Karakteristik Tanah dan Vegetasi di Hutan Kerangas dan Lahan Pasca Tambang Timah di Kabupaten Belitung Timur

 3  29  70  2017-05-22 05:47:50 Report infringing document
KARAKTERISTIK TANAH DAN VEGETASI DI HUTAN KERANGAS DAN LAHAN PASCA TAMBANG TIMAH DI KABUPATEN BELITUNG TIMUR DINA OKTAVIA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA* Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Karakteristik Tanah dan Vegetasi di Hutan Kerangas dan Lahan Pasca Tambang Timah di Kabupaten Belitung Timur adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, Desember 2014 Dina Oktavia NIM E451124021 RINGKASAN DINA OKTAVIA. Karakteristik Tanah dan Vegetasi di Hutan Kerangas dan Lahan Pasca Tambang Timah di Kabupaten Belitung Timur. Dibimbing oleh YADI SETIADI dan IWAN HILWAN. Pulau Belitung yang dikenal sebagai pulau penghasil timah terbesar kedua di Indonesia, terancam kelestarian ekosistem hutannya akibat kegiatan penambangan timah yang tidak ramah lingkungan. Hutan kerangas merupakan salah satu tipe ekosistem di Belitung yang sangat rentan terhadap gangguan. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh data dan informasi mengenai karakteristik tanah dan vegetasi di hutan kerangas dan lahan pasca tambang timah. Sampel tanah diambil secara komposit di hutan sekunder tua (Rimba), hutan sekunder muda (Bebak), vegetasi padang (Padang) dan dua lokasi lahan pasca tambang timah umur kurang dari 100 tahun dan lebih dari 100 tahun yang kemudian terbagi lagi menjadi beberapa cluster berdasarkan umur tailing. Vegetasi dianalisis dengan menggunakan modifikasi teknik kuadrat Oosting 1942. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa tanah tailing umur 3, 5, 15 dan 50 tahun masih mengandung pasir diatas 80%, sedangkan kandungan pasir pada tanah tailing umur 130 tahun sudah menurun dan mendekati tekstur tanah di hutan. Kandungan bahan organik yang rendah (< 2%) serta nilai KTK sangat rendah di tailing 3, 5, 15 dan 50 tahun menyebabkan pertumbuhan vegetasi menjadi sangat lambat. Kondisi ini juga didukung oleh komposisi mineral liat yang dominan yaitu kaolinit. Konsentrasi logam berat yang diukur masih dibawah ambang pencemaran lingkungan. Hasil analisis vegetasi diperoleh nilai keanekaragaman tertinggi tingkat semai di Bebak, untuk pancang dan pohon yaitu di Rimba, sedangkan tingkat tumbuhan bawah di lahan pasca tambang kurang dari 100 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada lahan pasca tambang masih dalam tahap suskesi di tingkat tumbuhan bawah, khususnya herba dan semak. Kesamaan komunitas antara dua lokasi lahan pasca tambang paling tinggi yaitu pada tingkat pancang (41.38%), sedangkan nilai IS tertinggi yaitu pada tingkat pancang di Rimba dan Bebak sebesar 54.54%. Beberapa spesies pionir yang berpotensi sebagai anakan alami untuk kegiatan restorasi, termasuk dalam famili Myrtaceae. Kesimpulan dari penelitian ini adalah karakteristik tanah di lahan pasca tambang timah bertekstur pasir, rendah unsur hara dan pertumbuhan vegetasi yang sangat lambat. Keanekaragaman tumbuhan di lahan pasca tambang lebih rendah dibandingkan di hutan. Penambahan bahan organik dan penanaman jenis pionir lokal yang bersifat katalitik perlu dilakukan pada kegiatan restorasi untuk mendukung suksesi alami. Kata kunci: hutan kerangas, karakteristik tanah, restorasi, spesies pionir SUMMARY DINA OKTAVIA. The Characteristic of Soil and Vegetation on Heath Forest and Post Tin Mined Land in East Belitung District. Supervised by YADI SETIADI and IWAN HILWAN. Belitung Island known as the second biggest tin producer in Indonesia, the forest ecosystem is now under immense of tin mining activity. Heath forest (kerangas forest) is one of forest ecosystem in Belitung which very fragile and vulnerable. The objectives of this research are to obtain the characteristic of soil properties and vegetation in heath forest and post tin minedland. Compossite soil sample was collected from old secondary heath forest (Rimba), young secondary heath forest (Bebak), padang vegetation (Padang), and two post tin minedlands (less than 100 years and more than 100 years) which devided into clusteres based on tailing age. Vegetation was analyzed by modification of square method Oosting 1942. The results show that in tailing 3, 5, 15 and 50 years still containt high amount of sand (>80%), meanwhile sand fraction in the tailing 130 years is quite decline and approaching to soil texture in the forest. The organic matter content and cation exchange capacity in tailing 3, 5, 15 and 50 years were very low which hindered the plant growth. This condition also supported from kaolinite as the dominant mineral composition. The concentration of heavy metal show the low amount and still less than ecological hazardous threshold. The results vegetation analysis obtained the highest species diversity index for seedling is in Bebak, sapling and tree are in Rimba, meanwhile for herbs is in post tin minedland less than 100 years. It shows that in the minedland is still under early succession stage which covered by herbs and shrubs. The highest similarity index among locations each others is between Rimba and Bebak for sapling (54.54%), between two post tin minedland also on sapling (41.38%). Some potential pioneers species were found as natural seedlings for restoration are Myrtaceae. The soil characteristic in post tin minedlands are sandy texture, low nutrient and slow rate of plant growth. The species diversity in post tin minedlands were lower than forest. Adding organic material and selecting native pioneer catalitic species would be better to improve the post tin minedland through restoration activity by natural succession approach. Keywords: kerangas forest, pioneer species, restoration, soil characteristic © Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB KARAKTERISTIK TANAH DAN VEGETASI DI HUTAN KERANGAS DAN LAHAN PASCA TAMBANG TIMAH DI KABUPATEN BELITUNG TIMUR DINA OKTAVIA Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Silvikultur Tropika SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 Penguji Luar Komisi Pembimbing pada Ujian: Dr Ir Basuki Wasis MS Judul Tesis : Karakteristik Tanah dan Vegetasi di Hutan Kerangas dan Lahan Pasca Tambang Timah di Kabupaten Belitung Timur Nama : Dina Oktavia NIM : E451124021 Disetujui oleh Komisi Pembimbing Dr Ir Yadi Setiadi, MSc Ketua Dr Ir Iwan Hilwan, MS Anggota Diketahui oleh Ketua Program Studi S2 Silvikultur Tropika Dekan Sekolah Pascasarjana Prof Dr Ir Sri Wilarso Budi R, MS Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr Tanggal Ujian:11 Desember 2014 Tanggal Lulus: PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2013 ini ialah restorasi hutan kerangas, dengan judul Karakteristik Tanah dan Vegetasi di Hutan Kerangas dan Lahan Pasca Tambang Timah di Kabupaten Belitung Timur. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ir Yadi Setiadi dan Bapak Dr Ir Iwan Hilwan selaku pembimbing. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Prof Shinya Funakawa, Assc Prof Hitoshi Shinjo dan Asst Prof Tetsuhiro Watanabe dari Laboratory of Soil Science dan Laboratory of Terrestrial Ecosystem Management, Universitas Kyoto Jepang, yang telah mendukung selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga dan rekan-rekan atas segala doa dan kasih sayangnya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, Desember 2014 Dina Oktavia DAFTAR ISI DAFTAR TABEL xii DAFTAR GAMBAR xii DAFTAR LAMPIRAN xiii 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian 1 2 3 4 4 2 METODE Waktu dan Tempat Penelitian Alat dan Bahan Prosedur Penelitian Prosedur Analisis Data 4 4 5 5 7 3 HASIL Deskripsi Lokasi Penelitian Sifat Fisika Tanah Sifat Kimia Tanah Komposisi dan Struktur Vegetasi 10 10 13 13 16 4. PEMBAHASAN Karakteristik Tanah Komposisi dan Struktur Vegetasi Vegetasi Pionir Lokal Potensial Teknik Pembenahan Tanah Lahan Pasca Tambang Timah 22 22 30 34 41 4 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran 43 43 44 DAFTAR PUSTAKA 44 LAMPIRAN 48 RIWAYAT HIDUP 56 DAFTAR TABEL 1. 2. 3. 4. 5. Lokasi penelitian Metode modifikasi BCR dengan tiga tahapan ekstraksi bertingkat Kriteria kondisi tanah Kriteria kondisi tanah bermasalah Batas minimum konsentrasi logam berat terhadap lingkungan ekologi 6. Tekstur tanah di setiap lokasi pengambilan contoh tanah 7. Hasil analisis beberapa sifat kimia tanah 8. Hasil analisis kandungan logam berat 9. Hasil analisis mineral liat di setiap lokasi 10. Potensi mikoriza di beberapa spesies di lokasi penelitian 11. Kerapatan individu di setiap lokasi penelitian 12. Indeks nilai penting tumbuhan di Rimba 13. Indeks nilai penting tumbuhan di Bebak 14. Indeks nilai penting tumbuhan di Padang 15. Indeks nilai penting tumbuhan di LPT < 100 tahun 16. Indeks nilai penting tumbuhan di LPT > 100 tahun 17. Nilai indeks kesamaan spesies antar komunitas 4 6 7 7 8 13 14 14 15 15 16 17 18 19 19 20 22 DAFTAR GAMBAR 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Peta lokasi penelitian. Ekosistem Rimba. Ekosistem Bebak. Ekosistem Padang. Lahan pasca tambang < 100 tahun. Lahan pasca tambang > 100 tahun. Jumlah spesies tumbuhan di setiap lokasi penelitian. Nilai H' setiap habitus dan tingkat pertumbuhan pohon di setiap lokasi. 9. Nilai R setiap habitus dan tingkat pertumbuhan pohon di setiap lokasi. 10. Nilai E setiap habitus dan tingkat pertumbuhan pohon di setiap lokasi. 11. Lapisan tanah warna hitam sebagai mineral augit. 12. Akar M. leucadendron yang tumbuh di atas permukaan tanah. 13. Beruta (D. linearis). 14. Keremuntingan (R. tomentosa) 15. Keletaan (M. malabathricum). 16. Gelam (M. leucadendron). 17. Sekudong pelandok (S. buxifolium). 18. Sapu padang (B. frutescens). 19. Arang-arang (S. napiforme). 20. Batang kayu pelawan (T. obovata). 21. Simpor bini (D. suffruticosa). 5 10 11 11 12 12 16 20 21 21 29 29 35 36 36 37 38 38 39 39 40 22. Batang pohon seru (S. wallichii). 40 DAFTAR LAMPIRAN 1. 2. 3. 4. Daftar nama spesies tumbuhan bawah di setiap lokasi penelitian Daftar nama spesies tingkat semai di setiap lokasi penelitian Daftar nama spesies tingkat pancang di setiap lokasi penelitian Daftar nama spesies tingkat pohon di setiap lokasi penelitian 48 50 52 55 1 PENDAHULUAN Kabupaten Belitung Timur merupakan salah satu kabupaten pemekaran yang terbentuk pada tahun 2003 berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Bangka Selatan, Bangka Tengah, Bangka Barat dan Belitung Timur di Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Secara geografis terletak antara 107°45’ BT – 108°18’ BT dan 02°30’ LS – 03°15’ LS. Luas Kabupaten Belitung Timur yaitu 2.506,91 km2 atau berkisar 250.691 hektar, terdiri dari 39 desa dari 7 kecamatan dengan jumlah penduduk 110.315 jiwa. Mayoritas masyarakat lokal bermata pencaharian di sektor pertanian, perkebunan dan pertambangan (BAPPEDAL 2011). Pulau Belitung merupakan salah satu pulau penghasil timah terbesar kedua di dunia setelah Pulau Bangka. Kedua pulau ini berada di jalur timah dunia (Van Bemmelen 1970). Deposit timah di Bangka dan Belitung merupakan deposit timah terbaik di dunia (Hess & Hess 1912) dengan deposit timah primer terbanyak yaitu di Pulau Belitung (Marheni 2008). Sejarah pertambangan timah di Pulau Belitung sudah dimulai sejak tahun 1800-an oleh pemerintah Belanda dengan teknik eksplorasi open tin mining. Lapisan tanah digali terlebih dahulu, kemudian pengupasan menggunakan pompa semprot bertenaga listrik dan bijih timah akan terendapkan karena perbedaan berat jenis. Pemisahan antara tailing dan bijih timah dilakukan dengan menggunakan sakhan (Widhiyatna et al. 2006). Penambangan timah dengan teknik tersebut berdampak pada lingkungan dan kelestarian ekosistem, diantaranya perubahan bentang alam, penurunan keanekaragaman hayati, pencemaran air dan sedimentasi. Cerukan-cerukan berisi air (kolong) bekas penambangan timah berpotensi mengandung kontaminan logam berat (Henny 2011). Tailing pasir pada lahan bekas tambang timah juga berpotensi meradiasikan unsur-unsur radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan manusia (Wahyudi 2003). Menurut Pratiwi (2010) berdasarkan analisis satuan kemampuan lahan kesuburan tanah di Belitung Timur, yaitu seluas 218.101 hektar lahan di Belitung Timur dalam kondisi buruk. Hal ini disebabkan oleh kegiatan penambangan timah yang tidak ramah lingkungan. Di sisi lain, kegiatan tersebut juga akan mengancam kelestarian 224 spesies tumbuhan di hutan kerangas yang 101 diantaranya berkhasiat sebagai obat (Oktavia 2012). Di sisi lain, masyarakat Melayu Belitung memiliki suatu sistem lansekap tradisional dalam mengelola ekosistem. Menurut Fakhrurrazi (2001), terdapat beberapa tipe ekosistem berdasarkan kearifan tradisional mereka antara lain ekosistem alami (Rimba, Padang, Ai’), ekosistem suksesi (Bebak, Bebak usang, Kelekak, Kelekak usang). Masyarakat juga membagi beberapa ekosistem yang dilarang untuk diolah karena berbahaya bagi keseimbangan ekosistem. Selain lansekap, masyarakat lokal juga membagi kondisi tanah ke dalam beberapa tipe seperti tana teraja (tanah podsolik yang banyak mengandung kuarsa), tana darat (tanah podsolik merah-kuning), tana amau (lahan basah, rawa atau daerah tepian sungai), tana kepo (tanah peralihan antara tana amau dan tana darat berwarna cokelat pucat), dan tana malangen (tanah peralihan yang berbatasan dengan tana teraja). Secara umum ekosistem hutan yang tumbuh di daratan Pulau Belitung dikenal dengan nama hutan kerangas. Hutan kerangas tumbuh di atas tanah 2 podsol, tanah pasir kuarsa miskin hara dan memiliki pH rendah (Brunig 1974; Whitmore 1984; Whitten et al. 1984; MacKinnon et al. 1992), dalam jumlah yang cukup luas dapat dijumpai di Pulau Bangka dan Belitung (Whitten et al. 1984). Konsorsium Revisi High Conservation Value (HCV) Toolkit Indonesia (2008) menegaskan bahwa hutan kerangas harus dipertahankan dalam kondisi alami dengan ditambah zona penyangga minimal satu kilometer, dimana kegiatan pemanfaatan harus seminimal mungkin dilakukan. Peran hutan kerangas sebagai kawasan hutan lindung dinilai dari jenis tanahnya dan fungsinya sebagai resapan air perlu dipertahankan sesuai dengan Keputusan Presiden No 32 tahun 1990 tentang pengelolaan kawasan lindung. Hutan kerangas sebagai suatu ekosistem yang sangat rentan terhadap gangguan ini, membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun dalam suksesi alami mendekati kondisi ekosistem semula (Whitten et al. 1984). Elfis (1998) diacu dalam Nurtjahya (2008) meyebutkan bahwa diperlukan waktu 150 tahun bagi lahan pasca tambang timah untuk kembali menjadi hutan kerangas. Oleh karena itu perlu adanya campur tangan manusia dalam mengembalikan komposisi vegetasi hutan kerangas dan fungsi ekosistem hutan kerangas melalui kegiatan restorasi. Pendekatan suksesi alami dalam restorasi dapat meningkatkan keanekargaman hayati dan memperbaiki kualitas tanah serta mendukung keberlanjutan ekosistem (Bradshaw 1997; Aronson & Alexander 2013). Setiadi (2012) menjelaskan bahwa dalam restorasi perlu mempertimbangkan aspek tanah dan vegetasi sebagai suatu informasi dasar dalam menentukan teknik pembenahan tanah yang tepat dan memilih spesies pionir yang menjadi katalisator dalam kolonisasi alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerangkan kondisi tanah dan vegetasi di hutan kerangas dan lahan pasca tambang timah sehingga dapat merumuskan teknik rehabilitasi lahan pasca tambang timah dengan pendekatan suksesi berdasarkan data lapangan. Latar Belakang Belitung Timur merupakan salah satu kabupaten pemekaran yang masih banyak membutuhkan ruang untuk pembangunan infrastruktur dan lahan-lahan untuk perkembangan sektor pertanian/ perkebunan dan pertambangan untuk menggerakkan perekonomian daerah. Ekosistem hutan kerangas di Belitung Timur terancam oleh beberapa intervensi manusia membangun perkebunan kelapa sawit, karet dan juga pertambangan timah, pasir kuarsa, bijih besi, dan kaolin. Pertambangan timah merupakan salah satu bentuk intervensi manusia yang sudah berlangsung ratusan tahun dengan mengeksploitasi sumberdaya timah di daratan. Desa Kelubi merupakan salah satu desa di Kabupaten Belitung Timur yang kondisi lansekapnya terdiri dari pemukiman, ekosistem hutan, perkebunan karet, kelapa sawit, lada, dan penambangan timah. Masyarakat lokal masih memegang kearifan lokal dalam mengolah lahan. Namun, dengan adanya intervensi dari luar, beberapa perusahaan perkebunan skala besar dapat masuk dan mengusahakan lahan hutan untuk dijadikan perkebunan dan pertambangan. Dampak dari kegiatan eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan ini telah dirasakan oleh masyarakat lokal khususnya dalam hal ketersediaan sumber air bersih yang sudah sulit dipenuhi. 3 Interaksi masyarakat Desa Kelubi dengan ekosistem hutan dapat dilihat dari pemanfaatan tumbuhan obat tradisional yang berasal dari dalam hutan. Ketua adat atau dukun kampung dan beberapa peramu obat tradisional khususnya memiliki interaksi yang erat terhadap ekosistem hutan. Namun kerusakan hutan akibat kegiatan penambangan timah telah menyisakan beberapa lahan marginal yang tidak produktif serta berkurangnya sumberdaya hutan. Untuk mendukung kelestarian eksosistem hutan kerangas yang merupakan salah satu ekosistem hutan dalam status rawan (vulnerable) di dunia (WWF 2014) dan mendukung interaksi masyarakat terhadap sumberdaya hutan, maka perlu adanya upaya restorasi hutan kerangas di lahan pasca tambang timah. Informasi mengenai kondisi tanah dan vegetasi merupakan dua aspek penting dalam menentukan teknik restorasi yang tepat, sehingga penting dilakukan sebuah penelitian dasar tentang karakteristik tanah dan vegetasi di hutan kerangas dan lahan pasca tambang timah. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam penelitian selanjutnya terkait percobaan tanam untuk tujuan restorasi di lahan pasca tambang timah. Perumusan Masalah Kondisi lahan pasca tambang timah di Bangka dan Singkep yang berumur kurang dari 100 tahun yang dibiarkan mengalami suksesi alami tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan dalam beberapa aspek fisika maupun kimia tanah dan juga kondisi vegetasinya (Badri 2004; Nurtjahya 2008). Penelitian ini mengambil dua lokasi lahan pasca tambang yang berumur kurang dari 100 tahun dan lebih dari 100 tahun. Perbedaan lokasi diduga dapat menjadi sebuah kemungkinan terjadinya perbedaan kondisi sifat tanah dan vegetasi meskipun memiliki permasalahan yang sama akibat kegiatan penambangan timah, sehingga perlu dilakukan kajian terkait karakteristik tanah di lahan pasca tambang timah di Belitung. Ekosistem hutan kerangas menjadi suatu standar kualitatif dari kondisi yang belum terganggu oleh kegiatan penambangan timah. Dikarenakan sulitnya ditemukan ekosistem hutan yang masih primer maka dipilihlah tiga tipe ekosistem hutan kerangas yang menjadi bagian dari lansekap tradisional masyarakat lokal yaitu Rimba (hutan kerangas sekunder campuran), Bebak (hutan bekas ladang) dan Padang (ekosistem disklimaks hutan kerangas yang berupa padang rumput dan beberapa semak). Kajian karakteristik tanah dan vegetasi di tiga lokasi ini dapat menjadi bahan pembanding terhadap ekosistem lahan pasca tambang timah dari sifat tanah dan komposisi vegetasinya. Berkaitan dengan penjelasan di atas, adapun pertanyaan yang ingin dijawab oleh penulis yaitu: 1) bagaimana karakteristik tanah di hutan kerangas dan lahan pasca tambang timah ditinjau dari sifat fisika dan kimia tanahnya, 2) bagaimana komposisi vegetasi di hutan kerangas dan lahan pasca tambang timah, 3) apa saja spesies yang berpotensi menjadi pionir dan bersifat katalitik untuk mendukung proses suksesi alami dan 4) bagaimana teknik pembenahan tanah yang dapat direkomendasikan untuk kegiatan restorasi. 4 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan karakteristik tanah di hutan kerangas dan lahan pasca tambang timah, 2) mengidentifikasi komposisi vegetasi di hutan kerangas dan lahan pasca tambang timah, 3) mengidentifikasi spesies pionir potensial dan 4) merekomendasikan teknik pembenahan tanah yang dapat dilakukan. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah sebagai bahan acuan dalam mengambil tindakan teknik restorasi yang tepat di lahan pasca tambang timah di kabupaten Belitung Timur. Selain itu juga menjadi informasi dasar dalam menentukan teknik rehabilitasi atau revegetasi di lahan pasca tambang timah baik untuk tujuan konservasi maupun produksi. 2 METODE Penelitian ini bersifat survei lapangan yang dirancang untuk mengeksplorasi dan mendeskripsikan setiap lokasi berdasarkan kriteria yang ditentukan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan menetapkan konsep suksesi alami dan restorasi sebagai pendekatan dalam pembahasan kondisi tanah dan vegetasi di lokasi penelitian. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2013 – Agustus 2014. Pengambilan sampel tanah dan analisis vegetasi dilakukan di Desa Kelubi Kecamatan Manggar Kabupaten Belitung Timur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dipilih lima lokasi, antara lain: 1) hutan kerangas sekunder tua (Rimba), 2) hutan kerangas sekunder muda (Bebak), 3) vegetasi padang (Padang), 4) lahan pasca tambang timah (LPT) kurang dari 100 tahun (area KP PT Timah) dan 5) lahan pasca tambang timah (LPT) lebih dari 100 tahun (area Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR)). Semua lokasi berada dalam status area penggunaan lain (APL) (Tabel 1). Daerah penelitian disajikan pada Gambar 1. Tabel 1 Lokasi penelitian No 1 2 3 4 5 Lokasi Rimba Bebak Padang KP PT Timah (LPT<100 th) WPR (LPT>100 th) Posisi Geografis 02º48’1,60” LS dan 108º08’16,5” BT 02º50’10,9” LS dan 108º09’20,8” BT 02º52’53,0” LS dan 108º09’52,9” BT 02º49’20,1” LS dan 108º11’35,3” BT 02º52’41,3” LS dan 108º08’16,1” BT Status APL APL APL APL APL 5 Gambar 1 Peta lokasi penelitian. Alat dan Bahan Peralatan yang digunakan dalam pengambilan sampel tanah dan vegetasi di lapangan meliputi: 1) peralatan pengambilan sampel tanah komposit (bor tanah, plastik sampel, label, spidol), 2) peralatan analisis vegetasi dan pembuatan herbarium (meteran 20 m, meteran jahit, tali rafia, parang, plastik sampel herbarium, label, spidol, alkohol) dan 3) peralatan dokumentasi (Global Position System (GPS), kamera, buku catatan dan alat tulis). Peralatan untuk analisis logam berat dilakukan dengan menggunakan mesin Inductively Coupled Plasma–Atomic Emission Spectrometry (ICP-AES) ICPE-9000. Analisis mineral liat dilakukan dengan menggunakan mesin X-Ray Diffraction MiniFlex 600. Prosedur Penelitian Pengambilan sampel tanah komposit Contoh tanah komposit diambil dengan menggunakan teknik cluster sampling (Suganda et al. 2006). Contoh cluster dipilih secara purposive, dikarenakan kondisi lahan di setiap lokasi lahan pasca tambang tidak homogen, maka pada setiap LPT dibagi ke dalam beberapa cluster. Adanya penambangan ulang di lokasi lahan pasca tambang, sehingga memengaruhi umur suksesi setiap cluster. Pembagian cluster berdasarkan tutupan vegetasi dominan di atasnya. Di LPT < 100 tahun dibagi menjadi dua cluster yaitu pasir (tailing 5 tahun) dan semak (tailing 50 tahun). Pada LPT > 100 tahun dibagi menjadi tiga cluster yaitu pasir (tailing 3 tahun), semak (tailing 15 tahun) dan hutan (tailing 130 tahun). Pada lokasi Rimba, Bebak dan Padang hanya terdapat satu cluster karena relatif homogen dalam satu hamparan. Contoh tanah berupa contoh tanah komposit seberat 600 gram yang diambil dari lima sub contoh tanah di setiap cluster di 6 setiap lokasi. Kedalaman pengambilan sampel tanah yaitu 0–20 cm (1) dan 20–40 cm (2). Pengambilan contoh akar dan rizosfir Pengambilan contoh akar untuk megetahui ada tidaknya asosiasi antara fungi mikoriza arbuskula (FMA) dengan akar tumbuhan. Contoh tanah yang berada di sekitar rambut akar (rizosfer) diambil untuk dianalisis potensi FMA di sekitar vegetasi tersebut. Contoh akar diambil dari tiga vegetasi dominan di dalam plot analisis vegetasi pada kedalaman 0–20 cm. Total panjang akar yang diambil yaitu 10–20 cm setiap jenisnya. Contoh tanah komposit dari sekitar akar tiga vegetasi dominan dan 4 titik rizosfir. Jumlah tanah yang diambil sebanyak 300– 500 g setelah dikompositkan. Analisis tanah Analisis tanah meliputi tekstur tanah (proporsi pasir, debu dan liat), pH, C organik (Walkley & Black), N total (Kjeldhal), P tersedia (Bray l), P total (HCl 25%), Kapasitas Tukar Kation (KTK), Ca, Mg, Na,K (N NH4OAc pH 7,0), Kejenuhan Basa (KB), Al, H (N KCl), Fe, Mn (0.05 N HCl) dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB. Analisis logam berat (Cd, Cr, Cu, Ni, Pb, Zn) dan analisis mineral liat dilakukan di Laboratory of Soil Science, Kyoto University. Analisis logam berat dan mineral liat menggunakan sampel tanah 0–20 cm. Analisis logam berat dilakukan dengan metode modifikasi BCR tiga tahapan ekstraksi bertingkat (Rauret et al. 1999) (Tabel 2). Analisis mineral liat dilakukan dengan teknik X-Ray Diffraction (Whittig & Allardice 1986). Tabel 2 Metode modifikasi BCR dengan tiga tahapan ekstraksi bertingkat Step 1 Target Spesies yang mudah larut, karbonat, pertukaran kation Pelarut Acetic Acid 0.11 M 2 Fraksi Dapat dipertukarkan, larut dalam air dan asam Dapat tereduksi Besi oksida dan Mangan oksida 3 Dapat teroksidasi Bahan organik dan sulfida Hydroxylammonium Chloride 0.5 M Hydrogen Peroxyde 8.8 M dikuti oleh Ammonium Acetate 1 M Analisis kolonisasi fungi mikoriza arbuskula (FMA) menggunakan metode Wet Sieving Decanting atau penyaringan basah (Brundrett et al. 1996) yang telah dimodifikasi. Taksonomi genus FMA dilakukan berdasar performa morfologi spora dan merujuk http:invam.caf.wvu.edu. Analisis FMA dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Hutan PPSHB IPB. Pengambilan data vegetasi Analisis vegetasi dilakukan di lima lokasi (Rimba, Bebak dan Padang, LPT < 100 tahun dan LPT > 100 tahun) dengan menggunakan modifikasi teknik pengambilan contoh kuadrat oleh Oosting 1942 (Soerianegara & Indrawan 2008) dengan ukuran petak contoh 10 m × 10 m sebanyak 20 petak contoh (Nurtjahya 2008) dan jarak antar petak contoh 20 m. Perisalahan komposisi vegetasi 7 dilakukan terhadap tiga fase pertumbuhan (semai, pancang dan pohon) dan habitus tumbuhan bawah (herba, semak, perdu, liana) dengan kriteria sebagai berikut; a. Petak ukur semai 1 m × 1 m, yaitu anakan dengan tinggi ≤ 1.5 m semai dan tumbuhan bawah (herba, semak, perdu, liana). b. Petak ukur pancang 5 m × 5 m, yaitu anakan dengan tinggi > 1.5 m dan diameter setinggi dada < 10 cm. c. Petak ukur pohon 10 m × 10 m, batang berdiameter ≥ 10 cm. Prosedur Analisis Data Tanah Hasil analisis tanah dinilai berdasarkan kriteria kondisi tanah (Landon 1986) (Tabel 3). Permasalahan tanah dinilai menurut kriteria penilaian tanah bermasalah (Setiadi 2012) (Tabel 4). Kandungan logam berat dinilai berdasarkan standar Ecological Investigation Level yang disajikan pada Tabel 5 (DEC 2010). Tabel 3 Kriteria kondisi tanah Komponen C-Organik N-Total P-Bray 1 K Ca Mg Fe Cu Mn Zn Al Kapasitas Tukar Kation (KTK) Kejenuhan Basa pH Satuan % % ppm mek 100 g-1 mek 100 g-1 mek 100 g-1 ppm ppm ppm ppm % mek 100 g-1 % - Tinggi Sedang Rendah ≥ 10 >4 ≤4 > 0.5 > 0.2 ≤ 0.2 > 20 >7 < 7 > 0.5 ≥ 0.25 < 0.25 ≥ 10 >4 ≤4 ≥ 1.5 > 0.8 ≤ 0.4 Kekurangan pada 2 Kekurangan pada 0.2 Kekurangan pada 5 – 9 Kekurangan pada 1 – 7.5 > 60 ≤ 60 < 40 ≥ 25 > 15 ≤ 15 > 60 > 20 ≤ 20 > 7.0 ≥ 5.5 < 5.5 Sangat rendah <2 < 0.1 <3 ≤ 0.15 < 0.2 < 20 <5 - Tabel 4 Kriteria kondisi tanah bermasalah Parameter pH Kekompakan tanah Al Fe KTK KB Ca dan Mg Pasir Kriteria <3 Debu dan liat >70% > 60% / > 3 mek 100 g-1 12000 ppm <16 mek 100 g-1 < 20% Ca < Mg Pasir > 80 % Efek terhadap pertumbuhan Asam, keracunan Al dan Fe Stagnasi, perkembangan akar terhambat Akar keriting, stagnasi Gangguan akar, stagnasi Stagnasi Pertumbuhan lambat Stagnasi Stagnasi 8 Tabel 5 Batas minimum konsentrasi logam berat terhadap lingkungan ekologi Unsur Konsentrasi (mg kg -1) Cd 3 Cr 400 Cu 100 Ni 60 Pb Zn 100 200 Komposisi dan Struktur Vegetasi Data yang diperoleh dari hasil analisis vegetasi akan dianalisis secara kuantitatif dengan menghitung Indeks Nilai Penting setiap spesies yang ditemukan.  Kerapatan (K) :  Kerapatan Relatif (KR) :  Dominansi (D)  Dominansi Relatif (DR) :  Frekuensi (F)  Frekuensi Relatif (FR)  : : : mlah indi id pe ie tertent l a el r h petak contoh erapatan pe ie tertent 100 erapatan el r h pe ie mlah l a idang da ar pe ie tertent l a el r h petak contoh ominan i pe ie tertent 100 ominan i el r h pe ie mlah petak contoh ditem kan pe ie tertent j mlah el r h petak contoh rek en i pe ie tertent rek en i el r h pe ie 100 Indeks Nilai Penting (INP) : INP = KR + FR (untuk semai dan pancang) INP = KR + FR + DR (untuk pohon) Nilai penting merupakan penjumlahan dari kerapatan relatif, frekuensi relatif dan dominansi relatif, yang berkisar antara 0 dan 300 (Mueller-Dombois & Ellenberg 1974). Untuk tingkat pertumbuhan sapihan dan semai merupakan penjumlahan kerapatan relatif dan frekuensi relatif, sehingga maksimum nilai penting adalah 200. Keanekaragaman spesies tumbuhan ditentukan dengan menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon (Ludwig & Reynolds 1988) dengan rumus: ni ∑ pi ln pi dimana pi N i 1 Keterangan: ’ Indek eanekaragaman pe ie ni = Nilai penting spesies ke-i N = Total nilai penting semua spesies Makin e ar ’ at komunitas maka semakin mantap pula komunitas tersebut. H’ maksimal bila semua spesies mempunyai jumlah individu yang sama 9 dan ini menunjukkan kelimpahan terdistribusi secara sempurna (Ludwig & Reynolds 1988). Kekayaan spesies diukur dengan menggunakan Indeks Margalef (1958) diacu dalam Ludwig dan Reynolds (1988), yaitu: S 1 ln N Keterangan: R : Indeks kekayaan spesies S : Jumlah spesies N : Jumlah individu Kemerataan spesies digunakan untuk mengetahui gejala dominansi diantara setiap spesies dalam suatu lokasi. Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai Evennes (Ludwig & Reynolds 1988). Nilai E yang mendekati satu menunjukkan distribusi jumlah individu setiap spesies hampir sama. ’ ln S Keterangan E : Indeks kemerataan spesies ’ : Indeks keanekaragaman spesies S : Jumlah spesies Indeks kesamaan komunitas dihitung untuk membandingkan keanekaragaman spesies antara dua komunitas yang berbeda. Nilai IS teringgi 100% dan terendah 0%, semakin mendekati 100% komunitas tumbuhan yang dibandingkan semakin identik (Odum 1993). IS 2 a 100 Keterangan: IS = Index of Similarity atau Indeks Kesamaan Komunitas (%) C = Jumlah spesies yang sama dan terdapat pada kedua komunitas a = Jumlah spesies di dalam komunitas A b = Jumlah spesies di dalam komunitas B Identifikasi Spesies Pionir Potensial Kriteria penentuan spesies pionir potensial dilihat dari tingkat adaptability di lapangan, jenis pionir cepat tumbuh, ketersediaan bahan tanaman, bersimbiosis dengan mikroba potensial dan bersifat pionir katalitik (Setiadi 2014). Teknik Restorasi Perumusan teknik restorasi dilakukan dengan menelaah literatur terkait pembenahan tanah pada permasalahan tanah yang teridentifikasi. 10 Hasil analisis tanah dan pengolahan data vegetasi disajikan dalam tabel, diagram dan gambar. Data dan informasi dianalisis dan diinterpretasikan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. 3 HASIL Deskripsi Lokasi Penelitian Hutan kerangas sekunder tua (Rimba) Rimba merupakan ekosistem hutan kerangas sekunder tua yang tumbuh di kaki Gunung Bolong, Desa Kelubi dan berbatasan dengan lahan perkebunan kelapa sawit (Gambar 2). Secara geologi, kawasan Rimba termasuk dalam formasi Granodiorit Burung Mandi. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan granodiorit (Pratiwi 2010). Berdasarkan data atribut peta kawasan hutan di Kabupaten Belitung Timur, Rimba berada pada daerah dataran dengan batuan induk batuan sedimen kasar masam dan kelerengan < 8%. Rimba termasuk dalam kelas penutupan lahan sebagai hutan lahan kering dengan > 75% ditutupi oleh vegetasi dan dalam kategori tidak kritis (Distanhut 2012). Gambar 2 Ekosistem Rimba. Hutan kerangas sekunder muda (Bebak) Bebak merupakan ekosistem hutan kerangas sekunder muda yang tumbuh di lahan bekas perladangan yang berumur 10 tahun di atas tanah milik masyarakat dan berbatasan dengan lahan perkebunan karet (Gambar 3). Secara geologi, termasuk dalam formasi Kelapa Kampit. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan batupasir, batuserpih, batulempung dan batulumpur (Pratiwi 2010). Berdasarkan data atribut peta kawasan hutan di Kabupaten Belitung Timur, Bebak berada pada daerah dataran dengan batuan induk batuan sedimen kasar masam dan kelerengan < 8%. Bebak termasuk dalam kelas penutupan lahan sebagai semak belukar dengan 26–50% ditutupi oleh vegetasi dan dalam kategori agak kritis (Distanhut 2012). 11 Gambar 3 Ekosistem Bebak. Vegetasi padang (Padang) Padang merupakan ekosistem hutan kerangas yang mengalami disklimaks, sehingga berupa hamparan padang rumput yang sulit untuk tumbuh menjadi hutan kembali (Gambar 4). Lokasi padang berbatasan dengan lahan perkebunan karet dan kelapa sawit. Secara geologi, kawasan termasuk dalam formasi Kelapa Kampit. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan batupasir kuarsa (Pratiwi 2010). Berdasarkan data atribut peta kawasan hutan di Kabupaten Belitung Timur, Padang beradapada daerah dataran dengan batuan induk batuan sedimen kasar masam dan kelerengan < 8%. Padang termasuk dalam kelas penutupan lahan sebagai semak belukar dengan 26–50% ditutupi oleh vegetasi dan dalam kategori agak kritis (Distanhut 2012). Gambar 4 Ekosistem Padang. Lahan pasca tambang timah kurang dari 100 tahun (LPT < 100 tahun) Pada lokasi LPT < 100 tahun terdapat dua cluster tanah dilihat dari tingkat suksesinya antara lain cluster pasir (tailing umur 5 tahun) dan cluster vegetasi semak (tailing umur 50 tahun) (Gambar 5). Secara geologi, kawasan termasuk dalam formasi Diorit Kuarsa Batubesi. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan diorit kuarsa batubesi (Pratiwi 2010). Berdasarkan data atribut peta kawasan hutan di Kabupaten Belitung Timur, LPT < 100 tahun berada pada daerah dataran dengan batuan induk batuan sedimen kasar masam dan kelerengan < 8%. LPT < 12 100 tahun termasuk dalam kelas penutupan lahan sebagai lahan terbuka dengan 0% penutupan vegetasi dan dalam kategori kritis (Distanhut 2012). Gambar 5 Lahan pasca tambang < 100 tahun. Lahan pasca tambang timah lebih dari 100 tahun (LPT > 100 th) Pada lokasi LPT > 100 tahun terdapat tiga cluster tanah dilihat dari tingkat suksesinya antara lain cluster pasir (tailing umur 3 tahun), cluster vegetasi semak (tailing umur 15 tahun) dan cluster vegetasi hutan (tailing umur 130 tahun) (Gambar 6). Secara geologi, kawasan termasuk dalam formasi Kelapa Kampit. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan batupasir (Pratiwi 2010). Berdasarkan data atribut peta kawasan hutan di Kabupaten Belitung Timur, LPT > 100 tahun berada pada daerah dataran dengan batuan induk batuan sedimen kasar masam dan kelerengan < 8%. LPT > 100 tahun termasuk dalam kelas penutupan lahan sebagai lahan terbuka dengan 0% penutupan vegetasi dan dalam kategori kritis (Distanhut 2012). Gambar 6 Lahan pasca tambang > 100 tahun. 13 Sifat Fisika Tanah Tekstur tanah Hasil analisis tekstur tanah di setiap cluster tanah di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 6. Tekstur tanah di tailing 130 th yaitu lempung berpasir (0– 20 cm) dan lempung liat berpasir (20–40 cm). Perkembangan tanah telah terjadi sehingga menghasilkan jumlah liat yang lebih tinggi dibandingkan tailing lainnya. Tekstur tanah di tailing 130 tahun (20–40 cm) sama dengan tekstur tanah di hutan (0–20 cm) yaitu lempung liat berpasir. Tabel 6 Tekstur tanah di setiap lokasi pengambilan contoh tanah Cluster Rimba Bebak Padang TL 3 tahun TL 5 tahun TL 15 tahun TL 50 tahun TL 130 tahun Kedalaman (cm) 0–20 20–40 0–20 20–40 0–20 20–40 0–20 20–40 0–20 20–40 0–20 20–40 0–20 20–40 0–20 20–40 Pasir 52.94 48.02 77.94 73.80 91.12 91.42 96.96 95.72 93.31 80.03 91.69 94.01 88.36 78.73 70.85 71.08 Fraksi (%) Debu 10.19 1.99 4.28 3.75 5.04 2.40 1.32 2.45 3.71 13.33 7.09 3.97 7.13 13.96 17.80 21.56 Liat 36.87 49.99 17.78 28.45 3.84 6.18 1.72 1.83 2.98 6.64 1.22 2.02 4.51 7.31 11.35 7.36 TL : Tailing Sifat Kimia Tanah Hasil analisis sifat kimia tanah di setiap cluster tanah di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 7. Secara umum, nilai pH dalam kisaran 4–6.3, kandungan ahan organik ≤ 2 , kand ngan nitrogen ≤0.2 , kand ngan fo for ter edia berkisar 4.3–9.5 ppm, kandungan Ca, Mg, K dan Na masing-ma ing ≤ 0.5 me/100 g, nilai KTK berkisar 0.6–8.05 me/100 g, nilai KB berkisar 8.07–71.7%, kandungan Al dari tidak terdeteksi hingga kisaran 0.2-1.4 me/100 g dan kandungan Fe (2.12–54.80 ppm) dan Mn (0.11–3.13 ppm). Hasil analisis logam berat di setiap cluster tanah di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 8. Kandungan logam berat tertinggi dari semua lokasi yaitu unsur Cr (3.615 mg/kg) di Rimba. Unsur Cd tidak terukur pada sampel tanah, sedangkan unsur Pb hanya terukur pada lokasi Padang. Hasil analisis komposisi mineral liat disajikan pada Tabel 9. Mineral kaolinit mendominasi di antara mineral lainnya di setiap lokasi. Pada lokasi Padang tidak dapat dilakukan pengambilan contoh liat sehingga tidak dilakukan analisis mineral liat. 14 H2O P (%) 0.2 0.05 N HCl N N KCl HCl 25% C Bray I Kjeldhal pH 1:1 W. & B. Kedalaman (cm) Lokasi Penelitian Tabel 7 Hasil analisis beberapa sifat kimia tanah NNH4OAc pH 7.0 KB Ca Mg K Na (ppm) 7.8 76.2 0.5 (mek 100 g-1) 0.2 0.2 0.5 KTK Al H Fe 5.8 (%) 23.8 (mek 100 g-1) 1.4 0.4 22 Zn Mn Rimba 0–20 4.7 (%) 2.0 Rimba 20–40 5.2 1.1 0.1 4.3 44.6 0.5 0.2 0.1 0.2 6.8 13.2 0.8 0.2 20 1.1 3.1 Bebak 0–20 4.9 1.2 0.1 6.2 59.5 0.4 0.2 0.1 0.1 5.6 14.2 1.4 0.4 9 1.1 1.5 Bebak 20–40 5.0 1.1 0.1 4.5 44.6 0.4 0.1 0.1 0.1 8.0 8.1 1.1 0.2 23 1.1 1.8 Padang 0–20 5.1 0.4 0.0 6.0 59.5 0.3 0.1 0.1 0.1 1.2 47.1 0.2 0.2 3 1.2 0.1 Padang 20–40 5.0 0.1 0.0 5.2 51.2 0.3 0.1 0.0 0.1 2.0 24.4 tr 0.2 2 1.3 0.3 TL 3 tahun 0–20 6.0 0.1 0.0 9.0 89.4 0.3 0.1 0.0 0.1 0.6 71.7 tr 0.2 54 1.3 0.1 TL 3 tahun 20–40 6.3 0.1 0.0 6.9 67.8 0.3 0.1 0.0 0.1 0.8 55.0 tr 0.2 30 0.9 0.1 TL 5 tahun 0–20 6.1 0.2 0.0 5.2 50.5 0.3 0.1 0.0 0.1 2.0 24.4 tr 0.2 8 0.8 0.2 TL 5 tahun 20–40 5.0 0.1 0.0 4.3 42.9 0.3 0.1 0.1 0.1 2.4 22.4 tr 0.2 26 0.9 0.7 TL 15 tahun 0–20 5.2 0.2 0.0 9.5 92.5 0.3 0.1 0.0 0.0 2.0 22.9 0.2 0.2 7 0.9 0.4 TL 15 tahun 20–40 5.4 0.3 0.0 7.4 71.1 0.4 0.1 0.0 0.1 0.8 64.3 0.2 0.2 10 1.1 0.4 TL 50 tahun 0–20 5.4 0.2 0.0 8.9 89.4 0.5 0.1 0.0 0.1 2.4 27.0 0.2 0.2 2 1.1 0.5 TL 50 tahun 20–40 5.3 0.4 0.0 6.0 59.5 0.3 0.1 0.0 0.1 2.8 15.2 0.6 0.4 3 1.0 0.2 TL 130 tahun 0–20 4.5 1.2 0.1 5.7 54.5 0.4 0.2 0.1 0.1 6.0 11.6 1.4 0.4 8 1.2 0.4 TL 130 tahun 20–40 4.0 1.8 0.2 4.5 44.6 0.3 0.1 0.3 0.3 5.4 19.7 1.0 0.4 7 1.0 0.2 TL : Tailing, tr: tidak terukur Tabel 8 Hasil analisis kandungan logam berat Lokasi Cd Cr Rimba tr 3.615 (3) Bebak tr 2.235 (3) Padang tr 0.06 (3) TL 3 tahun tr 0.255 (3) TL 5 tahun tr 0.525 (3) TL 15 tahun tr 0.39 (3) TL 50 tahun tr 0.705 (3) TL 130 tahun tr 0.45 (3) tr : tidak terukur (1) : terukur pada step 1 (fraksi mobile) (2) : terukur pada step 2 (fraksi oksida) (3) : terukur pada step 3 (fraksi organik) Konsentrasi (mg kg-1) Cu Ni 2.728 (2) 0.372 (1) 0.592 (1) 0.628 (1) 1.008 (1) 0.06 (1) 2.524 (2) 0.76 (1) 1.12 (1) 0.268 (1) 1.236 (1) 0.348 (1) 1.064 (2) 0.236 (1) 1.452 (2) 0.428 (1) Pb tr tr 0.988 (1) tr tr tr tr tr Zn 1.616(1) 0.83 (3) 0.38(1) 0.175 (3) 0.248 (1) 0.365 (3) 0.4 (3) 0.46 (1) (ppm) 1.1 2.7 15 Tabel 9 Hasil analisis mineral liat di setiap lokasi Mineral Lokasi Kuarsa Ortoklas Microkline Vermikulit Illit Kaolinit Gibsit Hutan - - - + + ++ ++ Bebak - - - + - ++ ++ TL 3 tahun ± + ± - ++ ++ + TL 5 tahun - - - ± + ++ + TL 15 tahun ± ± ± + + ++ + TL 50 tahun ± - - + + ++ + TL 130 tahun + + + + ++ ++ ± ++ : sangat jelas, + : jelas, ± : tidak jelas, - : tidak terukur Potensi fungi mikoriza arbuskula (FMA) Hasil analisis fungi mikoriza arbuskula pada beberapa tumbuhan pionir yang dominan di lokasi penelitian disajikan pada Tabel 10. Kolonisasi FMA pada sampel akar hanya ditemukan di beberapa spesies antara lain pada B. frutescens di Padang terdapat 29.1% kolonisasi Glomus sp.3, pada Fimbristylis sp. di Padang terdapat 25.8% kolonisasi Glomus sp.2 dan Glomus sp.5 dan pada Rhodamnia cinerea di Bebak terdapat 60% kolonisasi Glomus sp.6. Tabel 10 Potensi mikoriza di beberapa spesies di lokasi penelitian No 1 Nama ilmiah Dillenia suffruticosa Baeckea frutescens Melastoma malabathricum Rhodomyrtus tomentosa Rimba 5 Tristaniopsis obovata Glomus sp.1 Glomus sp.7 6 Calophyllum lanigerum Glomus sp.2 7 Fimbristylis sp. 8 Rhodamnia cinerea 2 3 4 Bebak Padang LPT<100 tahun Glomus sp.4 Glomus sp.3 Gigaspora sp.1 Glomus sp.6 Glomus sp.5 Glomus sp.7 Acaulospora sp.1 Glomus sp.1 Glomus sp.2 Glomus sp.9 Glomus sp.6 Gigaspora sp.2 Glomus sp.1 Glomus sp.3 Gigaspora sp.3 Glomus sp.9 Glomus sp.2 Glomus sp.5 Glomus sp.2 Glomus sp.8 LPT>100 tahun Glomus sp.3 16 Komposisi dan Struktur Vegetasi jumlah spesies Jumlah spesies Jumlah spesies tumbuhan yang teridentifikasi disajikan pada Gambar 7. Jumlah spesies tumbuhan bawah tertinggi yaitu di LPT < 100 tahun (17 spesies). Jumlah spesies semai tertinggi yaitu di Bebak (29 spesies). Jumlah spesies pancang tertinggi yaitu di Rimba dan Bebak (42 spesies). Jumlah spesies pohon tertinggi yaitu di Rimba (24 spesies). 42 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 42 29 25 24 12 14 13 9 8 5 Rimba 18 19 17 Bebak Tumbuhan bawah 3 2 1 Padang Lokasi Semai 14 11 0 LPT < 100 th LPT > 100 th Pancang Pohon Gambar 7 Jumlah spesies tumbuhan di setiap lokasi penelitian. Kerapatan individu Nilai kerapatan individu tumbuhan di setiap lokasi disajikan pada Tabel 10. Ekosistem Rimba relatif lebih rapat dibandingkan ekosistem lainnya, sehingga kehadiran tumbuhan bawah tidak sebanyak di ekosistem yang relatif terbuka. Tabel 11 Kerapatan individu di setiap lokasi penelitian Lokasi Kerapatan individu (ind/ha) Tumbuhan bawah Semai Pancang Pohon Hutan 31.000 288.000 18.900 470 Bebak 57.000 165.000 21.880 340 Padang 462.500 93.000 1.400 10 LPT < 100 tahun 256.000 30.500 1.680 30 LPT > 100 tahun 205.500 45.600 4.600 0 17 Dominansi spesies Rimba Indeks nilai penting (INP) tumbuhan bawah tertinggi yaitu Syzygium buxifolium (57.53%) dari habitus semak, kemudian diikuti oleh tiga jenis liana yaitu Uvaria hirsuta, Ancistrocladus tectorius dan Salacia korthalsiana. Lima INP tertinggi tumbuhan bawah, tingkat semai, pancang dan pohon disajikan pada Tabel 11. Famili yang mendominasi yaitu Myrtaceae dan dari genus Syzygium. Tabel 12 Indeks nilai penting tumbuhan di Rimba Habitus/ tingkat pertumbuhan No Nama Lokal Nama Ilmiah 1 2 Sekudong pelandok Akar larak Syzygium buxifolium Uvaria hirsuta 57.53 36.02 Tumbuhan bawah 3 4 5 Akar terong bulus Akar mencirian Lepang Ancistrocladus tectorius Salacia korthalsiana Alpinia oxymitra 30.47 27.24 20.79 Semai 1 2 3 4 5 Betor padi Samak Betor belulang Kelinsutan Sisilan Calophyllum depressinervosum Syzygium lepidocarpa Calophyllum lanigerum Syzygium decipiens Syzygium rostratum 55.97 39.80 21.57 16.52 6.43 Pancang 1 2 Samak Betor belulang Syzygium lepidocarpa Calophyllum lanigerum 25.03 23.60 3 4 5 Meleman Kelebantuian Jemang Psychotria malayana Syzygium eunera Rhodamnia cinerea 21.27 13.65 12.70 1 Samak Syzygium lepidocarpa 61.07 2 3 4 5 Seru Subalan Betor padi Medang miang Schima wallichii Elaeocarpus petiolatus Calophyllum depressinervosum Litsea firma 58.24 25.01 21.34 14.74 Pohon INP (%) Bebak Pada ekosistem Bebak, tingkat pertumbuhan pancang lebih dominan dibandingkan ekosistem lainnya. Nilai INP tertinggi yaitu Calophyllum lanigerum (18.2%). Tumbuhan bawah masih lebih tinggi jumlah dan kerapatannya dibandingkan Rimba, dengan jenis tumbuhan bawah yang paling dominan yaitu Alpinia oxymitra (64.11%). Nilai INP tumbuhan bawah dan setiap tingkat pertumbuhan pohon disajikan pada Tabel 12. 18 Tabel 13 Indeks nilai penting tumbuhan di Bebak Habitus/ tingkat pertumbuhan Tumbuhan bawah Semai Pancang Pohon No Nama Lokal Nama Ilmiah INP (%) 1 2 3 Lepang Sengkelut Keremuntingan Alpinia oxymitra Lycopodium cernuum Rhodomyrtus tomentosa 64.11 34.66 23.71 4 Sekudong pelandok Syzygium buxifolium 18.22 5 Akar ijau Hypserpa sp. 12.96 1 Pulas Guioa pleuropteris 32.95 2 Kelebantuian Syzygium eunera 23.68 3 Samak Syzygium lepidocarpa 18.05 4 Tenam Psychotria viridiflora 16.84 5 Seru Schima wallichii 11.39 1 Betor belulang Calophyllum lanigerum 18.20 2 Jemang Rhodamnia cinerea 16.26 3 Sesalah Eurya nitida 14.46 4 Kiras Garcinia hombroniana 13.72 5 Samak Syzygium lepidocarpa 12.05 1 Seru Schima wallichii 2 Samak Syzygium lepidocarpa 49.88 3 Kabal Lithocarpus blumeanus 27.96 4 Pelawan kiring Tristaniopsis obovata 23.53 5 Jering Archidendron pauciflorum 17.30 115.41 Padang Pada ekosistem Padang sangat didominasi oleh tumbuhan bawah, khususnya dari habitus herba (rumput-rumputan) dan hanya ditemukan satu spesies tingkat pohon. Selain rumput-rumputan juga ditemukan dua insektivora yang umum dijumpai di padang kerangas yaitu Nepenthes gracilis dan Drosera burmanni. Nilai INP tertinggi tumbuhan dan setiap tingkat pertumbuhan disajikan pada Tabel 13. Lahan pasca tambang < 100 tahun Pada ekosistem LPT < 100 tahun, jenis tumbuhan bawah yang mendominasi yaitu Fimbristylis sp (48.86%). Pada tingkat pancang jenis pionir Mallotus barbatus termasuk dalam lima INP tertinggi (Tabel 14). 19 Tabel 14 Indeks nilai penting tumbuhan di Padang Habitus/ tingkat pertumbuhan pohon Tumbuhan bawah Semai Pancang Pohon No Nama Lokal Nama Ilmiah INP (%) 1 Kerembun Paspalum vaginatum 41.84 2 3 Kucai Padang Akar segendai Fimbristylis sp. Coptosapelta tomentosa 40.12 22.21 4 Sapu padang Baeckea frutescens 21.13 5 Kembang taru Bromheadia finlaysoniana 18.33 1 Arang-arang Syzygium napiforme 86.44 2 Betor belulang Calophyllum lanigerum 61.35 3 Bebeti Syzygium zeylanicum 35.66 4 Pelawan kiring Tristaniopsis obovata 11.77 5 Gelam Malaleuca leucadendron 1 Pelawan kiring Tristaniopsis obovata 2 Gelam Malaleuca leucadendron 1 Perepat Combretocarpus rotundatus 4.78 146.43 53.57 300 Tabel 15 Indeks nilai penting tumbuhan di LPT < 100 tahun Habitus/ tingkat pertumbuhan pohon Tumbuhan bawah Semai Pancang Pohon No Nama Lokal Nama Ilmiah INP (%) 1 2 3 Kucai Padang Kerembun Keletaan Fimbristylis sp. Paspalum vaginatum Melastoma malabathricum 4 Beruta Dicranopteris linearis 8.96 5 Mensayat Scleria multifoliata 9.51 1 Gelam Malaleuca leucadendron 18.18 2 Bali adap Melodinus sp. 18.18 3 Sesalah Eurya nitida 9.09 4 Kelebantuian Syzygium eunera 9.09 5 Abu-abu Syzygium palembanicum. 9.09 1 Gelam Malaleuca leucadendron 42.14 2 Akasia Acacia mangium 35.48 3 Menteno Commersonia bartramia 24.52 4 Balik angin Mallotus barbatus 19.52 5 Bebeti Syzygium zeylanicum 19.52 1 Mentepongan Vernonia arborea 80.90 2 Akasia Acacia mangium 78.50 3 Jambu mete Anacardium occidentale 48.86 32.51 27.94 140.61 20 Lahan pasca tambang > 100 tahun Pada ekosistem LPT > 100 tahun, jenis tumbuhan bawah yang mendominasi yaitu semak Melastoma malabathricum (54.82%), kemudian jenis paku-pakuan Dicranopteris linearis (30.05%). Malaleuca leucadendron mendominasi di tingkat semai dan tingkat pancang (Tabel 15). Tabel 16 Indeks nilai penting tumbuhan di LPT > 100 tahun Habitus/ tingkat pertumbuhan pohon Tumbuhan bawah Semai Pancang Pohon No Nama Lokal Nama Ilmiah INP (%) 1 2 3 Keletaan Beruta Kerembun Melastoma malabathricum Dicranopteris linearis Paspalum vaginatum 54.82 30.05 28.42 4 Kucai Padang Fimbristylis sp. 25.15 5 Sengkelut Lycopodium cernuum 13.41 1 Gelam Malaleuca leucadendron 51.58 2 Pelawan kiring Tristaniopsis obovata 33.42 3 Renggadaian Ploiarium alternifolium 27.37 4 Simpor bini Dillenia suffruticosa 12.32 5 Arang-arang Syzygium napiforme 11.45 1 Gelam Malaleuca leucadendron 50.82 2 Pelawan kiring Tristaniopsis obovata 32.90 3 Renggadaian Ploiarium alternifolium 27.05 4 Simpor bini Dillenia suffruticosa 12.10 5 Arang-arang Syzygium napiforme 11.23 Tidak ada data Indeks keanekaragaman spesies (H’) Indeks keanekaragaman spesies tumbuhan bawah tertinggi yaitu di LPT < 100 tahun. Pada tingkat semai yaitu LPT > 100 tahun, tingkat pancang di Bebak dan tingkat pohon di Rimba (Gambar 8). Nilai H' 3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 2.85 3.07 1.882.152.18 2.07 1.81 2 2.64 2 2.06 1.81 2.03 Rimba Bebak Padang LPT < 100 th LPT > 100 th 1.96 1.43 1.24 1.1 0.6 0 Tumbuhan bawah Semai Pancang Habitus dan tingkat pertumbuhan pohon 0 Pohon Gambar 8 Nilai H' setiap habitus dan tingkat pertumbuhan pohon di setiap lokasi. 21 Indeks kekayaan spesies (R) Indeks kekayaan spesies tumbuhan bawah tertinggi yaitu di LPT < 100 tahun. Pada tingkat semai yaitu di Bebak, sedangkan tingkat pancang dan pohon yaitu Rimba (Gambar 9). 7 5.98 5.86 6 Nilai R 5.06 4.83 5 Bebak 3.77 4 3.31 3.13 2.32 2.56 2.16 1.76 1.7 3 2 1.95 0.76 1 Rimba 3.08 2.26 Padang 1.82 LPT < 100 th LPT > 100 th 0.51 0 0 0 Tumbuhan bawah Semai Pancang Habitus dan tingkat pertumbuhan pohon Pohon Gambar 9 Nilai R setiap habitus dan tingkat pertumbuhan pohon di setiap lokasi. Indeks kemerataan spesies (E) Indeks kemerataan spesies tumbuhan bawah tertinggi yaitu Rimba. Pada tingkat semai dan pohon yaitu di LPT < 100 tahun masing-masing 0.82 dan 1, sedangkan tingkat pancang yaitu di Padang. Nilai E tingkat pohon di padang dan LPT > 100 tahun tidak dapat dihitung karena di padang hanya dijumpai satu spesies dan satu individu, sedangkan di LPT > 100 tahun dikarenakan oleh tidak adanya data tingkat pohon. Seluruh nilai E disajikan pada Gambar 10. 1,2 Nilai E 1 0,8 0,6 0.88 0.84 0.76 0.770.77 0.62 0.86 0.82 0.82 0.83 0.77 0.7 0.76 0.7 1 Rimba 0.83 0.74 Bebak Padang 0.42 LPT < 100 th 0,4 0,2 LPT > 100 th 0 0 0 Tumbuhan Semai Pancang Pohon bawah Habitus dan tingkat pertumbuhan pohon Gambar 10 Nilai E setiap habitus dan tingkat pertumbuhan pohon di setiap lokasi. Indeks kesamaan spesies (IS) Tabel 16 menunjukkan nilai IS dari setiap habitus dan tingkat pertumbuhan pohon di satu lokasi terhadap lokasi lainnya. Nilai IS tumbuhan bawah tertinggi yaitu antara Bebak dan LPT < 100 tahun sebesar 34.48%. Nilai IS tertinggi tingkat semai, pancang dan pohon yaitu antara Rimba dan Bebak. 22 Tabel 17 Nilai indeks kesamaan spesies antar komunitas Lokasi Rimba Bebak Padang LPT < 100 th LPT > 100 th Rimba 0 30 9.5 8 18.18 Bebak 30 0 8 34.48 40 Lokasi Rimba Bebak Padang LPT < 100 th LPT > 100 th Rimba 0 48.15 13.33 17.65 32.56 Bebak 48.15 0 11.76 15.79 38.3 Lokasi Rimba Bebak Padang LPT < 100 th LPT > 100 th Rimba 0 54.54 5 8.16 28.57 Bebak 54.54 0 4.88 16 42.1 Lokasi Rimba Bebak Padang LPT < 100 th LPT > 100 th Rimba 0 36.84 0 0 0 Bebak 36.84 0 0 11.76 0 Nilai IS Tumbuhan Bawah (%) Padang LPT < 100 tahun LPT > 100 tahun 9.5 8 18.18 8 34.48 40 0 20 12.5 20 0 20 12.5 20 0 Nilai IS Semai (%) Padang LPT < 100 tahun LPT > 100 tahun 13.33 17.65 32.56 11.76 15.79 38.3 0 14.28 43.48 14.28 0 22.22 43.48 22.22 0 Nilai IS Pancang (%) Padang LPT < 100 tahun LPT > 100 tahun 5 8.16 28.57 4.88 16 42.1 0 15.38 20 15.38 0 41.38 20 41.38 0 Nilai IS Pohon (%) Padang LPT < 100 tahun LPT > 100 tahun 0 0 0 0 11.76 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4. PEMBAHASAN Karakteristik Tanah Tekstur tanah Secara umum, hasil analisis tanah menunjukkan bahwa tekstur tanah di lahan bekas tambang timah adalah berpasir. Kadar pasir yang relatif tinggi di setiap tailing menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan vegetasi. Di sisi lain, pori-pori tanah dapat berperan dalam mendukung aerasi tanah (Hakim et al. 1986). Menurut Setiadi (2012) pada kondisi persentase pasir di atas 80% maka akan menyebabkan pertumbuhan vegetasi menjadi stagnan. Permasalahan yang sama juga terjadi di lahan pasca tambang timah di Singkep (Badri 2004). Tekstur tanah di TL 130 tahun (20–40 cm) sama dengan tekstur tanah di hutan (0–20 cm) dan Bebak (20–40) yaitu lempung liat berpasir, sedangkan tekstur tanah di TL 130 tahun (0–20 cm) sama dengan tekstur tanah di Bebak (0– 20 cm). Perkembangan tanah di TL 130 tahun telah terjadi sehingga menghasilkan jumlah liat yang lebih tinggi dibandingkan tailing lainnya. Menurut Nurtjahya 23 (2008) tekstur tanah di hutan yang dijadikan lokasi perbandingan dengan tailing timah juga memiliki tekstur lempung liat berpasir. Dalam hal kesuburan tanah, komponen terpenting dalam tekstur tanah yaitu keberadaan fraksi liat serta kandungan mineralnya sebagai penyerap dan mempertukarkan ion-ion dalam tanah sehingga dapat menyediakan unsur hara bagi tumbuhan (Hakim et al. 1986). Pada ketiga tipe ekosistem hutan kerangas sekunder, Rimba mengandung komposisi liat yang paling tinggi di antara seluruh lokasi penelitian pada kedua lapisan tanah yaitu 36.87% (0–20 cm) dan 49.99% (20–40 cm). Tekstur lempung berpasir dan lempung liat berpasir ini menjadi indikator bahwa tanah Rimba relatif lebih subur dan mudah diolah dibandingkan lokasi lainnya. Keberadaan vegetasi hutan telah mendukung proses pembentukan tanah baik sebagai penyedia organisme, iklim mikro yang kondusif untuk pelapukan sehingga dapat mempercepat waktu pelapukan batuan. Adanya beberapa strata tajuk dan tingkat pertumbuhan pohon juga dapat mengurangi terjadinya tumbukan air hujan yang berlebihan ke permukaan tanah, sehingga permukaan tanah tidak mudah tercuci. Pada ekosistem Bebak, kandungan liat juga relatif tinggi dibandingkan lokasi lainnya namun masih di bawah Rimba yaitu 17.78% (0–20 cm) dan 22.45% (20–40 cm). Kandungan liat yang lebih rendah dari Rimba dapat disebabkan oleh perbedaan penggunaan lahannya. Bebak merupakan lahan olahan bagi masyarakat sekitar (ladang berpindah), sehingga proses pembentukan tanahnya tidak seintensif di Rimba. Di ekosistem Padang, kandungan liatnya hanya 3.84% (0–20 cm) dan 6.18% (20–40 cm). Hal ini menunjukkan bahwa tanah di Padang relatif kurang subur dan juga sulit diolah karena tingginya kadar pasir (>90%). Keterbatasan kondisi fisik ekosistem padang ini menjadi ciri khas hutan kerangas yang telah mengalami gangguan yang sulit untuk suksesi menjadi hutan kembali (Whitten et al. 1984). Tekstur tanah sangat penting dalam pertumbuhan vegetasi dan menjadi dasar dalam memilih perlakuan pengolahan lahan yang tepat khususnya untuk masalah tanah berpasir (> 80%) dan tanah yang kompak (akumulasi debu dan liat > 65%) (Setiadi 2012). Upaya perbaikan tekstur tanah sangat penting untuk mendukung proses reaksi kimia tanah yang membutuhkan air dan udara yang cukup di dalam tanah. Penambahan bahan organik dapat menjadi teknik pembenahan tanah untuk memperbaiki tekstur tanah berpasir (Setiadi 2012). Dengan demikian, dapat meningkatkan jumlah koloid organik yang berperan dalam penyerapan air dan hara. Reaksi tanah (pH) Nilai pH tanah pada tiap lokasi didapatkan berkisar antara 4.0 – 6.3. Secara umum nilai pH pada tiap lokasi kurang dari 5.5. Nilai pH yang paling rendah dijumpai pada TL 130 yaitu 4.0. Nilai pH di bawah 5.5 akan menurunkan aktivitas bakteri, namun akan mendukung aktivitas jamur dan pelapukan (Landon 1984; Hakim et al. 1986). Nurtjahya (2008) melaporkan adanya potensi fungi mikoriza arbuskula pada kisaran pH 4.5 – 5.1 di tailing 0 tahun, 7 tahun, 11 tahun 38 tahun dan hutan. Salah satu faktor yang memengaruhi nilai pH yaitu sifat koloid. Koloid organik mudah melepaskan ion H ke dalam larutan tanah sehingga pH tanah menjadi rendah (Hakim et al. 1986). Hal ini terlihat pada pH di hutan dan TL 130 24 tahun yang bahan organik dan kandungan liatnya lebih tinggi dibandingkan di lokasi lainnya. Pada pH yang rendah di kedua lokasi tersebut, pertumbuhan vegetasi dapat didukung oleh ketersediaan unsur hara dan liat meskipun dengan performa pertumbuhan yang kurus. Hal ini juga menjadi ciri dan indikator bahwa ekosistem hutan kerangas tumbuh pada kondisi pH yang rendah dan terlihat pada pertumbuhan vegetasi yang kerdil dan kurus di hutan kerangas (Brunig 1974; Whitmore 1984; Whitten et al. 1984; MacKinnon et al. 1996). Pada lokasi lainnya, yang tanpa penutupan vegetasi, kondisi tanah menjadi kurus dan miskin bahan organik sehingga pertumbuhan vegetasi menjadi stagnan. Upaya pembenahan tanah dengan pH rendah perlu mempertimbangkan peningkatan pH terlebih dahulu sebelum melakukan pemupukan kation. Pada pH rendah ion H+ banyak yang terikat dengan anion-anion lain, sehingga tidak dapat mendukung reaksi pertukaran kation lainnya. Penambahan unsur hara tidak akan efektif karena akan hilang akibat pencucian (Hakim et al. 1986), sehingga perlu dilakukan perbaikan kondisi pH terlebih dahulu, misalnya dengan pengapuran. C organik dan N total Kandungan bahan organik tertinggi yaitu di Rimba sebesar 1.11% hingga 2%. Kandungan bahan organik menurun drastis pada TL 3 tahun, 5 tahun, 15 tahun dan 50 tahun yaitu berkisar 0.1% hingga 0.4% dan meningkat pada TL 130 tahun menjadi 1.2% dan 1.8%. Hal ini menunjukkan bahwa proses suksesi alami tidak dapat meningkatkan bahan organik dalam waktu yang singkat. Pada lahan bekas tambang timah di Bangka dan Singkep umur 0 tahun, 7 tahun, 11 tahun, 13 tahun, 26 tahun, 38 tahun dan lebih dari 40 tahun, kandungan bahan organik masih di bawah 1% (Badri 2004; Nurtjahya 2008). Secara umum kandungan bahan organik di suatu lokasi dapat dilihat secara visual dari warna tanah khususnya bagian top soil. Warna tanah yang lebih gelap umumnya menunjukkan kandungan bahan organik yang lebih tinggi, meskipun tidak selalu demikian. Bahan organik tanah merupakan sumber nutrisi bagi tanah yang berasal dari hasil pelapukan serasah-serasah tumbuhan maupun bangkai binatang atau fauna tanah (Hakim et al. 1986). Bahan organik di Bebak sudah di atas 1%, sedangkan bahan organik di Padang masih sangat rendah 0.4% (0–20 cm) dan 0.1% (20–40 cm). Aktivitas pengolahan lahan di Bebak dengan melakukan pembakaran untuk membuka hutan dapat mendukung ketersediaan bahan organik di dalam tanah. Pada TL 130 tahun, proses suksesi yang berlangsung lebih dari 100 tahun dan adanya vegetasi hutan mendukung ketersediaan serasah dan kondisi iklim mikro untuk proses dekomposisi bahan organik. Kandungan bahan organik juga sangat ditentukan dengan kondisi tekstur tanah, semakin banyak liat maka semakin banyak pula bahan organik yang tesimpan. Pada TL 15 tahun, TL 50 tahun dan Padang, kandungan bahan organik yang lebih tinggi dibandingkan TL 3 tahun dan TL 5 tahun yang hampir tidak dijumpai vegetasi. Pada TL 15 tahun dan TL 50 tahun sudah ditumbuhi oleh beberapa spesies pionir dan tumbuhan khas hutan kerangas seperti Tristaniopsis obovata, Baeckea frutescens, Ploiarium alternifolium, Dillenia suffruticosa, Rhodomyrtus tometosa, Melastoma malabathricum dan Syzygium buxifolium, sedangkan di Padang didominasi oleh rumput-rumputan (Cyperaceae) dan beberapa spesies 25 khas hutan kerangas seperti Nepenthes gracilis, Drosera burmanni dan Tristaniopsis obovata. Ketersediaan bahan organik akan memengaruhi kandungan N dalam tanah. Rendahnya bahan organik berdampak pada rendahnya ketersediaan N. Kandungan nitrogen tertinggi yaitu di Rimba dan TL 130 tahun sebesar 0.2%. Menurut Landon (1984) nilai ini masih dalam kategori sedang (0.2%–0.5%). Namun, nitrogen dalam bentuk unsur belum dapat diserap oleh tumbuhan sehingga perlu adanya aktivitas mikroorganisme untuk mendekomposisi bahan organik tersebut dan menguraikannya menjadi nitrit, nitrat atau amonium sehingga dapat diserap oleh tumbuhan. Ketersediaan N dalam tanah sangat dipengaruhi oleh aktivitas mikroorganisme tanah dalam melakukan proses dekomposisi. Selain memerlukan peran aktivitas mikroorganisme, proses dekomposisi bahan organik ini juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik seperti terbatasnya air dan temperatur tinggi pada saat musim panas, khususnya di lahan pasca tambang hingga mencapai 40 ºC. Dengan demikian, kondisi ini kurang menguntungkan bagi aktivitas mikroorganisme khususnya bakteri yang berperan dalam proses nitrifikasi dan amonifikasi. Di Rimba, Bebak dan TL 130 tahun telah terdapat tutupan vegetasi yang cukup rapat sehingga relatif lebih lembab dan dapat mendukung aktivitas mikroorganisme merombak bahan organik. Rendahnya kandungan bahan organik yang telah dijelaskan sebelumnya mengakibatkan ketersediaan unsur N dalam tanah pun juga rendah di semua lokasi. Nisbah antara kandungan bahan organik dan nitrogen (C/N rasio) yang baik untuk pertumbuhan vegetasi yaitu di bawah 15. Secara umum C/N rasio di semua lokasi di bawah 15, hal ini menunjukkan bahan organik sudah terdekomposisi. Meskipun demikian, kandungan N di hampir semua lokasi tergolong rendah yaitu di bawah 0.2% (Landon 1984). P tersedia dan P total Kandungan fosfor di setiap lokasi penelitian dalam rentang kekurangan yaitu antara 4.3–9.5 ppm (Landon 1984). Tumbuhan yang kekurangan P akan menunjukkan gejala seperti pertumbuhan terhambat (kerdil) dan daun-daun menjadi ungu atau coklat yang dimulai dari bagian ujung daun (Hakim et al. 1986). Kondisi ini terlihat pada performa vegetasi yang tumbuh di lokasi penelitian yang kerdil dan kurus serta menjadi salah satu ciri ekosistem hutan kerangas, dimana vegetasi dapat bertahan hidup dalam kondisi yang kekurangan unsur hara. Ketersediaan fosfor dipengaruhi oleh kelarutan unsur Ca, Al dan Fe yang dapat membentuk persenyawaan dengan fosfat (Hakim et al. 1986). Pada TL 5 tahun, kandungan fosfor tersedia yang rendah diduga karena tingginya kelarutan Fe hingga 50 ppm. Sebaliknya, pada TL 3 tahun, TL 15 tahun dan TL 50 tahun memiliki kandungan P tersedia yang tinggi karena kelarutan Fe yang rendah. Selain itu, kandungan P juga dipengaruhi oleh ketersediaan bahan organik. Seluruh kandungan fosfor pada lapisan 0–20 cm lebih tinggi dibandingkan pada lapisan 20–40 cm. Menurut Hakim et al. (1986) kandungan fosfat organik pada top soil lebih tinggi dibandingkan dengan sub soil. Kandungan P yang di bawah 7 ppm atau dalam kategori yang rendah, vegetasi masih dapat tumbuh di atasnya. Hal ini menunjukkan bahwa tanman masih dapat tumbuh meskipun dalam kondisi yang miskin hara. Unsur P berperan 26 dalam perkembangan akar, membentuk batang yang kokoh dan untuk pembentukan bunga dan biji. Dalam hukum minimum Liebig 1840 (Odum 1993) menyebutkan bahwa pertumbuhan suatu tanaman tergantung pada jumlah nutrisi yang disediakan baginya dalam jumlah minimum. Pada kondisi unsur hara yang rendah tersebut, beberapa tumbuhan dapat tumbuh disana dengan performa morfologi yang beragam, ada yang memiliki batang kurus-kerdil, daun yang keciltebal, lebar-agak berbulu, tebal-agak berair dan lainnya. Hal ini merupakan bentuk adaptasi setiap tumbuhan terhadap kondisi lingkungannya. Unsur hara makro (Ca, Mg, K dan Na) Hasil analisis unsur hara menunjukkan ketersediaan unsur Ca, Mg, K dan Na dalam jumlah yang rendah yaitu di 0.0–0.5 me/100 g (Landon 1984). Kandungan unsur hara sangat tergantung hasil pelapukan batuan. Unsur Ca banyak dihasilkan dari mineral-mineral primer plagioklas, karbonat CaCO3 (kalsit), CaMg(CO3)2 (dolomit). Ketersediaan Ca sangat penting dalam pertumbuhan vegetasi yaitu sebagai penyusun dinding sel dan berperan dalam pembelahan sel (Hardjowigeno 2010). Unsur Mg bersumber dari mineral kelam (biotit, augit, hornblende, amfibol). Pada LPT < 100 tahun terdapat mineral augit dengan ciri pada tanah berwarna hitam (Pratiwi SD 2013, komunikasi pribadi). Ketersediaan Mg dalam tanah berperan dalam pembentukan klorofil pada tumbuhan, gejala kekurangan Mg yaitu daun menguning (Hardjowigeno 1986). Unsur K dalam tanah dihasilkan dari mineral-mineral primer (feldspar), karena kandungan mineral feldspar sedikit maka sedkit pula kandungan K. Ketersediaan K berperan dalam perkembangan akar, mempertinggi daya tahan tumbuhan terhadap kekeringan (Hardjowigeno 2010). Pada TL 3 tahun, 5 tahun kandungan K di bawah 0,1 me/100 g sehingga menyebabkan tumbuhan tidak dapat tumbuh pada kondisi tersebut. Kandungan Ca menyebabkan pertumbuhan vegetasi di lokasi menjadi kerdil karena kurangnya Ca, rendahnya Mg tidak signifikan menyebabkan daun menjadi kekuningan. Nilai Ca masih lebih tinggi dibandingkan Mg. Hal ini menunjukkan pertumbuhan masih bisa berlangsung meskipun lambat. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemupukan kation. Unsur mikro (Al, Fe, Mn, Zn) Secara umum unsur mikro yang tersedia masih berada pada kisaran yang tidak melebihi batas tingkat toksisitas dalam tanah. Khususnya kelarutan Al tidak melebihi batas toksik dalam tanah. Tanah dengan tekstur berpasir lebih berpotensi untuk mengalami proses pencucian lanjut, pada drainase tanah yang baik ion Fe dan Mn mudah larut dalam air melalui reaksi reduksi. Kelarutan Fe cenderung paling tinggi dibandingkan unsur mikro lainnya. Unsur Fe berperan dalam pembentukan klorofil (Hardjowigeno 2010), bisa jadi karena tingginya kelarutan Fe namun rendah Mg sehingga warna daun masih berwarna hijau. Unsur Zn berperan dalam pembentukan hormon dan pematangan biji sedangkan unsur Mn berperan dalam fotosistesis (Hardjowigeno 2010). Meskipun dalam jumlah yang rendah atau terbatas, ketersediaan unsur hara saling melengkapi satu sama lain untuk mendukung pertumbuhan vegetasi. 27 Kapasitas tukar kation (KTK) Nilai kapasitas tukar kation (KTK) di setiap lokasi tergolong rendah dan sangat rendah, berkisar antara 0.6–8.05 me/100 g (Landon 1984). Kondisi ini mengakibatkan pertumbuhan yang stagnan bagi tumbuhan (Setiadi 2012). Besarnya nilai KTK dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya jumlah liat, bahan organik dan pH. Pada lokasi yang memiliki kandungan liat dan bahan organik yang sedikit maka akan rendah pula kemampuan koloid-koloid yang akan mempertukarkan ion-ion dalam tanah sehingga nilai KTK nya menjadi rendah. Nilai KTK tertinggi yaitu pada lapisan tanah 20–40 cm di Bebak. Hal ini dapat disebabkan oleh aktivitas perladangan berpindah yang dilakukan secara disini sehingga memperbaiki kondisi tanah setempat. Umumnya kegiatan perladangan dilakukan dengan rotasi 8 tahun sekali untuk di lokasi yang sama. Hal ini merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat melayu Belitung dalam mengolah tanah. Pada masa tersebut area bekas ladang telah menjadi hutan kecil dan siap untuk diusahakan kembali, karena unsur hara tanah sudah dianggap cukup. Metode yang digunakan dalam membuka lahan yaitu dengan penebasan dan pembakaran secara terkendali. Pembakaran bahan organik dapat meningkatkan nilai pH dan ketersediaan bahan organik tanah serta KTK tanah. Pada TL 3 tahun, TL 5 tahun, TL 15 tahun dan TL 50 tahun nilai KTK sangat rendah sehingga menyebabkan unsur hara akan mudah tercuci bila terjadi hujan. Hal ini juga didukung oleh kondisi tekstur tanah yang berpasir sehingga memiliki porositas yang tinggi. Tanah dengan KTK yang rendah akan sia-sia jika dilakukan pemupukan kation (Hakim et al. 1984). Upaya perbaikan tanah dapat dilakukan dengan penambahan bahan organik untuk merangsang aktivitas mikroorganisme tanah (Hakim et al. 1986). Penambahan bahan organik berperan dalam meningkatkan kandungan koloid organik tanah sebagai fasilitas dalam pertukaran ion-ion dan mendukung perbaikan tekstur tanah berpasir serta meningkatkan nilai KTK. Kejenuhan basa Kejenuhan basa di lokasi penelitian tergolong dalam kondisi tinggi (> 60%), sedang (20–60%) dan rendah (< 20%) (Landon 1984). Persentase KB tertinggi yaitu di TL 3 tahun sebesar 71.7%. Kondisi ini tidak didukung oleh nilai KTK yang tinggi, yaitu hanya 0.6 me/100 g. Kation basa yang ada dalam tanah tidak dapat dijerap oleh koloid-koloid dalam pertukaran kation. Basa-basa akan dengan mudah tercuci bersama air hujan. Sebaliknya, nilai KB di Bebak paling rendah di antara lokasi lainnya yaitu 8.07%, namun memiliki nilai KTK yang paling tinggi yaitu 8.05 me/100 g. Kondisi ini juga tidak mendukung proses pertukaran hara yang baik bagi tumbuhan. Kandungan logam berat Secara umum, konsentrasi logam berat (Cr, Cu, Ni, Pb dan Ni) yang dapat terukur di semua lokasi penelitian masih di bawah batas minimum pencemaran lingkungan. Ketersediaan logam berat yang terakumulasi dapat menjadi bahaya pada rantai makanan dalam sebuah ekosistem. Di sisi lain, konsentrasi logam berat di tanah diperlukan sebagai unsur hara non esensial atau unsur mikro bagi pertumbuhan vegetasi. 28 Hasil analisis menunjukkan unsur Cd tidak terukur di semua lokasi. Hal ini dapat terjadi karena konsentrasi Cd sangat rendah dalam tanah dan Cd sebagai mineral minor dalam beberapa unsur sulfida seperti ZnS, PbS dan CuFeS 2 (Setiawan I 2014, komunikasi pribadi). Selain Cd, unsur Pb juga hampir tidak terukur di semua lokasi, hanya terdapat di Padang sebesar 0.988 mg/kg. Konsentrasi logam berat tertinggi yaitu Cr di Rimba sebesar 3.615 mg/kg dalam fraksi organik, fraksi ini tidak mudah larut dan tercuci. Konsentrasi Cu tertinggi juga di Rimba sebesar 2.728 mg/kg dalam fraksi oksida kemudian di TL 3 tahun sebesar 2.524 mg/kg dalam fraksi oksida. Pada beberapa lokasi, konsentrasi Cu juga terukur di fraksi mobile. Pada fraksi organik, Cu tidak terukur lagi. Hal ini diduga terjadikarena Cu telah habis terurai pada step 1 dan step 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa Cu di lokasi penelitian berpotensi untuk lebih mudah tercuci dan masuk ke dalam badan air di tanah. Konsentrasi Ni terukur dalam fraksi mobile di semua lokasi. Kehadiran unsur Ni diduga hasil dari pelapukan batuan ultramafic yang mengandung unsur feromagnesium dan bersifat basa, seperti basalt, gabro dan peridotit. Pada formasi Kelapa Kampit terdapat potensi adanya batuan tersebut. Konsentrasi Zn terukur pada fraksi mobile dan organik. Konsentrasi Zn tertinggi yaitu di Rimba (1.616 mg/kg) dalam fraksi mobile kemudian di Bebak (0.83 mg/kg) dalam fraksi organik. Potensi konsentrasi logam berat di Rimba relatif lebih tinggi dibandingkan di lokasi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa Rimba berperan sebagai penyimpan cadangan mineral dalam tanah khususnya dalam fraksi organik. Kegiatan penambangan secara terbuka yang dilakukan dengan membuka hutan dapat mengakibatkan beberapa mineral yang mengikat unsur logam berat mengalami oksidasi dan tercuci. Komposisi mineral liat Secara umum, mineral yang dominan di setiap lokasi yaitu kaolinit. Hal ini menunjukkan bahwa nilai KTK yang rendah, nilai KTK mineral kaolinit yaitu 3– 15 cmol/kg (Millar & Turk 1990). Batuan induk granodiorit (batuan beku) pada ekosistem Rimba mengandung mineral kuarsa > 70%, tingginya kandungan kuarsa menunjukkan tanah bersifat asam. Pelapukan dari batuan ini mengandung Na, Ca, Si dan Al yang dibutuhkan bagi tumbuhan. Dari hasil analisis komposisi mineral liat, diperoleh mineral kaolinit dan gibsit sebagai mineral yang dominan dan sedikit dijumpai vermikulit dan illit. Kehadiran mineral sekunder ini menunjukkan tanah telah mengalami pelapukan lanjutan dan hanya sedikit mengandung unsur hara karena mineral-mineral primer telah terdekomposisi (Hakim et al. 1984). Pada ekosistem Padang tidak ada data komposisi mineral disebabkan oleh fraksi liat yang sangat sedikit tidak dapat diambil sebagai contoh preparat untuk dianalisis. Pelapukan batuan induk diorit kuarsa batubesi (batuan beku) di LPT < 100 tahun tidak terlalu asam karena kandungan mineral kuarsanya yang relatif sedikit serta adanya kandungan mineral augit yang membuat kondisi tanah bersifat agak basa. Hal ini dapat dilihat dari nilai pH di lokasi ini berkisar 5–6.1. Meskipun demikian, nilai ini masih menunjukkan pH dibawah netral, karena komposisi mineral plagioklas sangat tinggi (bersifat asam) pada batuan tersebut. Hasil analisis komposisi mineral liat, teridentifikasi kaolinit sebagai mineral yang dominan kemudian gibsit, vermikulit, illit dan kuarsa. Masih terdapatnya mineral 29 kuarsa menunjukkan tanah yang miskin hara dan belum mengalami pelapukan lanjutan. Terdapatnya mineral gelap augit di lokasi ini yang ditunjukkan pada Gambar 11, menandakan tanah tersebut akan mudah lapuk. Sepintas warna gelapnya seperti menunjukkan tanah yang banyak mengandung pelapukan bahan organik. Menurut Hardjowigeno (2010), mineral kelam seperti augit banyak mengandung unsur Mg yang dapat mendukung pembentukan klorofil daun. Gambar 11 Lapisan tanah warna hitam sebagai mineral augit. Pada lokasi LPT > 100 tahun dengan batuan induk batupasir kuarsa (batuan sedimen). Pelapukan batuan ini menghasilkan persentase mineral kuarsa yang tinggi, sedikit lempung dan tanah bersifat sangat asam (Pratiwi 2010). Hasil analisis komposisi mineral liat, diperoleh kaolinit, illit, vermikulit, gibsit, mikrokline, ortoklas dan kuarsa. Khususnya pada TL 130 tahun yang telah mengalami suksesi, ditemukan mineral feldspar (mikrokline dan ortoklas) yang merupakan sumber unsur K yang berfungsi dalam perkembangan akar (Hardjowigeno 2010). Pertumbuhan akar vegetasi di lokasi ini bahkan hingga di atas permukaan tanah (Gambar 12). Selain di TL 130 tahun, ortoklas dan mikrokline juga terdapat di TL 3 tahun yang berupa cluster pasir. Mineral feldspar merupakan mineral yang mudah tercuci sehingga apabila tidak didukung oleh tekstur tanah sifat kimia tanah lainnya, maka unsur hara yang terdapat di mineral feldspar akan mudah hilang tercuci air hujan. Adanya kegiatan penambangan ulang di lokasi penelitian juga dapat menghambat proses pelapukan mineral feldspar, sehingga tidak dapat menyediakan unsur hara dalam tanah. Gambar 12 Akar M. leucadendron yang tumbuh di atas permukaan tanah. 30 Potensi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) Tanah yang kekurangan bahan organik akan membutuhkan pupuk yang cukup banyak untuk mendukung pertumbuhan vegetasi. Pada kondisi yang kurang menguntungkan ini aktivitas mikroorganisme yang memungkinkan yaitu Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA). Dalam Nurtjahya (2008) ditemukan beberapa genus FMA di lahan pasca tambang timah antara lain Glomus, Gigaspora, Scutellospora dan Acaulospora. Dari hasil penelitian juga diperoleh beberapa spesies dari Glomus, Gigaspora dan Acaulospora. Pada beberapa spesies tumbuhan. Jumlah spora yang diperoleh relatif sedikit (1–6 spora/ 25 g). Hal ini dapat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di alam yang sudah teranggu dan bukan merupakan hasil inokulasi. Namun demikian, kehadirannya akan berkontribusi pada siklus nutrisi tanah dan membentuk struktur tanah serta berperan dalam penyedia nitrogen tanah dengan menyerap nitrogen dalam bentuk amonium kemudian diteruskan ke tumbuhan (Hakim et al. 1986; Miller & Jastrow 1992). Komposisi dan Struktur Vegetasi Komposisi tumbuhan bawah Komposisi tumbuhan bawah yang paling tinggi yaitu di LPT < 100 tahun sebanyak 17 spesies. Hal ini disebabkan oleh kondisi ekosistem yang masih dalam tahap suksesi pasca kegiatan penambangan. Kondisi lingkungan yang relatif terbuka memberikan ruang penyebaran biji-bijian yang dibawa oleh burung kemudian jatuh di permukaan tanah. Pada eksosistem suksesi jumlah spesies tumbuhan bawah relatif lebih tinggi daripada pada ekosistem klimaks. Beberapa spesies pionir yang toleran hadir pada ekosistem suksesi karena perkembangan ekosistem akan melewati tahap rumput-rumputan terlebih dahulu kemudian semak. Tiga spesies yang mendominasi yaitu Fimbristylis sp. (herba), Paspalum vaginatum (herba) dan Melastoma malabathricum (semak/perdu). Ekosistem Rimba hanya terdapat 8 spesies tumbuhan bawah karena kondisi lingkungan sudah ternaungi, sementara sebagian besar tumbuhan bawah membutuhkan banyak cahaya. Jumlah spesies dan individu tumbuhan bawah di hutan yaitu paling sedikit dibandingkan ekosistem lainnya. Tiga spesies yang dominan yaitu Syzygium buxifolium (semak/perdu), Uvaria hirsuta (liana), dan Ancistracladus tectorius (liana). Hal ini disebabkan oleh kondisi hutan yang relatif sudah ternaungi dibandingkan lokasi lainnya. Cahaya matahari menjadi faktor pembatas pertumbuhan tumbuhan bawah, semak/perdu dan liana. Umumnya habitus tumbuhan bawah, semak/perdu banyak terdapat di ekosistem suksesi, sedangkan liana terdapat di ekosistem suksesi dan ekosistem klimaks. Pada ekosistem Padang spesies yang banyak ditemukan yaitu Paspalum vaginatum (herba), Fimbristylis sp. (herba) dan Captosapelta tomentosa (liana). Ekosistem padang didominasi rerumputan dan diselingi beberapa spesies semak/perdu dan anakan pohon. Sehingga nilai kerapatan tumbuhan bawah di Padang paling tinggi dibandingkan lokasi lainnya yaitu 462.500 ind/ha. Kondisi padang dan lahan pasca tambang memiliki kesamaan yaitu sangat terbuka, namun permukaan tanah pada ekosistem padang ditumbuhi oleh rerumputan tidak seperti lahan pasca tambang dengan kondisi permukaan tanah yang berupa padang pasir. 31 Komposisi semai Jumlah spesies semai yang paling banyak yaitu di Bebak (29 spesies) dengan kerapatan 165.000 ind/ha. Kehadiran semai di suatu ekosistem menunjukkan potensi regenerasi suatu spesies dalam ekosistem tersebut. Hal ini tidak menjamin jenis pada tingkat semai dapat dijumpai pada tingkat pancang dan pohon atau kelimpahannya bisa menurun pada tingkat pertumbuhan selanjutnya. Berdasarkan Mosaic Theory, komposisi dan dominansi vegetasi di suatu ekosistem akan mengalami perubahan di masa depan (Richards 1952 diacu dalam Hikmat 2005). Hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan tingkat survival suatu spesies tehadap dinamika eksosistem baik secara fisik maupun biotik serta gangguan dari luar. Tiga spesies semai di bebak yaitu Guioa pleuropteris, Syzygium eunera dan Syzygium lepidocarpa. Pada tingkat pancang tiga jenis tersebut tidak mendominasi lagi. Tingginya jumlah spesies tingkat semai di Bebak dapat disebabkan oleh kondisi tanah yang relatif lebih subur dibandingkan kondisi yang lain. Pada awal pertumbuhan, tanaman memerlukan unsur hara yang banyak, cahaya dan kelembahan udara yang cukup. Adanya dinamika populasi dalam setiap ekosistem dimungkinkan adanya spesies lain yang muncul pada tingkat pancang menggantikan spesies tingkat semai sebelumnya atau akan dijumpai spesies yang dominan pada tingkat semai tidak menjadi dominan di tingkat pancang karena tidak mampu bersaing dengan spesies lainnya. Seperti yang juga terjadi di Rimba, pada tingkat semai, jenis yang paling banyak yaitu C. depressinervosum kemudian S. lepidocarpa. Pada tingkat pancang, S. lepidocarpa menjadi yang paling dominan, dan diikuti oleh C.lanigerum. Jumlah spesies tingkat semai di LPT < 100 tahun dan LPT > 100 tahun lebih tinggi dibandingkan di Padang. Apabila dilihat dari kerapatannya, kerapatan semai di Padang lebih tinggi dibandingkan di lahan pasca tambang. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya cluster-cluster pada lokasi lahan pasca tambang, sehingga kehadiran semai hanya dapat dijumpai pada cluster-cluster tertentu saja. Tingginya kerapatan tumbuhan bawah di Padang dapat menghambat pertumbuhan semai di Padang. Menurut masyarakat lokal, ekosistem padang merupakan ekosistem suksesi yang telah mencapai klimaks, sehingga kemungkinan perkembangan menjadi hutan sangat kecil atau disebut disklimaks. Komposisi pancang Jumlah spesies pancang yang paling banyak yaitu di Rimba dan Bebak sebanyak 42 spesies. dengan kerapatan berturut-turut 18.900 ind/ha dan 21.880 ind/ha. Jenis yang dominan tumbuh di Rimba yaitu S. lepidocarpa, sedangkan di Bebak yaitu C. lanigerum. Pada ekosistem Padang hanya ditemukan dua spesies pancang yaitu T. obovata dan M. leucadendron dengan nilai kerapatan pancang 1.400 ind/ha. Nilai kerapatan pancang di Padang paling kecil dibandingkan lokasi lainnya. Menurut Riswan (1982) tingkat survival semai ke pancang di hutan kerangas sangat lambat karena miskinnya unsur hara di hutan kerangas. Pada lahan pasca tambang timah, kehadiran pancang paling banyak dijumpai di LPT > 100 tahun yaitu sebanyak 19 spesies dan 4.600 ind/ha, sedangkan di LPT < 100 tahun hanya ditemukan 11 spesies dengan kerapatan 1.680 ind/ha. Perbedaan yang cukup tinggi ini disebabkan oleh adanya perbedaan tingkat suksesi pada cluster-cluster di setiap LPT. Pada cluster hutan di LPT > 32 100 tahun atau TL 130 tahun telah ditumbuhi oleh berbagai jenis vegetasi dan relatif lebih rapat dibandingkan cluster semak di LPT < 100 tahun atau TL 50 tahun. Hal ini juga menunjukkan bahwa perlu waktu yang sangat lama untuk membangun hutan kerangas tingkat pancang dari lahan pasca tambang timah. Apabila dibandingkan dengan kerapatan pancang di Rimba dan Bebak, kerapatan di LPT > 100 tahun masih jauh lebih kecil dikarenakan tidak homogennya kondisi di lapangan. Jenis yang dominan di kedua LPT yaitu M. leucadendron namun dengan INP yang berbeda. Nilai INP M. leucadendron di LPT > 100 tahun lebih tinggi dibandingkan di LPT < 100 tahun. Hal ini menunjukkan jumlah individu dan sebaran M. leucadendron di LPT > 100 tahun lebih tinggi. Pada LPT < 100 tahun, juga ditemukan jenis pionir M. barbatus yang dapat menjadi indikator lokasi tersebut masih dalam tahapan suksesi. Sedangkan jenis lain yang ditemukan di LPT > 100 tahun, dan memiliki nilai INP yang tinggi yaitu T. obovata, P. alternifolium dan D. suffruticosa. Komposisi pohon Jumlah spesies pohon tertinggi yaitu di Rimba sebanyak 24 spesies dengan kerapatan 470 ind/ha. Jenis yang banyak ditemukan adalah S. lepidocarpa dan S. wallichii. S. wallichii merupakan jenis yang tidak dominan di tingkat semai dan pancang, tetapi dapat tumbuh hingga tingkat pohon. Hal ini menunjukkan bahwa jenis ini mampu bersaing dengan jenis lainnya. Sedangkan S. lepidocarpa termasuk jenis yang konsisten ditemukan sebagai jens dominan di tingkat semai, pancang dan hingga pohon. Pada ekosistem Bebak S. wallichii juga ditemukan sebagai spesies tingkat pohon yang dominan, kemudian S. lepidocarpa. S. wallichii merupakan jenis yang dapat tumbuh pada ekosistem klimaks maupun suksesi (Vaidhayakarn & Maxwell 2010). Anakan S. wallichii di Bebak juga termasuk dalam lima INP tertinggi. Menurut Sahoo dan Lalfakawma (2010), kemampuan survival S. wallichii pada lahan terganggu lebih tinggi daripada lahan yang tidak terganggu. Pada hamparan lahan di sekitar Bebak yang terbuka dijumpai anakan S. wallichii yang sangat banyak. Jenis ini dicirikan dengan pucuk daunnya yang berwarna merah keunguan. Pada eksosisem Padang hanya dijumpai satu spesies tingkat pohon yaitu C. rotundatus dan hanya satu individu dalam plot penelitian. Jenis ini merupakan jenis yang mampu beradaptasi pada kondisi yang kering dan miskin hara. Hal ini menunjukkan bahwa di Padang, pertumbuhan vegetasi dari semai menjadi pancang dan kemudian menjadi pohon adalah suatu proses yang sangat sulit. Di Kalimantan, jenis ini sering ditemukan di area-area bekas kebakaran lahan. Pada LPT< 100 ditemukan tiga spesies tingkat pohon antara lain V. arborea, A. mangium dan A. occidentale. Jenis V. Arborea merupakan satusatunya spesies habitus pohon dari famili Asteraceae. Ditemukannya A. mangium dengan diameter 19.7 cm disebabkan oleh adanya kegiatan revegetasi di LPT < 100 tahun sekitar tahun 2000-an. Sedangkan A. occidentale diameter 49,36 cm ditanam pada kegiatan revegetasi sekitar tahun 1969. Pada LPT > 100 tahun tidak ada data tingkat pohon. Adanya penebangan pohon untuk kegiatan penambangan ulang menyebabkan tidak lestarinya vegetasi tingkat pohon di lokasi penelitian. 33 Indeks keanekaragaman, kekayaan dan kemerataan spesies Menurut Magalef (1972) diacu dalam Magurran (1988), indeks keanekaragaman Shannon biasanya berada pada rentang 1.5–3.5, jarang melebihi 4.5. Secara umum indeks keanekaragaman di setiap lokasi penelitian berada dalam rentang 0–3.07. Pada beberapa lokasi indeks keanekaragaman di bawah 1.5, seperti pada semai di Padang dan di Bebak, pancang di Padang dan pohon di LPT < 100 tah n. Semakin kecil nilai ’ maka emakin rendah p la keanekaragaman spesiesnya dan tingkat kompleksitasnya. Sedikitnya jumlah spesies pada suatu komunitas, maka akan diikuti dengan jumlah individu per spesies yang tinggi sehingga akan terjadi kompetisi antar individu yang tinggi. Seperti yang terjadi di Padang, spesies semai yang diperoleh 5 spesies namun total individu mencapai 93.000 individu per ha. Jumlah ini paling tinggi dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang memiliki jumlah spesies lebih banyak. Nilai ’ tumbuhan bawah tertinggi yaitu di LPT < 100 tahun (2.18) kemudian di Padang (2.15). Pada tingkat semai di LPT > 100 tahun (2.03), tingkat pancang di Bebak (3.07) dan tingkat pohon di Rimba (2.64). Kondisi Rimba relatif lebih lembab dan rapat, sehingga memberikan kondisi yang cocok bagi pertumbuhan vegetasi atau untuk perkecambahan biji, meskipun kebanyakan dari semai yang tumbuh di lantai hutan ada yang tidak mampu bertahan hidup hingga pancang atau pohon. Famili yang mendominasi di semua lokasi penelitian yaitu Myrtaceae. Spesies dari Myrtaceae memiliki penyebaran dan kemampuan tumbuh yang cukup baik pada kondisi fisik yang kurang menguntungkan. Kebanyakan dari spesies Myrtaceae yaitu jenis-jenis yang toleran sehingga tergolong jenis pionir, dimana jenis ini juga toleran terhadap keterbatasan unsur hara. Kondisi lingkungan yang terbatas ini, dapat disesuaikan oleh tumbuhan dalam adaptasi aktivitas fisiologi famili Myrtaceae dengan menghasilkan kandungan metabolit sekunder yang lebih banyak dan berkualitas. Adaptasi morfologi dengan bentuk daun yang kecil-kecil tebal, lebar dan berair, batang yang kering dan lainnya. Di Padang, LPT > 100 tahun dan Rimba juga ditemukan jenis insektivora antara lain D. burmanni, N. gracilis, N. ampullaria dan N. rafflesiana, yang menjadi spesies indikator kondisi tapak yang miskin hara dan umum dijumpai di ekosistem hutan kerangas (Whitmore 1984, Whitten et al. 1986). Jenis-jenis dari famili Clusiaceae juga banyak ditemukan di ekosistem hutan kerangas (Brunig 1974), dari genus Calopyhllum dan Garcinia, jenis ini merupaan jenis betor-betoran atau bintangur. Famili ini memiliki ciri mengandung getah kuning, beberapa spesies yang ditemukan yaitu C. lanigerum, C. deppresinervosum, Cratoxylon glaucum, Garcinia parvifolia, G. lateriflora, G. hombroniana. Nilai indeks kemerataan yang semakin mendekati satu menunjukkan bahwa jumlah individu dalam spesies relatif tersebar merata. Seperti yang terjadi pada kemerataan pohon di LPT< 100 tahun, terdapat tiga spesies pohon dan masingmasing satu individu, sehingga nilai E nya adalah satu. Namun di Padang, karena hanya ditemukan satu spesies dan satu individu maka nilai indeks keanekaragaman adalah nol, serta nilai indeks kekayaan dan kemerataannya adalah nol. 34 Indeks kesamaan spesies dua komunitas Adanya perbedaan kondisi fisik dan kimia tanah di antara limalokasi penelitian telah menunjukkan adanya perbedaan komposisi vegetasi. Secara umum masih terdapat kesamaan spesies tumbuhan seperti yang ditunjukkan pada Tabel 16, karena adanya kesamaan faktor pembatas di setiap lokasi yaitu tekstur tanah berpasir.Indeks kesamaan spesies tumbuhan bawah tertinggi yaitu antara Bebak dan LPT < 100 tahun sebesar 34.48% antara lain Hypserpa sp., M. malabathricum, R. tomentosa, Clibadium surimanense dan Lycopodium cernuum. Indeks kesamaan tertinggi pada tingkat semai yaitu antara Rimba dan Bebak sebesar 48.15%, antara lain C. lanigerum, C. depressinervosum, C. formosum, R. cinerea, S. incarnatum, S. eunerura, S. decipiens, S. lepidocarpa, S. lineatum, Psychotria viridiflora, Rapanea hasseltii, Symplocos cochinchinensis dan T. Obovata. Pada tingkat pancang yaitu antara Rimba dan Bebak sebesar 54.54% atau sebanyak 21 spesies, 12 spesies diantara yang juga sama pada tingkat semai. Jenis lain yang ditemukan antara lain Ilex cymosa, Litsea firma, Myrica javanica, Aporosa aurita, Guioa pleuropteris, Canthium didyma, Eurya nitida, Adinandra sarosanthera dan Cryptocarya densiflora. Nilai IS tertinggi tingkat pohon juga antara Rimba dan Bebak sebesar 36.84% antara lain Glochedion arborescens, R. cinerea, Parkia singularis, M. javanica, T. obovata, S. lepidocarpa dan S. wallichii. Indeks kesamaan spesies terhadap lahan pasca tambang, paling tinggi dijumpai pada tingkat semai di LPT > 100 tahun dan Padang antara lain S. napiforme, S. zeylanicum, C. lanigerum, M. leucadendron dan T. obovata. Indeks kesamaan spesies yang tertinggi selanjutnya yaitu semai di hutan dan LPT > 100 tahun sebesar 32.56%, antara lain Calophyllum lanigerum, Syzygium incarnatum, Syzygium euneura, Tristaniopsis obovata, Syzygium lepidocarpa, Schima wallichii dan Syzygium rostratum. Tristaniopsis obovata merupakan spesies yang umum dijumpai di hutan kerangas (Brunig 1974; Whitmore 1984; MacKinnon et al. 1996). Spesies ini juga menjadi spesies yang dominan di LPT >100 tahun pada tingat semai dan pancang setelah Malaleuca leucadendron. Sedangkan nilai IS tertinggi antara LPT < 100 tahun dan LPT > 100 tahun yaitu pada tingkat pancang sebesar 41.38%, antara lain S. napiforme, S. zeylanicum, M. leucadendron, S. euneura, F. aurita dan D. suffruticosa. Vegetasi Pionir Lokal Potensial Penggunaan spesies pionir lokal lebih dianjurkan dalam kegiatan rehabilitasi yaitu untuk menghindari adanya invasi alien species yang dapat mengganggu ekosistem (Parotta et al. 1997). Penanaman akasia (A. mangium) dan jambu mete (A. occidentale) yang telah dilakukan di beberapa lokasi lahan pasca tambang timah di Belitung dan tidak menunjukkan keanekaragaman yang tinggi, hanya didominasi jenis tersebut saja bahkan sulit dijumpai adanya rumput di permukaan tanah sekitar pohon akasia. Alexander (1990) juga melaporkan bahwa penanaman spesies exotic Eucalyptus di lahan pasca tambang timah di Nigeria dapat menurunkan kualitas tanah. Adanya zat alelopati yang dihasilkan oleh beberapa jenis tumbuhan eksotik juga dapat menghambat pertumbuhan jenis-jenis yang ada di sekitarnya bahkan menyebabkan kematian. Oleh sebab itu, perlu dilakukan 35 pemilihan jenis-jenis pionir lokal yang potensial mendukung kolonisasi alami dan adaptif untuk bertahan hidup dalam kondisi miskin hara. Dalam kegiatan restorasi, penentuan dan pemilihan vegetasi adalah bagian penting untuk mencapai keberhasilan kegiatan restorasi (Setiadi 2012). Nurtjahya (2008) melakukan penelitian terhadap penggunaan spesies lokal untuk kegiatan revegtasi lahan pasca tambang diantaranya Calophyllum inophyllum, Syzygium grande, Ficus superba, Vitex pinnata, Hibiscus tiliaceus, Mallotus panulatus, Aporosa sp., Macaranga sp dengan pertimbangan memiliki sifat xerofitik serta penentuan sumber biji berdasarkan kemiripan lokasi sumber bij dan lokasi tailing pasir yang kering dan miskin hara serta rentan terhadap angin kencang sewaktuwaktu. Penggunaan spesies pionir lokal sebagai catalitc species dapat mendukung terjadinya suksesi alami melalui rekolonisasi alami (Parotta et al. 1997). Beberapa pertimbangan dalam memilih spesies pionir antara lain bersifat fast growing, toleran, sedikit membutuhkan unsur hara, berperan sebagai catalitc species, mudah dipropagasi, murah dan mudah dalam pemeliharaan dan sesuai dengan penggunaan lahan (Setiadi 2014). Jenis-jenis pionir di lokasi penelitian yang berpotensi sebagai spesies pionir antara lain beruta (Dicranopteris linearis), keremuntingan (R. tomentosa), keletaan (M. malabathricum), simpor bini (D. suffruticosa), sekudang pelandok (S. buxifoilum), gelam (M. lecadendron), pelawan kiring (T. obovata), renggadaian (P. alternifolium), seru (S. wallichii), sapu padang (B. frutescens) dan arang-arang (S. napiforme). Habitus paku-pakuan seperti D. linearis (Gambar 13) dapat dijadikan sebagai spesies pionir karena dapat tumbuh pada kondisi pasir kering dan di batu. Sifat tersebut dapat mendukung terbentuknya kelembaban mikro di permukaan tanah. Biji dari paku beruta ini dapat diperoleh dari tumpukan serasah-serasah dibawahnya. Gambar 13 Beruta (D. linearis). Keremuntingan (R. tomentosa) dan keletaan (M. malabathricum) merupakan dua spesies yang sangat mudah dijumpai di lahan bekas tambang atau di pinggirpinggir jalan (Gambar 14 & Gambar 15). Jenis ini memiliki daun yang kecil, rimbun, buah bentuk berry yang edibel dan juga disukai oleh burung. Pemilihan jenis yang memiliki buah dan dapat dimakan burung, dapat mendukung suksesi alami melalui penyebaran biji-bijinya secara alami (Zhang Chu 2013). Jenis ini tumbuh sebagai semak pada area bekas tambang, namun di Bebak, mampu tumbuh secara vertikal dan sebagai pohon kecil atau perdu, tidak membentuk semak yang rimbun. Warna daunnya lebih hijau pada daerah bekas tambang dibandingkan di Bebak. Unsur hara di Bebak mendukung pertumbuhan vertikal tumbuhan yaitu ditunjukkan dengan jumlah Ca dalam tanah lebih tinggi 36 dibandingkan di lokasi bekas tambang dengan dukungan kondisi KTK yang lebih tinggi pula. Dari segi manfaat, keremuntingan (R. tomentosa) dimanfaatkan buahnya sebagai bahan sirup dan berkhasiat sebagai antioksidan bagi tubuh manusia. Menurut masyarakat lokal, daunnya berkhasiat sebagai obat penurun kolesterol. Keletaan (M. malabathricum) dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat sakit gigi, dengan cara merebus daunnya dan dikumurkan. Selain sebagai obat, di beberapa tempat, buahnya dikembangkan sebagai sumber pewarna alami. Gambar 14 Keremuntingan (R. tomentosa) Gambar 15 Keletaan (M. malabathricum). Di lahan bekas tambang, pertumbuhan R. tomentosa dan M. malabathricum yang membentuk semak rimbun untuk mendukung terbentuknya iklim mikro di sekitar permukaan tanah sehingga daun atau serasah yang jatuh ke permukaan tanah dapat menjadi kondisi yang baik untuk dekomposisi. Akar R. tomentosa dan M. malabathricum yang panjang di lahan bekas tambang juga merupakan bentuk adaptasi morfologi untuk mendapatkan air dan nutrisi di permukaan tanah atau 37 lapisan atas tanah. Karena tekstur tanah yang berpasir, sehingga nutrisi mudah hilang tercuci melalui infiltrasi dan surface run off. Selain R. tomentosa, M. leucadendron atau gelam juga merupakan jenis yang adapatif pada kondisi yang miskin hara dan lahan terbuka. Bentuk adaptasi jenis ini yaitu dengan ciri memiliki kulit batang yang berlapis-lapis dan mengandung banyak air. Akarnya juga mampu tumbuh di sekitar permukaan tanah (Gambar 16). Daun M. leucadendron relatif lebih tebal dan sulit terdekomposisi karena banyak mengandung serat. M. leucadendron juga jenis yang mudah ditemukan di lahan bekas tambang atau di tepi-tepi jalan, jenis ini tahan pada kondisi kering dan juga tumbuh kondisi basah atau terendam. Gambar 16 Gelam (M. leucadendron). S. buxifolium merupakan jenis yang memiliki daun yang kecil, rimbun dan membentuk semak (Gambar 17). Namun di bebak, jenis ini juga tumbuh tinggi (tidak kerdil). Jika dilihat dari nama lokalnya, S. buxifoilum atau sekudong pelandok memiliki buah jambu-jambuan yang berukuran kecil berwarna putih dan menjadi sumber pakan pelandok (rusa) dan burung sehingga penyebarannya dapat dibantu secara alami oleh rusa maupun burung, bisa dari hasil kunyahan yang terjatuh atau dari kotorannya. Jenis ini dapat dijumpai di Rimba, Bebak, Padang dan lahan pasca tambang. 38 Gambar 17 Sekudong pelandok (S. buxifolium). Sapu padang (B. frutescens), merupakan jenis yang menjadi ciri ekosistem Padang namun juga dijumpai di lahan pasca tambang (Gambar 18). Bentuk daunnya seperti jarum, kecil-kecil dan tebal. Ini juga menjadi bentuk adaptasi spesies untuk mengurangi penguapan pada kondisi lahan terbuka. Tumbuhan ini dimanfaatkan masyarakat lokal untuk membuat sapu halaman yang dikenal dengan sapu padang. Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa tumbuhan ini berkhasiat sebagai obat anti inflamasi (Xi Jia et al. 2014). Gambar 18 Sapu padang Jenis lain yang juga berpotensi sebagai pionir dan masih dari famili Myrtaceae yaitu arang-arang (S. napiforme) dan pelawan kiring (T. obovata). S. napiforme dapat tumbuh di lokasi terbuka maupun ternaungi, memiliki buah jambu-jambuan yang edibel, berukuran kecil dan berwarna ungu tua kehitaman yang juga disukai oleh kera di hutan (Gambar 19). Sedangkan T. obovata merupakan jenis yang umum dijumpai di ekosistem hutan kerangas dengan ciri khas kulit batangnya yang berwarna merah dan mengelupas (Gambar 20). Jenis ini dapat ditemukan di semua lokasi penelitian. 39 Gambar 19 Arang-arang (S. napiforme). Gambar 20 Batang kayu pelawan (T. obovata). Selain spesies dari Myrtaceae dan Melastomataceae, jenis pohon lain yang berpotensi sebagai pionir yaitu dari famili Dilleniaceae dan Theaceae. Simpor bini (Dillenia suffruticosa) banyak ditemukan di lahan terbuka. D. suffruticosa memiliki daun yang lebar dan agak tebal. Jenis ini mudah dijumpai di lahan bekas tambang dan tumbuh dapat tumbuh berkelompok. Jenis ini hampir sama dengan R. tomentosa dan M. malabathricum, pertumbuhannya di Bebak dapat menjadi tinggi seperti pohon, namun di lahan bekas tambang pertumbuhannya terhambat dan menjadi agak kerdil dan berupa semak (Gambar 21). Teknik silvikultur jenis ini dapat dilakukan dengan stek batang. Di alam, anakan simpor bini muncul dari pertunasan akarnya. Dari aspek manfaat, masyarakat lokal menggunakan daunnya sebagai pembungkus makanan. 40 Gambar 21 Simpor bini (D. suffruticosa). Seru (Schima wallichii) dan renggadaian (Ploiarium alternifolium) jenis dari famili Theaceae yang berpotensi sebagai pionir. S. Wallichii sangat mudah ditemukan di pinggir-pinggir jalan dan dan pada lahan-lahan terbuka (Gambar 22). Jenis ini mampu bertahan hidup hingga tingkat pohon. Kayu S. wallichii sering dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan bangunan/konstruksi, sehingga cukup rawan kelestariannya di hutan karena masih terdapatnya kegiatan penebangan liar. P. alternifolium merupakan salah satu jenis khas hutan kerangas yang mampu tumbuh pada kondisi kering, dan tergenang. Pada tingkat semai dan pancang banyak dijumpai di lahan pasca tambang. Jenis ini memiliki ciri pucuknya berwarna agak kemerahan seperti pucuk S. wallichii dengan daun yang agak tebal dan banyak mengandung air. Kayu renggadaian juga dimanfaatkan sebagai bahan bangunan oleh masyarakat lokal. Gambar 22 Batang pohon seru (S. wallichii). 41 Teknik Pembenahan Tanah Lahan Pasca Tambang Timah Kerusakan tanah akibat kegiatan penambangan merubah ekosistem secara total, sehingga usaha perbaikannya harus dimulai dari nol (Bech et al. 2012). Proses suksesi yang diserahkan secara alami akan membutuhkan waktu yang sangat lama karena adanya beberapa faktor pembatas, sehingga perlu adanya campur tangan manusia melalui kegiatan rehabilitasi. Menurut Setiadi (2012) pembenahan tanah penting dilakukan sebelum melakukan kegiatan revegetasi di lahan pasca tambang. Permasalahan utama di lahan pasca tambang timah yaitu tanah berpasir, KTK sangat rendah, bahan organik rendah, P tersedia rendah dan unsur hara yang rendah. Penggunaan bahan organik dianjurkan untuk memperbaiki tekstur tanah berpasir dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme dalam tanah. Adanya bahan organik dalam tanah juga dapat meningkatkan ketersediaan koloid humus, karena koloid liat pada tanah berpasir sangat sedikit. Koloid-koloid tersebut akan berperan dalam proses penyerapan hara, air sera pertukaran ion-ion dalam tanah. Untuk mendukung ketersediaan hara maka juga perlu dilakukan pemupukan baik pupuk organik maupun pupuk hayati. Penambahan pupuk organik Penambahan bahan organik dalam bentuk pupuk dapat meningkatkan kandungan koloid organik tanah sebagai fasilitas dalam pertukaran ion-ion dan mendukung perbaikan tekstur tanah berpasir, porositas tanah dan menurunkan bulk density (Hakim et al. 1986; Celik et al. 2004). Beberapa bahan organik yang umumnya digunakan dalam kegiatan rehabilitasi lahan pasca tambang antara lain kompos dari serbuk gergaji, kotoran ayam, kotoran sapi, sekam padi, limbah kelapa sawit, eceng gondok dan lainnya. Menurut Sittadewi (2007), pengolahan eceng gondok sebagai media tumbuh dengan pencampuran gambut, kotoran ayam dan EM4 menghasilkan kondisi media tumbuh dengan KTK tinggi (90.78 me/100 g). Aplikasi bahan organik walaupun sedikit dapat memberikan pengaruh yang sangat besar dalam sifat fisika dan kimia tanah (Bohn & McNeal 1979). Untuk menghidari terjadinya pencucian bahan organik yang sudah diberikan maka perlu ditambahkan pupuk polimer sebagai perekat unsur hara dalam tekstur tanah pasir (Setiadi 2012). Aplikasi pupuk mikoriza Mikoriza merupakan bentuk simbiosis mutualisme antara jamur dan akar. Tipe asosiasi fungi mikoriza yang umum dijumpai yaitu arbuskular mikoriza. Fungi mikoriza arbuskula memberikan beberapa keuntungan bagi tumbuhan antara lain meningkatkan kapasitas penyerapan air, non mobile nutrient (P, Zn dan Cu) dan meningkatkan ketahanan terhadap patogen serta kondisi kering (Smith & Read 2008). Aplikasi pupuk mikoriza sebagai pupuk hayati yang berasal dari hasil inokulasi indigenous FMA dapat menyokong pertumbuhan tanaman di awal fase pertumbuhan di lahan-lahan marjinal (Setiadi Y 2014, Komunikasi pribadi). Percobaan rumah kaca untuk merevegetasi lahan pasca tambang timah di Singkep telah dilakukan dengan kombinasi penggunaan media pupuk kandang, inokulan mikoriza dan anakan lamtoro (Leucana lecocephala) dapat mendukung perbaikan pH, KTK dan menurunkan kelarutan Aluminium (Badri 2004). Aplikasi mikoriza dalam restorasi ekosistem dapat dilakukan dalam kondisi tanah dengan bahan 42 organik yang rendah, toksik dan untuk mengoptimalkan pencapaian keanekaragaman hayati (Miller & Jastrow 1992). Berdasarkan hasil analisis kehadiran FMA pada beberapa spesies yang tumbuh di lokasi penelitian maka dapat pemberian pupuk mikoriza yang berasal dari hasil inokulasi FMA lokal dapat menjadi alternatif untuk mendukung pertumbuhan tanaman pada kegiatan revegetasi di lahan pasca tambang timah. Pada kondisi alami telah menunjukkan bahwa beberapa spesies yang juga berpotensi sebagai pionir berasosiasi dengan FMA, sehingga aplikasi pupuk mikoriza ini sesuai dengan konsep restorasi yaitu mendukung terciptanya keanekaragaman hayati spesies lokal dan mengikuti proses adaptasi di alam pada setiap spesies. Legume Cover Crops (LCC) Legume cover crops (LCC) merupakan sebuah teknik persiapan lahan tanam di area terbuka pada kondisi datar maupun kelerengan curam dengan melakukan penanaman rumput sebagai penutup tanah. Menurut Setiadi (2014) teknik ini berguna untuk menstabilkan tanah dan mengurangi erosi. Beberapa jenis legume yang biasa digunakan sebagai cover crops antara lain, Pueraria javanica, Centrosema pubescens dan Calopogonium mucunoides. Aplikasi penanaman LCC membutuhkan pencampuran kompos dan pupuk polimer untuk menghindari adanya pencucian hara yang sebagai nutrisi bagi biji LCC. Aplikasi polimer juga dapat meperbaiki agregat tanah dan sabilitas tanah (Lehrsch et al. 2005; Zandieh & Yasrobi 2010). Pada kondisi lahan pasca tambang timah dengan tekstur berpasir dan porositas tinggi maka sesuai jika dilakukan penanaman LCC. Keberadaan LCC sangat penting dalam proses fiksasi nitrogen dan dapat memperbaiki bulk density, porositas tanah, permeabilitas tanah dan kadar air tanah (Leomo et al 2011). Selain itu, LCC juga mendukung aktivitas mikroorganisme. Nurtjahya (2008) melakukan percobaan tanam di lahan pasca tambang timah di Bangka dengan aplikasi media tanam:kompos kotoran sapi (2:1) kemudian di bagian leher bibit ditutup dengan sobekan sabut kelapa serta menanam Legume Cover Crops (LCC) Calopogonium mucunoides sebanyak 30 kg/ha. Hasilnya dapat meningkatkan kelembaban tanah 10%, menurunkan suhu tanah ± 3,3 °C dan meningkatkan populasi semut dan Collembola. Berdasarkan hasil analisis tanah di lapangan pada kondisi tailing terbuka, persentase pasir yang tinggi, nitrogen yang rendah maka teknik LCC dapat menjadi alternatif persiapan lahan sebelum tanam untuk memperbaiki kondisi tanah. Dengan adanya tanaman penutup tanah, dapat mengurangi limpasan air hujan di atas permukaan tanah dan mendukung tersedianya N dalam tanah dengan adanya asosiasi antara bakteri pemfiksasi N pada akar legume. Perlahan, kandungan liat tanah juga dapat meningkat seiring dengan adanya serasah dari legume sebagai sumber bahan organik. Seed Soil Augmentation (SSA) Dalam kegiatan revegetasi untuk tujuan restorasi, teknik Seed Soil Augmentation (SSA), yaitu menebarkan sumber benih alami yang terdapat pada serasah pinggiran hutan di lokasi lahan pasca tambang yang dapat menjadi alternatif pembenahan tanah dan revegetasi (Setiadi 2014). Teknik ini mengadopsi mekasisme suksesi di alam. Teknik ini diawali dengan evaluasi sumber benih, 43 pengujian status viabilitas sumber benih, pengambilan sumber benih, persiapan lahan, penyebaran benih, manipulasi pertumbuhan dan pemeliharaan. Pada tahap pengambilan sumber benih, sumber benih dikumpulkan dan diambil dari permukaan tanah pohon induk yang sudah dijatuhi biji-biji dari pohon induknya. Kemudian biji yang terkumpul dicampur dengan kompos dan dapat langsung disebarkan di lokasi lahan pasca tambang yang akan ditanami. Jika sudah berkecambah pemberian pupuk polimer baik dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan dan menahan pupuk yang diberikan agar tidak mudah tercuci karena kondisi KTK yang sangat rendah (Setiadi 2014, komunikasi pribadi). Pengumpulan benih biji dari vegetasi pionir semak tidak perlu dilakukan pembersihan di sekitar semak terlebih dahulu, pengumpulan biji akan tercampur dengan biji-biji rumput dan terbawa kemudian dicampur dengan kompos dan disebar di lahan yang akan ditanami. Kandungan bahan organik di Rimba serta tingginya kekayaan dan keanekaragaman spesies tingkat semai di Rimba dapat menjadi sumber seed soil untuk restorasi. Sumber biji-biji tumbuhan bawah dapat di peroleh di Padang atau LPT < 100 tahun yang memiliki keaneakaragaman yang tinggi. Teknik ini dapat menjadi alternatif untuk menginisiasi revegetasi di lahan pasca tambang timah. Aplikasi seed bank dari hutan sebagai tahap awal suksesi untuk mendukung suksesi alami dapat meningkatkan keanekaragaman spesies (Zhang & Chu 2013). 4 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan 1. Karakteristik tanah di hutan kerangas dan lahan pasca tambang timah mengandung unsur hara yang rendah, KTK yang rendah dan tekstur berpasir. Secara khusus, kandungan bahan organik di Rimba, Bebak dan TL 130 tahun lebih tinggi dibandingkan lokasi lainnya. Hutan kerangas Padang memiliki karakteristik yang hampir sama dengan lahan pacsa tambang timah (TL 3 tahun, TL 5 tahun, TL 15 tahun dan TL 50 tahun) yaitu memiliki karakteristik berpasir, pH sedang, bahan organik dan unsur hara sangat rendah. Mineral kaolinit mendominasi di setiap lokasi yang menunjukkan nilai KTK yang rendah. Konsentrasi logam berat di setiap lokasi berada di bawah batas minimum pencemaran lingkungan, sehingga tidak diperlukan perlakuan bioremediasi dalam pembenahan tanah. 2. Keanekaragaman spesies tertinggi sesuai tingkat suksesi suatu ekosistem. Nilai ’ tertinggi ha it t m han awah terdapat di LPT < 100 tahun, nilai ’ tertinggi tingkat emai di LPT > 100 tahun, nilai ’ tertinggi tingkat pancang di Be ak dan nilai ’ tertinggi tingkat pohon di Rimba. Spesies yang banyak dijumpai dalam lima INP tertinggi yaitu dari famili Myrtaceae. 3. Kesamaan komposisi spesies tertinggi tingkat semai dan pancang yaitu di hutan kerangas (Rimba) dan lahan pasca tambang timah dapat dilihat pada LPT > 100 tahun. Pada habitus tumbuhan bawah nilai IS tertinggi yaitu antara Bebak dan LPT < 100 tahun. Pada umur LPT yang lebih tua memiliki 44 kesamaan pada tingkat semai dan pancang di Rimba, sedangkan pada LPT yang lebih muda memiliki kesamaan yang tinggi pada tingkat tumbuhan bawah terhadap Bebak. Adanya kesamaan vegetasi antar komunitas dapat menjadi cadangan sumber benih alami untuk revegetasi. 4. Spesies-spesies yang berpotensi sebagai pionir di lahan pasca tambang timah sebagian besar dari famili Myrtaceae dengan karakteristik dapat tumbuh di lahan terbuka, menghasilkan banyak serasah, memproduksi buah yang kecil, mampu beradaptasi pada kondisi kering maupun tergenang dan mendukung koloninsasi alami. 5. Penambahan bahan organik dan pupuk mikoriza dapat mendukung perbaikan tekstur tanah berpasir dan menstimulasi akar tumbuhan untuk menyerap unsur hara yang ketersediaannya terbatas di dalam tanah. Teknik LCC dan SSA dapat menjadi teknik penanaman berbasis proses suksesi alami, yang dimulai dari tingkat pembenahan tanah serta pertumbuhan tanaman pada tingkat suksesi awal. Saran 1. 2. 3. 4. Dalam perbaikan tanah perlu dilakukan penambahan bahan organik untuk memperbaiki tekstur tanah, aplikasi pupuk polimer untuk meningkatkan KTK, aplikasi pupuk mikoriza untuk mendukung penyerapan fosfor dalam tanah sehingga menjadi tersedia bagi tumbuhan. Penanaman jenis pionir lokal teridentifikasi lebih disarankan untuk mendukung kegiatan restorasi hutan kerangas sehingga mencapai keanekaragaman spesies yang tinggi dengan meniru proses suksesi alami Penelitian lanjutan terkait aplikasi di lapangan untuk menguji keberhasilan restorasi di lahan pasca tambang timah di Kabupaten Belitung Timur dengan aplikasi kombinasi bahan organik, pupuk mikoriza serta menggunakan teknik SSA. Dalam analisis vegetasi di lahan pasca tambang yang tidak homogen, sebaiknya dilakukan analisis di setiap cluster umur tailing agar diperoleh hasil yang maksimal dan lebih baik dalam menilai kerapatan vegetasi. DAFTAR PUSTAKA Aronson J, Alexander S. 2013. Ecosystem restoration is now a global priority: time to roll up your sleeves. J Restoration Ecology (21):293-296. Alexander MJ. 1990. Reclamation after tin mining on the Jos Plateau Nigeria. The Geographycal J (156):44-50. [BAPPEDAL] Badan Pertencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal. 2011. Belitung Timur dalam Angka 2011. Badan Pertencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal kabupaten Belitung Timur. Badri LN. 2004. Karakteristik tanah, vegetasi dan air kolong pasca tambang timah dan teknik rehabilitasi lahan untuk keperluan revegetasi (studi kasus lahan pasca tambang timah Dabo Singkep) [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. 45 Bech J, Abreu MM, Albanese A. 2012. Reclamation of mining sites soils. J of Geochemical Exploration(113):1-2. Bohn Hl, McNeal BL. 1979. Soil Chemistry. Canada (US): J Wiley. Bradshaw A. 1997. Restoration of mined lands-using natural processes. J Ecological Engineering (8):255-269. Brunig EF. 1974. Ecological Studies in The Kerangas Forests of Sarawak and Brunei. Malaysia: Borneo Literature Bureau Brundrett M, Bougher N, Dell B. Grove T, Malajczuk N. 1996. Working with Mycorrhizas in Forestry and Agricluture. Canbera (AU): Australian Centre for International Agricultural Researh. Celik I, Ortas I, Kilic S. 2004. Effects of compost, mycorrhiza, manure and fertilizer on some physical properties of a Chromoxerert soil. Soil & Tillage Research (78): 59-67. [DEC] Department of Environment and Conservation (AU). 2010. Assesment Level for Soil Sediment and Water. Version 1. Western Australia (AU): Department of Environment and Conservation [internet] [diunduh 2014 Sep 1]. Tersedia pada: http://www.esdat.net. [Distanhut] Dinas Pertanian dan Kehutanan (ID). 2012. Laporan Akhir Inventarisasi Lahan Kritis Kabupaten Belitung Timur. Belitung Timur (ID): Dinas Pertanian dan Kehutanan. Fakhrurrazi Y. 2001. Satuan-satuan lansekap dan keanekaragaman tumbuhan buah-buahan liar edibel dalam kehidupan masyarakat Melayu Belitung tesis. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Hess FL, Hess E. 1912. Bibliography of the Geology and Mineralogy of Tin. Washington (US): Smithsonian Inst. Hakim N, Nyakpa Y, Lubis AM, Nugroho SG, Diha MA, Hong GB, Bailey HH. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lampung (ID): Universitas Lampung. Hardjowigeno S. 2010. Ilmu Tanah. Jakarta (ID): Akademika Pressindo. Henny C. 2011. “ olong” eka tam ang timah di p la Bangka: perma alahan kualitas air dan alternatif solusi untuk pemanfaatan. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia 37(1): 119-138. Hikmat A. 2005. Species composition, biomass and economic valuation of three virgin jungle reserve in Peninsular Malaysia [thesis]. Malaysia. Universiti Kebangsaan Malaysia. Bangi Konsorsium Revisi HCV Toolkit Indonesia. 2008. Panduan Identifikasi Kawasan Bernilai Konservasi di Indonesia. Jakarta (ID): Konsorsium Revisi HCV Toolkit Indonesia. Landon JR. 1984. Booker Tropical Soil Manual. London (EN) dan New York (US): Booker Agriculture International Limited. Lehrsch GA, Lentz RD, Kincaid DC. 2005. Polymer and sprinkler droplet energy effects on sugar beet emergence, soil penetration resistance and aggregate stability. Plant and soil (273):1-13. Leomo S, Rakian TC, Muhidin. 2011. Efektivitas tanaman penutup tanah dalam merehabilitasi lahan bekas tambang. Prosiding Seminar Nasional “benarkah Tambang Mensejahterakan?: Telaah Sulawesi Tenggara Menjadi Pusat Industri Pertambangan Nasional”; 24-25 Juni 2011; Kendari, Indonesia. Kendari (ID). 46 Ludwig JA, Reynolds JF. 1988. Statistical Ecology: A Primer on Methods on Computing. New York (US): J Wiley. Marheni L. 2008. Menelusuri perbedaan karakteristik deposit timah (Sn) di Pulau Bangka Belitung: indikasi perbedaan kontrol pada pembentukannya. Prosiding Pertemuan Ilmiah IAGI ke-37; 2008 Agustus; Bandung, Indonesia. Bandung (ID). MacKinnon K, Hatta G., Halim H, Mangalik A. 1996. The Ecology of Kalimantan. Jakarta (ID): Periplus Editions. Magurran AE. 1988. Ecological Diversity and Its Measurement. London (GB): Croom Helm Millar CE, Turk LM. 1990. Fundanmentals of Soil Science. Ed: 8. Canada (US): J Wiley. Miller RM, Jastrow JD. The application of VA Mycorrhizae to ecosystem restoration and reclamation. Mycorrhizal funcioning: an integrative plantfungal process. London (GB): Chapman & Hall. Mueller-Dombois D, Ellenberg H. 1974 Aims and Methods of Vegetation Ecology. New York (US): J Wiley. Nurtjahya E. 2008. Revegetasi lahan pasca tambang timah dengan berbagai jenis pohon lokal di pulau Bangka [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Odum EP. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Terjemahan oleh Tjahjono Samingan dari buku Fundamentals of Ecology. Yogyakarta (ID): UGM Pr. Oktavia D. 2012. Komposisi vegetasi dan potensi tumbuhan obat di hutan kerangas Kabupeten Belitung Timur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Parotta JA, Turnbbull JW, Jones N. 1997. Catalyzing native forest regeneration on degraded tropical lands. J Forest Ecology and Management(1):1-7. Pratiwi SD. 2010. Analisis kesesuaian geologi dalam rangka rehabilitasi lahan pasca penambangan studi kasus Belitung Timur [skripsi]. Jakarta (ID): Universitas Trisakti. Rauret G, Lopez-Sanchez JF, Sahuquillo A, Rubio R, Davidson C, Ure A, Queavauviller Ph. 1999. Improvement of the BCR three step sequential extraction procedure prior to the certification of new sediment and soil reference materials. J Environ. Monit.(1):57-61. Riswan S. 1982. Ecological studies on primary, secondary and experimentally cleared mixed Dipterocarpaceae forets and kerangas forest in East kalimantan, Indonesia [thesis]. Aberdeen (GB): University of Aberdeen. Sahoo UK, Lalfakawma. 2010. Population dynamics of Schima wallichii in an undisturbed vs disturbed tropical forest stand of North-East India. International Journal of Ecology and Environmental Sciences 36 (2-3): 157165 Setiadi Y. 2012. Bahan Kuliah Ekologi Restorasi. Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan, Sekolah Pasca Sarjana, IPB. Tidak Diterbitkan. Setiadi Y. 2014. Prosedur Teknik Revegetasi Lahan Pasca Tambang. Fakultas Kehutanan IPB. Tidak Diterbitkan. Sittadewi EH. 2007. Pengolahan bahan organik eceng gondok menjadi media tumbuh untuk mendukung pertanian organik. J Tek Ling 4(3): 229-234. Soerianegara I, Indrawan A. 2008. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Tidak Diterbitkan. 47 Smith SE, Read DJ. 2008. Mycorrhizal Symbiosis Third Edition. New York (US): Elsevier Ltd. Suganda H, Rachman A, Sutono S. 2006. Petunjuk Pengambilan Contoh Tanah. Kurnia U, Agus F, Adimiharja A, Dariah A, editor. Bogor (ID): Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Van Bemmelen RW. 1970. The Geology of Indonesia. Volume ke-1A. Netherlands (NL): The Government Printing Office, The Hague. Vaidhayakarn C, Maxwell JF. 2010. Ecologycal Status of The Lowland Decidious Forest in Chang Kian Valley, Chiang Mai, Northern Thailand. Maejo Inter Scince Technology 4 (20): 268-317. Wahyudi B. 2003. Studi tentang radioaktivitas lingkungan dan epidemiologi lingkungan pada area pertambangan timah Pulau Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Prosiding Seminar Aspek Kesehatan Radiasi dan Lingkungan pada Industri Non-Nuklir. Jakarta. Whitmore TC. 1984. Tropical Rainforest of the Far East. 2nd Ed. Oxford (GB):Clarendon Press. Whitten AJ, Anwar J, Damanik SJ, Hisyam N. 1984. The Ecology of Sumatra. Yogyakarta (ID): UGM Pr. Whittig LD, Allardice WR. 1986. X-Ray Diffraction Techniques. Methods of Soil Analysis, Part 1. Physical and Mineralogical Methods. Wisconsin (US): American Society of Agronomy-Soil Science of America. hlm 331-359. Widhiyatna D, Pohan MP, Ahdiyat A. 2006. Inventarisasi potensi bahan galian pada wilayah PETI daerah Belitung, Provinsi bangka Belitung. Prosiding Pemaparan Hasil-hasil Kegiatan Lapangan dan Non Lapangan tahun 2006, Pusat Sumberdaya Geologi. [WWF] Worl Wideweb Fund. 2014. Sundaland heath forest. [diunduh 2014 Sep 1] Tersedia pada: http://www.worldwildlife.org/ecoregions/im0161. Xi Jia B, Lei Zheng X, Xiao Ren F, Jia L, Qing Chen X, Yang J, Min Lu H, Wang Q. 2014. Baeckeins F-I, four novel C-methylated biflavonoids from the roots of Baeckea frutescens and their anti inflamatory activities. Food Chemistry (155):31-37. Zhang H, Chu LM. 2013. Changes in soil seed bank composition during early succession of rehabilitated quarries. Ecological Engineering (55):43-50. Zandieh AR, Yasrobi SS. 2010. Study of factors affecting the compressive strength of sandy soil stabilized with polymer. Geotech. Geol Eng (28):139145. 48 Lampiran 1 Daftar nama spesies tumbuhan bawah di setiap lokasi penelitian No Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Lokasi ditemukan 1. Akar banar Smilax barbata Wall. Smilaxaceae Bb 2. Akar berebat Spatholobus ferrugineus (Zoll. & Mor.) Benth. Fabaceae Bb 3. Akar ijau Hypserpa sp. Menispermaceae Bb, LPT < 100 th 4. Akar larak Uvaria hirsuta Jack Annonaceae Rb 5. Akar mencirian Salacia korthalsiana Miq. Celastraceae Rb 6. Akar segendai Rubiaceae Pd 7. Akar terong bulus Ancistrocladaceae Rb 8. Bakung Coptosapelta tomentosa Valeton ex K.Heyne Ancistrocladus tectorius Merr. Dianella montana Blume Liliaceae LPT < 100 th 9. Beruta Dicranopteris linearis (Burm.f.) Underw. Gleicheniaceae LPT < 100 th, LPT > 100 th 10. Drosera Drosera burmanni Vahl. Droseraceae Pd 11. Iding-iding Polypodaceae LPT < 100 th 12. Ilalang Poaceae LPT < 100 th 13. Kejawat padang Stenochlaena palustris Bedd. Imperata cylindrica (L.) Beauv. Celtis sp. Ulmaceae Pd, LPT < 100 th 14. Keletaan Melastomaceae 15. Kembang taru Orchidaceae Bb, LPT < 100 th, LPT > 100 th Pd 16. Kerembun Graminae Pd, LPT < 100 th 17. Keremuntingan Melastoma malabathricum L. Bromheadia finlaysoniana (Lindl.) Paspalum vaginatum Swartz. Rhodomyrtus tomentosa (Aiton) Hassk. Myrtaceae Bb, LPT < 100 th, LPT > 100 th 18. Kerupit pulut Panicum sp. Poaceae Pd, LPT < 100 th 19. Ketakong Nepenthes gracilis Korth. Nepenthaceae Pd 20. Kucai Padang Fimbristylis sp. Cyperaceae Pd, LPT < 100 th 21. Lepang Alpinia oxymitra K. Schum Zingiberaceae Rb, Bb 22. Mate mano Ardisia crispa A.DC. Fabaceae Bb 23. Mensayat Scleria multifoliata Boeck. Cyperaceae Rb, LPT < 100 th 24. Penjalaan Undet. Undet. LPT < 100 th 25. Pinang galing Dracaena elliptica Thunb. Liliaceae Bb 26. Purun Lepironia articulata Domin. Cyperaceae LPT < 100 th 27. Rumput merah Undet. Undet. Pd 28. Rumput putih Undet. Undet. Pd 29. Rumput segar Fimbristylis sp. Cyperaceae Rb, Bb 30. Rumput A Undet. Undet. Pd 49 No Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Lokasi ditemukan 31. Syzygium buxifolium Hook. Myrtaceae 32. Sekudong pelandok Sembung gunung Compositae 33. Sengkelut Clibadium surinamense Linn. Lycopodium cernuum Linn. Rb, Bb, Pd, LPT > 100 th Bb, LPT < 100 th Lycopodiaceae Bb, LPT < 100 th 34. Telaseh hutan Rubiaceae Rb 35. Temeraongan Hemidiodia ocimifolia Schum. Lasia spinosa Thw. Araceae LPT < 100 th Ket: Rb (Rimba), Bb (Bebak), Pd (Padang) 50 Lampiran 2 Daftar nama spesies tingkat semai di setiap lokasi penelitian No Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Lokasi ditemukan 1. Abu-abu Myrtaceae LPT < 100 th 2. Arang-arang Myrtaceae Pd, LPT > 100 th 3. Bali adap Syzygium palembanicum Miq. Syzygium napiforme (Koord.& Valeton) Merr.& Perry Melodinus sp. Apocynaceae LPT < 100 th 4. Bebeti Myrtaceae Pd, LPT > 100 th 5. Betor belulang Clusiaceae Rb, Bb,Pd, LPT > 100 th 6. Betor padi Clusiaceae Rb, Bb 7. Butun Clusiaceae Rb, Bb 8. Gelam Syzygium zeylanicum (L.) DC Calophyllum lanigerum Miq. Calophyllum depressinervosum M.R. Hend. & Wyatt-Sm. Cratoxylon formosum Benth. & Hook.f. ex Dyer Malaleuca leucadendron L. Myrtaceae 9. Jemang Myrtaceae 10. Jenis A Rhodamnia cinerea Jack, Mal. Misc Undet. Pd, LPT < 100 th, LPT > 100 th Rb, Bb Undet. Rb 11. Jenis B Undet. Undet. Rb 12. Jenis C Undet. Undet. Bb 13. Kabal Fagaceae Bb, LPT > 100 th 14. Kandis bini Lithocarpus blumeanus (Korth.) Rehd. Garcinia parvifolia Miq. Clusiaceae Rb 15. Kandis laki Garcinia lateriflora Blume Clusiaceae Bb 16. Kedindiman Myrtaceae Rb, Bb, LPT > 100 th 17. Kelebantuian Syzygium incarnatum (Elmer) Merr. & L.M.Perry Syzygium eunera Myrtaceae 18. Kelinsutan Myrtaceae 19. Keliut Fabaceae Bb 20. Kembuelan Ebenaceae Rb 21. Kendong Symplocaceae Rb, Bb 22. Kiras Clusiaceae Bb 23. Kubing Syzygium decipiens Merr. & L.M. Perry Archidendron microcarpum (Bentham) I. NIelsen Diospyros laevis Boj.ex A.DC. Symplocos cochinchinensis (Lour.) S. Moore Garcinia hombroniana Pierre Artocarpus nitida Trec. Rb, Bb, LPT < 100 th, LPT > 100 th Rb, Bb Moraceae Bb 24. Medang kalong Lauraceae Bb 25. Medang lubang Lecythidaceae Bb 26. Meleman Cinnamomum parthenoxylon Meissn. Barringtonia macrostachya Kurz. Psychotria malayana F.Villar ex Vidal Rubiaceae Rb 51 No Nama Lokal Nama Ilmiah Famili Lokasi ditemukan 27. Mencukaan Sapindaceae Rb 28. Mendiraman Symplocaceae Rb 29. Mendudongan Elaeocarpaceae Bb 30. Mentepongan Asteraceae LPT < 100 th 31. Pelawan kiring Myrtaceae Rb, Bb, Pd, LPT > 100 th 32. Theaceae Bb, LPT > 100 th Adinandra sarosanthera Miq. Hynocarpus sp. Theaceae Rb, LPT > 100 th 34. Pelempang hitam Pelempang putih Pelepak Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh. Symplocos adenophylla Wall. Elaeocarpus floribundum Merrill Vernonia arborea Buch.Ham. Tristaniopsis obovata (Benn.) P.G. Wilson & J.T. Waterhouse Adinandra domosa Jack Flacourtiaceae Bb 35. Pulas Guioa pleuropteris Radlk. Sapindaceae Bb 36. Putat Lecythidaceae LPT > 100 th 37. Renggadaian Theaceae 38. Samak Barringtonia macrostachya Kurz Ploiarium alternifolium Melchior Syzygium lepidocarpa Kurz. Myrtaceae LPT < 100 th, LPT > 100 th Rb, Bb, LPT > 100 th 39. Sapu padang Baeckea frutescens Myrtaceae Pd 40. Sekuncong Myrtaceae LPT > 100 th 41. Sendetopan Leptospermum flavescens Sm. Ficus aurita Blume Moraceae LPT > 100 th 42. Sendetopan rusa Undet. Undet. Rb, LPT < 100 th 43. Sengkeratongan Helicia robusta Vill. Proteaceae Bb 44. Seru Schima wallichii Korth. Theaceae Bb, LPT > 100 th 45. Sesalah Eurya nitida Hieron Theaceae Bb, LPT < 100 th 46. Simpor bini Dilleniaceae LPT > 100 th 47. Singkang Myrtaceae Rb, Bb 48. Sisilan Myrtaceae Rb, Bb, LPT > 100 th 49. Subalan Elaeocarpaceae Rb 50. Tenam Rubiaceae Rb, Bb, LPT < 100 th 51. Ubar Myrtaceae Rb 52. Ubi-ubi Dillenia suffruticosa Griff. ex Hook Syzygium lineatum (DC.) Merr.& Perry Syzygium rostratum (Blume) DC Elaeocarpus petiolatus Wall. ex Steud. Psychotria viridiflora Reinw. ex Blume Syzygium cerina M.R. Henderson Rapanea hasseltii Mez. Myrsinaceae Rb, Bb 33. Ket: Rb (Rimba), Bb (Bebak), Pd (Padang) 52 Lampiran 3 Daftar nama spesies tingkat pancang di setiap lokasi penelitian No 1 2 3 Nama lokal Akasia Ambongambong Arang-arang Nama ilmiah Acacia mangium Glochidion arborescens Blume Syzygium napiforme (Koord.& Valeton) Merr.& Perry Mallotus barbatus (Wall.) Muell. Syzygium zeylanicum (L.) DC Syzygium zeylanicum (L.) DC Planchonella oxyedra Dubard. Castanopsis cuspidata Calophyllum lanigerum Miq. Calophyllum depressinervosum R.M. Henderson & Wyat tSmith. Cratoxylon formosum Benth. & Hook.f. ex Dyer Malaleuca leucadendron L. Rhodamnia cinerea Jack, Mal. Misc Famili Fabaceae Euphorbiaceae Lokasi ditemukan LPT < 100 th Bb Myrtaceae LPT < 100 th, LPT > 100 th 4 Balik angin Euphorbiaceae. LPT < 100 th 5 Bebeti Myrtaceae LPT < 100 th 6 Bebeti Myrtaceae Bb, LPT > 100 th 7 Benansi Sapotaceae Bb 8 9 Berangan Betor belulang Fagaceae Clusiaceae Rb Rb, Bb, LPT > 100 th 10 Betor padi Clusiaceae Rb, Bb 11 Butun Clusiaceae Rb, Bb 12 Gelam Myrtaceae Myrtaceae Pd, LPT < 100 th, LPT > 100 th Rb, Bb 13 Jemang 14 Julok antu Arthrophyllum diversifolium Blume Araliaceae Bb 15 Kabal Fagaceae Bb, LPT > 100 th 16 17 18 Kandis bini Kandis laki Kedindiman Clusiaceae Clusiaceae Myrtaceae Rb Bb Rb, Bb, LPT > 100 th 19 Kelebantuian Lithocarpus blumeanus (Korth.) Rehd. Garcinia parvifolia Miq. Garcinia lateriflora Blume Syzygium incarnatum (Elmer) Merr. & L.M.Perry Syzygium eunera Myrtaceae 20 21 Kelidangan Kelinsutan Moraceae Myrtaceae 22 Kembuelan Ebenaceae Rb 23 Kendong Symplocaceae Rb, Bb 24 Kiras Clusiaceae Bb 25 26 Kubing Ladi Moraceae Melastomataceae Bb Rb 27 28 Ludai Medang belilin Artocarpus rigidus Blume. Syzygium decipiens Merr. & L.M. Perry Diospyros laevis Boj.ex A.DC. Symplocos cochinchinensis (Lour.) S. Moore Garcinia hombroniana Pierre Artocarpus nitida Trec. Pternandra coerulescens Jack Sapium baccatum Roxb. Cryptocarya densiflora Rb, Bb, LPT < 100 th, LPT > 100 th Rb Rb, Bb Euphorbiaceae Lauraceae Rb Rb, Bb 53 No Nama lokal 29 Medang kalong 30 31 Medang lantai dahan Medang lubang 32 33 34 Medang miang Melawangan Meleman 35 Mencukaan 36 Mendiraman 37 38 39 Mengkikiran Mensira Menteno 40 41 Pelangas Pelawan kiring 42 44 45 46 47 Pelempang hitam Pelempang putih Pelepak Pudok Pulas Putat 48 Renggadaian 49 Samak 50 Samak tali 51 52 Sekudong pelandok Sekuncong 53 54 Sendetopan Senggerubongan 55 56 57 58 59 Sengkeratongan Sentuang Seru Sesalah Simpor bini 60 Simpor laki 43 Nama ilmiah Blume Cinnamomum parthenoxylon Meissn. Litsea cf. resinosa Blume Famili Lokasi ditemukan Lauraceae Bb Lauraceae Rb Barringtonia macrostachya Kurz. Litsea firma Hook.f. Eurycoma longifolia L. Psychotria malayana F.Villar ex Vidal Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh. Symplocos adenophylla Wall. Myrica javanica Blume Ilex cymosa Bl. Commersonia bartramia Merr. Aporosa aurita Baill. Tristaniopsis obovata (Benn.) P.G. Wilson & J.T. Waterhouse Adinandra domosa Jack Lecythidaceae Bb, LPT < 100 th Lauraceae Simaroubaceae Rubiaceae Rb, Bb Rb Rb Sapindaceae Rb Symplocaceae Bb Myricaceae Aquifoliaceae Sterculeaceae Rb, Bb Rb, Bb LPT < 100 th Euphorbiaceae Myrtaceae Rb, Bb Rb, Bb, Pd, LPT > 100 th Theaceae Bb, LPT > 100 th Adinandra sarosanthera Miq. Hynocarpus sp. Artocarpus kemando Miq. Guioa pleuropteris Radlk. Barringtonia macrostachya Kurz Ploiarium alternifolium Melchior Syzygium lepidocarpa Kurz. Glochidion celastroides Pax Syzygium buxifolium Hook. Leptospermum flavescens Sm. Ficus aurita Blume Macaranga gigantea Muell. Arg. Helicia robusta Vill. Undet. Schima wallichii Korth. Eurya nitida Hieron Dillenia suffruticosa Griff. ex Hook Dillenia eximia Miq. Theaceae Rb, Bb, LPT > 100 th Flacourtiaceae Moraceae Sapindaceae Bb Rb Rb, Bb LPT > 100 th Theaceae LPT > 100 th Myrtaceae Rb, Bb, LPT > 100 th Euphorbiaceae Bb Myrtaceae Rb, Bb, LPT > 100 th Myrtaceae LPT > 100 th Moraceae Euphorbiaceae LPT < 100 th, LPT > 100 th Rb Proteaceae Undet. Theaceae Theaceae Dilleniaceae Bb Rb, Bb Rb, Bb, LPT > 100 th Rb, Bb, LPT < 100 th Bb, LPT < 100 th, LPT > 100 th Bb Dilleniaceae 54 No 61 Nama lokal Singkang Nama ilmiah Syzygium lineatum (DC.) Merr.& Perry 62 Sisilan Syzygium rostratum (Blume) DC 63 Subalan Elaeocarpus petiolatus Wall. ex Steud. 64 Tenam Psychotria viridiflora Reinw. ex Blume 65 Ubar Syzygium cerina M.R. Henderson 66 Ubi-ubi Rapanea hasseltii Mez. Ket: Rb (Rimba), Bb (Bebak), Pd (Padang) Famili Myrtaceae Lokasi ditemukan Rb, Bb Myrtaceae Rb, Bb, LPT > 100 th Elaeocarpaceae Rb Rubiaceae Rb Myrtaceae Rb Myrsinaceae Rb 55 Lampiran 4 Daftar nama spesies tingkat pohon di setiap lokasi penelitian No 1. 2. 3. Nama Lokal Akasia Ambong-ambong Betor belulang Nama Ilmiah Acacia mangium Glochidion arborescens Blume Calophyllum lanigerum Miq. Calophyllum depressinervosum R.M. Henderson & Wyat tSmith. 5. Jambu mete Anacardium occidentale 6. Jemang Rhodamnia cinerea Jack, Mal. Misc 7. Jering Archidendron pauciflorum (Benth.) I.C.Nielsen 8. Jurong Ixonanthes petiolaris Blume 9. Kabal Lithocarpus blumeanus (Korth.) Rehd. 10. Kerendipongan Parkia singularis Miq. 11. Kiras Garcinia hombroniana Pierre 12. Ladi Pternandra coerulescens Jack 13. Libut Endospermum diadenum (Miq.) Airy Shaw 14. Ludai Sapium baccatum Roxb. 15. Medang miang Litsea firma Hook.f. 16. Mendiraman Symplocos adenophylla Wall. 17. Mengkikiran Myrica javanica Blume 18. Mensira Ilex cymosa Bl. 19. Mentepongan Vernonia arborea Buch.-Ham. 20. Pedu keli Undet. 21. Pelawan kiring Tristaniopsis obovata (Benn.) P.G. Wilson & J.T. Waterhouse 22. Pelempang hitam Adinandra domosa Jack 23. Pelempang putih Adinandra sarosanthera Miq. 24. Pelepak Hynocarpus sp. 25. Perepat Combretocarpus rotundatus Danser 26. Pudok Artocarpus kemando Miq. 27. Pulas Guioa pleuropteris Radlk. 28. Samak Syzygium lepidocarpa Kurz. 29. Seru Schima wallichii Korth. 30. Singkang Syzygium lineatum (DC.) Merr.& Perry 31. Sisilan Syzygium rostratum (Blume) DC 32. Subalan Elaeocarpus petiolatus Wall. ex Steud. 33. Sundarender Undet. 34. Urisan Bouea oppositifolia Meissn. Ket: Rb (Rimba), Bb (Bebak), Pd (Padang) 4. Betor padi Famili Fabaceae Euphorbiaceae Clusiaceae Lokasi ditemukan TL < 100 th Rb, Bb Rb Clusiaceae Rb Moraceae Myrtaceae TL < 100 th Rb, Bb Fabaceae Bb Linaceae Fagaceae Rb Bb Fabaceae Clusiaceae Melastomataceae Euphorbiaceae Rb, Bb Rb Rb Bb Euphorbiaceae Lauraceae Symplocaceae Myricaceae Aquifoliaceae Asteraceae Undet. Myrtaceae Bb Rb Rb Rb, Bb Rb Bb, LPT< 100 th Rb Rb, Bb Theaceae Theaceae Flacourtiaceae Rhizophoraceae Rb Rb Bb Pd Moraceae Sapindaceae Myrtaceae Theaceae Myrtaceae Rb Bb Rb, Bb Rb, Bb Rb Myrtaceae Elaeocarpaceae Rb Rb Undet. Anacardiaceae Rb Rb 56 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Manggar pada tanggal 15 Maret 1991 sebagai anak bungsu dari pasangan Rahmat Kurniawan dan Emma Kusjana. Pendidikan sarjana ditempuh sejak tahun 2008 di Program Studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB dengan dukungan beasiswa dari Pemerintah Daerah Kabupaten Belitung Timur melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD), lulus pada tahun 2012. Pada tahun 2013, penulis diterima di Program Studi Silvikultur Tropika Program Pascasarjana IPB. Selama mengikuti program S-2, penulis memperoleh kesempatan belajar di Jepang melalui program “ yoto Uni er ity Graduate School of Global Environmental Studies (GSGES) Short-Term Scholarship Program”. Penulis menjalani perkuliahan selama enam bulan serta melakukan eksperimen mengenai analisis logam berat dan mineral liat di Laboratory of Soil Science, Kyoto University. Karya ilmiah yang berjudul The Comparison of Soil Properties in Heath Forest and Post-Tin Mined Land: Basic Information for Ecosystem Restoration telah dipresentasikan pada The 5th International Conference on Sustainable Future for Human Security (The 5th SustaiN) di Sanur, Bali pada 19 November 2014. Karya ilmiah tersebut merupakan bagian dari program S-2 penulis.
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
123dok avatar
Medownload saja
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

Karakteristik Tanah dan Vegetasi di Hutan Ker..

Gratis

Feedback