Strategi pengelolaan dana zakat secara produktif untuk pemberdayaan ekonomi pada Baznas Kabupaten Tangerang

Gratis

3
29
97
2 years ago
Preview
Full text
STRATEGI PENGELOLAAN DANA ZAKAT SECARA PRODUKTIF UNTUK PEMBERDAYAAN EKONOMI PADA BAZNAS KABUPATEN TANGERANG Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Syariah ( SE.Sy ) UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Oleh : ABDUL AZIZ NIM : 109046100015 KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH PROGAM STUDI MUAMALAT FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ( UIN ) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1437 H / 2015 M KATA PENGANTAR Assalamualaikum.Wr.Wb Alhamdulillah, Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Alloh.Swt, Tuhan semesta alam. Karena rahmat dan karunianya yang besar sehingga dapatlah penulis menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Strategi Pengelolaan Dana Zakat Secara Produktif Untuk Pemberdayaan Ekonomi Pada BAZNAS Kabupaten Tangerang” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar strata (S-1) di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Shalawat dan Salam penulis curahkan kepada baginda besar Nabi Muhammad.Saw beserta keluarga, sahabat dan pengikutnya. Selama proses perkuliahan dan penyusunan skripsi ini, penulis menyadari bahwa dalam proses tersebut tidaklah terlepas dari segala bantuan, bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Dr.Asep Saepudin Jahar, MA., selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. AM. Hasan Ali, M.A., selaku Ketua Program Studi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Abdurrauf, Lc, MA., selaku Sekretaris Program Studi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah banyak membantu penulis dalam penyelesaian studi. 3. Drs.Ahmad Yani, M.Ag., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah banyak membantu penulis dalam mengarahkan dan memotivasi perkuliahan agar cepat lulus, dan juga yang telah sempat meluangkan waktu yang banyak bagi penulis. 4. Muh. Fudhail Rahman, Lc, MA., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah banyak memberikan masukan dan pemikiran bagi karya skripsi penulis, dan juga yang telah sempat meluangkan waktu yang banyak bagi penulis. 5. BAZNAS Kabupaten Tangerang dan seluruh pengurusnya yang telah mengizinkan kepada penulis untuk mengadakan penelitian, terutama kepada bapak Abdul Mufti dan H.Atjang selaku Staf Tata Usaha, Bapak Triyoso, SE.i. selaku Bendahara Penerima, Ibu Hj.Khoeroyaroh selaku Tim Ekonomi Zakat Dana Bergulir yang telah memberikan informasi yang diperlukan oleh penulis untuk dijadikan sebagai bahan penulisan skripsi. 6. Pimpinan Perpustakaan Utama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum, dan seluruh pengurusnya yang telah memberikan fasilitas untuk mengadakan studi perpustakaan baik membaca dan meminjamnya. 7. Bapak H.Triyanto dan almarhum Ibu Hj.Soliyah, selaku Kedua Orang Tua penulis yang setiap harinya memberikan doa dan semangat agar cepat lulus dan wisuda menjadi sarjana dan juga yang telah memberikan support dana yang banyak untuk perkuliahan hingga lulus. 8. Bapak dan Ibu Dosen di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Seluruhnya terutama dosen yang pernah mengajar penulis yang telah memberikan ilmu yang dimiliki dengan ikhlas dan penuh semangat dan memotivasi diri penulis. 9. Seluruh Teman di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan terutama teman sekelas PS.A angkatan 2009 khususnya Sulaiman, Halim, Rifki, Putri, Hendri, Iqbal, Fauzi, Ismail, Khalid, Rizka, Nining, Jamil, Cha cha, Ummu. 10. Seluruh saudara, keluarga, ustad, sahabat dan teman penulis yang terus memberikan support, doa dan bantuan kepada penulis agar dapat lulus kuliah dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang tercinta. Akhir kata, penulis memohon semoga Alloh.Swt membalas semua kebaikan Kalian semua dengan pahala yang berlipat ganda dan rezeki yang luas. Amin ya Robbal alamin. ABSTRAK Skripsi ini adalah hasil karya Abdul Aziz, NIM 109046100015. STRATEGI PENGELOLAAN DANA ZAKAT SECARA PRODUKTIF UNTUK PEMBERDAYAAN EKONOMI PADA BAZNAS KABUPATEN TANGERANG. Konsentrasi Perbankan Syariah, Progam Studi Muamalat (Ekonomi Islam), Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Tahun 1437 H/2015 M, 75 Halaman. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi yang dilakukan BAZNAS Kabupaten Tangerang dalam pengelolaan dana zakat, apa program pemberdayaan ekonomi yang bersifat produktif dan apa persoalan yang dihadapi di lapangan dan mencarikan solusinya. Metode penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu metode penelitian yang data-datanya dinyatakan dalam bentuk kata-kata atau kalimat. Jenis penelitian menggunakan penelitian lapangan dan kepustakaan. Sumber data diperoleh dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Strategi yang dilakukan BAZNAS Kabupaten Tangerang dilakukan dengan 4 cara yaitu perencanaan oleh Badan Pelaksana, pengorganisasian yang terdiri atas Dewan Pertimbangan, Komisi Pengawas dan Badan Pelaksana yang dibantu oleh Seksi-seksi, pelaksanaan oleh Badan Pelaksana dan pengawasan oleh Komisi Pengawas. Program pemberdayaan ekonomi produktif ada 5 program yaitu Program bantuan modal bergulir, Program bantuan pengobatan cumacuma, Program bantuan biaya pengobatan melalui pengajuan proposal, Program bantuan bea siswa tingkat SD, SMP dan Santri Salafi, Program bantuan bea siswa tingkat SLA. Persoalan yang dihadapi di lapangan ada 5 persoalan yaitu Kurangnya Kesadaran Zakat Masyarakat, Jarak Tempuh, SDM, Masa Peralihan/Pergantian Pengurus, Dana Modal Bergulir macet. Kata Kunci: Strategi, Pengelolaan zakat, Produktif, Pemberdayaan ekonomi. Tahun Terbit 1988-2015. Pembimbing Skripsi: Muh. Fudhail Rahman, Lc, MA DAFTAR ISI Lembar Pengesahan Lembar Pernyataan Kata Pengantar Abstrak Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 B. Permasalahan 8 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 10 D. Review Studi Terdahulu 11 E. Kerangka Teori dan Konseptual 12 F. Metode Penelitian 14 G. Sistematika Penulisan 16 BAB II LANDASAN TEORITIS A. B. Strategi Pengelolaan Zakat 18 1. Pengertian Strategi dan Unsur Strategi 18 2. Implementasi Strategi 20 3. Pengertian Pengelolaan Zakat 25 Zakat Maal dan Zakat Produktif 26 1. Pengertian Zakat Maal dan Zakat Produktif 26 2. Tujuan Zakat 28 C. 3. Manfaat Zakat 30 Pemberdayaan Ekonomi 32 1. Pengertian Pemberdayaan Ekonomi 32 2. Tujuan dan Upaya Pemberdayaan Ekonomi 33 3. Instrumen dan Peran Zakat Dalam Pemberdayaan Ekonomi 34 BAB III GAMBARAN UMUM BAZNAS KABUPATEN TANGERANG A. Visi, Misi dan Motto BAZNAS Kabupaten Tangerang 42 B. Struktur, Fungsi dan Tugas Pokok Organisasi BAZNAS Kabupaten Tangerang 43 C. Program Pemberdayaan Ekonomi BAZNAS Kabupaten Tangerang 47 BAB IV ANALISIS STRATEGI PENGELOLAAN DANA ZAKAT SECARA PRODUKTIF UNTUK PEMBERDAYAAN EKONOMI A. Strategi Pengelolaan Dana Zakat Di BAZNAS Kabupaten Tangerang B. Program Pemberdayaan Ekonomi Yang Bersifat Produktif Di BAZNAS Kabupaten Tangerang C. 52 60 Persoalan Yang Dihadapi Pengurus BAZNAS Kabupaten Tangerang Di Lapangan Dan Solusi Penyelesaiannya 63 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 70 B. Saran 72 Daftar Pustaka 73 Lampiran BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Strategi adalah cara untuk mendapatkan kemenangan atau mencapai suatu tujuan tertentu. Dalam menjalankan strategi perlu ada progam yang diproyeksikan untuk dilaksanakan oleh suatu organisasi dalam kurun waktu tertentu. Ada progam yang diproyeksikan dalam jangka pendek dengan waktu yang dialokasikan maksimal 1 tahun, ada perencanaan jangka menengah dengan alokasi 2-3 tahun, dan perencanaan jangka panjang dengan alokasi waktu antara 3-5 tahun. Namun karena progam yang sudah direncanakan seringkali dihadapkan pada berbagai kondisi yang memungkinkan progam tersebut tidak dapat dilaksanakan sesuai target waktu yang sudah ditentukan, maka diperlukan penerapan perencanaan strategis yaitu system perencanaan yang menghitung aspek kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari pada organisasi tersebut.1 Pemberdayaan (empowerment) merupakan suatu konsep dalam upaya menjadikan adanya kekuatan (power) pada seseorang/individu atau kelompok. Pemberdayaan berhubungan dengan upaya untuk merubah kemampuan seseorang, keluarga atau kelompok dari keadaan tidak memiliki kemampuan/kekuatan/keberdayaan menuju keadaan yang lebih baik.2 1 Fakhruddin, Fiqh dan Manajemen Zakat di Indonesia, (Malang: UIN Malang Press, 2008), h.270. N.Oneng Nurul Bariyah, Ed, Total Quality Management Zakat: Prinsip dan Praktik Pemberdayaan Ekonomi, (Wahana Kardofa FAI UMJ, 2012) h.223. 2 1 2 Zakat salah satu rukun Islam, di dalam kitab suci Al-Qur’an sering diulangulang perintah untuk berzakat, Dan dirikanlah shalat, Tunaikanlah zakat ! Surat Al-Baqarah ayat 110 َ ‫صَة وآتوا‬ َ ‫الزكاة ۚ وما تقدموا ِ فسكم م خير تجدو ع د‬ َ‫ا‬ َ ‫وأقي وا ال‬ َ َ ‫إ‬ ‫اَ ب ا تع لو بصير‬ Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan. Beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya dan dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” HR.Bukhari II/505 no.1331 Zakat menurut UU No.38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya. Di akhir tahun 2012 terdapat dua pertemuan internasional yang sangat penting terkait dengan perkembangan dunia perzakatan global ke depan, meskipun keduanya tidak memiliki keterkaitan langsung. Agenda yang pertama adalah Muktamar Zakat Internasional IX yang berlangsung di Amman, Yordania pada tanggal 26-28 November 2012, sedangkan agenda yang kedua adalah Expert Group Meeting yang 3 diselenggarakan oleh IRTI (Islamic Research and Training Institute) dan IDB pada tanggal 11 Desember 2012. Forum yang pertama adalah forum rutin dua tahunan yang melibatkan badan-badan zakat resmi negara-negara anggota OKI. Indonesia sendiri baru bergabung pada tahun 2010 lalu di Beirut, Lebanon, saat berlangsungnya muktamar kedelapan, sehingga praktis keikutsertaan pada pertemuan Amman merupakan kali kedua. Sedangkan forum yang kedua diselenggarakan oleh IRTI dan IDB dengan maksud untuk mengembangkan program IFSAP (Islamic Financial Sector Assessment Program), yang sesungguhnya merupakan bentuk adopsi dan penyesuaian dari FSAP (financial Sector Assessment Program) yang telah dikembangkan oleh Bank Dunia dan IMF sebelumnya, dengan fokus pada industri keuangan konvensional. IFSAP merupakan tools untuk mengukur dan menilai kinerja sektor keuangan syariah secara komprehensif, sekaligus melakukan evaluasi terhadap stabilitas sektor ini. Dengan assessment yang tepat, maka kemungkinan terjadinya krisis keuangan dapat dideteksi secara dini. Dalam usulan template IFSAP yang akan dikembangkan, sektor keuangan syariah ini tidak hanya mencakup perbankan syariah saja, melainkan diperluas kepada seluruh lembaga keuangan syariah non bank, seperti asuransi syariah, pasar modal syariah, zakat dan wakaf.3 Dimasukkannya zakat dan wakaf dengan pertimbangan bahwa kedua sektor ini merupakan pilar utama Islamic social finance yang memiliki potensi yang sangat besar. Apalagi secara filosofis, zakat merupakan instrumen yang disebut secara eksplisit dalam Alquran sebagai antitesa dari sistim riba. 3 Artikel diakses pada 15 standardisasi-pengelolaan-zakat.html. Januari 2015 dari http://jurnalekis.blogspot.co.id/2013/01/menuju- 4 Dari kedua pertemuan itu, ada tujuh aspek yang menjadi fokus standarisasi ini, yang juga telah masuk menjadi bagian dari template IFSAP ke depan. Ketujuh hal tersebut adalah : standarisasi regulasi dan aturan perundang-undangan, standarisasi pihak yang menjadi otoritas zakat, standarisasi penghimpunan zakat, standarisasi penyaluran zakat, standarisasi good amil governance, standarisasi pelaporan dan pertanggungjawaban, serta aktivitas lintas sektoral.4 Di Indonesia, selama ini dalam menyalurkan zakat, masih banyak masyarakat yang tidak mau menyalurkan zakat lewat lembaga/badan amil zakat, bahkan cenderung menyalurkan langsung kepada para mustahik yang dikenalnya, ini menyebabkan penyaluran zakat tidak terarah dan tidak tepat sasaran, mustahik tertentu mendapatkan jatah yang lebih banyak dibanding yang lainnya. Banyak orang yang tidak tau bahwa ada kewajiban membayar zakat maal, bahkan dia hanya tau zakat fitrah, jika sudah bayar zakat fitrah berarti sudah bayar zakat. Pada saat ini masalah pengelolaan zakat di Indonesia begitu kompleks, setiap lembaga zakat dan badan zakat dapat mengelola serta menyalurkan zakat, DKM masjid dan mushola pun ikut menerima dan menyalurkan zakat, bahkan perusahaan pun belakangan ini ikut menyalurkan zakat secara langsung dengan cara ada yang mendirikan lembaga zakat perusahaan itu sendiri lalu meyalurkan kepada mustahik secara langsung, bahkan perseorangan juga ikut menyalurkan zakat secara langsung contohnya pada pembagian zakat berdarah di pasuruan. 4 Artikel diakses pada 15 Januari 2015 dari http://jurnalekis.blogspot.co.id/2013/01/menujustandardisasi-pengelolaan-zakat.html. 5 Pembagian zakat yang dilakukan seorang pengusaha pasuruan, H.Syaikon, dikediamannya RT 03 RW IV, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Pasuruan senin (15/9/2008) berubah menjadi petaka. Sebanyak 21 warga tewas akibat berdesakan dan terinjak-injak. Pembagian zakat tersebut bukan kali pertama dilaksanakan. Tahun sebelumnya, kegiatan serupa juga dilakukan keluarga H Syaikon. Jumlah kaum duafa yang datang dalam kegiatan tersebut jumlahnya mencapai ribuan,dan tidak hanya terbatas bagi mereka yang berasal dari Pasuruan, namun warga dari berbagai daerah sekitarnya.5 Penunaian terhadap kewajiban zakat selain sebagai ibadah, juga memiliki fungsi sosial dan ekonomi. Fungsi sosialnya adalah menyelamatkan sumber daya manusia, membangunnya menjadi sebuah kekuatan umat, membantu terwujudnya suatu pemerataan dan keadilan dalam distribusi pendapatan di masyarakat. Sementara fungsi ekonominya adalah mempercepat sirkulasi jumlah uang beredar di masyarakat yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara makro. Adapun laporan hasil penerimaan dana ZIS selama 3 tahun terakhir dari berbagai komponen di BAZNAS Kabupaten Tangerang adalah sebagai berikut:6 Tahun 2011 2012 2013 5 Hasil Penerimaan ZIS Rp. 2.393.717.972 Rp. 2.847.720.686 Rp. 2.892.470.278 Didayagunakan Tahun 2012 2013 2014 Dikutip dari Solo Pos, 16 September 2008. BAZNAS Kabupaten Tangerang, Progam Pendayagunaan dana ZIS Tahun 2012, Progam Kerja BAZNAS Tahun 2013, Progam Kerja BAZNAS Tahun 2014 (Tangerang). 6 6 Penerimaan dana ZIS pada tahun 2013 adalah berjumlah sebesar Rp 2.892.470.278, dari penerimaan zakatnya sendiri mencapai Rp 2,3 Miliar yang diambil dari zakat mal perorangan, zakat profesi dan zakat fitrah. Adapun pendayagunaan dana ZIS tersebut dilakukan pada tahun 2014. Adapun progam pemberdayaan yang dilakukan pada tahun 2014 adalah berupa: bantuan langsung tunai kepada keluarga fakir miskin dan anak yatim, bantuan peningkatan kesejahteraan muallaf, bantuan modal bergulir dan keterampilan usaha, bantuan dana bencana alam dan pergeseran aqidah, pelayanan kesehatan masyarakat, pelatihan kader untuk pendidik dan deteksi dini anak berkebutuhan khusus dan pelaksanaannya, pembangunan masjid dan musholla, pemberian insentif untuk guru ngaji di TPA/TPQ, pengasuh pesantren tradisional dan majlis ta’lim, bantuan pengadaan mobelair untuk sekolah, bantuan untuk siswa dan santri kurang mampu, bantuan untuk orang yang kehilangan dan terlantar dan orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan.7 Strategi yang dilakukan Baznas Kabupaten Tangerang dalam menghimpun dana ZIS adalah dengan cara membentuk UPZ. Unit pengumpul zakat adalah satuan organisasi yang dibentuk oleh Badan Amil Zakat di semua tingkatan dengan tugas mengumpulkan zakat untuk melayani muzakki, yang berada pada desa/kelurahan, instansi-instansi pemerintah dan swasta, baik dalam negeri maupun luar negeri.8 7 BAZNAS Kabupaten Tangerang, Profil BAZNAS Kabupaten Tangerang: Progam Kerja BAZNAS Kabupaten Tangerang Tahun 2014 (Tangerang) h.8. 8 Artikel diakses pada 2 September 2015 dari http://pusat.baznas.go.id/upz/. 7 Setelah UPZ di masing-masing wilayah kerjanya berhasil mengumpulkan dana ZIS, maka setiap UPZ menyetorkan dana tersebut dengan cara dikirim ke BAZNAS Kabupaten Tangerang melalui 3 nomer rekening Bank BJB yang ada yaitu No.Rek zakat 0120030004199, No.Rek infak 0120030072651 dan No.Rek shodaqoh 0301003467.9 Strategi yang dilakukan BAZNAS Kabupaten Tangerang dalam mengumpulkan dana ZIS belum sukses dan belum berjalan dengan baik, hal ini bisa dilihat dari Target penerimaan dana ZIS tiap tahun yang belum pernah mencapai target, Target penerimaan dana ZIS pada tahun 2013 sejumlah 6 milyar bahkan target tertingginya 16 milyar, namun jumlah penerimaan ZIS pada tahun 2013 Hanya mencapai angka 2,89 milyar. Ini sangat jauh melenceng dari jumlah yang di targetkan yang 6 milyar, bahkan untuk mencapai angka 50% dari target saja tidak sanggup.10 Apalagi jika total penerimaan dana ZIS di BAZNAS Kabupaten Tangerang dibandingkan dengan total penerimaan dana ZIS di BAZNAS Kab. Serang11 dan di BAZNAS kota bogor12 sebagai berikut: Total Penerimaan Dana ZIS BAZNAS BAZNAS BAZNAS Tahun Kab.Tangerang Kab.Serang Kota Bogor 2,84 Milyar 5,4 Milyar 11,58 Milyar 2012 2,89 Milyar 6,3 Milyar 12,26 Milyar 2013 Sumber: Hasil pengolahan data penulis terhadap berbagai sumber. 9 Wawancara Pribadi dengan Bapak Abdul Mufti, Staf Tata Usaha. Tangerang, 10 September 2015. Wawancara Pribadi dengan Bapak Triyoso, Bendahara Penerima. kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak tersenyum dan seluruh teman-teman taklim di Al-Muslimun dan Nurrahman terima kasih atas dukungannya. 12. Pak Seno, Pak Jono dan Bu Nik yang mempunyai andil dalam membimbing saya. 13. Ucapan terimakasih kepada R.Novi Eka Vitriyana, seseorang yang akan menjadi istri yang saleh yang membantu dakwa penulis, terimakasih atas segala bantuan dan perhatiannya. 14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Semoga Allah SWT selalu memberikan Hidayah dan Rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sadar akan keterbatasan dan kurang sempurnanya penulisan skripsi ini, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membacanya. Jember, 23 Mei 2008 Penulis x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . i HALAMAN PERNYATAAN. ii HALAMAN PENGESAHAN. iii HALAMAN PERSETUJUAN . iv HALAMAN PERSEMBAHAN . v HALAMAN MOTTO . vi ABSTRACT . vii ABSTRAK . viii KATA PENGANTAR. ix DAFTAR ISI. xi DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR. xiv DAFTAR LAMPIRAN . xv I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang Masalah. 1 1.2 Perumusan Masalah . 7 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 7 1.3.1 Tujuan Penelitian . 7 1.3.2 Manfaat Penelitian . 7 II. TINJAUAN PUSTAKA. 8 2.1 Landasan Teori. 8 2.1.1 Pengertian Pendapatan Domestik. 8 a. Teori Keynes . 9 b. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 10 2.1.2 Hubungan Investasi dengan Pendapatan Domestik Bruto . 11 a. Pengertian Investasi. 11 xi b. Teori Harrod dan Domar. 11 c. Teori Keynes . 13 2.1.3 Teori Tingkat Suku Bunga. 14 a. Sintesis Klasik dan Keynesian. 14 b. Teori Mark dan Hull. 15 c. Teori Hick . . 16 2.1.4 Hubungan Nilai Tukar Terhadap Produk Domestik Bruto. 17 a. Teori Pertukaran Kurs . . 17 b. Teori Messe dan Regolf . 19 2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya . . 20 2.3 Kerangka Berpikir. 22 2.4 Hipotesis 23 III. METODE PENELITIAN. 24 3.1 Rancangan Penelitian. 24 3.1.1 Jenis Penelitian. 24 3.1.2 Unit Analisis. 24 3.2 Jenis dan sumber Data. 24 3.2.1 Metode Penelitian. 24 3.3 Metode Analisis Data . 25 3.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 25 3.3.2 Uji t . 26 3.3.3 Uji F . 27 3.3.4 Koefisien Determinasi Berganda . 28 3.4 Uji Ekonometrika . . 28 3.4.1 Uji Multikolinearitas . 28 3.4.2 Uji Autokorelasi 29 3.4.3 Uji Heterokedastisitas 29 3.5 Definisi Operasional 30 xii IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 31 4.1 Gambaran Umum Pendapatan Domestik di Indonesia. 31 4.1.1 Investasi . . 33 4.1.1 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia. 40 4.1.2 Kurs Dollar Amerika Serikat . 43 4.2 Analisis Data. . 47 4.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 47 4.2.2 Uji Statistik. 48 4.2.3 Uji Ekonometrika. 48 4.3 Pembahasan . 49 V. KESIMPULAN DAN SARAN. 59 5.1 Kesimpulan. 60 5.2 Saran . 60 DAFTAR PUSTAKA. 61 LAMPIRAN. 65 xiii DAFTAR TABEL Halaman 4.1 Perkembangan Investasi di Indonesia. 4.2 Hasil Uji Multikolinieritas . 50 xiv 34 DAFTAR GAMBAR Halaman 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia . 3 1.2 Total Investasi Indonesia. . 5 2.1 Pengaruh Pendapatan Terhadap Investasi. 12 2.2 Teori Hick Suku Bunga Terhadap Pendapatan. 15 2.3 Hubungan Kurs dengan Produk Domestik Bruto.19 2.4 Kerangka Berfikir . . 22 4.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto di Indonesia. 31 4.2 Perkembangan Investasi di Indonesia. 40 4.3 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia .40 4.4 Perkembangan Nilai Rupiah Terhadap Nilai Dollar Amerika. . 44 4.5 Analisis Data dan Uji Autokorelasi. 51 xv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data Variabel Penelitian. 66 2 Logaritma Natural . 68 3 Hasil Regresi Linier Berganda. 72 xvi

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Strategi fundariasing program pemberdayaan ekonomi (senyum mandiri) pada Rumah zakat
25
180
107
Konsentrasi BMT terhadap pemberdayaan ekonomi perempuan
3
28
94
Pemberdayaan dana zakat Baitul Qiradh Baznas melalui program usaha kecil menengah
5
25
86
Pemikiran dawam raharjo tentang peranan manajemen zakat terhadap pemberdayaan ekonomi umat
2
15
114
Strategi pendayagunaan zakat melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat: studi rumah zakat Kebon Jeruk
3
21
76
Strategi pengelolaan wakaf uang secara produktif pada baitul mal muamalat
4
18
73
Pemberdayaan ekonomi umat melalui zakat produktif : studi kasus pada Badan Amil Zakat Daerah/ BAZDA Kota Tangerang
2
12
488
Strategi penggalangan dana melalui program layanan jemput zakat laziz PP Muhammadiyah
1
12
178
Strategi fundraising yang dilakukan baziz DKI Jakarta untuk mencapai target penerimaan dana zakat infak dan zakat infak dan sedekah
2
19
97
Strategi penggalangan dana zakat profesi badan amil zakat daerah (BAZDA) Kabupaten Serang Banten
1
6
63
Pola kerjasama antara lembaga amil zakat infak dan shodaqoh (Lazis) PLN P3B Jawa Bali dengan pos keadilan peduli umat (PKPU) dalam pemberdayaan dana zakat
0
6
102
Strategi penyaluran dana zakat baznas melalui program pemberdayaan ekonomi
8
55
97
Strategi pengelolaan dana zakat secara produktif untuk pemberdayaan ekonomi pada Baznas Kabupaten Tangerang
3
29
97
Pendistribusian dana zakat untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat pada Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) Kab.Karawang
2
15
108
Strategi pendayagunaan dana zakat baitul maal Hidayatullah Jakarta Timur melalui program kuliah da'i mandiri
0
7
76
Show more