Pemanfaatan Limbah Kaleng Bekas Sebagai Serat Dan Penambahan Fly Ash Terhadap Sifat Mekanis Beton

Gratis

12
130
83
3 years ago
Preview
Full text

PEMANFAATAN LIMBAH KALENG BEKAS SEBAGAI SERAT DAN

  Besarnya pemakaian beton ini akan memicu para ahli dalammelakukan terobosan-terobosan untuk mengurangi pemakaian bahan penyusun beton yang berlebihan tanpa mengurangi kualitas beton itu sendiri. Variasi I merupakan beton normal, variasi II dengan penambahan serat kaleng sebesar20%, dan variasi III dengan penambahan serat kaleng sebesar 20% dan fly ash sebesar 15% dari berat semen.

KATA PENGANTAR

  Untuk abang-abang saya tercinta Bang Kola, Bang Kesil, dan Bang Kecik terima kasih atas bantuan dan semangat yang diberikan selama ini, serta Crash adik saya tercinta yang telah banyak membantu dan memberi sayasemangat selama ini, terima kasih atas doanya. Dan untuk semua orang, yang tidak mungkin saya tuliskan satu-persatu atas dukungannya yang sangat baik dengan kerendahan hati saya meminta maaf yangsebesar-besarnya, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, dan saya hanya manusia yang penuh kekhilafan.

DAFTAR NOTASI

SSD: saturated surface dry n : jumlah sampel f' c : kuat tekan beton karakteristik (MPa) 2 fc’ : kekuatan tekan (kg/cm )P : beban tekan(kg)

2 A : luas penampang (cm )

  Fct : tegangan rekah beton (kg/cm)P : beban maksimum (kg)L : panjang sampel (cm)D : diameter (cm)F : beban yang diberikan (kg) DAFTAR LAMPIRANLampiran I Pemeriksaan Bahan Lampiran II Mix DesignLampiran III Data Pengujian Kuat Tekan Lampiran IV Data Pengujian Kuat Tarik BelahLampiran V Dokumentasi ABSTRAK Pada umumnya beton digunakan sebagai salah satu bahan bangunan yang sering dipakai dalam pembangunan. Variasi I merupakan beton normal, variasi II dengan penambahan serat kaleng sebesar20%, dan variasi III dengan penambahan serat kaleng sebesar 20% dan fly ash sebesar 15% dari berat semen.

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Sebelumnya telah dilakukan penelitianoleh Marsudi, 2009, dengan ukuran panjang 10 mm dan lebar 1 mm dengan pengujian kuat tekan K-150 dan K-450, dan penelitian oleh Nursetiaji Pamungkas, 2006, dengan ukuranpanjang ± 20 mm dan lebar 2 mm dengan pengujian kuat tekan K-225. Tetapi dengan kehadiran air dan ukuran partikelnya yanghalus, oksida silika yang dikandung oleh fly ash akan bereaksi secara kimia dengan kalsium hidroksida yang terbentuk dari proses hidrasi semen dan menghasilkan zat yang memilikikemampuan mengikat.

1. Mutu beton yang direncanakan adalah f’c 25 Mpa

  Penambahan serat kaleng dan fly ash adalah 20% dan 15% dari volume semen. Benda uji yang digunakan untuk uji tekan, tarik belah, dan absorbsi adalah silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm dan pelat 100x100x8 cm untuk pola retak.

1.4. Metodologi Penelitian

  Metode yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah kajian eksperimental di Laboratorium Bahan Rekayasa Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik UniversitasSumatera Utara. Penyediaan bahan penyusun beton seperti batu pecah, pasir, semen dan bahan campuran ( serat kaleng dan fly ash).

2. Pemeriksaan bahan penyusun beton

  Mix design (perancangan campuran) (SK SNI T–15–1990-03)Penimbangan / penakaran bahan penyusun beton berdasarkan uji karakteristik f’c 25 Mpa. Pengujian kuat tekan beton, kuat tarik belah, dan absorbsi beton menggunakan benda uji silinder serta pola retak pada pelat.

1.5. Percobaan

  Pembuatan benda uji : Pembuatan beton dengan menggunakan campuran serat kaleng dan fly ash dengan faktor air semen tetap untuk setiap variasi. 3 Beton normal +20% serat kaleng + 15% fly Basah 3 3 3 1 Awal basah 7 hari 3 3 Awal kering 7 hari 3 ash 3 Basah 3 3 3 1 Awal basah 7 hari 3 3 Awal kering 7 hari 3 3 TOTAL 3 Beton normal +20% serat kaleng 3 Awa kering 7 hari e.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  Pengerasan itu terjadi oleh peristiwa reaksi kimia antara air dan semen yang berlangsung selama waktu yang panjang, danakibatnya campuran itu selalu bertambah keras setara dengan umurnya dengan rongga-rongga antara butiran yang besar (agregat kasar, kerikil atau batu pecah) diisi oleh butiran yang lebih kecil(agregat halus, pasir), dan pori-pori antara agregat halus ini diisi oleh semen dan air (pasta semen). Banyaknya pemakaian beton sebagai salah bahan konstruksi disebabkan karena beton terbuat dari bahan-bahan yang umumnya mudah diperoleh, serta mudah diolah sehinggamenjadikan beton mempunyai sifat yang dituntut sesuai dengan keadaan situasi pemakaian tertentu.

2.2. Beton Serat

  Berbagai macam serat yang dapat digunakan untuk memperbaiki sifat – sifat mekanik beton antara lainadalah fiber baja (steel fibre), fiber polypropylene (sejenis plastik mutu tinggi), fiber kaca (glass fibre), fiber karbon (carbon fibre), serta fiber dari bahan alami (natural fibre), seperti ijuk, rambut, Penambahan serat pada adukan beton dapat menimbulkan masalah pada fibre dispersion dan kelecakan (workability) adukan. Fibre dispersion dapat diatasi dengan memberikan bahan tambahberupa superplasticizer ataupun dengan meminimalkan diameter agregat maksimum, sedangkan pada workabilty adukan beton dapat dilakukan dengan modifikasi terhadap faktor-faktor yangmempengaruhi kelecakan adukan beton yaitu nilai fas, jumlah dan kehalusan butiran semen, gradasi campuran pasir dan kerikil, tipe butiran agregat, diameter agregat maksimum serta bahan tambah.

2.3. Bahan Penyusun Beton

2.3.1. Semen

  Umum Semen merupakan bahan ikat yang penting dan banyak digunakan dalam pembangunan fisik di sektor konstruksi sipil. Jika ditambah agregat halus, pasta semen akan menjadi mortar, sedangkan jika digabungkan dengan agregat kasar akan menjadi campuranbeton segar yang setelah mengeras akan menjadi beton keras (hardened concrete).

1. Jenis – Jenis Semen Portland

  Pemakaian semen yang disebabkan oleh kondisi tertentu yang dibutuhkan pada pelaksanaan konstruksi di lokasi, dengan perkembangan semen yang pesatmaka dikenal berbagai jenis semen Portland antara lain: 2. M Brook, 1996 Walaupun demikian pada dasarnya ada 4 unsur paling penting yang menyusun semen portland, yaitu: Table 2.2 Senyawa Utama Semen Portland Tabel 2.3 Komposisi Oksida Semen Portland Tipe I Oksida Notasi Pendek Nama Umum 2 CO2 CKarbon dioksida - 0.3 SO2 SSulfur dioksia 0.6 Na2 O N Disodium oksida 2.6 K2 O K Alkalis 2.5 MgO M Magnesia 6 Fe2 O3 F Ferrit oksida 22 Al2 O3 A Alumina 63 SiO2 S Silika CaO C Kapur % Berat 3.5 Sumber : Nugraha, P.

4. Sifat-Sifat Semen Portland

  Waktu ikat adalah waktu yang diperlukan semen untuk mengeras, terhitung mulai dari bereaksi dengan air dan menjadi pasta semen hingga pasta semencukup kaku untuk menerima tekanan. Jumlah panas yang dibentuk antara lainbergantung pada jenis semen yang dipakai dan kehalusan butiran semen.

2.3.2. Agregat

  Umum Agregat yang digunakan dalam campuran beton dapat berupa agregat alam atau agregat buatan (artificial aggregates). Agregat kasar adalah batuan yang ukuran butirnya lebih besar dari 4.80 mm (4.75 mm) dan agregat halus adalah batuan yang lebih kecil dari 4.80mm (4.75 mm).

1. Jenis Agregat Berdasarkan Bentuk

  Agregat jenis ini akan berpengaruh buruk pada mutu beton yang akan dibuat. Agregat pipih  Pada agregat ini mempunyai panjang yang jauh lebih besar daripada lebarnya, sedangkan lebarnya jauh lebih besar dari tebalnya.

2. Jenis Agregat Berdasarkan Tekstur Permukaan

  Jenis agregat berdasarkan tekstur permukaannya dapat dibedakan sebagai berikut:Kasar  Agregat ini dapat terdiri dari batuan berbutir halus atau kasar yang mengandung bahan-bahan berkristal yang tidak dapat terlihat dengan jelas melalui pemeriksaanvisual. Berbutir (granular)  Dari hasil penelitian, kekasaran agregat akan menambah kekuatan gesekan antara pasta semen dengan permukaaan butir agregat sehingga beton yang menggunakan agregat ini cenderung mutunya akan lebih rendah.

3. Jenis Agregat Berdasarkan Ukuran Butir Nominal

Dari ukuran butirannya, agregat dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu agregat kasar dan agregat halus.

i. Agregat Halus

  Agregat halus yang digunakan untuk pembuatan beton dan akan mengalami basah dan lembab terus menerus atau yang berhubungan dengan tanah basah, tidak bolehmengandung bahan yang bersifat reaktif terhadap alkali dalam semen, yang jumlahnya cukup dapat menimbulkan pemuaian yang berlebihan di dalam mortar atau betondengan semen kadar alkalinya tidak lebih dari 0,60% atau dengan penambahan yang bahannya dapat mencegah pemuaian. Fungsi dari bahan Admixture atau bahan tambah yang didefenisikan dalam Standard Definitions of terminology Relating to Concrete and Concrete Aggregates (ASTM C.125- 1995:61) dan dalam Cement and Concrete Terminology (ACI SP-19) adalah sebagai material selain air, agregat dan semen hidrolik yang dicampurkan dalam beton ataumortar yang ditambahkan sebelum atau selama pengadukan berlangsung.

2.3.4.2. Abu Terbang (

  Tetapi dengan kehadiran air dan ukuran partikelnya yanghalus, oksida silika yang dikandung oleh fly ash akan bereaksi secara kimia dengan kalsium hidroksida yang terbentuk dari proses hidrasi semen dan menghasilkan zat yang memilikikemampuan mengikat. Fly ash dapat dibedakan menjadi dua, yaitu abu terbang yang normal yang dihasilkan dari pembakaran batubara antrasit atau batubara bitomius dan abu terbang kelas C yang Fly ash kelas F merupakan fly ash yang diproduksi dari pembakaran batubara anthracite atau bituminous, mempunyai sifat pozzolanic dan untuk mendapatkan sifatcementitious harus diberi penambahan quick lime, hydrated lime, atau semen.

2.4. Sifat-sifat Beton

2.4.1. Sifat Beton Segar (

Fresh Concrete)

2.4.1.1. Kemudahan Pengerjaan (

  Unsur-unsur yang mempengaruhiworkabilitas yaitu : Jumlah air pencampur. Kandungan semen. Gradasi campuran pasir dan kerikil. Bentuk butiran agregat kasar Cara pemadatan dan alat pemadat. Konsistensi/kelecakan adukan beton dapat diperiksa dengan pengujian slump yang didasarkan pada ASTM C 143-74.

2.4.1.2. Pemisahan Kerikil (

  Hal ini akan menyebabkan sarang kerikil, yang pada akhirnya akanmenyebabkan keropos pada beton. Untuk mengurangi kecenderungan segregasi maka diusahakan air yang diberikan sedikit mungkin, adukan beton jangan dijatuhkan dengan ketinggian yangterlalu besar dan cara pengangkutan, penuangan maupun pemadatan harus mengikuti cara-cara yang betul.

2.4.1.3. Pemisahan Air ( Bleeding)

  Hardened Concrete) Kinerja beton keras yang baik ditunjukkan oleh kuat tekan beton yang tinggi, kuat tarik yang lebih baik, perilaku yang lebih daktail, kekedapan air dan udara, ketahanan terhadap sulfatdan klorida, penyusutan rendah dan keawetan jangka panjang. Besarnya kadar air yang ada dalam campuran beton ditentukan oleh faktor air semen, adanya faktor air semen yang tinggi, maka kadar air yang ada padacampuran beton juga tinggi dan hal ini dapat mengakibatkan absorbsi beton yang besar pula.

2.4.2.3. Kuat Tarik Beton

  Kekuatan tarik relatif rendah untuk beton normal berkisar antara 9%-15% dari kuat tekan. Nilai pendekatan yang diperoleh Dipohusodo (1994) dari hasil pengujian berulang kali mencapai kekuatan 0,50-0,60 kali√fc’, sehingga untuk beton normal digunakan nilai 0,57 √fc’.

2.4.2.4. Pola Retak

  Pola retak kerucut dan pecah ( cone dan split ). Pola retak kerucut dan geser ( cone dan shear).

2.5. Klasifikasi Retak

  Klasifikasi Retak bervariasi yaitu: Umum yang terdiri dari retak akibat rangkak (creep) dan retak akibat susut (shrinkage). Lebar retak yang terdiri dari retak mikro, retak makro dan retak mayor. Bentuk dan pola retak yang terdiri dari retak tunggal, retak ganda, retak bercabang. Retak yang diperbolehkan harus sesuai dengan factor keamanan, perawatan (perlakuan) dan kekuatan bahan pada beton itu sendiri meskipun retak tidak dapat ditentukan bentukdan pola yang terjadi, hal ini dikarenakan retak berhubungan dengan permukaan yang bebas (tidak diberikan beban).

2.5.1. Rangkak (

  Deformasi yang tidak elastis ini bertambah dengan tingkat perubahan yangberkurang selama pembebanan dan jumlah totalnya dapat mencapai besar beberapa kali dari deformasi elastis dalam waktu jangka pendek. Saat beton masih bersifat plastis maka partikel agregat akan crack, sedangkan retak akibat penyusutan yang terus terjadi karena panas hidrasi pada beton keras (hardened concrete) disebut drying shrinkage crack.

2.5.2. Plastic Shrinkage Crack

  Setelah semen bereaksi dengan air maka pasta akan mengalami reduksi dalam volume beton, tetapi ini seharusnya menjadi catatan bahwa hal tersebut disebabkan olehhidrasi pada beton yang meningkat. Perawatan beton yang disimpan dalam air secara kontinu akan menambah volume beton berkisar 0.01 s/d 0.02 % dari volume semulaakibat beton tersebut mengembang.

2.5.3. Drying Shrinkage Beton

  Hal ini berarti bahwa untuk sebuah ukuran slab dengan ukuran 30 ft x 80ft dapat menyusut berkisar antara 0,12 – 0,23 in terhadap lebar dan 0,34 – 0,62 in terhadap panjang slab. Perbedaan kelembaban ini dapat diatasi dengan menggunakan admixture, yang dapat mengubah cara air berpindah tempat dalam campuran beton sehingga menghasilkankelembaban yang seragam.

2.5.4. Lebar Retak

  Retak dapat dikenali dengan tiga parameter yaitu lebarnya, panjangnya dan pola umumnya, lebar retak ini sulit diukur karena bentuknya yang tidak teratur (irregular shape). Lebar retak maksimum yang diijinkan dapat dilihat pada tabel 2.9berikut : Tabel 2.9 Lebar retak yang diijinkan No Jenis Struktur dan Kondisi Toleransi Lebar Retak (mm) 1 Struktur dalam ruangan (in-door structure).

BAB II I METODE PENELITIAN

  Diagram Alir Pembuatan Beton Normal dan Beton dengan tambahan serat kaleng dan fly ashPERSIAPAN BAHAN PEMERIKSAAN BAHAN MIX DESIGN PENGECORAN PENGERINGAN 24 JAM PERENDAMAN 1. AWAL BASAH 7 HARI 3.

3.2. Bahan-bahan Penyusun Beton

  Pedoman : % Komulatif tertahan hingga ayakan 0.15 mm =FM 100 Berdasarkan nilai modulus kehalusan (FM), agregat halus dibagi dalam beberapa kelas, yaitu :  : 2.20 < FM < 2.60Pasir halusPasir sedang : 2.60 < FM < 2.90  : 2.90 < FM < 3.20Pasir kasar  Pencucian Pasir Lewat Ayakan no.200 a. Pedoman :Standar warna no.3 adalah batas yang menentukan apakah kadar bahan organik pada pasir lebih kurang dari yang disyaratkan.

3.2.3. Agregat kasar

  Pemeriksaan yang dilakukan pada agregat kasar meliputi :  Pemeriksaan kadar lumpur (pencucian lewat ayakan no.200) Analisa ayakan batu pecah  Pemeriksaan keausan menggunakan mesin pengaus Los AngelesPemeriksaan berat isi batu pecah  Pemeriksaan berat jenis dan absorbsi batu pecah  Analisa Ayakan Batu Pecah a. Serat Kaleng Serat kaleng yang digunakan adalah serat buatan yang diolah dengan memotong limbah kaleng menjadi serat dengan ukuran panjang 2 mm dan lebar 1 mm.

3.2.6. Fly Ash

  Abu terbang (fly ash) batubara adalah bahan yang berbutir halus yang bersifat apozzolanic yang merupakan bahan alami atau buatan yang diperoleh dari sisa pembakaran batubara dan pabrik pembangkit panas. Kriteria dasar perancangan beton dengan menggunakan metode Departemen PekerjaanUmum ini adalah kekuatan tekan dan hubungan dengan faktor air semen.

3.6. Pembuatan Benda Uji

  Pembuatan benda uji terdiri dari tiga variasi campuran untuk percobaan, yaitu campuran normal tanpa bahan tambah (variasi I), campuran dengan penambahan seratkaleng sebesar 20% dari volume semen (variasi II), dan campuran dengan penambahan serat kaleng sebesar 20% dan fly ash sebesar 15% dari volume semen (variasi III). Setelah pengukuran nilai slump, campuran beton dimasukkan ke dalam cetakan silinder yang berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30cm dengan cara dibagi dalam tiga tahapan, dimana masing-masing tahapan diisi 1/3 bagian dari cetakan silinder dan pelat lalu dipadatkan dengan menggunakan alat vibrator.

3.7. Penggunaan Serat Kaleng dan Fly Ash dalam Campuran Beton

  Adapun variasi yang diujikan adalah variasi I (beton normal), variasi II (penambahan 20% serat kaleng), danvariasi III (penambahan 20% serat kaleng dan 15% fly ash). Dari pemeriksaan bahan 3 tambah dapat diperoleh berat isi serat kaleng sebesar 221,3 kg/m dan berat isi fly ash 3 sebesar 481,3 kg/m .

3.8. Pengujian Sampel

  Untuk benda uji sillinder yang umur 28 hari dilakukan pengujian kuat tekan, kuat tarik belah, dan absorbsi beton. Sedangkan benda uji pelat dilakukan pengujian pola retak yangdiamati selama 45 hari.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Nilai

  Slump Nilai slump selalu dihubungkan dengan kemudahan pengerjaan beton (workabilitas), hal ini dipengaruhi beberapa faktor antara lain :  Gradasi dan bentuk permukaan agregat  Faktor air semen  Volume udara pada adukan beton  Karakteristik semen  Bahan tambahan Hasil pengujian nilai slump setiap variasi dapat dilihat pada tabel 4.1. Nilai Slump berbagai jenis variasi Variasi Nilai Slump Variasi I 11 Variasi II(penambahan 20% serat kaleng) 9 Variasi III(penambahan 20% serat kaleng dan 15% fly ash) 9 Gambar 4.1 Grafik Nilai Slump Tiap Variasi Pengujian kuat tekan beton dilakukan pada umur 28 hari yang dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran perkembangan kekuatan tekan beton dengan menggunakan bahan tambahserat kaleng dan fly ash.

4.2. Uji Kuat Tekan Beton

Tabel 4.2 Kuat Tekan pada Perawatan Basah Berat Kuat Tekan (Mpa) Nama Variasi rata-rata Basah % dari normal (kg) Variasi I (Normal) 12.64 25.06 Variasi II(penambahan 20% 12.86 26.23 4.669 serat kaleng)Variasi III (penambahan 20% 12.9 27.14 8.300 serat kaleng dan 15% fly ash) Tabel 4.3 Kuat Tekan Perawatan Awal Basah 7 Hari Kuat Tekan (Mpa) Bera Nama Variasi rata-rata AB 7 (kg) Hari % dari normal Variasi I (Normal) 12.58 23.29 Varasi II(penambahan 20% 12.79 23.4 0.472 serat kaleng)Variasi III (penambahan 20% 12.9 23.67 1.632 serat kaleng dan15% fly ash) Tabel 4.4 Kuat Tekan Perawatan Awal Kering 7 Hari Berat Kuat Tekan (Mpa) rata- Nama Variasi rata AK 7 % dari (kg) Hari normal Variasi I (Normal) 12.64 21.97 variasi II(penambahan 20% 12.86 22.04 0.319 serat kaleng)Variasi III (penambahan 20% 12.91 22.12 0.683 serat kaleng dan15% fly ash) Hasil kuat tekan masing-masing variasi dapat dilihat pada diagram batang dibawah ini. Gambar 4.2 Grafik Kuat Tekan Tiap Variasi BasahAB 7 HariAK 7 Hari % K e n ai k an Jenis VariasiPersentase Kenaikan Kuat Tekan Terhadap Beton Normal 9 Variasi I Variasi II Variasi III 8 7 6 5 4 3 2 1 0,3190,683 0,4721,632 4,6698,300 K ua t Te k a n (M pa ) Jenis Variasi Pengaruh Serat Kaleng dan Fly Ash Terhadap Kuat Tekan Gambar 4.3 Grafik Persentase Kenaikan Kuat Tekan Tiap Variasi 28 Variasi I Variasi II Variasi III 27 26 25 24 23 22 21 20 21,97 22,0422,12 23,423,67 27,1423,29 25,0626,23 Dari hasil pengujian kuat tekan pada pada benda uji umur 28 hari diperoleh hasil bahwa terjadi peningkatan kekuatan pada penambahan serat kaleng dan fly ash pada masing-masing perawatan. BasahAB 7 HariAK 7 Hari Namun mengalami peningakatan kuat tekan sebesar 0,319% pada variasi II dan sebesar 0,683% pada variasi III terhadap beton normal.

4.3. Uji Kuat Tarik Belah Beton

  Pengujian kuat tarik beton dilakukan pada umur 28 hari yang dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran besarnya tegangan tarik beton dengan menggunakan bahan tambahan serat kaleng dan fly ash dan hasilnya dibandingkan dengan beton normal. Pada perawatan awal kering 7hari, kuat tarik belah yang diperoleh sebesar 2,792 Mpa, lebih rendah 12,859% terhadap beton normal pada perawatan basah.

4.4. Absorbsi Beton

  Pengujian permeabilitas beton dilakukan dengan melakukan perendaman sampel silinder beton selama 24 jam setelah beton berumur lebih dari 28 hari yang dimaksudkan untuk mendapatkankekedapan/laju resapan air pada berbagai variasi campuran dan dibandingkan dengan beton normal. Pengamatan yang dilakukan adalah secara visual untuk mengetahui pola penyebaran dan perkembangan retak akibat shrinkage yang terjadi pada benda uji pelat beton selama 45 hari.

4.5. Pola Retak Benda Uji Pelat

  Tabel 4.7 Hasil Pengamatan Pola Retak Pelat Tiap Variasi Waktu pengamatan Jenis Hari ke- Hari ke- Hari ke- Hari ke- Hari ke- Hari ke- Variasi 1 3 7 14 28 45 Variasi (+) (+) (+) (+) (+) (+) I Variasi (+) (+) (+) (+) (+) (+) II Variasi (+) (+) (+) (+) (+) (+) III Keterangan : ( + ) = terjadi retak ; ( - ) = tidak terjadi retakDari Tabel 4.7 diatas diketahui bahwa campuran beton variasi I, variasi II, dan variasi III telah mengalami retak setelah 24 jam dari waktu pengecoran. Jumlah RetakPada pengamatan retak diketahui bahwa retak terjadi pada setiap variasi beton dengan pola penyebaran, jumlah, panjang, dan lebar retak yang berbeda setiap variasi.

4.5.4. Panjang Retak

  Dari hasil penelitian pola retak dapat dilihat bahwa penambahan serat kaleng Dari hasil kuat tekan dan kuat tarik belah juga dapat kita lihat bahwa pada perawatan awal kering 7 hari mempunyai kuat tekan dan tarik belah paling kecil diantara perawatan basah danperawatan awal basah 7 hari. Akibatnya, proses pengikatan yang terjadi tidaksempurna dan berdampak buruk pada kualitas beton itu sendiri seperti berkurangnya kuat tekan dan kuat tarik beton.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan 1

  Penggunaan serat kaleng dan fly ash pada campuran beton dengan penambahan sebesar20% serat kaleng (variasi II) dan 20% serat kaleng + 15% fly ash (variasi III) dari pemakaian semen dapat meningkatkan nilai slump sehingga workability betonberkurang. Sedangkan pada pengujian kuattarik belah, peningkatan yang paling signifikan juga diperoleh pada perawatan basah, yaitu meningkat sebesar 17,509% terhadap beton normal pada variasi II dan meningkatsebesar 18,414% terhadap beton normal pada variasi III.

5.2. Saran

  1. Perlu adanya penelitian lebih lanjut dengan menggunakan serat kaleng dalam berbagai bentuk agar dapat dibandingkan serat mana yang lebih baik.

2. Kombinasi antara limbah serat kaleng dengan material lain juga dapat dipertimbangkan guna memperoleh kualitas beton yang baik

  Pengaruh Penggunaan Abu Terbang (Fly Ash) Terhadap Kuat Tekan dan Serapan Air pada Mortar. Kajian Komparatif Kualitas Beton Antara Bahan Tambah Serat Kaleng, Serat Fiber, Serat Kawat Dengan Serat Kaleng dan Serat Fiber yang Berbentuk Pentagonal.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Analisa Pemanfaatan Fly Ash Sebagai Substitusi Semen Terhadap Sifat Mekanik Beton Kertas
4
64
109
Pengaruh Kombinasi Slag Dan Fly Ash Terhadap Beton Ringan Dengan Penambahan Serat Baja
2
71
116
Pemanfaatan Limbah Abu Boiler dan Fly Ash sebagai Subsider Semen dalam Campuran Beton
10
112
112
Optimasi Pemanfaatan Limbah Plastik Berjenis Polypropylene Sebagai Serat Pada Sifat Mekanis dan Pola Retak Beton
2
64
141
Pengaruh Penambahan Fly Ash Batubara Terhadap Sifat Fisis Dan Mekanik Mortar
1
38
74
Pemanfaatan Limbah Abu Terbang (FLY ASH) Batubara Dan Kulit Kerang Sebagai Bahan Substitusi Semen Serta Limbah Beton Sebagai Pengganti Pasir Dalam Pembuatan Bata Beton
5
88
149
Pemanfaatan Limbah Abu Terbang Batubara (Fly Ash) Pltu Sibolga Dengan Serat Sintetis Ban Bekas (Scrab Tire Rubber) CV.Persahabatan Tj. Morawa Pada Pembuatan Batako
7
69
84
KORELASI KADAR SUPERPLASTICIZER TERHADAP SIFAT MEKANIS BETON HIGH VOLUME FLY ASH (HVFA) KORELASI KADAR SUPERPLASTICIZER TERHADAP SIFAT MEKANIS BETON HIGH VOLUME FLY ASH (HVFA) SEBAGAI SUBSTITUSI SEMEN.
0
4
15
ANALISIS SIFAT MEKANIS BETON HIGH VOLUME FLY ASH Analisis Sifat Mekanis Beton High Volume Fly Ash Concrete Dengan Campuran Abu Sekam Padi.
0
5
19
ANALISIS SIFAT MEKANIS BETON MUTU NORMAL DENGAN PEMAKAIAN FLY ASH LEBIH DARI 50% DAN SUPERPLASTICIZER Analisis Sifat Mekanis Beton Mutu Normal dengan Pemakaian Fly Ash lebih dari 50% dan Superplasticizer.
0
4
18
ANALISIS SIFAT MEKANIS BETON MUTU NORMAL DENGAN PEMAKAIAN FLY ASH LEBIH DARI 50% DAN Analisis Sifat Mekanis Beton Mutu Normal dengan Pemakaian Fly Ash lebih dari 50% dan Superplasticizer.
0
4
18
ANALISA SIFAT MEKANIS BETON MUTU TINGGI DENGAN PEMAKAIAN FLY ASH LEBIH DARI 50% SEBAGAI Analisa Sifat Mekanis Beton Mutu Tinggi dengan Pemakaian Fly Ash lebih dari 50% Sebagai Pengganti Semen dan Superplasticizer.
0
2
16
ANALISA SIFAT MEKANIS BETON MUTU TINGGI DENGAN PEMAKAIAN FLY ASH LEBIH DARI 50% SEBAGAI Analisa Sifat Mekanis Beton Mutu Tinggi dengan Pemakaian Fly Ash lebih dari 50% Sebagai Pengganti Semen dan Superplasticizer.
0
2
18
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Umum - Pemanfaatan Limbah Kaleng Bekas Sebagai Serat Dan Penambahan Fly Ash Terhadap Sifat Mekanis Beton
0
4
32
PEMANFAATAN LIMBAH KALENG BEKAS SEBAGAI SERAT DAN PENAMBAHAN FLY ASH TERHADAP SIFAT MEKANIS BETON TUGAS AKHIR - Pemanfaatan Limbah Kaleng Bekas Sebagai Serat Dan Penambahan Fly Ash Terhadap Sifat Mekanis Beton
0
2
12
Show more