Perlindungan Hukum Bagi Kreditur Dalam Eksekusi Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Hak Tanggungan

Gratis

5
95
91
2 years ago
Preview
Full text

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KREDITUR DALAM EKSEKUSI PERJANJIAN KREDIT DENGAN JAMINAN HAK TANGGUNGAN SKRIPSI

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara OLEH:AHMAD HUDA DAYAN NASUTION NIM: 070200368FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KREDITUR DALAM EKSEKUSI

SKRIPSIisusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara OLEH:AHMAD HUDA DAYAN NASUTION NIM: 070200368DEPARTEMEN HUKUM PERDATA DAGANG DIKETAHUI OLEH KETUA DEPARTEMEN HUKUM DR Hasim Purba SH MHumNIP: 196603031985081001 DISETUJUI OLEH PEMBIMBING I PEMBIMBING IIMegarita,SH,CN,MHum Dr.Idha Aprilyana S,SH,MHumNIP :196110111988132001 NIP : 197604142002122003

HUKUM BAGI KREDITUR DALAM EKSEKUSI PERJANJIAN KREDIT

  Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder(secondary data), yaitu data yang tidak diperoleh secara langsung dari lapangan ataumasyarakat, tetapi melalui studi kepustakaan dengan mengkaji dan mempelajari buku, literatur, jurnal, dan data internet. Sertapenafsiran dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 yang memberikan perlindungan hukum kepada kreditur Kata Kunci : Kredit, Hak Tanggungan dan Eksekusi Hak Tanggungan A B S T R A KAhmad Huda Dayan Nst* Megarita** Idha Aprilyana***Hak tanggungan pada hakikatnya merupakan hak jaminan atas tanah.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan ekonomi sebagai bagian dari pembangunan nasional

  Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan merumuskan pengertian kredit : “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapatdipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara pihak bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjamuntuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”. Risiko yang umumnya terjadi adalah kegagalan atau kemacetan dalam pelunasan kredit (resiko kredit), resiko yang timbul karena pergerakan pasar (resiko pasar),resiko karena bank tidak mampu memenuhi kewajibannya yang telah jatuh tempo(resiko likuiditas), serta resiko karena adanya kelemahan aspek yuridis yang disebabkan adanya tuntutan hukum, ketiadaan peraturan perundang-undangan 2 yang mendukung (resiko hukum).

9 Subekti dan Tjitrosudibio. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. (Jakarta : Pradnya

Bentuk jaminan yang paling banyak digunakan sebagai agunan dalam perjanjian kredit bank adalah hak atas tanah, baik dengan status hak milik, hakguna usaha, hak guna bangunan maupun hak pakai, karena pada umumnya memiliki nilai atau harga yang tinggi dan terus meningkat, sehingga dalam hal inisudah selayaknya apabila debitur sebagai penerima kredit dan kreditur sebagai pemberi fasilitas kredit serta pihak lain terkait memperoleh perlindungan melaluisuatu lembaga hak jaminan yang kuat dan dapat memberikan kepastian hukum. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 51 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, disebutkan bahwa sudahdisediakan lembaga hak jaminan yang kuat dan dapat dibebankan pada hak atas tanah, yaitu hak tanggungan sebagai pengganti lembaga hypoytheek dan Credietverband. Selama 30 tahun lebih sejak mulai berlakunya undang-undang Pokok agraria tersebut, lembaga hak tanggungan ini belum dapat berfungsiSebagaimana mestinya, karena belum ada undang-undang yang mengaturnyaSecara lengkap, serta ketentuan dalam peraturan tersebut sudah tidak sesuaiDengan asas hukum tanah nasional dan kurang memenuhi kebutuhan ekonomi di

10 Bidang perkreditan

  Lembaga jaminan hak tanggungan ini telah diakui eksistensinya melaluiUndang-undang nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas tanah Beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah dan menjadikan kepentingan Debiturmaupun kreditur mendapatkan perlindungan hukum dari pemerintah. Dalam proses pemberian kredit, sering terjadi bahwa pihak kreditur dirugikan ketika pihak debitur melakukan wanprestasi, sehingga diperlukan suatu aturanhukum dalam pelaksanaan pembebanan Hak Tanggungan yang tertuang dalam suatu perjanjian kredit, yang bertujuan untuk memberikan kepastian danperlindungan hukum bagi pihak-pihak terkait, khususnya bagi pihak kreditur apabila debitur wanprestasi atau tidak memenuhi kewajibannya.

B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang diatas, selanjutnya permasalahan dalam skripsi ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah prosedur umum pemberian kredit dengan jaminan di

  Manfaat PraktisManfaat penelitian lainnya secara praktis diharapkan dapat menjadi rujukan ataupun referensi bagi para praktisi hukum maupun praktisi perbankandalam hal menjadi rujukan dalam proses penyelesaian kewajiban pembayaran kredit macet dengan menggunakan lembaga hak tanggungan serta E. Tinjauan Kepustakaan Tinjauan Kepustakaan adalah suatu studi awal yang berkenaan atau memiliki hubungan dengan topik yang ada secara relevan dengan menggunakanberbagai literatur atau bacaan dalam studinya.

1. Memberitahu khalayak/pembaca tentang penelitian terkait berkenaan dengan studi/ topik yang sedang dilaporkan

  Menghubungkan suatu studi dengan dialog yang lebih luas dan berkesinambungan tentang suatu topik dalam pustaka yang diperuntukkanuntuk mengisi kekurangan dan memperluas studi-studi sebelumnya. 3.

4. Sebagai landasan untuk membandingkan suatu studi dengan temuan-temuan

  Pengertian PerjanjianPengertian Perjanjian diatur di dalam Bab II Buku III Kitab Undang- Undang Hukum Perdata tentang “Perikatan-Perikatan yang Dilahirkan DariKontrak atau Perjanjian”, mulai Pasal 1313 sampai dengan Pasal 1351, dimana ketentuan dalam Pasal 1313 merumuskan pengertian perjanjian yang berbunyi :“Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih 12 mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. Kata kredit berasal dari bahasa Romawi yaitu credere yang berarti kepercayaan akan kebenaran, dan apabila dihubungkan dengan bank, maka terkandung pengertian bahwa pihak bank selaku kreditur memberikan kepercayaan untuk meminjamkan sejumlah uang kepada nasabahatau debitur, karena debitur dipercaya kemampuannya untuk membayar lunas13 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia.

14 Dalam pengertian yang lebih luas, kredit dapat diartikan sebagai

  Simorangkir Kredit adalah pemberian prestasi (misalnya uang, barang) dengan balas prestasi (kontraprestasi) yang akan terjadi pada waktu yang akandatang. Hal ini terlihat dalam praktek bahwa setiap bank telah menyediakan blanko perjanjian kredit yang isinya telah disiapkan lebih dahulu.

16 Mariam Darus Badrulzaman. Perjanjian Kredit Bank. (Bandung : PT Citra Aditya

diartikan sebagai : “Peraturan hukum yang mengatur tentang jaminan-jaminan piutang seorang kreditur terhadap seorang debitur”Istilah jaminan merupakan terjemahan dari istilah zekerheid atau cautie yaitu kemampuan debitur untuk memenuhi atau melunasi perutangannya kepadakreditur, yang dilakukan dengan cara menahan benda tertentu yang bernilai ekonomis sebagai tanggungan atas pinjaman atau utang yang diterima debitur 17 tehadap krediturnya. Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentangPerubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, disebutkan dalam Pasal 1 angka 23 bahwa agunan yang merupakan bagian dariistilah jaminan adalah : “Agunan adalah jaminan tambahan yang diserahkan nasabah debitur kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit ataupembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah

G. Metode Penelitian

  Menurut pendapat koentjaraningrat, yang dinamakan metode penelitian adalah dalam arti katanya yang sesungguhnya, maka metode (Yunani : "methods")adalah cara atau jalan, sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami obyek dari sasaran yangbersangkutan. Untuk memenuhi kriteria penulisan yang bersifat ilmiah, maka harus didukung dengan metode yang bersifat ilmiah pula, yaitu berpikir yang 18 obyektif, dan hasilnya harus dapat dibuktikan dan di uji secara benar.

17 Salim HS. Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia. (Jakarta : PT Raja Grafindo

  Metode penelitian normatif tersebut disebut juga dengan penelitian doktrinal (doctrinal research)yaitu suatu penelitian yang memusatkan pada analisis hukum baik hukum yang tertulis dalam buku (law in books) maupun hukum yang diputuskan oleh Hakimmelalui putusan pengadilan (law is decided by the judge through the judicial 19 process) . (Jakarta:Gratifi Press,2006) Hal.118.20 Ronny H Soemitro Metodologi Penelitian Hukum dan Jurumetri, (Jakarta: Ghalia dimaksud dengan penelitian hukum adalah kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari 21 satu atau segala hukum tertentu dengan jalan menganalisanya.

2. Sumber Data

  Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini,yaitu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas TanahBeserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah, Undang-Undang Nomor 10Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Kitab Undang- Undang Hukum Perdata. Penganalisisan data pada hakekatnya merupakan kegiatan untuk mengadakan sistematisasi bahan-bahan hukum tertulis untuk memudahkanpekerjaan analisis dan konstruksi Analisis data yang dipergunakan adalah analisa data dengan cara melakukan analisa terhadap pasal-pasal yang isinya merupakan kaedah hukum,dalam hal ini adalah analisis terhadap pasal-pasal yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah BesertaBenda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah.

G. Sistematika Penulisan

  Dalam bab ini akan diuraikan mengenai pengertian, azas- azas dan tata cara untuk mendaftarkan hak tanggungan padaprakteknya khusunya pada saat perjanjian kredit BAB IV: EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KREDITUR DALAM PERJANJIAN KREDIT Pembahasan dalam bab yang keempat ini adalah merupakan pembahasan yang bersumber dari penelitian ( research ). Aspek yangakan dibahas dalam bab ini adalah mengenai tata cara pelaksanaan eksekusi hak tanggungan dalam perjanjian kredit terhadap debituryag menunggak/wanprestasi kredit macet dan bagaimanakah perlindungan hukum yang dapat diberikan pada kreditur pemeganghak tanggungan.

2. Kecakapan Para Pihak

3. Ada Objek Tertentu

  Menurut Pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, seseorang dikatakan tidak cakap membuat perjanjian ialah orang yang belumdewasa, orang yang ditaruh dibawah pengampuan, dan wanita bersuami, sehingga apabila hendak melakukan perbuatan hukum harus diwakili oleh walinya dan bagiseorang istri harus ada izin suaminya. Akibat hukum ketidakcakapan membuat perjanjian ialah bahwa perjanjian yang telah dibuat itu dapat dimintakan Suatu hal atau objek tertentu merupakan pokok perjanjian, objek perjanjian dan prestasi yang wajib dipenuhi.

B. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian Kredit Bank

  Muchdarsyah Sinungan menyatakan bahwa “Kredit adalah uang bank yang dipinjamkan kepada nasabah dan akan dikembalikan pada suatu waktu 22 tertentu di masa mendatang disertai dengan suatu kontraprestasi berupa bunga”Mariam Darus Badrulzaman menyatakan secara umum kredit diartikan sebagai “The ability to borrow on the opinion conceived by the lender that we will be 23repaid”. Kredit perbankan, yaitu kredit yang diberikan oleh bank pemerintah atau bank swasta kepada dunia usaha guna membiayai sebagian kebutuhanpermodalan, dan atau kredit dari bank kepada individu untuk membiayai pembelian kebutuhan berupa barang maupun jasa Menurut pendapat H.

1. Meningkatkan daya guna uang; 2

  Hal ini dikarenakan perjanjian kredit mirip dengan perjanjian pinjam meminjam uang menurut Pasal 1754 KUH Perdata yang menyatakanbahwa pinjam meminjam adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang habispakai dengan syarat bahwa pihak yang terakhir ini akan mengembalikan sejumlah 25 yang sama mulai dari jenis maupun mutu yang sama pula. Dengan demikian perbuatan suatu perjanjian kredit dapat berdasarkan ketentuan-ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tetapidapat pula berdasarkan kesepakatan para pihak, artinya dalam hal ketentuan yang memaksa maka harus sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam KitabUndang-Undang Hukum Perdata, sedangkan dalam hal tertentu yang tidak memaksa diserahkan kepada para pihak.

2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang

Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, meliputi Pasal 1 angka 11 tentang Pengertian Kredit; Perjanjian anjak-piutang, yaitu perjanjianpembiayaan dalam bentuk pembelian dan atau pengalihanserta pengurusan piutang atau tagihan-tagihan jangk pendek suatu perusahaan dari transaksiperdagangan dalam atau luar negeri; Berdasarkan rumusan yang terdapat di dalam Undang-Undang Perbankan mengenai Perjanjian Kredit, maka dapat disimpulkan bahwa dasar dalamperjanjian kredit adalah perjanjian pinjammeminjam uang, sebagaimana tertuang dalam Pasal 1754 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa: “Perjanjian pinjam-meminjam ialah perjanjian dengn mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yangmenghabis karena pemakaian dengan syarat bahwa pihak yang belakang ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula”Menurut Budi Untung, secara yuridis terdapat 2 (dua) jenis perjanjian atau pengikatan kredit yang digunakan oleh bank dalam memberikan kreditnya, yaitu : 1. Perjanjian kredit di bawah tangan atau akta di bawah tangan, yaitu perjanjian pemberian kredit oleh bank kepada nasabahnya yang dibuat hanya di antaramereka (kreditur dan debitur) tanpa notaris. Lazimnya dalam penandatanganan akta perjanjian kredit, saksi turut serta membubuhkantandatangannya karena saksi merupakan salah satu alat pembuktian dalam perkara perdata;

2. Perjanjian kredit autentik, yaitu perjanjian pemberian kredit oleh bank kepada

27 nasabahnya yang hanya dibuat dibuat oleh atau dihadapan notaris.

C. Kredit Macet dan Wan Prestasi

  Kredit yang diberikan oleh kreditur kepada debitur selalu mengandung risiko, maka pemberian kredit dilandasi atas kemampuan, kesanggupan dan itikadbaik dari kreditur untuk dapat melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan. Kepentingan Pribadi (Self Dealing) Self dealing terjadi karena adanya interest tertentu dari pejabat pemberi kredit terhadap permohonan yang diajukan nasabah, berupa pemberian kredit yang tidak layak atas dasar yang kurang sehat terhadap nasabahnya denganharapan mendapatkan kompensasi berupa pemberian imbalan dari nasabah.

28 A.Totok Budi Santoso, Sigit Triandari, Y. Sri Susilo. Bank dan Lembaga Keuangan

  Kegagalan dalam Menentukan Tindakan Eksekusi Perjanjian Kredit (Failure to Obtain or Enforce Liquidation Agreements) Sikap ragu-ragu dalam menentukan tindakan terhadap suatu kewajiban yang telah diperjanjikan, meskipun nasabah mampu dan wajib membayarnya, jugamerupakan penyebab timbulnya kredit-kredit yang tidak sehat dan mengakibatkan kredit bermasalah bagi bank. Wanprestasi dengan memperhatikan ketentuan Pasal 1243Kitab Undang‐undang Hukum Perdata dapat terjadi karena, tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya, melaksanakan apa yang dijanjikannya tetapitidak dilakukan dengan semestinya, menjalankan hal yang dijanjikan akan tetapi terlambat melaksanakannya, atau melakukan sesuatu yang menurut perjanjiantidak boleh dilakukannya.

1. Debitur tidak melaksanakan sama sekali apa yang telah diperjanjikan 2

  2 Pasal 1763 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menjelaskan pengertian yang lebih spesifik, bahwa wanprestasi adalah tidak mengembalikanpinjaman sesuai dengan jumlah pinjaman dalam waktu yang ditentukan Kredit bermasalah dapat disebabkan oleh faktor‐faktor yang berasal dari sudut eksternal maupun internal. Faktor terjadinya kredit bermasalah yang bersifatinternal pada umumnya berkaitan dengan pihak analisis kurang teliti sehingga apa Menurut Pasal 1267 Kitab Undang‐undang Hukum Perdata, maka pihak yang ingkar janji atau wanprestasi dapat dibebani untuk memenuhi perjanjian ataudibatalkannya perjanjian disertai dengan penggantian biaya, kerugian dan bunga.

D. Pengertian dan Dasar Yuridis Hukum Jaminan

  Hukum jaminan pada dasarnya adalah “Keseluruhan dari kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum antara pemberi dan penerima jaminandalam kaitannya dengan pembebanan jaminan untuk mendapatkan fasilitas kredit” Berdasarkan definisi mengenai hukum jaminan tersebut, maka unsur-unsur 34 yang terkandung dalam pengertian hukum jaminan adalah : 1. Adanya kaidah hukum dalam bidang jaminan, dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu kaidah hukum jaminan tertulis berupa peraturan perundang-undangan, traktat, dan yurisprudensi serta kaidah hukum jaminan tidak tertulis berupa kaidah hukum yang tumbuh, hidup, dan berkembang dalam masyarakat.

E. Jenis-Jenis Jaminan

  Bentuk-bentuk agunan sesuai dengan penjelasan Pasal 8 UU No 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan adalah segala sesuatu yang dapat hanya berupa barang,proyek atau hak tagih yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan. Untuk kebendaan bergerak, dapat dibebankan Hak Jaminan Perorangan Jaminan imateriil atau perorangan adalah hak yang memberikan kepada kreditur suatu kedudukan yang lebih baik, karena adanyalebih dari seorang debitur yang dapat ditagih.

40 Rachmadi Usman. Hukum Jaminan Keperdataan. (Jakarta : Sinar Grafika,2008) Hal

67

BAB II I TINJAUAN UMUM TENTANG HAK TANGGUNGAN DI INDONESIA A. Konsep-Konsep Dasar Hak Tanggungan a. Pengertian Hak Tanggungan Tanggungan merupakan barang yang dijadikan jaminan guna pelunasan

  Dalam kurun waktu itu, berdasarkan ketentuan peralihan yang tercantum dalam Pasal 57 Undang-Undang Pokok Agraria, masihdiberlakukan ketentuan Hypoteek sebagaimana dimaksud dalam Buku II KUHPerdata Indonesia dan ketentuan creditverband dalam Staatsblad 1908-542 sebagaimana yang telah diubah dengan Staatsblad 1937-190, sepanjang mengenaihal-hal yang belum terdapat aturannya di dalam Undang-Undang Pokok Agraria. Berdasarkan hal tersebut di atas, Rachmadi Usman, menafsirkan bahwa pemberian satu hak tanggungan dimungkinkan untuk:a.beberapa kreditur yang (bergabung) memberikan utang kepada seorang debitur berdasarkan satu hubungan hukum (perjanjian utang piutang);b.beberapa kreditur yang memberikan utang kepada seorang debitur berdasarkan beberapa hubungan hukum (perjanjian utang piutang) yang berlainan antaramasing-masing kreditur dengan debitur yang bersangkutan.

2. Klasifikasi Hak Tanggungan

  Jika ditinjau dari yang ditunjuk olehUUPA (Pasal 4 ayat 1 UUHT) maka yang bisa menjadi objek hak tanggungan hanyalah Hak Milik (Pasal 25 UUPA), Hak Guna Usaha (Pasal 33 UUPA), HakGuna Bangunan (Pasal 39 UUPA). Sifat Hak Tanggungan a) tidak dapat dibagi-bagi (pasal 2 UUHT) bahwa hak tanggungan membebanisecara utuh obyek hak tanggungan dan setiap bagian dari padanya, dan sifat ini tidak berlaku mutlak karena ada kemungkinan untuk mengecualikan ataumenyimpang dari sifat tidak dapat dibagi-bagi ini didasarkan dengan roya parsial.

B. Azas-Azas Hukum Hak Tanggungan

Azas-azas hukum hak tanggungan sebagaimana tercantum dalam UndangUndang Nomor 4 Tahun 1996 adalah : 47 http://raja1987.blogspot.com/2009/06/hak-tanggungan-subjek-objek-sifat-dan.html.

1. Mempunyai kedudukan yang diutamakan bagi kreditur pemegang Hak

  Dapat dibebankan atas benda lain yang berkaitan dengan tanah yang baru akan ada di kemudian hari (Pasal 4 ayat (4) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996); 6. Dapat dibebankan dengan disertai janji-janji tertentu (Pasal 11 ayat (2)Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996) Hak Tanggungan memiliki sifat yang tidak dapat dipungkiri yakniPertama, Tidak dapat dibagi-bagi (ondeelbaar), berarti Hak Tanggungan membebani secara utuh obyeknya dan setiap bagian daripadanya.

C. Subjek dan Objek Hak Tanggungan a

  sebagai pihak yang berpiutangSubjek Hak Tanggungan di dalam Pasal 8 sampai dengan Pasal 9 Undang- Undang Nomor 4 Tahun 1996 adalah : Pemberi Hak Tanggungan, dapat perorangan atau badan hukum, yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap objekHak Tanggungan; b. Hak atas tanah berikut bangunan, tanaman, dan hasil karya yang telah ada atau akan ada merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut dan merupakan hakmilik pemegang hak atas tanah yang pembebanannya dengan tegas dan dinyatakan di dalam akta pemberian hak atas tanah yang bersangkutan Menurut pasal 4 UU No.4 Tahun 1996 menegaskan bahwa objek hak tanggungan:a.

D. Tata Cara Pemberian, Pendaftaran dan Hapusnya Hak Tanggungan 1

  Tata Cara Pemberian Hak TanggunganProsedur pemberian Hak Tanggungan sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996, dilakukan dengan cara : a. Didahului janji untuk memberikan hak tanggungan sebagai jaminan pelunasan utang tertentu, yang merupakan yak terpisahkan dari perjanjian utang piutang;b.

2. Tata Cara Pendaftaran Hak Tanggungan

  Kantor Pertanahan membuatkan buku tanah hak tanggungan dan mencatatnya dalam buku tanah hak atas tanah yang menjadi objek hak tanggungan sertamenyalin catatan tersebut pada sertifikat hak atas tanah yang bersangkutan; d. Tanggal buku tanah hak tanggungan adalah tanggal hari ketujuh setelah penerimaan secara lengkap surat-surat yang diperlukan bagi pendaftarannya,apabila hari ketujuh itu jatuh pada hari libur, buku tanah yang bersangkutan diberi tanggal hari kerja berikutnya; Hak Tanggungan lahir pada hari tanggal buku tanah hak tanggungan dibuatkan(Pasal 13 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996); f.

49 Ibid, Hal 187-188

  Janji yang memberikan kewenangan kepada pemegang Hak Tanggungan untuk menyelamatkan obyek Hak Tanggungan, jika hal itu diperlukan untukpelaksanaan eksekusi atau hak untuk mencegah menjadi hapusnya atau dibatalkannya hak yang menjadi obyek Hak Tanggungan karena tidakdipenuhi atau dilanggarnya ketentuan undang-undang; 5. Janji bahwa sertipikat hak atas tanah yang telah dibubuhi catatan pembebanan Hak Tanggungan tetap berada ditangan kreditor sampai seluruhkewajiban debitor dipenuhi sebagaimana mestinya Ada janji yang dilarang untuk dilakukan, yaitu janji yang disebutkan dalam Pasal 12 UUHT, yaitu dilarang diperjanjikan pemberian kewenangankepada kreditur untuk memiliki objek Hak Tanggungan apabila debitur cidera janji.

BAB IV EKSEKUSI HAK TANGGUNGAN DAN PERLINDUNGAN KREDITUR DALAM PERJANJIAN KREDIT A. Prosedur Umum Pemberian Kredit Dengan Jaminan Di Indonesia 1. Prosedur Pemberian Kredit Bagi perbankan dalam hal penyaluran kredit, berbagai peraturan perundang-

  Oleh karena itu pengikatan jaminan harus dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku Condition of Economy, yaitu situasi dan kondisi ekonomi dalam kurun waktu tertentu yang dapat mempengaruhi kredit yang diberikan, misalnya tingkat inflasi, resesi karena situasi dalam negeri maupun luar negeri yang jika terjadi akanberpengaruh langsung terhadap usaha debitor dan akhirnya dapat mengalami kesulitan dalam mengembalikan kreditnya. Jaminan Kredit Pada Bank Hal yang penting pula dan bagi bank dalam mencairkan kredit adalahBank wajib memiliki dan menerapkan pedoman perkreditan sebagaimana yang ditetapkan oleh ketentuan Pasal 8 ayat 2 yang diatur lebih lebih lanjut dengan SKDireksi BI No 27/ 162/ KE/ DIR.

B. Kedudukan Kreditur Pemegang Hak Tanggungan

  Berdasarkan Penjelasan Umum angka 9 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996, bahwa walaupun secara umum ketentuan tentang eksekusi telah diatur dalamHukum Acara Perdata yang berlaku, dipandang perlu untuk memasukkan secara khusus ketentuan tentang eksekusi Hak Tanggungan dalam Undang-UndangNomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan, yaitu mengatur tentang lembaga parate eksekusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 224 HIR dan Pasal 256 Rbg. Dan apabila debitur cidera janji,maka hak atas tanah yang dibebani dengan Hak Tanggungan itu berhak dijual oleh pemegang Hak Tanggungan tanpa persetujuan dari pemberi Hak Tanggungan danpemberi Hak Tanggungan tidak dapat menyatakan keberatan atas penjualan tersebut.

2. Penjualan di Bawah Tangan

  Dalam hal debitur ternyata jatuh miskin setelah tanah yang dibebani dengan Hak Tanggungan itu dilelang, maka sisa utangitu masih dapat ditagih dalam waktu 30 tahun Berdasarkan Penjelasan Umum Angka 9 dan Penjelasan Pasal 14 ayat (3)Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996, bahwa Sertifikat Hak Tanggungan berlaku dan berfungsi sebagai pengganti grosse acte hypotheek atau grosse akta 3. Perlindungan hukum tersebut berupa adanya janji yang membatasi kewenangan pemberi Hak Tanggungan (debitur) untuk tidak melakukan tindakanyang merugikan pemegang Hak Tanggungan (kreditur) atau janji yang harus dilakukan apabila debitur wanprestasi, serta adanya janji yang memberikankewenangan kepada pemegang Hak Tanggungan untuk melakukan hal tertentu Menurut Pasal 22 UUHT itu memberikan jaminan terhadap pemegang HakTanggungan, apabila pemberi Hak Tanggungan dinyatakan pailit.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Kredit yang diberikan oleh perbankan sebagaian besar berasal dari

  Hal lainnya adalah dalam hal pemberian kredit, bank harus mengikuti prosedur dan syarat umum yag ditentukan terutama dalam hal pengikatankredit termasuk juga pengikatan jaminan kredit berupa hak tanggungan. Namun secara umum eksekusi dalam hak tanggungan dapat dilakukan kreditur dalam hal ini dengan menyerahkan kepada Kantor Pelayanan Kepiutangan dan Lelang Negara (KPKNL) untuk diadakan lelang dan eksekusi objek hak tanggungan.

B. Saran 1

  Jaminan bahwa pemegang hak tanggungan memiliki sifat untuk lebih diutamakan daripada kreditur-keditur lainnya selayaknya dapat menjadipedoman bagi pihak perbankan agar dapat lebih hati-hati dalam pengikatan hak tanggungan agar eksekusi hak tanggungan dapat berjalan lancar danperbankan akan memperoleh jaminan penyelesaian kredit macet yang dialaminya 3. Bank Pemerintah sebagai kreditur pada umunmya belum sepenuhnya memanfaatkan ketentuan yang tercantum dalam Pasal 6 dengan sebaik-baiknya, karena apabila terjadi wanprestasi oleh pihak debitur biasanya bank sebagai kreditur mengajukan permohonan eksekusi dengan meminta bantuankepada Ketua Pengadilan Negeri untuk menjual objek Hak Tanggungan melalui pelelangan umum guna memperoleh pelunasan piutangnya.

DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU

  Sulaiman, Dkk, Esensi Hukum Bisnis Indonesia Teori dan Praktek,Jakarta :Prenada Media 2004 Amin, Mochammad, 1984 Hukum Kepailitan dan Surseance, Garuda, MalangDanang Ari. Yogyakarta : Seksi Hukum Dagang FH UGM, 1981 Hartono, Siti Soemarti, Pengantar Hukum Kepailitan dan Penundaan Gautama, Sudargo, Komentar Atas Peraturan Kepailitan Baru Untuk Indonesia,Bandung, Citra Aditya Bakti, 1998 Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit, Jakarta : Raja Grafindp.

B. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

UU No 10 Tahun 1998 Tentang PerbankanPeraturan Bank Indonesia/ PBI No 5/8/PBI/2003 Tentang Manajemen Resiko Bagi Bank UmumPBI No 7/8/PBI/2005 Tentang Sistem Informasi Debitur

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Konsekuensi Jaminan Kredit Untuk Perlindungan Hukum Bagi Kepentingan Kreditur Di Medan
1
51
83
Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan Berupa Hak Tanggungan Yang Mengalami Force Majeure Dalam Perjanjian Kredit
2
71
133
Perlindungan Hukum Bagi Kreditur Dalam Eksekusi Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Hak Tanggungan
5
95
91
Perjanjian Kredit Dengan Jaminan Hak Tanggungan Dan Upaya Penyelesaian Kredit Macet Atas Jaminan Hak Tanggungan (Studi Pada PT.Bank Negara Indonesia Tbk Cabang Kabanjahe)
1
62
129
Aspek Hukum Joint Financing Kredit Dengan Pemberian Jaminan Hak Tanggungan
5
95
141
Perlindungan Hukum Terhadap Bank Sebagai Kreditor Pemegang Hak Tanggungan Dalam Penangguhan Eksekusi Jaminan Berkaitan Dengan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan
4
51
124
Perlindungan Hukum Terhadap Kreditur Dalam Perjanjian Kredit Tanpa Agunan
2
36
3
Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan Berupa Hak Tanggungan Yang Mengalami Force Majeure Dalam Perjanjian Kredit
0
104
125
Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Konsekuensi Jaminan Kredit Untuk Perlindungan Hukum Bagi Kepentingan Kreditur Di Medan
0
0
11
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Konsekuensi Jaminan Kredit Untuk Perlindungan Hukum Bagi Kepentingan Kreditur Di Medan
0
0
12
Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan Berupa Hak Tanggungan Yang Mengalami Force Majeure Dalam Perjanjian Kredit
0
0
12
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN KREDIT PERBANKAN A. Tinjauan Umum tentang Perjanjian 1. Pengertian Umum Perjanjian - Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan Berupa Hak Tanggungan Yang Mengalami Force Majeure Dalam Perjanjian Kredit
0
0
25
i KATA PENGANTAR - Perlindungan Hukum Kreditur Pemegang Jaminan Berupa Hak Tanggungan Yang Mengalami Force Majeure Dalam Perjanjian Kredit
0
0
19
Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Konsekuensi Jaminan Kredit Untuk Perlindungan Hukum Bagi Kepentingan Kreditur Di Medan
0
0
11
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Eksekusi Hak Tanggungan Sebagai Konsekuensi Jaminan Kredit Untuk Perlindungan Hukum Bagi Kepentingan Kreditur Di Medan
0
0
12
Show more