Feedback

Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia

Informasi dokumen
ANALISIS DAYASAING DAN STRATEGI PENGEMBANGAN MINYAK SAWIT DAN TURUNANNYA DI INDONESIA SKRIPSI JAUHAR SAMUDERA NAYANTAKANINGTYAS H34080128 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 A RINGKASAN JAUHAR SAMUDERA NAYANTAKANINGTYAS. Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan HENY K. DARYANTO) Minyak sawit merupakan produk utama pada perkebunan kelapa sawit. Dalam kurun waktu 1980 - 2012, pertumbuhan produksi minyak sawit Indonesia rata-rata per tahun adalah sebesar 10,13 persen. Indonesia dan Malaysia merupakan produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Pada tahun 2010, kedua negara ini memproduksi 46,7 juta ton minyak sawit atau 85,22 persen produksi minyak sawit dunia. Pada tahun 2010, 57,97 persen ekspor minyak sawit Indonesia masih berupa minyak sawit mentah (Crude Palm Oil), dan 42,03 persen dalam bentuk produk olahan sederhana yang berupa olein/minyak goreng dan oleokimia dasar. Pada tahun 2011, nilai ekspor produk hilir dari minyak sawit Indonesia adalah sebesar US$ 8.484.231.868 dan masih kalah dengan Malaysia yang sudah sebesar US$ 13.650.379.875. Indonesia saat ini baru menghasilkan 23 jenis produk hilir minyak sawit dari sekitar 100 produk hilir minyak sawit yang berupa pangan maupun nonpangan. Sebagian besar CPO yang diolah di dalam negeri masih berupa produk bernilai tambah rendah yakni minyak goreng, sehingga dengan semakin kompetitifnya persaingan di pasar global ini, penting untuk mengetahui dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia pada pasar internasional dan merumuskan strategi pengembangan minyak sawit dan turunannya di Indonesia. Penelitian ini mengkaji komoditi minyak sawit yang berupa Crude Palm Oil (CPO) dengan kode HS 1511100000 dan minyak sawit lainnya (Palm oil or fractions simply refined) dengan kode HS 1511900000 Lingkungan internal penelitian ini merupakan kegiatan dan pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan pengolahan minyak sawit. Sementara itu, lingkungan eksternal merupakan kegiatan dan pihakpihak yang berada di luar kegiatan pengolahan minyak sawit. Data yang digunakan sebagian besar merupakan data sekunder, dan sisanya diperoleh dari wawancara. Alat yang digunakan adalah Sistem Berlian Porter, Revealed Comparative Advantage, Matriks SWOT dan Arsitektur Strategik. Hasil analisis dayasaing kompetitif menggunakan Sistem Berlian Porter menunjukkan dayasaing minyak sawit dan turunannya sudah kuat. Selain itu, hasil analisis dayasaing komparatif minyak sawit menggunakan Revealed Comparative Advantage menunjukan bahwa minyak sawit Indonesia sudah berdayasaing kuat. Hal ini ditunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2001-2011, nilai indeks RCA CPO dan palm oil or fractions simply refined Indonesia selalu lebih dari satu. Namun untuk nilai indeks RCA dengan HS 1511900000 masih lebih rendah dibandingkan dengan nilai indeks RCA Malaysia. Strategi peningkatan dayasaing yang dihasilkan melalui analisis Matriks SWOT antara lain: pengembangan sistem pemasaran produk industri CPO, pengembangan industri hilir serta peningkatan nilai tambah minyak sawit, pengembangan SDM pelaku industri minyak sawit dengan pelatihan dan kegiatan inovasi, menambah dan memperbaiki infrastruktur yang ada, meningkatkan B ekspor produk hilir, memperhatikan isu nasional dan internasional dengan memperbaiki kebijakan pemerintah, memanfaatkan ekspor hulu ke negara yang lebih membutuhkan produk hulu, misalnya India, dan meningkatkan pola kerjasama dengan produsen negara lain melalui promosi penjualan. Kemudian, strategi yang telah dihasilkan dipetakan ke dalam rancangan arsitektur strategik, sehingga dihasilkan rancangan arsitektur strategik minyak sawit Indonesia. C ANALISIS DAYASAING DAN STRATEGI PENGEMBANGAN MINYAK SAWIT DAN TURUNANNYA DI INDONESIA JAUHAR SAMUDERA NAYANTAKANINGTYAS H34080128 Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 D Judul Skripsi : Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia Nama : Jauhar Samudera Nayantakaningtyas NIM : H34080128 Disetujui, Pembimbing Dr. Ir. Heny K. Daryanto, M.Ec NIP 19610916 198901 2 001 Diketahui Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP 19580908 198403 1 002 Tanggal Lulus : E PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia” adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, Desember 2012 Jauhar Samudera Nayantakaningtyas H34080128 F RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Jauhar Samudera Nayantakaningtyas, dilahirkan di kota Yogyakarta pada tanggal 9 Agustus 1990. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Ayah Santosa dan Ibu Muhibah Azhar. Pada tahun 2002, penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Catur Tunggal III Depok Sleman. Kemudian penulis melanjutkan pendidikannya ke SMP Negeri 1 Yogyakarta dan pindah ke SMP Negeri 30 Padang pada tahun 2003. Pada tahun 2005, penulis berhasil menyelesaikan pendidikannya di sekolah menengah pertama lalu melanjutkan pendidikannya ke SMA Negeri 4 Padang. Pada tahun 2008, penulis lulus dan melanjutkan pendidikannya di Institut Pertanian Bogor. Penulis berhasil diterima menjadi mahasiswa di Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) pada tahun 2008. Selama masa pendidikan di IPB, penulis merupakan pengurus Himpunan Profesi Mahasiswa Peminat Agribisnis, dan menjabat sebagai sekretaris pada Department of Public Relation and Information Media periode 2009-2010 dan menjadi ketua Department of Public Relation and Information Media periode 2010-2011. G KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Allah SWT atas segala berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dayasaing minyak sawit Indonesia di pasar internasional dan merumuskan strategi yang tepat dan dapat digunakan untuk meningkatkan dayasaing minyak sawit tersebut. Penulis berharap, semoga skripsi ini dapat berguna bagi pengambil kebijakan, instansi serta lembaga terkait sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan terkait dengan dayasaing minyak sawit di era globalisasi. Selain itu, penulis juga berharap skripsi ini dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membacanya dan juga dapat bermanfaat bagi semua pihak Bogor, Desember 2012 Jauhar Samudera Nayantakaningtyas H UCAPAN TERIMAKASIH Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan kemudahankemudahan kepada penulis dari awal penyusunan hingga akhir penyelesaian skripsi ini. Selain itu, penulis juga ingin menyampaikan terimakasih kepada : 1. Dr. Ir. Heny K. Daryanto, M.Ec selaku pembimbing akademik dan juga dosen pembimbing skripsi. Terima kasih atas bimbingan, arahan, dukungan, waktu dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama menempuh perkuliahan di IPB dan juga dalam penyusunan skripsi ini. 2. Dr. Amzul Rifin, SP, MA selaku penguji utama dan Anita Primaswari Widhiani, SP, M.Si selaku dosen penguji perwakilan Komisi Pendidikan yang telah memberikan saran serta masukan untuk perbaikan skripsi penulis. 3. Ayah dan Ibu tercinta, Prof. Dr. Ir. Santosa, MP dan Muhibah Azhar atas segala doa, kasih sayang, bimbingan dan dukungan yang diberikan kepada penulis. Semoga ini bisa menjadi salah satu persembahan terbaik. 4. Adik tersayang, Fahmi Salam Ahmad atas segala doa dan dukungannya. 5. Prof. Dr. Ir. Endang Gumbira Sa’id, MADev (Ketua Masyarakat Perkelapa-Sawitan Indonesia) sebagai pembimbing eksternal penulis yang telah memberikan banyak masukan, saran, informasi dan pengarahan mengenai industri minyak sawit di Indonesia. 6. Feryanto W. Karo-Karo, SP, M.Si yang telah memberikan banyak pencerahan bagi penulis dalam penyusunan skripsi, serta seluruh dosen dan staf Departemen Agribisnis yang telah menjadi keluarga bagi penulis di Bogor. 7. Nora Asfia atas segala doa dan dukungannya yang diberikan pada penulis. 8. Sahabat seperjuangan, Tubagus Fazlurrahman, Rendi Seftian, Vaudhan Fuady, Frandy Taqwa Subakhtiar, Firman Raditya, Agung Purwa Nugraha, Luky Rizki Nugraha, Yulius Randy Rumbayan, Putri Nursakinah, Herawati, Layra Nichi Sari, Nezi Hidayani, Afrisya Meizi, I Gebry Ayu Diwandari, Fithria Rahmadhani, Aklima Dhiska Suwanda, Anisa Roseriza, dan teman-teman Agribisnis angkatan 45 atas semangat kekeluargaan dan doanya selama kuliah di Agribisnis IPB. 9. Serta seluruh pihak, yang tidak dapat disebutkan satu per satu, yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini, terima kasih atas bantuannya. Bogor, Desember 2012 Jauhar Samudera Nayantakaningtyas J DAFTAR ISI DAFTAR TABEL ………………………………………………………. Halaman iii DAFTAR GAMBAR …………………………………………………... iv DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………….... v PENDAHULUAN …………………………………………………. 1.1. Latar Belakang …………………………………………………. 1.2. Perumusan Masalah ……………………………………………. 1.3. Tujuan Penelitian ………………………………………………. 1.4. Manfaat Penelitian ……………………………………………... 1.5. Ruang Lingkup Penelitian ……………………………………... 1 1 3 4 4 5 I. II. TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………… 2.1. Industri Minyak Sawit dan Turunannya ………………………... 2.2. Pengembangan Industri Minyak Sawit di Indonesia ………….... 2.3. Penelitian Terdahulu ……………………………………………. 2.3.1. Dayasaing Komoditas Indonesia …………………………. 2.3.2. Strategi Pengembangan Komoditas ………………………. 6 6 7 9 9 11 III. KERANGKA PEMIKIRAN ………………………………………. 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ………………………………….... 3.1.1. Konsep Dayasaing ………………………………………... 3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ………………………………. 14 14 14 21 IV. METODE PENELITIAN ………………………………………….. 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ……………………………………. 4.2. Data dan Instrumentasi ………………………………………….. 4.3. Metode Pengumpulan Data ……………………………………… 4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data ………………………….. 4.4.1. Analisis Revealed Comparative Advantage ………………. 4.4.2. Analisis Berlian Porter ……………………………………. 4.4.3. Analisis SWOT …………………………………………… 4.4.4. Arsitektur Strategik ……………………………………….. 24 24 24 24 25 25 26 27 29 V. DAYASAING MINYAK SAWIT INDONESIA ………………….. 5.1. Analisis Komponen Sistem Berlian Porter ………………………. 5.1.1. Kondisi Faktor Sumberdaya ………………………………. 5.1.2. Kondisi Permintaan Domestik …………………………….. 5.1.3. Industri Terkait dan Pendukung …………………………… 5.1.4. Persaingan, Struktur dan Strategi Industri CPO …………… 5.1.5. Peran Pemerintah …………………………………………... 5.1.6. Peran Kesempatan …………………………………………. 5.2. Keterkaitan Antar Komponen Utama Sistem Berlian Porter …….. 5.3. Keterkaitan Komponen Pendukung Sistem Berlian Porter ………. 5.4. Analisis Keunggulan Komparatif ………………………………… 31 31 31 41 47 52 63 66 67 70 75 i VI. STRATEGI PENGEMBANGAN DAN ARSITEKTUR STRATEGIK MINYAK SAWIT INDONESIA …………………. 6.1. Analisis Strategi Pengembangan Minyak Sawit Indonesia …….. 6.1.1. Identifikasi Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman ……………………………………………… 6.1.2. Analisis Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman ….. 6.1.3. Perumusan Matriks SWOT Minyak Sawit Indonesia ….... 6.2. Rancangan Arsitektur Strategik …………………………………. 78 78 78 79 84 90 VII KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………………... 7.1. Kesimpulan ………………………………………………………. 7.2. Saran ……………………………………………………………… 96 96 97 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………. 98 LAMPIRAN ……………………………………………………………… 101 ii DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1. Jenis Industri Berbasis Minyak sawit dan Nilai Tambahnya …. 8 2. Luas Areal dan Produksi Minyak Sawit (CPO) pada Perkebunan Rakyat, Negara, dan Swasta Menurut Propinsi dan Keadaan Tanaman, 2010 ………………………………….. 32 Potensi Pengembangan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia ……………………………………………………. 33 Tingkat Produktivitas Lahan Kelapa Sawit Pada Perkebunan di Indonesia Tahun 2010 ………………………………………. 34 Penyerapan Tenaga Kerja Industri Minyak Sawit Indonesia Tahun 2010 ……………………………………………………. 36 Komposisi Ekspor dan Konsumsi CPO Domestik Tahun 2000 - 2010 ……………………………………………. 43 Volume dan Nilai Ekspor Minyak Sawit (CPO) Menurut Negara Tujuan dan Asal, 2010 ………………………………... 45 8. Distribusi Pabrik Minyak Goreng di Indonesia ……………….. 48 9. Kapasitas Produksi Industri Oleokimia di Indonesia …………. 49 10. Produsen Biodiesel di Indonesia dan Kapasitas Produksinya … 50 11. Produksi Minyak Nabati Dunia, 1980-2009 ………………….. 53 12. Produksi Minyak Sawit Dunia, 1980-2009 (dalam ton) ……… 54 13. Keterkaitan Antar Komponen Utama ………………………… 68 14. Keterkaitan Antar Komponen Penunjang dengan Komponen Utama ……………………………………………. 71 15. Identifikasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman ….. 79 16. Matriks SWOT Industri Minyak Sawit Nasional …………….. 85 17. Program Pengembangan dan Peningkatan Dayasaing Minyak Sawit Indonesia ……………………………………… 92 3. 4. 5. 6. 7. iii DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1. Kerangka Pemikiran Operasional ……………………………... 23 2. The Complete System of National Competitive Advantage ....…. 27 3. Matriks SWOT ……………………………………………….... 28 4. Persentase Penggunaan CPO di Indonesia …………………….. 42 5. Volume Ekspor CPO Indonesia Tahun 1980 – 2010 …………... 44 6. Nilai Ekspor CPO Indonesia Tahun 1980 – 2010 …………….... 45 7. Harga Minyak Sawit Dunia, Januari 2000 s/d September 2012 ... 46 8. Saluran Pemasaran Minyak Sawit Indonesia Pada Perkebunan Negara ……………………………………………... 51 Saluran Pemasaran Minyak Sawit Indonesia Pada Perkebunan Swasta …………………………………………….. 51 9. 10. Keterkaitan Antar Komponen Sistem Berlian Porter …………… 74 11. Nilai Indeks RCA CPO Indonesia dan Malaysia, 2001 – 2011 ..... 76 12. Nilai Indeks RCA Produk Turunan CPO Indonesia dan Malaysia Tahun 2001 – 2011 ……………………………………………… 77 13. Rancangan Arsitektur Strategik Industri Minyak Sawit Indonesia ………………………………………………………... 95 iv DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Neraca Perdagangan Pertanian Tahun 2006-2010 (US$ 000) …. 102 2. Volume Ekspor Komoditas Perkebunan Indonesia Tahun 2009 – 2011 (Ton) ……………………………………… 103 3. Nilai Ekspor Komoditas Perkebunan Indonesia Tahun 2009 – 2011 (000 US$) …………………………………. 103 4. Luas Areal Kelapa Sawit Menurut Pengusahaan Tahun 1980 - 2012 ……………………………………………… 104 5. Produksi Minyak Sawit (CPO) Menurut Pengusahaan Tahun 1980 - 2012 ……………………………………………... 105 6. Grafik Total Produksi Minyak Sawit Dunia dan Negara Produsen Utama, 1995 - 2010 …………………………………. 106 7. Ekspor Minyak Sawit Indonesia Tahun 2010 …………………. 107 8. Pohon Industri Minyak Sawit Mentah (Crude Palm Oil) ……... 108 9. Jumlah Industri Pengolahan Kelapa Sawit di Indonesia dan Kapasitas Produksinya ………………………………………… 109 10. Standar Kualitas CPO Berdasarkan SNI ………………………. 110 11. Penetapan Harga Patokan Ekspor Atas Barang Ekspor Yang Dikenakan Bea Keluar …………………………………... 111 12. Industri Minyak Goreng Sawit di Indonesia …………………… 113 13. Perhitungan Nilai RCA CPO Indonesia dan Malaysia Tahun 2001 – 2010 …………………………………………….. 115 14. Perhitungan Nilai RCA Palm Oil or Fractions Simply Refined Indonesia dan Malaysia, 2001 – 2010 ………………………….. 116 v I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Subsektor perkebunan merupakan subsektor yang memegang peranan penting bagi perekonomian nasional. Dibandingkan dengan subsektor lain dalam sektor pertanian, subsektor perkebunan merupakan kontributor devisa tertinggi. Dalam neraca perdagangan pertanian periode 2006-2010, menunjukkan bahwa subsektor perkebunan mengalami surplus perdagangan dengan pertumbuhan ratarata sebesar 22,43 persen per tahun (Lampiran 1). Subsektor perkebunan juga memainkan peranan penting melalui kontribusinya dalam PDB, penerimaan ekspor, penyediaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, dan pembangunan wilayah di luar Jawa (Dirjenbun 2011). Pemerintah melalui Kementerian Pertanian periode 2010-2014 menetapkan beberapa komoditas perkebunan sebagai komoditas unggulan nasional. Komoditas unggulan nasional ini merupakan komoditas yang menjadi prioritas untuk dikembangkan dalam periode pembangunan pertanian di masa yang akan datang. Pengembangan komoditas ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas, perolehan devisa atau ekspor, substitusi produk impor serta untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Salah satu komoditas perkebunan yang termasuk ke dalam komoditas unggulan nasional adalah kelapa sawit.1 Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyai peran penting bagi subsektor perkebunan. Pada tahun 2010, 75,65 persen dari volume ekspor komoditas perkebunan adalah kelapa sawit yaitu sebanyak 20.394.174 ton disusul oleh karet sebanyak 2.067.312 ton, dan kelapa sebanyak 957.517 ton (Lampiran 2). Dilihat dari nilai ekspor komoditas perkebunan, kelapa sawit juga merupakan komoditas utama perkebunan. Pada tahun 2010, nilai ekspor kelapa sawit sebesar US$ 15.413.640.000, disusul oleh karet sebesar US$ 7.470.112.000 dan kakao US$ 1.643.773.000 (Lampiran 3). Pengembangan kelapa sawit di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup pesat sejak tahun 1970 terutama periode 1980-an. Di Indonesia terdapat 1 Komoditas unggulan nasional yang berasal dari subsektor perkebunan terdiri dari kelapa sawit, 1 tiga pelaku perkebunan kelapa sawit, yaitu Perkebunan Besar Negara (PBN), Perkebunan Besar Swasta (PBS) dan Perkebunan Rakyat (PR). Data dari Direktorat Jenderal Perkebunan (2011) menunjukkan pada tahun 1980 luas areal kelapa sawit adalah 294.560 ha dan pada tahun 2010 luas areal perkebunan kelapa sawit sudah mencapai 8.385.394 ha dimana 52,07 persen dimiliki oleh PBS, 40,39 persen dimiliki oleh PR, dan 7,54 persen dimiliki oleh PBN (Lampiran 4). Dalam kurun waktu 1980 - 2012, pertumbuhan produksi minyak sawit rata-rata per tahun adalah sebesar 10,13 persen, dimana pada tahun 2006 merupakan tingkat pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 31,64 persen dan tahun 2009 merupakan pertumbuhan terendah yaitu sebesar -0,71 persen (Lampiran 5). Sebagian besar hasil produksi minyak sawit di Indonesia merupakan komoditi ekspor. Pangsa ekspor minyak sawit hingga tahun 2008 mencapai 60 persen total produksi. India adalah negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia, yaitu 47,09 persen dari total ekspor minyak sawit, kemudian diikuti oleh Malaysia sebesar 13,97 persen, dan Belanda 10,05 persen (Dirjenbun 2011). Pangsa produksi CPO Indonesia di pasar internasional senantiasa menunjukkan tren peningkatan. Total produksi minyak sawit dunia pada 2010 sebesar 46,7 juta ton, dimana Indonesia dan Malaysia menguasai 85,22 persen produksi minyak sawit dunia. Pangsa CPO Indonesia sebesar 22,1 juta ton sedangkan Malaysia sebesar 17,7 juta ton (Lampiran 6). Indonesia memang unggul dalam hal ekspor CPO dibandingkan dengan Malaysia. Namun, dalam hal industri hilir minyak sawit Indonesia kalah telak dibandingkan dengan Malaysia. Sejak tahun 1996, Malaysia telah mengembangkan industri hilir minyak sawit yang menghasilkan produk hilir minyak sawit dengan nilai tambah yang tinggi dibandingkan dengan melakukan ekspor minyak sawit mentah (CPO) (Rasiah 2006). Dengan mempertimbangkan kondisi persaingan, maka penting untuk mengetahui bagaimana dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia pada pasar internasional kemudian merumuskan strategi-strategi untuk mengembangkan industri minyak sawit Indonesia dalam rangka peningkatan dayasaing tersebut. 2 1.2. Perumusan Masalah Minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) merupakan salah satu hasil olahan tanaman kelapa sawit yang bernilai tinggi dan mempunyai peran strategis dalam perekonomian nasional. Perkembangan masa depan minyak sawit juga menjanjikan. Minyak sawit diperkirakan akan mampu memenuhi tuntutan pemenuhan kebutuhan global dan domestik, yaitu minyak sawit untuk pangan (food), makanan ternak (feed), bahan bakar nabati atau biodiesel (biofuel), dan serat (biofibre) atau 4-F. Tuntutan kebutuhan di atas muncul sejalan dengan pertumbuhan penduduk, kenaikan konsumsi per kapita, pergeseran dari konsumsi minyak jenuh hewan, pergeseran penggunaan bahan bakar dari minyak fosil berlatarbelakang tuntutan lingkungan, substitusi pakan ternak dan serat (Direktorat Pangan dan Pertanian 2010). Perubahan tren inilah yang mendorong adanya pengembangan industri hilir minyak sawit yang menghasilkan produk hilir minyak sawit dengan nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan dengan minyak sawit mentah. Indonesia dan Malaysia merupakan produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Pada tahun 2010, kedua negara ini memproduksi 46,7 juta ton minyak sawit atau 85,22 persen produksi minyak sawit dunia (Lampiran 6). Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan (2011) menunjukkan bahwa 57,97 persen ekspor minyak sawit Indonesia masih berupa CPO, dan 42,03 persen dalam bentuk produk olahan sederhana yang berupa olein/minyak goreng dan oleokimia dasar (Lampiran 7). Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih mengandalkan ekspor minyak sawit yang masih belum diolah dan industri hilir atau industri turunan produk minyak sawit masih terbatas. Kondisi ini sangat berbeda dengan yang terjadi di Malaysia. Industri minyak sawit Malaysia berkembang lebih dahulu dibandingkan dengan Indonesia. Sejak tahun 1996, Malaysia sudah mulai melakukan klustering industri minyak sawit dan pengembangan industri hilir minyak sawit. (Rasiah 2006). Pada tahun 2011, nilai ekspor produk hilir dari minyak sawit Indonesia adalah sebesar US$ 8.484.231.868 dan masih kalah dengan Malaysia yang sudah sebesar US$ 13.650.379.875 (UNCOMTRADE 2012). 3 Indonesia saat ini baru menghasilkan 23 jenis produk hilir minyak sawit dari sekitar 100 produk hilir minyak sawit yang berupa pangan maupun nonpangan. Pemanfaatan CPO untuk produk olahan diantaranya yaitu oleh industri pangan (minyak goreng, margarin, shortening, cocoa butter substitutes, vegetable ghee) dan industri nonpangan seperti oleokimia (fatty acid, fatty alcohol, gliserin) dan biodiesel (Departemen Perindustrian 2009). Selain itu, sebagian besar CPO yang diolah di dalam negeri masih berupa produk bernilai tambah rendah yakni minyak goreng (Ramadhan 2011), sehingga dengan semakin kompetitifnya persaingan di pasar global dan juga sesuai dengan program peningkatan nilai tambah, dayasaing dan ekspor yang tercantum dalam Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2010-2014, maka penting untuk mengetahui dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia dan rumusan strategi yang mampu meningkatkan dayasaing tersebut. Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan penelitian ini adalah : 1. Bagaimana dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia pada pasar internasional? 2. Bagaimana rumusan strategi yang tepat untuk meningkatkan dayasaing tersebut? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Menganalisis dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia pada pasar internasional. 2. Merumuskan strategi pengembangan minyak sawit Indonesia. 1.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak terkait, diantaranya : 1. Bagi pengambil kebijakan, instansi serta lembaga terkait lainnya diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan terkait dengan dayasaing minyak sawit dan turunannya di era globalisasi. 4 2. Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai tambahan informasi, literatur, dan bahan bagi penelitian selanjutnya. 1.5. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini mengkaji komoditi minyak sawit yang berupa Crude Palm Oil (CPO) dengan kode HS 1511100000 dan minyak sawit lainnya (Palm oil or fractions simply refined) dengan kode HS 1511900000. Lingkungan internal pada penelitian ini merupakan industri pengolahan minyak sawit Indonesia dan lingkungan eksternal merupakan bagian lain di luar pengolahan minyak sawit ditambah dengan lingkungan global. Pada beberapa bahasan penulis sulit memberi batasan antara komoditi kelapa sawit, industri minyak sawit dan industri hilir minyak sawit dikarenakan ketiga hal ini saling mendukung dan terkait. Selain itu, untuk mengetahui sejauh apa keterkaitan tersebut, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Berdasarkan hal-hal tersebut maka akan dirumuskan strategi yang dapat diterapkan untuk pengembangan minyak sawit dan turunannya di Indonesia yang selanjutnya dipetakan ke dalam suatu arsitektur strategis. 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Industri Minyak Sawit dan Turunannya Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan tanaman keras (tahunan) berasal dari Afrika yang bisa tumbuh dan berbuah hingga ketinggian tempat 500 meter di atas permukaan laut. Kelapa sawit mulai menghasilkan pada umur 3 tahun dengan usia produktif hingga 25 – 30 tahun dan tingginya dapat mencapai 24 meter. (Pahan 2011) Tetapi untuk perkebunan, umur ekonomis kelapa sawit adalah 25 –35 tahun, dengan tinggi pohon berkisar antara 10 - 11 m.2 Bagian tanaman kelapa sawit yang bernilai ekonomis tinggi adalah buahnya yang tersusun dalam sebuah tandan, biasa disebut dengan TBS (tandan buah segar). Buah sawit dibagian sabut (daging buah) menghasilkan minyak sawit kasar (crude palm oil atau CPO) sebanyak 20-24 persen. Sementara itu, bagian inti kelapa sawit menghasilkan minyak inti sawit (palm kernel oil atau PKO) sebanyak 3-4 persen (Sunarko 2008). Minyak sawit dan minyak inti sawit umumnya digunakan untuk pangan dan nonpangan. Dalam produksi pangan, minyak sawit dan minyak inti sawit digunakan sebagai bahan untuk membuat minyak goreng, lemak pangan, margarin, lemak khusus (substitusi cacao butter), kue, biskuit, dan es krim. Dalam produksi nonpangan, minyak sawit dan minyak inti sawit digunakan sebagai bahan untuk membuat sabun, detergen, surfakat, pelunak (plasticizer), pelapis (surface coating), pelunas, sabun metalik, bahan bakar mesin diesel, dan kosmetika (Sunarko 2008). Hingga saat ini terdapat sekitar 23 jenis produk turunan CPO yang telah diproduksi di Indonesia. Dengan pengolahan CPO ini menjadi berbagai produk turunan, maka akan memberikan nilai tambah lebih besar lagi bagi negara karena harga relatif mahal dan stabil. Penggunaan CPO untuk industri hilirnya di Indonesia saat ini masih relatif rendah yaitu baru sekitar 35% dari total produksi (Kementerian Perindustrian 2012). Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) sebagaimana dituangkan dalam Kebijakan Pembangunan Industri Nasional menetapkan bahwa 2 Tim Dosen Mata Kuliah Ilmu Tanaman Perkebunan. 2011. Handout Mata Kuliah Ilmu Tanaman Perkebunan : Ekofisiologi Kelapa Sawit. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Faperta, IPB (tidak dipublikasikan). 6 industri berbasis CPO sebagai prioritas yang pengembangannya dapat dilakukan dengan pendekatan klaster. Berdasarkan road map pengembangan klaster industri prioritas Tahun 2010-2014 dalam hal pengelompokan Industri Pengolahan Kelapa Sawit yang diterbitkan oleh Departemen Perindustrian (2009) adalah sebagai berikut: 1. Kelompok Industri Hulu Perkebunan kelapa sawit menghasilkan buah kelapa sawit / tandan buah segar (hulu) kemudian diolah menjadi minyak sawit mentah (hilir perkebunan sawit dan hulu bagi industri yang berbasiskan CPO). 2. Kelompok Industri Antara Dari minyak sawit (CPO) dapat diproduksi berbagai jenis produk antara sawit yang digunakan sebagai bahan baku bagi industri hilirnya baik untuk kategori pangan ataupun nonpangan. Diantara kelompok industri antara sawit termasuk didalamnya industri olein, stearin, oleokimia dasar (fatty acid, fatty alcohol, fatty amines, methyl esther, glycerol) 3. Kelompok Industri Hilir Dari produk antara sawit dapat diproduksi berbagai jenis produk yang sebagian besar adalah produk yang memiliki pangsa pasar potensial, baik untuk pangsa pasar dalam negeri maupun pangsa pasar ekspor. Pengembangan industri hilir sawit perlu dilakukan mengingat nilai tambah produk hilir sawit yang tinggi. Jenis industri hilir minyak sawit spektrumnya sangat luas, hingga lebih dari 100 produk hilir yang telah dapat dihasilkan pada skala industri. Namun baru sekitar 23 jenis produk hilir (pangan dan nonpangan) yang sudah diproduksi secara komersial di Indonesia. 2.2. Pengembangan Industri Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia Departemen Pertanian (2007) menyatakan bahwa produksi CPO Indonesia yang diolah di dalam negeri sebagian besar masih dalam bentuk produk antara seperti RBD palm oil, stearin dan olein, yang nilai tambahnya tidak begitu besar dan baru sebagian kecil yang diolah menjadi produk-produk oleokimia dengan nilai tambah yang cukup tinggi. Industri olahan minyak sawit terbesar di 7 Indonesia adalah industri minyak goreng. Industri minyak goreng yang diproses lewat refineri membutuhkan bahan baku CPO sekitar 4 hingga 5 juta ton setiap tahunnya. Saat ini tercatat Indonesia memiliki 94 refineri yang tersebar di 19 propinsi. Industri refinasi ini hanya menghasilkan nilai tambah yang relatif kecil tetapi kapasitas terpasang industri ini sudah terlalu besar (Kementerian Perindustrian 2011). Kondisi sebaliknya terjadi pada industri oleokimia dasar (fatty acid, fatty alcohol, methyl esther, dan glycerine) masih relatif kecil padahal nilai tambahnya cukup besar. Hingga saat ini, di Indonesia tercatat sembilan produsen oleokimia dasar yang memproduksi fatty acid, fatty alcohol dan glycerine. Kapasitas terpasang fatty acid mencapai 986.000 ton/tahun, fatty alohol mencapai 490.000 ton/tahun dan glycerine mencapai 141.700 ton/tahun. Industri biodiesel atau methyl esther di Indonesia dimiliki oleh 20 produsen dengan total kapasitas terpasang mencapai 3,07 juta ton/tahun (Dewan Minyak Sawit Indonesia 2010). Produk-produk yang dapat dihasilkan dari minyak sawit sangat luas. Hal ini terlihat dari pohon industri minyak sawit mentah (CPO) yang tersaji pada Lampiran 8. Selain itu, pada Tabel 1 dijabarkan tentang jenis industri dan nilai tambahnya. Tabel 1. Jenis Industri Berbasis Minyak sawit dan Nilai Tambahnya No Produk 1 2 3 4 Olein & Stearin Fatty acids Ester Surfactant/emulsifier 5 Sabun mandi 6 7 Lilin Kosmetik (lotion, cream), bedak, shampoo Bahan baku CPO CPO, PKO,katalis Palmitat,Miristat Stearat, Oleat,sorbitol, gliserol CPO, PKO, NaOH, pewarna, parfum Stearat Surfaktan, ester, amida Tingkat Teknologi Menengah Tinggi Tinggi Tinggi Pertambahan Nilai 20% 50% 150% 200% Sederhana 300% Sederhana Sederhana 300% 600% Sumber : Departemen Pertanian (2007) 8 2.3. Penelitian Terdahulu 2.3.1. Dayasaing Komoditas Indonesia Febriyanthi (2008) melakukan penelitian tentang dayasaing ekspor komooditi teh Indonesia di pasar internasional. Alat yang digunakan untuk meneliti dayasaing teh adalah Revealed Comparative Advantage (RCA), sementara Teori Berlian Porter digunakan untuk menganalisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi keunggulan komoditi suatu negara. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa struktur pasar yang dihadapi teh Indonesia dalam pasar teh internasional, adalah pasar persaingan oligopoli dan pasar persaingan monopoli. Posisi Indonesia di masing-masing pasar tersebut adalah market follower. Akibatnya Indonesia sangat rentan terhadap adanya kekuatan pesaingpesaing yang kuat, seperti Sri Langka, Kenya, Cina dan India. Berdasarkan analisis keunggulan komparatif, Indonesia memiliki dayasaing yang kuat. Namun dilihat dari keunggulan kompetitif, Indonesia masih berdayasaing lemah. Secara garis besar hal ini menunjukkan bahwa dayasaing Indonesia di pasar internasional masih lemah. Namun, dalam penelitiannya Febriyanthi (2008) belum melakukan analisis keterkaitan antar komponen yang menentukan dayasaing suatu negara (competitive advantage of nations). Analisis keunggulan komparatif dengan metode RCA menunjukkan bahwa komoditas teh Indonesia yang berdayasaing kuat adalah teh hijau kode HS 090210 dan teh hitam kode HS 090240 dikarenakan keunggulan komparatif yang dimiliki kedua produk itu dan nilai ekspor yang cukup tinggi, serta pangsa pasar yang luas. Sari (2008) melakukan penelitian tentang analisis dayasaing dan strategi ekspor kelapa sawit (CPO) Indonesia di pasar internasional. Dalam penelitiannya, analisis yang dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan analisis pangsa pasar dan Revealed Comparative Advantage (RCA), sedangkan analisis kualitatif dengan menggunakan analisis SWOT. Dari hasil perhitungan, didapatkan bahwa pangsa pasar Indonesia berada pada posisi teratas kemudian disusul Malaysia dan Kolombia. Indonesia menguasai pangsa pasar dari tahun 2000 sampai dengan 2005, walaupun besarnya pangsa pasar Indonesia berfluktuasi tetapi cenderung tetap mengalami kenaikan. CPO Indonesia juga memiliki keunggulan komparatif yang tinggi. Hal ini 9 ditunjukkan nilai Revealed Comparative Advantage (RCA) yang lebih dari satu. Kemudian, kendala dalam pemasaran dan produksi CPO Indonesia secara umum adalah kebijakan pemerintah yang menghambat, nilai (value) dan produktivitas yang rendah, tingginya biaya ekspor, penyelundupan CPO. Maka dari itu, strategi yang perlu dilakukan untuk mengembangkan dayasaing ekspor CPO Indonesia adalah meningkatkan mutu, produksi hulu maupun hilir, penambahan dan perbaikan infrastruktur dan penataan kebijakan pemerintah mengenai pajak ekspor kelapa sawit. Cahya (2010) melakukan penelitian tentang dayasaing ikan tuna Indonesia di pasar internasional. Metode pengolahan data yang digunakan antara lain Herfindahl Index (HI), Concertation Ratio (CR), Revealed Comparative Advantage (RCA), Teori Berlian Porter, dan Analisis SWOT. Hasil analisis kompetitif ikan tuna Indonesia melalui Teori Berlian Porter menunjukkan bahwa ikan tuna Indonesia belum memiliki keunggulan kompetitif. Keadaan sumberdaya faktor (alam, manusia, iptek, modal, dan infrastrukutur) masih mengalami banyak masalah, kondisi permintaan di dalam dan luar negeri cukup baik, keberadaan industri terkait dan pendukung belum cukup baik untuk menunjang keadaan ikan tuna nasional. Struktur persaingan ikan tuna di pasar internasional sangat ketat terkait munculnya pesaing baru terkait adanya teknologi budidaya, posisi tawar pembeli dan pemasok yang cukup tinggi, adanya produk substitusi seperti ikan salmon, dan negara pesaing yang terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya. Peran pemerintah sudah cukup baik namun masih perlu ditingkatkan terkait dengan perbaikan kondisi faktor sumberdaya yang menjadi masalah utama dalam pengembangan ikan tuna nasional. Peran kesempatan yang ada seperti penemuan teknologi budidaya dan adanya perdagangan bebas dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan dayasaing ikan tuna nasional. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian lainnya adalah dalam penelitian ini dilakukan penentuan posisi komparatif Indonesia sebagai produsen minyak sawit dibandingkan negara lainnya dengan menggunakan Revealed Comparative Advantage. Selain itu ada analisis komponen-komponen penentu dayasaing suatu komoditas serta keterkaitan antar komponen tersebut dengan menggunakan Porter’s Diamond Theory. Ditambah lagi, penelitian ini juga dilengkapi dengan 10 analisis pengembangan industri minyak sawit di Indonesia dengan menggunakan analisis SWOT dan dipetakan dalam bentuk arsitektur strategi yang selanjutnya analisis tersebut dapat digunakan sebagai informasi dalam membuat strategi pengembangan industri minyak sawit di Indonesia untuk meningkatkan dayasaing minyak sawit Indonesia. 2.3.2. Strategi Pengembangan Komoditas Cahyani (2008) melakukan penelitian mengenai dayasaing dan strategi pengembangan agribisnis gula Indonesia. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa hasil peramalan menunjukkan konsumsi gula Indonesia sampai tahun 2025 terjadi peningkatan. Sedangkan produksi gula cenderung konstan. Hal tersebut menunjukkan bahwa produksi gula dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Selain itu, jika dilihat dari tiap komponen dayasaing agribisnis gula, terdapat keterkaitan antar komponen yang saling mendukung dan tidak saling mendukung. Namun, keterkaitan yang tidak saling mendukung lebih dominan dalam penelitian ini. Hal ini menyebabkan dayasaing agribisnis gula Indonesia masih lemah. Beberapa strategi yang dirumuskan untuk meningkatkan dayasaing agribisnis gula diantaranya adalah mengoptimalkan sumberdaya yang ada, pengembangan produk hasil samping pengolahan gula, peningkatan kualitas dan efisiensi produksi gula, meningkatkan kinerja usahatani dengan penerapan teknologi on farm, penguatan kelembagaan, menjaga ketersediaan pasokan tebu, pengaturan produksi dan impor gula rafinasi, menciptakan lembaga permodalan bagi petani dan industri gula, rehabilitasi sarana prasarana penunjang pabrik gula, penataan varietas dan pembibitan, mengatur ketersediaan pupuk dan bibit dalam waktu, jumlah, jenis, dan harga yang tepat, pengembangan industri gula di luar Jawa, perbaikan manajemen tebang muat angkut (TMA), mencari teknik budidaya yang sesuai untuk lahan bukan sawah, rehabilitasi tanaman tebu keprasan (bongkar ratoon). Cahyani (2008) juga merumuskan rancangan arsitektur strategik agribisnis gula di Indonesia. Puspita (2009) melakukan penelitian mengenai dayasaing serta pengembangan agribisnis gandum lokal di Indonesia. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa dalam sistem agribisnis gandum lokal di Indonesia, masing- 11 masing subsistem agribisnis belum saling mendukung dan terkait satu sama lain. Hal ini terlihat pada subsistem agribisnis hulu yang belum terbentuk sehingga sarana produksi berupa benih masih sulit diperoleh. Selain itu, kegiatan usahatani juga belum mampu mendukung subsistem agribisnis hilir yang telah berkembang. Strategi yang digunakan untuk mengembangkan dan mengingkatkan dayasaing agribisnis gandum lokal diantaranya adalah optimalisasi lahan gandum lokal, membangun industri berbasis gandum lokal di pedesaan, penguatan kelembagaan, melakukan bimbingan, pembinaan dan pendampingan bagi petani, membentuk kerjasama antara petani dengan industri makanan, menciptakan sumber permodalan bagi petani, mengatur ketersediaan benih, menciptakan varietas gandum baru untuk dataran rendah dan medium, melakukan sosialisasi dan promosi agribisnis gandum lokal, pembatasan volume impor, menciptakan produk olahan gandum lokal berkualitas tinggi untuk pasar tertentu serta meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi gandum lokal. Puspita (2009) juga merumuskan rancangan arsitektur strategik agribisnis gandum lokal di Indonesia. Nurunisa (2011) melakukan penelitian mengenai dayasaing dan strategi pengembangan agribisnis teh Indonesia. Analisis dayasaingnya menggunakan Sistem Berlian Porter menunjukan bahwa komponen faktor sumberdaya dan komponen komposisi permintaan domestik, serta komponen faktor sumberdaya dengan komponen industri terkait dan industri telah saling mendukung, sementara komponen lainnya belum saling mendukung. Selain itu, apabila dilihat dari komponen pendukungnya, komponen peranan pemerintah baru memiliki keterkaitan yang mendukung dengan komponen faktor sumberdaya saja, sementara komponen peranan kesempatan telah mampu mendukung semua komponen utama. Strategi peningkatan dayasaing yang dihasilkan melalui analisis Matriks SWOT lebih mengarah kepada strategi peningkatan kinerja petani teh rakyat, yaitu dengan meningkatkan posisi tawar petani melalui penguatan kelompok tani dan dukungan dari adanya asosiasi dan Dewan Teh Indonesia. Sementara untuk perkebunan besar negara dan swasta strategi lebih mengarah kepada peningkatan produksi dan diversifikasi produk, khususnya untuk produk teh tujuan ekspor. Permasalahan lain yang menjadi fokus strategi adalah permasalahan yang terkait dengan konsumsi teh, strategi yang digunakan lebih 12 diutamakan kepada peningkatan upaya promosi yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai teh dan manfaatnya. Kemudian, strategi yang telah dihasilkan dipetakan ke dalam rancangan arsitektur strategik, sehingga dihasilkan rancangan arsitektur strategik agribisnis teh Indonesia. Sari (2011) melakukan penelitian mengenai dayasaing dan strategi pengembangan kedelai lokal di Indonesia. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa dalam sistem agribisnis kedelai lokal di Indonesia, masing-masing subsistem agribisnis belum saling mendukung dan terkait satu sama lain. Hasil analisis Sistem Berlian Porter menunjukkan bahwakomponen utama agribisnis kedelai lokal di Indonesia dayasaingnya lemah, namun dayasaing agribisnis kedelai lokal di Indonesia tersebut sangat didukung oleh komponen pendukungnya. Pada komponen peranan pemerintah ternyata kebijakan dan sikap yang diberikan pemerintah terhadap agribisnis kedelai lokal di Indonesia telah mendukung seluruh komponen dalam agribisnis kedelai di Indonesia. Begitu juga dengan komponen kesempatan yang memberikan dukungan terhadap seluruh komponen dalam agribisnis kedelai di Indonesia. Beberapa alternatif strategi digunakan untuk mengembangkan dan mengingkatkan dayasaing agribisnis kedelai lokal di Indonesia. Rancangan arsitektur strategik dibuat berdasarkan perumusan strategi pengembangan agribisnis kedelai lokal di Indonesia. Persamaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian terdahulu adalah pada metode yang digunakan. Perbedaan penelitian ini dengan penelitianpenelitian terdahulu adalah pada komoditi yang diteliti. Penelitian ini menganalisis dayasaing minyak sawit Indonesia dan juga berusaha untuk merumuskan strategi pengembangan industri minyak sawit Indonesia. 13 III. 3.1. KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Dayasaing Dayasaing merupakan kemampuan usaha suatu industri untuk menghadapi berbagai lingkungan kompetitif. Dayasaing dapat diartikan sebagai kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu produk dengan biaya yang cukup rendah sehingga pada harga-harga yang terjadi di pasar internasional kegiatan produksi tersebut menguntungkan (Simanjuntak 1992 diacu dalam Siregar 2009). Dayasaing juga mengacu pada kemampuan suatu negara untuk memasarkan produknya yang dihasilkan negara itu relatif terhadap kemampuan negara lain.3 Konsep dayasaing pada tingkat nasional adalah produktivitas. Kemampuan untuk menghasilkan suatu standar kehidupan yang tinggi dan meningkat bagi para warga tergantung pada produktivitas dimana tenaga kerja dan modal suatu negara digunakan. Produktivitas adalah nilai output yang diproduksi oleh suatu unit tenaga kerja atau modal. Produktivitas tergantung baik pada kualitas dan penampilan produk (yang menentukan harga yang dapat mereka minta) maupun pada efisiensi di mana produk dihasilkan. Produktivitas adalah penentu utama dari standar hidup negara yang berjangka panjang, produktivitas adalah akar penyebab pendapatan per kapita nasional. Produktivitas sumberdaya manusia menentukan upah karyawan, produktivitas dimana modal digunakan, dan return yang diperolehnya untuk para pemegang sahamnya (Cho dan Moon 2003). Pendekatan yang sering digunakan untuk mengukur dayasaing suatu komoditi dilihat dari dua indikator yaitu keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif. 3.1.1.1. Keunggulan Kompetitif Keunggulan kompetitif (competitive advantage) merupakan alat yang digunakan untuk mengukur dayasaing suatu aktivitas berdasarkan pada kondisi perekonomian aktual. Konsep keunggulan kompetitif dikembangkan pertama kali oleh Porter (1990). Menurut Porter (1990), terdapat empat faktor utama yang menentukan dayasaing suatu industri yaitu kondisi faktor sumberdaya, kondisi 3 Bappenas. 2012. Daya Saing. http://www.bappenas.go.id [Diakses pada 8 Juli 2012] 14 permintaan, kondisi industri pendukung dan industri terkait serta kondisi struktur, persaingan dan strategi perusahaan. Keempat faktor tersebut didukung oleh faktor kesempatan dan faktor pemerintah dalam meningkatkan keunggulan dayasaing industri. Faktor-faktor tersebut menghasilkan suatu lingkungan dimana suatu perusahaan lahir dan belajar bagaimana bersaing. Faktor-faktor tersebut membentuk suatu sistem yaitu The Diamond of National Advantage. Setiap poin dalam berlian tersebut mempengaruhi keberhasilan suatu negara dalam mendapatkan keunggulan bersaing di pasar internasional. Komponen dalam Sistem Berlian Porter dijelaskan sebagai berikut: 1) Kondisi Faktor Sumberdaya Posisi Indonesia berdasarkan sumberdaya yang dimiliki merupakan faktor produksi yang diperlukan untuk bersaing dalam industri CPO. Faktor produksi digolongkan ke dalam lima kelompok: a) Sumberdaya Fisik atau Alam Sumberdaya fisik atau sumberdaya alam yang mempengaruhi dayasaing nasional mencakup biaya, aksestabilitas, mutu dan ukuran lahan (lokasi), ketersediaan air, mineral, dan energi sumberdaya perkebunan kelapa sawit. Begitu juga kondisi cuaca dan iklim, luas wilayah geografis, kondisi topografis dan lain-lain. b) Sumberdaya Manusia Sumberdaya manusia yang mempengaruhi dayasaing industri CPO nasional terdiri dari jumlah tenaga kerja yang tersedia, kemampuan manajerial dan keterampilan yang dimiliki, biaya tenaga kerja yang berlaku (tingkat upah), dan etika kerja (termasuk moral). c) Sumberdaya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Sumberdaya IPTEK mencakup ketersediaan pengetahuan pasar, pengetahuan teknis dan pengetahuan ilmiah yang menunjang dan diperlukan dalam memproduksi CPO. Begitu juga ketersediaan sumber-sumber pengetahuan dan teknologi, seperti perguruan tinggi, lembaga penelitian dan pengembangan, asosiasi pengusaha, asosiasi perdagangan dan sumber pengetahuan dan teknologi lainnya. 15 d) Sumberdaya Modal Sumberdaya modal yang mempengaruhi dayasaing CPO nasional terdiri dari jumlah dan biaya (suku bunga) yang tersedia, jenis pembiayaan (sumber modal), aksesibilitas terhadap pembiayaan, kondisi lembaga pembiayaan dan perbankan, tingkat tabungan masyarakat, peraturan keuangan, kondisi moneter, fiskal serta peraturan moneter dan fiskal. e) Sumberdaya Infrastruktur Sumberdaya infrastruktur yang mempengaruhi dayasaing CPO nasional terdiri dari ketersediaan, jenis, mutu dan biaya penggunaan infrastruktur yang mempengaruhi persaingan. Termasuk sistem transportasi, komunikasi, pos, giro, pembayaran transfer dana, air bersih, energi listrik dan lain-lain. 2) Kondisi Pemintaan Kondisi permintaan dalam negeri merupakan faktor penentu dayasaing industri CPO Indonesia, terutama mutu permintaan domestik. Mutu permintaan domestik merupakan sasaran pembelajaran perusahaan-perusahaan domestik untuk bersaing di pasar global. Mutu permintaan (persiapan yang ketat) di dalam negeri memberikan tantangan bagi setiap perusahaan untuk meningkatkan dayasaingnya sebagai tanggapan terhadap mutu persaingan di pasar domestik. Ada tiga faktor kondisi permintaan yang mempengaruhi dayasaing industri nasional yaitu: a) Komposisi Permintaan Domestik Karakteristik permintaan domestik sangat mempengaruhi dayasaing industri nasional. Karakteristik tersebut meliputi: i) Struktur segmen permintaan domestik sangat mempengaruhi dayasaing nasional. Pada umumnya perusahaan-perusahaan lebih mudah memperoleh dayasaing pada struktur segmen permintaan yang lebih luas dibandingkan dengan struktur segmen yang sempit. ii) Pengalaman dan selera pembeli yang tinggi akan meningkatkan tekanan kepada produsen untuk menghasilkan produk yang bermutu dan memenuhi standar yang tinggi yang mencakup standar mutu produk, product features dan pelayanan. 16 iii)Antisipasi kebutuhan pembeli yang baik dari perusahaan dalam negeri merupakan suatu poin dalam memperoleh keunggulan bersaing. b) Jumlah Permintaan dan Pola Pertumbuhan Jumlah atau besarnya permintaan domestik mempengaruhi tingkat persaingan dalam negeri, terutama disebabkan oleh pembeli bebas, tingkat pertumbuhan permintaan domestik, timbulnya permintaan baru dan kejenuhan permintaan lebih awal sebagai akibat perusahaan melakukan penetrasi lebih awal. Pasar domestik yang luas dapat diarahkan untuk mendapatkan keunggulan kompetitif dalam suatu industri. Hal ini dapat dilakukan jika industri melakukannya dalam skala ekonomis melalui adanya penanaman modal dengan membangun fasilitas skala besar, pengembangan teknologi dan peningkatan produktivitas. c) Internasionalisasi Pemintaan Domestik Pembeli lokal yang merupakan pembeli dari luar negeri akan mendorong dayasaing industri nasional, karena dapat membawa produk tersebut ke luar negeri. Konsumen yang memiliki mobilitas internasional tinggi dan sering mengunjungi suatu negara juga dapat mendorong meningkatnya dayasaing produk negeri yang dikunjungi tersebut. 3) Industri Terkait dan Industri Pendukung Keberadaan industri terkait dan industri pendukung pada industri CPO yang telah memiliki dayasaing global juga akan mempengaruhi dayasaing industri utamanya. Industri hulu yang memiliki dayasaing global akan memasok input bagi industri utama dengan harga yang lebih murah, mutu yang lebih baik, pelayanan yang cepat, pengiriman tepat waktu dan jumlah sesuai dengan kebutuhan industri utama, sehingga industri tersebut juga akan memiliki dayasaing global yang tinggi. Begitu juga industri hilir yang menggunakan produk industri utama sebagai bahan bakunya. Apabila industri hilir memiliki dayasaing global maka industri hilir tersebut dapat menarik industri hulunya untuk memperoleh dayasaing global. 17 4) Struktur, Persaingan, Strategi Perusahaan Struktur industri juga menentukan dayasaing yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan yang tercakup dalam industri tersebut. Struktur industri yang monopolistik kurang memiliki daya dorong untuk melakukan perbaikanperbaikan serta inovasi-inovasi baru dibandingkan dengan struktur industri yang bersaing. Struktur perusahaan yang berada dalam industri sangat berpengaruh terhadap bagaimana perusahaan yang bersangkutan dikelola dan dikembangkan dalam suasana tekanan persaingan, baik domestik maupun internasional. Dengan demikian secara tidak langsung akan meningkatkan dayasaing global industri yang bersangkutan. a) Struktur Pasar Istilah struktur pasar digunakan untuk menunjukan tipe pasar. Derajat persaingan struktur pasar (degree of competition of market share) dipakai untuk menunjukan sejauhmana perusahaan-perusahaan individual mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga atau ketentuan-ketentuan lain dari produk yang dijual di pasar. Struktur pasar didefinisikan sebagai sifat-sifat organisasi pasar yang mempengaruhi perilaku dan keragaan perusahaan. Jumlah penjual dan keadaan produk (nature of the product) adalah dimensidimensi yang penting dari struktur pasar. Adapula dimensi lainnya yaitu mudah atau sulitnya memasuki industri (hambatan masuk pasar), kemampuan perusahaan mempengaruhi permintaan melalui iklan dan lain-lain. Beberapa struktur pasar yang ada antara lain pasar persaingan sempurna, pasar monopoli, pasar oligopoli, pasar monopsoni dan pasar oligopsoni. Biasanya struktur pasar yang dihadapi suatu industri seperti monopoli dan oligopoli lebih ditentukan oleh kekuatan perusahaan dalam menguasai pangsa pasar yang ada, dibandingkan dengan jumlah perusahaan yang bergerak dalam suatu industri. b) Persaingan Tingkat persaingan dalam industri merupakan salah satu pendorong bagi perusahaan-perusahaan yang berkompetisi untuk terus melakukan inovasi. Keberadaan pesaing lokal yang handal dan kuat merupakan faktor penentu dan sebagai motor penggerak untuk memberikan tekanan pada 18 perusahaan lain dalam meningkatkan dayasaingnya. Perusahaan-perusahaan yang telah teruji pada persaingan ketat dalam industri nasional akan lebih mudah memenangkan persaingan internasional dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang belum memiliki dayasaing yang tingkat persaingannya rendah. c) Strategi Perusahaan Dalam menjalankan suatu usaha, baik usaha yang berskala besar maupun perusahaan berskala kecil, dengan berjalannya waktu, pemilik atau manajer dipastikan mempunyai keinginan untuk mengembangkan usahanya ke dalam lingkup yang lebih besar. Untuk mengembangkan usaha, perlu strategi khusus yang terangkum dalam suatu strategi pengembangan usaha. Dalam penyusunan suatu strategi diperlukan perencanaan yang matang dengan mempertimbangkan semua faktor yang berpengaruh terhadap organisasi atau perusahaan tersebut. 5) Peran Pemerintah Peran pemerintah sebenarnya tidak berpengaruh langsung terhadap upaya peningkatan dayasaing global, tetapi berpengaruh terhadap faktor-faktor penentu dayasaing global. Perusahaan-perusahaan yang berada dalam industri mampu menciptakan dayasaing global secara langsung. Peran pemerintah merupakan fasilitator bagi upaya untuk mendorong perusahaan-perusahaan dalam industri agar senantiasa melakukan perbaikan dan meningkatkan dayasaingnya. Pemerintah dapat mempengaruhi aksesibilitas pelaku-pelaku industri terhadap berbagai sumberdaya melalui kebijakan-kebijakannya, seperti sumberdaya alam, tenaga kerja, pembentukan modal, sumberdaya ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi. Selain itu, Pemerintah juga dapat mempengaruhi tingkat dayasaing melalui kebijakan yang memperlemah faktor penentu dayasaing industri, tetapi pemerintah tidak dapat secara langsung menciptakan dayasaing global namun memfasilitasi lingkungan industri yang mampu memperbaiki kondisi faktor penentu dayasaing, sehingga perusahaan-perusahaan yang berada dalam industri mampu mendayagunakan faktor-faktor penentu tersebut secara efektif dan efisien. 19 6) Peran Kesempatan Peran kesempatan merupakan faktor yang berada di luar kendali industri atau pemerintah, tetapi dapat meningkatkan dayasaing global industri nasional. Beberapa kesempatan yang dapat mempengaruhi naiknya dayasaing industri global nasional adalah penemuan baru yang murni, biaya perusahaan yang tidak berlanjut (misalnya terjadi perubahan harga minyak atau depresiasi mata uang), meningkatkan permintaan produk industri yang bersangkutan lebih tinggi dari peningkatan pasokan, politik yang diambil oleh negara lain serta berbagai faktor kesempatan lainnya. 3.1.1.2. Keunggulan Komparatif Konsep keunggulan komparatif (The Law of Comparative Advantage) pertama kali dikemukakan oleh David Ricardo pada awal abad ke 19. Konsep ini menyatakan bahwa suatu negara yang kurang efisien akan berspesialisasi dalam memproduksi komoditi ekspor pada komoditi yang mempunyai kerugian absolut kecil. Dari komoditi ini negara tersebut mempunyai keunggulan komparatif dan akan mengimpor komoditi yang kerugian absolut lebih besar (Salvatore 1997). Intinya, suatu negara akan memperoleh keuntungan dari perdagangan dengan negara lain bila negara tersebut berspesialisasi dalam komoditi yang dapat diproduksi dengan lebih efisien (mempunyai keunggulan absolut) dan mengimpor komoditi yang kurang efisien (mengalami kerugian absolut) Metode yang dapat digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif adalah dengan menggunakan Balassa’s Revealed Comparative Advantage Index (RCA) - diciptakan oleh Ballasa pada tahun 1965 - yang membandingkan pangsa pasar ekspor sektor tertentu suatu negara dalam pangsa pasar sektor tertentu tersebut di pasar dunia. Indeks RCA ini dapat digunakan untuk mengetahui posisi keunggulan bersaing dari suatu komoditas di pasar internasional dibandingkan dengan negara produsen lainnya. (Serin 2008). Keunggulan menggunakan indeks RCA adalah indeks ini mempertimbangkan keuntungan intrinsik komoditas ekspor tertentu dan konsisten dengan perubahan di dalam suatu ekonomi produktivitas dan faktor anugerah relatif (Bender & Li 2002). Kelemahan indeks RCA ini adalah indeks ini tidak dapat membedakan antara peningkatan di dalam faktor sumberdaya dan penerapan 20 kebijakan perdagangan yang sesuai. Selain itu indeks RCA ini memiliki kelemahan dalam mengukur keunggulan komparatif dari kinerja impor dan mengesampingkan pentingnya permintaan domestik, ukuran pasar domestik dan perkembangannya (Batra & Khan 2005). 3.2. Kerangka Pemikiran Operasional Minyak sawit merupakan salah satu produk primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa nonmigas bagi Indonesia. Industri minyak sawit di Indonesia memiliki peranan yang sangat signifikan dalam perkenomian Indonesia. Minyak sawit diperkirakan akan mampu memenuhi tuntutan pemenuhan kebutuhan global dan domestik, yaitu minyak sawit untuk pangan (food), makanan ternak (feed), bahan bakar nabati atau biodiesel (biofuel), dan serat (biofibre) atau 4-F. Pengembangan industri hilir minyak sawit memberi manfaat antara lain dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, penyerapan tenaga kerja, pengembangan wilayah industri, proses alih teknologi, dan untuk ekspor sebagai penghasil devisa. Data dari Direktorat Jenderal Perkebunan (2011) menunjukkan bahwa 57,97 persen ekspor minyak sawit Indonesia masih berupa CPO, dan 42,03 persen dalam bentuk produk olahan sederhana yang berupa olein/minyak goreng dan oleokimia dasar. Hal inilah yang menyebabkan Indonesia masih kalah bersaing dengan Malaysia yang juga merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Indonesia unggul dalam hal ekspor CPO dibandingkan dengan Malaysia, namun kalah dengan Malaysia dalam hal ekspor produk turunan CPO. Pada tahun 2011, nilai ekspor produk hilir dari minyak sawit Indonesia baru mencapai US$ 8.484.231.868 dan masih kalah dengan Malaysia yang sudah mencapai US$ 13.650.379.875. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih mengandalkan ekspor minyak sawit yang masih belum diolah dan industri hilir atau industri turunan produk minyak sawit masih terbatas. Berbeda dengan Malaysia yang sejak tahun 1996 sudah mulai melakukan klustering industri minyak sawit dan pengembangan industri hilir minyak sawit. Indonesia saat ini baru menghasilkan 23 jenis produk hilir minyak sawit dari sekitar 100 produk hilir minyak sawit yang berupa pangan 21 maupun nonpangan. Selain itu, sebagian besar CPO yang diolah di dalam negeri masih berupa produk bernilai tambah rendah yakni minyak goreng. Gambaran di atas menjadi dasar pemikiran untuk melakukan analisis dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia serta merumuskan strategi pengembangan untuk meningkatkan dayasaing tersebut. Untuk menjelaskan kekuatan dayasaing minyak sawit secara relatif terhadap produk sejenis dari negara lain yang juga menunjukkan posisi komparatif Indonesia sebagai produsen minyak sawit dibandingkan negara lainnya menggunakan Revealed Comparative Advantage. Analisis dayasaing menggunakan Teori Berlian Porter dilakukan dengan tujuan mengetahui kesiapan industri minyak sawit Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Sementara perumusan strategi dilakukan dengan menggunakan alat analisis Matriks SWOT dengan tujuan memperoleh strategi yang mampu mengoptimalkan kekuatan dan segala peluang yang ada sehingga kelemahan dan ancaman yang dihadapi dapat diminimalisir akibatnya. Kemudian strategi dirumuskan berdasarkan analisis SWOT dan selanjutnya dipetakan ke dalam suatu arsitektur strategis. Kerangka pemikiran operasional penelitian ini digambarkan pada Gambar 1. 22 Gambar 1. Kerangka Pemikiran Operasional 23 IV. 4.1. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini membahas tentang dayasaing minyak sawit dengan menganalisis faktor internal dan faktor eksternal industri minyak sawit di Indonesia, serta strategi pengembangan yang dapat dihasilkan untuk meningkatkan dayasaing minyak sawit dan turunannya. Lingkup penelitian ini meliputi analisis dayasaing dan strategi pengembangan minyak sawit dengan skala nasional (makro). Waktu pengambilan data berlangsung dari bulan Juni hingga September 2012. 4.2. Data dan Instrumentasi Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan wawancara mendalam dengan pihakpihak yang terkait dengan penelitian ini yaitu MAKSI, GAPKI, sedangkan data sekunder diperoleh dari Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Pusat Statistik, Kementerian Perindustrian, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Direktorat Pangan dan Pertanian, Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSE-KP), Pusat Data dan Informasi Pertanian, literatur-literatur penelitian terdahulu, buku dan internet. Instrumen atau alat pengumpul data yang digunakan berupa daftar pertanyaan/panduan wawancara yang telah disusun secara tertulis sesuai dengan masalah, alat pencatat, review dokumen dan alat penyimpanan data elektronik. 4.3. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data penelitian dilakukan sendiri oleh peneliti dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara khusus (Elite Interviewing). Wawancara khusus dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam melalui pakar dalam bidang tertentu dengan menganalisis pengaruh kebijakan dan strategi pemerintah serta menciptakan strategi alternatif pada sebuah penelitian (Hochschild 2009). Dalam penelitian ini wawancara khusus ditujukan kepada pakar dalam dunia perminyaksawitan di Indonesia dan studi literatur dari berbagai sumber dan buku serta dengan browsing internet. 24 4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data Metode pengolahan dan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk mengetahui dayasaing minyak sawit di Indonesia, serta untuk menganalisis strategi pengembangan minyak sawit di Indonesia. Untuk menjelaskan kekuatan dayasaing komoditi minyak sawit secara relatif terhadap produk sejenis dari negara lain yang juga menunjukkan posisi komparatif Indonesia sebagai produsen minyak sawit dibandingkan negara lainnya menggunakan Revealed Comparative Advantage. Alat yang digunakan untuk menganalisis dayasaing minyak sawit secara kompetitif di Indonesia adalah Teori Berlian Porter, sedangkan untuk mengetahui strategi pengembangan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dayasaing minyak sawit di Indonesia, digunakan metode SWOT. Kemudian, untuk menyusun dan memetakan strategi pengembangan minyak sawit di Indonesia yang telah diperoleh, digunakan Arsitektur Strategi. 4.4.1. Analisis Revealed Comparative Advantage Analisis Revealed Comparative Advantage Index (RCA) digunakan untuk untuk mengetahui posisi keunggulan komparatif komoditas minyak sawit Indonesia diantara negara-negara produsen lainnya di pasar internasional. Selain itu, indeks ini juga dapat mengukur dayasaing industri suatu negara, apakah industri tersebut cukup tangguh di pasar internasional atau tidak dapat diketahui secara kuantitatif dengan menggunakan indeks ini. Menurut Batra & Khan (2005) indeks RCA dirumuskan sebagai berikut : Dimana: Xij = Nilai ekspor sektor i negara j Xj = Total ekspor dari negara j Xiw = Total ekspor dunia dari sektor i Xw = Total ekspor dunia. RCA didefinisikan bahwa jika pangsa ekspor komoditi minyak sawit didalam total ekspor komoditi dari suatu negara lebih besar dibandingkan pangsa 25 pasar ekspor komoditi minyak sawit didalam total ekspor komoditi dunia, diharapkan negara tersebut memiliki keunggulan komparatif dalam produksi dan ekspor komoditi minyak sawit. Apabila nilai RCA lebih dari satu berarti negara itu mempunyai keunggulan komparatif (di atas rata-rata dunia) untuk komoditi minyak sawit dalam penelitian ini artinya minyak sawit Indonesia berdayasaing kuat. Sebaliknya jika nilai lebih kecil dari satu berarti keunggulan komparatif untuk komoditi minyak sawit rendah (di bawah rata-rata dunia) atau berdayasaing lemah. 4.4.2. Analisis Berlian Porter Dayasaing minyak sawit di Indonesia dapat diketahui dengan menggunakan Teori Berlian Porter. Analisis dilakukan dengan menggunakan tiap komponen dari Teori Berlian Porter (Porter’s Diamond Theory). Sebelum melakukan analisis, dilakukan pengumpulan semua informasi yang berkaitan dengan industri minyak sawit di Indonesia dengan cara studi literatur dari berbagai sumber, wawancara khusus (Elite Interviewing) dengan kelompok elit tertentu dalam dunia perminyaksawitan di Indonesia Menurut Porter (1990) analisis komponen Teori Berlian Porter meliputi hal-hal berikut: 1) Kondisi Faktor Sumberdaya, berupa analisis sumberdaya fisik atau alam, sumberdaya manusia, sumberdaya ilmu pengetahuan dan teknologi, sumberdaya modal, dan sumberdaya infrastruktur. 2) Kondisi Pemintaan, berupa analisis komposisi permintaan domestik, jumlah permintaan dan pola pertumbuhan, serta internasionalisasi pemintaan domestik 3) Industri Terkait dan Industri Pendukung, berupa analisis industri hulu dan industri hilir. 4) Struktur, Persaingan, Strategi Perusahaan, berupa analisis struktur pasar, tingkat persaingan, dan strategi industri. 5) Peran Pemerintah, berupa analisis terhadap kebijakan yang dikeluarkan, penetapan standar produk nasional, dan berbagai kebijakan terkait lainnya. 6) Peran Kesempatan, berupa analisis faktor yang berada di luar kendali industri atau pemerintah. 26 Keterangan : Garis ( _____ ) menunjukkan keterkaitan antara komponen utama yang saling mendukung Garis ( - - - ) menunjukkan keterkaitan antara komponen penunjang yang mendukung komponen utama Gambar 2. The Complete System of National Competitive Advantage Sumber : Porter (1990), Hlm. 127 Melalui Porter’s Diamond System dapat dilihat bagaimana keterkaitan antar komponen, sehingga akan tampak komponen-komponen yang saling mendukung atau tidak saling mendukung. Dayasaing dalam Sistem Berlian Porter dikatakan kuat apabila banyak keterkaitan antar komponen yang saling mendukung, sementara dayasaing dikatakan lemah apabila banyak keterkaitan antar komponen yang tidak saling mendukung (Porter 1990). Hasil keseluruhan interaksi antar komponen yang saling mendukung sangat menentukan perkembangan yang dapat menjadi competitive advantage dari suatu industri. 4.4.3. Analisis SWOT Analisis SWOT digunakan untuk mengetahui faktor internal dan eksternal industri minyak sawit di Indonesia. Faktor internal merupakan kegiatan dan pihakpihak yang terlibat dalam kegiatan pengolahan minyak sawit. Sedangkan faktor eksternal merupakan kegiatan dan pihak-pihak yang berada di luar kegiatan pengolahan minyak sawit, termasuk lingkungan global. Analisis SWOT yang 27 dilakukan menggunakan matriks SWOT akan menghasilkan empat alternatif strategi yang mampu menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dunia perminyaksawitan Indonesia serta kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Berikut ini merupakan matriks SWOT: Strengths (S) 1. 2. Dst Opportunity (O) 1. 2. Dst Weaknesses (W) 1. 2. dst Strategi SO 1. 2. Dst Threats (T) 1. 1. 2. 2. Dst dst Gambar 3. Matriks SWOT Strategi WO 1. 2. dst Strategi ST Strategi WT 1. 2. dst Sumber: David (2004) Tahap analisis dilakukan setelah mengumpulkan semua informasi yang berpengaruh terhadap kelangsungan industri minyak sawit melalui proses identifikasi terhadap peluang, ancaman, kelemahan dan kekuatan. Identifikasi kekuatan dalam analisis keunggulan kompetitif ditunjukan dengan keadaan suatu atribut yang mendukung. Sedangkan kelemahan ditunjukan dengan keadaan atribut yang kurang mendukung. Tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut dalam perumusan strategi dengan menggunakan model SWOT. Dalam menyusun analisis strategi pengembangan minyak sawit Indonesia menggunakan matriks SWOT, penulis berkonsultasi kepada Prof. Dr. Ir. Endang Gumilar Sa’id, MADev yang merupakan Ketua Masyarakat Perkelapa-Sawitan Indonesia. Menurut David (2004), terdapat delapan tahapan dalam membentuk matriks SWOT yaitu: 1. Menentukan faktor-faktor peluang eksternal industri minyak sawit di Indonesia. 2. Menentukan faktor-faktor ancaman eksternal industri minyak sawit di Indonesia. 28 3. Menentukan faktor-faktor kekuatan internal kunci industri minyak sawit di Indonesia. 4. Menentukan faktor-faktor kelemahan internal kunci industri minyak sawit di Indonesia. 5. Menentukan kekuatan internal dengan peluang eksternal untuk mendapatkan strategi S-O. 6. Menyesuaikan kelemahan internal dengan peluang eksternal untuk mendapatkan strategi W-O. 7. Menyesuaikan kekuatan internal dengan ancaman eksternal untuk mendapatkan strategi S-T. 8. Menyesuaikan kelemahan internal dengan ancaman eksternal untuk mendapatkan strategi W-O. 4.4.4. Arsitektur Strategik Strategi yang telah dirumuskan berdasarkan Analisis SWOT, selanjutnya dipetakan ke dalam suatu arsitektur strategik. Arsitektur strategik diciptakan untuk lebih adaptif dan lebih fleksibel di dalam menanggapi suatu perubahan, sehingga dengan diaplikasikannya arsitektur strategik ini, industri akan dengan leluasanya mengembangkan skenario yang diperkirakan akan memuluskan jalan menuju tercapainya visi dan misi industri tersebut. Strategi dengan skenarionya yang dirumuskan kemudian dipetakan ke dalam sebuah cetak biru atau yang lazim disebut sebagai blue print strategy. Blue print strategy ini sepenuhnya disusun guna mendukung tercapainya tujuan (visi) organisasi dalam waktu yang telah ditentukan (Yoshida 2006). Strategi yang akan disusun dengan pendekatan arsitektur strategik disajikan dalam bentuk gambar sehingga mudah untuk dipahami. Teknik penggambaran suatu arsitektur strategi tidak memiliki aturan baku yang menggambarkan susunan strategi. Gambar arsitektur strategi yang akan dibuat merupakan proses berfikir kreatif yang menggabungkan seni dengan hasil strategi yang diperoleh dari tahap pengambilan keputusan. Pendekatan dengan arsitektur strategik disusun dengan memperlihatkan beberapa unsur seperti : visi dan misi industri, analisis lingkungan internal dan eksternal industri, mengetahui dan memahami tantangan industri, dan sasaran yang ingin dicapai. 29 Arsitektur strategik menunjukkan adanya hubungan antara satu strategi dengan strategi lainnya, dimana implementasi satu strategi sangat mempengaruhi implementasi strategi lainnya. Pemetaan strategi ke dalam kanvas arsitektur strategik menjelaskan time-frame implementasi dari masing-masing strategi dalam periode waktu tertentu. Penetapan time-frame implementasi ini didasarkan pada penetapan pencapaian target pemerintah yang selalu dibagi menjadi tiga tahap yaitu jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Dalam menyusun dan menetapkan arsitektur strategik pengembangan minyak sawit Indonesia, penulis berkonsultasi kepada Prof. Dr. Ir. Endang Gumilar Sa’id, MADev. 30 V. DAYASAING MINYAK SAWIT INDONESIA Pada bagian ini, penulis akan membahas mengenai analisis dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia berdasarkan pada komponen penentu dayasaing Sistem Berlian Porter. Komponen-komponen tersebut adalah komponen kondisi faktor sumberdaya, kondisi permintaan domestik, dukungan industri terkait dan industri pendukung minyak sawit serta kondisi struktur, strategi dan persaingan yang dihadapi oleh industri minyak sawit dan turunannya di Indonesia. Selain itu ditinjau pula sejauh apa peranan pemerintah dan kesempatan-kesempatan yang ada dalam meningkatkan posisi dayasaing tersebut. 5.1. Analisis Komponen Sistem Berlian Porter 5.1.1. Kondisi Faktor Sumberdaya Kondisi faktor sumberdaya yang berpengaruh terhadap dayasaing minyak sawit Indonesia adalah sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumberdaya ilmu pengetahuan dan teknologi, sumberdaya modal, dan sumberdaya infrastruktur. Kelima kondisi faktor sumberdaya tersebut dijelaskan sebagai berikut: 1) Sumberdaya Alam atau Fisik a) Kondisi dan Potensi Lahan Perkebunan kelapa sawit saat ini tersebar di 22 propinsi dari 33 propinsi di Indonesia. Dua pulau utama sentra perkebunan kelapa sawit yaitu Sumatera dan Kalimantan menyumbang 96,64 persen luas lahan perkebunan kelapa sawit. Kedua pulau tersebut menghasilkan sekitar 96,99 persen produksi CPO di Indonesia. Di Indonesia terdapat lima propinsi terbesar sebagai sentra usaha perkebunan kelapa sawit, antara lain Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat (Tabel 2). Penyebaran perkebunan kelapa sawit di 22 propinsi menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit memiliki toleransi yang luas pada keragaman agroklimat di daerah tropis. Hampir semua lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia terletak pada ketinggian kurang dari 500 mdpl (di atas permukaan laut). 31 Tabel 2. Luas Areal dan Produksi Minyak Sawit (CPO) pada Perkebunan Rakyat, Negara, dan Swasta Menurut Propinsi dan Keadaan Tanaman, 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Propinsi Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep Bangka Belitung Bengkulu Lampung Pulau Sumatera DKI Jaya Jawa Barat Banten Jawa Tengah D.I. Yogyakarta Jawa Timur Pulau Jawa Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Pulau Kalimantan Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Pulau Sulawesi Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Maluku + Papua Indonesia TBM 81.804 179.746 62.633 377.966 2.140 100.195 203.441 35.669 86.327 33.991 1.163.912 3.288 1.776 5.064 371.568 258.670 124.874 196.563 951.675 8.078 6.410 22.393 1.066 37.947 6.120 4.294 10.414 2.169.012 Luas Areal (Ha) TM TTM 224.884 22.874 843.351 31.752 290.722 57 1.636.299 17.522 6.343 5 384.571 4.145 568.023 6.252 127.827 986 186.984 1.417 121.980 1.431 4.390.984 86.441 8.222 813 11.724 2.234 19.946 3.047 376.639 2.741 652.676 95 227.682 1.168 239.377 10.154 1.496.374 14.158 45.367 1.769 13.362 81 71.308 2.069 24.399 154.436 3.919 29.032 512 17.504 46.536 512 6.108.276 108.077 Jumlah 329.562 1.054.849 353.412 2.031.787 8.488 488.911 777.716 164.482 274.728 157.402 5.641.337 12.323 15.734 28.057 750.948 911.441 353.724 446.094 2.462.207 55.214 19.853 95.770 25.465 196.302 35.664 21.798 57.462 8.385.365 Produksi (Ton) 662.201 3.113.006 962.782 6.358.703 13.367 1.509.560 2.227.963 511.330 689.643 396.587 16.445.142 23.787 25.972 49.759 1.102.860 2.251.077 698.702 800.362 4.853.001 157.257 32.849 285.157 475.263 84.349 50.606 134.955 21.958.120 Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan (2011) Seiring dengan permintaan CPO dunia yang terus meningkat, pemerintah pun berupaya untuk terus memacu produksi CPO dalam negeri. Salah satu langkah yang ditempuh oleh pemerintah adalah pembukaan lahan potensial untuk perkebunan kelapa sawit. Berdasarkan data Departemen Perindustrian tahun 2007, terdapat 15 propinsi yang memiliki lahan potensial untuk dikembangkan menjadi perkebunan kelapa sawit. 32 Tabel 3. Potensi Pengembangan Lahan Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia No Propinsi 1 2 3 4 Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Sumatera Selatan Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Utara Papua Papua Barat Potensi Lahan (ha) 40.000 14.500 30.000 114.000 144.500 58.720 497.427 216.474 652.135 120.298 45.000 74.000 100.000 1.935.000 150.000 Status Lahan Tanah Negara dan Tanah Masyarakat Tanah Ulayat Tanah Masyarakat Tanah Masyarakat dan Tanah Negara yang Sudah Digarap Masyarakat Tanah Masyarakat Tanah Negara dan Tanah Masyarakat Tanah Negara Tanah Negara Tanah Negara dan Tanah Masyarakat Tanah Negara dan Tanah Masyarakat Tanah Negara dan Tanah Masyarakat Tanah Negara Tanah Negara Tanah Negara dan Tanah Ulayat Tanah Negara dan Tanah Ulayat Indonesia 4.192.054 Sumber: Departemen Perindustrian (2007) b) Produktivitas Lahan Tingkat produktivitas lahan untuk tanaman kelapa sawit dapat dilihat dari kemampuan lahan tersebut menghasilkan tandan buah segar (TBS) tiap hektar lahan. Produktivitas berkaitan dengan luas area tanam dan volume produksi yang dihasilkan. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2010, tingkat produktivitas lahan kelapa sawit nasional tertinggi terdapat pada perkebunan besar swasta, yaitu sebesar 3.478 kg/ha disusul perkebunan rakyat sebesar 3.135 kg/ha dan perkebunan besar negara sebesar 2.935 kg/ha. Produktivitas tertinggi terdapat pada perkebunan besar swasta yang berada di Sulawesi Barat sebesar 4.601 kg/ha dan produktivitas terendah terdapat pada perkebunan besar negara yang terletak di Bengkulu yaitu sebesar 1.406 kg/ha. 33 Tabel 4. Tingkat Produktivitas Lahan Kelapa Sawit Pada Perkebunan di Indonesia Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Propinsi Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep. Bangka Belitung Bengkulu Lampung Jawa Barat Banten Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Papua Papua Barat Indonesia Produktivitas (Kg/Ha) Perkebunan Perkebunan Perkebunan Rakyat Besar Negara Besar Swasta 2.581 1.960 3.597 3.402 4.116 3.755 3.286 2.800 3.355 3.852 4.076 3.899 2.162 2.097 3.918 4.454 3.865 4.077 3.679 3.821 2.834 4.186 3.567 1.406 4.188 3.100 3.545 3.354 2.449 4.239 2.138 2.261 2.234 3.728 3.596 2.953 3.512 3.096 1.533 3.103 3.324 3.586 3.327 3.233 3.360 3.604 3.072 1.457 3.245 4.601 3.413 2.887 1.669 3.210 2.597 2.310 3.135 2.935 3.478 Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan (2011) c) Aksesibilitas Terhadap Input Aksesibilitas produsen terhadap input mencerminkan tingkat kemudahan dalam memperoleh input produksi yang dibutuhkan secara kontinu, tepat waktu, tepat jumlah serta tepat jenis. Kemudahan yang dimaksud umumnya menyangkut ketersediaan input di pasar, serta kondisi harga ideal yang dapat dijangkau oleh produsen, serta distribusi input dari pemasok kepada produsen. Aksesibilitas produsen minyak sawit terhadap input tersebut sangat mempengaruhi kinerja serta capaian hasil dalam produksi minyak sawit mereka. 34 i) Alat dan Mesin Perkebunan Karakteristik TBS yang umumnya bulky, volouminous dan perishable memerlukan alat transportasi yang cepat dan efisien agar TBS dari kebun untuk dikirim langsung ke PKS. Dengan transportasi yang cepat dan efisien maka akan terjamin kelancaran pengolahan TBS menjadi CPO pada PKS. Pahan (2011) menggolongkan alat transportasi yang umum digunakan pada perkebunan kelapa sawit menjadi tiga jenis, yaitu transportasi darat (wheel tractor, truk, dumptruk), transportasi railban, dan transportasi air. ii) Alat Pengolahan Minyak Sawit Tandan Buah Segar harus segera diproses dalam 24 jam sejak dipanen untuk menjaga kualitasnya agar tetap memenuhi syarat. Hal ini mengakibatkan perusahaan harus membangun pabrik pemrosesan CPO di sekitar areal perkebunan kelapa sawit. Pada perkebunan besar negara dan perkebunan besar swasta umumnya sudah memiliki pabrik kelapa sawit sendiri yang terintegrasi dengan perkebunan. Direktorat Jenderal Perkebunan (2011) menyatakan bahwa pabrik pengolahan CPO dapat dikatakan feasible apabila mampu memproses 30 ton TBS per jam. Kapasitas lebih kecil dapat beroperasi tetapi harus didukung pabrik lain dengan lokasi yang berdekatan. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah mengembangkan teknologi pabrik kelapa sawit berukuran mini guna membantu petani sawit pada perkebunan rakyat untuk dapat memproduksi CPO sendiri. Pabrik kelapa sawit (PKS) mini berkapasitas 5 ton dan 10 ton TBS per jam dibangun di lahan seluas 1.000 ha – 2.000 ha. Investasi pada pembangunan PKS mini dengan kapasitas 5 ton TBS/jam sekitar Rp 17,6 miliar, sementara untuk kapasitas 10 ton TBS/ha sebesar Rp 28,15 miliar. Besarnya biaya investasi ini akan ditanggung bersama oleh pemerintah, perbankan, dan petani. BPPT saat ini sudah mendirikan PKS mini di Kabupaten Kampar, Riau dengan kapasitas 2 ton TBS/jam dan di Kabupaten Bengkalis, Riau dengan kapasitas 5 ton TBS/ha.4 4 Rahmayuis Saleh. 2012. Pabrik Sawit: BPPT Kembangkan Teknologi PKS Mini dalam http://bisnis.com [Diakses pada 25 September 2012] 35 d) Biaya-Biaya Terkait Umumnya perkebunan besar milik negara dan swasta akan memiliki komponen biaya yang lebih kompleks dibandingkan dengan komponen biaya petani di perkebunan rakyat. Perusahaan besar mengeluarkan biaya lebih untuk membayar jasa manajemen perkebunan, gaji dan tunjangan karyawan, biaya perawatan kebun, pemeliharaan gedung dan biaya lainya. Sedangkan pada perkebunan rakyat jenis biaya yang dikeluarkan umumnya hanya sebatas biaya perawatan kebun. Hal ini dikarenakan pada perkebunan rakyat pengolahan dan perawatan kebun dilakukan bersama keluarga karena keterbatasan dana dan luas areal perkebunan yang tidak luas (rata-rata lahan perkebunan masyarakat 2 hektar). 2) Sumberdaya Manusia Industri minyak sawit selama ini telah memainkan peranan penting dalam perekonomian nasional yaitu melalui penciptaan lapangan kerja dan mempercepat pembangunan perekonomian di wilayah-wilayah terpencil.5 Pada tahun 2010, sektor perkebunan kelapa sawit menyerap tenaga kerja sebanyak 5.220.000 orang, sementara di sektor industri minyak sawit hanya menyerap tenaga kerja sebanyak 43.600 orang. Tabel 5. Penyerapan Tenaga Kerja Industri Minyak Sawit Indonesia, 2010 Sektor Agribisnis Hulu (Input Perkebunan Sawit) Perkebunan Kelapa Sawit Agribisnis Hilir (Industri Minyak Sawit) Penyedia Jasa Total Jumlah Tenaga Kerja (orang) 12.000 5.220.000 43.600 1.500.000 6.775.600 Sumber: Sipayung (2012) Sumberdaya manusia dalam kegiatan industri minyak sawit Indonesia didukung oleh sumberdaya manusia ahli yang terlibat dalam proses pengolahan hingga pemasaran. Dalam proses pabrikasi, subsistem hilir minyak sawit disokong oleh tenaga ahli mesin, quality control, dan tenaga ahli lainnya. Pada bagian 5 Press Release World Palm Oil Summit & Exhibition (WPOSE). 25 Februari 2008. Pemerintah Terus Mendukung Pengembangan Agribisnis Kelapa Sawit yang Berkelanjutan. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). 36 pemasaran minyak sawit, didukung oleh sumberdaya manusia yang professional dalam marketing, pencarian info pasar (market intelligent), trader (agen) dan pembeli internasional yang berpengalaman dan menuntut produsen untuk terus meningkatkan kualitasnya, serta beberapa tenaga ahli lainnya. 3) Sumberdaya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi a) Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Kemajuan suatu industri ditentukan juga oleh sumberdaya ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam rangka mendukung kemajuan sumberdaya IPTEK, industri minyak sawit di Indonesia didukung oleh keberadaan lembaga riset dan pengembangan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). PPKS merupakan gabungan dari tiga lembaga penelitian, yaitu Pusat Penelitian Perkebunan (Puslitbun) Medan, Puslitbun Marihat, dan Puslitbun Bandar Kuala. PPKS yang secara terus-menerus melakukan riset untuk menemukan teknologi yang tepat dan sesuai bagi kondisi kelapa sawit di Indonesia saat ini dan perkembangannya dimasa yang akan datang. PPKS mempunyai tugas utama yaitu melakukan penelitian dan pengembangan dalam segala aspek industri minyak sawit, dan menyalurkan hasil penelitian tersebut dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat industri minyak sawit. Sebagai lembaga penelitian yang memiliki kewajiban dalam memajukan industri minyak sawit di Indonesia, PPKS merupakan pusat unggulan inovasi kelapa sawit.6 Misi PPKS adalah menunjang industri minyak sawit di Indonesia melalui penelitian dan pengembangan, serta pelayanan. Melalui paket teknologi maupun pengembangan IPTEK yang dihasilkan, PPKS diharapkan dapat menjadi motor penggerak (prime mover) bagi pengembagan industri minyak sawit dan turunannya di Indonesia.7 Penelitian PPKS yang berhubungan dengan dayasaing minyak sawit saat ini adalah melalui diversifikasi produk oleopangan dan oleokimia. Upaya menghasilkan beta karoten, vitamin E pharmaceutical dari minyak sawit yang mulai diteliti pada tahun 2007 dan hingga saat ini masih terus dilakukan. 6 7 Pernyataan Kementerian Riset dan Teknologi 2011/2012 Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 2012. Profil PPKS. http://www.iopri.org/tentang-ppks/profil [Diakses pada 8 Juli 2012]. 37 b) Masyarakat Perkelapa-Sawitan Indonesia (MAKSI) MAKSI (Masyarakat Perkelapa-Sawitan Indonesia) adalah organisasi yang dibentuk pada tahun 1998 oleh tujuh PAU Biosains (PAU Bioteknologi ITB, PAU Ilmu Hayati ITB, PAU Pangan dan Gizi UGM, PAU Bioteknologi UGM, PAU Pangan dan Gizi IPB, PAU Bioteknologi IPB, PAU Ilmu Hayati IPB), Pusat Studi Pembangunan IPB dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan. MAKSI memiliki visi menjadi organisasi profesional terpercaya dalam bidang perkelapa-sawitan di dunia untuk membantu pencapaian industri kelapa sawit nasional yang berdayasaing tinggi dan berkelanjutan. Misi dari MAKSI adalah menjadi mitra terbaik pemerintah, perusahaan swasta, BUMN, petani pekebun sawit, dan para pemangku kepentingan industri kelapa sawit lainnya dalam kegiatan penelitian, pengembangan, pendidikan, pelatihan serta advokasi pengembangan industri kelapa sawit Indonesia yang berkelanjutan, terutama demi kemakmuran dan kesejahteraan sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia dan berdayasaing tinggi secara ekonomi, ekologi, dan sosial budaya. 8 Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan MAKSI antara lain: a. Melakukan kompilasi berbagai hasil penelitian dan pengembangan industri minyak sawit Indonesia yang tersebar di Universitas, Lembaga Litbang Pemerintah dan Swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat, serta lembagalembaga lainnya dan mendiseminasikan hasil kompilasi tersebut kepada para pemangku kepentingan litbang industri minyak sawit Indonesia sehingga meningkatkan koordinasi dan jejaring kerja yang akan meminimumkan dublikasi penelitian dan pemborosan sumberdaya. b. Melakukan analisis dan sintesis mengenai berbagai permasalahan dalam pengembagan industri minyak sawit Indonesia yang berkelanjutan, menggunakan materi publikasi tertulis (tercetak) baik dari dalam maupun luar negeri serta membuat road map pemecahan masalah dengan memfungsikan MAKSI sebagai bagian dari upaya pemecahan masalah tersebut. 8 [MAKSI]. 2011. Profil Masyarakat Perkelapa-Sawitan Indonesia (MAKSI) 38 c) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) didirikan pada tanggal 28 Oktober 2000 di Palembang, oleh utusan-utusan petani kelapa sawit dari seluruh Indonesia. APKASINDO adalah satu-satunya organisasi profesi petani sebagai wadah pemersatu petani di Indonesia yang difasilitasi oleh Pemerintah c/q Departemen Pertanian.9 Tujuan didirikannya APKASINDO adalah sebagai berikut : a. Mempersatukan masyarakat petani kelapa sawit di seluruh Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan yang merata bagi petani kelapa sawit. b. Membangun ekonomi kerakyatan di pedesaan dengan menumbuh kembangkan usaha petani kelapa sawit yang berwawasan lingkungan dan bermanfaat bagi seluruh komponen bangsa untuk mencapai masyarakat petani yang adil dan makmur. c. Meningkatkan dan memberdayakan SDM petani kelapa sawit agar menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) pertanian modern. d) Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) adalah wadah perusahaan produsen minyak sawit (CPO) yang terdiri dari perusahaan PT. Perkebunan Nusantara, perusahaan perkebunan swasta nasional dan asing serta peladang kelapa sawit yang tergabung dalam koperasi. GAPKI telah melakukan berbagai upaya untuk memajukan perkelapasawitan Indonesia. GAPKI selaku mitra Pemerintah telah memberikan masukan-masukan sebagai bahan pemerintah dalam menyusun berbagai kebijakan tentang masalah perkelapasawitan, termasuk menetapkan kebijakan tataniaga minyak sawit yang memberikan harga jual yang menarik sehingga akan merangsang untuk melakukan investasi pada perkebunan kelapa sawit.10 Selain bersumber dari lembaga penelitian seperti PPKS, APKASINDO, MAKSI, GAPKI, ketersediaan sumber-sumber pengetahuan dan teknologi juga 9 Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia. 2012. Sejarah Berdirinya APKASINDO. http://www.apkasindo.or.id/p/sejarah-berdirinya-apkasindo.html [Diakses pada 8 Juli 2012]. 10 GAPKI. 2012. Introduction GAPKI http://www.gapki.or.id/page/about [Diakses pada 8 Juli 2012]. 39 ditunjang oleh lembaga lain seperti perguruan tinggi, lembaga riset swasta, lembaga kelapa sawit internasional (Roundtable on Sustainable Palm Oil), literatur bisnis dan ilmiah, basis data, laporan penelitian, serta sumber pengetahuan dan teknologi lainnya. 4) Sumberdaya Modal Permodalan merupakan faktor kunci dalam industri minyak sawit. Pada perusahaan swasta sumber modal yang dibutuhkan dalam rangka pengembangan perkebunan maupun pabrik kelapa sawit sudah tersedia karena didukung oleh perusahaannya sebagai investor utama dan tambahan modal dari modal perusahaan asing yang tertarik dengan prospek bisnis minyak sawit (CPO). Selain itu, dalam rangka menarik investor dalam mengembangkan sektor hilir industri minyak sawit, pemerintah pun menjanjikan tiga macam insentif kepada para pelaku usaha industri hilir minyak sawit (CPO). Ketiga insentif tersebut adalah subsidi bunga pinjaman untuk program peremajaan mesin-mesin produksi, pembebasan pajak (tax holiday), dan dukungan infrastruktur dasar. Pada insentif subsidi bunga, Kemenperin akan mengikuti pola program restrukturisasi mesin di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) yang artinya subsidi bunga kredit akan diberikan bagi sektor hilir CPO yang melakukan peremajaan mesin.11 5) Sumberdaya Infrastruktur Kebutuhan prasarana industri CPO sangat penting guna membawanya kepada konsumen industri lain yang menggunakan bahan baku CPO. Adapun prasarana untuk mendukung industri CPO nasional antara lain jalan, jembatan, sarana air, listrik, jembatan, pelabuhan, transpotasi dan lain sebagainya. Salah satu infrastruktur yang berperan dalam menjamin kelancaran distribusi CPO ke luar negeri adalah pelabuhan. Fungsi pelabuhan pada industri minyak sawit meliputi jasa bongkar muat, jasa kepabeanan, dan jasa pergudangan termasuk jasa tangki timbun CPO. Jasa tangki timbun/pompa CPO terdapat di beberapa pelabuhan antara lain Belawan, Kuala Tanjung, Dumai, dan Tanjung Priok. Sementara itu pelabuhan utama yang mengangkut minyak keluar negeri hanya terdapat di Belawan dan 11 Yusuf Waluyo Jati. 2012. Industri Hilir CPO Dijanjikan Insentif dalam http://pn8.co.id [Diakses pada 25 September 2012] 40 Dumai. Fasilitas pelabuhan yang ada pun masih minim dalam menampung kapal besar sehingga terjadi antrian apabila hendak masuk ke pelabuhan. Kondisi tersebut diperparah dengan masalah gelombang laut yang tinggi karena pertukaran musim, yang menyebabkan kapal tidak berlayar. Pemerintah sejak Mei 2011 melalui program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (M3PEI) pun merencanakan pembangunan Kawasan Industri Hilir Sei Mangkei. Pembangunan Kawasan Industri Hilir Sei Mangke tahap pertama menggangarkan investasi sebesar Rp 1,8 triliun dan tahap berikutnya Rp 20 triliun. Sumber pendanaan pembangunan kawasan ini berasal dari pemerintah pusat, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta serta kolaborasi ketiganya. Pada tahap pertama Kawasan Sei Mangke menempati area 64 ha dan tahap berikutnya menjadi 104 ha. Kawasan Industri Sei Mangke akan diintegrasikan dengan pembangunan rel kereta api dari kawasan tersebut menuju Pelabuhan Kuala Tanjung. Fasilitas pendukung Kawasan Industri Hilir Sei Mangke pun dibangun, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Pesangan I dan 2 berkapasitas 88 megawatt (mw) di Takengon, Aceh dengan investasi Rp 3,5 triliun; pembangunan broadband sebanyak 2,42 juta homepage dengan investasi Rp 4,1 triliun yang dilaksanakan PT Telkom; peningkatan jalan dari Kota Tebing Tinggi menuju Kisaran (Kabupaten Asahan), Rantau Prapat (Labuhanbatu) hingga perbatasan Riau sepanjang 326,71 km dengan anggaran Rp365 miliar. Begitu juga dengan pembangunan jalan kereta api. Proyek ini mulai dilaksanakan 2012 dan sudah terjalin kesepakatan antara PTPN III dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Kementerian Perindustrian 2011). 5.1.2. Kondisi Permintaan Domestik Kondisi permintaan merupakan faktor yang patut diperhitungkan dalam upaya peningkatan dayasaing minyak sawit di Indonesia. Kondisi permintaan akan dijelaskan melalui tiga faktor yaitu komposisi permintaan domestik, jumlah permintaan dan pola pertumbuhan, dan internasionalisasi permintaan domestik. 1) Komposisi Permintaan Domestik Produksi minyak sawit (CPO) di Indonesia sebagian besar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri, lalu sisanya ditujukan untuk pasar domestik. Komposisi permintaan domestik untuk CPO digolongkan dalam bentuk 41 bahan pangan dan nonpangan. Pemanfaatan CPO untuk produk olahan diantaranya yaitu oleh industri pangan (minyak goreng, margarin, shortening, cocoa butter substitutes, vegetable ghee) dan industri nonpangan seperti oleokimia (fatty acid, fatty alcohol, gliserin) dan biodiesel. Produk utama dari olahan CPO yang penting di Indonesia adalah minyak goreng, margarin dan olein. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh lembaga konsultan Capricorn Indonesia Consult Inc pada tahun 2008, menunjukkan bahwa 60 persen hasil produksi CPO Indonesia diekspor keluar negeri, 29 persen diolah menjadi minyak goreng, 7 persen diolah menjadi oleochemical, 2 persen menjadi sabun dan 2 persen sisanya diolah menjadi margarin. Oleochemical 7% Margarin 2% Sabun 2% Minyak Goreng 29% Ekspor 60% Gambar 4. Persentase Penggunaan CPO di Indonesia Sumber : Capricorn Indonesia Consult Inc (2008) diacu dalam Ramadhan (2011) 2) Jumlah Permintaan dan Pola Pertumbuhan Dalam kurun waktu sebelas tahun terakhir, total produksi CPO dalam negeri telah meningkat tiga kali lipat. Hal ini diikuti juga dengan peningkatan jumlah konsumsi CPO domestik lebih dari dua kali lipat. Konsumsi CPO domestik cenderung mengalami peningkatan, namun sempat mengalami penurunan yaitu pada tahun 2007 – 2009 dan meningkat lagi di tahun 2010. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 6. 42 Tabel 6. Komposisi Ekspor dan Konsumsi CPO Domestik Tahun 2000 - 2010 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Produksi CPO (Ton) 7.000.508 8.396.472 9.622.345 10.440.834 10.830.389 11.861.615 17.350.848 17.664.725 17.539.788 19.324.293 21.958.120 Ekspor CPO (Ton) 1.817.664 1.849.142 2.804.792 2.892.130 3.819.927 4.564.788 5.199.287 5.701.286 7.904.179 11.119.997 11.158.124 Konsumsi CPO Domestik (Ton) 5.182.844 6.547.330 6.817.553 7.548.704 7.010.462 7.296.827 12.151.561 11.963.439 9.635.609 8.204.296 10.799.996 Sumber: Badan Pusat Statistik diacu dalam Dirjenbun (2011) Susanto (2011) menyatakan bahwa peningkatan konsumsi CPO domestik ini disebabkan oleh semakin meningkatnya kebutuhan minyak goreng masyarakat. Hal ini dikarenakan CPO merupakan bahan baku utama industri minyak goreng. Terbukti dengan semakin banyaknya merk minyak goreng yang bermunculan pada periode 2005-2009, sebagai contoh SunCo, Sania, Tropical, Vico, Fortune, Minyakita, dan Kunci Mas. Namun industri minyak goreng sawit Indonesia sampai saat ini masih belum berjalan dengan kapasitas penuh, bahkan menurut beberapa survei hanya berkisar 50-60 persen dari kapasitas terpasang. Peningkatan konsumsi CPO domestik ini ditunjang juga dengan adanya Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) sebagaimana dituangkan dalam Kebijakan Pembangunan Industri Nasional menetapkan bahwa industri berbasis CPO sebagai prioritas yang pengembangannya dapat dilakukan dengan pendekatan klaster (Departemen Perindustrian 2009). Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan turunan minyak sawit dimasa yang akan datang mempunyai prospek yang sangat baik dan tingkat konsumsi CPO domestik pun turut meningkat. Selain itu isu biofuel atau bahan bakar nabati gencar dibicarakan pada dekade ini, sehingga permintaan CPO domestik selalu meningkat dari tahun ke tahun. 43 3) Internasionalisasi Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia sejak tahun 2007 mengalahkan Malaysia. Pada tahun 2009, Indonesia dan Malaysia menguasai 85 persen dari produksi minyak sawit dunia sehingga memiliki potensi yang cukup besar untuk terus berperan dalam pasar dunia. Ekspor minyak sawit (Crude Palm Oil) Indonesia sudah mulai dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda. Namun pemerintah baru memulai kegiatan ekspor minyak pada tahun 1969 dalam bentuk CPO dan KPO. Volume ekspor CPO Indonesia dari tahun 1980-2010 memiliki tren peningkatan dari tahun ke tahun. Tren peningkatan ekspor tampak cukup fluktuatif, ini berarti selalu ada peningkatan dan penurunan ekspor dari tahun sebelumnya, namun secara garis besar ekspor CPO Indonesia memiliki trend meningkat. Peningkatan ekspor tertinggi terjadi pada tahun 1985 dengan laju peningkatan sebesar 305,48 persen, dari 127.938 ton pada tahun 1984 menjadi 518.760 ton pada tahun 1985. Sementara itu, penurunan ekspor tertinggi terjadi pada tahun 1998 dengan laju penurunan sebesar 72,12 persen, dari 1.448.362 ton pada tahun 1997 menjadi 403.843 ton pada tahun 1998. 12,000,000 Volume (ton) 10,000,000 8,000,000 6,000,000 4,000,000 2,000,000 - Gambar 5. Volume Ekspor CPO Indonesia Tahun 1980 – 2010 Sumber : Badan Pusat Statistik diacu dalam Dirjenbun (2011) Nilai ekspor CPO Indonesia pun mengikuti volume ekspor CPO yang tampak cukup fluktuatif. Peningkatan nilai ekspor tertinggi terjadi pada tahun 1985 dengan laju peningkatan sebesar 255,51 persen, dari US$ 53.278.000 pada 44 tahun 1984 menjadi US$ 189.407.000 pada tahun 1985. Sementara itu, penurunan nilai ekspor tertinggi terjadi pada tahun 1998 dengan laju penurunan sebesar 68,44 persen, dari US$ 699.056.000 pada tahun 1997 menjadi US$ 220.634.000 ton pada tahun 1998. 10,000,000 9,000,000 Nilai (000 US$) 8,000,000 7,000,000 6,000,000 5,000,000 4,000,000 3,000,000 2,000,000 1,000,000 - Gambar 6. Nilai Ekspor CPO Indonesia Tahun 1980 – 2010 Sumber : Badan Pusat Statistik diacu dalam Dirjenbun (2011) Ekspor CPO Indonesia saat ini sudah menjangkau lima benua yaitu Asia, Afrika, Australia, Amerika dan Eropa dengan pangsa pasar utama Asia. Pada tahun 2010, India mengimpor 47,09 persen dari total ekspor minyak sawit Indonesia, kemudian diikuti oleh Malaysia sebesar 13,97 persen, Belanda 10,05 persen, Italia 6,67 persen dan Singapura 6,03 persen. Sesuai dengan volume ekspor besarnya nilai FOB (Freight on Board) ekspor minyak sawit masih dikuasai oleh India, disusul Malaysia, Belanda, Italia, dan Singapura. Hal ini terlihat pada Tabel 7. Tabel 7. Volume dan Nilai Ekspor Minyak Sawit (CPO) Menurut Negara Tujuan dan Asal, 2010 Negara Tujuan Ekspor India Malaysia Belanda Italia Singapura Negara Lainnya Total Volume (Kg) 4.449.537.347 1.318.387.082 948.460.742 623.809.650 573.156.083 1.530.819.496 9.444.170.400 Nilai FOB (US$) 3.629.076.473 1.059.891.005 800.848.886 474.097.791 460.368.142 1.225.780.734 7.650.065.932 Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan (2011) 45 Sejalan dengan permintaan dunia yang terus meningkat, harga minyak sawit pun menunjukkan kecenderungan peningkatan. Pada Januari 2000, harga minyak sawit dunia adalah sebesar US$ 301,79 dan harga pada September 2012 adalah sebesar US$ 879,53. Hal ini menunjukkan dalam kurun waktu 12 tahun, harga minyak sawit dunia terus mengalami peningkatan. Harga minyak sawit dunia tertinggi terjadi pada Februari 2011 yaitu sebesar US$ 1.248,55 sedangkan harga terendah terjadi pada Februari 2001 yaitu sebesar US$ 185,07. 1400 Harga (US$) 1200 1000 800 600 400 200 Sep-12 Jan-12 May-11 Sep-10 Jan-10 May-09 Sep-08 Jan-08 May-07 Sep-06 Jan-06 May-05 Sep-04 Jan-04 May-03 Sep-02 Jan-02 May-01 Sep-00 Jan-00 0 Harga Minyak Sawit Dunia, Januari 2000 s/d September 2012 Gambar 7. Harga Minyak Sawit Dunia, Januari 2000 s/d September 2012 Sumber : World Bank (2012) Indonesia turut berpartisipasi dalam berbagai organisasi minyak sawit internasional seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)12. Hal ini menunjukkan eksistensi negara kita sebagai produsen minyak sawit yang peduli terhadap kualitas serta keseimbangan alam. Namun, sejak tahun 2011, Gapki sebagai wadah dari pelaku bisnis minyak sawit di Indonesia menyatakan keluar dari RSPO. Hal ini dikarenakan Indonesia saat ini sudah merumuskan prinsip dan kriteria minyak sawit lestari yang dikemas dalam Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO)13. Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dinilai lebih cocok 12 Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) adalah organisasi internasional yang bertujuan untuk mempromosikan produksi sawit dengan cara mengurangi kerusakan hutan, menjaga biodivestitas, menghargai kehidupan masyarakat di sekitar kebun di setiap negara. Sampai tahun 2012, jumlah anggota RSPO mencapai 720 perusahaan dan lembaga yang berasal dari 50 negara. Di antara negara konsumen, Inggris merupakan anggota biasa terbanyak dengan anggota sebanyak 17 persen, diikuti Belanda 10 persen, Jerman 10 persen, dan Perancis 9 persen. 13 Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) merupakan salah satu instrumen untuk mendukung usaha berkelanjutan mempertahankan dan memperkuat posisi Indonesia dalam perkelapasawitan 46 diimplementasikan untuk pengembangan industri di dalam negeri dibandingkan dengan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Ketentuan ISPO pun bersifat wajib dan lebih menjanjikan terwujudnya pembangunan sawit yang ramah lingkungan di Indonesia dibandikan RSPO yang bersifat sukarela. 5.1.3. Industri Terkait dan Pendukung Keberadaan industri terkait dan industri pendukung yang memiliki dayasaing global juga akan mempengaruhi dayasaing industri utamanya. Industri hulu yang memiliki dayasaing global akan memasok input bagi industri utama dengan harga yang lebih murah, dan mutu yang lebih baik. Begitu juga dengan adanya industri pendukung, dayasaing suatu industri akan semakin baik. 1) Industri Terkait a) Industri Pemasok Minyak sawit atau yang lebih dikenal dengan CPO merupakan produk utama dari tanaman kelapa sawit. Sebagai negara produsen CPO terbesar di dunia, Indonesia memiliki banyak sekali pemain di bisnis perkebunan kelapa sawit. Pada Perkebunan Besar Negara (PBN), pemain utamanya adalah PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Saat ini ada 10 PTPN yang merupakan produsen CPO di Indonesia antara lain PTPN I - PTPN VIII, PTPN XIII dan PTPN XIV. Sementara itu, pada pemain utama pada Perkebunan Besar Swasta (PBS) kelapa sawit diantaranya adalah Astra Agro Lestari, Sinarmas (SMART), Indofood, Permata Hijau Group, Sampoerna Agro, Musim Mas, Asian Agri, Wilmar Corporation, Bakrie Sumatera Plantation, dan PP London Sumatera. Selain itu masih banyak lagi perusahaan-perusahaan perkebunan daerah yang kecil-kecil dan jumlahnya mencapai ratusan. b) Industri Minyak Sawit Olahan Industri minyak sawit (CPO) terdiri dari pabrik yang mengolah CPO menjadi produk CPO turunan lainnya. Industri yang bergerak di sektor ini memanfaatkan CPO sebagai bahan baku utama dalam pembuatan produknya. Industri yang termasuk ke dalam sektor ini diantaranya adalah industri pangan dan dunia. ISPO berkomitmen untuk melindungi lingkungan melalui penerapan budidaya berkelanjutan untuk banyak komoditi, seperti kelapa sawit, coklat, kopi, dan lainnya. 47 nonpangan. Dalam industri pangan, CPO digunakan sebagai bahan untuk membuat minyak goreng, lemak pangan, margarin, lemak khusus (substitusi cacao butter), kue, biskuit, dan es krim. Sementara itu, dalam industri nonpangan CPO digunakan sebagai bahan untuk membuat sabun, detergen, surfakat, pelunak (plasticizer), pelapis (surface coating), pelumas, sabun metalik, bahan bakar mesin diesel, dan kosmetika. Hal ini seperti digambarkan pada pohon industri minyak sawit yang berada pada Lampiran 8. Produk utama dari olahan CPO yang penting di Indonesia adalah minyak goreng. Di Indonesia, karakteristik industri minyak goreng adalah sebanyak 32% non integrasi, sisanya sebanyak 66% terintegrasi dengan perkebunan kelapa sawit (Nugroho, 2009). Saat ini tercatat Indonesia memiliki 94 pabrik minyak goreng yang tersebar di 19 propinsi, dan pabrik terbanyak terletak di Sumatera Utara sebanyak 13 pabrik dan Kalimantan Barat sebanyak 11 pabrik. Tabel 8. Distribusi Pabrik Minyak Goreng di Indonesia No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Lampung DKI Jaya Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Banten Kalimantan Barat Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Gorontalo Papua Barat Indonesia Jumlah Pabrik (unit) 2 13 3 8 2 5 4 8 8 5 9 1 11 2 5 1 5 1 1 94 Sumber: DMSI (2010) 48 Selain industri minyak goreng, Indonesia juga terus mengembangkan industri turunan minyak sawit, salah satunya industri oleokimia. Hingga saat ini, di Indonesia tercatat sembilan produsen oleokimia dasar yang memproduksi fatty acid, fatty alcohol dan glycerine. Kapasitas terpasang fatty acid mencapai 986.000 ton/tahun, fatty alohol mencapai 490.000 ton/tahun dan glycerine mencapai 141.700 ton/tahun. Tabel 9. Kapasitas Produksi Industri Oleokimia di Indonesia No Nama Perusahaan 1 PT Ecogreen (Medan & Batam) 2 PT Sumiasih. Bekasi 3 PT SOCI MAS . Medan PT Flora Sawita Chemindo (Bakrie 4 Group). Medan 5 PT Musim Mas. Medan 6 PT Domba Mas (Bakrie Group). Kuala Tanjung 7 Wilmar Group. Gresik 8 PT Nubika Jaya. Kisaran 9 PT Cisadane Raya Chemical. Tangerang Total Kapasitas Produksi (Ton/Tahun) Fatty Acid Fatty Alcohols Glycerin 45.000 350.000 24.000 91.000 10.000 80.000 8.000 50.000 320.000 60.000 120.000 130.000 90.000 986.000 100.000 40.000 490.000 5.100 30.000 4.600 30.000 20.000 10.000 141.700 Sumber: Apolin (2010) diacu dalam DMSI (2010) Semakin menipisnya cadangan energi berbasis fosil mendorong dunia mencari energi alternatif pengganti minyak fosil, salah satunya biodiesel dari sawit (fatty acid methyl ester). Berdasarkan riset yang telah dilakukan, biodiesel sawit memiliki emisi jauh lebih rendah dari minyak fosil. Saat di Indonesia tercatat ada sekitar 20 produsen biodiesel sawit dengan total kapasitas terpasang mencapai 3,07 juta ton/tahun. Propinsi Riau merupakan daerah dengan produsen terbesar dan terbanyak di Indonesia yang terdiri dari PT Cemerlang Energi Perkasa, PT Pelita Agung Agrindustri, PT Petro Andalan Nusantara dan PT Wilmar Bio Energi Indonesia. 49 Tabel 10. Produsen Biodiesel di Indonesia dan Kapasitas Produksinya No Nama Perusahaan 1 PT Alia Mada Perkasa 2 PT Anugrah Inti Gemanusa 3 PT Bioenergi Pratama Jaya 4 5 6 7 8 9 10 11 12 PT Cemerlang Energi Perkasa PT Damai Sejahtera Sentosa Cooking PT Darmex Biofuel PT Energi Alternatif PT Eternal Buana Chemical Industries PT Eterindo Nusa Graha PT Indo Biofuels Energy PT Multikimia Intipelangi Musim Mas Group 13 14 15 16 17 PT Pasadena Biofuels Mandiri PT Pelita Agung Agrindustri PT Petro Andalan Nusantara PT Primanusa Palma Energi PT Sintong Abadi 18 PT Sumi Asih 19 PT Wahana Abdi Tritatehnika Sejati 20 PT Wilmar Bio Energi Indonesia Total Lokasi Kosambi. Tangerang Gresik Kab Kutai Timur Kab Berau Dumai. Riau Rungkut. Surabaya Bekasi Jakarta Utara Cikupa. Tangerang Gresik Merak Bekasi Kab Deli Serdang Batam Cikarang Bengkalis. Riau Dumai Jakarta Utara Kab Asahan. Sumatera Utara Bekasi Cileungsi. Bogor Dumai Kapasitas Produksi (Ton/Tahun) 11.000 40.000 6.000 60.000 400.000 120.000 150.000 7.000 40.000 40.000 60.000 14.000 70.000 350.000 10.240 200.000 150.000 24.000 35.000 100.000 132.200 1.050.000 3.069.440 Sumber: APROBI (2009) diacu dalam DMSI (2010) 2) Industri Pendukung a) Industri Jasa Tataniaga Minyak sawit (CPO) yang diperdagangkan di Indonesia berasal dari dua sumber, yaitu perkebunan negara dan perkebunan swasta. Sesuai dengan kesepakatan diantara perkebunan negara, pemasaran CPO harus melalui PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (PT. KPBN). Untuk pasar dalam negeri, KPBN bisa langsung menjual ke industri pengolahan melalui jatah alokasi yang telah ditetapkan. Sementara itu, untuk konsumen luar negeri, pemasaran dilakukan bertahap, KPBN menjual CPO kepada importir luar negeri yang kemudian 50 memasarkannya untuk konsumen luar negeri. Hal ini seperti digambarkan pada Gambar 8. Gambar 8. Saluran Pemasaran Minyak Sawit Indonesia Pada Perkebunan Negara Sumber: Pahan (2011) Pada perusahaan perkebunan swasta, penjualan produknya dilakukan secara sendiri-sendiri tanpa melalui Kantor Pemasaran Bersama. Kesepakatan harga ditetapkan melalui mekanisme pasar yang mengacu pada harga CPO internasional pada bursa berjangka Kuala Lumpur (MDEX) dan pasar fisik Rotterdam. Gambar 9. Saluran Pemasaran Minyak Sawit Indonesia Pada Perkebunan Swasta Sumber: Pahan (2011) 51 b) Industri Jasa Riset dan Pendidikan Sumberdaya Manusia Tantangan pengembangan industri minyak sawit dalam persaingan global yang semakin ketat, sudah pasti memerlukan kompetensi sumberdaya manusia unggulan, yang mampu melaksanakan pengembangan industri minyak sawit nasional dengan cara yang berkelanjutan. Dengan demikian, diperlukan strategi revitalisasi sumberdaya manusia Indonesia yang bergerak dalam industri minyak sawit dalam bentuk roadmap yang jelas dan memaksa para pihak yang berkepentingan dalam industri minyak sawit nasional untuk mewujudkannya. Hal ini mendorong berbagai perusahaan yang bergerak di industri minyak sawit untuk memiliki serta mengembangkan unit-unit khusus untuk Riset dan Pengembangan (R&D) dan juga pelatihan SDM. Indonesia memiliki beberapa tempat pendidikan dalam rangka penyediaan SDM teknis pada industri minyak sawit nasional yaitu INSTIPER, Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi, dan Lembaga Pendidikan Perkebunan. Sementara itu, dalam memenuhi kebutuhan SDM di bidang riset dan pengembangan (R&D) industri minyak sawit nasional, ada beberapa lembaga yang berkecimpung di dalamnya, antara lain Pusat Penelitian Kelapa Sawit, SEAFAST Center IPB, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB, Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB, Pusat Penelitian Bioteknologi ITB, Pusat Penelitian Ilmu Hayati ITB, Pusat Penelitian Bioteknologi UGM, Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Balai Penelitian Bioteknologi dan Perkebunan Indonesia, Forum Biodiesel Indonesia, Universitas Lampung, dan SEAMEO Biotrop IPB.14 5.1.4. Persaingan, Struktur dan Strategi Industri CPO 1) Persaingan a) Produk Pengganti Permintaan minyak nabati terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia, peningkatan pendapatan per kapita, dan gaya hidup masyarakat dunia yang mulai sadar akan kesehatan. Total konsumsi minyak nabati meningkat hingga 335 persen sejak tahun 1980. Peningkatan produksi minyak nabati yang 14 Hasil Wawancara dengan Ketua Maksi, Prof. Dr. Ir. Endang Gumbira Sa’id, MADev pada 12 Oktober 2012 52 paling signifikan adalah produksi minyak sawit. Dari tahun 1980-2009, produksi minyak sawit meningkat sebesar 10 kali lipat, mengalahkan minyak kedelai yang hanya meningkat sebesar 2,7 kali lipat dalam jangka waktu yang sama. Pada tahun 2009, produksi minyak sawit dunia telah mencapai 45,1 juta ton atau sebesar 34 persen, mengalahkan pangsa pasar minyak kedelai, minyak kanola, dan minyak bunga matahari yang secara berturut-turut sebesar 27,1 persen, 16 persen, dan 9,8 persen. Tabel 11. Produksi Minyak Nabati Dunia, 1980-2009 Minyak Nabati 1980 Jumlah Minyak Kedelai 1990 % Jumlah 2000 % Jumlah 2009 % Jumlah % 13.4 33.7 16.1 26.5 25.6 27.7 35.9 27.1 Minyak Sawit 4.5 11.3 11.0 18.1 21.9 23.7 45.1 34.0 Minyak Canola 3.5 8.8 8.2 13.5 14.5 15.7 21.5 16.2 Minyak Bunga Matahari 5.0 12.6 7.9 13.0 9.7 10.5 13.0 9.8 Minyak Inti Sawit 0.6 1.5 1.5 2.5 2.7 2.9 5.2 3.9 12.8 32.2 16.1 26.5 18.1 19.6 12.0 9.0 Total Minyak Nabati 39.8 100.0 60.8 Keterangan: Jumlah dalam juta ton Sumber: Oil World (2010) diacu dalam Teoh (2010) 100.0 92.5 100.0 132.7 100.0 Minyak Nabati Lain Saat ini persaingan diantara para produsen minyak nabati yang semakin ketat, selain dari sisi kualitas, kuantitas maupun kontinyuitas produk. Dari tahun ke tahun kebutuhan industri terhadap minyak nabati semakin meningkat dan industri pun mempunyai banyak pilihan untuk membeli minyak nabati, akan tetapi ketersediaannya di pasaran masih belum pasti. Kelapa sawit mampu menghasilkan buah sepanjang tahun dan tanaman ini tahan terhadap musim kering dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Dilihat dari tingkat produktivitasnya, minyak sawit memiliki tingkat produktivitas sebesar 3,67 ton/ha/tahun, kemudian minyak kanola sebesar 0,55 ton/ha/tahun, minyak kedelai sebesar 0,36 ton/ha/tahun dan minyak bunya matahari sebesar 0,36 ton/ha/tahun (Product Board for Margarine Fat and Oils, 2010). Kondisi ini menunjukkan bahwa minyak sawit memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Dilihat dari sisi kebutuhan lahan, minyak sawit hanya membutuhkan 0,26 ha untuk menghasilkan satu ton CPO. Sementara satu ton kedelai membutuhkan 2,22 53 ha, minyak bunga matahari menghasilkan satu ton dari 2 ha lahan, dan minyak bunga kanola membutuhkan 1,52 ha untuk menghasilkan satu ton. 15 Fakta-fakta inilah yang menunjukkan bahwa minyak sawit memiliki keunggulan teknis dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. b) Pendatang Baru Potensial Produksi minyak sawit dunia meningkat lebih dari sembilan kali lipat sejak tahun 1980 hingga menjadi 45,1 juta ton pada tahun 2009. Peningkatan luas lahan kelapa sawit yang begitu cepat di Indonesia mengantarkan Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia sejak tahun 2007 mengalahkan Malaysia. Negara pendatang baru yang potensial menggeser dominasi Indonesia dalam hal produksi minyak sawit bisa dikatakan tidak ada. Hal ini dikarenakan pada tahun 2009, Indonesia dan Malaysia menguasai 85 persen dari produksi minyak sawit dunia, sehingga sulit bagi negara lain untuk mengalahkan produksi minyak sawit Indonesia dan Malaysia. Namun, dari tahun 1980 hingga 2009, terjadi peningkatan produksi minyak sawit di negara lain seperti Thailand, Ekuador, Kolombia, dan Papua Nugini. Keempat negara ini telah menyumbangkan 6,6 persen produksi dunia pada tahun 2009. Tabel 12. Produksi Minyak Sawit Dunia, 1980-2009 (dalam ton) Negara Indonesia Malaysia Nigeria Kolombia Pantai Gading Thailand Equador Papua Nugini Negara Lainnya Total 1980 691,000 2,576,000 433,000 74,000 182,000 13,000 37,000 35,000 768,000 4,809,000 1990 2,413,000 6,095,000 580,000 226,000 270,000 232,000 120,000 145,000 786,000 10,867,000 2000 6,900,000 10,800,000 740,000 516,000 290,000 510,000 215,000 281,000 1,699,000 21,951,000 2009 20,900,000 17,566,000 870,000 794,000 n.a. 1,310,000 436,000 470,000 3,236,000 45,582,000 Keterangan: n.a. = data tidak tersedia Sumber: Oil World (2010) diacu dalam Teoh (2010) 15 Hasil Wawancara dengan Ketua Maksi, Prof. Dr. Ir. Endang Gumbira Sa’id, MADev pada 12 Oktober 2012 54 c) Pemasok Minyak Sawit Dalam Negeri Minyak sawit (CPO) merupakan produk utama dan terpenting dalam usaha perkebunan tanaman kelapa sawit, sehingga usaha perkebunan kelapa sawit merupakan tulang punggung industri minyak sawit secara keseluruhan. Di Indonesia terdapat tiga jenis perkebunan kelapa sawit, yaitu Perkebunan Rakyat (PR), Perkebunan Besar Negara (PBN), dan Perkebunan Besar Swasta. Pada tahun 2010 produksi minyak sawit mencapai 21.958.119 ton dimana 52,87 persen dihasilkan oleh PBS, 38,52 persen dihasilkan oleh PR, dan 8,61 persen dihasilkan oleh PBN. Pada Perkebunan Besar Negara (PBN), perkebunan kelapa sawit dikuasai oleh 10 PTPN yang merupakan produsen CPO di Indonesia antara lain PTPN I PTPN VIII, PTPN XIII dan PTPN XIV. Sementara itu, pada pemain utama pada Perkebunan Besar Swasta (PBS) kelapa sawit diantaranya adalah Astra Agro Lestari, Sinarmas (SMART), Indofood, Permata Hijau Group, Sampoerna Agro, Musim Mas, Asian Agri, Wilmar Corporation, Bakrie Sumatera Plantation, dan PP London Sumatera. Selain itu masih banyak lagi perusahaan-perusahaan perkebunan daerah yang kecil-kecil dan jumlahnya mencapai ratusan.16 d) Pembeli Minyak Sawit Dalam Negeri Pada dasarnya, CPO dapat diolah menjadi tiga macam bahan kimia, yaitu methyl ester, asam lemak (fatty acid), dan gliserin (glycerine). Methyl ester adalah bahan baku untuk minyak biodiesel, sejenis bahan bakar solar, sebagai pengganti solar dengan tingkat buangan emisi lebih rendah 20%. Asam lemak memiliki banyak kegunaan, tetapi yang paling umum adalah untuk obat-obatan yang berhubungan dengan penyakit jantung, darah tinggi, dan diabetes. Gliserin merupakan bahan baku untuk berbagai industri seperti industri makanan (pemanis buatan, margarin, pengemulsi, dll), industri kosmetik & bodycare (krim wajah, body lotion, lipstik dll), industri plastik, industri alkohol, industri sabun (sabun mandi, sampo, deterjen, pembersih lantai dll) industri bahan peledak (dinamit, nitroglycerine), industri farmasi (sirup obat demam, ekspektoran dll), hingga industri busa untuk kasur dan pakaian. 16 PT Perkebunan Nusantara VIII. 2012. Outlook Sektor Perkebunan Sawit http://www.pn8.co.id [Diakses pada 21 September 2012] 55 Di Indonesia sekitar 60 persen produksi CPO diekspor keluar negeri, dan 29 persennya dioleh menjadi minyak goreng sawit. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan konsumen minyak sawit terbesar terdapat pada sektor industri minyak goreng sawit. Saat ini di Indonesia terdapat 13 grup produsen utama minyak goreng sawit, ketigabelas grup ini yaitu Indofood, Wilmar International Group, Musim Mas, Sinar Mas (SMART), Permata Hijau Sawit, Astra Agro Lestari, Sungai Budi, Duta Palma, Asian Agri, Best Agro, Incasi Raya, Pacific Interlink Sdn Bhd Grup, dan PTPN IV (Lampiran 12). e) Persaingan Pelaku Industri Minyak Sawit Indonesia Seiring dengan permintaan CPO dunia yang diprediksi naik sekitar 5 - 11 persen setiap tahun dan juga meningkatnya kebutuhan industri terhadap CPO mendorong pelaku industri minyak sawit di Indonesia memacu produksi dan tingkat produktivitas dari perkebunan kelapa sawit. Industri pengolahan kelapa sawit di Indonesia didominasi oleh perusahaan swasta dan perusahaan negara. Pada tahun 2010, jumlah industri pengolahan kelapa sawit di Indonesia mencapai 608 industri dengan kapasitas produksi sebesar 34.280 ton TBS/jam dan akan terus bertambah seiring dengan pertambahan luas penanaman sehingga jumlah perusahaan yang ada dalam industri CPO akan semakin banyak. (Lampiran 9) Industri pengolahan CPO di Indonesia untuk saat ini didominasi oleh perusahaan besar swasta (Astra Agro Lestari, Sinarmas, Indofood, Permata Hijau Group, Sampoerna Agro, Musim Mas, Asian Agri, Wilmar Corporation, dan PP London Sumatera) yang mempunyai modal besar untuk pembangunan unit pengolahan CPO. Pada umumnya perusahaan besar swasta ini merupakan perusahaan yang terintegrasi secara keseluruhan dari hulu hingga hilir. 2) Struktur Pasar a) PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (PT KPBN) PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) dibentuk sebagai badan pemasaran terpusat PTPN yang ada di Indonesia yang memiliki tujuan utama untuk menyelenggarakan pemasaran hasil produksi PTPN dengan berpegang pada prinsip ekonomi dan tugas-tugas BUMN agar PTPN mendapat manfaat yang sebesar-besarnya. Bentuk pemasaran CPO di PT KPBN adalah 56 tender, dimana diawali dengan penawaran jumlah CPO oleh PT KPBN berdasarkan PTPN yang ada lalu para peserta tender (processor) yang berminat akan melakukan penawaran harga sesuai dengan informasi yang mereka miliki hingga tercapainya harga tertinggi. PT KPBN akan menerima penawaran harga tertinggi tersebut bila berada di atas harga ancar-ancar (price idea) yang telah ditetapkan di awal tender oleh PT KPBN atau minimal sama dengan harga ancarancar (price idea) tersebut. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa CPO telah terjual kepada pembeli tersebut. (Siahaan, 2010) PT KPBN sebagai sebuah lembaga pemasaran bagi PTPN menjadi acuan bagi produsen lain dalam menetapkan standar kualitas produk dan harga minyak sawit nasional. Selain sebagai lembaga pemasaran, PT KPBN juga menjalankan fungsinya dalam quality control, pencarian informasi pasar, promosi, konsultasi, jasa pergudangan, pengapalan, customer service termasuk dalam bantuan penyelesaian klaim. Pada PT KPBN ini terdapat beberapa usaha pemasaran yang dijalankan, antara lain: a. Jakarta Tea Auction, setiap hari Rabu pukul 10.00 WIB. b. Tender CPO lokal, setiap hari Senin - Jumat pukul 15.00 WIB. c. Tender CPO ekspor, setiap bulan sekali pada minggu pertama. d. Tender karet, setiap hari Selasa pukul 14.30 WIB. e. Tender molasses/tetes, awal musim giling (April - Oktober). Saat ini ada 10 PTPN yang merupakan produsen CPO Indonesia antara lain PTPN I - PTPN VIII, PTPN XIII dan PTPN XIV. Oleh sebab itu ada 10 produsen CPO yang ada di PT KPBN. Selain itu pembeli untuk CPO lokal yang terdaftar di PT KPBN berjumlah sekitar 50 perusahaan dengan pelanggan utama seperti: Astra Agro Lestari, Musim Mas, Multi Nabati Asahan, PT Bukit Kapur Reksa, Permata Hijau Sawit, SMART Tbk, Wilmar Nabati Indonesia, Nagamas Palmoil Lestari, Bina Karya Prima, Darmex Oil & Fats, Pelita Agung Agrindustri, Inti Benua Perkasatama, Sinar Alam Permai, Palm Mas Asri, Tunas Baru Lampung, Pacific Palmindo Industri, Indokarya Internusa, dll. Sedangkan pelanggan utama untuk CPO ekspor antara lain Uni Eropa (Wilmar, ISISA, Safic Alcan), India (Protea), China (Wilmar), Malaysia, Singapura (Gladale Ltd, Wilmar), dll. 57 Produk CPO yang dipasarkan di PT KPBN adalah sejenis (homogen) yang memiliki kualitas seragam dan telah terstandar di seluruh Indonesia (SNI). (Lampiran 10). Selain itu, informasi beredar secara sempurna dimana pergerakan harga CPO selalu dipantau setiap saat (real time) baik oleh pihak PT KPBN maupun oleh pihak pembeli. PT KPBN sendiri mendapatkan informasi secara real time dan periodik. Setiap pembeli dan penjual (PTPN) adalah penerima harga dimana pergerakan harga sangat bergantung pada harga CPO internasional (MDEX Malaysia dan pasar fisik Rotterdam), kurs/nilai tukar rupiah, serta hargaharga minyak nabati dunia sebagai substitusinya (pasar minyak kedelai USA/CBOT, Argentina/GBRA, Brazil/SYBV, India/NBTI, China/DCE, pasar minyak kelapa Filipina, dll). Di samping itu KPBN juga menerima produsen CPO lain yang ingin bergabung untuk menjual produknya melalui tender di KPBN.17 Dari penjelasan di atas, maka dapat saya simpulkan bahwa struktur pasar pada pelaksanaan tender CPO lokal di PT KPBN cenderung mendekati bentuk pasar bersaing (competitive market), dimana dalam satu wilayah pasar terdapat banyak penjual dan banyak pembeli. PT KPBN sendiri menjual sebagian besar produk CPOnya kepada pabrikan dalam negeri untuk mengutamakan memenuhi kebutuhan dalam negeri, sisanya baru diekspor ke negara-negara seperti: Uni Eropa, India, China, Malaysia, Singapura, dlll. b) PT Bursa Berjangka Jakarta Selain melalui KPBN, sejak tahun 2009 pemasaran CPO Indonesia juga dilakukan dalam bentuk perdagangan fisik CPO melalui PT Bursa Berjangka Jakarta. PT Bursa Berjangka Jakarta adalah penyelenggara pasar fisik minyak sawit mentah (CPO) terorganisir yang melaksanakan leleng fisik CPO secara online. Lelang secara online inilah yang memfasilitasi pihak penjual dapat melakukan penawaran jual sebagian (partial) atau melakukan penawaran jual keseluruhan (all or none) dengan menggunakan harga patokan jual (reverse price) dan memfasilitasi pihak pembeli untuk dapat memberikan penawaran beli kepada pihak penjual. 17 Sekilas Tentang PT KPBN. 2012. http://www.kpbptpn.co.id/about-0.html [Diakses pada 7 Juni 2012] 58 Informasi penjualan CPO pada lelang wajib mencantumkan informasi seperti lokasi barang, mutu, jumlah, jenis dan tempat penyerahan serta harga patokan jual (reverse price) yang akan dilelang dalam satu sesi tertentu (khusus informasi mengenai harga patokan jual/reverse price ini tidak dapat dilihat oleh pembeli sampai berakhirnya lelang pada sesi tersebut). Perdagangan pada BBJ diselenggararakan setiap hari kerja, Senin sampai dengan Jumat, mulai pukul 10:45 WIB sampai dengan pukul 17:00 WIB yang setiap harinya dibagi menjadi lima sesi perdagangan, setiap sesi perdagangan dilakukan lelang selama 45 menit. Jadwal sesi perdagangan pada PT BBJ adalah sebagai berikut: (1) Pukul 11.00 WIB sampai dengan 11.45 WIB (2) Pukul 13.00 WIB sampai dengan 13.45 WIB (3) Pukul 14.00 WIB sampai dengan 14.45 WIB (4) Pukul 15.00 WIB sampai dengan 15.45 WIB (5) Pukul 16.00 WIB sampai dengan 16.45 WIB Peserta pada Bursa Berjangka Jakarta ini terdiri dari pembeli dan penjual. Pembeli terbagi menjadi dua, yaitu pembeli prosesor dan pembeli nonprosesor (pedagang). Sejak dibukanya pasar ini, tercatat ada 12 penjual dan 9 pembeli resmi terdaftar sebagai peserta kontrak perdagangan fisik CPO. Para penjual terdiri dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I hingga PTPN VIII, PTPN XIII, PTPN XIV, PT Rajawali Nusantara Indonesia dan PT Bina Karya Prima. Sedangkan pembelinya adalah PT Bina Karya Prima, PT Musim Mas, PT Pelita Agung Agri Industri, PTPN III, PTPN XIV, PT Fath Indonesia dan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk.18 Dalam pasar ini, juga cenderung mendekati bentuk pasar bersaing (competitive market), dimana dalam satu wilayah pasar terdapat banyak penjual dan banyak pembeli. 3) Strategi Strategi sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan industri minyak sawit (CPO) Indonesia. Dengan menggunakan prinsip strategi yang diterapkan oleh perusahaan multidivisional, maka strategi dalam mengembangakan industri CPO menggunakan tiga level strategi, yaitu: 18 Saatnya Jadi Penentu http://www.fileinvestasi.com [Diakses pada 18 Juli 2012] 59 a) Strategi Korporasi Strategi korporasi menggambarkan arah kebijakan pemerintah terhadap arah pengembangan industri minyak sawit di Indonesia. Sejak Mei 2011, pemerintah meluncurkan program Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Program ini memiliki visi yaitu mengangkat Indonesia menjadi negara maju dan merupakan kekuatan 12 besar dunia di tahun 2025 dan 8 besar dunia pada tahun 2045 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif dan berkelanjutan. Salah satu komoditas yang menjadi program utama pertanian pada MP3EI adalah minyak sawit (CPO). Penerapan MP3EI pada komoditi minyak sawit terlihat dengan adanya penetapan Koridor Ekonomi Sumatera sebagai sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energi nasional. Hal ini ditunjukkan dengan pengembangan klaster kawasan industri berbasis oleokimia yang terletak di Sei Mangkei, Sumatera Utara; Dumai, Riau dan Maloy, Kalimantan Timur. Selain pembangun klaster industri, pemerintah juga infrastruktur pendukung, seperti pelabuhan (Metro Medan, Dumai, Palembang), jalan (trans sumatera), dan rel kereta (trans sumatera, termasuk rel kereta untuk CPO di Riau). b) Strategi Bisnis Strategi bisnis lebih menekankan pada perbaikan posisi persaingan produk. Hal ini menuntut produsen minyak sawit di Indonesia untuk mengolah CPO yang dihasilkan agar memiliki nilai tambah. Saat ini mayoritas CPO yang dihasilkan diekspor keluar negeri dalam bentuk minyak sawit mentah dan Indonesia kurang memanfaatkan industri turunan CPO. Sesuai dengan Peraturan Presiden No. 28 tahun 2008, tentang Kebijakan Industri Nasional, industri pengolahan kelapa sawit (turunan minyak sawit mentah) merupakan salah satu prioritas untuk dikembangkan dan mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi, seperti industri oleofood, oleochemical, energi dan pharmaceutical. c) Strategi Fungsional i. Strategi Keuangan Pada perusahaan besar swasta, modal dalam rangka pengembangan perkebunan maupun pabrik kelapa sawit sudah kuat karena didukung oleh 60 perusahaannya sebagai investor utama dan tambahan modal dari modal perusahaan asing yang tertarik dengan prospek bisnis minyak sawit (CPO). ii. Strategi Produksi Pengembangan tiga kawasan industri strategis berbasis oleokimia yakni, Sei Mangkei di Sumatera Utara, Dumai di Riau dan Maloy di Kalimantan Timur mendorong pemerintah membangun infrastruktur utama dan pendukung pada ketiga kawasan industri tersebut. Kawasan Sei Mangkei direncanakan memiliki total luas area mencapai 640 ha, dengan dukungan suplai bahan baku berupa minyak sawit mentah dari PTN III. Infrastruktur saat ini yang sudah terbangun di Sei Mangke adalah ketersediaan air dan pasokan energi listrik, akses jalan menuju kawasan industri klaster serta dekat dengan kota. Kegiatan bongkar muat CPO dipusatkan di Pelabuhan Kuala Tanjung sebagai dermaga ekspor dari kawasan industri Sei Mangkei. (Kementerian Perindustrian 2011) Kementerian Perindustrian (2011) menyatakan bahwa pembangunan klaster industri sawit Dumai, Propinsi Riau, dikarenakan Propinsi Riau merupakan kontribusi terbesar dalam produksi CPO di Indonesia. Pembangunan kawasan ini melibatkan pemerintah daerah dan swasta. Pemerintah daerah mendukung adanya klaster industri sawit Dumai dengan mempersiapkan pendanaan infrastruktur seperti akses jalan dan mengalokasikan lahan kawasan industri seluas 5.000 ha, namun saat ini baru terpakai seluas 300 ha oleh pihak swasta. Sementara swasta diperkenankan membangun kawasan industri dengan mempermudah perizinan dan memberikan insentif. Kegiatan bongkar muat CPO dipusatkan di pelabuhan Dumai. Setiap tahunnya kegiatan bongkar muat CPO di kawasan ini mencapai 6 juta ton/tahun. Pembangunan kawasan industri juga dikembangkan pada Kawasan Indonesia Timur, salah satunya adalah klaster industri Maloy, Kalimantan Timur. Saat ini daerah Maloy difokuskan untuk pengembangan Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI). Untuk dukungan infrastruktur pemerintah akan membangun jalan tol menuju Maloy sepanjang 130 km (Sangatta-Maloy) dan kebutuhan sarana jalan lain disekitarnya yaitu dari SP 3 Maloy menuju pelabuhan Maloy/Teluk Golok. Pembangunan kawasan ini direncanakan dimulai pada tahun 2015. (Kementerian Perindustrian 2011) 61 iii. Strategi Pemasaran ฀ Produk Harga jual CPO yang dijual dipasaran dipengaruhi oleh kualitas yang terkandung pada CPO. Pada pasar dalam negeri, CPO yang dijual harus memiliki standar yang jelas yaitu SNI. (Lampiran 10). Selain SNI, masih ada lagi sertifikasi yang harus dipenuhi bagi produsen CPO yaitu sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang menunjukkan bahwa produsen CPO mendukung usaha berkelanjutan mempertahankan dan memperkuat posisi Indonesia dalam perkelapasawitan dunia. Selain itu, harga jual CPO yang sudah bersetifikasi ISPO akan lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual CPO tidak bersertifikasi. ฀ Harga Harga yang tinggi untuk komoditi CPO di pasar internasional akan menyebabkan produsen meningkatkan penjualannya. Pemasaran keluar negeri dapat dilakukan melalui pasar berjangka. Untuk mengatasi lonjakan harga luar negeri yang sering berfluktuasi karena CPO sebagai salah satu minyak nabati yang banyak digunakan sebagai bahan baku biodiesel, pemerintah menetapkan harga dan menetapkan biaya keluar ekspor (BK Ekspor). Kebijakan ini merupakan salah satu regulasi pemerintah agar pasokan kebutuhan CPO dalam negeri tercukupi. ฀ Promosi Akses informasi pasar minyak sawit sangat penting bagi pengetahuan konsumen industri CPO. Melalui promosi yang dilakukan oleh produsen, informasi komoditas yang ditawarkan dapat dikenal oleh para konsumen dalam maupun luar negeri. Berbagai macam informasi melalui promosi yang berupa jurnal ilmiah, buletin, buku, seminar, simposium, pameran, iklan surat kabar, dan iklan elektronik (internet, televisi). ฀ Distribusi Besarnya ekspor CPO akan mempengaruhi ketersediaan CPO di dalam negeri. Perusahaan besar yang mempunyai kebun dan pabrik pengolahan sendiri mendistribusikan hasil produknya didalam maupun ke luar negeri sudah mempunyai kantor pemasaran, sehingga saluran tataniaganya efektif dibandingkan dengan perusahaan yang tidak mempunyai kantor pemasaran dan 62 hanya mengandalkan distributor sehingga memperpanjang saluran tataniaga yang berakibat berkurangnya margin keuntungan yang diperoleh perusahaan tanpa kantor pemasaran. Berdasarkan keputusan Menteri Pertanian No 339/Kpts/PD.300/5/2007 mengenai pasokan CPO untuk kebutuhan dalam negeri guna stabilisasi harga minyak goreng. Dengan keputusan ini, pengusaha yang tergabung dalam organisasi Gapki dan Non-Gapki wajib menyalurkan CPO kepada kepada Asosiasi Minyak Nabati Indonesia untuk diolah menjadi minyak goreng. iv. Strategi Sumberdaya Manusia Dalam rangka menghadapi persaingan global yang semakin ketat, diperlukan kompetensi sumberdaya manusia unggulan, yang mampu melaksanakan pengembangan industri minyak sawit nasional dengan cara yang berkelanjutan. Dalam pemenuhan SDM teknis, Indonesia memiliki beberapa tempat pendidikan antara lain INSTIPER, Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi, dan Lembaga Pendidikan Perkebunan. Sementara itu, dalam memenuhi kebutuhan SDM di bidang riset dan pengembangan (R&D) industri minyak sawit nasional, ada beberapa lembaga yang berkecimpung di dalamnya, antara lain Pusat Penelitian Kelapa Sawit, SEAFAST Center IPB, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB, Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB, Pusat Penelitian Bioteknologi ITB, Pusat Penelitian Ilmu Hayati ITB, Pusat Penelitian Bioteknologi UGM, Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Balai Penelitian Bioteknologi dan Perkebunan Indonesia, Forum Biodiesel Indonesia, Universitas Lampung, dan SEAMEO Biotrop IPB 5.1.5. Peran Pemerintah Pemerintah merupakan aspek yang sangat penting dalam menentukan kualitas dayasaing suatu bangsa. Pemerintah memiliki kewenangan membuat regulasi, mengatur, memfasilitasi, melindungi bahkan membatasi aktivitas dari warga negaranya, termasuk seluruh warga dan stakeholder yang terlibat dalam kegiatan industri minyak sawit di Indonesia. Pemerintah pada tanggal 7 Desember 2006 mendirikan Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) dengan tujuan untuk 63 meningkatkan kerjasama dan koordinasi antar pelaku usaha serta memfasilitasi perumusan regulasi dan kebijakan perkelapa sawitan nasional yang mampu membawa pelaku usaha untuk bersaing, tangguh di pasar Internasional dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.19 DMSI sebagai pusat koordinasi program dan kebijakan perkelapa-sawitan nasional bertugas memfasilitasi secara aktif dalam hal: a. Perumusan program pembangunan industri minyak sawit nasional. b. Perumusan regulasi dan kebijakan pembangunan industri minyak sawit nasional yang berdayasaing, tangguh di pasar internasioal dan berkelanjutan untuk dilaksanakan oleh seluruh instansi yang berwenang dan pihak-pihak terkait. c. Perumusan pedoman jangka panjang program pembangunan minyak sawit nasional. d. Pemantauan dan evaluasi implementasi regulasi dan kebijakan pembangunan industri minyak sawit nasional. Peranan pemerintah tercermin melalui kebijakan, regulasi, maupun dukungan terhadap upaya-upaya pengembangan minyak sawit. Hingga saat ini, terdapat beberapa kebijakan, regulasi maupun sikap pemerintah yang mempengaruhi kelangsungan kegiatan industri minyak sawit di Indonesia. Berikut ini adalah beberapa bentuk kebijakan maupun sikap yang dinilai paling berpengaruh terhadap industri minyak sawit nasional : 1. Penerapan kebijakan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) merupakan salah satu instrumen untuk mendukung usaha berkelanjutan mempertahankan dan memperkuat posisi Indonesia dalam perkelapasawitan dunia. Ketentuan ISPO dituangkan dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 19 tahun 2011 tentang Sertifikasi Standar Minyak Sawit Berkelanjutan. Dalam Permentan ini, Kementerian Pertanian menetapkan tujuh prinsip dan kriteria ISPO yang diuraikan dalam 98 indikator. Ketujuh prinsip dan 19 DMSI. 2012. Tentang Dewan Minyak Sawit Indonesia http://dmsi.or.id/aboutus [Diakses pada 8 Juli 2012]. 64 kriteria tersebut adalah sistem perizinan dan manajemen perkebunan, penerapan pedoman teknis budidaya dan pengelolaan kelapa sawit, pengelolaan dan pemantauan lingkungan, tanggungjawab terhadap pekerja, tanggungjawab terhadap sosial-komunitas, pemberdayaan kegiatan ekonomi masyarakat, serta peningkatan usaha berkelanjutan. Dengan sertifikasi ISPO ini, Indonesia sudah bisa menentukan sendiri harga CPO di dalam negeri dan tidak lagi mengacu pada harga komoditas sawit di pasar Rotterdam dan Malaysia.20 2. Penetapan Bea Keluar Ekspor (BK Ekspor) Pemeritah Indonesia mengeluarkan kebijakan penurunan pajak ekspor (BK) untuk minyak sawit olahan dari 25 persen menjadi hanya 13 persen, dan untuk minyak sawit mentah sebesar 22,5 persen. Kebijakan ini dilakukan guna meningkatkan hasil produksi dan ekspor minyak sawit olahan agar setara dengan jumlah ekspor minyak sawit mentah. Penurunan tarif pajak ekspor tersebut telah membuat Indonesia unggul atas Malaysia dengan memberikan perbedaan tarif pajak ekspor yang cukup signifikan. Terbukti, setelah penurunan pajak ekspor tersebut diterapkan, ekspor minyak sawit olahan Indonesia meningkat hingga 29 persen menjadi 2,9 juta ton pada kuartal keempat tahun 2011. Sedangkan ekspor minyak sawit mentah Indonesia melonjak 23 persen menjadi 2,28 juta ton. Sementara itu, kapasitas produksi industri pengolahan minyak kelapa sawit Malaysia malah berkurang.21 Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan juga menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) kelapa sawit, CPO, dan produk turunannya. Penetapan ini dapat dilihat pada Lampiran 11. 3. Pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit Industri Hilir Kelapa Sawit (IHKS) memegang peranan penting dalam perekonomian nasional, khususnya sebagai penghasil devisa, penyerap tenaga kerja dan penyedia kebutuhan pokok masyarakat. Berdasarkan Peraturan Presiden No. 28 tahun 2008, tentang Kebijakan 20 21 ISPO: Perkuat Posisi Indonesia di Pasar Global dalam Majalah Tropis Edisi 3/Tahun IV / 2011 Kebijakan BK CPO Indonesia Ancam Sawit Malaysia http://www.infosawit.com [Diakses pada 20 Juli 2012] 65 Industri Nasional, industri pengolahan kelapa sawit (turunan minyak sawit mentah) merupakan salah satu prioritas untuk dikembangkan dan mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi, seperti industri oleofood, oleochemical, energi dan pharmaceutical. Selain itu, dalam Permenperin No. 111/M-IND/PER/10/2009 tentang Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Industri Pengolahan Kelapa Sawit, disebutkan bahwa pembangunan klaster Industri Hilir Kelapa Sawit jangka menengah (2010-2014) akan difokuskan di Sumut, Riau dan jangka panjang akan diintegrasikan di Kaltim, Kalbar, Kalsel dan Papua. (Kementerian Perindustrian, 2011) 5.1.6. Peran Kesempatan Faktor kesempatan merupakan suatu faktor yang berada di luar jangkauan stakeholder minyak sawit nasional. Keberadaan faktor ini dapat menjadi suatu momen yang bisa mengangkat posisi dayasaing minyak sawit Indonesia. Dalam kasus industri minyak sawit, terdapat kesempatan yang dapat dimanfaatkan baik itu berasal dari dalam maupun luar negeri. Kesempatan dari dalam negeri adalah prospek industri minyak sawit yang cerah di masa yang akan datang. Ramadhan (2011) menyatakan bahwa peningkatan konsumsi CPO domestik diperkirakan rata-rata sebesar 3,90 persen dalam lima tahun ke depan. Peningkatan ini sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk Indonesia dan penerapan program biofuel dari CPO oleh pemerintah. Sebagian besar konsumsi domestik CPO Indonesia digunakan sebagai bahan baku utama minyak goreng. Sementara itu, kesempatan dari luar negeri adalah lahan perkebunan kelapa sawit di Malaysia yang sudah mencapai 4,85 juta ha atau setara dengan 70 persen luas lahan pertanian di Malaysia, menyebabkan Malaysia tidak bisa lagi melakukan pembukaan lahan baru22. Selain itu, adanya standarisasi kualitas CPO akan mendorong produsen tanah air untuk melengkapi produk CPOnya dengan atribut sertifikasi yang menunjukan kepedulian mereka kepada pekerja, lingkungan, serta kegiatan kelapa sawit yang berkelanjutan. Saat ini ada dua jenis sertifikasi yang berlaku pada CPO, yaitu RSPO dan ISCC. 22 Tan Sri Bernard Giluk Dompok. 2012. Sawit Jadi Pilar Ekonomi Malaysia dalam Majalah Tropis Edisi Khusus / Tahun V / 2012. 66 RSPO adalah lembaga internasional yang menetapkan delapan prinsip pengelolaan sawit lestari, meliputi komitmen terhadap transparansi, memenuhi hukum dan peraturan yang berlaku, komitmen terhadap kelayakan ekonomi dan keuangan jangka panjang, penggunaan praktek terbaik dan tepat oleh perkebunan dan pabrik, tanggung jawab lingkungan dan konservasi kekayaan alam dan keanekaragaman hayati, tanggung jawab kepada pekerja, individu dan komunitas dari kebun dan pabrik. Keuntungan sertifikat RSPO adalah diakui sebagai produsen ramah lingkungan dan harga yang premium atau lebih tinggi US$ 6 per ton dari harga pasaran internasional. International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) merupakan sistem sertifikasi bertaraf internasional untuk membuktikan sustainability, traceability dan penghematan dari efek gas rumah kaca untuk segala jenis produksi energi yang terbarukan. Dengan sertifikasi ini berarti produsen mampu menyediakan minyak sawit sesuai dengan Standar Energi Terbarukan Uni Eropa. Selain itu, CPO bersertifikasi ISCC berpotensi untuk mendapatkan premium sekitar US$20 – US$30 per ton dari harga di pasar dunia.23 5.2. Keterkaitan Antar Komponen Utama Sistem Berlian Porter Setelah kita menganalisis sistem industri minyak sawit di Indonesia dengan menggunakan Sistem Berlian Porter maka akan terlihat keterkaitan antara komponen utama dan komponen penunjang. Keterkaitan antar komponen tersebut ada yang bersifat saling mendukung maupun tidak saling mendukung. Keterkaitan antar komponen utama Sistem Berlian Porter pada komoditas CPO dapat dilihat pada Tabel 13. 23 Utomo YW. 2012. Asian Agri Terima Sertifikasi ISCC dalam Kompas Edisi Kamis 5 April 2012 67 Tabel 13. Keterkaitan Antar Komponen Utama No Komponen A Komponen B Keterkaitan Antar Komponen Saling mendukung 1 Persaingan, struktur, dan strategi Kondisi faktor sumberdaya 2 Persaingan, struktur, dan strategi Industri terkait dan industri pendukung Saling mendukung 3 Persaingan, struktur, dan strategi Kondisi permintaan Saling mendukung 4 Kondisi faktor sumberdaya Industri terkait dan industri pendukung Saling mendukung 5 Kondisi faktor sumberdaya Kondisi Permintaan Saling mendukung 6 Kondisi Permintaan Industri terkait dan industri pendukung Saling mendukung Keterangan Hasil-hasil penelitian yang merupakan sumberdaya IPTEK mendukung strategi promosi dan publikasi yang dilakukan untuk pengembangan minyak sawit. Struktur pasar CPO yang mendekati bentuk pasar bersaing (competitive market) menyebabkan berkembangnya industri terkait, seperti industri pengolahan CPO. Peningkatan konsumsi CPO domestik masih dapat dipenuhi oleh produksi CPO dalam negeri. Adanya strategi yang produk CPO yang menggunakan standar kualitas CPO berdasarkan SNI yang sehingga CPO Indonesia mampu bersaing dengan CPO dari negara lain. Sejauh ini, kondisi faktor sumberdaya telah mampu menyokong industri terkait dan pendukung minyak sawit nasional. Salah satunya dalam pemenuhan bahan baku untuk pengolahan CPO. Namun, industri pengolahan CPO masih mengandalkan minyak goreng, margarin, dan olein sebagai produk olahan utamanya, sehingga dibutuhkan komitmen dari seluruh stakeholder agar industri turunan CPO dalam negeri dapat terus bersaing. Kondisi faktor sumberdaya menjadikan Indonesia sebagai eksportir CPO terbesar di dunia dan masih dapat memenuhi kebutuhan konsumen domestik Industri terkait dan industri pendukung sudah mampu memenuhi permintaan domestik. Bahkan untuk produk olahan CPO berupa minyak goreng sawit sudah diekspor keluar negeri. 68 Penjelasan dari Tabel 13 mengenai keterkaitan antar komponen utama pada Sistem Berlian Porter sebagai berikut: 1) Persaingan, struktur, dan strategi dengan kondisi faktor sumberdaya Keterkaitan antar komponen utama yang saling mendukung dapat dilihat pada komponen persaingan, struktur, dan strategi dengan kondisi faktor sumberdaya industri minyak sawit. Hal ini terlihat pada strategi promosi yang banyak dilakukan sebagai upaya untuk mengembangkan industri minyak sawit di Indonesia. Sedangkan untuk faktor sumberdaya sendiri seperti sumberdaya IPTEK yang telah menghasilkan berbagai hasil penelitian yang mampu mendukung strategi promosi dan publikasi yang dilakukan untuk pengembangan kelapa sawit. Promosi dan publikasi yang dilakukan berupa jurnal ilmiah, buletin, buku, seminar, simposium, pameran, iklan surat kabar, iklan elektronik (internet, televisi) dan lain-lain dan digunakan untuk membantu pengembangan minyak sawit di Indonesia. 2) Persaingan, struktur dan strategi dengan industri terkait dan industri pendukung Keterkaitan yang saling mendukung lainnya terdapat pada komponen industri terkait dan industri pendukung dengan persaingan, struktur, dan strategi industri minyak sawit. Hal ini terjadi karena industri terkait dan industri pendukung, seperti dengan keberadaan 13 grup produsen utama minyak goreng sawit di Indonesia dengan kapasitas produksi maksimal 12.649.000 ton/tahun yang menggunakan CPO produksi dalam negeri. Selain itu, struktur pasar CPO yang mendekati bentuk pasar bersaing (competitive market) menyebabkan berkembangnya industri terkait, seperti industri pengolahan CPO. 3) Persaingan, struktur, dan strategi dengan kondisi permintaan Kondisi permintaan dengan persaingan, struktur dan strategi memiliki keterkaitan yang saling mendukung. Hal ini disebabkan karena peningkatan konsumsi CPO domestik masih dapat dipenuhi oleh produksi CPO dalam negeri. Selain itu, strategi yang produk CPO sudah menggunakan standar kualitas CPO berdasarkan SNI yang dikeluarkan pada tahun 2006 sehingga CPO Indonesia mampu bersaing dengan CPO dari negara lain. Hal inilah yang mendukung kondisi permintaan CPO domestik. 69 4) Kondisi faktor sumberdaya dengan industri terkait dan industri pendukung Keterkaitan yang saling mendukung terdapat pada komponen kondisi faktor sumberdaya dengan industri terkait dan industri pendukung. Hal ini dikarenakan kondisi faktor sumberdaya telah mampu menyokong industri terkait dan pendukung minyak sawit nasional. Salah satunya dalam pemenuhan bahan baku untuk pengolahan CPO. Namun, industri pengolahan CPO masih mengandalkan minyak goreng, margarin, dan olein sebagai produk olahan utamanya, sehingga dibutuhkan komitmen dari seluruh stakeholder agar industri turunan CPO dalam negeri dapat terus bersaing. 5) Kondisi faktor sumberdaya dengan kondisi permintaan Kondisi faktor sumberdaya dengan kondisi permintaan memiliki keterkaitan yang saling mendukung. Hal ini terlihat pada kondisi faktor sumberdaya minyak sawit yang sudah mampu memenuhi kebutuhan domestik. Bahkan sejak tahun 2007, Indonesia merupakan eksportir CPO terbesar di dunia. 6) Kondisi kondisi permintaan dengan industri terkait dan industri pendukung Keterkaitan yang saling mendukung juga terdapat pada kondisi permintaan dengan industri terkait dan industri pendukung. Hal ini dikarenakan tingginya permintaan CPO dalam bentuk olahan seperti minyak goreng, margarin, dan sabun membuat berkembangnya industri pengolahan CPO di dalam negeri. Sedangkan untuk industri terkait dan industri pendukung sendiri mendukung kondisi permintaan domestik. Hal ini dikarenakan industri terkait dan industri pendukung sudah mampu memenuhi permintaan domestik. Bahkan untuk produk olahan CPO berupa minyak goreng sawit sudah diekspor keluar negeri. 5.3. Keterkaitan Komponen Pendukung Sistem Berlian Porter Selain terdapat keterkaitan antar komponen utama, seperti yang telah dijelaskan di atas, juga terdapat keterkaitan antar komponen penunjang dengan komponen utama. Adapun keterkaitan antar komponen penunjang dengan komponen utama dayasaing industri minyak sawit dapat dilihat pada Tabel 14. 70 Tabel 14. Keterkaitan Antar Komponen Penunjang dengan Komponen Utama No Komponen Penunjang 1 Peranan pemerintah 2 Peranan kesempatan Keterkaitan Antar Keterangan Komponen ฀ Kondisi faktor ฀ Mendukung ฀ Pemerintah memberikan sumberdaya bantuan kredit berupa pembangunan PKS mini pada perkebunan rakyat serta adanya riset yang dilakukan oleh PPKS ฀ Industri terkait ฀ Mendukung ฀ Adanya program dan pendukung pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit (IHKS) ฀ Kondisi ฀ Mendukung ฀ Penetapan industri berbasis permintaan CPO sebagai prioritas dalam RPJM ฀ Persaingan, ฀ Mendukung ฀ Dukungan terhadap program struktur, dan promosi dan publikasi strategi ฀ Kondisi faktor ฀ Mendukung ฀ Kondisi agroklimat sumberdaya Indonesia yang mendukung Indonesia sebagai negara terluas dalam hal lahan perkebunan kelapa sawit yang juga menjadikan Indonesia sebagai produsen CPO terbesar di dunia ฀ Industri terkait ฀ Mendukung ฀ Lahan kelapa sawit di dan pendukung Malaysia yang sudah mencapai 4,85 juta ha atau setara dengan 70 persen luas lahan pertanian di Malaysia, menyebabkan Malaysia tidak bisa lagi melakukan pembukaan lahan baru serta meningkatnya kebutuhan CPO membuat industri terkait dan pendukung di negara konsumen menggunakan CPO Indonesia ฀ Kondisi ฀ Mendukung ฀ Peningkatan konsumsi CPO permintaan domestik diperkirakan ratarata sebesar 3,90 persen dalam lima tahun ke depan. Peningkatan ini sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk Indonesia dan penerapan program biofuel dari CPO oleh pemerintah. ฀ Persaingan, ฀ Mendukung ฀ Adanya standarisasi kualitas struktur, dan produk minyak sawit yang strategi berkelanjutan (sustainable palm oil), baik berupa sertifikat RSPO maupun ISCC Komponen Utama 71 Adapun penjelasan dari keterkaitan antar komponen penunjang dengan komponen utama pada Sistem Berlian Porter yang telah disajikan pada Tabel 14 adalah sebagai berikut: 1) Peran pemerintah mendukung semua komponen utama Pemerintah sangat berperan dalam mendukung setiap komponen dayasaing industri minyak sawit di Indonesia. Dukungan pemerintah terhadap kondisi faktor sumberdaya ditunjukkan dengan pemberian bantuan kredit melalui pola Kredit Koperasi Primer untuk Anggota (KPPA) pada perkebunan plasma dengan bank umum sebagai bank pelaksananya. Selain itu pemerintah juga mendirikan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Mini dengan kapasitas produksi 5 – 10 ton TBS/jam pada perkebunan rakyat. Pada industri terkait dan pendukung, pemerintah mencanangkan beberapa program, yaitu program pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit (IHKS) yang merupakan salah satu prioritas untuk dikembangkan dan mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi, seperti industri oleofood, oleochemical, energi dan pharmaceutical. Kondisi permintaan ditunjang dengan adanya keputusan pemerintah yang menetapkan industri berbasis CPO sebagai prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) sebagaimana dituangkan dalam Kebijakan Pembangunan Industri Nasional. Selain itu, dalam hal persaingan, struktur, dan strategi, pemerintah memberikan dukungan terhadap program promosi dan publikasi. Promosi dan publikasi yang telah dilakukan untuk membantu pengembangan minyak sawit di Indonesia berupa jurnal ilmiah, buletin, buku, seminar, simposium, pameran, dan lain-lain. 2) Peran kesempatan mendukung seluruh komponen utama Dari hasil analisis komponen Sistem Berlian Porter dapat diketahui komponen penunjang yaitu peranan kesempatan memiliki keterkaitan yang saling mendukung dengan seluruh komponen utama. Peran kesempatan mendukung komponen sumberdaya yaitu, kondisi agroklimat Indonesia yang terletak di daerah tropis yang beriklim basah menjadikan Indonesia sebagai produsen CPO terbesar di dunia. Selain itu, pada tahun 2010 perkebunan kelapa sawit di Indonesia menyerap 3.375.397 orang tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa agribisnis kelapa sawit merupakan agent of development utamanya melalui 72 penciptaan lapangan kerja dan mempercepat pembangunan perekonomian di wilayah-wilayah terpencil, selain sumbangan langsung terhadap devisa negara non-migas. Dalam hal industri terkait dan pendukung, kesempatan memiliki peran yang mendukung ditunjukkan dengan peningkatan kebutuhan CPO dunia serta keterbatasan lahan pertanian di Malaysia. Saat ini lahan kelapa sawit di Malaysia yang sudah mencapai 4,85 juta ha atau setara dengan 70 persen luas lahan pertanian di Malaysia, menyebabkan Malaysia tidak bisa lagi melakukan pembukaan lahan baru. Hal ini menyebabkan negara konsumen lebih banyak menggunakan CPO Indonesia. Peran kesempatan juga mendukung kondisi permintaan yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan konsumsi CPO domestik diperkirakan rata-rata sebesar 3,90 persen dalam lima tahun ke depan. Peningkatan ini sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk Indonesia dan penerapan program biofuel dari CPO oleh pemerintah. Dalam hal persaingan, struktur, dan strategi didukung oleh peran kesempatan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya standarisasi kualitas produk mulai dari pengelolaan kebun, manajemen, serta tanggung jawab tehadap lingkungan dan kelangsungan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan (sustainable palm oil). Hal tersebut akan mendorong produsen tanah air untuk melengkapi produk CPOnya dengan atribut sertifikasi yang menujukan kepedulian mereka kepada pekerja, lingkungan juga keberlangsungan kegiatan minyak sawit yang berkelanjutan. Saat ini ada dua jenis sertifikasi yang berlaku pada CPO, yaitu RSPO dan ISCC. 73 Keterangan : Garis  menunjukkan keterkaitan antar komponen yang saling mendukung Gambar 10. Keterkaitan Antar Komponen Sistem Berlian Porter 74 Berdasarkan analisis keterkaitan antar komponen, maka dapat disimpulkan bahwa keterkaitan antar komponen-komponen utama sudah berdayasaing, karena semua pasang komponen sudah saling mendukung. Ditambah lagi dukungan terhadap seluruh komponen dalam industri sawit di Indonesia yang dilakukan oleh peran pemerintah maupun peran kesempatan. Hal tersebut menunjukan peran pemerintah dan kesempatan mampu meningkatkan posisi dayasaing minyak sawit Indonesia apabila seluruh stakeholder mengupayakan diri untuk dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dari kesempatan-kesempatan tersebut. 5.4. Analisis Keunggulan Komparatif Berdasarkan sistem berlian porter diketahui bahwa industri sawit Indonesia memiliki keunggulan kompetitif. Sementara itu, untuk mengetahui keunggulan komparatif industri minyak sawit Indonesia di pasar internasional diukur dengan menggunakan Revealed Comparative Advantage (RCA). Indeks ini digunakan untuk membandingkan posisi dayasaing Indonesia dengan negara produsen minyak sawit lainnya, khususnya Malaysia. Hal ini dikarenakan Indonesia dan Malaysia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Metode ini didasarkan pada suatu konsep bahwa perdagangan antar wilayah sebenarnya menunjukan keunggulan komparatif yang dimiliki oleh suatu wilayah. Variabel yang diukur adalah kinerja ekspor minyak sawit dan turunannya Indonesia terhadap total ekspor Indonesia yang kemudian dibandingkan dengan pangsa nilai produk dalam perdagangan dunia. RCA dapat didefinisikan bahwa jika pangsa ekspor komoditi minyak sawit dan turunannya didalam total ekspor komoditi dari suatu negara lebih besar dibandingkan pangsa pasar ekspor minyak sawit dan turunannya didalam total ekspor komoditi dunia, diharapkan negara tersebut memiliki keunggulan komparatif dalam produksi dan ekspor komoditi minyak sawit dan turunannya. Apabila nilai RCA lebih dari satu berarti negara itu mempunyai keunggulan komparatif (di atas rata-rata dunia) untuk komoditi minyak sawit dan turunannya dalam hal ini berdayasaing kuat. Sebaliknya jika nilai lebih kecil dari satu berarti keunggulan komparatif untuk komoditas minyak sawit dan turunannya rendah (di bawah rata-rata dunia) berdayasaing lemah. Hasil analisis dayasaing minyak sawit dan turunannya Indonesia diperlihatkan pada Gambar 11 dan Gambar 12. 75 100.00 90.00 80.00 70.00 60.00 50.00 40.00 30.00 20.00 10.00 - 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Indonesia 45.48 64.51 66.23 81.99 74.83 79.85 80.84 79.01 86.87 82.29 55.71 Malaysia 20.45 17.21 18.62 15.60 16.10 16.23 15.52 15.07 16.48 16.63 21.27 Indonesia Malaysia Gambar 11. Nilai Indeks RCA CPO Indonesia dan Malaysia, 2001 – 2011 Sumber: UNCOMTRADE (2012) (diolah) Bedasarkan Gambar 11, terlihat bahwa nilai RCA minyak sawit (Crude Palm Oil) dengan kode HS 151110000 baik Indonesia maupun Malaysia mempunyai nilai lebih dari satu. Sejak tahun 2001, nilai RCA CPO Indonesia selalu mengalami peningkatan hingga mencapai puncak tertinggi pada tahun 2004 tetapi kemudian turun menjadi 74,83 pada tahun 2005. Setelah itu nilai RCA Indonesia cenderung meningkat mencapai tingkat tertinggi yaitu 86,87 pada tahun 2009, namun turun kembali pada tahun 2010 menjadi 82,29 dan turun lagi menjadi 55,71 pada tahun 2011. Dayasaing CPO Malaysia seperti yang ditunjukkan nilai RCA dalam tabel di atas, nilai RCA-nya berada jauh di bawah Indonesia. Nilai RCA CPO Malaysia cenderung berfluktuasi dan mengalami peningkatan tertinggi pada tahun 2011 yaitu sebesar 4,64 poin dibandingkan dengan tahun 2010. Pada tahun 2011, nilai RCA CPO Malaysia mencapai 21,27. Tren ini terjadi akibat kemampuan produksi Malaysia yang berkurang. Ini disebabkan Malaysia lebih fokus melakukan ekspor produk turunan CPOnya dibandingkan mengekspor CPO. Kondisi sebaliknya terjadi pada produk turunan minyak sawit dengan kode HS 151190000. Pada produk turunan minyak sawit ternyata nilai RCA Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan Malaysia, namun produk turunan minyak sawit Indonesia masih memiliki dayasaing komparatif. Hal ini ditunjukkan dengan nilai RCA yang lebih dari satu, seperti terlihat pada Gambar 12. 76 45.00 40.00 35.00 30.00 25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 0.00 2007 2008 2009 2010 2011 Indonesia 37.11 33.94 33.27 30.17 29.83 Malaysia 42.09 42.23 41.11 41.54 42.36 Gambar 12. Nilai Indeks RCA Produk Turunan CPO Indonesia dan Malaysia, 2001 – 2011 Sumber: UNCOMTRADE (2012) (diolah) Pada Gambar 12, terlihat bahwa nilai RCA produk turunan minyak sawit Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan Malaysia dan dari tahun 2007 hingga 2011 terus mengalami penurunan. Kondisi sebaliknya terjadi pada Malaysia, dimana dalam kurun waktu lima tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan Malaysia sudah mengandalkan ekspor produk hilir minyak sawit dibandingkan dengan Indonesia, yang ditunjukkan dengan nilai ekspor minyak sawit dan turunannya pada Lampiran 13 dan Lampiran 14. Perbedaan keunggulan komparatif pada produk minyak sawit dan turunannya antara Indonesia dan Malaysia disebabkan karena Indonesia lebih mengandalkan ekspor minyak sawit yang belum diolah. Sementara Malaysia, mengekspor minyak sawit yang sudah diolah. Saat ini, Pemerintah pun sudah berupaya untuk membangun hilirisasi minyak sawit melalui beberapa kebijakannya, seperti kebijakan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), penetapan BK ekspor, serta pengembangan industri hilir minyak sawit. 77 VI. STRATEGI PENGEMBANGAN DAN ARSITEKTUR STRATEGIK MINYAK SAWIT INDONESIA 6.1. Analisis Strategi Pengembangan Minyak Sawit Indonesia Setelah melakukan analisis dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia, maka langkah selanjutnya adalah merumuskan strategi untuk meningkatkan dayasaing tersebut. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi informasi menjadi dua kelompok, yaitu informasi yang termasuk ke dalam lingkup internal, dan informasi yang termasuk ke dalam lingkup eksternal. Selanjutnya, dilakukan identifikasi kekuatan dan kelemahan yang berasal dari lingkup internal kemudian identifikasi peluang dan ancaman yang berasal dari lingkup eksternal. Sumber informasi yang digunakan berasal dari analisis dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia. Kemudian, dilakukan proses pencocokan dengan menggunakan Matriks SWOT sehingga diperoleh strategi pengembangan yang sesuai dengan kondisi industri minyak sawit dan turunannya di Indonesia saat ini. 6.1.1. Identifikasi Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman Tahap pertama yang dilakukan dalam perumusan strategi adalah melakukan identifikasi strengths, weaknesses, opportunities dan threaths (SWOT). Faktor strengths dan weaknesses diperoleh dari informasi yang berasal dari lingkup internal. Dimana lingkup internal merupakan kegiatan dan pihakpihak yang terlibat dalam kegiatan pengolahan minyak sawit. Sementara faktor opportunities dan threats diperoleh dari kegiatan dan pihak-pihak yang berada di luar kegiatan pengolahan minyak sawit, termasuk lingkungan global (lingkup eksternal). Identifikasi mengenai strengths, weaknesses, opportunities dan threaths tersebut dapat dilihat pada Tabel 15. 78 Tabel 15. Identifikasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman Komponen Identifikasi SWOT A. Faktor Sumberdaya 1. Sumberdaya Manusia 2. Sumberdaya IPTEK ฀ Kelemahan ฀ Peluang 3. Sumberdaya Modal ฀ Peluang 4. Sumberdaya Infrastruktur ฀ Kelemahan B. Permintaan Domestik ฀ Komposisi Permintaan serta Jumlah Permintaan dan Pola Pertumbuhan ฀ Internasioalisasi C. Industri Terkait dan Pendukung D. Struktur, Persaingan dan Strategi ฀ Semakin berkembangnya tren produk berbasis minyak sawit baik pangan maupun nonpangan ฀ Ancaman ฀ Isu negatif (black campaign) terhadap produk CPO Indonesia akibat dari pembukaan lahan yang menyebabkan global warming ฀ Adanya pesaing yang kuat yaitu Malaysia ฀ Ekspor berupa produk hulu yang nilainya rendah ฀ Potensi pengembangan industri hilir pengolahan minyak sawit yang cukup besar ฀ Minyak sawit memiliki keunggulan teknis dibandingkan dengan minyak nabati lainnya ฀ Produksi CPO yang telah berstandar nasional dan internasional ฀ Kompetisi dengan produsen minyak nabati lainnya ฀ Perundang-undangan, peraturan, serta kebijakan pemerintah yang mendukung CPO dan industri turunannya ฀ Lemahnya koordinasi antara lembaga-lembaga pemangku kepentingan ฀ Stabilitas politik, keamanan dan pemerintahan nasional dan kebijakan pemerintah ฀ Peningkatan konsumsi dan prospek CPO yang cerah di masa depan ฀ Ancaman ฀ Kelemahan ฀ Peluang ฀ Kekuatan ฀ Ancaman ฀ Peluang ฀ Ancaman ฀ Ancaman F. Peranan Kesempatan ฀ Terbatasnya tenaga ahli dalam industri CPO ฀ Adanya kontribusi penelitian dari lembaga riset PPKS, MAKSI, dan APKASINDO serta lembaga litbang ฀ Adanya insentif dari Pemerintah bagi pelaku industri hilir CPO ฀ Infrastruktur yang ada saat ini belum memadai untuk menunjang produksi dan distribusi minyak sawit ฀ Peluang ฀ Kekuatan E. Peranan Pemerintah Faktor SWOT ฀ Peluang 6.1.2. Analisis Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman Analisis komponen SWOT terdiri dari analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang diperoleh dari analisis industri minyak sawit pada bab sebelumnya dengan menggunakan Sistem Berlian Porter. Berikut ini akan dijelaskan apa saja yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman industri minyak sawit di Indonesia. Selanjutnya kita dapat merumuskan strategi untuk mengembangan dan meningkatkan dayasaing minyak sawit di Indonesia berdasarkan analisis tiap komponen SWOT yang telah dilakukan. 79 1) Analisis Faktor Strategis Internal : Kekuatan a) Minyak sawit memiliki keunggulan teknis dibandingkan dengan minyak nabati lainnya Permintaan industri terhadap minyak nabati semakin meningkat dan industri pun mempunyai banyak pilihan untuk membeli minyak nabati. Hal ini menyebabkan persaingan diantara para produsen minyak nabati yang semakin ketat, selain dari sisi kualitas, kuantitas maupun kontinyuitas produk. Kelapa sawit mampu menghasilkan buah sepanjang tahun dan tanaman ini tahan terhadap musim kering dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Selain itu, minyak sawit memiliki keunggulan dari tingkat produktivitas dan kebutuhan lahan dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. b) Produksi CPO yang telah berstandar nasional dan internasional Produk CPO dan turunannya di Indonesia telah memiliki kualitas seragam dan telah terstandar di seluruh Indonesia (SNI). (Lampiran 10). Selain SNI, ada dua jenis sertifikasi yang berlaku pada CPO yang dijual pada pasar internasional, yaitu RSPO dan ISCC. Keuntungan sertifikasi ini adalah diakui sebagai produsen ramah lingkungan dan harga yang premium. Harga jual CPO dari perusahaan yang sudah bersertifikasi RSPO lebih tinggi US$ 6 per ton. Sementara CPO bersertifikasi ISCC berpotensi untuk mendapatkan premium sekitar US$20 – US$30 per ton dari harga di pasar dunia. 2) Analisis Faktor Strategis Internal : Kelemahan a) Ekspor berupa produk hulu yang nilainya rendah Pada tahun 2010, nilai perdagangan ekspor minyak sawit Indonesia unggul lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dengan Malaysia. Hal ini dikarenakan 57,97 persen ekspor minyak sawit Indonesia masih berupa CPO, dan 42,03 persen dalam bentuk produk olahan sederhana yang berupa olein/minyak goreng dan oleokimia dasar. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia belum memanfaatkan menjadi rumpun industri oleochemical. b) Terbatasnya tenaga ahli dalam industri CPO Implementasi teknologi akan semakin cepat apabila jumlah sumberdaya manusia yang mempunyai pengetahuan dan pendidikan mencukupi. Hambatan untuk implementasi teknologi diakibatkan oleh terbatasnya jumlah tenaga ahli 80 dalam industri CPO. Misalnya dalam hal pemasaran CPO, terbatasnya tenaga ahli menyebabkan kurangnya jaringan pasar dan lemahnya market intelligent. c) Infrastruktur yang ada saat ini belum memadai untuk menunjang produksi dan distribusi minyak sawit Infrastruktur merupakan salah satu komponen untuk menunjang produksi dan distribusi CPO. Di Indonesia saat ini pembangunan infrastruktur masih difokuskan pada kawasan barat. Hal ini terlihat dengan pelabuhan utama yang terletak di Belawan dan Dumai sementara untuk kawasan timur belum memiliki pelabuhan untuk mengangkut CPO keluar negeri. 3) Analisis Faktor Strategis Eksternal : Peluang a) Adanya kontribusi penelitian dari lembaga riset PPKS, MAKSI, dan APKASINDO serta lembaga litbang Perkembangan informasi dan teknologi yang pesat membutuhkan peranan asosiasi yang mampu menyampaikan informasi kepada anggotanya. Lembaga riset yang berperan penting dalam industri minyak sawit Indonesia adalah PPKS. Ditambah lagi oleh riset dan pengembangan yang dilakukan oleh lembaga litbang baik litbang pemerintah (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) maupun litbang dari universitas (SEAFAST Center IPB, SEAMEO Biotrop IPB, Pusat Penelitian Bioteknologi ITB, Pusat Penelitian Bioteknologi UGM). Selain itu, adanya peranan asosiasi dalam menyampaikan informasi. Asosiasi ini menaungi masing-masing kepentingan dari stakeholders, seperti MAKSI yang merupakan komunitas yang berisi peneliti, petani, industri, dan pemerintah. GAPKI yang merupakan asosiasi bagi para pengusaha dan APKASINDO yang menaungi para petani kelapa sawit. b) Adanya insentif dari Pemerintah bagi pelaku industri hilir CPO Pemerintah menjanjikan tiga macam insentif kepada para pelaku usaha dalam pengembangan industri hilir minyak sawit (CPO). Ketiga insentif tersebut adalah subsidi bunga pinjaman untuk program peremajaan mesin-mesin produksi, pembebasan pajak (tax holiday), dan dukungan infrastruktur dasar. Pada insentif subsidi bunga, Kemenperin memberikan subsidi bunga kredit bagi sektor hilir CPO yang melakukan peremajaan mesin. 81 c) Semakin berkembangnya tren produk berbasis minyak sawit baik pangan maupun nonpangan CPO yang merupakan produk utama dari kelapa sawit dapat dimanfaatkan dalam bentuk pangan maupun nonpangan. Dalam produksi pangan, CPO digunakan sebagai bahan untuk membuat minyak goreng, lemak pangan, margarin, lemak khusus (substitusi cacao butter), kue, biskuit, dan es krim. Sementara itu, dalam produksi nonpangan CPO digunakan sebagai bahan untuk membuat sabun, detergen, surfakat, pelunak (plasticizer), pelapis (surface coating), pelunas, sabun metalik, bahan bakar mesin diesel, dan kosmetika. d) Perundang-undangan, peraturan, serta kebijakan pemerintah yang mendukung CPO dan industri turunannya Pemerintah merupakan lembaga terbesar dan sangat berpengaruh dalam industri minyak sawit (CPO) dan turunannya. Dikatakan sangat berpengaruh dikarenakan pemerintah menciptakan perundang-undangan, aturan, serta kebijakan yang wajib dilaksanakan oleh pelaku industri sawit. Salah satunya adalah adanya Roadmap pengembangan industri pengolahan kelapa sawit yang diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian. Hal ini menjadikan CPO sebagai salah satu komoditas prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah sebagaimana dituangkan dalam Kebijakan Pembangunan Industri Nasional. Pengembangan industri CPO diarahkan dengan pendekatan klaster yang terbagi atas kelompok industri hulu, antara, dan hilir. 4) Analisis Faktor Strategis Eksternal : Ancaman a) Isu negatif (black campaign) terhadap produk CPO Indonesia akibat dari pembukaan lahan yang menyebabkan global warming Kebutuhan industri akan minyak nabati sebagai bahan pangan dan nonpangan akan semakin meningkat. Pertumbuhan konsumsi CPO di pasar internasional yang tinggi menyebabkan Indonesia akan memenuhi permintaan pasar dengan menambah luasan penanaman perkebunan. Perluasan perkebunan kelapa sawit ini dihadang oleh isu negatif yang disebarkan oleh LSM di negeranegara di Eropa dan Amerika. Isu negatif ini antara lain perusakan lingkungan dalam pembukaan lahan perkebunan yang memiliki dampak negatif, seperti 82 adanya pembakaran hutan, dan perusakan terhadap habitat orang utan24. Isu berikutnya adalah tuduhan penggunaan lahan gambut yang dalam, yang sangat besar melepaskan emisi karbon ke udara dan dituding sebagai pemicu pemanasan global. Ditambah lagi adanya isu tentang tingginya emisi gas metan ke udara, sebagai hasil dari dekomposisi limbah cair pabrik kelapa sawit yang kurang terkendali. Serta adanya isu global mengenai kesehatan minyak sawit sebagai bahan pangan, yang dituduh mengandung trans fat dan senyawa 3-MCPD, yang dianggap dapat menimbulkan penyakit kanker.25 b) Adanya pesaing yang kuat yaitu Malaysia Pesaing ekspor CPO terkuat bagi Indonesia di pasar internasional adalah Malaysia. Banyaknya ekspansi perusahaan-perusahaan dari Malaysia untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit di Indonesia akan menyebabkan mengalirnya minyak CPO Indonesia ke Malaysia untuk diolah lebih lanjut. Semakin banyaknya CPO yang mengalir ke Malaysia maka akan menguntungkan Malaysia karena CPO akan diolah menjadi produk yang mempunyai nilai tambah c) Kompetisi dengan produsen minyak nabati lainnya Minyak sawit merupakan salah satu dari 13 jenis minyak nabati (vegetable oils) yang diproduksi, diperdagangkan, dan dikonsumsi secara internasional. Minyak nabati tersebut adalah palm oil/palm kernel oil, soybean oil, sunflower oil, rapessed oil, coconut oil, groundnut oil, cotton seed oil, corn oil, olive oil, castor oil, sesame oil, dan linseed oil. Dari ketigabelas jenis minyak nabati tersebut, hanya empat jenis yang cukup besar yakni minyak sawit, minyak kedelai, minyak rape, dan minyak bunga matahari. d) Lemahnya koordinasi antara lembaga-lembaga pemangku kepentingan Sipayung (2012) menyatakan bahwa saat ini di Indonesia berkembang asosisasi pada tiap subsistem agribisnis (horizontal) yang membuat agribisnis kelapa sawit dari hulu hingga hilir menjadi tersekat-sekat. Kondisi ini sering menimbulkan konflik antar asosiasi dalam menghadapi kebijakan/isu eksternal. Idealnya untuk kepentingan nasional dan kepentingan agribisnis kelapa sawit ke 24 25 Natural Resources Management Program : Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia. Edisi September 2001. [MAKSI]. 2011. Profil Masyarakat Perkelapa-Sawitan Indonesia (MAKSI) 83 depan, asosiasi yang ideal terbentuk adalah asosiasi vertikal mulai dari hulu hingga hilir. e) Stabilitas politik, keamanan dan pemerintahan nasional dan kebijakan pemerintah Kondisi keamanan negara dan politik yang kondusif akan mempengaruhi minat investor menanamkan modalnya di dalam negeri. Kurang pastinya keamanan dan politik nasional, menyebabkan konflik sosial di masyarakat masih terjadi. Selain itu kebijkan pemerintah yang tidak berpihak kepada investor dengan dikeluarkannya kebijakan pemerintah akan menyebabkan ancaman bagi keberlanjutan investasi perkebunan kelapa sawit. 6.1.3. Perumusan Matriks SWOT Industri Minyak Sawit Indonesia Tahap selanjutnya adalah merumuskan strategi berdasarkan faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang telah dianalisis sebelumya. Dalam merumuskan strategi pengembangan industri minyak sawit Indonesia alat yang digunakan adalah Matriks SWOT. Rumusan strategi yang dihasilkan merupakan kombinasi antara beberapa faktor SWOT. Dengan menggunakan Matriks SWOT strategi yang dihasilkan terdiri dari strategi SO (penggunaan kekuatan dari industri minyak sawit nasional untuk memanfaatkan peluang yang ada), strategi WO (memanfaatkan peluang untuk meminimalkan kelemahan dari industri minyak sawit Indonesia), strategi ST (penggunaan kekuatan industri minyak sawit nasional untuk mengatasi ancaman) dan strategi WT (meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman dari lingkungan eksternal). Hasil perumusan matriks SWOT industri minyak sawit Indonesia dapat dillihat pada Tabel 16. 84 Tabel 16. Matriks SWOT Industri Minyak Sawit Nasional Kekuatan (Strengths-S) 1. Minyak sawit memiliki keunggulan teknis dibandingkan dengan minyak nabati lainnya 2. Produksi CPO yang telah berstandar nasional dan internasional Peluang (Opportunitties-O) 1. Adanya insentif dari Pemerintah bagi pelaku industri hilir CPO 2. Semakin berkembangnya tren produk berbasis minyak sawit baik pangan maupun nonpangan 3. Perundang-undangan, peraturan, serta kebijakan pemerintah yang mendukung CPO dan industri turunannya 4. Adanya kontribusi penelitian dari lembaga riset PPKS, MAKSI, dan APKASINDO Ancaman (Threats-T) 1. Isu negatif (black campaign) terhadap produk CPO Indonesia akibat dari pembukaan lahan yang menyebabkan global warming 2. Adanya pesaing yang kuat yaitu Malaysia 3. Kompetisi dengan produsen minyak nabati lainnya 4. Lemahnya koordinasi antara lembaga-lembaga pemangku kepentingan 5. Stabilitas politik, keamanan dan pemerintahan nasional dan kebijakan pemerintah SO Strategy 1. Pengembangan sistem pemasaran produk industri CPO (S1, S2, O1, O3) Kelemahan (Weaknesses-W) 1. Ekspor berupa produk hulu yang nilainya rendah 2. Terbatasnya tenaga ahli dalam industri CPO 3. Infrastruktur yang ada saat ini belum memadai untuk menunjang produksi dan distribusi minyak sawit WO Strategy 1. Pengembangan SDM pelaku industri minyak sawit dengan pelatihan dan peningkatan kegiatan inovasi (W2, O3) 2. Pengembangan industri hilir serta peningkatan nilai tambah minyak sawit (S1, S2, O2, O3) 2. Menambah dan memperbaiki infrastruktur yang ada (W1, W2, W3, O2, O3) 3. Meningkatkan ekspor produk hilir (W1, O2, O3) ST Strategy WT Strategy 1. Memperhatikan isu nasional dan internasional dengan memperbaiki kebijakan pemerintah (S2, T1, T4, T5) 1. Memanfaatkan ekspor ke negara yang lebih membutuhkan produk hulu, misalnya India (W1, T1, T2, T3) 2. Meningkatkan pola kerjasama dengan produsen negara lain melalui promosi (W1, T1, T5) 1) Strategi SO Strategi SO merupakan strategi yang dirumuskan dengan mempertimbangkan kekuatan yang dimiliki industri minyak sawit nasional untuk memanfaatkan peluang-peluang yang ada seoptimal mungkin. Dengan menggunakan faktor-faktor kekuatan dan peluang yang telah diperoleh dari analisis faktor strategis sebelumnya, maka rumusan strategi SO yang dapat diterapkan untuk meningkatkan dayasaing industri minyak sawit Indonesia adalah pengembangan sistem pemasaran produk industri CPO dan pengembangan industri hilir serta peningkatan nilai tambah minyak sawit. 85 a. Pengembangan sistem pemasaran produk industri CPO Menurut Sipayung (2012) pengembangan sistem pemasaran dilakukan dengan menerapkan pola integrasi dan koordinasi vertikal. Pola integrasi vertikal adalah seluruh mata rantai industri minyak sawit mulai dari hulu sampai ke hilir berada pada satu induk perusahaan (holding company). Sedangkan koordinasi vertikal setiap rantai industri minyak sawit mulai dari hulu hingga ke hilir dilakukan oleh beberapa perusahaan yang berbeda dan terpisah satu sama lain namun strategi dan implementasinya terkoordinasi secara harmonis. Langkah pertama yang dilakukan untuk memperkenalkan pola integrasi dan koordinasi vertikal adalah melalui program workshop, seminar serta mendorong peran lembaga yang berhubungan dengan minyak sawit nasional. b. Pengembangan industri hilir serta peningkatan nilai tambah minyak sawit Indonesia merupakan negara produsen dan pengekspor CPO terbesar di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia belum memanfaatkan industri hilir secara optimal. Menurut Surfactant and Bio Energy Centre IPB (2009) diacu dalam Sipayung (2012), produk-produk industri hilir CPO yang memiliki nilai tambah tertinggi sampai terendah, berturut-turut adalah surfakan, metil ester, fatty alcohol, gliserin, margarin, stearat, fatty acid dan minyak goreng. Sampai saat ini, sebagian besar CPO yang diolah di dalam negeri masih pada produk bernilai tambah rendah yakni minyak goreng. Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mengembangkan industri hilir minyak sawit antara lain: menjalin kerjasama R&D pada lembaga riset, perguruan tinggi, dan industri; diversifikasi produk oleokimia yang bernilai tambah tinggi; inovasi produk dan teknologi melalui peningkatan R&D; serta pembangunan klaster industri untuk pengembangan industri hilir minyak sawit 2) Strategi ST Strategi ST adalah strategi yang digunakan untuk menghindari ancaman yang datang dari luar lingkungan internal dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki. Rumusan strategi ST yang dapat diterapkan untuk meningkatkan dayasaing industri minyak sawit Indonesia antara lain adalah sebagai berikut: 86 a. Memperhatikan isu nasional dan internasional dengan memperbaiki kebijakan pemerintah Strategi ini dilakukan agar CPO Indonesia tetap dapat diekspor ke negara- negara yang memiliki kriteria dan standar mutu tertentu. Hingga saat ini banyak isu negatif tentang industri minyak sawit di Indonesia. Disinyalir isu ini dihembuskan oleh Amerika dan Uni Eropa yang merupakan negara penghasil minyak nabati selain minyak sawit. Saat ini beberapa negera telah mengembangkan bahan bakar nabati (biofuel) sesuai dengan bahan baku negaranya. Amerika Serikat dan China mengembangkan etanol dari jagung, Brazil dan India mengembangkan etanol dari gula/tebu. Sementara Uni Eropa mengembangkan biodiesel dari minyak nabati. Isu nasional dan internasional ini bisa diatasi dengan cara peningkatan koordinasi dan sinergi instansi yang berhubungan dengan industri minyak sawit nasional terkait dengan penetapan kebijakan pemerintah. 3) Strategi WO Strategi WO merupakan strategi yang dapat dilakukan untuk mengurangi efek yang muncul dari kelemahan-kelemahan pada industri minyak sawit Indonesia dengan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Strategi WO yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dayasaing minyak sawit Indonesia diantaranya adalah pengembangan SDM pelaku industri minyak sawit dengan pelatihan dan peningkatan kegiatan R&D, menambah dan memperbaiki infrastruktur yang ada, serta meningkatkan ekspor produk hilir. a. Pengembangan SDM pelaku industri minyak sawit dengan pelatihan dan peningkatan kegiatan inovasi Seiring dengan persaingan global yang semakin ketat, diperlukan kompetensi sumberdaya manusia unggulan, yang mampu melaksanakan pengembangan industri minyak sawit nasional dengan cara yang berkelanjutan. Hal ini mendorong pihak yang berkepentingan dalam industri minyak sawit nasional melakukan kegiatan revitalisasi sumberdaya manusia. Saat ini, berbagai perusahaan yang bergerak di sektor industri minyak sawit telah memiliki serta mengembangkan unit-unit khusus untuk Riset dan Pengembangan (R&D) atau inovasi dan juga pelatihan SDM. Dalam memenuhi kebutuhan SDM di bidang 87 riset dan pengembangan (R&D) industri minyak sawit nasional, ada beberapa lembaga yang berkecimpung di dalamnya, antara lain Pusat Penelitian Kelapa Sawit, SEAFAST Center IPB, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB, Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB, Pusat Penelitian Bioteknologi ITB, Pusat Penelitian Ilmu Hayati ITB, Pusat Penelitian Bioteknologi UGM, Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Balai Penelitian Bioteknologi dan Perkebunan Indonesia, Forum Biodiesel Indonesia, Universitas Lampung, dan SEAMEO Biotrop IPB. Sementara itu, dalam pemenuhan SDM teknis pada industri minyak sawit, Indonesia memiliki beberapa institusi antara lain INSTIPER, Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi, dan Lembaga Pendidikan Perkebunan. b. Menambah dan memperbaiki infrastruktur yang ada Keterbatasan infrastruktur terutama di Kawasan Timur Indonesia yang masih belum memiliki pelabuhan untuk mengangkut minyak sawit keluar negeri menyebabkan Indonesia masih belum mampu menangani distribusi minyak sawit dengan baik. Indonesia saat ini hanya memiliki beberapa pelabuhan yang memiliki tangki timbun/pompa CPO, antara lain Belawan, Kuala Tanjung, Dumai, Tanjung Perak/Cilegon, Tanjung Perak/Gresik. Selain pelabuhan, transportasi juga menjadi faktor yang menentukan delivery system dan kecepatan merespon pasar dalam industri minyak sawit. Saat ini pemerintah sedang melakukan pengembangan kawasan industri berbasis oleokimia, pemerintah mengembangkan kawasan industri strategis yakni, Sei Mangkei di Sumatera Utara, Dumai di Riau dan Maloy di Kalimantan Timur. Ketiga kawasan industri ini menerapkan pola integrasi pengolahan CPO dan turunannya. Khusus untuk daerah Maloy pemerintah merencanakan pembangunan pelabuhan ekspor CPO untuk memudahkan penjualan CPO keluar negeri. c. Meningkatkan ekspor produk hilir Secara garis besar, industri hilir minyak sawit digolongkan menjadi tiga jenis yaitu industri oleokimia, industri oleopangan, dan industri oleo-nonpangan. Hilirisasi minyak sawit ke arah industri surfaktan, industri pelumas, dan biodiesel serta meningkatkan ekspor produk hilir minyak sawit dapat memperbesar 88 kontribusi industri minyak sawit dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta pendapatan negara dari ekspor pun akan meningkat. 4) Strategi WT Strategi WT adalah strategi yang sifatnya defensif, dimana strategi yang dilakukan harus mampu meminimalisir kerugian akibat dari kelemahan yang dimiliki sekaligus bagaimana menghindari ancaman-ancaman yang mungkin datang. Strategi WT yang dapat dilakukan untuk meningkatkan dayasaing industri minyak sawit nasional adalah memanfaatkan ekspor hulu ke negara yang lebih membutuhkan produk hulu, misalnya India serta meningkatkan pola kerjasama dengan produsen negara lain melalui promosi. a. Memanfaatkan ekspor hulu ke negara yang lebih membutuhkan produk hulu, misalnya India Strategi ini dilakukan untuk menghindari kehilangan pangsa pasar dari negara-negara yang lebih membutuhkan produk hulu. India merupakan negara terbesar kedua dalam hal jumlah penduduk setelah China. Selain itu, India merupakan konsumen utama pada ekspor CPO Indonesia. Pada tahun 2010, India mengimpor 47,11 persen CPO Indonesia atau setara dengan 4.449.537.347 kg. Dalam menjaga kualitas ekspor CPO, pemerintah pun melakukan standarisasi produk CPO dengan menggunakan standar SNI, selain itu ada sertikasi dari RSPO dan ISCC yang dapat meningkatkan harga jual produk CPO di pasar internasional. b. Meningkatkan pola kerjasama dengan produsen negara lain melalui promosi Meningkatkan kerjasama antara Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) yang mewakili pemerintah Indonesia dengan Malaysia Palm Oil Board yang mewakili negara Malaysia serta negara-negara produsen CPO untuk menghadapi isu negatif dari LSM lingkungan dan dunia internasional dengan membangun komunikasi yang berkelanjutan. Peningkatan kerjasama bilateral antara Malaysia dan Indonesia melalui kampanye green product atau countering negative campaign on palm oil di negara tujuan ekspor minyak sawit kedua negara Uni Eropa dan Amerika. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun citra positif terhadap perkebunan kelapa sawit dan juga memberi manfaat ekonomi melalui 89 penyediaan sumber pendapatan, sumber devisa dan penyediaan lapangan pekerjaan di pedesaan, juga memperhatikan aspek-aspek kelestarian lingkungan. Indonesia juga melakukan promosi penjualan dapat dilakukan dengan mengadakan pameran dan seminar yang bertaraf internasional, seperti Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) yang dilaksanakan setiap tahun dan mulai sejak tahun 2006. Selain IPOC Indonesia juga menyelenggarakan International Conference & Exhibition of Palm Oil yang dimulai sejak tahun 2010 dan diselenggarakan setiap tahun. 6.2. Rancangan Arsitektur Strategik 1) Sasaran Pengembangan Minyak Sawit Indonesia Mengacu pada tujuan penetapan minyak sawit sebagai komoditas unggulan nasional dan Road Map Pengembangan Klaster Industri Prioritas Tahun 2010-2014, maka sasaran pembangunan industri minyak sawit Indonesia adalah: A. Jangka Menengah (2010 -2014) 1. Terbentuknya klaster industri pengolahan CPO dan turunannya di Sumut dan Riau 2. Iklim usaha dan investasi yang kondusif. B. Jangka Panjang (2015-2025) 1. Memperluas pengembangan produk akhir; 2. Terbentuknya centre of excellence industri oleokimia; 3. Penguasaan pasar; 4. Pemantapan industri berwawasan lingkungan; 5. Terintegrasinya industri turunan minyak sawit di Kaltim, Kalbar, Kalteng dan Papua. 2) Tantangan Pengembangan Industri Minyak Sawit Indonesia Berdasarkan Outlook Industri 2012 yang diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian, industri minyak sawit Indonesia tidak lepas dari beberapa tantangan yang harus dihadapi, seperti: 1. Permasalahan bagi hilirisasi minyak sawit adalah permintaan minyak sawit dunia yang semakin meningkat disertai dengan harga internasional cukup menarik mendorong kecenderungan ekspor CPO dalam bentuk mentah. 90 2. Tidak seimbangnya kapasitas industri hilir dengan produksi CPO, sehingga muncul idle capacity, khususnya refinery. 3. Kurangnya intergrasi antara industri CPO dengan industri hilirnya sehingga rantai nilai industri kurang efisien dan kurang berdayasaing. 4. Kegiatan riset dan teknologi industri oleokimia masih perlu ditingkatkan. 5. Penerapan aturan perpajakan mengenai PPN atas produk primer TBS (Tandan Buah Segar) memberatkan pelaku usaha sehingga justru berpotensi menghambat hilirisasi. 6. Kampanye negatif khususnya terkait masalah lingkungan terkait perkebunan kelapa sawit semakin gencar dilakukan, antara lain berupa Isu REACH/Registration, Evaluation, Authorisation and Restriction of Chemical substances (kebijakan registrasi bahan kimia, termasuk Oleokimia untuk pasar Uni Eropa), dan Isu EU Directive (Kebijakan biodiversitas dan lingkungan oleh Parlemen Uni Eropa). 7. Infrastruktur pendukung industri antara lain pelabuhan, akses jalan, angkutan kereta api, listrik, dan gas bumi belum memadai. 3) Program Pengembangan dan Peningkatan Dayasaing Minyak Sawit Indonesia Perwujudan dari strategi yang telah diperoleh melalui analisis SWOT kemudian diturunkan ke dalam program. Program-program tersebut disusun berdasarkan pertimbangan sasaran dan tantangan yang dihadapi oleh industri minyak sawit Indonesia. Penjelasan lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 17. 91 Tabel 17. Program Pengembangan dan Peningkatan Dayasaing Minyak Sawit Indonesia No Strategi Program 1 Pengembangan sistem pemasaran produk industri CPO 2 Pengembangan industri hilir serta peningkatan nilai tambah minyak sawit 3 Pengembangan SDM pelaku industri minyak sawit dengan pelatihan dan kegiatan inovasi Menambah dan memperbaiki infrastruktur yang ada Program workshop, seminar, dan mendorong peran lembaga terkait pemasaran ฀ Menjalin kerjasama R&D pada lembaga riset, perguruan tinggi, dan industri ฀ Diversifikasi produk oleokimia yang bernilai tambah tinggi ฀ Inovasi produk dan teknologi melalui peningkatan R&D ฀ Pembangunan klaster industri untuk pengembangan industri hilir minyak sawit ฀ Program pendidikan, pelatihan dan magang 4 5 Meningkatkan ekspor produk hilir 6 Memperhatikan isu nasional dan internasional dengan memperbaiki kebijakan pemerintah Memanfaatkan ekspor hulu ke negara yang lebih membutuhkan produk hulu, misalnya India Meningkatkan pola kerjasama dengan produsen negara lain melalui promosi 7 8 ฀ Integrasi industri pengolahan CPO dan turunannnya ฀ Membangun satu pelabuhan ekspor CPO di Kawasan Timur Indonesia untuk memudahkan penjualan CPO keluar negeri Pengembangan industri turunan CPO ke arah industri surfaktan, industri pelumas dan biodiesel Peningkatan koordinasi dan sinergi instansi terkait dalam penetapan kebijakan Meningkatkan kualitas produk sesuai dengan SNI ฀ Program Kampanye Green Product atau Countering Negative Campaign On Palm Oil ฀ Berpartisapasi aktif dalam pameran dan seminar, seperti seperti Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) dan International Conference & Exhibition of Palm Oil Penanggung Jawab DMSI dan Gapki PPKS, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi DMSI, Gapki, Apsakindo, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, Pemerintah Daerah, Asosisasi Kementerian perindustrian, Kementerian Pertanian Pemerintah, Asosiasi, PT & Litbang Pemerintah Pusat, Gapki, Apkasindo ฀ DMSI dan Malaysia Palm Oil On Board ฀ Pemerintah Pusat, Asosiasi, Perusahaan Swasta, Perguruan Tinggi & Litbang 92 4) Tahap Penyusunan Arsitektur Strategik Dalam menyusun rancangan arsitektur strategik bagi industri minyak sawit Indonesia, penulis menggabungkan antara strategi, program dan rancang desain arsitektur yang bertujuan memberi gambaran kepada pembaca akan urutan program, prioritas serta tahapan strategi. Tidak ada pertimbangan baku dalam merancang sebuah arsitektur strategik, namun penyusunan prioritas strategi dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu seperti waktu, sasaran yang ingin dicapai, serta tantangan yang harus dihadapi. Rancangan arsitektur strategik industri minyak sawit Indonesia merupakan rancangan program kegiatan yang dibuat untuk membantu memberi gambaran mengenai tahapan-tahapan yang dapat ditempuh demi mewujudkan sasaran di masa depan. Sumbu X dan Y merupakan sumbu yang menggambarkan dimensi waktu yang diperlukan untuk suatu strategi dan program tertentu. Sumbu X merupakan periode waktu yang digunakan dalam periode tahun, sedangkan sumbu Y waktu yang menggambarkan urutan program kegiatan. Program yang akan dicetak ke dalam arsitektur strategik tersebut terbagi menjadi program bertahap dan program rutin. Berikut ini adalah pembagian program bertahap dan program rutin : 1) Program Bertahap a. Periode I i. Meningkatkan kualitas produk sesuai dengan SNI b. Periode II i. Pembangunan klaster industri untuk pengembangan industri hilir minyak sawit ii. Integrasi industri pengolahan CPO dan turunannnya iii. Pengembangan industri turunan CPO ke arah industri surfaktan, industri pelumas dan biodiesel iv. Membangun satu pelabuhan ekspor CPO di Kawasan Timur Indonesia untuk memudahkan penjualan CPO ke luar negeri v. Program workshop, seminar, dan mendorong peran lembaga terkait pemasaran 93 c. Periode III i. Inovasi produk dan teknologi melalui peningkatan R&D ii. Diversifikasi produk oleokimia yang bernilai tambah tinggi 2) Program Rutin : a. Program pendidikan, pelatihan dan magang b. Peningkatan koordinasi dan sinergi instansi terkait dalam penetapan kebijakan c. Menjalin kerjasama R&D antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan industri d. Program Kampanye Green Product atau Countering Negative Campaign On Palm Oil e. Berpartisapasi aktif dalam pameran dan seminar, seperti seperti Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) dan International Conference & Exhibition of Palm Oil 94 Gambar 13. Rancangan Arsitektur Strategik Industri Minyak Sawit Indonesia 95 VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka kesimpulan yang dapat diperoleh, adalah: 1) Industri minyak sawit dan turunannya mempunyai keunggulan kompetitif yang dapat dilihat dari beberapa faktor pendukung, seperti adanya peranan sumberdaya IPTEK yang mendukung peningkatan dayasaing industri minyak sawit nasional melalui penelitian yang dilakukan dan adanya peranan dari asosiasi dan media. Namun masih terdapat faktor yang menjadi penghambat dari peningkatan dayasaing industri minyak sawit seperti masih belum meratanya sarana dan prasarana pendukung di beberapa daerah di Indonesia. 2) Industri minyak sawit Indonesia memiliki keunggulan komparatif. Hal ini ditunjukan melalui perhitungan nilai Revealed Comparative Advantage (RCA) yang lebih dari satu. Namun untuk industri hilir minyak sawit, Indonesia masih belum mampu bersaing dengan Malaysia. 3) Dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan dayasaing industri minyak sawit maka diperlukan strategi diantaranya adalah: a) Pengembangan sistem pemasaran produk industri CPO b) Pengembangan industri hulu dan hilir serta peningkatan nilai tambah minyak sawit c) Pengembangan SDM pelaku industri minyak sawit dengan pelatihan dan dan peningkatan kegiatan R&D d) Menambah dan memperbaiki infrastruktur yang ada e) Meningkatkan ekspor produk hilir f) Memperhatikan isu nasional dan internasional dengan memperbaiki kebijakan g) Memanfaatkan ekspor hulu ke negara yang lebih membutuhkan produk hulu, misalnya India h) Meningkatkan pola kerjasama dengan produsen negara lain melalui promosi 96 7.2. Saran Adapun saran yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Untuk lebih meningkatkan nilai tambah dari minyak sawit, Pemerintah hendaknya lebih fokus dalam mengembangkan industri hilir minyak sawit dibandingkan dengan ekspor minyak sawit mentah. Peningkatan nilai tambah ini akan memperkuat dayasaing minyak sawit dan turunannya di pasar internasional. 2) Indonesia harus menjaga dan meningkatkan mutu minyak sawit dan turunannya agar dapat meningkatkan nilai ekspor dan keunggulan yang dimiliki. 3) Stakeholder yang bergerak di industri minyak sawit dan turunannya lebih memperhatikan isu nasional dan internasional yang berpengaruh negatif pada dayasaing industri minyak sawit. 4) Diperlukan penelitian yang lebih lanjut untuk mengetahui dayasaing minyak sawit dan turunannya di Indonesia dimasa yang akan datang akibat adanya kebijakan pemerintah khususnya dalam hal pengembangan industri hilir minyak sawit. 97 DAFTAR PUSTAKA Bank Indonesia. 2012. Standar Nasional Indonesia Pada Komoditi Pertanian http://www.bi.go.id [Diakses pada 20 September 2012] Batra A and Khan Z. 2005. Revealed Comparative Advantage: An Analysis For India and China Bender S and Li KW. 2002. The Changing Trade and Revealed Comparative Advantages of Asian and Latin American Manufacture Exports [BPS] Badan Pusat Statistik. 2011. Statistik Kelapa Sawit Indonesia 2010. Cahya IN. 2010. Analisis Dayasaing Ikan Tuna Indonesia di Pasar Internasional. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Cahyani UE. 2008. Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Agribisnis Gula Indonesia. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Cho, Dong-Sung dan Hwy-Chang Moon. 2003. Evolusi Teori Dayasaing. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. David FR. 2004. Konsep Manajemen Strategis. Jakarta: PT Indeks. Departemen Perindustrian. 2007. Gambaran Sekilas Industri Minyak Kelapa Sawit. Jakarta : Pusat Data dan Informasi Departemen Perindustrian Departemen Perindustrian. 2009. Road Map Pengembangan Klaster Industri Prioritas Tahun 2010-2014. Jakarta : Departemen Perindustrian Departemen Pertanian. 2007. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kelapa Sawit. Edisi 2. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan. Direktorat Jenderal Perkebunan. 2011. Statistik Perkebunan Indonesia – Kelapa Sawit 2010-2012. Jakarta: Kementerian Pertanian. Direktorat Jenderal Perkebunan. 2012. Kebijakan Peningkatan Produksi, Produktivitas, dan Mutu Kelapa Sawit. Disampaikan pada : Indonesia Palm Oil, Mechinery and Technology Exhibition & Conference 2012; Riau, 26-27 April 2012. Direktorat Pangan dan Pertanian. 2010. Kebijakan dan Strategi Dalam Meningkatkan Nilai Tambah dan Dayasaing Kelapa Sawit Indonesia Secara Berkelanjutan dan Berkeadilan. Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. Direktorat Tanaman Tahunan. 2007. Teknis Budidaya Tanaman Kelapa Sawit. Jakarta: Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian 98 [DMSI] Dewan Minyak Sawit Indonesia. 2010. Facts of Indonesian Oil Palm. First Edition. Fauzi Y, Widyastuti YE, Satyawibawa I, Paeru RH. 2012. Kelapa Sawit: Budidaya, Pemanfaatan Hasil dan Limbah, Analisis Usaha dan Pemasaran. Jakarta: Penebar Swadaya. Febriyanthi SA. 2008. Analisis Dayasaing Ekspor Komoditi Teh Indonesia Di Pasar Internasional [Skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. [GAPKI] Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia. 2010. Petani Plasma Sawit: Berbicara Fakta. Jakarta: PT Mitra Media Nusantara Hochschild JL. 2009. Conducting Intensive Interviews and Elite Interviews. Workshop on Interdisciplinary Standards for Systematic Qualitative Research. Washington D.C.: National Science Foundation Kementerian Perdagangan. 2012. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor atas Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar Kementerian Perindustrian. 2011. Industri Hilir Kelapa Sawit Indonesia. Jakarta: PT. Mitra Media Nusantara Kementerian Perindustrian. 2011. Outlook Industri 2012: Strategi Percepatan dan Perluasan Agroindustri. Jakarta: Kementerian Perindustrian. Kementerian Perindustrian. 2011. Profile of Palm Cooking Oil Industry. Jakarta: PT. Mitra Media Nusantara Nugroho AA. 2009. Quo Vadis Kebijakan Pemerintah Terkait Minyak Goreng di Indonesia. Kompetisi. Edisi 19: 17-18 Nurunisa VF. 2011. Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Agribisnis Teh Indonesia. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Pahan I. 2011. Kelapa Sawit: Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Jakarta: Penebar Swadaya. Porter ME. 1990. The Competitive Advantage of Nations. Harvard Business Review. Product Board for Margarine Fat and Oils (MVO). 2010. Fact Sheet Palm Oil. Netherland: Productschap Margarine, Vetten en Oliën. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. 2011. Statistik Makro Sektor Pertanian 2010. Jakarta : Kementerian Pertanian 99 Puspita AAD. 2009. Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Agribisnis Gandum Lokal Di Indonesia. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Ramadhan GD. 2011. Analisis Peramalan Ekspor Konsumsi Domestik dan Produksi Crude Palm Oil. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Rasiah R. 2006. Explaining Malaysia's Export Expansion in Palm Oil and Related Products. Washington DC: The World Bank Salvatore D. 1997. Ekonomi Internasional. Edisi Kelima. Penerjemah Haris Munandar. Jakarta: Erlangga. Sari DM. 2008. Analisis Dayasaing dan Strategi Ekspor Kelapa Sawit (CPO) Indonesia di Pasar Internasional. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Sari DF. 2011. Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Kedelai Lokal di Indonesia. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Serin V and Civan A. 2008. Revealed Comparative Advantage and Competitiveness: A Case Study for Turkey towards the EU Siahaan HGJ. 2010. Analisis Ekonomi Kelembagaan Pemasaran CPO Produksi P.T. Perkebunan Nusantara (PTPN), Kasus Kantor Pemasaran Bersama (KPB) Jakarta. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Sipayung T. 2012. Ekonomi Agribisnis Minyak Sawit. Bogor : IPB Press. Siregar PK. 2009. Analisis Dampak Penghapusan Tarif Impor Susu Terhadap Daya Saing Komoditas Susu Sapi Lokal (Studi Kasus : Peternak Anggota TPK Cibedug, KPSBU Jawa Barat). [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Sunarko. 2008. Petunjuk Praktis Budidaya dan Pengolahan Kelapa Sawit. Jakarta: Agromedia Pustaka. Susanto RD. 2011. Analisis Penawaran dan Permintaan Minyak Sawit Indonesia : Dampaknya Terhadap Industri Minyak Goreng Indonesia. [Tesis]. Jakarta : Universitas Indonesia. Teoh CH. 2010. Key Sustainability Issues in the Palm Oil Sector. The World Bank: International Finance Corporation [UN COMTRADE] United Nations Commodity Trade Statistics Database. 2012. Comtrade Explorer - Palm Oil Snapshot. Yoshida DT. 2006. Arsitektur Strategik : Sebuah Solusi Meraih Kemenangan dalam Dunia yang Senantiasa Berubah. Jakarta : Elex Media Komputindo. 100 LAMPIRAN 101 Lampiran 1. Neraca Perdagangan Pertanian Tahun 2006-2010 (US$ 000) No Sub Sektor 2006 1 Perkebunan Ekspor 13.972.064 Impor 1.675.067 Neraca 12.296.997 2 Hortikultura Ekspor 238.063 Impor 527.415 Neraca -289.352 3 Peternakan Ekspor 388.939 Impor 1.190.396 Neraca -801.457 4 Tanaman Pangan Ekspor 264.155 Impor 2.568.453 Neraca -2.304.299 5 Pertanian Ekspor 14.863.221 Impor 5.961.331 Neraca 8.901.890 2007 Tahun 2008 2009 2010 19.948.923 27.369.363 21.581.670 30.702.864 3.379.875 4.535.918 3.949.191 6.028.160 16.569.048 22.833.445 17.632.479 24.674.704 254.765 795.846 -541.081 432.727 909.669 -476.942 378.627 1.063.120 -684.493 390.740 1.292.988 -902.248 748.531 1.696.459 -947.928 1.148.170 2.352.219 -1.204.049 754.914 2.132.800 -1.337.886 951.662 2.768.339 -1.816.677 289.049 2.729.147 -2.440.098 348.914 3.526.961 -3.178.047 321.280 2.737.862 -2.416.582 477.708 3.893.840 -3.416.132 21.241.268 29.299.174 23.036.491 32.522.974 8.601.327 11.324.767 9.882.973 13.983.327 12.639.941 17.974.407 13.153.518 18.539.647 Sumber: BPS diolah Pusdatin (2011) 102 Lampiran 2. Volume Ekspor Komoditas Perkebunan Indonesia, 2009 – 2011 (Ton) 2009 2010 2011 Tw. II Tw. III 345.655 275.548 698.603 682.417 5.722.952 5.317.720 100.430 75.754 18.439 18.585 11.578 6.815 26.481 25.273 96.331 87.580 2.317 173 7.882 5.524 59.880 168.214 47.507 50.749 260.497 296.241 No Komoditas 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kelapa Karet Kelapa Sawit Kopi Teh Lada Tembakau Kakao Cengkeh Kapas Tebu Pinang Lainnya 957.517 1.045.960 2.067.312 2.420.716 21.669.489 20.394.174 507.968 433.594 91.929 87.101 45.293 62.599 110.107 117.158 559.799 552.892 4.994 6.008 27.061 36.584 599.690 485.032 194.967 213.601 1.028.684 1.102.074 Total 27.864.810 26.957.493 5.175.281 7.398.552 7.010.593 Tw. I 251.842 644.944 3.483.230 114.703 20.088 10.716 26.361 104.045 2.302 6.861 131.070 39.204 339.915 Sumber: BPS diolah Pusdatin (2011) Lampiran 3. Nilai Ekspor Komoditas Perkebunan Indonesia, 2009 – 2011 (000 US$) 2009 2010 2011 Tw. II 375.468 3.330.186 5.823.499 287.825 39.817 60.205 188.354 328.598 7.546 19.124 10.787 39.205 969.105 No Komoditas 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kelapa Karet Kelapa Sawit Kopi Teh Lada Tembakau Kakao Cengkeh Kapas Tebu Pinang Lainnya 489.885 703.239 3.450.497 7.470.112 11.728.840 15.413.640 829.261 814.311 170.431 178.549 130.258 245.924 595.762 672.597 1.459.297 1.643.773 5.498 12.580 32.242 45.663 80.902 81.902 92.897 115.501 2.515.901 3.305.072 Jumlah 21.581.671 30.702.863 8.792.268 11.479.719 10.157.661 Tw. I 246.576 3.105.086 3.508.277 282.213 43.215 50.211 179.008 332.598 6.024 16.925 22.807 30.223 969.105 Tw. III 277.475 3.047.938 4.959.099 249.078 42.108 44.818 179.455 302.069 687 14.814 23.270 44.141 972.709 Sumber: BPS diolah Pusdatin (2011) 103 Lampiran 4. Luas Areal Kelapa Sawit Menurut Pengusahaan, 1980 - 2012 Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011*) 2012**) Luas Areal (Ha) Perkebunan Perkebunan Perkebunan Rakyat Besar Negara Besar Swasta 6.175 199.538 88.847 5.695 213.264 100.008 8.537 224.440 96.924 37.043 261.339 107.264 40.552 340.511 130.958 118.564 335.195 143.603 129.904 332.694 144.182 203.047 365.575 160.040 196.279 373.409 293.171 223.832 366.028 383.668 291.338 372.246 463.093 384.594 395.183 531.219 439.468 389.761 638.241 502.332 380.746 730.109 572.544 386.309 845.296 658.536 404.732 961.718 738.887 426.804 1.083.823 813.175 517.064 1.592.057 890.506 556.640 2.113.050 1.041.046 576.999 2.283.757 1.166.758 588.125 2.403.194 1.561.031 609.947 2.542.457 1.808.424 631.566 2.627.068 1.854.394 662.803 2.766.360 2.220.338 605.865 2.458.520 2.356.895 529.854 2.567.068 2.549.572 687.428 3.357.914 2.752.172 606.248 3.408.416 2.881.898 602.963 3.878.986 3.061.413 630.512 4.181.369 3.387.257 631.520 4.366.617 3.620.096 636.713 4.651.590 3.649.077 640.081 4.981.880 Jumlah 294.560 318.967 329.901 405.646 512.021 597.362 606.780 728.662 862.859 973.528 1.126.677 1.310.996 1.467.470 1.613.187 1.804.149 2.024.986 2.249.514 2.922.296 3.560.196 3.901.802 4.158.077 4.713.435 5.067.058 5.283.557 5.284.723 5.453.817 6.594.914 6.766.836 7.363.847 7.873.294 8.385.394 8.908.399 9.271.038 Pertumbuhan Luas Areal (%) 7,65 3,31 18,67 20,78 14,29 1,55 16,73 15,55 11,37 13,59 14,06 10,66 9,03 10,58 10,91 9,98 23,02 17,92 8,76 6,16 11,78 6,98 4,10 0,02 3,10 17,30 2,54 8,11 6,47 6,11 5,87 3,91 Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan (2011) * = angka sementara ** = angka estimasi 104 Lampiran 5. Produksi Minyak Sawit (CPO) Menurut Pengusahaan, 1980 2012 Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011*) 2012**) Perkebunan Rakyat 770 1.045 2.955 3.454 4.031 43.016 53.504 165.162 156.148 183.689 376.950 413.319 699.605 582.021 839.334 1.001.443 1.133.547 1.282.823 1.344.569 1.547.811 1.905.653 2.798.032 3.426.740 3.517.324 3.847.157 4.500.769 5.783.088 6.358.389 6.923.042 7.517.716 8.458.709 8.627.883 8.783.185 Produksi Minyak Sawit (Ton) Perkebunan Perkebunan Besar Negara Besar Swasta 498.858 221.544 533.399 265.616 598.653 285.212 710.431 269.102 814.015 329.144 861.173 339.241 912.306 384.919 988.480 352.413 1.102.692 454.495 1.184.226 597.039 1.247.156 788.506 1.360.363 883.918 1.489.745 1.076.900 1.469.156 1.370.272 1.571.501 1.597.227 1.613.848 1.864.379 1.706.852 2.058.259 1.586.879 2.578.806 1.501.747 3.084.099 1.468.949 3.438.830 1.460.954 3.633.901 1.519.289 4.079.151 1.607.734 4.587.871 1.750.651 5.172.859 1.617.706 5.365.526 1.449.254 5.911.592 2.313.729 9.254.031 2.117.035 9.189.301 1.938.134 8.678.612 2.005.880 9.800.697 1.890.503 11.608.907 1.937.765 11.942.362 1.961.988 12.888.240 Jumlah 721.172 800.060 886.820 982.987 1.147.190 1.243.430 1.350.729 1.506.055 1.713.335 1.964.954 2.412.612 2.657.600 3.266.250 3.421.449 4.008.062 4.479.670 4.898.658 5.448.508 5.930.415 6.455.590 7.000.508 8.396.472 9.622.345 10.440.834 10.830.389 11.861.615 17.350.848 17.664.725 17.539.788 19.324.293 21.958.119 22.508.010 23.633.413 Pertumbuhan Produksi (%) 9,86 9,78 9,78 14,31 7,74 7,94 10,31 12,10 12,81 18,55 9,22 18,63 4,54 14,64 10,53 8,55 10,09 8,13 8,14 7,78 16,63 12,74 7,84 3,60 8,69 31,64 1,78 -0,71 9,23 11,99 2,44 4,76 Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan (2011) * = angka sementara ** = angka estimasi 105 Lampiran 6. Grafik Total Produksi Minyak Sawit Dunia dan Negara Produsen Utama, 1995 - 2010 Sumber : ISTA Mielke (2010) diacu dalam Product Board for Margarine Fat and Oils (2010) * = angka sementara 106 Lampiran 7. Ekspor Minyak Sawit Indonesia Tahun 2010 No HS Jenis Minyak Sawit Ekspor Volume (Ton) Nilai (US$) Crude Palm Oil 9.444.170,400 7.649.965.932 (CPO)/ Minyak (57,97%) (56,80%) Sawit Mentah Fractions of unrefined palm 669.879,518 547.924.999 oil, not 1511901000 (4,11%) (4,07%) chemically modified Palm oil, refined, bleached and 1.044.073,648 886.997.033 1511909010 deodorised (RBD (6,41%) (6,59%) palm olein) Olein, refined, 3.723.507,930 3.231.401.190 bleached and 1511909020 (22,86%) (23,99%) deodorised (RBD Olein) Stearin, refined, 1.361.529,992 1.115.880.438 1511909030 bleached and (8,36%) (8,28%) deodorised Other palm oil 36.796.826 and its fractions, 48.694,683 1511909090 (0,27%) not chemically (0,30%) modified Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan (2011). 1511100000 Negara-negara Tujuan Ekspor Terbesar India, Belanda, Malaysia, Italia, Singapura, Cina Banglades, India dan Cina Mesir, Iran, Brazil, Ukraina, dan Pakistan Cina, India, Arab Saudi, Banglades, dan Mesir Cina, Belanda, Malaysia, Italia, dan Jerman Jepang, Cina, India, Myanmar, dan Pakistan 107 Lampiran 8. Pohon Industri Minyak Sawit Mentah (Crude Palm Oil) Sumber: Departemen Pertanian (2007) 108 Lampiran 9. Jumlah Industri Pengolahan Kelapa Sawit di Indonesia dan Kapasitas Produksinya No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Provinsi Jumlah Industri Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kep. Bangka Belitung Bengkulu Lampung DKI Jaya Jawa Barat Banten Jawa Tengah D.I. Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Barat Sulawesi Tenggara Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Indonesia Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan (2011). 25 92 26 140 1 42 58 16 19 10 1 1 65 43 15 29 7 2 6 3 3 4 608 Kapasitas Produksi (Ton TBS/Jam) 980 3.815 1.645 6.660 40 2.245 3.555 1.235 990 375 30 60 5.475 3.100 770 1.545 590 150 260 260 140 360 34.280 109 Lampiran 10. Standar Kualitas CPO Berdasarkan SNI Kode HS : 151110000 Nama Komoditi : Minyak kelapa sawit mentah (CPO) Kode Standar Mutu : SNI.01-2901-2006 Tahun : 2006 Tabel Kriteria Uji No Test A Warna B Kadar air dan kotoran C Asam lemak bebas (sebagai asam pelmitat) Bilangan yodium D Kriteria Satuan - Persyaratan Jingga kemerahmerahan 0,5 (maks.) %, fraksi masa %, fraksi 5 (maks.) masa gram 50 – 55 yodium/100g Sumber: Bank Indonesia (2012) Kode HS : 151190000 Nama komoditi : Minyak kelapa sawit lainnya Kode Standar Mutu : SNI.01-0018-1987 Tahun : 1987 Tabel Kriteria Uji No Test B A C D Kriteria Kadar Air Dan Kotoran Asam Lemak Bebas Bilangan Iod Titik Keruh Satuan % (b/b) E Titik Lunak F Warna % (b/b) Derajat celcius Derajat celcius - G Rasa - Persyaratan Maks.0.1 Maks.0.15 Min.55 Maks.10 Maks.24 Merah: Maks.3 Kuning: Maks.30 Normal Sumber: Bank Indonesia (2012) 110 Lampiran 11. Penetapan Harga Patokan Ekspor Atas Barang Ekspor Yang Dikenakan Bea Keluar Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 05/M-DAG/PER/1/2012 Tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor atas Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar No Uraian 1 Buah dan Kernel Kelapa Sawit 2 Bungkil Kelapa Sawit 3 Crude Palm Oil 4 Crude Palm Kernel Oil (CPKO) 5 Crude Palm Olein 6 Crude Palm Stearin Termasuk Dalam Pos Tarif 1207.99.20.00 2306.60.00.00 7 Crude Palm Kernel Olein 8 Crude Palm Kernel Stearin 9 Palm Fatty Acid Distilate (PFAD) 10 Hydrogenated Palm Oil (Bulk) >20 kg 1511.10.00.00 ex. 1516.20.12.00 ex. 1516.20.91.00 1513.21.00.00 ex. 1516.20.15.00 ex. 1516.20.99.00 ex. 1511.90.10.00 ex. 1516.20.12.00 ex. 1516.20.91.00 ex. 1511.90.10.00 ex. 1516.20.12.00 1516.20.50.00 ex. 1516.20.80 ex. 1516.20.91.00 1513.29.19.00 ex. 1516.20.15.00 ex. 1516.20.99.00 1513.29.11.00 ex. 1513.29.19.00 ex. 1516.20.15.00 1516.20.60.00 3823.19.10.00 3823.19.90.00 1511.90.90.90 ex. 1516.20.21.00 ex. 1516.20.91.00 11 Hydrogenated Palm Kernel (Bulk) >20 kg ex. 1516.20.21.00 ex. 1516.20.91.00 Harga Patokan Ekspor (HPE) US$/MT 412 99 1.001 1.341 1.309 1.041 928 1.309 1.309 795 994 111 No Uraian 12 Hydrogenated Palm Olein (Bulk) >20 kg 13 Hydrogenated Palm Kernel Olein (Bulk) >20 kg ex. 1516.20.21.00 ex. 1516.20.91.00 1.326 14 Hydrogenated Palm Kernel Stearin (Bulk) >20 kg ex. 1516.20.21.00 ex. 1516.20.91.00 1.326 15 Hydrogenated Palm Stearin (Bulk) >20 kg ex. 1516.20.21.00 ex. 1516.20.91.00 ex. 1516.20.50.00 ex. 1516.20.80.00 971 16 17 18 19 20 RBD Palm Olein RBD Palm Oil RBD Palm Kernel Oil RBD Palm Kernel Olein RBD Palm Kernel Stearin 1.052 1.035 1.388 1.317 1.786 21 22 23 24 RBD Palm Stearin Hydrogenated RBD Palm Olein Hydrogenated RBD Palm Oil Hydrogenated RBD Palm Kernel Oil Hydrogenated RBD Palm Kernel Olein Hydrogenated RBD Palm Kernel Strearin Hydrogenated RBD Palm Stearin 1511.90.90.20 1511.90.90.10 ex. 1513.29.99.00 ex. 1513.29.99.00 1513.29.91.00 ex. 1513.29.99.00 1511.90.90.30 ex. 1516.20.91.00 ex. 1516.20.91.00 ex. 1516.20.91.00 ex. 1516.20.40.00 1.344 ex. 1516.20.40.00 1.687 ex. 1516.20.70.00 ex. 1516.20.91.00 1511.90.90.20 972 1.052 ex. 3824.90.90.00 1.118 25 26 27 28 29 RBD Palm Olein dalam kemasan bermerek
Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia 100.0 92.5 100.0 Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia Analisis Keunggulan Komparatif Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia Analisis Komponen Sistem Berlian Porter Analisis Strategi Pengembangan Minyak Sawit Indonesia Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia Kerangka Pemikiran Teoritis Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia Kesimpulan Saran Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia Keterkaitan Antar Komponen Utama Sistem Berlian Porter Keterkaitan Komponen Pendukung Sistem Berlian Porter Latar Belakang Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia Lokasi dan Waktu Penelitian Data dan Instrumentasi Metode Pengumpulan Data Memanfaatkan ekspor hulu ke negara yang lebih membutuhkan produk Meningkatkan pola kerjasama dengan produsen negara lain melalui Memperhatikan isu nasional dan internasional dengan memperbaiki Pengembangan SDM pelaku industri minyak sawit dengan pelatihan dan Menambah dan memperbaiki infrastruktur yang ada Meningkatkan ekspor produk hilir Metode Pengolahan dan Analisis Data Penelitian Terdahulu Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia Pengembangan sistem pemasaran produk industri CPO Pengembangan industri hilir serta peningkatan nilai tambah minyak Perumusan Masalah Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia Rancangan Arsitektur Strategik Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia Strategi Keuangan Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Ruang Lingkup Penelitian Pengembangan Industri Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Analisis Dayasaing dan Strategi Pengembangan Minyak Sawit dan Turunannya di Indonesia

Gratis