Analisis Unsur Intrinsik dalam Kumpulan Puisi 6 Tirani dan B enteng" Karya Taufiqlsmail

Gratis

3
34
90
2 years ago
Preview
Full text

ANALISIS UNSUR INTRINSIK DALAM KUMPULAN PUISI

  Oleh : SYAIFUL ANWAR NIM 809018300082

  

ABSTRAK

ANALISIS UNSUR INTRINSIK KUMPULAN PUISI TIRANI DAN

BENTENG KARYA TAUFIQ ISMAIL

  Kata kunci : Analisis Unsur Intrinsik Puisi Tirani dan Benteng Berdasarkan masalah mengenai unsur intrinsik puisi Tirani dan Benteng maka mendorong penulis untuk melakukan penelitian tentang bagaimana menganalisis unsur intrinsik kumpulan puisi Tirani dan Benteng. Untuk mendapat memahami karya sastra khususnya puisi diperlukan adanya kemampuan tentang penguasaan unsur-unsur yang membangun puisi. Dalam memahami suatu karya sastra khususnya puisi tidak hanya cukup dengan melakukan apresiasi terhadap puisi tersebut, tetapi mengetahui unsur-unsur yang membangun puisi mengingat betapa besarnya manfaat dan peranan puisi dalam kehidupan sehari-hari, maka penelitian berupa apresiasi langsung dari sebuah karya sastra (puisi) yaitu dari unsur intrinsik dari puisi tersebut harus digalakkan dan digiatkan. Maka peneliti tertarik untuk mengadakan apresiasi langsung dari karya sastra (puisi) dari unsur puisi tersebut.

  Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, penelitian yang membahas masala-masalah atau fakta-fakta yang ada. Untuk mendapatkan data-data yang diperlukan penulis melakukan penelitian yang bersifat kajian pustaka, dengan langkah-langkah menelaah buku-buku yang ada dalam perpustakaan, yang ada hubungannya dengan judul penelitian yang dilakukan setelah data-data terkumpul kemudian dianalisis lalu di deskrpsikan.

  Berdasarkan teori yang digunakan peneliti adalah kualitatif, yang akan berkembang dalam proses penelitian dan diorientasikan kepada deskripsi dan pemahaman terhadap fenomena puisi, sehingga diperoleh temuan-temuan secara langsung yang melibatkan sebagai instrument.

  Berdasarkan hasil penelitian Puisi Tirani dan Benteng, peneliti mengemukakan dalam penelitiannya yaitu dalam puisi Tirani ada 18 Puisi dan Puisi Benteng ada 24 Puisi namun peneliti hanya sebagian puisi yang diteliti Tirani menjadi 9 Puisi, dan Benteng 12 Puisi.

  Kesimpulan yang diambil dari peneliti dalam kumpulan puisi Tirani dan Benteng untuk menganalisis unsur intrinsik adalah Diksi, Gaya Bahasa, Aliterasi, Asonasi, Ritme, Rima.

  KATA PENGANTAR Asslamu’alaikum wr. wb.

  Alhamdulillah, segala puji serta syukur saya limpahkan kepada Allah Swt. Atas rahmat dan hidayah-Nya, serta segala nikmat yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw beserta istri, keluarga, sahabat dan umatnya yang selalu mengikuti risalah serta ajarannya Saw.

  Skripsi sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan Pendidikan S1, (Strata Satu), dipandang sebagai salah satu proses pendidikan dalam hal kemampuan meneliti puisi atau obyek yang dipandang bermanfaat dari aspek keilmuan dan penerapannya kelak, pada proses skripsi juga merupakan salah satu hal yang mendorong dan melatih penulis untuk berpikir secara kritis dalam bidang unsur intrinsik dalam kumpulan puisi, yang selama ini penulis dalami, dengan dukungan teoretis yang telah penulis dapatkan selama waktu pekuliahan yang akhirnya penulis rasakan sangat bermanfaat.

  Dalam penulisan skripsi ini terkadang penulis mendapat hambatan yang memang menjadi bagian dari sebuah perjuangan untuk mencapai sebuah tujuan. Namun penulis menyadari bahwa ini merupakan proses yang harus dijalani. Oleh karena itu, banyak pihak yang terlibat memberikan bantuan dalam menyelesaikan skripsi ini. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1.

  Kedua orang tua, Bapak/Ibu tercinta yaitu Achmad Baung dan Arsawati yang telah melahirkan saya, merawat, dan mendidik saya dengan kasih sayangnya sehingga menjadi seperti sekarang. Terima kasih kami ucapkan atas bantuan, pengorbanan, dan kerja keras kalian. Tanpa do’a dan usaha kalian anakmu bukanlah apa-apa.

  2. Dra. Hindun, M.Pd selaku dosen pembimbing yang senantiasa meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan masukan yang sangat berarti untuk mentelesaikan skripsi ini.

  3. Istri dan anak-anak saya yang selalu memberikan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

  4. Kementrian Agama yang telah memberikan beasiswa kepada saya yang Alhamdulillah tanpa bantuannya kami tidak akan menyelesaikan studi kami yang akan mendapatkan gelar Sarjana.

  5. Bapak/Ibu Dosen yang selalu memberikan pengetahuan kepada saya hingga pada akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini.

  6. Teman-teman yang selalu membantu saya supaya menyelesaikan skripsi ini.

  7. Saudara-saudara saya yang selalu memberikan semangat kepada saya untuk menyelesaikan skripsi ini.

  Semoga mereka selalu mendapat rahmat Allah Swt. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan ketidak sempurnaan dalam penulisan skripsi ini. Oleh kerena itu saran dan kritik yang membangun penulis harapkan untuk membuat perubahan yang lebih baik. Walaupun masih jauh dari kata yang sempurna penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat baik bagi penulis, maupun bagi pihak-pihak lain.

  Wassalamu’alaikum wr. wb.

  Jakarta, Juli 2012 Penulis

  

DAFTAR ISI

Halaman

  LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERNYATA AN………………………………………………... i

  ABS TRAK………………………………………………………………..... ii

  KATA PENGANTAR……………………………………………………… iv DAFTAR ISI……………………………………………………………….. vi

  BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belak

  ang Masalah…………………………………………………. 1

  B. Identifika si Masalah……………………………………………………… 4 C. Pembata san Masalah……………………………………………………... 4 D. Rumus an Masalah………………………………………………………... 4 E. Tujuan Penelitian.

  ………………………………………………………… 5

  F. Manfaat Peneli tian………………………………………………………... 5

  BAB II LANDASAN TEORETIS A. Pengertian Analisis……………………………………………………...... 8 B

  . Pengertian Unsur Intrinsik……………………………………………....... 9

  C. Pengerti an Puisi…………………………………………………………… 12 D. Jenis-jenis

  Puisi………………………………………………………..….. 26 E. Metode dalam Puisi……………………………………………………….. 28

  F . Tujuan Pengajaran Puisi………………………………………………....... 32

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Disain Penelitian…………………………………………………………... 34 B. Populasi dan Sampel………………………………………………………. 35 C. Variabel dan Indika

  tor…………………………………………………….. 37

  D. Instrumen Pene litian………………………………………………………. 37 E. Alat Pengumpu lan Data…………………………………………………… 38 F. Teknik Analisis Data……………………………………………………..... 39

  BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Analisis

  dan Pembahasan Puisi Kelompok Tirani…………………………. 40

  B. Analisis dan Pembahasan Puisi K elompok Benteng………………………. 54

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan………………………………………………………………… 74 B. Saran……………………………………………………………………….. 74 DAFTAR PUSTAKA Lampiran

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa Indonesia merupakan salah satu dari hasil kebudayaan. Bahasa Indonesia tidak terlepas dari kesusastraan. karena bahasa Indonesia merupakan

  wujud dari kesusastraan atau karya sastra itu sendiri. Oleh karena itu, bahasa Indonesia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kesusastraan atau karya sastra.

  Kesusastraan mempunyai peranan dan manfaat yang besar dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Kesusastraan merupakan salah satu dari hasil budaya manusia yang perlu mendapatkan perhatian dari kita semua. Kesusastraan merupakan refleksi dari kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Realita yang terjadi di tengah masyarakat tersebut kemudian dituangkan oleh pengarang atau penyair berdasarkan pada imajinasi dalam bentuk karya sastra. Dengan demikian karya sastra dapat memberikan solusi atau alternatif pemecahan masalah yang terjadi di masyarakat. Dengan membaca karya sastra tersebut, pembaca akan mendapatkan manfaat dari karya sastra tersebut. Sangat sulit untuk membedakan bahasa sastra dan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat.

  Puisi sebagai karya seni sastra yang dapat dikaji bermacam-macam aspeknya. Puisi juga dapat dikaji dari struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam - macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan.

  Puisi dapat pula dikaji jenis-jenis atau ragam-ragamnya, mengingat bahwa ada beragam-ragam puisi. Begitu juga, puisi dapat dikaji dari sudut kesejarahannya, mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dari waktu kewaktu puisi selalu ditulis dan selalu dibaca orang. Sepanjang zaman puisi selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Hal ini mengingat hakikatnya sebagai karya seni yang selalu terjadi ketegangan antara konvensi dan pembaharuan. Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya

  

.

  “Karya sastra adalah fenomena unik. Ia juga fenomena organik di dalamnya penuhnya serangkaian makna dan fungsi makna dan fungsi ini sering kabur dan tak jelas. Oleh karena, karya sastra memang syarat dengan imajinasi itulah sebabnya, peneliti sastra memiliki tugas untuk mengungkap kekaburan itu menjadi jelas. Peneliti sastra akan mengungkap elemen-elemen dasar pembentuk sastra dan menafsirkan sesuai paradigma dan atau teori yang digunakan, Tugas demikian, akan menjadi bagus apabila peneliti memulai kerjanya atas dasar masalah. Tanpa masalah yang jelas dari karya sastra yang dihadapi, tentu kerja penelitian juga akan kabur. manakala penelitian kabur dan karya satra itu sendiri sebagai fenomena yang kabur, tentu hasilnya tidak akan optimal. Itulah sebabnya kepekaan peneliti sastra untuk mengangkat sebuah persoalan menjadi penting

  .” 1 Tujuan karya sastra yaitu untuk membantu manusia menyingkap rahasia keadaannya, untuk memberi makna pada eksistensinya, serta untuk membuka jalan kebenaran. Adapun yang membedakan antara karya sastra dengan seni lainnya adalah dari segi bahasa.

  Sastra merupakan institusi sosial yang memakai bahasa sebagai mediumnya. Teknik-teknik sastra tradisional seperti simbolisme dan matra bersifat sosial karena merupakan konvensi dan norma masyarakat. Lagi pula sastra menyajikan kehidupan dan kehidupan yang sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga "meniru" alam dan dunia subjektif manusia.

  Penyair merupakan warga masyarakat yang memiliki status khusus. Penyair mendapat pengakuan dan penghargaan masyarakat dan mempunyai masa, walaupun hanya secara teoretis. Sastra sering memiliki kaitan dengan institusi sosial tertentu. Sastra mempunyai fungsi sosial atau manfaat yang tidak sepenuhnya bersifat pribadi. Jadi, permasalahan studi sastra menyiratkan atau merupakan masalah sosial; masalah tradisi, konvensi, norma, jenis sastra, symbol, dan mitos. 1 Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, (Yogyakarta: CAPS, cet. ke-1, 2011), hlm. 7.

  Salah satu bentuk dari karya sastra adalah puisi. Puisi merupakan salah bentuk karya sastra yang paling tua. Banyak karya sastra di dunia ini yang ditulis dalam bentuk puisi. Di dalam puisi tersebut penyair sering menuangkan ide dan gagasannya tentang peristiwa atau kejadian yang terjadi di tengah kehidupan masyarakat. Dengan demikian puisi mempunyai hubungan yang erat dengan kehidupan dalam masyarakat.

  Puisi merupakan rangkaian kata-kata yang perlu dan enak dibaca, yang di dalamnya terkandung makna, tema dan sebagainya. Pengetahuan dan pengalaman tentang unsur dari bentuk dan isi yang membangun puisi tersebut sangat diperlukan untuk meningkatkan perkembangan puisi. Bentuk dan isi puisi mempunyai perkembangan yang berbeda antara masa sekarang dengan masa sebelumnya. Hal tersebut disebabkan perbedaan latar belakang sosial, filsafat, agama, pandangan hidup dan juga latar belakang pemikiran, ilmu pengetahuan dan teknologi dari masa atau saat puisi tersebut diciptakan.

  Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk dapat memahami karya sastra khususnya puisi diperlukan adanya kemampuan tentang penguasaan tentang unsur-unsur yang membangun puisi tersebut dan unsur yang berhubungan dengan puisi tersebut. Selama ini penelitian yang banyak dilakukan oleh para mahasiswa dalam menyelesaikan studinya dalam bentuk mengapresiasi karya sastra. Adapun penelitian yang langsung meneliti unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri masih jarang dilakukan. Padahal dalam memahami suatu karya sastra khususnya puisi tidak hanya cukup dengan melakukan apresiasi terhadap puisi tersebut tetapi juga mengetahui unsur-unsur yang membangun puisi tersebut.

  Mengingat betapa besarnya manfaat dan peranan karya sastra khususnya puisi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, maka penelitian berupa apresiasi langsung dari sebuah karya sastra (puisi), yaitu dari unsur instrinsik dari puisi tersebut perlu digalakkan dan digiatkan. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan apresiasi langsung dari karya sastra (puisi) dari unsur instrinsik puisi tersebut. Adapun judul penelitian tersebut adalah: Analisis Unsur Intrinsik dalam Kumpulan Puisi Tirani dan Benteng Karya Taufiq Ismail.

  B. Identifikasi Masalah

  “Identifikasi masalah memuat faktor-faktor penyebab terjadinya suatu masalah. Identifikasi menjelaskan hal-hal dominan apa yang menjadi penyebab terjadinya suatu masalah. Penelitian pada dasarnya bertujuan untuk mengungkapkan keterkaitan antara fenomena. Sekali fenomena terjadi dan kita selidiki maka pasti ada fenomena lain yang terkait atau menjadi penyebabnya. Dengan demikian jika terjadi suatu masalah maka pasti ada penyebabnya. Tentu saja masalah yang menjadi tema atau fokus penelitian 2 penyebabnya tidak tunggal tetapi terdiri dari beberapa faktor yang terkait."

  Berdasarkan uraian dan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa identifikasi masalah merupakan salah satu elemen dalam suatu penelitian. dengan demikian identifikasi masalah merupakan suatu hal yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan penelitian, seperti juga halnya dengan elemen penelitian lainnya. Ketajaman atau ketepatan seorang penelitian dalam mengidentifikasi masaalah sangat memegang peranan yang penting. Berdasarkan hal tersebut, maka dalam identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah: Analisis unsur intrinsik dalam kumpulan puisi

  “Tirani dan Benteng” karya Taufiq Ismail.

  C. Pembatasan Masalah

  Memuat penjelasan dan argumentasi mengenai berbagai faktor atau variabel yang berkaitan dengan masalah peneliti yang tidak mungkin semua dapat diteliti dalam kurung waktu tertentu. Oleh karena itu, menetapkan atau membatasi variabel atau faktor yang akan dijadikan fokus kajian. Pembatasan masalah dalam suatu penelitian juga akan lebih memudahkan peneliti dalam melakukan penyelidikan. Selain itu juga akan lebih menghemat tenaga, waktu dan biaya yang diperlukan dalam menyelesaikan penyelidikan atau penelitian tersebut. penyelidikan atau penelitian tersebut.

  D. Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis merumuskan masalah skripsi ini sebagai berikut. Bagaimana menganalisis unsur intrinsik dalam kumpulan puisi 2 “Tirani dan Benteng” karya Taufiq Ismail.

  

Mahmudah, dkk, Pedoman Penulisan Skripsi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,

(Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011), hlm. 44.

  E. Tujuan Penelitian

  Tujuan penelitian untuk member jawaban atas permasalahan penelitian yang telah dibuat dalam bentuk rumusan masalah. Tujuan penelitian dinyatakan dalam kalimat yang sifatnya menggali atau mendalami unsur intrinsik puisi. Kata-kata yang dapat digunakan antara lain: untuk mempelajari, mengeksplorasi, mengkaji, menemukan, atau mengungkapkan.

  Untuk mengetahui Analisis Unsur Intrinsik Dalam Kumpulan Puisi

  Tirani dan Benteng Karya Taufiq Ismail yaitu:

  1. Diksi

  2. Gaya Bahasa

  3. Aliterasi

  4. Asonasi

  5. Ritme

  6. Rima

  F. Manfaat Penelitian

  Setiap penelitian harus mempunyai berorientasi kepada manfaat atau kegunaan yang hendak diinginkan berdasarkan hasil penelitian tersebut. Manfaat atau kegunaan dari hasil suatu penelitian diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi peneliti itu sendiri, tetapi juga kepada lembaga tempat kajian atau organisasi profesi dan ilmu pengetahuan.

  Manfaat penelitian mencakup dua dimensi, yaitu keilmuan dan praktis. Manfaat keilmuan terkait dengan dimensi pembenaran, yakni bahwa bahwa teori struktur yang menekankan studi sastra secara otonom terlepas dari faktor ekstrinsik dan intrinsik tetap masih relevan masih dipergunakan sebagai pendekatan atau perspektif yang signifikan untuk menganalisis dan member penilaian terhadap karya sastra. Lewat analisis yang dipandu oleh teori atau konsep. Selain itu manfaat pembenaran terkait dengan persyaratan penguasaan literary competence, yaitu kemampuan menguasai kaidah-kaidah penciptaan karya sastra, bagi peneliti yang menerapkan pendekatan structural. Tanpa literary competence tidak akan pernah ada penelitian sastra, apalagi memberikan penilaian. Benar tidaknya suatu penelitian puisi dari perspektif structural berhubungan dengan literary competence

  3

  sebagai persyaratan utama .”

  Hal di atas sesuai dengan pendapat ahli berikut yang mengatakan sebagai berikut: "Sebenarnya penjelasan tentang kegunaan hasil penelitian ini tidak mutlak harus ada. Rumusan tentang kegunaan hasil penelitian adalah kelanjutan dari tujuan penelitian. Apabila peneliti telah selesai mengadakan penelitian dan memperoleh hasil, ia diharapkan dapat menyumbangkan hasil itu kepada Negara, atau khususnya kepada bidang yang sedang diteliti. Pembicaraan tentang kegunaan hasil penelitian ini menjadi penting setelah beberapa peneliti tidak dapat mengadakan sebenarnya hasil bapa yang diharapkan, dan sejauh mana 4 . sumbangannya terhadap kemajuan ilmu pengetahuan."

  Berdasarkan pendapat di atas, maka manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

  1. Dapat memperkaya khasanah perkembangan ilmu kesusastraan khususnya hasil karya sastra yang berbentuk puisi;

2. Dapat meningkatkan kecintaan masyarakat akan karya sastra

  Indonesia khususnya puisi; 3. Dapat memberikan bahan acuan kepada guru bidang studi bahasa dan sastra Indonesia tentang apresiasi puisi;

  4. Dapat memperkaya wawasan atau pengetahuan penulis tentang karya puisi yang dihasilkan oleh penyair bangsa sendiri;

3 Siswantoro, Metode Penelitian Sastra Analisis Struktur Puisi,( Yogyakarta: Penerbit Pustaka

  Pelajar, cet. ke-1, 2010), hlm. 92 4 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: PT Rineka Cipta, cet. ke-14 2010), hlm. 99

BAB II LANDASAN TEORETIS Dalam melakukan analisis atau penelitian tentang suatu karya sastra, salah

  satu yang dapat dilakukan peneliti adalah menggunakan berbagai buku tentang karya sastra atau kesusastraan yang terdapat di dalam perpustakaan. Hal ini sesuai dengan pendapat ahli yang mengatakan.

  "Seorang ahli ilmu pengetahuan tidak hanya bertujuan menemukan fakta, tetapi menemukan prnsip-prinsip yang terletak dibalik fakta prinsip utama yang dicari ialah dalil, yakni generalisasi atau kesimpulan yang berlaku umum. Dengan dalil ini ahli tersebut melanjutkan penyelidikanya untuk meramalkan rangkaian peristiwa berikutnya. Tentu saja diperlukan sejumlah data untuk dipakai sebagai pertimbangan penyimpulan sebuah 1 dalil."

  Adapun pendapat ahli mengatakan bahwa : “Perkataan kesusastraan itu berasal dari bahasa sansekerta susastra. Su berarti baik atau bagus, sastra berarti : buku, tulisan atau huruf. Jadi kesusastraan adalah himpunan buku-buku yang mempunyai bahasa yang indah serta isi yang baik pula. Dalam kesusastraan khusus, karangan itu harus meliputi :  Bahasa yang terpelihara baik.

   Isinya yang baik, indah, yaitu yang benar-benar menggambarkan kebenarandalam hehidupan manusia. 2  Cara menyajikannya menarik, sehingga berkesan dihati pembaca.”

  Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa mempalajari buku-buku yang berhubungan dengan karya sastra di perpustakaan akan sangat membantu peneliti dalam membuat tinjauan pustaka. Dengan begitu keberhasilan penelitian akan sangat ditentukan oleh kemampuan penulis dalam membuat tinjauan pustaka.

  1 Winarno Surakmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, dan Dasar Metode Teknik, (Bandung : Tarsito, cet. ke-7, 1985), hlm. 63. 2 Abdullah Ambary, Intisari Sastra Indonesia, (Bandung : CV. Djatnika, cet. ke-1, 1983), hlm.

A. Pengertian Analisis

  Kata analisis berasal dari bahasa Yunani yaitu analyein yang berarti menyelesaikan, menguraikan, adapun menurut Derrida: “Analisis merupakan bagian yang tak terpisahkan dari penelitian, sebab kegiatan menguraikan ini, yaitu memisah-misahkan sesuatu menjadi bagian-bagian yang lebih kecil didalam suatu entitas dengan cara mengidentifikasi, membanding- bandingkan, menemukan hubungan berdasarkan parameter tertentu adalah suatu upaya menguji at au membuktikan kebenaran.”

  3

  “Krikitik dan kajian sastra memiliki hubungan sangat erat karena keduanya merupakan tanggapan terhadap karya sastra. Pengkajian (sastra) adalah kegiatan mempelajari unsur-unsur dan hubungan antar unsur dalam karya sastra dengan bertolak dari pendekatan, teori, dan cara kerja tertentu kegiatan mempelajari dlam pemahaman awalnya adalah menganalisis. Inti dari kegiatan mengkaji adalah menganalisis. Sementara itu, kritik dalam pemahaman awalnya adalah penilaian atau pertimbangan baik atau buruk sesuatu hasil kesusastraan dengan memberikan alas an- alasan mengenai isi dan bentuk hasil kesusastraan.” 4 Adapun pendapat lain ,menegaskan istilah bahasa sastra adalah :  “Bahasa sastra dan uraian falsafah bersifat simbolik, puitik, dan konseptual.

   Dalam bahasa sastra pasangan rasa dan kesadaran menghasilkan objek estetikyang terikat pada dirinya.

   Bahasa sastra berpeluang menerbitkan pengalaman fiksional dan pada

  hakikatnya lebih kuat dalam menggambarkan ekspresi kehidupan

  .” 5 Kebenaran di dalam ilmu pengetahuan termasuk ilmu sastra, baru dapat diakui

  kalau ada bukti atau tanda-tanda kebenaran. Bukti itu adalah adanya kesesuaian antara pengetahuan dengan objeknya. Kebenaran itu disebut objektivitas. Akan tetapi, sebab suatu objek, katakanlah sebuah puisi, memiliki beragam fenomena, dengan sendirinya kebenaran menghadapi kesulitan untuk menjangkau seluruh aspek atau fenomena. Kegiatan untuk menguak kebenaran itu dilakukan dengan cara melakukan analisis, yaitu memilah-memilih, atau membuat segmentasi sebuah puisi. Dengan kata lain sebuah puisi yang untuk dipotong-potong kedalam segmen atau bagian yang kecil-kecil berdasarkan 3 Siswantoro, Metodologi Penelitian Sastra Analisis Struktur Puisi, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. ke-1, 2010 ), hlm. 10. 4 Sumiyadi, Pengkajian Puisi Analisis Romantik, Fenomenologis, Stilistik, dan semiotik, (Bandung: Pusat Studi Literasi, cet. ke-1, 2005), hlm. 1. 5 M. Rafiek, Teori Sastra Kajian Teori dan Praktik , (Malang: PT. Refika Aditama, cet. ke-1, unsur-unsur intrinsiknya dalam perspektif strukturalisme. Selain memotong-motong, kegiatan analisis juga memberi tafsir terhadap segmen-segmen puisi tersebut atas dasar fungsi dan hubungan antar segmen atau unsur-unsur instrinsik tersebut untuk sampai kepada efek.

  Adapun “Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan sebenarnya atau penjabaran sesudah dikaji sebaik-baiknya, 6 pemecahan persoalan yang dimulai dengan dugaan akan kebenaranya.”

B. Pengertian Unsur Intrinsik

  Unsur-unsur intrinsik adalah khas puisi, yang mencakup: diksi, gaya bahasa, pencitraan, nada suara, ritme, rima, bentuk puisi, aliterasi, asonasi, konsonansi, hubungan makna dan bunyi. Abram mengatakan bahwa:

  “masih ada lagi studi lain yaitu studi objektif, yang pada dasarnya memandang karya sastra adalah karya yang mencukupi diri sendiri, terbebaskan dari faktor- faktor eksternal sebagai rujukan. Karya sastra dibangun dari bagian-bagiannya dan relasi internalnya, sehingga member penilaian terhadap karya sastra adalah

  7

  berdasar kriteria intrinsiknya sebagai unsur- unsur pembentukan struktur.” Secara singkat kompetensi sastra dapat dipahami sebagai pengetahuan tentang konvensi sastra, yang dalam konteks ini adalah puisi, yang telah disepakati oleh masyarakat sastra. Konvensi itu antara lain meliputi fungsi yang tergantung pada jenis-jenis puisi, unsur-unsur internal dan hukum rasional antara unsur-unsur internal tersebut sehingga makna atau nilai sebuah unsur tergantung pada unsur lain. Dengan pengetahuan sastra yang demikian itu analisis tersebut mampu memberi makna, serta mampu memberi tafsir sebuah karya atau lebih. Dengan sifat puisi yang demikian itu sudah barang tentu unsur intrinsik yang membentuknya pun berbeda dengan unsur intrinsik yang berbentuk karya sastra prosa. Unsur intrinsik tersebut adalah tema, amanat, musikalitas, korespondensi, diksi, simbolisasi, tipografi, dan gaya bahasa.

  6 Qonita Alya, Kamus Bahasa Indonesia Untuk Pendidikan Dasar, (Jakarta: PT. Indah Jaya Adipratama, cet, edisi April, 2011 ), hlm. 27. 7 Siswantoro, Metodologi Penelitian Sastra Analisis Struktur Puisi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. ke-1, 2010), hlm. 64. a) Tema “Tema adalah pokok persoalan atau pokok pikiran yang mendasari terbentuknya sebuah puisi. Pokok persoalan itulah yang hendak disampaikan kepada pembaca. Pokok persoalan ini bisa bermacam-macam bisa masalah ketuhanan, cinta, keadaan, kebencian, rindu, keadilan, kemanusiaan dan lain-lain. Tidaklah mudah untuk mengetahui tema sebuah puisi, karena tema puisi terselubung dalam kata-kata perlambangan. Berbeda dengan tema karangan prosa yang serba terurai. Itulah sebabnya untuk dapat menangkap tema suatu puisi paling tidak kita harus tahu tentang diksi, makna konotasi, 8 dan perlambangan atau simbolisasi. ”

  b) Amanat “Amanat adalah sesuatu yang hendak disampaikan oleh penyair kepada pembaca lewat puisinya. Bedanya dengan tema, kalau tema adalah persoalan yang dikemukakan sedangkan amanat adalah sesuatu yang disampaikan lewat persoalan itu. Dengan pengertian diatas jelas bahwa amanat biasanya berada dibalik tema atau tersirat dibalik rangkaian kata puisi itu. Oleh karena itu tafsiran terhadap amanat ini bisa bermacam-macam, sangat subjektif.

  Namun kesubjektivan itu dapat diperkecil dengan mengetahui hal-hal yang 9 berhubungan dengan pribadi penyairnya.

  ” Dengen pengertian di atas jelas bahwa amanat biasanya berada dibalik tema atau tersirat dibalik rangkaian kata puisi itu. Oleh karena itu, tafsiran terhadap amanat ini bisa bermacam-macam, sangat subjektif.

  c) Simbolisasi “Pengertian simbolisasi atau perlambangan dalam puisi tidak mengacu pada gambar atau benda yang menggantikan pengertian tertentu akan tetapi mengacu pada kata atau lambang kebahasaan lain yang digunakan untuk menggantikan suatu pengertian atau hal lain. Simbolisasi diperlukan oleh penyair untuk lebih mengkonkretkan hal-hal yang akan disampaikan. Kata- kata penjelas dirasakanya kurang mewakili sesuatu yang akan diungkapkannya, karena itu ia mempergunakan lambang-lambang. Menurut Herman J. Waluyo:

  “macam-macam lambang ditentukan oleh keadaan atau peristiwa apa yang digunakan oleh penyair untuk menggantikan keadaan atau peristiwa itu. Ada lambang warna, lambang benda, lambang bunyi, 10 lambang suasana d 8 an sebagainya.”

  Suroto, Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia, (Jakarta: Erlangga, cet. ke-6, 1989), hlm. 99. 9 10 Ibid. hlm. 101.

  Ibid. hlm. 103. d) Musikalitas “Yang dimaksud dengan musikalitas adalah hal-hal yang berbubungan dengan pengucapan bunyi. Unsur musikalitas sangat penting dalam puisi.

  Tanpa memperhatikan unsur ini efek puitisnya akan berkurang, bahkan mungkin sekali puisi itu menjadi hambar. Unsur ini meliputi rima dan bunyi. Rima adalah persamaan bunyi yang terdapat pada kata-kata dalam puisi. Sedangkan bunyi disini dimaksudkan adalah bunyi bahasa yang terdapat 11 dalam kata-kata pada puis. ”

e) Korespondensi “Korespondensi adalah perhubungan yang terdapat dalam puisi.

  Perhubungan tersebut bisa bermacam-macam, meliputi perhubungan antara kata dengan kata, frase dengan frase, kalimat dengan kalimat, bait dengan bait, atau campuran diantara unsur-unsur tersebut. Untuk dapat memahami sebuah puisi secara lebih baik dengan pengertian yang benar kita dapat mengabaikan unsur ini. Karangan bentuk puisi merupakan karangan yang pekat dan padu hubungan antar katanya. Itulah sebabnya mengetahui 12 hubungan tersebut menjadi sangat penting. ”

  f) Diksi “Diksi menurut Kamus Istilah Sastra kata diksi berarti pemilihan kata untuk mengungkapkan gagasan. Diksi yang baik berhubungan dengan pemilihan kata yang bermakna tepat dan selaras, yang penggunaannya cocok dengan pokok pembicaraan, peristiwa, dan khalayak pembaca atau pendengar. Dari keterangan itu jelas bahwa diksi adalah ketetapan pemilihan dan penggunaan kata. Tentu saja itu bisa bersifat lisan maupun tulisan. Dalam puisi, diksi 13 memegang peranan yang sangat penting. ”

  g) Tipografi Tipografi disebut juga ukuran bentuk. Dalam sebuah puisi diartikan sebagai tatanan larik, bait, kalimat, frase, kata, dan bunyi untuk menghasilkan suatu bentuk fisik yang mampu mendukung isi, rasa, dan suasana.

  h) Gaya bahasa Gaya bahasa termasuk unsur intrinsik yang cukup penting dalam puisi. Boleh dikatakan hampir tak ada puisi yang hadir tanpa sebuah gaya sastra. 11 12 Ibid. hlm. 105. 13 Ibid. hlm. 109.

  Ibid. hlm. 112. Dengan gaya bahasa gagasan yang terungkap akan terasa lebih konkret dan penuh. Dengan gaya bahasa, puisi akan lebih hidup. Gaya bahasa yang biasa dipergunakan dalam puisi antara lain personifikasi, metafora, simile, asosiasi, dan perulangan. Untuk itu uraian gaya bahasa akan didasarkan menurut Prof.Dr.H.G. Tarigan:

  “Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Karena gaya bahasa berkaitan erat dengan bahasa maka dengan sendirinya segala unsur kebahasaan akan terkait di dalamnya. Unsur kebahasaan itu antara lain pilihan kata, frase, klausa, dan kalimat. Selain itu gaya bahasa juga menyangkut warna pribadi penutur. Itulah sebabnya gaya bahasa juga 14 bersifat individual.”

  “Menurut Gorys Keraf gaya bahasa adalah penggunaan bahasa pada hakikatnya kegiatan berbahasa juga. Kegiatan bahasa ini ada yang baik ada yang kurang baik. Demikian juga penggunaan gaya bahasa. Sebuah gaya bahasa dikatakan baik bila mengandung tiga dasar yakni: kejujuran, sopan santun, dan 15 menarik. ”

  Jadi, unsur intrinsik yang akan penulis uraikan dalam definisi ini yaitu :  Diksi  Gaya bahasa  Aliterasi  Asonasi  Ritme  Rima

C. Pengertian Puisi Kata puisi berasal dari bahasa Yunani poiesis yang berarti penciptaan.

  Tetapi arti yang semula ini lama kelamaan semakin dipersempit ruang lingkupnya menjadi “hasil seni sastra” yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat yang tertentu dengan mengunakan irama, sajak, dan kadang-kadang kata-kata kiasan. Dalam bahasa Inggris kata puisi adalah poetry yang erat berhubungan dengan kata 14 Suroto, Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia, (Jakarta: Erlangga, cet. ke- 6, 1989), hlm.114. 15

  

poet dan kata poem. Adapun mengenai kata poet ini Vencil C.Coulter memberi

  penjelasan sebagai berikut: “kata poet berasal dari kata yunani yang berarti membuat; mencipta.

  Dalam bahasa inggris kata poet ini lama sekali disebut maker. Dalam bahasa Yunani sendiri kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpengelihatan tajam, orang suci; yang sekaligus merupakan seorang filusuf, negarawan, guru, 16 orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.”

  Selanjutnya pendapat pengarang terkenal Edgar Allan Poe membatasi: “Puisi kata sebagai kreasi keindahan yang berirama (the rhythmical

  creation of beauty). Ukuran satu-satunya ialah rasa dengan intelek ataupun

  dengan kesadaran, puisi itu hanyalah memiliki hubungan-hubungan sekunder saja. Kalau tidaklah bersifat insindental, maka puisi itu tidaklah mempunyai hubungan apa-apapun baik dengan kewajiban maupun dengan 17 kebenaran.”

  Beberapa pendapat yang mengatakan bahwa puisi adalah ekspresi dari pengalaman manusia, antara lain pendapat Watts-Dutton dan Lascelles Abercrombie. Adalah:

  “Puisi adalah ekspresi yang kongkrit dan yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama”, kata Watts-Dunton, sedangkan Lescelles Abercrombie mengatakan bahwa “Puisi adalah ekspresi dari pengalaman yang bersifat imajinatif, yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa, yang memanfaatkan setiap rencana 18

  ” dengan matang dan tepat guna.

  Adapun pendapat lain mengatakan bahwa: “puisi sebagai salah satu sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. Dapat pula puisi di kaji jenis-jenis atau ragam-ragamnya, mengingat bahwa ada beragam-ragam puisi. Begitu juga, puisi dapat dikaji dari sudut kesejarahannya, mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dari waktu kewaktu puisi selalu ditulis dan selalu dibaca orang. Sepanjang 16 zaman puisi selalu mengalami perubahan, perkembangan. Hal ini

  Henry Guntur Tarigan, Prinsip-prinsip Dasar Sastra, (Bandung: Angkasa Bandung, cet, ke- 10, 1993), hlm. 4. 17 18 Ibid. hlm. 4.

  Ibid. hlm. 7. mengingat hakikatnya sebagai karya seni yang selalu terjadi ketegangan 19 antara konvensi dan pembaharuan.” a) Beberapa Batasan Puisi

  “Slamet Muljana menyatakan bahwa puisi merupakan bentuk kesusastraan yang menggunakan pengulangan suara sebagai ciri khasnya. Pengulangan kata itu menghasilkan rima, ritma, dan musikalitas. Batasan yang diberikan Slamet Muljana tersebut berkaitan dengan struktur fisiknya saja. James Reeves juga memberikan batasan yang berhubungan dengan struktur fisik dengan menyatakan bahwa puisi adalah ekspresi bahasa yang kaya dan penuh daya pikat. Bahasa puisi menurut Coleridge adalah bahasa pilihan, yakni bahasa yang benar-benar diseleksi penentuannya secara ketat oleh penyair. Karena bahasanya harus bahasa pilihan, maka gagasan yang harus dicetuskan harus diseleksi dan dipilih yang terbagus pula. Clive Sansom memberikan batasan puisi sebagai bentuk pengucapan bahasa yang ritmis, yang mengungkapkan pengalaman intelektual yang bersifat imajinatif dan 20 emosional.”

  “Jika pengertian itu ditinjau dari segi bentuk batin puisi maka Herbert Spencer menyatakan bahwa puisi merupakan bentuk pengucapan gagasan yang bersifat emosional dengan mempertimbangkan efek keindahan.

  Sedangkan Samuel Johnson menyatakan bahwa puisi adalah peluapan yang sepontan dari perasaan yang penuh daya yang berpangkal pada emosi yang berpadu kembali dalam kedamaian. Sementara itu P.B. Shelley menyatakan bahwa puisi merupakan rekaman dari saat-saat yang paling baik dan paling menyenangkan. Selanjutnya Thomas Carlyle menyatakan bahwa puisi merupakan ungkapan pikiran yang bersifat musikal. Dan T.S. Eliot 21 menambahkan bahwa yang di ungkapkan dalam puisi adalah kebenaran.”

  Kedua pengertian yang diuraikan di atas berkenaan dengan bentuk fisik puisi dan bentuk batin puisi. Bentuk fisik dan bentuk batin lazim disebut pula dengan bahasa dan isi atau tema dan struktur atau bentuk dan isi. Marjorie Boulton menyebut kedua unsur pembentuk puisi itu dengan bentuk fisik (physical form) dan bentuk mental (mental form). Bentuk fisik dan bentuk mental itu bersatu padu menyatu raga. Namun demikian keduanya dapat dianalisis karena bentuk fisik dan

  19 Rachmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi, ( Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, cet. ke-1, 1987), hlm. 3. 20 J. Herman Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi, (Bandung : Erlangga, cet. ke-1, 1987), hlm. 23. 21 bentuk batin itu juga didukung oleh unsur-unsur yang secara fungsional membentuk puisi.

  Jika dihubungkan dengan makna yang harus dikemukakan oleh penyair, Mattew Arnold menyatakan bahwa puisi hendaknya mengemukakan kritik terhadap kehidupan. McNaire menyatakan bahwa kritik itu merupakan reaksi penyair terhadap dunia. Ekspresi imajinasi penyair itu baru bernilai sastra jika penyair mampu mengungkapkannya dalam bentuk bahasa yang cermat dan tepat.

  Ini berarti bahwa pilihan kata-kata ungkapan, bunyi, dan irama harus benar-benar mendapat perhatian penyair.

  Didalam puisi harus terjelmakan perasaan dan cita rasa penyair. Sedangkan auden menyatakan bahwa yang diungkapkan penyair adalah perasaan yang kacau. Pengalaman yang diungkapkan penyair disamping bersifat emosional juga harus bersifat imajinatif.

  Selanjutnya, dinyatakan pula bahwa “seorang seniman dapat menghasilkan kretivitas jika sedang dalam

  “passion” yang berarti suasana jiwa yang luar biasa. Pengalaman jiwa dalam “passion” betul-betul disertai emosi yang mendalam yang 22 menghasilkan semangat luar biasa dan mampu menghas ilkan “ego integritas.” dengan

  “passion” puisi mampu mempengaruhi siapapun yang membacanya. “passion” itu terjadi diatas tingkat kreativitas penyair, yakni pada saat seseorang mengalami kedalaman emosi luar biasa melebihi “mood”. Tingkat perkembangan psikologis seseorang berada pada tingkat psikedelik dan iluminasi. Seluruh kesadaran penyair tertumpah pada kedalaman emosi yang ingin disampaikan itu.

  Ada pula pendapat lain yang menyataka n bahwa: “menelaah puisi, hendaknya diperhatikan tiga aspek utama, yakni: (1) aspek struktur luar karya puisi (externe strukturrelation); (2) aspek struktur batin (interne strukturrelation); 23

  (3) aspek dunia sekunder yang kompleks dan bersusun-susun. S. Effendi ” menyatakan bahwa dalam puisi terdapat bentuk permukaan yang berupa larik,bait,dan pertalian makna larik dan bait. Kemudian penyair berusaha mengkonkretkan pengertian-pengertian dan konsep-konsep abstrak dengan 22 Herman J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi, (Bandung: Erlangga, cet. ke-5, 1987), hlm.

  24. 23 menggunakan pengimajian pengiasan, dan pelambangan. Dalam mengungkapkan pengalaman jiwanya,bertitik tolak pada “mood” atau “atmosfer” yang dijelmakan oleh lingkungan fisik dan psikologis dalam puisi. Dalam memilih kata-kata, diadakan perulangan bunyi yang mengakibatkan adanya kemerduan atau eufoni. Jalinan kata-kata harus mampu memadukan kemanisan bunyi dengan makna.

  Adapun menurut I.A Richards menyebutkan adanya hakekat puisi untuk mengganti bentuk batin atau isi puisi dan metode puisi untuk mengganti bentuk fisik puisi. Diperinci pula bentuk batin yang meliputi perasaan (feeling), tema (sense), nada (tode),, dan amanat (intention). Sedangkan bentuk fisik atau metode puisi terdiri atas diksi (diction) kata konkret (the concrete word), majas atau bahasa figurative (figurative language) dan bunyi yang menghasilkan rima dan ritma (rhyme and rhytm).

  Dari batasan kedua tokoh tersebut, dapat dijelaskan bahwa unsur bahasa yang diperbagus dan diperindah itu dapat diterangkan melalui kata konkret dan majas (bahasa figurative). Secara terperinci majas dan kata konkret itu dijelaskan oleh Effend menjadi: pengimajian, pelambangan, dan pengiasan. Uraian di atas bermaksud menjelaskan bahwa bahasa yang digunakan dalam puisi adalah bahasa konotatif yang “multiinterpretable”. Makna yang dilukiskan dalam puisi dapat makna lugas, namun lebih banyak makna kias melalui lambang dan kiasan. Makna itu diperinci lagi menjadi tema dan amanat yang didasarkan atas perasaan dan nada (suasana batin) penyairnya. Tema berhubungan dengan arti karya satra, sedangkan amanat berhubungan dengan makna karya. Tema bersifat lugas, obyektif, dan khusus, sedangkan amanat bersifat kias, subyektif, dan umum. Untuk memberikan pengertian puisi secara memuaskan cukup sulit. Namun beberapa pengertian yang tidak dapat dirangkum dalam satu kalimat dapat dipaparkan di sini. Beberapa pengertian di atas jika didata dapat disebutkan sebagai berikut :

   “Dalam puisi terjadi pengkonsentrasian atau pemadatan segala unsur kekuatan bahasa;  Dalam penyusunannya, unsur-unsur bahasa itu dirapikan, diperbagus, diatur sebaik-baiknya dengan memperhatikan irama dan bunyi;

   Puisi adalah ungkapan pikiran dan perasaan penyair yang berdasarkan

  mood atau pengalaman jiwa dan bersifat imajinatif;

   Bahasa yang dipergunakan bersifat konotatif; hal ini ditandai dengan kata konkret lewat pengimajian, pelambangan, dan pengiasan, atau dengan kata lain dengan kata konkret dan bahsa figurative.bentuk fisik dan bentuk batin puisi merupakan kesatuan yang bulat dan utuh menyatu raga tidak dapat dipisahkan dan merupakan kesatuan yang padu. Bentuk fisik dan bentuk batin itu dapat ditelaah unsur-unsurnya hanya dalam kaitannya dengan keseluruhan. Unsur-unsur itu hanyalah berarti dalam totalitasnya 24 dengan keseluruhannya.” Adapun pendapat Suzanne Said and Monique Trede Translated by Trista

  

Selous and others dengan karangannya yang berjudul A Short History Of Greek

Literature mengemukakan puisi hesoid adalah: The poetry of Hesiod. Hesiod “Apart from the so-called `Homeric' poetry heroic narratives and the hymns

that introduced them - the other important poet of the period was Hesiod. The

Ancients always coupled and contrasted the two names. The Contest of Homer

and Hesiod (Certamen Homeri et Hesiodi), which has come down to us, opposed

the two poets, each reciting the finest passages from his work, and, in the fifth

century BC, the historian Herodotus considered them to be the founders of Greek

theology (11, 53). Hesiod's poetry uses the same m rre and language as that of

Homer; yet, despite these formal similarities, it is the differences between the two

poetic worlds that are most striking. Not for Hesiod the pleasure of relating

heroic adventures; instead he codifies traditions, both mythological and

agricuitural, describing the world of the farmers of Boeotia rather than that of

Ionia or the aristocratic courts. Nor is he an anonymous poet simply echoing the

words of the god. In the two works which have come down to us, Theogony and

Works and Days, he talks about himself.

24 J. Herman Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi, (Bandung : Erlangga, cet. ke-1, 1987),

  At the start of the Theogony Hesiod tells how, when he was grazing his

lambs below Helicon, he received the rhapsodic staff and was consecrated as a

poet by the Muses. In Works and Days he relates his quarrel with his brother

Perses, refers to his father, who left the Aeolian city of Cyme for Ascra, a village

in Boeotia, where he worked hard to cultivate the poor soil, and mentions the

prize that he himself won for his song in Chalcis at Amphidamas' funeral games

(this event, which historians tend to place in the last third of the eighth century sc,

gives an approximate date for the poet's most active period). Hesiod is present in

his work, seemingly confident in the belief that his poems will be transmitted to

posterity under his name and in the form he has given them. This suggests that

their texts were fixed in writing.

  Hesiod was the first author to introduce his work in this way, bringing a new

tone to poetry. Yet in other ways his work is surprising for its archaism. This is

25 .” particularly true of the Theogony. PuisiHesiod

  Dari tulisan di atas dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah: Terlepas dari apa yang disebut puisi Homer kisah heroik dan himne yang memperkenalkan mereka penyair penting pada zaman itu Hesiod. The Ancients selalu ditambah dan kontras dua nama. Kontes dari Homer dan Hesiod (Certamen

  

Homeri et Hesiodi), yang telah sampai kepada kita, menentang dua penyair,

  masing-masing membacakan ayat-ayat terbaik dari karyanya, dan, pada abad kelima SM, Herodotus sejarawan menganggap mereka sebagai pendiri teologi Yunani (11, 53). Puisi Hesiod yang menggunakan RRE m yang sama dan bahasa seperti yang dilakukan Homer, namun, meskipun kesamaan formal, itu adalah perbedaan antara dua dunia puitis yang paling mencolok. Bukan untuk Hesiod kenikmatan berhubungan petualangan heroik, melainkan ia codifies tradisi, baik mitologi dan agricuitural, menggambarkan dunia petani Boeotia bukan dari Ionia atau pengadilan aristokrat. Juga tidak ia sebuah anony penyair MoU hanya menggemakan kata-kata dewa. Dalam dua karya yang telah sampai kepada kita, Theogony dan Pekerjaan sehari-hari, ia Berbicara tentang dirinya sendiri. 25 Suzanne said, and Monique, A short History of greek Literature, (London: Routledge, cet.

  Pada awal dari Hesiod Theogony menceritakan bagaimana, ketika dia merumput domba-nya di bawah Helicon, ia menerima staf kagum dan ditahbiskan sebagai penyair oleh Muses. Dalam Pekerjaan dan Hari-hari ia berkaitan pertengkaran dengan Perses saudaranya, mengacu pada ayahnya, yang meninggalkan kota Aeolian dari Cyme untuk Ascra, sebuah desa di Boeotia, di mana ia bekerja keras untuk mengolah tanah yang buruk, dan menyebutkan hadiah yang dia sendiri menang untuk lagu di Chalcis di game pemakaman

  

Amphidamas '(ini acara, yang sejarawan cenderung untuk menempatkan pada

  sepertiga terakhir abad kedelapan, memberikan tanggal perkiraan untuk periode penyair yang paling aktif). Hesiod hadir dalam karyanya, tampaknya confi penyok dengan keyakinan bahwa puisi-puisinya akan ditularkan ke anak cucu di bawah nama dan dalam bentuk yang telah dia berikan kepada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa teks-teks mereka yang tetap secara tertulis.

  Hesiod adalah penulis pertama yang memperkenalkan karyanya di pedoman

  ini, membawa nada baru untuk puisi. Namun dengan cara lain karyanya adalah mengejutkan bagi arkaismenya. Hal ini terutama berlaku dari theogony.

  Adapun pendapat lain mengatakan bahwa: “pembagian kesusastraan menurut zamannya memperlihatkan pula bentuk-bentuk tertentu puisi tiap zaman 26 Jadi puisi pun menurut zamannya dapat kita bedakan atas: itu.”

  1. Puisi Lama Puisi lama adalah puisi peningggalan sastra melayu. Ada yang asli dan ada pula berasal dari puisi-puisi asing yaitu Arab, Parsi, dan India. Puisi baru ialah bentuk puisi Indonesia, dipengaruhi puisi Barat, puisi baru banyak dipengaruhi oleh puisi Belanda terutama angkatan 80-nya (De Tachtigers). Sedangkan puisi modern (mulai dari angkatan ’45) dipengaruhi oleh puisi dunia (Inggris, Prancis, Rusia, Italia, Spanyol, dan lain-lain) perbedaan utama puisi tiga zaman ini terletak 27 pada sifat keterikatan dan kebebasan dalam mencipta. ”

  Adapun menurut Herman J. Waluyo puisi lama kita mengenal gurindam, pantun, syair, dan talibun. Yaitu: 26 J.S.Badudu, Sari Kesusastraan Indonesia, ( Bandung: Pustaka Prima, cet. ke-40, 1986 ), hlm. 5. 27

   Gurindam Gurindam adalah jenis puisi lama yang terdiri atas dua baris, semuanya merupakan isi dan menunjukan hubungan sebab akibat.

   Pantun Pantun adalah jenis puisi lama yang terdiri atas empat baris, memiliki rima, dengan baris pertama dan kedua merupakan sampiran dan baris ketiga dan keempat merupakan isi.

   Syair Syair adalah puisi lama yang terdiri atas empat baris perbait, memiliki rima. Semua baris merupakan isi dan biasanya tidak selesai dalam satu bait karena 28 digunakan untuk bercerita .”

  2. Puisi Baru Puisi baru adalah puisi yang mengalami perkembangan yang sangat pesat sekali. Perubahan-perubahan yang terjadi sangat bertentangan dengan puisi lama jika dilihat dari motif dan dasarnya. Tentunya dalam puisi baru memancarkan kehidupan masyarakat yang baru, baru dalam corak hidupnya, baru dalam pandangan dan baru pula kriteria-kriteria puisinya. Karya dalam puisi baru bukan hanya merupakan karya dalam permainan bahasa saja, melainkan dalam puisi- puisi baru terlihat adanya konsentrasi yang penuh dan teliti dari penyairnya. Adapun menurut J.S. Badudu

  “Puisi baru di Indonesia lahir dalam tahu dua puluhan. Sebenarnya bukan angkatan pujangga baru yang memulai melahirkan bentuk-bentuk puisi baru, melainkan beberapa pengarang yang lebih tua dari pada

  .”29

  mereka yang biasanya disebut juga angkatan pra-pujangga baru

  3. Puisi Modern Puisi Indonesia modern bermula sejak zaman pendudukan jepang. Dipelopori oleh Chairil anwar almarhum. Puisi baru pujangga baru, juga dengan bentuk sonetanya tidak lagi menarik angkatan muda yang kemudian dinamakan angkatan ’45 itu. Bagi mereka puisi baru masih belum bebas seratus persen. 28 Herman J. Waluyo, Apresiasi Puisi, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, cet. ke- revisi, 2002), hlm. 46-49-50. 29 J.S.Badudu, Sari Kesusastraan Indonesia, ( Bandung: Pustaka Prima, cet. ke-40, 1986 ),

  Bentuk haruslah sesuai dengan irama jiwa dan gerak sukma yang hendak dicetuskan. Pencipta tidak boleh terikat dan terkungkung oleh ketentuan-ketentuan yang sudah disediakan lebih dahulu.

  Selain pembagian menurut bentuk, puisi pun dibeda-bedakan menurut isinya, misalnya: “Puisi yang melukiskan keindahan alam, Puisi yang membayangkan kasih sayang kepada kekasih; Puisi yang berisi semangat cinta tanah air; Puisi yang menerima pujaan kepada Zat Yang Maha Tinggi atau kepada seseorang yang berjasa

  .”30

  Selain itu puisi barat membeda-bedakan beberapa jenis puisi yang dinamakan: balada, romance, elegy, ode, himne, epigram, satire.  Balada ialah puisi yang berisi kisah. Cerita; boleh berbentuk epik, boleh juga lirik.

   Romance ialah puisi yang berisi luapan perasaan kasih sayang terhadap kekasih.  Elegi ialah sajak bersedih-sedih, suara sukma yang meratap-ratap batin yang Merintih.  Ode ialah sajak yang berisi pujian dan sanjungan terhadap seseorang yang besar jasanya dalam masyarakat, seorang yang dianggap pahlawan bangsa karena darma baktinya kepada nusa dan bangsa.

   Himne ialah sajak pujaan kepada Tuhan atau sajak keagamaan.  Epigram ialah sajak yang berisi ajaran hidup, semangat perjuangan.  Satire ialah sajak yang berisi kritik atau sindiran yang pedas atas kepincangan-kepincangan yang terlihat dalam masyarakat.

  Puisi adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat hubungannya, dan sebagainya. Sesuai dengan pendapat ahli mengatakan : 30 Ibid, hlm. 30.

  "Slamet Mulyana memberi batasan puisi dengan menggunakan pendekatan psikolinguistik, karena puisi merupakan karya seni yang tidak saja berhubungan dengan masalah jiwa. Dengan pendekatan itu Slamet Mulyana menyimpulkan bahwa puisi adalah sintesis dari berbagai peristiwa bahasa yang telah tersaring semurni-murninya dan berbagai proses jiwa yang mencari hakikat pengalamanya, tersusun dengan sistem 31

  ."

  korespondensi dalam salah satu bentuk Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk membuat batasan tentang puisi bukanlah suatu pekerjaan yang gampang dan amat sukar. Hal tersebut dikarenakan batasan tersebut harus diungkapkan dalam kalimat yang efektif, efesien dan harus singkat sehingga mudah dipahami dan dimengerti oleh pembaca. Namun demikian, berikut ini akan dikemukakan beberapa pendapat ahli mengenai batasan puisi antara lain: "puisi merupakan kekaguman yang bersatu dengan pikiran atau dengan kata lain emosi pikiran bersatu dengan cara nyata dalam situasi yang imajinatif sifatnya.Sedangkan pendapat lain mengenai batasan puisi mengatakan sebagai berikut:

  "Sebuah karya puisi merupakan pancaran kehidupan sosial, gejala aspek yang ditimbulkan oleh adanya interaksi baik secara langsung maupun tidak langsung, secara sadar maupun tidak sadar dalam suatu masa atau periode tertentu. Sehingga pancaran itu tadi berlangsung untuk sepanjang masa selama nilai pancaran itu berlaku, setama nilai estetis dari sebuah karya 32 puisi itu berlaku dalam masyarakat ."

  “Adapun yang jelas dalam pengertian puisi sekarang bahwa ketradisian itu hilang, dalam arti sebuah karya puisi tidak hanya berlaku bagi suatu daerah tertentu melainkan berlaku universal bagi bangsa ataupun bagi setiap umat dimuka bumi ini. Dengan demikian setiap persoalan penyair adalah merupakan 33

  ."

  sample dari persoalan umat manusia Apabila kita lihat dari berbagai pendapat di atas mengenai batasan puisi mempunyai pernbedaan, antara lain pendapat Jalil dan Situmorang lebih mengacu atau berdasarkan kepada bentuk bathin dari sebuah puisi. Hal tersebut dikarenakan 31 M. Atar Semi, Anatomi Sastra, (Padang: Angkasa Raya Padang, cet. ke-10, 1988), hlm.

  93. 32 Dianie Abdul Jalil, Teori dan Periodisasi Puisi Indonesia, (Jakarta : Pustaka Taraby, cet. ke- 1, 1983), hlm. 11. 33

  yang lebih ditonjolkan dari kedua pendapat di atas adalah isi dari puisi tersebut. Sedangkan pendapat Effendy lebih menyangkut kepada bentuk puisi. Di dalam batasan tersebut hanya menyoroti tentang bentuk fisik di mana batasan ini hanya menyoroti dari sudut bah-asa yang digunakan oleh sipenyair.

  Untuk mendapatkan batasan yang lebih tentang batasan puisi tersebut, maka berikut ini dikutip pendapat ahli yang mengatakan, Puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur bathin.

  Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksudkan dengan puisi adalah puisi adalah sebuah karya sastra yang mengungkapkan ide, perasaan dan pikiran seorang penyair atau pengalaman jiwanya yang bersifat imajinatif. Puisi merupakan pancaran kehidupan sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

  ”Untuk memperoleh gambaran bagi kita betapa sulitnya memperoleh kata sepakat untuk membatasi kata puisi itu disebabkan oleh perbedaan pandangan serta konsepsi, maka ada baiknya terapkan lagi beberapa pendapat: Samuel Johnson berpendapat bahwa “puisi adalah peluapan spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya; dia bercakal-cakal dari emosi yang berpadu kembali dalam kedamaian”dan bagi Byron “puisi merupakan lava imajinasi, yang letusanya mencegah gempa bumi” sedangkan bagi Percy Byssche Shelley “puisi adalah rekaman dari saat- saat yang paling baik dan paling menyenangkan dari pikiran-pikiran yang 34

  .”

  paling baik dan paling menyenangkan

  2. Hakikat puisi “Struktur fisik puisi adalah medium untuk mengungkapkan makna yang hendak disampaikan penyair. I.A Richard menyebutkan makna atau struktur batin 35 itu dengan istilah hakikat puisi." Ada empat unsur hakikat puisi. Yakni: tema

  (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca

  34 Henry Guntur Tarigan, Prinsip-Prinsip Dasar Sastra, (Bandung: Angkasa Bandung, cet. ke- 10, 1993), hlm. 5. 35 Henry Guntur Tarigan, Prinsip-Prinsip Dasar Sastra, (Bandung : Fkks-Ikip, cet. ke- 1, 1985 ), hlm. 5.

  (tone), dan amanat (intention). Keempat unsur itu menyatu dalam ujud penyampaian bahasa penyair. Dari empat unsur di atas akan diuraikan yakni: a) Tema (sense)

  Tema merupakan gagasan pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh pemyair. Pokok pikiran atau pokok persoalan itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Jika desakan yang kuat itu berupa hubungan antara penyair dengan Tuhan, maka puisinya bertema ketuhanan. Jika desakan yang kuat berupa rasa belaskasih atau kemanusiaan, maka puisi bertema kemanusiaan. Jika yang kuat adalah dorongan untuk memprotes ketidakadilan, maka tema puisinya adalah protes atau kritik sosial. Perasaan cinta atau patah hati yang kuat juga dapat melahirkan tema cinta atau tema kedudukan hati karena cinta. Dengan latar belakang pengetahuan yang sama, penafsir-penafsir puisi akan memberikan taesiran tema yang sama bagi sebuah puisi, karena tema puisi bersifat lugas, obyektif, dan khusus. Tema puisi harus dihubungkan dengan penyairnya, dengan konsep-konsepnya yang terimajinasikan.

  b) Perasaan (feeling) Dalam menciptakan puisi, suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca. Untuk mengungkapkan tema yang sama, penyair yang satu dengan perasaan yang berbeda dari penyair lainnya, sehingga hasil puisi yang diciptakan berbeda pula. Dalam menghadapi tema keadilan social atau kemanusiaan, penyair banyak menampilkan kehidupan pengemis atau orang gelandangan.

  c) Nada (tone) Dalam menulis puisi, penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca, apakah dia ingin bersikap menggurui, menasihati, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. Sikap penyair kepada pembaca ini disebut nada puisi. Sering kali puisi bernada santai karena penyair bersikap santai kepada pembaca. Hal ini dapat dijumpai dalam puisi-puisi mbeling. Jika nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca, maka suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca. Jiika kita bicara tentang sikap penyair, maka kita berbicara tentang nada; jika kita bicara tentang sikap suasana jiwa pembaca yang timbul setelah membaca puisi, maka kita berbicara tentang suasana. Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap membacanya. Nada duka yang diciptakan penyair dapat menimbulkan suasana iba hati pembaca. Nada kritik yang diberikan penyair dapat menimbulkan suasana penuh pemberontakan bagi pembaca. Nada religius dapat menimbulkan suasana khusyus. Begitu seterusnya. Berikut ini dikutip puisi dengan nada menyindir yang bersifat sinis. Namun nada sinis itu bersifat filosofis juga karena merenungkan hakikat hidup kita. Pembaca harus merenungkan makna puisi ini, agar mampu menghayati pesan yang hendak disampaikan subagio satrowardojo.

  d) Amanat (pesan) Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair dapt ditelaah setelah kita memahami tema,rasa, dan nada puisi itu. Tujuan/amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat tersirat di balik kata- kata yang disusun, dan juga berada di balik tema yang diungkapkan. Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair mungkin secara sadar berada dalam pikiran penyair, namun lebih banyak penyair tidak sadar akan amanat yang diberikan.banyak penyair yang tidak menyadari apa amanat puisi yang ditulisnya. Mereka yang berada dalam situasi demikian biasanya merasa bahwa menulis puisi merupakan kebutuhan untuk berekspresi atau kebutuhan untuk berkomunikasi atau kebutuhan untuk aktualisasi diri. Bagaimanapun juga, karena penyair adalah manusia yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan manusia biasa dalam hal menghayati kehidupan, maka karyanya pasti mengandung amanat yang berguna bagi manusia dan kemanusiaan.

  Sesuai dengan tema yang dikemukakan, ada puisi dengan tema ketuhanan, pendidikan, kebangsaan (patriotic), kedaulatan rakyat dan keadilan sosial, maka dapat disebutkan secara garis besar bahwa rasa puisi yang mengandung amanat yang sesuai dengan tema yang dikehendaki namun kemudian kita harus bertanya: dengan tema itu penyair mau apa? Bertujuan apa? Bermaksud bagaimana? Maka dalam meremuskan amanat itu, tema harus dilengkapi dengan perasaan dan nada yang dikemukakan penyair. Jadi, tema ketuhanan yang sama mungkin mengandung amanat yang berbeda karena penyair mempunyai perasaan, nada dan suasana hati yang berbeda pula.

D. Jenis-Jenis Puisi

  Puisi dapat dibedakan atas beberapa macam. Macam-macam puisi itu dapat dibagi menurut isi, bentuk, dan ketersuratan serta ketersiratan makna puisi. Berdasarkan isi secara garis besar puisi dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu (1) puisi, (2) puisi naratif, dan (3) puisi dramatis.

   Puisi Liris, adalah puisi yang berisi curahan perasaan pribadi dan yang diutamakan ialah lukisan perasaan. Pelukisan perasaan sebagai akibat adanya kontak antara si pembuat puisi dengan alam sekitar, dengan manusia lain baik sebagai indivindu maupun sebagai kelompok, dan dengan pencipta.

   Puisi Naratif, puisi dramatis puisi yang menjelaskan atau menceritakan sesuatu.dengan lebih intens, lebih kuat dalam gaya pengungkapan atau penceritaan. Dalam puisi dramatis ada kesan pergolakan jiwa.

   Puisi Dramatis, adalah puisi yang memenuhi persyaratan drama. Kualitas dramatis diperoleh dengan menggunakan dialog, monolog, diksi yang kuat, ataupun dengan menekankan pertikaian emosional atau situasi tegang. Berbeda dengan puisi liris atau puisi naratif, puisi dramatis mengungkapkan atau menceritakan sesuatu dengan lebih intens, lebih kuat dalam gaya pengungkapan atau penceritaan

  .” 36 Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis

  puisi tersebut dapat dibagi atas tiga golongan besar, yaitu: Puisi liris, puisi naratif, dan puisi dramatis.

  Ditinjau dari segi periodisasi kelahiran puisi kita mengenal adanya istilah puisi lama dan puisi baru atau sering pula dibedakan atas puisi tradisional dan puisi modern. Dalam puisi tradisional kita jumpai pula berbagai bentuk syair, 36 Ibrahim, Buku Materi pokok Kesusastraan PINA 2234/2 SKS/Modul 4-6, (Jakarta: pantun, gurindam, pribahasa, sonata, dan lain-lain. Ditinjau dari segi gaya penulisan, dapat membagi puisi atas dua jenis: a) Puisi diaphaan (polos)

  Puisi diaphaan adalah puisi yang menyatakan suatu maksud dengan sedikit sekali memakai lambing-lambang atau symbol-simbol. Kata-kata yang digunakan adalah kata-kata yang denotative, yaitu kata-kata yang masih mendukung arti yang dikenal secara umum dalam pemakaiannya sehari-hari. Dengan demikian puisi tersebut disampaikan secara polos tanpa lambing-lambang; karenanya puisi tersebut tidak banyak menggunakan atau meminta asosiasi mental dalam memahaminya. Dengan kata lain, puisi tersebut dapat ditangkap makna atau maksudnya dengan mudah. Pada umumnya puisi tradisional dapat digolongkan ke dalam jenis puisi diaphaan ini. Sunggupun demikian puisi modern pun masih banyak yang dapat digolongkan ke dalam jenis ini. Dalam arti bahwa puisi tersebut tidak terlalu ditangkap maksudnya. Pada umumnya puisi yang digolongkan ke dalam jenis ini adalah puisi-puisi yang bersifat naratif, yang bersifat membeberkan atau bercerita tentang sesuatu.

  b) Puisi Prismatik (membias).

  Puisi ini menyatakan sesuatu maksud atau pengertian dengan menggunakan lambing-lambang, dengan kiasan-kiasan, dan dengan kalimat yang tidak langsung menyatakan maksud. Kata-kata yang dipakai pada umumnya adalah kata-kata yang konotatif.

  Puisi bila ditinjau dari bentuk mentalnya dapat pula dibagi atas jenis utama, yaitu epic, lirik, dramatik, atau naratif. Yakni:  Epik adalah salah satu jenis puisi yang panjang. Ia menceritakan suatu peristiwa atau kejadian yang pada umumnya menyangkut tokoh-tokoh yang gagah perkasa, pemberani dalam membela kebenaran. Pada umumnya epik menyuguhkan sebagian besar tentang konflik fisik atau spiritual  Epik naratif adalah puisi yang menggambarkan tentang kepahlawanan atau tentang penderitaan hidup yang disampaikan secara indah tetapi karakter pelakunya sederhana dan puisinya tidak panjang sebagaimana epik.

   Lirik ialah puisi yang sangat pendek yang mengepresikan emosi. Lirik ini diartikan juga sebagai puisi yang dinyanyikan, karena itu ia disusun dalam susunan yang sederhana dan mengungkapkan sesuatu yang sederhana pula. Pada umumnya puisi yang pendek dapat digolongkan kedalam jenis ini.

  c) Puisi Dramatik Yaitu puisi yang berbentuk dialog. Ia biasanya dibaca oleh lebih dari satu orang agar lebih dapat dihayati atau ditangkap pesanya secara baik.

  “Menurut majorie Boulton membagi anatomi puisi atas dua bagian, yaitu bentuk fisik dan bentuk mental. Namun Boulton mengaku bahwa adalah tidak mungkin untuk membedakan bentuk fisik dengan bentuk mental secara komplit karena kedua bentun berinterrelasi satu dengan yang lain. Oleh sebab itu bila kita harus membicarakan bentuk fisik dan bentuk mental sebuah puisi maka dalam pembicaraan tidak dapat dilihat pertalian satu sama lain .” 37 E. Metode dalam Puisi

  Untuk menghasilkan puisi yang baik atau berhasil memikat pembacanya haruslah mempunyai persyaratan-persyaratan. Salah satunya adalah tentang metode puisi. Adapun metode puisi adalah sebagai berikut:

   Diksi atau Pilihan Kata  Imajinasi atau Imagery  Kata-Kata Konkrit  Gaya Bahasa  Ritme dan Irama Untuk lebih jelasnya tentang kelima metode puisi tersebut, berikut ini akan dibahas satu per satu sebagai berikut:

  a) Diksi atau Pilihan Kata Diksi atau pilihan kata adalah pilihan kata yang dilakukan oleh seorang penyair di dalam proses penciptaan sebuah puisi. Kata-kata yang digunakan oleh seorang penyair di dalam menciptakan sebuah puisi tersebut harus benar-benar dilakukan secara cermat dan teliti. Hal tersebut perlu dilakukan karena erat hubungannya dengan keberhasilan penyair dalam mengungkapkan perasaan dan 37 M. Atar Semi, Anatomi Sastra, (Padang: Angkasa Raya Padang, cet. ke-10, 1988), hlm. pikirannya dalam bentuk puisi dapat dipahami dan dimengerti oleh pembacanya. Hal tersebut di atas sesuai dengan pendapat ahli yang mengatakan sebagai berikut: "Diksi (diction) adalah pilihan kata yang dipergunakan oleh penyair dengan cermat dan teliti, bagaimana memilih kata-kata yang benarbenar mengandung arti yang sesuai dengan maksud puisinya, baik dalam makna denotatifnya maupun 38 dalam artinya konotatif .”

  Berdasarkan uraian dan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan seorang penyair dalam memilih kata-kata yang tepat akan sangat menentukan keberhasilan proses pembuatan puisi yang dilakukannya tersebut.

  b) Imajinasi atau Imagery Dalam menyampaikan pengalaman, perasaan atau pikirannya dan dapat menarik perhatian pembacanya, maka salah satu cara penyair melakukannya adalah dengan pemilihan dan penggunaan kata-kata yang tepat. Hal tersebut dilakukan untuk dapat memperjelas daya bayang para pembaca atau menjelma dalam gambaran yang nyata. Dalam menciptakan sebuah puisi, seorang penyair berusaha agar puisinya tersebut dapat dirasakan, dialami atau bahkan dilihat oleh pembaca. Dengan kata lain imajinasi merupakan daya bayang yang dipergunakan oleh penyair untuk menggugah perasaan dan pikiran pembacanya.

  Hal tersebut di atas sesuai dengan pendapat ahli yang mengatakan sebagai berikut:"Pilihan kata serta penggunaan kata-kata yang tepat itu dapat memperkuat, serta memperjelas daya bayang pikiran, namun dapat pula mendorong imajinasi 39

  ."

  kita memperjelas gambaran yang nyata

  c) Kata-Kata Konkrit Untuk dapat menarik perhatian ataupun untuk meningkatkan daya imajinasi pembaca, maka seorang penyair harus dapat menggunakan kata-kata yang konkrit.

  Semakin tepat seorang penyair dalam memilih kata-kata yang konkrit, maka semakin baik pula dia menjelmakan puisinya tersebut kepada pembaca.

  38 Henry Guntur Tarigan, Prinsip-Prinsip Dasar Sastra, (Bandung: Fkks, Ikip, cet. Ke- 1, 1985), hlm. 29. 39 Ibid. hlm. 30.

  Uraian tersebut di atas sesuai dengan pendapat ahli yang mengatakan sebagai berikut: "Salah satu cara untuk membangkitkan daya bayang atau imajinasi para penikmat sesuatu sajak adalah dengan mempergunakan katakata yang tepat. Kata-kata yang konkrit, yang dapat menyarankan suatu pengertian secara menyeluruh. Semakin tepat seorang penyair menempatkan kata- kata yang penuh asosiasi dalam karyanya, maka semakin baik pulalah dia menjelmakan imajinasi, sehingga para penikmat, bahwa mereka benar- benar melihat, mendengar, merasakan, pendeknya mengalami segala

  

."

40

  sesuatu yang dialami sang penyair Berdasarkan uraian dan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa seorang penyair dalam menciptakan sebuah puisi harus dapat melakukan pemilihan kata-kata yang konkrit. Karena dengan kata-kata yang konkrit tersebut akan dapat menjelmakan imajinasi para pembacanya.

  d) Gaya Bahasa Gaya bahasa merupakan salah satu cara penyair dalam menggunakan bahasa untuk melukiskan pikiran dan perasaanya, sehingga puisinya tersebut dapat membangkitkan imajinasi dan menarik perhatian pembacanya. Dengan kata lain berbagai gaya bahasa yang digunakan oleh seorang penyair di dalam memperjelas maksud dan makna yang terkandung di dalam puisinya tersebut.

  Untuk lebih jelas tentang pemakaian gaya bahasa tersebut, berikut ini dikutip pendapat ahli yang mengatakan sebagai berikut: "Gaya bahasa majas (Figurative Language) adalah merupakan bahasa kiasan atau gaya bahasa. Setiap orang tentu ingin mengeluarkan pikiran dan pendapat dengan sejelas-jelasnya kepada orang lain, kadang-kadang dengan kata-kata belumlah begitu jelas untuk menerangkan sesuatu, oleh karena itu dipergunakanlah

  " 41 persamaan, perbandingan, serta kata-kata kiasan lainnya.

  Adapun pendapat lain mengatakan bahwa : “gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata latin

  

stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian

  menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan 40 Henry Guntur Tarigan, Prinsip-Prinsip Dasar Sastra, (Bandung : Fkks-Ikip, cet. ke-1, 1985),hlm. 31-32. 41 tadi. Kelak pada waktu penekanan dititik beratkan pada keahlian untuk menulis indah, maka style lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis 42 atau mempergukan kata- Adapun pendapat lain mengatakan kata secara indah.” tentang gaya bahasa yaitu:“Gaya bahasa adalah susunan perkataan yang timbul dari pengarang atau pembicara, baik disengaja maupun tidak disengaja yang menimbulkan kesan tertentu. Cara melahirkan perasaan dan pikiran itu memberikan gaya kepada bahasa pengarang. Pada umumnya kepada gaya itulah 43 bergantung tercapai atau tidaknya maksud yang ingin di ungkapkan.”

  Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah cara pengarang dalam mempergunakan bahasa dalam menyampaikan perasaan dan pikirannya. Dalam menyampaikan perasaan dan pikirannya tersebut, kadang-kadang dengan kata-kata belumlah begitu jelas bagi pembaca dalam menerangkan sesuatu, sehingga digunakanlah kata-kata persamaan, perbandingan ataupun kata-kata kiasan lainnya.

  e) Ritme dan Irama Irama adalah tinggi atau rendah, cepat atau lambatnya sebuah puisi tersebut dibaca dengan bersuara. Sedangkan ritme adalah persamaan bunyi yang kita temukan pada akhir baris atau di awal setiap bait puisi dan pada katakata tertentu pada setiap baris puisi. Ritme dan irama mempunyai hubungan yang sangat erat dengan keempat hakekat puisi yang telah dibahas di atas, sehingga apabila terjadi perubahan pada ritme dan irama dalam sebuah puisi akan menimbulkan pula perubahan pada keempat hakekat puisi tersebut. Untuk lebih jelas tentang ritme dan irama tersebut, berikut ini dikutip pendapat ahli yang mengatakan sebagai berikut: "Dengan demikian jumlah bahwa kita barulah dapat mengetahui kaki sanjak yang terdapat pada setiap lirik atau bait sebuah puisi, setelah kita mendengar atau pembaca puisi tersebut. bahkan kadang-kadang untuk menangkap isi sebuah puisi kita harus membacanya secara nyaring dan indah berulang-ulang

  42 Gorys Keraf, Diksi dan Gaya Bahasa, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, cet. ke-10, 1999), hlm. 112. 43 F.X. Mudjihardja, Sari-Sari kesusastraan Indonesia, (Jakarta: PT. Galaxy Puspa mega, cet. dengan memperhatikan apakah iramanya tepat atau tidak. Dan bertambah

  " 44 yakinlah kita betapa erat hubungan antara puisi dengan seni suara.

  Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk dapat mengetahui kaki sanjak yang terdapat dalam setiap lirik atau bait dalam sebuah puisi, maka kita harus mendengar atau membaca puisi tersebut secara berulang- ulang.

F. Tujuan Pengajaran Puisi

  Salah satu materi pengajaran bahasa dan sastra Indonesia adalah tentang pengajaran puisi. Pengajaran bahasa dan sastra Indonesia tersebut telah dilaksanakan dari tingkat sekolah dasar sampai pada tingkat perguruan tinggi. Adapun tujuan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia tersebut adalah agar siswa dapat mampu menghargai dan menikmati karya sastra tersebut sesuai dengan kemampuan dan penalaran siswa.

  Adapun pengajaran puisi merupakan salah satu dari bagian dari pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, maka membicarakan tujuan pengajaran apresiasi sastra berarti juga membicarakan tentang tujuan apresiasi puisi. Karena puisi merupakan salah satu dari hasil karya sastra.

  Untuk lebih jelasnya tentang tujuan pengajaran apresiasi sastra atau puisi tersebut, berikut ini dikutip pendapat ahli yang mengatakan sebagai berikut:  Menanamkan apresiasi seni pada anak.  Membangkitkan kegemaran kepada anak didik.  Memberikan dorongan dan memupuk bakat anak didik yang berbakat menjadi deklamator atau pemain sandiwara.

   Membuka jalan bimbingan kepada anak didik, yang berbakat untuk mampu menyusun sajak, cerita pendek, drama dan lain-lain.  Menunjukkan bahwa dalam karya sastra banyak hal-hal yang sejalan 44 dengan Pancasila, keutuhan, perihal-perihal kemanusiaan dan seterusnya.

  Henry Guntur Tarigan, Prinsip-Prinsip Dasar Sastra, (Bandung : Fkks-Ikip, cet. ke-1, 1985), hlm. 32.

   Membangkitkan bahwa sastra adalah suatu sarana untuk merumuskan kebudayan kepada generasi mendatang.  Membantu pengajaran bahasa terutama kemampuan berbahasa dan tata bahasa Statistika, karena sastra-sastra menyajikan pemakaian bahasa dalam berbagai situasi.

   Memberikan bahan untuk pendidikan moral.  Menyiapkan anak didik untuk menempuh ujian akhir.  Menyiapkan anak didik bagi profesi, misalnya: bagi sekolah pendidikan guru.

   Menyiapkan anak didik mengerjakan tes ke perguruan tinggi.

  Karena tujuan pengajaran puisi merupakan bagian dari pengajaran sastra, maka pendapat ahli di atas juga berlaku sebagai tujuan dari pengajaran puisi. Dengan adanya pengajaran puisi, maka akan dapat meningkatkan atau menambah pengetahuan siswa, menghargai karya sastra, membina watak dan pengetahuan pembentukan kepribadian para siswa.

  Untuk mendapat hasil pengajaran sastra tersebut di atas, maka peranan guru bidang studi bahasa dan sastra Indonesia dalam hal ini sangat menentukan. Untuk dapat memberikan kenyamanan bagi para siswa dalam pengajaran puisi, guru harus dapat menciptakan suasana belajar yang dapat memberikan dorongan kepada siswa untuk dapat menerima pengajaran puisi. Untuk dapat memberikan pengajaran sastra atau puisi yang baik, Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk dapat melakukan pengajaran sastra atau puisi yang baik kepada siswa, maka seorang guru bidang studi bahasa dan sastra Indonesia harus mengenal sastra itu sendiri, menguasai sastra dengan baik, memahami hakekat dan tujuan pengajaran sastra, mampu mengapresiasikan sastra, dan menguasai metode pengajaran sastra dengan baik.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Disain Penelitian Yang dimaksud dengan disain penelitian adalah semua proses yang

  diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan suatu penelitian. Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah disain penelitian deskriptif. Maksud dari disain penelitian deskriptif adalah penelitian yang membahas masalah-masalah atau fakta-fakta yang ada pada masa sekarang.

  Adapun untuk mendapatkan data-data yang diperlukan tersebut, penulis melakukan penelitian yang bersifat kajian pustaka, dengan langkah - langkah menelaah buku-buku yang ada di dalam perpustakaan yang ada hubungannya dengan judul penelitian yang dilakukan. Setelah data-data tersebut terkumpul kemudian dianalisis lalu dideskripsikan sesuai dengan batasan masalah yang telah ditentukan sebelumnya. Adapun menurut Moh. Nazir, Ph.D desain penelitian yaitu: Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dalam pengertiannya yang lebih sempit, desain penelitian hanya mengenai pengumpulan dan analisis data saja. Dalam pengertian yang lebih luas, desain penelitian mencakup proses-proses berikut:

   Identifikasi dan pemilihan masalah penelitian.  Pemilihan kerangka konseptual untuk masalah penelitian serta hubungan- hubungan dengan penelitian sebelumnya.

   Memformulasikan masalah penelitian termasuk membuat spesifikasi dari tujuan, luas jangkau (scope), dan hipotesis untuk diuji.  Membangun penyelidikan atau percobaan  Memilih serta memberi definisi terhadap pengukuran variabel-variabel.  Memilih prosedur dan teknik sampling yang digunakan.

   Menyusun alat serta teknik untuk mengumpulkan data.  Membuat coding, serta mengadakan editing dan prosesing data.  Menganalisis data serta pemilihan prosedur penelitian,  Pelaporan hasil penelitian.

  Yang dimaksud dengan metodologi penelitian adalah strategis umum yang di anut dalam pengumpulan dan analisis data yang diperlukan, guna menjawab persoalan yang dihadapi ini adalah rencana pemecahan bagi persoalan yang sedang diselidiki. Adapun metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif penelitian yang membahas masalah-masalah atau fakta-fakta yang ada sekarang. Dalam hal ini Nawawi menjelaskan metode deskriptif sebagai berikut:

  “Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek atau objek penelitian (novel,drama,cerita pendek,puisi) pada saat sekarang berdasarkan 1 fakta- fakta yang tampak atau sebagai mana adanya.”

  Dengan metode deskriptif, seorang peneliti sastra dituntut mengungkap fakta-fakta yang tampak atau data dengan cara member deskriptif. Fakta atau data merupakan sumber informasi yang menjadi basis analisis. Tetapi data harus diambil berdasar parameter yang jelas,misalnya parameter struktur. Untuk sampai kepengambilan data yang akurat, dia harus melakukan pengamatan yang cermat dengan bekal penguasaan konsep struktur secara baik.

  . Populasi dan Sampel

  B

  1. Populasi Populasi adalah suatu himpunan dengan sifat-sifat yang ditentukan oleh peneliti sedemikian rupa sehingga setiap individu,variabel, data dapat dinyatakan dengan tepat apakah individu tersebut menjadi anggota atau tidak. Dengan kata lain populasi adalah himpunan semua individu yang dapat memberikan data dan 2

  " informasi untuk suatu penelitian. 1 Adapun menurut pendapat ahli yaitu prof.Dr. Suharsimi Arikunto populasi Siswantoro, Metode Penelitian Sastra Analisis Struktur puisi,( Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar, cet. ke-1, 2010 ), hlm. 56. 2 Mahmudah, dkk, Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan

  adalah: “Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Studi atau penelitiannya juga disebut studi 3 populasi atau studi sensus.”

  Berdasarkan uraian dan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa populasi merupakan hal yang sangat penting dalam suatu penelitian. Berdasarkan pada populasi tersebutlah data-data yang diperlukan dapat diperoleh. Populasi adalah keseluruhan subjek yang menjadi objek dalam suatu penelitian.

  Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh teks data dalam Kumpulan puisi “Tirani dan Benteng” karya Taufiq Ismail.

  2. Sampel Yang dimaksudkan dengan sampel dalam penelitian adalah perwakilan dari populasi yang ada. Sampel yang dipilih merupakan perwakilan yang dapat dipandang representatif untuk mewakili populasi tersebut. Pemilihan sampel dilakukan karena populasi yang dihadapi cukup banyak.

  Untuk mendapatkan pengertian yang lebih jelas tentang sampel, maka berikut ini dikutip pendapat ahli yang mengatakan sebagai berikut: "Karena tidak mungkin penyelidikan berlangsung menyelidiki segenap populasi, padahal tujuan penyelidikan adalah menemukan generalisasi yang berlaku secara umum, maka sering kali penyelidikan terpaksa menggunakan sebagian saja dari populasi yaitu sebuah sampel yang dapat 4 dipandang representatif terhadap populasi"

  Adapun menurut Siswantoro dalam pengertian sampel adalah: “Karakter penelitian sastra yang kasuistik, artinya memfokuskan kajian pada karya individual, tidak menggunakan populasi. Dengan kata lain penelitian hanya 5 menggunakan sampel. Istilah lain dari sampel adalah sumbe r data.” 3 Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sampel

  

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik ,(Jakarta: PT . Rineka Cipta, cet. ke-13, 2006), hlm. 130. 4 Winarno Surakmad, Pengantar Penelitian, dan Dasar Metode Penelitian,( Bandung : Tarsito, cet.ke-1, 1982), hlm. 93. 5 Siswantoro, Metode Penelitian Sastra Analisis Struktur Puisi, (Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar, cet. ke-1, 2010), hlm. 56. merupakan perwakilan dari populasi. Sampel tersebut dipilih sebagai perwakilan yang representatif dari populasi. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah data-data teks puisi "Karya Taufiq

  Ismail” yang meliputi: 1. Diksi 2. Gaya Bahasa 3. Aliterasi 4. Asonasi 5. Ritme 6. Rima

  C. Variabel dan Indikator * Variabel

  Variabel di dalam suatu penelitian memegang peranan yang cukup penting. Dengan demikian penentuan variabel harus dilakukan secara tepat dan relevan dengan permasalahan yang ada dalam penelitian tersebut. Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teks puisi "Karya Taufiq

  Ismail”

  • * Indikator

  Yang dimaksud dengan indikator adalah sifat-sifat khusus yang dimiliki oleh variabel. Adapun indikator dalam penelitian ini adalah data-data dari teks puisi karya Taufik Ismail yang meliputi: 1.

  Diksi 2. Gaya bahasa 3. Aliterasi 4. Asonasi 5. Ritme 6. Rima

  D. Instrumen Penelitian Instrumen berarti alat yang dipergunakan untuk mengumpulkan data.

  Selama ini yang dikenal umum dalah test, interview, observasi, atau angket. Tetapi didalam penelitian sastra instrumennya adalah peneliti itu sendiri. Posisi sebagai instrumen terkait dengan ciri penelitian sastra yang berorientasi kepada teks, bukan kepada sekelompok individu yang menerima perlakuan tertentu. Data diperoleh secara alamiah dari teks berdasar parameter atau Kriteria tertentu, umpamanya Kriteria element struktur seperti gaya bahasa, rima, pencitraan, asonasi, aliterasi, tema, rasa, nada, tujuan, dan lain sebagainya. Kenyataan pengambilan data yang demikian, tidaklah mungkin menggunakan tes, observasi, atau interviu. Ini berarti kualitas atau tidaknya data yang 6 diperoleh tergantung semata- mata kepada peneliti selaku instrumen.”

  Berhasil atau tidaknya suatu penelitian sangat tergantung kepada kemampuan peneliti di dalam menentukan instrumen penelitian. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa instrumen sangat penting dalam penelitian. Karena Dari instrumen penelitian tersebutlah data-data diperoleh. Instrumen dalam penelitian ini dan yang menjadi objek adalah data-data teks puisi "Karya Taufiq Ismail” Berdasarkan data-data dari teks puisi tersebut kemudian dianalisis secara langsung.

E. Alat Pengumpulan Data

  Untuk mengumpulkan data-data tentang kumpulan puisi karya Taufiq Ismail, teknik yang digunakan adalah teknik studi pustaka. Maksud dari studi pustaka adalah seluruh data yang diperoleh melalui pengamatan, pemahaman, analisis terhadap puisi-puisi yang ada dalam perpustakaan. Adapun langkah-langkah pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

   Mengumpulkan puisi-puisi dari karya Taufiq Ismail yang terkenal.  Menyeleksi puisi-puisi karya Taufiq Ismail.  Menetapkan kumpulan puisi karya Taufiq Ismail sebagai objek penelitian.

   Membaca, menelaah, memahami dan menganalisis puisi karya Taufiq Ismail berdasarkan unsur intrinsiknya. 6  Mendeskripsikan atau menguraikan secara deskripsi unsur intrinsik

  Siswantoro, Metode Penelitian Sastra Analisis Struktur Puisi, ( Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar, cet. ke-1, 2010 ), hlm. 73. kumpulan puisi karya Taufiq Ismail.

F. Teknik Analisis Data

  Teknik analisis data merupakan salah satu dari kerja penelitian yang memegang peranan yang penting terhadap keberhasilan penelitian. Oleh sebab itu, seorang penulis atau peneliti harus memilih teknik analisis data yang tepat dan akurat, agar hasil penelitian sesuai dengan yang diharapkan. Adapun teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif. Maksudnya adalah teks puisi-puisi Taufiq Ismail, dianalisis berdasarkan unsur intrinsiknya. Kemudian dideskripsikan sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya. Teknik analisis data tersebut dapat dilakukan dengan mempergunakan studi pustaka.

  Kegiatan pengumpulan data merupakan bagian penting dari proses penelitian. Begitu sentral peran pengumpulan data sehingga kualitas penelitian bergantung padanya. Di dalam aktivitas ini peneliti akan mencurahkan energi seluruh kemampuan, terutama penguasaan teori atau konsep struktur, untuk mengambil data yang dibutuhkan sesuai dengan parameter struktur. Keakuratan perolehan data bergantung sepenuhnya pada peneliti, karena itu proses pengambilan data tidak berlangsung sekali jadi, malah akan terjadi peruses pengulangan dimana peneliti akan bergerak mundur dan maju dalm usaha memperoleh tingkat akurasi data yang semakin baik. Perlu kiranya kita merenungkan pendapat Miles dan Huberman menyoal dengan pengumpulan data:

  “Selama analisis dalam rentang waktu pengumpulan data, peneliti bergerak maju mundur diantara menelaah data yang telah diperoleh dan menelaah 7 kembali data tersebut agar diperoleh data baru yang lebih berkualitas.” Cara operasional mengumpulkan data disebut data reduction atau data

  

selection. Tindakan mereduksi data tak memfokuskan diri pada data yang

  dibutuhkan sesuai dengan kriteria atau parameter yang telah ditentukan. Yang benar adalah data diseleksi secara ketat berdasar kriteria tertentu. 7 Ibid. hlm. 74.

  40

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Taufiq Ismail di lahirkan di Bukit tinggi pada Tanggal 25 Juni 1935 dan ia

  dibesarkan di Pekalongan. Taufiq Ismail tumbuh dalam keluarga Guru dan Wartawan yang suka membaca, dia bercita-cita jadi sastrawan sudah sejak kecil. Dengan pilihan sendiri dia menjadi Dokter hewan dan ahli peternakan. Taufiq Ismail masuk kuliah di FKHP

  • – UI, Bogor 1957, karena Taufiq Ismail ingin memiliki sebuah perusahaan peternakan guna menafkahi cita-citanya sebagai kesusastraan, dan ia tamat kuliah pada Tahun 1963, tapi dia tidak berhasil punya usaha ternak. Taufiq Ismail semasa menjadi mahasiswa dia aktif sebagai ketua senat mahasiswa PKHP-UI ( 1960
  • – 1961 ), Wakil ketua Dewan Mahasiswa UI ( 1960
  • – 1962 ). Diapun pernah menjadi Guru SMA, Asisten Dosen IPB, Kolumnis, Wartawan, dan Taufiq Ismail ikut mendirikan majalah Sastra Horison ( 1966 ) serta mendirikan Dewan Kesenian Jakarta ( 1968 ) dan memegang berbagai posisi disana ( 1968 – 1977 ) dan ia bekerja sebagai manager hubungan luar PT.

  Unilever Indonesia ( 1978 – 1990 ).

A. Analisis dan Pembahasan Puisi Kelompok Tirani

  Puisi merupakan karya sastra yang memiliki struktur yang sangat kompleks yang terdiri dari beberapa strata (lapis) norma. Berikut ini analisis puisi kelompok Tirani yakni: 1.

   Puisi berjudul “Merdeka Utara” Dua buah panser Saladin Dengan roda-roda berat Rintangan-rintangan jalan Selebihnya kesenyapan Dua buah tingkungan yang bisu Seseorang memegang bren Langit pagi yang biru Menjadi ungu, menjadi ungu

  41 a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Dalam analisis diksi adalah pilihan atau pemilihan kata yang biasanya diusahakan oleh penyair dengan secermat mungkin. Penyair mencoba menyeleksi kata-kata baik kata yang bermakna denotatif atau makna sebenarnya, maupun konotatif atau makna kiasan sehingga kata-kata yanag dipakainya benar-benar mendukung maksud puisinya. Dalam paragraf pertama, penyair Taufiq Ismail menggambarkan kondisi tahun 1966 pada jalan-jalan di Jakarta yang seharusnya dipenuhi dengan kegiatan bisnis, karena Jakarta sebagai ibu kota negara, tetapi diisi dengan panser saladin. Panser dihiasi dengan roda besi yang merintangi jalan, tetapi sayang Jakarta yang seharusnya ramai dengan berbagai kegiatan kota tetapi sunyi.

  Pada paragraf kedua, penyair masih memilih padanan kata yang mengambarkan kondisi revolusi tahun 1966, karena jalan sepi, dihiasi dengan langit biru yang tidak biru tetapi berubah menjadi ungu. Perubahan ini disebabkan karena Jakarta tidak diisi dengan pagi cerah, tetapi tidak ceriah, kondisi tidak ceriah ini digambarkan dengan ungu. Gaya bahasa secara keseluruhan baik paragraf pertama maupun kedua adalah gaya bahasa personifikasi. Gaya bahasa ini dipilih sebagai illustrasi kota Jakarta di tahun 1966 setelah tahun 1965 yang penuh dengan revolusi. Personifikasi kendaraan diganti dengan panser, dan tikungan berat bisu sebagai ilustrasi Jakarta yang belum pulih dari perebutan kekuasaan. Kondisi ini juga dipertegas “langit pagi yang biru” berubah “menjadi ungu, menjadi ungu”. Lambang ungu adalah lambang yang tidak kondusif suasana kota.

  b.

   Aliterasi dan Asonasi

  Gaya bahasa aliterasi dan asonasi adalah untuk mempermudah dalam penghapalan, sehingga dapat dihayati. Pada paragraf pertama kemudahan ini terlihat kota Jakarta dengan hiruk pikuk kendaraan tetapi diganti dengan panser dengan roda berat, yang berada di jalan- jalan utama Jakrta, kondisi membuat sepi dan tidak kondusif. Begitu

  42 pula paragraf kedua

  “dua buah tingkungan yang bisu” dan “langit pagi yang biru” memberikan gambar Jakarta belum kembali ke jati dirinya sebagai kota metropolitan atau ibu kota negara. Kondisi yang mudah dingat “langit pagi yang biru” sebagai lambang keadaan kondisi, tetapi akibat dari peristiwa 30 September 1965, tiba-tiba berubah menjadi ungu. Kondisi ini sebagai lambang kota Jakarta yang sama dengan pedesaan.

  c.

   Ritme dan Rima

  Ritme atau irama dalam puisi Merdeka Utara karya Taufiq Ismail memiliki ritme dinamis yaitu tekanan keras pada kata panser, roda- roda berat , dan lembut pada “selebihnya kesenyapan dan langit pagi yang biru menjadi ungu, menjadi ungu.

  Sedangkan rima pada para paragraf pertama dan kedua memiliki persamaan bunyi berat menekan, yang membawa suasana kesedihan secara sempurna dan sejajar dengan persamaan bunyi yang berbentuk sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik puisi yang mengandung kesejajaran maksud kondisi Merdeka Utara, sehingga si pembaca bisa mengetahui kondisi mengecam setelah tahun 1965.

2. Puisi Berjudul “Jalan Segera”

  Di sinilah penembakan Kepengecutan Dilakukan Ketiga pawai bergerak Di dalam panas matahari Dan pelor pembayar pajak Negeri ini Dihembuskan ke punggung Anak-anaknya sendiri

  43 a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Dalam analisis diksi pemilihan kata dalam puisi Jalan Segera karya Taufiq Ismail terlihat pemilihan kata sederhana dengan makna kata yang membentuk kalimat bermakna harus dikerjakan segera. Sifat segera karena situasi dan kondisi politik di tahun 1966 merupakan perubahan politik arti orde lama ke order baru. Perubahan ini banyak ditandai penembakan satu pihak ke pihak lain yang diselangi dengan pawai dari demontrasi mahasiswa yang terus mewarnai langit Jakarta.

  Gaya bahasa yang dipakai adalah menerapkan gaya bahasa perbandingan (simile), yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, umpama, laksana, dan lain sebagainya. Perbandingan dapat dilihat pada paragraph pertama yakni:

  Di sinilah penembakan Kepengecutan Dilakukan

  Bait di atas di bandingkan dengan

  Ketika pawai bergerak Di dalam panas matahari

  Sepenggal kalimat puisi di atas antara bait 1 dan 2, merupakan perbandingan antara penembakan, pengecut dengan keberanian yang digambarkan dengan pawai bergerak di dalam terik matahari.

  b.

  Aliterasi dan Asonasi Puisi Jalan Segera merupakan puisi pendek yang mudah dimengerti dan yang menggambarkan situasi dan kondisi di tahun 1966 yang sangat menginginkan perubahan dan pembubaran PKI oleh gerakan mahasiswa. Hal ini ditunjukkan dengan korban peluru dari anaknya sendiri, dan terbukti pada kalima t, “Di sinilah penembakan, kepengecutan, Dilakukan” dan “Ditembus ke punggung anak-anaknya sendiri” Kalimat seperti ini memang begitulah keadaan tahun 1966 di Jakarta, masyarakat penuh tanda tanya, berkenaan dengan gerakan yang anti PKI sangat tinggi, serta PKI yang dulu berani, namun takut,

  44 dan takut. Ketakukan ini wajar, karena sudah kalah politik. Pemandangan ini jauh berbeda ketika menjelang G30S PKI seperti apa yang digambarkan dalam film G30S PKI. Film ini terlepas benar atau tidaknya, namun begitulah keadaan yang sebenarnya. Kalimat mudah dan sederhana, adalah refleksi tahun 1966 yang penuh perubahan cepat.

  c.

  Ritme dan Rima Ritme dalam puisi Jalan Segera karya Taufiq Ismail adalah dengan ritme dinamis dengan tekanan keras pada kata teretntu namun lembut pada kalimat “ketika pawai bergerak, dalam panas matahari” Nada tinggi terletak pada kalimat, “Ditembusnya ke punggung anak-anaknya sendiri” Sebaliknya, rima dalam puisi “Jalan Segera” terdapat rima terbuka pada kalimat, “Ketika pawai bergerak, dalam panas matahari” namun juga pada kalimat ini terkandung rima alterasi dan asonansi.

3. Puisi Berjudul “Salemba”

  Alma Mater, janganlah bersedih Bila arakan ini bergerak peralahan Menuju pemakanan Siang ini Anakmu yang berani Telah tersungkur ke bumi Ketika melawan tirani a.

  Analisis Diksi dan Gaya Bahasa Taufiq Ismail dalam puisinya berjudul Salemba menggambarkan gugurnya Arief Rahman Hakim yang gugur dalam gerakan mahasiswa di tahun 1966. Kata ini menggambarkan Almamater UI dengan kalimat, “Alma Mater janganlah bersedih” Kesedihan ini karena gugurnya Arief Rahman Hakim yang gagah berani telah tersungkur ke bumi seperti yang digambarkan dalam bait ke dua

  Anakmu yang berani Telah tersungkur ke bumi Ketika melawan tirani

  45 Gaya bahasa yang diterapkan adalah gaya bahasa metafora sebagai bentuk kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain tanpa mempergunakan kata-kata pembanding. Tanpa pembanding ini dapat dilihat pada bait pertama.

  Alma Mater, janganlah bersedih Bila arakan ini bergerak peralahan Menuju pemakanan Siang ini

  Bait di atas merupakan gaya bahasa berbicara apa adanya berkenaan dengan arakan para mahasiswa bergerak perlahan menju ke pemakaman di siang ini.

  b.

  Aliterasi dan Asonasi Taufiq Ismail dalam puisi Salemba untuk menggambarkan iring- iringan pemakamanan Arief Rahman Hakim ditulis dalam puisi yang bersifat dekleratif dengan kalimat sederhana dan apa adanya. Kalimat ini akan memberikan kemudahan bagi pembaca berkenaan dengan saat pemakaman Arief Rahman Hakim yang gugur pada tahun 1966. Pemakaman yang penuh hikmah karena almamater UI mengibaratkan Arief Rahman Hakim untuk tidak bersedih dan “anak yang berani telah tersungkur ke bumi ketika melawan tirani” c.

  Ritme dan Rima Ritme dalam puisi “Salemba” memiliki ritme tekanan lembut dengan nada tekanan tinggi namun suara rendah dan tempo rendah, Kondisi ini dapat memberikan suasana khidmat karena kesedihan yang mengiringi anak yang berani saat melawan tirani kekuasaan pemerintah orde lama di tahun 1966. Sebaliknya, rima dalam puisi “Salemba” terdapat rima terbuka pada

  Anakmu yang berani Telah tersungkur ke bumi Ketika melawan tirani Namun juga pada kalimat ini terkandung rima aliterasi dan asonasi.

  46

4. Puisi Berjudul “Dari Catatan Seorang Demonstran”

  Inilah peperangan Tanpa Jenderal, tanpa senapan Pada hari-hari yang mendung Bahkan tanpa harapan Di sinilah keberanian diuji Kebenaran dicoba dihancurkan Pada hari-hari berkabung Di depan menghadang ribuan lawan

  a.

  Analisis Diksi dan Gaya Bahasa Puisi karya Taufiq

  Ismail berjudul “Dari Catatan Seorang Demonstran

  ” disusun dalam kata-kata yang bermakna konotatif yang menggambarkan peperangan demontrasi mahasiswa dengan tujuan anti pemerintahan orde lama yang disusupi oleh PKI. Perjuangan ini merupakan perlawanan sipil yang tidak ada jenderal dan tanpa senapan yang bahkan tanpa harapan hal ini digambarkan

  Inilah peperangan Tanpa Jenderal, tanpa senapan Pada hari-hari yang mendung Bahkan tanpa harapan

  Sebaliknya gaya bahasa yang diterapkan oleh penyair adalah perbandingan (simile), yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, umpama, laksana dengan menggunakan gaya personifikasi. Demonstrasi diibaratkan sebagai, “Inilah peperangan” Demonstran yang berani diibaratkan dengan Di sinilah keberanian diuji.

  b.

  Aliterasi dan Asonasi Kombinasi Aliterasi dan Asonasi dalam Puisi Dari Catatan Seorang Demonstran yang mudah dan enak didengar sekaligus mudah dihapal untuk dihayati. Kemudahan ini dapat dilihat pada kalimat

  Inilah peperangan Tanpa Jenderal, tanpa senapan Pada hari-hari yang mendung Bahkan tanpa harapan

  47 Dan

  Di sinilah keberanian diuji Kebenaran dicoba dihancurkan Pada hari-hari berkabung Di depan menghadang ribuan lawan

  Dua hal di atas tersusun mudah direfleksikan kondisi demonstrasi tahun 1966 yang berjuang tanpa senjata dihadapan ribuan lawan yang menghadang.

  c.

  Ritme dan Rima Ritme dalam puisi “Dari Catatan Seorang Demonstran” karya Taufiq Ismail bersifat dinamis dengan tekanan lembut pada kalimat, “inilah peperangan” namun tekanan keras “tanpa jenderal, tanpa senapan” Namun kalimat “Di sinilah keberanian diuji” dengan tekanan lembut.

  Namun kalimat

  Kebenaran dicoba dihancurkan Pada hari-hari berkabung Di depan menghadang ribuan lawan

  Ketiga kalimat di atas diberikan tekanan keras. Pengerasan tekanan ini untuk menunjukkan pengujian kebenaran dalam menghadapi lawan. Namun puisi ini menerapkan Rima mutlak, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak (suku kata sebunyi).

5. Puisi Berjudul “Geometri”

  Dari titik ini Sedang kita tarik garis lurus Ke titik berikutnya Segala komponen Telah jelas. Dalam soal Yang sederhana

  a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Taufiq

  Ismail dalam puisi berjudul “Geometri” menulis dengan pemilihan kata secermat mungkin dengan pokok atau tema puisi yakni Geometri. Geometri merupakan refleksi perjuangan mahasiswa di

  48 tahun 1966 untuk melawan tirani. Satu gerakan dihubungan dengan gerakan lain untuk membentuk bangun kubus yang saling terhubungan dan tidak mudah untuk diputuskan. Gambaran garis lurus ini digambarkan dalam “sedang kita tarik garis lurus” untuk menunjukkan hubungan satu gerakan dengan gerakan lainnya dan berguna pemecahan soal dalam bentuk perjuangan amanat penderitaan rakyat yang salah satunya bubarkan PKI dan turunkan harga. Gaya bahasa yang diterapkan adalah perbandingan (simile), yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, umpama, laksana. Dan gaya personifikasi.

  b.

  Aliterasi dan Asonasi Kombinasi Aliterasi dan Asonasi dalam puisi Geometri tersusun dan diilustrasikan dalam kalimat mudah dan sederhana sehingga pembaca puisi terdengar indah dan mudah dihapalkan. kombinasi aliterasi (pengulangan konsonan) dan asonansi (pengulangan vokal). Konsonan “ni dan rus” dan vokal “e” dalam “nen” dan “a” dalam “na” dapat menghidupkan refleksi gerakan yang saling berhubungan satu dengan lain di tahun 1966.

  c.

  Analisis Ritme dan Rima Ritme dalam pusisi Geometri karya Taufiq Ismail dibuat dalam irama tetap dengan bunyi tinggi pada kalimat, “sedang kita tarik garis lurus, ke titik berikut” Namun bunyi rendah pada”

  Segala komponen Telah jelas. Dalam soal Yang sederhana

  Gambaran ini tinggi rendah adalah untuk menggambarkan kondisi perjuangan mahasiswa yang saling bergendangan tangan dengan perjuangan murni tanpa disertai dengan perbuatan anarkis. Puisi ini tersusun dengan rima terbuka, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku akhir terbuka atau dengan vokal sama. Keterbukaan ini untuk menggambarkan transparansi perjuangan suci mahasiswa.

  49

6. Puisi Berjudul “Aviasi”

  Sebuah heli melayang-layang Pada siang yang panas Di langit ibu kota Berjuta mata memandang Tengadah ke atas Tak lagi bertanya-tanya Setiap kita jumpa di jalan Sejak jam lima tadi padi Tak yang yang bimbang lagi Telah kita lumpuhkan urat nadi Sepi dan tegang di jalanan a.

  Analisis Diksi dan Gaya Bahasa Taufiq

  Ismail dalam puisinya berjudul, “aviasidisusun dalam serangkaian kata atau kalimat yang bersifat konotatif. Sifat ini mengandung arti Aviasi atau penerbangan. Kondisi ini menggambarkan situasi tahun 1966 yang mengelilingkan kota Jakarta. Setiap orang memperhatikan operasi keamanan yang dilakukan oleh pihak keamanan. Gambaran sepi yang menegangkan itu telah melumpuhkan kehidupan kota Jakarta sebagai ibu kota negara.

  b.

  Aliterasi dan Asonasi Gaya bahasa Aliterasi dan Asonasi dalam puisi Aviasi disusun dalam susunan pengulangan konsonan “ang” dalam layang dan “nas” dalam panas. Kemudian pengulangan vokal “i” dalam padi, lagi dan nadi. Pengulangan baik konsonan maupun vokal dapat enak didengar untuk dihafalkan. Kemudahan bisa mempermudah dan menjadi daya tarik serta keinginan tahuan orang untuk membaca puisi. Namun demikian bukan hanya sekedar membaca tetapi ingin mengetahui kondisi tahun 1966 melalui puisi.

  c.

  Ritme dan Rima Ritme dalam puisi Aviasi yang ditulis Taufiq Ismail dilakukan dalam irama tinggi dan rendah. Ritme tinggi pada Bait Pertama, sedangkan bait kedua dan ketiga berada dalam tempo lambat sehingga kejadian

  50 yang berkaitan dengan kehidupan tahun 1966 dapat terdengar dengan jelas, kemudian pembaca puisi dan orang yang mendengarkan dapat mengetahui apa yang dilakukan oleh pihak keamanan melalui udara.

7. Puisi Berjudul “Mimbar”

  Dari mimbar ini telah dibicarakan Pikiran-pikiran dunia Suara-suara kebebasan Tanpa ketakutan Dari mimbar ini diputar lagi Sejarah kemanusiaan Pengembangan teknologi Tanpa ketakutan Di kampus ini Telah dipahatkan Kemerdekaan Segala dispot dan tiran Tidak bisa merobohkan Mimbar kami

  a.

  Analisis Diksi dan Gaya Bahasa Dalam analisa diksi pada puisi berjudul Mimbar karya Taufiq Ismail bahwa susunan kata yang dipilih penyiar memiliki makna konotatif., Gambaran makna ini dapat memperjelaskan bagaimana kebebasan mimbar di kampus UI tahun 1966. Semua orang bebas berbicara, Ini merupakan pertanda demokrasi yang hidup di mana selama ini terbelenggu dengan demokrasi terpimpin. Kata kemerdekaan bersuara, berserikat dan berkumpulkan merupakan bagian yang penting dalam mimbar.

  Gaya bahasa dalam puisi Mimbar ini adalah perbandingan (simile), yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, umpama, laksana. Perbandingan tersebut dapat mempertegas maksud dari puisi ini.

  51 b.

  Aliterasi dan Asonasi Suguhan karya Taufiq Ismail dalam puisi berjudul mimbar dipermanis dalam susunan kata dan kalimat yang mudah didengar dan dicerna oleh pembaca. Konsonan kan pada kata dibicarakan, dipahatkan dan merobohkan, kemudian vokal a pada kata dunia. Konsonan dan vokal ini bisa memperindah kata atau kalimat. Sehingga gaya bahasa Aliterasi dan Asonasi menjadi ukuran untuk mempermanis sekaligus mudah dihafalkan.

  c.

  Ritme dan Rima Ritme yang digunakan adalah adalah dinamis di mana kata konsonan digunakan ritme tinggi dan pada vokal digunakan ritme rendah.

  Pengucapan dalam pengucapan sedang sampai lambat sehingga pesan dalam puisi ini bisa disampaikan. Rima digunakan rima mutlak, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak (suku kata sebunyi). Rima ini dilakukan dengan Rima datar yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada baris puisi secara horisontal, Kondisi ini dapat mempertegas maksud dan tujuan puisi.

8. Puisi Berjudul “Arithmetik Sederhana”

  Selama ini kita selalu Ragu-ragu Dan berata: Dua tambah dua Mudah-mudahan sama dengan empat a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Analisis diksi dalam puisi “Aritmetik Sederhana” disusun dalam susunan kalimat sederhana hanya lima kalimat. Di mana isi dan substansinya sangat sederhana sekali. Makna konotatif merupakan pernyataan yang bersifat dekleratif yang menyatakan bahwa substansi dua tambah dua bukan mudah-mudah empat tetapi pasti empat. Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana implementasi dua tambah

  52 dua adalah empat sehingga tidak ada keraguan bahwa dua tambah dua adalah empat. Gaya bahasa yang dipergunakan dalam aritmetik sederhana adalah Perumpamaan epos (epic simile), yaitu perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingannya dalam kalimat berturut-turut.

  b.

  Aliterasi dan Asonasi Gaya bahasa Aliterasi dan Asonasi dalam puisi Arithmetik sederhana ini sangat mudah karena hanya ada pengulangan vokal u dan a pada kata selalu, ragu, berkata, dan dua. Vokal ini adalah mudah dicernah sehingga si pembaca atau pendengar masih disugguhan dengan bait terakhir:

  Dan berata: Dua tambah dua Mudah-mudahan sama dengan empat

  Kata mudah-mudahan sama dengan empat membuat pendengar ragu apakah benar ada jawaban lain selain dari empat jika dua tambah dua sama dengan empat. Keraguan dapat memberikan kesimpulan bahwa sesuatu bisa terus berubah, tergantung pada situasi dan kondisi. Karena di dunia ini tidak ada yang bersifat statis tetapi dinamis.

9. Puisi Berjudul “Depan Sekretariat Negara”

  Setelah korban diusung Tergesa-gesa Ke luar jalanan Kami semua menyanyi Gugur Bunga Perlahan-lahan Di puncak Gayatri Menunduklah bendera Di belakang segumpal awan a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Karya Taufiq

  Ismail dalam puisi berjudul, “Depan Sekretariat Negara” disusun dalam susunan kata dan kalimat dengan gaya konotatif namun

  53 bersifat dekleratif. Kedua hal ini, Taufiq Ismail ingin menyampaikan peristiwa tahun 1966 di Depan Sekretariat Negara telah jatuh korban akibat dari demonstrasi mahasiswa yang menuntut tri tuntutan rakyat yang salah satunya dari tuntutan rakyat itu adalah turunkan harga. Korban yang jatuh itu diusung oleh rekan-rekan mahasiswa ke luar jalanan dan bernyanyi “gugur bunga” secara perlahan-lahan. Dengan cara yang demikian ini, peristiwa di depan sekretariat negara digambarkan dalam kalimat

  Di puncak Gayatri Menunduklah bendera Di belakang segumpal awan

  Penyair menggambarkan penghormatan kepada korban bagaikan puncak gayatri, dengan menunduklah bendera di belakang segumpal awan.

  b.

  Aliterasi dan Asonasi Aliterasi merupakan pengulangan konsonan yang ada dalam puisi.

  Pengulangan konsonan pada puisi Depan Sekretariat Negara adalah sa pada tergesa-gesa, nan pada jalanan, nyi pada menyanyi, han pada lahan, ni pada ini, nya pada baretnya, han pada tertahan. Pengulangan konsonan an menunjukkan kata yang dapat menghidupkan dan memudahkan untuk menghafal puisi. Konsonan ini juga berfungsi menyalami kondisi pengusungan korban di depan sekretariat negara. Dengan pengusungan ini memberikan kesan bahwa pendengar atau pembaca puisi dibawa untuk menyelami substansi puisi tersebut. Pada asonansi adalah pengulangan vokal terdapat pada vokal “i” pada “menyanyi”, “ini” dan “gayatri” Pengulangan tiga vokal dapat memudahkan untuk membaca dan menghayati. Gaya bahasa Aliterasi dan Asonasi adalah untuk mempermanis dan memudahkan dalam menghayati isi dan substansi suatu puisi.

  c.

  Ritme dan Rima Ritme dalam puisi Depan Sekretariat Negara bersfiat dinamis yang dihiasi dengan nada tinggi pada

  54

  Setelah korban diusung Tergesa-gesa Ke luar jalanan

  Nada tinggi ini berfungsi memberikan tekanan bahwa telah terjadi korban atas demonstrasi damai, karena aparat keamanan melakukan upaya represif dalam menangani demontrasi damai. Penekanan ini dapat menjadi perhatian bahwa tindakan represif tidak boleh menggunakan peluru tajam tetapi harus menggunakn peluru karet atau bahan lain yang tidak mematikan. Dan ritme rendah sampai sedang pada

  Kami semua menyanyi Gugur Bunga Perlahan-lahan Di puncak Gayatri Menunduklah bendera Di belakang segumpal awan

  Pada ritme rendah sampai sedang memberikan perhatian substansi bahwa korban yang meninggal dunia tidak sia-sia, tetapi sebagai pahlawan yang gugur yang perlu penghormatan dengan menundukan bendera sebagai tanda perhatian. Rima dilakukan dalam bentuk Rima aliterasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan. Dan Rima asonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata. Hal ini bisa memberikan arti bahwa bunyi yang ditampilkan merupakan kata yang sama dengan vokal yang yang sama pula.

  B.

  Analisis dan Pembahasan Puisi Kelompok Benteng Puisi merupakan karya sastra yang memiliki struktur yang sangat kompleks yang terdiri dari beberapa strata (lapis) norma. Berikut ini analisis puisi kelompok Benteng yakni: 1.

   Puisi Berjudul “06.30” Di pusat Harmoni Pada papan advertensi

  55

  (Arloji Castell) Tertulis begini : “Dunia Kini Membutuhkan Waktu Yang Tepat” Di belakangnya langit pagi Tembok sungai dan kawat berduri Pengawalan berjaga. Di Istana Arloji Castell Berkata pada setiap yang lewat “Dunia Kini Membutuhkan Waktu Yang Tepat”

  a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Dalam pui si berjudul “06.30” karya Taufiq Ismail menggambarkan situasi dan kondisi tahun 1966 di pagi hari, tepat di harmoni. Illustrasi pagi hari di Jakarta yang penuh mencekam. Mencekam itu digambarkan dalam

  Di belakangnya langit pagi Tembok sungai dan kawat berduri Pengawalan berjaga. Di Istana

  Tiga baris di atas, menggambarkan betapa mencekamnya istana yang dijaga ketat baik dengan kawat berduri maupun pengawal. Tiga baris menunjukkan kata yang bersifat konotatif dan deklaratif sehingga semua orang tahu bahwa Istana Negara adalah lambang negara yang harus dijaga ketat. Kata sederhana tiga baris di atas menjadi istana terisolasi dengan penjaga dan pengawal, padahal istana itu adalah istana rakyat yang harus menjadi milik rakyat. Jadi istana tidak perlu dijaga berlebihan, padahal di dalam istana negara yang dipikirkan dan dibahas adalah kepentingan rakyat. Ini jiwa demokrasi yang digambarkan dalam sifat konotatif dan deklaratif.

  b.

  Aliterasi dan Asonasi Sifat Aliterasi dan Asonasi adalah sifat pemanis dan bius bagi pembaca dan pendengar puisi. Pada puisi “06.30” merupakan puisi yang menggambarkan suasana di pagi hari. Misalnya baris ketiga dan keempat, aliterasi d, k, m, w y dan t (Dunia Kini Membutuhkan Waktu

  Yang Tepat. Keteraturan konsonan sangat mengesankan. Sedangkan

  56 asonansi i dan a pada bait kedua baris pertama (Di belakangnya langit pagi). Dalam gaya bahasa Aliterasi dan Asonasi menjadi pemanis bunyi puisi sehingga terlihat nilai seni yang menggambarkan keadaan jam 06.30 di Harnomi.

  c.

  Ritme dan Rima Analisis ritme adalah bunyi dari puisi itu sendiri. Bunyi dari puisi 06.30 dibuat ritme sangat tergantung pada ilustrasi yang akan digambarkan oleh Taufiq Ismail. Pada bait pertama ritme yang dibuat adalah tempo rendah sampai sedang. Hal ini dikarenakan penyair ingin menggambarkan pukul 06.30 dengan jelas yang difokuskan pada “Dunia kini Membutuhkan Waktu Yang Tepat” Namun ritme pada bait kedua, diberikan nada tinggi sebagai bentuk perhatian. Karena bait kedua ini merupakan substansi dari peristiwa pukul 06.30, pada tahun 1966. Dan sebaliknya bait ketiga kembali lagi ritme rendah sampai sedang.

2. Puisi Berjudul “Bendera”

  Mereka yang berpakaian hitam Telah berhenti di depan sebuah rumah Yang mengibarkan bendera duka Dan masuk dengan paksa Mereka yang berpakaian hitam Telah menurunkan bendera itu Di hadapan seorang ibu yang tua “Tidak ada pahlawan meninggal dunia” Mereka berpakaian hitam Dengan hati yang kelam Telah meninggalkan rumah itu Tergesa

  • – gesa Kemudian ibu tua itu Pelahan menaikan kembali Bendera yang duka Ke tiang yang duka

  57 a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Taufiq

  Ismail dalam puisi “Bendera” menyusun syairnya dengan kata- kata bermakna konotatif yang menggambarkan kedukaan pahlawan yang telah meninggal dunia. Namun pahlawan itu sendiri tidak ada yang meninggal, karena itu ibu tua dengan perlahan menaikan kembali bendera duka, ke tiang duka. Hal ini dapat memberikan peringatan bagi generasi penerus bahwa keduakaan pahlawan tidak pernah mati setelah jiwa meninggalkan jasad. Gaya bahasa yang dipakai dalam puisi Bendera adalah perbandingan (simile), yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, umpama, laksana, Perbandingan pahlawan dengan jasa-jasa yang terus dikenang dan menjadi bekal. Pembanding ini terlihat dari bait pertama sampai empat. Dengan perbandingan tersebut dapat membuat nilai seni yang tinggi sehingga puisi tersebut menjadi hidup untuk menggambarkan suasana tahun 1966.

  b.

  Aliterasi dan Asonasi Dalam alterasi bait pertama baris keempat d,m dan p (Dan masuk

  dengan paksa). Kalimat ini menujukkan adanya keterpaksaan dalam

  pengibaran bendera duka. Di sinilah nilai seni. Karena asonansi u dan a pada bait ke empat baris pertama, (kemudian ibu tua itu) Pengulangan “u’ menunjukkan peran ibu tua atas bendera duka dan ialah yang masang kembali ke tiang duka. Peran ibu sangat penting dalam kehidupan , dengan demikian yang berhak menaikan kembali adalah ibu. Di sini penyair menomorsatukan ibu yang begitu tinggi nilai dan kedudukan dalam kehidupan. Gaya bahasa Aliterasi dan Asonasi dapat mempermanis alur cerita puisi Bendera sehingga ilustrasi Taufiq Ismail mengenai bendera tua dapat terwakili dengn peran ibu dan dikatakan “tidak ada pahlawan meninggal dunia”

  58 c.

  Ritme dan Rima Sifat puisi “Bendera” menggambarkan kedukaan. Gambaran duka diberikan tekanan dinamis dengan nada rendah sampai sedang Dengan ritme yang demikian ini puisi dari bait pertama sampai empat dapat mendorong pembaca atau pendengar lebih mengerti tentang keadaan di tahun 1966 tentang kedukaan. Rima adalah Rima patah, yaitu persamaan bunyi yang tersusun tidak menentu pada akhir larik-larik puisi (a-b-c-d) seperti yang terlihat pada bait kedua

  Mereka yang berpakaian hitam Telah menurunkan bendera itu Di hadapan seorang ibu yang tua “Tidak ada pahlawan meninggal dunia

  Secara keseluruhan rima puisi termasuk Rima aliterasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan dan rima asonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata.

3. Puisi Berjudul “Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua Pada Anaknya

  Berangkat Dewasa Jika adalah yang harus kaulakukan Ialah menyampaikan Kebenaran Jika adalah yang tidak bisa dijual belikan Ialah yang bernama keyakinan Jika adalah yang harus kau tumbangkan Ialah segala pohon-pohon kezaliman Jika adalah orang yang harus kau agungkan Ialah hanya Rasul Tuhan Jika ada kesempatan memilih mati Ialah syahid di jalan ilahi.

  a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Analisa diksi dalam puisi Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua Pada

  Anaknya Berangkat Dewasa karya Taufiq Ismail bermakna

  konotatif. Makna ini menjelaskan dengan gamblang dan sederhana mengenai jalan kehidupan. Dengan cara seperti ini pembaca atau

  59 pengdengar puisi dapat mudah mengerti dan memahami serta menghayati arti dari kehidupan. Gaya bahasa dalam puisi ini adalah gaya bahasa perumpamaan epos (epic simile), yaitu perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingannya dalam kalimat berturut-turut. Bentuk perumpaan merupakan yang paling sering diberikan sehingga ada perbandingan yang nyata. Perbandingan inilah merupakan nilai seni.

  b.

  Aliterasi dan Asonasi Dalam gaya bahasa Aliterasi dan Asonasi pada puisi di atas, dapat terdengar indah dan mudah dihafal sehingga menjadi daya dorong untuk membaca dan mengikuti apa yang digambarkan Taufiq Ismail dalam menggambarkan kondisi sosial dan politik di tahun 1965.

  Pemikiran yang berkembang di masa ini adalah pemikiran Nasakom. Pemikiran yang mencampuradukan antara kepentingan agama dan anti agama, karena penanaman keyakinan terhadap kebenaran harus diberikan.

  c.

  Ritme dan Rima Dalam mendorong pembaca atau pendengar lebih tertarik, maka daya dorong diberikan ritme, ritme dinamis dengan nada rendah sampai sedang dan tempo sedang sehingga substansi masalah dapat bunyi dan terdengar. Rima yang dipergunakan adalah Rima akhir, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di akhir baris pada tiap bait puisi. Dan Rima kembar/berpasangan, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir dua larik puisi (aa-bb) Dengan cara ini maka terdapat nilai seni yang tinggi dan mudah dimengerti oleh pembaca dan pendengar.

4. Puisi Berjudul “Persetujuan”

  Momentum telah dicapai. Kita Dalam estafet amat panjang Menyebar benih ini di bumi Telah sama berteguh hati

  60

  Adikku Kappi, engkau sangat muda Mari kita berpacu dengan sejarah Dan engkau di muka a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Dalam puisi berjudul Persetujuan karya Taufiq Ismail disusun untuk menyajikan estafet kepemimpinan nasional dari kakaknya Keppi kepada adiknya. Estafet ini berjalan panjang. Oleh karena itu diawali dengan momentum. Estafet ini difungsikan kepada kaum muda mahasiswa UI untuk menggambarkan perjuangan mahasiswa UI yang siap mengambil alih kepemimpinan orde lama. Susunan persetujuan ini merupakan langkah perjuangan yang harus dilakukan dalam kurun waktu panjang dengan tujuan membuat goresan sejarah yang panjang.

  Susunan ini bersifat konotatif sehingga penjelasan adikku merupakan mahasiswa di tahun 1966 yang berjuang untuk membebaskan dan menciptakan iklim demokrasi. Gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa Metonimia, yaitu kiasan pengganti nama. Nama pemimpin generasi berikutnya diibaratkan dengan “Adikku Keppi, engkau sangat muda” b. Aliterasi dan Asonasi

  Dalam gaya bahasa Aliterasi dan Asonasi tersusun sangat mudah dan sederhana sehingga memungkinkan pembaca atau pendengar syair puisi “Persetujuan” dapat cepat mengerti bahwa Taufiq Ismail telah mengibaratkan mahasiswa UI yang melakukan demonstrasi sebagai “Adikku Keppi, engkau sangat muda” sebagai pengganti pemimpin lama dan didorong untuk berpacu dengan sejarah atau mencatat sejarah.

  c.

  Ritme dan Rima Ritme dalam puisi berjudul Persetujuan dalam dua bait memiliki tekanan dinamis disetai dengan nada rendah pada bait pertama dan nada tinggi pada bait kedua. Pada bait pertama nada rendah dimaksudkan untuk menunjukkan sikap biasa, namun bait kedua

  61 adalah sikap luar biasa, karena di sini merupakan aspek estafet yang dilakukan dengan kalimat, “Mari kita berpacu dengan sejarah”

  Rima dalam bentuk rima aliterasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan. Dan Rima patah persamaan bunyi yang tersusun tidak menentu pada akhir larik-larik puisi (a-b-c- d) seperti “ta” pada “Kita”, “jang” pada

  “panjang”, “mi” pada “bumi” dan “ti” pada “hati”, begitu pula pada bait ke dua kata “da” pada muda, “rah” pada “sejarah” dan ka pada “muka” 5.

   Puisi Berjudul “La Strada atau Jalan Terpanggang ini” Kini anak-anak itu telah berpawai pula Dipanggang panas matahari ibu kota Setiap lewat depan kampus berpagar senjata Mereka berteriak dengan suara tinggi Hidup kakak- kakak kami” Mereka telah direlakan ibu bapa Warga negara biasa negeri ini Yang melepas dengan dosa Setiap pagi Kaki-kaki kecil tak kenal lelah Kami telah melangkahkan sejarah

  a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Pemilihan kata-kata pada bait pertama puisi La Strada atau Jalan Terpanggang ini dengan kata-kata bermakna konotatif di mana penyair menggambarkan anak Kappi (Kesatuan Aksi Perhimpunan Pelajar Indonesia) yang turut dalam demonstrasi di tahun 1966 mengikuti jejak kakak-kakaknya. Hubungan baris satu satu dengan lainnya saling mempengaruhi sehingga ada kontasi yang bersaman. Pada bait kedua juga memiliki makna konotasi termasuk bait ketiga. Makna konotasi sengaja dibuat untuk memberikan makna gambaran perjuangan tahun 1966 yang begitu mengecekam demontrasi tetapi tidak anarkis. Sebaliknya tentara sebagai pengawal istana yang

  62 bersifat represif. Namun adik-adik pelajar berani setiap lewat kampus berpagar senjata dengan lantang berkata, Hidup kakak-kakak kami b.

  Aliterasi dan Asonasi Gaya bahasa Aliterasi dan Asonasi berfungsi mempermudah dalam pengucapan dan mudah dihafal. Kemudahan ini terlihat pada kalimat bait pertama baris kedua, “Di panggang panas matahari ibu kota” Demontrasi tahun 1966, adik pelajar bebas menyampaikan pendapatnya di tengah panas matahari dan dibawah ancaman senjata.

  Tetapi kalimat, “mereka telah direlakan ibu bapa” untuk ikut bersama dengan kakak-kakaknya. Namun mereka telah membuat sejarah.

  c.

  Ritme dan Rima Analisis ritme dalam puisi “La Strada atau Jalan Terpanggang ini” bersifat dinamis. Sifat dinamis sama seperti sifat dinamis anak-anak yang berpawai atau berdemontrasi. Namun pada bait pertama diberikan tekanan tinggi tetapi bait kedua tekanan sedang dan tekanan ketig bernada rendah. Dengan demikian unsur dinamiasi dapat terlihat.

  Bait pertama adalah Rima kembar/berpasangan, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir dua larik puisi (aa-bb) yakni la, ta, gi, dan mi, bait kedua pa, ni, oa, gi dan bait terakhir lah dan rah Dalam puisi ini termasuk Rima aliterasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan.

6. Puisi Berjudul “Yell”

  Tiga truk terbuka Lewat depan rumah Mereka menyanyi gembira “Buat apa sekolah” Tas buku di tangan kiri Dibakar matahari, tak bertopi Mereka meriakkan Kebenaran Yang telah lama dibungkamkan

  63 a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Pemilihan kata dalam puisi berjudul Yell adalah bermakna konotatif.

  Pemilihan kata yang sederhana dan mudah dimengerti terlihat pada b ait pertama dalam baris ke lima, “Buat apa sekolah” dan bait kedua baris pertama, “Tas buku di tangan kiri”

  Kedua kalimat ini merupakan penghubung dengan Yell “Buat apa sekolah” Pemilihan kata dalam kalimat ini menggambarkan suasana tahun 1966 yang penuh dengan demonstrasi dan tidak ada sekolah yang masuk semua turun ke jalan apakah itu demonstrasi atau pawai. Dalam kondisi yang demikian ini, pantaslah digambarkan dengan “buat apa sekolah” dan “tas buku di tangan kiri” Artinya sekolah dan buku menjadi tidak penting lagi. Yang penting adalah ikut berjuang menoreh sejarah dalam menuntut tiga tuntutan rakyat dua dari tiga tuntutan itu adalah “bubarkan PKI” dan “turunkan harga” Gaya bahasa yang diterapkan penyair adalah Perumpamaan epos (epic simile), yaitu perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingannya dalam kalimat berturut- turut.

  b.

  Analisis Aliterasi dan Asonasi Gaya bahasa Aliterasi dan Asonasi adalah untuk mempermanis susunan kata dalam puisi Yell, Aliterasi dan asonasi susunan kata dalam puisi mudah dimengerti dan diucapkan serta dihafal. Kemudahan ini memberikan arti yang menunjukkan pada tema puisi yakni Yell.

  c.

  Ritme dan Rima Ritme adalah bersifat dinamis. Sifat ini diberikan tekanan nada tinggi pada bait pertama, dan nada rendah sampai sedang. Nada tinggi dimaksudkan memberikan motivasi Yell untuk para demonstran atau anak sekolah yang pawai. Sedangkan nada rendah sampai sedang dimaksudkan memberikan dorongan penghayatan berkenaan dengan kebenaran.

  64 Rima dalam puisi Yell pada bait pertama adalah Rima rangkai/rima rata, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir semua larik (aaaa) dan bait kedua Rima kembar/berpasangan, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir dua larik puisi (aa-bb).

7. Puisi Berjudul “Horison”

  Kami tidak bisa dibubarkan Apalagi dicoba dihalaukan Dari gelanggan ini Karena ke kemah kami Sejarah sedang singgah Dan mengulurkan tangannya yang ramah Tidak ada lagi sekarang waktu Untuk merenung panjang, untuk ragu-ragu Karena jalan masih jauh Karena arif telah gugur Dan luka-luka dua puluh satu a.

  Analisis Diksi dan Gaya Bahasa Pemilihan kata yang cermat dan tepat dalam puisi berjudul Horison di atas, penyair Taufiq Ismail ingin menggambarkan suasana demonstrasi di tahun 1966. Demonstrasi penuh dengan tuntutan rakyat yang ingin berubah dari belenggu pemerintahan order lama. Kalimat bait pertama baris pertama, “Kami tidak bisa dibubarkan” Kata dari kalimat tersebut mengandung arti bahwa kami adalah murni memperjuangkan aspirasi rakyat yang tertindas, dan terbelenggu dengan kenaikan harga dan politik yang tidak menentu.

  Gaya bahasa yang digunakan penyair Taufiq Ismail adalah Metafora, yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain tanpa mempergunakan kata-kata pembanding. Pemilihan gaya bahasa sebagai bentuk penegasan dan illustrasi Taufiq Ismail untuk menggambarkan suasana tahun 1966 dengan gugurnya Arief Rahman Hakim dan luka-luka dua puluh satu sebagai akibat tindakan represif dari aparat keamanan.

  65 b.

  Aliterasi dan Asonasi Gaya bahasa Aliterasi dan Asona si dalam puisi “Horison” adalah respon untuk berbuat dan berbuat serta berjuang hanya untuk kepentingan rakyat. Karena itu, perjuangan seperti ini tidak dapat dibubarkan, Unsur seni dari alterasi dan asonansi adalah gaya penegasannya yang mendorong pembaca dan pendengar untuk memikirkan dan menyelami mengenai kondisi di tahun 1966 sehingga pembaca dan pendengar mengetahui ilustrasi tahun 1966.

  c.

  Ritme dan Rima Ritme dalam puisi Horison adalah dinamis dengan nada tekanan tinggi.

  Nada ini mengilustrasikan kemarahan mahasiswa atas gugurnya rekan mereka dan korban luka yang berjatuhan akibat dari sifat represif aparat keamanan. Untuk bisa menyelami dan nilai seni tetap ada maka tempo sedang sehingga setiap bait dan baris dari puisi bisa menggentarkan hati pembaca dan pendengar. Dalam puisi ini, diterapkan Rima sejajar, yaitu persamaan bunyi yang berbentuk sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik puisi yang mengandung kesejajaran maksud. Hal ini dapat dilihat Kami tidak bisa dibubarkan Apalagi dicoba dihalaukan Dari gelanggan ini 8.

   Puisi Berjudul “Rendez Vous ” Sejarah telah singgah Ke kemah kami Ia menegur sangat ramah Dan mengajar kami pergi “Saya sudah mengetuk-ngetuk Pintu yang lain” Katanya “Tapi amat heran Mereka berkali-kali menolakku Diambang pintu” Kini kami beratus ribu Mengiringkan langkah sejarah

  66

  Dalam langkah yang seru Dan semakin cepat Semakin cepat Semakin dahsyat Menderu-deru Dalam angin berputar Badai peluru Tanpa bukit batu!

  a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Taufiq Ismail memilih kata dalam puisi Rendez Vous yang bersifat konotatif. Sifat ini sangat kentara terlihat pada bait pertama dan kedua.

  Namun pemilihan kata pada bait ke tiga lebih bersifat penegasan dari bait pertama dan kedua. Penyair Taufiq Ismail seakan-akan ingin memberikan gambaran tentang perjuangan mahasiswa di Jakarta tahun 1966 adalah “Mengiringkan langkah sejarah” Sejarah demonstrasi yang penuh deru peluru, tekanan, dan intimidasi dari aparat keamanan untuk membubarkan. Gaya bahasa yang digunakan penyair Taufiq Ismail adalah Metafora, yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain tanpa mempergunakan kata-kata pembanding. Pemilihan gaya bahasa sebagai bentuk penegasan dan illustrasi Taufiq Ismail untuk menggambarkan suasana tahun 1966 dengan beratus ribu mengiringkan langkah sejarah yang tercatat dalam deru peluru, intimidasi.

  b.

  Aliterasi dan Asonasi Gaya bahasa Aliterasi dan Asonasi dalam Puisi Rendez Vous merupakan penyajian puisi dengan pengulangan konsonan dan vokal disusun agar bisa enak didengar, mudah dipahami dan dihafal. Ketiga hal ini merupakan pemikiran dasar yang tepat untuk pengulangan konsonan dan vokal yang tidak menyusahkan sehingga alur bunyi dapat berbunyi seperti semut beriringan.

  67 c.

  Ritme dan Rima Ritme dari suatu puisi sangat penting. Ritme ini sudah bisa terlihat pada susunan puisi itu sendiri. Dalam puisi berjudul “Rendez Vous”

  Ritme bersifat dinamis dengan tekanan tinggi. Tekanan tinggi ini terlihat pada bait pertama:

  Sejarah telah singgah Ke kemah kami Ia menegur sangat ramah Dan mengajar kami pergi

  Tempo dalam puisi adalah tempo sedang. Pemilihan tempo sedang karena ada bahasa komunikatif pada bait kedua

  Sejarah telah singgah Ke kemah kami Ia menegur sangat ramah Dan mengajar kami pergi

  Dalam puisi merupakan Rima tak sempurna, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir. Karena dari awal sampai akhir menunjukkan pengulangan bunyi yang tidak sempurna. Disamping itu menunjukkan rima sejajar, yaitu persamaan bunyi yang berbentuk sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik puisi yang mengandung kesejajaran maksud.

9. Puisi Berjudul Malam Sabtu

  Berjagalah terus Segala kemungkinan bisa terjadi Malam ini Maukah kita dikutuk anak cucu Menjelang akhir abad bini Karena kita berserah diri? Tidak. Tidak bisa Tujuh korban telah jatuh, Dibunuh Ada pula mayat adik-adik kita yang dicari Dipaksa untuk tidak dimakamkan semestinya Apakah kita akan bernafas panjang Dan seperti biasa: sabar mengurut dada? Tidak, Tidak Bisa Dengarkan. Dengarkanlah di luar tu

  68

  Suara doa berjuta-juta Rakyat yang resah dan menanti Mereka telah menanti lama sekali Menderita dalam nyeri Mereka sedang berdoa malam ini Dengar. Dengarkahlah hati-hati

  a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Pemiliha n kata dalam puisi “Malam Sabtu” sangat sempurna untuk menggambarkan tindakan represif aparat keamanan di tahun 1966. Korban yang berjatuhan, dibiarkan dan lainnya dicari. Kondisi seperti ini dapat dengan mudah dipahami, karena makna konotatif terlihat kental pada bait ketiga dan keempat.

  Tujuh korban telah jatuh, Dibunuh Ada pula mayat adik-adik kita yang dicari Dipaksa untuk tidak dimakamkan semestinya Apakah kita akan bernafas panjang Dan seperti biasa: sabar mengurut dada? Tidak, Tidak Bisa Dengarkan. Dengarkanlah di luar tu Suara doa berjuta-juta Rakyat yang resah dan menanti Mereka telah menanti lama sekali Menderita dalam nyeri Mereka sedang berdoa malam ini Dengar. Dengarkahlah hati-hati b.

  Aliterasi dan Asonasi Gaya bahasa Aliterasi dan Asonasi sangat mudah dicerna dari bait pertama sampai bait keempat. Pengulangan konsonan dan vokal yang tersusun rapih untuk memperlembut bunyi pada kata fokus seperti “Tujuh Korban telah jatuh. Dibunuh” dan “Rakyat yang resah dan menanti” serta “Dengar. Dengarkanlah hati-hati” Tiga hal ini enak didengar dan mudah dihafal karena bersifat provokatif untuk mendorong dan memicu semangat para demontran lainnya di tahun 1966 untuk terus berjuang dan berjuang.

  69 c.

  Ritme dan Rima Ritme dalam puisi “Malam Sabtu” bersifat dinamis yang lebih didominasi dengan nada tinggi dalam tempo sedang. Hal ini adalah untuk mendukung maksud dan makna dari kejadian malam sabtu, yakni terdapat tujuh korban yang dibunuh dan di bait empat pada bari kedua “suara doa berjuta-juta.” Dalam puisi ini terdapat Rima tak sempurna, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir yang tidak beraturan dan termasuk dalam Rima sejajar, yaitu persamaan bunyi yang berbentuk sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik puisi yang mengandung kesejajaran maksud dari kejadian Malam Sabtu.

10. Puisi Berjudul Memang Selalu Demikian, Hadi

  Setiap perjuangan slalu melahirkan Sejumlah penghianat dan para penjilat Jangan kau gusar, Hadi Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita Pada kaumn yang bimbang menghadapi gelombang Jangan kau kecewa, Hadi Setiap perjuangan yang akan menang Selalu mendatang pahlawan jadi-jadian Dan para jagoan kesiangan Memang demikian halnya, Hadi

  a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Dalam puisi berjudul Memang Selalu Demikian, Hadi disusun bermakna konotatif. Makna ini saling berhubungan antara bait pertama sampai terakhir. Makna konotatif sebagai penegas tentang maksud dan tujuan puisi tersebut.

  Gaya bahasa yang dipergunakan adalah Sinekdoke, yaitu bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting untuk benda itu sendiri. Bagian penting dari perjuangan yang melahirkan, “Sejumlah

  penghianat dan para penjilat, Pada kaumn yang bimbang menghadapi gelombang dan Selalu mendatang pahlawan jadi-jadian.

  70 b.

  Aliterasi dan Asonasi Gaya bahasa Aliterasi dan Asonasi adalah untuk memdahkan pembaca dan pendengar puisi berjudul Memang Selalu Demikian, Hadi dalam pengulangan konsonan dan vokal terlihat begitu jelas sehingga terdengar alunan yang merdu dan enak didengar serta mudah dihafal.

  Ketiga hal ini merupakan syarat mutlak bagi penyair untuk bisa lebih mengerti dalam menggambarkan keadaan tahun 1966 yang penuh perubahan dan tekanan.

  c.

  Ritme dan Rima Ritme dalam puisi Memang Selalu Demikian, Hadi adalah bersifat dinamis dengan tekanan nada sedang sampai tinggi. Dengan ritme seperti ini dilakukan dalam tempo sedang. Sedang pokok masalah di baris kedua di setiap bait dapat tersampaikan dengan jelas sebagai bentuk pesan yang ingin disampaikan dalam Memang Selalu Demikian, Hadi. Dalam puisi termasuk dalam rima sempurna, yaitu persama bunyi pada suku-suku kata terakhir dan rima patah, yaitu persamaan bunyi yang tersusun tidak menentu pada akhir larik-larik puisi (a-b-c-d).

11. Puisi Berjudul “Beberapa Urusan Kita”

  Tentang nasib angkatan ini Itu adalah urusan sejarah Tapi tentang menegakan kebenaran Itu urusan kita Apakah cuaca akan cemas di atas Hingga selalu kita bernaung mendung Apakah jantung kita masih berdegup kencang Dan barisan kita selalu bukit batu karang? Berjagalah terus, Berjagalah! Siang kita berlucut laras senapan Malam bila kita terancam penyergapan Berjagalah terus, Berjagalah! Mungkin kita tak akan melihat hari nanti Mingkin tidak kau. Tidak tahu Siapa bisa tahu Tapi itu urusan Tuhan

  71

  Masalah kemenangan, ketentaman tanpa tiran Tentang nasib angkatan ini Itu urusan sejarah Tetapi tentang menegakkan kebenaran Itu urusan kita a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Dalam puisi berjudul Beberapa Urusan Kita disusun dengan makna dekonotatif. Susunan ini karena ada beberapa kata yang tidak berhubungn namun pada dasarnya berhubungan. Pemilihan kata “itu urusan kita”, “Berjagalah terus, Berjagalah “,. “Masalah kemenangan, ketentraman tanpa tiran” yang tidak saling berhubungan namun saling memberikan makna.

  Gaya bahasa dalam puisi ini dengan metafora, yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain tanpa mempergunakan kata- kata pembanding. Kata atau kalimat pembnding “itu urusan kita”, “Berjagalah terus, Berjagalah “,. “Masalah kemenangan, ketentraman tanpa tiran” yang menjadi inti pokok pesan puisi ini.

  b.

  Analisis dan Pembahasan Aliterasi dan Asonasi Gaya bahasa Aliterasi dan Asonasi dalam pengulangan konsonan dan vokal memberikan kemudahan untuk mengerti makna baik yang tersirat maupun tersurat dalam puisi ini. Makna itu terkandung dalam “itu urusan kita”, “Berjagalah terus, Berjagalah “,. “Masalah kemenangan, ketentraman tanpa tiran” c.

  Ritme dan Rima Ritme dalam puisi bersifat dinamis namun memiliki nada tinggi yang berfungsi untuk memberikan perhatian kepada pendengar maupun pembaca sehingga pesan yang ingin disampaikan itu dapat diterima. Puisi ini masuk dalam rima tak sempurna, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir, dan rima patah, yaitu persamaan bunyi yang tersusun tidak menentu pada akhir larik-larik puisi (a-b-c-d),

  72

12. Puisi Berjudul “Refleksi Seorang Pejuang Tua”

  Tentara rakyat telah melucuti kebatilan Setelah mereka menyamak deru sejarah Dalam regu perkasa mulailah melangkah Karena perjuangan pada hari-hari ini Adalah perjuangan dari kalbu yang murni Belum pernah kesatuan terasa begini beratnya Kecuali dua puluh tahun yang lalu Mahasiswa telah meninggalkan ruang kuliahnya Pelajar muda berlarian ke jalan-jalan raya Mereka kembali menyeru-nyeru Nama kau, Kemerdekaan Seperti dua puluh tahun yng lalu Sepiral sejarah telah mengantarkan kita Pada titik ini Tidak ada seorangpun tiran Sanggup di tengah jalan mengangkat tangan Dan berseru, Berhenti! Tidak ada. Dan kalau pun ada Tidak bisa Karena perjuangan pada hari-hari ini Adalah perjuangan dimulai dari sunyi Belum pernah kesatuan terasa begitu eratnya Kecuali dua puluh tahun yang lalu a.

  Diksi dan Gaya Bahasa Dalam puisi berjudul “Refleksi Seorang Pejuang Tua” disusun dalam makna konotatif. Makna ini menunjukkan hubungan satu bait dengan baik lain yang saling mempengaruhi. Pemilihan kata ril dan kiasa tidak terlalu menonjol untuk menceritakan ketika perjuangan fisik, namun perjuangan panjang adalah perjuangan kalbu. Hal ini terlihat pada

  Belum pernah kesatuan terasa begini beratnya Kecuali dua puluh tahun yang lalu

  Pemilihan kata dalam kalimat di atas merupakan perjuangan kalbu. Karena itu Taufiq Ismail ingin menyampaikan perjuangan kalbu

  73 merupakan inti dari perjuangan fisik yang dilakukan mahasiswa di tahun 1966. Gaya bahasa dalam puisi ini adalah gaya bahasa Metafora, yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain tanpa mempergunakan kata-kata pembanding. Perbandingan yang dimaksud adalah perbandingan “kecuali perjuangan dua puluh tahun yang lalu” dengan perjuangan di tahun 1966 yang membela untuk memperjuangkan amanat penderitaan rakyat.

  b.

  Aliterasi dan Asonasi Gaya bahasa Aliterasi dan Asonasi dalam pengulangan konsonan dan vokal disusun untuk memberikan kemudahan mengerti perjuangan di masa lalu dengan perjuangan tahun 1966. Gambaran ini sangat penting dengan pengulangan konsonan dan vokal agar dapat membaca mudah dipahami dan dihafal.

  c.

  Ritme dan Rima Dalam ritme bersifat dinamis namun diberikan nada tinggi untuk mempertegas perbandingan masa lalu (dua puluh tahun lalu) dengan perjuangan mahasiswa di tahun 1966. Hal ini juga terlihat dalam tempo rendah sampai sedang sehingga setiap pesan yang disampaikan dapat mengenai sasaran untuk memberikan kesadaran berjuang membela tuntutan rakyat.

  Dalam puisi ini termasuk rima tak sempurna, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir dengan letaknya Rima patah, yaitu persamaan bunyi yang tersusun tidak menentu pada akhir larik-larik puisi (a-b-c-d) khususnya di bagian akhir.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai

  berikut: 1.

  Menganalisis unsur intrinsik kumpulan puisi Tirani sebanyak 9 puisi.

  2. Menganalisis unsur intrinsik kumpulan puisi Benteng sebanyak 12 puisi.

  3. Menganalisis unsur intrinsik kumpulan puisi Tirani dan Benteng yaitu Diksi, Gaya Bahasa, Aliterasi, Asonasi, Ritme, Rima.

B. Saran

  Berdasarkan analisis dan kesimpulan tersebut diatas. Maka dapat diajukan saran-saran sebagai berikut:

  1. Pengajaran apresiasi sastra khususnya puisi, sebaiknya semakin di tingkatkan kepada Siswa.

  2. Perlu adanya sarana dan prasarana untuk menampung aspirasi Siswa dan Masyarakat dalam berpuisi.

  3. Perlu adanya sebuah buku pedoman bagi setiap guru bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia.

  4. Perlu adanya pelatihan-pelatihan puisi kepada Siswa.

  

DAFTAR PUSTAKA

Ambary, Abdullah, Intisari Sastra Indonesia, Bandung: CV Djatnika, 1983.

  Alya, Qonita, Kamus Besar Indonesia Untuk Pendidikan Dasar, Jakarta: PT. Indah Jaya Adipratama, 2011. Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010. Badudu, J. S. Sari Kesusastraan Indonesia, Bandung: Pustaka prima, 1986. Endraswara, Suwardi, Metodologi Penelitian Sastra, Yogyakarta: CAPS, 2011. Furchan, Arief, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional Surabaya-Indonesia, 1970.

  Ibrahim, Buku Materi Pokok Kesusastraan PINA 2234 / 2 SKS Modul 4-6, Jakarta: Universitas Terbuka, 1986. Jalil, Abdul, Dianie, Teori dan Periodisasi Puisi Indonesia, Jakarta: Pustaka Taraby, 1983. Keraf, Gorys, Anatomi Sastra, Padang: Angkasa Raya Padang, 1988. Mahmudah, dkk, Pedoman Penelitian Skripsi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Jakarta: UIN, 2011. Monique, and Said Suzanne, A Short History Of Greek Literature, London: Routledge, 1999. Mudjihardja, FX, Sari-Sari Kesusastraan Indonesia, Jakarta: PT Galaxy Puspa Mega, 1988. Pradopo, Djoko, Rachmat, Pengkajian puisi, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1987. Rafiek, M. Teori Sastra Kajian Teori dan Praktik, Malang: PT, Medika Aditama, 2010. Siswantoro, Metodologi Penelitian Sastra Analisis Struktur Puisi, Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar, 2010.

  Surakhmad, Winarno, Pengantar Penelitian Ilmiah, dan Dasar Metode Teknik, Bandung: Tarsito, 1985. Sumiyadi, Pengkajian Puisi Analisis Romantik, Fenomenologis, Stilistik, dan Semiotik, Bandung: Pusat Studi Literasi, 2005. Suroto, Teori dan bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia, Jakarta: Erlangga, 1989. Semi, M. Atar, Anatomi Sastra, Padang: Angkasa Raya padang, 1988. Tarigan, Henry Guntur, Prinsip-Prinsip Dasar Sastra, Bandung: Angkasa Bandung, 1993. Waluyo, J, Herman, Teori dan Apresiasi Puisi, Bandung: Erlangga, 1987. Waluyo, J, Herman, Apresiasi Puisi, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002.

Dokumen baru