angka permintaan yang terus meningkat. Ekonomi Berdasarkan data BPS, pengeluaran perkapita rata-rata untuk makanan yang dikeluarkan oleh masyarakat Indonesia mencapai 56,89 persen dari total penghasilan. Sebanyak 10,36 persen digunakan untuk belanja bahan makanan padi-padian, sedangkan hanya 5,04 persen yang digunakan untuk konsumsi susu, daging dan telur. Dari jumlah tersebut, mengindikasikan bahwa konsumsi masyarakat Indonesia untuk produk-produk peternakan masih cukup rendah. Namun beberapa tahun ini masyarakat telah sadar akan pentingnya sumber makanan fungsional yang tidak hanya mengenyangkan namun juga memiliki manfaat jika mengonsumsinya dan mempunyai nilai gizi yang baik seperti daging. Pertumbuhan ekonomi yang mengalami peningkatkan menyebabkan tingkat pendapatan dan daya beli masyarakat akan meningkat. Hal ini pada akhirnya akan berdampak pada peningkatkan konsumsi masyarakat terhadap bahan pangan hewani. Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Barat (2007) mengatakan bahwa jumlah produksi daging belum mencukupi kebutuhan konsumsi daging penduduk Jawa Barat. Jumlah produksi sebesar 420.264 ton dan jumlah kebutuhan 440.319 ton. Kenaikan biaya transportasi merupakan salah satu ancaman bagi usaha pembibitan ini. kenaikan biaya transportasi tidak terlepas dari kenaikan Bahan Bakar 34 Minyak (BBM). Hal ini akan meningkatkan biaya produksi usaha pembibitan di peternakan Tawakkal karena pengadaaan rumput, induk dan pemasaran bibit dilakukan menggunakan transportasi yang hampir dilakukan setiap hari. Persaingan Usaha Usaha pembibitan pada peternakan domba Tawakkal adalah usaha yang baru dijalankan hampir 2 tahun dan usaha pembibitan domba ini sangat jarang dilakukan dan pelaku usaha cenderung melakukan usaha penggemukan domba, hal ini karena pelaku usaha menganggap usaha pembibitan rumit dilakukan dan perputaran modal yang lama. Hal ini merupakan salah satu peluang usaha yang menjanjikan karena sedikitnya pelaku usaha yang melakukan pembibitan domba khususnya di Kabupaten Bogor. Data usaha peternakan domba di Kabupaten Bogor disajikan pada Tabel 9. Salah satu keuntungan usaha pembibitan ini adalah usaha peternakan domba Tawakkal telah berpengalaman dan mendapatkan posisi yang baik dimata pelanggan dan konsumen pada usaha penggemukannya, sehingga dampak dari kepercayaan ini pun mengakibatkan usaha pembibitan ini dapat diterima oleh konsumen dan pelanggan yang lain. Tabel 9. Usaha Peternakan Domba di Wilayah Bogor No Jenis Peternakan Lokasi Populasi Ternak (ekor) 1. Peternakan Tawakkal Cimande 1200 2. Peternakan MT Farm Ciampea 750 3. Pembibitan Domba Garut Cisalopa, Cinagara 600 4. Pembibitan Domba Garut Pegelaran 300 5. Penggemukan Domba Leuwiliang 200 6. Pembibitan Domba Lokal Desa Benteng, Gunung Leutik 150 7. Penggemukan Domba Cimanggu 150 Sumber : Dinas Peternakan Kab. Bogor (2006) 35 Sosial Budaya Sebagai negara dengan mayoritas penduduk adalah beragama Islam, produkproduk yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan bagi umat muslim sangat berpotensi untuk dikembangkan. Salah satu produk khususnya peternakan yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan adalah ternak kambing dan domba. Ternak ini banyak digunakan umat muslim yang memiliki kemampuan dari segi materi untuk menjalankan ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha serta pelaksanaan aqiqah anak-anak mereka. Budaya masyarakat Indonesia yang bersifat keagamaan seperti penyembelihan domba untuk kurban dan aqiqah menjadi peluang pasar yang menjanjikan untuk usaha pembibitan ini dimana dapat menjual dan mendistribusikan bakalan untuk usaha penggemukan yang dilakukan peternakan Tawakkal maupun ke usaha penggemukan yang lain sehingga tidak perlu khawatir karena bisa memproduksi bakalan sendiri. Data dari dinas peternakan Jawa Barat (2007) menyatakan bahwa permintaan domba setiap tahun mengalami kenaikan sebesar 24 % dan permintaan tersebut masih kewalahan untuk dipenuhi oleh peternak yang ada di Jawa Barat dikarenakan kapasitas produksi yang masih rendah. Usahaternak domba yang berada di dekat lingkungan pemukiman penduduk dituntut untuk selalu melakukan interaksi sosial dengan baik kepada masyarakat sekitarnya. Pihak usaha peternakan domba Tawakkal menyadari dan menjaga hubungan tersebut dengan beberapa pendekatan seperti pemberian zakat atau sedekah kepada warga sekitar baik berupa uang tunai, bahan makanan pokok maupun peralatan ibadah yang rutin dilakukan setiap tahun. Peternakan Tawakkal pun melakukan kerjasama dengan BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) dalam usaha pembibitan domba. Hasil kerjasama usaha pembibitan ini sepenuhnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah peternakan domba seperti uang untuk biaya pendidikan, kesehatan, kaum duafa, zakat dan rumah sehat agar masyarakat bisa berobat gratis. Dengan adanya hubungan dan penerimaan yang baik dari masyarakat sekitar, diharapkan akan memperlancar kegiatan usaha karena jika hubungan ini tidak berjalan baik maka akan menjadi ancaman bagi keberadaan usaha ternak di masa yang akan datang. Hasil penelitian Ikhsan (2009), strategi yang diterapkan untuk meningkatkan hubungan sosial kepada masyarakat yang dilakukan oleh peternakan Agri farm yaitu 36 melibatkan anak-anak yang ada untuk diberdayakan membantu mencari rumput dengan sekali-kali diberi upah. Selain itu masyarakat sekitar yang memiliki kandang juga ikut dilibatkan dengan cara menjalin kerjasama dengan sistem maparoh. Sistem maparoh yaitu pihak Agrifarm menitipkan empat ekor domba bakalan kepada petani selama enam bulan setelah itu domba yang diambil tiga ekor sedangkan satu ekor bagian untuk petani. Strategi ini menjadikan petani memiliki rasa keterlibatan dan juga tanggung jawab dalam menjalankan usahaternak domba Agrifarm. Kebijakan Pemerintah Daerah Salah satu faktor pendukung kelancaran usahaternak domba adalah dukungan dari pemerintah. Kebijakan maupun peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah khususnya pemerintah daerah sangat berpengaruh terhadap kinerja dan langkah yang akan diambil peternak. Sejak digulirkannya program revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan sejak tahun 2009 yang strateginya di bidang peternakan dan perikanan melalui pengembangan zona pertanian dan pengembangan komoditas unggulan, salah satu bidang usaha yang mendapatkan perhatian yaitu pengembangan usaha ternak kecil termasuk ternak domba (Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, 2010). Hasil Penelitian Ikhsan (2009) mengatakan bahwa adanya permintaan dari gubernur Jawa Barat kepada Dinas Peternakan Jawa Barat agar meningkatkan populasi bibit domba sebanyak 1000 persen pada tahun 2010 guna mewujudkan Jawa Barat sebagai pusat pengembangan ternak ruminansia dan mampu memenuhi berapapun permintaan daging domba. Program yang direncanakan oleh pemerintah Jawa Barat ini merupakan peluang yang sangat potensial bagi usahaternak domba Agrifarm mengingat target pertumbuhan populasi yang diharapkan sangat tinggi. Dampak positif yang akan dirasakan oleh para peternak di Jawa Barat yaitu akan adanya bantuan ataupun kemudahan dari pemerintah propinsi baik berupa bantuan modal, bantuan bibit, maupun bantuan penjelasan tekhnis dalam pemeliharaan domba. Fakta dilapangan mengatakan bahwa sampai saat ini, usaha peternakan domba Tawakkal belum mendapatkan izin usaha dari dinas peternakan Kabupaten Bogor meskipun sudah mengajukan beberapa kali namun ditolak dan birokrasi yang rumit dan berbelit. Berdasarkan wawancara kepada pemilik usaha pun mengatakan bahwa belum adanya bantuan dari pemerintah terkait pengembangan usaha peternakan dan jarang dari 37 pihak dinas memantau usaha peternakan ini walapun demikian setiap tahun, dinas peternakan Kabupaten Bogor melakukan suntik antrax untuk ternak pada saat akan Idul Adha. Kekuatan Tawar Menawar Pemasok dan Pelanggan Kekuatan tawar menawar pemasok input seperti domba betina besar, kecil, jantan besar dan kecil yang berasal Magelang, Wonosobo, Banjarnegara dan Temanggung kurang kuat karena tidak adanya kontrak yang jelas antara pihak peternakan Tawakkal dan peternak di daerah tersebut. Pemiliki hanya mengandalkan kepercayaan dan perjanjian tidak tertulis kepada peternak tersebut dengan mengirimkan pesanan domba yang diminta. Pemiliki pembibitan Tawakkal mengatakan bahwa kedua belah pihak memegang kejujuran jika terdaapt ternak yang tidak sesuai dengan yang diinginkan makan akan dikembalikan. Harga yang telah ditetapkan oleh kedua belah pihak adalah bakalan pejantan besar dari daerah Banjarnegara dengan harga Rp 1.200.000, bakaln pejantan kecil dari daerah Tumanggung Rp 700.000, betina kecil dari daerah Magelang Rp 450.000-500.000 dan betina besar dari daerah Wonosobo Rp 750.000-800.000. sistem yang dilakukan peternakan Tawakkal untuk membeli domba tersebut dengan sistem gantin, namun belum begitu jelas kapan dan jumlahnya setiap pengiriman. Kekuatan tawar menawar pemasok input produksi pada usaha ternak domba Tawakkal tidak besar karena jumlah pemasok untuk usaha ternak ini cukup banyak. Pemilihan terhadap pemasok berdasarkan atas harga, kualitas barang, pelayanan yang memuaskan, kontinyuitas pasokan dimana harga ditentukan berdasarkan harga pasar dan kesepakatan antara kedua belah pihak. Biaya angkut bahan baku sampai ke lokasi peternakan ditanggung oleh pihak usaha ternak. Posisi tawar konsumen dikatakan kuat apabila konsumen atau pembeli terkonsentrasi atau membeli dalam jumlah banyak sehingga sangat menentukan volume penjualan. Selain itu produk yang dibeli merupakan produk yang tidak terlalu penting bagi konsumen sehingga konsumen tidak terlalu bergantung terhadap produk serta produk yang dibeli merupakan komponen biaya yang cukup besar. Konsumen atau pelanggan utama dari usaha pembibitan ini adalah peternak yang mencari bakalan dalam jumlah yang besar maupun kecil dan juga tenggulak. Pembeli 38 bibit domba ini pun tidak hanya berasal dari wilayah Jawa Barat namun sampai ke daerah Aceh dan luar pulau Jawa. Salah satu bentuk antisipasi pihak usaha ternak untuk menghindari keadaaan yang tidak menguntungkan adalah dengan memanfaatkan pengalaman selama hampir 19 tahun dalam usaha penggemukan domba yang mana telah menciptakan wilayah pemasaran dan relasi yang luas sehingga usaha pembibitan ini pun telah diketahui. Pemilik ternak yang selalu menjaga hubungan yang baik, menjaga kepercayaan kepada pelanggan, memberikan pelayanan yang memuaskan, loyalitas yang tinggi dan ikut aktif dalam kegiatan HPDKI. Berdasarkan analisis lingkungan eksternal tersebut maka faktor-faktor lingkungan eksternal yang meliputi peluang dan ancaman yang terdapat di dalam usaha pembibitan ini adalah: 1. Permintaan bibit domba yang tinggi 2. Persaingan usaha pembibitan masih sedikit 3. Tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi 4. Adanya dukungan masyarakat sekitar 5. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi daging (gizi) 6. Instansi pemerintah maupun swasta banyak yang mengajak kerjasama 7. Budaya masyarakat menjelang Idul Adha Adapun ancaman yang dimilki usaha pembibitan ini adalah 1. Penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa 2. Kenaikan biaya transprotasi 3. Dukungan pemerintah kabupaten yang rendah dalam segi modal dan administrasi 4. Perjanjian kerjasama yang tidak kuat dan terikat dari pemasok dari Jawa Penyusunan Strategi Pengembangan Usaha Pembibitan Domba di Peternakan Tawakkal Strategi adalah rencana yang disatukan, luas dan terintegrasi yang menghubungkan keunggulan perusahaan dengan tantangan lingkungan, dan dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi (Jauch dan Glueck, 1995). Penyusun strategi membantu organisasi mengumpulkan, menganalisis serta mengorganisasi informasi 39 (David, 2009). Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal dan eksternal yang telah dilakukaan pada usaha pembibitan domba maka akan didapatkan faktor-faktor yang dapat menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pada usaha pembibitan domba di Peternakan Tawakkal. Faktor-faktor tersebut selanjutnya dianalisis menggunakan matriks IFE dan EFE. 1. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) Matriks IFE adalah alat perumusan strategi yang mana meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama dalam area-area fungsional bisnis dan menjadi landasan untuk mengindentifikasi serta mengevaluasi hubungan diantara area tersebut (David, 2009). Analisis matriks IFE dilakukan dengan mengolah faktorfaktor internal usaha ternak menjadi kekuatan dan kelemahan usaha. Hasil pemberian bobot dan peringkat terhadap faktor-faktor internal perusahaan yang dilakukan oleh empat responden. Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal yang dilanjutkan dengan penghitungan bobot dan rating masing-masing faktor kekuatan dan kelemahan maka diperoleh nilai skor seperti yang tertera pada Tabel 10. Besar kecilnya bobot yang diberikan tergantung pada besar kecilnya pengaruh atau tingkat kepentingan variabel terhadapa kesuksesan usaha ternak ini. sedangkan rating yang diberikan tergantung pada tinggi rendahnya respon (prioritas) yang ditunjukan oleh usaha ternak terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Faktor-faktor internal yang menjadi kekuatan terbesar pada usaha pembibitan ini adalah bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, menggunakan induk dan pejantan yang bagus, kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau. Skor pembobotan untuk masing-masing faktor sama yaitu 0,332. Kelemahan terbesar yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah sistem recording yang tidak teratur (skor pembobotan 0,252). Hal ini terlihat dari nilai bobot yang tinggi dan tingkat kepentingan dari faktor ini lebih diprioritaskan. Anak domba yang dihasilkan pada usaha pembibitan ini baik, dilihat dari penampilan fisiknya seperti sehat, tidak cacat, bersih. Perkembangan dan pertumbuhan anak domba di usaha pembibitan ini sangat baik. Induk dan pejantan yang digunakan baik dan memiliki penampilan fisik yang baik. Pejantan yang dipilih harus sehat, postur tubuh proporsional, berumur >1,5 tahun, tubuh panjang, alat kelaminya normal dan simetris sedangkan betina harus sehat, tidak terlalu gemuk, 40 bentuk tubuh kompak, garis punggung dan pinggang lurus, bulu bersih dan mengkilap, umur 1-1,5 tahun. Induk yang digunakan adalah induk yang sehat dan tidak cacat, mempunyai sifat keibuan, berasal dari keturunan kembardan bulu bersih dan mengkilat. Usaha pembibitan pun mampu menghasilkan bibit sehat, dan berpenampilan luar baik. Jumlah bibit anakan yang telah dihasilkan pada usaha pembibitan ini adalah 206 ekor. Duldjaman dan Rahayu (1996) mengatakan bahwa pemilihan bibit harus memperhatikan usia ternak yang masih muda dan tidak pernah terserang penyakit yang membahayakan. Bibit ternak yang baik juga harus berbulu bersih dan mengkilat serta mempunyai daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan (Dinas Peternakan, 1997). Kelebihan peternakan Tawakkal di bandingkan peternakan domba yang lainnya adalah kandang domba yang bersih dan tidak bau. Pembersihan kandang dan tempat pakan dilakukan setiap hari serta kotoran domba diambil setiap empat hari sekali untuk dijual. Lokasi peternakan yang strategis dan dekat jalan raya memudahkan dalam menjangkau usaha baik untuk pembelian atau distrubusi ditambah lagi dengan banyaknya pabrik pengolahan tahu yang akan menghasilkan ampas tahu untuk keperluan produksi pembibitan ini. Pembagian kerja yang jelas antar pekerja menjadikan pekerjaan yang dilakukan setiap hari menjadi optimal. Kepala kandang mengatur semua kegiatan produksi di kandang pembibitan dan pekerja lain bertugas untuk mancari rumput dan setelha itu pun membantu kepala kandang memberikan pakan ternak. Keterampilan pekerja tidak terlepas dari campur tangan pemilik peternakan yaitu H. Bunyamin dimana beliau akan memberikan arahan dan pelatihan agar kemampuan pakerja dalam beternak lebih baik lagi. Jumlah pekerja memadai dimana terdapat 4 pekerja yang menangani hampir 300 domba. Adanya mess, mushola dan fasilitas di peternakan yang memadai membuat pekerja betah dan nyaman berada di peternakan, hal ini terlihat dari pekerja yang rata-rata tinggal di area peternakan sehingga peternakan ini aman dari pencurian karena adanya pekerja yang tinggal areal peternakan dan di sekitar peternakan. Sistem recording sudah dilakukan namun tidak teratur dan kurang rapi dan hanya mengandalkan daya ingat kepala kandang yang menangani kandang 41 pembibitan ini. Hal ini disebabkan karena para pekerja sudah sibuk mengurus domba-domba dan beberapa pekerja yang masih buta huruf. Sistem recording yang teratur dan benar akan membuat usaha pembibitan mendapatkan nilai yang lebih baik dari usaha pembibitan lainya karena informasi kepada calon pembeli lebih lengkap dan jelas sehingga akan meningkatkan nilai jual ternak dan data ternak pun akan lebih lengkap. Jumlah kandang dan lahan yang terbatas menjadikan usaha pembibitan ini sulit untuk mengembangkan dan meningkatkan jumlah produksi usaha pembibitan ditambah lagi dengan tidak digunakannya tekonologi pembibitan seperti inseminasi buatan. Hal ini karena peternak pernah melakukan inseminasi buatan namun gagal dan mengalami kerugian sehingga mereka kapok untuk menggunakanya lagi. Total keseluruhan dari matriks IFE adalah 3,442 menunjukkan bahwa usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal berada pada kondisi kuat dalam memanfaatkan kekuatan maupun mengatasi kelemahan yang dimiliki. 42 Tabel 10. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) Faktor internal Kekuatan : 1. Bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik 2. Induk dan pejantan yang digunakan dipilih yang bagus 3. Lokasi peternakan yang strategis 4. Jumlah pekerja yang memadai 5. Pekerja yang digunakan terampil, ramah dan mau belajar 6. Adanya mess, mushola, saung dan fasilitas lainnya di peternakan 7. Adanya pembagian kerja yang jelas 8. Kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau 9. Lokasi peternakan yang aman dari pencurian Kelemahan : 1. Sistem recording yang tidak teratur 2. Keterbatasan modal 3. Teknologi pembibitan tidak digunakan 4. Jumlah kandang masih terbatas 5. Lahan yang masih terbatas Total Bobot Peringkat Bobot x (A) (B) Peringkat 0,083 4 0,332 0,083 4 0,332 0,063 0,073 0,073 3,75 3 3 0,236 0,219 0,219 0,063 3,75 0,236 0,073 0,083 3,5 4 0,256 0,332 0,063 3,5 0,189 0,083 0,083 0,041 4 3,25 2 0,332 0,269 0,082 0,063 0,073 1 3 3 0,189 0,219 3,442 Keterangan : Skor pembobotan total = 1,00-1,99 (lemah), 2-2,99 (rata-rata), 3-4 (kuat) 2. Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFE) Matriks evaluasi faktor eksternal memungkinkan para penyusun strategi untuk meringkas dan mengevaluasi informasi ekonomi, sosial, budaya, demografis, lingkungan, politik, pemerintahan, hukum, teknologi, dan kompetitif (David, 2009). Analisis matriks EFE yang dilakukan terhadap faktor eksternal dari usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal terbagi menjadi peluang dan ancaman. Hasil analisis matriks EFE dapat dilihat pada Tabel 11. Lingkungan eksternal perusahaan merupakan lingkungan yang terdiri dari faktor-faktor yang dapat menjadi peluang dan ancaman. Analisis eksternal merupakan suatu proses yang dilakukan oleh perencana strategis dalam melihat sektor lingkungan yang ada di luar kendali perusahaan untuk menentukan peluang dan ancaman (Jauch dan Glueck, 1995). 43 Peluang terbesar yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah permintaan bibit domba yang tinggi, persaingan usaha pembibitan masih sedikit, dan tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi. Skor pembobotan untuk masing-masing faktor adalah 0,404. Tujuan usaha pembibitan di Peternakan Domba Tawakkal adalah menghasilkan domba yang tidak inbreeding dan memperbanyak ternak yang ada. Usaha pembibitan ini mampu menghasilkan anakan atau bakalan sendiri sehingga memungkinkan usaha ini tidak bergantung pada pasokan bakalan dari luar untuk digemukkan sehingga akan selalu tersedia ternak yang akan digemukkan maupun yang akan dikembangbiakan. Kesempatan atau peluang lain yang cukup menjanjikan yang ada pada usaha ini adalah instansi pemerintah maupun swasta banyak yang mengajak kerjasama dan adanya dukungan masyarakat. Skor pembobotan untuk faktor ini adalah 0,267. Hal ini terlihat saat pengamatan di peternakan ada pesananan domba dari Aceh dan pekerja yang magang dari peternakan lain untuk bertukar ilmu pada usaha pembibitan domba ini maupun banyaknya mahasiswa yang melakukan kunjungan dan praktek kerja lapangan yang berasal dari berbagai daerah. Faktor eksternal yang menjadi ancaman terbesar pada usaha pembibitan domba ini adalah penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa (skor pembobotan 0,404). Kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan usaha ternak domba. Lemahnya kesehatan domba akan menyebabkan timbulnya penyakit (Sugeng, 2007). Selain kesehatan, perjanjian kerjasama yang tidak kuat dan terikat dari pemasok mengkhawatirkan indukan yang memiliki dari Jawa pun menjadi skor pembobotan 0,354. ancaman yang Hal akan ini mempengaruhi kontinuitas usaha pembibitan jika tidak adanya kontrak yang jelas dan hanya mengandalkan kepercayaan saja. Kenaikan biaya BBM akan meningkatkan pengeluaran biaya untuk transportasi baik dalam hal pengadaaan hijauan maupun distribusi ternak. Pemilik usaha pun mengatakan bahwa belum adanya bantuan dari pemerintah terkait pengembangan usaha peternakan dan jarang dari pihak dinas memantau usaha peternakan. Total keseluruhan dari matriks EFE adalah 3,404 menunjukkan bahwa usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal berada pada kondisi kuat dalam merespon faktor eksternal baik berupa peluang maupun ancaman yang dihadapi. 44 Tabel 11. Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFE) Faktor Strategis Eksternal Peluang : 1. Permintaan bibit domba yang tinggi 2. Persaingan usaha pembibitan masih sedikit 3. Tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi 4. Adanya dukungan masyarakat sekitar 5. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi daging (gizi) 6. Instansi pemerintah maupun swasta banyak yang mengajak kerjasama 7. Budaya masyarakat mejelang Idul Adha Ancaman : 1. Penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa 2. Kenaikan biaya transportasi 3. Dukungan pemerintah kabupaten yang rendah dalam segi modal dan administrasi 4. Perjanjian kerjasama yang tidak kuat dan terikat dari pemasok indukan dari Jawa Total Bobot Rating Bobot x (A) (B) Peringkat 0,101 0,101 0,101 0,089 0,051 4 4 4 3 2 0,404 0,404 0,404 0,267 0,102 0,089 3 0,267 0,076 3 0,228 0,101 4 0,404 0,089 0,101 3 3 0,267 0,303 0,101 3,5 0,354 1 3,40 Keterangan : Skor pembobotan total = 1,00-1,99 (rendah), 2-2,99 (rata-rata), 3-4 (tinggi) 3. Analisis Matriks SWOT Rangkuti (1997) mengatakan bahwa analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Keunggulan yang dimiliki model ini adalah kemampuannya dalam memformulasikan strategi berdasarkan gabungan faktor eksternal dan internal tersebut. Empat strategi utamayang dihasilkan yaitu strategi SO, W-O, S-T, dan W-T dapat dilihat pada gambar 2. Berdasarkan hasil analisis matriks SWOT pada gambar 2, maka alternatif strategi yang dapat diterapkan untuk mengembangkan usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal adalah sebagai berikut : Strategi S-O merupakan strategi yang menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang atau strategi yang memanfaatkan kekuatan internal perusahaan untuk menarik keuntungan dari peluang eksternal (David, 2009). Strategi yang dapat dilakukan adalah mengadakan 45 kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan peternakan. Hal ini dengan memanfaatkan peluang yang ada yaitu adanya instansi pemerintah baik dinas maupun perguruan tinggi dan swasta yang mengajak kerjasama baik dari segi bertukar ilmu dalam kunjungan praktikum, pengamatan, dan penelitian yang dilakukan di peternakan. Hal ini didukung dengan adanya pembagian kerja yang jelas, antar pekerja, pekerja yang terampil, ramah dan mau belajar serta fasilitas di peternakan yang memadai seperti kantor, jaringan listrik dan mess, mushola dan fasilitas lainya sehingga proses penelitian maupun kerjasama ini bisa dilakukan. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi mereka untuk mengadakan penelitian yang hasilnya dapat dimanfaatkan dan digunakan untuk mengembangkan usaha peternakan ini khususnya usaha pembibitan. Menteri Pertanian menerbitkan Surat Keputusan No.315/Kpts/KP.150/2000 tanggal 28 Juni 2000 tentang Komisi Bibit Ternak Nasional (KBTN) yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan kepada Menteri Pertanian dalam penetepan kebijakan sistem perbibitan ternak nasional, pengujian, penilaian dan pelepasan strain dan atau breed baru, sertifikasi bibit ternak, dan pengawasan mutu bibit ternak, melalui Direktur Jenderal Produksi Ternak. Selama ini, dalam menjalankan tugasnya, KBTN melibatkan perguruan tinggi peternakan. Dengan adanya program ini diharapkan antara perguruan tinggi, pihak peternak, dan komponen pelaku peternakan mempunyai kesempatan dalam membangun dunia peternakan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Semua manajer tentunya menginginkan organisasi mereka berada dalam posisi dimana kekuatan internal dapat digunakan untuk mengambil keuntungan dari berbagai tren dan kejadian eksternal. Secara umum, organisasi akan menjalankan strategi WO, ST, atau WT untuk mencapai situasi dimana mereka dapat melaksanakan strategi SO. Jika sebuah perusahaan memiliki kelemahan besar, maka perusahaan akan berjuang untuk mengatasinya dan mengubahnya menjadi kekuatan. Tatkala sebuah organisasi dihadapkan pada ancaman yang besar, maka perusahaan akan berusaha untuk menghindarinya untuk berkonsentrasi pada peluang (David, 2009). Strategi W-O adalah strategi yang memanfaatkan peluang untuk mengatasi kelemahan. Strategi yang dilakukan adalah meningkatkan kapasitas usaha 46 pembibitan dengan melakukan kerja sama dengan pihak swasta dalam segi penanaman modal. Kondisi keuangan sering dianggap ukuran tunggal terbaik dari posisi bersaing perusahaan dan daya tarik keseluruhan investor (David, 2009). Usaha pembibitan yang dilakukan sejauh ini menggunakan modal pemilik peternakan sendiri, sehingga untuk mengembangkan skala usaha pembibitan dalam segi jumlah produksi, lahan, kandang masih sangat sulit. Peternakan Tawakkal belum melakukan kerjasama dengan pihak swasta apalagi dengan pihak bank terkait modal karena pemilik mengatakan bahwa pinjaman dari bank adalah hutang dan beliau tidak mau melakukan kerjasama dengan bank. Namun, jika beliau mendapatkan dana hibah dari bank dan tidak harus membayar bunga, beliau bersedia. Kerjasama yang mungkin dilakukan dengan sistem bagi hasil yang sama-sama menguntungkan untuk kedua belah pihak dimana peternakan bisa mendapatkan modal lebih untuk memperluas usaha pembibitanya baik dari segi jumlah ternak, lahan dan kandang. Kelemahan lain yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah tekonlogi pembibitan yang tidak digunakan. Teknologi tersebut yaitu inseminasi buatan (IB). hal ini dikarenakan pemiliki peternakan telah mencoba menggunakan IB untuk memperbanyak jumlah induk yang bunting namun hal ini gagal dan malah mengalami kerugian sehingga pemilik pembibitan ini tidak lagi menggunakan teknologi pembibitan dan lebih percaya dan yakin dengan perkawinan secara alami. Strategi S-T adalah strategi yang menggunakan kekuatan untuk menghindari ancaman. Strategi yang digunakan yaitu pengadaaan kandang karantina untuk domba yang baru datang dari perjalanan jauh. Duldjaman dan Rahayu (1996) menyebutkan ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit antara lain: (1) memelihara kebersihan baik ternak, pakan, tempat minum, dan peralatannya, (2) tidak mencampur domba yang sakit dengan yang sehat sehingga tidak terjadi penularan, dan (3) melakukan vaksinasi dan pemberian obat pencegahan penyakit secara teratur. Pengadaan kandang karantina bisa dilakukan dengan menyekat kandang dan mencegah terjadinya kontak langsung antara domba yang baru datang dari perjalanan dengan domba yang telah ada sebelumnya karena kandang pembibitan yang dimiliki peternakan baru ada satu bangunan kandang. 47 Strategi W-T adalah strategi yang mengurangi kelemahan dan menghindari ancaman. Strategi yang dapat digunakan yaitu melakukan sistem kontrak yang jelas dengan pihak pemasok induk agar kapasitas kandang yang tersedia cukup sehingga penanganan domba bisa maksimal, kualitas tetap terjaga, dan harga yang jelas antara pemasok domba dengan pembeli domba dan kontinuitas ternak. Sistem kontrak ini dapat berupa jumlah domba yang akan dikirim dan waktu pengiriman yang jelas serta sistem pembayaran yang harus disepakati dan saling menguntungkan satu sama lain. Strategi lain yang dapat dilakukan adalah melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam pengadaan hijauan. Kerjasama penyediaan hijauan sebagai makanan ternak akan mengurangi biaya transportasi yang dikeluarkan untuk mencari rumput yang dilakukan selama ini dan tugas dari kepala kandang bisa terbantu dengan adanya pekerja yang berada di kandang. Keuntungan yang dapat diterima masyarakat dari kerjasama ini adalah masyarakat dapat meningkatkan pendapatannya dengan memasok bahan baku usaha ternak sehingga masyarakat juga merasakan keuntungan dari keberadaaan usaha ternak dan terjalinanya hubungan yang lebih baik dengan masyarakat. Pengambilan keputusan atau pemilihan strategi dapat dilihat dari skor pembobotan pada strategi. Strategi yang memiliki nilai pembobotan yang paling tinggi dapat didahulukan dalam menerapkan strategi di usaha pembibitan ini. Strategi yang dapat diterapkan dalam waktu dekat (jangka pendek) adalah mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan peternakan. Strategi jangka pendek ini dapat segera diterapkan karena melihat besarnya tingkat kepentingan kombinasi faktor-faktor tersebut dan memiliki prioritas yang tinggi pada usaha pembibitan ini sehingga bisa dapat diterapkan dalam waktu dekat. Sedangkan strategi jangka panjang yang dapat diterapkan adalah melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam pengadaaan hijauan. 48 Strengths (S) INTERNAL 1. 2. 3. 4. 5. 6. EKSTERNAL 7. 8. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik (0,332) Induk dan pejantan yang digunakan dipilih yang bagus (0,332) Lokasi peternakan yang strategis (0,236) Jumlah pekerja yang memadai (0,219) Pekerja yang digunakan terampil, ramah dan mau belajar (0,219) Adanya mess, mushola, saung dan fasilitas lainya di peternakan (0,219) Adanya pembagian kerja yang jelas (0,256) Kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau (0,332) Lokasi peternakan yang aman dari pencurian (0,189) Strategi S-O 9. Opportunies (O) Permintaan bibit domba yang tinggi (0,404) 1. Mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan Persaingan usaha pembibitan masih sedikit (0,404) pengembangan peternakan Tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi (0,404) (S4, S5, S6,S7 O6) Adanya dukungan masyarakat sekitar (0,267) (1,18) Meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi daging (gizi) (0,102) Instansi pemerintah maupun swasta banyak yang mengajak kerjasama (0,267) Budaya masyarakat menjelang Idul Adha (0,228) Treaths (T) 1. Penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa (0,404) 2. Kenaikan biaya transportasi (0,267) 3. Dukungan pemerintah kabupaten yang rendah dalam segi modal dan administrasi (0,303) 4. Perjanjian kerjasama yang tidak kuat dan terikat dari pemasok indukan di Jawa (0,354) Weakneeses (W) 1. Sistem recording yang tidak teratur (0,332) 2. Keterbatasan modal (0,269) 3. Teknologi pembibitan tidak digunakan (0,082) 4. Jumlah kandang masih terbatas (0,189) 5. Lahan yang masih terbatas (0,219) Strategi W-O 1. Meningkatkan kapasitas usaha pembibitan dengan melakukan kerja sama dengan pihak swasta dalam segi penanaman modal (W2, W4, W5, O6) (0,944) Strategi S-T Strategi W-T 1. Pengadaaan kandang karantina untuk domba yang baru datang dari perjalanan jauh (S6, S7, T1) (0,879) 1. Melakukan sistem kontrak yang jelas dengan pihak pemasok induk (W2, W4, W5, T4) (1,031) 2. Melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam pengadaan hijauan (W5, T2) (0,486) Gambar 3. Matriks SWOT Usaha Pembibitan Domba Tawakkal Farm dengan Skor Pembobotannya 49 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan analisis lingkungan internal, kekuatan yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, induk dan pejantan yang digunakan dipilih yang bagus, lokasi peternakan yang strategis, jumlah pekerja yang memadai, pekerja yang digunakan terampil, ramah dan mau belajar, Adanya mess, mushola, saung dan fasilitas lainnya di peternakan, adanya pembagian kerja yang jelas, kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau, peternakan yang aman dari pencurian. Kelemahan yang dimiliki meliputi sistem recording yang tidak teratur, keterbatasan modal, teknologi pembibitan tidak digunakan, jumlah kandang masih terbatas dan lahan yang masih terbatas. Faktor-faktor lingkungan eksternal yang merupakan peluang dalam usaha pembibitan ini adalah permintaan bibit domba yang tinggi, persaingan usaha pembibitan masih sedikit, tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi, adanya dukungan masyarakat sekitar, meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi daging (gizi), instansi pemerintah maupun swasta banyak yang mengajak kerjasama, budaya masyarakat menjelang idul adha. Adapun ancaman yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa, kenaikan biaya transprotasi, dukungan pemerintah kabupaten yang rendah dalam segi modal dan administrasi serta perjanjian kerjasama yang tidak kuat dan terikat dari pemasok dari Jawa Strategi yang dapat diterapkan untuk pengembangan usaha pembibitan domba di Peternakan Domba Tawakkal berdasarkan matriks SWOT adalah mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan peternakan, meningkatkan kapasitas usaha pembibitan dengan melakukan kerja sama dengan pihak swasta dalam segi penanaman modal, pengadaaan kandang karantina baru datang dari perjalanan jauh, melakukan untuk domba yang sistem kontrak yang jelas dengan pihak pemasok induk, dan melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam pengadaan hijauan. Strategi awal yang dapat dilakukan adalah mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan peternakan. 50 Saran Usaha pembibitan domba harus berani melakukan terobosan-terobosan yang bersifat agresif dalam rangka melakukan pengembangan baik itu berupa perluasan pasar, pengembangan produk seperti usaha aqiqah. Perlu adanya penelitian lebih lanjut dari pihak perusahaan terhadap kondisi internal dan eksternal perusahaan, sehingga dalam proses implementasi strategi selanjutnya dapat dilaksanakan dengan lebih tepat dan penelitian mengenai studi kelayakan usaha pembibitan domba sehingga bisa menjadi masukan bagi peternak lain untuk memulai usaha pembibitan. Penelitian pada aspek produksi usaha pembibitan yang lebih lengkap dan menyeluruh akan sangat berguna untuk mengetahui kondisi usaha pembibitan domba tersebut. 51 UCAPAN TERIMA KASIH Sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dorongan dan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yaitu: 1. Papa dan Mama tercinta yang senantiasa memberikan doa, perhatian dan kasih sayang yang tak pernah putus serta abang yang selalu memberikan semangat dalam melakukan penelitian dan penulisan skripsi ini. 2. Ir. Dwi Djoko Setyono, MS dan Dr. Ir. Moh. Yamin, M.Agr.Sc sebagai Dosen Pembimbing dan pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan, dorongan, saran dan perhatiannya yang sangat membantu penulis dalam melakukan penelitian dan penulisan skripsi ini. 3. Ir. Sri Rahayu, M.Si dan Ir. Kukuh Budi Satoto, MS atas kesediannya menjadi Dosen Penguji dalam ujian sidang yang telah memberikan saran-saran demi kesempurnaan skripsi ini. 4. Dr. Ir. Sri Darwati, M.Si selaku Dosen Penguji Wakil Departemen dalam ujian sidang atas segala saran yang telah diberikan. 5. Bapak H. Bunyamin, dan para pakerja seperti mang farid, dan masyarakat di sekitar peternakan yang telah membantu penulis dalam penelitian ini. 6. Kakak-kakak kelas yang telah memberikan masukan dan arahan dalam melakukan penelitian dan menulis skripsi. 7. Keluarga besar IPTP 45 seperti eka, gya, uda, yoga, siti, menix dan semua temanteman yang telah membantu penulis dalam melakukan penelitian, memberikan motivasi dukungan, semangat serta doanya. 8. Semua pihak yang telah membantu dan memperlancar penelitian ini. 52 DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statitiska. 2012. Statistika Peternakan, Jakarta. Blakely, J & D. H Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Edisi Keempat. Terjemahan : B. Srigandono. UGM Press, Yogyakarta. David, F. 2009. Strategic Management. Edisi ke-12. Salemba Empat, Jakarta. Dewan Ketahanan Pangan Jawa Barat. 2007. Rencana Strategi. http://bkpd.jabarprov.go.id/index.php?mod=manageMenu&idMenuKiri=522&i dMeu=. [ 2 Maret 2012]. Dinas Peternakan. 1997. Brosur Peternakan Kambing. Dinas Peternakan, Jakarta. Dinas Peternakan Kabupaten Bogor. 2006. http://disnakan.bogorkab.go.id/. [2 Maret 2012]. Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat. 2012. http://dinak.jabarprov.go.id. [18 April 2012]. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan. 2012. Statistika Peternakan Tahun 2010. Departemen Pertanian Republik Indonesia, Jakarta. Duldjaman, M & S. Rahayu. 1996. Budidaya Ternak Domba dalam: Prospek Pengembangan Usaha Ternak Ayam dan Domba Lokal di Pedesaan. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Einstiana, A. 2006. Studi keragaman fenotipik dan pendugaan jarak genetik antar domba lokal di Indonesia. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Gatenby, R. M. 1991. The Tropical Agriculturalist, Sheep. Mac Millan Education Ltd. London. Hadiningrum V. 2006. Strategi pengembangan usaha ternak domba Tawakkal Dusun Cimande Hilir Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Heryadi, D., A. Anang., R. Setiadi., Ismeth., D. C. Budinuryanto., H. Hasan., Elly A. Ibrahim Hadist, D. Pangesti, & U. Darusman. 2002. Standarisasi Mutu Bibit Domba Garut. Fakultas Peternakan. UNPAD, Bandung. Ikhsan, M. 2009. Strategi pengembangan usaha peternakan domba Agrifarm Desa Cihideung Udik Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Irawan, B. 2002. Suplementasi Zn dan Cu organik pada ransum berbasis limbah agroindustri untuk memacu pertumbuhan domba. Tesis. Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Jauch, L. R & W. F. Glueck. 1995. Manajeme Strategis dan Kebijaksanaan Perusahaan. Edisi ketiga. Erlangga, Jakarta. Kusumaningrum, R. 2004. Fungsi produksi usaha penggemukan domba lokal sistem koloni di Desa Pesawahan, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Skripsi. 53 Program Studi Sosial Ekonomi Industri Peternakan. Departemen Sosial Ekonomi Ternak. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Mastika, I., K. Suaryana., I. Oka., & I. Sutrisna. 1993. Produksi Kambing dan Domba. Sebelas Maret University Press, Surakarta. Menteri Pertanian. 2000. Surat Keputusan No. 315/Kpts/KP.150/6/2000 tanggal 28 Juni 2000 tentang Komisi Bibit Ternak Nasional, Jakarta. Mulyono, S. 2005. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. Cetakan ke-7. Penebar Swadaya, Jakarta. National Research Council. 1985. Nutrient Requirment of Shepp. 6th Revised Edition.National Academy Pres, Washington. Pearce, J. A & R. B. Robinson. 1997. Manajemen Strategik: Formulasi, Implementasi, dan Pengendalian. Jilid Satu. Binarupa Aksara, Jakarta. Pulungan, H., J. E. Van Eys, & M. Rangkuti. 1985. Penggunaan Ampas Tahu Sebagai Makanan Tambahan pada Domba Lepas Sapih yang Memperoleh Rumput Lapangan. Balai Penelitian Ternak, Bogor. Putong, I. 2003. Teknik Pemanfaatan Analisis SWOT Tanpa Skala Industri (ASWOT-TSI). Jurnal Ekonomi Bisnis No.2, Jilid 8. Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Rangkuti, F. 1997. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Penerbit Gramedia, Jakarta. Sasongko, T. 2006. Analisis strategi pengembangan usaha peternakan kambing dan domba pada MT Farm, Ciampea, Bogor. Skripsi. Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Standar Nasional Indonesia. 2009. Bibit Domba Garut. SNI 7532:2009, Jakarta Sudarmono, A. S. & Y. B. Sugeng. 2005. Beternak Domba. Cet-17. Penebar Swadaya. Jakarta. Sugeng, Y. B. 2007. Beternak Domba. Penebar Swadaya, Jakarta. Suharno, B. & Nazaruddin. 1994. Ternak Komersial. Penebar Swadaya, Jakarta. Toelihere, R. 1985. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Angkasa, Bandung. Tomaszewska, M. W., A. Djajanegara, S. Gardiner, T.R Wiradarya, & I. M. Mastika.1993. Small Ruminant Production in the Humid Tropics. Sebelas Maret University, Surakarta, Indonesia. Umar, H. 2003. Strategic Management in Action. Cetakan Ketiga. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Wicaksono, D. 2002. Kajian pengembangan usaha ternak domba di Desa Cigudeg, Kecamatan Cigudeg. Kabupaten Bogor. Skripsi. Jurusan Sosial Ekonomi Peternakan. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Williamson G. & W. J. A. Payne., 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Terjemahan oleh: IGN Djiwa Darmadja. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 54 Winarso, A. P. 2000. Analisis pemasaran ternak domba di Kabupaten Bogor. (Studi Kasus di Peternakan Desa Sadeng Kecamatan Leuwiliang). Skripsi. Jurusan Sosial Ekonomi Industri Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Yamin, M. 2001. Budidaya penggemukan ternak domba. Makalah pelatihan. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. 55 LAMPIRAN 56 Lampiran 1. Data Kuantitatif Beberapa Bibit Anakan dan Indukan di Peternakan Domba Tawakkal No. Umur Jenis domba Jenis kelamin 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. Garut Garut Garut Garut Garut Ekor tipis Ekor tipis Garut Garut Garut Garut Garut Garut Garut Garut Garut Garut Garut Garut Betina Betina Betina Betina Jantan Betina Betina Jantan Betina Betina Jantan Jantan Jantan Betina Betina Betina Betina Betina Jantan 1 minggu 1 minggu 1 minggu 10 hari 10 hari 2 bulan 2 bulan 3 bulan 3 bulan 4 bulan 4 bulan 5 bulan 7 bulan 12 bulan 12-18 bulan 12-18 bulan 18 bulan 18 bulan 18 bulan-2 tahun Lingkar dada (cm) 37 36 34 37 37 57 58 72 66 74 92 90 94 59 61 65 105 63 102 Panjang badan (cm) 32 30 31 34 37 43 44 58 59 64 61 60 66 60 61 54 73 69 83 Tinggi badan (cm) 37 31 35 40 39 49 47 55 51 62 67 67 72 64 70 67 67 66 110 Keterangan : Data primer 57 Lampiran 2. Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFE) Faktor Strategis Eksternal Peluang : 1. Permintaan bibit domba yang tinggi 2. Persaingan usaha pembibitan masih sedikit 3. Tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi 4. Adanya dukungan masyarakat sekitar 5. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi daging (gizi) 6. Instansi pemerintah maupun swasta banyak yang mengajak kerjasama 7. Budaya masyarakat mejelang Idul Adha Ancaman : 1. Penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa 2. Kenaikan biaya transportasi 3. Dukungan pemerintah kabupaten yang rendah dalam segi modal dan administrasi 4. Perjanjian kerjasama yang tidak kuat dan terikat dari pemasok indukan dari Jawa Total Bobot Rating Bobot x (A) (B) Peringkat 4 4 4 3,5 2 4 4 4 3 2 16 16 16 10,5 4 3,5 3 10,5 3 3 9 4 4 16 3,5 4 3 3 10,5 12 4 3,5 14 39,5 58 Lampiran 3. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) Faktor internal Kekuatan : 1. Bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik 2. Induk dan pejantan yang digunakan dipilih yang bagus 3. Lokasi peternakan yang strategis 4. Jumlah pekerja yang memadai 5. Pekerja yang digunakan terampil, ramah, dan mau belajar 6. Adanya mess, mushola, saung dan fasilitas lainya di peternakan 7. Adanya pembagian kerja yang jelas 8. Kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau 9. Lokasi peternakan yang aman dari pencurian Kelemahan : 1. Sistem recording yang tidak teratur 2. Keterbatasan modal 3. Teknologi pembibitan tidak digunakan 4. Jumlah kandang masih terbatas 5. Lahan yang masih terbatas Total Bobot Peringkat Bobot x (A) (B) Peringkat 4 4 16 4 4 16 3 3,5 3,5 3,75 3 3 11,25 10,5 10,5 3 3,75 11,25 3,5 4 3,5 4 12,25 16 3 3 9 4 4 2 4 3,25 2 16 13 4 3 3.5 48 3 3 9 10.5 59 Lampiran 3. Kata Kunci Pertanyaan Terbuka dalam Indentifikasi Internal di Usaha Pembibitan oleh Kepala Kandang Faktor- faktor internal 1. Karakteristik bibit 2. Lokasi peternakan 3. Fasilitas kandang Kekuatan Kelemahan Alasan pembibitan 4. Jumlah pekerja 5. Pengalaman pekerja 6. Pembagian kerja 7. Teknologi pembibitan 8. Strategi pemasaran 9. ……………………. 10. ……………………. Keterangan : Kuisioner merupakan pertanyaan dalam bentuk terbuka dengan kata kunci yang telah disediakan diatas namun disesuaikan dengan kondisi dilapangan 60 Lampiran 4. Kata Kunci Pertanyaan Terbuka dalam Indentifikasi Faktor Eksternal di Usaha Pembibitan oleh Kepala Kandang Faktor- faktor eksternal Peluang Ancaman Alasan 1. Permintaan bibit domba 2. Penerimaan masyarakat terhadap usaha pembibitan domba 3. Tingkat persaingan antar peternak 4. Budaya masyarakat 5. Tingkat kepercayaan pelanggan 6. Dukungan pemerintah terhadap pengembangan usahaternak 7. Kesadaran masyarakat akan gizi 8. Penyebaran penyakit 9. ……………………… 10. …………………….. Keterangan : Kuisioner merupakan pertanyaan dalam bentuk terbuka dengan kata kunci yang telah disediakan diatas namun disesuaikan dengan kondisi dilapangan 61 Lampiran 5. Rekapan Pembobotan dan Peringkat pada Faktor Internal Bobot Bobot total Faktor internal Kekuatan 1. Bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik 2. Induk dan pejantan yang digunakan dipilih yang bagus 3. Lokasi peternakan yang strategis 4. Jumlah pekerja yang memadai 5. Pekerja yang digunakan terampil, ramah dan mau belajar 6. Adanya mess, mushola, saung dan fasilitas lainnya di peternakan 7. Adanya pembagian kerja yang jelas 8. Kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau 9. Lokasi peternakan yang aman dari pencurian Kelemahan 1. Sistem recording yang tidak teratur 2. Keterbatasan modal 3. Teknologi pembibitan tidak digunakan 4. Jumlah kandang yang terbatas 5. Lahan yang masih terbatas 1 4 4 4 4 4 3 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 2 3 3 2 16 16 12 14 14 12 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 4 2 3 4 4 4 2 3 3 Keterangan : 1. Pemilik Peternakan, 2. Kepala Kandang, 3.Pekerja, 4.Masyarakat Bobot Ratarata (A) Peringkat Peringkat Total Peringkat rata-rata (B) 4 4 3 3,5 3,5 3 1 4 4 4 3 3 4 2 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 3 16 16 15 12 12 15 4 4 3,75 3 3 3,75 14 16 3,5 4 3 4 4 4 4 4 3 4 14 16 3,5 4 2 12 3 3 3 3 3 12 3 4 4 2 2 3 16 16 8 12 14 4 4 2 3 3,5 4 4 2 4 4 4 3 2 3 3 4 3 2 3 3 4 3 2 2 2 16 13 8 12 12 4 3,25 2 3 3 62 Lampiran 6. Rekapan Pembobotan dan Peringkat pada Faktor Eksternal Faktor Eksternal Peluang 1. Permintaan bibit domba yang tinggi 2. Persaingan usaha pembibitan masih sedikit 3. Tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi 4. Adanya dukungan masyarakat sekitar 5. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi daging (gizi) 6. Instansi pemerintah maupun swasta banyak yang mengajak kerjasama 7. Budaya masyarakat mejelang Idul Adha Ancaman 1. Penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa 2. Kenaikan biaya transportasi 3. Dukungan pemerintah kabupaten yang rendah dalam segi modal dan administrasi 4. Perjanjian kerjasama yang tidak kuat dan terikat dari pemasok indukan dari Jawa Bobot Bobot total 1 4 4 4 4 2 2 4 4 4 3 2 3 4 4 4 4 2 4 4 4 4 3 2 16 16 16 14 8 3 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 Bobot Ratarata (A) Peringkat Peringkat Total Peringkat rata-rata (B) 4 4 4 3,5 2 1 4 4 4 3 2 2 4 4 4 3 2 3 4 4 4 3 2 4 4 4 4 3 2 16 16 16 12 8 4 4 4 3 2 14 3,5 4 3 3 2 12 3 3 12 3 3 3 3 3 12 3 4 4 4 4 3 4 16 14 16 4 3,5 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 4 2 3 16 12 12 4 3 3 4 4 16 4 4 4 3 3 14 3,5 Keterangan : 1. Pemilik Peternakan, 2. Kepala Kandang, 3.Pekerja, 4.Masyarakat 63 RINGKASAN Andina Avika Hasdi. D14080083. 2012. Strategi Pengembangan Usaha Pembibitan Domba (Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor). Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Pembimbing utama : Ir. Dwi Joko Setyono, MS Pembimbing anggota : Dr. Ir. Moh. Yamin, M.Agr.Sc Salah satu subsektor peternakan yang berpeluang untuk dikembangkan adalah peternakan domba. Seiring dengan meningkatnya jumlah populasi manusia maka akan meningkatkan kebutuhan daging sebagai sumber pangan. Cara untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan melakukan pembibitan. Salah satu peternakan yang telah memulai usaha pembibitan adalah peternakan domba Tawakkal. Usaha ini masih tergolong baru sehingga memerlukan strategi pengembangan usaha pembibitan agar lebih berkembang dan bertahan. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan usaha pembibitan domba di Peternakan Domba Tawakkal dan menyusun strategi yang tepat untuk mengembangan usaha pembibitan domba di Peternakan Domba Tawakkal. Penelitian dilaksanakan di Peternakan Domba Tawakkal yang terletak di Desa Cimande Hilir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor dengan menggunakan metode studi kasus. Data yang digunakan adalah data primer diperoleh melalui pengamatan langsung, wawancara, dan menggunakan kuisioner serta data sekunder yang diperoleh dari literatur perpustakaan, buku, jurnal, skripsi maupun data lainnya. Metode pengolahan data yang digunakan adalah dengan menggunakan Analisis Deskriptif, Matriks IFE dan EFE, dan Matriks SWOT. Perkawinan dilakukan secara alami tanpa menggunakan inseminasi buatan. Domba yang tidak birahi tidak bisa dipaksakan kawin sehingga lamanya pejantan dikandang kawin yaitu 2x siklus birahi atau sekitar 35 hari. Pembibitan yang dilakukan adalah sekitar 60 hari sesudah induk beranak, induk tersebut akan dikawinkan kembali sehingga dalam 2 tahun, domba akan beranak 3 kali. Berdasarkan analisis faktor-faktor internal dan eksternal di usaha pembibitan domba Tawakkal, Faktor-faktor internal yang menjadi kekuatan terbesar pada usaha pembibitan ini adalah bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, menggunakan induk dan pejantan yang bagus, kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau. Skor pembobotan untuk masing-masing faktor sama yaitu 0,332. Kelemahan terbesar yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah sistem recording yang tidak teratur (skor pembobotan 0,332). Faktor eksternal yang menjadi ancaman terbesar pada usaha pembibitan domba ini adalah penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa (skor pembobotan 0,404). Peluang terbesar yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah permintaan bibit domba yang tinggi, persaingan usaha pembibitan masih sedikit, dan tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi. Skor pembobotan untuk masing-masing faktor adalah 0,404. Strategi yang dapat diterapkan untuk pengembangan usaha pembibitan domba Tawakkal adalah (1) mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan peternakan, (2) meningkatkan kapasitas usaha pembibitan dengan melakukan kerja sama dengan pihak swasta dalam segi penanaman modal, (3) pengadaaan kandang i karantina untuk domba yang baru datang dari perjalanan jauh, (4) melakukan sistem kontrak yang jelas dengan pihak pemasok induk, dan (5) melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam pengadaan hijauan. Strategi yang dapat diterapkan dalam waktu dekat (jangka pendek) adalah mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan peternakan. Sehingga usaha pembibitan domba memiliki potensial untuk dikembangkan dengan strategi dan manajement yang benar dan tepat. Kata-kata kunci : Strategi, pembibitan, SWOT ii ABSTRACT Development Strategy of Breeding Sheep Farming (Case Study at Tawakkal Farm, Cimande Village, Caringin Subdistrict, Bogor District) Hasdi, A. A, D. J. Setyono, M. Yamin Sheep breeding becomes a key factor in the development to increase sheep population. Nowadays, the sheep breeding is still rarely developed because it is considered as a less profitable and more complicated business, therefore, it is very important to make sheep breeding business development strategy. The research was aimed to identify and analyze internal and external environments factors that influence the development of breeding sheep in Tawakkal Sheep Farm to formulate appropriate of sheep breeding business. This research was conducted at Tawakkal sheep farm to identify internal and external factors of the business and by using SWOT analysis. The results showed that sheep mating program was done naturally without the use of artificial insemination. Breeding program was applied 3 times pregnancy in 2 years, consisting 3 periods of 8 month (5 month of pregnancy, 2 months of lactation and 1 month of mating. Based on the SWOT analysis, the results showed that there were five steps which can be applied for developing sheep breeding in Tawakkal Farm. Firstly, collaboration for research and development of farm. Secondly, increase the breeding capacity by developing the private business relation in terms of capital investment. Thirdly, devolepment a quarantine cage for new arrival sheep. Forthly, clear contract system with the supplier. Lastly, collaboration with public people in supplying animal feed. In conclusion, sheep breeding business could be potential to develop with the right management system and strategy. Keywords: strategy, breeding, SWOT iii PENDAHULUAN Latar Belakang Peternakan merupakan sektor yang berpeluang untuk dikembangkan sebagai sebuah usaha. Salah satu subsektor peternakan yang berpeluang untuk dikembangkan adalah peternakan domba. Usaha peternakan domba termasuk salah satu jenis usaha yang harus mendapat perhatian untuk dikembangkan. Populasi domba di Indonesia tahun 2011 adalah 11.372.000 ekor (Direktorat Jenderal Peternakan, 2012). Jumlah populasi manusia Indonesia tahun 2010 adalah 237.641.326 jiwa (Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, 2012). Seiring dengan meningkatnya jumlah populasi manusia maka akan meningkatkan kebutuhan daging sebagai sumber pangan yang salah satunya berasal dari daging domba. Peternakan domba di Indonesia saat ini belum berkembang dengan baik dan masih dikembangkan dengan skala kecil yaitu peternakan rakyat padahal domba memiliki kelebihan mudah dalam beradaptasi dengan lingkungan dan lebih mudah dalam pemeliharaan. Populasi domba terbesar berada di wilayah Jawa Barat yang mana pada tahun 2011 berjumlah 6.768.735 ekor yang hampir 50% dari jumlah populasi nasional. Kabupaten Bogor merupakan wilayah yang memiliki jumlah domba yang cukup banyak. Populasi ternak domba tahun 2010 di kabupaten Bogor adalah 280.798 ekor (Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat, 2012). Salah satu peternakan yang telah melakukan usaha ternak domba adalah peternakan Tawakkal yang berada di Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Usaha Peternakan yang dilakukan pada awalnya bergerak dibidang penggemukan domba. Usaha penggemukan domba ini dirintis sejak tahun 1993. Usaha penggemukan pun berkembang dan mengalami peningkatan permintaan domba. Permintaan domba yang semakin bertambah, mengakibatkan peternakan Tawakkal kesulitan untuk mendapatkan bakalan untuk digemukkan sehingga pemilik peternakan berkeinginan untuk dapat menyediakan bakalan sendiri yang berkualitas maka peternakan ini memulai untuk melakukan usaha pembibitan domba. Peternakan Domba Tawakkal pun melakukan pembibitan domba pada tahun 2010. Pembibitan domba adalah salah satu usaha untuk memperbanyak produksi domba yang bertujuan untuk menghasilkan keturunan sehingga jumlah ternaknya bertambah banyak serta mutunya pun meningkat (Sugeng, 2007). Usaha pembibitan 1 domba ini dilakukan untuk dapat terus menyediakan ternak domba yang berkualitas, namun masih sedikit peternak yang mau mencoba dan memulai untuk pembibitan domba karena dinilai rumit dan sulit untuk dilakukan. Keberhasilan usaha pembibitan ternak domba tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan induk atau pejantan yang memiliki sifat-sifat yang baik. Pembibitan domba yang dilakukan di peternakan Tawakkal masih tergolong baru sehingga perlu dilakukan suatu strategi khusus. Salah satu kendala berkembangnya usaha pembibitan ini adalah keterbatasan modal serta jumlah kandang yang digunakan. Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan (Rangkuti, 1997), yang merupakan rencana yang disatukan, luas dan terintegrasi yang menghubungkan keunggulan perusahaan dengan tantangan lingkungan dan dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi (Jauch dan Glueck, 1995). Usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal membutuhkan strategi yang tepat untuk mengembangkan usaha pembibitannya sehingga perlu dilakukan penyusunan strategi pengembangan usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk : 1. Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan usaha pembibitan domba di Peternakan Domba Tawakkal. 2. Penyusunan strategi yang tepat untuk mengembangan usaha pembibitan domba di Peternakan Domba Tawakkal. 2 TINJAUAN PUSTAKA Domba Menurut Tomaszewska et al. (1993) domba berasal dari Asia, yang terdiri atas 40 varietas. Domba-domba tersebut menyebar hampir di setiap negara. Ternak domba merupakan hasil domestikasi domba Argali (Ovis ammon), domba Urial (Ovis vignei) yang berasal dari Asia Tengah dan domba Moufflon (Ovis muimon) yang berasal dari Asia kecil dan Eropa. Semua domba mempunyai karakteristik yang sama sehingga diklasifikasikan sebagai kingdom Animalia, phylum Chordata atau hewan bertulang belakang, class Mammalia atau hewan menyusui, ordo Artiodactyla atau hewan berkuku genap, family Bovidae atau hewan memamah biak, genus Ovis, spesies Ovis aries. Jenis domba lokal antara lain domba garut dan domba ekor tipis. Menurut Merkens dan Soemirat (1926) yang dicatat oleh Heriyadi (2002), bahwa asal usul domba Priangan adalah merupakan perkawinan silang segi tiga, antara domba lokal dengan domba Merino dan kemudian dengan domba Kaapstad dari Afrika. Menurut Heryadi (2002) domba Priangan/Garut memiliki ciri-ciri morfologi yang meliputi: (1). Kepala pendek, lebar dan dalam serta profilnya cembung. (2).Ekornya berbentuk segitiga terbalik dengan timbunan lemak pada pangkal ekor dan mengecil pada bagian bawah. (3). Telinga rumpung sampai ngadaun hiris (4 – 8 cm) (4). Domba Priangan yang jantan bertanduk besar, kokoh dan melingkar sedangkan domba betina tidak bertanduk, kalaupun bertanduk ukurannya kecil. (5). Domba jantan memiliki bobot badan rata-rata 57,74 kg dan yang betina adalah 36,89 kg. (6). Warna bulu pada domba Priangan adalah masih berkombinasi ada yang hitam, coklat dan putih. Domba Priangan/Garut mencapai pubertas pada umur 7 – 10 bulan dengan bobot badan rata-rata untuk jantan 16,8 – 24,0 kg dan betina 14,5 kg. Bobot badan pada waktu pubertas berkisar antara 38 – 60% dari bobot badan dewasa. Jarak kelahiran domba Priangan/Garut adalah 240 hari (8 bulan) atau dalam dua tahun dapat melahirkan tiga kali. Hal ini disebabkan karena pada umumnya kegiatan reproduksi domba-domba di Indonesia berlangsung sepanjang tahun (Toelihere, 1985). Einstiana (2006) menyatakan bahwa jenis domba ekor tipis memiliki tubuh yang kecil, sehingga disebut domba kacang atau biasa dikenal sebagai domba Jawa. 3 Ekor relatif kecil dan tipis, bulu badan berwarna putih, kadang-kadang berwarna lain, belang-belang hitam di sekitar mata, hidung atau bagian tubuh lain. Domba betina umumnya tidak memiliki tanduk, sedangkan pada jantan memiliki tanduk kecil dan melingkar. Gatenby (1991) menyatakan bahwa domba ekor tipis jawa memiliki berat sekitar 20 kg, tatepi terdapat variasi. Domba yang hidup di dataran tinggi memiliki berat badan rata-rata sebesar 27 kg, sedangkan dataran rendah sebesar 16 kg. Domba ekor tipis Jawa termasuk domba prolifik, dan secara umum mampu menghasilkan dua sampai tiga anak dalam satu kelahiran. Williamson dan Payne (1993) menyatakan bahwa domba lokal di daerah tropik dapat kawin sepanjang tahun. Namun, hal ini memberikan dampak pada persentase beranak cenderung rendah. Dewasa kelamin yang dicapai domba di daerah tropik akan lebih lambat dibandingkan domba di daerah dingin. Perkawinan yang baik biasanya dilakukan setelah 12 – 34 jam mengalami birahi yang merupakan puncak birahi pada betina. Biasanya tingkat keberhasilannya 90% untuk menghasilkan betina bunting dengan lama bunting 5 bulan. Data teknis reproduksi ternak domba pada Tabel 1. Tabel 1. Data Teknis Reproduksi Ternak Domba Parameter Jantan Betina Masak kelamin 6-8 bulan 6-8 bulan Kawin pertama >12bulan 12-15 bulan Siklus birahi - Setiap 17 hari sekali Lama birahi - 30-40 jam Lama bunting - 5-6 bulan (144-152 hari) Afkir 6-8 tahun 5 tahun Sumber : Sudarmono dan Sugeng (2005) Suharno dan Nazarudin (1994) mengatakan bahwa pakan domba dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu hijauan sebagai makanan utama dan konsentrat sebagai makanan tambahan. Jumlah pemberian konsentrat untuk induk bunting tua adalah 0,5 kg/ekor/hari dimulai pada 1,5 bulan menjelang kelahiran. Jumlah pemberian konsentrat untuk induk yang sedang menyusui disesuaikan dengan 4 jumlah anak yang disusuinya, induk yang memiliki 1 ekor anak, cukup diberi konsentrat 0,9 kg/ekor/hari, induk yang beranak 2 ekor atau lebih diberi konsentrat sebanyak 1,4 kg/ekor/hari dan pejantan yang sedang dipergunakan sebagai pemacek perlu diberi konsentrat sebanyak 0,5-1,0 kg/ekor/hari. Hadiningrum (2006) dalam penelitiannya menyatakan faktor nutrisi menjadi sangat penting artinya dalam usaha menghasilkan daging yang berkualitas baik. Pakan yang bermutu tinggi, murah dan tersedia sepanjang tahun merupakan criteria yang digunakan dalam pemilihan jenis pakan. Jenis pakan yang digunakan pada usaha domba Tawakkal adalah hijauan berupa rumput lapang dan ampas tahu. Pengadaan rumput lapang dilakukan setiap hari dengan jumlah konsumsi per ekor per hari sekitar 2,25 kg. Rumput lapang yang digunakan adalah rumput lapang yang tidak terlalu muda dan terlalu tua. Usaha Ternak Domba Peternakan merupakan salah satu subsektor pertanian. Pemeliharaan ternak dianggap sebagai bagian dari pekerjaan bertani. Kondisi ini tercermin dari intregrasi yang dilakukan oleh petani peternak dengan menggabungkan usaha pertanian dengan pemeliharaan ternak (Suharno dan Nazaruddin, 1994). Usaha ternak domba sudah lama dikembangkan di Indonesia namun pemeliharaannya masih bersifat tradisional artinya usaha tersebit hanya memenuhi kebutuhan sendiri dan bersifat sambilan (Sugeng, 2007). Beternak domba merupakan salah satu yang dapat diandalkan untuk meningkatkan kehidupan peternak karena keunggulannya. Ternak domba di Indonesia kebanyakan diusahakan oleh petani ternak di daerah pedesaan. Domba yang diusahakan umumnya dalam jumlah kecil, 3-5 ekor per keluarga, dipelihara secara tradisonal dan merupakan bagian dari usahatani sehingga tingkat pendapatan yang diperolehpun kecil (Sugeng dan Sudarmono, 2005). Domba merupakan salah satu jenis ternak potong kecil yang memberikan beberapa keuntungan, seperti : a) mudah beradaptasi dengan lingkungan, b) cepat berkembang biak, c) memiliki sifat hidup berkelompok, d) modal yang dibutuhkan kecil (Sugeng, 2007). Potensi ekonomi lainnya yang dimiliki ternak domba diantaranya modal usaha cepat berputar karena pemasaran yang mudah, proses perkembangbiakanya dapat diatur, dan ternak domba suka bergerombol sehingga dalam hal tenaga kerja yang melakukan sistem penggembalaan akan lebih efisien (Mulyono, 2005). Pasar ternak domba masih terbuka (belum jenuh). Selera konsumen untuk menikmati 5 daging domba dalam bentuk sate atau gulai cukup besar. Dikatakan perkembangan kota-kota besar dan ilmu pengetahuan serta perbaikan pendapatan mendorong masyarakat untuk memenuhi gizi, khususnya protein hewani termasuk daging domba. Hasil penelitian Winarso (2000), mengenai analisis pemasaran ternak domba di Kabupaten Bogor mengungkapkan bahwa harga domba yang dipasarkan tidak dipengaruhi oleh kualitas domba karena domba yang dipasarkan pada umumnya adalah untuk ternak potong kecuali konsumen membeli domba untuk keperluan tertentu, misalnya pembibitan atau acara keluarga. Kusumaningrum (2004) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa bangsa domba yang dipelihara peternak biasanya adalah domba garut dan domba lokal. Domba tersebut dikelompokkan berdasarkan tujuan pemeliharaan, yaitu untuk pembibitan, pembesaran dan penggemukkan. Usaha Pembibitan Domba Usaha ternak domba sudah lama dikembangkan di Indonesia, salah satu jenis usaha ternak domba adalah usaha pembibitan. Pembibitan merupakan salah satu usaha untuk menghasilkan bibit. Keberhasilan dalam usaha ternak domba sangat ditentukan oleh bibit domba yang digunakan dalam usahaternak domba. Menurut Blakely, J dan D. H. Bade (1991) mengemukakan cara seleksi seekor domba bervariasi, tergantung pada tujuan pemanfaatan domba itu. Seleksi dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik yang dapat dibagi menjadi seleksi berdasarkan penilaian (judging) individual, seleksi berdasarkan silsilah, seleksi berdasarkan penampilans atau performans, serta seleksi berdasarkan pengujian atau test produksi. Mulyono (2005) menyatakan bahwa syarat calon induk yaitu ukuran badan besar, tetapi tidak terlalu gemuk, bentuk tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus, bulu bersih dan mengkilap. Keempat kakinya lurus dan terlihat kokoh serta tumit tinggi, tidak ada cacatdi bagian tubuhnya, bentuk dan ukuran alat kelamin normal, umur lebih dari 1 tahun, jumlah gigi dipilih yang lengkap dan berdasarkan buku catatan, domba yang dipilih yang lahir kembar atau kelahiran tunggal yang berasal dari induk muda dan mempunyai pertumbuhan yang baik. Syarat calon pejantan yang baik adalah ukuran badan normal, tubuh panjang, dan besar, bentuk perut normal, dada dalam dan lebar, kakinya kokoh, lurus, kuat dan terlihat tonjolan tulang yang besar pada kaki serta mata tidak rabun atau buta. 6 Pertumbuhanya relative cepat, gerakanya lincah dan terlihat ganas, alat kelaminya normal dan simetris serta sering terlihat ereksi, tidak pernah mengalami penyakit yang serius, umurnya antara 15 bulan hingga 5 tahun dan calon pejantan berasal dari kelahiran kembar dan berasal dari induk dengan jumlah anak lahir lebih dari dua. Bila berasal dari kelahiran tunggal, pilih pejantan yang berasal dari induk dengan jumlah anak satu (Mulyono, 2005). Pemilihan bibit harus memperhatikan usia ternak yang masih muda dan tidak pernah terserang penyakit yang membahayakan (Duldjaman dan Rahayu, 1996). Menurut Dinas Peternakan (1997), bibit ternak yang baik juga harus berbulu bersih dan mengkilat serta mempunyai daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan. Usaha Penggemukan Domba Penggemukan domba adalah pemeliharaan domba yang bertujuan untuk menghasilkan jumlah dan kualitas daging yang baik sebagai mana dikehendaki konsumen (Sugeng, 2007). Hasil penelitian Hadiningrum (2006) mengatakan bahwa bakalan yang digemukkan adalah domba ekor tipis dan domba garut. Pertambahan bobot badan domba Tawakkal selama periode penggemukan dapat mencapai 9-10 kg per ekor atau sekitar 110 gram ekor per hari. Cara penggemukan di usaha ternak domba Tawakkal menggunakan sistem dry lot fattening. Sugeng (2007) mengatakan bahwa dry lot fattening merupakan salah satu cara penggemukan dimana domba-dombayang digemukkan tinggal di dalam kandang terus-menerus. Domba-domba tersebut tidak digembalakan karena semua kebutuhan pakan telah terpenuhi dan disediakan dalam kandang oleh kepala kandang. Keuntungan sistem ini adalah domba cepat menjadi gemuk karena banyak mendapat unsure protein, karbohidrat, dan lemak. Usaha penggemukan domba ekor tipis akhir-akhir ini cukup diminati oleh masyarakat sebagai usaha ternak komersial karena usaha ini dinilai lebih ekonomis, relative lebih cepat, rendah modal serta lebih praktis (Yamin, 2001). Strategi Pengembangan Usaha Strategi adalah rencana yang disatukan, luas dan terintegrasi yang menghubungkan keunggulan perusahaan dengan tantangan lingkungan, dan dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi (Jauch dan Glueck, 1995). Menurut Rangkuti 7 (1997), strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan. Strategi menjelaskan bagaimana perusahaan akan mencapai semua tujuan yang telah ditetapkan berdasarkan misi yang telah ditentukan sebelumnya. Ada beberapa strategi pengembangan penting yang perlu mendapat perhatian. Termasuk didalamnya tujuan yang jelas dari pemeliharaan, pengembangan kesempatan berproduksi yang berkelanjutan, penelitian berkelanjutan dan pengabsahan hasil-hasil penelitian (Mastika et al., 1993). Rangkuti (1997) mengatakan bahwa suatu perusahaan dapat mengembangkan strategi untuk mengatasi ancaman eksternal dan merebut peluang yang ada. Proses analisis, perumusan dan evaluasi strategi-strategi itu disebut perencanaan strategis. Tujuan utama perencanaan strategis adalah agar perusahaan dapat melihat secara obyektif kondisi-kondisi internal dan eksternal, sehingga perusahaan dapat mengantisipasi perubahan lingkungan eksternal. Rangkuti (1997) menyatakan bahwa pada perinsipnya strategi dapat dikelompokkan bersadarkan tiga tipe strategi yaitu, strategi manajemen, strategi investasi dan strategi bisnis. Strategi manajemen meliputi strategi yang dapat dilakukan oleh manajemen dengan orientasi pengembangan strategi secara makro misalnya, strategi pengembangan produk, strategi penerapan harga, strategi akuisisi, strategi pengembangan pasar, strategi mengenai keuangan dan sebagainya. Strategi investasi adalah kegiatan yang berorientasi pada investasi. Misalnya, apakah perusahaan ingin melakukan strategi pertumbuhan yang agresif atau berusaha mengadakan penetrasi pasar, strategi bertahan, strategi pembangunan kembali suatu divisi baru atau strategi divestasi, dan sebagainya. Strategi bisnis ini berorientasi pada fungsi-fungsi kegiatan manajemen, misalnya strategi pemasaran, strategi produksi atau operasional, strategi distribusi, strategi organisasi, dan strategi-strategi yang berhubungan dengan keuangan. Analisis Lingkungan Internal Lingkungan internal merupakan lingkungan organisasi yang berada di dalam organisasi tersebut dan secara normal memiliki implikasi langsung dan khusus pada perusahaan. Pearce dan Robinson (1997) mengungkapkan bahwa lingkungan internal meliputi faktor- faktor internal perusahaan yang teridentifikasi sebagai kekuatan (strengths) atau kelemahan (weaknesses) yang digunakan untuk mengembangkan 8 serangkaian langkah strategik bagi perusahaan. Tujuan analisis lingkungan internal adalah untuk dapat menilai kekuatan dan kelemahan dalam mencapai tujuan perusahaan. Identifikasi faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan adalah dalam upaya untuk memanfaatkan peluang dan menghindari ancaman. David (2009) membagi bidang fungsional bisnis menjadi beberapa variabel dalam analisis lingkungan internal, yaitu : 1. Manajemen Manajemen merupakan suatu tingkatan sastem pengaturan organisasi yang mencakup sistem produksi, distribusi, pemasaran, pengelolaan sumber daya manusia, dan keuangan. Fungsi manajemen terdiri atas lima aktivitas besar yaitu perencanaan (planing), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), pengarahan (leading), serta pengontrolan (controling). 2. Pemasaran Pemasaran dapat diuraikan sebagai proses menetapkan, menciptaka, dan memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan akan produk. Ada tujuh fungsi dasar pemasaran yaitu (a). analisis pelanggan, (b). menjual produk, (c). merencanakan produk dan jasa, (d). menetapkan harga, (e). distribusi, (f). riset pemasaran, dan (g). analisis peluang. 3. Keuangan Kondisi keuangan sering dianggap ukuran tunggal terbaik dari posisi bersaing perusahaan dan daya tarik bagi investor. Menetapkan kekuatan dan kelemahan keuangan amat penting utnuk merumuskan strategi secara efektif. 4. Produksi dan Operasi Fungsi produksi terdiri dari aktivitas mengubah masukan (input) menjadi barang atau jasa (output). Manajemen produksi dan operasi menangani masukan, pengubahan, dan keluaran yang bervariasi antar industri dan pasar.. 5. Penelitian dan Pengembangan Istilah penelitian dan pengembangan digunakan untuk menggambarkan beragam kegiatan. Dalam beberapa institusi, para ilmuwan melakukan penelitian dan pengembangan dasar di laboratorium dan berkonsentrasi pada masalah teoritis, 9 sementara di perusahaan para ahli melakukan pengembangan prodik dengan berkonsentrasi pada peningkatan kualitas produk. 6. Sumber Daya Manusia Sumber Daya Manusia merupakan aset utama bagi perusahaan. Strategi yang terbaik sekalipun tidak akan menjadi berarti apabila sumber daya manusianya tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk menjalankan tugas-tugas tersebut. Kualitas SDM sangat berpengaruh terhadap kinerja, kepuasan karyawan, maupun keberlangsungan hidup perusahaan. 7. Sistem Informasi Manajemen Sistem infomasi manajemen bertujuan untuk meningkatkan kinerja perusahaan dengan cara meningkatkan kulitas keputusan manajerial. Sistem informasi manajemen yang efektif berusaha mengumpulkan, memebri kode, menyimpan, mensintesa emudian baru menyjikan informasi yang bernama database. Dengan adanya database perusahaan dapat melaksanakan kegiatan operasional dan menyusun strategi secara akurat. Analisis Lingkungan Eksternal David (2009) menjelaskan bahwa analisis terhadap lingkungan eksternal bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi suatu perusahaan sehingga manajemen perusahaan memiliki kemampuan untuk dapat merumuskan suatu strategi. Analisis lingkungan eksternal menekankan pada evaluasi terhadap peristiwa di luar kendali sebuah perusahaan. Tujuan dari analisis lingkungan eksternal adalah untuk mengembangkan daftar terbatas peluang yang dapat dimanfaatkan perusahaan dan ancaman yang dihindari. Lingkungan eksternal perusahaan merupakan lingkungan yang terdiri dari faktor-faktor yang dapat menjadi peluang (opportunities) dan ancaman (threats) yang berada di luar pengawasan dan kontrol pihak manajemen perusahaan (Pearce dan Robinson, 1997). Pearce dan Robinson (1997) membagi lingkungan eksternal menjadi tiga sub kategori faktor yang saling berkaitan yakni faktor-faktor dalam lingkungan jauh (remote), faktorfaktor dalam lingkungan industri, dan faktor-faktor dalam lingkungan operasional. Faktor-faktor tersebut dijelaskan sebagai berikut: 1. Lingkungan Jauh 10 Lingkungan jauh perusahaan terdiri dari faktor- faktor yang pada dasarnya di luar dan terlepas dari perusahaan. Menurut Pearce dan Robinson (1997), lingkungan jauh adalah faktor- faktor yang bersumber dari luar, dan biasanya tidak berhubungan dengan situasi operasional suatu perusahaan tertentu. Faktor- faktor tersebut meliputi faktor politik, ekonomi, sosial, dan teknologi (PEST). Faktor politik adalah peraturan-peraturan, undang-undang dan kebijaksanaan pemerintah baik pada tingkat nasional, propinsi maupun daerah yang menentukan beroperasinya suatu perusaha an. Arah, kebijakan, dan stabilitas politik pemerintah menjadi faktor penting bagi para pengusaha untuk berusaha. Oleh karena itu, faktorfaktor politik, pemerintah, dan hukum dapat mencerminkan peluang atau ancaman kunci untuk organisasi kecil dan besar (David, 2009). Faktor ekonomi berkaitan dengans sifat dan arah sistem ekonomi tempat suatu perusahaan beroperasi (Pearce dan Robinson, 1997). Beberapa faktor kunci yang perlu diperhatikan dalam menganalisis faktor ekonomi adalah siklus bisnis, ketersediaan energi, inflasi, suku bunga, investasi, harga-harga produk dan jasa, produktivitas dan tenaga kerja (Umar, 2003). Faktor sosial yang mempengaruhi suatu perusahaan adalah kepercayaan, nilai, sikap, opini, dan gaya hidup orang-orang di lingkungan ekstern perusahaan. Faktor-faktor tersebut biasanya dikembangkan dari kondisi kultural, ekologis, demografis, religius, pendidikan dan etnis. Faktor teknologi perlu diperhatikan untuk menghindari keusangan dan mendorong inovasi karena dapat mempengaruhi industri. Adaptasi teknologi yang kreatif dapat membuka kemungkinan terciptanya produk baru, penyempurna produk yang sudah ada, atau penyempurnaan dalam teknik produksi dan pemasaran. 2. Lingkungan Industri Struktur industri mempunyai pengaruh yang kuat dalam menentukan aturan persaingan dan strategi yang secara potensial tersedia bagi perusahaan. Analisis struktur industri merupakan penunjang fundamental untuk menentukan posisi relatif perusahaan yang kemudian dapat digunakan untuk merumuskan strategi keunggulan bersaing. Lingkungan industri terdiri dari hambatan masuk, kekuatan pemasok, kekuatan pembeli, ketersediaan substitusi dan persaingan antar perusahaan. 11 3. Lingkungan Operasional Strategi dan tujuan perusahaan dipengaruhi oleh daya tarik industri dimana mereka memilih untuk menjalankan bisnis dan posisi daya saingnya dalam industri tersebut. Lingkungan operasional terdiri dari pesaing, pelanggan, kreditor, tenaga kerja, dan pemasok. Analisis SWOT Rangkuti (1997) mengatakan bahwa analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan. SWOT adalah singkatan dari lingkungan Internal Strengths dan Weaknesses serta lingkungan eksternal Opportunities dan Threats yang dihadapi dunia bisnis. Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal peluang (opportunities) dan ancaman (threats ) dengan faktor internal kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness). Alat yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis perusahaan adalah matrix SWOT. Matrix ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matrix ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis. 1) Strategi S-O, strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya; 2) Strategi W-O, strategi yang diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada; 3) Strategi S-T, strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman; dan 4) Strategi W-T, strategi yang didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. Analisis ini dilakukan untuk melihat kelemahan, kekuatan, peluang dan ancaman dalam merencanakan pengembangan usaha pembibitan domba di Peternakan Tawakkal Farm. Beberapa faktor yang dianalisis adalah internal yang meliputi kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness), serta faktor eksternal yaitu 12 peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Dengan analisis SWOT dapat diidentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan suatu strategi pengembangan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang tapi secara bersamaan juga bisa meminimalkan kelemahan dan ancaman. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun matriks SWOT adalah sebagai berikut : 1. Menentukan faktor-faktor peluang eksternal perusahaan 2. Menentukan faktor-faktor ancaman eksternal perusahaan 3. Menentukan faktor-faktor kekuatan internal perusahaan 4. Menetukan faktor-faktor kelemahan internal perusahaan 5. Menyesuaikan kekuatan internal dengan peluang eksternal untuk dengan peluang eksternal untuk mendapatkan strategi S-O 6. Menyesuaikan kelemahan internal mendapatkan strategi W-O 7. Menyesuaikan kekuatan internal dengan ancaman eksternal untuk mendapatkan strategi S-T 8. Menyesuaikan kelemahan internal dengan ancaman eksternal untuk mendapatkan strategi W-T Pada dasarnya analisis SWOT haruslah membandingkan kondisi sama yang dihadapi oleh pesaingnya berdasarkan kriteria subjektif ataupun objektif (skala industri), sebab dengan membandingkan maka perusahaan yang berkepentingan dapat menentukan rencana strategis untuk menghadapi persaingan tersebut. Akan tetapi bila perusahaan yang dimaksud hingga pada saat dilakukan kajian situasi ternyata tidak memiliki data tentang pesaing atau pesaingnya belum terpetakan baik dalam skala industri (kumpulan perusahaan yang menghasilkan barang sama) maupun gari inteligen perusahaan, sedangkan perusahaan mendesak sekali untuk mempersiapkan rencana usaha strategis terutama dari manajemen organisasi, maka dengan menggunakan segi pemasaran dan analisis SWOT yang dimodifikasi sedemikian hingga menjadikan ia dapat digunakan oleh perusahaan tanpa harus mengetahui skala industri atau data inteligen mengenai pesaingnya (Putong, 2003). 13 MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di Peternakan Domba Tawakkal yang terletak di Jl. Raya Sukabumi Dusun Cimande Hilir No. 32 Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan yaitu pada bulan Oktober-November 2011. Materi Materi yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung, wawancara, dan menggunakan kuisioner. Data sekunder adalah data pelengkap dari data primer yang diperoleh dari literatur perpustakaan, buku, jurnal, skripsi maupun data lainnya. Peralatan yang digunakan adalah pulpen, pita ukur, kertas kuisioner, dan kamera. Prosedur Prosedur penelitian yang dilakukan adalah tahap pertama pengumpulan data. Pada tahap ini data dapat dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dan wawancara menggunakan kuisioner. Responden terdiri dari pemilik usaha peternakan domba Tawakkal, kepala kandang, pekerja, dan masyarakat yang berada di peternakan Tawakkal Farm yang berjumlah empat orang untuk pengisian bobot dan rating faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor yang diamati pada usaha pembibitan domba terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi karakteristik bibit, lokasi peternakan, jumlah pekerja, keterampilan pekerja, dan faktor internal lainnya yang ditemukan saat penelitian. Faktor eksternal meliputi permintaan bibit domba, penerimaan masyarakat terhadap usaha pembibitan domba, penyebaran penyakit, dukungan pemerintah, tingkat kepercayaan konsumen, persaingan, dan faktor eksternal lainnya. Data sekunder adalah data pelengkap dari data primer yang diperoleh dari literatur perpustakaan, buku, jurnal, skripsi maupun data lainnya. Faktor-faktor tersebut selanjutnya disusun dan dibuat kuisioner untuk melihat apakah faktor tersebut masuk ke dalam kekuatan atau kelemahan untuk faktor internal sedangkan faktor eksternal apakah termasuk ke dalam peluang atau ancaman. Setiap faktor 14 diberi bobot dan rating. Tahap kedua yaitu tahap analisis. Tahap analisis ini menggunakan model matriks SWOT. Tahap ketiga yaitu tahap penyusunan strategi pengembangan yang dapat diterapkan di Peternakan Domba Tawakkal. Desain Penelitian Penelitian ini dilakukan menggunakan metode studi kasus. Tujuan studi kasus ini adalah memperoleh gambaran yang luas dan lengkap serta mengetahui keadaaan atau kondisi di lokasi penelitian yaitu usaha pembibitan domba di Peternakan Domba Tawakkal. Rancangan dan Analisis Data Data primer berasal dari kuisioner dan wawancara kepada pemilik peternakan, pekerja dan masyarakat yang berjumlah empat orang untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal pada usaha pembibitan di Peternakan Domba Tawakkal. Putong (2003) menyatakan bahwa setiap faktor diberi bobot mulai dari skala 4 (sangat penting), 3 (penting), 2 (kurang penting) dan 1 (tidak penting). Setiap faktor diberi peringkat atau rating mulai dari skala 4 (sangat tinggi), 3 (tinggi), 2 (sedang), dan 1 (rendah). Fakor-faktor yang telah didapatkan yang diperolah dari hasil kuisioner dan wawancara kepada narasumber kemudian dikelompokkan menjadi faktor internal terdiri dari kekuatan dan kelemahan, sedangkan faktor eksternal terdiri dari peluang dan ancaman. Bobot pada tabel IFE (Internal Factor Evaluation) dan EFE (External Factor Evaluation) untuk setiap faktornya merupakan hasil dari bobot tiap faktor dibagi dengan jumlah total bobot setiap tabel IFE dan EFE sedangkan rating pada tabel IFE dan EFE untuk setiap faktor dengan meratakan-ratakan rating yang diperoleh jumlah rating yang didapatkan (Tabel 2 dan Tabel 3). Skor pembobotan diperoleh dengan cara mengalikan bobot dengan rating sehingga diperoleh hasil kombinasi antara beberapa situasi pada matriks SWOT yang terdiri atas empat kuadran (Rangkuti, 1997), seperti yang ditunjukkan Gambar 1. 15 Tabel 2. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) Faktor internal Bobot Peringkat Bobot x (A) (B) Peringkat Kekuatan : Kelemahan : Total Tabel 3. Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFE) Faktor Strategis Eksternal Bobot Rating Bobot x (A) (B) Peringkat Peluang : Ancaman : Total Analisis Matriks Strengths-Weaknesses-Opportunities-Threaths (SWOT) Matriks SWOT merupakan salah satu tahap dalam teknik perumusan strategi. Hasil yang diperoleh dari matriks SWOT adalah berupa alternatif strategi yang layak dipakai dalam strategi usaha. Matriks ini dapat menghasilkan empat sel kemungkinan alternatif strategi, yaitu S-O (Strengths-Opportunities), strategi W-O (WeaknessesOpportunities), strategi W-T (Weaknesses-Threaths), dan strategi S-T (StrengthsThreaths) (Rangkuti, 1997). 16 Internal eksternal Opportunies (O) *Peluang eksternal Treaths (T) *Ancaman eksternal Strengths (S) Weaknesses (W) *kelemahan internal *kekuatan internal Strategi SO Strategi WO Ciptakan strategi uang Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan untuk memanfaatkan peluang peluang Strategi ST Strategi WT Ciptakan strategi yang Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan meminimalkan kelemahan untuk mengatasi ancaman dan menghindari ancaman Gambar 1. Matriks Analisis SWOT (Rangkuti, 1997) 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Usaha Pembibitan Domba Tawakkal Lokasi Usaha Peternakan domba Tawakkal terletak di Jl. Raya Sukabumi Dusun Cimande Hilir No.32 Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Usaha ternak yang berjarak sekitar 2 m dari pemukiman penduduk menempati lahan 5100 m2 yangberbatasan langsung dengan Dusun Lemah Duhur di sebelah Barat, Desa Ciderum di sebelah Timur serta Desa Caringin di sebelah Utara dan Selatan. Di sekitar lokasi peternakan terdapat pepohonan yang rindang dan ditanami dengan tanaman pertanian seperti singkong, kacang panjang, kol. Keadaaan fisik jalan masih jalan tanah (setapak) dan harus menempuh jarak 150 m untuk mencapai jalan aspal. Keadaan topografi daerah cukup datar, dengan ketinggian 400-700 m diatas permukaan laut. Temperatur lingkungan berkisar antara 28°C (17-30°C) dengan kelembaban udara 70-80% dan curah hujan antara 3000-3400 mm per tahun. Status Usaha Pembibitan Domba Usaha pembibitan domba Tawakkal didirikan oleh H. Bunyamin pada tahun 2010. Usaha pembibitan domba Tawakkal adalah salah satu bentuk usaha home industry. Usaha ini merupakan milik pribadi H. Bunyamin yang memiliki 4 orang pekerja yang terdiri dari 1 kepala kandang dan 3 orang pekerja. Peternakan Tawakkal memiliki 1 kandang pembibitan. Kandang Kandang yang digunakan berbentuk panggung. Posisi kandang membentang dari utara ke selatan dan dinding kandang menghadap timur dan barat sehingga sinar matahari pagi dapat masuk ke kandang. Sinar matahari penting bagi domba serta menjaga agar kandang tidak lembab. Atap kandang terbuat dari asbes, karena harganya relatif lebih murah serta melindungi domba dari panas dan hujan dan menajaga kehangatan kandang di waktu malam. Dinding kandang setinggi 200 cm terbuat dari bilah-bilah bambu di bagian atas dan papan kayu setinggi 100 cm pada dinding bagian bawah. Luas kandang pembibitan adalah 30 m x 7 m. Bangunan kandang mampu menampung ±300 ekor, yang terdiri dari 10 kandang kawin dengan ukuran panjang 3 18 m, lebar 1,5 m, 40 kandang yang meliputi kandang melahirkan, kandang induk, kandang anak lepas sapih yang berukuran panjang 1,2 m dan lebar 1,5 m dan 3 kandang yang berukuran panjang 219 cm, lebar 177 cm yang digunakan untuk kandang lepas sapih dan induk. Luas kandang pejantan yaitu panjang 127 cm, lebar 112 cm, tinggi 115 cm. Tempat pakan pejantan memiliki panjang 93 cm, lebar 52 cm, tinggi 37 cm. Kandang pejantan dibuat individu sedangkan kandang betina merupakan kandang koloni. Lantai kandang terbuat dari bambu dengan jarak 1,5 cm sehingga kotoran dan air kencing mudah jatuh ke tempat penampungan. Kandang panggung mempunyai ketinggian antara satu sampai satu setengah meter dari tanah. Kolong kandang tidak disemen dan kotoran yang jatuh ke bawah kandang. Pakan Pakan merupakan faktor penting yang mutlak dipenuhi peternak. Pakan yang bermutu tinggi, murah dan tersedia sepanjang tahun merupakan kriteria yang digunakan usaha ternak dalam pemilihan jenis pakan. Jenis pakan yang diberikan pada ternak terdiri dari rumput lapang, premix, vitamin, mineral, dan ampas tahu. Tenaga Kerja Usaha pembibitan domba hanya di pegang oleh 4 orang yaitu 1 kepala kandang dan 3 orang pekerja. Kriteria khusus dalam memilih pekerja pada usaha pembibitan tidak ada asalkan tekun, bertenaga, dan mau bekerja keras dapat menjadi pekerja. Kepala kandang dipilih berdasarkan keterampilan lebih yang dimilikinya seperti mampu mencukur bulu, menggunting kuku domba, memandikan dan keterampilan lainnya karena kepala kandang selalu berada di kandang dari pagi sampai sore sedangkan 3 orang pekerja lainnya mencari rumput dan membantu tugas kepala kandang. Tenaga kerja berasal dari daerah di sekitar peternakan. Umur pekerja yang digunakan pada usaha pembibitan domba ini berkisar antara 25 tahun – 45 tahun. Pencegahan dan Perawatan Kesehatan Ternak Perawatan kesehatan dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal dari usaha. Jenis perawatan yang dilakukan antara lain memandikan, mencukur bulu, dan memotong kuku. Pencukuran bulu domba dilakukan agar bulu domba tersebut dapat tumbuh yang baru dan bagus. Pencukuran bulu domba ini biasanya dilakukan saat 19 domba datang dari perjalanan jauh. Pencukuran domba bisanya diikuti dengan pemotongan kuku. Domba dimandikan ± 1 minggu sekali. Jenis obat-obatan yang digunakan pada usaha pembibitan domba ini hampir sama dengan obat yang digunakan pada usaha penggemukan. Obat yang digunakan seperti obat mencret, obat cacing, obat untuk sakit mata, mata merah, penambah nafsu makan, obat luka atau borok. Bibit Bangsa domba yang digunakan dalam usaha pembibitan adalah domba ekor tipis dan domba garut. Jumlah populasi di kandang pembibitan ini adalah 356 ekor yang terdiri dari 150 induk dan 206 anak sedangkan terdapat 10 pejantan yang digunakan namun ditempatkan di kandang yang berbeda. Sistem Perkawinan Domba Domba betina yang akan dikawinkan dipilih yang memiliki postur tubuh yang baik, tinggi, panjang, sehat dan berumur 1 tahun-1,5 tahun. Pejantan yang digunakan untuk perkawinan dipilih yang sehat, postur tubuh proporsional dan berumur >1,5 tahun. Perkawinan dilakukan secara alami tanpa menggunakan inseminasi buatan. Pembibitan ini tidak melakukan persilangan antara domba ekor tipis dan garut. Domba betina dimasukkan ke kandang kawin secara bertahap, lima ekor domba betina dimasukkan dan kemudian ditambah terus dengan melihat kemampuan dari pejantan. Domba mau menerima pejantan atau bisa dikawinkan hanya pada saat-saat birahi. Domba yang tidak birahi tidak bisa dipaksakan kawin sehingga lamanya pejantan dikandang kawin yaitu 2x siklus birahi atau sekitar 35 hari. Domba yang sedang birahi biasanya menunjukkan tanda-tanda selalu mengembik-embik, selalu berusaha mendekati atau mencari domba jantan, kalau dinaiki domba jantan tak akan mengelak, tetapi justru diam saja dan vulva bengkak, merah, hangat, dan kadang-kadang berlendir. Lama birahi ternak domba berlangsung 1-2 hari dan peristiwa ini akan terulang kembali setiap 15-20 hari sekali atau rata-rata 17 hari. Sesudah terjadi kebuntingan, maka siklus birahi yang terjadi setiap kurang lebih 17 hari sekali itu menjadi terhenti. Domba-domba betina yang mulai bunting akan mengalami perubahan tingkah laku seperti domba menjadi lebih tenang, tak suka mendekat kepada pejantan lagi apabila dinaiki pejantan atau sesama betina pun mereka tak mau, birahi berikutnya 20 tidak timbul lagi dan nafsu makan meningkat. Betina yang bunting segera dipisahkan. Sesudah sampai waktunya 5 bulan, maka anak yang dikandung akan lahir. Betina yang akan melahirkan dipindahkan ke kandang beranak. Anak akan disapih setelah berumur 3 bulan. Anak jantan akan dipindahkan ke kandang penggemukan untuk digemukkan sedangan anak betina akan dipelihara untuk calon induk maupun dijual. Kira-kira 60 hari sesudah induk beranak, peternak memperhatikan induk tersebut untuk dikawinkan kembali sehingga dalam 2 tahun, domba akan beranak 3 kali. Siklus reproduksi domba dapat dilihat pada Gambar 2. Cara-cara seleksi yang paling menyakinkan untuk tujuan produksi, bisa diperoleh dengan melakukan pencatatan (recording). Sistem recording yang dilakukan masih belum lengkap baru dalam hal tanggal lahir, jumlah anak dan jenis anak yang dilahirkan. Beberapa pencatatan penting yang dapat dicantumkan pada recording ternak agar lebih lengkap yaitu tetua (induk dan pejantan), kelahiran (tanggal, bobot sapih, panjang badan, jumlah anak), perkawinan (tanggal kawin dan pejantan), tanggal beranak kembali, penyakit, temperamen, produksi susu, dan bangsa atau tipe domba. Produktivitas Bibit Usaha pembibitan domba tidak terlepas dari produktivitas induk dan pejantan yang digunakan. Produktivitas usaha pembibitan domba Tawakkal dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Data Koefisien Teknis dan Reproduksi Usaha Pembibitan domba Tawakkal Uraian Litter Size (ekor) Mortalitas Domba (%) Data koefisien teknis 1,5 1 Lamb Crop (%) 150 Sex Ratio Pejantan : Induk 1:5 Masa Bunting (bulan) 5 Calving Internal (bulan) 7 Masa Sapih (bulan) 3 Sex Ratio Anak Jantan : Betina 50:50 Sumber : Data primer 21 kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Bulan ke 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Domba dikawinkan Domba bunting Domba beranak Laktasi Domba dikawinkan kembali penyapihan Domba bunting Domba beranak Laktasi Domba dikawinkan kembali Penyapihan Domba bunting Domba beranak laktasi Gambar 2. Siklus Reproduksi Domba dengan Pola 2 Tahun 3 Kali Beranak 21 22 23 24 22 Analisis Keuntungan Pengeluaran usaha pembibitan ini terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisaran perubahan volume kegiatan tertentu sedangkan biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya tetap usaha pembibitan domba Tawakkal yaitu biaya penyusutan kandang dan peralatan sedangkan biaya variabelnya terdiri dari biaya pakan, obat-obatan, upah pekerja, transportasi, listrik dan air. Biaya ini dikeluarkan untuk 240 hari (8 bulan) masa produksi pembibitan. Penerimaan usaha pembibitan domba Tawakkal terdiri atas penjualan anak betina, anak jantan dan kotoran ternak domba. Semakin banyak sumber penerimaan yang diperoleh akan semakin meningkat jumlah penerimaan yang didapatkan. Besarnya keuntungan yang diperoleh, berasal dari penerimaan dikurangi pengeluaran. Analisis keuntungan usaha pembibitan domba Tawakkal untuk satu kali siklus reproduksi (8 bulan) dapat dilihat pada tabel Tabel 5. Tabel 5. Analisis Keuntungan Usaha Pembibitan Domba Tawakkal Uraian Pengeluaran 1. Biaya tetap Penyusutan kandang Penyusutan peralatan 2. Biaya variabel Pakan (160 ekor x 240 hari x Rp 1000) Obat-obatan Upah pekerja (4 orang x 8 bulan x Rp 1.000.000) Transportasi (240 hari x Rp 9000) Listrik dan air (8 bulan x Rp 80.000) Total pengeluaran Penerimaan 1. Penjualan anak betina (103 ekor x Rp 450.000) 2. Penjualan anak jantan (103 ekor x Rp 600.000) 3. Penjualan kotoran (0,75 kg/ekor/hari x 160 ekor x 240 hari x Rp 500 Total Penerimaan Keuntungan (penerimaan – pengeluaran) Harga (Rp) 150.000 150.000 38.400.000 500.000 32.000.000 2.160.000 640.000 74.000.000 46.350.000 61.800.000 14.400.000 122.550.000 48.550.000 23 Analisis Lingkungan Internal Usaha Pembibitan Domba Lingkungan internal merupakan lingkungan organisasi yang berada di dalam organisasi tersebut dan secara normal memiliki implikasi langsung dan khusus pada perusahaan. Pearce dan Robinson (1997) mengungkapkan bahwa lingkungan internal meliputi faktor- faktor internal perusahaan yang teridentifikasi sebagai kekuatan (strengths) atau kelemahan (weaknesses) yang digunakan untuk mengembangkan serangkaian langkah strategik bagi perusahaan. Analisis lingkungan internal sangat perlu dilakukan oleh suatu usaha dalam menilai kondisi lingkungan yang dimilki oleh usaha tersebut. Kondisi lingkungan internal usaha pembibitan domba pada peternakan Tawakkal dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu manajemen sumberdaya manusia, manajemen pembibitan domba dan pemasaran. Manajemen Sumberdaya Manusia Karakteristik sumberdaya manusia di usaha pembibitan domba Tawakkal dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Karakteristik Sumberdaya Manusia di Usaha Pembibitan Tawakkal No. Karakteristik Pekerja Uraian 1. Jumlah pekerja 4 orang yang terdiri dari 1 orang kepala kandang dan 3 orang pekerja 2. Umur pekerja 25-35 tahun dan 35-45 tahun 3. Jam kerja 06.00-16.00 setiap hari 4. Tugas kepala kandang Membersihkan kandang, mencukur bulu, menggunting kuku domba, memandikan dan berada di kandang dari pagi sampai sore untuk memantau keadaan ternak 5. Tugas pekerja Mencari rumput dan membantu kepala kandang Keterangan : Data primer berdasarkan hasil wawancara Peternakan Domba Tawakkal dimiliki oleh Bapak Bunyamin yang memiliki latar belakang sarjana dan bekerja di dinas kesehatan. Usaha pembibitan domba hanya di pegang oleh 4 orang yaitu 1 kepala kandang dan 3 orang pekerja. Kriteria khusus dalam memilih pekerja pada usaha pembibitan domba tidak ada asalkan tekun, bertenaga, dan mau bekerja keras dapat menjadi pekerja. Kepala kandang 24 dipilih berdasarkan keterampilan lebih yang dimilikinya seperti mampu mencukur bulu, menggunting kuku domba, memandikan dan keterampilan lainnya karena kepala kandang selalu berada di kandang dari pagi sampai sore sedangkan 3 orang pekerja lainnya mencari rumput dan membantu tugas kepala kandang. Para pekerja bekerja setiap hari pada pukul 06.00-16.00. Pekerja yang mencari rumput harus tiba di kandang pada pukul 14.00. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat pembagian kerja yang jelas antar pekerja sehingga pekerjaan yang dilakukan setiap hari menjadi optimal. Pembagian kerja yang jelas menjadi salah satu kekuatan dalam mengembangkan usaha. Keterampilan dan pengetahuan peternak dalam bekerja tidak lepas dari campur tangan pemilik ternak sendiri, pemiliki peternakan selalu mengawasi dan memantau setiap pekerjaan dan sering kali memberikan ilmu, pelatihan, pengarahan dan turun langsung dalam usaha ini. Pemilik usaha pun melakukan penilaian prestasi kerja baik pengawasan secara langsung yang dilakukan setiap satu minggu sekali dan evaluasi akhir tahun usaha. Umur pekerja yang ada di peternakan domba Tawakkal 1,5 tahun. Umur kawin ternak domba penting untuk diperhatikan kerena menyangkut produktifitas ternak selanjutnya. Ternak domba yang dikawinkan terlalu muda biasanya mempunyai bobot hidup relatif masih rendah, akibatnya anak domba yang dihasilkan mempunyai bobot lahir yang rendah dan pertumbuhan yang lambat. Peternakan domba ini memiliki pejantan unggul sebanyak 10 ekor yang diletakkan di kandang yang berbeda dengan kandang induk. Jumlah induk yang dimiliki oleh usaha pembibitan domba Tawakkal sebanyak 150 induk dan saat ini telah menghasilkan 206 anak domba. Hal ini menandakan bahwa persentase produktivitas usaha pembibitan ini cukup baik yaitu 73%. Data produktivitas bibit dapat dilihat pada Tabel 4. Manajemen pembibitan yang dilakukan adalah perkawinan secara alami tanpa menggunakan inseminasi buatan karena sudah pernah mencobanya namun gagal dan harganya pun sangat mahal. Pembibitan ini tidak melakukan persilangan antara domba ekor tipis dan garut. Rasio yang digunakan adalah 1:5 (pejantan : betina). Betina yang telah diilih dimasukkan kedalam kandang kawin yang terdapat 1 pejantan. Lamanya pejantan dikandang kawin yaitu 2x siklus birahi atau sekitar 35 hari. Betina yang bunting dan akan melahirkan segera dipindahkan ke kandang beranak. Anak akan disapih setelah berumur 3 bulan. Setelah 60 hari melahirkan, induk akan dikawinkan kembali. Penyapihan anak dapat dilakukan setelah tiga bulan melahirkan dan dapat dikawinkan saat birahi sebelum penyapihan. Pengaturan selang kelahiran yang baik akan meningkatkan jumlah kelahiran anak menjadi tiga kali dalam dua tahun (Mulyono, 2005). Anak jantan akan dipindahkan ke kandang penggemukan untuk digemukkan sedangan anak betina akan dipelihara untuk calon induk maupun dijual. Induk dan pejantan yang digunakan untuk perkawinan tidak ditimbang dan hanya dilihat dari sifat fisik saja begitu juga anak hasil perkawinan pun tidak ditimbang dan hanya melihat dari sifat fisik domba tersebut, dengan alasan karena akan ditimbang saat penggemukan domba untuk anak jantan. Domba yang baru datang dari daerah Jawa dimasukkan ke dalam 1 kandang namun masih dalam 1 bangunan kandang karena tidak ada kandang karantina. Hal ini dapat menyebabkan tertularnya penyakit dari domba yang baru tiba dari perjalanan jauh dengan domba yang sudah ada di kandang, seperti penyakit mata (mata merah) 28 pada domba dari perjalanan jauh, pekerja memberikan obat tetes mata agar tidak menular ke domba yang sehat. Domba yang baru datang akan diberikan dengan obat cacing karena pemilik ternak mempunyai anggapan bahwa seluruh domba yang baru datang dari pasar sebagian besar berpenyakit cacingan. Penyakit yang banyak menyerang ternak domba di peternakan rakyat adalah penyakit yang menyerang pencernaan seperti cacingan (Wicaksono, 2002). Domba yang baru datang dari perjalanan jauh akan dilakukan pencukuran bulu domba agar bulu domba tersebut dapat tumbuh yang baru dan bagus serta pemotongan kuku. Domba dimandikan ± 1 minggu sekali. Pada usaha ternak domba, kandang merupakan salah satu faktor penting dalam memelihara domba. Kandang digunakan untuk melindungi ternak domba dari angin, hujan, serangan penyakit, parasit dan juga untuk efisiensi produksi. Luas kandang kawin yang digunakan pada usaha pembibitan ini ukuran panjang 3 m dan lebar 1,5 m telah sangat memadai untuk dijadikan kandang kawin. Rata-rata untuk ukuran kandang kawin, induk yang hendak dikawinkan dimasukkan ke dalam satu kandang yang cukup luas, dengan kapasitas 1-1,5 meter persegi/ekor. Dengan kapasitas ini, setiap satu kandang bisa diisi kurang lebih 10 ekor induk. Lantai kandang terbuat dari bambu dengan jarak 1,5 cm agar kotoran dan urin bisa langsung jatuh ke kolong kandang dan tidak menumpuk dilantai kandang untuk menjaga kebersihan dari kandang tersebut. Kolong kandang tidak disemen dan kotoran yang jatuh ke bawah kandang diambil 4 hari sekali. Zona termonetral domba berkisar antara suhu 28°C sampai 30°C sedangkan rata-rata suhu di peternakan Tawakkal berkisar 28°C dan ditambah lagi keadaaan di sekitar kandang yang teduh karena terdapatnya pohon yang rindang sehingga akan membuat domba tidak kepanasan dan terhindar dari cekaman panas. Manajemen usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal dapat dilihat pada Tabel 8. 29 Tabel 8. Kegiatan Manajemen Pembibitan Domba di Peternakan Tawakkal No. 1. Kegiatan Manajemen Uraian Bibit a. Seleksi pejantan sehat, postur tubuh proporsional, berumur >1,5 tahun, tubuh panjang, alat kelaminya normal dan simetris b. Seleksi induk sehat, tidak terlalu gemuk, bentuk tubuh kompak, garis punggung dan pinggang lurus, bulu bersih dan mengkilap, umur 1-1,5 tahun c. Seleksi anak jantan akan digemukkan dan betina sebagai calon induk atau dijual. 2. Pakan a. Waktu pemberian pukul 06.00 (rumput) dan sore pada pukul 15.00 (rumput, ampas tahu dan mineral) b. Jenis pakan rumput lapang, premix, vitamin, mineral, dan ampas tahu c. Jumlah pemberian 3. 3 kg ampas tahu dan 2-2,5 kg rumput lapang Kandang a. Luas kandang kawin 45 m² b. Jumlah kandang 10 kandang kawin, 43 kandang yg meliputi kandang melahirkan, kandang induk, kandang anak lepas sapih c. Jenis kandang 4. kandang panggung Reproduksi a. Perkawinan domba Perkawinan alami tanpa inseminasi buatan b. Lama penjantan di 2x siklus birahi (35 hari) kandang kawin c. Pengaturan kelahiran d. Pengaturan perkawinan Domba yang bunting dipindahkan ke kandang melahirkan Domba dikawinkan lagi, 60 hari setelah beranak Keterangan : Data primer 30 Pemasaran Usaha pembibitan domba ini menghasilkan ternak berupa bakalan domba untuk digemukkan dan induk yang dapat dijual. Bakalan untuk digemukkan yaitu bibit anak yang jantan, yang digemukkan sendiri oleh pemilik maupun dijual kepada peternak lain. Domba-domba tersebut dijual baik kepada peternak maupun pihak pemerintah dalam skala kecil maupun besar seperti ke daerah Jawa Barat maupun luar Jawa Barat. Penentuan harga untuk domba yang dijual dalam usaha pembibitan ini tidak dilihat dari bobot badan tapi ditentukan berdasarkan penampilan fisik dari domba tersebut. Harga yang ditentukan pun berdasarkan kesepakatan diantara kedua belah pihak dengan melihat kualitas dari ternak itu sendiri. Misal dengan harga Rp 700.000 domba yang dijual harus bibit yang baik karena peternakan ini menganut sistem kejujuran kepada setiap konsumennya. Harga jual untuk bakalan jantan yaitu Rp 650.000 sedangkan betina Rp 400.000. Sistem pemasaran yang dilakukan masih sangat sederhana yaitu dengan mulut ke mulut, kerabat maupun dari konsumen yang datang langsung ke peternakan. Usaha pembibitan ini belum menggunakan media cetak maupun elektronik dan internet untuk memasarkan ternaknya. Pembeli dapat langsung ke peternakan untuk memilih domba yang akan dibeli maupun memberikan kepercayaan kepada pemilik untuk mengirimkan domba yang akan dipesan. Usaha pembibitan ini dapat mengarahakan salah satu pekerjanya untuk menjadi penanggung jawab dalam pemasaran maupun mengurus sistem online ini tanpa harus mengganggu kegiatan dan tugas utama pekerja. Peluang yang cukup tinggi dalam segi permintaan bibit domba, persaingan usaha pembibitan yang masih sedikit dan kepercayaan pelanggan yang tinggi dapat dijadikan alasan untuk melakukan sistem pemasaran ini. Hasil penelitian Sasongko (2006) mengatakan bahwa penggunaan jaringan komputer dan internet telah banyak dilakukan oleh para pelaku bisnis dalam melakukan negosiasi, transaksi, dan pemasaran produknya kepada setiap relasi. Pemanfaatan teknologi internet ini bisa meningkatkan jumlah permintaan domba dan informasi terkait keberadaan usaha pembibitan Tawakkal sehingga akan menyebar dan diketahui tidak hanya di pulau Jawa saja namun Indonesia bahkan mancanegara sehingga dengan menggunakan strategi ini diharapakan usaha pembibitan ini dapat dipromosikan lebih luas lagi baik untuk 31 penjualan, informasi dan kegiatan lain yang mendukung berkembangnya usaha pembibitan. Pelayanan ini akan menciptakan hubungan yang saling menguntungkan bagi usaha pembibitan maupun pelanggan dimana pelanggan tidak merasa dirugikan sedangkan disisi lain usaha pembibitan akan memperoleh kepercayaan. Hal ini merupakan salah satu cara untuk menjaga kepercayaan, pelayanan dan kepuasaan pembeli. Usaha penggemukan domba yang telah dikenal masyarakat pun mengakibatkan usaha pembibitan ini dapat dengan cepat diketahui oleh masyarakat dan pelanggan. Sistem pembayaran dilakukan secara tunai maupun bertahap sampai domba yang dikirim datang ke daerah yang dituju. Kerjasama yang terjalin antara peternakan Tawakkal dengan peternakan di daerah Jawa dalam segi pengiriman indukan tidak melakukan kontrak kerjasama yang jelas dan hanya mengandalkan kepercayaan dan kejujuran. Hal ini karena pemilik peternakan Tawakkal sudah mengenal pihak pemasok induk dari Jawa dan sering berkunjung ke peternakannya. Perjanjian kerjasama yang tidak kuat antara dua belah pihak dapat menimbulkan ancaman untuk peternakan karena tidak adanya kontrak yang jelas dan secara tiba-tiba dapat memutuskan pengiriman domba karena beberapa faktor yang tidak dapat diduga sebelumnya. Tidak adanya pembukuan yang jelas mengenai penjualan dan pembelian domba menjadi salah satu kesulitan dalam penelitian ini karena tidak adanya informasi yang jelas terkait dana dan jumlah domba yang dibeli dan dijual. Berdasarkan analisis lingkungan internal tersebut maka faktor-faktor lingkungan internal yang meliputi kekuatan dan kelemahan yang terdapat di dalam usaha pembibitan ini yaitu : 1. Bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik 2. Induk dan pejantan yang digunakan dipilih yang bagus 3. Lokasi peternakan yang strategis 4. Jumlah pekerja yang memadai 5. Pekerja yang digunakan terampil, ramah dan mau belajar 6. Adanya mess, mushola, saung dan fasilitas lainya di peternakan 7. Adanya pembagian kerja yang jelas 8. Kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau 32 9. Lokasi peternakan yang aman dari pencurian Adapun kelemahan yang dimilki usaha pembibitan domba ini adalah 1. Sistem recording yang tidak teratur 2. Keterbatasan modal 3. Teknologi pembibitan tidak digunakan 4. Jumlah kandang masih terbatas 5. Lahan yang masih terbatas Analisis Lingkungan Eksternal Usaha Pembibitan Domba David (2009) menjelaskan bahwa analisis terhadap lingkungan eksternal bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi suatu perusahaan sehingga manajemen perusahaan memiliki kemampuan untuk dapat merumuskan suatu strategi. Analisis lingkungan eksternal menekankan pada evaluasi terhadap peristiwa di luar kendali sebuah perusahaan. Tujuan dari analisis lingkungan eksternal adalah untuk mengembangkan daftar terbatas peluang yang dapat dimanfaatkan perusahaan dan ancaman yang dihindari. Lingkungan eksternal perusahaan merupakan lingkungan yang terdiri dari faktor-faktor yang dapat menjadi peluang (opportunities) dan ancaman (threats) yang berada di luar pengawasan dan kontrol pihak manajemen perusahaan (Pearce dan Robinson, 1997). Lingkungan eksternal pada usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal dapat dilihat dari beberapa aspek berikut : Potensi Pasar Populasi domba di Indonesia tahun 2011 adalah 11.372.000 ekor (Direktorat Jenderal Peternakan, 2012). Jumlah populasi manusia Indonesia tahun 2010 adalah 237.641.326 jiwa (Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, 2012). Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan Kementan, konsumsi daging nasional pada 2010 sebesar 1,27 kg per kapita per tahun. Seiring dengan meningkatnya jumlah populasi manusia maka akan meningkatkan kebutuhan daging sebagai sumber pangan yang salah satunya berasal dari daging domba. Pencapaian konsumsi protein hewani masyarakat Kabupaten Bogor belum dapat mencapai target nasonal yang ditetapkan yaitu konsumsi protein hewani secara normal sebesar 6 g/kapita/hari (Dinas Peternakan Kabupaten Bogor, 2006). 33 Data dari dinas peternakan Jawa Barat (2007) menyatakan bahwa permintaan domba setiap tahun mengalami kenaikan sebesar 24 % dan permintaan tersebut masih kewalahan untuk dipenuhi oleh peternak yang ada di Jawa Barat dikarenakan kapasitas produksi yang masih rendah. Permintaan ekspor produk-produk peternakan untuk negara-negara ASEAN dan Timur Tengah yang sejumlah 4000-4500 ton per tahun dan 200.000-250.000 ekor per tahun pada saat ini belum dapat terpenuhi (Sasongko, 2006). Semakin banyaknya usaha penggemukan domba yang memerlukan bakalan domba yang tiap tahunnya kurang lebih sekitar 5,6 juta ekor untuk kebutuhan ibadah kurban saja, dan belum termasuk kebutuhan pasokan untuk aqiqah, industri restoran sampai dengan warung sate kaki lima yang membutuhkan 2 sampai 3 ekor tiap hari. Permintaan yang meningkat dan kebutuhan yang belum mencukupi merupakan peluang yang besar untuk melakukan usaha pembibitan ini ditambah lagi pertumbuhan populasi domba dan kambing adalah belum sebanding dengan angka permintaan yang terus meningkat. Ekonomi Berdasarkan data BPS, pengeluaran perkapita rata-rata untuk makanan yang dikeluarkan oleh masyarakat Indonesia mencapai 56,89 persen dari total penghasilan. Sebanyak 10,36 persen digunakan untuk belanja bahan makanan padi-padian, sedangkan hanya 5,04 persen yang digunakan untuk konsumsi susu, daging dan telur. Dari jumlah tersebut, mengindikasikan bahwa konsumsi masyarakat Indonesia untuk produk-produk peternakan masih cukup rendah. Namun beberapa tahun ini masyarakat telah sadar akan pentingnya sumber makanan fungsional yang tidak hanya mengenyangkan namun juga memiliki manfaat jika mengonsumsinya dan mempunyai nilai gizi yang baik seperti daging. Pertumbuhan ekonomi yang mengalami peningkatkan menyebabkan tingkat pendapatan dan daya beli masyarakat akan meningkat. Hal ini pada akhirnya akan berdampak pada peningkatkan konsumsi masyarakat terhadap bahan pangan hewani. Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Barat (2007) mengatakan bahwa jumlah produksi daging belum mencukupi kebutuhan konsumsi daging penduduk Jawa Barat. Jumlah produksi sebesar 420.264 ton dan jumlah kebutuhan 440.319 ton. Kenaikan biaya transportasi merupakan salah satu ancaman bagi usaha pembibitan ini. kenaikan biaya transportasi tidak terlepas dari kenaikan Bahan Bakar 34 Minyak (BBM). Hal ini akan meningkatkan biaya produksi usaha pembibitan di peternakan Tawakkal karena pengadaaan rumput, induk dan pemasaran bibit dilakukan menggunakan transportasi yang hampir dilakukan setiap hari. Persaingan Usaha Usaha pembibitan pada peternakan domba Tawakkal adalah usaha yang baru dijalankan hampir 2 tahun dan usaha pembibitan domba ini sangat jarang dilakukan dan pelaku usaha cenderung melakukan usaha penggemukan domba, hal ini karena pelaku usaha menganggap usaha pembibitan rumit dilakukan dan perputaran modal yang lama. Hal ini merupakan salah satu peluang usaha yang menjanjikan karena sedikitnya pelaku usaha yang melakukan pembibitan domba khususnya di Kabupaten Bogor. Data usaha peternakan domba di Kabupaten Bogor disajikan pada Tabel 9. Salah satu keuntungan usaha pembibitan ini adalah usaha peternakan domba Tawakkal telah berpengalaman dan mendapatkan posisi yang baik dimata pelanggan dan konsumen pada usaha penggemukannya, sehingga dampak dari kepercayaan ini pun mengakibatkan usaha pembibitan ini dapat diterima oleh konsumen dan pelanggan yang lain. Tabel 9. Usaha Peternakan Domba di Wilayah Bogor No Jenis Peternakan Lokasi Populasi Ternak (ekor) 1. Peternakan Tawakkal Cimande 1200 2. Peternakan MT Farm Ciampea 750 3. Pembibitan Domba Garut Cisalopa, Cinagara 600 4. Pembibitan Domba Garut Pegelaran 300 5. Penggemukan Domba Leuwiliang 200 6. Pembibitan Domba Lokal Desa Benteng, Gunung Leutik 150 7. Penggemukan Domba Cimanggu 150 Sumber : Dinas Peternakan Kab. Bogor (2006) 35 Sosial Budaya Sebagai negara dengan mayoritas penduduk adalah beragama Islam, produkproduk yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan bagi umat muslim sangat berpotensi untuk dikembangkan. Salah satu produk khususnya peternakan yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan adalah ternak kambing dan domba. Ternak ini banyak digunakan umat muslim yang memiliki kemampuan dari segi materi untuk menjalankan ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha serta pelaksanaan aqiqah anak-anak mereka. Budaya masyarakat Indonesia yang bersifat keagamaan seperti penyembelihan domba untuk kurban dan aqiqah menjadi peluang pasar yang menjanjikan untuk usaha pembibitan ini dimana dapat menjual dan mendistribusikan bakalan untuk usaha penggemukan yang dilakukan peternakan Tawakkal maupun ke usaha penggemukan yang lain sehingga tidak perlu khawatir karena bisa memproduksi bakalan sendiri. Data dari dinas peternakan Jawa Barat (2007) menyatakan bahwa permintaan domba setiap tahun mengalami kenaikan sebesar 24 % dan permintaan tersebut masih kewalahan untuk dipenuhi oleh peternak yang ada di Jawa Barat dikarenakan kapasitas produksi yang masih rendah. Usahaternak domba yang berada di dekat lingkungan pemukiman penduduk dituntut untuk selalu melakukan interaksi sosial dengan baik kepada masyarakat sekitarnya. Pihak usaha peternakan domba Tawakkal menyadari dan menjaga hubungan tersebut dengan beberapa pendekatan seperti pemberian zakat atau sedekah kepada warga sekitar baik berupa uang tunai, bahan makanan pokok maupun peralatan ibadah yang rutin dilakukan setiap tahun. Peternakan Tawakkal pun melakukan kerjasama dengan BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) dalam usaha pembibitan domba. Hasil kerjasama usaha pembibitan ini sepenuhnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah peternakan domba seperti uang untuk biaya pendidikan, kesehatan, kaum duafa, zakat dan rumah sehat agar masyarakat bisa berobat gratis. Dengan adanya hubungan dan penerimaan yang baik dari masyarakat sekitar, diharapkan akan memperlancar kegiatan usaha karena jika hubungan ini tidak berjalan baik maka akan menjadi ancaman bagi keberadaan usaha ternak di masa yang akan datang. Hasil penelitian Ikhsan (2009), strategi yang diterapkan untuk meningkatkan hubungan sosial kepada masyarakat yang dilakukan oleh peternakan Agri farm yaitu 36 melibatkan anak-anak yang ada untuk diberdayakan membantu mencari rumput dengan sekali-kali diberi upah. Selain itu masyarakat sekitar yang memiliki kandang juga ikut dilibatkan dengan cara menjalin kerjasama dengan sistem maparoh. Sistem maparoh yaitu pihak Agrifarm menitipkan empat ekor domba bakalan kepada petani selama enam bulan setelah itu domba yang diambil tiga ekor sedangkan satu ekor bagian untuk petani. Strategi ini menjadikan petani memiliki rasa keterlibatan dan juga tanggung jawab dalam menjalankan usahaternak domba Agrifarm. Kebijakan Pemerintah Daerah Salah satu faktor pendukung kelancaran usahaternak domba adalah dukungan dari pemerintah. Kebijakan maupun peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah khususnya pemerintah daerah sangat berpengaruh terhadap kinerja dan langkah yang akan diambil peternak. Sejak digulirkannya program revitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan sejak tahun 2009 yang strateginya di bidang peternakan dan perikanan melalui pengembangan zona pertanian dan pengembangan komoditas unggulan, salah satu bidang usaha yang mendapatkan perhatian yaitu pengembangan usaha ternak kecil termasuk ternak domba (Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, 2010). Hasil Penelitian Ikhsan (2009) mengatakan bahwa adanya permintaan dari gubernur Jawa Barat kepada Dinas Peternakan Jawa Barat agar meningkatkan populasi bibit domba sebanyak 1000 persen pada tahun 2010 guna mewujudkan Jawa Barat sebagai pusat pengembangan ternak ruminansia dan mampu memenuhi berapapun permintaan daging domba. Program yang direncanakan oleh pemerintah Jawa Barat ini merupakan peluang yang sangat potensial bagi usahaternak domba Agrifarm mengingat target pertumbuhan populasi yang diharapkan sangat tinggi. Dampak positif yang akan dirasakan oleh para peternak di Jawa Barat yaitu akan adanya bantuan ataupun kemudahan dari pemerintah propinsi baik berupa bantuan modal, bantuan bibit, maupun bantuan penjelasan tekhnis dalam pemeliharaan domba. Fakta dilapangan mengatakan bahwa sampai saat ini, usaha peternakan domba Tawakkal belum mendapatkan izin usaha dari dinas peternakan Kabupaten Bogor meskipun sudah mengajukan beberapa kali namun ditolak dan birokrasi yang rumit dan berbelit. Berdasarkan wawancara kepada pemilik usaha pun mengatakan bahwa belum adanya bantuan dari pemerintah terkait pengembangan usaha peternakan dan jarang dari 37 pihak dinas memantau usaha peternakan ini walapun demikian setiap tahun, dinas peternakan Kabupaten Bogor melakukan suntik antrax untuk ternak pada saat akan Idul Adha. Kekuatan Tawar Menawar Pemasok dan Pelanggan Kekuatan tawar menawar pemasok input seperti domba betina besar, kecil, jantan besar dan kecil yang berasal Magelang, Wonosobo, Banjarnegara dan Temanggung kurang kuat karena tidak adanya kontrak yang jelas antara pihak peternakan Tawakkal dan peternak di daerah tersebut. Pemiliki hanya mengandalkan kepercayaan dan perjanjian tidak tertulis kepada peternak tersebut dengan mengirimkan pesanan domba yang diminta. Pemiliki pembibitan Tawakkal mengatakan bahwa kedua belah pihak memegang kejujuran jika terdaapt ternak yang tidak sesuai dengan yang diinginkan makan akan dikembalikan. Harga yang telah ditetapkan oleh kedua belah pihak adalah bakalan pejantan besar dari daerah Banjarnegara dengan harga Rp 1.200.000, bakaln pejantan kecil dari daerah Tumanggung Rp 700.000, betina kecil dari daerah Magelang Rp 450.000-500.000 dan betina besar dari daerah Wonosobo Rp 750.000-800.000. sistem yang dilakukan peternakan Tawakkal untuk membeli domba tersebut dengan sistem gantin, namun belum begitu jelas kapan dan jumlahnya setiap pengiriman. Kekuatan tawar menawar pemasok input produksi pada usaha ternak domba Tawakkal tidak besar karena jumlah pemasok untuk usaha ternak ini cukup banyak. Pemilihan terhadap pemasok berdasarkan atas harga, kualitas barang, pelayanan yang memuaskan, kontinyuitas pasokan dimana harga ditentukan berdasarkan harga pasar dan kesepakatan antara kedua belah pihak. Biaya angkut bahan baku sampai ke lokasi peternakan ditanggung oleh pihak usaha ternak. Posisi tawar konsumen dikatakan kuat apabila konsumen atau pembeli terkonsentrasi atau membeli dalam jumlah banyak sehingga sangat menentukan volume penjualan. Selain itu produk yang dibeli merupakan produk yang tidak terlalu penting bagi konsumen sehingga konsumen tidak terlalu bergantung terhadap produk serta produk yang dibeli merupakan komponen biaya yang cukup besar. Konsumen atau pelanggan utama dari usaha pembibitan ini adalah peternak yang mencari bakalan dalam jumlah yang besar maupun kecil dan juga tenggulak. Pembeli 38 bibit domba ini pun tidak hanya berasal dari wilayah Jawa Barat namun sampai ke daerah Aceh dan luar pulau Jawa. Salah satu bentuk antisipasi pihak usaha ternak untuk menghindari keadaaan yang tidak menguntungkan adalah dengan memanfaatkan pengalaman selama hampir 19 tahun dalam usaha penggemukan domba yang mana telah menciptakan wilayah pemasaran dan relasi yang luas sehingga usaha pembibitan ini pun telah diketahui. Pemilik ternak yang selalu menjaga hubungan yang baik, menjaga kepercayaan kepada pelanggan, memberikan pelayanan yang memuaskan, loyalitas yang tinggi dan ikut aktif dalam kegiatan HPDKI. Berdasarkan analisis lingkungan eksternal tersebut maka faktor-faktor lingkungan eksternal yang meliputi peluang dan ancaman yang terdapat di dalam usaha pembibitan ini adalah: 1. Permintaan bibit domba yang tinggi 2. Persaingan usaha pembibitan masih sedikit 3. Tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi 4. Adanya dukungan masyarakat sekitar 5. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi daging (gizi) 6. Instansi pemerintah maupun swasta banyak yang mengajak kerjasama 7. Budaya masyarakat menjelang Idul Adha Adapun ancaman yang dimilki usaha pembibitan ini adalah 1. Penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa 2. Kenaikan biaya transprotasi 3. Dukungan pemerintah kabupaten yang rendah dalam segi modal dan administrasi 4. Perjanjian kerjasama yang tidak kuat dan terikat dari pemasok dari Jawa Penyusunan Strategi Pengembangan Usaha Pembibitan Domba di Peternakan Tawakkal Strategi adalah rencana yang disatukan, luas dan terintegrasi yang menghubungkan keunggulan perusahaan dengan tantangan lingkungan, dan dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi (Jauch dan Glueck, 1995). Penyusun strategi membantu organisasi mengumpulkan, menganalisis serta mengorganisasi informasi 39 (David, 2009). Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal dan eksternal yang telah dilakukaan pada usaha pembibitan domba maka akan didapatkan faktor-faktor yang dapat menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pada usaha pembibitan domba di Peternakan Tawakkal. Faktor-faktor tersebut selanjutnya dianalisis menggunakan matriks IFE dan EFE. 1. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) Matriks IFE adalah alat perumusan strategi yang mana meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama dalam area-area fungsional bisnis dan menjadi landasan untuk mengindentifikasi serta mengevaluasi hubungan diantara area tersebut (David, 2009). Analisis matriks IFE dilakukan dengan mengolah faktorfaktor internal usaha ternak menjadi kekuatan dan kelemahan usaha. Hasil pemberian bobot dan peringkat terhadap faktor-faktor internal perusahaan yang dilakukan oleh empat responden. Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal yang dilanjutkan dengan penghitungan bobot dan rating masing-masing faktor kekuatan dan kelemahan maka diperoleh nilai skor seperti yang tertera pada Tabel 10. Besar kecilnya bobot yang diberikan tergantung pada besar kecilnya pengaruh atau tingkat kepentingan variabel terhadapa kesuksesan usaha ternak ini. sedangkan rating yang diberikan tergantung pada tinggi rendahnya respon (prioritas) yang ditunjukan oleh usaha ternak terhadap kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Faktor-faktor internal yang menjadi kekuatan terbesar pada usaha pembibitan ini adalah bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, menggunakan induk dan pejantan yang bagus, kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau. Skor pembobotan untuk masing-masing faktor sama yaitu 0,332. Kelemahan terbesar yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah sistem recording yang tidak teratur (skor pembobotan 0,252). Hal ini terlihat dari nilai bobot yang tinggi dan tingkat kepentingan dari faktor ini lebih diprioritaskan. Anak domba yang dihasilkan pada usaha pembibitan ini baik, dilihat dari penampilan fisiknya seperti sehat, tidak cacat, bersih. Perkembangan dan pertumbuhan anak domba di usaha pembibitan ini sangat baik. Induk dan pejantan yang digunakan baik dan memiliki penampilan fisik yang baik. Pejantan yang dipilih harus sehat, postur tubuh proporsional, berumur >1,5 tahun, tubuh panjang, alat kelaminya normal dan simetris sedangkan betina harus sehat, tidak terlalu gemuk, 40 bentuk tubuh kompak, garis punggung dan pinggang lurus, bulu bersih dan mengkilap, umur 1-1,5 tahun. Induk yang digunakan adalah induk yang sehat dan tidak cacat, mempunyai sifat keibuan, berasal dari keturunan kembardan bulu bersih dan mengkilat. Usaha pembibitan pun mampu menghasilkan bibit sehat, dan berpenampilan luar baik. Jumlah bibit anakan yang telah dihasilkan pada usaha pembibitan ini adalah 206 ekor. Duldjaman dan Rahayu (1996) mengatakan bahwa pemilihan bibit harus memperhatikan usia ternak yang masih muda dan tidak pernah terserang penyakit yang membahayakan. Bibit ternak yang baik juga harus berbulu bersih dan mengkilat serta mempunyai daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan (Dinas Peternakan, 1997). Kelebihan peternakan Tawakkal di bandingkan peternakan domba yang lainnya adalah kandang domba yang bersih dan tidak bau. Pembersihan kandang dan tempat pakan dilakukan setiap hari serta kotoran domba diambil setiap empat hari sekali untuk dijual. Lokasi peternakan yang strategis dan dekat jalan raya memudahkan dalam menjangkau usaha baik untuk pembelian atau distrubusi ditambah lagi dengan banyaknya pabrik pengolahan tahu yang akan menghasilkan ampas tahu untuk keperluan produksi pembibitan ini. Pembagian kerja yang jelas antar pekerja menjadikan pekerjaan yang dilakukan setiap hari menjadi optimal. Kepala kandang mengatur semua kegiatan produksi di kandang pembibitan dan pekerja lain bertugas untuk mancari rumput dan setelha itu pun membantu kepala kandang memberikan pakan ternak. Keterampilan pekerja tidak terlepas dari campur tangan pemilik peternakan yaitu H. Bunyamin dimana beliau akan memberikan arahan dan pelatihan agar kemampuan pakerja dalam beternak lebih baik lagi. Jumlah pekerja memadai dimana terdapat 4 pekerja yang menangani hampir 300 domba. Adanya mess, mushola dan fasilitas di peternakan yang memadai membuat pekerja betah dan nyaman berada di peternakan, hal ini terlihat dari pekerja yang rata-rata tinggal di area peternakan sehingga peternakan ini aman dari pencurian karena adanya pekerja yang tinggal areal peternakan dan di sekitar peternakan. Sistem recording sudah dilakukan namun tidak teratur dan kurang rapi dan hanya mengandalkan daya ingat kepala kandang yang menangani kandang 41 pembibitan ini. Hal ini disebabkan karena para pekerja sudah sibuk mengurus domba-domba dan beberapa pekerja yang masih buta huruf. Sistem recording yang teratur dan benar akan membuat usaha pembibitan mendapatkan nilai yang lebih baik dari usaha pembibitan lainya karena informasi kepada calon pembeli lebih lengkap dan jelas sehingga akan meningkatkan nilai jual ternak dan data ternak pun akan lebih lengkap. Jumlah kandang dan lahan yang terbatas menjadikan usaha pembibitan ini sulit untuk mengembangkan dan meningkatkan jumlah produksi usaha pembibitan ditambah lagi dengan tidak digunakannya tekonologi pembibitan seperti inseminasi buatan. Hal ini karena peternak pernah melakukan inseminasi buatan namun gagal dan mengalami kerugian sehingga mereka kapok untuk menggunakanya lagi. Total keseluruhan dari matriks IFE adalah 3,442 menunjukkan bahwa usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal berada pada kondisi kuat dalam memanfaatkan kekuatan maupun mengatasi kelemahan yang dimiliki. 42 Tabel 10. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) Faktor internal Kekuatan : 1. Bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik 2. Induk dan pejantan yang digunakan dipilih yang bagus 3. Lokasi peternakan yang strategis 4. Jumlah pekerja yang memadai 5. Pekerja yang digunakan terampil, ramah dan mau belajar 6. Adanya mess, mushola, saung dan fasilitas lainnya di peternakan 7. Adanya pembagian kerja yang jelas 8. Kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau 9. Lokasi peternakan yang aman dari pencurian Kelemahan : 1. Sistem recording yang tidak teratur 2. Keterbatasan modal 3. Teknologi pembibitan tidak digunakan 4. Jumlah kandang masih terbatas 5. Lahan yang masih terbatas Total Bobot Peringkat Bobot x (A) (B) Peringkat 0,083 4 0,332 0,083 4 0,332 0,063 0,073 0,073 3,75 3 3 0,236 0,219 0,219 0,063 3,75 0,236 0,073 0,083 3,5 4 0,256 0,332 0,063 3,5 0,189 0,083 0,083 0,041 4 3,25 2 0,332 0,269 0,082 0,063 0,073 1 3 3 0,189 0,219 3,442 Keterangan : Skor pembobotan total = 1,00-1,99 (lemah), 2-2,99 (rata-rata), 3-4 (kuat) 2. Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFE) Matriks evaluasi faktor eksternal memungkinkan para penyusun strategi untuk meringkas dan mengevaluasi informasi ekonomi, sosial, budaya, demografis, lingkungan, politik, pemerintahan, hukum, teknologi, dan kompetitif (David, 2009). Analisis matriks EFE yang dilakukan terhadap faktor eksternal dari usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal terbagi menjadi peluang dan ancaman. Hasil analisis matriks EFE dapat dilihat pada Tabel 11. Lingkungan eksternal perusahaan merupakan lingkungan yang terdiri dari faktor-faktor yang dapat menjadi peluang dan ancaman. Analisis eksternal merupakan suatu proses yang dilakukan oleh perencana strategis dalam melihat sektor lingkungan yang ada di luar kendali perusahaan untuk menentukan peluang dan ancaman (Jauch dan Glueck, 1995). 43 Peluang terbesar yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah permintaan bibit domba yang tinggi, persaingan usaha pembibitan masih sedikit, dan tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi. Skor pembobotan untuk masing-masing faktor adalah 0,404. Tujuan usaha pembibitan di Peternakan Domba Tawakkal adalah menghasilkan domba yang tidak inbreeding dan memperbanyak ternak yang ada. Usaha pembibitan ini mampu menghasilkan anakan atau bakalan sendiri sehingga memungkinkan usaha ini tidak bergantung pada pasokan bakalan dari luar untuk digemukkan sehingga akan selalu tersedia ternak yang akan digemukkan maupun yang akan dikembangbiakan. Kesempatan atau peluang lain yang cukup menjanjikan yang ada pada usaha ini adalah instansi pemerintah maupun swasta banyak yang mengajak kerjasama dan adanya dukungan masyarakat. Skor pembobotan untuk faktor ini adalah 0,267. Hal ini terlihat saat pengamatan di peternakan ada pesananan domba dari Aceh dan pekerja yang magang dari peternakan lain untuk bertukar ilmu pada usaha pembibitan domba ini maupun banyaknya mahasiswa yang melakukan kunjungan dan praktek kerja lapangan yang berasal dari berbagai daerah. Faktor eksternal yang menjadi ancaman terbesar pada usaha pembibitan domba ini adalah penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa (skor pembobotan 0,404). Kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan usaha ternak domba. Lemahnya kesehatan domba akan menyebabkan timbulnya penyakit (Sugeng, 2007). Selain kesehatan, perjanjian kerjasama yang tidak kuat dan terikat dari pemasok mengkhawatirkan indukan yang memiliki dari Jawa pun menjadi skor pembobotan 0,354. ancaman yang Hal akan ini mempengaruhi kontinuitas usaha pembibitan jika tidak adanya kontrak yang jelas dan hanya mengandalkan kepercayaan saja. Kenaikan biaya BBM akan meningkatkan pengeluaran biaya untuk transportasi baik dalam hal pengadaaan hijauan maupun distribusi ternak. Pemilik usaha pun mengatakan bahwa belum adanya bantuan dari pemerintah terkait pengembangan usaha peternakan dan jarang dari pihak dinas memantau usaha peternakan. Total keseluruhan dari matriks EFE adalah 3,404 menunjukkan bahwa usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal berada pada kondisi kuat dalam merespon faktor eksternal baik berupa peluang maupun ancaman yang dihadapi. 44 Tabel 11. Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFE) Faktor Strategis Eksternal Peluang : 1. Permintaan bibit domba yang tinggi 2. Persaingan usaha pembibitan masih sedikit 3. Tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi 4. Adanya dukungan masyarakat sekitar 5. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi daging (gizi) 6. Instansi pemerintah maupun swasta banyak yang mengajak kerjasama 7. Budaya masyarakat mejelang Idul Adha Ancaman : 1. Penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa 2. Kenaikan biaya transportasi 3. Dukungan pemerintah kabupaten yang rendah dalam segi modal dan administrasi 4. Perjanjian kerjasama yang tidak kuat dan terikat dari pemasok indukan dari Jawa Total Bobot Rating Bobot x (A) (B) Peringkat 0,101 0,101 0,101 0,089 0,051 4 4 4 3 2 0,404 0,404 0,404 0,267 0,102 0,089 3 0,267 0,076 3 0,228 0,101 4 0,404 0,089 0,101 3 3 0,267 0,303 0,101 3,5 0,354 1 3,40 Keterangan : Skor pembobotan total = 1,00-1,99 (rendah), 2-2,99 (rata-rata), 3-4 (tinggi) 3. Analisis Matriks SWOT Rangkuti (1997) mengatakan bahwa analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Keunggulan yang dimiliki model ini adalah kemampuannya dalam memformulasikan strategi berdasarkan gabungan faktor eksternal dan internal tersebut. Empat strategi utamayang dihasilkan yaitu strategi SO, W-O, S-T, dan W-T dapat dilihat pada gambar 2. Berdasarkan hasil analisis matriks SWOT pada gambar 2, maka alternatif strategi yang dapat diterapkan untuk mengembangkan usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal adalah sebagai berikut : Strategi S-O merupakan strategi yang menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang atau strategi yang memanfaatkan kekuatan internal perusahaan untuk menarik keuntungan dari peluang eksternal (David, 2009). Strategi yang dapat dilakukan adalah mengadakan 45 kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan peternakan. Hal ini dengan memanfaatkan peluang yang ada yaitu adanya instansi pemerintah baik dinas maupun perguruan tinggi dan swasta yang mengajak kerjasama baik dari segi bertukar ilmu dalam kunjungan praktikum, pengamatan, dan penelitian yang dilakukan di peternakan. Hal ini didukung dengan adanya pembagian kerja yang jelas, antar pekerja, pekerja yang terampil, ramah dan mau belajar serta fasilitas di peternakan yang memadai seperti kantor, jaringan listrik dan mess, mushola dan fasilitas lainya sehingga proses penelitian maupun kerjasama ini bisa dilakukan. Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi mereka untuk mengadakan penelitian yang hasilnya dapat dimanfaatkan dan digunakan untuk mengembangkan usaha peternakan ini khususnya usaha pembibitan. Menteri Pertanian menerbitkan Surat Keputusan No.315/Kpts/KP.150/2000 tanggal 28 Juni 2000 tentang Komisi Bibit Ternak Nasional (KBTN) yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan kepada Menteri Pertanian dalam penetepan kebijakan sistem perbibitan ternak nasional, pengujian, penilaian dan pelepasan strain dan atau breed baru, sertifikasi bibit ternak, dan pengawasan mutu bibit ternak, melalui Direktur Jenderal Produksi Ternak. Selama ini, dalam menjalankan tugasnya, KBTN melibatkan perguruan tinggi peternakan. Dengan adanya program ini diharapkan antara perguruan tinggi, pihak peternak, dan komponen pelaku peternakan mempunyai kesempatan dalam membangun dunia peternakan sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Semua manajer tentunya menginginkan organisasi mereka berada dalam posisi dimana kekuatan internal dapat digunakan untuk mengambil keuntungan dari berbagai tren dan kejadian eksternal. Secara umum, organisasi akan menjalankan strategi WO, ST, atau WT untuk mencapai situasi dimana mereka dapat melaksanakan strategi SO. Jika sebuah perusahaan memiliki kelemahan besar, maka perusahaan akan berjuang untuk mengatasinya dan mengubahnya menjadi kekuatan. Tatkala sebuah organisasi dihadapkan pada ancaman yang besar, maka perusahaan akan berusaha untuk menghindarinya untuk berkonsentrasi pada peluang (David, 2009). Strategi W-O adalah strategi yang memanfaatkan peluang untuk mengatasi kelemahan. Strategi yang dilakukan adalah meningkatkan kapasitas usaha 46 pembibitan dengan melakukan kerja sama dengan pihak swasta dalam segi penanaman modal. Kondisi keuangan sering dianggap ukuran tunggal terbaik dari posisi bersaing perusahaan dan daya tarik keseluruhan investor (David, 2009). Usaha pembibitan yang dilakukan sejauh ini menggunakan modal pemilik peternakan sendiri, sehingga untuk mengembangkan skala usaha pembibitan dalam segi jumlah produksi, lahan, kandang masih sangat sulit. Peternakan Tawakkal belum melakukan kerjasama dengan pihak swasta apalagi dengan pihak bank terkait modal karena pemilik mengatakan bahwa pinjaman dari bank adalah hutang dan beliau tidak mau melakukan kerjasama dengan bank. Namun, jika beliau mendapatkan dana hibah dari bank dan tidak harus membayar bunga, beliau bersedia. Kerjasama yang mungkin dilakukan dengan sistem bagi hasil yang sama-sama menguntungkan untuk kedua belah pihak dimana peternakan bisa mendapatkan modal lebih untuk memperluas usaha pembibitanya baik dari segi jumlah ternak, lahan dan kandang. Kelemahan lain yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah tekonlogi pembibitan yang tidak digunakan. Teknologi tersebut yaitu inseminasi buatan (IB). hal ini dikarenakan pemiliki peternakan telah mencoba menggunakan IB untuk memperbanyak jumlah induk yang bunting namun hal ini gagal dan malah mengalami kerugian sehingga pemilik pembibitan ini tidak lagi menggunakan teknologi pembibitan dan lebih percaya dan yakin dengan perkawinan secara alami. Strategi S-T adalah strategi yang menggunakan kekuatan untuk menghindari ancaman. Strategi yang digunakan yaitu pengadaaan kandang karantina untuk domba yang baru datang dari perjalanan jauh. Duldjaman dan Rahayu (1996) menyebutkan ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit antara lain: (1) memelihara kebersihan baik ternak, pakan, tempat minum, dan peralatannya, (2) tidak mencampur domba yang sakit dengan yang sehat sehingga tidak terjadi penularan, dan (3) melakukan vaksinasi dan pemberian obat pencegahan penyakit secara teratur. Pengadaan kandang karantina bisa dilakukan dengan menyekat kandang dan mencegah terjadinya kontak langsung antara domba yang baru datang dari perjalanan dengan domba yang telah ada sebelumnya karena kandang pembibitan yang dimiliki peternakan baru ada satu bangunan kandang. 47 Strategi W-T adalah strategi yang mengurangi kelemahan dan menghindari ancaman. Strategi yang dapat digunakan yaitu melakukan sistem kontrak yang jelas dengan pihak pemasok induk agar kapasitas kandang yang tersedia cukup sehingga penanganan domba bisa maksimal, kualitas tetap terjaga, dan harga yang jelas antara pemasok domba dengan pembeli domba dan kontinuitas ternak. Sistem kontrak ini dapat berupa jumlah domba yang akan dikirim dan waktu pengiriman yang jelas serta sistem pembayaran yang harus disepakati dan saling menguntungkan satu sama lain. Strategi lain yang dapat dilakukan adalah melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam pengadaan hijauan. Kerjasama penyediaan hijauan sebagai makanan ternak akan mengurangi biaya transportasi yang dikeluarkan untuk mencari rumput yang dilakukan selama ini dan tugas dari kepala kandang bisa terbantu dengan adanya pekerja yang berada di kandang. Keuntungan yang dapat diterima masyarakat dari kerjasama ini adalah masyarakat dapat meningkatkan pendapatannya dengan memasok bahan baku usaha ternak sehingga masyarakat juga merasakan keuntungan dari keberadaaan usaha ternak dan terjalinanya hubungan yang lebih baik dengan masyarakat. Pengambilan keputusan atau pemilihan strategi dapat dilihat dari skor pembobotan pada strategi. Strategi yang memiliki nilai pembobotan yang paling tinggi dapat didahulukan dalam menerapkan strategi di usaha pembibitan ini. Strategi yang dapat diterapkan dalam waktu dekat (jangka pendek) adalah mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan peternakan. Strategi jangka pendek ini dapat segera diterapkan karena melihat besarnya tingkat kepentingan kombinasi faktor-faktor tersebut dan memiliki prioritas yang tinggi pada usaha pembibitan ini sehingga bisa dapat diterapkan dalam waktu dekat. Sedangkan strategi jangka panjang yang dapat diterapkan adalah melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam pengadaaan hijauan. 48 Strengths (S) INTERNAL 1. 2. 3. 4. 5. 6. EKSTERNAL 7. 8. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik (0,332) Induk dan pejantan yang digunakan dipilih yang bagus (0,332) Lokasi peternakan yang strategis (0,236) Jumlah pekerja yang memadai (0,219) Pekerja yang digunakan terampil, ramah dan mau belajar (0,219) Adanya mess, mushola, saung dan fasilitas lainya di peternakan (0,219) Adanya pembagian kerja yang jelas (0,256) Kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau (0,332) Lokasi peternakan yang aman dari pencurian (0,189) Strategi S-O 9. Opportunies (O) Permintaan bibit domba yang tinggi (0,404) 1. Mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan Persaingan usaha pembibitan masih sedikit (0,404) pengembangan peternakan Tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi (0,404) (S4, S5, S6,S7 O6) Adanya dukungan masyarakat sekitar (0,267) (1,18) Meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi daging (gizi) (0,102) Instansi pemerintah maupun swasta banyak yang mengajak kerjasama (0,267) Budaya masyarakat menjelang Idul Adha (0,228) Treaths (T) 1. Penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa (0,404) 2. Kenaikan biaya transportasi (0,267) 3. Dukungan pemerintah kabupaten yang rendah dalam segi modal dan administrasi (0,303) 4. Perjanjian kerjasama yang tidak kuat dan terikat dari pemasok indukan di Jawa (0,354) Weakneeses (W) 1. Sistem recording yang tidak teratur (0,332) 2. Keterbatasan modal (0,269) 3. Teknologi pembibitan tidak digunakan (0,082) 4. Jumlah kandang masih terbatas (0,189) 5. Lahan yang masih terbatas (0,219) Strategi W-O 1. Meningkatkan kapasitas usaha pembibitan dengan melakukan kerja sama dengan pihak swasta dalam segi penanaman modal (W2, W4, W5, O6) (0,944) Strategi S-T Strategi W-T 1. Pengadaaan kandang karantina untuk domba yang baru datang dari perjalanan jauh (S6, S7, T1) (0,879) 1. Melakukan sistem kontrak yang jelas dengan pihak pemasok induk (W2, W4, W5, T4) (1,031) 2. Melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam pengadaan hijauan (W5, T2) (0,486) Gambar 3. Matriks SWOT Usaha Pembibitan Domba Tawakkal Farm dengan Skor Pembobotannya 49 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan analisis lingkungan internal, kekuatan yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, induk dan pejantan yang digunakan dipilih yang bagus, lokasi peternakan yang strategis, jumlah pekerja yang memadai, pekerja yang digunakan terampil, ramah dan mau belajar, Adanya mess, mushola, saung dan fasilitas lainnya di peternakan, adanya pembagian kerja yang jelas, kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau, peternakan yang aman dari pencurian. Kelemahan yang dimiliki meliputi sistem recording yang tidak teratur, keterbatasan modal, teknologi pembibitan tidak digunakan, jumlah kandang masih terbatas dan lahan yang masih terbatas. Faktor-faktor lingkungan eksternal yang merupakan peluang dalam usaha pembibitan ini adalah permintaan bibit domba yang tinggi, persaingan usaha pembibitan masih sedikit, tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi, adanya dukungan masyarakat sekitar, meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi daging (gizi), instansi pemerintah maupun swasta banyak yang mengajak kerjasama, budaya masyarakat menjelang idul adha. Adapun ancaman yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa, kenaikan biaya transprotasi, dukungan pemerintah kabupaten yang rendah dalam segi modal dan administrasi serta perjanjian kerjasama yang tidak kuat dan terikat dari pemasok dari Jawa Strategi yang dapat diterapkan untuk pengembangan usaha pembibitan domba di Peternakan Domba Tawakkal berdasarkan matriks SWOT adalah mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan peternakan, meningkatkan kapasitas usaha pembibitan dengan melakukan kerja sama dengan pihak swasta dalam segi penanaman modal, pengadaaan kandang karantina baru datang dari perjalanan jauh, melakukan untuk domba yang sistem kontrak yang jelas dengan pihak pemasok induk, dan melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam pengadaan hijauan. Strategi awal yang dapat dilakukan adalah mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan peternakan. 50 Saran Usaha pembibitan domba harus berani melakukan terobosan-terobosan yang bersifat agresif dalam rangka melakukan pengembangan baik itu berupa perluasan pasar, pengembangan produk seperti usaha aqiqah. Perlu adanya penelitian lebih lanjut dari pihak perusahaan terhadap kondisi internal dan eksternal perusahaan, sehingga dalam proses implementasi strategi selanjutnya dapat dilaksanakan dengan lebih tepat dan penelitian mengenai studi kelayakan usaha pembibitan domba sehingga bisa menjadi masukan bagi peternak lain untuk memulai usaha pembibitan. Penelitian pada aspek produksi usaha pembibitan yang lebih lengkap dan menyeluruh akan sangat berguna untuk mengetahui kondisi usaha pembibitan domba tersebut. 51 STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA PEMBIBITAN DOMBA (Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor) SKRIPSI ANDINA AVIKA HASDI DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 i DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statitiska. 2012. Statistika Peternakan, Jakarta. Blakely, J & D. H Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Edisi Keempat. Terjemahan : B. Srigandono. UGM Press, Yogyakarta. David, F. 2009. Strategic Management. Edisi ke-12. Salemba Empat, Jakarta. Dewan Ketahanan Pangan Jawa Barat. 2007. Rencana Strategi. http://bkpd.jabarprov.go.id/index.php?mod=manageMenu&idMenuKiri=522&i dMeu=. [ 2 Maret 2012]. Dinas Peternakan. 1997. Brosur Peternakan Kambing. Dinas Peternakan, Jakarta. Dinas Peternakan Kabupaten Bogor. 2006. http://disnakan.bogorkab.go.id/. [2 Maret 2012]. Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat. 2012. http://dinak.jabarprov.go.id. [18 April 2012]. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan. 2012. Statistika Peternakan Tahun 2010. Departemen Pertanian Republik Indonesia, Jakarta. Duldjaman, M & S. Rahayu. 1996. Budidaya Ternak Domba dalam: Prospek Pengembangan Usaha Ternak Ayam dan Domba Lokal di Pedesaan. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Einstiana, A. 2006. Studi keragaman fenotipik dan pendugaan jarak genetik antar domba lokal di Indonesia. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Gatenby, R. M. 1991. The Tropical Agriculturalist, Sheep. Mac Millan Education Ltd. London. Hadiningrum V. 2006. Strategi pengembangan usaha ternak domba Tawakkal Dusun Cimande Hilir Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Heryadi, D., A. Anang., R. Setiadi., Ismeth., D. C. Budinuryanto., H. Hasan., Elly A. Ibrahim Hadist, D. Pangesti, & U. Darusman. 2002. Standarisasi Mutu Bibit Domba Garut. Fakultas Peternakan. UNPAD, Bandung. Ikhsan, M. 2009. Strategi pengembangan usaha peternakan domba Agrifarm Desa Cihideung Udik Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Irawan, B. 2002. Suplementasi Zn dan Cu organik pada ransum berbasis limbah agroindustri untuk memacu pertumbuhan domba. Tesis. Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Jauch, L. R & W. F. Glueck. 1995. Manajeme Strategis dan Kebijaksanaan Perusahaan. Edisi ketiga. Erlangga, Jakarta. Kusumaningrum, R. 2004. Fungsi produksi usaha penggemukan domba lokal sistem koloni di Desa Pesawahan, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Skripsi. 53 Program Studi Sosial Ekonomi Industri Peternakan. Departemen Sosial Ekonomi Ternak. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Mastika, I., K. Suaryana., I. Oka., & I. Sutrisna. 1993. Produksi Kambing dan Domba. Sebelas Maret University Press, Surakarta. Menteri Pertanian. 2000. Surat Keputusan No. 315/Kpts/KP.150/6/2000 tanggal 28 Juni 2000 tentang Komisi Bibit Ternak Nasional, Jakarta. Mulyono, S. 2005. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. Cetakan ke-7. Penebar Swadaya, Jakarta. National Research Council. 1985. Nutrient Requirment of Shepp. 6th Revised Edition.National Academy Pres, Washington. Pearce, J. A & R. B. Robinson. 1997. Manajemen Strategik: Formulasi, Implementasi, dan Pengendalian. Jilid Satu. Binarupa Aksara, Jakarta. Pulungan, H., J. E. Van Eys, & M. Rangkuti. 1985. Penggunaan Ampas Tahu Sebagai Makanan Tambahan pada Domba Lepas Sapih yang Memperoleh Rumput Lapangan. Balai Penelitian Ternak, Bogor. Putong, I. 2003. Teknik Pemanfaatan Analisis SWOT Tanpa Skala Industri (ASWOT-TSI). Jurnal Ekonomi Bisnis No.2, Jilid 8. Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Rangkuti, F. 1997. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Penerbit Gramedia, Jakarta. Sasongko, T. 2006. Analisis strategi pengembangan usaha peternakan kambing dan domba pada MT Farm, Ciampea, Bogor. Skripsi. Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Standar Nasional Indonesia. 2009. Bibit Domba Garut. SNI 7532:2009, Jakarta Sudarmono, A. S. & Y. B. Sugeng. 2005. Beternak Domba. Cet-17. Penebar Swadaya. Jakarta. Sugeng, Y. B. 2007. Beternak Domba. Penebar Swadaya, Jakarta. Suharno, B. & Nazaruddin. 1994. Ternak Komersial. Penebar Swadaya, Jakarta. Toelihere, R. 1985. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Angkasa, Bandung. Tomaszewska, M. W., A. Djajanegara, S. Gardiner, T.R Wiradarya, & I. M. Mastika.1993. Small Ruminant Production in the Humid Tropics. Sebelas Maret University, Surakarta, Indonesia. Umar, H. 2003. Strategic Management in Action. Cetakan Ketiga. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Wicaksono, D. 2002. Kajian pengembangan usaha ternak domba di Desa Cigudeg, Kecamatan Cigudeg. Kabupaten Bogor. Skripsi. Jurusan Sosial Ekonomi Peternakan. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Williamson G. & W. J. A. Payne., 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Terjemahan oleh: IGN Djiwa Darmadja. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 54 Winarso, A. P. 2000. Analisis pemasaran ternak domba di Kabupaten Bogor. (Studi Kasus di Peternakan Desa Sadeng Kecamatan Leuwiliang). Skripsi. Jurusan Sosial Ekonomi Industri Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Yamin, M. 2001. Budidaya penggemukan ternak domba. Makalah pelatihan. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. 55 LAMPIRAN 56 Lampiran 1. Data Kuantitatif Beberapa Bibit Anakan dan Indukan di Peternakan Domba Tawakkal No. Umur Jenis domba Jenis kelamin 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. Garut Garut Garut Garut Garut Ekor tipis Ekor tipis Garut Garut Garut Garut Garut Garut Garut Garut Garut Garut Garut Garut Betina Betina Betina Betina Jantan Betina Betina Jantan Betina Betina Jantan Jantan Jantan Betina Betina Betina Betina Betina Jantan 1 minggu 1 minggu 1 minggu 10 hari 10 hari 2 bulan 2 bulan 3 bulan 3 bulan 4 bulan 4 bulan 5 bulan 7 bulan 12 bulan 12-18 bulan 12-18 bulan 18 bulan 18 bulan 18 bulan-2 tahun Lingkar dada (cm) 37 36 34 37 37 57 58 72 66 74 92 90 94 59 61 65 105 63 102 Panjang badan (cm) 32 30 31 34 37 43 44 58 59 64 61 60 66 60 61 54 73 69 83 Tinggi badan (cm) 37 31 35 40 39 49 47 55 51 62 67 67 72 64 70 67 67 66 110 Keterangan : Data primer 57 Lampiran 2. Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFE) Faktor Strategis Eksternal Peluang : 1. Permintaan bibit domba yang tinggi 2. Persaingan usaha pembibitan masih sedikit 3. Tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi 4. Adanya dukungan masyarakat sekitar 5. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi daging (gizi) 6. Instansi pemerintah maupun swasta banyak yang mengajak kerjasama 7. Budaya masyarakat mejelang Idul Adha Ancaman : 1. Penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa 2. Kenaikan biaya transportasi 3. Dukungan pemerintah kabupaten yang rendah dalam segi modal dan administrasi 4. Perjanjian kerjasama yang tidak kuat dan terikat dari pemasok indukan dari Jawa Total Bobot Rating Bobot x (A) (B) Peringkat 4 4 4 3,5 2 4 4 4 3 2 16 16 16 10,5 4 3,5 3 10,5 3 3 9 4 4 16 3,5 4 3 3 10,5 12 4 3,5 14 39,5 58 Lampiran 3. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) Faktor internal Kekuatan : 1. Bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik 2. Induk dan pejantan yang digunakan dipilih yang bagus 3. Lokasi peternakan yang strategis 4. Jumlah pekerja yang memadai 5. Pekerja yang digunakan terampil, ramah, dan mau belajar 6. Adanya mess, mushola, saung dan fasilitas lainya di peternakan 7. Adanya pembagian kerja yang jelas 8. Kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau 9. Lokasi peternakan yang aman dari pencurian Kelemahan : 1. Sistem recording yang tidak teratur 2. Keterbatasan modal 3. Teknologi pembibitan tidak digunakan 4. Jumlah kandang masih terbatas 5. Lahan yang masih terbatas Total Bobot Peringkat Bobot x (A) (B) Peringkat 4 4 16 4 4 16 3 3,5 3,5 3,75 3 3 11,25 10,5 10,5 3 3,75 11,25 3,5 4 3,5 4 12,25 16 3 3 9 4 4 2 4 3,25 2 16 13 4 3 3.5 48 3 3 9 10.5 59 Lampiran 3. Kata Kunci Pertanyaan Terbuka dalam Indentifikasi Internal di Usaha Pembibitan oleh Kepala Kandang Faktor- faktor internal 1. Karakteristik bibit 2. Lokasi peternakan 3. Fasilitas kandang Kekuatan Kelemahan Alasan pembibitan 4. Jumlah pekerja 5. Pengalaman pekerja 6. Pembagian kerja 7. Teknologi pembibitan 8. Strategi pemasaran 9. ……………………. 10. ……………………. Keterangan : Kuisioner merupakan pertanyaan dalam bentuk terbuka dengan kata kunci yang telah disediakan diatas namun disesuaikan dengan kondisi dilapangan 60 Lampiran 4. Kata Kunci Pertanyaan Terbuka dalam Indentifikasi Faktor Eksternal di Usaha Pembibitan oleh Kepala Kandang Faktor- faktor eksternal Peluang Ancaman Alasan 1. Permintaan bibit domba 2. Penerimaan masyarakat terhadap usaha pembibitan domba 3. Tingkat persaingan antar peternak 4. Budaya masyarakat 5. Tingkat kepercayaan pelanggan 6. Dukungan pemerintah terhadap pengembangan usahaternak 7. Kesadaran masyarakat akan gizi 8. Penyebaran penyakit 9. ……………………… 10. …………………….. Keterangan : Kuisioner merupakan pertanyaan dalam bentuk terbuka dengan kata kunci yang telah disediakan diatas namun disesuaikan dengan kondisi dilapangan 61 Lampiran 5. Rekapan Pembobotan dan Peringkat pada Faktor Internal Bobot Bobot total Faktor internal Kekuatan 1. Bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik 2. Induk dan pejantan yang digunakan dipilih yang bagus 3. Lokasi peternakan yang strategis 4. Jumlah pekerja yang memadai 5. Pekerja yang digunakan terampil, ramah dan mau belajar 6. Adanya mess, mushola, saung dan fasilitas lainnya di peternakan 7. Adanya pembagian kerja yang jelas 8. Kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau 9. Lokasi peternakan yang aman dari pencurian Kelemahan 1. Sistem recording yang tidak teratur 2. Keterbatasan modal 3. Teknologi pembibitan tidak digunakan 4. Jumlah kandang yang terbatas 5. Lahan yang masih terbatas 1 4 4 4 4 4 3 2 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 4 3 4 4 4 4 2 3 3 2 16 16 12 14 14 12 4 4 3 4 4 4 3 4 4 3 3 4 4 2 4 4 4 4 2 3 4 4 4 2 3 3 Keterangan : 1. Pemilik Peternakan, 2. Kepala Kandang, 3.Pekerja, 4.Masyarakat Bobot Ratarata (A) Peringkat Peringkat Total Peringkat rata-rata (B) 4 4 3 3,5 3,5 3 1 4 4 4 3 3 4 2 4 4 4 3 3 4 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 3 3 3 3 16 16 15 12 12 15 4 4 3,75 3 3 3,75 14 16 3,5 4 3 4 4 4 4 4 3 4 14 16 3,5 4 2 12 3 3 3 3 3 12 3 4 4 2 2 3 16 16 8 12 14 4 4 2 3 3,5 4 4 2 4 4 4 3 2 3 3 4 3 2 3 3 4 3 2 2 2 16 13 8 12 12 4 3,25 2 3 3 62 Lampiran 6. Rekapan Pembobotan dan Peringkat pada Faktor Eksternal Faktor Eksternal Peluang 1. Permintaan bibit domba yang tinggi 2. Persaingan usaha pembibitan masih sedikit 3. Tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi 4. Adanya dukungan masyarakat sekitar 5. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan konsumsi daging (gizi) 6. Instansi pemerintah maupun swasta banyak yang mengajak kerjasama 7. Budaya masyarakat mejelang Idul Adha Ancaman 1. Penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa 2. Kenaikan biaya transportasi 3. Dukungan pemerintah kabupaten yang rendah dalam segi modal dan administrasi 4. Perjanjian kerjasama yang tidak kuat dan terikat dari pemasok indukan dari Jawa Bobot Bobot total 1 4 4 4 4 2 2 4 4 4 3 2 3 4 4 4 4 2 4 4 4 4 3 2 16 16 16 14 8 3 4 3 4 3 3 3 4 4 4 4 3 4 4 4 Bobot Ratarata (A) Peringkat Peringkat Total Peringkat rata-rata (B) 4 4 4 3,5 2 1 4 4 4 3 2 2 4 4 4 3 2 3 4 4 4 3 2 4 4 4 4 3 2 16 16 16 12 8 4 4 4 3 2 14 3,5 4 3 3 2 12 3 3 12 3 3 3 3 3 12 3 4 4 4 4 3 4 16 14 16 4 3,5 4 4 3 3 4 3 3 4 4 3 4 2 3 16 12 12 4 3 3 4 4 16 4 4 4 3 3 14 3,5 Keterangan : 1. Pemilik Peternakan, 2. Kepala Kandang, 3.Pekerja, 4.Masyarakat 63
Strategi Pengembangan Usaha Pembibitan Domba (Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor) Analisis Matriks SWOT Strategi Pengembangan Usaha Pembibitan Domba (Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor) Matriks Eksternal Factor Evaluation EFE Matriks Internal Factor Evaluation IFE
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Strategi Pengembangan Usaha Pembibitan Domba (Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor)

Gratis