Feedback

Hubungan Antara Parameter Model Dan Parameter Peramalan

Informasi dokumen
HUBUNGAN ANTARA PARAMETER MODEL DAN PARAMETER PERAMALAN TESIS Oleh SALAMAT SIREGAR 097021068/MT FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara HUBUNGAN ANTARA PARAMETER MODEL DAN PARAMETER PERAMALAN TESIS Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Magister Matematika pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara Oleh SALAMAT SIREGAR 097021068/MT FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Judul Tesis : HUBUNGAN ANTARA PARAMETER MODEL DAN PARAMETER PERAMALAN Nama Mahasiswa : Salamat Siregar Nomor Pokok : 097021068 Program Studi : Matematika Menyetujui, Komisi Pembimbing (Dr. Sutarman, M.Sc) Ketua (Prof. Dr. Herman Mawengkang) Anggota Ketua Program Studi, Dekan, (Prof. Dr. Herman Mawengkang) (Dr. Sutarman, M.Sc) Tanggal lulus: 15 Juni 2011 Universitas Sumatera Utara Telah diuji pada Tanggal 15 Juni 2011 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua Anggota : : Dr. Sutarman, M.Sc 1. Prof. Dr. Herman Mawengkang 2. Prof. Dr. Opim Salim S, M.Sc 3. Drs. Marwan Harahap, M.Eng Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Kajian tentang hubungan antara parameter model dan parameter peramalan merupakan suatu kajian yang mendesak dan penting dilakukan agar diperoleh suatu kepastian tentang bagaimana sebenarnya pengaruh dari salah satu parameter model terhadap sesama parameter model yang lain dan terhadap parameter peramalan. Untuk melakukan pembahasan terhadap masalah ini, dipilih kasus peramalan cuaca (weather forecasting) sebagai model kasus untuk dikaji hubungan antara parameter model dan peramalan peramalan. Model yang digunakan adalah Numerical Weather Prediction (NWP), sedangkan peramalannya adalah peramalan cuaca yang dikembangkan lembaga riset Naval Research Laboratory - Marine meteorology Divison Monterey California Amerika Serikat, The Coupled Ocean / Atmosphere Mesoscale Prediction System (COAMPS). Pembahasan tentang hubungan antara parameter model dan peramalan adalah dengan memanfaatkan model Lorenz dan model statistika. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa parameter SLP semakin meningkat dengan meningkatnya parameter rdtime dan dtrad; parameter BLH hanya sedikit mempengaruhi parameter rdtime dan dtrad; hubungan antara parameter model dan parameter peramalan bersifat linear dan non-linear; dan hubungan antara parameter model dan parameter peramalan adalah kompleks. Kata kunci : Parameter model, parameter peramalan, NWP model, COAMPS i Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Studies on the relationship between model parameters and forecasting parameter is an urgent and important study carried out in order to obtain some certainty about how exactly the effect of one parameter model for others of other model parameters and forecast parameters. To make the discussion of the issue, selected cases of weather forecasting (weather forecasting) as a model case to study the relationship between model parameters and weather forecasting. The model used was the Numerical Weather Prediction (NWP), while its forecasting is weather forecasting research institute developed the Naval Research Laboratory - Monterey California Marine Division meteorological United States, The Coupled Ocean / Atmosphere Mesoscale Prediction System (COAMPS). A discussion of the relationship between parameters and the forecasting model is to utilize the Lorenz model and statistical model. The conclusion of this study is that the SLP parameters increase with the increased parameter rdtime and dtrad; parameters of BLH is not so affect the parameters rdtime and dtrad; relationship between parameters and parameter forecasting model is linear and non-linear, and the relationship between model parameters and forecasting is complex. Keywords : Model parameters, parameter prediction, NWP models, COAMPS. ii Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Tak ada kata terindah yang pantas diucapkan, kecuali rasa syukur yang sedalam - dalamnya kehadirat Allah SWT yang masih berkenan memberikan rahmat dan taufik-Nya kepada penulis sehingga masih bisa menyelesaikan tesis ini sebagai tugas akhir pada Sekolah Pascasarjana Program Studi Magister Matematika Universitas Sumatera Utara sesuai dengan waktu yang direncanakan. Tesis ini dengan judul ”Hubungan Antara Parameter Model dan Parameter Peramalan” adalah membahas bagaimana pola hubungan antara parameter model dan peramalan akibat adanya perubahan pada satu atau lebih parameter. Pada kesempatan yang baik ini, penulis menyampaikan terimakasih yang sebe-sar-besarnya kepada semua pihak yang turut membantu terselesaikannya tesis ini, khususnya kepada : Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc(CTM). Sp.A(K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara (USU). Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE selaku Direktur Sekolah Pasca Sarajana Universitas Sumatera Utara (USU). Prof. Dr. Herman Mawengkang selaku Ketua Program Studi Magister Matematika FMIPA Universitas Sumatera Utara (USU) dan juga sebagai anggota komisi pembimbing yang dengan penuh keikhlasan dan tak pernah bosan memberikan bimbingan kepada penulis sehingga penulisan tesis ini dapat dirampungkan. Dr. Saib Suwilo, M.Sc. selaku Sekretaris Program Studi Magister Matematika FMIPA Universitas Sumatera Utara (USU). Dr. Sutarman, M.Sc. selaku Dekan FMIPA USU sekaligus sebagai Ketua Komisi Pembimbing dalam penyusunan tesis ini yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam menyusun tesis ini. iii Universitas Sumatera Utara Kepala Bappeda Propinsi Sumatera Utara beserta staf yang telah memberikan beasiswa kepada penulis untuk mengikuti perkuliahan di Program Studi Magister Matematika FMIPA Universitas Sumatera Utara (USU). Bapak/ibu Dosen selaku staf pengajar pada Program Studi Magister Matematika FMIPA Universitas Sumatera Utara (USU) atas bimbingan dan motivasi selama masa perkuliahan. Kepala SMA Negeri 4 Padangsidimpuan yang telah memberikan izin untuk mengikuti perkuliahan di Program StudiMagister Matematika FMIPA Universitas Sumatera Utara (USU). Kepada orang tua penulis dan istri beserta anggota keluarga lainnya atas dukungan dan doanya sehingga penulis dapat menyelesaikan studi pada Program Studi Magister Matematika FMIPA Universitas Sumatera Utara (USU). Semoga amal baik Bapak/Ibu mendapat balasan yang seimbang dari Allah SWT. Amin Medan, Juni 2011 Salamat Siregar iv Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Salamat Siregar dilahirkan di Sisalean pada tanggal 01 Juli 1974 dan merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari ayah Sutan Muara Siregar (alm.) dan ibu Derhana Harahap. Menamatkan Sekolah Dasar di SD Negeri Sisalean pada tahun 1987, Sekolah Menengah Pertama pada SMP Negeri Barumun Tengah tahun 1991, Sekolah Menengah Atas pada SMA Negeri Barumun Tengah tahun 1993. Pada tahun 1993 memasuki Perguruan Tinggi pada IKIP Negeri Medan melalui jalur PMDK, akan tetapi karena sesuatu hal terpaksa meninggalkan IKIP Negeri Medan dan memasuki Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al Washliyah Medan hingga memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada tahun 1998. Pada tahun 1999 diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di SMP Negeri Kotarih Kabupaten Deli Serdang. Pada tahun 2001 mutasi ke SMA Negeri 4 Padangsidimpuan hingga sekarang. Pada tahun 2009 mengikuti Program Studi Magister Matematika di Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. v Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK i ABSTRACT ii KATA PENGANTAR iii RIWAYAT HIDUP v DAFTAR ISI vi DAFTAR GAMBAR vii BAB 1 PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Rumusan Masalah 5 1.3 Tujuan Penelitian 5 1.4 Kontribusi Penelitian 5 1.5 Metodologi Penelitian 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB 3 LANDASAN TEORITIS 9 3.1 Model NWP 9 3.2 COAMPS 18 3.3 Model Statistika 23 BAB 4 HUBUNGAN ANTARA PARAMETER MODEL DAN PARAMETER PERAMALAN PADA KASUS PERAMALAN CUACA 26 BAB 5 KESIMPULAN 32 5.1 Kesimpulan 32 DAFTAR PUSTAKA 33 vi Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Nomor 1.1 Judul Halaman Gambaran Umum Hubungan antara Parameter Model dan Parameter Peramalan 3 3.1 Konsep Model Matematika dari Fleming 10 3.2 Pengambilan Keputusan by Lieberman 24 4.1 Model Lorenz dengan parameter σ = 20, ρ =40, dan β = 2. Nilai awal variabel X = -50, Y = 0, dan Z = -1 27 4.2 Keterkaitan Xmax (kiri) dan Zmax (kanan) pada ρ (atas)dan b (bawah) 29 4.3 Regresi polinomial sesuai dengan data COAMPS forward (atas) dan data COAMPS invers (bawah) 31 vii Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Kajian tentang hubungan antara parameter model dan parameter peramalan merupakan suatu kajian yang mendesak dan penting dilakukan agar diperoleh suatu kepastian tentang bagaimana sebenarnya pengaruh dari salah satu parameter model terhadap sesama parameter model yang lain dan terhadap parameter peramalan. Untuk melakukan pembahasan terhadap masalah ini, dipilih kasus peramalan cuaca (weather forecasting) sebagai model kasus untuk dikaji hubungan antara parameter model dan peramalan peramalan. Model yang digunakan adalah Numerical Weather Prediction (NWP), sedangkan peramalannya adalah peramalan cuaca yang dikembangkan lembaga riset Naval Research Laboratory - Marine meteorology Divison Monterey California Amerika Serikat, The Coupled Ocean / Atmosphere Mesoscale Prediction System (COAMPS). Pembahasan tentang hubungan antara parameter model dan peramalan adalah dengan memanfaatkan model Lorenz dan model statistika. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa parameter SLP semakin meningkat dengan meningkatnya parameter rdtime dan dtrad; parameter BLH hanya sedikit mempengaruhi parameter rdtime dan dtrad; hubungan antara parameter model dan parameter peramalan bersifat linear dan non-linear; dan hubungan antara parameter model dan parameter peramalan adalah kompleks. Kata kunci : Parameter model, parameter peramalan, NWP model, COAMPS i Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Studies on the relationship between model parameters and forecasting parameter is an urgent and important study carried out in order to obtain some certainty about how exactly the effect of one parameter model for others of other model parameters and forecast parameters. To make the discussion of the issue, selected cases of weather forecasting (weather forecasting) as a model case to study the relationship between model parameters and weather forecasting. The model used was the Numerical Weather Prediction (NWP), while its forecasting is weather forecasting research institute developed the Naval Research Laboratory - Monterey California Marine Division meteorological United States, The Coupled Ocean / Atmosphere Mesoscale Prediction System (COAMPS). A discussion of the relationship between parameters and the forecasting model is to utilize the Lorenz model and statistical model. The conclusion of this study is that the SLP parameters increase with the increased parameter rdtime and dtrad; parameters of BLH is not so affect the parameters rdtime and dtrad; relationship between parameters and parameter forecasting model is linear and non-linear, and the relationship between model parameters and forecasting is complex. Keywords : Model parameters, parameter prediction, NWP models, COAMPS. ii Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Parameter model adalah unsur - unsur numerik yang merupakan acuan yang dapat menjelaskan batas - batas atau bagian - bagian tertentu dari suatu model (YTSE, 2010). Misalkan sebuah model dalam bentuk geometri, maka parameternya adalah berupa panjang, lebar, atau tinggi dari objek tersebut. Perubahan pada ukuran panjang, lebar, atau tinggi akan mempengaruhi kondisi model tersebut. Demikian juga dengan model dalam bentuk persamaan linear, maka parameternya adalah gradien dari garis tersebut, perubahan terhadap gradien ini akan mempengaruhi keluaran atau hasil dari model tersebut. Sementara parameter peramalan adalah unsur-unsur numerik yang merupakan acuan yang dapat menjelaskan batas-batas atau bagian-bagian tertentu dari suatu peramalan (YTSE, 2010). Karena peramalan adalah suatu kegiatan yang memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa mendatang secara kuantitatif dengan dasar data yang relevan pada masa lalu, maka peramalan yang baik adalah peramalan yang berdasar pada data atau tingkah laku gejala yang sudah ada dan terjadi secara berulang-ulang pada masa yang lalu serta telah dilakukan kajian secara mendalam baik secara teoretis maupun praktis terhadap model yang digunakan untuk peramalan tersebut. Hasil dari peramalan yang baik ini tentunya akan dijadikan sebagai salah satu unsur terpenting dalam mengambil keputusan. Parameter model dan parameter peramalan adalah seperti dua sisi mata uang yang tidak mungkin dipisahkan, sebab model yang dibentuk dengan sejumlah parameternya akan menentukan kualitas dari hasil peramalan. Sebaliknya hasil peramalan yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk melakukan kajian tentang kehandalan sebuah model yang digunakan untuk melakukan peramalan (Marzban et al., 2007). Keterkaitan antara parameter model dan parameter peramalan dapat terjadi pada hampir semua masalah yang berhubungan dengan peramalan baik se1 Universitas Sumatera Utara 2 cara kualitatif maupun secara kuantitatif seperti pada masalah peramalan inflasi, peramalan cuaca, persediaan barang, penjadwalan produksi dan transportasi, pertumbuhan ekonomi, dan sebagainya. Kajian tentang hubungan antara parameter model dan parameter peramalan merupakan suatu kajian yang mendesak dan penting dilakukan agar diperoleh suatu kepastian tentang bagaimana sebenarnya pengaruh dari salah satu parameter model terhadap sesama parameter model yang lain dan terhadap parameter peramalan. Sebab selama ini literatur-literatur yang berkembang lebih terfokus membicarakan hasil peramalan berdasarkan model yang ada. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sering terjadi hasil ramalan tidak sesuai dengan yang diharapakan. Dampaknya adalah terjadinya kesalahan dalam pengambilan keputusan yang tentunya akan menyebabkan kerugian baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketidaktepatan hasil peramalan ini tentunya disebabkan adanya parameter model yang kurang tepat. Menurut Marzban et al. (2007), ketidaktepatan hasil dalam peramalan dapat berupa : 1) Model tidak menghasilkan sirkulasi dari suatu yang diamati; 2) Model sirkulasi yang dihasilkan tidak begitu intens seperti yang diamati; 3) Model menghasilkan sesuatu yang salah; 4) Pergerakan peramalan diawal terlalu lambat, atau memiliki bentuk yang salah; dll. Maksud sirkulasi dari uraian di atas adalah model yang digunakan dalam peramalan menghasilkan suatu kondisi atau prilaku yang sesuai dengan data awal yang digunakan dalam membentuk sebuah model. Sedangkan kata intens mengandung makna bahwa model yang digunakan dalam peramalan memiliki kehandalan/ kekuatan yang sama dengan data awal dalam membentuk sebuah model. Ketidaktepatan hasil peramalan dapat dimanfaatkan untuk merevisi model yang digunakan untuk meningkatkan akurasi hasil peramalan, akan tetapi agak sulit untuk memanfaatkannya secara langsung karena kebanyakan model biasanya tidak memiliki ”pengendali” yang mengontrol sirkulasi dari suatu peramalan. Pengembang model sering mencoba menyesuaikan parameter tertentu untuk meningkatkan hasil peramalan, namun berakibat terhadap parameter lainnya yang mungkin saja tidak diketahui. Universitas Sumatera Utara 3 Berdasarkan uraian di atas, timbul sebuah pertanyaan mendasar yaitu apakah terdapat hubungan fungsional antara parameter model dan parameter peramalan? Untuk melakukan pembahasan terhadap masalah ini, penulis memilih kasus peramalan cuaca (weather forecasting) sebagai model kasus untuk dikaji hubungan antara parameter model dan parameter peramalan. Model yang digunakan adalah Numerical Weather Prediction (NWP), sedangkan peramalannya adalah peramalan cuaca yang dikembangkan lembaga riset Naval Research Laboratory Marine meteorology Divison Monterey California Amerika Serikat, The Coupled Ocean Atmosphere Mesoscale Prediction System (COAMPS). Menurut KMA (2002), model Numerical Weather Prediction (NWP) adalah sekumpulan kode komputer yang mempresentasikan secara numerik persamaan persamaan atmosfer, digunakan untuk memprediksi kondisi atau status atmosfer yang akan datang dengan menggunakan kemampuan komputer yang tinggi. Model ini dirancang untuk memprediksi perkiraan cuaca secara lebih detail dengan cara membagi wilayah-wilayah dari belahan dunia yang biasa dilakukan oleh lembaga perkiraan cuaca, militer, dan beberapa perusahaan. Pemantauannya dilakukan secara terus menerus yang dipusatkan di Amerika Serikat. Gambaran umum dari hubungan antara parameter model dan parameter peramalan diilustrasikan seperti berikut ini. Gambar 1.1 Gambaran Umum Hubungan antara Parameter Model dan Parameter Peramalan Universitas Sumatera Utara 4 ”Kotak hitam” (black box) pada gambar di atas dapat dipandang sebagai suatu sistem (Makridakis et al., 2007), yang menggambarkan hubungan antara parameter model dan parameter peramalan. Hubungan antara parameter pada ”kotak hitam” diasumsikan sebagai fungsi interaksi antar inputnya yang kompleks dan non-linear dengan tujuan agar dapat mengembangkan sebuah metodologi untuk mengaproksimasi hubungan antara parameter dengan sebuah model statistika. Model statistika yang akan digunakan terdiri dari model statistika ”forward” yang memetakan parameter model terhadap parameter peramalan, dan model statistika invers yang memetakan parameter peramalan terhadap parameter model. Kegunaan dari model statistika ini hanyalah mewakili (meniru) hubungan antara parameter model dan parameter peramalan dalam model Numerical Weather Prediction (NWP). Kegunaan dari model statistika forward adalah mengkaji tentang pengaruh pada sejumlah parameter peramalan dari perubahan sejumlah parameter model. Sedangkan model statistika invers berguna untuk kurang sempurna dan bahkan tidak dapat bekerja seperti biasanya. Nilai yang tinggi menunjukkan tidak ada gangguan aktivitas karena masalah emosional. 14 8. Kesejahteraan mental (Mental Health) Terdiri dari 5 pertanyaan yang mengevaluasi kesehatan mental secara umum termasuk depresi, kecemasan dan kebiasaan mengontrol emosional. Nilai yang rendah menunjukkan perasaan tegang dan depresi sepanjang waktu. Nilai yang tinggi menunjukkan perasaan penuh kedamaian, bahagía dan tenang sepanjang 4 minggu yang lalu. Skala SF-36 ini kemudian dibagi menjadi 2 dimensi, dimana persepsi kesehatan umum, energi, fungsi sosial dan keterbatasan akibat masalah emosional disebut sebagai dimensi “Kesehatan Mental” (Mental Component Scale) dan fungsi fisik, keterbatasan akibat masalah fisik, perasaan sakit/nyeri, persepsi kesehatan umum dan energi disebut sebagai dimensi “Kesehatan Fisik” (Physical Component Scale). Masing-masing skala dinilai dengan kemungkinan cakupan nilai 0-100, dimana skor yang lebih tinggi menandakan kualitas hidup yang lebih baik. 36,37,38 Untuk memudahkan penggunaan dan agar lebih dimengerti, pertanyaanpertanyaan SF-36 diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, tanpa merubah makna aslinya. Beberapa pertanyaan diterjemahkan dan dimodifikasi ke dalam nilai perkiraan agar tidak membingungkan. Misalnya “lifting or carrying groceries?” diterjemahkan membawa belanjaan atau mengangkat barang yang ringan 7-10 kg. “Walking several blocks”, satu blok diterjemahkan menjadi 100 meter. Diterjemahkan “Berjalan beberapa ratus meter (± 500 M)” dan lain-lain. SF-36 yang sudah diterjemahkan dan dimodifikasi ini disebut sebagai SF-36 Medan Modifikasi. Dalam penatalaksanaan pasien HD reguler, penilaian terhadap kualitas hidup merupakan faktor utama disamping HD yang adekuat. Penilaian kualitas hidup pasien dibutuhkan untuk mengidentifikasi faktor risiko dan memodifikasi terapi terhadap faktor risiko tersebut.39,40 15 BAB III PENELITIAN SENDIRI 3.1. LATAR BELAKANG Pasien yang menjalani HD reguler sering mengalami malnutrisi, inflamasi dan penurunan kualitas hidup sehingga memiliki morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi dibanding populasi normal.7,41 Prevalensi malnutrisi pada pasien hemodialisis reguler 18-75%.42 Beberapa faktor penyebab malnutrisi pada pasien dialisis reguler termasuk di antaranya simptom uremia, asupan protein dan kalori yang menurun, inflamasi kronik, dan komorbid akut atau kronik.1,43 Sehingga penilaian kualitas hidup pasien merupakan kunci utama dalam mengevaluasi dan penanganan pasien-pasien dengan HD reguler.1 Ada beberapa cara penilaian status nutrisi seperti antropometri (berat badan, lingkaran lengan, triceps skinfold thickness), laboratorium (seperti albumin serum, transferin), DEXA dan BIA. Cara menilai status nutrisi (nutritional assessment) seperti antropometri, hasilnya bisa menjadi salah karena adanya perubahan hidrasi jaringan pada pasien gagal ginjal1. Pemeriksaan antropometri memerlukan waktu yang lama dan keterampilan khusus, penilaian indeks massa tubuh (IMT) memiliki keterbatasan dalam menilai lemak tubuh dan sangat dipengaruhi oleh hidrasi jaringan. 44 Analisis komposisi tubuh penting untuk menilai status nutrisi karena penilaian berat badan saja tidak akan memberikan informasi tentang kurangnya BCM. Perubahan ECW dapat menutupi tanda kehilangan BCM.45 Orang yang memiliki IMT yang sama belum tentu memiliki komposisi tubuh yang sama.46 16 Pemeriksaan albumin dimana memiliki waktu paruh 20 hari24, tidak dapat dipakai untuk menilai perubahan status nutrisi dalam periode singkat.44 Juga dipengaruhi infeksi, hilangnya albumin lewat dialisat atau urin. 20 Sedangkan DEXA walaupun hasilnya akurat tetapi tidak dapat membedakan FFM yang normal hidrasi, over hidrasi ataupun dehidrasi.47 Jones dkk pada tahun 2004 melaporkan pemeriksaan albumin serum pada pasien hemodialisis berhubungan dengan inflamasi tetapi tidak dengan status nutrisi.48 BIA telah direkomendasikan sebagai alat penilai status nutrisi yang praktis, dan merupakan metode yang valid dan reliabel pada pasien gagal ginjal stadium akhir31 dan tidak dipengaruhi uremia.1 BIA merupakan metode yang obyektif, non invasif, aman, hasil segera didapat, dapat dibawa kemana-mana, mudah dilakukan dalam mengevaluasi komposisi tubuh sehingga dapat mendeteksi perubahan dini status nutrisi dan volume cairan tubuh pasien-pasien hemodialisis reguler.27,49 Dalam penatalaksanaan pasien-pasien hemodialisis reguler, aplikasi klinis utama pemakaian BIA mencakup: 1. Menentukan status volume cairan tubuh. Salah satu tujuan terapi hemodialisis adalah mencapai dan mempertahankan keadaan euvolemik yang disebut sebagai berat badan kering; 2. Penilaian status nutrisi.6,49 Parameter BIA yang digunakan untuk menilai status nutrisi adalah: Body Cell Mass (BCM), Fat Free Mass (FFM), Fat Mass (FM), Total Body Water (TBW), Resting Metabolic Rate (RMR), Total Protein, Mineral dan Glikogen.29 Nilai BCM, FFM, RMR yang normal sampai tinggi dan nilai FM, TBW, TP, mineral dan glikogen yang normal menunjukkan status nutrisi yang baik. Sedangkan bila nilai parameter-parameter tersebut rendah maka menunjukkan status nutrisi yang buruk.29 17 SF-36 secara luas telah dipakai untuk mengevaluasi kualitas hidup pada penyakit-penyakit kronis termasuk penyakit ginjal stadium akhir. SF-36 adalah penilaian kualitas hidup dengan sistem skor yang meliputi 36 pertanyaan dengan 8 skala yaitu (1) fungsi fisik, (2) keterbatasan akibat masalah fisik, (3) perasaan sakit/ nyeri, (4) kesehatan umum, (5) vitalitas, (6) fungsi sosial, (7) keterbatasan akibat masalah emosional, dan (8) kesehatan mental. Kemudian masing-masing skala disimpulkan menjadi dua dimensi yaitu dimensi kesehatan fisik dan dimensi kesehatan mental. SF-36 diberi skor 0 sampai 100, dimana skor yang lebih tinggi menandakan kualitas hidup yang lebih baik.7,39 Skor 50 ± 10 diartikan kualitas hidup menyerupai populasi normal.50 Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai pemakaian BIA dalam menganalisis komposisi tubuh, dan penelitian mengenai hubungan komposisi tubuh dengan kualitas hidup pasien HD reguler. Penelitian yang dilakukan Bellizzi dkk (2006) : BIA merupakan instrumen klinik yang sangat berguna untuk mendeteksi perubahan dini komposisi tubuh pada pasien-pasien penyakit ginjal kronik dan juga mendapatkan pasien-pasien HD reguler cenderung memiliki TBW lebih tinggi dan BCM lebih rendah dibanding populasi normal.51 Dumler dkk (2003): dengan BIA mendapatkan pasien-pasien hemodialisis reguler memiliki massa otot lebih sedikit dan sering terjadi kelebihan cairan tubuh dibandingkan dengan populasi normal.1 mendapatkan kualitas hidup (SF-36) pasien-pasien Zadeh dkk (2001): hemodialisis reguler berhubungan kuat dengan status nutrisi, anemia dan kondisi klinik lain. Dilaporkan juga SF36 berkorelasi positif dengan IMT dan persentasi lemak tubuh yang menunjukkan bahwa pasien overweight dengan hemodialisis kronik memiliki kualitas hidup yang lebih buruk dibanding dengan yang kurang gemuk. 7 Macdonald dkk 18 (2006) melaporkan pemeriksaan appendicular lean mass pasien gagal ginjal kronik dengan penggunakan BIA dapat menilai massa otot skletal dan estimasi laju filtrasi glomerulus.52 Masih sedikitnya penelitian yang menghubungkan antara status nutrisi yang diukur dengan parameter BIA dengan kualitas hidup (SF-36) pada pasien-pasien HD reguler, dan sepengetahuan peneliti belum ada penelitian yang menghubungkan antara kedua instrumen tersebut di Indonesia, maka dalam penelitian ini kami menggunakan single frequency BIA untuk mengevaluasi status nutrisi dan SF-36 Medan Modifikasi untuk mengevaluasi kualitas hidup pasien HD reguler. 3.2. PERUMUSAN MASALAH Apakah ada hubungan antara parameter status nutrisi yang diukur dengan BIA dan kualitas hidup yang dinilai dengan SF-36 pada pasien HD reguler. 3.3. HIPOTESIS Ada hubungan antara parameter status nutrisi yang diukur dengan BIA dan kualitas hidup yang dinilai dengan SF-36 pada pasien HD reguler. 3.4. TUJUAN PENELITIAN Untuk mengetahui hubungan antara parameter status nutrisi yang diukur dengan BIA dan kualitas hidup yang dinilai dengan SF-36 pada pasien HD reguler dan untuk mengetahui besarnya hubungan tersebut. 19 3.5. MANFAAT PENELITIAN Dengan penelitian ini diharapkan pemakaian BIA semakin dikenal di unit HD dalam menilai status nutrisi pasien-pasien HD reguler, sehingga sebagai alat bantu dalam penatalaksanaan gangguan nutrisi yang lebih dini dan kearah yang lebih baik dalam peningkatan kualitas hidup dan menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. 3.6. KERANGKA KONSEPSIONAL PASIEN HEMODIALISIS REGULER STATUS NUTRISI BIA 3.7. KUALITAS HIDUP SF-36 BAHAN DAN CARA 3.7.1. Desain Penelitian Penelitian dilakukan dengan metode potong lintang (cross sectional) yang bersifat analisis deskriptif (descriptive analytic). 3.7.2. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan mulai bulan Maret 2008 s/d Mei 2008 di Klinik Spesialis Ginjal dan Hipertensi Rasyida Medan telinga kanan : Keluar cairan dari telinga kiri : Keluar cairan terus menerus : Cairan yang keluar berbau busuk : Gangguan pendengaran : Hoyong : Telinga berdengung : Nyeri telinga : Keluhan hidung : Keluhan tenggorokan : +/+/+/+/+/+/+ /+/- lama : lama : lama lama lama lama : : : : ANAMNESIS KELUARGA Apakah ada yang menderita bibir sumbing dan atau palatum : + / Apakah ada yang menderita kelainan / kecacatan bawaan di daerah kepala : + / ( Kakek / nenek / ayah / ibu / paman / bibi / kakak / adik ) RIWAYAT PENYAKIT TERDAHULU (mungkin ada korelasi dengan kelainan kraniofacial) Irwan : Hubungan Parameter Kraniofasial Dan Otitis Media Supuratif Kronik Benigna Pada Penderita Dewasa, 2009 USU Repository © 2008 Apakah ada menderita bibir sumbing dan atau palatum : + / Apakah ada mengalami trauma hebat di daerah kepala sehingga menimbulkan kecacatan : + / RIWAYAT PENGOBATAN TERDAHULU (mungkin ada korelasi dengan kelainan kraniofasial) Apakah pernah mengalami tindakan operasi di daerah kepala : + / STATUS PRESENT Sensorium Nafas Nadi Tekanan darah Berat badan Tinggi badan : : : : : : STATUS LOKALISATA 1. TELINGA Kanan Kiri a. Daun telinga : b. Liang telinga : c. Membrana timpani : 2. HIDUNG a. Rhinoskopi anterior : ̇ Cavum nasi : ̇ Mukosa : ̇ Septum nasi : ̇ Konka inferior : b. Rhinoskopi posterior : Irwan : Hubungan Parameter Kraniofasial Dan Otitis Media Supuratif Kronik Benigna Pada Penderita Dewasa, 2009 USU Repository © 2008 3. MULUT DAN OROFARING a. Faring : b. Tonsil : c. Palatum : d. Gigi : 4. LARING : Laringoskopi tidak langsung : PEMERIKSAN PENUNJANG Foto Rontgen tulang temporal : CT – Scan tulang temporal : Audiogram : Nasofaringoskopi : DIAGNOSIS : PEMERIKSAAN LATERAL CEPHALOMETRIC RADIOGRAPHY Pengukuran parameter kraniofasial A. Parameter garis dan sudut referensi yang berhubungan dengan sistem mastoid-telinga tengah-tuba Eustachius. mep-pmp : mm mep-ma : mm mep-ptm : mm mep-ta : mm ptm-pns : mm ta-ptm : mm ta-pns : mm mep-s : mm mep.ptm.pns angle : derajat Irwan : Hubungan Parameter Kraniofasial Dan Otitis Media Supuratif Kronik Benigna Pada Penderita Dewasa, 2009 USU Repository © 2008 SBaL/TL angle NSL/TL angle : : derajat derajat B. Parameter garis dan sudut referensi yang berhubungan dengan tulang kraniofasial. Basis kranial dan nasofaring n-ba : mm s-ba : mm s-ptm : mm s-n : mm m-ba : mm ba-ptm : mm s-sep : mm sep-n : mm ba-pns : mm angle ba.s.n : derajat Wajah. s-go s-pns ans-pns n-me n-ans ans-me go-pg ar-go sm.n.ss angle s.n.ans angle ba.s.pns angle s.n.go angle ar.go.me angle NSL/PL angle SBaL/PL angle PFR AFR : : : : : : : : : : : : : : : : : mm mm mm mm mm mm mm mm derajat derajat derajat derajat derajat derajat derajat Irwan : Hubungan Parameter Kraniofasial Dan Otitis Media Supuratif Kronik Benigna Pada Penderita Dewasa, 2009 USU Repository © 2008 Lampiran 4 PENJELASAN MENGENAI PENELITIAN “ Hubungan Parameter Kraniofasial dan Otitis Media Supuratif Kronik Benigna pada Penderita Dewasa ” Bapak/ibu Yth, Saat ini saya sedang melakukan penelitian yang berjudul : “ Hubungan Parameter Kraniofasial dan Otitis Media Supuratif Kronik Benigna pada Penderita Dewasa ” Penelitian ini mengenai pengukuran ukuran-ukuran pada tulang tengkorak orang yang menderita penyakit teleran / tungkian tipe jinak (Otitis Media Supuratif Kronik Benigna) yang diperoleh dengan cara membuat foto ronsen dari arah samping kiri. Selanjutnya pengukuran ukuran-ukuran tulang tengkorak tersebut hanya dilakukan pada hasil foto ronsen tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara ukuran-ukuran tulang tengkorak dengan penyakit teleran / tungkian tipe jinak. Bapak/ibu Yth, Perlu bapak/ibu ketahui, dari hasil penelitian terdahulu bahwa pada orang yang menderita penyakit teleran / tungkian tipe jinak akan terjadi perubahan / kelainan ukuran-ukuran pada tulang tengkorak sehingga akan mengakibatkan gangguan pada saluran dari telinga ke kerongkongan (saluran telinga bagian dalam). Gangguan pada saluran ini akan membuat penyakit teleran / tungkian akan terus berlanjut. Bapak/ibu Yth, Pada penelitian ini akan dilakukan pencatatan identitas bapak/ibu pada lembar penelitian. Selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan Telinga Hidung Tenggorok (pemeriksaan THT rutin) dan pemeriksaan penunjang yang telah Irwan : Hubungan Parameter Kraniofasial Dan Otitis Media Supuratif Kronik Benigna Pada Penderita Dewasa, 2009 USU Repository © 2008 rutin dilakukan pada penderita teleran/tungkian (foto ronsen tulang telinga dan pemeriksaan nasofaringoskopi yaitu pemeriksaan dengan mengunakan alat endoskopi, sehingga hidung dan kerongkongan bapak/ibu akan terlihat pada layar monitor TV) untuk menentukan apakah bapak/ibu menderita penyakit teleran / tungkian tipe jinak. Hanya bapak/ibu yang memenuhi syarat saja yang akan diikut sertakan pada penelitian ini. Selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan foto ronsen dari arah samping kiri dan pada hasil foto ronsen tersebut akan dilakukan pengukuran ukuran-ukuran tulang tengkorak. Semua data yang diperoleh akan dicatat pada pada status penelitian dan disimpan dalam komputer. Bapak/ibu Yth, Manfaat yang akan bapak/ibu peroleh dari penelitian ini adalah dapat mengetahui apakah telah terjadi proses infeksi pada tulang-tulang telinga bagian dalam setelah dilakukannya foto ronsen tersebut dan dapat mengetahui ukuran-ukuran tulang tengkorak mana saja yang mempengaruhi berlanjutnya / berkembangnya penyakit teleran / tungkian yang diderita (setelah semua data diperoleh dan diolah) Bapak/ibu Yth, Pada penelitian ini dilakukan prosedur foto ronsen yang telah umum/biasa dilakukan, sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang dapat membahayakan bapak/ibu. Namun bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama penelitian berlangsung, bapak/ibu dapat menghubungi dr. Irwan (HP. 06177795898) Departemen THT-KL RSUP H. Adam Malik Medan jam 08.00 s/d 14.30 wib (hari senin s/d kamis) dan jam 08.00 s/d 12.00 wib (hari jumat dan sabtu) setiap hari kerja atau setiap waktu dapat menghubungi nomor telpon/HP peneliti untuk mendapatkan pertolongan. Peneliti akan bertanggung jawab untuk memberikan biaya pelayanan/pengobatan/membantu untuk mengatasi Irwan : Hubungan Parameter Kraniofasial Dan Otitis Media Supuratif Kronik Benigna Pada Penderita Dewasa, 2009 USU Repository © 2008 masalah/efek samping tersebut sesuai dengan masalah/efek samping yang terjadi. Bapak/ibu Yth, Partisipasi bapak/ibu bersifat sukarela, semua biaya penelitian ini tidak dibebankan kepada bapak/ibu. Tidak akan terjadi perubahan mutu pelayanan dari dokter, apabila bapak/ibu tidak bersedia mengikuti penelitian ini. Bapak/ibu akan tetap mendapat pelayanan kesehatan standar rutin sesuai dengan standar prosedur pelayanan. Bila bapak/ibu masih belum jelas menyangkut tentang penelitian ini, maka setiap saat dapat ditanyakan langsung kepada peneliti (dr. Irwan) Setelah bapak/ibu memahami berbagai hal yang menyangkut penelitian ini, diharapkan bapak/ibu yang telah terpilih pada penelitian ini dapat mengisi dan menandatangani lembar persetujuan penelitian. Medan, 2009 Peneliti ( dr. Irwan ) Irwan : Hubungan Parameter Kraniofasial Dan Otitis Media Supuratif Kronik Benigna Pada Penderita Dewasa, 2009 USU Repository © 2008 Lampiran 5 LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN ( INFORMED CONSENT ) Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Umur : Jenis kelamin : Alamat : Setelah mendapat penjelasan dan memahami dengan penuh kesadaran mengenai penelitian ini, maka dengan ini saya menyatakan bersedia untuk ikut serta. Apabila dikemudian hari saya mengundurkan diri dari penelitian ini, maka saya tidak akan dituntut apapun. Demikian surat pernyataan ini saya buat, agar dapat dipergunakan bila diperlukan. Dokter Peneliti Medan, 2009 Peserta penelitian dr. Irwan _____________ Dept. THT-KL RSUP HAM Irwan : Hubungan Parameter Kraniofasial Dan Otitis Media Supuratif Kronik Benigna Pada Penderita Dewasa, 2009 USU Repository © 2008 RIWAYAT HIDUP DATA PRIBADI Nama : Irwan, dr Tempat/Tgl. Lahir : Rempak, 7 Juli 1971 Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Status Perkawinan : Kawin Nama Istri : Yulza Muchlis Nama Anak : 1. Shalma Fairisza Irwan 2. Zahwa Restia Aathifah Irwan 3. Hastika Dwanda Irwan Alamat : Komp. Villa Malina Jl. Deli Kesuma No.12 Medan PENDIDIKAN FORMAL 1978 – 1984 : SDN 019 Sungai Apit 1984 – 1987 : SMPN 3 Bengkalis 1987 – 1990 : SMAN 1 Bengkalis 1990 – 1997 : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang 2005 – 2009 : Asisten dokter (PPDS) Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher FK-USU / RSUP H. Adam Malik Medan RIWAYAT PEKERJAAN 1998 – 2000 : Dokter PTT Puskesmas Sungai Guntung, Riau 2000 – 2001 : Dokter Fungsional Puskesmas Perawang, Riau 2001 – 2005 : Kepala Puskesmas Sungai Apit, Riau Irwan : Hubungan Parameter Kraniofasial Dan Otitis Media Supuratif Kronik Benigna Pada Penderita Dewasa, 2009 USU Repository © 2008
Hubungan Antara Parameter Model Dan Parameter Peramalan Hubungan Antara Parameter Model Dan Parameter Peramalan
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Hubungan Antara Public Relations Dengan Media Massa Model Dan Gaya Penaksiran Parameter Dan Parameter Mutu

Vector Quantization Dan Hidden Markov Model

Hubungan Induk Dan Anak Perusahaan

Parameter Prediction

Estimasi Parameter

Chemical Parameter

Parameter Propagasi

Parameter Noninvasif

Perubahan Parameter Noninvasive Parameter

Perhitungan Parameter

Parameter Fisika

Parameter Fisik Menaksir Parameter Distribusi Gamma Parameter Perilaku Nyeri Ventilator Parameter Monitoring Value
Upload teratas

Hubungan Antara Parameter Model Dan Parameter Peramalan

Gratis