Status hukum thalaq di luar pengadilan dalam perspektif fiqh, UU NO 1/1974 dan kompilasi hukum Islam

Gratis

0
8
93
2 years ago
Preview
Full text

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akad perkawinan dalam hukum Islam bukanlah perkara perdata semata, tapi

  Menurut ketentuan hukum Islam, thalaq adalah termasuk salah satu hak suami, Allah menjadikan hak thalaq di tangan suami, tidak menjadikan hak thalaq itudi tangan orang lain baik orang lain itu istri, saksi, ataupun Pengadilan sebagaimana 5 salah satu dari Firman Allah SWT di antaranya surah Al-Ahzab [33] ayat 49Ibnu Qayyim berkata bahwa thalaq itu menjadi hak bagi orang yang menikah, karena itulah yang berhak menahan istri, yaitu merujuknya. Dengan adanya masalah seperti tersebut di atas penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang sah tidaknya thalaq di luar Pengadilan dan perlukah saksiterhadapa thalaq dalam pandangan Fiqh, UU No 1/1974 dan KHI dengan mengangkat sebuah tema "Status Hukum Thalaq di Luar Pengadilan Dalam Perspektif Fiqh, UU No 1/1974 dan KHI" , karena disatu sisi (NU) mengatakan sah thalaq diluar proses persidangan mulai saat itu iddahnya berlaku.

9 Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Mazhab, Terjemahan Masykur A.B, Afif

  At-Thalaq [65]: 2: Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksiyang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Pembatasan MasalahUntuk memudahkan penulis dalam penyusun skripsi ini, dengan tidak mengurangi nilai pembahasan, maka penulis membatasi masalah dalam skripsi inihanya pada : “Status Hukum Thalaq di Luar Pengadilan dalam Perspektif Fiqh, Undang-undang No 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam”, yang dimaksud Fiqh adalah para ulama mazhab yang empat, Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali.

D. Review Studi Terdahulu

  Skripsi ini menjelaskan tentang adanya nafkah iddah dan nafkah anak itu disebabkan jatuhnya thalaq baik thalaq yang dilakukan melalui prosespengadilan atau tidak, tapi cerai yang dilakukan di luar pengadilan tidak mengharuskan nafkah iddah dan nafkah anak, karena tidak terikat denganhukum 2. Skripsi ini menjelaskan bahwa masyarakat di daerah Sik Kedah Malaysiaya mempunyai keyakinan thalaq dianggap sah walau tanpa kepengadilan dengan berpedoman pada fikih, karena menurutfiqh sah thalaq yang dijatuhkan di luar pengadilan dan masyarakat disana 3.

E. Metode Penelitian

  Sumber data sekunder ; yaitu data-data yang berasal dari sember-sumber pendukung yang terkait dengan masalah yang diteliti, seperti kitab-kitab hukumIslam, buku teks, pendapat forum kelompok atau kajian Islam, tokoh atau sarjana yang berkompeten dibidang hukum islam. Pengumpulan DataDari sumber data primer dan sekunder yang telah terkumpul, berdasarkan masalah penelitian diatas, maka dikumpulkan lalu dirumuskan dan selanjutnyadikaji secara komprehensif berdasarkan rumusan-rumusan yang diperoleh.

F. Sistematika Penulisan

  Sistematika penulisan yang penulis pakai tersistem sebagai berikut:Kata pengantar, daftar isi dan memuat beberapa beb yaitu: Bab I Tentang Pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodepenelitian dan sistematika penulisan. Bab II Menjelaskan sekilas tentang thalaq yang berisikan tentang pengertian thalaq, macam-macam thalaq, syarat-syarat thalaq, redaksi (sighat) thalaq Bab III Menjelaskan proses perceraian yang berisikan tentang: Perspektif Fiqh, UU No 1 Tahun 1974 dan KHI.

BAB II SEKILAS TENTANG THALAQ A. Pengertian dan Macam-Macam Thalaq

  Ketiga : dengan kata tha-la-qa dan sepadanya yang sama maksudnya dengan itu mengandung arti bahwa putusnya perkawinan itu melalui suatu ucapan dan ucapan yang digunakan itu adalah thalaq atau semaksud dengan itu, bila tidak denganucapan tersebut maka putus dengan kematian. Al-Thalaq (65) : ayat 1) Dalam UUP No 1 Tahun 1974 tidak menjelaskan tentang thalaq sunni, akan tetapi dalam KHI Pasal 121 menjelasankan, “Thalaq sunny adalah thalaq yangdibolehkan yaitu thalaq yang dijatuhkan terhadap isteri yang sedang suci dan tidak dicampuri dalam waktu suci tersebut”.

25 Muslim dan Ibnu Majah

  Tentang thalaq bid’i ini dapat pula ditemukan dalam KHI Pasal 122 sebagai berikut: “Thalaq bid`i adalah thalaq yang dilarang, yaitu thalaq yang dijatuhkan padawaktu isteri dalam keadaan haid, atau isteri dalam keadaan suci tapi sudah dicampuri pada waktu suci tersebut”. 45 Al-Hafidz Bin Hajar al-Asqalani, Bulughul Maram, Surabaya: Toko Kitab al-Hidayah, 773 Thalaq yang dijatuhkan oleh suami kepada istrinya yang telah dikumpulinya betul-betul yang ia jatuhkan bukan sebagai ganti rugi dari mahar yang dikembalikannya dan sebelumnya belum pernah ia menjatuhkan thalaq kepadanyasama sekali atau baru sekali saja.

27 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, h. 60

  F#  W % Z[\ Q ,# +, GH WY <4  Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya Maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimuyang kamu minta menyempurnakannya (QS. al-Ahzab (33) ayat 49) Kedua : Thalaq yang dilakukan dengan cara tebusan dari pihak istri atau yang disebut khulu’. Termasukny thalaq tiga itu ke dalam kelompok ba’in kubra itu adalah sebagaimana yang dikatakan Allah dalam surah Al-Baqarah (2) ayat 230: y,# x% D dZ#5 e' ]_ <4  Q{, ]| ]'p$F u6zn]- 2 5.e' ]_ <4  $ x B)[}'~ % D ]W0[) 5a ]] B:s D ] ]s B)5•5( Artinya: “Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga Dia kawin dengan suami yang lain.

B. Rukun dan Syarat-syarta Thalaq

  Rukun dan syarta thalaq ialah unsur pokok yang harus ada dalam thalaq dan terwujudnya thalaq tergantung ada dan lengkapnya unsur-unsur dimaksud, rukun 35thalaq ada empat sebagai berikut: 1. SuamiYang memiliki hak thalaq dan yang berhak menjatuhkanya, selain suami tidak berhak menjatuhkannya oleh karena thalaq itu bersifat menghilangkan ikatanperkawinan, maka thalaq tidak mungkin terwujud kecuali setelah nyata adanya akad perkawinan yang sah.

35 Al-Jaziri, Al-Fiqhu, h. 968

  Suami yang gila tidak sah menjatuhkan thalaq yang dimaksud dengan gila dalam hal ini adalah hilang akal atau rusak akal karena sakit,termasuk kedalamnya sakit pitan, hilang akal karena sakit panas atau sakit ingatan karena rusak syaraf otaknya. Oleh karena itu, salahucap yang tidak dimaksudkan untuk thalaq dipandang tidak jatuh thalaq, seperti suami memberikan sebuah salak kepada istrinya, tapi ia keliru mengucapkannya Berkenaan dengan rukun dan syarat thalaq Undang-undang tidak ada yang mengaturnya baik UUP No 1 Tahun 1974, PP No 9 Tahun 1975 dan UUPA No 7Tahun 1989 ataupun KHI.

C. Redaksi (sighat Thalaq)

  Ulama sepakat ucapan thalaq yang mengandung lafaz sharih tidak perlu diiringi dengan niat, artinya dengan telah keluar ucapan itu jatuhlah thalaq meskipundia tidak meniatkan apa-apa atau meniatkan yang lain dari thalaq dengan syarat orang yang mengucapkan apa yang diucapkan mengerti dengan ucapan itu. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik (QS. Al-Baqarah (2) : ayat 229Jumhur ulama termasuk Imam Malik, ulama Hanabilah, Hanafiyah dan lainnya berpendapat bahwa lafaz yang sharih untuk maksud thalaq hanyalah satuyaitu lafaz tha-la-qa dan yang berakar kepadanya.

BAB II I PROSES PERCERAIAN PERSPEKTIF FIQH, UU NO 1/1974 DAN KHI A. Perspektif Fiqh Ada beberapa hal yang bisa menjadi sebab putusnya perkawinan, dan hal ini

  MenurutImam Malik sebab-sebab putusnya perkawinan adalah thalaq, khulu’, khiyar atau fasakh, syiqaq, nusyuz, ila’ dan zihar. Sedangkan Imam Syafi’i mengatakan sebab- sebab putusan perkawinan adalah thalaq, khulu’, fasakh, syiqaq, nusyuz, ila’, zihar 40 dan li’an .

40 Khairuddin Nasution, Status Wanita di Asea Tenggara: Studi Terhadap Perundang-

  Fasakh ialah batalnya perkawinan di sebabkan rusak atau tidak sahnya perkawinan yang dilangsungkan karena tidak memenuhi salah satu syarat atau salah satu rukun perkawinan, atau sebab lain yang datang kemudian setelah akad 44 perkawinan yang membatalkan kelangsungannya perkawinan. Adapun pisahnya suami-istri karena fasakh, maka hal ni tidak berarti mengurangi bilangan thalaq cukup dengan akad baru dan suami tetapmempunyai kesempatan tiga kali thalaq.44 Syiqaq berarti perselisihan antara suami dan istri sehingga antara suami-istri terjadi pertentangan pendapat dan pertengkaran yang menjadi dua pihak yang tidak mungkin dipertemukan dan kedua belah pihak tidak dapat mengatasinya.

46 Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari

  (QS. An-Nisa’ (4) : 35)Ayat di atas mengisyaratkan untuk mengangkat hakim (juru damai) diantara suami-istri yang sedang berselisih, agar dapat perselisihan itu menemukan jalan yangterbaik bagi keduanya. Hal ini bisa terjadi dalam bentuk perintah, penyelewengan dan hal-hal 47 yang dapat mengganggu keharmonisan rumah tangga seperti istri tidak mau diajak45 Ibid., 122 4647 Hakam ialah juru pendamai.

5 H ( 67n B

  Dasar hukumnya adalah firman Allah dalam surah Al-Mujaadalah (58) ayat 2: ,#E ^C$:# 5 } _ I( 5OP#Q D JK G9 > _•D /•  < > _#@ ]_9 w%d#k4 mf < > _Y ]_9 w% [^09c <B u > _5U*2 Bq,#E –}'\F 5 HC HI<Bh Fd |B 7—[H < Artinya: “orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) Tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. 5Y5@ O P5}[•' > ,]W XƒD ]W5@5( % Z[\ Q 5Ož# Ypƒ › ] * *‘# 5Y !Ÿ H:#  Y# ]&# j ; u F:`p$ #1 # B u t#% DH ƒBdB kD .q,(M}#" $ # B $ kD ` 2 . ~n‘# %  'h5 Artinya: “orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur.

5 HC  (

5OP#Q #Š 1.5} [^ _•D /•}0*¢ % #/] 5.[d % ’>h#- d ¤dHI"'~ D 9 £CD

5 H ¥  <B

  Kafarat yang dimaksud adalah memberi makan sepuluh orang miskin, memberi pakian kepada mereka, atau memerdekakan budak, jika tidak bisa dia boleh 54 berpuasa selama tiga hari. Li’an ialah sumpah yang diucapkan oleh suami ketika ia menuduh istrinya berbuat zina dengan mendatangkan empat saksi atau bersumpah empat kali dengan nama Allah dan pada sumpah yang kelima ia mengucapkan bahwa ia akan dilaknatoleh Allah kalau tuduhannya itu dusta, jika tidak bisa mendatangkan empat orang 55 saksi.

5 H [}(

  Artinya: “Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), Padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya Dia adalahTermasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la'nat Allah 56atasnya, jika Dia Termasuk orang-orang yang berdusta (QS.

B. Perspektif UU No 1 Tahun 1974

  Putusnya perkawinan yang dalam kitab fiqh disebut thalaq diatur secara cermat dalam UU Perkawinan, PP No 9 Tahun 1975 sebagai aturan pelaksanaan dariUU Perkawinan dalam Pasal 38 UU Perkawinan menjelaskan bentuk putusnya perkawinan dengan rumusan: Perkawinan dapat putus karena: a. atas keputusan Pengadilan Dalam Undang-undang perkawina perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan dan perceraian dapat terjadi setelah Pengadilan Agama berusahadan tidak berhasil mendamaikannya, dan bila memenuhi alasan-alasan, bahwa antara suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri.

56 Maksud ayat 6 dan 7: orang yang menuduh Istrinya berbuat zina dengan tidak mengajukan

  Pasal 15 PP: Pengadilan yang bersangkutan mempelajari isi Surat yang dimaksud dalam Pasal 14, dan dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari memanggil pengirim Surat dan juga isterinya untuk meminta penjelasantentang segala sesuatu yang berhubungan dengan maksud perceraian itu. (2) Dalam hal penggugat bertempat kediaman di luar negeri, gugatan perceraian diajukan kepada pengadilan yang daerah hukumnyameliputi tempat kediaman tergugagt.(3) Dalam hal penggugat dan tergugat bertempat kediaman di luar negeri, maka gugatan diajukan kepada pengadilan yang daerah hukumnyameliputi perkawinan mereka dilangsungkan atau ke Pengadilan Agama Jakarta Pusat.

C. Perspektif Kompilasi Hukum Islam (KHI)

Pasal 11 3 dinyatakan: Perceraian dapat putus karena: a. Kematian, b. Perceraian dan c

  Apabila tempat kediaman tergugat tidak jelas atau tergugat tidak mempunyai tempat kediaman yang tetap, panggilan dilakukan dengan caramenempelkan gugatanpada papan pengumuman di Pengadilan Agama dan mengumumkannya melalui satu atau bebrapa surat kabar atau mass medialain yang ditetapkan oleh Pengadilan Agama. Apabila tempat kediaman tergugat tidak jelas atau tergugat tidak mempunyai tempat kediaman yang tetap, panggilan dilakukan dengan caramenempelkan gugatan pada papan pengumuman di Pengadilan Agama dan mengumumkannya melalui satu atau beberapa surat kabar ataumessmedia lain yang ditetapkan oleh Pengadilan Agama.

BAB IV THALAQ DI LUAR PENGADILAN A. Status Hukum Diskursus tentang perceraian menurut perundang-undangan di Indonesia

  Sebagaimanan yang telah diungkapkan di muka, baik UUP No 1 Tahun1974, PP No 9 Tahun 1975 dan KHI begitu juga UUPA No 7 Tahun 1989 semuanya menyatakan bahwa: Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilansetelah pengadilan yang bersangkutan berusaha tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Alasan mereka adalah bahwa: Penjatuhan thalaq di depan sidang pengadilan bertujuan untukmewujudkan kemaslahatan berupa perlindungan terhadap institusi keluarga dan perwujudan kepastian hukum dimana perkawinan tidak dengan begitu mudah Perceraian dapat terjadi karena permohonan suami kepada Pengadilan untuk menyaksikan ikrar thalaq yang disebut cerai thalaq atau karena gugatan isteri yangdisebut cerai gugat.

64 Ibnu al-Qayyim menyatakan : “Perubahan fatwa dan perbedaannya terjadi

  Dalam hal thalaq di luar pengadilan ulama NU juga mengeluarkan fatwanya yang berbeda dari Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam bahsul masailnya yang ke-28di Yogyakarta Tahun 1989 dengan memberikan keputusan bahwa thalaq adalah hak progresif suami yang bisa dijatuhkan kapan dan dimanapun bahkan tanpa alasansekalipun. Oleh karena itu apabila suami belum menjatuhkan thalaq di luarPengadilan Agama, maka thalaq yang dijatuhkan di depan Hakim Agama itu dihitung thalaq yang pertama dan sejak itu pula dihitung iddahnya.

68 Abdul Aziz Masyhuri, Masalah Keagamaan jilid II, (Jakarta: Qultum Media 2004), cet, I h

  † <# >@ "pq  <B H ˆ] [. Br0 ‡ 5.

5 Q'y D 9 < $ D ]W0 ‡ `

  €M :)} &]q ”W` 5: Artinya Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, Maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan,niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu.

B. Saksi Thalaq

  Sebagaimana yang telah diatur dalam UU Perkawinan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah Pengadilan Agama tidakberhasil menasehati kedua belah pihak dan ternyata cukup alasan untuk menjatuhkan thalaq serta yang bersangkutan tidak mungkin lagi hidup rukun dalam rumah tangga,kemudian pengadilan Agama menjatuhkan keputusannya tentang izin bagi suami untuk mengikrarkan thalaq. Sebab, tampilnya parasaksi yang adil tidak akan bisa dilepaskan dari pemberian nasehat yang baik yang ditujukan kepada suami istri, yang bisa menjadi jalan keluar dalam persoalan thalaq 70 yang amat dibenci Allah itu.

71 Sirin

C. Analisis Penulis

  Ahmad Azhar Basyir (mantan ketua majelis tarjih muhammaddiyah) ada empat kesimpulan yang bisa di petik 1 Pengharusan thalaq melalui proses pengadilan hanya untuk kemaslahatan terhadap institusi keluarga dengan kata lain status suami-istri menjadi jelaskalau mereka sudah erpisah dengan adanya bukti akte cerai, begitu juga status anak-anak mereka. Ulama fiqh yang memperbolehkan saksi thalaq, cenderung untuk memperkuat terjadinya thalaq dimana si A dan si B sudah berpisah, sedangkan yangmenganggap tidak perlu adanya saksi thalaq cenderung terhadap masalah rumah tangga yang tidak perlu di beritahukan pada orang lain.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari pembahasan yang penulis kemukakan pada bab terdahulu, terkait dengan

  status hukum thalaq diluar pengadilan, penulis menyimpulkan bahwa, thalaq di luar pengadilan tidak sah menurut perspektif UU No 1 Tahun 1974 tentang perkawinandan Kompilasi Hukum Islam (KHI) sekalipun fiqh mengatakan sah thalaq di luar pengadilan, tapi tidak mempunyai kekuatan dalam hukum positif. Dalam UU No 1 Tahun 1974, Kompiulasi Hukum Islam dan Fiqh dapat diambil intisari dari beberapa penjelasan pada bab-bab terdahulu terkait denganthalaq sebagai berikut: 1.

2. Adanya alasan untuk menjatuhkan thalaq sebagaimana yang terdapat pada

  Pasal 39 ayat (2) UU No 1 Tahun 1974 yang dijelaskan pada Pasal 19 PP No 9 Tahun 1975 begitu juga Kompilasi Hukum Islam yang dijelaskan pada Pasal 116 begitu juga fiqh seperti yang dijelaskan dalam KHI. Sedengakan UU No 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam memberikan penjelasan bahwa pengadilanhanya menyaksikan ikrar thalaq yang diucapkan suami terhadap istrinya.

B. SARAN

  Bagi ummat Islam janganlah sekali-kali menjatuhkan thalaq di luar pengadilan walaupun hal itu (thalaq) yang dilakukan di luar pengadilan diperbolehkan,tapi untuk lebih kehati-hatian dan lebih menjamin kepastian hukum thalaq itu sendiri dan untuk mengurangi hal-hal yang tidak diinginkan setelahperceraian. Bagi ulama yang berpendapat sah thalaq di luar pengadilan jangan sampai menafikan atau mengenyampingkan UU perkawinan dan jangan bersifatotoriter terhadap fatwa yang dijadikan landasan hukum sahnya thalaq di luar pengadilan sehingga mempermudah terjadinya thalaq, karena thalaq yangdilakukan di luar pengadilan terkesan mempermudah terjadinya thalaq.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Nusyus suami dalam perspektif hukum Islam dan hukum positif
0
10
79
Status hukum ahli waris pengganti menurut perspektif KHI dan Fikih :studi kasus penetapan pengadilan agama sumber Cirebon.
0
10
80
Penelantaran terhadap anak (perspektif hukum Islam dan UU NO 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak)
0
3
95
Kejahatan kesusilaan dalam perspektif hukum Islam dan hukum positif (analisa putusan Nomor 401/Pid.B/ 2007/ PN.Jak.Sel)
0
2
109
Perceraian sepihak tanpa melalui pengadilan ditinjau dari perspektif hukum Islam dan hukum Positif (studi kasus di Desa Kahiyangan, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan)
1
4
85
Wali adhal dalam perspektif empat imam mazhab dan relevansinya hukum perkawinan Islam di Indonesia
5
53
88
Status hukum thalaq di luar pengadilan dalam perspektif fiqh, UU NO 1/1974 dan kompilasi hukum Islam
0
8
93
Praktik dzikir sufi tarekat maulawiyyah dalam perspektif hukum Islam
0
10
85
batas minimal usia cakap hukum dalam undang-undang no.3 tahun 1997 tentang pengadilan anak ditinjau dari perspektif hukum Islam
0
7
117
Murtad dan akibat hukumnya terhadap status perkawinan dalam perspektif fikih dan kompilasi hukum islam
2
5
82
Problema nikah Fasakh dalam perspektif hukum materil dan hukum Islam
1
4
76
Sistem operasional koperasi langit biru dalam perspektif hukum positif dan hukum Islam
0
12
0
Hubungan seksual suami-istri dalam perspektif gender dan hukum Islam
0
4
12
Penimbunan barang dalam perspektif hukum Islam
0
25
14
Studi komparasi warisan anak luar kawin menurut hukum Islam dan hukum perdata
0
1
55
Show more