Feedback

Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT. XYZ, Jakarta (Studi Kasus pada Painting Plastik Part Honda OEM)

Informasi dokumen
ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PADA PT XYZ, JAKARTA(STUDI KASUS PADAPAINTING PLASTIK PART HONDA OEM) Oleh WAHYU TRI UTAMI H24104079 PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PADA PT XYZ, JAKARTA(STUDI KASUS PADAPAINTING PLASTIK PART HONDA OEM) SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor Oleh WAHYU TRI UTAMI H24104079 PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 RINGKASAN WAHYU TRI UTAMI H24104079. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT XYZ, Jakarta (Studi Kasus pada Painting Plastik Part Honda OEM). Dibawah bimbingan ABDUL BASITH Pemesanan dan penyimpanan barang merupakan kegiatan yang sangat penting pada bagian pengendalian persediaan barang dalam suatu perusahaan, baik barang tersebut merupakan bahan baku yang digunakan sebagai bahan produksi suatu perusahaan ataupun sebagai barang yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Pengendalian persediaan barang yang tepat diperlukan perusahaan untuk menghasilkan jumlah barang yang yang optimal dan mengeluarkan biaya seminimal mungkin. PT. XYZ merupakan perusahaan general assembling yang salah satu kegiatan produksinya adalah painting plastik part Honda OEM (Original Equipment Manufacturer). Dalam kegiatan produksi perusahaan sering mengalami claim karena tidak ratanya plastik part yang dicat. Hal ini menyebabkan jumlah bahan baku yang direncanakan tidak sama dengan pemakaian aktualnya. Oleh karena itu, diperlukan manajemen persediaan yang baik untuk pengendalian persediaan bahan baku yang optimal. Tujuan penelitian adalah : (1) Mengkaji sistem persediaan bahan baku saat ini pada PT. XYZ; (2) Mengoptimalkan persediaan bahan baku pada PT. XYZ; (3) Menganalisis efisiensi total biaya persediaan bahan baku pada PT. XYZ. Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data primer yang digunakan diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak perusahaan, khususnya wawancara dengan bagian PPC dan purchasing. Data sekunder diperoleh dari data dokumen perusahaan yang telah ada. Metode dalam penelitian ini bersifat kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan data kualitatif dilakukan secara deskriptif, meliputi gambaran dan kondisi perusahaan. Pengolahan data kuantitatif meliputi analisis ABC dan perhitungan model Economic Order Quantity (EOQ). Pengolahan tersebut menggunakan software POM for Windows 3. Hasil dari penelitian berdasarkan analisis ABC dapat disimpulkan bahwa dari 26 jenis bahan baku terdapat lima jenis bahan baku baku yang termasuk kedalam kelas A, yaitu Nippe Acryl HM NH/103, Nax Superio Base AHM Thinner (New), Wip Up Solvent, F/C R258 Winning Red, dan T/C Clear Base. Total biaya model EOQ lebih hemat dibandingkan total biaya perusahaan. Hasil total biaya selama satu tahun dengan menggunakan model EOQ adalah Rp 1.298.380.800, sedangkan total biaya perusahaan sebesar Rp 1.663.849.400, sehingga menghasilkan penghematan sebesar Rp 365.468.600 atau sekitar 21,96 % dalam satu tahun. Kata kunci: Analisis ABC, model EOQ Judul Skripsi :Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT. XYZ, Jakarta (Studi Kasus pada Painting Plastik Part Honda OEM) Nama : Wahyu Tri Utami NIM : H24104079 Menyetujui, Dosen Pembimbing, Dr. Ir. Abdul Basith, MS NIP 19570907 1985031006 Mengetahui, Ketua Departemen, Dr. Ir. Jono M. Munandar, MSc NIP : 19610123 198601 1 002 Tanggal lulus : RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 13September 1989, sebagai anak ketiga dari Sunhadji Waluyo dan Wahyuni Badriyah. Penulis merupakan lulusan pendidikan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Curug2 pada tahun 2001, kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 11Depok pada tahun 2004 dan kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN)4Depok. Pada tahun 2007, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI) untuk Program Diploma program keahlian Perencanaan dan Pengendalian Manufaktur/Jasa (PPMJ). Penulis memperoleh gelar Ahli Madya pada tahun 2010 dari Program Diploma dengan predikat sangat memuaskan. Pada tahun yang sama yaitu tahun 2010, penulis melanjutkan pendidikan ke Program Sarjana Alih Jenis Manajemen Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor melalui jalur tes. Untuk menyelesaikan skripsi, penulis melakukan praktek lapang dengan judul Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT. XYZ di Sunter Jakarta Utara. iii KATA PENGANTAR Segala puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Skripsi ini diajukan sebagai syarat kelulusan dan mendapatkan gelar sarjana ekonomi pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen. Penelitian ini berdasarkan praktek kerja lapangan (PKL) yang dilakukan penulis selama satu bulan terhitung sejak 1 – 27 Juli 2012 dengan mengambil judul Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT. XYZ, Jakarta (Studi Kasus pada Painting Plastik PartHonda OEM). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa jumlah pemesanan ekonomis dan kapan bahan baku dipesan sehingga diperoleh total biaya yang efisiensi untuk perusahaan dan diharapkan penelitian ini dapat berguna untuk perusahaan kedepannya. Penulis berharap bahwa penulisan skripsi ini dapat memberikan kontribusi positif kepada para pembaca khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk senantiasa memperoleh wawasan dan pengetahuan.Sangat disadari penulis bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat mambangun demi kesempurnaan skripsi ini dan lebih baik lagi pada masa mendatang.Atas perhatiannya,penulis ucapkan terima kasih. Bogor, Desember 2012 Penulis iv UCAPAN TERIMAKASIH Skripsiini dapat terselesaikan karena adanya dukungan dari berbagai pihak, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Kedua orang tua dan kedua kakakku yang sudah memberikan doanya dan dukungan baik moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 2. Bapak Dr. Ir. Abdul Basith, MS selaku dosen pembimbing yang telah membimbing penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 3. Ibu Farida Ratna Dewi, SE, MM dan Bapak R. Dikky Indrawan, SP, MM selaku dosen penguji. 4. Seluruh dosen pengajar pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen Institut Pertanian Bogor. 5. Bapak Purwanto selaku staf HRD yang telah memberi kesempatan bagi penulis untuk dapat melakukan praktik kerja lapangan dibagian Technical Departement. 6. Bapak Iwantoro dan Bapak Rasmidi yang telah bersedia menjadi pembimbing lapangan. 7. Seluruh staf yang ada dibagian Technical Departement dan karyawan PT. XYZkhususnya pada jalur small partyang banyak membantu dalam pencarian data untuk penulisan skripsi ini. 8. Bapak Tarman dan Bapak Agus bagian Warehouse, Bapak Rian dan Bapak Aspar bagian PPC, Bapak Tukimin bagian Accounting dan Bapak Tohibud bagian Purchasing yang telah meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan yang penulis ajukan. 9. Sahabat dan teman-teman yang ada di Program Sarjana Alih Jenis Manajemen. 10. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini, semoga Allah SWT memberikan pahala atas kebaikannya. v DAFTAR ISI Halaman RINGKASAN RIWAYAT HIDUP .................................................................................. iii KATA PENGANTAR .............................................................................. iv DAFTAR ISI ............................................................................................ vi DAFTAR TABEL .................................................................................... viii DAFTAR GAMBAR ................................................................................ ix DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ x I. PENDAHULUAN............................................................................... 1 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 Latar Belakang ............................................................................ Perumusan Masalah ..................................................................... Tujuan Penelitian......................................................................... Manfaat Penelitian....................................................................... Ruang Lingkup Penelitian ........................................................... 1 4 5 5 5 II. TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 7 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 Definisi Persediaan ...................................................................... Faktor Penyebab Munculnya Persediaan...................................... Manfaat Persediaan ..................................................................... Fungsi Persediaan ........................................................................ Jenis Persediaan .......................................................................... Biaya Persediaan ......................................................................... Model Pengendaliaan Persediaan ................................................. 2.7.1 Analisis ABC...................................................................... 2.7.2 Jumlah Pemesanan Ekonomis ............................................. 2.7.3 Persediaan Pengaman ......................................................... 2.7.4Reorder Point ...................................................................... 2.8 Penelitian Terdahulu .................................................................... 7 8 8 10 11 12 14 14 15 17 18 19 III. METODE PENELITIAN .................................................................. 21 3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian .................................................... 3.2 Metodologi Penelitian ................................................................. 3.2.1 Lokasi dan Waktu Penelitian............................................... 3.2.2 Jenis dan Metode Pengumpulan Data .................................. 3.3 Metode Pengolahan dan Analisis Data ......................................... 3.3.1 Analisis ABC...................................................................... 3.3.2 Model EOQ ........................................................................ 21 22 22 23 23 24 24 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 26 4.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan ....................................... 26 vi 4.1.1 Profil Perusahaan ................................................................ 4.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan........................................... 4.1.3 Kebijakan Mutu PT. Gaya Motor ........................................ 4.1.4 Data Fisik PT. Gaya Motor ................................................. Proses Produksi Honda OEM ...................................................... Pengendalian Persediaan Bahan Baku.......................................... 4.3.1 Prosedur Pembelian Bahan Baku ........................................ 4.3.2 Prosedur Penerimaan Bahan Baku ...................................... 4.3.3 Prosedur Pemakaian Bahan Baku ........................................ Penentuan Bahan Baku Prioritas dengan Analisis ABC ............... Biaya Persediaan ......................................................................... 4.5.1 Biaya Pemesanan ................................................................ 4.5.2 Biaya Penyimpanan ............................................................ Jumlah Pemesanan Ekonomis ...................................................... Implikasi Manajerial.................................................................... 26 27 29 29 30 34 35 36 37 38 40 40 41 41 44 KESIMPULAN DAN SARAN................................................................. 45 1. Kesimpulan ........................................................................................... 2. Saran .................................................................................................... 45 46 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 47 LAMPIRAN ............................................................................................. 48 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 vii DAFTAR TABEL No. Halaman 1. 2. 3. 4. 5. 6. Rencana kebutuhan bahan baku Honda OEM ............................................ Penggunaan bahan baku Honda OEM ....................................................... Hasil analisis ABC bahan baku Honda OEM............................................. Perhitungan biaya pemesanan.................................................................... Kebutuhan optimum bahan baku kelas A dengan metode EOQ ................. Jumlah pemesanan yang diperkirakan sepanjang tahun dan waktu antar pemesanan yang diperkirakan pada EOQ dengan jumlah pemesanan masing-masing bahan baku ....................................................................... 7. Perbandingan total biaya tahunan bahan baku kelas A dengan metode EOQ dan perusahaan ................................................................................. viii 2 3 39 41 42 42 43 DAFTAR GAMBAR No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Halaman Representasi grafik dari analisis ABC ....................................................... Penggunaan persediaan dalam waktu tertentu ............................................ Biaya total sebagai fungsi dari kuantitas pemesanan .................................. Kerangka pemikiran penelitian .................................................................. Prosedur pembelian bahan baku ................................................................ Prosedur penerimaan bahan baku .............................................................. Prosedur pemakaian bahan baku ................................................................ ix 15 16 17 22 36 37 38 DAFTAR LAMPIRAN No. Halaman 1. Pengumpulan dan analisis data ............................................................. 2. Struktur organisasi PT. XYZ ................................................................ 3. Layout PT. XYZ .................................................................................. 4. Layout small part ................................................................................. 5. Peta proses operasi painting plastik part Honda OEM .......................... 6. Hasil perhitungan bahan baku Nippe Acryl HM NH/103 ....................... 7. Hasil perhitungan bahan baku Nax Superio Base AHM Thinner (New) . 8. Hasil perhitungan bahan baku Wip Up Solvent ..................................... 9. Hasil perhitungan bahan baku F/C R258 Winning Red ......................... 10. Hasil perhitungan bahan baku T/C Clear Base...................................... x 49 50 51 52 53 54 54 54 55 55 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pemesanan dan penyimpanan barang merupakan kegiatan yang sangat penting pada bagian pengendalian persediaan barang atau inventory control dalam suatu perusahaan, baik barang tersebut merupakan bahan baku yang digunakan sebagai bahan produksi suatu perusahaan ataupun sebagai barang yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Pada kegiatan pemesanan bahan baku, bahan baku yang dipesan adalah bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Sehingga ada kalanya pada saat unit-unit dalam organisasi membutuhkan barang untuk melakukan aktivitas, barang yang dibutuhkan tidak tersedia di gudang. Adapun sebaliknya, apabila organisasi memesan barang dengan jumlah yang cukup besar serta setiap unit-unit belum membutuhkan, maka akan mengalami penumpukkan persediaan dan berpengaruh kepada biaya penyimpanan dan mutu bahan baku yang disimpan menjadi kurang baik. Pengendalian persediaan barang yang tepat diperlukan perusahaan untuk menghasilkan jumlah barang yang optimal dan mengeluarkan biaya seminimal mungkin. PT. XYZ adalah perusahaan general assembling yang didirikan pada tahun 1963. Perusahaan ini dapat bertahan walaupun tidak memiliki produk sendiri. Perusahaan ini menggunakan sistem make to order, yang mana produksi sesuai pesanan pelanggan.Salah satu produksi PT. XYZ adalah painting plastik partHonda OEM (Original Equipment Manufacturer). Proses painting plastik part Honda OEM adalah salah satu produk PT XYZ yang nantinya akan dikirim ke ATPM (Agen Tunggal Pemilik Merek) untuk dirakit dan dijadikan unit sepeda motor.Setiap harinya perusahaan harus mengirimkan sekitar 1400 pcs plastik part yang sudah di painting dari 14 part yang ada untuk dijadikan 100 unit kendaraan sepeda motor. Namun dalam praktiknya perusahaan sering mengalami pengembalian part yang salah satunya disebabkan karena tidak ratanya plastik part yang di cat. Hal tersebut menyebabkan bertambahnya part yang akan dilakukan painting untuk membayar claimdari ATPM, sehingga kebutuhan bahan baku yang sudah direncanakan tidak sesuai dengan pemakaian aktualnya. Oleh 2 Tabel 1. Rencana kebutuhan bahan baku Honda OEM Bahan Baku Nippe Acryl HM NH / 103 Nax Superio Base AHM Thinner (New) Wip Up Solvent F/C R258 Winning Red T/C Clear Base U/C NH-177M Vostok Silver Met U/C Pink R258 For Winning Red Polyure Mightylac Hardener SGI U/C Thinner New SGI F/C Thinner Sarung Tangan Nylon Thinner Laquer Central U/C NH-A 30M Digital Silver Masking Tape 1x30 Anco Sand Paper #600 Masking Tape 2x30 Anco Masker Kain Tag Rag Tessa Flexible Fineline Masking Tape 4174 Sarung Tangan 6 Benang Sand Paper #800 High Performance Cloth (IPO) Majun B Sarung Tangan Karet Koran Bekas Scoth Brate Jul-11 Ags-11 Sep-11 Okt-11 Nop-11 Des-11 Jan-12 Feb-12 1047,92 692,02 1136,89 1047,92 1977,2 1136,89 1878,34 988,6 1034,56 385,84 80,56 106 84,8 74,2 34,56 159 137,8 267,12 207,76 683,2 254,8 53,2 70 56 49 22,82 105 91 176,4 137,2 23,8 215,6 98 39,2 98 39,2 1122,4 418,6 87,4 115 92 80,5 37,49 172,5 149,5 289,8 225,4 39,1 354,2 161 64,4 161 64,4 1034,56 385,84 80,56 106 84,8 74,2 34,56 159 137,8 267,12 207,76 1952 728 152 200 160 140 65,2 300 260 504 392 1854,4 691,6 144,4 190 157 285 61,94 285 247 478,8 372,40 976 364 76 100 80 70 32,6 150 130 252 196,00 36,04 326,48 148,4 59,36 148,4 59,36 68 616 280 112 280 112 1122,4 418,6 87,4 115 92 80,5 37,49 172,5 149,5 289,8 225,4 39,1 354,2 161 64,4 161 64,4 64,6 585,2 266 106,4 266 106,4 34 308 140 56 140 56 3,22 22,54 38,64 3,22 2,968 20,776 35,616 2,97 5,32 37,24 63,84 5,32 2,8 19,6 33,6 2,80 28,98 22,54 12,88 26,712 20,776 11,872 5,6 39 67,2 5,6 50,4 3,22 22,54 38,64 3,22 26,712 20,776 11,872 7,96 13,72 23,52 7,96 17,64 13,72 7,84 39 22,4 28,98 22,54 12,88 47,88 37,24 21,28 2,968 7,96 3,22 2,968 5,6 3,22 5,32 36,04 326,48 148,4 59,36 148,4 59,36 2,968 20,776 35,616 2,97 Mar-12 Apr-12 Mei-12 Jun-12 642,59 840,31 444,87 494,3 634,4 236,6 49,4 65 52 45,5 21,19 97,5 84,5 163,8 127,4 22,1 200,2 91 36,4 91 36,4 829,6 309,4 64,6 85 68 59,5 27,71 127,5 110,5 214,2 166,60 439,2 163,8 34,2 45 36 31,5 14,67 67,5 58,5 113,4 88,2 28,9 261,8 119 47,6 119 47,6 15,3 138,6 63 25,2 63 25,2 488 169,9 38 50 40 35 16,3 75 65 117,6 91,46 17 143,7 65,3 26,1 65,3 26,1 2,38 16,66 28,56 2,38 1,26 8,8 15,12 1,26 25,2 19,6 11,2 1,82 12,74 21,84 1,82 16,38 12,74 7,28 21,42 16,66 9,52 11,34 6,8 5,04 5,3 9,15 15,68 5,3 11,76 9,15 5,22 2,8 1,82 2,38 1,26 5,3 3 Tabel 2. Penggunaan bahan baku Honda OEM Bahan Baku Nippe Acryl HM NH / 103 Nax Superio Base AHM Thinner (New) Wip Up Solvent F/C R258 Winning Red T/C Clear Base U/C NH-177M Vostok Silver Met U/C Pink R258 For Winning Red Polyure Mightylac Hardener SGI U/C Thinner New SGI F/C Thinner Sarung Tangan Nylon Thinner Laquer Central U/C NH-A 30M Digital Silver Masking Tape 1x30 Anco Sand Paper #600 Masking Tape 2x30 Anco Masker Kain Tag Rag Tessa Flexible Fineline Masking Tape 4174 Sarung Tangan 6 Benang Sand Paper #800 High Performance Cloth (IPO) Majun B Sarung Tangan Karet Koran Bekas Scoth Brate Jul-11 Ags-11 Sep-11 Okt-11 Nop-11 Des-11 Jan-12 Feb-12 1136,89 741,45 1038,03 1047,92 1878,34 1482,9 2174,92 988,6 1122,4 418,6 87,4 115 92 80,5 37,49 172,5 149,5 289,8 225,4 39,1 354,2 161 64,4 161 64,4 732 237 57 75 60 52,5 24,45 112,5 97,5 189 147,00 1024,8 382,2 79,8 105 84 73,5 34,23 157,5 136,5 264,6 205,80 1034,56 385,84 80,56 106 84,8 74,2 34,56 159 137,8 267,12 207,76 1854,4 691,6 144,4 190 157 285 61,94 285 247 478,8 372,40 1464 546 114 150 120 105 48,9 225 195 378 294,00 2147,2 800,8 167,2 220 176 154 71,72 330 286 554,4 431,20 976 364 76 100 80 70 32,6 150 130 252 196,00 25,5 231 105 42 105 42 35,7 323,4 147 58,8 147 58,8 36,04 326,48 148,4 59,36 148,4 59,36 64,6 585,2 266 106,4 266 106,4 51 462 210 84 210 84 74,8 677,6 308 123,2 308 123,2 34 308 140 56 140 56 3,22 22,54 38,64 3,22 2,1 14,7 25,2 2,10 2,94 20,58 35,28 2,94 2,968 20,776 35,616 2,97 5,32 37,24 63,84 5,32 4,2 29,4 50,4 4,20 6,16 43,12 73,92 6,16 2,8 19,6 33,6 2,80 28,98 22,54 12,88 18,9 14,7 8,4 26,46 20,58 11,76 26,712 20,776 11,872 47,88 37,24 21,28 37,8 29,4 16,8 55,44 43,12 24,64 3,22 2,1 2,94 2,968 5,32 4,2 6,16 Mar-12 Apr-12 Mei-12 Jun-12 692,02 840,31 247,15 642,59 683,2 254,8 53,2 70 56 49 22,82 105 91 176,4 137,2 23,8 215,6 98 39,2 98 39,2 829,6 309,4 64,6 85 68 59,5 27,71 127,5 110,5 214,2 166,60 244 81 19 25 20 17,5 8,15 37,5 32,5 63 49,00 28,9 261,8 119 47,6 119 47,6 8,5 77 35 14 35 14 634,4 236,6 49,4 65 52 45,5 21,19 97,5 84,5 163,8 127,4 22,1 200,2 91 36,4 91 36,4 2,38 16,66 28,56 2,38 0,7 4,9 8,4 0,70 25,2 19,6 11,2 7,96 13,72 23,52 7,96 17,64 13,72 7,84 21,42 16,66 9,52 6,3 4,9 2,8 1,82 12,74 21,84 1,82 16,38 12,74 7,28 2,8 7,96 2,38 0,7 1,82 4 sebabitu diperlukan manajemen persediaan yang baik untuk pengendalian persediaan bahan baku agar optimal. Manajemen persediaan meliputi setiap aktivitas yang menjaga agar tingkat persediaan tetap berada dalam tingkatan yang diinginkan. Kebijakan dalam manajemen persediaan perlu dirumuskan secara tepat sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan oleh perusahaan. Terdapat beberapa metode untuk mengendalikan tingkat persediaan, diantaranya adalah analisis ABC dan model Economic Order Quantity (EOQ). Analisis ABC digunakan untuk mengklasifikasikan bahan baku berdasarkan dolar tahunan yakni hasil persentase komulatif dari perkalian antara permintaan dengan harga perunit bahan baku. Pengelompokkan ini dapat membantu manager untuk lebih fokus pada bahan baku yang memiliki persentase komulatif tinggi yakni kelas A dan memberikan kontrol yang secukupnya untuk bahan baku yang lain. Metode EOQ digunakan untuk menentukan jumlah barang yang optimal dalam satu periode dengan meminimalkan total biaya persediaan. Biaya persediaan itu terdiri dari setup cost dan holding cost. Pada penentuanjumlah barang yang akan dipesan dibutuhkan data-data hasil analisa yangmendalam sehingga menghasilkan jumlah barang yang optimal untuk dipesan dantidak merugikan perusahaan. Beberapa keuntungan dari kebijakan penerapan EOQ dalam manajemen persediaan adalah investasi yang tertanam dalam persediaan bisa dijaga tetap minimum dan jumlah pemesanan bahan baku disesuaikan kebutuhan konsumsi. 1.1. Perumusan Masalah Masalah utama persediaan bahan baku adalah menentukan berapa jumlah pesanan ekonomis yang akan menjawab persoalan berapa jumlah bahan baku dan kapan bahan baku itu dipesan sehingga dapat meminimasi ordering cost dan holding cost. Masalah lain dari persediaan bahan baku adalah terjadinya penumpukan yang dapat mengurangi mutu dari bahan baku itu sendiri. Melihat masalah tersebut maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana sistem persediaan bahan baku yang sedang berjalan pada PT. XYZ? 5 2. Bagaimana mengoptimalkan persediaan bahan baku agar tidak menghambat proses produksi pada PT. XYZ? 3. Bagaimana mengefisiensikan total biaya persediaan bahan baku pada PT. XYZ? 1.2. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mengkaji sistem persediaan bahan baku saat ini pada PT. XYZ. 2. Mengoptimalkan persediaan bahan baku pada PT. XYZmenggunakan Analisis ABC. 3. Analisis efisiensi total biaya persediaan bahan baku pada PT. XYZ menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ). 1.3. Manfaat Penelitian Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah: 1. Bagi penulis, dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di perkuliahan untuk dapat menerapkannya di lapangan. 2. Bagi perusahaan, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dan masukan dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan pengendalian persediaan. 3. Bahan referensi bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengendalian persediaan. 1.4. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah: 1. Persediaan yang dikaji adalah bahan baku pada jalur painting plastik part Honda OEM. 2. Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan selama bulan Juli2012, dan data yang diperlukan berupa data sekunder selama satu tahun yakni dari Juli 2011 - Juni 2012dan seluruhnya bersumber pada catatan kebutuhan bahan baku di bagian Production Planing Control (PPC). 6 3. Dalam perhitungan Economic Order Quantity (EOQ) bahan baku yang diperhitungkan hanya bahan baku yang tergolong kedalam kelas A pada analisis ABC. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Persediaan Menurut Pardede (2005), persediaan (inventory) adalah sejumlah barang atau bahan yang tersedia untuk digunakan sewaktu-waktu di masa yang akan datang. Sediaan terjadi apabila jumlah bahan atau barang yang diadakan (dibeli atau dibuat sendiri) lebih besar daripada jumlah yang digunakan (dijual atau diolah sendiri). Menurut Ristono (2009), persediaan dapat diartikan sebagai barang-barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada masa atau periode yang akan datang. Persediaan terdiri dari persediaan bahan baku, persediaan bahan setengah jadi, dan persediaan barang jadi. Persediaan bahan baku dan bahan setengah jadi di simpan sebelum digunakan atau dimasukan ke dalam proses produksi, sedangkan persediaan barang jadi atau barang dagangan di simpan sebelum dijual atau dipasarkan. Menurut Heizer dan Render (2010), persediaan adalah salah satu asset termahal dari banyak perusahaan, mewakili sebanyak 50% dari keseluruhan modal yang diinvestasikan. Manajer operasi diseluruh dunia telah menyadari bahwa manajemen persediaan sangatlah penting. Di satu sisi, sebuah perusahaan dapat mengurangi biaya dengan mengurangi persediaan. Di sisi lain, produksi dapat berhenti dan pelanggan menjadi tidak puas ketika sebuah barang tidak tersedia. Tujuan manajemen persediaan adalah menentukan keseimbangan antara investasi persediaan dengan pelayanan pelanggan. Menurut Assauri (2008), persediaan adalah suatu aktiva yang meliputi barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual suatu periode usaha yang normal atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan/proses produksi, ataupun persediaan barang baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi. Jadi persediaan merupakan sejumlah bahan-bahan, parts yang disediaakan dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang jadi/produk yang disediakan untuk memenuhi permintaan dari komponen atau langganan setiap waktu. 8 2.2. Faktor Penyebab Munculnya Persediaan Menurut Sumayang (2003), penyebab timbulnya persediaan adalah sebagai berikut: 1. Menghilangkan pengaruh ketidakpastian. Untuk menghadapi ketidakpastian maka pada sistem ditetapkan persediaan darurat yang dinamakan safety stock. Jika sumber dari ketidakpastian dapat dihilangkan, maka jumlah inventory maupun safety stock dapat dikurangi. 2. Memberi waktu luang untuk pengelolaan produksi dan pembelian. Kadangkadang lebih ekonomis memproduksi barang dalam proses atau barang jadi dalam jumlah besar atau dalam jumlah paket yang kemudian disimpan sebagai persediaan. 3. Untuk mengantisipasi perubahan pada demand dan supply. Inventory disiapkan untuk menghadapi bila ada perkiraan perubahan harga dan persediaan bahan baku. 2.3. Manfaat Persediaan Menurut Assauri (2008), alasan diperlukannya persediaan oleh suatu perusahaan adalah karena: 1. Dibutuhkannya waktu untuk menyelesaikan operasi produksi untuk memindahkan produk dari suatu tingkat ke tingkat produksi proses yang lain, yang disebut persediaan dalam proses dan pemindahan. 2. Alasan organisasi, untuk memungkinkan satu unit atau bagian membuat jadwal operasinya secara bebas, tidak tergantung dari yang lainnya. Alasan-alasan utama untuk mengadakan sediaan menurut Pardede (2005), adalah kaitannya dengan hal-hal berikut : 1. Berjaga-jaga Pengadaan persediaan dapat dipandang sebagai suatu cara untuk berjaga-jaga tehadap kemungkinan tidak tersedianya atau tidak cukupnya bahan-bahan pada saat dibutuhkan. Kemungkinan seperti itu terjadi apabila permintaan berubah-ubah dan tidak dapat diramalkan. Penyebab lainnya adalah masa tunggu (lead time) yang berubah-ubah dan sering tidak dapat 9 diperkirakan. Penyebab itu dapat juga kedua-duanya sekaligus, yaitu permintaan tidak pasti. Sediaan yang diadakan dengan maksud untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan seperti itu disebut sediaan berjagajaga(buffer stock). 2. Pemisahan operasi (operation decoupling) Pada suatu rangkaian kegiatan pengolahan, setiap kegiatan sangat bergantung kepada, atau dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan lain. Pada beberapa kegiatan yang berurutan, apabila satu kegiatan terhenti maka kegiatan berikutnya akan terganggu. Untuk mengatasi hal ini maka dua kegiatan yang berurutan dapat dipisahkan dari segi sediaan. Dengan cara ini suatu kegiatan yang mengikuti, atau yang merupakan lanjutan dari, kegiatan lain “dibekali” dengan sediaan bahan dalam pengerjaan sehingga ketergantungan terhadap kegiatan pendahulunya dapat diperkecil. Disamping itu, pemisahan kegiatan dari segi sediaan juga dilakukan agar setiap kegiatan dapat direncanakan jadwal secara bebas tanpa harus menyesuaikannya dengan jadwal-jadwal kegiatan lain. 3. Pemantapan produksi (smoothing production) Apabila sejumlah barang yang diminta berubah-ubah naikturun secara tidak teratur, perusahaan tidak harus menaik-turunkan tingkat pengolahan untuk memenuhinya. Pengolahan dapat diusahakan agar selalu berada pada tingkat yang tetap dengan bantuan sediaan. Pada saat jumlah barang yang dibuat lebih besar dari jumlah yang diminta maka sediaan akan menumpuk. Sediaan ini nantinya akan digunakan untuk menutupi kekurangan pada saat jumlah yang dibuat rendah dari jumlah yang diminta. 4. Penghematan biaya penanganan sediaan Pada suatu rangkaian kegiatan pengolahan, bahan-bahan mengalir mulai dari kegiatan tahap awal hingga kegiatan tahap akhir. Pergerakan bahan-bahan ini tentu saja membutuhkan biaya terutama pada kegiatan pengolahan yang terputus-putus (intermitten production process). Biaya ini, yang disebut biaya penanganan sediaan(material handling cost), dapat dihemat dengan cara mengadakan atau menempatkan sediaan di antara dua kegiatan yang berurutan. 10 5. Penghematan biaya pengadaan bahan Biaya pengadaan bahan (material procurement cost) akan dapat dihemat melalui pemanfaatan potongan jumlah (quantity discount) yang ditawarkan oleh perusahaan pemasok. Potongan jumlah diperoleh apabila pembelian dilakukan dalam jumlah besar, dan pembelian dalam jumlah besar akan dimungkinkan dengan pengadaan sediaan. 2.4. Fungsi Persediaan Menurut Heizer dan Render (2010), persediaan dapat melayani beberapa fungsi yang menambal fleksibilitas bagi operasi perusahaan. Keempat fungsi persediaan adalah sebagai berikut: 1. “Decouple” atau memisahkan beberapa tahapan dari proses produksi. Sebagai contoh, jika persediaan sebuah perusahaan berfluktuasi, persediaan tambahan mungkin diperlukan untuk melakukan decouple proses produksi dari pemasok. 2. Melakukan “decouple” perusahaan dari fluktuasi permintaan dan menyediakan persediaan barang-barang yang akan memberikan pilihan bagi pelanggan. Persediaan seperti ini digunakan secara umum pada bisnis eceran. 3. Mengambil keuntungan dari diskon kuantitas karena pembelian dalam jumlah besar dapat mengurangi biaya pengiriman barang. 4. Melindungi terhadap inflasi dan kenaikan harga. Menurut Assauri (2008), persediaan yang diadakan mulai dari yang bentuk bahan mentah sampai dengan barang jadi, mempunyai fungsi yaitu: 1. Menghilangkan risiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan yang dibutuhkan perusahaan. 2. Menghilangkan risiko dari material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan. 3. Untuk menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran. 4. Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi. 11 5. Mencapai penggunaan mesin yang optimal. 6. Memberikan pelayanan (service) kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya dimana keinginan pelanggan pada suatu waktu dapat dipenuhi atau memberikan jaminan tetap tersediaanya barang jadi tersebut. 7. Membuat pengadaan atau produksi tidak perlu sesuai dengan penggunaannya atau penjualannya. 2.5. Jenis Persediaan Menurut Nasution dan Prastyawan (2008), dilihat dari jenisnya persediaan dibedakan menjadi empat, yaitu: 1. Bahan baku (raw material) adalah barang-barang yang dibeli dari pemasok (supplier) dan akan digunakan atau diolah menjadi produk jadi yang akan dihasilkan perusahaan. 2. Bahan setengah jadi (work in process) adalah bahan baku yang sudah diolah atau dirakit menjadi komponen namun masih membutuhkan langkahlangkah lanjutan agar menjadi produk jadi. 3. Barang jadi (finish good) adalah barang jadi yang telah selesai diproses, siap untuk disimpan di gudang barang jadi, dijual, atau didistribusikan ke lokasilokasi pemasaran. 4. Bahan-bahan pembantu(supplies) adalah barang-barang yang dibutuhkan untuk menunjang produksi, namun tidak akan menjadi bagian pada produk akhir yang dihasilkan perusahaan. Menurut Heizer dan Render (2010), untuk mengakomodasi fungsi-fungsi persediaan, perusahaan harus memelihara empat jenis persediaan, yaitu: 1. Persediaan bahan mentah (raw material inventory), digunakan untuk melakukan decouple (memisahkan) pemasok dari proses produksi. Bagaimanapun juga, pendekatan yang lebih dipilih adalah menghilangkan variabilitas pemasok akan kualitas, kuantitas, atau waktu pengantaran sehingga tidak diperlukan pemisahan. 2. Persediaan barang setengah jadi (work in process-WIP inventory) adalah komponen-komponen atau bahan mentah yang telah melewati beberapa proses perubahan, tetapi belum selesai. WIP ada karena waktu yang 12 diperlukan untuk menyelesaikan sebuah produk (disebut waktu siklus). Mengurangi waktu siklus akan mengurangi persediaan. 3. Persediaan pasokan pemeliharaan/perbaikan/operasi (maintenance, repair, operating-MRO) adalah persediaan-persediaan yang disediakan untuk persediaan pemeliharaan, perbaikan dan operasi yang dibutuhkan untuk menjaga agar mesin-mesin dan proses-proses tetap produktif. MRO ada karena kebutuhan serta waktu untuk pemeliharaan dan perbaikan dari beberapa perlengkapan tidak diketahui. Walaupun permintaan akan MRO merupakan fungsi dari jadwal pemeliharaan, permintaan-permintaan MRO lainnya yang tidak terjadwal harus diantisipasi. 4. Persediaan barang jadi (finish good inventory) adalah produk yang telah selesai dan tinggal menunggu pengiriman. Barang jadi dapat dimasukkan ke persediaan karena permintaan pelanggan di masa mendatang tidak diketahui. 2.6. Biaya Persediaan Menurut Ristono (2009), biaya persediaan dapat dibedakan atas: 1. Ongkos pembelian (purchase cost) Ongkos pembelian adalah harga per unit apabila item dibeli dari pihak luar, atau biaya produksi per unit apabila diproduksi dalam perusahaan atau dapat dikatakan pula bahwa biaya pembelian adalah semua biaya yang digunakan untuk membeli suku cadang. Penetapan dari biaya pembelian ini tergantung dari pihak penjualan barang atau bahan sehingga pihak pembeli hanya bisa mengikuti fluktuasi harga barang yang ditetapkan oleh pihak penjual. 2. Ongkos pemesanan atau Biaya persiapan (order cost/set up cost) Ordering cost adalah biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan pemesanan barang ke supplier. Besar kecilnya biaya pemesanan sangat tergantung pada frekuensi pesanan, semakin sering memesan barang maka biaya yang dikeluarkan akan semakin besar dan sebaliknya. Biaya pemesanan secara terperinci meliputi : 1. Biaya persiapan pesanan, antara lain : a. Biaya telepon atau ongkos menghubungi supplier 13 b. Pengeluaran surat menyurat 2. Biaya penerimaan barang, seperti : a. Biaya pembongkaran dan pemasukan ke gudang b. Biaya laporan penerimaan barang c. Biaya pemeriksaan barang atau biaya pengecekan 3. Biaya pengiriman pesanan ke gudang 4. Biaya-biaya proses pembayaran, seperti biaya pembuatan cek, pengiriman cek atau biaya transfer ke bank supplier, dan sebagainya. 3. Ongkos simpan (carrying cost/holding cost/storage cost) Ongkos simpan adalah biaya yang dikeluarkan atas investasi dalam persediaan dan pemeliharaan maupun investasi sarana fisik untuk menyimpan persediaan, atau dapat pula dikatakan biaya yang timbul akibat penyimpanan barang maupun bahan (diantaranya: fasilitas penyimpanan, sewa gudang, keusangan, asuransi, pajak dan lain-lain). Yang termasuk dalam biaya simpan antara lain: a. Biaya sewa atau penggunaan gudang. b. Biaya pemeliharaan barang. c. Biaya pemanasan atau pendinginan, bila untuk menjaga ketahanan barang dibutuhkan faktor pemanas atau pendingin. d. Biaya menghitung dan menimbang barang. 4. Biaya kekurangan persediaan (stockout cost) Dengan kekurangan persediaan maka biaya yang timbul adalah sebagai berikut: a. Kehilangan pendapatan. b. Selisih harga komponen. c. Terganggunya operasi. Menurut Heizer dan Render (2010) biaya persediaan meliputi: 1. Biaya penyimpanan (holding cost) adalah biaya yang terkait dengan menyimpan atau “membawa” persediaan selama waktu tertentu. Oleh karena itu, biaya penyimpanan juga mencakup biaya barang usang dan biaya yang terkait dengan penyimpanan, seperti asuransi, pegawai tambahan, dan pembayaran bunga. 14 2. Biaya pemesanan (ordering cost) mencakup biaya dari persediaan, formulir, proses pesanan, pembelian, dukungan administrasi, dan seterusnya. Ketika pesanan sedang diproduksi, biaya pesanan juga ada, tetapi mereka adalah bagian dari biaya penyetelan. 3. Biaya penyetelan (setup cost) adalah biaya untuk mempersiapkan sebuah mesin atau proses untuk membuat sebuah pesanan. Ini menyertakan waktu dan tenaga kerja untuk membersihkan serta mengganti peralatan atau alat penahan. Manajer operasi dapat menurunkan biaya pemesanan dengan mengurangi biaya penyetelan serta menggunakan prosedur yang efisien, seperti pemesanan dan pembayaran elektronik. 2.7. Model Pengendalian Persediaan 2.7.1 Analisis ABC Menurut Heizer dan Render (2010), analisis ABC membagi persediaan yang ada menjadi tiga klasifikasi dengan basis volume dolar tahunan. Analisis ABC adalah sebuah aplikasi persediaan dari prinsip Pareto. Prinsip Pareto menyatakan terdapat “sedikit hal yang kritis dan banyak yang sepele”. Gagasannya adalah untuk membuat kebijakan-kebijakan persediaan yang memfokuskan persediaan pada bagian-bagian persediaan kritis yang sedikit dan tidak pada banyak yang sepele. Tidaklah realistis jika memantau barang-barang yang tidak mahal dengan intensitas yang sama dengan barang-barang yang sangat mahal. Untuk menentukan volume dolar tahunan dari analisis ABC, mengukur permintaan tahunan dari setiap barang persediaan dikalikan biaya per unitnya. Barang-barang kelas A adalah barang yang volume dolar tahunannya tinggi. Walaupun barang ini hanya mempresentasikan 15% dari barang-barang persediaan total. Barang kelas A juga mempresentasikan 70% sampai 80% dari penggunaan uang secara keseluruhan. Barang-barang kelas B adalah barang persediaan dengan volume dolar tahunan yang sedang. Barang ini mempresentasikan sekitar 30% dari barang persediaan dan 15% sampai 25% dari nilai total. Barang dengan volume dolar tahunan kecil adalah kelas C yang hanya mempresentasikan 5 % dari volume dolar tahunan, tetapi mewakili sekitar 55% dari barang persediaan total. Persen dari penggunaan dolar tahunan 15 Barang A Barang B Barang C Persen dari persediaan Gambar 1. Representasi grafik dari analisis ABC Kriteria lain dari volume dolar tahunan juga dapat menentukan klasifikasi barang, seperti perubahan-perubahan teknik yang diantisipasi, masalah-masalah pengantaran, masalah kualitas, atau biaya unit yang tinggi yang menyebabkan barang naik ke klasifikasi yang lebih tinggi. Keuntungan membagi barang-barang persediaan ke dalam kelas adalah kebijakan dan kontrol dapat diterapkan pada setiap kelas. Adapun kebijakan yang dapat didasarkan pada analisis ABC: 1. Membeli sumber daya yang ditujukan untuk pengembangan pemasok harus jauh lebih tinggi untuk barang A secara individu dibandingkan dengan barang C. 2. Barang A harus memiliki kontrol persediaan fisik yang lebih ketat, barang tersebut mungkin ditempatkan di bagian yang lebih aman, dan akurasi catatan persediaannya untuk barang A harus lebih sering diverifikasi. 3. Meramalkan barang A memerlukan perhatian lebih dibanding barang lainnya. 2.7.2 Jumlah Pemesanan Ekonomis (Economic Order Quantity, EOQ) Menurut Pardede (2005), model jumlah pesanan terhemat (economic order quantity model = EOQ model) digunakan dalam menentukan jumlah barang yang akan dipesan untuk setiap kali pemesanan serta jumlah biaya pengadaan bahanbahan. EOQ menunjukkan jumlah barang yang harus dipesan untuk setiap kali pemesanan agar biaya sediaan keseluruhan menjadi sekecil mungkin. 16 Menurut Heizer dan Render (2010), model kuantitas pesanan ekonomis (economic order quantity-EOQ) adalah salah satu teknik kontrol persediaan yang tertua dan paling dikenal, tetapi berdasarkan beberapa asumsi: 1. Jumlah permintaan diketahui, konstan dan independen. 2. Waktu tunggu yakni waktu antara pemesanan dan penerimaan pesanan diketahui dan konstan. 3. Penerimaan persediaan bersifat instan dan selesai seluruhnya. Dengan kata lain, persediaan dari sebuah pesanan datang dalam satu kelompok pada suatu waktu. 4. Tidak tersedia diskon kuantitas. 5. Biaya variable hanya biaya untuk menyiapkan atau melakukan pemesanan dan biaya menyimpan persediaan dalam waktu tertentu. 6. Kehabisan persediaan dapat sepenuhnya dihindari jika pemesanan dilakukan pada waktu yang tepat. Dengan asumsi tersebut, grafik penggunaa persediaan terhadap waktu memiliki bentuk gigi gergaji, seperti pada Gambar 2. Permintaan bersifat konstan sepanjang waktu, perediaan menurun pada laju yang sama sepanjang waktu. Setiap kali tingkat persediaan mencapai 0, pesanan baru dibuat serta diterima, dan tingkat persediaan melompat ke EOQ. Proses ini terus berlanjut sepanjang waktu. Gambar 2. Penggunaan persediaan dalam waktu tertentu 17 Pada Gambar 3 menunjukkan hubungan antara kedua biaya tersebut, biaya penyimpanan (holding/carrying cost) dan biaya pemesanan (ordering cost) dalam bentuk grafik. Kurva biaya penyimpanan menunjukkan sebuah garis lurus yang naik apabila jumlah persediaan bertambah besar. Kurva biaya pesanan menunjukkangaris lengkung menurun mendekati nol apabila jumlah persediaan bertambah.Kurva biaya persediaan total (TC) merupakan penjumlahan dua kurva biayatersebut, dimana kurva tersebut akan menurun dan mencapai titik minimum pada jumlah persediaan tertentu dan kemudian naik lagi. Dalam hal ini Q = EOQ akantercapai pada perpotongan antara kedua kurva tersebut. Gambar 3. Biaya total sebagai fungsi dari kuantitas pesanan 2.7.3 Persediaan Pengaman (Safety Stock, SS) Menurut Pujawan (2005), safety stock fungsinya adalah sebagai perlindungan terhadap ketidakpastian permintaan maupun pasokan. Perusahaan biasanya menyimpan lebih banyak dari yang diperkirakan dibutuhkan selama suatu periode tertentu supaya kebutuhan yang lebih banyak bisa dipenuhi tanpa harus menunggu. Menentukan berapa besarnya persediaan pengaman adalah pekerjaan yang sulit. Besar kecilnya persediaan pengaman terkait dengan biaya persediaan dan service level. Menurut Ristono (2009), faktor-faktor yang menentukan besarnya safety stock adalah : 1. Penggunaan bahan baku rata-rata Salah satu dasar untuk memperkirakan penggunaan bahan baku selama periode tertentu, khususnya selama periode pemesanan adalah rata-rata 18 penggunaan bahan baku pada masa sebelumnya. Hal ini perlu diperhatikan karena peramalan permintaan langganan memiliki risiko yang tidak dapat dihindarkan bahwa persediaan yang telah ditetapkan sebelumnya atas dasar taksiran tersebut habis sama sekali sebelum penggantian bahan/barang dari pesanan datang. Faktor waktu atau lead time (procurement time) 2. Lead time adalah lamanya waktu antara mulai dilakukannya pemesanan bahan-bahan sampai dengan kedatangan bahan-bahan yang dipesan tersebut dan diterima di gudang persediaan. Lamanya waktu tersebut tidaklah sama antara satu pesanan dengan pesanan yang lain, tetapi bervariasi. 2.7.4 Reorder Point Menurut Riyanto (2001), reorder point ialah saat atau titik di mana harus diadakan pesanan lagi sedemikian rupa sehingga kedatangan atau penerimaan material yang dipesan itu adalah tepat pada waktu dimana persediaan di atas safety stock sama dengan nol. Dengan demikian diharapkan datangnya material yang dipesan itu tidak akan melewati waktu sehingga akan melanggar safety stock. Apabila pesanan dilakukan sesudah melewati reorder point tersebut, maka material yang dipesan akan diterima setelah perusahaan terpaksa mengambil material dari safety stock. Dalam penetapan reorder point haruslah kita memperhatikan faktor–faktor sebagai berikut; yaitu, penggunaan material selama tenggang waktu mendapatkan barang (procurement lead time) dan besarnya safety stock. Reorder point dapat ditetapkan dengan berbagai cara, antara lain : 1. Menetapkan jumlah penggunaan selama lead time dan ditambah dengan presentase tertentu. 2. Menetapkan jumlah penggunaan selama lead time dan ditambah dengan penggunaan selama periode tertentu sebagai safety stock. Menurut Heizer dan Render (2010) Titik pemesanan ulang (reorder point) dicari dengan cara : ROP = (Permintaan per hari)(lead time untuk pemesanan baru dalam hari) ROP = d x L ……………………………………………………………………(1) 19 Persamaan untuk ROP ini mengasumsikan bahwa permintaannya sama dan bersifat konstan. Bila tidak demikian halnya, harus ditambahkan stok tambahan, seringkali disebut pengaman (safety stock). 2.8. Penelitian Terdahulu Saragi (2010) dalam penelitiannya berjudul Analisis Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada UKM Waroeng Cokelat Bogor bertujuan untuk mempelajari sistem pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku di Waroeng Cokelat; meramalkan tingkat permintaan pada produk Waroeng Cokelat; menghitung tingkat persediaan yang optimal bagi Waroeng Cokelat; menghitung serta mengevaluasi tingkat biaya persediaan bahan baku yang optimal bagi Waroeng Cokelat. Hasil penelitian menggunakan EOQ didapatkan jumlah pemesanan dan jarak antar pemesanan yang sama pada bahan baku, yaitu mengikuti jumlah pemesanan terbesar pada cokelat, sehingga jumlah pemesanan sebanyak 39 kali dengan jarak waktu antar pemesanan 8 hari. Total biaya yang dikeluarkan dengan model EOQ, yaitu sebesar Rp 2.521.909 dan dengan metode perusahaan sebesar Rp 2.587.800; sehingga menghasilkan penghematan sebesar Rp 65.891. Sari (2010) dalam penelitian berjudul Pengoptimalan Persediaan Bahan Baku Kacang Tanah Menggunakan Metode EOQ (Economic Order Quantity) di PT. Dua Kelinci Pati bertujuan untuk mengetahui jumlah pembelianbahan baku yang optimal, jumlah persediaan pengaman, waktu pemesanan kembali dan total biaya persediaan untuk periode 2009/2010 di PT. Dua Kelinci Pati. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh bahwa pembelian bahan bakukacang tanah menurut metode EOQ selama periode 2006/2007-2008/2009 lebihbesar daripada kebijakan perusahaan dan kuantitas pembelian kacang tanah optimal untuk periode 2009/2010 sebesar 53.406.993 kg. Persediaan pengaman untuk periode 2009/2010 sebesar 283,3777 kg. Waktu tunggu kedatangan bahan baku kacang tanah (lead time) yang optimal adalah 2 hari sejak bahan baku dipesan hingga tiba di gudang perusahaan. Selama periode 2006/2007-2008/2009 PT. Dua Kelinci tidak menerapkan adanya titik pemesanan kembali (reorder point), sedangkan titik pemesanan kembali untuk periode 2009/2010 sebesar 445.341,6527 kg. Total 20 biaya persediaan bahan baku selama periode 2006/2007- 2008/2009 menurut metode EOQ lebih kecil daripada kebijakan perusahaan dan total biaya persediaan untuk periode 2009/2010 sebesar Rp 256.867.628,9. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh bahwa pengendalian persediaan bahan baku kacang tanah di PT. Dua Kelinci selama periode 2006/2007- 2008/2009 belum efisien. III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Bahan baku merupakan salah satu input pada suatu proses produksi yang mempunyai peranan penting, baik perannya sebagai bahan baku utama, maupun dilihat dari besarnya nilai investasi yang harusdikeluarkan untuk memenuhi kebutuhannya.Keberhasilan produksi yang dilakukan oleh suatu industri atau perusahaan ditentukan oleh banyak faktor, salah satu diantaranya yaitu kecukupan persediaan bahan baku yangdibutuhkan untuk proses produksi. Kelebihan persediaan bahan baku dapat menimbulkan biaya penyimpanan yang besar, hal tersebut dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengendalian persediaan bahan baku yang tepat dan sesuai dengan karaketristik dari proses produksi dan sistem manajemen perusahaan. Konsep operasional penelitian diawali dengan melihat keadaan perusahaan dan menentukan produksi yang akan diteliti. Selanjutnya, mengidentifikasi data permintaan dan rencana produksi terhadap Honda OEM selama satu tahun. Langkah selanjutnya mengidentifikasi sistem persediaan bahan baku yang selama ini digunakan oleh perusahaan. Identifikasi ini penting karena motode perusahaan sangat mempengaruhi dalam penerapan manajemen persediaannya, termasuk dalam hal pengendalian. Metode perusahaan mencakup alasan atau tujuan perusahaan dalam melaksanakan sistem manajemen pengendalian persediaan bahan baku yang dikaitkan juga dengan kondisi perusahaan. Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi karakteristik bahan baku yang digunakan dalam proses produksi. Karakteristik ini mencakup jenis dan asal bahan baku, sistem pemesanan bahan baku, sistem penerimaan dan pengeluaran bahan baku, dan harga masing-masing bahan baku. Pada tahap berikutnya adalah analisis kondisi persediaan bahan baku, yang terdiri dari volume pemakaian bahan baku, waktu tunggu sejak bahan baku dipesan hingga bahan baku diterima digudang, frekuensi dan jumlah pemesanan bahan baku, dan biaya-biaya persediaan bahan baku. Setelah data-data tersebut diperoleh, selanjutnya dapat dilakukan analisis perbandingan atas total biaya persediaan bahan baku metode yang dilakukan 22 perusahaan dan metode pengendalian persediaan yang mencakup model analisis ABC dan model Economic Order Quantity (EOQ). Metodeyang terbaik adalah yang memiliki total biaya persediaan yang paling rendah dan memperoleh penghematan biaya persediaan yang besar.Kerangka pemikiran yang menjadi dasar bagi penelitian ini adalah seperti yang terlihat pada Gambar 4. PT. XYZ Identifikasi Data Permintaan Identifikasi Rencana Produksi Alat Analisis Deskriptif Identifikasi Sistem Persediaan Bahan Baku Perusahaan Analisis Perbandingan Biaya Persediaan Bahan Baku Metode Perusahaan   Metode Analisis ABC Metode EOQ Tingkat Pengendalian Bahan Baku Optimal Rekomendasi Gambar 4. Kerangka pemikiran penelitian 3.2. Metode Penelitian 3.2.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. XYZ yang berlokasi di Sunter, Jakarta Utara. Lokasi tersebut dipilih karena PT. XYZ merupakan anak perusahaan Astra yang menjadi cikal bakal dari pabrik perakitan Toyota dan Daihatsu. Waktu penelitian dilakukan selama bulan Juli 2012. 23 3.2.2 Jenis dan Metode Pengumpulan Data Dalam pelaksanaan penelitian peneliti menggunakan beberapa metode untuk mengumpulkan data-data yang terkait dan dibutuhkan untuk bahan penelitian. Metode pengumpulan dan analisis data dapat di lihat pada Lampiran 1. Adapun metode pengumpulan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Membaca Data dan Laporan Dalam kegiatan ini peneliti mempelajari data-data yang ada di perusahaan dengan tujuan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang sudah terjadi di perusahaan. Selain itu juga agar bisa dijadikan gambaran dan bahan dalam pembuatan penelitian. Pada kesempatan ini peneliti membaca dan mempelajari data-data tentang jumlah kebutuhan bahan baku pada Production Planning Control (PPC), cara pemesanan dan waktu pemesanan, rencana produksi, dan lain-lain. 2. Wawancara Pada kegiatan ini peneliti melakukan wawancara untuk mencari informasi yang akan dikaji langsung pada pihak yang berwenang di perusahaan. Dalam kegiatan wawancara ini hal-hal yang didapatkan oleh peneliti adalah yang berkaitanlangsung dengan kejadian di lapangan pada saat proses produksi berlangsung, dan melakukan tanya jawab di bagian purchasing tentang cara pemesanan bahan baku, biaya bahan baku dan inventory control yang dilakukan oleh Production Planning Control (PPC). 3. Observasi Dalam kegiatan ini peneliti langsung melihat ke lapangan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi saat proses produksi dan operasi berlangsung, serta melihat jenis bahan baku di gudang. Selain itu juga observasi ini bertujuan untuk menyesuaikan antara teori yang telah didapatkan oleh peneliti sebelumnya dan praktik di lapangan. Pada kegiatan ini peneliti didampingi oleh pembimbinglapangan yang telah ditunjuk oleh perusahaan. 3.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data dilakukan untuk membandingkan perhitungan pengendalian persediaaan perusahaan dengan yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan biaya 24 yang minimum dan waktu pemesanan yang tepat. Adapun analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis ABC dan metode Economic Order Quantity (EOQ) dengan melihat permintaan pada satu tahun. 3.3.1 Analisis ABC Analisis ABC digunakan untuk mengklasifikasikan bahan baku berdasarkan basis volume dolar tahunan yakni perkalian antara permintaan dan harga per unit. Adapun langkah untuk menentukan analisis ABC adalah dengan mengalikan total permintaan selama satu tahun dengan harga per unit dari tiap bahan baku. Selanjutnya mempresentasikan hasil perkalian tersebut dan mengurutkan berdasarkan nilai persentase yang paling besar ke persentase yang paling kecil. Setelah itu dikomulatifkan persentase tersebut hingga 100%. Kategorikan komulatif persentase tersebut berdasarkan kelas A 50 % -75%, kelas B 15 % -25% dan kelas C 5%. 3.3.2 Model EOQ (Economic Order Quantity) Model ini digunakan untuk mengetahui kuantitas pembelian bahan baku yang ekonomis (setiap kali pesan). Kuantitaspembelian bahan baku yang ekonomis dicapai pada saatbiaya pemesanan tahunan sama dengan biaya penyimpanan tahunan. a. Biaya pemesanan per tahun Merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan bahan baku. Biaya pemesanan per tahun = jumlah pemesanan yang dilakukan pertahun x biayapemesanan setiap kali pesan = Permintaan setahun x biaya pesan tiap kali pesan Jumlah tiap kali pesan Biaya pemesanan per tahun = b. ……………………………………….(2) Biaya penyimpanan per tahun Merupakan biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan penyimpananbahan baku yang dibeli. Biaya penyimpanan per tahun = tingkat persediaan rata-rata x biaya penyimpanan per liter per tahun 25 = (Jumlah pesanan : 2) x biaya penyimpanan per liter pertahun Biaya penyimpanan = c. ……………………………………………(3) Jumlah pesanan bahan baku optimal diperoleh saat biaya pemesanan per tahun sama dengan biaya penyimpanan per tahun …………………………………………………………..(4) d. Jumlah optimal per pemesanan ……………………………………………………(5) e. Total biaya persediaan bahan baku (Total Cost) Total persediaan bahan baku yang optimal ialahpenjumlahan dari total biaya pesan dan total biaya simpan bahan baku. TC = Total biaya pesan + Total biaya simpan = ∗ × Keterangan: + ∗ × ………………………………………………...(6) Q = Jumlah setiap pemesanan (liter) Q* = Jumlah optimal per pemesanan (liter) D = Permintaan tahunan (liter) S = Biaya pemesanan tiap kali pesan (Rp) H = Biaya penyimpanan (Rp) IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan 4.1.1 Profil Perusahaan PT. XYZ adalah industri manufaktur yang merakit kendaraan bermotor dan merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang otomotif. PT.XYZsaat ini berlokasi di Sunter, Jakarta Utara. PT. XYZdidirikan pada tahun 1963 dan bergabung dengan PT. Astra Internasional, Tbk sejak tahun 1990 yang saat ini merupakan pemilik penuh dari PT. XYZ. PT. XYZ memiliki tiga proses utama produksi yaitu welding, painting, dan assembling dengan pelanggan utamanya adalah Isuzu Astra Motor Indonesia (PT. IAMI) yang merupakan Agen Tunggal Pemegang Saham (ATPM) Isuzu Panther. PT. Isuzu Astra Motor Indonesia menjual hasil produksi utamanya yaitu Isuzu Panther ke Astra Internasional dan PT. XYZ yang memproduksi Isuzu Panther yang merupakan pesanan dari Isuzu Astra Motor Indonesia. Selain Isuzu Astra Motor Indonesia PT. XYZ juga bekerjasama dengan PT. Astra Honda Motor (PT. AHM) dalam proses painting plastik part. Pada proses painting plastik part Honda terdapat dua jenis yaitu Honda OEM (Original Equipment Manufacturer) dan Honda REM (Replacement Market). Honda OEM ditujukan untuk menjadi satu unit motor sedangkan Honda REM ditujukan untuk spare part. Jenis warna untuk Honda REM lebih banyak dibandingkan dengan Honda OEM. Semua produksi yang telah dikerjakan oleh PT. XYZ akan dikembalikan lagi kepada PT. Astra Honda Motor sesuai dengan permintaan dari PT. Astra Honda Motor. Sesuai dengan kebijakan mutu, lingkungan dan K3 perusahaan dalam melakukan kegiatan proses produksinya, standart mutu produk pelanggan dan proses produksinya harus dicapai dengan proses produksi yang aman dan ramah lingkungan. Dalam menjankan kegiatan, PT. XYZ berusaha mencegah dan mengurangi pencemaran yang ditimbulkan, kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja serta menjadikan tempat kerja yang aman dan nyaman baik untuk karyawan, asset, dan lingkungan. Untuk menjamin kualitas setiap produknya agar sesuai dengan keinginan konsumen dan untuk mendukung program pemerintah yaitu menciptakan produk 27 hijau (Green Product), PT.XYZ melakukan kegiatan manajemen yang terpadu yaitu sistem manajemen ISO 9001-2000, sistem manajemen lingkungan 140011996, sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, Isuzu manufacturing management, management system Astra, dan Astra Green Company dalam satu manajemen.PT. XYZ juga menggabungkan sistem ISO 9002 menjadi 9001-2000 serta mendapatkan ISO 9002-1994 dan ISO 14001-1996. 4.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan Dalam suatu perusahaan, pembentukan suatu organisasi sangat penting karena dalam usaha diperlukan untuk menjaga kelancaran dan mencapai tujuan jangka panjang maupun jangka pendek dalam suatu perusahaan. Struktur organisasi dibentuk dengan maksud agar setiap organisasi dapat bekerja secara fokus, efisien dan efektif. Adapun struktur organisasi PT. XYZ pada Lampiran 2. Adapun tugas dari tiap divisi,yaitu: BOARD OF DIRECTOR  Memimpin, mengkoordinasi, dan mengendalikan jalannya seluruh kegiatan perusahaan, baik teknis maupun nonteknis. Sekretaris  Melakukan pencatatan, pengetikan, korespondensi perusahaan.  Membantu kegiatan administrasi direksi. BPPMT (Badan Pelaksana Peningkatan Mutu Terpadu)  Mengarahkan penerapan policy manajemen aktivitas, mengendalikan gangguan yang terjadi dan berpengaruh terhadap mutu perusahaan dan produk.  Meningkatkan mutu karyawan dan pekerjaan. Security  Menjaga keamanan seluruh area perusahaan dan lingkungan sekitar perusahaan. P2K3LH (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Hidup)  Mengarahan penerapan kebijaksanaan dalam bidang keselamatan kerja baik untuk pegawai maupun lingkungan hidup. 28 PLANT DIVISION a. Departemen Produksi Mengatur dan mengawasi jalannya proses produksi mulai dari penerimaan barang sampai produk jadi. b. Departemen Quality Control Menetapkansistemdan prosedurpengendalianmutuprosesproduksi. c. Departemen Teknik Prosess Enggineering: berhubungan dengan sistem dan design tata letak pabrik, tata letak fasilitas, dan proses produksi. Plan tFacility: menyiapkan dan menyediakan semua fasilitas yang diperlukan untuk suatu kegiatan proses produksi. Safety and Environment: menjaga keselamatan kerja karyawan dan memelihara lingkungan sekitar agar limbah yang dihasilkan perusahaan tidak merusak lingkungan. d. Departemen Maintanance Memelihara, merawat, dan memperbaiki mesin-mesin dan fasilitas yang digunakan untuk proses produksi. e. Departemen PPIC Membuat perencanaan dan pengendalian pada proses produksi. f. KD Packing Memelihara dan menjaga hasil produksi sebelum dikirim ke supplier. FINANCE & ACCOUNTING DIVISION a. Purchasing Memproses import part yang diperlukan dan melayani pembelian lokal. b. Departemen Finance Mengkoordinasi kegiatan pembukuan/administrasi dan kegiatan finansial serta kegiatan processing perusahaan. c. Departemen ACC & MIS  MIS (Manegement Information System) Membuat program sesuai dengan permintaan direksi dan kepala departemen yang berkaitan dengan kelancaran kegiatan produksi yang berjalan. 29  ACC(Accounting) Mengelompokkan kegiatan transaksi sesuai dengan kelompok-kelompok yang telah ditentukan. HRD & GA DIVISION a. Departemen HRD (Human Resources Development) Melakukan training dan pengembangan SDM. b. Departemen GA(General Affair) Berhubungan dengan semua kegiatan secara umum (Rumah Tangga Perusahaan). 4.1.3 Kebijakan Mutu PT. XYZ Telah menjadi kebijakan dan komitmen PT. XYZ untuk menyerahkan hasil produksi kepada pelanggan dengan mutu yang sesuai dengan persyaratan, kebutuhan dan harapan pelanggan, karena disadari bahwa kepuasan pelanggan merupakan kunci utama kesuksesan perusahaan. Untuk mencapai hal tersebut, setiap karyawan wajib melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan sistem manajemen mutu yang memenuhi persyaratan standar ISO 9001-2000 dan AMS (Astra Management System), Isuzu Manufacturing Management (IMM) secara konsisten, sesuai dengan tanggung jawab dan wewenang. Setiap karyawan wajib terus mengupayakan dengan sungguh-sungguh agar mutu hasil setiap proses dapat dicapai langsung pada akhir proses, tanpa kerja ulang. Untuk memastikan sistem manajemen mutu tetap memenuhi persyaratan, kebutuhan dan harapan pelanggan, sistem selalu ditinjau dan ditingkatkan secara berkesinambungan. 4.1.4 Data Fisik Perusahaan PT. XYZ terletak di Sunter, Jakarta Utara. PT. XYZ memiliki luas tanah sebesar 200.757 m2, 97,410 m2 untuk Plant I & II, 39,450 m2untuk Plant IIIdan 63.897 m2 untuk KD Packing. Luas Pabrik Plant I & II 60.700 m2, Plant III 35.864 m2 dan KD Packing 24.000 m2. Luas kantor dan kantin sebesar 7,627 m. Kantor berada di lantai 2 Plant I dan kantin berada di lantai satu dan lantai dua Plant I. Seluruh listrik yang digunakan untuk Plant I & II sebesar 9.690 KVA, Plant III sebesar 4.000KVA dan KD Packing sebesar 415 KVA. Layout PT. 30 XYZdapat dilihat pada Lampiran 3 dan untuk layout small partdapat dilihat pada Lampiran 4. 4.2.Proses Produksi Honda OEM Salah satu produk yang diproduksi oleh PT. XYZ yang bekerjasama dengan PT. Astra Honda Motor (AHM) adalah painting plastik part untuk motor Honda Tipe Supra X 125. Alasan peneliti menggunakan produk ini sebagai penelitian adalah karena kegiatan painting merupakan kegiatan yang paling sederhana dan selalu dilakukan setiap jam kerja. Jumlah permintaan produk pun hampir setiap bulan konstan. Sedangkan pada proses perakitan mobil banyak aktivitas yang dikerjakan, seperti proses welding terlebih dahulu dilanjutkan dengan painting dan terakhir assembling dan permintaan terhadap produknya pun tidak pasti. Proses produksi plastik part Honda OEM diawali dengan pengiriman raw material ke Knock Down Supply (KDS), persiapan, base coat, clear coat, oven, touch up, dan dikirim kembali ke KDS untuk disimpan. Kegiatan proses produksi plastik part Honda dapat dilihat sebagai berikut: 1. Raw material Raw material untuk plastik part Honda OEM adalah body motor. Raw material dikirim langsung dari sub-cound atau supplier yang telah dipilih oleh PT. Astra Honda Motor (AHM). Raw material yang sudah dikirim disimpan pada Knock Down Supply (KDS). KDS adalah tempat penyimpanan raw material dan pengiriman part yang sudah diproses. Raw material yang datang dari sub-cound diperiksa tipe dan kuantitas berdasarkan Surat Perintah Antar Barang (SPAB). Raw material yang dikirim, diturunkan dari truck dan diletakkan pada pallet seng yang tersedia selanjutnya di bawa ke area transit KDS menggunakan forklift dan diletakkan di tempat yang sudah tersedia sesuai dengan tipe part. Berdasarkan Work Order Sheet (WOS) yang dibuat oleh Production Planning Control (PPC), raw material dibawa menggunakan towing ke Small Part untuk dilakukan proses painting. 2. Persiapan Raw material yang dikirim oleh Knock Down Supply (KDS) diperiksa tipe, kualitas dan kuantitas berdasarkan Work Order Sheet (WOS) yang dibuat oleh 31 Production Planning Control (PPC). Persiapan adalah proses sebelum dilakukan pengecatan pada plastik part. Proses yang terdapat pada persiapan yaitu: a. Striping Striping adalah proses pembungkusan plastik part dengan kertas koran. Proses ini bertujuan agar cat tidak mengenai part yang memang tidak boleh di cat. Part yang biasanya dilakukan proses striping adalah cover handel. Proses striping dilakukan oleh tiga orang dan waktu yang dibutuhkan untuk proses ini sekitar enam menit. b. Setting Part Setting part adalah proses memasangkan tool pada plastik part. Tipe plastik part terdiri dari empat belas jenis yaitu mainpipekiri, mainpipe kanan, visor speedometer, cover sidekiri, cover side kanan, cover bodykiri, cover body kanan, cover handle, cover front top, cover tail, cover speedometer, fender dan louver. Tujuan pemasangan part ini adalah untuk memudahkan proses painting. Sebelum part dipasang tool, plastik part di blowing atau menembakkan angin untuk membuang kotoran yang ada pada part menggunakan air gun. Proses pemasangan tool dilakukan oleh empat orang dan waktu yang dibutuhkan berbeda-beda tergantung tipe part. 3. Docking Docking adalah proses pemasangan dan pelepasan tool yang sudah dipasangi part pada tiang tag (stand) yang berjalan menggunakan conveyor. Pada satu stand biasanya terdiri dari dua hingga empat part, tergantung besar kecil part yang akan di cat. Proses ini dilakukan oleh satu orang pekerja pada saat pemasangan dan tiga orang pada saat pelepasan dan waktu yang dibutuhkan sekitar lima belas detik. 4. Wapping Wapping adalah proses pengelapan plastik part menggunakan lap dan air sabun. Proses ini berguna untuk menghilangkan minyak yang ada pada part sehingga cat dapat menempel pada part. Proses ini dilakukan oleh satu orang pekerja dan waktu yang dibutuhkan sekitar 24 detik. 5. Blowing Blowing adalah proses pembersihan plastik part menggunakan angin yang keluar dari air gun. Tujuan blowing adalah agar part bersih dari noda atau debu 32 yang menempel pada part. Proses ini dilakukan oleh satu orang dan waktu yang dibutuhkan sekitar 24 detik. 6. Tag Rag Tidak jauh berbeda dengan waping dan blowing, tag rag merupakan membersihkan plastik part menggunakan kain tag rag. Kain tag rag adalah kain khusus yang jika dipegang lengket sehingga pada penggunaannya tidak boleh terlalu ditekan karena dapat merusak part yang akan di spray. Proses ini berguna untuk membersihkan noda yang masih menempel pada plastik part. Proses ini dilakukan oleh seorang pekerja dan waktu yang dibutuhkan sekitar delapan belas detik. 7. Base Coat dasar Sesuai dengan namanya, base coat adalah proses pemberian warna dasar gunanya untuk memberikan lapisan pertama pada plastik part agar tidak bolong dan tidak kasar. Untuk warna hitam base coat dasar hitam, untuk warna putih base coat dasar putih, untuk warna merah base coat dasar pink, dan untuk warna silver base coat dasar silver. Proses ini menggunakan cop gun dan catnya di mixing di ruang mixing. Proses ini dilakukan oleh seorang pekerja dan waktu yang dibutuhkan berbeda-beda tergantung tipe part. 8. Finish Base Coat Finish base coat adalah proses pemberian warna kedua pada plastik part ini berguna untuk meratakan base coat dasar. Proses base coat dasar hingga finish base coat untuk hitam dua pos dan untuk silver, merah, dan putih tiga pos. Alat yang digunakan adalah cop gun sama seperti base coat dasar. Dilakukan oleh satu orang pekerja dan waktu yang dibutuhkan berbeda-beda tergantung tipe part. 9. Clear coat dasar Clear coat adalah proses lanjutan dari base coat. Tujuan dari proses ini adalah untuk memberikan warna dan pelapis base coat. Alat yang digunakan proses ini adalah spay gun. Untuk warna hitam clear coat hitam, warna merah clear coat merah dan untuk silver dan putih clear coatmetalic atau bening. Proses ini dilakukan oleh seorang pekerja dan waktu yang dibutuhkan berbeda-beda tergantung tipe part. 10. Finish clear coat 33 Finish clear coat adalah proses lanjutan dari clear coat dasar. Proses ini berguna untuk meratakan clear coat dasar dan mengkilapkan plastik part yang sudah di painting sehingga pada saat masuk ke ovenroom cat tidak tipis. Proses ini dilakukan oleh seorang pekerja dan waktu yang dibutuhkan berbeda-beda tergantung tipe part. 11. Oven Room Setelah finih clear coat, part didinginkan sebentar pada setting room selanjutnya partakan langsung bergerak menuju ovenroom. Tujuan dari oven part ini adalah agar cat menjadi kering dan tidak meleleh. Suhu dalam oven ini diatur sesuai dengan tipe part yang di cat. Jika part yang di painting warna merah, putih dan silver maka suhunya diatur 700 - 800C karena part ini dilakukan oleh 5 pos sehingga cat yang dihasilkan lebih tebal, sedangkan untuk warna hitam suhunya diatur 600-700C karena pada part ini hanya dilakukan oleh 3 pos. Suhu pada oven ini harus sesuai dengan standar yang ditetapkan karena jika suhu terlalu panas maka part akan meleleh dan jika terlalu rendah maka part akan lembab. Part dipanaskan kurang lebih 40 menit akan tetapi antar satu tag waktunya bergerak selama 40 detik. Setelah part keluar dari oven room, part yang sudah dipasangi tools dilepaskan dari stand dan diletakkan di lantai dan terjadi proses cooling time. Proses ini untuk mendinginkan part beberapa saat setelah proses oven. Setelah cooling time selesai part akan diletakkan di rak yang tersedia untuk selanjutnya di bawa ke touch up. 12. Touch up Setelah proses di oven,part di bawa ke touch up untuk dilakukan pengecekan proses painting yang dilakukan oleh Quality Control (QC). Proses ini berguna untuk mendapatkan kualitas terbaik sehingga pelanggan tidak kecewa. Pemeriksaan biasanya dilakukan QC dengan cara visual yaitu melihat secara langsung part yang telah selesai diproses. Setelah di periksa oleh QC akan dipilah apakah part yang sudah di painting OK, repair atau repaint Ada 2 jenis defect yaitu repair dan repaint. Repair adalah defect ringan seperti part bernoda, part beda warna dan part meleleh. Repair dapat diperbaiki dengan pengamplasan dan buffing menggunakan alat buffing setelah itu akan di 34 cat kembali di ruang touch up dan akan diperiksa kembali oleh QC dan jika sudah memenuhi standar QC, maka part akan diberikan label OK. Repain adalah defect berat sehingga part tidak dapat langsung masuk ke ruang touch up untuk diperbaiki tetapi akan dibawa ke proses sanding yaitu pengamplasan dengan menggunakan amplas dan air. Sanding berguna untuk meratakan part dan membuka pori-pori cat sehingga pada saat dilakukan cat ulang, cat baru tidak mengelupas. Setelah dilakukan proses sanding, part akan kembali ke proses persiapan dan di cat kembali. Part yang sudah dinyatakan OK oleh QC akan langsung disusun pada hambalan dan diletakkan ke rak hambalan untuk dikirim ke tempat penyimpanan di KDS yang nantinya akan dikirim ke PT. Astra Honda Motor (AHM). Proses produksi pada plastik part Honda OEM dapat dilihat pada Lampiran 5. 4.3.Pengendalian Persediaan Bahan Baku Bahan baku merupakan salah satu satu faktor yang menentukan baik buruknya produk yang dihasilkan. Bahan baku dengan kualitas yang baik dan dengan jumlah yang tepat akan menghasilkan produk yang berkualitas, begitu juga sebaliknya.Bahan baku juga merupakan faktor yang menentukan kelancaran proses produksi. Dengan adanya bahan baku yang cukup dan sesuai dapat melancarkan proses produksi dan perusahaan dapat mengirimkan produk kepada pelanggan tepat pada waktu yang telah ditentukan. Bahan baku yang terdapat pada PT. XYZ terbagi dua, yaitu: 1. Bahan baku versi ATPM berupa bahan baku CKD (Completly Knock Down). Raw material langsung diterima dari Agen Tunggal Pemilik Merk (ATPM) untuk bahan utama dalam perakitan seperti raw material untuk Honda berupa plastik part yang langsung dikirim PT. AHM. Raw material terdiri dari mainpipe, visor speedometer, cover side, cover body, cover handel, cover tail, cover speedometer, front top, fender dan louver.Bahan baku ini langsung dikendalikan dan tanggung jawab oleh ATPM, dan PT. XYZhanya bersifat menerima dan mengecatraw material tersebut yang nantinya akan dikirim kembali ke PT. AHM. 2. Bahan baku versi PT. XYZ 35 Bahan baku yang termasuk PT. XYZ yaitu berupa bahan baku yang terdapat di gudang consumable dan gudang tools seperti cat, thinner,masking tape,sand paper, dan sebagainya. Bahan baku ini sepenuhnya dikendalikan oleh PT. XYZkhususnya bagian inventory PPC. Bahan baku ini merupakan bahan utama dalam proses produksi khususnya painting. Pengendalian bahan baku PT. XYZ dilakukan dengan memperhatikan prosedur pembelian bahan baku, prosedur penerimaan bahan baku dari vendor, dan prosedur pemakaian bahan baku. Adapun proses pengendalian tersebut, yaitu: 4.3.1 Prosedur Pembelian Bahan Baku Bahan baku yang cukup diperlukan untuk melancarkan proses produksi. Perusahaan diharuskan membeli bahan baku yang dibutuhkan agar proses produksi berjalan lancar. Jumlah yang dibeli pun harus sesuai agar tidak terjadi penumpukan barang di gudang yang nantinya akan menambah cost perusahaan. Bahan baku yang dibeli PT. XYZuntuk proses produksi painting plastik part Honda telah ditentukan oleh ATPM yaitu PT. Nippon Paint Pacific. Sedangkan untuk raw material seperti masking tape dan sand paper dikirim oleh PT. Sentral Warna Primajaya, majun dikirim oleh PT. Anggi Jaya, sarung tangan oleh PT. Kenbel. PT. XYZmenerapkan sistem MRP (Material Requirement Planning) sebagai sistem pengadaan bahan baku, hal tersebut didasarkan pada jadwal produksi yang telah di-input pada SAP(System Application and Product for Data Processing). Namun dalam realisasi produksi tidak selalu sama dengan rencana, oleh karena itu diterapkan sistem safety stock, dimana perusahaan akan memesan sejumlah barang pada saat persediaan di gudang telah dibawah ROP (Reorder Point). Safety stock yang digunakan di perusahaan merupakan stok selama 1 shift kerja atau 8 jam kerja. Waktu pembelian bahan baku ditentukan olehPPCbagian inventory saat persediaan bahan baku di bawah ROP. Bagian inventory akan membuat PR (Purchase Requisition)yang kemudian diperiksa dan ditandatangani oleh supervisor, deputy manager, dangeneral manager. Jika PR sudah ditandatangani maka PPC akan membuat PO (Purchase Order) kemudian diberikan ke bagian Purchasing dan nantinya akan dikirim ke supplier. Setelah diperiksa dan 36 ditandatangani oleh user, supervisor, kepala departemen dan kepala divisi, PO tersebut dikirim dengan faximile ke supplier yang telah dipilih oleh ATPM. Prosedur pembelian bahan baku untuk lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 5 dibawah ini : Gambar 5. Prosedur pembelian bahan baku 4.3.2 Prosedur Penerimaan Bahan Baku Setelah PO dibuat dan dikirim ke supplier maka supplier akan mengirimkan barang yang diminta dan akan diterima oleh bagian gudang consumable. Bagian gudang consumable akan menerima bahan baku tersebut sesuai dengan nomor PO, waktu pemesanan, delivery date, dan kondisi fisik bahan baku yang datang. Perusahaan menentukan delivery date yaitu satu minggu setelah dibuatnya PO. Pemeriksaan fisik barang diperlukan untuk melihat kondisi barang apakah sesuai atau tidak dengan barang yang diminta. Apabila bahan baku tersebut tidak sesuai dengan kriteria maka bahan baku akan dikembalikan dan akan meminta bahan baku yang sesuai. Apabila sudah sesuai kemudian dilakukan pencatatan penerimaan bahan baku atau good receipt dan di input ke SAP.Setelah selesai, bahan baku dilakukan pemeriksaan kembali oleh bagian quality dan diuji kelayakannya berdasarkan standar perusahaan. Selanjutnya bahan baku disimpan menggunakan sistem FIFO (first in first out) maksudnya bahan baku yang pertama datang akan terlebih dahulu keluar untuk diproduksi. Sistem ini 37 dilakukan dengan tujuan agar bahan baku tidak mengalami perubahan karena lama disimpan.Selain menerima, bagian gudang consumable juga mempunyai tanggung jawab untuk menyimpan dan mendistribusikan bahan baku ke jalur produksi. Prosedur penerimaan bahan baku dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 6. Prosedur penerimaan bahan baku 4.3.3 Prosedur Pemakaian Bahan baku Bahan baku yang telah datang dari vendor dan disimpan di gudang consumable akan diambil oleh orang jalur produksi untuk dilakukan proses produksi. Pengambilan barang ini disebut dengan istilah pengebonan.Bahan baku yang diambil menggunakan metode FIFO (first in first out). Orang jalur produksi harus mengambil barang di gudang sesuai dengan bukti pengebonan. Bon pengambilan barang akan diperiksa oleh administrasi gudang dan akan diambilkan barang yang dibutuhkan sesuai dengan kuantitas yang ada di bon pengebonan. Setelah barang diambil bon tersebut langsung di entri datanya oleh administrasi gudang.Prosedur penerimaan bahan baku dapat dilihat pada Gambar 7. 38 Gambar 7. Prosedur pemakaian bahan baku 4.4. Penentuan Bahan Baku Prioritas dengan Analisis ABC Analisis ABC merupakan analisis yang membagi persediaan kedalam tiga klasifikasi dengan basis volume dolar tahunan. Analisis ABC memiliki tujuan yakni untuk membuat kebijakan-kebijakan persediaan yang memfokuskan persediaan pada bagian-bagian persediaan bahan baku yang penting dan sedikit, bukan pada yang banyak tetapi sepele (Heizer dan Reinder, 2010). Perhitungan analisis ABC dibantu menggunakan software POM dan hasil analisis ABC dapat dilihat pada Tabel 3. Bahan baku yang digunakan untuk proses painting plastik part Honda OEM setidaknya terdapat 26 jenis bahan baku yang diperhitungkan untuk persediaannya. Namun dalam kenyataannya yang harus diperhitungkan adalah bahan baku yang memiliki volume paling besar dengan biaya yang besar untuk menekan persediaan dalam jumlah yang terlalu besar. Tabel 3 merupakan hasil perhitungan analisis ABC, dimana penentuan tersebut berdasarkan volume penggunaan bahan baku paling banyak dan menghasilkan biaya dalam jumlah yang tinggi. Bahan baku yang termasuk kedalam kelas A dengan presentasi kumulatif biaya yang digunakan 50%-75% agar mendapat perhatian lebih dalam pengendalian persediaan. Berdasarkan Tabel 3. terdapat lima jenis bahan baku yang termasuk kedalam kategori A, yaitu Nippe Acryl HM NH/103, Nax Superio Base AHM 39 Thinner (New), Wip Up Solvent, F/C R258 Winning Red, dan T/C Clear Base. Jenis yang termasuk kedalam kategori B, yaitu U/C NH-177M Vestock Silver Met, U/C Pink R258 For Winning Red, SGI U/C Thinner New, SGI F/C Thinner, sarung tangan nylon, Polyure Mightlac Hardener, Thinner Laquer Central, dan U/C NH-A 30M Digital Silver. Sedangkan jenis bahan baku yang termasuk dalam kategori C adalah Masking Tape, Sand Paper, masker kain, tag rag, Tessa Flexible Fineline, sarung tangan, High Performance Cloth, Majun B, koran bekas dan Scoth Brate. Berdasarkan hasil analisis ABC, penelitian ini lebih difokuskan pada jenis bahan baku yang termasuk kedalam kelas A karena kelas A memiliki tingkat volume penggunaan tinggi dan biaya persediaannya juga tinggi. Tabel 3.Hasil analisis ABC bahan baku Honda OEM Nama Bahan Baku Nippe Acryl HM NH / 103 Nax Superio Base AHM Thinner (New) Wip Up Solvent F/C R258 Winning Red T/C Clear Base U/C NH-177M Vostok Silver Met U/C Pink R258 For Winning Red SGI U/C Thinner New SGI F/C Thinner Sarung Tangan Nylon Polyure Mightylac Hardener Thinner Laquer Central U/C NH-A 30M Digital Silver Permintaan Harga/ Unit Biaya (Rp/Tahun) Persent asi Biaya/T ahun (%) 12911,12 40000 516.444.800 28,11 28,11 12746,56 30000 382.396.800 20,82 48,93 4707,84 30000 141.235.200 7,69 56,62 992,56 140000 138.958.400 7,56 64,19 1306 90000 117.540.000 6,4 70,58 1049,8 87000 91.332.600 4,97 75,56 1066,2 80000 85.296.000 4,64 80,2 1959 1697,8 40000 30000 78.360.000 50.934.000 4,27 2,77 84,47 87,47 3291,12 15000 49.366.800 2,69 89,93 425,76 100000 42.576.000 2,32 92,24 2559,76 16000 40.956.160 2,23 94,47 444,04 90000 39.963.600 2,18 96,65 Kumulatif Persentasi Biaya (%) Kelas A B 40 Lanjutan Tabel 3. Nama Bahan Baku Masking Tape 1x30 Anco Biaya (Rp/Tahun) Persenta si Biaya/T ahun (%) Kumulatif Persentasi Biaya (%) Permintaan Harg a/Unit 4022,48 6000 24.134.880 1,31 97,96 Sand Paper #600 Masking Tape 2x30 Anco 1828,4 5000 9.142.000 0,5 98,46 731,36 8000 5.850.880 0,32 98,78 Masker Kain 1828,4 2000 3.656.800 0,2 98,98 Tag Rag Tessa Flexible Fineline Masking Tape 4174 Sarung Tangan 6 Benang 731,36 5000 3.656.800 0,2 99,18 42,57 80000 0,19 99,36 255,98 9000 2.303.820 0,13 99,49 Sand Paper #800 High Performance Cloth (IPO) 438,82 5000 2.194.100 0,12 99,61 42,57 50000 2.128.500 0,12 99,72 Majun B Sarung Tangan Karet 329,11 6000 1.974.660 0,11 99,83 255,98 7000 1.791.860 0,1 99,93 Koran Bekas 146,27 6000 877.620 0,05 99,98 Scoth Brate Total Biaya (Rp/tahun) 42,57 10000 425.700 0,02 100 10695,87 3.405.600 Kelas C 1.887.210.760 Sumber: Dept. PPC PT. XYZ (diolah tahun 2012) 4.5. Biaya Persediaan Biaya persediaan adalah biaya yang timbul akibat adanya persediaan bahan baku. Biaya persediaan terdiri dari biaya penyimpanan (holding cost), biaya pemesanan (ordering cost), biaya kekurangan bahan (shortage cost). Biaya yang terkait dengan adanya persediaan perlu mendapat perhatian lebih untuk persediaannya adalah sebagai berikut: 4.5.1 Biaya Pemesanan Biaya pemesanan adalah biaya yang timbul akibat dari pembelian bahan baku seperti biaya telepon dan faksimile. Komponen biaya pemesanan tidak dipengaruhi oleh besarnya jumlah persediaan yang dipesan tetapi dipengaruhi oleh 41 frekuensi pemesanan.Biaya telepon diperlukan saat perusahaan menghubungi supplier untuk memesan barang. Biaya telepon berdasarkan data dari PT. Telkom sebesar Rp 125 per menit, rata-rata penggunaan telepon untuk setiap kali pemesanan sekitar 50 menit, sehingga didapat total biaya telepon setiap kali dilakukan pemesanan sebesar Rp 6.250. Biaya faksimile dikeluarkan untuk mengirimkan PO kepada supplier. Biaya faksimile per pengiriman Rp 5.000.Rincian biaya pemesanan dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Perhitungan biaya pemesanan Biaya Pemesanan Biaya Telepon Biaya Faksimile Biaya Pesan (Rp/pesan) 6250 5000 Total Biaya Pesan 11.250 Sumber: Dept. Purchasing PT. XYZ (diolah tahun 2012) 4.5.2 Biaya Penyimpanan Biaya penyimpanan adalah biaya yang terkait dengan menyimpan persediaan selama waktu tertentu. Biaya penyimpanan mencakup biaya barang usang dan biaya yang terkait penyimpanan seperti fasilitas penyimpanan (listrik), biaya asuransi dan biaya administrasi gudang.Biaya listrik digunakan untuk penerangan gudang consumable saat malam hari. Berdasarkan data dari PT. PLN biaya listrik per kwh yakni Rp 734. Rata-rata penggunaan listrik digudang consumable yakni 90 kwh sehingga diperoleh total biaya listrik selama satu bulan yaitu Rp 66.060. Rata-rata penyimpanan di gudang consumableadalah 36 kaleng atau 720 liter, sehingga biaya penyimpanan per liter per bulan sebesar Rp 91,75 dan selama satu tahun Rp 1.101. 4.6.Jumlah Pemesanan Ekonomis (Economic Order Quantity, EOQ) EOQ dengan jumlah pemesanan masing-masing dilakukan pertimbangan menggunakan nilai EOQ (Q*) pada masing-masing bahan baku utama. Hal tersebut terjadi dengan pertimbangan teoritik dan pada setiap pemesanan bahan baku terjadi pemisahan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan antara bahan baku yang satu dengan yang lainnya. Hasil kebutuhan optimum dengan menggunakan metode EOQ terdapat pada Tabel 5. 42 Tabel 5. Kebutuhan optimum bahan baku kelas A dengan metode EOQ Bahan Baku Nippe Acryl HM NH / 103 Nax Superio Base AHM Thinner (New) Wip Up Solvent F/C R258 Winning Red T/C Clear Base Permintaan (liter/tahun) Biaya Pesan (Rp/pesan) Biaya Simpan (Rp/liter/tahun) Q* (liter/pesan) 12.911,12 513,66 12.746,56 510,38 4.707,84 11.250 1.101 310,18 992,56 142,42 1.306 163,37 Sumber: Dept. PPC PT. XYZ (diolah tahun 2012) Kebutuhan optimum bahan baku kelas A dengan menggunakan metode EOQ merupakan kebutuhan bahan baku yang optimum untuk setiap kali pemesanan agar biaya persediaan optimum. Tabel 6. Jumlah pemesanan yang diperkirakan sepanjang tahun dan waktu antar pemesanan yang diperkirakan pada EOQ dengan jumlah pemesanan masing-masing bahan baku Permintaan (liter/tahun) Q* (liter /pesan) ∑ pesan /tahun (N) 12.911,12 513,66 26 10 12.746,56 510,38 25 10 4.707,84 310,18 16 F/C R258 Winning Red 992,56 142,42 7 35 T/C Clear Base 1.306 163,37 8 31 Bahan Baku Nippe Acryl HM NH / 103 Nax Superio Base AHM Thinner (New) Wip Up Solvent Jumlah hari kerja 242 T (hari antar pesanan) 16 Sumber: Dept. PPC PT. XYZ (diolah tahun 2012) Setelah mengetahui kuantitas pemesanan yang optimum, maka perlu diketahui juga jumlah pemesanan yang diperkirakan sepanjang tahun dan waktu antar pemesanan yang diperkirakan. Jumlah pesanan yang diperkirakan sepanjang tahun berasal dari permintaan yang berbanding dengan kuantitas pemesanan optimum. Hasil dari Tabel 6. didapat jumlah pemesanan yang diperkirakan sepanjang tahun (N) berdasarkan masing-masing bahan baku berturut-turut yaitu Nippe Acryl HM NH/103, Nax Superio Base AHM Thinner (New), Wip Up Solvent, F/C R258 43 Winning Red, dan T/C Clear Basesebesar 26 kali pesan, 25 kali pesan, 16 kali pesan, 7 kali pesan, dan 8 kali pesan. Hal tersebut menunjukkan jumlah pesanan yang diperlukan untuk produksi periode Juli 2011-Juni 2012 dengan melakukan penyimpanan pada saat persediaan tingkat rata-rata. Waktu antar pemesanan yang dihitung dari perbandingan antara jumlah hari kerja per tahun dengan jumlah pesanan yang diperkirakan sepanjang tahun. Hasilnya yaitu jarak waktu antar pesanan Nippe Acryl HM NH/103 dan Nax Superio Base AHM Thinner (New)10 hari antar pemesanan, Wip Up Solvent16 hari antar pemesanan, F/C R258 Winning Red35 hari antar pemesanan dan T/C Clear Base 31 hari antar pemesanan. Hal tersebut menunjukkan jarak pemesanan yang dekat antara pemesanan yang satu dengan pemesanan yang lain, ini tidak mempengaruhi total biaya pemesanan karena biaya transportasi yang termasuk kedalam biaya pesan sudah di tanggung oleh supplier. Tabel 7. Perbandingan total biaya tahunan bahan baku kelas Adengan metode EOQ dan perusahaan Bahan Baku Nippe Acryl HM NH / 103 Nax Superio Base AHM Thinner (New) Wip Up Solvent F/C R258 Winning Red T/C Clear Base Total Biaya Tahunan TC Perusahaan (Rp/tahun) 593.884.300 TC Metode EOQ (Rp/tahun) 517.010.300 Penghematan (Rp/tahun) 76.874.000 453.884.300 382.958.700 70.925.600 202.182.500 221.091.200 192.807.100 1.663.849.400 141.576.700 139.115.200 117.719.900 1.298.380.800 60.605.800 81.976.000 75.087.200 365.468.600 Sumber: Dept. PPC PT. XYZ (diolah tahun 2012) Perhitungan biaya yang dikeluarkan perusahaan dan dengan menggunakan metode EOQ dapat dilihat pada Tabel 7. biaya yang dikeluarkan perusahaan lebih besar dibandingkan dengan menggunakan metode EOQ. Total biaya yang dikeluarkan perusahaan yaitu sebesar Rp 1.663.849.400 dan dengan metode EOQ sebesar Rp 1.298.380.800; sehingga jika perusahaan menggunakan metode EOQ dapat menghemat biaya perusahaan sebesar Rp 365.468.600 atau sekitar 21,96 % per tahun. 44 4.7. Implikasi Manajerial Berdasarkan hasil perhitungan EOQ, terdapat beberapa rekomendasi manajerial yang berkaitan dengan fungsi manajemen yakni POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling).POAC diterapkan dalam setiap perusahaanuntuk mempertahankan kelanjutan perusahaan. POAC adalah dasar manajemen untuk organisasi manajerial. Berkaitan dengan planningPT. XYZ perlu memperkirakan dan memproyeksikan permintaan produksi dari ATPM untuk selanjutnya dapat memproyeksi rencana kebutuhan bahan baku agar dapat memperlancar proses produksi. Untuk fungsi organizing, perusahaan harus menempatkan karyawan yang sudah berpengalaman contohnya di bidang paintingagar tidak terjadi lagi pengembalian raw material yang sudah diproses dari ATPM yang dapat menghambat kelancaran proses produksi karena persediaan bahan baku yang sudah direncanakan melebihi actual sehingga sering mengalami kekurangan vahan baku. Fungsi actuating, pelaksanaan kerja harus sesuai dengan rencana yang telah dibuat oleh sebab itu semua sumber daya yang dimiliki perusahaan harus dioptimalkan agar semua program kerja perusahaan dapat tercapai, khususnya untuk produksi Honda OEM semua bahan baku yang ada harus dipergunakan agar claim dapat terbayar dan produksi dapat sesuai dengan rencana yang telah dibuat oleh PPC. Pengontrolan dibutuhkanagar pekerjaan berjalan sesuai dengan program kerja yang sudah direncanakan. Baik dalam bentuksupervisi, pengawasan, inspeksi hingga audit. Hal ini diperlukan agar apabila terjadi penyimpangan dapat segera dilakukan koreksi, antisipasi dan penyesuaian dengan situasi dan kondisi yang ada. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan a. Sistem produksi pada PT. XYZ menggunakan sistem make to order dan untuk pengendalian persediaan bahan baku diberlakukan beberapa prosedur diantaranya prosedur pembelian bahan baku, prosedur penerimaan bahan baku, dan prosedur pemakaian bahan baku. b. Berdasarkan analisis ABC dapat disimpulkan terdapat lima jenis bahan baku yang termasuk kedalam kategori A, yaitu Nippe Acryl HM NH/103, Nax Superio Base AHM Thinner (New), Wip Up Solvent, F/C R258 Winning Red, dan T/C Clear Base. Jenis yang termasuk kedalam kategori B, yaitu U/C NH177M Vestock Silver Met, U/C Pink R258 For Winning Red, SGI U/C Thinner New, SGI F/C Thinner, sarung tangan nylon, Polyure Mightlac Hardener, Thinner Laquer Central, dan U/C NH-A 30M Digital Silver. Sedangkan 11 jenis bahan baku lainnya termasuk dalam kategori C. c.1. Tingkat pemesanan yang optimum untuk bahan baku yang tergolong kategori A dihitung menggunakan metode EOQ diperoleh sebesar 186,88 liter per pesan untuk Nippe Acryl HM NH/103 185,69 liter per pesan untuk Nax Superio Base AHM Thinner (New) 112,85 liter per pesan untuk Wip Up Solvent, 51,82 liter per pesan untuk F/C R258 Winning Red, dan 59,44 liter per pesan untuk T/C Clear Base. 2.EOQ dengan jumalh pemesanan masing-masing bahan baku menghasilkan jumlah pemesanan yang berbeda antar masing-masing bahan baku, yakni 26 kali pesan per tahun untuk Nippe Acryl HM NH/103, 25 kali pesan per tahun untukNax Superio Base AHM Thinner (New), 16 kali pesan per tahun untuk Wip Up Solvent, 7 kali pesan per tahun untuk F/C R258 Winning Red, dan 8 kali pesan per tahun untuk T/C Clear Base. 3. Total biaya metode EOQ lebih hemat dibandingkan total biaya perusahaan. Hasil total biaya selama 1 tahun dengan menggunakan metode EOQ adalah Rp 1.298.380.800; sedangkan total biaya perusahaan Rp 1.663.849.400, sehingga jika perusahaan menggunakan metode EOQ dapat menghemat biaya perusahaan sebesar Rp 365.468.600 atau sekitar 21,96 % per tahun. 46 2. Saran a. Klasifikasi item bahan baku berdasarkan analisis ABC hendaknya diterapkan oleh perusahaan untuk mempermudah dalam pengawasan bahan baku dan dalam membuat kebijakan-kebijakan persediaan yang memfokuskan persediaan pada bagian-bagian persediaan kritis yang sedikit dan tidak pada banyak yang sepele. b. Menjaga persediaan agar ekonomis dan mencegah terjadinya kekurangan bahan baku, perusahaan dapat menerapkan metode EOQ. Dengan metode EOQ, perusahaan bisa mengetahui berapa banyak bahan baku yang harus dipesan. Selain itu, metode EOQ dapat membantu perusahaan dalam menunjang efektivitas produksi, ketepatan waktu pengiriman dan kualitas produk. 47 DAFTAR PUSTAKA Assauri, S. 2008. Manajemen Produksi dan Operasi.Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta Heizer, J dan B. Render. 2010. Manejemen Operasi. Salemba Empat, Jakarta. Nasution, A. H. dan Y. Prasetyawan. 2008. Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Graha Ilmu, Yogyakarta. Pardede, P. M. 2005. Manajemen Operasi dan Produksi: Teori, Model, dan Kebijakan. Yogyakarta Pujawan N. I. 2005. Supply Chain Management. Guna Widya, Surabaya. Ristono, A. 2009. Manajemen Persediaan. Graha Ilmu, Yogyakarta Riyanto, Bambang. 2001. Dasar – dasar Pembelanjaan Perusahaan. BPFE, Yogyakarta. Saragi,Y. 2010. Analisis Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada UKM Waroeng Cokelat Bogor. Skripsi. Program Sarjana Alih Jenis Manajemen, Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Sari, S. P. 2010. Pengoptimalan Persediaan Menggunakan Metode EOQ (Economic Kelinci Pati.Skripsi. Program Pertanian/Agrobisnis,Fakultas Pertanian, Surakarta. Bahan Baku Kacang Tanah Order Quantity) di PT. Dua Studi Sosial Ekonomi Universitas Sebelas Maret, Sumayang, L. 2003. Dasar-Dasar Manajemen Produksi Operasi. Salemba Empat, Jakarta. www.telkom.co.id[19 Juli 2012] www.pln.co.id[19 Juli 2012] LAMPIRAN 49 Lampiran 1. Pengumpulan dan analisis data No 1. 2. 3. Tujuan Data yang dibutuhkan Mangkaji sistem persediaan bahan baku saat ini pada PT. XYZ a. Data produksi b. Data permintaan c. Data pemakaian bahan baku d. Data lead time dan safety stock Mengoptimalkan persediaan bahan baku pada PT. XYZ menggunakan Analisis ABC a. b. c. d. Analisis efisiensi biaya penyimpanan bahan baku pada PT. XYZ menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ) e. a. b. c. d. Data permintaan Data lead time Data pemesanan Data biaya-biaya persediaan Data penggunaan bahan baku Data produksi Data pemakaian bahan baku Harga per unit bahan baku Deviasi antara metode perusahaan dan metode peneliti Sumber data PPC PPC PPC dan Purchasing Metode pengumpulan data a. Wawancara b. Dokumen perusahaan a. Wawancara b. Dokumen perusahaan a. Wawancara b. Dokumen perusahaan Metode analisis Analisis deskriptif Data diolah menggunakan sistem bahan baku yang telah digunakan perusahaan Data diolah dgn menggunakan model yang direkomendasikan oleh peneliti Kesimpulan Sistem bahan baku yang digunakan perusahaan Pengelompokan bahan baku kedalam kelas A, B dan C Sistem persediaan material yang tepat untuk diterapkan diperusahaan 50 Lampiran 2. Struktur organisasi PT. XYZ BOARD OF DIRECTION BP PMT HRD&GA DIVISION FINANCE&ACCT DIVISION PLANT DIVISION P2K3 LH SECRETARY AFC & RM GA DEPT. HRD DEPT. FINANCE DEPT. ACCT&MIS DEPT. PURCHASING DEPT. KD PACKING PPIC DEPT. QC DEPT. MAINTENACE DEPT. TECH. DEPT. PROD II DEPT. PROD I DEPT. 51 Lampiran 3. Layout PT. XYZ 1 1 PLANT 3 PLANT 2 7 6 PLANT 1 5 4 3 1 Keterangan: 1. Pos Satpam 2. Gerbang 3. Masjid 4. WH 2 5. Office 6. Engine Plant 7. WH 1 2 1 52 Lampiran 4. Layout Small Part KDS 8 A 2 3 4 5 6 7 E B V F 1 III IV D II G C KET: A : RAK OK SANDING B : LEADER/FORMAN C : RAW MATERIAL D : RAK TOOL E : SETTING ROOM I F : OVEN ROOM G : PART OK, To T/UP 1 : WAPING PART 2 : BLOWING PART 3 : TAG RAG 4 : B/C DASAR 5 : B/C FINISH 6 : C/C DASAR 7 : C/C FINISH 8 : MIXING I : DOCKING II : BLOWING TOOL III : SETTING PART IV : STRIPING V : SANDING 53 Lampiran 5. Peta Proses operasi paintingplastik part Honda OEM PETA PROSES OPERASI Nama Objek Painting Plastik Part Honda OEM Dipetakan oleh Wahyu Tri Utami Tanggal dipetakan 11 Juli 2012 Clear Base Raw Material O-1 O-2 Mixing cat dengan tinner O-7 I-1 O-10 I-2 Mixing cat dengan tinner Striping Setting Part O-3 Wapping O-4 Blowing O-5 Tagrag O-6 B/C dasar O-8 Finish B/C O-9 C/C dasar O-11 Finish C/C O-12 Oven O-13 Docking Ringkasan Kegiatan Jumlah Operasi 13 Inspeksi 2 Penyimpanan 1 Total 16 Penyimpanan 54 Lampiran 6. Hasil perhitungan bahan bakuNippe Acryl HM NH/103 Lampiran 7. Hasil perhitungan bahan bakuNax Suprio Base AHM Thinner (New) Lampiran 8. Hasil perhitungan bahan bakuWip Up Solvent 55 Lampiran 9. Hasil perhitungan bahan bakuF/C R258 Winning Red Lampiran 10. Hasil perhitungan bahan bakuT/C Clear Base I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pemesanan dan penyimpanan barang merupakan kegiatan yang sangat penting pada bagian pengendalian persediaan barang atau inventory control dalam suatu perusahaan, baik barang tersebut merupakan bahan baku yang digunakan sebagai bahan produksi suatu perusahaan ataupun sebagai barang yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Pada kegiatan pemesanan bahan baku, bahan baku yang dipesan adalah bahan baku yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Sehingga ada kalanya pada saat unit-unit dalam organisasi membutuhkan barang untuk melakukan aktivitas, barang yang dibutuhkan tidak tersedia di gudang. Adapun sebaliknya, apabila organisasi memesan barang dengan jumlah yang cukup besar serta setiap unit-unit belum membutuhkan, maka akan mengalami penumpukkan persediaan dan berpengaruh kepada biaya penyimpanan dan mutu bahan baku yang disimpan menjadi kurang baik. Pengendalian persediaan barang yang tepat diperlukan perusahaan untuk menghasilkan jumlah barang yang optimal dan mengeluarkan biaya seminimal mungkin. PT. XYZ adalah perusahaan general assembling yang didirikan pada tahun 1963. Perusahaan ini dapat bertahan walaupun tidak memiliki produk sendiri. Perusahaan ini menggunakan sistem make to order, yang mana produksi sesuai pesanan pelanggan.Salah satu produksi PT. XYZ adalah painting plastik partHonda OEM (Original Equipment Manufacturer). Proses painting plastik part Honda OEM adalah salah satu produk PT XYZ yang nantinya akan dikirim ke ATPM (Agen Tunggal Pemilik Merek) untuk dirakit dan dijadikan unit sepeda motor.Setiap harinya perusahaan harus mengirimkan sekitar 1400 pcs plastik part yang sudah di painting dari 14 part yang ada untuk dijadikan 100 unit kendaraan sepeda motor. Namun dalam praktiknya perusahaan sering mengalami pengembalian part yang salah satunya disebabkan karena tidak ratanya plastik part yang di cat. Hal tersebut menyebabkan bertambahnya part yang akan dilakukan painting untuk membayar claimdari ATPM, sehingga kebutuhan bahan baku yang sudah direncanakan tidak sesuai dengan pemakaian aktualnya. Oleh 2 Tabel 1. Rencana kebutuhan bahan baku Honda OEM Bahan Baku Nippe Acryl HM NH / 103 Nax Superio Base AHM Thinner (New) Wip Up Solvent F/C R258 Winning Red T/C Clear Base U/C NH-177M Vostok Silver Met U/C Pink R258 For Winning Red Polyure Mightylac Hardener SGI U/C Thinner New SGI F/C Thinner Sarung Tangan Nylon Thinner Laquer Central U/C NH-A 30M Digital Silver Masking Tape 1x30 Anco Sand Paper #600 Masking Tape 2x30 Anco Masker Kain Tag Rag Tessa Flexible Fineline Masking Tape 4174 Sarung Tangan 6 Benang Sand Paper #800 High Performance Cloth (IPO) Majun B Sarung Tangan Karet Koran Bekas Scoth Brate Jul-11 Ags-11 Sep-11 Okt-11 Nop-11 Des-11 Jan-12 Feb-12 1047,92 692,02 1136,89 1047,92 1977,2 1136,89 1878,34 988,6 1034,56 385,84 80,56 106 84,8 74,2 34,56 159 137,8 267,12 207,76 683,2 254,8 53,2 70 56 49 22,82 105 91 176,4 137,2 23,8 215,6 98 39,2 98 39,2 1122,4 418,6 87,4 115 92 80,5 37,49 172,5 149,5 289,8 225,4 39,1 354,2 161 64,4 161 64,4 1034,56 385,84 80,56 106 84,8 74,2 34,56 159 137,8 267,12 207,76 1952 728 152 200 160 140 65,2 300 260 504 392 1854,4 691,6 144,4 190 157 285 61,94 285 247 478,8 372,40 976 364 76 100 80 70 32,6 150 130 252 196,00 36,04 326,48 148,4 59,36 148,4 59,36 68 616 280 112 280 112 1122,4 418,6 87,4 115 92 80,5 37,49 172,5 149,5 289,8 225,4 39,1 354,2 161 64,4 161 64,4 64,6 585,2 266 106,4 266 106,4 34 308 140 56 140 56 3,22 22,54 38,64 3,22 2,968 20,776 35,616 2,97 5,32 37,24 63,84 5,32 2,8 19,6 33,6 2,80 28,98 22,54 12,88 26,712 20,776 11,872 5,6 39 67,2 5,6 50,4 3,22 22,54 38,64 3,22 26,712 20,776 11,872 7,96 13,72 23,52 7,96 17,64 13,72 7,84 39 22,4 28,98 22,54 12,88 47,88 37,24 21,28 2,968 7,96 3,22 2,968 5,6 3,22 5,32 36,04 326,48 148,4 59,36 148,4 59,36 2,968 20,776 35,616 2,97 Mar-12 Apr-12 Mei-12 Jun-12 642,59 840,31 444,87 494,3 634,4 236,6 49,4 65 52 45,5 21,19 97,5 84,5 163,8 127,4 22,1 200,2 91 36,4 91 36,4 829,6 309,4 64,6 85 68 59,5 27,71 127,5 110,5 214,2 166,60 439,2 163,8 34,2 45 36 31,5 14,67 67,5 58,5 113,4 88,2 28,9 261,8 119 47,6 119 47,6 15,3 138,6 63 25,2 63 25,2 488 169,9 38 50 40 35 16,3 75 65 117,6 91,46 17 143,7 65,3 26,1 65,3 26,1 2,38 16,66 28,56 2,38 1,26 8,8 15,12 1,26 25,2 19,6 11,2 1,82 12,74 21,84 1,82 16,38 12,74 7,28 21,42 16,66 9,52 11,34 6,8 5,04 5,3 9,15 15,68 5,3 11,76 9,15 5,22 2,8 1,82 2,38 1,26 5,3 3 Tabel 2. Penggunaan bahan baku Honda OEM Bahan Baku Nippe Acryl HM NH / 103 Nax Superio Base AHM Thinner (New) Wip Up Solvent F/C R258 Winning Red T/C Clear Base U/C NH-177M Vostok Silver Met U/C Pink R258 For Winning Red Polyure Mightylac Hardener SGI U/C Thinner New SGI F/C Thinner Sarung Tangan Nylon Thinner Laquer Central U/C NH-A 30M Digital Silver Masking Tape 1x30 Anco Sand Paper #600 Masking Tape 2x30 Anco Masker Kain Tag Rag Tessa Flexible Fineline Masking Tape 4174 Sarung Tangan 6 Benang Sand Paper #800 High Performance Cloth (IPO) Majun B Sarung Tangan Karet Koran Bekas Scoth Brate Jul-11 Ags-11 Sep-11 Okt-11 Nop-11 Des-11 Jan-12 Feb-12 1136,89 741,45 1038,03 1047,92 1878,34 1482,9 2174,92 988,6 1122,4 418,6 87,4 115 92 80,5 37,49 172,5 149,5 289,8 225,4 39,1 354,2 161 64,4 161 64,4 732 237 57 75 60 52,5 24,45 112,5 97,5 189 147,00 1024,8 382,2 79,8 105 84 73,5 34,23 157,5 136,5 264,6 205,80 1034,56 385,84 80,56 106 84,8 74,2 34,56 159 137,8 267,12 207,76 1854,4 691,6 144,4 190 157 285 61,94 285 247 478,8 372,40 1464 546 114 150 120 105 48,9 225 195 378 294,00 2147,2 800,8 167,2 220 176 154 71,72 330 286 554,4 431,20 976 364 76 100 80 70 32,6 150 130 252 196,00 25,5 231 105 42 105 42 35,7 323,4 147 58,8 147 58,8 36,04 326,48 148,4 59,36 148,4 59,36 64,6 585,2 266 106,4 266 106,4 51 462 210 84 210 84 74,8 677,6 308 123,2 308 123,2 34 308 140 56 140 56 3,22 22,54 38,64 3,22 2,1 14,7 25,2 2,10 2,94 20,58 35,28 2,94 2,968 20,776 35,616 2,97 5,32 37,24 63,84 5,32 4,2 29,4 50,4 4,20 6,16 43,12 73,92 6,16 2,8 19,6 33,6 2,80 28,98 22,54 12,88 18,9 14,7 8,4 26,46 20,58 11,76 26,712 20,776 11,872 47,88 37,24 21,28 37,8 29,4 16,8 55,44 43,12 24,64 3,22 2,1 2,94 2,968 5,32 4,2 6,16 Mar-12 Apr-12 Mei-12 Jun-12 692,02 840,31 247,15 642,59 683,2 254,8 53,2 70 56 49 22,82 105 91 176,4 137,2 23,8 215,6 98 39,2 98 39,2 829,6 309,4 64,6 85 68 59,5 27,71 127,5 110,5 214,2 166,60 244 81 19 25 20 17,5 8,15 37,5 32,5 63 49,00 28,9 261,8 119 47,6 119 47,6 8,5 77 35 14 35 14 634,4 236,6 49,4 65 52 45,5 21,19 97,5 84,5 163,8 127,4 22,1 200,2 91 36,4 91 36,4 2,38 16,66 28,56 2,38 0,7 4,9 8,4 0,70 25,2 19,6 11,2 7,96 13,72 23,52 7,96 17,64 13,72 7,84 21,42 16,66 9,52 6,3 4,9 2,8 1,82 12,74 21,84 1,82 16,38 12,74 7,28 2,8 7,96 2,38 0,7 1,82 4 sebabitu diperlukan manajemen persediaan yang baik untuk pengendalian persediaan bahan baku agar optimal. Manajemen persediaan meliputi setiap aktivitas yang menjaga agar tingkat persediaan tetap berada dalam tingkatan yang diinginkan. Kebijakan dalam manajemen persediaan perlu dirumuskan secara tepat sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan oleh perusahaan. Terdapat beberapa metode untuk mengendalikan tingkat persediaan, diantaranya adalah analisis ABC dan model Economic Order Quantity (EOQ). Analisis ABC digunakan untuk mengklasifikasikan bahan baku berdasarkan dolar tahunan yakni hasil persentase komulatif dari perkalian antara permintaan dengan harga perunit bahan baku. Pengelompokkan ini dapat membantu manager untuk lebih fokus pada bahan baku yang memiliki persentase komulatif tinggi yakni kelas A dan memberikan kontrol yang secukupnya untuk bahan baku yang lain. Metode EOQ digunakan untuk menentukan jumlah barang yang optimal dalam satu periode dengan meminimalkan total biaya persediaan. Biaya persediaan itu terdiri dari setup cost dan holding cost. Pada penentuanjumlah barang yang akan dipesan dibutuhkan data-data hasil analisa yangmendalam sehingga menghasilkan jumlah barang yang optimal untuk dipesan dantidak merugikan perusahaan. Beberapa keuntungan dari kebijakan penerapan EOQ dalam manajemen persediaan adalah investasi yang tertanam dalam persediaan bisa dijaga tetap minimum dan jumlah pemesanan bahan baku disesuaikan kebutuhan konsumsi. 1.1. Perumusan Masalah Masalah utama persediaan bahan baku adalah menentukan berapa jumlah pesanan ekonomis yang akan menjawab persoalan berapa jumlah bahan baku dan kapan bahan baku itu dipesan sehingga dapat meminimasi ordering cost dan holding cost. Masalah lain dari persediaan bahan baku adalah terjadinya penumpukan yang dapat mengurangi mutu dari bahan baku itu sendiri. Melihat masalah tersebut maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana sistem persediaan bahan baku yang sedang berjalan pada PT. XYZ? 5 2. Bagaimana mengoptimalkan persediaan bahan baku agar tidak menghambat proses produksi pada PT. XYZ? 3. Bagaimana mengefisiensikan total biaya persediaan bahan baku pada PT. XYZ? 1.2. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mengkaji sistem persediaan bahan baku saat ini pada PT. XYZ. 2. Mengoptimalkan persediaan bahan baku pada PT. XYZmenggunakan Analisis ABC. 3. Analisis efisiensi total biaya persediaan bahan baku pada PT. XYZ menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ). 1.3. Manfaat Penelitian Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah: 1. Bagi penulis, dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di perkuliahan untuk dapat menerapkannya di lapangan. 2. Bagi perusahaan, diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dan masukan dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan pengendalian persediaan. 3. Bahan referensi bagi peneliti lain yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengendalian persediaan. 1.4. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah: 1. Persediaan yang dikaji adalah bahan baku pada jalur painting plastik part Honda OEM. 2. Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan selama bulan Juli2012, dan data yang diperlukan berupa data sekunder selama satu tahun yakni dari Juli 2011 - Juni 2012dan seluruhnya bersumber pada catatan kebutuhan bahan baku di bagian Production Planing Control (PPC). 6 3. Dalam perhitungan Economic Order Quantity (EOQ) bahan baku yang diperhitungkan hanya bahan baku yang tergolong kedalam kelas A pada analisis ABC. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Persediaan Menurut Pardede (2005), persediaan (inventory) adalah sejumlah barang atau bahan yang tersedia untuk digunakan sewaktu-waktu di masa yang akan datang. Sediaan terjadi apabila jumlah bahan atau barang yang diadakan (dibeli atau dibuat sendiri) lebih besar daripada jumlah yang digunakan (dijual atau diolah sendiri). Menurut Ristono (2009), persediaan dapat diartikan sebagai barang-barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada masa atau periode yang akan datang. Persediaan terdiri dari persediaan bahan baku, persediaan bahan setengah jadi, dan persediaan barang jadi. Persediaan bahan baku dan bahan setengah jadi di simpan sebelum digunakan atau dimasukan ke dalam proses produksi, sedangkan persediaan barang jadi atau barang dagangan di simpan sebelum dijual atau dipasarkan. Menurut Heizer dan Render (2010), persediaan adalah salah satu asset termahal dari banyak perusahaan, mewakili sebanyak 50% dari keseluruhan modal yang diinvestasikan. Manajer operasi diseluruh dunia telah menyadari bahwa manajemen persediaan sangatlah penting. Di satu sisi, sebuah perusahaan dapat mengurangi biaya dengan mengurangi persediaan. Di sisi lain, produksi dapat berhenti dan pelanggan menjadi tidak puas ketika sebuah barang tidak tersedia. Tujuan manajemen persediaan adalah menentukan keseimbangan antara investasi persediaan dengan pelayanan pelanggan. Menurut Assauri (2008), persediaan adalah suatu aktiva yang meliputi barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual suatu periode usaha yang normal atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan/proses produksi, ataupun persediaan barang baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi. Jadi persediaan merupakan sejumlah bahan-bahan, parts yang disediaakan dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang jadi/produk yang disediakan untuk memenuhi permintaan dari komponen atau langganan setiap waktu. 8 2.2. Faktor Penyebab Munculnya Persediaan Menurut Sumayang (2003), penyebab timbulnya persediaan adalah sebagai berikut: 1. Menghilangkan pengaruh ketidakpastian. Untuk menghadapi ketidakpastian maka pada sistem ditetapkan persediaan darurat yang dinamakan safety stock. Jika sumber dari ketidakpastian dapat dihilangkan, maka jumlah inventory maupun safety stock dapat dikurangi. 2. Memberi waktu luang untuk pengelolaan produksi dan pembelian. Kadangkadang lebih ekonomis memproduksi barang dalam proses atau barang jadi dalam jumlah besar atau dalam jumlah paket yang kemudian disimpan sebagai persediaan. 3. Untuk mengantisipasi perubahan pada demand dan supply. Inventory disiapkan untuk menghadapi bila ada perkiraan perubahan harga dan persediaan bahan baku. 2.3. Manfaat Persediaan Menurut Assauri (2008), alasan diperlukannya persediaan oleh suatu perusahaan adalah karena: 1. Dibutuhkannya waktu untuk menyelesaikan operasi produksi untuk memindahkan produk dari suatu tingkat ke tingkat produksi proses yang lain, yang disebut persediaan dalam proses dan pemindahan. 2. Alasan organisasi, untuk memungkinkan satu unit atau bagian membuat jadwal operasinya secara bebas, tidak tergantung dari yang lainnya. Alasan-alasan utama untuk mengadakan sediaan menurut Pardede (2005), adalah kaitannya dengan hal-hal berikut : 1. Berjaga-jaga Pengadaan persediaan dapat dipandang sebagai suatu cara untuk berjaga-jaga tehadap kemungkinan tidak tersedianya atau tidak cukupnya bahan-bahan pada saat dibutuhkan. Kemungkinan seperti itu terjadi apabila permintaan berubah-ubah dan tidak dapat diramalkan. Penyebab lainnya adalah masa tunggu (lead time) yang berubah-ubah dan sering tidak dapat 9 diperkirakan. Penyebab itu dapat juga kedua-duanya sekaligus, yaitu permintaan tidak pasti. Sediaan yang diadakan dengan maksud untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan seperti itu disebut sediaan berjagajaga(buffer stock). 2. Pemisahan operasi (operation decoupling) Pada suatu rangkaian kegiatan pengolahan, setiap kegiatan sangat bergantung kepada, atau dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan lain. Pada beberapa kegiatan yang berurutan, apabila satu kegiatan terhenti maka kegiatan berikutnya akan terganggu. Untuk mengatasi hal ini maka dua kegiatan yang berurutan dapat dipisahkan dari segi sediaan. Dengan cara ini suatu kegiatan yang mengikuti, atau yang merupakan lanjutan dari, kegiatan lain “dibekali” dengan sediaan bahan dalam pengerjaan sehingga ketergantungan terhadap kegiatan pendahulunya dapat diperkecil. Disamping itu, pemisahan kegiatan dari segi sediaan juga dilakukan agar setiap kegiatan dapat direncanakan jadwal secara bebas tanpa harus menyesuaikannya dengan jadwal-jadwal kegiatan lain. 3. Pemantapan produksi (smoothing production) Apabila sejumlah barang yang diminta berubah-ubah naikturun secara tidak teratur, perusahaan tidak harus menaik-turunkan tingkat pengolahan untuk memenuhinya. Pengolahan dapat diusahakan agar selalu berada pada tingkat yang tetap dengan bantuan sediaan. Pada saat jumlah barang yang dibuat lebih besar dari jumlah yang diminta maka sediaan akan menumpuk. Sediaan ini nantinya akan digunakan untuk menutupi kekurangan pada saat jumlah yang dibuat rendah dari jumlah yang diminta. 4. Penghematan biaya penanganan sediaan Pada suatu rangkaian kegiatan pengolahan, bahan-bahan mengalir mulai dari kegiatan tahap awal hingga kegiatan tahap akhir. Pergerakan bahan-bahan ini tentu saja membutuhkan biaya terutama pada kegiatan pengolahan yang terputus-putus (intermitten production process). Biaya ini, yang disebut biaya penanganan sediaan(material handling cost), dapat dihemat dengan cara mengadakan atau menempatkan sediaan di antara dua kegiatan yang berurutan. 10 5. Penghematan biaya pengadaan bahan Biaya pengadaan bahan (material procurement cost) akan dapat dihemat melalui pemanfaatan potongan jumlah (quantity discount) yang ditawarkan oleh perusahaan pemasok. Potongan jumlah diperoleh apabila pembelian dilakukan dalam jumlah besar, dan pembelian dalam jumlah besar akan dimungkinkan dengan pengadaan sediaan. 2.4. Fungsi Persediaan Menurut Heizer dan Render (2010), persediaan dapat melayani beberapa fungsi yang menambal fleksibilitas bagi operasi perusahaan. Keempat fungsi persediaan adalah sebagai berikut: 1. “Decouple” atau memisahkan beberapa tahapan dari proses produksi. Sebagai contoh, jika persediaan sebuah perusahaan berfluktuasi, persediaan tambahan mungkin diperlukan untuk melakukan decouple proses produksi dari pemasok. 2. Melakukan “decouple” perusahaan dari fluktuasi permintaan dan menyediakan persediaan barang-barang yang akan memberikan pilihan bagi pelanggan. Persediaan seperti ini digunakan secara umum pada bisnis eceran. 3. Mengambil keuntungan dari diskon kuantitas karena pembelian dalam jumlah besar dapat mengurangi biaya pengiriman barang. 4. Melindungi terhadap inflasi dan kenaikan harga. Menurut Assauri (2008), persediaan yang diadakan mulai dari yang bentuk bahan mentah sampai dengan barang jadi, mempunyai fungsi yaitu: 1. Menghilangkan risiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan yang dibutuhkan perusahaan. 2. Menghilangkan risiko dari material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan. 3. Untuk menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran. 4. Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi. 11 5. Mencapai penggunaan mesin yang optimal. 6. Memberikan pelayanan (service) kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya dimana keinginan pelanggan pada suatu waktu dapat dipenuhi atau memberikan jaminan tetap tersediaanya barang jadi tersebut. 7. Membuat pengadaan atau produksi tidak perlu sesuai dengan penggunaannya atau penjualannya. 2.5. Jenis Persediaan Menurut Nasution dan Prastyawan (2008), dilihat dari jenisnya persediaan dibedakan menjadi empat, yaitu: 1. Bahan baku (raw material) adalah barang-barang yang dibeli dari pemasok (supplier) dan akan digunakan atau diolah menjadi produk jadi yang akan dihasilkan perusahaan. 2. Bahan setengah jadi (work in process) adalah bahan baku yang sudah diolah atau dirakit menjadi komponen namun masih membutuhkan langkahlangkah lanjutan agar menjadi produk jadi. 3. Barang jadi (finish good) adalah barang jadi yang telah selesai diproses, siap untuk disimpan di gudang barang jadi, dijual, atau didistribusikan ke lokasilokasi pemasaran. 4. Bahan-bahan pembantu(supplies) adalah barang-barang yang dibutuhkan untuk menunjang produksi, namun tidak akan menjadi bagian pada produk akhir yang dihasilkan perusahaan. Menurut Heizer dan Render (2010), untuk mengakomodasi fungsi-fungsi persediaan, perusahaan harus memelihara empat jenis persediaan, yaitu: 1. Persediaan bahan mentah (raw material inventory), digunakan untuk melakukan decouple (memisahkan) pemasok dari proses produksi. Bagaimanapun juga, pendekatan yang lebih dipilih adalah menghilangkan variabilitas pemasok akan kualitas, kuantitas, atau waktu pengantaran sehingga tidak diperlukan pemisahan. 2. Persediaan barang setengah jadi (work in process-WIP inventory) adalah komponen-komponen atau bahan mentah yang telah melewati beberapa proses perubahan, tetapi belum selesai. WIP ada karena waktu yang 12 diperlukan untuk menyelesaikan sebuah produk (disebut waktu siklus). Mengurangi waktu siklus akan mengurangi persediaan. 3. Persediaan pasokan pemeliharaan/perbaikan/operasi (maintenance, repair, operating-MRO) adalah persediaan-persediaan yang disediakan untuk persediaan pemeliharaan, perbaikan dan operasi yang dibutuhkan untuk menjaga agar mesin-mesin dan proses-proses tetap produktif. MRO ada karena kebutuhan serta waktu untuk pemeliharaan dan perbaikan dari beberapa perlengkapan tidak diketahui. Walaupun permintaan akan MRO merupakan fungsi dari jadwal pemeliharaan, permintaan-permintaan MRO lainnya yang tidak terjadwal harus diantisipasi. 4. Persediaan barang jadi (finish good inventory) adalah produk yang telah selesai dan tinggal menunggu pengiriman. Barang jadi dapat dimasukkan ke persediaan karena permintaan pelanggan di masa mendatang tidak diketahui. 2.6. Biaya Persediaan Menurut Ristono (2009), biaya persediaan dapat dibedakan atas: 1. Ongkos pembelian (purchase cost) Ongkos pembelian adalah harga per unit apabila item dibeli dari pihak luar, atau biaya produksi per unit apabila diproduksi dalam perusahaan atau dapat dikatakan pula bahwa biaya pembelian adalah semua biaya yang digunakan untuk membeli suku cadang. Penetapan dari biaya pembelian ini tergantung dari pihak penjualan barang atau bahan sehingga pihak pembeli hanya bisa mengikuti fluktuasi harga barang yang ditetapkan oleh pihak penjual. 2. Ongkos pemesanan atau Biaya persiapan (order cost/set up cost) Ordering cost adalah biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan pemesanan barang ke supplier. Besar kecilnya biaya pemesanan sangat tergantung pada frekuensi pesanan, semakin sering memesan barang maka biaya yang dikeluarkan akan semakin besar dan sebaliknya. Biaya pemesanan secara terperinci meliputi : 1. Biaya persiapan pesanan, antara lain : a. Biaya telepon atau ongkos menghubungi supplier 13 b. Pengeluaran surat menyurat 2. Biaya penerimaan barang, seperti : a. Biaya pembongkaran dan pemasukan ke gudang b. Biaya laporan penerimaan barang c. Biaya pemeriksaan barang atau biaya pengecekan 3. Biaya pengiriman pesanan ke gudang 4. Biaya-biaya proses pembayaran, seperti biaya pembuatan cek, pengiriman cek atau biaya transfer ke bank supplier, dan sebagainya. 3. Ongkos simpan (carrying cost/holding cost/storage cost) Ongkos simpan adalah biaya yang dikeluarkan atas investasi dalam persediaan dan pemeliharaan maupun investasi sarana fisik untuk menyimpan persediaan, atau dapat pula dikatakan biaya yang timbul akibat penyimpanan barang maupun bahan (diantaranya: fasilitas penyimpanan, sewa gudang, keusangan, asuransi, pajak dan lain-lain). Yang termasuk dalam biaya simpan antara lain: a. Biaya sewa atau penggunaan gudang. b. Biaya pemeliharaan barang. c. Biaya pemanasan atau pendinginan, bila untuk menjaga ketahanan barang dibutuhkan faktor pemanas atau pendingin. d. Biaya menghitung dan menimbang barang. 4. Biaya kekurangan persediaan (stockout cost) Dengan kekurangan persediaan maka biaya yang timbul adalah sebagai berikut: a. Kehilangan pendapatan. b. Selisih harga komponen. c. Terganggunya operasi. Menurut Heizer dan Render (2010) biaya persediaan meliputi: 1. Biaya penyimpanan (holding cost) adalah biaya yang terkait dengan menyimpan atau “membawa” persediaan selama waktu tertentu. Oleh karena itu, biaya penyimpanan juga mencakup biaya barang usang dan biaya yang terkait dengan penyimpanan, seperti asuransi, pegawai tambahan, dan pembayaran bunga. 14 2. Biaya pemesanan (ordering cost) mencakup biaya dari persediaan, formulir, proses pesanan, pembelian, dukungan administrasi, dan seterusnya. Ketika pesanan sedang diproduksi, biaya pesanan juga ada, tetapi mereka adalah bagian dari biaya penyetelan. 3. Biaya penyetelan (setup cost) adalah biaya untuk mempersiapkan sebuah mesin atau proses untuk membuat sebuah pesanan. Ini menyertakan waktu dan tenaga kerja untuk membersihkan serta mengganti peralatan atau alat penahan. Manajer operasi dapat menurunkan biaya pemesanan dengan mengurangi biaya penyetelan serta menggunakan prosedur yang efisien, seperti pemesanan dan pembayaran elektronik. 2.7. Model Pengendalian Persediaan 2.7.1 Analisis ABC Menurut Heizer dan Render (2010), analisis ABC membagi persediaan yang ada menjadi tiga klasifikasi dengan basis volume dolar tahunan. Analisis ABC adalah sebuah aplikasi persediaan dari prinsip Pareto. Prinsip Pareto menyatakan terdapat “sedikit hal yang kritis dan banyak yang sepele”. Gagasannya adalah untuk membuat kebijakan-kebijakan persediaan yang memfokuskan persediaan pada bagian-bagian persediaan kritis yang sedikit dan tidak pada banyak yang sepele. Tidaklah realistis jika memantau barang-barang yang tidak mahal dengan intensitas yang sama dengan barang-barang yang sangat mahal. Untuk menentukan volume dolar tahunan dari analisis ABC, mengukur permintaan tahunan dari setiap barang persediaan dikalikan biaya per unitnya. Barang-barang kelas A adalah barang yang volume dolar tahunannya tinggi. Walaupun barang ini hanya mempresentasikan 15% dari barang-barang persediaan total. Barang kelas A juga mempresentasikan 70% sampai 80% dari penggunaan uang secara keseluruhan. Barang-barang kelas B adalah barang persediaan dengan volume dolar tahunan yang sedang. Barang ini mempresentasikan sekitar 30% dari barang persediaan dan 15% sampai 25% dari nilai total. Barang dengan volume dolar tahunan kecil adalah kelas C yang hanya mempresentasikan 5 % dari volume dolar tahunan, tetapi mewakili sekitar 55% dari barang persediaan total. Persen dari penggunaan dolar tahunan 15 Barang A Barang B Barang C Persen dari persediaan Gambar 1. Representasi grafik dari analisis ABC Kriteria lain dari volume dolar tahunan juga dapat menentukan klasifikasi barang, seperti perubahan-perubahan teknik yang diantisipasi, masalah-masalah pengantaran, masalah kualitas, atau biaya unit yang tinggi yang menyebabkan barang naik ke klasifikasi yang lebih tinggi. Keuntungan membagi barang-barang persediaan ke dalam kelas adalah kebijakan dan kontrol dapat diterapkan pada setiap kelas. Adapun kebijakan yang dapat didasarkan pada analisis ABC: 1. Membeli sumber daya yang ditujukan untuk pengembangan pemasok harus jauh lebih tinggi untuk barang A secara individu dibandingkan dengan barang C. 2. Barang A harus memiliki kontrol persediaan fisik yang lebih ketat, barang tersebut mungkin ditempatkan di bagian yang lebih aman, dan akurasi catatan persediaannya untuk barang A harus lebih sering diverifikasi. 3. Meramalkan barang A memerlukan perhatian lebih dibanding barang lainnya. 2.7.2 Jumlah Pemesanan Ekonomis (Economic Order Quantity, EOQ) Menurut Pardede (2005), model jumlah pesanan terhemat (economic order quantity model = EOQ model) digunakan dalam menentukan jumlah barang yang akan dipesan untuk setiap kali pemesanan serta jumlah biaya pengadaan bahanbahan. EOQ menunjukkan jumlah barang yang harus dipesan untuk setiap kali pemesanan agar biaya sediaan keseluruhan menjadi sekecil mungkin. 16 Menurut Heizer dan Render (2010), model kuantitas pesanan ekonomis (economic order quantity-EOQ) adalah salah satu teknik kontrol persediaan yang tertua dan paling dikenal, tetapi berdasarkan beberapa asumsi: 1. Jumlah permintaan diketahui, konstan dan independen. 2. Waktu tunggu yakni waktu antara pemesanan dan penerimaan pesanan diketahui dan konstan. 3. Penerimaan persediaan bersifat instan dan selesai seluruhnya. Dengan kata lain, persediaan dari sebuah pesanan datang dalam satu kelompok pada suatu waktu. 4. Tidak tersedia diskon kuantitas. 5. Biaya variable hanya biaya untuk menyiapkan atau melakukan pemesanan dan biaya menyimpan persediaan dalam waktu tertentu. 6. Kehabisan persediaan dapat sepenuhnya dihindari jika pemesanan dilakukan pada waktu yang tepat. Dengan asumsi tersebut, grafik penggunaa persediaan terhadap waktu memiliki bentuk gigi gergaji, seperti pada Gambar 2. Permintaan bersifat konstan sepanjang waktu, perediaan menurun pada laju yang sama sepanjang waktu. Setiap kali tingkat persediaan mencapai 0, pesanan baru dibuat serta diterima, dan tingkat persediaan melompat ke EOQ. Proses ini terus berlanjut sepanjang waktu. Gambar 2. Penggunaan persediaan dalam waktu tertentu 17 Pada Gambar 3 menunjukkan hubungan antara kedua biaya tersebut, biaya penyimpanan (holding/carrying cost) dan biaya pemesanan (ordering cost) dalam bentuk grafik. Kurva biaya penyimpanan menunjukkan sebuah garis lurus yang naik apabila jumlah persediaan bertambah besar. Kurva biaya pesanan menunjukkangaris lengkung menurun mendekati nol apabila jumlah persediaan bertambah.Kurva biaya persediaan total (TC) merupakan penjumlahan dua kurva biayatersebut, dimana kurva tersebut akan menurun dan mencapai titik minimum pada jumlah persediaan tertentu dan kemudian naik lagi. Dalam hal ini Q = EOQ akantercapai pada perpotongan antara kedua kurva tersebut. Gambar 3. Biaya total sebagai fungsi dari kuantitas pesanan 2.7.3 Persediaan Pengaman (Safety Stock, SS) Menurut Pujawan (2005), safety stock fungsinya adalah sebagai perlindungan terhadap ketidakpastian permintaan maupun pasokan. Perusahaan biasanya menyimpan lebih banyak dari yang diperkirakan dibutuhkan selama suatu periode tertentu supaya kebutuhan yang lebih banyak bisa dipenuhi tanpa harus menunggu. Menentukan berapa besarnya persediaan pengaman adalah pekerjaan yang sulit. Besar kecilnya persediaan pengaman terkait dengan biaya persediaan dan service level. Menurut Ristono (2009), faktor-faktor yang menentukan besarnya safety stock adalah : 1. Penggunaan bahan baku rata-rata Salah satu dasar untuk memperkirakan penggunaan bahan baku selama periode tertentu, khususnya selama periode pemesanan adalah rata-rata 18 penggunaan bahan baku pada masa sebelumnya. Hal ini perlu diperhatikan karena peramalan permintaan langganan memiliki risiko yang tidak dapat dihindarkan bahwa persediaan yang telah ditetapkan sebelumnya atas dasar taksiran tersebut habis sama sekali sebelum penggantian bahan/barang dari pesanan datang. Faktor waktu atau lead time (procurement time) 2. Lead time adalah lamanya waktu antara mulai dilakukannya pemesanan bahan-bahan sampai dengan kedatangan bahan-bahan yang dipesan tersebut dan diterima di gudang persediaan. Lamanya waktu tersebut tidaklah sama antara satu pesanan dengan pesanan yang lain, tetapi bervariasi. 2.7.4 Reorder Point Menurut Riyanto (2001), reorder point ialah saat atau titik di mana harus diadakan pesanan lagi sedemikian rupa sehingga kedatangan atau penerimaan material yang dipesan itu adalah tepat pada waktu dimana persediaan di atas safety stock sama dengan nol. Dengan demikian diharapkan datangnya material yang dipesan itu tidak akan melewati waktu sehingga akan melanggar safety stock. Apabila pesanan dilakukan sesudah melewati reorder point tersebut, maka material yang dipesan akan diterima setelah perusahaan terpaksa mengambil material dari safety stock. Dalam penetapan reorder point haruslah kita memperhatikan faktor–faktor sebagai berikut; yaitu, penggunaan material selama tenggang waktu mendapatkan barang (procurement lead time) dan besarnya safety stock. Reorder point dapat ditetapkan dengan berbagai cara, antara lain : 1. Menetapkan jumlah penggunaan selama lead time dan ditambah dengan presentase tertentu. 2. Menetapkan jumlah penggunaan selama lead time dan ditambah dengan penggunaan selama periode tertentu sebagai safety stock. Menurut Heizer dan Render (2010) Titik pemesanan ulang (reorder point) dicari dengan cara : ROP = (Permintaan per hari)(lead time untuk pemesanan baru dalam hari) ROP = d x L ……………………………………………………………………(1) 19 Persamaan untuk ROP ini mengasumsikan bahwa permintaannya sama dan bersifat konstan. Bila tidak demikian halnya, harus ditambahkan stok tambahan, seringkali disebut pengaman (safety stock). 2.8. Penelitian Terdahulu Saragi (2010) dalam penelitiannya berjudul Analisis Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada UKM Waroeng Cokelat Bogor bertujuan untuk mempelajari sistem pengadaan dan pengendalian persediaan bahan baku di Waroeng Cokelat; meramalkan tingkat permintaan pada produk Waroeng Cokelat; menghitung tingkat persediaan yang optimal bagi Waroeng Cokelat; menghitung serta mengevaluasi tingkat biaya persediaan bahan baku yang optimal bagi Waroeng Cokelat. Hasil penelitian menggunakan EOQ didapatkan jumlah pemesanan dan jarak antar pemesanan yang sama pada bahan baku, yaitu mengikuti jumlah pemesanan terbesar pada cokelat, sehingga jumlah pemesanan sebanyak 39 kali dengan jarak waktu antar pemesanan 8 hari. Total biaya yang dikeluarkan dengan model EOQ, yaitu sebesar Rp 2.521.909 dan dengan metode perusahaan sebesar Rp 2.587.800; sehingga menghasilkan penghematan sebesar Rp 65.891. Sari (2010) dalam penelitian berjudul Pengoptimalan Persediaan Bahan Baku Kacang Tanah Menggunakan Metode EOQ (Economic Order Quantity) di PT. Dua Kelinci Pati bertujuan untuk mengetahui jumlah pembelianbahan baku yang optimal, jumlah persediaan pengaman, waktu pemesanan kembali dan total biaya persediaan untuk periode 2009/2010 di PT. Dua Kelinci Pati. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh bahwa pembelian bahan bakukacang tanah menurut metode EOQ selama periode 2006/2007-2008/2009 lebihbesar daripada kebijakan perusahaan dan kuantitas pembelian kacang tanah optimal untuk periode 2009/2010 sebesar 53.406.993 kg. Persediaan pengaman untuk periode 2009/2010 sebesar 283,3777 kg. Waktu tunggu kedatangan bahan baku kacang tanah (lead time) yang optimal adalah 2 hari sejak bahan baku dipesan hingga tiba di gudang perusahaan. Selama periode 2006/2007-2008/2009 PT. Dua Kelinci tidak menerapkan adanya titik pemesanan kembali (reorder point), sedangkan titik pemesanan kembali untuk periode 2009/2010 sebesar 445.341,6527 kg. Total 20 biaya persediaan bahan baku selama periode 2006/2007- 2008/2009 menurut metode EOQ lebih kecil daripada kebijakan perusahaan dan total biaya persediaan untuk periode 2009/2010 sebesar Rp 256.867.628,9. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh bahwa pengendalian persediaan bahan baku kacang tanah di PT. Dua Kelinci selama periode 2006/2007- 2008/2009 belum efisien. III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Bahan baku merupakan salah satu input pada suatu proses produksi yang mempunyai peranan penting, baik perannya sebagai bahan baku utama, maupun dilihat dari besarnya nilai investasi yang harusdikeluarkan untuk memenuhi kebutuhannya.Keberhasilan produksi yang dilakukan oleh suatu industri atau perusahaan ditentukan oleh banyak faktor, salah satu diantaranya yaitu kecukupan persediaan bahan baku yangdibutuhkan untuk proses produksi. Kelebihan persediaan bahan baku dapat menimbulkan biaya penyimpanan yang besar, hal tersebut dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengendalian persediaan bahan baku yang tepat dan sesuai dengan karaketristik dari proses produksi dan sistem manajemen perusahaan. Konsep operasional penelitian diawali dengan melihat keadaan perusahaan dan menentukan produksi yang akan diteliti. Selanjutnya, mengidentifikasi data permintaan dan rencana produksi terhadap Honda OEM selama satu tahun. Langkah selanjutnya mengidentifikasi sistem persediaan bahan baku yang selama ini digunakan oleh perusahaan. Identifikasi ini penting karena motode perusahaan sangat mempengaruhi dalam penerapan manajemen persediaannya, termasuk dalam hal pengendalian. Metode perusahaan mencakup alasan atau tujuan perusahaan dalam melaksanakan sistem manajemen pengendalian persediaan bahan baku yang dikaitkan juga dengan kondisi perusahaan. Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi karakteristik bahan baku yang digunakan dalam proses produksi. Karakteristik ini mencakup jenis dan asal bahan baku, sistem pemesanan bahan baku, sistem penerimaan dan pengeluaran bahan baku, dan harga masing-masing bahan baku. Pada tahap berikutnya adalah analisis kondisi persediaan bahan baku, yang terdiri dari volume pemakaian bahan baku, waktu tunggu sejak bahan baku dipesan hingga bahan baku diterima digudang, frekuensi dan jumlah pemesanan bahan baku, dan biaya-biaya persediaan bahan baku. Setelah data-data tersebut diperoleh, selanjutnya dapat dilakukan analisis perbandingan atas total biaya persediaan bahan baku metode yang dilakukan 22 perusahaan dan metode pengendalian persediaan yang mencakup model analisis ABC dan model Economic Order Quantity (EOQ). Metodeyang terbaik adalah yang memiliki total biaya persediaan yang paling rendah dan memperoleh penghematan biaya persediaan yang besar.Kerangka pemikiran yang menjadi dasar bagi penelitian ini adalah seperti yang terlihat pada Gambar 4. PT. XYZ Identifikasi Data Permintaan Identifikasi Rencana Produksi Alat Analisis Deskriptif Identifikasi Sistem Persediaan Bahan Baku Perusahaan Analisis Perbandingan Biaya Persediaan Bahan Baku Metode Perusahaan   Metode Analisis ABC Metode EOQ Tingkat Pengendalian Bahan Baku Optimal Rekomendasi Gambar 4. Kerangka pemikiran penelitian 3.2. Metode Penelitian 3.2.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. XYZ yang berlokasi di Sunter, Jakarta Utara. Lokasi tersebut dipilih karena PT. XYZ merupakan anak perusahaan Astra yang menjadi cikal bakal dari pabrik perakitan Toyota dan Daihatsu. Waktu penelitian dilakukan selama bulan Juli 2012. 23 3.2.2 Jenis dan Metode Pengumpulan Data Dalam pelaksanaan penelitian peneliti menggunakan beberapa metode untuk mengumpulkan data-data yang terkait dan dibutuhkan untuk bahan penelitian. Metode pengumpulan dan analisis data dapat di lihat pada Lampiran 1. Adapun metode pengumpulan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Membaca Data dan Laporan Dalam kegiatan ini peneliti mempelajari data-data yang ada di perusahaan dengan tujuan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang sudah terjadi di perusahaan. Selain itu juga agar bisa dijadikan gambaran dan bahan dalam pembuatan penelitian. Pada kesempatan ini peneliti membaca dan mempelajari data-data tentang jumlah kebutuhan bahan baku pada Production Planning Control (PPC), cara pemesanan dan waktu pemesanan, rencana produksi, dan lain-lain. 2. Wawancara Pada kegiatan ini peneliti melakukan wawancara untuk mencari informasi yang akan dikaji langsung pada pihak yang berwenang di perusahaan. Dalam kegiatan wawancara ini hal-hal yang didapatkan oleh peneliti adalah yang berkaitanlangsung dengan kejadian di lapangan pada saat proses produksi berlangsung, dan melakukan tanya jawab di bagian purchasing tentang cara pemesanan bahan baku, biaya bahan baku dan inventory control yang dilakukan oleh Production Planning Control (PPC). 3. Observasi Dalam kegiatan ini peneliti langsung melihat ke lapangan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang terjadi saat proses produksi dan operasi berlangsung, serta melihat jenis bahan baku di gudang. Selain itu juga observasi ini bertujuan untuk menyesuaikan antara teori yang telah didapatkan oleh peneliti sebelumnya dan praktik di lapangan. Pada kegiatan ini peneliti didampingi oleh pembimbinglapangan yang telah ditunjuk oleh perusahaan. 3.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data dilakukan untuk membandingkan perhitungan pengendalian persediaaan perusahaan dengan yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan biaya 24 yang minimum dan waktu pemesanan yang tepat. Adapun analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis ABC dan metode Economic Order Quantity (EOQ) dengan melihat permintaan pada satu tahun. 3.3.1 Analisis ABC Analisis ABC digunakan untuk mengklasifikasikan bahan baku berdasarkan basis volume dolar tahunan yakni perkalian antara permintaan dan harga per unit. Adapun langkah untuk menentukan analisis ABC adalah dengan mengalikan total permintaan selama satu tahun dengan harga per unit dari tiap bahan baku. Selanjutnya mempresentasikan hasil perkalian tersebut dan mengurutkan berdasarkan nilai persentase yang paling besar ke persentase yang paling kecil. Setelah itu dikomulatifkan persentase tersebut hingga 100%. Kategorikan komulatif persentase tersebut berdasarkan kelas A 50 % -75%, kelas B 15 % -25% dan kelas C 5%. 3.3.2 Model EOQ (Economic Order Quantity) Model ini digunakan untuk mengetahui kuantitas pembelian bahan baku yang ekonomis (setiap kali pesan). Kuantitaspembelian bahan baku yang ekonomis dicapai pada saatbiaya pemesanan tahunan sama dengan biaya penyimpanan tahunan. a. Biaya pemesanan per tahun Merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan bahan baku. Biaya pemesanan per tahun = jumlah pemesanan yang dilakukan pertahun x biayapemesanan setiap kali pesan = Permintaan setahun x biaya pesan tiap kali pesan Jumlah tiap kali pesan Biaya pemesanan per tahun = b. ……………………………………….(2) Biaya penyimpanan per tahun Merupakan biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan penyimpananbahan baku yang dibeli. Biaya penyimpanan per tahun = tingkat persediaan rata-rata x biaya penyimpanan per liter per tahun 25 = (Jumlah pesanan : 2) x biaya penyimpanan per liter pertahun Biaya penyimpanan = c. ……………………………………………(3) Jumlah pesanan bahan baku optimal diperoleh saat biaya pemesanan per tahun sama dengan biaya penyimpanan per tahun …………………………………………………………..(4) d. Jumlah optimal per pemesanan ……………………………………………………(5) e. Total biaya persediaan bahan baku (Total Cost) Total persediaan bahan baku yang optimal ialahpenjumlahan dari total biaya pesan dan total biaya simpan bahan baku. TC = Total biaya pesan + Total biaya simpan = ∗ × Keterangan: + ∗ × ………………………………………………...(6) Q = Jumlah setiap pemesanan (liter) Q* = Jumlah optimal per pemesanan (liter) D = Permintaan tahunan (liter) S = Biaya pemesanan tiap kali pesan (Rp) H = Biaya penyimpanan (Rp) IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan 4.1.1 Profil Perusahaan PT. XYZ adalah industri manufaktur yang merakit kendaraan bermotor dan merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang otomotif. PT.XYZsaat ini berlokasi di Sunter, Jakarta Utara. PT. XYZdidirikan pada tahun 1963 dan bergabung dengan PT. Astra Internasional, Tbk sejak tahun 1990 yang saat ini merupakan pemilik penuh dari PT. XYZ. PT. XYZ memiliki tiga proses utama produksi yaitu welding, painting, dan assembling dengan pelanggan utamanya adalah Isuzu Astra Motor Indonesia (PT. IAMI) yang merupakan Agen Tunggal Pemegang Saham (ATPM) Isuzu Panther. PT. Isuzu Astra Motor Indonesia menjual hasil produksi utamanya yaitu Isuzu Panther ke Astra Internasional dan PT. XYZ yang memproduksi Isuzu Panther yang merupakan pesanan dari Isuzu Astra Motor Indonesia. Selain Isuzu Astra Motor Indonesia PT. XYZ juga bekerjasama dengan PT. Astra Honda Motor (PT. AHM) dalam proses painting plastik part. Pada proses painting plastik part Honda terdapat dua jenis yaitu Honda OEM (Original Equipment Manufacturer) dan Honda REM (Replacement Market). Honda OEM ditujukan untuk menjadi satu unit motor sedangkan Honda REM ditujukan untuk spare part. Jenis warna untuk Honda REM lebih banyak dibandingkan dengan Honda OEM. Semua produksi yang telah dikerjakan oleh PT. XYZ akan dikembalikan lagi kepada PT. Astra Honda Motor sesuai dengan permintaan dari PT. Astra Honda Motor. Sesuai dengan kebijakan mutu, lingkungan dan K3 perusahaan dalam melakukan kegiatan proses produksinya, standart mutu produk pelanggan dan proses produksinya harus dicapai dengan proses produksi yang aman dan ramah lingkungan. Dalam menjankan kegiatan, PT. XYZ berusaha mencegah dan mengurangi pencemaran yang ditimbulkan, kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja serta menjadikan tempat kerja yang aman dan nyaman baik untuk karyawan, asset, dan lingkungan. Untuk menjamin kualitas setiap produknya agar sesuai dengan keinginan konsumen dan untuk mendukung program pemerintah yaitu menciptakan produk 27 hijau (Green Product), PT.XYZ melakukan kegiatan manajemen yang terpadu yaitu sistem manajemen ISO 9001-2000, sistem manajemen lingkungan 140011996, sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, Isuzu manufacturing management, management system Astra, dan Astra Green Company dalam satu manajemen.PT. XYZ juga menggabungkan sistem ISO 9002 menjadi 9001-2000 serta mendapatkan ISO 9002-1994 dan ISO 14001-1996. 4.1.2 Struktur Organisasi Perusahaan Dalam suatu perusahaan, pembentukan suatu organisasi sangat penting karena dalam usaha diperlukan untuk menjaga kelancaran dan mencapai tujuan jangka panjang maupun jangka pendek dalam suatu perusahaan. Struktur organisasi dibentuk dengan maksud agar setiap organisasi dapat bekerja secara fokus, efisien dan efektif. Adapun struktur organisasi PT. XYZ pada Lampiran 2. Adapun tugas dari tiap divisi,yaitu: BOARD OF DIRECTOR  Memimpin, mengkoordinasi, dan mengendalikan jalannya seluruh kegiatan perusahaan, baik teknis maupun nonteknis. Sekretaris  Melakukan pencatatan, pengetikan, korespondensi perusahaan.  Membantu kegiatan administrasi direksi. BPPMT (Badan Pelaksana Peningkatan Mutu Terpadu)  Mengarahkan penerapan policy manajemen aktivitas, mengendalikan gangguan yang terjadi dan berpengaruh terhadap mutu perusahaan dan produk.  Meningkatkan mutu karyawan dan pekerjaan. Security  Menjaga keamanan seluruh area perusahaan dan lingkungan sekitar perusahaan. P2K3LH (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Hidup)  Mengarahan penerapan kebijaksanaan dalam bidang keselamatan kerja baik untuk pegawai maupun lingkungan hidup. 28 PLANT DIVISION a. Departemen Produksi Mengatur dan mengawasi jalannya proses produksi mulai dari penerimaan barang sampai produk jadi. b. Departemen Quality Control Menetapkansistemdan prosedurpengendalianmutuprosesproduksi. c. Departemen Teknik Prosess Enggineering: berhubungan dengan sistem dan design tata letak pabrik, tata letak fasilitas, dan proses produksi. Plan tFacility: menyiapkan dan menyediakan semua fasilitas yang diperlukan untuk suatu kegiatan proses produksi. Safety and Environment: menjaga keselamatan kerja karyawan dan memelihara lingkungan sekitar agar limbah yang dihasilkan perusahaan tidak merusak lingkungan. d. Departemen Maintanance Memelihara, merawat, dan memperbaiki mesin-mesin dan fasilitas yang digunakan untuk proses produksi. e. Departemen PPIC Membuat perencanaan dan pengendalian pada proses produksi. f. KD Packing Memelihara dan menjaga hasil produksi sebelum dikirim ke supplier. FINANCE & ACCOUNTING DIVISION a. Purchasing Memproses import part yang diperlukan dan melayani pembelian lokal. b. Departemen Finance Mengkoordinasi kegiatan pembukuan/administrasi dan kegiatan finansial serta kegiatan processing perusahaan. c. Departemen ACC & MIS  MIS (Manegement Information System) Membuat program sesuai dengan permintaan direksi dan kepala departemen yang berkaitan dengan kelancaran kegiatan produksi yang berjalan. 29  ACC(Accounting) Mengelompokkan kegiatan transaksi sesuai dengan kelompok-kelompok yang telah ditentukan. HRD & GA DIVISION a. Departemen HRD (Human Resources Development) Melakukan training dan pengembangan SDM. b. Departemen GA(General Affair) Berhubungan dengan semua kegiatan secara umum (Rumah Tangga Perusahaan). 4.1.3 Kebijakan Mutu PT. XYZ Telah menjadi kebijakan dan komitmen PT. XYZ untuk menyerahkan hasil produksi kepada pelanggan dengan mutu yang sesuai dengan persyaratan, kebutuhan dan harapan pelanggan, karena disadari bahwa kepuasan pelanggan merupakan kunci utama kesuksesan perusahaan. Untuk mencapai hal tersebut, setiap karyawan wajib melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan sistem manajemen mutu yang memenuhi persyaratan standar ISO 9001-2000 dan AMS (Astra Management System), Isuzu Manufacturing Management (IMM) secara konsisten, sesuai dengan tanggung jawab dan wewenang. Setiap karyawan wajib terus mengupayakan dengan sungguh-sungguh agar mutu hasil setiap proses dapat dicapai langsung pada akhir proses, tanpa kerja ulang. Untuk memastikan sistem manajemen mutu tetap memenuhi persyaratan, kebutuhan dan harapan pelanggan, sistem selalu ditinjau dan ditingkatkan secara berkesinambungan. 4.1.4 Data Fisik Perusahaan PT. XYZ terletak di Sunter, Jakarta Utara. PT. XYZ memiliki luas tanah sebesar 200.757 m2, 97,410 m2 untuk Plant I & II, 39,450 m2untuk Plant IIIdan 63.897 m2 untuk KD Packing. Luas Pabrik Plant I & II 60.700 m2, Plant III 35.864 m2 dan KD Packing 24.000 m2. Luas kantor dan kantin sebesar 7,627 m. Kantor berada di lantai 2 Plant I dan kantin berada di lantai satu dan lantai dua Plant I. Seluruh listrik yang digunakan untuk Plant I & II sebesar 9.690 KVA, Plant III sebesar 4.000KVA dan KD Packing sebesar 415 KVA. Layout PT. 30 XYZdapat dilihat pada Lampiran 3 dan untuk layout small partdapat dilihat pada Lampiran 4. 4.2.Proses Produksi Honda OEM Salah satu produk yang diproduksi oleh PT. XYZ yang bekerjasama dengan PT. Astra Honda Motor (AHM) adalah painting plastik part untuk motor Honda Tipe Supra X 125. Alasan peneliti menggunakan produk ini sebagai penelitian adalah karena kegiatan painting merupakan kegiatan yang paling sederhana dan selalu dilakukan setiap jam kerja. Jumlah permintaan produk pun hampir setiap bulan konstan. Sedangkan pada proses perakitan mobil banyak aktivitas yang dikerjakan, seperti proses welding terlebih dahulu dilanjutkan dengan painting dan terakhir assembling dan permintaan terhadap produknya pun tidak pasti. Proses produksi plastik part Honda OEM diawali dengan pengiriman raw material ke Knock Down Supply (KDS), persiapan, base coat, clear coat, oven, touch up, dan dikirim kembali ke KDS untuk disimpan. Kegiatan proses produksi plastik part Honda dapat dilihat sebagai berikut: 1. Raw material Raw material untuk plastik part Honda OEM adalah body motor. Raw material dikirim langsung dari sub-cound atau supplier yang telah dipilih oleh PT. Astra Honda Motor (AHM). Raw material yang sudah dikirim disimpan pada Knock Down Supply (KDS). KDS adalah tempat penyimpanan raw material dan pengiriman part yang sudah diproses. Raw material yang datang dari sub-cound diperiksa tipe dan kuantitas berdasarkan Surat Perintah Antar Barang (SPAB). Raw material yang dikirim, diturunkan dari truck dan diletakkan pada pallet seng yang tersedia selanjutnya di bawa ke area transit KDS menggunakan forklift dan diletakkan di tempat yang sudah tersedia sesuai dengan tipe part. Berdasarkan Work Order Sheet (WOS) yang dibuat oleh Production Planning Control (PPC), raw material dibawa menggunakan towing ke Small Part untuk dilakukan proses painting. 2. Persiapan Raw material yang dikirim oleh Knock Down Supply (KDS) diperiksa tipe, kualitas dan kuantitas berdasarkan Work Order Sheet (WOS) yang dibuat oleh 31 Production Planning Control (PPC). Persiapan adalah proses sebelum dilakukan pengecatan pada plastik part. Proses yang terdapat pada persiapan yaitu: a. Striping Striping adalah proses pembungkusan plastik part dengan kertas koran. Proses ini bertujuan agar cat tidak mengenai part yang memang tidak boleh di cat. Part yang biasanya dilakukan proses striping adalah cover handel. Proses striping dilakukan oleh tiga orang dan waktu yang dibutuhkan untuk proses ini sekitar enam menit. b. Setting Part Setting part adalah proses memasangkan tool pada plastik part. Tipe plastik part terdiri dari empat belas jenis yaitu mainpipekiri, mainpipe kanan, visor speedometer, cover sidekiri, cover side kanan, cover bodykiri, cover body kanan, cover handle, cover front top, cover tail, cover speedometer, fender dan louver. Tujuan pemasangan part ini adalah untuk memudahkan proses painting. Sebelum part dipasang tool, plastik part di blowing atau menembakkan angin untuk membuang kotoran yang ada pada part menggunakan air gun. Proses pemasangan tool dilakukan oleh empat orang dan waktu yang dibutuhkan berbeda-beda tergantung tipe part. 3. Docking Docking adalah proses pemasangan dan pelepasan tool yang sudah dipasangi part pada tiang tag (stand) yang berjalan menggunakan conveyor. Pada satu stand biasanya terdiri dari dua hingga empat part, tergantung besar kecil part yang akan di cat. Proses ini dilakukan oleh satu orang pekerja pada saat pemasangan dan tiga orang pada saat pelepasan dan waktu yang dibutuhkan sekitar lima belas detik. 4. Wapping Wapping adalah proses pengelapan plastik part menggunakan lap dan air sabun. Proses ini berguna untuk menghilangkan minyak yang ada pada part sehingga cat dapat menempel pada part. Proses ini dilakukan oleh satu orang pekerja dan waktu yang dibutuhkan sekitar 24 detik. 5. Blowing Blowing adalah proses pembersihan plastik part menggunakan angin yang keluar dari air gun. Tujuan blowing adalah agar part bersih dari noda atau debu 32 yang menempel pada part. Proses ini dilakukan oleh satu orang dan waktu yang dibutuhkan sekitar 24 detik. 6. Tag Rag Tidak jauh berbeda dengan waping dan blowing, tag rag merupakan membersihkan plastik part menggunakan kain tag rag. Kain tag rag adalah kain khusus yang jika dipegang lengket sehingga pada penggunaannya tidak boleh terlalu ditekan karena dapat merusak part yang akan di spray. Proses ini berguna untuk membersihkan noda yang masih menempel pada plastik part. Proses ini dilakukan oleh seorang pekerja dan waktu yang dibutuhkan sekitar delapan belas detik. 7. Base Coat dasar Sesuai dengan namanya, base coat adalah proses pemberian warna dasar gunanya untuk memberikan lapisan pertama pada plastik part agar tidak bolong dan tidak kasar. Untuk warna hitam base coat dasar hitam, untuk warna putih base coat dasar putih, untuk warna merah base coat dasar pink, dan untuk warna silver base coat dasar silver. Proses ini menggunakan cop gun dan catnya di mixing di ruang mixing. Proses ini dilakukan oleh seorang pekerja dan waktu yang dibutuhkan berbeda-beda tergantung tipe part. 8. Finish Base Coat Finish base coat adalah proses pemberian warna kedua pada plastik part ini berguna untuk meratakan base coat dasar. Proses base coat dasar hingga finish base coat untuk hitam dua pos dan untuk silver, merah, dan putih tiga pos. Alat yang digunakan adalah cop gun sama seperti base coat dasar. Dilakukan oleh satu orang pekerja dan waktu yang dibutuhkan berbeda-beda tergantung tipe part. 9. Clear coat dasar Clear coat adalah proses lanjutan dari base coat. Tujuan dari proses ini adalah untuk memberikan warna dan pelapis base coat. Alat yang digunakan proses ini adalah spay gun. Untuk warna hitam clear coat hitam, warna merah clear coat merah dan untuk silver dan putih clear coatmetalic atau bening. Proses ini dilakukan oleh seorang pekerja dan waktu yang dibutuhkan berbeda-beda tergantung tipe part. 10. Finish clear coat 33 Finish clear coat adalah proses lanjutan dari clear coat dasar. Proses ini berguna untuk meratakan clear coat dasar dan mengkilapkan plastik part yang sudah di painting sehingga pada saat masuk ke ovenroom cat tidak tipis. Proses ini dilakukan oleh seorang pekerja dan waktu yang dibutuhkan berbeda-beda tergantung tipe part. 11. Oven Room Setelah finih clear coat, part didinginkan sebentar pada setting room selanjutnya partakan langsung bergerak menuju ovenroom. Tujuan dari oven part ini adalah agar cat menjadi kering dan tidak meleleh. Suhu dalam oven ini diatur sesuai dengan tipe part yang di cat. Jika part yang di painting warna merah, putih dan silver maka suhunya diatur 700 - 800C karena part ini dilakukan oleh 5 pos sehingga cat yang dihasilkan lebih tebal, sedangkan untuk warna hitam suhunya diatur 600-700C karena pada part ini hanya dilakukan oleh 3 pos. Suhu pada oven ini harus sesuai dengan standar yang ditetapkan karena jika suhu terlalu panas maka part akan meleleh dan jika terlalu rendah maka part akan lembab. Part dipanaskan kurang lebih 40 menit akan tetapi antar satu tag waktunya bergerak selama 40 detik. Setelah part keluar dari oven room, part yang sudah dipasangi tools dilepaskan dari stand dan diletakkan di lantai dan terjadi proses cooling time. Proses ini untuk mendinginkan part beberapa saat setelah proses oven. Setelah cooling time selesai part akan diletakkan di rak yang tersedia untuk selanjutnya di bawa ke touch up. 12. Touch up Setelah proses di oven,part di bawa ke touch up untuk dilakukan pengecekan proses painting yang dilakukan oleh Quality Control (QC). Proses ini berguna untuk mendapatkan kualitas terbaik sehingga pelanggan tidak kecewa. Pemeriksaan biasanya dilakukan QC dengan cara visual yaitu melihat secara langsung part yang telah selesai diproses. Setelah di periksa oleh QC akan dipilah apakah part yang sudah di painting OK, repair atau repaint Ada 2 jenis defect yaitu repair dan repaint. Repair adalah defect ringan seperti part bernoda, part beda warna dan part meleleh. Repair dapat diperbaiki dengan pengamplasan dan buffing menggunakan alat buffing setelah itu akan di 34 cat kembali di ruang touch up dan akan diperiksa kembali oleh QC dan jika sudah memenuhi standar QC, maka part akan diberikan label OK. Repain adalah defect berat sehingga part tidak dapat langsung masuk ke ruang touch up untuk diperbaiki tetapi akan dibawa ke proses sanding yaitu pengamplasan dengan menggunakan amplas dan air. Sanding berguna untuk meratakan part dan membuka pori-pori cat sehingga pada saat dilakukan cat ulang, cat baru tidak mengelupas. Setelah dilakukan proses sanding, part akan kembali ke proses persiapan dan di cat kembali. Part yang sudah dinyatakan OK oleh QC akan langsung disusun pada hambalan dan diletakkan ke rak hambalan untuk dikirim ke tempat penyimpanan di KDS yang nantinya akan dikirim ke PT. Astra Honda Motor (AHM). Proses produksi pada plastik part Honda OEM dapat dilihat pada Lampiran 5. 4.3.Pengendalian Persediaan Bahan Baku Bahan baku merupakan salah satu satu faktor yang menentukan baik buruknya produk yang dihasilkan. Bahan baku dengan kualitas yang baik dan dengan jumlah yang tepat akan menghasilkan produk yang berkualitas, begitu juga sebaliknya.Bahan baku juga merupakan faktor yang menentukan kelancaran proses produksi. Dengan adanya bahan baku yang cukup dan sesuai dapat melancarkan proses produksi dan perusahaan dapat mengirimkan produk kepada pelanggan tepat pada waktu yang telah ditentukan. Bahan baku yang terdapat pada PT. XYZ terbagi dua, yaitu: 1. Bahan baku versi ATPM berupa bahan baku CKD (Completly Knock Down). Raw material langsung diterima dari Agen Tunggal Pemilik Merk (ATPM) untuk bahan utama dalam perakitan seperti raw material untuk Honda berupa plastik part yang langsung dikirim PT. AHM. Raw material terdiri dari mainpipe, visor speedometer, cover side, cover body, cover handel, cover tail, cover speedometer, front top, fender dan louver.Bahan baku ini langsung dikendalikan dan tanggung jawab oleh ATPM, dan PT. XYZhanya bersifat menerima dan mengecatraw material tersebut yang nantinya akan dikirim kembali ke PT. AHM. 2. Bahan baku versi PT. XYZ 35 Bahan baku yang termasuk PT. XYZ yaitu berupa bahan baku yang terdapat di gudang consumable dan gudang tools seperti cat, thinner,masking tape,sand paper, dan sebagainya. Bahan baku ini sepenuhnya dikendalikan oleh PT. XYZkhususnya bagian inventory PPC. Bahan baku ini merupakan bahan utama dalam proses produksi khususnya painting. Pengendalian bahan baku PT. XYZ dilakukan dengan memperhatikan prosedur pembelian bahan baku, prosedur penerimaan bahan baku dari vendor, dan prosedur pemakaian bahan baku. Adapun proses pengendalian tersebut, yaitu: 4.3.1 Prosedur Pembelian Bahan Baku Bahan baku yang cukup diperlukan untuk melancarkan proses produksi. Perusahaan diharuskan membeli bahan baku yang dibutuhkan agar proses produksi berjalan lancar. Jumlah yang dibeli pun harus sesuai agar tidak terjadi penumpukan barang di gudang yang nantinya akan menambah cost perusahaan. Bahan baku yang dibeli PT. XYZuntuk proses produksi painting plastik part Honda telah ditentukan oleh ATPM yaitu PT. Nippon Paint Pacific. Sedangkan untuk raw material seperti masking tape dan sand paper dikirim oleh PT. Sentral Warna Primajaya, majun dikirim oleh PT. Anggi Jaya, sarung tangan oleh PT. Kenbel. PT. XYZmenerapkan sistem MRP (Material Requirement Planning) sebagai sistem pengadaan bahan baku, hal tersebut didasarkan pada jadwal produksi yang telah di-input pada SAP(System Application and Product for Data Processing). Namun dalam realisasi produksi tidak selalu sama dengan rencana, oleh karena itu diterapkan sistem safety stock, dimana perusahaan akan memesan sejumlah barang pada saat persediaan di gudang telah dibawah ROP (Reorder Point). Safety stock yang digunakan di perusahaan merupakan stok selama 1 shift kerja atau 8 jam kerja. Waktu pembelian bahan baku ditentukan olehPPCbagian inventory saat persediaan bahan baku di bawah ROP. Bagian inventory akan membuat PR (Purchase Requisition)yang kemudian diperiksa dan ditandatangani oleh supervisor, deputy manager, dangeneral manager. Jika PR sudah ditandatangani maka PPC akan membuat PO (Purchase Order) kemudian diberikan ke bagian Purchasing dan nantinya akan dikirim ke supplier. Setelah diperiksa dan 36 ditandatangani oleh user, supervisor, kepala departemen dan kepala divisi, PO tersebut dikirim dengan faximile ke supplier yang telah dipilih oleh ATPM. Prosedur pembelian bahan baku untuk lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 5 dibawah ini : Gambar 5. Prosedur pembelian bahan baku 4.3.2 Prosedur Penerimaan Bahan Baku Setelah PO dibuat dan dikirim ke supplier maka supplier akan mengirimkan barang yang diminta dan akan diterima oleh bagian gudang consumable. Bagian gudang consumable akan menerima bahan baku tersebut sesuai dengan nomor PO, waktu pemesanan, delivery date, dan kondisi fisik bahan baku yang datang. Perusahaan menentukan delivery date yaitu satu minggu setelah dibuatnya PO. Pemeriksaan fisik barang diperlukan untuk melihat kondisi barang apakah sesuai atau tidak dengan barang yang diminta. Apabila bahan baku tersebut tidak sesuai dengan kriteria maka bahan baku akan dikembalikan dan akan meminta bahan baku yang sesuai. Apabila sudah sesuai kemudian dilakukan pencatatan penerimaan bahan baku atau good receipt dan di input ke SAP.Setelah selesai, bahan baku dilakukan pemeriksaan kembali oleh bagian quality dan diuji kelayakannya berdasarkan standar perusahaan. Selanjutnya bahan baku disimpan menggunakan sistem FIFO (first in first out) maksudnya bahan baku yang pertama datang akan terlebih dahulu keluar untuk diproduksi. Sistem ini 37 dilakukan dengan tujuan agar bahan baku tidak mengalami perubahan karena lama disimpan.Selain menerima, bagian gudang consumable juga mempunyai tanggung jawab untuk menyimpan dan mendistribusikan bahan baku ke jalur produksi. Prosedur penerimaan bahan baku dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 6. Prosedur penerimaan bahan baku 4.3.3 Prosedur Pemakaian Bahan baku Bahan baku yang telah datang dari vendor dan disimpan di gudang consumable akan diambil oleh orang jalur produksi untuk dilakukan proses produksi. Pengambilan barang ini disebut dengan istilah pengebonan.Bahan baku yang diambil menggunakan metode FIFO (first in first out). Orang jalur produksi harus mengambil barang di gudang sesuai dengan bukti pengebonan. Bon pengambilan barang akan diperiksa oleh administrasi gudang dan akan diambilkan barang yang dibutuhkan sesuai dengan kuantitas yang ada di bon pengebonan. Setelah barang diambil bon tersebut langsung di entri datanya oleh administrasi gudang.Prosedur penerimaan bahan baku dapat dilihat pada Gambar 7. 38 Gambar 7. Prosedur pemakaian bahan baku 4.4. Penentuan Bahan Baku Prioritas dengan Analisis ABC Analisis ABC merupakan analisis yang membagi persediaan kedalam tiga klasifikasi dengan basis volume dolar tahunan. Analisis ABC memiliki tujuan yakni untuk membuat kebijakan-kebijakan persediaan yang memfokuskan persediaan pada bagian-bagian persediaan bahan baku yang penting dan sedikit, bukan pada yang banyak tetapi sepele (Heizer dan Reinder, 2010). Perhitungan analisis ABC dibantu menggunakan software POM dan hasil analisis ABC dapat dilihat pada Tabel 3. Bahan baku yang digunakan untuk proses painting plastik part Honda OEM setidaknya terdapat 26 jenis bahan baku yang diperhitungkan untuk persediaannya. Namun dalam kenyataannya yang harus diperhitungkan adalah bahan baku yang memiliki volume paling besar dengan biaya yang besar untuk menekan persediaan dalam jumlah yang terlalu besar. Tabel 3 merupakan hasil perhitungan analisis ABC, dimana penentuan tersebut berdasarkan volume penggunaan bahan baku paling banyak dan menghasilkan biaya dalam jumlah yang tinggi. Bahan baku yang termasuk kedalam kelas A dengan presentasi kumulatif biaya yang digunakan 50%-75% agar mendapat perhatian lebih dalam pengendalian persediaan. Berdasarkan Tabel 3. terdapat lima jenis bahan baku yang termasuk kedalam kategori A, yaitu Nippe Acryl HM NH/103, Nax Superio Base AHM 39 Thinner (New), Wip Up Solvent, F/C R258 Winning Red, dan T/C Clear Base. Jenis yang termasuk kedalam kategori B, yaitu U/C NH-177M Vestock Silver Met, U/C Pink R258 For Winning Red, SGI U/C Thinner New, SGI F/C Thinner, sarung tangan nylon, Polyure Mightlac Hardener, Thinner Laquer Central, dan U/C NH-A 30M Digital Silver. Sedangkan jenis bahan baku yang termasuk dalam kategori C adalah Masking Tape, Sand Paper, masker kain, tag rag, Tessa Flexible Fineline, sarung tangan, High Performance Cloth, Majun B, koran bekas dan Scoth Brate. Berdasarkan hasil analisis ABC, penelitian ini lebih difokuskan pada jenis bahan baku yang termasuk kedalam kelas A karena kelas A memiliki tingkat volume penggunaan tinggi dan biaya persediaannya juga tinggi. Tabel 3.Hasil analisis ABC bahan baku Honda OEM Nama Bahan Baku Nippe Acryl HM NH / 103 Nax Superio Base AHM Thinner (New) Wip Up Solvent F/C R258 Winning Red T/C Clear Base U/C NH-177M Vostok Silver Met U/C Pink R258 For Winning Red SGI U/C Thinner New SGI F/C Thinner Sarung Tangan Nylon Polyure Mightylac Hardener Thinner Laquer Central U/C NH-A 30M Digital Silver Permintaan Harga/ Unit Biaya (Rp/Tahun) Persent asi Biaya/T ahun (%) 12911,12 40000 516.444.800 28,11 28,11 12746,56 30000 382.396.800 20,82 48,93 4707,84 30000 141.235.200 7,69 56,62 992,56 140000 138.958.400 7,56 64,19 1306 90000 117.540.000 6,4 70,58 1049,8 87000 91.332.600 4,97 75,56 1066,2 80000 85.296.000 4,64 80,2 1959 1697,8 40000 30000 78.360.000 50.934.000 4,27 2,77 84,47 87,47 3291,12 15000 49.366.800 2,69 89,93 425,76 100000 42.576.000 2,32 92,24 2559,76 16000 40.956.160 2,23 94,47 444,04 90000 39.963.600 2,18 96,65 Kumulatif Persentasi Biaya (%) Kelas A B 40 Lanjutan Tabel 3. Nama Bahan Baku Masking Tape 1x30 Anco Biaya (Rp/Tahun) Persenta si Biaya/T ahun (%) Kumulatif Persentasi Biaya (%) Permintaan Harg a/Unit 4022,48 6000 24.134.880 1,31 97,96 Sand Paper #600 Masking Tape 2x30 Anco 1828,4 5000 9.142.000 0,5 98,46 731,36 8000 5.850.880 0,32 98,78 Masker Kain 1828,4 2000 3.656.800 0,2 98,98 Tag Rag Tessa Flexible Fineline Masking Tape 4174 Sarung Tangan 6 Benang 731,36 5000 3.656.800 0,2 99,18 42,57 80000 0,19 99,36 255,98 9000 2.303.820 0,13 99,49 Sand Paper #800 High Performance Cloth (IPO) 438,82 5000 2.194.100 0,12 99,61 42,57 50000 2.128.500 0,12 99,72 Majun B Sarung Tangan Karet 329,11 6000 1.974.660 0,11 99,83 255,98 7000 1.791.860 0,1 99,93 Koran Bekas 146,27 6000 877.620 0,05 99,98 Scoth Brate Total Biaya (Rp/tahun) 42,57 10000 425.700 0,02 100 10695,87 3.405.600 Kelas C 1.887.210.760 Sumber: Dept. PPC PT. XYZ (diolah tahun 2012) 4.5. Biaya Persediaan Biaya persediaan adalah biaya yang timbul akibat adanya persediaan bahan baku. Biaya persediaan terdiri dari biaya penyimpanan (holding cost), biaya pemesanan (ordering cost), biaya kekurangan bahan (shortage cost). Biaya yang terkait dengan adanya persediaan perlu mendapat perhatian lebih untuk persediaannya adalah sebagai berikut: 4.5.1 Biaya Pemesanan Biaya pemesanan adalah biaya yang timbul akibat dari pembelian bahan baku seperti biaya telepon dan faksimile. Komponen biaya pemesanan tidak dipengaruhi oleh besarnya jumlah persediaan yang dipesan tetapi dipengaruhi oleh 41 frekuensi pemesanan.Biaya telepon diperlukan saat perusahaan menghubungi supplier untuk memesan barang. Biaya telepon berdasarkan data dari PT. Telkom sebesar Rp 125 per menit, rata-rata penggunaan telepon untuk setiap kali pemesanan sekitar 50 menit, sehingga didapat total biaya telepon setiap kali dilakukan pemesanan sebesar Rp 6.250. Biaya faksimile dikeluarkan untuk mengirimkan PO kepada supplier. Biaya faksimile per pengiriman Rp 5.000.Rincian biaya pemesanan dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Perhitungan biaya pemesanan Biaya Pemesanan Biaya Telepon Biaya Faksimile Biaya Pesan (Rp/pesan) 6250 5000 Total Biaya Pesan 11.250 Sumber: Dept. Purchasing PT. XYZ (diolah tahun 2012) 4.5.2 Biaya Penyimpanan Biaya penyimpanan adalah biaya yang terkait dengan menyimpan persediaan selama waktu tertentu. Biaya penyimpanan mencakup biaya barang usang dan biaya yang terkait penyimpanan seperti fasilitas penyimpanan (listrik), biaya asuransi dan biaya administrasi gudang.Biaya listrik digunakan untuk penerangan gudang consumable saat malam hari. Berdasarkan data dari PT. PLN biaya listrik per kwh yakni Rp 734. Rata-rata penggunaan listrik digudang consumable yakni 90 kwh sehingga diperoleh total biaya listrik selama satu bulan yaitu Rp 66.060. Rata-rata penyimpanan di gudang consumableadalah 36 kaleng atau 720 liter, sehingga biaya penyimpanan per liter per bulan sebesar Rp 91,75 dan selama satu tahun Rp 1.101. 4.6.Jumlah Pemesanan Ekonomis (Economic Order Quantity, EOQ) EOQ dengan jumlah pemesanan masing-masing dilakukan pertimbangan menggunakan nilai EOQ (Q*) pada masing-masing bahan baku utama. Hal tersebut terjadi dengan pertimbangan teoritik dan pada setiap pemesanan bahan baku terjadi pemisahan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan antara bahan baku yang satu dengan yang lainnya. Hasil kebutuhan optimum dengan menggunakan metode EOQ terdapat pada Tabel 5. 42 Tabel 5. Kebutuhan optimum bahan baku kelas A dengan metode EOQ Bahan Baku Nippe Acryl HM NH / 103 Nax Superio Base AHM Thinner (New) Wip Up Solvent F/C R258 Winning Red T/C Clear Base Permintaan (liter/tahun) Biaya Pesan (Rp/pesan) Biaya Simpan (Rp/liter/tahun) Q* (liter/pesan) 12.911,12 513,66 12.746,56 510,38 4.707,84 11.250 1.101 310,18 992,56 142,42 1.306 163,37 Sumber: Dept. PPC PT. XYZ (diolah tahun 2012) Kebutuhan optimum bahan baku kelas A dengan menggunakan metode EOQ merupakan kebutuhan bahan baku yang optimum untuk setiap kali pemesanan agar biaya persediaan optimum. Tabel 6. Jumlah pemesanan yang diperkirakan sepanjang tahun dan waktu antar pemesanan yang diperkirakan pada EOQ dengan jumlah pemesanan masing-masing bahan baku Permintaan (liter/tahun) Q* (liter /pesan) ∑ pesan /tahun (N) 12.911,12 513,66 26 10 12.746,56 510,38 25 10 4.707,84 310,18 16 F/C R258 Winning Red 992,56 142,42 7 35 T/C Clear Base 1.306 163,37 8 31 Bahan Baku Nippe Acryl HM NH / 103 Nax Superio Base AHM Thinner (New) Wip Up Solvent Jumlah hari kerja 242 T (hari antar pesanan) 16 Sumber: Dept. PPC PT. XYZ (diolah tahun 2012) Setelah mengetahui kuantitas pemesanan yang optimum, maka perlu diketahui juga jumlah pemesanan yang diperkirakan sepanjang tahun dan waktu antar pemesanan yang diperkirakan. Jumlah pesanan yang diperkirakan sepanjang tahun berasal dari permintaan yang berbanding dengan kuantitas pemesanan optimum. Hasil dari Tabel 6. didapat jumlah pemesanan yang diperkirakan sepanjang tahun (N) berdasarkan masing-masing bahan baku berturut-turut yaitu Nippe Acryl HM NH/103, Nax Superio Base AHM Thinner (New), Wip Up Solvent, F/C R258 43 Winning Red, dan T/C Clear Basesebesar 26 kali pesan, 25 kali pesan, 16 kali pesan, 7 kali pesan, dan 8 kali pesan. Hal tersebut menunjukkan jumlah pesanan yang diperlukan untuk produksi periode Juli 2011-Juni 2012 dengan melakukan penyimpanan pada saat persediaan tingkat rata-rata. Waktu antar pemesanan yang dihitung dari perbandingan antara jumlah hari kerja per tahun dengan jumlah pesanan yang diperkirakan sepanjang tahun. Hasilnya yaitu jarak waktu antar pesanan Nippe Acryl HM NH/103 dan Nax Superio Base AHM Thinner (New)10 hari antar pemesanan, Wip Up Solvent16 hari antar pemesanan, F/C R258 Winning Red35 hari antar pemesanan dan T/C Clear Base 31 hari antar pemesanan. Hal tersebut menunjukkan jarak pemesanan yang dekat antara pemesanan yang satu dengan pemesanan yang lain, ini tidak mempengaruhi total biaya pemesanan karena biaya transportasi yang termasuk kedalam biaya pesan sudah di tanggung oleh supplier. Tabel 7. Perbandingan total biaya tahunan bahan baku kelas Adengan metode EOQ dan perusahaan Bahan Baku Nippe Acryl HM NH / 103 Nax Superio Base AHM Thinner (New) Wip Up Solvent F/C R258 Winning Red T/C Clear Base Total Biaya Tahunan TC Perusahaan (Rp/tahun) 593.884.300 TC Metode EOQ (Rp/tahun) 517.010.300 Penghematan (Rp/tahun) 76.874.000 453.884.300 382.958.700 70.925.600 202.182.500 221.091.200 192.807.100 1.663.849.400 141.576.700 139.115.200 117.719.900 1.298.380.800 60.605.800 81.976.000 75.087.200 365.468.600 Sumber: Dept. PPC PT. XYZ (diolah tahun 2012) Perhitungan biaya yang dikeluarkan perusahaan dan dengan menggunakan metode EOQ dapat dilihat pada Tabel 7. biaya yang dikeluarkan perusahaan lebih besar dibandingkan dengan menggunakan metode EOQ. Total biaya yang dikeluarkan perusahaan yaitu sebesar Rp 1.663.849.400 dan dengan metode EOQ sebesar Rp 1.298.380.800; sehingga jika perusahaan menggunakan metode EOQ dapat menghemat biaya perusahaan sebesar Rp 365.468.600 atau sekitar 21,96 % per tahun. 44 4.7. Implikasi Manajerial Berdasarkan hasil perhitungan EOQ, terdapat beberapa rekomendasi manajerial yang berkaitan dengan fungsi manajemen yakni POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling).POAC diterapkan dalam setiap perusahaanuntuk mempertahankan kelanjutan perusahaan. POAC adalah dasar manajemen untuk organisasi manajerial. Berkaitan dengan planningPT. XYZ perlu memperkirakan dan memproyeksikan permintaan produksi dari ATPM untuk selanjutnya dapat memproyeksi rencana kebutuhan bahan baku agar dapat memperlancar proses produksi. Untuk fungsi organizing, perusahaan harus menempatkan karyawan yang sudah berpengalaman contohnya di bidang paintingagar tidak terjadi lagi pengembalian raw material yang sudah diproses dari ATPM yang dapat menghambat kelancaran proses produksi karena persediaan bahan baku yang sudah direncanakan melebihi actual sehingga sering mengalami kekurangan vahan baku. Fungsi actuating, pelaksanaan kerja harus sesuai dengan rencana yang telah dibuat oleh sebab itu semua sumber daya yang dimiliki perusahaan harus dioptimalkan agar semua program kerja perusahaan dapat tercapai, khususnya untuk produksi Honda OEM semua bahan baku yang ada harus dipergunakan agar claim dapat terbayar dan produksi dapat sesuai dengan rencana yang telah dibuat oleh PPC. Pengontrolan dibutuhkanagar pekerjaan berjalan sesuai dengan program kerja yang sudah direncanakan. Baik dalam bentuksupervisi, pengawasan, inspeksi hingga audit. Hal ini diperlukan agar apabila terjadi penyimpangan dapat segera dilakukan koreksi, antisipasi dan penyesuaian dengan situasi dan kondisi yang ada. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan a. Sistem produksi pada PT. XYZ menggunakan sistem make to order dan untuk pengendalian persediaan bahan baku diberlakukan beberapa prosedur diantaranya prosedur pembelian bahan baku, prosedur penerimaan bahan baku, dan prosedur pemakaian bahan baku. b. Berdasarkan analisis ABC dapat disimpulkan terdapat lima jenis bahan baku yang termasuk kedalam kategori A, yaitu Nippe Acryl HM NH/103, Nax Superio Base AHM Thinner (New), Wip Up Solvent, F/C R258 Winning Red, dan T/C Clear Base. Jenis yang termasuk kedalam kategori B, yaitu U/C NH177M Vestock Silver Met, U/C Pink R258 For Winning Red, SGI U/C Thinner New, SGI F/C Thinner, sarung tangan nylon, Polyure Mightlac Hardener, Thinner Laquer Central, dan U/C NH-A 30M Digital Silver. Sedangkan 11 jenis bahan baku lainnya termasuk dalam kategori C. c.1. Tingkat pemesanan yang optimum untuk bahan baku yang tergolong kategori A dihitung menggunakan metode EOQ diperoleh sebesar 186,88 liter per pesan untuk Nippe Acryl HM NH/103 185,69 liter per pesan untuk Nax Superio Base AHM Thinner (New) 112,85 liter per pesan untuk Wip Up Solvent, 51,82 liter per pesan untuk F/C R258 Winning Red, dan 59,44 liter per pesan untuk T/C Clear Base. 2.EOQ dengan jumalh pemesanan masing-masing bahan baku menghasilkan jumlah pemesanan yang berbeda antar masing-masing bahan baku, yakni 26 kali pesan per tahun untuk Nippe Acryl HM NH/103, 25 kali pesan per tahun untukNax Superio Base AHM Thinner (New), 16 kali pesan per tahun untuk Wip Up Solvent, 7 kali pesan per tahun untuk F/C R258 Winning Red, dan 8 kali pesan per tahun untuk T/C Clear Base. 3. Total biaya metode EOQ lebih hemat dibandingkan total biaya perusahaan. Hasil total biaya selama 1 tahun dengan menggunakan metode EOQ adalah Rp 1.298.380.800; sedangkan total biaya perusahaan Rp 1.663.849.400, sehingga jika perusahaan menggunakan metode EOQ dapat menghemat biaya perusahaan sebesar Rp 365.468.600 atau sekitar 21,96 % per tahun. 46 2. Saran a. Klasifikasi item bahan baku berdasarkan analisis ABC hendaknya diterapkan oleh perusahaan untuk mempermudah dalam pengawasan bahan baku dan dalam membuat kebijakan-kebijakan persediaan yang memfokuskan persediaan pada bagian-bagian persediaan kritis yang sedikit dan tidak pada banyak yang sepele. b. Menjaga persediaan agar ekonomis dan mencegah terjadinya kekurangan bahan baku, perusahaan dapat menerapkan metode EOQ. Dengan metode EOQ, perusahaan bisa mengetahui berapa banyak bahan baku yang harus dipesan. Selain itu, metode EOQ dapat membantu perusahaan dalam menunjang efektivitas produksi, ketepatan waktu pengiriman dan kualitas produk. ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PADA PT XYZ, JAKARTA(STUDI KASUS PADAPAINTING PLASTIK PART HONDA OEM) Oleh WAHYU TRI UTAMI H24104079 PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 47 DAFTAR PUSTAKA Assauri, S. 2008. Manajemen Produksi dan Operasi.Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta Heizer, J dan B. Render. 2010. Manejemen Operasi. Salemba Empat, Jakarta. Nasution, A. H. dan Y. Prasetyawan. 2008. Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Graha Ilmu, Yogyakarta. Pardede, P. M. 2005. Manajemen Operasi dan Produksi: Teori, Model, dan Kebijakan. Yogyakarta Pujawan N. I. 2005. Supply Chain Management. Guna Widya, Surabaya. Ristono, A. 2009. Manajemen Persediaan. Graha Ilmu, Yogyakarta Riyanto, Bambang. 2001. Dasar – dasar Pembelanjaan Perusahaan. BPFE, Yogyakarta. Saragi,Y. 2010. Analisis Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada UKM Waroeng Cokelat Bogor. Skripsi. Program Sarjana Alih Jenis Manajemen, Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi Manajemen, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Sari, S. P. 2010. Pengoptimalan Persediaan Menggunakan Metode EOQ (Economic Kelinci Pati.Skripsi. Program Pertanian/Agrobisnis,Fakultas Pertanian, Surakarta. Bahan Baku Kacang Tanah Order Quantity) di PT. Dua Studi Sosial Ekonomi Universitas Sebelas Maret, Sumayang, L. 2003. Dasar-Dasar Manajemen Produksi Operasi. Salemba Empat, Jakarta. www.telkom.co.id[19 Juli 2012] www.pln.co.id[19 Juli 2012] LAMPIRAN 49 Lampiran 1. Pengumpulan dan analisis data No 1. 2. 3. Tujuan Data yang dibutuhkan Mangkaji sistem persediaan bahan baku saat ini pada PT. XYZ a. Data produksi b. Data permintaan c. Data pemakaian bahan baku d. Data lead time dan safety stock Mengoptimalkan persediaan bahan baku pada PT. XYZ menggunakan Analisis ABC a. b. c. d. Analisis efisiensi biaya penyimpanan bahan baku pada PT. XYZ menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ) e. a. b. c. d. Data permintaan Data lead time Data pemesanan Data biaya-biaya persediaan Data penggunaan bahan baku Data produksi Data pemakaian bahan baku Harga per unit bahan baku Deviasi antara metode perusahaan dan metode peneliti Sumber data PPC PPC PPC dan Purchasing Metode pengumpulan data a. Wawancara b. Dokumen perusahaan a. Wawancara b. Dokumen perusahaan a. Wawancara b. Dokumen perusahaan Metode analisis Analisis deskriptif Data diolah menggunakan sistem bahan baku yang telah digunakan perusahaan Data diolah dgn menggunakan model yang direkomendasikan oleh peneliti Kesimpulan Sistem bahan baku yang digunakan perusahaan Pengelompokan bahan baku kedalam kelas A, B dan C Sistem persediaan material yang tepat untuk diterapkan diperusahaan 50 Lampiran 2. Struktur organisasi PT. XYZ BOARD OF DIRECTION BP PMT HRD&GA DIVISION FINANCE&ACCT DIVISION PLANT DIVISION P2K3 LH SECRETARY AFC & RM GA DEPT. HRD DEPT. FINANCE DEPT. ACCT&MIS DEPT. PURCHASING DEPT. KD PACKING PPIC DEPT. QC DEPT. MAINTENACE DEPT. TECH. DEPT. PROD II DEPT. PROD I DEPT. 51 Lampiran 3. Layout PT. XYZ 1 1 PLANT 3 PLANT 2 7 6 PLANT 1 5 4 3 1 Keterangan: 1. Pos Satpam 2. Gerbang 3. Masjid 4. WH 2 5. Office 6. Engine Plant 7. WH 1 2 1 52 Lampiran 4. Layout Small Part KDS 8 A 2 3 4 5 6 7 E B V F 1 III IV D II G C KET: A : RAK OK SANDING B : LEADER/FORMAN C : RAW MATERIAL D : RAK TOOL E : SETTING ROOM I F : OVEN ROOM G : PART OK, To T/UP 1 : WAPING PART 2 : BLOWING PART 3 : TAG RAG 4 : B/C DASAR 5 : B/C FINISH 6 : C/C DASAR 7 : C/C FINISH 8 : MIXING I : DOCKING II : BLOWING TOOL III : SETTING PART IV : STRIPING V : SANDING 53 Lampiran 5. Peta Proses operasi paintingplastik part Honda OEM PETA PROSES OPERASI Nama Objek Painting Plastik Part Honda OEM Dipetakan oleh Wahyu Tri Utami Tanggal dipetakan 11 Juli 2012 Clear Base Raw Material O-1 O-2 Mixing cat dengan tinner O-7 I-1 O-10 I-2 Mixing cat dengan tinner Striping Setting Part O-3 Wapping O-4 Blowing O-5 Tagrag O-6 B/C dasar O-8 Finish B/C O-9 C/C dasar O-11 Finish C/C O-12 Oven O-13 Docking Ringkasan Kegiatan Jumlah Operasi 13 Inspeksi 2 Penyimpanan 1 Total 16 Penyimpanan 54 Lampiran 6. Hasil perhitungan bahan bakuNippe Acryl HM NH/103 Lampiran 7. Hasil perhitungan bahan bakuNax Suprio Base AHM Thinner (New) Lampiran 8. Hasil perhitungan bahan bakuWip Up Solvent 55 Lampiran 9. Hasil perhitungan bahan bakuF/C R258 Winning Red Lampiran 10. Hasil perhitungan bahan bakuT/C Clear Base RINGKASAN WAHYU TRI UTAMI H24104079. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT XYZ, Jakarta (Studi Kasus pada Painting Plastik Part Honda OEM). Dibawah bimbingan ABDUL BASITH Pemesanan dan penyimpanan barang merupakan kegiatan yang sangat penting pada bagian pengendalian persediaan barang dalam suatu perusahaan, baik barang tersebut merupakan bahan baku yang digunakan sebagai bahan produksi suatu perusahaan ataupun sebagai barang yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Pengendalian persediaan barang yang tepat diperlukan perusahaan untuk menghasilkan jumlah barang yang yang optimal dan mengeluarkan biaya seminimal mungkin. PT. XYZ merupakan perusahaan general assembling yang salah satu kegiatan produksinya adalah painting plastik part Honda OEM (Original Equipment Manufacturer). Dalam kegiatan produksi perusahaan sering mengalami claim karena tidak ratanya plastik part yang dicat. Hal ini menyebabkan jumlah bahan baku yang direncanakan tidak sama dengan pemakaian aktualnya. Oleh karena itu, diperlukan manajemen persediaan yang baik untuk pengendalian persediaan bahan baku yang optimal. Tujuan penelitian adalah : (1) Mengkaji sistem persediaan bahan baku saat ini pada PT. XYZ; (2) Mengoptimalkan persediaan bahan baku pada PT. XYZ; (3) Menganalisis efisiensi total biaya persediaan bahan baku pada PT. XYZ. Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data primer yang digunakan diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak perusahaan, khususnya wawancara dengan bagian PPC dan purchasing. Data sekunder diperoleh dari data dokumen perusahaan yang telah ada. Metode dalam penelitian ini bersifat kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan data kualitatif dilakukan secara deskriptif, meliputi gambaran dan kondisi perusahaan. Pengolahan data kuantitatif meliputi analisis ABC dan perhitungan model Economic Order Quantity (EOQ). Pengolahan tersebut menggunakan software POM for Windows 3. Hasil dari penelitian berdasarkan analisis ABC dapat disimpulkan bahwa dari 26 jenis bahan baku terdapat lima jenis bahan baku baku yang termasuk kedalam kelas A, yaitu Nippe Acryl HM NH/103, Nax Superio Base AHM Thinner (New), Wip Up Solvent, F/C R258 Winning Red, dan T/C Clear Base. Total biaya model EOQ lebih hemat dibandingkan total biaya perusahaan. Hasil total biaya selama satu tahun dengan menggunakan model EOQ adalah Rp 1.298.380.800, sedangkan total biaya perusahaan sebesar Rp 1.663.849.400, sehingga menghasilkan penghematan sebesar Rp 365.468.600 atau sekitar 21,96 % dalam satu tahun. Kata kunci: Analisis ABC, model EOQ
Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT. XYZ, Jakarta (Studi Kasus pada Painting Plastik Part Honda OEM) Biaya Penyimpanan Biaya Persediaan Biaya Persediaan TINJAUAN PUSTAKA Definisi Persediaan TINJAUAN PUSTAKA Departemen Quality Control Departemen Teknik Departemen Maintanance Departemen PPIC KD Packing Departemen ACC MIS  MIS Manegement Information System Penentuan Bahan Baku Prioritas dengan Analisis ABC Faktor Penyebab Munculnya Persediaan Manfaat Persediaan Fungsi Persediaan Jenis Persediaan Implikasi Manajerial HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan Jumlah Pemesanan Ekonomis Economic Order Quantity, EOQ Kebijakan Mutu PT. XYZ Data Fisik Perusahaan Kerangka Pemikiran Penelitian METODE PENELITIAN Metode Pengolahan dan Analisis Data Penelitian Terdahulu TINJAUAN PUSTAKA Persediaan Pengaman Safety Stock, SS Reorder Point Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Ruang Lingkup Penelitian Prosedur Pembelian Bahan Baku Prosedur Penerimaan Bahan Baku Prosedur Pemakaian Bahan baku
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku pada PT. XYZ, Jakarta (Studi Kasus pada Painting Plastik Part Honda OEM)

Gratis