Representasi Kemiskinan Pada Tayangan Reality Show (Analisis Semiotika Pada Program Acara Orang Pinggiran Trans 7)

Gratis

15
80
94
2 years ago
Preview
Full text

  (Analisis Semiotika pada Program Acara Orang Pinggiran Trans 7) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Sarjana (S-1) Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Ilmu Komunikasi Disususun Oleh: ENDOWIDYA MARSELINA 110904034 DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

  

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

LEMBAR PERSETUJUAN

  Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh: Nama : Endowidya Marselina NIM : 110904034 Departemen : Ilmu Komunikasi (Jurnalistik)

  Judul : REPRESENTASI KEMISKINAN PADA TAYANGAN REALITY

  SHOW (Analisis Semiotika pada Program Acara Orang Pinggiran

  Trans 7) Dosen Pembimbing Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Drs. Hendra Harahap, M.Si Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A NIP.196710021994031002 NIP. 192082819870122001

  Dekan FISIP USU Prof. Dr. Badaruddin, M.Si

  NIP. 196805251992031002 Nama : Endowidya Marselina NIM : 110904034 Departemen : Ilmu Komunikasi Judul Skripsi : Representasi Kemiskinan pada tayangan Reality Show (Analisis

  Semiotika (Analisis Semiotika pada Program Acara Orang Pinggiran Trans 7)

  Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

  

Majelis Penguji

Ketua Penguji :

  (……………..)

  Penguji :

  (……………..)

  Penguji Utama :

  (……………..)

  Ditetapkan di : Tanggal

  

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Representasi Kemiskinan pada tayangan Reality Show”.

  Sebuah studi analisis semiotika tayangan reality show Orang Pinggiran episode ‘Derai Harap Bocah Penjual Bakso’ Tayangan ini dianalisis dengan menggunakan semiologi Roland Barthes agar diketahui makna dan mitos dibaliknya dan melihat representasi kemiskinan yang ditampilkan melalui tayangan Orang Pinggiran. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan pisau analisis Roland Barthes, yaitu analisis leksia dan lima kode pembacaan Barthes. Dari hasil penelitian ini ditemukan gambaran tentang kemiskinan menurut realitas media dalam tayangan reality show didefenisikan sebagai orang yang tinggal di luar perkotaan dan kekurangan secara materi semata. Ketiadaan harta benda, kekurangan bahan makanan, keadaan rumah yang tidak layak untuk ditempati, serta rela melakukan apa saja demi mendapatkan uang menjadi hal yang paling sering disoroti oleh media.

  Kata kunci: Kemiskinan, Reality Show, Semiotika, Televisi, Orang Pinggiran

  

ABSTRACT

  This research title is “Representation of Poverty on Reality Show”. A semiotics analysis studies of Orang Pinggiran’s reality show episode ‘A Meatball Seller Hopes (Derai Harap Bocah Penjual Bakso)’. These shows were analyzed using Roland Barthes semiology in order to know the meanings, myths and a representation of poverty shown through reality show. This research used qualitative research method. Roland Barthes semiology (lexia analysis and five code of perusal) helped the researcher to dig out the meaning and myths. Result of study was an overview of poverty according to media reality on reality show defined as people living outside urban areas and lack in material incomes. Lack of property and food, a house unfit for human life, and would do anything to get money becomes the most often highlighted by the media.

  Keyword: Poverty, Reality Show, Semiotics, Television, Orang Pinggiran

PERNYATAAN ORISINALITAS

  Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika di kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

  Nama : Endowidya Marselina NIM : 110904034 Tanda Tangan: …………..

  Tanggal : ………

  

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

  Sebagai civitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Endowidya Marselina NIM : 110904034 Departemen : Ilmu Komunikasi Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Universitas Sumatera Utara Jenis Karya : Skripsi Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non-exclusive Royalty-

  Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

  Representasi Kemiskinan pada tayangan Reality Show (Analisis Semiotika Analisis Semiotika Representasi Kemiskinan pada Program Acara Orang Pinggiran Trans 7) Beserta perangkat yang ada. Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap menyantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

  Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

  (Endowidya Marselina)

KATA PENGANTAR

  Pujian, rasa syukur, serta terima kasih yang tiada henti-hentinya saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Yesus Kristus karena berkat dan besar kuasa- Nya dalam hidup penulis, sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini hingga akhir. Skripsi ini berjudul Representasi Kemiskinan pada tayangan Reality Show

  

(Analisis Semiotika pada Program Acara Orang Pinggiran Trans 7) merupakan

  karya ilmiah yang disusun sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

  Ucapan terima kasih teristimewa dan sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada kedua orangtua penulis, Ir. Tumpal Hasugian, SP (Bapak) dan Dra. Serbaria Aritonang (Mama) karena telah mencurahkan melahirkan, membesarkan dan memberikan pendidikan yang terbaik untuk penulis. Terima kasih karena telah memberikan doa, waktu, tenaga, dan nasihat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

  Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang membantu dalam penyelesaian skripsi ini, dan secara khusus saya mengucapkan terimakasih kepada:

  1. Drs. Hendra Harahap, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah bersedia menyediakan waktu dan tenaga yang secara ikhlas untuk membimbing dan memberi dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

  2. Kepada seluruh dosen Ilmu Komunikasi yang telah memberikan ilmu pengetahuan selama masa perkuliahan.

  3. Kepada saudara-saudara penulis Maktua Nella, Tulang Joshua, Bang Rio Bang Felix, dan lainnya yang selalu mendengarkan curahan hati penulis selalu bersama sejak kecil dan sekarang harus terpisah oleh jarak. Semoga kita bisa kumpul sama-sama lagi.

  4. Kepada teman-teman seperjuangan Eva Elfira, Risa Riskayanti, Ummul Khaira, Nurhasanah Harahap, Ewitha, Desi Trinanda, dan Apriani yang selalu mengingatkan penulis untuk segera tamat kuliah.

  5. Terima kasih buat teman-teman alumni XII IPA 3 SMAN 3 Medan tamatan 2011 yang masih menjalin tali persahabatan dengan penulis meskipun sudah lama tamat dari SMA. Terutama yang kuliah di USU Eny Noveyona, Nur Tri Hardi, dan M. Dian Nugraha, semoga bisa wisuda sama-sama. Kepada teman-teman lainnya Siska di Solo, Esi, Agung, Anggota H2S (Nona Maharani Hasibuan dan Benny Sianipar) semoga kalian juga cepat lulus dan bisa kumpul lagi.

  6. Kepada teman-teman yang menuliskan nama saya di skripsi mereka. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, maka dari itu diperlukan saran dan kritik yang membangun. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi rekan-rekan mahasiswa dan semua pihak yang membutuhkannya.

  Medan, 14 September 2015 Hormat Saya

  Endowidya Marselina

  DAFTAR ISI LEMBAR PERSETUJUAN HALAMAN PENGESAHAN

ABSTRAK ............................................................................................. i

ABSTRACT ............................................................................................. ii

PERNYATAAN ORISINALITAS KATA PENGANTAR......................... iii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ........................................ iv

KATA PENGANTAR .................................................................................... v

DAFTAR ISI ............................................................................................. vii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar BelakangMasalah ...................................................................

  2.2.3. Televisi sebagai Representasi Budaya Massa ............................ 20

  2.2.6. Kemiskinan ............................................................................... 35

  2.2.5.2. Camera Angle ......................................................................... 34

  2.2.5.1. Ukuran Pengambilan Gambar ................................................. 33

  2.2.5. Prinsip Dasar Pengambilan Gambar .......................................... 32

  2.2.4. Representasi ............................................................................... 30

  2.2.3.1. Reality Show ................................................................... 29

  2.2.2. Semiologi Roland Barthes ......................................................... 17

  1 1.2. Fokus Masalah........................................................................... ..........

  2.2.1. Semiotika ................................................................................... 11

  2.2. Uraian Teoritis.................................................................. ................... 11

  9

  7 BAB II URAIAN TEORITIS 2.1. Paradigma Kajian .................................................................................

  7 1.5. Manfaat Penelitian ...............................................................................

  7 1.4. Tujuan Penelitian ........................................................................

  7 1.3. Pembatasan Masalah......................................................................... ...

  BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  3.4. Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 39

  4.2.5. Analisis Scene 5 .......................................................................... 58

  5.2. Saran .................................................................................................... 77

  5.1. Kesimpulan ........................................................................................... 77

  BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  4.3. Pembahasan .......................................................................................... 71

  4.2.8. Analisis Scene 8 .......................................................................... 68

  4.2.7. Analisis Scene 7 .......................................................................... 65

  4.2.6. Analisis Scene 6 .......................................................................... 61

  4.2.4. Analisis Scene 4 .......................................................................... 55

  3.5. Teknik Analisis Data.................................................................. .......... 40

  4.2.3. Analisis Scene 3 .......................................................................... 51

  4.2.2. Analisis Scene 2 .......................................................................... 47

  4.2.1. Analisis Scene 1 .......................................................................... 44

  4.2. Analisis Data ........................................................................................ 44

  4.1. Gambaran Umum Tayangan Reality Show Orang Pinggiran ............... 43

  BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

  3.5.2. Kode Pembacaan ........................................................................ 41

  3.5.1. Analisis Leksia ........................................................................... 41

  

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 79

LAMPIRAN

  

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Representasi Kemiskinan pada tayangan Reality Show”.

  Sebuah studi analisis semiotika tayangan reality show Orang Pinggiran episode ‘Derai Harap Bocah Penjual Bakso’ Tayangan ini dianalisis dengan menggunakan semiologi Roland Barthes agar diketahui makna dan mitos dibaliknya dan melihat representasi kemiskinan yang ditampilkan melalui tayangan Orang Pinggiran. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan pisau analisis Roland Barthes, yaitu analisis leksia dan lima kode pembacaan Barthes. Dari hasil penelitian ini ditemukan gambaran tentang kemiskinan menurut realitas media dalam tayangan reality show didefenisikan sebagai orang yang tinggal di luar perkotaan dan kekurangan secara materi semata. Ketiadaan harta benda, kekurangan bahan makanan, keadaan rumah yang tidak layak untuk ditempati, serta rela melakukan apa saja demi mendapatkan uang menjadi hal yang paling sering disoroti oleh media.

  Kata kunci: Kemiskinan, Reality Show, Semiotika, Televisi, Orang Pinggiran

  

ABSTRACT

  This research title is “Representation of Poverty on Reality Show”. A semiotics analysis studies of Orang Pinggiran’s reality show episode ‘A Meatball Seller Hopes (Derai Harap Bocah Penjual Bakso)’. These shows were analyzed using Roland Barthes semiology in order to know the meanings, myths and a representation of poverty shown through reality show. This research used qualitative research method. Roland Barthes semiology (lexia analysis and five code of perusal) helped the researcher to dig out the meaning and myths. Result of study was an overview of poverty according to media reality on reality show defined as people living outside urban areas and lack in material incomes. Lack of property and food, a house unfit for human life, and would do anything to get money becomes the most often highlighted by the media.

  Keyword: Poverty, Reality Show, Semiotics, Television, Orang Pinggiran

  

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Budaya menonton televisi memang sudah menjadi konsumsi masyarakat kita.

  Tidak peduli di desa atau di kota. Tidak peduli kalangan atas atau bawah. Kini mereka menjadikan televisi sebagai kebutuhan pokok. Dalam arti ritme kehidupan masyarakat kita lama kelamaan terpengaruh tayangan televisi (Baksin, 2006: 59). Di era sekarang ini televisi sudah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian orang. Fungsinya yang banyak dianggap sebagai penghibur, pemberi informasi, dan terkadang edukator, menjadi alasan utama orang memiliki televisi. Bahkan, untuk sebagian orang kehadiran televisi di rumah adalah suatu keharusan untuk menunjang unsur kemewahan semata. Yang terakhir ini sudah jelas melenceng dari fungsi awal televisi. Keberadaan media massa khusus nya televisi di Indonesia telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat kita. Televisi dengan berbagai macam acara yang ditayangkannya telah mampu menarik minat pemirsanya. Data yang dikeluarkan BPS tahun 2009 menunjukkan bahwa orang Indonesia untuk mendapatkan informasi baru dengan melakukan kegiatan menonton televisi sebesar 85,9 % sedangkan membaca sebesar 23,5 % dan mendengarkan radio sebesar 40,3 % dari total penduduk Indonesia. Dilihat dari data tersebut diatas dapat kita artikan bahwa intensitas kegiatan menonton televisi masyarakat kita masih tinggi dibanding kegiatan membaca buku dan mendengarkan radio. Padahal perkembangan program acara televisi saat ini lebih dirasa mengacu pada trend bukan atas dasar sasaran dan tujuan program televisi itu sendiri walaupun tidak semua program acara televisi demikian. (Musthofa, 2012: 2-3)

  Di antara bentuk-bentuk media massa yang ada, televisi adalah salah satu medium massa yang paling populer di tengah-tengah masyarakat. Berdasarkan survey AC Nielsen, televisi menempati urutan pertama dengan perolehan presentase sebanyak mereka dijejali hiburan, berita, dan iklan. Mereka menghabiskan waktu menonton televisi sekitar tujuh jam sehari (Ardianto dan Erdiana, 2004: 125).

  Televisi memiliki keistimewaan dibandingkan dengan media komunikasi massa lainnya. Menurut Wibowo (1997) televisi sebagai bagian dari kebudayaan audiovisual baru merupakan medium yang paling kuat pengaruhnya dalam membentuk sikap dan kepribadian masyarakat secara luas. Hal ini disebabkan oleh satelit dan pesatnya perkembangan jaringan televisi yang menjangkau masyarakat hingga ke wilayah terpencil. Kelebihannya terletak pada penggunaan bahasa verbal dan visual dalam penyampaian pesan, informasi, pengajaran, ilmu dan hiburan. (Ardianto dan Erdiana, 2004: 128).

  Posisi dan peran televisi dalam operasionalnya di masyarakat tidak berbeda dengan cetak dan radio. Robert K. Avery dalam bukunya “Communication and The

  

Media” dan Stanford B. Wienberg dalam “Messeges – A Reader in Human

Communication”, Random House New York 1980, mengungkapkan tiga fungsi media

  (Kuswandi, 1996:24).

  1. The Surveillance of the environment, yaitu untuk mengamati lingkungan

  2. The Correlation of the part of society in responding to the environment, yaitu mengadakan korelasi antara informasi data yang diperoleh dengan kebutuhan khalayak sasaran, karena komunikator lebih menekankan pada seleksi evaluasi dan interpretasi.

  3. The transmission of the social heritage from one generation to the next, maksudnya ialah menyalurkan nilai-nilai budaya dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Stasiun-stasiun televisi saat ini telah menyediakan program acara yang beragam dan menarik sesuai kebutuhan dan keinginan masyarakat diantaranya drama, reality

  

show, dan berita. Salah satu acara menarik yang banyak ditayangkan di televisi adalah

  tayangan reality show yang menampilkan gambaran kebudayaan dan kehidupan masyarakat. Program acara ini mencoba menyajikan suatu keadaan yang nyata (riil) disiarkan di televisi. Reality show diproduksi berdasarkan realitas kehidupan dengan menampilkan ekspresi, atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang. Pada tayangan

  

reality show, pelaku utama tidak harus berasal dari orang-orang terkenal, tapi

  masyarakat biasa dapat menjadi pelaku utama dalam tayangan ini. Keberhasilan

  

reality show dalam merebut perhatian penonton juga dikarenakan banyaknya konflik

dalam tayangan jenis ini. Konflik adalah bagian dari nilai jual suatu pesan media.

  Reality show diproduksi dengan tujuan untuk menghibur, mendidik dan

  memberikan inspirasi kepada penontonnya. Tetapi fungsi menghibur lebih dominan pada media televisi. Tujuan utama khalayak menonton televisi adalah untuk memperoleh hiburan, selanjutnya untuk memperoleh informasi (Ardianto dan Erdiana, 2004: 128).

  Menurut Charles Wright hal ini jelas sebagai salah satu fungsi yang lebih bersifat

  

human interest. Maksudnya, agar masyarakat tidak merasa jenuh dengan berbagai isi

  pesan yang disajikan oleh televisi. Selain itu, fungsi hiburan media massa juga berdaya guna sebagai sarana pelarian pemirsa/masyarakat sasaran terhadap satu masalah (Kuswandi, 1996: 25).

  Reality Show pertama sekali muncul di Amerika Serikat pada sekitar tahun 1948

  melalui program acara Candid Camera yang diproduksi oleh Allen Funt. Pada acara ini, orang-orang akan dihadapkan dengan situasi yang tidak biasa, menggunakan suatu trik dan alat peraga tertentu untuk mengetahui reaksi seseorang akan situasi yang direkam melalui kamera tersembunyi. Sebelumnya acara ini juga pernah disiarkan di stasiun ABC Radio melalui program acara The Candid Microphone. Pada tahun 1950 muncul program acara dengan format yang sama dengan acara sebelumnya yaitu Truth

  

or Consequences yang juga menggunakan sistem kamera tersembunyi. Selanjutnya

  pada tahun 2000-an, tayangan reality show dengan format lain, seperti game show mulai berkembang pesat di stasiun-stasiun televisi Amerika. Salah satu contohnya memperoleh rating pertama dengan jumlah penonton sekitar 27 juta orang. Selain itu selama tiga episode terakhir program acara ini disiarkan, pihak stasiun televisi telah mendapatkan keuntungan sebesar 50 juta dollar melalui iklan (Hill, 2005: 2).

  Reality show sendiri sangat terkenal di UK. Pada tahun 2000, lebih dari 70 persen

  dari populasi penduduk (usia 4-65 tahun) menonton program reality show. Jenis-jenis

  

reality show yang mereka tonton seperti program polisi atau program kriminal seperti

  pada program acara Camera Action! pada chanel ITV1 yang ditonton sejumlah 71 persen orang dewasa dan 72 persen anak-anak. Program Airport pada chanel BBC1 ditonton sebanyak 71 persen orang dewasa dan 75 persen anak-anak. Hal ini tentunya semakin berkembang dengan semakin banyaknya program-program reality show yang ditayangkan. (Hill, 2005:3)

  Istilah reality show mulai mengemuka dalam pertelevisian nasional setelah ‘Akademi Fantasi Indosiar’ (AFI) digelar, disertai penayangan dan iklan yang sangat intens. Dalam beberapa bulan kemudian disusul oleh RCTI dengan ‘Indonesian Idol’, yang sebelumnya diawali dengan American Idol tayangan asli Fox Network America, yang ternyata diterima dengan baik oleh penonton tanah air. Sukses Indosiar dengan ‘konser AFI’ menempatkan ratingnya pada posisi puncak, membuat tayangan reality

  

show semakin dikenal dan diminati penonton. Beberapa stasiun televisi lain berlomba

  membuat program sejenis. Maraknya stasiun televisi berlomba merancang berbagai program dengan memanfaatkan momentum naik daunnya reality show. Seperti yang disampaikan oleh Shuman Ghosemajumder (2003) bahwa televisi merupakan media yang paling cocok dan tepat untuk reality show, karena selain memungkinkan untuk siaran langsung (live) juga mempunyai sifat audio visual (Sugihartono, 2004: 73).

  Setelah sukses dengan reality show pencarian bakat, berbagai acara reality show dengan tema berbeda mulai diproduksi oleh beberapa stasiun televisi. Beberapa diantaranya mengusung tema percintaan, hiburan, permainan, serta tema sosial yang Januari 2003 di RCTI setiap hari Minggu pukul 16.30 WIB. “Katakan Cinta” terpilih sebagai reality show terfavorit dalam ajang Panasonic Awards 2003, dan nominator

  

reality show terfavorit Panasonic Awards 2004. Kesuksesan program acara “Katakan

  Cinta” telah mendorong stasiun televisi lain untuk berlomba-lomba memproduksi

  

reality show dengan tema sejenis. Beberapa contoh diantaranya seperti SCTV dengan

  Playboy Kabel, Kontak Jodoh, dan Harap-harap Cemas (H2C), Pacar Usil, Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK), Cinta Lokasi, Masihkah Kau Mencintaiku, dan masih banyak lainnya. Selain percintaan, beberapa stasiun televisi lain justru tertarik memproduksi reality show dengan tema mistis karena dianggap dapat menarik rasa penasaran para penonton yang menyaksikannya seperti pada program acara Masih Dunia Lain.

  Namun ternyata para kreator stasiun televisi tidak terhenti pada lingkup tema-tema tersebut, hingga muncullah reality show bertema sosial dengan mengangkat sesuatu yang berbau kemiskinan dan privacy. Beberapa contohnya yaitu pada program acara Rumah Gratis dan Jika Aku Menjadi yang pernah ditayangkan di stasiun televisi TRANS TV, Bedah Rumah dan Minta Tolong yang pernah ditayangkan di stasiun televisi RCTI, Catatan si Olga yang pernah ditayangkan di ANTV, serta program acara Orang Pinggiran yang sampai sekarang masih ditayangkan di stasiun televisi Trans 7.

  Reality show dengan tema sosial ini pada umumnya mengangkat kisah seseorang

  yang hidup dalam garis kemiskinan dan mempunyai kekurangan baik secara ekonomi maupun secara fisik. Kondisi tempat tinggal yang kurang layak, pekerjaan yang tidak didukung dengan penghasilan yang mencukupi, serta kurangnya sarana prasarana yang memadai di lingkungan sekitar merupakan beberapa hal yang paling sering disoroti.

  Fenomena kemiskinan merupakan salah satu dari banyaknya masalah sosial yang dialami Indonesia saat ini. Usaha-usaha pemberantasan kemiskinan sampai terbukti berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dimana hingga tahun 2013 sebanyak 28 juta dari 250 juta masyarakat Indonesia atau dengan presentase sebesar 11,47% yang masuk dalam kategori masyarakat miskin . Fenomena ini telah mendorong sejumlah stasiun televisi untuk mengangkat masalah kemiskinan sebagai salah satu tema dalam tayangan reality

  show. Salah satunya yaitu pada program acara Orang Pinggiran.

  Orang Pinggiran adalah program acara semi dokumenter yang tayang setiap hari Rabu–Jumat pukul 15.45-16.15 WIB di stasiun televisi Trans 7. Tayangan ini bercerita mengenai perjuangan orang pinggiran untuk bisa bertahan hidup meskipun kehidupan mereka terus tergerus oleh perkembangan zaman. Memenuhi berbagai kebutuhan hidup meskipun dengan keterbatasan dan ketertinggalan menjadi inspirasi tersendiri bagi penonton. Motivasi dan semangat mereka menjalani hidup dapat mengatasi berbagai halangan yang ada . Tayangan ini mengambil kisah dari kehidupan seseorang yang mempunyai kekurangan baik secara ekonomi, atau pun fisik dimana sehari-hari mereka harus berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dengan penghasilan seadanya. Namun, beberapa penonton menganggap bahwa acara ini melebih-lebihkan fakta, serta menyoroti kesusahan hidup seseorang menjadi sebuah tayangan yang menarik dan membawa keuntungan bagi pihak produksi acara serta stasiun televisi yang bersangkutan.

  Beberapa masyarakat menganggap tayangan ini diproduksi dengan tujuan untuk menguntungan pihak-pihak tertentu saja dari hasil penayangan acara ini. meskipun acara ini merupakan reality show, bukan berarti acara ini menampilkan realitas secara keseluruhan. Meskipun begitu, masyarakat lainnya mengganggap tayangan ini memberikan inspirasi dan motivasi bagi penontonnya. Hal ini terbukti sejak awal penayangannya pada tanggal 13 Desember 2010 hingga saat ini program acara Orang Pinggiran telah mendapat berbagai apresiasi yang positif. Beberapa diantaranya yaitu

  2011 dengan episode Sang Juara dari Bantaran Rel. selain penghargaan tersebut, berbagai apresiasi juga muncul melalui beberapa akun media sosial resmi Orang Pinggiran di facebook, dan twitter.

  Dari pemaparan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti representasi kemiskinan pada program acara Orang Pinggiran untuk melihat bagaimana sebuah fenomena kemiskinan dikonstruksi dan direpresentasikan melalui media massa. Peneliti kemudian memilih program ini sebagai objek penelitian, dengan alasan karena program ini merupakan salah satu program acara reality show yang mempunyai jam tayang cukup panjang. Program ini juga mempunyai banyak penggemar, karena di empat tahun penayangannya rating program ini masih tetap terjaga.

  1.2. Fokus Masalah

  Berdasarkan uraian konteks masalah diatas, maka fokus masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Bagaimanakah kemiskinan direpresentasikan dalam tayangan reality show Orang Pinggiran di Trans 7?”

  1.3. Pembatasan Masalah

  Untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas, maka diperlukan pembatasan masalah. Adapun pembatasan masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut:

  1. Penelitian dilakukan pada reality show Orang Pinggiran episode ‘Derai Harap Bocah Penjual Bakso’ dengan durasi 22 menit 8 detik.

  2. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif Analisis pada penelitian ini menggunakan kajian semiologi Roland Barthes.

  Adapun tujuan penelitian ini adalah: untuk mengetahui representasi kemiskinan pada tayangan reality show Orang Pinggiran di Trans 7.

1.5. Manfaat Penelitian

  Adapun manfaat penelitian ini adalah:

  1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu komunikasi, serta sebagai tambahan referensi dan sumber bacaan mahasiswa FISIP USU, khususnya Departemen Ilmu Komunikasi.

  2. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan memperluas wawasan bagi pengembangan Ilmu Komunikasi, khususnya bagi mahasiswa atau masyarakat yang tertarik dengan topik penelitian.

  3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi mahasiswa atau masyarakat yang ingin mempelajari lebih lanjut mengenai analisis semiotika pada tayangan reality show.

URAIAN TEORITIS

2.1.Paradigma Kajian

  Paradigma diartikan sebagai cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan memengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif). Paradigma sangat menentukan bagaimana seorang ahli memandang komunikasi yang menjadi objek ilmunya (Vardiansyah, 2008: 27).

  Menurut Denzin dan Guba (dalam Wibowo, 2013: 52) paradigma adalah basis kepercayaan atau metaphysics utama dari sistem berpikir: basis dari ontologi, epistemologi, dan metodologi. Paradigma dalam pandangan filosofis, memuat pandangan awal yang membedakan, memperjelas, dan mempertajam orientasi berpikir seseorang. Dengan demikian paradigma membawa konsekuensi dan kebijakan terhadap pemilihan masalah.

  Teori konstruktivisme adalah pendekatan secara teoritis untuk komunikasi yang dikembangkan tahun 1970-an oleh Jesse Deli dan rekan-rekan sejawatnya. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu melakukan interpretasi dan bertindak menurut berbagai kategori konseptual yang ada dalam pikirannya. Menurut teori ini, realitas tidak menunjukkan dirinya dalam bentuknya yang kasar, tetapi harus disaring terlebih dahulu melalui cara seseorang melihat sesuatu (Morissan, Andy dan Wardhany, 2009:107).

  Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah konstruksi (bentukan). Teori ini beranggapan bahwa unsur objek dan subjek sama-sama berperan dan saling berinteraksi dalam mengonstruksi ilmu pengetahuan. Pengetahuan tersebut dibangun dari proses kognitif dan interaksinya dengan dunia objek material. Menurut Driver dan Bell, ilmu pengetahuan bukanlah

  (Ardianto dan Q-Aness, 2007: 153).

  Paradigma konstruktivisme ialah paradigma yang menyatakan bahwa kebenaran suatu realitas sosial merupakan hasil konstruksi sosial, yang bersifat relatif. Paradigma konstruktivisme ini berada dalam perspektif interpretivisme (penafsiran) yang terbagi dalam tiga jenis, yaitu interaksi simbolik, fenomenologis dan hermeneutik. Paradigma konstruktivisme dalam ilmu sosial merupakan kritik terhadap paradigma positivis. Menurut paradigma konstruktivisme realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang, seperti yang biasa dilakukan oleh kaum positivis. Konsep mengenai konstruksionis diperkenalkan oleh sosiolog interpretative, Peter L.Berger bersama Thomas Luckman. Dalam konsep kajian komunikasi, teori konstruksi sosial bisa disebut berada di antara teori fakta sosial dan defenisi sosial (Eriyanto 2004:13).

  Konstruktivisme muncul setelah para ilmuan menolak tiga prinsip dasar positivisme: (a) ilmu merupakan upaya mengungkap realitas yang terstruktur, (b) hubungan subjek peneliti dengan objek penelitian harus terpisahkan secara tegas guna mengejar objektivitas, (c) hasil temuan harus merupakan generalisasi yang universal, berlaku kapan pun dan di mana pun (Vardiansyah, 2008: 59).

  Menurut Von Glasersferld dan Kitchener tahun 1987 (dalam Ardianto dan Q- Anees, 2007: 155) secara ringkas gagasan konstruktivisme mengenai pengetahuan dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.

  2. Subjek membentuk skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang perlu untuk pengetahuan.

  3. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsepsi seseorang. Struktur konsepsi membentuk pengetahuan bila konsepsi itu berlaku dalam berhadapan dengan pengalaman-pengalaman seseorang. dan pertukaran makna. Paradigma ini melihat komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna (Eriyanto, 2008: 37).

  Dalam pandangan konstruksionis, tidak ada realitas dalam arti riil, sebelum peneliti mendekatinya. Sesungguhnya yang ada konstruksi atau suatu realitas. Realitas sosial bergantung pada bagaimana seseorang memahami dunia, dan bagaimana menafsirkannya. Penafsiran dan pemahaman itulah yang disebut realitas. Karena itu, peristiwa dan realitas yang sama bisa jadi menghasilkan konstruksi realitas yang berbeda dari orang yang berbeda (Eriyanto, 2008: 45).

2.2. Uraian Teoritis

2.2.1. Semiotika

  Secara etimologis, istilah semiotika berasal dari kata yunani Semeion yang berarti tanda. Tanda itu sendiri didefenisikan sebagai suatu yang dianggap mewakili sesuatu yang lain. Tanda pada awalnya dimaknai sebagai suatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain (Wibowo, 2013: 7).

  Menurut Eco (1979), secara terminologis semiotika dapat didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa, peristiwa, dan seluruh kebudayaan sebagai tanda. Van Zoest (1996) mengartikan semiotik sebagai “ilmu tanda (sign) dan segala yang berhubungan dengannya; cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.” (Sobur, 2004: 96).

  Barthes menyebutkan bahwa semiotika merupakan suatu ilmu dan metode analisis untuk mengkaji tanda. Semiotika pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai berarti bahwa objek- objek tidak hanya membawa informasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha

  2004: 15).

  Preminger memberi batasan semiotika yang menganggap bahwa fenomena sosial masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotika mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Semiotika sebagai suatu model dari ilmu pengetahuan sosial memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar yang disebut dengan tanda. Umberto Eco menyebut tanda tersebut sebagai “kebohongan”. Menurut Saussure, persepsi dan pandangan kita tentang realitas, dikonstruksikan lewat kata- kata dan tanda-tanda lain digunakan dalam konteks sosial. hal itu berarti tanda membentuk persepsi manusia, lebih dari sekedar merefleksikan realitas yang ada. (Zamroni, 2009: 92) Pada dasarnya pusat perhatian pendekatan semiotik adalah pada tanda (sign).

  Menurut John Fiske, terdapat tiga area penting dalam studi semiotik, yakni; (Sobur, 2004: 94)

  1. Tanda itu sendiri. Hal ini berkaitan dengan beragam tanda yang berbeda, seperti cara mengantarkan makna serta cara menghubungkannya dengan orang yang menggunakannya. Tanda adalah buatan manusia dan hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang menggunakannya.

  2. Kode atau sistem di mana lambang-lambang disusun. Studi ini meliputi bagaimana beragam kode yang berbeda dibangun untuk mempertemukan dengan kebutuhan masyarakat dalam sebuah kebudayaan.

  3. Kebudayaan di nmana kode dan lambang itu beroperasi Charles Morris menaruh perhatian atas ilmu tentang tanda-tanda. Menurut Morris, kajian semiotika pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam tiga cabang penyelidikan yaitu sintaktik, semantik, dan pragmatik (Wibowo, 2013: 5).

  1. Sintaktik (syntactic) merupakan suatu cabang penyelidikan semiotika yang mengkaji “hubungan formal diantara satu tanda dengan tanda-tanda yang lain”.

  Dengan begitu hubungan-hubungan formal ini merupakan kaidah-kaidah yang mengendalikan tuturan dan interpretasi, pengetian sintaktik kurang lebih mempelajari “hubungan di antara tanda-tanda dengan designata atau objek- objek yang diacunya”. Designata adalah tanda-tanda sebelum digunakan di dalam tuturan tertentu.

  3. Pragmatik (pragmatics) merupaka suatu cabang penyelidikan semiotika yang mempelajari pemakaian tanda-tanda. Pragmatik secara khusus berurusan dengan aspek-aspek komunikasi, khusunya fungsi-fungsi situasional yang melatari tuturan.

  Kajian komunikasi saat ini telah membedakan dua jenis semiotika, yakni semiotika signifikasi dan semiotika komunikasi. Semiotika komunikasi menekankan pada teori tentang produksi tanda, yang salah satu diantaranya mengasumsikan adanya enam faktor dalam komunikasi yaitu pengirim, penerima kode (sistem tanda), pesan, saluran komunikasi dan acuan yang dibicarakan. Semiotika signifikasi adalah memberi tekanan pada teori tanda dan pemahamannya pada suatu konteks tertentu (Suprapto, 2009: 98).

  Menurut Berger (dalam Sobur, 2004: 31), ada dua pendekatan penting terhadap tanda-tanda yang menjadi rujukan para ahli Pertama adalah pendekatan yang didasarkan pada pandangan Ferdinand de Saussure (1857-1913) yang mengatakan bahwa tanda-tanda disusun dari dua elemen, yaitu aspek citra tentang bunyi dan sebuah konsep di mana citra bunyi disandarkan.

  Pemikiran Saussure yang paling penting adalah pandangannya tentang tanda. Saussure meletakkan tanda dalam konteks komunikasi manusia dengan pemilahan antara signifiant (penanda) dan signifie (petanda). Penanda adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna (aspek material), yakni apa yang dikatakan dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran mental, yakni pikiran atau konsep (aspek mental) dari bahasa. (Kurniawan, 2001: 14). Saussure menggambarkan tanda yang terdiri atas signifier dan signified itu sebagai berikut:

Gambar 2.1. Elemen-elemen makna dari Saussure

  

Sumber: Fiske, John. 2002. Introduction Communication Studies. London and New York:

Routledge, hlm. 44

  Pendekatan kedua adalah pendekatan tanda yang didasarkan pada pandangan seorang filsuf bernama Charles Sanders Peirce (1839- 1914). Peirce menandaskan bahwa tanda-tanda berkaitan dengan objek-objek yang menyerupainya, keberadaannya memiliki hubungan sebab-akibat dengan tanda-tanda. (Sobur, 2004: 34).

  Menurut Charles Sanders Peirce, tanda dibentuk dalam tiga sisi yaitu

  

representament atau tanda itu sendiri, objek yang dirujuk oleh tanda dan akan

  membuahkan interpretant. Interpretant merupakan tanda seperti yang dicerap oleh benak kita. Mengenai makna sendiri menurut Peirce akan timbul ketika ketiga hubungan elemen tiga sisi tadi bekerja. Interpretant yang terbentuk oleh segitiga makna yang dibuat oleh Peirce ini dapat menimbulkan untaian rantai makna karena sifat makna yang berubah-ubah. Maka itu Peirce mengajukan sebuah gejala tanda yang disebut sebagai dinamisme internal dimana interpretant dari setiap tanda bisa menjadi tanda baru lagi. (Wibowo, 2013: 147). dan dalam respek atau penghargaan (ground-nya). Relasi dari ketiga hal ini menentukan ketepatan proses semiosis. Dalam relasi triadik ini terdapat tiga konsep penting dalam pemikiran Peirce, yaitu ikon, indeks, dan simbol. (Kurniawan, 2001: 21).

  Menurut Peirce, sebuah analisis tentang esensi tanda mengarah pada pembuktian bahwa setiap tanda ditentukan oleh objeknya. Pertama, dengan mengikuti sifat objeknya, ketika kita menyebut tanda sebuah ikon. Kedua, menjadi kenyataan dan keberadaannya berkaitan dengan objek individual, ketika kita menyebut tanda sebuah indeks. Ketiga, kurang lebih, perkiraan yang pasti bahwa hal itu diinterpretasikan sebagai objek denotatif akibat dari suatu kebiasaan ketika kita meyebut tanda sebuah simbol (Sobur, 2004: 35).

  Ikon merupakan “tanda” juga karena tampak seerti apa yang ditandakan (signified). Jika dalam contoh di atas, “anjing” sebagai objek yang mewakili suatu realitas yang asli, maka salah satu ciri ikon adalah tidak ada hubungan “nyata” antara objek dan ikon, artinya tampilan ikon itu mirip dengan objek asli namun kita harus berpikir untuk melihat-lihatnya lagi. Dengan kata lain, tampilan ikon selalu semakin jauh dari kenyataan atau keaslian suatu objek. Ikon sebenarnya merupakan modis di mana penanda (signifier) dianggap “menyerupai” atau “meniru” apa yang ditandakan (signified) dilihat, dikenal, didengar, dirasakan, dikecap, atau diciumi (berbau mirip). (Liliweri, 2011: 349)

  Indeks memiliki hubungan sekuensial dengan material yang ditandai. Indeks secara langsung dapat dipahami sebagai peristiwa yang dapat bertindak sebagai referensi dari kejadian-kejadian yang tidak secara langsung dapat dipahami. Indeks dengan demikian adalah sesuatu yang terlihat dan menunjukkan bahwa ada sesuatu yang hilang dari pandangan. Indeks merupakan petunjuk pertama bagi setiap orang untuk melacak tanda-tanda yang mungkin sudah hilang. Sifat utama indeks adalah

  350) Simbol adalah ‘sesuatu’ yang terdiri atas ‘sesuatu yang lain’. Suatu makna dapat ditunjukkan oleh simbol. Cincin merupakan simbol pernikahan, sepasang angsa melambangkan kesetiaan, seragam merupakan lambang korps, bendera sebagai simbol bangsa, dan jubah putih sebagai simbol kesucian. Jika tanda mempunyai satu arti (yang sama bagi semua orang), maka simbol mempunyai banyak arti (tergantung pada siapa yang menafsirkannya). Manusia berkomunikasi dengan bahasa, bahasa tergantung pada kata dan tata bahasa. Semua kata yang digunakan adalah simbol. Karena mempunyai banyak arti. Karena simbol selalu diwakili oleh kata-kata yang dapat saja memiliki pengertian yang berbeda-beda maka kata Verbender (1986), komunikasi verbal lisan maupun tertulis tergantung pada penguasaan kata dan tata bahasa. (Liliweri, 2011: 350)

  Hubungan antara ikon, indeks, dan simbol tersebut memiliki sifat konvensional. Hubungan antara simbol, thought of reference (pikiran atau referensi) dengan referent (acuan) dapat digambarkan melalui bagan semiotic triangle berikut ini :

  

Pikiran atau referensi

acuan simbol

Gambar 2.2 : Semiotic Triangle Ogden and Richards Sumber: Sobur, Alex. 2004. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, hlm.

  159

  Berdasarkan gambar di atas dapat dijelaskan bahwa pikiran merupakan mediasi Referensi dengan demikian merupakan gambaran hubungan antara tanda kebahasaan berupa kata maupun kalimat dengan dunia acuan yang membuahkan satu pengertian tertentu.

  Semiotika digunakan sebagai pendekatan untuk menganalisis media dengan asumsi bahwa media itu sendiri dikomunikasikan melalui seperangkat tanda. Teks media yang tersusun atas seperangkat tanda itu tidak pernah membawa makna tunggal. Kenyataannya teks media memiliki ideologi atau kepentingan tertentu, memiliki ideologi dominan yang terbentuk melalui tanda tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa teks media membawa kepentingan-kepentingan tertentu dan juga kesalahan-kesalahan tertentu yang lebih luas dan kompleks (Wibowo, 2013: 11).

  Semiotika memecah-mecah kandungan dalam teks menjadi bagian-bagian, dan menghubungkan mereka dengan wacana-wacana yang lebih luas. Sebuah analisis semiotik menyediakan cara menghubungkan teks tertentu dengan sistem pesan di mana dia beroperasi. Hal ini memberikan konteks intelektual pada isi. Ia mengulas cara-cara beragam unsur teks bekerja sama dan berinteraksi dengan pengetahuan kultural kita untuk menghasilkan makna (Stokes, 2007 : 77).

2.2.2. Semiologi Roland Barthes

  Kancah penelitian semiotika tidak bisa begitu saja melepaskan nama Roland Barthes (1915-1980), ahli semiotika yang mengembangkan kajian yang sebelumnya punya warna kental strukturalisme kepada semiotika teks (Wibowo, 2013: 21).

  Roland Barthes dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang mempraktikkan model linguistik dan semiologi Saussurean. Barthes berpendapat bahwa bahasa adalah sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. (Sobur, 2004: 63).

  Semiologi Roland Barthes mengacu pada Saussure dengan menyelidiki hubungan yang lain, tetapi korelasilah yang meyatukan keduanya (Hawkes, 1977: 130 dalam Kurniawan, 2001 : 22)

  Barthes mendefenisikan sebuah tanda (sign) sebagai sebuah sistem yang terdiri dari sebuah ekspresi atau signifier dalam hubungannya dengan content atau signified. Sebuah sistem tanda primer (primary sign system) dapat menjadi sebuah elemen dari sebuah sistem tanda yang lebih lengkap dan memilki makna yang berbeda ketimbang semula. Primary sign disebut sebagai denotatif sedangkan secondary sign adalah salah satu dari konotatif. Fiske menyebut model ini sebgai signifikasi dua tahap (two order

  

of signification). Lewat model ini Barthes menjelaskan bahwa signifikasi tahap

  pertama merupakan hubungan antara signifier (ekspresi) dengan signified (konten) di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal (Wibowo, 2013: 21).

  Barthes menciptakan peta bagaimana tanda bekerja, berikut peta tanda Roland Barthes:

  1. signifier 2. signified (penanda) (petanda) 3. denotative sign (tanda denotatif)

  4. CONNOTATIVE SIGNIFIER

  5. CONNOTATIVE SIGNIFIED (PENANDA KONOTATIF) (PETANDA KONOTATIF)

  6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF)

Gambar 2.3 : Peta Tanda Roland Barthes

  Sumber: Wibowo, Indiwan Seto Wahyu. 2013. Semiotika Komunikasi: Aplikasi Praktis bagi Penelitian dan Skripsi Komunikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media, hlm. 22 dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Dengan kata lain, hal tersebut merupakan unsur material. (Sobur, 2004: 69).

  Konotasi merupakan makna yang subjektif dan bekerja dalam tingkat subjektif sehingga kehadirannya tidak disadari. Pembaca mudah sekali membaca makna konotatif sebagai fakta denotatif. Karena itu, salah satu tujuan analisis semiotika adalah untuk menyediakan metode analisis dan kerangka berpikir dan mengatasi terjadinya salah baca (misreading) atau salah dalam mengartikan makna suatu tanda (Wibowo, 2013: 22).

  Pada dasarnya ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dimengerti oleh Barthes. Dalam pengertian umum denotasi dimengerti sebagai makna yang harafiah. Akan tetapi, di dalam semiologi Roland Barthes dan para pengikutnya, denotasi lebih diasosiasikan degan ketertutupan makna dan dengan demikian sensor atau represi politis Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai mitos, dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku di dalam suatu periode tertentu. (Sobur, 2004: 70).

  Signifikasi tahap kedua berhubungan dengan isi, yakni ketika tanda bekerja melalui mitos (myth). Mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam. Mitos merupakan produk kelas sosial yang sudah mempunyai dominasi (Wibowo, 2013: 22). Mitos menurut Barthes terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem tanda- penanda-petanda; tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Konstruksi penandaan pertama adalah bahasa, sedangkan konstruksi penandaan kedua merupakan mitos (Kurniawan, 2001: 23). adalah peran pembaca (the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara panjang lebar mengulas apa yang sering disebut sebagai sistem pemaknaan tataran ke-dua yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. (Sobur, 2004: 69)

  Menurut Barthes, terdapat lima kode pokok yang beroperasi di dalam teks. Lima kode pokok tersebut, diantaranya: (Sobur, 2004: 65-66)

  1. Kode hermeneutik atau kode teka- teki berkisar pada harapan pembaca untuk mendapatkan “kebenaran” bagi pertanyaan yang muncul dalam teks. Kode teka-teki merupakan unsur struktur yang utama dalam narasi tradisional. Di dalam narasi ada suatu kesinambungan antara pemunculan suatu peristiwa teka-teki dan penyelesaiannya di dalam cerita.

  2. Kode semik atau kode konotatif menawarkan banyak sisi. Dalam proses pembacaan, pembaca menyusun tema suatu teks. Ia melihat bahwa konotasi kata atau frase tertentu dalam teks dapat dikelompokkan dengan konotasi kata atau frase yang mirip. Jika kita melihat suatu kumpulan satuan konotasi, kita menemukan suatu tema dalam cerita. Jika sejumlah konotasi melekat pada suatu nama tertentu, kita akan mengenali suatu tokoh dengan atribut tertentu.

  3. Kode simbolik merupakan aspek pengkodean fiksi yang paling khas dan bersifat struktural. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa makna berasal dari beberapa oposisi biner atau pembedaan-baik dalam taraf bunyi menjadi fonem dalam proses produksi wicara, maupun pada taraf oposisi psikoseksual yang melalui proses.

  4. Kode proaretik atau kode tindakan/lakuan dianggap sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang, yang artinya antara lain semua teks bersifat naratif. Secara teoritis Barthes melihat semua lakuan dapat dikodifikasi. Pada praktiknya ia menerapkan beberapa prinsip seleksi. Kita mengenal kode lakuan atau peristiwa karena kita dapat memahaminya.

  5. Kode gnomic atau kode kultural merupakan acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya. Menurut Barthes, realisme tradisional didefenisi oleh acuan budaya apa yang telah diketahui. Rumusan suatu budaya atau sub budaya adalah hal-hal kecil yang telah dikodifikasi yang di atasnya penulis bertumpu.

2.2.3. Televisi sebagai Representasi Budaya Massa

  Komunikasi massa menurut Tan dan Wright merupakan bentuk komunikasi yang heterogen, dan menimbulkan efek tertentu. Definisi komunikasi massa yang lebih rinci dikemukakan oleh Gerbner. Gerbner mengemukakan bahwa komunikasi massa itu menghasilkan suatu produk berupa pesan-pesan komunikasi. Produk tersebut disebarkan, didistribusikan kepada khalayak luas secara terus menerus dalam jarak waktu yang tetap, misalnya harian, mingguan atau bulanan (Ardianto dan Erdiana, 2004: 3-4).

  Komunikasi massa adalah proses komunikasi dengan massa yang dilakukan melalui media, yakni media massa seperti surat kabar, majalah, buku, radio dan televisi. Seluruh proses komunikasi media melibatkan di dalamnya pelbagai aspek perbedaan latar belakang budaya, mulai dari pengelola (organisasi media), saluran atau media massa, pesan-pesan, hingga kepada khalayak sasaran maupun dampak. (Liliweri, 2011: 218)

  Komunikasi massa terjadi ketika sejumlah orang mengirimkan pesan kepada audiens yang besar yang bersifat anonymous dan heterogen melalui penggunaan media komunikasi khusus. Studi komunikasi massa mempelajari pemanfaatan media oleh audiens, dan menjelaskan efek media terhadap human interaction dalam konteks komunikasi, dan unit analisis komunikasi massa antara lain pesan, media, dan audiens. (Liliweri, 2011: 219)

  Joseph A. Devito merumuskan bahwa komunikasi massa yaitu: pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio dan atau visual. Komunikasi massa atau barangkali akan lebih mudah atau lebih logis bila di defenisikan menurut bentuknya; televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku dan film. Sedangkan menurut Jay Black dan Fredrick C. Whitney disebutkan bahwa komunikasi massa adalah sebuah proses dimana pesan-pesan yang diproduksi secara massal/tidak sedikit

  (Nurudin, 2004: 10).

  Pengertian massa dalam komunikasi massa tidak sekadar orang banyak di suatu lokasi yang sama. Menurut Berlo (1996), massa diartikan sebagai “semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa atau orang-orang pada ujung lain dari saluran.” Massa mengandung pengertian yang banyak, tetapi mereka tidak harus berada di suatu lokasi tertentu yang sama. Mereka dapat tersebar atau terpencar di berbagai lokasi yang dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan dapat memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama (Wiryanto, 2000: 3). Pesan-pesan dalam komunikasi massa bersifat umum, disampaikan secara cepat, serentak, dan selintas. Meskipun khalayak ada kalanya menyampaikan pesan kepada lembaga (dalam bentuk saran-saran yang sering tertunda), proses komunikasi didominasi oleh lembaga, karena lembaga yang menentukan agendanya. (Mulyana, 2008: 84)

  Seperti yang dikatakan oleh Severin dan Tankard, Jr., komunikasi massa itu adalah keterampilan, seni, dan ilmu, dikaitkan dengan pendapat Devito bahwa komunikasi massa itu ditujukan kepada massa dengan melalui media massa dibandingkan dengan jenis-jenis komunikasi lainnya, maka komunikasi massa mempuntai ciri-ciri khusus yang disebabkan oleh sifat-sifat komponennya. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut: (Effendy, 2007: 21)

  1. Komunikasi massa berlangsung satu arah. Ini berarti bahwa tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunikator.

  2. Komunikator pada komunikasi massa melembaga. Media massa sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga, yakni suatu institusi atau organisasi. Oleh karena itu, komunikatornya melembaga atau dalam bahasa asing disebut institutionalized communicator atau organized communicator.

  3. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum. Pesan yang disebarkan melalui media massa bersifat umum (public) karena ditunjukkan kepada umum dan mengenai kepentingan umum.

  4. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan. Ciri lain dari media massa adalah kemampuannya untuk menimbulkan keserempakan (simultaneity) pada pihak khalayak dalam menerima pesan-pesan yang yang merupakan kumpulan anggota masyarakat yang terlibat dalam proses komunikasi massa sebagai sasaran yang dituju komunikator bersifat heterogen. Dalam keberadaannya secara terpencar-pencar, di mana manusia satu sama lainnya tidak saling mengenal dan tidak memiliki kontak pribadi.

  McQuail (dalam Pawito, 2008: 17-18) menyatakan bahwa ada empat subbidang kajian komunikasi massa yang oleh McQuail disebut sebagai perspektif. Keempat bidang kajian ini terbangun dari persilangan antara sumbu media-masyarakat dengan sumbu kebudayaan-material yang kemudian meliputi: a. Media-cultralist perspective, lebih menitikberatkan persoalan isi dan penerimaan isi (pesan-pesan media) oleh khalayak.

  b. Media-materialist perspective, berkenaan dengan persoalan ekonomi politik media.

  c. Social culturalist persepective, lebih menekankan pada pengaruh faktor-faktor sosial terhadap produksi dan penerimaan isi atau pesan-pesan media dalam kehidupan masyarakat.

  d. Social-materialist perspective, yang lebih melihat media massa sebagai cerminan dari kondisi-kondisi ekonomi dan material masyarakat. Komunikasi massa memiliki fungsi-fungsi penting terhadap masyarakat. Dominick

  (2001) membagi fungsi komunikasi massa sebagai berikut (Ardianto dan Erdiana, 2004: 15):

  1. Surveillance (pengawasan) Fungsi pengawasan komunikasi massa dibagi dalam bentuk utama, yaitu:

  a. Fungsi pengawasan peringatan yaitu jenis pengawasan yang dilakukan oleh media massa untuk menginformasikan berbagai hal terutama tentang ancaman kepada khalayak.

  b. Fungsi pengawasan instrumental yaitu penyampaian atau penyebaran informasi yang memiliki kegunaan atau dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari.

  2. Interpretation (Penafsiran) Media massa tidak hanya memasok fakta dan data, tetapi juga memberikan penafsiran terhadap kejadian-kejadian penting. Organisasi atau industri media memilih dan memutuskan peristiwa-peristiwa yang dimuat atau ditayangkan.

  3. Linkage (Pertalian) Media massa mampu menyatukan anggota masyarakat yang beragam, sehingga membentuk suatu pertalian berdasarkan kepentingan dan minat yang sama tentang

  Media massa yang mewakili gambaran masyarakat dengan model peran yang diamati dan harapan untuk menirunya. Dalam hal ini, media massa memberikan nilai-nilai kepada masyarakat dan nilai-nilai ini yang suatu saat bisa diadopsi oleh masyarakat.

  5. Entertainment (Hiburan) Hampir semua media massa menjalankan fungsi hiburan. Walaupun ada beberapa media yang tidak memberikan fungsi tersebut tetapi memberikan fungsi informasi kepada masyarakat seperti majalah Tempo, Gatra dan lainnya. Fungsi dari media massa sebagai fungsi menghibur adalah untuk mengurangi ketegangan pikiran khalayak.

  Industri media massa memiliki kemampuan dalam menyediakan informasi dan hiburan. Akan tetapi, media massa juga dapat mempengaruhi institusi politik, sosial, dan budaya. Media massa secara aktif memengaruhi masyarakat serta mencerminkannya. Media massa sudah begitu memenuhi kebutuhan kita sehari-hari sehingga kita sering tidak sadar lagi dengan kehadirannya, apalagi dengan pengaruhnya. Media massa sering kali menganggap masyarakat sebagai komoditas semata. Akan tetapi, media massa menolong dalam mendefenisikan diri kita; membentuk realitas kita. (Baran, 2012: 5)

  Budaya adalah suatu tingkah laku yang dipelajari oleh anggota suatu kelompok sosial. Penciptaan dan pemeliharaan budaya terjadi melalui komunikasi, termasuk komunikasi massa, yaitu ketika professional media memproduksi isi pesan yang kita lihat, baca, dengarkan, atau tonton, makna yang sedang dibagikan dan budaya sedang dikonstruksi dan dipelihara. (Baran, 2012: 11)

  Sepanjang kehidupan komunikasi,kita sudah mempelajari hal-hal yang diharapkan oleh budaya dari kita. Akan tetapi, dampak budaya yang membatasi dapat berakibat negatif, seperti ketika kita tidak mau atau tidak dapat mengubah cara berpikir, bertindak, berperasaan, yang terpola dan berulang, atau kita mempercayakan “pembelajaran” kita kepada guru yang memiliki kepentingan yang berpusat pada diri sendiri, sempit, atau mungkin justru tidak sesuai dengan pemikiran kita. (Baran, 2012: 12) mengingatkan kita bahwa kita tidak harus merasa sedih jika kita tidak sesuai dengan suatu standar tertentu. Acara televisi seperti Nip/Tuck dan Dr.90210 menyampaikan kepada kita bahwa kecantikan bukanlah sesuatu yang kita butuhkan dalam hidup, tetapi komoditas yang dapat dibeli. Pesan dan jutaan pesan lainnya sampai kepada kita terutama lewat media, dan walaupun bukan berarti orang-orang yang memproduksi media ini mementingkan diri sendiri dan jahat, tidak dapat dipungkiri motivasi mereka adalah uang. Kontribusi mereka terhadap cara berpikir, berperasaan, dan bertindak dalam budaya sudah pasti buka pertimbangan utama mereka ketika mempersiapkan komunikasi ini. Budaya tidak hanya membatasi. Representasi media akan kecantikan wanita sering menemui perdebatan dan ketidaksepakatan yang merujuk pada fakta bahwa budaya juga dapat membebaskan. Hal ini dapat terjadi karena nilai budaya juga dapat dipertentangkan. (Baran, 2012: 14)

  Media massa sebagai suatu teks banyak menebarkan bentuk-bentuk representasi pada isinya. Representasi dalam media menunjuk pada bagaimana seseorang atau suatu kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam pemberitaan. Isi media bukan hanya pemberitaan, tetapi juga hal-hal lain di luar pemberitaan yaitu dengan merepresentasikan orang, kelompok, atau gagasan tertentu. Berikut tiga proses yang terjadi dalam representasi menurut Fiske. (Wibowo, 2013: 148)

  LEVEL PERTAMA REALITAS

  (Dalam bahas tulis seperti dokumen, wawancara, transkrip, dan sebagainya. Sedangkan dalam televisi seperti pakaian,

  make up, perilaku, gerak-gerik, ucapan, ekspresi, suara)

LEVEL KEDUA REPRESENTASI

  (Elemen-elemen tadi ditandakan secara teknis. Dalam bahasa tulis seperti kata, proposisi, kalimat, foto, caption, grafik, dan sebagainya. Sedangkan dalam televisi seperti kamera, tata cahaya, editing, musik dan sebagainya.) Elemen-elemen tersebut ditransmisikan ke dalam kode representasional yang memasukkan di antaranya bagaimana objek digambarkan: karakter, narasi, setting, dialog, dan sebagainya.

LEVEL KETIGA

  IDEOLOGI

  Semua elemen diorganisasikan dalam koherensi dan kode- kode ideologi, seperti individualism, liberalisme, sosialisme, patriarki, ras, kelas, materialisme, kapitalisme dan sebagainya.

  Sumber: Fiske, John. 1987. Television Culture. London and New York: Routledge, hlm 5.

  Pertama, dalam proses ini peristiwa atau ide dikonstruksi sebagai realitas oleh media massa dalam bentuk bahasa gambar. Ini umumnya berhubungan dengan aspek seperti pakaian, lingkungan, ucapan ekspresi dan lain-lain. Di sini realitas selalu ditandakan dengan sesuatu yang lain. Kedua, representasi, dalam proses ini adalah realitas digambarkan dalam perangkat-perangkat teknis, seperti bahasa tulis, gambar, grafik, animasi, dan lain-lain. Ketiga, tahap ideologis, dalam proses ini peristiwa- peristiwa dihubungkan dan diorganisasikan ke dalam konvensi-konvensi yang diterima secara ideologis. Bagaimana kode-kode representasi dihubungkan dan masyarakat. (Wibowo, 2013: 149) Dalam representasi media, tanda yang akan digunakan untuk melakukan representasi tentang sesuatu akan mengalami proses seleksi. Tanda yang sesuai dengan kepentingan-kepentingan dan pencapaian tujuan-tujuan komunikasi ideologis yang akan digunakan, sementara tanda-tanda lain diabaikan. Realitas dalam representasi media tersebut harus memasukkan atau mengeluarkan komponennya, dan juga melakukan pembatasan pada isu-isu tertentu sehingga mendapatkan realitas yang banyak. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada representasi realitas, terutama di media yang benar atau nyata sepenuhnya. (Wibowo, 2013: 149)

  Televisi sebagai budaya adalah bagian penting dari dinamika sosial dimana struktur sosial mempertahankan dirinya dalam proses produksi dan reproduksi makna, kepopuleran, sebagai bagian dari struktur sosial. (Fiske, 2001: 1) Budaya televisi merupakan fenomena yang ada baik di layar ataupun saat off- screen, suka atau tidak suka, meskipun sebagian besar pemirsa, memahami bahwa "realitas" hidup di layar berbeda dari realitas kehidupan off-screen. (Fisherkeller 2002: 3)

  Kebiasaan sehari-hari, ritual, dan kegiatan seperti makan malam keluarga, drama sekolah, menonton televisi, dan berkirim pesan email berperan dalam mengatur dan membentuk budaya masyarakat. Tetapi orang-orang tidak mempelajari semua budaya yang disajikan kepada mereka, dan individu yang berbeda tidak belajar dari budaya dengan cara yang sama. Belajar dalam budaya TV tidak berbeda. Individu dalam situasi yang berbeda memiliki akses ke berbagai jenis televisi, dan mereka membuat keputusan yang berbeda tentang apa yang harus melihat. Mereka juga berbeda dalam bagaimana mereka membuat berpartisipasi dalam ritual melihat dan bagaimana mereka menafsirkan pengalaman menonton mereka. (Fisherkeller, 2002: 13)

  Terlepas dari cara kita melihat proses komunikasi massa, tidak dapat disangkal lagi bahwa manusia menghabiskan waktu yang sangat besar dalam kehidupannya memenuhi kebutuhan dan keinginan khalayak. Televisi mempunyai kelebihan dari media massa lainnya yaitu bersifat audio visual (didengar dan dilihat), dapat menggambarkan kenyataan dan langsung dapat menyajikan peristiwa yang sedang terjadi ke setiap rumah para pemirsa di manapun mereka berada (Ardianto dan Erdiana, 2004: 40).

  Menurut Skormis (Kuswandi, 1996:8) dalam bukunya “Television and Society: An

  

Incuest and Agenda” dibandingkan dengan media lainnya (radio, surat kabar, majalah,

  buku, dan sebagainya). Televisi tampaknya mempunyai sifat istimewa. Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar yang bisa bersifat informatif, hiburan, dan pendidikan, atau bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Informasi yang disampaikan oleh televisi, akan mudah dimengerti karena jelas terdengar secara audio dan terlihat secara visual.

  Televisi merupakan hasil produk teknologi tinggi (hi-tech) yang menyampaikan isi pesan dalam bentuk audio visual gerak. Isi pesan audiovisual gerak memiliki kekuatan sangat tinggi dalam mempengaruhi mental, pola pikir, dan tindak individu. Jumlah individu ini menjadi relatif besar bisa isi audio visual gerak ini disajikan melalui televisi. Saat ini, berkat dukungan teknologi satelit komunikasi dan serat optik, siaran televisi dibawa oleh gelombang elektromagnetik, tidak mungkin lagi dihambat ruang dan waktu. Bahkan khalayak sasarannya tidak lagi bersifat lokal, nasional, dan regional, tetapi sudah bersifat internasional atau global (Baksin, 2006: 16).

  Televisi merupakan salah satu media yang sangat berpengaruh terhadap masyarakat saat ini. Menurut R. Mar’at, acara televisi pada umumnya mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi dan perasaan bagi penontonnya hal ini disebabkan oleh pengaruh psikologis televisi itu sendiri. Televisi seakan-akan menghipnotis pemirsa, sehingga mereka hanyut dalam keterlibatan akan kisah atau peristiwa yang disajikannya. (Effendy 2004: 122)

  Program reality show adalah sebuah genre acara televisi yang menggambarkan adegan yang seakan-akan benar-benar berlangsung tanpa skenario, dengan pemain umumnya khalayak biasa. (Totona, 2010: 3). Menurut Widyaningrum dan Christiatuti (dalam Musthofa, 2012: 5) Reality show adalah suatu acara yang menampilkan realties kehidupan seseorang yang bukan selebriti (orang awam), lalu disiarkan melalui jaringan TV, sehingga bisa dilihat masyarakat. Reality show tak sekedar mengekspose kehidupan orang, tetapi juga ajang kompetisi, bahkan menjahili orang.

  Program reality show memang muncul di awal-awal tahun 2000 dan reality show masih banyak diproduksi dan ditayangkan di televisi termasuk dalam dunia pertelevisian Indonesia. Namun ketika ditanya darimana reality show ini berasal, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Asal-usul fakta-fakta televisi populer merupakan hal yang rumit. Sebagai jenis program peranakan, reality

  

show merupakan program yang sulit dikategorisasikan. Ada tiga dasar utama

  kaitannya dengan fakta-fakta televisi populer atau program-program televisi yang berdasarkan fakta yaitu tabloid journalism, documentary television, dan popular

  entertainment (Hill, 2008: 15).

  Dalam penyajiannya acara reality show dapat diartikan sebagai gabungan rekaman asli dan plot. Disini penonton dan kamera menjadi pengamat pasif dalam mengikuti orang-orang yang sedang menjalani kegiatan sehari-hari mereka, baik yang professional maupun pribadi. Dalam hal ini produser menciptakan plot sehingga enak ditonton oleh pemirsa. Para kru dalam proses editing menggabungkan setiap kejadian sesuai dengan yang mereka inginkan sehingga akhirnya terbentuk cerita berdurasi 30 menit tiap episode. Acara televisi yang menyajikan realitas kehidupan sehari-hari. Adegan-adegan dalam acara tersebut memperlihatkan serangkaian kejadian nyata tanpa direkaya terlebih dahulu. Para pemain umumnya khalayak biasa. Genre ini sering dianggap sebagai dokumenter. (Musthofa, 2012: 5). seperti konflik, persaingan, atau hubungan berdasarkan realitas yang sebenarnya. Dengan kata lain, program ini mencoba menyajikan suatu keadaan yang nyata (riil) dengan cara sealamiah mungkin tanpa rekayasa. Terdapat beberapa bentuk reality show, yaitu: (Morissan, 2008: 217- 218).

  1. Hidden Camera atau kamera tersembunyi. Ini adalah program yang paling realistis yang menunjukkan situasi yang dihadapai seseorang secara apa adanya. Kamera ditempatkan secara tersembunyi yang mengamati gerak- gerik atau tingkah laku subjek yang berada di tengah situasi yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

  2. Competition show. Program ini melibatkan beberapa orang yang saling bersaing dalam kompetisi yang berlangsung selama beberapa hari atau minggu untuk memmenangkan perlombaan, permainan (game), atau pertanyaan. Setiap peserta akan tersingkir satu per satu melalui pemungutan suara (voting), baik peserta sendiri ataupun audien. Pemenangnya adalah peserta yang paling akhir bertahan.

  3. Relationship show. Seseorang kontestan harus memilih satu orang dari sejumlah orang yang berminat untuk menjadi pasangannya. Para peminat harus bersaing untuk merebut perhatian kontestan agar tidak tersingkir dari permainan. Pada setiap episode ada satu peminat yang harus disingkirkan.

  4. Fly on the wall. Program yang memperlihatkan kehidupan sehari-hari dari seseorang mulai dari kegitan pribadi hingga aktivitas profesionalnya. Dalam hal ini kamera membuntuti ke mana saja orang yang bersangkutan pergi.

  5. Mistik. Program yang terkait dengan hal-hal supranatural menyajikan tayangan yang terkait dengan dunia gaib, paranormal, klenik, praktik spiritual magis, mistik, kontak dengan roh, dan lain-lain. Program mistik merupakan program yang paling diragukan realitasnya.

2.2.4. Representasi

  Istilah representasi menunjuk pada bagaimana seseorang, satu kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam pemberitaan. Representasi itu penting dalam dua hal. Pertama, apakah seseorang, kelompok, atau gagasan tersebut ditampilkan sebagaimana mestinya. Kata semestinya ini mengacu pada apakah seseorang atau kelompok itu diberitakan apa adanya, ataukah diburukkan. Kedua, bagaimana representasi tersebut ditampilkan. Dengan kata, kalimat, aksentuasi, dan bantuan foto pemberitaan kepada khalayak (Eriyanto, 2001: 113).

  Menurut Stuart Hall ada dua proses representasi. Pertama, representasi mental, yaitu tentang ‘sesuatu’ yang ada di kepala kita masing-masing (peta konseptual), dan masih merupakan sesuatu yang abstrak. Kedua, ‘bahasa’, yang berperan penting dalam proses konstruksi makna. Konsep abstrak yang ada dalam kepala kita dapat menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda dari simbol- simbol tertentu. Media sebagi suatu teks banyak menebarkan bentuk-bentuk representasi pada isinya. Representasi dalam media menunjuk pada bagaimana seseorang atau kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam peberitaan (Wibowo, 2013: 148).

  Representasi bekerja pada hubungan tanda dan makna. Konsep representasi sendiri bisa berubah-ubah. Selalu ada pemaknaan baru. Menurut Nuraini Julianti (dalam Wibowo, 2013: 150), representasi berubah akibat makna yang juga berubah-ubah. Setiap waktu terjadi proses negosiasi dalam pemaknaan. Jadi representasi bukanlah suatu kegiatan yang statis tapi merupakan proses dimanis yang terus berkembang seiring dengan kemampuan intelektual dan kebutuhan pengguna tanda yaitu manusia yang juga terus bergerak dan berubah. Representasi merupakan suatu bentuk usaha konstruksi. Pandangan-pandangan baru yang menghasilkan pemaknaan baru juga merupakan hasil pertumbuhan konstruksi pemikiran manusia. Julianti (dalam Wibowo, 2013: 150) juga mengatakan bahwa melalui proses penandaan, praktik yang membuat sesuatu hal bermakna sesuatu

  Ada dua proses besar yang dilakukan media dalam memaknai realitas. Pertama, memilih fakta. Aspek memilih fakta tidak dapat dilepaskan dari bagaimana fakta itu dipahami oleh media. Hampir mustahil kita melihat dunia tanpa membuat kategorisasi atau perspektif tertentu. “Realitas” yang sama dapat menciptakan “relitas” yang berbeda kalau ia didefenisikan dan dipahami dengan cara yang berbeda. Selain itu, atas bagian tertentu dari realitas Proses pemilihan fakta ini hendaknya tidak dipahami semata-mata sebagai bagian dari teknis jurnalistik, tetapi juga praktik representasi. Yakni bagaimna dan dengan cara apa strategi tertentu media secara tidak langsung telah mendefenisikan realitas (Eriyanto, 2001: 116).

  Kedua, mengenai proses penulisan fakta. Proses ini berhubungan dengan pemakaian bahasa dalam menyusun realitas untuk dipahami khalayak. Pilihan kata- kata tertent yang dipakai tidak sekadar teknik jurnalistik, tetapi bagian penting dari representasi. Bagaimana bahasa dapat menciptakan realitas tertentu kepada khalayak. Kenneth Burke menyatakan bahwa kata-kata tertentu tidak hanya memfokuskan perhatian khalayak pada masalah tertentu tetapi juga membatasi persepsi kita dan mengarahkannya pada cara berpikir dan keyakinan tertentu (Eriyanto, 2001: 119).

  2.2.5. Representasi dan Teknik Pengambilan Gambar di Televisi

  Tayangan yang disajikan pada televisi berupa gambar yang bergerak yang menuturkan cerita. Penonton memperhatikan terutama sekali apa yang sedang terjadi sekarang dan di kemudian. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui dan memahami teknik-teknik pengambilan gambar sebagai sarana untuk menuturkan cerita. (Purba, 2003: 1)

  Pada medium massa televisi, tayangan yang disajikan lebih menarik karena dapat didengar dan dilihat. Gerakan cepat (fast motion) untuk adegan yang dramatik atau menegangkan, gerakan lambar (slow motion) untuk adegan yang romantis. Close-up memberi keintiman, medium shot mengesankan hubungan perorangan, netral dan objektif, sedangkan full shot berarti hubungan sosial. kamera ke atas (pan up) memberi kesan pihak yang disorot sebagai kurang kredibel. Semua adegan langka atau luar biasa, penuh warna dan nuansa, baik yang nyata ataupun fiktif, lewat penggunaan model-model mini dan efek khusus. (Mulyana, 2008: 149-150)

  Objek gambar di televisi hampir semuanya manusia. Oleh karena itu, standarisasi ukuran gambar juga didasarkan pada ukuran manusia. Gambar-gambar atau shot-shot dideskripsikan dalam bahasa kamera dalam hubungannya dengan panjang tubuh manusia yang diperlihatkan. (Purba, 2013: 17).

  Ukuran pengambilan gambar selalu dikaitkan dengan ukuran tubuh manusia, namun penerapan ukuran ini juga berlaku pada benda lain dengan menyesuaikan ukurannya. Berikut sembilan shot sizes (ukuran gambar) tersebut: (Fachruddin, 2012: 148-151)

  1. Ekstreme Long Shot (ELS) dalam representasi. Pengambilan gambar yang menunjukkan background sangat dominan dan objek sangat kecil. Menyajikan bidang pandangan yang sangat luas, jauh, panjang, dan berdimensi lebar. Ukuran gambar ini memberikan orientasi kepada penonton situasi secara keseluruhan.

  2. Very Long Shot (VLS) dalam representasi. Pengambilan gambar dengan

  background mendominasi objek agak kecil. Tujuannya untuk memberikan penekanan pada suasana atau latar belakang tetapi objek tetap dapat dikenali.

  3. Long Shot (LS) dalam representasi. Keseluruhan gambaran dari pokok materi dilihat dari kepala sampai kaki atau gambar manusia seutuhnya. LS bertujuan untuk memberikan informasi secara lengkap mengenai suasana dari adegan. LS dikenal sebagai landscape format yang mengantarkan mata penonton kepada keluasan suasana dan objek.

  4. Medium Long Shot (MLS) dalam representasi. Memotong pokok materi dari lutut sampai puncak kepala pokok materi. Setelah gambar LS ditarik garis imajiner lalu di-zoom in sehingga lebih padat, maka masuk ke medium long

shot. Angle MLS sering dipakai untuk memperkaya keindahan gambar.

  5. Medium Shot (MS) dalam representasi. Pengambilan gambar batas kepala hingga pinggang/perut bagian bawah. Tujuannya untuk membentuk keseimbangan antara dominasi objek dengan background. Ukuran MS, biasa digunakan sebagai komposisi gambar terbaik untuk wawancara. Pemirsa dapat melihat dengan jelas ekspresi dan emosi dari wawancara yang sedang berlangsung.

  6. Medium Close Up (MCU) dalam representasi. Memperlihatkan subjek mulai dari ujung kepala hingga dada atas. MS memperdalam gambar dengan menunjukkan profil dari objek yang direkam. Kesan yang ditimbulkan adalah subjek yang terfokus, sedangkan background tidak terfokus, sehingga akan menonjolkan subjek.

  7. Close Up (CU) dalam representasi. Pengambilan gambar dari ujung kepala daya tarik yang tersembunyi.

  8. Big Close Up (BCU) dalam representasi. Pengambilan gambar dari batas kepala hingga dagu. BCU menunjukkan detail ekspresi wajah aktor dengan menekankan mata dan mencakup sisa wajah sebanyak yang diperluykan atau dalam adegan proses produksi menekankan pada detail proses pembuatan secara dekat.

  9. Ekstreme Close Up (ECU) dalam representasi. Pengambilan suatu gambar yang mencakup salah satu bagian tubuh. Paling sering digunakan untuk memperhebat emosi dari suatu pertunjukan musik atau situasi yang dramatis. Fungsinya adalah mengetahui detail suatu objek, dimana objek mengisi seluruh layar dan detailnya sangat jelas.

2.2.5.3.Camera Angle Camera angle yaitu penempatan atau posisi kamera terhadap suatu sudut tertentu.

  Sebuat cerita terbentuk dari sekian banyak shot. Tiap shot membutuhkan penempatan kamera yang paling baik bagi pandangan mata penonton. Artinya pemilihan angle sangat berpengaruh terhadap yang diinginkan penonton. Angle yang tidak tepat akan membingungkan penonton mengikuti jalan cerita yang dibuat. (Purba, 2013: 25)

  Meletakkan lensa kamera pada sudut pandang pengambilan gambar yang tepat dan mempunyai motivasi tertentu untuk membentuk kedalaman gambar/dimensi dan menentukan titik pandang penonton dalam menyaksikan suatu adegan dan membangun kesan psikologi gambar, seperti: (Fachruddin, 2012: 151-152)

  1. High angle (HA) dalam representasi. Pengambilan gambar dengan meletakkan tinggi kamera di atas objek/garis mata orang. Kesan psikologis yang ingin disampaikan objek tampak seperti tertekan.

  2. Eye level (normal) dalam representasi. Tinggi kamera sejajar dengan garis mata objek yang dituju. Kesan psikologis yang disajikan adalah kewajaran, kesetaraan atau sederajat.

  3. Low angle (LA) dalam representasi. Pengambilan gambar dengan meletakkan tinggi kamera di bawah objek atau di bawah garis mata orang. Adapun kesan psikologis yang ingin disajikan adalah objek yang berwibawa.

  4. Canted angle dalam representasi. Menghasilkan gambar dengan cara memiringkan kamera pada bidang horizontalnya. Gambar yang dihasilkan menjadi dinamis dan labil sehingga dapat menggambarkan fantasi, ketegangan,

  Menurut Brendley kemiskinan adalah ketidaksanggupan untuk mendapatkan barang-barang dan pelayanan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sosial yang terbatas. Hal ini diperkuat oleh Salim yang mengatakan bahwa kemiskinan biasanya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memperoleh kebutuhan hidup yang pokok (Setiadi dan Kolip, 2011: 794-795)

  Kemiskinan, pertama-tama dapat diartikan sebagai kondisi yang diderita manusia karena kekurangan atau tidak memiliki yang layak dalam meningkatkan taraf hidupnya, kesehatan yang buruk, kekurangan transportasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kedua, kemiskinan didefenisikan dari segi kurang atau tidak memiliki

  

asset, seperti tanah, rumah, peralatan, uang, emas, kredit dan lain-lain. Ketiga,

  kemiskinan dapat didefenisikan sebagai kekurangan atau ketiadaan nonmateri yang meliputi berbagai macam kebebasan, hak untuk memperoleh pekerjaan yang layak, hak atas rumah tangga dan kehidupan yang layak. (Rohidi, 2000: 25). Kemiskinan dapat dipahami dalam berbagai cara, di antaranya: (Setiadi dan Kolip, 2011: 792)

  1. Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.

  2. Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. hal ini termasuk pendidikan dan informasi. keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi dalam bidang ekonomi.

  3. Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna “memadai” di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.

  Friedmann merumuskan kemiskinan sebagai minimnya kebutuhan dasar sebagaimana yang dirumuskan dalam konferensi ILO tahun 1976. Kebutuhan dasar menurut konferensi ini dirumuskan sebagai berikut: (Setiadi dan Kolip, 2011: 794)

  1. Kebutuhan minimum dari suatu keluarga akan konsumsi privat (pangan, sandang, dan papan). komunitas pada umumnya (air minum sehat, sanitasi, tenaga listrik, angkutan umum, dan fasilitas kesehatan dan pendidikan).

  3. Partisipasi masyarakat dalam pembuatan keputusan yang mempengaruhi mereka.

  4. Terpenuhinya tingkat absolute kebutuhan dasar dalam kerangka kerja yang lebih luas dari hak-hak dasar manusia.

  5. Penciptaan lapangan kerja (employment) baik sebagai alat maupun tujuan dari strategi kebutuhan dasar. Terdapat dua pernyataan mengenai sumber masalah kemiskinan, dan untuk menjawab siapa dan apa penyebab kemiskinan. Yang pertama menyatakan bahwa kemiskinan adalah kondisi yang disebabkan karena beberapa kekurangan dan kecacatan individual baik dalam bentuk kelemahan biologis, psikologis, maupun kultural yang menghalangi seseorang memperoleh kemajuan dalam kehidupannya. Menurut pendekatan pertama ini, kemiskinan merupakan akibat dari sifat malas, kelemahan fisik, kurangnya keterampilan dan rendahnya kemampuan untuk menanggapi persoalan di sekitarnya. Pernyataan kedua lebih melihat masyarakat termasuk sistem dan strukturnya sebagai penyebab masalah kemiskinan. Contohnya antara lain adalah kondisi sosial yang menghadirkan berbagai ketimpangan antara desa dan kota, atau antarlapisan masyarakat. (Soetomo, 2008: 319-320).

  Menurut Baswir dan Sumodiningrat, secara sosioekonomis terdapat dua bentuk kemiskinan, yaitu: (Setiadi dan Kolip, 2011: 795-797)

  1. Kemiskinan absolut adalah kemiskinan dimana orang-orang miskin memiliki tingkat pendapatan di bawah garis kemiskinan, atau jumlah pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum. Kebutuhan hidup minimum antara lain diukur dengan kebutuhan pangan, sandang, kesehatan, perumahan dan pendidikan, kalori, GNP per kapita, dan pengeluaran konsumsi.

  Kemiskinan absolut diukur dari satu set standar yang konsisten, tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat/ negara. Bank dunia mendefenisikan kemiskinan absolut sebagai hidup dengan pendapatan di bawah USD $1/ hari dan kemiskinan menengah untuk pendapatan di bawah USD $2/ hari.

  2. Kemiskinan Relatif adalah kemiskinan yang dilihat berdasarkan perbandingan antara tingkat pendapatan dengan tingkat pendapatan lainnya. kemiskinan), yaitu:

  a. Kemiskinan natural adalah keadaan miskin karena dari awalnya memang miskin. Kelompok masyarakat ini menjadi miskin karena tidak memiliki sumber daya yang menandai baik sumber daya alam, manusia, maupun pembangunan. Menurut Baswir (dalam Setiadi dan Kolip, 2011: 796), kemiskinan natural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor- faktor alamiah, seperti karena cacat, sakit, usia lanjut, atau karena bencana alam. Daerah seperti ini pada umumnya merupakan daerah yang kritis sumber daya alamnya atau daerah yang terisolasi.

  b. Kemiskinan kultural mengacu pada sikap hidup seseorang atau kelompok masyarakat yang disebabkan oleh gaya hidup, kebiasaan hidup dan budaya di mana mereka merasa hidup berkecukupan dan tidak merasa kekurangan. Kelompok masyarakat seperti ini tidak mudah untuk diajak berpartisipasi dalam pembangunan, dan tidak mau berusaha untuk memperbaiki dan mengubah tingkat kehidupannya. Akibatnya, tingkat pendapatan mereka rendah menurut ukuran yang dipakai secara umum. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Baswir (dalam Setiadi dan Kolip, 2011: 797) bahwa ia miskin karena faktor budaya seperti malas, tidak disiplin dan boros.

  c. Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor- faktor buatan manusia seperti kebijakan ekonomi yang tidak adil, distribusi aset produksi yang tidak merata, korupsi dan kolusi serta tatanan ekonomi dunia yang cenderung menguntungkan kelompok masyarakat tertentu. Selanjutnya Sumodiningrat (dalam Setiadi dan Kolip, 2011: 797) mengatakan bahwa munculnya kemiskinan struktural disebabkan karena berupaya menganagani kemiskinan natural, yaitu dengan direncanakan bermacam-macam program dan kebijakan. Namun karena pelaksanaannya tidak seimbang, pemilikan sumber daya tidak merata, kesempatan yang tidak sama meneyebabkan keikutsertaan masyarakat menjadi tidak merata pula, sehingga menimbulkan struktur masyarakat yang timpang.

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif.

  Metode ini dapat digunakan untuk mengungkap dan memahami sesuatu di balik fenomena yang belum diketahui. Metode ini dapat juga digunakan untuk mendapatkan wawasan tentang sesuatu yang baru sedikit dketahui. Demikian pula metode kualitatif dapat memberikan rincian yang kompleks tentang fenomena yang sulit diungkapkan oleh metode kuantitatif. (Strauss dan Corbin, 2003: 5).

  Penelitian deskriptif menurut Kenneth D. Bailey adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu fenomena secara detil (untuk menggambarkan apa yang terjadi). Pene;itian deskriptif bermaksud memberikan gambaran tentang gejala sosial seperti yang dimaksudkan dalam permasalahan penelitian. Penelitain deskriptif menjawab pertanyaan dengan penjelasan yang lebih terperinci mengenai gejala sosial seperti yang dimaksudkan dalam suatu permasalahan penelitian yang bersangkutan. (Wibowo, 2013: 163).

  Pendekatan kualitatif yang bersifat deksriptif ciri-cirinya adalah data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. (Wibowo, 2013: 200).

  Penelitian ini menggunakan teknik penelitian analisis semiotika. Analisis semiotika mengkaji makna yang terkandung dalam sebuah teks. Dengan menggunakan analisis semiotika, makna dibalik tanda-tanda dalam tayangan media massa dapat dicari dan dianalisis. penjelasan-penjelasan (explanations), mengontrol gejala-gejala komunikasi, mengemukakan prediksi-prediksi, atau untuk menguji teori apapun. Tetapi lebih dimaksudkan untuk mengemukakan gambaran dan/atau pemahaman (understanding) mengenai bagaimana dan mengapa suatu gejala atau realitas komunikasi terjadi. (Pawito, 2008: 35)

  Penelitian ini menggunakan penelitian semiotika dengan model semiologi Roland Barthes. Dalam semiologi Roland Barthes menggunakan signifikasi dua tahap (two

  order of signification). Tahap pertama adalah denotasi yang merupakan makna paling

  nyata dari tanda dan tahap kedua adalah konotasi yang merupakan makna yang bersifat subjektif dan kehadirannya tidak disadari.

  3.2.Subjek Penelitian

  Subjek Penelitian ini adalah program acara Orang Pinggiran. Tayangan ini merupakan salah satu dari beberapa reality show yang tayang di stasiun televisi Indonesia. Program acara ini tayang pertama sekali pada tanggal 28 Desember 2011. Hingga saat ini, program acara Orang Pinggiran tayang setiap hari Rabu – Jumat pukul 15:45 – 16:45 WIB di stasiun televisi Trans 7.

  3.3. Objek Penelitian

  Objek penelitian adalah video tayangan Orang Pinggiran yang disiarkan di stasiun televisi Trans 7. Peneliti mengambil dua episode yang akan dianalisis. Pertama, episode ‘Derai Harap Bocah Penjual Bakso’ durasi 22 menit 8 detik. Kedua, episode ‘Kisah Pilu dari Kali Wungu’ dengan durasi 25 menit 1 detik.

  3.4.Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Studi Kepustakaan literatur, buku dan sumber bacaan lainnya yang relevan dan mendukung penelitian serta membantu peneliti untuk memperoleh informasi.

  2. Pengamatan Langsung Peneliti melakukan pengamatan langsung pada objek penelitian. Sehingga peneliti dapat menemukan makna-makna yang terkandung di dalam tayangan tersebut dan menganalisisnya dengan menggunakan semiologi Roland Barthes. Pengamatan langsung dapat didukung melalui data-data sebagai berikut:

  a. Data Primer Data primer dalam penelitian ini adalah print out tayangan reality show

  Orang Pinggiran yang tayang di staiun televisi Trans 7 episode ‘Derai Harap Bocah Penjual Bakso’ dan ‘Kisah Pilu dari Kali Wungu’.

  b. Data Sekunder Data sekunder didapatkan melalaui sumber-sumber seperti buku, literatur, atau sumber bacaan lainnya yang mendukung data primer.

  c. Data Dokumenter Data dokumenter merupakan kumpulan data berupa tayangan reality show

  Orang Pinggiran yang tayang di stasiun televisi Trans 7 episode ‘Derai Harap Bocah Penjual Bakso’ dan ‘Kisah Pilu dari Kali Wungu’ dalam format mp4 dan diunduh melalui situs www.youtube.com.

3.5. Teknik Analisis Data Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa semiotika.

  Penelitian ini menganalisis delapan scene yang berkaitan dengan topik penelitian. diteliti yaitu episode ‘Derai Harap Bocah Penjual Bakso’ yang tayang di statsiun televisi Trans 7. Setelah peneliti menonton program acara tersebut, peneliti lalu menentukan scene yang akan diteliti dengan analisis semiotika Roland Barthes dengan membagi analisis ke dalam lima kode pembacaan Barthes. Setiap gambar/teks dianalisis untuk mengetahui bagaimana tayangan tersebut di konstruksi. Selanjutnya menganalisis apa makna yang tersimpan dari setiap tanda yang terkandung dalam teks, dan mitos apa saja yang dikembangkan dari teks tersebut dalam kaitannya dengan kemiskinan. Episode ini dipilih karena episode ini menggambarkan ciri-ciri kemiskinan pada masyarakat yang hidup di pinggiran kota, sesuai dengan judul program acara tersebut dan juga sesuai dengan topik penelitian yakni mengenai kemiskinan pada tayangan reality show.

  3.5.1. Analisis Leksia

  Leksia dipilih dan ditentukan berdasarkan pada kebutuhan pemaknaan yang akan dilakukan. Oleh karena itu, leksia dalam narasi bahasa bisa didasarkan pada kata, frasa, klausa, ataupun kalimat. Sedangkan pada gambar, leksia biasanya didasarkan pada satuan tanda-tanda (gambar) yang dianggap penting dalam pemaknaan.

  3.5.2. Kode Pembacaan

  Bagi Roland Barthes, di dalam teks beroperasi lima kode pokok (five major code) yang di dalamnya terdapat penanda teks (leksia). Lima kode yang ditinjau Barthes yaitu :

  1. Kode hermeneutika, atau sering disebut dengan kode teka teki. Kode ini melihat tanda-tanda dalam suatu teks yang menimbulkan pertanyaan.

  Berfungsi untuk mengartikulasikan persoalan yang terdapat dalam teks.

  2. Kode proairetik, yaitu kode tindakan yang membaca akibat atau dampak dari suatu tindakan dalam teks. Analisis pada kode ini menghasilkan makna berulang-ulang muncul dalam teks. Kode pembacaan ini menghasilkan makna konotasi I, yaitu makna konotasi dalam level teks..

  4. Kode kultural, yaitu kode yang telah dikenali dan bersumber pada pengalaman-pengalaman manusia. Kode ini menghasilkan makna denotasi II.

  Analisis bekerja pada level konteks.

  5. Kode semik, yaitu kode yang berasal dari isyarat, petunjuk, atau kilasan makna yang ditimbulkan oleh penanda tertentu. Kode ini menghasilkan makna konotasi II, yaitu pada level konteks.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

  4.1. Gambaran Umum Tayangan Reality Show Orang Pinggiran Reality show merupakan salah satu jenis program acara televisi dimana

  tayangan yang ditampilkan tanpa skenario dan pemain biasanya berasal dari kalangan umum (bukan orang terkenal). Reality show pada umumnya berupa tayangan mengenai kehidupan sehari-hari seseorang.

  Orang Pinggiran memfokuskan tayangannya pada kondisi kehidupan masyarakat miskin, khususnya yang tinggal di pinggiran kota. Sesuai dengan nama program acara ini ‘Orang Pinggiran’ yang berarti masyarakat yang tinggal di pinggiran atau masyarakat yang terpinggirkan. Program acara ini mendokumentasikan kehidupan masyarakat yang terpinggirkan dari sisi sosial ataupun ekonomi, serta kehidupan mereka jauh dari sarana dan prasarana yang memadai.

  Penelitian ini menganalisis salah satu episode pada tayangan Orang Pinggiran yang berjudul ‘Bocah Penjual Bakso’. Analisis dilakukan menggunakan semiotika Roland Barthes mengacu pada lima kode analisis Roland Barthes. Tokoh utama seorang anak perempuan bernama Siti, seorang siswi sekolah dasar berusia tujuh tahun. Ia berjuang membantu ibunya untuk menyambung kebutuhan mereka sehari-hari dengan berjualan bakso sepulang sekolah. Amriah, ibu Siti hanyalah seorang kuli tandur dengan upah kecil.

  Sedangkan ayah Siti, sudah lama tiada sejak usianya baru menginjak dua tahun. Setiap harinya keluarga Siti dan Amriah harus makan dengan lauk seadanya dan tinggal di rumah yang jauh dari kata layak. Latar episode ini diambil di daerah Kampung Cipendeuy, Desa Cibereum, Cilangkahan, Banten.

4.2.1. Analisis Scene 1 Visual Audio

  Narator: Mata pencaharian utama bagi warga desa Cipendeuy, Malingping, Banten adalah dari hasil pertanian. Tentu saja, hasil yang diperoleh bergantung musim. Bila tak banyak hama dan wabah yang mengganggu hasil panen, warga desa bisa bernafas lega.

  Gambar 1

  Itulah sebabnya tak semua warga bertahan dengan bertani. Sebagian mencoba peruntungan lain dengan bekerja di kebun karet yang ada di sekitar desa ini.

  Gambar 2

A. Analisis Leksia

  Scene ini menampilkan beberapa rumah dimana jarak antara satu

  rumah dengan rumah lainnya saling berdekatan. Rumah-rumah tersebut memiliki bentuk yang sederhana dan ukurannya tidak terlalu besar. Di belakang rumah-rumah tersebut terdapat pepohonan dan pegunungan. Jalan penghubung pada perumahan tersebut terlihat sempit dan kecil. Beberapa

  long shot. Angle yang digunakan pada scene ini berbeda-beda. Pada

  gambar 1 menggunakan high angle sedangkan pada gambar 2 menggunakan straight angle. Scene ini menggunakan teknik pergerakan kamera tilt down.

B. Lima Kode Pembacaan

  1. Kode Hermeneutika

  Mengapa rumah-rumah tersebut memiliki jarak yang berdekatan? Mengapa jalan di lingkungan tersebut sempit? Mengapa orang-orang berkeliaran di lingkungan tersebut? Mengapa di belakang rumah-rumah tersebut terdapat pepohonan dan pegunungan?

  2. Kode Proaretik

  Kondisi lingkungan yang ditunjukkan pada scene ini merupakan lingkungan padat penduduk. Oleh sebab itu rumah-rumah pada lingkungan memiliki jarak berdekatan. Rumah-rumah di lingkungan tersebut masih sederhana dengan ukuran yang tidak terlalu besar menunjukkan bahwa penduduk di lingkungan tersebut berasal dari kalangan menengah ke bawah. Ukuran jalan penghubung yang sempit di lingkungan tersebut juga menunjukkan bahwa lingkungan tersebut hanya mampu dijangkau oleh alat transportasi kecil. Pepohonan rindang serta pegunungan di belakang rumah-rumah tersebut menunjukkan bahwa lingkungan tersebut merupakan daerah agraris (pertanian).

  Teknik pengambilan gambar pada scene ini menggunakan

  extreme long shot yaitu teknik pengambilan gambar dengan

  menampilkan pandangan yang luas dan jauh. Keseluruhan pemandangan dapat terlihat sehingga objek tampak jauh dan kecil. Teknik pengambilan gambar ini membuat penonton tidak terfokus pada

  Susunan rumah-rumah yang saling berdekatan menunjukkan bahwa masyarakat di daerah tersebut hidup berkelompok. Masyarakat di sekitar rumah tersebut saling berkumpul menunjukkan bahwa masyarakat di lingkungan tersebut memiliki ikatan sosial yang tinggi. Ini melambangkan kehidupan masyarakat pedesaan.

  4. Kode Kultural

  Rumah-rumah pada gambar diatas memiliki bentuk dan ukuran yang hampir sama satu sama lainnya. Hal ini merupakan ciri masyarakat pedesaan yaitu masyarakat yang memiliki sifat homogen baik dalam hal mata pencaharian, agama, dan adat istiadat. Homogenitas ini menyebabkan masyarakat desa memiliki rasa persaingan yang rendah sehingga keinginan berkembang dan maju untuk memperbarui kehidupannya sangat rendah.

  5. Kode Semik

  Kawasan pedesaan merupakan kawasan dengan rasa kekerabatan yang tinggi. Ikatan sosial pada masyarakat desa lebih dekat dibandingkan masyarakat kota. Hal ini disebabkan karena jumlah penduduk di desa lebih sedikit dibandingkan jumlah penduduk di perkotaan yang banyak dan heterogen. Jumlah penduduk rendah pada masyarakat miskin disebabkan oleh kebanyakan penduduk pedesaan berasal dari pertambahan dan pengurangan penduduknya yang hanya tergantung pada tinggi rendahnya angka natalitas dan mortalitas. Sedangkan jumlah pendatang dari desa ataupun kota lain relatif kecil.

  Jika dilihat secara fisik, lingkungan desa masih berada di lingkungan yang alamiah sehingga ketergantungan masyarakat desa akan alam masih sangat kuat. Secara sosial, kehidupan masyarakat desa dari masyarakat desa yang mengenal istilah deposito atau tabungan sebagaimana yang biasa diketahui oleh masyarakat kota. Hal ini juga dapat dibuktikan bahwa sekitar 63,5% penduduk miskin hidup di daerah pedesaan Oleh karena itu, tidak sedikit masyarakat pedesaan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan mereka. Tingkat kebutuhan mereka hanya terbatas pada kebutuhan yang penting saja seperti kebutuhan pangan.

4.2.2. Analisis Scene 2 Visual Audio

  Narator: Bagi bocah 7 tahun ini kehidupan sangat sederhana yang dijalani keluarganya bukan suatu beban yang berat.

  Gambar 3 Gambar 4

  Scene ini menampilkan sosok seorang anak bernama Siti mengenakan

  penutup kepala, kemeja putih, rok merah, serta menyandang sebuah tas ransel berwarna merah muda di punggungnya. Siti berdiri di depan sebuah meja kayu yang sudah terkelupas dan usang. Di atas meja tersebut terdapat sebuah penutup makanan berukuran cukup besar. Siti membuka penutup makanan tersebut kemudian ia mendapati sebuah piring berwarna hijau dalam keadaan kosong seperti yang ditampilkan pada gambar 4. Siti memegang piring tersebut dan mengusap-usap bagian dalam piring tersebut dengan tangan kanannya. Ia memandang piring tersebut. matanya menyipit dan bibirnya terlihat melengkung ke bawah.

  Teknik pengambilan gambar pada gambar pertama menggunakan teknik medium shot. Gambar 3 menampilkan bagian belakang sosok Siti. Pada gambar 4, teknik pengambilan gambar menggunakan close up. Angle kamera menggunakan high angle. Gambar ini menampilkan sebagian kepala Siti serta piring yang dipegangnya. Teknik pengambilan gambar pada gambar 5 menggunakan teknik medium close up. gambar 5 menampilkan ekspresi wajah Siti.

B. Lima Kode Pembacaan

  1. Kode Hermeneutika

  Mengapa Siti mengenakan penutup kepala, kemeja putih dan rok merah? Mengapa Siti memegang piring kosong? Mengapa Siti menatap piring yang kosong?

  2. Kode Proaretik

  Kemeja putih dan rok merah yang dikenakan Siti merupakan pakaian seragam sekolah dasar. Oleh sebab itu dapat dikatakan Siti merupakan salah satu siswi sekolah dasar. Penutup kepala yang oleh perempuan/ wanita muslim.

  Piring kosong yang dipegang Siti menunjukkan bahwa Siti mengharapkan sesuatu pada piring yang dipegangnya tersebut. ekspresi wajah Siti dimana tatapan matanya menatap sendu piring tersebut dan bibirnya melengkung ke bawah menandakan kekecewaan bahwa yang diinginkannya di piring tersebut tidak ada.

  3. Kode Simbolik

  Ekspresi wajah Siti dapat diartikan bahwa ia menyimpan kekecewaan, namun juga dapat diartikan sebagai bentuk kepasrahan. Artinya meskipun Siti merasa kecewa, ia sama sekali tidak memberontak namun tetap pasrah akan segala sesuatu yang dialaminya.

  Seragam sekolah yang dikenakan Siti merupakan seragam sekolah dasar dimana sekolah dasar merupakan jenjang terendah dalam tingkatan pendidikan formal. Pada gambar 3 memperlihatkan bagian belakang Siti dengan menggunakan teknik pengambilan gambar

  medium shot. hal ini memberikan fokus pandangan kepada kegiatan

  yang dilakukan Siti saat itu yaitu membuka penutup makanan yang ada di hadapannya. Pada gambar 4, posisi high angle bertujuan agar penonton memiliki arah pandang yang sama dengan apa yang dilihat oleh Siti sehingga seolah-olah penonton berada di posisi yang sama dengan Siti. Dan pada gambar 5 menggunakan teknik medium close up memperlihatkan wajah Siti sehingga emosi yang tergambar dalam wajahnya dapat dibaca dengan jelas.

  4. Kode Kultural

  Siti sebagai seorang siswi dengan jenjang pendidikan rendah, belum memiliki kemampuan dalam mengubah hidupnya yang miskin kehidupan masyarakat setempat. Misalnya, pada masyarakat Jawa dikenal istilah narima ing pandum (menerima takdir apa adanya dengan sabar) sedikit banyaknya membentuk persepsi masyarakat untuk bersikap pesimis. Ini menyebabkan kehidupan mereka tidak mengalami kemajuan dan nasib mereka cenderung tidak berubah.

5. Kode Semik

  Kemiskinan tidak hanya ditandai sebagai suatu kekuarangan materi semata, namun juga dapat ditandai melalui sikap mereka. ini merupakan salah satu bentuk kemiskinan buatan/ struktural dimana budaya suatu suku mempengaruhi cara berpikir masyarakat. pada masyarakat Jawa diidentikkan dengan image pasrah dan malas, sebagaimana yang disebutkan pada istilah narima ing pandum (menerima takdir apa adanya dengan sabar). Nilai-nilai falsafah ini sering dijadikan dasar penyebab kemiskinan pada masyarakat tradisional Jawa, sebab nilai-nilai yang terkandung di dalam falsafah ini menunjukkan bahwa orang miskin dianggap tidak produktif dan tidak memiliki daya juang serta usaha untuk keluar dari garis kemiskinan

  Visual Audio

  Narator: tugas Siti sederhana saja, bocah kelas dua sekolah dasar ini harus melayani setiap permintaan pembeli. Siti piawai menyediakan bakso ke mangkuk kepada pembeli. Menjual makanan dengan kondisi perut kosong sejak pulang sekolah tentu bukan hal

  Gambar 6

  yang mudah. Aroma bakso yang menggoda hanya bisa ia bayangkan saja kelezatannya. Mau tak mau Siti harus bisa mengendalikan dirinya. Menunggu dan melihat sang pembeli menikmati bakso dagangannya, sungguh menjadi perjuangan berat bagi Siti.

  Gambar 7

  Membuat Siti malu dengan keadaannya sendiri. Scene ini memperlihatkan Siti mengenakan baju berwarna merah muda dan celana berwarna putih kecokelatan. Siti berjalan kaki sambil mengangkat termos di tangan kanannya dan sebuah ember berisi mangkuk- mangkuk di tangan kirinya. Gambar 7 menyorot ekspresi wajah Siti dengan kepala tertunduk dan bibirnya terlihat melengkung ke bawah. Pada gambar

  8 Siti terlihat sedang memberikan sebuah mangkuk berisi makanan kepada seorang pria bertopi yang duduk di hadapannya.

  Teknik pengambilan gambar pada gambar 6 menggunakan teknik

  

long shot dengan posisi kamera high angle. pada gambar 7 menggunakan

  teknik pengambilan gambar close up dengan posisi kamera low angle. pada gambar 8 menggunakan teknik pengambilan gambar long shot dengan posisi kamera high angle.

B. Lima Kode Pembacaan

  1. Kode Hermeneutika

  Mengapa Siti berjalan sambil mengangkat termos dan ember? Mengapa Siti menundukkan kepalanya? Mengapa Siti memberikan mangkuk berisi makanan kepada seorang pria?

  2. Kode Proaretik

  Siti adalah seorang penjual bakso. Termos digunakannya sebagai wadah untuk menyimpan bakso agar tetap hangat saat dibeli, sedangkan ember digunakannya sebagai tempat menyimpan mangkuk- mangkuk bakso dagangannya. Ekspresi Siti yang ditunjukkan pada gambar 7 dengan kepala tertunduk menujukkan bahwa ia tidak percaya diri dan malu dengan pekerjaan yang dilakukannya.

  Teknik pengambilan gambar long shot pada gambar 6 bertujuan untuk memberikan gambaran sosok Siti dan kegiatan yang ini memberikan kesan bahwa Siti adalah orang yang lemah dan menyedihkan. Pada gambar 7 teknik pengambilan gambar close up pada memperjelas wajah Siti sehingga penonton dapat membaca ekspresinya. Posisi kamera low angle ditujukan untuk menonjolkan ekspresi Siti. pada gambar 8 teknik pengambilan gambar menggunakan

  long shot untuk memperjelas kegiatan yang dilakukan Siti. High angle pada gambar 8 melemahkan kedudukan pekerjaan yang dilakukan Siti.

  3. Kode Simbolik

  Termos yang digunakan Siti bertujuan untuk menyimpan bakso dagangannya agar tetap dalam kondisi hangat dan bersih. Ini melambangkan bahwa pekerjaan yang dijalani Siti dianggap penting dan berharga sehingga ia menyimpan bahan dagangannya di tempat yang baik. Tingkat pendidikan Siti yang masih menduduki bangku sekolah dasar serta kesulitan ekonomi keluarga membuat Siti tidak mampu mendapatkan pekerjaan yang layak. Hal ini menunjukkan bahwa sedikit lowongan pekerjaan yang menerima pekerja dengan tingkat pendidikan sekolah dasar. Berjualan menjadi salah satu pilihan Siti karena tidak membutuhkan keahlian pendidikan sekolah.

  4. Kode Kultural

  Pendidikan sekolah dasar (SD) merupakan jenjang pendidikan formal terendah di Indonesia. Jenjang sekolah dasar ditempuh selama enam tahun mulai dari kelas satu hingga kelas enam. Umumnya pendidikan sekolah dasar diikuti oleh anak-anak usia 6-12 tahun. Setelah itu mereka dapat menempuh jenjang pendidikan lebih tinggi yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di Indonesia, setiap orang diwajibkan mengikuti jenjang pendidikan SD dan SMP selama enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di tingkat sekolah menengah tahun.

  Berdasarkan data UNICEF tahun 2015, sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikamati pendidikan wajib yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 jut anak usia sekolah menengah pertama (SMP). Data statistik tingkat provinsi dan kabupaten menunjukkan bahwa terdapat kelompok anak-anak tertentu yang terkena dampak paling rentan yang sebagian besar berasal dari keluarga miskin sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu memiliki kemungkinan putus sekolah empat kali lebih besar daripada mereka yang berasal dari keluarga berkecukupan. Untuk data statistic geografis, tingkat putus sekolah anak SD di desa 3:1 dibandingkan dengan di daerah perkotaan. Hal tersebut terjadi karena dipicu oleh faktor kekurangan tenaga kerja pengajar serta penghasilan yang tergolong rendah.

5. Kode Semik

  Gambaran kemiskinan dapat dilihat pada scene ini dimana pekerjaan mencari nafkah tidak hanya menjadi tanggung jawab kepala keluarga, tetapi juga menjadi tanggung jawab anak. Ketidakmampuan kepala keluarga dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya telah mendorong anak untuk mencari cara menambah penghasilan keluarga. Beberapa anggota keluarga pada masyarakat miskin biasanya memiliki jenjang pendidikan rendah karena waktunya digunakan untuk membantu orang tua mencari tambahan penghasilan.

  Pemerintah juga berupaya untuk memperluas dan memajukan pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan wajib sembilan tahun, SD dan SMP. Sejak tahun 2005 pemerintah menyediakan dana Bantuan bagi siswa kurang mampu agar mereka tetap mendapatkan pendidikan bermutu sampai penuntasan wajib belajar sembilan tahun. Namun, pada pelaksanaanya penyaluran dana masih belum merata sehingga masih banyak masyarakat miskin yang kesulitan menempuh pendidikan, sehingga anak-anak harus bekerja menutupi pengeluaran mereka sehingga harus bekerja sepulang sekolah bahkan putus sekolah.

  4.2.4. Analisis Scene 4 Visual Audio Gambar 9 Gambar 10

  Narator: Hanya dua ribu rupiah uang yang Siti dapat. Siti bersyukur setidaknya masih ada sedikit rupiah untuk membantu sang ibu. Daripada ia hanya bermain tanpa menghasilkan apapun. Siti memakai pakaian berwarna merah muda sedang berjalan dengan kepala tertunduk dan menatap sesuatu yang dipegangnya. Kedua tangannya memegang dua lembar uang seribu rupiah. Gambar 10 memperihatkan objek yang dipegang Siti yakni dua lembar uang sebesar seribu rupiah yang terlihat kusut dan lusuh.

  Teknik pengambilan gambar yang digunakan pada gambar 9 adalah medium close up. Posisi kamera menggunakan low angle. Sedangkan pada gambar 10, teknik pengambilan gambar yang digunakan yaitu ekstrem close up. Posisi kamera yang digunakan adalah high angle.

B. Lima Kode Pembacaan

  1. Kode Hermeneutika

  Mengapa Siti menundukkan kepalanya? Mengapa Siti menatap dua lembar uang seribu rupiah? Mengapa Siti memegang uang tersebut?

  2. Kode Proaretik Siti menundukkan kepala menandakan ia pasrah dan kecewa.

  Dua lembar uang seribu rupiah yang diperolehnya merupakan penghasilan yang diperolehnya dari berjualan bakso. Siti memegang uang tersebut menandakan bahwa uang yang diperolehnya dari hasil kerja kerasnya bukanlah hal yang sia-sia karena masih bisa digunakan untuk menambah penghasilan keluarga.

  Teknik pengambilan gambar medium close up pada gambar 9 bertujuan untuk memfokuskan penonton pada sosok Siti. posisi kamera

  low angle memperkuat karakter Siti sehingga sosoknya pada gambar

  tersebut lebih menonjol dibandingkan objek-objek lainnya. pada gambar 10 menggunakan teknik pengambilan gambar ekstrem close up yang sudah lusuh. Posisi kamera high angle membuat subjek tampak tidak memiliki kekuatan menonjol sehingga posisi kamera ini dimaksudkan untuk melemahkan kedudukan uang tersebut di mata penonton.

  3. Kode Simbolik

  Uang pecahan seribu rupiah merupakan uang kertas dengan nominal uang paling kecil di Indonesia. Ini melambangkan bahwa Siti mendapatkan penghasilan yang sedikit. Uang tersebut berada dalam kondisi sudah lusuh. Uang seribu rupiah biasa dilakukan dalam transaksi kecil. Kebanyakan transaksi kecil dilakukan oleh masyarakat menengah ke bawah karena penghasilan mereka yang kecil. Itu sebabnya uang yang ditampilkan terlihat lusuh. Ini melambangkan bahwa uang dengan nominal terendah itu kebanyakan digunakan oleh masyarakat menengah ke bawah.

  4. Kode Kultural

  Masyarakat menukarkan uang mereka dengan sesuatu yang mereka inginkan dan butuhkan. Besar kecilnya jumlah uang yang dimiliki oleh individu akan berpengaruh pada kehidupan sosial dan ekonomi seseorang. Saat ini uang juga dianggap mampu dalam menaikkan derajat hidup seseorang, dimana semakin besar kekayaan yang mereka miliki, maka semakin tinggi pula derajat hidup mereka, bergitu pula sebaliknya. Uang juga menjadi salah satu faktor munculnya kemiskinan, dimana mereka hanya mampu untuk mendapat penghasilan kecil yang hanya bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka per harinya.

  5. Kode Semik

  Uang merupakan alat pertukaran utama yang digunakan oleh memperoleh pendapatan. Pendapatan setiap individu berbeda-beda. Sebagian orang memiliki tingkat pendapatan rendah atau kondisi dimana jumlah pendapatan seseorang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum (pangan, sandang, rumah, kesehatan, pendidikan) disebut dengan kemiskinan absolut. Terdapat suatu standar pengukuran untuk mendefenisikan masyarakat miskin. Bank Dunia mendefenisikan bahwa masyarakat dinyatakan miskin apabila memiliki pendapatan USD $1-$2/ hari atau sekitar 14-28 ribu rupiah setiap harinya.

4.2.5. Analisis Scene 5 Visual Audio

  Narator: Hidup sendiri membesarkan siti bukan perkara mudah bagi Amriah. Cukup tak cukup, uang 20 ribu rupiah hasil kerja kerasnya harus bisa menutup biaya hidup ia dan

  Gambar 11 Siti. Gambar 12 Scene ini memperlihatkan sosok seorang wanita bernama Amriah. Ia memakai jilbab, baju berlengan panjang dan celana panjang. Tangan kirinya memegang sebuah cangkul. Amriah terlihat berjalan kaki di atas tanah tanpa menggunakan alas kaki. Amriah melangkah masuk ke dalam sebuah sawah yang tergenang oleh air. Setelah itu ia mengangkat cangkulnya dan menggerakkan cangkulnya di dalam genangan air tersebut.

  Teknik pengambilan gambar pada gambar 11 dan 12 menggunakan

  

very long shot. Pada gambar 13 menggunakan teknik pengambilan gambar

medium shot.

B. Lima Kode Pembacaan

  1. Kode Hermeneutika

  Mengapa Amriah membawa cangkul? Mengapa Amriah masuk ke dalam genangan air? Mengapa Amriah mengangkat dan menggerakkan cangkulnya di atas genangan air?

  2. Kode Proaretik

  Amriah berjalan sambil memegang sebuah cangkul menandakan bahwa Amriah akan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan bidang pertanian. Genangan air tersebut merupakan sawah. Genangan air pada sawah tersebut berfungsi untuk melunakkan tekstur tanah sehingga tanaman padi dapat tmbih dengan baik di sawah tersebut. kegiatan Amriah menggerakkan cangkulnya di dalam genangan air disebut sebagai kegiatan mencangkul. Kegiatan ini bertujuan untuk menggemburkan tanah.

  Teknik pengambilan gambar pada gambar 11 dan 12 menggunakan teknik very long shot dengan tujuan untuk memberikan penekanan pada suasana di sekitar area persawahan tersebut, tetapi sosok Amriah sebagai objek masih tetap dapat dikenali. Pada gambar secara jelas.

  3. Kode Simbolik

  Cangkul merupakan alat tradisional yang biasa digunakan pada kegiatan pertanian dengan fungsi untuk menggali, meratakan atau menggemburkan tanah. Dalam dunia pertanian, proses penggemburan tanah dianggap sebagai kegiatan yang penting karena dapat membantu proses penanaman tanaman, dan membantu tanaman untuk tumbuh dengan subur. Cangkul yang dipegang Amriah serta pekerjaan yang ia lakukan menunjukkan profesi sebagai seorang petani. Lingkungan dengan pepohonan hijau, dan petak-petak genangan air pada sawah menunjukkan bahwa lingkungan tempat Amriah bekerja merupakan lingkungan pertanian.

  4. Kode Kultural

  Bertani merupakan jenis pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh masyarakat desa. Lingkungan umum pedesaan secara geografis terletak pada lingkungan alamiah dengan menampakkan keasrian alam seperti pepohonan, pegunungan, sawah, sungai, dan lembah. Oleh karena itu bertani menjadi pekerjaan atau mata pencaharian mayoritas masyarakat karena mereka hidup bergantung pada pola-pola pertanian.

  5. Kode Semik

  Menurut Ensiklopedia Nasional Indonesia tahun 2004, lokasi desa pada umumnya terletak dan dekat dengan wilayah usaha tani. Pertanian menjadi sumber pendapatan ekonomi yang dominan. Bertani merupakan mata pencaharian primer bagi masyarakat desa, sedangkan pekerjaan non-agraris dianggap pekerjaan sekunder (sambilan). Buruh tani yang tidak memiliki lahan (mengerjakan lahan orang lain) biasanya dari istilah ini adalah bahwa para buruh tani tidak dibayar dengan uang tunai, tapi harus menuggu hingga musim panen tiba, kemudian mereka akan memperoleh sedikit dari hasil panen yang dikerjakannya. Oleh sebab itu, kesempatan untuk mengumpulkan penghasilannya sangat kecil karena biasanya mereka dibayar dengan barang bukan uang.

4.2.6. Analisis scene 6 Visual Audio

  Narator: karena musim tandur akan tiba tugas Amriah hanya mencangkul lumpur yang ada di sawah milik tetangganya. Amriah pun enggan menyerah dengan keadaan yang ada. walau

  Gambar 14

  lahan sawah yang di cangkulnya cukup besar, Amriah tak ingin rasa lelah mengalahkan semangatnya. Ia sadar siti membutuhkan banyak biaya

  Gambar 15 Gambar 16

  Gambar 17

  A. Analisis Leksia

  Amriah berdiri di atas lumpur. Pada gambar 15 terlihat sebuah ujung cangkul yang digerakkan di atas lumpur. Pada gambar 16 menampilkan wajah Amriah dengan wajah tertunduk dan bibir terlihat melengkung ke bawah. Pada gambar 17 memperlihatkan kegiatan Amriah sedang mencangkul lumpur dengan baju dan celana panjangnya penuh dengan noda berwarna kecoklatan.

  Teknik pengambilan gambar pada gambar 14 yaitu menggunakan teknik very long shot. pada gambar 15 menggunakan teknik pengambilan gambar ekstrem close up. Pada gambar ke 16 menggunakan teknik pengambilan gambar close up. Pada gambar 17 menggunakan teknik pengambilan gambar long shot yang menyorot sosok Amriah dari sisi samping.

  B. Lima Kode Pembacaan

  1. Kode Hermeneutika

  Mengapa Amriah mencangkul lumpur? Mengapa pakaian Amriah penuh noda kecoklatan?

  2. Kode Proaretik

  Pekerjaan yang dilakukan Amriah yaitu mencangkul lumpur merupakan bagian dari proses pengolahan sawah. Noda yang terlihat di pakaian Amriah dikarenakan lumpur yang menempel pada pakaian penampilannya.

  Teknik pengambilan gambar pada gambar 14 bertujuan untuk menampilkan kondisi lingkungan yang berada di sekitar Amriah yang terdiri dari pepohonan dan persawahan. Pada gambar 15 memperlihatkan secara mendetail proses pengolahan sawah yang dilakukan oleh Amriah yaitu menggemburkan tanah dengan menggunakan cangkul. Teknik pengambilan gambar pada gambar 16 menunjukkan ekspresi wajah Amriah yang menunduk tanda bahwa Amriah kelelahan melakukan pekerjaannya. Pada gambar 17 menunjukkan sosok Amriah yang sedang bekerja mencangkul lumpur.

  3. Kode Simbolik

  Profesi yang dikerjakan oleh Amriah disebut sebagai buruh pacul atau kuli pacul. Seorang kuli pacul bertugas untuk mengurus lahan pertanian. Disebut sebagai kuli pacul adalah karena lahan yang mereka kelola adalah lahan milik orang lain dan mereka hanya dipekerjakan untuk mengurus lahan milik orang lain tersebut. Pada narasi di atas disebutkan bahwa kebanyakan lahan di daerah tersebut dimiliki oleh tetangga Amriah. Ini mengesankan bahwa di daerah pedesaan tempat Amriah tinggal terdapat kesenjangan sosial antara warga desa yang bekerja mengurus lahan orang lain dengan warga desa yang memiliki lahan pertanian.

  4. Kode Kultural

  Di dalam struktur masyarakat pertanian, terdapat pola-pola pelapisan sosial didasarkan pada kelompok mana yang memilki lahan pertanian yang paling luas, sedang, sempit dan sama sekali tidak memiliki lahan. Biasanya kelompok yang memiliki lahan pertanian masyarakat desa di posisi paling bawah. Beberapa diantaranya dikenal dengan istilah magersari yaitu kelompok yang tidak memiliki lahan pertanian dan pekarangan, namun memiliki rumah sendiri yang dibangun di pekarangan orang lain dengan cara menumpang. Ada pula disebut dengan mandok kempok yaitu kelompok yang sama sekali tidak memiliki apa-apa kecuali tenaganya. ini menandakan bahwa kesenjangan sosial didasarkan pada luas kepemilikan tanah yang dimiliki individu.

5. Kode Semik

  Kesenjangan sosial pada masyarakat desa juga terjadi. Hal ini juga diperngaruhi oleh kondisi ekonomi masyarakat. Seseorang yang memiliki lahan yang luas dianggap memiliki kondisi ekonomi yang mapan. Karena selain mampu untuk memiliki lahan pertanian, orang tersebut juga mampu member gaji para buruh yang bekerja di sawahnya. Sedangkan para kuli tandur dianggap sebagai masyarakat dengan ekonomi sulit karena tidak punya pilihan lain selain mengolah lahan milik orang lain dengan upah yang jumlahnya ditentukan oleh pemilik lahan. Secara sosial orang-orang yang memunyai lahan pertanian dianggap memiliki kekuasaan lebih tinggi dibandingkan dengan para kuli tandur.

4.2.7. Analisis Scene 7 Visual Audio

  Narator: Di rumah inilah Siti dan Amriah tinggal. Rumah kayu yang jauh dari kata layak. Sebagian besar dinding rumah ini sudah jebol diterpa hujan dan kering.

  Gambar 18 Gambar 19 Gambar 20 Gambar 21 Sebuah rumah terbuat dari kayu yang sudah kusam. Sebelah kanan atap tersebut terdapat bagian yang sudah rusak dan rapuh. Pada gambar 15 dapat dilihat bahwa atap rumah tersebut sudah rusak. Beberapa bagian atap terlihat banyak yang bolong. Gambar 16 memperjelas bagian atap rumah yang rusak tersebut. Gambar 17 menunjukkan kondisi suatu ruangan dalam rumah tersebut. Terdapat sebuah tungku di sudut ruangan tersebut. Di atas terdapat sebuah panci berukuran kecil berwarna hitam serta beberapa tumpukan kayu tersusun di sebelahnya. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu dengan kayu sebagai fondasinya. Lantai ruangan tersebut masih beralaskan tanah.

B. Lima Kode Pembacaan

  1. Kode Hermeneutika

  Mengapa rumah kayu tersebut terlihat kusam dan lapuk? Mengapa atap rumah tersebut banyak bagian yang bolong? Mengapa di ruangan tersebut terdapat sebuah tungku dengan beberapa batang kayu di sebelahnya? Mengapa lantai ruangan tersebut beralaskan tanah?

  2. Kode Proaretik

  Rumah dengan dinding kusam dan lapuk serta bagian atap rusak menandakan bahwa rumah tersebut dalam kondisi tidak terawat. Di dalam rumah tersebut disoroti keadaan suatu ruangan yang didalamnya terdapat sebuah tungku dan beberapa batang kayu di sampingnya. Tungku yang terletak dalam ruangan tersebut menandakan bahwa ruangan tersebut adalah sebuah dapur yang merupakan ruangan yang digunakan dalam proses memasak. Kondisi dapur tersebut terlihat tidak terurus, gelap, dan berantakan menandakan bahwa dapur tersebut jarang digunakan oleh Siti dan Amriah.

  Dinding rumah terlihat usang dan jebol sementara atap rumah rusak dan banyak bagian yang bolong menunjukkan bahwa pemilik rumah memiliki ketidakmampuan untuk merenovasi rumah mereka sehingga mereka membiarkan rumah mereka dalam kondisi rusak. Pada bagian dapur rumah, terlihat sebuah tungku kayu dan beberapa potong kayu di sebelahnya. Tungku merupakan alat tradisional yang digunakan untuk memasak. Sedangkan kayu di sebelahnya merupakan bahan bakar untuk menyalakan tungku kayu tersebut. kondisi dapur sebagaimana yang ditampilkan pada gambar 17 dapat diartikan bahwa penghuni rumah adalah rumah tersebut jarang memiliki sesuatu yang bisa dimasak, sehingga kondisi dapur terlihat kotor dan tidak terawat.

4. Kode Kultural

  Kebutuhan terhadap rumah sebagai tempat tinggal menjadi salah satu kebutuhan pokok yang harus dimiliki setiap individu atau keluarga. Rumah merupakan suatu tempat tinggal yang berfungsi untuk melindungi manusia dari cuaca, sebagai tempat beristirahat dan sebagai sarana untuk melakukan aktivitas sehari-hari sepeti makan, mandi, berkumpul dengan keluarga atau beristirahat. Secara fisik, rumah Siti dan Amriah masih memenuhi kriteria sebuah rumah (ada pintu, jendela, atap, dinding). Namun, fungsi rumah Siti dan Amriah tidak memenuhi fungsi standar rumah pada umumnya. Bagian atap rumah banyak yang bocor, sehingga tidak mampu lagi melindungi mereka dari cuaca panas ataupun hujan. Selain itu, kondisi dapur Siti dan Amriah tidak menampilkan kondisi dapur pada umumnya yang identik dengan kebersihan. Sebuah dapur biasanya terawat dan bersih karena fungsi dapur sebagai tempat memasak dan mengolah makanan, sehingga harus dijaga kebersihannya. Ini menunjukkan bahwa tempat tinggal Siti dan layak.

5. Kode Semik

  Gambaran kemiskinan dapat dilihat dari keadaan rumah yang tidak menunjukkan standar rumah yang layak dihuni. Bagian rumah banyak yang seharusnya dibenahi dan diperbaiki agar fungsi rumah dapat dinikmati oleh pemiliknya. Kondisi rumah Siti dan Amriah inilah yang memberikan suatu kesimpulan bahwa Siti dan Amriah hidup pada garis kemiskinan. Siti dan Amriah belum mampu menjadikan rumah yang merupakan kebutuhan pokok sebagai rumah yang tidak hanya secara fisik disebut sebagai rumah, namun juga dapat memenuhi fungsi rumah yang layak.

4.2.8. Analisis Scene 8 Visual

  Audio

  Narator: Sepiring nasi dengan lauk garam dan kangkung adalah anugerah dari perjuangan mereka hari ini. Siti dan Amriah masih bisa bersyukur setidaknya ada

  Gambar 22 pengganjal perut hari ini. Siti dan Amriah sedang duduk bersila dengan posisi saling berhadapan. Di depan mereka terdapat sebuah piring, dan dua buah mangkuk. Piring tersebut berisi nasi, sedangkan masing-masing mangkuk berisi sayuran hijau dan garam. Siti dan Amriah mengarahkan tangan kanan mereka yang memegang makanan dari piring ke arah mulut mereka yang terbuka.

  Teknik pengambilan gambar pada kedua gambar menggunakan teknik long shot. posisi kamera pada gambar 18 menggunakan high angle sedangkan pada gambar 19 menggunakan eye level.

B. Lima Kode Pembacaan

  1. Kode Hermeneutika

  Mengapa di hadapan mereka terdapat sebuah piring berisi nasi, dan mangkuk berisi sayur dan garam? Mengapa mereka duduk saling berhadapan? Mengapa tangan mereka diletakkan di atas piring?

  2. Kode Proaretik

  Siti dan Amriah terlihat sedang menyantap makanan yang tersedia. Di hadapan mereka terdapat sepiring nasi, lauk berupa sayuran hijau dan garam. Mereka duduk saling berhadapan karena di hadapan mereka hanya terdapat satu porsi makanan sehingga mereka harus berbagi. Ini menunjukkan bahwa Siti dan Amriah tidak mampu memenuhi kebutuhan minimum (pangan) keluarga mereka. Ekspresi wajah mereka datar karena makanan yang tersedia di hadapan mereka adalah makanan sederhana dengan porsi dan lauk seadanya sehingga tidak bisa mereka nikmati.

  Sepiring nasi, sayur dan garam merupakan menu makanan yang disantap oleh Siti dan Amriah dengan berbagi. Makanan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi setiap individu. Namun, Siti dan Amriah masih belum mampu memenuhi kebutuhan pokok keluarganya. Dalam kalimat yang diucapkan narator dikatakan “sepiring nasi

  dengan lauk garam dan kangkung adalah anugerah dari perjuangan mereka hari ini.”. Kata ‘anugerah’ merujuk kepada sesuatu yang

  dianggap luar biasa dan jarang terjadi sehingga patut disyukuri. Itu artinya bahwa menu makanan ini bahkan tidak mampu mereka makan. Pada narasi di menit ke 17 dikatakan “Walau hanya kangkung. Menu

  hari ini sudah istimewa. Sering kali bila Amriah tidak menerima upah, mereka hanya menggunakan nasi dan garam.”. Padahal garam

  merupakan bagian dari bumbu dapur dan tidak dapat dijadikan sebagai pengganti lauk karena garam tidak mengandung gizi sebagaimana yang terdapat pada lauk seperti ikan, atau daging. Ini menunjukkan suatu kondisi yang memprihatikan disebabkan ketidakmampuan untuk melengkapi kebutuhan pokok sehari-hari.

4. Kode Kultural

  Kebutuhan akan makanan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Namun, masih banyak manusia yang belum mampu memenuhi kebutuhan pangan mereka. Siti dan Amriah merupakan salah satu gambaran keluarga yang belum mampu memenuhi kebutuhan makan mereka. Pada scene diatas terdapat narasi yang mengatakan bahwa Siti dan Amriah masih bisa bersyukur karena masih ada pengganjal perut pada hari itu. Padahal, umumnya setiap manusia dianjurkan makan tiga kali dalam sehari. Selain itu, garam yang pada kebiasaan masyarakat miskin karena pada umumnya mereka tidak mempunyai pendapatan yang cukup untuk membeli makanan yang sehat.

5. Kode Semik

  Gambaran kemiskinan terlihat dari ketidakmampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan pokok keluarga mereka. Berdasarkan ketentuan BPS dan Depsos, kemiskinan merupakan sebuah kondisi yang berada di bawah garis nilai standar kebutuhan minimum, baik untuk makanan dan non makanan, yang disebut garis kemiskinan (poverty line) atau batas kemiskinan (poverty threshold). Garis kemiskinan adalah sejumlah rupiah yang diperlukan oleh setiap individu untuk dapat membayar kebutuhan makanan setara 2100 kilo kalori per orang per hari. Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Berdasarkan konferensi ILO tahun 1976 menyebutkan bahwa kebutuhan pangan, sandang, dan papan merupakan kebutuhan yang paling mendasar dari suatu keluarga. Artinya, seseorang atau sebuah keluarga yang belum mampu memenuhi kebutuhan pokok minimum, khususnya kebutuhan pangan/makanan keluarga tersebut dikategorikan sebagai masyarkat miskin.

4.3.Pembahasan

  Dari analisis di atas, terdapat hasil temuan bahwa kemiskinan pada tayangan tersebut dicirikan sebagai masyarakat yang hidup dengan lingkungan rumah saling berdekatan Akses kendaraan yang sulit dijangkau, bekerja di daerah persawahan, konsisi rumah tidak terawat, serta makan seadanya. Kemiskinan oleh tayangan Orang Pinggiran digambarkan sebagai masyarakat yang hidup berkelompok dengan kondisi ekonomi serupa, yaitu menengah ke bawah. Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi keadaan alam yang terjaga. Masyarakat yang dikatakan miskin pada umumnya bekerja sebagai buruh tani dimana mereka hanya bekerja di sawah milik orang lain, sementara mereka tidak memiliki sawah untuk di olah. Pada umumnya, pada masyarakat miskin, bekerja mencari nafkah bukan hanya dilakukan oleh kepala keluarga, melainkan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak. Mereka harus mencari rezeki di usia mereka yang masih sangat muda, sementara upah yang mereka peroleh sangat sedikit. Tidak seperti anak-anak pada umumnya yang bermain atau beristirahat saat pulang sekolah, anak-anak dari keluarga miskin harus mencari penghasilan tambahan. Anak- anak digambarkan sebagai makhluk lemah yang harus mengerjakan pekerjaan yang dapat menghasilkan uang. Kondisi seperti ini membuat anak-anak merasa malu dan rendah diri terhadap lingkungan sekitarnya. Selain itu, kebutuhan sehari-hari mereka pun tidak mencukupi. Mereka harus makan seadanya dan secukupnya dengan menu yang sederhana. Begitu pula dengan pakaian yang mereka kenakan terlihat lusuh dan tidak layak pakai. Sementara kondisi rumah yang tidak terawat dengan banyak bagian yang bocor serta dinding kayu yang ditemukan sudah lapuk.

  Masyarakat miskin di simbolkan sebagai masyarakat pedesaan yang hidup berkelompok serta memiliki ikatan sosial yang tinggi antar masyarakatnya. Pedesaan dikaitkan homogenitasnya karena masyarakat pedesaan memiliki kesamaan dalam hal kehidupan sosial, psikologis, agama, kepercayaan, suku, ras, dan jenis pekerjaan. Pada umumnya mereka memiliki sifat pasrah. Artinya menerima semuanya sebagai sebuah takdir, sehingga usaha untuk merubah hidup semakin rendah. Pada umumnya masyarakat hidup sebagai buruh pacul yang bertugas mengolah lahan sawah milik orang lain. Upah yang mereka terima pun pada umumnya hanya berupa uang dengan nominal yang kecil yang belum mampu memenuhi kebutuhan pada hari itu.

  Ikatan sosial yang tinggi merupakan ciri masyarakat pedesaan. Tidak hanya itu, biasanya masyarakat pedesaan identik dengan kekerabatan yang tinggi serta hidup lahan. Mereka yang memiliki ekonomi mapan biasanya mempunyai lahan pertanian sedangkan masyarakat dengan ekonomi rendah hanya bisa bekerja di lahan milik orang lain dengan jumlah upah ditentukan ole pemilik lahan. Kepemilikan lahan tidak hanya menyebabkan kesenjangan dalam segi ekonomi, namun juga sosial karena mereka yang mempunyai lahan memiliki kekuasaan lebih tinggi dibandingkan buruh biasa. Hal ini disebabkan kehidupan para buruh bergantung pada lahan pertanian pemilik lahan tersebut. Upah yang tidak mencukupi membuat mereka kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Tayangan Orang Pinggiran tidak hanya menampilkan kehidupan daerah pinggiran kota, namun juga mengangkat mengenai fenomena kemiskinan di Indonesia, khusunya daerah pinggiran kota. Berdasarkan temuan diatas, tayangan Orang Pinggiran memfokuskan kemiskinan pada:

  Kehidupan masyarakat pedesaan kebanyakan hidup di bawah garis kemiskinan. Masyarakat desa dianggap sebagai masyarakat tradisional dan homogen. Homogenitas dalam sering terlihat pada kehidupan masyarakat desa. Hal ini disebabkan karena penduduk pedesaan berasal dari daerah pedesaan itu sendiri, berbeda dengan masyarakat kota dimana penduduknya kebanyakan merupakan pendatang.

  Homogenitas ini menyebabkan masyarakat desa tidak memiliki daya saing karena setiap anggota masyarakat memiliki cara hidup yang sama dan sulit menerima perubahan.

  Masyarakat miskin juga dianggap memiliki sikap pasrah atau menerima keadaan apa adanya. Sikap pasrah ini dikaitkan dengan budaya tradisional masyarakat. Misalnya pada mitos masyarakat tradisional Jawa dengan image malas dan pasrah tampak pada pepatah-pepatah yang sering diucapkan oleh masyarakatnya diantaranya

  

mangan ora mangan sing ngumpul (makan atau tidak makan yang penting kumpul),

tuna satak bathi sanak (rugi materiil tidak apa-apa yang penting dapat persaudaraan), masyarakat untuk maju sangat rendah.

  Tugas untuk mencari nafkah pada masyarakat miskin tidak hanya menjadi tanggung jawab kepala keluarga, namun setiap anggota keluarga memiliki rasa tanggung jawab untuk mencari pendapatan. Anak-anak terlihat tidak mempunyai pilihan lain selain membantu keluarga mencari nafkah sepulang sekolah. Rasa malu dan lelah harus dipendam untuk mendapatkan rezeki. Uang merupakan sesuatu hal yang sulit dicari sehingga mereka bekerja di lebih dari satu tempat setiap harinya. Kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak Kemiskinan merupakan sebuah kondisi yang berada di bawah garis nilai standar kebutuhan minimum, baik untuk makanan dan non makanan, yang disebut garis kemiskinan (poverty line) atau batas kemiskinan (poverty

  

threshold). Garis kemiskinan adalah sejumlah rupiah yang diperlukan oleh setiap

  individu untuk dapat membayar kebutuhan makanan setara 2100 kilo kalori per orang per hari dan kebutuhan non-makanan yang terdiri dari perumahan, pakaian, kesehatan, pendidikan, transportasi, serta aneka barang dan jasa lainnya (BPS dan Depsos, 2002:3-4).

  Buruh tani merupakan pekerjaan yang identik masyarakat miskin yang tinggal di desa. Orang yang bekerja sebagai buruh tani dianggap tidak memiliki penghasilan yang tetap. Walaupun mendapat upah, tidak akan cukup memenuhi kebutuhan mereka. Pekerjaan sebagai seorang buruh tani merupakan pekerjaan yang dominan dilakukan di daerah pinggiran desa.

  Kemiskinan dikaitkan dengan ketidakmampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti pangan/ makanan, sandang/pakaian, dan papan/rumah. Fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan atau orang yang mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi dengan porsi sedikit, kondisi pakaian yang sudah lusuh dan usang, serta rumah dalam keadaan rusak seperti tidak layak dihuni menjadi sorotan yang jelas untuk menggambarkan kehidupan masyarakat miskin.

  Adanya anggapan bahwa masyarakat miskin tinggal di lingkungan yang jauh dari fasilitas umum yang layak. Kualitas pendidikan rendah dengan sarana prasarana pendidikan sehingga anak-anak sering teringgal pelajaran di bandingkan anak-anak yang bersekolah di kota dengan fasilitas memadai, pelayanan kesehatan kurang sehingga banyak masyarakat yang meninggal karena penyakit yang terlambat ditangani. Serta medan jalan yang sulit diakses sehingga pembangunan sulit dilakukan.

  Namun, kemiskinan yang ditampilkan dalam tayangan ini tidak semuanya memberikan dampak negatif. Hal positif yang ditampilkan mengenai masyarakat miskin bahwa masyarakat miskin memiliki kemandirian. Mereka berusaha mengerjakan apa saja untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik. kebanyakan dari mereka berinisiatif mencari celah-celah untuk dijadikan sumber pendapatan. Selain itu tayangan ini menampilkan sosok anak yang patuh dan berusaha membant orang tua. sosok Ibu digambarkan sebagai seorang pekerja keras karena mau mengerjakan apa saja demi kebutuhan keluarganya.

  Analisis diatas menunjukkan ciri-ciri kemiskinan menurut Suharto (2005:132), diantaranya: (1) Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (pangan, sandang dan papan). (2) Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga). (3) Rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan keterbatasan sumber alam. (4) Tidak adanya akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan. (5) Ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial (anak telantar, wanita korban tindak kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marjinal dan terpencil) banyak daerah yang penduduknya masuk dalam golongan masyarakat miskin. Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data terbaru jumlah penduduk miskin di Indonesia. Pada September 2014, jumlah penduduk miskin Indonesia tercatat sebesar 27,73 juta orang atau mencapai 10,96 persen dari keseluruhan penduduk. Dilihat dari persebarannya, orang miskin di perkotaan mencapai 10,36 juta jiwa atau 8,16 persen. Sedangkan orang miskin di pedesaan mencapai 17,37 juta jiwa atau sebesar 13,76 persen. Kemiskinan dalam pembahasan diatas dapat dikategorikan ke dalam bentuk kemiskinan struktural. Bentuk kemiskinan ini disebabkan karena faktor-faktor yang disebabkan oleh manusia seperti kebijakan ekonomi yang tidak adil, distribusi aset produksi yang tidak merata, tatanan ekonomi dunia yang cenderung menguntungkan kelompok masyarakat tertentu (Setiadi dan Kolip, 2011: 797).

  Tayangan ini memberikan informasi mengenai gambaran kemiskinan. Bahwa kemiskinan diterjemahkan sebagai suatu kondisi kekurangan materi semata. Sedangkan solusi untuk menanggulangi kemiskinan tidak dibahas sama sekali. Orang miskin ditampilkan sebagai orang yang menyedihkan dan tidak mendapat perhatian sama sekali dari lingkungan sekitar maupun pemerintah. Selain itu muncul faktor- faktor dominan yang terkait dengan kemiskinan pada tayangan ini seperti budaya, lingkungan, agama, suku, serta kapitalisme.

KESIMPULAN DAN SARAN

  1.1. Kesimpulan

  Berdasarkan hasil analisis pada tayangan program acara Orang Pinggiran yang tayang di stasiun televisi Trans 7, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Tayangan Orang Pinggiran menonjolkan kemiskinan sebagai kondisi yang identik dengan kekurangan secara material dan ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan fisik sehari-hari.

  2. Kemiskinan disebabkan sebagai bentuk kemiskinan struktural (disebabkan oleh ulah manusia) seperti kurangnya fasilitas suatu daerah serta ketimpangan masyarakat daerah dengan masyarakat kota, serta kapitalisme.

  1.2. Saran

  Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan yang diperoleh peneliti selama proses penelitian, terdapat beberapa saran yang penulis anggap perlu sebagai masukan, diantaranya:

  1. Saran penelitian Kajian semiotika merupakan kajian yang membutuhkan wawasan yang luas dalam penelitiannya. Oleh sebab itu peneliti hendaknya memperbanyak bahan bacaan sehingga mampu mengkaji topik penelitian secara mendalam.

  2. Saran akademis Diadakannya pelajaran mengenai semiotika. Penelitian dengan menggunkan kajian semiotika sudah banyak dikaji oleh mahasiswa, khusunya mahasiswa ilmu komunikasi. Oleh sebab itu, adanya dengan ilmu komunikasi dengan menggunakan analisis semiotika

  1. Saran Praktis Lewat penelitian ini, diharapkan agar tayangan sejenis ini disajikan seobjektif mungkin mengingat bahwa tayangan ini merupakan reality

  show yang berarti tayangan yang menampilkan realitas. juga

  diharapkan tidak mengeksploitasi kehidupan masyarakat miskin sebagai suatu keuntungan semata untuk menaikkan rating acara dan mendatangkan keuntungan bagi stasiun televisi semata. Diharapkan penelitian ini juga dapat memberikan manfaat dan menjadi refrensi bagi para peneliti lain yang ingin meneliti tayangan reality show dan sejenisnya. Penelitian ini masih jauh dari sempurna, sehingga diharapkan para peneliti lain dapat menutupi kekurangan tersebut demi mencapai suatu penelitian yang lebih baik lagi di masa depan.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Representasi Budaya Dalam Iklan (Analisis Semiotika Pada Iklan Mie Sedaap Versi “Ayamku" di Televisi)
24
279
89
Opini Mahasiswa Mengenai Eskploitasi Masyarakat Kecil PadaTayangan Reality Show (Studi Deskriptif Opini Mahasiswa FISIP USU Mengenai Eksploitasi Masyarakat Kecil Pada Tayangan Reality Show ‘Minta Tolong’ di RCTI)
5
115
101
Media Literacy Dan Tayangan Reality Show (Studi Korelasional Tentang Pengaruh Media Lietracy Terhadap Pemilihan Tayangan Termehek-Mehek Di Trans TV Pada Siswa SMP Santo Thomas 1 Medan)
4
86
144
Representasi Feminisme Dalam Film (Analisis Semiotika Representasi Feminisme Dalam Film “Sex And The City 2 (2010)”)
31
204
145
Representasi Kemiskinan Pada Tayangan Reality Show (Analisis Semiotika Pada Program Acara Orang Pinggiran Trans 7)
15
80
94
KEKERASAN SIMBOLIK DALAM ACARA KOMEDI DI TELEVISI (Analisis Isi Program Acara Ngelenong Nyok di Trans TV)
0
22
2
DEKONSTRUKSI HOST DALAM TALK SHOW DI TELEVISI (Analisis Semiotik Talk Show Empat Mata di Trans 7)
21
197
1
TAYANGAN PORNOGRAFI DALAM PROGRAM ACARA TELEVISI (Analisis Isi Unsur Pornografi Pada Empat episode Tayangan “Mister Tukul Jalan-Jalan” Di Stasiun Televisi Trans 7)
3
33
23
UNSUR PELANGGARAN UNDANG-UNDANG PENYIARAN NOMOR 32 TAHUN 2002 PADA PROGRAM ACARA TELEVISI (Analisis isi pada Program Acara Comedy Project Trans TV)
0
6
58
Pemaknaan Unsur Bullying Pada Tayangan Animasi (Analisis Resepsi Pada Penonton Tayangan Animasi Larva)
9
36
15
Komodifikasi Kelompok Marginal Dalam Tayangan Reality Show “Orang Pinggiran”Di Stasiun Televisi Swasta Trans 7 edisi Kerinduan Seorang Ibu Pada Tanggal 8 Juli 2015 (sebuah analisis wacana kritis)
3
23
29
Unsur Kekerasan pada Tayangan Talk Show di Televisi (Analisis Isi Pada Program Acara Talk show “ Rumpi No Secret ” di Trans Tv)
9
20
33
Campur Kode dan Alih Kode pada Acara Show Imah di Trans TV
0
6
9
Representasi Singularitas Teknologi Dalam Film Transcendence (Analisis Semiotika Roland Barthes Mengenai Representasi Singularitas Teknologi Dalam Film Transcendence)
1
9
17
Representasi Korupsi Pada Tayangan Iklan Djarum 76 (Analisis Semiotika Roland Barthes Mengenai Representasi Korupsi Dalam Tayangan Iklan Djarum 76)
7
30
99
Show more