Negara Dan Kekuasaan : Pemikiran Dan Praktek Politik Negara Birokratik Otoritarian Suatu Eksplanasi Fenomena Otoritarianisme Negara-Negara Berkembang Studi Kasus: Politik Dan Pemerintahan Orde Baru)

Gratis

2
48
106
3 years ago
Preview
Full text

BAB I I. PENDAHULUAN I. 1 Latar Belakang Masalah I.1.1 Perubahan Politik Pasca Pemerintahan Soeharto Proses perubahan politik yang berlangsung di Indonesia sejak pertengahan

  Agenda yang mendasar dan yang paling penting untuk dituntaskan dalam proses perubahan politik adalah memecahkan kekuasaan yang monolitik. Sedangkan polisentrisme adalah serangkaian ide yang meyakini bahwa aktor-aktor masyarakat sipil, pelaku pasar dan pemerintah lokal akan bersinergi danberkelindan satu dengan yang lain dalam pola hubungan yang saling menguntungkan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik untuk seluruh rakyat.

1 Hasrul Hanif, Mengembalikan Daulat Warga Pesisir, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008. Hal: 65

  Ada beberapa perubahan yang mendasar yang pelan-pelan tetapi pasti yang telah terjadi di dalam masyarakat selama rezim Otoritarian-Birokratik berkuasa,yaitu: 2 a. Politik pembangunan pasca jatuhnya Soeharto di ranah politik lokal juga mengidentifikasikan adanya pluralitas aktor dan kepentingan yang terlibat.kepentingan lokal yang sebelumnya merupakan bagian jaringan patronase dari OrdeBaru yang sedang berkuasa menjadi saling bersaing untuk berkuasa.

2 Ibid,. Hal: 65

  Aktor-aktor lokal tersebut adalah: Kalangan birokrat lokal yang korup dan predator, politisi ambisius, jaringan pebisnis, gengster politik, dan paramiliter sipil. Dalam negara Indonesia pemerintah atau pihak penguasa juga mengalami dan menjalankan hal yang sama demi mempertahankan kekuasaannya.

3 Riant Nugroho D, Reinventing Indonesia, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2001. Hal: 99

  Seluruh wacana dan “denyut nadi” kehidupandi negara Indonesia tak bisa lepas dari cengkraman rezim yang dinamakan Orde Baru 4 ini. Rezim Orde Baru lahir berawal dari perjalanan karier politik Jenderal Soeharto yang secara resmi dimulai dari tanggal 11 Maret 1966, ketika Presiden Soekarnomenandatangani Surat Perintah 11 Maret yang kemudian selanjutnya dikenal dengan supersemar.

4 Mufti Mubarok dan Affan Rasyidin: Soeharto Tak Pernah Mati, Surabaya: IDE, 2008. Hal: 8

  Didalam negara Indonesia, politik birokratik terjelma sebagai persaingan antara lingkaran-lingkaran birokrat yang berkedudukan tinggi dan para perwiramiliter dalam menggabungkan sasaran-sasaran organisasi yang bukan bertujuan“pelayanan”. Oleh sebab itu kontinuitas dan kelangsungan politik birokratis ini sangat tergantung pada keberhasilannya untukmenciptakan pertumbuhan ekonomi yang dilaksanakan oleh negara.

I. 1.2 Otoritarianisme Negara

  Mengenakan kontrol yang ketat terhadap koalisi unsur-unsur pendukung, mengurangi kebebasan kelompok yang berpotensi mengarahkan massa,memperluas peranan perwira militer dalam pemerintahan dan bersihkan angkatan bersenjata dari unsur-unsur yang sangat potensial untuk tidak stabil. Membutuhkan campuran antara kebijakan dan perubahan sosial, seperti longgarnya sensor, meluasnya ruang yang memungkinkan adanya ekspresipublik secara meluas, perlindungan hak individu dan lain-lain yang kesemuanya bisa merupakan konsekuensi dari meningkatnya pemerataan pendapatan dan yang palingpenting adanya toleransi terhadap oposisi.

9 Moh Mahfud, Op Cit, Hal: 115-116

  Tekanannya ialah pada proses pembuatankebijakan yang bersifat konsultatif dan konsensual dikalangan penguasa serta peranan sentral dari struktur birokratik yang lebih besar, dan bukanmiliter perse. Keempat, upaya untuk mencapai kemajemukan terbatas dengan menggunakan represi, pemilihan dan yang khas, suatu jaringan organisasi yang korporatis dan dengan demikian mengontrol oposisi terhadap rezim.

I. 1.3 Politik Pemerintahan Orde Baru

  Krisis tersebutberupa inflasi yang merajalela, neraca pembayaran dan beban utang yang sangat berat serta ketidakstabilan politik akibat mobilisasi massa yang intensif dan kudetaberdarah. Kekuasaan negaraOrde Baru memanfaatkan dukungan kuat kekuatan internasional, dan kemampuannya mengeksploitasi berbagai sumber daya yang kelihatannya terus meningkat untukdiberikan kepada sekutu-sekutunya atau digunakan untuk melawan musuh-musuhnya sehingga muncul dalam ” kesadaran” masyarakat bahwa negara yang berperanpenting dalam kehidupan dan peruntungan mereka atau menjadi negara penentu 10 daya.

10 Hasrul Hanif, Op cit, Hal: 45

  Kelompok yang memandang Orde Baru baik adalah mereka yang diuntungkan secara materi dapat dari kalangan kerabat, kroni dan kelompok-kelompok yang berada di lingkar inti kekuasaan baik di pusat maupun di daerah, meskipun hatinurani mereka mengingkari. Sementara mereka yang memandang Orde Baru buruk atau jahat adalah mereka yang melihat, merasakan, mengalami, dan dirugikan secara material, rohani,dan mental-spritual.

11 Baskara T. Wardaya. Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto, Jakarta: Galang Press, 2007. Hal: 56

  Oleh sebab itu Rezim Orde Baru dengan segala upayamengerahkan semua intelektual untuk membuat, merancang dan mengisikan muatan- muatan baru pada ideologi, sehingga citra rezim Orde Baru tetap kokoh dan terusberkuasa. Mobilisasi dana oleh yayasan-yayasan yang didirikanSoeharto dan kroni-kroninya, pada umumnya dilandasi oleh kepentingan bangsa dan negara, faktanya mobilisasi ini tidak dilandasi dasar hukum yang cukup, dan tidakdisertai pertanggungjawaban secara rutin kepada pemberi sumbangan.

14 Ibid, Hal. 105

  Didalam suatu negara terdapat banyaknya pengusaha atau elit wiraswasta yang berkuasa didalam negaranya dalam bidang bisnis dikarenakan para elitwiraswasta tersebut mempunyai hubungan kedekatan dan dapat menarik hati pemerintah sehingga mereka sama-sama di untungkan dengan kerja sama yang dibuatsendiri. Sementara dari kerja sama yang mereka buat, masyarakatlah yang menjadi terbebani dan dirugikan.

15 Ibid,. Hal. 7

  Keluarga soehartoadalah keluarga yang disekitarnya bergerombol orang-orang yang minta fasilitas dan konsesi.akan tetapi relasi yang lebih bersifat sosial (tanpa orientasi laba) eksis padapola perekonomian magersari ala cendana. Fenomena itu terwujud diIndonesia melalui kombinasi antara jabatan birokrasi dan kegiatan ekonomi yang bersifat informal dan tidak langsung, dengan klien yang dependen.

I. 5 Dasar-Dasar Teori

1.5.1 Teori Negara

  Negara adalah organisasi yang dalam suatu wilayah dapat memaksakan kekuasaannya secara sah terhadap semua golongan kekuasaan lainnya dan yang dapat menetapkantujuan-tujuan dari kehidupan bersama itu. Kata negara, biasanya mengacu pada konsep staaf dalam Jerman atau state dalam inggris, memiliki dua arti : Pertama, adalah masyarakat atau wilayah yang merupakan kesatuan politis, Kedua, lembaga pusat yang menjamin kesatuan politis itu, yang menata dan dengan demikian menguasai wilayah itu.

1. PLATO ( 427-348 s.M. ) mengatakan, bahwa Negara adalah suatu tubuh

  Terbentuknya negara menurut Plato adalah karena adanya kebutuhan dan keinginan manusia yang beraneka ragam. Jika para aristokrat (orang bujaksana yang berpinandita) itu mulai terpengaruh olehkeinginan akan kemahsyuran, nama, pangkat, dan jabatan, maka aristokrasi 20 Dadang Juliantara, Negara Demokrasi untuk Indonesia.

2. THOMAS HOBBES ( 1588-1679 ) mengatakan bahwa Negara adalah suatu

22 Dr. Muchtar Pakpahan, Ilmu Negara dan Politik. Jakarta, PT. Bumi Intitama Sejahtera: 2006. Hal. 24

3. J.J ROUSSEAU ( 1712-1778 ), mengatakan bahwa Negara adalah

  Aristokrasi, yaitu apabila kekuasaan negara atau kekusaan pemerintah itu ada pada tangan dua orang atau lebih, dan mereka melakukantugasnya dengan baik.demokrasi, yaitu apabila kekusaan negara dan kekuasaan pemerintahan itu berada di tangan rakyat dan berjalandengan baik. Caranya, dengan menggabungkan antara pandangan hierarkis militeryang berpola ketaatan garis komando atasan kepada bawahan yang ketat di satu pihak, dan konsep stratifikasi sosial budaya Jawa yang berpola ketaatan paternalistikserba tertutup di pihak lain.

23 Dwi Ambar Sari, Beribu Alasan Rakyat Mencintai Pak Harto,Jakarta: PT.Jakarta Citra, Hal:140-4-142

upayanya menyederhanakan kehidupan berpolitik di Indonesia sebagai akibat dari politik masa presiden Soekarno yang menggunakan sistem multipartai yang berakibatpada jatuh bangunnya kabinet dan dianggap penyebab mandeknya pembangunan.

1.5.2 Birokrasi Di Indonesia

  Birokrasi berasal dari kata berau yang berarti meja tulis, yang diartikan sebagai suatu tempat yang disana para pejabat bekerja. Kamus Jerman (1813) menyatakan bahwa birokrasi sebagai wewenang atau kekuasaan yang berbagaidepartemen pemerintahan dan cabang-cabangnya memperebutkan sesuatu untuk 24 kepentingan diri mereka sendiri, atau sesama warga negara.

24 Syafuan Rozi. Zaman Bergerak Birokrasi di Rombak, Yogyakarta:

  Kewenangan kharismatik(charismatic authority) mempunyai legitimasi kewenangan dari kualitas pribadi dan yang tinggi dan bersifat supranatural. Dan, Kewenangan legal-rasional (legal- rational authority) mempunyai legitimasi kewenangan yang bersumber pada Sebagai commpetiting theory atau teori pembanding , Harold Crouch melihat 25 bahwa kepolitikan birokratik di Indonesia mengandung tiga ciri utama, yaitu: Pertama, lembaga politik yang dominan adalah birokrasi.

1.5.3. Negara Birokratik-Otoriterisme dan Industrialisasi

  Seperti yang diungkapkan oleh O’Donnell, bentuk pemerintahan korporatisme berhubungan dengan dua proses yang saling berkaitan satu sama lain. Secara sederhana pendalaman Industrialisasi adalah perluasan atau ekspansi produksi industri yangtidak hanya barang-barang konsumsi, akan tetapi juga melingkupi barang-barang setengah jadi (intermediate) dan barang-barang modal.

25 Ibid,. Hal: 21

  Ini dilakukan tidak hanya melalui cara-cara represif, tetai juga melalui 3) Peniadaan ekonomi (economi exclusion) yakni bertujuan mengurangi atau menunda untuk jangka waktu yang tidak terbatas aspirasi ekonomi dari sektorpopuler.4) Depolitisasi, yang berguna untuk mengurangi isu-isu politik uuntuk kemudian dijadikan masalah-masalah teknis yang hanya dapat dipecahkan melalui cara-cara interaksi di antara pada eselon tingkat tinggi dalam organisasi-organisasi yang disebutkan diatas. I.6.3 Teknik Analisa Data Setelah data-data yang dibutuhkan dalam penyelesaian penelitian ini diperoleh baik itu dari data pustaka maupun dari internet, kemudian data-data tersebutdikumpulkan dan kemudian penulis olah sehingga dapat di analisis dan di simpulkan sebagai hasil dari penelitian yang dikerjakan.

1. Keadaan Georafis

  Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Panei/Dolok Pardamean di sebelah utara dan Kecamatan Jorlang Hataran di sebelah selatan. Kemudian di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Danau Tobadan di sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Sidamanik.

2. Keadaan Demografi Penduduk Kecamatan Pamatang Sidamanik berjumlah 15.878 jiwa

  75 ke atas 73 67 140Jlh 7.962 7.916 15.878 Sumber: Profil Kecamatan Pamatang Sidamanik Oktober Tahun 2008 Menurut data statistik yang terakhir di Kecamatan Pamatang Sidamanik diketahui jumlah penduduk 15.878 jiwa yang tersebar di sepuluh nagori/kelurahanyang ada. Menurut data statistik yang terakhir di kantor Kecamatan PamatangSidamanik diketahui jumlah penduduk sebanyak 15.878 jiwa yang tersebar diseluruh nagori/kelurahan yang ada.

3. Fasilitas Kelurahan

  Fasilitas yang dapat digunakan oleh masyarakat secar bersama-sama merupakan sesuatu yang sangat diperlukan oleh masyarakat. Organisasi yang terbentuk dalam kelembagaan keamanan yaitu lembaga yang mengawasi/ memperhatikan keamanan di Kecamatan ataupun Kelurahan/nagori yang ada di Kecamatan Pamatang Sidamanik sebagai berikut: 1.

5. Struktur Pemerintahan Kecamatan Pamatang Sidamanik

  Hal inimudah dimengerti karena kehidupan ekonomi, bersangkutan dengan masalah produksi, distribusi, konsumsi dan pertukaran barang dan jasa, sedangkan formatpolitik bertautan dengan kultur, struktur dan prosedur hidup antara manusia yang memerlukan barang dan jasa tersebut.perkembangan sejarah tersebut juga berlakudalam kehidupan ekonomi dan politik di Indonesia. Sasaran pembangunanbidang ekonomi adalah terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat dan tercapainya struktur ekonomi yang seimbang, yaitu kemampuan dan kekuatan industri yang majuyang didukung oleh kekuatan dan kemampuan pertanian yang tangguh.

26 Baskara T. Wardaya. Op Cit., Hal.81

  Menurut Richard Robison, kapitalisme produk birokrasi patrimonial tidak mengenal pemisahan yang jelas antara fungsi produksi dan kepentingan pribadi. Fenomena ini terwujud diIndonesia melalui kombinasi antara jabatan birokrasi dan kegiatan ekonomi yang 27 bersifat informal dan tidak langsung, dengan klien yang dependen.

II. 2. Pemerintahan Orde Baru Dalam Bidang Politik

  Peristiwa 3 Juli 1946, memiliki perspektif dalam sejarah politik Indonesia yang melibatkan peran Soeharto membebaskan tahanan politik di penjaraWirogunan, Yogyakarta kemudian membawanya ke Markas Resimen Wiyoro. Di tempat ini para pengikut Tan Malaka menyusunmaklumat yang isinya seolah Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Tan Malaka.

27 Indra Ismawan. Op Cit,. Hal: 99

  Pada tanggal 1 Maret 1949, dalam sehari Letkol Soeharto berhasil memimpin pasukannya merebut kembali kota Yogyakarta dari tangan penjajah Belanda yangkemudian peristiwa tersebut di abadikan sebagai perjuangan yang legendaris bagi rakyat Indonesia dengan sebutan Jogja kembali. Setelah diangkat menjadi Pejabat Presiden tahun 1967 dan Presiden tahun1968, perhatian utama Soeharto adalah pemulihan ekonomi yang sangat merosot pada akhir pemerintahan Soekarno.

28 H. Ahmad Shahab, Biografi Politik: Presiden Republik Indonesia Kedua

  Soeharto memulai Orde Baru dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuhSoekarno pada akhir masa jabatannya. Ideologisasi ini disusupkan lewatrasionalisasi setiap kebijakan Orde Baru oleh barisan kaum intelektual dan juga kaum agamawan yang setia di sekitar Soeharto sehingga segala sesuatu yang dilakukanrezim ini tampak baik-baik saja.

BAB II I PEMBAHASAN

1. Negara Orde Baru

  Pada Demokrasi Terpimpin, golongan militer sudah dapat menguasai perusahaan-perusahaan negara yang strategis dan memasuki jabatan-jabatan politik yang penting. Secara tradisional,sumber kekayaan terletak pada jabatan-jabatan birokrasi, dimana “surplus” dari sektor-sektor penting tertentu dari perekonomian dibagi-bagikan kepada pejabat-pejabat atau klik-klik pejabat yang dianak-emaskan, baik yang sipil maupun yang 31 militer.

31 Yahya Muhaimin, Bisnis dan Politik. Jakarta: LP3ES, 1991.Hal: 247

  Kedua, adalah kenyataan bahwa raja-raja jawa mngutip sebagian kekayaan yang dihasilkan perniagaan dan perdagangan melalui kekuasaannya untuk menarikpajak dan memberlakukan monopoli atas barang-barang yang strategis. Pada awal masa Orde Baru, alokasi untuk pertahanan dan keamanan dalam anggaran negara masih tetap sangat rendah dan salah satunya adalah kalangan militerkelihatan merasa perlu mencari cara untuk mengumpulkan dana guna menutup kekurangan anggaran mereka.

32 Ahmad Shahab, Biografi Politik Presiden Republik Indonesia Kedua Soeharto, Jakarta, Golden Terayon Press, 2008. Hal: 172

  Secara khusus, para elite Indonesia ingin menggantikan para pengusaha besar milik Belanda, dintaranya ada yang lebih menginginkan agar perusahaandiselenggarakan oleh negara dan yang lainnya menghendaki diselenggarakannya perusahaan-perusahaan oleh swasta dan lebih dari itu mereka hampir sepenuhnyasependapat bahwa monopoli Cina di bidang perusahaan, jasa bank dan perdagangan kecil, harus dipatahkan. Dalam waktu yang bersamaan, dengan jalan memanfaatkan undang-undang dan kebijaksanaan yang ada, banyak diantara pejabat yang secara langsung atau tidak Apa yang terjadi di Indonesia adalah bahwa peran negara dalam menumbuhkan sebuah borjuasi belum lagi menyamai peran yang telah dimainkanoleh negara di Jepang, melainkan hanya berkembang sampai ke suatu titik di mana antara para penguasa politik dalam birokrasi dan para pengusaha serta kelompok-kelompok usaha tertentu.

2. Birokrasi dan Pengusaha Pada Masa Orde Baru

  Ini disebabkan oleh semakin meningkatnya inflasi dan kurs Rupiah terhadap mata uangasing yang tinggi yang ditetapkan secara artifisial, melonjaknya harga-harga, adanya kemacetan-kemacetan pengangkutan-pengangkutan fluktuasi musiman dan buruknyapelayanan informasi, yang diperparah lagi oleh perubahan-perubahan besar dari waktu ke waktu yang diadakan di bidang pengawasan harga dan pemberian subsidi. Pengusaha-pengusaha klien yang muncul pada periode Orde Baru pada umumnya berasal dari kalangan yang mempunyai hubungan dekat dengan jenderal-jenderal militer, karena yang paling menentukan bagi keberhasilan dalam dunia bisnis masih tetap patronase politik.

3. Kemasan Birokrasi Neopatrimonial Orde Baru

  paternalisme berartiperlindungan dan pengawasan seperti terhadap sejumlah kecil anak oleh seorang ayah, yang dilakukan pemerintah atas yang diperintah, oleh seorang majikan terhadappekerja-pekerja atau hubungan-hubungan yang lainnya. Fenomena ini terwujud di Indonesia melalui kombinasi antara jabatan birokrasi dan kegiatan ekonomi yang 33 bersifat informal dan tidak langsung dengan klien yang dependen.

33 Indra Ismawan, Harta Dan Yayasan Soeharto, Jakarta: PT. Buku Kita, 2007. Hal: 99

  Kasus terkenal dengan nama Pizza Connection ini melibatkan uang sekitar US$600 juta yang disalurkan ke bank Swiss dan Italia. Setelah melalui beberapa proses yang relatif standar, seperti meminta kredit dari sebuah bank dengan jaminan deposito uang haram di bank tersebut, uang berbentuk kredit tersebut digunakan untuk mendirikan dua perusahaan “halal” A danB.

34 Ibid, Hal: 136

  Oleh perusahaan C dibuat sedemikian rupa sehingga posisi yang mengalami kerugian dibebankan kepada perusahaan A, dan perusahaan yang untung dialokasikan kepada perusahaan B. Keuntungan dan kerugian yang sangat besar dapat diatur atau diadakan dalam tempo sekejap (dengan hitungan menit atau pun detik) tanpa mengundang kecurigaan orangluar.

35 Ibid, Hal: 138-139

  Dan bila dengan cara tersebut belum habis juga, maka uang haram tersebut selain buat sesuka hati, juga akan dibeli sebanyak-banyaknya berlian, real-estate, kastil, dan 1001 benda bernilai tinggi lainnya, yang kelak dapat dijual lagi lewat cek dan atau transfer bank. Jumlah yang sangat besar itumemberatkan pembedaan antara uang yang normal dan uang yang didapat secara tidak normal.

4. Negara Birokratik-Otoritarianisme Orde Baru

  Krisis tersebutberupa inflasi yang merajalela, neraca pembayaran dan beban utang yang sangat berat serta ketidakstabilan politik akibat mobilisasi massa yang intensif dan kudeta Ideologi pembangunan dengan “jargon ekonomi” sebagai panglima kemudian direproduksi sedemikian pasif. Pada arah domestik, kuasa negara semakin mengakar secara historis karena hadirnya dukungan serta kondisi ekonomi dan politik berikut : kuatnya basisdukungan ideologis dan struktural dari aliansi birokrasi-militer-GOLKAR, patronase lembaga kepresidenan yang menggerus energi kekuasaan secara sentripental pada Semenjak awal kelahirannya, rezim Otoritarian-Birokratik Orde Baru telah mengukuhkan pilihannya atas stabilisasi dan pembangunan ekonomi kapitalistikberorientasi keluar.

36 Hasrul Hanif,. Op Cit. Hal: 47

  Sedangkan krisis legitimasi sering sekali muncul akibat semakin menguatnya tuntutan kelas bawah yang disertai fragmentasi yang terjadi pada elemen pendukungrezim Otoritarian-Birokratik (OB) yang sedang berkuasa. Atau dengan kata lain, proses perubahan dan transformasi sebuah rezim tidaklah ditentukan hanya oleh faktor pertumbuhan dan pembangunanekonomi maupun modernisasi semata sebagaimana yang diyakini oleh penganut paham modernisasi selama ini.

37 Bottomore, Elite dan Masyarakat. Jakarta: Akbar Tandjung Institute, 2006.Hal: 26

  Kapitalisme menciptakan prakondisi-prakondisi material dan kultural untuk suatu masyarakat tanpa kelas-kondisi material denganproduktivitasnya yang luar biasa yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok seluruh manusia dan menggeser garisbatas perjuangan untuk tetap hidup secara fisik, dan kondisi kultural dengan mengalahkan keluguan dan dengan meningkatkan kemampuanbaca tulis, menyebarkan pengetahuan ilmiah, dan melibatkan masyarakat dalam kehidupan politik. Konsepsi demokrasi merupakan sistem politik, dimana partai politik bersaing demi suara masa pemilih pada saat pemilihan umum, dan implikasi lanjutnya elitemenjadi relatif terbuka dan direkrut berdasarkan prestasi (diasumsikan ada perputaran elite yang luas dan berkesinambungan), kemudian populasi dapat berperan serta didalam golongan pemerintah paling tidak dalam pengertian bahwa mereka dapat memilih antara elite yang bersaing.

38 Ibid,. Hal: 148-149

  Bahwa pemerintah harus mampu memimpin pelayanan birokrasi terlatih yang punya tradisi dan reputasi bagus. Bahwa harus ada self-control demokrasi, yaitu bahwa elite yang bersaing harus saling bertoleransi terhadap pemerintahan yang lain dan harus menolaktawaran orang yang tidak jujur dan berwatak tidak baik.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Orde Baru lahir memetik hikmah dari suasana negara dalam keadaan kacau balau. Pertikaian politik yang berlarut-larut antar berbagai golongan politik. Kebangkrutan ekonomi, dimana inflasi mencapai sampai sekitar 650 persen

  Rezim birokratik otoritarian ini bertujuan membuat keputusan yang sederhana,tepat, tidak bertele-tele, dan efisien yang tidak memungkinkan adanya proses bargaining yang lama, melainkan mencukupkan diri pada pendekatan “teknokratik- birokratik” dengan pertimbangan semata-mata “efisiensi”. Rezim ini didukung oleh unsur koalisinya dari kelompok-kelompok yang paling mungkin dapat mendukung proses pembangunan yang efisien yaitu ‘militer’, teknokrat sipil, dan pemilik modal (baik domestik maupun luarnegeri).

B. Saran

  Saya berharap pemerintahan dan birokrasi yang ada di negara Indonesia ini semakin baik dan dapat membimbing masyarakat menjadi lebih baik lagi. Hasil penelitian yang saya buat ini berguna bagi yang ingin menyusun penelitian akhir sebagai rujukan.

DAFTAR PUSTAKA

  Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta,2000 Mubarok, M. Ahmad, Biografi Politik: Presiden Republik Indonesia Kedua Soeharto Pembangunan dan Partisipasi, Jakarta: Golden Terayon Press, 2008.

SUMBER INTERNET

SUMBER JURNAL

  Jurnal Ilmu Politik 2, diterbitkan atas kerja sama Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan Penerbit PT. Gramedia, Jakartan pada tahun 1987.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Konflik Dan Kekuasaan Suatu Studi Perjuangan Politik Datuk Badiuzzaman Surbakti Dalam Perang Sunggal (1872-1895)
3
78
121
Pendekatan Ekonomi Politik Neoklasik dan Pembangunan Politik di Negara Berkembang sebagai Tipe Politik Masyarakat Industri
2
33
12
Pergeseran Pola Kekuasaan Rezimentasi: Suatu Studi Tentang Pengaturan Politik Hubungan Negara -Masyarakat Sipil Pada Rezim Soeharto dan Pengaturan Politik Hubungan Pusat-Daerah Pasca Rezim Soeharto
0
52
133
Soeharto Dan Mliter : Suatu Study Analisis Militer sebagai Penopang Utama Kekuasaan Soeharto Selama Berkuasa (Orde Baru)
0
38
152
Politik Dan Sastra: Suatu Studi Hermeneutika Terhadap Karya Sastra Djaga Depari.
7
133
117
Negara Orde Baru Dan Pengendalian Partai Politik (Studi Deskriptif Kebijakan Pemerintahan Orde Baru terhadap Partai Persatuan Pembangunan).
2
54
139
Ideologi Dan Perubahan Politik Suatu Studi Terhadap Perubahan Politik Pada Era Politik Soeharto (1965- 1971)
13
125
112
Budaya Politik Dan Partisipasi Politik ( Suatu Studi : Budaya Politik Dan Partisipasi Politik Masyarakat Dalam Pemilu Legislatif 2009 Di Desa Aek Tuhul Kecamatan Batunadua Padangsidempuan )
11
105
85
Negara Dan Kesetaraan Gender : Suatu Studi Wacana Perempuan Indonesia Dalam Politik Indonesia
0
25
183
Negara Dan Kekuasaan : Pemikiran Dan Praktek Politik Negara Birokratik Otoritarian Suatu Eksplanasi Fenomena Otoritarianisme Negara-Negara Berkembang Studi Kasus: Politik Dan Pemerintahan Orde Baru)
2
48
106
International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia Dalam Konflik Kepentingan Ekonomi dan Politik Negara Maju dengan Negara Berkembang
1
36
8
Mahasiswa Dan Politik: Suatu Analisa Gerakan Sosial Mahasiswa Melawan Politik Hegemoni Negara Orde Baru 1998
2
60
153
Negara Orde Baru Dan Pengendalian Politik Islam ( Studi Terhadap Hubungan Akomodatif Orde baru Terhadap Umat Islam Priode 1985 - 1994 )
0
27
95
Pemikiran Bela Negara Dan Hubungan Internasional: Pergeseran Peran Negara Dan Implikasinya Terhadap Perkembangan Sudut Pandang Studi Ilmu Hubungan Internasional
0
1
15
Konflik Dan Kekuasaan Suatu Studi Perjuangan Politik Datuk Badiuzzaman Surbakti Dalam Perang Sunggal (1872-1895)
0
1
12
Show more