Feedback

Hubungan Nilai Spirometri dengan Lean Body Mass Index pada Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Stabil Di RS Tembakau Deli Medan

Informasi dokumen
HUBUNGAN NILAI SPIROMETRI DENGAN LEAN BODY MASS INDEX PADA PENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK STABIL DI RS TEMBAKAU DELI MEDAN Oleh : YOSER THAMTONO 080100056 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara HUBUNGAN NILAI SPIROMETRI DENGAN LEAN BODY MASS INDEX PADA PENDERITA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK STABIL DI RS TEMBAKAU DELI MEDAN KARYA TULIS ILMIAH Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan sarjana kedokteran Oleh : YOSER THAMTONO 080100056 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara LEMBAR PENGESAHAN Hubungan Nilai Spirometri dengan Lean Body Mass Index pada Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Stabil Di RS Tembakau Deli Medan Nama : YOSER THAMTONO NIM : 080100056 Pembimbing Penguji I ( dr. Amira Permatasari, SpP ) NIP. 196911071999032002 ( dr. Deske Muhadi Rangkuti, SpPD) NIP. 197112272005011002 Penguji II ( dr. Jessy Chrestella, SpPA ) NIP. 198201132008012006 Medan, Desember 2011 Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara ( Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH ) NIP. 195402201980111001 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Latar Belakang: Selain gangguan saluran pernapasan, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan penyakit sistemik yang mempunyai hubungan antara keterlibatan metabolik dan otot rangka. Setengah dari penderita PPOK ditemukan akan mengalami penurunan massa otot, yang pada akhirnya juga akan menimbulkan penurunan berat badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara derajat obstruksi saluran pernapasan yang diukur dengan spirometri pada pasien PPOK dengan nilai lean body mass index sebagai massa bebas lemak. Metode: Rancangan penelitian ini adalah cross sectional dengan consecutive sampling yang dilakukan pada 42 orang pasien PPOK stabil di RS Tembakau Deli. Hasil: Rata-rata usia sampel adalah 64.64 tahun dengan sampel termuda berusia 50 tahun dan sampel tertua berusia 70 tahun. Indeks massa tubuh rata-rata sampel 20.08 kg/m2 (SD= 3.80) dan rata-rata LBMI dari seluruh sampel adalah 16.76 kg/m2 (SD=1.92). Sebagian besar subyek (45.2%) memiliki derajat keparahan PPOK tingkat berat. Dari hasil analisis dua arah Korelasi Pearson, terdapat hubungan bermakna antara nilai spirometri VEP1 dengan lean body mass index (r= 0,323; p= 0,037). Sementara itu, tidak terdapat hubungan antara nilai spirometri VEP1 dengan Indeks Massa Tubuh (r=0.289, p=0.063). Kesimpulan: Pada pasien PPOK terjadi kehilangan massa bebas lemak yang ditunjukkan oleh rendahnya nilai lean body mass index. Selain itu, dapat disimpulkan pula bahwa lean body mass index merupakan variabel keparahan penyakit PPOK yang lebih tepat digunakan daripada Indeks Massa Tubuh. Kata Kunci: PPOK, nilai spirometri, lean body mass index, indeks massa tubuh. Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Background: Beside causing respiratory tract disorders, Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is also regarded as a systemic disease that involve metabolic system, skeletal muscle, and molecular genetics. Half of all patients with COPD was found to have decreased muscle mass, which in turn will also cause weight loss. This study aims to determine the relationship between the degree of airway obstruction measured by spirometry in COPD patients with a value of lean body mass index as fat-free mass index. Methods: The study design was cross sectional study with consecutive sampling conducted in 42 stable COPD patients in Tembakau Deli Hospital. Results: The average age of the sample was 64.64 years with youngest sample at 50-year-and oldest samples aged 70 years. The average BMI of the sample is 20:08 kg/m2 (SD = 3.80) and the average LBMI is 16.76 kg/m2 (SD = 1.92). Most of the subjects (45.2%) had severe COPD. From the analysis of two-way Pearson correlation, there is a significant relationship between spirometric value FEV1 with lean body mass index (r = 0.323, p = 0.037). Meanwhile, there is no relationship between the spirometric value FEV1 with body mass index (r = 0289, p = 0063). Conclusions: Depletion of fat-free mass occurred in COPD patients indicated by the low value of lean body mass index. Beside, it can be concluded also that LBMI seems to be more accurate in expressing variables of disease severity, compared to BMI. Keywords: COPD, spirometric value, lean body mass index, body mass index. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian ini, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan sarjana kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Dalam penyelesaian penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis banyak menerima bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penuliis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada: 1. Bapak Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2. Ibu dr. Amira Permata Sari Tarigan, Sp.P, selaku Dosen Pembimbing yang dengan sepenuh hati telah meluangkan waktu untuk mendukung, membimbing dan mengarahkan penulis hingga memberikan rekomendasi yang sangat berguna selama pelaksanaan penelitian ini. 3. Bapak dr. Harry Agoestaf Asroel, Sp.THT-KL selaku Dosen Penasehat Akademis yang telah membimbing penulis selama menjalani perkuliahan di Fakultas Kedokteran USU. 4. Bapak dr. Deske Muhadi Rangkuti, SpPD selaku dosen penguji I serta Ibu dr. dr. Jessy Chrestella, Sp.PA selaku dosen penguji II yang telah bersedia menguji, memberikan masukan dan saran kepada penulis. 5. Seluruh staff dan jajaran pegawai RS Tembakau Deli Medan atas bantuannya selama peneliti melaksanakan penelitian. 6. Seluruh staf pengajar dan civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 7. Ibunda dan Ayahanda tercinta peneliti yang dengan curahan kasih sayang mereka senantiasa menjadi motivasi penulis dalam menyelesaikan pendidikan. Dalam do’a mereka terkandung harapan kesuksesan bagi penulis. Universitas Sumatera Utara 8. Seluruh subjek penelitian dalam penelitian ini atas partisipasinya dalam proses pengumpulan data penelitian ini. 9. Teman-teman seperjuangan Winny, Marianto, Citra Aryanti, Rizky Indah Putri, Syifa Khairunissa Nasution, Ami Utamiati, teman-teman lain di SCORE PEMA FK USU yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. 10. Standing Committee on Research Exchange Pemerintahan Mahasiswa (SCORE-PEMA) FK USU, yang telah berjasa besar mengenalkan peneliti pada dunia kepenulisan dan kepenelitian. Untuk seluruh bantuan baik moril ataupun materil yang diberikan kepada penulis selama ini, penulis ucapkan terima kasih dan semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan imbalan pahala yang sebesar-besarnya. Penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat berguna bagi kita semua. Medan, Desember 2011 Penulis Yoser Thamtono 080100056 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman Halaman Persetujuan . i Abstrak . ii Abstract . iii Kata Pengantar. iv Daftar Isi. vi Daftar Tabel . ix Daftar Gambar . x Daftar Lampiran. xi Daftar Singkatan . xii BAB 1 PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang . 1 1.2 Rumusan Masalah . 3 1.3 Tujuan Penelitian . 3 1.4 Manfaat Penelitian . 4 TINJAUAN PUSTAKA. 5 2.1. Penyakit Paru Obstruktif Kronik. 5 BAB 2 2.1.1. Definisi. . 5 2.1.2. Faktor Resiko. 5 2.1.3. Patogenesis. . 6 2.1.4. Diagnosis. . 8 2.1.5. Klasifikasi. . 10 2.2. Nilai Spirometri . 11 2.3. Lean body mass . 12 2.4. Penurunan Massa Sel Tubuh pada PPOK . 14 2.5. Hubungan PPOK dengan lean body mass . 17 Universitas Sumatera Utara BAB 3 BAB 4 BAB 5 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 20 3.1. Kerangka Konsep Penelitian . 20 3.2. Definisi Operasional . 20 3.3. Hipotesis . 23 METODE PENELITIAN . 24 4.1 Jenis Penelitian . 24 4.2. Waktu dan Tempat Penelitian . 24 4.3. Populasi dan Sampel . 24 4.3.1. Populasi . 24 4.3.2. Sampel . 24 4.4. Metode Pengumpulan Data. 26 4.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data . 27 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN . 30 5.1. Deskripsi Lokasi Penelitian . 30 5.2. Karakteristik Individu . 30 5.2.1. Distribusi Sampel berdasarkan Umur . 30 5.2.2. Distribusi Sampel berdasarkan Tinggi Badan . 31 5.2.3. Distribusi Sampel berdasarkan Berat Badan. 32 5.2.4. Distribusi Sampel berdasarkan Indeks Massa Tubuh . 32 5.2.5. Distribusi Sampel berdasarkan Lean Body Mass Index . 33 5.2.6. Distribusi Sampel berdasarkan Derajat Keparahan PPOK . 34 5.3. Hasil Analisis Data . 34 5.3.1. Hubungan Nilai Spirometri dengan Indeks Massa Tubuh . 34 5.2.2. Hubungan Nilai Spirometri dengan Lean Body Mass Index . 36 5.4. Pembahasan . 39 Universitas Sumatera Utara BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN . 45 4.1 Kesimpulan . 45 4.2. Saran . 45 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Nomor Judul Halaman Tabel 4.1. Interpretasi tingkat hubungan koefisien korelasi . 27 Tabel 5.1. Distribusi sampel berdasarkan umur . 31 Tabel 5.2. Distribusi sampel berdasarkan tinggi badan . 31 Tabel 5.3. Distribusi sampel berdasarkan berat badan . 32 Tabel 5.4. Distribusi sampel berdasarkan Indeks Massa Tubuh . 33 Tabel 5.5. Distribusi sampel berdasarkan lean body mass index . 33 Tabel 5.6. Distribusi sampel berdasarkan derajat keparahan PPOK 34 Tabel 5.7. Analisis Uji Korelasi Pearson Hubungan Nilai Spirometri dengan Indeks Massa Tubuh . Tabel 5.8. Analisis Uji Korelasi Pearson Hubungan Nilai Spirometri dengan Lean Body Mass Index . Tabel 5.8. 36 38 Hasil Analisis Regresi Linier Hubungan Nilai Spirometri dengan Lean Body Mass Index . 38 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Nomor Judul Halaman Gambar 2.1. Perbandingan hasil perhitungan LBM menggunakan rumus James dan Janmahasatian. 14 Gambar 3.1. Kerangka konsep penelitian. . 20 Gambar 4.1. Alur Penelitian. 29 Gambar 5.1. Diagram Tebar (Scatter plot) dari hubungan nilai spirometri dan Indeks Massa Tubuh . 35 Gambar 5.2. Diagram Tebar (Scatter plot) dari hubungan nilai spirometri dan Lean Body Mass Index . 38 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN 1. Daftar Riwayat Hidup 2. Lembar Penjelasan 3. Lembar Persetujuan Penelitian 4. Lembar Rekam Medik Hasil Pemeriksaan 5. Data Induk 6. Output Data Hasil Penelitian 7. Surat Izin Penelitian 8. Ethical Clearance Universitas Sumatera Utara DAFTAR SINGKATAN ATP : Adenosine triphosphate ATS : American Thoracic Society BB : Berat badan BIA : Bioimpedance analysis CRP : C-reactive protein CI : Confidence interval Depkes RI : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Dirjen PPM & PL : Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan DXA : Dual- energy X-ray absorptiometry ERS : European Respiratory Society FFM : Fat free mass FFMI : Fat free mass index GOLD : Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease IGFs : Insulin-like growth factors IL-1β : Interleukin-1 beta IL-6 : Interleukin-6 IMT : Indeks Massa Tubuh Kg : Kilogram KVP : Kapasitas vital paru LBM : Lean body mass LBMI : Lean body mass index MyoD : Myoblast determination protein-1 NF-kB : Nuclear factor-kappa B PDPI : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia PPOK : Penyakit Paru Obstruktif Kronik RNS : Reactive nitrogen species ROS : Reactive oxygen species SKRT : Survei Kesehatan Rumah Tangga Universitas Sumatera Utara TB : Tinggi badan TNF-α : Tumor necrosis factor-alpha VEP1 : Volume ekspirasi paksa detik pertama WHO : World Health Organization Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Latar Belakang: Selain gangguan saluran pernapasan, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan penyakit sistemik yang mempunyai hubungan antara keterlibatan metabolik dan otot rangka. Setengah dari penderita PPOK ditemukan akan mengalami penurunan massa otot, yang pada akhirnya juga akan menimbulkan penurunan berat badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara derajat obstruksi saluran pernapasan yang diukur dengan spirometri pada pasien PPOK dengan nilai lean body mass index sebagai massa bebas lemak. Metode: Rancangan penelitian ini adalah cross sectional dengan consecutive sampling yang dilakukan pada 42 orang pasien PPOK stabil di RS Tembakau Deli. Hasil: Rata-rata usia sampel adalah 64.64 tahun dengan sampel termuda berusia 50 tahun dan sampel tertua berusia 70 tahun. Indeks massa tubuh rata-rata sampel 20.08 kg/m2 (SD= 3.80) dan rata-rata LBMI dari seluruh sampel adalah 16.76 kg/m2 (SD=1.92). Sebagian besar subyek (45.2%) memiliki derajat keparahan PPOK tingkat berat. Dari hasil analisis dua arah Korelasi Pearson, terdapat hubungan bermakna antara nilai spirometri VEP1 dengan lean body mass index (r= 0,323; p= 0,037). Sementara itu, tidak terdapat hubungan antara nilai spirometri VEP1 dengan Indeks Massa Tubuh (r=0.289, p=0.063). Kesimpulan: Pada pasien PPOK terjadi kehilangan massa bebas lemak yang ditunjukkan oleh rendahnya nilai lean body mass index. Selain itu, dapat disimpulkan pula bahwa lean body mass index merupakan variabel keparahan penyakit PPOK yang lebih tepat digunakan daripada Indeks Massa Tubuh. Kata Kunci: PPOK, nilai spirometri, lean body mass index, indeks massa tubuh. Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Background: Beside causing respiratory tract disorders, Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is also regarded as a systemic disease that involve metabolic system, skeletal muscle, and molecular genetics. Half of all patients with COPD was found to have decreased muscle mass, which in turn will also cause weight loss. This study aims to determine the relationship between the degree of airway obstruction measured by spirometry in COPD patients with a value of lean body mass index as fat-free mass index. Methods: The study design was cross sectional study with consecutive sampling conducted in 42 stable COPD patients in Tembakau Deli Hospital. Results: The average age of the sample was 64.64 years with youngest sample at 50-year-and oldest samples aged 70 years. The average BMI of the sample is 20:08 kg/m2 (SD = 3.80) and the average LBMI is 16.76 kg/m2 (SD = 1.92). Most of the subjects (45.2%) had severe COPD. From the analysis of two-way Pearson correlation, there is a significant relationship between spirometric value FEV1 with lean body mass index (r = 0.323, p = 0.037). Meanwhile, there is no relationship lebih besar, BODE Index biasa digunakan untuk memprognosis kualitas pertahanan hidup pada penderita dengan melihat faktor pulmonal dan ekstra pulmonal.36 Resiko kematian dari penyakit respiratorik menyebabkan peningkatan lebih dari 60% bagi setiap nilai yang meningkat di dalam BODE Index. Individu-individu dengan skor pada kuartil keempat (skor 7-10) adalah empat kali lebih cenderung untuk dirawat inap di rumah sakit dari pada skor pada kuartil pertama (0-2). BODE Index juga berhubungan erat dengan pasien berobat jalan.37 Rehabilitasi paru dapat memperbaiki skor BODE Index sebanyak 0,9 Point pada penderita PPOK derajat berat hingga sedang dan menggambarkan efek yang baik terhadap Universitas Sumatera Utara test jalan 6 menit dan sesak napas.kita ketahui bahwa uji jalan dapat dilakukan dilakukan dalam 6,8 atau 12 menit,tetapi menurut paul dkk setelah dilakukan penelitian utk ke tiga uji jalan tersebut didapati nilai yang sama,sehingga uji jalan 6 menit yang selalu digunakan 36,37 VEP1 sangat mudah diukur dan merupakan prediktor yang kuat dalam hubungan dengan mortalitas penderita PPOK. Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan VEP1 sangat penting dalam menentukan prognosis penderita PPOK. Penelitian jangka panjang tentang penurunan VEP1 telah menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kebiasaan merokok dan terjadinya eksaserbasi. PPOK berhubungan dengan inflamasi saluran napas dan inflamasi sistemik, walaupun masih sedikit informasi tentang hubungan inflamasi dengan penurunan VEP1. Petanda inflamasi sangat tinggi levelnya pada penderita dengan PPOK derajat berat dan meningkat saat terjadinya eksaserbasi. Penelitian cohort Gavin dkk memperlihatkan hubungan antara inflamasi sistemik dan penurunan VEP1 dengan memonitor penderita PPOK derajat sedang dan berat.38 Status sosial ekonomi terbukti sebagai resiko terjadinya PPOK dengan perbandingan terbalik antara kejadian PPOK dengan status sosial ekonomi. Koster dkk. mengungkapkan bahwa penurunan sosial ekonomi dapat menurunkan fungsi organ tubuh termasuk paru dan meningkatkan komorbiditi dan berat penyakit termasuk di dalamnya adalah PPOK, walaupun hal itu tidak berdiri sendiri.39 Kehilangan massa otot skeletal pada PPOK dan terdapatnya beberapa abnormalitas bioenergetika dapat dilihat dengan penurunan berat badan. Efek sistemik dapat terlihat secara signifikan pada gejala klinis seperti terbatasnya aktivitas dan berdampak buruk pada kualitas hidup. Status nutrisi dapat dievaluasi melalui Indeks Massa Tubuh (IMT) dan kehilangan massa otot skeletal merupakan penyebab utama dari penurunan IMT.40,41,42 Tes jalan 6 menit adalah latihan sederhana yang dapat mengakses status fungsional penderita PPOK. Uji ini mengevaluasi secara global dan terintegrasi respon paru, Universitas Sumatera Utara kardiovaskuler, dan sistem muskular yang mencerminkan tingkatan dari kemampuan akitivitas fisik sehari-hari.43 Tes jalan 6 menit tidak dapat berdiri sendiri, toleransi latihan fungsional pada penderita PPOK dinilai dengan beberapa faktor yang menggambarkan tampilan tes jalan 6 menit antara lain; frekuensi denyut jantung, jarak jalan, saturasi oksigen dan derajat sesak napas. Indikasi utama tes jalan 6 menit adalah untuk mengukur respon intervensi medis penderita dengan kelainan jantung atau paru derajat ringan sampai berat. Indikasi lain adalah untuk mengukur status fungsional penderita dan memprediksi mortalitas dan morbiditas penyakit.44 Terdapat banyak skala untuk menilai sesak seperti Transient Dyspneu Index, Baseline Dyspneu index, dan skala besar Borg. Parameter yang digunakan pada BODE adalah skala sesak yang berasal dari Modified Medical Research Council for Dyspneu (MMRC) dengan alasan skor MMRC dapat memperkirakan kemungkinan ketahanan hidup diantara penderitapenderita PPOK.45 Tabel di bawah ini memperlihatkan skala berdasar MMRC. Tabel. 2.2. Modified Medical Research Council Dyspneu score 0 Tidak bermasalah dengan sesak, kecuali dengan latihan berat 1 Sesak napas apabila terburu-buru atau menaiki bukit yang agak tinggi 2 Berjalan pelan atau berhenti sejenak untuk bernapas. 3 Berhenti untuk bernapas setelah berjalan selama 100 meter 4 Sesak bila meninggalkan rumah atau sesak saat berpakaian atau melepaskan pakaian Dikutip dari (6) BODE indeks yang terdiri dari komponen (Body mass index, Obstructif ventilator defect severity, Dyspneu severity, and Exercise capacity) dapat digunakan untuk memperlihatkan perjalanan penyakit dan memprediksi terjadinya eksaserbasi pada penderita PPOK.10,45 Kombinasi dari beberapa variabel yaitu indeks massa tubuh berdasarkan berat badan dibagi tinggi badan dalam meter persegi, obstruksi aliran udara berdasar VEP1, sesak Universitas Sumatera Utara berdasar MMRC dan kapasitas latihan berdasarkan uji jalan 6 menit, telah terbukti dalam memprediksi resiko kematian dengan cara mudah.2,10 Makin tinggi skor BODE indeks maka makin buruk prognosisnya karena mengindikasikan lebih banyak perburukan multidimensional karena PPOK-nya. Tabel dibawah menunjukkan perhitungan skor prognostik BODE Index. Tabel 2.3. Variabel dan Nilai Ukur yang Digunakan untuk Perhitungan BODE Index Perhitungan BODE index Poin BODE indeks Variabel 0 1 2 VEP1 ≥65 50-64 36-49 ≤35 Uji Jalan 6 menit ≥349 250-349 150-249 ≤149 Derajat Dyspneu 0-1 2 Indeks Massa Tubuh ≥21 ≤21 3 3 4 Dikutip dari (6) Keterangan:  1. VEP1 1. Points 0: VEP1 ≥64% 2. Points 1: VEP1 50-64% 3. Points 2: VEP1 36-49% 4. Points 3: VEP1 ≤35% 2. Uji Jalan 6 menit 1. Points 0: Berjalan ≥349 meter 2. Points 1: Berjalan 250-349 meter 3. Points 2: Berjalan 150-249 meter 4. Points 3: Berjalan ≤149 meter Universitas Sumatera Utara 3. Derajat Dyspneu 1. Points 0: Dyspneu Index 0-1 2. Points 1: Dyspneu Index 2 3. Points 2: Dyspneu Index 3 4. Points 3: Dyspneu Index 4-5 4. Indeks Massa Tubuh 1. Points 0: BMI ≥21 2. Points 1: BMI ≤21 Oleh Ong dkk kuartil BODE index digunakan untuk memprediksi penderita PPOK yang perlu perawatan di rumah sakit dan juga digunakan sebagai instrumen untuk mengetahui hasil dari terapi pada penderita PPOK.6 Tabel. 2.4. Klasifikasi Quartil BODE index Quartil 1 = 0-2 Point Quartil 2 = 3-4 Point Quartil 3 = 5-6 Point Quartil 4 = 7-10 Point Dikutip dari (6) Keterangan: Q1: 0-2 : artinya 30% penderita diperkirakan dapat bertahan hidup selama 2 tahun Q2: 3-4 : artinya 15% penderita diperkirakan dapat bertahan hidup selama 2 tahun Q3: 5-6 : artinya 10% penderita diperkirakan dapat bertahan hidup selama 2 tahun Q4:7-10: artinya 10% penderita diperkirakan dapat bertahan hidup selama 2 tahun Universitas Sumatera Utara Contoh kasus: Penderita yang telah di uji didapati hasil Dengan nilai VEP1 50-64% (point BODE Index 1). Uji jalan 6 menit dengan nilai 250-349 meter (point BODE Index 1). Derajat dyspneu dengan nilai 3 (point BODE Index 2). Dan nilai indeks massa tubuh dengan nilai ≥ 21 (point BODE Index 0) Maka hasil penjumlahan point yaitu 4,dan nilai point dimasukkan ke tabel quartile BODE Index yang seperti,diatas maka di dapati persentase kualitas pertahanan hidup. Universitas Sumatera Utara 2.3 KERANGKA KONSEP PPOK  Inflamasi lokal  Inflamasi   sistemik  Penurunan  massa di otot  Pemeriksaan  BMI  Obstruksi  Kapasitas  fungsional  Pemeriksaan  6MWD  VEP1   &  VEP1/KVP  Pemeriksaan  spirometri  Sesak napas  (+)  Pemeriksaan  derajat sesak  napas  BODE INDEX  Universitas Sumatera Utara BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan secara crossectional, yang bertujuan untuk mengumpulkan data dari hasil pemeriksaan yang menjadi suatu penilaian Bode Index pada penderita PPOK stabil. 3.2. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi di poli Paru Rumah Sakit Umum H. Adam Malik Medan dan Poli Paru RS. PTPII Tembakau Deli Medan.Rencana penelitian ini akan dilaksanakan selama kurun waktu 2 bulan. 3.3. Populasi dan Subyek Penelitian 3.3.1. Populasi Populasi penelitan ini adalah semua penderita PPOK stabil yang berobat jalan di Poli Paru Rumah Sakit Umum H. Adam Malik Medan dan Poli Paru RS. PTPII Tembakau Deli Medan. 3.3.2. Sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak terdapat kriteria eksklusi. 3.3.3. Kriteria Inklusi dan Eksklusi a. Kriteria Inklusi : Universitas Sumatera Utara 1. Penderita PPOK Stabil. 2. Usia 40 - 80 tahun. 3. Tidak sedang Eksaserbasi. 4. Setelah prosedur penelitan dijelaskan kepada penderita, penderita bersedia menandatangani formulir persetujuan setelah penjelasan atau informed consent yang ada. b. Kriteria Eksklusi: 1. Menderita Asma, SOPT ( Sindroma Obstruksi Pasca TB paru ) atau riwayat TB Paru dan kelainan penyakit paru lainnya. 2. Menderita gangguan neurologik (stroke) dan saraf perifer lain. 3. Menderita gangguan sendi. 4. Menderita gangguan psikiatri. 5. Menderita penyakit hernia. 6. Menderita Jantung. 3.4. Besar Sampel47 Jumlah sedangkan 8,6% dengan dengan tempat tinggal selain daerah perkotaan dan industri. Dan derajat sesak napas derajat 4 adalah 2,9% pasien dengan tempat tinggal perkotaan, tidak ada pasien dengan tempat tinggal daerah industri, sedangkan 2% dengan dengan tempat tinggal selain daerah perkotaan dan industri. Universitas Sumatera Utara BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan 6.1.1 Proporsi penderita berdasarkan sosial demografi diperoleh proporsi tertinggi adalah pada kelompok umur 60-74 yaitu 40,0%, dengan proporsi laki-laki 97,1% dan perempuan 2,9%. Dan tempat tinggal terbanyak adalah lain-lain yaitu diluar dari perkotaan dan daerah industri. 6.1.2 Proporsi penderita berdasarkan status merokok diperoleh proporsi tetring adalah perokok yaitu 91,4% dengan rata-rata konsumsi adalah 18 batang rokok/hari dan lama merokok adalah 28,22 tahun. Sebagian besar penderita mengkonsumsi rokok filter 82,9% dan berdasarkan indeks brinkman sebagian besar penderita termasuk kedalam perokok sedang 48,6%. 6.1.3 Proporsi penderita berdasarkan gejala klinis menunjukkan sebagian besar penderita mengalami derajat 1 berdasarkan derajat sesak napas. Dan ini merupakan derajat sesak napas yang terparah. 6.1.4 Proporsi penderita berdasarkan berat badan dan tinggi badan menunjukkan rata-rata pasien memiliki berat 53,74 Kg dan tinggi badan 161 cm. Dan berdasarkan Indeks Massa Tubuh, sebagian besar penderita adalah normoweight atau dengan berat badan normal. Universitas Sumatera Utara 6.2 Saran 6.2.1 Bagi peneliti dimasa yang akan datang agar dapat lebih mengembangkan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik dengan menggunakan sampel yang lebih besar. 6.2.2 Bagi Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit bekerja sama dengan pihak sekolah untuk memberikan penyuluhan kesehatan pada pasien dan para masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang bahaya merokok dan perkembangannya. Universitas Sumatera Utara Daftar Pustaka Braman, Sidney S., 2009. Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Dalam: ACCP Pulmonary Medicine Board Review 25th Edition: American College of Chest Physicians. USA: American College of Chest Physicians, 153-185. Calverley , Peter MA., MacNee, W., Pride, Neil B., Rennard, S.I., 2003. Chronic Obstructive Pulmonary Disease. London: Arnold. Dahlan, M.S., 2008. Langkah-langkah Membuat Proposal Penelitian Bidang Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Sagung Seto. Djojodibroto, R.D., 2009. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta: EGC, 105133. Fitriani, F., Yunus, F., Wiyono, W.H., Antariksa, B., 2007. Penyakit Paru Obstruktif Kronik Sebagai Penyakit Sistemik. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Available from: http://www.klikpdpi.com [Accessed 12 Maret 2010]. Global Iniatiative for Chronic Obstructive Lung Disease, 2009. Global Strategy For The Diagnosis Management, And Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Kumar, A., Fausto, M., 2007. Robbins: Basic Pathology. Philadelphia: Saunders El Sevier, 484-494. Kumar, P., Clark, M., 2006. Kumar & Clark: Clinical Medicine 6th Edition. New York. Elsevier Press . 899-912. McNee, W., 2003. Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Dalam: Weatherall, D.J., Ledingham, J.G.G., Warrel,D.A. (eds.). 2003. Oxford Textbook of Medicine Vol. 2. Oxford University Pres, Oxford. Notoatmodjo, S., 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Universitas Sumatera Utara Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK): Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Di Indonesia. Perng, D.W., Huang, H.Y., Chen, H.M., Lee, Y.C., Perng, R.P., 2004. Characteristics of Airway Inflammation and Bronchodilator Reversibility in PPOK: A Potential Guide to Treatment. American College of Chest Physicians. Available from: http://chestjournal.chestpubs.org [Accessed 11 April 2010]. Rahmatika, Anita. 2009. Karakteristik Penderita Penyakit Paru Obstruksi Kronik Yang Dirawat Inap Di RSUD Aceh Tamiang Tahun 2007-2008. Available from: http://www.digilib.usu.ac.id/index.php [Accessed 10 November 2010]. Reilly Jr., John J., Silverman, Edwin K., Shapiro, Steven D. 2005. Harrison's principles of internal medicine 16th edition. New York: McGraw-Hill, 15471554 Ries, L. Andrew, 2005. Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Dalam : Humes, David, et al. 2005. Kelly’s Text Book of Internal Medicine 4th Ed. Dasmarinas: Cavite, 378. Rodarte, Joseph R., 2000. Goldman: Cecil Text Book of Medicine, 21st Ed. Philadelphia: Saunder. 102. Sastroasmoro, S., dan Ismael, S., 2008. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Edisi ke3. Jakarta: Sagung Seto. Simon, Harvey. 2009. Chronic Obstructive Pulmonary Disease. American Accreditation HealthCare Commission. Available from: http://www.About.com [Accessed 11 April 2010]. Suradi. 2009. Pengaruh Rokok Pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) Tinjauan Patogenesis, Klinis dan Sosial. Pidato Guru Besar, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. Available from: Universitas Sumatera Utara http://www.uns.ac.id/2009/penelitian.php?act=det&idA=263 [Accessed 11 April 2010]. Tierney Lawrance M.Jr., Mc Dhee Stephen J., Papandakis Maxine A. 2006. Current Medical Diagnosis & Treatment 45th edition. London: Prentice-Hall International, 239-244. Torre, Dario M., Lamb, Goffrey C., Van Ruiswyk, Jerome J., Schapira, Ralph M., 2009. Kochar’s Clinical Medicine for Students, 5th Edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 233-240. Wilson, L.M., 2006. Pola Obstruktif pada Penyakit Pernapasan. Dalam: Price, Sylvia A., Wilson, L.M (eds). 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta: EGC, 783-795. Universitas Sumatera Utara Lampiran 1: PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN Saya Yan Indra Fajar, mahasiswa Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2007 akan melakukan penelitian mengenai karakteristik pasien PPOK stabil yang datang berobat di Poli Paru RS. Tembakau Deli Medan. Penelitian ini dilakukan dengan meminta responden untuk menjawab pertanyaan kuesioner dengan cara wawancara yang dilakukan oleh peneliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien PPOK stabil mulai dari jenis kelamin, umur, pekerjaan, tinggi badan, berat badan, status merokok, jenis rokok yang digunakan, indeks brinkman, tempat tinggal dan derajat sesak napas. Setiap data yang terdapat dalam kuesioner ini tidak akan disebarluaskan dan akan dijamin kerahasiaanya. Adapun informasi yang saya terima tersebut hanya akan digunakan sebagai data penelitian. Jawaban yang saudara/i berikan akan sangat membantu saya dalam melakukan penelitian ini dan seterusnya akan menjadi referensi terhadap pihak terkait sebagai dasar untuk mengetahui karakteristik yang ada pada setiap pasien dan sangat diharapkan saudara/i untuk menjawab kuesioner ini dengan jujur. Setelah mengetahui tujuan penelitian di atas, jika saudara/i bersedia untuk mengisi kuesioner ini, mohon untuk tandatangan di tempat yang telah disediakan. Medan, Peneliti, ( YAN INDRA FAJAR SITEPU ) Responden, ( ) Lampiran 2 : Universitas Sumatera Utara Kuesioner Penelitian KARAKTERISTIK PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) YANG DATANG BEROBAT KE POLIKLINIK RS TEMBAKAU DELI MEDAN I. Identitas Pasien 1. Nama 2. Umur 3. Jenis Kelamin 4. Tinggi Badan 5. Berat Badan 6. Pekerjaan : : : : : : II. Pertanyaan Karakteristik 1. Status merokok : Apakah Anda Pernah Merokok? A. Ya B. Tidak Jika pernah, apakah sekarang anda masih merokok? A. Ya B. Tidak Jika tidak, apakah ada anggota keluarga serumah yang merokok? A. Ya B. Tidak Jenis rokok apa yang anda gunakan sehari-hari? a) Rokok filter b) Rokok non-filter Rata-rata batang rokok yang dikonsumsi perhari? Sudah berapa lama anda merokok? 2. Tempat tinggal : Apakah anda tinggal di daerah perkotaan? A. Ya B. Tidak Bagaimana suasana daerah tempat anda tinggal, apakah bersih atau justru sebaliknya? A. Ya B. Tidak Apakah daerah tempat anda tinggal terdapat tempat industri? A. Ya B. Tidak Universitas Sumatera Utara 3. Derajat PPOK berdasarkan tabel Baseline Dyspnea Index (BDI) Apakah anda masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa halangan? A. Ya B. Tidak Apakah terdapat halangan jika melakukan pekerjaan-pekerjaan berat? A. Ya B. Tidak Jika Ya, apakah terdapat pengurangan aktivitas kerja atau halangan jika melakukan pekerjaan-pekerjaan sedang? A. Ya B. Tidak Jika Ya, apakah anda masih mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan atau mudah sesak apabila melakukan aktivitas apapun? A. Ya B. Tidak Universitas Sumatera Utara CURRICULUM VITAE Nama : Yan Indra Fajar Sitepu Tempat/tanggal lahir : Medan, 22 Januari 1990 Pekerjaan : Mahasiswa Agama : Islam Alamat : Jl. Sei Kuala No.8 Medan Baru 20154 Medan. Nomor Telepon : 083198050501 Orang Tua : Ayah : Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum Ibu : Hj. Farida Tarigan Riwayat Pendidikan : Lembaga Tingkat Tahun TK Dharmawanita TK 1993-1995 SD Dharmawanita SD 1995-2001 SMP Negeri I Medan SMP 2001-2004 SMU Harapan I Medan SMU 2004-2007 Universitas Sumatera Utara
Hubungan Nilai Spirometri dengan Lean Body Mass Index pada Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Stabil Di RS Tembakau Deli Medan 3. Hubungan PPOK dengan Klasifikasi 4. Pembahasan Hubungan Nilai Spirometri dengan Lean Body Mass Index 4. Penurunan massa sel tubuh pada PPOK Distribusi Sampel berdasarkan Berat Badan Distribusi Sampel berdasarkan Indeks Massa Tubuh Distribusi Sampel berdasarkan Lean body mass index Hubungan Nilai Spirometri dengan Indeks Massa Tubuh Latar Belakang Hubungan Nilai Spirometri dengan Lean Body Mass Index pada Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Stabil Di RS Tembakau Deli Medan Nilai spirometri 3. Lean body mass index Populasi Sampel Populasi dan Sampel Rumusan Masalah Infeksi Status sosioekonomi. Kerangka Konsep Penelitian Alat ukur Hipotesis Jenis Penelitian U Hubungan Nilai Spirometri dengan Lean Body Mass Index pada Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Stabil Di RS Tembakau Deli Medan
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Hubungan Nilai Spirometri dengan Lean Body Mass Index pada Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Stabil Di RS Tembakau Deli Medan

Gratis