Analisis keruangan kawasan lindung DAS Cikaso, kabupaten Sukabumi

 3  20  159  2017-05-10 09:20:39 Laporkan dokumen yang dilanggar
ANALISIS KERUANGAN KAWASAN LINDUNG DAS CIKASO, KABUPATEN SUKABUMI NURUL IFTITAH SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2005 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Analisis Keruangan Kawasan Lindung DAS Cikaso, Kabupaten Sukabumi adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain, telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Desember 2005 Nurul Iftitah NIM A253040064 ABSTRAK NURUL IFTITAH. Analisis Keruangan Kawasan Lindung DAS Cikaso, Kabupaten Sukabumi. Dibimbing oleh KUKUH MURTILAKSONO dan WIDIATMAKA. Pesatnya kemajuan yang dicapai dalam pembangunan, seringkali berakibat pada terjadinya pergeseran pola pemanfaatan lahan yang tidak sesuai lagi dengan kaidah penataan ruang, daya dukungnya serta kesesuaian lahannya. Oleh karena itu, perlu ada suatu penataan ruang yang diarahkan pada tercapainya keseimbangan kawasan budidaya dan kawasan lindung. Penentuan kawasan lindung, sebagai faktor pembatas suatu pemanfaatan ruang, harus berdasarkan kondisi fisik wilayahnya, dan dalam implementasinya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) mengidentifikasi kawasan yang berfungsi lindung di DAS Cikaso ditinjau dari aspek biofisik wilayahnya, 2) menganalisis kemungkinan penyimpangan fungsi kawasan lindung, 3) menganalisis besarnya indikasi tekanan penduduk terhadap kawasan lindung. Metode analisis dilakukan dengan pendekatan Sistem Informasi Geografi serta menggunakan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan kriteria Departemen Kehutanan. Indikasi tekanan penduduk ditentukan dengan perhitungan nilai indeks tekanan penduduk. Berdasarkan kondisi fisik wilayahnya, kawasan yang sebaiknya ditetapkan sebagai kawasan lindung di wilayah DAS Cikaso, jika menggunakan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 adalah 26.285.69 ha atau 22.44% dari keseluruhan luas wilayah. Sedangkan jika menggunakan pendekatan kriteria Departemen Kehutanan diperoleh kawasan lindung seluas 43.421.61 ha (37.07%). Berdasarkan rencana pemanfaatan ruang yang telah ada, terdapat kemungkinan penyimpangan pemanfaatan ruang pada kawasan lindung di wilayah DAS Cikaso sebesar hampir 93% dan ketidaksesuaian pengalokasian pemanfaatan ruang sebesar 97.57%. Sedangkan berdasarkan penggunaan lahan existing pada kawasan yang seharusnya berfungsi lindung, terdapat kemungkinan ketidaksesuaian pemanfaatan ruang sebesar 79.33%, yaitu untuk penggunaan tegalan, sawah, semak belukar, kebun campuran, perkebunan, pemukiman, dan padang rumput serta pasir. Kriteria penetapan kawasan lindung lain oleh Departemen Kehutanan dapat digunakan sebagai kriteria tambahan dalam penetapan kawasan lindung di wilayah-wilayah tertentu, misalnya pada wilayah hulu suatu DAS atau pada wilayah-wilayah yang telah mengalami kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia. Seluas 98.36% dari kawasan lindung hasil identifikasi berada di wilayahwilayah yang mempunyai indikasi tekanan penduduk (indeks tekanan penduduk >1). Oleh karena itu, perlu upaya mengurangi ketergantungan penduduk terhadap lahan melalui penguatan kelembagaan petani, peningkatan kesempatan kerja, dan peningkatan aksesibilitas pada wilayah selatan Kabupaten Sukabumi. ii ABSTRACT NURUL IFTITAH. Spatial Analysis of Preservation Area of Cikaso Watershed, Sukabumi District. Supervised by KUKUH MURTILAKSONO and WIDIATMAKA. Attained progressive in development sometimes causes shifting of land utilization pattern that does not match with spatial arrangement point of view, carrying capacity and land suitability. Therefore, the spatial arrangement plan is needed to achieve balance between cultivation area and preservation area. Determination of preservation area as a limitation factor for spatial utilization has to be based on the physical condition of its area, and the implementation is affected by socioeconomic condition of community surrounding the area. The objectives of this research are: 1) to identify the preservation areas in Cikaso watershed based on its biophysical condition, 2) to analyze the spatial utilization discrepancy of preservation area, 3) to analyze the population pressure on preservation area. The analysis was conducted by GIS approach and applying the president Decree No. 32/1990 about Management of Preservation Area as well as the criteria from Ministry of Forestry (1993). Population pressure indication is decided by the value of population pressure index. Based on physical condition of the Cikaso watershed by applying the president Decree No. 32/1990, the area that should be decided as a preservation area is 26,285.69 ha or 22.44% of the entire watershed. Meanwhile by the criteria of Ministry of Forestry (1993), the preservation area is 43,421.61 ha (37.07%). Based on the existing spatial utilization plan, there is 93% discrepancy of spatial utilization on preservation area of the watershed and discrepancy of spatial utilization allocation is 97.57%. Based on the existing land use as well as the area that should be functioned as a preservation area, there is 79.33% discrepancy of the spatial utilization that has been applied for dry field, rice field, brushwood, plantation, mixed cultivation, settlement, grassland and sand. Another criterias for determination of preservation area by Ministry of Forestry (1993) are able to be used as additional criteria for determination of preservation area of particular areas, for example upper area of the watershed or the damaged area due to people activities. There is significant indication of the population pressure on 98.36% of the identified preservation area in the watershed (Population Pressure Index >1). Therefore, dependency of the community on the preservation area should be decreased by strengthening the farmer institution, increasing the job opportunities and increasing the accessibility at southern of Sukabumi District. Key words: discrepancy, existing land use, preservation area, population pressure, spatial arrangement plan iii ANALISIS KERUANGAN KAWASAN LINDUNG DAS CIKASO, KABUPATEN SUKABUMI NURUL IFTITAH Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2005 iv Judul Tesis : Analisis Keruangan Kawasan Lindung DAS Cikaso, Kabupaten Sukabumi Nama : Nurul Iftitah NIM : A253040064 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Widiatmaka, DAA Anggota Dr. Ir. Kukuh Murtilaksono, MS Ketua Diketahui Ketua Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr. Prof. Dr. Ir. Sjafrida Manuwoto, M.Sc. Tanggal Ujian : 31 Oktober 2005 Tanggal Lulus : v PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian adalah kawasan lindung, dengan judul Analisis Keruangan Kawasan Lindung DAS Cikaso, Kabupaten Sukabumi. Terselesaikannya tesis ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Bapak Dr. Ir. Kukuh Murtilaksono, MS dan Bapak Dr. Ir. Widiatmaka, DAA selaku Komisi Pembimbing atas motivasi, arahan, dan bimbingannya sejak tahap awal hingga selesainya tesis ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada Bapak Dr. Ir. Suria Darma Tarigan selaku Penguji Luar Komisi atas masukan dan sarannya guna penyempurnaan tesis ini. Kepada pimpinan beserta staf Balai Pengelolaan DAS Citarum Ciliwung dan Ibu Evi (Pemda Kabupaten Sukabumi), terima kasih atas kemudahan yang diberikan dalam akses data, juga Pimpinan beserta staf Kantor Cabang Dinas Kehutanan Wilayah V dan VI, Kabupaten Sukabumi, yang telah banyak membantu selama penulis di lapangan. Tak lupa terima kasih pula kepada ayah dan ibu atas doa dan restunya, suami, dan anakanak tercinta atas pengertian dan kasih sayangnya, serta rekan-rekan PWL atas kebersamaan yang indah dan dukungan semangat yang tiada henti selama ini. Akhirnya, penulis berharap semoga tesis ini bermanfaat dan memberikan informasi yang berguna bagi semua pihak. Jika terdapat kebenaran, adalah semata-mata dari Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah SWT. Bogor, Desember 2005 Nurul Iftitah vi RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Blitar pada tanggal 5 Pebruari 1970 dari ayah Agoes Prajitno dan ibu Siti Fatimah sebagai putri pertama dari tiga bersaudara. Menikah dengan Dedi Hermansyah pada tahun 1994 dan telah dikaruniai sepasang buah hati, Nabila Novania Hermansyah (10 tahun) dan Ghifari Septandi Hermansyah (3 tahun). Pendidikan SD hingga SMA diselesaikan di kota kelahiran dan pada tahun 1988 penulis lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK) IPB. Pada tahun 1989, penulis memilih Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan dan menamatkan pada tahun 1993. Kesempatan untuk melanjutkan ke Program Pascasarjana IPB pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah diperoleh pada tahun 2004 atas biaya Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Latihan Perencana (Pusbindiklatren) Bappenas. Penulis pernah bekerja pada PT. Megah Ganendra Consultans di Jakarta (1992-1994) dan PT. Intidaya Agrolestari di Bogor (1994-1998). Pada tahun 1998 penulis masuk sebagai Pegawai Negeri Sipil di Departemen Kehutanan dan saat ini bertugas pada Direktorat Pengelolaan DAS, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Jakarta. vii Sebuah persembahan untuk anak‐anakku tersayang,  Nabila Novania Hermansyah dan   Ghifari Septandi Hermansyah,  semoga karya ini  dapat menjadi pemacu semangat kalian  dalam meraih pendidikan yang tinggi  dan mewujudkan cita  viii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ………………………………………………………….. x DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………. xi DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xii PENDAHULUAN Latar Belakang ……………………………………………………… Perumusan Masalah ………………………………………………… Tujuan dan Manfaat Penelitian ……………………………………... 1 2 6 TINJAUAN PUSTAKA Penataan Ruang ……………………………………………………... Kawasan Lindung …………………………………………………… Tekanan Penduduk pada Kawasan Lindung ………………………... Kesesuaian Lahan …………………………………………………… Daerah Aliran Sungai ……………………………………………….. Sistem Informasi Geografi ………………………………………….. 7 10 13 15 16 20 METODE PENELITIAN Kerangka Pendekatan ……………………………………………….. Tempat dan Waktu Penelitian……………………………………….. Pengumpulan Data ………………………………………………….. Penyiapan Data Digital ……………………………………………… Identifikasi Kawasan Lindung ………………………….................... Analisis Kemungkinan Penyimpangan Fungsi Kawasan Lindung …. Analisis Tekanan Penduduk…………………………………………. Batasan-Batasan …………………………………………………….. 22 22 24 25 25 29 29 30 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Kabupaten Sukabumi ……………………………………………….. Wilayah Kajian ……………..……………………………………….. 32 34 HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter Penetapan Kawasan Lindung…………………………….. Identifikasi Kawasan Lindung ……………………………………… Analisis Kemungkinan Penyimpangan Fungsi Kawasan Lindung….. Analisis Tekanan Penduduk…………………………………………. 44 53 62 87 SIMPULAN………………………………………………………………… 100 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………… 103 LAMPIRAN …………………………………………………………........... 107 ix DAFTAR TABEL Halaman 1 Luas lahan kritis di empatbelas kecamatan yang tercakup dalam DAS Cikaso pada tahun 2004 ..……………………………………………… 5 2 Pembagian responden yang dipilih secara sengaja …………………..... 24 3 Nilai skor berdasarkan klasifikasi kelas lereng ………………...……... 26 4 Nilai skor berdasarkan klasifikasi jenis tanah ……………….....……... 26 5 Nilai skor berdasarkan klasifikasi intensitas hujan harian rata-rata …... 26 6 Kriteria penetapan kawasan lindung menurut Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 dan Dephut (1993) …........................................ 27 7 Wilayah administrasi di DAS Cikaso ..................................................... 36 8 Luas wilayah DAS Cikaso berdasarkan sub DAS ..........….................... 38 9 Luas wilayah DAS Cikaso berdasarkan kelas lereng ..........…............... 38 10 Curah hujan harian rata-rata dan luas wilayah cakupan tiap-tiap Stasiun Pengamat Hujan ......................................................................... 39 11 Luas wilayah DAS Cikaso berdasarkan jenis tanah ..........…................. 40 12 Luas wilayah DAS Cikaso berdasarkan ketinggian ..........…................. 40 13 Luas wilayah DAS Cikaso berdasarkan formasi geologi ..........…......... 41 14 Luas wilayah DAS Cikaso berdasarkan tingkat kerentanan gerakan tanah ..........…......................................................................................... 41 15 Luas wilayah DAS Cikaso berdasarkan penggunaan lahan ..........….... 42 16 Data kependudukan empatbelas kecamatan yang tercakup dalam wilayah DAS Cikaso ………………………………………………….. 43 17 Sebaran berbagai kelas lereng pada wilayah DAS Cikaso ……………. 44 18 Hasil scoring terhadap jenis tanah ………………….....………………. 46 19 Tingkat curah hujan harian pada masing-masing sub DAS …………... 47 x Halaman 20 Luas kawasan lindung berdasarkan parameter lereng, jenis tanah, curah hujan, dan kawasan hutan ............................................................. 49 21 Sebaran mata air di wilayah DAS Cikaso .............................................. 50 22 Luas kawasan perlindungan setempat di wilayah DAS Cikaso ............. 51 23 Sebaran zona kerentanan gerakan tanah di wilayah DAS Cikaso .......... 53 24 Kawasan lindung hasil identifikasi di wilayah DAS Cikaso .................. 55 25 Alokasi rencana pemanfaatan ruang di wilayah DAS Cikaso ................ 64 26 Pola perubahan penutupan lahan di Kabupaten Sukabumi tahun 19942001 ........................................................................................................ 66 27 Penggunaan lahan existing di wilayah DAS Cikaso .............................. 69 28 Penggunaan lahan existing di wilayah DAS Cikaso berdasarkan alokasi rencana pemanfaatan ruang (RTRW Kabupaten Sukabumi 1996-2006) ............................................................................................. 70 29 Rencana pemanfaatan ruang pada kawasan lindung hasil identifikasi dengan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 ........................................................................................................ 72 30 Rencana pemanfaatan ruang pada kawasan lindung hasil identifikasi dengan pendekatan kriteria Dephut (1993) ............................................ 73 31 Penggunaan lahan existing pada kawasan lindung hasil identifikasi dengan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 ........................................................................................................ 75 32 Penggunaan lahan existing pada kawasan lindung hasil identifikasi dengan pendekatan kriteria Dephut (1993) ........................................... 76 33 Kawasan prioritas yang dapat ditetapkan sebagai kawasan lindung di wilayah DAS Cikaso .............................................................................. 86 34 Indeks tekanan penduduk tahun 2002 di wilayah DAS Cikaso ............. 90 35 Indikasi tekanan penduduk pada kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 ........................................................................................................ 97 xi DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Perkembangan jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi (BPS 2000; 2004a) …………………………………………………………………. 4 Frekuensi bencana longsor dan banjir di empatbelas kecamatan yang tercakup dalam DAS Cikaso (BPS 2000; 2002; 2004a) ………………. 5 3 Diagram alir kerangka pendekatan ..………………………………....... 23 4 Diagram alir identifikasi kawasan lindung dengan menggunakan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 Dephut (1993) ...........................………………………………………. 28 Wilayah kajian (DAS Cikaso) yang terletak di wilayah administrasi Kabupaten Sukabumi .............................................................................. 35 6 Pembagian wilayah DAS Cikaso menjadi sembilan sub DAS ……….. 37 7 Kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 ........................................... 56 Kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Dephut (1993) ......................................................................................... 57 Kepemilikan jenis lahan pertanian petani responden …………………. 67 10 Sebagian lahan terlantar di bagian hulu wilayah DAS Cikaso ............... 77 11 Sempadan Sungai Cikaso (kiri) dan Sungai Cipamarangan (kanan) ….. 78 12 Sempadan pantai di Desa Buniwangi, Kecamatan Surade ……………. 79 13 Tanaman Sengon dan Mahoni di lahan milik rakyat ………………….. 80 14 Kawasan hutan produksi terbatas di Desa Cimerang …………………. 86 15 Jumlah desa berdasarkan nilai indeks tekanan penduduk …………….. 93 16 Rata-rata pendapatan petani responden .................................................. 96 17 Tingkat pendidikan responden ............................................................... 97 18 Peta indikasi tekanan penduduk pada kawasan lindung hasil identifikasi (berdasarkan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990) ....................................................................................................... 99 2 5 8 9 xii DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Peta administrasi DAS Cikaso ………………………………………... 108 2 Peta kelas lereng DAS Cikaso ………………………………………... 109 3 Peta jenis tanah DAS Cikaso …………………………………………. 110 4 Peta curah hujan DAS Cikaso ………………………………………… 111 5 Peta kawasan hutan DAS Cikaso …………………………………....... 112 6 Peta tingkat kerentanan gerakan tanah DAS Cikaso ………………...... 113 7 Peta rencana pemanfaatan ruang DAS Cikaso (RTRW Kabupaten Sukabumi Tahun 1996-2006) ………………………………………… 114 8 Peta penggunaan lahan DAS Cikaso ………………………………….. 115 9 Sebaran jenis tanah di wilayah DAS Cikaso ………………………….. 116 10 Sebaran masing-masing jenis kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 …………………………………………………………………… 117 11 Sebaran masing-masing jenis kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Dephut (1993) …………………….... 119 12 Hasil overlay antara peta rencana pemanfaatan ruang dan peta penggunaan lahan existing ..................................................................... 122 13 Hasil overlay antara peta kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 dan peta rencana pemanfaatan ruang …………………………… 125 14 Hasil overlay antara peta kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Dephut (1993) dan peta rencana pemanfaatan ruang …………………………………….……………… 127 15 Hasil overlay antara peta kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 dan peta penggunaan lahan existing ……...................................... 130 16 Hasil overlay antara peta kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Dephut (1993) dan peta penggunaan lahan existing …………………………………………………………. 134 xiii 17 Kepadatan geografis desa-desa di wilayah DAS Cikaso ....................... 139 18 Kepadatan agraris desa-desa di wilayah DAS Cikaso ………………... 141 19 Tekanan penduduk tiap-tiap desa di wilayah DAS Cikaso ………….... 143 xiv PENDAHULUAN Latar Belakang Paradigma pembangunan sering meletakkan pertimbangan ekonomi di atas pertimbangan lingkungan hidup. Orientasi pembangunan cenderung terfokus pada perolehan manfaat tunai (tangible) sebesar-besarnya dari pengolahan sumberdaya yang tersedia. Dalam pencapaian tujuan pembangunan, seringkali dilakukan pengerahan sumberdaya dengan tanpa disertai penekanan terhadap pentingnya pengelolaan yang berwawasan lingkungan dan pemenuhan kebutuhan bagi generasi mendatang. Dampak yang ditimbulkan dari pendekatan ini dapat berupa kelestarian lingkungan yang terabaikan, penurunan kualitas lingkungan dan kualitas hidup manusia, sehingga tujuan pembangunan berkelanjutan tidak tercapai. Kemunduran kemampuan sumberdaya alam akibat pesatnya pembangunan semakin bertambah kompleks seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Pertambahan penduduk telah menyebabkan terjadinya pergeseran pola pemanfaatan lahan menjadi tidak sesuai lagi dengan kaidah penataan ruang, daya dukung serta kesesuaian lahannya. Di samping itu, sering terjadi pemanfaatan kawasan yang seharusnya merupakan kawasan lindung, justru digunakan untuk aktivitas yang tidak bersifat perlindungan, sehingga terjadi perubahan fungsi dan tatanan lingkungan (Syafi’i et al. 2001). Hakikat pembangunan adalah pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki untuk maksud dan tujuan tertentu. Namun demikian, karena ketersediaan sumberdaya sangat terbatas, maka diperlukan strategi pengelolaan yang tepat bagi pelestarian lingkungan hidup agar kemampuannya serasi dan seimbang untuk mendukung keberlanjutan kehidupan manusia. Strategi pengelolaan yang dimaksud, yaitu upaya sadar, terencana dan terpadu dalam pemanfaatan, penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan, dan pengembangan sumberdaya secara bijaksana untuk meningkatkan kualitas hidup (BKTRN 2001). Oleh karena itu, penerapan pembangunan berkelanjutan yang didalamnya terkandung kaidah lingkungan hidup merupakan hal yang tidak dapat ditawartawar lagi. Kaidah lingkungan hidup tersebut merupakan jembatan yang 2 menghubungkan antara kegiatan penataan ruang dan sifat keberlanjutan, dan secara garis besar berbicara tentang kapasitas dan daya dukung lingkungan terhadap kegiatan yang berlangsung di atasnya. Kaidah lingkungan hidup juga mengemukakan apa saja tindakan nyata yang dapat dilakukan oleh manusia dalam upaya melakukan konservasi dan rehabilitasi atau perlindungan dan pengawetan terhadap alam. Selain indikator lingkungan hidup, aspek keruangan akan dapat mendukung pembangunan berkelanjutan apabila diatur dengan baik serta pemanfaatannya diupayakan pada tercapainya keseimbangan antara kawasan budidaya dan kawasan lindung. Perlu ditekankan bahwa pemanfaatan unit ruang harus sepadan dengan kapasitas kemampuan elemen-elemen ruang tersebut (darat, udara, sungai, laut, dan lain-lain) untuk mendukung keberlangsungan kegiatan di atasnya atau yang disebut dengan carrying capacity (BKTRN 2001). Oleh karena itu, untuk mengetahui sejauh mana pengaturan pemanfaatan ruang telah mengarah pada kesesuaiannya dengan kapasitas kemampuannya, perlu dilakukan suatu analisis pemanfaatan ruang guna penyempurnaan rencana tata ruang yang telah ada. Perumusan Masalah Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, disebutkan bahwa strategi dan arahan kebijaksanaan pengembangan kawasan lindung, meliputi langkah-langkah untuk memelihara dan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah timbulnya kerusakan lingkungan. Selanjutnya dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat, dinyatakan bahwa rencana pola tata ruang kawasan lindung adalah: - menetapkan kawasan lindung sebesar 45% dari luas seluruh wilayah Jawa Barat, yang meliputi kawasan yang berfungsi lindung di dalam kawasan hutan dan di luar kawasan hutan; - mempertahankan kawasan-kawasan resapan air atau kawasan yang berfungsi hidroorologis untuk menjamin ketersediaan sumberdaya air; 3 - mengendalikan pemanfaatan ruang di luar kawasan hutan sehingga tetap berfungsi lindung. Kawasan lindung yang dimaksud pada Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat tersebut adalah kawasan yang mempunyai fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup, yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan. Luas wilayah Provinsi Jawa Barat adalah 3 555 502 ha. Apabila 45% dari wilayah tersebut ditetapkan sebagai kawasan lindung, berarti seluas 1 599 976 ha dari wilayah Provinsi Jawa Barat adalah kawasan Lindung. Sedangkan luas hutan lindung dan hutan konservasi (Taman Nasional) di Provinsi Jawa Barat hanya 319.214 ha atau 9% dari keseluruhan luas Provinsi Jawa Barat (Nuriana 2002). Dengan demikian, terdapat 1.280.762 ha atau 80% kawasan lindung yang bukan berupa hutan lindung dan hutan konservasi (Taman Nasional), yang penetapannya harus didasarkan pada kondisi fisik wilayahnya. Di samping itu, dalam pemanfaatan ruangnya pun harus disertai dengan upaya peningkatan fungsi lindung yang disesuaikan dengan pemanfaatan ruang yang telah ada saat ini. Kabupaten Sukabumi merupakan salah satu wilayah di Provinsi Jawa Barat yang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat, sebesar 70% wilayahnya dialokasikan sebagai kawasan lindung. Wilayah ini hampir setiap tahun dilanda bencana alam tanah longsor, banjir, dan gempa tektonik (Anonim 2004). Salah satu wilayah yang berkaitan erat dengan fungsi lindung adalah daerah resapan Daerah Aliran Sungai (DAS), karena daerah resapan DAS berperan penting dalam sistem tata air. Zen (1999), mengemukakan bahwa DAS merupakan daerah dimana pengembangan wilayah dapat dipusatkan (tanah subur, air, dan lahan bervariasi). Disamping itu, menurut Manan (1998), suatu kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas lingkungan, seperti penyelamatan hutan, tanah, dan air, akan lebih mudah untuk dievaluasi keberhasilannya jika menggunakan DAS sebagai sasarannya. DAS Cikaso merupakan salah satu DAS yang terdapat di Kabupaten Sukabumi dan perlu mendapat perhatian khusus dalam pemanfaatan ruangnya. Hasil studi dari Direktorat Pengembangan Sumber Air, Departemen Pekerjaan 4 Umum bekerjasama dengan konsultan JICA mengenai West Java Irigation Project Cibuni-Cikaso tahun 1988, menyatakan bahwa Sungai Cikaso merupakan salah satu sungai yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi (Anonim 2005). Meningkatnya kecepatan pembangunan dan meningkatnya jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi yang mencapai 2 178 850 jiwa pada tahun 2003 (Gambar 1), atau meningkat 23.14% dalam kurun waktu 1995-2003, telah memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi keberlanjutan lingkungan hidup dan sumberdaya alam, yang tidak hanya penting bagi pembangunan masa kini tetapi juga bagi pembangunan masa yang akan datang. Hal ini terlihat dari frekuensi bencana longsor dan banjir, khususnya di empatbelas kecamatan yang tercakup dalam DAS Cikaso, yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun (Gambar 2). Selain itu juga terjadi degradasi lahan yang ditunjukkan dengan adanya lahan kritis, sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengelolaan lahan yang kurang mempertimbangkan daya dukungnya dan tanpa disertai upaya pengawetan tanah. Lahan kritis tersebut, yaitu lahan yang sudah tidak dapat berfungsi lagi sebagai media pengatur tata air dan unsur produksi pertanian yang baik, tersebar pada semua kecamatan yang tercakup dalam DAS Cikaso (Tabel 1). Jumlah Penduduk (jiwa) 2.200.000 2.100.000 2.000.000 1.900.000 1.800.000 1.700.000 1.600.000 1.500.000 1995 1997 1999 2001 2003 Tahun Gambar 1 Perkembangan jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi (BPS 2000; 2004a). 5 12 Frekuensi (kali) 10 8 Longsor 6 Banjir 4 2 0 1999 2001 2003 Tahun Gambar 2 Frekuensi bencana longsor dan banjir di empatbelas kecamatan yang tercakup dalam DAS Cikaso (BPS 2000; 2002; 2004a). Tabel 1 Luas lahan kritis di empatbelas kecamatan yang tercakup dalam DAS Cikaso pada tahun 2004 Kecamatan Nyalindung Purabaya Segaranten Pabuaran Jampang Tengah Tegal Buleud Cidolog Lengkong Kalibunder Cibitung Jampang Kulon Surade Waluran Ciracap Jumlah Luas (ha) 190.0 447.0 454.5 883.0 1 485.5 2 905.0 490.0 890.0 1 010.0 553.0 1654.5 367.0 306.0 268.0 11 994.5 Sumber Data: Dinas Kehutanan Kabupaten Sukabumi Dari uraian di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Wilayah-wilayah mana dari DAS Cikaso yang berdasarkan kondisi fisik wilayahnya harus ditetapkan sebagai kawasan lindung? 6 2. Apakah pengalokasian dan pemanfaatan ruang untuk kawasan lindung di wilayah DAS Cikaso yang tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sukabumi telah sesuai dengan kondisi fisik wilayahnya? 3. Seberapa besar indikasi tekanan penduduk terhadap kawasan lindung di wilayah DAS Cikaso? Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mengidentifikasi kawasan yang berfungsi lindung di DAS Cikaso ditinjau dari aspek biofisik wilayahnya. 2. Menganalisis kemungkinan penyimpangan fungsi kawasan lindung. 3. Menganalisis besarnya indikasi tekanan penduduk terhadap kawasan lindung. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam kebijakan pemanfaatan ruang DAS Cikaso, khususnya kawasan lindung, yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan. TINJAUAN PUSTAKA Penataan Ruang Ruang didefinisikan sebagai wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara, sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk hidup lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. Ruang sebagai salah satu sumberdaya alam tidaklah mengenal batas wilayah, namun jika dikaitkan dengan pengaturannya, maka harus ada batas, fungsi, dan sistem yang jelas dalam satu kesatuan (Sastrowihardjo & Napitupulu 2001). Tata ruang pada dasarnya adalah pengaturan ruang berdasarkan berbagai fungsi dan kepentingan tertentu, atau dengan kata lain, pengaturan tempat bagi berbagai kegiatan manusia. Oleh karena itu, agar semua pihak terpenuhi kebutuhannya secara adil dan menghindari terjadinya persengketaan serta menjamin kelestarian lingkungan, maka dibutuhkan suatu proses yang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Pasal 1) disebut penataan ruang, yaitu proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Melalui kegiatan tersebut, berbagai sumberdaya alam ditata dari segi letak maupun luas sebagai satu kesatuan, dengan memperhatikan keseimbangan antara berbagai pemanfaatan (CIFOR 2002). Sastrowihardjo dan Napitupulu (2001), mengemukakan bahwa ketersediaan ruang bukan tak terbatas, sehingga apabila pemanfaatan ruang tidak diatur dengan baik, maka kemungkinan besar akan terjadi pemborosan manfaat ruang dan penurunan kualitas ruang. Oleh karena itu, diperlukan penataan ruang untuk mengatur pemanfaatannya berdasarkan besaran kegiatan, jenis kegiatan, fungsi lokasi, kualitas ruang, dan estetika lingkungan. Suatu proses penataan ruang yang didasarkan pada karakteristik dan daya dukungnya serta didukung oleh teknologi yang sesuai, tentu akan meningkatkan keserasian, keselarasan dan keseimbangan subsistem, yang berarti juga akan meningkatkan daya tampungnya. Penataan ruang dapat dipandang sebagai suatu bentuk upaya pemerintah untuk menuju keterpaduan dalam pembangunan wilayah. Dalam rangka memudahkan kegiatan penataan ruang, pemerintah menetapkan tiga cara utama 8 pembagian ruang sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 (Pasal 7), yaitu berdasarkan fungsi utama kawasan, berdasarkan aspek administratif, dan berdasarkan fungsi kawasan dan aspek kegiatan. Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan meliputi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Penataan ruang berdasarkan aspek administratif meliputi wilayah Nasional, wilayah Provinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kota Daerah Tingkat II. Sedangkan penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan dan aspek kegiatan meliputi kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu. Hasil dari kegiatan perencanaan tata ruang adalah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang berisi struktur dan pola pemanfaatan ruang. Struktur mengatur sistem pusat-pusat kegiatan beserta jaringan prasarana secara hirarkis. Sedangkan pola pemanfaatan ruang mengatur wilayah dengan satuan-satuan yang fungsional sesuai dengan tujuan, rencana, dan kondisi daya dukung serta daya tampung sumberdayanya, khususnya sumberdaya lahan (Permana 2004). Sastrowihardjo dan Napitupulu (2001), lebih lanjut menyatakan bahwa, karena rencana tata ruang merupakan produk kebijakan koordinatif dari berbagai pihak yang berkepentingan, baik pemerintah maupun masyarakat, maka penyusunannya harus bertitik tolak pada data, informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, rencana tata ruang tersebut mengandung pengertian perspektif, yaitu menuju kepada keadaan ruang di masa depan. Hal ini juga dinyatakan oleh Azhari (2004), dimana penyusunan rencana tata ruang harus memperhatikan fungsi yang diemban oleh masing-masing ruang/kawasan. Fungsi suatu kawasan akan diperoleh jika penyusunan rencana tata ruang sebagai tahap awal dari proses penataan ruang, mempertimbangkan aspek kesesuaian lahan, kemampuan lahan, dan ketersediaan lahan (aspek legalitas), yang selanjutnya akan mendorong terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Pemanfaatan ruang sebagai tahap kedua dari proses penataan ruang tentu tidak hanya mengejar kemakmuran lahiriah semata (pembangunan sarana dan prasarana fisik) ataupun kepuasan batiniah saja, akan tetapi keduanya. Pemanfaatan ruang secara adil dan seimbang dimulai dari perencanaan penataan 9 ruang sebaik mungkin, sebagai satu kesatuan wilayah yang ditentukan berdasarkan aspek administratif (wilayah pemerintahan) dan atau aspek fungsional (kawasan). Oleh karena itu, setiap kegiatan pemanfaatan ruang harus mengacu kepada rencana tata ruang yang telah disusun (Azhari 2004). Pemanfaatan ruang merupakan suatu pengambilan keputusan yang sangat penting apabila dikaitkan dengan lingkungan hidup, karena pemanfaatan ruang merupakan hasil penggabungan antara aktivitas manusia, kondisi fisik wilayah/ lahan dan keinginan manusia yang ada di wilayah/lahan tersebut. Beberapa pola yang dikembangkan dalam pemanfaatan ruang adalah pengelolaan tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara, dan tata guna sumberdaya alam lainnya. Tujuan dari pemanfaatan ruang sebagaimana tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional adalah: a. mencapai pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat; b. meningkatkan keseimbangan dan keserasian perkembangan antar wilayah serta keserasian antar sektor melalui pemanfaatan ruang kawasan secara serasi, selaras, dan seimbang serta berkelanjutan; c. meningkatkan kemampuan memelihara pertahanan keamanan negara yang dinamis dan memperkuat integrasi nasional; d. meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta mencegah timbulnya kerusakan fungsi dan tatanannya. Selanjutnya, kunci keberhasilan tercapainya tujuan penataan ruang yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang, terletak pada pengendalian pemanfaatan ruang. Hal ini terkait dengan perilaku manusia yang tidak terlepas dari prinsip ekonomi, yaitu meminimalkan biaya dan memaksimalkan keuntungan, dalam upaya mempertahankan dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Sifat dasar manusia tersebut juga tercerminkan dalam keinginannya untuk memanfaatkan ruang, mulai dari skala rumah tangga sampai skala global. Tidak terselenggaranya pengendalian pemanfaatan ruang dengan baik, akan berakibat terjadinya eksploitasi ruang yang mengantarkan pada kehancuran. 10 Pengendalian pemanfaatan ruang pada dasarnya merupakan upaya mencegah terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang dan menertibkan penyimpangan pemanfaatan ruang yang telah terjadi. Beberapa upaya dalam pengendalian pemanfaatan ruang dapat dilakukan melalui mekanisme perijinan, insentif dan disinsentif serta pengaduan masyarakat. Kawasan Lindung Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992, penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan meliputi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan. Sedangkan kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan. Strategi dan arahan pengembangan kawasan lindung sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997, meliputi langkahlangkah untuk memelihara dan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah timbulnya kerusakan lingkungan hidup. Dalam rangka memelihara dan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup, dilakukan penetapan dan perlindungan terhadap kawasan lindung. Penetapan kawasan lindung didasarkan pada kriteria sebagaimana Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Sedangkan perlindungan terhadap kawasan lindung dilakukan dengan cara pelestarian fungsi dan tatanan lingkungan hidup alam, lingkungan hidup sosial, dan lingkungan hidup buatan, untuk meningkatkan kualitas dan fungsinya. Menurut Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990, tujuan dari pengelolaan kawasan lindung adalah untuk mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup. Sedangkan sasaran pengelolaan kawasan lindung, selain meningkatkan fungsi lindung terhadap tanah, air, iklim, tumbuhan, satwa, nilai sejarah, dan budaya bangsa, juga mempertahankan keanekaragaman tumbuhan, satwa, tipe ekosistem, dan keunikan alam. Selanjutnya, kawasan lindung 11 dibedakan menjadi empat kawasan, yaitu kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat, kawasan suaka alam dan cagar budaya, dan kawasan rawan bencana. Kawasan yang memberi perlindungan kawasan bawahannya terdiri dari: - Kawasan Hutan Lindung, yaitu kawasan hutan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan kepada kawasan sekitar maupun bawahannya sebagai pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta memelihara kesuburan tanah. Kriteria kawasan hutan lindung adalah kawasan hutan dengan faktor-faktor lereng lapangan, jenis tanah, dan curah hujan yang melebihi nilai skor 175, dan/atau, kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan 40% atau lebih, dan/atau, kawasan hutan yang mempunyai ketinggian 2 000 meter di atas permukaan laut atau lebih. - Kawasan bergambut, yaitu kawasan yang pembentuk unsur tanahnya sebagian besar berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu yang lama. Kriteria kawasan bergambut adalah tanah bergambut dengan ketebalan 3 meter atau lebih, yang terdapat di bagian hulu sungai dan rawa. - Kawasan resapan air, yaitu daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan, sehingga merupakan tempat pengisian air bumi yang berguna sebagai sumber air. Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi, struktur tanah yang mudah meresapkan air, dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran. Kawasan perlindungan setempat, terdiri dari: - Sempadan sungai, yaitu kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Kriteria sempadan sungai adalah sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan anak sungai yang berada di luar pemukiman. - Sempadan pantai, yaitu kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai. Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. 12 - Kawasan sekitar danau/waduk, yaitu kawasan tertentu di sekeliling danau/waduk yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi danau/waduk. Kriteria kawasan sekitar danau/waduk adalah daratan sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau/waduk, antara 50 sampai 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. - Kawasan sekitar mata air, yaitu kawasan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahanan kelestarian fungsi mata air. Kriteria kawasan sekitar mata air adalah sekurang-kurangnya dalam radius 200 meter di sekitar mata air. Kawasan suaka alam dan cagar budaya terdiri dari: - Kawasan suaka alam, yaitu kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan, yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Kriteria kawasan suaka alam adalah kawasan-kawasan yang merupakan cagar alam, suaka margasatwa, hutan wisata, daerah perlindungan plasma nutfah, dan daerah pengungsian satwa. - Kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya, yaitu daerah yang mewakili ekosistem khas di lautan maupun perairan lainnya, yang merupakan habitat alami yang memberikan tempat maupun perlindungan bagi perkembangan keanekaragaman tumbuhan dan satwa yang ada. Kriteria kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya adalah kawasan yang berupa perairan laut, perairan darat, wilayah pesisir, muara sungai, gugus karang, dan atol, yang mempunyai ciri khas berupa keragaman dan/atau keunikan ekosistem. - Kawasan pantai berhutan bakau, yaitu kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove), yang berfungsi memberi perlindungan pada kehidupan pantai dan lautan. Kriteria kawasan pantai berhutan bakau adalah minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan, diukur dari garis air surut terendah ke arah arat. - Taman Nasional, yaitu kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem zonasi, yang dimanfaatkan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwisata dan rekreasi. Kriteria Taman Nasional adalah kawasan 13 berhutan atau bervegetasi tetap, yang memiliki tumbuhan dan satwa yang beragam, memiliki arsitektur bentang alam yang baik dan memiliki akses yang baik untuk keperluan pariwisata. - Taman Hutan Raya, yaitu kawasan pelestarian yang terutama dimanfaatkan untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa alami atau buatan, jenis asli dan/atau bukan asli, pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan latihan, budaya, pariwisata, dan rekreasi. Kriteria Taman Hutan Raya sama dengan kriteria Taman Nasional. - Taman Wisata Alam, yaitu kawasan pelestarian alam di darat maupun di laut yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Kriteria Taman Wisata Alam sama dengan kriteria Taman Nasional. - Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan, yaitu kawasan yang merupakan lokasi bangunan hasil budaya manusia yang bernilai tinggi maupun bentukan geologi alami yang khas. Kriteria kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan adalah tempat serta ruang di sekitar bangunan yang bernilai budaya tinggi, situs purbakala, dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu, yang mempunyai manfaat tinggi untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Sedangkan kawasan rawan bencana alam adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam. Kriteria kawasan bencana alam adalah kawasan yang diidentifikasi sering dan berpotensi tinggi mengalami bencana alam, seperti letusan gunung api, gempa bumi, dan tanah longsor. Penetapan beberapa bentuk kawasan lindung diharapkan dapat membawa dampak positif terhadap kawasan-kawasan lainnya. Ragam dan intensitas usaha konservasi sumberdaya alam dan lingkungan pada kawasan lindung seharusnya lebih tinggi daripada kawasan-kawasan lainnya, karena kerusakan yang terjadi atas kawasan lindung, di samping menimbulkan kemerosotan jumlah, ragam, dan mutu sumberdaya alam yang ada di dalamnya, juga dapat merugikan atau bahkan membawa bencana di kawasan-kawasan lainnya. Tekanan Penduduk pada Kawasan Lindung Makhluk hidup secara keseluruhan merupakan penyebab utama terjadinya berbagai perubahan dalam sistem kehidupan. Makhuk hidup selain manusia 14 menimbulkan perubahan alami, yang dicirikan oleh keseimbangan, keajegan, dan keselarasan. Sedangkan manusia mempunyai potensi dan kemampuan untuk mengubah secara berbeda karena ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya, bahkan seringkali perubahan itu bersifat merusak lingkungan. Kerusakan lingkungan dan sumberdaya alam tersebut, berkaitan erat dengan tingkat pertambahan penduduk dan pola penyebarannya yang kurang seimbang serta pengaturan penggunaan lingkungan hidup dan sumberdaya alam yang belum memadai. Dengan demikian, pengelolaan lingkungan merupakan suatu hal yang penting, yaitu bagaimana manusia melakukan upaya agar kualitas manusia meningkat sementara kualitas lingkungan juga makin baik (Soerjani et al. 1987). Indonesia merupakan salah satu negara yang telah berhasil mengurangi laju pertumbuhan penduduknya hingga sekitar 1.5% per tahun. Namun demikian, dengan jumlah penduduk yang mencapai 206 juta jiwa pada tahun 2002, maka telah terjadi pertambahan penduduk hingga 3.09 juta jiwa pada tahun 2003. Dengan pertambahan penduduk yang sama, jumlah tersebut akan bertambah 3.7 juta jiwa/tahun pada tahun 2010, yaitu pada saat penduduk Indonesia telah mencapai sekitar 235 juta jiwa. Tekanan penduduk yang besar tersebut akan berakibat pada peningkatan kebutuhan akan pangan. Dalam rangka memenuhi tambahan kebutuhan pangan 3.5 juta penduduk, dibutuhkan setidaknya tambahan 100.000 ha lahan pertanian untuk memproduksi padi dan beberapa puluh ribu hektar lagi untuk memproduksi produk pertanian lain. Hal ini ditambah dengan kebutuhan kesempatan kerja yang semakin meningkat pula. Kenyataan bahwa penduduk Indonesia sekitar 45% masih terkait dengan pertanian berbasis lahan, berakibat pada terjadinya tekanan yang semakin berat pada sumberdaya lahan dan sumberdaya alam pada umumnya, jika pemanfaatannya tidak dilakukan dengan bijaksana (Krisnamurthi et al. 2002). Riyadi dan Bratakusumah (2004), mengemukakan bahwa seluruh aktivitas manusia dalam mencukupi kebutuhan hidup selalu membutuhkan ruang, sehingga ketersediaan lahan sangat besar pengaruhnya terhadap aktivitas manusia. Demikian juga besarnya jumlah penduduk dalam suatu wilayah (ruang), akan sangat menentukan kemampuan wilayah tersebut untuk mendukung penduduknya sehingga memperoleh suatu standar hidup yang layak. Salah satu alat yang dapat 15 digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan dalam mendukung segala aktivitas manusia yang berada di suatu wilayah adalah analisis daya dukung (Carrying Capasity Ratio/CCR). Informasi tentang CCR tersebut dapat digunakan untuk menghitung keseimbangan antara daya dukung dari suatu lahan dan keberadaan penduduk. Selain itu juga dapat diperkirakan daya serap potensi lahan dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada, sehingga dapat dijaga keseimbangan antara potensi alam/lingkungan dan sumberdaya manusia. Meningkatnya populasi manusia akan menimbulkan kerugian jika tidak disertai pemanfaatan lahan secara benar, karena setiap orang harus membayar mahal untuk perbaikannya atau bahkan sama sekali akan kehilangan sumberdayanya (Odum 1971). Lebih lanjut Soemarwoto (1989), mengemukakan bahwa pertumbuhan penduduk terutama di perdesaan, akan menurunkan nisbah lahan terhadap penduduk, yang berarti menurunnya luas lahan pertanian per petani sehingga tidak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup petani. Kondisi ini akan mendorong petani untuk memperluas lahan garapannya hingga ke lahanlahan yang memiliki kelerengan tinggi, di tepi sungai atau menyerobot kawasan hutan lindung. Oleh karena itu, salah satu hal penting dalam penataan ruang adalah kesadaran bahwa ruang yang direncanakan pengaturannya bukanlah ruang yang kosong dan tanpa penghuni. Keberadaan manusia, aktivitas maupun pemanfaatan ruang yang telah ada harus dipertimbangkan dalam penataan ruang, karena akan menentukan besarnya tekanan penduduk dan daya dukung lahan yang selanjutnya akan mempengaruhi fungsi yang diemban oleh suatu kawasan, terutama pada kawasan yang dalam perencanaannya ditetapkan sebagai kawasan lindung. Kesesuaian Lahan Meningkatnya kebutuhan akan lahan akibat bertambahnya jumlah penduduk, menyebabkan terjadinya tumpang tindih kepentingan terhadap sebidang lahan. Kegiatan pembangunan yang mendatangkan keuntungan yang lebih besar atau dari sudut pandang politik lebih penting, akan menggeser kegiatan pembangunan yang kurang menguntungkan atau kurang penting dari segi politik. Hal ini jika dibiarkan dapat mengarah pada pola sebaran kegiatan yang secara ekonomi paling 16 menguntungkan, namun belum tentu menguntungkan atau bahkan merugikan dari segi lingkungan (Wiradisastra 1989). Sebagaimana diketahui, penggunaan lahan membutuhkan persyaratan yang berbeda-beda. Hal ini menjadi dasar pentingnya mengetahui potensi lahan atau kelas kesesuaian/kemampuan lahan untuk berbagai penggunaan dalam perencanaan penggunaan lahan, yang dapat dilakukan melalui evaluasi lahan. Selain bermanfaat untuk menentukan kelas kesesuaian/kemampuan lahan, evaluasi lahan juga penting untuk memprediksi konsekuensi-konsekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan (Hardjowigeno & Widiatmaka 2001; Sitorus 1998). Evaluasi lahan merupakan proses memperbandingkan antara kualitas lahan dengan persyaratan dari penggunaan lahan yang spesifik dan sebagai hasilnya harus memberikan pilihan penggunaan lahan yang sesuai dengan segala pertimbangannya (FAO 1976). Klasifikasi kemampuan atau kesesuaian lahan adalah pengelompokan lahan berdasarkan kesesuaian atau kemampuannya untuk tujuan penggunaan tertentu (Hardjowigeno & Widiatmaka 2001; Sitorus 1998). Istilah kemampuan lahan digunakan oleh Soil Conservation Service, USDA, sebagai cara pengharkatan tanah ke dalam delapan kelas kemampuan lahan. Dalam sistem ini, lahan dikelompokkan terutama atas dasar kemampuannya untuk memproduksi tanaman pertanian dan rumput makanan ternak, tanpa menimbulkan kerusakan dalam jangka waktu panjang (Klingiebiel & Montgomery 1961). Sedangkan menurut FAO (1976), istilah kesesuaian dan kemampuan lahan mempunyai arti yang sama sehingga dapat saling dipertukarkan dan selanjutnya memperkenalkan istilah evaluasi lahan. Namun demikian, pengertian yang umum dianut saat ini adalah bahwa kemampuan lahan berarti potensi untuk penggunaan pertanian secara umum, sedangkan kesesuaian lahan berarti potensi lahan untuk macam/jenis penggunaan tertentu. Daerah Aliran Sungai Sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan sebuah kawasan yang dibatasi oleh pemisah topografi, yang menampung, menyimpan, dan mengalirkan curah hujan yang jatuh di atasnya, ke sungai utama yang bermuara ke danau atau 17 lautan. Pemisah topografi ialah punggung bukit dan juga batuan-batuan yang terdapat di bawah tanah. Sebuah DAS merupakan kumpulan dari beberapa sub DAS. Dengan demikian, sebuah unit DAS merupakan suatu sistem, dimana siklus air dan siklus zat hara berinteraksi. Curah hujan sebagai input dan debit air sebagai output, dengan semua sedimen yang dikandungnya (Manan 1998). DAS juga diartikan sebagai suatu daerah tertentu, yang bentuk dan sifat alamnya sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang melalui daerah tersebut, dalam fungsinya untuk menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber air lainnya dan kemudian mengalirkannya melalui sungai utama (single outlet). Satu DAS dipisahkan dari wilayah lain di sekitarnya (DAS-DAS lain) oleh pemisah alam topografi, seperti punggung perbukitan dan pegunungan. Sedangkan sub DAS adalah bagian DAS yang menerima air hujan dan mengalirkannya melalui anakanak sungai ke sungai utamanya, dimana setiap DAS terbagi habis dalam sub DAS–sub DAS (Dephut 2001). DAS dan wilayah sungai tidaklah pernah mempunyai batas yang bertepatan dengan batas-batas wilayah administrasi. Oleh karena itu, DAS diklasifikasikan menurut hamparan wilayah dan fungsi strategisnya sebagai berikut (Dephut 2001): a. DAS lokal, yaitu DAS yang terletak secara utuh di suatu daerah kabupaten/kota, dan/atau DAS yang secara potensial hanya dimanfaatkan oleh satu daerah kabupaten/kota. b. DAS regional, yaitu DAS yang letaknya secara geografis melewati lebih dari satu daerah kabupaten/kota, dan/atau DAS yang secara potensial dimanfaatkan oleh lebih dari satu daerah kabupaten/kota, dan/atau DAS lokal yang atas usulan pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan, dan hasil penilaian ditetapkan untuk didayagunakan (dikembangkan dan dikelola) oleh pemerintah provinsi, dan/atau DAS yang secara potensial bersifat strategis bagi pembangunan regional. c. DAS nasional, yaitu DAS yang letaknya secara geografis melewati lebih dari satu daerah provinsi, dan/atau DAS yang secara potensial dimanfaatkan oleh lebih dari satu daerah provinsi, dan/atau DAS regional yang atas usulan 18 pemerintah provinsi yang bersangkutan dan hasil penilaian ditetapkan untuk didayagunakan (dikembangkan dan dikelola) oleh pemerintah pusat, dan/atau DAS yang secara potensial bersifat strategis bagi pembangunan nasional. Kittradge (1948), menyatakan bahwa Manajemen DAS merupakan penyempurnaan dari istilah Manajemen Hutan Lindung, yaitu pengelolaan dan pengaturan sumberdaya alam, baik hutan, tanah maupun air, yang terdapat dalam sebuah DAS dengan tujuan menghasilkan air, mengendalikan erosi, debit sungai dan banjir. Hutan Lindung itu sendiri diartikan sebagai suatu kawasan yang ditumbuhi sebagian atau seluruhnya oleh vegetasi berkayu, terutama dikelola atas dasar pengaruhnya yang menguntungkan terhadap pergerakan air dan tanah. Sedangkan Manan (1998), menyebutkan bahwa manajemen hutan lindung merupakan bagian dari manajemen DAS, karena DAS mempunyai cakupan yang lebih luas, tidak hanya kawasan berhutan namun juga kawasan di luarnya. Manajemen DAS berarti manajemen sumberdaya alam yang dapat pulih (renewable) seperti air, tanah, dan vegetasi dalam sebuah DAS, agar dapat menghasilkan air untuk kepentingan pertanian, kehutanan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan masyarakat, yaitu untuk air minum, industri, irigasi, tenaga listrik, dan sebagainya. Oleh karena itu, suatu kegiatan penyelamatan hutan, tanah, dan air akan lebih mudah untuk dievaluasi keberhasilannya jika menggunakan DAS sebagai sasarannya. Tujuan utama dari manajemen DAS adalah tercapainya suatu keadaan dalam DAS yang memungkinkan terlaksananya keadaan tata air yang baik, dalam hal ini hasil air yang optimum, dipandang dari aspek kuantitas, kualitas, dan regimen (timing). Pelaksanaan manajemen DAS terdiri dari empat tahapan, yaitu pengenalan, pemulihan, perlindungan, dan perbaikan. Tahap pengenalan dilakukan melalui survai pengkajian layak usaha, untuk menentukan luas, lokasi, dan derajat kekritisan suatu DAS. Tahap pemulihan, yaitu rehabilitasi keadaan tidak mantap yang menyebabkan erosi dan banjir, melalui cara reboisasi, penghijauan, dan keteknikan. Tahap perlindungan dilakukan terhadap bahaya kebakaran, penggembalaan, hama penyakit, dan penebangan tidak sah atau perambahan. Tahap perbaikan meliputi usaha-usaha untuk meningkatkan hasil air, misalnya 19 memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah dan mengurangi intersepsi dan evapotranspirasi (Manan 1998). Dephut (2001), menggunakan istilah pengelolaan DAS yang didefinisikan sebagai upaya manusia dalam mengendalikan hubungan timbal balik antara sumberdaya alam dan manusia di dalam DAS dengan segala aktivitasnya, dengan tujuan membina kelestarian dan keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan sumberdaya alam bagi manusia secara berkelanjutan. Sasaran pengelolaan DAS yang ingin dicapai pada dasarnya berupa: a. tercapainya kondisi hidrologis yang optimal; b. meningkatnya produktivitas lahan yang diikuti oleh perbaikan kesejahteraan masyarakat; c. terbentuknya kelembagaan masyarakat yang muncul dari bawah (bottom up) sesuai dengan sosial budaya setempat; d. terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan, dan berkeadilan. Sebuah sistem sungai yang bermula dari sumbernya hingga bermuara ke laut, merupakan kesatuan organis yang tidak dapat dipisahkan. Setiap campur tangan dan tindakan manusia di bagian tertentu akan mempengaruhi bagian lain. Oleh karena itu, pola penggunaan lahan akan mempengaruhi perilaku sebuah DAS, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perladangan berpindah di lereng bukit dan pengolahan lahan berupa tegalan tanpa usaha pengawetan tanah, telah diketahui sebagai sumber kerusakan lahan pada banyak DAS di Indonesia. Dengan demikian, penduduk yang berdiam dalam DAS merupakan faktor terpenting bagi berhasilnya suatu manajemen DAS yang baik. Manusia sebagai bagian dari ekosistem DAS, berusaha untuk memanfaatkan semua sumberdaya alam yang terdapat di dalamnya, dimana hasilnya tidak selalu positif dalam arti kelestarian, namun kadang-kadang justru negatif, yaitu pengurasan sumberdaya alam yang ada. DAS dengan penduduk padat tetapi melaksanakan usaha-usaha pengawetan tanah dan air, akan merupakan suatu ekosistem yang lebih produktif dan mempunyai daya dukung lingkungan tinggi, dibandingkan sebuah DAS yang luas dan berpenduduk jarang tetapi mempraktekkan usaha perladangan berpindah di daerah perbukitan dan melahirkan padang alang-alang yang luas dan tidak 20 produktif, sehingga mempunyai daya dukung lingkungan yang rendah (Manan 1998). Timbulnya erosi dan bencana banjir serta longsor sangat terkait dengan pemanfaatan lahan di suatu DAS. Ketiganya sebagai akibat langsung dari pembukaan dan pengolahan tanah, terutama di daerah yang miring lapangannya, yang dapat bersumber dari kawasan hutan maupun dari luar kawasan hutan seperti perkebunan, tegalan, dan kebun milik masyarakat maupun pemukiman. Oleh karena itu, tindakan manusia berupa pemanfaatan lahan pada lahan-lahan yang miring tanpa disertai usaha pengawetan tanah dan air, misalnya berupa terasiring atau penanaman pohon-pohonan, pasti akan membahayakan daerah di bawahnya atau di hilirnya. Sistem Informasi Geografis Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan suatu sistem berbasiskan komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi informasiinformasi geografis. SIG dirancang untuk menyimpan dan menganalisis obyekobyek dan fenomena-fenomena, dimana lokasi geografis merupakan karakteristik yang penting atau kritis untuk dianalisis (Aronoff 1989, diacu dalam Prahasta 2004). Puntodewo et al. (2003), mendefinisikan SIG sebagai suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografis, dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk menangkap, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisa, dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis. SIG membutuhkan masukan data yang bersifat spasial dan mempunyai dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi dan informasi atribut. Beberapa sumber data tersebut antara lain: 1) peta analog, yaitu peta dalam bentuk cetakan, 2) data dari sistem penginderaan jauh, yang biasanya direpresentasikan dalam format raster dan merupakan sumber data terpenting bagi SIG karena ketersediannya yang berkala, dan 3) data hasil pengukuran lapangan yang biasanya direpresentasikan dalam format vektor. Dasar referensi SIG adalah informasi lokasi dalam suatu sistem koordinat tertentu, sehingga SIG mempunyai 21 kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa, dan akhirnya memetakan hasilnya. Berdasarkan operasinya, SIG dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu 1) SIG secara manual, yang beroperasi memanfaatkan peta cetak dan bersifat data analog, dan 2) SIG secara terkomputer (SIG outomatis) dan datanya merupakan data digital. Namun demikian, pengertian SIG saat ini lebih diterapkan bagi teknologi informasi spasial atau geografi, yang berorientasi pada penggunaan teknologi komputer. SIG secara terkomputer merupakan alat yang handal untuk menangani data spasial karena data dipelihara dalam bentuk digital, sehingga lebih padat dibanding dalam bentuk konvensional lainnya (peta cetak atau tabel). Dengan demikian, data dalam jumlah yang besar dapat dipanggil dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi, mempunyai kemampuan memanipulasi data spasial dan mengaitkan atribut serta mengintegrasikannya dengan berbagai tipe data dan prosedur dalam suatu analisis (Barus & Wiradisastra 2000). Wadsworth dan Treweek (1999), berpendapat bahwa SIG pada umumnya digunakan untuk menggambarkan bentuk permukaan bumi secara horizontal dan juga mampu menghadirkan gambaran secara vertikal. Selain digunakan untuk mempelajari suatu fenomena yang berada pada kisaran milimeter (misalnya kompetisi antar tanaman rumput) hingga kilometer, SIG juga mempunyai peranan dalam: 1) memberikan gambaran tentang distribusi jenis atau fenomena tertentu, 2) menginventarisasi sumberdaya alam yang ada dan mempelajari perubahannya, dan 3) menganalisis, memprediksi, membuat permodelan, dan sumber informasi penting untuk pengambilan keputusan. METODE PENELITIAN Kerangka Pendekatan Kerangka pendekatan dari analisis ini didasarkan pada potensi supply dan potensi demand. Potensi supply adalah manfaat (baik tangible benefit maupun intangible benefit) yang mampu disediakan oleh sifat-sifat fisik DAS Cikaso untuk mendukung kelangsungan hidup masyarakat. Sedangkan potensi demand adalah permintaan akan ruang dan jasa lingkungan untuk mendukung berbagai aktivitas kehidupan masyarakat, baik yang tinggal di dalam maupun di sekitar wilayah DAS Cikaso. Dengan demikian, di satu sisi perlu ada pasokan sumberdaya alam yang memadai bagi masyarakat dan di sisi lain perlu ada pengaturan pemanfaatannya sehingga manfaat yang ada dapat terus diperoleh. Kedua hal tersebut dapat disinkronkan melalui pengaturan pemanfaatan ruang yang lebih cermat dan mampu mengakomodir kebutuhan nyata, dengan lebih menekankan pada persyaratan fungsi lindung untuk mencapai pemanfaatan ruang yang berkelanjutan. Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mendukung hal tersebut adalah penunjukan dan pengukuhan kawasan lindung. Adapun kerangka pendekatan dari analisis pemanfatan ruang kawasan lindung di DAS Cikaso dilakukan dengan suatu pendekatan sistem, sebagaimana disajikan pada Gambar 3. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di DAS Cikaso (Kabupaten Sukabumi), dengan bagian hulu di dataran tinggi Jampang dan bermuara di Samudera Indonesia. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan September 2005, mulai dari tahap pengumpulan data sampai dengan analisis data. 23 DAS Cikaso Potensi Demand Potensi Supply Ruang Aktivitas Manusia Sistem Tata Air (jasa lingkungan) Pengaturan Pemanfaatan Ruang Penggunaan Lahan Kriteria Dephut dan Keppres Kawasan Lindung RTRW Kependudukan dan Pertanian Ada penyimpangan ? Tumpang tindih (Overlay) Ada Tekanan ? Ya Ya Pengendalian Pemanfaataan Ruang Tidak Tidak SIG Pemanfaatan ruang sesuai Keterangan: = Data = Proses alternatif/pilihan = Proses = Hasil akhir = Dokumen Gambar 3 Diagram alir kerangka pendekatan. 24 Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan melalui pengumpulan data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer diperoleh berdasarkan wawancara dengan 36 responden yang dipilih secara sengaja (purposive sampling), dengan pertimbangan responden adalah petani yang tinggal di bagian hulu, tengah, dan hilir DAS Cikaso (Tabel 2). Wawancara dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang aktivitas pertanian sebagai bahan masukan dalam penentuan indikasi tekanan penduduk. Selain itu juga dilakukan pengecekan lapangan (ground check) pada beberapa lokasi kawasan lindung hasil identifikasi. Tabel 2 Pembagian responden yang dipilih secara sengaja Bagian DAS Hulu Kecamatan Jampang Tengah Purabaya Tengah Jampang Kulon Kalibunder Hilir Surade Cibitung Desa Cijulang Bojongjengkol Cimerang Pagelaran Tanjung Sukamaju Sukaluyu Kalibunder Cipeundey Citanglar Cidahu Talagamurni Jumlah Responden 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi terkait sesuai atribut yang akan dikaji, seperti Balai Pengelolaan DAS (BPDAS) Citarum Ciliwung, Biro Pusat Statistik (BPS), Pemda Kabupaten Sukabumi, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Bakosurtanal, Departemen Pertambangan dan Energi, dan Departemen Kehutanan. Data sekunder yang dikumpulkan berupa peta, Peraturan Perundangan, dan data-data numerik. Adapun data-data yang dikumpulkan tersebut adalah sebagai berikut: - Data biofisik, yang meliputi data curah hujan, jenis tanah, kelas lereng, mata air, kawasan hutan, ketinggian, geologi, kerentanan gerakan tanah, sungai, batas administrasi, dan batas DAS. 25 - Data sosial ekonomi, yang meliputi jumlah penduduk, kepadatan penduduk, pertumbuhan penduduk, mata pencaharian, produktivitas lahan, luas lahan pertanian, dan pendapatan petani. - Data tata ruang, meliputi Rencana Tata Ruang Wilayah dan penggunaan lahan. - Peraturan Perundangan yang terkait dengan pengelolaan kawasan lindung dan penataan ruang. Penyiapan Data Digital Data yang digunakan dalam kajian ini pada dasarnya terdiri dari dua kategori, yaitu data spasial berupa data grafis peta dan data numerik berupa data tabular. Sebelum dapat dilakukan operasi tumpang tindih (overlay) dengan Sistem Informasi Geografis (SIG), diperlukan proses pemasukan data dalam SIG yang dapat diartikan sebagai mengubah semua bentuk data dan informasi yang tersedia ke dalam bentuk data digital. Proses pemasukan data spasial dilakukan dengan metode digitasi melalui layar (on screen digitation) yang diikuti dengan pemasukan data atribut. Perangkat lunak (software) SIG yang digunakan dalam kajian ini adalah ArcView GIS 3.3. Identifikasi Kawasan Lindung Identifikasi kawasan lindung di wilayah DAS Cikaso dilakukan melalui dua pendekatan. Pendekatan pertama dengan menggunakan kriteria kawasan lindung menurut Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Sedangkan pendekatan kedua dengan menggunakan kriteria kawasan lindung sebagaimana klasifikasi fungsi lahan dalam rangka penyusunan Pola Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Daerah Aliran Sungai (Pola RLKT DAS) oleh Departemen Kehutanan (Dephut 1993). Perbedaan utama dalam penetapan kawasan lindung dari kedua pendekatan tersebut adalah dalam metode pengharkatan (scoring). Menurut Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990, scoring hanya dilakukan pada kawasan hutan untuk penentuan hutan lindung. Sedangkan dalam Pola RLKT DAS, scoring dilakukan pada semua kawasan. Parameter yang digunakan pada proses scoring adalah lereng, jenis tanah menurut 26 kepekaannya terhadap erosi, dan curah hujan harian rata-rata sebagaimana disajikan pada Tabel 3-5. Tabel 3 Nilai skor berdasarkan klasifikasi kelas lereng Kelas Lereng 0%-8% 8%-15% 15%-25% 25%-40% > 40% Kategori Datar Landai Agak Curam Curam Sangat Curam Nilai Skor 20 40 60 80 100 Sumber: Deptan (1980) Tabel 4 Nilai skor berdasarkan klasifikasi jenis tanah Jenis Tanah Alluvial, tanah Glei, Planosol, Hidromorf, Laterik Latosol Brown Forest Soil, Non Calcic, Brown, Mediteran Andosol, Laterit, Grumusol, Podsol, Podsolik Regosol, Litosol, Organosol, Renzina Kategori Tidak peka Agak peka Kurang peka Peka Sangat Peka Nilai Skor 15 30 45 60 75 Sumber: Deptan (1980) Tabel 5 Nilai skor berdasarkan klasifikasi intensitas hujan harian rata-rata Intensitas Hujan Harian Rata-Rata <13.6 mm/hari 13.6–20.7 mm/hari 20.7–27.7 mm/hari 27.7–34.8 mm/hari >34.8 mm/hari Kategori Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Nilai Skor 10 20 30 40 50 Sumber: Deptan (1980) Data-data disajikan dalam format peta berbasis data digital sebagai lapis (layer) informasi yang berbeda dan mencakup seluruh wilayah DAS Cikaso. Operasi selanjutnya adalah menumpang-tindihkan (overlay) semua peta sehingga diperoleh kawasan lindung untuk masing-masing pendekatan (Gambar 4), dengan kriteria sebagaimana disajikan pada Tabel 6. 27 Tabel 6 Kriteria penetapan kawasan lindung menurut Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 dan Dephut (1993) Kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 - Kawasan hutan dengan skor melebihi 175 Kriteria Dephut (1993) - Kawasan dengan jumlah nilai skor sama atau lebih 175 - Kawasan hutan dengan lereng 40% - Kawasan hutan dengan lereng lebih dari 40% - Jalur pengaman sungai, minimal 100 m kanan kiri sungai besar dan 50 m kanan kiri anak sungai di luar pemukiman - Pelindung mata air, minimal 200 m disekeliling mata air - Jalur pengaman sungai, minimal 100 m kanan kiri sungai besar dan 50 m kanan kiri anak sungai di luar pemukiman - Pelindung mata air, minimal 200 m disekeliling mata air - Pelindung sempadan pantai, minimal 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat - Pelindung danau/waduk, 50-100 m dari titik pasang tertinggi ke darat - Pelindung sempadan pantai, minimal 100 m dari titik pasang tertinggi ke arah darat - Pelindung danau/waduk, 50-100 m dari titik pasang tertinggi ke darat - Kawasan rawan bencana, yaitu yang berpotensi mengalami longsor, letusan gunung api, dan gempa bumi - Kawasan hutan dengan ketinggian 2 000 m dpl atau lebih - Kawasan rawan bencana, yaitu yang berpotensi mengalami longsor, letusan gunung api, dan gempa bumi - Kawasan dengan ketinggian 2 000 m dpl atau lebih - Kawasan bergambut di hulu sungai dengan tebal 3 m atau lebih - Kawasan bergambut di hulu sungai dengan tebal 3 m atau lebih - Kawasan resapan air, yaitu daerah dengan curah hujan tinggi, mempunyai geomorfologi dan struktur tanah yang mudah meresapkan air secara besar-besaran - Kawasan hutan bakau, minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat - Kawasan suaka alam, taman nasional, dan cagar budaya - Kawasan resapan air, yaitu daerah dengan curah hujan tinggi, mempunyai geomorfologi dan struktur tanah yang mudah meresapkan air secara besar-besaran - Kawasan hutan bakau, minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat - Kawasan suaka alam, taman nasional, dan kawasan untuk kepentingan khusus dan ditetapkan oleh Pemerintah sebagai kawasan lindung - Kawasan yang mempunyai jenis tanah sangat peka erosi (regosol, litosol, renzina, dan organosol) dengan lereng lebih dari 15% - Kawasan hutan lindung yang telah ditata batas 28 Kawasan hutan Data kontur Peta kawasan hutan Peta kelas lereng Data jenis tanah Peta jenis tanah Data curah hujan Peta curah hujan Peta jenis tanah Peta lereng Peta sungai Peta mata air Kriteria Kawasan Lindung Data Karakteristik Lahan Peta ketinggian Scoring Peta rawan longsor bbbbbbbbb Keterangan: = Data Skor ≥ 175 Skor < 175 Kriteria Kawasan Lindung = Proses = Dokumen Peta Kawasan Lindung Kawasan Lindung Kawasan Budidaya = Displai Gambar 4 Diagram alir identifikasi kawasan lindung dengan menggunakan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 dan Dephut (1993). 29 Analisis Kemungkinan Penyimpangan Fungsi Kawasan Lindung Analisis kemungkinan penyimpangan fungsi kawasan lindung dilakukan dengan metode tumpang tindih (overlay) antara : - Peta rencana pemanfaatan ruang (atau peta RTRW) dan peta penggunaan lahan existing. - Peta kawasan lindung hasil identifikasi dan peta rencana pemanfaatan ruang. - Peta kawasan lindung hasil identifikasi dan peta penggunaan lahan existing. Dengan demikian akan diketahui prosentase kemungkinan penyimpangan pemanfaatan ruang kawasan lindung di DAS Cikaso. Analisis Tekanan Penduduk Tekanan penduduk merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. Semakin besar tekanan penduduk pada suatu wilayah mengakibatkan semakin besar pula kebutuhan akan sumberdaya, yang berarti akan semakin besar pula tekanan terhadap sumberdaya alam. Analisis tekanan penduduk dilakukan untuk mengetahui indikasi ketergantungan penduduk terhadap lahan atau pengaruh sumberdaya manusia terhadap lahan, terutama dari segi kemungkinan penurunan fungsi lindung di kawasan lindung. Nilai tekanan penduduk dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Soemarwoto 1985): PPt = zt ft Po ( 1 + r )t Lt Dimana: PPt zt Po ft r t Lt = = = = = = = Indeks tekanan penduduk Luas lahan minimal per petani untuk dapat hidup Jumlah penduduk pada t0 Proporsi petani dalam populasi Reit pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun Rentang waktu dalam tahun Total luas lahan pertanian Pendekatan yang digunakan dalam menentukan nilai z adalah ambang kecukupan pangan sebagai kebutuhan hidup minimum di perdesaan, yang 30 ditetapkan oleh Sayogyo sebesar 320 kg nilai tukar beras/orang/tahun. Asumsi yang digunakan adalah sesorang dapat hidup layak jika dapat memenuhi kebutuhan sekunder, yaitu dengan pendapatan per kapita sebesar 200% dari kebutuhan hidup minimum atau setara dengan 640 kg nilai tukar beras/orang/tahun (Soemarwoto 1985; Rusli et al. 1995; Mantra 1996). Selain ambang kecukupan pangan, nilai z juga ditentukan dari tingkat produktivitas komoditas pertanian di masing-masing wilayah dan nilai ekonomis dari tiap-tiap komoditas. Dengan demikian, besarnya nilai z adalah luas lahan yang mampu memberikan hasil setara dengan 640 kg nilai tukar beras/orang/tahun. Indeks tekanan penduduk bagi suatu wilayah baru berarti bilamana lebih besar dari satu dan tekanan penduduk semakin besar dirasakan dengan meningkatnya nilai indeks tersebut (Rusli 1995). Data-data yang digunakan dalam analisis tekanan penduduk tersebut adalah data sekunder berupa data kependudukan dan penggunaan lahan dalam Potensi Desa 2000 dan 2003 serta harga komoditas pertanian dari Biro Pusat Statistik (BPS) dan Badan Urusan Logistik (BULOG). Sedangkan unit wilayah yang digunakan adalah desa, yaitu desa-desa di Kabupaten Sukabumi yang tercakup dalam wilayah DAS Cikaso. Batasan-Batasan Beberapa batasan yang digunakan dalam kajian ini adalah sebagai berikut: 1. Wilayah kajian adalah Daerah Aliran Sungai yang mempunyai batas wilayah yang berbeda dengan batas administrasi. 2. Sungai besar yang digunakan dalam penentuan sempadan sungai adalah sungai-sungai utama yang digambarkan dalam peta dengan dua garis sungai, sedangkan anak sungai adalah sungai-sungai kecil yang digambarkan dalam peta dengan garis tunggal. 3. Penentuan titik pasang tertinggi di pantai yang digunakan dalam penentuan sempadan pantai menggunakan garis pantai yang juga merupakan batas sub DAS atau batas DAS. 4. Kawasan rawan bencana adalah kawasan yang diidentifikasi mempunyai tingkat kerentanan gerakan menimbulkan bencana longsor. tanah yang tinggi sehingga berpotensi 31 5. Data-data biofisik disajikan dalam batas sub DAS atau DAS, sedangkan datadata sosial ekonomi disajikan dalam batas administrasi (Desa/Kelurahan atau Kecamatan). KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Kabupaten Sukabumi Letak Geografis Kabupaten Sukabumi memiliki luas 412.799.54 ha atau 11.6% dari luas Jawa Barat yang secara administrasi terbagi atas 45 Kecamatan dan 339 desa/kelurahan. Secara geografis, posisi Kabupaten Sukabumi terletak pada 6o57’7o25’ Lintang Selatan dan 106o49’-107o00’ Bujur Timur. Ditinjau dari sisi tata letak, kabupaten ini di bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Bogor, di bagian selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, di bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Lebak dan Samudera Indonesia dan di bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Cianjur (BPS 2004a). Secara garis besar, Kabupaten Sukabumi dikelompokkan menjadi dua wilayah, yaitu wilayah selatan dan utara. Wilayah selatan adalah kecamatankecamatan di sebelah selatan Sungai Cimandiri, ditambah dengan tiga kecamatan di wilayah pesisir, meliputi Kecamatan Cibitung, Ciemas, Lengkong, Tegalbuleud, Jampang Tengah, Cidolog, Simpenan, Cidadap, Ciracap, Cikakak, Pabuaran, Kalibunder, Cisolok, Jampang Kulon, Sagaranten, Waluran, Nyalindung, Surade, Curugkembar, Gegerbitung, dan Pelabuhan Ratu. Sedangkan wilayah utara adalah kecamatan-kecamatan lain di sebelah utara Sungai Cimandiri. Kondisi Fisik Wilayah Wilayah Kabupaten Sukabumi berada pada zona tropis, dengan rata-rata curah hujan 2.637 mm/tahun (tahun 1993-2002) dan rata-rata jumlah hari hujan 146 hari. Curah hujan tertinggi yang mencapai 4.000 mm/tahun tercatat di bagian utara, di sekitar lereng Gunung Gede dan di Kecamatan Ciemas, sebelah timur Teluk Pelabuhan Ratu. Topografi wilayah Kabupaten Sukabumi pada umumnya bergelombang pada bagian selatan dan bergunung pada bagian utara dan tengah. Gunung-gunung tertinggi merupakan gunung berapi di bagian utara, yaitu Gunung Gede 33 Pangrango (2.958 m dpl) dan Gunung Salak (2.211 m dpl). Di bagian tengah, yaitu di sebelah selatan Sungai Cimandiri, terletak dataran tinggi Jampang dengan ketinggian antara 500 sampai dengan 1.000 m dpl (Fahutan IPB 2002). Kondisi hidrologi di Kabupaten Sukabumi sangat dipengaruhi oleh komponen iklim, terutama curah hujan. Sedangkan pola drainasenya ditentukan oleh pola topografinya. Dalam konteks ini, terdapat lima Daerah Aliran Sungai utama di wilayah Kabupaten Sukabumi, yaitu (Fahutan IPB 2002): - DAS Cimandiri, dengan anak sungai utamanya Cipelang, Cicatih, Citarik, Cibodas dan Cidadap. DAS ini merupakan jaringan aliran sungai terluas di wilayah Sukabumi, yang mengeringkan daerah vulkanik di bagian utara dan bermuara di Teluk Pelabuhan Ratu. - DAS Cibareno, yang merupakan batas alam yang memisahkan wilayah Kabupaten Sukabumi dengan Kabupaten Lebak di Propinsi Banten. DAS ini meliputi lereng-lereng sebelah barat Gunung Halimun. Di antara DAS Cibareno dan DAS Cimandiri terdapat beberapa sungai kecil yang langsung mengalir ke Teluk Pelabuhan Ratu. - DAS Ciletuh, meliputi bagian barat dataran tinggi Jampang. Jarak aliran sungainya pendek dan permukaan airnya sangat fluktuatif, sehingga pada musim kemarau Sungai Ciletuh ini hampir benar-benar kering. - DAS Cikaso dan Cikarang, merupakan dua aliran sungai utama yang mengalir dari dataran tinggi Jampang ke Selatan. Base flow Sungai Cikaso hampir nihil, sehingga pada musim kemarau debit air di bagian hilir sungai kadang-kadang hanya mencapai 1 m3/detik saja. - DAS Cibuni, terletak di bagian timur Kabupaten Sukabumi dan berasal dari Kabupaten Cianjur. Potensi Sumberdaya Alam Kawasan pegunungan yang banyak terdapat di Kabupaten Sukabumi, selain memberikan peluang bagi pengembangan agribisnis seperti pertanian, peternakan, dan perkebunan, juga sangat mendukung pengembangan kepariwisataan. Keberadaan gunung-gunung berapi memberikan kontribusi terhadap kesuburan tanah di sekitarnya. Kabupaten Sukabumi juga memiliki kawasan laut, pantai, dan 34 pesisir yang cukup luas, dengan garis pantai sepanjang 117 km dan wilayah kelautan yang mencapai 702 km2. Selain merupakan kawasan yang potensial bagi pengembangan perikanan, pantai selatan Kabupaten Sukabumi juga sangat potensial bagi pengembangan kepariwisataan (Fahutan IPB 2002). Potensi hutan di Kabupaten Sukabumi seluas 105.776.21 ha atau 25.6% dari luas wilayah, yang terdiri dari Kawasan Konservasi, Hutan Lindung, dan Hutan Produksi. Hutan Produksi dikelola oleh Perum Perhutani, yaitu termasuk dalam wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi dan terbagi atas Hutan Produksi Terbatas dan Hutan Produksi Tetap (Perum Perhutani 2003). Sedangkan potensi geologi yang terdapat di Kabupaten Sukabumi antara lain sumber air panas bumi di daerah Gunung Salak dan Cisolok, bahan tambang dan bahan galian emas, perak, batu bara, pasir kwarsa, marmer, pasir besi, bentonit, teras, batu gamping, tanah liat, dan lain sebagainya (BPS 2004a). Kondisi Sosial Ekonomi Jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi pada tahun 2003 adalah 2.178.850 jiwa, dengan rata-rata kepadatan penduduk 528 jiwa per km2. Kondisi perekonomian di Kabupaten Sukabumi secara umum ditunjukkan oleh Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB). Nilai PDRB atas dasar harga berlaku secara umum terus meningkat, dari 4.44 trilyun rupiah pada tahun 1998 hingga 7.50 trilyun rupiah pada tahun 2002. Demikian pula dengan PDRB atas dasar harga konstan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Sumbangan terbesar dalam perekonomian Kabupaten Sukabumi berasal dari sektor pertanian. Sedangkan pendapatan per kapita dari 3.23 juta rupiah pada tahun 2001, meningkat menjadi 3.58 juta rupiah pada tahun 2002 (BPS 2004a). Wilayah Kajian Letak Geografis Wilayah kajian dalam penelitian ini adalah DAS Cikaso yang secara administrasi terletak di Kabupaten Sukabumi (Gambar 5), tepatnya di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi, meliputi 14 kecamatan dan 85 desa (Tabel 7). 35 Gambar 5 Wilayah kajian (DAS Cikaso) yang terletak di wilayah administrasi Kabupaten Sukabumi. 36 Tabel 7 Wilayah administrasi di DAS Cikaso Kecamatan Pabuaran Waluran Kalibunder Surade Jampang Kulon Tegal Buleud Ciracap Cibitung Cidolog Nyalindung Purabaya Jampang Tengah Lengkong Sagaranten Desa Pabuaran, Sirnasari, Banjarsari, Cibadak, Sukajaya, Ciwalat Sukamukti, Caringin Nunggal, Mekarmukti, Waluran Sukaluyu, Bojong, Sekarsari, Cimahpar, Balekambang, Kalibunder Sirnasari, Warnasari, Kadaleman, Citanglar, Swakarya, Jagamukti, Buniwangi, Pasiripis, Cipeundeuy, Gunung Sungging Padajaya, Boregal Indah, Jampang Kulon, Karanganyar, Cikarang, Nagraksari, Mekarjaya, Ciparay, Sukamaju, Sukajadi, Tanjung, Bojonggenteng, Bojongsari, Cimanggu Bangbayang, Sumberjaya, Buniasih, Tegalbuleud, Calingcing, Rambay, Nangela Pasirpanjang, Ciracap, Purwasedar Talagamurni, Banyumurni, Cibodas, Cibitung, Banyuwangi, Cidahu Cidolog Kartaangsana, Cisitu, Nyalindung Cimerang, Citamiang, Margaluyu, Pagelaran, Cicukang, Neglasari, Purabaya Bojongtipar, Bojongjengkol, Bantaragung, Jampang Tengah, Cijulang, Nangerang, Bantarpanjang Cilangkap, Tegalega, Lengkong, Neglasari Puncakmanggis, Cibaregbeg, Curugluhur, Datarnangka, Hegarmanah, Pasanggrahan, Sagaranten Sumber: BPDAS Citarum Ciliwung (2003) Luas keseluruhan DAS Cikaso adalah 117.133.60 ha yang terbagi atas sembilan sub DAS (Gambar 6). Sub DAS yang terluas adalah sub DAS Cikaso Hulu, yaitu 31.32% dari keseluruhan luas wilayah DAS Cikaso (Tabel 8). Sungai utama dari DAS Cikaso adalah Sungai Cikaso dan Sungai Cikarang yang mengalir dari dataran tinggi Jampang ke arah selatan dan bermuara di Samudera Indonesia. Berdasarkan tata letak, wilayah DAS Cikaso berbatasan dengan DAS Cibuni pada bagian timur, DAS Cimandiri pada bagian utara, DAS Ciletuh pada bagian barat dan Samudera Indonesia pada bagian selatan. 37 Gambar 6 Pembagian wilayah DAS Cikaso menjadi sembilan sub DAS. 38 Tabel 8 Luas wilayah DAS Cikaso berdasarkan sub DAS Nama Sub DAS Luas (ha)* Sub DAS Ciseureuh Sub DAS Cirajeg Sub DAS Cikurutug Sub DAS Cikaso Hulu Sub DAS Cikaso Hilir Sub DAS Cikarang Hulu Sub DAS Cikarang Hilir Sub DAS Cikaler Sub DAS Cicurug Luas Total Persentase (%) 16 012.50 10 740.28 5 990.50 36 685.17 20 463.18 14 137.19 2 845.07 5 566.19 4 693.52 13.67 9.17 5.11 31.32 17.47 12.07 2.43 4.75 4.01 117 133.60 100.00 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta. Sumber: BPDAS Citarum Ciliwung (2003) Topografi Wilayah DAS Cikaso mempunyai topografi yang bervariasi, mulai datar hingga sangat curam. Pembagian wilayah DAS Cikaso berdasarkan topografi diklasifikasikan ke dalam kelas lereng I sampai dengan V (Tabel 9). Tabel 9 Luas wilayah DAS Cikaso berdasarkan kelas lereng Kelas Lereng I (0%-8%) II (8%-15%) III (15%-25%) III (25%-40%) V (> 40%) Tingkat Datar Landai Agak Curam Curam Sangat Curam Luas Total Luas (ha) * 33 237.86 34 438.02 22 298.55 19 141.08 8 018.09 117 133.60 Persentase (%) 28.37 29.40 19.04 16.34 6.85 100.00 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta. Sumber: BPDAS Citarum Ciliwung (2003) Curah Hujan Curah hujan harian rata-rata di wilayah DAS Cikaso, yang diperoleh dari tujuh Stasiun Pengamat Hujan, berkisar dari 14.68 sampai 24.18 mm/hari. Curah hujan harian rata-rata tertinggi tercatat di Stasiun Pengamat Hujan Cimulek, yang terletak di Desa Waluran, Kecamatan Waluran. Sedangkan curah hujan harian 39 rata-rata terendah tercatat di Stasiun Pengamat Hujan Cibeber, yang terletak di Desa Tanjungsari, Kecamatan Sagaranten (Tabel 10). Tabel 10 Curah hujan harian rata-rata dan luas wilayah cakupan tiap-tiap Stasiun Pengamat Hujan Nama Stasiun Cibeber Cikarang Nguluwung Cimulek Jampang Kulon Panumbangan Pasir Bitung Surade Lokasi Stasiun Desa Tanjungsari Kec. Sagaranten Desa Karang Anyar Kec. Jampang Kulon Desa Waluran Kec. Waluran Desa Jampang Kulon Kec. Jampang Kulon Desa Jampang Tengah Kec. Jampang Tengah Desa Sagaranten Kec. Sagaranten Desa Swakarya Kec. Surade Curah Hujan Harian (mm) Wilayah Cakupan (ha)* Persentase (%) 14.68 17 628.77 15.05 15.71 16 913.66 14.44 24.18 3 749.03 3.20 18.36 22 596.49 19.29 19.56 15 104.78 12.90 18.28 17 439.77 14.89 21.85 23 701.10 20.23 Luas Total 117 133.60 100.00 * Ditentukan dengan menggunakan Metode Thiessen. Luas didasarkan pada perhitungan di peta. Sumber: Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air Kabupaten Sukabumi Jenis Tanah Di wilayah DAS Cikaso terdapat duabelas jenis tanah, yang pada umumnya mempunyai kategori peka sampai sangat peka terhadap erosi. Jenis tanah yang terluas adalah Latosol Coklat Kekuningan, yang utamanya terdapat di bagian hulu DAS Cikaso, diikuti dengan Komplek Mediteran Coklat Kemerahan dan Litosol, yang utamanya terdapat di bagian tengah hingga hilir DAS Cikaso (Tabel 11). 40 Tabel 11 Luas wilayah DAS Cikaso berdasarkan jenis tanah Nama Tanah Regosol Kelabu Podsolik Merah Kekuningan Latosol Coklat Kekuningan Komplek Renzina, Litosol, dan Brown Forest Soil Komplek Mediterian Coklat Kemerahan dan Litosol Komplek Latosol, Coklat Kemerahan, dan Litosol Komplek Latosol Merah Kekuningan, Latosol Coklat, Podsolik Kekuningan, dan Litosol Komplek Latosol Merah Kekuningan, Latosol Coklat Kemerahan, dan Litosol Komplek Laterit Merah Kekuningan dan Podsolik Merah Kekuningan Komplek Grumusol, Regosol, dan Mediterian Asosiasi Andosol Coklat dan Regosol Coklat Aluvial Coklat Kekelabuan Luas Total Luas (ha) * 4 842.40 17 262.15 25 886.72 3 838.53 23 892.74 5 899.78 4 922.18 % 4.13 14.74 22.10 3.28 20.40 5.04 4.20 740.09 0.63 19 320.21 16.49 9 564.07 8.17 464.14 0.40 500.59 0.43 117 133.60 100.00 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta. Sumber: BPDAS Citarum Ciliwung (2003) Ketinggian Sebagian besar wilayah DAS Cikaso mempunyai ketinggian kurang dari 750 m dpl (Tabel 12). Ketinggian lebih dari 750 m dpl hanya meliputi 2.87% luas wilayah, yaitu di Kecamatan Nyalindung, Purabaya, Lengkong, dan Waluran. Tabel 12 Luas wilayah DAS Cikaso berdasarkan ketinggian Ketinggian > 1 000 m dpl 750-1 000 m dpl 500-750 m dpl 250-500 m dpl 0-250 m dpl Luas Total Luas (ha) * 199.30 3 157.13 39 375.91 34 867.98 39 533.28 117 133.60 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta. Diolah dari: Peta Kontur Bakosurtanal % 0.17 2.70 33.62 29.77 33.75 100.00 41 Kondisi Geologi Berdasar kondisi geologinya, wilayah DAS Cikaso terbentuk dari batuan sedimen yang terbagi atas sepuluh formasi (Tabel 13). Dalam beberapa formasi ditemukan bahan mineral yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, seperti emas yang ditemukan pada Endapan Undak Tua, Titanium pada Endapan Pantai Citanglar, dan Mangan pada Formasi Jampang. Tabel 13 Luas wilayah DAS Cikaso berdasarkan formasi geologi Nama Aluvium dan Endapan Pantai Endapan Pantai Citanglar Endapan Undak Tua Bagian Bawah Formasi Bentang Bagian Atas Formasi Bentang Formasi Beser Formasi Cimandiri Formasi Cibodas Formasi Jampang Formasi Lengkong Luas Total Luas (ha)* 2 275.49 4 177.38 748.85 12 545.28 19 573.59 16 540.65 626.87 22 339.00 34 014.75 4 291.74 117 133.60 Persentase (%) 1.94 3.57 0.64 10.71 16.71 14.12 0.54 19.07 29.04 3.66 100.00 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta. Sumber: Deptamben (1990) Wilayah DAS Cikaso mempunyai tingkat kerentanan gerakan tanah yang bervariasi mulai dari sangat rendah sampai tinggi (Tabel 14). Semakin tinggi tingkat kerentanan gerakan tanah, maka semakin rawan terhadap bencana longsor. Tabel 14 Luas wilayah DAS Cikaso berdasarkan tingkat kerentanan gerakan tanah Tingkat Tinggi Menengah Rendah Sangat Rendah Luas Total Luas (ha)* 10 061.67 55 903.46 38 551.29 12 617.18 117 133.60 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta. Sumber: Deptamben (1992) Persentase (%) 8.59 47.73 32.91 10.77 100.00 42 Penggunaan Lahan Penggunaan lahan di wilayah DAS Cikaso didominasi oleh tegalan, diikuti sawah, kebun campuran, semak belukar, dan hutan yang tersebar di seluruh wilayah DAS Cikaso (Tabel 15). Penggunaan lahan berupa pasir terdapat di bagian hilir, yaitu di sepanjang pantai Samudera Indonesia. Tabel 15 Luas wilayah DAS Cikaso berdasarkan penggunaan lahan Penggunaan Lahan Hutan Kebun campuran Padang rumput Pasir Perkebunan Pemukiman Sawah Semak belukar Tegalan Luas Total Luas (ha)* 12 840.56 18 926.20 572.27 149.70 7 265.90 3 748.32 23 351.65 13 927.63 36 351.37 117 133.60 Persentase (%) 10.96 16.16 0.49 0.13 6.20 3.20 19.94 11.89 31.03 100.00 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta. Sumber: BPDAS Citarum Ciliwung (2003) Kependudukan Jumlah penduduk di 85 Desa dan 14 Kecamatan yang terdapat di wilayah DAS Cikaso berdasarkan Data Potesi Desa Tahun 2000 (kondisi tahun 1999) adalah 415.867 jiwa. Jumlah tersebut telah meningkat 3.66% pada tahun 2002 (Data Potensi Desa Tahun 2003) menjadi 431.103 jiwa, dengan jumlah keluarga sebanyak 128.328 KK, atau rata-rata 3-4 jiwa/KK, dimana 78% diantaranya merupakan keluarga pertanian. Sedangkan jumlah keluarga pra sejahtera dan sejahtera I mencapai 38% (Tabel 16). 43 Tabel 16 Data kependudukan empatbelas kecamatan yang tercakup dalam wilayah DAS Cikaso Jumlah Penduduk* Kecamatan L P Total Jumlah Keluarga* (jiwa) (jiwa) (jiwa) (KK) 9 480 11 766 32 248 11 746 28 638 13 167 15 011 1 840 15 847 18 143 10 777 17 635 19 188 7 517 213 003 19 277 24 066 64 943 23 631 57 553 27 042 30 053 3 608 32 316 36 747 21 475 36 152 38 951 15 289 431 103 Ciracap 9 797 Waluran 12 300 Surade 32 695 Cibitung 11 885 Jampang Kulon 28 915 Kalibunder 13 875 Tegalbuleud 15 042 Cidolog 1 768 Sagaranten 16 469 Pabuaran 18 604 Lengkong 10 698 Jampang Tengah 18 517 Purabaya 19 763 Nyalindung 7 772 Jumlah Total 218 100 6 076 6 962 19 439 7 098 16 132 8 110 9 175 1 290 10 596 10 938 5 770 11 298 10 738 4 706 128 328 Keluarga Pertanian * Kel. Pra Sejahtera & Sejahtera I* (KK) (KK) 5 849 6 609 14 600 5 773 10 941 6 254 8 051 1 161 8 599 9 295 4 993 7 586 7 128 3 886 100 727 1 989 2 752 2 990 2 079 8 912 3 654 2 995 334 1 124 3 949 2 699 6 429 5 361 1 195 46 462 * Jumlah berdasarkan batas administrasi desa-desa yang tercakup dalam wilayah DAS Cikaso. Diolah dari: Data Potensi Desa 2003 HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter Penetapan Kawasan Lindung Lereng, Jenis Tanah, Curah Hujan, dan Kawasan Hutan Lereng, jenis tanah, dan curah hujan adalah parameter utama yang digunakan dalam proses pengharkatan (scoring) dalam rangka penetapan kawasan lindung. Lereng merupakan parameter yang paling besar bobotnya dan diklasifikasikan menjadi lima kelas lereng, yaitu datar (0-8%), landai (8-15%), agak curam (15-25%), curam (25-40%), dan sangat curam (>40%). Kelima kelas lereng tersebut diberi skor mulai dari 20 sampai dengan 100, dimana semakin besar lereng, nilai skor semakin besar, sebagaimana telah disampaikan di Bab Metode Penelitian. Lebih dari setengah wilayah DAS Cikaso mempunyai kondisi kelerengan datar sampai dengan landai, yang tersebar di seluruh wilayah DAS. Lereng yang sangat curam hanya meliputi 6.86% dari keseluruhan luas wilayah DAS Cikaso dan pada umumnya terdapat di bagian hulu dan tengah DAS Cikaso (Tabel 17). Tabel 17 Sebaran berbagai kelas lereng pada wilayah DAS Cikaso Sub DAS I (0-8%) Kelas lereng (ha)* II III IV (8-15%) (15-25%) (25-40%) Sub DAS Cikurutug 3 621.03 Sub DAS Cikaler 477.15 600.59 Sub DAS Cirajeg 172.18 5 142.93 Sub DAS Cikaso Hulu 4 851.74 15 540.75 Sub DAS Cikarang Hulu 14 003.99 33.90 Sub DAS Ciseureuh 3 782.88 1 897.70 Sub DAS Cicurug 341.94 3 864.65 Sub DAS Cikarang Hilir 2 845.07 Sub DAS Cikaso Hilir 6 762.91 3 736.47 Luas Total 33 237.86 34 438.02 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta. Sumber: BPDAS Citarum Ciliwung (2003) 789.69 3 498.51 1 471.48 9 371.03 35.24 399.48 411.75 6 321.37 22 298.55 1 285.60 835.15 2 181.04 5 657.63 6 299.59 71.73 2 810.34 19 141.08 V (>40%) 294.18 158.24 1 772.65 1 264.02 19.58 3 632.85 876.57 8 018.09 Berdasarkan jenis tanah, terdapat duabelas satuan tanah di wilayah DAS Cikaso, dengan pola sebaran sebagai berikut (Lampiran 9): 45 - Regosol Kelabu, hanya terdapat di bagian hilir, di sepanjang pantai Samudera Indonesia. - Podsolik Merah Kuning, pada umumnya menyebar mulai dari bagian hulu hingga tengah wilayah DAS Cikaso. - Latosol Coklat Kekuningan, pada umumnya menyebar mulai dari bagian hulu hingga tengah wilayah DAS Cikaso. - Aluvial Coklat Kekelabuan, hanya terdapat di bagian hilir di sepanjang pantai sekitar Sungai Cipamarangan. - Asosiasi Andosol Coklat dan Regosol Coklat, merupakan satu hamparan pada perbatasan antara sub DAS Cikaso Hulu dan sub DAS Ciseureuh. - Komplek Renzina, Litosol, dan Brown Forest Soil, terdapat di bagian hulu dan sedikit di bagian tengah wilayah DAS Cikaso. - Komplek Grumusol, Regosol, dan Mediterian, pada umumnya menyebar mulai dari bagian hulu hingga tengah wilayah DAS Cikaso. - Komplek Mediteran Coklat Kemerahan dan Litosol, pada umum terdapat di bagian tengah hingga hilir wilayah DAS Cikaso. - Komplek Latosol Coklat Kemerahan dan Litosol, mengelompok di bagian tengah wilayah DAS Cikaso. - Komplek Latosol Merah Kekuningan, Latosol Coklat, Podsolik Kekuningan, dan Litosol, terdapat di bagian hilir wilayah DAS Cikaso. - Komplek Latosol Merah Kekuningan, Latosol Coklat Kemerahan, dan Litosol, terdapat di bagian hulu, yaitu pada perbatasan sub DAS Cikurutug dan Cikaler. - Komplek Laterit Merah Kekuningan dan Podsolik Merah Kekuningan, merupakan suatu hamparan yang luas mulai dari bagian tengah hingga hilir wilayah DAS Cikaso. Jenis tanah diklasifikasikan ke dalam lima kelompok menurut kepekaannya terhadap erosi. Nilai skor untuk proses scoring mulai dari 15 untuk jenis tanah yang tidak peka terhadap erosi sampai dengan 75 untuk jenis tanah yang sangat peka terhadap erosi. Satuan tanah di wilayah DAS Cikaso yang pada umumnya dalam bentuk komplek atau asosiasi, dimana terdapat lebih dari satu jenis tanah dengan tingkat kepekaan terhadap erosi yang berbeda-beda, memerlukan modifikasi dalam proses scoring. Menurut Surat Keputusan Menteri Pertanian 46 Nomor 837/Kpts/Um/11/1980 tanggal 24 Nopember 1980 tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan Hutan Lindung, untuk jenis tanah komplek, kelasnya adalah sama dengan kelas dari jenis tanah yang terpeka terhadap erosi yang terdapat dalam jenis tanah komplek tersebut (Deptan 1980). Alternatif lain yang dapat digunakan dalam penentuan skor jenis tanah komplek dan asosiasi adalah dengan menghitung rata-rata dari skor tiap-tiap jenis tanah yang terdapat dalam jenis tanah komplek atau asosiasi (Tabel 18). Tabel 18 Hasil scoring terhadap jenis tanah Nama Tanah Regosol Kelabu Podsolik Merah Kekuningan Latosol Coklat Kekuningan Aluvial Coklat Kekelabuan Komplek Renzina, Litosol, dan Brown Forest Soil Komplek Mediterian Coklat Kemerahan dan Litosol Komplek Latosol Coklat Kemerahan dan Litosol Komplek Latosol Merah Kekuningan, Latosol Coklat, Podsolik Kekuningan, dan Litosol Komplek Latosol Merah Kekuningan, Latosol Coklat Kemerahan, dan Litosol Komplek Laterit Merah Kekuningan dan Podsolik Merah Kekuningan Komplek Grumusol, Regosol, dan Mediterian Asosiasi Andosol Coklat dan Regosol Coklat Nilai Skor SK Menteri Rata-rata Pertanian jenis tanah 75 75 60 60 30 30 15 15 75 65 75 60 75 52.5 75 48.75 75 45 60 60 75 75 60 67.5 Kelemahan dari kedua metode scoring terhadap jenis tanah tersebut di atas adalah tidak memperhitungkan persentase atau proporsi dari masing-masing tanah tunggal penyusunnya. Selanjutnya dalam kajian ini akan mengacu pada Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 837/Kpts/Um/11/1980, dengan pertimbangan akan diperoleh hasil atau kondisi yang paling “aman”, karena jenis tanah tunggal yang mempunyai tingkat kepekaan terhadap erosi paling tinggi yang menyusun tiap-tiap satuan tanah dianggap sebagai faktor pembatas. Dengan demikian, kemungkinan kerusakan akibat aktivitas non lindung dapat ditekan seminimal mungkin. 47 Parameter ketiga yang digunakan dalam proses scoring adalah curah hujan, sebagai salah satu unsur iklim yang dapat mempengaruhi sistem Daerah Aliran Sungai. Curah hujan yang dinyatakan dalam intensitas hujan harian rata-rata, diklasifikasikan menjadi lima kategori, mulai sangat rendah, yaitu >13.6 mm/hari sampai dengan sangat tinggi, yaitu >34.8 mm/hari. Skor untuk parameter ini adalah 10 untuk kategori intensitas hujan harian sangat rendah sampai dengan 50 untuk intensitas hujan harian sangat tinggi. Intensitas hujan harian rata-rata dalam kajian ini diperoleh dari data curah hujan dan jumlah hari hujan pada tujuh Stasiun Pengamat Hujan yang terdapat di wilayah DAS Cikaso, yaitu Stasiun Pengamat Hujan Cibeber, Cikarang Nguluwung, Cimulek, Jampang Kulon, Panumbangan, Pasir Bitung, dan Surade. Rentang waktu pengamatan yang ideal untuk mendapatkan data intensitas hujan harian rata-rata adalah minimal sepuluh tahun. Namun demikian, karena keterbatasan data, terdapat satu Stasiun Pengamat Hujan yang rentang waktu pengamatannya kurang dari sepuluh tahun, yaitu Stasiun Pengamat Hujan Cikarang Nguluwung. Wilayah cakupan masing-masing Stasiun Pengamat Hujan ditentukan dengan menggunakan Metode Thiessen (Dephut 1993). Sebenarnya Metode Isohyte lebih tepat, tetapi karena keterbatasan data maka Metode Isohyte tidak diterapkan dalam kajian ini. Tabel 19 Tingkat curah hujan harian pada masing-masing sub DAS Sub DAS Sub DAS Cikaler Sub DAS Cikurutug Sub DAS Cirajeg Sub DAS Cikaso Hulu Sub DAS Cikarang Hulu Sub DAS Ciseureuh Sub DAS Cicurug Sub DAS Cikaso Hilir Sub DAS Cikarang Hilir Luas Total Persentase Tingkat curah hujan (ha)* Rendah Sedang 5 566.19 5 990.50 10 740.28 36 685.17 6 610.17 7 527.02 15 202.13 810.37 2 272.64 2 420.88 6 616.39 13 846.79 2 84.07 89 683.47 27 450.13 76.57% 23.43% * Luas didasarkan pada perhitungan di peta. Diolah dari: Data curah hujan (Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air Kabupaten Sukabumi) 48 Curah hujan rata-rata di wilayah DAS Cikaso adalah 1.920.5-3.478 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata-rata sebanyak 104-156 hari/tahun. Intensitas hujan harian rata-rata pada umumnya rendah, yaitu meliputi 76.6% dari keseluruhan luas wilayah DAS Cikaso. Sedangkan 23.4% diantaranya mempunyai intensitas hujan harian rata-rata kategori sedang (Tabel 19). Selain lereng, jenis tanah, dan curah hujan, terdapat satu parameter lain yang digunakan dalam proses scoring, yaitu kawasan hutan. Pada pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990, proses scoring hanya dilakukan pada kawasan hutan dalam rangka penentuan kawasan lindung berupa hutan lindung. Sedangkan pada pendekatan kriteria Dephut (1993), proses scoring dilakukan pada semua kawasan, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan. Selain itu juga terdapat kriteria tambahan yang tidak terdapat pada Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990, yaitu kawasan dengan jenis tanah yang sangat peka terhadap erosi (regosol, litosol, renzina, dan organosol) dengan lereng lebih dari 15%. Parameter kawasan hutan juga digunakan bersama-sama dengan parameter lereng untuk menentukan kawasan lindung berupa hutan lindung, yang digunakan baik pada pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 maupun pendekatan kriteria Dephut (1993), yaitu kawasan hutan dengan lereng lebih dari 40%. Analisis spasial keempat parameter tersebut berdasarkan pendekatan Sistem Informasi Geografis, dengan menggunakan perangkat lunak ArcView GIS 3.3 dan metode tumpang tindih (overlay), menghasilkan kawasan lindung sebagaimana disajikan pada Tabel 20. Penggunaan dua pendekatan yang berbeda dalam penentuan kawasan lindung menghasilkan kawasan lindung dengan luasan yang jauh berbeda. Berdasarkan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990, luas kawasan yang seharusnya berfungsi lindung adalah 7.082.14 ha. Sementara berdasarkan pendekatan kriteria Dephut (1993) menghasilkan kawasan lindung seluas empat kali lipat, yaitu 28.188.44 ha. 49 Tabel 20 Luas kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan parameter lereng, jenis tanah, curah hujan, dan kawasan hutan Jenis Kawasan Lindung Hutan Lindung : - Kawasan hutan dengan skor >175 - Kawasan hutan dengan lereng >40% Luar kawasan hutan dengan skor >175 Kawasan dengan jenis tanah sangat peka erosi dan lereng >40% Luas Total Luas (ha)* Kriteria Kriteria Keppres Dephut 4 678.83 2 403.31 - 4 678.83 2 403.31 9 530.66 - 11 575.64 7 082.14 28 188.44 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay Sempadan Sungai, Pantai, dan Pelindung Mata Air Pada wilayah DAS Cikaso terdapat dua sungai utama, yaitu Sungai Cikaso dan Sungai Cikarang yang terpisah satu sama lain, namun dalam pengelolaannya berada dalam satu wilayah DAS, yaitu DAS Cikaso. Beberapa sungai yang bermuara ke Sungai Cikaso antara lain adalah: - Sungai Cibugel - Sungai Cijulang - Sungai Cirajeg - Sungai Cikurutug - Sungai Ciseureuh, dengan anak-anak sungainya antara lain Cikiwul, Cisuru, Citanglar dan Ciawitali. - Sungai Cicurug, dengan anak-anak sungainya antara lain Cibungur dan Cigadog. Selain Sungai Cikarang, juga terdapat dua sungai yang langsung bermuara ke Samudera Indonesia, yaitu Sungai Cikutamara dan Sungai Cipamarangan. Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1992, salah satu jenis kawasan lindung adalah sempadan sungai, yang ditetapkan sebesar 100 meter kanan kiri sungai besar dan 50 m kanan kiri anak sungai atau sungai kecil di luar pemukiman. Selain sempadan sungai, kawasan lindung lain yang merupakan kawasan perlindungan setempat adalah sempadan pantai dan kawasan sekitar mata 50 air. Sempadan pantai ditetapkan sebesar 100 meter ke arah darat dari titik pasang tertinggi. Dalam kajian ini sempadan pantai ditetapkan dari garis pantai yang sekaligus juga batas wilayah DAS Cikaso. Wilayah yang memiliki garis pantai adalah sub DAS Cikaso Hilir dan Cikarang Hilir, tepatnya di Desa Pasiripis, Buniwangi dan Cipeundeuy (Kecamatan Surade), Cidahu dan Cibitung (Kecamatan Cibitung), Sumberjaya, Tegalbuleud, dan Buniasih (Kecamatan Tegalbuleud). Pada wilayah DAS Cikaso terdapat 86 buah mata air, dengan jumlah terbanyak terdapat di sub DAS Cikaso Hulu (Tabel 21). Kawasan sekitar mata air ditetapkan dalam radius 200 m di sekeliling mata air. Tabel 21 Sebaran mata air di wilayah DAS Cikaso Sub DAS Sub DAS Cicurug Sub DAS Cikaler Sub DAS Cikarang Hilir Sub DAS Cikarang Hulu Sub DAS Cikaso Hilir Sub DAS Cikaso Hulu Sub DAS Cikurutug Sub DAS Cirajeg Sub DAS Ciseureuh Jumlah (buah) 4 12 4 15 31 6 9 5 86 Persentase (%) 4.65 13.95 4.65 17.44 36.05 6.98 10.47 5.81 4.65 Sumber: BPDAS Citarum Ciliwung (2003) Sempadan sungai, sempadan pantai, dan kawasan sekitar mata air ditentukan dengan membuat buffer pada sungai, pantai, dan mata air dengan menggunakan software ArcView GIS 3.3. Ketiga kawasan yang perlu mendapat perlindungan tersebut masing-masing sempadan sungai seluas 9.744.98 ha, sempadan pantai seluas 363.34 ha, dan kawasan sekitar mata air seluas 1.075.95 ha. Sempadan pantai dan kawasan sekitar mata air sebagian juga merupakan sempadan sungai dan telah diperhitungkan dalam luasan sempadan sungai (Tabel 22). 51 Tabel 22 Luas kawasan perlindungan setempat di wilayah DAS Cikaso Sub DAS Sub DAS Cirajeg Sub DAS Cikurutug Sub DAS Cikaler Sub DAS Cikaso Hulu Sub DAS Cikarang Hulu Sub DAS Ciseureuh Sub DAS Cicurug Sub DAS Cikaso Hilir Sub DAS Cikarang Hilir Luas Total Kawasan Perlindungan Setempat (ha)* S. Sungai S. Pantai K. Mata Air 521.54 112.65 385.63 75.01 327.46 3 508.60 401.52 1 287.45 50.29 1 340.54 62.51 175.75 48.18 1 978.21 314.51 187.62 219.80 48.83 138.17 9 744.98 363.34 1 075.95 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil proses buffering. Kerentanan Gerakan Tanah Kerentanan gerakan tanah digunakan sebagai parameter untuk menentukan kawasan rawan bencana, yaitu bencana longsor. Zona kerentanan gerakan tanah ditentukan berdasarkan indeks gerakan tanah pada tiap jenis batuan dalam kisaran kemiringan lereng tertentu dan hasil analisis kemantapan lereng. Parameter yang digunakan untuk menentukan tingkat kerentanan gerakan tanah didasarkan pada kondisi faktor penyebab terjadinya gerakan tanah, yaitu morfologi (kemiringan lereng), geologi (sifat fisik dan keteknikan dari batuan dan tanah, susunan dan kedudukan batuan serta struktur geologi), curah hujan (intensitas dan lama hujan), tata guna lahan (pengolahan lahan dan vegetasi penutup), dan kegempaan (intensitas gempa) (Deptamben 1992). Terdapat empat zona kerentanan gerakan tanah di wilayah DAS Cikaso, yaitu (Deptamben1992): - Zona kerentanan gerakan tanah sangat rendah Pada zona ini jarang atau tidak pernah terjadi gerakan tanah, baik gerakan tanah lama maupun gerakan tanah baru, kecuali pada daerah sempit di sekitar tebing sungai. Zona ini merupakan daerah datar sampai landai dengan kemiringan lereng kurang dari 15% dan lereng tidak dibentuk oleh endapan gerakan tanah, bahan timbunan atau lempung bersifat plastis atau 52 mengembang. Lereng pada umumnya dibentuk oleh tanah lapukan batuan breksi gunung api, aluvial, endapan undak, dan batu pasir gampingan. - Zona kerentanan gerakan tanah rendah Pada zona ini gerakan tanah jarang terjadi, kecuali bila lereng diganggu dan jika terdapat gerakan tanah lama, lereng tersebut telah mantap kembali. Gerakan tanah berdimensi kecil masih dapat terjadi, terutama pada tebing lembah (alur) sungai. Kemiringan lereng mulai dari landai sampai sangat curam, tergantung pada kondisi sifat fisik dan keteknikan tanah dan batuan pembentuk lereng. Lereng pada umumnya dibentuk oleh tanah lapukan dari batu gamping, breksi vulkanik, dan batu pasir. - Zona kerentanan gerakan tanah menengah Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama masih dapat aktif (bergerak) kembali terutama disebabkan oleh curah hujan tinggi dan erosi kuat. Kemiringan lereng mulai dari landai sampai sangat curam, tergantung pada kondisi sifat fisik dan keteknikan tanah dan batuan pembentuk lereng. Lereng pada umumnya dibentuk oleh tanah lapukan dari tufa, breksi gunung api, batu pasir, dan batu lempung. - Zona kerentanan gerakan tanah tinggi Pada zona ini sering terjadi gerakan tanah, dimana gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, terutama akibat curah hujan tinggi dan erosi kuat. Kisaran kemiringan lereng mulai dari agak curam hingga sangat curam, tergantung pada kondisi sifat fisik dan keteknikan tanah dan batuan pembentuk lereng. Lereng pada umumnya dibentuk oleh tanah lapukan dari tufa, tufa gampingan, dan breksi gunung api. Hampir setengah dari wilayah DAS Cikaso mempunyai tingkat kerentanan gerakan tanah menengah, yang tersebar mulai dari bagian hulu hingga hilir wilayah DAS Cikaso. Kerentanan gerakan tanah rendah meliputi 32.91% dari wilayah DAS Cikaso. Wilayah dengan tingkat gerakan tanah sangat rendah (10.77%) hanya terdapat di bagian tengah sampai dengan hulu wilayah DAS Cikaso. Sedangkan wilayah dengan tingkat gerakan tanah tinggi, merupakan 53 wilayah yang rawan bencana longsor, meliputi 8.59% dari wilayah DAS Cikaso yang tersebar mulai dari bagian hulu hingga hilir DAS Cikaso (Tabel 23). Tabel 23 Sebaran zona kerentanan gerakan tanah di wilayah DAS Cikaso Sub DAS Sub DAS Cikaler Sub DAS Cirajeg Sub DAS Cikurutug Sub DAS Cikarang Hulu Sub DAS Cikaso Hulu Sub DAS Ciseureuh Sub DAS Cicurug Sub DAS Cikaso Hilir Sub DAS Cikarang Hilir Luas Total Persentase Tingkat Kerentanan Gerakan Tanah (ha)* Sangat Rendah Rendah Menengah Tinggi 2 994.37 2 571.82 1 995.59 6 190.96 2 553.73 2 797.26 3 139.62 53.62 3 444.07 4 773.70 5 002.91 916.51 11 062.75 20 912.65 4 709.77 777.04 7 116.46 7 522.91 596.09 2 917.44 1 037.70 560.78 177.60 3 162.66 6 773.46 9 472.71 1 054.35 2 315.97 529.10 12 617.18 38 551.29 55 903.46 10 061.67 10.77% 32.91% 47.73% 8.59% * Luas didasarkan pada perhitungan di peta. Sumber: Deptamben (1992) Identifikasi Kawasan Lindung Dalam suatu ruang yang merupakan unit ekosistem, secara alami terdapat areal-areal yang sebaiknya dijadikan kawasan lindung, sebagaimana telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Kawasan lindung didefinisikan sebagai kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam, sumberdaya buatan, dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Manfaat kawasan lindung adalah untuk mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup dan sekaligus melestarikan fungsi lindung kawasan itu sendiri. Kawasan lindung, terutama kawasan yang berada di dataran tinggi, juga dapat memberikan perlindungan kawasan yang berada di bawahnya. Selain itu, keberadaan kawasan lindung juga untuk menghindari berbagai usaha dan/atau kegiatan di kawasan rawan bencana. Keberadaan kawasan lindung yang ditetapkan untuk fungsi hidroorologis (pencegahan banjir, erosi, dan longsor), perlindungan peninggalan budaya, flora 54 dan fauna, abrasi air laut, dan sebagainya, menunjukkan bahwa fungsi-fungsi tersebut lebih bersifat intangible, sehingga sebagai barang publik sering dipersepsikan berbeda menurut ruang/lokasi dan waktu. Kondisi ini mengakibatkan kawasan lindung dianggap sebagai common property resources, terlebih dalam praktek, fungsi-fungsi tersebut sangat sulit untuk dikelola (Fahutan IPB 2002). Berdasarkan hasil penafsiran citra landsat wilayah Kabupaten Sukabumi dan kenyataan alokasi ruang untuk kawasan lindung yang telah dilakukan oleh Fahutan IPB (2002), menunjukkan adanya gap peruntukan ruang sebagai kawasan lindung, seperti sempadan sungai, sempadan pantai, kawasan sekitar mata air, dan sebagainya. Oleh karena itu, salah satu rekomendasinya untuk pengelolaan kawasan lindung di Kabupaten Sukabumi adalah perlu dilakukannya identifikasi dan penetapan kawasan lindung baru guna mendukung pelestarian keanekaragaman hayati dan perlindungan terhadap sistem penyangga kehidupan. Berdasarkan uraian tentang berbagai jenis kawasan lindung yang disajikan pada bab Tinjauan Pustaka, tidak seluruh jenis kawasan lindung terdapat di wilayah DAS Cikaso. Hal ini dikarenakan tidak terdapatnya kawasan tertentu yang harus dilindungi, seperti kawasan bergambut, kawasan danau/waduk, dan kawasan suaka alam dan cagar budaya, maupun karena tidak terpenuhinya kriteria yang ada. Hasil overlay antara berbagai parameter yang digunakan dalam kajian ini, diperoleh kawasan yang sebaiknya ditetapkan sebagai kawasan lindung seluas 26.285.69 ha (22.42%) jika menggunakan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 dan 43.421.61 ha (37.07%) jika menggunakan pendekatan kriteria Dephut (1993). Kawasan yang mempunyai fungsi lindung tersebut terdiri atas kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat, dan kawasan rawan bencana serta kawasan lindung lain, dimana satu sama lain dapat saling tumpang tindih (overlap), seperti sempadan sungai yang terdapat di dalam hutan lindung, kawasan rawan bencana yang juga termasuk dalam kawasan sempadan sungai, dan sebagainya (Tabel 24). 55 Tabel 24 Kawasan lindung hasil identifikasi di wilayah DAS Cikaso Jenis Kawasan Lindung Kriteria Keppres Persentase Luas (ha)* (%) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya: - Hutan Lindung 7 082.14 6.05 Kawasan perlindungan setempat: - Sempadan Sungai 9 242.21 7.89 - Sempadan Pantai 363.34 0.31 - Kawasan sekitar Mata Air 1 060.67 0.91 Kawasan rawan bencana longsor 8 537.33 7.29 Kawasan lindung lainnya: - Skor 175 luar kawasan - Tanah sangat peka erosi dan lereng > 15% Luas Kawasan Lindung 26 285.69 22.44 Kawasan Budidaya 90 847.91 77.56 Luas Total 117 133.60 100.00 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay. Kriteria Dephut Persentase Luas (ha)* (%) 7 082.14 6.05 9 242.21 363.34 1 060.67 8 537.33 7.89 0.31 0.91 7.29 7 402.76 6.32 9 733.16 8.31 43 421.61 73 711.99 117 133.60 37.07 62.93 100.00 Kawasan yang Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya Berdasarkan hasil identifikasi, kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya di wilayah DAS Cikaso hanya berupa kawasan hutan lindung. Kawasan lainnya, yaitu kawasan bergambut tidak terdapat pada wilayah ini. Demikian juga untuk kawasan resapan air, dimana kriteria penetapannya antara lain curah hujan yang tinggi tidak terpenuhi oleh wilayah DAS Cikaso yang mempunyai curah hujan rendah sampai dengan sedang. Kawasan hutan lindung yang diperoleh dari proses scoring adalah seluas 7.082.14 ha, dimana 6.479.87 ha merupakan kawasan hutan yang mempunyai nilai skor sama atau lebih dari 175 dan 584.27 ha merupakan kawasan hutan dengan lereng lebih dari 40%. Perlindungan terhadap kawasan hutan lindung ini diperlukan untuk mencegah terjadinya erosi, bencana banjir, sedimentasi, dan menjaga fungsi hidrologi tanah untuk menjamin ketersediaan unsur hara tanah, air tanah, dan air permukaan. 56 Gambar 7 Kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990. 57 Gambar 8 Kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Dephut (1993). 58 Kawasan hutan di wilayah DAS Cikaso yang sebaiknya ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung adalah kawasan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani Unit III Jawa Barat, yaitu dalam wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sukabumi. Kawasan hutan tersebut saat ini berfungsi sebagai Hutan Produksi Tetap dan Hutan Produksi Terbatas, yang sebagian sudah mulai rusak. Hasil wawancara dengan masyarakat, terutama masyarakat di bagian hulu wilayah DAS Cikaso, diperoleh informasi bahwa kerusakan kawasan hutan yang difungsikan sebagai hutan produksi tersebut menyebabkan pasokan air di sekitar kawasan hutan menjadi berkurang. Kondisi ini tentu sangat berpengaruh terhadap kegiatan pertanian masyarakat di sekitar kawasan hutan, terutama pada lahan sawah. Sebelumnya, penanaman padi di lahan sawah dapat dilakukan dua kali dalam setahun untuk sawah tadah hujan dan bahkan bisa tiga kali dalam setahun untuk sawah irigasi. Saat ini penanaman hanya dapat dilakukan satu kali dalam setahun untuk sawah tadah hujan dan dua kali dalam setahun untuk sawah irigasi. Kawasan hutan lindung hasil identifikasi, sebagian tidak merupakan satu hamparan yang utuh, sebagaimana yang terdapat pada daerah hulu (Gambar 7 dan 8). Beberapa kawasan hutan lindung dalam luasan yang relatif kecil dan satu sama lain saling berjauhan tentu akan menyulitkan dalam pengelolaan dan pengawasannya. Oleh karena itu, sebelum ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung, perlu adanya pengaturan-pengaturan dengan pertimbangan kemudahan dalam pengelolaan dan pengawasan. Kawasan Perlindungan Setempat Berdasarkan hasil identifikasi, kawasan perlindungan setempat di wilayah DAS Cikaso terdiri atas sempadan sungai, sempadan pantai, dan kawasan sekitar mata air. Sedangkan kawasan sekitar waduk/danau tidak terdapat di wilayah DAS Cikaso. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi sungai dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai. Perlindungan sempadan pantai dilakukan untuk melindungi wilayah pantai dari kegiatan yang mengganggu kelestarian fungsi pantai. Sedangkan perlindungan 59 kawasan sekitar mata air dilakukan untuk melindungi mata air dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas air dan kondisi fisik kawasan sekitarnya. Pada wilayah DAS Cikaso, teridentifikasi kawasan yang seharusnya ditetapkan sebagai kawasan perlindungan setempat, diluar kawasan perlindungan setempat yang juga termasuk dalam kawasan hutan lindung, seluas 10.666.22 ha atau 9.11% dari keseluruhan luas wilayah DAS Cikaso. Berbeda dengan kawasan hutan lindung yang sebenarnya lebih mudah dikelola karena adanya instansi yang mempunyai kewenangan untuk pengelolaannya, misalnya Dinas Kehutanan, maka kawasan perlindungan setempat yang terdiri dari sempadan sungai, sempadan pantai, dan kawasan sekitar mata air ini belum jelas penanggung jawab pengelolaannya (Fahutan IPB 2002). Kondisi tersebut mengakibatkan kurang intensifnya upaya peningkatan fungsi lindung dan pengawasan pemanfaatannya. Salah satu kelemahan dalam kriteria kawasan perlindungan setempat berupa kawasan sempadan sungai, sebagaimana yang tercantum dalam Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990, adalah adanya perkecualian pada kawasan permukiman. Penetapan kawasan sempadan sungai selebar 50-100 m kanan dan kiri sungai di luar kawasan permukiman merupakan celah atau pembenaran untuk dapat menggunakan sempadan sungai sebagai permukiman, baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah daerah sendiri dalam pemberian ijin penggunaan lahan atau pendirian bangunan. Fenomena ini sudah terlihat nyata di berbagai wilayah, terutama wilayah perkotaan, dengan semakin banyaknya didirikan bangunan di kawasan-kawasan yang seharusnya berfungsi sebagai pelindung sungai. Dengan demikian, yang terjadi bukanlah upaya untuk peningkatan fungsi lindung namun justru akan semakin mengurangi luas kawasan lindung yang telah ditetapkan. Kawasan Rawan Bencana Perlindungan terhadap kawasan rawan bencana dilakukan untuk melindungi manusia dan kegiatannya dari bencana, baik yang disebabkan oleh alam maupun secara tidak langsung oleh manusia. Kawasan rawan bencana yang diidentifikasi dalam kajian ini hanya terbatas pada kawasan rawan bencana longsor yang didasarkan pada tingkat kerentanan gerakan tanah. 60 Pada wilayah DAS Cikaso, terdapat kawasan rawan bencana seluas 8.537.33 ha (diluar kawasan rawan bencana yang termasuk juga dalam kawasan hutan lindung dan kawasan perlindungan setempat), yang sebaiknya ditetapkan sebagai kawasan lindung karena mempunyai tingkat kerentanan gerakan tanah yang tinggi, sehingga dapat menimbulkan bencana berupa tanah longsor. Pada kawasan ini, sebisa mungkin dihindari penggunakan lahan untuk pemukiman, kegiatan budidaya pertanian intensif maupun kegiatan lainnya yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah. Sebagaimana pada kawasan perlindungan setempat, kawasan rawan bencana yang tersebar mulai dari bagian hulu hingga hilir wilayah DAS Cikaso ini pun belum jelas instansi mana yang mempunyai kewenangan dalam pengelolaannya, sehingga berakibat pada kurang intensifnya kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang pada kawasan tersebut. Kawasan Lindung Lain Dalam Pedoman Penyusunan Pola Rehabilitasi Lahan dan Konservasi tanah (RLKT) Daerah Aliran Sungai, fungsi kawasan dibedakan menjadi kawasan lindung, kawasan penyangga, kawasan budidaya tanaman tahunan, dan kawasan budidaya tanaman semusim (Dephut 1993). Parameter-parameter yang digunakan dalam penentuan kawasan lindung adalah sama dengan parameter-parameter yang digunakan dalam penentuan kawasan lindung berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990, namun dalam pedoman penyusunan Pola RLKT DAS terdapat dua kriteria tambahan yang digunakan dalam penentuan kawasan lindung. Kriteria pertama adalah kawasan dengan nilai skor sama atau lebih dari 175. Kriteria ini akan menghasilkan kawasan lindung berupa kawasan di luar kawasan hutan dengan nilai skor sama atau lebih besar dari 175, karena proses scoring dilakukan tanpa membedakan dalam dan luar kawasan hutan. Kriteria kedua, yaitu kawasan yang mempunyai jenis tanah yang sangat peka terhadap erosi (regosol, litosol, organosol, dan renzina) dengan lereng lebih dari 15%. Kawasan lindung yang dihasilkan dari dua kriteria tersebut, dalam kajian ini disebut sebagai kawasan lindung lain. Luas kawasan lindung lain yang teridentifikasi adalah 17.135.92 ha atau 14.63% dari keseluruhan luas wilayah DAS Cikaso. Kawasan lindung ini terdapat 61 mulai dari bagian hulu hingga hilir wilayah DAS Cikaso. Penggunaan kriteria kawasan lindung lain dalam Pola RLKT ini, walaupun utamanya adalah untuk menentukan alternatif kegiatan dalam rangka rehabilitasi lahan dan konservasi tanah, namun dapat pula digunakan dalam penentuan kawasan lindung pada wilayah-wilayah tertentu, misalnya bagian hulu dari suatu DAS atau pada daerahdaerah lain yang telah mengalami kerusakan yang cukup parah. Berbagai kriteria kawasan lindung, baik yang tercantum dalam Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 maupun Dephut (1993), masih belum mempertimbangkan lokasi dan kondisi existing wilayah perencanaan. Kriteria kawasan lindung bagi suatu wilayah perencanaan yang terdapat di bagian hulu suatu DAS misalnya, perlu dibedakan dengan bagian tengah atau hilir. Secara umum, bagian hulu suatu DAS akan mempengaruhi bagian tengah dan hilir, atau dengan kata lain, bagian hulu mempunyai fungsi perlindungan yang lebih besar dibanding bagian lainnya. Pertimbangan lokasi ini juga terkait dengan ketinggian suatu wilayah perencanaan. Dalam kriteria yang telah ada, ketinggian suatu wilayah hanya digunakan pada kawasan hutan untuk menentukan kawasan lindung berupa hutan lindung. Sebagimana bagian hulu suatu DAS, suatu aktivitas pada kawasan yang lebih tinggi, baik pada kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan, tidak hanya mempengaruhi kawasan itu sendiri, namun juga dapat berpengaruh pada kawasan lain yang lebih rendah. Demikian juga dengan kondisi existing wilayah perencanaan, walaupun tidak memenuhi kriteria sebagai kawasan lindung, namun jika pada saat perencanaan ruangnya dibuat, kondisi existing-nya berupa lahan-lahan kritis ataupun lahan-lahan yang telah mengalami kerusakan, perlu dipertimbangkan untuk dimasukkan sebagai kawasan lindung guna mencegah kerusakan lebih lanjut. Dengan demikian, perlu ada perbaikan dalam kriteria yang telah ada, misalnya dengan memasukkan faktor ketinggian, lokasi (bagian hulu, tengah dan hilir DAS) dan kondisi existing (kekritisan atau tingkat kerusakan lahan) dalam proses scoring, yang tidak hanya diberlakukan pada kawasan hutan saja, namun juga di luar kawasan hutan. 62 Analisis Kemungkinan Penyimpangan Fungsi Kawasan Lindung Rencana Pemanfaatan Ruang Perencanaan pemanfaatan ruang merupakan salah satu sarana untuk mencapai tujuan yang diharapkan dari pengembangan suatu wilayah. Menurut Triutomo (1999), tujuan pengembangan wilayah mengandung dua sisi yang saling berkaitan. Di sisi sosial ekonomi, pengembangan wilayah adalah upaya memberikan kesejahteraan kualitas hidup masyarakat, misalnya menciptakan pusat-pusat produksi, memberikan kemudahan prasarana dan pelayanan logistik, dan sebagainya. Di sisi lain, secara ekologi pengembangan wilayah juga bertujuan untuk menjaga keseimbangan lingkungan sebagai akibat campur tangan manusia terhadap lingkungan. Dengan demikian, aspek lingkungan hidup merupakan suatu aspek yang tidak boleh dilupakan dalam usaha pengembangan wilayah. Diberlakukannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, yang diantaranya mengatur pembagian kawasan menjadi kawasan lindung, dan Keputusan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, merupakan suatu upaya pemerintah dalam pelestarian lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati. Sebagaimana diungkapkan dalam Fahutan IPB (2002), dengan semakin beranekaragamnya sumberdaya alam hayati, maka akan semakin stabil pula tatanan lingkungan hidup. Namun demikian, sampai saat ini kondisi pengelolaan kawasan lindung masih belum optimal dan menghadapi tantangan yang besar, terutama oleh kegiatan manusia dalam upaya peningkatan kesejahteraan hidupnya. Berkaitan dengan implementasi otonomi daerah, pemerintah daerah diharapkan dapat turut mencurahkan perhatiannya terhadap upaya pelestarian lingkungan hidup, antara lain dengan menjadikan kawasan lindung sebagai salah satu unsur penting dalam perencanaan pembangunan daerah. Penetapan dan pengelolaan kawasan lindung di daerah secara umum diatur dalam alokasi ruang yang dituangkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Kawasan lindung merupakan kawasan yang sangat terkait dengan keruangan, yaitu bersifat lokalitas namun juga berhubungan dengan wilayah lain yang lebih luas. Oleh karena itu, keberadaan dan pengelolaan kawasan lindung sangat ditentukan oleh desain 63 penetapan dan pengelolaannya. Mengingat pentingnya peran kawasan lindung sebagai sistem pendukung kehidupan, maka sudah selayaknya apabila perencanaan pengelolaan kawasan lindung menjadi bagian dalam setiap perencanaan pembangunan daerah di berbagai sektor. Upaya pelestarian lingkungan hidup di Kabupaten Sukabumi antara lain dituangkan dalam Rencana Strategis (Renstra) Kabupaten Sukabumi Tahun 20012010, dimana salah satu misi dari Kabupaten Sukabumi adalah membangun perekonomian berbasis agrobisnis, pertambangan, perdagangan, industri, dan pariwisata yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan, dengan mengoptimalkan sumberdaya manusia dan sumberdaya alam yang ada menuju otonomi yang tangguh. Upaya pelestarian lingkungan juga diwujudkan melalui Program Pembangunan Daerah (Properda) Kabupaten Sukabumi. Salah satu dari lima program pembangunan yang ada adalah Program Pembangunan Hukum, dengan programnya antara lain pengawasan dan pengendalian kelestarian penyelematan hutan, tanaman, tanah, dan air. Sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Sukabumi, penetapan kawasan lindung di DAS Cikaso dimuat dalam Peraturan Daerah Kabupaten Sukabumi Nomor 10 Tahun 1999 tentang Rencana Umum Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Sukabumi. Berdasarkan Peraturan Daerah tersebut, rencana alokasi pemanfaatan ruang dibagi menjadi tiga kawasan, yaitu kawasan non budidaya (kawasan lindung), kawasan budidaya tanaman pertanian, dan kawasan budidaya non pertanian. Penetapan kawasan lindung mengacu pada Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 dan teridentifikasi sebagai hutan lindung, suaka margasatwa, dan areal konservasi. Kawasan budidaya pertanian meliputi kawasan pertanian tanaman pangan lahan basah, termasuk perikanan, kawasan pertanian tanaman pangan lahan kering, termasuk peternakan, dan kawasan perkebunan/ tanaman keras/tahunan. Sedangkan kawasan budidaya non pertanian meliputi kawasan perkotaan, termasuk didalamnya perumahan/permukiman, jasa perdagangan, kawasan pariwisata, kawasan pertambangan, dan zona industri. Luas kawasan lindung di wilayah DAS Cikaso yang tergambar dalam peta rencana pemanfaatan ruang pada RTRW Kabupaten Sukabumi 1996-2006 adalah 64 3.390.86 ha atau 2.89% dari keseluruhan luas wilayah DAS Cikaso, yang pada umumnya terdapat pada bagian hulu dan tengah wilayah DAS Cikaso (Tabel 25). Tabel 25 Alokasi rencana pemanfaatan ruang di wilayah DAS Cikaso Sub DAS K. Budidaya Tan. Tahunan Rencana Pemanfaatan Ruang (ha)* K. Budidaya K. Budidaya K. Budidaya Lahan Non Lahan Basah Kering Pertanian Sub DAS Cikaler 3 474.35 Sub DAS Cirajeg 2 835.93 Sub DAS Cikurutug 2 756.45 Sub DAS Cikarang Hulu 6644.53 Sub DAS Cikaso Hulu 13 018.62 Sub DAS Ciseureuh 7 454.02 Sub DAS Cicurug 371.54 Sub DAS Cikarang Hilir 20.64 Sub DAS Cikaso Hilir 11 716.89 Luas Total 48 292.97 Persentase 41.23% * Luas didasarkan pada perhitungan di peta Sumber: BPDAS Citarum Ciliwung (2003) 246.39 1 152.48 2 762.89 767.55 2 284.64 660.59 3 438.34 11 312.88 9.66% 2 091.84 6 518.57 2 880.76 6 186.44 18 998.43 7 645.28 1 350.40 2 163.84 3 759.80 51 595.36 44.05% 200.77 0.19 23.18 145.65 623.84 1 547.90 2 541.53 2.17% K. Non Budidaya 1 139.39 152.52 153.55 1 882.05 63.10 0.25 3 390.86 2.89% Beberapa pengaturan terhadap kawasan lindung di Kabupaten Sukabumi sebagaimana dicantum dalam Peraturan Daerah Kabupaten Sukabumi Nomor 10 Tahun 1999 tentang RTRW Kabupaten Sukabumi adalah: - Kawasan lindung dikembangkan sebagai kawasan hutan tetap yang tidak dapat dikonversikan untuk penggunaan lain, serta tidak diperkenankan ada kegiatan budidaya sebagai fungsi komersil. - Pada kawasan lindung yang kondisi penggunaan lahan existing-nya bukan merupakan hutan, harus direboisasi dengan jenis vegetasi hutan yang adaptif dan cepat tumbuh. - Flora dan fauna yang terdapat di kawasan tersebut dipertahankan dan dilindungi. - Untuk menghindari adanya perusakan dan perambahan hutan secara liar oleh masyarakat perlu ditekankan sanksi hukum serta pengawasan yang ketat. Berdasarkan uraian tersebut di atas, terlihat bahwa kebijakan Kabupaten Sukabumi dalam kaitannya dengan kawasan lindung sudah menekankan pada aspek perlindungan terhadap hutan. Namun demikian, bentuk pengaturan 65 ”menghutankan” kawasan lindung yang kondisi penggunaan lahan existing-nya bukan berupa hutan tersebut, tentu bukanlah suatu hal yang mudah untuk diimplemantasikan dan bahkan dapat menimbulkan permasalahan tersendiri, karena terkait dengan masyarakat dan penggunaan lahan yang telah ada di dalam ruang yang direncanakan pengaturannya. Oleh karena itu, perlu ada suatu pendekatan kepada masyarakat, yang antara lain dapat diwujudkan melalui penyelenggaraan penataan ruang yang bersifat partisipatif dengan melibatkan masyarakat setempat. Kenyataan bahwa masyarakat setempatlah yang paling mengenal kondisi dan karakteristik sumberdaya yang ada di wilayahnya, dapat digunakan sebagai masukan penting dalam penyusunan rencana tata ruang. Penggunaan Lahan Existing Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk, maka sumberdaya alam, baik tanah/lahan, vegetasi, dan air akan semakin terbatas. Kondisi ini menyebabkan terjadinya pergeseran pemanfaatan ruang, yang dapat berkembang menjadi bencana, seperti lahan kritis, erosi, banjir, krisis air tanah dan pada akhirnya akan menyulitkan masyarakat. Oleh karena itu, pengelolaan sumberdaya alam yang menyangkut tanah, vegetasi, dan air, merupakan kegiatan yang memerlukan perhatian dan pengkajian seksama guna mengatasi tekanan dekstruktif terhadapnya. Pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat memang harus terus dilakukan, namun di sisi lain kelestarian lingkungan juga harus tetap terjaga demi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Salah satu hal penting dalam pengelolaan sumberdaya alam adalah penetapan kawasan lindung, yang merupakan bagian dari kegiatan penataan ruang. Penataan ruang yang baik merupakan kebutuhan esensial dalam kegiatan pembangunan, yaitu suatu penataan ruang yang dapat diimplementasikan, sesuai dengan daya dukung sumberdaya/lahannya, dapat diterima oleh masyarakat, dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penataan ruang juga didasarkan pada prinsip sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan masyarakat untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Dengan kata lain, rencana pemanfaatan ruang idealnya merupakan hasil penggabungan antara aktivitas manusia, kondisi fisik wilayah/lahan dan keinginan manusia yang ada di wilayah/lahan tersebut. 66 Hal ini tentu tidak mudah untuk diwujudkan dan berpotensi menimbulkan konflik, terutama jika pada lahan yang ada telah dipergunakan atau dikuasai, baik oleh individu maupun kelompok. Sesuai dengan Undang-undang Pokok Agraria Tahun 1960, pemilikan tanah mempunyai kebebasan terhadap penggunaannya yang hampir bersifat mutlak. Selama tahun 1994 sampai dengan 2001, telah terjadi perubahan pola penutupan atau penggunaan lahan yang cukup besar di Kabupaten Sukabumi (Tabel 26). Perubahan pola penggunaan lahan ini memiliki kecenderungan untuk mengikuti struktur atau sistem jaringan jalan yang ada. Kondisi ini terutama ditunjukkan oleh persebaran lokasi permukiman dan perkebunan yang lebih banyak “menempel” di kiri dan kanan jalan raya (Bhumi Prasaja 2002). Tabel 26 Pola perubahan penutupan lahan di Kabupaten Sukabumi tahun 19942001 Jenis Penutupan Lahan Hutan Primer Hutan Sekunder Kebun Campuran Ladang/Tegalan Padang Rumput Perkebunan Permukiman Sawah Semak Belukar Tubuh Air Tanah Terbuka Tidak Teridentifikasi Luas Total Luas Tahun 1994 Ha % 65 985.02 15.86 24 806.15 114 866.46 72 711.05 3 301.47 31 718.22 1 226.07 38 426.58 53 431.49 2 576.09 2 862.22 4 216.50 416 127 5.96 27.60 17.47 0.79 7.62 0.29 9.23 12.84 0.62 0.69 1.01 100 Luas Tahun 2001 Ha % 54 500.89 13.10 Perubahan Luas Ha % -11 484.13 -17.40 13 807.18 82 498.80 94 229.31 40 864.99 59 329.12 2 249.33 33 654.97 21 304.49 2 266.87 1 911.78 9 509.72 416 127 -10 998.97 -32 367.66 21 518.26 37 563.52 27 610.90 1 023.26 -4 771.61 -32 127.00 -309.22 -950.44 5 293.22 3.32 19.83 22.64 9.82 14.26 0.54 8.09 5.12 0.54 0.46 2.29 100 -44.34 -28.18 29.59 1 137.78 87.05 83.46 -12.42 -60.13 -12.00 -33.21 125.54 Sumber: Bhumi Prasaja (2002) Dalam kurun waktu tujuh tahun tersebut, terjadi pengurangan hutan primer sebesar 17.40% dan hutan sekunder sebesar 44.34%. Perubahan hutan primer terutama diakibatkan adanya konversi lahan hutan primer menjadi perkebunan dan ladang/tegalan. Di wilayah selatan, perubahan hutan primer banyak terjadi di Kecamatan Jampang Kulon, Waluran, dan Kalibunder. Perubahan penggunaan lahan yang sangat besar juga terjadi pada padang rumput/alang-alang di 67 Kabupaten Sukabumi, yang bertambah luas hingga sepuluh kali lipat lebih, terutama berasal dari tutupan lahan semak belukar. Di wilayah selatan, perubahan padang rumput/alang-alang ini terjadi di Kecamatan Surade, Jampang Kulon, dan Waluran (Bhumi Prasaja 2002). Berkurangnya hutan dan bertambah luasnya padang alang-alang merupakan indikasi mulai terjadinya kerusakan lingkungan. Kondisi ini dapat mengarah pada terjadinya kerusakan yang lebih besar jika tidak diikuti dengan pengendalian pemanfaatan ruang yang tepat, dan selanjutnya menjadi bencana bagi masyarakat, tidak hanya masyarakat di wilayah tersebut namun juga di wilayah lain. Kebun campuran yang pada tahun 1994 merupakan tutupan lahan yang dominan di Kabupaten Sukabumi, pada tahun 2001 telah berkurang sebesar 28.18%. Perubahan kebun campuran menjadi perkebunan terutama terjadi di wilayah Selatan, yaitu di Kecamatan Surade, Ciracap, Cibitung, dan Tegalbuleud (Bhumi Prasaja 2002). Sedangkan bertambah luasnya ladang/tegalan (29.59%) dan permukiman (83.46%) adalah sebagai akibat semakin banyaknya jumlah penduduk Kabupaten Sukabumi sehingga membutuhkan tambahan lahan, baik untuk hunian maupun untuk membuka ladang/tegalan. Di sisi lain, luas sawah di Kabupaten Sukabumi berkurang sebesar 12.42%. Perubahan sawah yang relatif kecil dibanding dengan penggunaan lain menunjukkan bahwa usaha pertanian lahan basah di Kabupaten Sukabumi masih dipertahankan oleh masyarakat. Hal ini didukung oleh hasil wawancara dengan responden petani, dimana 97.22% responden memiliki lahan sawah (Gambar 9). Kepemilikan Lahan Pert anian 2.78% Lahan Lahan sawah sawah dan dan darat d arat Lahan Lahan sawah sawah saj a 36.11% saja LLahan ahan darat saj a darat saja 61.11% Jumlah responden = 36 Gambar 9 Kepemilikan jenis lahan pertanian petani responden. 68 Berdasarkan Rencana Tehnik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (RTL-RLKT) DAS Cikaso (BPDAS Citarum Ciliwung 2003), penggunaan lahan existing di wilayah DAS Cikaso didominasi oleh tegalan seluas 36.351.65 ha (31.03%), diikuti dengan sawah (23.251.65 ha), kebun campuran (18.926.20 ha), dan semak belukar (13.927.63 ha). Jenis sawah yang yang terdapat di wilayah DAS Cikaso pada umumnya adalah sawah tadah hujan. Selain itu juga terdapat perkebunan, baik perkebunan rakyat, perkebunan besar swasta maupun perkebunan besar negara, antara lain berupa perkebunan karet, kelapa, coklat dan teh. Luas tutupan lahan berupa hutan yang masih tersisa di wilayah DAS Cikaso adalah 12.840.56 ha atau 10.96% dari luas keseluruhan DAS (Tabel 27). Namun demikian, jika ditinjau dari status kawasan, luas kawasan hutan yang terdapat di wilayah DAS Cikaso adalah 28.055.77 ha atau 23.91% dari wilayah DAS Cikaso, yang terdiri dari Hutan Produksi Terbatas (18.346.58 ha) dan Hutan Produksi Tetap (9.659.19 ha). Proporsi tersebut masih belum sesuai dengan kecukupan luas kawasan hutan dan penutupan hutan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Menurut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Pasal 18), pemerintah menetapkan dan mempertahankan kecukupan luas kawasan hutan dan penutupan hutan dalam setiap DAS atau pulau minimal 30% dari luas daratan. Dengan demikian, masih perlu ada penambahan luas hutan di wilayah DAS Cikaso. Penambahan luas hutan antara lain dapat dikembangkan dari kawasan-kawasan yang seharusnya berfungsi lindung namun kondisi existing-nya belum berupa hutan. Analisis Rencana Pemanfaatan Ruang Vs Penggunaan Lahan Existing Hasil overlay antara peta rencana pemanfaatan ruang dalam RTRW Kabupaten Sukabumi 1996-2006 dan peta penggunaan lahan DAS Cikaso, menunjukkan bahwa hanya 7.06% kawasan non budidaya (kawasan lindung) yang penggunaan lahan existing-nya berupa hutan, bahkan terdapat sawah sebesar 13.84% dan pemukiman sebesar 4.15% (Tabel 28). 69 Tabel 27 Penggunaan lahan existing di wilayah DAS Cikaso Sub DAS Sub DAS Cikaler Sub DAS Cirajeg Sub DAS Cikurutug Sub DAS Cikarang Hulu Sub DAS Cikaso Hulu Sub DAS Ciseureuh Sub DAS Cicurug Sub DAS Cikarang Hilir Sub DAS Cikaso Hilir Total Persentase Hutan Kebun Campuran Penggunaan lahan existing (ha)* Padang Permukiman Perkebunan Pasir Tegalan Rumput Sawah Semak Belukar Total 911.91 350.62 286.93 2.58 1 011.64 1 844.33 1 252.58 2 847.55 132.40 366.30 123.37 473.89 1 123.20 645.94 288.81 2 125.11 13.69 13.65 10.14 - - 1 920.97 4 748.59 3 197.51 3 235.08 92.34 1 560.33 439.48 4 294.01 360.04 1 210.52 391.68 1 158.97 5 566.19 10 740.28 5 990.50 14 137.19 878.10 5 931.13 1 045.38 797.47 399.68 - 15 798.37 5 993.47 5 841.57 36 685.17 3 280.48 138.47 - 1 033.49 1 088.51 1 084.38 405.63 523.51 195.43 - 36.09 4.69 - - 3 974.97 229.66 173.35 4 120.93 2 687.24 1 298.67 3 160.91 21.44 93.24 16 012.50 4 693.52 2 845.07 6 991.47 2 832.59 482.41 2.285.37 94.33 149.70 3 072.87 2 865.18 1 689.26 20 463.18 12 840.56 10.96% 18 926.20 16.16% 3 748.32 3.20% 7.265.90 6.20% 572.27 0.49% 149.70 0.13% 36 351.37 31.03% 23 351.65 19.94% 13 927.63 11.89% 117 133.60 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta 70 Tabel 28 Penggunaan lahan existing di wilayah DAS Cikaso berdasarkan alokasi rencana pemanfaatan ruang (RTRW Kabupaten Sukabumi 1996-2006) Rencana Pemanfaatan Ruang Penggunaan Lahan K. Budidaya Tanaman Tahunan Ha* Hutan % K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian Ha* Ha* Ha* % % K. Non Budidaya % % Ha* 11 993.94 24.84 32.88 0.29 574.48 1.11 - - 239.26 7.06 Kebun campuran Pemukiman 5 616.54 11.63 2 532.58 22.39 9 559.22 18.53 339.87 13.37 877.99 25.89 893.88 1.85 756.04 6.68 1 737.29 3.37 220.23 8.67 140.88 4.15 Perkebunan 4 635.06 9.60 626.93 5.54 1 860.30 3.61 83.34 3.28 60.27 1.78 Padang rumput Pasir 322.48 0.67 66.56 0.59 163.80 0.32 - - 19.43 0.57 135.19 0.28 - - 14.51 0.03 - - - - Tegalan 12 008.18 24.87 2 603.87 23.02 20 053.30 38.87 276.78 10.89 1 409.24 41.56 Sawah 6 242.86 12.93 4 171.78 36.88 11 090.30 21.49 1 377.53 54.20 469.18 13.84 Semak belukar Luas Total 6 444.84 13.35 522.24 4.62 6 542.16 12.68 243.78 9.59 174.61 5.15 48 292.97 100 11 312.88 100 51 595.36 100 2 541.53 100 3 390.86 100 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay Sumber: BPDAS Citarum Ciliwung (2003) Berdasarkan Tabel 28 tersebut, dengan mengacu pada bentuk pengaturan terhadap kawasan lindung sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Sukabumi Nomor 10 Tahun 1999, maka terdapat kemungkinan penyimpangan pemanfaatan ruang pada kawasan lindung di wilayah DAS Cikaso sebesar hampir 93%. Kenyataan ini menunjukkan bahwa rencana alokasi pemanfaatan ruang yang ada belum dapat diimplementasikan secara optimal. Nilai penyimpangan tersebut juga terkait dengan penggunaan lahan yang telah ada sebelumnya, baik yang tidak berhasil diarahkan sebagai kawasan lindung yang menggambarkan nilai penyimpangan yang sebenarnya, maupun penggunaan lahan yang dipertahankan karena tidak mengganggu fungsi lindung sebagai suatu bentuk kompromi dalam pemanfaatan ruang. Sebagaimana disebutkan dalam Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 (Pasal 37), bahwa pada kawasan lindung dilarang melakukan kegiatan budidaya, kecuali yang tidak mengganggu fungsi lindung. Dengan kata lain, masih terdapat toleransi atau kompromi dalam penggunaan lahan pada kawasan lindung. Besarnya penyimpangan pemanfaatan ruang juga tidak terlepas dari masih belum kuatnya komitmen aparat terkait mengenai fungsi dan kegunaan RTRW dalam pelaksanaan pembangunan dan lemahnya pengendalian pemanfaatan ruang. 71 Faktor lain yang memberikan kontribusi pada penyimpangan pemanfaatan ruang adalah ketidaktauan masyarakat sebagai akibat kurangnya sosialisasi RTRW yang telah dibuat. Dokumen RTRW yang seharusnya disosialisasikan kepada publik, seringkali justru menjadi dokumen yang sulit untuk diakses oleh masyarakat. Di samping itu, kurang dilibatkannya masyarakat dalam kegiatan penataan ruang, khususnya perencanaan dan penetapan kawasan lindung, mengakibatkan ketiadaan rasa memiliki bagi masyarakat terhadap kawasan lindung. Keterlibatan masyarakat dalam perencanaan dan penetapan kawasan lindung sejak dini merupakan kunci keberhasilan implementasi rencana pemanfaatan ruang yang ada. Hasil review RTRW Kabupaten Sukabumi Tahun 1996-2006 yang dilakukan pada tiga tinjauan utama (kriteria), yaitu tinjauan pada rencana pemanfaatan ruang, pengembangan jaringan jalan, dan rencana struktur pelayanan, menghasilkan deviasi rata-rata sebesar 64.1% (Bhumi Prasaja 2002). Besarnya angka deviasi tersebut menunjukkan bahwa RTRW Kabupaten Sukabumi Tahun 1996-2006 harus direvisi atau disusun kembali, dengan mengacu pada kondisi fisik wilayahnya dan dengan mempertimbangkan berbagai isu dan permasalahan yang terjadi serta kemungkinan pengembangannya di masa datang. Selain karena adanya penyimpangan pemanfaatan ruang yang cukup besar, mendesaknya revisi RTRW juga berkaitan dengan adanya perubahan kebijakan pemanfaatan ruang di tingkat Provinsi Jawa Barat (RTRW Provinsi Jawa Barat), terutama mengenai kebijakan proporsi kawasan lindung sebesar 45%. Berdasarkan kajian terhadap pengelolaan kawasan lindung di Kabupaten Sukabumi oleh Fahutan IPB (2002), kebijakan Kabupaten Sukabumi dalam kaitannya dengan kawasan lindung juga lebih menekankan pada aspek perlindungan terhadap ketersediaan sumber air guna memenuhi hajat hidup orang banyak. Sementara beberapa program yang disusun oleh Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sukabumi, yang berkaitan langsung dengan pengelolaan kawasan lindung, masih bersifat normatif dan belum diwujudkan pada tataran implementatif. Program-program tersebut antara lain penyelamatan hutan, tanah, dan air; pelestarian flora dan fauna langka; penangkaran flora dan fauna langka, 72 peningkatan pengetahuan masyarakat dalam pengelolaan flora dan fauna langka; serta peningkatan pendapatan masyarakat dalam pengelolaan flora fauna langka. Analisis Rencana Pemanfaatan Ruang Vs Kawasan Lindung Hasil Identifikasi Hasil overlay antara peta kawasan lindung hasil identifikasi dengan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 dan peta rencana pemanfaatan ruang, menunjukkan bahwa kawasan yang sebaiknya ditetapkan sebagai kawasan lindung, pada umumnya dialokasikan sebagai kawasan budidaya tanaman tahunan (50.42%) dan kawasan budidaya lahan kering (40.13%). Sedangkan yang telah dialokasikan sebagai kawasan non budidaya (kawasan lindung) hanya 2.43% atau terdapat ketidaksesuaian pengalokasian sebesar 97.57% (Tabel 29). Rencana pemanfaatan ruang untuk kawasan lindung di Kabupaten Sukabumi pada umumnya terdapat di luar wilayah kajian, yaitu di wilayah utara Kabupaten Sukabumi, seperti Taman Nasional Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Halimun, Hutan Lindung Gunung Salak, Hutan Lindung Gunung Reuma Pelabuhan Ratu, dan suaka margasatwa di sekitar kaki Gunung Beas. Tabel 29 Rencana pemanfaatan ruang pada kawasan lindung hasil identifikasi dengan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 Kawasan lindung hasil identifikasi Budidaya Tanaman Tahunan Rencana pemanfaatan ruang (ha)* Budidaya Budidaya Budidaya Lahan Lahan Non Basah Kering Pertanian Hutan Lindung 6 128.55 61.83 886.90 Sempadan Sungai 3 738.58 876.89 4 212.72 Sempadan Pantai 104.85 17.91 115.18 Kawasan Mata Air 296.14 213.59 526.50 Rawan Bencana 2 984.16 387.70 4 805.84 Longsor Luas Total 13 252.28 1 557.92 10 547.14 Persentase 50.42% 5.93% 40.13% * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay Non Budidaya Total 150.73 125.40 12.57 4.86 263.29 11.87 7 082.14 9 242.21 363.34 1 060.67 - 359.63 8 537.33 288.70 1.10% 639.65 2.43% 26 285.69 100.00% Sementara itu, jika menggunakan pendekatan kriteria Dephut (1993), dari kawasan yang sebaiknya ditetapkan sebagai kawasan lindung, 47.23% 73 dialokasikan sebagai kawasan budidaya tanaman tahunan dan 44.08% sebagai kawasan budidaya lahan kering. Kawasan yang sebaiknya ditetapkan sebagai kawasan lindung dan telah dialokasikan sebagai kawasan non budidaya (kawasan lindung) adalah 1.60% atau terdapat ketidaksesuaian pengalokasian sebesar 98.40% (Tabel 30). Tabel 30 Rencana pemanfaatan ruang pada kawasan lindung hasil identifikasi dengan pendekatan kriteria Dephut (1993) Kawasan lindung hasil identifikasi Budidaya Tanaman Tahunan Rencana pemanfaatan ruang (ha)* Budidaya Budidaya Budidaya Lahan Lahan Non Basah Kering Pertanian Hutan Lindung 6 128.55 61.83 886.90 Sempadan Sungai 3 738.58 876.89 4 212.72 Sempadan Pantai 104.85 17.91 115.18 Kawasan Mata Air 296.14 213.59 526.50 Rawan Bencana Longsor 2 984.16 387.70 4 805.84 Kawasan Lindung Lain 7 256.60 1 173.45 8 591.74 Luas Total 20 508.88 2 731.37 19 138.88 Persentase 47.23% 6.29% 44.08% * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay 150.73 125.40 12.57 58.01 346.71 0.80% Non Budidaya Total 4.86 7 082.14 263.29 9 242.21 363.34 11.87 1 060.67 359.63 8 537.33 56.12 17 135.92 695.77 43 421.61 1.60% 100% Dengan melihat kondisi fisik wilayahnya, seharusnya kawasan hutan lindung, sempadan sungai, sempadan pantai, sekitar mata air, dan kawasan rawan bencana dialokasikan untuk kawasan non budidaya atau kawasan yang mengemban fungsi lindung. Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Sukabumi Nomor 10 Tahun 1999, walaupun telah disebutkan bahwa rencana pengembangan kawasan konservasi dipertimbangkan atas kriteria kawasan lindung yang di dalamnya termasuk kawasan perlindungan setempat seperti sempadan sungai, sempadan pantai, dan kawasan sekitar mata air, namun rencana tersebut belum tergambar secara eksplisit pada peta rencana pemanfaatan ruangnya. Selain karena tidak dipetakannya kawasan perlindungan setempat dan kawasan rawan bencana dalam peta rencana pemanfaatan ruang Kabupaten Sukabumi, besarnya perbedaan antara kawasan lindung hasil identifikasi dan kawasan lindung yang telah dialokasikan, yang mencapai 97.57% jika berdasarkan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1999, juga disebabkan perbedaan skala peta yang digunakan, terutama peta jenis tanah. Peta jenis tanah yang digunakan dalam 74 kajian ini, satuan peta tanahnya sebagian terdiri atas dua atau lebih jenis tanah dominan dan masing-masing satuan tanah tunggal tidak dapat dibatasi tersendiri. Sedangkan peta jenis tanah yang digunakan dalam penyusunan RTRW Kabupaten Sukabumi adalah peta jenis tanah dengan satuan tanah tunggal. Berbagai perbedaan pada peta yang digunakan, baik dalam hal sumber peta, tehnik pembagian wilayah curah hujan maupun ragam peta, dapat juga mengakibatkan adanya perbedaan hasil identifikasi kawasan lindung. Di samping itu, adakalanya perencanaan pemanfaatan ruang dilakukan tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan kondisi fisik wilayah, namun juga berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, seperti alokasi ruang untuk kegiatan pembangunan, pertimbangan ekonomi dan politik, maupun pertimbangan pemanfaatan ruang yang telah ada sebelumnya. Penggunaan teknologi juga dapat mempengaruhi kualitas rencana pemanfaatan ruang yang dihasilkan. Sebagaimana dikemukakan oleh Pemda Kabupaten Sukabumi, kualitas RTRW yang ada saat ini masih jauh dari sempurna akibat belum dikuasainya teknologi pada saat penyusunannya, terutama teknologi yang berkaitan dengan Sistem Informasi Geografi. Analisis Penggunaan Lahan Existing Vs Kawasan Lindung Hasil Identifikasi Hasil overlay antara peta penggunaan lahan existing wilayah DAS Cikaso dan peta kawasan lindung hasil identifikasi dengan menggunakan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990, menunjukkan bahwa kawasan yang sebaiknya ditetapkan sebagai hutan lindung, lebih dari setengahnya (55.54%) telah berupa hutan. Sedangkan kawasan yang seharusnya merupakan kawasan perlindungan setempat sebagian besar berfungsi sebagai sawah (30.84%) dan tegalan (27.59%). Besarnya penggunaan lahan untuk sawah dan tegalan di kawasan perlindungan setempat, terutama sempadan sungai dan sekitar mata air, tidak terlepas dari kemudahan mendapatkan air untuk kedua aktivitas tersebut. Penggunaan lahan pada kawasan yang sebaiknya ditetapkan sebagai kawasan lindung karena berpotensi menimbulkan bencana longsor, didominasi oleh tegalan (32.27%) dan sawah (23.32%). Pada kawasan tersebut juga terdapat pemukiman sebesar 5.21% dari luas kawasan rawan bencana longsor, yang tentunya akan 75 membahayakan keselamatan masyarakat dan berpotensi menimbulkan kerugian materi yang cukup besar. Secara keseluruhan, penggunaan lahan berupa hutan meliputi 20.67% dari kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 (Tabel 31). Tabel 31 Penggunaan lahan existing pada kawasan lindung hasil identifikasi dengan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 Penggunaan Lahan Hutan Kebun campuran Permukiman Perkebunan Padang rumput Pasir Tegalan Sawah Semak belukar Luas Total K. Perlindungan Bawahannya Kawasan lindung hasil identifikasi K. Perlindungan K. Rawan Setempat Bencana Longsor Total Luas (ha)* % Luas (ha)* % Luas (ha)* % Luas (ha)* % 3 933.66 386.49 17.99 98.25 59.67 1 036.81 387.91 1 161.36 7 082.14 55.54 5.46 0.25 1.39 0.84 14.64 5.48 16.40 100.00 694.57 1 321.11 44.51 372.92 38.38 124.03 2 942.85 3 289.65 1 838.20 10 666.22 6.51 12.39 0.42 3.50 0.36 1.16 27.59 30.84 17.23 100.00 805.95 1 249.50 444.72 178.05 0.17 2 755.10 1 990.73 1 113.11 8 537.33 9.44 14.64 5.21 2.09 0.00 32.27 23.32 13.04 100.00 5 434.18 2 957.10 507.22 649.22 98.22 124.03 6 734.76 5 668.29 4 112.67 26 285.69 20 67 11 25 1 93 2 47 0 37 0 47 25 62 21 56 15 65 100 00 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay Sementara itu, jika menggunakan pendekatan kriteria Dephut (1993), terdapat kawasan lindung lain, yaitu berupa kawasan di luar kawasan hutan yang mempunyai nilai skor total sama atau lebih dari 175 dan kawasan yang mempunyai jenis tanah yang sangat peka erosi dengan kelerengan lebih dari 15%. Penggunaan lahan yang terbesar pada kawasan lindung lain ini adalah tegalan, yaitu sebesar 35.80% (Tabel 32). Dengan masih banyaknya kegiatan budidaya, baik budidaya pertanian maupun non pertanian pada kawasan yang sebaiknya ditetapkan sebagai kawasan lindung, dapat berakibat pada tidak tercapainya fungsi lindung yang diharapkan jika tidak disertai dengan upaya-upaya peningkatan fungsi lindung, misalnya dengan penerapan tehnik-tehnik konservasi tanah dan air yang lebih intensif. Indikasi penurunan fungsi lindung yang saat ini terjadi ditandai dengan berkurangnya pasokan air untuk kegiatan pertanian (sawah) sejak mulai rusaknya 76 kawasan hutan yang difungsikan sebagai hutan produksi, sebagaimana dikeluhkan oleh masyarakat dan aparat desa. Tabel 32 Penggunaan lahan existing pada kawasan lindung hasil identifikasi dengan pendekatan kriteria Dephut (1993) Kawasan Lindung Hasil Identifikasi Penggunaan Lahan Hutan Kbn campuran Pemukiman Perkebunan Padang rumput Pasir Tegalan Sawah Semak belukar Luas Total K. Perlindungan Bawahannya Luas % (ha)* 3 933.66 55.54 386.49 5.46 17.99 0.25 98.25 1.39 59.67 0.84 1 036.81 14.64 387.91 5.48 1 161.36 16.40 7 082.14 100.00 K. Perlindungan Setempat Luas (ha)* % 694,57 1.321,11 44,51 372,92 38,38 124,03 2.942,85 3.289,65 1.838,20 10 666.22 6,51 12,39 0,42 3,50 0,36 1,16 27,59 30,84 17,23 100.00 K. Rawan Bencana Longsor Luas % (ha)* 805,95 9,44 1.249,50 14,64 444,72 5,21 178,05 2,09 0,17 0,00 2.755,10 32,27 1.990,73 23,32 1.113,11 13,04 8 537.33 100.00 K. Lindung Lain Luas (ha)* % 2.031,52 1.713,17 347,87 903,18 145,75 8,24 6.135,13 2.381,76 3.469,30 17 135.92 11,86 10,00 2,03 5,27 0,85 0,05 35,80 13,90 20,25 100.00 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay Saat pengecekan lapangan di dua kecamatan pada bagian hulu wilayah DAS Cikaso, yaitu Kecamatan Jampang Tengah dan Purabaya, dijumpai beberapa lahan terbuka yang terlantar. Lahan-lahan tersebut antara lain adalah lahan milik perkebunan besar swasta yang bangkrut sejak adanya krisis moneter beberapa tahun lalu (Gambar 10), dan saat ini sebagian dipinjamkan kepada masyarakat untuk kegiatan usaha tani dengan jenis-jenis tanaman semusim, seperti singkong, jagung, kacang, dan sebagainya. Kegiatan usaha tani yang dilakukan masyarakat pada lahan-lahan bekas milik perkebunan tersebut pada umumnya tanpa disertai upaya-upaya konservasi tanah dan air, karena status lahan yang hanya pinjaman sementara. Sampai saat ini juga belum ada upaya dari pemerintah setempat untuk melakukan rehabilitasi pada lahan-lahan terlantar tersebut karena masih dalam penguasaan pihak swasta. Hal ini menunjukkan masih lemahnya intervensi pemerintah daerah dalam usaha penyelamatan sumberdaya lahan terutama tanah dan air. Intervensi pemerintah sangat diperlukan mengingat lokasi lahan-lahan terbuka tersebut berada di bagian hulu DAS Cikaso, yang dapat menimbulkan dampak negatif pada bagian tengah dan hilir, sehingga mendesak untuk dilakukan 77 rehabilitasi. Kartodihardjo et al. (2004) mengemukakan bahwa, selain institusi lokal, keberhasilan pengelolaan suatu DAS sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal yang berada di luar DAS. Institusi dan aktor eksternal DAS dapat melakukan intervensi terhadap pengelolaan DAS, termasuk pengelolaan kawasan lindung yang ada di dalamnya, dalam bentuk penguatan institusi DAS yang ada atau melalui perubahan konteks ekonomi dan politik dalam pengambilan keputusan pengelolaan DAS. Dalam hal ini, kekuatan eksternal yang dapat memberikan pengaruh paling dominan adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi. Semakin besar intervensi yang dilakukan oleh pemerintah, maka akan semakin besar peluang atau proporsi tingkah laku atau tindakan stakeholders DAS yang ditentukan oleh insentif dan pengaturan (regulation) daripada oleh normanorma. Gambar 10 Sebagian lahan terlantar di bagian hulu wilayah DAS Cikaso. Intervensi pemerintah dapat diwujudkan melalui pembuatan Peraturan Daerah, yang khusus mengatur tentang pengelolaan kawasan lindung, terutama kawasan lindung di luar hutan lindung, termasuk kewajiban-kewajiban perusahaan maupun perorangan untuk melakukan upaya-upaya pemeliharaan dan penyelamatan lahan yang dimiliki atau dikuasainya. Kawasan-kawasan yang telah nyata-nyata menuju kehancuran, dapat dimasukkan sebagai kawasan lindung yang 78 dimuat dalam Peraturan Daerah, sebagai kekuatan hukum bagi pemerintah untuk dapat melakukan intervensi dalam upaya rehabilitasi lahan. Pengecekan lapangan pada beberapa lokasi kawasan perlindungan setempat, menunjukkan bahwa sebagian besar sempadan sungai di luar kawasan permukiman, saat ini digunakan sebagai sawah, tegalan ataupun kebun campuran. Beberapa kawasan sempadan sungai yang masih cukup terjaga terdapat pada sungai-sungai besar, seperti Sungai Cikarang, Sungai Cikaso, dan Sungai Cipamarangan (Gambar 11). Demikian juga dengan kawasan sekitar mata air, selain berfungsi sebagai tegalan, sawah ataupun kebun campuran, beberapa mata air yang terdapat di kawasan permukiman, digunakan oleh masyarakat sebagai sumber air, baik untuk mandi, mencuci, dan memasak. Berdasarkan wawancara dengan Penyuluh Kehutanan Lapangan (PKL), untuk melaksanakan kegiatan perlindungan mata air yang diprogramkan oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Sukabumi, sulit diperoleh lahan sekitar mata air yang ”bebas” dari kegiatan budidaya untuk dapat dilakukan kegiatan penghijauan secara intensif. Gambar 11 Sempadan Sungai Cikaso (kiri) dan Sungai Cipamarangan (kanan). Sementara itu, berdasarkan pengecekan lapangan pada kawasan pantai di Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, masih cukup banyak dijumpai vegetasi pantai, seperti pandan dan ketapang (Gambar 12). Namun demikian, lebar kawasan bervegetasi dari pantai ke arah darat di kawasan yang seharusnya menjadi sempadan pantai ini tidak lebih dari 20 m, bahkan di belakang tanamantanaman tersebut banyak dijumpai lahan-lahan terbuka yang terlantar. Lahanlahan tersebut antara lain bekas galian pasir dan tambak udang yang sudah tidak 79 digunakan lagi. Sebagian juga lahan-lahan milik pengusaha dari Jakarta, yang telah dibuka namun sampai saat ini belum dimanfaatkan. Gambar 12 Sempadan pantai di Desa Buniwangi, Kecamatan Surade. Penguasaan lahan oleh perseorangan (pengusaha) yang selanjutnya diikuti dengan pembukaan lahan-lahan bervegetasi, tidak terlepas dari ketimpangan perkembangan wilayah antara wilayah utara dan wilayah selatan Kabupaten Sukabumi. Wilayah selatan Kabupaten Sukabumi, termasuk diantaranya wilayah DAS Cikaso, cenderung kurang berkembang dibandingkan wilayah utara, baik karena kondisi fisiknya yang kurang mendukung maupun karena rendahnya tingkat aksesibilitas yang selanjutnya berpengaruh terhadap nilai lahan. Rendahnya nilai lahan akan mendorong perseorangan atau pengusaha, terutama yang berasal dari luar wilayah tersebut, untuk memiliki dan menguasai lahan dalam jumlah yang cukup luas, bukan untuk diusahakan, namun hanya sebagai sarana investasi. Rendahnya tingkat aksesibilitas juga menyebabkan kurang berkembangnya industri pengolahan, jasa, dan perdagangan di wilayah tersebut, dan secara tidak langsung berdampak pada ragam mata pencaharian masyarakat. Masyarakat di wilayah selatan pada umumnya masih menggantungkan hidupnya pada kegiatan pertanian tanaman pangan. Mata pencaharian yang berbasis lahan 80 ini akan memperbesar peluang konversi lahan, dan mungkin sampai ke kawasan lindung, seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Hal lain yang dijumpai di lapangan adalah adanya perbedaan yang cukup kontras antara bagian hulu dan hilir wilayah DAS Cikaso. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, bahwa di bagian hulu DAS Cikaso banyak dijumpai lahan-lahan terbuka dalam hamparan yang cukup luas. Sementara itu, di bagian hilir wilayah DAS Cikaso, kondisi penutupan lahan, terutama pada lahan milik rakyat terlihat jauh lebih baik. Lahan-lahan milik rakyat pada umumnya ditanami dengan tanaman kayu-kayuan yang cukup rapat, seperti Mahoni dan Sengon, banyak dijumpai di Kecamatan Surade dan Cibitung (Gambar 13). Kondisi ini tidak terlepas dari peran Penyuluh Kehutanan Lapangan (PKL) yang cukup berhasil dalam melakukan pendekatan dan penyuluhan kepada masyarakat di empat kecamatan tersebut. Selain dari hasil wawancara dengan masyarakat, hal ini juga terlihat dari kedekatan penyuluh dengan masyarakat sebagaimana penulis lihat selama di lapangan. Gambar 13 Tanaman Sengon dan Mahoni di lahan milik rakyat. Aksesibilitas di bagian hilir yang secara umum lebih baik dibanding bagian hulu, secara tidak langsung juga berpengaruh pada akses dan pemahaman masyarakat terhadap informasi dan teknologi. Kondisi ini sesuai hasil kajian Kartodihardjo et al. (2000), bahwa salah satu permasalahan dalam pengelolaan suatu DAS adalah infrastruktur fisik dan sosial (seperti jalan, listrik, dan penyuluhan) di daerah hulu relatif lebih buruk dibandingkan daerah hilir. Hal tersebut dikarenakan di masa lalu konsentrasi pembangunan pertanian telah dan 81 lebih terkonsentrasi di daerah ”lowland”, sehingga daerah dataran tinggi dan hulu DAS tidak diuntungkan dari program-program yang didanai oleh pemerintah. Keberhasilan kegiatan penghijauan di bagian tengah dan hilir wilayah DAS Cikaso ini juga dipengaruhi oleh kondisi hutan yang sudah mulai rusak, terutama di wilayah kerja Perum Perhutani, sehingga banyak permintaan kayu yang tidak terpenuhi. Masyarakat yang sebelumnya mengambil kayu dari hutan pun mulai kesulitan mendapatkan kayu. Kondisi ini mendorong masyarakat untuk menanam tanaman kayu-kayuan di lahan mereka sendiri. Perbedaan penutupan lahan antara bagian hulu dan hilir tersebut perlu mendapat perhatian, karena kerusakan lahan di bagian hulu tentu dapat menimbulkan dampak yang tidak hanya bersifat setempat, tetapi juga dapat menimbulkan bencana bagi wilayah tengah maupun hilir. Oleh karena itu, penetapan kawasan lindung yang utamanya didasarkan pada kondisi fisik wilayahnya, namun dalam pengelolaannya di lapangan perlu melihat penggunaan lahan yang telah ada. Pada kawasan-kawasan yang berdasarkan kriteria fisiknya tidak termasuk dalam kawasan lindung, jika kondisi di lapangan sudah menuju pada kehancuran dapat dipertimbangkan untuk ditetapkan sebagai kawasan lindung, terutama jika kawasan tersebut terletak di wilayah yang lebih tinggi atau merupakan bagian hulu suatu DAS. Kriteria penentuan kawasan lindung dari Dephut (1993), yaitu kawasan di luar kawasan hutan yang mempunyai nilai skor sama atau lebih dari 175 dan kawasan yang mempunyai jenis tanah sangat peka erosi (regosol, litosol, renzina, dan organosol) dengan lereng lebih dari 15%, dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penetapannya. Melalui status sebagai kawasan lindung yang dikuatkan dalam suatu Peraturan Daerah maka upaya rehabilitasi dapat dilaksanakan dengan lebih efektif, sehingga tidak terjadi kemerosotan kualitas lingkungan secara terus menerus yang dapat berakhir pada bencana. Perhatian terhadap bagian hulu suatu DAS menjadi penting dalam perencanaan wilayah karena adanya keterkaitan biofisik antara bagian hulu dan hilir. Bagian hulu suatu DAS, mempunyai arti penting terutama dari segi perlindungan terhadap fungsi tata air, dimana setiap kegiatan di bagian hulu dapat menimbulkan dampak di bagian hilir, misalnya dalam bentuk fluktuasi debit dan 82 transport sedimen serta material terlarut dalam sistem aliran airnya. Dengan demikian, bagian hulu DAS Cikaso dapat dikatakan mempunyai fungsi perlindungan yang lebih besar terhadap keseluruhan DAS. Disisi lain, penetapan kawasan lindung juga tidak berarti harus menghentikan aktivitas manusia yang sudah terlanjur ada di kawasan tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 (Pasal 37), bahwa di dalam kawasan lindung dilarang melakukan kegiatan budidaya, kecuali yang tidak mengganggu fungsi lindung. Apabila menurut Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) kegiatan budidaya yang sudah ada di kawasan lindung terbukti mengganggu fungsi lindung, maka harus dicegah perkembangannya dan fungsi sebagai kawasan lindung dikembalikan secara bertahap. Dengan demikian, hal terpenting dalam pengelolaan kawasan lindung adalah peningkatan fungsi lindung, yang dilanjutkan dengan pengendalian kawasan lindung agar eksistensinya sebagai fungsi lindung dapat dipertahankan dan kerusakan fungsi lingkungan hidup dapat dicegah. Dalam upaya mempertahankan fungsi utama kawasan lindung, yaitu untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian kehidupan hayati dan perlindungan terhadap sumberdaya alam, terutama konservasi air, tanah, dan udara dalam wilayah pengaruhnya, maka perlu ada pembatasan terhadap kegiatan budidaya yang saat ini ada di kawasan lindung. Beberapa jenis penggunaan lahan masih dapat dilanjutkan sejauh tidak mengganggu fungsi lindung, seperti hutan produksi terbatas dan perkebunan yang dikelola dengan baik maupun usahatani yang disertai dengan tehnik-tehnik konservasi tanah dan air, namun jika ternyata mengganggu fungsi lindung maka secara berangsur-angsur harus dihentikan. Menghentikan kegiatan masyarakat yang mengganggu fungsi lindung suatu kawasan memang bukan suatu hal mudah. Menurut data dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan, terdapat pemukiman seluas 57 ha dan perladangan berpindah seluas 22.3 ha di Taman Nasional Baluran, yang sampai saat ini belum berhasil diatasi, walaupun perambahan tersebut sudah terjadi sejak tahun 1975. Perambahan juga terjadi di Taman Nasional Gunung Halimun, antara lain berupa pemukiman (356 ha) dan penyerobotan lahan (307.7 ha) dan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, 83 berupa perambahan seluas 52 088 ha. Hal ini menunjukkan bahwa pada Taman Nasional, yang merupakan salah satu kawasan lindung yang sudah jelas batasnya di lapangan, ada intansi yang mengelola dengan pengamanan yang cukup ketat, gangguan fungsi lindung masih sangat banyak terjadi dan sulit untuk diatasi, maka perambahan di kawasan lindung lainnya yang belum jelas pengelolanya merupakan hal yang sangat mungkin terjadi. Dengan kata lain, perlu upaya yang lebih keras dalam mempertahankan dan meningkatkan fungsi lindung pada kawasan lindung lainnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menunjuk instansi terkait dalam pengelolaan kawasan perlindungan setempat dan kawasan rawan bencana, yang dikuatkan dalam suatu Peraturan Daerah, agar pengelolaan kawasan lindung tersebut dapat dilakukan dengan lebih intensif. Pada kawasan lindung yang penggunaan lahan existing-nya bukan berupa hutan atau merupakan lahan milik masyarakat, peningkatan fungsi lindung dapat dilakukan dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan. Salah satu pendekatan dalam pengelolaan Taman Nasional, yaitu sosialisasi Nilai Ekonomi Total (NET) Taman Nasional, dapat diterapkan dalam pengelolaan seluruh jenis kawasan lindung. Sosialisasi tentang NET sangat diperlukan sebagai informasi yang mampu menjelaskan keterkaitan antara manfaat kawasan lindung dengan kepentingan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Melalui sosialisasi NET akan memberikan pemahaman kepada masyarakat lokal dan para stakeholders kawasan lindung tentang tingginya manfaat intangible suatu kawasan lindung. Sebagai contoh, Taman Nasional Gunung Halimun memberikan nilai manfaat sebesar 439.35 milyar rupiah per tahun bagi masyarakat, baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun global. Khusus bagi masyarakat lokal (51 desa penyangga Taman Nasional Gunung Halimun), jasa hidrologis Taman Nasional Gunung Halimun mampu memberikan nilai ekonomi sebesar 6.64 milyar rupiah per tahun, berupa air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan lahan pertanian. Dari nilai tersebut, masyarakat hanya mengeluarkan biaya 2.12 milyar rupiah per tahun atau terdapat surplus konsumen sebesar 4.52 milyar rupiah per tahun. Hal ini berarti peranan jasa hidrologis Taman Nasional Gunung Halimun mampu memberikan nilai kesejahteraan kepada masyarakat di 51 desa penyangganya sebesar 4.52 milyar 84 rupiah per tahun (Widada 2005). Sosialisasi NET juga merupakan salah satu upaya membangun kapasitas sosial (social capasity) sebagai landasan yang dapat mendukung perubahan perilaku masyarakat dalam memandang kawasan lindung. Upaya mengurangi gangguan terhadap kawasan lindung juga dapat dilakukan melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan lindung, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Agroforestry adalah salah satu kegiatan yang dapat dikembangkan pada lahanlahan masyarakat yang terdapat di kawasan lindung. Secara ekonomi, pengembangan agroforestry diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat melalui sumber pendapatan yang lebih beragam, baik dari komoditas pertanian maupun kehutanan. Keragaman komoditas, selain akan lebih menstabilkan pendapatan dan mengurangi ketergantungan terhadap suatu komoditas tertentu, juga dapat membuka berbagai jenis usaha baru (Widada 2005). Sedangkan secara ekologi, penerapan sistem agroforestry dapat meningkatkan fungsi lindung. Upaya lain yang dapat dilakukan dalam peningkatan fungsi lindung di kawasan lindung adalah dengan kegiatan penghijauan di kanan kiri sungai, penerapan tehnik-teknik konservasi yang disesuaikan dengan kegiatan budidaya dan kondisi lahan, dan sebagainya. Koordinasi antar berbagai kepentingan atau berbagai pihak juga diperlukan untuk mendapatkan kesepakatan dalam pengelolaan kawasan lindung. Kawasan yang sebaiknya ditetapkan menjadi kawasan lindung, perlu dikuatkan dengan Peraturan Daerah atau produk hukum lainnya mengenai kawasan lindung, sebagai landasan hukum dalam pengelolaan kawasan lindung pada tingkat kabupaten. Dengan demikian, memungkinkan penegakan hukum secara konsisten dan tegas untuk setiap pelanggaran dan pengrusakan kawasan lindung. Selanjutnya perlu ada upaya sosialisasi secara terbuka kepada publik dan diimplementasikan secara konsisten. Hal ini minimal tidak akan menambah kegiatan budidaya di kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan lindung. Sebagaimana hasil Proses Hirarki Analitik (Analytical Hierarchy Process) yang dilakukan oleh Hernawati (2003), kriteria yang paling menentukan dalam memilih institusi yang memiliki kompetensi dalam pengelolaan kawasan lindung di Kabupaten Sukabumi adalah kebijakan dan peraturan perundangan. Prioritas selanjutnya adalah sumberdaya 85 manusia, dilanjutkan dengan koordinasi dan integrasi, dana, teknologi, dan sarana prasarana. Sedangkan dari hasil Proses Hirarki Analitik yang dilakukan oleh Fahutan IPB (2002), diperoleh urutan prioritas utama yang dapat memperbaiki kinerja Pemerintah Kabupaten Sukabumi dalam pengelolaan kawasan lindung adalah perbaikan manajemen (mempunyai peran 0.168), koordinasi dengan stakeholders (0.149), perbaikan perangkat kebijakan dan hukum (0.138), pendidikan dan penyadaran lingkungan (0.129), pelaksanaan kegiatan monitoring dan identifikasi kawasan lindung (0.110), pengelolaan flora dan fauna (0.110), dan rehabilitasi kawasan rusak (0.083). Kawasan Lindung Hasil Identifikasi, Penggunaan Lahan Existing dan Rencana Pemanfaatan Ruang Overlay antara peta kawasan lindung hasil identifikasi, peta penggunaan lahan existing, dan peta rencana pemanfaatan ruang, menunjukkan hasil bahwa hanya 77.93 ha (0.07% dari luas total DAS Cikaso atau 0.30% dari luas total kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990) kawasan yang seharusnya ditetapkan sebagai kawasan lindung, telah dialokasikan sebagai kawasan non budidaya dalam RTRW dan penggunaan lahan existing-nya telah berupa hutan. Kawasan tersebut adalah kawasan rawan bencana longsor di Desa Cimerang (Kecamatan Purabaya) dan sempadan sungai di Desa Ciwalat (Kecamatan Pabuaran) yang saat ini merupakan Kawasan Hutan Produksi Terbatas yang dikelola oleh Perum Perhutani (Gambar 14). Selain itu, terdapat 5.356.25 ha (4.57% dari luas total DAS Cikaso atau 20.38% dari luas total kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990) kawasan yang seharusnya ditetapkan sebagai kawasan lindung dan penggunaan lahan existing-nya telah berupa hutan, namun saat ini belum dialokasikan sebagai kawasan lindung (kawasan non budidaya) dalam RTRW Kabupaten Sukabumi (Tabel 33). Kawasan tersebut merupakan kawasan yang perlu mendapat prioritas untuk ditetapkan sebagai kawasan lindung di wilayah DAS Cikaso. Hal ini perlu diungkapkan sebagai masukan untuk perbaikan RTRW yang telah ada saat ini, dimana kemungkinan timbulnya konflik dengan masyarakat akibat penetapannya relatif lebih kecil dibandingkan kawasan 86 lain yang penggunaan lahan existing-nya bukan berupa hutan. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, besarnya penyimpangan implementasi rencana pemanfaatan ruang yang termuat dalam RTRW Kabupaten Sukabumi, mengindikasikan perlunya peninjauan kembali terhadap RTRW yang ada saat ini. Gambar 14 Kawasan hutan produksi terbatas di Desa Cimerang. Tabel 33 Kawasan prioritas yang dapat ditetapkan sebagai kawasan lindung di wilayah DAS Cikaso Sub DAS Sub DAS Cikaler Sub DAS Cirajeg Sub DAS Cikurutug Sub DAS Cikarang Hulu Sub DAS Cikaso Hulu Sub DAS Ciseureuh Sub DAS Cicurug Sub DAS Cikarang Hilir Sub DAS Cikaso Hilir Luas Total Jenis Kawasan Lindung (ha)* K. Perlindungan K. Perlindungan K. Rawan Bawahannya Setempat Bencana 10.79 1.00 100.83 2 009.59 1 715.45 3 933.66 115.17 0.11 12.51 35.98 53.46 26.35 446.19 689.77 27.03 705.79 732.82 Total 221.96 1.11 12.51 136.81 2 063.05 53.38 2 867.43 5 356.25 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay. Penggunaan lahan existing berupa hutan, dimana tidak ada masyarakat yang tinggal dan beraktivitas didalamnya, walaupun akan lebih memudahkan dalam 87 penetapannya, namun tidak selalu dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, terutama masyarakat lokal. Masyarakat lokal seringkali beranggapan bahwa penetapan kawasan lindung akan menutup akses mereka terhadap potensi sumberdaya alam, terutama lahan, karena kenyataan yang ada menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan hidup mereka masih sangat tergantung pada sumberdaya lahan, yang diantaranya terdapat di dalam kawasan lindung. Di sisi lain, sistem pengelolaan kawasan lindung seringkali belum mampu mengakomodasi kepentingan kehidupan masyarakat sekitar secara optimal. Salah satu contoh penolakan terhadap penetapan kawasan lindung adalah penolakan masyarakat, yang didukung oleh beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), terkait dengan penunjukan Taman Nasional Gunung Merbabu dan Taman Nasional Gunung Merapi (Thonieq et al. 2005). Kebijakan pemerintah ini, oleh masyarakat ditakutkan akan mempersempit ruang gerak dan mengancam kehidupannya, karena masyarakat memang telah dari dulu (secara illegal) memanfaatkan kawasan hutan Merapi dan Merbabu dengan mengambil hasil hutan non kayu, pengambilan pasir, dan batu. Kegiatan masyarakat yang menimbulkan kerusakan di beberapa kawasan tersebut sulit untuk dihentikan, karena telah berlangsung lama dan menjadi sumber penghidupan sehari-hari masyarakat lokal, sehingga masyarakat menganggap lahan tersebut adalah miliknya. Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya konflik dan untuk menghindari kerusakan di kemudian hari, perlu melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan dan penetapannya. Analisis Tekanan Penduduk Pengembangan wilayah dapat dikatakan sebagai upaya menggabungkan secara harmonis sumberdaya alam, manusia (sumberdaya manusia), dan teknologi, dengan memperhitungkan daya tampung lingkungan (Zen 1999). Dengan demikian, berkembangnya suatu wilayah sangat ditentukan oleh tingkat pemanfaatan ketiga sumberdaya tersebut, sehingga upaya pengembangan yang harus dilakukan akan berbeda antara wilayah yang satu dan lainnya (Triutomo 1999). Berbeda dengan sumberdaya alam yang mempunyai keterbatasan, manusia sebagai salah satu pilar pengembangan wilayah, mampu menggerakkan seluruh 88 sumberdaya wilayah yang ada. Di samping itu, manusia mempunyai peran ganda dalam sebuah proses pembangunan, yaitu sebagai obyek sekaligus subyek pembangunan (Nachrowi & Suhandojo 1999). Hal ini menunjukkan adanya kaitan yang erat antara pengembangan, sumberdaya alam, kependudukan dan lingkungan hidup. Kualitas lingkungan dan sumberdaya alam di suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh pertambahan jumlah penduduk. Dapat dikatakan bahwa seluruh aktivitas manusia dalam mencukupi kebutuhan hidup selalu membutuhkan ruang, terutama jika berbasis lahan seperti kegiatan pertanian yang merupakan mata pencaharian utama masyarakat Indonesia. Seiring meningkatnya jumlah penduduk, sedangkan luas lahan relatif tetap, antara lain berakibat pada penurunan luas kepemilikan lahan pertanian hingga tidak lagi mencukupi pemenuhan kebutuhan hidup petani. Kondisi tersebut dapat mendorong petani untuk memperluas lahan garapannya hingga ke lahan-lahan yang memiliki fungsi lindung, seperti lahan yang memiliki kelerengan tinggi, di tepi sungai atau bahkan merambah ke hutan lindung. Oleh karena itu, salah satu hal penting dalam penataan ruang adalah kesadaran bahwa ruang yang direncanakan pengaturannya bukanlah sebagai ruang kosong. Keberadaan manusia, aktivitas maupun pemanfaatan ruang yang telah ada harus dipertimbangkan dalam penataan ruang, karena akan menentukan besarnya tekanan penduduk dan daya dukung lahan, yang selanjutnya akan mempengaruhi fungsi yang diemban oleh suatu kawasan, terutama pada kawasan yang dalam perencanaannya ditetapkan sebagai kawasan lindung. Secara tradisional, interaksi antara masyarakat dengan sumberdaya alam di dalam kawasan lindung telah berlangsung sejak lama, seiring dengan sejarah keberadaan manusia. Interaksi ini semakin intensif, dipicu oleh pemahaman masyarakat sekitar hutan atau kawasan lindung, bahwa sumberdaya alam di kawasan lindung merupakan sumberdaya terbuka (open acces) yang dianugerahkan Tuhan untuk kesejahteraan manusia. Kondisi ini menyebabkan sulit dihindarinya interaksi antara sumberdaya alam dalam kawasan lindung dan masyarakat, dan harus mendapat perhatian dari berbagai pihak sehingga dapat 89 diarahkan kepada hal-hal positif yang mendukung upaya pelestarian keanekaragaman hayati dalam kawasan lindung (Fahutan IPB 2002). Berdasarkan Data Potensi Desa Tahun 2003 (kondisi tahun 2002), rata-rata kepadatan penduduk geografis di wilayah DAS Cikaso pada tahun 2002 adalah 532 jiwa/km2 (Tabel 34). Desa yang terpadat penduduknya adalah Desa Jampang Kulon, Kecamatan Jampang Kulon (2.246 jiwa/ km2), sedangkan desa yang terjarang penduduknya adalah Desa Calingcing, Kecamatan Tegalbuleud (96 jiwa/km2). Rata-rata kepadatan penduduk agraris adalah 5 jiwa/ha lahan pertanian, dengan kepadatan tertinggi 15 jiwa/ha di Desa Talagamurni (Kecamatan Cibitung) dan kepadatan terendah 1 jiwa/ha di Desa Jampang Tengah dan Bojong Tipar (Kecamatan Jampang Tengah), Desa Calingcing dan Rambay (Kecamatan Tegalbuleud) dan Desa Margaluyu (Kecamatan Purabaya). Kepadatan penduduk agraris sangat ditentukan oleh proporsi keluarga petani dan luas lahan pertanian yang tersedia, seperti sawah, ladang/tegalan atau kebun. Dengan penduduk di wilayah DAS Cikaso yang sekitar 78% diantaranya merupakan keluarga pertanian yang berbasis lahan, berakibat pada terjadinya tekanan yang semakin berat pada sumberdaya lahan dan sumberdaya alam pada umumnya, terutama yang terdapat di dalam kawasan lindung, jika pemanfaatannya tidak dilakukan dengan bijaksana. Oleh karena itu, dalam kegiatan perencanaan dan pengembangan suatu wilayah, yang antara lain diwujudkan dalam kegiatan penataan ruang, tekanan terhadap lahan, terutama yang bersumber dari penduduk (tekanan penduduk), penting untuk diketahui sebagai salah satu bentuk ”peringatan dini” terhadap kemungkinan kerusakan lingkungan. Indikasi adanya tekanan penduduk pada suatu wilayah, yang ditunjukkan dengan nilai indeks tekanan penduduk, terutama dipengaruhi oleh proporsi petani (f), luas lahan pertanian (L), dan luas lahan minimal yang mampu memberikan hasil untuk dapat hidup layak (z) (Lampiran 12). Pada kajian ini, nilai indeks tekanan penduduk diolah dari Data Potensi Desa BPS Tahun 2000 (kondisi tahun 1999) dan Tahun 2003 (kondisi tahun 2002). 90 Tabel 34 Indeks tekanan penduduk tahun 2002 di wilayah DAS Cikaso (jiwa/km ) (jiwa/ha) Rata-rata kepemilikan lahan pertanian (ha/KK) 430 451 400 462 326 494 585 592 559 276 1.238 590 1.226 1.224 490 218 218 692 681 307 719 635 1.566 1.013 761 581 455 1.310 2.246 330 606 543 283 329 613 278 294 218 297 783 447 409 879 297 368 5 5 4 5 4 5 6 5 5 3 13 4 13 10 4 2 2 6 8 3 8 7 15 8 4 4 4 9 12 4 5 5 2 3 5 3 3 2 3 8 5 4 9 3 6 0.68 0.68 0.69 0.67 0.81 0.72 0.59 0.69 0.66 1.59 0.25 0.79 0.26 0.33 0.77 1.36 1.31 0.62 0.43 1.09 0.44 0.47 0.21 0.50 0.92 0.68 0.81 0.38 0.31 0.91 0.69 0.84 1.89 1.24 0.72 1.25 1.45 1.34 1.21 0.49 0.68 0.82 0.45 1.30 0.49 Kepadatan Penduduk Kecamatan Desa Geografis 2 Ciracap Ciracap Ciracap Waluran Waluran Waluran Waluran Surade Surade Surade Surade Surade Surade Surade Surade Surade Surade Cibitung Cibitung Cibitung Cibitung Cibitung Cibitung Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Kalibunder Kalibunder Kalibunder Kalibunder Kalibunder Kalibunder Tegalbuleud Tegalbuleud Purwasedar Ciracap Pasirpanjang Caringin Nunggal Waluran Sukamukti Mekarmukti Pasiripis Buniwangi Cipeundeuy Gunung Sungging Citanglar Jagamukti Swakarya Kadaleman Wanasari Sirnasari Cidahu Cibitung Banyuwangi Cibodas Banyumurni Talagamurni Ciparay Bojong Genteng Bojongsari Mekarjaya Nagraksari Jampang Kulon Tanjung Padajaya Boregah Indah Cimanggu Sukamaju Sukajadi Cikarang Karanganyar Cimahpar Sekarsari Kalibunder Sukaluyu Bojong Balekambang Sumberjaya Buniasih Agraris Kebutuhan lahan per keluarga Indeks Tekanan Penduduk (ha/KK) 1.78 1.86 1.51 1.77 2.41 2.36 1.96 2.08 2.33 2.76 2.58 2.33 2.41 1.95 2.15 1.91 2.11 2.63 2.48 1.80 2.95 2.72 2.45 3.08 2.68 1.96 2.34 3.01 2.71 2.78 2.45 2.90 2.59 2.56 2.52 3.04 3.08 2.26 2.90 2.63 1.88 1.89 2.61 2.45 1.75 2.65 2.77 2.25 2.71 3.12 3.37 3.40 3.13 3.51 1.74 10.53 3.03 9.60 5.97 2.83 1.40 1.61 4.28 6.01 1.67 6.95 5.73 11.62 6.19 2.99 2.88 2.90 7.76 8.97 3.07 3.52 3.41 1.38 2.06 3.63 2.44 2.11 1.70 2.39 5.67 2.76 2.30 5.90 1.89 3.73 91 Indeks tekanan penduduk tahun 2002 di wilayah DAS Cikaso (Lanjutan) Kepadatan Penduduk Kecamatan Desa Geografis 2 (jiwa/km ) Agraris (jiwa/ha) Tegalbuleud Tegalbuleud 301 6 Tegalbuleud Calingcing 96 1 Tegalbuleud Rambay 143 1 Tegalbuleud Nangela 383 5 Tegalbuleud Bangbayang 850 8 Cidolog Cidolog 338 4 Sagaranten Pasanggrahan 562 4 Sagaranten Curugluhur 406 4 Sagaranten Datarnangka 378 3 Sagaranten Sagaranten 388 3 Sagaranten Hegarmanah 377 5 Sagaranten Cibaregbeg 451 5 Sagaranten Puncakmanggis 373 3 Pabuaran Sukajaya 304 3 Pabuaran Ciwalat 478 5 Pabuaran Pabuaran 601 6 Pabuaran Cibadak 648 6 Pabuaran Sirnasari 245 2 Pabuaran Bantarsari 469 4 Lengkong Cilangkap 187 2 Lengkong Lengkong 385 3 Lengkong Tegallega 376 4 Lengkong Neglasari 202 2 Jampang Tengah Bantarpanjang 457 2 Jampang Tengah Bojongtipar 172 1 Jampang Tengah Cijulang 424 2 Jampang Tengah Nangerang 484 5 Jampang Tengah Bojong Jengkol 296 3 Jampang Tengah Bantar Agung 200 2 Jampang Tengah Jampang Tengah 164 1 Purabaya Neglasari 317 3 Purabaya Cicukang 700 4 Purabaya Margaluyu 241 1 Purabaya Purabaya 1.136 10 Purabaya Pagelaran 527 4 Purabaya Citamiang 602 5 Purabaya Cimerang 1.333 9 Nyalindung Cisitu 466 5 Nyalindung Nyalindung 488 5 Nyalindung Kertaangsana 540 5 Rata-rata 532 5 * Diolah dari: Data Potensi Desa BPS Tahun 2000 dan 2003 Rata-rata Kepemilikan lahan pertanian (ha/KK) 0.54 3.53 2.96 0.69 0.43 0.78 0.79 0.68 1.18 1.04 0.54 0.62 0.92 0.99 0.78 0.51 0.57 1.61 0.80 2.05 1.16 1.03 2.19 1.25 2.58 1.45 0.63 1.47 1.89 2.40 1.46 0.89 2.63 0.32 0.87 0.65 0.58 0.65 0.70 0.62 0.98 Kebutuhan lahan per keluarga Indeks Tekanan Penduduk (ha/KK) 2.12 1.40 1.42 3.53 1.00 2.22 2.29 2.62 1.69 1.97 2.85 3.00 3.48 2.60 2.97 2.64 2.52 2.89 2.84 2.11 1.93 2.56 2.12 2.10 2.28 2.66 1.97 2.16 2.10 1.36 1.81 2.10 3.11 3.18 3.77 2.39 4.93 1.61 1.58 1.65 2.39 3.93 0.39 0.42 5.30 2.33 2.90 2.98 3.83 1.47 1.91 5.18 5.05 3.77 2.54 3.82 5.29 4.44 1.84 3.63 1.04 1.68 2.52 0.98 1.67 0.92 1.86 3.16 1.49 1.16 0.51 1.27 2.36 1.23 10.12 4.35 3.74 8.61 2.51 2.26 2.80 3.49 92 Luas lahan yang mampu memberikan hasil untuk dapat hidup layak dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah besaran pendapatan untuk dapat hidup layak, produktivitas lahan, dan jenis tanaman yang diusahakan. Pendekatan yang digunakan dalam menentukan besaran pendapatan untuk dapat hidup layak bagi seseorang yang menggantungkan hidupnya pada lahan pertanian adalah ambang kecukupan pangan sebagai kebutuhan hidup minimum di perdesaan, yang ditetapkan oleh Sayogyo sebesar 320 kg nilai tukar beras/orang/tahun. Asumsi yang digunakan bahwa seseorang dapat hidup layak jika dapat memenuhi kebutuhan sekunder, yaitu dengan pendapatan per kapita sebesar 200% dari kebutuhan hidup minimum atau setara dengan 640 kg nilai tukar beras/orang/tahun (Soemarwoto 1985; Rusli et al. 1995; Mantra 1996). Dengan rata-rata harga beras di Jawa Barat sebesar Rp2.833.71/kg pada tahun 2002 (BPS 2004b), maka penduduk dapat hidup layak jika memiliki pendapatan sebesar Rp1.813.575.00/orang/tahun. Pendapatan tersebut diperoleh dari suatu luasan lahan yang diduga berdasarkan produktivitas komoditas pertanian di tiaptiap desa yang tercakup dalam wilayah DAS Cikaso dan nilai jual dari masingmasing komoditas. Dengan pertimbangan bahwa kegiatan pertanian yang utama desa-desa tersebut adalah pertanian tanaman pangan, maka dalam pendugaan digunakan enam jenis komoditas pertanian sebagaimana dalam Data Potensi Desa 2003, yaitu padi, jagung, kedelei, kacang tanah, ketela pohon, dan ketela rambat. Nilai jual komoditas padi pada tahun tersebut diasumsikan sebesar harga gabah kering panen di tingkat produsen, yaitu sebesar Rp1.095.00/kg (Bulog 2003). Harga komoditas lainnya menggunakan harga rata-rata Jawa Barat di tingkat petani. Sedangkan biaya produksi diduga dari rata-rata prosentase biaya produksi terhadap pendapatan tiap-tiap komoditas dari tahun 1993-1999 (BPS 2004c). Luas lahan yang mampu memberikan hasil setara dengan 640 kg beras/ orang/tahun di wilayah DAS Cikaso adalah 0.35-1.20 ha/orang atau rata-rata 0.70 ha/orang. Setiap keluarga petani, jika rata-rata jumlah anggota keluarga 3-4 orang/KK, membutuhkan lahan seluas kurang lebih 2.35 ha/KK. Dengan rata-rata kepemilikan lahan di wilayah DAS Cikaso yang hanya 0.98 ha/KK, maka penduduk pada umumnya masih belum dapat hidup layak (Tabel 34). Kondisi ini bukan tidak mungkin akan berakibat pada perluasan lahan pertanian dengan 93 mengkonversi kawasan-kawasan yang seharusnya berfungsi lindung, terutama jika tidak ada usaha intensifikasi pertanian, misalnya dengan aplikasi teknologi atau peningkatan ketrampilan petani untuk dapat meningkatkan produktivitas lahan atau menurunkan biaya produksi. Indikasi ke arah tersebut ditunjukkan antara lain dengan indeks tekanan penduduk, yang akan berarti jika mempunyai nilai lebih dari satu dan semakin besar indeks mengindikasikan adanya tekanan penduduk yang semakin besar pula terhadap lahan. Berdasarkan nilai indeks tekanan penduduk 85 desa yang terdapat di wilayah DAS Cikaso, hanya lima desa yang dapat dikatakan tidak ada tekanan yang berarti terhadap lahan (nilai indeks tekanan penduduk <1), yaitu Desa Rambay, Calingcing (Kecamatan Tegalbuleud), Neglasari (Kecamatan Lengkong) Jampang Tengah, dan Bojong Tipar (Kecamatan Jampang Tengah). Sedangkan desa yang mempunyai tekanan penduduk terbesar yaitu desa Talagamurni dengan indeks tekanan penduduk 11.62. Nilai indeks tekanan penduduk di wilayah DAS Cikaso pada umumnya berada pada kisaran satu sampai empat (Gambar 15). 23 25 Ju m la h D e sa 18 18 20 15 8 10 5 3 5 3 2 1 1 2 1 <1 1-2 2-3 3-4 4-5 5-6 6-7 7-8 8-9 9-10 10-11 > 11 Nilai Indeks Tekanan Penduduk Gambar 15 Jumlah desa berdasarkan nilai indeks tekanan penduduk. Indeks tekanan penduduk sangat ditentukan oleh luas lahan pertanian, sehingga ada kecenderungan indeks akan semakin besar dengan semakin besarnya kepadatan agraris, atau semakin kecilnya rata-rata kepemilikan lahan tiap keluarga petani. Nilai indeks tekanan penduduk sebagaimana pada Tabel 34 tentunya akan 94 lebih kecil jika petani tidak menjadikan lahan sebagai satu-satunya sumber pendapatan, karena ada kemungkinan sebagian petani mempunyai pekerjaan sampingan. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara bahwa 33.3% dari responden menyatakan mempunyai pekerjaan sampingan, seperti pedagang, makelar, tukang, membuat anyaman, membuat keripik/opak, dan sebagainya. Indikasi tekanan penduduk yang terdapat pada 94% desa-desa yang tercakup di wilayah DAS Cikaso, terutama akibat sempitnya lahan pertanian di desa-desa tersebut, bahkan saat ini masyarakat banyak yang menggarap lahan-lahan bekas perkebunan yang terlantar maupun lahan-lahan Perum Perhutani. Usaha tani di lahan-lahan yang bukan milik mereka sendiri tentu tidak dapat dilakukan terus menerus. Masyarakat dapat melakukan kegiatan usaha tani di sela-sela tanaman kayu di lahan Perum Perhutani pada wilayah-wilayah yang baru dilakukan penanaman saja, dan jika tanaman sudah besar tentunya ijin yang diberikan pada masyarakat akan dicabut. Demikian juga pada lahan-lahan perkebunan, ada kemungkinan akan dialihkan ke pihak lain atau diusahakan kembali oleh perusahaan pemiliknya. Berdasarkan hasil wawancara, pendapatan petani responden dari hasil usaha tani rata-rata Rp1.159.780.00/orang/tahun, dengan jenis komoditas yang dihasilkan pada umumnya adalah padi dan palawija, seperti jagung, kacang, singkong, dan kedelai. Nilai tersebut tentu masih jauh dari standar untuk dapat hidup layak jika disetarakan dengan nilai tukar beras pada saat ini. Rendahnya pendapatan petani dikarenakan produktivitas lahan yang relatif rendah, baik karena kondisi lahannya maupun kurang intensifnya usaha pemeliharaan dan pemupukan. Sebagian besar petani cenderung melakukan usaha tani dengan pemeliharaan dan pemupukan seadanya sekedar untuk bertahan hidup, akibat kurangnya modal dan tingginya harga pupuk maupun obat-obatan. Rendahnya tingkat pendapatan petani dan adanya indikasi tekanan penduduk pada hampir seluruh desa yang terdapat di wilayah DAS Cikaso, juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan pemanfaatan kawasan lindung. Masyarakat pada umumnya masih terpaku pada upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya tanpa memperdulikan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Hal tersebut juga merupakan permasalahan yang umum terjadi di 95 setiap wilayah, sebagaimana dikemukakan Kartodihardjo et al. (2000), bahwa kehidupan ekonomi yang bersifat subsisten cenderung mengakibatkan sikap yang kurang responsif (pasif, fatalistik, acuh tak acuh) terhadap upaya-upaya pembangunan jangka panjang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan sumberdaya alam secara lestari. Kondisi ini jika terus berlangsung tanpa ada usaha peningkatan ketrampilan dan kemampuan petani untuk meningkatkan pendapatan dari lahan yang telah dimiliki sekarang, akan mendorong petani untuk memperluas lahan pertaniannya sampai ke kawasan lindung untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat. Rendahnya pendapatan petani juga tidak terlepas dari ketimpangan antara wilayah selatan dan utara Kabupaten Sukabumi sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Rendahnya tingkat aksebilitas di wilayah DAS Cikaso yang merupakan bagian dari wilayah selatan Kabupaten Sukabumi, menyebabkan sulitnya pemasaran hasil sumberdaya alam, termasuk hasil pertanian. Komoditas pertanian yang dihasilkan oleh masyarakat pada umumnya dijual kepada tengkulak. Berdasarkan wawancara terhadap 36 responden petani, hanya dua orang petani yang menjual hasil pertaniannya langsung ke pasar, yaitu petani di Desa Talagamurni, Kecamatan Cibitung, salah satu desa di bagian hilir DAS Cikaso yang mempunyai aksesibilitas (jalan) yang relatif memadai dibanding desa-desa sample lainnya. Pentingnya aksesibilitas yang memadai untuk meningkatkan pendapatan petani terlihat dari hasil wawancara, dimana perdapatan terbesar dari setiap hektar lahan pertanian juga diperoleh oleh responden dari Desa Talagamurni (Gambar 16), yang berdasarkan perhitungan nilai indeks tekanan penduduk merupakan desa yang mempunyai indikasi tekanan penduduk terbesar. Aksesibilitas yang memadai akan meningkatkan akses yang lebih baik kepada pasar dan informasi, yang pada akhirnya dapat mengurangi tekanan penduduk terhadap lahan. Tingginya pendapatan dari lahan juga karena kepedulian aparat, dalam hal ini Kepala Desa Talagamurni, untuk memajukan masyarakat petaninya dengan penguatan kelembagaan, antara lain melalui pembentukan kelompok tani-kelompok tani andalan, mengundang pihak luar (perguruan tinggi atau perusahaan swasta) untuk melakukan uji coba berbagai komoditas pertanian, maupun mengirimkan kaderkader kelompok tani mengikuti pelatihan-pelatihan atau studi banding ke daerah 96 lain. Dengan demikian, jenis-jenis komoditas yang dihasilkan petani dari desa ini tidak terbatas pada padi dan palawija saja sebagaimana petani responden lain pada umumnya, namun juga tanaman buah-buahan dan sayur-sayuran seperti melon, buncis, dan cabai. 14.000.000 12.000.000 Rp/ ha 10.000.000 8.000.000 6.000.000 4.000.000 2.000.000 Cim er an g Pa ge lar an Cij Bo u lan jon g g Jen gk ol Ta nju ng Su ka ma ju Ka lib un de r Su ka luy u Cip en de uy Cit an gla Te r lag aM urn i Cid ah u - Gambar 16 Rata-rata pendapatan petani responden. Perkembangan wilayah selatan yang relatif tertinggal dibanding wilayah utara, yang antara lain ditandai dengan kurang berkembangnya industri pengolahan, jasa, dan perdagangan, secara tidak langsung menyebabkan masih cukup tingginya ketergantungan masyarakat terhadap lahan sebagai sumber mata pencaharian, karena tidak adanya alternatif pekerjaan lain, disamping rendahnya sumberdaya manusia, yang dicerminkan dari tingkat pendidikan responden, dimana 75% diantaranya hanya berpendidikan SD (Gambar 17). Hasil overlay antara peta indeks tekanan penduduk dan peta kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 menunjukkan bahwa 98.43% kawasan lindung berada di wilayah-wilayah yang mempunyai nilai indeks tekanan penduduk lebih dari satu (Tabel 35). Hal ini menunjukkan adanya indikasi tekanan penduduk pada kawasan-kawasan yang berfungsi lindung, yang pada akhirnya dapat berakibat pada terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang pada kawasan lindung jika tidak dilakukan upaya-upaya pengendalian. 97 Tingkat Pendidikan Petani Tingkat Pendidikan Petani 2, 8% 5, 6% 2, 8% 13, 9% Tidak Tamat SD SD SMP SMA Diploma II 75,0% Jumlah responden = 36 Gambar 17 Tingkat pendidikan responden. Tabel 35 Indikasi tekanan penduduk pada kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 Jenis Kawasan lindung Kawasan perlindungan kawasan bawahannya Kawasan perlindungan setempat Kawasan rawan bencana longsor Total Persentase Nilai Indeks Tekanan penduduk (ha)* >1 <1 8.397,18 250,42 10.304,33 181.65 8 338.91 432.07 27 040.42 1.57% 98.43% * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay. Berbagai kondisi yang berkaitan dengan penduduk tersebut di atas, perlu dipertimbangkan dalam perencanaan dan pengembangan wilayah, sehingga keseimbangan antara kawasan lindung dan kawasan budidaya dapat tercapai, dan pengelolaan kawasan lindung yang telah ditetapkan dapat diimplementasikan dengan baik serta dapat dicegah kemungkinan penyimpangan pemanfaatannya. Upaya peningkatan pendapatan dari lahan melalui penguatan kelembagaan sebagaimana yang telah dilakukan di Desa Talagamurni dapat dijadikan contoh oleh wilayah-wilayah lain yang mempunyai indikasi tekanan penduduk tinggi, disamping perlunya peningkatan aksesibilitas wilayah selatan untuk membantu pemasaran hasil pertanian dan menumbuhkan industri pengolahan, jasa maupun perdagangan yang dapat memberikan lapangan pekerjaan baru. 98 Bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat yang diprakarsai oleh Balai Taman Nasional Alas Purwo juga merupakan salah satu contoh positif dalam pengelolaan kawasan lindung dan mengurangi ketergantungan penduduk terhadap lahan. Jumari, penduduk Dusun Pondok Asem, Desa Kedung Asri, Kecamatan Tegal Glimo, Kabupaten Banyuwangi adalah salah seorang yang mendapat pinjaman dua ekor kambing dari Balai Taman Nasional Alas Purwo. Berkat dua ekor kambing tersebut, Jumari yang semula menggantungkan hidupnya dengan mengambil bambu secara illegal dari kawasan konservasi, dalam waktu empat tahun telah berhasil membuat rumah dan membeli sapi, bahkan masih tersisa sepuluh ekor kambing untuk investasi berikutnya. Jumari pun telah merangkul masyarakat di delapan desa lainnya dengan anggota tidak kurang dari 130 orang dan jumlah total kambing lebih dari 1 200 ekor (Sartono & Inra 2005). Peningkatan pendapatan masyarakat melalui kegiatan peternakan tersebut dapat diterapkan dalam pengelolaan kawasan lindung di wilayah DAS Cikaso, sebagai salah satu bentuk insentif langsung. Dengan demikian, masyarakat yang telah ada di dalam kawasan lindung, dapat memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa menimbulkan kerusakan lahan akibat aktivitas budidaya dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan lindung tidak lagi ”mengganggu” kawasan lindung karena tuntutan kebutuhan hidup. Sebagaimana dikemukakan oleh Kartodihardjo et al. (2004), salah satu instrumen kebijakan adalah insentif, yang dikenakan terhadap pelaku utama, yaitu pihak-pihak yang diharapkan mengalami perubahan perilaku yang sejalan dengan tujuan kebijakan yang telah ditetapkan. Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan insentif adalah semua bentuk dorongan bagi masyarakat, yang dirancang dan diimplementasikan untuk memotivasi masyarakat agar mau meningkatkan dan mempertahankan fungsi lindung atau menghindari tindakan yang dapat menurunkan fungsi lindung suatu kawasan. 99 Gambar 18 Peta indikasi tekanan penduduk pada kawasan lindung hasil identifikasi (berdasarkan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990). SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan kondisi fisik wilayahnya, kawasan yang sebaiknya ditetapkan sebagai kawasan lindung di wilayah DAS Cikaso adalah 26.285.69 ha atau 22.44% dari keseluruhan luas wilayah, jika menggunakan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990. Sedangkan jika menggunakan pendekatan kriteria Departemen Kehutanan diperoleh kawasan lindung seluas 43.421.61 ha (37.07%). Kawasan lindung tersebut terdiri dari kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat dan kawasan rawan bencana serta kawasan lindung lain. Dengan mengacu pada pengaturan terhadap kawasan lindung Kabupaten Sukabumi sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Sukabumi Nomor 10 Tahun 1999 tentang RTRW Kabupaten Sukabumi 1996-2006, maka terdapat kemungkinan penyimpangan pemanfaatan ruang pada kawasan lindung di wilayah DAS Cikaso sebesar hampir 93%. Nilai penyimpangan tersebut terkait dengan penggunaan lahan yang telah ada sebelumnya, baik yang tidak berhasil diarahkan sebagai kawasan lindung yang menggambarkan nilai penyimpangan yang sebenarnya, maupun penggunaan lahan yang dipertahankan karena tidak mengganggu fungsi lindung sebagai suatu bentuk kompromi dalam pemanfaatan ruang. Ketergantungan penduduk terhadap lahan yang masih cukup tinggi, indikasi tekanan penduduk yang terdapat pada hampir seluruh wilayah DAS Cikaso dan rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat, juga merupakan faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan pemanfaatan kawasan lindung, dimana masyarakat pada umumnya masih terpaku pada upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya tanpa memperdulikan pentingya menjaga kelestarian lingkungan. Kawasan lindung yang teridentifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990, dalam rencana pemanfaatan ruang (RTRW) Kabupaten Sukabumi pada umumnya dialokasikan sebagai kawasan budidaya tanaman tahunan (50.42%) dan kawasan budidaya lahan kering (40.13%). Sedangkan yang telah dialokasikan sebagai kawasan non budidaya 101 hanya 2.43%. Dengan kata lain terdapat ketidaksesuaian antara kawasan lindung hasil identifikasi dan kawasan lindung yang telah dialokasikan sebesar 97.57 %. Sedangkan jika menggunakan pendekatan kriteria Departemen Kehutanan terdapat ketidaksesuaian ketidaksesuaian tersebut pengalokasian sebagai akibat sebesar belum 98.40%. tercantumnya Besarnya kawasan perlindungan setempat dan kawasan rawan bencana dalam peta RTRW Kabupaten Sukabumi serta perbedaan skala peta, data, dan teknologi yang digunakan dalam identifikasi. Penggunaan lahan existing pada kawasan lindung hasil identifikasi didominasi oleh tegalan dan sawah, sehingga menuntut ragam dan intensitas usaha konservasi sumber daya alam dan lingkungan yang lebih tinggi daripada kawasan-kawasan lainnya sebagai upaya peningkatan fungsi lindung. Upaya yang dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan agroforestry dan pembangunan kapasitas sosial. Selanjutnya perlu dilakukan pengendalian kawasan lindung agar eksistensinya sebagai fungsi lindung dapat dipertahankan sehingga kerusakan fungsi lingkungan hidup dapat dicegah. Di wilayah DAS Cikaso terdapat 5.356.25 ha kawasan yang perlu mendapat prioritas untuk ditetapkan sebagai kawasan lindung, yaitu kawasan yang berdasarkan hasil identifikasi seharusnya ditetapkan sebagai kawasan lindung, penggunaan lahan existing-nya telah berupa hutan, namun belum dialokasikan sebagai kawasan lindung dalam RTRW. Berdasarkan nilai indeks tekanan penduduk 85 desa yang terdapat di wilayah DAS Cikaso, hanya lima desa (5.9%) yang dapat dikatakan tidak ada tekanan yang berarti terhadap lahan. Nilai indeks tekanan penduduk di wilayah DAS Cikaso pada umumnya berada pada kisaran satu sampai empat. Indikasi tekanan penduduk yang terdapat pada hampir seluruh kawasan lindung hasil identifikasi, perlu diimbangi dengan adanya kebijakan sistem insentif yang dapat merubah perilaku masyarakat dan pihak-pihak terkait agar sejalan dengan tujuan kebijakan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, pengelolaan kawasan lindung yang telah ditetapkan dapat diimplementasikan dengan baik dan dapat dicegah kemungkinan penyimpangan pemanfaatannya. 102 Saran 1. Perlu segera ada peninjauan kembali terhadap rencana pemanfaatan ruang yang telah ada (RTRW), khususnya di wilayah DAS Cikaso. 2. Perlu ada perbaikan dalam kriteria penentuan kawasan lindung yang telah ada, misalnya dengan memasukkan faktor ketinggian, lokasi (bagian hulu, tengah, dan hilir DAS) dan kondisi existing (kekritisan atau tingkat kerusakan lahan) dalam proses scoring, yang tidak hanya diberlakukan pada kawasan hutan saja, namun juga di luar kawasan hutan. 3. Perlu ada Peraturan Daerah yang khusus mengatur tentang kawasan lindung, terutama kawasan lindung yang bukan berupa hutan lindung, termasuk menetapkan instansi yang berwenang dalam pengelolaannya maupun sanksi serta kewajiban yang terkait dengan kawasan lindung. 4. Perlu upaya mengurangi ketergantungan penduduk terhadap kawasan lindung, terutama lahan, melalui penguatan kelembagaan petani, kebijakan sistem insentif, peningkatan kesempatan kerja, dan peningkatan aksesibilitas pada wilayah selatan Kabupaten Sukabumi. DAFTAR PUSTAKA [Anonim]. 2004. Kawasan Lindung Bandung 54% : Kab. Garut Paling Luas di Jawa Barat. Pikiran Rakyat 21 September 2004. Http://www.pikiranrakyat.com [1 Maret 2005]. [Anonim]. 2005. Sumberdaya Air. Http://www.lautkita.org [1 Maret 2005]. Azhari B. 2004. Kawasan Lindung Harus Difungsikan untuk Mencegah Kerusakan: Masih Perlukah Rencana Tata Ruang Kota? (Bagian 1). Kaltim Post 9 April 2004. Http://www. kaltimpost.web.id. [1 Maret 2005]. Barus B, Wiradisastra US. 2000. Sistem Informasi Geografi: Sarana Manajemen Sumberdaya. Bogor: Labotorium Penginderaan Jauh dan Kartografi, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Intitut Pertanian Bogor. [BKTRN] Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional. 2001. Panduan Penataan Ruang dan Pengembangan Kawasan. Jakarta: BKTRN. [BPDAS] Balai Pengelolaan DAS Citarum Ciliwung. 2003. Rencana Tehnik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah DAS Cikaso. Bogor: BPDAS Citarum Ciliwung. [BPS] Biro Pusat Statistik. 2000. Kabupaten Sukabumi Dalam Angka 1999. Sukabumi: BPS Kabupaten Sukabumi. _______________________. 2002. Kabupaten Sukabumi Dalam Angka 2001. Sukabumi: BPS Kabupaten Sukabumi. _______________________. 2004a. Kabupaten Sukabumi Dalam Angka 2003. Sukabumi: BPS Kabupaten Sukabumi. _______________________. 2004b. Statistik Harga Konsumen Pedesaan di Indonesia 1997-2003. Jakarta: BPS. _______________________. 2004c. Indikator Pertanian 2003. Jakarta: BPS. Bhumi Prasaja PT. 2002. Laporan Akhir Penyusunan Review Rencana Umum Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Perencanaan Makro Wilayah Selatan Sukabumi. Bandung: PT. Bhumi Prasaja. [BULOG] Badan Urusan Logistik. 2003. Harga Rata-Rata Gabah Kering Panen di Tingkat Produsen Tahun 1995-2003. Http://www.bulog.go.id [16 September 2005]. [CIFOR] Center for International Forestry Reaserch. 2002. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Warta Kebijakan 5:1-6. [Dephut] Departemen Kehutanan. 1993. Pedoman Penyusunan Pola Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Daerah Aliran Sungai. Jakarta: Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan, Dephut. ___________________________. 2001. Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan DAS. Jakarta: Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Dephut. 104 [Deptamben] Departemen Pertambangan dan Energi. 1992. Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah, Jawa, Lembar Jampang. Bandung: Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Departemen Pertambangan dan Energi. ________________________________________________. 1990. Peta Geologi Lembar Jampang dan Balekambang, Jawa Barat. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Departemen Pertambangan dan Energi. [Deptan] Departemen Pertanian. 1980. Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 837/Kpts/Um/11/1980 tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan Hutan Lindung. Jakarta: Departemen Pertanian. [Fahutan IPB] Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. 2002. Laporan Akhir Penyusunan Kriteria Penilaian Peringkat Kinerja Pemerintah Daerah Berdasarkan Pengelolaan Kawasan Lindung. Bogor: Fahutan IPB. [FAO] Food and Agriculture Organization. 1976. A Framework for Land Evaluation. FAO Soil Bull 32. Cetak ulang dalam International Institute for Land Reclamation and Improvement (ILRI) 1977:1-85. Hardjowigeno S, Widiatmaka. 2001. Kesesuaian Lahan dan Perencanaan tata Guna Tanah. Bogor: Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Hernawati J. 2003. Pandangan Para Pihak Terkait (Stakeholders) Dalam Penentuan Kebijakan Pengelolaan Kawasan Lindung (Studi Kasus Pengelolaan Kawasan Lindung di Kabupaten Sukabumi) [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Kartodihardjo H, Murtilaksono K, Pasaribu HS, Sudadi U, Nuryartono N. 2000. Kajian Institusi Pengelolaan DAS dan Konservasi Tanah. Bogor: Kelompok Pengkajian Pengelolaan Sumberdaya Berkelanjutan (K3SB). Kartodihardjo H, Murtilaksono K, Sudadi U. 2004. Institusi Pengelolaan DAS: Konsep dan Pengantar Analisis Kebijakan. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Kittradge J. 1948. Forest Influences. New York: Mc Graw-Hill. Klingiebiel AA, Montgomery PH. 1961. Land Capability Classification. Agriculture Handbook 210. Cetak ulang dalam Soil Conservation Servis, US Departement of Agriculture 1973:1-21. Krisnamurthi B, Susila DAB, Kriswantriyono A. 2002. Tekanan Penduduk, Degradasi Lingkungan dan Ketahanan Pangan: Mencari Solusi Komprehensif Mengurangi peluang Terjadinya Bencana yang Berulang. Di dalam: Krisnamurthi B, Susila DAB, Kriswantriyono A, editor. Tekanan Penduduk, Degradasi Lingkungan dan Ketahanan Pangan. Prosiding Seminar; Bogor, 1 Mei 2002. Bogor: Kerjasama Pusat Studi Pembangunan, Lembaga Penelitian, Institut Pertanian Bogor dengan Proyek Koordinasi Kelembagaan Ketahanan Pangan, Badan Bimas Ketahanan Pangan, Departemen Pertanian. 105 Manan S. 1998. Hutan, Rimbawan dan Masyarakat. Bogor: IPB Press. Mantra IB. 1996. Mobilitas Non Permanen Penduduk Pedesaan: Suatu Strategi Meningkatkan Pendapatan Rumah Tangga. Di dalam: Sitorus MF, Supriono A, Sumarti T, Gunardi, penyunting. Memahami dan Menanggulangi Kemiskinan di Indonesia: Prof Dr Sayogyo 70 Tahun. Jakarta: Kerjasama Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Ikatan Sosiologi Indonesia Cabang Bogor dan Penerbit Grasindo. Nachrowi ND, Suhandojo. 1999. Analisis Sumberdaya Manusia, Otonomi Daerah dan Pengembangan Wilayah. Di dalam: Alkadri, Muchdie, Suhandojo, editor. Tiga Pilar Pengembangan Wilayah: Sumberdaya Alam, Sumberdaya Manusia, Teknologi. Jakarta: BPPT. Nuriana R. 2002. Propinsi Jawa Barat. Di dalam: Sudrajat A, Yustina I., editor. Mencari Format Desentralisasi Kehutanan pada Masa Transisi. Jakarta: Nectar Indonesia. Odum EP. 1971. Fundamentals of Ecology. Philadelphia: Saunders College Publishing. Permana RDD. 2004. Pendekatan Penataan Ruang dalam Pengembangan Wilayah Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Buletin Tata Ruang Maret–April:1215. Perum Perhutani. 2003. Peta Fungsi Kawasan Hutan dan Luar Kawasan Hutan Kabupaten Sukabumi. Bandung: Perum Perhutani Unit III Jawa Barat. Prahasta E. 2004. Sistem Informasi Geografis: Tutorial ArcView. Bandung: Penerbit Informatika. Puntodewo A, Dewi S dan Tarigan J. 2003. Sistem Informasi Geografi untuk Pengelolaan Sumberdaya Alam. Bogor: Center for International Forestry Research (CIFOR). Riyadi, Bratakusumah DS. 2004. Perencanaan Pembangunan Daerah: Strategi Menggali Potensi dalam mewujudkan Otonomi Daerah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Rusli S. 1995. Pengantar Ilmu Kependudukan. Jakarta: LP3ES. Rusli S, Sumardjo, Soetarto E, Krisnamurthi B, Syaukat Y, Sitorus MF. 1995. Metodologi Identifikasi Golongan dan Daerah Miskin: Suatu Tinjauan dan Alternatif. Jakarta: Kerjasama Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor dengan Penerbit Grasindo. Sartono A, Inra. 2005. Berkah dari Taman Nasional Alas Purwo. Buletin Konservasi Alam 5(2):30. Sastrowihardjo M, Napitupulu H. 2001. Kebijakan Pertanahan dan Pembangunan. Jakarta: Pusat Pendidikan dan Latihan Badan Pertanahan Nasional. Sitorus S. 1998. Evaluasi Sumberdaya Lahan. Bandung: Penerbit Tarsito. Soemarwoto O. 1985. A Quantitative Model of Population Pressure and Its Potential Use in Development Planning. Majalah Demografi Indonesia 24. 106 _____________. 1989. Analisis Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Soerjani M, Ahmad R, Munir R, editor. 1987. Lingkungan: Sumberdaya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. Jakarta: UI Press. Syafi’i BIE, Bengen DG, Gunawan I. 2001. Analisis Pemanfaatan Ruang Kawasan Pesisir Teluk Manado, Sulawesi Utara. Jurnal Pesisir dan Lautan 4(1):1-16. Thonieq H, Satyatama T, Setiawan I. 2005. Mencari Solusi “Masalah” Taman Nasional Gunung Merbabu dan Taman Nasional Gunung Merapi. Buletin Konservasi Alam 5(2):45-47. Triutomo S. 1999. Pengembangan Wilayah Melalui Pembentukan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu. Di dalam: Alkadri, Muchdie, Suhandojo, editor. Tiga Pilar Pengembangan Wilayah: Sumberdaya Alam, Sumberdaya Manusia, Teknologi. Jakarta: BPPT. Wadsworth R, Treweek J. 1999. Goegraphical Information Systems for Ecology. England: Addison Wesley Longman. Widada. 2005. Memperkuat Dukungan Masyarakat Lokal dalam Sistem Pengelolaan Taman Nasional. Buletin Konservasi Alam:5(2):4-8. Wiradisastra US. 1989. Metodologi Evaluasi Lahan dalam Hubungan Sistem Informasi Sumberdaya Lahan. Di dalam: Lokakarya Sistem Informasi Lahan Untuk Perencanaan Tata Ruang; Yogyakarta, 24–25 Desember 1989. Yogyakarta: Kerjasama Fakultas Geografi UGM dan Bakosurtanal. Zen MT. 1999. Falsafah Dasar Pengembangan Wilayah: Memberdayakan Manusia. Di dalam: Alkadri, Muchdie, Suhandojo, editor. Tiga Pilar Pengembangan Wilayah: Sumberdaya Alam, Sumberdaya Manusia, Teknologi. Jakarta: BPPT. Peraturan Perundangan: - Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Undang-Undang Pokok Agraria). - Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. - Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. - Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. - Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. - Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat. - Peraturan Daerah Kabupaten Sukabumi Nomor 10 Tahun 1999 tentang Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sukabumi. LAMPIRAN 108 Lampiran 1 Peta administrasi DAS Cikaso 109 Lampiran 2 Peta kelas lereng DAS Cikaso 110 Lampiran 3 Peta jenis tanah DAS Cikaso 111 Lampiran 4 Peta curah hujan DAS Cikaso 112 Lampiran 5 Peta kawasan hutan DAS Cikaso 113 Lampiran 6 Peta tingkat kerentanan gerakan tanah DAS Cikaso 114 Lampiran 7 Peta rencana pemanfaatan ruang DAS Cikaso (RTRW Kabupaten Sukabumi Tahun 1996-2006) 115 Lampiran 8 Peta penggunaan lahan DAS Cikaso 116 Lampiran 9 Sebaran jenis tanah di wilayah DAS Cikaso Sub DAS Luas (ha)* 4 22 26 50 41 43 42 29 23 33 45 11 Total Cikaler - - 3.76 - 436.92 - - - 23.81 1 587.17 3 514.53 - 5 566.19 Cirajeg - - 2 730.70 - 5.23 - - - 2 512.05 5 492.30 - - 10 740.28 Cikurutug - - - - 258.93 - - - 164.87 4 882.20 684.50 - 5 990.50 Cikaso Hulu - 132.01 6 796.40 - 19.21 - - 9 966.26 1 027.86 11 880.08 6 863.35 - 36 685.17 Cikarang Hulu - - 15.60 9 860.71 - - 2 011.91 440.85 10.80 1 496.90 300.42 - 14 137.19 Ciseureuh - 332.13 - 1 531.81 19.80 - 3 887.87 6 389.42 99.14 469.53 3 282.80 - 16 012.50 Cicurug - - - 3 951.19 - - - 670.60 - 71.73 - - 4 693.52 Cikarang Hilir - - - 1 961.52 - - - 883.55 - - - - 2 845.07 500.59 - 17.61 2 014.98 - 4 922.18 - 5 542.06 - 6.81 2 616.55 4 842.40 20 463.18 500.59 464.14 9 564.07 19 320.21 740.09 4 922.18 5 899.78 23.892,74 3 838.53 25 886.72 17 262.15 4 842.40 117 133.60 Cikaso Hilir Luas Total Keterangan: 4 = Aluvial Coklat Kekelabuan 22 = Asosiasi Andosol Coklat dan Regosol Coklat 26 = Komplek Grumusol, Regosol dan Mediterian 50 = Komplek Laterit Merah Kekuningan dan Podsolik Merah Kekuningan 41 = Komplek Latosol Merah Kekuningan, Latosol Coklat Kemerahan dan Litosol 43 = Komplek Latosol Merah Kekuningan, Latosol Coklat, Podsolik Kekuningan dan Litosol 42 = Komplek Latosol, Coklat Kemerahan dan Litosol 29 = Komplek Mediterian Coklat Kemerahan dan Litosol 23 = Komplek Renzina, Litosol dan Brown Forest Soil 33 = Latosol Coklat Kekuningan 45 = Podsolik Merah Kekuningan 11 = Regosol Kelabu 117 Lampiran 10 Sebaran masing-masing jenis kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 Sub DAS Jenis kawasan lindung Cikurutug Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Kawasan budi daya Cirajeg Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Kawasan budi daya Cikaler Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Kawasan budi daya Cikaso Hulu Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Kawasan budi daya Cikarang Hulu Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Kawasan budi daya Luas (Ha)* Persentase (%) 62.89 385.63 75.01 40.48 5 426.49 5 990.50 194.30 367.41 505.67 112.65 2 247.67 7 312.58 10 740.28 161.51 28.43 318.16 5 058.09 5 566.19 672.99 89.17 3 468.06 398.74 4 009.74 28 046.47 36 685.17 19.22 1 287.45 50.29 800.85 11 979.38 14 137.19 1.05 6.44 1.25 0.68 90.58 100.00 1.81 3.42 4.71 1.05 20.93 68.09 100.00 2.90 0.51 5.72 90.87 100.00 1.83 0.24 9.45 1.09 10.93 76.45 100.00 0.14 9.11 0.36 5.66 84.74 100.00 118 Lanjutan Sub DAS Jenis Kawasan Lindung Luas (Ha)* Persentase (%) Ciseureuh Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Kawasan budi daya DAS Cicurug Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Kawasan budi daya Cikaso Hilir Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Kawasan budi daya Cikarang Hilir Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Kawasan budi daya Total DAS Cikaso Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Kawasan budi daya 3 441.74 36.37 1 138.85 50.01 531.03 10 814.50 16 012.50 175.75 48.18 126.89 4 342.70 4 693,52 2 008.11 1 742.84 314.51 187.62 780.67 15 429.43 20 463.18 219.80 48.83 138.17 2 438.27 2 845.07 6 497.87 584.27 9 242.21 363.34 1 060.67 8 537.33 90 847.91 117 133.60 21.49 0.23 7.11 0.31 3.32 67.54 100.00 3.74 1.03 2.70 92.53 100,00 9.81 8.52 1.54 0.92 3.81 75.40 100.00 7.73 1.72 4.86 85.70 100.00 5.55 0.50 7.89 0.31 0.91 8.29 77.56 100.00 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay. 119 Lampiran 11 Sebaran masing-masing jenis kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Dephut (1993) Sub DAS Cikurutug Jenis kawasan lindung Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Skor >175 di luar kawasan hutan Tanah sangat peka erosi dengan lereng > 15% Kawasan budi daya Cirajeg Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Skor >175 di luar kawasan hutan Tanah sangat peka erosi dengan lereng > 15% Kawasan budi daya Cikaler Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Skor >175 di luar kawasan hutan Tanah sangat peka erosi dengan lereng > 15% Kawasan budi daya Cikaso Hulu Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Skor >175 di luar kawasan hutan Tanah sangat peka erosi dengan lereng > 15% Kawasan budi daya Luas (Ha)* 62.89 385.63 75.01 40.48 163.98 11.53 5 250.98 5 990.50 194.30 367.41 505.67 112.65 2 247.67 1 022.75 757.91 5 531.92 10 740.28 161.51 28.43 318.16 77.94 318.84 4 661.31 5 566.19 672.99 89.17 3 468.06 398.74 4 009.74 1 640.56 4 548.42 21 857.49 36 685.17 Persentase (%) 1.05 6.44 1.25 0.68 2.74 0.19 87.66 100.00 1.81 3.42 4.71 1.05 20.93 9.52 7.06 51.51 100.00 2.90 0.51 5.72 1.40 5.73 83.74 100.00 1.83 0.24 9.45 1.09 10.93 4.47 12.40 59.58 100.00 120 Lanjutan Sub DAS Cikarang Hulu Jenis Kawasan Lindung Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Skor >175 di luar kawasan hutan Tanah sangat peka erosi dengan lereng > 15% Kawasan budi daya Ciseureuh Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Skor >175 di luar kawasan hutan Tanah sangat peka erosi dengan lereng > 15% Kawasan budi daya Cicurug Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Skor >175 di luar kawasan hutan Tanah sangat peka erosi dengan lereng > 15% Kawasan budi daya Cikarang Hilir Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Skor >175 di luar kawasan hutan Tanah sangat peka erosi dengan lereng > 15% Kawasan budi daya Luas (Ha)* 19.22 1 287.45 50.29 800.85 44.77 10.80 11 923.81 14 137.19 3 441.74 36.37 1 138.85 50.01 531.03 3 198.48 129.02 7 487.00 16 012.50 175.75 48.18 126.89 75.26 4 267.44 4 693.52 219.80 48.83 138.17 2 438.27 2 845.07 Persentase ( %) 0.14 9.11 0.36 5.66 0.32 0.08 84.34 100.00 21.49 0.23 7.11 0.31 3.32 19.97 0.81 46.76 100.00 3.74 1.03 2.70 1.60 90.92 100.00 7.73 1.72 4.86 85.70 100.00 121 Lanjutan Sub DAS Cikaso Hilir Jenis Kawasan Lindung Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Skor >175 di luar kawasan hutan Tanah sangat peka erosi dengan lereng > 15% Kawasan budi daya Total DAS Cikaso Hutan Lindung Hutan dengan lereng > 40% (Hutan Lindung) Sempadan sungai Sempadan pantai Kawasan sekitar mata air Rawan bencana longsor Skor >175 di luar kawasan hutan Tanah sangat peka erosi dengan lereng > 15% Kawasan budi daya * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay. Luas (Ha)* 2 008.11 1 742.84 314.51 187.62 780.67 1 254.28 3 881.38 10 293.77 20 463.18 6 497.87 584.27 9 242.21 363.34 1 060.67 8 537.33 7 402.76 9 733.16 73 711.99 117 133.60 Persentase ( %) 9.81 8.52 1.54 0.92 3.81 6.13 18.97 50.30 100.00 5.55 0.50 7.89 0.31 0.91 7.29 6.32 8.31 62.93 100.00 122 Lampiran 12 Hasil overlay antara peta rencana pemanfaatan ruang dan peta penggunaan lahan existing Luas (ha)* Rencana Pemanfaatan Ruang K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering Penggunaan Lahan Hutan Kebun Campuran Pemukiman Perkebunan Padang Rumput Pasir Tegalan Sawah Semak Belukar Hutan Kebun Campuran Pemukiman Perkebunan Padang Rumput Pasir Tegalan Sawah Semak Belukar Cikaler Cirajeg - Cikurutug 6.28 39.00 82.93 80.20 37.98 - - Cikarang Hulu 158.04 62.19 424.81 121.60 385.84 - Cikaso Hulu Ciseureuh 22.56 434.22 87.67 35.03 46.17 1 579.16 350.08 208.00 136.52 45.60 95.26 237.02 253.15 Cicurug 451.95 278.82 4.69 75.84 1 473.34 - Cikarang Hilir 132.21 47.89 10.83 464.18 5.48 Cikaso Hilir Total 10.32 1 213.36 194.87 84.16 15.70 640.98 1 223.34 55.61 32.88 2 532.58 756.04 626.93 66.56 2 603.87 4 171.78 522.24 84.92 - 15.02 - 195.94 210.14 27.32 - 41.14 574.48 522.97 43.32 154.85 1 255.38 30.40 - 840.10 222.63 205.36 0.03 3 311.83 1 068.95 869.67 646.09 65.67 42.28 0.22 1 651.69 230.99 228.80 697.09 137.85 1 318.82 2 163.34 1 478.40 390.94 3 499.35 593.29 80.03 128.96 7 862.29 3 538.93 3 099.64 780.22 283.93 2 286.16 2 887.58 1 197.25 390.45 136.86 70.34 725.43 - 952.17 147.54 158.03 818.34 87.76 1 230.78 106.20 58.96 34.59 14.51 1 294.24 311.28 668.10 9 559.22 1 737.29 1 860.30 163.80 14.51 20 053.30 11 090.30 6 542.16 123 Lanjutan Luas (ha)* Rencana Pemanfaatan Ruang K. Budidaya Tananam Tahunan Penggunaan Lahan Hutan Kebun Campuran Pemukiman Perkebunan Padang Rumput Pasir Tegalan Sawah Semak Belukar Cikaler Cirajeg 826.99 488.67 89.08 968.35 13.69 665.59 61.94 360.04 123.48 528.92 76.52 356.28 3.70 1 215.25 257.73 274.05 Cikurutug Cikarang Hulu Cikaso Hulu 271.91 571.53 38.97 194.77 5.48 1 347.62 178.36 147.81 2.58 1 960.68 265.29 381.48 941.53 2 342.93 750.04 647.48 1 688.84 274.03 675.27 219.48 5 121.72 1 932.62 2 459.18 Ciseureuh 3 070.34 59.67 65.06 36.09 1 531.49 980.86 1 710.51 Cicurug 111.15 65.81 22.86 57.74 92.54 21.44 Cikarang Hilir 4.49 16.15 - Cikaso Hilir Total 6 940.01 252.42 62.07 2 058.91 44.04 135.19 1 122.75 379.73 721.77 11 993.94 5 616.54 893.88 4 635.06 322.48 135.19 12 008.18 6 242.86 6 444.84 K. Budidaya Non Hutan - - - - - - - - - - Pertanian Kebun Campuran Pemukiman Perkebunan Padang Rumput Pasir Tegalan Sawah Semak Belukar - - 22.20 4.07 174.08 0.42 - 0.19 - 4.12 4.18 14.88 - 57.08 11.04 62.06 15.47 - 120.50 81.67 25.74 395.93 - - 135.78 119.27 83.34 14.90 950.83 243.78 339.87 220.23 83.34 276.78 1 377.53 243.78 124 Lanjutan Luas (ha)* Rencana Pemanfaatan Ruang K. Non Budidaya Total Penggunaan Lahan Hutan Kebun Campuran Pemukiman Perkebunan Padang Rumput Pasir Tegalan Sawah Semak Belukar Hutan Kebun Campuran Pemukiman Perkebunan Padang Rumput Pasir Tegalan Sawah Semak Belukar Cikaler Cirajeg - 227.14 469.03 28.15 1.37 9.92 141.31 195.67 66.80 Cikurutug Cikarang Hulu 12.76 14.66 51.76 4.44 24.12 29.71 15.07 31.55 8.56 8.61 86.84 17.99 Cikaso Hulu 12.12 304.60 86.21 7.14 5.07 1 235.20 156.96 74.75 Ciseureuh - Cicurug 59.80 3.30 - Cikarang Hilir - Cikaso Hilir 0.25 - Total 239.26 877.99 140.88 60.27 19.43 1 409.24 469.18 174.61 911.91 350.62 286.93 2.58 878.10 3 280.48 138.47 - 6 991.47 12 840.56 1 011.64 132.40 1 123.20 13.69 1 920.97 92.34 360.04 1 844.33 366.30 645.94 13.65 4 748.59 1 560.33 1 210.52 1 252.58 123.37 288.81 10.14 3 197.51 439.48 391.68 2 847.55 473.89 2 125.11 3 235.08 4 294.01 1 158.97 5 931.13 1 045.38 797.47 399.68 15 798.37 5 993.47 5 841.57 1 033.49 405.63 36.09 3 974.97 4 120.93 3 160.91 1 088.51 523.51 4.69 229.66 2 687.24 21.44 1 084.38 195.43 173.35 1 298.67 93.24 2 832.59 482.41 2 285.37 94.33 149.70 3 072.87 2 865.18 1 689.26 18 926.20 3 748.32 7 265.90 572.27 149.70 36 351.37 23 351.65 13 927.63 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay. 125 Lampiran 13 Hasil overlay antara peta kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 dan peta rencana pemanfaatan ruang Jenis Kawasan Lindung Hutan Lindung Rencana Pemanfaatan Ruang Luas (ha)* Cikaler Cirajeg Cikurutug Cikarang Hulu Cikaso Hulu Ciseureuh Cicurug Cikarang Hilir Cikaso Hilir Total K. Budidaya Tan. Tahunan 161.51 167.06 - 19.22 220.38 3 230.24 - - 1 948.06 5 746.47 K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya - 27.24 - - - 54.23 398.38 - 211.50 - - - 60.05 - 54.23 697.17 - Hutan Dengan Lereng K. Budidaya Tan. Tahunan 28.43 343.06 - - 10.59 - - - - 382.08 > 40% K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya - 19.79 4.56 62.89 - - 7.60 70.68 0.30 36.37 - - - - 7.60 189.73 4.86 Sempadan Sungai Sempadan Pantai K. Budidaya Tan. Tahunan 260.44 87.14 182.69 516.35 1 338.91 328.96 55.42 9.35 959.32 3 627.15 K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya 57.72 - 22.99 366.90 28.64 172.87 30.07 91.50 652.90 26.70 242.95 1 702.14 6.22 177.84 61.41 741.08 7.40 - 55.01 62.32 2.96 0.04 55.11 155.34 - 347.92 301.45 134.15 - 876.89 4 212.72 150.73 263.29 K. Budidaya Tan. Tahunan - - - - - - - - 104.85 104.85 K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya - - - - - - - 48.83 - 17.91 66.35 125.40 - 17.91 115.18 125.40 - 126 Lanjutan Rencana Pemanfaatan Ruang Luas (ha)* Penggunaan Lahan Kawasan Sekitar Mata Air K. Budidaya Tan. Tahunan K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya Rawan Bencana Longsor K. Budidaya Total Cikaler Cirajeg Cikurutug Cikarang Hulu Cikaso Hulu Ciseureuh Cicurug Cikarang Hilir Cikaso Hilir Total - 15.52 85.26 11.87 25.02 49.99 - 50.29 - 155.30 6.42 237.02 - 25.00 12.51 12.50 - 18.56 18.44 11.18 - 40.18 97.99 - 25.01 135.92 25.30 1.39 - 296.14 213.59 526.50 12.57 11.87 K. Budidaya Tan. Tahunan - 97.89 - 722.54 1 145.70 110.74 126.89 - 780.40 2 984.16 K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya - 66.57 1 822.08 261.13 4.07 36.41 78.31 - 316.35 2 485.60 62.09 4.78 415.51 - - - 0.27 - 387.70 4 805.84 359.63 K. Budidaya Tan. Tahunan 3 023.97 2 125.26 2 548.74 5 336.13 10 147.74 3 759.08 189.23 11.29 7 841.35 34 982.79 K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya 2 034.12 - 156.83 4 197.30 833.19 2 590.94 200.77 86.04 1 060.98 5 455.23 0.19 126.85 2 135.34 14 104.61 16.96 1 641.82 688.85 6 228.32 138.25 - 2 211.07 1 269.64 609.70 63.06 565.30 1 861.68 - 2 936.59 3 364.28 1 286.96 0.25 9 754.96 41 106.12 2 252.83 2 751.21 K. Budidaya Tan. Tahunan 3 474.35 2 835.93 2 756.45 6 644.53 13 018.62 7 454.02 371.54 20.64 11 658.99 48 235.07 K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya 2 091.84 - 246.39 6 518.57 1 139.39 2 880.76 200.77 152.52 1 152.48 6 186.44 0.19 153.55 2 762.89 18 998.43 23.18 1 882.05 767.55 7 645.28 145.65 - 2 284.64 1 350.40 623.84 63.10 660.59 2 163.84 - 3 438.34 3 817.90 1 547.90 0.25 11 312.88 51 653.26 2 541.53 3 390.86 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay. 127 Lampiran 14 Hasil overlay antara peta kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Dephut (1993) dan peta rencana pemanfaatan ruang Luas (ha)* Jenis Kawasan Lindung Hutan Lindung Rencana Pemanfaatan Ruang Cikaler Cirajeg Cikarang Hulu Cikutug Cikaso Hulu Ciseureuh Cicurug Cikarang Hilir Cikaso Hilir Total K. Budidaya Tan. Tahunan 161.51 167.06 - 19.22 220.38 3 230.24 - - 1 948.06 5 746.47 K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya - 27.24 - - - 54.23 398.38 - 211.50 - - - 60.05 - 54.23 697.17 - Hutan Dengan Lereng K. Budidaya Tan. Tahunan 28.43 343.06 - - 10.59 - - - - 382.08 > 40% K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya - 19.79 4.56 62.89 - - 7.60 70.68 0.30 36.37 - - - - 7.60 189.73 4.86 Sempadan Sungai Sempadan Pantai K. Budidaya Tan. Tahunan 260.44 87.14 182.69 516.35 1 338.91 328.96 55.42 9.35 959.32 3 627.15 K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya 57.72 - 22.99 366.90 28.64 172.87 30.07 91.50 652.90 26.70 242.95 1 702.14 6.22 177.84 61.41 741.08 7.40 - 55.01 62.32 2.96 0.04 55.11 155.34 - 347.92 301.45 134.15 - 876.89 4.212.72 150.73 263.29 K. Budidaya Tan. Tahunan - - - - - - - - 104.85 104.85 K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya - - - - - - - 48.83 - 17.91 66.35 125.40 - 17.91 115.18 125.40 - 128 Lanjutan Luas (ha)* Jenis Kawasan Lindung Rencana Pemanfaatan Ruang Kawasan Sekitar Mata K. Budidaya Tan. Tahunan - 15.52 25.02 50.29 155.30 25.00 - - 25.01 296.14 Air K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya - 85.26 11.87 49.99 - - 6.42 237.02 - 12.51 12.50 - 18.56 18.44 11.18 - 40.18 97.99 - 135.92 25.30 1.39 - 213.59 526.50 12.57 11.87 Rawan Bencana K. Budidaya Tan. Tahunan - 97.89 - 722.54 1 145.70 110.74 126.89 - 780.40 2 984.16 Longsor K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya - 66.57 1 822.08 261.13 4.07 36.41 78.31 - 316.35 2 485.60 62.09 4.78 415.51 - - - 0.27 - 387.70 4 805.84 359.63 Skor > 175 Di Luar K. Budidaya Tan. Tahunan K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya 77.94 - 66.45 2.47 953.83 - 163.98 - 44.77 - 448.63 302.79 889.14 - 1 29.31 121.35 2.047.82 - - - 531.03 126.60 596.65 - 2 317.34 553.21 4 532.21 - Tanah sangat peka K. Budidaya Tan. Tahunan 159.95 370.28 6.20 10.80 1 792.17 16.62 58.63 - 2 524.61 4 939.26 erosi dengan lereng >15% K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya 158.89 - 331.51 56.12 5.33 - - 175.17 2 581.08 - 14.66 97.74 - 10.57 6.06 - - 419.84 878.92 59.01 - 620.24 4 059.53 58.01 56.12 Kawasan Hutan Cikaler Cirajeg Cikarang Hulu Cikutug Cikaso Hulu Ciseureuh Cicurug Cikarang Hilir Cikaso Hilir Total 129 Lanjutan Luas (ha)* Jenis Kawasan Lindung K. Budidaya Rencana Pemanfaatan Ruang Cikaler K. Budidaya Tan. Tahunan 2 786.08 1 688.53 2 378.56 5 325.33 7 906.94 2 713.15 130.60 11.29 4 785.71 - 154.36 - 1 060.98 1 657.38 552.84 2.200.50 565.30 2 390.15 1 875.23 2 911.96 2 585.61 5 410.46 10 634.39 4 082.76 1.263.58 1 861.68 1 888.71 Cikarang Hulu Cikutug Cikaso Hulu Ciseureuh Cicurug Cikarang Hilir Cikaso Hilir Total K. Budidaya Non Pertanian - - 200.77 0.19 16.96 138.25 609.70 - 1 228.95 K. Non Budidaya - 777.07 86.04 126.85 1 641.82 - 63.06 - 0.25 27 726.19 8 581.51 32 514.38 2 194.82 2 695.09 3 474.35 2 091.84 - 2 835.93 246.39 6 518.57 1 139.39 2 756.45 2 880.76 200.77 152.52 6 644.53 1 152.48 6 186.44 0.19 153.55 13 018.62 2 762.89 18 998.43 23.18 1 882.05 7 454.02 767.55 7 645.28 145.65 - 371.54 2 284.64 1 350.40 623.84 63.10 20.64 660.59 2 163.84 - 11 716.89 3 438.34 3 759.80 1 547.90 0.25 48.235.07 11.312.88 51 653.26 2 541.53 3 390.86 K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering Total Cirajeg K. Budidaya Tan. Tahunan K. Budidaya Lahan Basah K. Budidaya Lahan Kering K. Budidaya Non Pertanian K. Non Budidaya * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay. 130 Lampiran 15 Hasil overlay antara peta kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 dan peta penggunaan lahan existing Jenis Kawasan Lindung Hutan Lindung Penggunaan Lahan Hutan Kebun Campuran Cikaler Cirajeg Luas (ha)* Cikaso Ciseureuh Hulu Cikarang Hulu Cikurutug Cikarang Hilir Cicurug Cikaso Hilir Total 95.58 1.00 - - 100.83 2 009.59 - - 1 715.45 3 922.45 4.26 42.14 - - 71.36 - - - 66.69 184.45 Pemukiman 5.34 2.56 - - 5.50 - - - - 13.40 Perkebunan 0.09 8.58 - - - - - - 80.78 89.45 Padang Rumput 0.51 - - - - 36.09 - - - 36.60 - - - - - - - - - - Tegalan 9.21 120.77 - 6.78 174.45 405.58 - - 71.63 788.42 Sawah 2.73 19.25 - - 141.80 179.16 - - - 342.94 Pasir Semak Belukar 43.79 - - 12.44 179.05 811.32 - - 73.79 1 120.16 Hutan dengan Hutan 11.21 - - - - - - - - 11.21 Lereng > 40% Kebun Campuran - 157.02 27.09 - 17.93 - - - - 202.04 Pemukiman - 3.92 - - 0.67 - - - - 4.59 Perkebunan - 6.16 1.12 - 1.52 - - - - 8.80 Padang Rumput 12.76 - - - 10.31 - - - - 23.07 - - - - - - - - - - Tegalan 0.96 162.60 13.92 - 34.54 36.37 - - - 248.39 Sawah 3.50 29.24 - - 12.23 - - - - 44.97 - 8.47 20.76 - 11.97 - - - - 41.20 Pasir Semak Belukar 131 Lanjutan Jenis Kawasan Lindung Sempadan Sungai Luas (ha)* Penggunaan Lahan Hutan Cirajeg Cikarang Hulu Cikurutug Cikaso Hulu Ciseureuh Cikarang Hilir Cicurug Cikaso Hilir Total 115.17 0.11 - - 38.04 53.46 26.35 - 434.76 667.89 84.41 37.61 48.56 153.33 404.97 40.32 10.42 50.87 218.19 1 048.68 Pemukiman - - - - - - - - - - Perkebunan 42.74 17.27 29.96 109.85 49.72 - - - - 249.54 - - - - 29.82 - - - 8.56 38.38 Kebun Campuran Padang Rumput Pasir Sempadan Pantai Cikaler - - - - - - - - 50.83 50.83 Tegalan 43.16 151.03 194.15 377.80 1 176.55 324.74 7.94 41.80 259.53 2 576.70 Sawah 16.60 252.15 90.43 524.65 945.51 448.24 121.75 96.22 380.23 2 875.78 Semak Belukar 16.08 47.50 22.53 121.82 823.45 272.09 9.29 30.91 280.24 1 623.91 Hutan - - - - - - - - - - Kebun Campuran - - - - - - - 23.98 9.53 33.51 Pemukiman - - - - - - - - - - Perkebunan - - - - - - - - 110.50 110.50 Padang Rumput - - - - - - - - - - Pasir - - - - - - - - 73.20 73.20 Tegalan - - - - - - - 9.08 42.74 51.82 Sawah - - - - - - - 15.77 48.16 63.93 Semak Belukar - - - - - - - - 140.88 140.88 132 Lanjutan Jenis Kawasan Lindung Luas (ha)* Penggunaan Lahan Cikaler Cirajeg Cikarang Hulu Cikurutug Cikaso Hulu Ciseureuh Cikarang Hilir Cicurug Cikaso Hilir Total Kawasan Sekitar Mata Hutan - - 12.51 - 2.74 - - - 11.43 26.68 Air Kebun Campuran Pemukiman Perkebunan Padang Rumput Pasir Tegalan Sawah Semak Belukar - 10.77 7.09 65.77 23.55 5.47 3.69 2.86 41.79 12.43 1.73 17.60 0.77 4.03 27.89 - 88.57 4.15 159.09 92.52 51.67 8.07 2.94 29.26 9.74 22.47 0.86 1.50 23.35 - 37.41 8.76 21.62 66.28 4.10 50.34 17.08 12.88 20.53 74.66 0.70 238.92 44.51 12.88 314.33 349.94 73.41 Rawan Bencana Hutan - 73.13 - - - - 27.03 - 705.79 805.95 Longsor Kebun Campuran Pemukiman Perkebunan Padang Rumput Pasir Tegalan Sawah Semak Belukar - 362.92 148.63 66.11 886.47 474.76 235.65 9.92 12.03 1.50 1.62 14.38 1.03 210.49 60.03 7.59 117.74 315.54 89.46 636.38 190.17 48.92 0.17 1 440.24 1 033.67 660.19 3.48 26.74 264.51 126.06 110.24 26.31 1.79 33.29 26.32 12.15 - 5.33 53.93 11.23 4.39 1 249.50 444.72 178.05 0.17 2 755.10 1 990.73 1 113.11 133 Lanjutan Jenis Kawasan Lindung Kawasan Budidaya Luas (ha)* Penggunaan Lahan Cirajeg Cikarang Hulu Cikurutug Cikaso Hulu Ciseureuh Cikarang Hilir Cicurug Cikaso Hilir Total Hutan 689.95 276.38 274.42 2.58 736.49 1 217.43 85.09 - 4 124.04 7 406.38 Kebun Campuran 922.97 1 233.87 1 163.32 2 466.13 4 711.92 981.62 1 029.31 972.12 2 487.84 15 969.10 Pemukiman 127.06 204.10 108.48 413.09 844.89 375.95 520.86 186.67 460.00 3 241.10 Perkebunan 1 080.37 547.82 256.23 2 007.67 697.31 - - - 2 027.28 6 616.68 0.42 13.65 10.14 - 359.38 - 4.69 - 85.77 474.05 Padang Rumput Pasir Tegalan Sawah Semak belukar Total Cikaler Hutan Kebun Campuran - - - - - - - - 25.67 25.67 1 867.64 3 361.95 2 946.03 2 728.73 12 813.50 2 943.77 186.93 100.85 2 667.21 29 616.61 69.51 761.38 322.24 3 425.93 3 767.74 3 338.21 2 515.82 1 120.40 2 362.13 17 683.36 300.17 913.43 345.63 935.25 4 115.24 1 957.52 - 58.23 1 189.46 9 814.96 911.91 350.62 286.93 2.58 878.10 3 280.48 138.47 - 6 991.47 12 840.56 1 011.64 1 844.33 1 252.58 2 847.55 5 931.13 1 033.49 1 088.51 1 084.38 2 832.59 18 926.20 Pemukiman 132.40 366.30 123.37 473.89 1 045.38 405.63 523.51 195.43 482.41 3 748.32 Perkebunan 1 123.20 645.94 288.81 2 125.11 797.47 - - - 2 285.37 7 265.90 13.69 13.65 10.14 - 399.68 36.09 4.69 - 94.33 572.27 - - - - - - - - 149.70 149.70 1 920.97 4 748.59 3 197.51 3 235.08 15 798.37 3 974.97 229.66 173.35 3 072.87 36 351.37 92.34 1 560.33 439.48 4 294.01 5 993.47 4 120.93 2 687.24 1 298.67 2 865.18 23 351.65 Semak belukar 360.04 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay. 1 210.52 391.68 1 158.97 5 841.57 3 160.91 21.44 93.24 1 689.26 13 927.63 Padang Rumput Pasir Tegalan Sawah 134 Lampiran 16 Hasil overlay antara peta kawasan lindung hasil identifikasi berdasarkan pendekatan kriteria Dephut (1993) dan peta penggunaan lahan existing Jenis Kawasan Lindung Hutan Lindung Luas (ha)* Penggunaan Lahan Hutan Cikaler Cirajeg Cikurutug Cikarang Hulu Cikaso Hulu Ciseureuh Cicurug Cikarang Hilir Cikaso Hilir Total 95.58 1.00 - - 100.83 2 009.59 - - 1 715.45 3 922.45 Kebun Campuran 4.26 42.14 - - 71.36 - - - 66.69 184.45 Pemukiman 5.34 2.56 - - 5.50 - - - - 13.40 Perkebunan 0.09 8.58 - - - - - - 80.78 89.45 Padang Rumput 0.51 - - - - 36.09 - - - 36.60 Pasir Tegalan Sawah - - - - - - - - - - 9.21 120.77 - 6.78 174.45 405.58 - - 71.63 788.42 2.73 19.25 - - 141.80 179.16 - - - 342.94 Semak Belukar 43.79 - - 12.44 179.05 811.32 - - 73.79 1 120.16 Hutan dengan Lereng Hutan 11.21 - - - - - - - - 11.21 > 40% Kebun Campuran - 157.02 27.09 - 17.93 - - - - 202.04 Pemukiman - 3.92 - - 0.67 - - - - 4.59 - 6.16 1.12 - 1.52 - - - - 8.80 12.76 - - - 10.31 - - - - 23.07 Perkebunan Padang Rumput Pasir - - - - - - - - - - Tegalan 0.96 162.60 13.92 - 34.54 36.37 - - - 248.39 Sawah 3.50 29.24 - - 12.23 - - - - 44.97 - 8.47 20.76 - 11.97 - - - - 41.20 Semak Belukar 135 Lanjutan Luas (ha)* Jenis Kawasan Lindung Sempadan Sungai Penggunaan Lahan Hutan Kebun Campuran Sempadan Pantai Cikaler Cirajeg Cikurutug Cikarang Hulu Cikaso Hulu Ciseureuh Cicurug Cikarang Hilir Cikaso Hilir Total 115.17 0.11 - - 38.04 53.46 26.35 - 434.76 667.89 84.41 37.61 48.56 153.33 404.97 40.32 10.42 50.87 218.19 1 048.68 Pemukiman - - - - - - - - - - Perkebunan 42.74 17.27 29.96 109.85 49.72 - - - - 249.54 Padang Rumput - - - - 29.82 - - - 8.56 38.38 Pasir - - - - - - - - 50.83 50.83 Tegalan 43.16 151.03 194.15 377.80 1 176.55 324.74 7.94 41.80 259.53 2 576.70 Sawah 16.60 252.15 90.43 524.65 945.51 448.24 121.75 96.22 380.23 2 875.78 Semak Belukar 16.08 47.50 22.53 121.82 823.45 272.09 9.29 30.91 280.24 1 623.91 Hutan - - - - - - - - - - Kebun Campuran - - - - - - - 23.98 9.53 33.51 Pemukiman - - - - - - - - - - Perkebunan - - - - - - - - 110.50 110.50 Padang Rumput - - - - - - - - - - Pasir - - - - - - - - 73.20 73.20 Tegalan - - - - - - - 9.08 42.74 51.82 Sawah - - - - - - - 15.77 48.16 63.93 Semak Belukar - - - - - - - - 140.88 140.88 136 Lanjutan Luas (ha)* Jenis Kawasan Lindung Penggunaan Lahan Cikaler Cirajeg Cikurutug Cikarang Hulu Cikaso Hulu Ciseureuh Cicurug Cikarang Hilir Cikaso Hilir Total Kawasan Sekitar Mata Hutan - - 12.51 - 2.74 - - - 11.43 26.68 Air Kebun Campuran - 10.77 3.69 17.60 88.57 8.07 22.47 37.41 50.34 238.92 Pemukiman - 7.09 2.86 0.77 4.15 2.94 0.86 8.76 17.08 44.51 Perkebunan - - - - - - - - 12.88 12.88 Padang Rumput - - - - - - - - - - Pasir - - - - - - - - - - Tegalan - 65.77 41.79 4.03 159.09 - 1.50 21.62 20.53 314.33 Sawah - 23.55 12.43 27.89 92.52 29.26 23.35 66.28 74.66 349.94 Semak Belukar - 5.47 1.73 - 51.67 9.74 - 4.10 0.70 73.41 Rawan Bencana Hutan - 73.13 - - - - 27.03 - 705.79 805.95 Longsor Kebun Campuran - 362.92 9.92 210.49 636.38 3.48 26.31 - - 1 249.50 Pemukiman - 148.63 12.03 60.03 190.17 26.74 1.79 - 5.33 444.72 Perkebunan - 66.11 1.50 7.59 48.92 - - - 53.93 178.05 Padang Rumput - - - - 0.17 - - - - 0.17 Pasir - - - - - - - - - - Tegalan - 886.47 1.62 117.74 1 440.24 264.51 33.29 - 11.23 2 755.10 Sawah - 474.76 14.38 315.54 1 033.67 126.06 26.32 - - 1 990.73 Semak Belukar - 235.65 1.03 89.46 660.19 110.24 12.15 - 4.39 1 113.11 137 Lanjutan Luas (ha)* Jenis Kawasan Lindung Penggunaan Lahan Cikaler Cirajeg Cikurutug Cikarang Hulu Cikaso Hulu Ciseureuh Cicurug Cikarang Hilir Cikaso Hilir Total Skor > 175 Di Luar Hutan 5.00 - - - 11.98 59.15 - - 167.18 245.31 Kawasan Hutan Kebun Campuran 0.07 90.07 13.03 0.36 159.62 186.69 - - 120.22 570.06 Pemukiman 3.11 30.35 0.20 15.60 29.68 102.68 - - 13.10 194.72 Perkebunan 1.29 64.13 68.69 - 11.85 - - - 63.63 209.59 Padang Rumput - - - - 47.62 - - - 0.18 47.80 Pasir - - - - - - - - - - Tegalan 31.33 681.57 82.06 24.68 719.77 1 171.51 - - 301.60 3 012.52 Sawah 1.04 93.50 - 3.25 362.56 1 089.37 - - 11.74 1 561.46 Semak Belukar 36.10 63.13 - 0.88 297.48 589.08 - - 574.63 1 561.30 Tanah Sangat Peka Hutan 50.01 20.45 - - 115.16 16.53 52.46 - 1 531.60 1 786.21 Erosi Dengan Lereng Kebun Campuran 17.24 161.19 5.33 - 418.80 - 7.98 - 532.57 1 143.11 > 15% Pemukiman 6.11 29.83 - 0.58 75.51 0.50 0.87 - 39.75 153.15 Perkebunan 10.79 160.68 - - 159.34 - - - 362.78 693.59 Padang Rumput - 3.70 - - 66.01 - - - 27.24 97.95 Pasir - - - - - - - - 8.24 8.24 132.80 284.77 6.20 10.22 1 818.63 76.15 6.47 - 787.37 3 122.61 8.75 55.57 - - 382.16 7.78 7.48 - 358.56 820.30 93.14 41.72 - - 1 512.81 28.06 - - 232.27 1 908.00 Tegalan Sawah Semak Belukar 138 Lanjutan Luas (ha)* Jenis Kawasan Lindung Kawasan Budidaya Penggunaan Lahan Cirajeg Cikurutug Cikarang Hulu Cikaso Hulu Ciseureuh Cicurug Cikarang Hilir Cikaso Hilir Total Hutan 634.94 255.93 274.42 2.58 609.35 1 141.75 32.63 - 2 423.26 5 374.86 Kebun Campuran 905.66 982.61 1 144.96 2 465.77 4 133.50 794.93 1 021.33 972.12 1 835.05 14 255.93 Pemukiman 117.84 143.92 108.28 396.91 739.70 272.77 519.99 186.67 407.15 2 893.23 Perkebunan 1 068.29 323.01 187.54 2 007.67 526.12 - - - 1 600.87 5 713.50 0.42 9.95 10.14 - 245.75 - 4.69 - 57.35 328.30 - - - - - - - - 17.43 17.43 1 703.51 2 395.61 2 857.77 2 693.83 10 275.10 1 696.11 180.46 100.85 1 578.24 23 481.48 59.72 612.31 322.24 3 422.68 3 023.02 2 241.06 2 508.34 1 120.40 1 991.83 15 301.60 170.93 808.58 345.63 934.37 2 304.95 1 340.38 - 58.23 382.59 6 345.66 Padang Rumput Pasir Tegalan Sawah Semak Belukar Total Cikaler Hutan Kebun Campuran 911.91 350.62 286.93 2.58 878.10 3 280.48 138.47 - 6 991.47 12 840.56 1 011.64 1 844.33 1 252.58 2 847.55 5 931.13 1 033.49 1 088.51 1 084.38 2 832.59 18 926.20 Pemukiman 132.40 366.30 123.37 473.89 1 045.38 405.63 523.51 195.43 482.41 3 748.32 Perkebunan 1 123.20 645.94 288.81 2 125.11 797.47 - - - 2 285.37 7 265.90 13.69 13.65 10.14 - 399.68 36.09 4.69 - 94.33 572.27 - - - - - - - - 149.70 149.70 1 920.97 4 748.59 3 197.51 3 235.08 15 798.37 3 974.97 229.66 173.35 3 072.87 36 351.37 92.34 1 560.33 439.48 4 294.01 5 993.47 4 120.93 2 687.24 1 298.67 2 865.18 23 351.65 Semak Belukar 360.04 * Luas didasarkan pada perhitungan di peta hasil overlay. 1 210.52 391.68 1 158.97 5 841.57 3 160.91 21.44 93.24 1 689.26 13 927.63 Padang Rumput Pasir Tegalan Sawah 139 Lampiran 17 Kepadatan geografis desa-desa di wilayah DAS Cikaso Kecamatan Ciracap Ciracap Ciracap Waluran Waluran Waluran Waluran Surade Surade Surade Surade Surade Surade Surade Surade Surade Surade Cibitung Cibitung Cibitung Cibitung Cibitung Cibitung Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Kalibunder Kalibunder Kalibunder Kalibunder Kalibunder Kalibunder Desa Purwasedar Ciracap Pasirpanjang Caringin Nunggal Waluran Sukamukti Mekarmukti Pasiripis Buniwangi Cipeundeuy Gunung Sungging Citanglar Jagamukti Swakarya Kadaleman Wanasari Sirnasari Cidahu Cibitung Banyuwangi Cibodas Banyumurni Talagamurni Ciparay Bojong Genteng Bojongsari Mekarjaya Nagraksari Jampang Kulon Tanjung Padajaya Boregah Indah Cimanggi Sukamaju Sukajadi Cikarang Karanganyar Cimahpar Sekarsari Kalibunder Sukaluyu Bojong Balekambang Luas Desa Jumlah Penduduk Jumlah Keluarga Rata2 Anggota Keluarga Kepadatan Geografis (km2) (jiwa) (KK) (jiwa) (jiwa/km2) 15.37 16.13 13.51 9.18 25.30 13.99 7.96 18.14 15.53 25.00 4.00 15.00 4.05 6.23 8.13 16.15 21.71 7.01 7.94 8.70 5.22 3.66 2.96 4.22 3.44 8.07 8.46 3.83 1.24 11.90 5.41 5.65 14.19 19.21 6.23 18.97 15.72 22.24 22.02 6.62 7.70 7.58 4.47 6 605 7 274 5 398 4 244 8 258 6 907 4 657 10 742 8 680 6 903 4 953 8 845 4 964 7 621 3 983 3 512 4 740 4 847 5 411 2 667 3 751 2 327 4 628 4 273 2 619 4 690 3 850 5 018 2 789 3 928 3 279 3 067 4 013 6 319 3 816 5 271 4 621 4 846 6 547 5 182 3 442 3 098 3 927 2 101 2 223 1 752 1 271 2 426 1 982 1 283 3 164 2 676 1 701 1 545 2 616 1 444 2 309 1 198 1 265 1 521 1 349 1 621 980 1 015 702 1 431 1 128 694 1 615 1 183 1 407 721 1 125 1 015 805 1 080 1 643 1 020 1 426 1 270 1 729 1 941 1 310 1 041 1 057 1 032 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 3 4 4 3 3 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 3 3 4 3 3 4 430 451 400 462 326 494 585 592 559 276 1 238 590 1 226 1 224 490 218 218 692 681 307 719 635 1 566 1 013 761 581 455 1 310 2 246 330 606 543 283 329 613 278 294 218 297 783 447 409 879 140 Lanjutan Kecamatan Desa Luas Desa Jumlah Penduduk Jumlah Keluarga Rata2 Anggota Keluarga Kepadatan Geografis (km2) (jiwa) (KK) (jiwa) (jiwa/km2) Tegalbuleud Sumberjaya 20.56 Tegalbuleud Buniasih 14.21 Tegalbuleud Tegalbuleud 17.15 Tegalbuleud Calingcing 21.00 Tegalbuleud Rambay 23.86 Tegalbuleud Nangela 7.80 Tegalbuleud Bangbayang 6.06 Cidolog Cidolog 10.69 Sagaranten Pasanggrahan 7.80 Sagaranten Curugluhur 16.08 Sagaranten Datarnangka 9.33 Sagaranten Sagaranten 11.01 Sagaranten Hegarmanah 10.34 Sagaranten Cibaregbeg 11.50 Sagaranten Puncakmanggis 12.11 Pabuaran Sukajaya 10.89 Pabuaran Ciwalat 8.48 Pabuaran Pabuaran 12.50 Pabuaran Cibadak 11.00 Pabuaran Sirnasari 28.00 Pabuaran Bantarsari 16.81 Lengkong Cilangkap 32.62 Lengkong Lengkong 11.67 Lengkong Tegallega 15.31 Lengkong Neglasari 25.36 Jampang Tengah Bantarpanjang 6.61 Jampang Tengah Bojongtipar 31.83 Jampang Tengah Cijulang 20.36 Jampang Tengah Nangerang 10.67 Jampang Tengah Bojong Jengkol 20.53 Jampang Tengah Bantar Agung 21.97 Jampang Tengah Jampang Tengah 20.65 Purabaya Neglasari 27.27 Purabaya Cicukang 8.46 Purabaya Margaluyu 14.93 Purabaya Purabaya 6.49 Purabaya Pagelaran 6.64 Purabaya Citamiang 7.08 Purabaya Cimerang 4.25 Nyalindung Cisitu 8.82 Nyalindung Nyalindung 11.50 Nyalindung Kertaangsana 10.30 Diolah dari: Data Potensi Desa (PODES) Tahun 2003 6 112 5 223 5 155 2 011 3 417 2 984 5 151 3 608 4 386 6 528 3 530 4 268 3 896 5 186 4 522 3 309 4 055 7 517 7 123 6 860 7 883 6 115 4 488 5 753 5 119 3 020 5 489 8 623 5 171 6 071 4 400 3 378 8 649 5 922 3 600 7 367 3 498 4 257 5 658 4 113 5 614 5 562 1 842 1 710 1 712 608 1 021 813 1 469 1 290 1 467 2 200 915 1 377 1 459 1 756 1 422 1 151 1 146 2 343 2 093 1 991 2 214 1 756 1 212 1 495 1 307 993 1 713 2 616 1 725 1 454 1 440 1 357 2 308 1 648 1 124 2 255 984 1 285 1 134 1 338 1 673 1 695 3 3 3 3 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 4 4 4 3 3 3 3 4 3 2 4 4 3 3 4 3 5 3 3 3 297 368 301 96 143 383 850 338 562 406 378 388 377 451 373 304 478 601 648 245 469 187 385 376 202 457 172 424 484 296 200 164 317 700 241 1 136 527 602 1 333 466 488 540 141 Lampiran 18 Kepadatan agraris desa-desa di wilayah DAS Cikaso Kecamatan Desa Luas Lahan Pertanian (ha) Ciracap Ciracap Ciracap Waluran Waluran Waluran Waluran Surade Surade Surade Surade Surade Surade Surade Surade Surade Surade Cibitung Cibitung Cibitung Cibitung Cibitung Cibitung Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Jampang Kulon Kalibunder Kalibunder Kalibunder Kalibunder Kalibunder Kalibunder Purwasedar Ciracap Pasirpanjang Caringin Nunggal Waluran Sukamukti Mekarmukti Pasiripis Buniwangi Cipeundeuy Gunung Sungging Citanglar Jagamukti Swakarya Kadaleman Wanasari Sirnasari Cidahu Cibitung Banyuwangi Cibodas Banyumurni Talagamurni Ciparay Bojong Genteng Bojongsari Mekarjaya Nagraksari Jampang Kulon Tanjung Padajaya Boregah Indah Cimanggi Sukamaju Sukajadi Cikarang Karanganyar Cimahpar Sekarsari Kalibunder Sukaluyu Bojong Balekambang 1 385.40 1 432.20 1 175.30 842.00 1 832.00 1 338.00 724.30 1 528.70 1 423.00 2 303.80 304.50 1 337.60 259.50 456.00 738.00 1 551.00 1 791.00 651.00 593.00 778.20 381.50 273.10 251.20 392.40 319.10 729.90 674.50 346.20 90.10 768.00 392.20 510.00 1 327.30 1 530.10 588.00 1 422.00 1 194.40 1 575.00 1 639.00 542.00 603.00 653.00 415.00 Keluarga Petani Jumlah KK Jumlah Jiwa (KK) (jiwa) 2 038 2 112 1 699 1 258 2 256 1 863 1 232 2 215 2 141 1 446 1 236 1 700 1 011 1 385 958 1 139 1 369 1 052 1 394 715 863 576 1 173 778 347 1 066 828 900 288 844 568 604 702 1 232 816 1 141 826 1 176 1 359 1 114 885 793 929 6 407 6 910 5 236 4 202 7 680 6 493 4 471 7 519 6 944 5 868 3 962 5 749 3 475 4 573 3 186 3 161 4 266 3 781 4 653 1 947 3 188 1 908 3 795 2 948 1 310 3 095 2 695 3 212 1 116 2 946 1 836 2 300 2 608 4 739 3 053 4 217 3 004 3 295 4 583 4 405 2 926 2 324 3 534 Kepadatan Agraris Rata-rata Kepemilikan Lahan (jiwa/ha) (ha/KK) 5 5 4 5 4 5 6 5 5 3 13 4 13 10 4 2 2 6 8 3 8 7 15 8 4 4 4 9 12 4 5 5 2 3 5 3 3 2 3 8 5 4 9 0.68 0.68 0.69 0.67 0.81 0.72 0.59 0.69 0.66 1.59 0.25 0.79 0.26 0.33 0.77 1.36 1.31 0.62 0.43 1.09 0.44 0.47 0.21 0.50 0.92 0.68 0.81 0.38 0.31 0.91 0.69 0.84 1.89 1.24 0.72 1.25 1.45 1.34 1.21 0.49 0.68 0.82 0.45 142 Lanjutan Kecamatan Desa Luas Lahan Pertanian (ha) Tegalbuleud Sumberjaya 2 030.00 Tegalbuleud Buniasih 795.00 Tegalbuleud Tegalbuleud 880.00 Tegalbuleud Calingcing 1 932.00 Tegalbuleud Rambay 2 119.00 Tegalbuleud Nangela 446.00 Tegalbuleud Bangbayang 566.00 Cidolog Cidolog 910.00 Sagaranten Pasanggrahan 695.00 Sagaranten Curugluhur 1 423.00 Sagaranten Datarnangka 809.00 Sagaranten Sagaranten 1 078.00 Sagaranten Hegarmanah 711.00 Sagaranten Cibaregbeg 814.00 Sagaranten Puncakmanggis 1 176.00 Pabuaran Sukajaya 1 022.90 Pabuaran Ciwalat 807.50 Pabuaran Pabuaran 957.00 Pabuaran Cibadak 1 020.00 Pabuaran Sirnasari 2 725.90 Pabuaran Bantarsari 1 511.30 Lengkong Cilangkap 3 055.30 Lengkong Lengkong 1 126.60 Lengkong Tegallega 1 460.70 Lengkong Neglasari 2 437.10 Jampang Tengah Bantarpanjang 618.40 Jampang Tengah Bojongtipar 3 097.00 Jampang Tengah Cijulang 1 896.70 Jampang Tengah Nangerang 873.30 Jampang Tengah Bojong Jengkol 1 925.50 Jampang Tengah Bantar Agung 2 046.10 Jampang Tengah Jampang Tengah 1 956.40 Purabaya Neglasari 2 535.30 Purabaya Cicukang 824.20 Purabaya Margaluyu 1 480.40 Purabaya Purabaya 472.40 Purabaya Pagelaran 643.50 Purabaya Citamiang 664.10 Purabaya Cimerang 393.80 Nyalindung Cisitu 774.90 Nyalindung Nyalindung 883.00 Nyalindung Kertaangsana 889.00 Diolah dari: Data Potensi Desa (PODES) Tahun 2003 Keluarga Petani Jumlah KK Jumlah Jiwa (KK) (jiwa) 1 566 1 625 1 626 547 715 650 1 322 1 161 880 2 090 686 1 033 1 313 1 317 1 280 1 036 1 031 1 874 1 779 1 692 1 882 1 493 970 1 420 1 111 497 1 199 1 308 1 380 1 309 1 080 814 1 731 923 562 1 466 738 1 028 680 1 191 1 255 1 441 5 195 4 962 4 897 1 810 2 392 2 387 4 636 3 247 2 632 6 202 2 648 3 201 3 506 3 890 4 070 2 978 3 650 6 014 6 055 5 831 6 701 5 198 3 590 5 465 4 351 1 510 3 842 4 312 4 137 5 464 3 300 2 027 6 487 3 316 1 800 4 789 2 624 3 406 3 395 3 661 4 211 4 728 Kepadatan Agraris Rata-rata Kepemilikan Lahan (jiwa/ha) (ha) 3 6 6 1 1 5 8 4 4 4 3 3 5 5 3 3 5 6 6 2 4 2 3 4 2 2 1 2 5 3 2 1 3 4 1 10 4 5 9 5 5 5 1.30 0.49 0.54 3.53 2.96 0.69 0.43 0.78 0.79 0.68 1.18 1.04 0.54 0.62 0.92 0.99 0.78 0.51 0.57 1.61 0.80 2.05 1.16 1.03 2.19 1.25 2.58 1.45 0.63 1.47 1.89 2.40 1.46 0.89 2.63 0.32 0.87 0.65 0.58 0.65 0.70 0.62 143 Lampiran 19 Tekanan penduduk tiap-tiap desa di wilayah DAS Cikaso Kecamatan Desa Penduduk (jiwa) Prosentase petani (%) Luas lahan pertanian (ha) (Po) (ft) (L) Ciracap Ciracap Purwasedar Ciracap 6 605 7 274 97 95 Ciracap Waluran Pasirpanjang Caringin Nunggal 5 398 4 244 97 99 Waluran Waluran 8 258 93 Waluran Sukamukti 6 907 94 Waluran Mekarmukti 4 657 96 Surade Pasiripis 10 742 70 Surade Buniwangi 8 680 80 Surade Cipeundeuy 6 903 85 Surade Gunung Sungging 4 953 80 Surade Citanglar 8 845 65 Surade Jagamukti 4 964 70 Surade Swakarya 7 621 60 Surade Kadaleman 3 983 80 Surade Wanasari 3 512 90 Surade Sirnasari 4 740 90 Cibitung Cidahu 4 847 78 Cibitung Cibitung 5 411 86 Cibitung Banyuwangi 2 667 73 Cibitung Cibodas 3 751 85 Cibitung Banyumurni 2 327 82 Cibitung Talagamurni 4 628 82 Jampang Kulon Ciparay 4 273 69 Jampang Kulon Bojong Genteng 2 619 50 Jampang Kulon Bojongsari 4 690 66 Jampang Kulon Mekarjaya 3 850 70 Jampang Kulon Nagraksari 5 018 64 Jampang Kulon Jampang Kulon 2 789 40 Jampang Kulon Tanjung 3 928 75 Jampang Kulon Padajaya 3 279 56 Jampang Kulon Boregah Indah 3 067 75 Jampang Kulon Cimanggu 4 013 65 Jampang Kulon Sukamaju 6 319 75 Jampang Kulon Sukajadi 3 816 80 Jampang Kulon Cikarang 5 271 80 Jampang Kulon Karanganyar 4 621 65 Kalibunder Cimahpar 4 846 68 Kalibunder Sekarsari 6 547 70 Kalibunder Kalibunder 5 182 85 Kalibunder Sukaluyu 3 442 85 1 385.40 1 432.20 1 175.30 842.00 1 832.00 1 338.00 724.30 1 528.70 1 423.00 2 303.80 304.50 1 337.60 259.50 456.00 738.00 1 551.00 1 791.00 651.00 593.00 778.20 381.50 273.10 251.20 392.40 319.10 729.90 674.50 346.20 90.10 768.00 392.20 510.00 1 327.30 1 530.10 588.00 1 422.00 1 194.40 1 575.00 1 639.00 542.00 603.00 Luas lahan untuk hidup layak (z) Reit pertumbuhan penduduk 1999-2002 (r) 0.57 0.57 0.00910 0.01062 0.49 0.53 0.02902 0.02019 0.71 0.05018 0.68 0.02515 0.54 0.02019 0.61 0.03731 0.72 0.00364 0.68 0.00218 0.81 0.00455 0.69 0.02262 0.70 0.02393 0.59 0.00999 0.65 0.01191 0.69 -0.00028 0.68 -0.00175 0.73 0.00620 0.74 0.02916 0.66 0,00955 0.80 0.04215 0.82 -0.00129 0.76 0.01721 0.81 0.01478 0.71 0.02570 0.67 0.00787 0.72 0.00872 0.84 -0.01015 0.70 0.03234 0.80 0.00653 0.76 -0.00977 0.76 -0.00855 0.70 0.01069 0.67 0.00037 0.67 0.03750 0.82 0.00267 0.85 -0.00816 0.81 0.00648 0.86 -0.00253 0.66 0.05066 0.57 -0.00394 Tekanan Penduduk PPt 2.65 2.77 2.25 2.71 3.12 3.37 3.40 3.13 3.51 1.74 10.53 3.03 9.60 5.97 2.83 1.40 1.61 4.28 6.01 1.67 6.95 5.73 11.62 6.19 2.99 2.88 2.90 7.76 8.97 3.07 3.52 3.41 1.38 2.06 3.63 2.44 2.11 1.70 2.39 5.67 2.76 144 Lanjutan Kecamatan Desa Penduduk (jiwa) (Po) Kalibunder Prosentase petani (%) Luas lahan pertanian (ha) (ft) (L) Bojong 3 098 75 Kalibunder Balekambang 3 927 90 Tegalbuleud Sumberjaya 6 112 85 Tegalbuleud Tegalbuleud Buniasih Tegalbuleud 5 223 5 155 95 95 Tegalbuleud Calingcing 2 011 90 Tegalbuleud Rambay 3 417 70 Tegalbuleud Nangela 2 984 80 Tegalbuleud Cidolog Sagaranten Sagaranten Sagaranten Sagaranten Sagaranten Sagaranten Sagaranten Pabuaran Pabuaran Pabuaran Pabuaran Pabuaran Pabuaran Lengkong Lengkong Lengkong Lengkong Jampang Tengah Jampang Tengah Jampang Tengah Jampang Tengah Jampang Tengah Jampang Tengah Jampang Tengah Purabaya Purabaya Purabaya Purabaya Purabaya Purabaya Purabaya Nyalindung Nyalindung Nyalindung Bangbayang Cidolog Pasanggrahan Curugluhur Datarnangka Sagaranten Hegarmanah Cibaregbeg Puncakmanggis Sukajaya Ciwalat Pabuaran Cibadak Sirnasari Bantarsari Cilangkap Lengkong Tegallega Neglasari Bantarpanjang Bojongtipar Cijulang Nangerang Bojong Jengkol Bantar Agung Jampang Tengah Neglasari Cicukang Margaluyu Purabaya Pagelaran Citamiang Cimerang Cisitu Nyalindung Kertaangsana 5 151 3 608 4 386 6 528 3 530 4 268 3 896 5 186 4 522 3 309 4 055 7 517 7 123 6 860 7 883 6 115 4 488 5 753 5 119 3 020 5 489 8 623 5 171 6 071 4 400 3 378 8 649 5 922 3 600 7 367 3 498 4 257 5 658 4 113 5 614 5 562 90 90 60 95 75 75 90 75 90 90 90 80 85 85 85 85 80 95 85 50 70 50 80 90 75 60 75 56 50 65 75 80 60 89 75 85 653.00 415.00 2 030.00 795.00 880.00 1 932.00 2 119.00 446.00 566.00 910.00 695.00 1 423.00 809.00 1 078.00 711.00 814.00 1 176.00 1 022.90 807.50 957.00 1 020.00 2 725.90 1 511.30 3 055.30 1 126.60 1 460.70 2 437.10 618.40 3 097.00 1 896.70 873.30 1 925.50 2 046.10 1 956.40 2 535.30 824.20 1 480.40 472.40 643.50 664.10 393.80 774.90 883.00 889.00 Luas lahan untuk hidup layak (z) 0.64 Reit pertumbuhan penduduk 1999-2002 (r) 0.00292 0.69 0.01182 0.74 -0.00065 0.57 0.70 0.04454 0.00286 0.42 -0.00264 0.42 -0.12719 0.96 0.02922 0.28 0.79 0.77 0.88 0.44 0.63 1.07 1.01 1.09 0.90 0.84 0.82 0.74 0.84 0.80 0.61 0.52 0.67 0.54 0.69 0.71 0.81 0.66 0.52 0.69 0.54 0.48 0.58 0.97 0.97 1.06 0.72 0.99 0.52 0.47 0.50 0.00078 0.02210 0.02760 -0.00615 0.02856 0.01257 -0.01639 0.04100 -0.00467 -0.03401 0.00836 0.02190 0.01193 0.02287 0.02543 0.00922 0.01350 0.01223 0.01119 -0.01006 0.03540 0.01567 0.01378 0.01592 0.05054 -0.08778 0.02681 0.00317 0.04102 0.02645 0.00764 0.01121 0.01004 0.01434 0.00461 0.04521 Tekanan Penduduk PPt 2.30 5.90 1.89 3.73 3.93 0.39 0.42 5.30 2.33 2.90 2.98 3.83 1.47 1.91 5.18 5.05 3.77 2.54 3.82 5.29 4.44 1.84 3.63 1.04 1.68 2.52 0.98 1.67 0.92 1.86 3.16 1.49 1.16 0.51 1.27 2.36 1.23 10.12 4.35 3.74 8.61 2.51 2.26 2.80
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2017-04-15

Dokumen yang terkait

Analisis keruangan kawasan lindung DAS Cikaso..

Gratis

Feedback