Usahatani dan Strategi Pengembangan Pertanian Organik Vertikultur di Kecamatan Medan Marelan Kota Medan

Gratis

5
87
108
2 years ago
Preview
Full text

RIWAYAT HIDUP

  Penulis dilahirkan di Medan, pada tanggal 22 Mei 1991 dari Bapak Slamet Untung Waluyo dan Almarhumah Ibu Juhartati. Sekolah Dasar di SD Swasta Taman Siswa Medan, masuk tahun 1996 dan lulus pada tahun 2002.

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segala rahmat dan hidayah serta limpahan karunia-Nya sehinggapenulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Usahatani dan StrategiPengembangan Pertanian Organik Vertikultur di Kecamatan Medan Marelan Kota Medan” (Studi Kasus : Kelurahan Terjun Kecamatan MedanMarelan) yang merupakan salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan studi di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Teman-teman di UKMI Ad Dakwah USU serta abang/kakaksenior dan adik-adik yang telah banyak membantu dan memberikan motivasi baik secara langsung maupun tidak langsung.

DAFTAR LAMPIRAN

  Untuk pengembangan usahatani sayuran organik vertikultur ini digunakan Strategi SO yaitu (1) Memanfaatkan ketersediaan inputproduksi dan status kepemilikan lahan untuk melakukan perluasan usahatani dan (2) Bekerjasama dalam kelompok tani untuk memenuhi permintaan sayuranorganik yang tinggi dan mengambil peluang penjualan sayuran organik berupa benih. Strategi WT yaitu (1) Mengadakan pelatihan-pelatihan dalam budidaya dan pencatatan usahatani untuk meningkatkanpengetahuan petani dalam bertani dalam mengatasi pengalaman bertani petani sampel dan intensitas monitoring pemerintah yang masih rendah.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi makanan yang sehat tidak hanya menjadikan masyarakat memilih sayuran untuk menjadi makanan yangdikonsumsi namun masyarakat juga memilih sayuran organik yang kualitas dan keamanannya serba alami yang terbebas dari pestisida dan herbisida kimia. 1.3 Tujuan PenelitianAdapun tujuan dari penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Untuk menganalisis total penerimaan, biaya produksi dan pendapatan usahatani sayuran organik vertikultur2) Untuk menganalisis kelayakan usahatani sayuran organik vertikultur di daerahpenelitian.3) Untuk menganalisis strategi pengembangan usahatani sayuran organikvertikultur di daerah penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Aspek Agronomis

  Polapertumbuhan daun mirip tanaman kubis, daun yang muncul terlebih dahulumenutup daun yang tumbuh kemudian hingga membentuk krop bulat panjang yang berwarna putih. Tanaman cabai besar dan keriting yang ditanam di dataran rendahsudah dapat dipanen pertama kali umur 70 – 75 hari setelah tanam.

2.1.2 Pertanian Organik

  Sistem pertanian organik adalah sistem produksi holistik dan terpadu, mengoptimalkan kesehatan dan produktifitas agroekosistem secaralamai serta mampu menghasilakn pangan dan serat yang cukup, berkualitas dan berkelanjutan (Direktorat Jenderal holtikultura, 2008). Karena itupertanaman organik tidak boleh berdekatan dengan pertanaman yang memakai pupuk buatan, pestisida kimia dan lain-lain yang tidak diizinkan.

5. Pengelolaan Organisme Pengganggu

14

2.1.3 Vertikultur

  g) Bangunan vertikultur dapat dipindah-tempatkan ke tempat yang diinginkan,terutama untuk vertikultur dengan konstruksi yang dapat dipindah-pindahkan. Dalam mengembangkan usahatani kegiatan utama yang dilakukan adalah peningkatan produksi barang pertanian yang dihasilkan petani, meningkatkanproduktivitas pertanian serta mendorong pengembangan komoditas yang sesuai dengan potensi wilayah.

2.1.3 Penelitian Sebelumnya

  Tegalbero Camp yang merupakan model pertanian terpadu yang mewadahi perkebunan, pertanian, perikanan, dan peternakan (buntaninak) padatahun 2010 menerapkan pertanian vertikultur dengan 300 lonjor paralon PVC setinggi masing-masing 2 meter. Untuk komoditi bawang merah, dalam satutonggak paralon menghasilkan 4 kilogram bawang merah, dengan harga bawang merah sekitar Rp 15.000,- per kilogram dan biaya paralon Rp 20.000,- pertonggak ditambah biaya pupuk dan perawatan, pendapatan Rp 60.000,- per tonggak masih menguntungkan (Mahmudi, 2010).

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Analisis Usahatani

  Ilmu usahatani diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuktujuan memeperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Dikatakan efektif apabila petani atau produsen dapat mengalokasikan sumberdaya yangmereka miliki (yang dikuasai) sebaik-baiknya, dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output) yang melebihimesukan (input) (Seokartawi, 1995).

2. Biaya Variabel (Variabel cost)

  Kalau menginginkan produksi yang tinggi, maka tenaga kerja perlu ditambah, sehingga biaya inisifatnya berubah-ubah tergantung dari besar kecilnya produksi yang dinginkan (Soekartawi, 2003). Menurut Soekartawi dalam Yanti (2011) Dalam usaha tani, petani akan memperoleh penerimaan dan pendapatan penerimaan usaha tani adalah perkalianantara produksi yang diperoleh dengan harga jual.

2.2.2 Analisis SWOT

  20 WEAKNESSES (W) STRATEGI STCiptakan strategi yang menggunakan kekuatanuntuk mengatasi ancaman STRATEGI WTCiptakan strategi yang meminimalkan kelemahandan menghindari ancaman TREATHS (T) STRATEGI WOCiptakan strategi yang meminimalkan kelemahanuntuk memanfaatkan peluang STRATEGI SOCiptakan strategi yang menggunakan kekuatanuntuk memanfaatkan peluang OPPORTUNITIES (O) IFAS EFAS STRENGHTS (S) Gambar 1. Matriks ini menggambarkan dengan jelas peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi dalam perusahaandandisesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.

2.3 Kerangka Pemikiran

  Penerapan teknik vertikultur ini dapat meningkatkan penanaman jumlah tanaman pada suatu areal tertentu hingga 3-10 kali lipat, sehingga produksitanaman yang dihasilkan dapat meningkat. Penelitian inijuga menjelaskan strategi untuk mengembangkan pertanian organik vertikultur agar penerapan pertanian ini dapat meluas ke wilayah lain sehingga permasalahanketerbatasan lahan untuk bercocok tanam dapat diatasi.

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah dan kerangka pemikiran maka hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah :

1. Usahatani sayuran organik vertikultur di daerah penelitian layak untuk diusahakan

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN

  Daerah ini dipilih karena di Kelurahan Terjun Kecamatan MedanMarelan merupakan daerah percontohan untuk program Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPL) di Kota Medan yang saat ini sedang dilakukanpengembangan pertanian vertikultur dan seluruh petani sampel menerapkan pertanian organik vertikultur. 3.2 Metode Penarikan SampelSampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti dan yang dianggap dapat menggambarkan populasi.

3.3 Metode Pengumpulan Data

  Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi atau dinas yang terkait dengan penelitian seperti Balai PengkajianTeknologi Pertanian, Balai Pengkajian Pertanian Kecamatan Marelan, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan. Kuesioner Penggunaan tenaga kerjaKuesioner Faktor internal yang mempengaruhi Kuesioner Faktor eksternal yang mempengaruhi 2 Data SekunderBalai Pengkajian Nama-Nama sampel Luas wilayah Kota Medan Badan Pusat Statistikb.

3.4 Metode Analisis Data

  PyDimana : TR = Total Penerimaan (Rp)Y = Produksi yang diperoleh dalam suatu usahatani (Kg) Py = Harga Y (Rp) Untuk mengetahui struktur biaya usahatani yaitu dengan menghitung besar biaya tetap dan biaya variabel. Faktor eksternal atau faktor yang berasal dari luar, yaitu factor yang tidak dapat dikendalikan oleh petani .

3 X n = Nilai untuk responden n 8

  Nilai ini yang menjadi bobot faktor. Setelah diperoleh bobot tiap faktor strategis, dicari skor terbobot dengan cara mengalikan skor dari tiap faktor dengan bobot yang diperoleh dalam tiapfaktor.

10. Langkah 1 sampai 9 tersebut disusun dalam table EFAS untuk faktor strategi internal dan table IFAS untuk faktor strategi internal

Tabel 3. EFAS ( Eksternal Factors Analisys Summary)Faktor-faktor Bobot x Strategi Eksternal Bobot Rating RatingPeluang: Faktor-faktorBobot x Strategi Internal Bobot Rating Rating Kekuatan: Faktor-faktor strategis disusun dengan menggunakan matriks SWOT

STRENGHTS (S) WEAKNESSES (W)

IFAS EFAS Ciptakan strategi yang Ciptakan strategi yang(O)menggunakan kekuatan meminimalkan

TREATHS (T) STRATEGI ST STRATEGI WT

Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk mengatasi ancamaneksternaldan menghindari ancaman Gambar 3. Diagram Matriks SWOT

1.5 Definisi dan Batasan Operasional

1.5.1 Definisi 1

  Petani sampel adalah petani yang menerapkan pertanian organik vertikultur di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan yang dibantuoleh BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Sumatera Utara 2. Input produksi adalah semua korbanan yang diberikan, seperti pupuk , tanah, tenaga kerja, dan peralatan, agar tanaman dapat tumbuh danmemberikan hasil yang baik.

1.5.2 Batasan Operasional

1. Lokasi penelitian adalah di Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan

2. Waktu penelitian dilaksanakan pada tahun 2012 3

Analisis kelayakan usahatani dihitung dengan menggunakan kriteria R/CRatio (Return Cost Ratio)

BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK SAMPEL

4.1 Deskripsi Daerah Penelitian

4.1.1 Letak geografi Kota Medan

  Sebagian besar wilayah Kota Medan merupakan dataran rendah yang merupakan tempat pertemuan dua sungaipenting yaitu Suangai Babura dan Sungai Deli. Kota Medan mempunyai iklim tropis dengan suhu minimum menurut Stasiun Polonia berkisar antara 23,04 C – 24,08 C dan suhu maksimum berkisarantara 32,73 C – 34,47 C, serta menurut Stasiun Sampali suhu minimumnya berkisar antara 22,6 C – 24,4 C dan suhu maksimum berkisar antara 32,3 C –33,9 C.

4.1.2 Penduduk Kota Medan

  Penduduk Menurut Kelompok Umur No Kelompok Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Jumlah (%)1 0-14 574.129 27, 37 2 15-54 1.337.435 63, 76 3 > 55 186.046 8, 87Jumlah 2.097.610 100, 00 Sumber : BPS, Medan Dalam Angka, 2011Tabel 6 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kota Medan pada tahun 2011 sebanyak 2.097.610 jiwa dengan jumlah usia non produktif (balita, anak-anak dan remaja) yaitu usia 0-14 tahun sebanyak 574.129 jiwa atau sekitar 27, 37% dari total penduduk Kota Medan. Usia produktif adalah usia dimana orang memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga dapat menghasilkan barang dan jasa dengan efektif.

4.1.3 Pertanian di Kota Medan

  Komoditi dengan luas panen dan jumlah produksi terbesar adalah komoditi padi sawah dengan luasan panen sebesar 4.209 Ha dan jumlah produksi sebesar 16.829Kg. Jenis-jenis komoditi yang diusahakan di Kota Medan dapat dilihat pada Tabel 8 berikut.

1 Padi Sawah 4.209 6.826

  Luas panen sayur-sayuran pada tahun 2010 adalah sebesar 1.338 Ha dan jumlah produksi sebesar 7.964 Kg atau sekitar 20,33% dari total produksi komoditipertanian di Kota Medan. Kecamatan Medan Marelan berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli Serdang di sebelah Selatan dan sebelah Barat, Kecamatan Medan Belawan di SebelahUtara, dan Kecamatan Medan Labuhan di sebelah Timur.

2 Marelan adalah 44,47 km

  Luas Wilayah per Kelurahan di Kecamatan Medan Marelan Tahun 2009 2 No Kelurahan Luas(km ) Persentase terhadap Luas Kecamatan(%) 1 Tanah Enam Ratus 3,42 7,69 2 Rengas Pulau 10,50 23,61 3 Terjun 16,05 36,09 4 Paya Pasir 10,00 22,49 5 Labuhan Deli 4,50 10,12 Jumlah44,47 100,00 Sumber: Medan Marelan Dalam Angka, 2011Distribusi jumlah penduduk menurut jenis kelamin di Kecamatan Medan Marelan dapat dilihat pada Tabel 9. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kecamatan Medan Marelan Tahun 2009No Kelompok Jenis Kelamin Jumlah (Jiwa) Umur Laki – laki (Jiwa) Perempuan (Jiwa) 1 0-4 5.228 5.393 10.621 2 5-14 11.421 11.577 22.9983 15-44 38.844 33.326 68.170 4 45-64 10.304 9.491 19.7955 2.386 2.649 5.035 ≥ 65 Jumlah 64.183 62.436 126.619Sumber: Medan Marelan Dalam Angka, 2011 Tabel 10.

4.2. Karakteristik Sampel

  4.2.1 Distribusi Sampel Berdasarkan Jumlah KomoditiSampel yang diambil dalam penelitian ini adalah petani yang menanam sayuran dengan jenis sawi, bayam, kangkung, cabai, terong, dan timun. Distribusi Sampel Berdasarkan Jumlah Komoditi No Jumlah Komoditi Jumlah (Orang) PresentaseYang Ditanam (%) 1 4 6 24 2 3 12 48 3 2 7 28 Jumlah 25 100Sumber: Analisis Data Primer (Lampiran 1), 2012 4.2.2 Distribusi Sampel Berdasarkan Luas PekaranganLahan pekarangan yang sempit di daerah perkotaan merupakan ide dasar diterapkanya pertanian vertikultur sehingga dapat dilakukan pemnfaatan lahanpekarangan secara efisien.

2 No Luas Lahan(M ) Frekuensi Presentase (%)

  Distribusi Sampel Berdasarkan Pengalaman Bertani No Pengalaman (Tahun) Frekuensi Presentase (%)1 0-5 20 80 2 6-10 2 8 3 3 12 ≥10Jumlah 25 100Sumber: Analisis Data Primer (Lampiran 1), 2012 Tabel 15 menunjukkan bahwa mayoritas petani sampel memiliki pengalaman bertani yang masih singkat. Sebesar 80% petani sampel memilikihanya pengalaman bertani 0-5 tahun dan hanya 12% petani sampel yang memiliki pengalaman bertani diatas 10 tahun.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil pengamatan dan wawancara dengan petani responden di daerah

  penelitian, diketahui bahwa ada 6 jenis komoditi sayuran yang dibudidayakan secara organik vertikultur. Setiap petani membudidayakan 2-4 jenis tanaman.

5.1.1 Biaya Produksi Usahatani Sayuran di Kecamatan Medan Marelan

  Biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani dalam usahatani sayuran organik vertikultur ini adalah biaya bibit, pupuk, peralatan dan tenaga kerja. Hal ini terjadi karena hanya ada satu petani sajayang melakukan pembelian hama organik, sedangkan petani yang lainnya melakukan pengendalian hama dengan membuat obat pengendalian hama sendiridengan menggunakan tumbuh-tumbuhan seperti tembakau dan bawang putih.

5.1.2 Penerimaan Usahatani Sayuran di Kecamatan Medan Marelan

  5.1.3 Pendapatan dan Analisis Kelayakan Usahatani Sayuran Organik Vertikultur Pendapatan adalah selisih antara penerimaan dengan seluruh biaya yang dikeluarkan petani dalam usahatani. Rata-rata pendapatan dan hasil analisis kelayakan usahatani sayuran organik vertikultur di Kecamatan Medan Marelan dalam satu tahun dapat dilihatpada Tabel 18.

5.2 Strategi Pengembangan Usahatani Sayuran Organik Vertikultur

  Pada tahapan pengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal dilakukan dengan pembuatan parameterpenilaian, untuk penentuan bobot strategis digunakan rata-rata geometri nilai dari tiap sampel lalu kemudian di normalisasikan hingga total bobot menjadi 1. Strategi pengembangan sayuran organik vertikultur didaerah penelitian dapat dilihat dangan analisis SWOT yaitu dengan melihat kekuatan (Strenght), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunity), dan ancaman(Treaths).

5.2.1 Tahap Penentuan Bobot Faktor Strategis

  Penggunaan tenaga kerja luar keluarga yang rendah Faktor ini tidak memiliki bobot yang rendah, yaitu 0.02 karena usahatanisayuran organik vertikultur ini masih dalam skala yang sangat kecil dan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehingga tidak membutuhkantenaga kerja luar keluarga.j. Permintaan sayuran organik di daerah penelitian tinggi, hal ini dapat dilihat dari hasil wawancaradengan ketua kelompok tani di daerah ini yang menyatakan bahwa ada banyak tawaran kerjasama untuk menyediakan sayuran organik di supermarket-supermarket, namun karena hasil produksi yang masih rendah hal ini belum dapat direalisasikan.

5.2.2 Tahap Penentuan Rating dan Skoring Faktor Strategis

  Pada tahap penentuan rating, identifikasi faktor stategis internal ditinjau dari kekuatan dan kelemahan yang ada serta identifikasi faktor strategis eksternalditinjau dari peluang dan ancaman yang ada. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (EFAS) Faktor-Faktor Strategis Internal Bobot Rating Bobot x Rating PeluangAdanya program pemerintah 0.21 3 0,63 Permintaan sayuran organik yang tinggi0.17 4 0,68 Harga sayuran organik yang tinggi0.17 3 0,51 Adanya pasar penjualan sayuran organik dalam0.18 3 0,54 bentuk benih Total Skor Peluang 0,65 13 2,36 AncamanIntensitas monitoring pemerintah yang rendah 0,27 2 0,54 Total Skor Ancaman 0,27 2 0,54 Sumber : Analisis Data Primer (Lampiran 11,14), 2012.

5.2.3 Tahap Penentuan Alternatif Strategi

  Kelompok tani juga diharapkan dapat menjalankan perannya untuk membuka peluang penjualan dalam bentukbenih dan pemasok sayuran organik guna memenuhi permintaan sayuran organik yang tinggi. Strategi ST disusun karena intensitas monitoring pemerintah yang rendah terhadap usahatani sayuran organik vertikultur di daerah ini, sehingga diharapkanpara petani dapat mengoptimalkan daya adaptasinya terhadap teknologi pertanian vertikultur organik yang relatif mudah.

IFAS KEKUATAN (S) KELEMAHAN (W) 1

  petani sampel yang Keberadaan kelompok tani yang mendukung rendahpengembangan usahatani 3. Luas lahan pekarangan Hasil produksi usahatani yang sempit yang rendahEFAS 5.

PELUANG (O) 1

  kepemilikan lahan untuk organik Permintaan sayuran organik yang tinggi melakukan perluasan 2. usahatani serangan hama dan Harga sayuran organik yang tinggi2.

ANCAMAN (T) 1

  1. Memanfaatkan adaptasi Mengadakan pelatihan-1.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan 1

  Hasil produksi usahatani sayuran organik vertikultur di daerah penelitian masih sangat kecil karena usahatani ini hanya untuk pemanfaatan lahanpekarangan yang sempit sebagai salah satu sumber pangan rumah tangga, bukan untuk dijual. Strategi pengembangan usahatani sayuran organik vertikultur di daerah penelitian terdiri dari Strategi SO yaitu (1) Memanfaatkan ketersediaan inputproduksi dan status kepemilikan lahan untuk melakukan perluasan usahatani dan (2) Bekerjasama dalam kelompok tani untuk memenuhipermintaan sayuran organik yang tinggi dan mengambil peluang penjualan sayuran organik berupa benih.

6.2 Saran 1

  Kepada pemerintah disarankan untuk meningkatkan intensitas monitoring sehingga diketahui masalah apa yang dihadapi petani. Kepada petani agar meningkatkan kerjasama dalam kelompoktaninya sehingga hasil produksi sayuran organik secara vertikultur ini dapatditingkatkan dan permintaan pasar akan sayuran organik dapat di penuhi.

3. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti perbandingan pertanian secara konvensional dan pertanian secara vertikultur

  “Vertikultur, Sehat dan Hijau di Lahan Sempit”.http://sains.kompas.com/read/2011/12/01/21545627/Vertikultur. Penggunaan Peralatan pada Usahatani Sayuran Organik Vertikultur No Nama Rak Gembor Jumlah (Unit) Harga (Rp) Tahun PembelianUmur Pakai (tahun) 22 Siti Wardani 3 210.000 2011 1 100.0002011 3 - - - - 17 Nining 1 100.0002011 3 1 14.000 2011 4 18 Sumiyem 2 200.0002011 3 - - - - 19 Warni 1 100.0002011 3 - - - - 20 Jamilah 2 200.0002011 3 - - - - 21 Ponikem 4 250.000 2011 4 - - - - 3 1 14.000 - - 3 300.0002011 3 - - - - 23 Dani 4 150.0002011 3 1 18.000 2011 4 Lampiran 3.

Dokumen baru

Download (108 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Peran Pemulung Dalam Pengelolaan Sampah dan Timbulan Sampah di TPA Terjun Kecamatan Medan Marelan Kota Medan Tahun 2015
15
216
119
Usahatani dan Strategi Pengembangan Pertanian Organik Vertikultur di Kecamatan Medan Marelan Kota Medan (Studi Kasus : Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan )
11
99
108
Struktur Komunitas Nekton Di Perairan Danau Siombak Kecamatan Medan Marelan Kota Medan
5
37
116
Sistem Agribisnis Usahatani Sayur Mayur di Kelurahan Tanah Enam Ratus Kecamatan Medan Marelan
0
28
121
Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Sayur Mayur di Kelurahan Tanah Enam Ratus Kecamatan Medan Marelan Kota Medan
0
38
115
Usahatani dan Strategi Pengembangan Pertanian Organik Vertikultur di Kecamatan Medan Marelan Kota Medan
5
87
108
Pemasaran Komoditi Sawi Di Kelurahan Tanah Enam Ratus Kecamatan Medan Marelan Kota Medan
13
75
123
Konversi Lahan Pertanian Di Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan
6
95
96
Karakteristik Penghuni Perumahan Tertata Di Sebelah Utara Dan Selatan Kota Medan (Studi Kasus: Kecamatan Medan Marelan dan Medan Johor)
1
44
92
Keanekaragaman Makrozoobentos Sebagai Indikator Kualitas Perairan Danau Siombak Kecamatan Medan Marelan Kota Medan
0
0
15
Usahatani dan Strategi Pengembangan Pertanian Organik Vertikultur di Kecamatan Medan Marelan Kota Medan (Studi Kasus : Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan )
0
0
31
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN - Usahatani dan Strategi Pengembangan Pertanian Organik Vertikultur di Kecamatan Medan Marelan Kota Medan (Studi Kasus : Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan )
0
0
17
BAB I PENDAHULUAN - Usahatani dan Strategi Pengembangan Pertanian Organik Vertikultur di Kecamatan Medan Marelan Kota Medan (Studi Kasus : Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan )
0
0
8
Usahatani dan Strategi Pengembangan Pertanian Organik Vertikultur di Kecamatan Medan Marelan Kota Medan (Studi Kasus : Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan )
0
0
13
Struktur Komunitas Nekton Di Perairan Danau Siombak Kecamatan Medan Marelan Kota Medan
0
0
16
Show more