Feedback

The impact of credit by Grameen Bank scheme from Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3) Cooperative on coastal communities income in Tuban District.

Informasi dokumen
ANALISIS DAMPAK PEMBERIAN KREDIT POLA GRAMEEN BANK TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN USAHA KECIL MASYARAKAT PESISIR OLEH KOPERASI LEMBAGA EKONOMI PENGEMBANGAN PESISIR MIKRO MITRA MINA (LEPP-M3) DI KABUPATEN TUBAN ENNY SYAFRIDA MARPAUNG SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan dengan sebenar-benarnya, bahwa tugas akhir yang berjudul : ANALISIS DAMPAK PEMBERIAN KREDIT POLA GRAMEEN BANK TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN USAHA KECIL MASYARAKAT PESISIR OLEH KOPERASI LEMBAGA EKONOMI PENGEMBANGAN PESISIR MIKRO MITRA MINA (LEPP-M3) DI KABUPATEN TUBAN merupakan hasil gagasan dan hasil kajian saya sendiri di bawah bimbingan komisi pembimbing, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya. Tugas akhir ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada program sejenis di perguruan tinggi lain. Sumber informasi dan data yang digunakan berasal, atau dikutip dari karya penulis lain yang diterbitkan, maupun tidak diterbitkan telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya. Bogor, April 2012 Enny Syafrida Marpaung P054094155 i ABSTRACT Enny Syafrida Marpaung. The impact of credit by Grameen Bank scheme from Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3) Cooperative on coastal communities income in Tuban District. This thesis is Supervised by Ma’mun Sarma as Chairman and W.H. Limbong as Member. Coastal communities consist of fishermen, fish farmer, fish manufacturers and traders, and other communities which its social and economies depend on marine and fisheries resources. Over 32% of its population, which is two times higher than national poverty line, is categorised as poor. One of the main factor which contributes why coastal communities cannot improve their economy is low capital. This is because they have limited access to capital and it might be true that bank give limited credit facilities to fisheries stakeholders. The objectives of this research are to: (1) identify the implementation process of Grameen Bank credit scheme from LEPP-M3 Tuban cooperative; (2) identify constrains faced in giving credit on Grameen Bank scheme; (3) identify benefit offered in giving credit on Grameen Bank scheme; and (4) analyse the impact of giving credit on Grameen Bank scheme on coastal communities income. The sampling technique used is Cluster Sampling technique. This technique is sample collecting technique which is based on subject groups between one to other groups and not to individuals without any level. Respondent as data sources in each village groups is selected by accidental sampling method. This means that respondents selected from each group do not have any specific criteria. Descriptive Statistics, Multiple Linier Regression Analysis and Hypothesis Testing have been carried out to answer the research objective. These Statistics and Analysis have been done to find out the level of knowledge of all members, the level of program implementation and the level of benefits received by members. Meanwhile, the Hypothesis Testing is used to find out the absolute effects in net income of small enterprises before and after Grameen Bank credit scheme has been given. This effects is analysed Paired t-Test. The results show that the level of knowledge of the members to the LEPP-M3 Cooperative of Grameen Bank scheme is very good. The implementation of Grameen Bank scheme helps greatly the communities in improving their business with reasonable requirements that are not burden to its members. Furthermore, another benefit of Grameen Bank lending scheme for their members is to raise their capital with credit facilities, and they are also accustomed to saving. In installment payments, members do not have to go to the cooperatives LEPP-M3, but cooperative management will visit a weekly meeting place which has been determined. Meanwhile, the results of Paired Samples Test indicate that there a positive correlation between the income of small enterprises before and after Grameen Bank Program. This means that by Grameen Bank scheme from the LEPP-M3 Cooperative Tuban, the income of small businesses increase. Keywords : Grameen Bank, government, micro credit, poverty reduction. ii RINGKASAN Enny Syafrida Marpaung. Analisis Dampak Pemberian Kredit Pola Grameen Bank terhadap Peningkatan Pendapatan Usaha Kecil Masyarakat Pesisir oleh Koperasi Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3) di Kabupaten Tuban. Di bawah bimbingan Ma’mun Sarma sebagai Ketua dan W.H. Limbong sebagai Anggota. Masyarakat pesisir terdiri atas nelayan, pembudidaya ikan, pengolah dan pedagang hasil laut, serta masyarakat lainnya yang kehidupan sosial ekonominya tergantung pada sumberdaya perikanan dan kelautan. Jumlah masyarakat pesisir berdasarkan hasil studi Smeru adalah 16,48 juta jiwa. Jumlah ini diperkirakan meningkat mencapai 20 juta jiwa yang saat ini tersebar di lebih dari 10.666 desa pesisir di seluruh Indonesia. Poverty Headcount Index (PHI) masyarakat pesisir adalah 0,3214. Artinya, lebih dari 32% dari penduduk di wilayah pesisir masih tergolong miskin atau dua kali rata-rata tingkat kemiskinan nasional. Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) dengan sistem peminjaman (Cash Collateral) kepada Bank Pelaksana yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang telah berjalan selama 4 tahun yaitu sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2007. Dalam kurun waktu tersebut telah terbentuk sekitar 277 Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang terdapat di seluruh wilayah pesisir di Indonesia. Namun demikian, meskipun LKM sebagai salah satu alternatif lembaga penyedia dana untuk kegiatan usaha masyarakat pesisir telah berperan maksimal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat pesisir terhadap modal, namum tetap saja masih ada segmen masyarakat yang belum tersentuh dampak keberadaan LKM tersebut. Hal ini disebabkan karena sistem yang diterapkan oleh LKM masih mensyaratkan agunan sehingga masyarakat yang tidak memiliki agunan belum dapat memanfaatkan LKM sebagai solusi dalam mengatasi ketiadaan modal usaha mereka. Menyadari akan keadaan tersebut, maka mulai tahun 2007 mengenalkan sistem skim kredit yang bisa diakses oleh kaum miskin dengan tanpa agunan dan syarat yang tidak memberatkan, iii yaitu sistem Grameen Bank yang merupakan ide dan terobosan terbesar dari Prof. Muhammad Yunus dari Bangladesh. Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk: (1) Mengetahui proses penerapan sebagai gambaran umum pemberian kredit pola Grameen Bank oleh koperasi LEPP-M3 Tuban; (2) Mengidentifikasi kendala- kendala apa saja yang dihadapi dalam pemberian kredit pola Grameen Bank; (3) Mengidentifikasi tingkat pengetahuan, Peranan dan manfaat apa saja yang didapat dalam penerapan pemberian kredit pola Grameen Bank; (4) Menganalisis pengaruh pemberian kredit pola Grameen Bank terhadap peningkatan pendapatan usaha kecil masyarakat pesisir sebelum dan sesudah pelaksanaan pola Grameen Bank. Teknik penarikan sampling yang digunakan adalah teknik Cluster Sampling. Responden sebagai sumber data pada tiap kelompok desa dipilih dengan metode accidental sampling. Artinya responden yang dipilih pada tiap kelompok tidak dengan spesifikasi khusus. Dalam menjawab tujuan penelitian menggunakan cara yaitu Deskriptif Statistik, Analisis Regresi Linear Berganda dan pengujian Hipotesis. Deskriptif Statistik dan Analisis Regresi Linear Berganda untuk mengetahui tingkat pengetahuan anggota, tingkat penerapan program dan tingkat manfaat yang didapat anggota. Hipotesis untuk mengetahui pengaruh mutlak pendapatan bersih pada para usaha-usaha kecil sebelum dan sesudah pemberian kredit pola Grameen Bank dianalisis menggunakan uji t berpasangan (Paired t-Test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan anggota terhadap Koperasi LEPP-M3 pola Grameen Bank sangat baik, penerapan Kredit Pola Grameen Bank sangat membantu masyarakat dalam meningkatkan usahanya dengan syaratsyarat yang tidak memberatkan anggotanya sedangkan manfaat yang didapat dari Pemberian Kredit Pola Grameen Bank bagi anggota bisa untuk menambah permodalan dengan adanya bantuan kredit, di samping itu mereka juga dibiasakan untuk menabung. Dalam pembayaran cicilan anggota dimudahkan dengan tidak perlu mendatangi Koperasi LEPP-M3 tetapi pengurus koperasi yang mendatangi tempat di mana pertemuan kelompok setiap minggunya ditentukan. Sedangkan hasil analisis Paired Samples Test didapat bahwa pendapatan usaha kecil Sebelum dan Sesudah iv Program Greeman Bank terdapat perbedaan pendapatan sebelum dan sesudah progam. Berarti dapat dikatakan bahwa dengan adanya pemberian kredit pola Grameen Bank dari Koperasi LEPP-M3 Tuban pendapatan usaha kecil mengalami peningkatan. v ©Hak Cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB vi ANALISIS DAMPAK PEMBERIAN KREDIT POLA GRAMEEN BANK TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN USAHA KECIL MASYARAKAT PESISIR OLEH KOPERASI LEMBAGA EKONOMI PENGEMBANGAN PESISIR MIKRO MITRA MINA (LEPP-M3) DI KABUPATEN TUBAN ENNY SYAFRIDA MARPAUNG Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesional pada Program Studi Industri Kecil Menengah SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 vii Judul Tugas Akhir : Nama Mahasiswa Nomor Pokok : : Analisis Dampak Pemberian Kredit Pola Grameen Bank Terhadap peningkatan Pendapatan usaha Kecil Masyarakat Pesisir Oleh Koperasi Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3) di Kabupaten Tuban. Enny Syafrida Marpaung P054094155 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Ma’mun Sarma, M.Ec Prof.Dr. Ir. W.H. Limbong, MS Ketua Anggota Diketahui Ketua Program Studi Industri Kecil Menengah Dekan Sekolah Pascasarjana Prof.Dr.Ir. H. Musa Hubeis, MS,Dipl.Ing,DEA Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr Tanggal Ujian : 23 April 2012 Tanggal Lulus : viii Mei 2012 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tugas Akhir : Prof.Dr.Ir. H. Musa Hubeis, MS,Dipl.Ing,DEA ix PRAKATA Bismillaahirrohmaanirrohiim Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan Tugas Akhir ini yang berjudul “Analisis Dampak Pemberian Kredit Pola Grameen Bank terhadap Peningkatan Pendapatan Usaha Kecil Masyarakat Pesisir oleh Koperasi Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3) di Kabupaten Tuban”. Tugas Akhir ini disusun dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Profesional pada Program Studi Industri Kecil Menengah, Institut Pertanian Bogor. Penulis menyadari bahwa penyempurnaan Tugas Akhir ini dapat tersusun atas bantuan moril maupun materiil, baik secara langsung maupun tidak langsung dari berbagai pihak. Secara khusus dalam kesempatan ini, dengan segala kerendahan dan keikhlasan hati, penulis mengucapkan rasa terima kasih dan hormat kepada: 1. Dr.Ir. Ma’mun Sarma, M.Ec., selaku ketua komisi pembimbing atas pengorbanan waktu, tenaga dan kesabarannya memberi bimbingan dan dorongan serta saran dan koreksi demi kesempurnaan tugas akhir ini. 2. Prof.Dr. Ir. W.H. Limbong, MS., selaku anggota komisi pembimbing yang telah mengorbankan waktu, tenaga dan kesabarannya memberi bimbingan dan dorongan serta saran dan koreksi demi kesempurnaan tugas akhir ini. 3. Bapak/Ibu dosen PS MPI yang telah membantu membuka cakrawala ilmu dan menambah wawasan pengetahuan bagi penulis. 4. Bapak/Ibu dewan penguji yang telah meluangkan waktu untuk memberikan sumbangan saran untuk perbaikan Tugas Akhir ini. 5. Pengelola, staf administrasi serta karyawan Program Magister Profesional pada Program Studi Industri Kecil Menengah IPB yang telah memberikan sumbangsihnya dalam penyusunan Tugas Akhir ini. x 6. Ketua, Pengelola dan seluruh anggota Koperasi LEPP-M3 Tuban pola Grameen Bank serta masyarakat setempat atas bantuan dan kerjasamanya selama penulis mengumpulkan data dan informasi di lapangan. 7. Dirjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil Bapak Dr. Sudirman Saad, M.Hum, Kabag Keuangan, Umum dan Kepegawaian Bapak Miftahul Huda, M.Si, rekan kerja saya Indri Kartika Sari, A.Md, Dany Dwi Maryadi, S.Sn dan seluruh Keluarga Besar Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil tempat penulis bekerja, yang telah memberikan segala dukungan baik berupa moril maupun materiel sampai penulis mampu menyelesaikan studi. 8. Keluarga ku tercinta, Bapak Amri Marpaung, Ibunda Tiolan Tambunan serta saudara-saudaraku tercinta, Rosdewita Marpaung, Ferdinan Haulian Marpaung dan Helwijaya Marpaung atas bantuan moril maupun materiel selama penulis studi di Institut Pertanian Bogor hingga selesai. 9. Rekan-rekan mahasiswa Pascasarjana program studi MPI angkatan 13 atas segala masukan dan saran dalam percepatan penyelesaian studi. 10. Semua pihak yang penulis tidak dapat sebutkan namanya satu-persatu yang telah memberi dukungan mulai penyusunan dan kesempurnaan tugas akhir ini. Penulis menyadari bahwa dalam penelitian dan penyusunan Tugas Akhir ini masih banyak terdapat kekurangan dan masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan masukan dan saran yang diberikan demi kebaikan penulis dimasa yang akan datang. Kiranya Allah SWT memberikan rahmat dan karunia-Nya yang senantiasa menyertai semua pihak yang telah mendukung dan membantu penulis sampai akhir penyusunan Tugas Akhir ini. Alhamdulillaahirabbil’alamin. Bogor, April 2012 Penulis xi RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 6 September 1979 di Dabo Singkep, salah satu Pulau di Kepulauan Riau, sebagai putri kedua, dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Amri Marpaung dan Ibu Tiolan Tambunan. Pendidikan Sekolah Dasar (SD) diselesaikan pada tahun 1992 di SDN 03 Pagi Jakarta Utara, Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselesaikan pada tahun 1995 di SMPN 261 Muara Angke, Jakarta Utara, serta Sekolah Menengah Atas diselesaikan pada tahun 1998 di SMAN 40 Pademangan, Jakarta Utara. Tahun 2002 Penulis menyelesaikan D III di STMIK SWADHARMA Jurusan Manajemen Informatika dan melanjutkan S1 kembali di STMIK SWADHARMA lulus Tahun 2003. Memiliki riwayat pekerjaan pada Bulan Februari 2005 hingga bulan Oktober 2008 bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai sekretaris Direktur Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, Oktober 2008 hingga Agustus 2010 menjadi sekretaris Sesditjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan Agustus 2010 menjadi sekretaris Dirjen Kelautan, pesisir, dan Pulau-pulau Kecil sampai dengan sekarang. xii DAFTAR ISI ABSTRACT ............................................................................................................................. ii RINGKASAN ......................................................................................................................... iii PRAKATA ............................................................................................................................... x RIWAYAT HIDUP ................................................................................................................ xii DAFTAR TABEL .................................................................................................................. xv DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................ xvi DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................................ xvii I. PENDAHULUAN ................................................................................................................ 1 1.1. Latar Belakang Penelitian ............................................................................................ 1 1.2. Perumusan Masalah ..................................................................................................... 3 1.3. Tujuan Penelitian ......................................................................................................... 4 II. TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................................... 5 2.1. Grameen Bank .............................................................................................................. 5 2.2. Metode Pemberian kredit pola Grameen Bank ............................................................ 6 2.2.1. Falsafah Dasar Grameen Bank ............................................................................... 7 2.2.2. Visi Gramen Bank dan Misi Grameen Bank.......................................................... 7 2.2.3. Prinsip Dasar Pemberian kredit pola Grameen Bank ............................................. 8 2.2.4. Proses Pengajuan Pinjaman ................................................................................. 10 2.2.5. pembentukan Kelompok ...................................................................................... 11 2.3. Pendapatan ................................................................................................................. 12 2.4. Pengaruh Pemberian kredit pola Grameen Bank Terhadap Pendapatan ..................... 13 2.5. Keadaaan Umum Masyarakat Pesisir......................................................................... 14 2.6. Tinjauan Penelitian..................................................................................................... 16 2.7. Tinjauan Pengujian Validitas dan Reabilitas Instrumen ............................................ 17 2.7.1. Pengujian Validitas Instrumen ............................................................................ 17 2.7.2. Pengujian Reliabilitas Instrumen ........................................................................ 18 III. METODELOGI KAJIAN ................................................................................................ 20 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian .................................................................................. 20 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................................. 22 xiii 3.3. Data dan Sumber Data ............................................................................................... 24 3.4. Penentuan Jumlah Sampel dan Metode Penarikan Sampel........................................ 24 3.4.1. Penentuan Jumlah Sampel................................................................................... 24 3.4.2. Teknik Penarikan Sampel ................................................................................... 25 3.5. Metode Pengumpulan Data ........................................................................................ 26 3.6. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data .............................................................. 26 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................................................... 31 4.1. Gambaran Umum Penerapan Kredit Pola Grameen Bank di Tuban........................... 31 4.1.1. Kondisi Umum Kabupaten Tuban ...................................................................... 31 4.1.2. Angka Kemiskinan di Kabupaten Tuban ............................................................ 32 4.1.3. Kondisi Usaha Koperasi LEPP M3 Kabupaten Tuban ....................................... 32 4.1.4. Skema Organisasi Grameen Bank di Kabupaten Tuban .................................... 34 4.1.5. Prosedur Penyaluran Kredit Sistem Grameen Bank ........................................... 36 4.1.6. Cara Menilai Kelayakan Anggota ....................................................................... 40 4.1.7. Petunjuk Uji Kelayakan Anggota........................................................................ 42 4.2. Kendala-kendala Dalam Pemberian Kredit Pola Grameen Bank ............................. 45 4.3. Keberhasilan Penyaluran Kredit Pola Grameen Bank ............................................. 45 4.4. Kekuatan dan Peluang Pemberian Kredit Pola Grameen Bank ................................ 46 4.5. Analisis Deskriptif Statistik ....................................................................................... 47 4.5.1. Deskripsi Data Responden .................................................................................. 47 4.5.2. Deskripsi Tingkat Pengetahuan Anggota ............................................................ 49 4.5.3. Deskripsi Tingkat Penerapan Kredit Pola Grameen Bank ................................ 52 4.5.4. Deskripsi Tingkat Manfaat Kredit Pola Grameen Bank ..................................... 55 4.6. Analisis Regresi Linear Berganda .............................................................................. 57 4.7. Pengujian Hipotesis ................................................................................................... 59 KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................................................. 61 1. Kesimpulan .................................................................................................................... 61 2. Saran ............................................................................................................................... 62 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 64 LAMPIRAN ........................................................................................................................... 66 xiv DAFTAR TABEL No Halaman 1. Jumlah populasi dan sampel menurut desa pemukiman anggota........ 25 2. Pengukuran Variabel Penelitian …………...….................................. 29 3. Pemberian Skor ………….................................................................. 30 4. Uji Kelayakan Indeks Rumah............................................................. 42 5. Uji Kelayakan Indeks Asset................................................................ 43 6. Kepemilikan Ternak dan Asset lain………………………………… 44 7. Penentuan tes indeks asset…………………………………………... 44 8. Kategori Jenis Usaha Anggota……………………………………… 48 9. Komposisi Usia……………………………………………………... 49 10. Tingkat Pendidikan Terakhir Anggota……………………………… 49 11. Pengetahuan Anggota Terhadap Koperasi LEEP-M3 Pola Grameen Bank………………………………………………………................. 50 12. Tingkat Pengetahuan........................................................................... 51 13. Penerapan Kredit Pola Grameen Bank………..................…………. 53 14. Tingkat Penerapan Kredit Pola Grameen Bank.................................. 54 15. Manfaat Pemberian Kredit Pola Grameen Bank……….…………… 55 16. Tingkat Manfaat.................................................................................. 56 17. Koefisien Persamaan........................................................................... 57 18. Analisis Sidik Ragam.......................................................................... 58 19. Korelasi............................................................................................... 58 20. Paired Samples Test Pendapatan Sebelum Dan Sesudah Program Greeman Bank………………………………………………………. xv 59 DAFTAR GAMBAR No Halaman 1. Proses Pengajuan Pinjaman ……………………………………... 10 2. Kerangka Alur Penelitian.......................……................................ 21 3. Peta Lokasi Penelitian ………...........................………................ 23 4. Skema Organisasi Grameen Bank....……………………………. 34 5. Skema Usaha Koperasi LEPP-M3 Kab. Tuban……...…………... 35 6. Skema Organisasi Grameen Bank Kab. Tuban………………….. 36 7. Uji Kelayakan……………………………………………………. 37 8. Pertemuan Umum………………………………………………... 38 9. Pertemuan Umum Terbatas……………………………………… 38 10. Latihan Wajib Kumpul…………………………………………... 38 11. Ujian Pengesahan Kumpul………………………………………. 39 12. Pertemuan Mingguan…………………………………………….. 39 13. Proses Keanggotaan Grameen Bank……………………………... 40 14. Grafik Tingkat Pengetahuan……………………………………... 52 15. Grafik Tingkat Penerapan Kredit pola Grameen Bank................. 54 16. Grafik Tingkat Manfaat Pemberian Kredit pola Grameen Bank.... 56 xvi DAFTAR LAMPIRAN No Halaman 1. Pengantar Kuesioner Penelitian …...........................................………. 67 2. Kuesioner Penelitian Untuk Anggota......…………………………….. 68 3. Kuesioner Penelitian Untuk Pengurus/Pengelola.................................. 73 4. Kuesioner Penelitian Untuk Tokoh Masyarakat.................................... 75 5. Data Hasil Olahan Menggunakan Nilai Pemusatan ...............………... 77 6. Realiability Analysis – Scale (Split)………………………….…...….. 85 7. Pendapatan Bersih Bulanan Usaha Kecil Sebelum dan Sesudah Memperoleh Kredit................................................................................ xvii 88 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Masyarakat pesisir terdiri atas nelayan, pembudidaya ikan, pengolahan dan pedagang hasil laut, serta masyarakat lainnya yang kehidupan sosial ekonominya tergantung pada sumberdaya perikanan dan kelautan. Jumlah masyarakat pesisir berdasarkan hasil studi Smeru (2003) adalah 16,48 juta jiwa. Jumlah ini diperkirakan meningkat mencapai 20 juta jiwa yang saat ini tersebar di lebih dari 10.666 desa pesisir di seluruh Indonesia. Poverty Headcount Index (PHI) masyarakat pesisir adalah 0,3214. Artinya, lebih dari 32% dari penduduk di wilayah pesisir masih tergolong miskin atau dua kali rata-rata tingkat kemiskinan nasional (KKP, 2009). Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) dengan sistem peminjaman (Cash Collateral) kepada Bank Pelaksana yang dilaksanakan oleh Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang telah berjalan selama 4 tahun yaitu sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2007. Dalam kurun waktu tersebut telah terbentuk sekitar 277 Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang terdapat di seluruh wilayah pesisir di Indonesia termasuk di Kabupaten Tuban. Hal ini tentu saja merupakan suatu prestasi yang cukup menggembirakan karena dengan berdirinya LKM tersebut, masyarakat pesisir dapat lebih mudah dalam mengakses dana untuk menambah modal usaha mereka (Sunaryanto, 2009). Di lain pihak, meskipun masyarakat pesisir menjadi lebih mudah dalam mengakses modal, tetapi LKM harus tetap memperhatikan persyaratan dalam peminjaman yaitu harus adanya agunan (jaminan) seperti syarat peminjaman di bank pada umumnya. Agunan ini dianggap perlu karena untuk mengatasi apabila terjadi kemacetan pengembalian diakibatkan oleh kurang menentunya produktifitas masyarakat pesisir dalam kurun waktu setahun, dimana sebanyak 8 bulan produktif dan 4 bulan dianggap kurang produktif. Hal ini tentu saja sedikit banyak menjadi 1 masalah bagi masyarakat pesisir, khususnya yang tidak memiliki barang atau surat berharga yang dapat dijadikan agunan. Permasalahan yang umum dihadapi oleh masyarakat pesisir berkaitan dengan akses modal adalah tidak memiliki agunan sehingga tidak dapat mengakses modal pada LKM program PEMP. Meskipun ada masyarakat pesisir yang mendapat pinjaman tanpa agunan, tetapi jumlahnya tidak banyak dan hanya tergantung dari rekomendasi dewan komite dari LKM. Menyadari akan keadaan tersebut, Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir mulai tahun 2007 mengenalkan sistem skim kredit yang bisa diakses oleh kaum miskin dengan tanpa agunan dan syarat yang tidak memberatkan. Skim kredit memiliki pola berbanding terbalik dengan pola perbankan yaitu sistem Grameen Bank yang merupakan ide dan terobosan terbesar dari Prof. Muhammad Yunus dari Bangladesh (KKP, 2009). Lembaga keuangan mikro Bangladesh Grameen Bank, yang didirikan oleh peraih Nobel Ekonomi tahun 2006 Dr. Muhammad Yunus tersebut telah berhasil menjadi penggerak roda perekonomian suatu negara. Grameen Bank menjadi contoh bagi negara-negara lainnya. Hampir 97% dari nasabah Grameen Bank yang berjumlah total 25 juta adalah wanita, karena wanita itu berorientasi pada keluarga. Wanita akan mempertimbangkan keluarga dan anakanaknya sebelum bertindak (Shahjahan, 2011). Gerakan pemberdayaan masyarakat miskin menurut filosofi Grameen Bank tidak hanya disebabkan oleh minimnya keterampilan seseorang, karena keterampilan seseorang tidak berbanding lurus dengan kualitas hidup. Jadi kualitas hidup yang baik selain memerlukan keterampilan juga dana untuk hal demikian. Kalaupun ada sumbangan atau hibah tidak memerlukan pertanggungjawaban bahkan malah menciptakan ketergantungan. inisiatif dan kreatifitas. Keluarnya seseorang dari kemiskinan menuntut Grameen Bank merancang kredit mikro berbasis kepercayaan bukan kontrak legal. Metodologi ini dirancang guna mendorong rasa tanggung jawab dan solidaritas terhadap sesama peminjam dalam suatu komunitas. Grameen Bank telah berhasil mengembangkan konsep community building (pengembangan komunitas), dengan penguatan dari sisi pembinaan mingguan, serta pemberlakuan konsep tanggung-renteng dalam satu kelompok. (KKP, 2009). 2 Penelitian ini berangkat dari fenomena keberhasilan Grameen Bank dengan indikator ekonomi (berkembangnya usaha anggotanya, pendapatan bertambah, lancar dalam pengembalian, meningkatnya jumlah tabungan). Grameen Bank telah direplikasikan sejak tahun 2007 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk membantu perekonomian masyarakat pesisir dengan memberikan kredit dan juga pelatihan keterampilan-keterampilan untuk membantu perekonomian keluarga mereka. Kabupaten Tuban adalah salah satu kabupaten yang menerapkan Grameen Bank yang merupakan bagian dari koperasi perikanan dan kelautan Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3) Kabupaten Tuban yang memiliki unit usaha yaitu unit simpan pinjam swamitra mina dan unit simpan pinjam pola Grameen Bank, dan penelitian ini dapat melihat pengaruh Grameen Bank terhadap Peningkatan Pendapatan Usaha Kecil Masyarakat Pesisir oleh Koperasi LEPP-M3 di Kabupaten Tuban. 1.2. Perumusan Masalah Kabupaten Tuban adalah salah satu Kabupaten yang dipilih oleh Departemen Kelautan dan Perikanan untuk mengenalkan skim kredit pola Grameen Bank. Kabupaten Tuban adalah suatu Kabupaten di Jawa Timur, Ibu Kotanya berada di Kota Tuban. Luasnya adalah 1.904,70 km2 dan panjang pantai mencapai 65 km dengan penduduk berjumlah 1 juta jiwa. Lokasi target yang ditetapkan untuk cakupan wilayah pola Grameen Bank: (1) Desa Leran Kec. Palang; (2) Desa Mondokan Kec. Tuban; (3) Desa Penambangan Kec. Semanding; (4) Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding; (5) Dusun Tlogo Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding; (6) Dusun Princik Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding; (7) Dusun Jarum Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding. Dari uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang penelitian, maka dirumuskan permasalahan yang akan dianalisis adalah : 1. Bagaimana penerapan pemberian kredit pola Grameen Bank oleh koperasi LEPP-M3 Tuban? 3 2. Apakah kendala-kendala yang dihadapi dalam pemberian kredit pola Grameen Bank? 3. Apakah pengetahuan, Penerapan dan manfaat yang didapat dalam pemberian kredit pola Grameen Bank? 4. Bagaimana Pengaruh pemberian kredit pola Grameen Bank terhadap peningkatan pendapatan usaha kecil masyarakat pesisir? 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan pelaksanaan tugas akhir ini adalah: 1. Mengetahui proses penerapan sebagai gambaran umum pemberian kredit pola Grameen Bank oleh koperasi LEPP-M3 Tuban. 2. Mengidentifikasi kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam pemberian kredit pola Grameen Bank. 3. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan, peranan dan manfaat apa saja yang didapat dalam penerapan pemberian kredit pola Grameen Bank. 4. Menganalisis pengaruh pemberian kredit pola Grameen Bank terhadap peningkatan pendapatan usaha kecil masyarakat pesisir sebelum dan sesudah pelaksanaan pola Grameen Bank. 4 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Grameen Bank Hadiah Nobel perdamaian bagi Muhammad Yunus dengan Grameen Banknya di Bangladesh, memberikan pelajaran akan pentingnya institusi keuangan mikro bagi kaum miskin, khususnya dikalangan kaum perempuan. Hal penting lain yang dapat kita ketahui adalah bahwa perempuan memegang peranan penting dalam mentransfer kredit mikro ke keluarga dan lebih lanjut mengentaskan keluarga dari kemiskinan. Hal ini mengingat bahwa 97 persen nasabah Grameen Bank adalah perempuan. Program kredit mikro, yang memberikan akses kredit yang lebih luas kepada kaum miskin, telah dianggap sebagai suatu program kunci bagi upaya pemberantasan kemiskinan, mengingat selama ini masyarakat miskin mendapat banyak halangan untuk mengakses sistem atau lembaga perbankan lainnya. Program kredit mikro Grameen Bank, yang bermula dari pilot proyek kecilkecilan yang dijalankan dengan bantuan mahasiswa-mahasiswa M. Yunus yang semuanya berasal dari daerah setempat. Gagasan ini yang bermula di desa Jobra sebuah desa kecil di Bangladesh yang bersebelahan dengan Chittagong University tempat M. Yunus mengajar. Dekatnya dengan desa Jobra menjadikan sebuah pilihan sempurna bagi M. Yunus untuk mata kuliahnya yang baru dan memutuskan untuk menjadi mahasiswa kembali dan warga Jobralah yang akan menjadi dosen-dosen-nya untuk belajar sebanyak mungkin tentang desa tersebut. Universitas – universitas yang ada sekarang menciptakan kesenjangan hebat antara mahasiswanya dengan kenyataan hidup sehari-hari di Bangladesh. M. Yunus ingin mengajari mahasiswanya cara memahami kehidupan orang miskin. Perjalanan berulang kali ke pedesaan di sekitar kampus Chittagong Unversity membuahkan temuan-temuan yang penting dalam mendirikan Grameen Bank. Kaum miskin mengajarkan ilmu ekonomi yang sepenuhnya baru. Dengan mempelajari masalah-masalah yang mereka hadapi dari perspektif mereka sendiri dengan mencoba banyak hal ada yang berjalan lancar ada yang tidak, salah satu yang berjalan baik adalah menawari sedikit pinjaman kepada 5 masyarakat untuk membangun usaha mandiri. Pinjaman ini menyediakan titik awal bagi industri rumah tangga dan kegiatan-kegiatan lain untuk meningkatkan pendapatan yang memanfaatkan keterampilan yang sudah dimiliki oleh masyarakat peminjam itu sendiri. M. Yunus tidak pernah menbayangkan bahwa program kredit mikro ini akan menjadi basis bagi “bank untuk kaum miskin” berskala nasional yang melayani 2,5 juta orang, dan diadaptasi di lebih dari 114 negara di 5 benua. Saat ini telah berkembang dan menjangkau tujuh juta orang miskin di 73.000 desa Bangladesh, 97 persen diantaranya perempuan. Grameen Bank memberikan kredit bebas agunan untuk mata pencaharian, perumahan, sekolah dan usaha mikro untuk keluarga-keluarga miskin dan menawarkan setumpuk program tabungan yang atraktif, dana pensiun, dan asuransi untuk para anggotanya. Sejak diperkenalkan tahun 1984, kredit perumahan telah membangun 640.000 rumah. Kepemilikan legal rumah- rumah ini menjadi hak para perempuan itu sendiri. Secara kumulatif, Grameen Bank telah memberikan kredit sebesar sekitar US$ 6 miliar dengan tingkat pengembaliannya 99 persen dan telah mampu mengangkat 58 persen nasabah dari garis kemiskinan. Grameen Bank telah memperoleh pengakuan dari pemerintah Bangladesh dan telah dipayungi oleh satu undang-undang tersendiri (Yunus, 1997) 2.2. Metode Pemberian kredit pola Grameen Bank Grameen Bank mempunyai pengertian bank desa, kata grameen merupakan bahasa Bengali berarti desa. Bank yang awalnya mengkhususkan untuk menyalurkan kredit bagi masyarakat miskin desa Jobra dan sekitarnya di wilayah Chittagong, Bangladesh dalam kurun waktu 1976-1979. Grameen Bank merupakan sistem kredit mikro yang direncanakan dan dijalankan pertama kali oleh Dr. Muhammad Yunus dari Chittagong University pada tahun 1976 dengan pendekatan yang ramah dengan orang miskin. Latar belakang yang mendasari Dr. Muhammad Yunus mendirikan dan menjalankan kredit mikro Grameen Bank adalah: (1) Banyak orang miskin di desa terlilit hutang pada rentenir, (2) Orang miskin dalam berusaha tidak bisa mengakses modal ke lembaga keuangan resmi, (3) Kredit di lembaga keuangan menggunakan 6 agunan yang tidak dimiliki orang miskin, (4) tidak ada produk pinjaman/kredit yang ramah terhadap orang miskin (KKP, 2009). Dan sampai saat ini skim kredit sistem Grameen Bank telah berkembang pesat di Bangladesh bahkan sekarang sistem ini telah diadopsi oleh lebih dari 114 negara dengan bantuan lembaga international PBB. Dan pada tahun 2006, Dr. Muhammad Yunus mendapatkan hadiah nobel perdamaian sebagai tokoh yang mengentaskan kemiskinan. 2.2.1. Falsafah Dasar Grameen Bank 1) Pemberian bantuan pada orang miskin yang didasari pada belas kasihan dan juga cuma-cuma (charity), tidak akan membantu orang miskin tersebut untuk lepas dari kemiskinannya. Sebaliknya justru akan menjerumuskan mereka ke dalam jurang kemiskinan yang lebih dalam. 2) Setiap pemberian bantuan pinjaman kepada orang miskin harus didasarkan pada keikhlasan dan juga pemdampingan yang terusmenerus. 3) Penyaluran kredit kepada orang miskin hanya sebagai entry point saja dari serangkaian kegiatan pendampingan yang ditujukan untuk penguatan kepada orang miskin (KKP, 2009). 2.2.2. Visi Gramen Bank dan Misi Grameen Bank Visi dari Grameen Bank adalah Bank untuk golongan termiskin. Adapun Misi dari Grameen Bank yaitu: 1) Atas dasar persamaan (HAM) 2) Membantu mereka yang benar-benar memerlukan 3) Membantu orang miskin keluar dari kemiskinannya 4) Pemberdayaan perempuan 5) Mendukung pembangunan yang menyeluruh 6) Memastikan kadar pembayaran yang tinggi 7 2.2.3. Prinsip Dasar Pemberian kredit pola Grameen Bank Prinsip dasar atau tata cara penyaluran kredit sistem Grameen Bank memiliki kriteria sebagai berikut: 1) Sasaran orang atau keluarga miskin khususnya perempuan 2) Pinjaman diberikan setelah adanya pendidikan secara terstruktur atau latihan wajib kumpulan 3) Pinjaman diberikan secara kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 5 orang 4) Setiap minimal 2 kelompok membentuk satu center meeting sebagai tempat semua kegiatan 5) Pinjaman diberikan dengan pola 2 2 1 atau 3 2 sesuai dengan kebutuhan 6) Semua transaksi dilakukan di pertemuan center (center meeting) 7) Setiap transaksi pinjaman dikenakan biaya, yang dibayarkan oleh client dan dibayarkan bersamaan dengan angsuran 8) Pinjaman diberikan dengan jangka waktu yang cukup panjang sehingga dimanfaatkan secara maksimal 9) Angsuran dilakukan setiap seminggu sekali di center meeting 10) Selain produk pinjaman, juga dibuat produk tabungan untuk melatih anggota menyisihkan pendapatan untuk hal-hal yang lebih penting 11) Setelah lunas pinjaman pertama, maka client harus memperoleh pinjaman berikutnya sepanjang menunjukkan progress yang meningkat 12) Setiap kegiatan center meeting, dilakukan dengan motivasi baik berupa ikrar maupun pembaca do’a 13) Isi ikrar atau doa mencerminkan tujuan jangka panjang dari program dalam rangka meningkatkan kualitas hidup client di masa yang akan datang 14) Semua pelaksanaan program harus dilakukan secara professional dan transparan 8 15) Berbagai isu diluar kegiatan mikro kredit menjadi prioritas berikutnya setelah kegiatan utama berjalan dengan baik Kriteria lebih khusus sistem Grameen Bank sebagai berikut: 1) Sasaran khusus kepada golongan termiskin a) Golongan sasaran dikenal pasti dan jelas b) Termiskin diantara yang miskin 2) Sistem penyaluran modal, khusus dibuat untuk golongan termiskin a) Syarat pinjaman mudah b) Modal dibawa langsung kepada yang termiskin c) Perempuan sebagai sasaran d) Pendekatan secara berkumpulan e) Mengutamakan tanggung jawab bersama f) Pinjaman kecil-kecil g) Pinjaman berkelanjutan tergantung “rapor” h) Angsuran mingguan i) Ada tabungan j) Modal dipakai untuk usaha sesuai pilihannya sendiri k) Komitmen kepada latihan 3) Tenaga pelaksana professional dan terlatih a) Latihan dan proyek lapangan selama 6 bulan b) Latihan lebih bertumpu pada belajar sendiri 4) Program dilaksanakan dengan kaedah “perbankan” a) Tenaga pelaksana profesional b) Pinjaman dikenakan biaya administrasi c) Program dijalankan secara terbuka d) Pinjaman adalah pelanggan dan nantinya ikut memiliki saham di Grameen Bank 9 2.2.4. Proses Pengajuan Pinjaman (1) Anggota Center (2) (9) Staff Lapang (8) (7) (3) (6) Branch Manager Kasir (5) (4) Regional Gambar 1. Proses Pengajuan Pinjaman Dalam proses pengajuan pinjaman kredit pola Grameen Bank (Gambar 1) terdapat beberapa tahap-tahap berikut Penjelasannya: (1) Anggota yang mengajukan permohonan pinjaman tampil kedepan pertemuan center/rembung pusat. Sambil berdiri menghadap pada anggota center, yang bersangkutan secara lisan menyampaikan usulan pinjaman untuk mendapatkan persetujuan dari semua anggota. Usulan tersebut adalah jumlah pinjaman dan tujuan/rencana penggunaannya. (2) Apabila semua anggota telah menyetujui usulan tersebut, maka staf lapangan mencatat dalam Formulir Pengajuan Pinjaman (FPP), kemudian anggota yang bersangkutan menandatangani di ikuti oleh semua anggota kumpulan. (3) Staff lapang melapor kepada Manager Cabang disertai penjelasan mengenai identitas dan kelayakan anggota yang bersangkutan. (4) Manager Cabang akan mengajukan kepada regional Manager untuk mendapatkan jumlah pinjaman yang disetujui. 10 (5) Regional Manager akan mengembalikan formulir setelah menyetujui jumlah pinjaman. (6) Manager Cabang mengembalikan berkas usulan kepada staff lapang setelah diteliti dan ditanda tangani (untuk persetujuan). (7) Staff lapang menyerahkan berkas usulan pinjaman untuk mendapatkan uang pinjaman dan mempersiapkan: Formulir Permohonan Pinjaman (FPP), rincian angsuran, cacatan kejadian, pengajuan pinjaman Dana Tabungan Kumpulan dan buku pinjaman umum perorangan. (8) Staff lapang menerima uang sebelum berangkat ke pertemuan Center minggu berikutnya. (9) Realisasi pinjaman kepada anggota. Anggota penerima pinjaman menandatangani Formulir Penggunaan Pembiayaan (FPP) sebagai bukti tanda terima. (10) Satu minggu setelah pinjaman diberikan, ketua kumpulan dan ketua Center memeriksa penggunaan pinjaman anggotanya. Setelah mereka membubuhi tanda tangan dalam Formulir Pemeriksaan Penggunaan Pinjaman (FP3). Selanjutnya formulir tersebut disampaikan kepada staff lapang. 2.2.5. pembentukan Kelompok Pembentukan Kelompok merupakan tahap awal untuk terbentuknya sebuah kelompok. 1) Syarat-syarat kelompok: a) Perempuan miskin b) Umur anggota hampir sama c) Tingkat pendidikan hampir sama d) Tidak ada hubungan darah, misal : Ibu dan anak, adik dan kakak tidak bisa menjadi satu kelompok tapi harus beda kelompok e) Rumah berdekatan f) Anggota saling kenal satu dengan yang lainnya 11 g) Telah mendapatkan ijin dari suami ataupun keluarga. 2) Cara melakukan Pembentukan Kelompok (PK) : a) Kelompok yang mendaftar anggotanya hadir dengan membawa semua anggota kelompoknya yang telah dibentuk oleh mereka sendiri sebelumnya. b) Apabila anggota kelompoknya tidak lengkap maka kelompok tersebut tidak bisa didaftarkan. c) Kelompok tersebut akan diwawancarai langsung oleh Manager dan juga Field Officer (FO)/staff lapang yang telah ditugaskan di desa tersebut. d) Hal-hal yang disampaikan oleh Manager kepada kelompok dalam Pembentukan Kelompok, antara lain: 1. Memastikan tidak ada hubungan darah sesama anggota dalam kelompok tersebut. 2. Memastikan mereka saling mengenal secara pribadi maupun usaha masing-masing anggota. 3. Mamastikan pekerjaan dan tujuan dari pinjaman masing-masing calon anggota. 4. Menjelaskan jumlah pinjaman dan angsuran. 5. Kesanggupan untuk mengikuti Latihan Wajib Kumpulan ( LWK). 6. Kesanggupan untuk hadir di pertemuan center setiap minggunya. 7. Kesanggupan untuk system tanggung-renteng untuk anggota kelompoknya. 2.3. Pendapatan Pendapatan adalah kenaikan kotor dalam aset atau penurunan dalam liabilitas atau gabungan dari keduanya selama periode yang berakibat dari investasi yang halal, perdagangan, memberikan jasa, atau aktivitas lain yang bertujuan meraih keuntungan (Antonio, 2001). Dalam akuntansi, pendapatan merepresentasi capaian atau hasil dan biaya merepresentasi upaya. Dengan demikian, konsep upaya dan hasil mempunyai 12 implikasi bahwa pendapatan dihasilkan oleh biaya. Artinya hanya dengan biaya, pendapatan dapat tercipta. Pendapatan timbul karena peristiwa atau transaksi pada saat tertentu dan bukan karena proses selama satu periode (Suwardjono, 2005). Pendapatan baru dapat diakui setelah suatu produk selesai diproduksi dan penjualan benar-benar terjadi yang ditandai dengan penyerahan barang. Pendapatan belum dapat dinyatakan ada dan diakui sebelum terjadinya penjualan yang nyata. Sumber pendapatan dapat terjadi dari transaksi modal atau pendanaan (financing); laba dari penjualan aktiva seperti aktiva tetap, surat-surat berharga, atau penjualan anak atau cabang perusahaan; revaluasi aktiva; hadiah, sumbangan atau penemuan dan penyerahan produk perusahaan (hasil penjualan produk). Dari kelima hal yang disebutkan yang merupakan sumber utama pendapatan adalah hasil penjualan produk (Suwardjono, 2005). Pendapatan suatu usaha tergantung dari modal yang dimiliki, jika modal besar maka hasil produksi tinggi sehingga pendapatan yang didapat juga tinggi. Namun jika modal kecil maka hasil produksi rendah sehingga pendapatan yang diperoleh rendah. Untuk menambah modal usaha guna meningkatkan pendapatan maka dibutuhkan suatu pembiayaan. 2.4. Pengaruh Pemberian kredit pola Grameen Bank Terhadap Pendapatan Pendapatan adalah peningkatan jumlah aktiva atau penurunan kewajiban perusahaan yang timbul dari penyerahan barang/jasa atau kegiatan usaha lainnya (Mardiasmo, 1995). Pendapatan merupakan salah satu faktor penunjang usaha atau aktifitas untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan hidup. Hal ini mendorong manusia untuk melakukan kegiatan-kegiatan untuk eksistensi dirinya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Tindakan-tindakan ini dilakukan karena seiring terdorong oleh kuatnya minat dan keinginan manusia untuk memperhatikan hidupnya, dimana dalam hal ini terdapat persoalan bagaimana usaha yang diinginkannya. Untuk mendapatkan keinginan tersebut diperoleh suatu pendapatan sebagai penunjang. 13 Suatu pendapatan usaha tergantung dari besar kecilnya modal yang digunakan. Jika modal besar maka produk yang dihasilkan juga besar sehingga pendapatannya pun meningkat. Begitu juga sebaliknya jika modal yang digunakan kecil maka produk yang dihasilkan hanya sedikit dan pendapatan yang diperoleh juga sedikit. Untuk itu diperlukan pembiayaan untuk meningkatkan pendapatan usaha kecil. Peningkatan usaha kecil kunci utamanya adalah modal. Bagi usaha kecil, sering dijumpai pemerolehan modal diiringi dengan membayar bunga yang cukup tinggi dan diharuskannya jaminan. Sehingga pinjaman menjadi beban yang sewaktuwaktu dapat menjadi boomerang bila terjadi kemacetan angsuran dan tidak bisanya mendapatkan modal karena tidak ada benda berharga yang bisa dijaminkan. Pada umumnya pedagang kecil dan industri rumah tangga mempunyai margin (keuntungan) atau pendapatan yang cukup tinggi namun tidak bisa lepas dari keterbatasan modal. Untuk itu perlu adanya bantuan dalam pembiayaan. 2.5. Keadaaan Umum Masyarakat Pesisir Kemiskinan bukanlah suatu gejala baru bagi masyarakat Indonesia. Pada saat ini, walaupun sudah hidup dalam kemerdekaan selama puluhan tahun, yang dalam statusnya sebagai negara berkembang, kondisi kemiskinan itu selalu nyata di tengahtengah masyarakat, baik di kota maupun di desa. Masyarakat pesisir merupakan bagian dari masyarakat Indonesia yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dalam kebijakan pembangunan. Jika pada masyarakat petani terdapat berbagai program subsidi, seperti subsidi pupuk dan benih, maka pada masyarakat nelayan subsidi seperti itu hampir tidak pernah mereka peroleh. Memang di beberapa daerah kadang ada semacam bantuan peralatan tangkap untuk nelayan, namun sering tidak bisa dimanfaatkan oleh nelayan, karena kendala yang bersifat struktural seperti keharusan adanya agunan yang tidak mereka miliki serta sistem angsuran yang tidak sesuai dengan pola pendapatan mereka. Akibatnya, walaupun beberapa program sudah dijalankan oleh pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir namun tetap saja kehidupan masyarakat pesisir masih akrab dengan 14 kemiskinan, menghadapi sejumlah masalah politik, sosial dan ekonomi yang kompleks. Masalah-masalah tersebut di antaranya adalah sebagai berikut: (1) kemiskinan, kesenjangan sosial, dan tekanan-tekanan ekonomi yang datang setiap saat, (2) keterbatasan akses modal, teknologi, dan pasar, sehingga mempengaruhi dinamika usaha, (3) kelemahan fungsi kelembagaan sosial ekonomi yang ada, (4) kualitas SDM yang rendah sebagai akibat keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik, (5) degradasi sumberdaya lingkungan, baik di kawasan pesisir, laut, maupun pulau-pulau kecil, dan (6) belum kuatnya kebijakan yang berorientasi pada kemaritiman sebagai pilar utama pembangunan nasional (Kusnadi, 2009). Kemiskinan merupakan suatu konsep yang cair, dan bersifat multi dimensional. Disebut cair karena kemiskinan bisa bermakna subyektif, bermakna relatif, tetapi sekaligus juga bermakna absolut. Sedangkan disebut multidimensional, selain kemiskinan itu dapat dilihat dari sisi ekonomi, juga dari segi sosial, budaya dan politik. Dalam hal ini istilah kemiskinan itu lebih diartikan sebagai suatu kondisi yang serba kekurangan, yang merupakan suatu definisi umum yang digunakan untuk menjelaskan tentang kemiskinan. Pemerintah terus berupaya untuk mengurangi jumlah orang miskin di Indonesia. Untuk mendukung kebijakan tersebut diperlukan langkah-langkah yang tepat, agar upaya penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai dengan maksimal. Sementara itu, masyarakat sendiri sebetulnya tidak tinggal diam. Mereka selalu berusaha dengan berbagai cara untuk keluar dari jerat kemiskinan yang membelenggu kehidupan mereka (Imron dan Manan, 2009). Bertolak dari pemikiran tersebut maka upaya penanggulangan kemiskinan harus didasarkan pada definisi kemiskinan yang jelas, penentuan garis kemiskinan yang tepat dan pemahaman yang jelas mengenai sebab-sebab timbulnya persoalan kemiskinan tersebut. Pada umumnya konsep kemiskinan lebih banyak dikaitkan dengan dimensi ekonomi. Kemiskinan juga dapat dikaitkan dengan dimensi sosial budaya dan sosial politik. Dalam dimensi ekonomi, kemiskinan dapat dilihat dalam bentuk ketidakmampuan suatu keluarga dalam memenuhi berbagai kebutuhan dasarnya, seperti pangan, sandang, perumahan dan kesehatan, yang secara kualitatif 15 hal ini dapat dilihat pada kondisi perumahan yang kumuh, perabotan rumah tangga yang seadanya, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sandang dan kesehatan yang rendah, dan kondisi pendidikan yang juga rendah. Dalam kaitanya dengan dimensi sosial budaya, kemiskinan lebih sulit untuk diukur, dan tidak dapat dihitung dengan angka-angka. Meskipun demikian, dimensi sosial budaya dari kemiskinan itu dapat dilihat dan dirasakan, karena muncul dalam bentuk budaya kemiskinan misalnya, menyatakan adanya respon tertentu yang dilakukan oleh masyarakat miskin dalam menyikapi hidup, seperti boros dalam membelanjakan uang, mudah putus asa, merasa tidak berdaya, dan apatis. Semua ini merupakan budaya yang muncul karena kemiskinan yang dihadapi oleh generasi sebelumnya, dan diwariskan secara terusmenerus kepada generasi berikutnya, karena digunakan sebagai desain kehidupan bagi orang miskin untuk menyelesaikan permasalahan hidupnya. Budaya kemiskinan yang demikian itu sekaligus menjerumuskan mereka ke dalam kemiskinan yang lebih dalam, karena menghambat mereka untuk berjuang dalam melawan kemiskinan yang dialami. Adapun dalam dimensi sosial politik, kemiskinan muncul dalam bentuk terpinggirnya kelompok miskin dalam struktur sosial yang dibawah, dan tidak dilibatkannya mereka dalam proses pengambilan keputusan. Hal itu muncul dengan termarginalisasinya kelompok miskin, sehingga tidak mempunyai akses, misalnya, terhadap lembaga keuangan. Begitu pula dalam program-program untuk perbaikan kelompok ini, mereka tidak punya akses untuk berpartisipasi dalam menentukan masa depannya, karena penentuan program biasanya dilakukan oleh orang luar yang merasa tahu atas permasalahan mereka, walaupun secara riil masyarakat miskin itulah yang sebetulnya merasakan dan tahu persis permasalahan yang dihadapi (Imron dan Manan, 2009). 2.6. Tinjauan Penelitian Sumber data didapat dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan dan belum pernah dipublikasi (Siregar, 2010). Data 16 sekunder adalah data yang diterbitkan atau digunakan oleh organisasi yang bukan pengolahannya (Siregar, 2010). Sampel dalam penelitian ini diperoleh dari populasi sasaran yaitu usaha-usaha kecil yang telah menjadi anggota Koperasi Pola Grameen Bank sebanyak 423, Pengelola Koperasi LEPP-M3, dan tokoh masyarakat di Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur. Menurut Sekaran (2006), populasi mengacu pada keseluruhan kelompok orang, kejadian, atau hal minat yang ingin peneliti investigasi. Metode penarikan sampel pada penelitian ini menggunakan Stratified Random Sampling. Stratified Random Sampling Metode pengambilan sampel acak terstratifikasi (stratified random sampling) adalah metode pemilihan sampel denga cara membagi populasi ke dalamkelompok-kelompok yang homogen yang disebut strata, dan kemudian sampel diambil secara acak dari tiap strata tersebut. (Anderson, 2008). 2.7. Tinjauan Pengujian Validitas dan Reabilitas Instrumen 2.7.1. Pengujian Validitas Instrumen Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Analisis faktor dilakukan dengan cara mengkorelasikan jumlah skor faktor dengan skor total. Bila korelasi tiap faktor tersebut positif dan besarnya > 0,3 (Sugiyono, 2009) maka faktor tersebut merupakan construct yang kuat. Jadi berdasarkan analisis faktor itu disimpulkan bahwa isntrumen tersebut memiliki validitas konstruksi yang baik dengan rumus pearson product moment (Riduwan, 2004): n ( XY )   X Y  rhitung  n X 2    X  nY 2  (Y ) 2 2 Dimana : rhitung = Koefisien korelasi ∑X = Jumlah skor item 17  ∑Y = Jumlah skor total (seluruh item) N = Jumlah responden Validitas dalam penelitian dijelaskan sebagai suatu derajat ketepatan alat ukur penelitian tentang isi atau arti sebenarnya dari apa yang diukur. Pengujian ini berfungsi menunjukkan tingkat kemampuan alat pengukur agar dapat memberikan apa yang menjadi sasaran pokok pengukuran. Validitas menunjukkan sejauh mana alat pengukur itu mengukur apa ingin diukur. Tahap-tahap pengujian validitas: 1) Mendefinisikan secara operasional konsep yang diukur. 2) Uji coba skala pengukuran dalam instrumen kepada sejumlah responden. 3) Mempersiapkan tabel tabulasi jawaban yang berbentuk matrik a x b, dimana a menyatakan banyaknya responden dan b menyatakan jumlah item pertanyaan. 4) Menghitung korelasi antara masing-masing item pernyataan dengan skor total yang menggunakan rumus teknik korelasi Product Moment. 5) Menghitung korelasi terkoreksi 6) Membandingkan angka korelasi terkoreksi (rpq) dengan r tabel yang berderajat bebas n-2, criteria pengujiannya adalah: a) bila rpq dari hasil olahan uji tersebut diperoleh item-item pernyataan dengan rpq bernilai positif dan rpq > r tabel maka tolak H0 sehingga item tersebut valid. b) bila rpq bernilai negatif dan rpq ≤ r tabel, maka item tersebut tidak valid berarti item pernyataan tersebut dinyatakan gugur. Pengukuran validitas pada instrumen digunakan untuk mengetahui sejauh mana pertanyaan dapat dimengerti dan dipahami oleh responden. 2.7.2. Pengujian Reliabilitas Instrumen Setelah instrumen penelitian tersebut dinyatakan valid, kemudian peneliti melakukan uji reliabilitas terhadap instrumen-instrumen penelitian 18 yang mencakup variabel-variabel yang diteliti dengan mengambil hasil jawaban dari responden yang dianggap valid. Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk memperkirakan reliabilitas adalah metode konsistensi internal. Dalam metode konsistensi internal, reliabilitas dapat ditunjukkan melalui besarnya nilai Cronbach Alpha (α). Adapun penghitungan α didapatkan dari formula berikut: Dimana: α = Cronbach Alpha k = jumlah item pernyataan Σ σ2(yi) = jumlah varians item pernyataan σx2= varians skor total Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang sudah dapat dipercaya (reliabel), akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga, sehingga apabila datanya memang benar dan sesuai dengan kenyataannya, maka berapa kalipun diambil, tetap akan memberikan hasil yang sama. 19 III. METODELOGI KAJIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Dari skema kerangka pemikiran sebagaimana Gambar 2, didapat penjelasan bahwa proses penelitian dimulai dengan mengidentifikasi masalah didasarkan pada latar belakang penelitian mengenai analisis dampak pemberian kredit pola Gramen Bank terhadap peningkatan pendapatan usaha kecil masyarakat Pesisir oleh Koperasi LEPP-M3 di Kabupaten Tuban. Tahap selanjutnya setelah mengidentifikasi masalah dilanjutkan dengan merumuskan masalah berdasarkan tujuan penelitian, kemudian variabel penelitian disusun dalam sebuah kuesioner (Lampiran 2) untuk menjawab tujuan. Kuesioner di uji apakah sudah valid dan reliabel dengan uji validitas dan reabilitas, tahap-tahap tersebut adalah metode penyusunan kuesioner. Setelah kuesioner disusun maka dilakukan penarikan contoh alias wawancara. Metode sampling yang digunakan adalah Cluster Sampling merupakan teknik pengambilan sampel dimana pemilihannya mengacu pada kelompok-kelompok subjek dan antara satu kelompok dengan kelompok lain bukan pada individu tanpa adanya strata atau tingkatan. Setelah penarikan sampel dan wawancara selesai, maka dilakukan interprestasi data untuk menjawab tujuan. Dalam menjawab tujuan dilakukan dua cara yaitu untuk menjawab tujuan mengenai: (1) Mengetahui proses penerapan sebagai gambaran umum pemberian kredit pola Grameen Bank oleh Koperasi LEPP-M3 Tuban; (2) Mengidentifikasi kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam pemberian kredit pola Grameen Bank, dan (3) Mengidentifikasi tingkat pengetahuan, peranan dan manfaat apa saja yang didapat dalam penerapan kredit pola Grameen Bank dijawab melalui deskriptif statistik dengan menggunakan nilai pemusatan (median) dan tabel/grafik (Lampiran 3). Sedangkan untuk menjawab tujuan menganalisis pengaruh pemberian kredit pola Grameen Bank terhadap peningkatan pendapatan usaha kecil masyarakat pesisir sebelum dan sesudah pelaksanaan pola Grameen Bank dijawab dengan melakukan 20 uji-t berpasangan (Paired t-Test). Rangkaian pencacahan dan pengolahan data disajikan pada kerangka alur penelitian Gambar 2. Identifikasi Masalah Perumusan Masalah Penentuan Variabel Penelitian Penyusunan Kuesioner Penentuan Hipotesis Tidak Valid dan Reliabel? Ya Dokumentasi Pencacahan dengan kuesioner Pengolahan Data Pengujian Hipotesis Deskriptif Statistik Kesimpulan Gambar 2. Kerangka Pikir Penelitian 21 Wawancara 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di USP Swamitra Mina Koperasi LEPP-M3 Tuban yang bertempat di Jalan Panglima Sudirman No. 314 Tuban, Provinsi Jawa Timur Gambar 3. Secara geografi Kabupaten Tuban terletak pada posisi 111°30’ - 112°35’ Bujur Timur dan 6°40’ - 7°18’ Lintang Selatan dengan batas wilayah sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa; sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lamongan; sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro; dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Blora (Jawa Tengah). Kabupaten Tuban adalah sebuah kabupaten di Jawa Timur, Indonesia. Ibu kotanya berada di kota Tuban, Luas wilayah Kabupaten Tuban 183.994.562 Ha yang secara administrasi terbagi menjadi 20 Kecamatan dan 328 desa/kelurahan. Panjang pantai 65 km membentang dari arah timur Kecamatan Palang sampai barat Kecamatan Bancar, Sedangkan luas wilayah lautan meliputi 22.608 Km2. Jumlah penduduk di Kabupaten Tuban tahun 2010 menurut hasil sensus penduduk tahun 2010 mencapai 1.117.539 jiwa dengan komposisi jumlah penduduk laki-laki 551.869 jiwa dan penduduk perempuan berjumlah 565.670 jiwa. Kota Tuban terletak pada ketinggian 0-100 meter diatas permukaan air laut. Sebagian besar wilayahnya berupa daratan dengan kemiringan 0-2% di wilayah bagian barat dan sebagian selatan merupakan wilayah berbukit dengan kemiringan rata-rata lebih dari 15%. Secara fisik Kota Tuban sangat berdekatan dengan pantai yang memiliki suhu udara antara 25°-27.5° C dengan iklim tropis kering. Curah hujan bervariasi dari rata-rata berkisar 1483 mm per tahun. Pemilihan lokasi kajian dilakukan secara purposive yang didasarkan pada 2 (dua) pertimbangan, yaitu (1) Lokasi kajian adalah daerah pesisir di Provinsi Jawa Timur letaknya dua jam dari Kota Surabaya. (2) Salah satu lokasi diimplementasikannya program kredit pola Grameen Bank oleh Kementerian Kelautan dan Perikann. Waktu kajian dilaksanakan pada bulan Desember 2011 Februari 2012. 22 Gambar 3. Peta Lokasi Penelitian 23 3.3. Data dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data Primer adalah data yang dikumpulkan langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan. Dalam hal ini objeknya adalah pemilik usahausaha kecil yang memperoleh skim kredit dari Koperasi pola Grameen Bank . Data yang dianalisis adalah data tentang pendapatan usaha-usaha kecil sebelum dan sesudah memperoleh skim kredit dari Koperasi pola Grameen Bank. 3.4. Penentuan Jumlah Sampel dan Metode Penarikan Sampel 3.4.1. Penentuan Jumlah Sampel Sampel dalam penelitian ini diperoleh dari populasi sasaran yaitu usahausaha kecil yang telah menjadi anggota Koperasi Pola Grameen Bank sebanyak 423, Pengelola Koperasi LEPP-M3, dan tokoh masyarakat. Dalam penelitian ini penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin sebagai berikut : Di mana : N = jumlah populasi n = jumlah contoh e = derajat kesalahan Berdasarkan rumus Slovin dengan tingkat kepercayaan 95% (taraf signifikansi 0,05), maka dari populasi 423 anggota Koperasi LEPP-M3 pola Grameen Bank di Kabupaten Tuban, jumlah contoh (n) atau jumlah responden yang diambil adalah : n  423 423 423 = = 2 5,23 1  (423 x (0,1) ) 1  423 (0,01) = 80,8795 Dengan demikian ukuran sampel minimal dalam penelitian ini adalah sebanyak 80,8795 sampel (untuk penelitian ini dibulankan menjadi 85 orang 24 sampel, selain itu juga diwawancara pengurus dan tokoh masyarakat masingmasing 4 orang sehingga total kesemuanya 8 orang). 3.4.2. Teknik Penarikan Sampel Pada penelitian ini, teknik penarikan sampel (Tabel 1) menggunakan Cluster atau Area Sampling. Adapun cluster sampel digunakan berdasarkan desa asal sampel. Alasan menggunakan teknik Area Sampling ini adalah karena populasi anggota koperasi berdomisili di beberapa desa. Tabel 1. Jumlah Populasi dan Sampel Menurut Desa Pemukiman Anggota Desa Jumlah Anggota (orang) Sampel (orang) Desa Leran 60 12 Desa Penambangan 60 12 Desa Prunggahan Kulon 63 13 Desa Mondokan 60 12 Desa Tlogo 60 12 Desa Jarum Prunggahan Kulon 60 12 Desa Princik Perunggahan Kulon 60 12 TOTAL 423 85 Pengambilan sampel dari masing-masing stratum: a. Desa I = 60/423 x 85 = 12, 06 = 12 (dibulatkan kebawah) b. Desa II = 60/423 x 85 = 12, 06 = 12 (dibulatkan kebawah) c. Desa III = 63/423 x 85 = 12, 65 = 13(dibulatkan keatas) d. Desa IV = 60/423 x 85 = 12, 06 = 12 (dibulatkan kebawah) e. Desa V = 60/423 x 85 = 12, 06 = 12 (dibulatkan kebawah) f. Desa V I = 60/423 x 85 = 12, 06 = 12 (dibulatkan kebawah) g. Desa VI I = 60/423 x 85 = 12, 06 = 12 (dibulatkan kebawah) Penarikan sampel di setiap desa dilakukan dengan accidental sampling, dimana responden yang dipilih pada tiap kelompok dilakukan secara kebetulan. 25 3.5. Metode Pengumpulan Data Proses untuk mendapatkan data primer menggunakan teknik pengumpulan data dalam bentuk wawancara, kuesioner dan observasi langsung (Lampiran 1) yang telah diuji validitas dan reabilitasnya. Data sekunder diperoleh dengan cara pencarian informasi dan data kepustakaan, dokumen-dokumen Koperasi LEPP-M3 pola Grameen Bank dan data dari instansi-instansi terkait. Hasil menunjukkan bahwa poin-poin pertanyaan pada kuisioner Tingkat Pengetahuan Tentang Koperasi LEPPM3, Penerapan Pemberian Kredit Pola Grameen Bank dan Manfaat Penerapan Pemberian kredit pola Grameen Bank seluruhnya valid (Lampiran 4). Dinyatakan valid jika Corrected Item-Total Correlation (Rhit)> r tabel. Pengukuran Hasil menunjukkan bahwa poin-poin pertanyaan pada kuisioner Tingkat Pengetahuan Tentang Koperasi LEPP-M3, Penerapan Pemberian Kredit Pola Grameen Bank dan Manfaat Penerapan Pemberian kredit pola Grameen Bank seluruhnya memenuhi kriteria reabilitas (Lampiran 4). Dinyatakan reabilitas terpenuhi jika Guttman Splithalf sesuai kriteria diatas. 3.6. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data 3.6.1. Pengolahan Data Program yang digunakan untuk melakukan olah data pengujian validitas dan reabilitas serta pengujian hipotesis pada penelitian ini adalah SPSS versi 11.4 for Window, sedangkan untuk mengolah deskriptif statistik menggunakan nilai pemusatan (median), tabel dan grafik. 3.6.2. Analisis Data a. Deskriptif Statistik 1) Deskriptif Data Responden Deskriptif data responden memperlihatkan latar belakang responden (anggota koperasi) yang dirangkum kedalam bentuk tabel dan grafik yang memperlihatkan jenis usaha anggota, usia anggota dan pendidikan terakhir. 26 2) Deskriptif Tingkat Pengetahuan Anggota Deskriptif tingkat pengetahuan anggota memperlihatkan sejauh mana responden (anggota koperasi) mengetahui tentang pemberian kredit pola Grameen Bank. 3) Deskriptif Tingkat Penerapan Pola Gramen Bank Deskriptif tingkat memperlihatkan Penerapan pola Grameen Bank sejauh mana pengurus mensosialisasikan program Grameen Bank. 4) Deskriptif Tingkat Manfaat Pola Grameen Bank Deskriptif tingkat mamfaat pola Grameen Bank memperlihatkan sejauh mana manfaat dari program Grameen Bank. b. Pengujian Hipotesis Hipotesis yang disusun untuk menjawab tujuan penelitian adalah sebagai berikut : 1) Formulasi hipotesis HO = : 1 = : 2 = pinjaman/kredit yang diberikan tidak berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan usaha kecil. H1 = : 1 ≠ : 2 = pinjaman/kredit yang diberikan berpengaruh terhadap peningkatan usaha kecil. 2) Level of significant = 0.05 /2 (n-1) Selanjutnya hipotesis untuk mengetahui pengaruh mutlak pendapatan bersih pada para usaha-usaha kecil sebelum dan sesudah pemberian kredit pola Grameen Bank dianalisis menggunakan uji t berpasangan (Paired t-Test), dengan rumus sebagai berikut : 27 dimana d adalah selisih antara pendapatan sebelum dan sesudah program dan n adalah jumlah data. c. Variabel Penelitian dan Skala Pengukuran Data 1) Variabel Penelitian Variabel penelitian ini adalah pendapatan usaha-usaha kecil merupakan variabel terikat. Sedangkan pemberian kredit merupakan variabel bebas. i. Pendapatan Pendapatan ditunjukkan dengan aliran aktiva baru yang masuk ke perusahaan dari konsumen sebagai penukar produk perusahaan baik berupa barang atau jasa. Rekening pendapatan mencerminkan dan berguna untuk mengukur kenaikan aktiva atau sumber ekonomi perusahaan yang berasal dari kegiatan usahanya. Pendapatan diukur ketika telah terjadi penjualan. Pendapatan yang diukur sesuai jumlah rupiah produk yang terjual, baru akan menjadi pendapatan yang sepenuhnya setelah produk tersebut selesai diproduksi dan penjualan benar-benar terjadi. ii. Pola Pemberian Kredit Grameen Bank Pemberian Kredit berjumlah kecil kepada warga paling miskin untuk membiayai proyek yang dia kerjakan sendiri untuk menghasilkan pendapatan yang memungkinkan mereka peduli terhadap diri sendiri dan untuk keluarganya. Kisi-kisi dari instrumen penelitian yang digunakan dalam pencacahan ditunjukkan oleh Tabel 2. 28 2) Skala Pengukuran Data Untuk mengukur variabel komitmen organisasi dan faktorfaktor yang mempengaruhi komitmen organisasi digunakan metode rating yang dijumlahkan (Method of Summated Ratings). Metode ini popular dengan nama skala Likert. Skala likert merupakan metode pernyataan sikap yang menggunakan respon subjek sebagai dasar penentuan nilai skalanya. Dalam skala likert, item-item dalam kuesioner/daftar pernyataan terbagi menjadi dua, yaitu item positif dan item negatif. Item negatif memiliki skor yang merupakan kebalikan dari skor positif (Saifuddin. 1988) dalam penelitian ini menggunakan item positiif. Sistem pemberian skor dalam penelitian ini dijelaskan pada Tabel 3. Tabel 2. Pengukuran Variabel Penelitian Variabel Manfaat pemberian kredit pola Grameen Bank dan Pengaruh penerapan Pemberian kredit pola Grameen Bank terhadap peningkatan pendapatan Indikator Butir Pertanyaan a. Peningkatan nilai pendapatan b. Pendapatan sebelum c. Pendapatan sesudah 29 a. Tingkat Pengetahuan tentang Koperasi LEPP-M3 Pola Grameen Bank b. Kuisioner masyarakat pesisir sebelum dan sesudah menjadi anggota d. opini masyarakat informasi untuk anggota e. Upaya Penanggulangan kemiskinan Kendala yang dihadapi a. Penyaluran kredit Manfaat penerapan dalam penerapan Pemberian kredit Penyaluran kredit Pemberian kredit pola pola Grameen Bank pola Grameen Grameen Bank tersosialisasikan Bank pada atribut dengan baik Anggota Grameen b. Penyaluran kredit Grameen Bank lancar Bank poin 4, atribut tokoh masyarakat poin 4 dan 5, atribut pengurus / pengelola Koperasi poin 8 Proses penerapan Opini anggota penerapan Pemberian kredit pola tentang pemberian Pemberian kredit Grameen Bank dan pengembalian pola Grameen Bank kredit Tabel 3. Pemberian Skor Pilihan Jawaban Item Positif Item Negatif Sangat Tidak Setuju 1 5 Tidak Setuju 2 4 Ragu-ragu 3 3 Setuju 4 2 Sangat Setuju 5 1 30 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Penerapan Kredit Pola Grameen Bank di Tuban 4.1.1. Kondisi Umum Kabupaten Tuban Kabupaten Tuban adalah salah satu Kabupaten yang dipilih oleh Departemen Kelautan dan Perikanan untuk mengenalkan skim kredit pola Grameen Bank. Kabupaten Tuban adalah suatu Kabupaten di Jawa Timur, Ibu Kotanya berada di Kota Tuban. Luasnya adalah 1.904,70 km2 dan panjang pantai mencapai 65 km dengan jumlah desa pantai 28 desa dan dilintasi oleh 15 sungai besar dan sedang, sebagian besar penduduknya bekerja pada sektor perikanan dan kelautan, kondisi sosial ekonomi sebagian besar masyarakatnya antara miskin dan sangat miskin umumnya buruh nelayan dan buruh pengolah dan hanya beberapa yang berada di atas garis kemiskinan itu biasanya adalah pedagang/bakul, pengolah, dan taoke/juragan kapal. Jumlah penduduk menurut profesi terdiri dari nelayan 15.630 orang, pembudidaya 5.510 orang dan pengelola 931 orang (KKP, 2009). Tuban disebut sebagai kota wali karena Tuban adalah salah satu kota di Jawa yang menjadi pusat penyebaran ajaran Agama Islam. Tuban terletak di tepi pantai pulau Jawa bagian utara, dengan batas-batas wilayah: (1) utara laut Jawa; (2) sebelah timur Lamongan; (3) sebelah selatan Bojonegoro; (4) barat Rembang; dan (5) Blora Jawa Tengah. Lokasi target yang ditetapkan untuk cakupan wilayah pola Grameen Bank: (1) Desa Leran Kec. Palang; (2) Desa Mondokan Kec. Tuban; (3) Desa Penambangan Kec. Semanding; (4) Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding; (5) Dusun Tlogo Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding; (6) Dusun Princik Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding; (7) Dusun Jarum Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding. 31 4.1.2. Angka Kemiskinan di Kabupaten Tuban Hasil sensus penduduk tahun 2010 kabupaten Tuban, data-data demografi normatif yang dilaporkan seperti laju pertumbuhan penduduk Tuban yang rata-rata 0.61 persen, berikut distribusi per kecamatan, kepadatan penduduk per km persegi per kecamatan, dan tentunya jumlah penduduk Tuban yang mencapai 1.117.539 jiwa (551.869 Laki-laki dan 565.670 perempuan). Data tingkat kemiskinan terkini kabupaten Tuban menurut data program nasional pengentasan kemiskinan (PNPM) Bappenas tahun 2011 yang disusun berdasarkan sumber data Potensi Desa (Podes) BPS tahun 2008, di ketahui bahwa jumlah orang miskin di kabupaten Tuban sebanyak 211.458 jiwa atau 18.54% dari total penduduk kabupaten Tuban. Prosenatase ini dihitung berdasarkan jumlah penduduk kabupaten Tuban menurut data Podes 2008 yang dilaporkan sebanyak 1.140.513 jiwa. Artinya, tingkat kemiskinan di kabupaten Tuban lebih parah dibanding rata-rata tingkat kemiskinan nasional tahun 2010 yang ada dalam kisaran 13,33%. Dilihat dari distribusi tingkat kemiskinan per kecamatan ada 7 kecamatan dengan tingkat kemiskinan di atas 20%, yaitu Kerek (21,0%), Bangilan (21,2%), Semanding (21,6%), Bancar (22,2%), Senori (23,4%), Plumplang (26,1%) dan yang paling parah kecamatan Grabagan di mana tingkat kemiskinan mencapai 38,1%, dengan tingkat kemiskinan 20% artinya ada 1 orang dari tiap 5 warga Tuban hidup dalam kemiskinan. Demikian pula jika tingkat kemiskinan mencapai 25% artinya dari 4 orang warga tuban, 1 orang di antaranya hidup dalam kondisi miskin. 4.1.3. Kondisi Usaha Koperasi LEPP M3 Kabupaten Tuban Koperasi Perikanan dan Kelautan LEPP-M3 Kabupaten Tuban didirikan pada tanggal 28 April 2004 melalui penetapan Badan Hukum Koperasi No. 593.32/BH/007/414.045/2004 yang tercatat sebagai salah satu pengelola Dana Ekonomi Produktif (DEP) di Dinas Kelautan dan Perikanan setempat dengan No. 523/951/KPTS/414.044/2004. 32 Unit Usaha Koperasi LEPP-M3 Kabupaten Tuban yaitu: (1) Unit Simpan Pinjam Swamitra Mina; (2) Unit Simpan Pinjam Pola Grameen Bank; (3) Kedai Pesisir . Dana permodalan koperasi ini bersumber dari modal pemerintah berjumlah Rp. 2.749.071.000, simpanan anggota Rp. 40.588.947, dan pihak ketiga Rp. 1.000.000.000, dalam hal ini adalah perbankan. Dana yang bersumber dari pihak pemerintah telah dihentikan sejak tahun 2006. Pada tahun yang sama dana hanya bersumber dari simpanan anggota. Baru pada tahun 2007 koperasi ini mendapatkan sumber dana baru yaitu dari pihak perbankan (KKP, 2009). Hingga tahun 2009 kelompok pemanfaat koperasi ini telah berjumlah 394 orang, yang terdiri dari 203 nelayan, 82 orang pembudidaya, 16 orang pengolah, 81 orang pedagang/bakul, dan 12 orang yang berasal dari masyarakat pesisir lainnya. Kondisi USP Grameen Bank Koperasi LEPP-M3 Kabupaten Tuban yang mulai beroperasi pada tahun 2009 dengan jumlah anggota 165 orang, 137 orang client. (KKP, 2009). Hasil survei yang dilakukan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan bahwa wilayah pesisir Kabupaten Tuban adalah sangat potensial untuk melakukan program perkreditan sistem Grameen Bank, karena: (1) wilayahnya cukup padat; (2) Jarak antara desa tidak berjauhan; (3) Lokasi wilayahnya cukup mudah untuk dijangkau; (4) Tingkat kemiskinan cukup merata; (5) Belum ada lembaga yang melayani mereka secara spesifik. Koperasi LEPP M3 Tuban sudah mempersiapkan secara baik dan matang guna memperlancar program Grameen Bank dengan menyiapkan 1 ruangan disamping kantor koperasi yang diperuntukkan untuk kantor USP Grameen Bank. Dalam kantor sendiri sudah siap dengan perangkat lunaknya seperti 1 unit komputer dan printer, 2 meja kerja sudah tertata rapi di kantor. Memiliki modal yang akan dipergunakan sebagai modal awal USP pola Grameen Bank sebesar Rp. 50 Juta – Rp. 60 Jutaan. 33 4.1.4. Skema Organisasi Grameen Bank di Kabupaten Tuban Awal mulanya Grameen Bank berdiri dikarenakan permasalahan yang umum dihadapi oleh masyarakat pesisir berkaitan dengan akses modal dimana untuk mendapatkan kredit dari Usaha Simpan Pinjam Swamitra Mina calon anggota tidak memiliki agunan sebagai syarat untuk mendapat modal dari koperasi. Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2008 mulai mengadopsi sebuah sistem yang ramah terhadap orang miskin dimana dalam mendapatkan kredit calon anggota tidak dibebankan dengan adanya agunan, sistem ini dikenal dengan sistem Grameen Bank. Koperasi LEPP-M3 Grameen bank secara legal merupakan lembaga keuangan yang harus berbadan hukum bisa berupa PT (perseroan terbatas), koperasi dan secara umum organisasi Grameen Bank adalah sebagai berikut (Gambar. 4): DIREKTUR UTAMA - Manager Kredit - Manager Operasi - Manager Keuangan - Manager Pelatihan Koordinator Wilayah Cabang-cabang Cabang-cabang Cabang-cabang Rembug Pusat Rembug Pusat Rembug Pusat Kumpulan Kumpulan Kumpulan Anggota-anggota Sedangkan skema usaha Koperasi LEPP-M3 Kabupaten Tuban (Gambar 5) Gambar 4. Skema Organisasi Grameen Bank memiliki 3 (tiga) unit usaha yaitu: (1) Unit Usaha Simpan Pinjam Swamitra Mina; (2) Unit Usaha Simpan Pinjam Pola Grameen Bank; (3) Kedai Pesisir. 34 Swamitra Mina merupakan salah satu unit usaha milik koperasi yang bergerak di bidang pelayanan permodalan bagi masyarakat pesisir, terutama untuk segmen usaha mikro. Unit usaha ini bermitra dengan Bank Bukopin dengan orientasi pelayanan permodalan berbasis sistem teknologi perbankan yang online. Dimana teknologi ini diharapkan kegiatan usaha keuangan dapat berjalan secara profesional, transparan, dapat dipantau setiap saat baik ditingkat pusat maupun daerah. Dalam penggunaan kredit yang diterima dari Bank Pelaksana kepada koperasi dibukukan sebagai Modal Tidak Tetap (MTT) dan dipergunakan untuk disalurkan kepada masyarakat pesisir anggota dan calon anggota sebagai peminjam. Jangka waktu kredit yang diberikan Bank Pelaksana kepada koperasi maksimal 3 (tiga) tahun sedangkan jangka waktu pinjaman kepada masyarakat pesisir anggota dan calon anggota koperasi disesuaikan dengan kondisi dan jenis usaha yang dibiayai. Tingkat suku bunga pinjaman dari Bank Pelaksana kepada koperasi maksimum sebesari 6% efektif per tahun. Bunga dan pokok pinjaman dibayar secara rutin setiap bulan. Koperasi LEPP-M3 Kab. Unit Usaha Simpan Pinjam Swamitra Unit Usaha Simpan Pinjam Pola Grameen Kedai Pesisir Gambar 5. Skema Usaha Koperasi LEPP-M3 Kab. Tuban Unit Usaha Simpan Pinjam Pola Grameen Bank Koperasi LEPP-M3 Kabupaten Tuban (Gambar 6) merupakan unit usaha yang dikhususkan untuk masyarakat paling miskin yang tidak bisa mendapatkan kredit dari Unit Usaha Simpan Pinjam Swamitra Mina dikarenakan tidak memiliki jaminan. Skema pengurus dari Usaha Simpan Pinjam pola Grameen Bank terdiri dari Hendri 35 Siwi Aji sebagai Manager, Dyah Ayu sebagai Admin, Wito dan Teguh orang staf lapangan. MANAGER Admin STAF LAPANGAN STAF LAPANGAN Gambar 6. Skema Organisasi Grameen Bank Kab. Tuban Kedai pesisir merupakan unit usaha yang bertujuan untuk melayani kebutuhan bahan pokok dan kebutuhan usaha bagi masyarakat pesisir dalam bentuk outlet dengan sistem swalayan kedai pesisir juga berperan sebagai supplier bagi warung-warung sejenis disekitarnya. Kedai Pesisir diharapkan dapat menekan harga sampai pada tingkat sama dengan harga di ibukota Kabupaten/Kota. 4.1.5. Prosedur Penyaluran Kredit Sistem Grameen Bank Tahapan penyaluran kredit sistem Grameen Bank kepada anggota: 1) Survey Lokasi Survei lokasi bertujuan untuk mencari dan menentukan wilayah yang menjadi target sasaran. Dalam pelaksanaan suevei ini dapat dilakukan oleh staff lapangan Koperasi sistem Grameen Bank. 2) Melakukan uji kelayakan (UK) Uji Kelayakan (Gambar 7) adalah semacam kegiatan untuk melihat kondisi sosial ekonomi calon anggota, yang meliputi keadaan rumah, asset rumah tangga dan pendapatannya. Informasi diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan. Wawancara dilakukan oleh staf lapangan di rumah calon anggota dan sebaiknya dihadiri oleh kepala keluarga dan 36 istri agar dapat diperoleh data yang lebih akurat dan menghindari wawancara ulang yang dapat membuang-buang waktu. Gambar 7. Uji Kelayakan 3) Pertemuan umum (PU) Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penjelasan secara umum tentang lembaga dan program yang akan dilaksanakan kepada calon anggota Grameen Bank. Ada dua macam pertemuan umum yakni : (1) Pertemuan umum (Gambar 8) yang mengundang dan melibatkan aparat setempat, tokoh masyarakat dan ibu-ibu calon anggota, tujuannya mengenalkan dan memberikan penjelasan tentang lembaga dan program kegiatan yang bertujuan supaya semua pihak di wilayah itu mengetahui dan tidak ada curiga dari masyarakat bila program ini dilaksanakan di wilayah tersebut; (2) Pertemuan umum secara terbatas (Gambar 9) yang hanya mengundang ibu-ibu calon anggota minimal 10 orang atau mencukupi terbentuknya 2 kelompok pemanfaat. 37 Gambar 8. Pertemuan Umum 4) Gambar 9. Pertemuan Umum Terbatas Anggota yang layak, membentuk kumpulan yang terdiri dari 5 orang dengan syarat: a) Tempat tinggal berdekatan b) Umur, pendidikan dan keadaan sosial relatif sama 5) Mengikuti latihan wajib kumpulan (LWK) (Gambar 10), yang diadakan selama 5 hari masing-masing 1 jam dan membahas tentang: a) Falsafah dan prinsip grameen bank b) Cara mengajukan pinjaman dan mengangsur c) Isi dan kandungan ikrar d) Tanda tangan sendiri (harus bisa tanda tangan sendiri) e) Memupuk solideritas f) Disiplin dan motivasi kerja Gambar 10. Latihan Wajib Kumpul 6) Pada akhir LWK diadakan Ujian Pengesahan Kumpulan (UPK) 38 Ujian Pengesahan Kumpul (UPK) (Gambar 11) adalah untuk dilakukan pengesahan kelompok dan bila lulus maka resmi menjadi anggota Grameen Bank dan berhak mengajukan pinjaman. Gambar 11. Ujian Pengesahan Kumpul 7) Gambar 12. Pertemuan Mingguan Kegiatan rembug pusat diawali dan diakhiri dengan pembacaan ikrar (pertemuan Center). Setelah kelompok dinyatakan lulus dan Ujian Pengesahan Kelompok (UPK) maka kelompok tersebut wajib melaksanakan rembug pusat (pertemuan center) (Gambar 12) setiap minggu secara rutin sesuai jadwal yang ditentukan hari dan jamnya. Dalam rembuk pusat ini akan dilaksanakan kegiatan rutin mengenai pengajuan pinjaman, pelaksanaan transaksi angsuran, pelaksanaan transaksi tabungan dan membahas segala sesuatu masalah atau memberi penjelasan secara kekeluargaan semua aspek kehidupan tujuannya adalah memberikan penguatan dan rasa percaya diri para ibu-ibu tersebut terutama dalam melakukan kegiatan usaha mandiri. 8) Proses anggota Mengajukan Pinjaman Seminggu setelah LWK dua orang anggota kumpulan mengajukan pinjaman, dengan diketahui oleh anggota lainnya dan disetujui oleh ketua kelompok dan ketua center, kemudian minggu berikutnya dua anggota yang lainnya mengajukan pinjaman, dan minggu berikutnya lagi satu 39 anggota kelompok (ketua kelompok) mengajukan kelompok. Sistem ini dikenal dengan istilah 2 : 2 : 1. Alur proses keanggotaan Grameen Bank tergambarkan pada Gambar 13. Uji Kelayakan (UK) Pertemuan Umum (PU) Pembentukan Kelompok Latihan Wajib Kumpul (LWK) Uji Pengesahan Kumpulan Pembentukan Rembug Pusat Gambar 13. Proses Keanggotaan Grameen Bank 4.1.6. Cara Menilai Kelayakan Anggota Uji kelayakan adalah semacam kegiatan untuk melihat kondisi sosial ekonomi calon anggota, yang meliputi keadaan rumah, asset rumah tangga dan pendapatannya sehingga dapat dikatakan layak sebagai anggota. Informasi diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan. Wawancara dilakukan oleh staff lapangan di rumah calon anggota dan sebaliknya dihadiri oleh kepala keluarga dan istri agar dapat diperoleh data yang lebih akurat dan menghindari wawancara ulang yang dapat membuang-buang waktu. 40 Ada empat kriteria untuk menilai kelayakan calon anggota, yaitu: 1) Indeks rumah (IR) Digunakan sebagai kriteria karena rumah calon anggota mencerminkan status sosial ekonomi sebagai golongan miskin. Luas rumah yang kecil, beratap rumbia, berlantai tanah dengan fasilitas yang tidak memadai adalah ciri-ciri dari rumah masyarakat golongan miskin. 2) Indeks Pendapatan (IP) Untuk dapat hidup layak dan memenuhi kebutuhan pangan dan sandang setiap orang harus bekerja untuk mencari nafkah. Dari pekerjaan ini dia memperoleh pendapatan kurang dari Rp. 385.000,- (Rp. 40.000,- per kapita) per bulan tergolong sebagai golongan orang miskin. Penduduk yang tidak memiliki pekerjaan karena cacat tubuh bukan target program ini. 3) Indeks Asset (IA) Asset yang dinilai tidak termasuk tanah yang dimiliki, tetapi meliputi asset rumah tangga (termasuk alat pertanian), ternak, asset yang likuid seperti uangan tunai, tabungan dll. 4) Indeks Pemilikan Tanah (IT) Program kredit Grameen Bank adalah dimaksudkan untuk orang-orang miskin dipedesaan yang tidak memiliki tanah (landless). Tetapi adakalanya mereka juga memiliki sebidang tanah yang tidak luas yang hasilnya tidak dapat menghidupinya untuk sepanjang tahun. Apabila telah dilakukan uji kelayakan dan kelompok tersebut dinyatakan lulus, yang berarti semua anggota tersebut layak menjadi anggota, maka akan dilanjutkan pada tahap Latihan Wajib Kumpulan (LWK). 41 4.1.7. Petunjuk Uji Kelayakan Anggota 1) Petunjuk Uji Kelayakan Indeks Rumah Tabel 4. Uji Kelayakan Indeks Rumah Kriteria Dasar Penilaian Nilai Indeks Luas Rumah Luas lantai > 70 m2 36 – 69 m2 atau 7 – Rp. 1.000.000,- tidak lulus/layak Keterangan *) prioritas kedua/bersyarat : calon anggota dapat menjadi anggota apabila semua anggota yang layak telah menjadi anggota (apabila kekurangan anggota). Dalam penentuan tes indeks asset (Tabel 7) penilaiannya dihitung dari jumlah asset, kepemilikan tanah dan kepemilikan ternak dan asset lainnya (Tabel 6) bila ada. Jenis asset terdiri dari: a) Asset Pendapatan suami (a) Tetap Rp............ (b) Tidak tetap Rp......... Pendapatan istri (a) Tetap Rp............ (b) Tidak tetap Rp......... b) Kepemilikan Tanah Pekarangan....................................... m2/petak/Ha Sawah/lahan..................................... m2/petak/Ha Pendapatan sewa/garap Rp............. . m2/petak/Ha c) Kepemilikan Ternak dan Asset lainnya Sebagai persyaratan menjadi anggota calon anggota juga diminta mengisi 43 Tabel 6. Kepemilikan Ternak dan Asset Lain Ternak Asset lainnya a. Sapi Rp. a. Furniture Rp. B. Ayam Rp. b. Sepeda motor Rp. c. Bebek Rp. C. Sepeda Rp. d. Kambing Rp. e. Lainnya Rp. Contoh perhitungan: Sepeda motor: (a) nilai ketika membeli = Rp. 500.000,- (b) umur ekonomis*) = 4 tahun (c) masa penggunaan = 2 tahun (d) perhitungan nilai penyusutan Rp. 500.000 : 4 = Rp. 125.000,- per tahun (e) nilai penyusutan sekarang 125.000 x 2 tahun = Rp. 250.000,(f) nilai sekarang Rp. 500.000 – Rp. 250.000 = Rp. 250.000,Keterangan *) umur ekonomis adalah lama waktu (tahun) suatu asset yang dimiliki dapat digunakan. Asset yang baru akan lebih lama tahun penggunaannya, asset yang bekas akan lebih sedikit tahun penggunaannya. Tabel 7. Penentuan Tes Indeks Asset Kriteria Sangat miskin Miskin Tidak miskin Pendapatan Tidak tetap Tidak tetap Tetap Kepemilikan 0 < 2.500 m2 > 2.500 m2 < Rp. Rp. 750.000 – 2 > 2 juta 750.000 juta Ya Ya tanah Nilai asset Istri bekerja 44 Tidak 4.2. Kendala-kendala Dalam Pemberian Kredit Pola Grameen Bank Adapun faktor-faktor yang menghambat proses keberhasilan pemberian kredit mikro sistem Grameen Bank oleh Koperasi LEPP-M3, Tuban adalah sebagai berikut: 1) Penilaian diri yang negatif terhadap diri sendiri, dimana anggota selalu merasa malu dan takut salah menyebabkan proses pemberian kredit menjadi kurang berjalan sebagaimana mestinya. Di sinilah peran seorang staf lapang sebagai pekerja sosial dalam melakukan intervensi makro. Staf lapang mengintervensi secara makro masing-masing individu dengan melatih kemampuan mereka, seperti berbicara di depan publik atau anggota kelompok dan atau rembug pusat yang lain. Pengembangan kapasitas komunitas untuk mengambil keputusan bersama dan membangkitkan rasa percaya diri akan kemampuan masing-masing anggota. Dengan begitu, rasa malu dan takut salah akan dapat berkurang karena latihan-latihan mengungkapkan pendapat yang dilakukan secara rutin setiap kali pertemuan mingguan atau rembug pusat diadakan. 2) Sifat ketergantungan anggota Koperasi LEPP-M3 Tuban dan adanya penunggakan pembayaran dapat menghalangi proses pemberdayaan masyarakat di sana. Hal ini dilakukan dengan mengembangkan kemandirian anggotanya. Sehingga, pada pinjaman tahap berikutnya, mereka tidak lagi tergantung pada bantuan kredit dari koperasi karena mereka sudah mampu meningkatkan omset dan pendapatannya yang berasal dari usaha produktif yang dilakukannya, dan dengan adanya sistem tenggang rentan terhadap anggota kelompoknya dimana jika salah satu anggotanya ada yang menunggak anggota lainnya membantu untuk menalangi tunggakannya. 4.3. Keberhasilan Penyaluran Kredit Pola Grameen Bank Kehadiran metode Grameen Bank yang dilaksanakan oleh Koperasi LEPP-M3 Kab. Tuban yang bertujuan memberikan bantuan modal usaha untuk pembinaan bagi warga miskin telah menunjukkan perkembangan yang baik hal ini mengidentifikasikan bahwa metode Grameen Bank yang dijalankan turut berperan dalam usaha pertumbuhan perekonomian masyarakat pesisir Kab. Tuban. 45 Pelaksanaan Grameen Bank itu tentunya memberikan manfaat bagi perkembangan perekonomian anggota khususnya dan umumnya masyarakat pesisir Kabupaten Tuban. Kondisi tersebut ditandai dengan berkembangnya usaha-usaha yang dijalankan para anggota, serta peningkatan jumlah anggota yang menerima dana bantuan kredit dari Grameen Bank sebanyak 423 anggota yang sebelumnya pada tahun 2009 sebanyak 165 anggota dengan jumlah penduduk miskin di Kabupaten Tuban sebanyak 211.458 jiwa. Diharapkan dengan adanya Koperasi LEPP-M3 pola Grameen Bank masyarakat miskin yang ada di Kabupaten Tuban dapat mengakses program tersebut sehingga dapat mengurangi jumlah penduduk miskin yang ada di Kabupaten Tuban. 4.4. Kekuatan dan Peluang Pemberian Kredit Pola Grameen Bank 1) Kekuatan Pemberian Kredit Pola Grameen Bank Metode sistem Grameen Bank berbeda dengan unit simpan pinjam swamitra mina yang diterapkan oleh Koperasi LEPP-M3. Sistem Grameen Bank memulai kredit dengan kepercayaan bahwa kredit merupakan hak asasi manusia dan Grameen Bank di bangun dengan sistem bahwa seseorang yang tidak memiliki sesuatu (termiskin) merupakan prioritas tertinggi untuk mendapatkan pinjaman. Kredit Mikro sistem Grameen Bank bagi Perempuan Miskin tanpa Jaminan, hanya bermodal Kejujuran; Transparan; dan Kepercayaan dalam pelaksanaannya merupakan kekuatan yang diterapkan untuk kelancaran program, sedangkan unit simpan pinjam swamitra mina memberikan kredit dengan jaminan dan dalam pelaksanaannya sudah menggunakan sistem perbankan. Sistem Grameen Bank dan unit simpan pinjam swamitra Mina merupakan sistem mikro kredit dimana perbedaannya Grameen Bank untuk masyarakat pesisir pra sejahtera sedangkan Swamitra Mina untuk masyarakat pesisir sejahtera. 2) Peluang Pemberian Kredit Pola Grameen Bank 46 Kehadiran program mikro kredit pola Grameen Bank sangat potensial dalam proses pemberdayaan perempuan, meskipun kredit mikro tidak memberdayakan seluruh perempuan anggotanya, tapi paling tidak hampir semua anggota mengalami proses pemberdayaan melalui dibukanya akses ekonomi, politik dan sosial budaya mereka. Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan menerapkan pemberian kredit dengan sistem Unit Usaha Simpan Pinjam Swamitra Mina dan pola Grameen Bank dimana dana yang diberikan ditujukan untuk masyarakat yang berbeda. Pemberian kredit Grameen Bank dikhususkan untuk masyarakat pesisir pra sejahtera sedangkan Swamitra Mina untuk masyarakat pesisir sejahtera. Hal ini dilakukan agar masyarakat pesisir pra sejahtera yang tidak memiliki jaminan dan tidak memiliki akses untuk mendapatkan dana kredit bisa mendapatkannya sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, sehingga dengan 2 (dua) sistem cara tersebut dapat: a. Mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin b. Meningkatkan kemampuan dan pendapatan masyarakat miskin c. Meningkatkan tabungan dan menjamin keberlanjutan berusaha pelaku UMK. Dengan demikian bagi masyarakat pesisir yang tidak memiliki persyaratan untuk menerima kredit pada Unit Usaha Simpan Pinjam Swamtira Mina mereka dapat mengakses sistem mikro kredit pola Grameen Bank. 4.5. Analisis Deskriptif Statistik 4.5.1. Deskripsi Data Responden 1) Jenis Usaha Anggota Koperasi Berdasarkan data responden yang dikaji maka dapat digambarkan data responden seperti Tabel 8. Data yang diperoleh dalam analisis ini berasal dari hasil wawancara dan pengisian kuesioner yang berasal dari anggotanya berjumlah 85 orang. Berdasarkan jenis usaha anggota dalam hal ini anggota koperasi apabila dilihat pada Tabel 8 jenis usahanya terdiri dari Warungan 47 27%, Pertanian 8%, Peternakan 1%, dan Jual Ikan 64%. Bila dilihat dari Tabel 8 ternyata kecenderungan Jenis Usaha yang paling dominan adalah usaha Jual Ikan sebanyak 64% karena memang program ini dikhususkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk masyarakat pesisir. Tabel 8. Kategori Jenis Usaha Anggota 2) No. Jenis Usaha 1. 2. 3. 4. Warungan Pertanian Peternakan Jual Ikan Jumlah Jumlah (Anggota) 23 7 1 54 85 Persentase (%) 27 8 1 64 100 Usia Anggota Koperasi Berdasarkan usia responden, penyaji membagi kedalam empat kelompok usia yaitu seperti keterangan pada Tabel 9. Pembagian kedalam empat kelompok usia yaitu usia 24-28 tahun, 29-33 tahun, 34-38 tahun dan 39-43 tahun anggota termuda berusia 24 tahun dan tertua berusia 43 tahun. Komposisi Usia anggota dari kuesioner dan wawancara dengan anggota koperasi pola Grameen Bank di Kabupaten Tuban dapat dilihat juga pada Tabel 9. Komposisi usia jenis usaha Warungan dominan berada pada rentang usia 29-33 tahun Sebanyak 82,6%. Sama halnya dengan Pertanian : Peternakan : Jual Ikan, ketiganya dominan berada pada rentang usia 29-33 tahun sebanyak 85% : 100% : 44%. Tabel 9 menunjukkan bahwa anggota Koperasi LEPP-M3 pola Grameen Bank keseluruhannya memiliki usia yang produktif. Tabel 9. Komposisi Usia Usia Anggota (Tahun) 24 - 28 29 - 33 34 -38 39 - 43 Warungan Jumlah (%) (anggota) 2 8,7 19 82,6 2 8,7 0 0 Pertanian Jumlah (%) (anggota) 1 14,3 6 85,7 0 0 0 0 48 Peternakan Jumlah (%) (anggota) 0 0 1 100 0 0 0 0 Jual Ikan Jumlah (%) (anggota) 3 5,6 24 44,4 18 33,3 9 16,7 Jumlah 23 3) 100 7 100 1 100 54 100 Pendidikan Terakhir Berdasarkan komposisi pendidikan terakhir pada Tabel 10 dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan terakhir jenis usaha Warungan, Pertanian, Peternakan dan Jual Ikan adalah SLTP, yaitu berturut-turut 100%, 85,7%, 100% dan 100% hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat pendidikan penerima kredit pola Grameen Bank memiliki tingkat pendidikannya hanya sampai SLTP. Tabel 10. Tingkat Pendidikan Terakhir Anggota Tingkat Pendidikan SD SLTP SLTA PT Jumlah Warungan Jumlah (%) (anggota) 0 0 23 100 0 0 0 0 23 100 Pertanian Jumlah (%) (anggota) 1 14,3 6 85,7 0 0 0 0 7 100 Peternakan Jumlah (%) (anggota) 0 0 1 100 0 0 0 0 1 100 Jual Ikan Jumlah (%) (anggota) 0 0 54 100 0 0 0 0 54 100 4.5.2. Deskripsi Tingkat Pengetahuan Anggota Tabel 11 menunjukkan tanggapan anggota terhadap Penjelasan Pengurus mengenai Proses pemberian kredit pola Grameen Bank ditunjukkan oleh persentase anggota yang memilih cukup 29% : baik 66% : sangat baik 5% responden. Mengenai penjelasan pengurus terhadap proses menjadi anggota responden menilai baik dengan persentase responden yang menilai cukup 35% : baik 45% : sangan baik 20%. Dalam Frekuensi pertemuan yang didapat dalam proses pembentukan kelompok dinilai baik oleh mayoritas responden dengan prosentase sebesar 56% dan responden yang menilai sangat baik 34%. Tabel 11. Pengetahuan Anggota Terhadap Koperasi LEEP-M3 Pola Grameen Bank Kode Kriteria Tingkat Pengetahuan Buruk 49 Frekuensi Kurang Cukup Baik Sangat Baik Penjelasan Pengurus mengenai Proses pemberian kredit pola Grameen Bank Proses Kredit jumlah Responden (%) Proses Anggota Kejelasan pengurus terhadap proses menjadi anggota jumlah Responden (%) Frekuensi Pertemuan Frekuensi pertemuan yang didapat dalam proses pembentukan kelompok jumlah Responden (%) Peranan Peranan/kesungguhan pihak pengurus, masyarakat dan tokoh masyarakat dalam proses pembentukan kelompok jumlah Responden (%) Kepuasan penjelasan pengurus terhadap kendala yang akan ditemui saat menjadi anggota Koperasi LEPP-M3 jumlah Responden (%) 0 0 25 56 4 0 0 29 66 5 0 0 30 38 17 0 0 35 45 20 4 0 4 48 29 5 0 5 56 34 0 0 34 33 18 0 0 40 39 21 4 4 14 33 30 5 5 16 39 35 Pengetahuan anggota mengenai Peranan/kesungguhan pihak pengurus, masyarakat dan tokoh masyarakat dalam proses pembentukan kelompok dinilai cukup baik 40% tidak berbeda jauh dengan skala baik yaitu 39% dan sangat baik 21%, sedangkan tanggapan anggota mengenai penjelasan pengurus terhadap kendala yang akan ditemui saat menjadi anggota Koperasi LEPP-M3 responden menilai baik dengan 39% baik, 35% baik sekali, 16% cukup, 5% kurang dan buruk 5%. Dari semua penjelasan tersebut dapat diidentifikasikan bahwa pengurus Koperasi LEEP-M3 Pola Grameen Bank memiliki kontribusi terhadap peningkatan pengetahuan anggota koperasi pola Grameen Bank dapat dilihat pada Gambar 14. 50 Tabel 12. Tingkat Pengetahuan Ukuran Pemusatan ≥ Median < Median Frekuensi Kemunculan Persentas e 64 75,29 21 24,71 Kategor i Baik Buruk Untuk mengidentifikasikan tingkat pengetahuan anggota koperasi pola Grameen Bank dijawab melalui deskriptif statistik dengan menggunakan nilai pemusatan (median) dan tabel/grafik. Deskripsi data variabel tingkat pengetahuan terdapat jumlah responden 85 anggota Koperasi LEPP-M3 pola Grameen Bank yang mengisi kuesioner. Data hasil olahan menggunakan nilai pemusatan (Lampiran 3) didapat titik tengah (median) = 19 maka untuk mengukur tingkat pengetahuan diukur bila: (1) ≥ Median maka pengetahuan baik; (2) < Median maka pengetahuan buruk. Deskriptif statistik tingkat pengetahuan dihasilkan frekuensi kemunculan ukuran pemusatan ≥ titik median sebanyak 64 kemunculan. Lebih spesifik dapat dilihat analisa kuantitatif ukuran pemusatan median (Tabel 12) diketahui bahwa 75.29% peserta koperasi Grameen Bank memiliki pengetahuan yang baik mengenai pemberian kredit pola Grameen Bank. 51 Gambar 14. Grafik Tingkat Pengetahuan 4.5.3. Deskripsi Tingkat Penerapan Kredit Pola Grameen Bank Tabel 13 menunjukkan bahwa Pembinaan Pengurus terhadap cara penggunaan pemberian kredit pola Grameen Bank dalam kegiatan usaha yang dijalankan yaitu ditunjukkan oleh persentase responden yang memilih buruk 5% : kurang 5% : cukup 26% : baik 44% : sangat baik 20%. Cara pengembalikan pinjaman/cicilan kredit pola Grameen Bank yang diterapkan pengurus responden menilai cukup dengan persentase responden yang menilai buruk 5% : cukup 39% : baik 29% : sangan baik 27% dimana anggota menyicilnya per tiap minggu pertemuan kelompok dan jika salah satu anggota ada yang tidak bisa membayar maka anggota yang lain yang meminjamkan dulu cara ini biasa disebut prinsip tanggung rentan oleh anggota terhadap pinjamannya. Mengenai bunga pinjaman yang diterapkan dalam pemberian kredit pola Gramen bank dalam hal kesanggupan membayar dinilai baik oleh 52 mayoritas responden dengan prosentase sebesar 63% dan responden yang menilai sangat baik 26%. Tabel 13. Penerapan Kredit Pola Grameen Bank Kode Kriteria Tingkat Penerapan Cara Penggunaan Pembinaan Pengurus terhadap cara penggunaan pemberian kredit pola Grameen Bank dalam kegiatan usaha yang dijalankan Kemampuan bayar Cara Pemanfaatan 4 22 38 17 5 5 26 44 20 4 0 33 25 23 jumlah Responden (%) 5 0 39 29 27 Bunga pinjaman yang diterapkan dalam pemberian kredit pola Gramen bank dalam hal kesanggupan membayar 0 4 5 54 22 jumlah Responden (%) 0 5 6 63 26 Pembinaan pengurus dalam cara menjaga/melestarikan pinjaman agar bermanfaat bagi kehidupan diri, keluarga dan orang lain 0 4 16 46 19 0 5 19 54 22 0 9 9 36 31 0 11 11 42 36 Cara pengembalikan pinjaman/cicilan kredit pola Grameen Bank yang diterapkan pengurus jumlah Responden (%) Tingkat Pembinaan Sangat Baik 4 jumlah Responden (%) Cara Pengembalian Frekuensi Buruk Kurang Cukup Baik Pembinaan yang didapat anggota dari pengurus Koperasi LEPP-M3 khususnya bagi perkembangan usaha % jumlah Responden (%) Pembinaan pengurus dalam cara menjaga/melestarikan pinjaman agar bermanfaat bagi kehidupan diri, keluarga dan orang lain dinilai baik 54% sedangkan skala baik sekali yaitu 22%, mengenai Pembinaan yang didapat anggota dari pengurus Koperasi LEPP-M3 khususnya bagi perkembangan usaha responden menilai baik dengan 42% baik, 36% baik sekali, 11% cukup, 11% kurang dan buruk 0%. Tabel 14. Tingkat Penerapan Kredit Pola Grameen Bank 53 Frekuensi Ukuran Pemusatan Kemunculan Persentase Kategori ≥Median 55 64.71 1 Rtab) Reliability Coefficients 6.5756 5.4378 4.7345 5.6821 3.6787 0.2535 0.4792 0.5345 0.4251 0.6827 5 items Correlation between forms 0.7076 Guttman Split-half * Alpha for part 1 0.8286 0.4216 *Kriteria reabilitas 0,80 – 1,00 0,60 – 0,80 0,40 – 0,60 0,20 – 0,40 0,00 – 0,20 Corrected Item-Total Correlation (Rhit) Equal-length SpearmanBrown Unequal-length SpearmanBrown Alpha for part 2 0.8287 0.8336 0.4932 sangat tinggi tinggi cukup tinggi rendah sangat rendah (tidak berkorelasi). 85 Squared Multiple Correlation Alpha if Item Deleted 0.1828 0.7053 0.568 0.7328 0.6024 0.7313 0.6607 0.6345 0.6806 0.5572 Lampiran 6. (Lanjutan) B. Penerapan Pemberian Kredit Pola Grameen Bank Penerapan Pemberian Kredit Pola Greenman Mean Std Dev Cases B1 3.7059 0.9979 85 B2 3.7412 1.0136 85 B3 4.1059 0.7075 85 B4 3.9412 0.7769 85 B5 4.0471 0.95 85 Correlation Matrix B1 B2 B3 B4 B5 B1 1 B2 0.0062 1 B3 0.0615 0.4205 1 B4 0.2692 0.449 0.228 1 B5 0.3036 0.1859 0.2405 0.3586 1 N of Cases = 85.0 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation (Rhit) Squared Multiple Correlation Alpha if Item Deleted B1* 15.8353 5.8059 0.2272 0.14 0.6365 B2* 15.8 5.1857 0.3641 0.3226 0.5613 B3* 15.4353 6.1297 0.3608 0.2043 0.5656 B4* 15.6 5.3857 0.5282 0.316 0.4851 B5* 15.4941 5.2053 0.4121 0.2014 0.5322 r-tabel 0.1786 (N-2),0.05 *Valid (Rhit>Rtab) Reliability Coefficients 5 items Correlation between forms 0.5136 Equal-length Spearman-Brown 0.6786 Guttman Split-half * 0.6669 Unequal-length Spearman-Brown 0.6853 Alpha for part 1 0.3266 Alpha for part 2 0.5202 *Kriteria reabilitas 0,80 – 1,00 sangat tinggi 0,60 – 0,80 tinggi 0,40 – 0,60 cukup tinggi 0,20 – 0,40 rendah 0,00 – 0,20 sangat rendah (tidak berkorelasi). 86 Lampiran 6. (Lanjutan) C. Manfaat Penerapan Pemberian Kredit Pola Grameen Bank Manfaat Penerapan Pemberian kredit pola Grameen Bank Mean Std Dev Cases C1 3.9882 0.994 85 C2 3.8 1.1318 85 C3 4.4 0.727 85 Correlation Matrix C1 C2 C3 C1 1 C2 0.6434 1 C3 0.402 0.5324 1 N of Cases = 85.0 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation (Rhit) Squared Multiple Correlation Alpha if Item Deleted C1* 8.2 2.6857 0.6227 0.4189 0.6525 C2* 8.3882 2.0975 0.7089 0.5034 0.554 C3* 7.7882 3.7165 0.5198 0.2895 0.779 r-tabel 0.1786 (N-2),0.05 *Valid (Rhit>Rtab) Reliability Coefficients 5 items Correlation between forms 0.5198 Equal-length Spearman-Brown 0.6841 Guttman Split-half * 0.5111 Unequal-length Spearman-Brown 0.7032 Alpha for part 1 0.779 Alpha for part 2 *Kriteria reabilitas 0,80 – 1,00 sangat tinggi 0,60 – 0,80 tinggi 0,40 – 0,60 cukup tinggi 0,20 – 0,40 rendah 0,00 – 0,20 sangat rendah (tidak berkorelasi). 87 Lampiran 7. Pendapatan Bersih Bulanan Usaha Kecil Sebelum dan Sesudah Memperoleh Kredit Nomor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 pendapatan sebelum (Rp) pendapatan sesudah (Rp) 450000 600000 650000 800000 500000 750000 480000 700000 470000 600000 680000 700000 560000 700000 440000 700000 500000 600000 500000 800000 600000 900000 660000 850000 570000 700000 490000 800000 700000 900000 620000 850000 540000 750000 570000 750000 470000 650000 450000 750000 450.000 850.000 550.000 800.000 700.000 900.000 450.000 750.000 520.000 800.000 590.000 850.000 680.000 700.000 680.000 800.000 620.000 680.000 670.000 850.000 500.000 700.000 500.000 900.000 450.000 750.000 450.000 750.000 700.000 800.000 650.000 800.000 660.000 850.000 450.000 750.000 88 Lampiran 7. (Lanjutan) Nomor 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 pendapatan sebelum (Rp) pendapatan sesudah (Rp) 500.000 850.000 500.000 800.000 650.000 750.000 460.000 600.000 460.000 800.000 450.000 600.000 600.000 700.000 600.000 650.000 650.000 750.000 560.000 800.000 500.000 800.000 560.000 700.000 540.000 750.000 550.000 800.000 450.000 600.000 750.000 900.000 560.000 800.000 650.000 650.000 490.000 500.000 490.000 750.000 480.000 800.000 550.000 600.000 560.000 600.000 580.000 750.000 760.000 900.000 600.000 700.000 600.000 750.000 500.000 900.000 450.000 600.000 460.000 500.000 560.000 900.000 500.000 800.000 520.000 690.000 500.000 900.000 450.000 500.000 450.000 550.000 89 Lampiran 7. (Lanjutan) Nomor pendapatan sebelum (Rp) pendapatan sesudah (Rp) 75 490.000 750.000 76 500.000 800.000 77 600.000 650.000 78 650.000 900.000 79 650.000 850.000 80 480.000 850.000 81 480.000 750.000 82 500.000 800.000 83 500.000 800.000 84 650.000 900.000 85 650.000 780.000 Sumber : Data Kuesioner 85 Responden tahun 2011 90 ABSTRACT Enny Syafrida Marpaung. The impact of credit by Grameen Bank scheme from Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3) Cooperative on coastal communities income in Tuban District. This thesis is Supervised by Ma’mun Sarma as Chairman and W.H. Limbong as Member. Coastal communities consist of fishermen, fish farmer, fish manufacturers and traders, and other communities which its social and economies depend on marine and fisheries resources. Over 32% of its population, which is two times higher than national poverty line, is categorised as poor. One of the main factor which contributes why coastal communities cannot improve their economy is low capital. This is because they have limited access to capital and it might be true that bank give limited credit facilities to fisheries stakeholders. The objectives of this research are to: (1) identify the implementation process of Grameen Bank credit scheme from LEPP-M3 Tuban cooperative; (2) identify constrains faced in giving credit on Grameen Bank scheme; (3) identify benefit offered in giving credit on Grameen Bank scheme; and (4) analyse the impact of giving credit on Grameen Bank scheme on coastal communities income. The sampling technique used is Cluster Sampling technique. This technique is sample collecting technique which is based on subject groups between one to other groups and not to individuals without any level. Respondent as data sources in each village groups is selected by accidental sampling method. This means that respondents selected from each group do not have any specific criteria. Descriptive Statistics, Multiple Linier Regression Analysis and Hypothesis Testing have been carried out to answer the research objective. These Statistics and Analysis have been done to find out the level of knowledge of all members, the level of program implementation and the level of benefits received by members. Meanwhile, the Hypothesis Testing is used to find out the absolute effects in net income of small enterprises before and after Grameen Bank credit scheme has been given. This effects is analysed Paired t-Test. The results show that the level of knowledge of the members to the LEPP-M3 Cooperative of Grameen Bank scheme is very good. The implementation of Grameen Bank scheme helps greatly the communities in improving their business with reasonable requirements that are not burden to its members. Furthermore, another benefit of Grameen Bank lending scheme for their members is to raise their capital with credit facilities, and they are also accustomed to saving. In installment payments, members do not have to go to the cooperatives LEPP-M3, but cooperative management will visit a weekly meeting place which has been determined. Meanwhile, the results of Paired Samples Test indicate that there a positive correlation between the income of small enterprises before and after Grameen Bank Program. This means that by Grameen Bank scheme from the LEPP-M3 Cooperative Tuban, the income of small businesses increase. Keywords : Grameen Bank, government, micro credit, poverty reduction. ii RINGKASAN Enny Syafrida Marpaung. Analisis Dampak Pemberian Kredit Pola Grameen Bank terhadap Peningkatan Pendapatan Usaha Kecil Masyarakat Pesisir oleh Koperasi Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3) di Kabupaten Tuban. Di bawah bimbingan Ma’mun Sarma sebagai Ketua dan W.H. Limbong sebagai Anggota. Masyarakat pesisir terdiri atas nelayan, pembudidaya ikan, pengolah dan pedagang hasil laut, serta masyarakat lainnya yang kehidupan sosial ekonominya tergantung pada sumberdaya perikanan dan kelautan. Jumlah masyarakat pesisir berdasarkan hasil studi Smeru adalah 16,48 juta jiwa. Jumlah ini diperkirakan meningkat mencapai 20 juta jiwa yang saat ini tersebar di lebih dari 10.666 desa pesisir di seluruh Indonesia. Poverty Headcount Index (PHI) masyarakat pesisir adalah 0,3214. Artinya, lebih dari 32% dari penduduk di wilayah pesisir masih tergolong miskin atau dua kali rata-rata tingkat kemiskinan nasional. Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) dengan sistem peminjaman (Cash Collateral) kepada Bank Pelaksana yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang telah berjalan selama 4 tahun yaitu sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2007. Dalam kurun waktu tersebut telah terbentuk sekitar 277 Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang terdapat di seluruh wilayah pesisir di Indonesia. Namun demikian, meskipun LKM sebagai salah satu alternatif lembaga penyedia dana untuk kegiatan usaha masyarakat pesisir telah berperan maksimal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat pesisir terhadap modal, namum tetap saja masih ada segmen masyarakat yang belum tersentuh dampak keberadaan LKM tersebut. Hal ini disebabkan karena sistem yang diterapkan oleh LKM masih mensyaratkan agunan sehingga masyarakat yang tidak memiliki agunan belum dapat memanfaatkan LKM sebagai solusi dalam mengatasi ketiadaan modal usaha mereka. Menyadari akan keadaan tersebut, maka mulai tahun 2007 mengenalkan sistem skim kredit yang bisa diakses oleh kaum miskin dengan tanpa agunan dan syarat yang tidak memberatkan, iii yaitu sistem Grameen Bank yang merupakan ide dan terobosan terbesar dari Prof. Muhammad Yunus dari Bangladesh. Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk: (1) Mengetahui proses penerapan sebagai gambaran umum pemberian kredit pola Grameen Bank oleh koperasi LEPP-M3 Tuban; (2) Mengidentifikasi kendala- kendala apa saja yang dihadapi dalam pemberian kredit pola Grameen Bank; (3) Mengidentifikasi tingkat pengetahuan, Peranan dan manfaat apa saja yang didapat dalam penerapan pemberian kredit pola Grameen Bank; (4) Menganalisis pengaruh pemberian kredit pola Grameen Bank terhadap peningkatan pendapatan usaha kecil masyarakat pesisir sebelum dan sesudah pelaksanaan pola Grameen Bank. Teknik penarikan sampling yang digunakan adalah teknik Cluster Sampling. Responden sebagai sumber data pada tiap kelompok desa dipilih dengan metode accidental sampling. Artinya responden yang dipilih pada tiap kelompok tidak dengan spesifikasi khusus. Dalam menjawab tujuan penelitian menggunakan cara yaitu Deskriptif Statistik, Analisis Regresi Linear Berganda dan pengujian Hipotesis. Deskriptif Statistik dan Analisis Regresi Linear Berganda untuk mengetahui tingkat pengetahuan anggota, tingkat penerapan program dan tingkat manfaat yang didapat anggota. Hipotesis untuk mengetahui pengaruh mutlak pendapatan bersih pada para usaha-usaha kecil sebelum dan sesudah pemberian kredit pola Grameen Bank dianalisis menggunakan uji t berpasangan (Paired t-Test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan anggota terhadap Koperasi LEPP-M3 pola Grameen Bank sangat baik, penerapan Kredit Pola Grameen Bank sangat membantu masyarakat dalam meningkatkan usahanya dengan syaratsyarat yang tidak memberatkan anggotanya sedangkan manfaat yang didapat dari Pemberian Kredit Pola Grameen Bank bagi anggota bisa untuk menambah permodalan dengan adanya bantuan kredit, di samping itu mereka juga dibiasakan untuk menabung. Dalam pembayaran cicilan anggota dimudahkan dengan tidak perlu mendatangi Koperasi LEPP-M3 tetapi pengurus koperasi yang mendatangi tempat di mana pertemuan kelompok setiap minggunya ditentukan. Sedangkan hasil analisis Paired Samples Test didapat bahwa pendapatan usaha kecil Sebelum dan Sesudah iv Program Greeman Bank terdapat perbedaan pendapatan sebelum dan sesudah progam. Berarti dapat dikatakan bahwa dengan adanya pemberian kredit pola Grameen Bank dari Koperasi LEPP-M3 Tuban pendapatan usaha kecil mengalami peningkatan. v I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Masyarakat pesisir terdiri atas nelayan, pembudidaya ikan, pengolahan dan pedagang hasil laut, serta masyarakat lainnya yang kehidupan sosial ekonominya tergantung pada sumberdaya perikanan dan kelautan. Jumlah masyarakat pesisir berdasarkan hasil studi Smeru (2003) adalah 16,48 juta jiwa. Jumlah ini diperkirakan meningkat mencapai 20 juta jiwa yang saat ini tersebar di lebih dari 10.666 desa pesisir di seluruh Indonesia. Poverty Headcount Index (PHI) masyarakat pesisir adalah 0,3214. Artinya, lebih dari 32% dari penduduk di wilayah pesisir masih tergolong miskin atau dua kali rata-rata tingkat kemiskinan nasional (KKP, 2009). Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) dengan sistem peminjaman (Cash Collateral) kepada Bank Pelaksana yang dilaksanakan oleh Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang telah berjalan selama 4 tahun yaitu sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2007. Dalam kurun waktu tersebut telah terbentuk sekitar 277 Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang terdapat di seluruh wilayah pesisir di Indonesia termasuk di Kabupaten Tuban. Hal ini tentu saja merupakan suatu prestasi yang cukup menggembirakan karena dengan berdirinya LKM tersebut, masyarakat pesisir dapat lebih mudah dalam mengakses dana untuk menambah modal usaha mereka (Sunaryanto, 2009). Di lain pihak, meskipun masyarakat pesisir menjadi lebih mudah dalam mengakses modal, tetapi LKM harus tetap memperhatikan persyaratan dalam peminjaman yaitu harus adanya agunan (jaminan) seperti syarat peminjaman di bank pada umumnya. Agunan ini dianggap perlu karena untuk mengatasi apabila terjadi kemacetan pengembalian diakibatkan oleh kurang menentunya produktifitas masyarakat pesisir dalam kurun waktu setahun, dimana sebanyak 8 bulan produktif dan 4 bulan dianggap kurang produktif. Hal ini tentu saja sedikit banyak menjadi 1 masalah bagi masyarakat pesisir, khususnya yang tidak memiliki barang atau surat berharga yang dapat dijadikan agunan. Permasalahan yang umum dihadapi oleh masyarakat pesisir berkaitan dengan akses modal adalah tidak memiliki agunan sehingga tidak dapat mengakses modal pada LKM program PEMP. Meskipun ada masyarakat pesisir yang mendapat pinjaman tanpa agunan, tetapi jumlahnya tidak banyak dan hanya tergantung dari rekomendasi dewan komite dari LKM. Menyadari akan keadaan tersebut, Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir mulai tahun 2007 mengenalkan sistem skim kredit yang bisa diakses oleh kaum miskin dengan tanpa agunan dan syarat yang tidak memberatkan. Skim kredit memiliki pola berbanding terbalik dengan pola perbankan yaitu sistem Grameen Bank yang merupakan ide dan terobosan terbesar dari Prof. Muhammad Yunus dari Bangladesh (KKP, 2009). Lembaga keuangan mikro Bangladesh Grameen Bank, yang didirikan oleh peraih Nobel Ekonomi tahun 2006 Dr. Muhammad Yunus tersebut telah berhasil menjadi penggerak roda perekonomian suatu negara. Grameen Bank menjadi contoh bagi negara-negara lainnya. Hampir 97% dari nasabah Grameen Bank yang berjumlah total 25 juta adalah wanita, karena wanita itu berorientasi pada keluarga. Wanita akan mempertimbangkan keluarga dan anakanaknya sebelum bertindak (Shahjahan, 2011). Gerakan pemberdayaan masyarakat miskin menurut filosofi Grameen Bank tidak hanya disebabkan oleh minimnya keterampilan seseorang, karena keterampilan seseorang tidak berbanding lurus dengan kualitas hidup. Jadi kualitas hidup yang baik selain memerlukan keterampilan juga dana untuk hal demikian. Kalaupun ada sumbangan atau hibah tidak memerlukan pertanggungjawaban bahkan malah menciptakan ketergantungan. inisiatif dan kreatifitas. Keluarnya seseorang dari kemiskinan menuntut Grameen Bank merancang kredit mikro berbasis kepercayaan bukan kontrak legal. Metodologi ini dirancang guna mendorong rasa tanggung jawab dan solidaritas terhadap sesama peminjam dalam suatu komunitas. Grameen Bank telah berhasil mengembangkan konsep community building (pengembangan komunitas), dengan penguatan dari sisi pembinaan mingguan, serta pemberlakuan konsep tanggung-renteng dalam satu kelompok. (KKP, 2009). 2 Penelitian ini berangkat dari fenomena keberhasilan Grameen Bank dengan indikator ekonomi (berkembangnya usaha anggotanya, pendapatan bertambah, lancar dalam pengembalian, meningkatnya jumlah tabungan). Grameen Bank telah direplikasikan sejak tahun 2007 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk membantu perekonomian masyarakat pesisir dengan memberikan kredit dan juga pelatihan keterampilan-keterampilan untuk membantu perekonomian keluarga mereka. Kabupaten Tuban adalah salah satu kabupaten yang menerapkan Grameen Bank yang merupakan bagian dari koperasi perikanan dan kelautan Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3) Kabupaten Tuban yang memiliki unit usaha yaitu unit simpan pinjam swamitra mina dan unit simpan pinjam pola Grameen Bank, dan penelitian ini dapat melihat pengaruh Grameen Bank terhadap Peningkatan Pendapatan Usaha Kecil Masyarakat Pesisir oleh Koperasi LEPP-M3 di Kabupaten Tuban. 1.2. Perumusan Masalah Kabupaten Tuban adalah salah satu Kabupaten yang dipilih oleh Departemen Kelautan dan Perikanan untuk mengenalkan skim kredit pola Grameen Bank. Kabupaten Tuban adalah suatu Kabupaten di Jawa Timur, Ibu Kotanya berada di Kota Tuban. Luasnya adalah 1.904,70 km2 dan panjang pantai mencapai 65 km dengan penduduk berjumlah 1 juta jiwa. Lokasi target yang ditetapkan untuk cakupan wilayah pola Grameen Bank: (1) Desa Leran Kec. Palang; (2) Desa Mondokan Kec. Tuban; (3) Desa Penambangan Kec. Semanding; (4) Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding; (5) Dusun Tlogo Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding; (6) Dusun Princik Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding; (7) Dusun Jarum Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding. Dari uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang penelitian, maka dirumuskan permasalahan yang akan dianalisis adalah : 1. Bagaimana penerapan pemberian kredit pola Grameen Bank oleh koperasi LEPP-M3 Tuban? 3 2. Apakah kendala-kendala yang dihadapi dalam pemberian kredit pola Grameen Bank? 3. Apakah pengetahuan, Penerapan dan manfaat yang didapat dalam pemberian kredit pola Grameen Bank? 4. Bagaimana Pengaruh pemberian kredit pola Grameen Bank terhadap peningkatan pendapatan usaha kecil masyarakat pesisir? 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan pelaksanaan tugas akhir ini adalah: 1. Mengetahui proses penerapan sebagai gambaran umum pemberian kredit pola Grameen Bank oleh koperasi LEPP-M3 Tuban. 2. Mengidentifikasi kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam pemberian kredit pola Grameen Bank. 3. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan, peranan dan manfaat apa saja yang didapat dalam penerapan pemberian kredit pola Grameen Bank. 4. Menganalisis pengaruh pemberian kredit pola Grameen Bank terhadap peningkatan pendapatan usaha kecil masyarakat pesisir sebelum dan sesudah pelaksanaan pola Grameen Bank. 4 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Grameen Bank Hadiah Nobel perdamaian bagi Muhammad Yunus dengan Grameen Banknya di Bangladesh, memberikan pelajaran akan pentingnya institusi keuangan mikro bagi kaum miskin, khususnya dikalangan kaum perempuan. Hal penting lain yang dapat kita ketahui adalah bahwa perempuan memegang peranan penting dalam mentransfer kredit mikro ke keluarga dan lebih lanjut mengentaskan keluarga dari kemiskinan. Hal ini mengingat bahwa 97 persen nasabah Grameen Bank adalah perempuan. Program kredit mikro, yang memberikan akses kredit yang lebih luas kepada kaum miskin, telah dianggap sebagai suatu program kunci bagi upaya pemberantasan kemiskinan, mengingat selama ini masyarakat miskin mendapat banyak halangan untuk mengakses sistem atau lembaga perbankan lainnya. Program kredit mikro Grameen Bank, yang bermula dari pilot proyek kecilkecilan yang dijalankan dengan bantuan mahasiswa-mahasiswa M. Yunus yang semuanya berasal dari daerah setempat. Gagasan ini yang bermula di desa Jobra sebuah desa kecil di Bangladesh yang bersebelahan dengan Chittagong University tempat M. Yunus mengajar. Dekatnya dengan desa Jobra menjadikan sebuah pilihan sempurna bagi M. Yunus untuk mata kuliahnya yang baru dan memutuskan untuk menjadi mahasiswa kembali dan warga Jobralah yang akan menjadi dosen-dosen-nya untuk belajar sebanyak mungkin tentang desa tersebut. Universitas – universitas yang ada sekarang menciptakan kesenjangan hebat antara mahasiswanya dengan kenyataan hidup sehari-hari di Bangladesh. M. Yunus ingin mengajari mahasiswanya cara memahami kehidupan orang miskin. Perjalanan berulang kali ke pedesaan di sekitar kampus Chittagong Unversity membuahkan temuan-temuan yang penting dalam mendirikan Grameen Bank. Kaum miskin mengajarkan ilmu ekonomi yang sepenuhnya baru. Dengan mempelajari masalah-masalah yang mereka hadapi dari perspektif mereka sendiri dengan mencoba banyak hal ada yang berjalan lancar ada yang tidak, salah satu yang berjalan baik adalah menawari sedikit pinjaman kepada 5 masyarakat untuk membangun usaha mandiri. Pinjaman ini menyediakan titik awal bagi industri rumah tangga dan kegiatan-kegiatan lain untuk meningkatkan pendapatan yang memanfaatkan keterampilan yang sudah dimiliki oleh masyarakat peminjam itu sendiri. M. Yunus tidak pernah menbayangkan bahwa program kredit mikro ini akan menjadi basis bagi “bank untuk kaum miskin” berskala nasional yang melayani 2,5 juta orang, dan diadaptasi di lebih dari 114 negara di 5 benua. Saat ini telah berkembang dan menjangkau tujuh juta orang miskin di 73.000 desa Bangladesh, 97 persen diantaranya perempuan. Grameen Bank memberikan kredit bebas agunan untuk mata pencaharian, perumahan, sekolah dan usaha mikro untuk keluarga-keluarga miskin dan menawarkan setumpuk program tabungan yang atraktif, dana pensiun, dan asuransi untuk para anggotanya. Sejak diperkenalkan tahun 1984, kredit perumahan telah membangun 640.000 rumah. Kepemilikan legal rumah- rumah ini menjadi hak para perempuan itu sendiri. Secara kumulatif, Grameen Bank telah memberikan kredit sebesar sekitar US$ 6 miliar dengan tingkat pengembaliannya 99 persen dan telah mampu mengangkat 58 persen nasabah dari garis kemiskinan. Grameen Bank telah memperoleh pengakuan dari pemerintah Bangladesh dan telah dipayungi oleh satu undang-undang tersendiri (Yunus, 1997) 2.2. Metode Pemberian kredit pola Grameen Bank Grameen Bank mempunyai pengertian bank desa, kata grameen merupakan bahasa Bengali berarti desa. Bank yang awalnya mengkhususkan untuk menyalurkan kredit bagi masyarakat miskin desa Jobra dan sekitarnya di wilayah Chittagong, Bangladesh dalam kurun waktu 1976-1979. Grameen Bank merupakan sistem kredit mikro yang direncanakan dan dijalankan pertama kali oleh Dr. Muhammad Yunus dari Chittagong University pada tahun 1976 dengan pendekatan yang ramah dengan orang miskin. Latar belakang yang mendasari Dr. Muhammad Yunus mendirikan dan menjalankan kredit mikro Grameen Bank adalah: (1) Banyak orang miskin di desa terlilit hutang pada rentenir, (2) Orang miskin dalam berusaha tidak bisa mengakses modal ke lembaga keuangan resmi, (3) Kredit di lembaga keuangan menggunakan 6 agunan yang tidak dimiliki orang miskin, (4) tidak ada produk pinjaman/kredit yang ramah terhadap orang miskin (KKP, 2009). Dan sampai saat ini skim kredit sistem Grameen Bank telah berkembang pesat di Bangladesh bahkan sekarang sistem ini telah diadopsi oleh lebih dari 114 negara dengan bantuan lembaga international PBB. Dan pada tahun 2006, Dr. Muhammad Yunus mendapatkan hadiah nobel perdamaian sebagai tokoh yang mengentaskan kemiskinan. 2.2.1. Falsafah Dasar Grameen Bank 1) Pemberian bantuan pada orang miskin yang didasari pada belas kasihan dan juga cuma-cuma (charity), tidak akan membantu orang miskin tersebut untuk lepas dari kemiskinannya. Sebaliknya justru akan menjerumuskan mereka ke dalam jurang kemiskinan yang lebih dalam. 2) Setiap pemberian bantuan pinjaman kepada orang miskin harus didasarkan pada keikhlasan dan juga pemdampingan yang terusmenerus. 3) Penyaluran kredit kepada orang miskin hanya sebagai entry point saja dari serangkaian kegiatan pendampingan yang ditujukan untuk penguatan kepada orang miskin (KKP, 2009). 2.2.2. Visi Gramen Bank dan Misi Grameen Bank Visi dari Grameen Bank adalah Bank untuk golongan termiskin. Adapun Misi dari Grameen Bank yaitu: 1) Atas dasar persamaan (HAM) 2) Membantu mereka yang benar-benar memerlukan 3) Membantu orang miskin keluar dari kemiskinannya 4) Pemberdayaan perempuan 5) Mendukung pembangunan yang menyeluruh 6) Memastikan kadar pembayaran yang tinggi 7 2.2.3. Prinsip Dasar Pemberian kredit pola Grameen Bank Prinsip dasar atau tata cara penyaluran kredit sistem Grameen Bank memiliki kriteria sebagai berikut: 1) Sasaran orang atau keluarga miskin khususnya perempuan 2) Pinjaman diberikan setelah adanya pendidikan secara terstruktur atau latihan wajib kumpulan 3) Pinjaman diberikan secara kelompok dan setiap kelompok terdiri dari 5 orang 4) Setiap minimal 2 kelompok membentuk satu center meeting sebagai tempat semua kegiatan 5) Pinjaman diberikan dengan pola 2 2 1 atau 3 2 sesuai dengan kebutuhan 6) Semua transaksi dilakukan di pertemuan center (center meeting) 7) Setiap transaksi pinjaman dikenakan biaya, yang dibayarkan oleh client dan dibayarkan bersamaan dengan angsuran 8) Pinjaman diberikan dengan jangka waktu yang cukup panjang sehingga dimanfaatkan secara maksimal 9) Angsuran dilakukan setiap seminggu sekali di center meeting 10) Selain produk pinjaman, juga dibuat produk tabungan untuk melatih anggota menyisihkan pendapatan untuk hal-hal yang lebih penting 11) Setelah lunas pinjaman pertama, maka client harus memperoleh pinjaman berikutnya sepanjang menunjukkan progress yang meningkat 12) Setiap kegiatan center meeting, dilakukan dengan motivasi baik berupa ikrar maupun pembaca do’a 13) Isi ikrar atau doa mencerminkan tujuan jangka panjang dari program dalam rangka meningkatkan kualitas hidup client di masa yang akan datang 14) Semua pelaksanaan program harus dilakukan secara professional dan transparan 8 15) Berbagai isu diluar kegiatan mikro kredit menjadi prioritas berikutnya setelah kegiatan utama berjalan dengan baik Kriteria lebih khusus sistem Grameen Bank sebagai berikut: 1) Sasaran khusus kepada golongan termiskin a) Golongan sasaran dikenal pasti dan jelas b) Termiskin diantara yang miskin 2) Sistem penyaluran modal, khusus dibuat untuk golongan termiskin a) Syarat pinjaman mudah b) Modal dibawa langsung kepada yang termiskin c) Perempuan sebagai sasaran d) Pendekatan secara berkumpulan e) Mengutamakan tanggung jawab bersama f) Pinjaman kecil-kecil g) Pinjaman berkelanjutan tergantung “rapor” h) Angsuran mingguan i) Ada tabungan j) Modal dipakai untuk usaha sesuai pilihannya sendiri k) Komitmen kepada latihan 3) Tenaga pelaksana professional dan terlatih a) Latihan dan proyek lapangan selama 6 bulan b) Latihan lebih bertumpu pada belajar sendiri 4) Program dilaksanakan dengan kaedah “perbankan” a) Tenaga pelaksana profesional b) Pinjaman dikenakan biaya administrasi c) Program dijalankan secara terbuka d) Pinjaman adalah pelanggan dan nantinya ikut memiliki saham di Grameen Bank 9 2.2.4. Proses Pengajuan Pinjaman (1) Anggota Center (2) (9) Staff Lapang (8) (7) (3) (6) Branch Manager Kasir (5) (4) Regional Gambar 1. Proses Pengajuan Pinjaman Dalam proses pengajuan pinjaman kredit pola Grameen Bank (Gambar 1) terdapat beberapa tahap-tahap berikut Penjelasannya: (1) Anggota yang mengajukan permohonan pinjaman tampil kedepan pertemuan center/rembung pusat. Sambil berdiri menghadap pada anggota center, yang bersangkutan secara lisan menyampaikan usulan pinjaman untuk mendapatkan persetujuan dari semua anggota. Usulan tersebut adalah jumlah pinjaman dan tujuan/rencana penggunaannya. (2) Apabila semua anggota telah menyetujui usulan tersebut, maka staf lapangan mencatat dalam Formulir Pengajuan Pinjaman (FPP), kemudian anggota yang bersangkutan menandatangani di ikuti oleh semua anggota kumpulan. (3) Staff lapang melapor kepada Manager Cabang disertai penjelasan mengenai identitas dan kelayakan anggota yang bersangkutan. (4) Manager Cabang akan mengajukan kepada regional Manager untuk mendapatkan jumlah pinjaman yang disetujui. 10 (5) Regional Manager akan mengembalikan formulir setelah menyetujui jumlah pinjaman. (6) Manager Cabang mengembalikan berkas usulan kepada staff lapang setelah diteliti dan ditanda tangani (untuk persetujuan). (7) Staff lapang menyerahkan berkas usulan pinjaman untuk mendapatkan uang pinjaman dan mempersiapkan: Formulir Permohonan Pinjaman (FPP), rincian angsuran, cacatan kejadian, pengajuan pinjaman Dana Tabungan Kumpulan dan buku pinjaman umum perorangan. (8) Staff lapang menerima uang sebelum berangkat ke pertemuan Center minggu berikutnya. (9) Realisasi pinjaman kepada anggota. Anggota penerima pinjaman menandatangani Formulir Penggunaan Pembiayaan (FPP) sebagai bukti tanda terima. (10) Satu minggu setelah pinjaman diberikan, ketua kumpulan dan ketua Center memeriksa penggunaan pinjaman anggotanya. Setelah mereka membubuhi tanda tangan dalam Formulir Pemeriksaan Penggunaan Pinjaman (FP3). Selanjutnya formulir tersebut disampaikan kepada staff lapang. 2.2.5. pembentukan Kelompok Pembentukan Kelompok merupakan tahap awal untuk terbentuknya sebuah kelompok. 1) Syarat-syarat kelompok: a) Perempuan miskin b) Umur anggota hampir sama c) Tingkat pendidikan hampir sama d) Tidak ada hubungan darah, misal : Ibu dan anak, adik dan kakak tidak bisa menjadi satu kelompok tapi harus beda kelompok e) Rumah berdekatan f) Anggota saling kenal satu dengan yang lainnya 11 g) Telah mendapatkan ijin dari suami ataupun keluarga. 2) Cara melakukan Pembentukan Kelompok (PK) : a) Kelompok yang mendaftar anggotanya hadir dengan membawa semua anggota kelompoknya yang telah dibentuk oleh mereka sendiri sebelumnya. b) Apabila anggota kelompoknya tidak lengkap maka kelompok tersebut tidak bisa didaftarkan. c) Kelompok tersebut akan diwawancarai langsung oleh Manager dan juga Field Officer (FO)/staff lapang yang telah ditugaskan di desa tersebut. d) Hal-hal yang disampaikan oleh Manager kepada kelompok dalam Pembentukan Kelompok, antara lain: 1. Memastikan tidak ada hubungan darah sesama anggota dalam kelompok tersebut. 2. Memastikan mereka saling mengenal secara pribadi maupun usaha masing-masing anggota. 3. Mamastikan pekerjaan dan tujuan dari pinjaman masing-masing calon anggota. 4. Menjelaskan jumlah pinjaman dan angsuran. 5. Kesanggupan untuk mengikuti Latihan Wajib Kumpulan ( LWK). 6. Kesanggupan untuk hadir di pertemuan center setiap minggunya. 7. Kesanggupan untuk system tanggung-renteng untuk anggota kelompoknya. 2.3. Pendapatan Pendapatan adalah kenaikan kotor dalam aset atau penurunan dalam liabilitas atau gabungan dari keduanya selama periode yang berakibat dari investasi yang halal, perdagangan, memberikan jasa, atau aktivitas lain yang bertujuan meraih keuntungan (Antonio, 2001). Dalam akuntansi, pendapatan merepresentasi capaian atau hasil dan biaya merepresentasi upaya. Dengan demikian, konsep upaya dan hasil mempunyai 12 implikasi bahwa pendapatan dihasilkan oleh biaya. Artinya hanya dengan biaya, pendapatan dapat tercipta. Pendapatan timbul karena peristiwa atau transaksi pada saat tertentu dan bukan karena proses selama satu periode (Suwardjono, 2005). Pendapatan baru dapat diakui setelah suatu produk selesai diproduksi dan penjualan benar-benar terjadi yang ditandai dengan penyerahan barang. Pendapatan belum dapat dinyatakan ada dan diakui sebelum terjadinya penjualan yang nyata. Sumber pendapatan dapat terjadi dari transaksi modal atau pendanaan (financing); laba dari penjualan aktiva seperti aktiva tetap, surat-surat berharga, atau penjualan anak atau cabang perusahaan; revaluasi aktiva; hadiah, sumbangan atau penemuan dan penyerahan produk perusahaan (hasil penjualan produk). Dari kelima hal yang disebutkan yang merupakan sumber utama pendapatan adalah hasil penjualan produk (Suwardjono, 2005). Pendapatan suatu usaha tergantung dari modal yang dimiliki, jika modal besar maka hasil produksi tinggi sehingga pendapatan yang didapat juga tinggi. Namun jika modal kecil maka hasil produksi rendah sehingga pendapatan yang diperoleh rendah. Untuk menambah modal usaha guna meningkatkan pendapatan maka dibutuhkan suatu pembiayaan. 2.4. Pengaruh Pemberian kredit pola Grameen Bank Terhadap Pendapatan Pendapatan adalah peningkatan jumlah aktiva atau penurunan kewajiban perusahaan yang timbul dari penyerahan barang/jasa atau kegiatan usaha lainnya (Mardiasmo, 1995). Pendapatan merupakan salah satu faktor penunjang usaha atau aktifitas untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan hidup. Hal ini mendorong manusia untuk melakukan kegiatan-kegiatan untuk eksistensi dirinya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Tindakan-tindakan ini dilakukan karena seiring terdorong oleh kuatnya minat dan keinginan manusia untuk memperhatikan hidupnya, dimana dalam hal ini terdapat persoalan bagaimana usaha yang diinginkannya. Untuk mendapatkan keinginan tersebut diperoleh suatu pendapatan sebagai penunjang. 13 Suatu pendapatan usaha tergantung dari besar kecilnya modal yang digunakan. Jika modal besar maka produk yang dihasilkan juga besar sehingga pendapatannya pun meningkat. Begitu juga sebaliknya jika modal yang digunakan kecil maka produk yang dihasilkan hanya sedikit dan pendapatan yang diperoleh juga sedikit. Untuk itu diperlukan pembiayaan untuk meningkatkan pendapatan usaha kecil. Peningkatan usaha kecil kunci utamanya adalah modal. Bagi usaha kecil, sering dijumpai pemerolehan modal diiringi dengan membayar bunga yang cukup tinggi dan diharuskannya jaminan. Sehingga pinjaman menjadi beban yang sewaktuwaktu dapat menjadi boomerang bila terjadi kemacetan angsuran dan tidak bisanya mendapatkan modal karena tidak ada benda berharga yang bisa dijaminkan. Pada umumnya pedagang kecil dan industri rumah tangga mempunyai margin (keuntungan) atau pendapatan yang cukup tinggi namun tidak bisa lepas dari keterbatasan modal. Untuk itu perlu adanya bantuan dalam pembiayaan. 2.5. Keadaaan Umum Masyarakat Pesisir Kemiskinan bukanlah suatu gejala baru bagi masyarakat Indonesia. Pada saat ini, walaupun sudah hidup dalam kemerdekaan selama puluhan tahun, yang dalam statusnya sebagai negara berkembang, kondisi kemiskinan itu selalu nyata di tengahtengah masyarakat, baik di kota maupun di desa. Masyarakat pesisir merupakan bagian dari masyarakat Indonesia yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dalam kebijakan pembangunan. Jika pada masyarakat petani terdapat berbagai program subsidi, seperti subsidi pupuk dan benih, maka pada masyarakat nelayan subsidi seperti itu hampir tidak pernah mereka peroleh. Memang di beberapa daerah kadang ada semacam bantuan peralatan tangkap untuk nelayan, namun sering tidak bisa dimanfaatkan oleh nelayan, karena kendala yang bersifat struktural seperti keharusan adanya agunan yang tidak mereka miliki serta sistem angsuran yang tidak sesuai dengan pola pendapatan mereka. Akibatnya, walaupun beberapa program sudah dijalankan oleh pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir namun tetap saja kehidupan masyarakat pesisir masih akrab dengan 14 kemiskinan, menghadapi sejumlah masalah politik, sosial dan ekonomi yang kompleks. Masalah-masalah tersebut di antaranya adalah sebagai berikut: (1) kemiskinan, kesenjangan sosial, dan tekanan-tekanan ekonomi yang datang setiap saat, (2) keterbatasan akses modal, teknologi, dan pasar, sehingga mempengaruhi dinamika usaha, (3) kelemahan fungsi kelembagaan sosial ekonomi yang ada, (4) kualitas SDM yang rendah sebagai akibat keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik, (5) degradasi sumberdaya lingkungan, baik di kawasan pesisir, laut, maupun pulau-pulau kecil, dan (6) belum kuatnya kebijakan yang berorientasi pada kemaritiman sebagai pilar utama pembangunan nasional (Kusnadi, 2009). Kemiskinan merupakan suatu konsep yang cair, dan bersifat multi dimensional. Disebut cair karena kemiskinan bisa bermakna subyektif, bermakna relatif, tetapi sekaligus juga bermakna absolut. Sedangkan disebut multidimensional, selain kemiskinan itu dapat dilihat dari sisi ekonomi, juga dari segi sosial, budaya dan politik. Dalam hal ini istilah kemiskinan itu lebih diartikan sebagai suatu kondisi yang serba kekurangan, yang merupakan suatu definisi umum yang digunakan untuk menjelaskan tentang kemiskinan. Pemerintah terus berupaya untuk mengurangi jumlah orang miskin di Indonesia. Untuk mendukung kebijakan tersebut diperlukan langkah-langkah yang tepat, agar upaya penanggulangan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai dengan maksimal. Sementara itu, masyarakat sendiri sebetulnya tidak tinggal diam. Mereka selalu berusaha dengan berbagai cara untuk keluar dari jerat kemiskinan yang membelenggu kehidupan mereka (Imron dan Manan, 2009). Bertolak dari pemikiran tersebut maka upaya penanggulangan kemiskinan harus didasarkan pada definisi kemiskinan yang jelas, penentuan garis kemiskinan yang tepat dan pemahaman yang jelas mengenai sebab-sebab timbulnya persoalan kemiskinan tersebut. Pada umumnya konsep kemiskinan lebih banyak dikaitkan dengan dimensi ekonomi. Kemiskinan juga dapat dikaitkan dengan dimensi sosial budaya dan sosial politik. Dalam dimensi ekonomi, kemiskinan dapat dilihat dalam bentuk ketidakmampuan suatu keluarga dalam memenuhi berbagai kebutuhan dasarnya, seperti pangan, sandang, perumahan dan kesehatan, yang secara kualitatif 15 hal ini dapat dilihat pada kondisi perumahan yang kumuh, perabotan rumah tangga yang seadanya, kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sandang dan kesehatan yang rendah, dan kondisi pendidikan yang juga rendah. Dalam kaitanya dengan dimensi sosial budaya, kemiskinan lebih sulit untuk diukur, dan tidak dapat dihitung dengan angka-angka. Meskipun demikian, dimensi sosial budaya dari kemiskinan itu dapat dilihat dan dirasakan, karena muncul dalam bentuk budaya kemiskinan misalnya, menyatakan adanya respon tertentu yang dilakukan oleh masyarakat miskin dalam menyikapi hidup, seperti boros dalam membelanjakan uang, mudah putus asa, merasa tidak berdaya, dan apatis. Semua ini merupakan budaya yang muncul karena kemiskinan yang dihadapi oleh generasi sebelumnya, dan diwariskan secara terusmenerus kepada generasi berikutnya, karena digunakan sebagai desain kehidupan bagi orang miskin untuk menyelesaikan permasalahan hidupnya. Budaya kemiskinan yang demikian itu sekaligus menjerumuskan mereka ke dalam kemiskinan yang lebih dalam, karena menghambat mereka untuk berjuang dalam melawan kemiskinan yang dialami. Adapun dalam dimensi sosial politik, kemiskinan muncul dalam bentuk terpinggirnya kelompok miskin dalam struktur sosial yang dibawah, dan tidak dilibatkannya mereka dalam proses pengambilan keputusan. Hal itu muncul dengan termarginalisasinya kelompok miskin, sehingga tidak mempunyai akses, misalnya, terhadap lembaga keuangan. Begitu pula dalam program-program untuk perbaikan kelompok ini, mereka tidak punya akses untuk berpartisipasi dalam menentukan masa depannya, karena penentuan program biasanya dilakukan oleh orang luar yang merasa tahu atas permasalahan mereka, walaupun secara riil masyarakat miskin itulah yang sebetulnya merasakan dan tahu persis permasalahan yang dihadapi (Imron dan Manan, 2009). 2.6. Tinjauan Penelitian Sumber data didapat dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan dan belum pernah dipublikasi (Siregar, 2010). Data 16 sekunder adalah data yang diterbitkan atau digunakan oleh organisasi yang bukan pengolahannya (Siregar, 2010). Sampel dalam penelitian ini diperoleh dari populasi sasaran yaitu usaha-usaha kecil yang telah menjadi anggota Koperasi Pola Grameen Bank sebanyak 423, Pengelola Koperasi LEPP-M3, dan tokoh masyarakat di Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur. Menurut Sekaran (2006), populasi mengacu pada keseluruhan kelompok orang, kejadian, atau hal minat yang ingin peneliti investigasi. Metode penarikan sampel pada penelitian ini menggunakan Stratified Random Sampling. Stratified Random Sampling Metode pengambilan sampel acak terstratifikasi (stratified random sampling) adalah metode pemilihan sampel denga cara membagi populasi ke dalamkelompok-kelompok yang homogen yang disebut strata, dan kemudian sampel diambil secara acak dari tiap strata tersebut. (Anderson, 2008). 2.7. Tinjauan Pengujian Validitas dan Reabilitas Instrumen 2.7.1. Pengujian Validitas Instrumen Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Analisis faktor dilakukan dengan cara mengkorelasikan jumlah skor faktor dengan skor total. Bila korelasi tiap faktor tersebut positif dan besarnya > 0,3 (Sugiyono, 2009) maka faktor tersebut merupakan construct yang kuat. Jadi berdasarkan analisis faktor itu disimpulkan bahwa isntrumen tersebut memiliki validitas konstruksi yang baik dengan rumus pearson product moment (Riduwan, 2004): n ( XY )   X Y  rhitung  n X 2    X  nY 2  (Y ) 2 2 Dimana : rhitung = Koefisien korelasi ∑X = Jumlah skor item 17  ∑Y = Jumlah skor total (seluruh item) N = Jumlah responden Validitas dalam penelitian dijelaskan sebagai suatu derajat ketepatan alat ukur penelitian tentang isi atau arti sebenarnya dari apa yang diukur. Pengujian ini berfungsi menunjukkan tingkat kemampuan alat pengukur agar dapat memberikan apa yang menjadi sasaran pokok pengukuran. Validitas menunjukkan sejauh mana alat pengukur itu mengukur apa ingin diukur. Tahap-tahap pengujian validitas: 1) Mendefinisikan secara operasional konsep yang diukur. 2) Uji coba skala pengukuran dalam instrumen kepada sejumlah responden. 3) Mempersiapkan tabel tabulasi jawaban yang berbentuk matrik a x b, dimana a menyatakan banyaknya responden dan b menyatakan jumlah item pertanyaan. 4) Menghitung korelasi antara masing-masing item pernyataan dengan skor total yang menggunakan rumus teknik korelasi Product Moment. 5) Menghitung korelasi terkoreksi 6) Membandingkan angka korelasi terkoreksi (rpq) dengan r tabel yang berderajat bebas n-2, criteria pengujiannya adalah: a) bila rpq dari hasil olahan uji tersebut diperoleh item-item pernyataan dengan rpq bernilai positif dan rpq > r tabel maka tolak H0 sehingga item tersebut valid. b) bila rpq bernilai negatif dan rpq ≤ r tabel, maka item tersebut tidak valid berarti item pernyataan tersebut dinyatakan gugur. Pengukuran validitas pada instrumen digunakan untuk mengetahui sejauh mana pertanyaan dapat dimengerti dan dipahami oleh responden. 2.7.2. Pengujian Reliabilitas Instrumen Setelah instrumen penelitian tersebut dinyatakan valid, kemudian peneliti melakukan uji reliabilitas terhadap instrumen-instrumen penelitian 18 yang mencakup variabel-variabel yang diteliti dengan mengambil hasil jawaban dari responden yang dianggap valid. Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk memperkirakan reliabilitas adalah metode konsistensi internal. Dalam metode konsistensi internal, reliabilitas dapat ditunjukkan melalui besarnya nilai Cronbach Alpha (α). Adapun penghitungan α didapatkan dari formula berikut: Dimana: α = Cronbach Alpha k = jumlah item pernyataan Σ σ2(yi) = jumlah varians item pernyataan σx2= varians skor total Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Reliabilitas menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk dapat digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang sudah dapat dipercaya (reliabel), akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga, sehingga apabila datanya memang benar dan sesuai dengan kenyataannya, maka berapa kalipun diambil, tetap akan memberikan hasil yang sama. 19 III. METODELOGI KAJIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Dari skema kerangka pemikiran sebagaimana Gambar 2, didapat penjelasan bahwa proses penelitian dimulai dengan mengidentifikasi masalah didasarkan pada latar belakang penelitian mengenai analisis dampak pemberian kredit pola Gramen Bank terhadap peningkatan pendapatan usaha kecil masyarakat Pesisir oleh Koperasi LEPP-M3 di Kabupaten Tuban. Tahap selanjutnya setelah mengidentifikasi masalah dilanjutkan dengan merumuskan masalah berdasarkan tujuan penelitian, kemudian variabel penelitian disusun dalam sebuah kuesioner (Lampiran 2) untuk menjawab tujuan. Kuesioner di uji apakah sudah valid dan reliabel dengan uji validitas dan reabilitas, tahap-tahap tersebut adalah metode penyusunan kuesioner. Setelah kuesioner disusun maka dilakukan penarikan contoh alias wawancara. Metode sampling yang digunakan adalah Cluster Sampling merupakan teknik pengambilan sampel dimana pemilihannya mengacu pada kelompok-kelompok subjek dan antara satu kelompok dengan kelompok lain bukan pada individu tanpa adanya strata atau tingkatan. Setelah penarikan sampel dan wawancara selesai, maka dilakukan interprestasi data untuk menjawab tujuan. Dalam menjawab tujuan dilakukan dua cara yaitu untuk menjawab tujuan mengenai: (1) Mengetahui proses penerapan sebagai gambaran umum pemberian kredit pola Grameen Bank oleh Koperasi LEPP-M3 Tuban; (2) Mengidentifikasi kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam pemberian kredit pola Grameen Bank, dan (3) Mengidentifikasi tingkat pengetahuan, peranan dan manfaat apa saja yang didapat dalam penerapan kredit pola Grameen Bank dijawab melalui deskriptif statistik dengan menggunakan nilai pemusatan (median) dan tabel/grafik (Lampiran 3). Sedangkan untuk menjawab tujuan menganalisis pengaruh pemberian kredit pola Grameen Bank terhadap peningkatan pendapatan usaha kecil masyarakat pesisir sebelum dan sesudah pelaksanaan pola Grameen Bank dijawab dengan melakukan 20 uji-t berpasangan (Paired t-Test). Rangkaian pencacahan dan pengolahan data disajikan pada kerangka alur penelitian Gambar 2. Identifikasi Masalah Perumusan Masalah Penentuan Variabel Penelitian Penyusunan Kuesioner Penentuan Hipotesis Tidak Valid dan Reliabel? Ya Dokumentasi Pencacahan dengan kuesioner Pengolahan Data Pengujian Hipotesis Deskriptif Statistik Kesimpulan Gambar 2. Kerangka Pikir Penelitian 21 Wawancara 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di USP Swamitra Mina Koperasi LEPP-M3 Tuban yang bertempat di Jalan Panglima Sudirman No. 314 Tuban, Provinsi Jawa Timur Gambar 3. Secara geografi Kabupaten Tuban terletak pada posisi 111°30’ - 112°35’ Bujur Timur dan 6°40’ - 7°18’ Lintang Selatan dengan batas wilayah sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa; sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lamongan; sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro; dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Blora (Jawa Tengah). Kabupaten Tuban adalah sebuah kabupaten di Jawa Timur, Indonesia. Ibu kotanya berada di kota Tuban, Luas wilayah Kabupaten Tuban 183.994.562 Ha yang secara administrasi terbagi menjadi 20 Kecamatan dan 328 desa/kelurahan. Panjang pantai 65 km membentang dari arah timur Kecamatan Palang sampai barat Kecamatan Bancar, Sedangkan luas wilayah lautan meliputi 22.608 Km2. Jumlah penduduk di Kabupaten Tuban tahun 2010 menurut hasil sensus penduduk tahun 2010 mencapai 1.117.539 jiwa dengan komposisi jumlah penduduk laki-laki 551.869 jiwa dan penduduk perempuan berjumlah 565.670 jiwa. Kota Tuban terletak pada ketinggian 0-100 meter diatas permukaan air laut. Sebagian besar wilayahnya berupa daratan dengan kemiringan 0-2% di wilayah bagian barat dan sebagian selatan merupakan wilayah berbukit dengan kemiringan rata-rata lebih dari 15%. Secara fisik Kota Tuban sangat berdekatan dengan pantai yang memiliki suhu udara antara 25°-27.5° C dengan iklim tropis kering. Curah hujan bervariasi dari rata-rata berkisar 1483 mm per tahun. Pemilihan lokasi kajian dilakukan secara purposive yang didasarkan pada 2 (dua) pertimbangan, yaitu (1) Lokasi kajian adalah daerah pesisir di Provinsi Jawa Timur letaknya dua jam dari Kota Surabaya. (2) Salah satu lokasi diimplementasikannya program kredit pola Grameen Bank oleh Kementerian Kelautan dan Perikann. Waktu kajian dilaksanakan pada bulan Desember 2011 Februari 2012. 22 Gambar 3. Peta Lokasi Penelitian 23 3.3. Data dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data Primer adalah data yang dikumpulkan langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan. Dalam hal ini objeknya adalah pemilik usahausaha kecil yang memperoleh skim kredit dari Koperasi pola Grameen Bank . Data yang dianalisis adalah data tentang pendapatan usaha-usaha kecil sebelum dan sesudah memperoleh skim kredit dari Koperasi pola Grameen Bank. 3.4. Penentuan Jumlah Sampel dan Metode Penarikan Sampel 3.4.1. Penentuan Jumlah Sampel Sampel dalam penelitian ini diperoleh dari populasi sasaran yaitu usahausaha kecil yang telah menjadi anggota Koperasi Pola Grameen Bank sebanyak 423, Pengelola Koperasi LEPP-M3, dan tokoh masyarakat. Dalam penelitian ini penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin sebagai berikut : Di mana : N = jumlah populasi n = jumlah contoh e = derajat kesalahan Berdasarkan rumus Slovin dengan tingkat kepercayaan 95% (taraf signifikansi 0,05), maka dari populasi 423 anggota Koperasi LEPP-M3 pola Grameen Bank di Kabupaten Tuban, jumlah contoh (n) atau jumlah responden yang diambil adalah : n  423 423 423 = = 2 5,23 1  (423 x (0,1) ) 1  423 (0,01) = 80,8795 Dengan demikian ukuran sampel minimal dalam penelitian ini adalah sebanyak 80,8795 sampel (untuk penelitian ini dibulankan menjadi 85 orang 24 sampel, selain itu juga diwawancara pengurus dan tokoh masyarakat masingmasing 4 orang sehingga total kesemuanya 8 orang). 3.4.2. Teknik Penarikan Sampel Pada penelitian ini, teknik penarikan sampel (Tabel 1) menggunakan Cluster atau Area Sampling. Adapun cluster sampel digunakan berdasarkan desa asal sampel. Alasan menggunakan teknik Area Sampling ini adalah karena populasi anggota koperasi berdomisili di beberapa desa. Tabel 1. Jumlah Populasi dan Sampel Menurut Desa Pemukiman Anggota Desa Jumlah Anggota (orang) Sampel (orang) Desa Leran 60 12 Desa Penambangan 60 12 Desa Prunggahan Kulon 63 13 Desa Mondokan 60 12 Desa Tlogo 60 12 Desa Jarum Prunggahan Kulon 60 12 Desa Princik Perunggahan Kulon 60 12 TOTAL 423 85 Pengambilan sampel dari masing-masing stratum: a. Desa I = 60/423 x 85 = 12, 06 = 12 (dibulatkan kebawah) b. Desa II = 60/423 x 85 = 12, 06 = 12 (dibulatkan kebawah) c. Desa III = 63/423 x 85 = 12, 65 = 13(dibulatkan keatas) d. Desa IV = 60/423 x 85 = 12, 06 = 12 (dibulatkan kebawah) e. Desa V = 60/423 x 85 = 12, 06 = 12 (dibulatkan kebawah) f. Desa V I = 60/423 x 85 = 12, 06 = 12 (dibulatkan kebawah) g. Desa VI I = 60/423 x 85 = 12, 06 = 12 (dibulatkan kebawah) Penarikan sampel di setiap desa dilakukan dengan accidental sampling, dimana responden yang dipilih pada tiap kelompok dilakukan secara kebetulan. 25 3.5. Metode Pengumpulan Data Proses untuk mendapatkan data primer menggunakan teknik pengumpulan data dalam bentuk wawancara, kuesioner dan observasi langsung (Lampiran 1) yang telah diuji validitas dan reabilitasnya. Data sekunder diperoleh dengan cara pencarian informasi dan data kepustakaan, dokumen-dokumen Koperasi LEPP-M3 pola Grameen Bank dan data dari instansi-instansi terkait. Hasil menunjukkan bahwa poin-poin pertanyaan pada kuisioner Tingkat Pengetahuan Tentang Koperasi LEPPM3, Penerapan Pemberian Kredit Pola Grameen Bank dan Manfaat Penerapan Pemberian kredit pola Grameen Bank seluruhnya valid (Lampiran 4). Dinyatakan valid jika Corrected Item-Total Correlation (Rhit)> r tabel. Pengukuran Hasil menunjukkan bahwa poin-poin pertanyaan pada kuisioner Tingkat Pengetahuan Tentang Koperasi LEPP-M3, Penerapan Pemberian Kredit Pola Grameen Bank dan Manfaat Penerapan Pemberian kredit pola Grameen Bank seluruhnya memenuhi kriteria reabilitas (Lampiran 4). Dinyatakan reabilitas terpenuhi jika Guttman Splithalf sesuai kriteria diatas. 3.6. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data 3.6.1. Pengolahan Data Program yang digunakan untuk melakukan olah data pengujian validitas dan reabilitas serta pengujian hipotesis pada penelitian ini adalah SPSS versi 11.4 for Window, sedangkan untuk mengolah deskriptif statistik menggunakan nilai pemusatan (median), tabel dan grafik. 3.6.2. Analisis Data a. Deskriptif Statistik 1) Deskriptif Data Responden Deskriptif data responden memperlihatkan latar belakang responden (anggota koperasi) yang dirangkum kedalam bentuk tabel dan grafik yang memperlihatkan jenis usaha anggota, usia anggota dan pendidikan terakhir. 26 2) Deskriptif Tingkat Pengetahuan Anggota Deskriptif tingkat pengetahuan anggota memperlihatkan sejauh mana responden (anggota koperasi) mengetahui tentang pemberian kredit pola Grameen Bank. 3) Deskriptif Tingkat Penerapan Pola Gramen Bank Deskriptif tingkat memperlihatkan Penerapan pola Grameen Bank sejauh mana pengurus mensosialisasikan program Grameen Bank. 4) Deskriptif Tingkat Manfaat Pola Grameen Bank Deskriptif tingkat mamfaat pola Grameen Bank memperlihatkan sejauh mana manfaat dari program Grameen Bank. b. Pengujian Hipotesis Hipotesis yang disusun untuk menjawab tujuan penelitian adalah sebagai berikut : 1) Formulasi hipotesis HO = : 1 = : 2 = pinjaman/kredit yang diberikan tidak berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan usaha kecil. H1 = : 1 ≠ : 2 = pinjaman/kredit yang diberikan berpengaruh terhadap peningkatan usaha kecil. 2) Level of significant = 0.05 /2 (n-1) Selanjutnya hipotesis untuk mengetahui pengaruh mutlak pendapatan bersih pada para usaha-usaha kecil sebelum dan sesudah pemberian kredit pola Grameen Bank dianalisis menggunakan uji t berpasangan (Paired t-Test), dengan rumus sebagai berikut : 27 dimana d adalah selisih antara pendapatan sebelum dan sesudah program dan n adalah jumlah data. c. Variabel Penelitian dan Skala Pengukuran Data 1) Variabel Penelitian Variabel penelitian ini adalah pendapatan usaha-usaha kecil merupakan variabel terikat. Sedangkan pemberian kredit merupakan variabel bebas. i. Pendapatan Pendapatan ditunjukkan dengan aliran aktiva baru yang masuk ke perusahaan dari konsumen sebagai penukar produk perusahaan baik berupa barang atau jasa. Rekening pendapatan mencerminkan dan berguna untuk mengukur kenaikan aktiva atau sumber ekonomi perusahaan yang berasal dari kegiatan usahanya. Pendapatan diukur ketika telah terjadi penjualan. Pendapatan yang diukur sesuai jumlah rupiah produk yang terjual, baru akan menjadi pendapatan yang sepenuhnya setelah produk tersebut selesai diproduksi dan penjualan benar-benar terjadi. ii. Pola Pemberian Kredit Grameen Bank Pemberian Kredit berjumlah kecil kepada warga paling miskin untuk membiayai proyek yang dia kerjakan sendiri untuk menghasilkan pendapatan yang memungkinkan mereka peduli terhadap diri sendiri dan untuk keluarganya. Kisi-kisi dari instrumen penelitian yang digunakan dalam pencacahan ditunjukkan oleh Tabel 2. 28 2) Skala Pengukuran Data Untuk mengukur variabel komitmen organisasi dan faktorfaktor yang mempengaruhi komitmen organisasi digunakan metode rating yang dijumlahkan (Method of Summated Ratings). Metode ini popular dengan nama skala Likert. Skala likert merupakan metode pernyataan sikap yang menggunakan respon subjek sebagai dasar penentuan nilai skalanya. Dalam skala likert, item-item dalam kuesioner/daftar pernyataan terbagi menjadi dua, yaitu item positif dan item negatif. Item negatif memiliki skor yang merupakan kebalikan dari skor positif (Saifuddin. 1988) dalam penelitian ini menggunakan item positiif. Sistem pemberian skor dalam penelitian ini dijelaskan pada Tabel 3. Tabel 2. Pengukuran Variabel Penelitian Variabel Manfaat pemberian kredit pola Grameen Bank dan Pengaruh penerapan Pemberian kredit pola Grameen Bank terhadap peningkatan pendapatan Indikator Butir Pertanyaan a. Peningkatan nilai pendapatan b. Pendapatan sebelum c. Pendapatan sesudah 29 a. Tingkat Pengetahuan tentang Koperasi LEPP-M3 Pola Grameen Bank b. Kuisioner masyarakat pesisir sebelum dan sesudah menjadi anggota d. opini masyarakat informasi untuk anggota e. Upaya Penanggulangan kemiskinan Kendala yang dihadapi a. Penyaluran kredit Manfaat penerapan dalam penerapan Pemberian kredit Penyaluran kredit Pemberian kredit pola pola Grameen Bank pola Grameen Grameen Bank tersosialisasikan Bank pada atribut dengan baik Anggota Grameen b. Penyaluran kredit Grameen Bank lancar Bank poin 4, atribut tokoh masyarakat poin 4 dan 5, atribut pengurus / pengelola Koperasi poin 8 Proses penerapan Opini anggota penerapan Pemberian kredit pola tentang pemberian Pemberian kredit Grameen Bank dan pengembalian pola Grameen Bank kredit Tabel 3. Pemberian Skor Pilihan Jawaban Item Positif Item Negatif Sangat Tidak Setuju 1 5 Tidak Setuju 2 4 Ragu-ragu 3 3 Setuju 4 2 Sangat Setuju 5 1 30 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Penerapan Kredit Pola Grameen Bank di Tuban 4.1.1. Kondisi Umum Kabupaten Tuban Kabupaten Tuban adalah salah satu Kabupaten yang dipilih oleh Departemen Kelautan dan Perikanan untuk mengenalkan skim kredit pola Grameen Bank. Kabupaten Tuban adalah suatu Kabupaten di Jawa Timur, Ibu Kotanya berada di Kota Tuban. Luasnya adalah 1.904,70 km2 dan panjang pantai mencapai 65 km dengan jumlah desa pantai 28 desa dan dilintasi oleh 15 sungai besar dan sedang, sebagian besar penduduknya bekerja pada sektor perikanan dan kelautan, kondisi sosial ekonomi sebagian besar masyarakatnya antara miskin dan sangat miskin umumnya buruh nelayan dan buruh pengolah dan hanya beberapa yang berada di atas garis kemiskinan itu biasanya adalah pedagang/bakul, pengolah, dan taoke/juragan kapal. Jumlah penduduk menurut profesi terdiri dari nelayan 15.630 orang, pembudidaya 5.510 orang dan pengelola 931 orang (KKP, 2009). Tuban disebut sebagai kota wali karena Tuban adalah salah satu kota di Jawa yang menjadi pusat penyebaran ajaran Agama Islam. Tuban terletak di tepi pantai pulau Jawa bagian utara, dengan batas-batas wilayah: (1) utara laut Jawa; (2) sebelah timur Lamongan; (3) sebelah selatan Bojonegoro; (4) barat Rembang; dan (5) Blora Jawa Tengah. Lokasi target yang ditetapkan untuk cakupan wilayah pola Grameen Bank: (1) Desa Leran Kec. Palang; (2) Desa Mondokan Kec. Tuban; (3) Desa Penambangan Kec. Semanding; (4) Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding; (5) Dusun Tlogo Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding; (6) Dusun Princik Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding; (7) Dusun Jarum Desa Prunggahan Kulon Kec. Semanding. 31 4.1.2. Angka Kemiskinan di Kabupaten Tuban Hasil sensus penduduk tahun 2010 kabupaten Tuban, data-data demografi normatif yang dilaporkan seperti laju pertumbuhan penduduk Tuban yang rata-rata 0.61 persen, berikut distribusi per kecamatan, kepadatan penduduk per km persegi per kecamatan, dan tentunya jumlah penduduk Tuban yang mencapai 1.117.539 jiwa (551.869 Laki-laki dan 565.670 perempuan). Data tingkat kemiskinan terkini kabupaten Tuban menurut data program nasional pengentasan kemiskinan (PNPM) Bappenas tahun 2011 yang disusun berdasarkan sumber data Potensi Desa (Podes) BPS tahun 2008, di ketahui bahwa jumlah orang miskin di kabupaten Tuban sebanyak 211.458 jiwa atau 18.54% dari total penduduk kabupaten Tuban. Prosenatase ini dihitung berdasarkan jumlah penduduk kabupaten Tuban menurut data Podes 2008 yang dilaporkan sebanyak 1.140.513 jiwa. Artinya, tingkat kemiskinan di kabupaten Tuban lebih parah dibanding rata-rata tingkat kemiskinan nasional tahun 2010 yang ada dalam kisaran 13,33%. Dilihat dari distribusi tingkat kemiskinan per kecamatan ada 7 kecamatan dengan tingkat kemiskinan di atas 20%, yaitu Kerek (21,0%), Bangilan (21,2%), Semanding (21,6%), Bancar (22,2%), Senori (23,4%), Plumplang (26,1%) dan yang paling parah kecamatan Grabagan di mana tingkat kemiskinan mencapai 38,1%, dengan tingkat kemiskinan 20% artinya ada 1 orang dari tiap 5 warga Tuban hidup dalam kemiskinan. Demikian pula jika tingkat kemiskinan mencapai 25% artinya dari 4 orang warga tuban, 1 orang di antaranya hidup dalam kondisi miskin. 4.1.3. Kondisi Usaha Koperasi LEPP M3 Kabupaten Tuban Koperasi Perikanan dan Kelautan LEPP-M3 Kabupaten Tuban didirikan pada tanggal 28 April 2004 melalui penetapan Badan Hukum Koperasi No. 593.32/BH/007/414.045/2004 yang tercatat sebagai salah satu pengelola Dana Ekonomi Produktif (DEP) di Dinas Kelautan dan Perikanan setempat dengan No. 523/951/KPTS/414.044/2004. 32 Unit Usaha Koperasi LEPP-M3 Kabupaten Tuban yaitu: (1) Unit Simpan Pinjam Swamitra Mina; (2) Unit Simpan Pinjam Pola Grameen Bank; (3) Kedai Pesisir . Dana permodalan koperasi ini bersumber dari modal pemerintah berjumlah Rp. 2.749.071.000, simpanan anggota Rp. 40.588.947, dan pihak ketiga Rp. 1.000.000.000, dalam hal ini adalah perbankan. Dana yang bersumber dari pihak pemerintah telah dihentikan sejak tahun 2006. Pada tahun yang sama dana hanya bersumber dari simpanan anggota. Baru pada tahun 2007 koperasi ini mendapatkan sumber dana baru yaitu dari pihak perbankan (KKP, 2009). Hingga tahun 2009 kelompok pemanfaat koperasi ini telah berjumlah 394 orang, yang terdiri dari 203 nelayan, 82 orang pembudidaya, 16 orang pengolah, 81 orang pedagang/bakul, dan 12 orang yang berasal dari masyarakat pesisir lainnya. Kondisi USP Grameen Bank Koperasi LEPP-M3 Kabupaten Tuban yang mulai beroperasi pada tahun 2009 dengan jumlah anggota 165 orang, 137 orang client. (KKP, 2009). Hasil survei yang dilakukan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan bahwa wilayah pesisir Kabupaten Tuban adalah sangat potensial untuk melakukan program perkreditan sistem Grameen Bank, karena: (1) wilayahnya cukup padat; (2) Jarak antara desa tidak berjauhan; (3) Lokasi wilayahnya cukup mudah untuk dijangkau; (4) Tingkat kemiskinan cukup merata; (5) Belum ada lembaga yang melayani mereka secara spesifik. Koperasi LEPP M3 Tuban sudah mempersiapkan secara baik dan matang guna memperlancar program Grameen Bank dengan menyiapkan 1 ruangan disamping kantor koperasi yang diperuntukkan untuk kantor USP Grameen Bank. Dalam kantor sendiri sudah siap dengan perangkat lunaknya seperti 1 unit komputer dan printer, 2 meja kerja sudah tertata rapi di kantor. Memiliki modal yang akan dipergunakan sebagai modal awal USP pola Grameen Bank sebesar Rp. 50 Juta – Rp. 60 Jutaan. 33 4.1.4. Skema Organisasi Grameen Bank di Kabupaten Tuban Awal mulanya Grameen Bank berdiri dikarenakan permasalahan yang umum dihadapi oleh masyarakat pesisir berkaitan dengan akses modal dimana untuk mendapatkan kredit dari Usaha Simpan Pinjam Swamitra Mina calon anggota tidak memiliki agunan sebagai syarat untuk mendapat modal dari koperasi. Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2008 mulai mengadopsi sebuah sistem yang ramah terhadap orang miskin dimana dalam mendapatkan kredit calon anggota tidak dibebankan dengan adanya agunan, sistem ini dikenal dengan sistem Grameen Bank. Koperasi LEPP-M3 Grameen bank secara legal merupakan lembaga keuangan yang harus berbadan hukum bisa berupa PT (perseroan terbatas), koperasi dan secara umum organisasi Grameen Bank adalah sebagai berikut (Gambar. 4): DIREKTUR UTAMA - Manager Kredit - Manager Operasi - Manager Keuangan - Manager Pelatihan Koordinator Wilayah Cabang-cabang Cabang-cabang Cabang-cabang Rembug Pusat Rembug Pusat Rembug Pusat Kumpulan Kumpulan Kumpulan Anggota-anggota Sedangkan skema usaha Koperasi LEPP-M3 Kabupaten Tuban (Gambar 5) Gambar 4. Skema Organisasi Grameen Bank memiliki 3 (tiga) unit usaha yaitu: (1) Unit Usaha Simpan Pinjam Swamitra Mina; (2) Unit Usaha Simpan Pinjam Pola Grameen Bank; (3) Kedai Pesisir. 34 Swamitra Mina merupakan salah satu unit usaha milik koperasi yang bergerak di bidang pelayanan permodalan bagi masyarakat pesisir, terutama untuk segmen usaha mikro. Unit usaha ini bermitra dengan Bank Bukopin dengan orientasi pelayanan permodalan berbasis sistem teknologi perbankan yang online. Dimana teknologi ini diharapkan kegiatan usaha keuangan dapat berjalan secara profesional, transparan, dapat dipantau setiap saat baik ditingkat pusat maupun daerah. Dalam penggunaan kredit yang diterima dari Bank Pelaksana kepada koperasi dibukukan sebagai Modal Tidak Tetap (MTT) dan dipergunakan untuk disalurkan kepada masyarakat pesisir anggota dan calon anggota sebagai peminjam. Jangka waktu kredit yang diberikan Bank Pelaksana kepada koperasi maksimal 3 (tiga) tahun sedangkan jangka waktu pinjaman kepada masyarakat pesisir anggota dan calon anggota koperasi disesuaikan dengan kondisi dan jenis usaha yang dibiayai. Tingkat suku bunga pinjaman dari Bank Pelaksana kepada koperasi maksimum sebesari 6% efektif per tahun. Bunga dan pokok pinjaman dibayar secara rutin setiap bulan. Koperasi LEPP-M3 Kab. Unit Usaha Simpan Pinjam Swamitra Unit Usaha Simpan Pinjam Pola Grameen Kedai Pesisir Gambar 5. Skema Usaha Koperasi LEPP-M3 Kab. Tuban Unit Usaha Simpan Pinjam Pola Grameen Bank Koperasi LEPP-M3 Kabupaten Tuban (Gambar 6) merupakan unit usaha yang dikhususkan untuk masyarakat paling miskin yang tidak bisa mendapatkan kredit dari Unit Usaha Simpan Pinjam Swamitra Mina dikarenakan tidak memiliki jaminan. Skema pengurus dari Usaha Simpan Pinjam pola Grameen Bank terdiri dari Hendri 35 Siwi Aji sebagai Manager, Dyah Ayu sebagai Admin, Wito dan Teguh orang staf lapangan. MANAGER Admin STAF LAPANGAN STAF LAPANGAN Gambar 6. Skema Organisasi Grameen Bank Kab. Tuban Kedai pesisir merupakan unit usaha yang bertujuan untuk melayani kebutuhan bahan pokok dan kebutuhan usaha bagi masyarakat pesisir dalam bentuk outlet dengan sistem swalayan kedai pesisir juga berperan sebagai supplier bagi warung-warung sejenis disekitarnya. Kedai Pesisir diharapkan dapat menekan harga sampai pada tingkat sama dengan harga di ibukota Kabupaten/Kota. 4.1.5. Prosedur Penyaluran Kredit Sistem Grameen Bank Tahapan penyaluran kredit sistem Grameen Bank kepada anggota: 1) Survey Lokasi Survei lokasi bertujuan untuk mencari dan menentukan wilayah yang menjadi target sasaran. Dalam pelaksanaan suevei ini dapat dilakukan oleh staff lapangan Koperasi sistem Grameen Bank. 2) Melakukan uji kelayakan (UK) Uji Kelayakan (Gambar 7) adalah semacam kegiatan untuk melihat kondisi sosial ekonomi calon anggota, yang meliputi keadaan rumah, asset rumah tangga dan pendapatannya. Informasi diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan. Wawancara dilakukan oleh staf lapangan di rumah calon anggota dan sebaiknya dihadiri oleh kepala keluarga dan 36 istri agar dapat diperoleh data yang lebih akurat dan menghindari wawancara ulang yang dapat membuang-buang waktu. Gambar 7. Uji Kelayakan 3) Pertemuan umum (PU) Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penjelasan secara umum tentang lembaga dan program yang akan dilaksanakan kepada calon anggota Grameen Bank. Ada dua macam pertemuan umum yakni : (1) Pertemuan umum (Gambar 8) yang mengundang dan melibatkan aparat setempat, tokoh masyarakat dan ibu-ibu calon anggota, tujuannya mengenalkan dan memberikan penjelasan tentang lembaga dan program kegiatan yang bertujuan supaya semua pihak di wilayah itu mengetahui dan tidak ada curiga dari masyarakat bila program ini dilaksanakan di wilayah tersebut; (2) Pertemuan umum secara terbatas (Gambar 9) yang hanya mengundang ibu-ibu calon anggota minimal 10 orang atau mencukupi terbentuknya 2 kelompok pemanfaat. 37 Gambar 8. Pertemuan Umum 4) Gambar 9. Pertemuan Umum Terbatas Anggota yang layak, membentuk kumpulan yang terdiri dari 5 orang dengan syarat: a) Tempat tinggal berdekatan b) Umur, pendidikan dan keadaan sosial relatif sama 5) Mengikuti latihan wajib kumpulan (LWK) (Gambar 10), yang diadakan selama 5 hari masing-masing 1 jam dan membahas tentang: a) Falsafah dan prinsip grameen bank b) Cara mengajukan pinjaman dan mengangsur c) Isi dan kandungan ikrar d) Tanda tangan sendiri (harus bisa tanda tangan sendiri) e) Memupuk solideritas f) Disiplin dan motivasi kerja Gambar 10. Latihan Wajib Kumpul 6) Pada akhir LWK diadakan Ujian Pengesahan Kumpulan (UPK) 38 Ujian Pengesahan Kumpul (UPK) (Gambar 11) adalah untuk dilakukan pengesahan kelompok dan bila lulus maka resmi menjadi anggota Grameen Bank dan berhak mengajukan pinjaman. Gambar 11. Ujian Pengesahan Kumpul 7) Gambar 12. Pertemuan Mingguan Kegiatan rembug pusat diawali dan diakhiri dengan pembacaan ikrar (pertemuan Center). Setelah kelompok dinyatakan lulus dan Ujian Pengesahan Kelompok (UPK) maka kelompok tersebut wajib melaksanakan rembug pusat (pertemuan center) (Gambar 12) setiap minggu secara rutin sesuai jadwal yang ditentukan hari dan jamnya. Dalam rembuk pusat ini akan dilaksanakan kegiatan rutin mengenai pengajuan pinjaman, pelaksanaan transaksi angsuran, pelaksanaan transaksi tabungan dan membahas segala sesuatu masalah atau memberi penjelasan secara kekeluargaan semua aspek kehidupan tujuannya adalah memberikan penguatan dan rasa percaya diri para ibu-ibu tersebut terutama dalam melakukan kegiatan usaha mandiri. 8) Proses anggota Mengajukan Pinjaman Seminggu setelah LWK dua orang anggota kumpulan mengajukan pinjaman, dengan diketahui oleh anggota lainnya dan disetujui oleh ketua kelompok dan ketua center, kemudian minggu berikutnya dua anggota yang lainnya mengajukan pinjaman, dan minggu berikutnya lagi satu 39 anggota kelompok (ketua kelompok) mengajukan kelompok. Sistem ini dikenal dengan istilah 2 : 2 : 1. Alur proses keanggotaan Grameen Bank tergambarkan pada Gambar 13. Uji Kelayakan (UK) Pertemuan Umum (PU) Pembentukan Kelompok Latihan Wajib Kumpul (LWK) Uji Pengesahan Kumpulan Pembentukan Rembug Pusat Gambar 13. Proses Keanggotaan Grameen Bank 4.1.6. Cara Menilai Kelayakan Anggota Uji kelayakan adalah semacam kegiatan untuk melihat kondisi sosial ekonomi calon anggota, yang meliputi keadaan rumah, asset rumah tangga dan pendapatannya sehingga dapat dikatakan layak sebagai anggota. Informasi diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan. Wawancara dilakukan oleh staff lapangan di rumah calon anggota dan sebaliknya dihadiri oleh kepala keluarga dan istri agar dapat diperoleh data yang lebih akurat dan menghindari wawancara ulang yang dapat membuang-buang waktu. 40 Ada empat kriteria untuk menilai kelayakan calon anggota, yaitu: 1) Indeks rumah (IR) Digunakan sebagai kriteria karena rumah calon anggota mencerminkan status sosial ekonomi sebagai golongan miskin. Luas rumah yang kecil, beratap rumbia, berlantai tanah dengan fasilitas yang tidak memadai adalah ciri-ciri dari rumah masyarakat golongan miskin. 2) Indeks Pendapatan (IP) Untuk dapat hidup layak dan memenuhi kebutuhan pangan dan sandang setiap orang harus bekerja untuk mencari nafkah. Dari pekerjaan ini dia memperoleh pendapatan kurang dari Rp. 385.000,- (Rp. 40.000,- per kapita) per bulan tergolong sebagai golongan orang miskin. Penduduk yang tidak memiliki pekerjaan karena cacat tubuh bukan target program ini. 3) Indeks Asset (IA) Asset yang dinilai tidak termasuk tanah yang dimiliki, tetapi meliputi asset rumah tangga (termasuk alat pertanian), ternak, asset yang likuid seperti uangan tunai, tabungan dll. 4) Indeks Pemilikan Tanah (IT) Program kredit Grameen Bank adalah dimaksudkan untuk orang-orang miskin dipedesaan yang tidak memiliki tanah (landless). Tetapi adakalanya mereka juga memiliki sebidang tanah yang tidak luas yang hasilnya tidak dapat menghidupinya untuk sepanjang tahun. Apabila telah dilakukan uji kelayakan dan kelompok tersebut dinyatakan lulus, yang berarti semua anggota tersebut layak menjadi anggota, maka akan dilanjutkan pada tahap Latihan Wajib Kumpulan (LWK). 41 4.1.7. Petunjuk Uji Kelayakan Anggota 1) Petunjuk Uji Kelayakan Indeks Rumah Tabel 4. Uji Kelayakan Indeks Rumah Kriteria Dasar Penilaian Nilai Indeks Luas Rumah Luas lantai > 70 m2 36 – 69 m2 atau 7 – Rp. 1.000.000,- tidak lulus/layak Keterangan *) prioritas kedua/bersyarat : calon anggota dapat menjadi anggota apabila semua anggota yang layak telah menjadi anggota (apabila kekurangan anggota). Dalam penentuan tes indeks asset (Tabel 7) penilaiannya dihitung dari jumlah asset, kepemilikan tanah dan kepemilikan ternak dan asset lainnya (Tabel 6) bila ada. Jenis asset terdiri dari: a) Asset Pendapatan suami (a) Tetap Rp............ (b) Tidak tetap Rp......... Pendapatan istri (a) Tetap Rp............ (b) Tidak tetap Rp......... b) Kepemilikan Tanah Pekarangan....................................... m2/petak/Ha Sawah/lahan..................................... m2/petak/Ha Pendapatan sewa/garap Rp............. . m2/petak/Ha c) Kepemilikan Ternak dan Asset lainnya Sebagai persyaratan menjadi anggota calon anggota juga diminta mengisi 43 Tabel 6. Kepemilikan Ternak dan Asset Lain Ternak Asset lainnya a. Sapi Rp. a. Furniture Rp. B. Ayam Rp. b. Sepeda motor Rp. c. Bebek Rp. C. Sepeda Rp. d. Kambing Rp. e. Lainnya Rp. Contoh perhitungan: Sepeda motor: (a) nilai ketika membeli = Rp. 500.000,- (b) umur ekonomis*) = 4 tahun (c) masa penggunaan = 2 tahun (d) perhitungan nilai penyusutan Rp. 500.000 : 4 = Rp. 125.000,- per tahun (e) nilai penyusutan sekarang 125.000 x 2 tahun = Rp. 250.000,(f) nilai sekarang Rp. 500.000 – Rp. 250.000 = Rp. 250.000,Keterangan *) umur ekonomis adalah lama waktu (tahun) suatu asset yang dimiliki dapat digunakan. Asset yang baru akan lebih lama tahun penggunaannya, asset yang bekas akan lebih sedikit tahun penggunaannya. Tabel 7. Penentuan Tes Indeks Asset Kriteria Sangat miskin Miskin Tidak miskin Pendapatan Tidak tetap Tidak tetap Tetap Kepemilikan 0 < 2.500 m2 > 2.500 m2 < Rp. Rp. 750.000 – 2 > 2 juta 750.000 juta Ya Ya tanah Nilai asset Istri bekerja 44 Tidak 4.2. Kendala-kendala Dalam Pemberian Kredit Pola Grameen Bank Adapun faktor-faktor yang menghambat proses keberhasilan pemberian kredit mikro sistem Grameen Bank oleh Koperasi LEPP-M3, Tuban adalah sebagai berikut: 1) Penilaian diri yang negatif terhadap diri sendiri, dimana anggota selalu merasa malu dan takut salah menyebabkan proses pemberian kredit menjadi kurang berjalan sebagaimana mestinya. Di sinilah peran seorang staf lapang sebagai pekerja sosial dalam melakukan intervensi makro. Staf lapang mengintervensi secara makro masing-masing individu dengan melatih kemampuan mereka, seperti berbicara di depan publik atau anggota kelompok dan atau rembug pusat yang lain. Pengembangan kapasitas komunitas untuk mengambil keputusan bersama dan membangkitkan rasa percaya diri akan kemampuan masing-masing anggota. Dengan begitu, rasa malu dan takut salah akan dapat berkurang karena latihan-latihan mengungkapkan pendapat yang dilakukan secara rutin setiap kali pertemuan mingguan atau rembug pusat diadakan. 2) Sifat ketergantungan anggota Koperasi LEPP-M3 Tuban dan adanya penunggakan pembayaran dapat menghalangi proses pemberdayaan masyarakat di sana. Hal ini dilakukan dengan mengembangkan kemandirian anggotanya. Sehingga, pada pinjaman tahap berikutnya, mereka tidak lagi tergantung pada bantuan kredit dari koperasi karena mereka sudah mampu meningkatkan omset dan pendapatannya yang berasal dari usaha produktif yang dilakukannya, dan dengan adanya sistem tenggang rentan terhadap anggota kelompoknya dimana jika salah satu anggotanya ada yang menunggak anggota lainnya membantu untuk menalangi tunggakannya. 4.3. Keberhasilan Penyaluran Kredit Pola Grameen Bank Kehadiran metode Grameen Bank yang dilaksanakan oleh Koperasi LEPP-M3 Kab. Tuban yang bertujuan memberikan bantuan modal usaha untuk pembinaan bagi warga miskin telah menunjukkan perkembangan yang baik hal ini mengidentifikasikan bahwa metode Grameen Bank yang dijalankan turut berperan dalam usaha pertumbuhan perekonomian masyarakat pesisir Kab. Tuban. 45 Pelaksanaan Grameen Bank itu tentunya memberikan manfaat bagi perkembangan perekonomian anggota khususnya dan umumnya masyarakat pesisir Kabupaten Tuban. Kondisi tersebut ditandai dengan berkembangnya usaha-usaha yang dijalankan para anggota, serta peningkatan jumlah anggota yang menerima dana bantuan kredit dari Grameen Bank sebanyak 423 anggota yang sebelumnya pada tahun 2009 sebanyak 165 anggota dengan jumlah penduduk miskin di Kabupaten Tuban sebanyak 211.458 jiwa. Diharapkan dengan adanya Koperasi LEPP-M3 pola Grameen Bank masyarakat miskin yang ada di Kabupaten Tuban dapat mengakses program tersebut sehingga dapat mengurangi jumlah penduduk miskin yang ada di Kabupaten Tuban. 4.4. Kekuatan dan Peluang Pemberian Kredit Pola Grameen Bank 1) Kekuatan Pemberian Kredit Pola Grameen Bank Metode sistem Grameen Bank berbeda dengan unit simpan pinjam swamitra mina yang diterapkan oleh Koperasi LEPP-M3. Sistem Grameen Bank memulai kredit dengan kepercayaan bahwa kredit merupakan hak asasi manusia dan Grameen Bank di bangun dengan sistem bahwa seseorang yang tidak memiliki sesuatu (termiskin) merupakan prioritas tertinggi untuk mendapatkan pinjaman. Kredit Mikro sistem Grameen Bank bagi Perempuan Miskin tanpa Jaminan, hanya bermodal Kejujuran; Transparan; dan Kepercayaan dalam pelaksanaannya merupakan kekuatan yang diterapkan untuk kelancaran program, sedangkan unit simpan pinjam swamitra mina memberikan kredit dengan jaminan dan dalam pelaksanaannya sudah menggunakan sistem perbankan. Sistem Grameen Bank dan unit simpan pinjam swamitra Mina merupakan sistem mikro kredit dimana perbedaannya Grameen Bank untuk masyarakat pesisir pra sejahtera sedangkan Swamitra Mina untuk masyarakat pesisir sejahtera. 2) Peluang Pemberian Kredit Pola Grameen Bank 46 Kehadiran program mikro kredit pola Grameen Bank sangat potensial dalam proses pemberdayaan perempuan, meskipun kredit mikro tidak memberdayakan seluruh perempuan anggotanya, tapi paling tidak hampir semua anggota mengalami proses pemberdayaan melalui dibukanya akses ekonomi, politik dan sosial budaya mereka. Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan menerapkan pemberian kredit dengan sistem Unit Usaha Simpan Pinjam Swamitra Mina dan pola Grameen Bank dimana dana yang diberikan ditujukan untuk masyarakat yang berbeda. Pemberian kredit Grameen Bank dikhususkan untuk masyarakat pesisir pra sejahtera sedangkan Swamitra Mina untuk masyarakat pesisir sejahtera. Hal ini dilakukan agar masyarakat pesisir pra sejahtera yang tidak memiliki jaminan dan tidak memiliki akses untuk mendapatkan dana kredit bisa mendapatkannya sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, sehingga dengan 2 (dua) sistem cara tersebut dapat: a. Mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin b. Meningkatkan kemampuan dan pendapatan masyarakat miskin c. Meningkatkan tabungan dan menjamin keberlanjutan berusaha pelaku UMK. Dengan demikian bagi masyarakat pesisir yang tidak memiliki persyaratan untuk menerima kredit pada Unit Usaha Simpan Pinjam Swamtira Mina mereka dapat mengakses sistem mikro kredit pola Grameen Bank. 4.5. Analisis Deskriptif Statistik 4.5.1. Deskripsi Data Responden 1) Jenis Usaha Anggota Koperasi Berdasarkan data responden yang dikaji maka dapat digambarkan data responden seperti Tabel 8. Data yang diperoleh dalam analisis ini berasal dari hasil wawancara dan pengisian kuesioner yang berasal dari anggotanya berjumlah 85 orang. Berdasarkan jenis usaha anggota dalam hal ini anggota koperasi apabila dilihat pada Tabel 8 jenis usahanya terdiri dari Warungan 47 27%, Pertanian 8%, Peternakan 1%, dan Jual Ikan 64%. Bila dilihat dari Tabel 8 ternyata kecenderungan Jenis Usaha yang paling dominan adalah usaha Jual Ikan sebanyak 64% karena memang program ini dikhususkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk masyarakat pesisir. Tabel 8. Kategori Jenis Usaha Anggota 2) No. Jenis Usaha 1. 2. 3. 4. Warungan Pertanian Peternakan Jual Ikan Jumlah Jumlah (Anggota) 23 7 1 54 85 Persentase (%) 27 8 1 64 100 Usia Anggota Koperasi Berdasarkan usia responden, penyaji membagi kedalam empat kelompok usia yaitu seperti keterangan pada Tabel 9. Pembagian kedalam empat kelompok usia yaitu usia 24-28 tahun, 29-33 tahun, 34-38 tahun dan 39-43 tahun anggota termuda berusia 24 tahun dan tertua berusia 43 tahun. Komposisi Usia anggota dari kuesioner dan wawancara dengan anggota koperasi pola Grameen Bank di Kabupaten Tuban dapat dilihat juga pada Tabel 9. Komposisi usia jenis usaha Warungan dominan berada pada rentang usia 29-33 tahun Sebanyak 82,6%. Sama halnya dengan Pertanian : Peternakan : Jual Ikan, ketiganya dominan berada pada rentang usia 29-33 tahun sebanyak 85% : 100% : 44%. Tabel 9 menunjukkan bahwa anggota Koperasi LEPP-M3 pola Grameen Bank keseluruhannya memiliki usia yang produktif. Tabel 9. Komposisi Usia Usia Anggota (Tahun) 24 - 28 29 - 33 34 -38 39 - 43 Warungan Jumlah (%) (anggota) 2 8,7 19 82,6 2 8,7 0 0 Pertanian Jumlah (%) (anggota) 1 14,3 6 85,7 0 0 0 0 48 Peternakan Jumlah (%) (anggota) 0 0 1 100 0 0 0 0 Jual Ikan Jumlah (%) (anggota) 3 5,6 24 44,4 18 33,3 9 16,7 Jumlah 23 3) 100 7 100 1 100 54 100 Pendidikan Terakhir Berdasarkan komposisi pendidikan terakhir pada Tabel 10 dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan terakhir jenis usaha Warungan, Pertanian, Peternakan dan Jual Ikan adalah SLTP, yaitu berturut-turut 100%, 85,7%, 100% dan 100% hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat pendidikan penerima kredit pola Grameen Bank memiliki tingkat pendidikannya hanya sampai SLTP. Tabel 10. Tingkat Pendidikan Terakhir Anggota Tingkat Pendidikan SD SLTP SLTA PT Jumlah Warungan Jumlah (%) (anggota) 0 0 23 100 0 0 0 0 23 100 Pertanian Jumlah (%) (anggota) 1 14,3 6 85,7 0 0 0 0 7 100 Peternakan Jumlah (%) (anggota) 0 0 1 100 0 0 0 0 1 100 Jual Ikan Jumlah (%) (anggota) 0 0 54 100 0 0 0 0 54 100 4.5.2. Deskripsi Tingkat Pengetahuan Anggota Tabel 11 menunjukkan tanggapan anggota terhadap Penjelasan Pengurus mengenai Proses pemberian kredit pola Grameen Bank ditunjukkan oleh persentase anggota yang memilih cukup 29% : baik 66% : sangat baik 5% responden. Mengenai penjelasan pengurus terhadap proses menjadi anggota responden menilai baik dengan persentase responden yang menilai cukup 35% : baik 45% : sangan baik 20%. Dalam Frekuensi pertemuan yang didapat dalam proses pembentukan kelompok dinilai baik oleh mayoritas responden dengan prosentase sebesar 56% dan responden yang menilai sangat baik 34%. Tabel 11. Pengetahuan Anggota Terhadap Koperasi LEEP-M3 Pola Grameen Bank Kode Kriteria Tingkat Pengetahuan Buruk 49 Frekuensi Kurang Cukup Baik Sangat Baik Penjelasan Pengurus mengenai Proses pemberian kredit pola Grameen Bank Proses Kredit jumlah Responden (%) Proses Anggota Kejelasan pengurus terhadap proses menjadi anggota jumlah Responden (%) Frekuensi Pertemuan Frekuensi pertemuan yang didapat dalam proses pembentukan kelompok jumlah Responden (%) Peranan Peranan/kesungguhan pihak pengurus, masyarakat dan tokoh masyarakat dalam proses pembentukan kelompok jumlah Responden (%) Kepuasan penjelasan pengurus terhadap kendala yang akan ditemui saat menjadi anggota Koperasi LEPP-M3 jumlah Responden (%) 0 0 25 56 4 0 0 29 66 5 0 0 30 38 17 0 0 35 45 20 4 0 4 48 29 5 0 5 56 34 0 0 34 33 18 0 0 40 39 21 4 4 14 33 30 5 5 16 39 35 Pengetahuan anggota mengenai Peranan/kesungguhan pihak pengurus, masyarakat dan tokoh masyarakat dalam proses pembentukan kelompok dinilai cukup baik 40% tidak berbeda jauh dengan skala baik yaitu 39% dan sangat baik 21%, sedangkan tanggapan anggota mengenai penjelasan pengurus terhadap kendala yang akan ditemui saat menjadi anggota Koperasi LEPP-M3 responden menilai baik dengan 39% baik, 35% baik sekali, 16% cukup, 5% kurang dan buruk 5%. Dari semua penjelasan tersebut dapat diidentifikasikan bahwa pengurus Koperasi LEEP-M3 Pola Grameen Bank memiliki kontribusi terhadap peningkatan pengetahuan anggota koperasi pola Grameen Bank dapat dilihat pada Gambar 14. 50 Tabel 12. Tingkat Pengetahuan Ukuran Pemusatan ≥ Median < Median Frekuensi Kemunculan Persentas e 64 75,29 21 24,71 Kategor i Baik Buruk Untuk mengidentifikasikan tingkat pengetahuan anggota koperasi pola Grameen Bank dijawab melalui deskriptif statistik dengan menggunakan nilai pemusatan (median) dan tabel/grafik. Deskripsi data variabel tingkat pengetahuan terdapat jumlah responden 85 anggota Koperasi LEPP-M3 pola Grameen Bank yang mengisi kuesioner. Data hasil olahan menggunakan nilai pemusatan (Lampiran 3) didapat titik tengah (median) = 19 maka untuk mengukur tingkat pengetahuan diukur bila: (1) ≥ Median maka pengetahuan baik; (2) < Median maka pengetahuan buruk. Deskriptif statistik tingkat pengetahuan dihasilkan frekuensi kemunculan ukuran pemusatan ≥ titik median sebanyak 64 kemunculan. Lebih spesifik dapat dilihat analisa kuantitatif ukuran pemusatan median (Tabel 12) diketahui bahwa 75.29% peserta koperasi Grameen Bank memiliki pengetahuan yang baik mengenai pemberian kredit pola Grameen Bank. 51 Gambar 14. Grafik Tingkat Pengetahuan 4.5.3. Deskripsi Tingkat Penerapan Kredit Pola Grameen Bank Tabel 13 menunjukkan bahwa Pembinaan Pengurus terhadap cara penggunaan pemberian kredit pola Grameen Bank dalam kegiatan usaha yang dijalankan yaitu ditunjukkan oleh persentase responden yang memilih buruk 5% : kurang 5% : cukup 26% : baik 44% : sangat baik 20%. Cara pengembalikan pinjaman/cicilan kredit pola Grameen Bank yang diterapkan pengurus responden menilai cukup dengan persentase responden yang menilai buruk 5% : cukup 39% : baik 29% : sangan baik 27% dimana anggota menyicilnya per tiap minggu pertemuan kelompok dan jika salah satu anggota ada yang tidak bisa membayar maka anggota yang lain yang meminjamkan dulu cara ini biasa disebut prinsip tanggung rentan oleh anggota terhadap pinjamannya. Mengenai bunga pinjaman yang diterapkan dalam pemberian kredit pola Gramen bank dalam hal kesanggupan membayar dinilai baik oleh 52 mayoritas responden dengan prosentase sebesar 63% dan responden yang menilai sangat baik 26%. Tabel 13. Penerapan Kredit Pola Grameen Bank Kode Kriteria Tingkat Penerapan Cara Penggunaan Pembinaan Pengurus terhadap cara penggunaan pemberian kredit pola Grameen Bank dalam kegiatan usaha yang dijalankan Kemampuan bayar Cara Pemanfaatan 4 22 38 17 5 5 26 44 20 4 0 33 25 23 jumlah Responden (%) 5 0 39 29 27 Bunga pinjaman yang diterapkan dalam pemberian kredit pola Gramen bank dalam hal kesanggupan membayar 0 4 5 54 22 jumlah Responden (%) 0 5 6 63 26 Pembinaan pengurus dalam cara menjaga/melestarikan pinjaman agar bermanfaat bagi kehidupan diri, keluarga dan orang lain 0 4 16 46 19 0 5 19 54 22 0 9 9 36 31 0 11 11 42 36 Cara pengembalikan pinjaman/cicilan kredit pola Grameen Bank yang diterapkan pengurus jumlah Responden (%) Tingkat Pembinaan Sangat Baik 4 jumlah Responden (%) Cara Pengembalian Frekuensi Buruk Kurang Cukup Baik Pembinaan yang didapat anggota dari pengurus Koperasi LEPP-M3 khususnya bagi perkembangan usaha % jumlah Responden (%) Pembinaan pengurus dalam cara menjaga/melestarikan pinjaman agar bermanfaat bagi kehidupan diri, keluarga dan orang lain dinilai baik 54% sedangkan skala baik sekali yaitu 22%, mengenai Pembinaan yang didapat anggota dari pengurus Koperasi LEPP-M3 khususnya bagi perkembangan usaha responden menilai baik dengan 42% baik, 36% baik sekali, 11% cukup, 11% kurang dan buruk 0%. Tabel 14. Tingkat Penerapan Kredit Pola Grameen Bank 53 Frekuensi Ukuran Pemusatan Kemunculan Persentase Kategori ≥Median 55 64.71 1 Rtab) Reliability Coefficients 6.5756 5.4378 4.7345 5.6821 3.6787 0.2535 0.4792 0.5345 0.4251 0.6827 5 items Correlation between forms 0.7076 Guttman Split-half * Alpha for part 1 0.8286 0.4216 *Kriteria reabilitas 0,80 – 1,00 0,60 – 0,80 0,40 – 0,60 0,20 – 0,40 0,00 – 0,20 Corrected Item-Total Correlation (Rhit) Equal-length SpearmanBrown Unequal-length SpearmanBrown Alpha for part 2 0.8287 0.8336 0.4932 sangat tinggi tinggi cukup tinggi rendah sangat rendah (tidak berkorelasi). 85 Squared Multiple Correlation Alpha if Item Deleted 0.1828 0.7053 0.568 0.7328 0.6024 0.7313 0.6607 0.6345 0.6806 0.5572 Lampiran 6. (Lanjutan) B. Penerapan Pemberian Kredit Pola Grameen Bank Penerapan Pemberian Kredit Pola Greenman Mean Std Dev Cases B1 3.7059 0.9979 85 B2 3.7412 1.0136 85 B3 4.1059 0.7075 85 B4 3.9412 0.7769 85 B5 4.0471 0.95 85 Correlation Matrix B1 B2 B3 B4 B5 B1 1 B2 0.0062 1 B3 0.0615 0.4205 1 B4 0.2692 0.449 0.228 1 B5 0.3036 0.1859 0.2405 0.3586 1 N of Cases = 85.0 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation (Rhit) Squared Multiple Correlation Alpha if Item Deleted B1* 15.8353 5.8059 0.2272 0.14 0.6365 B2* 15.8 5.1857 0.3641 0.3226 0.5613 B3* 15.4353 6.1297 0.3608 0.2043 0.5656 B4* 15.6 5.3857 0.5282 0.316 0.4851 B5* 15.4941 5.2053 0.4121 0.2014 0.5322 r-tabel 0.1786 (N-2),0.05 *Valid (Rhit>Rtab) Reliability Coefficients 5 items Correlation between forms 0.5136 Equal-length Spearman-Brown 0.6786 Guttman Split-half * 0.6669 Unequal-length Spearman-Brown 0.6853 Alpha for part 1 0.3266 Alpha for part 2 0.5202 *Kriteria reabilitas 0,80 – 1,00 sangat tinggi 0,60 – 0,80 tinggi 0,40 – 0,60 cukup tinggi 0,20 – 0,40 rendah 0,00 – 0,20 sangat rendah (tidak berkorelasi). 86 Lampiran 6. (Lanjutan) C. Manfaat Penerapan Pemberian Kredit Pola Grameen Bank Manfaat Penerapan Pemberian kredit pola Grameen Bank Mean Std Dev Cases C1 3.9882 0.994 85 C2 3.8 1.1318 85 C3 4.4 0.727 85 Correlation Matrix C1 C2 C3 C1 1 C2 0.6434 1 C3 0.402 0.5324 1 N of Cases = 85.0 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation (Rhit) Squared Multiple Correlation Alpha if Item Deleted C1* 8.2 2.6857 0.6227 0.4189 0.6525 C2* 8.3882 2.0975 0.7089 0.5034 0.554 C3* 7.7882 3.7165 0.5198 0.2895 0.779 r-tabel 0.1786 (N-2),0.05 *Valid (Rhit>Rtab) Reliability Coefficients 5 items Correlation between forms 0.5198 Equal-length Spearman-Brown 0.6841 Guttman Split-half * 0.5111 Unequal-length Spearman-Brown 0.7032 Alpha for part 1 0.779 Alpha for part 2 *Kriteria reabilitas 0,80 – 1,00 sangat tinggi 0,60 – 0,80 tinggi 0,40 – 0,60 cukup tinggi 0,20 – 0,40 rendah 0,00 – 0,20 sangat rendah (tidak berkorelasi). 87 Lampiran 7. Pendapatan Bersih Bulanan Usaha Kecil Sebelum dan Sesudah Memperoleh Kredit Nomor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 pendapatan sebelum (Rp) pendapatan sesudah (Rp) 450000 600000 650000 800000 500000 750000 480000 700000 470000 600000 680000 700000 560000 700000 440000 700000 500000 600000 500000 800000 600000 900000 660000 850000 570000 700000 490000 800000 700000 900000 620000 850000 540000 750000 570000 750000 470000 650000 450000 750000 450.000 850.000 550.000 800.000 700.000 900.000 450.000 750.000 520.000 800.000 590.000 850.000 680.000 700.000 680.000 800.000 620.000 680.000 670.000 850.000 500.000 700.000 500.000 900.000 450.000 750.000 450.000 750.000 700.000 800.000 650.000 800.000 660.000 850.000 450.000 750.000 88 Lampiran 7. (Lanjutan) Nomor 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 pendapatan sebelum (Rp) pendapatan sesudah (Rp) 500.000 850.000 500.000 800.000 650.000 750.000 460.000 600.000 460.000 800.000 450.000 600.000 600.000 700.000 600.000 650.000 650.000 750.000 560.000 800.000 500.000 800.000 560.000 700.000 540.000 750.000 550.000 800.000 450.000 600.000 750.000 900.000 560.000 800.000 650.000 650.000 490.000 500.000 490.000 750.000 480.000 800.000 550.000 600.000 560.000 600.000 580.000 750.000 760.000 900.000 600.000 700.000 600.000 750.000 500.000 900.000 450.000 600.000 460.000 500.000 560.000 900.000 500.000 800.000 520.000 690.000 500.000 900.000 450.000 500.000 450.000 550.000 89 Lampiran 7. (Lanjutan) Nomor pendapatan sebelum (Rp) pendapatan sesudah (Rp) 75 490.000 750.000 76 500.000 800.000 77 600.000 650.000 78 650.000 900.000 79 650.000 850.000 80 480.000 850.000 81 480.000 750.000 82 500.000 800.000 83 500.000 800.000 84 650.000 900.000 85 650.000 780.000 Sumber : Data Kuesioner 85 Responden tahun 2011 90
The impact of credit by Grameen Bank scheme from Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3) Cooperative on coastal communities income in Tuban District. Analisis Data Metode Pengolahan Data dan Analisis Data 1. Pengolahan Data Analisis Regresi Linear Berganda Cara Menilai Kelayakan Anggota Deskripsi Tingkat Manfaat Kredit Pola Grameen Bank Deskripsi Tingkat Penerapan Kredit Pola Grameen Bank Deskripsi Tingkat Pengetahuan Anggota Falsafah Dasar Grameen Bank Visi Gramen Bank dan Misi Grameen Bank Prinsip Dasar Pemberian kredit pola Grameen Bank Grameen Bank TINJAUAN PUSTAKA Keadaaan Umum Masyarakat Pesisir Kekuatan dan Peluang Pemberian Kredit Pola Grameen Bank Kendala-kendala Dalam Pemberian Kredit Pola Grameen Bank Keberhasilan Penyaluran Kredit Pola Grameen Bank Kerangka Pemikiran Penelitian METODELOGI KAJIAN Kondisi Umum Kabupaten Tuban Angka Kemiskinan di Kabupaten Tuban Kondisi Usaha Koperasi LEPP M3 Kabupaten Tuban Latar Belakang Penelitian PENDAHULUAN Lokasi dan Waktu Penelitian Pendapatan Pengaruh Pemberian kredit pola Grameen Bank Terhadap Pendapatan Pengujian Reliabilitas Instrumen Tinjauan Pengujian Validitas dan Reabilitas Instrumen 1. Pengujian Validitas Instrumen Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Prosedur Penyaluran Kredit Sistem Grameen Bank Proses Pengajuan Pinjaman Metode Pemberian kredit pola Grameen Bank Skema Organisasi Grameen Bank di Kabupaten Tuban
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

The impact of credit by Grameen Bank scheme from Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3) Cooperative on coastal communities income in Tuban District.

Gratis