Feedback

Makna Warna Bagi Masyarakat Tionghoa.

Informasi dokumen
MAKNA WARNA BAGI MASYARAKAT TIONGHOA SKRIPSI Oleh: Anita Novyanti Purba 070710004 DEPARTEMEN SASTRA CINA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011   Universitas Sumatera Utara Abstrak Penelitian ini membahas tentang Makna Warna Bagi Masyarakat Tionghoa. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kepercayaan masyarakat Tionghoa akan makna warna dalam kehidupan yang terlihat pada berbagai perayaan atau upacara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui warna yang digunakan pada perayaan masyarakat tionghoa, serta mengetahui makna warna bagi masyarakat Tionghoa pada perayaan. Metode penulisan yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori semiotic, yang digunakan untuk menganalisis makna dari setiap warna tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa warna memiliki bagian tersendiri dalam kebudayaan Tionghoa. Masyarakat Tionghoa percaya bahwa setiap warna membawa makna tersendiri dalam kehidupan mereka, setiap perayaan, mereka menggunakan warna khusus yang memiliki makna Kata Kunci : warna, kebudayaan, masyarakat Tionghoa 2    Universitas Sumatera Utara Abstract This paper which is eulitled “Makna Warna Bagi Masyarakat Tionghoa”. Is talking about meaning of colour for Chinese people. The background is the faithfulness of Chinese about the meaning of colours in this life which is seemed in several celebrations or ceremonies. This paper aims to know the usage of colours in Chinese celebration and meanings. The method used in this paper is descriptive. Theory used in this paper is semiotics theory, which is used to analyze the meaning of each colours. The result shows that color has its own part in Chinese culture. Chinese people believes that each colour bring its own meaning in their live, every culture ceremony, their used a special colour concerning to the meaning of the colour. Keywords : Color, culture, Tionghoa                                  3    Universitas Sumatera Utara PRAKATA Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberkati dan member kekuatan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi yang berjudul Makna Warna Bagi Masyarakat Tionghoa ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Departemen Sastra Cina Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Banyak pihak yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam proses menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A., sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU. 2. Ibu Dr. T. Thyrhaya Zein, M.A., sebagai Ketua Departemen Sastra Cina dan Ibu Dra. Nur Cahaya Bangun, M.Si., sebagai Sekretaris Departemen Sastra Cina Fakultas Ilmu Budaya USU yang memberikan dukungan kepada penulis mengikuti perkuliahan di Departemen Sastra Cina. 3. Ibu Dra. Nur Cahaya Bangun, M.Si., sebagai dosen pembimbing I yang telah banyak memberi perhatian kepada penulis dan kesabaran yang luar biasa membimbing penulis, memotivasi penulis, bahkan rela meluangkan waktu Beliau selama penulisan skripsi ini. 4. Laoshi Tjioe Bie Hwa, M.A., sebagai dosen pembimbing II yang telah membimbing dan memberikan ilmu dan masukan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 5. Prof. Syaifuddin, M.A., Ph. D., sebagai dosen pembimbing akademik yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan kepada penulis selama menjadi mahasiswa. 6. Bapak dan Ibu staf pengajar Departemen Sastra Cina Fakultas Ilmu Budaya USU yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengajaran selama penulis mengikuti perkuliahan. 7. Kedua orang tua ku yang tercinta, ayahanda B. Poerba (Alm) dan Ibunda R. Sitorus yang setia berdoa dan memotivasi penulis baik moral maupun 4    Universitas Sumatera Utara material kepada penulis sehingga penulis dapat sampai seperti ini. Semua ini penulis persembahkan buat ayah dan bunda semoga ilmu yang penulis dapat bisa bermanfaat dan membalas segala pengorbanan, kesabaran, kesetiaan yang telah ayah dan ibu berikan. 8. Keluarga besar Purba : kak Ike Sriwardini Purba. Spd, kak Emmy Intansari Purba. S.Sos (Sermy), abang saya Ade Dody Putera Poerba. ST (Goindra), abang ipar saya Syahman Sidabalok. Spd (Romy), Keponakan saya Yovelyn Sidabalok (si kompeng) yang setia mendoakan penulis dan selalu memotivasi. 9. My sweet heart Jefri Hower Hutagalung yang selalu setia disamping saya untuk membantu, memotivasi dan mendoakan saya dalam menyelesaikan skripsi ini, serta senantiasa menemani saya baik dalam keadaan suka maupun duka dan rela meluangkan waktu untuk menghibur penulis saat mengalami kesulitan dalam mengerjakan skripsi. 10. Saudara saya tante Donna dan Uda Benny, Tante Hotmauli, Oppung Darius, Tulang dan Nantulanng Darius, Tulang dan Nantulanng Daniel beserta sepupu-sepupu saya yang senantiasa mendoakan saya dalam menulis skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi perkembangan ilmu linguistik pada masa yang akan datang. Akhirnya, penulis berharap skripsi ini dapat menambah wawasan pengetahuan pembaca. Medan, Juni 2011 Penulis, Anita Novyanti Purba 5    Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK PRAKATA DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN .1 1.1 Latar Belakang masalah .1 1.2 Batasan Masalah .6 1.3 Rumusan Masalah .6 1.4 Tujuan .7 1.5 Manfaat Penelitian .7 BAB II. KONSEP, LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA .8 2.1 Konsep .8 2.1.1 Kebudayaan.8 2.1.2 Warna .10 2.1.3 Masyarakat .11 2.1.4 Tionghoa .12 2.2 Landasan Teori .14 2.3 Tinjauan Pustaka .16 BAB III. METODE PENELITIAN .17 3.1 Pendekatan .17 3.2 Data dan Sumber Data .18 3.3 Teknik Pengumpulan Data .18 3.1 Studi Kepustakaan.18 3.4 Teknik Analisis Data .19 6    Universitas Sumatera Utara BAB IV. PEMBAHASAN.21 4.1 Latar Belakang Sosial Budaya Masyarakat Tionghoa .21 4.1.1 Masyarakat Tionghoa di Indonesia .21 4.1.2 Sejarah Tionghoa di Kota Medan .25 4.1.3 Sistem Kekerabatan.26 4.1.3.1 Perkawinan .26 4.1.3.2 Pemilihan Jodoh .27 4.1.3.3 Mas Kawin .27 4.1.3.4 Kedudukan Wanita .28 4.1.3.5 Sistem Kemasyarakatan .28 4.1.4 Bahasa .29 4.1.5 Agama dan Kepercayaan .31 4.1.5.1 Aliran Kepercayaan Tao .31 4.1.5.2 Aliran Kepercayaan Kong Hu Cu.32 4.1.5.3 Agama Buddha .34 4.2 Perayaan - perayaan Masyarakat Tionghoa .35 4.2.1 Perayaan Tahun Baru Imlek .35 4.2.2 Cap Go Meh .38 4.3 Jenis Warna Yang Digunakan Masyarakat Tionghoa Pada Perayaan atau Upacara .40 4.2.1 Warna Merah.40 4.2.2 Warna Kuning atau Keemasan .43 4.4 Makna Warna Dalam Perayaan atau Upacara Masyarakat Tionghoa .43 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN .45 5.1 Kesimpulan .45 5.2 Saran. 45 DAFTAR PUSTAKA 7    Universitas Sumatera Utara Abstrak Penelitian ini membahas tentang Makna Warna Bagi Masyarakat Tionghoa. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kepercayaan masyarakat Tionghoa akan makna warna dalam kehidupan yang terlihat pada berbagai perayaan atau upacara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui warna yang digunakan pada perayaan masyarakat tionghoa, serta mengetahui makna warna bagi masyarakat Tionghoa pada perayaan. Metode penulisan yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori semiotic, yang digunakan untuk menganalisis makna dari setiap warna tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa warna memiliki bagian tersendiri dalam kebudayaan Tionghoa. Masyarakat Tionghoa percaya bahwa setiap warna membawa makna tersendiri dalam kehidupan mereka, setiap perayaan, mereka menggunakan warna khusus yang memiliki makna Kata Kunci : warna, kebudayaan, masyarakat Tionghoa 2    Universitas Sumatera Utara Abstract This paper which is eulitled “Makna Warna Bagi Masyarakat Tionghoa”. Is talking about meaning of colour for Chinese people. The background is the faithfulness of Chinese about the meaning of colours in this life which is seemed in several celebrations or ceremonies. This paper aims to know the usage of colours in Chinese celebration and meanings. The method used in this paper is descriptive. Theory used in this paper is semiotics theory, which is used to analyze the meaning of each colours. The result shows that color has its own part in Chinese culture. Chinese people believes that each colour bring its own meaning in their live, every culture ceremony, their used a special colour concerning to the meaning of the colour. Keywords : Color, culture, Tionghoa                                  3    Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai halhal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia (http://id.wikipedia.org/wiki/budaya). Sedangkan budaya,culture dalam Bahasa Mandarin berasal dari dua huruf kata yakni 文 Bahasa Mandarin Modern 汉语词典 menjelaskan pengertian budaya sebagai "人类在社会历史发展过程中所创造的物 神财富 如文学 艺术 wen hua,yang dalam Kamus 教育 财富和精神财富的总和,特指精 科 学 等 “ artinya: keseluruhan kekayaan material,dan kekayaan immaterial yang diciptakan oleh umat manusia dalam proses sejarah berkembangannya masyarakat. Kekayaan immaterial adalah karya sastra, seni, pendidikan, ilmu pengetahuan, dll. Kebudayaan juga merupakan sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang 8    Universitas Sumatera Utara bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Setiap Negara memiliki kebudayaan yang mereka percayai, misalnya Indonesia yang memiliki banyak kebudayaan, yang dikenal dengan kebudayaan timur. Yang dimaksudkan kebudayaan timur adalah masyarakat masih memegang teguh adat istiadat, walaupun adat istiadat saat ini mulai semakin pudar dan berubah, dikarenakan masuknya kebudayaan barat ke Indonesia. Selain itu kebudayaan timur dominan saling bergotong royong, kebersamaan menjadi hal yang paling utama. Kebudayaan Barat tidak bisa langsung diartikan sebagai kebudayaan yang datang dari barat. Kebudayaan barat yang ditulis sebagai western culture yang diakui oleh negara belahan dunia manapun sebagai kultur yang berada di Eropa barat bukan Amerika, bukan Australia, dan bukan Negara Eropa Timur atau Selatan. Namun seiring perkembangan, terjadilah pembatas yang membatasi budaya barat dan timur. Mungkin karena perbedaan ras, Agama, persamaan kebudayaan di beberapa belahan Negara. Masyarakat Tionghoa juga kaya akan kebudayaan, mereka selalu melestarikan kebudayaan yang diturunkan dari leluhur mereka yang terdahulu, misalnya kebudayaan tentang warna. Masyarakat Tionghoa sangat percaya mengenai makna dari setiap warna, salah satunya adalah warna merah, mereka menganggap warna merah itu adalah warna keberuntungan dan kegembiraan. Kebanyakan masyarakat Tionghoa memakai pakaian berwarna merah pada saat 9    Universitas Sumatera Utara hari-hari besar dan pesta-pesta lainnya. Misalnya pada acara adat pernikahan masyarakat Tionghoa, Pada pesta pernikahan tradisional Tionghoa, pengantin wanita terlihat memakai cadar berwarna merah untuk menutupi muka. Cadar itu biasanya terbuat dari sutra. Cadar Merah yang digunakan oleh pengantin wanita merupakan tradisi berasal dari masa Dinasti Utara dan Selatan. Dimana pada masa itu para petani wanita mengenakan kain pelindung kepala untuk perlindungan dari terpaan angin atau panasnya matahari ketika sedang bekerja di ladang. Pada saat pemerintahan Kaisar Li Jilong dari Dinasti Tang, ia membuat keputusan bahwa semua pembantu wanita istana yang masih dalam masa penantian harus mengenakan cadar untuk menutupi muka. Tidak lama kebiasaan tersebut menjadi sebuah tradisi. Lama kelamaan kebiasaan memakai cadar itu diterapkan pada pesta pernikahan. Pemakaian cadar pada pengantin wanita dengan tujuan agar kecantikan pengantin wanita tidak menjadi perhatian lelaki lain, dan pengantin pria ingin agar pengantin wanita terlihat anggun. Pengantin wanita menerima pemakaian cadar itu untuk menunjukkan kesetiaan kepada pengantin pria, dan warna cadar tersebut selalu berwarna merah yang mewakili kebahagiaan. Masih banyak lagi upacara-upacara atau perayaan masyarakat Tionghoa yang kita kenal, salah satunya pada perayaan tahun baru Imlek, Menurut Sartini (dalam Wikipedia.com), perayaan tersebut sering disebut Gong Xi Fa Cai ‘hormat bahagia berlimpah rejeki’. Perayaan ritual itu dalam kelenteng-kelenteng selalu disertai dengan doa-doa yang mengandung makna dan penuh dengan filosofi dan nilai kehidupan masyarakat Tionghoa. warna merah dan keemasan menjadi 10    Universitas Sumatera Utara filosofi tersendiri bagi masyarakat Tionghoa. Warna merah, yang berarti kebahagiaan dan semangat hidup, sebagaimana darah dalam nadi, pengalaman hidup yang penuh semangat dan membahagiakan itu harus mengalir dan meresapi berbagai bagian tubuh untuk kehidupan yang lebih baik. Warna merah selain sebagai simbol keberuntungan dan bahagia, juga melambangkan kegembiraan dan keberhasilan yang pada akhirnya akan membawa nasib baik. Sedangkan warna keemasan yang dalam bahasa Mandarin disebut “jin” dan makna lain dari “jin” adalah uang. Warna ini melambangkan sebuah harapan di tahun berikutnya dilimpahi uang (rejeki). Busana yang dipakai masyarakat Tionghoa dalam perayaan tahun baru cina atau Imlek selalu identik dengan warna merah dikarenakan kepercayaan masyarakat . Selain diwarnai dengan busana berwarna merah, perayaan imlek juga dimeriahkan dengan angpao (amplop) berwarna merah, konon angpao ini bukan hanya sekedar dapat membawa keberuntungan saja, bahkan dapat melindungi anak-anak dari roh jahat, buku-buku, jurnal, artikel, dan melakukan wawancara dengan masyarakat tionghoa yang masih memahami sejarah dan makna perayaan perahu naga tersebut di daerah medan. Sesuai dengan fenomena – fenomena yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti merasa tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai makna perayaan perahu naga dengan judul, “Asal-usul dan Makna Perayaan Perahu Naga Bagi Masyarakat Tionghoa.” 1.2 Batasan Masalah Untuk menghindari batasan yang terlalu luas, maka penulis membatasi ruang lingkup ini hanya pada “asal-usul perayaan perahu naga dan juga makna dari upacara perayaan naga tersebut.” 1.3 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah penulis kemukakan diatas, beberapa masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini, yaitu : 1. Bagaimana asal-usul terjadinya perayaan perahu naga ? 2. Apakah makna upacara perayaan perahu naga bagi masayarakat Tionghoa? 8 1.4 Tujuan Penelitian Sesuai dengan masalah penelitian yang telah diuraikan terlebih dahulu, maka penelitian ini bertujuan : 1. Mendeskripsikan asal usul terjadinya perayaan perahu naga. 2. Mendeskripsikan makna perayaan perahu naga bagi masyarakat Tionghoa. 1.5 Manfaat Penelitian Sesuai latar belakang,rumusan masalah, dan tujuan penelitian yang telah penulis uraikan sebelumnya maka manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.5.1 Manfaat Teoritis Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi positif dalam pengembangan keilmuan serta pemahaman tentang asalusul dan makna perayaan perahu naga bagi masyarakat luas. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi ataupun dapat menjadi informasi bagi masyarakat secara umum maupun mahasiswa yang ingin mengkaji lebih lanjut tentang makna perayaan perahu naga. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber dan pengetahuan bagi penulis pada bidang kebudayaan dan memberi manfaat bagi kelestarian budaya etnis Tionghoa. 9 1.5.2 Manfaat Praktis Secara praktis, manfaat yang diperoleh dari hasil penelitian asal-usul dan makna perayaan perahu naga bagi masyarakat Tionghoa adalah memberikan pengetahuan bagi masyarakat luas yang pada umumnya belum mengetahui asalusul dan makna perayaan perahu naga sehingga diharapkan mereka dapat lebih memahami asal-usul dan makna perayaan perahu naga secara mendalam. BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Konsep merupakan rancangan ide pemikirian yang akan dituangkan secara konkret melalui pemahaman dan pengertian dari para ahli. Konsep merupakan rancangan, ide atau pengertian yang diabstrakkan dalam istilah kongkret, 10 gambaran mental dari objek atau apapun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (KBBI, 1990 : 456). Konsep merupakan peta perencanaan untuk masa depan sehingga dapat dijadikan pedoman dalam melangkah kedepan. Konsep biasanya dipakai untuk mendekripsikan dunia empiris yang diamati oleh peneliti, baik merupakan gejala sosial tertentu yang sifatnya abstrak. Untuk memahami hal-hal yang ada dalam penelitian ini perlu dipaparkan beberapa konsep yaitu: 2.1.1 Asal-usul Untuk mengetahui asal usul dari perayaan perahu naga ini masih banyak yang kurang mengetahuinya. Bahkan banyak orang hanya mengatakan asal usulnya adalah “pada zaman dulu kala”. Sebenarnya asal usul perayaan perahu naga ini bermula dari sekitar 2000 tahun yang lalu ketika para penganut kepercayaan yang ada mempercayai bahwa pertandingan perahu dapat membawa kemakmuran dan kesuburan tanaman. Perayaan mengambil waktu pada saat musim panas, waktu dimana banyak terjadi bencana dan kematian, dan dimana manusia merasa tidak berdaya atas kekuasaan alam. Pertandingan itu menjadi simbol atas perlawanan manusia menghadapi alam dan pertarungannya melawan musuh-musuh. Ada pun beberapa kisah yang mendasari asal muasal perayaan ini adalah kisah seorang menteri yang bernama Qu Yuan. Qu Yuan adalah seorang menteri yang sangat peduli dengan negara dan rakyatnya, namun keluarga dari 11 kerajaan tidak menyukai sang menteri. Oleh karena itu menteri di usir dari negeri Chu. Pengusiran itu membuat menteri Qu Yuan sangat sedih sehingga dia pun memutuskan untuk melompat ke sungai MiLou. Hal ini membuat warga sangat kehilangan Qu Yuan. oleh karena itu lah warga memutuskan bersama-sama untuk mencari menteri Qu Yuan dengan menggunakan perahu naga. Namun pada saat itu jasat dari Qu Yuan tidak ditemukan,sehingga membuat para warga menjadi sedih. akan tetapi mereka tidak berputus asa, mereka terus mencari jasat dari Qu Yuan. 2.1.2 Makna Menurut Boediono dalam KBBI (2009 : 348), “Makna adalah arti atau maksud yang penting di dalamnya”. Lebih lanjut Nursyrid (2002 : 109) mengemukakan : “Ada 6 pola makna esensial yang melekat dalam kehidupan masyarakat dan budaya manusia, yaitu : simbol, empirik, estetika, sinoetik (perasaan yang halus), etik dan sinoptik (hubungan agama dan filsafat). Makna Simbolik meliputi bahasa, matematika, termasuk juga isyarat-isyarat, upacara-upacara, tanda-tanda kebesaran dan sebagainya. Makna Empirik mengembangkan kemampuan teoritis, generalisasi berdasarkan fakta-fakta dan kenyataan yang biasa diamati. Makna Estetik meliputi seni musik, tari, sastra, dan lain-lain, berkenaan dengan keindahan dan kehalusan serta keunikan berdasarkan persepsi subyektif berjiwa seni. Makna Sinoetik berkenaan dengan perasaan, kesan, penghayatan dan kesadaran yang mendalam. Makna Etik berkenaan dengan aspek-aspek moral, 12 akhlak, perilaku yang luhur, dan tanggung jawab. Makna Sinoptik berkenaan dengan pengertian-pengertian yang terpadu dan mendalam seperti agama, filsafat, pengetahuan alam yang menuntut nalar masa lampau dan hal-hal yang bernuansa spiritual”. 2.1.3 Perayaan Perayaan merupakan suatu peristiwa yang disambut secara besar-besaran bagi suatu kaum, bangsa, agama atau negara. Perayaan sendiri umumnya dilangsungkan untuk menyambut peristiwa-peristiwa penting, seperti perayaan agama, budaya, hari-hari dan tanggal yang bersejarah bagi yang merayakannya. Etnis tionghoa sendiri dalam kehidupan budayanya memiliki banyak hari perayaanseperti perayaan tahun baru China (Imlek), upacara perkawinan, upacara kematian, perayaan Cheng Beng, tradisi minum teh, dan masih banyak lagi. Masing-masing dari perayaan etnis Tionghoa tersebut memiliki makna yang penting dan sangat menarik untuk dipelajari. Dalam penelitian ini penulis merasa tertarik untuk meneliti makna dari perayaan Perahu Naga. 2.1.4 Masyarakat Tionghoa Kata masyarakat berasal dari akar kata bahasa Arab syaraka, yang artinya”ikut serta, berperan serta”. Menurut koentjaraningrat dalam Pengantar Ilmu Antropologi ( 2005 : 122) , “Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi sesuai dengan sistem adat-istiadat tertentu yang sifatnya 13 berkesinambungan, dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama”. Cohen dalam Sosiologi Suatu Pengantar (1992 : 49), “masyarakat ialah sekelompok manusia yang hidup bersama dalam suatu priode waktu tertentu, mendiami suatu daerah dan akhirnya mulai mengatur diri mereka sendiri menjadi suatu unit sosial yang berbeda dari kelompok-kelompok lain. Masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah salah satu etnik di Indonesia. Biasanya mereka menyebut dirinya dengan istilah Tenglang (hokkien), Tengnang (Tiochiu), atau Thongyin (hakka). Dalam bahasa mandarin mereka disebut Tang ren (orang tang). Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa orang Tionghoa di Indonesia mayaritas berasal dari China selatan yang menyebut diri mereka sebagai orang Tang, sementara yang berasal dari China utara menyebut diri mereka sebagai Han ren (orang han). Masyarakat Tionghoa datang ke Sumatera Utara sekitar abad ke-16 sampai kira-kira pertengahan abad ke-19 pada zaman penjajahan Belanda. Imigran dari Cina ini mayoritas berasal dari dua daerah yang berbeda yaitu berasal dari Provinsi Fukien bagian selatan dan provinsi Guandong. Masyarakat Tionghoa di Medan terdiri atas berbagai kelompok suku bangsa dan satu hal yang dapat membedakan kesukuan mereka adalah bahasa pergaulan yang mereka gunakan. Ada beberapa suku bangsa Tionghoayang ada di Medan, diantaranya adalah suku Hokkian, Hakka, Khek, Kwong Fu, Ai lo hong, dan Tio chio. 14 Awal kedatangan masyarakat Tionghoa ke Sumatera Utara adalah menjadi kuli kontrak, dan buruh kebun bagi orang Belanda melalui penyalur yang berasal di Cina dan disalurkan ke Indonesia khususnya kota Medan. Hingga akhir bangsa Belanda mengakui kekalahannya dan meninggalkan Indonesia, maka masyarakat Tionghoamengambil alih perkebunan Belanda dan menjadikan kebun menjadi ladang untuk mereka mencari nafkah. 2.2 Landasan Teori Teori adalah landasan dasar keilmuan untuk mengkaji maupun menganalisis berbagai fenomena dan juga sebagai rujukan utama dalam memecahkan masalah penelitian didalam ilmu pengetahuan. Sejalan dengan hal tersebut maka dalam sebuah penelitian membutuhkan landasan teori yang mendasarinya, karena landasan teori merupakan kerangka dasar sebuah penelitian. Untuk mendukung penulis dalam 1/3 为底座,上面 2/3 在四周挖四个圆 窗当身子,窗子巾上棉纸,上面写着‘无’‘我’、‘茶’、‘会’,蜡烛 Universitas Sumatera Utara 点燃中间。有人单用棉纸折成四方笔筒形,四面画上小幅山水、书法,中间 放盏电灯 ”(同上)从以上介绍中,我们看到了“无我茶会”所展现的不 单是自我寻求返朴归真的内心需求,更是一个茶人所孜孜以求的“和”与 “敬”的境界。人与人之间,人与茶之间的和谐与尊敬,彼此共享着人类的 和睦亲情及人类与天地自然间永恒的真诚。 3.1.4 婚姻的仪式 茶礼还是我国古代婚礼中一种隆重的礼节。明·许次纾在《茶疏考本》 中说:“茶不移本,植必子生。”古人结婚以茶为识,以为茶树只能从种子 萌芽成株,不能移植,否则就会枯死,因此把茶看作是一种至性不移的象征。 所以,民间男女订婚以茶为礼,女方接受男方聘礼,叫下茶或茶定,有的叫 受茶,并有一家不吃两家茶的谚语。同时,还把整个婚姻的礼仪总称为三茶 六礼。三茶,就是订婚时的下茶,结婚的定茶,同房时的合茶。下茶又有男 茶女酒之称,即定婚时,男家除送如意压帖外,要回送几缸绍兴酒。婚礼时, 还要行三道茶仪式。三道茶者,第一杯百果,第二杯莲子、枣儿;第三杯方 是茶。吃的方式,接杯之后,双手捧之,深深作揖,然后向嘴唇一触,即由 家人收去。第二道亦如此。第三道,作揖后才可饮。这是最尊敬的礼仪。这 些繁俗,现在当然没有了,但婚礼的敬茶之礼,仍沿用成习。 3.1.5 尊崇祖先的仪式 尊崇祖先的仪式就是初九天公琞。这种尊崇祖先的仪式作为茶的一个部 分,不应该被遗弃或不应该失去的,也可以 说在崇拜祖先的仪式是一个重 要部分。 3.2 中国茶的文化的意义 茶文化的意义对华裔社会有六个意义即: Universitas Sumatera Utara 1. 作为一个尊重的形式,在华裔社会中给客人茶,就是认为作为一 种敬重的形式。有一个独特的习惯,即当一杯充满茶,客人会在 桌子上把手指敲打。这样做是因为客人对主人要表达感谢已经给 客人茶。、 2. 为了道歉,在华裔社会文化中,如果有人认真向别人道歉倒他们 的茶。比如说一个孩子孝顺父母就是倒茶,这是一个悔恨的证据。 3. 为了婚礼上:在华裔社会的婚礼传统,有茶道必须由双方家庭做 的。他们要给的老的家庭当尊敬的意思,也表达感谢,因为在婚 礼上所有的家人可以在一起。 4. 当忠诚的符合:在华裔社会的婚姻和订婚,茶通常作为结婚礼物, 这意味着给双方祈祷,希望彼此有强烈的忠诚和忠诚固定保持。 5. 祖先崇拜的过程:在祖先崇拜的过程中,茶作为祖先的提供产品, 要表达感激之情和尊重对祖先的已经死亡了。 6. 意义的仪式:饮茶是一种仪式必须做到为了华裔社会,在日常人 们生活中这是一种华裔社会的传统,茶叶对华裔社会日常生活最 重要的,除了米饭,油,盐,酱油和醋。 Universitas Sumatera Utara 第四章 结论 茶道是中国民族的文化之一,这种文化仍然保持到现在。中国是认为 作首先的地方发现茶。中国也是第一个国家有一个历史关于茶的。此后,茶 继续传播到许多国家。 在印尼华裔社会茶道仍然执行。功夫茶是最流行的茶道。在功夫茶仪 式中的常常用乌龙茶茶,黑茶也可以使用。这个茶仪式上特别强调如何使茶, 以便获得最好的茶叶酿造。虽然有一些相关的饮茶传统的仪式,但是有茶仪 式已经被贵弃,如无我茶会和道茶,在印尼华裔社会已经不举行行。从线人 已知,这种茶仪式不再举行,因为无我茶会和道茶的仪式有困难,比如说在 准备茶的仪式、在仪式中使用的技术规则、装饰品和事物的使用在茶仪式、 以及把茶摆出来的措施和如何喝茶。但是无我茶会是一种特殊的仪式,因为 参加者带来了自己的茶具。 茶仪式的意义也发生了很多变化。在华裔社会的改变意义是作为一个 尊重的形式当时客人来了和改变经济的意义有关跟收入。经济的意义证明对 茶叶的需求,尤其是对华裔社会比较增加,从而使茶叶的销售是非常好的, 这个使得茶有很高的经济价值。 对华裔社会在婚姻仪式进行茶仪式一个非常寻常。在印尼华裔社会茶 道被称为“tepay”。尊崇祖先的仪式就是初九天公琞。这种尊崇祖先的仪 式作为茶的一个部分,不应该被遗弃或不应该失去的,也可以 说在崇拜祖 先的仪式是一个重要部分。 Universitas Sumatera Utara 参考文献 [1] 王 梅 英 在 . 中 国 茶 文 化 [J].Chinese Academic Journal Electronic Publishing House,2003(4). [2] 郭丹英. 儒、道、佛与中国茶文化[J]. Chinese Academic Journal Electronic Publishing House,2006(1). [3] 李文杰. 道家与茶文化资源研究 [J].茶叶通讯,2008(4). [4] 关 剑 平 . 论 茶 文 化 学 科 建 设 的 途 径 与 意 义 [J]. Chinese Academic Journal Electronic Publishing House, 2008(4). Universitas Sumatera Utara [5] 陈云君. 茶之道与茶道—中日茶文化之比较[J].天津中华文化学院, 2009(3). [6] 程启申. 中国茶文化的历史与未来[J]. Chinese Academic Journal Electronic Publishing House,2009(4). [7] Yuanita Tanuwijaya. 喝茶传统是华裔社会的文化[M]. 印尼大学中文 系, 2009. [8] Ratna Sumantri. 历史和茶的作用[M].雅加达,PT Gramedia Pustaka Utama,2007. [9] Best Book. 茶的起源[M]. CV Andi Offset,2010. 第一章 引言 1.1 研究目的 在中国有很多文化和传统。中国文化中有许多的类型和形式,中国茶文 化就是其中一个。茶文化是中国传统文化的重要组成部分 随着社会的发展 与进步。茶不但对经济起了很好的作用,是一大文化产业,而且成了人们生 活的必需品,并逐渐形成了灿烂夺目的茶文化.成为社会精神文明的一颗明 珠。茶作为一种大众饮品,已经成为生活中不可或缺的一部分。但是茶中含 有的意蕴,使茶已经不仅仅是生活的一部分了。它已经升华为了一种文化, 一种茶的文化。但是随着中国发展,有几种文化通过变化。特别是对华裔社 会,中国茶文化也通过变化。在本文中本人要解释中国茶文化的仪式和意义 对华裔社会和 解释华裔社会怎么样执行中国茶文化。 本人想要告诉普通人关于中国茶文化,特别是印尼学生学习汉语不知道 如何中国茶文化的仪式和意义对华裔社会。所以本文选择这个话题。 Universitas Sumatera Utara 1.2 问题描述 在研究上有两个问题要解决,即: 1. 如何中国茶文化的仪式对华裔社会? 2. 如何中国茶文化的意义对华裔社会? 1.3 研究现状 王梅英在《中国茶文化》(2003)中讨论中国历史源远流长,数千年 的文化程存了中国饮食文化之精华。茶文化作为中国古老文明的一部分,是 饮食文化中的。本文主要介绍了中国的十大名茶,同时对茶的历史,保健功 能,发展简景进行综述。 郭丹英在《儒、道、佛与中国茶文化》(2006)中讨论茶对于中国人 是有特殊涵义的, 中国人喝茶并非简单的解渴, 在漫长的茶文化发展过程中, 国人已赋予它精神文化上的含义, 它已深深融入中国传统文化中, 受中国传 统文化中儒、道、佛三教的浸染, 形标准。 李文杰在《道家与茶文化资源研究》(2008)中讨论道家与茶的文化 资源非常丰富,包括思想文化资源、养生文化资源、名人文化资源、名山文 化资源等,它们是中国茶文化产业发展的重要条件。 关剑平在《论茶文化学科建设的途径与意义》(2008)中讨论本文首 先从学科的基本概念出发, 将茶文化学科定性为属于人文社会科学的横向应 用学科。反思茶文化学科建设的历程, 科研队伍建设至关重要, 他们的努力 直接决定学科建设的成败。针对茶文化研究学术性弱的问题, 提出研究队伍 专业化的对策。一方面是研究者自觉地自我培养, 掌握相应基础学科的理论 与方法; 另一方面是学会、学术期刊的监督审查机制, 将符合学术规范的优 秀成果推荐给实践应用研究者和广大的茶文化爱好者。茶文化事业是一个整 体, 必须专业分工, 协调发展。 Universitas Sumatera Utara 陈云君在《茶之道与茶道—中日茶文化之比较》(2009)文章主要是 从日本民族文化形成机制入手, 扼要地论述日本茶道形成的原理, 对中日茶 文化进行系统比较。强调立足“汉文化圈”来审视日本茶道的核心内容—— —禅宗思想, 同时又指出日本民族精英文化“茶道”正式底定于日本民族文 化与禅宗思想结合之后。对日本茶道形成之前的“文化资粮”, 亦予以简单 梳理, 从而使读者对日本茶道从理论上有一整体认识。 程启申在《中国茶文化的历史与未来》(2009)中讨论中国茶的文化 的历史和茶的功能。本文中要讲述中国茶文化的发展,也是的形式。中古茶 文化的历史是从唐代开始。 Yuanita Tanuwijaya 在《喝茶传统是华裔社会的文化》(2009)中讨 论中国茶文化的历史和 喝茶传统。认为中国茶文化对华裔社会是生活的一 部分。 Ratna Sumantri 在《历史和茶的作用》(2007)中讨论怎么样我们能欣 赏喝茶。 Best Book (2010)中的讨论 1001 茶的分类,茶的起源,茶的文化, 茶的作用 和 配制出来的茶。 1.4 研究方法 首先在网络和图书馆查找关助动词的各种资料,把中国茶文化的资料进 行考查意义,然后解释中国茶文化的定义、中国茶文化的历史和茶的分类。 最后解释中国茶文化的仪式和意义。研究方法包括数据采集技术和数据分析 技术。 1.4.1 数据采集技术 数据采集技术有三个方法就是访谈、实地观察和研究图书馆。 Universitas Sumatera Utara 1.4.1.1 访谈 访谈是一种技术想获得信息,直接问问题对研究对象。访 谈是一种方法要获得数据和信息使用口头,提出有关的问题就是茶文化对采 访者.研究者提出问题的技术根据问卷调查和采访记录,如果访谈结果不能 记录还可以听到从录音。在采访过程中的,研究者使用自由访谈。意味着, 研究者提出所有的问题对采访者进行从别的事,但是问题没出走主题。 1.4.1.2. 实地观察 观察是一种方式要来获得数据,特别是看着的方法和记 录的研究对象,并注意到有关讨论的问题就是茶文化的仪式和意义对华裔社 会。 1.4.1.3 研究图书馆 文学研究是一种技术的要获得从参考书籍有关的跟这本文中的问题 就是茶文化的仪式。在本文中为了找到著作的支持者当推理框架的基础上, 所以本文使用研究图书馆。这个活动进行要获得文献研究或者阅读源为了完 成所有的数据和访谈的结果。在本文中阅读源当支持的写作就是书、学报刊、 文件、文章和网站的消息。 1.4.2 数据分析技术 在这篇论文的编写,数据分析技术的使用是描述性的研究,就是详细 解释和清楚的解释关于所有的有关跟茶文化的仪式和意义对华裔社会 Universitas Sumatera Utara 第二章 中国茶文化的概念和理论 2.1 概念 概念就是所有的定义对我们观察是什么,概念是确定我们需要哪些 变量的,确定经验的关系。在这本文中使用的概念有关的中国茶文化的仪式 和意义对华裔社会。因此,本文的概念如下: 2.1.1 茶的定义 在古代史料中,茶的名称很多,但“茶”则是正名,“茶”字在中唐 之前一般都写作“荼”字。“荼”字有一字多义的性质,表示茶叶,是其中 一项。由于茶叶生产的发展,饮茶的普及程度越来越高,茶的文字的使用频 率也越来越高,因此,民间的书写者,为了将茶的意义表达得更加清楚、直 观,于是,就把“荼”字减去一划,成了现在我们看到的“茶”字。 “茶”字从“荼”中简化出来的萌芽,始发于汉代,古汉印中,有些 “荼”字已减去一笔,成为“茶”字之形了。不仅字形,“茶”的读音在西 汉已经确立。如现在湖南省的茶陵,西汉时曾是刘欣的领地,俗称“荼”王 城,是当时长沙国 13 个属县之一,称为“荼”陵县。在《汉书·地理志》 中,“荼” 陵的“荼”,颜师古注为: 音弋奢反,又音丈加反。这个反切 Universitas Sumatera Utara 注音,就是现在“茶”字的读音。从这个现象看,“茶”字读音的确立,要 早于“茶”字字形的确立。 茶,作为世界三大饮料之一,是中华民族的国粹,也是人们日常起居的 必需品。“茶圣”陆羽在《茶经》中曾这样讲到“茶之为饮,发乎神农氏, 闻于鲁周公。”言明了茶在中国的悠久历史,茶在很久以前就成为我们生活 中非常重要的一部份,和我们的生活息息相关。茶有着多彩的表现方式和丰 富的文化内涵,其作为举国之饮,茶被赋予了太多太多的内容。茶文化中的 养生术,更是以其独特的魅力,深受国人尤其是老年人的青睐。茶能清心明 志,显示我们高雅的修养。茶正在以其深刻的内涵及养生保健功能被誉为 21 世纪“最文明的饮料”。 多饮茶即能补充多种营养,增强体魄,也能达到防病治病的目的,因此, 茶被称为“万病之药”。 茶,一可解毒,二可健体,三可养生,四能养心, 五能修生。茶对于人有如此重要作用,其与健康的关系十分密切,我们有必 要好好了解一下茶的根本。 茶是一种天然保健饮料,其成分非常复杂,但最主要的还是化学成分, 这些成分决定了茶的各种特性。据既有的研究资料表明,茶叶中的化合物大 概有 500 多种,其化学成分归纳起来可分为水分和干物质两大类,主要包括 蛋白质、10 多种维生素还有茶多酚、生物碱、糖类、有机酸、少量矿物质 等。茶叶的化合物中有些是人体所必需的成分,我们叫做营养成分,如维生 素、蛋白质、氨基酸、类脂类、糖类等,它们对人体有较高的营养价值。 中国是茶的故乡,也是茶文化的发祥地。茶的发现和利用,在中国已有四五 千年历史,且长盛不衰,传遍全球。茶是中国人的举国之饮,更是中华民族 的骄傲。 2.1.2 茶文化的定义 Universitas Sumatera Utara 中国是茶的故乡,只茶饮茶有几千年的历史。主要茶类有录茶。红茶。 乌龙茶、花茶、白茶、黄茶、黑茶。中国作为茶的原产地,有着丰富多采和 悠久历史的茶文化。茶文化的定义:茶叶是劳动生产物,是一种饮料。茶文 化是以茶为载体,并通过这个载体来传播各种文化,是茶与文化的有机融合, 这包含和体现一定时期的物质文明和精神文明。 茶文化是人类在社会历史发展过程中所创造的有关茶的物质 财富和 精神财富的总和。茶文化有关饮茶的文化,即对各种差的欣赏、泡茶技艺、 饮茶的精神感受以及通过饮茶创作出的文学艺术作品等。 茶文化以物质为载体,反映出明确的精神内容,是物质文明与精神文 明高度和谐统一的产物。茶文化的物质形态表现为茶的历史文物、贵迹、茶 书、茶画、各种名优茶、茶馆、茶具、茶歌舞、饮茶技艺和茶艺表演等。精 神形态表现为茶德、茶道精神、以茶待客、以茶养康、以茶养性、茶禅一味 等。还有介于中间状态的表现形式,如茶政,茶法、礼规、习俗等属制度文 化范围的内容。因此茶文化的结构体系包括有关茶的物质文化、制度文化和 精神文化。 2.1.3 中国茶文化的历史 茶作为饮料被发现大概在古老的采集和渔猎时期,在东汉时期的《神 农尝百草》中记述了神农尝百草,日遇七十二毒,得茶解之之说。民间传说 有位被后人称为“神农氏”的人。他为民解除病痛,尝遍百草,他前后共尝 试过 72 种毒草,在他奄奄一息躺在一棵树下的时候,有片落叶掉进他的口 中,清香甘甜,使他精神,他将树上的叶子采下继续尝试,顿时毒气消散, 精神气爽。于是他认定此叶可以救治疾病。并称之为“茶”。自神农尝百草 发现茶至今已有四五千陆羽年的历史了。在茶的历史演变中,相传在公元 775 年(天宝十四年),二十四、五岁的随着流亡的难民离开故乡,流落湖 州(今浙江州市)。湖州较北方相对安宁。陆羽自幼随积公大师在寺院采茶、 煮茶,对茶学早就发生浓厚兴趣。湖州又是名茶产地,在这一带搜集了不少 Universitas Sumatera Utara 有关茶的生产、制作的材料。这一时期他结识了著名诗僧皎然。皎然既是侍 僧,又是茶僧,对茶有浓厚兴趣。陆羽又与诗人皇甫、皇甫曾兄弟过往甚密, 皇甫兄弟同样对茶有特俗爱好。陆羽在茶乡生活,所交有多诗人,艺术熏陶 的和江南明丽的山水,使自然地把茶与艺术结为一体,构成他后来《茶经》 中幽深清丽的思想与格调。把深刻的学术原理溶茶这种物质生活之中,从而 创造了茶文化。 2.1.4 茶的分类 茶的分类有很多种,在本文中只是描述六种茶的分类,就是绿茶、白 茶、黑茶、黄茶、乌龙茶、和普洱茶。 2.1.4.1 绿茶 绿茶类属不发酵茶。这类茶的茶叶颜色是翠绿色,泡出来的茶汤是绿 黄色,因此称为“绿茶”。例如,雨花茶、龙井、碧螺春、黄山毛峰、太平 猴魁等。颜色:碧绿、翠绿或黄绿,久置或与热空气接触易变色。 原料:嫩芽、嫩叶,不适合久置。 香味:清新的绿豆香,味清淡微苦。 性质:富含叶绿素、维生素C(一般每100 克绿茶中含量可高达IO0 毫克~ 250 毫克,高级龙井茶含量可达360 毫克以上,比柠檬、柑橘等水果含量还高。 茶性较寒凉,咖啡碱、茶碱含量较多,较易刺激神经。 Universitas Sumatera Utara 茶肴:可泡汤、或轻炒入菜。 2.1.4.2 白茶 白茶类属部分发酵茶(发酵度:10%)。白茶是成条状的白色茶叶, 泡出来的茶汤成象牙色;因白茶是采自茶树的嫩芽制成,细嫩的芽叶上面盖 满了细小的白毫,白茶的名称就因此而来。例如,银针白毫、白牡丹、寿眉 等。 颜色:色白隐绿,干茶外表满披白色茸毛。 原料:福鼎大白茶种的壮芽或嫩芽制造,大多是针形或长片形。 香味:汤色浅淡,味清鲜爽口、甘醇、香气弱。 性质:寒凉,有退热祛暑作用。 茶肴:可添加在汤或凉拌菜中,以示名贵。 2.1.4.3 黑茶 黑茶类属后发酵茶(随时间的不同,其发酵程度会变化)。这类茶多 半销往俄罗斯或我国边疆地区为主;大部分内销,少部分销往海外。因此, 习惯上把黑茶制成的紧压茶称为边销茶。例如,普洱茶、湖南黑茶、老青茶、 六堡散茶等。 颜色:青褐色,汤色橙黄或褐色,虽是黑茶,但泡出来的茶汤未必是黑色。 原料:花色、品种丰富,大叶种等茶树的粗老梗叶或鲜叶经后发酵制成。 香味:具陈香,滋味醇厚回甘。 性质:温和。属后发酵,可存放较久,耐泡耐煮。 茶肴:可焖煮人菜,或做成茶点心,别具风味。 Universitas Sumatera Utara 2.1.4.4 黄茶 黄茶类属部分发酵茶(发酵度:10%)。黄茶是一种发酵不高的茶类, 制造工 艺似绿茶,过程中加以闷黄。因此,具有黄汤黄叶的特点。例如,君山银针、 蒙顶黄芽、霍山黄芽等。 颜色:黄叶黄汤。 原料:带有茸毛的芽头,芽或芽叶制成。制茶工艺类似绿茶,在过程中加以 闷黄。 香味:香气清纯,滋味甜爽。 性质:凉性,因产量少,是珍贵的茶叶。 茶肴:佐汤、佐菜,提高菜肴的珍贵。 2.1.4.5 乌龙茶 青茶类属半发酵茶(发酵度:10%~70%),俗称乌龙茶。种类繁多, 这种茶呈深绿色或青褐色,泡出来的茶汤则是蜜绿色或蜜黄色。例如,冻顶 乌龙茶、闽北水仙、铁观音茶、武夷岩茶等。 颜色:青绿、暗绿。 原料:两叶一芽,枝叶连理,大都是对口叶,芽叶已成熟。 香味:花香果味,从清新的花香、果香到熟果香都有,滋味醇厚回甘,略带 微 苦亦能回甘,是最能吸引人的茶叶。 性质:温凉。略具叶绿素、维生素C,茶碱、咖啡碱约有3%。 Universitas Sumatera Utara 茶肴:煎、炒或研粉,或直接人菜均可,以茶人菜这类茶应用较广。 2.1.4.6 普洱茶 颜色:大都是暗色,视何种茶类为原料而有所不同。泡出来的茶汤颜 色也属 于深色。 原料:各种茶类的毛茶都可为原料,是属于再加工茶类。 香味:沉稳、厚重。 性质:现代紧压茶与古代的团茶、饼茶在原料上有所不同。古代是采摘茶树 鲜叶经蒸青、磨碎、压模成型后干燥制成。现代普洱茶是以毛茶再加工,蒸 压成型而成。 茶肴:适用炖补类及卤味的菜肴;加配料可做成可口的茶点、食品。 2.2 理论 理论是一个科学的最重要的工具。没有理论,只有单纯的事实的知识, 但就没有科学。理论是的基础的知识为了分析各种现象。理论是主要参考要 解决研究问题的。在本文中用两个理论就功能主义理论和仪式理论。 2.2.1 功能主义理论 Universitas Sumatera Utara 功能主义理论是一个理论使用在社会科学,它强调在某些社区 的中和社会的习惯有的相互依存关系。在华裔社会中,茶经常在婚礼上要提 交,婚礼仪式上,茶道有功能的价值,是为了表达尊重的对新郎的家人,以 便他们的婚姻幸福。 2.2.2 仪式理论 为了描述中国茶文化对华裔社会,本文中使用仪式理论.进行茶 仪式是为了回答和解释社会生活中的问题要满足的需求和大家目标,以便茶 仪式可以可持续发展.茶文化对华裔社会可以看出在婚姻仪式上,祖先崇拜 仪式,道家茶礼,和无我茶会。 Universitas Sumatera Utara
Makna Warna Bagi Masyarakat Tionghoa. Makna Warna Bagi Masyarakat Tionghoa
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Makna Warna Bagi Masyarakat Tionghoa.

Gratis