Tinjauan Yuridis Pengawasan Bank Indonesia Terhadap Pemberian Likuiditas Pada Bank Umum (Studi Kasus PT. Bank Century, Tbk)

 0  69  135  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

KATA PENGANTAR

  Tesis iniditulis dalam rangka memenuhi syarat untuk mencapai gelar Magister Ilmu Hukum pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara dengan judul “Tinjauan Yuridis Pengawasan Bank Indonesia Terhadap Pemberian Likuiditas Pada Bank Umum (Studi Kasus PT. Bank Century, Tbk)”. Teman-teman pada Program Studi Ilmu Hukum Sekolah PascasarjanaUniversitas Sumatera Utara, dan semua pihak yang tak dapat penulis cantumkan nama-namanya di sini, yang telah membantu penulis secara tulus dan ikhlassehingga tesis ini dapat selesai; Akhir kata, penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

RIWAYAT HIDUP

  BankCentury, Tbk mengalami kesulitan likuiditas dan merupakan salah satu bank gagal yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai bank gagal yang berdampak sistemikatas keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan dan menjadi bank pertama yang menerima akses Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek yaitu salah satu upaya BankIndonesia untuk mengurangi dampak bahaya krisis global khususnya yang mengancam stabilitas keuangan dalam industri perbankan. Perlindungan terhadapnasabah penyimpan, dapat dilakukan melalui dua cara yaitu : Pertama, perlindungan secara implisit (Implisit Deposit Protection), yaitu perlindungan yang dihasilkan olehpengawasan dan pembinaan bank yang efektif, yang dapat menghindarkan terjadinya kebangkrutan bank yang diawasi.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lembaga perbankan sebagai salah satu lembaga keuangan mempunyai nilai

  Yang dimaksud dengan pengawasan dalam hal ini meliputi pengawasan dalam arti tidak langsung yang terutama dalam bentuk pengawasan dinimelalui penelitian, analisis dan evaluasi laporan bank, dan pengawasan langsung 8 dalam bentuk pemeriksaan yang disusul dengan tindakan-tindakan perbaikan. Dalam Pasal 4 Ayat (2) Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Undang- undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia disebutkan bahwa “Bank Indonesia adalahlembaga negara yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur tangan Pemerintah dan/atau pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang tegas diatur dalam Undang-undangini.78 Muhammad Djumhana, op.cit, hal.97.

11 Zulkarnain Sitompul, op.cit., 2002, hal.2-3

  Krisis perbankan di Indonesia, selain merupakan dari krisis nilai tukar, juga disebabkan oleh rentannya sistem perbankan Indonesia, yang ditandai dengan kurangkuatnya permodalan, manajemen yang kurang menerapkan good governance, serta tidak kukuhnya kelembagaan, lemahnya pengaturan dan pengawasan di tengah-tengah pesatnya pertumbuhan perekonomian dan berlangsungnya integrasi keuangan 14 internasional. FPJP diberikan bagi bank untuk mengatasi kesulitan keuangan atau likuiditas (mismatch) agar dapat memenuhi Giro Wajib Minimum yang berdasarkanPBI Nomor 10/19/PBI/2008 tanggal 14 Oktober 2008, Giro Wajib Minimum yang harus dipenuhi setiap bank sebesar 7,5 % (tujuh koma lima persen) dari dana pihakketiga.

B. Perumusan Masalah

  Berdasarkan uraian yang terdapat pada perumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui dan menganalisis peraturan perundang-undangan terkait pemberian likuiditas yang dilakukan oleh Bank Indonesia padaBank Umum 3.

D. Manfaat penelitian

  Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemahaman, pemikiran dan pandangan yang baru bagi akademisi, pengamatkeuangan dan masyarakat mengenai pengawasan yang dilakukan oleh BankIndonesia terhadap pemberian likuiditas pada bank umum. Penelitian ini secara praktis ditujukan bagi pemerintah, praktisi keuangan, bankir dan bank sentral dalam pemberian likuiditas pada bank umum.

E. Keaslian Penelitian

  Penelitian yang dilakukan oleh Nia Avenasari yang berjudul “Analisis HukumPemberian bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan FasilitasPendanaan Jangka Pendek oleh Bank Indonesia dalam Mengatasi Krisis Perbankan di Indonesia”. Penelitian yang dilakukan oleh Megawati yang berjudul“Pertanggungjawaban terhadap Nasabah dalam hal Bank Gagal dihubungkan dengan Undang-undang No.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

  berpendapat dengan menyebutkan hubungan bank dengan nasabah adalah sebagai hubungan debitur-kreditur, hanya memberikan sugestitentang penetapan kewajiban yang sempit, istilah itu berkonotasi pada suatu janji yang tak bersyarat oleh debitur untuk membayar sejumlah uang yang sudah pastijumlahnya pada waktu tertentu kepada kreditur yang telah menyediakan uang tersebut. Perlindungan secara eksplisit (explicit deposit protection), yaitu perlindungan melalui pembentukan suatu lembaga yang menjamin simpanan masyarakat, sehinggaapabila bank mengalami kegagalan, lembaga tersebut yang akan mengganti dana masyarakat yang disimpan pada bank yang gagal tersebut.

26 Terhadap Kewajiban Bank Umum

  Tujuan umum pengawasan dan pembinaan bank adalah menciptakan sistem perbankan yangsehat, yang memenuhi tiga aspek yaitu perbankan yang dapat memelihara kepentingan masyarakat dengan baik dan perbankan yang berkembang secara wajar 30 serta bermanfaat bagi perekonomian nasional. Bagi bank dalam pengawasan intensif yang tidak menghasilkan perbaikan kondisi keuangan dan manajerial dan berdasarkan analisis Bank Indonesia diketahuibahwa bank tersebut dapat diklasifikasikan sebagai bank yang memiliki kesulitan Pengawasan terhadap bank yang dinilai mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya.

2. Kerangka Konsepsi

  Untuk menghindari terjadinya perbedaan dalam penafsiran istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini, berikut dijabarkan defenisi dari istilah-istilahtersebut, diantaranya sebagai berikut : 36 a. Bank sentral adalah lembaga negara yang mempunyai wewenang untuk mengeluarkan alatpembayaran yang sah dari suatu negara, merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sestem pembayaran,34 Lihat Ketentuan Umum Penjelasan Atas Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.3536 Ibid.

Pasal 4 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia

  Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau 38 bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya 39 memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Pasal 1 angka 2 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan

  Berdampak sistemik adalah suatu kondisi sulit yang ditimbulkan oleh suatu bank, lembaga keuangan bukan bank, dan/atau gejolak pasar keuangan yangapabila tidak diatasi dapat menyebabkan kegagalan sejumlah bank dan/atau lembaga keuangan bukan bank lain sehingga menyebabkan hilangnya 44 kepercayaan terhadap sistem keuangan dan perekonomian nasional. Fasilitas pembiayaan darurat adalah fasilitas pembiayaan dari Bank Indonesia kepada bank bermasalah yang mengalami kesulitan likuiditas, tetapi masihmemenuhi tingkat solvabilitas yang ditetapkan Bank Indonesia, serta berdampak sistemik yang pemberiannya didasarkan pada keputusan rapat Menteri Keuangan 45 dan Gubernur Bank Indonesia dan pendanaannya menjadi beban pemerintah.

Pasal 1 angka 6 Peraturan Bank Indonesia Nomor: 8/1/PBI/2006 tentang Fasilitas Pembiayaan Darurat

G. Metode Penelitian

  Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, merupakan publikasi tentang hukum yang bukanmerupakan dokumen resmi, seperti hasil-hasil penelitian, buku teks, pendapat para pakar hukum, kasus-kasus hukum, jurisprudensi, artikel, majalah dan jurnal-jurnal ilmiah serta simposium yang dilakukan para pakar terkait dengan pembahasan yang relevan dengan penelitian ini. Analisa DataBahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang diperoleh dianalisis secara normatif kualitatif, analisis tersebut dilakukan dengan memilih peraturan-peraturan hukum tentang pengawasan Bank Indonesia terhadap pemberian likuiditas pada bank umum.

BAB II PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP NASABAH PADA BANK YANG MENERIMA BANTUAN LIKUIDITAS A. Kegiatan Usaha Bank Kegiatan usaha bank secara umumnya adalah mengumpulkan dana

  Bank Indonesia melakukan tugas pengawasan bank berdasarkan Undang-Undang Perbankan khususnya Pasal 37 dan PBI Nomor 6/9/PBI/2004 tentang Tindak lanjut Pengawasan dan Penetapan Status Bank yang sebagian telah diubah denganPBI Nomor 7/38/PBI/2005 serta Surat Edaran Intern Nomor 9/43/Intern tanggal 15 5354 Lihat ketentuan Pasal 2, 3, dan 4 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.55 Muhamad Djumhana, op.cit, hal.4. Menjaga usahanya dengan prinsip kehati-hatian (prudential banking principle), antara lain melaksanakan ketentuan batas maksimum pemberian kredit,pemberian jaminan, penempatan investasi surat berharga, atau hal-hal lain yang serupa, yang dapat dilakukan oleh bank kepada peminjam atau sekelompokpeminjam yang terkait, termasuk kepada perusahaan-perusahaan dalam kelompok yang sama dengan bank yang bersangkutan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

B. Prinsip Kehati-hatian Bank

  58 Pengaturan prinsip kehati-hatian juga termaktub dalam Pasal 8 ayat (1), Pasal 10, dan Pasal 11 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998: Pasal 8 ayat (1): “Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, bank umum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisisyang mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikanpembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan” Pasal 10 : “Bank Umum dilarang: a. Dalam hubungannya dengan perlindungan kepentingan nasabah dalam kegiatan bank kiranya dapat memberikan perlindungan terhadap nasabah bankterutama nasabah penyimpan yang menjamin apabila bank tersebut dilikuidasi, maka nasabah dari bank yang bersangkutan memperoleh penggantian dananya.

64 Dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana yang dirubah

  Melakukan pengosongan atas tanah dan atau bangunan milik atau yang menjadi hak bank yang dikuasai oleh pihak lain, baik sendiri maupundengan bantuan alat negara penegak hukum yang berwenang;k. Melakukan penelitian dan pemeriksaan untuk memperoleh segala keterangan yang diperlukan dari dan mengenai bank dalam programpenyehatan, dan pihak manapun yang terlibat atau patut diduga terlibat, atau mengetahui kegiatan yang merugikan bank dalam programpenyehatan tersebut;l.

C. Perlindungan Dana Nasabah Bank

  Akan tetapi, lebih banyak lagidiperlukan seperti itu dari apa yang terdapat dewasa ini.2) Pelaksanaan peraturan yang ada Salah satu cara lain untuk memberikan perlindungan kepada nasabah adalah dengan melaksanakan peraturan yang ada di bidang perbankan secara lebih ketatoleh pihak otoritas moneter, khususnya peraturan yang bertujuan melindungi nasabah sehingga dapat dijamin law enforcement yang baik. Cara pemberian kredit yang tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah;Pemberian kredit yang diberikan oleh bank tidak boleh melebihi dari batas maksimum pemberian kredit sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang Perbankan sehingga dapat mencegah terjadinya kredit macet yang akan merugikan nasabah.

76 Lihat Ketentuan Umum dalam Penjelasan Atas Undang-undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan

BAB II I PEMBERIAN LIKUIDITAS PADA BANK UMUM A. Risiko Likuiditas Perbankan Salah satu risiko yang dihadapai bank dalam kegiatan usahanya adalah risiko

  Risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau asetlikuid yang berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan 77 kondisi keuangan bank. Faktor internal bank bisa menjadi sumber bank mengalami masalah bila bank itu dikelola dengan tidak hati-hati, khususnya dalam manajemen risiko,lemahnya pengendalian internal, campur tangan pemilik dalam operasional bank atau adanya kesalahan penetapan startegi yang bermuara bank mengalami kerugian.

86 Cadangan Kedua

87 GWM tersebut:

  Secara Makro, merupakan sarana pengawasan bank dan pengendalian moneter yaitu untuk meredam akses likuiditas yang berlebihan dari perbankan yang dapatmendorong ekspansi yang berlebihan atau spekulasi. Dana Pihak KetigaDana Pihak Ketiga (DPK) dalam rupiah meliputi jumlah dana milik masyarakat yang ada pada seluruh cabang dari bank yang bersangkutan baik berupagiro, tabungan, deposito, maupun kewajiban-kewajiban lainnya kepada masyarakat seperti transfer yang belum dibayarkan, dan lain-lain.

B. Manajemen Likuiditas Bank

  Mengahadapi ketidakpastian atau ketidakstabilan penarikan dana oleh pemilik dana pada pos-pospasiva di satu pihak dan di lain pihak kebutuhan waktu yang lebih longgar dalam penempatan dana pada pos-pos aktiva yang menghasilkan bunga (earning assets), 88 sehingga dapat memuaskan kedua sisi kebutuhan. Apabila tindakan sebagaimana dimaksud di atas belum cukup untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi bank; dan atau menurut penilaian Bank Indonesiakeadaan suatu bank dapat membahayakan sistem perbankan, pimpinan BankIndonesia dapat mencabut izin usah bank dan memerintahkan Direksi bank untuk segera menyelenggarakan RUPS guna membubarkan badan hukum bank danmembentuk tim likuidasi.

C. Bantuan Kepada Bank Dalam Masalah Likuiditas

  FPJP merupakan fasilitas pendanaan dari Bank Indonesia kepada Bank untuk mengatasi kesulitan pendanaan dari Bank Indonesia kepada bank yang disebabkanoleh terjadinya arus dana yang keluar (mismatch) sehingga bank tidak dapat 95 memenuhi Giro Wajib Minimum (GWM). Sedangkan aset yang dapat dijadikan agunan oleh bank adalah aset bank yang tersedia dengan prioritas dari aset yang paling likuid dan berkualitas dan dapatditambah dengan aset lainnya termasuk namun tidak terbatas pada aset pemegang saham pengendali dan/atau saham yang telah tercatat dari pemegang sahampengendali bank.

BAB IV PENGAWASAN BANK INDONESIA TERHADAP PEMBERIAN LIKUIDITAS PADA BANK UMUM (STUDI KASUS PT. BANK CENTURY, TBK) A. Pengawasan Bank Indonesia Terhadap Bank Bank sentral adalah lembaga negara yang mempunyai wewenang untuk

  Bank yang berfungsi menjalankan kewenangan Bank Sentral di Indonesia adalah Bank Indonesia yang diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999tentang Bank Indonesia, serta perubahannya, yaitu Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang BankIndonesia, dan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Bank Indonesia dalam mengemban tugas untuk mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, sesuai dengan ketentuan Pasal 15 Undang-undangNomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia berwenang untuk: 1) Melaksanakan dan memberikan persetujuan dan izin atas penyelenggaraan jasa sistem pembayaran;2) Mewajibkan Penyelenggara jasa sistem pembayaran untuk menyampaikan laporan tentang kegiatannya;3) Menetapkan penggunaan alat pembayaran.

4. Power to impose sanction

  Gambar 1Siklus Pengawasan Berdasarkan Risiko ( Sumber: Bank Indonesia)Keterangan: Dalam siklus pengawasan berdasarkan risiko di atas terlihat bahwa pendekatan yang digunakan adalah dengan memberikan pemahamanterhadap bank, selain itu Bank Indonesia secara Triwulan melakukan penilaian terhadap risiko, penyusunan rencana pemeriksaan,pelaksanaan pemeriksaaan yang terfokus pada risiko dan penyusunan laporan hasil pemeriksaan. Di berbagai negara, tugas menjaga stabilitas keuangan (financial stability) dilakukan oleh bank sentral (seperti Bank of England, Reserve Bank of Australia, Bank of Korea, Bank Negara Malaysia) dengan alasan stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan sangat terkait erat, dimana stabilitas moneter hanya dapat dicapai dengan sistem keuangan yang stabil.

B. Bank Sentral sebagai Lender of the last resort

  Sebelum terjadinya krisis perbankan pada Tahun 1997, berdasarkan ketentuanUndang-Undang Bank Indonesia Nomor 13 Tahun 1968 untuk menghadapi bank- bank yang mengalami kesulitan likuiditas jangka pendek akibat terjadinya mismatchdalam pengelolaan dana maupun untuk kesulitan permodalan, Bank Indonesia dapat menyediakan bantuan berupa Kredit Likuiditas Darurat. resort, yaitu ketentuan yang memberikan kewenangan pada bank sentral sebagai pihak yang terakhir untuk memberikan pinjaman kepada bank dalam hal bank mengalami kesulitan likuiditas.

C. Penyelamatan terhadap Bank Gagal Pada PT. Bank Century, Tbk

  Aturan hukum yang mengatur kebijakan bank sebagi agen penjual reksadana diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia yang ditujukan kepada semua BankUmum di Indonesia yaitu Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/19/DPNP tanggal 14 Juni 2005 yang mengatur perihal : Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang melakukan aktivitas berkaitan dengan Reksa Dana. Aturan hukum yang mengatur kebijakan bank sebagi agen penjual reksadana diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia yang ditujukan kepada semua BankUmum di Indonesia yaitu Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/19/DPNP tanggal 14 Juni 2005 yang mengatur perihal : Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang melakukan aktivitas berkaitan dengan Reksa Dana.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Adapun kesimpulan dari penulisan tesis ini adalah sebagai berikut:

  Perlindungan terhadap nasabah penyimpan, dapat dilakukan melalui dua cara yaitu : Pertama, perlindungan secara implicit (Implisit Deposit Protection), yaitu perlindungan yang dihasilkan oleh pengawasan dan pembinaan bank yang efektif, yang dapat menghindarkan terjadinya kebangkrutan bank yang diawasi. Hal ini sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 11 ayat (1) Undang-undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-undangNomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia dan dalam PBI Nomor10/26/PBI/2008 tentang Pendanaan Jangka Pendek Bagi Bank Umum dan PBINomor 8/1/PBI/2006 tentang Fasilitas Pembiayaan Darurat.

B. Saran

  Apabila Bank Indonesia tidak mampu menjalankan fungsi pengawasan dengan baik, maka sudah saatnya dibentuk Lembaga Pengawas Perbankan yang Independen sehingga dapat bekerja secara optimal dalam mengawasi bank-bank umum dan memberikan sanksi tegas bagi bank-bank umum yang melanggarketentuan yang telah ditetapkan. Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengawasan bank harus diperketat lagi sehingga dapat meminimalkan terjadinya risiko yang berdampakpada nasabah penyimpan dana dan ketentuan mengenai perlindungan terhadap nasabah penyimpan dana dalam Undang-undang Perbankan harus diatur secarakhusus sehingga dapat menjaga hubungan kepercayaan antara bank dengan nasabahnya.

DAFTAR PUSTAKA

  Hadori, HLB & Rekan, Hasil Riset Bank Indonesia (Satgas BLBI) , Suatu Tinjauan dan Penilaian Aspek Ekonomi, Keuangan, dan Hukum, Jakarta: Bank Indonesia, 2002. Sjahdeini, Sutan Remy, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, Jakarta: Institut Bankir Indonesia, 1993.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Tinjauan Yuridis Pengawasan Bank Indonesia T..

Gratis

Feedback