Penyesuaian Diri Lansia Pasca Bercerai

Gratis

4
60
116
3 years ago
Preview
Full text

  PENYESUAIAN DIRI LANSIA PASCA BERCERAI SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi OLEH: MARINI NOVIANDRI 091301007 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA GENAP, 2013/2014

LEMBAR PERNYATAAN

  Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul :

  Penyesuaian Diri Lansia Pasca Bercerai

  adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.

  Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah. Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.

  Medan, Juni 2014 MARINI NOVIANDRI 091301007

  Penyesuaian Diri Lansia Pasca Bercerai Marini Noviandri dan Indri Kemala Nasution

ABSTRAK

  Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran penyesuaian diri lansia pasca bercerai. Penyesuaian diri akan dijabarkan berdasarkan indikator penyesuaian diri yang normal oleh Schneiders (1964). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus terhadap dua orang partisipan dengan karakteristik lansia wanita yang telah bercerai di usia 60 tahun ke atas. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan kedua partisipan memiliki penyesuaian diri yang baik setelah bercerai. Penyesuaian diri ini dapat dilihat dengan tidak adanya emosi berlebihan, tidak adanya mekanisme pertahanan psikologis, tidak adanya rasa frustrasi, pertimbangan rasional dan kemampuan pertahanan diri, mampu untuk belajar, memanfaatkan pengalaman masa lalu, dan bersikap realistis serta objektif. Dukungan emosional yang diberikan oleh lingkungan keluarganya membantu partisipan dalam menyesuaikan diri.

  Kata kunci: Penyesuaian Diri, Lansia, Perceraian.

  Elderly’s Post-Divorce Adjustment Marini Noviandri and Indri Kemala Nasution ABSTRACT The aim of this research is to know how alderly can make a self-

adjustment after a divorce by using Schneiders’ normal adjustmet theory. The

method used in this research is case study of two partisipants which has several

characteristics such as, elderly woman who have been divorced at age 60 years

and over. The method which has been used to gathering datas was in-depth-

interview. The result showed the partisipant could adjust herself nicely after the

divorce. The adjustment can be seen by the absence of excessive emotionality,

absence of psychological mechanisms, absence of the sense of personal

frustration, rational deliberation and self-direction, ability to learn, utilization of

past experience, and realistic, objective attitude. The emotional support she takes from her family helps her to adjust herself nicely. Keywords: self-adjustment, elderly, divorce

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas karunia dan hidayahnya penulis dapat menyusun sebuah penelitian yang berjudul “PENYESUAIAN DIRI LANSIA PASCA BERCERAI” guna memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi Fakultas Psikologi Sumatera Utara.

  Rasa terima kasih juga ingin penulis sampaikan kepada kedua orang tua tercinta, H. Arziyon, SE. dan Dr. Hj. Chairul Bariah Mozasa, SH., M.Hum., yang tidak henti-hentinya memberikan semangat, dukungan, dan doa di sepanjang proses penelitian ini. Terciptanya penelitian ini tidak terlepas dari doa restu yang selalu dipanjatkan oleh Papa dan Mama.

  Pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang memberikan dukungan serta bantuan. Untuk itu peneliti ingin mengucapkan terima kasih setulus hati kepada: 1.

  Ibu Prof. Dr. Irmawati, M.Psi., psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

  2. Kak Indri Kemala Nasution, M.Psi, psikolog selaku dosen pembimbing skripsi yang telah sabar meluangkan waktu dan tenaganya untuk membimbing, mendukung, serta memberi saran selama proses penyelesaian penelitian ini. Merupakan sebuah kehormatan bagi penulis dapat dibimbing dan bertukar pikiran bersama kakak.

  

i

  3. Ibu Ade Rahmawati, M.Psi, psikolog dan Ibu Meutia Nauly, M.Si, psikolog selaku dosen penguji skripsi. Terima kasih atas kesediaan ibu untuk meluangkan waktu menguji serta memberikan saran dan kritik guna menyempurnakan penelitian ini.

  4. selaku dosen pembimbing

  Mbak Aprilia Fadjar Pertiwi, M.si, psikolog akademik. Walaupun hanya beberapa semester, penulis tetap berterima kasih kepada Mbak Iteung karena saran yang diberikan benar-benar membantu penulis di masa-masa awal perkuliahan. Tidak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada kak Juliana Irmayanti Saragih, M.psi yang juga menjadi dosen pembimbing akademik di masa pertengahan hingga akhir perkuliahan. Tidak hanya memberikan bimbingan akademik, namun Kak Juli juga berbaik hati untuk memberikan saran terkait penelitian ini.

  5. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara yang telah membagikan ilmu dan pengetahuannya kepada penulis. Semoga ilmu ini akan terus bermanfaat sepanjang hidup.

  6. Seluruh staf bidang akademik, administrasi, dan perpustakaan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara yang telah membantu dan melancarkan segala urusan administrasi penulis selama ini.

  7. Kakak, adik, serta sepupu-sepupu penulis, kak Annisa Yulindri (Icha), Yati Sharfina Desiandri, kak Euis Wikanita, dan Rafika Maya Sari Siregar (Pika) yang juga memberikan dukungan penuh terhadap penelitian ini. terima kasih juga karena telah memberikan semangat kepada penulis untuk segera menyelesaikan penelitian ini.

  8. Teman-teman terbaik dari penulis, Rezki Wulandari (Wulan), Hana Zafirah Ardani, Rahma Safitri (Lili), Yurisqa Shadila (Dila), Qisty Anindiaty, Yuanda Novrita (Wanda), dan Farah Oktamurdiantri (Pai) yang selama 5 tahun terakhir menjadi tempat untuk saling berbagi, mulai dari berbagi ilmu, cerita, hingga makanan. Terima kasih atas dukungan yang telah diberikan. Terima kasih karena selalu ada ketika dibutuhkan. Terima kasih atas semua kenangan yang kalian berikan selama perkuliahan ini. Semoga persahabatan ini berlangsung hingga selamanya.

  9. Terima kasih kepada Katriin dan Ratna yang membantu penulis memberikan inspirasi dalam menulis. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Aisyah, Putri Carol, Agiska, Jeremy, Serefhy, Juli, Inu, Chika, Susi T., Fita, Rezqy ‘Ubi’, dan Riri yang juga berjuang selama proses penelitian ini berlangsung.

  Semoga kita semua bisa menyandang gelar Sarjana Psikologi dalam waktu dekat.

  10. Keluarga besar H. Mohammad Zain Saidi (Mozasa) dan keluarga besar H.

  Abdurrahman yang selalu memberikan dukungan dan perhatian kepada penulis. Perhatian-perhatian tersebut selalu menjadi semangat bagi penulis selama proses penyelesaian penelitian ini.

  11. Pihak-pihak yang membantu penulis ketika mencari partisipan yang sesuai dengan karakteristik penelitian. Terima kasih kepada Om Edi Yunara, Pak Jalaludin, dan Pak Zulham yang tiada hentinya memberikan informasi kepada penulis yang berkaitan dengan penelitian ini.

12. Kedua partisipan penelitian yang bersedia meluangkan waktunya di dalam penelitian ini. Semoga Allah SWT membalas kebaikan Anda berdua.

  13. Pihak-pihak yang telah membantu keseluruhan proses penelitian ini yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu. Terima kasih atas bantuan, dukungan, saran, serta kritik yang diberikan selama penelitian berlangsung.

  Penulis sadar bahwa penelitian ini masih jauh dari kata sempurna, maka daripada itu penulis mengharapkan saran dan kritik agar penelitian ini menjadi lebih baik. Akhir kata penulis berharap agar penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.

  Medan, April 2014 Penulis

  DAFTAR ISI

  Halaman

  LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERNYATAAN ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR ............................................................................... i DAFTAR ISI .............................................................................................. v DAFTAR TABEL ..................................................................................... ix DAFTAR GAMBAR ................................................................................. x DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xi

  BAB I : PENDAHULUAN ............................................................. 1 A. Latar Belakang ............................................................ 1 B. Rumusan Masalah ....................................................... 8 C. Tujuan Penelitian .......................................................... 8 D. Manfaat Penelitian ....................................................... 9 1. Manfaat Teoritis ..................................................... 9 2. Manfaat Praktis ....................................................... 9 v

  E.

  Sistematika Penulisan ................................................... 10

  BAB II : LANDASAN TEORI ......................................................... 11 A. Penyesuaian Diri .......................................................... 11 1. Definisi Penyesuaian Diri .................................... 11 2. Bentuk Penyesuaian Diri ....................................... 12 3. Indikator Penyesuaian Diri yang Normal .......... 14 4. Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri ... 16 5. Karakteristik Penyesuaian Diri yang Baik .......... 18 6. Penyesuaian Diri Lansia ....................................... 20 B. Lansia ........................................................................... 23 1. Definisi Lansia ..................................................... 23 2. Tugas Perkembangan Lansia ................................ 25 C. Perceraian ..................................................................... 26 1. Definisi Lansia ..................................................... 26 2. Perceraian di Masa Lansia .................................... 27 3. Penyebab Perceraian ............................................. 28 4. Dampak Perceraian ............................................... 31 5. Penyesuaian Perceraian ......................................... 33 D. Penyesuaian Diri Lansia Pasca Bercerai .................... 37 E. Dinamika Penelitian ..................................................... 40 BAB III : METODE PENELITIAN ................................................. 41 A. Pendekatan Kualitatif ................................................... 41

  B.

  Metode Penelitian ......................................................... 42 C. Partisipan Penelitian ................................................... 42 1.

  Karakteristik Partisipan Penelitian ......................... 42 2. Jumlah Partisipan Penelitian .................................. 43 3. Teknik Pengambilan Partisipan .............................. 43 4. Lokasi Penelitian .................................................... 44 D. Metode Pengambilan Data ........................................... 44 E. Alat Bantu Pengumpulan Data .................................... 45 F. Kredibilitas dan Validitas Penelitian ........................... 46 G.

  Prosedur Penelitian ....................................................... 47 1.

  Tahap Persiapan Penelitian .................................... 47 2. Tahap Pelaksanaan Penelitian ................................ 49 3. Tahap Pencatatan Data ........................................... 51 4. Prosedur Analisis Data ........................................... 51

  BAB IV : ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN ....................... 54 A. Hasil ............................................................................. 55 1. Analisa Data Partisipan ........................................... 55 a. Identitas Diri Partisipan .................................... 55 b. Latar Belakang Partisipan ................................. 55 2. Data Wawancara Partisipan ..................................... 58 a. Data Hasil Observasi ......................................... 58 b. Data Hasil Wawancara ..................................... 61

  1) Kehidupan Pernikahan ................................ 61

  2) Perceraian ................................................... 65

  3) Penyesuaian Diri Pasca Bercerai ................ 68

  a) Tidak adanya emosi yang berlebihan ..... 68

  b) Tidak adanya mekanisme psikologis ..... 70

  c) Tidak adanya rasa frsutrasi ..................... 71

  d) Pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri .................................. 72 e)

  Mampu untuk belajar ............................. 73

  f) Memanfaatkan pengalaman masa lalu ... 75

  g) Sikap yang realistis dan objektif ............ 76 3.

  Hasil Data Partisipan ............................................... 77 B. Analisa dan Pembahasan Partisipan .............................. 85

  BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN .......................................... 150 A. Kesimpulan ................................................................... 150 B. Saran .............................................................................. 153 1. Saran Praktis .......................................................... 153 2. Saran Penelitian Lanjutan ...................................... 154 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 155 LAMPIRAN

  

DAFTAR TABEL

  Tabel 1. Gambaran Umum Partisipan .......................................................... 55 Tabel 2. Waktu dan Lokasi Wawancara Partisipan ..................................... 58 Tabel 3. Rekapitulasi Penyesuaian Diri Partisipan Pasca Bercerai .......... 92

  ix x

DAFTAR GAMBAR

  Gambar 1. Skema Gambaran Penyesuaian Diri Partisipan Pasca Bercerai .......................................................................... 92

  xi DAFTAR LAMPIRAN

  LAMPIRAN 1 Pedoman Wawancara ............................................ 101 LAMPIRAN 2 Informed Consent ................................................... 104 LAMPIRAN 3 Rekonstruksi Data ................................................... 108

  Elderly’s Post-Divorce Adjustment Marini Noviandri and Indri Kemala Nasution ABSTRACT The aim of this research is to know how alderly can make a self-

adjustment after a divorce by using Schneiders’ normal adjustmet theory. The

method used in this research is case study of two partisipants which has several

characteristics such as, elderly woman who have been divorced at age 60 years

and over. The method which has been used to gathering datas was in-depth-

interview. The result showed the partisipant could adjust herself nicely after the

divorce. The adjustment can be seen by the absence of excessive emotionality,

absence of psychological mechanisms, absence of the sense of personal

frustration, rational deliberation and self-direction, ability to learn, utilization of

past experience, and realistic, objective attitude. The emotional support she takes from her family helps her to adjust herself nicely. Keywords: self-adjustment, elderly, divorce

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Semasa hidup, manusia akan melewati tahap-tahap perkembangan tertentu. Perkembangan manusia diawali dari pertumbuhan janin di dalam rahim hingga

  masa lansia. Setiap tahap perkembangan memiliki beberapa tugas perkembangan yang harus dilewati tiap individu. Begitu pula dengan lansia, yang juga menjalani tugas perkembangannya (Havighurst dalam Hurlock, 1996).

  Tugas perkembangan lansia didominasi oleh penyesuaian diri (Havighurst dalam Hurlock, 1996). Di masa senjanya, lansia akan mengalami penurunan kondisi fisik yang mengakibatkan lansia harus mengurangi beberapa kegiatan yang dijalaninya. Tugas perkembangan lainnya adalah penyesuaian diri terhadap masa pensiun yang umumnya dijalani oleh lansia. Selain kedua hal di atas, tugas perkembangan lansia lainnya adalah menyesuaikan diri terhadap hilangnya pasangan (Hurlock, 1996).

  Kehilangan pasangan di masa lansia dapat terjadi karena kematian ataupun perceraian (Hurlock, 1996). Walaupun lebih banyak lansia yang menjadi janda atau duda akibat kematian pasangan, namun ada juga beberapa lansia yang mengalami kesendirian karena perceraian. Menurut data yang dihimpun oleh BPS-RI Susenas yang dilansir dalam Komisi Nasional Lanjut Usia pada tahun

  1

  2009 persentase lansia di Indonesia yang mengalami perceraian adalah 2,21% dari total jumlah lansia. Jumlah ini memang cukup sedikit, tetapi hal ini menunjukkan bahwa perceraian di masa lansia juga perlu mendapat perhatian khusus (Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010).

  Jumlah lansia yang bercerai di kota Medan, baik sebagai pihak penggugat maupun tergugat, pada tahun 2013 mencapai 177 orang. Tidak adanya keharmonisan merupakan penyebab utama dari perceraian (Pengadilan Agama Medan, 2013). Menurut Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan Rentan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (2012), ketidakcocokan atau disharmonis antara pasangan lansia disebabkan oleh penurunan fungsi fisik dan psikologis dari lansia itu sendiri. Akibatnya timbulah ketegangan emosional yang mempengaruhi hubungan pernikahannya. Selain itu tidak sedikit lansia yang bercerai karena masing-masing tidak dapat menerima pendapat pasangannya.

  Pada sebuah artikel yang ditulis oleh Yadegaran (2012) disebutkan bahwa perceraian di masa lansia juga memiliki alasan yang cukup sederhana misalnya pasangan suami istri yang mempunyai tujuan hidup berbeda, hubungan yang tidak lagi dekat, atau tidak memiliki perasaan terhadap pasangan. Hurlock (1996) menjelaskan perceraian yang terjadi pada lansia tidaklah muncul akibat suatu permasalahan baru melainkan berasal dari sebuah keputusan yang telah dipikirkan sejak awal namun terhalang karena pasangan lebih mengedepankan kepentingan anak ataupun karena alasan ekonomi.

  Beberapa penelitian mengemukakan beberapa hal yang mendasari terjadinya perceraian pada pasangan lansia. Sebuah studi yang dilakukan oleh Gottman (dalam Cavanaugh & Blanchard-Fields, 2006) menyatakan bahwa penyebab terjadinya perceraian pada lansia didasari oleh kurangnya emosi positif selama menjalani pernikahan. Maksud dari kurangnya emosi positif seperti dicontohkan oleh Cavanaugh dan Blanchard-Fields (2006) misalnya ketika istri berbicara dengan semangat kepada suaminya tetapi tidak ditanggapi oleh sang suami. Dalam pernikahan seperti ini biasanya tidak terjadi pertengkaran yang hebat antara suami dan istri, bahkan pernikahan bisa bertahan cukup lama tapi akan lebih beresiko berakhir dengan perceraian.

  Di lain pihak, menurut penelitian Sternberg (dalam DeGenova, 2008) hal lain yang mendasari konflik dalam pernikahan lansia berdasarkan teori komponen cinta adalah pasangan lansia yang hanya memiliki komitmen di dalam pernikahannya. Komitmen meliputi suatu keputusan untuk berada di suatu hubungan dan menjaganya dalam jangka waktu yang lama. Namun komitmen saja tidak dapat mempertahankan suatu hubungan pernikahan. Di dalam pernikahan juga dibutuhkan hasrat dan kedekatan agar pernikahan bisa bertahan lama.

  Kekerasan juga merupakan salah satu penyebab perceraian pada lansia. Menurut data yang dihimpun dari Pengadilan Agama Klas IA Medan, sekitar 6,1% dari kasus perceraian di masa lansia disebabkan oleh tindak kekerasan oleh pasangan (Pengadilan Agama Medan, 2013). Kekerasan yang terjadi di dalam pernikahan umumnya disebabkan karena level kepuasan pernikahan yang rendah dan masalah dalam komunikasi (DeGenova, 2008).

  Selain masalah ketidakharmonisan dan kekerasan, permasalahan ekonomi dalam kehidupan rumah tangga juga menjadi penyebab perceraian pada lansia.

  Menurut studi yang dilakukan oleh International Longevity Center di London, lansia lebih banyak mengalami permasalahan keuangan karena anggaran pensiun terus dipakai untuk melunasi hutang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lansia yang tidak mampu mengatur keuangan memiliki kemungkinan lebih besar untuk bercerai dibandingkan dengan lansia yang memiliki keuangan yang stabil (Republika Online, 2013).

  Perceraian memiliki dampak bagi lansia. Memang lansia pria maupun wanita yang kehilangan pasangan akibat kematian maupun perceraian akan mengalami hal yang sama, namun perceraian memiliki karakteristik yang khas. Di masa awal setelah bercerai, lansia akan menjadi marah kepada mantan pasangannya (Cavanaugh & Blanchard-Fields, 2006). Hal ini sesuai dengan pernyataan SY yang berusia 62 tahun:

  “perasaan marah? Ya pastilah. Cuman lama-lama kita pikir-pikir ya ngapain lagi (marah). Sama mantan pasangan saya gak pernah berkomunikasi lagi. Pas anak saya nikah, di situlah saya bilang ‘maaf ya’. Dibilangnya, ‘ya udahlah, kita jalanin aja’”

  (wawancara personal, 5 Maret 2014) Selain itu lansia yang bercerai akan merasakan trauma karena mereka telah membangun hubungan dalam jangka waktu yang lama dengan pasangan, melakukan aktivitas bersama, merencanakan masa depan bersama, dan memiliki komitmen dalam hubungannya, tetapi kini seseorang yang sudah lama dikenal telah menjadi orang asing (Cavanaugh & Blanchard-Fields, 2006).

  Kesepian merupakan salah satu dampak stres psikologis yang dialami lansia setelah kehilangan pasangannya (DeGenova, 2008; Matlin, 2008). Selain kehilangan pasangan, perasaan kesepian yang dialami oleh lansia ini dikarenakan hilangnya persahabatan di antara teman sebaya. Menurut Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan Rentan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (2012) interaksi lansia dengan teman sebaya menurun karena keterbatasan yang dimiliki lansia misalnya keterbatasan fisik, gerak, serta akses komunikasi. Selain itu lingkup pertemanan menjadi mengecil karena proses kepindahan ataupun kematian.

  Dampak-dampak setelah bercerai biasanya disertai dengan usaha dalam menyesuaikan diri (Dewi, 2011). Dalam menyesuaikan diri terdapat pengadopsian sebuah pola perilaku pada situasi maupun konflik sehingga dengan cara tersebut nantinya akan muncul keselarasan dan keharmonisan antara individu dan lingkungan (Schneiders, 1964).

  Beberapa penelitian menunjukkan bahwa menjalin hubungan dengan orang lain merupakan suatu hal yang membantu pasca bercerai misalnya dengan membangun hubungan sosial atau menikah kembali. Menikah kembali dapat membantu lansia menyesuaikan diri setelah bercerai dimana individu yang menikah kembali menunjukkan penyesuaian yang lebih baik (Burgess & Locke, 1960; DeGenova, 2008). Pernikahan kembali lebih banyak dilakukan oleh pria setelah bercerai dibandingkan dengan wanita. (Komisi Nasional Lansia, 2010). Pernikahan kembali bukanlah bentuk penyesuaian setelah bercerai yang dipilih oleh wanita. Pada profil penduduk lanjut usia di tahun 2009 yang dihimpun oleh Komisi Nasional Lansia (2010) terlihat bahwa persentase lansia wanita yang bercerai sebanyak 3,14%. Hal ini diperkuat dengan pernyataan S, 63 tahun, yang menyatakan tidak ingin menikah kembali setelah bercerai dengan suaminya:

  “ah, ngapain lah nenek kawin lagi. Itu kan kerjaannya yang muda-muda aja. Kalo nenek enggak lah. Udah gak ada pikiran kayak gitu lagi”

  (Wawancara personal, 31 Mei 2013) Pada lansia wanita, salah satu faktor yang membantu setelah bercerai adalah lingkungan (Schneiders, 1964). Kelompok dukungan (support group) merupakan bentuk bantuan yang bisa didapatkan oleh lansia wanita dari lingkungan. Support group dapat membantu lansia memulihkan keadaan pasca bercerai. Bagi wanita, kelompok ini akan memberikan pengaruh jika memberikan dukungan secara emosional (Oygard & Hardeng dalam Cavanaugh & Blanchard- Fields, 2006). Sebuah penelitian oleh Nisa (2009) mengenai wanita desa yang bercerai menunjukkan dukungan dari teman dan keluarga dapat membantu penyesuaian diri. Dalam sebuah wawancara personal, S (63 tahun) dengan cepat dapat melupakan permasalahan perceraiannya dan tidak mengalami rasa kesepian karena kegiatan yang dilakukannya bersama dengan teman-teman sebaya yang ada di lingkungannya.

  “jadi nenek tinggal di kampung. Namanya pun kampung tapi ramai. Yang apa (menemani) ya kawan-kawanlah. Mengaji kita pigi sama-sama, ramai-ramai. Kan gak terasa apa, susah-susah. Yang susah-susah itu kan yang gak ada kegiatan. Duduk aja. Kalau (diajak) pergi, ayo.”

  (wawancara personal, 31 Mei 2013)

  Dukungan dari keluarga serta pandangan masyarakat terhadap perceraian juga membantu lansia wanita untuk menyesuaikan diri. Lansia wanita yang bercerai umumnya akan tinggal berdekatan ataupun tinggal bersama salah satu anaknya. Cara ini dilakukan lansia untuk dapat melakukan kontak sosial dengan orang di sekitarnya (Hurlock, 1996). Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Widarti (2012) menunjukkan beberapa partisipan penelitiannya dapat menyesuaikan diri karena mendapatkan dukungan dari pihak keluarga. Sementara itu beberapa partisipan lainnya masih belum bisa untuk menyesuaikan diri akibat pandangan negatif masyarakat mengenai perceraian dan keluarga yang menyalahkan partisipan atas perceraian.

  Selain lingkungan, agama juga dapat memberikan kontribusi terhadap penyesuaian diri lansia. Penelitian yang dilakukan oleh Indriana, Desiningrum, dan Kristiana (2011) menunjukkan bahwa religiusitas yang dimiliki lansia berhubungan secara signifikan dengan penyesuaian diri lansia. Lansia yang religius dapat menjadi individu yang lebih dapat menyesuaikan diri sehingga mencapai kesejahteraan sosial.

  Teori penyesuaian diri yang dikemukakan oleh Schneiders (1964) memuat indikator-indikator yang menunjukkan bahwa seseorang telah menyesuaikan diri secara normal. Indikator-indikator tersebut antara lain: tidak menunjukkan emosi yang berlebihan, tidak adanya mekanisme pertahanan diri, dan tidak menunjukkan rasa frustrasi, mampu mengarahkan diri, memiliki pertimbangan rasional, kemauan untuk belajar dari pengalaman masa lalu, serta bersikap realistis serta objektif dalam menilai suatu masalah. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyuningsih (2007) menunjukkan bahwa individu yang bersikap realistis dengan menerima status janda atau dudanya dapat menyesuaikan diri lebih baik.

  Hal ini senada dengan pernyataan seorang lansia wanita yang menerima status jandanya dan menjadikan kunjungan ke tempat anak-anaknya sebagai cara untuk menyesuaikan dirinya.

  “(pengaruh perceraian) gak ada. Dia gak suka sama kita apa boleh buat... Sekarang biasa aja. Nanti nenek melancong-melancong ke tempat anak di sana, di sini. Gak ada nenek pikir-pikir (perceraian)”

  (wawancara personal, 31 Mei 2013) Berdasarkan fenomena yang telah dijabarkan di atas, dapat dilihat bahwa perceraian juga dapat terjadi di masa lansia. Perceraian juga memberikan dampak dalam kehidupan lansia seperti misalnya kesepian. Untuk itulah dibutuhkan penyesuaian diri agar tercipta keselarasan dalam diri walaupun tanpa kehadiran pasangan. Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengetahui bagaimana penyesuaian diri lansia setelah mengalami perceraian.

  B. RUMUSAN MASALAH

  Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka peneliti ingin meneliti bagaimana penyesuaian diri pada lansia setelah bercerai berdasarkan indikator-indikator penyesuaian diri yang normal menurut Schneiders (1964).

  C. TUJUAN PENELITIAN

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyesuaian diri lansia setelah bercerai.

D. MANFAAT PENELITIAN

  1. Manfaat Teoritis

  Penelitian ini diharapkan dapat memberi tambahan informasi dalam ilmu psikologi, khususnya psikologi perkembangan lanjut usia. Selain itu penelitian ini juga dapat memberikan manfaat bagi peneliti lainnya. Selama ini penelitian mengenai lansia hanya menyoroti permasalahan psikologis lansia yang kehilangan pasangan karena kematian. Semoga penelitian ini dapat menjadi referensi bagi peneliti lain yang ingin mengetahui kasus perceraian di masa lanjut usia.

  2. Manfaat Praktis

  Selain ditujukan untuk menambah informasi, penelitian ini juga dapat memberikan manfaat lainnya seperti: a.

  Memberikan informasi mengenai indikator-indikator penyesuaian diri setelah bercerai; b.

  Menjadi sumber acuan bagi lansia yang bercerai untuk dapat menyesuaikan dirinya setelah bercerai dengan mengacu pada faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri dan indikator penyesuaian diri yang normal; c. Membantu lingkungan di sekitar lansia untuk memahami kondisi psikologis yang dialami lansia yang telah bercerai sehingga dapat membantu lansia untuk menyesuaikan diri.

E. SISTEMATIKA PENULISAN

  Bab I : Bab ini berisi latar belakang mengenai kasus perceraian di Indonesia, khususnya pada lansia serta dampak dan penyesuaian setelah terjadinya perceraian. Selanjutnya dipaparkan juga tujuan, manfaat, dan sistematika penulisan dari penelitian ini.

  Bab II : Bab II berisi landasan teori yang digunakan untuk menjelaskan lebih dalam lagi mengenai penyesuaian diri, lansia, dan perceraian pada lansia.

  Bab III : Bab III berisi metodologi penelitian seperti apa yang akan dilakukan selama penelitian berlangsung. Bab IV : Bab IV berisi analisa dari data yang telah dikumpulkan dan pembahasan berdasarkan teori digunakan. Bab V : Bab V berisi kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan serta saran-saran, baik saran yang ditujukan untuk peneliti selanjutnya maupun saran praktis untuk dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II LANDASAN TEORI A. PENYESUAIAN DIRI

1. Definisi Penyesuaian Diri

  Penyesuaian diri sebagaimana dimaksudkan oleh Schneiders (1964) ialah: “a process involving both mental and behavioral responses by which an

  individual strive to cope successfully with inner needs, tensions, frustrations, and conflicts, and to effect a degree of harmony between these inner demands and those imposed on him by the objective world in which he lives.”

  Sesuai dengan definisi di atas, maka pengertian penyesuaian diri menurut Schneiders adalah sebuah proses yang meliputi respon mental dan perilaku pada individu untuk menghadapi kebutuhan internal, ketegangan, frustrasi, serta konflik-konflik. Penyesuaian diri nantinya berdampak pada keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dan lingkungan di sekitarnya (Schneiders, 1964).

  Selaras dengan pernyataan Schneiders, penyesuaian diri menurut Calhoun dan Acocella (1990) adalah sebuah interaksi yang kontinyu antara diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Penyesuaian diri merupakan sebuah proses timbal balik dan saling mempengaruhi antara individu dan lingkungannya.

  Schneiders (1964) membagi penyesuaian diri ke dalam tiga sudut pandang. Sudut pandang pertama adalah penyesuaian diri sebagai bentuk adaptasi (adaptation) yang lebih menyoroti penyesuaian diri dalam hal fisik, fisiologis, dan biologis. Sudut pandang yang kedua adalah penyesuaian diri sebagai bentuk

  11 konformitas (conformity) dimana individu menyesuaikan diri agar sesuai dengan norma yang ada di lingkungan dan menghindari penyimpangan perilaku, baik secara moral, sosial, maupun emosional. Sudut pandang yang terakhir adalah penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery) dimana individu mampu untuk merencanakan dan mengorganisasikan suatu respon untuk mengatasi konflik, kesulitan, dan rasa frustrasi yang dialami.

  Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka yang dimaksud dengan penyesuaian diri adalah sebuah proses yang meliputi respon mental dan perilaku atas tuntutan yang berasal dari dalam diri seperti kebutuhan internal maupun konflik, ketegangan, dan frustrasi. Selain itu, penyesuaian diri juga sebagai proses timbal balik antara diri dan lingkungan sekitar.

2. Bentuk Penyesuaian Diri

  Schneiders (1964) juga mengemukakan bahwa ada empat macam bentuk penyesuaian diri yang dilakukan oleh individu berdasarkan pada kontak situasional respon, yaitu: a.

  Penyesuaian diri personal Penyesuaian diri personal adalah penyesuaian diri yang diarahkan kepada diri sendiri. Penyesuaian ini dapat dijabarkan sebagai berikut: 1)

  Penyesuaian Diri Fisik dan Emosi Dikatakan oleh Schneiders bahwa kesehatan fisik berhubungan erat dengan kesehatan emosi. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam

  12

  13

  kesehatan emosi dan penyesuaian diri, yaitu: adekuasi emosi, kematangan emosi, dan kontrol emosi.

  2) Penyesuaian Diri Seksual

  Merupakan kapasitas yang bereaksi terhadap realitas seksual (impuls- impuls, nafsu, pikiran, konflik-konflik, frustasi, perasaan salah dan perbedaan seks). Kapasitas tersebut memerlukan perasaan, sikap sehat yang berkenaan dengan seks, kemampuan menunda ekspresi seksual, orientasi heteroseksual yang adekuat, kontrol yang ketat dari pikiran dan perilaku, identifikasi diri yang sehat.

  3) Penyesuaian Moral dan Religi

  Moralitas adalah kapasitas untuk memenuhi moral kehidupan secara efektif dan bermanfaat yang dapat memberikan kontribusi ke dalam kehidupan individu.

  b.

  Penyesuaian Diri Sosial Dikatakan Schneiders bahwa rumah, sekolah dan masyarakat merupakan aspek khusus dari kelompok sosial. Hal ini berarti melibatkan pola-pola hubungan diantara kelompok tersebut dan saling berhubungan secara integral diantara ketiganya.

  c.

  Penyesuaian Diri Marital atau Perkawinan Penyesuaian diri marital pada dasarnya adalah seni kehidupan yang efektif dan bermanfaat dalam kerangka tanggung jawab, hubungan dan harapan yang terdapat pada keadaan suatu perkawinan. d.

  Penyesuaian Diri Jabatan atau Vokasional Berhubungan erat dengan penyesuaian diri akademis dimana kesuksesan dalam penyesuaian diri akademik akan membawa keberhasilan seseorang di dalam penyesuaian diri karir atau jabatan.

3. Indikator Penyesuaian Diri yang Normal

  Istilah “penyesuaian yang normal” yang dikemukakan oleh Schneiders (1964) mengarah kepada perilaku yang umum dan tidak memiliki kesulitan serta karakteristik negatif yang diasosiasikan dengan respon maladjustive dan abnormal. Berikut ini merupakan indikator dari penyesuaian diri yang normal menurut Schneiders (1964).

  a.

  Tidak adanya emosi yang berlebihan.

  Individu dapat merespon suatu situasi atau permasalahan dengan tenang dan terkontrol yang memungkinkan mereka untuk berpikir dan mencari jalan keluarnya. Hal ini tidak berarti bahwa ia tidak memiliki emosi, yang mana mengindikasikan abnormalitas, tapi lebih mengarah kepada kendali diri yang positif.

  b.

  Tidak adanya mekanisme psikologis.

  Penyesuaian diri yang normal juga dikarakteristikkan dengan tidak adanya mekanisme psikologis. Melakukan pendekatan secara langsung terhadap permasalahan atau konflik dinilai sebagai respon yang lebih normal dibandingkan dengan melakukan mekanisme pertahanan diri seperti rasionalisasi, proyeksi, ataupun kompensasi.

  14 c.

  Tidak adanya rasa frustrasi.

  Perasaan frustrasi dapat mempersulit individu untuk berperilaku secara normal terhadap suatu situasi atau permasalahan. Individu yang merasa frustrasi akan menemui kesulitan dalam mengorganisasikan pemikiran, perasaan, motif, serta perilakunya secara efektif.

  d.

  Pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri.

  Pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri sangat bertolak belakang dengan mekanisme psikologis. Dasar dari kemampuan manusia ketika berpikir dan mempertimbangkan permasalahan, konflik, dan frustrasi merupakan sebuah penyesuaian yang normal. Sebaliknya, ketiadaan dari karakteristik-karakteristik ini merupakan pertanda sulitnya melakukan penyesuaian.

  e.

  Mampu untuk belajar.

  Penyesuaian yang normal dikarakteristikkan dengan pembelajaran berkelanjutan yang menghasilkan perkembangan dari kualitas personal yang diperlukan di kehidupan sehari-hari.

  f.

  Memanfaatkan pengalaman masa lalu.

  Penyakit mental, seperti neurotik dan kenakalan, dikarakteristikkan oleh ketidakmampuan untuk belajar dari masa lalu. Sebaliknya, penyesuaian yang normal memerlukan pembelajaran dari masa lalu.

  g.

  Sikap yang realistis dan objektif.

  Sikap yang realistis dan objektif merupakan sesuatu yang didasari oleh pembelajaran, pengalaman masa lalu, dan pemikiran rasional, yang

  15 memungkinkan individu untuk menyadari situasi, permasalahan, atau keterbatasan diri sebagaimana mestinya. Kemampuan untuk memandang diri sendiri secara realistis dan objektif merupakan pertanda jelas dari sebuah kepribadian dengan penyesuaian yang normal.

  Berdasarkan penjabaran mengenai indikator-indikator di atas, maka yang individu yang dikatakan telah melakukan penyesuaian diri yang normal adalah inidividu yang tidak memiliki emosi yang berlebihan, pertahanan psikologis, perasaan frustrasi, rasional dan mampu mengarahkan diri, mampu untuk belajar, memanfaatkan pengalaman masa lalu, serta bersikap realistis dan objektif. Di lain pihak, karakteritik yang negatif diasosiasikan dengan perlikau maladjustive.

  Schneiders (1964) menjelaskan semakin banyak respon-respon yang memenuhi indikator ini, semakin tinggi tingkat penyesuaiannya. Lebih lanjut Schneiders juga menjelaskan bukan hanya jumlah penyesuaiannya yang menentukan tingkat penyesuaian seseorang, tetapi juga kualitas dari penyesuaian tersebut. Menentukan penyesuaian merupakan hal yang relatif, tergantung pada kapasitas seseorang dalam menghadapi masalah yang sesuai dengan tingkat perkembangannya.

4. Faktor yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri

  Schneiders (1964) menjabarkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri seseorang. Faktor-faktor ini merupakan yang berasal secara biologis dari dalam diri individu maupun lingkungan di sekitar individu.

  16 a.

  Kondisi fisik Kondisi fisik merupakan kesatuan jasmaniah individu yang merupakan bawaan lahir yang terdiri dari hereditas, susunan syaraf, sistem kelenjar, otot, dan sebagainya. Kondisi fisik yang baik dapat mengarah kepada penyesuaian diri yang baik. Bagi individu yang menderita cacat fisik ataupun penyakit kronis akan sedikit menghambat proses penyesuaian diri.

  b.

  Perkembangan dan Kematangan Tingkat perkembangan dan kematangan individu yang berbeda-beda akan membutuhkan penyesuaian diri yang berbeda pula. Kematangan intelektual, sosial, moral, dan emosi dapat mengarah kepada penyesuaian diri yang baik.

  c.

  Determinan Psikologis Yang termasuk di dalam determinan psikologis merupakan pengalaman, hasil belajar, determinasi diri, konsep diri, frustrasi, dan konflik. Semua hal ini akan berpengaruh terhadap penyesuaian diri. Pengalaman, baik yang baik maupun yang buruk, akan berpengaruh terhadap penyesuaian diri. Begitu pula dengan proses belajar yang dapat membantu individu untuk memahami hal- hal apa saja yang membantunya dalam menyesuaikan diri.

  d.

  Lingkungan Lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat juga memberikan pengaruh terhadap penyesuaian diri. Kekohesifan maupun permasalahan dalam keluarga memberi dampak dalam penyesuaian diri individu. Sedangkan lingkungan sekolah berpengaruh terhadap penyesuaian diri karena di sinilah perkembangan intelektual, nilai, sikap, dan moral individu terbentuk.

  17 Konsistensi nilai, sikap, peraturan, dan moral yang dianut dalam masyarakat akan diidentifikasi oleh individu sehingga juga dapat mempengaruhi penyesuaian diri.

  e.

  Agama dan budaya Agama berkaitan erat dengan budaya. Agama memberikan sumbangan nilai- nilai dan keyakinan yang sangat mendalam sehingga mempengaruhi tujuan, kestabilan, serta keseimbangan hidup individu.

  Berdasarkan penjabaran di atas, kita dapat melihat bahwa faktor pendukung penyesuaian diri meliputi area personal dan sosial. Faktor personal seperti kondisi fisik, psikologis, dan kematangan perkembangan. Faktor sosial seperti lingkungan, agama, dan budaya.

5. Karakteristik Penyesuaian Diri yang Baik

  Schneiders (1964) mengatakan individu yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah yang memiliki respon-respon yang matang, efisien, memuaskan, dan juga baik (wholesome). Baik (wholesome) memiliki arti respon penyesuaiannya sesuai dengan lingkungan, dalam hubungan kemasyarakatan, dan juga dalam hubungan dengan Tuhan.

  Individu yang memiliki penyesuaian yang baik juga merupakan seseorang yang memiliki keterbatasan namun dapat diatasi dengan kepribadian dan kapasitas dirinya; telah belajar bagaimana berinteraksi dengan dirinya dan lingkungan dengan cara yang dewasa, baik, efisien, dan memuaskan; dan mampu mengatasi konflik mental, frustrasi, serta kesulitan diri maupun sosial tanpa mengembangkan

  18 perilaku symptomatis. Dengan kata lain, individu yang menyesuaikan diri dengan baik relatif tidak mengalami gejala-gejala seperti kecemasan yang kronis, obsesi, fobia, tidak mampu untuk membuat keputusan, dan gangguan psikosomatis lainnya yang mengganggu moral, sosial, keyakinan, dan pekerjaan dari individu tersebut.

  Lebih lanjut, Schneiders mengklasifikasikan kriteria penyesuaian diri yang baik ke dalam 16 poin sebagai berikut:

  1. Pengetahuan dan pemahaman diri sendiri.

  2. Objektivitas dan penerimaan diri.

  3. Kendali dan perkembangan diri.

  4. Integrasi personal.

  5. Tujuan yang baik dan terarah.

  6. Perspektif yang adekuat.

  7. Selera humor.

  8. Tanggung jawab.

  9. Kematangan respon.

  10. Pengembangan kebiasaan diri yang baik.

  11. Mampu beradaptasi.

  12. Bebas dari respon simtomatis atau cacat.

  13. Mampu berinteraksi dan menaruh minat terhadap orang lain.

  14. Keluasan minat dalam bekerja dan bermain.

  15. Kepuasan dalam bekerja dan bermain.

  16. Orientasi pada kenyataan yang adekuat.

  19

6. Penyesuaian Diri Lansia

  Setiap tahap perkembangan mewajibkan individu untuk melakukan penyesuaian diri, baik itu terkait kondisi fisik maupun psikologis. Hal ini tak terkecuali bagi lansia. Terdapat berbagai kriteria dalam menilai penyesuaian diri yang dilakukan oeh lansia. Empat kriteria di bawah ini merupakan yang paling umum menurut Hurlock (1996).

  a.

  Kualitas pola perilaku Penyesuaian diri yang baik pada diri lansia hendaknya sesuai dengan teori aktivitas (activity theory) dimana teori ini menjelaskan jika seharusnya pria dan wanita tetap beraktivitas di masa tuanya sebagaimana yang ia lakukan di masa muda ataupun mencari aktivitas pengganti apabila sudah pensiun, terlibat masalah keuangan, maupun pindah ke lingkungan baru. Penyesuaian diri yang buruk adalah penyesuaian diri yang karakteristiknya seperti teori pelepasan teori (disengagement theory). Teori mengatakan bahwa individu lebih memilih untuk membatasi kegiatannya baik secara sukarela maupun tidak. Penyesuaian diri yang baik juga dapat terlihat dalam diri lansia jika ia mampu menyesuaikan diri di masa mudanya.

  b.

  Perilaku emosional Hasil penelitian menunjukkan bahwa lansia lebih apatis dalam kehidupan dan juga kurang responsif. Lansia juga sulit untuk mengekspresikan perasaan kasih sayang kepada orang lain. Di lain sisi, perasaan emosional lansia semakin kuat sehingga lansia sangat mudah untuk marah. Dibandingkan dengan orang-orang yang lebih muda, lansia umumnya tidak memiliki wadah

  20 untuk menyalurkan emosi mereka sehingga mereka menjadi cemas dan tertekan dalam waktu yang lama.

  c.

  Kepribadian Banyak yang mengatakan semakin tua seseorang maka ia akan bertingkah seperti anak-anak. Sebenarnya pola kepribadian yang terbentuk di masa tua merupakan manifestasi dari sifat yang sudah ada di dalam diri dan kemudian menjadi semakin tampak di masa tua karena adanya tekanan-tekanan di hari tua.

  d.

  Derajat kepuasan atau kebahagiaan Kriteria yang dipakai untuk mengukur kebahagiaan lansia adalah rentang antara keadaan diri yang sebenarnya (real selves) dan keadaan pribadi yang ideal (ideal selves). Jika jarak di antara keduanya kecil, maka lansia akan memandang kehidupannya sebagai suatu hal yang memuaskan dan memberikan kebahagiaan. Namun jika terdapat perbedaan yang cukup besar di antara keduanya, maka lansia akan memandang kehidupannya dengan kekecewaan dan ketidakbahagiaan. Kebahagiaan lansia di masa tua juga dipengaruhi oleh “Tiga A Kebahagiaan” (Three A’s of Happiness) yaitu acceptance (penerimaan), affection (kasih sayang), dan achievement (pencapaian). Bila seseorang tidak mampu memenuhi salah satu dari ketiga hal tersebut, kecil kemungkinan bagi lansia untuk bisa bahagia di masa tuanya. Barrett (dalam Hurlock 1996) menjelaskan hal lain yang dapat membuat lansia bahagia yaitu kesiapan

  21 lansia dalam menghadapi masa pensiun dan memandangnya sebagai masa kejayaan (the golden years).

  Tidak semua penyesuaian diri yang dilakukan lansia merupakan penyesuaian diri yang baik. Ada beberapa kriteria yang menunjukkan penyesuaian diri lansia yang buruk. Namun terlebih dahulu kita akan membahas penyesuaian diri yang baik menurut Hurlock (1996), kemudian diikuti oleh kriteria penyesuaian diri yang buruk.

  Penyesuaian Diri yang Baik 1.

  Minat yang kuat dan beragam 2. Kemandirian dalam hal ekonomi, yang memungkinkan untuk hidup mandiri 3. Membangun hubungan sosial dengan segala umur dan tidak terbatas pada orang-orang lanjut usia saja

  4. Kenikmatan kerja yang menyenangkan dan bermanfaat tetapi tidak memerlukan banyak biaya

  5. Berpartisipasi dalam organisasi kemasyarakatan 6.

  Kemampuan untuk memelihara rumah tanpa mengerahkan terlalu banyak tenaga fisik

  7. Kemampuan untuk menikmati berbagai kegiatan masa kini tanpa menyesali masa lampau

  8. Mengurangi kecemasan terhadap diri sendiri maupun orang lain 9.

  Menikmati kegiatan dari hari ke hari walaupun aktivitas tersebut dilakukan berulang-ulang

  22

10. Menghindari kritik dari orang lain, terutama dari orang yang lebih muda 11.

  Menghindari kesalahan khususnya tentang kondisi tempat tinggal dan perlakuan dari orang lain

  Penyesuaian Diri yang Buruk 1.

  Kurang memiliki minat dan kurang berpartisipasi dalam lingkungan 2. Menarik diri dalam dunia khayalan 3. Selalu mengenang masa lalu 4. Selalu cemas karena didorong perasaan menganggur 5. Kurang bersemangat dan produktivitas rendah 6. Menganggap bahwa melakukan suatu aktvitas berarti membuang waktu 7. Merasa kesepian karena hubungan dalam keluarga sangat kaku 8. Terisolasi secara geografis 9. Tinggal di panti jompo maupun bersama anak yang telah dewasa 10.

  Selalu mengeluh dan mengkritik sesuatu 11. Menolak mengikuti kegiatan orang-orang lansia karena menganggapnya membosankan.

B. LANSIA

1. Definisi Lansia Usia tua merupakan tahap akhir dalam rentang kehidupan manusia.

  Budaya dan agama sangat berpengaruh dalam menentukan usia seseorang sehingga definisi untuk seseorang yang lanjut usia merupakan suatu hal yang relatif.

  23 Dalam Papalia, Olds, dan Feldman (2007), peneliti membagi istilah lansia ke dalam tiga bagian, yaitu young old, old old, dan oldest old. Ketiga istilah ini secara kronologis dibagi berdasarkan kelompok usia dan jenis kegiatan yang dilakukan para lansia. Young old merujuk kepada seseorang yang berumur 65-74 tahun yang biasanya masih beraktivitas dengan aktif. Istilah old old diberikan kepada seseorang yang berusia 75-84 tahun, kemudian istilah oldest old merujuk kepada seseorang yang berusia 85 tahun ke atas dan biasanya memiliki kesulitan untuk beraktivitas sehari-hari.

  Levinson (dalam Colarusso & Nemiroff, 1981) mendeskripsikan masa paruh baya mulai dari usia 40 hingga 60 tahun dimana masa ini merupakan periode aktualisasi serta masa untuk berkontribusi kepada masyarakat. Selanjutnya masa dewasa akhir yang dimulai dari usia tujuh puluhan yang digambarkan sebagai masa kemunduran, namun juga merupakan masa dimana muncul kebijaksanaan melalui pengalaman dari konflik antara keinginan dan moral, antara diri sendiri dan orang lain, dan antara individu dan masyarakat.

  Secara kronologis, usia tua dimulai dari usia enam puluh tahun. Hurlock (1996) membagi tahap lansia ke dalam dua bagian; usia lanjut dini bagi seseorang yang berusia enam puluh tahun, dan usia lanjut bagi seseorang yang berusia tujuh puluh tahun ke atas. Usia lanjut dini merupakan peralihan dari masa dewasa madya menuju masa dewasa akhir. Selanjutnya, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (2012) serta Komisi Nasional Lanjut Usia (2010) juga menentukan batas usia lansia dimulai dari umur 60 tahun.

  24 Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka individu yang tergolong ke dalam usia lanjut adalah yang berusia 60 tahun ke atas dimana masa dewasa akhir atau lansia diidentikkan dengan masa kemunduran dan juga kebijaksanaan yang didapatkan dari pengalaman semasa hidup.

2. Tugas Perkembangan Lansia

  Tugas perkembangan menurut Havighurst (dalam Lindgren, 1959) adalah permasalahan atau situasi yang pada umumnya muncul di suatu rentang kehidupan individu. Jika individu berhasil melakukan tugas perkembangannya, maka ia juga akan berhasil di dalam kehidupannya. Namun jika ia gagal, maka ia akan merasa tidak bahagia, tidak memiliki harapan, mendapat penolakan dari masyarakat, dan sulit untuk melakukan tugas perkembangan di tahap berikutnya.

  Pada tahap perkembangan dewasa akhir, tugas perkembangan yang harus dilakukan lansia adalah proses penyesuaian baik terhadap diri maupun lingkungan di sekeliling lansia. Havighurst (dalam Hurlock, 1996) menguraikan beberapa tugas perkembangan pada masa lansia, di antaranya: a.

  Penyesuaian diri terhadap menurunnya kondisi fisik dan kesehatan.

  b.

  Penyesuaian diri terhadap masa pensiun dan berkurangnya penghasilan keluarga.

  c.

  Menyesuaikan diri dengan kehilangan pasangan hidup.

  d.

  Membentuk hubungan dengan orang yang seusia.

  e.

  Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan.

  f.

  Menyesuaikan diri dengan peran sosial dengan luwes.

  25 Dengan segala perubahan yang dialami oleh lansia, lansia perlu melakukan penyesuaian diri terhadap diri dan lingkungannya. Menurunnya kondisi fisik dan kesehatan pada lansia menuntut lansia agar melakukan perubahan dan perbaikan peran baik di dalam maupun di luar rumah. Kondisi ini juga berdampak terhadap kehidupan sosial lansia dimana penurunan kondisi fisik lansia cenderung menghambat lansia dalam aktivitas sosial yang dulu pernah dilakukan. Pada usia lanjut, orang tua akan berpisah dengan anak-anaknya. Selain perpisahan dengan anak, lansia juga harus menyesuaikan diri terhadap kepergian pasangan, baik karena perceraian maupun kematian. Untuk menghindari rasa kesepian dari serangkaian peristiwa yang umum terjadi pada lansia, membentuk hubungan sosial dengan teman sebaya merupakan cara yang paling baik untuk meningkatkan kesejahteraan lansia (Hurlock, 1996).

C. PERCERAIAN

1. Definisi Perceraian

  Jika pernikahan merupakan suatu peristiwa yang membahagiakan, maka perceraian menurut Landis dan Landis (1960) adalah sebuah peristiwa tidak bahagia yang berlawanan dengan pernikahan. Perceraian merupakan perpisahan dari suami dan istri sebagai akhir dari rusaknya pernikahan (Burgess & Locke, 1960). Perceraian merupakan cara yang legal untuk mengakhiri pernikahan dan sebagai pengumuman ke masyarakat luas bahwa suami dan istri yang telah bercerai sudah tidak mampu untuk mengatasi kesulitan dalam pernikahan mereka (Landis & Landis, 1960; Burgess & Locke, 1960). Berdasarkan definisi di atas,

  26 perceraian merupakan suatu peristiwa legal yang tidak bahagia yang menandakan berakhirnya suatu hubungan suami istri.

2. Perceraian di Masa Lansia

  Perceraian juga dialami oleh individu yang memasuki ataupun yang sudah berada di masa lansia. Beberapa hasil penelitian menunjukkan hal-hal yang menjadi penyebab perceraian lansia. Gottman dan Levenson (dalam Cavanaugh & Blanchard-Fields, 2006) mengembangkan dua model yang memprediksi perceraian yang dibagi menjadi early divorce dan later divorce. Perceraian yang digolongkan ke dalam early divorce adalah pernikahan yang berusia sekitar 7 tahun. Emosi negatif yang ditunjukkan ketika pasangan memiliki masalah dikatakan dapat memprediksi perceraian di usia awal pernikahan. Di lain pihak, perceraian yang digolongkan ke dalam later divorce jika anak pertama sudah berusia 14 tahun. Kurangnya emosi positif ketika pasangan berdiskusi dikatakan dapat memprediksi perceraian.

  Dilihat dari ilmu sosiologi, meningkatnya perceraian di masa lansia disebabkan oleh fenomena baby boomers yang mencapai puncaknya pada tahun 1970 hinggan 1996-an (Brown dan Lin, 2012). Dari sini dapat diketahui bahwa jumlah lansia yang bercerai akan semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya jumlah lansia akibat fenomena baby boomers.

  Di Indonesia, penyebab perceraian di masa lansia menurut Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan Rentan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (2012) adalah ketidakcocokan atau disharmonis antara

  27 pasangan suami dan istri. Selain itu pertambahan usia juga secara alami dapat menurunkan kondisi fisik maupun psikologis lansia. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya ketegangan di antara suami dan istri yang membuat mereka tidak dapat menerima pendapat satu sama lain sehingga timbulah perceraian.

  Berdasarkan penjelasan di atas, penyebab terjadinya perceraian di usia lansia menurut ilmu sosiologis adalah terjadinya fenomena baby boomers sehingga meningkatkan jumlah lansia. Sedangkan dari sisi psikologis faktor penyebabnya adalah kurangnya emosi positif ketika menikah serta kemunduran kondisi fisik dan psikologi yang mengarah pada timbulnya permasalahan pada pasangan.

3. Penyebab Perceraian

  Perceraian dapat bermula dari beberapa permasalahan di dalam pernikahan yang terjadi sejak lama. Permasalahan yang timbul merupakan manifestasi dari konflik dan ketegangan yang lebih mendalam. Burgess dan Locke (1960) menjelaskan beberapa permasalahan dalam pernikahan, dimana jika dibiarkan terlalu lama akan berujung pada perceraian. Dalam studi yang dilakukan oleh Burgess dan Locke (1960), pria dan wanita mengalami permasalahan pernikahan yang berbeda. Pria umumnya memiliki permasalahan pernikahan di area hubungan percintaan dengan pasangan, seks, perdebatan yang berlangsung sejak lama, campur tangan dari pihak keluarga pasangan, masalah keuangan, minuman keras, dan tidak adanya teman. Sama halnya dengan pria, wanita juga mengalami permasalahan pernikahan di area hubungan percintaan dengan

  28

  29

  pasangan, seks, perdebatan dengan pasangan, tidak memiliki teman, serta kesulitan keuangan dan memiliki perilaku yang kurang diterima masyarakat.

  Burgess dan Locke (1960) juga melakukan studi terhadap permasalahan pernikahan kepada pasangan yang telah bercerai. Subjek pria mengatakan mereka mengalami kesulitan pernikahan karena hubungan seks yang tidak memuaskan, tidak memiliki anak, campur tangan dari keluarga pasangan, perdebatan dengan pasangan, dan kurang memiliki teman. Sedangkan bagi wanita, permasalahan yang terjadi selama ia pernah menikah adalah penyakit menular seksual, tidak adanya dukungan, minuman keras, perjudian, dan suami yang ditahan di penjara.

  Burgess dan Locke (1960) menjabarkan beberapa faktor yang dapat menimbulkan konflik di dalam pernikahan, yaitu:

  a.

   Genic and Psychogenic Tensions Genic dan psychogenis tensions ini sering disebut juga dengan

  ketidaksesuaian tempramen. Hal ini dapat berkembang dari suami dan istri yang memiliki tempramen yang sama ataupun berbeda. Ketidaksesuaian tempramen yang dimilliki pasangan dapat mengarah kepada konflik pernikahan, bahkan perceraian.

  b.

  Budaya Konflik pernikahan dapat bermula dari budaya. Di dalam pernikahan, suami dan istri pasti memiliki kebiasaan yang beragam dalam berbicara, bersikap, berpikir, dan dalam nilai yang dimiliki pasangan tersebut. Semua hal tersebut tanpa sadar tercipta sejak awal pernikahan. Faktor yang mempengaruhinya adalah nilai agama dan budaya yang dimiliki masing-masing pasangan. c.

  Peran Sosial Konflik dalam keluarga dapat muncul ketika anggota keluarga memiliki status dan peran sosial yang berbeda. Perbedaan ini akan menciptakan konflik dalam keluarga jika dianggap lebih penting melebihi pendidikan, agama, dan kemampuan intelektual.

  d.

  Ekonomi Sikap pasangan terhadap keuangan dapat memprediksi munculnya konflik di dalam pernikahan atau tidak. Pasangan hendaklah memiliki kesamaan sikap dalam melihat tujuan dan peran ekonomi di dalam keluarga. Jika terjadi perbedaan dalam tujuan menggunakan uang, maka kemungkinan terjadinya konflik akan lebih besar.

  e.

  Kasih Sayang dan Hubungan Seksual Konflik antara suami dan istri dapat muncul ketika keduanya tidak mampu mengekspresikan rasa kasih sayang dan kepuasan dalam hubungan seksual.

  Dalam hubungan seksual, konflik tidak akan muncul jika pasangan memiliki sikap yang sama dalam tujuan melakukan hubungan seksual, misalnya dengan sama-sama berpikir bahwa hubungan seksual adalah hanya untuk kegiatan prokreasi atau kegiatan hiburan. Namun jika pasangan memiliki pandangan yang berbeda, maka akan timbul konflik.

  Berdasarkan penjabaran di atas, dapat dilihat bahwa penyebab perceraian dapat dilihat melalui perspektif gender. Selain itu perceraian juga terjadi karena perbedaan tempramen, budaya, sosial, ekonomi, atau hanya karena sudah tidak memiliki kasih sayang.

  30

4. Dampak Perceraian

  Perceraian tidak menghilangkan masalah. Masih ada dampak yang ditimbulkan setelah bercerai. Dampak dari perceraian lebih traumatik dibandingkan dengan kematian karena sebelum dan sesudah perceraian akan timbul rasa sakit dan tekanan emosional dalam diri seseorang. Dampak lainnya adalah cela sosial yang diberikan oleh masyarakat. Perceraian juga memberikan pengaruh kepada anak-anak. Mereka akan merasa malu karena merasa berbeda.

  Hal ini dapat merusak konsep diri anak. Lebih lengkapnya, berikut penjabaran mengenai masalah yang umum dihadapi pria dan wanita setelah bercerai oleh Hurlock (1996): a.

  Masalah ekonomi. Setelah bercerai, baik istri maupun suami mengalami kurangnya pendapatan keluarga karena harus menghidupi dua rumah tangga.

  Seringkali istri harus bekerja lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

  b.

  Masalah praktis. Suami dan istri melakukan pekerjaan rumah tangga bersama-sama. Namun setelah bercerai mereka harus mengerjakan semua rutinitas terebut masing-masing.

  c.

  Masalah psikologis. Individu akan merasa tidak menentu dan identitasnya “kabur” setelah bercerai. Hal ini khususnya terjadi pada wanita karena selama menikah identitasnya sangat tergantung pada suaminya.

  d.

  Masalah emosional. Setelah perceraian akan timbul rasa bersalah, kemarahan, benci, dendam, dan cemas mengenai hari ke depannya, sehingga mengakibatkan perubahan kepribadian.

  31 e.

  Masalah sosial. Permasalahan sosial biasanya terjadi kepada wanita karena kehidupan sosialnya hanya terbatas kepada sanak saudara dan teman dekat saja. Kehidupan sosial pria lebih baik dibandingkan wanita, walaupun ia akan merasa tersisih juga.

  f.

  Masalah kesepian. Pria akan merasa lebih kesepian dibandingkan wanita, khususnya di hari libur. Hal ini karena pria biasa menyerahkan urusan anak- anak kepada istrinya pada saat-saat seperti itu.

  g.

  Masalah pembagian tanggung jawab terhadap pemeliharaan anak. Masalah penyesuaian diri akan timbul pada orang tua dan anak setelah pembagian hak asuh. Terlebih lagi jika kedua orang tua mendapatkan hak asuh. Bila hak asuh jatuh di salah satu pihak (ayah atau ibu), maka ia akan menghadapi permasalahan yang berhubungan dengan anak yang tidak patuh dan tanggung jawab.

  h.

  Masalah seksual. Bercerai dapat menyebabkan aktivitas seksual terhenti. Cara untuk memecahkan masalah ini adalah dengan menikah kembali. Jarak antara bercerai dan menikah kembali relatif lebih panjang pada wanita dibandingkan dengan pria. i.

  Masalah perubahan konsep diri. Rasa kebencian akan timbul setelah bercerai, tidak peduli siapa yang menyebabkan perceraian terjadi. Perasaan ini akan selalu mewarnai konsep diri mereka yang dapat mengarah kepada perubahan kepribadian.

  Lebih lanjut, Landis dan Landis (1960) mengungkapkan enam masalah yang timbul sebagai dampak dari perceraian, di antaranya:

  32 a.

  Seseorang harus menerima dirinya sendiri setelah perceraian. Rasa tidak aman dan tidak percaya terhadap orang lain timbul setelah bercerai. Hal ini hanya akan menambah masalah.

  b.

  Menyesuaikan diri setelah terkejut secara emosional akibat perceraian.

  c.

  Perubahan dalam kehidupan sosial.

  d.

  Permasalahan keuangan yang umumnya terjadi pada pria dan wanita. Wanita harus mencari dukungan finansial baru setelah perceraian. Sedangkan pria harus tetap menghidupi anak dan istrinya meskipun telah bercerai.

  e.

  Bagi wanita, ia harus mengatur kembali seluruh hidupnya setelah bercerai.

  f.

  Permasalahan emosional.

5. Penyesuaian Perceraian

  Penyesuaian terhadap perceraian lebih sulit dibandingkan dengan penyesuaian pernikahan. Hal ini dikarenakan penyesuaian pernikahan dilakukan secara bersama-sama oleh dua individu sedangkan penyesuaian perceraian hanya dilakukan oleh satu individu saja (Landis & Landis, 1960).

  Penyesuaian terhadap perceraian dapat berbeda antara pria dan wanita; anak muda dan orang tua; dan antara seseorang yang menjalani pernikahan dalam waktu yang singkat atau lama. Penyesuaian terhadap perceraian akan lebih mudah bagi orang yang berusia muda. Penyesuaian pernikahan nantinya akan berbeda antara seseorang yang mendapatkan hak asuh anak dan yang tidak mendapatkan hak asuh anak sama sekali. Bagi seseorang yang lebih terikat secara emosional kepada pasangan, lebih bergantung, dan lebih mengalami gangguan emosional

  33 akibat perceraian, penyesuaian perceraian akan dirasa lebih sulit (Burgess & Locke, 1960).

  Selanjutnya, Burgess dan Locke (1960) dan DeGenova (2008) juga mengemukakan beberapa penyesuaian yang bisa dilakukan setelah bercerai.

  Penyesuaian-penyesuaian ini dibagi ke dalam delapan kategori, seperti: a.

  Mengatasi trauma akibat perceraian.

  Perceraian merupakan peristiwa yang dapat mengganggu secara emosional akibat kehilangan pasangan secara tiba-tiba. Perasaan trauma lebih besar ditunjukkan oleh pihak yang tidak berinisiatif memulai perceraian. Berbicara dengan orang lain merupakan suatu cara untuk melampiaskan emosi setelah bercerai. Dalam studi yang dilakukan oleh Locke, wanita-wanita yang bercerai lebih memilih tinggal di lingkungan yang sama dan saling berbagi.

  b.

  Mengatasi sikap dari masyarakat.

  Masyarakat memandang perceraian sebagai suatu kegagalan moral ataupun kegagalan seseorang dalam mempertahankan rumah tangganya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, kini perceraian dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Bagi orang-orang yang memandang perceraiannya dalam cara yang positif, maka mereka akan cenderung cepat untuk menyesuaikan diri. Lain halnya dengan individu yang memandang perceraiannya sebagai hal yang negatif, maka ia cenderung akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyesuaikan diri.

  34 c.

  Kesepian dan penyesuaian kembali di kehidupan sosial.

  Kesepian akan sangat terasa bagi pihak yang tidak mendapatkan hak asuh anak. Membangun hubungan sosial dengan orang lain dapat memberikan dukungan dan juga membantu individu untuk menyesuaikan diri setelah bercerai. Selain itu, menikah kembali juga dapat membantu penyesuaian.

  Bagi individu yang tidak menikah kembali, maka akan merasa kesepian. Penyesuaian setelah bercerai juga terasa lebih sulit bagi orang yang lebih tua, terutama wanita. Wanita yang bercerai di atas 40 tahun memiliki kesulitan keuangan bagi dirinya sendiri serta anak-anaknya.

  d.

  Penyesuaian terhadap hak asuh anak.

  Perceraian dapat mengurangi kedekatan antara anak dan orang tua yang tidak mendapatkan hak asuh anak. Ibu, sebagai pihak yang lebih sering diberi hak asuh anak, pada umumnya masih mengizinkan mantan pasangan untuk mengunjungi anak-anaknya. Jika ibu puas dengan keputusan hak asuh anak ini, maka kesejahteraan anak akan semakin meningkat.

  e.

  Keuangan Masalah keuangan umumnya dialami oleh wanita, terlebih jika ia mendapatkan hak asuh anak. Meskipun sudah diatur oleh pengadilan, tetapi pada kenyataannya masih banyak wanita yang tidak diberi bantuan finansial dari mantan suaminya.

  f.

  Mengatur kembali tanggung jawab dan peran kerja Bagi pihak yang mendapatkan hak asuh anak, maka ia harus menyesuaikan diri dengan peran yang dulu dilakukan oleh mantan pasangannya. Ia juga

  35 harus bekerja lebih keras untuk mencari nafkah untuk dirinya sendiri serta anak-anak. Sebagai konsekuensinya, waktu untuk berkumpul dengan anak akan menjadi lebih sedikit.

  g.

  Berhubungan dengan mantan pasangan Banyak pasangan yang masih menyimpan kemarahan kepada mantan pasangan bahkan setelah bertahun-tahun bercerai. Padahal jika hubungan dengan mantan pasangan masih terjaga, maka kedua pihak akan mendapatkan keuntungan di antaranya menjaga hubungan dengan anak atau mendapatkan dukungan finansial. Semakin buruk hubungan dengan mantan pasangan, maka akan semakin sulit untuk menyesuaikan diri.

  f.

  Menikah kembali Seseorang yang telah bercerai dapat menemukan kepuasan dan penyesuaian setelah bercerai dengan cara menikah kembali. Pernikahan kembali dapat membuat seseorang melupakan pernikahannya terdahulu.

  h.

  Interaksi dengan keluarga Keluarga dapat membantu penyesuaian setelah bercerai dengan cara memberikan dukungan. Pria dan wanita memiliki perbedaan dalam meminta dukungan dari orang tua atau keluarga. Pria umumnya bergantung pada keluarga sesaat setelah bercerai dan periode yang dibutuhkan wanita dalam bergantung pada keluarganya lebih lama dibandingkan dengan pria. Wanita lebih suka menjaga hubungan dengan keluarga mantan pasangan dibandingkan dengan pria. Pihak yang mendapatkan hak asuh anak lebih

  36 sering menjaga hubungan dengan keluarga mantan pasangan dibandingkan dengan pihak yang tidak mendapatkan hak asuh. i.

  Pindah ke lokasi baru Pindah ke lokasi baru dapat menjadi salah satu bentuk penyesuaian. Biasanya di awal perceraian seseorang akan pindah ke rumah orang tuanya, lalu kemudian pindah ke tempat baru dan meninggalkan teman-temannya. Hal ini dilakukan untuk melupakan kenangan bersama mantan pasangan.

  Dampak dari perceraian tidak hanya mempengaruhi individu namun juga orang-orang yang berada di lingkungan sekitarnya. Untuk itu penyesuaian perceraian tidak hanya meliputi aspek personal, tetapi juga sosial. Walaupun melakukan penyesuaian terhadap perceraian lebih sulit dibandingkan dengan penyesuaian pernikahan, tetapi hal ini akan terasa lebih mudah jika didukung oleh lingkungan sekitar individu.

D. PENYESUAIAN DIRI LANSIA PASCA BERCERAI

  Perceraian yang terjadi di masa lansia dapat dijelaskan dari sudut pandang sosiologis maupun psikologis. Penyebab terjadinya perceraian di usia lansia menurut ilmu sosiologis adalah terjadinya fenomena baby boomers sehingga meningkatkan jumlah lansia (Brown & Lin, 2012). Sedangkan dari sisi psikologis faktor penyebabnya adalah kurangnya emosi positif ketika menikah serta kemunduran kondisi fisik dan psikologi yang mengarah pada timbulnya permasalahan pada pasangan (Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan Rentan BKKBN, 2012).

  37 Perceraian tersebut pun berdampak terhadap permasalahan emosional dan sosial lansia (Hurlock, 1996; Burgess & Locke, 1960). Perceraian tentu saja berpengaruh pada tugas perkembangan lansia dalam menyesuaikan diri terhadap hubungan sosial dengan teman sebaya dan peran sosial yang dimilikinya.

  Setelah perceraian terjadi, individu hendaklah melakukan penyesuaian. Penyesuaian diri dapat membantu individu untuk menyelaraskan tuntutan dari dalam diri individu dan lingkungan sekitarnya. Tidak mampu menyesuaikan diri dapat mengarahkan seseorang berperilaku maladjustive seperti frustrasi maupun munculnya konflik mental (Schneiders, 1964).

  Burgess dan Locke (1960) serta Hurlock (1996) mengemukakan penyesuaian-penyesuaian yang banyak berfokus pada penyesuaian personal dan sosial, seperti misalnya mengatasi rasa trauma, mengatur keuangan, dan melakukan penyesuaian baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

  Berinteraksi dengan keluarga dapat memberikan lansia dukungan. Selain itu berbicara dengan orang lain dinilai Locke (dalam Burgess & Locke, 1960) sebagai suatu cara lansia untuk meluapkan perasaan kepada orang lain.

  Penyesuaian diri didukung oleh beberapa faktor, di antaranya faktor kondisi fisik, perkembangan dan kematangan, psikologis, lingkungan, dan agama serta budaya (Schneiders, 1964). Faktor-faktor ini dapat berpengaruh terhadap penyesuaian diri lansia. Faktor lingkungan dapat membantu lansia untuk meningkatkan kualitas pola perilaku lansia dimana penyesuaian diri lansia yang baik adalah jika lansia terlibat dalam berbagai kegiatan (activity theory). Selain itu faktor kematangan, terutama kematangan emosional, dapat membantu lansia

  38 untuk mengatur perilaku emosionalnya. Bagi lansia yang memandang poositif perceraiannya maka akan lebih mudah untuk melakukan penyesuaian (Burgess & Locke, 1960).

  Seluruh faktor penyesuaian diri di atas mengarah kepada indikator penyesuaian diri yang normal. Schneiders (1964) mengemukakan indikator dari individu yang mampu melakukan penyesuaian diri adalah tidak memiliki emosi yang berlebihan, tidak mempunyai pertahanan psikologis, tidak ada perasaan frustrasi, berpikir rasional dan mampu mengarahkan diri, mampu untuk belajar dan memanfaatkan pengalaman, serta bersikap realistis dan objektif. Sikap yang realistis merupakan faktor penunjang kebahagiaan lansia seperti yang dikemukakan oleh Hurlock (1996).

  39

  

40

E. DINAMIKA PENELITIAN Keterangan:

  Menghasilkan Dipengaruhi oleh

  Penyesuaian Diri (Schneiders, 1964)

  Indikator penyesuaian diri yang normal (Schneider, 1964):

  Faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri

  Tidak memiliki emosi berlebihan

  Tidak ada mekanisme pertahanan psikologis

  Tidak frustrasi Rasional

  Memanfaatkan pengalaman masa lalu

  Mampu untuk belajar

  Bersikap realistis dan objektif

  Lansia Bercerai Dampak Bercerai

  Penyebab

BAB III METODE PENELITIAN A. PENDEKATAN KUALITATIF Poerwandari (2007) menyederhanakan perbedaan pendekatan kualitatif

  dan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif didasarkan pada angka, cara berpikir yang digunakan adalah deduktif, menjaga objektivitas dengan menentukan generalisasi jumlah, serta mempunyai desain penelitian yang tegas sejak awal. Sementara itu Poerwandari mengemukakan ciri-ciri pendekatan kualitatif, yaitu berdasar pada kekuatan narasi, studi dalam situasi alamiah, peneliti melakukan kontak langsung dengan partisipan di lapangan, dan peneliti sebagai instrumen kunci.

  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Fokus dalam penelitian ini adalah penyesuaian diri lansia setelah bercerai. Penyesuaian diri merupakan suatu hal yang subjektif dimana tiap individu melakukan penyesuaian dengan cara yang berbeda. Selain itu alasan dan dampak dari perceraian itu sendiri juga berbeda pada setiap pasangan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif subjektifitas partisipan dapat terlihat. Hal ini dikarenakan pendekatan kualitatif memang menekankan pentingnya kedekatan dengan orang-orang dan situasi penelitian, agar peneliti memperoleh pemahaman jelas tentang realitas dan kondisi nyata kehidupan sehari-hari.

  41

  B. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah studi kasus.

  Studi kasus merupakan fenomena yang hadir dalam suatu konteks yang terbatas (Poerwandari, 2007). Kasus yang dimaksud dapat berupa individu, peran, kelompok, organisasi, bahkan suatu bangsa. Dengan pendekatan studi kasus peneliti dapat memperoleh pemahaman utuh mengenai hubungan berbagai fakta dari kasus tersebut.

  Poerwandari (2007) membagi studi kasus ke dalam tiga tipe. Namun penelitian ini hanya menggunakan tipe studi kasus intrinsik, yaitu penelitian yang dilakukan karena ketertarikan terhadap suatu kasus. Penelitian dilakukan untuk memahami suatu kasus secara utuh tanpa harus menghasilkan suatu konsep atau teori baru. Penelitian ini dilakukan dengan melihat kasus yang berbeda yang terjadi pada dua orang partisipan dengan karakteristik yang sama.

  C. PARTISIPAN PENELITIAN

1. Karakteristik Partisipan Penelitian

  Partisipan dalam penelitian ini telah ditentukan berdasarkan karakteristik- karakteristik tertentu. Adapun karakteristik yang dimaksud adalah: a.

  Berusia di atas 60 tahun Pemilihan partisipan didasarkan pada teori Hurlock (1996) yang mengklasifikasikan masa lansia dimulai dari umur 60 tahun. Selain itu Badan Kependudukan dan Keluarga Bencana Nasional (2012) dan Komisi Nasional Lanjut Usia (2010) juga menentukan batas usia lansia di Indonesia dimulai dari usia 60 tahun. Pada masa ini terdapat tugas perkembangan yang dijalani oleh lansia, seperti menyesuaikan diri terhadap hilangnya pasangan.

  b.

  Individu yang bercerai Pemilihan individu yang bercerai disesuaikan dengan tujuan penelitian dalam melihat penyesuaian diri lansia pasca bercerai. Partisipan yang dipilih adalah individu yang mengalami perceraian di masa lansia. Hal ini dikarenakan perceraian di masa lansia memiliki dampak dan karakteristik yang khas seperti misalnya kesepian.

  2. Jumlah Partisipan Penelitian Jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah satu orang lansia wanita.

  Jumlah ini terbilang sedikit karena kasus perceraian pada lansia sangat jarang terjadi. Poerwandari (2007) menyatakan bahwa penelitian kualitatif berorientasi pada kasus yang unik. Dengan menampilkan kedalaman dan detail, penelitian kualitatif lebih berfokus pada sejumah kecil kasus.

  3. Teknik Pengambilan Partisipan

  Cara untuk menentukan partisipan di dalam pendekatan kualitatif dan kuantitatif berbeda menurut Patton (dalam Poerwandari, 2007). Secara mendetail, Patton menguraikan pedoman untuk menentukan partisipan pada pendekatan kualitatif yang harus disesuaikan dengan masalah dan tujuan penelitian. Dalam hal ini, peneliti menggunakan teknik pengambilan partisipan berdasarkan teori atau konstruk operasional (theory-based/operational construct sampling). Hal ini dikarenakan partisipan dipilih dengan kriteria tertentu berdasarkan teori atau penelitian-penelitian sebelumnya, atau sesuai dengan tujuan penelitian.

  Pengambilan partisipan dengan teknik ini agar partisipan benar-benar mewakili (representatif terhadap) fenomena yang dipelajari.

4. Lokasi Penelitian

  Penelitian ini dilaksanakan di Kota Medan. Kota Medan dipilih untuk memudahkan peneliti dalam proses pengambilan data mengingat peneliti juga berdomisili di sini. Lokasi pengambilan data dapat berubah sewaktu-waktu dan sesuai dengan kesepakatan antara peneliti dan partisipan. Hal ini sesuai dengan keinginan partisipan agar partisipan merasa lebih nyaman selama proses wawancara. Adapun lokasi yang menjadi tempat penelitian adalah ruang tamu yang terdapat di dalam rumah partisipan.

D. METODE PENGAMBILAN DATA

  Metode utama yang dilakukan dalam penelitian ini untuk pengambilan data adalah wawancara. Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain (Banister dalam Poerwandari, 2007).

  Lebih lanjut Patton (dalam Poerwandari, 2007) membedakan tiga pendekatan dasar dalam memperoleh data kualitatif melalui wawancara yaitu wawancara informal, wawancara dengan pedoman umum, serta wawancara dengan pedoman terstandar yang terbuka. Namun metode wawancara yang diterapkan dalam penelitian ini adalah wawancara dengan pedoman umum dimana peneliti dilengkapi dengan pedoman wawancara yang sangat umum. Alasan pemilihan metode ini adalah keluwesan jawaban yang bisa diberikan oleh partisipan penelitian namun tetap berada di ranah aspek-aspek penelitian yang ingin diketahui oleh peneliti.

  Bentuk pertanyaan yang akan diajukan kepada partisipan adalah pertanyaan terbuka (open question). Bentuk pertanyaan ini memiliki kelebihan dimana partisipan dapat memberikan jawaban dengan lebih mudah dan luas. Selain itu jawaban yang panjang juga dapat mengungkapkan pengetahuan, perasaan, persepsi, dan prasangka dari partisipan (Stewart & Cash, 2003).

E. ALAT BANTU PENGUMPULAN DATA

  Patton (dalam Poerwandari, 2007) mengusulkan beberapa hal praktis agar peneliti dapat memperoleh transkrip data yang lengkap melalui proses wawancara.

  Beberapa alat yang dibutuhkan untuk pengambilan data adalah: 1.

  Alat perekam Penggunaan alat perekam memiliki tiga kelebihan. Pertama, menggunakan alat perekam dapat membuat peneliti menjadi sedikit lebih santai dan berkonsentrasi terhadap jawaban dari partisipan. Kedua, peneliti dapat mendengarkan jawaban partisipan berhari-hari setelah dilakukannya wawancara tanpa perlu mengingat jawaban partisipan. Ketiga, alat perekam dapat merekam jawaban partisipan yang mungkin tidak terdengar oleh peneliti ketika sedang dilakukan wawancara (Stewart & Cash, 2003).

  2. Pedoman wawancara Pedoman wawancara dapat berfungsi sebagai pengingat bagi peneliti mengenai aspek-aspek apa saja yang akan ditanyakan. Dengan pedoman wawancara, peneliti dapat menyesuaikan pertanyan dengan konteks aktual saat wawancara berlangsung (Poerwandari, 2007). Pedoman wawancara yang digunakan dalam penelitian ini disusun berdasarkan teori penyesuaian diri oleh Schneiders (1964).

  3. Alat tulis Alat tulis yang digunakan dalam penelitian ini adalah pulpen dan buku catatan. Penggunaan alat tulis dapat membantu peneliti mencatat poin-poin penting sehingga menghemat waktu pada saat mendengarkan rekaman wawancara secara keseluruhan (Stewart & Cash, 2003).

F. KREDIBILITAS DAN VALIDITAS PENELITIAN

  Kredibilitas merupakan istilah yang paling banyak digunakan dalam penelitian kualitatif menggantikan istilah validitas, yang dimaksudkan untuk merangkum bahasan menyangkut kualitas penelitian kualitatif. Kredibilitas studi kualitatif dilihat dari keberhasilan dalam mengeksplorasi masalah, atau mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial, atau pola interaksi yang kompleks (Poerwandari, 2007). Upaya untuk meningkatkan kredibilitas penelitian kualitatif dapat dilakukan melalui:

  1. Mencatat hal-hal penting serinci mungkin, mencakup catatan pengamatan objektif terhadap setting, partisipan, ataupun hal-hal yang terkait.

  2. Menggunakan jenis pertanyaan terbuka agar memperoleh hasil yang akurat.

  3. Mengulang pertanyaan yang diajukan kepada partisipan untuk melihat konsistensi dari jawaban yang diberikan

  4. Mendokumentasikan secara lengkap dan rapi data-data yang terkumpul seperti rekaman wawancara, transkrip wawancara, rekonstruksi data hasil wawancara, dan data hasil analisa wawancara dengan partisipan.

  5. Berdiskusi bersama rekan sejawat, dosen pembimbing, serta dosen-dosen yang memahami topik penelitian ini sehingga dapat memberikan saran terhadap analisis yang dilakukan peneliti.

  6. Melakukan pengecekan dan pengecekan kembali (checking and rechecking) data dengan usaha menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda.

G. PROSEDUR PENELITIAN

1. Tahap Persiapan Penelitian

  Beberapa langkah yang harus dilakukan dalam mempersiapkan penelitian di antaranya: a.

  Mengumpulkan data di masyarakat.

  Dalam mengumpulkan data, peneliti banyak mengumpulkan informasi mengenai perceraian di masa lansia melalui buku, jurnal, serta media seperti internet dan film.

  b.

  Mempersiapkan landasan teori Setelah terkumpul data mengenai perceraian serta penyesuaian diri setelah perceraian, peneliti mengumpulkan teori mengenai indikator-indikator penyesuaian diri yang normal.

  c.

  Menyusun pedoman wawancara Pedoman wawancara disusun berdasarkan kerangka teori yang telah dijabarkan. Pedoman wawancara nantinya berisi bentuk penyesuaian diri partisipan, faktor apa yang mempengaruhinya, serta apa indikator penyesuaian diri yang normal pada partisipan.

  d.

  Mencari partisipan Sebelum mencari partisipan, terlebih dahulu peneliti mencari informasi yang berkaitan agar mendapatkan partisipan yang sesuai berdasarkan kriteria yang telah dijabarkan sebelumnya. Selain itu peneliti juga mengurus izin untuk melaksanakan penelitian di instansi-instansi yang terkait dengan partisipan.

  e.

  Menyiapkan informed consent Setelah bertemu dengan partisipan dengan karakteristik yang sesuai, peneliti pun mulai menyiapkan informed consent yang berfungsi sebagai surat persetujuan agar partisipan mau mengikuti proses penelitian ini. f.

  Persiapan untuk pengumpulan data Proses persiapan pengumpulan data dimulai dengan mempersiapkan alat-alat bantu penelitian seperti alat perekam, pedoman wawancara, serta alat tulis.

  Kemudian peneliti memeriksa kembali kelayakan dari alat yang akan digunakan.

  g.

  Membangun rapport Agar partisipan dapat memberikan jawaban dengan lebih santai, peneliti perlu membangun kedekatan dengan partisipan dengan melakukan percakapan ringan. Dalam membangun rapport, peneliti dibantu oleh anak partisipan serta pengacara yang mengurus perceraian partisipan. Mereka membantu peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian agar tidak terjadi kesalahpahaman. Selanjutnya partisipan dan peneliti menyepakati waktu yang akan digunakan untuk melakukan wawancara.

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian a.

  Meminta persetujuan partisipan melalui informed consent.

  Pemberian informed consent ini agar partisipan mengetahui tujuan penelitian, keterlibatan partisipan dalam penelitian, waktu dan tempat penelitian, jaminan kerahasiaan, serta hak partisipan untuk mengundurkan diri apabila partisipan tidak menyetujui konten dari penelitian ini. Setelah partisipan dan peneliti menandatangani informed consent, proses pengambilan data dapat dilakukan. b.

  Melakukan wawancara yang sesuai dengan pedoman wawancara.

  Proses wawancara dilakukan berdasarkan pedoman wawancara yang sebelumnya telah disusun oleh peneliti berdasarkan teori yang digunakan.

  Wawancara dilakukan lebih dari satu kali agar mendapatkan hasil yang maksimal dan sesuai dengan kebutuhan penelitian.

  c.

  Peneliti dan partisipan menjadwalkan pertemuan selanjutnya.

  Di setiap akhir dari sesi wawancara, peneliti dan partisipan akan menjadwalkan pertemuan selanjutnya. Hal ini dilakukan sesuai kesepakatan kedua pihak agar tidak mengganggu kegiatan yang biasa dilakukan peneliti maupun partisipan di luar dari jadwal wawancara.

  d.

  Peneliti memindahkan rekaman hasil wawancara ke dalam transkrip verbatim.

  Setelah melakukan wawancara, peneliti memindahkan hasil wawancara ke dalam transkrip verbatim. Peneliti kemudian membubuhkan kode-kode khusus (koding) sehingga data-data yang diperoleh dapat tersusun secara detail (Poerwandari, 2007). Hal ini dapat memudahkan peneliti mendapatkan gambaran mengenai topik yang akan diteliti, dalam hal ini adalah penyesuaian diri.

  e.

  Melakukan analisa data.

  Setelah transkrip verbatim selesai, peneliti membuat analisa untuk mengidentifikasi tema yang muncul. Selanjutnya analisa data disusun menjadi sebuah bentuk narasi dan menyusunnya berdasarkan pedoman wawancara yang telah dibuat sebelumnya. Data-data yang telah disusun kemudian dijabarkan berdasarkan indikator-indikator penyesuaian diri yang normal menurut Schneiders (1964).

  f.

  Menarik kesimpulan serta membuat diskusi dan saran.

  Peneliti menarik kesimpulan berdasarkan data-data yang telah diperoleh untuk menjawab rumusan permasalahan yang telah ditentukan. Selanjutnya peneliti membuat diskusi berdasarkan kesimpulan dan hasil yang telah diperoleh. Kemudian peneliti memasukkan saran-saran yang sesuai dengan kesimpulan, diskusi, dan hasil penelitian.

  3. Tahap Pencatatan Data

  Data yang didapatkan melalui proses wawancara akan diubah menjadi bentuk tulisan yang disebut dengan verbatim. Verbatim merupakan proses mendengar lalu menuliskan kata per kata hasil rekaman wawancara kemudian diketik. Tujuan dari pembuatan verbatim adalah untuk menganalisis data lebih lanjut (Poerwandari, 2007).

  4. Prosedur Analisis Data

  Poerwandari (2007) membagi prosedur analisis data ke dalam lima tahap, yaitu: a.

  Koding Langkah pertama yang paling penting sebelum menganalisis data adalah dengan memberikan kode-kode pada materi yang dperoleh. Tujuannya adalah untuk mengorganisasi dan menciptakan data yang sistematis serta detail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari. Secara praktis dan efektif, Poerwandari merumuskan beberapa langkah koding yang dilakukan melalui: (1)

  Peneliti menyusun transkripsi verbatim dengan kolom kosong di samping kanan dan kiri transkrip. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pemberian kode pada transkrip tersebut. (2)

  Peneliti secara urut dan kontinyu melakukan penomoran pada baris-baris transkrip dan atau catatan lapangan tersebut.

  (3) Peneliti memberikan nama untuk masing-masing berkas dengan kode tertentu.

  b.

  Organisasi Data Dengan data kualitatif yang sangat banyak dan beragam, peneliti wajib mengorganisasikan datanya dengan rapi, sistematis, dan selengkap mungkin.

  Highlen dan Finley (dalam Poerwandari, 2007) mengatakan bahwa organisasi data yang sistematis memungkinkan peneliti untuk dapat memperoleh kualitas data yang baik, mendokumentasikan analisis yang dilakukan, serta menyimpan data dan analisi yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian.

  c.

  Analisis Tematik Analisis tematik merupakan proses mengkode informasi yang dapat menghasilkan daftar tema, model tema atau indikator yang kompleks, kualifikasi yang biasanya terkait dengan tema itu, atau hal-hal di antara atau gabungan yang telah disebutkan. Tema tersebut secara minimal dapat mendeskripsikan data, dan secara maksimal memungkinkan interpretasi data.

  Tema-tema dapat diperoleh secara induktif dari informasi metah atau diperoleh secara deduktif dari teori atau penelitian sebelumnya.

  d.

  Pengujian Terhadap Dugaan Dugaan adalah kesimpulan sementara. Dengan mempelajari data, peneliti mengembangkan dugaan-dugaan yang adalah juga kesimpulan-kesimpulan sementara. Agar dapat meyakini temuannya serta terus menajamkan tema dan pola yang ditemukan, peneliti perlu juga perlu mencari data yang memberikan gambaran-gambaran yang berbeda dari pola-pola yang muncul tersebut.

  e.

  Tahapan Interpretasi Interpretasi mengacu pada upaya memahami data secara lebih ekstensif sekaligus mendalam. Peneliti memiliki perspektif mengenai apa yang sedang diteliti dan menginterpretasi data melalui perspektif tersebut. Kvale (dalam Poerwandari, 2007) menguraikan konteks interpretasi pemahaman teoritis adalah konteks yang paling konseptual yang menggunakan kerangka teoritis untuk memahami pernyataan-pernyataan yang ada, sehingga dapat memahami konteks pemahaman diri partisipan maupun penalaran umum.

  Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori penyesuaian diri oleh Scheniders (1964) terhadap lansia yang bercerai.

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi analisa hasil serta pembahasan berdasarkan wawancara yang

  dilakukan kepada kedua partisipan. Analisa dan pembahasan akan dibagi perorang agar memudahkan pemahaman pembaca mengenai penyesuaian diri lansia pasca bercerai. Langkah pertama dari adalah dengan menjabarkan analisa data dari partisipan seperti identitas diri serta latar belakang partisipan. Selanjutnya adalah penjabaran data hasil wawancara serta pembahasan berdasarkan indikator penyesuaian diri yang normal menurut Schneiders (1964).

  Pada kutipan wawancara nantinya disertai pemberian kode-kode khusus. Tujuan dari pemberian kode tersebut adalah sebagai cara untuk mempermudah pengorganisasian dan sistematisasi data (Poerwandari, 2007). Misalnya kode W.R.P.P.MDN.25Nov13/b1-3/h1 memiliki makna data tersebut diambil melalui proses wawancara (W) kepada respoden (R) yang berjenis kelamin perempuan (P). Partisipan merupakan seorang ibu rumah tangga (IRT). 25Nov13 menunjukkan bahwa wawancara dilakukan pada tanggal 25 November 2013. b1-3 merujuk kepada kutipan wawancara yang terletak di baris 1 sampai 3 pada halaman refleksi dan analisa (terlampir), sedangkan h1 merujuk kepada nomor halaman dimana kutipan wawancara tercantum.

  54

A. HASIL

1. Analisa Data Partisipan

  a. Identitas Diri Partisipan

  Tabel 1. Gambaran Umum Partisipan

  Keterangan Partisipan

  Inisial S Jenis Kelamin Perempuan Usia 67 tahun Agama Islam Suku Melayu Status Tidak Menikah (bercerai) Pendidikan Terakhir Aliyah Pekerjaan Ibu Rumah Tangga Usia Pernikahan 44 tahun Sudah Bercerai Selama 2 bulan

  b. Latar Belakang Partisipan

  Partisipan kedua dalam penelitian ini adalah S. Ia lahir dan besar di Kota Medan. S merupakan anak tunggal. S kini berusia 67 tahun. Ia tinggal di lingkungan yang sama selama puluhan tahun dimulai sejak ia kanak-kanak. S merupakan anak tunggal, namun meski demikian ia tidak pernah merasa kesepian karena tempat tinggalnya berdekatan dengan sanak familinya.

  Semasa hidupnya ia menempuh pendidikan di Al-Wasliyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Pergaulan S hanya sebatas pada teman perempuan saja karena orang tua S tidak memperbolehkannya berteman dengan laki-laki.

  Setelah tamat dari Tsanawiyah, ia tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang perkuliahan. Dikatakannya bahwa pada saat itu ia tidak memiliki biaya untuk kuliah. Ia lebih memilih untuk menjadi tenaga pengajar di sekitar rumahnya. Alasan lain S tidak melanjutkan pendidikannya adalah karena ia menikah di usia 22 tahun.

  Tinggal di lingkungan yang berdekatan membuat S dan suaminya sering bertemu. Pertemuan itu pun akhirnya berubah menjadi sebuah hubungan kasih. Selama 5 tahun S dan suaminya berpacaran tanpa diketahui oleh kedua orang tua S. Sampai pada akhirnya suami S melamar, ia pun memperkenalkannya kepada kedua orang tuanya. Suami S adalah sosok pria yang baik dan sopan. S dan suaminya pun memutuskan untuk menikah.

  Pernikahan S sudah berjalan beberapa tahun dan bahkan S sudah memiliki 2 orang anak, namun perlahan sifat suaminya mulai berubah.

  Memiliki tempramen yang tinggi, sang suami pun kerap memarahinya. Namun S hanya bersabar dan tidak menceritakan persoalan rumah tangganya kepada siapapun.

  Setelah menjalani pernikahan selama 25 tahun, S memutuskan untuk berpisah dengan suaminya. Ia memilih ikut bersama putrinya yang bertugas di Aceh. setelah berpisah, S mengetahui bahwa suaminya menikah kembali. Ia tidak begitu peduli dengan apa yang terjadi dengan suaminya. Ia pun ikhlas jika suaminya menikah kembali.

  Setelah bertahun-tahun tinggal di Aceh, S beserta anak dan cucunya pun kembali ke Medan. Betapa terkejutnya ia ketika tahu suaminya pindah kembali ke rumah S. S tidak mau untuk berbaikan dengan suaminya tetapi ia juga tidak tega untuk mengusirnya. Ia pun memperbolehkan suaminya tinggal di rumahnya, sementara ia pindah ke rumah anak ketiganya yang tinggal persis di sebelah rumah S.

  Walaupun S tidak mau berbaikan dengan suaminya, namun ia tetap mengurusi kebutuhan sehari-hari suaminya seperti misalnya memasak. Tetapi sifat suaminya yang pemarah tidak juga hilang. Suami S pun terkadang marah di depan anak, menantu, dan cucu S. Bahkan suami S juga pernah memaki anaknya sendiri.

  Anak-anak S tidak tega melihat ibunya disakiti. Mereka pun berinisiatif untuk mendaftarkan perceraian S di Pegadilan Agama. S awalnya merasa perceraian tidak perlu dilakukan karena ia sendiri sudah menganggap bahwa ia dan suaminya sudah berpisah. Namun atas desakan anak-anaknya, S pun mau untuk bercerai secara resmi di Pengadilan Agama.

  Kini setelah berpisah, S masih tetap tinggal di rumah anak ketiganya sementara mantan suaminya pindah ke rumah anak sulung mereka. Rumah S tidak pernah sepi. Ia tinggal satu atap bersama anak, menantu, dan tiga cucunya. Sementara itu anak keduanya tinggal di sebelah rumah S bersama anak dan suaminya. Di bagian depan gang terdapat satu rumah yang ditempati oleh anak dan menantu S serta satu rumah yang ditempati oleh makcik S.

  Setiap pagi setelah anak, menantu, dan cucunya pergi untuk bekerja dan sekolah, S bersama anak keduanya berbelanja kebutuhan sehari-hari. Bersama dengan anaknya, ia memasak dan membersihkan rumah. Makcik S pun sering datang untuk berkunjung untuk bercerita-cerita dengan S. Setelah sholat Dzuhur, S pun pergi menghadiri pengajian yang ada di sekitar rumahnya. Ia kembali ke rumah setelah Ashar lalu melakukan kegiatan lain seperti merawat tanaman yang ada di rumahnya. Sore hari juga digunakan S untuk berbincang di teras rumah dengan anak-anaknya, makcik, ataupun teman pengajian yang datang berkunjung.

2. Data Wawancara Partisipan

  Tabel 2. Waktu dan Lokasi Wawancara Partisipan

  Hari dan Tanggal Waktu Lokasi No Partisipan Wawancara Wawancara Wawancara

  1 S Selasa, 4 Maret 2014 17.00-17.32 WIB Rumah Partisipan

  2 S Selasa, 11 Maret 2014 16.58-17.40 WIB Rumah Partisipan

  3 S Senin, 24 Maret 2013 14.22-14.54 WIB Rumah Partisipan

a. Data Hasil Observasi

  Partisipan tinggal di sebuah gang buntu yang hanya terdiri dari lima rumah. Rumah partisipan terletak paling belakang dan dikarenakan rumah partisipan terletak di bagian ujung dari gang, rumah partisipan adalah satu- satunya rumah yang dapat menampung sekitar satu hingga dua mobil di pekarangannya. Selain mobil, di pekarangan rumah partisipan juga terdapat sebuah ayunan besi yang diletakkan di pojok. Pekarangan rumah partisipan dipenuhi dengan bunga yang ditanam di dalam pot.

  Peneliti dan partisipan melakukan sesi wawancara di ruang tamu di kediaman partisipan. Ruang tamu ini berukuran sekitar 2x4 meter. Dinding rumah dicat dengan warna coklat muda, dimana di tiap sisinya terdapat foto- foto anak maupun cucu partisipan. Di tengah ruangan tersebut terdapat 1 set kursi dan meja yang terbuat dari kayu jepara berwarna coklat tua yang berlapis kain berwarna coklat muda. Di belakang salah satu kursi terdapat sebuah buffet berwarna hitam yang di atasnya juga tersusun foto anak dan cucu partisipan.

  Hari pertama wawancara dilaksanakan pada tanggal 4 Maret 2014. Tinggi partisipan kurang lebih 155 cm. Badannya kurus dan kulitnya putih. Rambut partisipan yang berwarna putih seluruhnya diikat ke belakang. Di hari pertama wawancara ia memakai daster panjang berwarna hitam dengan motif bunga berwarna emas. Partisipan menyambut peneliti dengan hangat dan mempersilahkan peneliti untuk duduk.

  Sebelum wawancara dilakukan, peneliti memberikan informed consent kepada partisipan. Partisipan pun membacanya dengan seksama dan kemudian menandatangani informed consent tersebut. Tidak berapa lama kemudian, wawancara pun berlangsung.

  Pada awal wawancara, partisipan menunjukkan ekspresi wajah malu- malu ketika ditanya mengenai kehidupan masa kecilnya. Ia merasa tidak pandai menceritakan sebuah kisah. Namun setelah wawancara berlangsung sekitar 5 menit, partisipan mulai bisa untuk diajak bekerja sama. Hal ini ditandai dengan kontak mata yang terjadi antara partisipan dan peneliti. Posisi duduk antara partisipan dan peneliti cukup dekat sehingga memungkinkan untuk melakukan kontak mata secara intens.

  Ketika pertama kali ditanya soal alasan perceraiannya, partisipan sempat terdiam sebentar dan matanya menerawang. Namun tidak berapa lama kemudian ia mulai menceritakan peristiwa-peristiwa yang mengawali proses perceraiannya. Pada akhirnya partisipan pun merasa nyaman bercerita. Tidak jarang cerita-cerita tersebut pun diselingi dengan suara tawa dari partisipan.

  Hari kedua wawancara dilaksanakan pada tanggal 11 Maret 2014. Sore itu partisipan mengenakan baju daster panjang berwarna putih dihiasi corak bunga berwarna merah. Rambutnya pun dikuncir sama seperti hari sebelumnya. Ketika peneliti datang, partisipan sedang berbincang dengan teman dan makciknya di teras rumah sambil menikmati teh hangat dan kue. Kemudian peneliti dan partisipan pun masuk ke dalam rumah. Wawancara kedua juga dilakukan di ruang tamu partisipan.

  Partisipan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan baik. Namun ketika disinggung mengenai awal perceraian, partisipan tidak menjawab untuk beberapa saat. Mata partisipan terlihat menerawang. Tetapi setelah itu partisipan mulai terbiasa untuk menceritakan masalah perceraiannya. Partisipan pun kerap tertawa ketika menceritakan kehidupan barunya pasca bercerai, terlebih ketika ditanya mengenai kedekatannya dengan anak dan cucunya.

  Hari terkahir wawancara dilaksanakan pada hari Senin tanggal 24 Maret 2014. Pintu rumah partisipan terbuka ketika peneliti datang. Saat itu partisipan sedang menjahit bersama anaknya sementara cucunya belajar di ruangan yang sama sambil menonton televisi. Partisipan pun mempersilahkan peneliti untuk masuk.

  Peneliti menanyakan beberapa hal mengenai masa kecil partisipan hingga bagaimana partisipan bertemu dengan mantan suaminya. partisipan terlihat santai ketika ditanyai pertanyaan mengenai masa mudanya. Pertanyaan berikutnya mengenai permasalahan rumah tangga. Sebelum menjawab, partisipan sempat diam untuk beberapa saat. Partisipan seperti menerawang untuk mengingat kembali kejadian di kala itu kemudian ia pun menjawab pertanyaan yang diajukan dengan baik. Secara keseluruhan partisipan mampu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

b. Data Hasil Wawancara

1. Kehidupan Pernikahan

  Partisipan menikah sekitar 44 tahun yang lalu. Perkenalan dengan mantan suaminya berawal dari beberapa kali pertemuan, mengingat partisipan dan mantan suaminya tinggal di lingkungan yang sama.

  “eceknya kan satu-satu kampung. Gitulah, jadi kenalah satu-satu kampung namanya (tertawa). Karena lewat-lewat gitu, lama-lama kenalah gitu. Kenal kenal kenal, lama-lama jadilah gitu (tertawa).”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b28-29/h1) Memiliki orang tua yang konservatif, partisipan tidak diperbolehkan untuk berteman dengan laki-laki. Teman partisipan hanya sebatas pada teman perempuan. Meskipun begitu, partisipan sempat menjalani masa berpacaran cukup lama dengan pria yang kini menjadi mantan suaminya.

  Orang tuanya sendiri mengenal calon suami partisipan ketika mendekati proses lamaran.

  “ya tempat kawanlah. Orang kawan ke sini datang aja perempuan- perempuan. Orang itu suka karena ibu sendiri. Itulah datang, tidur- tidur di rumah ibu. Ha gitu, kawan-kawan pada datang perempuan.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b18-20/h1)

  “orang tua ibu itu orang dia gak suka kalau memang sama kawan laki-laki jadi dia memang gak berapa kenalah, gak berapa tahulah. Ya udah nanti eceknya mau minang, barulah dikenalin. Kalau untuk

berkawan-kawan gitu dia ya enggaklah. Soalnya kan gak boleh.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b47-52/h2) Kehidupan awal pernikahan partisipan berjalan normal. Setelah partisipan memiliki dua orang anak, sifat suami berubah menjadi pemarah.

  Kekerasan yang dilakukan suami hanya dalam bentuk kekerasan verbal. Suami kerap membentak partisipan namun partisipan hanya diam saja. Ia tidak berani melawan sebab ia takut suaminya akan menggunakan kekerasan fisik terhadapnya.

  “ya udah ada anak-anak inilah, gitu. Apa (salah) sikit, marah. Gitulah. Salah sikit entah apa gitu marah.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b54-59/h2)

  “marah aja memang, ngebentak karena ibu ini memang gak ngelawan. Kalau misalnya bangsa model ngelawan, mau main mukul dia (mantan suami). Memang bangsa maulah (memukul). Tapi kalau ibu memang ibu gak bisa melawan. Udah mau marah, ibu diam aja tu. Gak pernah ibu ladenin. Jadi gak pernahlah ibu diapainnya (dipukul). Kadang entah numbuk dinding, numbuk kaca, gitulah dia kalau udah marah. Nanti numbuk kaca, berdarah tangan itu. Gitu. Ibu gak bisalah orang ibu gak pernah ngelawan. Nanti kalau kita jawab, maulah (dipukul).”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b62-67/h2) Partisipan menuturkan bahwa penyebab suaminya menjadi pemarah karena alasan pekerjaan. Selain itu yang menjadi permasalahan dalam rumah tangganya karena suaminya tidak bertanggung jawab, terutama terhadap keuangan rumah tangga. Selama menikah, suami partisipan tidak peduli terhadap biaya sekolah anak-anaknya.

  “apa ya? (penyebab kemarahan) mungkin dia capek, entah pendapatannya kurang, gitulah. Udah itu ibu bukan menuntut kali juga cuma ya kewajiban. Kalau untuk menuntut kali pun enggak. Kewajibanlah yang ibu tuntut.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b209-212/h6)

  “Sebetulnya dia memang tanggung jawabnya kurang. Kalau yang mau cerita itu kan tanggung jawabnya penuh, barulah dia bercerita. Kalau ini memang tanggung jawabnya kurang itulah makanya anak- anak ini tak nengok, kurang tanggung jawab. Dari awalnya gitulah tanggung jawab tadi kurang.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b215-220/h7) Untuk mengatasi permasalahan keuangan, partisipan kerap dibantu oleh ibunya yang juga tinggal bersama partisipan beserta keluarganya. Ia memakai uang pensiun peninggalan ayahnya untuk biaya sehari-hari. Selain itu anak-anak partisipan yang telah beranjak dewasa juga membantu biaya sekolah adik-adiknya.

  “keuangan lagi. Sekolah aja enggak. Tapi kan sekolah anak biasanya (biaya) diperlukan. Ini enggak. Orang ini biaya sekolah sendirilah. Kakaknya sekolahkan adik, adiknya sekolahkan adik. Gitu semua.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b320-323/h9) “Sudah anak-anak ini besar-besar, udah sekolah, gak berapa gitu.

  Gak begitu diopenkannya. Gak begitu peduli, gitu. Mau sekolah, mau apa, suka hati ibulah yang menanggulangi macemana caranya. Haa, dulu ada emak ibu. Emak ibu ada pensiunnya. Jadi emak ibu tadilah mengapakan (membantu) ibu.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.11Mar14/b174-177-h5) Meskipun didera berbagai masalah dalam kehidupan rumah tangganya, partisipan tidak pernah bercerita kepada siapapun. Ia tidak ingin hal ini membuat ibunya khawatir. Ia juga tidak menceritakan perkara rumah tangganya kepada anak-anaknya karena ia tidak mau anak-anaknya melawan ayahnya sendiri. Pada akhirnya ia tetap memilih untuk memendam sendiri semua perasaannya.

  “Anak-anak ibu rupanya tahulah macemana ibu dibikin sama bapak itu. Ibu tapi gak cerita. Takut ibu gara-gara ibu nanti anak ibu ngelawan sama orang tuanya, kan. Jadi ibu itu gak mau bilang dulu. Cemana pun ibu tahan, ibu diam.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b52-57/h2)

  “jadi itu ibu terlalu sayang sama emak ibu itu. Jadi ibu gak mau begadoh jangan tahu emak ibu, padahal dia tahunya macemana ibu. Tapi ibu janganlah gara-gara ibu, dia (emak) susah. Padahal susah juganya akhirnya kan.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b64-67/h2) Pertengkaran partisipan dan suaminya berlanjut hingga usia pernikahan ke 25 tahun. Pihak keluarga dari kedua belah pihak berusaha mendamaikan partisipan dan suaminya, namun partisipan tetap bersikeras untuk berpisah. Partisipan mengatakan kepada suaminya bahwa berpisah merupakan jalan yang terbaik bagi mereka berdua.

  “Gitu ajalah berulang balik. Tapi situ udah 25 tahun ibu udah meninggal emak ibu itu. Jadi itulah teruslah ibu bertengkarlah. Ibu bilang (kepada mantan suami), “udahlah, pigilah dulu”. Soalnya rumah (ini) rumah ibu kan? Pigilah dia ke rumah emaknya”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b63/h2) Akhirnya sang suami pun pindah ke kediaman orang tuanya sementara partisipan pergi ke Aceh bersama cucu dan anaknya yang dipindahtugaskan. Tidak berapa lama kemudian partisipan mendengar kabar bahwa suaminya menikah kembali. Partisipan merasa ia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap suaminya sehingga ia tidak terlalu memikirkan kabar pernikahan tersebut.

  “Lama-lama dia kan laki-lakilah kan, berumah tangga. Udahlah, ibu udah berumah tangga dia, udah syukur.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b78/h3) Begitu kembali dari Aceh, partisipan mengetahui bahwa suaminya sudah bercerai dengan istri keduanya dan kembali menempati rumah partisipan. Namun partisipan tidak tega untuk mengusir suaminya. Di sisi lain partisipan merasa bahwa ia dan suaminya sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk tinggal bersama anak ketiganya sementara suaminya tinggal di rumah partisipan yang terletak bersebelahan.

  “Jadi udah itu eceknya dia udah gak baik lagilah dia sama istrinya yang kedua itu. Jadi balik lagi dia di sini. Tinggal dia sama ibu. Pulang dari Aceh itu, di sinilah dia. Ibu orangnya gak bisa ibu ngusir.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b82-87/h3)

  “Jadi ibu gak maulah. Jadi tetap dari situ dia di sebelah, ibu di sinilah. Dibikinkan dulu belum ada kamar di belakang itu, ditambah lagi kamar untuk tempat ibu.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b91-94/h3)

2. Perceraian

  Setelah berpisah bertahun-tahun yang lalu, partisipan merasa hubungan pernikahannya sudah berakhir. Namun suami partisipan berpikir bahwa partisipan masih mau untuk berbaikan dengannya. Partisipan tetap mau untuk mengurusi kebutuhan sehari-hari suaminya meskipun mereka tinggal di rumah yang berbeda. Akan tetapi sifat pemarah yang dimiliki oleh suami partisipan tidak kunjung berubah. Ia bahkan bisa melakukan kekerasan fisik di depan anak dan cucu partisipan.

  “Jadi tetap dari situ dia di sebelah, ibu di sinilah. Dibikinkan dulu belum ada kamar di belakang itu, ditambah lagi kamar untuk tempat ibu. Eceknya ibu kan masakkan anak kita yang kerja ini. Jadi dia (suami) tetap makan sama kami. Tapi asik salah aja ibu. Salah juga.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b91-94/h3) “pernah karena sikit aja kan ibu disiramnya pakai air panas di situ.

  Untung ada menantu.” “...iya. Eceknya ada lah menantu sama anak, mau (marah). Iya mau.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b107/h4) Suami partisipan pun kerap meminta partisipan untuk melakukan hubungan suami istri. Namun partisipan selalu menolak permintaan tersebut. Ia merasa telah berpisah dengan suaminya walau tanpa melalui proses perceraian ke pengadilan.

  “Rupanya dia mau diladenin jugalah. Sedangkan ibu bilang sama saudaranya. Ibu bilang ibu udah gak mau lagi, udah gak bisa lagi. Kalau mau tinggal situ terserahlah, gak ada rumahnya. Terserahlah.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b108-110/h4) “Jadi itulah, ke pengadilan buang-buang uang juga ibu rasa.

  Bukannya ibu mau menikah pakai surat (bercerai). Uang lima juta hilang (tertawa).”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b162-164/h5)

  “Karena itu tadi ibu (berpikir) alah ngapain ibu bukannya mau kawin lagi ibu pikir kan. Tapi hati kita ini udahlah cukuplah sampai situ, begitu.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b158-160/h5) Alasan lain partisipan tidak mau bercerai adalah ia merasa kasihan pada anak-anaknya karena jika bercerai mereka tidak memiliki ayah lagi. Di sisi lain, partisipan sudah tidak memiliki perasaan terhadap suaminya. Untuk itulah partisipan merasa ia tidak perlu bercerai meski tinggal bersebelahan dengan suaminya.

  “Ibu sebetulnya udah lama kan yang ibu bilang itu kan, karena ibu memikirkan anak-anak ibu. Kasihanlah ibu kalau minta cerai kita kan, kasihannya ibu anak-anak ini gak ada ayahnya. Lain kalau meninggal kan? Kalau cerai kasihannya. Itulah yang ibu pertahankan sebetulnya. Sayang ibu sama anak ibu. Kasihannya lah, gitu. Kalau hati ibu memang rasanya udah gak itulah.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.11Mar14/b81-88/h3) Puncak permasalahan rumah tangga partisipan terjadi ketika salah satu saudara suami partisipan meninggal dunia. Suami partisipan sudah diberitahu untuk pergi bersama anaknya tetapi ia tidak mendengar sehingga ia pun ditinggalkan oleh rombongan. Ia tidak terima karena tidak diikutsertakan untuk melayat. Ia pun memarahi bahkan memaki anaknya.

  “Berkelahi lagi habis saudaranya meninggal padahal dia dikasih tahu. Dikasih tahu mungkin gak dengar, marahlah dia tadi. Entah apa-apalah katanya. Begadohlah sama anak ibu. Entah apa-apa yang dibilangnya sampai macam orang lainlah. Di-anjing-kannya si anak tadi.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b128-130/h4) Melihat ibunya yang penyabar, anak-anak partisipan pun menyarankan partisipan untuk segera mendaftarkan perceraiannya ke

  Pengadilan Agama. Setelah bermusyawarah dengan keluarga dan ustadz, akhirnya partisipan mau untuk bercerai secara resmi.

  “itu (cerai) memang itu udah lama disuruh anak-anak ini. Tahunya orang itu ibu udah gak mau lagi. Jadi anak itu ya udahlah, apalagi. Ngapainlah kalau udah gak mau, gitu. ‘Jadi pun kalau bersama mamak jadi bulan-bulanan aja’, kata anak-anak ini gitu kan.

  Perintahnya, ininya yang gak tahan gitu. Makanya anak-anak ini mendukung.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b173-178/h5)

  “Mudaratnya tadi kan gak berdosa lagi kita gitu. Kalau dulu itu kan ingat kita dosa. Ustadz itu bilang, “kita berdosa, gak kita ladeni sedangkan kita dah gak mau”. Kan rasanya udahlah beres, udahlah lega rasanya.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.11Mar14/b199-201/h6)

3. Penyesuaian Diri Pasca bercerai

  Partisipan menjalani puluhan tahun pernikahannya dengan dipenuhi konflik. Ia mengalami pergulatan emosi akibat memendam permasalahan dalam rumah tangganya. Setelah terjadinya perceraian, partisipan butuh untuk menyesuaikan diri sehingga dapat menjalani kehidupan barunya dengan lebih baik.

a) Tidak adanya emosi yang berlebihan

  Partisipan tidak menunjukkan adanya emosi yang berlebihan setelah bercerai. Partisipan memang sempat merasakan kesedihan di awal perpisahannya. Ia memikirkan rumah tangganya yang telah hancur.

  “oh sedihnya tetap sedih. Ha, sedih juga, “ih, hancurlah rumah tangga udah 25 tahun”. Kan lama jugalah kan? Udah anak enam, anaknya udah besar-besar. Sedih jugalah waktu itu, “hancurlah rumah tanggaku gak bisa dipertahankan”. Begitu waktu itu.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b193-196/h6) Partisipan tidak mengalami emosi berlebihan pasca bercerai karena sebelum bercerai ia memang tidak memiliki perasaan terhadap mantan suaminya. Kini partisipan merasa lebih lega karena ia tidak lagi memikirkan perkara dalam rumah tangganya.

  “Eceknya udah gak ada lagi (perasaan) orang udah lamalah pula kan. Sebelum yang di pengadilan kan udah gak baik (hubungannya), gak bagus. Jadi bukan lantaran begadoh baru ke pengadilan, bukan gitu. Jadi kalau itu mungkinlah ada rasa sayang, ada rasa cinta juga. Ini memang udah enggak ada tersisa apa-apa. Habis segala-galanya hilang terbang (tertawa). Jadi udah gak apa-apa lagi.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b153-157/h5)

  “Dulu dia marah-marah. Lain nanti menghadapi dia lagi makan, merepet-merepet. Kita kan dengar. Palak jugalah. Kita kan dongkol, kita kan palak. Ibu malu kali rasa ibu. Jadi ibu terpikir juga. Udah gak ada itu lega, lapang kali gak ada yang merepet- merepet (marah) gitu.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.11Mar14/b371-372/h11) Selain itu partisipan merasa lega karena tidak lagi merasa berdosa. Sebelumnya ia merasa berdosa karena menolak suaminya untuk melakukan hubungan suami istri.

  “Udah senang, udah plong gitu. Udah gak masing-masing berdosa gitulah. Kalau gak kan berdosa dia masih menganggap itu (suami istri), ibu udah gak menganggap. Ibu gak merasa.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b159-160/h5) Sebelum bercerai, partisipan selalu memikirkan permasalahan yang terjadi padanya. Kini setelah bercerai, ia lebih santai dalam menghadapi masalah, misalnya masalah dengan keluarga mantan suaminya. Beberapa anggota keluarga mantan suaminya masih mau untuk menjalin hubungan kekerabatan dengan partisipan, sedangkan beberapa orang lainnya masih menyalahkan partisipan atas perceraian yang terjadi. Tapi partisipan tidak ingin terlalu menanggapi hal tersebut dan bersikap sewajarnya saja.

  “Cuma adalah yang dia marah hati juga sama ibu. Ya ibu gak maulah kan. Dibilangnya ibulah yang salah kan.” “...gak apa-apa ibu. Ibu diamkan aja. Suka hati kaulah situ (tertawa).”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b178-183/h6)

  “Ibu memang gak apa-apa cuma kalau ada dia rasa ibu yang salah, ya kita kan jadi malas. Itulah cuman. Itu pun ya cakap juga, tegur juga kalau udah jumpa.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b185-190/h6)

b) Tidak adanya mekanisme psikologis Partisipan tidak menunujukkan adanya mekanisme psikologis.

  Pada saat menikah, ia lebih suka untuk memendam segala permasalahan rumah tangganya sehingga tidak diketahui orang lain. Sekarang partisipan lebih terbuka ketika menghadapi masalah. Jika ia memiliki masalah dan memendam permasalahan tersebut, anak-anaknya akan membantu agar partisipan mengeluarkan isi hatinya.

  “Kadang-kadang dibilang jugalah. Tetap memang masih ada juga kalau udah sifat itu rupanya. Memang ada juga yang ibu ceritakan tapi suatu saat yang sulit rasanya kan nanti kalau ibu ceritakan nanti jadi begini-begini, maka ibu pendam. Tapi dari wajah kita nampak.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.11Mar14/b116-118/h4) (W.R2.P.IRT.MDN.11Mar14/b119-122/h4)

  Anak-anak partisipan pun terkadang mengingat kembali pertengkaran kedua orang tuanya. Ia pun baru menyadari betapa kejamnya perilaku mantan suaminya ketika mereka masih menikah. Namun respoden tidak merasa terbebani jika harus mengingat kembali kejadian yang menimpanya di masa lalu. Ia bahkan tertawa saat membicarakannya kepada peneliti.

  “sebetulnya kalau ibu gak teringat. Sama anak-anak ini, “eh, gini-gini ya”. Ha, gitu. Kadang-kadang kan orang ini merasakannya gitulah. Entah apa-apa teringat yang lain, “dulu

gini gini gini”. Kalau ibu memang gak lagi udah (tertawa).”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b195-198/h6)

  “gak jugalah sekarang ini (tertawa). Enggak karena udah lupa

itu. Cuma itu tadilah, “kejam kalilah rupanya ya”, gitu ada.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b227-228/h7)

c) Tidak adanya rasa frustrasi

  Partisipan tidak menunjukkan adanya perasaan frustrasi. Ia menyatakan tidak ada gangguan yang dialaminya setelah bercerai, misalnya seperti gangguan tidur yang mengindikasikan rasa frustrasi. Ia malah merasa lebih tenang karena gangguan yang datang selama ini berasal dari mantan suaminya.

  “enggak. Enggak ada pula itu (gangguan) kalau tentang itu gak adalah. Malah aman. Kalau gak nanti cakapnya (mantan suami) gini gini gini itukan jadi pikiran juga kalau sebelum itu. Inikan udah gak ada lagilah. Jadi kita itu tenang sikit pikiran.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.11Mar14/b365-366/h11) “Berubahnya cuma gak ada dia di sini (mantan suami) karena

  dibawa sama anak perempuan yang nomor satu kan. Kalau enggak kan di rumah ibu. Itulah, itu ajalah berubahnya. Gak ada yang marah-marah (tertawa).”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b290-293/h9) Sebelumnya ketika masih menikah, partisipan kerap memikirkan pertengkarannya dengan mantan suami. Hal tersebut menjadi beban pikiran baginya.

  “dulu-dulu iya ada jugalah (pemikiran), “kok begini? Mengapalah begini?” gitu juga. sekarang ini udah gak lagi (tertawa).”

  (W.R2.P.IRT.MDN.11Mar14/b75-78/h3)

d) Pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri

  Partisipan memiliki pertimbangan rasional yang baik. Setelah bercerai, partisipan suka bermusyawarah dengan anak-anaknya sebagai pendekatan terhadap masalah. Partisipan kini dapat bertukar pikiran dengan anak-anak karena anak partisipan telah dewasa.

  “Ibu kompromi sama anak-anaklah. Ibu kompromikan sama anak-anak. Dari dulu ya gitu. Udah besar-besarlah orang ini gitulah. Karena dari kecil udah ibu ini menahan (perasaan) sebetulnya. Jadi udah besar-besar itu ya kompromilah sama anak-anak.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.11Mar14/b185-189/h6) Sebelum bermusyawarah, partisipan kerap mempertimbangkan langkah apa yang harus diambilnya. Permasalahan yang biasanya dihadapi oleh partisipan berkaitan dengan anak-anaknya. Untuk itu partisipan mengambil pertimbangan dengan menilai masalah yang dihadapinya, apakah bisa ia tangani sendiri atau apakah permasalahan tersebut perlu untuk diceritakan kepada anak partisipan yang lainnya.

  “oh, itu tengok-tengok masalahnya (tertawa). Ibu banyak pertimbangannya. Itulah tengok-tengok masalahnya. Kadang- kadangkan anak yang satu begini, tapi kalau bilang sama dia (anak yang lain) jadi begini. Gak mau ibu bilang. Ha, gitu. Gak mau ibu bilangkan. Tapi kalau kira-kira memang sesuailah dimusyawarahkanlah dulu. Ha, baru mau ibu bilang. Tapi kalau

kira-kira yang gak cocoknya gak ibu bilang ke yang lain.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b255-261/h8)

  Partisipan juga mampu mengarahkan dirinya dengan baik. Ia tidak menceritakan permasalahan pernikahannya kepada teman-temannya karena ia merasa tidak perlu untuk melakukan itu.

  “gak ada yang tahulah. Dekat-dekat sini pun gak ada. kita gak pernah cerita-cerita soal rumah tangga. Orang ibu ini orangnya gak bercerita makanya jadi orang gak tahu. itulah makanya orang di sebelah ini pun gak pernah ibu ceritain.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.11Mar14/b290-296/h9)

e) Mampu untuk belajar

  Permasalahan pernikahan yang dialami oleh partisipan membuatnya mampu untuk belajar. Ia kini lebih mengembangkan dirinya ketika menghadapi masalah. Ia menjadi pribadi yang lebih terbuka dan tidak lagi memendam perasaannya.

  “ya sikit-sikit ada juga (memendam). Cuma ya selalulah diceritakan. Terbukalah gitu gak macam dulu.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.11Mar14/b361-362/h11) Pelajaran yang didapat partisipan dari perceraian ini dibagikannya pula kepada anak-anaknya. Ia mengatakan kepada anaknya untuk selalu berterus terang atas apa yang dirasakan.

  “oh, pelajaran kalilah. Jadi ibu tanamkan sama anak-anak ibu, “janganlah begitu. Kalau kita gak senang, bilanglah terus”. Ha, jadi pelajaran memang betul. Janganlah begitu.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.11Mar14/b101-103/h3) Ia juga berpesan agar anak-anaknya jujur, terutama dalam hal keuangan keluarga. Hal ini dikarenakan ketika menikah ia tidak mengetahui pendapatannya suaminya dan kemudian berusaha untuk menanggulangi kekurangan biaya.

  “itu tadilah saling jujur. Itulah ibu bilang itu (kepada anak), “kalian inilah yang kerja ini, kalian dua-dua kerja. Jadi gaji kau (suami) berapa, gaji kau (istri) berapa. Berapa duit kita ini? Apa yang mau kita beli? Jujurlah, kalian bulatlah sepakat”, ibu bilang. Dari situlah pelajaran ibu tadi kan. Kalau dulu kan ibu gak tahu pendapatan dia (mantan suami) berapa, ibu terima. Kan ibu merasakannya kayak gitu. Begitulah pelajarannya itu juga. Jujurlah kalian bersama. Kalau gak ada kejujuran, gak ada bagusnya. Itulah, bilangkan itulah yang penting.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.11Mar14/b131-135/h4) Perceraian ini juga mengubah cara pandang partisipan terhadap orang lain. Selama ini ia menganggap bahwa jika ia baik maka semua orang juga baik. Namun kini ia tahu bahwa tidak semua orang akan membalas kebaikan yang ia berikan. Hal ini dialaminya sendiri setelah ia mencoba baik kepada mantan suaminya tetapi mantan suami malah menganggap bahwa kebaikan itu adalah sinyal untuk saling berbaikan.

  “...Bukannya ibu mau musuhan, mau dendam, mau apa, ibu mau baik. Tapi jangan istilah anak sekarang ini ‘lebay’ (tertawa). Gitu. Jadi ibu memang mau ibu baik. Tapi jangan dia (mantan suami) udah baik kita teruslah. Dikiranya kita mau balik sama dia. Itulah makanya ibu jaga jarak dari dulu dia masih tinggal di sini.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.11Mar14/b259-262/h8)

  “Betulah. Karena rupanya gitulah manusia ya. Kalau kita lurus- lurus hidup kita, pikir kita orang itu pun lurus juga sama kita. Kan gitu hidup ini kan? Kita kan jarang itu kalau yang berbelok- belok, pikirnya orang pun belok juga hatinya. Jadi udah dikaji- kaji, dikaji-kaji, oh rupanya inilah. Gitu.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b230-234/h7)

f) Memanfaatkan pengalaman masa lalu Setelah bercerai, partisipan belajar dari pengalaman masa lalunya.

  Ia kini tidak memiliki niat untuk menikah kembali. Ia merasa dirinya sudah tua dan tidak perlu untuk menikah lagi.

  “enggaklah. (tertawa) udah tua, udah mau mati. Gak adalah. Kalau ibu mau niat gitu udah dari dululah minta surat (cerai). Lantaran gak ada niat itulah makanya ibu gak usahlah, gak usahlah (cerai).”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b310-312/h9) Pengalamannya bercerai kini ia bagikan kepada anak-anaknya. Ia ingin untuk membagi pengalaman tersebut selama ia masih hidup sehingga anak-anaknya dapat mengambil contoh darinya. Ia selalu mengatakan kepada anak laki-lakinya untuk selalu sayang kepada istrinya walaupun rumah tangga mereka didera permasalahan ekonomi.

  “Ha, jadi pelajaran memang betul. Janganlah begitu. Kalaupun yang laki-laki ibu sarankan, “sayanglah kalian sama istri kalian”. Ibu bilang gitu, “sayanglah sama istri. Perempuan kalau kurang pun duitnya sikit kalau disayang, gak apa-apanya dia itu. Jangan marah-marah sama istri. Jangan. Karena mamak udah merasakannya”. Ibu bilang gitulah. Memang jadi pelajaran itu memang betulah. Jadi pelajaran kali memang. Ini ibu masih sehat masih bisalah ibu bilangkan anak-anak ini kan gitulah sebetulnya.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.11Mar14/b103-110/h4) Lain halnya kepada anak perempuan. Partisipan yang selalu menjadi tempat bercerita oleh anak-anaknya selalu menasehati mereka agar sabar jika menghadapi permasalahan rumah tangga. Ia juga tidak pernah menghakimi anak-anaknya sehingga mereka suka bercerita kepada partisipan.

  “sabar, gitu. Tapi kadang, “iyalah kami gak bisa sabar macam mamak” (tertawa). “sabar, gak bisa gitu. Kita perempuan.” Kalau (anak-anak) udah cerita-cerita, ibu nampung aja. Gak pernah ibu marah kalau dia cerita.’sabar, nanti ada berubahnya. Jangan kau begini begini begini’. Ha, gitu ibu. Makanya mau anak-anak itu cerita.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b245-251/h7)

g) Sikap yang realistis dan objektif

  Walaupun mengalami pengalaman buruk dalam pernikahannya, partisipan tetap bersikap realistis dan objektif. Ia mau memaafkan kesalahan yang telah diperbuat oleh mantan suaminya. Ia bahkan bersedia untuk menjalin hubungan persaudaraan dengan mantan suaminya tersebut asal kehidupan pribadinya tidak lagi diusik.

  “oh, itu udah maafkanlah. Ibu udah gak ada lagilah rasanya. Maaflah sudah, gitu.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b169-170/h5) “Ibu jadi saudara pun mau (tertawa). Bukannya ibu itu benci.

  Enggak, (jadi) saudara pun ibu mau. Biarlah dia situ pun gak apa-apa tapi janganlah nguping-ngupingin ibu.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.04Mar14/b141-142/h5) Partisipan juga tidak memutuskan tali persaudaraan pada keluarga mantan suami. Ia tetap bersilaturahmi ke rumah adik mantan suaminya.

  Hubungan kekeluargaan tersebut telah dibangun puluhan tahun karena sedari awal partisipan dan keluarga mantan suaminya telah tinggal di lingkungan yang berdekatan.

  “oh kalau ibu biasa. Mau ibu datang ke tempat keluarganya. Orang udah lama kan? Datang juga ibu kalau hari raya. Ada juga ibu datang ke rumah adiknya. Ini orang itu enam

  (bersaudara), tinggal tiga. Udah meninggal tiga orang. Kalau yang belum meninggal itu ada juga ibu datang.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b172-176/h5) Partisipan juga bersikap objektif dengan menceritakan seluruh permasalahan rumah tangganya dalam penelitian ini. Ia tidak keberatan untuk membagi kisahnya karena ia tahu nantinya penelitian ini digunakan dalam ranah pendidikan. Ia hanya berusaha membantu peneliti.

  “gak apa-apa ibu. Gak berat, gak sedih, gak susah. Ibu malah niatnya mau nolong. Kan anak mau sekolah. Ha, itulah niat ibu. Kalau sebetulnya kan gak bagus untuk nyeritakan, gak baik kan. Tapi ibu kan rasanya, “oh, dia sekolah.” Ibu kan nolong untuk sekolahnya, gitu. Jadi ibu gak jadi masalah. Gak berat, gak ini, gak itu.”

  (W.R2.P.IRT.MDN.24Mar14/b297-301/h9)

3. Hasil Data Partisipan

  Partisipan menikah sekitar 44 tahun yang lalu. Kehidupan awal pernikahan partisipan berjalan normal. Setelah partisipan memiliki dua orang anak, sifat suami berubah menjadi pemarah. Kekerasan yang dilakukan suami hanya dalam bentuk kekerasan verbal. Suami kerap membentak partisipan namun partisipan hanya diam saja. Ia tidak berani melawan sebab ia takut suaminya akan menggunakan kekerasan fisik terhadapnya.

  Partisipan menuturkan bahwa penyebab suaminya menjadi pemarah karena alasan pekerjaan. Selain itu yang menjadi permasalahan dalam rumah tangganya karena suaminya tidak bertanggung jawab, terutama terhadap keuangan rumah tangga. Selama menikah, suami partisipan tidak peduli terhadap biaya sekolah anak-anaknya.

  Untuk mengatasi permasalahan keuangan, partisipan kerap dibantu oleh ibunya yang juga tinggal bersama partisipan beserta keluarganya. Ia memakai uang pensiun peninggalan ayahnya untuk biaya sehari-hari. Selain itu anak- anak partisipan yang telah beranjak dewasa juga membantu biaya sekolah adik-adiknya.

  Meskipun didera berbagai masalah dalam kehidupan rumah tangganya, partisipan tidak pernah bercerita kepada siapapun. Ia tidak ingin hal ini membuat ibunya khawatir. Ia juga tidak menceritakan perkara rumah tangganya kepada anak-anaknya karena ia tidak mau anak-anaknya melawan ayahnya sendiri. Pada akhirnya ia tetap memilih untuk memendam sendiri semua perasaannya.

  Pertengkaran partisipan dan suaminya berlanjut hingga usia pernikahan ke 25 tahun. Pihak keluarga dari kedua belah pihak berusaha mendamaikan partisipan dan suaminya, namun partisipan tetap bersikeras untuk berpisah. Partisipan mengatakan kepada suaminya bahwa berpisah merupakan jalan yang terbaik bagi mereka berdua.

  Akhirnya sang suami pun pindah ke kediaman orang tuanya sementara partisipan pergi ke Aceh bersama cucu dan anaknya yang dipindahtugaskan.

  Tidak berapa lama kemudian partisipan mendengar kabar bahwa suaminya menikah kembali. Partisipan merasa ia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap suaminya sehingga ia tidak terlalu memikirkan kabar pernikahan tersebut.

  Begitu kembali dari Aceh, partisipan mengetahui bahwa suaminya sudah bercerai dengan istri keduanya dan kembali menempati rumah partisipan. Namun partisipan tidak tega untuk mengusir suaminya. Di sisi lain partisipan merasa bahwa ia dan suaminya sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk tinggal bersama anak ketiganya sementara suaminya tinggal di rumah partisipan yang terletak bersebelahan.

  Setelah berpisah bertahun-tahun yang lalu, partisipan merasa hubungan pernikahannya sudah berakhir. Namun suami partisipan berpikir bahwa partisipan masih mau untuk berbaikan dengannya. Partisipan tetap mau untuk mengurusi kebutuhan sehari-hari suaminya meskipun mereka tinggal di rumah yang berbeda. Akan tetapi sifat pemarah yang dimiliki oleh suami partisipan tidak kunjung berubah. Ia bahkan bisa melakukan kekerasan fisik di depan anak dan cucu partisipan.

  Suami partisipan pun kerap meminta partisipan untuk melakukan hubungan suami istri. Namun partisipan selalu menolak permintaan tersebut.

  Ia merasa telah berpisah dengan suaminya walau tanpa melalui proses perceraian ke pengadilan.

  Alasan lain partisipan tidak mau bercerai adalah ia merasa kasihan pada anak-anaknya karena jika bercerai mereka tidak memiliki ayah lagi. Di sisi lain, partisipan sudah tidak memiliki perasaan terhadap suaminya. Untuk itulah partisipan merasa ia tidak perlu bercerai meski tinggal bersebelahan dengan suaminya.

  Melihat ibunya yang penyabar, anak-anak partisipan pun menyarankan partisipan untuk segera mendaftarkan perceraiannya ke Pengadilan Agama.

  Setelah bermusyawarah dengan keluarga dan ustadz, akhirnya partisipan mau untuk bercerai.

  Partisipan menjalani puluhan tahun pernikahannya dengan dipenuhi konflik. Ia mengalami pergulatan emosi akibat memendam permasalahan dalam rumah tangganya. Setelah terjadinya perceraian, partisipan butuh untuk menyesuaikan diri sehingga dapat menjalani kehidupan barunya dengan lebih baik. Dalam penyesuaian diri terdapat tujuh indikator yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Berikut ini adalah tujuh indikator penyesuaian yang normal:

  a) Tidak adanya emosi yang berlebihan

  Partisipan tidak menunjukkan adanya emosi yang berlebihan setelah bercerai. Partisipan memang sempat merasakan kesedihan di awal perpisahannya. Ia memikirkan rumah tangganya yang telah hancur. Kini partisipan merasa lebih lega karena ia tidak lagi memikirkan perkara dalam rumah tangganya.

  Partisipan tidak mengalami emosi berlebihan pasca bercerai karena sebelum bercerai ia memang tidak memiliki perasaan terhadap mantan suaminya. Selain itu partisipan merasa lega karena tidak lagi merasa berdosa. Sebelumnya ia merasa berdosa karena menolak suaminya untuk melakukan hubungan suami istri.

  Sebelum bercerai, partisipan selalu memikirkan permasalahan yang terjadi padanya. Kini setelah bercerai, ia lebih santai dalam menghadapi masalah, misalnya permasalahan dengan keluarga mantan suaminya. Beberapa anggota keluarga mantan suaminya masih mau untuk menjalin hubungan kekerabatan dengan partisipan, sedangkan beberapa orang lainnya masih menyalahkan partisipan atas perceraian yang terjadi. Tapi partisipan tidak ingin terlalu menanggapi hal tersebut dan bersikap sewajarnya saja.

  b) Tidak adanya mekanisme psikologis

  Partisipan tidak menunujukkan adanya mekanisme psikologis. Pada saat menikah, ia lebih suka untuk memendam segala permasalahan rumah tangganya sehingga tidak diketahui orang lain. Sekarang partisipan lebih terbuka ketika menghadapi masalah. Jika ia memiliki masalah dan memendam perasaannya tersebut, anak-anaknya akan membantu agar partisipan mengeluarkan isi hatinya.

  Anak-anak partisipan terkadang mengingat kembali pertengkaran kedua orang tuanya. Ia pun baru menyadari betapa kejamnya perilaku mantan suaminya ketika mereka masih menikah. Namun respoden tidak merasa terbebani jika harus mengingat kembali kejadian yang menimpanya di masa lalu. Ia bahkan tertawa saat membicarakannya kepada peneliti. c) Tidak adanya rasa frustrasi

  Partisipan tidak menunjukkan adanya perasaan frustrasi. Ia menyatakan tidak ada gangguan yang dialaminya setelah bercerai, misalnya seperti gangguan tidur yang mengindikasikan rasa frustrasi. Ia malah merasa lebih tenang karena gangguan yang datang selama ini berasal dari mantan suaminya. Sebelumnya ketika masih menikah, partisipan kerap memikirkan pertengkarannya dengan mantan suami. Hal tersebut menjadi beban pikiran baginya.

  d) Pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri

  Partisipan memiliki pertimbangan rasional yang baik. Setelah bercerai, partisipan suka bermusyawarah dengan anak-anaknya sebagai pendekatan terhadap masalah. Partisipan kini dapat bertukar pikiran dengan anak-anak karena anak partisipan telah dewasa.

  Sebelum bermusyawarah, partisipan kerap mempertimbangkan langkah apa yang harus diambilnya. Permasalahan yang biasanya dihadapi oleh partisipan berkaitan dengan anak-anaknya. Untuk itu partisipan mengambil pertimbangan dengan menilai masalah yang dihadapinya, apakah bisa ia tangani sendiri atau apakah permasalahan tersebut perlu untuk diceritakan kepada anak partisipan yang lainnya.

  Partisipan juga mampu mengarahkan dirinya dengan baik. Ia tidak menceritakan permasalahan pernikahannya kepada teman-temannya karena ia merasa tidak perlu untuk melakukan itu. e) Mampu untuk belajar

  Permasalahan pernikahan yang dialami oleh partisipan membuatnya mampu untuk belajar. Ia kini lebih mengembangkan dirinya ketika menghadapi masalah. Ia menjadi pribadi yang lebih terbuka dan tidak lagi memendam perasaannya.

  Pelajaran yang didapat partisipan dari perceraian ini dibagikannya pula kepada anak-anaknya. Ia mengatakan kepada anaknya untuk selalu berterus terang atas apa yang dirasakan. Ia juga berpesan agar anak-anaknya jujur, terutama dalam hal keuangan keluarga. Hal ini dikarenakan ketika menikah ia tidak mengetahui pendapatannya suaminya dan kemudian berusaha untuk menanggulangi kekurangan biaya.

  Perceraian ini juga mengubah cara pandang partisipan terhadap orang lain. Selama ini ia menganggap bahwa jika ia baik maka semua orang juga baik. Namun kini ia tahu bahwa tidak semua orang akan membalas kebaikan yang ia berikan. Hal ini dialaminya sendiri setelah ia mencoba baik kepada mantan suaminya tetapi mantan suami malah menganggap bahwa kebaikan itu adalah sinyal untuk saling berbaikan.

  f) Memanfaatkan pengalaman masa lalu

  Setelah bercerai, partisipan belajar dari pengalaman masa lalunya. Ia kini tidak memiliki niat untuk menikah kembali. Ia merasa dirinya sudah tua dan tidak perlu untuk menikah lagi.

  Pengalamannya bercerai kini ia bagikan kepada anak-anaknya. Ia ingin untuk membagi pengalaman tersebut selama ia masih hidup sehingga anak-anaknya dapat mengambil contoh darinya. Ia selalu mengatakan kepada anak laki-lakinya untuk selalu sayang kepada istrinya walaupun rumah tangga mereka didera permasalahan ekonomi.

  Lain halnya kepada anak perempuan. Partisipan yang selalu menjadi tempat bercerita oleh anak-anaknya selalu menasehati mereka agar sabar jika menghadapi permasalahan rumah tangga. Ia juga tidak pernah menghakimi anak-anaknya sehingga mereka suka bercerita kepada partisipan.

  g) Sikap yang realistis dan objektif

  Walaupun mengalami pengalaman buruk dalam pernikahannya, partisipan tetap bersikap realistis dan objektif. Ia mau memaafkan kesalahan yang telah diperbuat oleh mantan suaminya. Ia bahkan bersedia untuk menjalin hubungan persaudaraan dengan mantan suaminya tersebut asal kehidupan pribadinya tidak lagi diusik.

  Partisipan juga tidak memutuskan tali persaudaraan pada keluarga mantan suami. Ia tetap bersilaturahmi ke rumah adik mantan suaminya.

  Hubungan kekeluargaan tersebut telah dibangun puluhan tahun karena sedari awal partisipan dan keluarga mantan suaminya telah tinggal di lingkungan yang berdekatan.

  Partisipan juga bersikap objektif dengan menceritakan seluruh permasalahan rumah tangganya dalam penelitian ini. Ia tidak keberatan untuk membagi kisahnya karena ia tahu nantinya penelitian ini digunakan dalam ranah pendidikan. Ia hanya berusaha membantu peneliti.

B. ANALISA DAN PEMBAHASAN PARTISIPAN

  Partisipan menjalani kehidupan pernikahannya dengan penuh konflik. Ia mengalami kekerasan verbal bahkan fisik yang dilakukan oleh mantan suaminya. ia menyatakan bahwa suaminya memiliki tempramen yang tinggi. Di lain pihak, partisipan tidak berani untuk melawan suaminya karena takut suaminya akan bertindak lebih kasar. Menurut Burgess dan Locke (1960) ketidaksesuaian tempramen yang dimiliki oleh pasangan suami istri dapat mengarah kepada perceraian.

  Permasalahan ekonomi juga termasuk ke dalam penyebab perceraian yang dikemukakan oleh Burgess dan Locke (1960). Burgess dan Locke menyatakan bahwa pasangan hendaklah memiliki kesamaan sikap dalam melihat tujuan dan peran ekonomi dalam keluarga. Hal ini juga dirasakan oleh partisipan. Ia mengatakan bahwa mantan suaminya bukanlah orang yang bertanggung jawab terutama dalam hal ekonomi keluarga. Pekerjaan suami sebagai pedagang dengan penghasilan yang tidak menentu menyulitkan partisipan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Untuk itu partisipan mencari cara dengan memakai uang pensiun orang tuanya untuk kebutuhan sehari-hari. Melihat penderitaan yang dialami ibunya, anak-anak partisipan pun menyarankan partisipan untuk bercerai.

  Setelah terjadinya perceraian, partisipan butuh untuk menyesuaikan diri sehingga dapat menjalani kehidupan barunya dengan lebih baik. Landis dan Landis (1960) menyatakan individu perlu menyesuaikan diri akibat permasalahan emosional akibat perceraian. Schneiders (1964) menjabarkan tujuh indikator penyesuaian diri yang normal. Ketujuh indikator tersebut adalah tidak adanya emosi yang berlebihan, tidak adanya mekanisme psikologis, tidak adanya rasa frustrasi, pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri, mampu untuk belajar, memanfaatkan pengalaman masa lalu, serta bersikap realistis dan objektif.

  Partisipan tidak mengalami emosi berlebihan pasca bercerai karena sebelum bercerai ia memang tidak memiliki perasaan terhadap mantan suaminya.

  Menurut Burgess dan Locke (1960) individu yang terikat secara emosional kepada pasangan, lebih bergantung, dan mengalami gangguan emosional setelah bercerai akan mengalami penyesuaian yang lebih sulit. Perasaan lega yang dialami partisipan karena ia tidak lagi memikirkan perkara dalam rumah tangganya. Selain itu partisipan merasa lega karena tidak lagi merasa berdosa. Sebelumnya ia merasa berdosa karena menolak suaminya untuk melakukan hubungan suami istri.

  Sebelum bercerai, partisipan selalu memikirkan permasalahan yang terjadi padanya. Kini setelah bercerai, ia lebih santai dalam menghadapi masalah, misalnya masalah dengan keluarga mantan suaminya. Beberapa anggota keluarga mantan suaminya masih mau untuk menjalin hubungan kekerabatan dengan partisipan, sedangkan beberapa orang lainnya masih menyalahkan partisipan atas perceraian yang terjadi. Tapi partisipan tidak ingin terlalu menanggapi hal tersebut dan bersikap sewajarnya saja. Schneiders (1964) mengatakan hal ini bukan berarti bahwa individu tidak memiliki emosi, tetapi ia lebih dapat mengendalikan dirinya ke arah yang lebih positif.

  Partisipan tidak menunjukkan adanya mekanisme psikologis. Schneiders (1964) mengemukakan penyesuaian yang normal dikarakteristikkan dengan tidak adanya mekanisme psikologis. Pendekatan langsung kepada masalah dinilai sebagai penyesuaian yang normal. Setelah bercerai partisipan lebih terbuka ketika menghadapi masalah. Kalaupun ia memiliki masalah dan memendam permasalahan tersebut, anak-anaknya akan membantu agar partisipan mengeluarkan isi hatinya.

  Anak-anak partisipan pun terkadang mengingat kembali pertengkaran kedua orang tuanya. Ia pun baru menyadari betapa kejamnya perilaku mantan suaminya ketika mereka masih menikah. Namun respoden tidak merasa terbebani jika harus mengingat kembali kejadian yang menimpanya di masa lalu. Ia bahkan tertawa saat membicarakannya kepada peneliti. Proses pengkajian ulang ini akan membantu individu untuk mengidealisasikan hubungannya dengan mantan pasangan (Burgess & Locke, 1960).

  Indikator selanjutnya dalam penyesuaian diri yang normal adalah tidak adanya rasa frustrasi. Menurut Schneiders (1964) frustrasi dapat mengganggu individu untuk mengatasi permasalahan secara normal. Partisipan tidak menunjukkan adanya perasaan frustrasi. Ia menyatakan tidak ada gangguan yang dialaminya setelah bercerai. Ia malah merasa lebih tenang karena gangguan yang datang selama ini berasal dari mantan suaminya. Sebelumnya ketika masih menikah, partisipan kerap memikirkan pertengkarannya dengan mantan suami. Hal tersebut menjadi beban pikiran baginya.

  Indikator yang keempat adalah pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri. Kemampuan individu untuk memikirkan dan memecahkan masalah dinilai Schneiders (1964) sebagai penyesuaian yang normal. Partisipan menunjukkan pertimbangan rasional yang baik. Setelah bercerai, partisipan suka bermusyawarah dengan anak-anaknya sebagai pendekatan terhadap masalah. Partisipan kini dapat bertukar pikiran dengan anak-anak karena anak partisipan telah dewasa. Hal ini juga sejalan dengan penyesuaian perceraian oleh Burgess dan Locke (1960) dimana berbicara dengan orang lain dapat melampiaskan emosi individu pasca bercerai.

  Sebelum bermusyawarah, partisipan kerap mempertimbangkan langkah apa yang harus diambilnya. Permasalahan yang biasanya dihadapi oleh partisipan berkaitan dengan anak-anaknya. Untuk itu partisipan mengambil pertimbangan dengan menilai masalah yang dihadapinya, apakah bisa ia tangani sendiri atau apakah permasalahan tersebut perlu untuk diceritakan kepada anak partisipan yang lainnya. Dalam mempertimbangkan sesuatu, lansia biasanya menggunakan waktu yang lebih lama daripada orang yang lebih muda. Selain itu lansia akan mengambil keputusan dengan lebih efektif jika permasalahannya sudah familiar baginya (Cavanaugh & Blanchard-Fields, 2006).

  Permasalahan pernikahan yang dialami oleh partisipan membuatnya mampu untuk belajar. Ia kini lebih mengembangkan dirinya ketika menghadapi masalah. Ia menjadi pribadi yang lebih terbuka dan tidak lagi memendam perasaannya. Perceraian ini juga mengubah cara pandang partisipan terhadap orang lain. Penyesuaian yang normal dilihat dari perkembangan diri yang meningkat setelah mengalami konflik (Schneiders, 1964).

  Indikator selanjutnya adalah memanfaatkan pengalaman masa lalu. Dalam proses perkembangan dan perubahan, memanfaatkan masa lalu merupakan suatu hal yang penting karena di sinilah individu dapat belajar (Schneiders, 1964). Setelah bercerai, partisipan belajar dari pengalaman masa lalunya. Ia kini tidak memiliki niat untuk menikah kembali. Ia merasa dirinya sudah tua dan tidak perlu untuk menikah lagi. Menurut Buckle (dalam Cavanaugh & Blanchard-Fileds, 2006) probabilitas wanita yang menjadi janda untuk menikah kembali akan menurun seiring bertambahnya usia.

  Pengalamannya bercerai kini ia bagikan kepada anak-anaknya. Ia ingin untuk membagi pengalaman tersebut selama ia masih hidup sehingga anak- anaknya dapat mengambil contoh darinya. Ia selalu mengatakan kepada anak laki- lakinya untuk selalu sayang kepada istrinya walaupun rumah tangga mereka didera permasalahan ekonomi. Sedangkan kepada anak perempuan ia selalu menasehati mereka agar sabar jika menghadapi permasalahan rumah tangga.

  Chinen (dalam Cavanaugh dan Blanchard-Field, 2006) menyatakan bahwa pengalaman hidup seseorang dalam mengatasi suatu permasalahan dapat menjadikannya sebagai orang yang bijaksana.

  Indikator terakhir penyesuaian yang normal adalah sikap yang realistis dan objektif (Schneiders, 1964). Sikap ini didapatkan dari pembelajaran di masa lalu dan pemikiran rasional. Dengan bersikap realistis dan objektif, individu dapat menilai permasalahan sebagaimana mestinya. Sikap ini dapat dilihat dalam diri partisipan. Ia mau memaafkan kesalahan yang telah diperbuat oleh mantan suaminya. Ia bahkan bersedia untuk menjalin hubungan persaudaraan dengan mantan suaminya tersebut asal kehidupan pribadinya tidak lagi diusik. Burgess dan Locke (1960) serta DeGenova (2008) menyatakan berhubungan dengan mantan pasangan merupakan salah satu bentuk penyesuaian setelah bercerai. Lebih lanjut DeGenova (2008) menerangkan jika semakin buruk hubungan dengan mantan pasangan, maka akan semakin sulit untuk menyesuaikan diri.

  Selain dengan mantan pasangan, menjaga hubungan dengan mantan keluarga pasangan juga merupakan salah satu bentuk penyesuaian seperti yang juga dikemukakan oleh DeGenova (2008). Wanita lebih suka menjaga hubungan dengan keluarga mantan pasangan dibandingkan pria, terutama jika ia mendapatkan hak asuh anak. hal ini jelas terlihat pada partisipan. Ia tetap bersilaturahmi ke rumah adik mantan suaminya. Ia mengatakan hubungan kekeluargaan tersebut telah dibangun puluhan tahun karena sedari awal partisipan dan keluarga mantan suaminya telah tinggal di lingkungan yang berdekatan.

  Berdasarkan indikator-indikator yang telah dijabarkan, dapat dilihat bahwa penyesuaian diri partisipan didukung oleh beberapa faktor seperti faktor lingkungan. Perceraian yang dialami partisipan mendapatkan dukungan penuh dari anak-anaknya. Setelah bercerai pun partisipan tetap tinggal di lingkungan yang sama dengan anak, cucu, serta makciknya sehingga partisipan tidak pernah merasakan kesepian ataupun memikirkan perceraiannya. Menjaga hubungan dengan anak dapat membantu individu mendapatkan dukungan praktis serta dukungan sosial-emosional untuk mengurangi stres pasca bercerai (DeGenova,

  2008). Selain itu menurut Burgess dan Locke (1960) wanita yang bercerai cenderung tinggal di suatu lingkungan dimana ia dapat berbagi cerita sehingga dapat melampiaskan emosi-emosinya pasca bercerai.

  Permasalahan pernikahan telah terjadi selama puluhan tahun sebelum akhirnya partisipan resmi bercerai. Ia sudah tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap suaminya jauh sebelum perceraian terjadi. DeGenova (2008) menyatakan bahwa pihak yang menginginkan perceraian dan tidak terikat secara emosional pada pasangan merasakan stres yang lebih rendah pasca bercerai.

  Selain faktor lingkungan, penyesuaian diri partisipan juga didukung oleh perkembangan dan kematangan intelektual maupun emosi yang dimilikinya.

  Partisipan juga menunjukkan kematangan emosi ketika ia merasa lebih santai dalam menghadapi masalah. Schneiders (1964) menyatakan pertumbuhan dan kematangan dapat membantu penyesuaian seiring meningkatnya tahap perkembangan seseorang. Ia pun menjelaskan bahwa kematangan emosional merupakan aspek yang paling penting dari semuanya.

  Tabel 3. Rekapitulasi Penyesuaian Diri Partisipan Pasca Bercerai

  Indikator Penyesuaian No Diri yang Normal Gambaran Penyesuaian Diri (Schneiders, 1964)

  1 Tidak adanya emosi Merasa lebih lega karena tidak lagi memikirkan perkara

  • yang berlebihan dalam rumah tangganya.
  • menolak suaminya untuk melakukan hubungan suami istri.

  Merasa lega karena tidak lagi merasa berdosa karena

  Lebih santai dalam menghadapi masalah

  • 2 Tidak adanya Lebih terbuka ketika menghadapi masalah.
  • mekanisme psikologis

  Tidak merasa terbebani jika harus mengingat kembali kejadian yang menimpanya di masa lalu.

  3 Tidak adanya rasa Tidak ada gangguan yang dialaminya setelah bercerai

  • frustrasi

  Merasa lebih tenang karena gangguan yang datang selama ini berasal dari mantan suaminya.

  4 Pertimbangan rasional Bermusyawarah dengan anak-anaknya sebagai

  • dan kemampuan pendekatan terhadap masalah. mengarahkan diri
  • diambilnya.

  Mempertimbangkan langkah apa yang harus

  • kepada teman-temannya karena ia merasa tidak perlu untuk melakukan itu.

  Tidak menceritakan permasalahan pernikahannya

  5 Mampu untuk belajar Menjadi pribadi yang lebih terbuka dan tidak lagi

  • memendam perasaannya.
  • terang atas apa yang dirasakan juga dalam hal keuangan keluarga.

  Mengatakan kepada anaknya untuk selalu berterus

  Mengubah cara pandang partisipan terhadap orang lain.

  • 6 Memanfaatkan Tidak memiliki niat untuk menikah kembali. Ia merasa
  • pengalaman masa lalu dirinya sudah tua dan tidak perlu untuk menikah lagi.
  • anaknya.

  Membagikan pengalaman bercerai kepada anak-

  7 Sikap yang realistis dan Mau memaafkan kesalahan yang telah diperbuat oleh

  • objektif mantan suaminya.
  • dengan mantan suaminya tersebut asal kehidupan pribadinya tidak lagi diusik.

  Bersedia untuk menjalin hubungan persaudaraan

  • mantan suami.

  Tidak memutuskan tali persaudaraan pada keluarga

  • tahu nantinya penelitian ini digunakan dalam ranah pendidikan.

  Tidak keberatan untuk membagi kisahnya karena ia

1. Tidak adanya emosi berlebihan

  • Merasa lega
  • Lebih santai dalam menghadapi masalah
  • - Lebih terbuka dalam menghadapi masalah
  • - Tidak merasa terbebani jika mengingat kembali pernikahannya

  6. Memanfaatkan pengalaman masa lalu

  I Universitas Sumatera Utara

  I R

  I A N D

  P E N Y E S U A

  5. Mampu untuk belajar

  Faktor yang Mempenga- ruhi:

  7. Sikap yang realistis dan objektif

  3. Tidak adanya rasa frustrasi

  2. Tidak adanya mekanisme psikologis

  Penyebab Perceraian:

  Perceraian: Tidak merasakan apa-apa setelah bercerai

  • Kekerasan dalam rumah tangga
  • Bermusyawarah - Mempertimbangkan setiap langkah yang akan diambil
  • Dukungan yang didapatkan dari lingkungan
  • Perkembangan dan kematangan emosional
  • Menjadi pribadi yang lebih terbuka

  Mempengaruhi

  Gambar 1. Skema Gambaran Penyesuaian Diri Partisipan Pasca Bercerai Keterangan:

  • Tidak mengalami gangguan setelah bercerai
  • Lebih tenang karena selama ini gangguan yang dirasakan berasal dari mantan suaminya

4. Pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri

  • Sudah lama berpisah sebelum akhirnya memutuskan untuk bercerai

  • Mengubah cara pandang terhadap orang lain
  • Tidak ingin untuk menikah kembali
  • Membagikan pengalaman bercerai kepada anak-anaknya

  • Mau memaafkan kesalahan mantan suaminya
  • Masih mau menganggap mantan suami seperti saudara
  • Masih berhubungan baik dengan keluarga mantan suami.
  • Bersikap objektif dengan membagikan kisah perceraiannya kepada peneliti

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini akan menguraikan kesimpulan yang didapatkan melalui hasil

  penelitian. Selanjutnya akan dikemukakan saran praktis dan metodologis yang mungkin berguna untuk penelitian selanjutnya.

A. KESIMPULAN Partisipan penelitian memiliki penyesuaian diri yang baik pasca bercerai.

  Berdasarkan indikator penyesuaian diri yang normal, partisipan tidak memiliki emosi berlebihan setelah bercerai karena ia merasa lega setelah sebelumnya ia merasa terganggu memikirkan perkara rumah tangganya serta tidak lagi merasa berdosa untuk menolak ajakan suami melakukan hubungan suami istri. Partisipan juga merasa lebih tenang dan merasa tidak ada gangguan di dalam hidupnya karena gangguan yang ia rasakan selama ini berasal dari mantan suaminya. Ia juga lebih santai, terbuka, dan tidak memendam perasaannya lagi dalam menghadapi permasalahan. Partisipan pun memiliki pertimbangan rasional yang baik dengan selalu mempertimbangkan langkah apa yang harus diambil dalam setiap permasalahan. Kemampuan partisipan untuk belajar dari perceraiannya ini juga dibagikannya kepada anak-anaknya agar mereka selalu berterus terang kepada pasangannya masing-masing. Selain membagikan pengalamannya bercerai, partisipan juga memanfaatkan pengalamannya dengan memutuskan tidak ingin

  94 menikah kembali. Partisipan memiliki sikap yang realistis dengan mau memaafkan perbuatan mantan suaminya. Ia pun bersedia menjalin hubungan persaudaraan dengan mantan suaminya. Partisipan bersikap objektif dengan selalu menjaga hubungan baik dengan keluarga mantan suami. Ia juga objektif melihat perceraiannya karena ia tidak keberatan untuk menceritakan permasalahan perceraiannya kepada peneliti untuk tujuan pendidikan. Penyesuaian diri yang dilakukan oleh partisipan didukung oleh faktor perkembangan dan kematangan emosional serta lingkungan keluarga yang terus memberikannya dukungan secara emosional.

B. SARAN

  Berdasarkan hasil yang didapatkan dari penelitian ini, maka peneliti memberikan beberapa saran yang berkaitan dengan penyesuaian diri lansia pasca bercerai.

1. Saran Praktis a.

  Lansia yang bercerai Bagi lansia yang telah bercerai diharapkan untuk tetap menjaga hubungan dengan orang-orang terdekatnya. Perceraian dapat menimbulkan dampak seperti rasa sedih maupun kesepian sehingga lansia sebaiknya mencari dukungan melalui orang terdekatnya, misalnya keluarga, atau dengan cara menikah kembali. b.

  Lingkungan Dukungan secara sosial maupun emosional dibutuhkan untuk membantu lansia mengatasi permasalahan setelah bercerai. Keluarga sebagai lingkungan terdekat lansia diharapkan dapat selalu mendampingi lansia setelah bercerai agar mengurangi dampak-dampak perceraian seperti kesepian.

2. Saran Penelitian Lanjutan

  Kedua partisipan dalam penelitian ini adalah pihak penggugat yang memulai proses perceraian sehingga peneliti selanjutnya diharapkan dapat memperkaya data-data dengan memfokuskan penelitian pada lansia yang menjadi pihak tergugat dalam perceraian untuk melihat perbedaan kondisi psikologis yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

  Abrahms, 2012, Life After Divorce, diakses pada tanggal 03 Juli 2013,

  

  Amato, P. R. & Previti, D., 2003, People’s reasons for divorcing: Gender, social class, the life course, and adjustment, Journal of Family Issues, Vol. 24 No.

  5, Juli 2003. Brown, S. L. & Lin, I. F., 2012, The gray divorce revolution: Rising divorce

  among middle-aged and older adults, 1990-2009, Bowling Green State University: National Center for Family and Marriage Research.

  Burgess, E.W. & Locke, H.J., 1960, The family: From institution to companionship, New York: American Book Company.

  Calhoun, J.F. & Acocella, J.R., 1990, Psikologi tentang penyesuaian dan

  hubungan kemanusiaan (edisi ketiga), alih bahasa: R.S. Satmoko, Semarang: IKIP Semarang Press.

  Cavanaugh, J. C. & Blanchard-Fields, F., 2006, Adult development and aging, California: Thomson Wadsworth

  Colarusso, C.A. & Nemiroff, R.A., 1981, Adult development: A new dimensions in psychodinamic theory and practice, New York: Plenum Press.

  DeGenova, M. K., 2008, Intimate relationships, marriages, and families (7th ed.), New York: McGraw-Hill, Inc.

  Dewi, D. K., 2011, Penyesuaian diri pada wanita dewasa muda pasca bercerai, Universitas Gunadarma: Faklutas Psikologi.

  97 Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan Rentan BKKBN, 2012,

  Pembinaan sosial kemasyarakatan bagi lansia, Jakarta:, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.

  Fachrina & Anggraini, N., 2007, Penyesuaian kembali (readjustment) peran dan

  hubungan sosial pasangan yang bercerai, Universitas Andalas: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

  Hurlock, E. B., 1996, Psikologi perkembangan (ed. kelima), Jakarta: Penerbit Erlangga.

  Indriana, Y., Desiningrum, D. R., & Kristiana, I. K., 2011, Religiositas, keberadaan pasangan, dan kesejahteraan sosial (social well being) pada lansia binaan PMI cabang Semarang, Jurnal Psikologi Undip, Vol. 10, No. 2, Oktober 2011.

  Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010, Profil penduduk lanjut usia 2009, Jakarta: Komisi Nasional Lanjut Usia.

  Kurniawaty, L.Y.S., 2003, Hubungan antara kecerdasan emosi dengan

  kemampuan penyesuaian diri pada remaja, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta: Fakultas Psikologi.

  Landis, J. J. & Landis, M. G., 1960, Personal adjustment marriage and family living, Prentice-Hall.

  Lindgren, H. C., 1959, Psychology of personal and social adjustment, American Book.

  Matlin, M. W., 2008, The psychology of women (sixth ed.), California: Thomson Wadsworth.

  Nisa, F., 2009, Penyesuaian perceraian pada wanita desa yang bercerai, Universitas Sumatera Utara: Fakultas Psikologi.

  108 Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D., 2007, Human development (10th ed.), New York: McGraw-Hill, Inc.

  Pengadilan Agama Medan, 2013, Pengadilan agama Medan rekap usia, diakses pada tanggal 11 Juni 201 Pengadilan Agama Medan, 2013, Pengadilan agama Medan rekap faktor

  penyebab perceraian tahun 2013, diakses pada tanggal 11 Juni 2014,

  Poerwandari, E. K., 2007, Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku

  manusia, Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

  Republika, 2013, Utang Tingkatkan Perceraian Pasutri Lansia, diakses pada 12 Maret

  

  Rivki, 2013, 340 Ribuan Pasangan Cerai di 2012, Istri Lebih Banyak Menggugat, diakses pada tanggal 03 Juli 2013,

  

  Schneiders, A.A., 1964, Personal adjustment and mental health, New York : Holt, Reinhart & Winston Inc.

  Stewart, C. J. & Cash, W. B. J., 2003, Interviewing: Priciples and practices, New York: McGraw-Hill, Inc.

  Wahyuningsih, H., 2007, Penyesuaian sosial janda akibat perceraian, Universitas Muhammadiyah Malang.

  Widarti, W. S., 2012, Penyesuaian diri pada perempuan pasca perceraian di

  Kabupaten Banjarnegara, Universitas Negeri Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan.

  109 Wijaya, N., 2007, Hubungan antara keyakinan diri akademik dengan penyesuaian

  diri siswa tahun pertama sekolah asrama SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan, Universitas Diponegoro Semarang: Program Studi Psikologi

  Fakultas Kedokteran. Yadegaran, J., 2012, Adjusting After 'Gray Divorce', diakses pada tanggal 20 Mei

   Contra Costa Times

  110

Dokumen baru