Feedback

Endodonti

Informasi dokumen
PENUNTUN PRAKTIKUM BAGIAN ILMU KONSERVASI GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI, UNIVERSITAS SUMATERA UTARA PENUNTUN PRAKTIKUM Disusun oleh: Darwis Aswal. Drg 19560516 198303 1 003 BAGIAN ILMU KONSERVASI GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI, UNIVERSITAS SUMATERA UTARA KATA PENGANTAR Buku Penuntun Praktikum Endodonti ini merupakan buku yang harus dibaca dan dipelajari Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dalam melakukan praktikum Preklinik Endodonti. Buku ini berisikan persiapan gigi untuk praktikum dan tahap-tahapan perawatan endodonti. Untuk peningkatan di masa mendatang, masukan dan saran diterima dengan senang hati. Semoga bermanfaat. Medan, Januari 2011 Penyusun Darwis Aswal, drg. i DAFTAR ISI Kata Pengantar . i Pendahuluan . 1 Persiapan Gigi Untuk Praktikum . 2 Preparasi Ruang Pulpa . 3 Preparasi Saluran Akar .13 Pengisian Saluran Akar .19 ii PENDAHULUAN Perawatan Endodonti Perawatan Endodonti adalah perawatan atau tindakan yang dilakukan untuk mempertahankan gigi vital maupun non vital agar tetap berfungsi pada lengkung gigi. Perawatan Endodonti terdiri dari beberapa tahapan yang dibedakan berdasarkan tindakan yang dilakukan. Tahap-tahap perawatan Endodonti dilakukan secara berurutan sebagai berikut: 1. Isolasi gigi yang akan dirawat. 2. Pembukaan kamar pulpa. 3. Pengukuran panjang kerja. 4. Preparasi saluran akar. 5. Irigasi saluran akar. 6. Medikasi. 7. Penumpatan sementara. 8. Pengisian saluran akar. Urutan tindakan yang dilakukan tersebut diatas merupakan “Pedoman Pokok” yang harus dikuasai oleh seorang operator. Untuk dapat melakukan setiap langkah perawatan Endodonti dengan baik, seorang operator harus memahami dan menguasai bidang: a. Anatomi gigi dan ruang pulpa b. Pengetahuan alat-alat preparasi saluran akar dan cara manipulasinya c. Prinsip-prinsip preparasi saluran akar d. Teknik pengisian saluran akar PERSIAPAN GIGI 1UNTUK PRAKTIKUM Pemilihan Gigi Gigi-gigi yang harus disediakan untuk praktikum Endodonti terdiri dari: - 2 (dua) buah gigi insisivus sentralis atas - 2 (dua) buah gigi premolar atas - 1 (satu) buah gigi molar satu atas - 1 (satu) buah gigi molar satu bawah Gigi- gigi tersebut mempunyai mahkota dalam keadaan baik dan tanpa karies. Gigi tersebut harus diukur penjangnya yang nantinya akan menjadi panduan untuk menentukan panjang kerja. Gigi tersebut ditanam berjajar pada balok berukuran 15 x 2,5 x 2,5 (cm) secara berurutan, seperti terlihat pada gambar (1). PREPARASI2RUANG PULPA Maksud dilakukannya preparasi ruang pulpa adalah untuk membentuk dan membersihkan ruang pulpa sehingga diperoleh ruang pulpa yang steril sebagai persiapan tempat bahan pengisian ruang pulpa. Tujuan Preparasi ruang pulpa:  Membersihkan ruang pulpa dari sisa-sisa jaringan pulpa, dentin yang lunak dan mengalami infeksi dan benda-benda asing yang terdapat dalam ruang pulpa.  Memperbesar saluran akar agar obat-obatan, medikasi yang dipakai mudah ditempatkan didalam saluran akar dan berfungsi dalam jumlah yang maksimum.  Menghaluskan dinding saluran akar, agar diperoleh kontak yang baik antara obatobatan dengan permukaan saluran akar.  Mempersiapkan saluran akar terutama pada daerah 1/3 apikal sehingga mempermudah pengisian saluran akar. Prinsip Preparasi Kamar Pulpa: 1. Out line form (Ragangan Kavitas) 2. Convinience form 3. Pembuangan sisa jaringan karies 4. Toilet kavitas 1. Out Line Form (Ragangan Kavitas) Merupakan proyeksi anatomi internal gigi yaitu anatomi kamar pulpa. Sehubungan dengan kaitan eksternal-internal ini maka setelah penembusan atap, preparasi kamar pulpa dilakukan dari dalam keluar agar bentuk internal ini terproyeksi dengan baik. Faktor yang mempengaruhi out line form adalah: - Ukuran kamar pulpa. - Bentuk kamar pulpa. - Jumlah saluran akar. 2. Convinience form Adalah bentuk kavitas sedemikian rupa3sehingga akan dicapai kemudahan dan ketepatan dalam instrumentasi dan pengisian yaitu: - tidak ada hambatan dalam mencapai orifisi - tidak ada hambatan mencapai seluruh saluran akar - memudahkan pengisian 3. Pembuangan sisa jaringan karies Sebelum menembus kamar pulpa, jaringan karies dan restorasi yang tidak baik harus dibersihkan. 4. Toilet Kavitas Kamar pulpa diirigasi dengan NaOCl 2,5% agar bersih dari debris, jaringan karies dan bahan-bahan nekrotik. Teknik Pembukaan Kamar Pulpa (Secara Umum).  Isolasi gigi  Pengambilan seluruh jaringan karies  Tentukan ukuran dan posisi kamar pulpa dengan mengamati gambaran radiographi klinis. Dengan menggunakan bur bulat no. 4 atap pulpa dibuka sampai mencapai kamar pulpa. Apabila kamar pulpa telah dicapai, bur akan terasa anjlok karena tidak ada yang menahan lagi.  Pengangkatan atap pulpa dilakukan dengan bur bulat bertangkai panjang dengan putaran rendah no. 2,4,6,8. Pada tahap ini gerakan bur diubah kearah oklusal sampai tidak terasa lagi ada hambatan.  Preparasi kamar pulpa dilanjutkan dengan bur silindris berujung bulat untuk membentuk dan menghaluskan dinding kavitas. Contoh Preparasu Kamar Pulpa Pada gigi anterior 1. 2. Pembukaan atap pulpa gigi anterior selalu dimulai pada permukaan palatal/lingual. Permukaan palatal/lingual dibagi menjadi 3 bagian kearah horizontal dan vertikal. Daerah paling tengah x merupakan tempat penembusan kamar pulpa (gbr. 2). 4 Pada gigi muda dengan kamar pulpa masih lebar, bur diarahkan tegak lurus pada daerah x. Sumbu gigi merupakan batas masuknya bur kedalam gigi (gbr.3a). pada gigi dewasa, atap pulpa sudah menebal ke arah servikal sehingga arah bur harus sejajar sumbu gigi (gbr.3b). 3. Setelah menembus atap pulpa arah bur disejajarkan dengan sumbu gigi (gbr.4). bur kemudian ditarik kearah permukaan insisal sambil mengangkat atap pulpa yang tertinggal sampai terasa tidak ada tahanan lagi. 4. Out line form ditentukan dengan tujuan membuang seluruh atap pulpa, membentuk kavitas yang dapat memberikan retensi yang baik bagi tumpatan sementara dan tidak menghambat masuknya alat ke saluran akar (gbr.5). 5. Preparasi pulpa dilanjutkan dengan bur selindris berujung bulat untuk membentuk dan menghaluskan dinging kavitas (gbr.6). 6. Toilet Kavitas dilakukan dengan eksavator dan di desinfeksi dengan NaOCl 2,5% agar orifisi terlihat jelas (gbr.7). Pada Gigi Posterior 1. 5 Arah pembukaan dari oklusal. Out line form diperkirakan sesuai dengan letak orifisi. Bur ditembuskan ke arah saluran akar terbesar, misalnya: saluran akar distal molar bawah atau akar palatal molat atas (gbr.8). 2. Setelah menembus atap pulpa, bur ditarik kepermukaan oklusal sampai semua atap pulpa terbuang (gbr.9). 3. Preparasi ke lateral dilakukan dengan bur fissur berujung bulat tanpa menyentuh lantai kamar pulpa (gbr.10). Sedapat mungkin meletakkan orifisi pada sudutsudut kavitas agar memudahkan masuknya jarum endodonti kedalam saluran akar. Tanpa harus melihat langsung ke orifisi. 4. Setelah kamar pulpa dibersihkan maka akan terlihat orifisi yang satu sama lain dihubungkan oleh parit-parit yang tampak lebih gelap dibandingkan dengan jari-jari sekitarnya. (gbr.11). Pembukaan kamar pulpa dikatakan baik, jika memenuhi prinsip preparasi diatas yang secara praktis dapat dilihat sebagai: 1. Untuk gigi anterior, pandangan ke arah saluran akar jelas. Untuk gigi posterior orifisi terlihat jelas. 2. Jarum endodonti dapat masuk dan difungsikan didalam saluran akar tanpa hambatan 3. Kavitas telah bebas dari jaringan karies dan restorasi yang buruk 4. Bantuk kavitas harus memberikan retensi yang baik bagi tumpatan sementara Anatomi/Morfologi Gigi dan Berbagai bentuk 6 Preparasi Kamar Pulpa Pembersihan ruang pulpa dari jaringan pulpa dan jaringan nekrotik penting sekali bagi kebersihan perawatan endodonti. Masih tersisanya ruang pulpa atau tidak sempurnanya pengisian akan memudahkan terjadinya inflamasi. Pemahaman tentang anatomi internal gigi dan berbagai bentuk sistem kamar pulpa dan saluran akarnya dapat membantu operator dalam melakukan preparasi kamar pulpa dengan baik, menentukan orifisi dengan tepat dan melakukan instrumentasi ke dalam saluran akar dengan benar. Oleh karena itu pengetahuan akan berbagai variasi anatomi ruang pulpa sangat penting dikuasai sebelum melakukan perawatan endodonti. Dibawah ini diberikan gambaranskemaris bentuk-bentuk pembukaan (preparasi kamar pulpa) pada beberapa gigi. 1. Anatomi ruang pulpa insisivus atas, baik sentral maupun lateral tidak jauh berbeda. Kaninus atas dan bawah hampir identik, demikian juga insisivus sentral dan lateral bawah. Bentuk ragangan pada kavitas kamar pulpa insisivus biasanya hampir segitiga namun lebih oval pada gigi kaninus (gbr.12). Insisivus pertama dan kedua rahang atas biasanya merupakan gigi yang paling sedikit menimbulkan kesukaran dalam perawatan. Anatomi ruang pulpanya mirip sekali dengan anatomi mahkota dan akarnya. Masalah yang sering menimbulkan adalah adanya bengkokan di daerah apeks, tersumbatnya kamar pulpa dan saluran akar oleh dentin sekunder, atau adanya resorpsi interna. 2. Pada gigi premolar dua atas dan 7 pada kedua premolar di rahang bawah, biasanya akan dijumpai satu saluran akar yang terletak di tengah-tengah. Oleh karena itu ragangan kavitas kamar pulpa akan terletak ditengah-tengah oklusal. Seandainya saluran akar terletak di bawah tonjol bukat atau tonjol lingual, periksalah 3. Sebagian besar premolar pertama atas mempunyai dua saluran akar, yaitu di bukal dan palatal. Ragangan kavitasnya biasanya lebih melebar ke arah bukolingual dan lebih oval dibandingkan dengan premolar kedua (gbr.14). 4. Ragangan kavitas molar atas berbentuk segitiga dengan basis di daerah bukal dan puncak di daerah palatal sesuai dengan letak ketiga orifisinya. Harusnya selalu diingat akan kemungkinan adanya dua saluran akar di mesio-bukal. Ketika akan menembus kamar pulpa, bur diarahkan ke saluran akar terbesar yakni palatal (ghbr.15). Molar kedua atas ragangan kavitasnya biasanya lebih kecil (gbr.16). Pada perawatn endodonti molar 8 atas munkin akan dijumpai banyak kesulitan. Konfigurasi saluran akatnya sangat rumit dan struktur anatomik disekitar apeks akan menyukarkan pemeriksaan radiografnya. Sangatlah bermanfaat dan penting untuk mengetahui berbagai variasi morfologi saluran akar sebelum memulai perawatan. 5. Molar bawah biasanya mempunyai dua akar dan tiga saluran akar, satu di akar distal dan dua di akar mesial. Ragangan pembukaan kamar pulpanya biasanya berbentuk segitiga dengan basis di daerah mesial dan puncaknya di daerah distal. Jika ada dugaan terdapatnya dua saluran akar di akar distal, maka ragangan di daerah ini akan lebih melebah ke arah buko-lingual. Pada saat memulai pembukaan kamar pulpa, arahkan bur ke arah saluran akar terbesar yakni saluran akar distal (gbr.17). Efek Dentin Sekunder & Tersier pada Ukuran Kamar Pulpa dan Saluran Akar: Ukuran ruang pulpa sering mengecil karena terbentuknya dentin sekunder dan tersier karena proses penuaan maupun yang diakibatkan oleh berbagai iritan. Iritan tersebut antara lain karies, restorasi, khemis, perubahan suhu, erosi dan abrasi. Dalam upaya melindungi dirinya, pulpa membentuk dentin tersier yang dimulai di daerah terdekat dengan iritan. Proses ini akan berlanjut terus ke arah apeks. Pada saluran akar tunggal kadang-kadang dijumoai saluran akar yang telah tertutup rapat. Kamar pulpa molar jarang sampai tertutup rapat, namun akan menyukarkan penemuan orifisi. Hal-hal seperti ini tentu saja akan mempengaruhi 9 keberhasilan perawatan endodontik, karenanya harus selalu diantisipasi. Ganbar 18 memperlihatkan perbedaan antara gigi muda dengan gigi tua. Bentuk Ragangan Kavitas Kamar Pulpa: Gambar 19 memperlihatkan bentuk-bentuk ragangan kavitas kamar pulpa gigi atas dan bawah. Penentuan Panjang Kerja Panjang gigi dan Panjang kerja 10 Panjang gigi adalah jarak antara titik acuan pada mahkota sampai ke ujung akar. Sedangkan panjang kerja adalah jarak antara titik acuan sampai ke kontriksi apeks. (gbr.20) Menentukan panjang kerja yang tepat sangat penting dalam perawatan endodonti. Tanpa diketahuinya panjang kerja yang tepat tidak akan diperoleh hasil preparasi dan pengisian yang baik. Cara pengukuran panjang kerja: a. Cara perbandingan b. Cara radiograf dengan alat c. Panjang rata-rata gigi Pada praktikum yang dipakai adalah dengan mengurangi panjang gigi yang diukur sebelum ditanam di balok yaitu: Panjang kerja = panjang gigi – 2 mm IRIGASI Irigasi saluran akar dilakukan sebelum, selama dan sesudah preparasi saluran akar. Tujuannya adalah untuk mengeluarkan kotoran dan serbuk dentin dari saluran akar, dan sebagai pelumas. Dengan demikian, selama preparasi saluran akar harus selalu dalan keadaan tergenang cairan irigasi. Cairan irigasi yang umum dipakai adalah larutan NaOCl 2,5% sabagai baterisid, pelarut 11 dentin dan berfungsi juga sebagai pelumas preparasi saluran akar. Cairan irigasi ini dapat dibuat dari bahan pemutih pakaian yang ada dipasaran (tanpa pewangi dan mengandung NaOCl 5%) yang diencerkan dengan aquadest. Teknik irigasi Gunakan semprit dengan jarum yang berukuran kecil (27G x 1 1/ 4 ) dan ujungnya dibengkokkan. Jarum dimasukkan ke dalam saluran akar perlahan-lahan sejauh 1/3 apikal tanpa menyumbat, kemudian cairan irigasi dialirkan tanpa tekanan sebanyak 1cc untuk setiap saluran akar. Cairan irigasi yang keluar ditampung dengan gulungan kapas (gbr.21). Pada waktu melakukan irigasi, hal penting yang harus diingat adalah: 1. Jarum tidak boleh menyumbat saluran akar dan irigasi harus dilakukan tanpa tekanan agar cairan irigasi tidak terpompa ke periapeks. 2. cairan yang keluar harus ditampung dengan gulungan kapas agar tidak berkontak dengan mukosa mulut, selain itu juga untuk melihat kebersihan saluran akar dengan memperhatikan serbuk dentin yang keluar bersama cairan irigasi. PREPARASI SALURAN AKAR 12 Preparasi saluran akar dilakukan jika preparasi kamar pulpa sudah sempurna. Preparasi saluran akar mempunyai dua tujuan: 1. Mengeluarkan debris dari saluran akar. 2. Membentuk saluran akar untuk pengisian. Prinsip Preparasi Saluran Akar. 1. Pembersihan Kavitas Pembersihan saluran akar merupakan lanjutan dari pembersihan kavitas kamar pulpa. Irigasi harus selalu dilakukan sebelum dan sesudah pergantian alat. 2. Bentuk Retensi Daerah 1/ 3 apeks 2 – 5 mm dari kontriksi apikal harus dipertahankan bentuknya seperti file utama, agar master cone dapat mengisi seluruh daerah ini dengan rapat, sehingga diperoleh pengisian yang hermetis. Ini dapat diketahui dengan adanya retensi pada master cone yang ketika ditarik terasa ada tahanan (tug back) (gbr.22). 3. Bentuk Resisten Penyenpitan di apeks yang disebut kontriksi apeks harus dipertahankan untuk menahan bahan pengisi tidak terdorong ke daerah periapeks (gbr.23). Fungsi instrumen untuk preparasi saluran akar:  Jarum miller (Smooth broach) untuk menjajaki saluran akar dan melepaskan jaringan pulpa dari dinding saluran akar.  Jarum ekstirpasi (Barbed broach) untuk mengangkat jaringan pulpa dari saluran akar.  Reamer untuk melebarkan saluran akar13(sekarang jarang digunakan)  File K untuk menghaluskan dinding saluran akar dan melebarkan saluran nakar yang sempit.  Hedstrom file untuk melebarkan saluran akar dengan cepat, tetapi meninggalkan dinding yang kasar. Cara kerja alat: Reaming (gerakan memutar): Gerakan rotasi instrumen searah jarum jam dan merupakan gerakan melengkung dari satu ujung ke ujung potong lainnya (gbr.24). Filing (pengikiran): Serangkaian gerakan yang berulang. Instrumen dimasukkan sepanjang panjang kerja dengan gerakan memutar pasif tanpa mengerok. Setelah itu dirotasi seperempat putaran atau lebih, lalu ditarik keluar dari saluran akar dengan ujung menekan dinding saluran akar (gbr.25). Sirkum Ferencial Filling (pengikiran berkeliling): Gerak memutar pasif, reaming dan gerakan penarikan berulang-ulang dengan ujung file menekan berbagai-bagai dinding saluran akar, sampai dinding saluran akar menjadi halus (gbr.26). Syarat preparasi saluran akar: 14 1. Panjang kerja yang pasti harus ditentukan dahulu sebelum preparasi, dan jarum diberi stop. 2. Alat-alat preparasi harus dalam keadaan bersih, steril dan disusun secara urut sesuai nomor. 3. Gunakan alat secra berurutan mulai dari nomor yang kecil tanpa dipaksa. 4. 5. 6. 7. 8. Alat yang tumpul, bengkok-tajam, ‘rolled up’ atau elongasi harus dibuang. Selama preparasi, saluran akar harus dalam keadaan tergenang cairan NaOCl 2,5% Penggunaan alat jangan dipaksakan seandainya ditemui hambatan. Gunakan alat dengan gerakan yang tepat (reaming dan filing) Sebelum, setiap dan setelah penggantian alat, saluran akar harus diirigasi. Teknik Preparasi Saluran Akar Bermacam-macam teknik preparasi saluran akar, mulai dari yang konvensional, step back, step down dan sebagainya. Pada praktikum teknik yang dipakai adalah teknik step back: 1. Persiapan a. Tentukan panjang kerja b. Beri penanda karet pada alat sesuai dengan panjang kerja c. Pada akar yang bengkok, ujung jarum dilengkungkan sedikit untuk mencegah terjadinya “ledge”. Caranya adalah dengan menjepit alat di antara gulungan kapas beralkohol, lalu dengan ibu jari dan telunjuk alat sedikit demi sedikit dilengkung. (gbr.27). jarium tidak boleh sampai bengkok mematah. 2. Jajaki saluran akar dengan jarum Miller. Pada gigi vital, jarum ini dipakai juga untuk melepaskan perlekatan jaringan pulpa dari dinding saluran akar ekstirpasi mudah dilakukan (gbr.28). 3. Keluarkan isi saluran akar dengan 15 jarum ekstirpasi. Tindakan ini dilakukan jika jaringan pulpa masih utuh (pada gigi vital). Pada gigi nekrosis, pulpa Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Syurga Yanti : Infeksi Endodonti, 2000. USU e-Repository © 2008 Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital D USU e-Repository © 200 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 Fakultas Kedokteran Gigi , Bagian Ilmu Konservasi Gigi " " Tahun 2004 Elly Radiografi Digital dalam Bidang Endodonti vii + 30 halaman Radiografi merupakan alat bantu yang sangat penting bagi kedokteran gigi I I terutama dalam bidang endodonti. Perkembangan teknologi digital pada masa sekarang ini akhimya membawa suatu terobosan bam dalam bidang radiografi, yaitu I II. dengan munculnya teknologi radiografi digital (digital x-ray), yang dalam bidang endodonti diharapkan akan memberikan manfaat yang berarti Pada radiografi digital, gambar radiografi tidak lagi disubjekkan pada media film, melainkan ditayangkan pada layar komputer sehingga akan mempermudah pemanipulasian dan pengolahan gambar. Ada 2 metode dasar yang digunakan untuk memperoleh gambar digital, yaitu dengan metode langsung, yaitu dengan sensor CCDICMOSICID dan sensor PSP, serta dengan metode tidak langsung, yaitu dengan meng-scan gambar analog dari film konvensional menjadi gambar digital pada layar komputer. Pada dasamya, prosedur dan teknik pengambilan gambar pada radiografi konvensional dan radiografi digital adalah sarna, begitu pula dengan kegunaannya dalam bidang endodonti. Akan tetapi, radiografi digital memiliki beberapa kelebihan Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008 dibanding radiografi konvensional, Salah satunya adalah gambar pada radiografi digital dapat diperbesar sampai 4X lebih besar sehingga diharapkan dapat meningkatkan visibilitas gambar anatomi gigi dan jaringan sekitamya, terutama saluran akar. Meskipun banyak hasil studi para ahli yang menunjukkan kekurangan teknologi ini, tetapi tidak sedikit pula basil studi yang mendukung penggunaan alat ini dalam bidang endodonti. Daftar Rujukan: 24 (1992 - 2003) , - Elly: Radiografi Digital Dalam Bidang Endodonti, 2004. USU e-Repository © 2008
Endodonti
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Endodonti

Gratis