Feedback

Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut

Informasi dokumen
ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS KENTANG DI DESA CIGEDUG, KECAMATAN CIGEDUG, KABUPATEN GARUT SKRIPSI SYIFA MAULIA H34080024 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 RINGKASAN SYIFA MAULIA. Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. (Di bawah bimbingan HARMINI) Kentang merupakan salah satu komoditas sayuran yang menjadi prioritas pengembangan oleh pemerintah. Tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) memiliki prospek dalam menunjang program diversifikasi pangan dan bahan baku industri. Pada perkembangannya, mulai tahun 2006 hingga 2011 produktivitas kentang di Indonesia menunjukkan tren menurun (Ditjenhorti 2012). Hal tersebut juga terjadi di Desa Cigedug yang menjadi salah satu daerah penghasil kentang di Kabupaten Garut. Desa Cigedug juga merupakan salah satu desa yang telah menjalin kemitraan dalam bentuk usaha pertanian kontrak (contract farming) dengan PT Indofood Fritolay Makmur (PT IFM). Varietas yang digunakan dalam usaha pertanian kontrak adalah varietas Atlantic, sedangkan varietas Granola digunakan oleh petani yang tidak tergabung dalam usaha pertanian kontrak. Perbedaan harga yang ditawarkan pada kedua varietas dimana harga ratarata kentang varietas Granola relatif lebih rendah dibandingkan dengan kentang varietas Atlantic menjadi salah satu permasalahan usahatani kentang di Desa Cigedug. Selain itu, harga jual kentang varietas Granola cenderung berfluktuatif dikarenakan mengikuti harga pasar, sedangkan pada varietas Atlantic harga jual tetap sesuai dengan harga kontrak dengan PT IFM yang berlaku. Permasalahan lainnya adalah produktivitas kentang yang pernah dicapai Desa Cigedug hingga saat ini belum mencapai produktivitas potensialnya. Produktivitas aktual pada tahun 2011 sebesr 18 ton/ha (BP3K Cigedug 2012), padahal produktivitas potensial kentang yang dapat dicapai varietas Granola maupun Atlantic sebesar 30 ton/ha (Samadi 2007). Hal ini erat kaitannya dengan penggunaan faktor produksi yang mempengaruhi jumlah produksi dalam suatu kegiatan usahatani. Penggunaan faktor produksi perlu diperhatikan dalam kegiatan usahatani agar penggunaannya tidak berlebihan dan sesuai dengan kaidah standar operasional prosedur (SOP). Penggunaan faktor produksi yang berlebihan tentunya akan membuat petani mengeluarkan biaya yang besar pula, sedangkan kurangnya penggunaan faktor produksi diduga dapat menurunkan hasil. Harga jual dan produktivitas kentang yang dihasilkan pada akhirnya mempengaruhi pendapatan usahatani kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic. Tujuan penelitian ini adalah (1) Menganalisis pendapatan usahatani kentang varietas Granola (noncontract farming) maupun varietas Atlantic (contract farming) di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut dan (2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut pada bulan Mei 2012. Data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder. Jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah 60 orang yang terdiri dari 30 responden varietas Granola dan 30 responden varietas Atlantic. Metode yang digunakan adalah metode Snowball Sampling. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis deskriptif i kualitatif meliputi keragaan usahatani dan faktor-faktor produksi yang digunakan dalam usahatani kentang. Analisis data secara kuantitatif antara lain analisis pendapatan usahatani, R/C rasio, dan fungsi produksi Cobb-Douglas untuk menganalisis faktor apa saja yang berpengaruh secara nyata dan tidak nyata terhadap produktivitas kentang. Data yang dianalisis secara kuantitatif akan diolah dengan bantuan program Microsoft Office Excel 2007 dan MINITAB 14. Berdasarkan hasil analisis pendapatan usahatani kentang antara varietas Granola dan varietas Atlantic yang dilakukan petani respnden di Desa Cigedug secara umum dinyatakan menguntungkan dan layak untuk diusahakan. Hal ini dapat ditunjukkan dari pendapatan rata-rata atas biaya total yang dicapai petani responden varietas Granola adalah Rp 33.256.875,51 per hektar dan varietas Atlantic Rp 42.206.449,23 per hektar. Hal tersebut menunjukkan bahwa penerimaan yang diperoleh petani responden dalam mengusahakan kentang dapat menutupi biaya usahatani yang dikeluarkan sehingga usahatani kentang ini menguntungkan untuk diusahakan Berdasarkan model fungsi Cobb-Douglas diperoleh nilai R-sq sebesar 53,7 persen yang berarti bahwa variabel bebas seperti jumlah benih, penggunaan dummy varietas, jumlah pupuk kandang, unsur Nitrogen, unsur Fosfat, unsur Kalium, fungisida, insektisida, perekat, dan tenaga kerja dapat menjelaskan sebesar 53,7 persen variabel tidak bebas (produktivitas), dan sisanya sebesar 46,3 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model (komponen error). Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang yaitu penggunaan varietas, jumlah pupuk kandang, unsur Fosfat, unsur Kalium, perekat, dan tenaga kerja. Sementara itu, jumlah benih, unsur Nitrogen, fungisida, dan insektisida tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang sehingga penambahan ataupun pengurangan yang dilakukan tidak membawa perubahan terhadap produktivitas kentang. Berdasarkan hasil analisis pendapatan usahatani dan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi, disarankan (1) Ketika harga jual kentang varietas Granola turun, petani sebaiknya memberikan nilai tambah pada kentang varietas Granola dengan mengolahnya menjadi produk lain seperti tepung, kerupuk, dan pati sehingga petani mendapat tambahan pendapatan, (2) Petani dapat mengurangi penggunaan faktor produksi yang secara nyata tidak mempengaruhi produktivitas kentang sehingga petani dapat menghemat biaya yang dikeluarkan dalam usahatani kentang, (3) PT Indofood Fritolay Makmur sebaiknya mengembangkan pembibitan lokal seperti yang telah dilakukan di daerah Malang, agar dapat mengurangi pasokan impor bibit kentang varietas Atlantic dan meminimalisasi keterlambatan benih di tingkat petani akibat adanya proses karantina, dan (4) Untuk menegaskan perjanjian kontrak, ada baiknya pihak vendor PT Indofood Fritolay Makmur membuat kontrak dengan petani mitra menggunakan materai agar dapat meningkatkan komitmen di kedua belah pihak. ii ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS KENTANG DI DESA CIGEDUG, KECAMATAN CIGEDUG, KABUPATEN GARUT SKRIPSI SYIFA MAULIA H34080024 Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 iii LEMBAR PENGESAHAN Judul Skripsi : Analisis Pendapatan Usahatani dan Mempengaruhi Produktivitas Kentang Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut Nama : Syifa Maulia NIM : H34080024 Faktor-Faktor yang di Desa Cigedug, Menyetujui, Pembimbing Ir. Harmini, M.Si NIP. 19600921 198703 2 002 Mengetahui, Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP. 19580908 198403 1 002 Tanggal Lulus`: iv PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut” adalah karya saya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, November 2012 Syifa Maulia H34080024 v RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 28 Juni 1990. Penulis adalah anak tunggal dari pasangan Ayahanda Imdad Tamam (Alm) dan Ibunda Halimah. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Pondok Betung V pada tahun 2002 dan pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2005 di SMP Negeri 177 Jakarta. Pendidikan lanjutan menengah atas di SMA Negeri 47 Jakarta diselesaikan pada tahun 2008. Penulis diterima di Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2008. Selama mengikuti pendidikan, penulis tercatat sebagai fotografer UKM Koran Kampus periode tahun 2009 – 2010, pengurus UKM Century periode tahun 2009 – 2011, BEM FEM pada Departemen Komunikasi dan Informasi periode tahun 2009 – 2010, dan HIPMA pada Biro Hubungan Eksternal periode tahun 2010 – 2011. vi KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan dan faktor-faktor produktivitas pada usahatani kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut. Tak ada gading yang tak retak, begitu pula karya tulis ini masih memiliki beberapa kekurangan dan keterbatasan. Namun demikian penulis mengharapkan penulisan penelitian ini tetap memberi manfaat bagi para pembaca. Bogor, November 2012 Syifa Maulia vii UCAPAN TERIMA KASIH Proses penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan syukur yang tidak terhingga kepada Allah SWT dan terima kasih sebesar-besarnya kepada: 1. Ir. Harmini, M.Si dan Ir. Anita Ristianingrum, M.Si sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, motivasi, saran, kesabaran, waktu, dan perhatian yang sangat berarti bagi penulis hingga penyusunan skripsi ini selesai. 2. Ir. Burhanuddin, MM dan Ir. Narni Farmayanti, M.Sc sebagai dosen penguji utama dan penguji komisi pendidikan Departemen Agribisnis yang telah memberikan saran dan masukan dalam penyempurnaan skripsi ini. 3. Dr.Ir. Netti Tinaprilla, MMA sebagai dosen pembimbing akademik yang telah memberikan motivasi dan saran menghadapi dunia perkuliahan. 4. Orang tua, Bapak Imdad Tamam dan Ibu Halimah yang selalu mendoakan, memberikan motivasi, dan kasih sayang kepada penulis. Semoga ini dapat menjadi persembahan terbaik. 5. Keluarga besar Tamam dan Abu Railah yang selalu memotivasi penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 6. Bapak Amin, Bapak Uus, Teteh Santi, Teteh Lilis, dan seluruh staf kantor Desa Cigedug yang telah membantu penulis selama pengumpulan data dan memberikan informasi yang sangat berguna selama penelitian ini. 7. Bu Ida, Mba Dian, Bu Yoyoh, Pak Yusuf, dan seluruh staf sekretariat serta Komisi Pendidikan Departemen Agribisnis yang telah membantu penulis. 8. Teman-teman terbaik penulis, Herawati, Syajaroh Duri, Farisah Firas, Akbar Zaenal, Haris Fatori, Diki More, Arini Prihatin, Andi Facino, dan Nuniek Sudiningsih, yang telah mengajari banyak hal tentang arti persahabatan. 9. Ridiawati Sumarna, Anggarini Dianing S, Annisa Kusumawardhani, Sistiana Kurnia W, Anisa Roseriza, Shafiyyatul Ghina, Mizani Adlina, Layra Nichi S, Aklima Dhiska S, Junita Elizabeth, Asmayanti, Tubagus Fadzlurrahman, Eka Yanti, dan teman-teman agribisinis 45 yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, atas masukan, kebersamaan, semangat, dan persaudaraannya selama ini. viii 10. Teman satu organisasi, BEM FEM IPB dan HIPMA IPB, yang telah mengajari banyak hal tentang persahabatan dan team work. 11. PIP Kemlu, KP Kemlu, dan PPA yang telah memberikan beasiswa kepada penulis selama studi di IPB. 12. Semua pihak yang telah membantu penulisan skripsi dan dukungan selama penulis menyelesaikan studi di IPB yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Bogor, November 2012 Syifa Maulia ix DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL .................................................................................. xii DAFTAR GAMBAR .............................................................................. xiv DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... xv I. II. III. IV. V. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ...................................................................... 1.2. Perumusan Masalah ............................................................... 1.3. Tujuan Penelitian ................................................................... 1.4. Manfaat Penelitian ................................................................. 1.5. Ruang Lingkup Penelitian ...................................................... TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Karakteristik Kentang ........................................................... 2.2. Budidaya Kentang ................................................................. 2.3. Kajian Penelitian Pendapatan Usahatani ............................... 2.4. Kajian Penelitian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas .......................................................................... 2.5. Kajian Penelitian Usaha Pertanian Kontrak (Contract Farming) ............................................................... 2.6. Keterkaitan dengan Penelitian Terdahulu ............................. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ................................................ 3.1.1. Konsep Usahatani ......................................................... 3.1.2. Konsep Pendapatan Usahatani .................................... 3.1.3. Konsep Usaha Pertanian Kontrak (Contract Farming) ..................................................... 3.1.4. Konsep Fungsi Produksi ............................................. 3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ......................................... 1 6 8 8 9 10 12 16 17 18 20 21 21 23 24 27 32 METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................. 4.2. Jenis dan Sumber Data .......................................................... 4.3. Jumlah Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ................ 4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data .................................. 4.4.1. Analisis Pendapatan Usahatani ................................... 4.4.2. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang ................................................. 4.4.3. Pengujian Hipotesis ..................................................... 4.5. Definisi Operasional .............................................................. 38 41 44 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Karakteristik Wilayah dan Sosial Ekonomi Kemasyarakatan .................................................................... 5.1.1. Letak dan Kondisi Geografis Lokasi Penelitian ......... 5.1.2. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat .......................... 47 47 48 34 34 35 36 36 x 5.2. Karakteristik Petani Varietas Granola dan Atlantic .............. 5.3. Keragaan Usahatani Kentang ................................................ 5.3.1. Kegiatan Budidaya Kentang ........................................ 5.3.2. Kegiatan Pemasaran Kentang ...................................... 5.3.3. Penggunaan Sarana Produksi Kentang ....................... 5.3.4. Keragaan Usaha Pertanian Kontrak (Contract Farming) ..................................................... 5.3.5. Keragaan Usaha Nonpertanian Kontrak (Noncontract Farming) ............................................. 5.4. Analisis Pendapatan Usahatani Kentang ............................... 5.4.1. Analisis Penerimaan Usahatani Kentang .................... 5.4.2. Analisis Biaya Usahatani Kentang ............................. 5.4.3. Analisis Pendapatan Usahatani Kentang .................... 5.5. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang ........................................................... 5.5.1. Uji Penyimpangan Asumsi ......................................... 5.5.2. Analisis Fungsi Produksi ............................................ VI. 50 53 53 63 67 78 80 81 82 84 94 96 96 97 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ........................................................................... 6.2. Saran ...................................................................................... 107 107 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 108 LAMPIRAN ............................................................................................ 114 xi DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1. Perkembangan Nilai PDB Hortikultura Tahun 2006 – 2010 ....... 2 2. Perkembangan Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Kentang di Indonesia Tahun 2006 – 2011 .................................... 3 3. Perkembangan Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Kentang di Kecamatan Cigedug pada Tahun 2007 – 2011 .......... 4 4. Ringkasan Perhitungan Penerimaan, Biaya, dan Pendapatan Usahatani .................................................................. 37 5. Distribusi Pemanfaatan Lahan Desa Cigedug Tahun 2011 .......... 47 6. Distribusi Penduduk Desa Cigedug Tahun 2012 ......................... 48 7. Distribusi Penduduk Desa Cigedug Berdasarkan Pendidikan Tahun 2011 ................................................................ 49 8. Distribusi Penduduk Desa Cigedug Berdasarkan Pekerjaan Tahun 2011 .................................................................. 49 9. Distribusi Petani Responden Varietas Granola Menurut Usia di Desa Cigedug .................................................... 51 10. Distribusi Petani Responden Varietas Atlantic Menurut Usia di Desa Cigedug .................................................... 51 11. Distribusi Petani Responden Varietas Granola Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Cigedug ............................ 52 12. Distribusi Petani Responden Varietas Atlantic Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Cigedug ............................ 52 13. Distribusi Petani Responden Varietas Granola Menurut Pengalaman Bertani di Desa Cigedug ........................... 53 14. Distribusi Petani Responden Varietas Atlantic Menurut Pengalaman Bertani di Desa Cigedug ........................... 53 15. Penggunaan Rata-rata Pupuk Dasar Petani Kentang Varietas Granola dan Atlantic per Hektar ................................... 55 16. Sebaran Penggunaan Generasi Kentang Varietas Granola di Tingkat Petani pada Musim Hujan 2011 – 2012 ..................... 56 17. Sebaran Perlakuan Benih Kentang Berdasarkan Jumlah Responden pada Musim Hujan 2011 – 2012 ................... 57 18. Dosis Pemupukan Susulan Rata-rata yang Digunakan Petani pada Musim Hujan 2011 – 2012 .................................................. 61 xii 19. Zat Aktif yang Digunakan Petani Responden untuk Mengatasi Serangan Hama dan Penyakit pada Musim Hujan 2011 – 2012 ........................................................... 63 20. Sebaran Ukuran Rata-rata yang Dihasilkan Kentang Varietas Granola pada Musim Hujan 2011 – 2012 per Hektar .................. 64 21. Penggunaan Rata-rata Obat Berdasarkan Kandungan Aktif yang Digunakan Petani Responden Varietas Granola dan Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 .................................................................................. 72 22. Penggunaan Tenaga Kerja per Hektar dalam Usahatani Kentang Varietas Granola pada Musim Hujan 2011–2012 ......... 76 23. Penggunaan Tenaga Kerja per Hektar dalam Usahatani Kentang Varietas Atlantic pada Musim Hujan 2011–2012 .......... 76 24. Rekapitulasi Rata-rata Penggunaan Input Produksi dalam Usahatani Kentang Varietas Granola dan Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ........... 77 25. Rata-rata Penerimaan Usahatani Kentang Varietas Granola per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ........... 82 26. Rata-rata Penerimaan Usahatani Kentang Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ........... 83 27. Rata-rata Biaya Usahatani Kentang Varietas Granola per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ........... 85 28. Rata-rata Biaya Usahatani Kentang Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ........... 86 29. Rata-rata Biaya Penyusutan Peralatan Petani Usahatani Kentang per Hektar per Periode Tanam pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ...................................................... 94 30. Perbandingan Pendapatan Usahatani Kentang Varietas Granola dan Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ...................... 95 31. Pendugaan dan Pengujian Parameter Model Fungsi Produksi Cobb-Douglas pada Usahatani Kentang per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ...................... 99 32. Rata-rata Produktivitas Berdasarkan Generasi yang Digunakan Petani Responden pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ...................................................... 100 33. Perbandingan Produktivitas Rata-rata Berdasarkan Varietas yang Digunakan pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ...................................................... 101 xiii DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1. Hubungan antara TP, PM, dan PR ............................................... 31 2. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian ............................... 33 3. Daerah Stastistik d Durbin-Watson .............................................. 41 4. Pemberian Pupuk Dasar Berupa Pupuk Kandang di Lahan yang Telah Dibuat Bedengan ............................................ 55 5. Benih Varietas (a) Granola dan (b) Atlantic yang Disimpan di Tempat Terbuka ....................................................................... 56 6. Penyulaman Bibit yang Mati ........................................................ 58 7. Penancapan Ajir pada Umur 15 HST ........................................... 59 8. Penalian Tanaman Kentang pada Umur 60 HST ......................... 59 9. Penyemprotan Obat-obatan .......................................................... 62 10. Umbi Kentang Greening .............................................................. 66 11. Umbi Kentang Siap Dijual ........................................................... 66 12. Distribusi Harga Jual Kentang Varietas Granola (Rp/kg) Berdasarkan Ukuran yang Dihasilkan Sesuai Tempat Tujuan Penjualan pada Musim Hujan 2011 – 2012 ........ 67 xiv DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Rata-rata Pertumbuhan Luas, Produksi dan Produktivitas Kentang pada Tahun 2007 – 2011 di Lima Daerah Penghasil Kentang Terbesar di Kabupaten Garut ......................... 114 2. Hasil Output MINITAB 14 Fungsi Produksi ............................... 115 3. Hasil Output MINITAB 14 Fungsi Produksi per Luas Lahan ..... 116 4. Hasil Output Grafik MINITAB 14 Fungis Produksi per Luas Lahan ............................................................................. 117 5. Output dan Input yang Digunakan Petani Kentang Varietas Granola pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ........................................................................... 118 6. Output dan Input yang Digunakan Petani Kentang Varietas Atlantic pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug ........................................................................... 119 7. Biaya Input Petani Kentang Varietas Granola pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug (Rp/Ha) ................. 120 8. Biaya Input Petani Kentang Varietas Granola pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug (Rp/Ha) ................. 121 9. Penerimaan Diperhitungkan dan Tunai Petani Kentang Varietas Granola dan Varietas Atlantic pada musim Hujan 2011 – 2012 (Rp/Ha) ............................................. 122 xv I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian Indonesia memiliki potensi yang besar dalam segi sumberdaya dan kualitas, sehingga dapat menjadi sektor unggulan dalam meningkatkan pendapatan negara. Saat ini pertanian tidak hanya terfokus pada aspek budidaya, namun aspek pemanfaatan pengolahan dan pemasaran sudah diperhatikan dalam menunjang sektor pertanian. Hal ini yang disebut agribisnis, adanya integrasi dari subsistem hulu hingga hilir yang didukung dengan subsistem penunjang. Pembangunan agribisnis memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Selain merupakan sektor utama dalam pembangunan ekonomi, pembangunan agribisnis juga merupakan cara memaksimalkan keunggulan komparatif yang dimiliki Indonesia sebagai negara agraris. Persaingan yang tinggi saat ini, mendorong pertanian harus memiliki daya saing dan inovasi yang baik, terutama pada produk-produk pertanian yang memiliki potensi dan nilai yang tinggi, serta dijadikan kebutuhan pokok oleh sebagian besar masyarakat. Sektor pertanian menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 15,3 persen dari total nilai PDB menurut lapangan usaha tahun 2010, dimana sektor pertanian menjadi penyumbang PDB kedua terbesar setelah sektor industri pengolahan (BPS 2011a). Salah satu subsektor pertanian yang memiliki potensi untuk dikembangkan yaitu hortikultura yang terdiri atas sayuran, buah-buahan, florikultura, dan biofarmaka. Hortikultura berperan sebagai sumber pangan, sumber pendapatan masyarakat, penyedia lapangan kerja, dan penghasil devisa. Hal tersebut menjadi alasan bahwa subsektor ini perlu menjadi prioritas pengembangan. Hortikultura turut memberikan kontribusi terhadap pendapatan nasional yang dapat dilihat dari nilai PDB. Pada tahun 2006 hingga 2009 nilai PDB subsektor hortikultura terus meningkat, namun pada tahun 2009 ke 2010 terjadi penurunan sebesar 2,67 persen. Penurunan ini disebabkan karena produksi hortikultura yang menurun di berbagai wilayah penanaman (Ditjenhorti 2011). Walaupun demikian, nilai PDB Hortikultura mengalami rata-rata pertumbuhan dari tahun 2006 hingga 2010 sebesar 5,94 persen (Tabel 1). Tabel 1. Perkembangan Nilai PDB Hortikultura Tahun 2006 – 2010 Nilai PDB (Rp Miliar) Komoditas 2006 2007 2008 2009 Buah-buahan 35.448 25.587 28.205 30.506 Sayuran 24.694 42.362 47.060 48.437 Florikultura 3.762 4.741 5.085 5.494 Biofarmaka 4.734 4.105 3.853 3.897 Total 68.639 76.795 84.202 88.334 2010 31.244 45.482 6.172 3.665 85.985 Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2011) Sayuran merupakan salah satu produk hortikultura yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan baik sebagai penghasil devisa maupun sebagai sarana meningkatkan pendapatan petani. Selain sebagai komoditas yang penting dalam memenuhi kebutuhan gizi, sayuran telah memberikan kontribusi PDB sebesar 36,35 persen terhadap subsektor hortikultura pada tahun 2010. Produksi sayuran nasional tercatat mengalami peningkatan rata-rata dari tahun 2006 hingga 2010 sebesar 3,01 persen (Ditjenhorti 2011a). Menurut Ditjenhorti (2012), salah satu komoditas sayuran unggulan nasional yang mendapat prioritas pengembangan oleh pemerintah adalah kentang (Solanum tuberosum L). Kentang memiliki kadar air yang cukup tinggi sekitar 78 persen. Selain itu, setiap 100 gram kentang mengandung kalori 374 kal, protein 0,3 gram, lemak 0,1 gram, karbohidrat 85,6 gram, kalsium 20 mg, forsor 30 mg, zat besi 0,5 mg, dan vitamin B 0,04 mg. Melihat kandungan gizinya, kentang merupakan sumber utama karbohidrat, sehingga sangat bermanfaat untuk meningkatkan energi di dalam tubuh (Samadi 2007). Tanaman kentang umumnya dapat tumbuh pada segala jenis tanah, namun tidak semua dapat memberikan hasil yang baik. Kondisi tanah yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan kentang adalah berstruktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, subur, mudah mengikat air, dan memiliki pH tanah 5,0 – 7,0. Suhu rata-rata harian yang optimal bagi pertumbuhan kentang adalah 18 – 21 oC dengan tingkat kelembapan udara sekitar 80 – 90 persen. Selain itu, curah hujan yang sesuai untuk membudidayakan kentang adalah 1.500 mm per tahun (Samadi 2007). Kentang merupakan tanaman sayuran semusim yang berbentuk semak 2 atau perdu dan berumur pendek. Tanaman kentang dapat tumbuh baik di dataran tinggi atau pegunungan dengan tingkat ketinggian 1.000 – 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl) (Samadi 2007). Apabila tumbuh di dataran rendah (di bawah 500 mdpl), tanaman kentang sulit membentuk umbi. Jika terbentuk, umbinya akan berukuran sangat kecil, kecuali di daerah yang mempunyai suhu malam hari dingin (20 oC). Sementara itu, jika ditanam di atas ketinggian 2.000 m dpl, tanaman akan lambat membentuk umbi.1 Kentang memiliki prospek dalam menunjang program diversifikasi pangan dan bahan baku industri. Kebutuhan kentang cenderung mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi bagi kesehatan. Hal tersebut dapat dilihat dari tingkat konsumsi kentang per kapita yang mengalami rata-rata peningkatan dari tahun 2002 hingga 2008 sebesar 7,10 persen (BPS 2011b). Namun pada perkembangannya, mulai tahun 2006 hingga 2010 produktivitas kentang menunjukkan trend menurun (Tabel 2). Penurunan produktivitas tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pengelolaan usahatani kentang di Indonesia belum optimal dalam mengkombinasikan faktor produksinya, konversi lahan-lahan pertanian menjadi perumahan, dan kondisi iklim yang tidak menentu sehingga menyebabkan jadwal penanaman petani terganggu (Erika 1999). Tabel 2. Perkembangan Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Kentang di Indonesia Tahun 2006 – 2010 Tahun Produksi (ton) Luas Panen (ha) Produktivitas (ton/ha) 2006 1.011.911 59.748 16,94 2007 1.003.732 62.375 16,09 2008 1.071.543 64.151 16,70 2009 1.176.304 71.238 16,51 2010 1.060.805 66.531 15,94 Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura 2011 Sentra penanaman kentang di Indonesia berada di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara. Pada tahun 2010, sebesar 23,04 persen dari total produksi nasional berasal dari Jawa Barat (Ditjenhorti 2011a). Kabupaten Garut merupakan daerah yang memiliki produktivitas tertinggi di Jawa 1 Pusat Penyuluh Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. http:// cybex.deptan.go.id/penyuluhan/syarat-tumbuh-tanaman-kentang [diakses pada 27 Juni 2012] 3 Barat. Salah satu daerah penghasil kentang di Kabupaten Garut yang memiliki rata-rata pertumbuhan luas panen terbesar dari tahun 2007 hingga 2011 sebesar 16,62 persen adalah Kecamatan Cigedug (Lampiran 1) (Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut 2012a). Dalam perkembangannya dari tahun 2007 hingga 2011, produksi dan luas panen kentang di Kecamatan Cigedug cenderung meningkat, namun hal tersebut tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas (Tabel 3). Peningkatan produksi tersebut diakibatkan adanya pertambahan luas panen, sehingga produktivitas yang cenderung menurun tersebut disebabkan oleh penggunaan faktor produksi yang belum mengikuti kaidah standar operasional prosedur (SOP) (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut 2011). Tabel 3. Perkembangan Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Kentang di Kecamatan Cigedug pada Tahun 2007 - 2011 Tahun Luas Panen (ha) Produksi (ton) Produktivitas (ton/ha) 2007 342 8.224 24,05 2008 416 9.652 23,20 2009 526 12.361 23,50 2010 563 12.525 22,25 2011 627 13.998 22,33 Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut (2012) Desa Cigedug merupakan penghasil utama kentang di Kecamatan Cigedug (BP3K Kecamatan Cigedug 2012). Hal tersebut didukung dengan kondisi alam yang subur dan topografi yang sesuai dengan kondisi untuk budidaya kentang. Varietas yang digunakan dalam usahatani kentang di Desa Cigedug adalah varietas Granola dan Atlantic. Kentang varietas Granola merupakan kentang introduksi dari Jerman Barat, sedangkan varietas Atlantic merupakan kentang introduksi dari Amerika. Kentang varietas Granola dan varietas Atlantic memiliki beberapa keunggulan. Pada sisi konsumen, varietas Granola memiliki rasa gurih, kadar gula tinggi, dan kandungan air tinggi, sehingga cocok dikonsumsi sebagai kentang sayur2. Sementara itu, kentang varietas Atlantic memiliki kandungan karbohidrat yang 2 Iskandar T, Basri AB. 2011. Arden Hasugian: Penggerak Agrobisnis Kentang Aceh Tengah. http://nad.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=254&Itemi d=5 [diakses pada 14 Agustus 2012] 4 tinggi dan kadar gula yang lebih rendah sehingga baik untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes. Kentang varietas Atlantic juga memiliki umbi berwarna putih yang menarik untuk dikonsumsi sebagai kentang olahan berupa keripik kentang maupun kentang goreng (Setiadi 2009). Pada sisi produsen, varietas Granola dapat menggunakan bibit hasil seleksi panen sebelumnya, tahan terhadap hama-penyakit yang menyerang, dan memiliki potensi produksi hingga mencapai 30 – 35 ton/ha (Samadi 2007). Sementara itu, pada kentang varietas Atlantic harga jual relatif tinggi, mampu menghasilkan lebih banyak (48 persen) umbi yang berukuran lebih dari 100 gram, dan memiliki potensi produksi mencapai 30 ton/ha (Ashari 2009). Namun, kentang varietas Atlantic lebih rentan terhadap hama dan penyakit sehingga frekuensi penyemprotan menjadi lebih sering3. Varietas Atlantic di Desa Cigedug pertama kali diperkenalkan oleh PT Indofood Fritolay Makmur (PT IFM) melalui usaha pertanian kontrak (contract farming) pada tahun 1995, sedangkan varietas Granola merupakan varietas yang telah lama dibudidayakan di Desa Cigedug tanpa tergabung dalam usaha pertanian kontrak (noncontract farming). Dalam menjalankan usaha pertanian kontrak, Kelompok Tani Silih Riksa menjadi wadah penghubung antara petani kentang Desa Cigedug dengan pihak PT IFM yang dikoordinatorkan oleh seorang vendor. Adanya usaha pertanian kontrak yang telah dijalankan tidak serta merta dapat meningkatkan produktivitas kentang di Desa Cigedug. Begitu pula yang terjadi pada petani yang tidak tergabung dalam usaha pertanian kontrak. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh penggunaan faktor-faktor produksi yang belum mengikuti kaidah standar operasional prosedur (SOP) sehingga produktivitas kentang di Desa Cigedug cenderung menurun dan belum dapat mencapai produktivitas potensialnya (BP3K Kecamatan Cigedug 2012). Produktivitas tersebut pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pendapatan usahatani kentang. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui pendapatan usahatani dan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kentang agar upaya 3 Rukmana H. Rakhmat. Usaha Tani Kentang Sistem Mulsa Plastik. http://books.google .co.id/books?id=Nh3D2sH97HIC&pg=PA18&dq=kentang+Atlantic&hl=id&sa=X&ei=IJTqT4_ uJsnrrQf4u4DLBQ&ved=0CDYQ6AEwAQ#v=onepage&q=kentang%20Atlantic&f=true [diakses pada 27 Juni 2012] 5 yang ditempuh dapat berpengaruh secara nyata terhadap peningkatan produktivitas. 1.2. Perumusan Masalah Desa Cigedug merupakan daerah yang berpotensi untuk mengembangkan berbagai macam usaha agribisnis, salah satunya adalah agribisnis kentang. Hal ini didukung dengan kondisi alam yang sangat mendukung usahatani kentang. Desa Cigedug ini memiliki ketinggian 1.285 meter di atas permukaan laut, tipe iklim C (agak basah), dimana setiap tahunnya antara tujuh sampai delapan bulan basah dan tiga sampai empat bulan kering (BP3K Kecamatan Cigedug 2012). Oleh karena itu, desa ini cocok ditanami oleh kentang. Varietas kentang yang dibudidayakan di Desa Cigedug adalah varietas Granola dan Atlantic. Kentang varietas Granola sudah lama dibudidayakan sebelum munculnya varietas Atlantic di Desa Cigedug. Umumnya usahatani kentang varietas Granola di desa ini dilakukan secara turun temurun bagi petani yang tidak tergabung dalam usaha pertanian kontrak (noncontract farming). Kentang varietas Atlantic pertama kali dibudidayakan di Desa Cigedug pada tahun 1995 atas kerjasama dalam bentuk usaha pertanian kontrak (contract farming). Usaha pertanian kontrak yang terjalin antara petani dengan pihak PT Indofood Fritolay Makmur (IFM) dalam bentuk penyediaan benih varietas Atlantic dan penjualan hasil panen petani ke PT IFM dengan harga yang sudah ditentukan. Namun, kerjasama ini sempat gagal karena kentang yang dihasilkan berwarna hitam dan pecah-pecah, kemudian terhenti pada tahun 1998 karena tidak tersedianya benih kentang varietas Atlantic. Penanaman varietas Atlantic mulai banyak dibudidayakan kembali pada tahun 2003 karena ketersediaan benih kentang varietas Atlantic di Desa Cigedug relatif banyak, sehingga petani memiliki banyak kesempatan untuk memulai budidaya kentang varietas Atlantic. Penanaman kentang di Desa Cigedug, baik varietas Granola maupun varietas Atlantic umumnya dua kali setahun, karena waktu yang dibutuhkan untuk usahatani kentang dari pengolahan lahan hingga pemanenan mencapai kurang lebih empat bulan. Setelah itu, lahan diselingi dengan komoditas hortikultura lain yang berbeda keluarga dengan kentang (Solanaceae). Berdasarkan pengalaman petani Desa Cigedug, lahan bekas tanaman kentang tidak dapat ditanami kentang 6 kembali maupun tanaman yang satu keluarga dengan kentang (Solanaceae). Hal tersebut dikarenakan serangan hama dan penyakit yang sama sehingga petani dapat mengalami gagal produksi. Permasalahan usahatani kentang di Desa Cigedug salah satunya yaitu adanya perbedaan harga yang ditawarkan pada kedua varietas tersebut dimana harga rata-rata kentang varietas Granola relatif lebih rendah dibandingkan dengan kentang varietas Atlantic. Selain itu, pada varietas Granola harga jual mengikuti harga pasar yang cenderung berfluktuatif, sedangkan pada varietas Atlantic harga jual tetap sesuai dengan harga kontrak dengan PT IFM yang berlaku. Hal tersebut tentu akan berpengaruh terhadap pendapatan usahatani kentang di Desa Cigedug. Permasalahan lain yang dihadapi dalam usahatani kentang di Desa Cigedug yaitu, peningkatan produksi yang terjadi pun belum didukung dengan peningkatan produktivitas. Produktivitas kentang di Desa Cigedug sendiri mengalami penurunan dari tahun 2010 ke 2011 sebesar 10 persen (BP3K Kecamatan Cigedug 2012). Produktivitas kentang yang pernah dicapai Desa Cigedug belum mencapai produktivitas potensial. Produktivitas kentang aktual pada tahun 2011 sebesar 18 ton/ha (BP3K Kecamatan Cigedug 2012), padahal produktivitas potensial yang dapat dicapai kentang varietas Granola maupun varietas Atlantic, yaitu kurang lebih 30 ton/ha (Samadi 2007 dan Ashari 2009). Produktivitas kentang di Desa Cigedug yang belum mencapai produktivitas potensial dikarenakan penerapan teknologi maupun penggunaan sarana produksi diduga belum memenuhi kaidah standar operasional prosedur yang dianjurkan. Misalnya saja pada penggunaan pestisida, dimana berdasarkan data BP3K Kecamatan Cigedug (2012) penggunaan obat-obatan secara terpadu oleh petani baru mencapai 28 persen. Penggunaan fakor produksi seperti ini erat kaitannya dengan jumlah produktivitas (output) dalam suatu kegiatan usahatani. Penggunaan faktor produksi perlu diperhatikan dalam kegiatan usahatani agar penggunaannya sesuai dengan kaidah standar operasional prosedur. Penggunaan input yang berlebihan tentunya membuat petani mengeluarkan biaya yang besar pula, sedangkan kurangnya penggunaan input diduga dapat menurunkan hasil. Hal tersebut pada akhirnya mempengaruhi pendapatan usahatani kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic. 7 Selain berkaitan dengan pendapatan, adanya penggunaan faktor produksi juga berpengaruh pada keputusan petani dalam melakukan penanaman kentang varietas Granola maupun varietas Atlantic, khususnya dalam memperhitungkan kebutuhan dan biaya usahatani. Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah yang hendak dikaji dalam penelitian ini adalah: 1) Apakah usahatani kentang baik varietas Granola (noncontract farming) maupun varietas Atlantic (contract farming) menguntungkan di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut? 2) Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Menganalisis pendapatan usahatani kentang varietas Granola (noncontract farming) dan varietas Atlantic (contract farming) di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut. 2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut. 1.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang berkepentingan, yaitu: 1) Petani kentang, penelitian ini bermanfaat sebagai informasi mengenai pendapatan usahatani dan faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas usahatani kentang. Hal tersebut bertujuan agar petani dapat mengambil langkah untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan dari usahatani kentang. 2) Pengambil keputusan, penelitian ini diharapkan menjadi referensi untuk mengambilan kebijakan agar dapat meningkatkan kesejahteraan petani. 3) Kalangan akademis, penelitian ini dapat menjadi bahan literatur untuk penelitian selanjutnya. 8 4) Masyarakat umum, penelitian ini bermanfaat sebagai sarana informasi dan bahan referensi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kentang. 1.5. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan pada petani kentang varietas Granola yang tidak tergabung dalam usaha pertanian kontrak (noncontract farming) dan varietas Atlantic yang tergabung dalam dalam usaha pertanian kontrak (contract farming) di Desa Cigedug. Periode tanam yang digunakan penelitian ini adalah musim hujan (Oktober 2011 – Januari 2012). Analisis usahatani menggunakan analisis pendapatan dan R/C rasio yang dianalisis secara kuantitatif, sedangkan faktorfaktor yang mempengaruhi produktivitas kentang dianalisis dengan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas. 9 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gambaran Umum Kentang Kentang (Solanum tuberosum L.) termasuk jenis sayuran semusim, berumur pendek, dan berbentuk perdu atau semak. Kentang termasuk tanaman semusim karena hanya satu kali berproduksi dan setelah itu mati. Umur tanaman relatif pendek, hanya 90 – 180 hari. Spesies Solanum tuberosum L. Mempunyai banyak varietas. Umur tanaman kentang bervariasi menurut varietasnya. Kentang varietas genjah berumur 90 – 120 hari, varietas medium berumur 120 – 150 hari, dan varietas dalam berumur 150 – 180 hari. Berikut ini merupakan klasifikasi ilmiah kentang (Setiadi 2009). Kerajaan/Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta/Spermatophyta Kelas : Magnoliopsida/Dicotyledonae (berkeping dua) Subkelas : Asteridae Ordo : Solanales/Tubiflorae (berumbi) Famili : Solanaceae (berbunga terompet) Genus : Solanum (daun mahkota berletakan satu sama lain) Seksi : Petota Spesies : Solanum tuberosum Kentang memiliki kadar air yang cukup tinggi sekitar 78 persen. Setiap 100 gram kentang mengandung kalori 374 kal, protein 0,3 gram, lemak 0,1 gram, karbohidrat 85,6 gram, kalsium 20 mg, forsor 30 mg, zat besi 0,5 mg, dan vitamin B 0,04 mg. Berdasarkan nilai kandungan gizi tersebut, kentang merupakan sumber utama karbohidrat, sehingga sangat bermanfaat untuk meningkatkan energi di dalam tubuh (Samadi 2007). Tanaman kentang dapat tumbuh baik di dataran tinggi atau pegunungan dengan tingkat ketinggian 1.000 – 1.300 meter di atas permukaan laut (dpl) (Samadi 2007). Apabila tumbuh di dataran rendah (di bawah 500 m dpl), tanaman kentang sulit membentuk umbi. Jika terbentuk, umbinya akan berukuran sangat kecil, kecuali di daerah yang mempunyai suhu malam hari dingin (20 oC). Sementara itu, jika ditanam di atas ketinggian 2.000 m dpl, tanaman akan lambat membentuk umbi4. Tanaman kentang umumnya dapat tumbuh pada segala jenis tanah, namun tidak semuanya dapat memberikan hasil yang baik. Kondisi tanah yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan kentang adalah berstruktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, subur, mudah mengikat air, dan memiliki solum tanah dalam dengan pH tanah 5,0 – 7,0. Suhu rata-rata harian yang optimal bagi pertumbuhan kentang adalah 18 – 21 oC dengan tingkat kelembapan udara sekitar 80 – 90 persen. Selain itu curah hujan yang sesuai untuk membudidayakan kentang adalah 1.500 mm per tahun (Samadi 2007). Kondisi topografi yang mendukung usahatani kentang, tidak serta merta dapat meningkatkan produktivitas kentang yang dihasilkan. Beberapa kendala yang menyebabkan kurang berhasilnya usahatani kentang adalah rendahnya kualitas bibit yang digunakan, produktivitas rendah, teknik bercocok tanam yang kurang baik khususnya pemupukan kurang tepat, baik dosis maupun waktunya, dan keadaan lingkungan yang memang berbeda dengan daerah asal kentang (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta 2004). Menurut Samadi (2007), kentang dibedakan menjadi tiga golongan berdasarkan warna umbinya, yaitu: 1) Kentang putih, yaitu jenis kentang dengan warna kulit dan daging umbi putih, misalnya varietas Atlantic, Marita, Donata, dan lainnya. 2) Kentang kuning, yaitu jenis kentang yang umbi dan kulitnya berwarna kuning, misalnya varietas Granola, Cipanas, Cosima, dan lainnya. 3) Kentang merah, yaitu kentang dengan warna kulit dan daging umbi merah, misalnya varietas Desiree dan Arka. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 81/Kpts/SR.120/3/20055, kentang varietas Granola merupakan varietas unggul dengan karakteristik produktivitas tinggi, yaitu dapat mencapai 38–50 ton/ha, memiliki bentuk umbi bulat lonjong, warna daging umbi kuning, dan mata umbi 4 5 Pusat Penyuluh Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. http:// cybex.deptan.go.id/penyuluhan/syarat-tumbuh-tanaman-kentang [diakses pada 27 Juni 2012] Peraturan Perundang-undangan Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2005. Pelepasan Kentang Granola Kembang Sebagai Varietas Unggul http:// perundangan.deptan.go.id/k_menteri.php?awal=600&page=31 [diakses pada 15 Juli 2012] 11 dangkal. Selain keunggulan tersebut, varietas Granola juga tahan terhadap penyakit kentang. Apabila daya serang suatu penyakit terhadap varietas kentang lain 30%, pada varietas Granola hanya 10%. Umur panen normal 90 hari, meskipun umur 80 hari sudah bisa dipanen. Kentang varietas Atlantic merupakan varietas yang diintroduksi oleh Amerika Serikat dan dirilis di Victoria tahun 1986. Kentang varietas ini dikembangkan di Florida dari persilangan antara varietas Wauseon dan Lenape6. Karakteristik kentang ini yaitu memiliki umur 100 hari, tinggi tanaman dapat mencapai 50 cm, tahan terhadap nematoda, kualitas umbi baik, dan memiliki kadar pati tinggi (Kholis 2011). Selain itu, kentang varietas Atlantic memiliki produktivitas yang tinggi, kulit umbi putih kekuningan, daging umbi putih, mata umbi dangkal, bentuk umbi bulat, kadar air rendah, dan tidak mengalami perubahan setelah diproses (Khumaida 1994, diacu dalam Widyastuti 1996). Teknologi budidaya kentang industri (processing) seperti varietas Atlantic sedikit berbeda dengan kentang sayur seperti varietas Granola. Hal tersebut dikarenakan tanaman kentang industri seperti varietas Atlantic lebih tinggi, kanopi daun lebih besar, stolon lebih panjang dan tertanam di bawah tanah, umur panen lebih lama, serta rentan terhadap bakteri layu dan busuk daun. Perbedaan tersebut menuntut teknologi budidaya yang berbeda, yaitu jarak tanam lebih lebar, penanaman lebih dalam, dosis pupuk lebih tinggi, dan pengendalian busuk daun dan bakteri lebih intensif (Effendie 2002). 2.2. Budidaya Kentang Teknik budidaya kentang baik kentang industri (varietas Atlantic) maupun kentang sayur (varietas Granola) dimulai dari pembibitan hingga pemanenan. Pada proses pembibitan kentang perlu diperhatikan cara mempersiapkan dan memperhitungkan kebutuhan benih yang baik. Persiapan benih dilakukan berdasarkan kriteria tertentu agar diperoleh benih yang berkualitas baik. Benih yang berkualitas baik akan dapat berproduksi tinggi dan memberikan keuntungan yang besar. Kebutuhan benih kentang per hektar adalah 1.300 kg – 1.700 kg (Samadi 2007). 6 Departement of Primary Industries. 2010. Potato Varieties. http://www.dpi.vic.gov.au /agriculture/horticulture/vegetables/potatoes/potato-varieties [diakses pada 29 Juni 2012] 12 Tahap selanjutnya adalah persiapan lahan dengan mengolah tanah sampai gembur dengan kedalaman 30 – 40 cm. Kondisi tanah yang gembur sangat membantu perkembangan akar tanaman dan pembesaran umbi. Kemudian, dibiarkan selama dua minggu agar terkena sinar matahari. Tanah yang sudah diolah dibuat bedengan dan saluran irigasi. Bedengan merupakan tanah yang dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah dan berguna untuk pertumbuhan umbi kentang. Setelah bedengan siap, mulai dilakukan pemupukan dasar yang dapat menyediakan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman secara optimal oleh benih kentang yang baru ditanam. Pada pemupukan dasar harus mengacu pada empat tepat, yaitu tepat dosis, cara, waktu, dan jenis. Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik dan pupuk anorganik (kimia). Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang yang sudah jadi (matang) karena jika pupuk kandang belum jadi hal tersebut akan menghambat pertumbuhan tanaman. Dosis pupuk kandang yang digunakan sebanyak 15 – 20 ton/ha kotoran ayam atau 20 – 30 ton/ha kotoran sapi. Pupuk kandang sangat baik untuk memperbaiki struktur tanah, menambah bahan organik tanah, dan mengikat tanah (Samadi 2007). Cara pemberian pupuk kandang adalah dengan menaburkan pupuk kandang dalam larikan pada bedengan yang kemudian ditutup dengan tanah pada setiap bedengan. Selang beberapa hari setelah pemberian pupuk organik, perlu diberikan pupuk anorganik (kimia), seperti pupuk ZA (mengandung 21 persen unsur Nitrogen), Urea (mengandung 46 persen Nitrogen), TSP (mengandung 36 persen unsur Fosfat), KCl (mengandung 60 persen unsur Kalium). Dosis yang digunakan yaitu, 200 kg/ha unsur Nitrogen, 150 – 200 kg/ha unsur Fosfat (P2O5), dan 150 – 200 kg/ha unsur Kalium (K2O)7. Dengan demikian, apabila dikonversikan ke dalam penggunaan pupuk tunggal, dosis anjuran per hektar pupuk Urea/ZA sebesar 440/950 kg, SP-36 sebesar 500 kg, dan KCl sebesar 200 kg. Dosis tersebut serupa dengan dosis anjuran Samadi (2007). Penggunaan pupuk dasar anorganik dengan cara menaburkan campuran pupuk kimia di antara lubang tanam yang telah disiapkan ataupun dalam larikan dengan jarak tanam yang telah 7 Widodo M. 2011. Pemupukan Kentang. http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/ pemupukankentang [diakses pada 12 September 2012] 13 ditetapkan (Samadi 2007). Samadi (2007) menjelaskan hasil yang baik dari tanaman budidaya tidak lepas dari teknik penanaman yang sesuai yang meliputi pengaturan waktu tanam, pengaturan jarak tanam, dan cara menanam. Waktu tanam yang tepat berdasarkan kondisi lingkungan dan faktor biotik pada tanaman kentang adalah pada musim kemarau, tepatnya akhir musim hujan. Tanaman kentang yang ditanam pada musim hujan memiliki risiko gagal panen yang tinggi. Namun, apabila diimbangi dengan perawatan yang lebih intensif, produksi masih cukup baik. Jarak tanam yang digunakan adalah 80 cm x 40 cm untuk kentang industri atau 70 cm x 30 cm untuk kentang sayur. Cara menanam yang baik dengan meletakan umbi secara mendatar dengan tunas menghadap ke atas. Penanaman benih tidak boleh terlalu dalam karena hasilnya akan rendah. Tanaman yang kurang baik pertumbuhannya, harus diganti dengan tanaman yang baru (disulam). Tanaman pengganti ini sama besar dan seragam pertumbuhannya dengan tanaman lain di kebun produksi. Penyulaman dapat dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari. Perawatan tanaman diperlukan untuk menjaga agar pertumbuhannya normal dan tetap sehat. Kegiatan pemeliharaan tanaman kentang meliputi pemupukan susulan, pengairan, penyiangan, dan pembumbunan. Kentang membutuhkan pupuk kimiadalam jumlah yang tepat agar diperoleh hasil yang tinggi. Jenis pupuk yang digunakan dalam pemupukan susulan adalah jenis pupuk majemuk. Waktu pemberian pemupukan susulan adalah ketika tanaman berumur 25 – 30 HST. Dosis yang dianjurkan adalah 150 – 300 kg per hektar8. Tanaman kentang sangat peka terhadap kekurangan dan kelebihan air karena dapat berpengaruh buruk terhadap hasil umbi kentang. Pemberian air yang cukup, membantu menstabilkan kelembapan tanah sebagai pelarut pupuk dalam tanah, sehigga pertumbuhan dan perkembangan tanaman lebih optimal. Gulma atau rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman kentang akan menjadi pesaing dalam kebutuhan air, sinar matahari, unsur hara, dan lain-lain bagi tanaman pokok. Selain itu, terkadang gulma menjadi inang bagi hama dan penyakit sehingga dapat menjalar ke tanaman kentang dan kemudian dapat 8 Ibid. Hlm 13 14 mengurangi produksi umbi. Oleh karena itu, perlu dilakukan kegitan penyiangan agar produksinya dapat mencapai produktivitas potensialnya. Kegiatan penyiangan dapat dilakukan bersamaan dengan perbaikan selokan maupun pembumbunan permukaan bedengan. Penyiangan sebaiknya dilakukan 2 – 3 hari sebelum pemupukan susulan, agar pupuk kimia yang diberikan terserap oleh tanaman kentang. Kegiatan pembumbunan bedengan dapat merangsang pembentukan akar baru, melindungi umbi kentang dari sinar matahari karena dapat menimbulkan racun solanin, membantu pembesaran umbi, dan memperkokoh berdirinya batang tanaman kentang (Samadi 2007). Hama dan penyakit merupakan faktor penghambat pertumbuhan tanaman yang mendatangkan kerugian karena dapat menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas kentang yang dihasilkan. Penyakit yang umumnya menyerang tanaman kentang menurut Andarwati (2011) adalah hama trip, kutu daun, lalat, orongorong, ulat, dan cacing emas (Nematoda Sista Kuning). Sementara itu, penyakit yang umumnya menyerang adalah busuk daun (Phytopthora infestans), layu bakteri (Pseudomonas), busuk umbi, dan penyakit yang disebabkan oleh virus. Virus yang umumnya ditemukan pada tanaman kentang menurut Sofiari (2009) adalah virus daun menggulung (PLRV) dengan gejala daunnya menggulung sampai bagian bawah daunnya terlihat. Pada tanaman kentang, virus merupakan kendala utama karena kentang pada umumnya diperbanyak secara vegetatif, sehingga virus sering kali terbawa oleh bibit. Semakin sering bibit digunakan, maka akumulasi virus akan semakin banyak. Virus pada tanaman kentang selain dibawa oleh bibit juga dapat ditularkan oleh vektor dan secara mekanik (Hooker 1982). Mutu umbi kentang dapat menurun, apabila penanganan panen tidak dilakukan dengan teknik yang benar. Pada dasarnya penanganan panen yang benar memperhatikan dua hal pokok, yaitu umur tanaman dan teknik memanen. Mutu umbi akan rendah bila dipanen pada umur yang kurang sesuai. Jika dipanen terlalu muda, umbi kentang yang diperoleh ukurannya belum optimal dan umbi kentang masih mengandung racun solanin yang cukup tinggi dan dapat membahayakan kesehatan konsumen. Sebaliknya, umbi kentang yang dipanen terlalu tua, umumnya sudah mengeras dan retak-retak, sehingga kurang enak apabila 15 dikonsumsi. Kentang varietas Granola dapat dipanen pada umur 80 – 90 hari dan kentang varietas Atlantic dapat dipanen pada umur 90 – 105 hari (Samadi 2007). 2.3. Kajian Penelitian Pendapatan Usahatani Analisis pendapatan usahatani banyak digunakan untuk mengetahui sejauh mana kegiatan usahatani memberikan manfaat bagi petani. Apriyanto (2005), Hakim (2002), Erika (1999), dan Rivai (1982) menganalisis usahatani dengan melihat dari sisi pendapatan usahatani yang dihitung berdasarkan hasil penerimaan total dikurangi dengan biaya total yang dikeluarkan. Kemudian, dalam mengetahui tingkat kelayakan usahatani menggunakan analisis R/C rasio. Hakim (2002) membandingkan diversifikasi usaha agribisnis kentang sayur dengan kentang olahan dalam satu perusahaan dan menunjukkan bahwa usahatani kentang olahan keuntungannya lebih tinggi daripada kentang sayur dengan selisih sebesar Rp 5.450.600,00 per musim tanam per hektar. Begitupun dengan nilai R/C yang diperoleh kentang olahan lebih besar 0,06 daripada kentang sayur. Walaupun dilakukan dalam satu perusahaan, selisih nilai R/C tersebut relatif tidak berbeda signifikan antara kentang olahan dengan kentang sayur. Hal tersebut dikarenakan harga jual kentang olahan telah ditetapkan berdasarkan kontrak dengan PT Indofood Fritolay Makmur yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata harga kentang sayur di pasaran. Berdasarkan penelitian Erika 1999, besarnya luas lahan kentang mempengaruhi pendapatan petani responden. Semakin besar luas lahan yang digunakan, maka pendapatannya pun semakin besar. Berdasarkan nilai R/C, usahatani luas lebih efisien daripada usahtani sedang dan usahatani sempit. Walaupun demikian, nilai R/C diperoleh untuk usahatani sempit, sedang, dan luas masing-masing besarnya lebih besar dari satu, sehingga usahatani kentang layak untuk diusahakan dalam berbagai ukuran luas lahan. Status lahan yang digunakan petani kentang juga turut mempengaruhi pendapatan dan nilai R/C yang diperoleh (Apriyanto 2005). Pendapatan petani status lahan milik lebih rendah dibandingkan dengan petani status lahan sewa. Hal tersebut dikarenakan petani status lahan milik sendiri kurang maksimal dalam mengelola usahatani kentang. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan tenaga kerja dalam keluarga petani status lahan milik lebih sedikit dibandingkan petani dengan 16 status lahan sewa, sehingga pengelolaan usahatani kentang menjadi kurang efektif karena penggunaan tenaga kerja luar keluarga kurang memiliki keterampilan Status lahan sewa memiliki R/C rasio yang lebih besar dari satu, sementara penguasaan lahan milik pribadi memiliki R/C kurang dari satu. Hal tersebut dikarenakan biaya yang dikeluarkan petani dengan status lahan milik menggunakan input yang lebih besar dibandingkan petani dengan status lahan sewa. 2.4. Kajian Penelitian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Model fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan model digunakan dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi. Hal ini dikarenakan nilai koefisien regresi yang terdapat pada model tersebut mempresentasikan elastisitas dari setiap faktor produksi yang digunakan sehingga lebih mudah dalam mempresentasikan pengaruhnya pada output atau hasil produksi (Nurmala 2011, Siregar 2011, Damanah 2008, dan Suryana 2007). Penggunaan model fungsi produksi Cobb-Douglas menggunakan metode OLS (Ordinary Least Square). Peranan dari peubah bebas secara bersama-sama terhadap peubah tidak bebas (Y) dapat diketahui dengan menggunakan uji F, sedangkan untuk menguji peranan peubah bebas secara tersendiri dengan menganggap peubah lainnya tetap (ceteris paribus) digunakan uji t (Rivai 1982, Pratiwi 2011, dan Puspitasari 2011). Kelayakan model tersebut diuji berdasarkan asumsi OLS yang meliputi uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji otokorelasi (Pratiwi 2011 dan Puspitasari 2011) Faktor produksi yang digunakan dalam usahatani kentang yaitu luas lahan, bibit, kandang, pupuk kimia, fungisida, insektisida, dan tenaga kerja (Erika 1999). Namun, Andarwati (2011) menguraikan penggunaan pupuk kimia berdasarkan unsur yang terkandung pada pupuk kimia. Sementara itu, Rivai (1982) menggunakan variabel dummy keadaan lahan dan musim tanam untuk mempertajam analisis faktor produksi yang mempengaruhi produksi kentang. Penggunaan faktor produksi di setiap lokasi, waktu, maupun lingkup penelitian mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap produksi kentang. Hal tersebut dapat dilihat dari faktor produksi kentang di Kabupaten Karo yang terdiri dari luas lahan, bibit, pupuk kimia, pupuk kandang, fungisida, insektisida, dan 17 tenaga kerja. Namun, dari ketujuh faktor tersebut yang berpengaruh secara nyata terhadap produksi kentang adalah fungisida, insektisida, tenaga kerja, dan luas lahan (Erika 1999). Hal yang sama juga dilakukan oleh Andarwati (2011) di Dataran Tinggi Dieng yang menjadi salah satu sentra kentang nasional, faktor produksi yang digunakan adalah benih, pupuk organik, unsur N, unsur P, unsur K, unsur S, fungisida, insektisida, dan tenaga kerja. Namun, dari kesembilan faktor produksi tersebut hanya benih dan pupuk organik yang secara nyata dapat meningkatkan produktivitas kentang. Hal tersebu dikarenakan kedua faktor produksi tersebut masih di bawah dosis anjuran yang disarankan, sehingga penambahan kedua faktor tersebut masih memungkinkan untuk meningkatkan produktivitas. 2.5. Kajian Penelitian Usaha Pertanian Kontrak (Contract Farming) Sistem pertanian kontrak (contract farming) merupakan salah satu bentuk relasi kemitraan yang ada. Sistem pertanian kontrak adalah sistem produksi dan pemasaran berskala menengah dimana terjadi pembagian beban risiko produksi dan pemasaran diantara pelaku agribisnis dan petani dimana hal ini dilakukan dengan tujuan mengurangi biaya transaksi (Patrick et al. 2004). Patrick et al. (2004) memaparkan keikutsertaan petani yang tergabung dalam pertanian kontrak pada kasus PT Pertani dengan menyediakan benih padi di Bali dipengaruhi oleh status kepemilikan tanah beririgasi dan keanggotan mereka dalam subak (sistem pengelolaan pengairan sawah yang dikelola kelompok di Bali). PT Pertani dapat memilih petani-petani dari daerah manapun di Bali yang memiliki kepentingan yang sama. Faktor-faktor yang berperan penting bagi petani agar memiliki akses terhadap suatu kontrak adalah peranan pekaseh (termasuk kepala desa), jarak, dan kemudahan mencapai lokasi serta pengalaman dalam bekerjasama dengan pemerintah dan agribisnis. Manfaat sistem pertanian kontrak dirasakan bagi kedua belah pihak, yaitu petani mitra dan perusahaan mitra. Manfaat yang dirasakan petani kentang dalam sistem pertanian kontrak PT Indofood Fritolay Makmur di Jawa Barat, yaitu adanya bantuan ketersediaan benih dan harga jual yang tetap sehingga petani tidak khawatir terhadap fluktuasi harga yang terjadi (Saptana et al. 2006). Sementara itu, manfaat sistem kontrak bagi perusahaan adalah ketersediaan bahan baku 18 produksi dan kualitas produksi yang dapat diperoleh secara konsisten (Iqbal 2008). Petani yang melakukan kemitraan seharusnya mempunyai pendapatan yang lebih besar daripada petani yang tidak melakukan pertanian kontrak. Hal ini dikarenakan adanya transfer informasi, teknologi, modal, atau sumberdaya lain sehingga usahatani yang dilakukan dapat lebih efektif dan efisien. Hal ini dapat dilihat pada petani semangka yang melakukan kemitraan, pendapatan atas biaya total lebih besar dibandingkan dengan petani non mitra (Damayanti 2009). Hal ini disebabkan karena harga jual semangka petani mitra lebih besar dibandingkan dengan harga jual semangka petani non mitra. Keuntungan petani mitra ini juga disebabkan karena harga jual semangka petani mitra tidak terkena fluktuasi harga jual di pasaran. Selain itu, nilai R/C atas biaya total petani mitra relatif lebih besar dibandingkan petani nonmitra. Penelitian Deshinta (2006) mengenai kemitraan yang dilakukan oleh PT Sierad Produce dengan peternak ayam broiler di Kabupaten Sukabumi mengemukakan hal yang berbeda terhadap pengaruh kemitraan terhadap peningkatan pendapatan. Penelitian tersebut menggunakan uji t dan didapat hasil bahwa kemitraan tidak berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan peternak. Walaupun demikian, peternak memperoleh banyak manfaat dari keikutsertaan di dalam kemitraan seperti bantuan modal, bimbingan dan penyuluhan serta pemasaran hasil. Meskipun telah melakukan sistem pertanian kontrak, namun terdapat permasalahan-permasalahan yang dihadapi petani yang tergabung dalam pertanian kontrak terkait dengan teknis budidaya dalam penelitian Saptana et al. (2006). Hal tersebut di antaranya, kurang tersedia bibit hortikultura berkualitas, belum tersedia paket teknologis komoditas hortikultura yang bersifat spesifik lokasi, cuaca buruk, tingginya tingkat organisme pengganggu tanaman, sistem panen dan penanganan pascapanen belum prima, sumberdaya manusia petani dan aparat (PPL) belum menguasai sepenuhnya teknologi budidaya komoditas hortikultura, dan infrastruktur pertanian yang kurang memadai terutama jalan desa, jalan usahatani, dan jaringan irigasi. 19 Permasalahan sistem pertanian kontrak juga dialami pada bidang peternakan dimana banyak peternak yang belum mampu menghasilkan produk yang diinginkan perusahaan. Peternak tidak mampu mengembalikan pinjaman input dan kredit akibat kegagalan produksi, deduksi finansial atau tidak adanya jaminan harga dari pihak industri pengolahan dan tidak jarang melanggar kontrak dengan menjual hasil produksi pada pesaing perusahaan sponsor. Selain itu, pertanian kontrak lebih berminat terhadap peternak berskala besar sehingga dengan demikian peternak kecil kurang dilibatkan dalam prosis pengembangan lebih lanjut. Pada posisi perusahaan, perusahaan sulit mempertahankan dan mengawasi kualitas peterrnak karna jumlah peternak kecil yang beigtu banyak, sehingga kehadiran dari lembaga-lembaga pelengkap sangat penting sebagai mediasi antara peternak dengan perusahaan (Daryanto 2012). Hal tersebut berbeda dengan hasil penelitian Patrick et al. (2004) yang tidak menemukan bukti-bukti adanya ketentuan kontrak yang merugikan. Hal tersebut dikarenakan kontrak merupakan bentuk utama dari diversifikasi untuk petani kecil karena risiko dari rendahnya produksi dan risiko harga ditanggung oleh perusahaan. Perusahaan memberikan pedoman untuk produksi dan kemungkinan sangat kecil bagi petani kontrak untuk dapat dengan mudah memperoleh tingkat keahlian yang diperlukan tanpa ikut serta dalam kontrak. 2.6. Keterkaitan dengan Penelitian Terdahulu Penelitian ini memiliki kesamaan dengan beberapa penelitian terdahulu dalam hal komoditas yang diteliti dan metode penelitian yang digunakan yaitu analisis pendapatan dan fungsi produksi Cobb-Douglas dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani, sehingga penelitian terdahulu digunakan sebagai referensi pada penelitian yang dilakukan. Sementara itu, perbedaannya terletak pada lokasi penelitian dan varietas kentang yang digunakan pada penelitian ini, yaitu varietas Granola dan Atlantic yang belum pernah dianalisis pendapatan usahatani dan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kedua varietas itu secara bersamaan. Oleh karena itu, diharapkan penelitian ini menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi penelitian selanjutnya. 20 III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Usahatani Ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seorang mengusahakan dan mengkoordinir faktor-faktor produksi barupa lahan dan alam sekitarnya sebagai modal sehingga memberikan manfaat yang sebaik-baiknya. Adapun ciri-ciri usahatani yang ada di Indonesia adalah : (1) Kecilnya luas lahan yang dimiliki oleh para petani, (2) Modal yang dimiliki para petani terbatas, (3) Rendahnya ketrampilan dan pengetahuan manajemen yang dimiliki oleh para petani, (4) Produktivitas dan efisiensi rendah, (5) Petani dalam kondisi sebagai penerima harga karena bargaining position lemah dan (6) Rendahnya tingkat pendapatan petani (Suratiyah 2006). Hernanto (1989) menjelaskan bahwa terdapat empat unsur pokok faktorfaktor produksi dalam usahatani, yaitu: 1) Tanah Tanah merupakan faktor yang relatif langka dibanding dengan faktor produksi lain dan distribusi penguasaannya tidak merata di masyarakat. Oleh karena itu, tanah memiliki beberapa sifat, di antaranya adalah luas relatif tetap atau dianggap tetap, tidak dapat dipindah-pindahkan, dan dapat dipindahtangankan atau diperjualbelikan. Pada dasarnya berdasarkan luas tanah, petani dapat digolongkan menjadi empat, yaitu golongan petani luas (lebih dari 2 ha), sedang (0,5 – 2 ha), sempit (0,5 ha), dan buruh tani tidak bertanah. Tanah milik petani atau yang dapat dikelola diperoleh dari berbagai sumber yaitu, membeli, menyewa, menyakap, pemberian negara, warisan, wakar, ataupun membuka lahan sendiri. 2) Tenaga Kerja Tenaga kerja dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu tenaga kerja manusia, tenaga kerja ternak, dan tenaga kerja mekanik. Tenaga kerja manusia digolongkan menjadi tenaga kerja pria, wanita, dan anak-anak. Tanaga kerja manusia dapat diperoleh dari dalam dan luar keluarga. Satuan ukuran yang umum dipakai untuk mengatur tenaga kerja adalah sebagai berikut: a) Jumlah jam dan hari kerja total. Ukuran ini menghitung seluruh pencurahan kerja dari sejak persiapan sampai panen dengan menggunakan inventarisasi jam kerja (1 hari = 7 jam kerja) lalu dijadikan hari kerja total (HK total). b) Jumlah setara pria (men equivalen). Ukuran ini menghitung jumlah kerja yang dicurahkan untuk seluruh proses produksi diukur dengan ukuran hari kerja pria. Hal ini berarti menggunakan konversi tenaga kerja menurut Yang 1955, diacu dalam Hernanto 1986, yaitu membandingkan tenaga pria sebagai ukuran baku dan jenis tenaga kerja lain dikonversikan atau disetarakan dengan pria, sebagai berikut: - 1 pria = 1 hari kerja pria - 1 wanita = 0,7 hari kerja pria - 1 ternak = 2 hari kerja pria - 1 anak = 0,5 hari kerja pria 3) Modal Modal merupakan barang atau uang yang bersama-sama dengan faktor produksi lain dan tenaga kerja serja pengelolaan menghasilkan barang-barang baru, yaitu produksi pertanian. Sumber modal dapat diperoleh dari milik sendiri, pinjaman atau kredit (kredit bank, kerabat, dan lainnya), hadiah warisan, usaha lain, ataupun kontrak sewa. Berdasarkan sifatnya, modal dibedakan menjadi dua, yaitu modal tetap yang berarti modal yang tidak habis pada satu periode produksi dan modal bergerak yang berarti modal yang habis atau dianggap habis dalam satu periode produksi. Jenis modal tetap memerlukan pemeliharaan agar dapat berdaya guna dalam jangka waktu lama. Jenis modal ini pun terkena penyusutan yang berarti nilai modal menyusut berdasarkan jenis dan waktu. Penghitungan penyusutan dengan cara yang dianggap mudah adalah menggunakan metode garis lurus (straight line method). Metode garis lurus menggunakan dasar pemikiran bahwa benda yang dipergunakan dalam usahatani menyusut dalam besaran yang sama setiap tahunnya. 4) Pengelolaan (management) Pengelolaan usahatani adalah kemampuan petani untuk menentukan, mengorganisir, dan mengkoordinasikan faktor-faktor produksi yang dikuasai dengan sebaik-baiknya sehingga mampu memberikan produksi pertanian sebagaimana yang diharapkan. Ukuran dari keberhasilan pengelolaan itu adalah 22 produktivitas dari setiap faktor maupun produktivitas dari usahanya. Dengan demikian, pengenalan secara utuh faktor yang dimiliki dan faktor yang dikuasai akan sangat menentukan keberhasilan pengelolaan. 3.1.2. Konsep Pendapatan Usahatani Pada analisis usahatani, data mengenai penerimaan, biaya, dan pendapatan usahatani perlu diketahui. Cara analisis terhadap tiga variabel ini sering disebut dengan analisis anggaran arus uang tunai (cash flow analysis) (Soekartawi 1995). Adapun penjelasan ketiga variabel tersebut adalah sebagai berikut: 1) Struktur Penerimaan Usahatani Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual (Soekartawi 1995). Istilah lain untuk penerimaan usahatani adalah pendapatan kotor usahatani (gross farm income) yang didefinisikan sebagai nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun tidak dijual. Pendapatan kotor ini mencakup semua produk yang dijual, dikonsumsi rumah tangga petani, bibit atau makanan ternak, digunakan untuk pembayaran, dan disimpan atau ada di gudang pada akhir tahun (Soekartawi 1986). 2) Struktur Biaya Usahatani Biaya adalah sejumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi kegiatan usahatani (Soekartawi 1995). Menurut Hernanto (1989), biaya dikelompokan dalam empat kategori, yaitu: a) Biaya tetap (fixed costs); dimaksudkan biaya yang penggunaannya tidak habis dalam satu masa produksi. b) Biaya variabel (variable costs), dimana besar kecilnya dipengaruhi oleh biaya skala produksi. c) Biaya tunai; dimaksudkan biaya yang dikeluarkan dalam bentuk uang. d) Biaya diperhitungkan, dimaksudkan biaya yang dikeluarkan petani bukan dalam bentuk uang tunai, tetapi diperhitungkan dalam perhitungan usahatani. 23 3) Struktur Pendapatan Usahatani Pendapatan tunai usahatani adalah selisih antara penerimaan tunai dan pengeluaran tunai dan merupakan ukuran kemampuan usahatani untuk menghasilkan uang tunai (Soekartawi 1986). Faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani menurut Hernanto (1989) yaitu, luas usaha, tingkat produksi, pilihan dan kombinasi cabang usaha, intensitas pengusahaan pertanaman, dan efisiensi tenaga kerja. Analisis pendapatan usahatani ini bertujuan mengetahui besar keuntungan yang diperoleh dari usaha yang dilakukan (Soekartawi 1995). 4) Analisis R/C Analisis R/C (return cost ratio) merupakan perbandingan (ratio atau nisbah) antara penerimaan dengan biaya dalam satu kali periode produksi usahatani. R/C menunjukkan besarnya penerimaan yang diperoleh sebagai manfaat dari setiap rupiah yang dikeluarkan, semakin tinggi nilai R/C maka semakin menguntungkan usahatani tersebut dilakukan. Analisis R/C ini dibagi dua, yaitu (a) menggunakan data pengeluaran (biaya produksi) tunai dan (b) menghitung juga atas biaya yang tidak diperhitungkan, dengan kata lain perhitungan total biaya produksi (Soekartawi 1995). Kriteria keputusan dari nilai R/C yaitu, jika R/C > 1 maka kegiatan usahatani yang dilakukan dapat memberikan penerimaan yang lebih besar dari pada pengeluarannya. Nilai R/C < 1 menunjukkan maka kegiatan usahatani yang dilakukan tidak dapat memberikan penerimaan yang lebih besar dari pada pengeluarannya. Nilai R/C = 1, maka kegiatan usahatani yang dilakukan dapat dikatakan tidak memberikan keuntungan maupun kerugian (impas) karena penerimaan yang diterima oleh petani akan sama dengan pengeluaran yang dikeluarkan oleh petani (Soekartawi 1995). 3.1.3. Konsep Usaha Pertanian Kontrak (Contract Farming) Usaha pertanian kontrak merupakan salah satu bentuk relasi kemitraan. Menurut Daryanto (2012), usaha pertanian kontrak (contract farming) merupakan satu mekanisme kelembagaan (kontrak) yang memperkuat posisi tawar-menawar petani, peternak, dan nelayan dengan cara mengaitkannya secara langsung atau pun tidak langsung dengan badan usaha yang secara ekonomi lebih kuat. Hal ini 24 tidak hanya berpotensi meningkatkan penghasilan petani, peternak, dan nelayan kecil yang terlibat dalam usaha pertanian kontrak, tetapi juga mempunyai efek berlipat ganda (muliplier effects) bagi perekonomi pedesaan maupun perekonomian dalam skala lebih luas. Menurut Eaton dan Shepherd (2001), usaha pertanian kontrak dibagi menjadi lima model, yaitu: 1) Centralized model, yaitu model yang terkoordinasi secara vertikal, dimana pihak perusahaan membeli produk dari para petani yang kemudian memprosesnya atau mengemasnya dan memasarkan produknya. 2) Nucleus estate model, yaitu variasi model terpusat, dimana dalam model ini perusahaan dari proyek juga memiliki dan mengatur tanah perkebunan yang umumnya dekat dengan pabrik pengolahan. 3) Multipartite model, yaitu model yang umumnya melibatkan badan hukum dan perusahaan swasta yang secara bersama berpartisipasi bersama para petani. 4) Informal model, yaitu model yang umumnya diaplikasikan terhadap wiraswasta perseorangan atau perusahaan kecil yang umumnya membuat kontrak produksi informal yang mudah dengan para petani berdasarkan musiman. 5) Intermediary model, yaitu model yang umumnya diaplikasikan pada perusahaan swasta yang akan membayar petani mitra sesuai dengan total produksi. Pihak perusahaan umumnya membina dan mengontrol petani untuk menggunakan faktor produksi yang telah ditetapkan perusahaan. Menurut Daryanto (2012), kerjasama antara petani dengan pihak perusahan dapat terjalin secara baik jika terdapat saling ketergantungan yang menguntungkan dikedua belah pihak. Usaha pertanian kontrak memungkinkan untuk mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan minimnya informasi. Selain itu, usaha pertanian kontrak dapat mengurangi risiko bagi petani maupun perusahaan, misalnya dalam hal kepastian bahwa hasil produksi petani akan dibelipada saat panen dan kepastian pasokan bahan baku bagi perusahaan. Pola kemitraan atau kontrak di Indonesia menurut Sumardjo et al. (2004) terdiri dari lima macam, yaitu: 25 1) Pola kemitraan inti plasma Pola kemitraan inti plasma merupakan pola hubungan kemitraan antara kelompok mitra (plasma) dengan perusahaan mitra (inti). Perusahaan mitra membina kelompok mitra dalam hal lahan, saran produksi, bimbingan teknis, manajemen, menampung dan mengolah, serta memasarkan hasil produksi. Keunggulan dari pola kemitraan ini yaitu adanya saling ketergantungan dan saling memperoleh keuntungan. Sementara itu, kelemahan dari pola ini yaitu pihak plasma kurang memahami hak dan kewaibannya, komitmen perusahaan inti masih lemah dalam memenuhi fungsi dan kewajibannya, dan belum ada kontrak kemitraan yang menjamin hak dan kewajiban komoditas plasma sehingga terkadang perusahaan inti mempermainkan harga komoditas plasma. 2) Pola kemitraan subkontrak Pola kemitraan subkontrak merupakan hubungan kemitraan antara perusahaan mitra usaha dengan kelompok mitra usaha yang memproduksi komponen yang diperlukan perusahaan mitra sebagai bagian dari produksinya. Keunggulan dari pola ini yaitu adanya kesepakan tentang kontrak bersama yang mencakup volume, harga, mutu, dan waktu. Sementara itu, kelemahan pola ini yaitu hubungan subkontrak yang terjalin semakin lama cenderung mengisolasi produsen kecil dan menengah, berkurangnya nilai-nilai kemitraan antara kedua belah pihak, dan kontrol kualitas produk ketat tetapi tidak diimbangi dengan sistem pembayaran yang tepat. 3) Pola kemitraan dagang umum Pola kemitraan dagang umum merupakan hubungan usaha dalam pemasaran hasil produksi. Pihak yang terlibat dalam pola ini adalah perusahaan mitra dan kelompok mitra dengan persyaratan yang telah disepakati bersama. Keunggulan dari pola ini yaitu kelompok mitra berperan sebagai pemasok kebutuhan yang diperlukan perusahaan mitra dan perusahaan mitra memasarkan produk kelompok mitra ke konsumen. Kondisi tersebut menguntungkan pihak kelompok mitra karena adanya kepastian harga dan pasar bagi hasil produknya. Selain itu, pihak perusahaan mitra mendapatkan bahan baku sesuai dengan kualitas yang telah disepakati. Namun, kelemahan dari pola ini yaitu dalam prakteknya harga dan volume produk sering ditentukan secara sepihak oleh 26 perusahaan mitra sehingga merugikan pihak kelompok mitra dan terkadang sistem pembayaran barang-barang pada kelompok mitra tertunda. 4) Pola kemitraan keagenan Pola kemitraan keagenan merupakan bentuk kemitraan dimana perusahaan mitra memberikan hak khusus kepada kelompok mitra untuk memasarkan barang atau jasa perusahaan yang dipasok oleh perusahaan mitra. Terdapat kesepakatan di antara pihak-pihak yang terlibat mengenai target-target yang harus dicapai dan besarnya komisi yang siterima oleh pihak yang memasarkan produk. Keunggulan pola ini yaitu mudah dilaksanakan oleh para perusahaan kecil yang kurang kuat modalnya. Sementara itu, kelemahan pola ini yaitu beberapa mitra kurang mampu membaca segmen pasar, tidak memenuhi target, dan kelompok mitra menetapkan harga produk secara sepihak sehingga harga di tingkat konsumen menjadi tinggi. 5) Pola kemitraan Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA) Pola kemitraan KOA merupakan pola hubungan bisnis yang dijalankan oleh kelompok mitra dan perusahaan mitra. Kelompok mitra menyediakan lahan, sarana, dan tenaga kerja, sedangkan pihak perusahaan mitra menyediakan biaya, modal, manajemen, dan pengadaan sarana produksi untuk mengusahakan atau membudidayakan suatu komoditas pertanian. Selain itu, perusahaan mitra berperan sebagai penjamin pasar produk dengan meningkatkan nilai tambah produk melalui pengolahan dan pengemasan. Keunggulan pola KOA ini serupa dengan pola inti plasma, namun kelemahan pola ini yaitu pengambilan untuk oleh perusahan mitra yang menangani aspek pemasaran dan pengolahan produk terlalu besar dan perusahaan mitra cenderung monopsoni. 3.1.4. Konsep Fungsi Produksi Ditinjau dari pengertian teknis, maka produksi merupakan suatu proses pendayagunaan dari sumber-sumber yang telah tersedia sehingga dapat mewujudkan suatu hasil yang optimal, baik secara kualitas dan kuantitas sehingga menjadi suatu komoditi yang dapat diperdagangkan. Produksi adalah segala kegiatan dalam rangka menciptakan dan menambah kegunaan atau uitlity sesuatu barang atau jasa untuk kegiatan dimana dibutuhkan faktor-faktor produksi yang didalam ilmu ekonomi terdiri dari tanah, modal, tenaga kerja, dan manajemen (Assauri 2004). Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa produksi adalah suatu 27 kegiatan/aktivitas yang dapat menambah nilai guna dan manfaat barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sudarsono (1995) mengatakan fungsi produksi adalah hubungan teknis yang menghubungkan antara faktor produksi yang disebut dengan masukan atau input. Disebut faktor produksi karena adanya sifat mutlak agar produksi dapat dijalankan untuk menghasilkan produk. Suatu fungsi produksi menggambarkan semua metode produksi yang efisien secara teknis dalam arti menggunakan kuantitas faktor produksi yang minimal. Metode produksi yang boros tidak diperhitungkan dalam fungsi produksi. Metode produksi adalah suatu kombinasi dari faktor-faktor produksi yang dibutuhkan untuk memproduksi satu satuan produk. Soekartawi (2005) menjelaskan bahwa fungsi produksi merupakan hubungan antara faktor produksi (input) dan produksi (output). Variabel Y digambarkan sebagai hasil produksi dan variabel Xi adalah masukan i, maka besarnya Y dipengaruhi oleh besarnya X1, X2, X3, ..., Xm yang digunakan pada fungsi tersebut. Secara matematis, hubungan Y dan X dapat ditulis sebagai berikut: Y = f(X1, X2, X3, ..., Xm) Keterangan: Y = produksi/output X1, X2, X3, ..., Xm = faktor produksi/input Hubungan masukan dan produksi pertanian mengikuti kaidah tambahan hasil yang semakin berkurang (law of diminishing returns) untuk semua variabel X. Tiap tambahan unit masukan akan mengakibatkan proporsi unit tambahan produksi yang semakin kecil dibanding unit tambahan masukan tersebut (Soekartawi 1986). Salah satu model fungsi produksi yang digunakan dalam analisis usahatani adalah fungsi produksi Cobb-Douglas. Menurut Soekartawi (2002) fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel. Variabel yang dijelaskan disebut variabel dependen (Y) dan variabel yang menjelaskan disebut variabel independen (X). Variabel yang dijelaskan biasanya berupa output dan variabel yang menjelaskan 28 biasanya berupa input. Tiga alasan pokok memilih menggunakan analisis fungsi produksi Cobb-Douglas antara lain (Soekartawi 2002): 1) Penyelesaian fungsi produksi Cobb-Douglas relatif lebih mudah dibandingkan dengan fungsi lain. Fungsi Cobb-Douglas dapat dengan mudah diubah ke dalam bentuk linier. 2) Hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb-Douglas akan menghasilkan koefisien regresi yang sekaligus menunjukkan elastisitas. 3) Besaran elastisitas tersebut juga sekaligus menunjukan return to scale. Hal ini perlu diketahui untuk menentukan keadaan dari suatu produksi, apakah mengikuti kaidah decreasing, constant atau increasing return to scale. a) Decreasing returns to scale, bila (b1 + b2) < 1. Dalam keadaan demikian, dapat diartikan bahwa proporsi penambahan masukanproduksi melebihi proporsi penambahan produksi. b) Constant returns to scale, bila (b1 + b2) = 1. Dalam keadaan demikian penambahan masukan-produksi akan proporsional dengan penambahan produksi yang diperoleh. c) Increasing returns to scale, bila (b1 + b2) > 1. Ini artinya bahwa proporsi penambahan masukan-produksi akan menghasilkan tambahan produksi yang proporsinya lebih besar. Kesulitan yang umum dijumpai dalam penggunaan fungsi Cobb-Douglas (Soekartawi 2002) adalah sebagai berikut: 1) Spesifikasi variabel yang keliru. 2) Kesalahan pengukuran variabel. 3) Bias terhadap variabel manajemen. 4) Masalah multikolinieritas yang sulit dihindarkan. Persamaan matematis dari fungsi produksi Cobb-Douglas secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut: Y = b0 X1b1 X2b2 X3b3 . . . Xibi eu Dimana: Y X b0, bi u e = variabel yang dijelaskan = variabel yang menjelaskan = besaran yang akan diduga = kesalahan (disturbance term) = logaritma natural (e = 2,718) 29 Fungsi Cobb-Douglas di atas kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk linear logaritma untuk memudahkan pendugaaan terhadap fungsi produksi tersebut, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut: Ln Y = ln b0 + b1 ln X1 + b2 ln X2 + b3 ln X3 ... + bi ln Xi + u Pada persamaan tersebut terlihat bahwa nilai b1 dan b2 adalah tetap walaupun variabel yang terlibat telah dilogaritmakan. Hal ini dapat dimengerti karena b1 dan b2 pada fungsi Cobb-Douglas adalah sekaligus menunjukkan elastisitas X terhadap Y. Elastisitas produksi (Ep) adalah presentase perubahan dari output sebagai akibat dari persentase perubahan input (Rahim & Hastuti, 2008). Elastisitas produksi dapat dirumuskan sebagai berikut: � � = � = � Dimana: Ep ∆Y ∆X Y X = � ∆ ∆ ∆ ∆ ∆ ∆ � 100% � 100% � = �� � = �� �� 1 �� = elastisitas produksi = perubahan hasil produksi komoditas pertanian = perubahan penggunaan faktor produksi = hasil produksi komoditas pertanian = jumlah penggunaan faktor produksi Kurva dapat menggambarkan hubungan fisik faktor produksi dan hasil produksinya, dengan asumsi hanya satu produksi yang berubah dan faktor produksi lainnya dianggap tetap (ceteris paribus). Fungsi produksi juga menggambarkan Marginal Product (PM) dan Average Product (PR). Marginal Product (PM) merupakan tambahan produksi per satuan tambahan input, sedangkan Average Product (PR) merupakan produksi per satuan input. Berdasarkan Gambar 1, kurva produksi terbagi menjadi menjadi tiga daerah. 30 Gambar 1. Hubungan antara TP, PM, dan PR (Sumber : Rahim & Hastuti 2008) Daerah I dimana terjadi peningkatan PR dengan elastisitas produksi lebih dari satu (EP > 1). Hal ini menunjukkan penambahan faktor produksi sebesar satu satuan akan menyebabkan penambahan produksi lebih besar dari satu satuan. Dimana kondisi ini keuntungan maksimum belum tercapai karena produksi masih dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, daerah ini disebut daerah irrasional atau inefisien. Daerah II terjadi penurunan PR saat PM positif dengan elastisitas produksi antara nol dan satu (0 < EP < 1). Hal ini menunjukkan penambahan faktor produksi sebesar satu satuan akan menyebabkan penambahan produksi paling besar satu satuan dan paling kecil nol satuan. Pada daerah ini terjadi penambahan hasil produksi yang semakin menurun, namun penggunaan faktor-faktor produksi tertentu di daerah ini dapat memberikan keuntungan maksimum. Oleh karena itu, daerah ini disebut daerah rasional atau efisien. 31 Daerah III terjadi penurunan PR saat PM negatif dengan elastisitas produksi kurang dari nol (EP < 0). Hal ini menunjukkan setiap penambahan satu satuan input akan menyebabkan penurunan produksi. Pada daerah ini penggunaan faktor produksi sudah tidak efisien. Oleh karena itu, daerah ini disebut daerah irrasional. 3.2. Kerangka Pemikiran Operasional Kentang merupakan salah satu tanaman hortikultura unggulan Desa Cigedug yang telah lama dibudidayakan. Hal ini didukung dengan kondisi geografis yang cocok untuk ditanam kentang baik varietas Granola yang merupakan komoditas noncontract farming (usaha nonpertanian kontrak) maupun varietas Atlantic yang merupakan komoditas contract farming (usaha pertanian kontrak) dengan PT Indofood Fritolay Makmur. Kondisi geografis tersebut tidak serta merta dapat meningkatkan produktivitas kentang di lokasi penelitian. Peningkatan produksi kentang yang terjadi belum didukung dengan peningkatan produktivitas. Produktivitas kentang yang pernah dicapai Desa Cigedug belum mencapai produktivitas potensialnya. Produktivitas kentang aktual pada tahun 2011 sebesar 18 ton/ha (BP3K Kecamatan Cigedug 2012), padahal produktivitas potensial yang dapat dicapai kentang varietas Granola maupun varietas Atlantic, yaitu kurang lebih 30 ton/ha (Samadi 2007). Produktivitas yang belum mampu mencapai produktivitas potensial menjadi salah satu permasalahan bagi petani di Desa Cigedug. Hal tersebut diduga disebabkan oleh penerapan teknologi maupun penggunaan faktor produksi yang belum mengikuti kaidah standar operasional prosedur (SOP). Secara teoritis, produktivitas dapat menggambarkan pendapatan yang diperoleh dan penggunaan faktor produksi apa saja yang mempengaruhi produksi usahatani kentang. Perbedaan harga jual pada kedua varietas menjadi salah satu permasalahan usahatani kentang di Desa Cigedug dimana harga jual rata-rata kentang varietas Granola relatif lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Atlantic. Selain itu, pada varietas Granola harga jual mengikuti harga pasar yang cenderung berfluktuatif, sedangkan pada varietas Atlantic harga jual tetap sesuai dengan harga kontrak dengan PT IFM yang berlaku. Hal tersebut tentu akan berpengaruh terhadap pendapatan usahatani kentang di Desa Cigedug. 32 Pendapatan usahatani dapat digunakan sebagai tolok ukur tingkat keberhasilan petani. Pendapatan usahatani ini dapat diperoleh setelah analisis penerimaan dan analisis pengeluaran dilakukan. Pendapatan merupakan hasil akhir yang diperoleh petani sebagai bentuk imbalan atas pengelolaan sumberdaya yang dimiliki dalam usahataninya. Sementara itu, fungsi produksi Cobb-Douglas digunakan untuk melihat pengaruh penggunaan faktor produksi (input) terhadap output. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan melihat fakta di lapangan untuk menganalisis pendapatan usahatani dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi kentang. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi petani ataupun pihak lain dalam penyajian informasi tentang usahatani kentang dan dapat dijadikan sebagai langkah kebijakan yang diambil untuk meningkatkan produktivitasnya. Berdasarkan uraian di atas maka kerangka pemikiran operasional penelitian ini dapat digambarkan pada Gambar 2. Penerapan teknologi maupun penggunaan faktor produksi kentang di Desa Cigedug diduga belum mengikuti kaidah standar operasional Produktivitas kentang di Desa Cigedug belum mencapai produktivitas potensial Analisis Pendapatan Usahatani Kentang Noncontract Farming (Varietas Granola) Contract Farming (Varietas Atlantic) R/C R/C - Luas lahan - Bibit - Varietas - Nitrogen - Fosfat - Kalium - Fungisida - Insektisida - Perekat - Tenaga Kerja Produksi Kentang Analisis Fungsi Produksi Cobb- Douglass Rekomendasi Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian 33 IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Cigedug merupakan salah satu sentra produksi kentang yang mengalami peningkatan luas lahan kentang terbesar sebesar 16,62 persen dari tahun 2007 – 2011 di Kabupaten Garut (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut 2012). Desa Cigedug merupakan desa terbesar yang memproduksi kentang di Kecamatan Cigedug pada tahun 2011 (BP3K Kecamatan Cigedug 2012). Pengambilan data dilakukan pada 7 Mei sampai dengan 31 Mei 2012. 4.2. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung (observasi), pencatatan, wawancara langsung dengan petani kentang varietas Granola (noncontract farming) dan varietas Atlantic (contract farming), vendor (ketua kelompok tani) PT Indofood Fritolay Makmur, pengawas kegiatan usahatani (agrofield) kentang varietas Atlantic PT Indofood Fritolay Makmur, dan pihak penyuluh pertanian lapang (PPL) untuk mengetahui kondisi dan kegiatan yang dilakukan oleh para petani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic. Data primer yang diperoleh meliputi data karakteristik petani dan data usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic. Data karakteristik petani yang digunakan meliputi nama, usia, alamat, pendidikan, pengalaman usahatani, status kepemilikan lahan, dan gambaran umum usahatani. Gambaran umum kegiatan usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic dilihat dari berbagai tahap kegiatan budidaya dalam memproduksi kentang varietas Granola dan varietas Atlantic, jumlah penggunaan benih, penggunaan pupuk baik organik (kandang) maupun anorganik (kimia), penggunaan tenaga kerja, dan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam usahatani kentang per musim tanam. Data sekunder digunakan dalam mendukung dan mempertajam analisis yang dikumpulkan dari instansi dan dinas terkait, seperti Badan Pusat Stastistik Kabupaten Garut, Direktorat Jendral Hortikultura, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut, Lembaga Sumber Informasi IPB, penelitian terdahulu, buku, literatur internet, dan berbagai sumber lain yang berkaitan dengan penelitian ini. 4.3. Jumlah Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel Jumlah sampel yang diambil sebanyak 30 petani kentang varietas Granola dan 30 petani varietas Atlantic karena jumlah sampel tersebut dianggap dapat menggambarkan kondisi usahatani kentang varietas Granola dan Atlantic di Desa Cigedug. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan sampel tidak acak (nonrandom sampling), yaitu teknik snowball sampling dikarenakan keterbatasan kondisi lapang yang belum terdapat data petani yang menanam kentang varietas Granola dan varietas Atlantic di Desa Cigedug. Penulis dibantu oleh pembimbing lapang yang mengetahui kondisi masyarakat Desa Cigedug untuk memilih responden yang menanam kentang varietas Granola dan Atlantic. Kemudian, responden tersebut menunjukkan responden lain yang menanam kentang varietas Granola ataupun Atlantic. Pemilihan responden tersebut merupakan pihak yang dianggap paling baik dalam memberikan informasi dan dapat menjelaskan mengenai usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic. Pengumpulan data primer, peneliti menggunakan metode observasi (pengamatan langsung), metode kuesioner (angket) yang diisi langsung oleh peneliti dengan hasil yang diperoleh dari proses wawancara dengan pihak responden, dan wawancara mendalam untuk memperoleh informasi lain yang dibutuhkan di luar pertanyaan yang ada dalam kuesioner. Pengamatan langsung dilakukan dengan turun lapang beberapa kegiatan dalam budidaya kentang varietas Granola dan varietas Atlantic di lokasi penelitian. Pengumpulan data sekunder, peneliti berkunjung langsung ke dinas atau instansi tekait, seperti Badan Pusat Statistik, BP3K Kecamatan Cigedug, Direktorat Jenderal Hortikultura, dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut yang kemudian melakukan wawancara kepada pihak-pihak yang terkait dalam penelitian ini. 35 4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan melalui pendekatan deskriptif untuk melihat keragaan dan gambaran usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic di daerah penelitian dan untuk mendukung data kuantitatif. Sementara itu, analisis data secara kuantitatif antara lain analisis pendapatan usahatani, R/C rasio untuk membandingkan efisiensi pendapatan kedua varietas tersebut, dan fungsi produksi Cobb-Douglas untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kentang. Data yang dianalisis secara kuantitatif akan diolah dengan bantuan software Microsoft Office Excel 2007 dan MINITAB 14. 4.4.1. Analisis Pendapatan Usahatani Hernanto (1989) menjelaskan bahwa pendapatan usahatani dibedakan menjadi pendapatan atas biaya tunai dan biaya total. Pendapatan atas biaya tunai adalah pendapatan atas biaya yang benar-benar dikeluarkan oleh petani. Sedangkan pendapatan atas biaya total adalah pendapatan dimana semua input milik keluarga juga diperhitungkan. Secara matematis, perhitungan penerimaan total, biaya, dan pendapatan menurut Soekartawi (1995) dirumuskan sebagai berikut : TR = Py . Y TC = FC + VC Pd = TR - TC dimana : TR Py Y TC FC VC Pd = Total penerimaan usahatani (Rp) = Harga output (Rp) = Jumlah output (kg) = Total biaya usahatani (Rp) = Total biaya tetap (Rp) = Total biaya variabel (Rp) = Pendapatan (Rp) Kriteria yang digunakan adalah: TR > TC, maka usaha untung TR = TC, maka usaha impas TR < TC, maka usaha rugi 36 Analisis R/C rasio merupakan alat analisis dalam usahatani yang berfungsi untuk mengukur efisiensi dari kegiatan usahatani yang dilaksanakan dengan membandingkan nilai output terhadap nilai inputnya atau dengan kata lain membandingkan penerimaan usahatani dengan pengeluaran usahataninya. Adapun rumus R/C rasio atas biaya tunai menurut Soekartawi (1995) adalah sebagai berikut: R Penerimaan Tunai atas Biaya Tunai = C Biaya Tunai Sedangkan rumus R/C rasio atas biaya total adalah sebagai berikut: Total Penerimaan R atas Biaya Total = C Total Biaya Analisis R/C rasio dilakukan untuk mengetahui besarnya penerimaan yang dihasilkan dari setiap rupiah yang dikeluarkan pada suatu kegiatan usahatani. Jika rasio R/C bernilai lebih dari satu (R/C > 1), maka usahatani layak untuk dilaksanakan. Sebaliknya jika rasio R/C bernilai kurang dari satu (R/C < 1), maka usahatani tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Namun, apabila rasio R/C sama dengan satu (R/C = 1), maka usahatani tersebut impas, tidak memberikan keuntungan maupun kerugian. Tabel 4. Ringkasan Perhitungan Penerimaan, Biaya, dan Pendapatan Usahatani A Penerimaan tunai Harga x hasil panen yang dijual (kg) Penerimaan yang Harga x hasil panen yang dikonsumsi atau B dihitungkan dijadikan benih (kg) C Total penerimaan A+B a. Biaya sarana produksi: - Benih, pupuk kandang, pupuk kimia, obat-obatan D Biaya tunai b. Biaya tenaga kerja luar keluarga (TKLK) c. Pajak d. Sewa lahan a. Benih b. Biaya tenaga kerja dalam keluarga E Biaya diperhitungkan (TKDK) c. Lahan milik sendiri d. Penyusutan peralatan F Total biaya D+E G Pendapatan atas biaya tunai A – D H Pendapatan atas biaya total C–F I R/C atas biaya tunai A/D J R/C atas biaya total C/F 37 Biaya penyusutan alat-alat pertanian diperhitungkan dengan membagi selisih antara nilai pembelian dengan nilai sisa yang ditafsirkan dengan lamanya modal pakai dan disumsikan tidak laku apabila dijual. Metode yang digunakan adalah metode garis lurus (straight line method). Metode garis lurus menggunakan dasar pemikiran bahwa benda yang dipergunakan dalam usahatani menyusut dalam besaran yang sama setiap tahunnya. Secara matematis penyusutan tersebut dirumuskan menurut Suratiyah (2006) sebagai berikut: Penyusutan per tahun = Cost – Nilai sisa Umur ekonomis 4.4.2. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang Soekartawi (2005) menjelaskan bahwa fungsi produksi merupakan hubungan antara faktor produksi (input) dan produksi (output). Variabel Y digambarkan sebagai hasil produksi dan variabel Xi adalah faktor produksi i, maka besarnya Y dipengaruhi oleh besarnya X1, X2, X3, ..., Xm yang digunakan pada fungsi tersebut. Hubungan faktor produksi dan produksi tersebut mengikuti kaidah tambahan hasil yang semakin berkurang (law of diminishing returns) untuk semua variabel X, dimana tiap tambahan unit faktor produksi akan mengakibatkan proporsi unit tambahan produksi yang semakin kecil dibanding unit tambahan faktor produksi tersebut (Soekartawi 1986). Oleh karena itu, model fungsi produksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah fungsi produksi CobbDouglas. Faktor produksi Cobb-Douglas harus memenuhi beberapa persyaratan (Soekartawi 1990), diantaranya: 1) Tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol, sebab nilai logaritma dari bilangan nol adalah suatu bilangan yang besarnya tidak diketahui. 2) Memerlukan asumsi bahwa tidak ada perbedaan teknologi pada setiap pengamatan. Hal ini menggambarkan jika fungsi Cobb-Douglas yang akan dipakai dalam suatu bentuk persamaan dan bila diperlukan analisa yang mempunyai lebih dari satu model, maka model tersebut terlertak pada intercept dan bukan pada kemiringan garis model tersebut. 3) Perbedaan lokasi seperti iklim sudah tercakup pada faktor kesalahan (u) Pengidentifikasin variabel dilakukan dengan mendaftar faktor-faktor produksi yang diduga berpengaruh dalam proses produktivitas kentang. Faktor- 38 faktor yang dipakai dalam penelitian ini antara lain jumlah benih, dummy varietas, pupuk kandang, unsur Nitrogen, unsur Fosfat, unsur Kalium, fungisida, insektisida, perekat, dan tenaga kerja yang dihitung per hektar. Pendugaan faktor tersebut berdasarkan pada penggunaan input yang sering digunakan dalam usahatani kentang di lokasi penelitian. Di samping itu, penentuan variabel dapat dilihat pada hasil penelitian terdahulu, seperti pada penelitian Andarwati (2011) yang menggunakan variabel faktor produksi kentang antara lain benih, pupuk organik, unsur N, unsur P, unsur S, fungisida, insektisida, dan tenaga kerja yang dihitung per hektar. Pada penelitian ini, penggunaan pupuk kimia pada model fungsi produksi berdasarkan unsur kandungan yang diaplikasikan, seperti ZA yang mengandung unsur Nitrogen, TSP yang mengandung unsur Fosfat, KCl yang mengandung Kalium, dan pupuk NPK (Mutiara dan Phonska) yang mengandung unsur Nitrogen, Fosfat, dan Kalium yang dihitung per hektar. Pengaplikasian pestisida setiap petani sebagian besar merek dagangnya berbeda antara petani yang satu dengan petani yang lainnya. Namun, penggunaan tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu memberantas ataupun mengurangi hama-penyakit yang menyerang pada tanaman kentang. Hama yang menyerang seperti, Liriomyza huidobrensis yang dikenal petani dengan sebutan aro, Myzus persicae (kutu daun), Thrips (hama bodas), dan Phthorimaea operculella (penggorok umbi). Sementara itu, penyakit yang sering menyerang yang disebabkan cendawan seperti, Phytophthora infestans yang menyebabkan penyakit busuk daun dan Fusarium penyebab tanaman layu. Pada musim hujan, semua petani menggunakan perekat yang berguna untuk meratakan dan mempercepat penyerapan pestisida yang disemprotkan, sehingga kandungan pestisida tersebut tidak semua terbawa air hujan. Berdasarkan penjelasan di atas, maka model fungsi produksi CobbDouglas untuk usahatani kentang secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: b10 Y = b0 X1b1 X3b3 X4b4 X5b5 X6b6 X7b7 X8b8 X9b9 X10 eu + b2X2 Fungsi Cobb-Douglas tersebut kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk linear logaritma untuk memudahkan pendugaaan terhadap fungsi produksi tersebut, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut: 39 Ln Y = ln b0 + b1 ln X1 + b3 ln X3 + b4 ln X4 + b5 ln X5 + b6 ln X6 + b7 ln X7 + b8 ln X8 + b9 ln X9 + b10 ln X10 + u + b2X2 Keterangan: Y b0 b1, b2, b3,..., b6 u X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 = Produktivitas kentang (ton/ha) = Intersept = Parameter variabel = Unsur sisa (galat) = Benih (kg/ha) = Dummy Varietas, dimana 1 = varietas Granola dan 0 = varietas Atlantic = Pupuk kandang (kg/ha) = Unsur N (kg/ha) = Unsur P (kg/ha) = Unsur K (kg/ha) = Fungisida (kg/ha) = Insektisida (liter/ha) = Perekat (liter/ha) = Tenaga kerja (HOK/ha) Metode yang digunakan adalah metode kuadrat terkecil (Ordinary Least Square (OLS)). Metode ini terlebih dahulu diuji dengan uji F, uji t, dan R-sq. Kemudian, kelayakan model tersebut akan diuji berdasarkan asumsi OLS yang meliputi uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, uji otokorelasi, dan normalitas error. Apabila asumsi tersebut dapat terpenuhi maka koefisien regresi (parameter) yang diperoleh merupakan penduga tak bias linear terbaik (BLUE) (Gujarati 2006a). Pengujian multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antar variabel bebas. Sebuah model dinyatakan terbebas dari masalah multikolinearitas apabila memiliki nilai VIF (Variance Inflation Factor) di bawah 10 (Lind et al. 2007). Asumsi OLS lainnya adalah bersifat homoskedastisitas yang berarti semua memiliki varians yang sama. Pengujian ini dapat menggunakan uji grafis residu yang melihat ada atau tidaknya pola sistematis antara e2i dan X. Apabila tidak ada pola yang sistematis maka dapat dikatakan sifat homoskedastisitas terpenuhi (Gujarati 2006b). Model yang dibangun juga harus terbebas dari masalah otokorelasi. Hal ini diketahui berdasarkan statistik nilai Durbin-Watson seperti yang dapat dilihat pada Gambar 3. Otokorelasi ini didefinisikan sebagai korelasi di antara anggota 40 observasi yang diurut menurut waktu (seperti data deret berkala) atau ruang (seperti lintas-sektoral) (Gujarati 2006b). Bukti otokorelasi positif Daerah meragukan Tidak ada otokorelasi positif atau negatif Daerah meragukan Bukti otokorelasi negatif d 0 dL 2 dU 4-dU 4-dL 4 Gambar 3. Daerah Statistik d Durbin-Watson Sumber : Gujarati (2006b) 4.4.3. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis merupakan pengujian-pengujian yang dilakukan dalam pengujian model penduga dan pengujian terhadap parameter regresi, antara lain: 1) Pengujian terhadap model penduga Pengujian ini untuk mengetahui apakah faktor produksi yang digunakan secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang. Menurut Gujarati (2006a), pengujian hipotesis secara statistik adalah sebagai berikut: Hipotesis: H0 : b1 = b2 = . . . = b10 = 0 H1 : salah satu dari b ada ≠ 0 Uji statistik yang digunakan adalah uji F: ℎ� �� = Keterangan: k n �2 ( −1) 1− � 2 (� − ) = jumlah variabel termasuk intercept = jumlah pengamatan atau responden Kriteria uji: Tolak H0 = Fhitung > Ftabel(k-1, n-k) pada taraf nyata α Terima H0 = Fhitung < Ftabel(k-1, n-k) pada taraf nyata α Apabila tolak H0 berarti secara bersama-sama variabel yang digunakan berpengaruh nyata terhadap produksi, namun apabila terima H0 maka variabel yang digunakan secara bersama-sama tidak berpengaruh nyata terhadap produksi. Setelah itu dihitung besarnya koefisien determinasi (R2) untuk mengukur tingkat 41 kesesuaian model dugaan, yang merupakan ukuran deskriptif tingkat kesesuaian antara data aktual dengan ramalannya. Koefisien regresi mengukur besarnya keragaman total data yang dapat dijelaskan oleh model dan sisanya (1-R2) dijelaskan oleh komponen error. Semakin tinggi nilai R2 berarti model dugaan yang diperoleh semakin akurat untuk meramalkan variabel tidak bebas (Y) atau dengan kata lain tingkat kesesuaian antara data aktual dengan ramalannya semakin tinggi. Menurut Gujarati (2006a) koefisien determinasi dapat dituliskan sebagai berikut: R2 = jumlah kuadrat regresi jumlah kuadrat total 2) Pengujian untuk masing-masing faktor produksi Pengujian untuk masing-masing faktor produksi yaitu dengan menggunakan uji-t. Hal ini bertujuan untuk melihat apakah setiap faktor produksi berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentangpengaruh nyata dari setiap faktor produksi (X) yang digunakan secara terpisah terhadap parameter tidak bebas (Y). Menurut Gujarati (2006a), hipotesis pengujian secara statistik adalah sebagai berikut: Hipotesis: H0 : bi = 0 H1 : bi ≠ 0 Uji statistik yang digunakan adalah uji t: ℎ� �� = Dimana: � bi se (bi) n k = � � − 0 � (�− ) = koefisien regresi = standard error dari koefisien regresi = jumlah pengamatan (sampel) = jumlah koefisien regresi dugaan termasuk konstanta Kriteria uji: Tolak H0 = thitung > ttabel pada taraf nyata α (berpengaruh nyata) Terima H0 = thitung < ttabel pada taraf nyata α (tidak berpengaruh nyata) Jika tolak H0 artinya variabel bebas berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas dari nilai (produksi) dalam model dan sebaliknya bila terima H 0 maka 42 variabel bebas tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas (produksi). Apabila tidak menggunakan tabel, maka dapat dilihat dari nilai P, dengan kriteria sebagai berikut: a) P-value < α, maka variabel yang diuji (faktor produksi) berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas (produksi) b) P-value > α, maka variabel yang diuji tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas. Hipotesis yang diajukan terhadap setiap faktor produksi adalah seluruh faktor produksi berpengaruh positif terhadap tingkat produksi kentang per hektar. Kondisi ini diperkirakan karena seluruh komponen faktor produksi tersebut merupakan kebutuhan dalam kegiatan produksi kentang. Adapun penjelasan hipotesis tersebut adalah sebagai berikut: a) Benih (X1) b1 > 0 artinya semakin banyak benih yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi produksi kentang yang dihasilkan. b) Dummy Varietas (X2) Menganggap nilai 1 untuk kentang varietas Granola dan 0 untuk kentang varietas Atlantic, dimana petani yang menanam varietas Granola memiliki tingkat produksi yang lebih tinggi dari pada petani yang menanam varietas Atlantic. c) Pupuk kandang (X3) b3 > 0 artinya semakin banyak pupuk kandang yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi produksi kentang yang dihasilkan. d) Unsur N (X4) b4 > 0 artinya semakin banyak unsur Nitrogen yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi tingkat produksi kentang yang dihasilkan. e) Unsur P (X5) b5 > 0 artinya semakin banyak unsur Phosphor yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi tingkat produksi kentang yang dihasilkan. 43 f) Unsur K (X6) b6 > 0 artinya semakin banyak unsur Kalium yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi tingkat produksi kentang yang dihasilkan. g) Fungisida (X7) b7 > 0 artinya semakin banyak fungisida yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi tingkat produksi kentang yang dihasilkan. h) Insektisida (X8) b8 > 0 artinya semakin banyak insektisida yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi tingkat produksi kentang yang dihasilkan. i) Perekat (X9) b9 > 0 artinya semakin banyak perekat yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi tingkat produksi kentang yang dihasilkan. j) Tenaga kerja (X10) b10 > 0 artinya semakin banyak tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi tingkat produksi kentang yang dihasilkan. 4.5. Definisi Operasional Pada penelitian ini, variabel yang diamati adalah data dan informasi usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic yang diusahakan oleh petani di Desa Cigedug. Variabel tersebut terlebih dahulu didefinisikan untuk mempermudah pengumpulan data yang mengacu pada pengertian di bawah ini: 1) Produktivitas kentang adalah total produksi pada sebidang tanah dengan luasan tertentu dalam periode tanam dan diukur dalam satuan ton per hektar (ton/ha). 2) Benih adalah jumlah benih kentang yang digunakan oleh petani luasan lahan tertentu dalam satu periode tanam dan diukur dalam satuan kilogram per hektar (kg/ha). 44 3) Pupuk kandang adalah jumlah pupuk kandang yang digunakan selama proses produksi dalam satu periode tanam dan diukur dalam satuan kilogram per hektar (kg/ha). 4) Unsur N adalah jumlah unsur Nitrogen yang digunakan dalam satu periode produksi dalam satuan kilogram per hektar (kg/ha). 5) Unsur P adalah jumlah unsur Fosfat yang digunakan dalam satu periode produksi dalam satuan kilogram per hektar (kg/ha). 6) Unsur K adalah jumlah unsur Kalium yang digunakan dalam satu periode produksi dalam satuan kilogram per hektar (kg/ha). 7) Fungisida adalah jumlah obat yang digunakan untuk membasmi ataupun mengurangi serangan hama dan penyakit dalam proses produksi kentang dalam satu periode tanam dan diukur dalam satuan kilogram per hektar (kg/ha). 8) Insektisida adalah jumlah obat yang digunakan untuk membasmi ataupun mengurangi serangan hama dalam proses produksi kentang dalam satu periode tanam dan diukur dalam satuan liter per hektar (lt/ha). 9) Perekat adalah jumlah obat yang digunakan untuk meratakan dan mempercepat penyerapan pestisida yang disemprotkan dalam proses produksi kentang dalam satu periode tanam dan diukur dalam satuan liter per hektar (lt/ha). 10) Tenaga kerja merupakan jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi dalam satu periode tanam, baik yang berasal dari dalam keluarga maupun luar keluarga. Tenaga kerja yang digunakan diukur dalam satuan Hari Orang Kerja (HOK). Biaya tenaga kerja dianalisis berdasarkan tingkat upah per HOK yang berlaku di lokasi penelitian. 11) Biaya total adalah jumlah biaya yang dikeluarkan selama proses produksi, yang meliputi biaya tunai dan biaya diperhitungkan dan diukur dalam satuan rupiah (Rp). 12) Biaya tunai adalah besaranya nilai uang tunai yang dikeluarkan petani dan diukur dalam satuan rupiah (Rp). 45 13) Biaya diperhitungkan adalah biaya faktor produksi milik sendiri yang digunakan dalam usahatani. Biaya ini sebenarnya tidak dibayarkan secara tunai hanya diperhitungkan saja untuk melihat pendapatan petani bila faktor produksi milik sendiri dibayar dan dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp). Biaya diperhitungkan terdiri dari benih, biaya penyusutan, nilai tenaga kerja dalam keluarga, dan sewa lahan. 14) Biaya penyusutan adalah biaya yang dikeluarkan karena adanya penyusutan alat-alat pertanian yang dihitung dengan metode garis lurus dan dihitung dengan menggunakan satuan rupiah (Rp). 15) Harga produk adalah harga jual rata-rata kentang varietas Granola dan varietas Atlantic yang diterima oleh petani dalam setiap kali panen dan diukur dalam satuan rupiah per kilogram (Rp/kg). 16) Harga input adalah harga rata-rata dari setiap faktor produksi (input) yang diperoleh petani dalam satuan rupiah (Rp) 17) Penerimaan tunai adalah nilai produksi kentang yang dijual petani dalam satu kali panen yang dikalikan dengan harga jual kentang yang diterima petani dan diukur dalam satuan rupiah (Rp). 18) Penerimaan diperhitungkan adalah nilai produksi kentang yang digunakan petani tetapi tidak dijual dalam satu kali panen yang dikalikan dengan harga jual kentang yang diterima petani dan diukur dalam satuan rupiah (Rp). 19) Pendapatan atas biaya tunai adalah selisih antara penerimaan tunai usahatani dan biaya tunai usahatani kentang dalam satuan rupiah (Rp). 20) Pendapatan atas biaya total adalah selisih antara penerimaan tunai usahatani dan biaya total usahatani kentang dalam satuan rupiah (Rp). 46 V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Karakteristik Wilayah dan Sosial Ekonomi Kemasyarakatan 5.1.1. Letak dan Kondisi Geografis Lokasi Penelitian Data monografi Desa Cigedug menunjukan bahwa luas wilayah secara keseluruhan adalah sebesar 1138,2 hektar sebagian besar merupakan lahan kering yakni sebesar 67,50 persen dan tanah hutan sebesar 16,36 persen. Umumnya lahan kering dan tanah hutan ditanami komoditas kentang, tomat, cabai, kubis, dan jagung. Lahan perkebunan yang sebesar 6,80 persen didominasi oleh komoditas tembakau dan teh. Pemanfaatan lahan lainnya seperti pemukiman, kolam, fasilitas umum, dan lain-lain sebesar 3,08 persen, 0,62 persen, 0,36 persen, dan 5,28 persen. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Distribusi Pemanfaatan Lahan Desa Cigedug Tahun 2011 Fungsi Lahan Luas Lahan (Ha) Persentase (%) Lahan sawah 0,00 0,00 Lahan kering 768,24 67,50 Perkebunan 77,39 6,80 Tanah hutan 186,21 16,36 Kolam 7,00 0,62 Fasilitas umum 4,14 0,36 Pemukiman 35,10 3,08 Lain-lain 60,12 5,28 Total 1138,20 100,00 Sumber: Desa Cigedug (2012a) Desa Cigedug terletak di pusat Kecamatan Cigedug sehingga akses ke pusat pemerintahan desa dan kecamatan dapat dijangkau dengan mudah. Hal tersebut mempermudah koordinasi dan penerimaan informasi antara pihak pemerintah dan masyarakat desa. Batas wilayah sebagai berikut: sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Cikajang, sebelah Timur berbatasan dengan Gunung Cikuray, sebelah Utara berbatasan dengan Desa Barusuda, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sukahurip. Lokasi penelitian dapat dicapai dari pusat pemerintahan Kecamatan Cigedug sejauh 3 m, Kabupaten Garut sejauh 30 km, Ibukota Provonsi Jawa Barat sejauh 90 km, dan Ibukota Negara sejauh 215 km. Lokasi penelitian yang jauh tersebut menyebabkan harga input produksi seperti pupuk kandang, pupuk kimia, obat-obatan, dan alat pertanian akan relatif lebih tinggi daripada lokasi yang lebih dekat dengan pusat pemerintahan. Desa Cigedug termasuk dataran tinggi dengan ketinggian tempat 1.300 meter dari permukaan laut dengan pH rata-rata lahan darat sebesar 5 – 7. Suhu udara rata-rata di daerah ini mencapai 18 °C – 29 °C, dengan curah hujan mencapai 1432,20 mm/tahun. Curah hujan tertinggi dicapai pada bulan April yaitu 416,20 mm. Hal ini menyebabkan pada bulan ini tanaman mudah terserang penyakit busuk akar dan busuk daun akibat udara yang sangat lembab. Kondisi geografis di lokasi penelitian ini sangat menunjang untuk budidaya tanaman hortikultura, khususnya sayuran. 5.1.2. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Cigedug terdiri dari 3 dusun, 12 RW, dan 53 RT. Jumlah penduduk sebanyak 10.360 jiwa hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Distribusi Penduduk Desa Cigedug Tahun 2012 RW Kampung Laki-laki 1 Kebon Satu 286 2 Ciredey 466 3 Areng 828 4 Barukai 627 5 Sukarame 497 6 Babakan I 473 7 Ds. Kolot 485 8 Situgede 380 9 Cigedug Tonggoh 349 10 Babakan II 285 11 Sindangwargi 297 12 Cicurug 249 Jumlah 5.222 Perempuan 267 452 837 618 503 460 498 383 328 271 270 251 5.138 Sumber : Desa Cigedug (Maret 2012b) Sarana infrastruktur Desa Cigedug dinilai cukup baik, hal ini dilihat dari kondisi jalan raya yang sudah diaspal, tersedianya sarana ibadah (Masjid dan Mushola) di setiap kampung hingga sarana olahraga (lapangan sepak bola, bulutangkis, dan bola voli). Sarana desa tersebut dapat digunakan oleh masyarakat untuk berinteraksi setelah bekerja di ladang, sehingga suasana kekeluargaan terjalin dengan baik. 48 Tabel 7. Distribusi Penduduk Desa Cigedug Berdasarkan Pendidikan Tahun 2011 No. Pendidikan Terakhir Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. Belum sekolah 1.638 19,61 2. Tidak tamat Sekolah Dasar 1.466 17,55 3. Sekolah Dasar (SD) 3.925 46,98 4. Sekolah Menengah Pertama (SMP) 930 11,13 5. Sekolah Menengah Atas (SMA) 335 4,01 6. D I 11 0,13 7. D 3 16 0,19 8. S1 34 0,41 Total 8.355 100,00 Sumber: Desa Cigedug (2012a) Tabel 7 menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Cigedug mengenyam pendidikan sampai Sekolah Dasar (46,98 persen), sedangkan Sekolah Menengah Pertama sebesar 11,13 persen, Sekolah Menengah Atas sebesar 4,01 persen, dan tidak tamat Sekolah Dasar sebesar 17,55 persen. Hal ini perlu mendapat perhatian dari pemerintah karena secara keseluruhan dapat diketahui bahwa kualitas pendidikan penduduk di lokasi penelitian sangat rendah. Tabel 8. Distribusi Penduduk Desa Cigedug Berdasarkan Pekerjaan Tahun 2011 No. Pekerjaan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. PNS 51 1,26 2. Petani 357 8,85 3. Buruh Tani 1778 44,08 4. Wiraswasta 353 8,75 5. Pedagang 297 7,36 7. Industri Rumah Tangga 712 17,65 8. Wiraswasta 353 8,75 9. Tukang Ojeg 70 1,74 10 Supir 4 0,10 11. TNI 1 0,02 12. Pensiunan 2 0,05 13. Pengrajin 37 0,92 14. POLRI 3 0,07 15. Montir 13 0,32 16. Dokter 1 0,02 18. TKW 2 0,05 4034 Jumlah 100,00 Sumber: Desa Cigedug (2012a) Berdasarkan data pada Tabel 8, komposisi penduduk berdasarkan matapencahariaan sebagian besar adalah buruh tani yang umumnya memiliki tingat pendidikan rendah. Dengan kualitas pendidikan tersebut, maka sebagian 49 besar matapencahariaan penduduk menjadi buruh tani mengikuti jejak orang tua mereka. Pemerintah perlu mengadakan sosialisasi dan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan bagi masyarakat. Sarana pendidikan yang tersedia di Desa Cigedug ini hanya Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, sedangkan Sekolah Menengah Atas belum tersedia. 5.2. Karakteristik Petani Varietas Granola dan Atlantic Berdasarkan hasil wawancara menunjukkan bahwa sebesar 46,67 persen petani responden menggunakan lahan pribadi dan 53,33 persen menggunakan lahan sewa. Sementara itu, petani responden varietas Atlantic sebesar 73,33 persen menggunakan lahan pribadi dan 26,67 persen menggunakan lahan sewa. Berdasarkan pemaparan tersebut, penggunaan lahan pribadi lebih banyak digunakan oleh petani responden varietas Atlantic daripada varietas Granola, hal tersebut dikarenakan petani responden varietas Atlantic di Desa Cigedug sebagian besar lahan yang digunakan merupakan lahan turun temurun dan telah lama dimiliki, Sebesar 80 persen petani responden varietas Granola dan 63,33 persen petani responden varietas Atlantic menggarap lahan kentang kurang dari sama dengan setengah hektar (≤ 0,5 ha), dan 20 persen petani responden varietas Granola dan 36,67 persen petani responden varietas Atlantic menggarap lahan lebih dari setengah hektar (> 0,5 – 2 ha). Banyaknya petani yang menggarap usahatani kurang dari dari sama dengan setengah hektar disebabkan keterbatasan modal yang dimiliki petani. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan biaya usahatani kentang relatif lebih besar daripada komoditas lain, seperti wortel, sawi, dan kubis sehingga semakin besar luas lahan kentang, maka kebutuhan biaya usahatani akan semakin besar pula. Sebesar 76,67 persen petani responden kentang varietas Granola mempunyai pekerjaan pokok sebagai petani kentang varietas Granola dan sebesar 17,65 persen lainnya memiliki pekerjaan utama seperti dosen, wiraswasta, pegawai di perusahaan swasta, maupun petani komoditas lain. Sementara itu, sebesar 90 persen petani responden varietas Atlantic memiliki pekerjaan utama sebagai petani kentang varietas Atlantic dan 10 persen lainnya memiliki pekerjaan utama sebagai pengajar maupun wiraswasta. Dengan demikian, sebagian besar 50 petani responden baik varietas Granola maupun Atlantic menggantungkan hidupnya dari pertanian. Alasan petani responden menaman varietas Granola yaitu, benih dapat digunakan dari hasil seleksi panen sebelumnya dan tanaman lebih tahan terhadap hama-penyakit daripada varietas Atlantic. Sementara itu, alasan petani responden menanam varietas Atlantic yaitu, harga jual yang relatif lebih tinggi daripada varietas Granola, kepastian pasar, dan terdapat pinjaman modal dari perusahaan mitra (PT IFM) berupa benih yang dapat dibayar setelah panen atau yang dikenal dengan istilah yarnen (bayar setelah panen). Selain itu, petani juga mendapat pembinaan terkait teknlogi budidaya yang baru dari pihak agrofield PT IFM. Tabel 9. Distribusi Petani Responden Varietas Granola Menurut Usia di Desa Cigedug No. Usia Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. 21 – 30 7 23,33 2. 31 – 40 9 30,00 3. 41 – 50 10 33,33 4. 51 – 60 2 6,67 5. 61 – 70 2 6,67 Total 30 100 Berdasarkan Tabel 9 dapat terlihat sebagian besar petani responden varietas Granola berusia antara 41 – 50 tahun sebanyak 33,33 persen. Hal tersebut juga terjadi pada petani responden varietas Atlantic yang sebagian besar petani responden berusia 41 – 50 tahun (Tabel 10). Usia 41 – 50 tahun termasuk dalam usia produktif, yang merupakan usia ketika seseorang masih mampu bekerja dan menghasilkan sesuatu9. Tabel 10. Distribusi Petani Responden Varietas Atlantic Menurut Usia di Desa Cigedug No. Usia Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. 21 – 30 3 10,00 2. 31 – 40 6 20,00 3. 41 – 50 11 36,67 4. 51 – 60 7 23,33 5. 61 – 70 3 10,00 Total 30 100,00 9 Kamus Besar. http://www.kamusbesar.com/59391/usia-produktif [diakses pada 12 Juli 2012] 51 Pada umumnya petani responden baik varietas Granola maupun Atlantic dalam penelitian ini memiliki tingkat pendidikan yang rendah (Tabel 11 dan Tabel 12). Berdasarkan Tabel 12, sebesar 56,67 persen petani kentang varietas Granola di Desa Cigedug mengenyam pendidikan sampai tingkat SD. Responden yang menamatkan pendidikan hingga SMP dan SMA masing-masing sebesar 30,00 persen dan 10,00 persen. Sementara itu, responden yang mencapai jenjang pendidikan S1 sebesar 3,33 persen. Tabel 11. Distribusi Petani Responden Varietas Granola Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Cigedug No Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1 SD 17 56,67 2 SMP 9 30,00 3 SMA 3 10,00 4 S1 1 3,33 Total 30 100,00 Sama halnya dengan petani responden varietas Granola, petani responden varietas Atlantic sebagian besar menempuh pendidikan hingga tingkat sekolah dasar (Tabel 13). Rendahnya pendidikan yang ditempuh sebagian besar petani responden baik varietas Granola maupun Atlantic dikarenakan keterbatasan modal yang dimiliki untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tidak tersedianya tingkat pendidikan yang ingin ditempuh di lokasi penelitian, dan petani responden merasa telah tercukupi akan pendidikan yang ditempuh sampai tingkat sekolah dasar saja. Namun, tinggi pendidikan yang ditempuh bukan merupakan satu-satunya tolak ukur untuk menilai keberhasilan seseorang. Tabel 12. Distribusi Petani Responden Varietas Atlantic Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Cigedug No Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1 SD 20 66,67 2 SMP 6 20,00 3 SMA 2 6,67 4 S1 2 6,67 Total 30 100,01 Berdasarkan pengalaman usahatani kentang varietas Granola, sebagian besar petani responden memiliki pengalaman kurang dari 11 tahun (56,67 persen) (Tabel 13). Hal tersebut dikarenakan terdapat beberapa responden yang baru 52 menanam varietas Granola dan juga ada yang sempat berhenti lalu mulai menanam kembali secara rutin (minimal satu tahun sekali) kurang dari 11 tahun ini. Namun demikian, pengetahuan responden mengenai usahatani kentang Granola sudah dikenal dari responden masih kecil, karena umumnya usahatani kentang Granola ini merupakan usaha turun-temurun keluarga. Tabel 13. Distribusi Petani Responden Varietas Granola Menurut Pengalaman Bertani di Desa Cigedug No. Pengalaman Bertani (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. < 11 17 56,67 2. 11 – 20 8 26,67 3. 21 – 30 4 13,33 4. 31 – 40 1 3,33 Total 30 100,00 Apabila dilihat dari pengalaman petani responden varietas Atlantic, sebagian besar petani responden memiliki pengalaman antara 6 – 10 tahun (43,33 persen). Hal tersebut dikarenakan pada tahun 2003 benih kentang varietas Atlantic mulai banyak tersedia oleh PT IFM, sehingga banyak petani yang berkesempatan menanam kentang varietas Atlantic. Selain itu, sebelum adanya pengenalan dan bantuan benih kentang varietas Atlantic dari PT IMF, umumnya petani kentang varietas Atlantic dahulu merupakan petani kentang varietas Granola. Dengan demikian, pengetahuan petani responden mengenai budidaya kentang telah cukup tinggi. Berikut ini disajikan tabel distribusi petani responden varietas Atlantic menurut pengalaman bertani di lokasi penelitian. Tabel 14. Distribusi Petani Responden Varietas Atlantic Menurut Pengalaman Bertani di Desa Cigedug No. Pengalaman Bertani (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. 15 1 3,33 Total 30 100,00 5.3. Keragaan Usahatani Kentang 5.3.1. Kegiatan Budidaya Kentang Kegiatan budidaya kentang pada umumnya berupa proses persiapan lahan, penanaman, penyulaman, pemeliharaan, dan pemanenan. Kegiatan pemeliharaan 53 meliputi pemasangan ajir, pembumbunan, penyiangan, pemupukan, dan pengobatan. Faktor produksi yang umum digunakan pada musim hujan dalam usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic di Desa Cigedug, antara lain luas lahan, benih, pupuk kandang, pupuk kimia yang mengandung unsur N, P, dan K, fungisida, insektisida, perekat, dan tenaga kerja. 1) Persiapan Lahan Persiapan lahan sebelum kegiatan produksi meliputi pengolahan tanah, membuat guludan, pemberian pupuk dasar, dan membuat jarak tanam. Hal tersebut dijelaskan di bawah ini. a) Pengolahan tanah Pengolahan tanah bertujuan untuk menggemburkan tanah, memutuskan, dan memusnakan siklus hama dan penyakit yang berada dalam tanah dengan menggunakan bantuan cangkul, sehingga dapat menghilangkan gas-gas beracun yang memungkinkan berada di dalam tanah. Selain itu, tanah yang diolah membuat struktur tanah tidak padat sehingga dapat melancarkan penyerapan air kedalam tanah. Air yang berlebihan dapat membuat tanah menjadi becek dan lembab terutama saat musim hujan. Keadaan tersebut menyebabkan penurunan produktivitas akibat serangan penyakit seperti, seperti busuk daun (Phytopthora infestans) dan layu tanaman (Fusarium). Umumnya kegiatan ini dilakukan kurang lebih satu minggu. b) Pembuatan guludan atau bedengan Lahan garapan kentang umumnya disiapkan dengan sistem guludan atau bedengan. Guludan atau bedengan ini merupakan tanah yang dibuat lebih tinggi dengan bantuan cangkul dari dasar permukaan tanah dan berguna untuk menutupi umbi kentang yang akan dihasilkan. Lebar yang digunakan oleh petani responden sebesar 75 – 80 cm, tinggi ± 20 cm, dan jarak antar bedengan 40 – 60 cm. c) Pemberian pupuk dasar Pemupukan dasar adalah memberikan hara dasar di dalam tanah pada guludan atau bedengan yang telah disiapkan. Hal tersebut bertujuan supaya tanah selalu tersedia unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman secara optimal oleh benih kentang yang baru ditanam. Pupuk dasar yang digunakan berupa pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang 54 yang sudah jadi karena pupuk yang belum jadi dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Sementara itu, pupuk dasar anorganik yang digunakan adalah pupuk ZA, TSP, dan KCl. Bedenga n Gambar 4. Pemberian Pupuk Dasar Berupa Pupuk Kandang di Lahan yang Telah Dibuat Bedengan Waktu penggunaan pupuk dasar anorganik yaitu lima hingga tujuh hari setelah pemberian pupuk kandang. Dosis yang digunakan untuk varietas Granola dan Atlantic dapat dilihat pada Tabel 15. Pupuk dasar yang telah diberikan kemudian ditimbun dengan tanah agar tidak mudah larut oleh air atapun menguap. Tabel 15. Penggunaan Pupuk Dasar Rata-rata Petani Kentang Varietas Granola dan Atlantic per Hektar Varietas No. Jenis Pupuk Satuan Granola Atlantic 1 Pupuk kandang Kg 24.473,01 25.342,28 Pupuk kimia: ZA Kg 1.027,33 749,46 2 TSP Kg 1.063,44 965,85 KCl Kg 394,75 342,31 2) Penanaman Berdasarkan hasil wawancara dengan petani responden, sebesar 70,59 persen benih kentang varietas Granola yang digunakan petani di lokasi penelitian merupakan benih dari hasil seleksi panen sebelumnya dan 26,67 persen lainnya membeli dari petani di lokasi penelitian ataupun kios pertanian di Pengalengan, Bandung. Generasi yang digunakan di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 16. Umumnya penggunaan benih dari hasil seleksi musim sebelumnya dapat digunakan hingga generasi kelima (G5) karena setelah generasi kelima akan mengalami penurunan hasil dan mudah tertular penyakit (Prahardini 2006). Setelah itu, petani akan membeli benih baru generasi ketiga (G3) atau keempat (G4). 55 Tabel 16. Sebaran Penggunaan Generasi Kentang Varietas Granola di Tingkat Petani pada Musim Hujan 2011 – 2012 Generasi Jumlah Petani (Orang) Persentase (%) 6 20,00 G3 11 36,66 G4 11 36,67 G5 2 6,67 G6 30 100,00 Total Sementara itu, pada varietas Atlantic sebagian besar petani membeli benih baru (G4) di vendor PT Indofood Fritolay Makmur Desa Cigedug sebesar 93,33 persen dan sebesar 6,06 persen membeli sebagian benih yang akan digunakan. Berdasarkan hasil wawancara, pada varietas Atlantic benih dari hasil seleksi musim sebelumnya hanya dapat digunakan hingga generasi kelima (G5). Hal tersebut dikarenakan benih dari hasil panen sebelumnya lebih mudah terkena hama-penyakit sehingga apabila digunakan akan mengurangi tingkat produktivitas yang dihasilkan. (a) (b) Gambar 5. Benih Varietas (a) Granola dan (b) Atlantic yang Disimpan di Tempat Terbuka Penggunaan benih kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic yang berasal dari hasil panen sebelumnya dilakukan dengan menyeleksi benih kentang berdasarkan kondisi fisiknya. Umbi yang dijadikan bibit umumnya tidak memiliki cacat. Waktu yang dibutuhkan pada proses pembenihan hingga menjadi bibit kurang lebih tiga bulan. Benih kentang yang siap ditanam telah diseleksi berdasarkan kondisi fisiknya dan memiliki tunas yang tumbuh di umbi sekitar 2 – 3 cm. Menurut Samadi (2007), penggunaan benih yang semakin besar dapat meningkatkan produksi kentang. Hal tersebut serupa dengan hasil wawancara dengan petani responden. Namun, beberapa petani responden yang apabila 56 menggunakan benih berukuran sedang, benih tersebut akan dibelah menjadi dua. Jumlah responden yang menggunakan benih secara utuh ataupun dibelah dapat dilihat pada Tabel 17. Benih akan cepat terkontaminasi virus apabila benih dibelah. Hal tersebut dapat diminimalisasi dengan menggunakan teknik yang benar, sehingga benih yang dibelah tersebut justru akan menguntungkan petani karena dapat menghemat biaya penggunaan benih. Tabel 17. Sebaran Perlakuan Benih Kentang Berdasarkan Jumlah Responden pada Musim Hujan 2011 – 2012 Perlakuan Benih per Petani (Orang) Total Varietas (%) Utuh (Orang) (%) Belah (Orang) (%) (Orang) Granola 30 100,00 0 0,00 30 100,00 Atlantic 18 60,00 12 40,00 30 100,00 Penanaman dilakukan setelah dua minggu hingga empat minggu ketika lahan telah siap. Hal-hal yang berpengaruh selama kegiatan penanaman adalah pengaturan waktu tanaman, pengaturan jarak tanam, dan cara menanam. a) Pengaturan waktu tanam Waktu tanam yang digunakan dalam penelitian ini adalah pada musim hujan. Pada musim ini ketersedian air dapat mencukupi kebutuhan tanaman, namun risiko gagal panen tinggi (Samadi 2007). Namun, sebagian besar petani di lokasi penelitian mengimbanginya dengan pemeliharaan yang lebih intensif, seperti penyemprotan pestisida dan pembumbunan yang lebih sering sehingga produksi tanaman cukup baik. Waktu tanam yang digunakan semua petani responden adalah pada pagi hari, karena pagi merupakan waktu yang baik untuk menanam. Penanaman pada siang hari akan menyebabkan tanaman layu sehingga akan penghambat pertumbuhannya. b) Pengaturan jarak tanam Jarak tanam yang digunakan sedikit berbeda antara varietas Granola dengan varietas Atlantic. Pada varietas Granola jarak tanam dalam barisan ratarata petani adalah 38,17 cm dan lebar bedengan adalah 77,17 cm, sedangkan varietas Atlantic memiliki jarak tanam dalam barisan rata-rata 38,67 cm dan lebar bedengan adalah 78,17 cm. Jarak antar bedengan pada varietas Granola dan Atlantic berkisar antara 40 – 60 cm. Jarak tanam yang digunakan petani tersebut tidak berbeda secara nyata, padahal menurut Effendie (2002), penggunaan jarak 57 tanam antara kentang industri (varietas Atlantic) harus lebih besar daripada kentang sayur (varietas Granola). Hal tersebut dikarenakan tanaman kentang varietas Atlantic lebih tinggi dan kanopi daunnya lebih lebar sehingga jarak tanam harus lebih lebar agar dapat meminimalisasi serangan penyakit busuk daun. Setelah jarak tanam ditentukan, petani membuat lubang tanam ataupun larikan untuk menaruh benih yang telah disiapkan. c) Cara menanam Cara penanaman yang digunakan petani di lokasi penelitian adalah dengan meletakkan umbi secara mendatar dalam lubang tanaman ataupun larikan dan tunas menghadap ke atas. Berdasarkan hasil wawancara, penanaman ini menggunakan benih varietas Granola dengan ukuran berdiameter 50 mm dengan berat rata-rata 30 – 50 gram. Sementara itu, pada varietas Atlantic menggunakan benih berdiameter kurang lebih 70 mm dengan berat rata-rata 50 – 80 gram. Jika benih tersebut berukuran besar, umumnya petani membelah benihnya untuk mengurangi pengeluaran biaya benih. 3) Penyulaman Benih yang ditanam tidak semuanya tumbuh baik. Tanaman yang kurang baik pertumbuhannya, seperti kerdil, rusak, atau mati harus diganti dengan tanaman yang baru (disulam). Kegiatan penyulaman ini bertujuan untuk menjaga jumlah tanaman yang di lahan sehingga tidak terjadi penurunan produksi. Penyulaman ini dilakukan ketika tanaman berumur dua minggu setelah tanam (14 HST). Berdasarkan hasil wawancara, bibit yang mati pada musim hujan antara satu hingga lima persen dari total populasi tanaman. Gambar 6. Penyulaman Bibit yang Mati 58 Petani responden baik varietas Granola maupun varietas Atlantic jarangmelakukan penyulaman. Hal tersebut dapat diliihat bahwa sebesar 16,67 persen petani kentang varietas Granola melakukan penyulaman dan 83,33 persen lainnya tidak melakukan penyulaman. Sementara itu, sebesar 30,00 persen petani kentang varietas Atlantic melakukan penyulaman dan 70,00 persen petani tidak melakukan penyulaman. Alasan petani tidak melakukan penyulaman adalah agar tanaman disekitarnya mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak sehingga umbi kentang yang dihasilkan memiliki ukuran yang lebih besar. Selain itu, alasan tidak dilakukan penyulaman adalah keterbatasan modal yang dimiliki. 4) Pemeliharaan Pemeliharaan tanaman masih tetap diperlukan untuk menjaga pertumbuhan tanaman kentang normal dan tetap sehat. Kegiatan pemeliharaan terdiri dari pemupukan susulan, penyiangan, pembumbunan, pengajiran, penalian, penyiraman, dan pengobatan. a) Pengajiran dan penalian Lokasi penelitian berada di dataran tinggi dengan ketinggian tempat di atas 1.200 meter dari permukaan laut menyebabkan suhu udara rendah dan kelembapan udaranya tinggi. Udara lembab dapat meningkatkan serangan penyakit dan jamur pada tanaman. Dalam mengatasi hal tersebut maka petani responden tanaman kentang memberi ajir agar tanaman tumbuh tegak dan daerah di bawah naungan daun dapat terkena sinar matahari sehingga penyakit busuk daun dapat diminimalisasi. Penancapan ajir ini ketika tanaman kentang berumur 15 HST (Hari Setelah Tanam). Gambar 7. Penancapan Ajir pada Umur 15 HST Gambar 8. Penalian Tanaman Kentang pada Umur 60 HST Penalian dilakukan untuk menempelkan batang tanaman kentang ke ajir yang ditancapkan. Petani kentang varietas Granola melakukan penalian sebanyak 59 dua kali, yaitu pada umur 16 HST dan 50 HST. Sementara itu, petani kentang varietas Atlantic umumnya melakukan penalian sebanyak tiga kali, yaitu pada umur 16 HST, 45 HST, dan 65 HST. Kegiatan penalian pada kentang varietas Atlantic lebih banyak dibandingkan varietas Granola. Hal ini dikarenakan tanaman kentang varietas Atlantic lebih tinggi daripada varietas Granola, sehingga membutuhkan lebih banyak penalian agar tanaman kentang tetap tegak. b) Penyiangan dan pembumbunan Gulma atau rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman kentang akan menjadi pesaing dalam kebutuhan air, sinar matahari, unsur hara, dan lain-lain bagi tanaman pokok. Petani responden baik varietas Granola maupun Atlantic melakukan penyiangan sekaligus dengan pembumbunan. Hal tersebut bertujuan untuk meminimalisasi pengeluaran biaya tenaga kerja dan efisiensi waktu. Sebagian besar petani responden melakukan kegiatan ini sebanyak dua kali dalam satu musim tanam yaitu pada umur 25 dan 60 HST. Penyiangan merupakan kegiatan mencabut ataupun menghilangkan gulma di sekitar tanaman kentang dan dilakukan secara manual dengan menggunakan peralatan seperti kored dan cangkul. Pembumbunan merupakan kegiatan menambahkan tanah pada bedengan dengan menggunakan cangkul yang berguna untuk merangsang pembentukan akar baru sehingga dapat menambah lebih banyak umbi kentang, melindungi umbi kentang dari sinar matahari karena dapat menimbulkan racun solanin, membantu pembesaran umbi, dan memperkokoh berdirinya batang tanaman kentang. c) Pemupukan susulan Pemupukan susulan dilakukan untuk menambah kebutuhan hara untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman sehingga umbi kentang dapat tumbuh normal10. Pemupukan susulan dilakukan ketika tanaman kentang berumur kurang lebih 30 HST. Masing-masing sebesar 83,33 persen petani responden kentang varietas Granola dan varietas Atlantic yang melakukan pemupukan susulan dan 16,67 persen petani responden tidak melakukan pemupukan susulan. Penggunaan pupuk kimia saat pemupukan dasar telah mencukupi unsur hara yang dibutuhkan tanaman hingga panen dan adanya keterbatasan modal menjadi alasan petani tidak 10 Widodo M. op.cit. Hlm 13 60 melakukan pemupukan susulan. Pupuk yang digunakan pada pemupukan susulan adalah pupuk majemuk (NPK), seperti pupuk Mutiara ataupun Phonska. Sebesar 100 persen petani responden kentang varietas Granola menggunakan pupuk Phonska untuk pemupukan susulan. Sementara itu, pada responden petani kentang varietas Atlantic hanya sebesar 12,00 persen yang menggunakan pupuk Mutiara dan 88,00 persen menggunakan pupuk Phonska. Dosis penggunaan pupuk susulan yang dilakukan petani responden pada Tabel 18. Tabel 18. Dosis Pemupukan Susulan Rata-rata yang Digunakan Petani pada Musim Hujan 2011 – 2012 Dosis per hektar (kg/ha) Pupuk Majemuk Varietas Granola Varietas Atlantic NPK Phonska 335,03 349,55 NPK Mutiara 0,00 53,79 Total 335,03 403,34 d) Penyiraman Kegiatan penyiraman umumnya dilakukan pada musim kemarau, sehingga pada penelitian ini tidak dilakukan penyiraman. Hal tersebut dikarenakan pada musim hujan kebutuhan air telah terpenuhi dari air hujan. e) Pengobatan Hama dan penyakit merupakan faktor penghambat pertumbuhan tanaman yang mendatangkan kerugian karena dapat menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas kentang yang dihasilkan. Oleh karena itu, petani responden melakukan upaya pengendalian atau pemberantasan hama-penyakit agar dapat meminimalisasi kerugian yang ditimbulkan. Frekuensi pengobatan bergantung pada serangan hama-penyakit. Semakin banyak serangan hama-penyakit, maka frekuensi pengobatan yang dilakukan akan semakin sering. Frekuensi pengobatan pada musim hujan adalah 3 – 4 hari sekali pada varietas Granola dan 2 – 3 hari sekali pada varietas Atlantic tergantung dari tingkat serangan hama dan penyakit. Waktu penyemprotan dimulai saat tanaman berumur 10 hingga 90 HST, sehingga dalam satu musim tanam kentang varietas Granola di musim hujan penyemprotan yang dilakukan petani sebanyak 15 – 20 kali, sedangkan pada kentang verietas Atlantic 21 – 25 kali penyemprotan. 61 Frekuensi penyemprotan pada varietas Atlantic lebih sering daripada varietas Granola karena serangan hama dan penyakit pada varietas Atlantic lebih tinggi daripada varietas Granola. Berdasarkan hasil wawancara, apabila varietas Atlantic mulai terserang hama dan penyakit hal tersebut akan mengakibatkan produktivitas kentang dapat berkurang 50 – 70 persen bahkan beberapa petani sempat mengalami gagal panen akibat serangan penyakit yang menyebabkan tanaman layu (Fusarium). Sehingga untuk mencegah terjadinya gagal panen tersebut, petani melakukan penyemprotan pestisida lebih sering dan bahkan melebihi dosis anjuran yang disarankan. Berdasarkan hasil wawancara, penggunaan dosis yang melebihi anjuran dikarenakan adanya pola pikir petani bahwa semakin banyak pestisida yang disemprotkan maka tanaman dapat bertahan dari serangan hama dan penyakit. Gambar 9. Penyemprotan Obat-obatan Merek yang digunakan setiap petani untuk pengobatan berbeda-beda, namun memiliki kandungan zat aktif yang serupa. Zat aktif yang digunakan petani kentang baik varietas Granola maupun Atlantic dapat dilihat pada Tabel 19. Penggunaan pestisida yang sejenis (sama-sama fungisida ataupun insektisida) sering kali digunakan secara bersama atau yang dikenal dengan istilah dioplos. Zat aktif yang digunakan petani dalam satu kali pengoplosan sebanyak satu hingga tiga jenis zat aktif. Hal tersebut bertujuan agar hama dan penyakit yang menyerang tanaman cepat musnah. Pada musim hujan obat-obatan yang disemprotkan ke tanaman kentang mudah tercuci, sehingga setiap penyemprotan pestisida petani menggunakan cairan perekat yang berguna untuk meratakan dan mempercepat penyerapan zat aktif yang diberikan ke tanaman kentang. Merek dagang perekat yang rata-rata digunakan petani responden, yaitu di antaranya Super Go, Lantish, dan Apsa. Alat 62 yang digunakan untuk penyemprotan pestisida adalah “kompa” (handsprayer) dan mesin semprot berbahan bakar bensin (sansin). Tabel 19. Zat Aktif yang Digunakan Petani Responden untuk Mengatasi Serangan Hama dan Penyakit pada Musim Hujan 2011 - 2012 Zat Aktif Merek Dagang OPT Sasaran Fungisida Klorotalonil Daconil, Phytoklor, Kudanil. Phytophthora infestans Propineb Aurora, Antracol. Phytophthora infestans Bazoka, Indothane, Phytophthora infestans, Kencozep, Unizep, Atlternaria solani, Fusarium Mankozeb Vondozep, Polyzeb, Victory, oxysporum Zebindo, Raksasa. Dimetomorf Sirkus, Acrobat. Phytophthora infestans Insektisida Liriomyza huidobrensis, Demolish, Vapcomic, Abamektin Myzus persicae, Thrips, Agrimec, Schumec Phthorimaea opeculella Liriomyza huidobrensis, Profenofos Akron, Curacron, Callicron. Thrips, Phthorimaea opeculella Permethrin Pounce Thrips Imidakloprid Confidor, Rudor Myzus persicae, Thrips Liriomyza huidobrensis, Klorfenapir Rampage Myzus persicae, Thrips, Phthorimaea opeculella Liriomyza huidobrensis, Klorantraniliprol Prevathon Phthorimaea opeculella Karbosulfran Marshal Thrips Myzus persicae, Deltametrin Decis Phthorimaea opeculella Siromazin Trigard Liriomyza huidobrensis Keterangan : * Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 442/Kpts/SR.140/9/2003 tentang Pendaftaran dan Pemberian Izin Tetap Pestisida11 5) Panen dan Pascapanen Panen di lokasi penelitian umumnya dilaksanakan setelah kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic berumur 80 – 100 hari tergantung pada kondisi tanaman. Jika tanaman kuat, dapat dipanen 100 hari atau lebih dan jika tanaman terkena penyakit, tanaman dapat dipanen pada umur kurang dari 100 11 Peraturan Perundang-undangan Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2003. Pendaftaran dan Pemberian Izin Tetap Pestisida. http://dokumen.deptan.go.id/doc/BDD2.nsf/ 828b6c655a82612e4725666100335d9e/91759cb02af1e3f5c725711b002d85b3?OpenDocument [Diakses pada 18 Oktober 2012] 63 hari. Ciri-ciri tanaman kentang yang dapat dipanen yaitu adanya perubahan warna daun dari hijau segar menjadi kekuningan yang bukan disebabkan oleh penyakit dan kulit umbi kentang tidak mudah lecet atau terkelupas. Pemanenan yang dilakukan petani responden secara tradisional, yaitu menggunakan tangan. Tenaga kerja tersebut menggunakan bantuan potongan kayu atau sendok nasi yang tidak merusak umbi untuk mempermudah pembongkaran bedengan. Cangkul hanya digunakan ketika tanah bedengan sangat keras dan sulit untuk dibongkar. Harga jual kentang varietas Granola dipengaruhi harga pasar dan ukuran umbi yang dihasilkan. Berdasarkan hasil wawancara, harga jual kentang varietas Granola ini bergantung dengan hari panen raya kentang di Dieng, Jawa Tengah. Jika di Dieng, Jawa Tengah sedang panen raya, maka harga kentang varietas Granola di Desa Cigedug jatuh. Untuk menyiasati jatuhnya harga jual tersebut, sebagian petani menyimpan umbi kentang tersebut selama maksimal satu minggu hingga harga jualnya membaik, sementara sebagian petani lainnya pasrah terhadapa harga jual pada saat panen. Penjualan kentang varietas Granola pada Tabel 20 berdasarkan ukuran umbi yang dihasilkan. Ukuran berat yang digunakan adalah AL (> 200 gram/umbi), A (120 – 200 gram/umbi), dan B (80 – 120 gram/umbi) sedangkan ukuran C (50 – 80 gram/umbi) digunakan untuk konsumsi sendiri dan ukuran DN (30 – 50 gram/umbi) dijadikan bibit (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut 2011). Tabel 20. Sebaran Ukuran Rata-rata yang Dihasilkan Kentang Varietas Granola pada Musim Hujan 2011 – 2012 per Hektar Ukuran Berat (ton) Harga (Rp/kg) Persentase (%) AL 11,33 3.914,44 49,28 A 6,56 2.579,88 28,53 B 1,99 1.791,42 8,66 C 0,34 3.747,40 1,47 DN 2,78 9.780,89 12,10 Total 22,99 100,04 Berdasarkan Tabel 20 dapat dilihat bahwa sebagian besar grade yang dihasilkan petani berukuran AL sebesar 49,28 persen dan A sebesar 28,53 persen. Kualitas umbi kentang yang dapat dijual memiliki ciri-ciri, yaitu tidak banyak 64 cacat dan greening (warna hijau pada umbi) yang menandakan adanya racun solanin. Rata-rata produktivitas kentang varietas Granola adalah 22,99 ton/ha. Berdasarkan hasil wawancara, kentang varietas Atlantic diklasifikasikan berdasarkan ukuran dan kualitas umbi. Dalam segi ukuran terdapat berbagai macam ukuran, antara lain undersize (berdiameter < 35 – 70 mm dengan berat 60 – 100 gram/umbi), standard (berdiameter 70 – 100 mm dengan berat 100 – 200 gram/umbi), oversize (berdiameter > 100 mm dengan berat > 200 gram/umbi). Sedangkan kualitas yang diterima dilihat dari sisi penampakan yang baik, seperti tidak terdapat cacat (kulit utuh, bentuk umbi mulus, dan bentuk teratur) dan tidak greening (terdapat warna hijau pada umbi). Ukuran yang diterima PT IFM adalah standard dan oversize, sedangkan ukuran undersize umumnya dibuat benih, dikonsumsi, ataupun ditinggal di ladang. Kentang varietas Atlantic yang cacat dan greening pun juga ditinggal di ladang, tetapi bila kondisi umbi yang cacat ataupun greening hanya sedikit, umumnya diambil oleh buruh tani setelah selesai panen. Rata-rata produktivitas kentang varietas Atlantic adalah 21,27 ton/ha dan jumlah umbi kentang Atlantic yang dapat dijual ke vendor PT IFM rata-rata sebesar 20,06 ton/ha dan 1,21 ton/ha lainnya dijadikan bibit ataupun dikonsumsi. Pada varietas Atlantic harga jual tidak dipengaruhi oleh harga kentang sayur di pasar. Hal tersebut dikarenakan harga tersebut telah ditentukan oleh pihak PT IFM yaitu sebesar Rp 4.950,00 per kilogram untuk semua jenis ukuran yang diterima PT IFM, sedangkan umbi yang akan dijadikan bibit pada masa tanam berikutnya dihargai Rp 10.000,00 per kilogram. Berdasarkan hasil panen petani kedua varietas dapat dilihat bahwa produktivitas rata-rata kedua varietas relatif cukup tinggi. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar responden telah membudidayakan kentang lebih dari enam tahun dan juga telah mengenal usahatani kentang dari kecil, sehingga petani responden memiliki pengalaman yang cukup banyak dalam usahatani kentang. Setelah panen selesai, hasil panen kentang tersebut dikemas menggunakan karung berjaring yang dikenal dengan sebutan waring. Sebesar 46,67 persen petani kentang varietas Granola langsung menjual hasil panen tersebut ke pasar Cikajang (pasar terdekat) ataupun diambil tengkulak di lokasi penelitian yang 65 dekat dengan sarana transportasi. Sementara itu, sebesar 53,33 persen lainnya menyimpan hasil panen hingga harga jual membaik dan kemudian menjualnya ke pasar Cikajang maupun tengkulak. Berbeda dengan petani kentang varietas Granola, petani kentang varietas Atlantic tidak melakukan penyimpanan. Hal tersebut dikarenakan kentang varietas Atlantic telah memiliki jadwal tersendiri untuk melakukan pemanenan. Kemudian, hasil panen kentang varietas Atlantic diangkut oleh pihak vendor PT IFM di lokasi penanaman petani responden yang mudah di akses oleh kendaraan pengangkut. Gambar 10. Umbi Kentang Greening Gambar 11. Umbi Kentang Siap Dijual 5.3.2. Kegiatan Pemasaran Kentang Petani kentang varietas Granola sebesar 76,67 persen menjual hasil panennya ke tengkulak dan 23,33 persen lainnya menjual ke pasar Cikajang (pasar terdekat dari Desa Cigedug). Tengkulak mengumpulkan hasil panen para petani dan kemudian menjualnya ke pedagang pengumpul besar atau langsung menjual ke Pasar Caringin, Pasar Induk Keramat Jati, ataupun Pasar Tanah Tinggi. Berdasarkan hasil wawancara, ketiga pasar tersebut merupakan pasar tujuan para tengkulak ataupun pedagang pengumpul besar karena memiliki harga jual relatif lebih tinggi dan ketersedian kentang di ketiga pasar tersebut belum mencukupi kebutuhan konsumen, sehingga tengkulak ataupun pedagang pengumpul memiliki peluang untuk mengisi kekurangan ketersediaan tersebut. Pada kegiatan penentuan harga kentang varietas Granola di lokasi penelitian, antara petani dan tengkulak didasarkan pada harga yang berlaku di pasar dan proses tawar-menawar, dimana kedua belah pihak umumnya mendapatkan informasi dari sesama petani ataupun tengkulak lainnya. Harga yang ditawarkan tengkulak ke petani kentang varietas Granola di lokasi penelitian sedikit berbeda dengan harga jual pasar, yaitu memiliki selisih harga berkisar 66 antara Rp 100,00 – 500,00 per kg. Berdasarkan hasil wawancara, selisih harga tersebut termasuk keuntungan tengkulak, biaya transportasi, retribusi pasar, dan biaya lainnya. Petani yang menjual hasil panennya ke pasar memiliki harga jual rata-rata lebih tinggi dari pada petani yang menjual hasil panen ke tengkulak (Gambar 12). Walaupun demikian, sebagian besar petani menjual hasil panennya ke tengkulak dikarenakan adanya keterikatan dalam pengadaan modal dan kemudahan pada transaksi jual beli sehingga petani tidak perlu mengangkut hasil panennya ke pasar. Tengkulak Pasar Cikajang Rp 1.802,17 Rp 1.942,86 Ukuran: Ukuran: AL A B 9% 10% 30% 34% 61% 56% Rp 3.700,00 Rp 4.142,86 Rp 2.857,14 AL A B Rp 2.621,74 Gambar 12. Distribusi Harga Jual Kentang Varietas Granola (Rp/kg) Berdasarkan Ukuran yang Dihasilkan Sesuai Tempat Tujuan Penjualan pada Musim Hujan 2011 – 2012 Petani kentang varietas Atlantic di lokasi penelitian menjual hasil panennya langsung ke vendor PT IFM Desa Cigedug dengan harga yang telah berlaku dalam kontrak. Harga tersebut umumnya berubah setiap tahunnya, disesuaikan berdasarkan harga kentang yang berlaku . Harga jual tersebut berlaku untuk semua ukuran yang diterima pihak PT IFM, oversize ataupun standard, dengan harga yang sama yaitu Rp 4.950,00 per kilogram. 5.3.3. Penggunaan Sarana Produksi Kentang Sarana produksi merupakan hal yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu kegiatan usahatani untuk menghasilkan suatu keluaran (output). Saran produksi yang digunakan petani kentang di Desa Cigedug terdiri dari lahan, benih, pupuk 67 kandang, pupuk kimia (pupuk ZA, TSP, KCl, Mutiara, dan Phonsca), fungisida, insektisida, perekat, tenaga kerja, dan peralatan usahatani. 1) Lahan Lahan merupakan tempat yang digunakan petani kentang untuk menjalankan kegiatan usahatani. Kepemilikan lahan yang digunakan petani responden baik kentang varietas Granola maupun varietas Atlantic berbeda-beda, yaitu lahan pribadi dan lahan sewa. Rata-rata penggunaan lahan garapan untuk mengelola kentang varietas Granola adalah 0,41 hektar dan varietas Atlantic sebesar 0,55 hektar. Sehingga dapat dikatakan golongan petani kentang di Desa Cigedug sempit (≤ 0,5 ha) dan sedang (0,5 – 2 ha). Penggunaan lahan garapan bergantung pada jumlah modal yang dimiliki, hal tersebut dikarenakan semakin luas lahan yang digunakan maka biaya yang dikeluarkan pun akan semakin besar. 2) Benih Benih yang baik menjadi salah satu faktor penentu produksi kentang di Desa Cigedug. Benih yang digunakan dapat berasal dari hasil seleksi panen sebelumnya ataupun membeli benih baru. Produksi yang dihasilkan salah satunya dipengaruhi oleh generasi benih yang digunakan. Sebagian besar generasi benih yang digunakan petani varietas Granola adalah G4 dan G5, sedangkan generasi yang digunakan petani varietas Atlantic adalah G4. Petani membeli benih kentang varietas Granola di kios dan petani di lokasi penelitian ataupun Pengalengan. Sementara itu, benih kentang varietas Atlantic petani membelinya di vendor PT IFM lokasi penelitian. Rata-rata harga benih kentang varietas Granola yang digunakan petani adalah Rp 12.533,33, sedangkan varietas Atlantic adalah Rp 12.416,67. Rata-rata harga benih tersebut dihitung berdasarkan harga beli tunai dan harga benih diperhitungkan petani. Harga benih (G3 – G5) varietas Granola tunai yang dibeli petani berkisar antara Rp 12.000,00 sampai Rp 20.000,00 per kg, sedangkan harga beli benih (G4) varietas Atlantic adalah Rp 12.500,00 per kg. Harga benih varietas Granola bergantung pada generasi benih yang dibeli. Generasi benih yang beredar di pasar mulai dari generasi ketiga dan keempat (G3 dan G4), namun di beberapa tempat ada yang menjual generasi kedua (G2). Angka tersebut menunjukkan berapa kali benih tersebut telah diperbanyak. 68 Semakin kecil angka tersebut, maka harga benih semakin tinggi dan semakin baik untuk digunakan. Hal tersebut dikarenakan benih tersebut lebih sedikit terinfeksi hama dan penyakit. Kebutuhan benih kentang dengan jarak tanam 70 cm x 30 cm adalah 1.300 – 1.700 kg per hektar (Samadi 2007). Rata-rata benih yang digunakan petani responden kentang varietas Granola per hektarnya sebanyak 1.806,12 kg, sedangkan varietas Atlantic 1.939,13 kg. Perbedaan penggunaan benih kentang tersebut dikarenakan varietas Atlantic memiliki ukuran berat benih yang lebih besar daripada varietas Granola. Ukuran berat benih kentang varietas Granola, yaitu 30 – 50 gram/umbi, sedangkan varietas Atlantic 60 – 100 gram/umbi. 3) Pupuk Kandang Pupuk kandang digunakan oleh petani responden untuk menjaga kesuburan tanah karena banyak mengandung bahan organik sebagai unsur hara yang dibutuhkan tanah. Pupuk kandang berguna untuk memperbaiki struktur tanah, memperbaiki kehidupan biologi tanah, dan kandungan mikrobanya berperan dalam proses dekomposisi bahan organik (Pratiwi 2011). Pupuk kandang digunakan satu kali dalam satu periode tanam, yaitu ketika pemupukan dasar. Pupuk kandang yang digunakan adalah pupuk kandang yang berasal dari kotoran sapi. Petani responden dapat memperoleh pupuk kandang yang sudah kering ataupun masih basah di peternak lokasi penelitian. Umumnya petani membeli pupuk kandang dalam kondisi masih basah karena harganya relatif lebih murah berkisar antara Rp 13.000,00 – Rp 14.000,00 per karung (± 45 kg/karung), sedangkan pupuk yang sudah kering memiliki harga jual Rp 16.000,00 – Rp 18.000,00 (± 45 kg/karung). Rata-rata penggunaan pupuk kandang pada varietas Granola adalah 24.473,01 kg, sedangkan varietas Atlantic adalah 25.342,28 kg. 4) Pupuk Kimia Pupuk kimia yang digunakan pada usahatani kentang terdiri dari pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal yang digunakan adalah pupuk ZA, TSP, dan KCl, sedangkan pupuk majemuk yang digunakan adalah pupuk NPK Mutiara atau Phonska. Pupuk tunggal digunakan ketika pemupukan dasar, sedangkan pupuk majemuk digunakan untuk pemupukan susulan. 69 a) Pupuk ZA Pupuk ZA merupakan jenis pupuk kimia yang mengandung 21 persen Nitrogen (N). Unsur hara Nitrogen memiliki peran penting pada tanaman kentang, yaitu untuk merangsang pertunasan bibit, meningkatkan pertumbuhan daun, batang, dan ranting, meningkatkan pembentukan protein, dan meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara lainnya (Fosfat, Kalium, dan lainnya) (Samadi 2007). Alasan petani tidak menggunakan pupuk Urea untuk memenuhi unsur Nitrogen karena pupuk Urea memiliki kandungan Nitrogen yang tinggi sehingga sangat mudah larut dalam air dan cepat menguap. Oleh karena itu, petani menggukan pupuk ZA untuk memenuhi unsur hara Nitrogen. Petani responden membeli pupuk ZA di kios di lokasi penelitian dengan harga Rp 90.000 per karung atau senilai Rp 1.800,00 per kg. Rata-rata penggunaan pupuk ZA pada varietas Granola adalah 1.027,33 kg per hektar, sedangkan varietas Atlantic 749,46 kg per hektar. b) Pupuk TSP Pupuk TSP merupakan jenis pupuk kimia yang mengandung 36 persen Fosfat (P). Unsur hara Fosfat sangat berpengaruh terhadap pembentukan dan pertumbuhan perakaran sehingga dapat memperkuat tanaman serta meningkatkan penyerapan unsur hara dan air. Selain itu, unsur Fosfat berpengaruh terhadap pembentukan umbi dan kandungan zat pati. Petani responden membeli pupuk TSP di kios di lokasi penelitian dengan harga rata-rata Rp 1.800,00 per kg. Rata-rata penggunaan pupuk TSP pada varietas Granola adalah 1.063,44 kg per hektar, sedangkan varietas Atlantic 965,85 kg per hektar. c) Pupuk KCl Pupuk KCl merupakan pupuk kimia yang mengandung unsur Kalium (K). Unsur hara Kalium dibutuhkan untuk membentuk karbohidrat dalam umbi, meningkatkan penyerapan air sehingga mencegah tanaman layu, meningkatkan ketahanan terhadap penyakit, memperbesar umbi, dan meningkatkan daya simpan umbi. Petani responden membeli pupuk KCl di kios di lokasi penelitian dengan harga rata-rata Rp 2.000,00 per kg. Rata-rata penggunaan pupuk KCl pada varietas Granola adalah 394,75 kg/ha, sedangkan varietas Atlantic 342,31 kg/ha. 70 d) Pupuk NPK Mutiara dan Phonska Pupuk NPK Mutiara mengandung unsur Nitrogen, Fosfat, dan Kalium dengan perbandingan 16:16:16, sedangkan NPK Phonska memiliki perbandingan 15:15:15. Perbandingan tersebut menunjukkan ketersedian unsur hara yang seimbang. Ketiga unsur hara tersebut merupakan gabungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman kentang. Petani yang menggunakan pupuk NPK Mutiara hanya sebesar lima persen dari total keseluruhan responden dan 95 persen lainnya menggunakan pupuk NPK Phonska. Hal tersebut dikarenakan harga pupuk NPK Mutiara lebih mahal, yaitu sebesar Rp 7.000,00 per kg, sedangkan pupuk NPK Phonska Rp 2.300,00 per kg sehingga petani cenderung menggunakan NPK Phonska. Petani responden membeli pupuk NPK tersebut di kios di lokasi penelitian Sebesar lima persen pengguna NPK Mutiara tersebut merupakan petani kentang varietas Atlantic. Rata-rata dosis yang digunakan petani kentang varietas Atlantic terhadap NPK Mutiara adalah 53,79 kg per hektar dan NPK Phonska adalah 349,55 kg per hektar. Sementara itu, rata-rata penggunaan pupuk NPK Phonska petani kentang varietas Granola adalah 335,03 kg per hektar. Berdasarkan penjelasan di atas, apabila diuraikan berdasarkan unsur-unsur yang terkandung di dalam pupuk kimia maka rata-rata petani kentang varietas Granola di lokasi penelitian menggunakan unsur N sebesar 265,99 kg/ha, P sebesar 433,09 kg/ha, dan K sebesar 287,10 kg/ha masing-masing sebanyak. Sementara itu, pada varietas Atlantic menggunakan unsur N sebesar 218,42 kg/ha, P sebesar 408,74 kg/ha, dan K sebesar 266,42 kg/ha. Berdasarkan data tersebut, penggunaan unsur NPK pada varietas Granola lebih besar daripada varietas Atlantic padahal menurut Effendie (2002) seharusnya penggunaan unsur NPK pada varietas Atlantic lebih besar daripada varietas Granola. 5) Obat-obatan Obat-obatan yang digunakan dalam usahatani kentang pada musim hujan adalah fungisida, insektisida, dan perekat. Rata-rata penggunaan obat-obatan melebihi dosis anjuran (Tabel 21). Berdasarkan data BP3K Cigedug 2012 menyatakan bahwa penerapan penggunaan obat-obatan secara terpadu pada petani 71 di Desa Cigedug baru mencapai 28 persen. Berdasarkan wawancara dengan petani responden, rendahnya ketercapaian tersebut dikarenakan petani responden tidak ingin mengikuti penyuluhan dari pihak penyuluh pertanian lapang (PPL). Mereka menganggap bahwa mereka lebih pintar dan berpengalaman dibandingkan dengan pihak PPL. Hal ini terkait dengan pendidikan yang ditempuh petani responden yang hanya mencapai tingkat pendidikan dasar, sehingga pola pikir mereka kurang terbuka dengan teknologi ataupun pengetahuan yang baru. Selain itu, pengalaman petani responden dalam usahatani kentang juga menjadi alasan ketidakinginan petani responden untuk mengikuti penyuluhan. Penggunaan Rata-rata Obat Berdasarkan Kandungan Aktif yang Digunakan Petani Responden Varietas Granola dan Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 Dosis Penggunaan Petani Responden Harga (Rp Zat Aktif Dosis Anjuran* per kg/lt) Varietas Varietas Granola Atlantic Fungisida Klorotalonil 18,27 kg 22,96 kg 2,50 – 10,00 kg 136.666,67 Propineb 17,20 kg 41,17 kg 5,00 – 10,00 kg 150.000,00 Mankozeb 36,20 kg 60,26 kg 3,75 – 20,00 kg 57.818,18 Dimetomorf 12,23 kg 33,67 kg 25.000,00 Insektisida Abamektin 0,27 lt 0,24 lt 1,25 – 2,50 lt 1.025.000,00 Profenofos 45,60 lt 54,26 lt 2,50 – 5,00 lt 78.333,33 Permethrin 3,55 lt 5,65 lt 1,25 – 2,50 lt 50.000,00 Imidakloprid 1,31 lt 3,38 lt 0,10 – 0,20 lt 437.500,00 Klorfenapir 1,68 lt 7,00 lt 600.000,00 Klorantraniliprol 0,99 lt 1,01 lt 0,20 – 0,30 lt 500.000,00 Karbosulfran 100,00 lt 372,73 lt 7,50 – 15,00 lt 600.000,00 Deltametrin 0,00 lt 156,25 lt 2,50 – 5,00 lt 60.000,00 Promokarb 0,38 lt 1,25 lt 1,50 – 2,25 lt 900.000,00 hidroklorid Siromazin 0,47 lt 0,51 lt 1,50 – 3,00 lt 1.250.000,00 Perekat Alkyl Aril Alkoksilat, 10,27 lt 16,62 lt 8,33 – 16,66 lt 46.200,00 Asam Olet Tabel 21. Keterangan : * Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 442/Kpts/SR.140/9/2003 tentang Pendaftaran dan Pemberian Izin Tetap Pestisida 72 a) Fungisida Fungisida yang digunakan petani responden umumnya untuk mencegah, memberantas, atau mengurangi penyakit yang disebabkan oleh cendawan yang sering menyerang, seperti Phytophthora infestans penyebab busuk daun, Atlternaria solani penyebab bercak kering, dan Fusarium oxysporum penyebab tanaman layu. Penggunaan jenis fungisida dalam usahatani kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic serupa dalam hal kandungan zat aktif, namun merek dagang yang digunakan petani beraneka ragam. Hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan, pengalaman petani lain, keinginan, dan kemampuan petani responden untuk membeli. Namun, merek dagang fungisida yang banyak petani kentang gunakan adalah Daconil, Antracol, Indothane, Unizep, dan Sirkus. Petani membeli berbagai macam fungisida tersebut di kios di lokasi penelitian. Rata-rata penggunaan fungisida pada kentang varietas Granola sebanyak 57,93 kg/ha yang mengandung Klorotalonil sebanyak 18,27 kg/ha, Propineb sebanyak 17,20 kg/ha, Mankozeb 36,20 kg/ha, dan Dimetomorf 12,23 kg/ha Sementara itu, rata-rata penggunaan fungisida pada kentang varietas Atlantic sebanyak 125,50 kg/ha yang mengandung Klorotalonil sebanyak 22,96 kg/ha, Propineb sebanyak 41,17 kg/ha, Mankozeb sebanyak 60,26 kg/ha, dan Dimetomorf sebanyak 33,67 kg/ha (Tabel 21). Penggunaan fungisida pada varietas Atlantic yang lebih banyak disebabkan frekuensi penyemprotan yang lebih sering daripada varietas Granola. Hal tersebut dikarenakan varietas Atlantic lebih mudah terkena serangan hama dan penyakit, sehingga petani menggunakan banyak fungisida untuk mengatasi serangan penyakit. Rata-rata harga fungisida yang digunakan untuk varietas Granola dan varietas Atlantic per kilogram adalah Rp 111.677,30 dan Rp 90.695,62. Harga rata-rata varietas Atlantic yang lebih rendah daripada varietas Granola dikarenakan kebutuhan fungisida yang lebih tinggi pada varietas Atlantic menyebabkan kebutuhan fungisida menjadi lebih banyak, sehingga petani menggunakan zat aktif dengan harga yang relatif lebih murah namun dapat mengatasi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). 73 b) Insektisida Insektisida yang digunakan petani responden umumnya untuk mencegah, memberantas, atau mengurangi hama yang sering menyerang, seperti Liriomyza huidobrensis (lalat penggorok daun), Myzus persicae (kutu daun), Thrips (trip), Phthorimaea opeculella (penggerek umbi). Penggunaan jenis insektisida dalam usahatani kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic tidak berbeda dalam hal kandungan zat aktif, namun merek dagang yang digunakan petani beraneka ragam. Hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan petani untuk membeli. Namun, merek dagang insektisida yang banyak petani kentang gunakan adalah Demolish, Curacron, Callicron, Confidor, dan Prevathon. Petani membeli berbagai macam insektisida tersebut di kios di lokasi penelitian. Rata-rata penggunaan insektisida pada kentang varietas Granola sebanyak 7,64 lt/ha yang mengandung Abamektin 0,27 lt/ha, Profenofos 45,60 lt/ha, Permethrin 3,55 lt/ha, Imidakloprid 1,31 lt/ha, Klorfenapir 1,68 lt/ha, Klorantraniliprol 0,99 lt/ha, Karbosulfran 100,00 lt/ha, Promakarb hidroklorida 0,38 lt/ha, dan Siromazin 0,47 lt/ha. Sementara itu, rata-rata penggunaan insektisida pada kentang varietas Atlantic sebanyak 9,18 lt/ha yang mengandung Abamektin 0,24 lt/ha, Profenofos 54,26 lt/ha, Permethrin 5,65 lt/ha, Imidakloprid 3,38 lt/ha, Klorfenapir 7,00 lt/ha, Klorantraniliprol 1,01 lt/ha, Karbosulfran 372,73 lt/ha, Deltametrin156,25 lt/ha, Promakarb hidroklorida 1,25 lt/ha, dan Siromazin 0,51 lt/ha (Tabel 21). Penggunaan insektisida pada varietas Atlantic yang lebih banyak disebabkan frekuensi penyemprotan yang lebih sering daripada varietas Granola. Hal ini dikarenakan varietas Atlantic lebih mudah terkena serangan hama dan penyakit, sehingga petani menggunakan banyak insektisida untuk mengatasi serangan hama. Rata-rata harga insektisida untuk varietas Granola dan varietas Atlantic per liter adalah Rp 284.069,71 dan Rp 263.163,37. c) Perekat Setiap melakukan penyemprotan baik fungisida maupun insektisida, petani responden mencampurkan pestisida yang digunakan dengan perekat. Kegunaan perekat adalah untuk meratakan dan mempercepat proses penyerapan pestisida yang disemprotkan ke tanaman kentang, sehingga pestisida tersebut tidak semua 74 tercuci oleh air hujan. Masing-masing petani responden menggunakan perekat dengan merek dagang yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan keinginan petani untuk membeli. Namun, merek dagang perekat yang banyak petani kentang gunakan adalah Apsa, Lantish, dan Super Go yang mengandung zat aktif Alkyl Aril Alkoksilat dan Asam Olet. Petani membeli berbagai macam perekat tersebut di kios di lokasi penelitian. Rata-rata penggunaan perekat pada kentang varietas Granola sebanyak 10,27 lt/ha, sedangkan varietas Atlantic sebanyak 16,62 lt/ha. Frekuensi dan volume penyemprotan pestisida varietas Atlantic yang lebih banyak daripada varietas Granola menyebabkan penggunaan perekat pada varietas Atlantic lebih banyak daripada varietas Granola. Rata-rata harga perekat untuk varietas Granola dan varietas Atlantic per liter adalah Rp 37.246,43 dan Rp 49.827,35 (Tabel 21). 6) Tenaga Kerja Proses produksi kentang yang dilakukan petani responden meliputi persiapan lahan, penanaman, penyulaman, pemeliharaan, dan pemanenan. Penggunaan tenaga kerja pada setiap proses kegiatan produksi berbeda-beda, disesuaikan dengan jenis pekerjaannya. Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani kentang adalah tenaga kerja manusia yang terdiri dari tenaga kerja pria dan tenaga kerja wanita. Penggunaan tenaga kerja dapat berasal dari dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Penggunaan tenaga kerja dalam usahatani ini menggunakan satuan hari orang kerja (HOK), dimana 1 hari kerja pria (HKP) = 1 hari orang kerja (HOK) dan 1 hari kerja wanita (HKW) = 0,7 hari kerja pria (HKP) (Hernanto 1996). Pembayaran upah tenaga kerja dibedakan berdasarkan jenis kelamin karena adanya perbedaan kapasistas yang dibebankan. Upah yang diberikan setiap satu hari kerja, yaitu Rp 15.000,00 untuk pria dan Rp 10.000,00 untuk wanita. Jam kerja yang digunakan petani dari jam 07.00 – 12.00 WIB. Rata-rata penggunaan tenaga kerja dalam usahatani kentang varietas Granola per hektar sebanyak 643,33 HOK, sedangkan varietas Atlantic sebanyak 635,60 HOK per hektar. Adapun penggunaan tenaga kerja baik dari dalam keluarga maupun luar keluarga pada setiap kegiatan usahatani dapat dilihat pada Tabel 22 dan 23. 75 Tabel 22. Penggunaan Tenaga Kerja (HOK) per Hektar dalam Usahatani Kentang Varietas Granola pada Musim Hujan 2011 – 2012 Dalam Keluarga Luar Keluarga Kegiatan Usahatani Total HOK L P L P Persiapan Lahan 40,84 9,69 54,98 41,15 146,67 Penanaman 10,22 5,50 16,11 17,26 49,08 Penyulaman 1,88 0,15 0,17 0,15 2,34 Pemeliharaan - Pemasangan Ajir 8,42 3,85 8,55 6,09 26,91 - Penalian 9,20 10,26 7,19 24,17 50,82 - Penyiangan dan 12,47 4,99 13,66 14,96 46,08 pembumbunan - Pemupukan Susulan 7,82 2,07 5,80 3,77 19,46 - Pengobatan 113,79 11,63 90,84 0,78 217,04 Panen 12,23 7,59 29,47 35,63 84,93 Total 216,86 55,73 226,76 143,98 643,33 Jumlah HOK 272,59 363,69 643,33 Tabel 23. Penggunaan Tenaga Kerja per Hektar dalam Usahatani Kentang Varietas Atlantic pada Musim Hujan 2011 – 2012 Dalam Keluarga Luar Keluarga Kegiatan Usahatani Total HOK L P L P Persiapan Lahan 11,92 0,45 61,22 83,35 156,94 Penanaman 2,30 0,68 12,00 22,05 37,04 Penyulaman 0,50 0,08 0,26 0,26 1,26 Pemeliharaan - Pemasangan Ajir 2,59 0,65 12,00 12,00 27,51 - Penalian 3,18 1,80 45,17 45,17 71,72 - Penyiangan dan 3,33 0,04 26,79 26,79 48,27 pembumbunan - Pemupukan Susulan 1,68 0,35 3,70 3,70 9,75 - Pengobatan 50,20 6,27 131,23 0,00 187,70 Panen 3,96 2,05 58,66 58,66 95,39 Total 79,67 12,36 251,98 251,98 635,60 Jumlah HOK 92,03 543,56 635,60 Berdasarkan data pada Tabel 22 dan 23 didapat bahwa penggunaan tenaga kerja terbesar pada kegiatan pemeliharaan. Hal tersebut dikarenakan kegiatan pemeliharaan terdiri dari kegiatan pemasangan ajir, penalian, penyiangan sekaligus pembumbunan, pemupukan susulan, dan pengobatan. Selain itu, kegiatan persiapan lahan juga menyerap banyak tenaga kerja karena persiapan lahan terdiri dari pengolahan lahan, pembuatan bedengan, dan pemberian pupuk dasar. Tenaga kerja dalam keluarga yang terlibat dalam usahatani kentang di Desa 76 Cigedug terdiri dari suami dan istri, sedangkan anak sebagian besar tidak ikut serta dalam kegiatan usahatani kentang. Keterlibatan keluarga pada petani responden varietas Granola relatif lebih banyak dibandingkan dengan varietas Atlantic. Hal tersebut dikarenakan tenaga kerja dalam keluarga (istri) pada petani responden varietas Atlantic umumnya hanya terlibat saat penanaman dan pemanenan, sedangkan pada petani responden varietas Granola tenaga istri umumnya ikut serta dalam setiap kegiatan usahatani kentang. Apabila dibandingkan dalam hal penggunaan tenaga kerja tersebut, terlihat bahwa perbandingan penggunaan tenaga kerja pada varietas Granola lebih seimbang antara penggunaan tenaga kerja dalam keluarga dan luar keluarga dibandingkan dengan varietas Atlantic. Hal tersebut tentunya akan mempengaruhi biaya yang dikeluarkan dalam usahatani kentang dimana semakin banyak tenaga kerja luar keluarga yang digunakan maka akan semakin banyak pula biaya tunai yang dikeluarkan. Berdasarkan penggunaan input usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic yang telah dijelaskan di atas, rata-rata penggunaan input dalam kentang varietas Granola dan varietas Atlantic secara lebih singkat dapat dilihat pada Tabel 24. Tabel 24. Rekapitulasi Rata-rata Penggunaan Input Produksi dalam Usahatani Kentang Varietas Granola dan Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Varietas Granola Varietas Atlantic No Uraian Jumlah Harga (Rp) Jumlah Harga (Rp) 1. Benih (kg) 1.806,12 12.533,33 1.939,13 12.416,67 2. Pupuk kandang (kg) 24.473,01 296,73 25.342,28 315,89 3. Pupuk kimia Pupuk ZA (kg) 1.027,33 1.800,00 749,46 1.800,00 Pupuk TSP (kg) 1.063,44 1.800,00 965,85 1.800,00 Pupuk KCl (kg) 394,75 2.000,00 342,31 2.000,00 Pupuk Mutiara (kg) 0,00 0,00 53,79 7.000,00 Pupuk Phonska (kg) 335,03 2.300,00 349,55 2.300,00 4. Obat-obatan Fungisida (kg) 57,93 111.677,30 125,50 90.695,62 Insektisida (lt) 7,64 284.069,71 9,18 263.163,37 Perekat (lt) 10,27 37.246,43 16,62 49.827,35 5. Tenaga Kerja (HOK) 480,02 15.000,00 565,33 15.000,00 77 5.3.4. Keragaan Usaha Pertanian Kontrak (Contract Farming) Usaha pertanian kontrak antara petani dengan PT Indofood Fritolay Makmur (PT IFM) mulai dirintis di Kecamatan Cigedug pada tahun 1995, namun kerjasama ini sempat gagal karena kentang yang dihasilkan berwarna hitam dan pecah-pecah, kemudian terhenti pada tahun 1998 karena tidak tersedianya benih kentang. Varietas yang digunakan dalam usaha pertanian kontrak ini adalah varietas Atlantic. Penanaman varietas Atlantic mulai banyak dibudidayakan pada tahun 2003 karena benih kentang varietas Atlantic di Desa Cigedug banyak tersedia, sehingga petani memiliki banyak kesempatan untuk bergabung dalam usaha pertanian kontrak dengan PT IFM. Vendor (ketua kelompok tani) dipilih oleh PT IFM sebagai mediator antara pihak PT IFM dengan petani mitra. Petani mitra adalah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Silih Riksa. Pada awalnya, petani yang tergabung dalam usaha pertanian kontrak adalah mereka yang memiliki hubungan dekat dengan perwakilan PT IFM. Pemilihan petani mitra berikutnya adalah berdasarkan rekomendasi dari petani mitra terdahulu. Dengan demikian, yang melatarbelakangi petani mitra dalam usaha pertanian kontrak di Desa Cigedug yaitu hubungan sesama petani mitra berdasarkan kekeluargaan dan kekerabatan; dan adanya kedekatan dengan ketua kelompok tani yang memiliki akses ke PT IFM. Berdasarkan hasil wawancara, para petani yang mengikuti usaha pertanian kontrak dapat dikatakan petani yang memiliki lahan sedang (0,5 – 2 ha) dan bermodal besar. Petani-petani tersebut dikenal dengan istilah “petani kapital”. Hal tersebut dikarenakan usahatani kentang dalam usaha pertanian kontrak ini memerlukan biaya usahatani kentang yang lebih besar daripada kentang varietas lain, seperti varietas Granola. Usaha pertanian kontrak di Desa Cigedug dilaksanakan secara informal, yakni hanya dijelaskan secara lisan ketika pertemuan bersama petani anggota Kelompok Tani Silih Riksa dengan perwakilan PT IFM. Hal ini berarti tidak terdapat perjanjian tertulis yang menjelaskan secara tegas hak dan kewajiban antara petani dan PT IFM. Modal utamanya adalah komitmen, integritas, dan kesanggupan petani dalam mengusahakan kentang varietas Atlantic. 78 Perjanjian dalam usaha pertanian kontrak secara implisit menjelaskan bahwa PT IFM akan menyediakan benih kentang dengan kualitas terjamin, melakukan pembinaan teknis budidaya yang didampingi oleh agrofield (pihak yang mengawasi dan membina budidaya kentang varietas Atlantic), dan menampung hasil petani dengan harga dan spesifikasi produk yang telah ditetapkan. Sementara itu, pihak petani mitra akan berusaha memenuhi permintaan pasokan bahan baku kentang yang dibutuhkan PT IFM. Sistem penyediaan benih dalam usaha pertanian kontrak antara PT IFM dengan petani mitra dilakukan melalui satu pintu, yaitu melalui vendor yang berfungsi sebagai distributor benih kentang varietas Atlantic ke petani mitra dan pemasok kentang ke perusahaan mitra (PT IFM). Benih tersebut dijual ke petani mitra dengan harga yang telah ditetapkan yaitu sebesar Rp 12.500,00 per kilogram, dimana proses pembayarannya dihitung pada saat penjualan hasil panen ke pihak vendor PT IFM, hal ini dikenal dengan istilah yarnen atau bayar setelah panen. Benih yang didistribusikan oleh PT IFM ke petani mitra merupakan benih impor yang berasal dari Scotlandia dan Australia. Pihak PT IFM belum menggunakan benih hasil penangkaran dalam negeri. Hal tersebut dikarenakan kualitas benih penangkaran lokal belum terjamin secara kualitasnya. Hasil panen petani mitra dibeli oleh vendor PT IFM dengan harga Rp 4.950,00 per kilogram dengan spesifikasi produk yang telah ditetapkan. Petani mitra memiliki jadwal pemanenan yang didasarkan hasil pengawasan pihak agrofiled terhadap kegiatan budidaya kentang yang dilakukan petani mitra. Hal tersebut bertujuan agar tidak terjadi penumpukan hasil panen kentang varietas Atlantic di Desa Cigedug. Hasil panen tersebut akan diangkut oleh vendor PT IFM dari lokasi yang dapat diakses dengan menggunakan truk, sehingga apabila lahan petani berada di atas gunung atau bukit, maka petani harus mengangkutnya hingga ke lokasi yang dapat diakses truk vendor PT IFM. Petani mitra dibebankan biaya operasional yang mencakup biaya angkut dan sortasi. Biaya operasional tersebut dihitung berdasarkan jumlah waring (wadah untuk menampung hasil panen kentang) yang digunakan petani mitra. Biaya satu buah waring yaitu sebesar Rp 1.000,00 yang dapat memuat kurang lebih 80 kilogram umbi kentang. Kemudian pihak PT IFM membayar ke vendor 79 seharga Rp 5.300,00 per kilogram. Margin dari vendor ke petani kemudian dari PT IFM ke vendor digunakan sebagai biaya angkut, upah kuli muat, dan kas kelompok. Apabila petani mengalami gagal panen, pihak PT IFM memberikan tenggang waktu untuk membayar benih yang telah dibelinya. Tenggang waktu yang diberikan hingga musim tanam varietas Atlantic berikutnya. Pihak PT IFM sendiri tidak menyediakan faktor produksi lain selain benih yang diperlukan dalam usahatani kentang varietas Atlantic, sehingga petani menggunakan modal sendiri ataupun pinjaman untuk memenuhi kebutuhan faktor produksi (input) yang akan digunakan. Adanya kerjasama kontrak ini dapat saling memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Bagi pihak PT IFM, yaitu adanya kontinuitas penyediaan bahan baku industri, sedangkan bagi petani kentang di lokasi penelitian yaitu, adanya ketersediaan benih, keterjaminan pasar, dan kepastian harga bagi produksi kentang varietas Atlantic yang dihasilkan petani. Kendala usahatani kentang varietas Atlantic yang dialami petani mitra sejauh ini adalah adanya keterlambatan jadwal kedatangan benih. Apabila lahan yang telah siap, namun benih terlambat datang, maka petani yang bersangkutan memanfaatkan lahan tersebut untuk ditanami dengan jenis tanaman lain. Kemudian setelah benih datang, mereka kesulitan mencari lahan lain untuk disewa. Sementara itu, kendala yang dihadapi oleh pihak perusahaan mitra adalah terdapat beberapa petani mitra yang tidak jujur terkait penjualan umbi kentang yang dihasilkan, sehingga pihak PT IFM memutuskan hubungan dengan petani mitra tersebut. 5.3.5. Keragaan Usaha Nonpertanian Kontrak (Noncontract Farming) Varietas kentang yang digunakan petani yang tidak tergabung dalam usaha pertanian kontrak adalah varietas Granola. Varietas ini telah dibudidayakan secara turun temurun. Bahkan sebelum membudidayakan varietas Atlantic, petani kentang tersebut sebagian besar pernah membudidayakan kentang varietas Granola. Secara garis besar, teknik budidaya petani nonmitra (varietas Granola) relatif serupa dengan petani mitra (varietas Atlantic). Perbedaannya dapat terlihat 80 pada perawatan kentang varietas Granola tidak seintensif perawatan kentang varietas Atlantic. Hal utama yang menjadi permasalahan usahatani kentang varietas Granola adalah harga jual kentang yang lebih rendah daripada varietas Atlantic dan cenderung berfluktuatif. Rata-rata harga jual kentang varietas Granola yang dihitung berdasarkan grade adalah Rp 2.819,31 per kilogramnya sedangkan harga jual varietas Atlantic adalah Rp 4.950,00 per kilogram. Kegiatan contract farming Kelompok Tani Silih Riksa dengan PT IFM dapat dijadikan contoh bagi kelompok tani yang lain agar dapat membangun ataupun memperkuat kelembagaan yang ada, sehingga dapat petani memiliki bargaining position yang kuat. Pada umumnya petani nonmitra memiliki keinginan yang tinggi untuk mengikuti usaha pertanian kontrak, namun permasalahannya adalah ketersedian modal yang dimiliki dan kurang kedekatan petani dengan vendor PT IFM maupun dengan petani lain pemberi rekomendasi ke vendor PT IFM. Walaupun demikian, mereka tetap menanam kentang varietas Granola. Hal tersebut dikarenakan varietas Granola lebih tahan terhadap hama dan penyakit, serta bibit yang digunakan dapat berasal dari hasil panen sebelumnya. Oleh karena itu, petani dapat meminimalisasi biaya tunai yang dikeluarkan dalam usahatani kentang. 5.4. Analisis Pendapatan Usahatani Analisis pendapatan usahatani berguna untuk memberikan gambaran mengenai keuntungan ataupun kerugian dari suatu usahatani yang dihitung berdasarkan jumlah penerimaan yang didapat dikurangi biaya yang dikeluarkan. Analisis pendapatan usahatani meliputi analisis pendapatan atas biaya tunai dan analisis pendapatan atas biaya total. Pada komponen biaya, biaya yang dikeluarkan oleh petani terdiri dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan. Analisis pendapatan usahatani dilakukan dengan membandingkan petani responden berdasarkan varietas yang sekaligus berdasarkan sistem pertanian kontrak yang dijalankan dalam luasan lahan per hektar. Varietas yang digunakan dalam usaha nonpertanian kontrak adalah varietas Granola, sedangkan varietas yang digunakan dalam usaha pertanian kontrak adalah varietas Atlantic. 81 5.4.1. Analisis Penerimaan Usahatani Kentang Penerimaan usahatani kentang dihitung berdasarkan rata-rata luasan lahan petani responden yang dikonversi per hektar dalam satu periode tanam. Satu periode tanam dalam usahatani kentang rata-rata selama empat bulan. Nilai penerimaan yang diperoleh petani merupakan nilai dari perhitungan rata-rata hasil panen kentang petani responden dalam satu hektar dikalikan dengan harga jual kentang rata-rata. Perhitungan penerimaan usahatani kentang terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan yang diperhitungkan. Penerimaan tunai merupakan penerimaan atas hasil yang dijual petani ke pasaran. Pada varietas Granola, kentang dijual berdasarkan ukuran umbi kentang tersebut. Rata-rata harga jual kentang varietas Granola per kilogram untuk grade AL sebesar Rp 3.914,44, grade A sebesar Rp 2.579,88, dan grade B sebesar Rp 1.791,42, sehingga penerimaan tunai yang diperoleh petani kentang varietas Granola sebesar Rp 64.820.599,21 (Tabel 25). Penerimaan yang diperhitungkan merupakan penerimaan atas hasil produksi yang dikonsumsi sendiri ataupun dijadikan benih. Kentang varietas Granola yang dikonsumsi sendiri memiliki nilai Rp 1.264.305,61 dan yang dijadikan benih senilai Rp 27.202.896,83 sehingga penerimaan diperhitungkan yang diperoleh petani kentang varietas Granola sebesar Rp 28.467.202,43 (Tabel 25). Dengan demikian, total penerimaan usahatani kentang varietas Granola sebesar Rp 93.287.801,64. Tabel 25. Rata-rata Penerimaan Usahatani Kentang Varietas Granola per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Penerimaan Tunai Komponen Jumlah (ton) Harga (Rp/kg) Nilai (Rp) Grade AL 11,33 3.914,44 44.341.388,89 Grade A 6,56 2.579,88 16.919.107,14 Grade B 1,99 1.791,42 3.560.103,17 Total 64.820.599,21 Penerimaan Tidak Tunai Komponen Jumlah (ton) Harga (Rp/kg) Nilai (Rp) Konsumsi 0,34 3.747,40 1.264.305,61 Benih 2,78 9.780,89 27.202.896,83 Total 28.467.202,43 Total Penerimaan 93.287.801,64 82 Pada penerimaan tunai usahatani kentang varietas Atlantic, kentang ini memiliki harga jual yang sama pada setiap ukuran yang diterima pihak PT IFM, yaitu sebesar Rp 4.950,00 per kilogram, sehingga penerimaan tunai yang diperoleh petani kentang varietas Atlantic sebesar Rp 99.299.330,36 (Tabel 26). Penerimaan tunai varietas Atlantic lebih tinggi daripada varietas Granola, hal tersebut dikarenakan varietas Atlantic merupakan komoditas dalam sistem pertanian kontrak dengan PT IFM sehingga memiliki harga jual tetap, tidak dipengaruhi harga pasar, dan rata-rata relatif lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Granola. Kentang varietas Atlantic yang dikonsumsi sendiri memiliki nilai Rp 855.534,13 (Tabel 26). Nilai umbi kentang Atlantic tersebut lebih kecil daripada nilai umbi kentang varietas Granola yang dikonsumsi. Hal tersebut dikarenakan, umbi varietas Atlantic merupakan kentang industri yang kurang cocok untuk dijadikan sayur, sehingga pada umumnya umbi kentang varietas Atlantic tersebut dijadikan keripik kentang ataupun kering kentang. Kemudian, umbi kentang yang dijadikan benih memiliki nilai Rp 10.326.046,18 (Tabel 26). Nilai tersebut lebih kecil daripada nilai yang dijadikan bibit pada varietas Granola. Hal tersebut dikarenakan umbi kentang varietas Atlantic lebih sulit untuk dijadikan bibit kembali dan lebih mudah terkontaminasi virus daripada varietas Granola. Penerimaan yang diperhitungkan petani kentang varietas Atlantic sebesar Rp 11.181.580,31 (Tabel 26). Dengan demikian, penerimaan usahatani kentang varietas Atlantic sebesar Rp 110.480.910,67. Tabel 26. Rata-rata Penerimaan Usahatani Kentang Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Penerimaan Tunai Komponen Jumlah (ton) Harga (Rp/kg) Nilai (Rp) Kentang yang 20,06 4.950,00 99.299.330,36 dijual Total 99.299.330,36 Penerimaan Tidak Tunai Komponen Jumlah (ton) Harga (Rp/kg) Nilai (Rp) Konsumsi 0,17 4.950,00 855.534,13 Benih 1,03 10.000,00 10.326.046,18 Total 11.181.580,31 Total Penerimaan 110.480.910,67 83 5.4.2. Analisis Biaya Usahatani Kentang Biaya usahatani kentang di Desa Cigedug terdiri dari perhitungan biaya usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic. Hal ini untuk melihat adanya perbedaan biaya yang dikeluarkan petani responden terkait perbedaan varietas yang ditanam sekaligus pola kemitraan yang dijalani petani di Desa Cigedug. Perhitungan biaya usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic dapat dilihat pada Tabel 27 dan Tabel 28. Pengeluaran usahatani adalah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam usahatani kentang pada suatu periode tanam tertentu yang terdiri dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan. Biaya tunai merupakan pengeluaran uang tunai yang dikeluarkan secara langsung oleh petani. Biaya yang diperhitungkan merupakan pengeluaran petani berupa faktor produksi tanpa mengeluarkan uang tunai. Dalam usahatani kentang, biaya tunai terdiri dari biaya pembelian benih, pupuk kandang, pupuk kimia, obat-obatan, tenaga kerja luar keluarga (TKLK), biaya pengawas lahan, biaya operasional bagi petani mitra, sewa lahan bagi petani responden yang menyewa lahan, dan pajak dari lahan miliki sendiri. Sedangkan, biaya yang diperhitungkan terdiri dari, benih yang berasal dari panen sebelumnya, tenaga kerja dalam keluarga (TKDK), biaya sewa lahan bagi petani yang menggunakan lahan milik sendiri, dan penyusutan peralatan. Berdasarkan perbandingan Tabel 27 dan Tabel 28 menunjukkan bahwa total biaya usahatani per hektar yang dikeluarkan petani varietas Atlantic lebih tinggi daripada varietas Granola. Hal tersebut dapat dilihat dari biaya tunai maupun biaya yang diperhitungkan pada kedua varietas tersebut. Pada varietas Granola biaya tunai yang dikeluarkan sebesar 67,53 persen dari total biaya usahatani, sedangkan pada varietas Atlantic biaya tunai yang dikeluarkan sebesar 94,25 persen. Begitupun sebaliknya, biaya yang diperhitungkan pada varietas Granola lebih besar 26,72 persen daripada varietas Atlantic. Hal tersebut dikarenakan adanya dua komponen biaya yang relatif cukup besar berada pada komoponen biaya tunai dan diperhitungkan, yaitu biaya benih dan tenaga kerja. 84 Tabel 27. Rata-rata Biaya Usahatani Kentang Varietas Granola per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Jumlah Harga Nilai Total No. Komponen Satuan (%) (unit) (Rp/satuan) (Rp) A. Biaya Tunai 1. Benih Kg 490,73 17.220,15 8.450.515,87 14,08 2. Pupuk: - Pupuk Kg 24.473,01 295,64 7.235.233,67 12,05 kandang - Pupuk ZA Kg 1.027,33 1.800,00 1.849.200,00 3,08 - Pupuk TSP Kg 394,75 2.000,00 789.500,00 3,19 - Pupuk KCl Kg 1.063,44 1.800,00 1.914.200,00 1,32 - Pupuk Kg 0,00 0,00 0,00 0,00 Mutiara - Pupuk Kg 335,03 2.300,00 770.563,89 1,28 Phonska 3. Obat-obat - Fungisida Kg 57,93 111.677,30 6.469.694,97 10,78 - Insektisida Lt 7,64 284.069,71 2.170.913,06 3,62 - Perekat Lt 10,27 37.246,43 382.601,69 0,64 4. Tenaga Kerja Luar HOK 370,74 15.000,00 5.561.066,89 9,26 Keluarga (TKLK) 5. Pajak lahan Rp 26.944,44 0,04 6. Sewa lahan Rp 821.666,67 1,37 7. Biaya Rp 736.666,67 1,23 pengawas 8. Biaya Rp 3.357.777,52 5,59 transportasi Total Biaya Tunai 40.536.545,34 67,53 B. Biaya yang Diperhitungkan 1. Benih Kg 1.315,39 10.558,56 13.888.611,11 23,14 2. Tenaga Kerja Dalam HOK 272,59 15.000,00 4.088.840,27 6,81 Keluarga (TKDK) 3. Sewa lahan Rp 777.777,78 1,30 4. Penyusutan Rp 739.151,63 1,23 peralatan Total Biaya yang Diperhitungkan 19.494.380,79 32,47 C. Total Biaya Usahatani 60.030.926,13 100,00 85 Tabel 28. Rata-rata Biaya Usahatani Kentang Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Jumlah Harga Nilai Total No. Komponen Satuan (%) (unit) (Rp/satuan) (Rp) A. Biaya Tunai 1. Benih Kg 1.880,80 12.500,00 23.509.965,73 34,43 2. Pupuk: - Pupuk Kg 25.342,28 315,89 8.005.322,36 11,73 kandang - Pupuk ZA Kg 749,46 1.800,00 1.349.027,59 1,98 - Pupuk TSP Kg 965,85 1.800,00 1.738.534,08 2,55 - Pupuk KCl Kg 342,31 2.000,00 648.619,70 1,00 - Pupuk Kg 53,79 7.000,00 376.515,15 0,55 Mutiara - Pupuk Kg 349,55 2.300,00 803.957,91 1,18 Phonska 3. Obat-obat - Fungisida Kg 125,50 90.695,62 11.382.698,64 16,67 - Insektisida Lt 9,18 263.163,37 2.415.501,83 3,54 - Perekat Lt 16,62 49.827,35 827.915,86 1,21 4. Tenaga Kerja HOK Luar 543,56 15.000,00 8.153.453,33 11,94 Keluarga (TKLK) 5. Pajak lahan Rp 39.926,85 0,06 6. Sewa lahan Rp 395.833,33 0,58 7. Biaya Rp 960.000,00 1,41 pengawas 8. Biaya Rp 3.455.238,56 5,06 transportasi 9. Biaya Rp 250.755,88 0,37 Operasional Total Biaya Tunai 64.349.266,81 94,25 B. Biaya yang Diperhitungkan 1. Benih Kg 58,33 10.000,00 583.333,33 0,85 2. Tenaga Kerja HOK Dalam 92,03 15.000,00 1.380.487,44 2,02 Keluarga (TKDK) 3. Sewa lahan Rp 1.222.222,22 1,79 4. Penyusutan Rp 739.151,63 1,08 peralatan Total Biaya yang Diperhitungkan 3.925.194,63 5,75 C. Total Biaya Usahatani 68.274.461,44 100,00 86 1) Biaya Benih Biaya tunai per hektar untuk membeli benih varietas Granola sebesar Rp 8.450.515,87 yang mana lebih kecil daripada varietas Atlantic sebesar Rp 23.509.965,73. Hal ini dikarenakan, petani varietas Granola sebagian besar menggunakan benih dari hasil seleksi panen sebelumnya sehingga dapat menghemat biaya pengeluaran tunai petani, sedangkan sebagian besar petani varietas Atlantic membeli benih kentang yang baru. Banyaknya pembelian benih pada varietas Atlantic dikarenakan benih varietas Atlantic lebih mudah terkontaminasi virus, sehingga petani tidak mau menanggung risiko kegagalan produksi akibat penggunaan benih dari hasil seleksi panen sebelumnya. Oleh karena itu, pada biaya yang diperhitungkan per hektar untuk penggunaan benih pada varietas Granola sebesar Rp 13.888.611,11 lebih besar daripada varietas Atlantic sebesar Rp 583.333,33. Oleh karena itu, apabila dilihat dari nilai presentase kebutuhan benih terhadap total biaya usahatani adalah sebesar 37,21 persen untuk varietas Granola dan 35,29 untuk varietas Atlantic dimana komponen benih pada kedua varietas merupakan komponen biaya terbesar dalam usahatani kentang. 2) Biaya Pupuk Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang, pupuk ZA, pupuk TSP, pupuk KCl, pupuk Mutiara (khusus varietas Atlantic), dan pupuk Phonska. Berdasarkan Tabel 27 dan Tabel 28, total biaya yang dibutuhkan untuk biaya pupuk per hektar pada varietas Granola dan varietas Atlantic sebesar Rp 12.558.697,56 dan Rp 12.957.976,79. Biaya pupuk merupakan salah satu komponen biaya terbesar dari total biaya usahatani yaitu sebesar 20,92 persen pada varietas Granola dan 18,98 persen pada varietas Atlantic. Biaya tunai untuk pupuk kandang per hektar pada varietas Granola dan varietas Atlantic masing-masing sebesar Rp 7.235.233,67 dan Rp 8.005.322,36. Selisih biaya yang tersebut relatif besar yaitu sebesar Rp 770.088,70. Hal ini dikarenakan penggunaan jumlah dan harga rata-rata pupuk kandang pada petani varietas Atlantic yang lebih tinggi daripada varietas Granola. Harga rata-rata pupuk kandang pada varietas Atlantic lebih tinggi daripada varietas Granola disebabkan karena sebanyak 6,67 persen petani varietas Atlantic menggunakan 87 pupuk kandang kering yang harganya relatif lebih mahal (Rp 16.500,00 – Rp 18.000,00 per karung) daripada pupuk kandang basah (Rp 14.000,00 per karung). Sementara itu, pada petani varietas Granola semua responden membeli pupuk kandang basah dengan harga beli relatif lebih murah dibandingkan pupuk kandang kering, sehingga pengeluaran untuk pupuk kandang dapat diminimalisasi dimana kebutuhan biaya penggunaan pupuk kandang sebesar 12,05 persen pada varietas Granola dan 11,73 persen pada varietas Atlantic dari total biaya usahatani. Biaya pupuk kimia per hektar yang dikeluarkan petani pada varietas Granola sebesar Rp 5.323.463,89, sedangkan pada varietas Atlantic sebesar Rp 4.952.654,43 atau sebesar 8,87 persen pada varietas Granola dan 7,25 persen pada varietas Atlantic dari total biaya usahatani dengan selisih kedua biaya ini sebesar Rp 370.809,46. Biaya penggunaan pupuk kimia pada varietas Atlantic relatif lebih kecil dibandingkn varietas Granola, hal tersebut dikarenakan petani kentang varietas Atlantic cenderung mengandalkan obat-obatan daripada pupuk kimia untuk mempertahankan kuantitas dan kualitas produksi. 3) Biaya Obat-obatan Biaya obat-obatan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dari total biaya usahatani, yaitu sebesar 15,03 persen pada varietas Granola dan 21,42 pada varietas Atlantic. Total biaya obat-obatan per hektar yang dikeluarkan petani pada varietas Granola dan varietas Atlantic masing-masing sebesar Rp 9.023.209,72 dan Rp 14.626.116,33. Total biaya obat-obatan kentang varietas Atlantic lebih besar daripada varietas Gronola dikarenakan frekuensi penyemprotan kentang varietas Atlantic lebih sering daripada varietas Granola, sehingga jumlah fisik obat-obatannya lebih banyak. Fungisida yang digunakan berbahan aktif Klorotalonil, Propineb, Mankozeb, Dimetomorf yang sama-sama untuk mengatasi penyakit yang sering menyerang seperti busuk daun dengan harga rata-rata per kilogram sebesar Rp 136,666,67, Rp 150.000,00, Rp 57.818,18, dan Rp 25.000,00. Petani responden varietas Atlantic dan varietas Granola lebih banyak menggunakan zat aktif Mankozeb karena fungisida berbahan aktif ini selain harganya relatif lebih murah, juga dapat mengatasi penyakit busuk daun dan juga berbagai macam penyakit lain yang sering menyerang tanaman kentang (Tabel 19). 88 Pada penggunaan insektisida, varietas Atlantic lebih banyak dalam jumlah dan frekuensi daripada varietas Granola. Hal ini dikarenakan kentang varietas Atlantic lebih rentan terhadap hama yang menyerang daripada varietas Granola, seperti Thrips dan Liriomyza huidobrensis yang dikenal dengan sebutan aro. Rata-rata insektisida yang digunakan berbahan aktif Abamektin seharga Rp Rp 1.025.000,00 per liter, Profenofos seharga Rp 78.333,33 per liter, Permethrin seharga Rp 50.000,00 per liter, Imidakloprid seharga Rp 437.500,00 per liter, Klorfenapir seharga Rp 600.000,00 per liter, Klorantraniliprol seharga Rp 500.000,00 per liter, Karbosulfran seharga Rp 600.000,00 per liter, Deltametrin seharga Rp 60.000,00 per liter, Promakarb hidroklorida Rp 900.000,00 per liter, dan Siromazin seharga Rp 1.250.000,00. Profenofos merupakan zat aktif yang banyak digunakan baik petani varietas Granola maupun varietas Atlantic, karena selain merek dagang yang berbahan aktif tersebut dapat mengatasi hama yang dominan menyerang tanaman kentang di lokasi penelitian (Tabel 19), harga tersebut relatif lebih murah dibandingkan dengan zat aktif yang lain yang dapat membasmi hama Liriomyza huidobrensis, Thrips, dan Phthorimaea opeculella menjadi alasan penggunaan zat aktif Profenofos banyak digunakan petani responden. Frekuensi dan jumlah penggunaan perekat mengikuti penggunaan pestisida pada kedua varietas tersebut. Dalam arti, semakin sering frekuensi penyemprotan pestisida pada setiap varietas, maka penggunaan perekat pun semakin sering dan secara tidak langsung jumlah penggunaan perekat pun mengikuti frekuensi penyemprotan. Dengan demikian, penggunaan perekat pada varietas Atlantic lebih banyak daripada varietas Granola. Rata-rata perekat yang digunakan petani kentang di Desa Cigedug adalah Super Go seharga Rp 17.000,00 per liter, Lantish seharga Rp 32.000,00 per liter, Apsa seharga Rp 110.000,00 per liter, Altron seharga Rp 60.000,00 per liter, dan Napel seharga Rp 12.000,00. Petani varietas Atlantic lebih banyak menggunakan perekat dengan merek dagang Absa yang relatif lebih mahal dibanding merek dagang yang lain. Hal tersebut dikarenakan, berdasarkan hasil wawancara, penggunaan perekat Absa membuat pestisida yang disemprotkan lebih cepat terserap ke tanaman, sehingga hama-penyakit yang menyerang dapat segera 89 teratasi. Sementara itu, petani varietas Granola lebih banyak yang menggunakan perekat bermerek dagang Lantish yang harganya relatif lebih murah dibandingkan yang lain. Namun, berdasarkan hasil wawancara, manfaat dari penggunaan merek dagang Absa lebih baik daripada merek dagang Lantish. Oleh karena itu, harga rata-rata perekat varietas Atlantic lebih tinggi daripada varieta Granola. 4) Biaya Tenaga Kerja Pengeluaran petani varietas Granola untuk upah tenaga kerja luar keluarga per hektar sebesar Rp 5.561.066,89, sedangkan pada varietas Atlantic sebesar Rp 8.153.453,33. Sementara itu, pengeluaran petani varietas Granola untuk upah tenaga kerja dalam keluarga per hektar sebesar Rp 4.088.840,27, sedangkan pada varietas Atlantic sebesar Rp 1.380.487,44. Sehingga total penggungaan tenaga kerja pada varietas Granola sebesar Rp 9.649.907,16 per hektar dan pada varietas Atlantic sebesar Rp 9.533.940,78 per hektar. Sebesar 57,63 persen tenaga kerja yang digunakan petani responden varietas Granola berasal dari luar keluarga, sedangkan 42,37 persen lainnya berasal dari tenaga kerja dalam keluarga sehingga penggunaan total tenaga kerja antara tenaga kerja dalam keluarga maupun luar keluarga hampir seimbang. Hal tersebut berbeda dengan penggunaan tenaga kerja luar keluarga pada petani varietas Atlantic yang mendominasi jumlah penggunaan tenaga kerja yaitu sebesar 85,52 persen, sedangkan dari dalam keluarga hanya 14,48 persen. Produktivitas kentang varietas Granola yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Atlantic, hal tersebut ada kaitannya dengan penggunaan tenaga kerja dimana pada tenaga kerja luar keluarga mendominasi penggunaan tenaga kerja pada varietas Atlantic. Tenaga kerja luar keluarga umumnya memiliki ketrampilan dalam kegiatan usahatani kentang yang rendah, sehingga kegiatan yang dilakukan cenderung tidak mengindahkan penggunaan faktor produksi. Hal tersebut akan berdampak pada penggunaan faktor produksi, seperti obat-obatan yang berlebihan dan kurang tepat sasaran. Tenaga kerja dalam keluarga baik pada petani responden varietas Granola maupun varietas Atlantic, umumnya hanya menggunakan dua tenaga kerja yang terdiri dari suami dan istri. Tenaga kerja istri pada usahatani kentang varietas Atlantic tidak berperan secara penuh dalam kegiatan usahatani kentang varietas 90 Atlantic dan umumnya hanya membantu pada saat penanaman ataupun pemanenan. Sementara itu, pada usahatani kentang varietas Granola, tenaga kerja dalam keluarga, baik suami maupun istri, sebagian besar berperan aktif dalam setiap kegiatan usatani kentang varietas Granola. Hal tersebut dikarenakan petani varietas Atlantic sebagian besar merupakan “petani kapital” sehingga tenaga kerja dalam keluarga, seperti istri tidak dilibatkan dalam kegiatan usahatani. Istri hanya bertugas sebagai ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak-anaknya. 5) Biaya Pengawas Lahan Biaya pengawas lahan merupakan biaya yang dikeluarkan petani kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic untuk mengawasi lahan yang akan dipanen. Pengawasan lahan ini bertujuan agar umbi kentang yang mendekati waktu panen tidak dicuri orang. Biaya yang dikeluarkan tidak berdasarkan pada luasan lahan yang diawasi, namun berdasarkan lama hari lahan yang diawasi. Rata-rata petani menggunakan dua orang dalam satu lahan yang diawasi. Upah yang diberikan per orang sebesar Rp 20.000,00 dengan waktu penjagaan sekitar jam 6 sore hingga jam 5 pagi. Jumlah hari pengawasan pada varietas Granola antara 10 – 30 hari sebelum panen, sedangkan pada varietas Atlantic 20 – 30 hari sebelum panen. Total biaya rata-rata pengawasan lahan kentang varietas Granola adalah Rp 736.666,67, sedangkan varietas Atlantic adalah Rp 960.000,00 atau sebesar 1,23 persen pada varietas Granola dan 1,41 persen pada varietas Atlnatic dari biaya total usahatani. 6) Biaya Transportasi Biaya transportasi meliputi biaya angkut input produksi yang digunakan, seperti benih, pupuk kandang, pupuk kimia, fungisida, insektisida, perekat, dan pengangkutan hasil panen. Biaya transportasi yang dibayar petani kentang baik varietas Granola maupun Atlantic bervariasi dari Rp 40,00 – Rp 100,00 per kilogram. Pengangkutan ini menggunakan motor ataupun mobil terbuka. Besarnya biaya transportasi per hektar yang dikeluarkan petani responden varietas Granola sebesar Rp 3.357.777,52 dengan persentase dari total biaya usahatani sebesar 5,59 persen, sedangkan petani responden varietas Atlantic sebesar Rp 3.455.238,56 dengan persentase sebesar 5,06 persen dari total biaya usahatani. 91 7) Biaya Operasional Besarnya biaya operasional sebesar 0,37 persen dari total biaya usahatani kentang varietas Atlantic. Biaya operasional ini hanya dibebankan kepada petani varietas Atlantic karena mereka tergabung dalam usaha pertanian kontrak. Biaya operasional ini meliputi biaya angkut dan penyortiran. Besarnya biaya operasional ini dihitung berdasarkan penggunaan waring dimana dalam satu waring dapat menampung umbi kentang kurang lebih 80 kilogram. Harga satu buah waring tersebut seharga Rp 1.000,00. 8) Biaya Sewa dan Pajak Lahan Biaya sewa lahan dalam usahatani kentang di lokasi penelitian termasuk dalam biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Pada komponen biaya tunai. biaya sewa lahan merupakan biaya yang dikeluarkan oleh petani karena telah menyewa tanah milik orang lain. Besarnya biaya sewa lahan petani responden varietas Granola dan varietas Atlantic masing-masing sebesar 1,37 persen dan 0,58 persen dari total biaya usahatani. Terdapat 53,33 persen responden kentang varietas Granola dan 26,67 persen petani responden varietas Atlantic dengan status lahan sewa dan besarnya sewa lahan masing-masing petani responden berbeda-beda, sehingga setelah dirata-ratakan menghasilkan biaya sewa sebesar Rp 821.666,67 dan Rp 395.833,33 per hektar per periode tanam. Perbedaan harga sewa lahan tersebut disesuaikan dengan lokasi lahan yang digunakan, semakin dekat dengan akses jalan, maka biaya sewa lahan akan semakin besar. Lokasi lahan yang dekat dengan akses jalan dapat mengurangi biaya transportasi yang dikeluarkan. Biaya pajak merupakan pajak yang dikenakan oleh petani responden yang menggunakan lahan milik sendiri. Terdapat 46,67 persen petani responden kentang varietas Granola dan 73,33 persen petani responden varietas Atlantic yang menggunakan lahan milik sendiri. Besarnya biaya pajak yang dikeluarkan petani varietas Granola dan varietas Atlantic masing-masing sebesar 0,04 persen dan 0,06 persen dari total biaya usahatani. Besarnya biaya pajak tersebut antar petani berbeda-beda bergantung pada lokasi lahan tersebut, semakin dekat dengan akses transportasi harga pajak lahan semakin tinggi, sehingga setelah dirataratakan menghasilkan pajak sebesar Rp 26.944,44 pada petani responden varietas 92 Granola dan petani responden varietas Atlantic Rp 39.926,85 per hektar per periode tanam. Pada komponen biaya yang diperhitungkan, biaya sewa lahan sendiri termasuk dalam biaya sewa lahan diperhitungkan sebesar 1,30 persen pada varietas Granola dan 1,79 persen pada varietas Atlantic dari total biaya usahatani. Lahan milik sendiri tetap diperhitungkan sebagai sewa lahan sehingga dilakukan penaksiran biaya penggunaan tanah sebesar nilai sewa tanah rata-rata yang berlaku di Desa Cigedug, sehingga rata-rata sewa lahan milik sendiri tersebut sebesar Rp 777.777,78 pada petani responden kentang varietas Granola dan Rp 1.222.222,22 pada petani responden kentang varietas Atlantic per hektar per periode tanam. 9) Biaya Penyusutan Peralatan Pada usahatani kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic menggunakan beberapa peralatan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan usahatani tersebut. Peralatan yang digunakan antara lain, cangkul, kored, ember, mesin obat, “kompa” (hand sprayer), drum, dan ajir. Cangkul digunakan dalam kegiatan pengolahan tanah untuk membalikan dan menggemburkan tanah. Kored digunakan untuk mempermudah dalam menyiangi gulma. Ember merupakan wadah yang digunakan untuk menampung pupuk kimia yang ingin ditebar. Mesin obat merupakan alat semprot yang memudahkan petani untuk menyemprotkan obat-obatan ke tanaman kentang. Umumnya petani yang memiliki lahan luas menggunakan mesin obat, agar tidak bolak balik ke wadah obat. “kompa” (hand sprayer) merupakan alat penyemprot obat-obatan yang berukuran kurang lebih 15 liter. Drum digunakan untuk media pencampuran obat-obatan dengan air, kemudian hasil pencampuran ini dimasukkan dalam “kompa” dan siap dilakukan penyemprotan pada tanaman kentang. Dalam analisis usahatani, biaya alat-alat pertanian ini dihitung sebagai biaya penyusutan peralatan yang dibebankan ke dalam biaya yang diperhitungkan. Metode yang digunakan ini adalah metode garis lurus. Metode ini digunakan karena jumlah penyusutan alat tiap tahunnya dianggap sama dan diasumsikan tidak laku bila dijual. 93 Tabel 29. Rata-rata Biaya Penyusutan Peralatan Petani Usahatani Kentang per Hektar per Periode Tanam pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Umur Biaya Biaya Ekono- Jumlah Penyusutan Jenis Harga No Penyusutan Peralatan mis (Unit) (Rp/unit) (Rp/periode (Rp/tahun) (Tahun) tanam) 1. Cangkul 4 6 54.000,00 81.000,00 27.000,00 2. Kored 4 9 45.000,00 101.250,00 33.750,00 3. Ember 1 15 10.642,86 159.642,86 53.214,29 4. Mesin 10 1 3.406.481,48 340.648,15 113.549,38 Obat 5. Hand 5 4 258.620,69 206.896,55 68.965,52 sprayer 6. Drum 8 4 186.363,64 93.181,82 31.060,61 7. Ajir 1,27 20.855 50,00 823.223,68 411.611,84 Jumlah 1.805.843,06 739.151,63 Periode tanam yang digunakan dalam perhitungan penyusutan peralatan adalah empat bulan masa tanam. Berdasarkan Tabel 29, biaya penyusutan peralatan rata-rata para petani pada usahatani kentang per periode tanam adalah sebesar Rp 739.151,63 atau sebesar 1,23 persen pada varietas Granola dan 1,08 persen pada varietas Atlantic dari total biaya usahatani. 5.4.3. Analisis Pendapatan Usahatani Kentang Pendapatan usahatani dibedakan menjadi pendapatan tunai dan pendapatan total. Pendapatan tunai diperoleh dari hasil selisih penerimaan tunai dengan biaya tunai, sedangkan pendapatan total merupakan selisih penerimaan total dengan biaya total. Berdasarkan Tabel 30 dapat diketahui pendapatan usahatani kentang atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total pada varietas Granola dan varietas Atlantic. Pendapatan atas biaya tunai per hektar kentang varietas Granola sebesar Rp 24.284.053,87, sedangkan pendapatan atas biaya totalnya per hektar sebesar Rp 33.256.875,51. Sementara itu, petani varietas Atlantic memiliki pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp 34.950.063,55 dan pendapatan atas biaya total sebesar Rp 42.206.449,23. Berdasarkan hasil tersebut, pendapatan atas biaya tunai maupun biaya total petani kentang varietas Atlantic lebih besar daripada petani kentang varietas Granola. Hal tersebut dikarenakan, harga jual kentang rata-rata varietas Atlantic relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual rata-rata 94 varietas Granola. Selain itu, harga jual kentang varietas Granola dipengaruhi oleh harga pasar yang berlaku, sedangkan pada kentang varietas Atlantic memiliki harga jual yang tetap sesuai dengan ketetapan pihak PT IFM. Dengan demikian, dengan usahatani pertanian kontrak lebih menguntungkan dibandingkan yang tidak tergabung dengan usaha pertanian kontrak. Tabel 30.Perbandingan Pendapatan Usahatani Kentang Varietas Granola dan Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Nilai (Rp) Keterangan Varietas Granola Varietas Atlantic Penerimaan Tunai 64.820.599,21 99.299.330,36 Penerimaan Diperhitungkan 28.467.202,43 11.181.580,31 Total Penerimaan 93.287.801,64 110.480.910,67 Pengeluaran Tunai 40.536.545,34 64.349.266,81 Pengeluaran Diperhitungkan 19.494.380,79 3.925.194,63 Total Pengeluaran 60.030.926,13 68.274.461,44 Pendapatan atas Biaya Tunai 24.284.053,87 34.950.063,55 Pendapatan atas Biaya Total 33.256.875,51 42.206.449,23 Nilai R/C atas Biaya Tunai 1,60 1,54 Nilai R/C atas Biaya Total 1,55 1,62 Pendapatan atas biaya tunai dan biaya total pada kedua varietas relatif cukup tinggi. Nilai R/C rasio dari penerimaan atas biaya tunai untuk varietas Granola adalah sebesar 1,60 yang berarti untuk setiap biaya tunai rupiah yang dikeluarkan untuk usahatani kentang varietas Granola akan memberikan tambahan penerimaan sebesar Rp 1,60. Sedangkan, nilai R/C rasio dari penerimaan atas biaya total untuk varietas Granola adalah sebesar 1,55 yang berarti untuk setiap biaya total rupiah yang dikeluarkan untuk usahatani kentang varietas Granola akan memberikan tambahan penerimaan sebesar Rp 1,55. Sementara itu, pada kentang varietas Atlantic memiliki nilai R/C rasio dari penerimaan atas biaya tunai adalah sebesar 1,54 yang berarti setiap biaya tunai rupiah yang dikeluarkan untuk usahatani kentang varietas Atlantic akan memberikan tambahan penerimaan sebesar Rp 1,54. Sedangkan, nilai R/C rasio dari penerimaan atas biaya total untuk varietas Atlantic adalah sebesar 1,62 yang berarti untuk setiap biaya total rupiah yang dikeluarkan untuk usahatani kentang varietas Atlantic akan memberikan tambahan penerimaan sebesar Rp 1,62. 95 Berdasarkan perbandingan R/C rasio tersebut, dapat terlihat pada sisi R/C rasio atas biaya tunai kentang varietas Granola lebih tinggi 0,06 daripada varietas Atlantic. Hal tersebut dikarenakan penggunaan benih yang menjadi komponen biaya terbesar dalam biaya usahatani kentang, petani responden varietas Granola lebih banyak yang menggunakan benih dari hasil seleksi panen sebelumnya, sedangkan pada varietas Atlantic sebagian besar petani responden menggunakan benih yang baru dibeli. Dengan demikian, biaya tunai yang dikeluarkan untuk membeli benih kentang pada varietas Atlantic jauh lebih besar daripada varietas Granola. Sementara itu, jika dilihat berdasarkan nilai R/C rasio atas biaya total, nilai R/C pada varietas Atlantic lebih tinggi 0,07 daripada varietas Granola. Hal tersebut dikarenakan pada varietas Granola, penggunaan benih yang berasal dari hasil seleksi panen sebelumnya dan penggunaan tenaga kerja dalam keluarga yang relatif banyak turut diperhitungkan dalam R/C rasio atas biaya total, sehingga apabila usahatani dihitung secara menyeluruh, usahatani varietas Atlantic memiliki efisiensi pendapatan lebih tinggi 0,07 daripada varietas Granola. Oleh karena itu, berdasarkan nilai R/C atas biaya total, usahatani dengan usaha pertanian kontrak lebih menguntungkan dibandingkan dengan yang tidak tergabung dalam usaha pertanian kontrak walaupun selisihnya tidak berbeda secara signifikan. 5.5. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang 5.5.1. Uji Penyimpangan Asumsi Model fungsi produktivitas kentang yang disusun dalam penelitian ini terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap tingkat kelayakan suatu model berdasarkan asumsi OLS (Ordinary Least Square). Pengujian asumsi tersebut terdiri dari uji multikolinearitas, uji otokorelasi, dan uji heteroskedastisitas. Pengujian multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antar variabel bebas. Berdasarkan Lampiran 3, model ini dinyatakan terbebas dari masalah multikolinearitas karena memiliki nilai VIF di bawah 10. Model yang dibangun juga terbebas dari masalah otokorelasi. Hal ini diketahui berdasarkan nilai Durbin-Watson dari perhitungan software Minitab 14 (Lampiran 3) diperoleh sebesar 2,093. Berdasarkan jumlah data yang dianalisis sebanyak 60 dan jumlah variabel bebasnya sepuluh (k=10), didapat nilai Durbin-Watson tabel 96 pada tingkat signifikansi satu persen, yaitu dL = 1,072 dan dU = 1,817. Oleh karenanya, nilai tersebut terletak di antara dU (1,817) dan 4-dU (2,183) yang mengindikasikan bahwa model tersebut tidak terdapat otokorelasi positif maupun negatif. Berikutnya adalah pengujian heteroskedastisitas yang menggunakan pengujian grafis residu. Berdasarkan hasil grafis pada Lampiran 4, tidak memperlihatkan adanya pola sistematis antara residual dan fitted value. Oleh karenanya, asumsi homoskedastisitas juga telah terpenuhi. Berdasarkan pengujian dari asumsi-asumsi yang telah dijelaskan di atas, maka model penduga fungsi produktivitas kentang tersebut secara statistik telah memenuhi syarat asumsi OLS, seperti tidak memiliki kolinearitas antar variabel bebas, tidak terdapat otokorelasi, dan bersifat homoskedastisitas. Dengan demikian, model fungsi produktivitas tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara variabel bebas (faktor produksi) yang digunakan terhadap produktivitas dalam kegiatan usahatani kentang. 5.5.2. Analisis Fungsi Produksi Faktor produksi yang diduga berpengaruh dalam usahatani kentang adalah jumlah penggunaan benih, varietas yang digunakan sebagai dummy, jumlah penggunaan pupuk kandang, jumlah penggunaan unsur Nitrogen, jumlah penggunaan unsur Fosfat, jumlah penggunaan unsur Kalium, jumlah penggunaan fungisida, jumlah penggunaan insektisida, jumlah penggunaan perekat, dan jumah penggunaan tenaga kerja. Hasil pendugaan fungsi produksi pada usahatani kentang per hektar di Desa Cigedug pada musim hujan 2011 - 2012 dapat dilihat pada Tabel 31. Pengujian terhadap ketepatan model fungsi produksi dapat dilihat dari Goodness of Fit (R-sq) yang dapat dilihat dari kesalahan standard error (se) dari koefisien regresi yang ditaksir, uji t pada setiap variabel, dan besarnya Pvalue. Berdasarkan data pada Lampiran 5 dan 6, maka model fungsi produksi kentang dapat diduga dengan persamaan sebagai berikut: ln produktivitas = - 6,309 + 0,196 ln benih + 0,222 varietas + 0,417 ln pupuk kandang + 0,047 ln N + 0,294 ln P + 0,017 ln K + 0,053 ln fungisida + 0,028 ln insektisida + 0,073 ln perekat + 0,161 ln tenaga kerja + u 97 Berdasarkan hasil olahan MINITAB dengan menggunakan data yang diperoleh, maka dapat diketahui hubungan antara faktor produksi dan produktivitas petani kentang di Desa Cigedug secara bersama-sama (Tabel 32). Hubungan tersebut dapat dilakukan melalui uji F, dimana nilai F-hitung pada model penduga fungsi produksi mencapai 5,68 maka nilai tersebut lebih besar daripada nilai F-tabel yaitu 2,905. Kondisi tersebut menjelaskan semua faktor produksi yang digunakan dalam usahatani kentang secara bersama-sama memiliki pengaruh yang nyata terhadap produktivitas kentang petani responden dengan taraf nyata satu persen. Akurasi model dapat dilihat dari nilai koefisien determinasinya (R-sq). Koefisien determinasi (R-sq) ini dapat menggambarkan baik atau tidaknya suatu model dalam meramalkan kondisi ke depan. Berdasarkan hasil pendugaan model fungsi produksi menunjukan bahwa nilai koefisien determinasi (R-sq) sebesar 53,7 persen dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R-sq adj) sebesar 44,3 persen. Nilai determinasi (R-sq) tersebut menunjukkan bahwa sebesar 53,7 persen variabel produktivitas kentang dapat dijelaskan oleh model, sedangkan sisanya sebesar 46,3 persen lagi dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar model. Faktorfaktor lain di luar model yang diduga berpengaruh terhadap produktivitas kentang, antara lain generasi turunan benih yang digunakan, intensitas serangan hama dan penyakit, pengaruh cuaca dan iklim, dan keterampilan tenaga kerja. Nilai koefisien determinasi (R-sq) model yang digunakan relatif kecil. Hal ini disebabkan faktor produksi yang berkorelasi secara linear dengan faktor produksi yang lain dihilangkan dari model, yaitu luas lahan. Apabila faktor produksi luas lahan dimasukan ke dalam model secara tersendiri, maka nilai R-sq dapat mencapai di atas 90 persen, tetapi model tersebut tidak dapat memenuhi asumsi OLS (Ordinary Least Square), karena di dalam model tersebut terdapat multikolinearitas sehingga tidak dapat menaksir koefisien regresi (Lampiran 2). Oleh karenanya, penggunaan setiap faktor produksi dalam model yang digunakan dihitung per satuan luas. Dengan demikian, walaupun memiliki R-sq yang relatif kecil, model ini cukup baik dalam menjelaskan pengaruh input terhadap produktivitas kentang. 98 Analisis model fungsi produksi selain menggunakan uji F, dapat pula dilakukan dengan menggunakan uji t. Uji t berguna untuk menguji pengaruh nyata dari masing-masing faktor-faktor produksi (variabel bebas) yang digunakan secara terpisah terhadap variabel produksi (variabel tidak bebas). Berdasarkan hasil uji t pada Tabel 31 menunjukkan variabel bebas yang secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap produktivitas kentang pada taraf nyata satu persen adalah varietas yang digunakan. Pupuk kandang, unsur Fosfat, dan unsur Kalium berpengaruh secara signifikan terhadap produktivitas kentang pada taraf nyata lima persen. Sementara itu, jumlah penggunaan perekat dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang pada taraf nyata sepuluh persen. Hasil uji terhadap jumlah penggunaan benih, unsur Nitrogen, Fungisida, dan Insektisida memiliki nilai t hitung lebih rendah dari t tabel sehingga kondisi ini menunjukkan variabel bebas tersebut tidak berpengaruh nyata dalam produktivitas kentang. Tabel 31. Pendugaan dan Pengujian Parameter Model Fungsi Produksi CobbDouglas pada Usahatani Kentang per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Simpangan Koefisien Variabel T hitung P-Value VIF Baku Regresi Koefisien Konstanta -6,309 1,894 -3,33 0,002 Ln Benih 0,196 0,142 1,38 0,173 1,4 a Varietas (D) 0,222 0,080 2,76 0,008 2,2 b Ln Pupuk Kandang 0,417 0,160 2,60 0,012 1,3 Ln N 0,047 0,091 0,52 0,608 1,6 b Ln P 0,294 0,120 2,46 0,018 1,4 Ln K 0,017 0,007 2,45b 0,018 1,4 Ln Fungisida 0,053 0,071 0,74 0,460 2,5 Ln Insektisida 0,028 0,032 0,88 0,381 1,6 c Ln Perekat 0,073 0,043 1,69 0,098 1,4 c Ln Tenaga Kerja 0,161 0,091 1,77 0,083 1,4 R-Sq = 53,7% R-Sq (adj) = 44,3% F hitung = 5,68 P = 0,000 Keterangan: nyata pada α = 1%, ttabel = 2,660 nyata pada α = 5%, ttabel = 2,000 c nyata pada α = 10%, ttabel = 1,671 a b Ftabel = 2,905 dengan α = 1% Nilai koefisien regresi dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan nilai elastisitas produksi dari masing-masing variabel produksi tersebut. Berdasarkan penjumlahan dari koefisien regresi faktor-faktor produksi 99 pada Tabel 32, didapat nilai elastisitas produksi sebesar 1,508. Nilai tersebut menunjukkan fungsi produksi kentang berada pada daerah I (increasing return to scale), yang berarti setiap penambahan faktor produksi secara bersama-sama sebesar satu persen akan meningkatkan produktivitas kentang sebesar 1,508 persen. 1) Benih (X1) Berdasarkan tanda parameter pada benih menunjukkan bahwa parameter benih memiliki tanda positif sebesar 0,196 yang berarti penambahan satu persen jumlah penggunaan benih dalam suatu proses produksi maka rata-rata produktivitas kentang akan meningkat sebesar 0,196, dengan asumsi variabel lain tetap (ceteris paribus). Namun nilai t hitung lebih kecil dari t tabel pada taraf nyata sepuluh persen, sehingga penggunaan benih tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kentang. Menurut Prahardini (2006), semakin sering benih hasil panen sebelumnya digunakan, maka akan semakin banyak hama-penyakit yang terkontaminasi dalam benih tersebut yang mengakibatkan produktivitas semakin menurun. Berdasarkan data BP3K Kecamatan Cigedug, pengetahuan dan keterampilan petani tentang penggunaan varietas unggul bermutu mencapai 52 persen. Hal tersebut terlihat pada Tabel 32 yang memaparkan penurunan produktivitas akibat semakin sering digunakannya benih kentang hasil panen sebelumnya. Sehingga, meskipun penggunaan benih per satuan lahan ditambah, tidak dapat menambah produktivitas kentang apabila benih kentang yang digunakan merupakan generasi rendah. Namun, keterbatasan modal yang dimiliki petani menjadi permasalahan untuk menggunakan benih unggul bermutu. Tabel 32. Rata-rata Produktivitas Berdasarkan Generasi yang Digunakan Petani Responden pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Generasi Produktivitas (ton/ha) G3 27,25 G4 22,31 G5 20,86 G6 11,38 Rata-rata penggunaan benih kentang di lokasi penelitian yaitu sebesar 1.872,63 kg/ha dengan rata-rata jarak tanam 77,67 cm x 38,42 cm. Jumlah 100 tersebut telah melebih batas yang dianjurkan Samadi (2007) yakni pada kisaran 1.300 – 1.700 kg/ha dengan jarak tanam 70 cm x 30 cm. 2) Varietas (X2) Berdasarkan hasil regresi dapat diketahui bahwa faktor penggunaan varietas benih secara signifikan mempengaruhi produktivitas kentang pada taraf nyata satu persen. Dalam penelitian ini variabel varietas menggunakan model dummy yang memiliki koefisien regresi sebesar 0,222, sehingga dapat diartikan bahwa varietas Granola hasil produksinya lebih unggul 22,2 persen daripada varietas Atlantic. Rata-rata hasil capaian produktivitas kentang varietas Granola di Desa Cigedug pada saat penelitian sebesar 22,99 ton/ha, sedangkan kentang varietas Atlantic produktivitas rata-rata 21,27 ton/ha. Berdasarkan Tabel 33 dapat terlihat perbandingan produktivitas rata-rata yang dihasilkan petani berdasarkan generasi varietas kentang yang ditanam. Secara rata-rata varietas Granola lebih unggul dibandingkan dengan varietas Atlantic. Hal ini dapat disebabkan karena karakteristik tanaman kentang varietas Granola lebih tahan terhadap hama dan penyakit yang menyerang dibandingkan dengan varietas Atlantic (Samadi 2007). Selain itu menurut Effendie (2002), produktivitas yang belum mencapai optimal pada varietas Atlantic disebabkan tidak tepatnya penerapan teknologi oleh petani. Walaupun memproduksi kentang industri, petani tetap menggunakan teknologi produksi kentang varietas Granola yang mana teknologi tersebut tidak cocok dengan karakteristik tanaman dan mutu umbi kentang industri. Karakteristik tanaman varietas Atlantic yang lebih tinggi dan ukuran umbi yang lebih besar daripada varietas Granola tentunya memerlukan jarak tanam yang lebih lebar. Selain itu, penggunaan pupuk kimia juga seharusnya lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Granola. Tabel 33. Perbandingan Produktivitas Rata-rata Berdasarkan Varietas yang Digunakan pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Varietas Granola Varietas Atlantic Jumlah Generasi Produktivitas Produktivitas Benih (kg) (ton/ha) (ton/ha) G3 1.770,34 27,25 G4 1.919,52 25,10 21,22 G5 1.804,42 20,67 21,93 G6 1.708,33 11,38 - 101 3) Pupuk Kandang (X3) Penggunaan jumlah pupuk kandang berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas kentang pada taraf nyata lima persen dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,417. Dengan demikian, penambahan jumlah pupuk kandang sebesar satu persen akan meningkatkan produktivitas kentang sebesar 0,417 persen, dengan asumsi variabel lain tetap (ceteris paribus). Pupuk kandang digunakan pada saat sebelum tanam yang bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah, menambah bahan organik tanah, dan mengikat tanah. Rata-rata penggunaan pupuk kandang petani responden kentang sebesar 24.907,65 kg/ha yang mana jumlah tersebut masih berada di antara dosis dianjurkan, yaitu 20.000 – 30.000 kg/ha (Samadi 2011). Oleh karena itu, peningkatan penggunaan pupuk kandang sampai dibawah dosis maksimum tersebut dapat meningkatkan potensi hasil umbi kentang sehingga produktivitas dapat meningkat. 4) Unsur Nitrogen (X4) Berdasarkan tanda parameter pada unsur Nitrogen menunjukkan bahwa parameter benih memiliki tanda positif sebesar 0,047 yang berarti penambahan unsur Nitrogen dalam suatu proses produksi sebesar satu persen maka rata-rata produktivitas kentang akan meningkat sebesar 0,047, dengan asumsi variabel lain tetap (ceteris paribus). Namun nilai t hitung lebih kecil dari t tabel pada taraf nyata sepuluh persen, sehingga penggunaan unsur Nitrogen tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kentang. Penggunaan unsur Nitrogen bertujuan untuk merangsang pertunasan bibit, meningkatkan pertumbuhan daun, batang, dan ranting, meningkatkan pembentukan protein, dan meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara lainnya (Fosfat, Kalium, dan lainnya) (Samadi 2007). Rata-rata penggunaan unsur Nitrogen petani responden sebesar 242,21 kg/ha. Jumlah unsur Nitrogen yang digunakan petani telah melebihi dosis anjuran menurut Samadi (2007) yakni 200 kg/ha. Kelebihan Nitrogen tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan berlebihan pada daun, batang dan cabang, terhambatnya pertumbuhan generatif (umbi), dan tanaman menjadi mudah terserang hama dan penyakit, seperti lalat penggorok daun (Ashandi et al. 2001). Oleh karena itu, 102 penambahan unsur Nitrogen tidak nyata dalam meningkatkan produktivitas kentang. 5) Unsur Fosfat (X5) Penggunaan unsur Fosfat berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas kentang pada taraf nyata lima persen dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,294. Dengan demikian, penambahan jumlah unsur Fosfat sebesar satu persen akan meningkatkan produktivitas kentang sebesar 0,294 persen, dengan asumsi variabel lain tetap (ceteris paribus). Rata-rata penggunaan unsur Fosfat petani responden sebesar 420,92 kg/ha. Jumlah unsur Fosfat ini melebihi kisaran yang dianjurkan menurut Samadi (2007) yaitu 150 – 200 kg/ha. Unsur Fosfat sangat berpengaruh terhadap pembentukan dan pertumbuhan perakaran sehingga dapat memperkuat tanaman, serta meningkatkan penyerapan unsur hara dan air. Selain itu, unsur hara ini juga berpengaruh terhadap pembentukan umbi dan kandungan zat pati (Samadi 2007). Dampak negatif dari penggunaan unsur Fosfat yang berlebih belum ditemukan menurut Samadi (2007) dan Ashandi et al. (2001), sehingga penambahan unsur Fosfat walaupun melebihi dosis anjuran tetap mempengaruhi produktivitas kentang karena unsur Fosfat dapat mempengaruhi pembentukan umbi. 6) Unsur Kalium (X6) Unsur Kalium diperlukan tanaman dalam pembentukan karbohidrat di dalam umbi, meningkatkan ketahanan terhadap penyakit, memperbesar umbi, dan meningkatkan daya simpang umbi. Penggunaan unsur Kalium berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi kentang pada taraf nyata lima persen dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,017. Dengan demikian, penambahan jumlah Kalium sebesar satu persen akan meningkatkan produktivitas kentang sebesar 0,017 persen, dengan asumsi variabel lain tetap (ceteris paribus). Peningkatan produktivitas yang relatif kecil ini dikarenakan rata-rata penggunaan unsur Kalium petani responden sebesar 276,76 kg/ha yang mana jumlah unsur Kalium ini melebihi kisaran yang dianjurkan menurut Samadi (2007) yaitu 150 – 200 kg/ha. Dampak negatif dari penggunaan unsur Kalium yang berlebih belum ditemukan menurut Ashandi et al. (2001). Oleh karena itu, berdasarkan manfaat 103 penggunaan unsur Kalium, penggunaan unsur ini dapat memberi pengaruh nyata walaupun relatif kecil terhadap peningkatan produktivitas kentang. 7) Fungisida (X7) Fungisida yang digunakan mengandung zat aktif yang berguna untuk membasmi atau mengurangi penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Fungisida yang digunakan petani responden dapat dilihat pada Tabel 21. Hasil pendugaan persamaan fungsi produksi menunjukkan bahwa penggunaan fungisida memiliki tanda parameter positif dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,053 yang berarti penambahan jumlah fungisida sebesar satu persen dalam suatu proses produksi maka produktivitas kentang akan meningkat sebesar 0,053 persen (ceteris paribus). Namun, berdasarkan hasil pendugaan parameter variabel fungisida memiliki nilai t hitung lebih kecil dari pada t tabel dengan taraf nyata sepuluh persen, sehingga fungisida tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang. Menurut data BP3K Kecamatan Cigedug, penggunaan pestisida pada petani kentang baru mencapai 28 persen yang disebabkan karena penggunaan pestisida yang belum mematuhi anjuran pemakaian. Rata-rata penggunaan fungisida per hektar dalam musim hujan adalah 91,72 kg. Besar dosis anjuran yang digunakan tergantung dari kandungan zat aktif yang digunakan. Rata-rata petani responden menggunakan zat aktif fungisida melebihi aturan dosis yang digunakan (Tabel 22). Hal tersebut dikarenakan intensitas serangan penyakit yang tinggi, menyebabkan petani menggunakan fungisida melebihi anjuran pemakaian karena mereka beranggapan bahwa semakin banyak fungisida yang digunakan maka tanaman akan semakin tahan terhadap penyakit, sehingga penyemprotan fungisida dimulai sejak tanaman kentang berumur 10 – 14 HST. Namun, penambahan fungisida ternyata tidak signifikan terhadap peningkatan produktivitas kentang. 8) Insektisida (X8) Insektisida yang digunakan mengandung zat aktif yang berguna untuk membasmi atau mengurangi hama dan penyakit. Insektisida yang digunakan petani responden dapat dilihat pada Tabel 22. Hasil pendugaan persamaan fungsi produksi menunjukkan bahwa penggunaan insektisida memiliki tanda parameter 104 positif dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,028 yang berarti penambahan jumlah insektisida sebesar satu persen dalam suatu proses produksi maka produktivitas kentang akan meningkat sebesar 0,028 persen (ceteris paribus). Berdasarkan hasil pendugaan parameter variabel fungisida memiliki nilai t hitung lebih kecil dari pada t tabel pada taraf nyata sepuluh persen, sehingga insektisida tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang. Rata-rata penggunaan insektisida petani responden kentang sebesar 8,41 liter per hektar. Berdasarkan kondisi lapang, dosis penggunaan insektisida yang digunakan petani sama halnya dengan penggunaan fungisida yang melebihi dosis anjuran pemakaian (Tabel 22). Penggunaan insektisida ini lebih dibutuhkan ketika terdapat hama dan penyakit, karena insektisida berfungsi sebagai pembasmi hama dan bukan pencegah hama. Kondisi yang terjadi di lapang, petani tetap menggunakan insektisida disaat kondisi apapun, baik ketika tanaman dalam kondisi tidak terserang hama ataupun terserang hama sehingga pemberian insektisida menjadi berlebihan. Namun, penambahan insektisida ternyata tidak signifikan terhadap peningkatan produktivitas kentang. 9) Perekat (X9) Penggunaan perekat berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas kentang pada taraf nyata sepuluh persen dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,073. Dengan demikian, penambahan jumlah perekat sebesar satu persen akan meningkatkan produktivitas kentang sebesar 0,073 persen, dengan asumsi variabel lain tetap (ceteris paribus). Rata-rata penggunaan perekat petani responden sebesar 13,44 lt/ha. Jumlah perekat yang digunakan petani di bawah dosis anjuran menurut Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 442/Kpts/SR.140/9/2003 yaitu sebesar 8,33 – 16,66 lt/ha. Curah hujan yang relatif tinggi pada musim hujan menyebabkan penggunaan perekat tidak dapat diabaikan. Hal tersebut disebabkan pestisida yang diaplikasikan kemudian selang satu hingga dua jam hujan turun maka pengaplikasian pestisida tersebut akan sia-sia karena pestisida tersebut akan tercuci oleh air hujan. Sehingga dengan penggunaan perekat, pestisida yang diaplikasikan akan cepat terserap oleh daun sehingga apabila hujan turun pestisida 105 yang telah diaplikasikan akan tetap berfungsi. Hal tersebut akan memberikan pengaruh kepada produktivitas kentang yang dihasilkan. 10) Tenaga Kerja (X10) Penggunaan tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas kentang pada taraf nyata sepuluh persen dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,161. Nilai tersebut menggambarkan, penambahan tenaga kerja sebesar satu persen akan meningkatkan produktivitas kentang sebesar 0,161 persen, dengan asumsi variabel lain tetap (ceteris paribus). Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa tenaga kerja memang sangat dibutuhkan dalam usahatani kentang. Tenaga kerja dibutuhkan pada setiap kegiatan mulai dari persiapan lahan hingga panen. Penyerapan tenaga kerja paling banyak adalah pada kegiatan persiapan lahan, pemeliharaan, dan pemanenan. Contohnya, pada saat kegiatan pemanenan, jika tenaga kerja yang digunakan sedikit tetapi lahan yang dipanen luas, maka hasil panen yang akan diperoleh tidak maksimal karena panen tidak dapat dilakukan dalam sehari, sehingga panen harus dilakukan beberapa hari. Hal tersebut berakibat pada kualitas kentang yang dihasilkan akan menurun dan kuantitas hasil produksi dapat berkurang. Rata-rata penggunaan tenaga kerja untuk usahatani kentang di lokasi penelitian sebesar 639,48 HOK per hektar, baik tenaga kerja dalam keluarga maupun tenaga kerja luar keluarga dengan anjuran penggunaan tenaga kerja menurut Samadi (2007) sebesar 619 HOK, tanpa kegiatan pengajiran dan penalian. Dengan demikian berdasarkan kondisi di lapang, bahwa tenaga kerja sangat dibutuhkan untuk kelancaran dan kemudahan kegiatan produksi kentang, sehingga penambahan tenaga kerja seperti pada kegiatan pemanenan akan dapat meningkatkan produktivitas kentang. 106 VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis pendapatan usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic per hektar di Desa Cigedug pada musim hujan 2011 – 2012 secara umum dinyatakan menguntungkan untuk diusahakan. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata pendapatan atas biaya total yang dicapai petani responden varietas Granola dalam satu periode tanam kentang sebesar Rp 33.256.875,51 per hektar, sedangkan petani kentang varietas Atlantic sebesar Rp 42.206.449,23 per hektar sehingga usahatani kentang kedua varietas tersebut menguntungkan untuk diusahakan. Berdasarkan analisis faktor-faktor produksi kentang di Desa Cigedug dengan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas dapat diketahui faktorfaktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang adalah penggunaan varietas, jumlah pupuk kandang, unsur Fosfat, unsur Kalium, perekat, dan tenaga kerja. Sementara itu, jumlah benih, unsur Nitrogen, fungisida, dan insektisida tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang. 8.2. Saran Berdasarkan hasil dan pembahasan serta kesimpulan, maka disarankan: 1) Ketika harga jual kentang varietas Granola turun, petani sebaiknya memberikan nilai tambah pada kentang varietas Granola dengan mengolahnya menjadi produk lain seperti tepung, kerupuk, dan pati sehingga petani mendapat tambahan pendapatan. 2) Petani dapat mengurangi penggunaan faktor produksi yang tidak nyata mempengaruhi produktivitas kentang seperti pestisida dalam usahataninya, agar petani dapat menghemat biaya yang dikeluarkan untuk usahatani kentang. 3) PT Indofood Fritolay Makmur sebaiknya mengembangkan pembibitan lokal seperti yang telah dilakukan di daerah Malang, agar dapat mengurangi pasokan impor bibit kentang varietas Atlantic dan meminimalisasi keterlambatan benih di tingkat petani akibat adanya proses karantina. 4) Lebih baik pihak vendor PT Indofood Fritolay Makmur membuat kontrak dengan petani mitra yang berisi hak dan kewajiban dengan menggunakan materai, agar kedua belah pihak lebih berkomitmen dalam menjalankan pelaksanaan usaha pertanian kontrak. 108 DAFTAR PUSTAKA Andarwati AU. 2011. Efisiensi Teknis Usahatani Kentang dan Faktor yang Mempengaruhi di Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor Apriyanto RHR. 2005. Pengaruh Status dan Luas Lahan Usahatani Kentang (Solanum tuberosum L.) Terhadap Produksi dan Pendapatan Petani [Skripsi]. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Ashandi AA, Setiawati W, Somantri A. 2001. Perbaikan Pemupukan Berimbang pada Tanaman Kentang dalam Pengendalian Hama Lalat Penggorok Daun, Jurnal Hortikultura 11(1): 16-21. Ashari. 2009. Membangun Sinergi Usaha Petani Kentang-Swasta dengan Kemitraan Pemasaran. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol.31 No.3. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Assauri S. 2004. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi Revisi. Jakarta: Universitas Indonesia Pr. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta. 2004. Teknologi Budidaya Kentang Industri di Lahan Swah Dataran Medium Kabupaten Sleman D.I. Yogyakarta. Rekomensasi Teknologi Pertanian 2004. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2012. Kecamatan Cigedug dalam Angka 2011. Garut: BPS [BPS] Badan Pusat Statistik. 2011a. PDB Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010 (persen). Jakarta: BPS. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2011b. Konsumsi penduduk per kapita. Jakarta: BPS. [BP3K] Badan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan. 2012. Program Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan. Garut: BP3K Cigedug. Damanah. 1998. Analisis Faktor-faktor Produksi dan Pendapatan Usahatani Bawang Merah di Desa Sukasari Kaler Kecamatan Argapura Kabupaten Majalengka Propinsi Jawa Barat [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Deshinta M. 2006. Perananan Kemitraan Terhadap Peningkatan Pendapatan Peternak Ayam Broiler (Kasus Kemitraan: PT Sierad Produce dengan Peternak di Kabupaten Sukabumi) [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Daryanto A. 2012. Contract Farming Sebagai Sumber Pertumbuhan Baru dalam Bidang Peternakan. http://www.mb.ipb.ac.id/artikel/view/id/2f09c97 45b6ea649295a86561c8944ba.html. [13 November 2012] Desa Cigedug. 2012a. Laporan Kegiatan Pertanggungjawaban (LKPJ) Kepala Desa Cigeduh Tahun 2011. Garut: Pemerintahan Kabupaten Garut Kecamatan Cigedug Desa Cigedug. 2012b. Laporan Jumlah Penduduk Desa Cigedug (Maret 2012). Garut: Pemerintahan Kabupaten Garut Kecamatan Cigedug [Ditjenhorti] Direktorat Jenderal Hortikultura. 2011a. Produksi Sayuran Nasional Periode 2006 - 2010. Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura [Ditjenhorti] Direktorat Jenderal Hortikultura. 2011b. Luas Panen Tanaman Sayuran di Indonesia Periode 2006 – 2010. Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura [Ditjenhorti] Direktorat Jenderal Hortikultura. 2011c. Produktivitas Tanaman Sayuran di Indonesia Periode 2006 – 2010. Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura [Ditjenhorti] Direktorat Jenderal Hortikultura. 2011d. PDB Hortikultura Tahun 2006 - 2010. Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura [Ditjenhorti] Direktorat Jenderal Hortikultura. 2012. Komoditas Unggulan. Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura http://hortikultura.deptan.go.id /?q=content/komoditas-unggulan [Diakses pada 13 September 2012] Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut. 2012a. Luas Panen Kentang Tahun 2007 – 2011. Garut: Dinas Pertanian Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut. 2012b. Produksi Kentang Tahun 2007 – 2011. Garut: Dinas Pertanian Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut. 2012c. Produktivitas Kentang Tahun 2007 – 2011. Garut: Dinas Pertanian Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut. 2011. Standar Operasional Prosedur (SOP) Kentang. Garut: Dinas Pertanian Eaton C, Shepherd A. 2001. Contract Farming: Partnership for Growth. FAO Agricultural Services Buletin No.145. Rome: Food and Agricultural Organization of United Nation. Effendie K. 2002. Kentang Prosesing untuk Agroindustri. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. ISSN 0216-4427. Vol. 24 No. 2. Hal: 1-3 110 Erika F. 1999. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-faktor Produksi dan Pendapatan Usahatani Kentang di Desa Raya, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Tanah Karo, Propinsi Sumatera Utara [Skripsi]. Bogor: Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Gujarati DN. 2006a. Dasar-dasar Ekonometrika. Ed ke-3. Jilid 1. Jakarta: Erlangga Gujarati DN. 2006b. Dasar-dasar Ekonometrika. Ed ke-3. Jilid 2. Jakarta: Erlangga Hakim ML. 2002. Analisis Pendapatan dan Resiko dalam Diversifikasi Usaha Agribisnis Kentang [Skripsi]. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Hernanto F. 1996. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya Hooker WJ. 1982. Virus Diseases of Potato. Peru: Technical Information Bull. Iqbal M. 2008. Tinjauan Teoritis dan Implementasi Manajemen Pertanian Kontrak. Jurnal Ekonomi Maret 2008 No.01. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Kholis A. 2011. Efisiensi Penggunaan Radiasi Surya pada Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.) Varietas Granola dan Atlantik di Kabupaten Kerinci, Jambi [Skripsi. Departemen Geofisika dan Meteorologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor. Lind DA, Marchal WG, Wathen SA. 2007. Teknik-teknik Statistika dalam Bisnis dan Ekonomi Menggunakan Kelompok Data Global. Ed ke-13, Ed Rev. Jakarta: Salemba Empat. Nurmala SD. 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Ubi Jalar [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Patrick et al. 2004. Contract Farming in Indonesia: Smallholders and Agribusiness Working Together. ACIAR Technical Reports No.54. Prahardini PER. 2006. Pengelolaan Perbenihan Kentang di Tingkat Penangkar. Info Teknologi Pertanian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur. No.34. Pratiwi MY. 2011. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risioko Produksi Caisin (Brassica rapa cv. Caisin) di Desa Citapen Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor [Skripsi]. Departemen Agribisnis. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. 111 Puspitasari D. 2011. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risioko Produksi Mentimun (Cucumis sativus L) di Desa Citapen Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor [Skripsi]. Departemen Agribisnis. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Putra WDD. 2011. Analisis Faktor-faktor Produksi yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Jagung Manis di Desa Sukajadi Kecamatan Taman Sari Kabupaten Bogor [Skripsi]. Departeman Agribisnis. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Rahim A, Hastuti RDR. 2008. Pengantar, Teori, dan Kasus Ekonomika Pertanian. Jakarta: Penebar Swadaya. Rivai RS. 1982. Survey Usahatani Kentang di Kabupaten Garut. Pusat Penelitian Agro Ekonomi. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Samadi B. 2007. Kentang dan Analisis Usaha Tani Edisi Revisi. Kanisius : Yogyakarta. Saptana et al. 2006 Analisis Kelembagaan Kemitraan Rantai Pasok Komoditas Hortikultura. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Setiadi. 2009. Budidaya Kentang. Depok : Penebar Swadaya. Sumardjo et al. 2004. Teori dan Praktik Kemitraan Agribisnis. Depok: Penerbit Swadaya Siregar NM. 2011. Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Cabai Merah Keriting di Desa Citapen, Kecamatan ciawi, Kabupten Bogor [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Sofiari E. 2009. Daya Hasil Beberapa Klon Kentang di Garut dan Banjarnegara. Jurnal Hortikultura 19(2): 148-154 Soekartawi dan Soeharjo A. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Dillon JL, Hardaker, penerjemah; Jakarta: UI-Press. Terjemahan dari: Farm Management Research for Small Development. Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Jakarta: Universitas Indonesia Pr. Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian: Teori dan aplikasi. Ed.2, Cet. 4. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Soekartawi. 2005. Agribisnis: Teori dan Aplikasisnya. Ed. 1. Cet 8. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Sudarsono. 1995. Pengantar Ekonomi Mikro. Edisi Revisi. Jakarta: LP3ES 112 Suratiyah K. 2006. Ilmu Usahatani. Jakarta : Penebar Swadaya. Suryana S. 2007. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Jagung di Kabupaten Blora [Tesis]. Semarang: Program Pascasarjana, Universita Diponegoro. Widyastuti N. 1996. Pengaruh Jarak Tanam dan Pemberian Alar (N,N, Dimethyl Hydrazide) terhadap Pertumbuhan dan Produksi Umbi Mini Kentang (Solanum tuberosum L.) Kultiver Atlantic dan Red Pontiac [Tesis]. Program Pascasarjana. Biologi. Intitut Pertanian Bogor. Bogor. 113 LAMPIRAN Lampiran 1. Rata-rata Pertumbuhan Luas, Produksi, dan Produktivitas Kentang pada Tahun 2007 – 2011 di Lima Daerah Penghasil Kentang Terbesar di Kabupaten Garut Rata-rata Kecamatan 2007 2008 2009 2010 2011 Pertumbuhan 2007 – 2011 (%) Luas (Ha) Cikajang 1.362 1.290 941 1.234 1.340 1,85 Cigedug 342 416 526 563 627 16,62 Cisurupan 591 629 540 770 710 6,77 Sukaresmi 307 338 404 369 500 14,12 Pasirwangi 975 1.620 1.125 1.413 785 4,19 Produksi (Ton) Cikajang 32.587 30.214 22.378 27.356 29.559 -0,73 Cigedug 8.224 9.652 12.361 12.525 13.998 14,63 Cisurupan 14.127 14.743 12.705 17.094 16.609 5,56 Sukaresmi 7.154 7.889 9.415 8.173 10.992 12,73 Pasirwangi 22.640 37.601 26.182 31.028 17.669 2,79 Produktivitas (Ton/Ha) Cikajang 23,93 23,42 23,78 22,17 22,06 - 1,97 Cigedug 24,05 23,20 23,50 22,25 22,33 -1,80 Cisurupan 23,90 23,44 23,58 22,20 22,63 -1,31 Sukaresmi 23,30 23,34 23,31 22,15 21,84 -1,58 Pasirwangi 23,22 23,21 23,27 21,96 22,51 -0,73 Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut 2012 114 Lampiran 2. Hasil Output MINTAB 14 Fungsi Produksi Regression Analysis: Ln Produksi versus Ln Luas lahan; Ln Benih; ... The regression equation is Ln Produksi = - 6,19 - 0,267 Ln Luas lahan + 0,188 Ln Benih + 0,237 Varietas + 0,392 Ln Pupuk Kandang + 0,0470 Ln Nitrogen + 0,290 Ln Fosfat + 0,0174 Ln Kalium + 0,0565 Ln Fungisida + 0,0274 Ln Insektisida + 0,0748 Ln Perekat + 0,193 Ln TK Predictor Constant Ln Luas lahan Ln Benih Varietas Ln Pupuk Kandang Ln Nitrogen Ln Fosfat Ln Kalium Ln Fungisida Ln Insektisida Ln Perekat Ln TK S = 0,211433 Coef -6,191 -0,2674 0,1881 0,23695 0,3925 0,04701 0,2899 0,017410 0,05645 0,02739 0,07481 0,1934 SE Coef 1,906 0,2234 0,1447 0,09115 0,1688 0,09183 0,1214 0,007112 0,07209 0,03239 0,04365 0,1509 R-Sq = 94,6% T -3,25 -1,20 1,30 2,60 2,33 0,51 2,39 2,45 0,78 0,85 1,71 1,28 P 0,002 0,237 0,200 0,012 0,024 0,611 0,021 0,018 0,437 0,402 0,093 0,206 VIF 44,3 20,1 2,8 30,8 8,2 14,5 1,5 8,7 1,9 3,0 10,5 R-Sq(adj) = 93,4% Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total Source Ln Luas lahan Ln Benih Varietas Ln Pupuk Kandang Ln Nitrogen Ln Fosfat Ln Kalium Ln Fungisida Ln Insektisida Ln Perekat Ln TK DF 11 48 59 SS 37,8942 2,1458 40,0400 DF 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 MS 3,4449 0,0447 F 77,06 P 0,000 Seq SS 35,5465 0,3522 0,1384 0,6171 0,1748 0,2877 0,3972 0,0653 0,1045 0,1371 0,0734 Unusual Observations Obs 37 46 51 59 Ln Luas lahan -2,12 -0,51 -1,14 -0,73 Ln Produksi 0,2200 2,6100 1,3700 2,4900 Fit 0,6179 2,2626 1,8222 2,1166 SE Fit 0,1408 0,1352 0,0661 0,1077 Residual -0,3979 0,3474 -0,4522 0,3734 St Resid -2,52R 2,14R -2,25R 2,05R R denotes an observation with a large standardized residual. Durbin-Watson statistic = 2,06967 115 Lampiran 3. Hasil Output MINTAB 14 Fungsi Produksi per Luas Lahan Regression Analysis: Ln Produktivitas versus Ln Benih; Varietas; ... The regression equation is Ln Produktivitas = - 6,31 + 0,196 Ln Benih + 0,222 Varietas + 0,417 Ln Pupuk Kandang + 0,0469 Ln Nitrogen + 0,294 Ln Fosfat + 0,0171 Ln Kalium + 0,0529 Ln Fungisida + 0,0283 Ln Insektisida + 0,0728 Ln Perekat + 0,161 Ln TK Predictor Constant Ln Benih Varietas Ln Pupuk Kandang Ln Nitrogen Ln Fosfat Ln Kalium Ln Fungisida Ln Insektisida Ln Perekat Ln TK S = 0,209318 Coef -6,309 0,1963 0,22168 0,4167 0,04691 0,2944 0,017137 0,05289 0,02833 0,07279 0,16095 SE Coef 1,894 0,1421 0,08045 0,1600 0,09088 0,1198 0,007009 0,07106 0,03206 0,04317 0,09093 R-Sq = 53,7% T -3,33 1,38 2,76 2,60 0,52 2,46 2,45 0,74 0,88 1,69 1,77 P 0,002 0,173 0,008 0,012 0,608 0,018 0,018 0,460 0,381 0,098 0,083 VIF 1,4 2,2 1,3 1,6 1,4 1,4 2,5 1,6 1,4 1,4 R-Sq(adj) = 44,3% Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total DF 10 49 59 Source Ln Benih Varietas Ln Pupuk Kandang Ln Nitrogen Ln Fosfat Ln Kalium Ln Fungisida Ln Insektisida Ln Perekat Ln TK SS 2,49078 2,14689 4,63767 DF 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 MS 0,24908 0,04381 F 5,68 P 0,000 Seq SS 0,35963 0,20197 0,43751 0,21388 0,24791 0,47321 0,05852 0,19927 0,16162 0,13726 Unusual Observations Obs 37 46 51 59 Ln Benih 7,68 7,82 7,13 7,31 Ln Produktivitas 2,3430 3,1210 2,5130 3,2270 Fit 2,7298 2,7742 2,9652 2,8313 SE Fit 0,1390 0,1340 0,0631 0,0891 Residual -0,3868 0,3468 -0,4522 0,3957 St Resid -2,47R 2,16R -2,27R 2,09R R denotes an observation with a large standardized residual. Durbin-Watson statistic = 2,09345 116 Lampiran 4. Hasil Output Grafik MINITAB 14 Fungsi Produksi per Luas Lahan Residual Plots for Ln Produktivitas Residual Plots for Ln Produktivitas Normal Probability Plot of the Residuals Residuals Versus the Fitted Values 99,9 0,50 0,25 90 Residual Percent 99 50 10 0,00 -0,25 1 -0,50 0,1 -0,50 -0,25 0,00 Residual 0,25 0,50 2,50 Histogram of the Residuals 2,75 3,00 Fitted Value 3,25 3,50 Residuals Versus the Order of the Data 0,50 0,25 9 Residual Frequency 12 6 0,00 -0,25 3 -0,50 0 -0,4 -0,2 0,0 Residual 0,2 0,4 1 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Observation Order 117 Lampiran 5. Output dan Input Petani Kentang Varietas Granola pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug per Hektar No Produksi (ton) Benih (kg) P. kandang (kg) N (kg) P (kg) K (kg) Fungisida (kg) Insektisida (lt) Perekat (lt) TK (HOK) 1 23,88 1687,50 25046,05 337,50 525,00 75,00 138,16 0,86 18,42 517,63 2 22,92 2500,00 21000,00 518,75 485,00 275,00 66,67 15,42 8,33 1175,00 3 17,00 1920,00 24120,00 252,00 432,00 0,00 62,00 2,55 8,00 572,80 4 25,25 1875,00 24018,75 270,00 457,50 7,50 47,50 5,50 18,75 513,13 5 18,75 1500,00 25312,50 281,25 468,75 768,75 40,00 2,50 12,50 1030,00 6 32,50 1750,00 22500,00 206,25 300,00 75,00 25,00 27,50 25,00 1995,00 7 10,42 2166,67 15000,00 262,50 450,00 0,00 33,33 1,67 16,67 1015,83 8 15,65 1250,00 24750,00 247,50 397,50 637,50 26,50 1,13 2,50 210,05 9 22,92 1250,00 22500,00 410,63 570,00 487,50 15,63 13,75 6,67 516,67 10 27,75 1500,00 28125,00 360,00 510,00 750,00 20,00 9,50 1,25 819,00 11 33,44 1562,50 22500,00 290,63 431,25 468,75 50,00 13,75 18,75 639,38 12 23,13 1354,17 22500,00 290,63 431,25 468,75 83,33 4,58 3,33 264,58 13 27,75 2000,00 36000,00 228,75 378,75 243,75 106,25 5,25 18,75 534,75 14 22,13 2500,00 22500,00 255,00 423,75 393,75 93,75 13,41 9,00 440,50 15 21,35 1600,00 36000,00 205,50 325,50 37,50 48,00 0,20 2,00 404,70 16 22,67 2500,00 22500,00 315,00 540,00 0,00 62,50 0,87 4,17 470,00 17 27,14 2142,86 25714,29 180,00 255,00 375,00 78,57 20,71 28,57 661,79 18 21,50 1750,00 36000,00 228,75 378,75 243,75 50,00 6,35 9,00 357,10 19 17,75 1625,00 22500,00 228,75 378,75 243,75 35,00 2,15 5,00 573,50 20 22,83 2250,00 22500,00 228,75 378,75 243,75 36,67 4,96 8,33 562,92 21 12,34 1250,00 22500,00 266,25 416,25 281,25 36,56 4,25 6,25 436,25 22 22,75 1875,00 22500,00 221,25 352,50 337,50 40,00 3,40 10,00 633,00 23 23,04 2375,00 22500,00 247,50 397,50 262,50 42,86 5,14 10,71 550,36 24 30,00 2500,00 22500,00 228,75 858,75 243,75 50,00 5,67 8,33 723,33 25 20,94 1250,00 21093,75 112,50 384,38 234,38 68,75 2,31 6,25 541,88 26 22,20 1500,00 23760,00 223,20 331,20 360,00 70,00 1,00 6,00 316,00 27 30,47 1500,00 28125,00 487,50 543,75 93,75 87,50 5,19 15,63 673,75 28 24,06 1750,00 25031,25 131,25 450,00 375,00 118,75 37,50 6,25 864,38 29 25,21 1500,00 20062,50 126,00 216,00 180,00 53,13 10,42 7,50 615,00 30 22,03 2000,00 25031,25 337,50 525,00 450,00 51,56 1,80 6,25 655,94 118 Lampiran 6. Output dan Input Petani Kentang Varietas Atlantic pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug per Hektar No Produksi (ton) Benih (kg) P. kandang (kg) N (kg) P (kg) K (kg) Fungisida (kg) Insektisida (lt) Perekat (lt) TK (HOK) 1 23,18 2500,00 28125,00 337,50 525,00 75,00 164,06 11,80 31,88 410,38 2 26,05 2500,00 42187,50 285,00 435,00 75,00 150,00 2,60 30,00 518,80 3 26,05 2500,00 42187,50 285,00 435,00 75,00 150,00 2,90 40,00 470,30 4 31,74 2125,00 28125,00 120,00 570,00 420,00 250,00 25,90 26,67 563,80 5 30,50 1875,00 28125,00 180,00 435,00 375,00 87,50 26,93 25,00 753,21 6 19,18 2250,00 28636,36 172,73 352,73 221,82 164,77 4,55 13,64 591,14 7 17,04 1800,00 21600,00 204,48 319,68 100,80 70,00 2,00 24,00 468,90 8 16,00 2272,73 20454,55 184,09 286,36 150,00 72,44 3,82 4,55 662,50 9 29,48 2083,33 23437,50 325,00 512,50 437,50 125,00 6,56 10,42 769,38 10 14,16 1750,00 24609,38 203,44 334,69 282,19 117,19 3,00 12,50 580,94 11 20,09 2000,00 28125,00 132,50 260,00 80,00 150,00 17,40 12,50 674,25 12 25,13 1875,00 22959,18 237,24 352,04 76,53 95,66 12,50 10,71 776,07 13 20,83 1875,00 20250,00 268,75 543,75 343,75 135,00 6,25 25,00 541,00 14 15,09 1250,00 19687,50 371,25 502,50 337,50 125,00 2,58 15,00 587,75 15 15,09 1750,00 22500,00 118,13 405,00 337,50 93,75 7,00 2,50 709,00 16 11,79 1750,00 28125,00 150,00 137,50 187,50 104,17 2,67 14,58 605,42 17 26,13 1250,00 19687,50 371,25 502,50 337,50 150,00 2,58 15,00 639,25 18 23,75 2937,50 22500,00 118,13 337,50 225,00 112,50 6,25 12,50 616,25 19 16,50 1562,50 22500,00 181,69 353,81 239,06 181,25 15,31 6,25 821,88 20 26,38 2125,00 28125,00 285,00 435,00 375,00 116,67 8,06 31,25 462,50 21 27,15 2500,00 24750,00 311,25 480,00 225,00 175,00 2,50 15,00 776,50 22 25,10 1500,00 22500,00 144,00 492,00 60,00 86,54 0,96 38,46 566,92 23 10,82 1142,86 16071,43 166,07 439,29 53,57 85,71 1,18 3,57 426,79 24 19,25 2250,00 28125,00 131,25 450,00 375,00 148,33 34,92 6,67 550,75 25 12,55 2000,00 22500,00 84,00 288,00 240,00 70,00 7,20 7,50 404,10 26 15,69 1250,00 28125,00 157,50 450,00 300,00 112,50 7,00 12,50 582,75 27 20,10 1500,00 28125,00 285,00 435,00 375,00 70,00 2,63 5,00 665,00 28 30,25 2000,00 28125,00 285,00 435,00 375,00 87,50 2,92 8,33 990,00 29 18,06 2000,00 20000,00 228,75 378,75 618,75 131,25 26,25 20,83 807,08 30 24,88 2000,00 20000,00 228,75 378,75 618,75 183,33 19,17 16,67 1076,67 119 Lampiran 7. Biaya Input Petani Kentang Varietas Granola pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug (Rp/Ha) No Benih P. Kandang ZA TSP KCl Mutiara Phonska Fungisida Insektisida 1 16.875.000 7.792.105 2.250.000 2.250.000 1.150.000 12.940.789 546.053 2 30.000.000 6.533.333 3.375.000 1.800.000 500.000 1.916.667 10.666.667 2.458.333 3 19.200.000 7.504.000 2.160.000 2.160.000 - 7.800.000 1.355.000 4 31.875.000 7.472.500 2.250.000 2.250.000 115.000 4.175.000 3.300.000 5 19.500.000 7.875.000 2.250.000 2.250.000 2.500.000 287.500 2.500.000 1.500.000 6 35.000.000 7.000.000 1.125.000 1.125.000 1.150.000 3.500.000 3.625.000 7 10.833.333 4.333.333 2.250.000 2.250.000 - 5.333.333 1.333.333 8 15.000.000 7.150.000 1.800.000 1.800.000 2.000.000 575.000 2.445.000 175.000 9 18.750.000 6.500.000 1.912.500 1.912.500 1.000.000 2.875.000 2.604.167 1.937.500 10 25.500.000 8.125.000 1.800.000 1.800.000 2.000.000 2.300.000 1.200.000 3.975.000 11 18.750.000 6.500.000 1.687.500 1.687.500 1.250.000 1.437.500 2.875.000 2.437.500 12 27.083.333 6.500.000 1.687.500 1.687.500 1.250.000 1.437.500 7.500.000 645.833 13 34.000.000 10.400.000 1.800.000 1.800.000 750.000 287.500 5.375.000 575.000 14 25.000.000 6.500.000 2.025.000 2.025.000 1.250.000 287.500 11.875.000 3.778.125 15 27.200.000 11.200.000 1.440.000 1.440.000 575.000 8.000.000 160.000 16 25.000.000 6.500.000 2.700.000 2.700.000 - 10.416.667 1.191.667 17 42.857.143 7.428.571 900.000 900.000 1.000.000 1.150.000 7.250.000 4.107.143 18 17.500.000 10.400.000 1.800.000 1.800.000 750.000 287.500 7.800.000 4.270.000 19 16.250.000 6.500.000 1.800.000 1.800.000 750.000 287.500 5.700.000 1.210.000 20 22.500.000 6.500.000 1.800.000 1.800.000 750.000 287.500 5.933.333 2.691.667 21 8.750.000 6.500.000 1.800.000 1.800.000 750.000 862.500 5.918.750 2.293.750 22 18.750.000 6.500.000 1.575.000 1.575.000 1.000.000 575.000 6.200.000 1.835.000 23 28.500.000 6.500.000 1.800.000 1.800.000 750.000 575.000 6.857.143 2.753.571 24 30.000.000 6.500.000 1.800.000 4.200.000 750.000 287.500 8.000.000 3.058.333 25 20.000.000 6.093.750 562.500 1.687.500 625.000 718.750 9.375.000 1.151.563 26 10.500.000 6.864.000 1.296.000 1.296.000 960.000 1.104.000 6.600.000 500.000 27 18.000.000 8.125.000 3.375.000 2.250.000 1.437.500 6.125.000 3.843.750 28 17.500.000 7.231.250 1.125.000 2.250.000 1.250.000 - 11.312.500 5.625.000 29 19.500.000 6.241.667 1.080.000 1.080.000 600.000 - 4.093.750 2.208.333 30 20.000.000 7.787.500 2.250.000 2.250.000 1.250.000 1.150.000 3.718.750 585.938 Perekat 313.158 266.667 256.000 318.750 212.500 425.000 533.333 150.000 213.333 40.000 600.000 200.000 600.000 288.000 220.000 133.333 914.286 990.000 160.000 266.667 200.000 320.000 342.857 266.667 200.000 660.000 500.000 687.500 825.000 375.000 TK 7.764.474 17.625.000 8.592.000 7.696.875 15.450.000 29.925.000 15.237.500 3.150.750 7.750.000 12.285.000 9.590.625 3.968.750 8.021.250 6.607.500 6.070.500 6.845.000 10.366.071 5.356.500 8.602.500 8.443.750 6.543.750 9.495.000 8.255.357 10.850.000 8.128.125 4.740.000 10.106.250 12.965.625 9.225.000 9.839.063 120 Lampiran 8. Biaya Input Petani Kentang Varietas Atlantic pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug (Rp/Ha) No Benih P. Kandang ZA TSP KCl Mutiara Phonska Fungisida Insektisida 1 31.250.000 8.750.000 2.250.000 2.250.000 - 1.150.000 20.625.000 4.212.500 2 31.250.000 13.125.000 1.800.000 1.800.000 - 1.150.000 18.760.000 1.540.000 3 31.250.000 13.125.000 1.800.000 1.800.000 - 1.150.000 18.760.000 1.780.000 4 26.562.500 8.750.000 - 2.250.000 1.000.000 5.250.000 - 13.000.000 8.120.000 5 23.437.500 8.750.000 900.000 1.800.000 1.000.000 - 1.150.000 7.250.000 5.339.286 6 28.125.000 10.500.000 981.818 1.472.727 545.455 2.545.455 - 10.909.091 2.613.636 7 22.500.000 6.720.000 1.382.400 1.382.400 192.000 662.400 5.800.000 1.400.000 8 28.409.091 6.363.636 1.227.273 1.227.273 363.636 627.273 6.051.136 3.136.364 9 26.041.667 7.291.667 2.250.000 2.250.000 1.250.000 958.333 11.666.667 3.843.750 10 21.875.000 7.656.250 1.575.000 1.575.000 875.000 301.875 20.156.250 1.312.500 11 25.000.000 8.750.000 450.000 900.000 - 3.500.000 - 10.500.000 2.085.000 12 23.437.500 9.183.673 1.377.551 1.377.551 - 1.173.469 15.943.878 1.589.286 13 23.437.500 6.300.000 1.500.000 2.250.000 833.333 - 1.437.500 8.575.000 375.000 14 15.625.000 6.125.000 1.575.000 1.575.000 500.000 - 2.875.000 10.500.000 1.467.500 15 21.875.000 7.000.000 1.012.500 2.025.000 1.125.000 - 7.875.000 1.550.000 16 21.875.000 8.750.000 750.000 375.000 416.667 958.333 8.750.000 1.483.333 17 15.625.000 6.125.000 1.575.000 1.575.000 500.000 - 2.875.000 14.000.000 1.467.500 18 34.218.750 7.000.000 1.012.500 1.687.500 750.000 - 8.875.000 2.937.500 19 19.531.250 7.000.000 1.147.500 1.530.000 637.500 733.125 11.675.000 2.718.750 20 26.562.500 8.750.000 1.800.000 1.800.000 1.000.000 - 1.150.000 17.666.667 4.537.500 21 31.250.000 7.700.000 2.025.000 2.025.000 500.000 - 1.150.000 16.500.000 1.250.000 22 18.750.000 7.000.000 720.000 2.160.000 920.000 14.038.462 480.769 23 14.285.714 5.000.000 964.286 1.928.571 821.429 8.857.143 1.035.714 24 28.125.000 8.750.000 1.125.000 2.250.000 1.250.000 - 6.766.667 3.020.833 25 25.000.000 7.000.000 720.000 1.440.000 800.000 - 4.030.000 1.620.000 26 15.625.000 8.750.000 1.350.000 2.250.000 1.000.000 - 7.875.000 2.177.500 27 16.875.000 8.750.000 1.800.000 1.800.000 1.000.000 - 1.150.000 5.200.000 1.537.500 28 25.000.000 8.750.000 1.800.000 1.800.000 1.000.000 - 1.150.000 6.916.667 1.708.333 29 25.000.000 6.222.222 1.800.000 1.800.000 2.000.000 287.500 7.958.333 2.875.000 30 25.000.000 6.222.222 1.800.000 1.800.000 2.000.000 287.500 16.000.000 3.250.000 Perekat 2.053.125 1.440.000 1.610.000 1.383.333 800.000 1.500.000 558.000 500.000 1.145.833 793.750 400.000 1.178.571 300.000 487.500 275.000 441.667 487.500 400.000 687.500 1.875.000 1.650.000 798.077 114.286 733.333 825.000 400.000 300.000 500.000 666.667 533.333 TK 6.155.625 7.782.000 7.054.500 8.457.000 11.298.214 8.867.045 7.033.500 9.937.500 11.540.625 8.714.063 10.113.750 11.641.071 8.115.000 8.816.250 10.635.000 9.081.250 9.588.750 9.243.750 12.328.125 6.937.500 11.647.500 8.503.846 6.401.786 8.261.250 6.061.500 8.741.250 9.975.000 14.850.000 12.106.250 16.150.000 121 Lampiran 9. Penerimaan Diperhitungkan dan Tunai Petani Kentang Varietas Granola dan Varietas Atlantic pada Musim Hujan 2011 – 2012 (Rp/Ha) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Penerimaan Diperhitungkan Varietas Granola Varietas Atlantic Bibit Konsumsi Bibit Konsumsi 12.500.000 631.579 6.250.000 247.500 25.000.000 2.083.333 10.000.000 247.500 1.000.000 10.000.000 247.500 15.000.000 925.000 17.000.000 198.000 2.812.500 17.857.143 707.143 65.000.000 8.750.000 9.090.909 450.000 1.583.333 10.000.000 198.000 4.000.000 525.000 450.000 18.750.000 833.333 12.500.000 515.625 25.000.000 1.125.000 464.063 62.500.000 1.187.500 433.125 20.833.333 833.333 618.750 50.000.000 1.125.000 8.333.333 4.125.000 18.000.000 437.500 433.125 11.700.000 190.000 433.125 13.333.333 250.000 4.166.667 618.750 42.857.143 1.428.571 10.000.000 618.750 10.000.000 1.500.000 6.187.500 20.000.000 800.000 37.500.000 1.237.500 11.250.000 1.166.667 12.500.000 618.750 625.000 20.000.000 742.500 33.750.000 825.000 475.962 28.571.429 607.143 530.357 83.333.333 1.250.000 8.333.333 412.500 45.000.000 1.062.500 10.000.000 247.500 32.000.000 700.000 6.250.000 309.375 62.500.000 1.125.000 495.000 56.250.000 1.125.000 50.000.000 1.237.500 20.833.333 875.000 4.166.667 721.875 28.125.000 546.875 45.833.333 1.443.750 Penerimaan Tunai Varietas Granola AL A B 54.000.000 27.000.000 4.500.000 60.000.000 12.000.000 8.000.000 42.000.000 20.160.000 2.940.000 61.512.500 14.843.750 2.137.500 40.781.250 21.750.000 3.625.000 61.250.000 14.000.000 4.500.000 15.200.000 14.000.000 1.500.000 26.250.000 16.875.000 1.350.000 50.000.000 18.750.000 4.166.667 67.500.000 22.500.000 5.000.000 71.487.500 13.437.500 4.837.500 41.666.667 25.000.000 4.166.667 70.875.000 16.875.000 2.250.000 35.000.000 22.400.000 4.000.000 38.000.000 25.200.000 2.000.000 38.250.000 14.025.000 3.187.500 65.000.000 17.410.714 2.321.429 36.000.000 13.200.000 3.400.000 19.200.000 12.000.000 4.500.000 37.187.500 21.250.000 3.825.000 14.625.000 17.062.500 3.656.250 30.937.500 18.750.000 3.375.000 40.800.000 15.000.000 4.000.000 44.625.000 9.350.000 3.825.000 25.500.000 13.200.000 2.400.000 37.800.000 17.640.000 1.800.000 60.243.750 12.431.250 4.781.250 37.800.000 13.650.000 2.800.000 67.375.000 13.750.000 4.583.333 39.375.000 14.062.500 3.375.000 Varietas Atlantic Standard dan Oversize 111.375.000 123.750.000 123.750.000 148.500.000 141.428.571 90.000.000 79.200.000 78.750.000 139.218.750 69.609.375 99.000.000 123.750.000 94.875.000 74.250.000 74.250.000 55.687.500 123.750.000 111.375.000 61.875.000 123.750.000 123.750.000 123.750.000 53.035.714 90.750.000 56.925.000 74.250.000 99.000.000 123.750.000 86.625.000 99.000.000 122 I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian Indonesia memiliki potensi yang besar dalam segi sumberdaya dan kualitas, sehingga dapat menjadi sektor unggulan dalam meningkatkan pendapatan negara. Saat ini pertanian tidak hanya terfokus pada aspek budidaya, namun aspek pemanfaatan pengolahan dan pemasaran sudah diperhatikan dalam menunjang sektor pertanian. Hal ini yang disebut agribisnis, adanya integrasi dari subsistem hulu hingga hilir yang didukung dengan subsistem penunjang. Pembangunan agribisnis memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Selain merupakan sektor utama dalam pembangunan ekonomi, pembangunan agribisnis juga merupakan cara memaksimalkan keunggulan komparatif yang dimiliki Indonesia sebagai negara agraris. Persaingan yang tinggi saat ini, mendorong pertanian harus memiliki daya saing dan inovasi yang baik, terutama pada produk-produk pertanian yang memiliki potensi dan nilai yang tinggi, serta dijadikan kebutuhan pokok oleh sebagian besar masyarakat. Sektor pertanian menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 15,3 persen dari total nilai PDB menurut lapangan usaha tahun 2010, dimana sektor pertanian menjadi penyumbang PDB kedua terbesar setelah sektor industri pengolahan (BPS 2011a). Salah satu subsektor pertanian yang memiliki potensi untuk dikembangkan yaitu hortikultura yang terdiri atas sayuran, buah-buahan, florikultura, dan biofarmaka. Hortikultura berperan sebagai sumber pangan, sumber pendapatan masyarakat, penyedia lapangan kerja, dan penghasil devisa. Hal tersebut menjadi alasan bahwa subsektor ini perlu menjadi prioritas pengembangan. Hortikultura turut memberikan kontribusi terhadap pendapatan nasional yang dapat dilihat dari nilai PDB. Pada tahun 2006 hingga 2009 nilai PDB subsektor hortikultura terus meningkat, namun pada tahun 2009 ke 2010 terjadi penurunan sebesar 2,67 persen. Penurunan ini disebabkan karena produksi hortikultura yang menurun di berbagai wilayah penanaman (Ditjenhorti 2011). Walaupun demikian, nilai PDB Hortikultura mengalami rata-rata pertumbuhan dari tahun 2006 hingga 2010 sebesar 5,94 persen (Tabel 1). Tabel 1. Perkembangan Nilai PDB Hortikultura Tahun 2006 – 2010 Nilai PDB (Rp Miliar) Komoditas 2006 2007 2008 2009 Buah-buahan 35.448 25.587 28.205 30.506 Sayuran 24.694 42.362 47.060 48.437 Florikultura 3.762 4.741 5.085 5.494 Biofarmaka 4.734 4.105 3.853 3.897 Total 68.639 76.795 84.202 88.334 2010 31.244 45.482 6.172 3.665 85.985 Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2011) Sayuran merupakan salah satu produk hortikultura yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan baik sebagai penghasil devisa maupun sebagai sarana meningkatkan pendapatan petani. Selain sebagai komoditas yang penting dalam memenuhi kebutuhan gizi, sayuran telah memberikan kontribusi PDB sebesar 36,35 persen terhadap subsektor hortikultura pada tahun 2010. Produksi sayuran nasional tercatat mengalami peningkatan rata-rata dari tahun 2006 hingga 2010 sebesar 3,01 persen (Ditjenhorti 2011a). Menurut Ditjenhorti (2012), salah satu komoditas sayuran unggulan nasional yang mendapat prioritas pengembangan oleh pemerintah adalah kentang (Solanum tuberosum L). Kentang memiliki kadar air yang cukup tinggi sekitar 78 persen. Selain itu, setiap 100 gram kentang mengandung kalori 374 kal, protein 0,3 gram, lemak 0,1 gram, karbohidrat 85,6 gram, kalsium 20 mg, forsor 30 mg, zat besi 0,5 mg, dan vitamin B 0,04 mg. Melihat kandungan gizinya, kentang merupakan sumber utama karbohidrat, sehingga sangat bermanfaat untuk meningkatkan energi di dalam tubuh (Samadi 2007). Tanaman kentang umumnya dapat tumbuh pada segala jenis tanah, namun tidak semua dapat memberikan hasil yang baik. Kondisi tanah yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan kentang adalah berstruktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, subur, mudah mengikat air, dan memiliki pH tanah 5,0 – 7,0. Suhu rata-rata harian yang optimal bagi pertumbuhan kentang adalah 18 – 21 oC dengan tingkat kelembapan udara sekitar 80 – 90 persen. Selain itu, curah hujan yang sesuai untuk membudidayakan kentang adalah 1.500 mm per tahun (Samadi 2007). Kentang merupakan tanaman sayuran semusim yang berbentuk semak 2 atau perdu dan berumur pendek. Tanaman kentang dapat tumbuh baik di dataran tinggi atau pegunungan dengan tingkat ketinggian 1.000 – 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl) (Samadi 2007). Apabila tumbuh di dataran rendah (di bawah 500 mdpl), tanaman kentang sulit membentuk umbi. Jika terbentuk, umbinya akan berukuran sangat kecil, kecuali di daerah yang mempunyai suhu malam hari dingin (20 oC). Sementara itu, jika ditanam di atas ketinggian 2.000 m dpl, tanaman akan lambat membentuk umbi.1 Kentang memiliki prospek dalam menunjang program diversifikasi pangan dan bahan baku industri. Kebutuhan kentang cenderung mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi bagi kesehatan. Hal tersebut dapat dilihat dari tingkat konsumsi kentang per kapita yang mengalami rata-rata peningkatan dari tahun 2002 hingga 2008 sebesar 7,10 persen (BPS 2011b). Namun pada perkembangannya, mulai tahun 2006 hingga 2010 produktivitas kentang menunjukkan trend menurun (Tabel 2). Penurunan produktivitas tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pengelolaan usahatani kentang di Indonesia belum optimal dalam mengkombinasikan faktor produksinya, konversi lahan-lahan pertanian menjadi perumahan, dan kondisi iklim yang tidak menentu sehingga menyebabkan jadwal penanaman petani terganggu (Erika 1999). Tabel 2. Perkembangan Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Kentang di Indonesia Tahun 2006 – 2010 Tahun Produksi (ton) Luas Panen (ha) Produktivitas (ton/ha) 2006 1.011.911 59.748 16,94 2007 1.003.732 62.375 16,09 2008 1.071.543 64.151 16,70 2009 1.176.304 71.238 16,51 2010 1.060.805 66.531 15,94 Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura 2011 Sentra penanaman kentang di Indonesia berada di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara. Pada tahun 2010, sebesar 23,04 persen dari total produksi nasional berasal dari Jawa Barat (Ditjenhorti 2011a). Kabupaten Garut merupakan daerah yang memiliki produktivitas tertinggi di Jawa 1 Pusat Penyuluh Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. http:// cybex.deptan.go.id/penyuluhan/syarat-tumbuh-tanaman-kentang [diakses pada 27 Juni 2012] 3 Barat. Salah satu daerah penghasil kentang di Kabupaten Garut yang memiliki rata-rata pertumbuhan luas panen terbesar dari tahun 2007 hingga 2011 sebesar 16,62 persen adalah Kecamatan Cigedug (Lampiran 1) (Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut 2012a). Dalam perkembangannya dari tahun 2007 hingga 2011, produksi dan luas panen kentang di Kecamatan Cigedug cenderung meningkat, namun hal tersebut tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas (Tabel 3). Peningkatan produksi tersebut diakibatkan adanya pertambahan luas panen, sehingga produktivitas yang cenderung menurun tersebut disebabkan oleh penggunaan faktor produksi yang belum mengikuti kaidah standar operasional prosedur (SOP) (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut 2011). Tabel 3. Perkembangan Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Kentang di Kecamatan Cigedug pada Tahun 2007 - 2011 Tahun Luas Panen (ha) Produksi (ton) Produktivitas (ton/ha) 2007 342 8.224 24,05 2008 416 9.652 23,20 2009 526 12.361 23,50 2010 563 12.525 22,25 2011 627 13.998 22,33 Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut (2012) Desa Cigedug merupakan penghasil utama kentang di Kecamatan Cigedug (BP3K Kecamatan Cigedug 2012). Hal tersebut didukung dengan kondisi alam yang subur dan topografi yang sesuai dengan kondisi untuk budidaya kentang. Varietas yang digunakan dalam usahatani kentang di Desa Cigedug adalah varietas Granola dan Atlantic. Kentang varietas Granola merupakan kentang introduksi dari Jerman Barat, sedangkan varietas Atlantic merupakan kentang introduksi dari Amerika. Kentang varietas Granola dan varietas Atlantic memiliki beberapa keunggulan. Pada sisi konsumen, varietas Granola memiliki rasa gurih, kadar gula tinggi, dan kandungan air tinggi, sehingga cocok dikonsumsi sebagai kentang sayur2. Sementara itu, kentang varietas Atlantic memiliki kandungan karbohidrat yang 2 Iskandar T, Basri AB. 2011. Arden Hasugian: Penggerak Agrobisnis Kentang Aceh Tengah. http://nad.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=254&Itemi d=5 [diakses pada 14 Agustus 2012] 4 tinggi dan kadar gula yang lebih rendah sehingga baik untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes. Kentang varietas Atlantic juga memiliki umbi berwarna putih yang menarik untuk dikonsumsi sebagai kentang olahan berupa keripik kentang maupun kentang goreng (Setiadi 2009). Pada sisi produsen, varietas Granola dapat menggunakan bibit hasil seleksi panen sebelumnya, tahan terhadap hama-penyakit yang menyerang, dan memiliki potensi produksi hingga mencapai 30 – 35 ton/ha (Samadi 2007). Sementara itu, pada kentang varietas Atlantic harga jual relatif tinggi, mampu menghasilkan lebih banyak (48 persen) umbi yang berukuran lebih dari 100 gram, dan memiliki potensi produksi mencapai 30 ton/ha (Ashari 2009). Namun, kentang varietas Atlantic lebih rentan terhadap hama dan penyakit sehingga frekuensi penyemprotan menjadi lebih sering3. Varietas Atlantic di Desa Cigedug pertama kali diperkenalkan oleh PT Indofood Fritolay Makmur (PT IFM) melalui usaha pertanian kontrak (contract farming) pada tahun 1995, sedangkan varietas Granola merupakan varietas yang telah lama dibudidayakan di Desa Cigedug tanpa tergabung dalam usaha pertanian kontrak (noncontract farming). Dalam menjalankan usaha pertanian kontrak, Kelompok Tani Silih Riksa menjadi wadah penghubung antara petani kentang Desa Cigedug dengan pihak PT IFM yang dikoordinatorkan oleh seorang vendor. Adanya usaha pertanian kontrak yang telah dijalankan tidak serta merta dapat meningkatkan produktivitas kentang di Desa Cigedug. Begitu pula yang terjadi pada petani yang tidak tergabung dalam usaha pertanian kontrak. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh penggunaan faktor-faktor produksi yang belum mengikuti kaidah standar operasional prosedur (SOP) sehingga produktivitas kentang di Desa Cigedug cenderung menurun dan belum dapat mencapai produktivitas potensialnya (BP3K Kecamatan Cigedug 2012). Produktivitas tersebut pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pendapatan usahatani kentang. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui pendapatan usahatani dan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kentang agar upaya 3 Rukmana H. Rakhmat. Usaha Tani Kentang Sistem Mulsa Plastik. http://books.google .co.id/books?id=Nh3D2sH97HIC&pg=PA18&dq=kentang+Atlantic&hl=id&sa=X&ei=IJTqT4_ uJsnrrQf4u4DLBQ&ved=0CDYQ6AEwAQ#v=onepage&q=kentang%20Atlantic&f=true [diakses pada 27 Juni 2012] 5 yang ditempuh dapat berpengaruh secara nyata terhadap peningkatan produktivitas. 1.2. Perumusan Masalah Desa Cigedug merupakan daerah yang berpotensi untuk mengembangkan berbagai macam usaha agribisnis, salah satunya adalah agribisnis kentang. Hal ini didukung dengan kondisi alam yang sangat mendukung usahatani kentang. Desa Cigedug ini memiliki ketinggian 1.285 meter di atas permukaan laut, tipe iklim C (agak basah), dimana setiap tahunnya antara tujuh sampai delapan bulan basah dan tiga sampai empat bulan kering (BP3K Kecamatan Cigedug 2012). Oleh karena itu, desa ini cocok ditanami oleh kentang. Varietas kentang yang dibudidayakan di Desa Cigedug adalah varietas Granola dan Atlantic. Kentang varietas Granola sudah lama dibudidayakan sebelum munculnya varietas Atlantic di Desa Cigedug. Umumnya usahatani kentang varietas Granola di desa ini dilakukan secara turun temurun bagi petani yang tidak tergabung dalam usaha pertanian kontrak (noncontract farming). Kentang varietas Atlantic pertama kali dibudidayakan di Desa Cigedug pada tahun 1995 atas kerjasama dalam bentuk usaha pertanian kontrak (contract farming). Usaha pertanian kontrak yang terjalin antara petani dengan pihak PT Indofood Fritolay Makmur (IFM) dalam bentuk penyediaan benih varietas Atlantic dan penjualan hasil panen petani ke PT IFM dengan harga yang sudah ditentukan. Namun, kerjasama ini sempat gagal karena kentang yang dihasilkan berwarna hitam dan pecah-pecah, kemudian terhenti pada tahun 1998 karena tidak tersedianya benih kentang varietas Atlantic. Penanaman varietas Atlantic mulai banyak dibudidayakan kembali pada tahun 2003 karena ketersediaan benih kentang varietas Atlantic di Desa Cigedug relatif banyak, sehingga petani memiliki banyak kesempatan untuk memulai budidaya kentang varietas Atlantic. Penanaman kentang di Desa Cigedug, baik varietas Granola maupun varietas Atlantic umumnya dua kali setahun, karena waktu yang dibutuhkan untuk usahatani kentang dari pengolahan lahan hingga pemanenan mencapai kurang lebih empat bulan. Setelah itu, lahan diselingi dengan komoditas hortikultura lain yang berbeda keluarga dengan kentang (Solanaceae). Berdasarkan pengalaman petani Desa Cigedug, lahan bekas tanaman kentang tidak dapat ditanami kentang 6 kembali maupun tanaman yang satu keluarga dengan kentang (Solanaceae). Hal tersebut dikarenakan serangan hama dan penyakit yang sama sehingga petani dapat mengalami gagal produksi. Permasalahan usahatani kentang di Desa Cigedug salah satunya yaitu adanya perbedaan harga yang ditawarkan pada kedua varietas tersebut dimana harga rata-rata kentang varietas Granola relatif lebih rendah dibandingkan dengan kentang varietas Atlantic. Selain itu, pada varietas Granola harga jual mengikuti harga pasar yang cenderung berfluktuatif, sedangkan pada varietas Atlantic harga jual tetap sesuai dengan harga kontrak dengan PT IFM yang berlaku. Hal tersebut tentu akan berpengaruh terhadap pendapatan usahatani kentang di Desa Cigedug. Permasalahan lain yang dihadapi dalam usahatani kentang di Desa Cigedug yaitu, peningkatan produksi yang terjadi pun belum didukung dengan peningkatan produktivitas. Produktivitas kentang di Desa Cigedug sendiri mengalami penurunan dari tahun 2010 ke 2011 sebesar 10 persen (BP3K Kecamatan Cigedug 2012). Produktivitas kentang yang pernah dicapai Desa Cigedug belum mencapai produktivitas potensial. Produktivitas kentang aktual pada tahun 2011 sebesar 18 ton/ha (BP3K Kecamatan Cigedug 2012), padahal produktivitas potensial yang dapat dicapai kentang varietas Granola maupun varietas Atlantic, yaitu kurang lebih 30 ton/ha (Samadi 2007 dan Ashari 2009). Produktivitas kentang di Desa Cigedug yang belum mencapai produktivitas potensial dikarenakan penerapan teknologi maupun penggunaan sarana produksi diduga belum memenuhi kaidah standar operasional prosedur yang dianjurkan. Misalnya saja pada penggunaan pestisida, dimana berdasarkan data BP3K Kecamatan Cigedug (2012) penggunaan obat-obatan secara terpadu oleh petani baru mencapai 28 persen. Penggunaan fakor produksi seperti ini erat kaitannya dengan jumlah produktivitas (output) dalam suatu kegiatan usahatani. Penggunaan faktor produksi perlu diperhatikan dalam kegiatan usahatani agar penggunaannya sesuai dengan kaidah standar operasional prosedur. Penggunaan input yang berlebihan tentunya membuat petani mengeluarkan biaya yang besar pula, sedangkan kurangnya penggunaan input diduga dapat menurunkan hasil. Hal tersebut pada akhirnya mempengaruhi pendapatan usahatani kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic. 7 Selain berkaitan dengan pendapatan, adanya penggunaan faktor produksi juga berpengaruh pada keputusan petani dalam melakukan penanaman kentang varietas Granola maupun varietas Atlantic, khususnya dalam memperhitungkan kebutuhan dan biaya usahatani. Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah yang hendak dikaji dalam penelitian ini adalah: 1) Apakah usahatani kentang baik varietas Granola (noncontract farming) maupun varietas Atlantic (contract farming) menguntungkan di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut? 2) Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Menganalisis pendapatan usahatani kentang varietas Granola (noncontract farming) dan varietas Atlantic (contract farming) di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut. 2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut. 1.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang berkepentingan, yaitu: 1) Petani kentang, penelitian ini bermanfaat sebagai informasi mengenai pendapatan usahatani dan faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas usahatani kentang. Hal tersebut bertujuan agar petani dapat mengambil langkah untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan dari usahatani kentang. 2) Pengambil keputusan, penelitian ini diharapkan menjadi referensi untuk mengambilan kebijakan agar dapat meningkatkan kesejahteraan petani. 3) Kalangan akademis, penelitian ini dapat menjadi bahan literatur untuk penelitian selanjutnya. 8 4) Masyarakat umum, penelitian ini bermanfaat sebagai sarana informasi dan bahan referensi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kentang. 1.5. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan pada petani kentang varietas Granola yang tidak tergabung dalam usaha pertanian kontrak (noncontract farming) dan varietas Atlantic yang tergabung dalam dalam usaha pertanian kontrak (contract farming) di Desa Cigedug. Periode tanam yang digunakan penelitian ini adalah musim hujan (Oktober 2011 – Januari 2012). Analisis usahatani menggunakan analisis pendapatan dan R/C rasio yang dianalisis secara kuantitatif, sedangkan faktorfaktor yang mempengaruhi produktivitas kentang dianalisis dengan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas. 9 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gambaran Umum Kentang Kentang (Solanum tuberosum L.) termasuk jenis sayuran semusim, berumur pendek, dan berbentuk perdu atau semak. Kentang termasuk tanaman semusim karena hanya satu kali berproduksi dan setelah itu mati. Umur tanaman relatif pendek, hanya 90 – 180 hari. Spesies Solanum tuberosum L. Mempunyai banyak varietas. Umur tanaman kentang bervariasi menurut varietasnya. Kentang varietas genjah berumur 90 – 120 hari, varietas medium berumur 120 – 150 hari, dan varietas dalam berumur 150 – 180 hari. Berikut ini merupakan klasifikasi ilmiah kentang (Setiadi 2009). Kerajaan/Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta/Spermatophyta Kelas : Magnoliopsida/Dicotyledonae (berkeping dua) Subkelas : Asteridae Ordo : Solanales/Tubiflorae (berumbi) Famili : Solanaceae (berbunga terompet) Genus : Solanum (daun mahkota berletakan satu sama lain) Seksi : Petota Spesies : Solanum tuberosum Kentang memiliki kadar air yang cukup tinggi sekitar 78 persen. Setiap 100 gram kentang mengandung kalori 374 kal, protein 0,3 gram, lemak 0,1 gram, karbohidrat 85,6 gram, kalsium 20 mg, forsor 30 mg, zat besi 0,5 mg, dan vitamin B 0,04 mg. Berdasarkan nilai kandungan gizi tersebut, kentang merupakan sumber utama karbohidrat, sehingga sangat bermanfaat untuk meningkatkan energi di dalam tubuh (Samadi 2007). Tanaman kentang dapat tumbuh baik di dataran tinggi atau pegunungan dengan tingkat ketinggian 1.000 – 1.300 meter di atas permukaan laut (dpl) (Samadi 2007). Apabila tumbuh di dataran rendah (di bawah 500 m dpl), tanaman kentang sulit membentuk umbi. Jika terbentuk, umbinya akan berukuran sangat kecil, kecuali di daerah yang mempunyai suhu malam hari dingin (20 oC). Sementara itu, jika ditanam di atas ketinggian 2.000 m dpl, tanaman akan lambat membentuk umbi4. Tanaman kentang umumnya dapat tumbuh pada segala jenis tanah, namun tidak semuanya dapat memberikan hasil yang baik. Kondisi tanah yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan kentang adalah berstruktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, subur, mudah mengikat air, dan memiliki solum tanah dalam dengan pH tanah 5,0 – 7,0. Suhu rata-rata harian yang optimal bagi pertumbuhan kentang adalah 18 – 21 oC dengan tingkat kelembapan udara sekitar 80 – 90 persen. Selain itu curah hujan yang sesuai untuk membudidayakan kentang adalah 1.500 mm per tahun (Samadi 2007). Kondisi topografi yang mendukung usahatani kentang, tidak serta merta dapat meningkatkan produktivitas kentang yang dihasilkan. Beberapa kendala yang menyebabkan kurang berhasilnya usahatani kentang adalah rendahnya kualitas bibit yang digunakan, produktivitas rendah, teknik bercocok tanam yang kurang baik khususnya pemupukan kurang tepat, baik dosis maupun waktunya, dan keadaan lingkungan yang memang berbeda dengan daerah asal kentang (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta 2004). Menurut Samadi (2007), kentang dibedakan menjadi tiga golongan berdasarkan warna umbinya, yaitu: 1) Kentang putih, yaitu jenis kentang dengan warna kulit dan daging umbi putih, misalnya varietas Atlantic, Marita, Donata, dan lainnya. 2) Kentang kuning, yaitu jenis kentang yang umbi dan kulitnya berwarna kuning, misalnya varietas Granola, Cipanas, Cosima, dan lainnya. 3) Kentang merah, yaitu kentang dengan warna kulit dan daging umbi merah, misalnya varietas Desiree dan Arka. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 81/Kpts/SR.120/3/20055, kentang varietas Granola merupakan varietas unggul dengan karakteristik produktivitas tinggi, yaitu dapat mencapai 38–50 ton/ha, memiliki bentuk umbi bulat lonjong, warna daging umbi kuning, dan mata umbi 4 5 Pusat Penyuluh Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. http:// cybex.deptan.go.id/penyuluhan/syarat-tumbuh-tanaman-kentang [diakses pada 27 Juni 2012] Peraturan Perundang-undangan Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2005. Pelepasan Kentang Granola Kembang Sebagai Varietas Unggul http:// perundangan.deptan.go.id/k_menteri.php?awal=600&page=31 [diakses pada 15 Juli 2012] 11 dangkal. Selain keunggulan tersebut, varietas Granola juga tahan terhadap penyakit kentang. Apabila daya serang suatu penyakit terhadap varietas kentang lain 30%, pada varietas Granola hanya 10%. Umur panen normal 90 hari, meskipun umur 80 hari sudah bisa dipanen. Kentang varietas Atlantic merupakan varietas yang diintroduksi oleh Amerika Serikat dan dirilis di Victoria tahun 1986. Kentang varietas ini dikembangkan di Florida dari persilangan antara varietas Wauseon dan Lenape6. Karakteristik kentang ini yaitu memiliki umur 100 hari, tinggi tanaman dapat mencapai 50 cm, tahan terhadap nematoda, kualitas umbi baik, dan memiliki kadar pati tinggi (Kholis 2011). Selain itu, kentang varietas Atlantic memiliki produktivitas yang tinggi, kulit umbi putih kekuningan, daging umbi putih, mata umbi dangkal, bentuk umbi bulat, kadar air rendah, dan tidak mengalami perubahan setelah diproses (Khumaida 1994, diacu dalam Widyastuti 1996). Teknologi budidaya kentang industri (processing) seperti varietas Atlantic sedikit berbeda dengan kentang sayur seperti varietas Granola. Hal tersebut dikarenakan tanaman kentang industri seperti varietas Atlantic lebih tinggi, kanopi daun lebih besar, stolon lebih panjang dan tertanam di bawah tanah, umur panen lebih lama, serta rentan terhadap bakteri layu dan busuk daun. Perbedaan tersebut menuntut teknologi budidaya yang berbeda, yaitu jarak tanam lebih lebar, penanaman lebih dalam, dosis pupuk lebih tinggi, dan pengendalian busuk daun dan bakteri lebih intensif (Effendie 2002). 2.2. Budidaya Kentang Teknik budidaya kentang baik kentang industri (varietas Atlantic) maupun kentang sayur (varietas Granola) dimulai dari pembibitan hingga pemanenan. Pada proses pembibitan kentang perlu diperhatikan cara mempersiapkan dan memperhitungkan kebutuhan benih yang baik. Persiapan benih dilakukan berdasarkan kriteria tertentu agar diperoleh benih yang berkualitas baik. Benih yang berkualitas baik akan dapat berproduksi tinggi dan memberikan keuntungan yang besar. Kebutuhan benih kentang per hektar adalah 1.300 kg – 1.700 kg (Samadi 2007). 6 Departement of Primary Industries. 2010. Potato Varieties. http://www.dpi.vic.gov.au /agriculture/horticulture/vegetables/potatoes/potato-varieties [diakses pada 29 Juni 2012] 12 Tahap selanjutnya adalah persiapan lahan dengan mengolah tanah sampai gembur dengan kedalaman 30 – 40 cm. Kondisi tanah yang gembur sangat membantu perkembangan akar tanaman dan pembesaran umbi. Kemudian, dibiarkan selama dua minggu agar terkena sinar matahari. Tanah yang sudah diolah dibuat bedengan dan saluran irigasi. Bedengan merupakan tanah yang dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah dan berguna untuk pertumbuhan umbi kentang. Setelah bedengan siap, mulai dilakukan pemupukan dasar yang dapat menyediakan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman secara optimal oleh benih kentang yang baru ditanam. Pada pemupukan dasar harus mengacu pada empat tepat, yaitu tepat dosis, cara, waktu, dan jenis. Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik dan pupuk anorganik (kimia). Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang yang sudah jadi (matang) karena jika pupuk kandang belum jadi hal tersebut akan menghambat pertumbuhan tanaman. Dosis pupuk kandang yang digunakan sebanyak 15 – 20 ton/ha kotoran ayam atau 20 – 30 ton/ha kotoran sapi. Pupuk kandang sangat baik untuk memperbaiki struktur tanah, menambah bahan organik tanah, dan mengikat tanah (Samadi 2007). Cara pemberian pupuk kandang adalah dengan menaburkan pupuk kandang dalam larikan pada bedengan yang kemudian ditutup dengan tanah pada setiap bedengan. Selang beberapa hari setelah pemberian pupuk organik, perlu diberikan pupuk anorganik (kimia), seperti pupuk ZA (mengandung 21 persen unsur Nitrogen), Urea (mengandung 46 persen Nitrogen), TSP (mengandung 36 persen unsur Fosfat), KCl (mengandung 60 persen unsur Kalium). Dosis yang digunakan yaitu, 200 kg/ha unsur Nitrogen, 150 – 200 kg/ha unsur Fosfat (P2O5), dan 150 – 200 kg/ha unsur Kalium (K2O)7. Dengan demikian, apabila dikonversikan ke dalam penggunaan pupuk tunggal, dosis anjuran per hektar pupuk Urea/ZA sebesar 440/950 kg, SP-36 sebesar 500 kg, dan KCl sebesar 200 kg. Dosis tersebut serupa dengan dosis anjuran Samadi (2007). Penggunaan pupuk dasar anorganik dengan cara menaburkan campuran pupuk kimia di antara lubang tanam yang telah disiapkan ataupun dalam larikan dengan jarak tanam yang telah 7 Widodo M. 2011. Pemupukan Kentang. http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/ pemupukankentang [diakses pada 12 September 2012] 13 ditetapkan (Samadi 2007). Samadi (2007) menjelaskan hasil yang baik dari tanaman budidaya tidak lepas dari teknik penanaman yang sesuai yang meliputi pengaturan waktu tanam, pengaturan jarak tanam, dan cara menanam. Waktu tanam yang tepat berdasarkan kondisi lingkungan dan faktor biotik pada tanaman kentang adalah pada musim kemarau, tepatnya akhir musim hujan. Tanaman kentang yang ditanam pada musim hujan memiliki risiko gagal panen yang tinggi. Namun, apabila diimbangi dengan perawatan yang lebih intensif, produksi masih cukup baik. Jarak tanam yang digunakan adalah 80 cm x 40 cm untuk kentang industri atau 70 cm x 30 cm untuk kentang sayur. Cara menanam yang baik dengan meletakan umbi secara mendatar dengan tunas menghadap ke atas. Penanaman benih tidak boleh terlalu dalam karena hasilnya akan rendah. Tanaman yang kurang baik pertumbuhannya, harus diganti dengan tanaman yang baru (disulam). Tanaman pengganti ini sama besar dan seragam pertumbuhannya dengan tanaman lain di kebun produksi. Penyulaman dapat dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari. Perawatan tanaman diperlukan untuk menjaga agar pertumbuhannya normal dan tetap sehat. Kegiatan pemeliharaan tanaman kentang meliputi pemupukan susulan, pengairan, penyiangan, dan pembumbunan. Kentang membutuhkan pupuk kimiadalam jumlah yang tepat agar diperoleh hasil yang tinggi. Jenis pupuk yang digunakan dalam pemupukan susulan adalah jenis pupuk majemuk. Waktu pemberian pemupukan susulan adalah ketika tanaman berumur 25 – 30 HST. Dosis yang dianjurkan adalah 150 – 300 kg per hektar8. Tanaman kentang sangat peka terhadap kekurangan dan kelebihan air karena dapat berpengaruh buruk terhadap hasil umbi kentang. Pemberian air yang cukup, membantu menstabilkan kelembapan tanah sebagai pelarut pupuk dalam tanah, sehigga pertumbuhan dan perkembangan tanaman lebih optimal. Gulma atau rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman kentang akan menjadi pesaing dalam kebutuhan air, sinar matahari, unsur hara, dan lain-lain bagi tanaman pokok. Selain itu, terkadang gulma menjadi inang bagi hama dan penyakit sehingga dapat menjalar ke tanaman kentang dan kemudian dapat 8 Ibid. Hlm 13 14 mengurangi produksi umbi. Oleh karena itu, perlu dilakukan kegitan penyiangan agar produksinya dapat mencapai produktivitas potensialnya. Kegiatan penyiangan dapat dilakukan bersamaan dengan perbaikan selokan maupun pembumbunan permukaan bedengan. Penyiangan sebaiknya dilakukan 2 – 3 hari sebelum pemupukan susulan, agar pupuk kimia yang diberikan terserap oleh tanaman kentang. Kegiatan pembumbunan bedengan dapat merangsang pembentukan akar baru, melindungi umbi kentang dari sinar matahari karena dapat menimbulkan racun solanin, membantu pembesaran umbi, dan memperkokoh berdirinya batang tanaman kentang (Samadi 2007). Hama dan penyakit merupakan faktor penghambat pertumbuhan tanaman yang mendatangkan kerugian karena dapat menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas kentang yang dihasilkan. Penyakit yang umumnya menyerang tanaman kentang menurut Andarwati (2011) adalah hama trip, kutu daun, lalat, orongorong, ulat, dan cacing emas (Nematoda Sista Kuning). Sementara itu, penyakit yang umumnya menyerang adalah busuk daun (Phytopthora infestans), layu bakteri (Pseudomonas), busuk umbi, dan penyakit yang disebabkan oleh virus. Virus yang umumnya ditemukan pada tanaman kentang menurut Sofiari (2009) adalah virus daun menggulung (PLRV) dengan gejala daunnya menggulung sampai bagian bawah daunnya terlihat. Pada tanaman kentang, virus merupakan kendala utama karena kentang pada umumnya diperbanyak secara vegetatif, sehingga virus sering kali terbawa oleh bibit. Semakin sering bibit digunakan, maka akumulasi virus akan semakin banyak. Virus pada tanaman kentang selain dibawa oleh bibit juga dapat ditularkan oleh vektor dan secara mekanik (Hooker 1982). Mutu umbi kentang dapat menurun, apabila penanganan panen tidak dilakukan dengan teknik yang benar. Pada dasarnya penanganan panen yang benar memperhatikan dua hal pokok, yaitu umur tanaman dan teknik memanen. Mutu umbi akan rendah bila dipanen pada umur yang kurang sesuai. Jika dipanen terlalu muda, umbi kentang yang diperoleh ukurannya belum optimal dan umbi kentang masih mengandung racun solanin yang cukup tinggi dan dapat membahayakan kesehatan konsumen. Sebaliknya, umbi kentang yang dipanen terlalu tua, umumnya sudah mengeras dan retak-retak, sehingga kurang enak apabila 15 dikonsumsi. Kentang varietas Granola dapat dipanen pada umur 80 – 90 hari dan kentang varietas Atlantic dapat dipanen pada umur 90 – 105 hari (Samadi 2007). 2.3. Kajian Penelitian Pendapatan Usahatani Analisis pendapatan usahatani banyak digunakan untuk mengetahui sejauh mana kegiatan usahatani memberikan manfaat bagi petani. Apriyanto (2005), Hakim (2002), Erika (1999), dan Rivai (1982) menganalisis usahatani dengan melihat dari sisi pendapatan usahatani yang dihitung berdasarkan hasil penerimaan total dikurangi dengan biaya total yang dikeluarkan. Kemudian, dalam mengetahui tingkat kelayakan usahatani menggunakan analisis R/C rasio. Hakim (2002) membandingkan diversifikasi usaha agribisnis kentang sayur dengan kentang olahan dalam satu perusahaan dan menunjukkan bahwa usahatani kentang olahan keuntungannya lebih tinggi daripada kentang sayur dengan selisih sebesar Rp 5.450.600,00 per musim tanam per hektar. Begitupun dengan nilai R/C yang diperoleh kentang olahan lebih besar 0,06 daripada kentang sayur. Walaupun dilakukan dalam satu perusahaan, selisih nilai R/C tersebut relatif tidak berbeda signifikan antara kentang olahan dengan kentang sayur. Hal tersebut dikarenakan harga jual kentang olahan telah ditetapkan berdasarkan kontrak dengan PT Indofood Fritolay Makmur yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata harga kentang sayur di pasaran. Berdasarkan penelitian Erika 1999, besarnya luas lahan kentang mempengaruhi pendapatan petani responden. Semakin besar luas lahan yang digunakan, maka pendapatannya pun semakin besar. Berdasarkan nilai R/C, usahatani luas lebih efisien daripada usahtani sedang dan usahatani sempit. Walaupun demikian, nilai R/C diperoleh untuk usahatani sempit, sedang, dan luas masing-masing besarnya lebih besar dari satu, sehingga usahatani kentang layak untuk diusahakan dalam berbagai ukuran luas lahan. Status lahan yang digunakan petani kentang juga turut mempengaruhi pendapatan dan nilai R/C yang diperoleh (Apriyanto 2005). Pendapatan petani status lahan milik lebih rendah dibandingkan dengan petani status lahan sewa. Hal tersebut dikarenakan petani status lahan milik sendiri kurang maksimal dalam mengelola usahatani kentang. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan tenaga kerja dalam keluarga petani status lahan milik lebih sedikit dibandingkan petani dengan 16 status lahan sewa, sehingga pengelolaan usahatani kentang menjadi kurang efektif karena penggunaan tenaga kerja luar keluarga kurang memiliki keterampilan Status lahan sewa memiliki R/C rasio yang lebih besar dari satu, sementara penguasaan lahan milik pribadi memiliki R/C kurang dari satu. Hal tersebut dikarenakan biaya yang dikeluarkan petani dengan status lahan milik menggunakan input yang lebih besar dibandingkan petani dengan status lahan sewa. 2.4. Kajian Penelitian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Model fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan model digunakan dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi. Hal ini dikarenakan nilai koefisien regresi yang terdapat pada model tersebut mempresentasikan elastisitas dari setiap faktor produksi yang digunakan sehingga lebih mudah dalam mempresentasikan pengaruhnya pada output atau hasil produksi (Nurmala 2011, Siregar 2011, Damanah 2008, dan Suryana 2007). Penggunaan model fungsi produksi Cobb-Douglas menggunakan metode OLS (Ordinary Least Square). Peranan dari peubah bebas secara bersama-sama terhadap peubah tidak bebas (Y) dapat diketahui dengan menggunakan uji F, sedangkan untuk menguji peranan peubah bebas secara tersendiri dengan menganggap peubah lainnya tetap (ceteris paribus) digunakan uji t (Rivai 1982, Pratiwi 2011, dan Puspitasari 2011). Kelayakan model tersebut diuji berdasarkan asumsi OLS yang meliputi uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji otokorelasi (Pratiwi 2011 dan Puspitasari 2011) Faktor produksi yang digunakan dalam usahatani kentang yaitu luas lahan, bibit, kandang, pupuk kimia, fungisida, insektisida, dan tenaga kerja (Erika 1999). Namun, Andarwati (2011) menguraikan penggunaan pupuk kimia berdasarkan unsur yang terkandung pada pupuk kimia. Sementara itu, Rivai (1982) menggunakan variabel dummy keadaan lahan dan musim tanam untuk mempertajam analisis faktor produksi yang mempengaruhi produksi kentang. Penggunaan faktor produksi di setiap lokasi, waktu, maupun lingkup penelitian mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap produksi kentang. Hal tersebut dapat dilihat dari faktor produksi kentang di Kabupaten Karo yang terdiri dari luas lahan, bibit, pupuk kimia, pupuk kandang, fungisida, insektisida, dan 17 tenaga kerja. Namun, dari ketujuh faktor tersebut yang berpengaruh secara nyata terhadap produksi kentang adalah fungisida, insektisida, tenaga kerja, dan luas lahan (Erika 1999). Hal yang sama juga dilakukan oleh Andarwati (2011) di Dataran Tinggi Dieng yang menjadi salah satu sentra kentang nasional, faktor produksi yang digunakan adalah benih, pupuk organik, unsur N, unsur P, unsur K, unsur S, fungisida, insektisida, dan tenaga kerja. Namun, dari kesembilan faktor produksi tersebut hanya benih dan pupuk organik yang secara nyata dapat meningkatkan produktivitas kentang. Hal tersebu dikarenakan kedua faktor produksi tersebut masih di bawah dosis anjuran yang disarankan, sehingga penambahan kedua faktor tersebut masih memungkinkan untuk meningkatkan produktivitas. 2.5. Kajian Penelitian Usaha Pertanian Kontrak (Contract Farming) Sistem pertanian kontrak (contract farming) merupakan salah satu bentuk relasi kemitraan yang ada. Sistem pertanian kontrak adalah sistem produksi dan pemasaran berskala menengah dimana terjadi pembagian beban risiko produksi dan pemasaran diantara pelaku agribisnis dan petani dimana hal ini dilakukan dengan tujuan mengurangi biaya transaksi (Patrick et al. 2004). Patrick et al. (2004) memaparkan keikutsertaan petani yang tergabung dalam pertanian kontrak pada kasus PT Pertani dengan menyediakan benih padi di Bali dipengaruhi oleh status kepemilikan tanah beririgasi dan keanggotan mereka dalam subak (sistem pengelolaan pengairan sawah yang dikelola kelompok di Bali). PT Pertani dapat memilih petani-petani dari daerah manapun di Bali yang memiliki kepentingan yang sama. Faktor-faktor yang berperan penting bagi petani agar memiliki akses terhadap suatu kontrak adalah peranan pekaseh (termasuk kepala desa), jarak, dan kemudahan mencapai lokasi serta pengalaman dalam bekerjasama dengan pemerintah dan agribisnis. Manfaat sistem pertanian kontrak dirasakan bagi kedua belah pihak, yaitu petani mitra dan perusahaan mitra. Manfaat yang dirasakan petani kentang dalam sistem pertanian kontrak PT Indofood Fritolay Makmur di Jawa Barat, yaitu adanya bantuan ketersediaan benih dan harga jual yang tetap sehingga petani tidak khawatir terhadap fluktuasi harga yang terjadi (Saptana et al. 2006). Sementara itu, manfaat sistem kontrak bagi perusahaan adalah ketersediaan bahan baku 18 produksi dan kualitas produksi yang dapat diperoleh secara konsisten (Iqbal 2008). Petani yang melakukan kemitraan seharusnya mempunyai pendapatan yang lebih besar daripada petani yang tidak melakukan pertanian kontrak. Hal ini dikarenakan adanya transfer informasi, teknologi, modal, atau sumberdaya lain sehingga usahatani yang dilakukan dapat lebih efektif dan efisien. Hal ini dapat dilihat pada petani semangka yang melakukan kemitraan, pendapatan atas biaya total lebih besar dibandingkan dengan petani non mitra (Damayanti 2009). Hal ini disebabkan karena harga jual semangka petani mitra lebih besar dibandingkan dengan harga jual semangka petani non mitra. Keuntungan petani mitra ini juga disebabkan karena harga jual semangka petani mitra tidak terkena fluktuasi harga jual di pasaran. Selain itu, nilai R/C atas biaya total petani mitra relatif lebih besar dibandingkan petani nonmitra. Penelitian Deshinta (2006) mengenai kemitraan yang dilakukan oleh PT Sierad Produce dengan peternak ayam broiler di Kabupaten Sukabumi mengemukakan hal yang berbeda terhadap pengaruh kemitraan terhadap peningkatan pendapatan. Penelitian tersebut menggunakan uji t dan didapat hasil bahwa kemitraan tidak berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan peternak. Walaupun demikian, peternak memperoleh banyak manfaat dari keikutsertaan di dalam kemitraan seperti bantuan modal, bimbingan dan penyuluhan serta pemasaran hasil. Meskipun telah melakukan sistem pertanian kontrak, namun terdapat permasalahan-permasalahan yang dihadapi petani yang tergabung dalam pertanian kontrak terkait dengan teknis budidaya dalam penelitian Saptana et al. (2006). Hal tersebut di antaranya, kurang tersedia bibit hortikultura berkualitas, belum tersedia paket teknologis komoditas hortikultura yang bersifat spesifik lokasi, cuaca buruk, tingginya tingkat organisme pengganggu tanaman, sistem panen dan penanganan pascapanen belum prima, sumberdaya manusia petani dan aparat (PPL) belum menguasai sepenuhnya teknologi budidaya komoditas hortikultura, dan infrastruktur pertanian yang kurang memadai terutama jalan desa, jalan usahatani, dan jaringan irigasi. 19 Permasalahan sistem pertanian kontrak juga dialami pada bidang peternakan dimana banyak peternak yang belum mampu menghasilkan produk yang diinginkan perusahaan. Peternak tidak mampu mengembalikan pinjaman input dan kredit akibat kegagalan produksi, deduksi finansial atau tidak adanya jaminan harga dari pihak industri pengolahan dan tidak jarang melanggar kontrak dengan menjual hasil produksi pada pesaing perusahaan sponsor. Selain itu, pertanian kontrak lebih berminat terhadap peternak berskala besar sehingga dengan demikian peternak kecil kurang dilibatkan dalam prosis pengembangan lebih lanjut. Pada posisi perusahaan, perusahaan sulit mempertahankan dan mengawasi kualitas peterrnak karna jumlah peternak kecil yang beigtu banyak, sehingga kehadiran dari lembaga-lembaga pelengkap sangat penting sebagai mediasi antara peternak dengan perusahaan (Daryanto 2012). Hal tersebut berbeda dengan hasil penelitian Patrick et al. (2004) yang tidak menemukan bukti-bukti adanya ketentuan kontrak yang merugikan. Hal tersebut dikarenakan kontrak merupakan bentuk utama dari diversifikasi untuk petani kecil karena risiko dari rendahnya produksi dan risiko harga ditanggung oleh perusahaan. Perusahaan memberikan pedoman untuk produksi dan kemungkinan sangat kecil bagi petani kontrak untuk dapat dengan mudah memperoleh tingkat keahlian yang diperlukan tanpa ikut serta dalam kontrak. 2.6. Keterkaitan dengan Penelitian Terdahulu Penelitian ini memiliki kesamaan dengan beberapa penelitian terdahulu dalam hal komoditas yang diteliti dan metode penelitian yang digunakan yaitu analisis pendapatan dan fungsi produksi Cobb-Douglas dalam menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani, sehingga penelitian terdahulu digunakan sebagai referensi pada penelitian yang dilakukan. Sementara itu, perbedaannya terletak pada lokasi penelitian dan varietas kentang yang digunakan pada penelitian ini, yaitu varietas Granola dan Atlantic yang belum pernah dianalisis pendapatan usahatani dan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kedua varietas itu secara bersamaan. Oleh karena itu, diharapkan penelitian ini menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi penelitian selanjutnya. 20 III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Usahatani Ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seorang mengusahakan dan mengkoordinir faktor-faktor produksi barupa lahan dan alam sekitarnya sebagai modal sehingga memberikan manfaat yang sebaik-baiknya. Adapun ciri-ciri usahatani yang ada di Indonesia adalah : (1) Kecilnya luas lahan yang dimiliki oleh para petani, (2) Modal yang dimiliki para petani terbatas, (3) Rendahnya ketrampilan dan pengetahuan manajemen yang dimiliki oleh para petani, (4) Produktivitas dan efisiensi rendah, (5) Petani dalam kondisi sebagai penerima harga karena bargaining position lemah dan (6) Rendahnya tingkat pendapatan petani (Suratiyah 2006). Hernanto (1989) menjelaskan bahwa terdapat empat unsur pokok faktorfaktor produksi dalam usahatani, yaitu: 1) Tanah Tanah merupakan faktor yang relatif langka dibanding dengan faktor produksi lain dan distribusi penguasaannya tidak merata di masyarakat. Oleh karena itu, tanah memiliki beberapa sifat, di antaranya adalah luas relatif tetap atau dianggap tetap, tidak dapat dipindah-pindahkan, dan dapat dipindahtangankan atau diperjualbelikan. Pada dasarnya berdasarkan luas tanah, petani dapat digolongkan menjadi empat, yaitu golongan petani luas (lebih dari 2 ha), sedang (0,5 – 2 ha), sempit (0,5 ha), dan buruh tani tidak bertanah. Tanah milik petani atau yang dapat dikelola diperoleh dari berbagai sumber yaitu, membeli, menyewa, menyakap, pemberian negara, warisan, wakar, ataupun membuka lahan sendiri. 2) Tenaga Kerja Tenaga kerja dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu tenaga kerja manusia, tenaga kerja ternak, dan tenaga kerja mekanik. Tenaga kerja manusia digolongkan menjadi tenaga kerja pria, wanita, dan anak-anak. Tanaga kerja manusia dapat diperoleh dari dalam dan luar keluarga. Satuan ukuran yang umum dipakai untuk mengatur tenaga kerja adalah sebagai berikut: a) Jumlah jam dan hari kerja total. Ukuran ini menghitung seluruh pencurahan kerja dari sejak persiapan sampai panen dengan menggunakan inventarisasi jam kerja (1 hari = 7 jam kerja) lalu dijadikan hari kerja total (HK total). b) Jumlah setara pria (men equivalen). Ukuran ini menghitung jumlah kerja yang dicurahkan untuk seluruh proses produksi diukur dengan ukuran hari kerja pria. Hal ini berarti menggunakan konversi tenaga kerja menurut Yang 1955, diacu dalam Hernanto 1986, yaitu membandingkan tenaga pria sebagai ukuran baku dan jenis tenaga kerja lain dikonversikan atau disetarakan dengan pria, sebagai berikut: - 1 pria = 1 hari kerja pria - 1 wanita = 0,7 hari kerja pria - 1 ternak = 2 hari kerja pria - 1 anak = 0,5 hari kerja pria 3) Modal Modal merupakan barang atau uang yang bersama-sama dengan faktor produksi lain dan tenaga kerja serja pengelolaan menghasilkan barang-barang baru, yaitu produksi pertanian. Sumber modal dapat diperoleh dari milik sendiri, pinjaman atau kredit (kredit bank, kerabat, dan lainnya), hadiah warisan, usaha lain, ataupun kontrak sewa. Berdasarkan sifatnya, modal dibedakan menjadi dua, yaitu modal tetap yang berarti modal yang tidak habis pada satu periode produksi dan modal bergerak yang berarti modal yang habis atau dianggap habis dalam satu periode produksi. Jenis modal tetap memerlukan pemeliharaan agar dapat berdaya guna dalam jangka waktu lama. Jenis modal ini pun terkena penyusutan yang berarti nilai modal menyusut berdasarkan jenis dan waktu. Penghitungan penyusutan dengan cara yang dianggap mudah adalah menggunakan metode garis lurus (straight line method). Metode garis lurus menggunakan dasar pemikiran bahwa benda yang dipergunakan dalam usahatani menyusut dalam besaran yang sama setiap tahunnya. 4) Pengelolaan (management) Pengelolaan usahatani adalah kemampuan petani untuk menentukan, mengorganisir, dan mengkoordinasikan faktor-faktor produksi yang dikuasai dengan sebaik-baiknya sehingga mampu memberikan produksi pertanian sebagaimana yang diharapkan. Ukuran dari keberhasilan pengelolaan itu adalah 22 produktivitas dari setiap faktor maupun produktivitas dari usahanya. Dengan demikian, pengenalan secara utuh faktor yang dimiliki dan faktor yang dikuasai akan sangat menentukan keberhasilan pengelolaan. 3.1.2. Konsep Pendapatan Usahatani Pada analisis usahatani, data mengenai penerimaan, biaya, dan pendapatan usahatani perlu diketahui. Cara analisis terhadap tiga variabel ini sering disebut dengan analisis anggaran arus uang tunai (cash flow analysis) (Soekartawi 1995). Adapun penjelasan ketiga variabel tersebut adalah sebagai berikut: 1) Struktur Penerimaan Usahatani Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual (Soekartawi 1995). Istilah lain untuk penerimaan usahatani adalah pendapatan kotor usahatani (gross farm income) yang didefinisikan sebagai nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun tidak dijual. Pendapatan kotor ini mencakup semua produk yang dijual, dikonsumsi rumah tangga petani, bibit atau makanan ternak, digunakan untuk pembayaran, dan disimpan atau ada di gudang pada akhir tahun (Soekartawi 1986). 2) Struktur Biaya Usahatani Biaya adalah sejumlah uang yang dibayarkan untuk pembelian barang dan jasa bagi kegiatan usahatani (Soekartawi 1995). Menurut Hernanto (1989), biaya dikelompokan dalam empat kategori, yaitu: a) Biaya tetap (fixed costs); dimaksudkan biaya yang penggunaannya tidak habis dalam satu masa produksi. b) Biaya variabel (variable costs), dimana besar kecilnya dipengaruhi oleh biaya skala produksi. c) Biaya tunai; dimaksudkan biaya yang dikeluarkan dalam bentuk uang. d) Biaya diperhitungkan, dimaksudkan biaya yang dikeluarkan petani bukan dalam bentuk uang tunai, tetapi diperhitungkan dalam perhitungan usahatani. 23 3) Struktur Pendapatan Usahatani Pendapatan tunai usahatani adalah selisih antara penerimaan tunai dan pengeluaran tunai dan merupakan ukuran kemampuan usahatani untuk menghasilkan uang tunai (Soekartawi 1986). Faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani menurut Hernanto (1989) yaitu, luas usaha, tingkat produksi, pilihan dan kombinasi cabang usaha, intensitas pengusahaan pertanaman, dan efisiensi tenaga kerja. Analisis pendapatan usahatani ini bertujuan mengetahui besar keuntungan yang diperoleh dari usaha yang dilakukan (Soekartawi 1995). 4) Analisis R/C Analisis R/C (return cost ratio) merupakan perbandingan (ratio atau nisbah) antara penerimaan dengan biaya dalam satu kali periode produksi usahatani. R/C menunjukkan besarnya penerimaan yang diperoleh sebagai manfaat dari setiap rupiah yang dikeluarkan, semakin tinggi nilai R/C maka semakin menguntungkan usahatani tersebut dilakukan. Analisis R/C ini dibagi dua, yaitu (a) menggunakan data pengeluaran (biaya produksi) tunai dan (b) menghitung juga atas biaya yang tidak diperhitungkan, dengan kata lain perhitungan total biaya produksi (Soekartawi 1995). Kriteria keputusan dari nilai R/C yaitu, jika R/C > 1 maka kegiatan usahatani yang dilakukan dapat memberikan penerimaan yang lebih besar dari pada pengeluarannya. Nilai R/C < 1 menunjukkan maka kegiatan usahatani yang dilakukan tidak dapat memberikan penerimaan yang lebih besar dari pada pengeluarannya. Nilai R/C = 1, maka kegiatan usahatani yang dilakukan dapat dikatakan tidak memberikan keuntungan maupun kerugian (impas) karena penerimaan yang diterima oleh petani akan sama dengan pengeluaran yang dikeluarkan oleh petani (Soekartawi 1995). 3.1.3. Konsep Usaha Pertanian Kontrak (Contract Farming) Usaha pertanian kontrak merupakan salah satu bentuk relasi kemitraan. Menurut Daryanto (2012), usaha pertanian kontrak (contract farming) merupakan satu mekanisme kelembagaan (kontrak) yang memperkuat posisi tawar-menawar petani, peternak, dan nelayan dengan cara mengaitkannya secara langsung atau pun tidak langsung dengan badan usaha yang secara ekonomi lebih kuat. Hal ini 24 tidak hanya berpotensi meningkatkan penghasilan petani, peternak, dan nelayan kecil yang terlibat dalam usaha pertanian kontrak, tetapi juga mempunyai efek berlipat ganda (muliplier effects) bagi perekonomi pedesaan maupun perekonomian dalam skala lebih luas. Menurut Eaton dan Shepherd (2001), usaha pertanian kontrak dibagi menjadi lima model, yaitu: 1) Centralized model, yaitu model yang terkoordinasi secara vertikal, dimana pihak perusahaan membeli produk dari para petani yang kemudian memprosesnya atau mengemasnya dan memasarkan produknya. 2) Nucleus estate model, yaitu variasi model terpusat, dimana dalam model ini perusahaan dari proyek juga memiliki dan mengatur tanah perkebunan yang umumnya dekat dengan pabrik pengolahan. 3) Multipartite model, yaitu model yang umumnya melibatkan badan hukum dan perusahaan swasta yang secara bersama berpartisipasi bersama para petani. 4) Informal model, yaitu model yang umumnya diaplikasikan terhadap wiraswasta perseorangan atau perusahaan kecil yang umumnya membuat kontrak produksi informal yang mudah dengan para petani berdasarkan musiman. 5) Intermediary model, yaitu model yang umumnya diaplikasikan pada perusahaan swasta yang akan membayar petani mitra sesuai dengan total produksi. Pihak perusahaan umumnya membina dan mengontrol petani untuk menggunakan faktor produksi yang telah ditetapkan perusahaan. Menurut Daryanto (2012), kerjasama antara petani dengan pihak perusahan dapat terjalin secara baik jika terdapat saling ketergantungan yang menguntungkan dikedua belah pihak. Usaha pertanian kontrak memungkinkan untuk mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan minimnya informasi. Selain itu, usaha pertanian kontrak dapat mengurangi risiko bagi petani maupun perusahaan, misalnya dalam hal kepastian bahwa hasil produksi petani akan dibelipada saat panen dan kepastian pasokan bahan baku bagi perusahaan. Pola kemitraan atau kontrak di Indonesia menurut Sumardjo et al. (2004) terdiri dari lima macam, yaitu: 25 1) Pola kemitraan inti plasma Pola kemitraan inti plasma merupakan pola hubungan kemitraan antara kelompok mitra (plasma) dengan perusahaan mitra (inti). Perusahaan mitra membina kelompok mitra dalam hal lahan, saran produksi, bimbingan teknis, manajemen, menampung dan mengolah, serta memasarkan hasil produksi. Keunggulan dari pola kemitraan ini yaitu adanya saling ketergantungan dan saling memperoleh keuntungan. Sementara itu, kelemahan dari pola ini yaitu pihak plasma kurang memahami hak dan kewaibannya, komitmen perusahaan inti masih lemah dalam memenuhi fungsi dan kewajibannya, dan belum ada kontrak kemitraan yang menjamin hak dan kewajiban komoditas plasma sehingga terkadang perusahaan inti mempermainkan harga komoditas plasma. 2) Pola kemitraan subkontrak Pola kemitraan subkontrak merupakan hubungan kemitraan antara perusahaan mitra usaha dengan kelompok mitra usaha yang memproduksi komponen yang diperlukan perusahaan mitra sebagai bagian dari produksinya. Keunggulan dari pola ini yaitu adanya kesepakan tentang kontrak bersama yang mencakup volume, harga, mutu, dan waktu. Sementara itu, kelemahan pola ini yaitu hubungan subkontrak yang terjalin semakin lama cenderung mengisolasi produsen kecil dan menengah, berkurangnya nilai-nilai kemitraan antara kedua belah pihak, dan kontrol kualitas produk ketat tetapi tidak diimbangi dengan sistem pembayaran yang tepat. 3) Pola kemitraan dagang umum Pola kemitraan dagang umum merupakan hubungan usaha dalam pemasaran hasil produksi. Pihak yang terlibat dalam pola ini adalah perusahaan mitra dan kelompok mitra dengan persyaratan yang telah disepakati bersama. Keunggulan dari pola ini yaitu kelompok mitra berperan sebagai pemasok kebutuhan yang diperlukan perusahaan mitra dan perusahaan mitra memasarkan produk kelompok mitra ke konsumen. Kondisi tersebut menguntungkan pihak kelompok mitra karena adanya kepastian harga dan pasar bagi hasil produknya. Selain itu, pihak perusahaan mitra mendapatkan bahan baku sesuai dengan kualitas yang telah disepakati. Namun, kelemahan dari pola ini yaitu dalam prakteknya harga dan volume produk sering ditentukan secara sepihak oleh 26 perusahaan mitra sehingga merugikan pihak kelompok mitra dan terkadang sistem pembayaran barang-barang pada kelompok mitra tertunda. 4) Pola kemitraan keagenan Pola kemitraan keagenan merupakan bentuk kemitraan dimana perusahaan mitra memberikan hak khusus kepada kelompok mitra untuk memasarkan barang atau jasa perusahaan yang dipasok oleh perusahaan mitra. Terdapat kesepakatan di antara pihak-pihak yang terlibat mengenai target-target yang harus dicapai dan besarnya komisi yang siterima oleh pihak yang memasarkan produk. Keunggulan pola ini yaitu mudah dilaksanakan oleh para perusahaan kecil yang kurang kuat modalnya. Sementara itu, kelemahan pola ini yaitu beberapa mitra kurang mampu membaca segmen pasar, tidak memenuhi target, dan kelompok mitra menetapkan harga produk secara sepihak sehingga harga di tingkat konsumen menjadi tinggi. 5) Pola kemitraan Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA) Pola kemitraan KOA merupakan pola hubungan bisnis yang dijalankan oleh kelompok mitra dan perusahaan mitra. Kelompok mitra menyediakan lahan, sarana, dan tenaga kerja, sedangkan pihak perusahaan mitra menyediakan biaya, modal, manajemen, dan pengadaan sarana produksi untuk mengusahakan atau membudidayakan suatu komoditas pertanian. Selain itu, perusahaan mitra berperan sebagai penjamin pasar produk dengan meningkatkan nilai tambah produk melalui pengolahan dan pengemasan. Keunggulan pola KOA ini serupa dengan pola inti plasma, namun kelemahan pola ini yaitu pengambilan untuk oleh perusahan mitra yang menangani aspek pemasaran dan pengolahan produk terlalu besar dan perusahaan mitra cenderung monopsoni. 3.1.4. Konsep Fungsi Produksi Ditinjau dari pengertian teknis, maka produksi merupakan suatu proses pendayagunaan dari sumber-sumber yang telah tersedia sehingga dapat mewujudkan suatu hasil yang optimal, baik secara kualitas dan kuantitas sehingga menjadi suatu komoditi yang dapat diperdagangkan. Produksi adalah segala kegiatan dalam rangka menciptakan dan menambah kegunaan atau uitlity sesuatu barang atau jasa untuk kegiatan dimana dibutuhkan faktor-faktor produksi yang didalam ilmu ekonomi terdiri dari tanah, modal, tenaga kerja, dan manajemen (Assauri 2004). Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa produksi adalah suatu 27 kegiatan/aktivitas yang dapat menambah nilai guna dan manfaat barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sudarsono (1995) mengatakan fungsi produksi adalah hubungan teknis yang menghubungkan antara faktor produksi yang disebut dengan masukan atau input. Disebut faktor produksi karena adanya sifat mutlak agar produksi dapat dijalankan untuk menghasilkan produk. Suatu fungsi produksi menggambarkan semua metode produksi yang efisien secara teknis dalam arti menggunakan kuantitas faktor produksi yang minimal. Metode produksi yang boros tidak diperhitungkan dalam fungsi produksi. Metode produksi adalah suatu kombinasi dari faktor-faktor produksi yang dibutuhkan untuk memproduksi satu satuan produk. Soekartawi (2005) menjelaskan bahwa fungsi produksi merupakan hubungan antara faktor produksi (input) dan produksi (output). Variabel Y digambarkan sebagai hasil produksi dan variabel Xi adalah masukan i, maka besarnya Y dipengaruhi oleh besarnya X1, X2, X3, ..., Xm yang digunakan pada fungsi tersebut. Secara matematis, hubungan Y dan X dapat ditulis sebagai berikut: Y = f(X1, X2, X3, ..., Xm) Keterangan: Y = produksi/output X1, X2, X3, ..., Xm = faktor produksi/input Hubungan masukan dan produksi pertanian mengikuti kaidah tambahan hasil yang semakin berkurang (law of diminishing returns) untuk semua variabel X. Tiap tambahan unit masukan akan mengakibatkan proporsi unit tambahan produksi yang semakin kecil dibanding unit tambahan masukan tersebut (Soekartawi 1986). Salah satu model fungsi produksi yang digunakan dalam analisis usahatani adalah fungsi produksi Cobb-Douglas. Menurut Soekartawi (2002) fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel. Variabel yang dijelaskan disebut variabel dependen (Y) dan variabel yang menjelaskan disebut variabel independen (X). Variabel yang dijelaskan biasanya berupa output dan variabel yang menjelaskan 28 biasanya berupa input. Tiga alasan pokok memilih menggunakan analisis fungsi produksi Cobb-Douglas antara lain (Soekartawi 2002): 1) Penyelesaian fungsi produksi Cobb-Douglas relatif lebih mudah dibandingkan dengan fungsi lain. Fungsi Cobb-Douglas dapat dengan mudah diubah ke dalam bentuk linier. 2) Hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb-Douglas akan menghasilkan koefisien regresi yang sekaligus menunjukkan elastisitas. 3) Besaran elastisitas tersebut juga sekaligus menunjukan return to scale. Hal ini perlu diketahui untuk menentukan keadaan dari suatu produksi, apakah mengikuti kaidah decreasing, constant atau increasing return to scale. a) Decreasing returns to scale, bila (b1 + b2) < 1. Dalam keadaan demikian, dapat diartikan bahwa proporsi penambahan masukanproduksi melebihi proporsi penambahan produksi. b) Constant returns to scale, bila (b1 + b2) = 1. Dalam keadaan demikian penambahan masukan-produksi akan proporsional dengan penambahan produksi yang diperoleh. c) Increasing returns to scale, bila (b1 + b2) > 1. Ini artinya bahwa proporsi penambahan masukan-produksi akan menghasilkan tambahan produksi yang proporsinya lebih besar. Kesulitan yang umum dijumpai dalam penggunaan fungsi Cobb-Douglas (Soekartawi 2002) adalah sebagai berikut: 1) Spesifikasi variabel yang keliru. 2) Kesalahan pengukuran variabel. 3) Bias terhadap variabel manajemen. 4) Masalah multikolinieritas yang sulit dihindarkan. Persamaan matematis dari fungsi produksi Cobb-Douglas secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut: Y = b0 X1b1 X2b2 X3b3 . . . Xibi eu Dimana: Y X b0, bi u e = variabel yang dijelaskan = variabel yang menjelaskan = besaran yang akan diduga = kesalahan (disturbance term) = logaritma natural (e = 2,718) 29 Fungsi Cobb-Douglas di atas kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk linear logaritma untuk memudahkan pendugaaan terhadap fungsi produksi tersebut, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut: Ln Y = ln b0 + b1 ln X1 + b2 ln X2 + b3 ln X3 ... + bi ln Xi + u Pada persamaan tersebut terlihat bahwa nilai b1 dan b2 adalah tetap walaupun variabel yang terlibat telah dilogaritmakan. Hal ini dapat dimengerti karena b1 dan b2 pada fungsi Cobb-Douglas adalah sekaligus menunjukkan elastisitas X terhadap Y. Elastisitas produksi (Ep) adalah presentase perubahan dari output sebagai akibat dari persentase perubahan input (Rahim & Hastuti, 2008). Elastisitas produksi dapat dirumuskan sebagai berikut: � � = � = � Dimana: Ep ∆Y ∆X Y X = � ∆ ∆ ∆ ∆ ∆ ∆ � 100% � 100% � = �� � = �� �� 1 �� = elastisitas produksi = perubahan hasil produksi komoditas pertanian = perubahan penggunaan faktor produksi = hasil produksi komoditas pertanian = jumlah penggunaan faktor produksi Kurva dapat menggambarkan hubungan fisik faktor produksi dan hasil produksinya, dengan asumsi hanya satu produksi yang berubah dan faktor produksi lainnya dianggap tetap (ceteris paribus). Fungsi produksi juga menggambarkan Marginal Product (PM) dan Average Product (PR). Marginal Product (PM) merupakan tambahan produksi per satuan tambahan input, sedangkan Average Product (PR) merupakan produksi per satuan input. Berdasarkan Gambar 1, kurva produksi terbagi menjadi menjadi tiga daerah. 30 Gambar 1. Hubungan antara TP, PM, dan PR (Sumber : Rahim & Hastuti 2008) Daerah I dimana terjadi peningkatan PR dengan elastisitas produksi lebih dari satu (EP > 1). Hal ini menunjukkan penambahan faktor produksi sebesar satu satuan akan menyebabkan penambahan produksi lebih besar dari satu satuan. Dimana kondisi ini keuntungan maksimum belum tercapai karena produksi masih dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, daerah ini disebut daerah irrasional atau inefisien. Daerah II terjadi penurunan PR saat PM positif dengan elastisitas produksi antara nol dan satu (0 < EP < 1). Hal ini menunjukkan penambahan faktor produksi sebesar satu satuan akan menyebabkan penambahan produksi paling besar satu satuan dan paling kecil nol satuan. Pada daerah ini terjadi penambahan hasil produksi yang semakin menurun, namun penggunaan faktor-faktor produksi tertentu di daerah ini dapat memberikan keuntungan maksimum. Oleh karena itu, daerah ini disebut daerah rasional atau efisien. 31 Daerah III terjadi penurunan PR saat PM negatif dengan elastisitas produksi kurang dari nol (EP < 0). Hal ini menunjukkan setiap penambahan satu satuan input akan menyebabkan penurunan produksi. Pada daerah ini penggunaan faktor produksi sudah tidak efisien. Oleh karena itu, daerah ini disebut daerah irrasional. 3.2. Kerangka Pemikiran Operasional Kentang merupakan salah satu tanaman hortikultura unggulan Desa Cigedug yang telah lama dibudidayakan. Hal ini didukung dengan kondisi geografis yang cocok untuk ditanam kentang baik varietas Granola yang merupakan komoditas noncontract farming (usaha nonpertanian kontrak) maupun varietas Atlantic yang merupakan komoditas contract farming (usaha pertanian kontrak) dengan PT Indofood Fritolay Makmur. Kondisi geografis tersebut tidak serta merta dapat meningkatkan produktivitas kentang di lokasi penelitian. Peningkatan produksi kentang yang terjadi belum didukung dengan peningkatan produktivitas. Produktivitas kentang yang pernah dicapai Desa Cigedug belum mencapai produktivitas potensialnya. Produktivitas kentang aktual pada tahun 2011 sebesar 18 ton/ha (BP3K Kecamatan Cigedug 2012), padahal produktivitas potensial yang dapat dicapai kentang varietas Granola maupun varietas Atlantic, yaitu kurang lebih 30 ton/ha (Samadi 2007). Produktivitas yang belum mampu mencapai produktivitas potensial menjadi salah satu permasalahan bagi petani di Desa Cigedug. Hal tersebut diduga disebabkan oleh penerapan teknologi maupun penggunaan faktor produksi yang belum mengikuti kaidah standar operasional prosedur (SOP). Secara teoritis, produktivitas dapat menggambarkan pendapatan yang diperoleh dan penggunaan faktor produksi apa saja yang mempengaruhi produksi usahatani kentang. Perbedaan harga jual pada kedua varietas menjadi salah satu permasalahan usahatani kentang di Desa Cigedug dimana harga jual rata-rata kentang varietas Granola relatif lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Atlantic. Selain itu, pada varietas Granola harga jual mengikuti harga pasar yang cenderung berfluktuatif, sedangkan pada varietas Atlantic harga jual tetap sesuai dengan harga kontrak dengan PT IFM yang berlaku. Hal tersebut tentu akan berpengaruh terhadap pendapatan usahatani kentang di Desa Cigedug. 32 Pendapatan usahatani dapat digunakan sebagai tolok ukur tingkat keberhasilan petani. Pendapatan usahatani ini dapat diperoleh setelah analisis penerimaan dan analisis pengeluaran dilakukan. Pendapatan merupakan hasil akhir yang diperoleh petani sebagai bentuk imbalan atas pengelolaan sumberdaya yang dimiliki dalam usahataninya. Sementara itu, fungsi produksi Cobb-Douglas digunakan untuk melihat pengaruh penggunaan faktor produksi (input) terhadap output. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan melihat fakta di lapangan untuk menganalisis pendapatan usahatani dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi kentang. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi petani ataupun pihak lain dalam penyajian informasi tentang usahatani kentang dan dapat dijadikan sebagai langkah kebijakan yang diambil untuk meningkatkan produktivitasnya. Berdasarkan uraian di atas maka kerangka pemikiran operasional penelitian ini dapat digambarkan pada Gambar 2. Penerapan teknologi maupun penggunaan faktor produksi kentang di Desa Cigedug diduga belum mengikuti kaidah standar operasional Produktivitas kentang di Desa Cigedug belum mencapai produktivitas potensial Analisis Pendapatan Usahatani Kentang Noncontract Farming (Varietas Granola) Contract Farming (Varietas Atlantic) R/C R/C - Luas lahan - Bibit - Varietas - Nitrogen - Fosfat - Kalium - Fungisida - Insektisida - Perekat - Tenaga Kerja Produksi Kentang Analisis Fungsi Produksi Cobb- Douglass Rekomendasi Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian 33 IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Cigedug merupakan salah satu sentra produksi kentang yang mengalami peningkatan luas lahan kentang terbesar sebesar 16,62 persen dari tahun 2007 – 2011 di Kabupaten Garut (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut 2012). Desa Cigedug merupakan desa terbesar yang memproduksi kentang di Kecamatan Cigedug pada tahun 2011 (BP3K Kecamatan Cigedug 2012). Pengambilan data dilakukan pada 7 Mei sampai dengan 31 Mei 2012. 4.2. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung (observasi), pencatatan, wawancara langsung dengan petani kentang varietas Granola (noncontract farming) dan varietas Atlantic (contract farming), vendor (ketua kelompok tani) PT Indofood Fritolay Makmur, pengawas kegiatan usahatani (agrofield) kentang varietas Atlantic PT Indofood Fritolay Makmur, dan pihak penyuluh pertanian lapang (PPL) untuk mengetahui kondisi dan kegiatan yang dilakukan oleh para petani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic. Data primer yang diperoleh meliputi data karakteristik petani dan data usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic. Data karakteristik petani yang digunakan meliputi nama, usia, alamat, pendidikan, pengalaman usahatani, status kepemilikan lahan, dan gambaran umum usahatani. Gambaran umum kegiatan usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic dilihat dari berbagai tahap kegiatan budidaya dalam memproduksi kentang varietas Granola dan varietas Atlantic, jumlah penggunaan benih, penggunaan pupuk baik organik (kandang) maupun anorganik (kimia), penggunaan tenaga kerja, dan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam usahatani kentang per musim tanam. Data sekunder digunakan dalam mendukung dan mempertajam analisis yang dikumpulkan dari instansi dan dinas terkait, seperti Badan Pusat Stastistik Kabupaten Garut, Direktorat Jendral Hortikultura, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut, Lembaga Sumber Informasi IPB, penelitian terdahulu, buku, literatur internet, dan berbagai sumber lain yang berkaitan dengan penelitian ini. 4.3. Jumlah Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel Jumlah sampel yang diambil sebanyak 30 petani kentang varietas Granola dan 30 petani varietas Atlantic karena jumlah sampel tersebut dianggap dapat menggambarkan kondisi usahatani kentang varietas Granola dan Atlantic di Desa Cigedug. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan sampel tidak acak (nonrandom sampling), yaitu teknik snowball sampling dikarenakan keterbatasan kondisi lapang yang belum terdapat data petani yang menanam kentang varietas Granola dan varietas Atlantic di Desa Cigedug. Penulis dibantu oleh pembimbing lapang yang mengetahui kondisi masyarakat Desa Cigedug untuk memilih responden yang menanam kentang varietas Granola dan Atlantic. Kemudian, responden tersebut menunjukkan responden lain yang menanam kentang varietas Granola ataupun Atlantic. Pemilihan responden tersebut merupakan pihak yang dianggap paling baik dalam memberikan informasi dan dapat menjelaskan mengenai usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic. Pengumpulan data primer, peneliti menggunakan metode observasi (pengamatan langsung), metode kuesioner (angket) yang diisi langsung oleh peneliti dengan hasil yang diperoleh dari proses wawancara dengan pihak responden, dan wawancara mendalam untuk memperoleh informasi lain yang dibutuhkan di luar pertanyaan yang ada dalam kuesioner. Pengamatan langsung dilakukan dengan turun lapang beberapa kegiatan dalam budidaya kentang varietas Granola dan varietas Atlantic di lokasi penelitian. Pengumpulan data sekunder, peneliti berkunjung langsung ke dinas atau instansi tekait, seperti Badan Pusat Statistik, BP3K Kecamatan Cigedug, Direktorat Jenderal Hortikultura, dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut yang kemudian melakukan wawancara kepada pihak-pihak yang terkait dalam penelitian ini. 35 4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan melalui pendekatan deskriptif untuk melihat keragaan dan gambaran usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic di daerah penelitian dan untuk mendukung data kuantitatif. Sementara itu, analisis data secara kuantitatif antara lain analisis pendapatan usahatani, R/C rasio untuk membandingkan efisiensi pendapatan kedua varietas tersebut, dan fungsi produksi Cobb-Douglas untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kentang. Data yang dianalisis secara kuantitatif akan diolah dengan bantuan software Microsoft Office Excel 2007 dan MINITAB 14. 4.4.1. Analisis Pendapatan Usahatani Hernanto (1989) menjelaskan bahwa pendapatan usahatani dibedakan menjadi pendapatan atas biaya tunai dan biaya total. Pendapatan atas biaya tunai adalah pendapatan atas biaya yang benar-benar dikeluarkan oleh petani. Sedangkan pendapatan atas biaya total adalah pendapatan dimana semua input milik keluarga juga diperhitungkan. Secara matematis, perhitungan penerimaan total, biaya, dan pendapatan menurut Soekartawi (1995) dirumuskan sebagai berikut : TR = Py . Y TC = FC + VC Pd = TR - TC dimana : TR Py Y TC FC VC Pd = Total penerimaan usahatani (Rp) = Harga output (Rp) = Jumlah output (kg) = Total biaya usahatani (Rp) = Total biaya tetap (Rp) = Total biaya variabel (Rp) = Pendapatan (Rp) Kriteria yang digunakan adalah: TR > TC, maka usaha untung TR = TC, maka usaha impas TR < TC, maka usaha rugi 36 Analisis R/C rasio merupakan alat analisis dalam usahatani yang berfungsi untuk mengukur efisiensi dari kegiatan usahatani yang dilaksanakan dengan membandingkan nilai output terhadap nilai inputnya atau dengan kata lain membandingkan penerimaan usahatani dengan pengeluaran usahataninya. Adapun rumus R/C rasio atas biaya tunai menurut Soekartawi (1995) adalah sebagai berikut: R Penerimaan Tunai atas Biaya Tunai = C Biaya Tunai Sedangkan rumus R/C rasio atas biaya total adalah sebagai berikut: Total Penerimaan R atas Biaya Total = C Total Biaya Analisis R/C rasio dilakukan untuk mengetahui besarnya penerimaan yang dihasilkan dari setiap rupiah yang dikeluarkan pada suatu kegiatan usahatani. Jika rasio R/C bernilai lebih dari satu (R/C > 1), maka usahatani layak untuk dilaksanakan. Sebaliknya jika rasio R/C bernilai kurang dari satu (R/C < 1), maka usahatani tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Namun, apabila rasio R/C sama dengan satu (R/C = 1), maka usahatani tersebut impas, tidak memberikan keuntungan maupun kerugian. Tabel 4. Ringkasan Perhitungan Penerimaan, Biaya, dan Pendapatan Usahatani A Penerimaan tunai Harga x hasil panen yang dijual (kg) Penerimaan yang Harga x hasil panen yang dikonsumsi atau B dihitungkan dijadikan benih (kg) C Total penerimaan A+B a. Biaya sarana produksi: - Benih, pupuk kandang, pupuk kimia, obat-obatan D Biaya tunai b. Biaya tenaga kerja luar keluarga (TKLK) c. Pajak d. Sewa lahan a. Benih b. Biaya tenaga kerja dalam keluarga E Biaya diperhitungkan (TKDK) c. Lahan milik sendiri d. Penyusutan peralatan F Total biaya D+E G Pendapatan atas biaya tunai A – D H Pendapatan atas biaya total C–F I R/C atas biaya tunai A/D J R/C atas biaya total C/F 37 Biaya penyusutan alat-alat pertanian diperhitungkan dengan membagi selisih antara nilai pembelian dengan nilai sisa yang ditafsirkan dengan lamanya modal pakai dan disumsikan tidak laku apabila dijual. Metode yang digunakan adalah metode garis lurus (straight line method). Metode garis lurus menggunakan dasar pemikiran bahwa benda yang dipergunakan dalam usahatani menyusut dalam besaran yang sama setiap tahunnya. Secara matematis penyusutan tersebut dirumuskan menurut Suratiyah (2006) sebagai berikut: Penyusutan per tahun = Cost – Nilai sisa Umur ekonomis 4.4.2. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang Soekartawi (2005) menjelaskan bahwa fungsi produksi merupakan hubungan antara faktor produksi (input) dan produksi (output). Variabel Y digambarkan sebagai hasil produksi dan variabel Xi adalah faktor produksi i, maka besarnya Y dipengaruhi oleh besarnya X1, X2, X3, ..., Xm yang digunakan pada fungsi tersebut. Hubungan faktor produksi dan produksi tersebut mengikuti kaidah tambahan hasil yang semakin berkurang (law of diminishing returns) untuk semua variabel X, dimana tiap tambahan unit faktor produksi akan mengakibatkan proporsi unit tambahan produksi yang semakin kecil dibanding unit tambahan faktor produksi tersebut (Soekartawi 1986). Oleh karena itu, model fungsi produksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah fungsi produksi CobbDouglas. Faktor produksi Cobb-Douglas harus memenuhi beberapa persyaratan (Soekartawi 1990), diantaranya: 1) Tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol, sebab nilai logaritma dari bilangan nol adalah suatu bilangan yang besarnya tidak diketahui. 2) Memerlukan asumsi bahwa tidak ada perbedaan teknologi pada setiap pengamatan. Hal ini menggambarkan jika fungsi Cobb-Douglas yang akan dipakai dalam suatu bentuk persamaan dan bila diperlukan analisa yang mempunyai lebih dari satu model, maka model tersebut terlertak pada intercept dan bukan pada kemiringan garis model tersebut. 3) Perbedaan lokasi seperti iklim sudah tercakup pada faktor kesalahan (u) Pengidentifikasin variabel dilakukan dengan mendaftar faktor-faktor produksi yang diduga berpengaruh dalam proses produktivitas kentang. Faktor- 38 faktor yang dipakai dalam penelitian ini antara lain jumlah benih, dummy varietas, pupuk kandang, unsur Nitrogen, unsur Fosfat, unsur Kalium, fungisida, insektisida, perekat, dan tenaga kerja yang dihitung per hektar. Pendugaan faktor tersebut berdasarkan pada penggunaan input yang sering digunakan dalam usahatani kentang di lokasi penelitian. Di samping itu, penentuan variabel dapat dilihat pada hasil penelitian terdahulu, seperti pada penelitian Andarwati (2011) yang menggunakan variabel faktor produksi kentang antara lain benih, pupuk organik, unsur N, unsur P, unsur S, fungisida, insektisida, dan tenaga kerja yang dihitung per hektar. Pada penelitian ini, penggunaan pupuk kimia pada model fungsi produksi berdasarkan unsur kandungan yang diaplikasikan, seperti ZA yang mengandung unsur Nitrogen, TSP yang mengandung unsur Fosfat, KCl yang mengandung Kalium, dan pupuk NPK (Mutiara dan Phonska) yang mengandung unsur Nitrogen, Fosfat, dan Kalium yang dihitung per hektar. Pengaplikasian pestisida setiap petani sebagian besar merek dagangnya berbeda antara petani yang satu dengan petani yang lainnya. Namun, penggunaan tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu memberantas ataupun mengurangi hama-penyakit yang menyerang pada tanaman kentang. Hama yang menyerang seperti, Liriomyza huidobrensis yang dikenal petani dengan sebutan aro, Myzus persicae (kutu daun), Thrips (hama bodas), dan Phthorimaea operculella (penggorok umbi). Sementara itu, penyakit yang sering menyerang yang disebabkan cendawan seperti, Phytophthora infestans yang menyebabkan penyakit busuk daun dan Fusarium penyebab tanaman layu. Pada musim hujan, semua petani menggunakan perekat yang berguna untuk meratakan dan mempercepat penyerapan pestisida yang disemprotkan, sehingga kandungan pestisida tersebut tidak semua terbawa air hujan. Berdasarkan penjelasan di atas, maka model fungsi produksi CobbDouglas untuk usahatani kentang secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: b10 Y = b0 X1b1 X3b3 X4b4 X5b5 X6b6 X7b7 X8b8 X9b9 X10 eu + b2X2 Fungsi Cobb-Douglas tersebut kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk linear logaritma untuk memudahkan pendugaaan terhadap fungsi produksi tersebut, sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut: 39 Ln Y = ln b0 + b1 ln X1 + b3 ln X3 + b4 ln X4 + b5 ln X5 + b6 ln X6 + b7 ln X7 + b8 ln X8 + b9 ln X9 + b10 ln X10 + u + b2X2 Keterangan: Y b0 b1, b2, b3,..., b6 u X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 = Produktivitas kentang (ton/ha) = Intersept = Parameter variabel = Unsur sisa (galat) = Benih (kg/ha) = Dummy Varietas, dimana 1 = varietas Granola dan 0 = varietas Atlantic = Pupuk kandang (kg/ha) = Unsur N (kg/ha) = Unsur P (kg/ha) = Unsur K (kg/ha) = Fungisida (kg/ha) = Insektisida (liter/ha) = Perekat (liter/ha) = Tenaga kerja (HOK/ha) Metode yang digunakan adalah metode kuadrat terkecil (Ordinary Least Square (OLS)). Metode ini terlebih dahulu diuji dengan uji F, uji t, dan R-sq. Kemudian, kelayakan model tersebut akan diuji berdasarkan asumsi OLS yang meliputi uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, uji otokorelasi, dan normalitas error. Apabila asumsi tersebut dapat terpenuhi maka koefisien regresi (parameter) yang diperoleh merupakan penduga tak bias linear terbaik (BLUE) (Gujarati 2006a). Pengujian multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antar variabel bebas. Sebuah model dinyatakan terbebas dari masalah multikolinearitas apabila memiliki nilai VIF (Variance Inflation Factor) di bawah 10 (Lind et al. 2007). Asumsi OLS lainnya adalah bersifat homoskedastisitas yang berarti semua memiliki varians yang sama. Pengujian ini dapat menggunakan uji grafis residu yang melihat ada atau tidaknya pola sistematis antara e2i dan X. Apabila tidak ada pola yang sistematis maka dapat dikatakan sifat homoskedastisitas terpenuhi (Gujarati 2006b). Model yang dibangun juga harus terbebas dari masalah otokorelasi. Hal ini diketahui berdasarkan statistik nilai Durbin-Watson seperti yang dapat dilihat pada Gambar 3. Otokorelasi ini didefinisikan sebagai korelasi di antara anggota 40 observasi yang diurut menurut waktu (seperti data deret berkala) atau ruang (seperti lintas-sektoral) (Gujarati 2006b). Bukti otokorelasi positif Daerah meragukan Tidak ada otokorelasi positif atau negatif Daerah meragukan Bukti otokorelasi negatif d 0 dL 2 dU 4-dU 4-dL 4 Gambar 3. Daerah Statistik d Durbin-Watson Sumber : Gujarati (2006b) 4.4.3. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis merupakan pengujian-pengujian yang dilakukan dalam pengujian model penduga dan pengujian terhadap parameter regresi, antara lain: 1) Pengujian terhadap model penduga Pengujian ini untuk mengetahui apakah faktor produksi yang digunakan secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang. Menurut Gujarati (2006a), pengujian hipotesis secara statistik adalah sebagai berikut: Hipotesis: H0 : b1 = b2 = . . . = b10 = 0 H1 : salah satu dari b ada ≠ 0 Uji statistik yang digunakan adalah uji F: ℎ� �� = Keterangan: k n �2 ( −1) 1− � 2 (� − ) = jumlah variabel termasuk intercept = jumlah pengamatan atau responden Kriteria uji: Tolak H0 = Fhitung > Ftabel(k-1, n-k) pada taraf nyata α Terima H0 = Fhitung < Ftabel(k-1, n-k) pada taraf nyata α Apabila tolak H0 berarti secara bersama-sama variabel yang digunakan berpengaruh nyata terhadap produksi, namun apabila terima H0 maka variabel yang digunakan secara bersama-sama tidak berpengaruh nyata terhadap produksi. Setelah itu dihitung besarnya koefisien determinasi (R2) untuk mengukur tingkat 41 kesesuaian model dugaan, yang merupakan ukuran deskriptif tingkat kesesuaian antara data aktual dengan ramalannya. Koefisien regresi mengukur besarnya keragaman total data yang dapat dijelaskan oleh model dan sisanya (1-R2) dijelaskan oleh komponen error. Semakin tinggi nilai R2 berarti model dugaan yang diperoleh semakin akurat untuk meramalkan variabel tidak bebas (Y) atau dengan kata lain tingkat kesesuaian antara data aktual dengan ramalannya semakin tinggi. Menurut Gujarati (2006a) koefisien determinasi dapat dituliskan sebagai berikut: R2 = jumlah kuadrat regresi jumlah kuadrat total 2) Pengujian untuk masing-masing faktor produksi Pengujian untuk masing-masing faktor produksi yaitu dengan menggunakan uji-t. Hal ini bertujuan untuk melihat apakah setiap faktor produksi berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentangpengaruh nyata dari setiap faktor produksi (X) yang digunakan secara terpisah terhadap parameter tidak bebas (Y). Menurut Gujarati (2006a), hipotesis pengujian secara statistik adalah sebagai berikut: Hipotesis: H0 : bi = 0 H1 : bi ≠ 0 Uji statistik yang digunakan adalah uji t: ℎ� �� = Dimana: � bi se (bi) n k = � � − 0 � (�− ) = koefisien regresi = standard error dari koefisien regresi = jumlah pengamatan (sampel) = jumlah koefisien regresi dugaan termasuk konstanta Kriteria uji: Tolak H0 = thitung > ttabel pada taraf nyata α (berpengaruh nyata) Terima H0 = thitung < ttabel pada taraf nyata α (tidak berpengaruh nyata) Jika tolak H0 artinya variabel bebas berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas dari nilai (produksi) dalam model dan sebaliknya bila terima H 0 maka 42 variabel bebas tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas (produksi). Apabila tidak menggunakan tabel, maka dapat dilihat dari nilai P, dengan kriteria sebagai berikut: a) P-value < α, maka variabel yang diuji (faktor produksi) berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas (produksi) b) P-value > α, maka variabel yang diuji tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas. Hipotesis yang diajukan terhadap setiap faktor produksi adalah seluruh faktor produksi berpengaruh positif terhadap tingkat produksi kentang per hektar. Kondisi ini diperkirakan karena seluruh komponen faktor produksi tersebut merupakan kebutuhan dalam kegiatan produksi kentang. Adapun penjelasan hipotesis tersebut adalah sebagai berikut: a) Benih (X1) b1 > 0 artinya semakin banyak benih yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi produksi kentang yang dihasilkan. b) Dummy Varietas (X2) Menganggap nilai 1 untuk kentang varietas Granola dan 0 untuk kentang varietas Atlantic, dimana petani yang menanam varietas Granola memiliki tingkat produksi yang lebih tinggi dari pada petani yang menanam varietas Atlantic. c) Pupuk kandang (X3) b3 > 0 artinya semakin banyak pupuk kandang yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi produksi kentang yang dihasilkan. d) Unsur N (X4) b4 > 0 artinya semakin banyak unsur Nitrogen yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi tingkat produksi kentang yang dihasilkan. e) Unsur P (X5) b5 > 0 artinya semakin banyak unsur Phosphor yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi tingkat produksi kentang yang dihasilkan. 43 f) Unsur K (X6) b6 > 0 artinya semakin banyak unsur Kalium yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi tingkat produksi kentang yang dihasilkan. g) Fungisida (X7) b7 > 0 artinya semakin banyak fungisida yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi tingkat produksi kentang yang dihasilkan. h) Insektisida (X8) b8 > 0 artinya semakin banyak insektisida yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi tingkat produksi kentang yang dihasilkan. i) Perekat (X9) b9 > 0 artinya semakin banyak perekat yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi tingkat produksi kentang yang dihasilkan. j) Tenaga kerja (X10) b10 > 0 artinya semakin banyak tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi, maka akan semakin tinggi tingkat produksi kentang yang dihasilkan. 4.5. Definisi Operasional Pada penelitian ini, variabel yang diamati adalah data dan informasi usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic yang diusahakan oleh petani di Desa Cigedug. Variabel tersebut terlebih dahulu didefinisikan untuk mempermudah pengumpulan data yang mengacu pada pengertian di bawah ini: 1) Produktivitas kentang adalah total produksi pada sebidang tanah dengan luasan tertentu dalam periode tanam dan diukur dalam satuan ton per hektar (ton/ha). 2) Benih adalah jumlah benih kentang yang digunakan oleh petani luasan lahan tertentu dalam satu periode tanam dan diukur dalam satuan kilogram per hektar (kg/ha). 44 3) Pupuk kandang adalah jumlah pupuk kandang yang digunakan selama proses produksi dalam satu periode tanam dan diukur dalam satuan kilogram per hektar (kg/ha). 4) Unsur N adalah jumlah unsur Nitrogen yang digunakan dalam satu periode produksi dalam satuan kilogram per hektar (kg/ha). 5) Unsur P adalah jumlah unsur Fosfat yang digunakan dalam satu periode produksi dalam satuan kilogram per hektar (kg/ha). 6) Unsur K adalah jumlah unsur Kalium yang digunakan dalam satu periode produksi dalam satuan kilogram per hektar (kg/ha). 7) Fungisida adalah jumlah obat yang digunakan untuk membasmi ataupun mengurangi serangan hama dan penyakit dalam proses produksi kentang dalam satu periode tanam dan diukur dalam satuan kilogram per hektar (kg/ha). 8) Insektisida adalah jumlah obat yang digunakan untuk membasmi ataupun mengurangi serangan hama dalam proses produksi kentang dalam satu periode tanam dan diukur dalam satuan liter per hektar (lt/ha). 9) Perekat adalah jumlah obat yang digunakan untuk meratakan dan mempercepat penyerapan pestisida yang disemprotkan dalam proses produksi kentang dalam satu periode tanam dan diukur dalam satuan liter per hektar (lt/ha). 10) Tenaga kerja merupakan jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi dalam satu periode tanam, baik yang berasal dari dalam keluarga maupun luar keluarga. Tenaga kerja yang digunakan diukur dalam satuan Hari Orang Kerja (HOK). Biaya tenaga kerja dianalisis berdasarkan tingkat upah per HOK yang berlaku di lokasi penelitian. 11) Biaya total adalah jumlah biaya yang dikeluarkan selama proses produksi, yang meliputi biaya tunai dan biaya diperhitungkan dan diukur dalam satuan rupiah (Rp). 12) Biaya tunai adalah besaranya nilai uang tunai yang dikeluarkan petani dan diukur dalam satuan rupiah (Rp). 45 13) Biaya diperhitungkan adalah biaya faktor produksi milik sendiri yang digunakan dalam usahatani. Biaya ini sebenarnya tidak dibayarkan secara tunai hanya diperhitungkan saja untuk melihat pendapatan petani bila faktor produksi milik sendiri dibayar dan dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp). Biaya diperhitungkan terdiri dari benih, biaya penyusutan, nilai tenaga kerja dalam keluarga, dan sewa lahan. 14) Biaya penyusutan adalah biaya yang dikeluarkan karena adanya penyusutan alat-alat pertanian yang dihitung dengan metode garis lurus dan dihitung dengan menggunakan satuan rupiah (Rp). 15) Harga produk adalah harga jual rata-rata kentang varietas Granola dan varietas Atlantic yang diterima oleh petani dalam setiap kali panen dan diukur dalam satuan rupiah per kilogram (Rp/kg). 16) Harga input adalah harga rata-rata dari setiap faktor produksi (input) yang diperoleh petani dalam satuan rupiah (Rp) 17) Penerimaan tunai adalah nilai produksi kentang yang dijual petani dalam satu kali panen yang dikalikan dengan harga jual kentang yang diterima petani dan diukur dalam satuan rupiah (Rp). 18) Penerimaan diperhitungkan adalah nilai produksi kentang yang digunakan petani tetapi tidak dijual dalam satu kali panen yang dikalikan dengan harga jual kentang yang diterima petani dan diukur dalam satuan rupiah (Rp). 19) Pendapatan atas biaya tunai adalah selisih antara penerimaan tunai usahatani dan biaya tunai usahatani kentang dalam satuan rupiah (Rp). 20) Pendapatan atas biaya total adalah selisih antara penerimaan tunai usahatani dan biaya total usahatani kentang dalam satuan rupiah (Rp). 46 V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Karakteristik Wilayah dan Sosial Ekonomi Kemasyarakatan 5.1.1. Letak dan Kondisi Geografis Lokasi Penelitian Data monografi Desa Cigedug menunjukan bahwa luas wilayah secara keseluruhan adalah sebesar 1138,2 hektar sebagian besar merupakan lahan kering yakni sebesar 67,50 persen dan tanah hutan sebesar 16,36 persen. Umumnya lahan kering dan tanah hutan ditanami komoditas kentang, tomat, cabai, kubis, dan jagung. Lahan perkebunan yang sebesar 6,80 persen didominasi oleh komoditas tembakau dan teh. Pemanfaatan lahan lainnya seperti pemukiman, kolam, fasilitas umum, dan lain-lain sebesar 3,08 persen, 0,62 persen, 0,36 persen, dan 5,28 persen. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Distribusi Pemanfaatan Lahan Desa Cigedug Tahun 2011 Fungsi Lahan Luas Lahan (Ha) Persentase (%) Lahan sawah 0,00 0,00 Lahan kering 768,24 67,50 Perkebunan 77,39 6,80 Tanah hutan 186,21 16,36 Kolam 7,00 0,62 Fasilitas umum 4,14 0,36 Pemukiman 35,10 3,08 Lain-lain 60,12 5,28 Total 1138,20 100,00 Sumber: Desa Cigedug (2012a) Desa Cigedug terletak di pusat Kecamatan Cigedug sehingga akses ke pusat pemerintahan desa dan kecamatan dapat dijangkau dengan mudah. Hal tersebut mempermudah koordinasi dan penerimaan informasi antara pihak pemerintah dan masyarakat desa. Batas wilayah sebagai berikut: sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Cikajang, sebelah Timur berbatasan dengan Gunung Cikuray, sebelah Utara berbatasan dengan Desa Barusuda, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sukahurip. Lokasi penelitian dapat dicapai dari pusat pemerintahan Kecamatan Cigedug sejauh 3 m, Kabupaten Garut sejauh 30 km, Ibukota Provonsi Jawa Barat sejauh 90 km, dan Ibukota Negara sejauh 215 km. Lokasi penelitian yang jauh tersebut menyebabkan harga input produksi seperti pupuk kandang, pupuk kimia, obat-obatan, dan alat pertanian akan relatif lebih tinggi daripada lokasi yang lebih dekat dengan pusat pemerintahan. Desa Cigedug termasuk dataran tinggi dengan ketinggian tempat 1.300 meter dari permukaan laut dengan pH rata-rata lahan darat sebesar 5 – 7. Suhu udara rata-rata di daerah ini mencapai 18 °C – 29 °C, dengan curah hujan mencapai 1432,20 mm/tahun. Curah hujan tertinggi dicapai pada bulan April yaitu 416,20 mm. Hal ini menyebabkan pada bulan ini tanaman mudah terserang penyakit busuk akar dan busuk daun akibat udara yang sangat lembab. Kondisi geografis di lokasi penelitian ini sangat menunjang untuk budidaya tanaman hortikultura, khususnya sayuran. 5.1.2. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Cigedug terdiri dari 3 dusun, 12 RW, dan 53 RT. Jumlah penduduk sebanyak 10.360 jiwa hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Distribusi Penduduk Desa Cigedug Tahun 2012 RW Kampung Laki-laki 1 Kebon Satu 286 2 Ciredey 466 3 Areng 828 4 Barukai 627 5 Sukarame 497 6 Babakan I 473 7 Ds. Kolot 485 8 Situgede 380 9 Cigedug Tonggoh 349 10 Babakan II 285 11 Sindangwargi 297 12 Cicurug 249 Jumlah 5.222 Perempuan 267 452 837 618 503 460 498 383 328 271 270 251 5.138 Sumber : Desa Cigedug (Maret 2012b) Sarana infrastruktur Desa Cigedug dinilai cukup baik, hal ini dilihat dari kondisi jalan raya yang sudah diaspal, tersedianya sarana ibadah (Masjid dan Mushola) di setiap kampung hingga sarana olahraga (lapangan sepak bola, bulutangkis, dan bola voli). Sarana desa tersebut dapat digunakan oleh masyarakat untuk berinteraksi setelah bekerja di ladang, sehingga suasana kekeluargaan terjalin dengan baik. 48 Tabel 7. Distribusi Penduduk Desa Cigedug Berdasarkan Pendidikan Tahun 2011 No. Pendidikan Terakhir Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. Belum sekolah 1.638 19,61 2. Tidak tamat Sekolah Dasar 1.466 17,55 3. Sekolah Dasar (SD) 3.925 46,98 4. Sekolah Menengah Pertama (SMP) 930 11,13 5. Sekolah Menengah Atas (SMA) 335 4,01 6. D I 11 0,13 7. D 3 16 0,19 8. S1 34 0,41 Total 8.355 100,00 Sumber: Desa Cigedug (2012a) Tabel 7 menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Cigedug mengenyam pendidikan sampai Sekolah Dasar (46,98 persen), sedangkan Sekolah Menengah Pertama sebesar 11,13 persen, Sekolah Menengah Atas sebesar 4,01 persen, dan tidak tamat Sekolah Dasar sebesar 17,55 persen. Hal ini perlu mendapat perhatian dari pemerintah karena secara keseluruhan dapat diketahui bahwa kualitas pendidikan penduduk di lokasi penelitian sangat rendah. Tabel 8. Distribusi Penduduk Desa Cigedug Berdasarkan Pekerjaan Tahun 2011 No. Pekerjaan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. PNS 51 1,26 2. Petani 357 8,85 3. Buruh Tani 1778 44,08 4. Wiraswasta 353 8,75 5. Pedagang 297 7,36 7. Industri Rumah Tangga 712 17,65 8. Wiraswasta 353 8,75 9. Tukang Ojeg 70 1,74 10 Supir 4 0,10 11. TNI 1 0,02 12. Pensiunan 2 0,05 13. Pengrajin 37 0,92 14. POLRI 3 0,07 15. Montir 13 0,32 16. Dokter 1 0,02 18. TKW 2 0,05 4034 Jumlah 100,00 Sumber: Desa Cigedug (2012a) Berdasarkan data pada Tabel 8, komposisi penduduk berdasarkan matapencahariaan sebagian besar adalah buruh tani yang umumnya memiliki tingat pendidikan rendah. Dengan kualitas pendidikan tersebut, maka sebagian 49 besar matapencahariaan penduduk menjadi buruh tani mengikuti jejak orang tua mereka. Pemerintah perlu mengadakan sosialisasi dan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan bagi masyarakat. Sarana pendidikan yang tersedia di Desa Cigedug ini hanya Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, sedangkan Sekolah Menengah Atas belum tersedia. 5.2. Karakteristik Petani Varietas Granola dan Atlantic Berdasarkan hasil wawancara menunjukkan bahwa sebesar 46,67 persen petani responden menggunakan lahan pribadi dan 53,33 persen menggunakan lahan sewa. Sementara itu, petani responden varietas Atlantic sebesar 73,33 persen menggunakan lahan pribadi dan 26,67 persen menggunakan lahan sewa. Berdasarkan pemaparan tersebut, penggunaan lahan pribadi lebih banyak digunakan oleh petani responden varietas Atlantic daripada varietas Granola, hal tersebut dikarenakan petani responden varietas Atlantic di Desa Cigedug sebagian besar lahan yang digunakan merupakan lahan turun temurun dan telah lama dimiliki, Sebesar 80 persen petani responden varietas Granola dan 63,33 persen petani responden varietas Atlantic menggarap lahan kentang kurang dari sama dengan setengah hektar (≤ 0,5 ha), dan 20 persen petani responden varietas Granola dan 36,67 persen petani responden varietas Atlantic menggarap lahan lebih dari setengah hektar (> 0,5 – 2 ha). Banyaknya petani yang menggarap usahatani kurang dari dari sama dengan setengah hektar disebabkan keterbatasan modal yang dimiliki petani. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan biaya usahatani kentang relatif lebih besar daripada komoditas lain, seperti wortel, sawi, dan kubis sehingga semakin besar luas lahan kentang, maka kebutuhan biaya usahatani akan semakin besar pula. Sebesar 76,67 persen petani responden kentang varietas Granola mempunyai pekerjaan pokok sebagai petani kentang varietas Granola dan sebesar 17,65 persen lainnya memiliki pekerjaan utama seperti dosen, wiraswasta, pegawai di perusahaan swasta, maupun petani komoditas lain. Sementara itu, sebesar 90 persen petani responden varietas Atlantic memiliki pekerjaan utama sebagai petani kentang varietas Atlantic dan 10 persen lainnya memiliki pekerjaan utama sebagai pengajar maupun wiraswasta. Dengan demikian, sebagian besar 50 petani responden baik varietas Granola maupun Atlantic menggantungkan hidupnya dari pertanian. Alasan petani responden menaman varietas Granola yaitu, benih dapat digunakan dari hasil seleksi panen sebelumnya dan tanaman lebih tahan terhadap hama-penyakit daripada varietas Atlantic. Sementara itu, alasan petani responden menanam varietas Atlantic yaitu, harga jual yang relatif lebih tinggi daripada varietas Granola, kepastian pasar, dan terdapat pinjaman modal dari perusahaan mitra (PT IFM) berupa benih yang dapat dibayar setelah panen atau yang dikenal dengan istilah yarnen (bayar setelah panen). Selain itu, petani juga mendapat pembinaan terkait teknlogi budidaya yang baru dari pihak agrofield PT IFM. Tabel 9. Distribusi Petani Responden Varietas Granola Menurut Usia di Desa Cigedug No. Usia Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. 21 – 30 7 23,33 2. 31 – 40 9 30,00 3. 41 – 50 10 33,33 4. 51 – 60 2 6,67 5. 61 – 70 2 6,67 Total 30 100 Berdasarkan Tabel 9 dapat terlihat sebagian besar petani responden varietas Granola berusia antara 41 – 50 tahun sebanyak 33,33 persen. Hal tersebut juga terjadi pada petani responden varietas Atlantic yang sebagian besar petani responden berusia 41 – 50 tahun (Tabel 10). Usia 41 – 50 tahun termasuk dalam usia produktif, yang merupakan usia ketika seseorang masih mampu bekerja dan menghasilkan sesuatu9. Tabel 10. Distribusi Petani Responden Varietas Atlantic Menurut Usia di Desa Cigedug No. Usia Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. 21 – 30 3 10,00 2. 31 – 40 6 20,00 3. 41 – 50 11 36,67 4. 51 – 60 7 23,33 5. 61 – 70 3 10,00 Total 30 100,00 9 Kamus Besar. http://www.kamusbesar.com/59391/usia-produktif [diakses pada 12 Juli 2012] 51 Pada umumnya petani responden baik varietas Granola maupun Atlantic dalam penelitian ini memiliki tingkat pendidikan yang rendah (Tabel 11 dan Tabel 12). Berdasarkan Tabel 12, sebesar 56,67 persen petani kentang varietas Granola di Desa Cigedug mengenyam pendidikan sampai tingkat SD. Responden yang menamatkan pendidikan hingga SMP dan SMA masing-masing sebesar 30,00 persen dan 10,00 persen. Sementara itu, responden yang mencapai jenjang pendidikan S1 sebesar 3,33 persen. Tabel 11. Distribusi Petani Responden Varietas Granola Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Cigedug No Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1 SD 17 56,67 2 SMP 9 30,00 3 SMA 3 10,00 4 S1 1 3,33 Total 30 100,00 Sama halnya dengan petani responden varietas Granola, petani responden varietas Atlantic sebagian besar menempuh pendidikan hingga tingkat sekolah dasar (Tabel 13). Rendahnya pendidikan yang ditempuh sebagian besar petani responden baik varietas Granola maupun Atlantic dikarenakan keterbatasan modal yang dimiliki untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tidak tersedianya tingkat pendidikan yang ingin ditempuh di lokasi penelitian, dan petani responden merasa telah tercukupi akan pendidikan yang ditempuh sampai tingkat sekolah dasar saja. Namun, tinggi pendidikan yang ditempuh bukan merupakan satu-satunya tolak ukur untuk menilai keberhasilan seseorang. Tabel 12. Distribusi Petani Responden Varietas Atlantic Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Cigedug No Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1 SD 20 66,67 2 SMP 6 20,00 3 SMA 2 6,67 4 S1 2 6,67 Total 30 100,01 Berdasarkan pengalaman usahatani kentang varietas Granola, sebagian besar petani responden memiliki pengalaman kurang dari 11 tahun (56,67 persen) (Tabel 13). Hal tersebut dikarenakan terdapat beberapa responden yang baru 52 menanam varietas Granola dan juga ada yang sempat berhenti lalu mulai menanam kembali secara rutin (minimal satu tahun sekali) kurang dari 11 tahun ini. Namun demikian, pengetahuan responden mengenai usahatani kentang Granola sudah dikenal dari responden masih kecil, karena umumnya usahatani kentang Granola ini merupakan usaha turun-temurun keluarga. Tabel 13. Distribusi Petani Responden Varietas Granola Menurut Pengalaman Bertani di Desa Cigedug No. Pengalaman Bertani (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. < 11 17 56,67 2. 11 – 20 8 26,67 3. 21 – 30 4 13,33 4. 31 – 40 1 3,33 Total 30 100,00 Apabila dilihat dari pengalaman petani responden varietas Atlantic, sebagian besar petani responden memiliki pengalaman antara 6 – 10 tahun (43,33 persen). Hal tersebut dikarenakan pada tahun 2003 benih kentang varietas Atlantic mulai banyak tersedia oleh PT IFM, sehingga banyak petani yang berkesempatan menanam kentang varietas Atlantic. Selain itu, sebelum adanya pengenalan dan bantuan benih kentang varietas Atlantic dari PT IMF, umumnya petani kentang varietas Atlantic dahulu merupakan petani kentang varietas Granola. Dengan demikian, pengetahuan petani responden mengenai budidaya kentang telah cukup tinggi. Berikut ini disajikan tabel distribusi petani responden varietas Atlantic menurut pengalaman bertani di lokasi penelitian. Tabel 14. Distribusi Petani Responden Varietas Atlantic Menurut Pengalaman Bertani di Desa Cigedug No. Pengalaman Bertani (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. 15 1 3,33 Total 30 100,00 5.3. Keragaan Usahatani Kentang 5.3.1. Kegiatan Budidaya Kentang Kegiatan budidaya kentang pada umumnya berupa proses persiapan lahan, penanaman, penyulaman, pemeliharaan, dan pemanenan. Kegiatan pemeliharaan 53 meliputi pemasangan ajir, pembumbunan, penyiangan, pemupukan, dan pengobatan. Faktor produksi yang umum digunakan pada musim hujan dalam usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic di Desa Cigedug, antara lain luas lahan, benih, pupuk kandang, pupuk kimia yang mengandung unsur N, P, dan K, fungisida, insektisida, perekat, dan tenaga kerja. 1) Persiapan Lahan Persiapan lahan sebelum kegiatan produksi meliputi pengolahan tanah, membuat guludan, pemberian pupuk dasar, dan membuat jarak tanam. Hal tersebut dijelaskan di bawah ini. a) Pengolahan tanah Pengolahan tanah bertujuan untuk menggemburkan tanah, memutuskan, dan memusnakan siklus hama dan penyakit yang berada dalam tanah dengan menggunakan bantuan cangkul, sehingga dapat menghilangkan gas-gas beracun yang memungkinkan berada di dalam tanah. Selain itu, tanah yang diolah membuat struktur tanah tidak padat sehingga dapat melancarkan penyerapan air kedalam tanah. Air yang berlebihan dapat membuat tanah menjadi becek dan lembab terutama saat musim hujan. Keadaan tersebut menyebabkan penurunan produktivitas akibat serangan penyakit seperti, seperti busuk daun (Phytopthora infestans) dan layu tanaman (Fusarium). Umumnya kegiatan ini dilakukan kurang lebih satu minggu. b) Pembuatan guludan atau bedengan Lahan garapan kentang umumnya disiapkan dengan sistem guludan atau bedengan. Guludan atau bedengan ini merupakan tanah yang dibuat lebih tinggi dengan bantuan cangkul dari dasar permukaan tanah dan berguna untuk menutupi umbi kentang yang akan dihasilkan. Lebar yang digunakan oleh petani responden sebesar 75 – 80 cm, tinggi ± 20 cm, dan jarak antar bedengan 40 – 60 cm. c) Pemberian pupuk dasar Pemupukan dasar adalah memberikan hara dasar di dalam tanah pada guludan atau bedengan yang telah disiapkan. Hal tersebut bertujuan supaya tanah selalu tersedia unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman secara optimal oleh benih kentang yang baru ditanam. Pupuk dasar yang digunakan berupa pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk kandang 54 yang sudah jadi karena pupuk yang belum jadi dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Sementara itu, pupuk dasar anorganik yang digunakan adalah pupuk ZA, TSP, dan KCl. Bedenga n Gambar 4. Pemberian Pupuk Dasar Berupa Pupuk Kandang di Lahan yang Telah Dibuat Bedengan Waktu penggunaan pupuk dasar anorganik yaitu lima hingga tujuh hari setelah pemberian pupuk kandang. Dosis yang digunakan untuk varietas Granola dan Atlantic dapat dilihat pada Tabel 15. Pupuk dasar yang telah diberikan kemudian ditimbun dengan tanah agar tidak mudah larut oleh air atapun menguap. Tabel 15. Penggunaan Pupuk Dasar Rata-rata Petani Kentang Varietas Granola dan Atlantic per Hektar Varietas No. Jenis Pupuk Satuan Granola Atlantic 1 Pupuk kandang Kg 24.473,01 25.342,28 Pupuk kimia: ZA Kg 1.027,33 749,46 2 TSP Kg 1.063,44 965,85 KCl Kg 394,75 342,31 2) Penanaman Berdasarkan hasil wawancara dengan petani responden, sebesar 70,59 persen benih kentang varietas Granola yang digunakan petani di lokasi penelitian merupakan benih dari hasil seleksi panen sebelumnya dan 26,67 persen lainnya membeli dari petani di lokasi penelitian ataupun kios pertanian di Pengalengan, Bandung. Generasi yang digunakan di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 16. Umumnya penggunaan benih dari hasil seleksi musim sebelumnya dapat digunakan hingga generasi kelima (G5) karena setelah generasi kelima akan mengalami penurunan hasil dan mudah tertular penyakit (Prahardini 2006). Setelah itu, petani akan membeli benih baru generasi ketiga (G3) atau keempat (G4). 55 Tabel 16. Sebaran Penggunaan Generasi Kentang Varietas Granola di Tingkat Petani pada Musim Hujan 2011 – 2012 Generasi Jumlah Petani (Orang) Persentase (%) 6 20,00 G3 11 36,66 G4 11 36,67 G5 2 6,67 G6 30 100,00 Total Sementara itu, pada varietas Atlantic sebagian besar petani membeli benih baru (G4) di vendor PT Indofood Fritolay Makmur Desa Cigedug sebesar 93,33 persen dan sebesar 6,06 persen membeli sebagian benih yang akan digunakan. Berdasarkan hasil wawancara, pada varietas Atlantic benih dari hasil seleksi musim sebelumnya hanya dapat digunakan hingga generasi kelima (G5). Hal tersebut dikarenakan benih dari hasil panen sebelumnya lebih mudah terkena hama-penyakit sehingga apabila digunakan akan mengurangi tingkat produktivitas yang dihasilkan. (a) (b) Gambar 5. Benih Varietas (a) Granola dan (b) Atlantic yang Disimpan di Tempat Terbuka Penggunaan benih kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic yang berasal dari hasil panen sebelumnya dilakukan dengan menyeleksi benih kentang berdasarkan kondisi fisiknya. Umbi yang dijadikan bibit umumnya tidak memiliki cacat. Waktu yang dibutuhkan pada proses pembenihan hingga menjadi bibit kurang lebih tiga bulan. Benih kentang yang siap ditanam telah diseleksi berdasarkan kondisi fisiknya dan memiliki tunas yang tumbuh di umbi sekitar 2 – 3 cm. Menurut Samadi (2007), penggunaan benih yang semakin besar dapat meningkatkan produksi kentang. Hal tersebut serupa dengan hasil wawancara dengan petani responden. Namun, beberapa petani responden yang apabila 56 menggunakan benih berukuran sedang, benih tersebut akan dibelah menjadi dua. Jumlah responden yang menggunakan benih secara utuh ataupun dibelah dapat dilihat pada Tabel 17. Benih akan cepat terkontaminasi virus apabila benih dibelah. Hal tersebut dapat diminimalisasi dengan menggunakan teknik yang benar, sehingga benih yang dibelah tersebut justru akan menguntungkan petani karena dapat menghemat biaya penggunaan benih. Tabel 17. Sebaran Perlakuan Benih Kentang Berdasarkan Jumlah Responden pada Musim Hujan 2011 – 2012 Perlakuan Benih per Petani (Orang) Total Varietas (%) Utuh (Orang) (%) Belah (Orang) (%) (Orang) Granola 30 100,00 0 0,00 30 100,00 Atlantic 18 60,00 12 40,00 30 100,00 Penanaman dilakukan setelah dua minggu hingga empat minggu ketika lahan telah siap. Hal-hal yang berpengaruh selama kegiatan penanaman adalah pengaturan waktu tanaman, pengaturan jarak tanam, dan cara menanam. a) Pengaturan waktu tanam Waktu tanam yang digunakan dalam penelitian ini adalah pada musim hujan. Pada musim ini ketersedian air dapat mencukupi kebutuhan tanaman, namun risiko gagal panen tinggi (Samadi 2007). Namun, sebagian besar petani di lokasi penelitian mengimbanginya dengan pemeliharaan yang lebih intensif, seperti penyemprotan pestisida dan pembumbunan yang lebih sering sehingga produksi tanaman cukup baik. Waktu tanam yang digunakan semua petani responden adalah pada pagi hari, karena pagi merupakan waktu yang baik untuk menanam. Penanaman pada siang hari akan menyebabkan tanaman layu sehingga akan penghambat pertumbuhannya. b) Pengaturan jarak tanam Jarak tanam yang digunakan sedikit berbeda antara varietas Granola dengan varietas Atlantic. Pada varietas Granola jarak tanam dalam barisan ratarata petani adalah 38,17 cm dan lebar bedengan adalah 77,17 cm, sedangkan varietas Atlantic memiliki jarak tanam dalam barisan rata-rata 38,67 cm dan lebar bedengan adalah 78,17 cm. Jarak antar bedengan pada varietas Granola dan Atlantic berkisar antara 40 – 60 cm. Jarak tanam yang digunakan petani tersebut tidak berbeda secara nyata, padahal menurut Effendie (2002), penggunaan jarak 57 tanam antara kentang industri (varietas Atlantic) harus lebih besar daripada kentang sayur (varietas Granola). Hal tersebut dikarenakan tanaman kentang varietas Atlantic lebih tinggi dan kanopi daunnya lebih lebar sehingga jarak tanam harus lebih lebar agar dapat meminimalisasi serangan penyakit busuk daun. Setelah jarak tanam ditentukan, petani membuat lubang tanam ataupun larikan untuk menaruh benih yang telah disiapkan. c) Cara menanam Cara penanaman yang digunakan petani di lokasi penelitian adalah dengan meletakkan umbi secara mendatar dalam lubang tanaman ataupun larikan dan tunas menghadap ke atas. Berdasarkan hasil wawancara, penanaman ini menggunakan benih varietas Granola dengan ukuran berdiameter 50 mm dengan berat rata-rata 30 – 50 gram. Sementara itu, pada varietas Atlantic menggunakan benih berdiameter kurang lebih 70 mm dengan berat rata-rata 50 – 80 gram. Jika benih tersebut berukuran besar, umumnya petani membelah benihnya untuk mengurangi pengeluaran biaya benih. 3) Penyulaman Benih yang ditanam tidak semuanya tumbuh baik. Tanaman yang kurang baik pertumbuhannya, seperti kerdil, rusak, atau mati harus diganti dengan tanaman yang baru (disulam). Kegiatan penyulaman ini bertujuan untuk menjaga jumlah tanaman yang di lahan sehingga tidak terjadi penurunan produksi. Penyulaman ini dilakukan ketika tanaman berumur dua minggu setelah tanam (14 HST). Berdasarkan hasil wawancara, bibit yang mati pada musim hujan antara satu hingga lima persen dari total populasi tanaman. Gambar 6. Penyulaman Bibit yang Mati 58 Petani responden baik varietas Granola maupun varietas Atlantic jarangmelakukan penyulaman. Hal tersebut dapat diliihat bahwa sebesar 16,67 persen petani kentang varietas Granola melakukan penyulaman dan 83,33 persen lainnya tidak melakukan penyulaman. Sementara itu, sebesar 30,00 persen petani kentang varietas Atlantic melakukan penyulaman dan 70,00 persen petani tidak melakukan penyulaman. Alasan petani tidak melakukan penyulaman adalah agar tanaman disekitarnya mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak sehingga umbi kentang yang dihasilkan memiliki ukuran yang lebih besar. Selain itu, alasan tidak dilakukan penyulaman adalah keterbatasan modal yang dimiliki. 4) Pemeliharaan Pemeliharaan tanaman masih tetap diperlukan untuk menjaga pertumbuhan tanaman kentang normal dan tetap sehat. Kegiatan pemeliharaan terdiri dari pemupukan susulan, penyiangan, pembumbunan, pengajiran, penalian, penyiraman, dan pengobatan. a) Pengajiran dan penalian Lokasi penelitian berada di dataran tinggi dengan ketinggian tempat di atas 1.200 meter dari permukaan laut menyebabkan suhu udara rendah dan kelembapan udaranya tinggi. Udara lembab dapat meningkatkan serangan penyakit dan jamur pada tanaman. Dalam mengatasi hal tersebut maka petani responden tanaman kentang memberi ajir agar tanaman tumbuh tegak dan daerah di bawah naungan daun dapat terkena sinar matahari sehingga penyakit busuk daun dapat diminimalisasi. Penancapan ajir ini ketika tanaman kentang berumur 15 HST (Hari Setelah Tanam). Gambar 7. Penancapan Ajir pada Umur 15 HST Gambar 8. Penalian Tanaman Kentang pada Umur 60 HST Penalian dilakukan untuk menempelkan batang tanaman kentang ke ajir yang ditancapkan. Petani kentang varietas Granola melakukan penalian sebanyak 59 dua kali, yaitu pada umur 16 HST dan 50 HST. Sementara itu, petani kentang varietas Atlantic umumnya melakukan penalian sebanyak tiga kali, yaitu pada umur 16 HST, 45 HST, dan 65 HST. Kegiatan penalian pada kentang varietas Atlantic lebih banyak dibandingkan varietas Granola. Hal ini dikarenakan tanaman kentang varietas Atlantic lebih tinggi daripada varietas Granola, sehingga membutuhkan lebih banyak penalian agar tanaman kentang tetap tegak. b) Penyiangan dan pembumbunan Gulma atau rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman kentang akan menjadi pesaing dalam kebutuhan air, sinar matahari, unsur hara, dan lain-lain bagi tanaman pokok. Petani responden baik varietas Granola maupun Atlantic melakukan penyiangan sekaligus dengan pembumbunan. Hal tersebut bertujuan untuk meminimalisasi pengeluaran biaya tenaga kerja dan efisiensi waktu. Sebagian besar petani responden melakukan kegiatan ini sebanyak dua kali dalam satu musim tanam yaitu pada umur 25 dan 60 HST. Penyiangan merupakan kegiatan mencabut ataupun menghilangkan gulma di sekitar tanaman kentang dan dilakukan secara manual dengan menggunakan peralatan seperti kored dan cangkul. Pembumbunan merupakan kegiatan menambahkan tanah pada bedengan dengan menggunakan cangkul yang berguna untuk merangsang pembentukan akar baru sehingga dapat menambah lebih banyak umbi kentang, melindungi umbi kentang dari sinar matahari karena dapat menimbulkan racun solanin, membantu pembesaran umbi, dan memperkokoh berdirinya batang tanaman kentang. c) Pemupukan susulan Pemupukan susulan dilakukan untuk menambah kebutuhan hara untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman sehingga umbi kentang dapat tumbuh normal10. Pemupukan susulan dilakukan ketika tanaman kentang berumur kurang lebih 30 HST. Masing-masing sebesar 83,33 persen petani responden kentang varietas Granola dan varietas Atlantic yang melakukan pemupukan susulan dan 16,67 persen petani responden tidak melakukan pemupukan susulan. Penggunaan pupuk kimia saat pemupukan dasar telah mencukupi unsur hara yang dibutuhkan tanaman hingga panen dan adanya keterbatasan modal menjadi alasan petani tidak 10 Widodo M. op.cit. Hlm 13 60 melakukan pemupukan susulan. Pupuk yang digunakan pada pemupukan susulan adalah pupuk majemuk (NPK), seperti pupuk Mutiara ataupun Phonska. Sebesar 100 persen petani responden kentang varietas Granola menggunakan pupuk Phonska untuk pemupukan susulan. Sementara itu, pada responden petani kentang varietas Atlantic hanya sebesar 12,00 persen yang menggunakan pupuk Mutiara dan 88,00 persen menggunakan pupuk Phonska. Dosis penggunaan pupuk susulan yang dilakukan petani responden pada Tabel 18. Tabel 18. Dosis Pemupukan Susulan Rata-rata yang Digunakan Petani pada Musim Hujan 2011 – 2012 Dosis per hektar (kg/ha) Pupuk Majemuk Varietas Granola Varietas Atlantic NPK Phonska 335,03 349,55 NPK Mutiara 0,00 53,79 Total 335,03 403,34 d) Penyiraman Kegiatan penyiraman umumnya dilakukan pada musim kemarau, sehingga pada penelitian ini tidak dilakukan penyiraman. Hal tersebut dikarenakan pada musim hujan kebutuhan air telah terpenuhi dari air hujan. e) Pengobatan Hama dan penyakit merupakan faktor penghambat pertumbuhan tanaman yang mendatangkan kerugian karena dapat menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas kentang yang dihasilkan. Oleh karena itu, petani responden melakukan upaya pengendalian atau pemberantasan hama-penyakit agar dapat meminimalisasi kerugian yang ditimbulkan. Frekuensi pengobatan bergantung pada serangan hama-penyakit. Semakin banyak serangan hama-penyakit, maka frekuensi pengobatan yang dilakukan akan semakin sering. Frekuensi pengobatan pada musim hujan adalah 3 – 4 hari sekali pada varietas Granola dan 2 – 3 hari sekali pada varietas Atlantic tergantung dari tingkat serangan hama dan penyakit. Waktu penyemprotan dimulai saat tanaman berumur 10 hingga 90 HST, sehingga dalam satu musim tanam kentang varietas Granola di musim hujan penyemprotan yang dilakukan petani sebanyak 15 – 20 kali, sedangkan pada kentang verietas Atlantic 21 – 25 kali penyemprotan. 61 Frekuensi penyemprotan pada varietas Atlantic lebih sering daripada varietas Granola karena serangan hama dan penyakit pada varietas Atlantic lebih tinggi daripada varietas Granola. Berdasarkan hasil wawancara, apabila varietas Atlantic mulai terserang hama dan penyakit hal tersebut akan mengakibatkan produktivitas kentang dapat berkurang 50 – 70 persen bahkan beberapa petani sempat mengalami gagal panen akibat serangan penyakit yang menyebabkan tanaman layu (Fusarium). Sehingga untuk mencegah terjadinya gagal panen tersebut, petani melakukan penyemprotan pestisida lebih sering dan bahkan melebihi dosis anjuran yang disarankan. Berdasarkan hasil wawancara, penggunaan dosis yang melebihi anjuran dikarenakan adanya pola pikir petani bahwa semakin banyak pestisida yang disemprotkan maka tanaman dapat bertahan dari serangan hama dan penyakit. Gambar 9. Penyemprotan Obat-obatan Merek yang digunakan setiap petani untuk pengobatan berbeda-beda, namun memiliki kandungan zat aktif yang serupa. Zat aktif yang digunakan petani kentang baik varietas Granola maupun Atlantic dapat dilihat pada Tabel 19. Penggunaan pestisida yang sejenis (sama-sama fungisida ataupun insektisida) sering kali digunakan secara bersama atau yang dikenal dengan istilah dioplos. Zat aktif yang digunakan petani dalam satu kali pengoplosan sebanyak satu hingga tiga jenis zat aktif. Hal tersebut bertujuan agar hama dan penyakit yang menyerang tanaman cepat musnah. Pada musim hujan obat-obatan yang disemprotkan ke tanaman kentang mudah tercuci, sehingga setiap penyemprotan pestisida petani menggunakan cairan perekat yang berguna untuk meratakan dan mempercepat penyerapan zat aktif yang diberikan ke tanaman kentang. Merek dagang perekat yang rata-rata digunakan petani responden, yaitu di antaranya Super Go, Lantish, dan Apsa. Alat 62 yang digunakan untuk penyemprotan pestisida adalah “kompa” (handsprayer) dan mesin semprot berbahan bakar bensin (sansin). Tabel 19. Zat Aktif yang Digunakan Petani Responden untuk Mengatasi Serangan Hama dan Penyakit pada Musim Hujan 2011 - 2012 Zat Aktif Merek Dagang OPT Sasaran Fungisida Klorotalonil Daconil, Phytoklor, Kudanil. Phytophthora infestans Propineb Aurora, Antracol. Phytophthora infestans Bazoka, Indothane, Phytophthora infestans, Kencozep, Unizep, Atlternaria solani, Fusarium Mankozeb Vondozep, Polyzeb, Victory, oxysporum Zebindo, Raksasa. Dimetomorf Sirkus, Acrobat. Phytophthora infestans Insektisida Liriomyza huidobrensis, Demolish, Vapcomic, Abamektin Myzus persicae, Thrips, Agrimec, Schumec Phthorimaea opeculella Liriomyza huidobrensis, Profenofos Akron, Curacron, Callicron. Thrips, Phthorimaea opeculella Permethrin Pounce Thrips Imidakloprid Confidor, Rudor Myzus persicae, Thrips Liriomyza huidobrensis, Klorfenapir Rampage Myzus persicae, Thrips, Phthorimaea opeculella Liriomyza huidobrensis, Klorantraniliprol Prevathon Phthorimaea opeculella Karbosulfran Marshal Thrips Myzus persicae, Deltametrin Decis Phthorimaea opeculella Siromazin Trigard Liriomyza huidobrensis Keterangan : * Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 442/Kpts/SR.140/9/2003 tentang Pendaftaran dan Pemberian Izin Tetap Pestisida11 5) Panen dan Pascapanen Panen di lokasi penelitian umumnya dilaksanakan setelah kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic berumur 80 – 100 hari tergantung pada kondisi tanaman. Jika tanaman kuat, dapat dipanen 100 hari atau lebih dan jika tanaman terkena penyakit, tanaman dapat dipanen pada umur kurang dari 100 11 Peraturan Perundang-undangan Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2003. Pendaftaran dan Pemberian Izin Tetap Pestisida. http://dokumen.deptan.go.id/doc/BDD2.nsf/ 828b6c655a82612e4725666100335d9e/91759cb02af1e3f5c725711b002d85b3?OpenDocument [Diakses pada 18 Oktober 2012] 63 hari. Ciri-ciri tanaman kentang yang dapat dipanen yaitu adanya perubahan warna daun dari hijau segar menjadi kekuningan yang bukan disebabkan oleh penyakit dan kulit umbi kentang tidak mudah lecet atau terkelupas. Pemanenan yang dilakukan petani responden secara tradisional, yaitu menggunakan tangan. Tenaga kerja tersebut menggunakan bantuan potongan kayu atau sendok nasi yang tidak merusak umbi untuk mempermudah pembongkaran bedengan. Cangkul hanya digunakan ketika tanah bedengan sangat keras dan sulit untuk dibongkar. Harga jual kentang varietas Granola dipengaruhi harga pasar dan ukuran umbi yang dihasilkan. Berdasarkan hasil wawancara, harga jual kentang varietas Granola ini bergantung dengan hari panen raya kentang di Dieng, Jawa Tengah. Jika di Dieng, Jawa Tengah sedang panen raya, maka harga kentang varietas Granola di Desa Cigedug jatuh. Untuk menyiasati jatuhnya harga jual tersebut, sebagian petani menyimpan umbi kentang tersebut selama maksimal satu minggu hingga harga jualnya membaik, sementara sebagian petani lainnya pasrah terhadapa harga jual pada saat panen. Penjualan kentang varietas Granola pada Tabel 20 berdasarkan ukuran umbi yang dihasilkan. Ukuran berat yang digunakan adalah AL (> 200 gram/umbi), A (120 – 200 gram/umbi), dan B (80 – 120 gram/umbi) sedangkan ukuran C (50 – 80 gram/umbi) digunakan untuk konsumsi sendiri dan ukuran DN (30 – 50 gram/umbi) dijadikan bibit (Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut 2011). Tabel 20. Sebaran Ukuran Rata-rata yang Dihasilkan Kentang Varietas Granola pada Musim Hujan 2011 – 2012 per Hektar Ukuran Berat (ton) Harga (Rp/kg) Persentase (%) AL 11,33 3.914,44 49,28 A 6,56 2.579,88 28,53 B 1,99 1.791,42 8,66 C 0,34 3.747,40 1,47 DN 2,78 9.780,89 12,10 Total 22,99 100,04 Berdasarkan Tabel 20 dapat dilihat bahwa sebagian besar grade yang dihasilkan petani berukuran AL sebesar 49,28 persen dan A sebesar 28,53 persen. Kualitas umbi kentang yang dapat dijual memiliki ciri-ciri, yaitu tidak banyak 64 cacat dan greening (warna hijau pada umbi) yang menandakan adanya racun solanin. Rata-rata produktivitas kentang varietas Granola adalah 22,99 ton/ha. Berdasarkan hasil wawancara, kentang varietas Atlantic diklasifikasikan berdasarkan ukuran dan kualitas umbi. Dalam segi ukuran terdapat berbagai macam ukuran, antara lain undersize (berdiameter < 35 – 70 mm dengan berat 60 – 100 gram/umbi), standard (berdiameter 70 – 100 mm dengan berat 100 – 200 gram/umbi), oversize (berdiameter > 100 mm dengan berat > 200 gram/umbi). Sedangkan kualitas yang diterima dilihat dari sisi penampakan yang baik, seperti tidak terdapat cacat (kulit utuh, bentuk umbi mulus, dan bentuk teratur) dan tidak greening (terdapat warna hijau pada umbi). Ukuran yang diterima PT IFM adalah standard dan oversize, sedangkan ukuran undersize umumnya dibuat benih, dikonsumsi, ataupun ditinggal di ladang. Kentang varietas Atlantic yang cacat dan greening pun juga ditinggal di ladang, tetapi bila kondisi umbi yang cacat ataupun greening hanya sedikit, umumnya diambil oleh buruh tani setelah selesai panen. Rata-rata produktivitas kentang varietas Atlantic adalah 21,27 ton/ha dan jumlah umbi kentang Atlantic yang dapat dijual ke vendor PT IFM rata-rata sebesar 20,06 ton/ha dan 1,21 ton/ha lainnya dijadikan bibit ataupun dikonsumsi. Pada varietas Atlantic harga jual tidak dipengaruhi oleh harga kentang sayur di pasar. Hal tersebut dikarenakan harga tersebut telah ditentukan oleh pihak PT IFM yaitu sebesar Rp 4.950,00 per kilogram untuk semua jenis ukuran yang diterima PT IFM, sedangkan umbi yang akan dijadikan bibit pada masa tanam berikutnya dihargai Rp 10.000,00 per kilogram. Berdasarkan hasil panen petani kedua varietas dapat dilihat bahwa produktivitas rata-rata kedua varietas relatif cukup tinggi. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar responden telah membudidayakan kentang lebih dari enam tahun dan juga telah mengenal usahatani kentang dari kecil, sehingga petani responden memiliki pengalaman yang cukup banyak dalam usahatani kentang. Setelah panen selesai, hasil panen kentang tersebut dikemas menggunakan karung berjaring yang dikenal dengan sebutan waring. Sebesar 46,67 persen petani kentang varietas Granola langsung menjual hasil panen tersebut ke pasar Cikajang (pasar terdekat) ataupun diambil tengkulak di lokasi penelitian yang 65 dekat dengan sarana transportasi. Sementara itu, sebesar 53,33 persen lainnya menyimpan hasil panen hingga harga jual membaik dan kemudian menjualnya ke pasar Cikajang maupun tengkulak. Berbeda dengan petani kentang varietas Granola, petani kentang varietas Atlantic tidak melakukan penyimpanan. Hal tersebut dikarenakan kentang varietas Atlantic telah memiliki jadwal tersendiri untuk melakukan pemanenan. Kemudian, hasil panen kentang varietas Atlantic diangkut oleh pihak vendor PT IFM di lokasi penanaman petani responden yang mudah di akses oleh kendaraan pengangkut. Gambar 10. Umbi Kentang Greening Gambar 11. Umbi Kentang Siap Dijual 5.3.2. Kegiatan Pemasaran Kentang Petani kentang varietas Granola sebesar 76,67 persen menjual hasil panennya ke tengkulak dan 23,33 persen lainnya menjual ke pasar Cikajang (pasar terdekat dari Desa Cigedug). Tengkulak mengumpulkan hasil panen para petani dan kemudian menjualnya ke pedagang pengumpul besar atau langsung menjual ke Pasar Caringin, Pasar Induk Keramat Jati, ataupun Pasar Tanah Tinggi. Berdasarkan hasil wawancara, ketiga pasar tersebut merupakan pasar tujuan para tengkulak ataupun pedagang pengumpul besar karena memiliki harga jual relatif lebih tinggi dan ketersedian kentang di ketiga pasar tersebut belum mencukupi kebutuhan konsumen, sehingga tengkulak ataupun pedagang pengumpul memiliki peluang untuk mengisi kekurangan ketersediaan tersebut. Pada kegiatan penentuan harga kentang varietas Granola di lokasi penelitian, antara petani dan tengkulak didasarkan pada harga yang berlaku di pasar dan proses tawar-menawar, dimana kedua belah pihak umumnya mendapatkan informasi dari sesama petani ataupun tengkulak lainnya. Harga yang ditawarkan tengkulak ke petani kentang varietas Granola di lokasi penelitian sedikit berbeda dengan harga jual pasar, yaitu memiliki selisih harga berkisar 66 antara Rp 100,00 – 500,00 per kg. Berdasarkan hasil wawancara, selisih harga tersebut termasuk keuntungan tengkulak, biaya transportasi, retribusi pasar, dan biaya lainnya. Petani yang menjual hasil panennya ke pasar memiliki harga jual rata-rata lebih tinggi dari pada petani yang menjual hasil panen ke tengkulak (Gambar 12). Walaupun demikian, sebagian besar petani menjual hasil panennya ke tengkulak dikarenakan adanya keterikatan dalam pengadaan modal dan kemudahan pada transaksi jual beli sehingga petani tidak perlu mengangkut hasil panennya ke pasar. Tengkulak Pasar Cikajang Rp 1.802,17 Rp 1.942,86 Ukuran: Ukuran: AL A B 9% 10% 30% 34% 61% 56% Rp 3.700,00 Rp 4.142,86 Rp 2.857,14 AL A B Rp 2.621,74 Gambar 12. Distribusi Harga Jual Kentang Varietas Granola (Rp/kg) Berdasarkan Ukuran yang Dihasilkan Sesuai Tempat Tujuan Penjualan pada Musim Hujan 2011 – 2012 Petani kentang varietas Atlantic di lokasi penelitian menjual hasil panennya langsung ke vendor PT IFM Desa Cigedug dengan harga yang telah berlaku dalam kontrak. Harga tersebut umumnya berubah setiap tahunnya, disesuaikan berdasarkan harga kentang yang berlaku . Harga jual tersebut berlaku untuk semua ukuran yang diterima pihak PT IFM, oversize ataupun standard, dengan harga yang sama yaitu Rp 4.950,00 per kilogram. 5.3.3. Penggunaan Sarana Produksi Kentang Sarana produksi merupakan hal yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu kegiatan usahatani untuk menghasilkan suatu keluaran (output). Saran produksi yang digunakan petani kentang di Desa Cigedug terdiri dari lahan, benih, pupuk 67 kandang, pupuk kimia (pupuk ZA, TSP, KCl, Mutiara, dan Phonsca), fungisida, insektisida, perekat, tenaga kerja, dan peralatan usahatani. 1) Lahan Lahan merupakan tempat yang digunakan petani kentang untuk menjalankan kegiatan usahatani. Kepemilikan lahan yang digunakan petani responden baik kentang varietas Granola maupun varietas Atlantic berbeda-beda, yaitu lahan pribadi dan lahan sewa. Rata-rata penggunaan lahan garapan untuk mengelola kentang varietas Granola adalah 0,41 hektar dan varietas Atlantic sebesar 0,55 hektar. Sehingga dapat dikatakan golongan petani kentang di Desa Cigedug sempit (≤ 0,5 ha) dan sedang (0,5 – 2 ha). Penggunaan lahan garapan bergantung pada jumlah modal yang dimiliki, hal tersebut dikarenakan semakin luas lahan yang digunakan maka biaya yang dikeluarkan pun akan semakin besar. 2) Benih Benih yang baik menjadi salah satu faktor penentu produksi kentang di Desa Cigedug. Benih yang digunakan dapat berasal dari hasil seleksi panen sebelumnya ataupun membeli benih baru. Produksi yang dihasilkan salah satunya dipengaruhi oleh generasi benih yang digunakan. Sebagian besar generasi benih yang digunakan petani varietas Granola adalah G4 dan G5, sedangkan generasi yang digunakan petani varietas Atlantic adalah G4. Petani membeli benih kentang varietas Granola di kios dan petani di lokasi penelitian ataupun Pengalengan. Sementara itu, benih kentang varietas Atlantic petani membelinya di vendor PT IFM lokasi penelitian. Rata-rata harga benih kentang varietas Granola yang digunakan petani adalah Rp 12.533,33, sedangkan varietas Atlantic adalah Rp 12.416,67. Rata-rata harga benih tersebut dihitung berdasarkan harga beli tunai dan harga benih diperhitungkan petani. Harga benih (G3 – G5) varietas Granola tunai yang dibeli petani berkisar antara Rp 12.000,00 sampai Rp 20.000,00 per kg, sedangkan harga beli benih (G4) varietas Atlantic adalah Rp 12.500,00 per kg. Harga benih varietas Granola bergantung pada generasi benih yang dibeli. Generasi benih yang beredar di pasar mulai dari generasi ketiga dan keempat (G3 dan G4), namun di beberapa tempat ada yang menjual generasi kedua (G2). Angka tersebut menunjukkan berapa kali benih tersebut telah diperbanyak. 68 Semakin kecil angka tersebut, maka harga benih semakin tinggi dan semakin baik untuk digunakan. Hal tersebut dikarenakan benih tersebut lebih sedikit terinfeksi hama dan penyakit. Kebutuhan benih kentang dengan jarak tanam 70 cm x 30 cm adalah 1.300 – 1.700 kg per hektar (Samadi 2007). Rata-rata benih yang digunakan petani responden kentang varietas Granola per hektarnya sebanyak 1.806,12 kg, sedangkan varietas Atlantic 1.939,13 kg. Perbedaan penggunaan benih kentang tersebut dikarenakan varietas Atlantic memiliki ukuran berat benih yang lebih besar daripada varietas Granola. Ukuran berat benih kentang varietas Granola, yaitu 30 – 50 gram/umbi, sedangkan varietas Atlantic 60 – 100 gram/umbi. 3) Pupuk Kandang Pupuk kandang digunakan oleh petani responden untuk menjaga kesuburan tanah karena banyak mengandung bahan organik sebagai unsur hara yang dibutuhkan tanah. Pupuk kandang berguna untuk memperbaiki struktur tanah, memperbaiki kehidupan biologi tanah, dan kandungan mikrobanya berperan dalam proses dekomposisi bahan organik (Pratiwi 2011). Pupuk kandang digunakan satu kali dalam satu periode tanam, yaitu ketika pemupukan dasar. Pupuk kandang yang digunakan adalah pupuk kandang yang berasal dari kotoran sapi. Petani responden dapat memperoleh pupuk kandang yang sudah kering ataupun masih basah di peternak lokasi penelitian. Umumnya petani membeli pupuk kandang dalam kondisi masih basah karena harganya relatif lebih murah berkisar antara Rp 13.000,00 – Rp 14.000,00 per karung (± 45 kg/karung), sedangkan pupuk yang sudah kering memiliki harga jual Rp 16.000,00 – Rp 18.000,00 (± 45 kg/karung). Rata-rata penggunaan pupuk kandang pada varietas Granola adalah 24.473,01 kg, sedangkan varietas Atlantic adalah 25.342,28 kg. 4) Pupuk Kimia Pupuk kimia yang digunakan pada usahatani kentang terdiri dari pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal yang digunakan adalah pupuk ZA, TSP, dan KCl, sedangkan pupuk majemuk yang digunakan adalah pupuk NPK Mutiara atau Phonska. Pupuk tunggal digunakan ketika pemupukan dasar, sedangkan pupuk majemuk digunakan untuk pemupukan susulan. 69 a) Pupuk ZA Pupuk ZA merupakan jenis pupuk kimia yang mengandung 21 persen Nitrogen (N). Unsur hara Nitrogen memiliki peran penting pada tanaman kentang, yaitu untuk merangsang pertunasan bibit, meningkatkan pertumbuhan daun, batang, dan ranting, meningkatkan pembentukan protein, dan meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara lainnya (Fosfat, Kalium, dan lainnya) (Samadi 2007). Alasan petani tidak menggunakan pupuk Urea untuk memenuhi unsur Nitrogen karena pupuk Urea memiliki kandungan Nitrogen yang tinggi sehingga sangat mudah larut dalam air dan cepat menguap. Oleh karena itu, petani menggukan pupuk ZA untuk memenuhi unsur hara Nitrogen. Petani responden membeli pupuk ZA di kios di lokasi penelitian dengan harga Rp 90.000 per karung atau senilai Rp 1.800,00 per kg. Rata-rata penggunaan pupuk ZA pada varietas Granola adalah 1.027,33 kg per hektar, sedangkan varietas Atlantic 749,46 kg per hektar. b) Pupuk TSP Pupuk TSP merupakan jenis pupuk kimia yang mengandung 36 persen Fosfat (P). Unsur hara Fosfat sangat berpengaruh terhadap pembentukan dan pertumbuhan perakaran sehingga dapat memperkuat tanaman serta meningkatkan penyerapan unsur hara dan air. Selain itu, unsur Fosfat berpengaruh terhadap pembentukan umbi dan kandungan zat pati. Petani responden membeli pupuk TSP di kios di lokasi penelitian dengan harga rata-rata Rp 1.800,00 per kg. Rata-rata penggunaan pupuk TSP pada varietas Granola adalah 1.063,44 kg per hektar, sedangkan varietas Atlantic 965,85 kg per hektar. c) Pupuk KCl Pupuk KCl merupakan pupuk kimia yang mengandung unsur Kalium (K). Unsur hara Kalium dibutuhkan untuk membentuk karbohidrat dalam umbi, meningkatkan penyerapan air sehingga mencegah tanaman layu, meningkatkan ketahanan terhadap penyakit, memperbesar umbi, dan meningkatkan daya simpan umbi. Petani responden membeli pupuk KCl di kios di lokasi penelitian dengan harga rata-rata Rp 2.000,00 per kg. Rata-rata penggunaan pupuk KCl pada varietas Granola adalah 394,75 kg/ha, sedangkan varietas Atlantic 342,31 kg/ha. 70 d) Pupuk NPK Mutiara dan Phonska Pupuk NPK Mutiara mengandung unsur Nitrogen, Fosfat, dan Kalium dengan perbandingan 16:16:16, sedangkan NPK Phonska memiliki perbandingan 15:15:15. Perbandingan tersebut menunjukkan ketersedian unsur hara yang seimbang. Ketiga unsur hara tersebut merupakan gabungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman kentang. Petani yang menggunakan pupuk NPK Mutiara hanya sebesar lima persen dari total keseluruhan responden dan 95 persen lainnya menggunakan pupuk NPK Phonska. Hal tersebut dikarenakan harga pupuk NPK Mutiara lebih mahal, yaitu sebesar Rp 7.000,00 per kg, sedangkan pupuk NPK Phonska Rp 2.300,00 per kg sehingga petani cenderung menggunakan NPK Phonska. Petani responden membeli pupuk NPK tersebut di kios di lokasi penelitian Sebesar lima persen pengguna NPK Mutiara tersebut merupakan petani kentang varietas Atlantic. Rata-rata dosis yang digunakan petani kentang varietas Atlantic terhadap NPK Mutiara adalah 53,79 kg per hektar dan NPK Phonska adalah 349,55 kg per hektar. Sementara itu, rata-rata penggunaan pupuk NPK Phonska petani kentang varietas Granola adalah 335,03 kg per hektar. Berdasarkan penjelasan di atas, apabila diuraikan berdasarkan unsur-unsur yang terkandung di dalam pupuk kimia maka rata-rata petani kentang varietas Granola di lokasi penelitian menggunakan unsur N sebesar 265,99 kg/ha, P sebesar 433,09 kg/ha, dan K sebesar 287,10 kg/ha masing-masing sebanyak. Sementara itu, pada varietas Atlantic menggunakan unsur N sebesar 218,42 kg/ha, P sebesar 408,74 kg/ha, dan K sebesar 266,42 kg/ha. Berdasarkan data tersebut, penggunaan unsur NPK pada varietas Granola lebih besar daripada varietas Atlantic padahal menurut Effendie (2002) seharusnya penggunaan unsur NPK pada varietas Atlantic lebih besar daripada varietas Granola. 5) Obat-obatan Obat-obatan yang digunakan dalam usahatani kentang pada musim hujan adalah fungisida, insektisida, dan perekat. Rata-rata penggunaan obat-obatan melebihi dosis anjuran (Tabel 21). Berdasarkan data BP3K Cigedug 2012 menyatakan bahwa penerapan penggunaan obat-obatan secara terpadu pada petani 71 di Desa Cigedug baru mencapai 28 persen. Berdasarkan wawancara dengan petani responden, rendahnya ketercapaian tersebut dikarenakan petani responden tidak ingin mengikuti penyuluhan dari pihak penyuluh pertanian lapang (PPL). Mereka menganggap bahwa mereka lebih pintar dan berpengalaman dibandingkan dengan pihak PPL. Hal ini terkait dengan pendidikan yang ditempuh petani responden yang hanya mencapai tingkat pendidikan dasar, sehingga pola pikir mereka kurang terbuka dengan teknologi ataupun pengetahuan yang baru. Selain itu, pengalaman petani responden dalam usahatani kentang juga menjadi alasan ketidakinginan petani responden untuk mengikuti penyuluhan. Penggunaan Rata-rata Obat Berdasarkan Kandungan Aktif yang Digunakan Petani Responden Varietas Granola dan Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 Dosis Penggunaan Petani Responden Harga (Rp Zat Aktif Dosis Anjuran* per kg/lt) Varietas Varietas Granola Atlantic Fungisida Klorotalonil 18,27 kg 22,96 kg 2,50 – 10,00 kg 136.666,67 Propineb 17,20 kg 41,17 kg 5,00 – 10,00 kg 150.000,00 Mankozeb 36,20 kg 60,26 kg 3,75 – 20,00 kg 57.818,18 Dimetomorf 12,23 kg 33,67 kg 25.000,00 Insektisida Abamektin 0,27 lt 0,24 lt 1,25 – 2,50 lt 1.025.000,00 Profenofos 45,60 lt 54,26 lt 2,50 – 5,00 lt 78.333,33 Permethrin 3,55 lt 5,65 lt 1,25 – 2,50 lt 50.000,00 Imidakloprid 1,31 lt 3,38 lt 0,10 – 0,20 lt 437.500,00 Klorfenapir 1,68 lt 7,00 lt 600.000,00 Klorantraniliprol 0,99 lt 1,01 lt 0,20 – 0,30 lt 500.000,00 Karbosulfran 100,00 lt 372,73 lt 7,50 – 15,00 lt 600.000,00 Deltametrin 0,00 lt 156,25 lt 2,50 – 5,00 lt 60.000,00 Promokarb 0,38 lt 1,25 lt 1,50 – 2,25 lt 900.000,00 hidroklorid Siromazin 0,47 lt 0,51 lt 1,50 – 3,00 lt 1.250.000,00 Perekat Alkyl Aril Alkoksilat, 10,27 lt 16,62 lt 8,33 – 16,66 lt 46.200,00 Asam Olet Tabel 21. Keterangan : * Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 442/Kpts/SR.140/9/2003 tentang Pendaftaran dan Pemberian Izin Tetap Pestisida 72 a) Fungisida Fungisida yang digunakan petani responden umumnya untuk mencegah, memberantas, atau mengurangi penyakit yang disebabkan oleh cendawan yang sering menyerang, seperti Phytophthora infestans penyebab busuk daun, Atlternaria solani penyebab bercak kering, dan Fusarium oxysporum penyebab tanaman layu. Penggunaan jenis fungisida dalam usahatani kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic serupa dalam hal kandungan zat aktif, namun merek dagang yang digunakan petani beraneka ragam. Hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan, pengalaman petani lain, keinginan, dan kemampuan petani responden untuk membeli. Namun, merek dagang fungisida yang banyak petani kentang gunakan adalah Daconil, Antracol, Indothane, Unizep, dan Sirkus. Petani membeli berbagai macam fungisida tersebut di kios di lokasi penelitian. Rata-rata penggunaan fungisida pada kentang varietas Granola sebanyak 57,93 kg/ha yang mengandung Klorotalonil sebanyak 18,27 kg/ha, Propineb sebanyak 17,20 kg/ha, Mankozeb 36,20 kg/ha, dan Dimetomorf 12,23 kg/ha Sementara itu, rata-rata penggunaan fungisida pada kentang varietas Atlantic sebanyak 125,50 kg/ha yang mengandung Klorotalonil sebanyak 22,96 kg/ha, Propineb sebanyak 41,17 kg/ha, Mankozeb sebanyak 60,26 kg/ha, dan Dimetomorf sebanyak 33,67 kg/ha (Tabel 21). Penggunaan fungisida pada varietas Atlantic yang lebih banyak disebabkan frekuensi penyemprotan yang lebih sering daripada varietas Granola. Hal tersebut dikarenakan varietas Atlantic lebih mudah terkena serangan hama dan penyakit, sehingga petani menggunakan banyak fungisida untuk mengatasi serangan penyakit. Rata-rata harga fungisida yang digunakan untuk varietas Granola dan varietas Atlantic per kilogram adalah Rp 111.677,30 dan Rp 90.695,62. Harga rata-rata varietas Atlantic yang lebih rendah daripada varietas Granola dikarenakan kebutuhan fungisida yang lebih tinggi pada varietas Atlantic menyebabkan kebutuhan fungisida menjadi lebih banyak, sehingga petani menggunakan zat aktif dengan harga yang relatif lebih murah namun dapat mengatasi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). 73 b) Insektisida Insektisida yang digunakan petani responden umumnya untuk mencegah, memberantas, atau mengurangi hama yang sering menyerang, seperti Liriomyza huidobrensis (lalat penggorok daun), Myzus persicae (kutu daun), Thrips (trip), Phthorimaea opeculella (penggerek umbi). Penggunaan jenis insektisida dalam usahatani kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic tidak berbeda dalam hal kandungan zat aktif, namun merek dagang yang digunakan petani beraneka ragam. Hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan petani untuk membeli. Namun, merek dagang insektisida yang banyak petani kentang gunakan adalah Demolish, Curacron, Callicron, Confidor, dan Prevathon. Petani membeli berbagai macam insektisida tersebut di kios di lokasi penelitian. Rata-rata penggunaan insektisida pada kentang varietas Granola sebanyak 7,64 lt/ha yang mengandung Abamektin 0,27 lt/ha, Profenofos 45,60 lt/ha, Permethrin 3,55 lt/ha, Imidakloprid 1,31 lt/ha, Klorfenapir 1,68 lt/ha, Klorantraniliprol 0,99 lt/ha, Karbosulfran 100,00 lt/ha, Promakarb hidroklorida 0,38 lt/ha, dan Siromazin 0,47 lt/ha. Sementara itu, rata-rata penggunaan insektisida pada kentang varietas Atlantic sebanyak 9,18 lt/ha yang mengandung Abamektin 0,24 lt/ha, Profenofos 54,26 lt/ha, Permethrin 5,65 lt/ha, Imidakloprid 3,38 lt/ha, Klorfenapir 7,00 lt/ha, Klorantraniliprol 1,01 lt/ha, Karbosulfran 372,73 lt/ha, Deltametrin156,25 lt/ha, Promakarb hidroklorida 1,25 lt/ha, dan Siromazin 0,51 lt/ha (Tabel 21). Penggunaan insektisida pada varietas Atlantic yang lebih banyak disebabkan frekuensi penyemprotan yang lebih sering daripada varietas Granola. Hal ini dikarenakan varietas Atlantic lebih mudah terkena serangan hama dan penyakit, sehingga petani menggunakan banyak insektisida untuk mengatasi serangan hama. Rata-rata harga insektisida untuk varietas Granola dan varietas Atlantic per liter adalah Rp 284.069,71 dan Rp 263.163,37. c) Perekat Setiap melakukan penyemprotan baik fungisida maupun insektisida, petani responden mencampurkan pestisida yang digunakan dengan perekat. Kegunaan perekat adalah untuk meratakan dan mempercepat proses penyerapan pestisida yang disemprotkan ke tanaman kentang, sehingga pestisida tersebut tidak semua 74 tercuci oleh air hujan. Masing-masing petani responden menggunakan perekat dengan merek dagang yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan keinginan petani untuk membeli. Namun, merek dagang perekat yang banyak petani kentang gunakan adalah Apsa, Lantish, dan Super Go yang mengandung zat aktif Alkyl Aril Alkoksilat dan Asam Olet. Petani membeli berbagai macam perekat tersebut di kios di lokasi penelitian. Rata-rata penggunaan perekat pada kentang varietas Granola sebanyak 10,27 lt/ha, sedangkan varietas Atlantic sebanyak 16,62 lt/ha. Frekuensi dan volume penyemprotan pestisida varietas Atlantic yang lebih banyak daripada varietas Granola menyebabkan penggunaan perekat pada varietas Atlantic lebih banyak daripada varietas Granola. Rata-rata harga perekat untuk varietas Granola dan varietas Atlantic per liter adalah Rp 37.246,43 dan Rp 49.827,35 (Tabel 21). 6) Tenaga Kerja Proses produksi kentang yang dilakukan petani responden meliputi persiapan lahan, penanaman, penyulaman, pemeliharaan, dan pemanenan. Penggunaan tenaga kerja pada setiap proses kegiatan produksi berbeda-beda, disesuaikan dengan jenis pekerjaannya. Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani kentang adalah tenaga kerja manusia yang terdiri dari tenaga kerja pria dan tenaga kerja wanita. Penggunaan tenaga kerja dapat berasal dari dalam keluarga (TKDK) dan tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Penggunaan tenaga kerja dalam usahatani ini menggunakan satuan hari orang kerja (HOK), dimana 1 hari kerja pria (HKP) = 1 hari orang kerja (HOK) dan 1 hari kerja wanita (HKW) = 0,7 hari kerja pria (HKP) (Hernanto 1996). Pembayaran upah tenaga kerja dibedakan berdasarkan jenis kelamin karena adanya perbedaan kapasistas yang dibebankan. Upah yang diberikan setiap satu hari kerja, yaitu Rp 15.000,00 untuk pria dan Rp 10.000,00 untuk wanita. Jam kerja yang digunakan petani dari jam 07.00 – 12.00 WIB. Rata-rata penggunaan tenaga kerja dalam usahatani kentang varietas Granola per hektar sebanyak 643,33 HOK, sedangkan varietas Atlantic sebanyak 635,60 HOK per hektar. Adapun penggunaan tenaga kerja baik dari dalam keluarga maupun luar keluarga pada setiap kegiatan usahatani dapat dilihat pada Tabel 22 dan 23. 75 Tabel 22. Penggunaan Tenaga Kerja (HOK) per Hektar dalam Usahatani Kentang Varietas Granola pada Musim Hujan 2011 – 2012 Dalam Keluarga Luar Keluarga Kegiatan Usahatani Total HOK L P L P Persiapan Lahan 40,84 9,69 54,98 41,15 146,67 Penanaman 10,22 5,50 16,11 17,26 49,08 Penyulaman 1,88 0,15 0,17 0,15 2,34 Pemeliharaan - Pemasangan Ajir 8,42 3,85 8,55 6,09 26,91 - Penalian 9,20 10,26 7,19 24,17 50,82 - Penyiangan dan 12,47 4,99 13,66 14,96 46,08 pembumbunan - Pemupukan Susulan 7,82 2,07 5,80 3,77 19,46 - Pengobatan 113,79 11,63 90,84 0,78 217,04 Panen 12,23 7,59 29,47 35,63 84,93 Total 216,86 55,73 226,76 143,98 643,33 Jumlah HOK 272,59 363,69 643,33 Tabel 23. Penggunaan Tenaga Kerja per Hektar dalam Usahatani Kentang Varietas Atlantic pada Musim Hujan 2011 – 2012 Dalam Keluarga Luar Keluarga Kegiatan Usahatani Total HOK L P L P Persiapan Lahan 11,92 0,45 61,22 83,35 156,94 Penanaman 2,30 0,68 12,00 22,05 37,04 Penyulaman 0,50 0,08 0,26 0,26 1,26 Pemeliharaan - Pemasangan Ajir 2,59 0,65 12,00 12,00 27,51 - Penalian 3,18 1,80 45,17 45,17 71,72 - Penyiangan dan 3,33 0,04 26,79 26,79 48,27 pembumbunan - Pemupukan Susulan 1,68 0,35 3,70 3,70 9,75 - Pengobatan 50,20 6,27 131,23 0,00 187,70 Panen 3,96 2,05 58,66 58,66 95,39 Total 79,67 12,36 251,98 251,98 635,60 Jumlah HOK 92,03 543,56 635,60 Berdasarkan data pada Tabel 22 dan 23 didapat bahwa penggunaan tenaga kerja terbesar pada kegiatan pemeliharaan. Hal tersebut dikarenakan kegiatan pemeliharaan terdiri dari kegiatan pemasangan ajir, penalian, penyiangan sekaligus pembumbunan, pemupukan susulan, dan pengobatan. Selain itu, kegiatan persiapan lahan juga menyerap banyak tenaga kerja karena persiapan lahan terdiri dari pengolahan lahan, pembuatan bedengan, dan pemberian pupuk dasar. Tenaga kerja dalam keluarga yang terlibat dalam usahatani kentang di Desa 76 Cigedug terdiri dari suami dan istri, sedangkan anak sebagian besar tidak ikut serta dalam kegiatan usahatani kentang. Keterlibatan keluarga pada petani responden varietas Granola relatif lebih banyak dibandingkan dengan varietas Atlantic. Hal tersebut dikarenakan tenaga kerja dalam keluarga (istri) pada petani responden varietas Atlantic umumnya hanya terlibat saat penanaman dan pemanenan, sedangkan pada petani responden varietas Granola tenaga istri umumnya ikut serta dalam setiap kegiatan usahatani kentang. Apabila dibandingkan dalam hal penggunaan tenaga kerja tersebut, terlihat bahwa perbandingan penggunaan tenaga kerja pada varietas Granola lebih seimbang antara penggunaan tenaga kerja dalam keluarga dan luar keluarga dibandingkan dengan varietas Atlantic. Hal tersebut tentunya akan mempengaruhi biaya yang dikeluarkan dalam usahatani kentang dimana semakin banyak tenaga kerja luar keluarga yang digunakan maka akan semakin banyak pula biaya tunai yang dikeluarkan. Berdasarkan penggunaan input usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic yang telah dijelaskan di atas, rata-rata penggunaan input dalam kentang varietas Granola dan varietas Atlantic secara lebih singkat dapat dilihat pada Tabel 24. Tabel 24. Rekapitulasi Rata-rata Penggunaan Input Produksi dalam Usahatani Kentang Varietas Granola dan Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Varietas Granola Varietas Atlantic No Uraian Jumlah Harga (Rp) Jumlah Harga (Rp) 1. Benih (kg) 1.806,12 12.533,33 1.939,13 12.416,67 2. Pupuk kandang (kg) 24.473,01 296,73 25.342,28 315,89 3. Pupuk kimia Pupuk ZA (kg) 1.027,33 1.800,00 749,46 1.800,00 Pupuk TSP (kg) 1.063,44 1.800,00 965,85 1.800,00 Pupuk KCl (kg) 394,75 2.000,00 342,31 2.000,00 Pupuk Mutiara (kg) 0,00 0,00 53,79 7.000,00 Pupuk Phonska (kg) 335,03 2.300,00 349,55 2.300,00 4. Obat-obatan Fungisida (kg) 57,93 111.677,30 125,50 90.695,62 Insektisida (lt) 7,64 284.069,71 9,18 263.163,37 Perekat (lt) 10,27 37.246,43 16,62 49.827,35 5. Tenaga Kerja (HOK) 480,02 15.000,00 565,33 15.000,00 77 5.3.4. Keragaan Usaha Pertanian Kontrak (Contract Farming) Usaha pertanian kontrak antara petani dengan PT Indofood Fritolay Makmur (PT IFM) mulai dirintis di Kecamatan Cigedug pada tahun 1995, namun kerjasama ini sempat gagal karena kentang yang dihasilkan berwarna hitam dan pecah-pecah, kemudian terhenti pada tahun 1998 karena tidak tersedianya benih kentang. Varietas yang digunakan dalam usaha pertanian kontrak ini adalah varietas Atlantic. Penanaman varietas Atlantic mulai banyak dibudidayakan pada tahun 2003 karena benih kentang varietas Atlantic di Desa Cigedug banyak tersedia, sehingga petani memiliki banyak kesempatan untuk bergabung dalam usaha pertanian kontrak dengan PT IFM. Vendor (ketua kelompok tani) dipilih oleh PT IFM sebagai mediator antara pihak PT IFM dengan petani mitra. Petani mitra adalah petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Silih Riksa. Pada awalnya, petani yang tergabung dalam usaha pertanian kontrak adalah mereka yang memiliki hubungan dekat dengan perwakilan PT IFM. Pemilihan petani mitra berikutnya adalah berdasarkan rekomendasi dari petani mitra terdahulu. Dengan demikian, yang melatarbelakangi petani mitra dalam usaha pertanian kontrak di Desa Cigedug yaitu hubungan sesama petani mitra berdasarkan kekeluargaan dan kekerabatan; dan adanya kedekatan dengan ketua kelompok tani yang memiliki akses ke PT IFM. Berdasarkan hasil wawancara, para petani yang mengikuti usaha pertanian kontrak dapat dikatakan petani yang memiliki lahan sedang (0,5 – 2 ha) dan bermodal besar. Petani-petani tersebut dikenal dengan istilah “petani kapital”. Hal tersebut dikarenakan usahatani kentang dalam usaha pertanian kontrak ini memerlukan biaya usahatani kentang yang lebih besar daripada kentang varietas lain, seperti varietas Granola. Usaha pertanian kontrak di Desa Cigedug dilaksanakan secara informal, yakni hanya dijelaskan secara lisan ketika pertemuan bersama petani anggota Kelompok Tani Silih Riksa dengan perwakilan PT IFM. Hal ini berarti tidak terdapat perjanjian tertulis yang menjelaskan secara tegas hak dan kewajiban antara petani dan PT IFM. Modal utamanya adalah komitmen, integritas, dan kesanggupan petani dalam mengusahakan kentang varietas Atlantic. 78 Perjanjian dalam usaha pertanian kontrak secara implisit menjelaskan bahwa PT IFM akan menyediakan benih kentang dengan kualitas terjamin, melakukan pembinaan teknis budidaya yang didampingi oleh agrofield (pihak yang mengawasi dan membina budidaya kentang varietas Atlantic), dan menampung hasil petani dengan harga dan spesifikasi produk yang telah ditetapkan. Sementara itu, pihak petani mitra akan berusaha memenuhi permintaan pasokan bahan baku kentang yang dibutuhkan PT IFM. Sistem penyediaan benih dalam usaha pertanian kontrak antara PT IFM dengan petani mitra dilakukan melalui satu pintu, yaitu melalui vendor yang berfungsi sebagai distributor benih kentang varietas Atlantic ke petani mitra dan pemasok kentang ke perusahaan mitra (PT IFM). Benih tersebut dijual ke petani mitra dengan harga yang telah ditetapkan yaitu sebesar Rp 12.500,00 per kilogram, dimana proses pembayarannya dihitung pada saat penjualan hasil panen ke pihak vendor PT IFM, hal ini dikenal dengan istilah yarnen atau bayar setelah panen. Benih yang didistribusikan oleh PT IFM ke petani mitra merupakan benih impor yang berasal dari Scotlandia dan Australia. Pihak PT IFM belum menggunakan benih hasil penangkaran dalam negeri. Hal tersebut dikarenakan kualitas benih penangkaran lokal belum terjamin secara kualitasnya. Hasil panen petani mitra dibeli oleh vendor PT IFM dengan harga Rp 4.950,00 per kilogram dengan spesifikasi produk yang telah ditetapkan. Petani mitra memiliki jadwal pemanenan yang didasarkan hasil pengawasan pihak agrofiled terhadap kegiatan budidaya kentang yang dilakukan petani mitra. Hal tersebut bertujuan agar tidak terjadi penumpukan hasil panen kentang varietas Atlantic di Desa Cigedug. Hasil panen tersebut akan diangkut oleh vendor PT IFM dari lokasi yang dapat diakses dengan menggunakan truk, sehingga apabila lahan petani berada di atas gunung atau bukit, maka petani harus mengangkutnya hingga ke lokasi yang dapat diakses truk vendor PT IFM. Petani mitra dibebankan biaya operasional yang mencakup biaya angkut dan sortasi. Biaya operasional tersebut dihitung berdasarkan jumlah waring (wadah untuk menampung hasil panen kentang) yang digunakan petani mitra. Biaya satu buah waring yaitu sebesar Rp 1.000,00 yang dapat memuat kurang lebih 80 kilogram umbi kentang. Kemudian pihak PT IFM membayar ke vendor 79 seharga Rp 5.300,00 per kilogram. Margin dari vendor ke petani kemudian dari PT IFM ke vendor digunakan sebagai biaya angkut, upah kuli muat, dan kas kelompok. Apabila petani mengalami gagal panen, pihak PT IFM memberikan tenggang waktu untuk membayar benih yang telah dibelinya. Tenggang waktu yang diberikan hingga musim tanam varietas Atlantic berikutnya. Pihak PT IFM sendiri tidak menyediakan faktor produksi lain selain benih yang diperlukan dalam usahatani kentang varietas Atlantic, sehingga petani menggunakan modal sendiri ataupun pinjaman untuk memenuhi kebutuhan faktor produksi (input) yang akan digunakan. Adanya kerjasama kontrak ini dapat saling memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Bagi pihak PT IFM, yaitu adanya kontinuitas penyediaan bahan baku industri, sedangkan bagi petani kentang di lokasi penelitian yaitu, adanya ketersediaan benih, keterjaminan pasar, dan kepastian harga bagi produksi kentang varietas Atlantic yang dihasilkan petani. Kendala usahatani kentang varietas Atlantic yang dialami petani mitra sejauh ini adalah adanya keterlambatan jadwal kedatangan benih. Apabila lahan yang telah siap, namun benih terlambat datang, maka petani yang bersangkutan memanfaatkan lahan tersebut untuk ditanami dengan jenis tanaman lain. Kemudian setelah benih datang, mereka kesulitan mencari lahan lain untuk disewa. Sementara itu, kendala yang dihadapi oleh pihak perusahaan mitra adalah terdapat beberapa petani mitra yang tidak jujur terkait penjualan umbi kentang yang dihasilkan, sehingga pihak PT IFM memutuskan hubungan dengan petani mitra tersebut. 5.3.5. Keragaan Usaha Nonpertanian Kontrak (Noncontract Farming) Varietas kentang yang digunakan petani yang tidak tergabung dalam usaha pertanian kontrak adalah varietas Granola. Varietas ini telah dibudidayakan secara turun temurun. Bahkan sebelum membudidayakan varietas Atlantic, petani kentang tersebut sebagian besar pernah membudidayakan kentang varietas Granola. Secara garis besar, teknik budidaya petani nonmitra (varietas Granola) relatif serupa dengan petani mitra (varietas Atlantic). Perbedaannya dapat terlihat 80 pada perawatan kentang varietas Granola tidak seintensif perawatan kentang varietas Atlantic. Hal utama yang menjadi permasalahan usahatani kentang varietas Granola adalah harga jual kentang yang lebih rendah daripada varietas Atlantic dan cenderung berfluktuatif. Rata-rata harga jual kentang varietas Granola yang dihitung berdasarkan grade adalah Rp 2.819,31 per kilogramnya sedangkan harga jual varietas Atlantic adalah Rp 4.950,00 per kilogram. Kegiatan contract farming Kelompok Tani Silih Riksa dengan PT IFM dapat dijadikan contoh bagi kelompok tani yang lain agar dapat membangun ataupun memperkuat kelembagaan yang ada, sehingga dapat petani memiliki bargaining position yang kuat. Pada umumnya petani nonmitra memiliki keinginan yang tinggi untuk mengikuti usaha pertanian kontrak, namun permasalahannya adalah ketersedian modal yang dimiliki dan kurang kedekatan petani dengan vendor PT IFM maupun dengan petani lain pemberi rekomendasi ke vendor PT IFM. Walaupun demikian, mereka tetap menanam kentang varietas Granola. Hal tersebut dikarenakan varietas Granola lebih tahan terhadap hama dan penyakit, serta bibit yang digunakan dapat berasal dari hasil panen sebelumnya. Oleh karena itu, petani dapat meminimalisasi biaya tunai yang dikeluarkan dalam usahatani kentang. 5.4. Analisis Pendapatan Usahatani Analisis pendapatan usahatani berguna untuk memberikan gambaran mengenai keuntungan ataupun kerugian dari suatu usahatani yang dihitung berdasarkan jumlah penerimaan yang didapat dikurangi biaya yang dikeluarkan. Analisis pendapatan usahatani meliputi analisis pendapatan atas biaya tunai dan analisis pendapatan atas biaya total. Pada komponen biaya, biaya yang dikeluarkan oleh petani terdiri dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan. Analisis pendapatan usahatani dilakukan dengan membandingkan petani responden berdasarkan varietas yang sekaligus berdasarkan sistem pertanian kontrak yang dijalankan dalam luasan lahan per hektar. Varietas yang digunakan dalam usaha nonpertanian kontrak adalah varietas Granola, sedangkan varietas yang digunakan dalam usaha pertanian kontrak adalah varietas Atlantic. 81 5.4.1. Analisis Penerimaan Usahatani Kentang Penerimaan usahatani kentang dihitung berdasarkan rata-rata luasan lahan petani responden yang dikonversi per hektar dalam satu periode tanam. Satu periode tanam dalam usahatani kentang rata-rata selama empat bulan. Nilai penerimaan yang diperoleh petani merupakan nilai dari perhitungan rata-rata hasil panen kentang petani responden dalam satu hektar dikalikan dengan harga jual kentang rata-rata. Perhitungan penerimaan usahatani kentang terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan yang diperhitungkan. Penerimaan tunai merupakan penerimaan atas hasil yang dijual petani ke pasaran. Pada varietas Granola, kentang dijual berdasarkan ukuran umbi kentang tersebut. Rata-rata harga jual kentang varietas Granola per kilogram untuk grade AL sebesar Rp 3.914,44, grade A sebesar Rp 2.579,88, dan grade B sebesar Rp 1.791,42, sehingga penerimaan tunai yang diperoleh petani kentang varietas Granola sebesar Rp 64.820.599,21 (Tabel 25). Penerimaan yang diperhitungkan merupakan penerimaan atas hasil produksi yang dikonsumsi sendiri ataupun dijadikan benih. Kentang varietas Granola yang dikonsumsi sendiri memiliki nilai Rp 1.264.305,61 dan yang dijadikan benih senilai Rp 27.202.896,83 sehingga penerimaan diperhitungkan yang diperoleh petani kentang varietas Granola sebesar Rp 28.467.202,43 (Tabel 25). Dengan demikian, total penerimaan usahatani kentang varietas Granola sebesar Rp 93.287.801,64. Tabel 25. Rata-rata Penerimaan Usahatani Kentang Varietas Granola per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Penerimaan Tunai Komponen Jumlah (ton) Harga (Rp/kg) Nilai (Rp) Grade AL 11,33 3.914,44 44.341.388,89 Grade A 6,56 2.579,88 16.919.107,14 Grade B 1,99 1.791,42 3.560.103,17 Total 64.820.599,21 Penerimaan Tidak Tunai Komponen Jumlah (ton) Harga (Rp/kg) Nilai (Rp) Konsumsi 0,34 3.747,40 1.264.305,61 Benih 2,78 9.780,89 27.202.896,83 Total 28.467.202,43 Total Penerimaan 93.287.801,64 82 Pada penerimaan tunai usahatani kentang varietas Atlantic, kentang ini memiliki harga jual yang sama pada setiap ukuran yang diterima pihak PT IFM, yaitu sebesar Rp 4.950,00 per kilogram, sehingga penerimaan tunai yang diperoleh petani kentang varietas Atlantic sebesar Rp 99.299.330,36 (Tabel 26). Penerimaan tunai varietas Atlantic lebih tinggi daripada varietas Granola, hal tersebut dikarenakan varietas Atlantic merupakan komoditas dalam sistem pertanian kontrak dengan PT IFM sehingga memiliki harga jual tetap, tidak dipengaruhi harga pasar, dan rata-rata relatif lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Granola. Kentang varietas Atlantic yang dikonsumsi sendiri memiliki nilai Rp 855.534,13 (Tabel 26). Nilai umbi kentang Atlantic tersebut lebih kecil daripada nilai umbi kentang varietas Granola yang dikonsumsi. Hal tersebut dikarenakan, umbi varietas Atlantic merupakan kentang industri yang kurang cocok untuk dijadikan sayur, sehingga pada umumnya umbi kentang varietas Atlantic tersebut dijadikan keripik kentang ataupun kering kentang. Kemudian, umbi kentang yang dijadikan benih memiliki nilai Rp 10.326.046,18 (Tabel 26). Nilai tersebut lebih kecil daripada nilai yang dijadikan bibit pada varietas Granola. Hal tersebut dikarenakan umbi kentang varietas Atlantic lebih sulit untuk dijadikan bibit kembali dan lebih mudah terkontaminasi virus daripada varietas Granola. Penerimaan yang diperhitungkan petani kentang varietas Atlantic sebesar Rp 11.181.580,31 (Tabel 26). Dengan demikian, penerimaan usahatani kentang varietas Atlantic sebesar Rp 110.480.910,67. Tabel 26. Rata-rata Penerimaan Usahatani Kentang Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Penerimaan Tunai Komponen Jumlah (ton) Harga (Rp/kg) Nilai (Rp) Kentang yang 20,06 4.950,00 99.299.330,36 dijual Total 99.299.330,36 Penerimaan Tidak Tunai Komponen Jumlah (ton) Harga (Rp/kg) Nilai (Rp) Konsumsi 0,17 4.950,00 855.534,13 Benih 1,03 10.000,00 10.326.046,18 Total 11.181.580,31 Total Penerimaan 110.480.910,67 83 5.4.2. Analisis Biaya Usahatani Kentang Biaya usahatani kentang di Desa Cigedug terdiri dari perhitungan biaya usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic. Hal ini untuk melihat adanya perbedaan biaya yang dikeluarkan petani responden terkait perbedaan varietas yang ditanam sekaligus pola kemitraan yang dijalani petani di Desa Cigedug. Perhitungan biaya usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic dapat dilihat pada Tabel 27 dan Tabel 28. Pengeluaran usahatani adalah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam usahatani kentang pada suatu periode tanam tertentu yang terdiri dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan. Biaya tunai merupakan pengeluaran uang tunai yang dikeluarkan secara langsung oleh petani. Biaya yang diperhitungkan merupakan pengeluaran petani berupa faktor produksi tanpa mengeluarkan uang tunai. Dalam usahatani kentang, biaya tunai terdiri dari biaya pembelian benih, pupuk kandang, pupuk kimia, obat-obatan, tenaga kerja luar keluarga (TKLK), biaya pengawas lahan, biaya operasional bagi petani mitra, sewa lahan bagi petani responden yang menyewa lahan, dan pajak dari lahan miliki sendiri. Sedangkan, biaya yang diperhitungkan terdiri dari, benih yang berasal dari panen sebelumnya, tenaga kerja dalam keluarga (TKDK), biaya sewa lahan bagi petani yang menggunakan lahan milik sendiri, dan penyusutan peralatan. Berdasarkan perbandingan Tabel 27 dan Tabel 28 menunjukkan bahwa total biaya usahatani per hektar yang dikeluarkan petani varietas Atlantic lebih tinggi daripada varietas Granola. Hal tersebut dapat dilihat dari biaya tunai maupun biaya yang diperhitungkan pada kedua varietas tersebut. Pada varietas Granola biaya tunai yang dikeluarkan sebesar 67,53 persen dari total biaya usahatani, sedangkan pada varietas Atlantic biaya tunai yang dikeluarkan sebesar 94,25 persen. Begitupun sebaliknya, biaya yang diperhitungkan pada varietas Granola lebih besar 26,72 persen daripada varietas Atlantic. Hal tersebut dikarenakan adanya dua komponen biaya yang relatif cukup besar berada pada komoponen biaya tunai dan diperhitungkan, yaitu biaya benih dan tenaga kerja. 84 Tabel 27. Rata-rata Biaya Usahatani Kentang Varietas Granola per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Jumlah Harga Nilai Total No. Komponen Satuan (%) (unit) (Rp/satuan) (Rp) A. Biaya Tunai 1. Benih Kg 490,73 17.220,15 8.450.515,87 14,08 2. Pupuk: - Pupuk Kg 24.473,01 295,64 7.235.233,67 12,05 kandang - Pupuk ZA Kg 1.027,33 1.800,00 1.849.200,00 3,08 - Pupuk TSP Kg 394,75 2.000,00 789.500,00 3,19 - Pupuk KCl Kg 1.063,44 1.800,00 1.914.200,00 1,32 - Pupuk Kg 0,00 0,00 0,00 0,00 Mutiara - Pupuk Kg 335,03 2.300,00 770.563,89 1,28 Phonska 3. Obat-obat - Fungisida Kg 57,93 111.677,30 6.469.694,97 10,78 - Insektisida Lt 7,64 284.069,71 2.170.913,06 3,62 - Perekat Lt 10,27 37.246,43 382.601,69 0,64 4. Tenaga Kerja Luar HOK 370,74 15.000,00 5.561.066,89 9,26 Keluarga (TKLK) 5. Pajak lahan Rp 26.944,44 0,04 6. Sewa lahan Rp 821.666,67 1,37 7. Biaya Rp 736.666,67 1,23 pengawas 8. Biaya Rp 3.357.777,52 5,59 transportasi Total Biaya Tunai 40.536.545,34 67,53 B. Biaya yang Diperhitungkan 1. Benih Kg 1.315,39 10.558,56 13.888.611,11 23,14 2. Tenaga Kerja Dalam HOK 272,59 15.000,00 4.088.840,27 6,81 Keluarga (TKDK) 3. Sewa lahan Rp 777.777,78 1,30 4. Penyusutan Rp 739.151,63 1,23 peralatan Total Biaya yang Diperhitungkan 19.494.380,79 32,47 C. Total Biaya Usahatani 60.030.926,13 100,00 85 Tabel 28. Rata-rata Biaya Usahatani Kentang Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Jumlah Harga Nilai Total No. Komponen Satuan (%) (unit) (Rp/satuan) (Rp) A. Biaya Tunai 1. Benih Kg 1.880,80 12.500,00 23.509.965,73 34,43 2. Pupuk: - Pupuk Kg 25.342,28 315,89 8.005.322,36 11,73 kandang - Pupuk ZA Kg 749,46 1.800,00 1.349.027,59 1,98 - Pupuk TSP Kg 965,85 1.800,00 1.738.534,08 2,55 - Pupuk KCl Kg 342,31 2.000,00 648.619,70 1,00 - Pupuk Kg 53,79 7.000,00 376.515,15 0,55 Mutiara - Pupuk Kg 349,55 2.300,00 803.957,91 1,18 Phonska 3. Obat-obat - Fungisida Kg 125,50 90.695,62 11.382.698,64 16,67 - Insektisida Lt 9,18 263.163,37 2.415.501,83 3,54 - Perekat Lt 16,62 49.827,35 827.915,86 1,21 4. Tenaga Kerja HOK Luar 543,56 15.000,00 8.153.453,33 11,94 Keluarga (TKLK) 5. Pajak lahan Rp 39.926,85 0,06 6. Sewa lahan Rp 395.833,33 0,58 7. Biaya Rp 960.000,00 1,41 pengawas 8. Biaya Rp 3.455.238,56 5,06 transportasi 9. Biaya Rp 250.755,88 0,37 Operasional Total Biaya Tunai 64.349.266,81 94,25 B. Biaya yang Diperhitungkan 1. Benih Kg 58,33 10.000,00 583.333,33 0,85 2. Tenaga Kerja HOK Dalam 92,03 15.000,00 1.380.487,44 2,02 Keluarga (TKDK) 3. Sewa lahan Rp 1.222.222,22 1,79 4. Penyusutan Rp 739.151,63 1,08 peralatan Total Biaya yang Diperhitungkan 3.925.194,63 5,75 C. Total Biaya Usahatani 68.274.461,44 100,00 86 1) Biaya Benih Biaya tunai per hektar untuk membeli benih varietas Granola sebesar Rp 8.450.515,87 yang mana lebih kecil daripada varietas Atlantic sebesar Rp 23.509.965,73. Hal ini dikarenakan, petani varietas Granola sebagian besar menggunakan benih dari hasil seleksi panen sebelumnya sehingga dapat menghemat biaya pengeluaran tunai petani, sedangkan sebagian besar petani varietas Atlantic membeli benih kentang yang baru. Banyaknya pembelian benih pada varietas Atlantic dikarenakan benih varietas Atlantic lebih mudah terkontaminasi virus, sehingga petani tidak mau menanggung risiko kegagalan produksi akibat penggunaan benih dari hasil seleksi panen sebelumnya. Oleh karena itu, pada biaya yang diperhitungkan per hektar untuk penggunaan benih pada varietas Granola sebesar Rp 13.888.611,11 lebih besar daripada varietas Atlantic sebesar Rp 583.333,33. Oleh karena itu, apabila dilihat dari nilai presentase kebutuhan benih terhadap total biaya usahatani adalah sebesar 37,21 persen untuk varietas Granola dan 35,29 untuk varietas Atlantic dimana komponen benih pada kedua varietas merupakan komponen biaya terbesar dalam usahatani kentang. 2) Biaya Pupuk Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang, pupuk ZA, pupuk TSP, pupuk KCl, pupuk Mutiara (khusus varietas Atlantic), dan pupuk Phonska. Berdasarkan Tabel 27 dan Tabel 28, total biaya yang dibutuhkan untuk biaya pupuk per hektar pada varietas Granola dan varietas Atlantic sebesar Rp 12.558.697,56 dan Rp 12.957.976,79. Biaya pupuk merupakan salah satu komponen biaya terbesar dari total biaya usahatani yaitu sebesar 20,92 persen pada varietas Granola dan 18,98 persen pada varietas Atlantic. Biaya tunai untuk pupuk kandang per hektar pada varietas Granola dan varietas Atlantic masing-masing sebesar Rp 7.235.233,67 dan Rp 8.005.322,36. Selisih biaya yang tersebut relatif besar yaitu sebesar Rp 770.088,70. Hal ini dikarenakan penggunaan jumlah dan harga rata-rata pupuk kandang pada petani varietas Atlantic yang lebih tinggi daripada varietas Granola. Harga rata-rata pupuk kandang pada varietas Atlantic lebih tinggi daripada varietas Granola disebabkan karena sebanyak 6,67 persen petani varietas Atlantic menggunakan 87 pupuk kandang kering yang harganya relatif lebih mahal (Rp 16.500,00 – Rp 18.000,00 per karung) daripada pupuk kandang basah (Rp 14.000,00 per karung). Sementara itu, pada petani varietas Granola semua responden membeli pupuk kandang basah dengan harga beli relatif lebih murah dibandingkan pupuk kandang kering, sehingga pengeluaran untuk pupuk kandang dapat diminimalisasi dimana kebutuhan biaya penggunaan pupuk kandang sebesar 12,05 persen pada varietas Granola dan 11,73 persen pada varietas Atlantic dari total biaya usahatani. Biaya pupuk kimia per hektar yang dikeluarkan petani pada varietas Granola sebesar Rp 5.323.463,89, sedangkan pada varietas Atlantic sebesar Rp 4.952.654,43 atau sebesar 8,87 persen pada varietas Granola dan 7,25 persen pada varietas Atlantic dari total biaya usahatani dengan selisih kedua biaya ini sebesar Rp 370.809,46. Biaya penggunaan pupuk kimia pada varietas Atlantic relatif lebih kecil dibandingkn varietas Granola, hal tersebut dikarenakan petani kentang varietas Atlantic cenderung mengandalkan obat-obatan daripada pupuk kimia untuk mempertahankan kuantitas dan kualitas produksi. 3) Biaya Obat-obatan Biaya obat-obatan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dari total biaya usahatani, yaitu sebesar 15,03 persen pada varietas Granola dan 21,42 pada varietas Atlantic. Total biaya obat-obatan per hektar yang dikeluarkan petani pada varietas Granola dan varietas Atlantic masing-masing sebesar Rp 9.023.209,72 dan Rp 14.626.116,33. Total biaya obat-obatan kentang varietas Atlantic lebih besar daripada varietas Gronola dikarenakan frekuensi penyemprotan kentang varietas Atlantic lebih sering daripada varietas Granola, sehingga jumlah fisik obat-obatannya lebih banyak. Fungisida yang digunakan berbahan aktif Klorotalonil, Propineb, Mankozeb, Dimetomorf yang sama-sama untuk mengatasi penyakit yang sering menyerang seperti busuk daun dengan harga rata-rata per kilogram sebesar Rp 136,666,67, Rp 150.000,00, Rp 57.818,18, dan Rp 25.000,00. Petani responden varietas Atlantic dan varietas Granola lebih banyak menggunakan zat aktif Mankozeb karena fungisida berbahan aktif ini selain harganya relatif lebih murah, juga dapat mengatasi penyakit busuk daun dan juga berbagai macam penyakit lain yang sering menyerang tanaman kentang (Tabel 19). 88 Pada penggunaan insektisida, varietas Atlantic lebih banyak dalam jumlah dan frekuensi daripada varietas Granola. Hal ini dikarenakan kentang varietas Atlantic lebih rentan terhadap hama yang menyerang daripada varietas Granola, seperti Thrips dan Liriomyza huidobrensis yang dikenal dengan sebutan aro. Rata-rata insektisida yang digunakan berbahan aktif Abamektin seharga Rp Rp 1.025.000,00 per liter, Profenofos seharga Rp 78.333,33 per liter, Permethrin seharga Rp 50.000,00 per liter, Imidakloprid seharga Rp 437.500,00 per liter, Klorfenapir seharga Rp 600.000,00 per liter, Klorantraniliprol seharga Rp 500.000,00 per liter, Karbosulfran seharga Rp 600.000,00 per liter, Deltametrin seharga Rp 60.000,00 per liter, Promakarb hidroklorida Rp 900.000,00 per liter, dan Siromazin seharga Rp 1.250.000,00. Profenofos merupakan zat aktif yang banyak digunakan baik petani varietas Granola maupun varietas Atlantic, karena selain merek dagang yang berbahan aktif tersebut dapat mengatasi hama yang dominan menyerang tanaman kentang di lokasi penelitian (Tabel 19), harga tersebut relatif lebih murah dibandingkan dengan zat aktif yang lain yang dapat membasmi hama Liriomyza huidobrensis, Thrips, dan Phthorimaea opeculella menjadi alasan penggunaan zat aktif Profenofos banyak digunakan petani responden. Frekuensi dan jumlah penggunaan perekat mengikuti penggunaan pestisida pada kedua varietas tersebut. Dalam arti, semakin sering frekuensi penyemprotan pestisida pada setiap varietas, maka penggunaan perekat pun semakin sering dan secara tidak langsung jumlah penggunaan perekat pun mengikuti frekuensi penyemprotan. Dengan demikian, penggunaan perekat pada varietas Atlantic lebih banyak daripada varietas Granola. Rata-rata perekat yang digunakan petani kentang di Desa Cigedug adalah Super Go seharga Rp 17.000,00 per liter, Lantish seharga Rp 32.000,00 per liter, Apsa seharga Rp 110.000,00 per liter, Altron seharga Rp 60.000,00 per liter, dan Napel seharga Rp 12.000,00. Petani varietas Atlantic lebih banyak menggunakan perekat dengan merek dagang Absa yang relatif lebih mahal dibanding merek dagang yang lain. Hal tersebut dikarenakan, berdasarkan hasil wawancara, penggunaan perekat Absa membuat pestisida yang disemprotkan lebih cepat terserap ke tanaman, sehingga hama-penyakit yang menyerang dapat segera 89 teratasi. Sementara itu, petani varietas Granola lebih banyak yang menggunakan perekat bermerek dagang Lantish yang harganya relatif lebih murah dibandingkan yang lain. Namun, berdasarkan hasil wawancara, manfaat dari penggunaan merek dagang Absa lebih baik daripada merek dagang Lantish. Oleh karena itu, harga rata-rata perekat varietas Atlantic lebih tinggi daripada varieta Granola. 4) Biaya Tenaga Kerja Pengeluaran petani varietas Granola untuk upah tenaga kerja luar keluarga per hektar sebesar Rp 5.561.066,89, sedangkan pada varietas Atlantic sebesar Rp 8.153.453,33. Sementara itu, pengeluaran petani varietas Granola untuk upah tenaga kerja dalam keluarga per hektar sebesar Rp 4.088.840,27, sedangkan pada varietas Atlantic sebesar Rp 1.380.487,44. Sehingga total penggungaan tenaga kerja pada varietas Granola sebesar Rp 9.649.907,16 per hektar dan pada varietas Atlantic sebesar Rp 9.533.940,78 per hektar. Sebesar 57,63 persen tenaga kerja yang digunakan petani responden varietas Granola berasal dari luar keluarga, sedangkan 42,37 persen lainnya berasal dari tenaga kerja dalam keluarga sehingga penggunaan total tenaga kerja antara tenaga kerja dalam keluarga maupun luar keluarga hampir seimbang. Hal tersebut berbeda dengan penggunaan tenaga kerja luar keluarga pada petani varietas Atlantic yang mendominasi jumlah penggunaan tenaga kerja yaitu sebesar 85,52 persen, sedangkan dari dalam keluarga hanya 14,48 persen. Produktivitas kentang varietas Granola yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Atlantic, hal tersebut ada kaitannya dengan penggunaan tenaga kerja dimana pada tenaga kerja luar keluarga mendominasi penggunaan tenaga kerja pada varietas Atlantic. Tenaga kerja luar keluarga umumnya memiliki ketrampilan dalam kegiatan usahatani kentang yang rendah, sehingga kegiatan yang dilakukan cenderung tidak mengindahkan penggunaan faktor produksi. Hal tersebut akan berdampak pada penggunaan faktor produksi, seperti obat-obatan yang berlebihan dan kurang tepat sasaran. Tenaga kerja dalam keluarga baik pada petani responden varietas Granola maupun varietas Atlantic, umumnya hanya menggunakan dua tenaga kerja yang terdiri dari suami dan istri. Tenaga kerja istri pada usahatani kentang varietas Atlantic tidak berperan secara penuh dalam kegiatan usahatani kentang varietas 90 Atlantic dan umumnya hanya membantu pada saat penanaman ataupun pemanenan. Sementara itu, pada usahatani kentang varietas Granola, tenaga kerja dalam keluarga, baik suami maupun istri, sebagian besar berperan aktif dalam setiap kegiatan usatani kentang varietas Granola. Hal tersebut dikarenakan petani varietas Atlantic sebagian besar merupakan “petani kapital” sehingga tenaga kerja dalam keluarga, seperti istri tidak dilibatkan dalam kegiatan usahatani. Istri hanya bertugas sebagai ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak-anaknya. 5) Biaya Pengawas Lahan Biaya pengawas lahan merupakan biaya yang dikeluarkan petani kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic untuk mengawasi lahan yang akan dipanen. Pengawasan lahan ini bertujuan agar umbi kentang yang mendekati waktu panen tidak dicuri orang. Biaya yang dikeluarkan tidak berdasarkan pada luasan lahan yang diawasi, namun berdasarkan lama hari lahan yang diawasi. Rata-rata petani menggunakan dua orang dalam satu lahan yang diawasi. Upah yang diberikan per orang sebesar Rp 20.000,00 dengan waktu penjagaan sekitar jam 6 sore hingga jam 5 pagi. Jumlah hari pengawasan pada varietas Granola antara 10 – 30 hari sebelum panen, sedangkan pada varietas Atlantic 20 – 30 hari sebelum panen. Total biaya rata-rata pengawasan lahan kentang varietas Granola adalah Rp 736.666,67, sedangkan varietas Atlantic adalah Rp 960.000,00 atau sebesar 1,23 persen pada varietas Granola dan 1,41 persen pada varietas Atlnatic dari biaya total usahatani. 6) Biaya Transportasi Biaya transportasi meliputi biaya angkut input produksi yang digunakan, seperti benih, pupuk kandang, pupuk kimia, fungisida, insektisida, perekat, dan pengangkutan hasil panen. Biaya transportasi yang dibayar petani kentang baik varietas Granola maupun Atlantic bervariasi dari Rp 40,00 – Rp 100,00 per kilogram. Pengangkutan ini menggunakan motor ataupun mobil terbuka. Besarnya biaya transportasi per hektar yang dikeluarkan petani responden varietas Granola sebesar Rp 3.357.777,52 dengan persentase dari total biaya usahatani sebesar 5,59 persen, sedangkan petani responden varietas Atlantic sebesar Rp 3.455.238,56 dengan persentase sebesar 5,06 persen dari total biaya usahatani. 91 7) Biaya Operasional Besarnya biaya operasional sebesar 0,37 persen dari total biaya usahatani kentang varietas Atlantic. Biaya operasional ini hanya dibebankan kepada petani varietas Atlantic karena mereka tergabung dalam usaha pertanian kontrak. Biaya operasional ini meliputi biaya angkut dan penyortiran. Besarnya biaya operasional ini dihitung berdasarkan penggunaan waring dimana dalam satu waring dapat menampung umbi kentang kurang lebih 80 kilogram. Harga satu buah waring tersebut seharga Rp 1.000,00. 8) Biaya Sewa dan Pajak Lahan Biaya sewa lahan dalam usahatani kentang di lokasi penelitian termasuk dalam biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Pada komponen biaya tunai. biaya sewa lahan merupakan biaya yang dikeluarkan oleh petani karena telah menyewa tanah milik orang lain. Besarnya biaya sewa lahan petani responden varietas Granola dan varietas Atlantic masing-masing sebesar 1,37 persen dan 0,58 persen dari total biaya usahatani. Terdapat 53,33 persen responden kentang varietas Granola dan 26,67 persen petani responden varietas Atlantic dengan status lahan sewa dan besarnya sewa lahan masing-masing petani responden berbeda-beda, sehingga setelah dirata-ratakan menghasilkan biaya sewa sebesar Rp 821.666,67 dan Rp 395.833,33 per hektar per periode tanam. Perbedaan harga sewa lahan tersebut disesuaikan dengan lokasi lahan yang digunakan, semakin dekat dengan akses jalan, maka biaya sewa lahan akan semakin besar. Lokasi lahan yang dekat dengan akses jalan dapat mengurangi biaya transportasi yang dikeluarkan. Biaya pajak merupakan pajak yang dikenakan oleh petani responden yang menggunakan lahan milik sendiri. Terdapat 46,67 persen petani responden kentang varietas Granola dan 73,33 persen petani responden varietas Atlantic yang menggunakan lahan milik sendiri. Besarnya biaya pajak yang dikeluarkan petani varietas Granola dan varietas Atlantic masing-masing sebesar 0,04 persen dan 0,06 persen dari total biaya usahatani. Besarnya biaya pajak tersebut antar petani berbeda-beda bergantung pada lokasi lahan tersebut, semakin dekat dengan akses transportasi harga pajak lahan semakin tinggi, sehingga setelah dirataratakan menghasilkan pajak sebesar Rp 26.944,44 pada petani responden varietas 92 Granola dan petani responden varietas Atlantic Rp 39.926,85 per hektar per periode tanam. Pada komponen biaya yang diperhitungkan, biaya sewa lahan sendiri termasuk dalam biaya sewa lahan diperhitungkan sebesar 1,30 persen pada varietas Granola dan 1,79 persen pada varietas Atlantic dari total biaya usahatani. Lahan milik sendiri tetap diperhitungkan sebagai sewa lahan sehingga dilakukan penaksiran biaya penggunaan tanah sebesar nilai sewa tanah rata-rata yang berlaku di Desa Cigedug, sehingga rata-rata sewa lahan milik sendiri tersebut sebesar Rp 777.777,78 pada petani responden kentang varietas Granola dan Rp 1.222.222,22 pada petani responden kentang varietas Atlantic per hektar per periode tanam. 9) Biaya Penyusutan Peralatan Pada usahatani kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic menggunakan beberapa peralatan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan usahatani tersebut. Peralatan yang digunakan antara lain, cangkul, kored, ember, mesin obat, “kompa” (hand sprayer), drum, dan ajir. Cangkul digunakan dalam kegiatan pengolahan tanah untuk membalikan dan menggemburkan tanah. Kored digunakan untuk mempermudah dalam menyiangi gulma. Ember merupakan wadah yang digunakan untuk menampung pupuk kimia yang ingin ditebar. Mesin obat merupakan alat semprot yang memudahkan petani untuk menyemprotkan obat-obatan ke tanaman kentang. Umumnya petani yang memiliki lahan luas menggunakan mesin obat, agar tidak bolak balik ke wadah obat. “kompa” (hand sprayer) merupakan alat penyemprot obat-obatan yang berukuran kurang lebih 15 liter. Drum digunakan untuk media pencampuran obat-obatan dengan air, kemudian hasil pencampuran ini dimasukkan dalam “kompa” dan siap dilakukan penyemprotan pada tanaman kentang. Dalam analisis usahatani, biaya alat-alat pertanian ini dihitung sebagai biaya penyusutan peralatan yang dibebankan ke dalam biaya yang diperhitungkan. Metode yang digunakan ini adalah metode garis lurus. Metode ini digunakan karena jumlah penyusutan alat tiap tahunnya dianggap sama dan diasumsikan tidak laku bila dijual. 93 Tabel 29. Rata-rata Biaya Penyusutan Peralatan Petani Usahatani Kentang per Hektar per Periode Tanam pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Umur Biaya Biaya Ekono- Jumlah Penyusutan Jenis Harga No Penyusutan Peralatan mis (Unit) (Rp/unit) (Rp/periode (Rp/tahun) (Tahun) tanam) 1. Cangkul 4 6 54.000,00 81.000,00 27.000,00 2. Kored 4 9 45.000,00 101.250,00 33.750,00 3. Ember 1 15 10.642,86 159.642,86 53.214,29 4. Mesin 10 1 3.406.481,48 340.648,15 113.549,38 Obat 5. Hand 5 4 258.620,69 206.896,55 68.965,52 sprayer 6. Drum 8 4 186.363,64 93.181,82 31.060,61 7. Ajir 1,27 20.855 50,00 823.223,68 411.611,84 Jumlah 1.805.843,06 739.151,63 Periode tanam yang digunakan dalam perhitungan penyusutan peralatan adalah empat bulan masa tanam. Berdasarkan Tabel 29, biaya penyusutan peralatan rata-rata para petani pada usahatani kentang per periode tanam adalah sebesar Rp 739.151,63 atau sebesar 1,23 persen pada varietas Granola dan 1,08 persen pada varietas Atlantic dari total biaya usahatani. 5.4.3. Analisis Pendapatan Usahatani Kentang Pendapatan usahatani dibedakan menjadi pendapatan tunai dan pendapatan total. Pendapatan tunai diperoleh dari hasil selisih penerimaan tunai dengan biaya tunai, sedangkan pendapatan total merupakan selisih penerimaan total dengan biaya total. Berdasarkan Tabel 30 dapat diketahui pendapatan usahatani kentang atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total pada varietas Granola dan varietas Atlantic. Pendapatan atas biaya tunai per hektar kentang varietas Granola sebesar Rp 24.284.053,87, sedangkan pendapatan atas biaya totalnya per hektar sebesar Rp 33.256.875,51. Sementara itu, petani varietas Atlantic memiliki pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp 34.950.063,55 dan pendapatan atas biaya total sebesar Rp 42.206.449,23. Berdasarkan hasil tersebut, pendapatan atas biaya tunai maupun biaya total petani kentang varietas Atlantic lebih besar daripada petani kentang varietas Granola. Hal tersebut dikarenakan, harga jual kentang rata-rata varietas Atlantic relatif lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual rata-rata 94 varietas Granola. Selain itu, harga jual kentang varietas Granola dipengaruhi oleh harga pasar yang berlaku, sedangkan pada kentang varietas Atlantic memiliki harga jual yang tetap sesuai dengan ketetapan pihak PT IFM. Dengan demikian, dengan usahatani pertanian kontrak lebih menguntungkan dibandingkan yang tidak tergabung dengan usaha pertanian kontrak. Tabel 30.Perbandingan Pendapatan Usahatani Kentang Varietas Granola dan Varietas Atlantic per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Nilai (Rp) Keterangan Varietas Granola Varietas Atlantic Penerimaan Tunai 64.820.599,21 99.299.330,36 Penerimaan Diperhitungkan 28.467.202,43 11.181.580,31 Total Penerimaan 93.287.801,64 110.480.910,67 Pengeluaran Tunai 40.536.545,34 64.349.266,81 Pengeluaran Diperhitungkan 19.494.380,79 3.925.194,63 Total Pengeluaran 60.030.926,13 68.274.461,44 Pendapatan atas Biaya Tunai 24.284.053,87 34.950.063,55 Pendapatan atas Biaya Total 33.256.875,51 42.206.449,23 Nilai R/C atas Biaya Tunai 1,60 1,54 Nilai R/C atas Biaya Total 1,55 1,62 Pendapatan atas biaya tunai dan biaya total pada kedua varietas relatif cukup tinggi. Nilai R/C rasio dari penerimaan atas biaya tunai untuk varietas Granola adalah sebesar 1,60 yang berarti untuk setiap biaya tunai rupiah yang dikeluarkan untuk usahatani kentang varietas Granola akan memberikan tambahan penerimaan sebesar Rp 1,60. Sedangkan, nilai R/C rasio dari penerimaan atas biaya total untuk varietas Granola adalah sebesar 1,55 yang berarti untuk setiap biaya total rupiah yang dikeluarkan untuk usahatani kentang varietas Granola akan memberikan tambahan penerimaan sebesar Rp 1,55. Sementara itu, pada kentang varietas Atlantic memiliki nilai R/C rasio dari penerimaan atas biaya tunai adalah sebesar 1,54 yang berarti setiap biaya tunai rupiah yang dikeluarkan untuk usahatani kentang varietas Atlantic akan memberikan tambahan penerimaan sebesar Rp 1,54. Sedangkan, nilai R/C rasio dari penerimaan atas biaya total untuk varietas Atlantic adalah sebesar 1,62 yang berarti untuk setiap biaya total rupiah yang dikeluarkan untuk usahatani kentang varietas Atlantic akan memberikan tambahan penerimaan sebesar Rp 1,62. 95 Berdasarkan perbandingan R/C rasio tersebut, dapat terlihat pada sisi R/C rasio atas biaya tunai kentang varietas Granola lebih tinggi 0,06 daripada varietas Atlantic. Hal tersebut dikarenakan penggunaan benih yang menjadi komponen biaya terbesar dalam biaya usahatani kentang, petani responden varietas Granola lebih banyak yang menggunakan benih dari hasil seleksi panen sebelumnya, sedangkan pada varietas Atlantic sebagian besar petani responden menggunakan benih yang baru dibeli. Dengan demikian, biaya tunai yang dikeluarkan untuk membeli benih kentang pada varietas Atlantic jauh lebih besar daripada varietas Granola. Sementara itu, jika dilihat berdasarkan nilai R/C rasio atas biaya total, nilai R/C pada varietas Atlantic lebih tinggi 0,07 daripada varietas Granola. Hal tersebut dikarenakan pada varietas Granola, penggunaan benih yang berasal dari hasil seleksi panen sebelumnya dan penggunaan tenaga kerja dalam keluarga yang relatif banyak turut diperhitungkan dalam R/C rasio atas biaya total, sehingga apabila usahatani dihitung secara menyeluruh, usahatani varietas Atlantic memiliki efisiensi pendapatan lebih tinggi 0,07 daripada varietas Granola. Oleh karena itu, berdasarkan nilai R/C atas biaya total, usahatani dengan usaha pertanian kontrak lebih menguntungkan dibandingkan dengan yang tidak tergabung dalam usaha pertanian kontrak walaupun selisihnya tidak berbeda secara signifikan. 5.5. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang 5.5.1. Uji Penyimpangan Asumsi Model fungsi produktivitas kentang yang disusun dalam penelitian ini terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap tingkat kelayakan suatu model berdasarkan asumsi OLS (Ordinary Least Square). Pengujian asumsi tersebut terdiri dari uji multikolinearitas, uji otokorelasi, dan uji heteroskedastisitas. Pengujian multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antar variabel bebas. Berdasarkan Lampiran 3, model ini dinyatakan terbebas dari masalah multikolinearitas karena memiliki nilai VIF di bawah 10. Model yang dibangun juga terbebas dari masalah otokorelasi. Hal ini diketahui berdasarkan nilai Durbin-Watson dari perhitungan software Minitab 14 (Lampiran 3) diperoleh sebesar 2,093. Berdasarkan jumlah data yang dianalisis sebanyak 60 dan jumlah variabel bebasnya sepuluh (k=10), didapat nilai Durbin-Watson tabel 96 pada tingkat signifikansi satu persen, yaitu dL = 1,072 dan dU = 1,817. Oleh karenanya, nilai tersebut terletak di antara dU (1,817) dan 4-dU (2,183) yang mengindikasikan bahwa model tersebut tidak terdapat otokorelasi positif maupun negatif. Berikutnya adalah pengujian heteroskedastisitas yang menggunakan pengujian grafis residu. Berdasarkan hasil grafis pada Lampiran 4, tidak memperlihatkan adanya pola sistematis antara residual dan fitted value. Oleh karenanya, asumsi homoskedastisitas juga telah terpenuhi. Berdasarkan pengujian dari asumsi-asumsi yang telah dijelaskan di atas, maka model penduga fungsi produktivitas kentang tersebut secara statistik telah memenuhi syarat asumsi OLS, seperti tidak memiliki kolinearitas antar variabel bebas, tidak terdapat otokorelasi, dan bersifat homoskedastisitas. Dengan demikian, model fungsi produktivitas tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan antara variabel bebas (faktor produksi) yang digunakan terhadap produktivitas dalam kegiatan usahatani kentang. 5.5.2. Analisis Fungsi Produksi Faktor produksi yang diduga berpengaruh dalam usahatani kentang adalah jumlah penggunaan benih, varietas yang digunakan sebagai dummy, jumlah penggunaan pupuk kandang, jumlah penggunaan unsur Nitrogen, jumlah penggunaan unsur Fosfat, jumlah penggunaan unsur Kalium, jumlah penggunaan fungisida, jumlah penggunaan insektisida, jumlah penggunaan perekat, dan jumah penggunaan tenaga kerja. Hasil pendugaan fungsi produksi pada usahatani kentang per hektar di Desa Cigedug pada musim hujan 2011 - 2012 dapat dilihat pada Tabel 31. Pengujian terhadap ketepatan model fungsi produksi dapat dilihat dari Goodness of Fit (R-sq) yang dapat dilihat dari kesalahan standard error (se) dari koefisien regresi yang ditaksir, uji t pada setiap variabel, dan besarnya Pvalue. Berdasarkan data pada Lampiran 5 dan 6, maka model fungsi produksi kentang dapat diduga dengan persamaan sebagai berikut: ln produktivitas = - 6,309 + 0,196 ln benih + 0,222 varietas + 0,417 ln pupuk kandang + 0,047 ln N + 0,294 ln P + 0,017 ln K + 0,053 ln fungisida + 0,028 ln insektisida + 0,073 ln perekat + 0,161 ln tenaga kerja + u 97 Berdasarkan hasil olahan MINITAB dengan menggunakan data yang diperoleh, maka dapat diketahui hubungan antara faktor produksi dan produktivitas petani kentang di Desa Cigedug secara bersama-sama (Tabel 32). Hubungan tersebut dapat dilakukan melalui uji F, dimana nilai F-hitung pada model penduga fungsi produksi mencapai 5,68 maka nilai tersebut lebih besar daripada nilai F-tabel yaitu 2,905. Kondisi tersebut menjelaskan semua faktor produksi yang digunakan dalam usahatani kentang secara bersama-sama memiliki pengaruh yang nyata terhadap produktivitas kentang petani responden dengan taraf nyata satu persen. Akurasi model dapat dilihat dari nilai koefisien determinasinya (R-sq). Koefisien determinasi (R-sq) ini dapat menggambarkan baik atau tidaknya suatu model dalam meramalkan kondisi ke depan. Berdasarkan hasil pendugaan model fungsi produksi menunjukan bahwa nilai koefisien determinasi (R-sq) sebesar 53,7 persen dengan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R-sq adj) sebesar 44,3 persen. Nilai determinasi (R-sq) tersebut menunjukkan bahwa sebesar 53,7 persen variabel produktivitas kentang dapat dijelaskan oleh model, sedangkan sisanya sebesar 46,3 persen lagi dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar model. Faktorfaktor lain di luar model yang diduga berpengaruh terhadap produktivitas kentang, antara lain generasi turunan benih yang digunakan, intensitas serangan hama dan penyakit, pengaruh cuaca dan iklim, dan keterampilan tenaga kerja. Nilai koefisien determinasi (R-sq) model yang digunakan relatif kecil. Hal ini disebabkan faktor produksi yang berkorelasi secara linear dengan faktor produksi yang lain dihilangkan dari model, yaitu luas lahan. Apabila faktor produksi luas lahan dimasukan ke dalam model secara tersendiri, maka nilai R-sq dapat mencapai di atas 90 persen, tetapi model tersebut tidak dapat memenuhi asumsi OLS (Ordinary Least Square), karena di dalam model tersebut terdapat multikolinearitas sehingga tidak dapat menaksir koefisien regresi (Lampiran 2). Oleh karenanya, penggunaan setiap faktor produksi dalam model yang digunakan dihitung per satuan luas. Dengan demikian, walaupun memiliki R-sq yang relatif kecil, model ini cukup baik dalam menjelaskan pengaruh input terhadap produktivitas kentang. 98 Analisis model fungsi produksi selain menggunakan uji F, dapat pula dilakukan dengan menggunakan uji t. Uji t berguna untuk menguji pengaruh nyata dari masing-masing faktor-faktor produksi (variabel bebas) yang digunakan secara terpisah terhadap variabel produksi (variabel tidak bebas). Berdasarkan hasil uji t pada Tabel 31 menunjukkan variabel bebas yang secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap produktivitas kentang pada taraf nyata satu persen adalah varietas yang digunakan. Pupuk kandang, unsur Fosfat, dan unsur Kalium berpengaruh secara signifikan terhadap produktivitas kentang pada taraf nyata lima persen. Sementara itu, jumlah penggunaan perekat dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang pada taraf nyata sepuluh persen. Hasil uji terhadap jumlah penggunaan benih, unsur Nitrogen, Fungisida, dan Insektisida memiliki nilai t hitung lebih rendah dari t tabel sehingga kondisi ini menunjukkan variabel bebas tersebut tidak berpengaruh nyata dalam produktivitas kentang. Tabel 31. Pendugaan dan Pengujian Parameter Model Fungsi Produksi CobbDouglas pada Usahatani Kentang per Hektar pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Simpangan Koefisien Variabel T hitung P-Value VIF Baku Regresi Koefisien Konstanta -6,309 1,894 -3,33 0,002 Ln Benih 0,196 0,142 1,38 0,173 1,4 a Varietas (D) 0,222 0,080 2,76 0,008 2,2 b Ln Pupuk Kandang 0,417 0,160 2,60 0,012 1,3 Ln N 0,047 0,091 0,52 0,608 1,6 b Ln P 0,294 0,120 2,46 0,018 1,4 Ln K 0,017 0,007 2,45b 0,018 1,4 Ln Fungisida 0,053 0,071 0,74 0,460 2,5 Ln Insektisida 0,028 0,032 0,88 0,381 1,6 c Ln Perekat 0,073 0,043 1,69 0,098 1,4 c Ln Tenaga Kerja 0,161 0,091 1,77 0,083 1,4 R-Sq = 53,7% R-Sq (adj) = 44,3% F hitung = 5,68 P = 0,000 Keterangan: nyata pada α = 1%, ttabel = 2,660 nyata pada α = 5%, ttabel = 2,000 c nyata pada α = 10%, ttabel = 1,671 a b Ftabel = 2,905 dengan α = 1% Nilai koefisien regresi dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan nilai elastisitas produksi dari masing-masing variabel produksi tersebut. Berdasarkan penjumlahan dari koefisien regresi faktor-faktor produksi 99 pada Tabel 32, didapat nilai elastisitas produksi sebesar 1,508. Nilai tersebut menunjukkan fungsi produksi kentang berada pada daerah I (increasing return to scale), yang berarti setiap penambahan faktor produksi secara bersama-sama sebesar satu persen akan meningkatkan produktivitas kentang sebesar 1,508 persen. 1) Benih (X1) Berdasarkan tanda parameter pada benih menunjukkan bahwa parameter benih memiliki tanda positif sebesar 0,196 yang berarti penambahan satu persen jumlah penggunaan benih dalam suatu proses produksi maka rata-rata produktivitas kentang akan meningkat sebesar 0,196, dengan asumsi variabel lain tetap (ceteris paribus). Namun nilai t hitung lebih kecil dari t tabel pada taraf nyata sepuluh persen, sehingga penggunaan benih tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kentang. Menurut Prahardini (2006), semakin sering benih hasil panen sebelumnya digunakan, maka akan semakin banyak hama-penyakit yang terkontaminasi dalam benih tersebut yang mengakibatkan produktivitas semakin menurun. Berdasarkan data BP3K Kecamatan Cigedug, pengetahuan dan keterampilan petani tentang penggunaan varietas unggul bermutu mencapai 52 persen. Hal tersebut terlihat pada Tabel 32 yang memaparkan penurunan produktivitas akibat semakin sering digunakannya benih kentang hasil panen sebelumnya. Sehingga, meskipun penggunaan benih per satuan lahan ditambah, tidak dapat menambah produktivitas kentang apabila benih kentang yang digunakan merupakan generasi rendah. Namun, keterbatasan modal yang dimiliki petani menjadi permasalahan untuk menggunakan benih unggul bermutu. Tabel 32. Rata-rata Produktivitas Berdasarkan Generasi yang Digunakan Petani Responden pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Generasi Produktivitas (ton/ha) G3 27,25 G4 22,31 G5 20,86 G6 11,38 Rata-rata penggunaan benih kentang di lokasi penelitian yaitu sebesar 1.872,63 kg/ha dengan rata-rata jarak tanam 77,67 cm x 38,42 cm. Jumlah 100 tersebut telah melebih batas yang dianjurkan Samadi (2007) yakni pada kisaran 1.300 – 1.700 kg/ha dengan jarak tanam 70 cm x 30 cm. 2) Varietas (X2) Berdasarkan hasil regresi dapat diketahui bahwa faktor penggunaan varietas benih secara signifikan mempengaruhi produktivitas kentang pada taraf nyata satu persen. Dalam penelitian ini variabel varietas menggunakan model dummy yang memiliki koefisien regresi sebesar 0,222, sehingga dapat diartikan bahwa varietas Granola hasil produksinya lebih unggul 22,2 persen daripada varietas Atlantic. Rata-rata hasil capaian produktivitas kentang varietas Granola di Desa Cigedug pada saat penelitian sebesar 22,99 ton/ha, sedangkan kentang varietas Atlantic produktivitas rata-rata 21,27 ton/ha. Berdasarkan Tabel 33 dapat terlihat perbandingan produktivitas rata-rata yang dihasilkan petani berdasarkan generasi varietas kentang yang ditanam. Secara rata-rata varietas Granola lebih unggul dibandingkan dengan varietas Atlantic. Hal ini dapat disebabkan karena karakteristik tanaman kentang varietas Granola lebih tahan terhadap hama dan penyakit yang menyerang dibandingkan dengan varietas Atlantic (Samadi 2007). Selain itu menurut Effendie (2002), produktivitas yang belum mencapai optimal pada varietas Atlantic disebabkan tidak tepatnya penerapan teknologi oleh petani. Walaupun memproduksi kentang industri, petani tetap menggunakan teknologi produksi kentang varietas Granola yang mana teknologi tersebut tidak cocok dengan karakteristik tanaman dan mutu umbi kentang industri. Karakteristik tanaman varietas Atlantic yang lebih tinggi dan ukuran umbi yang lebih besar daripada varietas Granola tentunya memerlukan jarak tanam yang lebih lebar. Selain itu, penggunaan pupuk kimia juga seharusnya lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Granola. Tabel 33. Perbandingan Produktivitas Rata-rata Berdasarkan Varietas yang Digunakan pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug Varietas Granola Varietas Atlantic Jumlah Generasi Produktivitas Produktivitas Benih (kg) (ton/ha) (ton/ha) G3 1.770,34 27,25 G4 1.919,52 25,10 21,22 G5 1.804,42 20,67 21,93 G6 1.708,33 11,38 - 101 3) Pupuk Kandang (X3) Penggunaan jumlah pupuk kandang berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas kentang pada taraf nyata lima persen dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,417. Dengan demikian, penambahan jumlah pupuk kandang sebesar satu persen akan meningkatkan produktivitas kentang sebesar 0,417 persen, dengan asumsi variabel lain tetap (ceteris paribus). Pupuk kandang digunakan pada saat sebelum tanam yang bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah, menambah bahan organik tanah, dan mengikat tanah. Rata-rata penggunaan pupuk kandang petani responden kentang sebesar 24.907,65 kg/ha yang mana jumlah tersebut masih berada di antara dosis dianjurkan, yaitu 20.000 – 30.000 kg/ha (Samadi 2011). Oleh karena itu, peningkatan penggunaan pupuk kandang sampai dibawah dosis maksimum tersebut dapat meningkatkan potensi hasil umbi kentang sehingga produktivitas dapat meningkat. 4) Unsur Nitrogen (X4) Berdasarkan tanda parameter pada unsur Nitrogen menunjukkan bahwa parameter benih memiliki tanda positif sebesar 0,047 yang berarti penambahan unsur Nitrogen dalam suatu proses produksi sebesar satu persen maka rata-rata produktivitas kentang akan meningkat sebesar 0,047, dengan asumsi variabel lain tetap (ceteris paribus). Namun nilai t hitung lebih kecil dari t tabel pada taraf nyata sepuluh persen, sehingga penggunaan unsur Nitrogen tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kentang. Penggunaan unsur Nitrogen bertujuan untuk merangsang pertunasan bibit, meningkatkan pertumbuhan daun, batang, dan ranting, meningkatkan pembentukan protein, dan meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara lainnya (Fosfat, Kalium, dan lainnya) (Samadi 2007). Rata-rata penggunaan unsur Nitrogen petani responden sebesar 242,21 kg/ha. Jumlah unsur Nitrogen yang digunakan petani telah melebihi dosis anjuran menurut Samadi (2007) yakni 200 kg/ha. Kelebihan Nitrogen tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan berlebihan pada daun, batang dan cabang, terhambatnya pertumbuhan generatif (umbi), dan tanaman menjadi mudah terserang hama dan penyakit, seperti lalat penggorok daun (Ashandi et al. 2001). Oleh karena itu, 102 penambahan unsur Nitrogen tidak nyata dalam meningkatkan produktivitas kentang. 5) Unsur Fosfat (X5) Penggunaan unsur Fosfat berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas kentang pada taraf nyata lima persen dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,294. Dengan demikian, penambahan jumlah unsur Fosfat sebesar satu persen akan meningkatkan produktivitas kentang sebesar 0,294 persen, dengan asumsi variabel lain tetap (ceteris paribus). Rata-rata penggunaan unsur Fosfat petani responden sebesar 420,92 kg/ha. Jumlah unsur Fosfat ini melebihi kisaran yang dianjurkan menurut Samadi (2007) yaitu 150 – 200 kg/ha. Unsur Fosfat sangat berpengaruh terhadap pembentukan dan pertumbuhan perakaran sehingga dapat memperkuat tanaman, serta meningkatkan penyerapan unsur hara dan air. Selain itu, unsur hara ini juga berpengaruh terhadap pembentukan umbi dan kandungan zat pati (Samadi 2007). Dampak negatif dari penggunaan unsur Fosfat yang berlebih belum ditemukan menurut Samadi (2007) dan Ashandi et al. (2001), sehingga penambahan unsur Fosfat walaupun melebihi dosis anjuran tetap mempengaruhi produktivitas kentang karena unsur Fosfat dapat mempengaruhi pembentukan umbi. 6) Unsur Kalium (X6) Unsur Kalium diperlukan tanaman dalam pembentukan karbohidrat di dalam umbi, meningkatkan ketahanan terhadap penyakit, memperbesar umbi, dan meningkatkan daya simpang umbi. Penggunaan unsur Kalium berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi kentang pada taraf nyata lima persen dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,017. Dengan demikian, penambahan jumlah Kalium sebesar satu persen akan meningkatkan produktivitas kentang sebesar 0,017 persen, dengan asumsi variabel lain tetap (ceteris paribus). Peningkatan produktivitas yang relatif kecil ini dikarenakan rata-rata penggunaan unsur Kalium petani responden sebesar 276,76 kg/ha yang mana jumlah unsur Kalium ini melebihi kisaran yang dianjurkan menurut Samadi (2007) yaitu 150 – 200 kg/ha. Dampak negatif dari penggunaan unsur Kalium yang berlebih belum ditemukan menurut Ashandi et al. (2001). Oleh karena itu, berdasarkan manfaat 103 penggunaan unsur Kalium, penggunaan unsur ini dapat memberi pengaruh nyata walaupun relatif kecil terhadap peningkatan produktivitas kentang. 7) Fungisida (X7) Fungisida yang digunakan mengandung zat aktif yang berguna untuk membasmi atau mengurangi penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Fungisida yang digunakan petani responden dapat dilihat pada Tabel 21. Hasil pendugaan persamaan fungsi produksi menunjukkan bahwa penggunaan fungisida memiliki tanda parameter positif dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,053 yang berarti penambahan jumlah fungisida sebesar satu persen dalam suatu proses produksi maka produktivitas kentang akan meningkat sebesar 0,053 persen (ceteris paribus). Namun, berdasarkan hasil pendugaan parameter variabel fungisida memiliki nilai t hitung lebih kecil dari pada t tabel dengan taraf nyata sepuluh persen, sehingga fungisida tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang. Menurut data BP3K Kecamatan Cigedug, penggunaan pestisida pada petani kentang baru mencapai 28 persen yang disebabkan karena penggunaan pestisida yang belum mematuhi anjuran pemakaian. Rata-rata penggunaan fungisida per hektar dalam musim hujan adalah 91,72 kg. Besar dosis anjuran yang digunakan tergantung dari kandungan zat aktif yang digunakan. Rata-rata petani responden menggunakan zat aktif fungisida melebihi aturan dosis yang digunakan (Tabel 22). Hal tersebut dikarenakan intensitas serangan penyakit yang tinggi, menyebabkan petani menggunakan fungisida melebihi anjuran pemakaian karena mereka beranggapan bahwa semakin banyak fungisida yang digunakan maka tanaman akan semakin tahan terhadap penyakit, sehingga penyemprotan fungisida dimulai sejak tanaman kentang berumur 10 – 14 HST. Namun, penambahan fungisida ternyata tidak signifikan terhadap peningkatan produktivitas kentang. 8) Insektisida (X8) Insektisida yang digunakan mengandung zat aktif yang berguna untuk membasmi atau mengurangi hama dan penyakit. Insektisida yang digunakan petani responden dapat dilihat pada Tabel 22. Hasil pendugaan persamaan fungsi produksi menunjukkan bahwa penggunaan insektisida memiliki tanda parameter 104 positif dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,028 yang berarti penambahan jumlah insektisida sebesar satu persen dalam suatu proses produksi maka produktivitas kentang akan meningkat sebesar 0,028 persen (ceteris paribus). Berdasarkan hasil pendugaan parameter variabel fungisida memiliki nilai t hitung lebih kecil dari pada t tabel pada taraf nyata sepuluh persen, sehingga insektisida tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang. Rata-rata penggunaan insektisida petani responden kentang sebesar 8,41 liter per hektar. Berdasarkan kondisi lapang, dosis penggunaan insektisida yang digunakan petani sama halnya dengan penggunaan fungisida yang melebihi dosis anjuran pemakaian (Tabel 22). Penggunaan insektisida ini lebih dibutuhkan ketika terdapat hama dan penyakit, karena insektisida berfungsi sebagai pembasmi hama dan bukan pencegah hama. Kondisi yang terjadi di lapang, petani tetap menggunakan insektisida disaat kondisi apapun, baik ketika tanaman dalam kondisi tidak terserang hama ataupun terserang hama sehingga pemberian insektisida menjadi berlebihan. Namun, penambahan insektisida ternyata tidak signifikan terhadap peningkatan produktivitas kentang. 9) Perekat (X9) Penggunaan perekat berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas kentang pada taraf nyata sepuluh persen dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,073. Dengan demikian, penambahan jumlah perekat sebesar satu persen akan meningkatkan produktivitas kentang sebesar 0,073 persen, dengan asumsi variabel lain tetap (ceteris paribus). Rata-rata penggunaan perekat petani responden sebesar 13,44 lt/ha. Jumlah perekat yang digunakan petani di bawah dosis anjuran menurut Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 442/Kpts/SR.140/9/2003 yaitu sebesar 8,33 – 16,66 lt/ha. Curah hujan yang relatif tinggi pada musim hujan menyebabkan penggunaan perekat tidak dapat diabaikan. Hal tersebut disebabkan pestisida yang diaplikasikan kemudian selang satu hingga dua jam hujan turun maka pengaplikasian pestisida tersebut akan sia-sia karena pestisida tersebut akan tercuci oleh air hujan. Sehingga dengan penggunaan perekat, pestisida yang diaplikasikan akan cepat terserap oleh daun sehingga apabila hujan turun pestisida 105 yang telah diaplikasikan akan tetap berfungsi. Hal tersebut akan memberikan pengaruh kepada produktivitas kentang yang dihasilkan. 10) Tenaga Kerja (X10) Penggunaan tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas kentang pada taraf nyata sepuluh persen dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,161. Nilai tersebut menggambarkan, penambahan tenaga kerja sebesar satu persen akan meningkatkan produktivitas kentang sebesar 0,161 persen, dengan asumsi variabel lain tetap (ceteris paribus). Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa tenaga kerja memang sangat dibutuhkan dalam usahatani kentang. Tenaga kerja dibutuhkan pada setiap kegiatan mulai dari persiapan lahan hingga panen. Penyerapan tenaga kerja paling banyak adalah pada kegiatan persiapan lahan, pemeliharaan, dan pemanenan. Contohnya, pada saat kegiatan pemanenan, jika tenaga kerja yang digunakan sedikit tetapi lahan yang dipanen luas, maka hasil panen yang akan diperoleh tidak maksimal karena panen tidak dapat dilakukan dalam sehari, sehingga panen harus dilakukan beberapa hari. Hal tersebut berakibat pada kualitas kentang yang dihasilkan akan menurun dan kuantitas hasil produksi dapat berkurang. Rata-rata penggunaan tenaga kerja untuk usahatani kentang di lokasi penelitian sebesar 639,48 HOK per hektar, baik tenaga kerja dalam keluarga maupun tenaga kerja luar keluarga dengan anjuran penggunaan tenaga kerja menurut Samadi (2007) sebesar 619 HOK, tanpa kegiatan pengajiran dan penalian. Dengan demikian berdasarkan kondisi di lapang, bahwa tenaga kerja sangat dibutuhkan untuk kelancaran dan kemudahan kegiatan produksi kentang, sehingga penambahan tenaga kerja seperti pada kegiatan pemanenan akan dapat meningkatkan produktivitas kentang. 106 VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis pendapatan usahatani kentang varietas Granola dan varietas Atlantic per hektar di Desa Cigedug pada musim hujan 2011 – 2012 secara umum dinyatakan menguntungkan untuk diusahakan. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata pendapatan atas biaya total yang dicapai petani responden varietas Granola dalam satu periode tanam kentang sebesar Rp 33.256.875,51 per hektar, sedangkan petani kentang varietas Atlantic sebesar Rp 42.206.449,23 per hektar sehingga usahatani kentang kedua varietas tersebut menguntungkan untuk diusahakan. Berdasarkan analisis faktor-faktor produksi kentang di Desa Cigedug dengan menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas dapat diketahui faktorfaktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang adalah penggunaan varietas, jumlah pupuk kandang, unsur Fosfat, unsur Kalium, perekat, dan tenaga kerja. Sementara itu, jumlah benih, unsur Nitrogen, fungisida, dan insektisida tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang. 8.2. Saran Berdasarkan hasil dan pembahasan serta kesimpulan, maka disarankan: 1) Ketika harga jual kentang varietas Granola turun, petani sebaiknya memberikan nilai tambah pada kentang varietas Granola dengan mengolahnya menjadi produk lain seperti tepung, kerupuk, dan pati sehingga petani mendapat tambahan pendapatan. 2) Petani dapat mengurangi penggunaan faktor produksi yang tidak nyata mempengaruhi produktivitas kentang seperti pestisida dalam usahataninya, agar petani dapat menghemat biaya yang dikeluarkan untuk usahatani kentang. 3) PT Indofood Fritolay Makmur sebaiknya mengembangkan pembibitan lokal seperti yang telah dilakukan di daerah Malang, agar dapat mengurangi pasokan impor bibit kentang varietas Atlantic dan meminimalisasi keterlambatan benih di tingkat petani akibat adanya proses karantina. 4) Lebih baik pihak vendor PT Indofood Fritolay Makmur membuat kontrak dengan petani mitra yang berisi hak dan kewajiban dengan menggunakan materai, agar kedua belah pihak lebih berkomitmen dalam menjalankan pelaksanaan usaha pertanian kontrak. 108 ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS KENTANG DI DESA CIGEDUG, KECAMATAN CIGEDUG, KABUPATEN GARUT SKRIPSI SYIFA MAULIA H34080024 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 DAFTAR PUSTAKA Andarwati AU. 2011. Efisiensi Teknis Usahatani Kentang dan Faktor yang Mempengaruhi di Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor Apriyanto RHR. 2005. Pengaruh Status dan Luas Lahan Usahatani Kentang (Solanum tuberosum L.) Terhadap Produksi dan Pendapatan Petani [Skripsi]. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Ashandi AA, Setiawati W, Somantri A. 2001. Perbaikan Pemupukan Berimbang pada Tanaman Kentang dalam Pengendalian Hama Lalat Penggorok Daun, Jurnal Hortikultura 11(1): 16-21. Ashari. 2009. Membangun Sinergi Usaha Petani Kentang-Swasta dengan Kemitraan Pemasaran. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol.31 No.3. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Assauri S. 2004. Manajemen Produksi dan Operasi. Edisi Revisi. Jakarta: Universitas Indonesia Pr. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta. 2004. Teknologi Budidaya Kentang Industri di Lahan Swah Dataran Medium Kabupaten Sleman D.I. Yogyakarta. Rekomensasi Teknologi Pertanian 2004. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2012. Kecamatan Cigedug dalam Angka 2011. Garut: BPS [BPS] Badan Pusat Statistik. 2011a. PDB Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010 (persen). Jakarta: BPS. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2011b. Konsumsi penduduk per kapita. Jakarta: BPS. [BP3K] Badan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan. 2012. Program Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan. Garut: BP3K Cigedug. Damanah. 1998. Analisis Faktor-faktor Produksi dan Pendapatan Usahatani Bawang Merah di Desa Sukasari Kaler Kecamatan Argapura Kabupaten Majalengka Propinsi Jawa Barat [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Deshinta M. 2006. Perananan Kemitraan Terhadap Peningkatan Pendapatan Peternak Ayam Broiler (Kasus Kemitraan: PT Sierad Produce dengan Peternak di Kabupaten Sukabumi) [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Daryanto A. 2012. Contract Farming Sebagai Sumber Pertumbuhan Baru dalam Bidang Peternakan. http://www.mb.ipb.ac.id/artikel/view/id/2f09c97 45b6ea649295a86561c8944ba.html. [13 November 2012] Desa Cigedug. 2012a. Laporan Kegiatan Pertanggungjawaban (LKPJ) Kepala Desa Cigeduh Tahun 2011. Garut: Pemerintahan Kabupaten Garut Kecamatan Cigedug Desa Cigedug. 2012b. Laporan Jumlah Penduduk Desa Cigedug (Maret 2012). Garut: Pemerintahan Kabupaten Garut Kecamatan Cigedug [Ditjenhorti] Direktorat Jenderal Hortikultura. 2011a. Produksi Sayuran Nasional Periode 2006 - 2010. Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura [Ditjenhorti] Direktorat Jenderal Hortikultura. 2011b. Luas Panen Tanaman Sayuran di Indonesia Periode 2006 – 2010. Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura [Ditjenhorti] Direktorat Jenderal Hortikultura. 2011c. Produktivitas Tanaman Sayuran di Indonesia Periode 2006 – 2010. Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura [Ditjenhorti] Direktorat Jenderal Hortikultura. 2011d. PDB Hortikultura Tahun 2006 - 2010. Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura [Ditjenhorti] Direktorat Jenderal Hortikultura. 2012. Komoditas Unggulan. Jakarta: Direktorat Jenderal Hortikultura http://hortikultura.deptan.go.id /?q=content/komoditas-unggulan [Diakses pada 13 September 2012] Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut. 2012a. Luas Panen Kentang Tahun 2007 – 2011. Garut: Dinas Pertanian Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut. 2012b. Produksi Kentang Tahun 2007 – 2011. Garut: Dinas Pertanian Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut. 2012c. Produktivitas Kentang Tahun 2007 – 2011. Garut: Dinas Pertanian Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut. 2011. Standar Operasional Prosedur (SOP) Kentang. Garut: Dinas Pertanian Eaton C, Shepherd A. 2001. Contract Farming: Partnership for Growth. FAO Agricultural Services Buletin No.145. Rome: Food and Agricultural Organization of United Nation. Effendie K. 2002. Kentang Prosesing untuk Agroindustri. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. ISSN 0216-4427. Vol. 24 No. 2. Hal: 1-3 110 Erika F. 1999. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-faktor Produksi dan Pendapatan Usahatani Kentang di Desa Raya, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Tanah Karo, Propinsi Sumatera Utara [Skripsi]. Bogor: Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Gujarati DN. 2006a. Dasar-dasar Ekonometrika. Ed ke-3. Jilid 1. Jakarta: Erlangga Gujarati DN. 2006b. Dasar-dasar Ekonometrika. Ed ke-3. Jilid 2. Jakarta: Erlangga Hakim ML. 2002. Analisis Pendapatan dan Resiko dalam Diversifikasi Usaha Agribisnis Kentang [Skripsi]. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Hernanto F. 1996. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya Hooker WJ. 1982. Virus Diseases of Potato. Peru: Technical Information Bull. Iqbal M. 2008. Tinjauan Teoritis dan Implementasi Manajemen Pertanian Kontrak. Jurnal Ekonomi Maret 2008 No.01. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Kholis A. 2011. Efisiensi Penggunaan Radiasi Surya pada Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.) Varietas Granola dan Atlantik di Kabupaten Kerinci, Jambi [Skripsi. Departemen Geofisika dan Meteorologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor. Lind DA, Marchal WG, Wathen SA. 2007. Teknik-teknik Statistika dalam Bisnis dan Ekonomi Menggunakan Kelompok Data Global. Ed ke-13, Ed Rev. Jakarta: Salemba Empat. Nurmala SD. 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Ubi Jalar [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Patrick et al. 2004. Contract Farming in Indonesia: Smallholders and Agribusiness Working Together. ACIAR Technical Reports No.54. Prahardini PER. 2006. Pengelolaan Perbenihan Kentang di Tingkat Penangkar. Info Teknologi Pertanian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur. No.34. Pratiwi MY. 2011. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risioko Produksi Caisin (Brassica rapa cv. Caisin) di Desa Citapen Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor [Skripsi]. Departemen Agribisnis. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. 111 Puspitasari D. 2011. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risioko Produksi Mentimun (Cucumis sativus L) di Desa Citapen Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor [Skripsi]. Departemen Agribisnis. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Putra WDD. 2011. Analisis Faktor-faktor Produksi yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Jagung Manis di Desa Sukajadi Kecamatan Taman Sari Kabupaten Bogor [Skripsi]. Departeman Agribisnis. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Rahim A, Hastuti RDR. 2008. Pengantar, Teori, dan Kasus Ekonomika Pertanian. Jakarta: Penebar Swadaya. Rivai RS. 1982. Survey Usahatani Kentang di Kabupaten Garut. Pusat Penelitian Agro Ekonomi. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Samadi B. 2007. Kentang dan Analisis Usaha Tani Edisi Revisi. Kanisius : Yogyakarta. Saptana et al. 2006 Analisis Kelembagaan Kemitraan Rantai Pasok Komoditas Hortikultura. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Setiadi. 2009. Budidaya Kentang. Depok : Penebar Swadaya. Sumardjo et al. 2004. Teori dan Praktik Kemitraan Agribisnis. Depok: Penerbit Swadaya Siregar NM. 2011. Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Cabai Merah Keriting di Desa Citapen, Kecamatan ciawi, Kabupten Bogor [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Sofiari E. 2009. Daya Hasil Beberapa Klon Kentang di Garut dan Banjarnegara. Jurnal Hortikultura 19(2): 148-154 Soekartawi dan Soeharjo A. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Dillon JL, Hardaker, penerjemah; Jakarta: UI-Press. Terjemahan dari: Farm Management Research for Small Development. Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Jakarta: Universitas Indonesia Pr. Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian: Teori dan aplikasi. Ed.2, Cet. 4. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Soekartawi. 2005. Agribisnis: Teori dan Aplikasisnya. Ed. 1. Cet 8. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Sudarsono. 1995. Pengantar Ekonomi Mikro. Edisi Revisi. Jakarta: LP3ES 112 Suratiyah K. 2006. Ilmu Usahatani. Jakarta : Penebar Swadaya. Suryana S. 2007. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Jagung di Kabupaten Blora [Tesis]. Semarang: Program Pascasarjana, Universita Diponegoro. Widyastuti N. 1996. Pengaruh Jarak Tanam dan Pemberian Alar (N,N, Dimethyl Hydrazide) terhadap Pertumbuhan dan Produksi Umbi Mini Kentang (Solanum tuberosum L.) Kultiver Atlantic dan Red Pontiac [Tesis]. Program Pascasarjana. Biologi. Intitut Pertanian Bogor. Bogor. 113 LAMPIRAN Lampiran 1. Rata-rata Pertumbuhan Luas, Produksi, dan Produktivitas Kentang pada Tahun 2007 – 2011 di Lima Daerah Penghasil Kentang Terbesar di Kabupaten Garut Rata-rata Kecamatan 2007 2008 2009 2010 2011 Pertumbuhan 2007 – 2011 (%) Luas (Ha) Cikajang 1.362 1.290 941 1.234 1.340 1,85 Cigedug 342 416 526 563 627 16,62 Cisurupan 591 629 540 770 710 6,77 Sukaresmi 307 338 404 369 500 14,12 Pasirwangi 975 1.620 1.125 1.413 785 4,19 Produksi (Ton) Cikajang 32.587 30.214 22.378 27.356 29.559 -0,73 Cigedug 8.224 9.652 12.361 12.525 13.998 14,63 Cisurupan 14.127 14.743 12.705 17.094 16.609 5,56 Sukaresmi 7.154 7.889 9.415 8.173 10.992 12,73 Pasirwangi 22.640 37.601 26.182 31.028 17.669 2,79 Produktivitas (Ton/Ha) Cikajang 23,93 23,42 23,78 22,17 22,06 - 1,97 Cigedug 24,05 23,20 23,50 22,25 22,33 -1,80 Cisurupan 23,90 23,44 23,58 22,20 22,63 -1,31 Sukaresmi 23,30 23,34 23,31 22,15 21,84 -1,58 Pasirwangi 23,22 23,21 23,27 21,96 22,51 -0,73 Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Garut 2012 114 Lampiran 2. Hasil Output MINTAB 14 Fungsi Produksi Regression Analysis: Ln Produksi versus Ln Luas lahan; Ln Benih; ... The regression equation is Ln Produksi = - 6,19 - 0,267 Ln Luas lahan + 0,188 Ln Benih + 0,237 Varietas + 0,392 Ln Pupuk Kandang + 0,0470 Ln Nitrogen + 0,290 Ln Fosfat + 0,0174 Ln Kalium + 0,0565 Ln Fungisida + 0,0274 Ln Insektisida + 0,0748 Ln Perekat + 0,193 Ln TK Predictor Constant Ln Luas lahan Ln Benih Varietas Ln Pupuk Kandang Ln Nitrogen Ln Fosfat Ln Kalium Ln Fungisida Ln Insektisida Ln Perekat Ln TK S = 0,211433 Coef -6,191 -0,2674 0,1881 0,23695 0,3925 0,04701 0,2899 0,017410 0,05645 0,02739 0,07481 0,1934 SE Coef 1,906 0,2234 0,1447 0,09115 0,1688 0,09183 0,1214 0,007112 0,07209 0,03239 0,04365 0,1509 R-Sq = 94,6% T -3,25 -1,20 1,30 2,60 2,33 0,51 2,39 2,45 0,78 0,85 1,71 1,28 P 0,002 0,237 0,200 0,012 0,024 0,611 0,021 0,018 0,437 0,402 0,093 0,206 VIF 44,3 20,1 2,8 30,8 8,2 14,5 1,5 8,7 1,9 3,0 10,5 R-Sq(adj) = 93,4% Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total Source Ln Luas lahan Ln Benih Varietas Ln Pupuk Kandang Ln Nitrogen Ln Fosfat Ln Kalium Ln Fungisida Ln Insektisida Ln Perekat Ln TK DF 11 48 59 SS 37,8942 2,1458 40,0400 DF 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 MS 3,4449 0,0447 F 77,06 P 0,000 Seq SS 35,5465 0,3522 0,1384 0,6171 0,1748 0,2877 0,3972 0,0653 0,1045 0,1371 0,0734 Unusual Observations Obs 37 46 51 59 Ln Luas lahan -2,12 -0,51 -1,14 -0,73 Ln Produksi 0,2200 2,6100 1,3700 2,4900 Fit 0,6179 2,2626 1,8222 2,1166 SE Fit 0,1408 0,1352 0,0661 0,1077 Residual -0,3979 0,3474 -0,4522 0,3734 St Resid -2,52R 2,14R -2,25R 2,05R R denotes an observation with a large standardized residual. Durbin-Watson statistic = 2,06967 115 Lampiran 3. Hasil Output MINTAB 14 Fungsi Produksi per Luas Lahan Regression Analysis: Ln Produktivitas versus Ln Benih; Varietas; ... The regression equation is Ln Produktivitas = - 6,31 + 0,196 Ln Benih + 0,222 Varietas + 0,417 Ln Pupuk Kandang + 0,0469 Ln Nitrogen + 0,294 Ln Fosfat + 0,0171 Ln Kalium + 0,0529 Ln Fungisida + 0,0283 Ln Insektisida + 0,0728 Ln Perekat + 0,161 Ln TK Predictor Constant Ln Benih Varietas Ln Pupuk Kandang Ln Nitrogen Ln Fosfat Ln Kalium Ln Fungisida Ln Insektisida Ln Perekat Ln TK S = 0,209318 Coef -6,309 0,1963 0,22168 0,4167 0,04691 0,2944 0,017137 0,05289 0,02833 0,07279 0,16095 SE Coef 1,894 0,1421 0,08045 0,1600 0,09088 0,1198 0,007009 0,07106 0,03206 0,04317 0,09093 R-Sq = 53,7% T -3,33 1,38 2,76 2,60 0,52 2,46 2,45 0,74 0,88 1,69 1,77 P 0,002 0,173 0,008 0,012 0,608 0,018 0,018 0,460 0,381 0,098 0,083 VIF 1,4 2,2 1,3 1,6 1,4 1,4 2,5 1,6 1,4 1,4 R-Sq(adj) = 44,3% Analysis of Variance Source Regression Residual Error Total DF 10 49 59 Source Ln Benih Varietas Ln Pupuk Kandang Ln Nitrogen Ln Fosfat Ln Kalium Ln Fungisida Ln Insektisida Ln Perekat Ln TK SS 2,49078 2,14689 4,63767 DF 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 MS 0,24908 0,04381 F 5,68 P 0,000 Seq SS 0,35963 0,20197 0,43751 0,21388 0,24791 0,47321 0,05852 0,19927 0,16162 0,13726 Unusual Observations Obs 37 46 51 59 Ln Benih 7,68 7,82 7,13 7,31 Ln Produktivitas 2,3430 3,1210 2,5130 3,2270 Fit 2,7298 2,7742 2,9652 2,8313 SE Fit 0,1390 0,1340 0,0631 0,0891 Residual -0,3868 0,3468 -0,4522 0,3957 St Resid -2,47R 2,16R -2,27R 2,09R R denotes an observation with a large standardized residual. Durbin-Watson statistic = 2,09345 116 Lampiran 4. Hasil Output Grafik MINITAB 14 Fungsi Produksi per Luas Lahan Residual Plots for Ln Produktivitas Residual Plots for Ln Produktivitas Normal Probability Plot of the Residuals Residuals Versus the Fitted Values 99,9 0,50 0,25 90 Residual Percent 99 50 10 0,00 -0,25 1 -0,50 0,1 -0,50 -0,25 0,00 Residual 0,25 0,50 2,50 Histogram of the Residuals 2,75 3,00 Fitted Value 3,25 3,50 Residuals Versus the Order of the Data 0,50 0,25 9 Residual Frequency 12 6 0,00 -0,25 3 -0,50 0 -0,4 -0,2 0,0 Residual 0,2 0,4 1 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 Observation Order 117 Lampiran 5. Output dan Input Petani Kentang Varietas Granola pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug per Hektar No Produksi (ton) Benih (kg) P. kandang (kg) N (kg) P (kg) K (kg) Fungisida (kg) Insektisida (lt) Perekat (lt) TK (HOK) 1 23,88 1687,50 25046,05 337,50 525,00 75,00 138,16 0,86 18,42 517,63 2 22,92 2500,00 21000,00 518,75 485,00 275,00 66,67 15,42 8,33 1175,00 3 17,00 1920,00 24120,00 252,00 432,00 0,00 62,00 2,55 8,00 572,80 4 25,25 1875,00 24018,75 270,00 457,50 7,50 47,50 5,50 18,75 513,13 5 18,75 1500,00 25312,50 281,25 468,75 768,75 40,00 2,50 12,50 1030,00 6 32,50 1750,00 22500,00 206,25 300,00 75,00 25,00 27,50 25,00 1995,00 7 10,42 2166,67 15000,00 262,50 450,00 0,00 33,33 1,67 16,67 1015,83 8 15,65 1250,00 24750,00 247,50 397,50 637,50 26,50 1,13 2,50 210,05 9 22,92 1250,00 22500,00 410,63 570,00 487,50 15,63 13,75 6,67 516,67 10 27,75 1500,00 28125,00 360,00 510,00 750,00 20,00 9,50 1,25 819,00 11 33,44 1562,50 22500,00 290,63 431,25 468,75 50,00 13,75 18,75 639,38 12 23,13 1354,17 22500,00 290,63 431,25 468,75 83,33 4,58 3,33 264,58 13 27,75 2000,00 36000,00 228,75 378,75 243,75 106,25 5,25 18,75 534,75 14 22,13 2500,00 22500,00 255,00 423,75 393,75 93,75 13,41 9,00 440,50 15 21,35 1600,00 36000,00 205,50 325,50 37,50 48,00 0,20 2,00 404,70 16 22,67 2500,00 22500,00 315,00 540,00 0,00 62,50 0,87 4,17 470,00 17 27,14 2142,86 25714,29 180,00 255,00 375,00 78,57 20,71 28,57 661,79 18 21,50 1750,00 36000,00 228,75 378,75 243,75 50,00 6,35 9,00 357,10 19 17,75 1625,00 22500,00 228,75 378,75 243,75 35,00 2,15 5,00 573,50 20 22,83 2250,00 22500,00 228,75 378,75 243,75 36,67 4,96 8,33 562,92 21 12,34 1250,00 22500,00 266,25 416,25 281,25 36,56 4,25 6,25 436,25 22 22,75 1875,00 22500,00 221,25 352,50 337,50 40,00 3,40 10,00 633,00 23 23,04 2375,00 22500,00 247,50 397,50 262,50 42,86 5,14 10,71 550,36 24 30,00 2500,00 22500,00 228,75 858,75 243,75 50,00 5,67 8,33 723,33 25 20,94 1250,00 21093,75 112,50 384,38 234,38 68,75 2,31 6,25 541,88 26 22,20 1500,00 23760,00 223,20 331,20 360,00 70,00 1,00 6,00 316,00 27 30,47 1500,00 28125,00 487,50 543,75 93,75 87,50 5,19 15,63 673,75 28 24,06 1750,00 25031,25 131,25 450,00 375,00 118,75 37,50 6,25 864,38 29 25,21 1500,00 20062,50 126,00 216,00 180,00 53,13 10,42 7,50 615,00 30 22,03 2000,00 25031,25 337,50 525,00 450,00 51,56 1,80 6,25 655,94 118 Lampiran 6. Output dan Input Petani Kentang Varietas Atlantic pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug per Hektar No Produksi (ton) Benih (kg) P. kandang (kg) N (kg) P (kg) K (kg) Fungisida (kg) Insektisida (lt) Perekat (lt) TK (HOK) 1 23,18 2500,00 28125,00 337,50 525,00 75,00 164,06 11,80 31,88 410,38 2 26,05 2500,00 42187,50 285,00 435,00 75,00 150,00 2,60 30,00 518,80 3 26,05 2500,00 42187,50 285,00 435,00 75,00 150,00 2,90 40,00 470,30 4 31,74 2125,00 28125,00 120,00 570,00 420,00 250,00 25,90 26,67 563,80 5 30,50 1875,00 28125,00 180,00 435,00 375,00 87,50 26,93 25,00 753,21 6 19,18 2250,00 28636,36 172,73 352,73 221,82 164,77 4,55 13,64 591,14 7 17,04 1800,00 21600,00 204,48 319,68 100,80 70,00 2,00 24,00 468,90 8 16,00 2272,73 20454,55 184,09 286,36 150,00 72,44 3,82 4,55 662,50 9 29,48 2083,33 23437,50 325,00 512,50 437,50 125,00 6,56 10,42 769,38 10 14,16 1750,00 24609,38 203,44 334,69 282,19 117,19 3,00 12,50 580,94 11 20,09 2000,00 28125,00 132,50 260,00 80,00 150,00 17,40 12,50 674,25 12 25,13 1875,00 22959,18 237,24 352,04 76,53 95,66 12,50 10,71 776,07 13 20,83 1875,00 20250,00 268,75 543,75 343,75 135,00 6,25 25,00 541,00 14 15,09 1250,00 19687,50 371,25 502,50 337,50 125,00 2,58 15,00 587,75 15 15,09 1750,00 22500,00 118,13 405,00 337,50 93,75 7,00 2,50 709,00 16 11,79 1750,00 28125,00 150,00 137,50 187,50 104,17 2,67 14,58 605,42 17 26,13 1250,00 19687,50 371,25 502,50 337,50 150,00 2,58 15,00 639,25 18 23,75 2937,50 22500,00 118,13 337,50 225,00 112,50 6,25 12,50 616,25 19 16,50 1562,50 22500,00 181,69 353,81 239,06 181,25 15,31 6,25 821,88 20 26,38 2125,00 28125,00 285,00 435,00 375,00 116,67 8,06 31,25 462,50 21 27,15 2500,00 24750,00 311,25 480,00 225,00 175,00 2,50 15,00 776,50 22 25,10 1500,00 22500,00 144,00 492,00 60,00 86,54 0,96 38,46 566,92 23 10,82 1142,86 16071,43 166,07 439,29 53,57 85,71 1,18 3,57 426,79 24 19,25 2250,00 28125,00 131,25 450,00 375,00 148,33 34,92 6,67 550,75 25 12,55 2000,00 22500,00 84,00 288,00 240,00 70,00 7,20 7,50 404,10 26 15,69 1250,00 28125,00 157,50 450,00 300,00 112,50 7,00 12,50 582,75 27 20,10 1500,00 28125,00 285,00 435,00 375,00 70,00 2,63 5,00 665,00 28 30,25 2000,00 28125,00 285,00 435,00 375,00 87,50 2,92 8,33 990,00 29 18,06 2000,00 20000,00 228,75 378,75 618,75 131,25 26,25 20,83 807,08 30 24,88 2000,00 20000,00 228,75 378,75 618,75 183,33 19,17 16,67 1076,67 119 Lampiran 7. Biaya Input Petani Kentang Varietas Granola pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug (Rp/Ha) No Benih P. Kandang ZA TSP KCl Mutiara Phonska Fungisida Insektisida 1 16.875.000 7.792.105 2.250.000 2.250.000 1.150.000 12.940.789 546.053 2 30.000.000 6.533.333 3.375.000 1.800.000 500.000 1.916.667 10.666.667 2.458.333 3 19.200.000 7.504.000 2.160.000 2.160.000 - 7.800.000 1.355.000 4 31.875.000 7.472.500 2.250.000 2.250.000 115.000 4.175.000 3.300.000 5 19.500.000 7.875.000 2.250.000 2.250.000 2.500.000 287.500 2.500.000 1.500.000 6 35.000.000 7.000.000 1.125.000 1.125.000 1.150.000 3.500.000 3.625.000 7 10.833.333 4.333.333 2.250.000 2.250.000 - 5.333.333 1.333.333 8 15.000.000 7.150.000 1.800.000 1.800.000 2.000.000 575.000 2.445.000 175.000 9 18.750.000 6.500.000 1.912.500 1.912.500 1.000.000 2.875.000 2.604.167 1.937.500 10 25.500.000 8.125.000 1.800.000 1.800.000 2.000.000 2.300.000 1.200.000 3.975.000 11 18.750.000 6.500.000 1.687.500 1.687.500 1.250.000 1.437.500 2.875.000 2.437.500 12 27.083.333 6.500.000 1.687.500 1.687.500 1.250.000 1.437.500 7.500.000 645.833 13 34.000.000 10.400.000 1.800.000 1.800.000 750.000 287.500 5.375.000 575.000 14 25.000.000 6.500.000 2.025.000 2.025.000 1.250.000 287.500 11.875.000 3.778.125 15 27.200.000 11.200.000 1.440.000 1.440.000 575.000 8.000.000 160.000 16 25.000.000 6.500.000 2.700.000 2.700.000 - 10.416.667 1.191.667 17 42.857.143 7.428.571 900.000 900.000 1.000.000 1.150.000 7.250.000 4.107.143 18 17.500.000 10.400.000 1.800.000 1.800.000 750.000 287.500 7.800.000 4.270.000 19 16.250.000 6.500.000 1.800.000 1.800.000 750.000 287.500 5.700.000 1.210.000 20 22.500.000 6.500.000 1.800.000 1.800.000 750.000 287.500 5.933.333 2.691.667 21 8.750.000 6.500.000 1.800.000 1.800.000 750.000 862.500 5.918.750 2.293.750 22 18.750.000 6.500.000 1.575.000 1.575.000 1.000.000 575.000 6.200.000 1.835.000 23 28.500.000 6.500.000 1.800.000 1.800.000 750.000 575.000 6.857.143 2.753.571 24 30.000.000 6.500.000 1.800.000 4.200.000 750.000 287.500 8.000.000 3.058.333 25 20.000.000 6.093.750 562.500 1.687.500 625.000 718.750 9.375.000 1.151.563 26 10.500.000 6.864.000 1.296.000 1.296.000 960.000 1.104.000 6.600.000 500.000 27 18.000.000 8.125.000 3.375.000 2.250.000 1.437.500 6.125.000 3.843.750 28 17.500.000 7.231.250 1.125.000 2.250.000 1.250.000 - 11.312.500 5.625.000 29 19.500.000 6.241.667 1.080.000 1.080.000 600.000 - 4.093.750 2.208.333 30 20.000.000 7.787.500 2.250.000 2.250.000 1.250.000 1.150.000 3.718.750 585.938 Perekat 313.158 266.667 256.000 318.750 212.500 425.000 533.333 150.000 213.333 40.000 600.000 200.000 600.000 288.000 220.000 133.333 914.286 990.000 160.000 266.667 200.000 320.000 342.857 266.667 200.000 660.000 500.000 687.500 825.000 375.000 TK 7.764.474 17.625.000 8.592.000 7.696.875 15.450.000 29.925.000 15.237.500 3.150.750 7.750.000 12.285.000 9.590.625 3.968.750 8.021.250 6.607.500 6.070.500 6.845.000 10.366.071 5.356.500 8.602.500 8.443.750 6.543.750 9.495.000 8.255.357 10.850.000 8.128.125 4.740.000 10.106.250 12.965.625 9.225.000 9.839.063 120 Lampiran 8. Biaya Input Petani Kentang Varietas Atlantic pada Musim Hujan 2011 – 2012 di Desa Cigedug (Rp/Ha) No Benih P. Kandang ZA TSP KCl Mutiara Phonska Fungisida Insektisida 1 31.250.000 8.750.000 2.250.000 2.250.000 - 1.150.000 20.625.000 4.212.500 2 31.250.000 13.125.000 1.800.000 1.800.000 - 1.150.000 18.760.000 1.540.000 3 31.250.000 13.125.000 1.800.000 1.800.000 - 1.150.000 18.760.000 1.780.000 4 26.562.500 8.750.000 - 2.250.000 1.000.000 5.250.000 - 13.000.000 8.120.000 5 23.437.500 8.750.000 900.000 1.800.000 1.000.000 - 1.150.000 7.250.000 5.339.286 6 28.125.000 10.500.000 981.818 1.472.727 545.455 2.545.455 - 10.909.091 2.613.636 7 22.500.000 6.720.000 1.382.400 1.382.400 192.000 662.400 5.800.000 1.400.000 8 28.409.091 6.363.636 1.227.273 1.227.273 363.636 627.273 6.051.136 3.136.364 9 26.041.667 7.291.667 2.250.000 2.250.000 1.250.000 958.333 11.666.667 3.843.750 10 21.875.000 7.656.250 1.575.000 1.575.000 875.000 301.875 20.156.250 1.312.500 11 25.000.000 8.750.000 450.000 900.000 - 3.500.000 - 10.500.000 2.085.000 12 23.437.500 9.183.673 1.377.551 1.377.551 - 1.173.469 15.943.878 1.589.286 13 23.437.500 6.300.000 1.500.000 2.250.000 833.333 - 1.437.500 8.575.000 375.000 14 15.625.000 6.125.000 1.575.000 1.575.000 500.000 - 2.875.000 10.500.000 1.467.500 15 21.875.000 7.000.000 1.012.500 2.025.000 1.125.000 - 7.875.000 1.550.000 16 21.875.000 8.750.000 750.000 375.000 416.667 958.333 8.750.000 1.483.333 17 15.625.000 6.125.000 1.575.000 1.575.000 500.000 - 2.875.000 14.000.000 1.467.500 18 34.218.750 7.000.000 1.012.500 1.687.500 750.000 - 8.875.000 2.937.500 19 19.531.250 7.000.000 1.147.500 1.530.000 637.500 733.125 11.675.000 2.718.750 20 26.562.500 8.750.000 1.800.000 1.800.000 1.000.000 - 1.150.000 17.666.667 4.537.500 21 31.250.000 7.700.000 2.025.000 2.025.000 500.000 - 1.150.000 16.500.000 1.250.000 22 18.750.000 7.000.000 720.000 2.160.000 920.000 14.038.462 480.769 23 14.285.714 5.000.000 964.286 1.928.571 821.429 8.857.143 1.035.714 24 28.125.000 8.750.000 1.125.000 2.250.000 1.250.000 - 6.766.667 3.020.833 25 25.000.000 7.000.000 720.000 1.440.000 800.000 - 4.030.000 1.620.000 26 15.625.000 8.750.000 1.350.000 2.250.000 1.000.000 - 7.875.000 2.177.500 27 16.875.000 8.750.000 1.800.000 1.800.000 1.000.000 - 1.150.000 5.200.000 1.537.500 28 25.000.000 8.750.000 1.800.000 1.800.000 1.000.000 - 1.150.000 6.916.667 1.708.333 29 25.000.000 6.222.222 1.800.000 1.800.000 2.000.000 287.500 7.958.333 2.875.000 30 25.000.000 6.222.222 1.800.000 1.800.000 2.000.000 287.500 16.000.000 3.250.000 Perekat 2.053.125 1.440.000 1.610.000 1.383.333 800.000 1.500.000 558.000 500.000 1.145.833 793.750 400.000 1.178.571 300.000 487.500 275.000 441.667 487.500 400.000 687.500 1.875.000 1.650.000 798.077 114.286 733.333 825.000 400.000 300.000 500.000 666.667 533.333 TK 6.155.625 7.782.000 7.054.500 8.457.000 11.298.214 8.867.045 7.033.500 9.937.500 11.540.625 8.714.063 10.113.750 11.641.071 8.115.000 8.816.250 10.635.000 9.081.250 9.588.750 9.243.750 12.328.125 6.937.500 11.647.500 8.503.846 6.401.786 8.261.250 6.061.500 8.741.250 9.975.000 14.850.000 12.106.250 16.150.000 121 Lampiran 9. Penerimaan Diperhitungkan dan Tunai Petani Kentang Varietas Granola dan Varietas Atlantic pada Musim Hujan 2011 – 2012 (Rp/Ha) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Penerimaan Diperhitungkan Varietas Granola Varietas Atlantic Bibit Konsumsi Bibit Konsumsi 12.500.000 631.579 6.250.000 247.500 25.000.000 2.083.333 10.000.000 247.500 1.000.000 10.000.000 247.500 15.000.000 925.000 17.000.000 198.000 2.812.500 17.857.143 707.143 65.000.000 8.750.000 9.090.909 450.000 1.583.333 10.000.000 198.000 4.000.000 525.000 450.000 18.750.000 833.333 12.500.000 515.625 25.000.000 1.125.000 464.063 62.500.000 1.187.500 433.125 20.833.333 833.333 618.750 50.000.000 1.125.000 8.333.333 4.125.000 18.000.000 437.500 433.125 11.700.000 190.000 433.125 13.333.333 250.000 4.166.667 618.750 42.857.143 1.428.571 10.000.000 618.750 10.000.000 1.500.000 6.187.500 20.000.000 800.000 37.500.000 1.237.500 11.250.000 1.166.667 12.500.000 618.750 625.000 20.000.000 742.500 33.750.000 825.000 475.962 28.571.429 607.143 530.357 83.333.333 1.250.000 8.333.333 412.500 45.000.000 1.062.500 10.000.000 247.500 32.000.000 700.000 6.250.000 309.375 62.500.000 1.125.000 495.000 56.250.000 1.125.000 50.000.000 1.237.500 20.833.333 875.000 4.166.667 721.875 28.125.000 546.875 45.833.333 1.443.750 Penerimaan Tunai Varietas Granola AL A B 54.000.000 27.000.000 4.500.000 60.000.000 12.000.000 8.000.000 42.000.000 20.160.000 2.940.000 61.512.500 14.843.750 2.137.500 40.781.250 21.750.000 3.625.000 61.250.000 14.000.000 4.500.000 15.200.000 14.000.000 1.500.000 26.250.000 16.875.000 1.350.000 50.000.000 18.750.000 4.166.667 67.500.000 22.500.000 5.000.000 71.487.500 13.437.500 4.837.500 41.666.667 25.000.000 4.166.667 70.875.000 16.875.000 2.250.000 35.000.000 22.400.000 4.000.000 38.000.000 25.200.000 2.000.000 38.250.000 14.025.000 3.187.500 65.000.000 17.410.714 2.321.429 36.000.000 13.200.000 3.400.000 19.200.000 12.000.000 4.500.000 37.187.500 21.250.000 3.825.000 14.625.000 17.062.500 3.656.250 30.937.500 18.750.000 3.375.000 40.800.000 15.000.000 4.000.000 44.625.000 9.350.000 3.825.000 25.500.000 13.200.000 2.400.000 37.800.000 17.640.000 1.800.000 60.243.750 12.431.250 4.781.250 37.800.000 13.650.000 2.800.000 67.375.000 13.750.000 4.583.333 39.375.000 14.062.500 3.375.000 Varietas Atlantic Standard dan Oversize 111.375.000 123.750.000 123.750.000 148.500.000 141.428.571 90.000.000 79.200.000 78.750.000 139.218.750 69.609.375 99.000.000 123.750.000 94.875.000 74.250.000 74.250.000 55.687.500 123.750.000 111.375.000 61.875.000 123.750.000 123.750.000 123.750.000 53.035.714 90.750.000 56.925.000 74.250.000 99.000.000 123.750.000 86.625.000 99.000.000 122 RINGKASAN SYIFA MAULIA. Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. (Di bawah bimbingan HARMINI) Kentang merupakan salah satu komoditas sayuran yang menjadi prioritas pengembangan oleh pemerintah. Tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) memiliki prospek dalam menunjang program diversifikasi pangan dan bahan baku industri. Pada perkembangannya, mulai tahun 2006 hingga 2011 produktivitas kentang di Indonesia menunjukkan tren menurun (Ditjenhorti 2012). Hal tersebut juga terjadi di Desa Cigedug yang menjadi salah satu daerah penghasil kentang di Kabupaten Garut. Desa Cigedug juga merupakan salah satu desa yang telah menjalin kemitraan dalam bentuk usaha pertanian kontrak (contract farming) dengan PT Indofood Fritolay Makmur (PT IFM). Varietas yang digunakan dalam usaha pertanian kontrak adalah varietas Atlantic, sedangkan varietas Granola digunakan oleh petani yang tidak tergabung dalam usaha pertanian kontrak. Perbedaan harga yang ditawarkan pada kedua varietas dimana harga ratarata kentang varietas Granola relatif lebih rendah dibandingkan dengan kentang varietas Atlantic menjadi salah satu permasalahan usahatani kentang di Desa Cigedug. Selain itu, harga jual kentang varietas Granola cenderung berfluktuatif dikarenakan mengikuti harga pasar, sedangkan pada varietas Atlantic harga jual tetap sesuai dengan harga kontrak dengan PT IFM yang berlaku. Permasalahan lainnya adalah produktivitas kentang yang pernah dicapai Desa Cigedug hingga saat ini belum mencapai produktivitas potensialnya. Produktivitas aktual pada tahun 2011 sebesr 18 ton/ha (BP3K Cigedug 2012), padahal produktivitas potensial kentang yang dapat dicapai varietas Granola maupun Atlantic sebesar 30 ton/ha (Samadi 2007). Hal ini erat kaitannya dengan penggunaan faktor produksi yang mempengaruhi jumlah produksi dalam suatu kegiatan usahatani. Penggunaan faktor produksi perlu diperhatikan dalam kegiatan usahatani agar penggunaannya tidak berlebihan dan sesuai dengan kaidah standar operasional prosedur (SOP). Penggunaan faktor produksi yang berlebihan tentunya akan membuat petani mengeluarkan biaya yang besar pula, sedangkan kurangnya penggunaan faktor produksi diduga dapat menurunkan hasil. Harga jual dan produktivitas kentang yang dihasilkan pada akhirnya mempengaruhi pendapatan usahatani kentang baik varietas Granola maupun varietas Atlantic. Tujuan penelitian ini adalah (1) Menganalisis pendapatan usahatani kentang varietas Granola (noncontract farming) maupun varietas Atlantic (contract farming) di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut dan (2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut pada bulan Mei 2012. Data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder. Jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah 60 orang yang terdiri dari 30 responden varietas Granola dan 30 responden varietas Atlantic. Metode yang digunakan adalah metode Snowball Sampling. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis deskriptif i kualitatif meliputi keragaan usahatani dan faktor-faktor produksi yang digunakan dalam usahatani kentang. Analisis data secara kuantitatif antara lain analisis pendapatan usahatani, R/C rasio, dan fungsi produksi Cobb-Douglas untuk menganalisis faktor apa saja yang berpengaruh secara nyata dan tidak nyata terhadap produktivitas kentang. Data yang dianalisis secara kuantitatif akan diolah dengan bantuan program Microsoft Office Excel 2007 dan MINITAB 14. Berdasarkan hasil analisis pendapatan usahatani kentang antara varietas Granola dan varietas Atlantic yang dilakukan petani respnden di Desa Cigedug secara umum dinyatakan menguntungkan dan layak untuk diusahakan. Hal ini dapat ditunjukkan dari pendapatan rata-rata atas biaya total yang dicapai petani responden varietas Granola adalah Rp 33.256.875,51 per hektar dan varietas Atlantic Rp 42.206.449,23 per hektar. Hal tersebut menunjukkan bahwa penerimaan yang diperoleh petani responden dalam mengusahakan kentang dapat menutupi biaya usahatani yang dikeluarkan sehingga usahatani kentang ini menguntungkan untuk diusahakan Berdasarkan model fungsi Cobb-Douglas diperoleh nilai R-sq sebesar 53,7 persen yang berarti bahwa variabel bebas seperti jumlah benih, penggunaan dummy varietas, jumlah pupuk kandang, unsur Nitrogen, unsur Fosfat, unsur Kalium, fungisida, insektisida, perekat, dan tenaga kerja dapat menjelaskan sebesar 53,7 persen variabel tidak bebas (produktivitas), dan sisanya sebesar 46,3 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model (komponen error). Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang yaitu penggunaan varietas, jumlah pupuk kandang, unsur Fosfat, unsur Kalium, perekat, dan tenaga kerja. Sementara itu, jumlah benih, unsur Nitrogen, fungisida, dan insektisida tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas kentang sehingga penambahan ataupun pengurangan yang dilakukan tidak membawa perubahan terhadap produktivitas kentang. Berdasarkan hasil analisis pendapatan usahatani dan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi, disarankan (1) Ketika harga jual kentang varietas Granola turun, petani sebaiknya memberikan nilai tambah pada kentang varietas Granola dengan mengolahnya menjadi produk lain seperti tepung, kerupuk, dan pati sehingga petani mendapat tambahan pendapatan, (2) Petani dapat mengurangi penggunaan faktor produksi yang secara nyata tidak mempengaruhi produktivitas kentang sehingga petani dapat menghemat biaya yang dikeluarkan dalam usahatani kentang, (3) PT Indofood Fritolay Makmur sebaiknya mengembangkan pembibitan lokal seperti yang telah dilakukan di daerah Malang, agar dapat mengurangi pasokan impor bibit kentang varietas Atlantic dan meminimalisasi keterlambatan benih di tingkat petani akibat adanya proses karantina, dan (4) Untuk menegaskan perjanjian kontrak, ada baiknya pihak vendor PT Indofood Fritolay Makmur membuat kontrak dengan petani mitra menggunakan materai agar dapat meningkatkan komitmen di kedua belah pihak. ii
Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut Analisis Biaya Usahatani Kentang Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang Analisis Fungsi Produksi Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang 1. Uji Penyimpangan Asumsi Analisis Pendapatan Usahatani Kentang Analisis Pendapatan Usahatani Metode Pengolahan dan Analisis Data Analisis Penerimaan Usahatani Kentang Budidaya Kentang Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut Jumlah Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel Karakteristik Petani Varietas Granola dan Atlantic Kajian Penelitian Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kajian Penelitian Pendapatan Usahatani Kajian Penelitian Usaha Pertanian Kontrak Contract Farming Kegiatan Pemasaran Kentang Keragaan Usahatani Kentang 1. Kegiatan Budidaya Kentang Keragaan Usaha Pertanian Kontrak Contract Farming Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut Kesimpulan Saran Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Konsep Pendapatan Usahatani Kerangka Pemikiran Teoritis 1. Konsep Usahatani Konsep Usaha Pertanian Kontrak Contract Farming Latar Belakang Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut Lokasi dan Waktu Penelitian Jenis dan Sumber Data Penggunaan Sarana Produksi Kentang Pengujian Hipotesis Metode Pengolahan dan Analisis Data Perumusan Masalah Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Ruang Lingkup Penelitian Gambaran Umum Kentang
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Analisis Pendapatan Usahatani dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kentang di Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut

Gratis