ANALISIS PERILAKU KONSUMEN DALAM PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK PANGAN HALAL (Studi Kasus Mahasiswa Universitas Lampung

Gratis

2
13
52
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRACT The Consumer Behavior Analysis In The Process Decision For Purchasing Halal Food Products. ( case study university student lampung ) By Andi Antonika This research was aimed to analyze student’s behavior and dominant factors which are influence in the decision making for purchasing halal food product. The research was conducted by surveying method using quisioner to 100 students. The data were analyzed using descriptive analysis and factor analysis using a Kaiser Meyer Olkin (KMO) method and principal component analysis. The research showed stages in decisions process to purchase of halal food product, including living needed (hunger 30% and life style 30%), information retrieval (directly see 41% and meeting religion 19,9%), alternative evaluation ( looking the expiration date 34% and not consume food comes from pigs 29%), the purchase decision ( always see halal label 85% and not so buy without halal label 51%) and post purchase of food product halal ( uncertain eat at canteen college 54% and need to be given a halal certificate any campus canteen 93%). The result of factor analysis showed that there are 4 factor which are affecting the decision making process. The first factor was product’s attribute (product label, making process ingredient and production date) second factor was internal factor (income, motivation and lifestyle) more over, the third factor was religion/culture (halal label and halal certificate) and the forth factor was the external factor (seller, place and price) Keyword : behavior, halal food, purchasing and student ABSTRAK ANALISIS PERILAKU KONSUMEN DALAM PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK PANGAN HALAL (Studi Kasus Mahasiswa Universitas Lampung) Oleh Andi Antonika Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku mahasiswa Universitas Lampung dan berbagai faktor dominan yang mempengaruhi perilaku mahasiswa dalam proses pengambilan keputusan pembelian produk pangan halal. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode survei menggunakan kuisioner terhadap 100 responden mahasiswa. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis faktor dengan metode Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) dan Principal Component Analysis. Berdasarkan penelitian, tahapan dalam proses pengambilan keputusan pembelian produk pangan halal meliputi pengenalan kebutuhan (lapar 30% dan gaya hidup 30%), pencarian informasi (melihat secara langsung 41% dan pertemuan agama 19,9%), evaluasi alternatif (melihat tanggal kadaluarsa 34% dan tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dari babi 29%), keputusan pembelian (selalu melihat label halal 85% dan tidak jadi membeli tanpa label halal 51%) dan pasca pembelian produk pangan halal (merasa ragu makan dikantin kampus 54% dan perlu diberikan sertifikat halal setiap kantin 93%). Hasil Analisis faktor yang dilakukan pada variabel-variabel yang mempengaruhi proses keputusan pembelian produk pangan halal dalam tingkat kepentingan mahasiswa mengahasilkan empat faktor utama. Faktor pertama adalah faktor atribut produk (merk produk, komposisi produk dan tanggal produksi), faktor kedua adalah faktor internal (pendapatan /anggaran, motivasi membeli produk dan gaya hidup), selanjutnya faktor ketiga adalah faktor budaya/agama (keberadaan label halal dan sertifikat halal), sedangkan faktor keempat yang merupakan faktor terakhir adalah faktor eksternal (pengaruh penjual, tempat membeli produk dan harga produk). Kata kunci : mahasiswa, pangan halal, perilaku, pembelian. ANALISIS PERILAKU KONSUMEN DALAM PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK PANGAN HALAL (Studi Kasus Mahasiswa Universitas Lampung) (Skripsi) Oleh Andi Antonika FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2014 RIWAYAT HIDUP Penulis lahir di Bandar Lampung pada tanggal 3 November 1991, sebagai anak kedua dari tiga bersudara dari pasangan Bapak Sugiri dan Ibu Aswati. Jenjang pendidikan penulis dimulai pada tahun 1997 sebagai siswa Sekolah Dasar Negeri 1 Gunung Terang hingga tahun 2003. Pendidikan Sekolah Lanjut Tingkat Pertama diselesaikan pada tahun 2006 di SMP Negeri 14 Bandar Lampung. Pada tahun 2009 penulis menyelesaikan Pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 16 Bandar Lampung. Tahun 2009 penulis melanjutkan pendidikan di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Pada Februari tahun 2012 penulis melaksanakan Praktik Umum di Surya Modern Bakery Metro dengan judul mempelajari proses produksi roti dan penerapan sanitasi di surya modern bakery metro. Tahun 2012 pada bulan Juni, penulis juga melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN Tematik) di desa Banjar Negeri kecamatan Gunung Alip Kabupaten Tanggamus. Penulis juga aktif dalam kegiatan organisasi kampus yaitu sebagai anggota Bidang Pendidikan dan Penalaran Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknologi Hasil Pertanian periode 2010/2011, Duta Fakultas Pertanian periode 2011/2012 dan Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknologi Hasil Pertanian periode 2012/2013. Selain aktif dalam organisasi intra kampus, penulis juga aktif dalam beberapa organisasi ekstra kampus yaitu anggota Ikatan Mahasiswa Teknologi Pangan Indonesia. SANWACANA Alhamdulillah Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karena atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ANALISIS PERILAKU KONSUMEN DALAM PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK PANGAN HALAL (Studi Kasus Mahasiswa Universitas Lampung)”. Dengan selesainya skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.P. selaku Dekan Fakultas Pertanian yang telah memberikan izin kepada penulis dalam pelaksanaan penelitian. 2. Ibu Ir. Susilawati, M.S. selaku Ketua Jurusan Teknologi Hasil Pertanian yang telah memberikan izin kepada penulis dalam pelaksanaan penelitian. 3. Drs. Azhari Rangga, M.App., Sc. selaku pembimbing satu yang telah banyak memberikan pengarahan, saran dan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini. 4. Ibu Ir. Fibra Nurainy, M.T.A., selaku pembimbing dua yang telah banyak memberikan pengarahan, saran dan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini. 5. Dr. Ir. Tanto P. Utomo, M. Si. selaku penguji yang telah memberikan saransaran guna terselesaikanya skripsi ini. 6. Dr. Ir. Sussi Astuti., M. Si.selaku pembimbing akademik yang telah memberikan pengarahan dan masukan dalam menyelesaikan akademik. 7. Ibu, Bapak, kak Edi, Rendi serta keluarga besarku yang selalu memberikan doa, semangat, dukungan dan kasih sayangnya selama ini. 8. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis, serta para staff dan karyawan THP atas bantuan yang telah diberikan. 9. Teman-teman THP 2009 atas kebersamaan dan kekeluargaan selama ini, kakak-kakak dan mbak-mbak THP angkatan 1984-2008 serta adik-adik angkatan 2010, 2011, 2012, dan 2013 yang telah membantu dalam proses pembuatan skripsi ini. Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan yang dimilik oleh penulis.Penulis berharap semoga Allah SWT membalas kebaikan mereka dan semoga laporan skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Bandar Lampung, Penulis Andi Antonika Juli 2014 iii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ............................................................................................ v DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... I. vii PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Masalah ............................................................... 1 1.2. Tujuan ................................................................................................ 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perilaku Konsumen ............................................................................ 6 2.1.1. Proses keputusan pembelian konsumen .................................. 9 2.1.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen............ 13 2.2. Kehalalan Produk ................................................................................ 18 2.3. Bahan Tambahan Makanan ................................................................. 19 III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................. 21 3.2. Bahan dan Alat .................................................................................... 21 3.3. Metode Penelitian................................................................................ 21 3.4. Pelaksanaan Penelitian ........................................................................ 22 3.4.1. Survei perilaku konsumen .................................................... 22 3.4.1.1. Metode penentuan responden ................................ 22 3.4.1.2. Penyusunan kuisioner ............................................. 24 3.4.1.3 Penyebaran kuisioner ............................................... 24 3.4.2. Pengumpulan data ................................................................ 25 3.4.3. Pengolahan dan analisis data................................................ 25 iv 3.4.3.1. Analisis deskriptif ................................................... 26 3.4.3.2. Analisis faktor......................................................... 26 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Profil Responden .................................................................................. 30 4.2 Proses Pengambilan Keputusan ........................................................... 31 4.2.1 Pengenalan kebutuhan ........................................................... 31 4.2.2 Pencarian informasi............................................................... 33 4.2.3 Evaluasi alternatif.................................................................. 35 4.2.4 Proses pembelian................................................................... 38 4.2.5 Perilaku pasca pembelian ...................................................... 41 4.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi ..................................................... 44 4.3.1 Faktor pertama (atribut produk) ............................................ 51 4.3.2 Faktor kedua (internal) .......................................................... 52 4.3.3 Faktor ketiga (budaya) .......................................................... 52 4.3.4 Faktor keempat (eksternal) .................................................... 53 V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 54 5.2 Saran ..................................................................................................... 55 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 56 LAMPIRAN ..................................................................................................... 57 v DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Daftar sebaran kuisioner pada 8 Fakultas…………………………………………………… 25 2. Tingkat kesesuaian harga KMO dengan penggunaan analisis faktor………… 28 3. Motivasi/alasan membeli produk pangan…………………………………………………… 32 4. Informasi tentang produk pangan………………………………………………………………… 33 5. Informasi tentang produk pangan halal………………………………………………………. 35 6. Bahan makanan yang diharamkan………………………………………………………………… 36 7. Kemungkianan BTM mengandung bahan haram……………………………………… 37 8. Pertimbangan pemilihan produk pangan………………………………………………………. 38 9. Produk yang tidak ada label halal………………………………………………………………… 39 10. Dasar tetap membeli produk pangan tanpa label halal……………………………… 40 11. Dasar tidak jadi beli produk pangan tanpa label halal……………………………… 40 12. Sikap keyakinan konsumen terhadap kehalalan makanan dikampus………… 42 13. Tahap-tahap proses keputusan pembelian produk pangan halal………………… 43 14. Uji validitas dan reliabilitas kuisioner………………………………………………………. 44 15. KMO and Bartlett's Test ……………………………………………………………………………. 45 16. Anti-image Matrices …………………………………………………………………………….……. 46 17. KMO and Bartlett's Test……………………………………………………………………………. 46 vi 18. Anti-image Matrices…………………………………………………………………………….……. 47 19. Communalities…………………………………………………………………………….…….…….… 47 20. Total Variance Explained …………………………………………………………………………. 48 21. Component Matrix…………………………………………………………………………….……. 49 22. Rotated Componen Matrix …………………………………………………….…….….…… 50 23. Hasil analisis faktor…………………………………………………………………………….……. 51 iii DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Proses keputusan pembelian konsumen............................................ 9 2. Tahap-tahap antara evaluasi alternatif dan keputusan pembelian.... 12 3. Pengisian Kuisioner........................................................................... 57 BAB I I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Masalah Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap individu untuk aktivitas kesehariannya dalam menjaga kesehatan jasmani dan rohani dalam kehidupannya. Pangan yang aman, bermutu, bergizi, beragam dan tersedia secara cukup merupakan prasyarat utama yang harus dipenuhi dalam upaya terselenggaranya suatu sistem pangan yang memberikan perlindungan bagi kepentingan kesehatan serta makin berperan dalam meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Kebiasaan makan seseorang sangat dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, pendidikan, status sosial ekonomi, kesehatan serta keadaan psikologi orang tersebut. Tiap konsumen memiliki kebutuhan hidup yang berbeda, namun berbagai faktor dapat mempengaruhi seorang konsumen untuk membeli suatu produk pangan seperti faktor budaya, agama, sosial, pendidikan dan pendapatan. Oleh karena makan merupakan kebutuhan yang paling dasar dalam kehidupan dan sangat berkaitan erat dengan kesehatan, maka konsumen tentunya membutuhkan keamanan, lingkungan serta faktor-faktor lain yang menunjang terciptanya produk makanan yang aman dikonsumsi dari berbagai segi (Schaffner et al.,1998). 2 Dalam proses olahan suatu produk, teknologi pengolahan memiliki peranan yang sangat penting. Dalam perkembangan, teknologi pengolahan pangan banyak menggunakan bahan baku utama dan bahan baku penolong. Akan tetapi, setiap waktu teknologi selalu diperbarui untuk dapat berproduksi secara efektif dan efisien. Dengan teknologi yang terus berkembang saat ini, maka terjadi penggunaan berbagai bahan baku, bahan tambahan dan lain sebagainya dalam pengolahannya. Selain itu, terjadi perubahan pola makan dan gaya hidup konsumen. Dengan demikian, terkait dengan keamanan produk makanan yang sangat beragam dan komplek sulit untuk diidentifikasi. Status halal dan haram pada makanan dan minuman relatif tidak menjadi sangat komplek dampaknya sebelum teknologi pengolahan pangan belum berkembang Akan tetapi produk pangan halal pada saat ini menjadi fokus utama dalam pemilihan produk pangan saat pembelian. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh konsumen muslim dalam kehalalan suatu produk yaitu tracing dari bahan baku, bahan tambahan, proses produksi dan kondisi alat-alat yang digunakan. Hewan yang mati bukan karena disembelih atau diburu merupakan bahan baku yang tidak halal. Bahaya yang ditimbulkan bagi tubuh sangat nyata, sebab pada bangkai terdapat darah yang mengendap sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan. Proses produksi pada pemotongan hewan tanpa menyebut nama Allah adalah haram hukumnya. Hal ini sering tidak diperhatikan lagi karena proses produksi yang praktis. Alat-alat produksi yang tidak bersih, kotor dan tanpa perawatan juga perlu diperhatikan sehingga kita akan mengetahui apakah produk yang dihasilkan halal atau tidak. 3 UU RI No.7 Tahun 1996 (Tentang Pangan) Pasal 30 mewajibkan setiap produk untuk berisi nama produk, daftar bahan yang digunakan, berat atau isi bersih, nama dan alamat produsen, keterangan tentang halal, tanggal dan bulan kadaluarsa. Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah No.69 Tahun 1999 definisi pangan halal (pasal 1 ayat 5) adalah pangan yang tidak mengandung unsur atau bahan yang haram atau dilarang untuk dikonsumsi umat Islam, baik yang menyangkut bahan baku pangan, bahan tambahan pangan, bahan bantu dan bahan penolong lainnya termasuk bahan pangan yang diolah melalui proses rekayasa genetika dan iradiasi pangan, dan yang pengelolaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum agama Islam. Dengan adanya label halal akan memudahkan konsumen untuk mengidentifikasi produk pangan sehingga meskipun tanpa pengetahuan yang mendalam tentang bahan tambahan makanan yang kemungkinan menggunakan bahan haram, konsumen akan merasa aman ketika mengkonsumsi makanan yang telah berlabel halal. Meskipun demikian, tidak semua konsumen muslim benar-benar memperhatikan kehalalan produk makanan dan adanya label halal. Oleh karena itu, perilaku konsumen tentang pentingnya informasi halal sangatlah perlu untuk diketahui sehingga produk yang dikeluarkan oleh industri pangan merupakan produk yang aman untuk dikonsumsi baik dari segi nilai gizi maupun kehalalannya. Selain itu, produsen akan lebih memperhatikan tentang tuntutan konsumen muslim dengan lebih memperhatikan bahan baku dan bahan tambahan yang digunakan serta proses produksinya. 4 Salah satu konsumen terbesar dalam hal produk pangan adalah mahasiswa yang jumlahnya cukup banyak terutama diberbagi kota besar seperti di Bandar Lampung. Mahasiswa dapat dianggap memiliki tingkat pengetahuan yang lebih banyak dalam hal konsumsi, pembelian dan dalam hal keyakinan pengolahan makanannya. Bahkan tidak sedikit dari mahasiswa yang mengutamakan membeli produk siap saji, cepat dan instan daripada harus memasaknya sendiri. Mahasiswa cenderung membeli makanan dengan melihat brand produk tanpa memperhatikan kehalalan nya. Instan, enak dan murah yang menjadi kriteria makanan yang dibeli mahasiswa terutama yang jauh dari keluarga atau sedang merantau. Terdapat beberapa faktor utama yang mempengaruhi perilaku konsumen, yaitu faktor sosial budaya, pribadi dan psikologi konsumen. Faktor sosial budaya terdiri atas kebudayaan, budaya khusus, kelas sosial, kelompok sosial dan referensi keluarga. Faktor pribadi terdiri dari usia, pekerjaan, keadaan ekonomi dan gaya hidup. Faktor lain adalah faktor psikologi yang terdiri dari motivasi, persepsi, proses belajar, kepercayaan, dan sikap konsumen. Adapun proses tahapan yang dilakukan dalam pembelian produk pangan adalah pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, proses pembelian dan perilaku pasca pembelian (Kotler, 2000). Oleh karena itu perlu dilakukan analisis perilaku mahasiswa dalam proses keputusan pembelian produk pangan halal yang sangat diperlukan mengingat adanya perubahan pola makan dan perubahan gaya hidup. Hal lain yang diharapkan adalah sejauh mana pengetahuan dan tingkat kesadaran mahasiswa Unila dalam memilih makanan halal. 5 1.2. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku mahasiswa Universitas Lampung dan berbagai faktor dominan yang mempengaruhi perilaku mahasiswa dalam proses keputusan pembelian produk pangan halal BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perilaku Konsumen Perilaku konsumen adalah suatu tindakan yang langsung dalam mendapatkan, mengkonsumsi serta menghabiskan produk dan jasa termasuk proses keputusan yang mendahului dan menggunakan tindakan tersebut (Engel et al,1994). Sedangkan Umar (2003), menjelaskan bahwa perilaku konsumen terbagi atas dua bagian, yang pertama adalah perilaku yang tampak dimana variabel-variabel yang termasuk didalamnya adalah jumlah pembelian, waktu, karena siapa, dengan siapa, dan bagaimana konsumen melakukan pembelian. Hal yang kedua adalah perilaku yang tak tampak dimana variabel-variabel antara lain adalah persepsi (pandangan) konsumen, ingatan terhadap informasi dan perasaan kepemilikan oleh konsumen. Persepsi konsumen didefinisikan sebagai suatu proses, dimana seseorang menyeleksi, mengorganisasikan dan menginterpretasikan stimulus kedalam gambaran yang lebih berarti dan menyeluruh. Stimulus adalah setiap input yang ditangkap oleh panca indera. Stimulus dapat berasal dari lingkungan sekitar atau dari dalam individu itu sendiri. Kombinasi keduanya akan memberikan gambaran persepsi yang bersifat pribadi (Simamora, 2002). 7 Terdapat beberapa faktor utama yang mempengaruhi perilaku konsumen, yaitu faktor sosial budaya, pribadi dan psikologi konsumen. Faktor sosial budaya terdiri atas kebudayaan, budaya khusus, kelas sosial, kelompok sosial dan referensi keluarga. Faktor pribadi terdiri dari usia, pekerjaan, keadaan ekonomi dan gaya hidup. Faktor lain adalah faktor psikologi yang terdiri dari motivasi, persepsi, proses belajar, kepercayaan, dan sikap. Selanjutnya perilaku konsumen tadi sangat menentukan dalam proses pengambilan keputusan membeli yang tahapnya dimulai dari pengenalan masalah, yaitu berupa desakan yang membangkitkan tindakan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhannya (Setiadi, 2003). Pengetahuan konsumen akan mempengaruhi keputusan pembelian yaitu semakin banyak pengetahuan yang dimiliki konsumen maka konsumen akan semakin baik dalam mengambil keputusan. Selain itu, pengetahuan konsumen mengakibatkan konsumen akan lebih efisien dan lebih tepat dalam mengolah informasi, serta mampu me-recall informasi dengan lebih baik. Pengetahuan subjektif adalah persepsi konsumen mengenai apa dan berapa banyak yang dia ketahui mengenai kelas produk. Berdasarkan uraian tersebut, terlihat bahwa persepsi berhubungan dengan pembentuk kan pengetahuan konsumen, yang kemudian akan mempengaruhi keputusan pembelian atau konsumsi (Kotler, 1987). Teori perilaku konsumen yang dibangun berdasarkan syariah Islam, memiliki perbedaan yang mendasar dengan teori konvensional. Perbedaan ini menyangkut 8 nilai dasar yang menjadi fondasi teori, motif dan tujuan konsumsi, hingga teknik pilihan dan alokasi anggaran untuk berkonsumsi. Ada tiga nilai dasar yang menjadi fondasi bagi perilaku konsumsi masyarakat muslim: 1. Keyakinan akan adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat, prinsip ini mengarahkan seorang konsumen untuk mengutamakan konsumsi untuk akhirat daripada dunia. Mengutamakan konsumsi untuk ibadah daripada konsumsi duniawi. Konsumsi untuk ibadah merupakan future consumption (karena terdapat balasan surga di akhirat), sedangkan konsumsi duniawi adalah present consumption. 2. Konsep sukses dalam kehidupan seorang muslim diukur dengan moral agama Islam, dan bukan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki. Semakin tinggi moralitas semakin tinggi pula kesuksesan yang dicapai. Kebajikan, kebenaran dan ketaqwaan kepada Allah merupakan kunci moralitas Islam. Kebajikan dan kebenaran dapat dicapai dengan prilaku yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan dan menjauhkan diri dari kejahatan. 3. Kedudukan harta merupakan anugrah Allah dan bukan sesuatu yang dengan sendirinya bersifat buruk (sehingga harus dijauhi secara berlebihan). Harta merupakan alat untuk mencapai tujuan hidup, jika diusahakan dan dimanfaatkan dengan benar. Beberapa ahli mendefinisikan perilaku konsumen, Kotler (2000) menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah bagaimana konsumen memilih, membeli dan 9 memanfaatkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Hawkins, et al (2001), berpendapat bahwa perilaku konsumen merupakan studi mengenai individu, kelompok, dan organisasi serta proses mereka ketika menyeleksi, menggunakan dan menghabiskan produk, jasa, pengelolaan atau ide untuk memuaskan kebutuhan. Sumarwan (2003) menarik kesimpulan bahwa perilaku konsumen adalah semua kegiatan, tindakan, proses psikologis yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal di atas atau kegiatan mengevaluasi. 2.1.1. Proses keputusan pembelian konsumen Konsumen akan melalui beberapa tahapan dalam melakukan tindakan pembelian sampai akhirnya konsumen memutuskan apakah ia akan membeli atau tidak. Menurut Kotler (2000), ada lima tahap yang dilalui konsumen dalam proses pembelian, yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pasca pembelian. Secara skematik, tahapan tersebut dapat ditunjukkan dalam Gambar 1. Pengenalan Pencarian Evaluasi Keputusan Perilaku Pasca Masalah Informasi Alternatif Pembelian Pembelian Gambar 1. Proses keputusan pembelian konsumen (Kotler, 2000) Model ini menekankan proses pembelian sejak sebelum pembelian sampai setelah pembelian. Setiap konsumen akan melewati kelima tahap ini untuk setiap 10 pembelian yang mereka buat. Konsumen membalik tahap-tahap tersebut pada pembelian yang lebih rutin. Uraian mengenai proses keputusan pembelian dijelaskan dibawah ini : 1. Pengenalan Masalah Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali sebuah masalah atau kebutuhan. Kebutuhan dapat dicetuskan oleh stimulus, baik internal maupun eksternal. Stimulus internal adalah kebutuhan dasar yang timbul dari dalam diri seperti lapar, haus dan sebagainya. Sedangkan stimulus eksternal adalah kebutuhan yang ditimbulkan karena dorongan eksternal. Sedangkan menurut Engel, et al (1995), pengenalan kebutuhan pada akhirnya bergantung pada berapa banyak ketidaksesuaian yang ada di antara keadaan aktual (situasi konsumen sekarang) dengan keadaan yang diinginkan. Ketika ketidaksesuaian ini melebihi tingkat atau ambang tertentu, maka kebutuhan akan dikenali. 2. Pencarian Informasi Konsumen yang tergugah kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Konsumen akan mencari informasi yang tersimpan di dalam ingatannya (pencarian internal) atau melakukan pengumpulan informasi dari lingkungan sekitarnya (pencarian eksternal). Pencarian internal adalah pencarian informasi melalui ingatan untuk melihat pengetahuan yang relevan dengan keputusan. Apabila pencarian internal tidak mencukupi, maka konsumen memutuskan untuk mencari informasi tambahan melalui pencarian eksternal dari lingkungan (Indriyo. 2000). 11 3. Evaluasi Alternatif Tahap ini didefinisikan sebagai proses dimana suatu alternatif pilihan dievaluasi dan dipilih untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Untuk memilih alternatif, konsumen akan menggunakan beberapa kriteria evaluasi yang berbeda, misalnya nama, merek, asal produk dan sebagainya. Dengan kriteria tersebut konsumen akan memilih salah satu dari beberapa alternatif yang ada. Proses evaluasi konsumen adalah proses yang berorientasi kognitif, yaitu mereka menganggap konsumen membentuk penilaian atas produk terutama berdasarkan kesadaran dan rasional. Beberapa konsep dasar dalam memahami proses evaluasi konsumen yaitu pertama konsumen berusaha memenuhi suatu kebutuhan, kedua konsumen mencari manfaat tertentu dari solusi produk dan ketiga konsumen memandang setiap produk sebagai sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam memberikan manfaat yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan. 4. Keputusan Pembelian Pembelian menurut Engel, et al (1995), yaitu suatu proses keputusan konsumen apabila memperoleh alternatif yang dipilih atau pengganti dapat diterima bila perlu. Dalam tahap evaluasi konsumen membentuk preferensi atas merek-merek dalam kumpulan pilihan. Selanjutnya konsumen membentuk niat untuk membeli produk yang paling disukai. Ada dua faktor yang dapat mempengaruhi antara niat pembelian dan keputusan pembelian (Gambar 2). Faktor pertama adalah faktor sikap atau pendirian orang lain. Faktor ini mempengaruhi alternatif yang disukai konsumen dan motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain tersebut. Semakin kuat sikap negatif orang lain dan 12 semakin dekat orang lain tersebut dengan konsumen, maka konsumen akan semakin menyesuaikan maksud pembeliannya. Faktor kedua yang dapat mempengaruhi niat pembelian dan keputusan pembelian adalah faktor situasi yang tidak terantisipasi. Adanya faktor ini akan dapat mengubah rencana pembelian suatu produk yang akan dilakukan konsumen. Evaluasi Alternatif Niat Pembelian Pendirian Orang Lain Faktor Situasi yang Tidak Terantisipasi Keputusan Pembelian Gambar 2. Tahap-tahap antara evaluasi alternatif dan keputusan pembelian (Kotler, 2000) 5. Perilaku Pasca Pembelian Setelah membeli suatu produk, konsumen akan mengalami tingkat kepuasan atau ketidakpuasan tertentu. Sehingga tugas pemasar tidak cukup berakhir saat produk dibeli, melainkan berlanjut hingga periode pasca pembelian. Dalam hal ini pemasar harus memantau kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca pembelian dan pemakaian serta pembuangan pasca pembelian. Menurut Mowen dan Minor (1998), kepuasan pelanggan didefinisikan sebagai keseluruhan sikap konsumen yang didapatkan dari barang dan jasa setelah mereka menggunakannya. Kepuasan 13 berfungsi mengukuhkan loyalitas pembeli, sementara ketidakpuasan dapat menyebabkan keluhan, komentar negatif dan upaya untuk menuntut ganti rugi melalui sarana hukum. Hal ini merupakan suatu upaya untuk mempertahankan pelanggan yang menjadi unsur penting dalam strategi pemasaran. Hasil penelitian Fatimah (2006) menjelaskan bahwa dalam proses keputusan pembelian buku bertemakan Islam melakukan lima tahapan, namun proses yang dilakukan dalam setiap tahapan tersebut berbeda-beda untuk setiap konsumennya. Sebagian besar konsumen memutuskan membeli buku bertemakan Islam dikarenakan adanya dorongan dalam diri konsumen untuk menambah wawasan keislaman mereka, konsumen lebih memilih untuk melihat secara langsung di tempat penjualan buku dengan mempertimbangkan judul dan isi dari pada buku tersebut, serta ada atau tidaknya diskon (potongan harga) dari buku yang dimaksud terlebih dahulu. Buku bertemakan Islam merupakan salah satu produk yang memiliki tingkat keterlibatan tinggi, ini dilihat dari manfaat yang diberikan buku tersebut kepada pembaca, sehingga konsumen merasakan ada yang kurang jika tidak membaca buku bertemakan Islam. 2.1.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Dalam proses pengambilan keputusan oleh konsumen untuk membeli suatu produk sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah faktor budaya, faktor sosial, faktor pribadi dan faktor psikologis. 14 A. Faktor Budaya Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling mendasar. Perilaku manusia biasanya dipelajari dari lingkungan sekitarnya. Sehingga nilai, persepsi, preferensi dan perilaku antara orang yang tinggal pada daerah tertentu dapat bebeda dengan orang lain yang berada di lingkungan lainnya pula. Sehingga pemasar sangat berkepentingan untuk melihat pergesaran kultur tersebut agar dapat menyediakan produk-produk baru yang diinginkan konsumen. Sub-budaya merupakan bagian dari pada budaya yang lebih kecil yang memberikan lebih banyak ciri-ciri dan sosialisasi khusus bagi anggota-anggotanya. Sub-budaya terdiri dari kebangsaan, agama, kelompok ras, dan daerah geografis. Banyak sub-budaya yang membentuk segmen pasar penting, dan pemasar sering merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Kelas sosial adalah pembagian masyarakat yang relatif homogen dan permanen yang tersusun secara hierarki dan yang anggotanya menganut nilainilai, minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial tidak hanya mencerminkan penghasilan, tetapi juga indikator lain, seperti pekerjaan, pendidikan, dan tempat tinggal. Kelas sosial berbeda dalam hal busana, cara berbicara, preferensi rekreasi, dan memiliki banyak ciri-ciri lain (Sutisna. 2001). B. Faktor Sosial Kelompok acuan adalah kelompok yang merupakan titik pengaruh secara langsung (tatap muka) atau tindak langsung dalam pembentukan sikap atau perilaku seseorang. Kelompok yang memiliki pengaruh langsung terhadap 15 seseorang dinamakan kelompok keanggotaan seperti keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja (sebagai kelompok prima) yang berinteraksi dengan seseorang secara terus-menerus dan informal. Untuk kelompok keanggotaan yang tergolong kelompok sekunder, seperti kelompok keagamaan, profesional, dan asosiasi perdagangan cenderung lebih formal dan membutuhkan interaksi yang tidak begitu rutin. Keluarga merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat dan ia telah menjadi objek penelitian yang luas. Anggota keluarga merupakan kelompok acuan primer yang paling berpengaruh. Keluarga sangat penting di dalam studi perilaku konsumen karena dua alasan. Pertama, keluarga adalah unit pemakaian dan pembelian untuk banyak produk konsumen. Kedua, keluarga adalah pengaruh utama pada sikap dan perilaku individu. Peran dan status dapat menentukan posisi seseorang dalam tiap kelompok. Peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang. Masing-masing peran menghasilkan status. Misalnya, Mahkamah Agung memiliki status yang lebih tinggi daripada manajer penjualan, dan manajer penjualan memiliki status yang lebih tinggi daripada pegawai kantor. Produk dapat mengkomunikasikan peran dan status seseorang di masyarakat. C. Faktor Pribadi Usia dan tahap siklus hidup seseorang akan berubah. Hal ini membuat kebutuhan dan selera mereka sesuai dengan perubahan tersebut. Pembelian dibentuk oleh tahap siklus hidup keluarga, sehingga pemasar hendaknya memperhatikan perubahan minat pembelian yang terjadi yang berhubungan dengan siklus hidup 16 manusia. Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang hendak dibelinya (pola konsumsinya). Dengan demikian pemasar dapat mengidentifikasikan kelompok yang berhubungan dengan jabatan yang mempunyai minat di atas rata-rata terhadap produk mereka. Keadaan ekonomi seseorang sangat mempengaruhi pilihan produk. Pemasar yang produknya peka terhadap harga dapat terus-menerus memperhatikan kecenderungan dalam penghasilan pribadi, tabungan dan tingkat suku bunga (Purwadi. 2000). Gaya hidup adalah pola hidup seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya (pendapatnya). Gaya hidup menggambarkan keseluruhan diri seseorang yang berinteraksi dengan lingkungannya.Kepribadian dan konsep diri masing-masing orang berbeda yangdapat mempengaruhi perilaku pembeliannya. Kepribadian adalah karakteristik psikologis seseorang yang berbeda dengan orang lain yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungannya. Konsep diri (citra pribadi) merupakan hal yang berkaitan dengan kepribadian seseorang (Mangkunegara. 2002). D. Faktor Psikologis Motivasi berasal dari kata motif. Motif adalah suatu kebutuhan yang cukup menekan seseorang untuk bertindak. Seseorang memiliki banyak kebutuhan pada waktu tertentu. Suatu kebutuhan akan berubah menjadi motif apabila kebutuhan itu telah mencapai tingkat tertentu. Persepsi adalah proses bagaimana seorang individu memilih, mengorganisasikan dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti. Seseorang yang 17 termotivasi akan siap untuk bertindak. Bagaimana seseorang yang termotivasi itu bertindak akan dipengaruhi oleh persepsinya terhadap situasi tertentu. Orang dapat memiliki persepsi yang berbeda atas objek yang sama. Pembelajaran (learning) meliputi perubahan perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman. Secara teori, pembelajaran seseorang dihasilkan melalui perpaduan dorongan, rangsangan, petunjuk bertindak, tanggapan dan penguatan. Para pemasar dapat membangun permintaan akan produk dengan menghubungkannya dengan dorongan yang kuat, dengan menggunakan petunjuk yang memberikan dorongan atau motivasi dan dengan memberikan penguatan yang positif. Keyakinan dan sikap seseorang didapat melalui tindakan dan proses belajar, yang kemudian mempengaruhi perilaku pembeliannya. Keyakinan (belief) adalah gambaran pemikiran yang dianut seseorang tentang suatu hal. Keyakinan dapat berupa pengetahuan, pendapat, atau sekedar hanya percaya saja. Sedangkan sikap (attitude) adalah evaluasi, perasaan emosional, dan kecenderungan tindakan yang menguntungkan atau tidak menguntungkan dan bertahan lama dari seseorang terhadap suatu objek atau gagasan. Hasil penelitian Mutmainah (2012), menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian produk Sophie Martin terdiri dari faktor keluarga, situasi ekonomi, dan gaya hidup. Dalam penelitian ini, salah satu faktor faktor yang paling berpengaruh adalah gaya hidup. 18 Hasil dari penelitian Listyoningrum (2013) yang berjudul Analisis Minat Beli Konsumen Muslim Terhadap Produk BreadTalk Yang Tidak Diperpanjang Sertifikat Halalnya menunjukkan bahwa ada pengaruh positif sikap, norma subyektif, dan persepsi kontrol perilaku yang terbentuk dari produk BreadTalk yang tidak diperpanjang sertifikat halalnya terhadap minat beli konsumen muslim. Hasil kedua menunjukkan bahwa ada perbedaan sikap, norma subyektif, dan minat beli dari konsumen muslim yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui bahwa produk BreadTalk pernah memiliki sertifikat halal, dan tidak ada perbedaan untuk persepsi kontrol perilaku. Hasil ketiga membuktikan bahwa ada perbedaan sikap, persepsi kontrol perilaku, dan minat beli dari konsumen muslim yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui bahwa produk BreadTalk sekarang tidak memiliki sertifikat halal, dan tidak ada perbedaan pada variabel norma subyektif. 2.2. Kehalalan Produk Ketentuan halal dan haramnya suatu bahan pangan berasal dari Allah Sang Pencipta Alam Semesta. Ketentuan ini tercantum di dalam Al-Qur’an dan Hadist. Pada prinsipnya semua bahan makanan dan minuman halal, kecuali yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahan yang diharamkan Allah SWT adalah bangkai, darah, babi dan hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah. Minuman yang diharamkan oleh Allah adalah semua bentuk minuman beralkohol (memabukan) dan mengacaukan akal. Hewan yang dihalalkan akan berubah statusnya menjadi haram apabila mati karena tercekik, terbentur, jatuh, 19 ditanduk, diterkam binatang buas dan yang disembelih untuk berhala (Qardhawi, 2000). Dasar yang diterapkan ajaran Islam ialah bahwa asal sesuatu yang diciptakan Allah adalah halal dan mubah. Tidak ada satu pun yang haram, kecuali ada keterangan yang sah dan tegas tentang keharaman bahan tersebut. Halal berarti boleh, sedangkan haram berarti tidak boleh. Selain masalah halal dalam perilaku, Allah SWT juga mengatur halal dalam masalah makanan maupun minuman. Dalam Qur’an Surat Al-Maidah ayat 3, Allah SWT berfirman bahwa ”Telah diharamkan atas kamu bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih bukan karena Allah, yang (mati) karena dicekik, yang (mati) karena dipukul, yang (mati) karena jatuh dari atas, yang (mati) karena ditanduk, yang (mati) karena dimakan oleh binatang buas, kecuali yang dapat kamu sembelih dan yang disembelih untuk berhala”. Definisi pangan halal (pasal 1 ayat 5) berdasarkan Peraturan Pemerintah No.69 Tahun 1999 adalah pangan yang tidak mengandung unsur atau bahan yang haram atau dilarang untuk dikonsumsi umat Islam, baik yang menyangkut bahan baku pangan, bahan tambahan pangan, bahan bantu dan bahan penolong lainnya termasuk bahan pangan yang diolah melalui proses rekayasa genetika dan iradiasi pangan, dan yang pengelolaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum agama Islam. 20 2.3 Bahan Tambahan Makanan Dalam pembuatan suatu produk pangan, akan terdapat berbagai macam bahan-bahan baik bahan utama, bahan bantu ataupun bahan penolong yang digunakan. Salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah bahan tambahan makanan yang berasal dari hewani seperti asam-asam lemak, gelatin dan lain-lain. Bahan tambahan makanan memungkinkan menggunakan bahan-bahan yang haram sehingga produk hasil pun akan haram. Bahan tambahan pangan didefinisikan sebagai bahan atau campuran yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan kedalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk-bentuk bahan pangan. Penambahan bahan tambahan pangan digunakan untuk memperbaiki karakter pangan agar kualitasnya meningkat. Bahan tambahan pangan pada umumnya merupakan bahan kimia yang telah diteliti dan diuji lama sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah yang ada (Syah et al., 2005). Berdasarkan tujuan penggunaannya di dalam pangan, bahan tambahan pangan digolongkan sebagai pewarna, pemanis buatan, pengawet, antioksidan, antikempal, penyedap dan penguat rasa serta aroma, pengatur keasaman, pemutih dan pematang tepung, pengemulsi, pemantap dan pengental, pengeras, serta sekuenstran. Selain itu, masih ada beberapa bahan tambahan pangan lainnya yang biasa digunakan dalam makanan seperti (1) Enzim, yaitu bahan tambahan makanan yang berasal dari hewan, tanaman atau mikroba, yang dapat menguraikan komponen pangan tertentu secara enzimatis sehingga membuat makanan menjadi lebih empuk, lebih larut dll, (2) Penambahan gizi, yaitu bahan 21 tambahan berupa asam amino, mineral atau vitamin, baik tunggal maupun campuran yang dapat meningkatkan nilai gizi makanan, (3) Humektan, yaitu bahan tambahan pangan yang dapat meyerap uap air sehingga mempertahankan kadar air bahan pangan (Syah et al., 2005). BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Universitas Lampung pada bulan Februari 2014 sampai dengan April 2014. 3.2 Bahan dan Alat Bahan dan alat yang akan digunakan adalah alat tulis, lembar kuisioner dan software Microsoft Office Excell dan SPSS versi 16.0 for Windows. 3.3 Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan metode survei dengan menggunakan lembar kuisioner yang berisikan profil responden, tahapan proses pembelian produk dan mengetahui sejauh mana tingkat kepentingan halal bagi konsumen. Data yang dikumpulkan dianalisa dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis faktor (factor analysis). Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui karakteristik konsumen dan proses keputusan pembelian konsumen terhadap kehalalan produk pangan yang dikonsumsi. Analisis faktor, untuk mengkaji variabel dan faktor-faktor 22 dominan di antara variabel-variabel yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam proses pembelian produk pangan halal. Metode yang digunakan dalam analisis faktor adalah metode Kaiser Meyer Olkin (KMO), metode Measure of Sampling (MSA) dan metode komponen utama (principal component), untuk mengelompokan variabelvaribel ke dalam beberapa komponen utama. Selanjutnya, komponen utama tersebut diinterpretasikan sesuai dengan variabel yang menyusunnya. 3.4 Pelaksanaan Penelitian 3.4.1 Survei perilaku konsumen Survei perilaku konsumen ini dilakukan dengan menyebar kuisioner pada responden dengan jumlah yang sesuai metode penentuan responden yang digunakan. 3.4.1.1 Metode penentuan responden Proses pemilihan responden dari populasi dengan tujuan mendapatkan kesimpulan mengenai populasi berdasarkan penelitian terhadap responden yang dipilih disebut sampling (Purwadi, 2000). Metode penetuan responden pada penelitian ini adalah metode purpose sampling yaitu menentukan responden yang akan dipilih dengan sengaja. Menurut Singarimbun dan Efendi (1989), metode purpose sampling merupakan metode penentuan responden yang diambil berdasarkan pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan penelitian. Tujuan dari metode ini adalah untuk memudahkan dalam pengambilan responden karena tidak semua responden bersedia untuk mengisi kuisioner. 23 Penelitian ini dilakukan di Universitas Lampung sehingga populasi yang diambil adalah mahasiswa program sarjana Universita Lampung. Jumlah mahasiswa Universitas Lampung berdasarkan Direktorat Administrasi dan Jaminan Mutu Pendidikan Unila menunjukan bahwa jumlah mahasiswa sampai dengan saat ini sebanyak 21.208 mahasiswa. Jumlah responden yang diperlukan untuk mewakili jumlah populasi kota Bandar Lampung ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin (Umar, 2000). Rumus Slovin yaitu : n = N 1 + N e2 = 21.208 1 + (21.208 x (0,1)2) = 99,5% Yaitu : n = ukuran responden N = ukuran populasi e = persen kelonggaran ketidaktelitian karena pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir atau diinginkan. Persentase kelonggaran yang digunakan adalah 10%. Jumlah responden yang diambil berdasarkan rumus tersebut adalah minimal 99,5 responden atau 100 responden. Responden yang diambil adalah seluruh mahasiswa yang beragama islam 3.4.1.2 Penyusunan kuisioner Kuisioner merupakan data primer dalam melaksanakan penelitian ini. Kuisioner adalah daftar pertanyaan yang tersusun rapi untuk diajukan kepada responden. Kuisioner yang disusun terdiri dari pertanyaan-pertanyaan mengenai profil responden 24 dan perilaku konsumen terhadap pentingnya kehalalan produk pangan di Bandar Lampung. Pertanyaan yang terdapat pada kuisioner tersebut bersifat pertanyaan tertutup, semi terbuka, dan terbuka (Singarimbun dan Efendi, 1989). Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang tidak memungkinkan responden untuk memberikan jawaban selain yang telah disediakan. Pertanyaan semi terbuka adalah pertanyaan yang telah disediakan jawabannya tetapi memungkinkan responden untuk menambah jawaban yang sesuai. Sedangkan pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang jawabannya secara bebas dapat diberikan responden (Rahmawati,2004). 3.4.1.3 Penyebaran kuisioner Penyebaran kuisioner dilakukan pada 8 Fakultas yang terdapat di Universitas Lampung. Jumlah sebaran kuisioner pada masing-masing fakultas ditentukan berdasarkan persentase jumlah mahasiswa pada tiap fakultas terhadap jumlah mahasiswa Universitas Lampung. Daftar sebaran kuisioner di 8 Fakultas Universitas Lampung dapat dilihat pada Tabel 1. 25 Tabel 1. Daftar sebaran kuisioner pada 8 Fakultas Nama Fakultas Jumlah Mahasiswa (jiwa) Pertanian Teknik Ekonomi Kedokteran Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Hukum Jumlah Responden 3.277 2.345 3.188 650 16 11 15 3 2.635 5.635 12 26 1.680 1.798 8 9 Sumber : Direktorat Administrasi dan Kemahasiswaan Unila 3.4.2. Pengumpulan data Penelitian ini diawali dengan proses pengumpulan data yang dilakukan dengan kuisioner. Kuisioner terdiri dari 2 bagian yaitu bagian pertama yang berisi pertanyaan tentang kerakteristik responden dan bagian kedua yang berisi pertanyaan tentang tingkat kepentingan responden terhadap kehalalan produk pangan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik wawancara. 3.4.3. Pengolahan dan analisis data Data-data yang telah diperoleh melalui penyebaran kuesioner diolah dan dianalisis dengan bantuan Microsoft Office Excell dan software komputer SPSS versi 16.0 for Windows. Uji validitas dan reliabilitas digunakan untuk mengetahui apakah butirbutir pertanyaan kuesioner yang diajukan valid dan reliabel ataukah tidak. Uji validitas menunjukkan sejauhmana kuesioner mengukur apa yang ingin diukur (Umar, 2003). Pengujian validitas ini menggunakan teknik korelasi Product Moment 26 Pearson, dengan bantuan SPSS versi 16.0 for Windows. Reliabilitas adalah nilai yang menunjukkan sejauh mana konsistensi suatu alat pengukur dalam mengukur gejala yang sama (Umar, 2003). Uji reliabilitas untuk instrumen berupa rentangan antara 1-5 menggunakan rumus Cronbach’s Alpha (α), dengan SPSS versi 16.0 for Windows. 3.4.3.1 Analisis deskriptif Analisis deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik konsumen dan proses keputusan pembelian produk pangan yang mencakup pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan perilaku pasca pembelian yang selanjutnya dibuat ke dalam bentuk tabulasi, yaitu pengaturan data ke dalam suatu tabel dan dikelompokkan berdasarkan jawaban yang sama, kemudian dipersentasekan berdasarkan banyaknya jawaban dari responden. Persentase yang terbesar merupakan faktor yang dominan dari masing-masing variabel yang diteliti. 3.4.3.2. Analisis faktor Analisis faktor merupakan salah satu teknik dalam analisis multivariat, yaitu analisis yang digunakan untuk menelaah variabel-variabel dalam jumlah besar. Analisis faktor bertujuan untuk mereduksi sejumlah besar variabel asal menjadi sejumlah faktor yang menjelaskan hubungan antar variabel asal tersebut. Pada penelitian ini analisis faktor digunakan untuk mengidentifikasi variabel dan faktor-faktor dominan di antara variabel-variabel yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam proses keputusan pembelian produk pangan halal. Data dianalisis dengan metode Kaiser 27 Meyer Olkin (KMO) untuk menentukan apakah semua data dapat diuji lanjut atau tidak. Metode ekstraksi yang digunakan adalah Principal Component Analysis (metode komponen utama), yaitu untuk mengelompokkan variabel-variabel ke dalam beberapa faktor utama (Imam, 2006). Pengolahan dan analisis data diawali dengan pembobotan variabel yang dijadikan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan pembelian produk pangan oleh konsumen. Data yang diperoleh berupa data ordinal berskala Likert dengan kisaran 15. Skala 1 artinya sangat tidak penting, 2 artinya tidak penting, 3 artinya biasa saja, 4 artinya penting dan 5 artinya sangat penting. Selanjutnya dilakukan tahapan proses analisis faktor dengan software SPSS versi 16,0 sebagai berikut : 1. Analisis faktor berupaya mengelompokkan sejumlah variabel, untuk itu haruslah ada korelasi yang kuat

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM PEMBELIAN IMPULSIF PRODUK SEMBAKO PADA INDOMARET
0
22
17
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK KOSMETIK PADA MAHASISWI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS JEMBER
0
8
90
ANALISIS PERBEDAAN PERILAKU KONSUMEN DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK SERBUK CUCI MERK DAIA DAN SURF (Studi Kasus di Kecamatan Campur Darat Kabupaten Tulungagung)
0
4
1
ANALISIS PERILAKU KONSUMEN DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK FASHION di DISTRO REALIZM MALANG
0
12
18
PENGARUH PERSEPSI HALAL TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK POP MIE (Studi Kasus: Pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang)
3
18
51
ANALISIS PERILAKU KONSUMEN DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN SEPEDA MOTOR DI KOTAMADYA MOJOKERTO
0
6
89
ANALISIS PERILAKU KONSUMEN DALAM PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK PANGAN HALAL (Studi Kasus Mahasiswa Universitas Lampung
2
13
52
PENGARUH LABELISASI HALAL TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN PADA PRODUK MAKANAN RESTORAN SOLARIA DI BANDAR LAMPUNG
1
33
47
ANALISIS PERILAKU KONSUMEN DALAM PEMBELIAN KOPI LUWAK DI CV. DUTA LUWAK BROTHER’S LINK (Studi Kasus di Kabupaten Lampung Barat)
10
43
69
MOTIVASI DAN PERILAKU KONSUMEN DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK INDUSTRI KERAJINAN KULIT DI YOGYAKARTA
1
2
10
MOTIVASI DAN PERILAKU KONSUMEN DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK INDUSTRI KERAJINAN KULIT DI YOGYAKARTA
0
1
10
MOTIVASI DAN PERILAKU KONSUMEN DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK INDUSTRI KERAJINAN KULIT DI YOGYAKARTA
0
0
17
148 PENGARUH PENGETAHUAN PRODUK DAN PRODUK HALAL TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PADA PRODUK KECANTIKAN KOREA Ichsani Mutiara
0
0
13
KUESIONER ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK TUPPERWARE
0
0
31
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK ROTI GANDA PEMATANGSIANTAR SKRIPSI
0
1
16
Show more