Perbedaan Kadar Co dan So2 di Udara Berdasarkan Volume Lalu Lintas dan Banyaknya Pohon di Jl. Dr. Mansur dan Jl. Jendral A.H. Nasution di Kota Medan

 7  113  90  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

SKRIPSI PERBEDAAN KADAR CO DAN SO

  2 DI UDARA BERDASARKAN VOLUME LALU LINTAS DAN BANYAKNYA POHON DI JL. DR. MANSUR DANJL. JENDRAL A.H. NASUTION DI KOTA MEDAN TAHUN 2015 Oleh : CUT TATIANA ROSA NIM 101000257 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015

PERBEDAAN KADAR CO DAN SO

  2 DI UDARA BERDASARKAN VOLUME LALU LINTAS DAN BANYAKNYA POHON DI JL. DR. MANSUR DAN JL. JENDRAL A.H. NASUTION DI KOTA MEDAN TAHUN 2015 SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat OLEH: CUT TATIANA ROSA NIM. 101000257 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

  Nama : Cut Tatiana Rosa NIM : 10100257 Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Peminatan : Kesehatan Lingkungan Judul Skripsi : PERBEDAAN KADAR CO DAN SO

  2 DI UDARA BERDASARKAN VOLUME LALU LINTAS DAN BANYAKNYA POHON DI JL. DR. MANSUR DAN JL. JENDRAL A.H. NASUTION DI KOTA MEDAN TAHUN 2015

  menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun yang dirujuk telah saya nyatakan dengan benar. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila di kemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai peraturan yang berlaku di Universitas Sumatera Utara. Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar tanpa ada paksaan dari pihak manapun.

  Penulis, Cut Tatiana Rosa

  

ABSTRAK

  Pencemaran udara di perkotaan didominasi sebanyak 70% oleh aktifitas kendaraan bermotor. Karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO

  2 ) termasuk

  polutan yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor dan juga termasuk sebagai parameter pencemaran udara. Apabila konsentrasinya di udara melebihi baku mutu dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia.

  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar CO dan SO2 di udara berdasarkan volume lalu lintas dan banyaknya pohon di Jl. Dr. Mansyur dan Jl. Jenderal A.H. Nasution di kota Medan tahun 2015.

  Metode penelitian yang digunakan adalah survei yang bersifat deskriptif yaitu untuk mengetahui gambaran perbedaan kadar karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO

  2 ) di udara berdasarkan volume lalu lintas dan banyaknya pohon di Jl. Dr. Mansyur dan Jl. Jend. A.H. Nasution di kota Medan tahun 2015.

  Hasil penelitian ini adalah kadar gas CO dan SO

  2 tertinggi terdapat pada

  Jl. Jenderal A.H. Nasution dengan volume lalu lintas tertinggi dan jumlah pohon

  3

  2

  dan kadar SO yang lebih sedikit yaitu kadar CO sebanyak 17.750 µg/Nm

  3

  , sedangkan kadar gas CO dan SO

  2 terendah terdapat pada

  sebanyak 69,93 µg/Nm Jl. Dr. Mansyur dengan volume lalu lintas terendah dan jumlah pohon yang lebih

  3

  dan kadar SO

  2 sebanyak 59,05

  banyak yaitu kadar CO sebanyak 9.161 µg/Nm

  3 .

  µg/Nm Kesimpulan dari penelitian ini adalah kadar CO dan SO lebih banyak

  2

  terdapat pada jalan raya dengan volume lalu lintas yang tinggi dan jalan raya yang minim pohon. Oleh karena itu perlu diupayakan penanaman pohon atau tanaman lain yang berpotensi menyerap polutan udara pada jalan raya yang padat aktifitas lalu lintasnya.

  Kata kunci: Kadar CO, Kadar SO 2 , volume lalu lintas, pohon.

  

ABSTRACT

Air pollution in urban area dominated by as much as 70% by vehicle activity. Carbon monoxide (CO) and sulfur dioxide (SO

  2 ) are included as the

pollutants that produced by vehicle and also included as air quality parameters. If

the concentration in air exceeds the quality standard can cause health promblems

for humans.

  The objective of research would be to know the difference of CO and SO

  2

concentration in air by virtue of the traffic volume and quantity of tree at Jl. Dr.

  Mansyur and Jl. Jend. A.H. Nasution in Medan city for 2015.

  This research used survey and descriptive method in order to know the

description about difference of CO and SO concentrations in air by virtue of

  2

traffic and quantity of tree at Jl. Dr. Mansyur and Jl. Jend. A.H. Nasution in

Medan city for 2015.

  

The result of research the highest concentration of CO and SO

2 were

found at Jl. Jend. A.H. Nasution with the highest traffic volume and less of tree

  3

  3 and the number of SO , with the number of CO is 17.750 µg/Nm

  2 is 69,93 µg/Nm while the lowest concentration of CO and SO 2 were found at Jl. Dr. Mansyur

with the lowest traffic volume and many more of tree with the number of CO is

  3

  3 and the number of SO 2 . 9.161 µg/Nm is 59,05 µg/Nm The conclusions of this research is concentrations of CO and SO were

  2

found on highway with high traffic volume and less of tree. Therefore it would be

necessary to grow tree or other plant that can assorb air pollutant on the highway

with hectic traffic acitivity.

  Keywords: CO concentracion, SO 2 consentracion, traffic volume, tree.

  

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

  Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perbedaan Kadar Co dan SO

2 Berdasarkan Volume Lalu Lintas dan Banyaknya

  Pohon di Jl. Dr. Mansyur dan Jl. Jend. A.H. Nasution di Kota Medan Tahun 2015” guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat.

  Selama penyusunan skripsi mulai dari awal hingga akhir selesainya skripsi ini penulis banyak mendapat bimbingan, dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  1. Dr. Drs. Surya Utama, M.S. selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

  2. Ir. Indra Chahaya S, M.Si selaku Dosen Pembimbing I skripsi sekaligus sebagai Ketua Penguji yang telah banyak meluangkan waktu, tulus dan sabar memberikan saran, bimbingan serta arahan dalam menyelesaikan skripsi ini.

  3. Dr. dr. Wirsal Hasan, MPH selaku Dosen Pembimbing II sekaligus sebagai Penguji I yang telah banyak meluangkan waktu, tulus dan sabar memberi saran, nasehat bimbingan, arahan dan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.

  4. Dra. Nurmaini, MKM, Ph.D selaku Penguji II yang telah banyak memberikan arahan dan masukan demi kesempurnaan penulisan skripsi ini. 5. dr. Devi Nuraini Santi, M.Kes selaku Penguji III yang telah banyak memberikan arahan dan masukan demi kesempurnaan penulisan skripsi ini.

  6. Dr. Heru Santosa, MS, Ph.D selaku Dosen Pembimbing Akademik yang memberikan dukungan dan saran-saran selama penulis menjalani pendidikan.

  7. Seluruh Dosen dan Staf di FKM USU yang telah memberikan bekal ilmu selama penulis mengikuti pendidikan.

  8. Teristimewa untuk kedua orangtua saya terkasih, Ayahanda (Drs.

  Syahrumsyah) dan Ibunda (Dra. Hj. Rosdiana, Apt) yang senantiasa memberikan doa, pengertian, kasih sayang dan dukungan yang tiada henti- hentinya kepada penulis selama ini, serta Kakak (Cut Sylvia Rosa, Amd. KL) dan Adik (Teuku Shaddiq Rosa) yang bersedia meluangkan waktunya untuk turut membantu dan memberikan doa serta dukungan kepada penulis.

  9. Kepada sahabat (Latifa Sari Dalimunthe, Rafni Silva Siregar, Ayu Febrini Meutia, Anggi Mutiah Syakdiah Siregar, Eva Novia Andani, Meithyra Simatupang, Dewi Sarah, Adi Putra Panggabean, Henrico Fermi Ginting dan Fanji Dio Putra) yang selalu memberikan hiburan, semangat dan motivasi kepada penulis.

  10. Rekan-rekan Peminatan Kesehatan Lingkungan FKM USU, rekan-rekan stambuk 2010 serta semua pihak yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak membantu, memberikan semangat, dukungan dan doa selama ini.

  Penulis menyadari masih ada kekuarangan dalam penulisan skripsi ini, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua terutama untuk kemajuan ilmu pengetahuan.

  Medan, Mei 2015 Penulis Cut Tatiana Rosa

  

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN ..........................................................

  26

  25

  2.3. Sulfur Dioksida (SO

  2 ) ...............................................................

  25

  2.3.1. Sumber Pencemaran Gas SO 2 ...................................................

  25

  2.3.2. Pengaruh Gas SO 2 Terhadap Kesehatan ...................................

  2.3.3. Pengaruh Gas sSO 2 Terhadap Lingkungan ...............................

  21 2.2.2. Pengaruh Gas CO Terhadap Kesehatan ..................................

  28 2.4. Volume Lalu Lintas ....................................................................

  27 2.5. Tumbuhan sebagai Penyerap Polutan Udara ................................

  28 2.5.1. Proses Reaksi Reduksi Pencemaran Udara ...............................

  28 2.5.2. Jenis-jenis Tumbuhan Penyerap Polutan ..................................

  29 2.6. Kerangka Konsep .......................................................................

  35 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian ...................................................

  36 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................................

  23 2.2.3. Pengaruh Gas CO Terhadap Lingkungan .................................

  21 2.2.1. Sumber Pencemaran Gas CO ...............................................

  ABSTRAK ....................................................................................... i KATA PENGANTAR ...................................................................... iii DAFTAR ISI .................................................................................... vi DAFTAR TABEL ............................................................................. viii DAFTAR GAMBAR ........................................................................ ix DAFTAR ISTILAH .......................................................................... x RIWAYAT HIDUP .......................................................................... xi

  6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Udara ....................................................................................

  BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................................

  1 1.2 Perumusan Masalah ....................................................................

  5 1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................

  5

  1.3.1. Tujuan Umum …………………………………………………

  5 1.3.2. Tujuan Khusus ………………………………………………...

  6 1.4. Manfaat Penelitian …………………………………....................

  8 2.1.1. Pengertian Udara ....................................................................

  20 2.2. Karbon Monoksida (CO) ………………………………………..

  8 2.1.2. Pengertian Pencemaran Udara .................................................

  8 2.1.3. Penyebab Pencemaran Udara ...................................................

  9 2.1.4. Klasifikasi Polutan Udara ........................................................

  10 2.1.5. Sumber Pencemaran Udara ......................................................

  12 2.1.6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pencemaran Udara ............

  13 2.1.7. Efek Pencemaran Udara ……………………………………… .

  15 2.1.8. Pengendalian Pencemaran Udara .............................................

  36

  3.2.1. Lokasi Penelitian .....................................................................

  55 5.3.3. Suhu …………………………………………………………...

  2 ) di Udara Lokasi Pengambilan Sampel ..................................................................

  53

  5.3. Parameter yang Mempengaruhi Kadar Gas CO dan SO

  2 di Udara ..................................................................

  55

  5.3.1. Arah Angin ……………………………………………………

  55

  5.3.2. Kelembaban ……………………………………………………

  56

  50

  5.4. Perbedaan Kadar Gas Co dan SO

  2 di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution Berdasarkan Volume Lalu Lintas ………...

  57

  5.5. Perbedaan Kadar Gas Co dan SO

  2 di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution Berdasarkan Banyaknya Pohon ………......

  57 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan .. .............................................................................

  59 6.2. Saran ..........................................................................................

  60 DAFTAR PUSTAKA

  5.2. Kadar Sulfur Dioksida (SO

  5.1. Kadar Karbon Monoksida (CO) di Udara Lokasi Pengambilan Sampel ..................................................................

  36 3.2.2 Waktu Penelitian ......................................................................

  38

  36 3.3. Objek Penelitian .........................................................................

  37 3.4. Populasi dan Sampel ..................................................................

  37 3.5. Metode Pengambilan Data ..........................................................

  37 3.5.1 Data Primer .............................................................................

  37 3.5.2 Data Sekunder ..........................................................................

  37 3.6. Teknik Analisa Data ...................................................................

  37 3.6.1. Teknik Pngambilan Sampel .....................................................

  37 3.6.2. Prosedur Pengukuran Gas CO di Udara ...................................

  3.6.3. Prosedur Pengukuran SO 2 di Udara .........................................

  45 BAB V PEMBAHASAN

  38 3.6.3.1. Pengambilan Contoh Uji .......................................................

  38

  3.6.3.2. Metode Analisa SO 2 dengan Pararosanilin ............................

  39 3.7. Defenisi Operasional Variabel ....................................................

  41 3.8. Aspek Pengukuran .....................................................................

  42 3.9. Analisis Data .............................................................................

  42 BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Daerah Penelitian ..........................................

  43 4.2. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...........................................

  44 4.3. Hasil Penelitian ..........................................................................

  DAFTAR LAMPIRAN

  

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Ukuran Partikel Debu dalam Saluran Pernapasan .....................

  2 di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasutuion ......................................................

  2 di jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution Berdasarkan Jumlah Pohon .............

  48 Tabel 4.7. Perbedaan Kadar Gas CO dan SO

  2 di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution Berdasarkan Volume Lalu Lintas ....

  47 Tabel 4.6. Perbedaan Kadar Gas CO dan SO

  47 Tabel 4.5. Hasil Pengukuran Arah Angin, Kelembaban dan Suhu di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution .............................

  46 Tabel 4.4. Perbedaan Banyaknya Pohon di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution .................................................................

  46 Tabel.4.3. Hasil Pengukuran Volume Lalu Lintas di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan jend. A.H. Nasution ..................................................

  45 Tabel 4.2. Hasil pengukuran Kadar Gas SO

  10 Tabel 2.2. Sumber Pencemaran CO ..........................................................

  33 Tabel 4.1. Hasil Pengukuran Gas Co di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution ..........................................................................

  31 Tabel 2.8. Tumbuhan Penyerap Gas SO x ...................................................

  

2

..................................................

  31 Tabel 2.7. Tumbuhan Penyerap Gas NO

  30 Tabel 2.6. Tumbuhan Penyerap Debu .......................................................

  29 Tabel 2.5. Tumbuhan Penyerap Gas CO 2 ...................................................

  26 Tabel 2.4. tumbuhan Penyerap Gas CO ....................................................

  23 Tabel 2.3. Sumber Pencemaran SO x ..........................................................

  48

  

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Lokasi Penelitian di Jl. Dr. Mansyur (Titik I)

  Lokasi Penelitian di Jl. Jend. A.H. Nasution (Titik II) Gambar 2.

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian .....................................

  35

  

DAFTAR ISTILAH

Singkatan : Singkatan dari

  CO : Karbon Monoksida CO

  2 : Karbon Dioksida

  SO

  2 : Sulfur Dioksida

  SO x : Sulfur Oksida NO

  2

  : Nitrogen Dioksida Hb : Hemoglobin COHb : Karboksihemoglobin O

2 Hb : Oksihemoglobin

  WHO : World Health Organization RTH : Ruang Terbuka Hijau RTRW : Rencana Tata Ruang Wilayah BPS : Badan Pusat Statistik Dishub : Dinas Perhubungan BTKLPP : Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  Nama : Cut Tatiana Rosa Tempat Lahir : Kuala Tanggal Lahir : 17 Agustus 1992 Suku Bangsa : Aceh Agama : Islam Nama Ayah : Drs. Syahrumsyah Suku Bangsa Ayah : Aceh Nama Ibu : Dra. Hj. Rosdiana, Apt.

  Suku Bangsa Ibu : Melayu Pendidikan Formal

  1. SD/Tamat Tahun : SD Negeri 20117 Padangsidimpuan/2004

  2. SMP/Tamat Tahun : SMP Negeri 1 Padangsidimpuan/2007

  3. SLTA/Tamat Tahun : SMA Negeri 1 Matauli Pandan/2010

  4. Lama studi di FKM USU : 2010-2015

  

ABSTRAK

  Pencemaran udara di perkotaan didominasi sebanyak 70% oleh aktifitas kendaraan bermotor. Karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO

  2 ) termasuk

  polutan yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor dan juga termasuk sebagai parameter pencemaran udara. Apabila konsentrasinya di udara melebihi baku mutu dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia.

  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar CO dan SO2 di udara berdasarkan volume lalu lintas dan banyaknya pohon di Jl. Dr. Mansyur dan Jl. Jenderal A.H. Nasution di kota Medan tahun 2015.

  Metode penelitian yang digunakan adalah survei yang bersifat deskriptif yaitu untuk mengetahui gambaran perbedaan kadar karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO

  2 ) di udara berdasarkan volume lalu lintas dan banyaknya pohon di Jl. Dr. Mansyur dan Jl. Jend. A.H. Nasution di kota Medan tahun 2015.

  Hasil penelitian ini adalah kadar gas CO dan SO

  2 tertinggi terdapat pada

  Jl. Jenderal A.H. Nasution dengan volume lalu lintas tertinggi dan jumlah pohon

  3

  2

  dan kadar SO yang lebih sedikit yaitu kadar CO sebanyak 17.750 µg/Nm

  3

  , sedangkan kadar gas CO dan SO

  2 terendah terdapat pada

  sebanyak 69,93 µg/Nm Jl. Dr. Mansyur dengan volume lalu lintas terendah dan jumlah pohon yang lebih

  3

  dan kadar SO

  2 sebanyak 59,05

  banyak yaitu kadar CO sebanyak 9.161 µg/Nm

  3 .

  µg/Nm Kesimpulan dari penelitian ini adalah kadar CO dan SO lebih banyak

  2

  terdapat pada jalan raya dengan volume lalu lintas yang tinggi dan jalan raya yang minim pohon. Oleh karena itu perlu diupayakan penanaman pohon atau tanaman lain yang berpotensi menyerap polutan udara pada jalan raya yang padat aktifitas lalu lintasnya.

  Kata kunci: Kadar CO, Kadar SO 2 , volume lalu lintas, pohon.

  

ABSTRACT

Air pollution in urban area dominated by as much as 70% by vehicle activity. Carbon monoxide (CO) and sulfur dioxide (SO

  2 ) are included as the

pollutants that produced by vehicle and also included as air quality parameters. If

the concentration in air exceeds the quality standard can cause health promblems

for humans.

  The objective of research would be to know the difference of CO and SO

  2

concentration in air by virtue of the traffic volume and quantity of tree at Jl. Dr.

  Mansyur and Jl. Jend. A.H. Nasution in Medan city for 2015.

  This research used survey and descriptive method in order to know the

description about difference of CO and SO concentrations in air by virtue of

  2

traffic and quantity of tree at Jl. Dr. Mansyur and Jl. Jend. A.H. Nasution in

Medan city for 2015.

  

The result of research the highest concentration of CO and SO

2 were

found at Jl. Jend. A.H. Nasution with the highest traffic volume and less of tree

  3

  3 and the number of SO , with the number of CO is 17.750 µg/Nm

  2 is 69,93 µg/Nm while the lowest concentration of CO and SO 2 were found at Jl. Dr. Mansyur

with the lowest traffic volume and many more of tree with the number of CO is

  3

  3 and the number of SO 2 . 9.161 µg/Nm is 59,05 µg/Nm The conclusions of this research is concentrations of CO and SO were

  2

found on highway with high traffic volume and less of tree. Therefore it would be

necessary to grow tree or other plant that can assorb air pollutant on the highway

with hectic traffic acitivity.

  Keywords: CO concentracion, SO 2 consentracion, traffic volume, tree.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Udara sebagai sumber daya alam yang mempengaruhi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya harus dijaga dan dipelihara kelestarian fungsinya untuk pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan manusia serta perlindungan bagi makhluk hidup lainnya (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara).

  Pencemaran udara baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan dapat menimbulkan penyakit pada manusia. Pada tahun 2012 WHO melaporkan bahwa sekitar 7 juta kematian atau 1/8 dari jumlah kematian global disebabkan oleh pajanan pencemaran udara. Kematian tertinggi berada di negara-negara dengan penghasilan rendah sampai menengah yaitu pada daerah Asia Tenggara dan Pasifik Barat dengan 3,3 juta kematian yang disebabkan pencemaran udara di dalam ruangan dan 2,6 juta kematian yang disebabkan pencemaran udara di luar ruangan (WHO, 2014).

  Transportasi mempunyai peranan penting dan strategis di dalam mendukung, mendorong dan menunjang segala aspek kehidupan baik dalam pembangunan politik, ekonomi sosial budaya dan pertahanan keamanan (Transmedia, 2012). Pertumbuhan pembangunan seperti industri, transportasi, dan lain-lain disamping memberikan dampak positif namun disisi lain akan memberikan dampak negatif dimana salah satunya berupa pencemaran udara dan kebisingan yang terjadi di dalam ruangan maupun di luar ruangan yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan terjadinya penularan penyakit.

  Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran, dan perumahan. Berbagai kegiatan tersebut merupakan kontribusi terbesar dari pencemar udara yang dibuang ke udara bebas.

  Jumlah kendaraan bermotor di Indonesia tercatat sebanyak 94,323 juta unit pada tahun 2012 yang meningkat dari tahun 2011 berjumlah sekitar 85,601 juta unit (BPS, 2012). Namun Korps Lalu intas Kepolisian Republik Indonesia mencatat bahwa populasi kendaraan bermotor di Indonesia berjumlah 104,21 juta unit pada tahun 2013 yang meningkat 11% dari tahun 2012 (Kompas, 2014). Jumlah kendaraan bermotor di provinsi Sumatera Utara tercatat sebanyak 4.982.417 unit (BPS Sumut, 2012). Sedangkan data terakhir di kota Medan jumlah kendaraan bermotor tercatat sebanyak 2.708.511 unit yang terdiri dari 222.891 unit mobil penumpang, 144.865 unit mobil gerobak, 22.123 unit bus, dan 2.318.632 unit sepeda motor pada tahun 2009 (Dishub Medan, 2010). Data tersebut menunjukkan bahwa kendaraan bermotor bermesin bensin lebih banyak dibandingkan kendaraan bermotor mesin diesel.

  Seiring bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di kota Medan akan berdampak pada volume lalu lintas di semua jalan raya. Perkembangan volume lalu lintas di perkotaan mencapai 15% setiap tahun. Transportasi di kota-kota besar merupakan sumber pencemaran udara yang terbesar, dimana 70% pencemaran udara di perkotaan disebabkan oleh aktivitas kendaraan bermotor. Parameter polusi udara dari kendaraan bermotor seperti karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NO x ), methane (CH

  4 ), sulfur dioksida (SO 2 ) dan partikel dapat

  menimbulkan efek terhadap pemanasan global (Kusminingrum dan Gunawan, 2008).

  Dengan laju pertambahan jumlah kendaraan bermotor umumnya di kota- kota besar. Laju pertumbuhan kendaraan di kota Medan dapat dikatakan sangat pesat karena data terakhir pada tahun 2009 jumlah kendaraan bermotor adalah 2.708.511 unit, sementara pada tahun 2007 jumlah kendaraan bermotor di kota Medan adalah 1.425.943 unit. Data tersebut menunjukkan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di kota Medan pada tahun 2007-2009 adalah 89,9%.

  Gas karbon monoksida (CO) yang dihasilkan dari kendaraan bermesin bensin adalah sekitar 1% pada saat berjalan dan 7% pada saat kendaraan berhenti.

  Sedangkan dari kendaraan bermesin diesel menghasilkan gas karbon monoksida (CO) sekitar 0,2% pada saat berjalan dan 4% pada saat berhenti (Nugroho dalam Harahap, 2013). Pencemaran sulfur dioksida (SO

  2 ) di udara utamanya berasal dari

  penggunaan batubara untuk keperluan industri, transportasi dan lain-lain. Gas sulfur dioksida (SO

  2 ) dihasilkan sebanyak 0,6% dari mobil bermesin bensin, 0,3% dari mobil bermesin diesel dan 0,3% dari sepeda motor (Wardhana, 2004).

  Penelitian Kusminingrum (2009) menyebutkan bahwa untuk antisipasi terhadap dampak terjadinya pemanasan global, dapat dikurangi melalui penanaman tanaman sesuai dengan fungsinya. Menurut hasil penelitian Kusminingrum dan Gunawan (2008), dapat disimpulkan bahwa setiap tanaman memiliki kemampuan yang berbeda untuk menyerap polutan CO, demikian apabila tanaman-tanaman tersebut dikombinasikan. Penelitiannya menunjukkan bahwa rata-rata tanaman yang ditelitinya dapat menyerap lebih dari 50% gas CO dari konsentrasi yang dikondisikan. Demikian pula Harahap (2012) pada penelitiannya menemukan bahwa kadar gas CO dan NO

  2 yang terdapat pada udara

  ambien jalan raya yang ditanam pohon angsana (Pterocarpus Indicus) lebih rendah dibandingkan dengan jalan yang tidak ditanami pohon angsana (Pterocarpus Indicus).

  Hasil observasi pendahuluan yang telah dilakukan oleh penulis jalan Dr. Mansyur ditanami pohon Mahoni (Swietania Macrophylla) sedangkan di jalan Jend. A.H. Nasution ditanami pohon Angsana (Pterocarpus Indicus). Jalan Dr.

  Mansyur merupakan salah satu jalan di kota medan yang termasuk kategori arteri sekunder yang perannya untuk pelayanan jasa distribusi jasa masyarakat di dalam kota dengan lebar jalan 26 meter. Jalan Jend. A.H. Nasution merupakan salah satu jalan di kota Medan yang termasuk kategori arteri primer yang pelayanan jasa distribusinya adalah semua wilayah tingkat nasional dengan lebar jalan 40 meter.

  Perbedaan jenis dan jalan tentu berpengaruh terhadap volume lalu lintas di kedua jalan tersebut. Hasil observasi observasi pendahuluan volume lalu lintas yang dihitung pada pukul 13.00-14.00 dan 16.00-17.00 WIB dengan hasil volume lalu lintas pada pukul 13.00-14.00 di jalan Dr. Mansyur adalah 4812 kendaraan/jam, sedangkan di jalan Jend. A.H. Nasution adalah 6676 kendaraan/jam. Volume lalu lintas pada pukul 16.00-17.00 di jalan Dr. Mansyur adalah 2863 kendaraan/jam, sedangkan di jalan Jend. A.H. Nasution adalah 6805 kendaraan/jam.

  Berdasarkan uraian tersebut penulis tertarik melakukan penelitian tentang perbedaan kadar CO dan SO

  2 di udara ambien berdasarkan volume lalu lintas dan

  banyaknya pohon di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution di kota Medan tahun 2015.

  1.2. Perumusan Masalah

  Jalan raya merupakan tempat terjadinya pencemaran udara oleh emisi gas buang dari kendaraan bermotor seperti karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO2). Jumlah kendaraan bermotor di kota Medan kurang lebih setengah dari jumlah kendaraan bermotor yang terdaftar di provinsi Sumatera Utara. Dari observasi yang telah dilakukan, terdapat perbedaan volume lalu lintas di jalan Dr. Mansyur dengan jalan Jend. A.H. Nasution dengan selisih sekitar 2000 kendaraan. Pohon yang ditanam di kedua jalan tersebut juga berbeda, pada jalan Dr. Mansyur ditanami pohon Mahoni (Swietania Macrophylla) sedangkan di Jalan Jend. A.H.

  Nasution ditanami pohon Angsana (Pterocarpus Indicus). Kedua jalan tersebut juga memiliki lebar jalan dan cakupan pelayanan yang berbeda pula. Dengan demikian, maka perlu diadakan penelitian terhadap kadar karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO

  2 ) berdasarkan volume lalu lintas dan banyaknya pohon di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution di kota Medan tahun 2015.

  1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

  Untuk mengetahui perbedaan kadar karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO

  2 ) di udara berdasarkan volume lalu lintas dan banyaknya pohon di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution di kota Medan tahun 2015.

1.3.2. Tujuan Khusus

  1. Untuk mengetahui kadar karbon monoksida (CO) di udara pada jalan raya yaitu Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution.

  2. Untuk mengetahui kadar sulfur dioksida (SO

  2 ) di udara pada jalan raya yaitu Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution.

  3. Untuk mengetahui perbandingan volume lalu lintas di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution.

  4. Untuk mengetahui perbedaan banyaknya pohon di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution.

  5. Untuk mengetahui arah angin, suhu dan kelembaban di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution.

  6. Untuk mengetahui perbedaan kadar gas CO dan SO

  2 di udara berdasarkan volume lalu lintas di jalan Dr. Mansyur dan jalan Jend. A.H. Nasution.

  7. Untuk mengetahui perbedaan kadar gas CO dan SO

  2 di udara berdasarkan banyaknya pohon yang terdapat di jalan Dr. Mansyur dan jalan Jend. A.H.

  Nasution

1.4. Manfaat Penelitian

  1. Sebagai bahan masukan dan sumbangan pemikiran bagi masyarakat khususnya pengguna jalan raya tentang dampak kesehatan yang ditimbulkan dari karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO 2 ).

  2. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis tentang perbedaan kadar karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO

  2 ) berdasarkan

  volume lalu lintas dan banyaknya pohon di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution.

  3. Sebagai masukan informasi bagi peneliti selanjutnya khususnya Mahasiswa FKM USU mengenai karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO

  2 ).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Udara

  2.1.1. Pengertian Udara

  Udara merupakan campuran dari beberapa gas dengan perbandingan yang tidak tetap. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor yaitu kondisi suhu udara, tekanan udara dan lingkungan sekitarnya. Udara juga merupakan atmosfer yang berada di sekeliling bumi yang dibutuhkan oleh proses kehidupan di bumi. Dalam udara terdapat oksigen (O

  2 ) untuk makhluk hidup bernafas, karbondioksida (CO 2 )

  untuk proses fotosintesis oleh klorofil pada tumbuhan dan ozon (O

  3 ) yang berfungsi menahan sinar ultraviolet (Wardhana, 2004).

  Atmosfer yang menyelimuti bumi tersusun oleh bermacam-macam gas. Komposisi atmosfer pada umumnya sebagai berikut :

  a. Nitrogen (N

  2 ) = 78%

  b. Oksigen (O

  2 ) = 21%

  c. Argon (Ar) = 0,9%

  d. Karbondioksida (CO 2) = 0,03% Sisanya berupa gas-gas lain seperti helium (He), hidrogen (H ), xenon

  2

  (Xe), ozon (O

  3 ), uap air dan partikel-partikel kecil debu atau aerosol (Aldrian dkk, 2011).

  2.1.2. Pengertian Pencemaran Udara

  Menurut WHO (2014), pencemaran udara adalah salah satu pencemaran lingkungan yang terjadi di udara baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan oleh bahan kimia, agen fisik atau agen biologis yang mengubah kondisi alami dari atmosfer.

  Pencemaran udara diartikan sebagai masuknya zat-zat atau bahan-bahan asing di dalam udara yang menyebabkan udara tidak lagi dalam kondisi normal atau kondisi semula (Wardhana, 2004).

  Pencemaran udara adalah bertambahnya substrat fisik atau kimia dalam jumlah tertentu ke dalam lingkungan udara yang dalam kondisi normal, sehingga dapat dideteksi manusia (dapat dihitung dan diukur) serta dapat memberikan dampak kepada manusia, hewan, vegetasi dan material (Chamberss da Masters dalam Mukono,2006).

  Pencemaran udara adalah masuknya komponen lain ke dalam udara, baik oleh kegiatan manusia secara langsung atau tidak langsung akibat proses alam sehingga kualitas udara menurun sampai ke tingat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak bisa berfungsi lagi sesuai peruntukannya (Chandra, 2006).

2.1.3. Penyebab Pencemaran Udara

  Menurut Wardhana (2004), secara umum penyebab terjadinya pencemaran udara terdapat 2 macam, yaitu : a. Faktor internal (faktor alamiah), misalnya : 1) Debu di udara karena tiupan angin.

  2) Debu akibat bencana alam seperti meletusnya gunung berapi. 3) Proses pembusukan sampah organik.

  b. Fator eksternal (aktivitas manusia), misalnya :

  1) Hasil pembakaran bahan bakar fosil. 2) Debu dari kegiatan industri. 3) Pemakaian zat kimia yang disemprotkan ke udara.

2.1.4. Klasifikasi Jenis Polutan Udara

  Menurut Chandra (2006), jenis polutan dapat dibagi berdasarkan struktur kimia dan penampang partikelnya, yaitu : a. Struktur kimia :

  1) Partikel : debu, abu, dan logam seperti timbal, nikel, cadmium dan berilium.

  2) Gas anorganik seperti NO, CO, SO , amonia dan hydrogen.

  2

  3) Gas organik seperti hidrokarbon, benzene, etilen, asetilen, aldehid, keton, alkohol, dan asam-asam organik.

  b. Penampang partikel Partikel udara dapat melekat pada saluran pernapasan manusia sehingga berdampak kepada kesehatan. Penampang partikel tersebut disesuaikan dengan ukuran partikel yang melekat seperti tabel berikut :

Tabel 2.1. Ukuran Partikel Debu dalam Saluran Pernapasan

  Ukuran Saluran Pernapasan 8-25 mikron Melekat di hidung dan tenggorokan 2-8 mikron Melekat di saluran bronkial 0,5-2 mikron Deposit pada alveoli

  <0,5 mikron Bebas keluar masuk melalui pernapasan Sumber : Chandra, 2006. Mukono (2006) mengklasifikasikan jenis polutan atas 2 bagian, yaitu :

  a. Polutan Primer Polutan primer adalah polutan yang laangsung dikeluarkan oleh sumber tertentu seperti : 1) Senyawa karbon yaitu hidrokarbon, hidrokarbon teroksigenasi, dan karbon oksida.

  2) Senyawa sulfur yaitu sulfur oksida. 3) Senyawa nitrogen yaitu nitrogen oksida dan amoniak. 4) Senyawa halogen yaitu fluor, klorin, hidrogenklorida, hidrogenterklorinasi dan bromin 5) Partikel

  Partikel yang berada di atmosfer mempunyai karakteristik yang spesifik, dapat berupa zat padat atau suspense aerosol cair. Bahan partikel tersebut dapat berasal dari kondensasi, proses disperse maupun erosi oleh bahan tertentu. Sedangkan asap seringkali dipakai untuk menunjukkan campuran dari bahan partikulat, uap, gas dan kabut.

  b. Polutan Sekunder Polutan sekunder dimaksudkan kepada polutan yang terbentuk dari reaksi dua bahan kimia atau lebih di udara, misalnya reaksi foto kimia.

  Contohnya disosiasi NO

  2 yang menghasilkan NO dan O radikal. Polutan sekunder memiliki sifat fisik dan sifat kimia yang tidak stabil. Proses kecepatan dan arah reaksi dipengaruhi oleh : 1) Konsentrasi relative dari bahan reaktan. 2) Derajat fotoaktivasi. 3) Kondisi iklim. 4) Topografi lokal dan adanya embun.

2.1.5. Sumber Pencemaran Udara

  Menurut BLH Provinsi DKI Jakarta (2013) sumber pencemar udara mengacu pada berbagai lokasi atau aktivitas yang bertanggung jawab atas lepasnya polutan ke atmosfer. Klasifikasi sumber pencemaran udara yaitu :

  a. Sumber alam atau biogenik yaitu polutan lepas ke udara karena proses alam yang terjadi (tanpa adanya ulah manusia) seperti meletusnya gunung berapi, kebakaran hutan yang disebabkan oleh petir, badai debu dan lain- lain.

  b. Sumber antropogenik dibagi menjadi dua, yaitu : 1) Sumber tidak bergerak terbagi atas sumber titik dan sumber area.

  Sumber titik adalah polutan udara bersumber pada titik tetap seperti cerobong asap, tangki penyimpanan dan pembakaran di tempat pembuangan akhir sampah (TPA). Sedangkan sumber area adalah serangkaian sumber-sumber kecil pada suatu area yang bersama-sama dapat menghasilkan polutan udara seperti pembakaran bahan bakar di rumah tangga, kebakaran hutan, kegiatan konstruksi dan jalan tanpa aspal.

  2) Sumber bergerak dimaksudkan kepada benda yang bergerak dan melepaskan polutan ke udara, terbagi atas yang bergerak di jalan dan yang bukan bergerak di jalan. Sumber yang bergerak di jalan seperti mobil, sepeda motor dan becak motor. Sedangkan sumber yang bukan bergerak di jalan seperti kapal laut, pesawat udara dan traktor.

  Menurut Chandra (2006) sumber pencemaran udara terbagi atas dua, yaitu:

  a. Sumber pencemaran yang berasal dari kegiatan alam. Contohnya seperti kebakaran hutan, kegiatan gunung berapi dan lainnya b. Sumber pencemaran buatan manusia ( dari aktivitas manusia). Contoh :

  1) Sisa pembakaran bahan bakar minyak oleh kendaraan bermotor seperti gas CO, CO

  2 , NO, karbon, hidrokarbon, aldehid dan timbal

  2) Limbah industri kimia, metalurgi, tambang, pupuk dan minyak bumi.

  3) Sisa pembakaran dari gas alam, batubar dan minyak seperti asap, debu dan sulfur oksida.

  4) Sisa dari kegiatan lainnya seperti pertanian, hutan, sampah dan limbah reaktor nuklir.

2.1.6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pencemaran Udara

  Pencemaran udara yang terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

  a. Meteorologi dan Ikim 1) Temperatur

  Pergerakan mendadak lapisan udara dingin ke suatu kawasan industri dapat menimbulkan inversi atmosfer, yaitu kondisi dimana udara dingin akan terperangkap dan tidak dapat keluar dari kawasan tersebut dan akan menahan polutan tetap berada di permukaan bumi sehingga konsentrasinya semakin lama semakin meningkat. Pada keadaan tersebut, di permukaan bumi dapat dikatakan tidak ada pertukaran udara sama sekali. Kondisi tersebut dapat bertahan hingga beberapa hari atau beberapa minggu, maka udara yang berada dekat dengan permukaan bumi akan penuh akan polutan sehingga dapat menimbulkan keadaan yang kritis bagi kesehatan. 2) Arah dan kecepatan angin

  Kecepatan angin yang kuat dapat membawa polutan kemanapun sesuai arahnya sehingga dapat mencemari daerah lain pada jarak yang jauh. Sebaliknya, kecepatan angin yang lemah polutan akan menetap dan semakin bertambah di kawasan sumber pencemarnya.

  3) Hujan Air hujan sebagai pelarut umum akan melarutkan bahan polutan yang terdapat di udara. Kawasan industri yang menggunakan batubara akan menghasilkan gas sulfur dioksida dan apabila gas tersebut bercampur dengan air hujan akan terbentuk asam sulfat sehingga air hujan bersifat asam yang biasa dikenal dengan hujan asam. b. Topografi 1) Dataran rendah

  Di dataran rendah, angin cenderung membawa polutan terbang ke seluruh penjuru daerahnya dan dapat melewati batas negara dan mencemari udara di negara lain. 2) Dataran tinggi

  Di dataran tinggi sering terjadi inversi atmosfer sehingga polutan hanya berada di kawasan tersebut. Sehingga tetap menahan polutan berada di permukaan bumi. 3) Lembah

  Di daerah lembah, aliran angin sedikit sekali dan tidak bertiup ke segala arah. Keadaan ini akan menahan polutan yang ada di permukaan bumi (Chandra, 2006).

2.1.7. Efek Pencemaran Udara

  Menurut Chandra (2006) efek pencemaran udara terbagi atas :

  a. Efek umum 1) Meningkatkan angka kesakitan dan kematian pada makhluk hidup.

  2) Mempengaruhi kuantitas dan kualitas matahari yang sampai ke permukaan bumi sehingga mempengaruhi proses fotosintesis pada tumbuhan. 3) Mempengaruhi dan mengubah ikim akibat terjadinya peningkatan kadar CO

  2 di udara. Kondisi ini akan menahan panas tetap berada dibawah atmoser sehingga terjadi efek rumah kaca (green house effect).

  4) Pencemaran udara dapat merusak materi yang terbuat dari logam. 5) Meningkatkan biaya perawatan properti bangunan. 6) Mengganggu penglihatan yang dapat berakibat pada meningkatnya angka kasus kecelakaan transportasi.

  7) Menyebabkan warna kain dan pakaian buram dan bernoda.

  b. Efek terhadap ekosistem Industri yang menggunakan batibara sebagai sumber energi akan melepaskan zat sulfur oksida ke udara sebagai sisa pembakarannya. Zat tersebut akan bereaksi dengan air hujan dan membentuk asam sulfat sehingga air hujan bersifat asam. Apabila kondisi ini berlangsung dalam waktu yang lama, akan terjadi perubahan pada ekosistem perairan danau dan kehidupan di daratan.

  c. Efek terhaap kesehatan 1) Efek cepat

  Hasil studi epidemiologi menunjukkan bahwa peningkatan mendadak kasus pencemaran udara juga akan meningkatkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit saluran pernapasan. 2) Efek lambat

  Pencemaran udara diduga sebagai salah satu penyebab penyakit bronchitis kronis dan kanker paru-paru primer. Penyakit lain yang disebabkan oleh pencemaran udara adalah emfisema paru, black

  lung disease, asbestosis, siliksis, bisinosis, penyakit asma and eksema pada anak.

  d. Efek terhadap tumbuhan dan hewan Tumbuh-tumbuhan bersifat sensitif terhadap gas-gas pencemar udara.

  Apabila terjadi pencemaran udara, konsentrasi gas polutan akan meningkat sehingga menyebabkan daun tumbuhan berlubang dan layu. Ternak juga akan sakit jika memakan tumbuh-tumbuhan yang tercemar gas florin.

  e. Efek terhadap cuaca dan iklim Gas karbon dioksida memiliki sifat menahan panas tetap pada lapisan bawah atmosfer sehingga terjadi efek rumah kaca (green house effect).

  Menurut Aldrian dkk (2011), hal tersebut mengakibatkan perubahan cuaca yang tidak tentu dan perubahan iklim dengan 4 indikator yaitu perubahan suhu daratan, peningkatan curah hujan ekstrem, maju mundurnya musim dan perubahan jumlah volume hujan.

  f. Efek terhadap sosial dan ekonomi Pencemaran udara mengakibatkan bertambahnya biaya perawatan properti bagunan karena rusak dan pemeliharaannya akibat pencemaran udara.

  Selain itu pencemaran udara juga memberi dampak kerugian akibat kontaminasi polutan udara pada bahan makanan dan minuman, juga mengeluarkan biaya ekstra untuk mengendalikan pencemaran udara yang terjadi.

  Efek bahan pencemar udara terhadap lingkungan menurut Mukono (2006) adalah : a. Efek terhadap kondisi fisik atmosfer

  Dampak yang diakibatkan polutan udara terhadap kondisi fisik atmosfer adalah :

  1. Gangguan jarak pandang

  2. Memberikan warna tertentu terhadap atmosfer

  3. Mempengaruhi struktur awan

  4. Mempengaruhi keasaman air hujan

  5. Mempercepat pemanasan atmosfer

  b. Efek terhadap faktor ekonomi Bahan pencemar udara juga berdampak terhadap faktor ekonomi seperti : 1. Meningkatkan biaya rehabilitasi karena rusaknya bahan (keropos).

  2. Meningkatnya biaya pemeliharaan (pelapisan, pengecatan).

  3. Kerugian akibat kontaminasi bahan pencemar udara pada makanan atau minuman oleh bahan beracun.

  4. Meningkatnya biaya perawatan penyakit yang disebabkan oleh pencemaran udara.

  c. Efek terhadap vegetasi

  1. Perubahan morfologi, pigmen, dan kerusakan fisiologi sel tumbuhan terutama pada daun.

  2. Mempengaruhi pertumbuhan vegetasi.

  3. Mempengaruhi proses reproduksi tanaman.

  4. Mempengaruhi komposisi komunitas tanaman.

  5. Terjadi akumulasi bahan pencemar pada tanaman tertentu.

  d. Efek terhadap kehidupan binatang Efek dapat terjadi pada binatang peliharaan atau binatang liar dengan terjadinya proses bioakumulasi dan keracunan bahan berbahaya.

  e. Efek estetika Efek estetik yang diakibatkan oleh adanya bahan pencemar udara antara lain adanya bau dan adanya lapisan debu pada bahan atau materi yang mengakibatkan perubahan warna permukaan bahan dan kerusakan pada bahan tersebut.

  f. Efek terhadap kesehatan manusia pada umumnya Secara umum, efek kesehatan yang ditimbulkan oleh bahan pencemar udara adalah :

  1. Sakit akut maupun kronis.

  2. Penyakit yang tersembunyi, memperpendek umur, menghambat pertumbuhan dan perkembangan.

  3. Mengganggu fungsi fisiologis paru-paru, saraf, darah dan kemampuan sensorik.

  4. Kemunduran penampilan pada aktivitas atlet, aktivitas motorik dan aktivitas belajar.

  5. Iritasi sensorik.

  6. Penimbunan bahan berbahaya dalam tubuh.

  7. Rasa tidak nyaman oleh bau. g. Efek terhadap saluran pernafasan

  1. Iritasi pada saluran pernafasan sehingga menyebabkan pergerakan silia menjadi lambat, bahkan dapat berhenti sehingga tidak membersihkan saluran pernafasan.

  2. Peningkatan produksi lendir akibat iritasi oleh bahan pencemar.

  3. Produksi lendir mengakibatkan penyempitan saluran pernafasan.

  4. Rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasan.

  5. Pembengkakan saluran pernafasan dan merangsang pertumbuhan sel sehingga saluran pernafasan semakin sempit.

  6. Lepasnya silia dan lapisan sel selaput lendir.

  7. Dari semua efek di atas, akan mengakibatkan terjadinya kesulitan bernafas, sehingga benda asing yang masuk tidak dapat dikeluarkan sehingga terjadinya infeksi saluran pernafasan.

2.1.8. Pengendalian Pencemaran Udara

  WHO (2014) menyatakan ada beberapa kebijakan yang efektif pada transportasi, perencanaan kota, sumber energi dan industri, dan pengelolaan sampah yang dapat mengurangi pencemaran udara seperti :

  a. Untuk industri Teknologi bersih yang dapat mengurangi emisi dari cerobong asap industri. Dalam hal ini termasuk pengelolaan sampah perkotaan dan pertanian untuk menggunakan gas metana yang dihasilkan oleh tempat penampungan sampah sebagai biogas.

  b. Untuk transportasi Beralih kepada kegiatan dengan kategori energi bersih. Seperti memprioritaskan pemakaian kendaraan umum, berjalan kaki atau naik sepeda di perkotaan dan memiliki kendaraan yang ramah lingkungan.

  c. Untuk perencanaan kota Meningkatkan efisiensi energi untuk bangunan dan membuat penataan kota yang rapi. Untuk Indonesia setiap kawasan perkotaan diwajibkan memiliki ruang terbuka hijau (RTH) setidaknya 30% dari wilayah kota dalam tata ruang kota tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 15 Tahun 2008

  d. Untuk pembangkit listrik Peningkatan penggunaan bahan bakar rendah emisi dan sumber daya terbarukan tanpa pembakaran seperti pembangkit listrik tenaga angin atau tenaga air.

  e. Untuk pengeolaan sampah kota dan pertanian Strategi untuk mengurangi limbah, pemisahan sampah, daur ulang dan penggunaan kembali atau limbah daur ulang. Serta pengolahan limbah biologis seperti limbah pencernaan atau pertanian untuk menghasilkan biogas dan biodiesel.

2.2. Karbon Monoksida (CO)

2.2.1. Sumber Pencemaran Gas CO

  Karbon Monoksida (CO) adalah gas tidak berwarna dan tidak berbau yang bersifat racun terhadap manusia. Gas tersebut adalah hasil pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar dan hasil dari proses alami biotranformasi halometana yang ada di tubuh manusia (WHO, 1999).

  Sektor transportasi merupakan penyumbang utama pencemaran udara di daerah perkotaan. Sumber gas CO berasal dari sumber alami dan antropogin (aktivitas manusia). Sumber antropogin seluruhnya berasal dari sisa pembakaran bahan organik. Pembakaran bahan organik ini dimaksudkan untuk mendapatkan energi kalor yang digunakan untuk berbagai keperluan seperti transportasi, pembakaran batubara dan lain-lain. Sumber antropogin gas karbon monoksida (CO) di udara terbesar dihasilkan oleh kegiatan transportasi yaitu dari kendaraan bermotor berbahan bakar bensin sebesar 65,1% (Suhardjana dalam Kusminingrum, 2008).

  Menurut Wardhana (2004), secara umum pembentukan gas CO melalui proses seperti berikut ini :

  1. Pembakaran bahan bakar fosil dengan udara yang reaksinya tidak stokhiometris pada harga ER > 1. Dalam hal ini bahan bakar yang digunakan lebih banyak daripada jumlah udara, reaksinya adalah :

  

  2C O +

  2

  2CO

  2. Pada suhu tinggi terjadi reaksi antara karbondioksida (CO

  2 ) dengan karbon

  C yang menghasilkan gas CO. Hal ini dikarenakan pembentukan gas CO lebih cepat dibandingkan raksi pembentukan gas CO

  2 . Apabila

  pencampuran bahan bakar dan udara tidak rata, maka masih ada karbon (C) yang tidak berhubungan dengan oksigen sehingga memungkinkan terbentuknya gas CO reaksinya adalah :

  C 

  2CO + CO

  2

  3. Pada suhu tinggi, CO 2 dapat terurai kembali menjadi CO dan oksigen.

  Reaksinya adalah : CO

  2  + CO O

Tabel 2.2. Sumber Pencemaran CO

  Sumber Pencemaran % bagian % total 63,8

  Transportasi

  • mobil bensin 59,0
  • mobil diesel 0,2
  • pesawat terbang (dapat diabaikan) 2,4
  • kereta api 0,1
  • kapal laut

  0.3

  • sepeda motor 1,8

  Pembakaran Stasioner

  1,9

  • batubara 0,8
  • minyak 0,1
  • gas alam (dapat diabaikan) 0,0
  • kayu

  1,0

  Proses Industri

  9,6

  Pembuangan Limbah Padat 7,8

  16,9

  Lain-lain :

  • kebakaran hutan 0,0
  • pembakaran batubara sisa 1,2
  • pembakaran limbah pertanian 8,3
  • pembakaran lain-lainnya 0,2

  Total 100 100 Sumber : Wardhana (2004)

2.2.2. Pengaruh Gas CO Terhadap Kesehatan

  Gangguan kesehatan oleh gas CO di udara ambien adalah terbentuknya ikatan dengan molekul hemoglobin (Hb) di dalam darah sehingga membentuk karboksihemoglobin (COHb) yang seharusnya hemoglobin mengikat oksigen dalam darah. Terurainya oksihemoglobin (O

  2 Hb) juga disebabkan oleh adanya

  atau hadirnya karboksihemoglobin (COHb), sehingga suplai oksigen ke jaringan menjadi berkurang (WHO,1999).

  Karbon monoksida (CO) apabila masuk ke dalam paru-paru akan mengikuti peredaran darah akan menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun metabolis, yaitu ikut bereaksi secara metabolis dengan darah. Sama seperti oksigen, gas CO mudah bereaksi dengan darah (hemoglobin) :

  

  • Hb O

  2 O

  2 Hb

  • Hb CO  COHb (Wardhana, 2001) Ternyata ikatan COHb jauh lebih stabil dibandingkan dengan O 2 Hb.

  Kestabilan hemoglobin terhadap karbon monoksida adalah 240 kali kestabilan terhadap oksigen (WHO, 1994). Kondisi ini diartikan darah lebih mudah mengikat gas CO dan mengganggu fungsi vital darah sebagai pegangkut oksigen (Wardhana, 2001).

  Pengaruh gas CO terhdap tubuh manusia teryata tidak sama untuk manusia yang satu dengan yang lain. Faktor daya tahan tubuh manusia ikut menentukan toleransi tubuh terhadap pengaruh adanya gas CO. Para olahragawan pada umumnya mempunyai toleransi yang tinggi terhadap racun gas CO. Pada orang yang menderita anemia dan anak-anak akan mudah keracunan oleh gas CO. keracunan gas CO ditandai dari keadaan yang ringan seperti pusing, sakit kepala dan mual. Keadaan yang lebih berat dapat berupa menurunnya kemampuan gerak tubuh, gangguan pada sistem kardiovaskular, serangan jantung sampai kepada kematian.

  Konsentrasi gas CO sampai dengan 100 ppm masih dianggap aman jika waktu terpajan hanya sebentar. Gas CO sebanyak 30 ppm jika terhirup selama 8 jam akan menimbulkan rasa pusing dan mual. Konsentrasi CO sebanyak 1000 ppm dengan waktu paparan 1 jam menyebabkan pusing dan kulit berubah menjadi kemerah-merahan. Dengan waktu paparan yang sama, gas CO sebanyak 1300 ppm kulit akan berubah langsung menjadi merah tua disertai rasa pusing yang hebat (Wardhana, 2004).

2.2.3. Pengaruh Gas CO Terhadap Lingkungan

  Gas CO adalah gas buangan yang dihasilkan dari proses alami dan aktifitas manusia. Walaupun konsentrasi gas CO di udara secara global sama, belum ada laporan terbaru yang menyatakan adanya produksi gas CO berdampak pada tumbuhan atau mikroorganisme. Gas CO di udara ambien berdampak kepada kesehatan dan kesejahteraan manusia, tergantung kepada konsentrasi gas, letak tempat tinggal dan tempat kerja serta kemungkinan terpapar oleh gas CO yang berpotensi menimbulkan dampak (WHO, 1999).

2.3. Sulfur Dioksida (SO 2 )

2.3.1. Sumber Pencemaran Gas SO

  2 Gas SO x terdiri atas gas SO

2 dan gas SO

3 yang keduanya memiliki sifat

  yang berbeda. Gas SO

  2 memliki bau yang tajam dan tidak mudah terbakar,

  sedangkan gas SO

  3 bersifat sangat reaktif dengan uap air di udara. Kondisi

  tersebut membentuk asam sulfat (H

2 SO 4 ). Asam sulfat sangat reaktif dan dapat merusak materi seperti proses pengkaratan dan yang lainnya (Wardhana, 2004).

  Menurut WHO (2000), pencemaran udara oleh SO x berasal dari pemakain batubara yang dgunakan pada industri, transportasi dan yang lainnya dengan penjelasan sebagai berikut : a. Pembakaran batubara, batubara alam mengandung sekitar 2-3% sulfur.

  Saat batubara dibakar, sulfur akan berkatan dengan oksigen membentuk SO x.

  b. Peleburan biji sulfida (peleburan dilakukan untuk memisahkan logam dari bjih tambang.

  c. Pembakaran bahan bakar minyak.

  Sulfur dalam batubara berupa mineral besi pirits atau FeS dan dapat pula

  2

  berbentuk mineral logam sulfida lainnya seperti PbS, HgS, ZnS, CuFeS

  2 dan

  Cu

2 S. Dalam proes indutri besi dan baja banyak menghasilan gas SO x karena

  mineral-mneral logam tersebut terikat dalam sulfida. Pada proses peleburannya, sulfida logam diubah menjadi oksida logam. Proses ini juga sekaligus menghilangkan sulfur dari kandungan logam karena sulfur tidak dibutuhkan.

  Reaksinya adalah sebagai berikut : 

  2 ZnS + 3O

  2

  2ZnO + 2SO

  2

  2PbS + 3O  2PbO + 2SO

  2

  2 Adapun penjelasan sumber pencemar gas SO x adalah sebagai berikut:

Tabel 2.3. Sumber Pencemaran SO x

  

Sumber Pencemaran % bagian % total

Transportasi

  2,4

  • mobil bensin 0,6
  • mobil diesel 0,3
  • pesawat terbang (dapat diabaikan) 0,0
  • kereta api 0,3
  • kapal laut 0,9

  Pembakaran Stasioner

  73,5%

  • batubara 60,5%
  • minyak (distilasi) 1,2

  11,8

  • minyak (residu)
  • gas alam (dapat diabaikan) 0,0

  

Sumber Pencemaran % bagian % total

  • kayu

  0,0 22,0

  Proses Industri Pembuangan Limbah Padat 0,3 Lain-lain :

  1,8

  • kebakaran hutan 0,0
  • pembakaran batubara sisa 1,8

  Total 100 100 Sumber : Wardhana (2004)

2.3.2. Pengaruh Gas SO

2 Terhadap Kesehatan

  Udara yang tercemar oleh gas SO x menyebabkan manusia mengalami gangguan pada sistem pernapasannya. Hal ini dkarenakan gas SO mudah menjadi

  x

  asam dapat menyerang selaput lendir pada hidung, tengggorokan, dan saluran nafas yang lain sampai ke paru-paru. Serangan SO x tersebut menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terkena.

  Daya iritasi terhadap gas SO

  2 pada tiap orangg ternyata tidak sama. Pada

  orang yang sensitif, pada konsentrasi gas SO sebnyak 1-2 ppm akan mengalami

  2

  iritasi. Namun ada juga yang pada konsetrasi sebanyak 6 ppm akan mengalami iritasi tenggorokan. Gas SO

  2 sangat berbahaya bagi anak-anak, orang tua dan

  orang yang sedang menderita penyakit saluran pernapasan kronis dan kardiovaskuler. Otot saluran pernapasan dapat mengalami kejang bia teriritasi oleh gas SO dan kejang akan lebih berat jika konsentrasi SO tinggi sementara

  2

  2

  udara di sekitarya rendah. Apabila waktu pajanan dengan gas SO

  2 cukup lama

  maka akan terjadi peradangan hebat pada selaput lendir dan diikuti oleh kelumpuhan sistem pernapasan, kerusakan lapisan ephitelium yang berakhir pada kematian.

  Apabila konsentrasi gas SO relatif mash rendah, 6-12 ppm, dengan waktu

  2

  paparan yang pendek namun terpapar secara berulang, maka gas SO

  2 dapat

  menyebabkan hiperlasia dan metaplasia sel-sel epitel. Jika hal ini terjadi maka keadaan tersebut berlanjut menjadi kanker. Mengingat hal tersebut sebaiknya gas SO

2 tdak terdapat di udara walau dalam konsentrasi yang kecil (Wardhana, 2004).

2.3.3. Pengaruh Gas SO Terhadap Lingkungan

2 Dampak yang terjadi terhadap lingkungan akibat adanya pencemaran gas

  SO adalah terjadinya hujan asam. Gas SO di udaraakan bertemu dengan oksigen

  2

  

2

  sehingga membentuk SO

  3 dengan reaksi berikut:

  2 O

  • SO

  2

  2SO

  3 Udara yang mengandung uap air akan bereaksi dengan SO 2 dan SO

  3

  sehingga membentuk asam sulfit dan sam sulfat dengan reaksi sebagai berikut: SO + H O H SO

  2

  2

  2

  3

  3 H

  • SO

  2 O H

  2 SO

  4 Apabila asam sulfat dan asam sulfit turun ke bumi bersama-sama dengan

  jatuhnya hujan, maka terjadilah hujan asam. Hujan asam sangat merugikan karena dapat merusak tumbuhan dan kesuburan tanah (Wardhana, 2004).

  Hasil penelitian Dahlan (2007) menunjukkan bahwa kerusakan tanaman yang terjadi akibat adanya pencemaran gas SO

  2 adalah nekrosis jaringan tumbuhan, klorosis pada daun, spot lession hingga gugurnya daun tanaman.

2.4. Volume Lalu Lintas

2.4.1. Pengertian Volume Lalu Lintas

  Menurut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 14 Tahun 2006 tentang Manajemen Rekayasa Lalu Lintas di Jalan, volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang melewati titik tertentu pada ruas jalan per satuan waktu, dinyatakan dalam kendaraan/jam atau satuan mobil penumpang (smp)/jam.

  Volume lalu lintas menunjukkan jumlah kendaraan yang melintasi suatu titik pengamatan dalam per satu satuan waktu. Menurut Morlok, E.K. (1991), volume lalu lintas dapat dihitung dengan rumus :

  n qt

  Dimana : q = volume lalu lntas yang melewati suatu titik n = jumlah kendaraan yang melintas t = waktu pengamatan

2.5. Tumbuhan sebagai Penyerap Polutan Udara

2.5.1. Proses Reaksi Reduksi Pencemaran Udara oleh Tanaman

  Gas-gas di udara diserap oleh tanaman melalui stomata atau diserap melalui akar tanaman karena gas terdeposisi oleh air hujan. Gas pencemar yang masuk melalui stomata berada pada lapisan epidermis atas. Stomata pada daun dapat terbuka jika tekanan air dalam tanaman berubah, maka stomata adalah pintu keluar masuknya gas walaupun secara umum terdapat kutin pada lapisan epidermis atas. Epidermis adalah target utama polutan udara, setelah polutan masuk melalui stomata, polutan akan terlarut dengan air yang terdapat di permukaan sel-sel daun. Selanjutnya polutan yang terlarut akan beraksi dengan mesofil. Beberapa tanaman dapat memproduksi polutan menjadi asam organik, gula dan asam amino (Santoso, 2011).

2.5.2. Jenis-jenis Tumbuhan Penyerap Polutan

  a. Tumbuhan Penyerap Gas CO Pada hasil penelitian Kusminingrum (2008), menguraikan beberapa jenis tumbuhan yang dapat menyerap gas CO dengan konsentrasi rata-rata pada kontrol 0,72 ppm, yaitu:

Tabel 2.4. Tumbuhan Penyerap Gas CO Jenis Pohon Nama Tumbuhan Rata-rata penguranagan CO (%) Jenis Pohon

  Ganitri (Eleocarpus sphaericus) 81,53 Bungur (Lagerstoma flos-reginae) 78,75 Cempaka (Michellia champaca) 73,33 Kembang Merak (Caesalpinia pulcherrima) 70,56 Saputangan (Maniltoa grandiflora) 70,28 Tanjung (Mimusops elengi) 69,58 Kupu-kupu (Bauhinia sp) 69,58 Acret (Spathoeda campanulata) 59,44 Asam Kanji (pithecellobium dulce) 37,08 Felicium (Filicium decipiens) 28,75 Galinggem (Bixa orellana) 23,47

  Jenis Perdu

  Iriansis (Impatien sp) 88,61 Dawolong (Acalypha compacta) 86,94 Nusa Indah Merah (Mussaenda erythrophylla) 81,94 Saliara (Lantana camara) 80,56 Oleander (Nerium Oleander) 80,56 Kacapiring (Gardenia jasminiodes) 80,56 Harendong (Melastoma malabathricum) 78,75 Wilkesiana Merah (Acalypha wilkesiana) 77,36 Anak Nakal (Durante erecta) 67,22 Walisongo (Schefflera arboricola) 67,08 Pecah beling (Sericocalyx crispus) 66,81 Sadagori (Tumera ulmifolia) 64,58 Lolipop Merah (Pachystachys coccinea) 56,67 Azalea (Rhododendron indicum) 53,89

  Nama Tumbuhan Rata-rata penguranagan CO (%)

  Teh-tehan (Acalypha capilipes) 53,61 Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) 32,78

  Jenis Semak

  Philodendron (Philodendron sp) 92,22 Graphis Merah (Hemigraphis bicolor) 88,06 Myana (Eresine herbstii) 76,53 Maranta (Maranta sp) 73,47 Pentas (Pentas lanceodala) 71,94 Mutiara (Pilea cadierei) 69,31 Babayeman Merah (Aerva sanguinolenta) 68,06 Gelang (Portulaca grandiflora) 67,92 Rumput Gajah (Pennisentum purpureum) 51,67 Plumbago (Plumbago auriculata) 59,86 Pacing (Costus malortianus) 41,11

  Kriminil Merah ( Althenanthera ficoidea) 35,14

  Sumber : Kusminingrum (2008)

  b. Tumbuhan Penyerap CO

2 Pada penelitian yang dilakukan oleh Endes N. Dahlan pada tahun 2007-

  2008, hasil risetnya menunjukkan beberapa tanaman yang mampu menyerap gas CO dalam jumlah besar dalam kurun waktu satu tahun,

  2

  yaitu:

Tabel 2.5. Tumbuhan Penyerap Gas CO

  

2

Nama Tumbuhan Daya Serap (Kg/pohon/tahun)

  Trembesi (Salmanea saman) 28.448,39 Cassia (Cassia sp) 5.295,47 Kenanga (Canangium odotarum) 758,59 Pingku (Dysoxylum excelsum) 720,49 Beringin (Ficus benyamina) 535,90 Krey Payung (Fellicium decipiens) 404,83 Matoa (Pornetia pinnata) 329,76 Mahoni (Swettiana mahagoni) 295,73 Saga (Adenanthera pavoniana) 221,18 Bungkur (Lagerstroema speciosa) 160,14 Jati (Tectona grandis) 135,27 Nangka (Arthocarpus heterophyllus) 126,51 Johar (Cassia Grandis) 116,25 Sirsak (Annona muricata) 75,29 Puspa (Schima wallichi) 63,31

  Nama Tumbuhan Daya Serap (Kg/pohon/tahun)

  Akasia (Acacia auriculiformis) 48,68 Flamboyan (Delonix regia) 42,20

  Sawo Kecik ( Manilkara Kauki) 36,19

  Sumber : http://dian-dan-aulita.blogspot.com/(2012)

  c. Tumbuhan Penyerap Debu Jenis tumbuhan yang mampu menyerap debu adalah:

Tabel 2.6. Tumbuhan Penyerap Debu Nama Tumbuhan Kemampuan Menyerap Debu

  3 (g/m )

  Asam Kranji 76,3

  Treungguli

  48 Kembang Merak 46,3

  Sonokeling 41,6

  Mindi 37,5

  Sengon 34,6

  Jambu Air 34,1

  Sumber : Tanjung dalam Santoso(2011)

  d. Tumbuhan Penyerap Gas NO

2 Hasil penelitian Nasrullah dkk (2000) menunjukkan bahwa setiap tanaman

  memilki kemampuan untuk menyerap gas NO

  2 , berikut adalah jenis pohon

  yang diteliti dengan kemampuan serapan gas NO :

  2 Tabel 2.7. Tumbuhan Penyerap Gas NO

  

2

Nama Tumbuhan Serapan NO 2 (µg/g) Jenis Pohon

  Dadap Kuning (Erythrina variegata) 68,31 Kaliandra (Caliandra surimenaris) 41,01) Ki hujan (Samanea saman) 35,37 Jambu biji (Psidium guajava) 30,8 Bambu jepang (Bambusa vulgaris) 25,33 Kayu putih (Eucaliptus alba) 23,65 Kasia golden (Cassia bitflora) 22,85 Ayoga (Cassia sp.)

  21,91 Duku (Lansium domesticum) 20,28 Kayu manis hijau(Cinnamonum zylanicum) 13,06 Rambutan (Nephelium lappaceum) 12,44 Akasia (Acaciaauriculiformis) 12,39 Kelengkeng (Nephelium longanum) 12,35

  Nama Tumbuhan Serapan NO

  2 (µg/g)

  Lamtoro (Laucaena glauca) 12,2 Johar (Cassia siamea) 8,82 Beringin karet (Ficus elastica) 8,86 Palem merah (Crytostachys lakka) 7,97 Cemara papua (Cupressus papuana) 7,80 Nam-nam (Cyanometra cauliflora) 7,31 Bungur (Lagerstomia loudoni) 6,13 Bambu kuning (Phyllostachys sulphurea) 5,11 Glodogan tiang (Polytalia longifolia) 3,61

  Jenis Semak

  Lolipop Merah (Jacobina carnea) 100.02 Kihujan (Malphigia sp.) 93,28 Akalipa Merah (Acalypha wilkesiana) 64,80 Lolipop kuning (Pachystachys lutea) 61,70 Nusa indah merah (Mussaendah erythrophylla) 53,53 Daun mangkokan (Notophanax scultellarium) 46,07 Bogenvil merah (Bougainvillea glabra) 45,44 Kaca piring (Gardernia augusta) 45,29 Miana (Coleus blumei) 41,70 Hanjuang merah (Cordilyne terminalis) 36,34 Azalea (Rhododendron indicum) 35,95 Lantana ungu (Lantana camara) 35,14 Akalipa hijau-putih (Acalypha wilkesiana) 31,24 Sirih belanda (Scindapsus aureus) 25,63 Lengkuas merah (Alpinia purpurata) 24,55 Ixora daun besar (Ixora javanica) 23,86 Kedondong laut (Notophanax sarcofagus) 20,95 Bakung (Crinum asiaticum) 20,03 Palm kuning (Chrysalidocarpus lutescens) 19,48 Kana (Canna indica) 18,91 Bayam merah (Iresine herbstii) 18,86 Keladi putih (Caladium hortulanum) 18,50 Drasena (Deacaena fragans) 17,74 Alamanda (Allamanda cathartica) 17,63 Bunga pukul empat (Mirabilis jalapa) 17,51 Sikas (Cycas revulata) 16,28 Gendarusa (Gendarusa vulgaris) 16,27 Bambu pangkas (Arundinaria pumila) 15,97 Pacing (Costus specious) 15,27 Teh-tehan (Acalypha macrophylla) 15,10 Serut (Carmona retusa) 13,67 Helikona oranye (helicona sp.) 13,60 Nona makan sirih (Cleodendron thomsone) 13,58 Tapak dara (Vinca rosea) 12,41 Plumbago (Plumbago indica) 12,39

  Nama Tumbuhan Serapan NO

  2 (µg/g)

  Palm kol (Licuala grandis) 11,93 Dollar-dollaran (Ficus respens) 11,76 Nusaindah putih (Mussaendah alba) 10,90 Agave hijau (Agave sisalana) 9,99 Sri rejeki (Aglonema nitidum) 7,59 Keladi hias (Caladium bicolor) 7,47 Stepanut (Stephanotis floribunda) 7,44 Pisang hias (Heliconia rosnata) 6,83 Mawar (Rosa chinensis) 6,60 Pakis haji (Cycas rumphii) 6,22 Mirten (Malphigia coccigyera) 5,53 Duranta kuning (Duranta repens) 4,48 Sambang darah (Excoecaria bicolor) 4,77 Kemuning (Muraya paniculata) 4,56 Salvia merah (Salvia splendeus) 4,23 Terang bulan (Duranta variegata) 4,11 Ixora daun kecil (Ixora chinensis) 4,11 Palm wregu (Rhapis excelsa) 3,40 Cendrawasih (Phyllantus niruri) 2,57 Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) 2,03 Sianto (Eugenia uniflora) 1,97

  Jenis Tanaman Penutup Tanah

  Kriminil Merah (Alternanthera ficoides) 24,06 Rumput Manila (Zoysia matrella) 22,58 Adam dan Hawa (Rhoeo discolor) 18,81 Rumput golf (Cynodon dactylon) 13,94 Rumput paetan (Axonopus compressus) 13,31 Kriminil putih (Alternanthera amoena) 9,96 Taiwan beauty (Cuphea mycrohylla) 9,72 Clorophytum hijau (Chlorophytum comosum) 9,50 Mutiara (Philea cardierei) 7,13 Clorophytum putih (Chlorophytum bachestii) 4,56

  Lili paris putih ( Ophiopogon jaburan) 2,38

  Sumber : Nasrullah, dkk (2000)

  e. Tumbuhan Penyerap Gas SO

2 Hasil penelitian Dahlan (2007) pada beberapa lokasi pabrik dengan

  aktivitas peleburan bijih nikel adalah adanya serapan sulfur pada daun pepohonan dari emisi pabrik yang berupa gas SO x . Jenis-jenis pohon tersebut adalah:

Tabel 2.8. Tumbuhan Penyerap Gas SO x Nama Tumbuhan S(%)

  Uru (Ermerellia thyampacca) 0,1613 Kemiri (Aleurites moluccana) 0,1552 Ficus (Ficus sp.)

  0,1552 Aghatis (Agathis dammara) 0,2391 Mangium (Acasia mangium) 0,2094 Biti (Vitex coffasus) 0,1548 Kayu Tanduk (Alsthonia spectabilis) 0,2075 Jambu (Psidium guava) 0,1796 Kokopu (Elaeocarphus sp.) 0,1804 Kayu Asah (Lithocarpus sp.) 0,1838 Makaranga (Macaranga triloba) 0,2190

  Glochidon uttorate 0,2235 Gluchodion mollucanum 0,0593 Premna sp.

  0,2258

  Eucalyptus urograndis 0,3003

  Betao (C. soulatri) 0,1756 Kayu hitam (Diospyros celebic) 0,2754 Kumea (Manilkara celebica) 0,2054 Agathis (A. damara) 0,2363

  Trema tomenthosa 0,0515

  Nangka (Artocarpus integra) 0,0987 Buri (Weinmannia devogelii) 0,2395 Mangium (Acasia mangium) 0,2848 Kapuk randu (Zeiba pteranda) 0,2420 Nyatoh (palaqium sp.) 0,1071 Trema love (Trema tomentosa) 0,2779 Spathodea (S. campanulata) 0,2767 Saga (Adenanthera pavonina) 0,2979 Uru (Emerellia thympaca) 0,2984 Macaranga (Macaranga triloba) 0,3361 Nyatoh batu (Palaqium sp.) 0,2954 Jambu daun lebar (P. guajava) 0,3219 Mataha(Calicarpa sp.) 0,3928 Kolak (Palaquium sp.) 0,3295 Betao (C. soulatri) 0,3557 Ficus (Ficus sp.)

  0,3444 Trema (t. tremantosa) 0,2783 Kayu tanduk (Alsthonia spectabilis) 0,2401 Ficus (Ficus sp.)

  0,1758 Betao (C.soulatri) 0,0727

  Eucalyptus

  0,1142 Bunu (Colana scabra) 0,0696 Dengen (Dillenia serrata) 0,4392

  Nama Tumbuhan S(%)

  Mahoni (Switania mahagoni) 0,1998 Kemiri (A. molluccana) 0,0933 K. Hitam (D. celebica) 0,0856 Betau daun kecil (C. soulatri) 0,0372 Trema (T. tomentosa) 0,0346 Trema love (T. tomentosa) 0,0233 Kayu Afrika (Maesopsis emioniii) 0,0792

  Bitti ( Vitex coffasus) 0,0311 Sumber : Dahlan (2007).

2.6. Kerangka Konsep

  1. Volume lalu lintas Memenuhi syarat baku mutu

  2. Banyaknya pohon Pengukuran kadar CO dan SO di

  2

  1. Arah angin udara

  3. Kelembaban

  4. Suhu Tidak memenuhi syarat baku mutu

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

  3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian

  Jenis penelitian ini adalah survei dan bersifat deskriptif yaitu mengetahui gambaran perbedaan kadar karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO

  2 ) di

  udara berdasarkan volume lalu lintas dan banyaknya pohon di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution di kota Medan tahun 2015.

  3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

  3.2.1. Lokasi Penelitian

  Penelitian dilakukan di dua jalan raya yang terdapat tanaman peneduh jalan yaitu jalan Dr. Mansyur dan jalan Jend. A.H. Nasution.

  Adapun alasan memilih tempat tersebut sebagai lokasi penelitian adalah:

  1. Jalan Dr. Mansyur merupakan jalan yang ditanami pohon mahoni (Swietania Macrophylla) dengan jumlah kendaraan yang lewat sangat banyak karena fungsinya sebagai jalan arteri sekunder.

  2. Jalan Jend. A.H. Nasution pada lokasi didapati pohon angsana (Pterocarpus Indicus) dengan jumlah kendaraan yang lewat sangat banyak dengan fungsinya sebagai jalan arteri primer.

  3. Belum pernah dilakukannya penelitian tentang perbedaan jumlah kadar karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO

  2 ) berdasarkan volume lalu lintas dan jumlah pohon yang terdapat di kedua jalan raya tersebut.

  3.2.2. Waktu Penelitian

  Waktu penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Maret tahun 2015.

  3.3. Objek Penelitian

  Objek penelitian ini adalah karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO

  2 ) di udara pada dua jalan raya yang memiliki yaitu Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution berdasarkan volume lalu lintas dan banyaknya pohon.

  3.4. Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H.

  Nasution dan sampel dalam penelitian ini adalah 8, dimana 4 sampel diambil pada jalan Dr. Mansyur dan 4 sampel lainnya pada jalan Jend. A.H. Nasution dimana pada masing-masing jalan pengambilan sampel dilakukan pada pagi dan siang hari.

  3.5. Metode Pengambilan Data

  3.5.1. Data Primer

  Data primer merupakan data hasil pemeriksaan kadar karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO

  2 ) yang diperoleh langsung dari pengukuran yang telah dilakukan.

  3.5.2. Data Sekunder

  Data sekunder diperoleh dari data BTKLPP ( Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Peyakit), dan pengumpulan informasi berupa data-data yang relevan dengan penelitian.

3.6. Teknik Analisa Data

3.6.1. Teknik Pengambilan Sampel

  Penelitian dilakukan pada titik I yaitu pada jalan Dr. Mansyur (depan Rumah Sakit Pendidikan USU) dan titik II yaitu jalan Jend. A.H. Nasution (depan STMIK Triguna Dharma) dengan pertimbangan fungsi jalan Dr. Mansyur dan jalan Jend. A.H. Nasution berbeda dan pohon yang terdapat di kedua jalan tersebut juga tidak sama. Pengukuran karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO

  2 ) dan volume lalu lintas dilakukan pada pada pukul 08.45 dan 12.30 WIB di jalan Dr. Mansyur dan pukul 10.10 dan 11.15 WIB di jalan Jend. A.H. Nasution.

  Sampel karbon monoksida didapat dengan menggunakan alat CO Analyzer, sedangkan sampel sulfur dioksida (SO

  2 ) didapat dengan menggunakan teknik

impinger, kemudian hasil pengukuran dianalisis di BTKLPP (Balai Teknik

Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit) Medan.

  3.6.2. Prosedur Pengukuran Karbon Monoksida (CO) di Udara

  Prosedur pegukuran karbon monoksida di udara sebagai berikut : 1. Alat diletakkan 1,5 meter di atas jalan raya.

  2. Tekan tombol ON/OFF.

  3. Alat distabilkan selama 2 menit.

  4. Tekan tmbol DOWN, sampai keluar tanda RECOR di sudut kanan atas dari display (RECORD) untuk menangkap polutan karbon monoksida).

  5. Atur waktu selama 1 jam untuk melakukan pengukuran karbon monoksida di udara.

  6. Tekan tombol RECORD untuk pemberhentian pengukuran.

  7. Data ditransfer ke computer, untuk dilakukan pembacaan hasil pengukuran.

  3.6.3. Pengukuran Sulfur dioksida (SO 2 ) di Udara

3.6.3.1. Pengambilan Contoh Uji

  1. Susun peralatan pengambilan contoh uji dengan baik dan benar

  2. Masukkan larutan penyerap Griess Saltzam sebanyak 10 ml ke dalam botol penyerap. Atur botol peyerap agar terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung.

  3. Hidupkan pompa penghisap udara dan atur kecepatan alir 0,4L/menit , setelah stabil catat waktu laju alir F1.

  4. Lakukan pengambilan contoh uji selama 1 jam dan catat temperature dan tekanan udara.

  5. Setelah 1 jam catat laju akhir dan kemudia matikan pompa penghisap.

  6. Analisis yang dilakukan dilapangan segera setelah pengambilan contoh.

3.6.3.2. Metode Analisa SO 2 dengan Pararosanilin

  Prinsip kerja alat spektrofometer yaitu :

  1. SO

  2 bereaksi dengan kalium tetrachloromerkuat (TCM) membentuk ion

  dichlorosulfitmerkurat yang bereaksi dengan pararosanilin hydrocylic dalam HCL dan formaldehyde membentuk warna merah ungu.

  Intensitasnya apat diukur mengguanakan spktrofometer pada panjang gelmbang 575 nm.

  2. Peralatan dan Bahan.

  a. Peralatan

  • Spektrofometer

  b. Bahan

  • Larutan absorban SO

  2

  • Larutan standar SO

  2

  • Aquabides
  • Asam sulfanilat
  • Formaldehyde

  3. Cara Pembuatan

  a. Larutan absorban dalam impinge hasil sampling dimaukkan dalam tabung reaksi 25 ml b. Ditambah 1 ml asam sulfanilat, ditambah 2 ml formaldehyde, dicampur, ditambah 5 ml parasonilin, dicampur, ditambah aquabides panas sampai tanda pembatas.

  c. Dicampur hingga homogen dan didiamkan selama 30 menit agar bereaksi dengan sempurna.

  d. Diambil 10 ml larutan sampel uji, masukkan ke dalam kuvet yang bersih dan dibaca dengan spektrofometer pada panjang gelombang 575 nm.

  e. Catat hasilnya, misalnya X.

  f. Dari hasil pembacaan X letakkan pada skala absorban.

  g. Tarik garis horizontal ke arah garis linear garis konsentrasi.

  h. Tarik garis vertikal ke arah skala konsentrasi sejajar absorban. i. Titk pertemuan pada garis konsentrasi dibaca dan dicatat. j. Setelah didapat hasil konsentrasi sampel dari pembacaan kurva, kemudian hasilnya dibaca lagi dengan mengguanakan rumus :

  Kadar SO

  2 = Y/(Q x T)

  Dimana : Y = hasil pembacaan kurva standar (µg/Nm

  3

  ) Q = volume udara terhisap (liter/menit) T = waktu sampling (menit)

3.7. Defenisi Operasional Variabel

  Adapun defenisi operasional yang akan diteliti antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Udara merupakan atmosfer yang berada di sekeliling bumi yang didalamnya terdapat gas oksigen yang dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk bernafas.

  2. Karbon monoksida (CO) adalah gas tidak berwarna dan tidak berbau yang bersifat racun terhadap manusia. Gas karbon monoksida dapat diukur menggunakan alat CO Analyzer dengan metode NDIR.

  3. Sulfur dioksida (SO ) merupakan gas yang memiliki bau tajam dan

  2

  bersifat iritan yang sumber pencemarannya berasal dari kegiatan industri, transportasi dan lainnya. Gas SO

  2 dapat dukur dengan Spektrofometer dengan metode Pararosalinin.

  4. Arah angin berperan dalam penyebaran polutan udara dari suatu tempat ke tempat lain.

  5. Kelembaban adalah konsentrasi uap air d udara yang dapat dinyatakan dalam satuan persen (%) dan diukur menggunakan alat Hygrometer.

  6. Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dan dingin suatu benda diukur menggunakan alat termometer Celcius dengan satuan derajat

  o

  celcius ( C).

  7. Volume lalu lintas adalah jumlah kendaraan yang melintasi suatu jalan dalam waktu satu jam dengan satuan kendaraan/jam. Volume lalu lintas didapat dengan menghitung secara manual dengan menggunakan alat hand tally counter.

  8. Banyaknya pohon adalah jumlah pohon yang terdapat di jalur jalan raya yang ditanam secara berbaris, jumlah pohon dihitung secara manual dengan satuan batang.

  3.8. Aspek Pengukuran

  Aspek pengukuran adalah mengetahui gambaran perbedaan jumlah kadar karbon konoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO

  2 ) berdasarkan volume lalu lintas

  dan jumlah pohon di jalan Dr. Mansyur dan jalan Jend. A.H. Nasution di kota Medan. Jika terdapat karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO ) melebihi

  2

  baku mutu kualitas udara ambien dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 maka udara tersebut sudah tercemar karbon monoksida (CO) dan sulfur dioksida (SO

  2 ). Nilai baku mutu untuk gas CO adalah

  3

  3

  sedangkan untuk gas SO 2 . 30.000µg/Nm adalah 900µg/Nm

  3.9. Analisis Data

  Hasil pengukuran di lapangan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi yang dibuat dalam tabel kemudian dinarasikan, pembahasan serta kesimpulannya.

  Hasil pemeriksaan yang telah dilakukan dibandingkan dengan baku mutu kualitas udara ambien menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999.

BAB IV HASIL PENELITIAN

  4.1. Gambaran Umum Daerah Penelitian

  Medan merupakan salah satu daerah otonom yang berstatus kota dan termasuk salah satu kota besar di Indonesia.Kota Medan juga sebagai ibukota dari provinsi Sumatera Utara, dengan fungsinya tersebut kota Medan sering digunakan sebagai barometer pembangunan dan penyelanggaraan pemerintah daerah. Secara administratif batas-batas kota Medan adalah sebagi berikut :

  1. Batas Utara : Selat Malaka

  2. Batas Barat : Kabupaten Deli Serdang

  3. Batas Timur : Kabupaten Deli Serdang

  4. Batas Selatan : Kabupaten Deli Serdang

  o

  Secara geografis kota Medan terletak antara 3,30º-3,43 LU dan 98,35-

  o

  98,44 BT dengan topografi cenderung miring ke utara. Suhu udara minimum kota

  o o

  Medan adlah 24 C dan suhu maksimum adalah 32,5 C dengan curah hujan

  2

  berkosar antara 2000-2500 mm. Luas wilayah kota Medan adalah 265,10 km dengan jumlah penduduk tercatat sebanyak 2.122.804 jiwa pada tahun 2012.

  Kotamadya Medan terdiri atas 21 kecamatan dan 151 kelurahan.

  Pembangunan jaringan jalan di kota Medan sangat didukung oleh pemerintah daerah, hal tersebut dapat dilihat dari rencana tata ruang wilayah (RTRW) kota Medan yang disahkan pada tahun 2010. RTRW kota Medan melampirkan jumlah jarungan jkalan di kota Medan yang berjumlah 166 jaringan dengan klasifikasi sesuai fungsi jalan sebagai berikut:

  1. Jaringan jalan arteri primer sebanyak 25 jalan

  2. Jaringan jalan arteri sekunder sebanyak 34 jalan

  3. Jaringan jalan kolektor sebanyak 10 jalan

  4. Jaringan jalan kolektor sekunder sebanyak 88 jalan

  5. Jaringan jalan lingkungan sebanyak 9 jalan

  4.2. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

  Jalan Dr. Mansyur merupakan salah satu jaringan jalan kota Medan yang berfungsi sebagai jaringan jalan arteri sekunder yaitu jalan yang melayani angkutan utama dan peranan pelayanan jasa distribusinya adalah untuk masyarakat dalam kota. Sesuai dengan fungsinya maka bus dan kendaraan angkutan ringan dapat melalui jalan ini. Lebar jalan Dr. Mansyur adalah 26 meter sesuai dengan RTRW kota Medan tahun 2010. Jenis pohon yang ditanam di jalan Dr. Mansyur adalah pohon Mahoni (Swietania Macrophylla). Jumlah pohon yang terdapat di sekitar titik pengambilan sampel dalam radius 100 meter adalah 37 batang pohon.

  Jalan Jend. A.H. Nasution merupakan salah satu jaringan jalan di kota Medan yang berfungsi sebagai jaringan jalan arteri primer yaitu jalan jalan yang melayani kegiatan pusat dan kegiatan wilayah, artinya jalan arteri primer pelayanannya dalam distribusi barang dan jasa untuk semua wilayah tingkat nasional. Sesuai dengan fungsinya maka jalan ini dapat dilalui semua jenis kendaraan bermotor. Lebar jalan Jend. A.H. Nasution adalah 40 meter sesuai dengan RTRW kota Medan tahun 2010. Jenis pohon yang ditanam di jalan Jend.

  A.H. Nasution adalah pohon Angsana (Pterocarpus Indicus).Jumlah pohon yang terdapat di sekitar titik pengambilan sampel dalam radius 100 meter adalah 18 pohon.

4.3. Hasil Penelitian

  Hasil penelitian ini meliputi kadar gas CO dan SO 2 pada jalan Dr. Mansyur dan jalan Jend. A.H. Nasution. Pengukuran dilakukan dua kali pada waktu yang berbeda untuk masing-masing jalan. Setiap pengukuran parameter dilakukan selama satu jam.

  3

  karena Untuk hasil pengukuran gas CO, hasil dikonversi ke satuan µg/Nm hasil pengukuran yang dilampirkan dari laboratorium menggunakan satuan ppm, sehingga hasil dapat dibandingkan dengan baku mutu gas CO dalam PP Nomor 41

  3

  dihitung dengan rumus: tahun 1999. Konversi dari satuan ppm ke µg/Nm

  ( ) × × 1000

24.45 Keterangan :

  n : jumlah kadar CO dalam ppm BM : Berat Molekul CO (C=12 ; O=16 ; CO=28)

Tabel 4.1. Hasil Pengukuran Kadar Gas CO di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution. Nama Jalan Pengukuran NAB Hasil Dalam Hasil Dalam

  3 ke- ppm µg/Nm

  Dr. Mansyur

  I 7 8.016

  II 30.000 9 10.306

  

3

Jend. A.H.

  I 15 17.177 µg/Nm

  Nasution

  II 16 18.323

Tabel 4.1. menunjukkan bahwa kadar CO tertinggi terdapat pada jalan

  3

  , Jend. A.H. Nasution pada pengukuran kedua dengan hasil sebesar 18.323 µg/Nm sedangkan kadar CO terendah terdapat pada jalan Dr. Mansyur pada pengukuran

  3

  . Hasil kadar CO yang diukur pada kedua pertama dengan hasil 8.016 µg/Nm lokasi penelitian masih memenuhi syarat baku mutu gas CO dalam udara ambien menurut PP Nomor 41 tahun 1999.

Tabel 4.2. Hasil Pengukuran Kadar Gas SO 2 di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution Nama Jalan Pengukuran NAB Hasil Pengukuran ke-

  Dr. Mansyur I 57,32

  3 II 60,78

  900 µg/Nm Jend. A.H. I 70,19 Nasution

  II 69,73

Tabel 4.2. menunjukkan bahwa kadar SO tertinggi terdapat pada jalan

  2 Jend. A.H. Nasution pada pengukuran pertama dengan hasil sebesar 70,19

  3

  , sedangkan kadar SO

  2 terendah terdapat pada jalan Dr. Mansyur pada

  µg/Nm

  3

  . Hasil kadar SO

  2 yang diukur

  pengukuran pertama dengan hasil 57,32 µg/Nm pada kedua lokasi penelitian masih memenuhi syarat baku mutu gas SO

  2 dalam udara ambien menurut PP Nomor 41 tahun 1999.

Tabel 4.3. Hasil Pengukuran Volume Lalu Lintas di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution Parameter Satuan Jalan Dr. Mansyur Jalan Jend. A.H. Nasution

  I II

  I II

  Volume 2879 3367 5864 5703 Lalu Lintas kendaraan/jam

  Rata-rata 3123 5783

Tabel 4.3. menunjukkan bahwa volume lalu lintas tertinggi terdapat di jalan Jend. A.H. Nasution yaitu 5864 kendaraan/jam, sedangkan volume lalu

  lintas terendah terdapat pada jalan Dr. Mansyur pda pengukuran pertama yaitu 2879 kendaraan/jam. rata-rata volume lalu lintas tertinggi juga terdapat pada jalan

  Jend. A.H. Nasution yaitu 5783 kendaraan/jam, sedangkan rata-rata volume lalu lintas terendah terdapat di jalan Dr. Mansyur yaitu 3123 kendaraan/jam.

Tabel 4.4. Perbedaan Banyaknya Pohon di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution

  

Nama Jalan Jumlah Pohon di Sekitar Titik

Pengambilan Sampel

  Dr. Mansyur

  37 Jend. A.H. Nasution

  18 Tabel 4.4. menunjukkan bahwa jumlah pohon terbanyak terdapat di jalan Dr. Mansyur yaitu 37 pohon sedangkan jumlah pohon yang terdapat di jalan Jend.

  A.H. Nasution sebanyak 18 pohon. Banyaknya pohon dihitung disekitar titik pengambilan sampel dalam radius 100 meter.

Tabel 4.5. Hasil Pengukuran Arah Angin, Kelembaban dan Suhu di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution

  Parameter Satuan Jalan Dr. Mansyur Jalan Jend. A.H. Nasution

  I II

  I II

  Arah Angin TL Tg B BL Kelembaban %

  53

  46

  49

  46

  o

  Suhu C

  31.5

  34.1

  33.8

  34.3 Ket : TL : Timur Laut B : Barat TG : Tenggara BL : Barat Laut

Tabel 4.5. menunjukkan bahwa kelembaban tertinggi terdapat pada jalan

  Dr. Mansyur pada pengukuran pertama yaitu 53% sedangkan kelembaban terendah terdapat di jalan Jend. A.H. Nasution dan jalan Dr. Mansyur pada pengukuran kedua yaitu 46%. Suhu tertinggi terdapat di jalan Jend. A.H. Nasution

  o pada pengukuran kedua yaitu 34,3 C dan suhu terendah terdapat di Jl. Dr. o

  Mansyur pada pengukuran pertama yaitu 31,5 C.

Tabel 4.6. Perbedaan kadar gas CO dan SO 2 di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution berdasarkan volume lalu lintas Parameter Satuan Jalan Dr. Mansyur Jalan Jend. A.H. Nasution Rata-rata Rata-rata

  3 CO 9.161 17.750

  µg/Nm

  3 SO 2 59,05 69,93

  µg/Nm Volume lalu Kendaraan/jam 3123 5783 lintas

Tabel 4.6. menunjukkan bahwa kadar CO dam SO

  2 tertinggi terdapat di

  jalan Jend. A.H. Nasution dengan rata-rata volume lalu lintasnya yang tertinggi

  3 2 dengan rata-

  yaitu CO sebanyak 17.750µg/Nm3dan SO sebanyak 69,93µg/Nm rata volume lalu lintas 5783 kendaraan/jam. Sedangkan kadar CO dan SO

  2

  terendah terdapat di jalan Dr. Mansyur dengan rata-rata volume lalu lintasnya

  3

  3

  dan SO

  2

  yang terendah yaitu CO sebanyak 9161µg/Nm sebanyak 59,05µg/Nm dengan rata-rata volume lalu lintas 3123 kendaraan/jam.

Tabel 4.7. Perbedaan kadar gas CO dan SO 2 di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution Berdasarkan Jumlah Pohon Parameter Satuan Jalan Dr. Mansyur Jalan Jend. A.H. Nasution

  3 CO 9.161 17.750

  µg/Nm

  3 SO 2 59,05 69,93

  µg/Nm Pohon batang

  37

  18 Tabel 4.7. menunjukkan bahwa kadar CO dam SO tertinggi terdapat di

  2

  jalan Jend. A.H. Nasution dengan rata-rata volume lalu lintasnya yang tertinggi

  3 2 dengan

  yaitu CO sebanyak 17.750µg/Nm3dan SO sebanyak 69,93µg/Nm jumlah pohon disekitar titik pengambilan sampel adalah 18 batang. Sedangkan kadar CO dan SO

  2 terendah terdapat di jalan Dr. Mansyur dengan rata-rata

  3

  dan SO

  2

  volume lalu lintasnya yang terendah yaitu CO sebanyak 9161µg/Nm

  3

  dengan jumlah pohon di sekitar titik pengambilan sampel sebanyak 59,05µg/Nm adalah 37 pohon.

BAB V PEMBAHASAN

  

5.1. Kadar Karbon Monoksida (CO) di Udara Lokasi Pengambilan

Sampel

  Berdasarkan hasil penelitian (tabel 4.1.) kadar gas CO tertinggi terdapat

  3

  pada jalan Jend. A.H. Nasution pada pengukuran kedua yaitu 18.323 dan µg/Nm kadar gas CO terendah terdapat di jalan Dr. Mansyur pada pengukuran pertama

  3

  . Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun dengan hasil 8.016 µg/Nm 1999, kadar gas CO pada semua pengukuran masih memenuhi syarat yaitu

  3 untuk pengukuran 1 jam.

  dibawah 30.000µg/Nm

  3 Pada jalan Dr. Mansyur kadar gas CO yang didapat adalah 8.016µg/Nm

  3 pada pengukuran pertam pada pengukuran kedua. Jalan Dr.

  a dan 10.306µg/Nm Mansyur merupakan salah satu jaringan jalan yang berfungsi sebagai jalan arteri sekunder. Fungsi jalan arteri primer adalah melayani distribusi untuk masyarakat dalam kota, maka kendaraan berat tidak melintas pada jalan ini. Pada saat pengukuran volume lalu lintas, kendaraan yang melintas dalam 1 jam didominasi oleh kendaraan bermesin bensin.

  Hasil pengukuran yang berbeda antara pengukuran pertama dan pengukuran kedua disebabkan pengukuran pertama dilakukan pada pagi hari sementara pengukuran kedua dilakukan pada siang hari sehingga adanya perbedaan volume lalu lintas, suhu dan kelembaban pada kedua pengukuran.

  Keberadaan pohon Mahoni (Swietania Macrophylla) diasumsikan dapat menyerap polutan udara yang dilepaskan oleh kendaraan bermotor.

  Pada jalan Jend. A.H. Nasution kadar gas CO yang didapat adalah

  3

  3

  pada pengukuran 17.177µg/Nm pada pengukuran pertama dan 18.323µg/Nm kedua. Jalan Jend. A.H. Nasution merupakan salah satu jaringan jalan yang berfungsi sebagai jalan arteri sekunder. Fungsi jalan arteri primer adalah melayani distribusi untuk tingkat nasional dan daerah, maka kendaraan yang melintas di jalan ini lebih bervariasi. Pada saat pengukuran volume lalu lintas, kendaraan yang lewat tidak hanya kendaraan yang berukuran kecil, namun bus dan alat angkutan berat juga banyak melintas pada saat pengukuran. Artinya kendaraan bermesin diesel lebih sering melintas pada jalan ini.

  Hasil pengukuran yang tidak jauh berbeda antara pengukuran pertama dan pengukuran kedua disebabkan pengukuran pertama selang waktu pengukuran pertama dengan pengukuran kedua tidak jauh berbeda karena pengukuran kedua dilakukan setelah pengukuran pertama selesai dilakukan.

  Keberadaan pohon Angsana (Pterocarpus Indicus) diasumsikan dapat menyerap polutan udara yang dilepaskan oleh kendaraan bermotor karena setiap tanaman memiliki kemampuan untuk menyerap gas CO yang ada di udara. Hasil penelitian Harahap (2013) menemukan bahwa kadar gas CO di udara ambien lebih banyak jumlahnya pada jalan raya yang tidak diatanami pohon Angsana (Pterocarpus Indicus) daripada jalan raya yang diatanami pohon Angsana (Pterocarpus Indicus).

  Dari beberapa komponen pencemar udara, presentase terbesar gas pencemar udara adalah gas CO yaitu sebesar 70,50%. Dari semua sumber pencemaran udara, kegiatan transportasi paling banyak menghasilkan gas CO dengan menyumbang sebesar 63,8%. Untuk transportasi darat, mobil bensin menyumbang sebesar 59%, mobil diesel menyumbang sebesar 0,2%, kereta api sebanyak 0,1% dan sepeda motor sebanyak 1,8% (Wardhana, 2004).

  Gas CO terbentuk oleh pembakaran yang tidak sempurna baik oleh bahan bakar ataupun benda lainnya, namun penyumbang gas CO terbesar di udara disebabkan oleh kegiatan transportasi karena adanya sisa pembakaran bahan bakar minyak pada mesin kendaraan bermotor. Sehingga semakin banyaknya aktivitas transportasi oleh manusia maka gas CO akan semakin meningkat sehingga kualitas udara menurun. Kendaraan bermotor termasuk sebagai sumber bergerak oleh aktivitas manusia yang menghasilkan polutan di udara.

  Dampak negatif yang ditimbulkan gas CO terhadap kesehatan adalah berkurangnya oksigen di dalam darah karena kestabilan hemoglobin dalam darah untuk mengikat gas CO adalah 240 kali kestabilan hemoglobin terhadap gas oksigen. Paparan gas CO dalam waktu yang lama dapat menyebabkan mual, pusing dan kulit berwarna merah (Wardhana, 2004). Dampak mual dan pusing sering dirasakan oleh masyarakat yang menggunakan kendaraan umum seperti angkot atau pada saat kondisi transportasi yang padat.

5.2. Kadar Sulfur Dioksida (SO ) di Udara Lokasi Pengambilan Sampel

2 Berdasarkan hasil penelitian (tabel 4.2.) kadar gas SO

  2 tertinggi terdapat

  3

  pada jalan Jend. A.H. Nasution pada pengukuran pertama yaitu 70,19 dan µg/Nm kadar gas SO

  2 terendah terdapat di jalan Dr. Mansyur pada pengukuran pertama

  3

  . Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun dengan hasil 57,32µg/Nm 1999, kadar gas SO pada semua pengukuran masih memenuhi syarat yaitu

  2

  3 untuk pengukuran 1 jam.

  dibawah 900µg/Nm

  3 Pada jalan Dr. Mansyur kadar gas SO

  2

  yang didapat adalah 57,32µg/Nm

  3

  pada pengukuran kedua. Pada saat pada pengukuran pertama dan 60,78µg/Nm pengukuran volume lalu lintas, kendaraan yang melintas dalam 1 jam didominasi oleh kendaraan bermesin bensin.

  Gas SO yang dihasilkan oleh mobil bensin adalah 0,6% dan 0,3% dari

  2

  sepeda motor (Wardhana, 2004). Konsentrasi gas SO

  2 lebih rendah karena pohon

  Mahoni (Switaenia mahagoni) sangat berpotensi untuk menyerap sulfur dari udara.

  Hasil pengukuran yang berbeda antara pengukuran pertama dan pengukuran kedua disebabkan pengukuran pertama dilakukan pada pagi hari sementara pengukuran kedua dilakukan pada siang hari sehingga adanya perbedaan volume lalu lintas, suhu dan kelembaban pada kedua pengukuran.

  Pada jalan Jend. A.H. Nasution kadar gas SO

  2 yang didapat adalah

  3

  3

  pada pengukuran 70,19µg/Nm pada pengukuran pertama dan 69,73µg/Nm kedua. Jalan Jend. A.H. Nasution merupakan salah satu jaringan jalan yang berfungsi sebagai jalan arteri sekunder. Pada saat pengukuran volume lalu lintas, kendaraan yang lewat tidak hanya kendaraan yang berukuran kecil, namun bus dan alat angkutan berat juga banyak melintas pada saat pengukuran. Gas SO

  2 yang

  dihasilkan dari kendaraan bermotor bermesin diesel adalah 0,3% (Wardhana, 2004).

  Dari beberapa komponen pencemar udara, presentase terkecil gas pencemar udara adalah gas SO x yaitu sebesar 0,88%. Dari semua sumber pencemaran udara, kegiatan transportasi menghasilkan gas SO x dengan menyumbang sebesar 0,8%. Untuk transportasi darat, mobil bensin menyumbang sebesar 0,6%, mobil diesel menyumbang sebesar 0,3%, kereta api sebanyak 0,3% dan sepeda motor sebanyak 0,3%. Walaupun jumlahnya tidak banyak, namun gas SO x adalah gas yang paling diwaspadai keberadaannya karena dampak yang ditimbulkannya sangat berbahaya walaupun dalam konsentrasi yang sedikit (Wardhana, 2004).Keberadaan pohon pada masing-masing jalan diharapkan dapat menyerap polutan SO

  2 di udara karena setiap tanaman berpotensi untuk menyerap polutan udara.

  Gas SO

  2 juga dapat merusak tanaman apabila konsentrasinya tinggi, hal

  tersebut dapat dilihat apabila ada kerusakan pada daun tanaman, namun hal tersebut juga tergantung terhadap ketahanan tanaman pada gas CO

  2 . Maka

  keberadaan gas SO x dapat dilihat dari adanya bintik-bintik pada permukaan daun tanaman di lingkungan sekitar (Dahlan, 2007).

  Gas SO

  2 terbentuk oleh pembakaran batubara, pemisahan logam pada biji

  sulfida dan pembakaran bahan bakar minyak. Gas SO akan tercium baunya jika

  2

  konsentrasinya 0,3-1 ppm di udara. Gas SO

  2 bersifat iritan, asam dan korosif. Jika

  terpapar kepada manusia dapat menyebabkan iritasi pada sistem pernafasan, kenaikan sekresi mucus, perih pada mata dan iritasi kulit. Dengan konsentrasi 500 ppm, gas SO 2 dapat menyebabkan kematian terhadap manusia (Rahmanto, 2009).

5.3. Parameter yang Mempengaruhi Kadar Gas CO dan SO 2 di Udara

5.3.1. Arah Angin

  Pada saat penelitian, untuk mengukur arah angin dan kecepatan angin tidak bisa dilakukan karena alatnya tidak tersedia. Maka, untuk melihat arah angin, penulis melihat arah angin dengan melihat arah hembusan arah angin pada pita. Sedangkan arah mata angin dilihat melalui aplikasi Digital Compass.

  Berdasarkan hasil pengukuran (tabel 4.5.) arah angin di jalan Dr. Mansyur pada saat pengukuran pertama cenderung mengarah ke timur laut dan pada pengukuran kedua mengarah ke tenggara. Sedangkan di jalan Jend. A.H. Nasution angin menuju arah barat pada pengukuran pertama, pada pengukuran kedua angin berhembus ke arah barat laut.

  Arah angin berguna untuk mengetahui arah penyebaran polutan sehingga dapat menentukan daerah mana yang akan tercemar, arah angin yang dilihat adalah pada batasan lokal (Rahmawati dalam Harahap, 2013).

5.3.2. Kelembaban

  Hasil penelitian pada tabel (4.5.), kelembaban tertinggi terdapat pada pengukuran pertama di jalan Dr. Mansyur yaitu 53% sedangkan kelembaban terendah terdapat pada pengukuran pertama di jalan Dr. Mansyur dan pengukuran kedua di jalan Jend. A.H. Nasution yaitu 46%.

  Kelembaban udara adalah ditentukan oleh jumlah uap air yang ada di dalam udara. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelembaban udara adalah sinar matahari, kabut dan hujan. Kondisi udara yang lembab akan membantu proses pengendapan bahan pencemar udara karena bahan pencemar tersebut akan berikatan dengan uap air. Hubungan konsentrasi gas SO

  2 dengan kelembaban

  adalah berbanding terbalik yaitu jika konsentrasi kelembaban semakin naik, maka konsentrasi SO

  2 akan semakin menurun (Instantinova, 2012).

5.3.3. Suhu

  Hasil penelitian parameter suhu yang mempengaruhi keberadaan gas CO

  

o o

  dan SO adalah 31,5 C pada pengukuran pertama dan 34,1 C pada pengukuran

  2

  kedua di jalan Dr. Mansyur, sedangkan di jalan Jend. A.H. Nasution adalah

  o o

  33,8 C pada pengykuran pertama dan 34,3 C pada pengukuran kedua. Hasil tersebut menunjukkan bahwa suhu tertinggi didapat pada saat pengukuran kedua dilakukan.

  Peningkatan suhu dapat menjadi katalisator reaksi kimia suatu bahan pencemar udara. Pada musim kemarau udara akan lebih kering dengan suhu yang cenderung meningkat serta angin akan bertiup lebih lambat dibanding dengan musim hujan. Jika pada tekanan udara 1 atm dan keadaan harga ER=1, komposisi gas buangan heptana menjadi CO akan semakin meningkat konsentrasinya jika

  o

  suhu semakin tinggi. Pada suhu 1500 K terdapat CO sebesar 0,01%, pada suhu

  o o o

  2000 K konsentrasi CO sebesar 0,40 K, dan pada shu 2500 K konsentrasi CO sebesar 3,50% (Wardhana, 2004).

  Hasil penelitian Instantinova (2012) menyatakan bahwa hubungan suhu terhadap konsentrasi gas SO

  2 adalah berbanding lurus yaitu jika adanya peningkatan suhu udara, maka konsentrasi gas SO juga akan semakin meningkat.

  2 Hal ini dikarenakan suhu yang tinggi akan mempercepat disosiasi gas SO

  2

  menjadi S dan O 2 sehingga jumlahnya di udara semakin banyak.

  Suhu yang menurun pada permukaan bumi dapat meningkatkan kelembaban udara sehingga dapat menyebabkan meningkatnya efek korosif bahan pencemar, sedangkan suhu yang meningkat akan menyebabkan perubahan struktur bahan kimia suatu bahan pencemar. Suhu udara harian maksimum tercapai beberapa saat setelah intensitas cahaya maksimum pada saat berkas cahaya jatuh tegak lurus yaitu pada waktu tengah hari. Pada siang hari dengan kondisi cuaca yang terang suhu udara akan tinggi akibat sinar matahari yang diterima sehingga akan mengakibatkan terjadinya pemuaian udara. Namun suhu udara akan berubah nyata setelah periode 24 jam (Zendrato, 2010).

  5.4. Perbedaan Kadar gas CO dan SO 2 di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution Berdasarkan Volume Lalu Lintas

  Berdasarkan hasil penelitian pada tabel (4.6.) menunjukkan bahwa kadar gas CO dan SO

  2 tertinggi didapatkan di jalan Jend. A.H. Nasution yaitu kadar CO

  3

  3

  dengan rata- dan kadar SO

  2 dengan rata- . Volume

  rata 17.750µg/Nm rata µg/Nm lalu lintas di jalan Jend. A.H. Nasution juga paling tinggi dengan rata-rata 5783 kendaraan/jam sedangkan jalan Dr. Mansyur volume lalu lintasnya paling rendah yaitu 3123 kendaraan/jam.

  Adanya perbedaan kadar gas CO dan SO

  2 di kedua jalan terssebut

  dikarenakan oleh kendaraan bermotor di jalan Jend. A.H. Nasution lebih banyak sehingga gas emisi dihasilkan lebih banyak berada di udara dibandingkan dengan kadar gas CO dan SO

  2 di jalan Dr. Mansyur. Selain itu, dilihat juga dari fungsi

  jalan Jend. A.H. Nasution sebagai jaringan jalan arteri primer dimana kendaraan yang lewat pada jalan tersebut lebih bervariasi jenis mesin dan ukurannya.

  5.5. Perbedaan Kadar gas CO dan SO 2 di Jalan Dr. Mansyur dan Jalan Jend. A.H. Nasution Berdasarkan Banyaknya Pohon

  Berdasarkan hasil penelitian pada tabel (4.6.) menunjukkan bahwa kadar gas CO dan SO

  2 tertinggi didapatkan di jalan Jend. A.H. Nasution yaitu kadar CO

  3

  3

  dengan rata- dan kadar SO

  2 dengan rata- . Banyak

  rata 17.750µg/Nm rata µg/Nm pohon pada jalan Jend. A.H. Nasution lebih sedikit yaitu berjumlah 18 pohon, sedangkan di jalan Dr. Mansyur ada 37 pohon. Pohon yang dihitung adalah jumlah pohon yang berada disekitar titik pengambilan sampel dalam radius 100 meter.

  Adanya perbedaan kadar gas CO dan SO di kedua jalan tersebut

  2

  dikarenakan oleh banyaknya pohon di kedua jalan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kadar polutan di udara akan berkurang apabila terdapat banyak tanaman yang sangat berpotensi untuk menyerap polutan di udara.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

  1. Kadar gas karbon monoksida (CO) di udara pada jalan Dr. Mansyur adalah

  3

  3

  8.016 pada

  µg/Nm pada pengukuran pertama dan 10.306µg/Nm pengukuran kedua. Sedangkan di jalan Jend. A.H. Nasution terdapat kadar

  3

  3 CO sebanyak 17.177µg/Nm pada pengukuran pertama dan 18.323µg/Nm pada penguukuran kedua.

  2. Kadar sulfur dioksida (SO

  2 ) di udara pada jalan Dr. Mansyur adalah

  3

  3

  57,32 pada p pada

  µg/Nm engukuran pertama dan 60,78µg/Nm pengukuran kedua. Sedangkan di jalan Jend. A.H. Nasution terdapat kadar

  3

  3 CO sebanyak 70,19µg/Nm pada pengukuran pertama dan 69,73µg/Nm pada penguukuran kedua.

  3. Perbandingan volume lalu lintas yang terdapat di jalan Dr. Mansyur dan jalan Jend. A.H. Nasution adalah volume lalu lintas di jalan Jend. A.H.

  Nasution lebih tinggi dengan 5783 kendaraan/jam dibandingkan dengan volume lalu lintas di jalan Dr. Mansyur dengan 3123 kendaraan/jam.

  4. Jumlah pohon di jalan Dr. Mansyur adalah 37 pohon dan jumlah pohon di jalan Jend. A.H. Nasution adalah 18 pohon.

  5. Hasil pengukuran arah angin, kelembaban dan suhu di jalan Dr. Mansyur

  o

  adalah (timur laut, 53% dan 31.5 C pada pengukuran pertama dan

  o tenggara, 46% dan 34.1 C pada pengukuran kedua). Hasil pengukuran arah angin, kelembaban dan suhu di jalan Dr. Jend.

  o

  A.H. Nasution adalah (barat, 49% dan 33,8 C pada pengukuran pertama

  o dan barat laut, 46% dan 34.3 C pada pengukuran kedua).

  6. Kadar CO dam SO

  2 yang terdapat di jalan Jend. A.H. Nasution yaitu CO

  3

  2 sebanyak 69,93 µg/Nm

  dengan rata- sebanyak 17.750 µg/Nm3 dan SO

  rata volume lalu lintas 5783 kendaraan/jam. Sedangkan kadar CO dan SO

  2

  3

  yang terdapat di jalan Dr. Mansyur dan yaitu CO sebanyak 9161µg/Nm

  3 SO 2 dengan rata-rata volume lalu lintas 3123

  sebanyak 59,05µg/Nm kendaraan/jam.

  7. Kadar CO dam SO yang terdapat di jalan Jend. A.H. Nasution yaitu CO

  2

  3 2 dengan jumlah

  sebanyak 17.750 µg/Nm3 dan SO sebanyak 69,93 µg/Nm pohon disekitar titik pengambilan sampel adalah 18 batang. Sedangkan kadar CO dan SO

  2 terendah terdapat di jalan Dr. Mansyur yaitu CO

  3

  3

  dan SO

  2 dengan jumlah

  sebanyak 9161µg/Nm sebanyak 59,05µg/Nm pohon di sekitar titik pengambilan sampel adalah 37 pohon.

6.2. Saran

  1. Perlu diupayakan penanaman pohon pada jalan raya yang aktivitas lalu lintasnya ramai dan tidak didapatkan pohon atau tanaman lain yang berpotensi menyerap polutan udara.

  2. Kepada pemerintah disarankan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas udara terutama pada daerah yang aktivitas transportasinya padat dengan menambah ruang terbuka hijau (RTH).

  3. Perlunya dilakukan pemeriksaan emisi gas kendaraan bermotor secara rutin untuk mengurangi polusi udara oleh gas CO dan SO

  2 pada ruas jalan raya.

  4. Perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kadar gas CO dan SO pada jalan raya dan pengaruhnya terhadap masyarakat yang

  2 tinggal di sekitar jalan raya dan pengguna jalan raya.

DAFTAR PUSTAKA

  Edvin, A., Karmini, M., dan Budiman. 2011. Adaptasi dan Mitigasi Perubahan

  Iklim di Indonesia. Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara,

  Kedeputian Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Jakarta. Anonimus. 2014. Rekayasa Lalu Lintas dan Persimpangan Jalan. Diakses tanggal

  08 Oktober 2014. http://118.97.35.230/library- 2/files/endo/Teknik%20perencaanan%20lalu%20lintas.doc . Chandra, B. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. EGC. Jakarta Dahlan, E.N. 2007. Identifikasi Kemampuan Pohon dalam Menyerap Gas

  SO x . Jurnal Fakultas Kehutanan IPB

  Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Bina Marga Nomor 033/BM/1996 Tentang Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan. Instanova, D.B. 2012. Pengaruh Kecepatan Angin, Kelembaban dan Suhu

  Udara Terhadap Konsentrasi Gas Pencemar Sulfur Dioksida (SO )

  2 Dalam Udara Ambien di Sekitar PT. Inti General Yaja Steel Semarang. Jurnal Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.

  Kementrian Perhubungan Republik Indonesia. 2012. Trans Media,Kinerja

  Kementrian Perhubungan Tahun 2012. Kementrian Perbuhungan Indonesia. Jakarta.

  Kompas. 2014. Populas Kendaraan Bermotor di Indonesia Tembus 104,2 Juta

  Unit. Diakses tanggal 15 Oktober 2014. http://otomotif.kompas.com/read/2014/04/15/1541211/Populasi.Kendara an.Bermotor.di.Indonesia.Tembus.104.2.Juta.Unit

  Harahap, Y.Y. 2013. Perbandingan Kadar Karbon Monoksda (CO) dan

  Nitrogen Dioksida (NO 2 ) di Udara Amben Berdasarkan Keberadaan Pohon Angsana (Pterocarpus indicus di Beberapa Jalan Raya di Kota Medan Tahun 2012. Skripsi FKM USU.

  Kusminingrum, N., dan Gunawan, G. 2008. Polusi Akibat Aktivtas Kendaraan

  Bermotor di Jalan Perkotaan Pulau Jawa dan Bali. Jurnal Pusat Litbang Jalan dan Jembatan. Diakses tanggal 16 Oktober 2014. http://www.pu.go.id/uploads/services/infopublik20130926120104.pdf

  Kusminngrum, N. 2008. Potensi Tanaman Dalam Menyerap CO

  2 dan CO Untuk Mengurangi Dampak Pemanasan Global. Jurnal Pusat Litbang

  dan Jembatan. Diakses tanggal 16 Oktober. http://www.pu.go.id/uploads/services/infopublik20131119123830.pdf Mukono, H.J. 2006. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Airlangga University Press. Surabaya. Nasrullah, N., Gandanegara, S., Suharsono,H., Wungkar, M., dan Gunawan,

  A.2000. Pengukuran Serapan Polutan Gas NO

  2 pada Tanaman Tipe Pohon, Semak, dan Penutup Tanah dengan Menggunakan Gas NO

  2

15 Bertanda N. Jurnal FMIPA IPB.

  Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05/PRT/M/2008 Tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan Perkotaan.

  Rahmanto, A. 2009. Dampak Pencemaran SO . diakses tanggal 3 Maret 2015

  2 http://ahmadchem.blogspot.com/2009/11/dampak-pencemaran-so2.html

  Santoso, S.N. 2011. Penggunaan Tumbuhan Sebagai Pereduksi Pencemaran Udara. Jurnal FTSP ITS. Wardhana, W.A. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Penerbit Andi Offset. Yogyakarta. WHO, 2014. Ambient Outdoor and Health Quality. Diakses tanggal 15 Oktober

  2014. http://www.who.int/phe/health_topics/outdoorair/databases/en/ WHO, 2014. Air Pollution.Diakses tanggal 16 Oktober 2014.

  http://www.who.int/topics/air_pollution/en/ WHO.2002. Bahaya Bahan Kimia pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan.

  EGC. Jakarta. WHO, 1999. Carbon Monoxide (Second Edition). Publikasi WHO. Diakses tanggal

  14 Oktober 2014.

  http://www.who.int/ipcs/publications/ehc/en/ehc_213_part_1.pdf?ua=1

  Zendrato, E. 2010. Pengukuran Kadar Gas Pencemar Nitrogen Dioksida

  (NO 2 ) di Udara Sekitar Kawasan Industri Medan. Skripsi FMIPA

  Universitas Sumatera Utara \

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Perbedaan Kadar Co dan So2 di Udara Berdasark..

Gratis

Feedback