Gambaran Infeksi Menular Seksual di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2009.

Gratis

11
90
71
2 years ago
Preview
Full text

GAMBARAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) DI RSUP.H.ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2009 Oleh: 070100117

  Hasil penelitian ini adalah Infeksi Menular Seksual (IMS) yang paling sering terjadi adalah kondiloma akuminata (29,9%), diikuti gonore(28,4%), sifilis(7,5%), IGNS(4,5%) dan herpes simpleks(3%), dan terbanyak pada kelompok usia 30 hingga 34 tahun (22,4%), dimana pasien wanita (50,7%) ditemukan lebih banyak daripadapasien pria(49,3%). Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa gambaran IMS yang ditemukan adalah kondiloma akuminata sebagai jenis terbanyak, dimana IMS paling seringterjadi pada responden wanita, dengan kelompok usia 30-34 tahun, tingkat pendidikan sedang, bekerja dan telah menikah.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010

  Hasil penelitian ini adalah Infeksi Menular Seksual (IMS) yang paling sering terjadi adalah kondiloma akuminata (29,9%), diikuti gonore(28,4%), sifilis(7,5%), IGNS(4,5%) dan herpes simpleks(3%), dan terbanyak pada kelompok usia 30 hingga 34 tahun (22,4%), dimana pasien wanita (50,7%) ditemukan lebih banyak daripadapasien pria(49,3%). Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa gambaran IMS yang ditemukan adalah kondiloma akuminata sebagai jenis terbanyak, dimana IMS paling seringterjadi pada responden wanita, dengan kelompok usia 30-34 tahun, tingkat pendidikan sedang, bekerja dan telah menikah.

KATA PENGANTAR

  Kekurangandan ketidak sempurnaan tulisan ini tidak lepas dari berbagai macam rintangan dan halangan yang selalu datang baik secara pribadi pada penulis maupun dalam masalahteknis pengerjaan. Penulis rasakan semua itu sebagai suatu ujian dan pengalaman yang sangat berharga yang kelak dapat memberi manfaat di kemudian hari.

DAFTAR LAMPIRAN

  Hasil penelitian ini adalah Infeksi Menular Seksual (IMS) yang paling sering terjadi adalah kondiloma akuminata (29,9%), diikuti gonore(28,4%), sifilis(7,5%), IGNS(4,5%) dan herpes simpleks(3%), dan terbanyak pada kelompok usia 30 hingga 34 tahun (22,4%), dimana pasien wanita (50,7%) ditemukan lebih banyak daripadapasien pria(49,3%). Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa gambaran IMS yang ditemukan adalah kondiloma akuminata sebagai jenis terbanyak, dimana IMS paling seringterjadi pada responden wanita, dengan kelompok usia 30-34 tahun, tingkat pendidikan sedang, bekerja dan telah menikah.

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Namun sejak tahun 1998, istilah PMS ini kembali diganti menjadiInfeksi Menular Seksual (IMS) untuk menjangkau penderita asimptomatik yang ternyata banyak terjadi, terutama pada wanita.(Daili, 2009) Infeksi menular seksual (IMS) selama dekade terakhir ini mengalami peningkatan insidensi yang cukup pesat di berbagai negara di seluruh dunia. Seperti yang dikemukakan dalam hasil sebuah penelitian retrospektif deskriptifyang berjudul “Pola Penyakit Menular Seksual (PMS) di Poliklinik Penyakit Kulit dan Kelamin RSU Pusat Sanglah Denpasar Periode Januari 1996 - Desember 2000”yang menunjukkan selama rentang waktu lima tahun didapatkan 809 kasus baru IMS yang memiliki kecenderungan meningkat setiap tahunnya, 15,3 % pada tahun 1996dan 27,9 % pada tahun 2000.

1.4. Manfaat Penelitian

  Bagi PembacaDapat menjadi sumber informasi dan kelak dapat dipergunakan dalam hal yang berkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan penulis. Memberikan informasi mengenai karakteristik dan distribusi populasi pengidap IMS yang menjalani pengobatan di RSUP Haji Adam Malik Medan.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

  Penularan Infeksi Menular Seksual Cara penularan IMS adalah dengan cara kontak langsung yaitu kontak dengan eksudat infeksius dari lesi kulit atau selaput lendir pada saat melakukan hubunganseksual dengan pasangan yang telah tertular. Penularan IMS juga dapat terjadi dengan media lain seperti darah melalui berbagai cara,yaitu:Transfusi darah dengan darah yang sudah terinfeksi HIV -Saling bertukar jarum suntik pada pemakaian narkoba -Tertusuk jarum suntik yang tidak steril secara sengaja/tidak sengaja - Penularan juga pada terjadi dari ibu kepada bayi pada saat hamil, saat melahirkan - dan saat menyusui.

2.3. Diagnosa Infeksi Menular Seksual

  Pertanyaan yang diajukan kepada pasien dengan dugaan IMS meliputi: Pemeriksaan fisik yang dilakukan kepada pasien harus memperhatikan hal penting seperti kerahasiaan pribadi pasien, sumber cahaya yang baik untuk dokterpemeriksa dan selalu harus menggunakan sarung tangan setiap kali memeriksa pasien. Sedangkan pengambilan duh tubuh genital pada wanita dilakukan dengan spekulum dan mengusapkan kapas lidi di dalam vagina dan kemudian dioleskan ke kaca objekbersih.

2.4. Jenis-jenis IMS

Beberapa jenis IMS yang paling umum ditemukan di Indonesia adalah:

2.4.1. Gonore

  Keluhan subjektif yang paling sering timbul adalah rasa gatal, disuria, polakisuria, keluar duh tubuh mukopurulen dari ujung uretra yang kadang-kadangdapat disertai darah dan rasa nyeri pada saat ereksi. Adapun gejala yang mungkin dikeluhkan oleh penderita wanita adalah rasa nyeri pada panggul bawah, dan dapat ditemukan serviks yang memerah dengan erosidan sekret mukopurulen (Daili, 2009).

2.4.2. Infeksi Genital Non-Spesifik (IGNS)

  Sedangkan pada penelitian yang dilakukan terhadap kelompok pramuwaria di Jakarta mendapatkan data prevalensi klamidia sebesar 35,48% dari 62 orang yang diperiksasedangkan pada pemeriksaan terhadap WTS di Medan menunjukkan prevalensi sebesar 45% (Hakim, 2009). Manifestasi klinis dari uretritis kadang sulit dibedakan dengan gonorrhea dan termasuk adanya discharge mukopurulen dalamjumlah sedikit atau sedang, terutama pada pagi hari (morning drops) dan dapat pula berupa bercak di celana dalam, gatal pada uretra dan rasa panas ketika buang airkecil.

2.4.3. Sifilis

  DefenisiSifilis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Treponema pallidum yang bersifat kronis dan sistemik ditandai dengan lesi primer diikuti dengan erupsisekunder pada kulit dan selaput lendir kemudian masuk kedalam periode laten tanpa manifestasi lesi di tubuh diikuti dengan lesi pada kulit, lesi pada tulang, saluranpencernaan, sistem syaraf pusat dan sistem kardiovaskuler. Infeksi pada janin terjadi pada ibu yang menderita sifilis stadium awal pada saat mengandung bayinya dan ini sering sekali terjadi sedangkan frekuensinya makinjarang pada ibu yang menderita stadium lanjut sifilis pada saat mengandung bayinya.

2.4.5. Kondiloma Akuminata

2.4.5.1. Defenisi

  Berdasarkan kemungkinan terjadinya displasia epitel dan keganasan maka VPH dibagi menjadi VPH berisiko rendah (low risk), VPH beresiko sedang (moderate risk) risk), sedangkan VPH tipe 16 dan 18 sering ditemukan pada displasia keganasan yang berisiko tinggi (high risk) sedangkan risiko menengah (moderate risk) terdiri atas VPH tipe 33, 35, 39, 40, 43, 45, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 58. Pada wanita hamil, pada gangguansistem kekebalan (penderita AIDS atau pengobatan dengan obat yang menekan sistem kekebalan) dan pada orang yang kulitnya meradang, pertumbuhan kutil ini sangatcepat.

2.5 Pencegahan IMS

  Melindungi masyarakat dari IMS dengan mencegah dan mengendalikan IMS pada para pekerja seks komersial dan pelanggan mereka dengan melakukanpenyuluhan mengenai bahaya IMS, menghindari hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan, tindakan profilaksis dan terutama mengajarkan carapenggunaan kondom yang tepat dan konsisten. Melindungi masyarakat dari IMS dengan mencegah dan mengendalikan IMS pada para pekerja seks komersial dan pelanggan mereka dengan melakukanpenyuluhan mengenai bahaya IMS, menghindari hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan, tindakan profilaksis dan terutama mengajarkan carapenggunaan kondom yang tepat dan konsisten.

3.2 Definisi Operasional

  Infeksi Menular Seksual (IMS) yang akan diteliti adalah jenis infeksi menular seksual genitalis yang terjadi pada responden yang telah didiagnosa olehdokter dan tercatat pada rekam medik di RSUP H. Pendidikan terakhir responden yang akan diteliti adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang pernah dilalui oleh responden pada saat didiagnosamengidap infeksi menular seksual genitalis sesuai dengan yang tercatat pada rekam medik.

BAB 4 METODE PENELITIAN

  Sehingga yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang mengidap Infeksi Menular Seksual (IMS) genitalisdi Poli Kulit dan Kelamin RSUP H. Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder yang berasal dari rekam medik pasien IMS di Poli Kulit dan kelamin RSUP H.

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

  502/Menkes/SK/IX/1991 yang memiliki visi sebagaipusat unggulan pelayanan kesehatan dan pendidikan juga merupakan pusat rujukan kesehatan untuk wilayah pembangunan A yang meliputi Provinsi Sumatera Utara,Aceh, Sumatera Barat dan Riau. Adam MalikMedan didukung oleh 1.995 orang tenaga kerja yang terdiri dari 790 orang tenaga medis dari berbagai spesialisasi dan sub spesialiasi, 604 orang paramedis perawatan,298 orang paramedis non perawatan dan 263 orang tenaga non-medis serta ditambah dengan Dokter Brigade Siaga Bencana (BSB) sebanyak 8 orang.

5.1.2. Karakteristik Responden

  Responden pada penelitian ini sebanyak 67 pasien Infeksi Menular Seksual (IMS) di Poli Kulit dan Kelamin RSUP H. Adam Malik Medan pada tahun 2009.

5.1.2.1 Jenis Infeksi Menular Seksual

  Jenis Infeksi MenularSeksual (IMS) terbanyak kedua adalah gonore dengan jumlah responden sebanyak 19 orang (28,4%), yang diikuti oleh IMS jenis lainnya sebanyak 18 orang (26,9%),sipilis sebanyak 5 orang (7,5 %), IGNS sebanyak 3 orang (4,5 %) dan herpes simpleks sebanyak 2 orang (3 %). >44 8 11,9 Jumlah 67 100 5.1.2.3 Jenis Kelamin Dari tabel 5.3, didapati jumlah responden perempuan lebih banyak daripada responden laki-laki dengan perbedaan yang sangat tipis, dimana terdapat 33 orang(49,3%) responden laki-laki dan 34 orang (50,7%) responden perempuan yang mengidap IMS.

5.1.2.6 Status Marital

  Dari tabel 5.6, didapati lebih banyak responden yang sudah menikah bila dibandingkan dengan responden yang belum menikah. Jumlah responden yang sudahmenikah adalah 40 orang (59,7%).

5.2 Pembahasan

  Reponden yang mengidap sifilis dijumpaisebanyak 5 orang (7,5 %), herpes simpleks sebanyak 2 orang (3,0%) dan IMS jenis Hasil ini tidak sesuai dengan hasil penelitian CDC pada tahun 2008, yang menyatakan IMS terbanyak adalah klamidia (401,3 kasus per 100.000 penduduk),kemudian diikuti oleh gonore (111,6 kasus per 100.000 penduduk ) dan sipilis. Namun, tidak sesuai dengan penelitiannya yang dilaksanakan di Jember danTulungagung, Jawa Timur yang menyatakan tingkat pendidikan terahir terbanyak Gambaran IMS berdasarkan status pekerjaan pada tabel 5.5 menunjukkan bahwa responden yang bekerja, lebih banyak mengidap IMS yaitu 36 orang (53,7%),sedangkan jumlah responden yang tidak bekerja adalah 31 orang (46,3%).

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

  Distribusi pendidikan terakhir pada penderita Infeksi Menular Seksual (IMS) yang paling banyak adalah tingkat pendidikan sedang (hingga tingkat SMP atau SMA) yaitu sebanyak 45 penderita (67,2%). Distribusi pekerjaan pada penderita Infeksi Menular Seksual (IMS) yang paling banyak adalah bekerja yaitu sebanyak 36 orang (53,7%).

1. Penelitian selanjutnya mengenai IMS sebaiknya menggunakan populasi

2. Pihak RSUP H.Adam Malik Medan sebaiknya meningkatkan kualitas dan

  Pemeriksaan Klinis pada Infeksi Menular Seksual. Prevalensi Infeksi Saluran Reproduksi pada Wanita Penjaja Seks di Bitung,Indonesia.

Dokumen baru