Feedback

Peranan Komunikasi Antarpribadi Dalam Membentuk Konsep Diri (Studi Kasus Tentang Layanan Konseling Individual Konselor Terhadap Pembentukan Konsep Diri Siswa/i Tunarungu Di SLB – B Karya Murni Kota Medan)

Informasi dokumen
PERANAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI DALAM MEMBENTUK KONSEP DIRI (Studi Kasus Tentang Layanan Konseling Individual Konselor Terhadap Pembentukan Konsep Diri Siswa/i Tunarungu Di SLB - B Karya Murni Kota Medan) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Sarjana (S-1) Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Ilmu Komunikasi Disusun Oleh : OLOAN HENDRA RICKI SILALAHI 090922058 090922058 DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI EKSTENSI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Penelitian ini berjudul Peranan Komunikasi Antarpribadi Dalam Membentuk Konsep Diri (Studi Kasus Tentang Layanan Konseling Individual Konselor Terhadap Pembentukan Konsep Diri Siswa/Siswi Tunarungu Di SLB – B Karya Murni Kota Medan). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan membahas peranan komunikasi antarpribadi dalam proses konseling antara siswa/siswi dengan konselor dalam membentuk konsep diri siswa/siswi tunarungu di SLB – B Karya Murni Jl. H.M. Jhoni No. 66 A Medan, berikut untuk mengetahui teknik-teknik konseling yang digunakan, masalah yang menjadi fokus layanan konseling serta bentuk solusi untuk mengatasi masalah siswa/siswi. Model komunikasi yang digunakan adalah model komunikasi menurut Wilbur Schramm. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan analisa data secara kualitatif tanpa menjelaskan hubungan antar variabel atau menguji hipotesis. Penelitian ini tidak menggunakan sampel tetapi menggunakan subjek penelitian atau informan. Subjek penelitian dalam penelitian ini ada 4 orang yang dipilih menurut sejumlah kriteria tertentu. Pengumpulan data dilaksanakan dengan cara melakukan wawancara mendalam (indepth interview) dan observasi terhadap subjek penelitian tersebut. Analisis data dilakukan secara kualitatif yaiut dengan mengaitkan komponen komunikasi antarpribadi konselor dalam proses konseling dengan komponen pembentukan konsep diri. Temuan studi ini menunjukkan bahwa layanan konseling konselor dengan siswa/siswi tunarungu berperan besar dalam membentuk konsep diri yang positif siswa/siswi tunarungu. Hal ini terjadi karena adanya suasana konseling yang dekat dan akrab dalam berkomunikasi. Temuan penelitian juga menemukan bahwa layanan konseling yang telah diberikan kepada siswa/siswi tunarungu sudah cukup baik. Terlihat bahwa para siswa/siswi tersebut menunjukkan konsep diri yang wajar. Mereka menyadari keadaan cacatnya, tetapi keadaan cacatnya tersebut tidak melemahkan mereka. Komunikasi antarpribadi yang efektif telah memunculkan terbentuknya konsep diri siswa/siswi tunarungu seperti terbuka pada pengalaman, tidak bersikap defensif, kesadaran yang cermat, penghargaan diri tanpa syarat dan dapat menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan anugerah dan kasih karunia Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Peranan Komunikasi Antarpribadi Dalam Membentuk Konsep Diri (Studi Kasus Tentang Layanan Konseling Individual Konselor Terhadap Pembentukan Konsep Diri Siswa/i Tunarungu Di SLB – B Karya Murni Kota Medan)” yang merupakan salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Sosial pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Sumatera Utara. Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis mendapat banyak bimbingan dan bantuan serta dukungan semangat dari berbagai pihak yang sangat bermanfaat. Secara khusus penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua terkasih, ayahanda L. Parlindungan Silalahi dan Ibunda T. Juliana Sinaga untuk setiap dukungan moril dan materil bahkan dukungan doa yang tiada habisnya kepada penulis. Terima kasih juga kepada adinda Rina Adriani Silalahi, Amd dan Shanty Khristifany Silalahi yang selalu memberikan semangat selama penyelesaian skripsi ini. Dengan segala kerendahan hati, tidak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Drs. Badaruddin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. 2. Ibunda Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A selaku Ketua Departemen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, dan juga selaku Dosen Pembimbing yang dengan penuh kesabaran membimbing penulis selama proses pengerjaan skripsi ini. Terima kasih atas segala bantuan dan dukungannya yang sangat bermanfaat bagi penulis. Universitas Sumatera Utara 3. Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku Sekretaris Departement Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. 4. Bapak Dr. Iskandar Zulkarnain, M. Si selaku dosen wali penulis. Terima kasih untuk setiap arahan dan bimbingan selama masa perkuliahan. 5. Seluruh Dosen di Departemen Ilmu Komunikasi yang pernah membimbing penulis selama masa perkuliahan. 6. Kak Icut, kak Ros dan kak Maya yang membantu penulis dalam menyelesaikan urusan administrasi. 7. Ibu Florida Pardosi, S.Pd selaku Kepala Sekolah SLB – B Karya Murni Medan, yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di sekolah ini. 8. Ibu F. Sitohang, Roma, Mona, Jonathan, Hizkia, Wylis dan Yohanes yang sudah menjadi informan juga seluruh siswa/i SLB – B Karya Murni Medan, terima kasih untuk kerja samanya. Bersyukur sempat mengenal kalian. 9. Ayahanda R. Silaen dan Ibunda P. Pangaribuan, terima kasih untuk setiap dukungan doa, perhatian dan semangat yang boleh penulis terima selama ini. 10. Kepada temanku Tetti, Lamhot, Benget, Mila, Arief, Seppianta, Wahyu, Bang O.K. Harianda, Hera, Fitri, Kak Vera, Ira, Nuke, Endah, Maya, Zaki dan semua teman-teman Ilmu Komunikasi Ekstensi Angkatan 2009 yang telah membantu dan mendukung penulis. 11. Teman-teman Batch 90 Telkomsel Regional Medan Ancha, Desy, Rany, Dody, Fiqi dan Eka. 12. Ibunda dr. Ulfah Mahidin, SpPK Selaku Pimpinan di Laboratorium R.S. Martha Friska, Medan. Bu Tety, Bu Verly, kak Dede, Ajeng, Hotni, Ari, Elfida dan seluruh rekan kerja penulis di Laboratorium R.S. Martha Friska Medan. 13. Semua pihak yang telah mendukung penulis dalam penyelesaian pendidikan dan skripsi ini, yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Kiranya Tuhan Yang Maha Esa membalaskan segala budi baik yang boleh penulis terima selama ini. Universitas Sumatera Utara Peneliti menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengaharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi pembacanya. Medan, Agustus 2011 Penulis Oloan Hendra R. Silalahi NIM: 090922058 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI ABSTRAKSI . i KATA PENGANTAR . ii DAFTAR ISI . v DAFTAR TABEL. vii DAFTAR GAMBAR . viii DAFTAR LAMPIRAN. ix BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah. 1 I.2 Perumusan Masalah . 7 I.3 Pembatasan Masalah. 7 I.4 Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian . 8 I.4.1 Tujuan Penelitian . 8 I.4.2 Manfaat Penelitian . 8 I.5 Kerangka Teori . 9 I.5.1 Komunikasi . 10 I.5.2 Komunikasi Antarpribadi . 10 I.5.3 Teori Pengungkapan Diri (Self Disclosure). 13 I.5.4 Komunikasi Verbal dan Non Verbal. 13 I.5.5 Teori Interaksi Simbolik . 15 I.5.6 Konsep Diri . 16 I.5.7 Konseling Individual . 18 I.5.8 Tunarungu . 20 I.6 Kerangka Konsep . 21 I.7 Operasionalisasi Konsep . 21 1.8 BAB II II.1 Defenisi Operasional Variabel. 24 URAIAN TEORITIS Komunikasi .27 II.1.1. Tujuan Komunikasi. 30 II.1.2. Fungsi Komunikasi. 30 II.1.3. Unsur-unsur Komunikasi. 31 II.2 Komunikasi Antarpribadi . . 32 II.2.1 Karakteristik Komunikasi Antarpribadi. 33 II.3.2 Tujuan Komunikasi Antarpribadi. 37 Universitas Sumatera Utara II.3 Teori Pengungkapan Diri (self disclosure). 39 II.4 Komunikasi Verbal dan Non Verbal. 45 II.4.1 Karakteristik Komunikasi Non Verbal. 46 II.4.2 Kategori Komunikasi Non Verbal . 47 II.5 Teori Interaksi Simbolik . 48 II.6 Konsep Diri .52 II.6.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri. 54 II.6.2 Dimensi-Dimensi Dalam Konsep Diri. 56 II.6.3 Perkembangan Konsep Diri. 58 II.7 Konseling Individual. 59 II.7.1 Ciri-ciri Konseling Individual. 61 II.7.2 Karakteristik Hubungan Konseling Individual . II.8 Tunarungu 61 .63 II.8.1 Pengertian Tunarungu. 63 II.8.2 Faktor-Faktor Penyebab Ketunarunguan. 64 II.8.3 Karakteristik Tunarungu. 65 BAB III III.1 METODOLOGI PENELITIAN Deskripsi Lokasi Penelitian. 67 III.1.1 Sejarah Singkat SLB – B Karya Murni . 67 III.1.2 Profil SLB – B Karya Murni . 71 III.1.3 Program Kerja SLB – B Karya Murni . 74 III.2 Metode Penelitian. 75 III.3 Lokasi Penelitian .78 III.4 Subjek Penelitian .78 III.5 Teknik Pengumpulan Data . 79 III.6 1. Penelitian Lapangan (Field Research) . 79 2. Penelitian Kepustakaan (Library Research). 80 Teknik Analisis Data . 80 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Pelaksanaan Pengumpulan Data di Lapangan . 83 IV.2 Teknik Pengolahan Data . 84 IV.3 Analisis Data Kualitatif. 84 IV.3.1Informan I. 86 IV.3.2Informan II . 92 IV.3.3Informan III . 98 Universitas Sumatera Utara IV.3.4Informan IV . 104 IV.4 BAB V Pembahasan Hasil Penelitian. 84 KESIMPULAN DAN SARAN V.1 Kesimpulan 111 V.2 Saran .113 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL Tabel Hal 1 Konsep Operasional . 22 2 Luas Tanah dan Bangunan SLB – B Karya Murni . 72 3 Jumlah Siswa/i Berdasarkan Jenis Kelamin . 73 4 Jumlah Siswa/i Berdasarkan Jenjang Pendidikan . 73 5 Jumlah Siswa/i Berdasarkan Agama . 74 6 Karakteristik Informan . 74 DAFTAR GAMBAR Gambar Hal 1 Jendela Johari . 40 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Transkrip Wawancara Surat Izin Penelitian Lembar Catatan Bimbingan Skripsi Biodata Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Penelitian ini berjudul Peranan Komunikasi Antarpribadi Dalam Membentuk Konsep Diri (Studi Kasus Tentang Layanan Konseling Individual Konselor Terhadap Pembentukan Konsep Diri Siswa/Siswi Tunarungu Di SLB – B Karya Murni Kota Medan). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan membahas peranan komunikasi antarpribadi dalam proses konseling antara siswa/siswi dengan konselor dalam membentuk konsep diri siswa/siswi tunarungu di SLB – B Karya Murni Jl. H.M. Jhoni No. 66 A Medan, berikut untuk mengetahui teknik-teknik konseling yang digunakan, masalah yang menjadi fokus layanan konseling serta bentuk solusi untuk mengatasi masalah siswa/siswi. Model komunikasi yang digunakan adalah model komunikasi menurut Wilbur Schramm. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan analisa data secara kualitatif tanpa menjelaskan hubungan antar variabel atau menguji hipotesis. Penelitian ini tidak menggunakan sampel tetapi menggunakan subjek penelitian atau informan. Subjek penelitian dalam penelitian ini ada 4 orang yang dipilih menurut sejumlah kriteria tertentu. Pengumpulan data dilaksanakan dengan cara melakukan wawancara mendalam (indepth interview) dan observasi terhadap subjek penelitian tersebut. Analisis data dilakukan secara kualitatif yaiut dengan mengaitkan komponen komunikasi antarpribadi konselor dalam proses konseling dengan komponen pembentukan konsep diri. Temuan studi ini menunjukkan bahwa layanan konseling konselor dengan siswa/siswi tunarungu berperan besar dalam membentuk konsep diri yang positif siswa/siswi tunarungu. Hal ini terjadi karena adanya suasana konseling yang dekat dan akrab dalam berkomunikasi. Temuan penelitian juga menemukan bahwa layanan konseling yang telah diberikan kepada siswa/siswi tunarungu sudah cukup baik. Terlihat bahwa para siswa/siswi tersebut menunjukkan konsep diri yang wajar. Mereka menyadari keadaan cacatnya, tetapi keadaan cacatnya tersebut tidak melemahkan mereka. Komunikasi antarpribadi yang efektif telah memunculkan terbentuknya konsep diri siswa/siswi tunarungu seperti terbuka pada pengalaman, tidak bersikap defensif, kesadaran yang cermat, penghargaan diri tanpa syarat dan dapat menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Komunikasi menjadi aktivitas yang tidak terelakkan dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia. Hampir setiap saat kita bertindak dan belajar dengan dan melalui komunikasi. Komunikasi merupakan medium penting bagi pembentukan atau pengembangan pribadi dan untuk kontak sosial. Melalui komunikasi seseorang tumbuh dan belajar, menemukan diri sendiri dan orang lain, bergaul, bersahabat, mencintai atau mengasihi orang lain dan sebagainya. Komunikasi merupakan penyampaian informasi dan pengertian dari seorang kepada orang lain. Komunikasi akan berhasil jika adanya pengertian serta kedua belah pihak saling memahaminya. Dengan kata lain, komunikasi sangat penting, seperti halnya dengan bernafas. Tanpa komunikasi tidak akan ada hubungan dan kesepian dalam menjalani aktivitas. Ada beberapa bentuk komunikasi yang kita kenal, yaitu: a. Komunikasi Personal (personal communication) b. Komunikasi Kelompok c. Komunikasi Organisasi (organization communication) d. Komunikasi Massa (mass communication) a) Komunikasi Personal (personal communication) Terdiri dari komunikasi intra personal (intrapersonal communication) dan komunikasi antar personal (interpersonal communication) b) Komunikasi Kelompok 1. Komunikasi kelompok kecil (small group communication) terdiri dari ceramah, forum, diskusi dan seminar. 2. Komunikasi kelompok besar (large group communication) terdiri terjadi dalam suasana keakraban (intimate). 2. Bersifat afek. Afek adalah perilaku-perilaku emosional, sikap dan kecenderungankecenderungan, yang didorong oleh emosi. Afek hadir karena adanya keterbukaan diri (disclosure) klien, keterpikatan, keasyikan diri (self absorbed) dan saling sensitif satu sama lain. 3. Integrasi pribadi. Terdapat ketulusan, kejujuran dan keutuhan antara konselor-klien. 4. Persetujuan bersama. Ada komitmen (keterikatan) antara kedua belah pihak. 5. Kebutuhan. Hubungan konseling akan berhasil bila klien datang atas dasar kebutuhannya. 6. Struktur. Proses konseling (bantuan) terdapat struktur karena adanya keterlibatan konselor dan klien. Universitas Sumatera Utara 48 7. Kerjasama. Jika klien bertahan (resisten) maka ia menolak dan tertutup terhadap konselor. Akibatnya, hubungan konseling akan macet. Begitu juga sebaliknya. 8. Konselor mudah didekati, klien merasa aman. Faktor iman dan taqwa sangat mendukung terhadap kehidupan emosional konselor. 9. Perubahan. Tujuan akhir dari hubungan konseling adalah perubahan positif dimana si klien menjadi lebih sadar dan memahami diri, mendapatkan cara-cara terbaik untuk berbuat/merencanakan kehidupannya menjadi lebih dewasa dan pribadinya terintegrasi. Perubahan internal dan ekternal terjadi di dalam sikap dan tindakan serta persepsi terhadap diri, orang lain dan dunia (Willis, 2004:41-44). Ada beberapa hal yang perlu dipelihara dalam hubungan konseling yakni: a) Kehangatan, artinya konselor membuat situasi hubungan konseling itu demikian hangat bergairah, bersemangat. Kehangatan disebabkan adanya rasa bersahabat, tidak formal, serta membangkitkan semangat dan rasa humor. b) Hubungan yang empati, yaitu konselor merasakan apa yang dirasakan klien, dan memahami akan keadaan diri serta masalah yang dihadapinya. c) Keterlibatan klien, yaitu terlihat klien sungguh-sungguh mengikuti proses konseling dengan jujur mengemukakan persoalannya, perasaannya, dan keinginannya. Selanjutnya dia bersemangat mengemukakan ide, alternatif dan upaya-upaya. Universitas Sumatera Utara 49 Dalam hubungan konseling pada prinsipnya ditekankan bagaimana konselor mengembangkan hubungan konseling yang rapport (akrab) dan dengan memanfaatkan komunikasi verbal dan non verbal. Rasa kebersamaan yang diciptakan konselor akan membuat jarak antara dia dengan klien menjadi dekat. Keterlibatan klien dalam proses konseling ditentukan oleh faktor keterbukaan dirinya di hadapan konselor. Jika klien diliputi keengganan dan resistensi, maka dia tidak akan jujur mengeluarkan perasaannya. II.5 Konsep Diri II.5.1 Pengertian Konsep Diri Menurut Dayakisni (2003:65), konsep diri adalah keyakinan yang dimiliki individu tentang atribut (ciri-ciri/sifat). Sedangkan Rakhmat (1989:112) menyatakan konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri kita. Pearson et.al. (Tubbs,1996:42) berpendapat bahwa konsep diri adalah kesan yang relatif stabil mengenai diri sendiri, tidak hanya mencakup persepsi mengenai karakteristik fisik, melainkan juga penilaian diri mengenai apa yang pernah dicapai, yang sedang dijalani, dan apa yang ingin dicapai. Konsep diri tumbuh melalui umpan balik yang diterima dari orang-orang di sekitar kita. Konsep diri berkembang melalui hubungan dan interaksi dengan orang lain. Menurut Carl R. Rogers, konsep diri adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Universitas Sumatera Utara 50 II.5.2 Teori Rogers/teori diri (Self Theory) Teori Rogers atau teori diri adalah teori yang berpusat pada pribadi, yang ditemukan oleh Carl Ransom Rogers. Teori ini pada dasarnya memberikan tekanan yang kuat pada pengalaman-pengalaman sang pribadi, perasaan-perasaan, nilai-nilainya dan semua yang teringkas dalam ekspresi “kehidupan batin” (Hall, 1993:126). Rogers yakin bahwa dalam diri setiap orang terdapat potensi-potensi untuk menjadi sehat dan tumbuh secara kreatif. Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, pengagungan dan cinta dari irang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard. Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi seutuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai individu, sehingga ia tidak bersifat defensif, namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan. Rogers memandang manusia sebagai bentuk-bentuk dari konsep dirinya (self concept) dan pengalaman di satu sisi dan interpretasinya tentang stimulus lingkungan pada sisi yang lain. Inilah tingkatan kongruensi antara faktor-faktor tersebut yang mempengaruhi perluasan aktualisasi diri yang terjadi. Rogers beragumentasi bahwa perubahan-perubahan lama persepsi diri dan persepsi atas realitas menghasilkan perubahan yang serentak dalam perilaku dan hal itu memberikan kondisi psikologis tertentu bagi seseorang, sehingga mempunyai kapasitas untuk mereorganisasi bidang persepsinya. Termasuk bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri, sehingga menjadi individu yang lebih otonom, spontan dan percaya diri (Graham, 2005:92-93). Universitas Sumatera Utara 51 Selanjutnya teori ini banyak digunakan dalam hubungan konseling yang berpusat pada klien terapi (client-centered therapy). Ciri utama konseptualisasi dari proses terapeutik ini adalah bahwa apabila para klien mempersepsikan bahwa para ahli terapi memiliki “unconditional positive regard” (penghargaan positif tanpa syarat) terhadap mereka dan suatu pemahaman empatik terhadap kerangka acuan internal (internal frame of reference) mereka, maka proses perubahan mulai bergerak. Apabila keselarasan yang bulat tercapai, maka klien akan menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya (Hall, 1993:127-128). Menurut Rogers, ada lima sifat khas seseorang yang berfungsi sepenuhnya (fully human being): 1. Keterbukaan pada pengalaman. Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua pengalaman dengan fleksibel, sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan demikian, ia akan mengalami banyak emosi baik yang positif maupun yang negatif. Seseorang akan cenderung mencek pengalaman-pengalaman masa lalu yang dilambangkan dengan dunia sebagaimana adanya. Uji terhadap kenyataan ini memberikan orang pengetahuan yang dapat diandalkan tentang dunia, sehingga orang dapat bertingkah laku secara realistis. 2. Tidak adanya sikap defensif. Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap pengalamannya dan bersikap realistis, sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru dan selalu berubah serta cenderung menyesuaikan diri sebagai respon atas pengalaman selanjutnya. Universitas Sumatera Utara 52 3. Kesadaran yang cermat. Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang dirasakannya benar (timbul seketika dan intuitif), sehingga ia dapat mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik. 4. Penghargaan diri tanpa syarat. Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan terhadap diri sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri-ciri beringkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh dan berkembang sebagai respon atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitarnya. Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa adanya paksaan atau rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang bebas memiliki suatu perasaan yang berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya masa depan bergantung pada dirinya sendiri, tidak ada peristiwa di masa lampau, sehingga ia dapat melihat sangat banyak pilihan dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya. 5. Hubungan yang harmonis dengan orang-orang lain. Perubahan tingkah laku (self concept) akan mendorong seseorang berinteraksi atau menjalin hubungan dengan orang lain sebagai dasar pemenuhan akan kebutuhan atas pengakuan orang lain (Hall, 1993:128). Universitas Sumatera Utara 53 II.6 Hubungan Komunikasi Layanan Konseling Individual dengan Pembentukan Konsep Diri Sebagaimana telah dijabarkan dalam uraian-uraian di atas, bahwa komunikasi layanan konseling individual adalah salah satu bentuk komunikasi yang paling efektif dalam mengubah sikap, pendapat serta perilaku seseorang. Hal ini dikarenakan di dalam konseling individual menggunakan komunikasi hubungan manusiawi/insani yang memiliki proses siklus komunikasi antara pemberi dan penerima pesan yang berlangsung terus menrus sejalan dengan berlalunya waktu, dimana proses itu menciptakan hubungan sebagai hasil dari setiap interaksi. Dalam penelitian ini pemberi pesan adalah konselor dan penerima pesan adalah klien tunanetra. Komunikasi layanan konseling individual yang bersifat dialogis (berupa percakapan) ini terdapat pandangan transaksional, dimana penekanan pada derajat keterlibatan/keikutsertaan antara konselor dan klien dia, dia akan menerimanya dengan baik, tetapi ada juga orang yang memperhatikan nilai-nilai dari luar, yang menyebabkan diri dia jadi pengikut pendapat orang. Arliza juga mengatakan bahwa keluarga berperan penting dalam menentukan pembentukan konsep diri remaja. Seperti yang dikatakannya, seseorang tau yang mana yang benara, dan yang mana yang salah adalah dari keluarga. Orang tua adalah peran utama dalam keluarga untuk mendidik anak agar memahami nilai-nilai yang ada dalam dirinya. Seorang anak menilai suatu hal itu baik meniru dari keluarganya yang mengatakan itu memang baik. Universitas Sumatera Utara Latar belakang keluarga juga sangat berpengaruh dalam pembentukan konsep diri tersebut, walaupun tidak semua anak yang memiliki keluarga yang kurang harmonis memiliki konsep diri yang negatif. Namun memang kebanyakan latar belakang keluarga yang kurang harmonis, membentuk konsep diri yang negatif. Ini di karenakan faktor lingkungan keluarga yang memaksa anak remaja memilih sendiri apa yang dia suka tanpa tau pendapat dari keluarganya bahwa itu baik atau buruk. Jadi ketika suatu kondisi keluarga yang sudah tidak kondusif lagi, remaja akan membentuk suatu konsep diri yang dia sukai. Masyarakat sendiri akan dapat menilai sendiri dan penilaian itu juga akan berpengaruh pada pembentukan konsep diri tersebut. Bahkan anak akan mendapat kesimpulan sendiri akan kejadian-kejadian tersebut. Komunikasi antarpribadi orang tua terhadap remaja itu sendiri sangat penting dalam suatu lingkungan keluarga. Komunikasi dari orang tua ke anak memang memegang peranan penting dalam pertumbuhan anak. Disinlilah seharusnya orang tua membimbing anaknya agar anak mengetahui bahwa mana yang benar dan mana yang salah. Penyampaian dalam keluarga juga sangat berpengaruh dalam pembentukan konsep diri. Orang tua yang otoriter, yang mengatakan bahwa A haruslah A, itu akan berdampak sama pada anak yang akan menjadikannya keras dan menilai A ya memang harus A. Berbeda dengan orang tua yang tidak otoriter yang memberikan pilihan pada anaknya untuk memilih. Dampak yang terjadi pada anaknya tersebut juga akan berbeda jauh, yang membuat anak akan terbiasa memilih juga memberikan pilihan terhadap orang lain. Universitas Sumatera Utara Jadi komunikasi di dalam keluarga dan cara penyampaian pesan tersebut sangat penting dalam membentuk konsep diri remaja. Hingga dapat mempengaruhi pembentukan konsep diri yang tetap dan susah untuk dirubah. Universitas Sumatera Utara BAB V PENUTUP V.1 Kesimpulan   Setelah dilakukan analisis terhadap lima informan yang berbeda latarbelakang keluarganya, juga pendapat psikolog yaitu Juairiani Lubis, Msi, Psikolog (Dosen Fakultas Psikologi). Peneliti bisa menyimpulkan: 1. Terdapat pengaruh yang sangat besar antara komunikasi orang tua dan pembentukan konsep diri remaja. Hingga dapat dikatakan komunikasi orang tua terhadap anak adalah akar dari keluarga harmonis tersebut. Disini orang tua harus menyadari bahwa posisi mereka sampai kapanpun tetaplah menjadi pendidik bagi anak-anaknya. 2. Tidak terlalu banyak dampak yang terjadi saat komunikasi antarpribadi orang tua tersebut tidak berjalan dengan baik. Namun dampak-dampak yang terjadi, dapat disimpulkan sangat fatal. Hal ini dikarenakan terbentuknya konsep diri yang negatif saat remaja tidak lagi mendapatkan kenyamanan dari keluarganya. Konsep diri tersebut akan bertahan terus hingga remaja tersebut dewasa dan dapat berdampak pada pengulangan yang terjadi pada keluarganya dulu terhadap keluarga barunya. Walaupun seperti yang di katakan Ibu Juairiani Lubis, Msi, Psikolog (Dosen Fakultas Psikologi), tidak semua anak yang mempunyai latar belakang keluarga yang kurang harmonis tersebut mempunyai konsep diri negatif. Tetapi, data yang didapat peneliti Universitas Sumatera Utara mengatakan sebagian besar remaja yang komunikasi antarpribadinya kurang, memiliki konsep diri negatif. 3. Sangat terlihat perbandingan keluarga yang harmonis (komunikasi antarpribadinya baik) dan keluarga yang kurang harmonis (komunikasi antarpribadinya kurang). Keluarga harmonis memiliki ikatan yang kuat terhadap saudara-saudaranya, dan memiliki perasaan yang sama untuk saling membantu dan saling melindungi. Begitu juga di lingkungan pertemanannya, sangat terbuka dan bisa menerima berbagai masukan dari orang lain. Keluarga kurang harmonis tidak memiliki ikatan yang begitu kuat terhadap anggota keluarganya, bahkan terkadang sangat acuh. Ketika di lingkungan pertemanannta, mereka susah menerima keritikan dari temannya. Walaupun bukan berarti mereka mempunyai teman yang sedikit, tetapi tidak begitu banyak teman yang tergolong teman dekat atau dengan kata lain sahabat. V.2 SARAN Setelah mengadakan penelitian secara mendalam terhadap pentingnya komunikasi antarpribadi orang tua terhadap pembentukan konsep diri remaja, maka saya memiliki beberapa saran terhadap beberapa pihak : Universitas Sumatera Utara 1. Hendaknya setiap keluarga memahami arti penting dari komunikasi antarpribadi orang tua, yang memang berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri remaja untuk bekal menjadi dewasa dan matang. 2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan bagi masyarakat bahwasanya bisa melihat bagaimana pentingnya proses pembentukan konsep diri tersebut sebagai bekal untuk dia menjadi dewasa. 3. Kita juga, sebagai masyarakat harus mendorong atau memberikan masukanmasukan positif terhadap sesama teman kita agar dapat membantu orang yang mungkin kehilangan konsep dirinya. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Bungin, Burhan. 2005. Analisa Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rajawali Pers. _____________. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. Cangara, Hafied. 2005. Pengantar ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Matsumoto, David. 2004. Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Djuarsa, Sasa. 2005. Teori Komunikasi. Jakarta: Unversitas Terbuka. Effendy, Onong Uchjana. 2006. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. ____________________. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. Hardy, M dan S. Heyes. 2001. Pengantar Psikologi Umum: Edisi ke-2. Jakarta: Erlangga. Hariwijaya, M dan Bisri M. Jaelani. 2005. Teknik Menulis Bidang Skripsi dan Thesis. Yogyakarta: Zenith Publisher. Hurlock, Elizabeth. 1996. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentan Kehidupan. Jakarta: Erlangga. Iskandar. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Dan Sosial. Jakarta: Gaung Persada Press. Liliweri, Alo. 1991. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: PT. Ctra Aditya Bakti. Monks, F.J. dkk. 2002. Psikologi Perkembangan, Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada Unuversity Press Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Universitas Sumatera Utara Nawawi, Hadari. 2001. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. . 2000. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Sastropoetro, Santoso, 1990. Komunikasi Sosial. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Singarimbun, Masridan Sofian Efendi. 1995. Metode Penelitian Survei. Jakarta : PT. Pustaka LP3ES Indonesia. Supratiknya, A. 2002. Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta: Kanisius. Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Universitas Sumatera Utara Pedoman Wawancara Variabel Komunikasi Antarpribadi 1. Seberapa sering kamu cerita tentang masalah kamu ke orang tua? 2. Pernah tidak orang tua kamu bertanya tentang “keadaan kamu gimana hari ini” ? 3. Apakah orang tua sering mendukung apa yang kamu lakukan? 4. Kalau kamu cerita tentang masalah kamu ke orang tua, gimana tanggapan orang tua kamu? Sering mendukung atau menyalahkan? 5. Sering tidak kamu dan orang tua kamu punya pemikiran yang sama tentang suatu masalah? Variabel Konsep diri 6. Menurut kamu, kamu itu orang yang bagaimana? 7. Kamu terima tidak kalau orang lain menilai diri kamu? 8. Setiap manusia kan punya masalah, menurut kamu mengganggu tidak masalah itu untuk kehidupan kedepan kamu? 9. Apakah kamu suka merancang rencana kamu untuk masa depan yang kamu harapkan? 10. Sering tidak kamu menyelesaikan masalah kamu? 11. Apa yang kamu lakukan jika ada teman yang tidak suka dengan sifat kamu? Universitas Sumatera Utara BIODATA PENELITI Nama/ NIM : TEGUH HARYO YUDANTO / 060904086 Tempat/ Tanggal Lahir : Medan / 24 JUNI 1988 Departemen : Ilmu Komunikasi FISIP USU Alamat : Jl. Seto No. 90 Medan 20216 Anak : Ke 2 dari 3 bersaudara Orang Tua Bapak : (Alm.) Drs. SISWO SUROSO, M.Sp Ibu : RUKMINI Pendidikan : SD Negeri 060791 (1994-2000) SLTP KESATRIA Medan (2000-2003) SMU KESATRIA Medan (2003-2006) Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU angkatan 2006 Saudara : TEGUH HARIWIBOWO TEGUH TRIANTORO Universitas Sumatera Utara
Peranan Komunikasi Antarpribadi Dalam Membentuk Konsep Diri (Studi Kasus Tentang Layanan Konseling Individual Konselor Terhadap Pembentukan Konsep Diri Siswa/i Tunarungu Di SLB – B Karya Murni Kota Medan)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Peranan Komunikasi Antarpribadi Dalam Membentuk Konsep Diri (Studi Kasus Tentang Layanan Konseling Individual Konselor Terhadap Pembentukan Konsep Diri Siswa/i Tunarungu Di SLB – B Karya Murni Kota Medan)

Gratis