Feedback

Perancangan Lanskap Waterway Jakarta: Kajian Segmen Manggarai (Jakarta Selatan) – Karet (Jakarta Pusat).

Informasi dokumen
PERANCANGAN LANSKAP WATERWAY JAKARTA : KAJIAN SEGMEN MANGGARAI (JAKARTA SELATAN) - KARET (JAKARTA PUSAT) ITA NURMALA HIKASASI PROGRAM STUDI ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 i RINGKASAN ITA NURMALA HIKASASI. Perancangan Lanskap Waterway Jakarta: Kajian Segmen Manggarai (Jakarta Selatan) – Karet (Jakarta Pusat). Dibimbing oleh BAMBANG SULISTYANTARA. Manusia membutuhkan fasilitas bertransportasi untuk kelancaran mobilitas barang dan jasa. Dalam bertransportasi, ketidaknyamanan terjadi akibat meluapnya kendala dalam meningkatkan kualitas jangkauan pelayanan dan keselamatan pengguna jasa transportasi (Setijowarno&Frazila 2003). Manusia menginginkan sistem transportasi yang efektif, nyaman, ramah lingkungan, dan mengantarkannya pada kebutuhan hidup lebih tinggi, seperti kebutuhan rekreasi. Waterway menjadi langkah penataan permasalahan sistem transportasi Jakarta dan dikenal sebagai bagian dari Pola Transportasi Makro (PTM). PTM menggalakkan penggunaan angkutan massal. Pemerintah mengambil segmen Manggarai-Karet, Banjir Kanal Barat (BKB), pada proyek awal. Sebagai prasarana transportasi, BKB dapat sekaligus dirancang sebagai ruang rekreasi. Tujuan penelitian ini adalah merancang lanskap waterway Jakarta pendukung kegiatan transportasi, kelancaran aktivitas ekonomi, dan sebagai sarana kebutuhan rekreasi, dengan mengidentifikasi dan menganalisis potensi/kendala tapak dan menciptakan tata ruang lanskap waterway untuk mendukung kebijakan PTM. Beberapa kendala dalam mewujudkan lanskap waterway tersebut, antara lain, ketersediaan air yang fluktuatif dan beberapa pemandangan yang tidak menyenangkan akibat kerusakan, vandalisme, maupun faktor pemeliharaan. Sementara itu, secara umum potensi yang dijumpai adalah pemandangan cukup menarik di beberapa tempat, aksesibilitas memungkinkan menuju kanal, fungsi kanal dalam membantu jangkauan transportasi, adanya rencana pengembangan wilayah sekitar BKB, serta peran ekologis kanal itu sendiri sebagai penampung air dan pendukung iklim perkotaan yang baik. Suhu rata-rata tapak per bulan 28,5 ºC, kelembaban udara 73,9 %, jumlah rata-rata bulanan hujannya 132,8 mm, dan didukung iklim perkotaan hasil interaksi tata guna lahan, jumlah penduduk, dan polusi udara. Fluktuasi arus pelayaran, perubahan suhu, peningkatan polutan, dan intensitas matahari diatasi dengan merangsang pergerakan udara, menciptakan naungan, mempertahankan pohon besar, serta mengadakan saluran drainase dan resapan yang baik. Jenis tanah tapak tergolong subur, yakni asosiasi latosol merah, coklat kemerahan, dan laterit, tetapi kurang bahan organik dan fosfor, diatasi dengan pemupukan. Topografi selain pada tebing kanal terlihat datar, sehingga diperlukan desain yang tidak monoton. Ketinggian air yang berlebih/kurang terjadi akibat penyempitan alur, curah hujan, dan sampah yang mengganggu pelayaran. Solusi diberikan dengan vegetasi, desain lanskap dan fasilitas yang fleksibel terhadap fluktuasi ketinggian air, serta penguatan tebing yang juga menciptakan kecukupan lebar alur pelayaran. Tingkat kekeruhan dan kadar detergen BKB tidak terlalu tinggi, tetapi secara keseluruhan kualitas air kanal tersebut menurunkan nilai estetika. Kanal diberi saluran penyaring limbah cair dan sampah padatnya disaring sebelum masuk ke kanal. Pemandangan sekitar ada pada skala cukup baik hingga kondisi yang membutuhkan penataan. Bunyi, aroma, taktilitas, dan view menyenangkan ii menjadi potensi, sedangkan kendala yang ada dibenahi dengan perancangan. Analisis pun dilakukan terhadap vegetasi dan satwa, aksesibilitas, tata guna lahan, pengguna, sosial demografi, fasilitas utilitas, serta konsep/kebijakan pemerintah. Berdasar analisis, terwujud program ruang yang dikaitkan dengan konsep dasarnya, yakni lanskap pendukung kegiatan angkutan feeder waterway yang ekologis, nyaman, menyenangkan, dan tercipta fungsi rekreasi. Fungsi yang dikembangkan pada tapak adalah fungsi transportasi (aktivitas transportasi yang efektif efisien dan fasilitas serta pelayanan yang menunjang), fungsi rekreasi (memberikan nilai lebih perjalanan melalui pemberdayaan potensi estetika lanskapnya), fungsi kenyamanan (kenyamanan iklim mikro, lingkungan sosial, dan visual tapak), fungsi pelestarian air (melestarikan sumberdaya air), dan fungsi identitas. Konsep dikembangkan dengan membaginya ke dalam 3 segmen, yaitu konsep pengembangan segmen Manggarai-Mampang, Mampang-Sudirman, dan Sudirman-Karet. Pembagian mengacu pada kebijakan PTM mengenai rencana titik intermoda (Manggarai, Sudirman, dan Karet), serta berdasarkan tata guna lahan dominan dan atau wilayah administratif yang dibatasi oleh banjir kanal. Fungsi yang terbentuk melahirkan konsep ruang, konsep tata hijau, konsep aktivitas, konsep pencahayaan, serta konsep sirkulasi dan fasilitas sebagai penghubung ruang dan pendukung aktivitas yang dihadirkan. Ruang terdiri dari ruang rekreasi (aktif dan pasif), ruang transportasi, dan ruang pelayanan. Ruang transportasi adalah badan air itu sendiri. Ruang pelayanan terdapat di setiap titik dermaga untuk pelayanan transportasi dan rekreasi. Ruang rekreasi adalah area selain ruang transportasi dan pelayanan. Memanjang dari Manggarai-Karet, ruang rekreasi tersusun atas beberapa subruang rekreasi yang dikelompokkan berdasar kelompok aktivitas yang diwujudkan, yakni area (lawn) rumput, area keluarga, area kesehatan fisik dan psikologi, area groundcover promenade, area pepohonan, dan area lively (lincah dan bersemangat). Sebagai penghubung ruang dibuat sirkulasi utama (keluar masuk tapak melalui ruang pelayanan), sirkulasi rekreasi, serta sirkulasi transportasi waterway yang berupa sirkulasi pada kanal dan sirkulasi di dermaga. Sirkulasi utama menggunakan sebagian besar turfgrass dengan dimensi yang lebar terbuka untuk pergerakan manusia dan sepeda. Sirkulasi di dermaga digabungkan oleh ramp dengan ponton dari plat baja. Sementara itu, sirkulasi rekreasi linier untuk pejalan kaki dan menghubungkan ruang pelayanan satu dengan ruang pelayanan berikutnya, dengan lebar 0,9-2,4 meter, menggunakan paving blok dan paving stone. Adapun tata hijaunya menggunakan konsep tata hijau pembentuk ruang, tata hijau identitas, dan tata hijau ekologis. Tata hijau identitas mewakili tiga segmen yang disinggung sebelumnya, terdapat pada ruang rekreasi, dan menggunakan vegetasi yang mengingatkan asal usul penamaan Pasar Rumput, Menteng, Karet, dan Kebon Melati, yaitu rumput, pohon Menteng, pohon Karet, melati, getahgetahan. Tata hijau pembentuk ruang berfungsi sebagai pembatas (Duranta repens, Ophiopogon sp., dll.), pengarah dan pengontrol pandangan (Polyalthia longifolia, dan Paraserianthes falcataria), peneduh (Swietenia sp., Ficus benjamina, dll.), pembentuk lantai, pembentuk estetika dan aroma wangi (Bauhinia purpurea, Gardenia sp., dll.). Tata hijau ekologis memfungsikan vegetasi sebagai penjaga keberlanjutan lanskap banjir kanal (fisik dan ekologi). Artocarpus integra, Swietenia sp., Nephelium lappaceum, dll. menambah kadar bahan organik, mengatur, dan menjaga ketersediaan air tanah. Swietenia sp., iii Artocarpus integra, Stephanotis floribunda, Ixora sp., dll. menyerap polusi sekitar tapak. Arundinaria pumila, Mimusops elengi, dll. mengurangi kebisingan dari sumber bunyi kereta api. Beberapa jenis lain juga menyediakan kebutuhan nektar bagi burung dan serangga. Tema pencahayaan yang terkandung dalam konsep ini adalah penerangan pada waktu gelap dan penerangan untuk dekorasi. Aktivitas diwujudkan dengan aktivitas transportasi, aktivitas rekreasi (bermain, bersantai, jogging, sosialisasi, jalan-jalan, belajar, duduk-duduk, menikmati pemandangan, photohunting, mencari ketenangan, dan sekedar lewat), serta aktivitas pengelolaan (pengawasan dan pelayanan pengunjung). Fasilitas ditempatkan berdasarkan pertimbangan fungsi, kondisi tapak, dan keharmonisan letak. Konsep fasilitas membagi penataan fasilitas menjadi fasilitas transportasi dan pariwisata, fasilitas rekreasi, fasilitas pelayanan, dan fasilitas pengelolaan. Sebagaimana pengguna transportasi waterway, pengguna lanskap tepian waterway adalah semua golongan usia (anak-anak, remaja, tua) dan penyandang cacat. Daya tampung tiap kunjungan terhadap ruang dan fasilitas di bantaran yang diberikan berdasar kebutuhan tiap unit adalah sebesar 1.231 unit. Sementara itu, rencana pengguna kapal setiap harinya diperkirakan berdasarkan perhitungan beberapa variabel, yang berupa (1) 10 dermaga, (2) 5 buah kapal, (3) panjang lintasan memutar 6,1 km, (4) rencana waktu tempuh 11,37 menit, (5) kecepatan kapal 20 knots, dan (6) jumlah total waktu tambahan untuk merapatkan kapal, mengangkut penumpang, dan kembali berjalan dalam satu putaran sebesar 20 menit. Total perjalanan memutar dari Manggarai ke Manggarai 31,37 menit. Operasi kapal direncanakan selama 14 jam, dengan melihat jam sibuk dan jam tidak sibuk. Melalui perhitungan, total penumpang yang dapat diangkut selama sehari beroperasi berjumlah 4.368 penumpang. iv PERANCANGAN LANSKAP WATERWAY JAKARTA : KAJIAN SEGMEN MANGGARAI (JAKARTA SELATAN) – KARET (JAKARTA PUSAT) Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Departemen Arsitektur Lanskap ITA NURMALA HIKASASI A34204007 PROGRAM STUDI ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 v HALAMAN PENGESAHAN Judul Penelitian : Perancangan Lanskap Waterway Jakarta: Kajian Segmen Manggarai (Jakarta Selatan) – Karet (Jakarta Pusat) Nama : Ita Nurmala Hikasasi NRP : A34204007 Program Studi : Arsitektur Lanskap Disetujui Dosen Pembimbing, Dr. Ir. Bambang Sulistyantara, MAgr. NIP 131 578 797 Diketahui Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Dr. Ir. Didy Soepandi, MAgr. NIP 131 124 091 Tanggal Lulus : vi KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan hidayah dan rahmat kepada seluruh umat-Nya serta dengan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul “Perancangan Lanskap Waterway Jakarta: Kajian Segmen Manggarai (Jakarta Selatan)-Karet (Jakarta Pusat)”. Sebagaimana kita ketahui, permasalahan transportasi Kota Jakarta seperti kemacetan, pencemaran udara, dan ketidakefisienan waktu, mengakibatkan dikeluarkannya kebijakan Pola Transportasi Makro, salah satunya yaitu waterway. Judul ini dipilih atas pertimbangan permasalahan lanskap waterway yang ada sekarang. Permasalahan ini memunculkan upaya untuk mengefektifkan moda transportasi tersebut menjadi transportasi yang nyaman, lestari, dan mendukung rekreasi melalui penataan lanskapnya. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada: 1. Dr. Ir. Bambang Sulistyantara, MAgr. sebagai dosen pembimbing skripsi (sekaligus dosen pembimbing akademik) atas waktu dan bimbingan yang diberikan kepada penulis hingga terselsaikannya laporan penelitian ini. 2. Ir. Indung Sitti Fatimah, Msi. dan Vera Dian Damayanti, SP.MLA., sebagai dosen penguji atas koreksi dan masukan selama proses sidang. 3. Staf UPT Penyeberangan sebagai informan pertama tentang waterway Jakarta. 4. Dinas Perhubungan, (Pak Roland dkk.), Dinas Pertamanan, Dinas Tata Kota (Pak Edi dan Pak Darmika), BBWSCC (Pak Bambang Triyono dkk.), Dinas Pekerjaan Umum, dan beberapa instansi terkait dengan topik penelitian, atas informasi dan sumber data yang diberikan. 5. kedua orang tua, Bayu, Zasitamya, dan keluarga di rumah yang setiap saat membantu dengan materi, doa, dan semangat yang tiada henti. 6. teman-teman Arsitektur Lanskap 41 dan teman-teman ACC, atas bantuan tenaga, informasi, saran, doa, dan motivasi kerja yang tiada terkira banyaknya. Terima kasih banyak. 7. keluarga Bekasi, atas bantuan transportasi, doa, teman survai data. 8. segenap staf Departemen Arsitektur Lanskap IPB. 9. kakak dan adik angkatan. vii 10. berbagai pihak yang tidak dapat tersebutkan satu per satu. Semoga penelitian ini bermanfaat dan menjadi bahan pertimbangan yang diperlukan dalam pelaksanaan pengembangan waterway dan tata ruang Kota Jakarta. Penulis menyadari bahwa karya ini belum sempurna, baik isi maupun penyajiannya. Oleh karenanya, penulis menerima kritik dan saran untuk perbaikan dalam penulisan yang akan datang. Bogor, Januari 2009 Ita Nurmala Hikasasi viii RIWAYAT HIDUP Ita Nurmala Hikasasi, dilahirkan di Purworejo pada tanggal 25 Maret 1986 dan merupakan anak pasangan Harjono, SPd. (ayah) dan Supriwi (ibu). Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara yang bernama Bayu Sukaca. Pendidikan penulis diawali dari TK Dian Lestari, dilanjutkan dengan SD Negeri Semawung Kembaran II dan SD Negeri Bugel. Pada tahun 1998 penulis masuk ke SLTP Negeri 1 Bagelen dan pada tahun 2001 penulis melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA. Penulis lulus dari SMA Negeri 1 Purworejo pada tahun 2004. Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Selama menjadi mahasiswa Arsitektur Lanskap IPB penulis ikut serta dalam Klub Dekorasi Taman yang berada di bawah pengelolaan asrama TPB-IPB pada tahun pertama di IPB. Pada akhir tahun 2006 penulis mengikuti Himpunan Mahasiswa Arsitektur Lanskap (Himaskap) sebagai anggota Divisi Pemberdayaan Sumberdaya Manusia (PSDM). Pada tahun yang sama penulis bekesempatan mengikuti Lomba lanskap/lingkungan Karya sebagai Tulis peserta Ilmiah berkaitan perwakilan dari dengan bidang departemen dan berkesempatan menjadi kandidat calon mahasiswa berprestasi Arsitektur Lanskap. Pada tahun keempat perkuliahan (2007) penulis menjadi asisten mata kuliah mayor Desain Lanskap. Terkait bidang lanskap, penulis pun sempat mengikuti beberapa kegiatan di luar kampus.                     ix DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ............................................................................................... xi DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xiv PENDAHULUAN Latar Belakang .............................................................................................. Tujuan ........................................................................................................... Manfaat ......................................................................................................... Kerangka Pikir ............................................................................................... 1 3 4 4 TINJAUAN PUSTAKA Kota .............................................................................................................. Lanskap Sungai/Kanal .................................................................................. Ruang Terbuka Kota ..................................................................................... Transportasi Sungai/Kanal ........................................................................… Ketersediaan Air ............................................................................................ Rekreasi Alam ............................................................................................... Perancangan Lanskap Waterway Jakarta ...................................................... 6 7 9 10 12 14 15 METODOLOGI Lokasi dan Waktu Studi ................................................................................ Metode Studi ................................................................................................. Pengambilan Data ......................................................................................... Proses/Tahapan Perancangan ........................................................................ 19 19 19 20 KONDISI UMUM Letak dan Luas Tapak ................................................................................... Hidrologi ........................................................................................................ Transportasi dan Aksesibilitas ....................................................................... Sosial dan Demografi .................................................................................... Ekonomi dan Pariwisata ................................................................................ Sejarah Kanal dan Transportasi Air Jakarta .................................................. 24 24 26 26 27 27 DATA DAN ANALISIS Iklim .............................................................................................................. Tanah dan Topografi ..................................................................................... Hidrologi ....................................................................................................... 1. Kuantitas Air ....................................................................................... 2. Kualitas Air ......................................................................................... 3. Drainase ............................................................................................... 30 35 37 37 40 42 PERANCANGAN LANSKAP WATERWAY JAKARTA : KAJIAN SEGMEN MANGGARAI (JAKARTA SELATAN) - KARET (JAKARTA PUSAT) ITA NURMALA HIKASASI PROGRAM STUDI ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 i RINGKASAN ITA NURMALA HIKASASI. Perancangan Lanskap Waterway Jakarta: Kajian Segmen Manggarai (Jakarta Selatan) – Karet (Jakarta Pusat). Dibimbing oleh BAMBANG SULISTYANTARA. Manusia membutuhkan fasilitas bertransportasi untuk kelancaran mobilitas barang dan jasa. Dalam bertransportasi, ketidaknyamanan terjadi akibat meluapnya kendala dalam meningkatkan kualitas jangkauan pelayanan dan keselamatan pengguna jasa transportasi (Setijowarno&Frazila 2003). Manusia menginginkan sistem transportasi yang efektif, nyaman, ramah lingkungan, dan mengantarkannya pada kebutuhan hidup lebih tinggi, seperti kebutuhan rekreasi. Waterway menjadi langkah penataan permasalahan sistem transportasi Jakarta dan dikenal sebagai bagian dari Pola Transportasi Makro (PTM). PTM menggalakkan penggunaan angkutan massal. Pemerintah mengambil segmen Manggarai-Karet, Banjir Kanal Barat (BKB), pada proyek awal. Sebagai prasarana transportasi, BKB dapat sekaligus dirancang sebagai ruang rekreasi. Tujuan penelitian ini adalah merancang lanskap waterway Jakarta pendukung kegiatan transportasi, kelancaran aktivitas ekonomi, dan sebagai sarana kebutuhan rekreasi, dengan mengidentifikasi dan menganalisis potensi/kendala tapak dan menciptakan tata ruang lanskap waterway untuk mendukung kebijakan PTM. Beberapa kendala dalam mewujudkan lanskap waterway tersebut, antara lain, ketersediaan air yang fluktuatif dan beberapa pemandangan yang tidak menyenangkan akibat kerusakan, vandalisme, maupun faktor pemeliharaan. Sementara itu, secara umum potensi yang dijumpai adalah pemandangan cukup menarik di beberapa tempat, aksesibilitas memungkinkan menuju kanal, fungsi kanal dalam membantu jangkauan transportasi, adanya rencana pengembangan wilayah sekitar BKB, serta peran ekologis kanal itu sendiri sebagai penampung air dan pendukung iklim perkotaan yang baik. Suhu rata-rata tapak per bulan 28,5 ºC, kelembaban udara 73,9 %, jumlah rata-rata bulanan hujannya 132,8 mm, dan didukung iklim perkotaan hasil interaksi tata guna lahan, jumlah penduduk, dan polusi udara. Fluktuasi arus pelayaran, perubahan suhu, peningkatan polutan, dan intensitas matahari diatasi dengan merangsang pergerakan udara, menciptakan naungan, mempertahankan pohon besar, serta mengadakan saluran drainase dan resapan yang baik. Jenis tanah tapak tergolong subur, yakni asosiasi latosol merah, coklat kemerahan, dan laterit, tetapi kurang bahan organik dan fosfor, diatasi dengan pemupukan. Topografi selain pada tebing kanal terlihat datar, sehingga diperlukan desain yang tidak monoton. Ketinggian air yang berlebih/kurang terjadi akibat penyempitan alur, curah hujan, dan sampah yang mengganggu pelayaran. Solusi diberikan dengan vegetasi, desain lanskap dan fasilitas yang fleksibel terhadap fluktuasi ketinggian air, serta penguatan tebing yang juga menciptakan kecukupan lebar alur pelayaran. Tingkat kekeruhan dan kadar detergen BKB tidak terlalu tinggi, tetapi secara keseluruhan kualitas air kanal tersebut menurunkan nilai estetika. Kanal diberi saluran penyaring limbah cair dan sampah padatnya disaring sebelum masuk ke kanal. Pemandangan sekitar ada pada skala cukup baik hingga kondisi yang membutuhkan penataan. Bunyi, aroma, taktilitas, dan view menyenangkan ii menjadi potensi, sedangkan kendala yang ada dibenahi dengan perancangan. Analisis pun dilakukan terhadap vegetasi dan satwa, aksesibilitas, tata guna lahan, pengguna, sosial demografi, fasilitas utilitas, serta konsep/kebijakan pemerintah. Berdasar analisis, terwujud program ruang yang dikaitkan dengan konsep dasarnya, yakni lanskap pendukung kegiatan angkutan feeder waterway yang ekologis, nyaman, menyenangkan, dan tercipta fungsi rekreasi. Fungsi yang dikembangkan pada tapak adalah fungsi transportasi (aktivitas transportasi yang efektif efisien dan fasilitas serta pelayanan yang menunjang), fungsi rekreasi (memberikan nilai lebih perjalanan melalui pemberdayaan potensi estetika lanskapnya), fungsi kenyamanan (kenyamanan iklim mikro, lingkungan sosial, dan visual tapak), fungsi pelestarian air (melestarikan sumberdaya air), dan fungsi identitas. Konsep dikembangkan dengan membaginya ke dalam 3 segmen, yaitu konsep pengembangan segmen Manggarai-Mampang, Mampang-Sudirman, dan Sudirman-Karet. Pembagian mengacu pada kebijakan PTM mengenai rencana titik intermoda (Manggarai, Sudirman, dan Karet), serta berdasarkan tata guna lahan dominan dan atau wilayah administratif yang dibatasi oleh banjir kanal. Fungsi yang terbentuk melahirkan konsep ruang, konsep tata hijau, konsep aktivitas, konsep pencahayaan, serta konsep sirkulasi dan fasilitas sebagai penghubung ruang dan pendukung aktivitas yang dihadirkan. Ruang terdiri dari ruang rekreasi (aktif dan pasif), ruang transportasi, dan ruang pelayanan. Ruang transportasi adalah badan air itu sendiri. Ruang pelayanan terdapat di setiap titik dermaga untuk pelayanan transportasi dan rekreasi. Ruang rekreasi adalah area selain ruang transportasi dan pelayanan. Memanjang dari Manggarai-Karet, ruang rekreasi tersusun atas beberapa subruang rekreasi yang dikelompokkan berdasar kelompok aktivitas yang diwujudkan, yakni area (lawn) rumput, area keluarga, area kesehatan fisik dan psikologi, area groundcover promenade, area pepohonan, dan area lively (lincah dan bersemangat). Sebagai penghubung ruang dibuat sirkulasi utama (keluar masuk tapak melalui ruang pelayanan), sirkulasi rekreasi, serta sirkulasi transportasi waterway yang berupa sirkulasi pada kanal dan sirkulasi di dermaga. Sirkulasi utama menggunakan sebagian besar turfgrass dengan dimensi yang lebar terbuka untuk pergerakan manusia dan sepeda. Sirkulasi di dermaga digabungkan oleh ramp dengan ponton dari plat baja. Sementara itu, sirkulasi rekreasi linier untuk pejalan kaki dan menghubungkan ruang pelayanan satu dengan ruang pelayanan berikutnya, dengan lebar 0,9-2,4 meter, menggunakan paving blok dan paving stone. Adapun tata hijaunya menggunakan konsep tata hijau pembentuk ruang, tata hijau identitas, dan tata hijau ekologis. Tata hijau identitas mewakili tiga segmen yang disinggung sebelumnya, terdapat pada ruang rekreasi, dan menggunakan vegetasi yang mengingatkan asal usul penamaan Pasar Rumput, Menteng, Karet, dan Kebon Melati, yaitu rumput, pohon Menteng, pohon Karet, melati, getahgetahan. Tata hijau pembentuk ruang berfungsi sebagai pembatas (Duranta repens, Ophiopogon sp., dll.), pengarah dan pengontrol pandangan (Polyalthia longifolia, dan Paraserianthes falcataria), peneduh (Swietenia sp., Ficus benjamina, dll.), pembentuk lantai, pembentuk estetika dan aroma wangi (Bauhinia purpurea, Gardenia sp., dll.). Tata hijau ekologis memfungsikan vegetasi sebagai penjaga keberlanjutan lanskap banjir kanal (fisik dan ekologi). Artocarpus integra, Swietenia sp., Nephelium lappaceum, dll. menambah kadar bahan organik, mengatur, dan menjaga ketersediaan air tanah. Swietenia sp., iii Artocarpus integra, Stephanotis floribunda, Ixora sp., dll. menyerap polusi sekitar tapak. Arundinaria pumila, Mimusops elengi, dll. mengurangi kebisingan dari sumber bunyi kereta api. Beberapa jenis lain juga menyediakan kebutuhan nektar bagi burung dan serangga. Tema pencahayaan yang terkandung dalam konsep ini adalah penerangan pada waktu gelap dan penerangan untuk dekorasi. Aktivitas diwujudkan dengan aktivitas transportasi, aktivitas rekreasi (bermain, bersantai, jogging, sosialisasi, jalan-jalan, belajar, duduk-duduk, menikmati pemandangan, photohunting, mencari ketenangan, dan sekedar lewat), serta aktivitas pengelolaan (pengawasan dan pelayanan pengunjung). Fasilitas ditempatkan berdasarkan pertimbangan fungsi, kondisi tapak, dan keharmonisan letak. Konsep fasilitas membagi penataan fasilitas menjadi fasilitas transportasi dan pariwisata, fasilitas rekreasi, fasilitas pelayanan, dan fasilitas pengelolaan. Sebagaimana pengguna transportasi waterway, pengguna lanskap tepian waterway adalah semua golongan usia (anak-anak, remaja, tua) dan penyandang cacat. Daya tampung tiap kunjungan terhadap ruang dan fasilitas di bantaran yang diberikan berdasar kebutuhan tiap unit adalah sebesar 1.231 unit. Sementara itu, rencana pengguna kapal setiap harinya diperkirakan berdasarkan perhitungan beberapa variabel, yang berupa (1) 10 dermaga, (2) 5 buah kapal, (3) panjang lintasan memutar 6,1 km, (4) rencana waktu tempuh 11,37 menit, (5) kecepatan kapal 20 knots, dan (6) jumlah total waktu tambahan untuk merapatkan kapal, mengangkut penumpang, dan kembali berjalan dalam satu putaran sebesar 20 menit. Total perjalanan memutar dari Manggarai ke Manggarai 31,37 menit. Operasi kapal direncanakan selama 14 jam, dengan melihat jam sibuk dan jam tidak sibuk. Melalui perhitungan, total penumpang yang dapat diangkut selama sehari beroperasi berjumlah 4.368 penumpang. iv PERANCANGAN LANSKAP WATERWAY JAKARTA : KAJIAN SEGMEN MANGGARAI (JAKARTA SELATAN) – KARET (JAKARTA PUSAT) Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Departemen Arsitektur Lanskap ITA NURMALA HIKASASI A34204007 PROGRAM STUDI ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 v HALAMAN PENGESAHAN Judul Penelitian : Perancangan Lanskap Waterway Jakarta: Kajian Segmen Manggarai (Jakarta Selatan) – Karet (Jakarta Pusat) Nama : Ita Nurmala Hikasasi NRP : A34204007 Program Studi : Arsitektur Lanskap Disetujui Dosen Pembimbing, Dr. Ir. Bambang Sulistyantara, MAgr. NIP 131 578 797 Diketahui Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Dr. Ir. Didy Soepandi, MAgr. NIP 131 124 091 Tanggal Lulus : vi KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan hidayah dan rahmat kepada seluruh umat-Nya serta dengan izin-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul “Perancangan Lanskap Waterway Jakarta: Kajian Segmen Manggarai (Jakarta Selatan)-Karet (Jakarta Pusat)”. Sebagaimana kita ketahui, permasalahan transportasi Kota Jakarta seperti kemacetan, pencemaran udara, dan ketidakefisienan waktu, mengakibatkan dikeluarkannya kebijakan Pola Transportasi Makro, salah satunya yaitu waterway. Judul ini dipilih atas pertimbangan permasalahan lanskap waterway yang ada sekarang. Permasalahan ini memunculkan upaya untuk mengefektifkan moda transportasi tersebut menjadi transportasi yang nyaman, lestari, dan mendukung rekreasi melalui penataan lanskapnya. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada: 1. Dr. Ir. Bambang Sulistyantara, MAgr. sebagai dosen pembimbing skripsi (sekaligus dosen pembimbing akademik) atas waktu dan bimbingan yang diberikan kepada penulis hingga terselsaikannya laporan penelitian ini. 2. Ir. Indung Sitti Fatimah, Msi. dan Vera Dian Damayanti, SP.MLA., sebagai dosen penguji atas koreksi dan masukan selama proses sidang. 3. Staf UPT Penyeberangan sebagai informan pertama tentang waterway Jakarta. 4. Dinas Perhubungan, (Pak Roland dkk.), Dinas Pertamanan, Dinas Tata Kota (Pak Edi dan Pak Darmika), BBWSCC (Pak Bambang Triyono dkk.), Dinas Pekerjaan Umum, dan beberapa instansi terkait dengan topik penelitian, atas informasi dan sumber data yang diberikan. 5. kedua orang tua, Bayu, Zasitamya, dan keluarga di rumah yang setiap saat membantu dengan materi, doa, dan semangat yang tiada henti. 6. teman-teman Arsitektur Lanskap 41 dan teman-teman ACC, atas bantuan tenaga, informasi, saran, doa, dan motivasi kerja yang tiada terkira banyaknya. Terima kasih banyak. 7. keluarga Bekasi, atas bantuan transportasi, doa, teman survai data. 8. segenap staf Departemen Arsitektur Lanskap IPB. 9. kakak dan adik angkatan. vii 10. berbagai pihak yang tidak dapat tersebutkan satu per satu. Semoga penelitian ini bermanfaat dan menjadi bahan pertimbangan yang diperlukan dalam pelaksanaan pengembangan waterway dan tata ruang Kota Jakarta. Penulis menyadari bahwa karya ini belum sempurna, baik isi maupun penyajiannya. Oleh karenanya, penulis menerima kritik dan saran untuk perbaikan dalam penulisan yang akan datang. Bogor, Januari 2009 Ita Nurmala Hikasasi viii RIWAYAT HIDUP Ita Nurmala Hikasasi, dilahirkan di Purworejo pada tanggal 25 Maret 1986 dan merupakan anak pasangan Harjono, SPd. (ayah) dan Supriwi (ibu). Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara yang bernama Bayu Sukaca. Pendidikan penulis diawali dari TK Dian Lestari, dilanjutkan dengan SD Negeri Semawung Kembaran II dan SD Negeri Bugel. Pada tahun 1998 penulis masuk ke SLTP Negeri 1 Bagelen dan pada tahun 2001 penulis melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA. Penulis lulus dari SMA Negeri 1 Purworejo pada tahun 2004. Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Selama menjadi mahasiswa Arsitektur Lanskap IPB penulis ikut serta dalam Klub Dekorasi Taman yang berada di bawah pengelolaan asrama TPB-IPB pada tahun pertama di IPB. Pada akhir tahun 2006 penulis mengikuti Himpunan Mahasiswa Arsitektur Lanskap (Himaskap) sebagai anggota Divisi Pemberdayaan Sumberdaya Manusia (PSDM). Pada tahun yang sama penulis bekesempatan mengikuti Lomba lanskap/lingkungan Karya sebagai Tulis peserta Ilmiah berkaitan perwakilan dari dengan bidang departemen dan berkesempatan menjadi kandidat calon mahasiswa berprestasi Arsitektur Lanskap. Pada tahun keempat perkuliahan (2007) penulis menjadi asisten mata kuliah mayor Desain Lanskap. Terkait bidang lanskap, penulis pun sempat mengikuti beberapa kegiatan di luar kampus.                     ix DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ............................................................................................... xi DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xiv PENDAHULUAN Latar Belakang .............................................................................................. Tujuan ........................................................................................................... Manfaat ......................................................................................................... Kerangka Pikir ............................................................................................... 1 3 4 4 TINJAUAN PUSTAKA Kota .............................................................................................................. Lanskap Sungai/Kanal .................................................................................. Ruang Terbuka Kota ..................................................................................... Transportasi Sungai/Kanal ........................................................................… Ketersediaan Air ............................................................................................ Rekreasi Alam ............................................................................................... Perancangan Lanskap Waterway Jakarta ...................................................... 6 7 9 10 12 14 15 METODOLOGI Lokasi dan Waktu Studi ................................................................................ Metode Studi ................................................................................................. Pengambilan Data ......................................................................................... Proses/Tahapan Perancangan ........................................................................ 19 19 19 20 KONDISI UMUM Letak dan Luas Tapak ................................................................................... Hidrologi ........................................................................................................ Transportasi dan Aksesibilitas ....................................................................... Sosial dan Demografi .................................................................................... Ekonomi dan Pariwisata ................................................................................ Sejarah Kanal dan Transportasi Air Jakarta .................................................. 24 24 26 26 27 27 DATA DAN ANALISIS Iklim .............................................................................................................. Tanah dan Topografi ..................................................................................... Hidrologi ....................................................................................................... 1. Kuantitas Air ....................................................................................... 2. Kualitas Air ......................................................................................... 3. Drainase ............................................................................................... 30 35 37 37 40 42 x Hidrografi Badan Air ..................................................................................... Nilai Estetika ................................................................................................. Aksesibilitas, Transportasi, dan Sirkulasi ...................................................... Vegetasi dan Satwa ........................................................................................ Tata Guna Lahan ........................................................................................... Pengguna Tapak ............................................................................................ Sosial Demografi ........................................................................................... Fasilitas .......................................................................................................... Utilitas ........................................................................................................... Konsep, Kebijakan, dan Rencana Teknis ...................................................... 43 44 49 52 65 68 71 71 76 77 SINTESIS Program Ruang .............................................................................................. 79 Program User ................................................................................................. 80 KONSEP PERANCANGAN Konsep Dasar ................................................................................................ Konsep Pengembangan ................................................................................. 1. Konsep Ruang ..................................................................................... 2. Konsep Tata Hijau .............................................................................. 3. Konsep Aktivitas ................................................................................. 4. Konsep Sirkulasi ................................................................................. 5. Konsep Pencahayaan ........................................................................... 6. Konsep Fasilitas dan Kelengkapan Angkutan Waterway ................... 81 81 83 85 86 86 87 87 PERANCANGAN Gambaran Perancangan Lanskap Waterway Jakarta .................................... 89 Rancangan Ruang .......................................................................................... 91 Rencana Vegetasi .......................................................................................... 96 Rancangan Sirkulasi ...................................................................................... 104 Rancangan Fasilitas dan Kelengkapan Angkutan Waterway ........................ 105 Daya Dukung ................................................................................................ 111 KESIMPULAN Simpulan ........................................................................................................ 145 Saran .............................................................................................................. 146 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 147 LAMPIRAN ........................................................................................................ 150               xi DAFTAR TABEL Halaman 1. Sifat Fisik dan Kimia Utama Penentu Kualitas Air .................................... 13 2. Jenis, Bentuk, Sumber, dan Cara Pengambilan Data ................................. 22 3. Rata-Rata Iklim menurut Stasiun Kemayoran selama Lima Tahun Terakhir (2003-2007) ................................................................................. 30 4. Kondisi Iklim dari Tahun ke Tahun menurut Stasiun 745 (Kemayoran) ... 33 5. Hidrografi Kanal pada Segmen Perancangan Lanskap Waterway.............. 43 6. Kondisi Lanskap Waterway Segmen Manggarai-Karet menurut Responden .................................................................................................. 46 7. Daftar Spesies Tanaman yang Ada di Tapak ............................................. 53 8. Fasilitas Eksisting yang Ada pada Tapak ................................................... 71 9. Matriks Hubungan Ruang dan Fungsi Lanskap Waterway ........................ 80 10. Peruntukan Ruang Lanskap Waterway Jakarta .......................................... 93 11. Tanaman yang dapat Ditanam di Kawasan Waterfront ............................. 96 12. Jumlah Unit tiap Kunjungan di dalam Fasilitas yang Tersedia ..................112 xii DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Kerangka Pikir Perancangan ...................................................................... 5 2. Lokasi Studi Lanskap Waterway Manggarai-Karet (K.H. Mas Mansyur) .................................................................................. 19 3. Proses Perancangan Lanskap Waterway Manggarai-K.H. Mas Mansyur .. 21 4. Lokasi Penelitian ........................................................................................ 25 5. Bagan Analisis Iklim pada Tapak .............................................................. 31 6. Analisis Kenyamanan ................................................................................ 32 7. Pengurangan Transmisi Cahaya oleh Pohon............................................... 34 8. Bagan Analisis Tanah dan Topografi pada Tapak ..................................... 36 9. Kondisi Hidrologis Banjir Kanal Segmen Perancangan ............................ 37 10. Teknik Eko-Hidraulik Kanal Waterway ..................................................... 39 11. Bagan Analisis Kuantitas Air ..................................................................... 40 12. Sistem Pembuangan Limbah Cair dari Rumah Tangga ............................. 41 13. Bagan Analisis Kualitas Air ....................................................................... 42 14. Contoh Saluran Drainase dan Genangan pada Tapak ................................ 43 15. Analisis Nilai Estetika Lanskap Waterway Segmen Manggarai-Karet ..... 48 16. Tipikal Sirkulasi pada Tapak ...................................................................... 51 17. Bagan Analisis Aksesibilitas, Transportasi, dan Sirkulasi ........................ 52 18. Kondisi Eksisting Tapak ............................................................................. 55 19. Tata Guna Lahan di Sekitar Tapak ........................................................... 67 20. Bagan Analisis Fasilitas pada Tapak …………………………………….. 76 21. Penampakan Jaringan Utilitas .................................................................... 76 22. Konsep Ruang Perancangan Lanskap Waterway ....................................... 83 23. Konsep Aktivitas yang Diterapkan pada Tapak ......................................... 86 24. Konsep Sirkulasi yang Diterapkan pada Tapak .......................................... 87 25. Rencana Ruang Lanskap Waterway Jakarta ............................................... 92 26. Tanaman Identitas ...................................................................................... 98 27. Rencana Vegetasi dan Sirkulasi Lanskap Waterway Jakarta .....................100 28. Model Pergerakan Linier (kanan) dan Contoh Pemberian Sirkulasi bagi Orang Cacat (Kiri).......................................................................................105 xiii 29. Rancangan Tapak (Design Plan) ................................................................113 30. Rancangan Spot Tertentu Area Subrekreasi …….……………………….122 31. Perspektif ....................................................................................................124 32. Potongan .....................................................................................................128 33. Rancangan Dermaga dan Loket ................................................................130 34. Rancangan Kantong Parkir dan Pautan Sepeda .........................................132 35. Rancangan Rambu Petunjuk dan Telepon Umum ......................................134 36. Rancangan Papan Informasi dan Kotak Sampah .......................................135 37. Rancangan Penerangan (Lampu) ...............................................................136 38. Rancangan Shelter ......................................................................................138 39. Rancangan Pergola ....................................................................................140 40. Rancangan Bangku dan Menara Pandang ..................................................141 41. Rancangan Kios, Toilet, dan Saluran Drainase ........................................142 42. Rancangan Signage dan Sculpture ............................................................143 43. Rancangan Jalur Sirkulasi ..........................................................................144 xiv DAFTAR LAMPIRAN Gambar Halaman 1. Peta Kontur Tapak ......................................................................................151 2. Sistem Aliran Air Banjir Kanal Wilayah Tengah .....................................152 3. Rencana Dermaga Manggarai-Karet dan Kolam Penambat ......................153 4. Rencana Tata Ruang DKI Jakarta ..............................................................154 5. Rencana Perubahan Jembatan ....................................................................155 6. Rencana Perubahan Utilitas .......................................................................156 Tabel Halaman 1. Rute-Rute Terpadu Moda Angkutan Lain dengan Dermaga .....................157 Teks Halaman 1. Kuesioner Penelitian ...................................................................................158 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Dewasa ini, kebutuhan akan fasilitas penunjang aktivitas sehari-hari semakin meningkat, salah satunya adalah fasilitas transportasi. Jasa transportasi dibutuhkan untuk kelancaran mobilitas barang dan jasa. Transportasi menurut Bowersox (1981) dalam Setijowarno & Frazila (2003) adalah perpindahan barang atau penumpang dari suatu lokasi ke lokasi lain dengan produk yang digerakkan atau dipindahkan ke lokasi yang dibutuhkan atau yang diinginkan. Transportasi selain memberikan banyak kemudahan, juga memberikan banyak masalah, yaitu timbulnya berbagai kendala dalam upaya meningkatkan kualitas jangkauan pelayanan serta dalam mempertahankan dan meningkatkan keselamatan pengguna jasa transportasi, antara lain polusi udara, air dan tanah, kebisingan, kemacetan lalu lintas, kecelakaan, dan lain-lain (Setijowarno & Frazila 2003). Kondisi ini menyebabkan ketidaknyamanan dalam menggunakan jasa transportasi dan menghambat kelancaran aktivitas perekonomian. Beragam permasalahan transportasi memunculkan celah untuk mengembangkan moda transportasi kota dari yang telah ada. Hal ini diperlukan karena kebutuhan manusia menuntut efisiensi sistem transportasi yang efektif, nyaman, sekaligus ramah lingkungan. Selain itu, semakin meningkatnya kesejahteraan, kebutuhan di atas kebutuhan fisiologis hingga pada kebutuhan kognitif juga meningkat. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan akan rekreasi. Gold (1980) mengungkapkan bahwa manusia membutuhkan keadaan yang berbeda dari kehidupannya sehari-hari untuk melupakan masalahnya sesaat agar kembali menghadapinya dengan semangat. Salah satu pengembangan moda transportasi ini adalah transportasi air. Tansportasi air dapat berupa transportasi perairan daratan maupun laut. Perairan daratan yang dapat dimanfaatkan sebagai prasarana transportasi antara lain danau, waduk, sungai, dan rawa. Jakarta merupakan salah satu kota yang memiliki permasalahan transportasi. Permasalahan timbul akibat pertumbuhan pemakai jasa transportasi baik berupa peningkatan jumlah perjalanan maupun peningkatan jumlah kendaraan akibat pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan jumlah penduduk (Dinas Perhubungan 2 2004). Jakarta juga merupakan kota tercemar oleh asap kendaraan bermotor dengan kontribusi 67% dari total polusi udara dan mengalami kurang lebih Rp 12 trilliun kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh kemacetan, pemborosan bahan bakar, dan kerugian waktu (Yayasan Pelangi 2003). Pembangunan waterway menjadi bagian dari skenario besar penataan sistem transportasi di Jakarta yang dikenal dengan Pola Transportasi Makro (PTM). Berdasarkan SK. Gubernur DKI Jakarta No. 84 tahun 2004, penataan transportasi ini meliputi pembangunan Bus Rapid Transit (busway), Light Rapid Transit (monorail), Mass Rapid Transit (subway), serta waterway (angkutan sungai). PTM dibentuk untuk mengatasi kemacetan yang semakin bertambah di DKI Jakarta, dengan menggalakkan penggunaan angkutan massal yang menampung sejumlah besar penumpang. Waterway Jakarta diarahkan untuk menyediakan alternatif perjalanan. Waterway akan berfungsi sebagai moda alternatif jika menghubungkan pusatpusat pertumbuhan ekonomi atau pemukiman penduduk. Waterway juga menjadi alternatif kegiatan rekreasi, mendukung jalur pariwisata Kota Jakarta, dan merangsang munculnya riverwalk/waterfront city. Simond (2006) menyatakan bahwa sebagai sebuah sumberdaya, badan air berpotensi untuk kegiatan rekreasi di wilayah perairannya sendiri maupun sepanjang tepinya. Badan air juga memiliki nilai keindahan, yaitu pemandangan dan air itu sendiri yang membangkitkan perasaan menyenangkan. Sebagai prasarana transportasi sekaligus ruang terbuka kota, waterway memerlukan penataan lanskap pada badan air itu sendiri maupun pada bantarannya untuk mewujudkan moda transportasi yang menyenangkan dan terjaga keberlanjutannya. Terdapat beberapa badan air yang direncanakan menjadi moda transportasi pada perencanaan transportasi DKI Jakarta, salah satunya adalah Banjir Kanal Barat. Waterway pernah dioperasikan di segmen HalimunKaret. Terdapat beberapa kendala dalam mewujudkan sistem angkutan massal di lokasi tersebut, diantaranya, ketergantungannya terhadap beda ketinggian muka air sungai yang cukup besar antara musim kemarau dengan musim penghujan. Pengelolaannya dilakukan dengan mekanisme buka tutup pintu air. Kendala lain yang dijumpai adalah belum mantapnya integrasi dermaga penumpang dengan 3 moda transportasi lainnya serta kemacetan motor kapal akibat terbelit sampah, sehingga kapasitas kecepatan kapal 25-30 knot hanya dapat dioperasikan pada kecepatan 3-4 knot. Kenyamanan pengguna pun terganggu akibat pencemaran limbah cair ke sungai, penyempitan dan pendangkalan akibat erosi, pemandangan tepian air, serta rintangan oleh jaringan utilitas di kanal. Laurie (1986) mengemukakan bahwa perancangan lanskap adalah pengembangan lebih lanjut dari perencanaan tapak. Perancangan lanskap lebih berkaitan dengan seleksi komponen rancangan, bahan-bahan, dan tumbuhan serta kombinasinya. Wujud dan bentuk perancangan lanskap timbul dari hasil rumusan yang jelas terhadap potensi, kendala tapak, serta masalah perancangan yang ada. Yang terpenting dalam perancangan adalah raut tapak itu sendiri. Oleh karena itu, untuk menciptakan lanskap waterway sebagai pendukung transportasi alternatif dan sebagai sarana rekreasi pengguna diperlukan perancangan lanskap waterway dengan mengakomodasi permasalahan yang ada. Akhirnya, melalui penataan lanskap pendukungnya, waterway Jakarta diharapkan menjadi sistem transportasi alternatif terpilih serta mendatangkan keuntungan fisik maupun rohani dengan tetap memperhatikan kelestarian sungai dan lanskap sekitarnya. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah membuat perancangan lanskap waterway DKI Jakarta dalam mendukung kegiatan transportasi sekaligus membantu kelancaran aktivitas ekonomi serta menjadi sarana kebutuhan rekreasi masyarakat, dengan kualitas dan kuantitas sungai yang terjaga. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah: 1. mengidentifikasi dan menganalisis potensi dan kendala yang ada pada lanskap waterway segmen Manggarai-K.H. Mas Mansyur 2. mengidentifikasi dan menganalisis sosial demografi pengguna 3. menciptakan tata ruang lanskap waterway untuk mendukung kebijakan pola transportasi makro. 4 Manfaat Perancangan lanskap waterway ini diharapkan dapat: 1. menjadi bahan masukan bagi pemerintah provinsi DKI Jakarta, Dinas Perhubungan, Dinas Tata Kota, dan segenap instansi yang terkait dengan pengembangan waterway. 2. menjadi model pengembangan lanskap waterway dengan kasus tapak yang sejenis. 3. mendukung konsep pengembangan transportasi sungai yang berimplikasi pada terdorongnya sektor pariwisata berbasis waterfront city. 4. meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kerangka Pikir Banjir Kanal Barat merupakan salah satu saluran yang mengalirkan air dari sungai di sekitarnya untuk dialirkan ke laut. Banjir kanal ini juga merupakan salah satu ruang terbuka kota Jakarta yang perlu dijaga keberlanjutannya dan dimanfaatkan dengan bijak agar proporsi dan fungsinya sebagai ruang terbuka kota tidak hilang. Sementara itu pula, Jakarta mengalami masalah kemacetan lalu lintas. Melalui kebijakan pola transportasi makro, banjir kanal ini dijadikan salah satu prasarana transportasi air untuk mengurangi kemacetan tersebut. Pemafaatan Banjir Kanal Barat segmen Halimun-K.H. Mas Mansyur sebagai jalur tansportasi mengalami banyak kendala, seperti yang telah diterangkan pada bagian pendahuluan. Oleh karenanya, untuk mengoptimalkan fungsi transportasi diperlukan perbaikan kualitas ruang di jalur transportasi tersebut melalui konsep dasar perancangan. Analisis dilakukan terhadap fungsi utama lanskap kanal sebagai pendukung kegiatan transportasi. Hal ini dikaitkan pula dengan daya dukung kanal. Analisis juga dilakukan dalam menciptakan fungsi lain yang menyertai dan menjadi nilai tambah kanal, yaitu eksplorasi untuk kegiatan rekreasi/ruang interaksi sosial masyarakat Jakarta. Hasil analisis diinterpretasikan dalam bentuk ruang dan tata hijau yang didukung dengan aktivitas di dalamnya. Ketiganya diarahkan melalui sirkulasi dan dilengkapi dengan fasilitas penunjang. Seluruhnya terwujud dalam 5 Perancangan Lanskap Waterway Jakarta (Kajian Segmen Manggarai-K.H. Mas Mansyur). Gambar 1 menunjukkan bagan kerangka pikir perancangan. Lanskap Banjir Kanal Permasalahan Transportasi Operasi Angkutan Waterway (Segmen Halimun-Karet) Optimalisasi Lanskap Pendukung Angkutan Waterway Konsep Lanskap Pendukung Transportasi sekaligus Kegiatan Rekreasi dan Bagian Objek Pariwisata Biofisik Prasarana Transportasi Ekologis Ekonomi Sosial Budaya Daya Dukung Kanal 1. Sarana Rekreasi 2. Ruang Interaksi Sosial Ruang Aktivitas Sirkulasi Tata Hijau Perancangan Lanskap Waterway Jakarta: Kajian Segmen Manggarai-K.H. Mas Mansyur Gambar 1 Kerangka Pikir Perancangan. Fasilitas 6 TINJAUAN PUSTAKA Kota Kota menurut definisi universal adalah sebuah area urban yang berbeda dari desa maupun kampung berdasarkan ukuran, kepadatan penduduk, kepentingan, atau status hukum. Dalam konteks administrasi pemerintahan di Indonesia, kota adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia setelah provinsi, yang dipimpin oleh seorang walikota. Selain kota, pembagian wilayah administratif setelah provinsi adalah kabupaten. Secara umum, baik kabupaten maupun kota memiliki wewenang yang sama (http://id.wikipedia.org/wiki/Kota 2008). Disebutkan pula dalam UU RI No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Menurut Branch (1995), kota adalah tempat tinggal dari beberapa ribu penduduk atau lebih. Demikian halnya dengan perkotaan yang dianggap memiliki arti yang sama, yakni area terbangun dengan struktur dan jalan-jalan, sebagai suatu pemukiman yang terpusat pada suatu area dengan kepadatan tertentu yang membutuhkan sarana dan pelayanan pendukung yang lebih lengkap dibandingkan dengan yang dibutuhkan di daerah pedesaan. Dapat dikatakan bahwa kota merupakan suatu jaringan yang sangat kompleks, memiliki berbagai komponen dan unsur, mulai dari yang terlihat nyata secara fisik hingga komponen yang secara fisik tidak dapat dilihat, seperti kekuatan politik dan hukum yang mengarahkan kegiatan kota. Bangunan merupakan unsur pertama yang dibangun kota setelah air dan makanan tersedia. Kategori utama penggunaan bangunan yang terdiri atas pemukiman, komersial, industri, pemerintahan, transportasi, merupakan unsurunsur pembentuk pola penggunaan lahan kota. Konsentrasi penduduk dan bangunan dalam jumlah besar secara kuantitatif lebih rentan terhadap bencana alam dan gangguan kemasyarakatan. Sejak awal pertumbuhan komunitas, berbagai kegiatan usaha memilih lokasi di sepanjang jalur-jalur lalu lintas primer 7 dan di tempat-tempat yang merupakan konsentrasi para pelanggan potensial. Jalur lalu lintas tidak akan bermanfaat jika tidak melayani kegiatan baru ataupun yang telah ada pada kedua ujungnya (Branch 1995). Selanjutnya Branch mengatakan bahwa sebagian besar manusia menyetujui adanya unsur tertentu fisik kota yang mendukung kualitas estetikanya. Unsurunsur tersebut antara lain, kebersihan perkotaan, penampilan papan reklame, bangunan yang ada, ruang terbuka, vegetasi, dan perancangan perkotaan. Perancangan perkotaan mengupayakan peningkatan kualitas kota dengan menerapkan prinsip-prinsip perancangan untuk mendapatkan kenyamanan visual maupun yang bersifat keruangan. Perancangan kota berkaitan dengan tanggapan inderawi manusia terhadap lingkungan fisik kota, berkaitan dengan keberadaan, kesadaran akan tempat-tempat yang berbeda di dalam kota, dan perilaku mereka menanggapi lingkungannya. Pada skala kota, perancangan kota berkaitan dengan elemen visual utama meliputi tengaran (landmark), pemusatan (nodes), kawasan (districts), jejalur (paths), dan tepian (edges) (Lynch 1960, dalam Branch 1995). Perancangan kota yang baik adalah membuat kota lebih menarik serta memiliki kualitas lngkungan yang baik pula. Lanskap Sungai/Kanal Rachman (1984) menyatakan lanskap sebagai wajah karakter lahan/tapak dan bagian dari muka bumi dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya, baik bersifat alami maupun buatan manusia, yang merupakan total dari bagian hidup manusia dan makhluk hidup lain, sejauh mata memandang, sejauh indera dapat menangkap, dan sejauh imajinasi dapat menangkap dan membayangkan. Salah satu bagian dari lanskap kota adalah sungai dan kanal. Sungai merupakan badan air dengan air yang mengalir yang berasal dari air hujan menuju ke tempat yang lebih rendah. Notodiharjo (1989) mengatakan bahwa sungai merupakan salah satu elemen lanskap dengan segala komponennya, yang memiliki karakter tertentu oleh bentukan alam atau oleh buatan manusia. Menurut Peraturan Pemerintah tentang Sungai Nomor 35 Tahun 1991 Bab 1 Pasal 1 disebutkan bahwa sungai adalah tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan pengaliran air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi kanan dan kirinya serta sepanjang 8 pengalirannya oleh garis sempadan. Garis sempadan sungai adalah garis batas luar pengamanan sungai. Litton dalam Lastiani (2000) mengungkapkan tiga buah elemen analisis lanskap sungai, yaitu: (1) bentukan lahan yang memberikan karakter visual tersendiri bagi lanskap sungai, (2) pola vegetasi riparian yang mempengaruhi kestabilan dan bentuk sungai serta karakter visual lanskap sungai, serta (3) keberadaan air dan ekspresinya. Sungai merupakan sumber air yang sangat penting fungsinya dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat dan meningkatkan pembangunan nasional. Dijelaskan pula dalam PP. No. 35 Tahun 1991 Pasal 7 Ayat (1) bahwa sungai mempunyai fungsi yang luas antara lain sebagai penyedia air, prasarana transportasi, penyedia tenaga, penyedia material, sarana penyaliran (drainase), dan sarana rekreasi. Sungai dibedakan menjadi 3 kelompok oleh Hendee et. al. dalam Lastiani (2000), yaitu: 1. wild rivers, yaitu sungai atau bagian sungai yang masih asli dengan aksesibilitas rendah dan biasanya tidak dapat dicapai kecuali melalui jalan setapak. Sungai atau bagian sungai ini memiliki daerah tepian yang masih alami dan air yang belum tercemar. 2. scenic rivers, yaitu sungai atau bagian sungai dengan tepian yang masih alami, belum mengalami modifikasi, namun aksesibilitas cukup baik dan dapat dicapai dengan kendaraan. 3. recreation river area, yaitu sungai atau bagian sungai yang dengan mudah dapat dicapai dengan kendaraan (mobil) dengan daerah tepian sungai yang sudah mengalami modifikasi/perubahan. Badan air selain sungai adalah kanal, yaitu terusan buatan. Kanal dapat dibentuk dari sungai itu sendiri maupun hasil sudetan. Ada dua tipe kanal, yaitu (1) kanal irigasi yang digunakan untuk mengalirkan air dan (2) waterway, yaitu kanal transportasi yang dapat dilayari untuk lintasan orang maupun barang, dan sering terhubungkan dengan danau, sungai, dan lautan. Beberapa kanal waterway merupakan sungai yang dikanalkan dengan cara melebarkan sungai maupun memperdalam beberapa bagian dengan kapal keruk dan membangun pintu air. 9 Kanal transportasi membutuhkan dimensi yang cukup lebar dan kecepatan air yang cukup lambat untuk dilalui kapal. Kanal membutuhkan aliran yang relatif rata dan biasanya dilengkapi dengan pintu air melalui pemotongan sekitar bendungan atau bagian sulit lainnya. Umumnya, pintu air terdiri dari suatu kamar di mana ketinggian air dapat diangkat maupun diturunkan yang menghubungkan salah satu gurdi kanal pada suatu level yang berbeda. Menurut Montaňēs (2006) pada kanal transportasi perlu diperhatikan erosi dasar. Air cenderung mengerosi dinding dan dasar kanal. Energi dari air yang bergerak mampu membawa partikel padat yang dilepas dari kanal itu sendiri atau sebaliknya mengendapkannya, sehingga terjadi sedimentasi. Ruang Terbuka Kota Ruang terbuka kota adalah ruang kota yang tidak terbangun, yang berfungsi untuk menunjang tuntutan kenyamanan, kesejahteraan, keamanan, peningkatan kualitas lingkungan, dan pelestarian alam, yang terdiri dari ruang pergerakan linier (koridor) dan ruang pulau (oasis) sebagai tempat pemberhentian (Spreiregen 1965, dalam Sulistyantara 2001). Menurut Simond (1983), ruang terbuka dapat berupa waterfront (kawasan pantai, tepian danau, maupun tepian aliran sungai), blueways (aliran sungai, aliran air lainnya, serta hamparan banjir), dan greenways (jalan bebas hambatan, jalan-jalan di taman, jalan-jalan setapak, koridor transportasi, jalan sepeda, dan jogging track); taman kota dan area rekreasi; serta ruang terbuka penunjang lainnya (reservoir, hutan kota, kolam renang, lapangan golf, lapangan olahraga, dan lain-lain). Lanskap waterway merupakan salah satu ruang terbuka yang berupa blueways dan greenways. Dalam suatu perkotaan ruang terbuka memiliki beberapa peran, di antaranya, menciptakan harmoni tata lingkungan perkotaan, sehingga memberikan unsur keindahan, menyediakan ruang terbuka hijau berupa tanaman yang mengurangi pencemaran, serta memberikan ruang gerak bagi segenap masyarakat yang memerlukannya. Ruang terbuka hijau sendiri adalah ruang-ruang dalam kota baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur yang pada dasarnya tanpa bangunan serta bersifat pengisian hijau tanaman/tumbuhan, secara alamiah maupun binaan (Inmendagri No. 14/1998, dalam Sulistyantara 2001). 10 Selanjutnya menurut Eckbo (1964), dalam Sulistyantara (2001), ruang terbuka hijau memiliki fungsi antara lain, estetis, orologis, hidrologis, klimatologis, edaphis, ekologis, protektif, higinis, dan manfaat edukatif. Manfaat yang terkait dengan waterway adalah fungsi estetika (menciptakan keindahan), fungsi orologis (mengurangi tingkat kerusakan tanah/mengurangi longsor dan menyangga kestabilan tanah), fungsi hidrologis (persediaan air tanah), fungsi klimatologis (menambah kenyamanan), fungsi protektif (menghindari/mengurangi terik matahari, menyerap polusi), dan fungsi ekologis (keserasian lingkungan makhluk hidup baik untuk satwa, tanaman, maupun manusia). Menurut Nurhayati dalam Rizkianty (2002), ruang terbuka hijau Kota Jakarta terbagi dalam bentuk pekarangan/taman rumah, berm jalan, taman-taman lingkungan di kompleks pemukiman, taman-taman dalam skala ketetanggaan. Selain itu ruang hijau di Jakarta juga berupa vest pocket park di sudut-sudut pusat pertokoan, pompa bensin, terminal bus, stasiun kereta api, rel kereta dan bantaran sungai, koridor di jalan raya, traffic island di taman pertigaan/perempatan jalan, taman kota, maupun hutan kota. Transportasi Sungai Pengertian transportasi menurut Papacostas 1987 dalam Setijowarno & Frazila (2003) adalah suatu sistem yang terdiri dari fasilitas tertentu beserta arus dan sistem kontrol yang memungkinkan orang atau barang dapat berpindah dari suatu tempat ke tempat lain secara efisien dalam setiap waktu untuk mendukung aktivitas manusia. Setijowarno & Frazila (2003) sendiri mendefinisikan transportasi sebagai suatu kegiatan memindahkan sesuatu baik orang maupun barang dari satu tempat ke tempat lain baik dengan atau tanpa sarana (kendaraan, pipa, dan lain-lain) di mana perpindahan tersebut harus menempuh suatu jalur perpindahan atau prasarana yang sudah disediakan oleh alam (sungai, laut, udara) atau hasil pemikiran manusia (pipa, jalan raya, rel). Selanjutnya diungkapkan oleh Setijowarno & Frazila (2003), transportasi secara garis besar dibedakan atas: (1) transportasi darat yang meliputi transportasi jalan; transportasi kereta api; transportasi sungai, danau, dan penyeberangan; transportasi pipa; serta transportasi gantung; (2) transportasi laut; (3) transportasi 11 udara. Jaringan transportasi sungai dimasukkan dalam kelompok transportasi darat meskipun merupakan bagian dari moda transportasi air. Pada prinsipnya, transportasi melaksanakan fungsi pokok menggerakkan objek yang diangkut, melindungi objek yang diangkut, serta mengendalikan kecepatan dan arah dari gerakan, sehingga keamanan perjalanan dapat terjamin. Angkutan sungai merupakan moda transportasi yang beroperasi di sepanjang aliran sungai yang di sekitarnya banyak pemukiman penduduk, menggunakan perahu kecil hingga besar, dan menggunakan tenaga penggerak manusia maupun mesin (Setijowarno & Frazila 2003). Moda diartikan sebagai jenis transportasi dan di lain kasus moda dibedakan dalam kaitannya dengan karakter fisik sebagai jalan raya, rel, udara, dan transportasi air (Banks 2002). Ruang lalu lintas angkutan sungai berupa alur pelayaran sungai. Menurut Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 1999 tentang Angkutan di Perairan, angkutan sungai adalah kegiatan angkutan dengan menggunakan kapal yang dilakukan di sungai, anjir, kanal, dan terusan untuk mengangkut penumpang, barang dan/atau hewan yang diselenggarakan oleh perusahaan angkutan sungai. Alur pelayaran di sungai adalah termasuk seluruh fasilitas seperti kolam pemindahan kapal (lock), bendung pengatur kedalaman (navigation barrage), dan bangunan untuk pengangkat kapal (penjelasan UU Nomor 21 Tahun 1992 Pasal 1). Setiap orang memerlukan transportasi yang efektif untuk melakukan pergerakan. Efektivitas pelayanan transportasi menurut Banks (2002) meliputi: (1) aksesibilitas yang mengacu pada biaya untuk mendapatkan moda dan dari moda lainnya, terkait dengan integrasi antara moda satu dengan moda yang lainnya, serta utamanya bergantung pada keluasan geogafi, (2) mobilitas yang digambarkan dalam istilah kecepatan atau waktu perjalanan, (3) produktivitas, yang mengacu pada ukuran total sejumlah transportasi yang disajikan per unit waktu. Produktivitas dikatakan sebagai ton mil per tahun atau penumpang km/hari. Transportasi sungai (air) tidak memiliki lintasan yang tetap seperti jalan pada umumnya, sehingga perencanaan transportasi sungai perlu memperhatikan keberadaan kapal pada saat istirahat maupun pada saat bergerak agar memiliki mobilitas yang lancar (Simond 2006). Selanjutnya dikatakan bahwa hampir tidak 12 terjadi konflik lalu lintas perjalanan pada jalur transportasi air, dengan pergerakan yang secara relatif lambat, dan latar belakang panorama yang dapat dinikmati secara detail dan dekat. Ketersediaan Air Air adalah bagian dari perancangan lanskap waterway yang penting untuk diperhatikan. Air merupakan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources). Menurut PP RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, air adalah semua air yang terdapat di atas dan di bawah permukaan tanah, kecuali air laut dan air fosil. Air merupakan salah satu elemen lanskap yang banyak dimanfaatkan bagi kehidupan dan merupakan salah satu unsur penentu utama keberlangsungan fungsi badan air seperti waduk, danau, sungai, dan lain-lain. Sumberdaya air merupakan bagian dari sumberdaya alam (natural resources), yaitu semua potensi yang terdapat pada air, sumber air, termasuk sarana dan prasarana pengairan yang dapat dimanfaatkan oleh kegiatan manusia untuk kegiatan sosial ekonomi. Terdapat berbagai jenis sumberdaya air yang umumnya dimanfaatkan oleh masyarakat, antara lain air laut, air hujan, air tanah, dan air permukaan. Air permukaan merupakan air yang terbesar pemanfaatannya oleh masyarakat. Secara eksplisit karakteristik dasar sumberdaya air sebagaimana yang diungkapkan Sunaryo et. al. (2007), antara lain dapat mencakup beberapa wilayah administratif (cross-administrative boundary) dikarenakan oleh faktor topografi dan geologi; dipergunakan oleh berbagai aktor (multi-stakeholders); bersifat sumberdaya mengalir (flowing/dynamic resources), sehingga mempunyai keterkaitan yang sangat erat antara kondisi kuantitas dengan kualitas, antara hulu dengan hilir, antara instream dengan offstream, maupun antara air permukaan dengan air bawah tanah; dan dipergunakan baik oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang (antargenerasi). Sebagaimana diungkapkan, ketersediaan air meliputi jumlah dan kualitas (Depkes RI 1994). Ditambahkan oleh Nurisjah (2004), ketersediaan air pada suatu tapak, bentang alam, atau lanskap selain dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas, juga sangat dipengaruhi oleh distribusinya. Air dalam jumlah banyak belum dapat 13 dikatakan menjamin ketersediaan bagi manusia dan makhluk lainnya. Contoh bentuk ketidaktersediaan air bagi kehidupan adalah banjir, kualitas air yang buruk, air yang tidak aksesibel, dan jauh dari lokasi dan masyarakat yang membutuhkannya. Kualitas dipelihara dengan menghindari terkontaminasinya air seperti pencemaran oleh polutan, bahan-bahan kimia, limbah padat, atau terjadinya sedimentasi, melalui berbagai cara. Kuantitas dijaga dengan mengurangi aliran permukaan dan meresapkannya dalam tanah, menjaga kestabilan muka air, dan mengisi aquifer aliran bawah tanah (Simond 1983). Ketersediaan air berkaitan dengan pemanfaatan air. Air yang digunakan manusia pada umumnya merupakan air tawar dan air tanah murni. Saeni (1989) dalam Nurisjah (2004) mengatakan bahwa sekitar 1,64 x 1011 m3 air yang terdapat di atas dan di dalam bumi, hanya ± 0,5 % yang dimanfaatkan dalam kehidupan manusia. Dari jumlah ini, 97 % terdapat di dalam lautan dan 2,25 % dalam bentuk es. Hanya 3 % dari jumlah keseluruhan air yang tersedia yang berada dalam bentuk air tawar dan yang dapat digunakan untuk kepentingan makhluk hidup, sedangkan sisa terbesarnya berada dalam bentuk padatan atau terdapat dalam lapisan permukan tanah. Dilihat dari segi kualitasnya, ada beberapa indikator yang menunjukkan tinggi dan rendah kualitas air. Sifat fisik dan kimia yang menentukan kualitas air ditunjukkan dalam Tabel 1. Tabel 1. Sifat Fisik dan Kimia Utama Penentu Kualitas Air Sifat Utama Fisik Kimia Sumber: Saeni (1989), dalam Nurisjah (2004) Parameter Warna Bau Suhu Padatan tersuspensi Kecerahan Kekeruhan Daya Hantar Listrik (DHL) pH Asiditas Alkalinitas Kesadahan Bahan Organik (BO) Senyawa N, S, P, dan lainnya 14 Suhu air dipengaruhi oleh komposisi substrat, kekeruhan, air hujan, luas permukaan perairan yang langsung mendapat sinar matahari, serta suhu perairan yang menerima limpasannya. Suhu memiliki pengaruh besar terhadap kelarutan oksigen dalam air, yaitu menurunkan jumlah oksigen terlarut, sehingga ikan dan hewan perairan akan mati (Hynes 1978, dalam Nugroho 2003). Perubahan suhu umumnya disebabkan oleh karena masuknya air limbah yang relatif hangat (Saeni 1989, dalam Nurisjah 2004). Sementara itu, kekeruhan air merupakan ukuran pembiasan cahaya di dalam air karena partikel koloid dan suspensi suatu zat pencemar. Kekeruhan membantu menentukan jumlah bahan kimia yang dibutuhkan dalam pengolahan air. Menurut Saeni, terdapat 2 parameter paling utama yang harus dipertimbangkan dalam kegiatan analisis pengembangan tapak dan lanskap secara arsitektural, yaitu warna dan bau, yang akan mempengaruhi segi estetika. Air tercemar akan berwarna abu-abu hingga hitam oleh karena masuknya bahan buangan/limbah organik. Air akan berwarna coklat oleh karena erosi tanah. Bau air disebabkan oleh bahan yang terkandung oleh air tersebut, misalnya oleh kondisi alami air yang mengandung belerang atau yang terjadi karena aktivitas manusia. Acuan normatif yang membedakan kualitas air di suatu perairan, salah satunya adalah BOD, COD, dan DO. BOD (Biochemical Oxygen Demand) adalah jumlah (mg) oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan zat organik secara biokimiawi. COD (Chemical Oxygen Demand) adalah jumlah (mg) oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasikan zat organik secara kimiawi. DO adalah penentuan kadar O2 terlarut dalam air. Berkebalikan dengan COD dan BOD, semakin tinggi kadar DO semakin baik kualitas air tersebut. Rekreasi Alam Rekreasi merupakan kegiatan mencari pengalaman yang dilakukan tanpa keterpaksaan berupa pengembalian kesegaran jiwa dan raga setelah melakukan rutinitas dan tuntutan aktivitasnya sehari-hari. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1983), rekreasi adalah penyegaran kembali badan dan pikiran, sesuatu yang menggembirakan hati dan menyegarkan. Rekreasi menjadi salah satu 15 kebutuhan hidup manusia yang harus dipenuhi untuk memberikan keseimbangan, keserasian, dan gairah hidup. Selain itu, rekreasi tidak hanya sekedar menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, tetapi juga untuk memperkaya, memperluas, dan mengembangkan kemampuan seseorang (Brockman 1959). Rekreasi dapat dilakukan di ruang terbuka (outdoor recreation) maupun dalam ruangan (indoor recreation). Douglass (1982) menyatakan bahwa rekreasi alam terbuka adalah semua kegiatan rekreasi yang dilakukan tanpa dibatasi oleh suatu bangunan atau rekreasi yang berhubungan dengan lingkungan dan berorientasi pada penggunaan sumberdaya alam seperti air, hujan, dan pemandangan alam atau kehidupan di alam bebas. Rekreasi alam terbuka merupakan rekreasi yang dilakukan di alam terbuka, yang membutuhkan ruang (space) dan sumberdaya alam (natural resources) dalam jumlah yang relatif besar. Gold (1980) menggolongkan rekreasi dalam 4 (empat) kategori: 1. rekreasi fisik, yaitu bentuk rekreasi yang membutuhkan usaha fisik dalam melakukan aktivitas rekreasi. 2. rekreasi sosial, yaitu bentuk rekreasi yang mencakup interaksi sosial dan aktivitasnya. 3. rekreasi kognitif, yaitu rekreasi yang mencakup kebudayaan, pendidikan, dan estetika. 4. rekreasi yang berhubungan dengan lingkungan, yaitu rekreasi yang memanfaatkan sumberdaya alam, seperti tanaman, air, dan pemandangan. Rekreasi alam terbuka yang dilakukan di lingkungan sungai baik pada sungai maupun sempadannya disebut rekreasi sungai. Ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi kualitas rekreasi sungai antara lain pemandangan, lingkungan alami sungai, ikan dan satwa liar, serta vegetasi riparian. Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah kecukupan jumlah air dalam sungai atau disebut aliran air sungai. Perancangan Lanskap Waterway Jakarta Rachman (1984) berpendapat bahwa perencanaan tapak adalah pengaturan fungsi ruang, sirkulasi, keindahan, dan keunikan dengan memanfatkan elemen 16 tanah, air, dan berbagai benda, serta keadaan yang ada seperti taman, bangunan, kondisi topografi, dan pemandangan. Menurut Gold (1980), perencanaan adalah suatu alat yang sistematis, pengorganisasian, dan suatu proses informasi yang digunakan untuk menentukan saat awal suatu keadaan yang diharapkan dan cara terbaik untuk mencapai keadaan yang diharapkan tersebut dengan menilai suatu objek melalui pengamatan yang berinspirasi. Selanjutnya Rachman (1984) mengatakan bahwa perancangan merupakan tahap lanjut dari perencanaan. Perancangan merupakan ilmu dan seni pengorganisasian ruang dan massa dengan mengkomposisikan elemen lanskap alami dan elemen lanskap non-alami serta kegiatan yang ada di dalamnya agar tercipta karya tata ruang yang berdaya guna dan bernilai indah. Hasil yang dicapai adalah kepuasan jasmaniah dan rohaniah manusia serta makhluk hidup di dalamnya, selaras dengan faktor ruang, waktu, dan geraknya. Perancangan menurut Simond (2006) merupakan sebuah proses kreatif yang mengintegrasikan aspek teknologi, sosial, ekonomi, dan biologi, serta aspek psikologis dan fisik yang ditimbulkan dari bentuk, bahan, warna, dan ruang hasil pemikiran yang saling berhubungan. Perancangan ditekankan pada penggunaan volume dan ruang. Setiap volume mempunyai bentuk, tekstur, ukuran, bahan, warna, dan kualitas lain yang dapat mengekspresikan dan mengakomodasikan fungsi-fungsi yang ingin dicapai. Pengorganisasian ruang memberikan dampak yang berbeda terhadap psikologi manusia, misalnya rasa takut, kegembiraan, gerak dinamis, ketegangan, keheningan, dan lain-lain. Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999 – 2004 disebutkan bahwa sumberdaya air diarahkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal, serta penataan ruang yang pengusahaannya diatur dengan undang-undang. Dalam penggunaan air, Simond (2006) mengemukakan tiga prinsip: (1) semua penggunaan yang berhubungan harus sesuai dengan sumberdaya air dan lanskap, (2) intensitas dari penggunaan yang diintroduksikan tidak boleh melebihi daya dukung atau toleransi biologis dari area daratan dan perairan, serta (3) kelestarian sistem alami dan sistem terbangun terjamin. 17 Perencanaan/perancangan memerlukan suatu pendekatan terhadap kebutuhan tertentu dari suatu kelompok sosial atau lahan. Pendekatan perencanaan yang dikemukakan oleh Gold (1980) adalah: 1. Pendekatan sumberdaya Tipe dan jumlah rekreasi ditentukan oleh sumberdaya fisik atau sumberdaya alami. Tujuan utama adalah kelestarian alam, sedangkan kebutuhan pemakai dan pendanaan tidak terlalu dipertimbangkan. Pendekatan sumberdaya sangat efektif digunakan pada perencanaan sumberdaya kawasan pinggiran kota (kawasan sumber-sumber air, kawasan konservasi alam, dan taman nasional). 2. Pendekatan aktivitas Aktivitas yang telah ada pada tapak menentukan jenis dan jumlah aktivitas yang akan dikembangkan kemudian. Dalam hal ini, faktor sosial lebih diutamakan daripada faktor alam. 3. Pendekatan ekonomi Fokus perencanaan adalah untuk mendapatkan keuntungan. Penawaran dan permintaan dimanipulasi oleh harga, aktivitas, dan nilai tukar fasilitas yang akan dikembangkan. 4. Pendekatan perilaku Perilaku manusia dan waktu luangnya menentukan pemilihan tempat, waktu, dan pengalaman aktivitas rekreasinya, serta dampak aktivitas itu terhadap seseorang. Perencanaan ditentukan oleh permintaan. 5. Kombinasi dari pendekatan Dalam hal ini perencanaan menggabungkan aspek-aspek positif dari masingmasing pendekatan untuk mengakomodasi semua kebutuhan. Waterway merupakan teknologi hasil perkembangan pemecahan masalah ekonomi menuju standar kehidupan yang lebih baik. Waterway merupakan prasarana transportasi di air, seperti sungai, danau, laut, dan kanal. Agar dilayari dengan baik, waterway memerlukan beberapa kriteria, yaitu: (1) memiliki kedalaman yang cukup untuk dapat dimuati kapal/perahu yang beroperasi, (2) memiliki lebar yang cukup sebagai jalur pelayaran, (3) bebas dari rintangan perjalanan, seperti bebas dari air terjun dan aliran deras, (4) cukup ringan untuk 18 menggerakkan maju kapal (http://en.wikipedia.org/wiki/Waterway). Kapal yang digunakan untuk transportasi waterway bervariasi dari kapal tongkang yang kecil hingga kapal tanker dan kapal samudra yang sangat besar, seperti kapal pesiar. Kanal waterway sendiri merupakan konstruksi untuk mendukung perjalanan kapal yang pada awalnya dibangun untuk perjalanan perahu kayu yang ditarik kuda. Dalam merencanakan sungai/kanal sebagai jalur waterway diperlukan perhitungan terhadap daya dukungnya. Penggunaan yang melebihi kapasitas fisiknya akan menurunkan fungsi dan manfaat sungai/kanal bagi kehidupan manusia dan lingkungannya. 19 METODOLOGI Lokasi dan Waktu Studi Kegiatan penelitian dilakukan kurang lebih di sepanjang 3,65 kilometer Banjir Kanal Barat (BKB) yang menghubungkan Pintu Air Manggarai (Jakarta Selatan) – Jembatan K.H. Mas Mansyur (Jakarta Pusat) (Gambar 2). Penelitian dilakukan dari Maret-Juni 2008 dan dilanjutkan dengan penyusunan laporan. Pada bulan-bulan sebelumnya dilakukan penjajakan (survai awal). U Gambar 2 Lokasi Studi Lanskap Waterway Manggarai-Karet (K.H. Mas Mansyur). Metode Studi Penelitian dilakukan melalui survai dan pengumpulan data menggunakan metode Gold (1980), dengan tahap-tahap berupa inventarisasi, analisis, konsep, perencanaan dan perancangan (Gambar 3). Kajian lanskap waterway Jakarta segmen Manggarai-K.H. Mas Mansyur ini dilaksanakan hingga tahap perancangan. Hasil akhir dari kajian ini berupa rencana tertulis, rancangan ruang dan detailnya. Proses perancangan dilakukan dengan menggunakan pendekatan aktivitas menurut Gold (1980). Pengambilan Data Pengumpulan data dan survai lapang dilakukan terhadap data biofisik, ekonomi, sosial, dan data teknik/kebijakan. Data biofisik yang akan diambil 20 adalah data iklim, tanah, hidrologi, hidrografi waterway, nilai estetika, aksesibilitas dan jaringan transportasi, vegetasi, dan satwa. Data ekonomi berupa data tata guna lahan. Data teknik berupa fasilitas, utilitas, serta konsep dan kebijakan pengembangan waterway oleh instansi terkait. Sedangkan data sosial yang diambil berupa data pengguna, budaya/demografi masyarakat dan lingkungan, serta keinginan masyarakat. Data sosial ini dikumpulkan dari pihak pengelola, instansi pemerintah terkait, dan pemakai transportasi sejalur atau masyarakat sekitar tapak. Data terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diambil langsung dari lapang, sedangkan data sekunder adalah data yang diambil dari informasi data yang sudah ada. Jenis, bentuk, sumber, cara pengambilan, dan kegunaannya dapat dilihat pada Tabel 2. Metode pengambilan data yang dilakukan adalah: 1. Survai lapang, yaitu mengamati secara langsung kondisi eksisting agar dapat mengetahui kondisi sebenarnya di lapang dan mengecek kembali kebenaran data sekunder. 2. Studi pustaka, didapatkan dari buku acuan, laporan-laporan, rencana induk tapak, dan bahan bacaan pendukung lainnya. 3. Pengambilan gambar/foto, membantu mendeskripsikan kondisi eksisting. 4. Wawancara dan kuesioner. Wawancara dilakukan terhadap pengelola dan stakeholder lainnya untuk mengetahui keinginan, persepsi, dan program waterway. Kuesioner diberikan kepada masyarakat dan pengguna transportasi sejalur. Proses/Tahapan Perancangan Tahapan penelitian diawali dengan tahap persiapan dan studi literatur yaitu perumusan masalah, perumusan tujuan perancangan dan kegunaan studi, penyusunan usulan studi, dan penyusunan pengumpulan data yang berhubungan dengan topik penelitian melalui internet, media cetak, dan beberapa laporan. Tahap persiapan ini juga merupakan tahap mencari informasi awal dari instansi yang paling terkait dengan program waterway serta melakukan survai awal untuk mengetahui kondisi lanskapnya. Tahap ini juga merupakan tahap pengajuan 21 Persiapan & Studi Literatur Usulan Penelitian, Perizinan, Penyusunan Pengumpulan Data, dan Penjajakan Awal Konsep Dasar BIOFISIK Iklim,Tanah,Hidrologi,Drainase,Hidrografi,Estetika, Serta Aksesibilitas,Transportasi, Sirkulasi, Vegetasi, Satwa Inventarisasi EKONOMI Tata Guna Lahan SOSIAL Pengguna, Sosial Demografi TEKNIK Fasilitas,Utilitas,serta Konsep dan Kebijakan Analisis Sintesis Potensi dan Kendala Keterbatasan dan Kesempatan Pengembangan Zonasi Tapak Waterway, Konsep Pengembangan (sesuai dengan Tujuan & Pengembangan Perencanaan) Pengembangan Konsep Perancangan Penggambaran Aktivitas dan Fasilitas, Pola & Rancangan Sirkulasi, Rncangan Tata Hijau, dan Lain-Lain (Hasil: Rencana Tertulis, Rancangan Ruang, Rancangan Detil) Gambar 3 Proses Perancangan Lanskap Waterway Manggarai – K.H. Mas Mansyur. usulan studi, tahap penyusunan rencana kegiatan anggaran biaya studi, serta tahap mendapatkan perijinan untuk dapat melaksanakan perancangan waterway. Tahap selanjutnya adalah tahap pengambilan data, berupa survai lapang dan pengumpulan data berdasarkan jenis data yang terkait dengan konsep perancangan lanskap waterway melalui berbagai pihak. Tahap inventarisasi ini dilakukan selama 8-10 minggu. Berdasar data yang diperoleh, dilakukan tahap analisis yang dipadukan dengan konsep yang akan direncanakan pada tapak, sehingga diketahui 22 keterbatasan dan kesempatan pengembangan tiap elemen tapak. Hasil analisis disajikan dalam bentuk deskripsi dan peta. Hasil analisis menjadi masukan untuk memperoleh sintesis sesuai dengan tujuan dan pengembangan perencanaan. Hasil sintesis adalah diperolehnya alternatif-alternatif pemanfaatan potensi maupun pemecahan masalah. Hasil sintesis disajikan dalam bentuk zonasi tapak yang merupakan pengembangan dari konsep dasar. Selanjutnya penggambaran aktivitas dan fasilitas-fasilitas yang dapat dikembangkan, pola dan rancangan sirkulasi, rancangan tata hijau, serta tata letak fasilitas dan elemen lanskap pendukung dituangkan dalam tahap perancangan. Hasil dari tahap ini berupa rencana tertulis, serta rancangan ruang dan detil elemen lanskap dengan mengikuti beberapa prinsip desain. Tabel 2 Jenis, Bentuk, Sumber, dan Cara Pengambilan Data No Jenis Data 1. Iklim Curah Hujan Suhu Udara Kelembaban Udara Kecepatan dan Arah Angin Intensitas Matahari 2. Tanah Jenis dan Karakteristik Topografi Bentuk Data Satuan Angka Sumber Fungsi Cara Pengambilan Studi Pustaka - BPS * Debit air dan kenyamanan Deskriptif Peta - Bakosurtanal - Bapeda/DPU* 3. Hidrologi dan Drainase Kuantitas Air Kualitas Air Drainase Satuan Angka Deskriptif - Lapang - BBWSCC* - DPU* - BPLHD* Potensi penanaman, penyerapan air Kualitas, distribusi, kuantitas air, serta kenyamanan 4. Hidrografi Badan Air Lebar & Panjang Kanal Volume/Tinggi Pasang Surut Pola Sungai 5. Nilai Estetika Vision Bunyi dan Aroma Taktilitas View (Good/Bad) Keunikan 6. Aksesibilitas,Transportasi, dan Sirkulasi Satuan Angka Deskriptif - Lapang - DPU* - BBWSCC* Kenyamanan bertransportasi Deskriptif - Lapang Rekreasi Survai Lapang, Kuesioner Deskriptif - Lapang - Dishub Integrasi moda Survai Lapang, Wawancara Studi Pustaka Survai Lapang, Pengambilan Foto, Studi Pustaka Survai Lapang, Studi Pustaka 23 No Bentuk Data Deskriptif Peta Jenis Data 7. Vegetasi dan Satwa Spesies Tipe dan Lokasi Fungsi 8. Tata Guna Lahan Tepian Kanal dan Sekitarnya Peta 9. Pengguna Tapak Deskriptif 10. Sosial Demografi Masyarakat Keinginan Masyarakat Kebiasaan 11. Fasilitas Deskriptif Sumber Fungsi - Lapang - Dinas Pertamanan Rekreasi, kenyamanan, ekologi - Dinas Pemetaan & Pertanahan - DTK* - Lapang Tata ruang dan rekreasi Cara Pengambilan Survai Lapang, Studi Pustaka, Pengambilan Foto Studi Pustaka - Lapang - Bapeda Pertimbangan perancangan Pertimbangan perancangan Survai Lapang Survai Lapang, Kuesioner Peta - Lapang - DPU* Kenyamanan, kelancaran 12. Utilitas Penerangan Air dan Gas Peta - Lapang - DPU* - Dinas PJU SJU* Kenyamanan, kelancaran 13. Konsep dan Kebijakan Tujuan dan Persepsi Program & Kebijakan Deskriptif Peta - Lapang Pertimbangan - Bapeda perancangan - Dishub/UPT Penyeberangan Survai Lapang, Pengambilan Foto Studi Pustaka, Survai Lapang, Pengambilan Foto Wawancara, Studi Pustaka *BPS BBWSCC BPLHD Dinas PJU&SJU DPU DTK = Badan Pusat Statistik = Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane = Badan Pengawas Lingkungan Hidup Daerah = Dinas Penerangan Jalan Umum dan Sarana Jaringan Utilitas = Dinas Pekerjaan Umum = Dinas Tata Kota KONDISI UMUM Letak dan Luas Tapak DKI Jakarta terletak di bagian barat laut Pulau Jawa, berbatasan dengan Laut Jawa pada bagian utara, dengan Kabupaten Bogor dan Depok pada bagian selatan, dengan Kabupaten Bekasi pada bagian timur, dan dengan Kabupaten Tangerang Banten di bagian barat. Berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 1227 tahun 1989, luas daratan wilayah Provinsi DKI Jakarta 661,52 km2 dan luas perairan laut 6.997,5 km2, mencakup sekitar 110 pulau yang tersebar di Kepulauan Seribu, serta dialiri sekitar 27 sungai/saluran/kanal yang dipergunakan sebagai sumber air minum, usaha perikanan, dan usaha perkotaan lainnya. Dua buah kanal dan 9 buah sungainya bermuara ke Laut Jawa. Dari letak geografisnya, Jakarta memiliki posisi 106o22’42” BT - 106o58’18” BT dan 5o19’12” LS 6o23’54” LS dan merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata ±7 meter di atas permukaan air laut (BPS 2007). Penelitian terletak di BKB segmen Pintu Air Manggarai hingga Jembatan K.H. Mas. Mansyur (Karet), dengan panjang ± 3,65 km (38 % dari panjang BKB bagian selatan, yang juga disebut sebagai Banjir Kanal Selatan) dan lebar rata-rata ± 40 m. Secara administratif, BKB tersebut terletak pada perbatasan Kodya Jakarta Pusat dengan Kodya Jakarta Selatan (Gambar 4). Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Tanah Abang dan Kecamatan Menteng (Jakarta Pusat) serta sebelah selatan dengan Kecamatan Setiabudi (Jakarta Selatan) dan Kecamatan Tanah Abang. Letak geografis lokasi penelitian adalah pada 106o48’57” BT 106o50’53” BT dan 6o12’03” LS - 6o12’30” LS. Hidrologi Jakarta memiliki 13 daerah aliran sungai yang bermuara di Teluk Jakarta. Di daerah timur terdapat Sungai Cakung, Jatikramat, Buaran, Sunter, dan Cipinang. Di bagian tengah terdapat Sungai Ciliwung, Cideng, dan Krukut. Di bagian barat terdapat Sungai Grogol, Sekretaris, Pesanggrahan, Mookevart, dan Angke. Kebanyakan sungai tersebut mengalami penyempitan dan pengempangan/ penyumbatan aliran oleh bangunan yang berupa rumah, jembatan, gorong-gorong, pipa PAM, PLN, dan lain-lain. 26 Transportasi dan Aksesibilitas Aksesibilitas ke Kota Jakarta sangat mudah dan jalur transportasi (utamanya jalur jalan) di Kota Jakarta sendiri berkembang dengan pesat. Namun, hingga saat ini Jakarta masih memiliki permasalahan transportasi berkaitan dengan peningkatan jumlah perjalanan dan pertambahan jumlah kendaraan akibat pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan jumlah penduduk. Pertumbuhan kendaraan jumlah kendaraan itu juga didukung oleh keengganan masyarakat menggunakan transportasi publik yang tidak aman dan tidak terintegrasi. Pergerakan manusia dari satu bagian wilayah ke bagian yang lain dengan frekuensi dan intensitas pergerakan penduduk urban dan suburban yang cukup tinggi itu menekan sarana dan prasarana transportasi. Hal ini tercermin dari kemacetan lalu lintas pada tiap ruas jalan, sistem angkutan umum yang masih lemah, dan sistem pendukung lain yang belum beroperasi secara optimal. Jakarta memiliki 46 kawasan dengan 100 titik simpang rawan macet di Jakarta. Rawan macet adalah terjadinya arus yang tidak stabil, kecepatan rendah, dan antrean yang panjang. Titik kemacetan terlihat pada jam berangkat dan pulang kantor di di Jalan Jendral Sudirman, M. Husni Thamrin, Rasuna Said, dan Gatot Subroto. Penambahan ruas jalan tidak mengurangi kemacetan, karena akan memakan ruang daratan yang terbatas serta menghabiskan banyak biaya. Pertambahan ruas jalan juga tidak sebanding dengan pertumbuhan kendaraan bermotor yang jauh lebih tinggi. Untuk mengurangi masalah kemacetan tersebut, Pemerintah Daerah DKI Jakarta melakukan tindak lanjut kebijakan transportasi berupa transportasi massal dengan mengembangkan waterway, monorail, subway, dan busway yang terintegrasi dan didukung oleh kebijakan tata ruang yang konsisten. Sosial dan Demografi Penduduk DKI Jakarta tahun 2006 berdasarkan Survai Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dalam BPS 2006 berjumlah sekitar 8,96 juta jiwa dan mengalami peningkatan dari 8,86 juta jiwa pada survai tahun 2005. Dengan luas wilayah daratan mencapai 661,52 km2, kepadatan penduduk Jakarta rata-rata sebesar 13,5 ribu jiwa/km2. Pada siang hari penduduk Jakarta bertambah seiring datangnya pekerja dari kota satelit, seperti Bekasi, Tangerang, Bogor, dan Depok. 27 Sejak dijadikan sebagai ibukota, penduduk Jakarta meningkat cukup pesat akibat terpusat kebutuhan tenaga kerja kepemerintahan di Jakarta. Menurut jenis kelamin, penduduk laki-laki memiliki jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan penduduk perempuan dengan parameter sex ratio 100,10% (lebih besar dari 100%). Sementara itu, dilihat dari komposisi kewarganegaraannya, penduduk yang tinggal di provinsi DKI Jakarta kurang lebih terdiri dari 500 ribu WNA dan sekitar 8 juta jiwa adalah WNI. Rata-rata tingkat pendidikan yang ditempuh penduduk usia 15 tahun ke atas adalah SLTP/SLTA, yakni sebanyak 35,23 %, sedangkan penduduk berpendidikan maksimal setingkat SD sebesar 20,95 % dan setingkat Akademi/PT sebesar 12,33 %. Sebagian penduduk bekerja pada sektor perdagangan/hotel dan restoran, jasa, serta industri masing-masing sebesar 36,84 %, 23,80 %, dan 18,18 % dengan kategori jenis pekerjaan yang paling besar sebagai buruh (63,50 %), pengusaha (25,03 %), dan 3,49 % pekerja keluarga (BPS 2007). Ekonomi Berfungsinya Jakarta sebagai pusat pemerintahan menjadikan kota ini pusat kegiatan ekonomi, perdagangan dan jasa, kegiatan sosial budaya, serta berbagai sarana terbaik di Indonesia dalam bidang pendidikan, budaya, kesehatan, dan olahraga. Sektor perekonomian DKI yang tinggi pertumbuhannya adalah pengangkutan dan komunikasi, bangunan dan perdagangan, serta hotel dan restoran. Berdasarkan data BPS, pendapatan rata-rata bruto (PDRB) perkapita penduduk DKI Jakarta atas dasar harga berlaku naik menjadi Rp 501,58 triliun. Angka PDRB secara tidak langsung dapat dijadikan salah satu indikator untuk mengukur kemakmuran wilayah (tanpa mempertimbangkan kepemilikan dan nilai tambah setiap sektor yang tercipta). Sejarah Kanal dan Transportasi Air Jakarta Jakarta merupakan kota metropolitan yang menjadi titik temu beberapa sungai. Beberapa puluh tahun yang lalu, Jakarta (Batavia) mendapat julukan “Venesia van Oost” atau “Venesia dari Timur”, karena memiliki sistem kanal yang dapat dilayari. Alur-alur sungai di Batavia yang berawa-rawa dibangun 28 sedemikian rupa oleh Belanda. Lalu lintas sungai dari wilayah hulu Cisadane dan Ciliwung pada waktu itu berkembang dengan rakit penumpang dan pedagang yang menyusurinya menuju pusat perdagangan Batavia. Seiring kemajuan zaman, muncul moda transportasi darat yang lebih cepat, yaitu trem. Kereta api pun muncul menghubungkan Batavia ke daerah pinggiran hingga ke Bogor (Buitenzorg). Selanjutnya transportasi berkembang dengan oto mobil. Pada akhirnya, jalur lalu lintas air ditinggalkan. Sungai Ciliwung dan Cisadane mengalami pendangkalan. Saluran banjir kanal di ujung barat dan timur Jakarta berubah menjadi tempat penampungan sampah tidak resmi. Sistem kanal sendiri dibangun agar aliran Sungai Ciliwung melintas di luar Batavia. Kanal ini merupakan gagasan Prof. H. van Breen dari Burgelijke Openbare Werken atau disingkat BOW yang merupakan cikal bakal Departemen Pekerjaan Umum. Studi ini dilakukan setelah banjir besar melanda Jakarta tahun 1923. Inti konsep ini adalah pengendalian aliran air dari hulu sungai dan mengatur volume air yang masuk ke kota Jakarta serta penimbunan daerah-daerah rendah. Kanal banjir peninggalan van Breen ini dikenal dengan Banjir Kanal Barat. Kanal ini mengatasi banjir daerah Jakarta selama 40 tahun. Pembangunan saluran banjir Banjir Kanal Barat (Kali Malang Barat) dimulai tahun 1992 dengan bagian hulu berawal dari daerah Manggarai ke arah barat melewati Pasar Rumput, Dukuh Atas, lalu membelok ke arah barat laut di daerah Karet Kubur, menuju ke arah Tanah Abang, Tomang, Grogol, Pademangan, dan berakhir di sebuah reservoar di muara di daerah Pluit. Untuk mengatasi banjir akibat hujan lokal dan aliran dari hulu di Jakarta bagian timur dibangun Banjir Kanal Timur (BKT), yang juga mengacu pada rencana induk dan dilengkapi The Study on Urban Drainage and Wastewater Disposal Project in the City of Jakarta tahun 1991, serta The Study on Comprehensive River Water Management Plan in Jabotabek pada Maret 1997. Keduanya dibuat oleh Japan International Cooperation Agency. Selain berfungsi mengurangi ancaman banjir di 13 kawasan, melindungi permukiman, kawasan industri, dan pergudangan di Jakarta bagian timur, BKT juga dimaksudkan sebagai prasarana konservasi air untuk pengisian kembali air tanah, sumber air baku, serta prasarana transportasi air. BKT direncanakan untuk menampung aliran 29 Kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jati Kramat, dan Kali Cakung (http://en.wikipedia.org/wiki/Banjirkanal). Jalur transportasi air dalam data Dinas Perhubungan meliputi Banjir Kanal Barat (9,2 kilometer, setelah dikurangi dengan Banjir Kanal Selatan), Banjir Kanal Timur (23,575 kilometer), Banjir Kanal Selatan (9,6 kilometer), dan sejumlah alur sungai lain. Banjir Kanal Selatan merupakan bagian dari alur Banjir Kanal Barat yang memiliki panjang terdiri dari optimalisasi Kali Malang (5,7 km), Kali Ciliwung (2,4 km), dan sodetan Cipinang Cempedak (1,5 km). Alur pelayarannya sendiri memiliki bentangan hingga 100 meter dan kedalaman tiga meter untuk navigasi. Jalur keseluruhan ini membentang dari barat ke timur Jakarta melintasi kawasan-kawasan sibuk. Pembangunan jalur transportasi air ini masuk dalam Rencana Tata Ruang Wilayah DKI sampai tahun 2010. Pengembangan transportasi massal dalam kebijakan transportasi Pemda DKI dengan jalur air dikenal dengan angkutan waterway. Angkutan waterway diresmikan pada 6 Juni 2007 dengan diujicobakan dan diperkenalkan kepada masyarakat. Pada waktu itu waterway dioperasikan di sepanjang 1,7 kilometer di Banjir Kanal Barat yang menghubungkan Halimun (Jakarta Selatan) dengan Jembatan Mas Mansyur (Jakarta Pusat). Angkutan waterway banjir kanal beroperasi pada jam 07.00 – 10.00 dan jam 15.00 – 18.00 pada Hari Sabtu dan Hari Minggu. Kapal yang digunakan merupakan jenis kapal Kerapu GT. 6 yang didatangkan dari Kabupaten Kepulauan Seribu, yaitu Kerapu III dan Kerapu IV. Kapasitas angkut kapal sekitar 30 orang termasuk beberapa awak kapal. Operasional angkutan waterway Jakarta berada di bawah UPT Penyeberangan Dinas Perhubungan Jakarta. Jalur yang berada di antara jalur busway dan jalur kereta api Bogor-Tanah Abang ini diturap tebing kanalnya pada segmen Jembatan Guntur hingga Pintu Air Karet untuk mencegah longsor. Pada waktu dilakukan penelitian, banjir kanal ini sedang akan diturap hingga Manggarai. Selain itu, tiga dermaga dan beberapa fasilitas dibangun untuk mendukung operasional angkutan waterway.   30 DATA DAN ANALISIS Iklim Iklim menurut Handoko (1995) adalah sintesis dari perubahan nilai unsurunsur cuaca, baik hari demi hari maupun bulan demi bulan, dalam jangka panjang di suatu tempat pada suatu wilayah. Berdasarkan posisi geografisnya wilayah Jakarta beriklim tropis. Berdasarkan data Stasiun Meteorologi Kemayoran Jakarta, rata-rata suhu udara berkisar 28,5 oC. Kelembaban udara rata-rata kawasan adalah 73,9 % dengan lama penyinaran matahari 59,7 % dan rata-rata curah hujan bulanan setiap tahunnya sebesar 132,8 mm/hari. Curah hujan tertinggi sekitar Bulan Februari dan curah hujan terendah sekitar Bulan Agustus/September. Jakarta memiliki arah angin yang dipengaruhi oleh angin musim. Angin musim barat bertiup antara Desember-Maret, sedangkan angin musim timur berkisar Juni-September. Kecepatan angin rata-rata tahunan berkisar 3,0 ms-1. Kondisi iklim tersebut diperinci melalui Tabel 3 berikut. Tabel 3 Rata-Rata Iklim menurut Stasiun Kemayoran selama Lima Tahun Terakhir (2003-2007) Rata-Rata Penyinaran Curah Hujan Matahari (%) (mm/hari) Januari 28,0 14,5 40,4 Februari 27,5 19,6 37,4 Maret 28,1 12,6 46,5 April 28,7 13,2 61,1 Mei 28,9 9,1 65,9 Juni 28,7 8,2 73,3 Juli 28,6 9,7 77,4 Agustus 28,5 7,3 84,8 September 28,9 6,8 81,2 Oktober 29 9,8 68,0 Nopember 28,8 7,6 52,0 Desember 28 14,4 28,7 Jumlah 132,8 Rata-Rata 28,5 11,1 59,7 Sumber: Stasiun Meteorologi Kemayoran Jakarta Bulan Suhu (◦C) Kelembaban Udara (%) 77,0 80,8 77,3 76,0 74,6 72,5 70,3 68,9 68,2 70,9 73,5 77,4 73,9 Kecepatan Angin (ms-1) 3,4 2,5 3,5 3,0 2,8 2,7 2,7 2,8 3,5 2,8 2,8 3,4 3,0 Iklim tapak dipengaruhi oleh iklim perkotaan yang merupakan hasil interaksi faktor alam dan antropogenik, seperti tata guna lahan, jumlah penduduk, aktivitas industri dan transportasi, serta ukuran dan struktur kota. Berdasarkan 31 survai tapak dan sebaran angket terhadap sejumlah responden, kondisi tapak secara umum memiliki suhu relatif tinggi pada siang hari, utamanya terjadi pada sisi selatan. Hal ini dikarenakan sebagian besar bantaran sebelah selatan menerima pancaran radiasi langsung oleh permukaan tanah dengan albedo tinggi-rendah. Albedo permukaan adalah perbandingan jumlah radiasi yang dipantulkan terhadap radiasi yang diterima oleh suatu permukaan. Permukaan tanah yang memiliki albedo tinggi (permukaan yang keras/halus/tidak banyak tutupan vegetasi) akan menyerap sedikit panas daripada memantulkannya. Perubahan suhu juga disebabkan oleh penurunan kualitas udara, yaitu pengaruh intensitas kendaraan bermotor yang melewati sekitar tapak. Namun sisi utara dengan jumlah pepohonan lebih tinggi memiliki suhu sedang. Evapotranspirasi pohon akan menurunkan suhu udara di sekitarnya. Kecepatan angin tergolong sepoi-sepoi hingga angin lemah. Ini ditandai dengan indikator gerakan arah asap hingga gerakan daun dan ranting kecil. Arah angin pada tapak datang dari timur/tenggara. Tingkat kecepatan angin di tapak cukup nyaman, utamanya menjelang sore hari. Berdasar nilai suhu dan kelembaban, diperoleh THI (Thermal Humidity Indeks) sebesar 27,01 (sedikit berada di atas selang kenyamanan). Sisi utara terasa nyaman, sedangkan sisi selatan terasa tidak nyaman. Dari informasi iklim dilakukan analisis untuk memecahkan masalah dan memanfaatkan potensi (Gambar 5 dan Gambar 6). Potensi: − CH tinggi mempengaruhi ketersediaan air bagi pelayaran − Kenyamanan suhu pada sisi utara Kendala: − Suhu tinggi dan terus mengalami peningkatan − CH tinggi memungkinkan debit air kanal tidak terkendali bagi pelayaran − CH tinggi mempengaruhi kelembaban − Kenaikan suhu akibat banyaknya polutan − Intensitas radiasi matahari cukup tinggi Solusi: − Pengaturan kelembaban dengan merangsang angin yang cukup − Penyusunan vegetasi dan struktur bangunan yang menaungi dan memantulkan panas − Mempertahankan pepohonan besar − Membuat lubang resapan, penanaman vegetasi untuk meningkatkan kapasitas air tanah, memasang batu-batu penghalang di tepi dasar kanal untuk mengerem laju aliran (dengan catatan tidak mengganggu alur kapal), dan operasi pintu air yang baik. − Membuat saluran drainase yang baik − Pemilihan struktur material penyerap air, tahan cuaca, berwarna sejuk − Memperhatikan arah pergerakan sinar Gambar 5 Bagan Analisis Iklim pada Tapak. 33 Iklim mempengaruhi kehidupan. Iklim yang baik bagi lingkungan akan meningkatkan semangat beraktivitas, memberikan kenyamanan, dan mempengaruhi kesehatan. Lanskap dapat dimodifikasi untuk menciptakan iklim mikro yang diinginkan. Komponen iklim mikro yang dapat dimodifikasi melalui penataan elemen lanskapnya adalah radiasi, kecepatan angin, dan presipitasi. Sementara itu, suhu dan kelembaban tidak dapat dimodifikasi secara langsung melalui penataan elemen lanskap, meskipun sama-sama memiliki pengaruh yang kuat. Dari Tabel 3 dapat dikatakan bahwa suhu udara tergolong tinggi dan cenderung tetap terhadap tahun-tahun sebelumnya (Tabel 4). Suhu tinggi antara lain disebabkan oleh konversi ruang terbuka hijau menjadi kawasan terbangun, sehingga meningkatkan daya serap radiasi matahari yang masuk. Suhu yang tinggi mengakibatkan suasana tidak menyenangkan apalagi didukung dengan curah hujan yang tinggi. Tabel 4 Kondisi Iklim dari Tahun ke Tahun menurut Stasiun 745 (Kemayoran) Tahun Suhu (C◦) Kelembaban Udara (%) Curah Hujan (mm/hari) 2003 28,5 73,9 2004 28,5 73,8 2005 28,5 74,4 2006 28,5 73,1 2007 28,3 74,5 Sumber : Stasiun Meteorologi Kemayoran Jakarta Penyinaran Matahari (%) 100,9 133,0 155,4 110,0 164,9 61,3 59,7 55,1 63,2 59,3 Kecepatan Angin (ms-1) 2,5 2,4 2,3 2,6 5,2 Penataan ruang lanskap waterway dilakukan dengan merangsang sirkulasi angin yang baik, sehingga kelembaban berkurang. Gerakan udara juga membawa pergi polutan udara yang meningkatkan daya serap atmosfer terhadap radiasi matahari. Dalam hal ini, tanaman berperan dalam mengurangi tingkat polusi udara melalui proses fotosintesis, memantulkan radiasi matahari, dan memberikan kesejukan. Oleh karenanya, suhu yang tinggi dapat diatasi dengan penambahan vegetasi serta struktur bangunan yang memberikan naungan dan cukup memantulkan panas, dengan memperhatikan sirkulasi angin. Curah hujan yang cukup tinggi merupakan potensi bagi ketersediaan air untuk pelayaran angkutan waterway. Akan tetapi, curah hujan yang tinggi ini pun menyebabkan ketinggian permukaan air kanal menjadi maksimal. Sementara itu, ketika intensitas hujan berada pada kondisi minimum, ketersediaan air kurang 34 mencukupi alur pelayaran. Perbedaan inilah yang menyebabkan volume air kanal sangat fluktuatif. Langkah mengurangi besar laju aliran adalah dengan sistem tata ruang secara menyeluruh, seperti penghutanan kembali daerah hulu. Kanal/sungai merupakan ekosistem terbuka, sehingga dipengaruhi oleh seluruh faktor baik dari hulu hingga hilir (Maryono 2005). Sesungguhnya normalisasi yang berupa tanggul, pelurusan, dan sebagainya cocok dilakukan di bagian hilir saja. Sebaliknya, menurut Maryono (2005) langkah-langkah seperti membiarkan alur sungai alami, memberikan vegetasi bantaran dan penahan erosi, mempertahankan keseimbangan komponen sedimen transport sungai, mempertahankan kondisi lokal di sungai (seperti perakaran pinggir sungai dan bebatuan di tepi sungai), akan menghambat tingginya laju aliran air tersebut. Oleh karenanya, cara memanfaatkan curah hujan yang tinggi pada tapak penelitian -yang sudah mengalami pembetonan- adalah dengan pembuatan lubang resapan, penanaman vegetasi untuk meningkatkan kapasitas air tanah, memasang batu-batu penghalang di tepi dasar kanal untuk mengerem laju aliran (dengan catatan tidak mengganggu alur kapal), dan operasi pintu air yang baik. Sistem drainase yang baik serta penggunaan hard material lantai yang menyerap air juga diperlukan pada bantaran kanal untuk menghindari kemungkinan terjadi genangan akibat curah hujan yang tinggi tersebut. Kondisi genangan menganggu pengguna sirkulasi di tepian kanal. Material keras yang digunakan adalah yang tahan terhadap curah hujan tinggi, sehingga memberikan kenyamanan dan keselamatan penggunanya. Gambar 7 Pengurangan Tranmisi Cahaya oleh Pohon Sumber: Brooks (1988). Intensitas penyinaran, seperti yang diungkapkan sebelumnya, berkisar 59,7%. Radiasi yang diterima dapat dikontrol dengan pemanfaatan vegetasi terpilih untuk peneduh (Gambar 7). Vegetasi yang digunakan antara lain yang 35 memiliki kerapatan daun sedang hingga massif dan bertajuk lebar. Elemen lanskap yang digunakan sebaiknya cukup dalam memantulkan cahaya, sehingga tidak menyilaukan mata. Bahkan, pemilihan warna-warna sejuk sebaiknya diperhatikan dalam merancang tapak. Peletakan elemen lanskap juga memperhatikan arah pergerakan sinar matahari. Tanah dan Topografi Sifat geologi wilayah perancangan merupakan kelompok pleistocene vulcanic facies (kelompok vulkanik dari zaman pleistocene, 20.000 – 2 juta tahun yang lalu) dan sebagian kecil lain merupakan kelompok aluvium. Secara geomorfologi berdasar peta geomorfologi (Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah 2001) tapak berbentuk kipas aluvial berelief halus dan sebagian kecilnya mengikuti dataran aluvial pantai. Endapan kipas aluvial terdiri atas material batu pasir dan batu lempung tufan, endapan lahar, dan konglomerat. Sementara itu, morfologi pada endapan aluvial pantai umumnya datar sampai sedikit bergelombang, dapat membentuk endapan delta, endapan rawa, dan endapan sungai dengan bentuk meander. Kondisi air tanahnya banyak ditentukan kondisi geologi di hulunya. Jenis tanah yang ada pada banjir kanal tersebut adalah tanah asosiasi latosol merah, latosol coklat kemerahan, dan laterit (Peta Jenis Tanah Kawasan Jabotabek, Pusat Penelitian Tanah, Peta Dasar Bakosurtanal 2001). Jenis tanah latosol menurut Soepardi (1983) merupakan tanah yang kaya akan seskuioksida dan miskin akan silikat. Tingginya seskuioksida menyebabkan pupuk fosfor tidak tersedia bagi tanaman. Tanah latosol tergolong subur dan memiliki sifat granular, sehingga drainase ke dalam baik. Liat hidro-oksida pada tanah latosol tinggi, tetapi tidak memiliki sifat plastis dan kohesi. Kadar bahan organiknya kurang. Adanya sifat dari liat dan bahan organik (BO) ini menyebabkan KTK rendah. Jenis tanah latosol pada tata nama baru tanah merupakan tanah oxisol, yakni tanah yang mengalami pelapukan paling lanjut. KTK yang rendah diperbaiki dengan penambahan BO dan pengapuran. Penambahan BO memperbaiki strukur, aerasi, dan kapasitas tukar kation (KTK). BO juga mempengaruhi ketersediaan fosfor. Hasil dekomposisi bahan organik tersebut memainkan peranan penting dalam menyediakan fosfor bagi tanaman. 36 Tapak adalah dataran rendah dengan ketinggian ±5 meter dpl. Kemiringan yang ada adalah 0-3 % dan ≥ 50 % pada tebing kanal. Kecuraman tebing kanal sebaiknya diatasi dengan bio-engineering, dalam melindungi tebing terhadap gempuran gelombang kapal, dibandingkan dengan pembetonan. Teknik tersebut dilakukan dengan penutup tebing dari alang-alang, tanaman tebing, dan tanaman antara pasangan batu kosong. Kondisi topografi tapak diperlihatkan oleh Gambar Lampiran 1. Analisis topografi (Gambar 8) diperlukan untuk mendayagunakan bentuk permukaan tanah dan menghinari biaya konstruksi yang mahal (Chiara dan Lee 1900). Secara umum kondisi topografi lokasi studi didominasi oleh tingkat kemiringan 0-3%, sehingga relatif datar. Kondisi topografi yang datar tersebut merupakan kondisi hampir tanpa faktor pembatas, karena memungkinkan pembangunan ke berbagai arah. Tapak datar mempermudah penataan vegetasi, perkerasan, bangunan taman, dan lainnya. Berdasar kekesuaian lahan USDA/United Stated Department of Agriculture (1968) tapak dengan kemiringan ini sesuai untuk kegiatan rekreasi. Topografi yang relatif datar memberikan kesan monoton, tetapi memunculkan kesan terbuka dan luas, terlebih terhadap bantaran kanal yang tidak begitu lebar. Sebagian kecil tapak memiliki kemiringan 15-25 %. Hal ini berpotensi sedikit menjauhkannya dari kesan monoton. Namun, bila dibiarkan terbuka, akan menimbulkan kemungkinan gerakan permukaan tanah. Potensi: − Tergolong subur dan drainase cukup baik − Topografi datar, memungkinkan pembangunan ke segala arah, memberi kesan terbuka dan luas, dan memudahkan penataan elemen − Kemiringan bantaran kanal sesuai untuk rekreasi − Bukit yang ada menjadi variasi topografi Kendala: − Fosfor tidak tersedia − BO kurang sehingga rendah KTK − Kecuraman di tebing kanal memungkinkan erosi dan sedimentasi kanal Solusi: − Meningkatkan kondisi tanah dengan penambahan BO dan pengapuran − Memperhatikan sistem drainase − Pemanfaatan ruang yang menarik − Memberikan penutupan tanah − Menanam vegetasi untuk ketersediaan air tanah − Sebaiknya menggunakan tehnik bioengineering atau eko-engineering untuk tebing kanal bila dibandingkan dengan beton − Memberikan pagar pengaman Gambar 8 Bagan Analisis Tanah dan Topografi pada Tapak 37 Hidrologi Air yang masuk ke Banjir Kanal Barat (Banjir Kanal Selatan) segmen Manggarai - jembatan K.H. Mas Mansyur adalah dari Sungai Ciliwung, drainase, maupun dari waduk yang dialirkan melalui pompa. Data hidrologi yang diambil meliputi kuantitas air, kualitas air, dan drainase ke kanal (Gambar 9). Gambar 9 Kondisi Hidrologis Banjir Kanal Segmen Perancangan. 1. Kuantitas Air Kuantitas air kanal ditunjukkan dengan debit air ataupun ketinggian muka air. Debit air adalah jumlah air yang mengalir (aliran permukaan dan aliran air bawah permukaan) per satuan waktu yang dinyatakan dalam meter kubik per detik. Ketinggian air adalah tinggi air yang terjadi pada badan air dinyatakan dalam sentimeter. Pada waktu banjir/curah hujan paling tinggi, menurut informasi Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, air tidak sampai melimpas ke sempadan dan sekitarnya. Selain air hujan, pasokan air yang mempengaruhi kondisi ketinggian dan debit air banjir kanal tersebut adalah aliran Sungai Ciliwung. Debit air Ciliwung yang akan masuk ke BKB antara 150 m3s-1 - 370 m3s-1. Menurut Kepala Dinas 38 Pekerjaan Umum dalam makalahnya mengenai banjir di Jakarta, debit banjir di Ciliwung BKB sebesar 290 m3s-1 yang pada awalnya merupakan debit banjir periode ulang 100 tahun. Debit banjir rencana pada Pintu Air (P.A.) Manggarai (Periode ulang 100 tahunan) adalah 370 m3s-1 di mana sekitar 80 m3s-1 dialirkan ke Sungai Ciliwung Lama dan 290 m3s-1 dialirkan ke BKB. Ketinggian air ratarata yang terjadi di P.A. Manggarai yang didapat dari Sudin PU Tata Air Jakarta Selatan pada bulan kering sebesar 650 cm dan tertinggi pada bulan basah sebesar 900 cm. Bulan basah tersebut terjadi antara Desember-Maret. Ketinggian normal yang ada di P.A. Manggarai adalah 740 cm. Saluran air lain yang lain berasal dari (1) Kali Bata yang sebelum masuk ke kanal diatur dengan P.A. Bali Matraman, (2) Kali Pasar Minggu yang masuk melalui P.A. Sultan Agung dan sebagian yang lain melewati syphon, (3) Pompa Air Waduk Setiabudi, serta (4) saluran drainase limbah. Syphon adalah crossing sungai yang mengalirkan air menuju bawah banjir kanal. Outlet banjir kanal ini menuju ke P.A. Karet dan sebelumnya air terbagi pula menuju Kali Surabaya dan Kali Ciliwung Lama (Gambar Lampiran 2). Secara keseluruhan aliran yang berarti adalah yang berasal dari P.A. Manggarai. Air dari Cideng hingga debit air tertentu dialirkan melalui syphon yang artinya tidak masuk ke kanal. Ketika debit berlebih, air dilewatkan melalui pompa Setiabudi. Waduk Setiabudi merupakan daerah tangkapan air hujan dan penampungan air limbah. Pengaliran air dari waduk dioperasikan oleh DPU. Banjir kanal penelitian memiliki ketersediaan alur yang lebih tinggi. Hal ini menjadi potensi berkembangnya alur transportasi. Sayangnya, beda ketinggian permukaan saat hujan/kemarau menghalangi pengangkutan yang menyenangkan. Perbedaan ini didukung oleh berkurangnya daya resap air dan kemampuan menyimpan persediaan air pada musim kemarau. Beda ketinggian air mempengaruhi desain dermaga. Ketersediaan air dapat ditingkatkan dengan vegetasi, karena tajuk dan akarnya menangkap dan menghisap sebagian air hujan. Pada waktu hujan tidak turun air akan berangsur-angsur menuju sungai. Ketinggian air dijaga dengan kecermatan pengaturan pintu air. Selain perubahan tata guna lahan, ketinggian air dapat juga diakibatkan oleh sedimentasi pada banjir kanal dan pembuangan sampah ke kanal. Sedimentasi membentuk 39 (a) (b) (c) (d) Gambar 10 Teknik Eko-hidraulik Kanal Waterway, (a) Pagar Datar, (b) Modifikasi Jembatan dengan Batu Penghalang, (c) Penutup Tebing (alang-alang, jerami, dll), (d) Tanaman antara Pasangan Batu Kosong. Sumber Maryono 2005. meander, sebagai suatu karakterisik sungai dataran rendah. Ketika diluruskan, dalam jangka waktu tertentu alur sungai akan kembali ke dalam bentuk semula sesuai dengan kondisi geografi, ekologi, dan hidrologi daerah setempat (Maryono 2005). Sedimentasi pada kanal berturap dengan pengerukan periodik, meskipun membutuhkan dana yang besar. Sesungguhnya, pelurusan dan pembetonan tebing merupakan pengurangan kemampaun retensi sungai terhadap aliran airnya, menyebabkan tanggungan volume air yang lebih besar dan lebih cepat (banjir) di bagian hilir (Maryono 2005). Oleh karenanya, langkah lain yang sebaiknya dilakukan pada jalur transportasi air adalah dengan bio-engineering (seperti yang telah disinggung di muka), pemberian batu-batu penghalang pada kanal yang sudah diturap (Gambar 10). Gambar 11 adalah ringkasan hasil analisis. 40 Potensi: − Ketersediaan air yang lebih banyak untuk alur pelayaran Kendala: − Ketinggian air yang berlebih maupun yang kurang akibat penyempitan alur,curah hujan, dan sampah, mengganggu pelayaran Solusi: − Vegetasi di bantaran kanal − Pengaturan pintu air dengan baik − Desain bio-engineering, pemberian batubatu penghalang pada alur yang terlanjur diturap, hingga renaturalisasi alur. − Perancangan lanskap waterway − Desain fasilitas yang menyesuaikan kondisi fluktuasi ketinggian muka air Gambar 11 Bagan Analisis Kuantitas Air. 2. Kualitas Air Pencemaran air dapat diartikan masuknya/dimasukinya makhluk hidup, zat, atau energi, dan/atau komponen lain ke dalam air secara sengaja maupun tidak sengaja sampai melebihi batas tertentu dan menyebabkan air kehilangan fungsi peruntukannya. Air kanal segmen perancangan diperuntukkan pada baku mutu B, yaitu untuk bahan baku air minum. Namun, berdasar parameter kimia dan biologi air tersebut sekarang melebihi baku mutu B, kecuali berdasar parameter fisik. Penambahan limbah berasal dari aliran saluran langsung maupun yang sebelumnya telah diolah di Waduk Setiabudi. Waduk Setiabudi terdiri dari dua bagian yaitu Waduk Setiabudi Barat dan Waduk Setiabudi Timur. Keduanya adalah area tangkapan air sekaligus area tampungan limbah dari Kecamatan Setiabudi, Kecamatan Tebet, dan Kecamatan Tanah Abang, yang menjadi area layanan dari Perusahaan Daerah Pengolahan Air Limbah Jaya (PD. PAL Jaya). Mereka adalah rumah tangga, hotel, apartemen, perkantoran (pemerintah/swasta), serta bangunan sosial (rumah sakit, sekolah, dan lainnya). Bentuk limbah yang dialirkan adalah limbah buangan toilet. Kondisi kanal yang bau disebabkan pencemaran kimia air yang berasal dari berbagai saluran pembuangan limbah. Berdasar data BPLHD dari Laporan Pemantauan Kualitas Air Sungai Tahun 2006, indeks pencemaran air di lokasi studi berada pada cemar berat, BOD melebihi baku mutu (40-80 mg L-1), COD (25-80 mg L-1), dan DO yang mencapai baku mutu hanya pada area Manggarai (hingga 6 mg L-1). Selain warna dan bau, konsentrasi deterjen juga mengganggu 41 estetika badan air dan menghambat penurunan nilai BOD dan COD. Konsentrasi deterjen yang ada berada di bawah baku mutu. Pencemaran fisik seperti kekeruhan memiliki nilai 23,5 NTU (Nephelometric Turbidity Units) pada bulan kering dan 39,2 NTU pada bulan basah, dengan batas baku mutu 100 NTU. Berdasar kondisi ini, dapat dikatakan bahwa tingkat kekeruhan air belum tinggi. Padatan tersuspensi dari banjir kanal sebesar 35,67 mg L-1 dan melebihi tingkat pencemaran sebesar 103,8 mg L-1 pada saat bulan basah. Debit air yang tinggi saat musim hujan mengakibatkan bertambahnya nilai parameter pencemaran fisik ini. Padatan tersuspensi membawa partikel yang pada akhirnya mengendap dan menimbulkan sedimentasi. Alur pelayaran waterway memerlukan kualitas air yang baik, utamanya dari warna dan bau. Kualitas air mempengaruhi kenyamanan pengguna dan kualitas estetika kota itu sendiri. Tingkat pencemaran air limbah dihindari dengan mengendalikan masuknya materi pencemar ke dalam perairan. Hal tersebut dilakukan dengan menyaring limbah yang ada sebelum masuk ke kanal sesuai dengan standar yang diberikan, melalui sistem sederhana maupun melalui suatu teknologi pada gedung perkantoran. Ilustrasi sistem pembuangan limbah cair dari rumah tangga ditunjukkan oleh Gambar 12. Gambar 12 Sistem Pembuangan Limbah Cair dari Rumah Tangga (Chiara 1978). Sampah padatan dicegah masuk kanal melalui saringan manual/otomatis di inlet kanal, pengangkatan sampah secara periodik, dan aktivitas/larangan ketat 42 untuk tidak membuang sampah di kanal. Saringan sampah dapat diletakan sebelum bangunan pompa air dan pintu air. Hal yang perlu diperhatikan adalah volume sampah sungai/kanal yang akan ditangani, sebelum pintu air/sebelum alur waterway, daya dukung lahan terhadap struktur penyaring sampah, jaringan listrik untuk menjalankan saringan otomatis, dan bukan daerah rawan genangan. Berkurangnya sampah menyebabkan nilai COD dan BOD menurun, sehingga bau yang mengganggu secara perlahan berkurang. Kekeruhan juga mempengaruhi ketersediaan oksigen terlarut yang dibutuhkan mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik (Nurisjah 1994). Kondisi Jakarta yang landai dan tanah mengandung liat menyebabkan perairan relatif keruh. Pemberian batu-batu penghalang dan pemompaan oksigen terlarut pada kanal berturap tersebut dapat membantu menambah kadar oksigen terlarut. Ringkasan analisis diperlihatkan pada Gambar 13. Solusi: − Memberi saluran penyaring limbah cair − Menyaring sampah padat sebelum masuk ke kanal − Larangan membuang sampah di kanal − Pemberian aerasi seperti batu penghalang dan pemompaan oksigen terlarut Potensi: − Tingkat kekeruhan dan kadar deterjen tidak terlalu tinggi Kendala: − Secara keseluruhan kualitas air kanal menurunkan nilai estetika Gambar 13 Bagan Analisis Kualitas Air. 3. Drainase Terdapat beberapa saluran drainase yang masuk ke badan air yang mengalirkan limbah maupun air hujan, berupa galur-galur/selokan kecil terbuka maupun pipa dan gorong-gorong. Penyumbatan saluran oleh sampah/tanah menghambat aliran air yang seharusnya dibuang dari bantaran kanal. Saluran drainase limpasan air hujan memerlukan kemiringan tertentu antara 1-2 %, sehingga tidak terjadi genangan di bantaran, seperti yang terjadi pada segmen Halimun-Rasuna Said (Gambar 14). Drainase dibuat dengan mengkombinasikan drainase permukaan dari limpasan ruang terbuka dan drainase tertutup dari limpasan perkerasan. Selain itu, lubang resapan biopori juga menjadi cara yang murah dan mudah untuk menghindari genangan air. Bahkan sampah 43 organik yang dimasukkan ke dalamnya akan menciptakan lubang-lubang kapiler kecil akibat aktivitas mikroorganisme pengurai sampah organik tersebut. Dengan demikian, penyerapan air ke dalam tanah akan semakin banyak. Gambar 14 Contoh Saluran Drainase dan Genangan pada Tapak Hidrografi Badan Air Segmen perancangan memiliki panjang ±3,65 km (Tabel 5). Lebar eksisting adalah kondisi lebar sebelum dinormalisasi. Sementara itu, lebar optimal adalah lebar yang diharapkan untuk menciptakan fungsi yang diinginkan. Lebar optimal dari Balai Besar Wilayah Ciliwung-Cisadane seperti yang terlihat pada Tabel 5. Pada segmen perancangan ini tidak terdapat lengkungan kanal yang signifikan. Tabel 5 Hidrografi Kanal pada Segmen Perancangan Lanskap Waterway No Segmen Panjang Lebar Eksisting Lebar Optimal 1 Manggarai-Jembatan Mampang 0,82 km 28 m 31 m 2 Jembatan Mampang-Jembatan Guntur 0,26 km 31 m 37 m 3 Jembatan Guntur-Jembatan Halimun 0,52 km 33 m 37 m 4 Jembatan Halimun-Sudirman 1,26 km 33 m 37 m 5 Sudirman-Jembatan Mas Mansyur 0,79 km 40 m 40 m Kondisi volume air yang ditunjukkan dengan ketinggian muka air sangat penting untuk pelayaran. Tinggi muka air pada kanal ini rata-rata ≤ 2 meter di saat persediaan air kurang. Elevasi kanal yang dihimpun dari Dokumen Peningkatan Kapasitas dan Perkuatan Tebing Banjir Kanal Barat Hulu 2007-2009 pada Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Proyek Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai Ciliwung-Cisadane, Depkimpraswil, antara 7-8 44 meter. Dalam perencanaan teknis, kanal diukur saat permukaan air surut untuk mengantisipasi operasional kapal saat ketersediaan air terbatas. Selanjutnya, berdasar hasil rencana pengerukan dan penguatan dinding kanal dari Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane tersebut di dalam Laporan Akhir 2004 Dinas Perhubungan, didapatkan bahwa lebar minimum air pada kondisi surut adalah 35 meter, lebar minimum alas kanal adalah 24 meter, dan kedalaman minimum adalah 3 meter. Salah satu kriteria pelayaran waterway adalah lebar kanal yang cukup untuk lintasan dua arah dan putar haluan kapal. Selain fungsi teknis pengangkutan, kanal yang cukup lebar menciptakan suasana yang lapang bagi pengguna tapak. Ketinggian tanggul yang mencukupi perkiraan ketinggian maksimum air akan menciptakan rasa aman pengguna tapak terhadap luapan air. Nilai Estetika Lokasi penelitian sebagian besar sedang dinormalisasi melalui penguatan dinding kanal dengan penurapan dan perataan lebar kanal. Perataan itu untuk mengembalikan fungsi kanal sebagai pengendali banjir dari degradasi fungsi akibat terjadinya sedimentasi. Normalisasi yang berkaitan dengan transportasi air bertujuan memenuhi ruang pergerakan ideal bagi kapal dan mencegah abrasi dinding kanal akibat gelombang yang timbul dari pergerakan kapal. Tepian air tersebut dirombak dengan membersihkan tanah dari semak-semak dan menebang beberapa pohon yang masuk dalam wilayah pelebaran kanal. Pada saat penelitian, kondisi beberapa tempat masih terlihat alami, tetapi terlihat suram. Sedangkan bagian yang sudah terturap, tertanam pepohonan di kanan kirinya dan diselingi taman dengan kondisi yang cukup terawat hingga kurang terawat. Turap yang ada ditumbuhi rerumputan liar dan beberapa di antaranya hampir jebol. Tepian banjir kanal diokupasi oleh kaum tunawisma sebagai rumah tinggalnya. Begitu pula dengan gelagar jembatan yang ada. Gangguan pemandangan juga ditambah dengan kain jemuran yang menempel di gelagar tersebut dan keberadaan pemukiman yang kurang teratur. Kanal ini memiliki ketersediaan air lebih tinggi dibandingkan dengan Banjir Kanal Timur (BKT). Airnya berwarna coklat keruh dan bercampur dengan warna 45 kehitaman oleh aliran air yang datang dari saluran drainase langsung (saluran limbah rumah tangga dari kios-kios liar di tepi kanal dan dari gedung sekitar) maupun saluran pembuangan air limbah dari Waduk Setiabudi. Menurut Saeni (1989) dalam Nurisjah (2004), air yang berwarna coklat disebabkan oleh erosi tanah, sedangkan air yang berwarna kehitaman disebabkan oleh bahan buangan atau limbah organik. Pada waktu hujan turun banjir kanal dipenuhi lebih banyak aliran sampah yang berasal dari tumpukan sampah di dekat Pintu Air Manggarai dan dari beberapa tempat lainnya. Berbagai jenis sampah tersebut terlihat sangat mengganggu pemandangan dan akan mengganggu alur pelayaran waterway. Bunyi-bunyian yang timbul di lingkungan tapak datang dari suara lalu lalang kendaraan bermotor di ruas jalan. Kereta dengan intensitas sering juga melaju di sisi utara kanal. Bunyi lain yang kadangkala terdengar di lokasi adalah bunyi kicau burung. Aroma yang ada pada tapak bersumber dari bahan pencemar air, yaitu bau amis yang sesekali tercium. Kondisi udara pada pagi hari cukup segar, menjelang siang hari mulai gerah, dan pada sore hari cukup nyaman. Berdasarkan pendapat responden yang melihat kondisi tapak, sebagian besar mengatakan bahwa lanskap kanal tersebut memiliki sirkulasi yang buruk, suhu yang panas, kondisi air yang sangat kotor, aroma air bau, keamanannya rawan, ketertiban yang baik (tertib), lingkungan yang sangat kotor, kenyamanan yang kurang, serta pemandangan sekitar yang kurang indah - cukup indah. Tabel 6 menunjukkan kondisi lanskap kanal segmen Manggarai-Jembatan Mas Mansyur. Sebagai sebuah lanskap, kanal ini memiliki pemandangan dari yang menarik hingga tidak menarik. Lanskap kanal tersebut belum tertata dengan baik, sehingga terdapat beberapa titik yang mengganggu. Sebaliknya, pemandangan yang menarik, antara lain arsitektur gedung bertingkat tinggi, taman, arsitektur tanaman yang ada, keunikan batang pohon, dan lainnya. Pengelolaan lanskap banjir kanal dilakukan petugas lapang tata air DPU dan pengelolaan kebersihan dilakukan oleh petugas lapang dari Dinas Kebersihan. Menurut Nurisjah (2004) estetika adalah apresiasi/tanggapan terhadap suatu keindahan yang dapat dinikmati berdasar objek dan lingkungannya. Variasi nilai estetika merupakan sesuatu yang perlu diolah untuk menghasilkan apresiasi yang 46 Tabel 6 Kondisi Lanskap Waterway Segmen Manggarai-Karet menurut Responden Keadaan Umum Sirkulasi Suhu Kondisi air Aroma air Keamanan Ketertiban Kebersihan lingkungan Kenyamanan Keindahan pemandangan sekitar 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4. 5. Keterangan sangat buruk buruk cukup baik baik sangat baik sangat tinggi tinggi sedang rendah sangat rendah sangat kotor kotor cukup bersih bersih sangat bersih sangat bau bau cukup tidak mengganggu tidak bau sangat tidak bau sangat rawan rawan cukup aman aman sangat aman sangat tidak tertib tidak tertib cukup tertib tertib sangat tertib sangat kotor kotor cukup bersih bersih sangat bersih sangat tidak nyaman kurang nyaman cukup nyaman nyaman sangat nyaman sangat tidak indah kurang indah cukup indah indah sangat indah Pendapat Responden 54 % 36 % 10 % 2% 82 % 8% 8% 50 % 44 % 6% 16 % 62 % 11 % 11 % 4% 60 % 16 % 20 % 20 % 32 % 48 % 48 % 30 % 22 % 20 % 60 % 18 % 2% 18 % 30 % 30 % 22 % - menyenangkan dan kualitas lanskap yang baik. Kualitas lanskap yang baik berkaitan dengan kebutuhan dan kehidupan manusia. Kriteria sense yang 47 berkualitas menurut Nurisjah (2004) adalah berada dalam selang kenyamanan, memiliki keragaman sensasi, sesuai dengan keinginan dan preferensi pengguna, mendukung perilaku dan teritorial seseorang, memiliki identitas, dan tiap elemennya memiliki arti khusus. Estetika kanal waterway ini disusun untuk menciptakan perasaan ternaungi dan terlindungi melalui segenap raga dan indera pengguna. Analisis diperlihatkan pada Gambar 15. Pemandangan yang tidak menarik diatasi dengan penataan vegetasi dan elemen lanskap lainnya, penciptaan kesan perjalanan, pemanfaatan pemandangan luar, dan pengalokasian pemilik bangunan liar yang ada di tepian kanal. Penataan tanaman perlu memperhitungkan kemampuan pandangan pengguna kapal selama perjalanan. Penataan vegetasi dan elemen lanskap lain dilakukan dengan permainan permainan warna dan tekstur serta penciptaan kesatuan desain melalui kesederhanaan (simplicity), variasi (variety), urutan (sequence), penekanan (emphasis), keseimbangan (balance), dan skala (scale) (Hannebaum 2002). Bunyi kicau burung berpotensi menambah estetika kota dan memberikan kesan alam. Kehadiran burung dan serangga dipertahankan dengan tanaman yang menarik mereka. Pepohonan besar eksisting, selain menjadi habitat burung tertentu, dapat menghilangkan kegerahan melalui kombinasinya dengan pengaturan angin. Taktilitas pun dicapai dengan menciptakan udara segar, suasana yang teduh, dan sirkulasi yang mudah dimanfaatkan. Kondisi air yang keruh dan bau diatasi dengan menambahkan tanaman penghilang bau. Kualitas air diperbaiki dengan menghilangkan penumpukan sampah yang ada di dekat P.A. Manggarai. Kebisingan cukup dirasakan akibat intensitas kereta yang lewat di samping kanal, tetapi tidak begitu juga dengan pengaruh bunyi kendaraan bermotor. Hal ini diatasi dengan pemberian tembok (wall) dilapisi bahan peredam maupun dengan penanaman vegetasi. Meskipun penanaman vegetasi untuk meredam bising membutuhkan ketebalan tertentu, pemanfaatan tanaman tersebut dapat sekaligus membatasi pandangan dan menyaring debu yang berasal dari hempasan kereta api. 49 Aksesibilitas, Transportasi, dan Sirkulasi Lokasi peelitian terletak di dekat Stasiun Manggarai dan memanjang hingga di samping Jalan Mas Mansyur. Karena lokasinya berada di antara jalur jalan dan kereta api, akses menuju lokasi banjir kanal dapat dicapai dengan mudah melalui jalur darat tersebut. Banyak jalan yang dapat menghubungkan pengguna ke lokasi banjir kanal, baik yang memotong maupun yang sejajar, seperti Jl. Sultan Agung, Jl. Halimun, Jl. Guntur, Jl. Latuharhari, Jl. Galunggung, Jl. Karet Pasar Baru Timur, Jl. K.H. Mas Mansyur, serta beberapa jalan yang lain, seperti yang terlihat pada Gambar 4. Jalan utama yang berpotongan tidak sebidang yang juga menjadi akses pencapaian ke lokasi adalah adalah Jl. Sudirman dan Jl. Rasuna Said. Jalan tersebut juga merupakan bagian dari jaringan busway. Berdasar pengamatan, angkutan jalan yang beroperasi melewati banjir kanal ini antara lain, Kopaja 66, taksi, bajaj, dan busway koridor 6 dan 4. Sedangkan aksesibilitas melalui kereta api ditempuh menggunakan jalur kereta api Tanah Abang yang akan berhenti pada Stasiun Sudirman dan Stasiun Karet serta jalur kereta api Manggarai. Trayek angkutan air akan disinergikan dengan trayek moda lain, sehingga akan mengurangi beban perjalanan melalui kemudahan akses antarmoda. Identifikasi trayek-trayek yang memotong dan sejajar terhadap kawasan kanal diberikan dalam Tabel Lampiran 1. Banyaknya jaringan jalan yang dapat mengakses banjir kanal tersebut menjadi potensi terciptanya jaringan transportasi yang integratif. Sayangnya, di daerah ini terdapat kekurangan trayek angkutan umum (missing link), sehingga pemanfaatan banjir kanal sebagai prasarana angkutan waterway menjadi potensi besar untuk dikembangkan. Seperti yang terlihat pada Tabel Lampiran 1, rute besar yang ada hanya ada di Karet, Jl. Jenderal Sudirman, Jl. Rasuna Said, dan Manggarai. Oleh karenanya, jaringan transportasi kanal ini direncanakan sebagai pengumpan (feeder) terhadap jaringan utama. Transportasi kanal berfungsi sebagai pengisi dari kekosongan trayek angkutan umum pada segmen Manggarai-Karet. Jumlah pengendara kendaraan pribadi setiap tahunnya mengalami kenaikan 11% sementara ruas jalan tidak berubah secara signifikan dengan naik sebesar 1%, sehingga muncul masalah kemacetan di semua ruas area ekonomi, bisnis, maupun pemukiman. Demikian pula kemacetan yang terjadi pada ruas jalan yang mengapit 50 banjir kanal segmen Manggarai-Karet ini. Setiap hari kerja, ruas jalan ini macet dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melaju dari ujung (pintu air Manggarai) hingga jembatan Mas Mansyur. Menurut pengalaman responden yang dihimpun melalui kuesioner, waktu untuk menempuhnya sekitar setengah jam, terlebih pada waktu jam-jam padat. Dermaga yang ada diupayakan agar terkait dengan perhentian moda angkutan lain. Namun, Dermaga Halimun dirasa tidak dapat langsung terakses oleh pengguna angkutan, karena jarak dengan halte angkutan lain agak jauh. Oleh karenanya, dalam perencanaan transportasi, proyek awal rencana pengembangan angkutan sungai wilayah DKI Jakarta menempatkan darmaga di sepanjang segmen Manggarai-Mas Mansyur, yaitu di Manggarai (dekat pintu air), Mampang (Pasar Rumput), Latuharhari (sekitar Rasuna Said), Dukuh Atas (sekitar Sudirman), dan Karet (K.H. Mansyur). Dalam kebijakan perencanaan transportasi tersebut, peletakan dermaga perlu memperhatikan akses-akses kecil yang merepotkan untuk dijangkau, seperti akses pengguna untuk menyeberangi ruas Jalan Sudirman. Gambar rencana dermaga oleh Dinas Perhubungan terlihat pada Gambar Lampiran 3. Sirkulasi bantaran itu sendiri merupakan sirkulasi linier, sejajar bersebelahan dengan alur waterway dan tersusun dari paving block selebar 1,5 meter. Sirkulasi pada segmen Jembatan Mampang-Guntur berpola linier angular dan pada beberapa titik telah tertutup oleh semak liar (Gambar 18). Sirkulasi tersebut digunakan warga untuk menempuh perjalanan ke arah Karet dan sebaliknya dengan berjalan kaki atau menggunakan motor. Intensitas penggunaannya jarang. Gambar 16 menunjukkan tipikal sirkulasi yang ada pada sebagian besar tapak. Beberapa titik mengalami kerusakan paving yang cukup parah. Jalur tikus ditemukan pada daerah yang dekat dengan pemukiman liar di daerah belakang untuk sirkulasi pemukim menuju kanal. Sirkulasi dirancang dengan memperhatikan efektifitas pergerakannya agar ringan dilalui, tidak berbelit-belit, dan mengurangi munculnya jalur yang tidak direncanakan. Sirkulasi diperbaiki dengan material yang tidak mudah rusak dan ringan perawatannya. Gambar 17 adalah bagan analisis aksesibilitas, transportasi,dan sirkulasi. 52 Potensi: − Pengisi kekosongan trayek − Mengatasi kemacetan yang tinggi pada ruas sekitar perancangan − Mengoreksi beberapa moda yang tidak dapat terintegrasi dengan waterway Kendala: − Kondisi sirkulasi rusak − Keamanan pengguna terhadap keberadaan jalur kereta api Solusi: − Merancang jalur waterway − Memperhatiakn keefektifan dermaga − Memperbaiki sirkulasi dalam tapak − Memilih material yang menguntungkan Gambar 17 Bagan Analisis Aksesibilitas, Transportasi, dan Sirkulasi. Vegetasi dan Satwa Vegetasi adalah material lanskap yang tumbuh dan terus berkembang. Pertumbuhan tanaman akan mempengaruhi ukuran besar dan bentuk tanaman, tekstur, dan warna selama masa pertumbuhannya. Berdasarkan pengamatan di lapang vegetasi yang dijumpai pada tapak adalah berbentuk pohon, semak, dan groundcover beserta rumput. Pada beberapa bagian tapak terjadi pembersihan tanah dari pohon dan vegetasi lainnya dalam rangka pelurusan kanal. Beberapa bagian lain merupakan taman hasil kemitraan Dinas Pertamanan DKI dengan perusahaan swasta, seperti Honda dan PT Mesindo Agung Nusantara. Kemitraan bertujuan melibatkan peran swasta dalam menciptakan lingkungan yang nyaman. Pohon yang dominan ada pada tapak adalah mahoni (Swietenia macrophylea) (Gambar 18). Sebagian besar pohon berukuran besar dan sebagian lainnya masih dalam pertumbuhan. Kondisinya dari yang cukup baik dengan pertumbuhan tanaman yang sehat hingga berpenyakit. Semak didominasi oleh bugenvil (Bougainvillea spectabilis) yang diletakkan pada planter box sepanjang kanal dan soka (Ixora javanica), sedangkan penutup tanah memiliki banyak variasi jenis. Pada sisi lain terlihat semak liar yang mengganggu pemandangan. Vegetasi yang ditanam pada tapak memiliki fungsi peneduh (beringin, tanjung, dan mahoni), ameliorasi iklim, penyerap polutan (mahoni, angsana, dan soka), penguat tanah, tempat burung bersarang (soka, nangka, kersen, belimbing, sengon, dan tanjung), hingga fungsi estetika. Tabel 7 menunjukkan jenis vegetasi di tapak perancangan. 53 Tabel 7 Daftar Spesies Tanaman yang Ada di Tapak Bentuk & Kode Nama Lokal Nama Latin Kondisi Pohon 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Semak dan Penutup Tanah 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Acacia mangium Pterocarpus indicus Tamarindus indica Alectryon coriaceus Averrhoa carambola Ficus benjamina Cerbera mangasi Ficus lyrata Dios pyros blancoi Salix nigra Bauhinia purpurea Michelia champaca Polyalthia fragrans Polyalthia longifolia Cassia multijuga Jathropa multifida Tectona grandis Ceiba petantdra Ficus elastica Cocos nucifera Muntingia calabura Terminalia catappa Leucaena leucocephala Eucalyptus deglupta Swietenia mahagoni Cukup, besar Baik-rusak, besar Baik, besar Baik, besar Baik, sedang Baik, besar Baik, sedang Baik, besar Baik, besar Baik-rusak, sedang Baik, besar Baik, kecil Baik, sedang Baik, besar Baik, kecil Baik, sedang Cukup, sedang Baik, besar Baik, sedang-besar Baik, kecil Baik, besar-kecil Baik, sedang Baik, besar Baik, sedang Baik, sedang Swietenia macrophylea Baik-rusak, besar-kecil Baik, sedang Baik-berpenyakit, sedang Cukup Baik, besar Rusak, kecil Baik-cukup, sedang Tanjung Tekik Holmskioldia sanguinea Mangifera indica Gnetum gnemon Artocarpus integra Roystonea regia Pharaserianthes falcataria Mimusops elengi Albizia lebbeck Adam Hawa Bambu Jepang Bawang Brojol Bugenvil Bunga Kana Kamboja Keladi Hias Kriminil Kucai Lantana Lili Kuning Lili Paris Rhoeo discolor Arundinaria pumila Zephiranthes sp. Bougainvillea spectabilis Canna indica Plumeria rubra Colocasia esculenta Alternanthera ficoidea Allium schoenoprasum Lantana sp. Hemerocalis aurantiaca Chlorophytum cromosum Cukup Cukup, tidak rimbun Baik Rusak, dalam pot Baik-rusak Cukup Baik Baik Baik Baik Baik Baik Akasia Angsana Asam Beach Bird’s Eye Belimbing Beringin Bintaro Biola Cantik Bisbul Black Willow Bunga Kupu-Kupu Cempaka Glodogan Bulat Glodogan Tiang Hujan Mas Jarak Tintir Jati Kapuk Randu Karet Kebo Kelapa Kersen Ketapang Lamtoro Leda Mahoni Daun Kecil Mahoni Daun Lebar Mandarin Hat Mangga Melinjo Nangka Palm Raja Sengon Baik, sedang Baik-cukup, sedang 54 Bentuk & Kode Semak dan Penutup Tanah 47 48 49 50 Nama Lokal Nanas Hias Opiopogon Petunia Philodendron 51 Pisang Hias 52 Ruelia 53 Sablo Laut 54 Seruni Rambat 55 Sirih Belanda 56 Spider Lily 57 Soka 58 Taiwan Beauty 59 Teh-Tehan 60 Ubi Hias Sumber: Pengamatan Lapang. Nama Latin Bromelia sp. Ophiopogon sp. Petunia grandiflora Philodendron bipinnatifidum Heliconia sp. Ruellia britoniana Aerva sanguinulenta Widelia sp. Epipremnum aureum Hymenocallis occidentalis Ixora javanica Chupea sp. Acalypha siamensis Ipomea batatas Kondisi Cukup Baik-rusak Cukup Baik-cukup Baik-cukup, rimbun Baik Baik Cukup Cukup-rusak Baik Baik, rimbun Cukup Cukup Baik Satwa yang dijumpai antara lain, beberapa serangga seperti kupu-kupu dan capung serta jenis burung Merbah Cerukcuk (Pycnonotus goiavier) dan Burung Gereja (Passer montanus). Tapak mendukung habitat kupu-kupu, yakni sebagai badan perairan yang mendapat banyak sinar matahari dan memiliki beberapa vegetasi berbunga di sebagian tempat. Sementara itu, burung gereja banyak hinggap di tepi kanal dan keluar masuk rimbunan pohon. Burung gereja banyak dijumpai di pemukiman, persawahan, pergudangan, yang di sekitarnya terdapat rimbunan pohon dan lahan pertanian. Vegetasi adalah faktor yang mendukung fungsi kawasan perancangan sebagai wadah pengendali banjir dan sistem transportasi. Beberapa fungsi vegetasi pada lokasi perancangan merupakan potensi untuk tetap dipertahankan. Pohonpohon besar adalah salah satunya. Pohon-pohon dalam lingkungan hidup perkotaan memberikan nuansa kelembutan. Seperti diungkapkan oleh Budihardjo (1993) perkembangan kota yang lazimnya diwarnai dengan aneka rona kekerasan, sedikit banyak dapat dilunakkan dengan elemen alamiah seperti air dan aneka tanaman. Selain memberikan keteduhan, pohon yang ada menjadi sarang atau pakan bagi burung. Hanya saja, beberapa diantaranya belum tertata sebagai lokasi yang menyenangkan untuk dinikmati sesuai estetika dengan memberikan fungsi kesatuan/tema, pusat perhatian, kontras, maupun sekuen. Melalui kombinasi yang tersusun dengan baik dan fungsional, kualitas ruang pada tapak akan meningkat. 65 Untuk itu, diperlukan penataan kembali melalui desain yang sesuai dengan konsep perancangan dengan tetap memperhatikan fungsi vegetasi tersebut bagi lingkungan sekitar. Menurut Simond (2006) penanaman menciptakan suatu pola ruang terbuka, tertutup, maupun ruang semi-tertutup yang saling terhubung sesuai fungsinya. Vegetasi menyediakan transisi visual dari objek ke objek dan dari tempat ke tempat lain. Satwa merupakan penanda kesehatan lingkungan. Tanaman dapat berfungsi sabagai sarana pengundang komunitas satwa yang mendapat makanan darinya serta menjadikannya tempat membangun sarang. Keberadaan satwa dapat dipertahankan dan ditingkatkan melalui pemberian tanaman berbunga, berbiji, dan berbuah yang sesuai untuk jenis satwa perkotaan yang diinginkan. Tata Guna Lahan Penggunaan utama BKB (BKS) adalah sebagai drainase/pengendali banjir, yang mengalirkan air menuju muara. Karena mengalami pendangkalan, kapasitas pengaliran BKB menjadi berkurang. Terkait dengan program Pola Transportasi Makro (PTM), pada Juni 2007-Februari 2008 tapak juga digunakan sebagai alur angkutan waterway. Tepi kanal dipergunakan sebagai jalur hijau Kota Jakarta. Ruang terbangun yang ada pada tapak berupa fasilitas umum dan memperlihatkan persentase yang kecil terhadap ruang tidak terbangun. Tata guna lahan eksisting di sekitar tapak diisi oleh pemukiman, bangunan umum, industri dan pergudangan, komersial campuran, badan air, dan ruang terbuka hijau (Gambar 19). Keberadaan bangunan sekitar tapak perlu diperhatikan untuk menciptakan lalu lintas transportasi yang menyenangkan. Beberapa bangunan sekitar yang ada antara lain Stasiun Manggarai, Terminal Manggarai, Pasar Raya Manggarai, Rumah Sakit Sultan Agung, pertokoan, Pasar Rumput, halte Pasar Rumput, halte Halimun, hotel, kantor bank, Stasiun Mampang, Stasiun Sudirman, Stasiun Karet, pusat bisnis Sudirman, taman, dan sebagainya. Kawasan sekitar BKB ini di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta merupakan bagian dari rencana wilayah pengembangan tengah. Jaringan banjir kanal ini berada dalam kawasan pemukiman dan kawasan ekonomi prospektif dalam rencana struktur tata ruang wilayah DKI Jakarta (Gambar 66 Lampiran 4). Kawasan ekonomi prospektif adalah kawasan dengan pemanfaatan perkantoran, perdagangan dan jasa, kawasan campuran, kawasan industri dan pergudangan, serta kawasan pelabuhan. Penggunaan banjir kanal sebagai jalur waterway akan mempengaruhi aktivitas yang dilakukan pada banjir kanal. Sebagai bagian dari sistem tata air dan ruang terbuka DKI Jakarta, maka dalam merancang lanskap jalur waterway ini diperlukan keterpaduan dengan keberlanjutan fisik dari badan air maupun jalur hijau tepian airnya yang berakibat pada keberlanjutan ekosistem di banjir kanal. Keberlanjutan tersebut terkait dengan solusi penataan yang memanfaatkan waterway sesuai ketersediaan air, jumlah fasilitas umum/daya tampung kapal, dan pencemaran yang terjadi. Sementara itu, pertimbangan terhadap keberlanjutan ruang tidak terbangun di tepian kanal selain untuk mendayagunakan kemanfaatan rekreasi di jalur hijau tersebut, terkait juga bagaimana mempertahankan fungsi jalur hijau, misalnya bagi perbaikan udara perkotaan dan pengundang burung. Keberadaan penggunaan lahan sekitar tapak menjadi pertimbangan untuk menciptakan akses yang mudah menuju dan keluar tapak, terlebih pada sebuah prasarana transportasi. Misalnya, letak dermaga yang mudah diakses atau berdekatan dengan pusat perbelanjaan atau dengan stasiun moda angkutan lain. Letak lokasi perancangan yang berada dalam kawasan ekonomi prospektif ini memungkinkan perkembangan aktivitas dan jumlah manusia pada satu tempat dalam waktu yang bersamaan. Di dalam Nurisjah (2004) disebutkan bahwa untuk mengalokasikan pengguna bantaran sungai (termasuk kanal) agar tidak melebihi daya dukung yang diijinkan dapat dilakukan dengan membatasi jumlah sarana, membatasi ruang dengan menggunakan vegetasi, menempatkan papan petunjuk jumlah pengguna, dan penyuluhan. 68 Pengguna Tapak Lanskap kanal digunakan sebagian besar oleh masyarakat dari berbagai tingkat usia (remaja-tua). Pada sore hari beberapa bagian dari tapak ini juga digunakan anak-anak/balita untuk bermain-main. Kebanyakan dari mereka adalah yang tinggal di dekat tapak, seperti penghuni pemukiman liar, bahkan mereka yang memang menjadikan tepian kanal sebagai tempat tinggalnya. Selain oleh pemukim, tapak ini digunakan oleh masyarakat luar yang sengaja datang atau mampir secara kebetulan. Pengguna datang ke tapak secara berkelompok (umumnya 2-5 orang tiap kelompok) maupun sendiri. Pengguna yang datang berkelompok memiliki perbandingan jenis kelamin yang sama. Biasanya pengguna bertambah ketika menuju sore hari. Menurut intensitasnya, sisi kanal bagian utara lebih banyak digunakan, karena kondisinya lebih lapang dan lebih teduh. Hampir pada semua segmen di bagian utara terdapat kelompok pengguna, kecuali segmen Halimun sampai perpotongan dengan jalur tak sebidang Rasuna Said dan pada segmen GunturHalimun. Di segmen ini sebagian besar waktu hanya digunakan untuk ruang sirkulasi. Sisi selatan jarang dikunjungi, dimungkinkan karena ruangnya lebih sempit, lebih terasa panas, dan sangat dekat dengan aktivitas lalu lalang kendaraan. Sisi selatan yang lebih sering dikunjungi ada pada segmen Karet. Aktivitas yang dilakukan pengguna pada siang hari adalah sekedar melintas, berkelompok,mengobrol, makan-makan, duduk-duduk, bermain catur sambil berteduh, melihat pemandangan dan lalu lalang kendaraan, menunggu sesuatu, dan memancing. Beberapa warga juga menjadikannya sebagai lokasi berjualan makanan dan jasa. Aktivitas lain yang terjadi adalah aktivitas rumah tangga sederhana oleh tunawisma. Bila sore hari tiba di mana suhu lingkungan berubah menjadi lebih nyaman, tapak mulai didatangi. Menjelang sore, aktivitas juga beragam, seperti anak-anak yang bermain badminton dan orang tua yang menemani anaknya bermain. Lokasi ini juga sering dimanfaatkan sebagai lokasi berkencan pria dan wanita. Menurut keterangan masyarakat sekitar, tapak lebih ramai pada malam hari meskipun banyak titik yang gelap atau remang. Aktivitas pada badan air adalah aktivitas rumah tangga sederhana, membuang sampah ke kanal, memancing ikan, dan memancing sampah. Mereka 69 tidur dan menjemur pakaiannya pada gelagar-gelagar jembatan. Pada segmen Manggarai-Pasar Rumput dijumpai aktivitas penyeberangan oleh perahu kayu yang menyeberangkan warga dari pemukiman Manggarai menuju sisi selatan. Aktivitas ini dilakukan dari pagi hari jam 07.00 hingga 21.00 WIB. Hal ini dirasakan sangat mendukung akses yang cepat dan murah menuju seberang. Pada beberapa waktu yang lalu pada segmen Halimun-Karet terdapat aktivitas penyeberangan waterway. Namun, saat ini operasional waterway dihentikan beberapa waktu, karena kondisi lanskap waterway yang kurang memadai. Proses interaksi yang mungkin bersifat kompetitif serta adanya teritorial terhadap bagian dari bantaran kanal dapat menimbulkan keterasingan dari pengguna yang lain untuk memanfaatkan ruang tersebut. Agar tidak terjadi konflik diperlukan zonasi untuk menciptakan area tertentu bagi kegiatan tertentu. Selain itu, penyusunan vegetasi yang terlalu renik menggunakan semak dengan masa besar, menimbulkan peluang tindakan kriminal. Menurut Carpenter (1933) semak tersebut di satu sisi memberikan privasi, tetapi di sisi lain memungkinkan perilaku kriminal. Selanjutnya diungkapkan, pada desain ruang kota akan lebih bijak jika digunakan pepohonan agar menciptakan suasana yang terbuka. Aktivitas yang pengguna lakukan perlu diperhatikan dengan mempertimbangkan dampak negatif dari aktivitas pengguna, seperti aktivitas membuang sampah sembarangan, vandalisme, menggunakan fasilitas tidak pada fungsinya, dan lain sebagainya. Karakter yang berbeda-beda dari pengguna lanskap waterway diakomodasi, misalnya dengan fasilitas bangku untuk individu dan untuk kelompok. Kuesioner diberikan kepada 108 responden dengan karakteristik yang dibedakan menurut tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan melalui teknik kuota. Responden terdiri dari 54 wanita dan 54 laki-laki di mana setiap 9 laki-laki dan 9 wanita terdapat pada setiap kategori pekerjaan. Kategori pekerjaan tersebut adalah PNS, pegawai swasta, wiraswasta, pelajar, mahasiswa, dan lainnnya (ABRI, pensiunan, ibu rumah tangga, dan lain-lain). Responden terpilih adalah mereka yang mengetahui keberadaan waterway, pernah mencoba waterway Jakarta, maupun yang melintasi sekitar jalur waterway. Secara keseluruhan responden yang ditemui memiliki tingkat pendidikan SD (6,48 %), SLTP (11,11 %), SLTA 70 (39,81 %), diploma (12,96 %), dan sarjana (29,63 %). Responden menghabiskan waktu perjalanan dengan menikmati pemandangan luar (58,82 %), duduk diam di bangku duduk (33,33 %), membaca buku dan mendengarkan musik (27,45 %), berimajinasi (17,65 %), menyusun rencana selanjutnya (19,61 %), dan lain-lain seperti makan, tidur, dan mengobrol (7,84 %). Dalam berekreasi, responden melakukannya sebulan sekali (70,59 %), seminggu sekali (25,49 %), sering (3,92 %), dan setiap saat (1,96 %). Mereka paling banyak melakukannya di hari libur (78,43 %), di sela-sela aktivitas (13,73 %), di saat bepergian (11,76 %), jarang/hampir tidak pernah (5,88 %), dengan cara terbanyak mendatangi lokasi untuk dinikmati keindahannya, dilanjutkan berturut-turut melakukan kegiatan di suatu tempat, menikmati perjalanan, sambil beraktivitas, dan 5,88 % dengan cara lain. Sebagian besar responden mengetahui adanya waterway Jakarta. Sebagian besar mengetahuinya dari media cetak (41,17 %) dan televisi (25,69 %). Namun, sebagian besar belum pernah mencobanya. Mereka yang mencobanya merasakan lingkungan sungai yang tidak nyaman, tetapi mereka merasakan ketenangan dengan memanfaatkan angkutan waterway. Oleh karenanya, hampir semua responden mengatakan setuju dengan dikembangkannya waterway beserta lanskapnya. Harapan yang diinginkan responden adalah segera terwujud angkutan waterway yang dapat mengatasi masalah (utamanya kemacetan), tidak menimbulkan masalah baru, terdapat lanskap yang akan meningkatkan keindahan kota, menjadi sarana rekreasi dan tempat favorit, serta bebas polusi udara dan air. Fasilitas yang diinginkan selain dermaga dan lampu adalah tempat sampah (58,82 %), papan informasi (54,9 %), jalur pejalan kaki (35,29 %), taman kota (29,41 %), telepon umum (23,53 %), dan ATM serta hotspot (9,8 %). Desain yang dipilih responden berturut-turut adalah desain modern, desain Betawi, dan desain bertema tertentu sebesar 43,14 %, 23,53 %, dan 21,57 %. Sisanya mengusulkan desain Islami, perpaduan tradisional modern, dan yang sesuai keadaan masyarakat. Dari aktivitas di sebelah utara terlihat bahwa masyarakat menyukai tempat yang teduh dan pepohonan yang rindang. Sebagian besar akan bepartisipasi dalam pemeliharaan lanskapnya dengan cara tidak membuang sampah ke sungai/kanal dan menjaga fasilitas yang ada. 71 Sosial Demografi Pengguna memiliki kebiasaan dan karakter berbeda bergantung tingkat pendidikan, sosial, ekonomi, dan perbedaan umur. Aktivitas buruk tersering adalah membuang sampah sembarangan. Penanganan sampah, tata letak fasilitas tempat sampah, dan larangan membuang sampah sembarangan menjadi bagian dari pengupayaan kualitas lanskap waterway. Adanya transportasi waterway beberapa bulan sebelumnya memberikan dampak berkurangnya sampah terbuang ke kanal. Pada potret yang lain, hampir sebagian bantaran dihuni oleh tunawisma/warga jalanan. Mereka memanfaatkan segala yang ada pada tapak untuk menyambung kehidupan mereka. Sebaiknya ada pembatasan, pengalokasian tempat tinggal, dan pembinaan berkarya. Berdasarkan informasi Bapeda mengenai paparan angkutan waterway diketahui bahwa berdasar proporsi pemilihan moda, potensi pengguna angkutan air segmen Manggarai-Karet sebesar 2.193 jiwa per hari, sedangkan potensi pengguna kapal sepanjang jaringan kapal sebesar 36.564 penumpang per hari atau 0,65 % terhadap total perjalanan angkutan umum. Pertumbuhan penumpang diperkirakan naik sebesar 3,4 % hingga tahun 2005; 2,8 % hingga tahun 2010; 2,4 % hingga tahun 2015; dan 2,5 % hingga tahun 2020. Perancangan lanskap waterway perlu mempertimbangkan pertumbuhan penumpang untuk memperhitungkan besarnya kebutuhan fasilitas dan akumulasi dampak dari kecenderungan perilaku pengguna yang mungkin terjadi. Fasilitas Fasilitas yang ada dideskripsikan pada Tabel 8 berikut. Fasilitas ini merupakan fasilitas yang dibuat terkait dengan lanskap waterway maupun fasilitas moda angkutan lain yang diletakkan pada tapak perancangan. Tabel 8 Fasilitas Eksisting yang Ada pada Tapak Lokasi Sisi Utara Fasilitas 1.Paving Sirkulasi Jumlah − − − − Keterangan lebar ± 1,5 meter kondisi dari baik hingga rusak parah merupakan jalur sirkulasi sejajar di tepi badan air pola sirkulasi linier 72 2.Loket & Kanopi Transfer Moda 1 set − disediakan untuk mendukung program angkutan waterway − saat ini loket belum dimanfaatkan − jalan ini menghubungkan pengguna dengan Jalan Sudirman 3.Dermaga Kapal 2 buah − Dermaga Dukuh Atas dan Karet − luas ± 16 m2, arsitektur Betawi − menghubungkan penumpang dengan kapal − saat ini belum berfungsi kembali − tangga terendam air ketika air naik pada ketinggian tertentu − dikelilingi oleh sampah yang tersangkut pada kaki-kaki dermaga 4.Papan Penanda 3 buah − menampilkan Perda 11 tahun 1988 (tidak berfungsi) − menampilkan informasi hak milik tanah negara (terjadi vandalisme) − papan kemitraan Dinas Pertamanan dengan PT. Mesindo Agung Nusantara 5.Pos Jaga Kereta Api 1 buah − luas ± 12 m2 − kondisi baik − berfungsi sebagai pos jaga persimpangan kereta 6.Lampu Kanal (a) 32 buah, masingmasing 16 tiang di tiap dermaga − berupa lampu spot light yang mengarah ke bawah − bertujuan menyinari jalur lalu lintas angkutan waterway − saat ini tidak menyala − kondisi armatur dan tiang masih bagus 73 7.Lampu Kanal (b) 2 buah − terletak di sudut kanan dan kiri Dermaga Dukuh Atas − menyala pada malam hari 8.Lampu Jalan 2 buah − terletak di dekat Dermaga Dukuh Atas − menerangi sekitar ruas Jalan Sudirman 9.Papan Petunjuk 1 buah − memberikan petunjuk keberadaan Dermaga Karet − kondisi baik − terletak di tepi jalan Mas Mansyur 10.Bangku Duduk 9 buah − kondisi dari cukup baik hingga rusak − sangat jarang digunakan pada siang hari karena terletak pada posisi yang tidak ergonomik bagi manusia untuk istirahat dan langsung terkena terik matahari − lebar bangku bervariasi dari 60-100 cm 11.Reklame/Baliho 4 buah − menampilkan iklan yang dapat diakses oleh pengguna jalan Rasuna Said − diameter 60-150 cm − kondisi kokoh − tidak mengganggu sirkulasi pejalan kaki 74 Sisi Selatan 12.Lampu Taman 3 buah − − − − 13.Lampu Kanal (a) 16 buah − berupa lampu spot light yang mengarah ke bawah − bertujuan menyinari jalur lalu lintas angkutan waterway − saat ini tidak menyala − kondisi kap dan tiang masih bagus 14.Dermaga Halimun 1 buah 15.Prasasti 1 buah − luas ± 16 m2, arsitektur Betawi − menghubungkan penumpang dengan kapal − saat ini belum berfungsi kembali − tangga terendam air ketika air naik pada ketinggian tertentu − dikelilingi oleh sampah yang tersangkut pada kaki-kaki dermaga − peresmian taman Honda-Galunggung, kerjasama Pemprov DKI dan PT. Honda Prospect Motor 16.Bak Sampah 4 buah berupa radial light beberapa tidak berfungsi tidak terawat menjadi salah satu elemen taman − Terletak di Dermaga Halimun − Kurang berfungsi karena masih terdapat sampah seperti puntung rokok dan tissu bertebaran di lantai 75 Fasililitas Lain 17.Papan Petunjuk 1 buah − Menunjukkan keberadaan dermaga Halimun − Kondisi baik 18.Jembatan 3 buah − Menghubungkan dengan Kec. Menteng − Gelagar digunakan sebagai tempat tinggal − Ketinggian gelagar masih mengganggu lintasan kapal 19.Pagar Kanal Sepanjang turap − Kondisi baik hingga rusak akibat vandalisme − Membatasi tepian dengan badan air − Berupa material besi 20.Planter Box Sepanjang turap − Kondisi baik − Beberapa terdapat coret-coretan tangan jahil Sumber: Pengamatan Lapang. Fasilitas di lokasi penelitian diperbaiki dan dilengkapi untuk mendukung aktivitas transportasi dan rekreasi, yang memperhatikan kemudahan pemeliharaan dan mendukung aktivitas pengelolaan tapak. (Gambar 20). Kelancaran pendukung transportasi waterway, selain lampu dan dermaga, adalah ruang penambat kapal, fasilitas transfer moda, kantong parkir, dan papan-papan petunjuk (Dinas Perhubungan 2004). Beberapa fasilitas lain seperti bangku dan shelter juga mendukung lanskap tepian air untuk aktivitas rekreasi. Lampu sendiri memiliki peran penting dalam pencahayaan, yaitu menciptakan penerangan, mencegah tindak kriminalitas, membatasi area yang dihindari (seperti membatasi badan air 76 dengan tepiannya), menjadi unsur identitas dan orientasi, dan memberikan keindahan. Potensi: − Fasilitas yang memiliki kondisi dan fungsi yang baik Kendala: − Beberapa rusak/tidak berfungsi/tidak cocok pada tempatnya Solusi: − Perbaikan dan penambahan fasilitas pendukung − Memperhatikan kemudahan pemeliharaan dan pola perilaku pengguna Gambar 20 Bagan Analisis Fasilitas pada Tapak. Utilitas Sarana utilitas yang ada berupa jaringan PAM, jaringan gas, dan jaringan listrik (penerangan), kecuali jaringan Telkom, dengan fungsi yang masih baik. Jaringan penerangannya adalah jaringan bawah tanah (di bantaran) dan jaringan terbuka (udara). Jaringan air PAM dan gas ditanam bawah tanah dan melintang pada kanal (Gambar 21). Sistem pembuangan air limbah menggunakan saluran drainase pipa, gorong-gorong, dan saluran terbuka. (a) (b) Gambar 21 Penampakan Jaringan Utilitas (a) pipa gas dan (b) pipa air. Daya penerangan lampu dermaga yang telah ada adalah 250 Watt per lampu yang diperhitungkan dapat menyinari selebar ±40 m. Jaringan penerangan disatukan ke dalam panel pembagi dan beberapa panel pembagi berkumpul dalam panel induk. Panel-panel penerangan dan jaringan utilitas tergambar pada Gambar 18. Beberapa panel mengalami vandalisme. Jaringan penerangan dengan kabel 77 terbuka secara visual mengganggu dan membahayakan. Rencana penempatan dalam tanah membantu meningkatkan nilai visual tapak. Jembatan melintang yang menopang pipa gas dan pipa air memiliki ketinggian yang agak mengganggu pelayaran kapal, sehingga memerlukan penanganan lebih lanjut. Ketinggian awal 4 meter diubah menjadi 6 meter dari dasar pondasi. Sementara itu, lebar balok tumpu jembatan tersebut menurut dinas terkait tidak mengganggu alur pelayaran kapal, tetapi perlu diperhitungkan kekuatannya agar tidak terpengaruh oleh getaran kapal. Konsep, Kebijakan, dan Rencana Teknis Berdasarkan kebijakan pemerintah, rencana pengembangan banjir kanal Jakarta memiliki tujuan sebagai berikut: 1. melayani beberapa wilayah timur, barat, dan selatan DKI Jakarta yang merupakan kawasan industri, perdagangan, pergudangan, dan pemukiman 2. menjadi prasarana konservasi air untuk pengisian air tanah dan sumber air baku serta lalu lintas air 3. potensial menjadi motor pertumbuhan wilayah timur dan utara yang bersuasana waterfront 4. mengurangi genangan/rawan banjir di 13 kawasan di wilayah DKI Jakarta. Dalam RTRW DKI Jakarta 2010 mengenai Kebijakan Pengembangan Tata Ruang, disebutkan beberapa pokok kebijakan, beberapa di antaranya adalah memantapkan fungsi kota jasa skala nasional dan internasional, melestarikan fungsi dan keserasian lingkungan hidup di dalam penataan ruang dengan mengoptimalkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, serta mengembangkan sistem dan sarana prasarana kota yang berintegrasi dengan sistem regional, nasional, dan internasional. Di dalam Strategi Pengembangan Tata Ruang Provinsi juga disebutkan kebijakan untuk mengembangkan dan mengoptimalkan penataan ruang daerah aliran sungai, situ, waduk, banjir kanal, dan lokasi tangkapan. Di dalam Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Provinsi khususnya dalam Arahan Kebijakan Tata Guna Air, Laut, Udara, dan Ruang Bawah Tanah (Pasal 54) ditetapkan peruntukan air sungai, yaitu sebagai sumber 78 baku air minum, kegiatan usaha perkotaan, keperluan wisata dan transportasi, serta pengembangan perikanan, pertanian, dan peternakan. Pemerintah provinsi Jakarta telah meluncurkan program Pola Transportasi Makro (PTM) pada tahun 2003 yang dikukuhkan dalam Perda Nomor 12 tahun 2003 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan, Kereta Api, Sungai dan Danau serta Penyeberangan di DKI Jakarta. Segmen Manggarai-Karet direncanakan sebagai pengumpan (feeder) terhadap jaringan utama. Konsep penanganan transportasi adalah keterpaduan moda untuk mencapai efisiensi dan efektifitas pergerakan lalu lintas wilayah DKI Jakarta. Pemanfaatan kanal ini didasari pada penambahan nilai fungsi dan dampak yang akan dirasakan oleh masyarakat. Dalam perencanaan pengembangan angkutan sungai, P.A. Manggarai akan menjadi dermaga awal pada pengembangan multimoda antara angkutan kapal, kereta api, dan bis umum. Sepanjang kanal pada segmen Manggarai-Karet akan dilakukan perubahan tata guna lahan di antaranya adanya wilayah pejalan kaki, taman, lokasi pengumpul mobil. Mengacu pada peraturan daerah DKI yang akan membebasbangunkan daerah bantaran kanal, kios-kios ilegal di bantaran Manggarai akan dihilangkan. 79 SINTESIS Program Ruang Program ruang adalah rencana ruang yang akan dikembangkan dalam tapak berdasarkan analisis potensi dan kendala, dikaitkan dengan konsep yang akan diwujudkan pada tapak. Berdasarkan analisis, fungsi yang dikembangkan adalah: 1. Fungsi Transportasi, dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan transportasi air melalui lanskap yang ada untuk memberikan efisiensi dan efektifitas perpindahan moda. Kebutuhan transportasi dituangkan dalam aktivitas transportasi, fasilitas, serta pelayanan yang menunjang. 2. Fungsi Rekreasi, dikembangkan untuk memberdayakan potensi estetika lanskap yang ada pada tapak dan memberikan nilai lebih perjalanan menggunakan transportasi waterway melalui penataan tepian airnya maupun badan air itu sendiri. 3. Fungsi Kenyamanan, dikembangkan untuk mendukung kenyamanan (kenyamanan terhadap iklim mikro dan fasilitas yang ada, kenyamanan terhadap lingkungan sosial, serta kenyamanan terhadap visual tapak) bertransportasi serta kenyamanan berekreasi. 4. Fungsi Pelestarian Air, dikembangkan untuk melestarikan ketersediaan air melalui kelancaran proses penyerapan air. Fungsi pelestarian air juga dikembangkan dengan menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian kualitas sumberdaya air terhadap pemanfaatannya sebagai angkutan air. 5. Fungsi Identitas, memberikan suatu karakter yang khas pada tapak melalui landmark maupun nilai-nilai filosofis atau simbol-simbol yang dapat dimunculkan. Melalui fungsi identitas tersebut, tapak memberikan kesan dan kenangan tertentu serta dapat membedakannya dari tapak-tapak yang lain. Berdasarkan konsep dasar dan analisis dibentuk 3 ruang. Kelima fungsi di atas diterapkan pada ruang yang akan dibentuk, yang meliputi: 1. Ruang pelayanan, yaitu ruang untuk melayani aktivitas transportasi dan rekreasi. 80 2. Ruang transportasi, yaitu ruang utama kegiatan pada tapak yang berupa ruang sirkulasi kapal. 3. Ruang rekreasi, yaitu ruang untuk menciptakan fungsi tambahan pada aktivitas transportasi agar berkembang minat terhadap angkutan waterway. Fungsi dan ruang tersebut dihubungkan menjadi seperti yang ditunjukkan oleh matriks berikut ini (Tabel 9). Dari matriks di bawah ini terlihat bahwa ruang pelayanan memiliki hubungan kuat dengan fungsi transportasi dan rekreasi, yaitu harus mendukung kelancaran fungsi transportasi dan rekreasi. Ruang transportasi memiliki hubungan kuat dengan fungsi transportasi dan kenyamanan. Ruang transportasi harus memberikan fungsi transportasi dengan baik dan menciptakan rasa nyaman bagi pemakai transportasi. Sementara itu, ruang rekreasi memiliki keterkaitan kuat dengan hampir semua fungsi, yaitu menjadi fungsi rekreasi, kenyamanan, pelestarian air, dan identitas. Tabel 9 Matriks Hubungan Ruang dan Fungsi Lanskap Waterway Fungsi Ruang Pelayanan Transportasi Rekreasi Keterangan: Transportasi Rekreasi Kenyamanan Pelestarian Air Identitas √√ √√ - √√ √ √√ √ √√ √√ √ √√ √ √√ √√ √ - hubungan kuat tidak kuat, tetapi terdapat hubungan antarkeduanya tidak ada hubungan Program Users/Pengguna Perancangan dibuat untuk kenyamanan dan kepuasan pengguna. Pengguna transportasi waterway dan pengguna lanskap tepian air adalah semua golongan usia (anak-anak, remaja, tua) dan penyandang cacat. Perhatian terhadap perilaku pengguna atau desain yang mengundang perilaku tertentu pada pengguna perlu diperhatikan untuk menghasilkan kenyamanan dan kepuasan pengguna. Agar tidak menimbulkan konflik, lanskap waterway didesain dengan ruang, sirkulasi, dan fasilitas yang dapat mengakomodasi setiap pengguna tersebut. 81 KONSEP PERANCANGAN Konsep Dasar Konsep yang diwujudkan dalam tapak adalah konsep lanskap pendukung kegiatan angkutan feeder waterway yang ekologis, aman, menyenangkan, sekaligus tercipta fungsi rekreasi. Konsep ini bertujuan mewujudkan lanskap waterway yang seimbang antara ekosistem alami dan perkotaan, aman dari kecelakaan, nyaman, menjadi pilihan tersendiri bagi pengguna angkutan waterway melalui perbaikan kualitas lanskap badan air dan bantarannya. Lanskap banjir kanal Manggarai-Karet diharapkan mendukung sistem perpindahan moda, sehingga meningkatkan kepuasan konsumen dengan mengisi kekosongan jaringan transportasi yang ada. Konsep Pengembangan Konsep lanskap waterway Manggarai-Karet dikembangkan dengan membaginya kembali ke dalam tiga segmen, yaitu konsep pengembangan segmen Manggarai-Mampang, konsep pengembangan Mampang-Sudirman, dan konsep pengembangan Sudirman-Mas Mansyur (Karet). Pembagian segmen ini bertujuan mewujudkan dinamika perjalanan yang terlihat dari konsep yang terkandung dari setiap segmen. Konsep setiap segmen dibuat berbeda, tetapi merupakan satu kesatuan konsep utama, yakni sebagai lanskap pendukung transportasi sekaligus rekreasi. Adapun tema perancangan adalah neo-vernakular dengan pola-pola linier dipadukan dengan bentuk angular dan lingkaran pada bantaran kanalnya, yang terlihat dari pola perkerasan yang dibuat. Neo-vernakular nerupakan arsitektur yang mengambil elemen pembentuk berupa sumber lingkungan di sekitarnya baik fisik (material lokal) maupun konsep (spiritual-tradisional), salah satunya maupun keduanya, tetapi dengan teknologi modern. Menurut Wiranto (1999) neovernakular adalah arsitektur yang tidak secara utuh menerapkan kaidah vernakular, tetapi mencoba menampilkan ekspresi visual sepeti bangunan vernakular. Dapat juga dikatakan bahwa arsitektur neo-vernakular merupakan arsitektur modern yang bangga terhadap kejayaan masa lampau, memasukkan 82 unsur budaya lokal untuk membentuk citra visual atau unsur lain yang sesuai dengan kekayaan budaya setempat (Anonim 2008). Pembagian konsep tiap segmen berdasar pada tata guna lahan dominan dan atau wilayah administratif yang dibatasi oleh banjir kanal tersebut. Pembagian tersebut juga mengacu pada kebijakan pola transportasi makro perencanaan sistem transportasi Jakarta. Ketiga segmen ini membentuk ruang pembuka, ruang tengah, dan ruang penutup perjalanan. Di dalam pola transportasi makro, terdapat tiga titik yang direncanakan sebagai titik intermoda, yaitu Manggarai, Sudirman, dan Karet. Manggarai dijadikan sebagai area intermoda, karena merupakan pertemuan beberapa moda angkutan (busway, terminal, dan kereta api). Sudirman dijadikan pertemuan antara waterway, halte, busway, MRT, dan KA (Kereta Api). Begitu pula dengan Karet, titik ini direncanakan sebagai stasiun LRT, KA, dan waterway. Konsep Pengembangan Manggarai-Mampang Manggarai-Mampang terletak pada daerah kawasan pertokoan/komersil dan pemukiman tidak teratur. Daerah ini juga merupakan intermoda awal dengan moda transportasi lain dan gerbang yang menjadi titik pertemuan transportasi air BKT. Ruang didukung dengan mengingatkan asal-usul penamaan Pasar Rumput yang menjadi bagian dari kompleks pertokoan tersebut, melalui penataan ruang rekreasi bantarannya. Ruang rekreasi tersebut dibuat untuk pemukim dan pengguna jalan. Daerah ini juga memerlukan perlindungan terhadap tanah dan air. Konsep Pengembangan Mampang-Sudirman Mampang-Sudirman merupakan kawasan bangunan umum dan hunian. Segmen ini membentuk ruang ketenangan (merupakan ruang tengah perjalanan) yang didukung oleh tatanan ruang hijau menerus di tepi kanal. Tatanan ruang hijau ini dapat berfungsi sebagai pengikat air dan pendukung aktivitas rekreasi pasif dan aktif. Karena bersebelahan dengan Kelurahan Menteng, segmen ini diidentikkan dengan keberadaan Pohon Menteng. Konsep Pengembangan Sudirman-Karet Sudirman-Karet berada pada kawasan perkantoran. Konsep segmen ini adalah ruang penutup perjalanan waterway dan ruang rekreasi pasif bagi para pekerja maupun warga melalui tatanan bantarannya. Penataannya dilakukan 83 dengan memodifikasi tatanan lanskap yang sudah ada dengan identitas tanaman karet dan atau tanaman melati, karena membatasi Kelurahan Kebon Melati dan ada di sekitar Kelurahan Karet. Konsep dikembangkan dengan melihat fungsi yang akan diwujudkan pada tapak berdasar potensi dan kendalanya. Melalui fungsi tersebut tercipta konsep ruang, konsep tata hijau, konsep aktivitas, konsep pencahayaan, serta konsep sirkulasi dan fasilitas sebagai penghubung ruang dan pendukung aktivitas yang dihadirkan. 1. Konsep Ruang Secara umum, ruang yang dikembangkan terdiri dari ruang transportasi waterway, ruang rekreasi (rekreasi aktif dan rekreasi pasif), dan ruang pelayanan. Gambar 22 merupakan ruang yang diwujudkan dalam tapak. Tapak yang dihadirkan memiliki proporsi ruang terbangun terhadap ruang tak terbangun sebesar ± 20 %, sehingga ruang yang dihasilkan cukup memberikan kesan alami. R. Rekreasi R. Pelayanan b a a b Karet-Sudirman R. Transportasi a a b Sudirman-Mampang b Mampang-Manggarai a = rekreasi pemanfaatan tinggi b = rekreasi pemanfaatan rendah Gambar 22 Konsep Ruang Perancangan Lanskap Waterway. Ruang transportasi waterway menjadi ruang utama yang didukung tatanan lanskap di bantarannya. Ruang ini adalah badan air itu sendiri dan memanjang sepanjang segmen perancangan. Kenyamanan pengguna transportasi waterway akan dirasakan ketika ruang transportasi air ini juga memiliki kondisi hidrologi 84 yang baik. Aktivitas yang dilakukan adalah melakukan perjalanan menggunakan angkutan air sambil menikmati perjalanan sepanjang jalur. Fasilitas yang mendukungnya seperti kapal motor/bus air, penerangan, rambu stop, dan rambu ketinggian muka air. Ruang rekreasi adalah ruang di tepian kanal untuk mengakomodasi kebutuhan jiwa warga kota. Ruang ini pun berfungsi menciptakan visual yang menarik pada tapak, sehingga dapat dinikmati dari dalam kapal sebagai scenic potensial. Aktivitas yang dikembangkan adalah rekreasi aktif dan pasif. Beberapa fasilitas pendukung disediakan dalam ruang ini. Pembagian ruang rekreasi terlihat pada Gambar 22. Ruang rekreasi terbagi menjadi ruang rekreasi pemanfaatan tinggi dan ruang rekreasi pemanfaatan rendah. Pertimbangan ruang rekreasi pemanfaatan tinggi adalah lokasinya yang lebih lapang, nyaman, dekat dengan hunian, dan aktivitas pekerjaan, sehingga pengguna dapat memakai ruang tersebut untuk kegiatan berelaksasi. Meskipun demikian, ruang tersebut tetap memiliki fungsi ekologis bagi kualitas udara maupun air. Sementara itu, pertimbangan ruang rekreasi pemanfaatan rendah adalah keberadaannya yang tetap memperbaiki kondisi ketidaknyamanan iklim perkotaan serta lokasinya yang cenderung jarang dikunjungi. Lokasi yang jarang dikunjungi disebabkan oleh ketidaknyamanan suhu dan gangguan intensitas kendaraan. Segmen Mampang-Sudirman berpotensi untuk ruang rekreasi pemanfaatan tinggi karena memiliki lingkungan yang tenang, nyaman, dan dekat dengan pemukiman/perumahan, meskipun pada kenyataannya tampak lebih lengang dibandingkan dengan segmen Sudirman-Karet. Sebenarnya, intensitas kunjungan lebih tinggi yang terjadi pada segmen Sudirman-Karet dikarenakan keberadaan hunian liar di segmen itu. Memanjang dari Manggarai hingga Karet, kedua ruang rekreasi tersebut tersusun atas beberapa subruang rekreasi yang dikelompokkan berdasar aktivitas yang ingin diwujudkan dalam tapak. Subruang rekreasi tersebut adalah area (lawn) rumput, area keluarga, area kesehatan fisik dan psikologi, area groundcover promenade, area tegakan pohon, dan area lively (lincah, bersemangat, dan hidup). 85 Ruang pelayanan adalah ruang yang dibentuk untuk mendukung kegiatan transportasi dan rkereasi. Ruang pelayanan diletakkan pada setiap titik dermaga dengan luas area yang lebih besar di tiga titik intermoda (Manggarai, Sudirman, dan Karet). Penentuan ruang pelayanan dan kapasitasnya pada keseluruhan tapak perlu memperhatikan proporsinya terhadap ruang terbuka hijau. 2. Konsep Tata Hijau Keberadaan tanaman pada suatu desain kota memberikan peran penting dalam menciptakan iklim perkotaan yang baik, memberikan unsur lunak pada jiwa yang mengeras dan stress, serta meningkatkan kondisi visual kota. Untuk mewujudkannya diperlukan suatu penataan tanaman sesuai dengan karakter tanaman, fungsi yang akan dihadirkan, dan beberapa prinsip desain. Konsep tata hijau yang diajukan adalah konsep tata hijau identitas, tata hijau pembentuk ruang, dan tata hijau ekologis. Tata Hijau Identitas Tata hijau identitas adalah tata vegetasi yang memberikan identitas kawasan, sesuai dengan konsep masing-masing segmen pengembangan. Vegetasi identitas terdapat di ruang rekreasi. Konsep tata hijau vegetasi ini menyisipkan vegetasi yang mengingatkan asal-usul penamaan beberapa wilayah administratif yang dibatasi oleh banjir kanal dan asal-usul penamaan lokasi yang ada di sekitarnya. Tata Hijau Pembentuk Ruang Tata hijau pembentuk ruang adalah tata vegetasi yang mengolah vegetasi sebagai pengisi ruang. Fungsi yang diberikan seperti pembatas dari aktivitas manusia yang lebih intensif, pengontrol pandangan, pengarah, peneduh (atap), dan pemberi kesan lantai. Dalam menghadirkan vegetasi pembentuk ruang perlu memperhatikan kesan struktural yang ditimbulkan dari morfologi vegetasi, aroma yang ditimbulkan, pembungaan pada musim tertentu, dan kesesuaiannya dengan lingkungan tapak. Tujuan dari peletakan vegetasi pembentuk ruang adalah untuk estetika dan kenyamanan. Vegetasi ini diletakkan utamanya pada ruang pelayanan. Namun, ruang rekreasi juga memungkinkan untuk diisi dengan vegetasi ini. Tata Hijau Ekologi Tata hijau ekologis adalah tata vegetasi yang memfungsikan keberadaan vegetasi sebagai penjaga keberlanjutan lanskap banjir kanal secara fisik dan 86 ekologi. Vegetasi ekologi berfungsi menjaga ketersediaan air tanah, menyerap polusi sekitar tapak, mengurangi kebisingan yang datang dari sumber bunyi kereta api, serta mempertahankan keberadaan burung, serangga, dan sebagainya. Vegetasi ini diletakkan pada ruang rekreasi. Vegetasi ekologi dapat pula berfungsi sebagai vegetasi pembentuk ruang. Mempertahankan pohon-pohon yang sudah besar menjadi bagian dari tata hijau ini. 3. Konsep Aktivitas Konsep aktivitas disusun agar kegiatan yang dilakukan pengunjung sesuai dengan potensi tapak. Aktivitas utama adalah aktivitas transportasi air (Gambar 23). Aktivitas lain yang dapat dilakukan ketika bertransportasi adalah berekreasi melalui pemandangan tepian waterway. Aktivitas rekreasi di tepian itu sendiri adalah mewujudkan inspirasi melalui karya seni, bermain, jogging, bersosialisasi, merencanakan sesuatu, mencari ketenangan, belajar, sekedar duduk ataupun lewat, istirahat dan bersantai, photo hunting, dan sebagainya. Selain aktivitas oleh pengguna, terdapat aktivitas pengelolaan, yaitu aktivitas yang dilakukan petugas lapang/pengelola air, kebersihan, dan pertamanan. Konsep Aktivitas Aktivitas Transportasi Melakukan perjalanan mengunakan kapal waterway dan berwisata Aktif Mewujudkan inspirasi, bermain, jogging, sosialisasi, belajar, merencanakan sesuatu Pasif Duduk-duduk, menikmati pemandangan, jalan-jalan, istirahat/bersantai, photo hunting, mencari ketenangan, lewat Aktivitas Rekreasi Aktivitas Pengelolaan Pengawasan dan pelayanan pengunjung Gambar 23 Konsep Aktivitas yang Diterapkan pada Tapak. 4. Konsep Sirkulasi Konsep sirkulasi lanskap waterway dibuat untuk menghubungkan ruang sesuai dengan fungsi dan intensitas penggunaannya. Konsep sirkulasi dibuat dengan menyusun dan memperbaiki fasilitas jalur sirkulasi. Konsep sirkulasi terdiri dari sirkulasi utama (sirkulasi masuk dan keluar tapak melalui ruang 87 pelayanan), sirkulasi transportasi waterway, dan sirkulasi rekreasi. Sirkulasi transportasi waterway berupa sirkulasi pada kanal itu sendiri maupun sirkulasi di dermaga (Gambar 24). Sirkulasi rekreasi adalah sirkulasi untuk kegiatan di ruang rekreasi. Tinggi Jalur Transportasi Rendah Sirkulasi Utama Sirkulasi Rekreasi Rendah Jembatan Tinggi Jalur Transportasi Sirkulasi Transportasi Sirkulasi Transportasi Gambar 24 Konsep Sirkulasi yang Diterapkan pada Tapak 5. Konsep Pencahayaan Konsep pencahayaan di sini adalah mewujudkan lanskap waterway yang cukup penerangan, eksotik, tetapi tidak menyilaukan dan tidak mengganggu kelancaran bertransportasi. Tema pencahayaan yang terkandung dalam konsep ini adalah penerangan di waktu gelap dan penerangan untuk dekorasi. Penerangan waktu gelap adalah pencahayaan sebagaimana layaknya sebuah penerangan untuk menghindari kegelapan dan hal-hal yang tidak diinginkan. Tema dekorasi adalah pencahayaan untuk keindahan melalui pancaran cahayanya. Pencahayaan yang diberikan berupa radial light dan spot light yang berupa pencahayaan ke bawah. 6. Konsep Fasilitas dan Kelengkapan Angkutan Waterway Konsep penataan fasilitas dan kelengkapan angkutan waterway disusun dengan pertimbangan fungsi, kondisi tapak, dan keharmonisan letak. Fasilitas dibuat dengan menyisipkan identitas lokal pada bangunan modern, mudah perawatan, serta cocok dan ramah dengan iklim dan lingkungan sekitar. Fungsi utamanya adalah fungsi transportasi nyaman. Pertimbangan terhadap kondisi tapak merupakan pertimbangan terhadap daya dukung dan daya tampung optimal yang akan diberikan (pada badan air dan bantarannya). Keharmonisan diwujudkan 88 dalam tata letak yang tidak membingungkan, ergonomik, dan menyatu dengan arsitektur di sekitarnya. Konsep fasilitas membagi penataan fasilitas menjadi fasilitas transportasi, fasilitas rekreasi, fasilitas pelayanan, dan fasilitas pengelolaan. Pengguna yang akan diakomodasi adalah mereka yang memiliki kondisi normal maupun cacat. 89 PERANCANGAN Gambaran Perancangan Lanskap Waterway Jakarta Lanskap kanal Manggarai-Karet adalah bagian dari ruang kota yang perlu ditampilkan potensi keindahannya untuk menciptakan bagian dari lanskap kota yang estetik dan fungsional dalam mendukung aktivitas kota. Keterbatasan lahan transportasi yang menyenangkan memungkinkan kanal sebagai alternatif jalur transportasi air di Jakarta. Dengan penataan lanskap waterway ini pengunjung dapat menyenangi moda transportasi waterway dan berinteraksi di ruang yang ada. Lanskap waterway Manggarai-Karet terdiri dari 3 segmen yang membentuk awalakhir perjalanan. Lanskap didesain dengan menggunakan skala ruang kota, yaitu dikaitkan dengan kota serta lingkungan manusianya (Gambar 29,30, 31, dan 32). Pengguna memasuki ruang pelayanan kali pertama menuju tapak. Ruang pelayanan di Manggarai, Karet, dan Sudirman tersedia lebih luas daripada ruang pelayanan lain yang akan ditemukan di sepanjang perjalanan. Di ketiga dermaga tersebut terdapat beberapa tenda makan di tepi kanal. Ruang pelayanan beralaskan plaza yang didominasi turgrass untuk dilalui manusia dan sepeda yang akan diparkirkan pada tautan di ruang pelayanan Manggarai dan Karet. Sementara itu, halaman dermaga sendiri menggunakan kelompok bradstone. Komposisi ini dibentuk untuk membedakan ruang gerak satu sama lain. Di sekelilingnya ditanam dominan Bauhinia purpurea sebagai peneduh dan estetika serta Lantana sp. sebagai pembatas. Tanaman ini dipilih karena mencolok dan dengan penempatan yang berulang memberikan ritme serta dapat menandakan keberadaan area pelayanan. Begitu juga dengan lampu dermaga. Lampu downlight tersebut berbeda dengan lampu kanal dan akan dijumpai pada setiap dermaga. Panjang dermaga sejajar dengan alur kanal, di dalamnya terdapat informasi waktu keberangkatan, instruksi keamanan dalam menggunakan angkutan waterway, bangku, dan tempat sampah. Papan petunjuk keberadaan dermaga diletakkan di tempat yang terlihat mata. Sebuah telepon umum terdapat ruang pelayanan Rasuna Said. Dermaga terintegrasi dengan halte bus. Di dalam dermaga tersedia loket yang terpadu dengan tiket lain. Penumpang yang sebelum menggunakan waterway telah memiliki tiket dari salah satu moda dalam PTM 90 dapat menggunakan tiket tersebut untuk menggunakan waterway. Tiket tersebut ditukar dengan kartu yang akan dikembalikan pada akhir perjalanan moda dalam PTM. Aktivitas lalu lintas angkutan waterway dapat dinikmati hingga malam hari. Ruang rekreasi terbagi ke dalam subruang rekreasi. Area keluarga memiliki beberapa kelompok buah-buahan. Pada intinya area ini dapat menjadi area beranda/area berkumpul keluarga pemukim dari seberang bantaran. Area ini memanjang dari setelah ruang pelayanan Manggarai hingga Jembatan Mampang. Karena lebar bantaran tersebut cukup sempit, rancangan berupa jajaran pohon berbuah dan hamparan rumput di sela-sela pepohonan. Pada beberapa titik terdapat bangku taman yang disusun mengelompok dan undak-undak beton yang dipayungi shelter memanjang. Area lawn adalah area di seberang area keluarga. Area ini ingin menunjukkan dominasi rerumputan dengan memanfaatkan ruang yang sempit. Dominasi rumput juga menyinggung asal-usul penamaan “Pasar Rumput”. Area ini dipayungi dengan jajaran pergola membentuk koridor. Area lively menyediakan ruang kegiatan-kegiatan kecil yang insidentil, seperti senam pagi, atraksi kecil, bermain-main, dan sebagainya. Area ini berdekatan dengan Stasiun Mampang. Area ini berisi plaza melingkar, lapangan kecil untuk menyediakan aktivitas tersebut, dan dua bangku melingkar. Tatanan vegetasi sendiri cenderung menyebar. Area pepohonan terdiri dari tegakan pohon dan sirkulasi saja. Area ini banyak terdapat di sisi selatan. Sementara itu, area groundcover promenade menyajikan jajaran groundcover yang bervariasi jenisnya. Di sela-selanya dibentuk sirkulasi dari kelompok bradstone dengan beberapa perhentian seperti shelter dan bangku taman. Area groundcover promenade mengandung pengulangan sirkulasi yang biasanya ditandai dengan bangku tersebut. Titik pengulangan tersebut memiliki komposisi groundcover yang sama di kanan kirinya. Semuanya membentuk irama tersendiri. Area groundcover promenade dapat dimanfaatkan para pekerja kantor untuk beristirahat. Area kesehatan fisik dan psikologi memberikan aktifitas jogging, relaksasi, menenangkan diri, bahkan terapi healing. Area ini memanjang di sisi utara dari ruas Sudirman hingga Jembatan Guntur. Areanya lebih lapang dan lebih tenang. 91 Terdapat beberapa shelter, bangku, menara, dan sculpture yang berulang. Sirkulasi di area ini biasanya dibedakan untuk penggguna normal dan cacat, berasal dari pavingblok sampai pavingstone. Area yang terdiri dari 3 penggal bantaran (akibat berpotongan dengan jembatan maupun flyover) tersebut masingmasing memiliki puncak sirkulasi yang terdapat di tengah-tengah. Pepohonan di titik puncak sirkulasi tersebut juga membentuk komposisi yang berbeda dari sekitarnya dilihat dari warna dan jenisnya. Keberadaan transportasi waterway dapat memacu pertumbuhan ekonomi. Manfaat yang diperoleh, antara lain penghematan biaya penggunaan alat transportasi, kelancaran waktu tempuh yang berakibat pada kelancaran kegiatan ekonomi di wilayah pengaruh waterway, berkurangnya biaya kecelakaan dan kesehatan, adanya aktivitas ekonomi yang berkembang di lokasi infrastruktur waterway, keuntungan bagi operator kapal waterway, dan pendapatan bagi sektor pariwisata. Dalam sistem transportasi secara menyeluruh, penggunaan waterway sebagai salah satu bagian dari PTM mengurangi biaya yang dikeluarkan pengguna jasa transportasi. Pekerja/pengusaha yang memerlukan akses cepat tanpa macet dapat memanfaatkan waterway tersebut untuk kelancaran usahanya. Waterway yang lebih ramah lingkungan juga mengurangi polusi sekitar. Keberadaan tenda jajanan di tapak perancangan pun menumbuhkan perekonomian menengah ke bawah. Rancangan Ruang Lanskap waterway Manggarai-Karet dibagi ke dalam tiga ruang yaitu ruang pelayanan, ruang rekreasi, dan ruang transportasi. Ruang rekreasi terbagi dalam beberapa subruang. Ketiga ruang tersebut berada dalam tiga segmen pengembangan yang menjadi segmen pembuka, tengah, dan penutup. Ketiga ruang tersebut dijabarkan dengan aktivitas, fasilitas, dan dimensi, yang diperlihatkan pada Tabel 10. Gambar 25 memperlihatkan peletakan ruang pada tapak (Concept Plan). 96 Tabel 10 Peruntukan Ruang Lanskap Waterway Jakarta Segmen Ruang Transportasi Luas (Ha) ±12,18 Fungsi Transportasi Kenyamanan I Pelayanan ±0,064 Transportasi Rekreasi Rekreasi ±0,9 Rekreasi Aktivitas Fasilitas − − − Bertransportasi dengan nyaman − − − Masuk dan keluar dermaga − − Parkir sepeda − Mendapatkan informasi − penyeberangan − − Pengelolaan − − − − Kapal/bus air Rambu ketinggian muka air Rambu stop Kanal yang bersih bebas bau Lampu kanal Dermaga (beton dan ponton) serta halte bus yang menyatu dengan dermaga Rambu dan media informasi Loket Lampu dermaga Tempat sampah, telepon umum Kantong parkir Kantor pengelola Bertransportasi dengan kapal Makan sambil menikmati pemandangan Bermain bergembira Bersosialisasi Belajar Mewujudkan inspirasi − − − − RTH Bangku duduk Sirkulasi Pergola − Lampu kanal radiallight tinggi 1,2-1,5 m − Dermaga, P=20 m L=5 m t=2,5 m − Ramp plat baja L=2,5 m2 − Media informasi, t=1,5 m; − Rambu, t= 2,5 m Bahan logam pipa bulat − Loket, 2x2 m − Lampu dermaga, t=4,2 m Bahan baja − Tempat sampah, V=40 lt Bahan fiberglass − Telepon umum,t=65-120 m − Kantong parkir 9,6 m2 Bahan turfgrass − Kantor pengelola 30 m2 − Kios, L=2 m P=menyesuaikan − Tenda, 2,5x2,5x2 m − Luasan RTH yang ada − Bangku, 1,2x1 m Bahan kayu dan besi galvanis − Jalur sirkulasi L=1,2 m 93 − − − − − Kios/kafetaria − Taman Dimensi 97 Identitas Kenyamanan II Pelayanan ±0,38 Pelestarian Air dan Tanah Transportasi Rekreasi ±3,2 Rekreasi − − − − − − Menyusun agenda Bersantai/duduk-duduk Menikmati pemandangan Jalan-jalan Lewat Menunjukkan identitas segmen − Berekreasi dengan nyaman − − − − − − − − − − Perlindungan tanah Perlindungan air Masuk dan keluar dermaga Mendapatkan informasi penyeberangan − Memarkir kapal Bermain Bersosialisasi Belajar Mewujudkan inspirasi Menyusun agenda Bersantai/duduk-duduk Menikmati pemandangan Jalan-jalan Lewat Joggging Bahan pavingblok, disertai tactile paving − Pergola, t=2 m, L=±1,5 m − Bak sampah, bahan kayu − Penanaman dominan rumput − Rumput gajah mini dan Pennisetum orientale Sesuai desain − Tanaman/pepohonan yang rindang − Lingkungan sosial yang baik − Penanaman vegetasi untuk fungsi terkait − Dermaga (beton dan ponton) serta halte bus yang menyatu dengan dermaga − Rambu dan media informasi − Loket − Lampu dermaga − Tempat sampah, telepon umum − Kolam penambat kapal − RTH dan tanaman beraroma − Bangku duduk − Sirkulasi − Menara pandang − Shelter − Tempat sampah − Area lapang Sesuai desain − Dermaga, 15x4 m − Kolam penambat kapal, 15x25 m, bollard dari besi cor − Menara pandang, 16-21m persegi x 15 m, bahan kayu − Shelter, tinggi 2,5 m bahan kayu − Sirkulasi, L=1-2,4 m; bahan bervariasi dari pavingstone dan pavingblok 94 − − − − − Bak sampah 98 Identitas Kenyamanan III Pelayanan Rekreasi ±0,19 ±0,38 − Menunjukkan identitas segmen − Berekreasi dengan nyaman Pelestarian Air dan Tanah Transportasi − − − − Rekreasi − − − − − − − − − − − Perlindungan tanah Perlindungan air Masuk dan keluar dermaga Mendapatkan informasi penyeberangan − Memarkir sepeda Pelestarian Air dan Tanah − Perlindungan tanah − Perlindungan air Rekreasi Identitas − Penanaman dengan melati, karet, dan tanaman getah − Tanaman/pepohonan yang rindang − Lingkungan sosial yang baik − Penanaman vegetasi untuk fungsi terkait Sesuai desain Sesuai desain Sesuai desain − Sirkulasi, pavingstone lebar 1m Sesuai desain Sesuai desain Sesuai desain 95 Kenyamanan Makan Menikmati pemandangan Bersosialisasi Belajar Mewujudkan inspirasi Menyusun agenda Bersantai/duduk-duduk Menikmati pemandangan Jalan-jalan Lewat Menunjukkan identitas segmen − Berekreasi dengan nyaman − Penanaman dengan banyak pohon menteng − Tanaman/pepohonan yang rindang − Lingkungan sosial yang baik − Penanaman vegetasi untuk fungsi terkait − Dermaga (beton dan ponton) serta halte bus yang menyatu dengan dermaga − Rambu dan media informasi − Loket − Lampu dermaga − Tempat sampah, telepon umum − Kantong parkir − Kios/kafetaria − Taman − RTH − Tangga duduk − Sirkulasi − Tempat sampah − Bangku taman 96 Rencana Vegetasi Vegetasi memodifikasi iklim yang tidak nyaman. Vegetasi juga memberikan kesan lembut dan menunjukkan perbedaan antarruang. Vegetasi direncanakan ke dalam tata hijau identitas, tata hijau pembentuk ruang, dan tata hijau ekologis (Gambar 27). Alternatif tanaman yang dapat ditanam di waterfront menurut Ayuputri (2006) berdasarkan data dari Malahayani (2004) dan Dinas Pertamanan (2000) dengan beberapa pembetulan nama ilmiah oleh penulis dan beberapa tambahan yang lain dapat digunakan untuk alternatif tanaman yang ditanam pada lanskap waterway (Tabel 11). Tabel 11 Tanaman yang dapat Ditanam di Kawasan Waterfront Pohon Asem Belimbing Manis Belimbing Wuluh Bisbul Buah Nona Buni Dadap Merah Daun Kelor 9 Duku Condet 10 Durian Sikotong 11 12 13 Gandaria Gowok Jamblang Jambu Biji Pasar Minggu Jambu Kancing Jambu Mawar Jati Jengkol Jeruk Nipis Karet Kebo Kawista Batu Kecapi Kedongdong Kemang Kenanga Kweni Lobi-Lobi Mahoni 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Tamarindus indica Averrhoa carambola L. Averrhoa bilimba L. Diospyros philipensis Annona reticulata Antidesma bunius Erythrina crystagali Moringa oleifera Lansium domesticum Var. Condet Durio zibenitus Murr. Var. Sitokong Bouea macrophylla Syzigium polycephalum Eugenia cuminii Psidium guajava Var. Pasar Minggu Syzigium sambos Eugenia jambos Tectona grandis Pithecellobium jiringa Citrus aurantifolia Ficus elastica Roxb. Feronia limonia Sandoricum koetjape Spondias pinnata Mangifera kemanga Blume Cananga odorata Mangifera odorata Flacourtia inermis Swietenia sp. √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Habitat Satwa 1 2 3 4 5 6 7 8 Konservasi Spesies Identitas Nama Tanaman Estetik No. Peneduh dan Tepi Jalan Fungsi √ √ √ √ √ √ √* √ √ √ √ √ √ √ √ √ √* √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √* √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √* √ √* 97 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 Mangifera indica Gnetum gnemon Marinda citrifolia Baccauria rasemosa Cynometra cauliflora Nephelium lappaceum L. Flacourtia rukam Salacca zalacca Syzigium polyanthum Salix sp. Manilkara kauki Manilkara zapota Paraserianthes falcataria Cordilyne fruticosa Linn. Bambusa sp. Arundinaria pumila Zingiber purpureum Tinospora cripsa Gomphrena globasa Sauropis anchoginus L. Pandanum amarylifolium Justicia gendarussa Jatropha multifida Gardenia sp. Clitoria laurifolia Mirabilis jalapa Hibiscus rosasinensis Clitoria ternatea Murraya paniculata Orthosiphon aristatus Zingiber americans Sansivieria trifasciata Jasminum sambac Coleus scutellariodes Clerodendrum thomsonae Oryza sativa Duranta repens Carica papaya Musa sp. Codieaum variegatum Abrus precatorius Alocasia macrorhiza Piper betle Cantharanthus roseus Boesenbergia pandurata Curcuma xanthorrhiza Ophiopogon sp. Echinochloa colona √ √* √ √* √ √ √* √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √* √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √* Habitat Satwa Mangga Melinjo Mengkudu Menteng Nam-nam Rambutan Rukam Salak Salam Salix Sawo Kecik Sawo Manila Sengon Perdu/Semak Andong Bambu Bambu Jepang Bangle Brotowali Bunga Kenop Daun Katuk Daun Pandan Ganda Rusa Jarak Kaca Piring Kacang Cepel Kembang Pukul Empat Kembang Sepatu Kembang Telang Kemuning Kumis Kucing Lempuyang Lidah Mertua Melati Miana Nona Makan Sirih Padi Pangkas Kuning Pepaya Pisang Puring Saga Senthe Sirih Tapak Dara Temukunci Temulawak Tanaman Penutup Tanah dan Rumput Ophiopogon Rumput Bebek Konservasi 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Spesies Identitas Nama Tanaman Estetik No. Peneduh dan Tepi Jalan Fungsi √ √ √ √* √ √* √ √ √ √* √ √* √ √* √* √ 98 77 78 79 Rumput Kaki Gajah Rumput Paetan Seruni Tanaman Air 80 Enceng Gondok 81 Hidrilla 82 Water Lily Keterangan: * buku dan jurnal Arundo donax Axonopus compressus Widelia sp. √ √ Eichornia crassipes Hydrilla verticillata Nymphaea lotus √* √* √* √* √* √* √* √* √* Rencana tata hijau identitas memberikan penataan vegetasi untuk identitas kawasan sesuai konsep tiap segmen pengembangan, dengan vegetasi yang mengingatkan asal usul penamaan beberapa wilayah administratif yang dibatasi banjir kanal (Gambar 26). Pada segmen pertama (Manggarai-Mampang) yang berdekatan dengan Pasar Rumput diberikan dominan rumput, seperti rumput gajah mini (Pennisetum purpureum Var. Mott dwarf) dan rumput oriental fountain (Pennisetum orientale). Segmen kedua (Mampang-Sudirman) berbatasan dengan bagian tengah dari sisi selatan Kelurahan Menteng, sehingga vegetasi yang cukup dominan untuk menunjukkan identitas adalah Pohon Menteng (Baccauria rasemosa). Segmen ketiga (Sudirman-Karet) mengandung unsur melati dan pohon karet di mana pada masa lalu daerah Karet masih merupakan hutan karet. Tata vegetasi identitasnya diwujudkan dengan dominasi pohon karet (Havea brassiliensis), Eucalyptus deglupta, Jathropa multifida, dan tanaman melati. (a) (b) (c) (d) (e) Gambar 26 Tanaman Identitas, (a) rumput gajah, (b) Penisetum sp., (c) menteng, (d) melati, (e) karet. Rencana tata hijau pembentuk ruang menyediakan vegetasi sebagai pengisi ruang untuk estetika dan kenyamanan. Beberapa tanaman dalam Tabel 11 dapat dimanfaatkan sebagai vegetasi pembentuk ruang. Fungsi pembatas aktivitas manusia yang lebih intensif diberikan oleh semak dan penutup tanah, seperti Duranta repens, Ophiopogon sp., Lantana sp., Widelia biflora, dan Salix repens. 99 Fungsi pengarah dan pengontrol pandangan diberikan oleh Polyalthia longifolia, Agathis dammara, dan Paraserianthes falcataria. Fungsi peneduh (atap) diberikan oleh Swietenia sp., Mimusops elengi, Ficus benjamina, Paraserianthes falcataria, Salix sp., dan lainnya. Fungsi estetika dan aroma wangi (misalnya untuk kenyamanan jogging) diberikan oleh Bauhinia purpurea, Cassia multijuga, Gardenia sp., Jasminum sambac, Erythrina crystagali, dan Michelia champaca. Rencana tata hijau ekologis menyediakan vegetasi sebagai penjaga keberlanjutan lanskap banjir kanal secara fisik dan ekologi. Vegetasi yang ditanam dalam rencana tata hijau ekologis lanskap waterway ini, antara lain: 1. nangka (Artocarpus integra), sengon (Paraserianthes falcataria), mahoni (Swietenia sp.), rambutan (Nephelium lappaceum), Pennisetum orientale, Chrysothamnus nauseous, mangga (Mangifera indica), kenanga (Cananga odorata), sawo kecik (Manilkara kauki), dan bambu jepang (Arundinaria pumila), untuk mengatur dan menjaga ketersediaan air tanah serta menambah kadar bahan organik. 2. akasia (Acacia mangium), mahoni (Swietenia sp.), daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea), nangka (Artocarpus integra), puring (Codieaum variegatum), teh-tehan pangkas (Acalypha sp.), stepanut (Stephanotis floribunda), dan soka (Ixora sinensis), untuk menyerap polusi sekitar tapak. 3. damar (Agathis dammara), beringin (Ficus benjamina), tanjung (Mimusops elengi), dan bambu pagar (Arundinaria pumila), mengurangi kebisingan yang datang dari sumber bunyi kereta api. 4. kenanga (Cananga odorata), mahoni (Swietenia sp.), bisbul (Diospyros philipensis), sengon (Paraserianthes falcataria), kaca piring (Gardenia sp.), kersen (Muntingia calabura), petai cina (Leucaena leucocephala), dadap (Erythrina crystagali), glodogan tiang (Polyalthia longifolia), tanjung (Mimusops elengi), bintaro (Cerbera manghas), daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea), soka (Ixora sinensis), sawo kecik (Manilkara kauki), nangka (Artocarpus integra), rambutan (Nephellium lappaceum), belimbing (Averrhoa carambola L.), mangga (Mangifera indica), gowok (Syzigium polycephalum), yang menyediakan kebutuhan nektar, mempertahankan keberadaan burung dan serangga. 104 Rancangan Sirkulasi Pola sirkulasi sebagian besar cenderung linier, membawa seseorang dari satu tempat ke tempat tujuan berikutnya (Gambar 27). Di tepinya diberikan saluran pembuangan air. Pada sirkulasi dengan beda ketinggian diberikan tangga dan ramp untuk penderita cacat/usia lanjut. Menurut Soesanti et.al.(2006) penataan sirkulasi pada area riverwalk/waterfront dikatakan baik jika jaringan jalannya berpola lurus dan sejajar dengan sisi perairannya. Penataan demikian memudahkan pengguna dalam menikmati view ke arah perairan. Bahkan, penataan sirkulasi yang tidak berdekatan dengan area perairan mengakibatkan salah orientasi terhadap waterfront itu sendiri. Sirkulasi dibagi menjadi sirkulasi utama, sirkulasi transportasi waterway, dan sirkulasi rekreasi. Sirkulasi utama merupakan sirkulasi yang terhubung dengan moda angkutan lain, meliputi sirkulasi pejalan kaki dan sepeda yang menuju kantong parkir. Sirkulasi utama dibuat untuk memasuki ruang pelayanan. Sirkulasi utama menggunakan turfgrass dengan dimensi lebar terbuka untuk pergerakan manusia dan kendaraan. Turfgrass memberian solusi pengendalian aliran permukaan dan cocok untuk menahan akses kendaraan maupun perparkiran. Sirkulasi transportasi adalah lintasan kapal di badan air, dengan lebar mengikuti rencana pelebaran kanal, yaitu ± 40-50 m. Untuk mewujudkan sirkulasi yang nyaman, kanal dibebaskan dari sampah dan pencemaran air lainnya. Sirkulasi transportasi juga merupakan sirkulasi keluar masuk dermaga, yang digabungkan oleh ramp dengan jembatan ponton dengan lebar jembatan (± 1,2 m), berasal dari plat baja. Landasan/jembatan ini digunakan untuk menyesuaikan ketinggian air pasang surut, sehingga posisi kapal dengan dermaga selalu sama. Sirkulasi rekreasi dibuat untuk kegiatan rekreasi khusus pejalan kaki di bantaran. Pola sirkulasinya adalah paduan linier, angular, dan lingkaran. Sirkulasi ini memanjang di kanan-kiri kanal dan menghubungkan ruang pelayanan satu dengan ruang pelayanan berikutnya. Lebar sirkulasi ini bervariasi ±0,9-2,4 meter dan pada titik tertentu dilengkapi dengan shelter dan bangku taman. Topografi di ruang ini relatif datar. Sirkulasi yang datar meskipun lebih aman, stabil, dan menciptakan pandangan yang leluasa terhadap objek vertikal, juga memberikan kesan monoton yang berakhir pada kebosanan (Hakim 2003). 105 Untuk itu, pola sirkulasi dipadukan dengan pemberian pola/motif/corak dan penempatan aksen pada titik tertentu. Corak Betawi dapat digunakan untuk menciptakan kesan lokal. Sirkulasi ini menggunakan material paving blok dan paving stone. Sirkulasi bagi tunanetra di kanan kirinya dibatasi dengan ubin pengarah serta ubin peringatan. Ramp yang ada dipasang handrail pada kedua tepinya. Ilustrasi sirkulasi ditunjukkan oleh Gambar 28. www.suportyoursariver.com manns.tamanndesign.com Gambar 28 Model Pergerakan Linier (kanan) dan Contoh Pemberian Sirkulasi bagi Orang Cacat (kiri). Rancangan Fasilitas dan Kelengkapan Angkutan Waterway Rancangan fasilitas dan kelengkapan angkutan waterway dikembangkan melalui perbaikan, penambahan, maupun pengadaan. 1. Dermaga dan Loket Dermaga adalah fasilitas pokok untuk sebuah angkutan waterway. Dermaga menjadi tempat berkumpulnya penumpang dan sarana mempermudah naik turun penumpang. Dermaga diletakkan di lokasi yang strategis dan potensial menarik minat penumpang, antara lain dekat dengan perpotongan jalan raya atau berdekatan dengan daerah-daerah bisnis (Dinas Perhubungan 2004). Dermaga Manggarai merupakan dermaga utama yang menjadi titik perpindahan antarmoda, sehingga lokasi Manggarai membutuhkan ruang dermaga yang lebih besar. Dermaga Manggarai dibuat dengan luas 100 m2, begitu pula dengan Dermaga Mas Mansyur yang juga merupakan titik perpindahan antarmoda. Kecuali itu, dermaga dibuat seluas 60 m2. Faktor yang mempengaruhi ukuran dermaga adalah ukuran kapal (panjang dermaga 80% dari panjang kapal) dan cara penambatan kapal (Dinas Perhubungan 2004). Rancangan dermaga dilengkapi dengan loket tiket dalam (2,0 x 2,0 m) dan ruang tunggu dengan bangku duduk. 106 Rancangan atap dermaga menggunakan bahan baja ringan. Rangka atap juga terbuat dari baja ringan (antikarat, antirayap, lentur, dan lebih ringan). Dermaga dilengkapi fender sebagai bantalan bagi kapal yang akan merapat. Energi benturan diserap oleh fender dan sebagian diserap oleh konstruksi dermaga. Fender berbahan karet atau berupa ban mobil dipasang di sepanjang dermaga dan diletakkan sedemikian rupa agar mengenai kapal. Dermaga dirancang dengan menyisipkan corak lokal ke dalamnya, seperti yang terlihat pada lisplang, jendela, dan langkan atau pembatas dengan ruang luar (Gambar 33a dan 33b). Dermaga kapal dirancang menyatu dengan halte bus, sehingga penumpang angkutan bus akan mudah berpindah dari bus ke kapal dan sebaliknya (Dinas Perhubungan 2004). Dermaga juga dilengkapi dengan rambu lalu lintas, seperti rambu ketinggian muka air dan rambu tanda berhenti/”stop”. 2. Kolam Penambat Kolam penambat berfungsi sebagai penyimpan kapal ketika tidak beroperasi atau ketika kondisi banjir tinggi serta sebagai lokasi pengisian bahan bakar (Dinas Perhubungan 2004). Ukuran kolam penambat 15 x 25 m (Gambar Lampiran 3). Kolam penambat diletakkan di dekat Stasiun Mampang. Kolam penambat dilengkapi dengan fender dan bollard penambat. Bollard penambat menghindari pergeseran/gerak kapal akibat gelombang dan angin. Bollard terbuat dari besi cor berbentuk silinder dengan ujung atas yang lebih besar untuk mengait tambang. 3. Kapal Menurut Dinas Perhubungan (2004) dalam menentukan spesifikasi kapal mempertimbangkan kecepatan kapal yang ditentukan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut, antara lain dorongan kekuatan dari badan air, dorongan kekuatan dari angin, kriteria desain kapal itu sendiri, permukaan air yang berpengaruh pada kelancaran jalannya kapal, dan tingkat getaran suara terhadap kenyamanan penumpang. Kapal direncanakan memuat 22 penumpang (Gambar Lampiran 3). 4. Kantong Parkir dan Pautan Sepeda Kantong parkir disediakan untuk mendukung sistem sirkulasi kota dan menambah kualitas lingkungan visual. Dalam perancangan lanskap waterway ini, kantong parkir terdapat di Manggarai dan Karet. Kantong parkir berupa plaza dari turfgrass dan terpasang pautan-pautan parkir sepeda (Gambar 34). 107 5. Rambu Petunjuk Rambu petunjuk adalah informasi yang menandakan keberadaan dermaga. Daun rambu petunjuk keberadaan dermaga berupa lembar reflektif berisi kata-kata dan garis tepi warna putih, dengan dasar warna hijau (Gambar 35). Tiang rambu yang digunakan berbahan logam pipa bulat dengan diameter 2” (50 mm). Ketinggian rambu 2,5 m dari sisi daun rambu paling bawah yang dihitung dari permukaan tanah. Rambu petunjuk dipasang pada posisi tegak, tidak terhalang oleh pepohonan, atau rambu lain yang mengurangi arti rambu terpasang. 6. Papan Informasi Papan informasi memberikan jadwal keberangkatan kapal dan informasi titik-titik dermaga setiap jalur lintasan, mengandung tulisan/interpretasi yang mudah dibaca, dan dilengkapi dengan huruf Braille. Papan informasi dibuat setinggi 1,5 m dan ditutup dengan kaca pengaman agar tidak luntur (Gambar 36). 7. Kotak Sampah Kotak sampah yang baik bersifat ringan, mudah dikosongkan, dan mudah untuk digunakan. Tempat sampah di ruang pelayanan terdiri dari 3 jenis, yaitu warna hijau untuk sampah organik, warna kuning untuk sampah anorganik, dan warna merah untuk sampah berbahaya. Masing-masing tempat sampah memiliki petunjuk jenis sampah yang dapat dibuang ke dalamnya. Kotak sampah berbentuk kontainer bersambung menggunakan bahan fiberglass. Sementara itu, tempat sampah untuk ruang rekreasi berdekatan dengan shelter dan berbentuk box berbahan kayu. Kotak sampah memiliki volume 30-40 liter (Gambar 36). 8. Telepon Umum Telepon umum dibuat dengan ketinggian berbeda, antara 65-120 cm pada lantai yang aksesibel bagi semua orang termasuk penyandang cacat, orang tua, orang sakit, balita, dan ibu hamil. Telepon umum menggunakan tombol tekan, memiliki alat kontrol volume, telepon text untuk tuna rungu, serta petunjuk telepon dengan huruf Braille/talking sign. Telepon umum diberikan sekat dengan lebar sekat/bilik 1 m sesuai dengan lebar gerak kursi roda (Gambar 35). 9. Penerangan (Lampu) Penerangan pada ruang rekreasi dan ruang pelayanan lanskap waterway berupa penerangan untuk dekorasi dan untuk menciptakan suasana terang pada 108 malam hari. Beberapa hal yang menjadi perhatian adalah arah penyinaran, tata letak lampu, dan kuantitas cahaya yang diberikan. Penerangan downlight (cahaya ke bawah) digunakan untuk penerangan aktivitas di sekitar dermaga, aktivitas turun naik penumpang, dan penerangan untuk menciptakan estetika pencahayaan di sekitar gelagar jembatan. Lampu radial light digunakan untuk penerangan di sepanjang kanal dan penerangan untuk dekorasi di area kios dengan kuantitas pencahayaan berbeda-beda. Lampu upperlight digunakan untuk menyoroti suatu aksen/focal point yang ada (Gambar 37a dan Gambar 37b). Lampu LED penerangan dermaga berdaya 25 Watt (10% dari lampu merkuri). LED (Light Imitting Diode) menghemat energi dan berdaya tahan yang lama. Tinggi lampu untuk penerangan dermaga 4,2 m diletakkan dengan jarak 5 m sepanjang turap yang berdekatan dengan dermaga dan berjumlah 20 di setiap dermaga. Untuk penerangan di sepanjang kanal digunakan lampu radial light yang diletakkan di antara pot tanaman sepanjang kanal. 10. Shelter Shelter sebagai titik perhentian pada ruang rekreasi berfungsi menghindari kejenuhan, tempat istirahat, dan sarana menikmati pemandangan. Shelter dipadukan dengan lingkungan yang menarik di sekitarnya. Shelter terbuat dari kaki beton dipadukan dengan kayu dengan desain modifikasi modern dengan ornamen lokal. Pada tiang shelter dililitkan tanaman rambat untuk meningkatkan estetika dan kesan menyatu dengan tapak. Dimensi shelter ± 6-144 m2 luas dan 2,5 m tinggi. Shelter segienam diletakkan agak menjorok terhadap sirkulasi. Beberapa shelter juga dibuat memanjang. Tanaman rambat yang dipakai adalah jenis Antigonon leptopus, Clerodendrum thomsonae, dan Rhaphidophora aurea (Gambar 38a dan 38b). Di sisi shelter diletakkan bak sampah. 11. Pergola Pergola dengan tanaman rambat membentuk koridor dan menanungi sisi selatan segmen Manggarai-Pasar Rumput, bersama dengan rerumputan dan paving. Selain kesan rumput yang menonjol akibat minimnya pohon di pedestrian ini, pergola yang ada dapat menambah warna yang berbeda. Pergola tersusun dari baja silinder dengan lebar menyesuaikan lebar pedestrian (± 1,5 m) seperti ynag terlihat pada Gambar 39. 109 12. Bangku Bangku taman dibuat lebih alami dan terletak dekat dengan bibir kanal untuk mengakses pemandangan kanal (Gambar 40). Dimensi bangku 1,2 m x 925 mm (1,2 x 1 meter). 13. Menara Pandang Menara pandang mengatasi kemonotonan ruang dan memberi cara lain untuk menikmati ruang. Terdapat 3 menara pandang terbuat dari kayu dengan 4 m panjang, 4 m lebar, dan 15 m tinggi. Menara pandang dibuat lebih alami dan terkesan sederhana (Gambar 40). 14. Kios Kios jajanan/kafetaria diletakkan di tiga area pelayanan terbesar dengan tenda semi-permanen. Masing-masing tenda makan berukuran 2,5 x 2,5 x 2 m dan kios makanan berukuran memanjang dengan lebar 2 m dan panjang menyesuaikan (Gambar 41). Dengan kios jajanan pengguna dapat menikmati makanan sambil memandang ke kanal dan melihat aktivitas pelayaran hingga malam hari. 15. Signage Signage adalah jenis kreasi grafis untuk menampilkan informasi utamanya kepada penunjung (http://en.wikipedia.org/wiki/Signage). Contoh signage diperlihatkan Gambar 42. Signage ada di ruang pelayanan dekat dengan dermaga. Signage tersebut menginformasikan Banjir Kanal Barat (Selatan) yang digunakan sebagai prasarana angkutan waterway, sekaligus menyajikan ruang riverwalk kecil serta kesempatan untuk berekreasi lainnya. 16. Pot dan Sculpture Pot pada ruang penelitian tidak mengalami perubahan. Pot disusun sepanjang kanal antarkeduanya berjarak 7,8-8 meter. Hanya saja, pot bagian tengah digantikan dengan lampu radiallight. Pot diisi dengan tanaman melati dan kaca piring untuk mengalihkan bau air kanal. Sculpture diletakkan untuk menarik perhatian pengguna dari kebosanan yang mungkin timbul dari sirkulasi linier. Sculpture berupa hiasan-hiasan sederhana (Gambar 42). 17. Kantor Pengelolaan Kantor pengelolaan terletak di Manggarai dan Karet. Kantor pengelolaan berfungsi sebagai kantor terdekat atau pos jaga untuk kelancaran transportasi, 110 permasalahan terkait tata air, dan keberlanjutan lanskap waterway. Kantor pengelolaan dibangun dengan luas ± 30 m2. 18. Toilet Toilet diletakkan di area pelayanan Karet berjumlah 5 bilik. Toilet yang disediakan berukuran 2x1,5 m bersebelahan dengan kantor pengelola. Contoh toilet diperlihatkan pada Gambar 41. 19. Saluran Drainase Saluran drainase berupa saluran drainase terbuka yang diteruskan menuju lubang resapan (0,1 x 1 m). Diperkirakan tidak banyak terjadi aliran permukaan dari tapak itu sendiri jika banyak penutup tanah yang mampu meresapkan air dengan baik. Saluran drainase yang ada lebih banyak berupa saluran untuk mengalirkan air dari badan jalan maupun saluran air limbah. Aliran dari badan jalan diresapkan dari saluran oleh lubang biopori setiap 9,5 m sepanjang tapak (Gambar 41). Jumlah lubang biopori yang ada dihitung berdasarkan intensitas curah hujan (mm/hari) x luas bidang kedap air (meter persegi)/ laju resapan perlubang (liter/jam). 20. Jembatan dan Utilitas Melintang Jembatan Guntur dan Jembatan Pasar Rumput memiliki kesamaan akan kurangnya ketinggian agar kapal bebas bergerak. Ketinggian jembatan Guntur dan Pasar Rumput (Mampang) kurang lebih 1,5-2 m, sedangkan kebutuhan tinggi operasional adalah 2,5-3,5 m dari tinggi muka air rata-rata (Dinas Perhubungan 2004). Rancangan diubah dengan mengubah konstruksi bawah jembatan seperti yang terlihat pada Gambar Lampiran 5 dan 6. Jembatan Guntur diubah dengan menggunakan jembatan beton melengkung dengan lebar bentang 35 meter. Jembatan Mampang diubah dengan sistem rangka baja. Beban jalan raya akan didistribusikan kepada rangka dana akan dilanjutkan ke kolom-kolom (Dinas Perhubungan 2004). Modifikasi bahan dan bentuk dapat dilakukan untuk menciptakan struktur jembatan yang terlihat menarik. Seperti halnya jembatan, pipa utilitas juga memerlukan peninggian 1 m agar ideal bagi lintasan kapal. Peninggian mempertimbangkan debit air yang berubah akibat peninggian jembatan pipa air. 111 21. Jalur Sirkulasi Jalur sirkulasi menuju kapal berupa ramp dan jembatan ponton, sehingga sirkulasi menjadi multifungsi. Material yang digunakan berupa plat baja yang dilengkapi dengan handrail dan pembatas sirkulasi. Sementara itu, lantai pada dermaga sendiri menggunakan beton. Jalur sirkulasi untuk pejalan kaki memiliki lebar 1-2,4 m. Sebagian jalur dilengkapi dengan jalur untuk penyandang cacat utamanya tunanetra, dengan lebar 0,6 m untuk lebar gerak individu ditambah masing-masing 0,15 m kanan kiri untuk gerak tongkat buta (blind cane) (Harris dan Dines 1988). Pada beberapa sirkulasi yang lain, jalur pengguna normal dan cacat disamakan, hanya dilengkapi dengan tactile paving untuk memberikan petunjuk arah berjalan. Permukaan jalur pejalan kaki didesain dengan tekstur yang tidak licin, warna sejuk, dan beberapa memiliki motif Betawi. Perbedaan tekstur dibuat selain untuk estetika juga untuk membantu pergerakan orang cacat. Perbedaan tekstur juga memungkinkan terbaginya peruntukan sirkulasi yang berbeda pada satu waktu, sehingga antarpengguna yang berlainan aktivitas dalam bersirkulasi tidak saling terganggu (Gambar 43a dan 43b). Namun demikian, tekstur yang terlalu kasar dihindari agar tidak merepotkan gerak kursi roda. Material yang digunakan adalah paving blok, paving stone, dan turf grass. Paving blok dan turf grass ramah lingkungan, karena masih memungkinkan penyerapan 30 % air hujan ke tanah. Daya Dukung Rancangan lanskap waterway ini memperhitungkan daya tampung untuk saran jumlah pengguna banjir kanal tersebut. Daya tampung tiap kunjungan terhadap ruang dan fasilitas di bantaran yang diberikan berdasar kebutuhan tiap unit terlihat pada Tabel 12. Adapun khusus perhitungan rencana pengguna kapal setiap harinya diuraikan sebagai berikut. Terdapat 10 dermaga sepanjang 3,65 kilometer dengan jumlah kapal 5 buah. Jarak lintasan berputar dari setiap dermaga ke dermaga berikutnya hingga kembali ke dermaga awal diperkirakan berjarak 6,1 kilometer dengan rencana waktu tempuh 11,37 menit dengan kapal berkecepatan 20 knots (8,94 ms-1). Menurut Dinas Perhubungan, kecepatan kapal angkutan penumpang ada pada kisaran 15-35 knots dan kapal angkutan kargo ada pada 112 kisaran 10-20 knots. Satu knots didefinisikan sebagai satu mil per jam. Satu mil sama dengan 1,6093 kilometer. Jumlah waktu tambahan untuk kapal merapat ke dermaga, kapal kembali berjalan pada kecepatan 20 knots, dan untuk mengangkut penumpang, diperkirakan 2 menit, sehingga total tambahan pada lintasan memutar sebesar 20 menit. Dengan demikian, total perjalanan memutar dari Manggarai kembali ke Manggarai diperkirakan sebesar 11,37+20=31,37 menit. Tabel 12 Jumlah Unit tiap Kunjungan di dalam Fasilitas yang Tersedia Fasilitas Dermaga Besar Dermaga Kecil Loket Parkir (Pautan) Telepon Umum Shelter segienam Pergola Bangku Menara Pandang Kios Tenda Kantor Pengelolaan Toilet Jalur Setapak Kebutuhan Unit* (m2/unit) 2 2 2 0,5 0.75 2 11 0,6 2 1,5 1,5 7 2,25 15 Jumlah Unit 4 6 11 46 2 20 1 50 3 6 11 2 5 - Luas Total (m2) 380 340 44 23 12 117,2 814,71 60 192 165 68,75 60 15 4380 Jumlah Daya Tampung (unit) 190 170 22 46 16 58 74 100 96 110 44 8 5 292 1231 * Harris dan Dines (1988) Frekuensi kapal yang direncanakan melintas di setiap dermaga adalah 5-10 kapal/jam (2x putaran) pada jam sibuk dan 3-5 kapal/jam pada jam tidak sibuk. Waktu tunggu kedatangan kapal diperkirakan 6,3-30 menit. Pada jam sibuk dalam setiap putaran akan terdapat 2 trayek pulang pergi Manggarai Karet x (5 kapal x 22 penumpang) = 220 penumpang, atau ±420 penumpang/jam. Sementara itu, pada jam tidak sibuk dioperasikan 3 buah kapal, sehingga dalam setiap putaran akan terdapat 2 trayek pulang pergi Manggarai Karet x (3 kapal x 22 penumpang) = 132 penumpang, atau ±252 penumpang/jam. Operasi kapal direncanakan selama 14 jam, yaitu dari jam 06.00-08.00. Terdapat 2 jam sibuk di pagi hari dan 3 jam sibuk di sore hari, sehingga total jam sibuk adalah 5 jam. Dengan demikian, total penumpang yang diangkut selama sehari beroperasi berjumlah 5 (420) + 9 (252) = 4.368 penumpang. 145 KESIMPULAN Simpulan Waterway Banjir Kanal Barat (Selatan) merupakan bagian dari penataan sistem transportasi Jakarta. Sebagai ruang terbuka sekaligus prasarana transportasi dan sarana rekreasi, kanal tersebut memerlukan penataan lanskap untuk mewujudkan moda transportasi yang nyaman dan terjaga keberlanjutannya. Terdapat potensi-potensi yang mendukung perancangan lanskap waterway tersebut, diantaranya pemandangan menarik di beberapa tempat, aksesibilitas yang memungkinkan, adanya rencana pengembangan wilayah sekitar BKB, serta peran banjir kanal itu sendiri sebagai penampung air dan pendukung iklim perkotaan yang baik. Namun, ditemui pula beberapa kendala, seperti ketersediaan air yang fluktuatif dan beberapa pemandangan yang tidak menyenangkan akibat kerusakan, vandalisme, maupun faktor pemeliharaan. Pengguna sendiri lebih menikmati suasana yang tenang dan nyaman, terlihat dari aktivitas yang banyak dilakukan di bantaran sisi utara. Data responden menunjukkan bahwa mereka menghabiskan waktu perjalanan dengan menikmati pemandangan luar dan berekreasi dengan mendatangi lokasi untuk dinikmati keindahannya. Pengguna memiliki kebiasaan dan karakter berbeda bergantung tingkat pendidikan, sosial, ekonomi, dan perbedaan umur. Agar tidak terjadi konflik diperlukan zonasi untuk menciptakan area tertentu bagi kegiatan tertentu. Aktivitas yang pengguna lakukan perlu diperhatikan dengan mempertimbangkan dampak negatif dari aktivitas pengguna. Perancangan lanskap waterway pun perlu mempertimbangkan pertumbuhan penumpang untuk memperhitungkan besarnya kebutuhan fasilitas dan akumulasi dampak dari kecenderungan perilaku pengguna yang mungkin terjadi. Pada akhirnya, rancangan lanskap kanal pendukung transportasi waterway dan sarana rekreasi tersebut terbagi dalam tiga pembagian utama ruang, yaitu ruang pelayanan di mana terdapat dermaga, ruang transportasi pada badan air, serta ruang rekreasi (pemanfaatan rendah dan ruang rekreasi pemanfaatan tinggi) pada bantaran kanal. Berdasar kelompok aktivitasnya, ruang rekreasi sendiri 146 memiliki area lively, area keluarga, area lawn, area pepohonan, area kesehatan fisik dan psikologi, dan area groundcover promenade. Saran Beberapa saran yang diajukan adalah: 1. Mewujudkan konsep desain yang menyeluruh sepanjang jalur transportasi air di Kota Jakarta. 2. Mewujudkan kerjasama yang baik antardisiplin ilmu terkait dengan lanskap waterway. 3. Perlu memperhatikan kelestarian dan pemeliharaan oleh segenap pihak yang berasal dari kesadaran diri dan rasa memiliki. 147 DAFTAR PUSTAKA Ayuputri, M. 2006. Perancangan Lanskap Waterfront Situ Babakan di Perkampungan Budaya Betawi Jakarta Selatan. Skripsi. Sarjana Arsitektur Lanskap Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian IPB (tidak dipublikasikan). Banks, James H. 2002. Inroduction to Transportation Engineering. McGraw-Hill, Inc. New York. 502 p. Branch, Melville C. 1995. Perencanaan Kota Komprehensif: Pengantar dan Penjelasan. Bambang Hari Wibisono, penerjemah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari Comprehensive City Planning: Introduction & Expanation. 293 hal. Breen, A., dan D Rigby. 1996. The New Waterfront: A Worldwide Urban Success Story. Great Britain: Thames & Hudson; New York: McGraw-Hill, Inc.224 p. Carpenter, Philip L. et.al. 1993. Plants in The Landscape. W.H. Freeman and Company. 481 p. Chiara, J.D., dan L.E. Koppelman. 1978. Standar Perencanaan Tapak (terjemahan). Jakarta: Erlangga. 383 hal. Clawson, M dan J.L. Knetsch.1966. Economic of Outdoor Recreation. Baltimore: The John Hopkns Press. USA. 328 p. Dinas Perhubungan. 2004. Studi Pengembangan Angkutan Sungai sebagai Angkutan Alternatif di DKI Jakarta: Studi Kasus Manggarai-Karet. Laporan Akhir. Jakarta (tidak dipublikasikan). Divisi Analisis Statistik dan Akuntasi Regional. 2007. Jakarta dalam Angka 2007. Jakarta: BPS Provinsi DKI. 522 hal. Douglass, W.R.1982. Forest Recreation. New York: Pergamon Press. 336 p. Eriyanto.2007. Teknik Sampling: Analisis Opini Publik.Yogyakarta:LkiS. 350 hal. Gold. 1980. Recreation Planning and Design. New York: McGraw-Hill Book Co. 332 p. Hakim, R. Dan H. Utomo.2003. Komponen Perancangan Arsitektur Lanskap: Prinsip-Prinsip dan Aplikasi Unsur. Jakarta: Bumi Aksara. 243 hal. Hannebaum, L.G. 2002. Landscape Design: A Practical Approach. New York: Prentice Hall.466 p. 148 Harris, C.W. dan N.T. Dines. 1988. Time-Saver Standars for Landscape Architecture: Design and Construction Data. New York: Mc. Graw Hill Book Co. 850 p. Lastiani, L. 2000. Perencanaan Lanskap Kawasan Rekreasi Arung Jeram Sungai Citarik Sukabumi. Skripsi. Sarjana Arsitektur Lanskap Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian IPB (tidak dipublikasikan). Laurie, M. 1986. Pengantar kepada Arsitektur Pertamanan (terjemahan). Bandung: PT Intermatra.133 hal. Maryono, Agus.2005. Eko-Hidraulik Pembangunan Sungai. Yogyakarta: Magister Sistem Teknik Program Pascasarjana UGM. 145 hal. Montanĕs, J.L. 2006. Hydraulic Canals: Design, Construction, Regulation, and Maintenance. USA: Routledge. 389 p. Notodiharjo, M. 1989. Pengembangan Wilayah Sungai di Indonesia. DPU. Jakarta. 128 hal. Nurisjah, S. 2004. Aspek Hidrologis dalam Analisis Tapak. Diktat Kuliah Perencanaan Program Studi Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian IPB Bogor (tidak dipublikasikan). Nurisjah, S. dan Qodarian P. 1995. Penuntun Praktikum Perencanaan Lanskap. Program Studi Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian IPB (tidak dipublikasikan). PP No. 35 Tahun 1991 Tentang Sungai. www.penataanruang.net (berkala sambung jaring). http://www.penataanruang.net/taru/nspm/PP_No351991.pdf (4 Nopember 2007). PP RI No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. www.tempointeraktif.com (berkala sambung jaring). http://www.tempointeraktif.com/hg/peraturan/2004/04/13/prn,2004041304,id.html (9 Oktober 2007). Rachman, Z. 1986. Proses Berpikir Lengkap Merencana dan Merancang.Di dalam Festival Tanaman VI Himagron. Bogor (tidak dipublikasikan). Rizkianty, M.F., 2002. Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau di Kota Surabaya. Skripsi. Sarjana Arsitektur Lanskap Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian IPB (tidak dipublikasikan). Rustamadji, H. 1994. Penataan Sungai. Di dalam Himpunan Karangan Ilmiah di Bidang Perkotaan dan Lingkungan Hidup. Jakarta (tidak dipublikasikan). 149 Setijowarno, D dan R. B. Frazila. 2003. Pengantar Rekayasa Dasar Transportasi. Jurusan Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata.Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. 392 hal. Simond, J.O. 2006. Landscape Architecture. New York: McGraw-Hill Book Co. 396 p. Siswantinah, W. 1987. Persepsi Pengunjung tentang Lingkungan Rekreasi dan Beberapa Faktor yang Mempengaruhinya: Studi Taman Mini Indonesia Indah dan Kebun Raya Cibodas. Tesis. Magister Ilmu Pengolahan Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Fakultas Pasca Sarjana IPB (tidak dipublikasikan). Soesanti, S. dan A. Sastrawan. 2006. Penataan Zona, Massa, dan Ruang Terbuka pada Perumahan Waterfront (Studi Kasus: Perumahan Pantai Indah Kapuk). Di dalam Kehati Bogor. Sulistyantara, B. 2001. Bahan Kuliah Ruang Terbuka Hijau. Program Studi Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian IPB (tidak dipublikasikan). Sunaryo, T.M., Tjoek W.S., dan Aris H. 2007. Pengelolaan Sumberdaya Air: Konsep Penerapannya. Malang: Bayumedia Publishing. 116 hal. Wiranto. 1999. Arsitektur Venakular Indonesia: Perannya dalam Pengembangan Jati Diri. Di dalam Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 27, No. 2. Universitas Kristen Petra. 150 LAMPIRAN 152 Gambar Lampiran 2 Sistem Aliran Air Wilayah Tengah Sumber: Dinas Pekerjaan Umum 157 Tabel Lampiran 1 Jenis Moda Rute-Rute Terpadu Moda Angkutan Lain dengan Dermaga Angkutan Air Karet PPD Reguler PPD Patas PDD Bis Tingkat Mayasari Reguler Mayasari Patas 403 Mayasari Patas AC Steady Safe Reguler Steady Sefe (Patas) 963 P133 Steady Safe AC AC55 GI Andalan Patas AC Bianglala Bianglala Patas P84 Bianglala Patas AC Metromini Metromini Patas AC Kopaja Reguler Kopaja Patas P84 Kopaja AC Kereta Api √ MRT √ Sumber: Dinas Perhubungan, 2004 Rute Moda Transportasi Jl. Jend. Sudirman Jl. Rasuna Said 10, 11, 12, 13, 38, 408, 49, 87 106, 210, 213 P20, P1, P67, P68, P36, P11, P41 P42 70, 805 929 P16, P51, 18B, P50, P56 PAC16, PAC70, PAC52, PAC62, PAC72 920, 939, 938 P127, P128 AC22, AC20, AC32, AC46, AC58, AC66 AC36 966, 942, 943 P65, P66, P69, P79 AC45, AC57, AC102, AC76, AC44 972, P124 PAC100, PAC100A 958 P117 AC99 √ √ Manggarai 405, 92 P99 PAC53 934 P126, P134 AC19, AC47, AC86 AC118 √ AC31 √ 158 KUISIONER PENELITIAN “PERANCANGAN LANSKAP JALUR WATERWAY JAKARTA (STUDI WILAYAH MANGGARAI – KARET)” (Pendukung Penyusunan Skripsi sebagai Syarat Kelulusan Sarjana) Oleh: Ita Nurmala Hikasasi, Departemen Arsitektur Lanskap IPB Sebagaimana yang kita ketahui, transportasi waterway (angkutan sungai) Jakarta merupakan jenis transportasi yang tergolong baru. Sebagai sebuah prasarana transportasi, waterway memiliki potensi dan kendala yang perlu dipecahkan untuk menciptakan fungsi yang diinginkan. Saya, mahasiswa semester delapan Arsitektur Lanskap IPB, bermaksud melakukan penelitian mengenai lanskap jalur waterway di lokasi Manggarai-Karet serta mencoba menyusun tata ruang untuk kenyamanan pengguna dan keberlanjutan lanskapnya. Kuesioner ini diberikan untuk mengetahui persepsi dan harapan responden terhadap perancangan lanskap jalur angkutan air tersebut. Data yang dihasilkan hamua digunakan untuk kepentingan akademik. Oleh karena itu, saya memohon bantuan Bpk./Ibu/Sdr. agar bersedia membantu saya dengan mengisi dan menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan yang saya sajikan. Terima kasih. *lanskap : wajah karakter lahan atau tapak dengan segala sesuatu dan apa saja yang ada di dalamnya yang bersifat alami maupun buatan manusia yang merupakan total dari bagian hidup manusia beserta makhluk hidup lainnya (Rachman,1984) KARAKTERISTIK RESPONDEN Jenis Kelamin :฀L ฀P Usia : …… tahun Alamat : ...................................................................................................... Pendidikan : a. SD e. Sarjana b. SLTP/sederajat f. Pasca Sarjana c. SLTA/sederajat g. Lainnya, ............................ d. Diploma Pekerjaan : a. PNS e. Pensiunan b. Pegawai Swasta f. Pelajar c. ABRI g. Mahasiswa d. Wiraswasta h. Lainnya, ………………… SOAL BAGIAN A 1. Jenis transportasi apa yang sering Anda gunakan di Jakarta? (boleh memilih >1) a. transportasi jalan c. transportasi air d. lainnya, ............................................................ b. transportasi kereta api 2. Apakah Anda sering melewati jalur Manggarai-Dukuh Atas-Karet? a. setiap hari c. jarang b. sering d. tidak pernah (jika jawaban “d”, Anda tidak perlu melanjutkan menjawab pertanyaan nomor 3 dan 4) 3. Apa alasan Anda melewati jalur Manggarai-Dukuh Atas-Karet? a. pekerjaan/aktivitas c. jalur tempat tinggal b. kenyamanan d. lainnya, …………………………..................... 4. Pada jam-jam berapa Anda melewatinya? a. pagi dan sore di hari kerja c. pagi dan sore di hari libur/akhir pekan b. siang di hari kerja d. siang di hari libur/akhir pekan 159 5. Apakah kebiasaan yang sering Anda lakukan dalam bertransportasi? (boleh memilih >1) a. duduk diam di bangku duduk b. menikmati pemandangan luar c. membaca buku, mendengarkan musik d. berimajinasi e. menyusun rencana kegiatan selanjutnya f. lainnya, ……………………………………………………………………………. 6. Apakah kebiasaan yang sering Anda lakukan ketika menunggu kendaraan? a. duduk diam di bangku duduk b. menikmati pemandangan sekitar c. membaca buku, mendengarkan musik d. berimajinasi e. bermain f. menyusun rencana kegiatan selanjutnya g. lainnya, ……………………………………………………………………………. 7. Berapa kali Anda meluangkan/menggunakan waktu untuk kegiatan rekreasi? a. sebulan sekali c. sering b. seminggu sekali d. setiap saat 8. Kapan Anda melakukannya? a. di hari libur c. di sela-sela aktivitas b. saat bepergian d. lainnya, ……………………………………… 9. Bagaimana cara Anda melakukannya? (boleh memilih >1) a. mendatangi suatu lokasi untuk dinikmati pemandangannya b. melakukan kegiatan di suatu tempat c. menikmati perjalanan d. sambil menjalankan aktivitas (menikmati pekerjaan menjadi sebuah rekreasi) e. lainnya, ……………………………………………………………………………. SOAL BAGIAN B 10. Apakah Anda tahu tentang transportasi waterway (angkutan sungai) Jakarta yang (pernah) dioperasikan sepanjang Halimun-Karet? (Ya / Tidak) 11. Dari manakah Anda tahu? a. dari lapang c. dari media cetak b. dari teman/keluarga d. lainnya, ……………………………………… 12. Apakah Anda pernah mencoba transportasi waterway tersebut? (Ya /Tidak) 13. Apakah pengalaman yang Anda dapatkan? (diisi jika menjawab “ya” pada nomor 14) a. menyenangkan, karena ……………………………………………………………. b. tidak menyenangkan, karena ………………………………………………...……. 14. Apakah aktivitas yang Anda lakukan di tepian kanal? (jika Anda melakukannya) a. menikmati pemandangan kanal c. sekedar lewat b. duduk-duduk d. lainnya, ……………………………… 15. Bagaimanakah suasana di sekitarnya? (boleh memilih >1) a. sangat panas c. teduh e. nyaman b. panas d. sangat teduh f. tidak nyaman 16. Apa yang Anda ketahui tentang waterway secara umum? ………………………………………………………………………………………… 17. Apakah fungsi lanskap jalur waterway menurut Anda? (boleh memilih >1) a. prasarana transportasi pada umumnya b. prasarana transportasi tidak perlu/tidak wajar c. prasarana transportasi untuk mengatasi kemacetan 160 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. d. bagian yang perlu ditonjolkan dalam penataan kota e. sarana rekreasi dan pariwisata f. lainnya, ……………………………………………………………………………. Bagimana jika waterway Jakarta dikembangkan dan dijadikan salah satu alternatif transportasi yang menyatu dengan transportasi lainnya? (Setuju/Tidak) Alasannya: ………………………………………………………………….………………...…… Fasilitas apa saja yang Anda harapkan untuk kegiatan transportasi di waterway? (boleh memilih >1) a. darmaga e. papan informasi b. lampu f. jalur pejalan kaki c. telepon umum g. taman kota d. tempat sampah h. lainnya, ………………………………………. Aktivitas apa yang Anda inginkan untuk kegiatan rekreasi di jalur/lingkungan waterway? a. duduk-duduk c. jalan-jalan b. bersepeda d. lainnya, ………………………………………. Seperti apakah desain yang Anda inginkan dari fasilitas di lingkungan waterway? a. bertema tertentu c. bergaya modern b. bergaya tradisional Betawi d. lainnya, ………………………………………. Apa partisipasi Anda dalam kegiatan perancangan lanskap waterway ini? a. berpartisipasi dalam memanfaatkannya b. berpartisipasi dalam pemeliharaan lanskapnya Pemeliharaan seperti apakah yang akan Anda lakukan? (boleh memilih >1) a. tidak membuang sampah/limbah ke kanal dan lingkungan sekitarnya b. menegur orang jika melihat membuang sampah sembarangan c. menjaga fasilitas yang ada d. lainnya, ……………………………………………………………………...…….. Apa harapan dan saran Anda terhadap perancangan lanskap waterway? ……………………………………………………………………………..…………... ……………………………………………………………………………..…………... -000-
Perancangan Lanskap Waterway Jakarta: Kajian Segmen Manggarai (Jakarta Selatan) – Karet (Jakarta Pusat).
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perancangan Lanskap Waterway Jakarta: Kajian Segmen Manggarai (Jakarta Selatan) – Karet (Jakarta Pusat).

Gratis