Karakteristik Tanah dan Vegetasi di Hutan Kerangas dan Lahan Pasca Tambang Timah di Kabupaten Belitung Timur

Gratis

4
30
70
2 years ago
Preview
Full text
KARAKTERISTIK TANAH DAN VEGETASI DI HUTAN KERANGAS DAN LAHAN PASCA TAMBANG TIMAH DI KABUPATEN BELITUNG TIMUR DINA OKTAVIA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA* Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Karakteristik Tanah dan Vegetasi di Hutan Kerangas dan Lahan Pasca Tambang Timah di Kabupaten Belitung Timur adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, Desember 2014 Dina Oktavia NIM E451124021 RINGKASAN DINA OKTAVIA. Karakteristik Tanah dan Vegetasi di Hutan Kerangas dan Lahan Pasca Tambang Timah di Kabupaten Belitung Timur. Dibimbing oleh YADI SETIADI dan IWAN HILWAN. Pulau Belitung yang dikenal sebagai pulau penghasil timah terbesar kedua di Indonesia, terancam kelestarian ekosistem hutannya akibat kegiatan penambangan timah yang tidak ramah lingkungan. Hutan kerangas merupakan salah satu tipe ekosistem di Belitung yang sangat rentan terhadap gangguan. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh data dan informasi mengenai karakteristik tanah dan vegetasi di hutan kerangas dan lahan pasca tambang timah. Sampel tanah diambil secara komposit di hutan sekunder tua (Rimba), hutan sekunder muda (Bebak), vegetasi padang (Padang) dan dua lokasi lahan pasca tambang timah umur kurang dari 100 tahun dan lebih dari 100 tahun yang kemudian terbagi lagi menjadi beberapa cluster berdasarkan umur tailing. Vegetasi dianalisis dengan menggunakan modifikasi teknik kuadrat Oosting 1942. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa tanah tailing umur 3, 5, 15 dan 50 tahun masih mengandung pasir diatas 80%, sedangkan kandungan pasir pada tanah tailing umur 130 tahun sudah menurun dan mendekati tekstur tanah di hutan. Kandungan bahan organik yang rendah (< 2%) serta nilai KTK sangat rendah di tailing 3, 5, 15 dan 50 tahun menyebabkan pertumbuhan vegetasi menjadi sangat lambat. Kondisi ini juga didukung oleh komposisi mineral liat yang dominan yaitu kaolinit. Konsentrasi logam berat yang diukur masih dibawah ambang pencemaran lingkungan. Hasil analisis vegetasi diperoleh nilai keanekaragaman tertinggi tingkat semai di Bebak, untuk pancang dan pohon yaitu di Rimba, sedangkan tingkat tumbuhan bawah di lahan pasca tambang kurang dari 100 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada lahan pasca tambang masih dalam tahap suskesi di tingkat tumbuhan bawah, khususnya herba dan semak. Kesamaan komunitas antara dua lokasi lahan pasca tambang paling tinggi yaitu pada tingkat pancang (41.38%), sedangkan nilai IS tertinggi yaitu pada tingkat pancang di Rimba dan Bebak sebesar 54.54%. Beberapa spesies pionir yang berpotensi sebagai anakan alami untuk kegiatan restorasi, termasuk dalam famili Myrtaceae. Kesimpulan dari penelitian ini adalah karakteristik tanah di lahan pasca tambang timah bertekstur pasir, rendah unsur hara dan pertumbuhan vegetasi yang sangat lambat. Keanekaragaman tumbuhan di lahan pasca tambang lebih rendah dibandingkan di hutan. Penambahan bahan organik dan penanaman jenis pionir lokal yang bersifat katalitik perlu dilakukan pada kegiatan restorasi untuk mendukung suksesi alami. Kata kunci: hutan kerangas, karakteristik tanah, restorasi, spesies pionir SUMMARY DINA OKTAVIA. The Characteristic of Soil and Vegetation on Heath Forest and Post Tin Mined Land in East Belitung District. Supervised by YADI SETIADI and IWAN HILWAN. Belitung Island known as the second biggest tin producer in Indonesia, the forest ecosystem is now under immense of tin mining activity. Heath forest (kerangas forest) is one of forest ecosystem in Belitung which very fragile and vulnerable. The objectives of this research are to obtain the characteristic of soil properties and vegetation in heath forest and post tin minedland. Compossite soil sample was collected from old secondary heath forest (Rimba), young secondary heath forest (Bebak), padang vegetation (Padang), and two post tin minedlands (less than 100 years and more than 100 years) which devided into clusteres based on tailing age. Vegetation was analyzed by modification of square method Oosting 1942. The results show that in tailing 3, 5, 15 and 50 years still containt high amount of sand (>80%), meanwhile sand fraction in the tailing 130 years is quite decline and approaching to soil texture in the forest. The organic matter content and cation exchange capacity in tailing 3, 5, 15 and 50 years were very low which hindered the plant growth. This condition also supported from kaolinite as the dominant mineral composition. The concentration of heavy metal show the low amount and still less than ecological hazardous threshold. The results vegetation analysis obtained the highest species diversity index for seedling is in Bebak, sapling and tree are in Rimba, meanwhile for herbs is in post tin minedland less than 100 years. It shows that in the minedland is still under early succession stage which covered by herbs and shrubs. The highest similarity index among locations each others is between Rimba and Bebak for sapling (54.54%), between two post tin minedland also on sapling (41.38%). Some potential pioneers species were found as natural seedlings for restoration are Myrtaceae. The soil characteristic in post tin minedlands are sandy texture, low nutrient and slow rate of plant growth. The species diversity in post tin minedlands were lower than forest. Adding organic material and selecting native pioneer catalitic species would be better to improve the post tin minedland through restoration activity by natural succession approach. Keywords: kerangas forest, pioneer species, restoration, soil characteristic © Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB KARAKTERISTIK TANAH DAN VEGETASI DI HUTAN KERANGAS DAN LAHAN PASCA TAMBANG TIMAH DI KABUPATEN BELITUNG TIMUR DINA OKTAVIA Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Silvikultur Tropika SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 Penguji Luar Komisi Pembimbing pada Ujian: Dr Ir Basuki Wasis MS Judul Tesis : Karakteristik Tanah dan Vegetasi di Hutan Kerangas dan Lahan Pasca Tambang Timah di Kabupaten Belitung Timur Nama : Dina Oktavia NIM : E451124021 Disetujui oleh Komisi Pembimbing Dr Ir Yadi Setiadi, MSc Ketua Dr Ir Iwan Hilwan, MS Anggota Diketahui oleh Ketua Program Studi S2 Silvikultur Tropika Dekan Sekolah Pascasarjana Prof Dr Ir Sri Wilarso Budi R, MS Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr Tanggal Ujian:11 Desember 2014 Tanggal Lulus: PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2013 ini ialah restorasi hutan kerangas, dengan judul Karakteristik Tanah dan Vegetasi di Hutan Kerangas dan Lahan Pasca Tambang Timah di Kabupaten Belitung Timur. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ir Yadi Setiadi dan Bapak Dr Ir Iwan Hilwan selaku pembimbing. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Prof Shinya Funakawa, Assc Prof Hitoshi Shinjo dan Asst Prof Tetsuhiro Watanabe dari Laboratory of Soil Science dan Laboratory of Terrestrial Ecosystem Management, Universitas Kyoto Jepang, yang telah mendukung selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga dan rekan-rekan atas segala doa dan kasih sayangnya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, Desember 2014 Dina Oktavia DAFTAR ISI DAFTAR TABEL xii DAFTAR GAMBAR xii DAFTAR LAMPIRAN xiii 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian 1 2 3 4 4 2 METODE Waktu dan Tempat Penelitian Alat dan Bahan Prosedur Penelitian Prosedur Analisis Data 4 4 5 5 7 3 HASIL Deskripsi Lokasi Penelitian Sifat Fisika Tanah Sifat Kimia Tanah Komposisi dan Struktur Vegetasi 10 10 13 13 16 4. PEMBAHASAN Karakteristik Tanah Komposisi dan Struktur Vegetasi Vegetasi Pionir Lokal Potensial Teknik Pembenahan Tanah Lahan Pasca Tambang Timah 22 22 30 34 41 4 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran 43 43 44 DAFTAR PUSTAKA 44 LAMPIRAN 48 RIWAYAT HIDUP 56 DAFTAR TABEL 1. 2. 3. 4. 5. Lokasi penelitian Metode modifikasi BCR dengan tiga tahapan ekstraksi bertingkat Kriteria kondisi tanah Kriteria kondisi tanah bermasalah Batas minimum konsentrasi logam berat terhadap lingkungan ekologi 6. Tekstur tanah di setiap lokasi pengambilan contoh tanah 7. Hasil analisis beberapa sifat kimia tanah 8. Hasil analisis kandungan logam berat 9. Hasil analisis mineral liat di setiap lokasi 10. Potensi mikoriza di beberapa spesies di lokasi penelitian 11. Kerapatan individu di setiap lokasi penelitian 12. Indeks nilai penting tumbuhan di Rimba 13. Indeks nilai penting tumbuhan di Bebak 14. Indeks nilai penting tumbuhan di Padang 15. Indeks nilai penting tumbuhan di LPT < 100 tahun 16. Indeks nilai penting tumbuhan di LPT > 100 tahun 17. Nilai indeks kesamaan spesies antar komunitas 4 6 7 7 8 13 14 14 15 15 16 17 18 19 19 20 22 DAFTAR GAMBAR 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Peta lokasi penelitian. Ekosistem Rimba. Ekosistem Bebak. Ekosistem Padang. Lahan pasca tambang < 100 tahun. Lahan pasca tambang > 100 tahun. Jumlah spesies tumbuhan di setiap lokasi penelitian. Nilai H' setiap habitus dan tingkat pertumbuhan pohon di setiap lokasi. 9. Nilai R setiap habitus dan tingkat pertumbuhan pohon di setiap lokasi. 10. Nilai E setiap habitus dan tingkat pertumbuhan pohon di setiap lokasi. 11. Lapisan tanah warna hitam sebagai mineral augit. 12. Akar M. leucadendron yang tumbuh di atas permukaan tanah. 13. Beruta (D. linearis). 14. Keremuntingan (R. tomentosa) 15. Keletaan (M. malabathricum). 16. Gelam (M. leucadendron). 17. Sekudong pelandok (S. buxifolium). 18. Sapu padang (B. frutescens). 19. Arang-arang (S. napiforme). 20. Batang kayu pelawan (T. obovata). 21. Simpor bini (D. suffruticosa). 5 10 11 11 12 12 16 20 21 21 29 29 35 36 36 37 38 38 39 39 40 22. Batang pohon seru (S. wallichii). 40 DAFTAR LAMPIRAN 1. 2. 3. 4. Daftar nama spesies tumbuhan bawah di setiap lokasi penelitian Daftar nama spesies tingkat semai di setiap lokasi penelitian Daftar nama spesies tingkat pancang di setiap lokasi penelitian Daftar nama spesies tingkat pohon di setiap lokasi penelitian 48 50 52 55 1 PENDAHULUAN Kabupaten Belitung Timur merupakan salah satu kabupaten pemekaran yang terbentuk pada tahun 2003 berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Bangka Selatan, Bangka Tengah, Bangka Barat dan Belitung Timur di Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Secara geografis terletak antara 107°45’ BT – 108°18’ BT dan 02°30’ LS – 03°15’ LS. Luas Kabupaten Belitung Timur yaitu 2.506,91 km2 atau berkisar 250.691 hektar, terdiri dari 39 desa dari 7 kecamatan dengan jumlah penduduk 110.315 jiwa. Mayoritas masyarakat lokal bermata pencaharian di sektor pertanian, perkebunan dan pertambangan (BAPPEDAL 2011). Pulau Belitung merupakan salah satu pulau penghasil timah terbesar kedua di dunia setelah Pulau Bangka. Kedua pulau ini berada di jalur timah dunia (Van Bemmelen 1970). Deposit timah di Bangka dan Belitung merupakan deposit timah terbaik di dunia (Hess & Hess 1912) dengan deposit timah primer terbanyak yaitu di Pulau Belitung (Marheni 2008). Sejarah pertambangan timah di Pulau Belitung sudah dimulai sejak tahun 1800-an oleh pemerintah Belanda dengan teknik eksplorasi open tin mining. Lapisan tanah digali terlebih dahulu, kemudian pengupasan menggunakan pompa semprot bertenaga listrik dan bijih timah akan terendapkan karena perbedaan berat jenis. Pemisahan antara tailing dan bijih timah dilakukan dengan menggunakan sakhan (Widhiyatna et al. 2006). Penambangan timah dengan teknik tersebut berdampak pada lingkungan dan kelestarian ekosistem, diantaranya perubahan bentang alam, penurunan keanekaragaman hayati, pencemaran air dan sedimentasi. Cerukan-cerukan berisi air (kolong) bekas penambangan timah berpotensi mengandung kontaminan logam berat (Henny 2011). Tailing pasir pada lahan bekas tambang timah juga berpotensi meradiasikan unsur-unsur radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan manusia (Wahyudi 2003). Menurut Pratiwi (2010) berdasarkan analisis satuan kemampuan lahan kesuburan tanah di Belitung Timur, yaitu seluas 218.101 hektar lahan di Belitung Timur dalam kondisi buruk. Hal ini disebabkan oleh kegiatan penambangan timah yang tidak ramah lingkungan. Di sisi lain, kegiatan tersebut juga akan mengancam kelestarian 224 spesies tumbuhan di hutan kerangas yang 101 diantaranya berkhasiat sebagai obat (Oktavia 2012). Di sisi lain, masyarakat Melayu Belitung memiliki suatu sistem lansekap tradisional dalam mengelola ekosistem. Menurut Fakhrurrazi (2001), terdapat beberapa tipe ekosistem berdasarkan kearifan tradisional mereka antara lain ekosistem alami (Rimba, Padang, Ai’), ekosistem suksesi (Bebak, Bebak usang, Kelekak, Kelekak usang). Masyarakat juga membagi beberapa ekosistem yang dilarang untuk diolah karena berbahaya bagi keseimbangan ekosistem. Selain lansekap, masyarakat lokal juga membagi kondisi tanah ke dalam beberapa tipe seperti tana teraja (tanah podsolik yang banyak mengandung kuarsa), tana darat (tanah podsolik merah-kuning), tana amau (lahan basah, rawa atau daerah tepian sungai), tana kepo (tanah peralihan antara tana amau dan tana darat berwarna cokelat pucat), dan tana malangen (tanah peralihan yang berbatasan dengan tana teraja). Secara umum ekosistem hutan yang tumbuh di daratan Pulau Belitung dikenal dengan nama hutan kerangas. Hutan kerangas tumbuh di atas tanah 2 podsol, tanah pasir kuarsa miskin hara dan memiliki pH rendah (Brunig 1974; Whitmore 1984; Whitten et al. 1984; MacKinnon et al. 1992), dalam jumlah yang cukup luas dapat dijumpai di Pulau Bangka dan Belitung (Whitten et al. 1984). Konsorsium Revisi High Conservation Value (HCV) Toolkit Indonesia (2008) menegaskan bahwa hutan kerangas harus dipertahankan dalam kondisi alami dengan ditambah zona penyangga minimal satu kilometer, dimana kegiatan pemanfaatan harus seminimal mungkin dilakukan. Peran hutan kerangas sebagai kawasan hutan lindung dinilai dari jenis tanahnya dan fungsinya sebagai resapan air perlu dipertahankan sesuai dengan Keputusan Presiden No 32 tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung. Hutan kerangas sebagai suatu ekosistem yang sangat rentan terhadap gangguan ini, membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun dalam suksesi alami mendekati kondisi ekosistem semula (Whitten et al. 1984). Elfis (1998) diacu dalam Nurtjahya (2008) meyebutkan bahwa diperlukan waktu 150 tahun bagi lahan pasca tambang timah untuk kembali menjadi hutan kerangas. Oleh karena itu perlu adanya campur tangan manusia dalam mengembalikan komposisi vegetasi hutan kerangas dan fungsi ekosistem hutan kerangas melalui kegiatan restorasi. Pendekatan suksesi alami dalam restorasi dapat meningkatkan keanekargaman hayati dan memperbaiki kualitas tanah serta mendukung keberlanjutan ekosistem (Bradshaw 1997; Aronson & Alexander 2013). Setiadi (2012) menjelaskan bahwa dalam restorasi perlu mempertimbangkan aspek tanah dan vegetasi sebagai suatu informasi dasar dalam menentukan teknik pembenahan tanah yang tepat dan memilih spesies pionir yang menjadi katalisator dalam kolonisasi alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerangkan kondisi tanah dan vegetasi di hutan kerangas dan lahan pasca tambang timah sehingga dapat merumuskan teknik rehabilitasi lahan pasca tambang timah dengan pendekatan suksesi berdasarkan data lapangan. Latar Belakang Belitung Timur merupakan salah satu kabupaten pemekaran yang masih banyak membutuhkan ruang untuk pembangunan infrastruktur dan lahan-lahan untuk perkembangan sektor pertanian/ perkebunan dan pertambangan untuk menggerakkan perekonomian daerah. Ekosistem hutan kerangas di Belitung Timur terancam oleh beberapa intervensi manusia membangun perkebunan kelapa sawit, karet dan juga pertambangan timah, pasir kuarsa, bijih besi, dan kaolin. Pertambangan timah merupakan salah satu bentuk intervensi manusia yang sudah berlangsung ratusan tahun dengan mengeksploitasi sumberdaya timah di daratan. Desa Kelubi merupakan salah satu desa di Kabupaten Belitung Timur yang kondisi lansekapnya terdiri dari pemukiman, ekosistem hutan, perkebunan karet, kelapa sawit, lada, dan penambangan timah. Masyarakat lokal masih memegang kearifan lokal dalam mengolah lahan. Namun, dengan adanya intervensi dari luar, beberapa perusahaan perkebunan skala besar dapat masuk dan mengusahakan lahan hutan untuk dijadikan perkebunan dan pertambangan. Dampak dari kegiatan eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan ini telah dirasakan oleh masyarakat lokal khususnya dalam hal ketersediaan sumber air bersih yang sudah sulit dipenuhi. 3 Interaksi masyarakat Desa Kelubi dengan ekosistem hutan dapat dilihat dari pemanfaatan tumbuhan obat tradisional yang berasal dari dalam hutan. Ketua adat atau dukun kampung dan beberapa peramu obat tradisional khususnya memiliki interaksi yang erat terhadap ekosistem hutan. Namun kerusakan hutan akibat kegiatan penambangan timah telah menyisakan beberapa lahan marginal yang tidak produktif serta berkurangnya sumberdaya hutan. Untuk mendukung kelestarian eksosistem hutan kerangas yang merupakan salah satu ekosistem hutan dalam status rawan (vulnerable) di dunia (WWF 2014) dan mendukung interaksi masyarakat terhadap sumberdaya hutan, maka perlu adanya upaya restorasi hutan kerangas di lahan pasca tambang timah. Informasi mengenai kondisi tanah dan vegetasi merupakan dua aspek penting dalam menentukan teknik restorasi yang tepat, sehingga penting dilakukan sebuah penelitian dasar tentang karakteristik tanah dan vegetasi di hutan kerangas dan lahan pasca tambang timah. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam penelitian selanjutnya terkait percobaan tanam untuk tujuan restorasi di lahan pasca tambang timah. Perumusan Masalah Kondisi lahan pasca tambang timah di Bangka dan Singkep yang berumur kurang dari 100 tahun yang dibiarkan mengalami suksesi alami tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan dalam beberapa aspek fisika maupun kimia tanah dan juga kondisi vegetasinya (Badri 2004; Nurtjahya 2008). Penelitian ini mengambil dua lokasi lahan pasca tambang yang berumur kurang dari 100 tahun dan lebih dari 100 tahun. Perbedaan lokasi diduga dapat menjadi sebuah kemungkinan terjadinya perbedaan kondisi sifat tanah dan vegetasi meskipun memiliki permasalahan yang sama akibat kegiatan penambangan timah, sehingga perlu dilakukan kajian terkait karakteristik tanah di lahan pasca tambang timah di Belitung. Ekosistem hutan kerangas menjadi suatu standar kualitatif dari kondisi yang belum terganggu oleh kegiatan penambangan timah. Dikarenakan sulitnya ditemukan ekosistem hutan yang masih primer maka dipilihlah tiga tipe ekosistem hutan kerangas yang menjadi bagian dari lansekap tradisional masyarakat lokal yaitu Rimba (hutan kerangas sekunder campuran), Bebak (hutan bekas ladang) dan Padang (ekosistem disklimaks hutan kerangas yang berupa padang rumput dan beberapa semak). Kajian karakteristik tanah dan vegetasi di tiga lokasi ini dapat menjadi bahan pembanding terhadap ekosistem lahan pasca tambang timah dari sifat tanah dan komposisi vegetasinya. Berkaitan dengan penjelasan di atas, adapun pertanyaan yang ingin dijawab oleh penulis yaitu: 1) bagaimana karakteristik tanah di hutan kerangas dan lahan pasca tambang timah ditinjau dari sifat fisika dan kimia tanahnya, 2) bagaimana komposisi vegetasi di hutan kerangas dan lahan pasca tambang timah, 3) apa saja spesies yang berpotensi menjadi pionir dan bersifat katalitik untuk mendukung proses suksesi alami dan 4) bagaimana teknik pembenahan tanah yang dapat direkomendasikan untuk kegiatan restorasi. 4 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan karakteristik tanah di hutan kerangas dan lahan pasca tambang timah, 2) mengidentifikasi komposisi vegetasi di hutan kerangas dan lahan pasca tambang timah, 3) mengidentifikasi spesies pionir potensial dan 4) merekomendasikan teknik pembenahan tanah yang dapat dilakukan. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah sebagai bahan acuan dalam mengambil tindakan teknik restorasi yang tepat di lahan pasca tambang timah di kabupaten Belitung Timur. Selain itu juga menjadi informasi dasar dalam menentukan teknik rehabilitasi atau revegetasi di lahan pasca tambang timah baik untuk tujuan konservasi maupun produksi. 2 METODE Penelitian ini bersifat survei lapangan yang dirancang untuk mengeksplorasi dan mendeskripsikan setiap lokasi berdasarkan kriteria yang ditentukan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan menetapkan konsep suksesi alami dan restorasi sebagai pendekatan dalam pembahasan kondisi tanah dan vegetasi di lokasi penelitian. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2013 – Agustus 2014. Pengambilan sampel tanah dan analisis vegetasi dilakukan di Desa Kelubi Kecamatan Manggar Kabupaten Belitung Timur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dipilih lima lokasi, antara lain: 1) hutan kerangas sekunder tua (Rimba), 2) hutan kerangas sekunder muda (Bebak), 3) vegetasi padang (Padang), 4) lahan pasca tambang timah (LPT) kurang dari 100 tahun (area KP PT Timah) dan 5) lahan pasca tambang timah (LPT) lebih dari 100 tahun (area Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR)). Semua lokasi berada dalam status area penggunaan lain (APL) (Tabel 1). Daerah penelitian disajikan pada Gambar 1. Tabel 1 Lokasi penelitian No 1 2 3 4 5 Lokasi Rimba Bebak Padang KP PT Timah (LPT<100 th) WPR (LPT>100 th) Posisi Geografis 02º48’1,60” LS dan 108º08’16,5” BT 02º50’10,9” LS dan 108º09’20,8” BT 02º52’53,0” LS dan 108º09’52,9” BT 02º49’20,1” LS dan 108º11’35,3” BT 02º52’41,3” LS dan 108º08’16,1” BT Status APL APL APL APL APL 5 Gambar 1 Peta lokasi penelitian. Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan dalam pengambilan sampel tanah dan vegetasi di lapangan meliputi: 1) peralatan pengambilan sampel tanah komposit (bor tanah, plastik sampel, label, spidol), 2) peralatan analisis vegetasi dan pembuatan herbarium (meteran 20 m, meteran jahit, tali rafia, parang, plastik sampel herbarium, label, spidol, alkohol) dan 3) peralatan dokumentasi (Global Position System (GPS), kamera, buku catatan dan alat tulis). Peralatan untuk analisis logam berat dilakukan dengan menggunakan mesin Inductively Coupled Plasma–Atomic Emission Spectrometry (ICP-AES) ICPE-9000. Analisis mineral liat dilakukan dengan menggunakan mesin X-Ray Diffraction MiniFlex 600. Prosedur Penelitian Pengambilan sampel tanah komposit Contoh tanah komposit diambil dengan menggunakan teknik cluster sampling (Suganda et al. 2006). Contoh cluster dipilih secara purposive, dikarenakan kondisi lahan di setiap lokasi lahan pasca tambang tidak homogen, maka pada setiap LPT dibagi ke dalam beberapa cluster. Adanya penambangan ulang di lokasi lahan pasca tambang, sehingga memengaruhi umur suksesi setiap cluster. Pembagian cluster berdasarkan tutupan vegetasi dominan di atasnya. Di LPT < 100 tahun dibagi menjadi dua cluster yaitu pasir (tailing 5 tahun) dan semak (tailing 50 tahun). Pada LPT > 100 tahun dibagi menjadi tiga cluster yaitu pasir (tailing 3 tahun), semak (tailing 15 tahun) dan hutan (tailing 130 tahun). Pada lokasi Rimba, Bebak dan Padang hanya terdapat satu cluster karena relatif homogen dalam satu hamparan. Contoh tanah berupa contoh tanah komposit seberat 600 gram yang diambil dari lima sub contoh tanah di setiap cluster di 6 setiap lokasi. Kedalaman pengambilan sampel tanah yaitu 0–20 cm (1) dan 20–40 cm (2). Pengambilan contoh akar dan rizosfir Pengambilan contoh akar untuk megetahui ada tidaknya asosiasi antara fungi mikoriza arbuskula (FMA) dengan akar tumbuhan. Contoh tanah yang berada di sekitar rambut akar (rizosfer) diambil untuk dianalisis potensi FMA di sekitar vegetasi tersebut. Contoh akar diambil dari tiga vegetasi dominan di dalam plot analisis vegetasi pada kedalaman 0–20 cm. Total panjang akar yang diambil yaitu 10–20 cm setiap jenisnya. Contoh tanah komposit dari sekitar akar tiga vegetasi dominan dan 4 titik rizosfir. Jumlah tanah yang diambil sebanyak 300– 500 g setelah dikompositkan. Analisis tanah Analisis tanah meliputi tekstur tanah (proporsi pasir, debu dan liat), pH, C organik (Walkley & Black), N total (Kjeldhal), P tersedia (Bray l), P total (HCl 25%), Kapasitas Tukar Kation (KTK), Ca, Mg, Na,K (N NH4OAc pH 7,0), Kejenuhan Basa (KB), Al, H (N KCl), Fe, Mn (0.05 N HCl) dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB. Analisis logam berat (Cd, Cr, Cu, Ni, Pb, Zn) dan analisis mineral liat dilakukan di Laboratory of Soil Science, Kyoto University. Analisis logam berat dan mineral liat menggunakan sampel tanah 0–20 cm. Analisis logam berat dilakukan dengan metode modifikasi BCR tiga tahapan ekstraksi bertingkat (Rauret et al. 1999) (Tabel 2). Analisis mineral liat dilakukan dengan teknik X-Ray Diffraction (Whittig & Allardice 1986). Tabel 2 Metode modifikasi BCR dengan tiga tahapan ekstraksi bertingkat Step 1 Target Spesies yang mudah larut, karbonat, pertukaran kation Pelarut Acetic Acid 0.11 M 2 Fraksi Dapat dipertukarkan, larut dalam air dan asam Dapat tereduksi Besi oksida dan Mangan oksida 3 Dapat teroksidasi Bahan organik dan sulfida Hydroxylammonium Chloride 0.5 M Hydrogen Peroxyde 8.8 M dikuti oleh Ammonium Acetate 1 M Analisis kolonisasi fungi mikoriza arbuskula (FMA) menggunakan metode Wet Sieving Decanting atau penyaringan basah (Brundrett et al. 1996) yang telah dimodifikasi. Taksonomi genus FMA dilakukan berdasar performa morfologi spora dan merujuk http:invam.caf.wvu.edu. Analisis FMA dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Hutan PPSHB IPB. Pengambilan data vegetasi Analisis vegetasi dilakukan di lima lokasi (Rimba, Bebak dan Padang, LPT < 100 tahun dan LPT > 100 tahun) dengan menggunakan modifikasi teknik pengambilan contoh kuadrat oleh Oosting 1942 (Soerianegara & Indrawan 2008) dengan ukuran petak contoh 10 m × 10 m sebanyak 20 petak contoh (Nurtjahya 2008) dan jarak antar petak contoh 20 m. Perisalahan komposisi vegetasi 7 dilakukan terhadap tiga fase pertumbuhan (semai, pancang dan pohon) dan habitus tumbuhan bawah (herba, semak, perdu, liana) dengan kriteria sebagai berikut; a. Petak ukur semai 1 m × 1 m, yaitu anakan dengan tinggi ≤ 1.5 m semai dan tumbuhan bawah (herba, semak, perdu, liana). b. Petak ukur pancang 5 m × 5 m, yaitu anakan dengan tinggi > 1.5 m dan diameter setinggi dada < 10 cm. c. Petak ukur pohon 10 m × 10 m, batang berdiameter ≥ 10 cm. Prosedur Analisis Data Tanah Hasil analisis tanah dinilai berdasarkan kriteria kondisi tanah (Landon 1986) (Tabel 3). Permasalahan tanah dinilai menurut kriteria penilaian tanah bermasalah (Setiadi 2012) (Tabel 4). Kandungan logam berat dinilai berdasarkan standar Ecological Investigation Level yang disajikan pada Tabel 5 (DEC 2010). Tabel 3 Kriteria kondisi tanah Komponen C-Organik N-Total P-Bray 1 K Ca Mg Fe Cu Mn Zn Al Kapasitas Tukar Kation (KTK) Kejenuhan Basa pH Satuan % % ppm mek 100 g-1 mek 100 g-1 mek 100 g-1 ppm ppm ppm ppm % mek 100 g-1 % - Tinggi Sedang Rendah ≥ 10 >4 ≤4 > 0.5 > 0.2 ≤ 0.2 > 20 >7 < 7 > 0.5 ≥ 0.25 < 0.25 ≥ 10 >4 ≤4 ≥ 1.5 > 0.8 ≤ 0.4 Kekurangan pada 2 Kekurangan pada 0.2 Kekurangan pada 5 – 9 Kekurangan pada 1 – 7.5 > 60 ≤ 60 < 40 ≥ 25 > 15 ≤ 15 > 60 > 20 ≤ 20 > 7.0 ≥ 5.5 < 5.5 Sangat rendah <2 < 0.1 <3 ≤ 0.15 < 0.2 < 20 <5 - Tabel 4 Kriteria kondisi tanah bermasalah Parameter pH Kekompakan tanah Al Fe KTK KB Ca dan Mg Pasir Kriteria <3 Debu dan liat >70% > 60% / > 3 mek 100 g-1 12000 ppm <16 mek 100 g-1 < 20% Ca < Mg Pasir > 80 % Efek terhadap pertumbuhan Asam, keracunan Al dan Fe Stagnasi, perkembangan akar terhambat Akar keriting, stagnasi Gangguan akar, stagnasi Stagnasi Pertumbuhan lambat Stagnasi Stagnasi 8 Tabel 5 Batas minimum konsentrasi logam berat terhadap lingkungan ekologi Unsur Konsentrasi (mg kg -1) Cd 3 Cr 400 Cu 100 Ni 60 Pb Zn 100 200 Komposisi dan Struktur Vegetasi Data yang diperoleh dari hasil analisis vegetasi akan dianalisis secara kuantitatif dengan menghitung Indeks Nilai Penting setiap spesies yang ditemukan.  Kerapatan (K) :  Kerapatan Relatif (KR) :  Dominansi (D)  Dominansi Relatif (DR) :  Frekuensi (F)  Frekuensi Relatif (FR)  : : : mlah indi id pe ie tertent l a el r h petak contoh erapatan pe ie tertent 100 erapatan el r h pe ie mlah l a idang da ar pe ie tertent l a el r h petak contoh ominan i pe ie tertent 100 ominan i el r h pe ie mlah petak contoh ditem kan pe ie tertent j mlah el r h petak contoh rek en i pe ie tertent rek en i el r h pe ie 100 Indeks Nilai Penting (INP) : INP = KR + FR (untuk semai dan pancang) INP = KR + FR + DR (untuk pohon) Nilai penting merupakan penjumlahan dari kerapatan relatif, frekuensi relatif dan dominansi relatif, yang berkisar antara 0 dan 300 (Mueller-Dombois & Ellenberg 1974). Untuk tingkat pertumbuhan sapihan dan semai merupakan penjumlahan kerapatan relatif dan frekuensi relatif, sehingga maksimum nilai penting adalah 200. Keanekaragaman spesies tumbuhan ditentukan dengan menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon (Ludwig & Reynolds 1988) dengan rumus: ni ∑ pi ln pi dimana pi N i 1 Keterangan: ’ Indek eanekaragaman pe ie ni = Nilai penting spesies ke-i N = Total nilai penting semua spesies Makin e ar ’ at komunitas maka semakin mantap pula komunitas tersebut. H’ maksimal bila semua spesies mempunyai jumlah individu yang sama 9 dan ini menunjukkan kelimpahan terdistribusi secara sempurna (Ludwig & Reynolds 1988). Kekayaan spesies diukur dengan menggunakan Indeks Margalef (1958) diacu dalam Ludwig dan Reynolds (1988), yaitu: S 1 ln N Keterangan: R : Indeks kekayaan spesies S : Jumlah spesies N : Jumlah individu Kemerataan spesies digunakan untuk mengetahui gejala dominansi diantara setiap spesies dalam suatu lokasi. Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai Evennes (Ludwig & Reynolds 1988). Nilai E yang mendekati satu menunjukkan distribusi jumlah individu setiap spesies hampir sama. ’ ln S Keterangan E : Indeks kemerataan spesies ’ : Indeks keanekaragaman spesies S : Jumlah spesies Indeks kesamaan komunitas dihitung untuk membandingkan keanekaragaman spesies antara dua komunitas yang berbeda. Nilai IS teringgi 100% dan terendah 0%, semakin mendekati 100% komunitas tumbuhan yang dibandingkan semakin identik (Odum 1993). IS 2 a 100 Keterangan: IS = Index of Similarity atau Indeks Kesamaan Komunitas (%) C = Jumlah spesies yang sama dan terdapat pada kedua komunitas a = Jumlah spesies di dalam komunitas A b = Jumlah spesies di dalam komunitas B Identifikasi Spesies Pionir Potensial Kriteria penentuan spesies pionir potensial dilihat dari tingkat adaptability di lapangan, jenis pionir cepat tumbuh, ketersediaan bahan tanaman, bersimbiosis dengan mikroba potensial dan bersifat pionir katalitik (Setiadi 2014). Teknik Restorasi Perumusan teknik restorasi dilakukan dengan menelaah literatur terkait pembenahan tanah pada permasalahan tanah yang teridentifikasi. 10 Hasil analisis tanah dan pengolahan data vegetasi disajikan dalam tabel, diagram dan gambar. Data dan informasi dianalisis dan diinterpretasikan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. 3 HASIL Deskripsi Lokasi Penelitian Hutan kerangas sekunder tua (Rimba) Rimba merupakan ekosistem hutan kerangas sekunder tua yang tumbuh di kaki Gunung Bolong, Desa Kelubi dan berbatasan dengan lahan perkebunan kelapa sawit (Gambar 2). Secara geologi, kawasan Rimba termasuk dalam formasi Granodiorit Burung Mandi. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan granodiorit (Pratiwi 2010). Berdasarkan data atribut peta kawasan hutan di Kabupaten Belitung Timur, Rimba berada pada daerah dataran dengan batuan induk batuan sedimen kasar masam dan kelerengan < 8%. Rimba termasuk dalam kelas penutupan lahan sebagai hutan lahan kering dengan > 75% ditutupi oleh vegetasi dan dalam kategori tidak kritis (Distanhut 2012). Gambar 2 Ekosistem Rimba. Hutan kerangas sekunder muda (Bebak) Bebak merupakan ekosistem hutan kerangas sekunder muda yang tumbuh di lahan bekas perladangan yang berumur 10 tahun di atas tanah milik masyarakat dan berbatasan dengan lahan perkebunan karet (Gambar 3). Secara geologi, termasuk dalam formasi Kelapa Kampit. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan batupasir, batuserpih, batulempung dan batulumpur (Pratiwi 2010). Berdasarkan data atribut peta kawasan hutan di Kabupaten Belitung Timur, Bebak berada pada daerah dataran dengan batuan induk batuan sedimen kasar masam dan kelerengan < 8%. Bebak termasuk dalam kelas penutupan lahan sebagai semak belukar dengan 26–50% ditutupi oleh vegetasi dan dalam kategori agak kritis (Distanhut 2012). 11 Gambar 3 Ekosistem Bebak. Vegetasi padang (Padang) Padang merupakan ekosistem hutan kerangas yang mengalami disklimaks, sehingga berupa hamparan padang rumput yang sulit untuk tumbuh menjadi hutan kembali (Gambar 4). Lokasi padang berbatasan dengan lahan perkebunan karet dan kelapa sawit. Secara geologi, kawasan termasuk dalam formasi Kelapa Kampit. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan batupasir kuarsa (Pratiwi 2010). Berdasarkan data atribut peta kawasan hutan di Kabupaten Belitung Timur, Padang beradapada daerah dataran dengan batuan induk batuan sedimen kasar masam dan kelerengan < 8%. Padang termasuk dalam kelas penutupan lahan sebagai semak belukar dengan 26–50% ditutupi oleh vegetasi dan dalam kategori agak kritis (Distanhut 2012). Gambar 4 Ekosistem Padang. Lahan pasca tambang timah kurang dari 100 tahun (LPT < 100 tahun) Pada lokasi LPT < 100 tahun terdapat dua cluster tanah dilihat dari tingkat suksesinya antara lain cluster pasir (tailing umur 5 tahun) dan cluster vegetasi semak (tailing umur 50 tahun) (Gambar 5). Secara geologi, kawasan termasuk dalam formasi Diorit Kuarsa Batubesi. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan diorit kuarsa batubesi (Pratiwi 2010). Berdasarkan data atribut peta kawasan hutan di Kabupaten Belitung Timur, LPT < 100 tahun berada pada daerah dataran dengan batuan induk batuan sedimen kasar masam dan kelerengan < 8%. LPT < 12 100 tahun termasuk dalam kelas penutupan lahan sebagai lahan terbuka dengan 0% penutupan vegetasi dan dalam kategori kritis (Distanhut 2012). Gambar 5 Lahan pasca tambang < 100 tahun. Lahan pasca tambang timah lebih dari 100 tahun (LPT > 100 th) Pada lokasi LPT > 100 tahun terdapat tiga cluster tanah dilihat dari tingkat suksesinya antara lain cluster pasir (tailing umur 3 tahun), cluster vegetasi semak (tailing umur 15 tahun) dan cluster vegetasi hutan (tailing umur 130 tahun) (Gambar 6). Secara geologi, kawasan termasuk dalam formasi Kelapa Kampit. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan batupasir (Pratiwi 2010). Berdasarkan data atribut peta kawasan hutan di Kabupaten Belitung Timur, LPT > 100 tahun berada pada daerah dataran dengan batuan induk batuan sedimen kasar masam dan kelerengan < 8%. LPT > 100 tahun termasuk dalam kelas penutupan lahan sebagai lahan terbuka dengan 0% penutupan vegetasi dan dalam kategori kritis (Distanhut 2012). Gambar 6 Lahan pasca tambang > 100 tahun. 13 Sifat Fisika Tanah Tekstur tanah Hasil analisis tekstur tanah di setiap cluster tanah di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 6. Tekstur tanah di tailing 130 th yaitu lempung berpasir (0– 20 cm) dan lempung liat berpasir (20–40 cm). Perkembangan tanah telah terjadi sehingga menghasilkan jumlah liat yang lebih tinggi dibandingkan tailing lainnya. Tekstur tanah di tailing 130 tahun (20–40 cm) sama dengan tekstur tanah di hutan (0–20 cm) yaitu lempung liat berpasir. Tabel 6 Tekstur tanah di setiap lokasi pengambilan contoh tanah Cluster Rimba Bebak Padang TL 3 tahun TL 5 tahun TL 15 tahun TL 50 tahun TL 130 tahun Kedalaman (cm) 0–20 20–40 0–20 20–40 0–20 20–40 0–20 20–40 0–20 20–40 0–20 20–40 0–20 20–40 0–20 20–40 Pasir 52.94 48.02 77.94 73.80 91.12 91.42 96.96 95.72 93.31 80.03 91.69 94.01 88.36 78.73 70.85 71.08 Fraksi (%) Debu 10.19 1.99 4.28 3.75 5.04 2.40 1.32 2.45 3.71 13.33 7.09 3.97 7.13 13.96 17.80 21.56 Liat 36.87 49.99 17.78 28.45 3.84 6.18 1.72 1.83 2.98 6.64 1.22 2.02 4.51 7.31 11.35 7.36 TL : Tailing Sifat Kimia Tanah Hasil analisis sifat kimia tanah di setiap cluster tanah di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 7. Secara umum, nilai pH dalam kisaran 4–6.3, kandungan ahan organik ≤ 2 , kand ngan nitrogen ≤0.2 , kand ngan fo for ter edia berkisar 4.3–9.5 ppm, kandungan Ca, Mg, K dan Na masing-ma ing ≤ 0.5 me/100 g, nilai KTK berkisar 0.6–8.05 me/100 g, nilai KB berkisar 8.07–71.7%, kandungan Al dari tidak terdeteksi hingga kisaran 0.2-1.4 me/100 g dan kandungan Fe (2.12–54.80 ppm) dan Mn (0.11–3.13 ppm). Hasil analisis logam berat di setiap cluster tanah di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 8. Kandungan logam berat tertinggi dari semua lokasi yaitu unsur Cr (3.615 mg/kg) di Rimba. Unsur Cd tidak terukur pada sampel tanah, sedangkan unsur Pb hanya terukur pada lokasi Padang. Hasil analisis komposisi mineral liat disajikan pada Tabel 9. Mineral kaolinit mendominasi di antara mineral lainnya di setiap lokasi. Pada lokasi Padang tidak dapat dilakukan pengambilan contoh liat sehingga tidak dilakukan analisis mineral liat. 14 H2O P (%) 0.2 0.05 N HCl N N KCl HCl 25% C Bray I Kjeldhal pH 1:1 W. & B. Kedalaman (cm) Lokasi Penelitian Tabel 7 Hasil analisis beberapa sifat kimia tanah NNH4OAc pH 7.0 KB Ca Mg K Na (ppm) 7.8 76.2 0.5 (mek 100 g-1) 0.2 0.2 0.5 KTK Al H Fe 5.8 (%) 23.8 (mek 100 g-1) 1.4 0.4 22 Zn Mn Rimba 0–20 4.7 (%) 2.0 Rimba 20–40 5.2 1.1 0.1 4.3 44.6 0.5 0.2 0.1 0.2 6.8 13.2 0.8 0.2 20 1.1 3.1 Bebak 0–20 4.9 1.2 0.1 6.2 59.5 0.4 0.2 0.1 0.1 5.6 14.2 1.4 0.4 9 1.1 1.5 Bebak 20–40 5.0 1.1 0.1 4.5 44.6 0.4 0.1 0.1 0.1 8.0 8.1 1.1 0.2 23 1.1 1.8 Padang 0–20 5.1 0.4 0.0 6.0 59.5 0.3 0.1 0.1 0.1 1.2 47.1 0.2 0.2 3 1.2 0.1 Padang 20–40 5.0 0.1 0.0 5.2 51.2 0.3 0.1 0.0 0.1 2.0 24.4 tr 0.2 2 1.3 0.3 TL 3 tahun 0–20 6.0 0.1 0.0 9.0 89.4 0.3 0.1 0.0 0.1 0.6 71.7 tr 0.2 54 1.3 0.1 TL 3 tahun 20–40 6.3 0.1 0.0 6.9 67.8 0.3 0.1 0.0 0.1 0.8 55.0 tr 0.2 30 0.9 0.1 TL 5 tahun 0–20 6.1 0.2 0.0 5.2 50.5 0.3 0.1 0.0 0.1 2.0 24.4 tr 0.2 8 0.8 0.2 TL 5 tahun 20–40 5.0 0.1 0.0 4.3 42.9 0.3 0.1 0.1 0.1 2.4 22.4 tr 0.2 26 0.9 0.7 TL 15 tahun 0–20 5.2 0.2 0.0 9.5 92.5 0.3 0.1 0.0 0.0 2.0 22.9 0.2 0.2 7 0.9 0.4 TL 15 tahun 20–40 5.4 0.3 0.0 7.4 71.1 0.4 0.1 0.0 0.1 0.8 64.3 0.2 0.2 10 1.1 0.4 TL 50 tahun 0–20 5.4 0.2 0.0 8.9 89.4 0.5 0.1 0.0 0.1 2.4 27.0 0.2 0.2 2 1.1 0.5 TL 50 tahun 20–40 5.3 0.4 0.0 6.0 59.5 0.3 0.1 0.0 0.1 2.8 15.2 0.6 0.4 3 1.0 0.2 TL 130 tahun 0–20 4.5 1.2 0.1 5.7 54.5 0.4 0.2 0.1 0.1 6.0 11.6 1.4 0.4 8 1.2 0.4 TL 130 tahun 20–40 4.0 1.8 0.2 4.5 44.6 0.3 0.1 0.3 0.3 5.4 19.7 1.0 0.4 7 1.0 0.2 TL : Tailing, tr: tidak terukur Tabel 8 Hasil analisis kandungan logam berat Lokasi Cd Cr Rimba tr 3.615 (3) Bebak tr 2.235 (3) Padang tr 0.06 (3) TL 3 tahun tr 0.255 (3) TL 5 tahun tr 0.525 (3) TL 15 tahun tr 0.39 (3) TL 50 tahun tr 0.705 (3) TL 130 tahun tr 0.45 (3) tr : tidak terukur (1) : terukur pada step 1 (fraksi mobile) (2) : terukur pada step 2 (fraksi oksida) (3) : terukur pada step 3 (fraksi organik) Konsentrasi (mg kg-1) Cu Ni 2.728 (2) 0.372 (1) 0.592 (1) 0.628 (1) 1.008 (1) 0.06 (1) 2.524 (2) 0.76 (1) 1.12 (1) 0.268 (1) 1.236 (1) 0.348 (1) 1.064 (2) 0.236 (1) 1.452 (2) 0.428 (1) Pb tr tr 0.988 (1) tr tr tr tr tr Zn 1.616(1) 0.83 (3) 0.38(1) 0.175 (3) 0.248 (1) 0.365 (3) 0.4 (3) 0.46 (1) (ppm) 1.1 2.7 15 Tabel 9 Hasil analisis mineral liat di setiap lokasi Mineral Lokasi Kuarsa Ortoklas Microkline Vermikulit Illit Kaolinit Gibsit Hutan - - - + + ++ ++ Bebak - - - + - ++ ++ TL 3 tahun ± + ± - ++ ++ + TL 5 tahun - - - ± + ++ + TL 15 tahun ± ± ± + + ++ + TL 50 tahun ± - - + + ++ + TL 130 tahun + + + + ++ ++ ± ++ : sangat jelas, + : jelas, ± : tidak jelas, - : tidak terukur Potensi fungi mikoriza arbuskula (FMA) Hasil analisis fungi mikoriza arbuskula pada beberapa tumbuhan pionir yang dominan di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 10. Kolonisasi FMA pada sampel akar hanya ditemukan di beberapa spesies antara lain pada B. frutescens di Padang terdapat 29.1% kolonisasi Glomus sp.3, pada Fimbristylis sp. di Padang terdapat 25.8% kolonisasi Glomus sp.2 dan Glomus sp.5 dan pada Rhodamnia cinerea di Bebak terdapat 60% kolonisasi Glomus sp.6. Tabel 10 Potensi mikoriza di beberapa spesies di lokasi penelitian No 1 Nama ilmiah Dillenia suffruticosa Baeckea frutescens Melastoma malabathricum Rhodomyrtus tomentosa Rimba 5 Tristaniopsis obovata Glomus sp.1 Glomus sp.7 6 Calophyllum lanigerum Glomus sp.2 7 Fimbristylis sp. 8 Rhodamnia cinerea 2 3 4 Bebak Padang LPT<100 tahun Glomus sp.4 Glomus sp.3 Gigaspora sp.1 Glomus sp.6 Glomus sp.5 Glomus sp.7 Acaulospora sp.1 Glomus sp.1 Glomus sp.2 Glomus sp.9 Glomus sp.6 Gigaspora sp.2 Glomus sp.1 Glomus sp.3 Gigaspora sp.3 Glomus sp.9 Glomus sp.2 Glomus sp.5 Glomus sp.2 Glomus sp.8 LPT>100 tahun Glomus sp.3 16 Komposisi dan Struktur Vegetasi jumlah spesies Jumlah spesies Jumlah spesies tumbuhan yang teridentifikasi disajikan pada Gambar 7. Jumlah spesies tumbuhan bawah tertinggi yaitu di LPT < 100 tahun (17 spesies). Jumlah spesies semai tertinggi yaitu di Bebak (29 spesies). Jumlah spesies pancang tertinggi yaitu di Rimba dan Bebak (42 spesies). Jumlah spesies pohon tertinggi yaitu di Rimba (24 spesies). 42 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 42 29 25 24 12 14 13 9 8 5 Rimba 18 19 17 Bebak Tumbuhan bawah 3 2 1 Padang Lokasi Semai 14 11 0 LPT < 100 th LPT > 100 th Pancang Pohon Gambar 7 Jumlah spesies tumbuhan di setiap lokasi penelitian. Kerapatan individu Nilai kerapatan individu tumbuhan di setiap lokasi disajikan pada Tabel 10. Ekosistem Rimba relatif lebih rapat dibandingkan ekosistem lainnya, sehingga kehadiran tumbuhan bawah tidak sebanyak di ekosistem yang relatif terbuka. Tabel 11 Kerapatan individu di setiap lokasi penelitian Lokasi Kerapatan individu (ind/ha) Tumbuhan bawah Semai Pancang Pohon Hutan 31.000 288.000 18.900 470 Bebak 57.000 165.000 21.880 340 Padang 462.500 93.000 1.400 10 LPT < 100 tahun 256.000 30.500 1.680 30 LPT > 100 tahun 205.500 45.600 4.600 0 17 Dominansi spesies Rimba Indeks nilai penting (INP) tumbuhan bawah tertinggi yaitu Syzygium buxifolium (57.53%) dari habitus semak, kemudian diikuti oleh tiga jenis liana yaitu Uvaria hirsuta, Ancistrocladus tectorius dan Salacia korthalsiana. Lima INP tertinggi tumbuhan bawah, tingkat semai, pancang dan pohon disajikan pada Tabel 11. Famili yang mendominasi yaitu Myrtaceae dan dari genus Syzygium. Tabel 12 Indeks nilai penting tumbuhan di Rimba Habitus/ tingkat pertumbuhan No Nama Lokal Nama Ilmiah 1 2 Sekudong pelandok Akar larak Syzygium buxifolium Uvaria hirsuta 57.53 36.02 Tumbuhan bawah 3 4 5 Akar terong bulus Akar mencirian Lepang Ancistrocladus tectorius Salacia korthalsiana Alpinia oxymitra 30.47 27.24 20.79 Semai 1 2 3 4 5 Betor padi Samak Betor belulang Kelinsutan Sisilan Calophyllum depressinervosum Syzygium lepidocarpa Calophyllum lanigerum Syzygium decipiens Syzygium rostratum 55.97 39.80 21.57 16.52 6.43 Pancang 1 2 Samak Betor belulang Syzygium lepidocarpa Calophyllum lanigerum 25.03 23.60 3 4 5 Meleman Kelebantuian Jemang Psychotria malayana Syzygium eunera Rhodamnia cinerea 21.27 13.65 12.70 1 Samak Syzygium lepidocarpa 61.07 2 3 4 5 Seru Subalan Betor padi Medang miang Schima wallichii Elaeocarpus petiolatus Calophyllum depressinervosum Litsea firma 58.24 25.01 21.34 14.74 Pohon INP (%) Bebak Pada ekosistem Bebak, tingkat pertumbuhan pancang lebih dominan dibandingkan ekosistem lainnya. Nilai INP tertinggi yaitu Calophyllum lanigerum (18.2%). Tumbuhan bawah masih lebih tinggi jumlah dan kerapatannya dibandingkan Rimba, dengan jenis tumbuhan bawah yang paling dominan yaitu Alpinia oxymitra (64.11%). Nilai INP tumbuhan bawah dan setiap tingkat pertumbuhan pohon disajikan pada Tabel 12. 18 Tabel 13 Indeks nilai penting tumbuhan di Bebak Habitus/ tingkat pertumbuhan Tumbuhan bawah Semai Pancang Pohon No Nama Lokal Nama Ilmiah INP (%) 1 2 3 Lepang Sengkelut Keremuntingan Alpinia oxymitra Lycopodium cernuum Rhodomyrtus tomentosa 64.11 34.66 23.71 4 Sekudong pelandok Syzygium buxifolium 18.22 5 Akar ijau Hypserpa sp. 12.96 1 Pulas Guioa pleuropteris 32.95 2 Kelebantuian Syzygium eunera 23.68 3 Samak Syzygium lepidocarpa 18.05 4 Tenam Psychotria viridiflora 16.84 5 Seru Schima wallichii 11.39 1 Betor belulang Calophyllum lanigerum 18.20 2 Jemang Rhodamnia cinerea 16.26 3 Sesalah Eurya nitida 14.46 4 Kiras Garcinia hombroniana 13.72 5 Samak Syzygium lepidocarpa 12.05 1 Seru Schima wallichii 2 Samak Syzygium lepidocarpa 49.88 3 Kabal Lithocarpus blumeanus 27.96 4 Pelawan kiring Tristaniopsis obovata 23.53 5 Jering Archidendron pauciflorum 17.30 115.41 Padang Pada ekosistem Padang sangat didominasi oleh tumbuhan bawah, khususnya dari habitus herba (rumput-rumputan) dan hanya ditemukan satu spesies tingkat pohon. Selain rumput-rumputan juga ditemukan dua insektivora yang umum dijumpai di padang kerangas yaitu Nepenthes gracilis dan Drosera burmanni. Nilai INP tertinggi tumbuhan dan setiap tingkat pertumbuhan disajikan pada Tabel 13. Lahan pasca tambang < 100 tahun Pada ekosistem LPT < 100 tahun, jenis tumbuhan bawah yang mendominasi yaitu Fimbristylis sp (48.86%). Pada tingkat pancang jenis pionir Mallotus barbatus termasuk dalam lima INP tertinggi (Tabel 14). 19 Tabel 14 Indeks nilai penting tumbuhan di Padang Habitus/ tingkat pertumbuhan pohon Tumbuhan bawah Semai Pancang Pohon No Nama Lokal Nama Ilmiah INP (%) 1 Kerembun Paspalum vaginatum 41.84 2 3 Kucai Padang Akar segendai Fimbristylis sp. Coptosapelta tomentosa 40.12 22.21 4 Sapu padang Baeckea frutescens 21.13 5 Kembang taru Bromheadia finlaysoniana 18.33 1 Arang-arang Syzygium napiforme 86.44 2 Betor belulang Calophyllum lanigerum 61.35 3 Bebeti Syzygium zeylanicum 35.66 4 Pelawan kiring Tristaniopsis obovata 11.77 5 Gelam Malaleuca leucadendron 1 Pelawan kiring Tristaniopsis obovata 2 Gelam Malaleuca leucadendron 1 Perepat Combretocarpus rotundatus 4.78 146.43 53.57 300 Tabel 15 Indeks nilai penting tumbuhan di LPT < 100 tahun Habitus/ tingkat pertumbuhan pohon Tumbuhan bawah Semai Pancang Pohon No Nama Lokal Nama Ilmiah INP (%) 1 2 3 Kucai Padang Kerembun Keletaan Fimbristylis sp. Paspalum vaginatum Melastoma malabathricum 4 Beruta Dicranopteris linearis 8.96 5 Mensayat Scleria multifoliata 9.51 1 Gelam Malaleuca leucadendron 18.18 2 Bali adap Melodinus sp. 18.18 3 Sesalah Eurya nitida 9.09 4 Kelebantuian Syzygium eunera 9.09 5 Abu-abu Syzygium palembanicum. 9.09 1 Gelam Malaleuca leucadendron 42.14 2 Akasia Acacia mangium 35.48 3 Menteno Commersonia bartramia 24.52 4 Balik angin Mallotus barbatus 19.52 5 Bebeti Syzygium zeylanicum 19.52 1 Mentepongan Vernonia arborea 80.90 2 Akasia Acacia mangium 78.50 3 Jambu mete Anacardium occidentale 48.86 32.51 27.94 140.61 20 Lahan pasca tambang > 100 tahun Pada ekosistem LPT > 100 tahun, jenis tumbuhan bawah yang mendominasi yaitu semak Melastoma malabathricum (54.82%), kemudian jenis paku-pakuan Dicranopteris linearis (30.05%). Malaleuca leucadendron mendominasi di tingkat semai dan tingkat pancang (Tabel 15). Tabel 16 Indeks nilai penting tumbuhan di LPT > 100 tahun Habitus/ tingkat pertumbuhan pohon Tumbuhan bawah Semai Pancang Pohon No Nama Lokal Nama Ilmiah INP (%) 1 2 3 Keletaan Beruta Kerembun Melastoma malabathricum Dicranopteris linearis Paspalum vaginatum 54.82 30.05 28.42 4 Kucai Padang Fimbristylis sp. 25.15 5 Sengkelut Lycopodium cernuum 13.41 1 Gelam Malaleuca leucadendron 51.58 2 Pelawan kiring Tristaniopsis obovata 33.42 3 Renggadaian Ploiarium alternifolium 27.37 4 Simpor bini Dillenia suffruticosa 12.32 5 Arang-arang Syzygium napiforme 11.45 1 Gelam Malaleuca leucadendron 50.82 2 Pelawan kiring Tristaniopsis obovata 32.90 3 Renggadaian Ploiarium alternifolium 27.05 4 Simpor bini Dillenia suffruticosa 12.10 5 Arang-arang Syzygium napiforme 11.23 Tidak ada data Indeks keanekaragaman spesies (H’) Indeks keanekaragaman spesies tumbuhan bawah tertinggi yaitu di LPT < 100 tahun. Pada tingkat semai yaitu LPT > 100 tahun, tingkat pancang di Bebak dan tingkat pohon di Rimba (Gambar 8). Nilai H' 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 2.

Dokumen baru

Aktifitas terkini

Download (70 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

Studi Altitudinal Vegetasi Pohon dan Pole Serta Potensi Karbon Tersimpan di Jalur Pendakian Sigarang-Garang Hutan Gunung Sinabung, Kabupaten Karo
0
65
97
Informasi Kebakaran Hutan dan Lahan Berdasarkan Indeks Kekeringan dan Titik Panas di Kabupaten Samosir
1
44
75
Pemetaan Daerah Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara.
23
138
96
Kajian Erosi Tanah pada Hutan Rakyat, Lahan Agroforestri, dan Lahan Pertanian Semusim di Desa Bingkawan Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang
10
88
85
Identifikasi Iklim, Tanah dan Irigasi pada Lahan Potensial Pertanian di Kabupaten Deli Serdang
1
33
70
Karakteristik Kualitas Tanah Pada Beberapa Penggunaan Lahan di Kawasan Hulu DAS Padang Kabupaten Simalungun
10
76
56
Perbandingan Beberapa Sifat Fisik Tanah Pada Lahan Vegetasi Dan Non Vegetasi Di Tahura Bukit Barisan Kabupaten Karo
10
88
54
Keragaan Pertumbuhan Acacia Mangium Willd Pada Lahan Bekas Tambang Timah (Studi Kasus Di Areal Kerja PT. Timah tbk)
0
23
110
Dampak Kebakaran Hutan Terhadap Sifat Fisika dan Sifat Kimia Tanah di Kabupaten Samosir
5
102
73
Struktur dan Komposisi Vegetasi Pohon dan Potensi Karbon Tersimpan di Kawasan Hutan Gunung Sibuatan Kecamatan Merek Kabupaten Karo
1
37
89
Laporan Praktek Kerja Lapangan di Bagian Humas Kabupaten Belitung Timur
1
10
52
Pemanfaatan Lahan pada Lokasi Bekas Tambang Tanah Urug di Kecamatan Ngoro, Mojokerto
0
0
5
Perhitungan Soda Ash untuk Menetralkan Air Asam Tambang Pada Penambangan Bijih Timah di Area Nibung PT Kobatin, Provinsi Bangka Belitung
0
0
8
Studi Tingkat Keberhasilan Reklamasi Pada Lahan Bekas Tambang Tanah Urug di Kabupaten Kulon Progo
0
0
8
Aspek Lingkungan dan Sosial dalam Pembangunan Bidang Cipta Karya di Kabupaten Belitung Timur
0
0
29
Show more