Nilai moral tokoh aku dalam novel Bukan Pasarmalam karya Pramoedya Ananta Toer dan relevansinya dengan pembelajaran bahasa dan sastra indonesia di SMA

Gratis

11
70
92
3 years ago
Preview
Full text
NILAI MORAL TOKOH AKU DALAM NOVEL BUKAN PASARMALAM KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER DAN RELEVANSINYA DENGAN PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SMA Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Oleh Agung Bachtiar NIM 1110013000049 JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2015 ABSTRAK AGUNG BACHTIAR (NIM:1110013000049). Nilai Moral Tokoh Aku dalam Novel Bukan Pasarmalam Karya Pramoedya Ananta Toer dan Relevansinya dengan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA. Bukan Pasarmalam adalah sebuah novel yang mengisahkan sepenggal perjalanan seorang pemuda revolusi yang penuh dengan nilai moral. Tokoh aku sebagai tokoh utama yang menjadi pencerita merupakan seorang pemuda revolusi yang ikut berjuang pada masa perjuangan kemerdekaan. Diceritakan bagaimana keperwiraan tokoh aku yang pada akhirnya melunak ketika menghadapi kenyataan hidup. Ia menemukan ayahnya yang seorang guru penuh bakti sedang sakit terjangkit TBC, rumah tua milik ayahnya yang seakan tidak kuat menahan arus waktu, anggota keluarganya yang miskin, dan ketidakpedulian istrinya yang cerewet. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini ialah tentang nilai moral yang dimiliki oleh tokoh aku dalam novel Bukan Pasarmalam, dan relevansi moral tokoh aku dalam novel tersebut dengan pembelajaran sastra di SMA. Untuk menggali nilai-nilai tersebut, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu metode dengan cara mendeskripsikan data-data, kemudian disusul dengan analisis. Berdasarkan hasil analisis buku ini maka ditemukan bahwa cerita ini mengandung nilai-nilai moral. Nilai-nilai tersebut antara lain seperti sabar, memelihara lisan, santun, tanggung jawab, menahan amarah, tolong-menolong, dan religius. Kata Kunci: Moral, Bukan Pasarmalam, Relevansi. i ABSTRACK AGUNG BACHTIAR (NIM:1110013000049). The Moral Value of I Figure in Bukan Pasarmalam Novel Work of Pramoedya Ananta Toer and its Relevant to Bahasa and Learning Literature at Senior High School. Bukan Pasarmalam is a novel which tells the journey of a young revolutionary which is full of moral values. The main character “I” who becomes the narrator is a young revolutionary who fought in the struggle for independence. It is recounted how character “I” heroism eventually softened when faced with the reality of life. He found his father, a devout teacher, infected with tuberculosis, his father‘s house seemed cannot hold the current of time, and the members of his family were poor, and his fussy wife. Problems examined in this study is about the moral values of the character “I” in the novel Bukan Pasarmalam, and it‘s relevance the moral of the character “I” in the novel with learning literature in SMA. To explore these values, this research uses qualitative descriptive method, the method is by describing the data, then followed by analysis. Based on the analysis of this book it was found that this story has the moral values. Values such as patience, maintaining oral, well manner, responsibility, anger control, helping each other, and religious Keyword: Moral, Bukan Pasarmalam, Relevance ii KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah, segala puji penulis haturkan kepada Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya. Skripsi ini penulis susun untuk memenuhi salah satu syarat mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis membutuhkan bimbingan, bantuan, dukungan, dan doa dari berbagai pihak, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Sebagai ungkapan rasa hormat, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Dra. Hindun, M. Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan dosen pembimbing akademik yang selalu memberikan arahan akademik maupun administratif kepada penulis. 3. Drs. Jamal D. Rahman, M. Hum., selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya di sela-sela kesibukan untuk memberikan motivasi, bimbingan, dan pengarahan sampai selesai penyusunan skripsi ini. 4. Seluruh dosen jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dosen FITK lainnya yang telah memberikan ilmu pengetahuan serta bimbingan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan. 5. Ayahanda tercinta Hasan dan ibunda Suadah yang selalu mendoakan, kakak tercinta Ai Lestari dan adik-adikku Adam dan Citra yang selalu memberikan keceriaan, Dwi Melasari yang selalu membantu dan memberikan semangat. iii 6. Teman-teman Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia kelas B 2010, yang selalu menjadi motivasi dalam segala hal kebaikan, yang memberikan kenangan, kebersamaan, kekompakan, serta kekeluargaan yang mengesankan. 7. Semua pihak yang terlibat dalam pembuatan skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Hal sekecil apapun yang kalian berikan kepada penulis, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang berlipat ganda. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna sehingga penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang berguna untuk perbaikan skripsi. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya serta bagi pihak yang membutuhkan pada umumnya. Jakarta, 15 Desember 2014 Penulis iv DAFTAR ISI ABSTRAK . i KATA PENGANTAR . iii DAFTAR ISI .v BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah .1 B. Identifikasi masalah .5 C. Pembatasan masalah.5 D. Perumusan masalah .6 E. Tujuan Penelitian .6 F. Metode Penelitian.7 G. Pendekatan Objektif .7 H. Manfaat Penelitian .10 BAB II KAJIAN TEORETIS A. Hakikat Moral .11 1. Pengertian Moral .11 2. Bentuk Nilai Moral .15 a. Sabar .15 b. Memelihara Lisan .16 c. Santun .16 d. Tanggung Jawab .16 e. Menahan Amarah .17 f. Tolong-menolong.17 g. Berani .17 h. Religius .18 B. Hakikat Sastra .18 C. Hakikat Novel .20 1. Pengertian Novel .20 v 2. Jenis Novel .21 a. Novel Populer .21 b. Novel Serius .22 3. Unsur-unsur Novel .23 a. Unsur Intrinsik .23 b. Unsur Ekstrinsik .29 D. Hasil Penelitian yang Relevan .30 E. Pengajaran Sastra di Sekolah .32 BAB III TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Biografi Pramoedya Ananta Toer .35 B. Sinopsis .35 C. Unsur-unsur intrinsik .43 1. Tema .43 2. Tokoh dan Penokohan .44 3. Gaya Bahasa .47 4. Alur .48 5. Sudut Pandang .55 6. Latar .55 7. Amanat .59 D. Pembahasan Hasil Temuan .59 1. Sabar .60 2. Memelihara Lisan .62 3. Santun .63 4. Tanggung Jawab .64 5. Menahan Amarah .65 6. Tolong-menolong .66 7. Berani .66 8. Religius .68 E. Relevansi .69 vi BAB IV PENUTUP A. Simpulan .71 B. Saran .72 DAFTAR PUSTAKA .73 vii 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sastra adalah suatu kegiatan kreatif sebuah karya seni.1 Karya sastra merupakan hasil dari penciptaan, karya yang lahir dari hasil pemikiran yang dikemas dengan cara yang unik. Proses kreatif atau penciptaan karya sastra merupakan keahlian tersendiri seorang sastrawan, biasanya setiap sastrawan memiliki cara yang yang berbeda dengan sastrawan lain dalam proses kreatifnya. Karya sastra merupakan sebuah karya yang memiliki fungsi edukatif dan rekreatif. Fungsi edukatif, artinya dari karya sastra seseorang akan mendapat pelajaran tentang nilai-nilai di dalamnya dan pengetahuan tentang seluk-beluk kehidupan manusia, fungsi ini menitikberatkan pada pembelajaran dan pengetahuan, disebut juga dengan sastra serius. Karya sastra juga memiliki fungsi rekreatif, yaitu dengan karya sastra seseorang dapat memperoleh hiburan yang diceritakan atau dikisahkan oleh sang pengarang atau sastrawan. Karya sastra rekreatif ini menitikberatkan pada aspek hiburan, disebut juga dengan sastra populer. Karya sastra berfungsi untuk menuangkan sejumlah kejadian-kejadian yang telah dikerangkakan dalam pola-pola kreatifitas dan imajinasi. Sebagai karya fiksi, sastra menyajikan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Pengarang menghayati berbagai permasalahan yang terjadi dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkap kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. Altenberd dan Lewis mengatakan, fiksi dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan 1 Rene Wellek & Austin Warren, Teori Kesusastraan, (Jakarta: Gramedia, 1993), h. 3. 1 2 mengandung antarmanusia. kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan 2 Objek karya sastra merupakan realitas, yakni peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia nyata. Dengan demikian, karya sastra dapat menerjemahkan peristiwa ke dalam bahasa dengan maksud untuk memahami peristiwa menurut tingkat kemampuan pengarang. Belakangan ini banyak sekali penulis memperhatikan tingkah generasi penerus bangsa yang tidak menggambarkan generasi yang menjadi harapan untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik. Kelakuan negatif mulai dari kekerasan verbal, hingga kekerasan fisik dan berujung pada mengkonsumsi miras dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Penulis sadar bahwa segala tindakan negatif yang dilakukan oleh anak muda adalah sebuah hasil dari sebuah kesalahan proses. Tontonan televisi yang seakan mengesampingkan nilai pembelajaran dan lebih mementingkan unsur hiburan merupakan salah satu kesalahan proses yang terjadi dalam diri para generasi penerus bangsa. Sebagai salah satu contoh efek negatif dari tontonan di televisi yang kurang mendidik adalah tindakan kekerasan verbal. Kekerasan verbal yang pada awalnya hanya berupa candaan, berubah menjadi ucapan untuk memaki saat sedang emosi, hal tersebut merupakan tindakan yang tidak layak dilakukan baik oleh siapapun. Ketika menerima pembelajaran di sekolah yang penuh dengan hafalan dan hitung-hitungan anak-anak akan merasa bosan dan jenuh, murid seakan ingin cepat mengakhiri proses pembelajaran, sedangkan ketika menonton televisi yang bersifat menghibur maka yang terjadi adalah mereka enggan pergi dan berpaling dari layar televisi, hal tersebut juga berakibat mereka menjadi malas untuk banyak membaca buku. Anak-anak tersebut kurang peduli dengan tugasnya sebagai pelajar, oleh karena itu maka diperlukan sebuah pembelajaran yang tidak hanya hafalan dan hitung-hitungan, namun juga diperlukan suatu pembelajaran 2 Burhan, Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Jogjakarta: Gajah Mada University Press, 2005), h. 3. 3 yang dapat menghibur. Dibutuhkan pembelajaran yang dapat merangsang kebiasaan membaca dan keingintahuan mereka, agar mengurangi rasa jenuh dan bosan yang dialami oleh para peserta didik tersebut, proses pembelajaran seperti itu khususnya dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dapat mempergunakan karya sastra sebagai media yang menyenangkan. Pandangan hidup dari seorang pengarang dengan kematangan pemikiran dan kedalaman jiwa yang dituangkan ke dalam karya sastra, merupakan sebuah media pembelajaran yang tepat dan bagus untuk digunakan. Cerita yang ada dalam sebuah karya sastra khususnya novel dapat memberikan pembelajaran sekaligus hiburan. Karya sastra adalah karya yang harus dilihat sebagai sosok yang berdiri sendiri dan terlepas dari hal-hal lain yang berada di luar dirinya sebuah hasil karya yang bulat. Sastra dapat dijadikan sebagai alat untuk mengungkapkan apa yang telah dirasakan orang dalam kehidupan, dan apa yang dialami oleh orang tersebut tentang kehidupan, serta apa yang direnungi dan dirasakan orang mengenai segisegi kehidupan. Keinginan dasar manusia yang mendorong mengungkapkan diri untuk menaruh minat kepada dunia realitas dan pada dunia angan-angan, dunia yang dihayalkan sebagai dunia nyata. Karya yang ditulis oleh pengarang merupakan objek realitas, yakni peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia nyata. Dalam tulisan ini akan diuraikan tentang bagaimana mengajar sastra dengan menggunakan pendekatan objektif. Moral generasi penerus bangsa merupakan sebuah cerminan bagaimana dan ke arah mana bangsa yang berkembang ini akan bergerak. Moral yang kurang baik, sebagai contoh yang sering terjadi adalah kekerasan fisik seperti peristiwa tawuran, tawuran terjadi bukan semerta-merta mereka merasa jagoan dan suka berkelahi, kasus seperti ini bila ditelusuri terus ke akarnya maka akan terlihat sangat kompleks, sebuah kasus yang sering orang menggunakan ungkapan fenomena gunung es, yang tampak hanyalah sebagian kecil namun masalah yang jauh lebih besar tak tampak karena berada di dalam lautan yang dingin. Berkaca dari peristiwa tawuran yang sering terjadi maka dipandang sangat perlu akan pembelajaran moral bagi generasi penerus bangsa. 4 Dalam setiap karya sastra yang bernilai sastra pasti memiliki makna yang sedang menunggu untuk digali dan dikaji. Nilai moral merupakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca, nilai moral merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya atau makna yang disarankan lewat cerita.3 Novel Bukan Pasarmalam karya Pramoedya Ananta Toer merupakan sebuah karya besar yang lahir dari seorang sastrawan besar Indonesia yang diakui oleh dunia. Novel Bukan Pasarmalam dapat dijadikan kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak tersenyum dan seluruh teman-teman taklim di Al-Muslimun dan Nurrahman terima kasih atas dukungannya. 12. Pak Seno, Pak Jono dan Bu Nik yang mempunyai andil dalam membimbing saya. 13. Ucapan terimakasih kepada R.Novi Eka Vitriyana, seseorang yang akan menjadi istri yang saleh yang membantu dakwa penulis, terimakasih atas segala bantuan dan perhatiannya. 14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Semoga Allah SWT selalu memberikan Hidayah dan Rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sadar akan keterbatasan dan kurang sempurnanya penulisan skripsi ini, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membacanya. Jember, 23 Mei 2008 Penulis x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . i HALAMAN PERNYATAAN. ii HALAMAN PENGESAHAN. iii HALAMAN PERSETUJUAN . iv HALAMAN PERSEMBAHAN . v HALAMAN MOTTO . vi ABSTRACT . vii ABSTRAK . viii KATA PENGANTAR. ix DAFTAR ISI. xi DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR. xiv DAFTAR LAMPIRAN . xv I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang Masalah. 1 1.2 Perumusan Masalah . 7 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 7 1.3.1 Tujuan Penelitian . 7 1.3.2 Manfaat Penelitian . 7 II. TINJAUAN PUSTAKA. 8 2.1 Landasan Teori. 8 2.1.1 Pengertian Pendapatan Domestik. 8 a. Teori Keynes . 9 b. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 10 2.1.2 Hubungan Investasi dengan Pendapatan Domestik Bruto . 11 a. Pengertian Investasi. 11 xi b. Teori Harrod dan Domar. 11 c. Teori Keynes . 13 2.1.3 Teori Tingkat Suku Bunga. 14 a. Sintesis Klasik dan Keynesian. 14 b. Teori Mark dan Hull. 15 c. Teori Hick . . 16 2.1.4 Hubungan Nilai Tukar Terhadap Produk Domestik Bruto. 17 a. Teori Pertukaran Kurs . . 17 b. Teori Messe dan Regolf . 19 2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya . . 20 2.3 Kerangka Berpikir. 22 2.4 Hipotesis 23 III. METODE PENELITIAN. 24 3.1 Rancangan Penelitian. 24 3.1.1 Jenis Penelitian. 24 3.1.2 Unit Analisis. 24 3.2 Jenis dan sumber Data. 24 3.2.1 Metode Penelitian. 24 3.3 Metode Analisis Data . 25 3.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 25 3.3.2 Uji t . 26 3.3.3 Uji F . 27 3.3.4 Koefisien Determinasi Berganda . 28 3.4 Uji Ekonometrika . . 28 3.4.1 Uji Multikolinearitas . 28 3.4.2 Uji Autokorelasi 29 3.4.3 Uji Heterokedastisitas 29 3.5 Definisi Operasional 30 xii IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 31 4.1 Gambaran Umum Pendapatan Domestik di Indonesia. 31 4.1.1 Investasi . . 33 4.1.1 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia. 40 4.1.2 Kurs Dollar Amerika Serikat . 43 4.2 Analisis Data. . 47 4.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 47 4.2.2 Uji Statistik. 48 4.2.3 Uji Ekonometrika. 48 4.3 Pembahasan . 49 V. KESIMPULAN DAN SARAN. 59 5.1 Kesimpulan. 60 5.2 Saran . 60 DAFTAR PUSTAKA. 61 LAMPIRAN. 65 xiii DAFTAR TABEL Halaman 4.1 Perkembangan Investasi di Indonesia. 4.2 Hasil Uji Multikolinieritas . 50 xiv 34 DAFTAR GAMBAR Halaman 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia . 3 1.2 Total Investasi Indonesia. . 5 2.1 Pengaruh Pendapatan Terhadap Investasi. 12 2.2 Teori Hick Suku Bunga Terhadap Pendapatan. 15 2.3 Hubungan Kurs dengan Produk Domestik Bruto.19 2.4 Kerangka Berfikir . . 22 4.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto di Indonesia. 31 4.2 Perkembangan Investasi di Indonesia. 40 4.3 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia .40 4.4 Perkembangan Nilai Rupiah Terhadap Nilai Dollar Amerika. . 44 4.5 Analisis Data dan Uji Autokorelasi. 51 xv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data Variabel Penelitian. 66 2 Logaritma Natural . 68 3 Hasil Regresi Linier Berganda. 72 xvi

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Interaksi Dan Konflik Sosial Tokoh Utama Dalam Novel Cerita Calon Arang Karya Pramoedya Ananta Toer: Kajian Sosiologi Sastra
25
191
61
KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL MIDAH SIMANIS BERGIGI EMAS KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER : TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA.
0
4
29
Aspek Moral dalam Novel Midah Simanis Bergigi Emas Karya Pramoedya Ananta Toer: Tinjauan Sosiologi Sastra.
3
22
21
ASPEK KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL MIDAH, SIMANIS BERGIGI EMAS KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER: TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA.
0
0
28
KETIDAKADILAN JENDER DALAM NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER: TINJAUAN SASTRA FEMINIS Ketidakadilan Jender Dalam Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer: Tinjauan Sastra Feminis.
0
1
12
KETIDAKADILAN GENDER DALAM NOVEL GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER: KAJIAN SASTRA FEMINIS Ketidakadilan Gender Dalam Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer: Kajian Sastra Feminis.
0
1
11
Jenis-jenis gaya bahasa dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan relevansinya dengan pembelajaran sastra Indonesia di SMA kelas XII.
28
194
210
Konteks sosial dan ideologi proletar tokoh utama dalam novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer
0
5
77
KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA DAN NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL AROK DEDES KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER.
0
0
16
PEREMPUAN JAWA DALAM NOVEL BUMI MANUSIA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER (KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA DAN NILAI PENDIDIKAN).
0
0
15
Kajian Sosiologi Sastra Dan Nilai Pendidikan Karakter Dalam Novel Arok Dedes Karya Pramoedya Ananta Toer COVER
2
7
16
Kajian Sosiologi Sastra Dan Nilai Pendidikan Karakter Dalam Novel Arok Dedes Karya Pramoedya Ananta Toer JURNAL
0
0
15
Kajian Sosiologi Sastra dan Resepsi Novel Arok Dedes Karya Pramoedya Ananta Toer samsuri
34
255
117
Pramodya Ananta toer peran para intele
0
2
1
ANALISIS KONFLIK TOKOH UTAMA DALAM ROMAN BUKAN PASAR MALAM KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER
0
0
10
Show more