KONDISI SOSIAL DAN POLITIK EKSIL DI PRANCIS DALAM NOVEL PULANG KARYA LEILA S. CHUDORI DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

Gratis

0
12
107
2 years ago
Preview
Full text

  

KONDISI SOSIAL DAN POLITIK EKSIL DI PRANCIS

DALAM NOVEL PULANG KARYA LEILA S. CHUDORI

DAN IMPLIKASI PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

  Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

  Oleh

  

Dwina Agustin

1110013000011

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

  

ABSTRAK

  Dwina Agustin, 1110013000011, “Kondisi Sosial dan Politik Eksil di Prancis

  

dalam Novel Pulang Karya Leila S. Chudori dan Implikasinya pada Pembelajaran

Sastra di SMA.” Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu

  Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Doesn Pembimbing: Ahmad Bachtiar, M. Hum.

  Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kondisi sosial dan politik eksil di Prancis dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori dan implikasi pada pembelajaran sastra di SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan disipliin ilmu sastra dan sosiologi. Analisis novel Pulang dapat memenuhi standar kopetensi dan kopetensi dasar pada pembelajaran sastra melalui memahami pembacaan penggalan novel dengan menjelaskan unsur intrinsik dan ekstrinsik. Melalui pembelajaran ini, siswa diharapkan dapat saling toleransi, mengahargai, dan bertangung jawab serta kepekaan terhadap lingkungan sosial. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, hasil penelitian ini menunjukan bahwa kondisi sosial dan politik eksil politik mempengaruhi interaksi mereka kepada individu dan kelompok lain di luar kelompok eksil. Kondisi sosial yang tergambarkan adalah perekonomian, disorganisasi keluarga, dan nilai-nilai sosial, sedangkan kondisi politik yang digambarkan adalah kekuasaan dan nasionalisme.

  Kata kunci: sosial, politik, eksil, novel Pulang

  

ABSTRACT

  Dwina Agustin, 1110013000011, “The Social dan Polilitical exile in France in Novel Pulang by Leila S. Chudori and its Implications on Learning Literature in Hight School” Majors Language Education and Indonesian Literature, Science Faculty Tarbiyah and Teacher Training, Jakarta Islamic State University. Advisor Ahmad Bahtiar, M.Hum.

  This study aims to describe the social dan polilitical exile in France in the novel Pulang by Leila S. Chudori and its implications in the lessons literature in high school. The method used in this research is descriptive qualitative approach between disciplines, which is Literature and Sociology. Analysis of novel Pulang this can meet standard competence and basic competence in learning literature that is to reding a piece novel with a describe intrinsic dan extrinsic substance. Through this learning students are expected to tolerance, appreciative, responsibility, and sensitivnes to social in environment. Based on analysis has been done, these result showed the social dan polilitical exile can influence they interaction to individual and groups. Social condition witch is show economic, family disorganization, and sosial values. In the another, political conditionas witch is showen is power and nasionalism.

  Keywords: Social, political, exile, novel Pulang

KATA PENGANTAR

  Alhamdulillahi robbil ‘alamin segala puji bagi Allah atas segala yang ada di

  semesta jagad raya dan telah memberi limpahan rahmat dan nikmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Shalawat serta salam senantiasa tercurah limpahkan untuk Nabi besar Muhammad saw, keluarga, para sahabat, dan umatnya.

  Penulis menyusun penelitian ini guna memenuhi salah satu syarat mendapatkan gelar sarjana pendidikan program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Dalam penulisan penelitian ini penulis banyak mendapat masukan, bimbingan, saran, dorongan, dan semangat dari berbagai pihak. Semua itu tak lain untuk menjadikan penulis menjadi pribadi yang lebih baik dan kaya informasi, sehingga pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada: 1.

  Nurlena Rifa’i, M.A.,Ph.D., dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah.

  2. Hindun, M.Pd., ketua jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah.

  3. Dona Aji Karunia, MA., sekertaris jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah.

  4. Ahmad Bahtiar, M.Hum., dosen pembimbing skripsi yang dengan sabar membimbing dan membantu penulis untuk segera merampungkan penelitian ini.

  5. Dosen-dosen jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah membagi ilmunya selama masa perkuliahan.

  6. H. Setiawan dan Hj. Sulasmi, kedua orang tua yang sangat luar biasa karena selalu memberikan kebebasan kepada penulis untuk melakukan apapun.

  Kakak satu-satunya, Jayadi Setiawan, S. Kom, yang selalu menjadi penyeimbang keberadaan penulis dalam keluarga.

  7. Leila S. Chudori yang telah berkenan meluangkan waktu untuk di wawancarai penulis, untuk memberikan informasi sebagai data penunjang penelitian ini.

  8. Nurul Fatihah, S.Pd., (saudara, sahabat, serta pesaing) yang dari jauh selalu menemani penulis merampungkan masa studi dengan nyaman dan damai.

  9. Teman-teman PBSI angkatan 2010, khususnya kelas B yang senantiasa menemani tidak hanya selama perkuliahan tapi diwaktu-waktu senggang lainnya.

  10. Anak-anak PKK (Penggiat Kumpul Kosan), Ade Fauziah, Tazka Adiati, Nurul Inayah, Mawaddah, Humairoh, Aulia Herdiana P, Fitri Khoiriani, Ade Ruafaida, Yunia Ria Rahayu, Mabruroh, Aisyatul Fitriah, dan anggota lain yang ikut meramaikan. Kalian semua hebat.

  11. Guru-guru TK Tunas Karya, SD Purwawinaya, MTs. AI Mertapada, MAAI Mertapada, serta guru-guru kehidupan. Tanpa kalian, penulis tidak akan pernah sampai di tahap ini.

  Terima kasih pula untuk seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam proses penyelesaian penelitian ini. Semoga Allah membalas kalian semua. Penulis mengharap kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk menjadikan penelitian ini lebih baik lagi. Besar harapan penulis agar penelitian ini dapat bermanfaat, baik untuk penulis pribadi maupun pembaca.

  Jakarta, Desember 2014 Penulis

  

DAFTAR ISI

ABSTRAK………………………………………………………..…………………...i

KATA PENGATAR .. ……………………………………………..………………...iii DAFTAR ISI …………………………………………………………………………v

  

BAB I PENDAHULUAN………………………………….………………………...1

A. Latar Belakang Masalah………………………………………………………1 B. Identifikasi Masalah……………………………………………………….. .... 5 C. Batasan Masalah………………………………………………………............ 6 D. Rumusan Masalah……………………………………………………….. ....... 6 E. Tujuan Penelitian……………………………………………………….. ........ 6 F. Manfaat Penelitian……………………………………………………….. ...... 7 G. Metode Penelitian……………………………………………………….......... 7 1. Teknik Penelitian……………………………………………………….. .. 8 2. Teknik Pengumpulan Data……………………………………………….. 9

BAB II KAJIAN TEORI……………………………………………………….. .... 10

A. Sosiologi Sastra……………………………………………………….. ......... 10 B. Sosial dan Politik……………………………………………………….. ...... 11 1. Kondisi Sosial……………………………………………………….. ..... 11 2. Kondisi Politik……………………………………………………….. .... 14 C. Eksil……………………………………………………….. .......................... 15 D. Pengertian Novel……………………………………………………….. ....... 16 E. Jenis-jenis Novel……………………………………………………….. ....... 17 F. Unsur Pembangun Karya Sastra……………………………………………..19 1. Intrinsik……………………………………………………….. ............... 19

  b.

  Alur……………………………………………………….. ............... 20 c. Tokoh……………………………………………………….. ............ 22 d. Latar……………………………………………………….. .............. 24 e. Sudut Pandang……………………………………………………….25 f. Gaya Bahasa……………………………………………………….. .. 26 2. Ekstrinsik……………………………………………………….. ............ 27 G. Pembelajaran Sastra di Sekolah……………………………………………...28 H. Penelitian Relevan……………………………………………………….. ..... 30

  BAB III PROFIL LEILA S. CHUDORI ……………………………………….…33 A. Biografi Leila S. Chudori……………………………………………..…….. 33 B. Karya-karya Leila S. Chudori……………………………………………… . 34 C. Pemikiran Leila S. Chudori……………………………………………….. ... 38 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN NOVEL PULANG KARYA LEILA S. CHUDORI……………………………….........................……42 A. Deskripsi Data……………………………………………………….. ........... 42 1. Tema……………………………………………………….. ................... 42 2. Tokoh……………………………………………………….. ................. 42 3. Latar……………………………………………………….. ................... 51 4. Sudut Pandang……………………………………………………….. .... 57 5. Gaya Bahasa……………………………………………………….. ....... 59 6. Alur………………………………………………………....................... 61 B. Kondisi Sosial Eksil……………………………………………………….. .. 64 1. Perekonomian……………………………………………………….. ...... 65 2. Disorganisasi Keluarga…………………………………………………..68 3. Nilai-nilai Sosial……………………………………………………..….. 73 C. Kondisi Politik Eksil………………………………………………………… 78

2. Nasionalisme………………………………………………………..……80 D.

  Implikasi di Sekolah…………………………………………………..…….. 82

BAB V PENUTUP…………………………………………………………….……89 A. Simpulan……………………………………………………………………..89 B. Saran…………………………………………………………………………90 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………….91

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Novel merupakan hasil karya sastra yang mewakili gagasan-gagasan

  penulis tentang sesuatu yang ingin diwakili oleh karya yang diciptakan. Di Indonesia, novel dari masa ke masa memliki karakteristik masing-masing. Bila diamati lebih jeli, perkembangan novel melikupi banyak hal. Tidak hanya dari segi bahasa dan ide, namun kebutuhan dan keadaan kondisi pada zamannya banyak mempengaruhi setiap novel yang diciptakan. Novel dapat dilatarbelakangi oleh gagasanan yang ingin ditanamkan pengarang pada pembaca.

  Sesuai dengan ungkapan Plato yang menganggap sastra sebagai tiruan dari kenyataan. Karya sastra tidak akan terlepas dari konsep yang sudah ada dalam kehidupan, pijakan gambaran yang terdapat dalam karya tersebut sudah memiliki konsep yang telah dipahami oleh manusia termasuk penggunaan latar, tokoh, ataupun ide yang disampaikan. Pengarang membaurkan kenyataan dan realitas kehidupan dengan imajinasi. Terjadilah pengembangan cerita dan sisipan-sisipan yang menarik untuk pembaca dalam memahami karya sastra, walupun karya tersebut sedang memaparkan sebuah teori, ideologi, atau bukti sejarah.

  Peristiwa yang terjadi pada sebuah negara dapat memberkan inspirasi pengarang dalam mengangkat cerita dari sudut pandangnya. Keruntuhan Orde Lama dan tibanya Orde Baru di Indonesia adalah salah satu peristiwa yang diceritakan dalam beberapa karya sastra. Runtuhnya Orde Lama menimbulkan lahirnya beberapa peristiwa yang cukup sering dibahas, baik dari segi keamaanan, politik, bahkan dunia sastra. Kejadian runtuhnya Orde Lama salah satunya dipicu oleh terjadinya pembunuhan enam orang jenderal dan

  2

  perwira dituduhkan kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Tuduhan itu

  1

  menimbulkan kekerasan sepanjang tahun 1965-1966. Buku Dalih

  Pembunuhan Massal yang ditulis oleh John Roosa memaparkan bahwa

  pembantaian dan pengasingan terhadap PKI tidak hanya berlaku untuk anggota partai tersebut. Tapi merambat pula kepada anggota-anggota sealiran, seperti Lekra.

  Penangkapan terhadap anggota PKI dan orang-orang yang dianggap melindungi, mendukung, atau ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang menyangkut PKI dilakukan secara besar-besaran. Namun, ada pula orang- orang yang sedang berada di luar negeri, karena sedang menempuh pendidikan, menjalani tugas sebagai diplomat, atau yang sedang menjadi wakil di organisasi regional/internasional, ada juga rombongan yang diundang oleh pemerintahan Tiongkok untuk menghadiri perayaan ulang tahun mereka pada akhir 1965. Mereka umumnya diutus oleh pemerintahan Sukarno dan

  2

  sedang berada di negara-negara sosialis-komunis. Mereka tertahan di luar negeri karena beberapa alasan, salah satunya takut ditanggap saat kembali ke Indonesia karena tuduhan anggota atau simpatisan PKI, atau mereka yang menolak pulang karena tidak mau mengakui kesetian kepada kepemimpinan Orde Baru. Mereka terlunta-lunta tanpa ada kepastian, paspor dicabut, para pelajar pun dicabut beasiswanya. Bertahan hidup dengan melakukan pekerjaan serabutan, demi bertahan hidup di luar negeri. Dalam perkembangnanya, para eksil tersebar ke berbagai negara Eropa, termasuk Prancis. Para eksil mendapat suaka dan kewarganegaraan di tempat mereka tinggal. Namun, jiwa mereka masih menganggap memiliki Indonesia. Mereka membuat komunitas, kegiatan, dan acara yang berhubungan dengan Indonesia.

1 Amin Mudzakir, “Eksil Indonesia dan Nasionalisme Kita” makalah disampaikan dalam

  3

  Bahkan eksil di Prancis membuka usaha rumah makan Indonesia yang sudah terkenal di kalangan pejabat Prancis waktu itu.

  Kisah eksil yang merantau di Prancis menjadi bahan yang diambil Leila S. Chudori untuk mengembangkan kisah yang ia tulis dalam Pulang, diterbitkan pada tahun 2012. Secara singkat Pulang digambarkan dalam sampul belakangnya adalah sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta, dan pengkhianatan berlatar tiga peristiwa sejarah: Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998. Latar Prancis yang disampaikan mulai dari tahun 1965 melalui sudut pandang seorang perantau yang terbuang dari negaranya dan memberikan gambaran perjuangan hidup untuk bertahan serta berjuang.

  Cerita ini bermula dengan penangkapan Hananto Prawiro oleh “sepupu dari Jawa Tengah” atau aparat di Jakarta April 1968 yang sudah lama menjadi buronan karena meletusnya Gerakan 30 September 1966. Kemudian cerita meloncat ke Paris pada Mei 1968 yang mengisahkan tentang peristiwa kerusuhan mahasiswa dan buruh Prancis melawan pemerintahan De Gaulle yang membuat Dimas Suryo bertemu dengan Vivienne Deveraux seorang mahasiswa Sorbonne. Cerita terus berputar antara masa lalu yang terjadi tahun antara 1966 di Indonesia dan kisah yang berjalan pada masa waktu cerita berjalan di Prancis dan Indonesia. Dalam cerita akan bermunculan tokoh- tokoh yang menguatkan untuk menjadi saksi mata dalam kejadian-kejadian di Indonesia dan Prancis. Seperti surat-surat dari Surti Anandari seorang kekasih Dimas Suryo di masa lalu, surat dari Kenanga Prawiro, anak sulung Surti yang ikut diboyong Surti untuk memenuhi panggilan intrograsi aparat di Jalan Budi Kemuliaan, dan surat-surat dari Aji Suryo yaitu adik dari Dimas Suryo.

  Surat-surat yang dicantumkan seperti bukti sejarah yang kuat dalam novel

  

Pulang. Cerita mengalir pada tahun 1998 di Indonesia oleh putri Dimas Suryo,

  yaitu Lintang Utara. Lintang Utara yang mendapatkan tugas dari dosen

  4

  saksi-saksi hal itu mengharuskan Lintang berangkat ke Indonesia pada tahun 1998, saat itu terjadi pergolakan politik di Indonesia. Kunjungan Lintang ke Indonesia membuatnya bertemu Segara Alam, anak bungsu dari Surti dan Hananto. Di Indonesia Lintang menemukan Indonesia yang baru dikenalnya secara dekat, sebab sebelumnya ia hanya mendengar tentang Indonesia dari Ayah dan kawan-kawan ayahnya hanya sampai tahun 1966. Akhir cerita ditutup dengan Dimas Suryo yang meninggal dan dapat dimakamkan di tempat yang ia inginkan dan rindukan, Karet.

  Leila S. Chudori bukan penulis pertama yang mengangkat cerita berlatarkan peritiwa sejarah di Indonesia. Sebelumnya sudah banyak pengarang Indonesia yang mengakat keterkaitan sejarah Indonesia dengan karya sastra, seperti Ayu Utami dengan karyanya Saman dan Larung yang membahas kejadian sebelum masa reformasi Indonesia, atau Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Anantra Toer yang mengkisahkan keadaan Hindia (Indonesia) sebelum masa kemerdekaan. Para pengarang membuat perlawanan dengan karya sastra, memaparkan sejarah yang tidak diceritakan oleh buku-buku sejarah di sekolah. Pulang merupakan sebagian kecil dari karya sastra Indonesia yang berlatarkan sebuah realita sosial pada suatu zaman, kenyataan dalam interaksi masyarakat dan manusia tidak banyak diungkapkan oleh pemerintah. Hal tersebut mengidentifikasikan bahwa sastra tidak terlepas dari sosiologi sebuah bangsa, sehingga dalam perkembangan sastra muncul kajian sastra melalui pendekatan sosiologi. Menurut Sapardi Djoko Damono, sosiologi melakukan telaah objektif dan ilmiah tentang manusia dan masyarakat, telaah tentang lembaga dan proses sosial, mencari tahu bagaimana masyarakat dimungkinkan, bagaimana ia berlangsung, dan bagaimana ia tetap ada; maka sastra menyusup, menembus permukaan

  5

  kehidupan sosial dan menunjukan cara-cara menusia menghayati masyarakat

  3 dengan perasaannya, melakukan telaah secara subjektif dan personal.

  Pada ranah pendidikan, terutama pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah, pembelajaran sastra persentase pengajarannya masih sangat kurang dibanding materi lainnya. Padahal, pengajaran sastra dapat membangkitkan keindahan, kepekaan, interaksi, bahkan sampai cara pandang hidup. Namun, ada materi yang sering dibahas dalam sekolah, yaitu kajian terhadap unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam novel ataupun cerita pendek, baik itu jenjang sekolah menengah pertama atau tingkat menengah atas.

  Karena dengan mempelajari sastra siswa dituntut memahami realitas kehidupan yang dapat tercermin oleh karya sastra. Sehingga penting bagi penelitian dapat mengaitkan bahan kajian yang dibahas dengan penerapan karya sastra di sekolah.

  Berdasarkan uraian tersebut, dapat dijelaskan rincian dasar penilaian sebagai berikut: Dari segi penceritaan, novel Pulang karya Leila S. Chudori begitu pas dikaji menggunakan telaah sosiologi sastra. Novel Pulang yang menggambarkan kehidupan eksil yang berada di Prancis. Hampir separuh kisah menggambarkan perjuangan hidup dan kekuatan bertahan akibat keputusan-keputusan pemerintah Indonesia pada masa Orde Baru. Serta impikasi kajian novel Pulang karya Leila S. Chudori terhadap pembelajaran sastra di SMA.

B. Identifikasi Masalah

  Identifikasi masalah yang memungkinkan setelah pemaparan latar belakang yang melikupi:

  1. Sudah banyak penjabaran peristiwa yang terjadi di Indonesia sekitar tahun 1965 sampai 1998

2. Kurangnya pembahasan seputar eksil di Prancis.

  6

3. Kondisi sosial dan politik eksil di Prancis dalam novel Pulang karya Leila

  S. Chudori belum adanya implikasi terhadap kajian pada pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA.

  C. Batasan Masalah

  Penelitian sastra tidak harus mengkaji segala aspek yang terdapat pada karya sastra. Kajian sastra bisa dibatasi dari segi struktur, diksi, atau pendekatan ilmu indisipliner yang berkaitan dengan kajian karya sastra. Agar permasalahan yang diteliti tidak meluas pada aspek lainnya, penelitian ini hanya membahas kondisi sosial dan politik eksil di Prancis dalam novel

Pulang karya Leila S. Chudori dan implikasi pembelajaran sastra di SMA.

  D. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah dipaparkan sebelumnya, permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. eksil di Prancis pada novel Pulang

  Bagaimana kondisi sosial dan politik karya Leila S. Chudori?

  2. eksil di Prancis pada novel

  Bagaimana implikasi kondisi sosial dan politik

  Pulang karya Leila S. Chudori terhadap pembelajaran Bahasa dan Sastra

  Indonesia di SMA? E.

   Tujuan Penelitian

  Tujuan penelitian ini, diharapkan: 1.

  Mendeskripsikan kondisi sosial dan politik eksil di Prancis pada novel Pulang karya Leila S. Chudori dengan tinjauan sosiologi sastra.

2. Mendeskripsikan penerapan kajian kondisi sosial dan politik eksil di

  Prancis pada novel Pulang karya Leila S. Chudori terhadap implikasi pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA.

  7

F. Manfaat Penelitian 1.

  Manfaat Teoretis Penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan dan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan menganai studi Sastra Indonesia khususnya dalam memahami sejarah dari sisi yang berbeda. Penelitian ini juga diharapkan mampu memberikan sumbangan dalam teori sosiologi sastra dalam mengungkapkan novel Pulang Karya Leila S. Chudori.

2. Manfaat Praktis

  Secara praktis dengan penelitian ini diharapkan dapat membantu pembaca untuk memahami isi cerita novel Pulang karya Leila S. Chudori terutama mengguraikan cara pandanng pengarang yang direpresentasikan dalam karyanya, dengan pemanfaatan lintas disiplin ilmu sosisologi dan sastra.

G. Metode Penelitian

  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Ada beberapa istilah yang digunakan untuk penelitian kualitatif, yaitu penelitian atau inkuiri naturalistik atau alamiah, etnogarfi, interaksionis simbolik, prespektif ke dalam, etnometodologi, the Chicago School,

  4

  fenomenologis, studi kasus, interpretatif, ekologis, dan deskriptif. Menurut Strauss dan Corbin, penelitian kualitatif merupakan penelitian yang temuan- temuannya tidak diperoleh prosedur statistik atau bentuk hitung lainnya. Para peneliti yang menggunakan pendekatan ini harus mampu menginterpretasikan segala fenomena dan tujuan melalui sebuah penjelasan. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang penting untuk memahami suatu fenomena sosial dan prespektif individual yang diteliti. Tujuan pokoknya adalah menggambarkan, mempelajari, dan menjelaskan fenomena itu. Penelitian kualitatif menjadikan peneliti sendiri menjadi instrumen penelitian, sehingga penelitian kualitatif 4 diolah secara fleksibel.

  8

  Penelitian kualitatif yang menuntut peneliti sendiri yang terjun mencari informasi dan menggumpulkan data secara nyata dari yang peneliti dapatkan. Data tersebut kemudian diolah peneliti untuk memperoleh jawaban atas masalah yang diangkat oleh penelitian. Sumber data dalam penelitian kualitatif adalah objek dari penelitian, yaitu novel Pulang karya Leila S. Chudori dan data-data yang menunjang penelitian seperti buku, esai, makalah dan jurnal.

  Penelitian kulitatif yang menjadikan objek berupa novel dapat menggunakan model pendekatan sosiologi sastra.

1. Teknik Penelitian

  Penelitian ini berbasis content analysis yang berarti dokumen merupakan objek dalam penelitian ini. Dokumen yang diteliti adalah novel Pulang karya Leila S. Chudori. Penelitian ini dijelasakan secara deskriptif ketika penggolahan data. Sebab penjelasaan deskriptif merupakan ciri khas penelitian berbasis data kualitatif. Penelitian ini dilakukan beberapa tahapan, yaitu: a.

  Mengumpulkan data-data prosa karya Leila S. Chudori sebagai objek dalam penelitian ini.

  b.

  Memilih novel Pulang sebagai objek penelitian.

  c.

  Melakukan pembacaan secara intensif terhadap objek penelitian.

  d.

  Mengumpulkan data-data tambahan yang menunjang dalam penelitian, seperti buku, esai, makalah, jurnal, maupun pencarian secara online.

  e.

  Menganalisis data-data yang dijadikan objek penelitian dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra.

  f.

  Menentukan hasil kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap objek.

  9

2. Teknik Pengumpulan Data

  Penelitian ini mengunakan teknik dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data melalui pengumpulan dokumen untuk memperkuat informasi. Teknik dokumentasi dapat dikatakan sebagai strategi yang digunakan dengan mengumpulkan data dari buku, majalah, esai, jurnal,

  online, dan dokumen lain yang menunjang dalam penelitian ini. Penulis

  melakukan seleksi dalam pemilihan data yang menunjang dengan melihat keterkaitan data penunjang dengan objek yang dikaji.

BAB II KAJIAN TEORI A. Sosiologi Sastra Swingewood mendefinisikan sosiologi merupakan studi yang ilmiah

  dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga-

  1

  lembaga dan proses-proses sosial. Dilihat dari pernyataan Swingewood tersebut ada perbedaan mendasar sosiologi dengan dunia sastra, sebab sosiologi bersifat objektif dan ilmiah, sedangkan sastra lebih berdasar pada perasaan. Walau memiliki perbedaan yang mendasar, ranah kajian sosiologi memiliki kesamaan pula dengan dunia sastra, karena karya sastra tidak tercipta dengan sendirinya, namun ada sastrawan yang merupakan anggota dari suatu masyarakat, juga karya sastrawan yang terpengaruh oleh lingkungan sosial sekitar. Seperti yang diungkapkan Wolff, bahwa sosiologi kesenian dan kesuasastraan merupakan suatu disiplin tanpa bentuk, tidak terdefinisikan dengan baik, terdiri dari sejumlah studi empiris dan berbagai percobaan pada teori yang lebih general, yang masing-masing hanya mempunyai kesamaan dalam hal bahwa semuanya berurusan dengan

  2

  hubungan antara seni/kesuasastraan dan masyarakat. Sosiologi dan sastra dapat dilihat dari hubunga antar manusia dan masyarakat, baik dari segi interaksi, hubungan, komunikasi, dan komponen-komponen sosial yang lainnya. Sehingga sastra tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat, karena pengaruh dari masyarakat menjadi poin penting penciptaan karya sastra. Dilihat dari penjabaran sebelumnya, bahwa sastra dan sosiologi saling melangkapi, walau kenyataannya selama ini cenderung untuk dipisahkan. 1 Maka dapat diambil simpulan bahwa sosiologi sastra merupakan pendekatan

  11

  3

  sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakat. Lepas dari sastra itu cerminan dari realitas masyarakat, atau sebuah hasil yang baru dan otentik dari buah pemikiran seorang pengarang.

  Klasifikasi sosiologi sastra menurut Wellek dan Werren dibagi

  4

  menjadi tiga bagian. Pertama, sosiologi pengarang, profesi pengarang, dan institusi sastra. Permasalahan sosiologi pengarang berkaitan dengan ideologi, status sosial, dan hal lain yang berkaitan dengan pengarang dalam menghasilkan karya sastra. Kedua, sosiologi karya sastra. Ranah sosiologi karya sastra mencangkup isi, tujuan, serta hal-hal yang tersirat dalam karya sastra. Ketiga, sosiologi sastra yang berhubungan dengan pembaca dan dampak sosial karya sastra.

B. Sosial dan Politik

  Masyarakat dan individu tidak bisa dilepaskan dengan gambaran- gambaran masalah yang ada di sekitarnya, kondisi sosial yang digambarkan akan menjelaskan permasalan yang ditemui. Keadaan sosial mempengaruhi cara bersikap masyarakat dalam menentukan sikap, begitu juga dunia politik ikut menyumbang gambaran kondisi sosial yang tercipta. Kondisi sosial dapat tergambarkan dari perekonomian, hubungan dengan keluarga, hingga nilai- nilai sosial yang muncul dalam masyarakat. Dalam ranah politik akan muncul permasalahan kekuasaan dan nasonalisme. Kondisi sosial dan politik tersebut akan memperjelas sebuah gambaran yang dapat menjabarkan perjalanan hidup suatu masyarakat.

1. Kondisi Sosial

  Kondisi sosial novel dapat dikaji dari beberapa aspek yang terlihat dari cerita, baik terlihat secara langsung atau tidak langsung. Sesuai dengan 3 pengkategorian Mundar Soelaeman pada buku Ilmu Sosial Dasar, aspek sosial

  12

  yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kajian perekonomian, disorganisasi keluarga, dan nilai-nilai sosial.

  a.

  Perekonomian Ekonomi mencoba memahami kehidupan individu dan masyarakat dalam usahanya memproduksi, mendistribusi dan

  5 mengkonsumsi barang dan jasa yang terbatas dalam masyarakat.

  Kebutuhan individu dan masyarakat itu bisa dipenuhi dengan adanya institusi yang mengelola dalam memahami kebutuhan yang berbeda- beda. Individu dan kelompok yang memenuhi kebutuhannya dengan

  6

  barang dan jasa bisa dikatakan sebagai fenomena ekonomi. Ekonomi juga dapat memperbesar jarak antar kelas sosial, rasial, dan

  7

  ketidaksamaan gender. Dalam mekanisme penerimaan dan penawaran, sosiologi dapat memberikan resep untuk mencegah konflik sosial. Dalam memenuhi kebutuhan manusia, selain merupakan kebutuhan ekonomi, dapat pula diklasifikasikan sebagai kebutuhan sosial, contoh ternak, selain fungsi ekonomi, dapat diklasifikasikan

  8

  sebagai kebutuhan sosial. Sebab ekonomi saat ini menjadi salah satu penilaian kehidupan masyarakat.

  b.

  Disorganisasi Keluarga Disorganisasi sosial dapat diakibatkan oleh laju perubahan kondisi sosial. Perubahan kondisi sosial dapat berupa pengambilan tempat, pembaruan norma, peraturan baru, konflik yang terjadi, dan

  9 5 institusi yang mengambil bentuk dan fungsi yang baru. Disorganisasi Ng. Philipus dan Nuril Aini, Sosiologi dan Politik, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2009) h. 2 6 7 Ibid., h.65 Kenneth J. Neubeck and Davita Silfen Glasberg, Sosiology: Diversity, Conflict, and Change,

  (New York: McGraw-Hill, 2005) h. 67 8 M. Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar: Teori dan Konsep Ilmu Sosial, (Bandung: PT ERESCO, 1995) h. 186 9

  13

  keluarga merupakan salah satu bentuk dari disorganisasi sosial yang disebabkan oleh perpecahan keluarga yang unit anggota keluarganya tidak dapat menunaikan kewajiban yang sesuai dengan peranan sosial.

  Disorganisasi kelurga menurut Soelaeman terdiri dari lima definisi: 1)

  Ketidaksaahan. Merupakan unit keluarga yang tidak lengkap. Kegagalan anggota keluarga menjalankan kewajiban peranannya.

2) Pembatalan, perpisahan, perceraian, dan meninggal.

  3) Keluarga selaput kosong. Keluarga yang tinggal bersama, namun tiap anggota keluarga tidak ada interaksi.

  4) Ketidak hadiran seseorang dari pasangan karena hal yang tidak diinginkan, baik karena meninggal, dipenjara, peperangan, depresi, dan malapetaka lainnya.

  5) Kegagalan peranan penting yang tak diinginkan. Seperti penyakit mental, emosional, atau badaniah.

  c.

  Nilai-nilai Sosial Nilai merupakan patokan perilaku sosial yang melambangkan baik-buruk, benar-salah suatu objek hidup masyarakat. Nilai biasanya diukur berdasarkan kesadaran terhadapa apa yang pernah dialami seseorang, terutama pada waktu merasakan kejadian yang dianggap baik atau buruk, benar atau salah, baik oleh dirinya sendiri maupun

  10

  anggapan masyarakat. Konsep keyakinan menjadi faktor utama munculanya nilai-nilai sosial, baik merupakan sebuah fakta yang pasti atau justru bukan, karena konsep tersebut tidak perlu dibuktikan. Nilai-nilai sosial juga mempengaruhi individu atau kelompok untuk berprilaku, baik secara keseluruhan ataupun hanya sebagian.

  14

  Nilai-nilai sosial dapat juga timbula kerena adanya prasangka, sehingga timbullah diskriminasi. Sikap yang ditunjukan dari sebuah prasangka mempunyai komponen-komponen, yaitu:

  1) Kognitif: Memiliki pengetahuan mengenai objek sikapnya, terlepas pengetahuan itu benar atau salah.

  2) Afektif: Selalu mempunyai evaluasi emosional (setuju- tidak setuju) mengenai objek sikapnya.

  3) Konatif: Kecenderungan bertingkah laku bila bertemu dengan objek sikapnya, mulai dari bentuk yang positif

  (tindakan sosialisasi) sampai pada yang sangat aktif (tindakan agresif).

2. Kondisi Politik

  Kondisi politik yang tergambarkan dalam sebuah novel dapat bermacam jenisnya, seperti partisipasi politik, sistem politik, kekuasaan dan wewenang, mobilisasi politik, hingga nasionalisme atau yang berhubungan dengan

  11

  kewarganegaraan. Aspek politik yang digunakan untuk penelitian ini terdapat pada kekuasaan dan nasionalisme.

  a.

  Kekuasaan Pengertian Kekuasaan yang paling umum menurut Roderick

  Martin mengacu pada suatu jenis pengaruh yang dimafaatkan oleh si

  12

  objek, individu, atau kelompok terhadap yang lainnya. Kekuasaan bergaris besar dengan pengaruh, pemaksaan, dan otoritas. Pengaruh yang dimiliki individu atau kelompok dalam suatu tempat dapat digunakan untuk membujuk yang lain untuk melakukan atau 11 mempercayai sesuatu, bila dengan membujuk tidak bisa dilakukan,

  15

  maka sifat pemaksaan yang akan dikeluarkan sebegai otoritas yang dimiliki oleh si penguasa.

  Soerjono Soekanto menyebutkan empat macam usaha untuk

  

13

  mempertahankan kekuasan , yaitu: 1)

  Menghilangkan segenap peraturan-peraturan lama, terutama dalam bidang politik yang merugikan kedudukan penguasa. 2)

  Mengadakan sistem-sistem kepercayaan (bilief-system) yang akan dapat mengkokoh kedudukan penguasa atau golongannya, sistem-sistem kepercayaan tersebut meliputi agama, ideologi, dan seterusnya. 3) Pelaksanaan administrasi dan birokrasi yang baik. 4) Mengadakan konsolidasi secara horizontal dan vertikal.

  b.

  Nasionalisme Menurut Kleiden bahwa nasionalisme merupakan semangat dari suatu kelompok bangsa tertentu dengan segala cita-cita dan harapan ideal yang akan dikejarnya merupakan roh yang tumbuh dan berkembang dari zaman ke zaman. Nasionalisme tidak terhalang oleh jarak suatu bangsa dengan tempat asalnya. Nasionalisme tidak mengenal jarak tersebut dikenal dengan nasionalisme jarak jauh.

  Nasionalisme jarak jauh lebih menekankan kepada komitmen politisi dengan melakukan aksi-aksi tertentu yang merupakan tanggapan

  

14

terhadap situasi bangsanya.

C. Eksil

  Bahasa Inggris istilah exile, yang diindonesiakan menjadi eksil, 13 memiliki tiga pengertian. Pertama, sebuah ketakhadiran, sebuah absensi yang 14 Abdulsyani, Op. cit., h. 141

  16

  panjang dan biasanya karena terpaksa dari tempat tinggal ataupun negeri sendiri. Kedua, pembuangan secara resmi (oleh negara) dari negeri sendiri, dan pengertian ketiga adalah seseorang yang dibuang ataupun hidup di luar tempat tinggal ataupun negerinya sendiri (perantau, ekspatriat). Istilah exile itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu exsilium (pembuangan) dan exsul (seseorang yang dibuang). Dari ketiga pengertian istilah eksil di atas kita bisa melihat bahwa faktor dislokasi geografis dari tempat kelahiran ke sebuah tempat asing merupakan faktor utama yang menciptakan kondisi yang disebut sebagai eksil itu. Dislokasi geografis itu sendiri bisa terjadi karena disebabkan oleh negara secara resmi ataupun karena pilihan pribadi. Pada kasus pertama, para pelarian politik segera muncul dalam pikiran kita sebagai representasi dari mereka yang diusir dari negeri kelahiran sendiri oleh pemerintahan yang sedang berkuasa, sementara pada kasus kedua kita segera teringat pada para pengungsi, para transmigran, dan para perantau

  15

  yang mencari hidup baru di luar tempat kelahiran mereka. Pada peristiwa di Indonesia tahun 1965, munculan istilah eksil untuk para warga negara Indonesia yang tertahan karena memiliki hubungan atau sebagai tertuduh peristiwa Gerakaan 30 September (G30S), dan dari pengertian eksil sebelumnya, konsep eksil yang disuguhkan untuk mewakili para eksil yang tersangkut peristiwa G30S adalah konsep geografis dari tempat kelahiran ke tempat baru baik karena keinginan pribadi atau perintah resmi pemerintahan atau istilah lainnya yaitu pembuangan.

D. Pengertian Novel

  Menurut Abrams novel berasal dari bahasa Italia novella yang memiliki arti “sebuah barang baru yang kecil”, kemudian diartikan sebagai ”cerita pendek dalam bentuk prosa”. Namun, pada masa sekarang 15 penggunaan istilah novel di Indonesia sama dengan penggunaan istilah

  17

  novelet yang merujuk pada sebuah karya prosa yang cukup panjang dan tidak

  16 terlalu pendek. Pembauran istilah novel dan novelet masih dipertanyakan.

  Namun, dilihat tidak adanya batasan pasti untuk sebuah karya disebut novel, maka istilah tersebut novelet dan novel bisa dikatakan sama saja.

  Novel dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai karangan prosa yang panjang, mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekitarnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Biasanya novel menceritakan peristiwa pada masa tertentu. Bahasa yang digunakan lebih mirip bahasa sehari-hari. Penggunaan unsur- unsur instrinsik masih lengkap, seperti tema, plot, latar, gaya bahsa, nilai, tokoh dan penokohan. Dengan catatan, yang ditekankan aspek tertentu dari

  17

  unsur instrinsik tersebut. Karena unsur intrinsik merupakan unsur yang membangun novel dari dalam karya tersebut, tidak ada perbedaan antara novel maupun roman.

  Pengertian novel dari berbagai tokoh sebelumnya menitikberatkan bahwa novel adalah sebuah karya sastra yang memiliki unsur-unsur dalam mendukung jalan cerita sehingga terjadi alur yang berawal dari awalan hingga leraian atau penyelesaian dan tidak terlepas dari unsur-unsur luar yang mendukung terciptanya karya tersebut. Seperti unsur sosial, politik, ekonomi, dan unsur-unsur yang berkaitan dengan realita kehidupan. Istilah tersebut dikenal dengan unsur ekstrinsik.

E. Jenis-jenis Novel

  Penggolongan novel dalam dunia penerbitan buku sulit dilakukan, karena beberapa hal yang bersifat subjektif sehingga pemisahan jenis novel menjadi kabur, seperti kebiasaan penerbitan dalam mengelurkan buku, atau 16 kebiasaan seorang penulis dalam mengeluarkan karyanya. Berdasarkan teori

  Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Perss,

  18

  Lukas, Girard, Goldmann mendefinisikan novel sebagai cerita tentang suatu pencarian yang terdegradasi akan nilai yang otentik yang dilakukan oleh seorang hero yang problematika dalam sebuah dunia yang juga terdegradasi. Goldmann membedakan jenis novel menjadi tiga jenis, yaitu: novel idealisme

  18

  abstrak, novel psikologi, dan novel pendidikan. Novel idealis diwakili oleh

  Don Quixote yang menceritakan bahwa sang hero penuh optimisme dalam petualangan tanpa menyadari kompleksitas. Novel psikologi diwakili oleh L. ‘Education Sentrimentale, Goethe yang menceritakan bahwa sang hero

  cenderung pasif karena kekuasaan kesadarannya tidak tertampung oleh dunia konvensi. Novel pendidikan diwakili oleh Wilhelm Meister yang menceritakan bahawa sang hero telah melepaskan pencariannya akan nilai- nilai yang otentik, tetapi tetap menolak dunia.

  Nurgiyantoro lebih spesifik dalam mengkasifikasikan jenis novel berdasarkan keadaan sastra di Indonesia. Jenis novel Indonesia dapat dijeniskan menjadi dua bagian, novel serius dan novel populer. Novel serius dikenal pula dengan novel sastra. Menurut Stanton, fiksi populer memerlukan pembacaan dan

  „pembacaan kembali’. Maksud pernyatan tersebut bahwa pembacaan novel serius tidak mudah, sehingga pembaca tidak hanya menikmati saja, namun dituntut untuk memahami dengan cara diserap sedikit demi sedikit. Jarang sekali ada orang yang dapat langsung memahami novel serius hanya dengan sekali membaca.

  Tujuan utama novel serius adalah memungkinkan pembaca membayangkan sekaligus memahami satu pengalaman manusia. Untuk menjawab pertanyaan mengapa maksud tersebut harus dicerna melalui berbagai hal rumit dan sulit, harus diingat bahwa pengalaman manusia bukanlah sekadar rangkaian kejadian-kejadian yang sinambung. Rangkaian tersebut hendaknya dirasakan sedalam mungkin seolah sedang benar-benar

  19

  19

  dialami. Bila sebuah novel hanya menjadi bahan bacaan yang menghibur dan memuasakan kesamaan realita yang terjadi, tanpa membangkitkan imajinasi, bisa diaktakan novel tersebut adalah novel populer.

  Pembatasan novel serius dan novel populer masih memiliki kekaburan dan pembantasan yang tipis, salah satu penyebabnya adalah steriotip pembaca terhadap pengarang. Bila ada pengarang yang dikenal melahirkan karya yang selalu serius, maka pembaca akan langsung menilai karya yang dilahirkan akan serius, padahal belum tentu semua karya yang dibuat memiliki karakter novel serius, begitu pula sebaliknya dengan novel populer. Bila pembaca atau masyarakat mengenal suatu penerbit sering mencetak novel-novel populer, walau novel itu memiliki karakter novel serius, pembaca akan tetap mengkatagorikan sebagai novel populer.

F. Unsur Pembangun Karya Sastra

  Karya sastra merupakan sebuah hasil karya pengarang yang diwakili dalam bentuk kata-kata dan rangkaian cerita yang saling membangun. Unsur pembangun karya sastra, khususnya novel terdiri dari unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

1. Intrinsik

  Unsur intrinsik (intrinsic) adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan suatu teks hadir sebagai teks sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai orang membaca karya sastra. Unsur yang terkandung dalam instrinsik menjadi bahan kajian kritik sastra seperti tema, alur, tokoh, latar, sudut pandang, dan gaya bahasa.

  a.

  Tema Tema merupakan aspek yang sejajar dengan „makna’ dalam pengalaman manusia; sesuatu yang menjadikan suatu pengalaman

  20

  20

  begitu diingat. Ada banyak kisah berhubungan dengan pengalaman yang dirasakan manusia, mulai dari cinta hingga penderitaan. Aminuddin berpendapat tema adalah ide yang mendasari suatu cerita. Tema berperan sebagai pangkal tolak pengarang saat memaparkan karya rekaan yang diciptakannya. Tema merupakan kaitan hubungan antara makna dengan tujuan

  21

  pemaparan prosa rekaan oleh pengarangnya. Hartoko & Rahmanto mengemukakan bahwa tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan terkandung di dalam teks sebagai struktur sistematis dan menyangkut persamaan

  22

  juga perbedaan. Di pihak lain, Nurgiyantoro menyimpulkan tema sebagai gagasan (makna) dasar umum yang menompang sebuah karya sastra sebagai struktur sematis dan bersifat abstrak secara berulang-ulang dimunculkan lewat motif-motif dan biasanya

  23

  dilakukan secara implisit. Dari beberapa pendapat ahli, diketahui bahwa tema merupakan makna pokok pembicaraan sebuah cerita, kemunculannya akan lebih sering terlihat karena masalah-masalah yang ada pada cerita akan menuju kepada makna tersebut.

  b.

  Alur Stanton menjelaskan bahwa alur atau plot (istilah yang digunakan Nurgiyantoro) merupakan cerita yang berisi urutan kejadian, namun kejadian dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa

  24

  yang lain. Pendapat Stanton sebelumnya sudah dikemukakan 20 oleh Forster yang mengartikan alur sebagai peristiwa-peristiwa 21 Robert Stanton, Op.cit., h. 36 22 Wahyudi Siswanto, Op.cit, h. 161 23 Burhan Nurgiyantoro, Op.cit, h.115

  21

  cerita yang mempunyai pendekatan pada adanya hubungan kausalitas. Penggambaran peristiwa berdasarkan pada urutan cerita saja tidak dapat menggambarkan pengertian alur. Alur haruslah menjadi sebuah jalinan cerita yang memiliki keterkaitan cerita satu dengan yang lain. Peristiwa terjadi pasti ada penyebabnya, atau peristiwa itu terjadi karena penyebab peristiwa lain. Hal seperti itu merupakan jalinan cerita saling berkaitan, maka akan terjadilah jalinan cerita tidak hanya berdasarkan urutan cerita, tapi lebih kepada kaitan antar cerita yang memiliki ikatan satu sama lain.

  Abrams mengungkapkan, bahwa alur haruslah berupa rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin sebuah cerita yang dihadirkan oleh para pelaku

  25

  dalam suatu cerita. Sedangkan Sudjiman mengartikan alur sebagai jalinan peristiwa di dalam karya sastra untuk mencapai efek tertentu. Siswanto mengartikan alur adalah rangkaian peristiwa rekaan dan dijalani dengan saksama, menggerakan jalan cerita melalui rumitan ke arak klimaks dan selesaian. Menurut pendapat Abrams dan Siswanto menggambarkan alur dengan tahapan-tahapan tertentu sehingga cerita dapat bergerak menghadirkan peristiwa. Bila dilihat kembali dari pendapat beberapa ahli seputar alur atau plot, cerita fiksi pada umumnya harus memiliki jalinan peristiwa yang memiliki keterkaitan sehingga akan menimbulkan tahapan-tahapan pembangun cerita yang akan mengesankan pembaca.

  Tahapan alur menurut Aminuddin diawali dengan pengenalan, konflik, komplikasi, klimaks, peleraian, dan penyelesaian. Pengenalan adalah tahapan peristiwa suatu cerita rekaan atau

  22

  drama yang memperkenalkan tokoh-tokoh atau latar cerita. Konflik atau tikaian adalah ketegangan atau pertentangan antara dua kepentingan atau kekuatan di dalam cerita rekaan atau drama.

  Komplikasi atau rumitan adalah bagian tengah alur cerita rekaan atau drama yang mengembangkan tikaian. Klimaks merupakan bagian alur cerita rekaan atau drama yang melukiskan puncak ketegangan, terutama dipandang dari segi tanggapan emosional pembaca. Krisis atau titik balik berupa bagian alur yang mengawali penyelesaian. Leraian adalah bagian struktur alur sesudah tercapainya klimaks. Selesaian merupakan tahap akhir

  26

  suatu cerita rekaan atau drama. Sedangkan Nurgiyantoro membedakan alur berdasarkan kriteria urutan waktu, yaitu alur lurus (progresif), alur sorot-balik (flash back), dan alur campuran. Alur lurus menekankan kepada urutan kronologis yang tertata dari awal hingga akhir cerita. Alur sorot-balik lebih kepada pengambilan tengah cerita sebagai pembuka cerita, kemudian barulah cerita dilanjutkan secara berurutan. Alur campuran merupakan penggambungan antara alur lurus dan alur sorot-balik.

  c.

  Tokoh Aminudin mengungkapkan bahwa tokoh merupakan pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita, sedangkan cara sastrawan menampilkan tokoh disebut penokohan. Tokoh menurut Sudjiman merupakan individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Di samping tokoh utama (protagonis), ada jenis-jenis tokoh lain, yang terpenting adalah tokoh lawan (antagonis), yakni tokoh yang diciptakan untuk

  23

  mengimbangi tokoh utama. Konflik di antara mereka itulah yang

  27

  menjadi inti dan menggerakan cerita. Bukan perkara tokoh protagonis adalah tokoh baik, atau tokoh antagonis adalah tokoh jahat. Tapi, lebih menyoroti kedudukan tokoh dalam cerita.

  Boulton mengungkapkan bahwa cara sastrawan menggambarkan atau memunculkan tokoh dapat menempuh

  28

  berbagai cara. Jadi, dapat dikatakan tokoh merupakan tokoh rekaan yang menjalani peristiwa sehingga membangun cerita. Setiap tokoh memiliki karakterisasi atau pemeranaan, pelukisan watak. Metode karakterisasi dalam telaah karya sastra adalah metode melukiskan watak para tokoh yang terdapat dalam suatu

  29

  karya fiksi. Sehingga pengambaran tokoh ditunjukan oleh pengarang dapat dilihat melalui metode langsung (telling) dan metode tidak langsung (showing). Menurut Minderpop, metode langsung dapat disimak bahwa pengarang tidak sekadar menyampaikan watak para tokoh berdasarkan apa yang tampak melalui lakuan tokoh tetapi ia mampu menembus pikiran, perasaan, gejolak serta konflik batin dan bahkan motivasi yang melandasi tingkah laku para tokoh. Sedangkan metode tidak langsung dapat dijelaskan ketika seorang tokoh membicarakan tingkah laku tokoh lainnya ternyata pembicaraan justru dapat menunjukan tidak sekadar watak tokoh yang dibicarakan, bahkan watak si penutur sendiri tampak jelas.

  27 Melani Budianta dkk, Membaca Sastra: Pengentar Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi, (Indonesia Tera: Magelang, 2006) h. 86 28 29 Wahyudi Siswanto, Op.cit, h. 104

  24

  d.

  Latar Latar adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang dan susana terjadinya lakuan pada karya sastra. Deskripsi latar dapat bersifat fisik, realistis, dokumenter, dapat pula berupa deskipsi

  30

  perasaan. Wellek & Warren mengemukakan bahwa latar adalah lingkungan yang dapat berfungsi sebagai metonimia, metafora, atau ekspresi tokohnya. Abrams mengemukakan latar cerita adalah tempat umum (general locale), waktu kesejarahan (historical time), dan kebiasaan masyarakat (social circumatances) pada setiap

  31

  episode atau bagian-bagian tempat. Latar merupakan lingkungan yang menjelaskan segala keterangan, mencakup tempat, waktu, dan suasana.

  Leo Hamalida dan Frederick R. Karell menjelaskan bahwa latar cerita karya fiksi bukan hanya berupa tempat, waktu, peristiwa, suasana serta benda-benda di lingkungan tertentu, tetapi juga dapat berupa suasana yang berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka, maupun gaya hidup suatu masyarakat dalam menanggapi suatu problem tertentu. Pendapat Leo & Frederick sepaham dengan pendapat Abrams yang menyebutkan bahwa latar sebagai landasan tumpu, menunjuk pada pengertian tempat, hubungan sejarah, dan lingkungan sosial tempat terjadinya

  32

  peristiwa-peristiwa diceritakan. Latar berhubungan dengan keadaan tertentu dikenal melalui penggambaran latar suasana, gambaran terjadi lebih membangun nuansa yang terasa oleh pembaca.

  30 31 Melani Budianta dkk, Op.cit., h.

  25

  e.

  Sudut Pandang Sudut pandang adalah tempat sastrawan memandang cerita, dari tempat itulah sastrawan bercerita tentang tokoh, peristiwa,

  33

  tempat, waktu dengan gayanya sendiri. Hal itu biasanya dikemukakan oleh narator. Berbicara tentang narator, berarti berbicara tentang sudut pandang, yaitu suatu metode narasi yang menentukan posisi atau sudut pandang darimana cerita

  34

  disampaikan. Sedangkan menurut Aminuddin, titik pandang diartikan sebagai cara pengarang menampilkan pelaku dalam cerita yang dipaparkannya. Titik pandang meliputi (1) narrator

  omniscient, (2) narrator observer, (3) narrator observer omniscient, dan (4) narrator the thrid person omnisceant.

  Harry Shaw menyatakan titik pandang terdiri atas (1) sudut pandang fisik, yaitu posisi dalam waktu dan ruang yang digunakan pengarang dalam pendekatan materi cerita, (2) sudut pandang nentral, yaitu perasaan dan sikap pengarang terhadap masalah dalam cerita, dan (3) sudut pandang pribadi, yaitu hubungan yang dipilih pengarang dalam membawa cerita; sebagai orang pertama, kedua, atau ketiga. Sudut pandang pribadi dibagi atas (a) pengarang menguatkan sudut pandang tokoh, (b) pengarang menggunakan sudut pandang tokoh bawahan, dan (c) pengarang menggunakan sudut pandang yang impersonal: ia sama sekali

  35

  berdiri di luar cerita. Pengarang sudah tidak punya kedudukan ketika cerita sudah dipaparkan. Tidak ada pengarang dalam cerita, melainkan tokoh yang diciptakan pengarang untuk memandu cerita.

  33 34 Wahyudi Siswanto, Op.cit., h. 151

  26

  Baik tokoh yang terlibat langsung, atau tokoh di luar cerita berlangsung.

  Sudut pandang orang pertama atau “akuan” adalah tokoh yang terdapat dalam cerita, walau kehadirannya belum tentu sebagai tokoh utama. Sedangkan sudut pandan g orang ketiga atau “diaan” mengacu kepada kata ganti orang ketiga, dia, atau ia. Sudut pandang “diaan” berada di luar cerita, ia bertugas menyampaikan

  36

  suatu cerita tanpa ikut terlibat di dalamnya. Selain itu, ada pula sebutan sudut pandangan gabungan dapat mengamati bagaimana pengarang menyampaikan ceritanya. Menggunakan sudut pandang gabungan dapat melihat sebuah masalah ditinjau lebih dari satu

  37

  tokoh yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Menurut Miderop, sudut pandang berfungsi sebagai penentu tokoh mayor (utama) dan minor (bawahan), memahami perwatakan para tokoh yang dianalisi, memperlihatkan motivasi, menentukan alur dan latar bila dianggap perlu untuk mendukung perwatakn atau tema, dan menentukan tema karya sastra tersebut.

  f.

  Gaya Bahasa Aminuddin mengungkapkan bahwa gaya bahasa adalah cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh

  38

  daya intelektual dan emosi pembaca. Gorys Keraf membedakan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna ke dalam dua kelompok, yaitu gaya bahasa retoris dan kisan. Gaya retoris adalah 36 gaya bahasa yang harus diartikan menurut nilai lahirnya atau 37 Melani Budianta, dkk, Op.cit., h. 90

  27

  memiliki unsur kelangsungan makna. Sebaliknya, gaya bahasa kiasan adalah gaya bahasa yang maknanya tidak dapat ditafsirkan

  39

  sesuai dengan makna kata-kata yang membentuknya. Gaya bahasa kiasan umumnya dikenal dengan sebutan majas.

  Umumnya gaya bahasa adalah semacam bahasa yang bermula dari bahasa biasa digunakan dalam gaya tradisional dan literal untuk menjelaskan orang atau objek. Gaya bahasa mencangkup: arti kata, citra, perumpamaan, serta simbol dan alegori. Arti kata mencangkup, antara lain: arti denotatif dan konotatif, alusi, parodi, dan sebagainya; sedangkan perumpamaan mencangkup, antara lain: simile (merupakan perbandinngan langsung antara benda- benda yang tidak selalu mirip secara ensesial), matafor (suatu gaya bahasa yang membandingkan suatu benda dangan benda lain secara langsung, dalam bahasa Inggris menggunakan to be dan bisa digunakan secara langsung) dan personifikasi (suatu proses penggunaan karakteristik manusia untuk benda-benda non-

  40

  manusia, termasuk abstrak dan gagasan). Ada beberapa macam gaya bahas kiasan selain perumpamaan. Ada kaya bahasa yang berupa perbandingan, sindiran, pertentangan, dan penegasan.

2. Ekstrinsik

  Unsur ekstrinsik (extrinsic) adalah unsur-unsur yang berada di luar teks sastra itu, tetapi tidak langsung memengaruhi bangun atau sistem organisme teks sastra, atau secara khusus dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangunan cerita sebagai

  41 karya sastra, namun sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya.

  39 40 Burhan Nurgiyantoro, Op.cit., h. 399

  28

  Faktor lingkungan dan sejarah menjadi salah satu pembentuk unsur ekstrinsik sebuah karya.

  Seperti ungkapan Wellek dan Warren yang meyakinkan bahwa metode terbaik dalam ekstrinsik adalah mengaitkan karya sastra

  42

  dengan latar belakang keseluruhan. Baik dari segi biografi, psikologi, sosiologi, maupun pemikiran pengarang. Segala aspek kehidupan yang berada di lingkungan kehidupan pengarang dapat menjadi wahana pembangun sebuah karya sastra secara tidak langsung, baik itu disadari ataupun tidak oleh pengarang.

G. Pembelajaran Sastra di Sekolah

  Pengajaran ranah formal atau dikenal dengan pembelajaran di sekolah atau perguruan tinggi merupkan salah satu cara mengenalkan sastra pada peserta didik. Pengajaran sastra dapat dikaitkan kedalam bidang disiplin ilmu lainnya, termasuk dalam bidang pendidikan. Walaupun sastra bersifat karya rekaan, namun keterkaitan karya sastra erat dengan kejadian-kejadian yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Keluwesan sastra dapat membantu pengajar mengajarkan masalah-masalah yang akan dihadapi di dunia nyata.

  Sayangnya, murid di sekolah tidak dibiasakan untuk membaca novel secara keseluruhan. Mereka hanya terbiasa membaca ringkasannya saja. Sedangkan ringkasan tidak dapat menggambarkan keindahan dan isi novel secara keseluruhan, tidak mengungkapkan gaya penulisan dan diksi pengarang yang bersangkutan dengan gaya kepenulisan pengarang lain, serta tidak dapat

  43

  mengguah rasa dan menimbulkan kesan untuk merangsang perenungan. Hal seperti itu tidak dapat dibiarkan begitu saja oleh pengajar, sebab akan menimbulkan ketidaktertarikan siswa untuk mengkaji sebuah novel. Bila 42 keadaan murid yang suka membaca novel secara ringkasannya saja terus

  Rene Wellek dan Austin Warren, Teori Kesuasastraan, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1993) h. 80 43

  29

  dilanjutkan, maka hanya akan lahir pengetahuan-pengetahuan sebatas teoretis saja. Murid akan menghafal unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang bersangkutan dengan novel yang dibahas. Mereka tidak akan terbiasa untuk mengkaji sastra dengan memberi apresiasi, kritik, atau proses kreatif pada sebuah novel. Hanya saja, kurikulum saat ini di sekolah hanya sebatas membahas unsur intrinsik dan ekstrinsik, serta struktur lain yang bersifat teoretis tanpa melibatkan kajian yang lebih dalam pada karya sastra, tidak terkecuali novel.

  Pembelajaran di sekolah, kajian terhadap novel dapat diterapkan kepada siswa kelas XII semester satu kurikulum KTSP yang membahas tentang kajian unsur ektrinsik dan instrinsik dari penggalan novel yang dibacakan.

  SILABUS

  Sekolah : SMA/MA Mata Pelajaran : Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas :

  XII Semester : 1 (Satu) Standar Kopetensi : Memahami pembacaan novel Kopetensi Dasar : Menjelaskan unsur instrinsik dan ekstrinsik dari penggalan novel.

  

Indikator Materi Kegiatan Metode Penilaian Alokasi Sumber/

Pembelajaran Pembelajaran Waktu Bahan Alat

  Penggalan Diskusi Jenis

  3 X 45  Menjelaskan  Menjelaskan  Buku novel novel dan Tagihan: menit unsur-unsur unsur-unsur

   Media Present Instrinsik pembangun  tugas setempat dalam sastra (tema, asi individu

   Buku-buku

  30

  penggalan latar, penunjang

   tugas novel yang penokohan, kelomp dibacakan. alur, pesan ok atau sudut  ulangan pandang,  praktik dan konflik) dalam

  Bentuk penggalan Instrumen: novel yang  uraian dibacakan bebas teman .

   pilihan  Menjelaskan ganda unsur-unsur jawaban ektrinsik singkat yang terdapat dalam penggalan novel.

   Mendiskusik an unsur- unsur intrinsik dan ekstrinsik penggalan novel.

  31

H. Penelitian Relevan

  Penelitian dilakukan terhadap novel Pulang karya Leila S. Chudori pernah dilakukan oleh Bagus Takwin (2013) yang berjudul “Mencermati Naratif Novel Pulang

  ”. Makalah tersebut disajikan dalam musyawarah buku

  Pulang karya Leila S. Chudori di Serambi Salihara pada tanggal 29 Januari

  2013, membahas tentang kekuatan naratif yang terdapat pada novel Pulang sehingga membuat kekuatan dan daya tarik yang menghasilkan daya pikat dan daya gugah. Kekuatan yang dijabarkan Takwin tentang kekuatan narasi

  Pulang terletak pada empat poin. Pertama, penetapan kejadian dalam alur

  waktu membantuk jejaring. Kedua, Penetapan waktu yang piawai sehingga menghasilkan dinamika cerita yang menggerakan. Ketiga, deskripsi lokasi tempat kejadian berlagsung juga menghasilkan karakteristik khas. Keempat, Penataan adegan dengan kesan visual yang kuat. Pulang dikatakan dapat membantu pembaca memaknai kembali menjadi orang Indonesia sehingga

  Pulang menjalankan fungsi dari naratif itu sendiri.

  Kajian terhadap keberadaaan eksil pernah disampaikan dalam seminar dengan makalah berjudul “Eksil Indonesia dan Nasionalisme Kita” oleh Amin Mudzakkir (PSDR-LIPI) disampikan dalam seminar PSDR-

  LIPI “Eksil Indonesia dan Nasionalisme K ita” pada Selasa, 3 Desember 2013 d LIPI, Jakarta. Kajian makalah tersebut menjelaskan tentang kaum eksil yang tertahan di luar negeri karena dicabutnya paspor serta kewarganegaraa. Walau kaum eksil sudah tidak dianggap sebagai warga Indonesia dan telah memiliki kewarganegaraan sesuai negara tempat mereka tertahan, dan dipisahkan oleh ruang dan waktu dari tanah kelahairannya. Kaum eksil politik tersebut merasa masih memiliki identitas sebagai bangsa Indonesia. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan tersebut adalah nasionalisme jarak jauh. Para nasionalis jarak jauh boleh saja tinggal bahkan menjadi warga negara lain, tetapi mereka tetap berjuang dan berpartisipasi untuk bangsa.

  32

  Makalah Amin Mudzakir menjelaskan bahwa nasionalisme kaum eksil menggugat konsep kewarganegaraan formal yang mengacu pada aspek legal. Mereka mematahkan nasionalisme terhadap satu negara saja, karena mereka telah menjadi warga negara lain, namun ideologi kaum eksil tetap mempertahankan Indonesia sebagai komitmen politik. Melalui argumen tersebut munculah konsep “warga negara lintas-batas” oleh Schiller dan Fouron.

  Penelitian terhadap novel Pulang pernah dilakukan oleh Eko Sulistyo dengan judul “Novel Pulang karya Leila S. Chudori: Analisis Struktur Plot Robert Stanton

  ” pada tahun 2014. Penelitian itu diajukan untuk tugas akhir Strata 1 (S1) jurusan Sastra Indonesia di UGM. Penelitian tersebut mendeskripsikan penggunaan struktur plot novel Pulang dengan hasil bahwa novel Pulang memiliki 840 peristiwa kausal yang disusun dalam 48 episode dan 5 bab (terbagi dalam 17 subbab). Dari keseluruhan cerita dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu tahapan awal, tengah, dan akhir. Tahapan awal menjelaskan pengenalan tokoh, latar, serta konflik-konnflik yang mulai bermunculan. Tahapan tengah menampilkan konflik yang semakin meningkat dan memunculkan konflik baru. Tahapan akhir menampilkan klimaks dan penyelesaian dari kisah perjalanan Dimas serta keragu-raguan Lintang untuk menetap di Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut mengemukakakn bahwa novel Pulang memiliki sifat rekat dan plausibel atau tiap peristiwa keseluruhan dalam novel tersebut memiliki hubungan kausal.

BAB III PROFIL LEILA S. CHUDORI A. Biografi Leila S. Chudori Leila Salikha Chudori lahir di Jakarta, 12 Desember 1962. Leila

  tinggal di Jakarta bersama putri tunggalnya, Rain Chudori-Soerjoatmodjo. Ia terpilih mewakili Indonesia mendapat beasiswa menempuh pendidikan di Lester B. Pearson College of the Pacific (United World Colleges) di Victoria, Kanada. Lulus sarjana Political Science dan Comparative Development

  1 Studies dari Universitas Trent, Kanada. Pendidikan pertamanya tahun 1969-

  1975 SD Batahari Jakarta, dilanjutkan SMP Negeri 8 Jakarta tahun 1976-1979,

  2 kemudian SMA 3 Jakarta tahun 1979-1984.

  Leila selalu pergi dan pasti kembali. Setelah beberapa tahun “menghilang“, Leila yang ditulis Kompas sebagai anak emas sastra Indonesia

  3

  yang telah kembali. Terbukti setelah menghilang dari dunia kepengarangan selama 20 tahun, ia muncul dengan melahirkan kumpulan cerita pendek 9 dari Nadira.

  Ia seorang gemar membaca, bila gizi manusia terpenuhi dengan empat sehat lima sempurna, bagi Leila, nomor lima itu adalah membaca buku. Membaca buku bukan lagi sebuah hobi, tapi sebuah kebutuhan seperti manusia membutuhkan udara untuk bernafas. Ia pun seorang yang detail dalam segala hal, termasuk dalam menentukan detail ilustrasi setiap karya- karyanya. Namun, tanpa dipungkiri Leila merupakan orang yang mudah bosan. 1 Termasuk dalam menggarap karya-karyanya. Ia bukan pengarang yang setiap

  

Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, Leila S. Chudori, diunduh 23 Juni 2013,

, 2 Taman Ismail Marzuki, Leila S. Chudori, diunduh 26 Juni 2013, (http://www.tamanismailmarzuki.com/) 3

  34

  tahun menlahirkan karya, dan tidak akan langsung melahirkan karya lanjutan

  4 dalam waktu yang kronologis.

  Nama Leila S. Chudori pernah tercantum dalam daftar keanggotaan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 1993-1996. Ia menegaskan bahwa sudah sejak lama menolak untuk duduk dalam keanggotaan itu. Sebuah jurnal sastra Asia Tenggara mencantumkan Leila S. Chudori sebagai salah satu sastrawan Indonesia dalam kamus sastra Dictionnaire des

  Creatrices diterbitkan oleh EDITIONS DES FEMMES, Prancis, disusun oleh

  Jacqueline Camus. Kamus sastra ini berisi data dan profil perempuan yang berkecimpung di dunia seni.

B. Karya-karya Leila S. Chudori

  Karya-karya awal Leila dimuat saat berusia 12 tahun di majalah Si

  Kuncung, Kawanku, dan Hai. Pada usia dini ia menghasilkan buku kumpulan

  cerpen berjudul Sebuah Kejutan, Empat Pemuda Kecil, dan Seputih Hati

  Andra. Pada usia dewasa cerita pendeknya dimuat di majalah Zaman, majalah

  sastra Horison, Matra, jurnal sastra Solidarity (Filipina),

  Menagerie (Indonesia), dan Tenggara (Malaysia). Cerpen Leila dibahas oleh

  kritikus sastra Tinneke Hellwig “Leila S. Chudori and Women in

  Contemporary Fiction Writing dalam Tenggara ”.

  Selain sehari-hari bekerja sebagai wartawan majalah berita Tempo, Leila (bersama Bambang Bujono) juga menjadi editor buku Bahasa! Kumpulan Tulisan di Majalah Tempo (Pusat Data Analisa Tempo, 2008).

  Leila juga aktif menulis skenario drama televisi.

  Masa kanak-kanak, Leila mengarang semenjak anak-anak hingga dewasa. Semasa kanak-kanak, Leila memulai kariernya dengan membuat cerpen yang berjudul 4 “Sebatang Pohon Pisang”, dimuat di majalah Kawanku

  35

  tahun 1974. Setelah itu karyanya rajin muncul di majalah tersebut dan majalah lainya seperti Kuncung.

  Bakatnya dalam menulis memang sudah menonjol sejak kecil. Dia terpikirkan untuk membuat animasi benda mati, menghidupkan botol, kursi, dan lain-lainnya sehingga bisa bicara, punya perasaan atau berkeluh kesah. Kemampuan Leila untuk menangkap sesuatu terus berlanjut seiring dengan umurnya, wawasan yang didapat memiliki hubungan dengan karya-karyanya. Ketika beranjak remaja dengan wawasan remaja dia membuat cerita remaja. Tetapi mulanya sempat tak yakin, permasalahannya merasa tidak bisa membuat cerpen yang bertemakan cinta, ungkap Leila yang menurutnya lebih senang membuat cerita fiksi ketimbang artikel. Meski begitu, pada

  5 kenyataannya Leila dikenal sebagai pengarang cerita remaja.

  Karyanya manis, menggemaskan, tapi tidak cengeng. “Saya tidak bisa membuat karya yang dibikin-bikin. Pokoknya apa yang saya pikirkan, saya tuangkan,” cetusnya. Untungnya dipikirkan Leila bukan cinta saja meski usia remaja lumrah berisi dengan warna-warna cinta. Ini tercermin dari keragaman tema cerita yang diproduksinya. Salah satu karya yang diingatnya, persahabatan seorang remaja dengan tukang koran. Itu tidak lazim dibuat pengarang remaja masa itu, yang umumnya senang membuat cinta-cintaan si tampan dan si cantik.

  Sejak kecil Leila sudah biasa berkumpul dengan pengarang terkenal seperti Yudhistira Massardi, Arswendo Atmowiloto, dan Danarto. Tapi dia memang bukan perempuan yang pantang mundur, terutama untuk bidang tulis menulis yang diyakininya sebagai pilihan hidup dan karier. Karena itu, dia memilih karier sebagai wartawan. Kerjanya memang sungguh menyita waktu dan meletihkan, sehingga ia tak sempat lagi menulis cerita fiksi. Sempat mewawancarai tokoh-tokoh terkenal, yang kemungkinan tak bisa dijumpai

  36

  kalau ia cuma sekadar penulis fiksi. Meski diakui kariernya sebagai pengarang cukup cemerlang, diminta ceramah, sampai diundang ke pertemuan pengarang Asia di Filipina. Tapi dia juga tak bisa menyembunyikan kegembiraannya sempat bertemu dengan Paul Wolfowitz, Bill Morison, HB Jassin, Corry Aquino dan menjadi satu dari 11 wanita Indonesia yang bisa makan siang bersama Lady Diana.

  Berikut ini beberapa karyanya yang sudah dipublikasikan, baik berupa novel, kumpulan cerrita pendek, maupun naskah film:

  1. Dunia Tanpa Koma

  Drama TV berjudul Dunia Tanpa Koma, produksi SinemArt, sutradara Maruli Ara. Menampilkan Dian Sastrowardoyo dan Tora Sudiro ditayangkan di RCTI tahun 2006. Mendapatkan penghargaan sebagai acara TV terbaik tahun 2007 pada penghargaan Bandung Film Festival. Leila S. Chudori mendapatkan penghargaan sebagai penulis drama dan televisi pada acara dan tahun yang sama.

  2. Drupadi

  Menulis skenario film pendek Drupadi pada tahun 2008, produksi SinemArt dan Miles Films, sutradara Riri Riza. Merupakan tafsir kisah Mahabharata. Diperankan oleh Dian Sastrowardoyo sebagai Drupadi dan Nicholas Saputra sebagai Arjuna.

  3. Malam Terakhir

  Kumpulan cerpen Malam Terakhir pertama kali terbit tahun 1989 oleh Pustaka Utama Grafiti beberapa bulan sebelum pengarang bergabung

  6

  dengan majalah Tempo, kemudian pada tahun 2009 dicetak ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia

  . Terdiri dari sembilan judul cerpen, “Paris, Juni 1988’, “Adila”, “Air Suci Sita”, “Sehelai Pakaian Hitam”, “Untuk Bapak”, “Keats”, “Ilona”, “Sepasang Mata Menatap Rain”, dan “Malam

  37

  Terakhir”. Kumpulan cerpen Malam Terakhir diterjemahkan ke dalam

  7 bahasa Jerman Die Letzie Nacht (Horlemman Verlag).

  4. 9 dari Nadira

  Kumpulan cerpen 9 dari Nadira terbit pertama kali tahun 2009 bersamaan dengan terbit ulang Malam Terakhir oleh penerbit Kepustakaan Populer Gramedia.

  Terdiri dari sembilan judul, “Mencari Seikat Seruni”, “Nina dan Nadira”, “Melukis Langit”, “Tasbih”, “Ciuman Terpanjang”, “Kirana”, “Sembilan Pisau”, “Utara Bayu”, dan “At Pedder Bay”.

  Beberapa judul cerpen dalam 9 dari Nadira pernah dipublikasikan di beberapa media, “Melukis Langit” dimuat di majalah Mantra Maret 1991 dan direvisi ketika masuk menjadi kumpulan 9 dari Nadira

  , “Nina dan Nadira” di majalah Mantra Mei 1992 direvisi ketika masuk menjadi kumpulan 9 dari Nadira

  , “Mencari Seikat Seruni” di majalah Horison

  8 April 200

  Tahun 9, dan “Tasbih” di majalah Horison September 2009. 2011, 9 dari Nadira mendapat apresiasi dari Penghargaan Sastra Badan Bahasa Indonesia. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Lontar

  9 Foundation dengan judul The Longest Kiss.

5. Pulang Akhir tahun 2012, lahirlah Pulang sebagai novel pertama Leila S.

  Chudori. Diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia, dan diluncurkan pertama kali di Goethe Institut Jakarta. Riset yang dilakukan penulis selama enam tahun untuk pergi ke Pernacis dan mewawancari

  10 Pulang Oemar Said dan Sobron Aidit sebagai eksil tahanan politik.

  menceritakan tentang perjalanan hidup eksil politik di Prancis, khususnya 7 perjalanan hidup Dimas Suryo yang berusaha untuk “Pulang” kembali ke 8 Taman Ismail Marzuki, loc.cit 9 Leila S. Chudori, 9 dari Nadira, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2012)

  38

  pelukan Tanah Air. Tahun 2013, Pulang memenangkan Katulistiwa

11 Literary Award.

C. Pemikiran Leila S. Chudori

  Leila S. Chudori merupakan pengarangan yang hampir selalu memilih cerita pendek sebagai format ketika berkarya. Baginya, cerita pendek dalam beberapa hal memiliki peraturan yang lebih ketat, lebih keras, dan lebih galak dari pada jenis format lainnya. Sebab cerita pendek harus memuat ledakan dalam ruang yang sempit, tidak ada tempat untuk ngalor-ngidul seenaknya menghabiskan kata-kata untuk memperlihatkan keindahan kosa kata. Keputusan itu tidak hanya berurusan dengan masalah fisik dari cerita pendek,

  12 tapi berhubungan dengan perasaan yang disampaikan.

  Ia sangat tidak percaya dengan bakat, baginya kata bakat itu mengandung misteri. “Manusia itu ditentukan oleh faktor internal dan eksternal. Kita harus menguji diri kita, punya jiwa seni atau tidak.” katanya. Bagi Leila, seorang pengarang memiliki kepekaan menangkap fenomena dalam dirinya, kemudian diekspresikan lewat kertas.

  “Kita harus mengadakan pendekatan pada kepekaan itu. Sesudah mengenal kepekaan itu, barulah dilanjutkan dengan proses edukasi, ya membaca, belajar dari pengalaman, menghayati kehidupan,” Bagi Leila, seni itu tidak diperoleh dalam pendidikan akademis, kecuali masalah politik dan ekonomi. Seorang pengarang berbakat itu tak ditentukan oleh kuantitas karyanya, tapi bobot karya itu sendiri. Pengarang yang terlalu produktif itu diragukan kualitas karya-karyanya. “Kapan sih kesempatannya untuk mengendapkan karyanya dan kemudian merenung. Lain halnya dengan Putu Wijaya yang benar-benar produktif, tapi

  13

  terasa ada pengulangan-pengulangan tanpa disadar Leila beranggapan, 11 inya,”

  The Jakarta Post, Leila s. Chudori: Khatulistiwa Award winner’s commitment to the writing process, 28 Oktober 2014, http://www.thejakartapost.com/ 12 Hasil wawancara pribadi dengan Leila S. Chudori tanggal 28 Oktober 2014 pukul 13:00-

  39

  menulis haruslah dari hati dan menikmati prosesnya. Tidak hanya sekadar ingin terkenal, apalagi mendampatkan penghargaan. Bila suatu karya diapresiasi baik, maka itu menjadi nilai tambah, tapi bukan sesuatu yang

  14 diharapkan dari awal pembuatan.

  Leila tumbuh dengan cerita-cerita pewayangan yang memiliki cerita yang mendalam dan kerumitan tidak biasa. Kisah pewayangan seperti kisah yang agung semacam dengan kisah-kisah para dewa di Yunani. Karyanya pun banyak terinspirasi dengan kisah-kisah pewayangan. Beberapa karyanya memiliki dasar kisah drama keluarga tidak biasa seperti kisah pewayangan. Baginya, kisah keluarga yang baik-baik saja tidak menarik untuk diceritakan. Berbeda hal bila cerita menggambarkan drama keluarga yang rumit karena

  15

  anggota keluarganya meninggal karena bunuh diri atau keluarga yang

  16

  menjadi korban dari peristiwa 30 September 1965 akan sangat menarik bila

  17 diceritakan dalam sebuah karya.

  Leila tidak mematok karya menjadi karya yang harus mendidik, justru menurut pandangannya bila karya sudah dilahirkan dan dinikmati oleh pembaca, pengarang haruslah membuat jarak dengan karya. Tidak ada lagi keharusan menjawab dan membahas masalah-masalah yang tidak dipahami dari karya tersebut. Biarkan pembaca menafsirkan sendiri maksud dari karya- karyanya. Termasuk memberikan kebebasan pengamat dan pembaca mengkatagorikan karya dalam bentuk novel sastra, novel populer, novel

  18 14 sejarah, atau katagori lainya.

  Hasil wawancara pribadi dengan Leila S. Chudori tanggal 28 Oktober 2014 pukul 13:00- 15:00, bertempat di Thai Alley Gandaria City. 15 Kisah yang mendasari kumpulan cerita pendek 9 dari Nadira, keluarga yang ditinggal mati oleh Ibunya dengan cara bunuh diri, tanpa sebab dan tidak ada kejelasan kenapa sang ibu bisa memutuskan bunuh diri, sehingga menimbulkan pertanyaa-pertanyaan serta kejutan bagi anggota keluarga lainnya. 16 17 Kisah ini merupakan formula dari novel Pulang.

  Hasil wawancara pribadi dengan Leila S. Chudori tanggal 28 Oktober 2014 pukul 13:00-

  40

  Tahun 1982, Leila pergi kuliah ke Kanada, negeri multikultural yang damai dengan standar hidup yang jauh lebih “menjanjikan“. Enam tahun hidup di negeri yang “tertib“ tak membuat Leila kehilangan selera atas tanah airnya. Ia memilih pulang: kembali ke tempat yang chaos, sumpek dan penuh persoalan. Leila ingat pesan ayahnya,

  “Ada alasan mengapa kita dilahirkan sebagai orang Indonesia. Alasan itu harus kita cari sepanjang hidup kita.”

  “Karena tanah air ini sungguh remuk luka, penuh persoalan… Manusia Indonesia? Manusia yang gemar duit dan malas bekerja, yang gemar bergunjing hanya untuk kesenangan sehari-hari, yang main tembak, yang mempermainkan hukum…” tulis Leila dalam peringatan 40 hari kepergian ayahnya.

  Tetapi, seperti kata Ayah pula, Indonesia juga memiliki matahari yang hangat. Ada banyak orang yang baik, yang peduli, yang bekerja tanpa mengeluh, banyak yang terus menerus berpeluh tanpa pamrih agar sekadar sejengkal-dua-jengkal tanah air ini membaik. Kekaguman Leila pada ayahnya

  Mohammad Chudori wartawan kantor Berita Antara dan The Jakarta Post itu, tak 19 mampu disembunyikannya.

  Saat Leila merampungkan studinya dan akan kembali ke Indonesia, ia dan teman-temannya mampir ke Eropa terlebih dahulu. Ia mengajak teman- temannya untuk mencicipi masakan Indonesia di Prancis, restoran masakan Indonesia yang berada di Prancis bernama Restoran Indonesia. Pemilik restoran tersebut adalah eksil politik dari peristiwa tahun 1965, Sobron Aidit dan Oemar Said. Cerita perjalan Sobron dan Oemar merupakan langkah awal

20 Leila melahirkan Pulang. Kisah perlawanan eksil di Prancis dapat dikatahui dengan lebih jelas dalam buku Melawan dengan Restoran karya Sobron Aidit.

  19 20 Anonim, Leila Selalu Pulang, 2013,(

  41

  Buku yang menceritakan perjuangan hidup para eksil di Prancis dalam menjalani kesehariansetelah penahanan mereka di Paris.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN NOVEL PULANG KARYA LEILA S. CHUDORI A. Deskripsi Data 1. Tema Tema merupakan ide yang mendasari sebuah cerita berjalan merangkai

  peristiwa. Rangkaian peristiwa yang terjadi dalam Pulang didasari pada keberadaan segala keputusan Dimas Suryo yang tidak ingin memiliki ikatan dengan apapun atau siapa pun. Baik dari segi ideologi, percintaan, hingga keputusan-keputusan yang diambil dalam hidupnya. Kebimbangan Dimas dalam keputusannya yang tidak ingin terikat, menyeretnya dalam pusaran peristiwa sejarah.

  “ … Lebih mudah untuk tidak memilih, seolah tak ada konsekuensi. Tetapi seperti katamu, memilih adalah jalan

  1

  hidup yang berani.” Keinginan bebas tanpa ikatan menimbulkan drama di kehidupannya, kehidupan keluarganya, dan sekelilingnya. Masalah-masalah yang timbul setelah memilih untuk tidak menentukan pilihan merupakan persoalan yang memicu permasalahan ia ditinggal menikah oleh Surti, kekasihnya, menjadi eksil di Paris, kemudian menikah dengan Vivienne dan akhirnya bercerai.

2. Tokoh

  Novel Pulang memiliki kehadiran yang cukup banyak, terlebih dari sudut korban dari peristiwa tahun 1965. Satu sudut inilah yang membuat

  Pulang hampir memiliki keseragaman pemikiran pada tiap tokohnya.

  Namun, tiap tokoh memiliki karakter yang kuat dan dibekali proporsi cerita sesuai, sehingga tokoh yang akan ditampilkan pada penelitian ini

  43

  hanya tokoh yang memiliki pengaruh cukup besar dan mendapatkan sorotan lebih.

  a.

  Dimas Suryo

  Pulang dapat dikatakan cerita yang mengkisahkan perjalanan hidup

  Dimas Suryo. Di awal cerita, ia diceritakan terdampar di Paris pada tahun 1968 dengan sudut pandang dirinya sendiri dalam membandingkan demonstrasi yang terjadi di Paris dengan demonstrasi yang berkecamuk di Indonesia.

  Aku iri. Aku cemburu. Pertarungan di Paris saat ini sungguh jelas keing inannya. … Di Indonesia, kami akrab dengan kekisruhan dan kekacauan tetapi tak tahu siapa kawan dan

  2 siapa lawan.

  Penggambaran dialog tersebut mengawali cerita tentang latar belakang terdamparnya Dimas Suryo di Paris, dan bertemu Vivienne Devereaux mahasiswa Sorbonne yang ikut revolusi Prancis Mei 1968. Kedekatannya dengan Vivienne membuat cerita-cerita masa lalu Dimas terungkap, sehingga membuat pembaca penasaran apa yang terjadi sesungguhnya pada kehidupan Dimas sebelumnya, kehidupannya di Indonesia dan kerinduannya terhadap Indonesia. Ia menguak cerita dibalik kedatangannya ke Prancis, hubungannya dengan keluarga Hananto Prawiro dan kedekatannya dengan Surti Anandari sebelum menikah dengan Hananto. Cerita itu mengalir melalui ingatan yang dipancing oleh sesuatu yang mengikangatkan pada masa lalu. Ingatan di masa lalu menjelaskan bahwa Dimas adalah seorang yang masih terikat dengan segala masa lalunya, entah dengan simbol benda ataupun perwakilan tokoh wayang yang ia kagumi.

  Di ruang tengah apartemen kami, ada Indonesia yang ditanamkan Dimas Suryo, dua sosok wayang kulit yang

  44

  digantung di dinding: Ekalaya dan Bima. … Isi stoples pertama adalah berliter-liter cengkih. Isi stoples kedua adalah bubuk kunyit kuning.

  3 Dimas merupakan pribadi yang tidak dapat menentukan pilihan, ia

  ingin bersikap netral pada segala hal. Ia ingin mengetahui segala pemikiran tanpa berpihak pada satu pemikiran, namun sikap itu yang menjebak Dimas dalam kondisi yang menyulitkannya karena ikut terkena arus pembersihan orang- orang yang bersentuhan dengan pihak “kiri”. “Kau menolak masuk ormas. Apalagi masuk partai. Kau menolak memihak. Kau mengkritik Lekra tapi kau juga mengkritik para penandatangan Manifes Kebudayaan.” “Ya, lalu?” Aku menatap Hananto, menantikan dia melanjutkan gerutunya. “Apa maumu, Dimas? Lihat kehidupan pribadimu. Kau juga tak punya keinginan jelas. Apa karena hatimu masih tertambat pada masa lalu, atau kau te rlalu menyukai masa bujangmu?”

  4 Secara fisik, Dimas memiliki perawakan pria ideal. Memiliki kulit

  tubuh yang kecoklatan, rambutnya ikal tebal dan dagunya lacip dan mancung. Dimas adalah seorang wartawan di kantor Berita Nusantara sebelum tertahan karena peristiwa 30 September. Ia memiliki ketertarikan kepada dunia kuliner dan memiliki keahlian memasak di atas rata-rata eksil yang terdampar di Prancis, oleh karena itu didaulat sebagai juru masak di Restoran Tanah Air.

  Menjadi wartawan, bagiku adalah jalan yang tak bisa ditolak. Wartawan adalah profesi yang memperlakukan kekuatan kata sama seperti koki menggunakan bumbu masakan.

  5 Dimas menjadikan dunia jurnalis dan memasak adalah hidupnya. Bahkan

  ketika di Prancis ia tetap aktif menulis dan berkontribusi dalm suratkabar 3 Ibid., h. 214 4

  45

  yang disebarkan di eropa untuk orang-orang yang tertarik perihal Indonesia.

  b.

  Nugroho Dewantoro Seorang pria kelahiran Yogyakarta yang memiliki kumis seperti artis

  Clark Gable dan bersuara sumbang. Ia pernah mempelajari tentang sinologi

  6

  , namun tidak lulus dan memilih bekerja di kantor Berita Nusantara.

  Di antar kami berlima hanya Mas Nug yang gemar menyanyi dan bersiul, tapi justru suara dia yang paling sember dan tak beraturan.

7 Mas Nug sempat belajar sinologi seusai menyelesaikan

  sekolah menengah tinggi. Tapi pendidikan ini tak diselesaikannya.

8 Ia memiliki keahlian memasak seperti Dimas, namun ia lebih

  mementingkan efektivitas dan rasa puas. Sehingga ia dapat menggantikan bumbu sate atau gado-gado dengan selai kacang, berbeda dengan Dimas yang menyembah ritual dalam memasak.

  Ada perbedaan antara masakan Om Nug dan Ayah. Om Nug adalah seorang koki modern yang baru mempelajari kehebatan bumbu Indonesia setelah semua memutuskan untuk mendirikan koperasi restoran Indonesia. Dia mementingkan efektivitas dan rasa puas.

  9 Perihal masalah efektivitas dan rasa pusa, Nugroho menerapkannya

  pula dalam kehidupan percintaan. Setelah tertahan di Peking, ia memutuskan singgah ke Swiss dan memiliki hubungan dengan seorang wanita bersuami hanya karena nama wanita tersebut memiliki kesamaan simbol dengan istrinya di Indonesia. 6 Ilmu pengetahuan yang mempelajari seputar bahasa dan kebudayaan Tiongkok. 7 Leila S. Chudori, Op.cit., h. 92 8

  46

  Nugroho merupakan ayah dari Bimo Nugroho dan suami dari Rukmini. Walau semenjak Nugroho menjadi eksil dan menetap di Prancis, ia menyanggupi perceraian yang diminta isterinya. Padahal, ia begitu mencintai Rukmini dan anaknya.

  Nugroho Dewanto, lelaki Yogyakarta yang selalu menekankan untuk berbahas Indonesia daripada bahasa Jawa, sebetulnya sangat sentimentil. Bahkan aku curiga, meski dia sering berlaga seperti pemain perempuan, Mas Nug sangat menginginkan kehangatan keluarga.

  10 Nugroho menjadi pemimpin secara tidak langsung dalam pilar Restoran Tanah Air setelah berpisahnya mereka dengan Hananto Prawiro.

  Ia menjadi penompang karena memiliki sifat riang dan penuh dengan rasa optimis dalam memandang kehidupan.

  c.

  Risjaf Risjaf merupakan anggota yang dianggap paling muda dan peka. Ia digambarkan begitu tampan dengan rambut berombak, bertubuh tinggi besar, berhati lurus dan tulus, namun tidak menyadari ketampannanya.

  Lelaki Riau yang begitu tampan, berambut ombak, dan bertubung tinggi besar itu sibuk, mengorek-ngorek rak bukuku untuk mencari buku puisi, padahal dia sendiri sebetulnya adalah perwakilan dari segala kejantanan.

  11 Ia pandai memainkan harmonika dan seruling. Seorang yang

  menemukan pendamping hidup ketika sudah menjadi eksil di Prancis dan membangun keluarga yang bahagia. Ia menikahi seorang adik dari salah satu eksil di Belanda, serta dikaruniai seorang putri. Risjaf adalah satu- satunya eksil Perancis yang dapat singgah ke Indonesia di masa Orde Baru berlangsung. 10

  47

  d.

  Tjai Sin Soe (Thahjadi Sukarna) Tjai adalah seorang yang rasional, segala hal dalam hidupnya sudah ada dalam perhitungannya, termasuk tertahannya ia di Prancis bersama ketiga temannya di Restoran tanah Air, karena ia termasuk dari etnis Tionghoa. Salah satu etnis yang akan pertama kali diciduk akibat kejadian

  30 September karena memiliki hubungan dengan Tiongkok atau diidentikan dengan paham komunis.

  Tjai Sin Soe (yang terkadang dikenal dengan nama Thahjadi Sukarna) yang lekat dengan kakulator di tangan kirinya jauh melebihi nyawanya sendiri, lebih banyak berbuat, berpikir

  12 cepat daripada coa-coa.

  Diskusi langsung mati akibat algojo Tjai yang rasional. Apa

  13 boleh buat, memang dialah kalkulator kami.

  Suami dari Theresa ini digambarkan selalu membawa kakulator dan menjadi bagian keuangan dalam pengelolaan koperasi restoran. Hidupnya serba lurus, baik, dan di jalan yang benar. Tjai adalah perekat bagi pilar Restoran Tanah Air yang memiliki keanehan dalam bertingkah laku.

  e.

  Hananto Prawiro Tokoh ini merupakan benang merah segala hubungan yang terjadi di masa lalu Dimas dan ketiga eksil lainnya. Hananto seorang yang berpendirian teguh dengan yang dipercayainya, dan berusaha orang-orang di sekitarnya sependapat dengannya melalui cara memaklumi dan mengarahkan.

  “Mas Hananto tahu, cara untuk mendekatiku bukan dengan

  14 memerangi dan membantah seleraku.

  ” Hananto yang mendekatkan pemikiran-pemikiran tetang sosialisme. Ia adalah redaktur Luar Negeri kantor Berita Nusantara yang merupakan 12 anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) sehingga melibatkan orang-orang 13 Ibid., h. 50

  48

  terdekatnya menjadi korban pembersihan oleh pemerintahan Orde Baru. Hananto seorang yang cerdik mengambil kesempatan suatu kondisi, sehingga dalam penangkapannya oleh pihak militer memerlukan waktu yang cukup lama.

  Hubungan Hananto dengan Surti yang membuat Dimas tidak dapat jauh dari kelurga Prawiro. Hingga setelah penangkapan Hananto, Dimas lah yang menunjang kehidupan dari keluarga Prawiro. Dimas tidak menyukai sikap Hananto yang tidak setia terhadap Surti, sehingga membuat gambaran yang jelas bahwa Dimas sangat tertambat terhadap pesona istri Hananto.

  f.

  Vivienne Deveraux Seorang wanita dengan rambut berwarna coklat, tebal, berombak dengan bola mata berwarna hijau dan memiliki tubuh yang sintal.

  Pemikirannya tentang pengembaraan ideologi tanpa harus singgah merasakan keagungan berlama-lama memiliki kesamaan dengan Dimas. Ia seorang yang berani, tegas, dan juga cerdas. Dirinya memiliki kepekaan dalam memahami kepribadian orang lain. Vivienne memiliki kemakluman lebih untuk setiap sikap yang Dimas tunjukan, ia menjadi istri yang mengerti kebutuhan keluarga dan mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi pada keluarganya.

  Surti adalah lambang aroma kunyit dan cengkih. Itu semua menjadi satu di dalam Indonesia. Malam itu, aku mengatakan

  15 kepada Dimas, aku ingin berpisah darinya.

  Penyataan tersebut terlontar oleh Vivienne setelah membaca surat- surat Surti kepada Dimas, sehingga membuat Vivienne sadar bahwa selamanya Dimas tidak dapat melepaskan Surti, sedangkan Vivienne tidak dapat menerima orang ketiga di kehidupan percintaannya. Walaupun Vivienne bercerai dengan Dimas, ia tetap menjalin komunikasi

  49

  dengan Dimas, hal itu karena ia masih memiliki rasa peduli terhadap Dimas, dan ia memiliki Lintang Utara sebagai anaknya.

  Mas Nug tertawa seperti monyet. Dia tahu Vivienne akan cerewet sekali menyuruhku berobat. Meski kami sudah

  16 bercerai, Viviene dan aku tetap berkawan baik.

  Dibalik dari segi kekuataan dan kemandiriannya terhadap hidup dan pemikiran-pemikirannya, ia sangatlah lemah dengan rasa cintanya terhadap Dimas. Ia tidak dapat mengatakan segala pertanyaan- pertanyaannya tentang rasa kasih yang Dimas berikan kepadanya dengan rasa kasih yang ia tidak tunjukan secara langsung kepada Surti.

  g.

  Lintang Utara Anak tunggal dari pasangan Dimas dan Vivienne memilik fisik yang menarik sebab Lintang mewarisi perawakan ibunya. Sifatnya mirip dengan Dimas, sehingga pada beberapa hal, ia dan Lintang sering mengalami perselisihan. Ia memiliki kemauan kuat dan seorang mahasiswa sinematografi Sorbonne yang menyukai karya sastra. Ia mendapatkan tantangan dari dosen pembimbing tugas akhirnya untuk membuat film dokumenter tentang latar belakang keluarga peristiwa tahun 1965 di Indonesia sebagai tugas akhirnya.

  “Lintang, kamu lupa ada sesuatu yang menarik dari dirimu, dari latar belakangmu.” Jantungku yang sejak tadi berhenti berfungsi kini terasa mendapat segelintir oksigen. “Kamu juga mempunyai dua tanah air: Indonesia dan Prancis. Dan kamu lahir di Paris, tumbuh dan besar di Paris. Tidakkah kamu ingin mengetahui

  17

  identitasmu, tanah kelahiranmu? ”

  Dialog tersebut langkah awal Lintang memikirkan tentang dirinya dan 16 Indonesia. Tanah kelahiran ayahnya yang sering ia dengar ceritanya

  50

  namun ia tidak mengenalnya secara langsung. Kejadian itu mengguncang identitasnya dan membuatnya berinteraksi dengan orang-orang yang menghindari keluarganya karena cap mantan Tapol (Tahanan Politik). Tugas akhir membuatnya mendatangi Indonesia bertepatan dengan reformasi pada tahun 1998, sehingga ia mengawali perkenalan dengan Indonesia pada suasana yang tidak aman. Tapi suasana seperti itu justru membuat Lintang jatuh terpesona kepada Indonesia.

  h.

  Surti Anandari Seorang wanita berlatar belakang keluarga dokter terpandang namun memilih belajar di fakultas sastra dan filsafat. Ia memiliki sifat keibuan dengan paras cantik sehingga diidamkan oleh para pria. Surti merupakan kekasih Dimas masa awal kuliah, namun karena sikap Dimas yang menunjukan keraguan dan Surti akhirnya memilih Hananto menjadi suaminya. Ia menjadi seorang ibu dan istri yang memiliki karakter orang Indonesia pada umumnya, penurut dan pasrah.

  Vivienne nampak tak yakin. Aku sendiri merasa tak yakin. Aku tahu, setiap kali aku menyebut nama Surti hatiku masih terasa bergetar dan teriris. Mendengar nama Kenanga, bulan, dan bahkan Alam, si bungsu yang tak pernah kukenal itu, tetap membaut jantungku berlompatan. Itu adalah nama-nama pemberianku. Aku tak pernah tahu apakah Mas Hananto

  18 menyadarinya.

  Satu-satunya cinta yang selalu disimpan oleh Dimas adalah cinta kepada Surti. Surti memiliki tempat tersendiri di hati Dimas, walaupun sudah menikah Dimas tetap menjadikan Surti seseorang yang memiliki tempat yang spesial dan merupakan salah satu alasan Dimas untuk terus kembali pulang ke Indonesia. Bila dilihat penggalan dialog sebelumnya dapat terlihat bahwa Surti terlihat masih menyimpan hati pada Dimas, walaupun ia menikah dengan Hananto. Karena nama-nama anak Surti dan

  51

  Hananto merupakan nama-nama yang diajukan oleh Dimas ketika Surti dan Dimas masih berpacaran. Hingga usia Dimas dan Surti menua, keduanya tetap memiliki kenangan indah tetang kisah meraka. i.

  Segara Alam Anak bungsu dari pernikahan Hananto dan Surti adalah seorang aktivis tahun 1998 yang memmiliki karakter keras, tegas, dan mudah terpancing emosi. Ia termasuk tipe pria tidak mau dianggap lemah, namun Alam merupakan pria sensitif dan suka memainkan perasaan wanita yang menyukainya. Alam menaruh hati pada Lintang, mereka menjalin hubungan dengan keadaan yang cukup menegangkan sebab saat itu sedang terjadi reformasi di Indonesia.

  Tetapi dikejauhan itu aku malah melihat Alam yang duduk sendirian di bawah pohon kamboja. Dia menatapku terus- menerus, terpusat padaku dan mengikat aku. Sedangkan di belakangku ada Narayana. Ayah, kau benar. Lebih mudah untuk tidak memilih, seolah tak ada konsekuensi. Tetapi

  19

  seperti katamu, memilih a dalah jalan hidup yang berani.” Dialog tersebut mengambarkan bahwa Alam akhirnya memilih menaruh hatinya kepada Lintang, namun Lintang memilih kekasihnya,

  Narayana. Pilihan Lintang tidak disematkan kepada Alam, karena Lintang tahu bagaimanapun ia telah memiliki Narayana yang menerima Lintang serta keluarganya tanpa mempeduliakan cap yang disematkan pemerintah. Padahal, Narayana merupakan seorang anak dari keluarga yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintahan.

3. Latar a.

  Latar Waktu Kejelasan latar waktu dalam Pulang terjadi pada beberapa waktu terutama pada kilas balik masa lalu, dan pada bagain surat. Terlepas

  52

  dari keadan pagi, siang, sore atau malam, penggunaan waktu dapat menegasakan bahwa waktu yang digunakan merupakan sebuah penunjuk yang menguatkan kejadian nyata dan kesesuai dengan fakta yang ada. 1)

  Tahun 1952 Januari sampai Oktober: Merupakan kilas balik masa lalu Dimas ketika masih menjadi mahasiswa, kemudian bertemu Surti dan menjalin hubungan dengannya dan akhirnya Surti jatuh ketangan

20 Hananto.

  2) Desember 1964

  Kilas balik cerita masa lalu tentang Dimas Suryo ketika ia berada

  21 di tengah-tengah kubu pengikut PKI dan kubu non-pengikut.

  3) Tahun 1965

  5 September: Kilas balik cerita masa lalu Dimas yang mengetahui

  22 bahwa Hananto Prawiro berselingkuh dari Surti, istrinya.

  12 September: Kisah masa lalu Dimas ketika ia ditunjuk untuk mengikuti kegiatan wartawan tingkat Internasional di Santiago mewakili Kantor Berita Nusantara dan menjadi pertemuan terakhir

  23 antara Dimas dan Hananto.

  4) Tahun 1968

  Surat dari Aji Suryo yang menceritakan kisahnya ketika di Solo. Ia diintrogasi bersama ibunya seputar Dimas yang dituduh terlibat

  24 kegiatan PKI.

  April: Menjelaskan tentang kronologis penangkapan Hananto

  25 20 Prawiro dari sudut pandang Hananto sendiri. 21 Ibid., h. 51 22 Ibid., h. 28 23 Ibid., h. 38

  53

  Mei: Kisah Dimas terdampar di Paris ketika ada revolusi Prancis

  26 1968 dan kisah perkenalannya dengan Vivienne.

  27 Agustus: Surat dari Aji Suryo dan Kenanga Prawiro.

  Desember: Surat dari Surti yang menceritakan tentang pengintrograsi tentang Hananto dan penyiksaan-penyiksaan yang

  28 ia dapatkan ketika introgasi itu dilakukan.

  5) Tahun 1969

  Surat dari Amir Jayadi yang menjawab pertanyaan Dimas akan

  29 kekosongan ruang dalam hatinya.

  6)

18 Juni 1970

  Surat dari Kenanga yang menceritkan pertemuan dengan Hananto

  30 sebelum Hananto dieksekusi.

  7) Tahun 1975

  Kilas balik tetang cerita Nugroho yang ditinggalkan oleh Rukmini,

  31 istrinya.

  8) Tahun 1982

  Kisah Vivienne bertemu Sumarno yang ingin mengusik kehidupan

  32 keluarga Dimas.

  Agustus: Cerita awal pemikiran pembentukan restoran Tanah Air. Dipelopori oleh empat pilar, yaitu Dimas, Nugroho, Tjai, dan

33 Rijaf.

  25 26 Ibid., h. 1 27 Ibid., h. 9 28 Ibid., h. 19 dan h. 21 29 Ibid., h. 234 30 Ibid., h. 248 31 Ibid., h. 246 32 Ibid., h. 105

  54

  Oktober: Kisah pencarian dan rintisan awal berdirinya restoran Tanah Air di Prancis dan empat pilar Tanah Air diganggu oleh

  34 lawan mereka ketika di Indonesia.

  9) Tahun 1985

  Cerita di mana hambatan-hambatan didapatkan restoran Tanah Air

  35 dengan tuduhan rapat untuk melaksanakan unjuk rasa.

  10) Tahun 1988

  Vivienne mengetahui bahwa Dimas sesungguhnya masih mengharapkan Surti dengan simbol-simbol yang bertebaran dalam kehidupan Dimas. Vivienne akhirnya meminta bercerai dari

36 Dimas.

  11) Tahun 1993

  Masa lalu Segara Alam dan Bimo Nugroho yang dipojokan karena

  37 mereka merupaka keturunan dari tapol.

  12) Tahun 1994

  Juni: Surat Aji Suryo yang mengabarkan bahwa ada membredelan terhadap tiga media di Indonesia sehingga menyebabkan

  38 masyarkat pers dan mahasiswa berdemonstrasi.

  Oktober: Pertemuan antara Dimas dan Narayana untuk pertama kali, pertemuan ini menyebabkan hubungan Lintang dan Dimas

  39 menjadi berjarak.

  13) Mei 1997

  Cerita antara Lintang dan Narayana melihat video pertama dibuat oleh Lintang kecil ketika ia pertama kali dibeikan kamera oleh

  40 34 Dimas. 35 Ibid., h. 109 36 Ibid., h. 139 37 Ibid., h. 213 38 Ibid., h. 285

  55

  14) Tahun 1998

  April: Kegiatan di restoran Tanah Air dan gambaran kondisi

  41 Dimas yang sudah menurun karena sakit.

  Kisah Lintang yang dianjurkan untuk meliput tentang kejadian

  42 tahun 1965 di Indonesia untuk tugas akhir kuliahnya.

  Surat Aji Suryo yang menceritakan kekuatan Orde Baru yang semakin kokoh dan memberedel tiga media masa. Ia menceritakan pula cerita tentang kehidupan keluarganya. Mei: Lintang dan Dimas berkunjung ke pekuburan di Paris. Dimas

  43 mengakui kisahnya dengan Surti di masa lalu.

  2 Mei 1998: Kedatangan Lintang pertama kali ke Indonesia dan

  44 berkenalan dengan Alam juga kehidupannya.

  6 Mei: Surat Lintang untuk Dimas berisikan cerita Lintang tentang

  45 keadaannya di Indonesia dan keadaan Indonesia.

  13 Mei: Surat Lintang untuk Dimas dan Vivienne perihal keadaannya di Indonesia dan suasana Indonesia yang semakin

  46 memanas karena mahasiswa menuntut reformasi.

  16 Mei: Suasana Indonesia ketika menuntut turunnya Presiden

47 Soeharto.

  18 Mei: Demonstrasi yang diadakan mahasiswa di MPR untuk menurunkan Presiden Soeharto. Dan cerita romansa Lintang dan

  48 40 Alam yang membaik. 41 Ibid., h. 167 42 Ibid., h. 91 dan h. 126 43 Ibid., h. 131 44 Ibid., h. 271 45 Ibid., h. 298 46 Ibid., h. 292 47 Ibid., h. 409

  56

  10 Juni: Surat Dimas untuk Lintang yang menceritakan gejolak batin Dimas tentang keputusan dan keinginannya untuk

  49 dimakamkan di Karet.

  b.

  Latar Tempat Latar tempat dalam Pulang secara keseluruhan terdapat di

  Jakarta dan Paris. Namun, para eksil sempat singgah di Santiago, Kuba, dan Peking. Kedua latar tempat yang mendominasi menegaskan bahwa Pulang terfokus terhadap kejadian-kejadian di Jakarta dan Paris.

  Latar tempat dijelasakan dengan pemaparan visual yang jelas dan membuat pembaca dapat membayangkan secara terang tempat kejadian yang diceritakan.

  “Di antara ribuan mahasiswa Sorbonne yang baru saja mengadakan pertemuan, aku melihat dia berdiri di bawah

  50

  patung Victor Hugo.” Teks tersebut menjelaskan tidak secara langsung bahwa kejadian itu terjadi di Paris, namun Sorbonne merupakan universitas yang berada di Prancis, dan Victor Hugo merupakan sastrawan yang berasal dari Prancis. Keterangan tersebut sudah menjadi bukti yang cukup jelas untuk menunjukan latar waktu di Paris, Prancis.

  Penjelasan latar tempat lainnya dijelaskan melalui penggambaran tempat yang dapat ditelusuri melalui fakta, tanpa perlu menyebutkan secara langsung letak termpat tesebut.

  “Tanggal 30 Sepetemeber 1975. Kami dihalau naik ke atas bis warna kuning kunyit untuk mengunjungi Monumen Pancasila

51 Sakti.”

  49 50 Ibid., h. 442

  57

  Keterangan tersebut memberi petunjuk bahwa kejadian yang terjadi ada di Indonesia, sebab pancasila adalah ideologi di Indonesia, dan bila merujuk pada faktanya bahwa Monumen Pancasila Sakti berada di Jakarta.

  c.

  Latar Suasana Suasana yang tergambarkan dalam Pulang membangun peristiwa yang menunjukan identitas setiap tokoh ketika menyuarakan keadaan dan kekuatan cerita. Suasan yang digambarkan sepanjang cerita menampilkan kesenduan sekaligus kekuatan untuk bertahan.

  “Vivienne menatapku dengan mata yang basah. Untuk waktu yang lama kami berpelukan tanpa kata- kata.”

  52

  “Tetapi, ajaib. Kami tak mendengar apa-apa tentang Mas Hananto. Dia menghilang. Raib tanpa bekas.

  ” “Jangan-jangan dia menyamar,” kata Risjaf dengan suara dibuat berat dan misterius.

  “Menyamar jadi apa, jadi gembel?” Aku terkekeh-kekeh. “Mas Hananto itu lihai. Dia bisa menyusup ke mana-mana tanpa di ketahui jejaknya,” kata Mas Nug dengan yakin dan optimis.”

53 Dialog ditunjukan membuat kejelasan suasana yang terjadi,

  seperti kutipan di atas menjelaskan kesedihan yang terjadi merupakan langkah untuk saling menguatkan satu sama lain. Suasana dibangun tidak hanya melalui pemaparan pencerita. Namun dialog-dialog menjadi pendukung penggambaran suasana yang terjadi.

4. Sudut Pandang

  Sudut pandang yang digunakan Pulang adalah sudut pandang orang pertama dan orang ketiga mahatahu, walaupun sudut pandang orang pertama digunakan bergantian antar tokoh. Pergantian sudut pandang orang pertama terjadi secara sebab akibat. Sudut pandang orang pertama Pulang hampir 52

  58

  didominasi oleh Dimas Suryo, Lintang Utara, dan Segara Alam. Namun, ada tiga tokoh yang mendapatkan peran untuk menceritakan peristiwa dan mengemukakan pendapat melalui sudut pandang tokoh tersebut, seperti Hananto, Vivienne, dan Bimo.

  a.

  Sudut pandang Dimas Suryo lebih menyoroti latar belakangnya menjadi eksil dan kehidupan setelah menjadi eksil bersama teman- temannya. Keinginan Dimas pulang ke Indonesia dan gambaraan kehidupan eksil di Paris.

  “Ada perjanjian yang tak terucapkan di antara Tjai, Risjaf, dan aku. Sejak Mas Nug ditinggal sang bunga anggrek Rukmini

  • –yang memutuskan menikah dengan Letkol Prakosa- kami memberi keleluasaan padanya untuk bertindak seperti

  54 “pemimpin”.

  Dialog tersebut menjelaskan pandangan Dimas tentang keadaan Nugroho setelah diceraikan oleh Rukmini. Bahwa perceraian yang dialami Nugroho merupakan sebuah pukulan yang keras dan ia membutuhkan sebuah pengakuan bahwa Nugroho merupakan pemimpin yang baik bagi teman-temannya, walau ia tidak diakui sebagia pemimpin di keluarganya.

  b.

  Sudut pandang Lintang Utara lebih menceritakan tentang hubungan keluarga di masa kecil, saat kerenggangan dengan Dimas, dan perjuanggannya mengenal tanah air ayahnya, Indonesia.

  “Tetapi saat yang paling penting untukku adalah berkhayal

  55

  bersama Ayah dan Maman.” Lintang memiliki hubungan yang cukup dekat dengan ayahnya, ia mengetahui masa lalu Dimas dari surat-surat Dimas yang sempat ia baca dan dari cerita-cerita Vivienne tentang keadaan ayah dan teman- 54 teman ayahnya di masa lalu.

  59

  c.

  Sudut pandang Segara Alam lebih menceritakan tentang kejadian pada reformasi Indonesia tahun 1998 dan nasib keturunan tapol di Indonesia.

  “Aku takut, Bimo jeri. Entah mengapa kami gentar. Apa karena cerita yang terdengar begitu mengerikan. Atau kami

  56

  takut karena Ibu pemandu akan tahu siapa Bapak kami.” Kisah perjuangan kelaurga tapol digambarkan melalui sudut pandang

  Alam sebagai seorang aktivis di masa Orde Baru. Peranan sudut pandang Alam dalam bercerita memberikan gambaran dari sudut keturunan tapol yang terlibat dan ada di Indonesia.

  Sudut pandang orang ketiga digunakan saat menjelaskan keadaan masa kecil Lintang (Pulang, h. 178-181), keluarga Aji Suryo pada bab “Keluarga

  Aji Suryo” (Pulang, h. 327-361), kejadian bertemunya Dimas dan Vivienne pertama kali (Pulang, h. 201-208), tentang kembalinya hubungan baik antara Lintang dan Dimas, serta surat-surat Surti yang dikirimkan untuk Dimas (Pulang, h. 223-249), pada bab flaneur (Pulang, h. 251-282).

5. Gaya Bahasa

  Penggunaan gaya bahasa dalam Pulang didominasi oleh perumpamaan dalam mengungkapkan sebuah keadaan dan kehidupan. Perumpaman yang digunakan dapat berupa perbandingan manusia dengan sesuatu hal (dipersonifikasi), penggambaran benda yang memiliki sifat seperti manusia (personifikasi), atau mengungkapkan sesuatu dengan cara berlebihan (hiperbola).

  a.

  Contoh dari penggunaan majas dipersonifikasi dalam Pulang: Atau menggunakan bahasa Maman, aku terbang seperti

  57 burung camar tanpa ingin hinggap.

  56

  60

  Ketiga dara cantik itu adalah bunga yang membuat Jakarta menjadi bercahaya.

  58 Pengibaratan manusia dengan benda atau makhluk di luar manusia

  menjadi pilihan yang mengibarkan gambaran lebih tepat untuk menunjukansebuah keadaan atau peristiwa terjadi.

  b.

  Contoh dari penggunaan majas personifikasi: Malam telah turun. Tanpa gerutu dan tanpa siasat.

  59 Tapi angin bulan Mei kembali mengoyak-ngoyak rambutnya.

60 Majas personifikasi digunakan dengan cukup sering untuk memasukan

  unsur hidup pada benda-benda atau suasana keadaan yang tidak memiliki unsur tersebut karena keterbatasan sifat asli dari benda atau keadan yang sedang digambarkan.

  c.

  Contoh dari penggunaan majas hiperbola: Aku melihat sepasang mata hijaunya mampu menembus hatiku yang tengah berkabut.

  61 Badan dan mataku seolah sudah berangkat menghampirinya,

  tetapi kakiku seperti kaki para narapidana yang akan dieksekusi mati. Terikat rantai besi.

  62 Penggunaan majas hiperbola untuk menunjukan suatu keadaan dapat digambarkan dengan cara berlebihan dari keadaan sesungguhnya.

  Hiperbola digunakan membantu cerita menjadi lebih teatrikal melalui penggunaan media kata-kata.

  58 Ibid., h. 51 59 Ibid., h. 5 60 Ibid., h. 9 61

  61

6. Alur

  Pulang memiliki tahapan yang membuat efek saling menguatkan antar

  cerita, seperti menyusun kepingan yang belum rapi namun memiliki hubungan yang jelas. Beberapa bagian terlihat seperti meloncat-loncat, memainkan ingatan si tokoh untuk menceritakan segala sebab yang mengakibatkan kejadian demi kejadian terjadi. Secara urutan waktu, Pulang menggunakan alur sorot-balik, karena cerita diawali dengan penangakapan Hananto Prawiro, kemudian dilanjutkan dengan terdamparnya tokoh Dimas Suryo di Paris pada tahun 1968, barulah kronologis waktu bercampur dari masa kisah itu diceritakan, kembali ke masa lalu, sampai pada penutup cerita melalui pemakaman Dimas Suryo di Karet, Jakarta tahun 1998. Pulang memiliki jalinan cerita sebab akibat, berkali-kali mengalami naik-turun intensitas ketegangan cerita. Dari keseluruhan cerita, ada dua hal yang menjadi sorotan penting dalam Pulang. Sorotan pertama cerita tentang kehidupan eksil di Prancis, khususnya Dimas Suryo. Sorotan kedua lebih di arahkan kepada anak Dimas Suryo, Lintang Utara, yang memandang kehidupan ayahnya, serta keterlibatan Lintang dalam peristiwa Mei 1998 di Indonesia. Tahapan alur yang di kemukakan oleh Aminuddin dapat diterapkan ke dalam novel Pulang dengan klasifikasi: a.

  Orientasi Tahapan ini merupakan perkenalan cerita yang menggambarkan awal cerita dimulai. Pulang mengawali cerita dengan ditangkapnya Hananto Prawiro setelah bertahun-tahun menjadi buronan pemerintah. Cerita tersebut digambarkan oleh sudut pandang Hananto sendiri dalam bagian “Prolog: Jalan Sabang, Jakarta, April 1968”. Bagian “Paris, Mei 1968” merupakan pengenalan terhadap tokoh sentral dari Pulang, Dimas Suryo, yang tertahan di Paris dan menjalin hubungan dengan seorang mahasiswa Sorbone, Vivienne Deveraux, yang sedang

  62

  digambarkan pada bagian “Hananto Prawiro”. Pada bagian ini dijelaskan asal usul terdamparnya Dimas dan ketiga teman lainnya di Paris. Cerita diliputi dengan kegiatan ruang redaksi kantor Berita Nusantara dan perselisihan ideologi yang saling bersebrangan antara kubu “kiri” dan kubu pendukung M. Natsir.

  b.

  Konflik Tahapan konflik merupakan bagian permasalahan yang akan diangkat pada sebuah cerita. Masalah yang timbul dan akan diangkat dapat dilihat pada bagian “Surti Anandari”, “Paris, April 1998”, “Naryana Lafebvre”, “L’irreparable”, “Sebuah Diorama”, “Bimo Nugroho”, “Keluarga Aji Suryo”. Pada bagian itu dijelaskan perjalanan hidup Dimas dan Risjaf dalam menjalani rasa cinta kepada Surti dan Rukmini pada saat mahasiswa. Namun, kisah cinta mereka tidak berjalan baik karena terhalang oleh kemapanaan dari Hananto dan Nugroho, tetangga kosan mereka.

  Pada bagian “Paris, April 1998” merupakan cerita lain yang mengkisahkan awal perjalanan Lintang untuk menggarap tugas akhirnya di Indonesia sebagai mahasiswa yang membuat film dokumenter tentang kisah para korban langsung atau tidak langsung pasca kejadian 30 September 1965, bukan sebagai anak dari korban kejadian tahun 1965 di Indonesia.

  “Naryana Lafebvre” merupakan bagian yang mengkisahkan kerinduan Lintang akan masa kecil yang memiliki keluarga penuh kehangatan. Pada bagian itu diceritakan pula awal jalan masuk Lintang untuk mengenal Indonesia selain dari versi Ayah dan ketiga teman eksilnya. Ketegangan antara Lintang dan Dimas diceritakan pada bagian “L’irreparable”, dikisahkna bahwa Lintang mengenalkan Naryana dan Dimas. Dimas memandang sebelah mata pada Naryana karena dia termasuk kalangan “tinggi”, hal itu merupakan awal pemicu renggangnya hubungan

  63

  Segara Alam, anak dari Hananto Prawiro dan Surti Anandari adalah langkah awal Lintang menggarap tugas akhirnya diceritakan dalam bagian “Sebuah Diorama”. Kisah hidup keluarga yang ditinggalkan eksil diceritakan pada bagian “Bimo Nugroho” dan “Keluarga Aji

  Suryo”. Kisah kehidupan keluarga yang selalu ditekan dan dianggap ikut berdosa untuk menanggung dosa tururan karena pilihan ideologi salah satu anggota keluarga.

  c.

  Komplikasi Tahapan komplikasi merupakan tahapan mengidentifikasikan naiknya sebuah permasalahan dalam cerita. Seperti yang terjadi pada Pulang, tahapan komplikasi terdapat pada bagian “Terre D’ Asile”, “Ekalaya”, “Surat-surat Berdarah” dan “Potret yang Muram”. “Terre D’ Asile” menceritakan kepanikan Dimas dan kawan-kawan yang sedang ditugaskan ke luar negeri untuk pendelegasian dan tertahan tidak bisa kembali ke Indonesia. Suasana Indonesia telah memanas karena beredar kabar pembunuhan para jenderal yang dituduhkan kepada Partai Komunis Indonesia. Dikisahkan pula perjalanan mereka sebelum menetap dan berjuang hidup di Paris, Prancis. Pada bagian “Ekalaya” berkisah tentang kisah tokoh wayang kegemaran Dimas karena mereka memiliki kesamaan nasib, yaitu penolakan dari yang diharapkan dapat menerima.

  “Surat-surat Berdarah” mengkisahkan ketegangan di Indonesia melalui surat-surat yang dikirim oleh Aji, Surti, Kenanga, dan Amir untuk Dimas.

  Kisah “Potret yang Muram” menjelaskan bahwa Lintang menambatkan hatinya pada Alam, serta kisah Surti bertahan hidup setelah pemburuan Hananto yang tak kunjung ditemukan oleh pemerintah.

  d.

  Klimaks Klimaks merupakan tempat puncak masalah pada cerita. Pada tahapan

  64

  temu pada bagian klimaks. Tahapan klimaks yang terdapat Pulang ada di bagian “Vivienne Deveraux” dan “Mei 1998”. Pada bagian “Vivienne Deveraux” menjelaskan penyebab perceraian pernikahan Dimas dan Vivienne yang didasari oleh rasa cinta Dimas terhadap Surti tidak kunjung padam, sehingga selalu mengikat Dimas dengan segal simbol yang tertuju pada Surti, memaksa Dimas untuk terus meningat Surti dan berusaha kembali ke Indonesia.

  “Mei 1998” merupakan cerita Lintang yang terlibat ke dalam keriuhan demo dan peristiwa Mei 1998, padahal Lintang baru saja merasa menemukan tanah kelahiran yang sempat tidak dikenalinya.

  e.

  Peleraian Turunnya intensitas permasalahan akan ditemui pada sebuah cerita merupakan tahapan peleraian. Peleraian dalam Pulang ditemuai pada bagian “Empat Pilar Tanah Air” dan “Flaneur”. Tercetusnya pembukaan restoran Indonesia yang diberi nama Restoran Tanah Air sebagai penopang kehidupan ekonomi dan apresiasi eksil terhadap Indonesia diceritakan pada bagian “Empat Pilar Tanah Air”.

  Kemudian mulai membaiknya hubungan antar Dimas dan Lintang serta ikut andilnya Dimas menanamkan kekuatan Lintang mengenal Indonesia te rdapat pada “Flaneur”.

  f.

  Penyelesaian Tahapan terakhir untuk menutup sebuah cerita terdapat pada bagian “Epilog: Jakarta, 10 Juni 1998” yang mengkisahkan kembalinya Dimas ke Indonesia, ke Karet. Akhirnya pengembaraan Dimas ditutup dengan pemakaman yang dilakukan di Karet, Jakarta.

B. Kondisi Sosial Eksil

  Pulang merupakan satu dari sekian novel yang mengambil sepintas

  sejarah dalam pengembangan cerita. Gambaran-gambaran sosial yang

  65

  cerita berdasarkan peristiwa di dunia nyata. Kondisi sosial yang ditampilkan

  Pulang menggambarkan kondisi eksil di Prancis akan dibahas dalam tiga bagian, yaitu: perekonomian, disorganisasi keluarga, dan nilai-nilai sosial.

1. Perekonomian

  Perekonomian merupakan salah satu peranan penting bagi kehidupan manusia, baik secara individu maupun kelompok. Hal tersebut tergambarkan bagi kaum eksil yang tertahan di luar negeri pasca kejadian

  30 September 1965. Saat terjadinya peristiwa itu, Dimas dan Nugroho mendapat tugas untuk mengikuti konferensi International Organization of

  Journalistis di Santiago mewakil kantor Berita Nusantara, dan Risjaf

  dikirim ke Havana untuk ikut membantu mempersiapkan konferensi Organisasi Setiakawan Rakyat Asia-Afrika untuk tahun 1966. Mereka bertiga berkumpul di Havana setelah terjadinya peristiwa 30 September, dan memutuskan pindah ke Peking setelah terjadi pencabutan paspor Indonesia.

  Awal keberadaan tiga eksil di Peking disambut dengan baik, mereka dibantu dalam segala hal. Selama di Peking, Nugroho yang pernah belajar sinologi diminta untuk bekerja sebagai penerjemah majalah Peking

  Review. Sedangkan Dimas dan Risjaf hanya membantu pekerjaan seadaanya karena tidak bisa berbahasa Tiongkok.

  Dalam waktu sebulan, Mas Nug yang sempat belajar sinologi di jakarta diminta bekerja sebagai penerjemah majalah Peking

  Review. Risjaf dan aku yang sama sekali tidak bisa bahasa

  63 Cina membantu pekerjaan klerek di kantor yang sama.

  Mereka bekerja seadaanya karena yang terpenting adalah mencari nafkah sebagai bekal perjalanan berikutnya. Akhir 1966 sampai 1968, ketiga eksil diminta untuk pindah ke pinggiran Peking, Desa Merah, mendukung Ketua Mao dalam revolusi Kebudayaan.

  66

  Awal tahun 1968, Dimas memilih pergi ke Paris, Prancis, untuk bertemu dan bersama Tjai yang sudah ada di Paris semenjak Natal. Nugroho menjadikan Swiss sebagai tempat persinggahannya, dan Risjaf memilih Belanda. Tidak beberapa lama keempat eksil Indonesia berkumpul di Paris. Awal mula hidup di Paris, para eksil berkerja serabutan, Nugroho yang memiliki keahlian akupuntur yang dipelajari di Peking mulai mendapatkan pelanggan di Paris. Tjai yang seorang sarjana ekonomi mendapatkan pekerjaan di beberapa toko kecil sebagai akuntan, serta Dimas dan Risjaf yang seorang lulusan sastra mendapat pekerjaan yang berubah-ubah, dimulai dari buruh di restoran, klerek(juru tulis) di bank, dan asisten kurator di galaeri-galeri kecil. Mereka tinggal di apartemen kecil dan kumuh di Tere d’ Asile.

  Mulailah kami mencari kerja serabutan. Mas Nug yang mendapat keahlian akupuntur di peking mulai mendapat pelanggan. Aku baru paham mengapa ia betah betul di Swiss: karena rata-rata pelanggan yang menggemari akupuntur di Eropa adalah perempuan. Tjai yang seorang sarjana ekonomi lebih mudah mendapat pekerjaan di beberapa toko kecil di pinggir kota Paris sebagai akuntan. Sedangkan Risjaf dan aku adalah dua pengelana yang paling sial. Kami belajar sastra karena merasa diri sebagai bagian dari kumpulan intelektual. Sedangkan Prancis adalah negeri tempat lahirnya para sastrawan dan intelektual besar yang buku-bukunya menjadi pedoman dan panutan kami. Tak heran jika Risjaf dan aku setiap tiga atau empat bulan berubah profesi. Dari pekerja buruh di restoran, klerek bank, hingga asisten kurator di galeri-galeri kecil yang hanya dikunjungi tiga atau empat orang yang sok merasa dirinya seniman.

  64 Keadaan para eksil di tahun-tahun awal cukup memprihatinkan. Bekerja serabutan, tanpa peduli pada tanggapan kebutuhan sosial mereka.

  Setelah menikah dengan Vivienne dan memiliki anak, Lintang, Dimas yang awalnya memiliki pekerjaan tidak tetap, diwajibkan untuk mencari pekerjaan untuk menunjang kontribusinya kepada keluarga. Kebutuhan

  67

  sosial Dimas sebagai kepala keluarga dipertaruhkan karena kebutuhan ekonomi penunjang kehidupan keluarga tidak dapat ditunaikan secara baik oleh Dimas. Dimas memutusakan bekerja di Kementerian Pertanian karena gajinya cukup untuk menghidupi kebutuhan keluarga. Namun, Dimas akhirnya keluar dan memutuskan membangun sebuah restoran bersama ketiga teman eksilnya. Restoran tersebut diberi nama Restoran Tanah Air. Restoran yang bergerak dalam bentuk usaha koperasi bersama, termasuk pembagian tips yang dikumpulkan dan dibagikan merata kepada tiap anggota. Restoran tanah Air memberikan pekerjaan yang tetap dan menyenangkan bagi tiap eksil, Dimas yang lihai dalam mengolah bumbu masakan mendapat tugas sebagai juru masak, Tjai yang lihai dalam hitungan memegang keuangan, Risjag sebagai pengelola acara-acara yang akan berlangsung di Restoran Tanah Air, dan Nugroho berperan sebagai pemimpin, membantu pekerjaan ketiga eksil. Berkat berdirinya dan ketenarannya Restoran Tanah Air di Paris, kehidupan keuangan para eksil semakin membaik, walau tidak dapat dikatakan berlebihan.

  “Sebelum mengepak,” Nug mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang agak gemuk,”ini dari kami semua. Masih dalam

  franc

  , kamu nanti tukar sendiri di Jakarta ya.” “Iki opo to?” Dimas mengngerutkan kening. “Jumlah tak terlalu banyak, Lintang,” kata Risjaf, “tapi lumayan buat jajan. Bagi kami semua, kamu adalah anak.” Lintang memandang ketiga wajah om bergantian. Tjai mengangguk membenarkan ucapan Risjaf. Ini gila. Lintang

  65 tahu, mereka bukan orang kaya raya.

  Ekonomi tidak menjadi masalah biaya kehidupan saja, namun menjadi konflik sosial. Kebutuhan ekonomi sudah memiliki sinergi dengan kebutuhan sosial, hal itu dapat dilihat dari besarnya pengaruh pekerjaan eksil bagi kehidupan mereka. Seperti kasus Dimas yang ditekan oleh Vivienne karena kontribusinya dalam pembiayaan hidup keluarga yang

  68

  kurang bahkan tidak mencukupi. Kedudukan Dimas sebagai kepala keluarga tergoyahkan karena kontribusi keuangan keluarga. Gambaran lain hubungan ekonomi dan kebutuhan sosial terlihat saat para eksil pertama kali hidup di Paris, mereka mencari pekerjaan apapun demi mendapatkan bayaran untuk memenuhi kebutuhan hidup, walaupun pekerjaan tersebut tidak menentu bahkan harus berganti-ganti. Para eksil mengambil pekerjaan apapun agar kehidupan mereka terus berlanjut, tidak mempedulikan pekerjaan tersebut patas atau tidak, yang terpenting kebutuhan sosial terpenuhi.

  Kebutuhan sosial terpenuhi dengan baik saat perekonomian para eksil mulai stabil, mereka bisa bekerja dengan layak sesuai kemampuan dan keinginan dari masing-masing eksil. Para eksil tidak lagi bekerja serabutan dan memiliki pemasukan yang tetap karena mengelola Restoran Tanah Air. Restoran Tanah Air sudah menjadi kebutuhan sosial karena memiliki mekanisme penerimaan dan penawaran. Para eksil membutuhkan pekerjaan tetap yang dapat menunjang kehidupan mereka, dan Restoran Tanah Air merupakan tawaran penyelesaian dari masalah yang terjadi karena para eksil ingin memiliki pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

  Gambaran perekonomian eksil di Prancis pada novel Pulang mengalami perubahan yang membaik. Semula para eksil hidup terlunta- lunta melakoni pekerjaan apapun demi mencari nafkah, namun semenjak berdirinya Restoran Tanah Air semua keadaan ekonomi yang memprihantinkan dapat dilalui dengan baik. Restoran tanah air merupakan penawaran yang diterima para eksil atas harapan mereka dari pekerjaan yang lebih baik, agar kebutuhan ekonomi dan sosial terpenuhi.

2. Disorganisasi Keluarga

  Disorganisasi keluarga merupakan salah satu bentuk kondisi sosial

  69

  peristiwa tertentu, salah satunya keluarga Nugroho Dewantoro dan keluarga Dimas Suryo yang memiliki latar peristiwa 30 September.

  Nugroho Dewantoro menikahi Rukmini sebelum tertahannya di Prancis karena ia merupakan salah satu anggota partai terlarang pada masa itu. Ia dan Rukmini dikaruniai seorang putra bernama Bimo Nugroho.

  Sebelum kejadian 30 September, Nugroho bersama Dimas diminta untuk mewakili kantor Berita Nusantra sebagai delegasi konferensi IOJ di Santiago. Setelah itu ia tertahan di luar negeri, tidak bisa pulang ke Indonesia. Nugroho kehilangan kontak dengan istri dan anaknya yang baru berumur satu tahun. Setelah itu singgah di Peking dan baru mendapat kabar tentang keluarganya dari sang ibu, bahwa istri dan anaknya bersembunyi di Yogyakarta. Beberapa tahun di Pinggiran Peking, ia memutuskan untuk singgah ke Swiss sebelum berkumpul dengan teman- teman eksil di Prancis. Selama di Swiss, Nugroho berselingkuh dengan seorang istri polisi, Agnes Baumgartner. Alasan Nugroho berselingkuh dengan Agnes karena nama keluarganya, Baumgartner mempunyai arti seorang yang memiliki sebidang kebun. Selain itu karena semenjak di Zurich Rukmini sudah menolak untuk menyusul Nugroho Ke Eropa tanpa ada alasan yang jelas. Bagi Nugroho, Rukmini adalah anggrek, ia bisa mengibaratkan seoarang Agnes dengan Rukmini karena kesamaan simbol dari kedua perempuan tersebut. Keduanya memiliki kesamaan simbol melalui tumbuhan.

  “Kau tahu, Mas, Agnes bukanlah sekedar pasienku.” “Ya Mas Nug, kau sudah cerita soal jarum, soal paha …” “Bukan, bukan,” Suara Mas Nug semakin parau dan dia menggeleng-geleng dengan keras.

  Aku memandang matanya yang merah didera kepedihan. “Agnes Baumgartner adalah nama kelaurganya. Dia tidak menggunakan nama si polisi. Baumgartner itu berarti seorang yang memiliki sebidang kebun …” Lalu?

  70

  66

  anggrekku.” Prancis merupakan saksi bagi Nugroho kehilangan Anggreknya,

  Rukmini menggugat cerai Nugroho karena ingin menikah dengan Letkol Prakosa, tentara adalah teman ayahnya yang selalu mendampingi Rukmini selama perburuan tahun 1966-1967.

  Bila perceraian Nugroho dan Rukmini disebabkan oleh tidak berfungsinya peranan seorang suami dalam keluarga karena tertanhannya Nugroho di Paris, lain hal dengan perceraian yang terjadi pada Dimas dan Vivienne.

  Dimas merupakan pria yang tidak ingin memiliki ikatan dengan apapun atau siapa pun. Termasuk dengan orang yang dicintainya, baik itu Surti, mantan kekasihnya, ataupun Vivienne Deveraux, istrinya. Tahun 1968 merupakan awal hari-hari Dimas di Paris, ia berkenalan dengan Vivienne, seorang mahasiswa Sorbonne yang berdemo. Mereka menjalin hubungan hingga memasuki jenjang pernikahan dan dikaruniai seorang anak perempuan, Lintang Utara. Satu prinsip Vivienne dalam pernikahan adalah tidak adanya perempuan lain di dalam kehidupan Dimas, namun Dimas selalu menyimpan Surti di hatinya.

  Aku lebih tidak tahu lagi mengapa sampai detik ini, setelah bertemu dengan Vivienne yang jelita dan menikahinya, hatiku masih bergetar setiap kali mengenang Surti. Barangkali aku sudah terlanjur memberikan hatiku padanya. Untuk selama-

  67 lamanya.

  Sebelum perceraian Dimas dan Vivienne, keluarga mereka hidup dengan bahagia. Lintang memiliki struktur dengan fungsi keluarga yang lengkap, walau memiliki orang tua yang berbeda kebangsaan. Pada ulang 66 tahun Lintang yang ke sepuluh, masa kritis bagi pernikahan Dimas dan

  71

  Vivienne karena pertengkaran-pertengkaran tidak bisa dihindari. Permasalahan ekonomi salah satu pemicu awal ketegangan hubungan Dimas dan Vivienne, puncak pertengkaran terjadi ketika Lintang menemukan surat-surat untuk ayahnya dari seseorang di Indonesia, orang tersebut adalah Surti. Setelah kejadian itu, fungsi Dimas sebagai suami terputus karena Vivienne meminta perceraian.

  Surti adalah lambang aroma kunyit dan cengkih, itu semua menjadi satu di dalam Indonesia. Malam itu, aku mengatakan

  68 pada Dimas, aku ingin bepisah dengannya.

  Setelah perceraian, hubungan Vivienne dan Dimas membaik, mereka tetap menjalin komunikasi. Tidak ada yang memutuskan untuk menikah kembali, menghabiskan sisa hidup dengan sendiri.

  Awal perpisahan antara kedua orang tuanya membuat Lintang tidak bisa menerima keadaan. Ia menunjukannya dengan cara tetap menyiapkan perlengkapan makan secara sempurna, untuk ibunya, dia, dan untuk ayahnya, walaupun ayahnya sudah tidak tinggal bersama Lintang dan Vivienne. Setelah dewasa, Lintang mendambakan keluarga yang hangat seperti masa kecil sebelum ayah dan ibunya bercerai. Ia lebih senang menghabiskan akhir pekannya dengan keluarga kekasihnya, keluarga Lefebvre. Keluarga penuh dengan kehangatan dan kenyamanan sehingga Lintang merasa tentram di lingkungan keluarga Lefebvre.

  Aku lebih suka membantu Tante Jayanti merajang bawang putih, meracik bumbu, atau memanggang daging, daripada memasak di apartemen Ayah di Le Marais atau apartemen

69 Maman.

  Perceraian antara Dimas dan Vivienne memiliki dampak terhadap psikologi Lintang. Ia rindu kehangatan keluarga dan ketentraman rumah. 68 Lintang mencari cara menghilangkan kerinduannya dengan bergaul

  72

  bersama keluarga Lefebvre yang secara kebetulan keluarga campuran Prancis dan Indonesia seperti keluarganya.

  Diorganisasi terjadi pada keluarga Dimas dipicu oleh ketidaksahan Dimas menjalani peranannya sebagi suami dari Vivienne dan ayah bagi Lintang. Dimas masih menyimpan hati pada wanita lain selain istrinya, sedangkan pernikahan di negara manapun menjunjung kesetiaan.

  Meskipun Dimas tidak berselingkuh secara lengsung dengan Surti di Indonesia, namun Dimas terus mendukung Surti melalui surat-surat yang dikirimkannya. Surat-surat tersebut menjadi bukti nyata bahwa Dimas selalu menghadirkan dirinya baik dari segi emosi hingga keuangan untuk membantu kehidupan Surti dan anak-anaknya di Indonesia. Padahal saat itu keuangan keluarga Dimas pas-pasan bahkan dapat dikatakan sulit.

  Dimas mengakui perasaannya melalui pernyataan-pernyataannya dalam cerita bahwa ia selalu menyimpan hatinya untuk Surti, walau dahulu ia mundur ketika diminta melangkah lebih serius untuk berhubungan dengan Surti. Pengakuan tersebut menambah bukti bahwa ia tidak bisa menjalankan peranannya sebagai suami yang dapat menjaga hati hanya untuk istrinya seorang.

  Bila keluarga Dimas mengalami disorganisasi karena ketidaksahan peranan Dimas sebagai suami, lain hal dengan keluarga Nugroho. Disorganisasi yang dialami oleh Nugroho dan Rukmini penyebabnya adalah ketidakhadiran Nugroho karena tertahan di Paris dan tidak bisa pulang ke Indonesia, atau bisa dikatakan bahwa Nugroho secara tidak langsung sedang di penjara. Ketidakhadiran Nugroho sebagai suami dari Rukmini merupakan pemicu hilangnya peranan ia sebagai suami. Seorang suami harus dapat menafkahi istri secara lahir dan batin. Namun tertahannya Nugroho di Paris dengan cap eksil membuatnya tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami. Rukmini lebih memilih

  73

  lelaki lain yang bisa mendampinginya daripada menunggu Nugroho yang entah kapan bisa kembali ke Indonesia.

  Disorganisis dialami keluarga Dimas dan Nugroho berujung pada perceraian. Pernikahan Dimas dan Vivienne mengalami kegagalan karena dipicunya kegagalan Dimas menjaga perasaan Vivienne, sedangkan kegagalan pernikahan Nugroho dan Rukmini dipicu oleh ketidakhadiran Nugroho untuk memberikan kewajibannya sebagai pelindung keluarga.

3. Nilai-nilai Sosial

  Nilai tercipta karena adanya pengalaman individu atau kelompok dalam menemui sesuatu. Nilai tersebut akan mempengaruhi individu atau kelompok ketika menentukan sikap. Seperti para eksil ketika menilai sesuatu hal di luar lingkungan mereka. Menilai tingkah laku dan gaya hidup individu atau kelompok yang tidak termasuk lingkungan para eksil menjadi langkah hati-hati saat hidup dipembuangan. Individu dan kelompok di luar eksil pun memiliki penilaian terhadap hidup kaum yang dicekal oleh pemerintah Indonesia. Nilai-nilai yang timbul dari para eksil dipengaruhi dari sebuh prasangka. Prasangka tersebut menjadi penentu eksil menilai individu atau kelompok di luar kelompok mereka, begitu juga sebaliknya.

  a.

  Penilaian eksil terhadap Sumarno si Telunjuk Penilaian eksil terhadap lingkungan di luar mereka banyak dipengaruhi oleh pengalaman-pengalam dalam menghadapi ancaman serta tantangan yang disuguhkan setelah tertahannya di luar negeri. Penilaian eksil terhadap orang lain itu dapat dikatakan sebuah prasangka, karena eksil tidak mengalami langsung kejadian peristiwa pasca 30 September di Indonesia. Pada tahapan pengethuan para eksil kepada objek, sudah termasuk tahapan kognitif.

  Seperti saat Sumarno Biantoro, atau “Si Telunjuk” datang

  74

  anggota Restoran Tanah Air sudah menilai negatif kedatangan Sumarno karena rekam jejak dia terdengar sampai kepada para eksil. Sumarno seorang seniman yang terkena “sapuan” pasca peristiwa 30 September, setelah penangkapan dan penyiksaan dia dibebasakan dan justru membongkar tempat-tempat persembunyian teman-teman lain yang belum tertangkap, termasuk Hananto Prawiro, sahabat dekat dari para eksil di Restoran Tanah Air.

  Ketika tikus itu akhirnya menggelinding pergi, Yazir dan

  • – Bahrum buru-buru mengelap meja, kursi, dan gerendel pintu semua yang kena sentuhan Sumarno- dengan disinfektan, seolah-olah tubuhnya mengandung kuman yang menular. Aku

  70 rasa kedua anak itu hanya ikut berpartisipasi saja.

  Sikap yang ditunjukan oleh para eksil terhadap Sumarno menunjukan ketidaksukaan mereka akan kehadiran individu lain di luar kelompok mereka merupakan satu bentuk dari tahapan konatif, hal tersebut dipengaruhi oleh pengaruh kognitif dan afektif yang sudah ditunjukan sebelumnya oleh para eksil.

  b.

  Penilaian Dimas kepada Naryana Lefebvre Penilaian Dimas terhadap individu lain yang memiliki nasib berbeda menjadikannya seorang berkepribadian sinis.

  Permasalahan terjadi ketika Dimas bertemu Naryana, kekasih Lintang yang memiliki kelas sosial berbeda dengan Dimas dan lingkungannya. Naryana Lefebvre merupakan anak Gabriel Lefebvre dan Jayatmi Ranti. Ayahnya merupakan pengusaha berkebangsaan Prancis, dan ibunya merupakan penari asal Indonesia. Naryana hidup serba berkecukupan, tanpa perlu susah payah mencari tambahan uang untuk memenuhi kebutuhannya

  75

  sehari-hari. Dimas menilai Naryana sebagai orang yang pretensius karena merupakan anak orang kaya sehingga dapat mendapatkan sesuatu tanpa perlu banyak usaha. Penilaian kognitif Dimas kepada Naryana didasari oleh lingkungan Naryana yang serba mewah dan megah, sehingga pengalaman Dimas terhadap orang-orang yang satu lingkungan dengan Naryana mengatakan bahwa Naryana tidak akan ada bedanya dengan orang-orang di lingkungannya. Orang kaya yang suka menghamburkan uangnya untuk hal-hal yang kurang penting.

  “Dia pretensius!” Ayah menyelaku seperti tidak sabar. Tenyata dia tengah menahan diri untuk tidak memuncratkan kata-kata yang disampaikannya sejak kali pertama bertemu dengan Nara. “Dia anak orang kaya, borjuasi yang mudah mendapatkan apa saja tanpa perjuangan. Mengendarai mobil, makan di restoran atau bistro termahal di Eropa. Bayangkan, bertemu dengan Ayah saja kita harus jauh-jauh ke Brussel.

  71 Apa itu tid

  ak prestensius?” Penilaian kognitif Dimas terhadap Naryana yang membuatnya selalu mengevaluasi setiap pilihan dan jawaban yang diberikan

  Naryana. Dimas selalu menilai bahwa pilihan Naryana merupakan pilihan biasa dan mencari jalan aman, sikap ketidaksukaan Dimas karena prasangka membuatnya selalu tidak setuju atas pilihan- pilihan yang Naryana berikan. Sikap afektif Dimas itu menimbulkan kecenderungan untuk menolak pembelaan Lintang kepada Naryana. Dimas bersikap kaku dan tidak nyaman saat makan bersama Naryana juga Lintang.

  c.

  Penilaian diplomat muda kepada para eksil Penilaian yang berbeda dari mayoritas orang-orang dan lingkungan tempat berada ditunjukan oleh para diplomat muda

  76

  KBRI di Prancis. Para diplomat muda berteman akrab dengan Naryana dan Lintang, bahkan mereka membantu Lintang mengurusi berkas-berkas yang diperlukan untuk mengunjungi Indonesia.

  Padahal pada masa itu ada keputusan “Bersih Lingkungan” dari pemerintah di Indonesia bagi pekerja pemerintahan. Namun, para diplomat muda tidak mempedulikan keputusan itu. Mereka beranggapan bahawa tidak ada hubungan masalah ideologi politik dengan interaksi yang akan dibina.

  Penilaian diplomat muda bertolak belakang dengan mayoritas orang-orang di lingkungan mereka, KBRI atau pemerintah Indonesia.

  “Sorry,” Lintang menggeleng kepala, “mereka agak protektif. Maklum belum pernah ada orang KBRI yang mengunjungi

  72

  restoran ini.” Sikap para diplomat muda mengunjungi Restoran Tanah Air merupakan upaya pemberontakan dari keputusan tidak masuk akal bagi generasi masa itu. Mereka siap atas konsekuensi yang didapat atas keputusan tersebut. Termasuk dipandang aneh oleh pihak KBRI, bahkan oleh para eksil.

  Dimas kini paham mengapa para diplomat junior itu berani datang ke Restoran Tanah Air dan tidak peduli larangan resmi dari Jakarta. Bukan hanya persoalan lezatnya lezatnya rendang dan gulai ayam buatannya. Tetapi ini adalah generasi baru yang merasa tidak bisa didikte oleh sesuatu yang mereka anggap tidak rasional. Mereka adalah generasi baru yang

  73 cerdas, yang mulai bernai berpikir mandiri.

  Bagi pemerintah Indonesia, yang dilakukan para diplomat muda merupakan sebuah kesalahan, tapi bagi penilaian eksil keputusan 72 mereka merupakan keputusan yang dewasa dan berpikir maju.

  77

  Tiga penilaian yang dilakukan dari golongan yang berbeda menjadikan gambaran yang berbeda dari masing-masing sudut. Sikap yang ditujukan eksil terhadap sumarno si telunjuk di dasari oleh prasangka dengan ciri- ciri sikap: a.

  Kognitif: Mereka mendapatkan kabar bahwa Sumarno merupakan seorang penunjuk teman-teman seperjuangnnya dalam organisasi kepada pemerintah agar teman-temannya itu bisa diciduk dan dihukum.

  b.

  Afektif: Para eksil sangat tidak setuju dengan sikap yang diambil Sumarno terhadap penunjukan teman-temannya.

  c.

  Konatif: Para eksil menujukan sikap tidak suka kepada Sumarno dengan cara beragam, seperti Dimas terus-menerus membawa pisau dapurnya saat Sumarano mengunjungi Restoran Tanah Air atau anggota lain yang mengikuti setiap gerak-gerik Sumarno selama di Restoran Tanah Air. Sikap Dimas terhadap Naryana dapat dilihat dari ciri-ciri sebagai berikut: a.

  Kognitif: Pengalaman dan prasangka Dimas menyatakan bahwa mayoritas orang bergaya hidup seperti Naryana merupakan orang- orang manja dan borjuis, tidak mengenal kesusahan hidup.

  b.

  Afektif: Dimas selalu menilai setiap hal yang disukai dan ditunjukan Naryanya merupakan kesalahan dan Dimas tidak setuju dengan setiap sikap dan pilihan Naryana.

  c.

  Konatif: Dimas selalu memandang sinis dan menutup diri saat bersama Naryana walaupun ada Lintang menemani pertemua mereka.

  Sikap diplomat muda terhada eksil dapat dilihat dari ciri-ciri sebagai

  78

  a.

  Kognitif: Penilaian diplomat muda terhadap eksil berbeda dengan pendapat mayoritas anggota KBRI yang menganggap bahwa eksil harus dihidari.

  b.

  Afektif: Diplomat muda bergaul dengan Lintang, anak Dimas, bahkan membantu Lintang mengurus dokumen-dokumen keperlukan untuk mengunjungi Indonesia, dan mereka mendatangi Restoran Tanah Air untuk bergaul serta menikmati hidangan di Restoran itu.

  c.

  Konatif: Diplomat muda dengan akrab berbicara dan terbuka terhadap eksil, walaupun mereka tahu keputusan mendekakan diri kepada eksil akan mendapat pandangan sinis oleh anggota KBRI lain, bahkan hukuman dari pemerintah pusat di Indonesia.

C. Kondisi Politik Eksil 1.

  Kekuasaan Kekuasaan identik dengan pengaruh, pemaksaan, dan otoritas yang dilakukan individu atau kelompok tertentu terhadap individu atau kelompok lain. Kekuasaan yang ditunjukan novel Pulang adalah kekuatan dari pemeritahan Orde Baru, dimulai dari jatuhnya pemerintahan Soekarno dan diambil alih oleh Soeharto. Selama pemerintahan Orde Baru, semua hal berbaru “kiri” harus diasingkan. Termasuk orang-orang tertuduh memihak kepada PKI akan dianggap ancaman dan harus dihilangkan. Nasib keluarga dan sanak saudara yang ditinggalkan bahkan dilahirkan setelah kejadian 30 September mendapat

  “dosa turunan” yang didapatkan dari anggota keluarga yang memiliki hubungan PKI. Dimas meninggalkan ibu dan adiknya, Nugroho meninggalkan istri dan anaknya, sedangkan Tjai justru membawa istrinya keluar dari

  Indonesia karena dia yakin keluarga Tionghoa salah satu orang-orang yang akan ditangkap dan diasingkan. Dimas, Nugroho, dan Risjaf merupakan anggota dari tim Berita Nusantara yang sedang mendapat tugas

  79

  beberapa hari dan terjadi pembantaian serta pencidukan bagi orang-orang yang memiliki hubungan dengan PKI, dan untuk yang berada di luar Indonesia hukumannya adalah pencabutan paspor.

  Setelah pencabutan paspor, para eksil mendapat pencekalan dengan tidak diberikannya izin atau visa untuk sekadar mengunjungi Indonesia. Tahun demi tahun berlalu. Namun, selama masih masa Orde Baru berlangsung, visa untuk para eksil tidak pernah turun. Untuk Dimas, Tjai, dan Nugroho, visa mengunjungi Indonesia tidak pernah didapatkan walau mereka sudah menggunakan paspor Prancis. Namun, setelah beberapa tahun, Risjaf akhirnya mendapat visa untuk berkunjung ke Indonesia, walau dengan pengawalan ketat dari Intel Indonesia.

  Aku baru menyadari bahwa setiap tahun Ayah rutin mencoba mengajukan permohonan visa untuk masuk ke Indonesia. Tentu saja sebagai seorang yang mendapat suaka politik Ayah

  • –seperti juga kawan-kawannya- seduah menggunakan paspor Prancis. Namun, berbeda dengan Om Risjaf yang entah bagaiman bisa mendapat visa, permohonan Ayah, Om Nug,

  74 dan Om Tjai selalu ditolak.

  Pemerintah Indonesia masa Orde baru tidak hanya cukup dengan pencabutan paspor dan penolakan visa, pemerintahan mengeluarkan peraturan bahwa orang-orang KBRI di Prancis melarang anggota untuk berinteraksi dan mengunjungi restoran milik para eksil. Bagi pemerintah di Indonesia hal tersebut merupakan salah satu cara untuk menunjukan sikap Bersih Lingkungan. Sikap yang melarang anggota instansinya memiliki hubungan dengan anggota atau keluarga yang memiliki anggota PKI.

  “Nara,” katanya dengan nada seorang ibu menegur anak berus ia lima tahun, “Om Marto menyebut-nyebut soal Bersih

  Lingkungan.”

  80

  Nara tertawa terkekeh-kekeh. Aku mengenali tawa itu. Ekspresi kejengkelan. “Tante, Om Marto dan om lain tak akan ditegur Pusat hanya karena Lintang datang ke acara

  75 fashion show

  kebaya Kartini. Tenang, tante.” Kekuasaan pemerintahan Soeharto terus menjegal kepulangan para eksil Restoran Tanah Air. Pemerintahan mempertahankan kekuasaann dengan mengadakan sistem-sistem kepercayaan seperti penyeabaran peraturan Bersih Lingkunagn di kalangan pegawai pemerintahan. Sistem kepercayaan tersebut mengkokohkan kedudukan rezin Orde Baru untuk terus bertahan dan menyingkirkan peraturan-peraturan yang sebelumnya telah berlaku. Pemerintah membuat dukungan untuk melanjutkan kekuasaan dengan beberapa cara, tidak hanya sekadar menanamkan kepercayaan Bersih Lingkungan di kalangan pegawai, tapi mengadakan kosolidasi di bidang-bidang pemerintahan dengan menaruh keluarga- keluarga memimpin di ranah yang strategi.

2. Nasionalisme

  Mencintai dan berkontribusi untuk negara sendiri tidak hanya bisa dilakukan saat individu atau kelompok berada di negaranya. Nasionalisme yang tertanam dapat diterapkan ketika individu atau kelompok berada di mana pun, termasuk kasus yang terjadi pada eksil politik tahun 1965 di Prancis. Para eksil tertahan di Prancis karena pencabutan paspor dan penolakan visa. Namun, mereka selalu berusaha kembali ke tanah kelahiran. Para eksil juga selalu memantau keadaan Indonesia melalui siaran-siaran berita yang sering mereka tonton. Walaupun ditolak oleh pemerintahan Indonesia, mereka tidak merasa ditolak oleh Indonesia. Sikap nasionalisme ditunjukan para eksil dengan menerapkan sistem koperasi pada bidang mata pencarian meraka, yaitu membuka restoran masakan Indonesia. Serta membuat pergelaran budaya, seperti bedah buku,

  81

  pagelaran seni dan hal lainnya. Sikap nasionalisme pun ditunjukan warga Indonesia non eksil yang berada di sekitar Eropa. Mereka ikut membantu menyumbang berdirinya Restoran Tanah Air. Kontribusi eksil ditunjukan dengan kesedian Dimas mengisi dan menulis kolom Tahanan Politik walau saat itu ia menjadi eksil di Prancis.

  “Tjai juga akan membuat riset bentuk usaha apa yang ingin kita bangun, apakah PT atau ko…”“Koperasi. Sudah pasti koperasi!” kata Tjai tegas. “Oke, koperasi,” kata Mas Nug dengan patuh hingga aku bertanya-tanya, siapa sesungguhnya yang lebih ditakuti dalam

  76 kelompok ini.

  Rasa nasionalisme juga terarah kepada keinginan kembali ke Indonesia walau para eksil tertahan bertahun-tahun dan telah menetap di Paris. Namun, tanggapan untuk kepulangan meraka berbeda-beda.

  Nugroho sudah merasa nyaman dan merasa tenang untuk menghabiskan masa hidupnya di Paris. Tjai masih ingin terus mencoba kembali ke Indonesia meski tidak untuk menetap. Sedangkan Risjaf yang berhasil mendapatkan visa Indonesia, tidak cukup tertarik karena dia sudah memiliki Istri dan anak di tempat pembuangnnya. Dimas adalah satu- satunya orang yang tetap memiliki harapan kembali ke Indonesia walaupun kekuatan pemerintahan Orde Baru tetap kokoh dan belum bisa digantikan. Dimas menginginkan jasadnya dikembumikan di Karet, Jakarta, meski belum diketahui saat itu pemerintahan Orde Baru akan runtuh. Indonesia adalah tempat dia merasa pulang, tempat yang ia kenal harum tanahnya.

  Sikap nasionalisme tidak hanya bisa ditunjukan dengan berada di Indonesia, sikap yang ditunjukan para eksil dapat dikategorikan menjadi nasionalisme jarak jauh. Mereka menunjukan rasa nasionalisme dengan

  82

  membuka rumah makan masakan Indonesia di Paris, menggunakan sistem koperasi sebagai wadah bagi Restoran Tanah Air, hingga menggelar acar- acara budaya Indonesia di restoran tersebut. Sebuah sikap mencintai tanah air yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Mereka tetap mencintai dan menghargai Indonesia dengan memberikan kontribusinya di luar Indonesia.

D. Implikasi di Sekolah

  Pembelajaran sastra di sekolah sudah seharusnya membangun kondisi siswa menjadi manusia yang memiliki kecakapan hidup dalam memperluas pengatahuan di bidang sosial, karena karya sastra banyak dipengaruhi oleh realitas yang terjadi pada dunia nyata. Kecakapan hidup dikelompokan menjadi lima bagian: kecakapan mengenali diri atau personal, kecakapan berpikir, kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan kejuruan. Lima kecakapan tersebut masuk dalam ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Ranah kognitif berhubungan dengan tingkat keceradaan peserta didik yang telah dicapai. Ranah afektif berhubungan dengan sikap atau tingkah laku yang ditunjukan peserta didik dalam pembelajaran. Ranah psikomotorik berhubungan dengan perkembangan peserta didik dalam menerapkan nilai-nilai yang didapat dalam kebiasaannya di kehidupan sehari- hari.

  Berdasarkan kajian terhadap novel Pulang karya Leila S. Chudori, kompetensi dasar yang dapat digunakan pembelajaran di sekolah adalah menjelaskan unsur-unsur intrinsik dan ektrinsik dari pembacaan penggalan novel pada tingkat SMS/MA kelas XII semester satu dalam aspek mendengarkan. Pembelajaran unsur instrinsik dan ektrinsik pada novel

  Pulang dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memahami perasaan, imajinasi, kepekaan serta pemahaman terhadap lingkungan sekitar.

  Ranah kognitif dapat dilihat dari kemampuan peserta didik memahami

  83

  pembacaan penglaman novel. Setelah diketahui kemampuan pengatahuna peserta didik dalam memahami, guru mengamati sikap dan tingkah laku peserta didik selam pembelajaran berlangsung. Bagaimana keterlibatan peserta didik selama pembelajaran, apakah peserta didik aktif, atau justru peserta didik tidak tertarik dengan pembahasan yang dipelajari. Pengetahuan dan sikap dapat ditunjukan dalam pembelajaran berlangsung kemudian dilanjutkan dengan pengamatan guru terhadap nilai-nilai yang dapat peserta didik terapkan untuk membangun kebiasaan sehari-hari. Peranan guru dalam mengawasi peseta didik tidak hanya terjadi saat pembelajaran di kelas saja. Namun, dilakukan pula kontrol lapangan untuk membuat kebiasaan baru agar membangun peserta didik menjadi individu yang lebih baik setelah pembelajaran usai.

  Bila dikaitkan antara pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah dengan kajian novel Pulang karya Leila S. Chudori, peserta didik dapat menjadikan novel Pulang sebagai objek kajian untuk membahas unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik dalam novel Pulang memiliki keragamanan untuk dipahami, mulai dari tema, alur, tokoh dan penokohan, sudut pandang, serta gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang. Untuk kajian ekstrinsik, peserta didik dapat mengambil kajian sosial, baik latar sosial, kondisi, atau peristiwa sosial yang terjadi. Pembahasan intrinsik dan ektrinsik yang dilakukan peserta didik dapat menumbuhkan kepekaan terhadap lingkungan sosial, sikap kepekaan tersebut dapat berupa sikap toleransi, mengahargai, dan tangung jawab. Guru berperan penting dalam mengarahkan peserta didik untuk menafsirkan data-data temuan dalam penerapan di kehidupan sehari-hari. Terkadang pembelajaran hanya berakhir dalam memahami saja, tanpa tahu bagaimana pesan yang dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari yang dialami peserta didik.

  Novel Pulang memiliki kaitan latar sejarah Indonesia pada peristiwa

  84

  seputar sejarah tentang peristiwa yang terjadi pada latar novel tersebut. Pembelajaran peristiwa tersebut berhubungan dengan pembelajaran sejarah di sekolah, kaitannya dengan peristiwa G30S dan Mei 1998. Tugas guru Bahasa dan Sastra Indonesia adalah berkoordinasi dengan guru sejarah untuk menyatukan pemahaman seputar kejadian peristiwa tersebut, agar tidak terjadi perbedaan pendapat dalam menanggapi peristiwa tersebut sehingga menimbulkan kebingungan peserta didik dalam memahami peristiwa sejarah Indonesia. Metode yang digunakan dalam pembelajaran memahami unsur ektrinsik dapat digunakan metode tematik, yaitu menyatukan tema pembelajaran antara pelajaran Bahasa dan Sastra Indoensia dengan pembelajaran sejarah melalui pembahasan latar sejarah peristiwa G30S atau Mei 1998. Kolaborasi pembelajaran juga membuka peluang untuk peserta didik melebarkan wawasan baru dengan membaca literatur yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Dengan demikian kolaborasi antara pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan sejarah menjadi pembelajaran menarik dan memudahkan siswa untuk memahami kedua mata pelajaran sekaligus.

  85 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SMA/MA ....................... NAMA SEKOLAH

  Bahasa dan Sastra Indonesia

MATA PELAJARAN

  XII (dua belas) / 1 (satu)

KELAS /SEMESTER PROGRAM

  Mendengarkan

ASPEK PEMBELAJARAN STANDAR

  Memahami pembacaan novel

  KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR Menjelaskan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik dari pembacaan penggalan novel

  Nilai Budaya Kewirausahaan/ Indikator Pencapaian Kompetensi Dan Karakter Ekonomi Kreatif Bangsa  Menjelaskan unsur-unsur –unsur intrinsik dan  Kreatif  Keorisinilan ekstrinsik dalam penggalan novel yang

   Bersahabat/  Kepemimpinan dibacakan. komunikatif

   Gemar membaca ALOKASI WAKTU 3 x 45 enit

TUJUAN PEMBELAJARAN

  TUJUAN Siswa mampu menjelaskan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik dari pembacaan penggalan novel MATERI POKOK Pembacaan penggalan novel PEMBELAJARAN

  Unsur-unsur intrinsik novel Unsur-unsur ektrinsik novel

METODE PEMBELAJARAN 1.

  Diksusi 2. Presentasi

KEGIATAN PEMBELAJARAN

  86 Karakter Bangsa PEMBUKA

   Siswa diajak untuk mengingat kembali cerita  Bersahabat/ penggalan novel yang telah dibacanya pada komunikatif (Apersepsi)

pertemuan sebelumnya. Guru membantu

mengingatnya dengan melontarkan beberapa pertanyaan.

  

 Guru menyatakan bahwa dalam cerita novel

tersebut terdapat unsur-unsur cerita yang

menarik untuk dibahas Pertemuan ke-1

   Eksplorasi

   Kreatif

  INTI  Guru meminta siswa menyebutkan dan menjelaskan unsur-unsur intrinsik dan ektrinsik yang membangun cerita novel

 Guru menjelaskan secara lebih mendetail

beberapa unsur intrinsik yaitu karakter tokoh dan latar cerita yang akan menjadi fokus pembahasan  Guru menjelaskan secara lebih detail beberapa unsur ekstrinsik yaitu keadaan sosial masyarakat.

   Seorang siswa yang ditunjuk Guru membacakan sebuah penggalan novel sementara siswa yang lain menyimaknya.

   Elaborasi  Siswa berdiskusi kelompok untuk mengidentifikasi dan menjelaskan unsur-unsur

intrinsik dan ekstrinsik novel yang telah

didengarkannya.

   Konfirmasi

  Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

 Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum

diketahui  Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui.

  Pertemuan ke-2

   Elaborasi

   Kreatif

 Secara bergantian, setiap kelompok ke depan

kelas mempresentasikan hasil diskusinya.

Kelompok lain diberi kesempatan untuk

memberikan tanggapan.

  

 Guru memberikan ulasan dan tanggapan atas

setiap hasil presentasi kelompok.

  87 ektrinsik novel yang dibahas.

   Konfirmasi

  Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:

 Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum

diketahui

 Menjelaskan tentang hal-hal yang belum

diketahui.

  PENUTUP (Internalisasi dan refleksi)

   Siswa menjawab soal-soal Kuis Uji Teori untuk mereview konsep-konsep penting tentang unsur- unsur intrinsik dan ektrinsik novel yang telah dipelajari  Siswa merefleksikan nilai-nilai serta kecakapan hidup (live skill) yang bisa dipetik dari pembelajaran

   Gemar membaca

SUMBER BELAJAR

  Pustaka rujukan  Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA kelas XII karya Alex Suryanto dan Agus Haryanto terbitan ESIS 2007  Pulang karya Leila S. Chudori  Biografi Leila S. Chudori  Teori Pengkajian Fiksi karya Burhan Nurgiyantoro Material:

  VCD, kaset, poster Mediacetak dan elektronik Website internet https://www.leilaschudori.com Narasumber Model peraga Lingkungan Lingkungan masyarakat sekitar siswa

  PENILAIAN TEKNIK DAN BENTUK Tes Lisan

  V Tes Tertulis

  V Observasi Kinerja/Demontrasi

  V Tagihan Hasil Karya/Produk: tugas, projek, portofolio

  V Pengukuran Sikap

  88 Penilaian diri

   Tugas untuk menganalisis dan mengidentifikasi unsur- INSTRUMEN /SOAL unsur intrinsik penggalan novel melalui berdiskusi.  Tugas mempresentasikan hasil diskusi kelompok  Daftar pertanyaan Kuis uji teori untuk mengukur pemahaman siswa atau konsep-konsep yang telah dipelajari 1.

  Apa yang dimaksud dengan unsur intinsik dan ekstrinsik?

  2. Sebutkan dan jelaskan unsur intrinsik novel Pulang karya Leila S. Chudori?

  3. Sebutkan dan jelaskan unsur ektrinsik novel Pulang karya Leila S. Chudori? RUBRIK/KRITERIA PENILAIAN/BLANGKO OBSERVASI ...............,...................

  Mengetahui, Kepala SMA/MA Guru Mata Pelajaran ...........................

  ................................... NIP./NIK.

NIP./NIK.

BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan penelitian terhadap novel Pulang karya Leila S. Chudori

  dapat disimpulkan beberahap hal sebagai berikut: 1.

  Kondisi sosial dan politik eksil yang digambarkan pada novel Pulang terdiri sebagai berikut: a.

  Kondisi sosial terdiri dari perekonomian, diorganisasi keluarga dan nilai-nilai sosial. Perekonomian yang dibangun para eksil diawali dengan permintaan mereka memiliki perkerjaan yang tidak hanya mampu menopang kehidupan. Namun, pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan. Dari tahap permintaan itu timbul penawaran pembuatan restoran yang mampu memberikan pekerjaan tetap serta sesuai dengan keinginan para eksil. Disorganisasi keluarga yang terjadi pada eksil dialami oleh Dimas dan Nugroho. Dimas mengalami ketidaksahan peranan sebagai seorang suami menjaga perasaannya hanya untuk istri, sedangkan disorganisasi yang dialmi Nugroho karena ketidakhadirannya sebagai sosok suami dan ayah karena tertahan di Prancis. Keduanya mengalami diorganisasi keluarga berujung pada perceraian. Nilai-nilai sosial tergambarkan pada penilaian para eksil terhadap Sumarno “si Telunjuk”, Dimas terhadap kehidupan Naryana, dan para diplomat muda KBRI Prancis terhadap para eksil. Penilaian terhadap tiga hal tersebut dipengaruhi oleh tiga sikap prasangka yang terdiri dari sikap kognitif, afektif, dan konatif.

  b.

  Kondisi politik terdiri dari kekuasaan dan nasionalisme. Kekuasaan yang ditunjukan pemerintahan Orde Baru, pertama melalui cara menanamkan kepercayaan atau ideologi kepada pegawai pemerintahan

  90

  mengubah peraturan lama dengan peraturan baru, seperti pencabutan paspor dan menolakan visa terhadap eksil. Nasionalisme jarak jauh yang ditunjukan oleh para eksil dengan membangun restoran masakan Indonesia yang diberi nama Restoran Tanah Air dengan menggunakan sistem Koperasi. Para eksil tetap berkontribusi dalam pengembangan kebudayaan dengan ikut menulis yang berhubungan dengan Indonesia dan membuat acara-acara budaya di restoran. Keinginan pulang para eksil pun terus tertanam di hati, walaupun kekuasaan Orde Baru masih kokoh bertahan.

  2. Implikasi yang dapat diterapkan dari novel Pulang di sekolah merupakan kecakapan hidup yang ikut membangun perasaan, imajinasi, kepekaan serta pemahaman terhadap lingkungan sekitar dengan menerapkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

B. Saran

  Berdasarkan hasil dan implikasi penelitian, maka ada beberapa saran yang bisa menjadi masukan untuk kedepannya.

  1. Pendidik harus dituntut dapat memperluas pengetahuan, tidak hanya seputar pendidikan dan kebahasaan. Namun, pengetahuan-pengetahuan umum yang berkaitan dengan pembelajaran.

  2. Pendidik dapat lebih kreatif dalam menyampaikan materi agar peserta didik lebih antusias dan memahami dalam menerima materi yang didapat.

  3. Pendidik sebaiknya dapat membimbing peserta didik untuk memahami nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dari karya sastra yang telah dibahas.

  4. Pendidik dan orang tua seharusnya dapat memberikan contoh kepada peserta didik untuk dapat bertoleransi terhadap perbedaan.

  5. Pendidik dan orang tua seharusnya ikut membantu peserta didik menumbuhkan minat baca karya sastra dengan memfasilitasi bacaan dan

DAFTAR PUSTAKA

  Bahtiar, Ahmad, “Kondisi Sosial dan Politik di Indonesia pada Zaman Pendudukan Jepang dalam Empat Novel Indonesia: Sebuah

  Tinjauan Sosiologi Sastra”,

Tesis pada Pascasarjana Universitas Indonesia: 2006. Tidak dipublikasilaan.

Budianta, Melani dkk.. Membaca Sastra: Pengentar Memahami Sastra untuk

  Perguruan Tinggi. Indonesia Tera: Magelang. 2006

  Chudori, Leila S.. 9 dari Nadira. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 2012

  • . Malam Terakhir. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 2012
  • . Pulang. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 2012 Damono, Sapardi Djoko. Sosiologi Sastra: Pengantar Ringkas. Jakarta: editum. 2013 Dw. De..

  “Leila Selalu Pulang”. 2013. ( Faruk. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2013 Hasil wawancara pribadi dengan Leila S. Chudori tanggal 28 Oktober 2014.

  Landis, Judson R.. Sociology: Concepts and Characteristics. California: Wadworth Publishing Company. 1971

  Leila S. Chudori. “Tentang Leila” Minderop, Albertine. Metode Karakterisasi Telaah Fiksi. Jakarta: Yayasan Pustaka

  Obor Indonesia. 2005 Moleong, Lexy J..Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosada

  Karya. 1999 Mudzakkir, Amir. “Eksil Indonesia dan Nasionalisme Kita”. Makalah disampaikan dalam seminar PSDR-LIPI pada Selasa, 3 Desember 2013 di LIPI, Jakarta Neubeck, Kenneth J. and Davita Silfen Glasberg. Sosiology: Diversity, Conflict, and

  Change. New York: McGraw-Hill. 2005

  Nurgiyantoro, Burhan. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Perss. 2013

  92

  Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia. Leila S. Chudori. 2013.

   Philipus, Ng. dan Nuril Aini. Sosiologi dan Politik. Jakarta: PT Raja Grafindo

  Persada. 2009 Robert, Robertus. “Pulang, Nostalgia, Harapan, dan Kebebasan”. Makalah disampaikan dalam acara musyawarah buku Pulang, karya Leila S. Chudori, di

  Serambi Salihara,29 Januari 2013 Roosa, John. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta

  

Soeharto. Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra. 2008

  Siswanto, Wahyudi. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: PT Grasindo. 2008 Soelaeman, M. Munandar. Ilmu Sosial Dasar: Teori dan Konsep Ilmu Sosial.

  Bandung: PT ERESCO. 1995 Stanton, Robert. Teori Fiksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2007 Syani, Abdul. Sosiologi: Sematika, Teori, dan Penerapan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

  2012 Takwin, Bagus. “Mencermati Naratif Novel Pulang”. Makalah disampaikan dalam acara musyawarah buku Pulang, karya Leila S. Chudori, di Serambi Salihara,

  29 Januari 2013 Taman Ismail Marzuki. Leila S. Chudori. 2013.

  The Jakarta Post. Leila s. Chudori: Khatulistiwa

  Award winner’s commitment to the writing process. 2014. http://www.thejakartapost.com/

  Wellek, Rene dan Austin Warren. Teori Kesuasastraan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 1993

  Worsley, Peter (ed.). Pengantar Sosilogi: Sebuah Pembanding (Jilid I). Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya. 1991

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

ASPEK SOSIAL POLITIK NOVEL KEPUNDAN KARYA SYAFIRIL ERMAN DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI ALTERNATIF MATERI PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA DI SMA
0
13
15
ASPEK SOSIAL POLITIK NOVEL KEPUNDAN KARYA SYAFIRIL ERMAN DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI ALTERNATIF MATERI PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA DI SMA
0
3
15
ASPEK SOSIAL POLITIK NOVEL KEPUNDAN KARYA SYAFIRIL ERMAN DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI ALTERNATIF MATERI PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA DI SMA
0
3
15
NILAI MORAL DALAM NOVEL PESANTREN IMPIAN KARYA ASMA NADIA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH
27
252
121
KONDISI SOSIAL DAN POLITIK EKSIL DI PRANCIS DALAM NOVEL PULANG KARYA LEILA S. CHUDORI DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
0
12
107
ANALISIS TEMA PEREBUTAN KEKUASAAN DALAM NOVEL GAJAH MADA: TAHTA DAN ANGKARA KARYA LANGIT KRESNA HARIADI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SMA
40
583
117
TIPE KEPRIBADIAN PADA TOKOH UTAMA DALAM NOVEL DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN KARYA TERE LIYE DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
8
107
98
RELASI DALAM WACANA KUMPULAN CERPEN DI ATAS SAJADAH CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
1
42
62
PERILAKU TOKOH YANG ‘HASANAH’ DALAM NOVEL “AYAT-AYA T CINTA” KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN IMPLIKASINYA DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
2
65
101
DESKRIPSI LATAR DAN FUNGSINYA DALAM NOVEL CINTA DI DALAM GELAS KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
2
30
72
TOKOH MELAYU DALAM NOVEL CINTA DI DALAM GELAS KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
3
36
81
CAMPUR KODE PADA NOVEL 5 cm KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA DI SMA
5
69
153
NILAI MORAL DALAM NOVEL SANG PENCERAH KARYA AKMAL NASERY BASRAL DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
21
114
79
PANDANGAN DUNIA TOKOH MARGINAL DALAM NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA (Sebuah Tinjauan Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann)
17
228
181
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL PAK GURU KARYA AWANG SURYA DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
5
42
56
Show more