PEMANFAATAN Sargassum sp. DAN INOSITOL DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN DAYA TAHAN TUBUH JUVENIL IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy Lac. )

Gratis

6
67
61
2 years ago
Preview
Full text
PEMANFAATAN Sargassum sp. DAN INOSITOL DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN DAYA TAHAN TUBUH JUVENIL IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy Lac. ) ABSTRAK Oleh Dwi Lestari Ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) merupakan salah satu ikan air tawar yang pemeliharaannya relatif mudah namun pertumbuhannya sangat lambat, tingkat mortalitasnya tinggi yang disebabkan oleh perubahan lingkungan dan penyakit. Salah satu alternatif cara untuk memacu pertumbuhan ikan gurami yaitu dengan pemberian pakan yang bernutrisi tinggi. Sargassum sp. dan inositol diketahui memiliki kandungan senyawa yang dapat memacu pertumbuhan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Sargassum sp. dan inositol pada pakan komersil terhadap pertumbuhan dan daya tahan tubuh juvenil ikan gurami. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari – April 2015 di Laboratorium Biologi Molekuler Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Keseluruhan data dianalisis menggunakan Anova dan uji Tukey’s (=5%). Hasil penelitian menunjukkan penambahan senyawa inositol dan Sargassum sp. dalam pakan komersil berpengaruh nyata terhadap pertambahan berat tubuh, panjang tubuh, tinggi tubuh, dan laju pertumbuhan spesifik juvenil ikan gurami dibandingkan dengan kontrol. Pada perlakuan penambahan pakan Sargassum sp. dan campuran (Sargassum sp. dan inositol) dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan tingkat kelulushidupan / sintasan juvenil ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) sebesar 100% terhadap bibit penyakit yang disebabkan oleh protozoa yaitu Mixobolus sp. Kata Kunci : juvenil gurami, Sargassum sp., inositol, pertumbuhan, sintasan. PEMANFAATAN Sargassum sp. DAN INOSITOL DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN DAYA TAHAN TUBUH JUVENIL IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy Lac. ) Oleh Dwi Lestari Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar SARJANA SAINS Pada Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG 2015 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Tanjung Bintang, Provinsi Lampung pada tanggal 12 Mei 1993, sebagai anak pertama dari dua saudara, dari pasangan Bapak Marimin dan Ibu Sukiyem. Penulis mulai menempuh pendidikan pertamanya pada tahun 1999 di Sekolah Dasar Negeri 3 Jatibaru Tanjung Bintang Lampung Selatan. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 1 Tanjung Bintang Lampung Selatan pada tahun 2005, dan melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 1 Tanjung Bintang Lampung Selatan pada tahun 2008. Pada tahun 2011, penulis tercatat sebagai salah satu mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tertulis. Penulis memperoleh beasiswa BBM pada tahun 2012 dan beasisiswa PPA pada tahun 2013 hingga 2015. Selama menjadi mahasiswa di Jurusan Biologi FMIPA Unila, penulis pernah menjadi asisten praktikum mata kuliah Biologi Umum dan Botani Umum jurusan Agroteknologi Pertanian, Struktur Perkembangan Tumbuhan, Struktur Perkembangan Hewan, Biologi Umum, Planktonologi, Pteridologi, Pencemaran Lingkungan dan Genetika Jurusan Biologi. Penulis juga aktif di Organisasi Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) FMIPA Unila sebagai Anggota Biro Kesekretariatan dan Pengembangan Diri 2013-2014. Pada Tahun 2014, Penulis melaksanakan Kerja Praktik di UPTD Laboratorium Pengendalian dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Provinsi Lampung dengan judul “Pengujian Escherichia coli dalam Produk Udang Beku dengan Metode SNI 01-2332.1-2006 di Laboratorium Pengendalian dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Provinsi Lampung ”. PERSEMBAHAN Sembah sujud dan rasa syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan Kasih sayang-Mu yang telah memberikannku kekuatan, kesabaran, kesehatan, rizeki dan membekaliku ilmu. Atas karuniamu dan kemudahan yang engkau berikan akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan. Sholawat serta salam terlimpah keharipan baginda Rasullah Muhammad SAW. Kupersembahkan karya ini kepada kepada orang-orang terkasih dan kusayangi: Ayahanda (Marimin) dan Ibunda (Sukiyem) Sebagai tanda hormat dan rasa terima kasih yang tiada terhingga atas segala dukungan, motivasi, cinta kasih, serta doa yang tiada hentinya. Terima kasihku juga ku persembahkan kepada bapak/ibu guru dan dosen yang telah banyak memberiku bekal ilmu bermanfaat, serta bimbingan dan arahan kepadaku. Terima kasihku persembahkan juga kepada adikku (Riska Tri Setya Wati), kakakku (Efendi), keluarga besarku dan sahabatsahabat baikku atas motivasi, kebersamaan dan doa yang teriring selalu. Almamaterku tercinta MOTO Sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan kalian berusaha, maka hendaklah kalian berusaha (HR. Tabrani) Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu bekerja keras untuk mengubahnya (Al-Qur’an 13:11) Janganlah membanggakan dan meyombongkan diri dari apa yang kita peroleh, turut dan ikutilah ilmu padi makin berisi makin tunduk dan makin bersyukur kepada yang menciptakan kita Allah SWT. SANWACANA Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur atas rahmat Allah SWT dengan segala karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan salah satu syarat dalam menempuh pendidikan strata satu atau sarjana dalam bidang sains yaitu skripsi yang berjudul “PEMANFAATAN Sargassum sp. DAN INOSITOL DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN DAYA TAHAN TUBUH JUVENIL IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy Lac.)”. Dengan terselesaikannya skripsi ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Kedua orangtua tercinta, Bapak (Marimin) dan Ibu (Sukiyem) terima kasih yang teramat dalam atas doa , kasih sayang, kesabaran, semangat, dan nasehat-nasehatnnya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. 2. Ibu Endang Linirin Widiastuti, Ph.D., selaku pembimbing I yang begitu sabar membimbing, menasehati, memberikan saran, kritik, serta kepercayaan bagi penulis. 3. Ibu Dra. Nuning Nurcahyani, M.Sc. selaku pembimbing II sarta Ketua Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini untuk setiap nasihat, saran, dan motivasi yang membangun bagi penulis. 4. Bapak Dr. G.Nugroho Susanto, M.Sc., selaku penguji skripsi terimakasih atas bimbingan, saran dan kritik serta ketersediaannya menjadi pembahas dalam penelitian ini sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. 5. Bapak Dr. Sumardi M.Si, selaku pembimbing akademik terimakasih atas bimbingan, saran dan kritik sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik. 6. Bapak Prof. Suharso Ph.D., selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Alam Universitas Lampung. 7. Bapak dan ibu Dosen Jurusan Biologi FMIPA Unila terimakasih atas ilmu, bimbingan dan bantuannya kepada penulis. 8. Adikku tersayang (Riska Tri Setyawati), kak Efendi dan keluarga besarku terima kasih yang teramat dalam atas doa , kasih sayang, kesabaran, semangat, dan nasehat-nasehatnnya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. 9. Sahabat seperjuangan penelitian (Umi Latifah, Tiara Luthfi, Dewi Okvita) terimakasih untuk kerjasama, kebersamaan, dukungan, semangat, saran, kritik, bimbingan dan doa selama menjalani penelitian ini. 10. Ibu Nunung sebagai Laboran Biologi Molekuler terimakasih untuk , kebersamaan, kerjasama, dukungan , semangat, saran, kritik, dan doa selama menjalani penelitian ini. 11. Karyawan dan staff Laboran Jurusan Biologi serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya. 12. Seluruh sahabat seperjuangan dan keluarga Biologi angkatan 2011, Agra, Agung, Iyan, Aini, Isro, Anggi, Astrid, Aysca, Christi, Dany, Debby D, Debby S,Diah, Edel, Eka, Fadil, Suci, Fenida, Cendana, Ariani, Sobran, Mardha, Maria, Melinda, Mery, Mirna, Nindia, Nori, Hani, Putri, Ori, Rangga, Reni, Ria, Rila, Riska, Robit, Sa’adah, Siti,Vista, Wayan, Wendy, Widamay dan Yuliani terimakasih atas dukungan, bantuan, saran, kritik, canda tawa, dan kebersamaannya untuk penulis. 13. Kakak tingkat 2008, 2009, 2010, adik-adik tingkat 2012, 2013, 2014, dan seluruh Wadya Ballad HIMBIO yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terimakasih kebersamaan dan pembelajaran yang sangat berarti bagi penulis. 14. Almamater Tercinta. Semoga Allah SWT selalu memberikan hidayah dan barokah kepada semua pihak yang telah membantu penulis. Akhir kata, Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan di dalam penyusunan laporan ini dan jauh dari kesempurnaan, akan tetapi besar harapan semoga hasil tulisan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Wassalamualaikum Wr. Wb. Bandar Lampung, Juli 2015 Penulis, Dwi Lestari DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN ................................................................. Halaman i ABSTRAK ............................................................................................... ii DAFTAR ISI ............................................................................................ iii DAFTAR TABEL ................................................................................... v DAFTAR GAMBAR ................................................................................ vii PENDAHULUAN ............................................................................ 1 A. B. C. D. E. Latar Belakang ............................................................................ Tujuan Penelitian ........................................................................ Manfaat Penelitian ...................................................................... Kerangka Pemikiran .................................................................... Hipotesis ..................................................................................... 1 4 4 5 6 II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 7 I. A. B. C. D. E. F. G. H. I. J. K. L. M. N. O. Klasifikasi Ikan Gurami ............................................................... Morfologi Ikan Gurami ................................................................ Strain Gurami .............................................................................. Habitat dan Penyebaran Ikan Gurami .......................................... Penyakit Pada Ikan Gurami ......................................................... Klasifikasi dan Morfologi Myxobolus sp. .................................... Habitat dan Penyebaran Myxobolus sp. ....................................... Tanda-Tanda Serangan Myxobolus sp. ........................................ Sistem Pertahanan Tubuh Ikan Gurami ....................................... Pakan Ikan Gurami ...................................................................... Klasifikasi dan Morfologi Sargassum sp. .................................... Habitat dan Penyebaran Sargasssum sp. ....................................... Kandungan dan Manfaat Sargassum sp. ...................................... Senyawa Inositol .......................................................................... Kualitas Air .................................................................................. 7 8 11 11 12 14 15 16 17 17 21 22 23 25 26 iv III. METODE PENELITIAN ................................................................ A. B. C. D. Waktu dan Tempat Penelitian ...................................................... Alat dan Bahan ............................................................................ Metode Penelitian ....................................................................... Pelaksanaan Penelitian ................................................................ 1. Persiapan Aquarium .............................................................. 2. Persiapan Ikan ....................................................................... 3. Aklimasi ................................................................................ 4. Persiapan dan Pemberian Pakan ........................................... 5. Pengambilan Sampel Air yang Mengandung Mikroorganisme Patogen .................................................................................. 6. Pengambilan Data ................................................................. 7. Pengukuran Kualitas Air ....................................................... 8. Parameter Penelitian ............................................................. 8.1. Sintasan/Survival Rate (SR)........................................... 8.2. Berat, Panjang, dan Tinggi Tubuh ................................. 8.3. Laju Pertumbuhan Spesifik/Specific Growth Rate (SGR) 8.4. Rasio Konversi Pakan .................................................... 8.5. Parameter Ikan Sakit ...................................................... E. Analisis Data ............................................................................... 29 29 29 30 30 30 31 31 31 33 33 33 34 34 34 35 35 36 38 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................ 39 A. Pertumbuhan Juvenil Ikan Gurami ............................................. A.1. Penambahan Berat Tubuh Juvenil Ikan Gurami .................. A.2. Penambahan Panjang Tubuh Juvenil Ikan Gurami .............. A.3. Penambahan Tinggi Tubuh Juvenil Ikan Gurami ................ B. Laju Pertumbuhan Spesifik/Specific Growth Rate (SGR) ........... C. Rasio Konversi Pakan .................................................................. D. Sintasan ....................................................................................... E. Perilaku Juvenil Ikan Gurami ...................................................... E.1. Perilaku Nafsu Makan Juvenil Ikan Gurami ........................ E.2. Perilaku Agresif Ketika Makan Juvenil Ikan Gurami .......... E.3. Perilaku Mengambil Udara di Permukaan .......................... F. Morfologi Juvenil Ikan Gurami ................................................... G. Kualitas Air .................................................................................. 39 39 42 44 45 48 49 52 52 53 54 55 57 V. KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 59 A. Kesimpulan .................................................................................. B. Saran ............................................................................................ 59 59 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 60 LAMPIRAN .............................................................................................. 66 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Persentase Kadar Abu, Protein, Lemak, Serat Kasar, dan Nitrogen Bebas yang Diberikan Berdasarkan Ukuran Tubuh Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) ............................ 21 Tabel 2. Rerata Penambahan Berat Tubuh Juvenil Ikan Gurami ........... 40 Tabel 3. Rerata Penambahan Panjang Tubuh Juvenil Ikan Gurami ...... 42 Tabel 4. Rerata Penambahan Tinggi Tubuh Juvenil Ikan Gurami ......... 44 Tabel 5. Rerata Laju Pertumbuhan Spesifik/Specific Growth Rate (SGR) ....................................................................................... 46 Tabel 6. Rerata Rasio Konversi Pakan .................................................. 48 Tabel 7. Sintasan Juvenil Ikan Gurami .................................................. 50 Tabel 8. Rata- rata Perilaku Nilai Nafsu Makan Juvenil Ikan Gurami .. 53 Tabel 9. Rata-rata Perilaku Nilai Agresif Ketika Makan Juvenil Ikan Gurami ..................................................................................... 54 Tabel 10. Parameter Kualitas Air ............................................................. 57 Tabel 11. Perilaku Mengambil Udara di Permukaan Air pada Juvenil Ikan Gurami .............................................................................. 66 Tabel 12. Kondisi Tubuh Juvenil Ikan Gurami........................................ 69 Tabel 13. Perilaku Nafsu Makan Pada Juvenil Ikan Gurami .................. 72 Tabel 14. Perilaku Nilai Agresif Ketika Makan Juvenil Ikan Gurami ..................................................................................... 75 Tabel 15. Berat Tubuh Juvenil Ikan Gurami............................................ 78 vi Tabel 16. Panjang Tubuh Juvenil Ikan Gurami ....................................... 78 Tabel 17. Lebar Tubuh Juvenil Ikan Gurami ........................................... 79 Tabel 18. Penambahan Berat Tubuh Juvenil Ikan Gurami ...................... 80 Tabel 19. Penambahan Panjang Tubuh Juvenil Ikan Gurami .................. 80 Tabel 20. Penambahan Lebar Tubuh Juvenil Ikan Gurami ..................... 81 Tabel 21. Laju Pertumbuhan Spesifik (SGR) Juvenil Ikan Gurami ........ 82 Tabel 22. Rasio Konversi Pakan .............................................................. 82 Tabel 23. Jumlah Pemberian Pakan Juvenil Ikan Gurami ....................... 83 Tabel 24. Berat Tubuh Juvenil Ikan Gurami per 2 ekor .......................... 84 DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Morfologi Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) ...... 10 Gambar 2. Morfologi Myxobolus sp. ................................................... 15 Gambar 3. Morfologi Sargassum sp. .................................................... 22 Gambar 4. Rumus Bangun Inositol ....................................................... 26 Gambar 5. Juvenil Ikan Gurami ........................................................... 85 Gambar 6. Sargassum sp. .................................................................... 85 Gambar 7. Inositol ............................................................................... 85 Gambar 8. Pembuatan Pakan Buatan ................................................... 85 Gambar 9. Akuarium Penelitian .......................................................... 85 Gambar 10. Pengukuran Panjang ........................................................... 85 Gambar 11. Pengukuran Tinggi ............................................................. 85 Gambar 12. Pengukuran Berat ............................................................... 85 Gambar 13. Pengukuran Suhu ............................................................... 86 Gambar 14. Pengukuran pH .................................................................... 86 Gambar 15. Ikan Sakit ............................................................................ 86 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan yang 70% alamnya merupakan perairan yang terdiri dari rawa, sungai, danau, telaga, sawah, tambak, dan laut. Kekayaan alam ini sangat potensial untuk dimanfaatkan bagi pengembangan usaha perikanan. Segala jenis hasil perikanan merupakan sumber bahan makanan yang mengandung protein tinggi. Protein berguna untuk memenuhi kebutuhan gizi manusia agar tumbuh sehat. Selain mengandung protein yang tinggi ikan juga mengandung vitamin dan mineral untuk pertahanan tubuh. Ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) adalah salah satu ikan air tawar yang pemeliharaannya relatif mudah sehingga banyak dibudidayakan di Indonesia. Ikan gurami diketahui mengandung gizi yang baik, daging yang tebal, gurih, rasa daging yang lezat, dan tekstur daging yang tidak lembek. Selain itu ikan gurami memiliki nilai jual yang tinggi dan kebutuhan untuk konsumsi yang setiap harinya semakin menunjukkan peningkatan (Akademi Perikanan Yogyakarta, 2011). Salah satu penyebab kurangnya ketersediaan ikan gurami di pasaran adalah pertumbuhan ikan yang relatif lambat jika dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya sehingga memerlukan waktu yang lebih lama pada proses 2 budidaya dan pembenihan. Di perairan alam, gurami hidup di sungai, rawa air tawar yang berada 50–600 meter di atas permukaan laut. Tempat ideal untuk budidaya gurami berada pada ketinggian 50–400 meter di atas permukaan laut dengan suhu optimal bagi pertumbuhan gurami adalah 24– 28°C (Murtidjo, 2001). Menurut Effendi, Bugri, dan Widanarni (2006), pembudidaya ikan membutuhkan waktu delapan bulan untuk mencapai bobot 500 gram per ikannya. Menurut Akademi Perikanan Yogyakarta (2011), tingginya mortalitas larva yang disebabkan oleh penyakit juga merupakan faktor penyebab penyediaan benih yang belum sesuai dengan kebutuhan pasar. Penyakit merupakan salah satu faktor kendala dalam kegiatan budidaya yang disebabkan oleh ketidakseimbangan interaksi antara faktor lingkungan, inang, dan agen penyakit. Faktor lingkungan dapat berperan sebagai pemicu terjadinya stres bagi inang akibat perubahan fisik, kimia, dan biologis lingkungan tersebut, sehingga daya tahan tubuh menurun dan menjadi rentan terhadap serangan penyakit (Irianto, 2007). Menurut Hastuti (2007), pada umumnya budidaya ikan dengan padatan jumlah tinggi melebihi kondisi normal di lingkungan bebas akan meningkatkan stres yang memicu munculnya penyakit yang disebabkan oleh virus maupun bakteri. Secara umum penyakit ikan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu penyakit infeksius dan non infeksius. Penyakit infeksius terdiri dari penyakit yang disebabkan oleh parasit, bakteri, jamur, dan virus, sedangkan penyakit noninfeksius disebabkan oleh lingkungan, makanan, dan genetis. Salah satu 3 penyakit yang berbahaya bagi kegiatan budidaya adalah jamur (Subandi, 2010). Gejala adanya jamur yang dapat dilihat secara klinis adalah terdapat benang-benang halus mirip dengan kapas yang menempel pada telur atau luka pada bagian eksternal ikan, serta perubahan warna sirip dan tubuh ikan menjadi merah. Penyebaran jamur tersebut sangat cepat menular ke ikan lain yang berada dalam satu kolam. Hal ini berpotensi menimbulkan kerugian yang cukup besar bagi pembudidaya ikan (Jefri, 2011). Haryati (2005), menyatakan bahwa pakan merupakan faktor pembatas produksi dalam suatu kegiatan budidaya terutama budidaya ikan secara intensif, setelah faktor kunci yang lain terpenuhi. Pada budidaya intensif, pakan merupakan penentu pertumbuhan, apabila pakan yang diberikan tidak memenuhi syarat maka laju pertumbuhan akan menurun, berkurangnya bobot badan dan terjadinya malnutrisi. Palinggi dan Usman (2005) menyatakan bahwa ikan dapat tumbuh dengan baik bila diberi pakan yang berkualitas yaitu pakan yang mengandung semua nutrien yang dibutuhkan oleh ikan untuk tumbuh. Pakan yang berkualitas diperoleh dari hasil ramuan yang baik dari bahan-bahan berkualitas. Tingkat mortalitas ikan akan tinggi, apabila sistem imun ikan kurang memadai. Peningkatan sistem imun dapat dilakukan dengan pemberian pakan bernutrisi tinggi, salah satunya adalah rumput laut Sargassum sp. dan inositol. Rumput laut berpotensi sebagai produsen metabolit bioaktif yang beragam dengan aktivitas yang sangat luas sebagai antibakteri, antivirus, antijamur, dan sitotastik. Kandungan nutrisi yang cukup juga dapat 4 meningkatkan laju pertumbuhan ikan gurami. Menurut Winarno (1990), rumput laut umumnya mengandung air antara 12,95–27,50 %, protein 1,60–10,00 %, karbohidrat32,25–63,20 %, lemak 3,50–11,00 %, serat kasar 3,00–11,40 % dan abu 11,50–23,70 %. Sargassum sp. merupakan alga coklat (Phaeophyceae) yang dikenal mengandung bahan kimia utama sebagai sumber alginat, protein, vitamin C, tannin, iodin, dan phenol. Kandungan alginat dalam alga coklat ini mampu meningkatkan sistem ketahanan tubuh pada ikan. Inositol merupakan nutrisi alami yang tersusun atas isomer gula alkohol dengan rantai C6 dan termasuk kelompok vitamin B-kompleks serta dapat membantu dalam peningkatan imunitas tubuh. Inositol merupakan bahan alami yang dapat ditemukan pada jaringan tumbuhan dan hewan. Inositol juga dapat disintesis dalam tubuh manusia. Makanan yang dapat menjadi sumber inositol adalah biji-bijian, kacang-kacangan, dan sereal. B. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran penambahan rumput laut Sargassum sp. dan inositol pada pakan komersil terhadap peningkatan pertumbuhan dan daya tahan tubuh juvenil ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.). C. Manfaat Penelitian Diharapkan penelitian ini dapat memberi informasi ilmiah kepada masyarakat khususnya pembudidaya ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) bahwa penambahan rumput laut Sargassum sp. dan senyawa inositol 5 pada pakan komersil dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan melindungi ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) dari mikroorganisme yang disebabkan oleh protozoa yaitu Myxobolus sp. D. Kerangka Pemikiran Ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) memiliki pertumbuhan yang sangat lambat dan mudah terserang penyakit. Selain itu, tingkat mortalitas ikan akan tinggi apabila sistem imun ikan kurang memadai. Pakan merupakan salah satu penentu pertumbuhan serta sistem imun, apabila pakan yang diberikan tidak memenuhi syarat maka laju pertumbuhan dan bobotnya akan menurun. Peningkatan sistem imun dan pertumbuhan dapat dilakukan dengan pemberian pakan bernutrisi tinggi dan mengandung bahan yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh ikan. Salah satu bahan yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh ikan adalah rumput laut Sargassum sp. Rumput laut memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Selain untuk meningkatkan laju pertumbuhan ikan, rumput laut ini juga diharapkan dapat meningkatkan daya tahan tubuh ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.). Inositol merupakan karbohidrat yang mempunyai peran penting sebagai dasar struktural untuk pembawa pesan sekunder ke dalam sel eukariotik. Inositol adalah nutrisi alami yang tersusun atas isomer gula alkohol dengan rantai C6 yang juga diharapkan dapat membantu dalam peningkatan daya imunitas tubuh dan menjaga membran sel ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.). 6 E. Hipotesis Pemberian rumput laut Sargassum sp. dan inositol pada pakan komersil mampu memacu pertumbuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh juvenil ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.). II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) Gurami atau biasa dikenal dengan sebutan ikan gurami merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang telah lama dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Sejak tahun 1802, ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) sudah ditulis orang sebagai ikan hias dan ikan konsumsi. Ikan gurami dipublikasikan secara besar-besaran pada tahun 1985. Tempat asal ikan gurami yang asli belum diketahui, namun menurut The Complete Aquarist’s Guide to Freshwateryang diedit oleh John Gilbert, disebutkan bahwa ikan gurami berasal dari Kepulauan Sunda Besar. Ikan gurami tersebar ke seluruh Kepulauan Indonesia seperti Sulawesi Utara, Madura, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara serta negara tetangga seperti Filipina (Sitanggang dan Sarwono, 2007). Berdasarkan Sitanggang dan Sarwono (2006), ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Pisces Subkelas : Actinopterygii 8 Super Ordo : Perciformes Ordo : Labyrinthici Sub-Ordo : Anabantoidea Famili : Anabantidae Genus : Osphronemus Spesies : Osphronemus gouramy Lac. B. Morfologi Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) Berdasarkan Sitanggang dan Sarwono (2007), gurami mempunyai bentuk badan yang khas dengan bentuk tubuhnya agak panjang, pipih, dan lebar. Badan tertutupi oleh sisik yang kuat dengan tepi yang kasar. Ikan ini memiliki ukuran mulut yang kecil yang letaknya miring tidak tepat di bawah ujung moncong. Bibir bawah terlihat sedikit lebih maju dibandingkan dengan bibir atas dan dapat disembulkan. Menurut Respati dan Santoso (1993), warna badan umumnya biru kehitam-hitaman, bagian perut berwarna putih, bagian punggung berwarna kecoklatan. Warna tersebut akan berubah menjelang dewasa, yakni pada bagian punggung berwarna kecoklatan dan pada bagian perut berwarna keperakan atau kekuningan. Pada ikan gurame muda terdapat garis tegak berwarna hitam berjumlah ± 7–8 buah dan akan tidak terlihat bila sudah menjadi ikan dewasa. Menurut Nijiyati (1992), ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) memiliki lima jenis sirip yaitu sirip dada, punggung, perut, anal, dan ekor. Sirip punggung (dorsal) bentuknya memanjang dan terletak di bagian permukaan tubuh, berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventral). Terdapat jari-jari keras di 9 bagian belakang sirip punggung dan sirip anal dengan bagian akhir berbentuk gerigi. Sirip ekor berbentuk cagak dan berukuran cukup besar dengan tipe sisik berbentuk lingkaran (cycloid) yang terletak beraturan. Gurat sisi (linea lateralis) ikan gurame berada di pertengahan badan dengan posisi melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor. Morfologi ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) dapat dilihat pada Gambar 1. Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) memiliki alat pernafasan tambahan berupa labirin. Labirin merupakan alat pernafasan tambahan pada ikan yang berupa lipatan-lipatan epithelium pernafasan yang berfungsi untuk mengambil oksigen secara langsung dari udara. Labirin mulai terbentuk pada umur 18–24 hari sehingga gurami dapat bertahan hidup pada perairan yang kurang oksigen karena mampu mengambil oksigen dari udara bebas. Labirin memiliki struktur pembuluh darah kapiler yang memungkinkan ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) mengambil zat asam dari udara yang berada di ruangan labirin. Labirin merupakan turunan dari lembar insang pertama (Susanto, 2002). Akan tetapi, masih banyak ditemukan kendala dalam usaha budidaya ikan gurami, salah satu kendala adalah pertumbuhannya yang relatif lambat dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya. Untuk mencapai ukuran konsumsi dengan berat badan minimal 500 gram dari benih yang berukuran 1 g memerlukan waktu pemeliharaan lebih dari satu tahun (Sarwono dan Sitanggang, 2007). 10 a g b f c d e Gambar 1. Morfologi Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) (Sitanggang dan Sarwono, 2007) Keterangan : a. mulut b. operkulum c. sirip dada d. sirip perut e. sirip anal f. sirip ekor g. sirip punggung Berdasarkan Jangkaru (1998), pada dasar sirip dada ikan gurami betina terdapat tanda sebuah lingkaran hitam, sedangkan pada ikan gurami jantan tidak ada. Induk betina ditandai dengan bentuk kepala atas datar, ada bintik hitam pada kelopak sirip dada dan rahang bawah tipis, sedangkan pada induk jantan memiliki benjolan di atas kepala, tidak ada bintik hitam di kelopak sirip dada dan rahang bawahnya tebal. Menurut Risky, Julius dan Prasetya (2011), ikan gurami jantan memiliki tutup insang berwarna kekuningan, dasar sirip dada berwarna lebih putih, warna badan kemerahan, dan hitam terang, serta gerakannya lebih lincah. Pada ikan gurami betina, tutup insang berwarna putih kecoklatan, dengan dasar sirip dada berwarna kehitaman, warna badan yang relatif lebih terang, dan gerakannya cenderung lamban. 11 C. Strain Gurami Menurut Sitanggang dan Sarwono (2007), berdasarkan daya produksi telur, kecepatan tumbuh, dan bobot maksimal gurami dewasa, pembudidaya ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) di Bogor membedakan ada 6 macam varietas atau strain gurami, diantaranya gurami angsa, jepun, blausafir, paris, bastar, dan porselen. Namun berdasarkan warna, terdapat ikan gurami hitam, belang dan albino (putih). Menurut Susanto (2002), walaupun sekian banyak strain gurami, namun yang umum dan banyak dikenal oleh masyarakat luas hanya berdasarkan bentuknya saja, yakni ada dua macam, gurami jepang (jepun) dan gurami angsa (soang). D. Habitat dan Penyebaran Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) Habitat asli gurami (Osphronemus gouramy Lac.) adalah perairan tawar yang tenang dan tergenang seperti rawa dan sungai dengan kadar oksigen yang cukup dan mutu air yang baik. Apabila dibudidayakan di daerah dataran rendah dengan ketinggian 50–600 m dari permukaan laut ikan gurami akan berkembang dengan baik. Ikan gurami juga akan menunjukkan pertumbuhan optimal apabila dikembangkan di dataran dengan ketinggian 50-400 m dari permukaan laut dengan suhu 24-28 oC (Agri, 2011). Di Indonesia ikan gurami dijuluki sebagai Giant Gouramy karena ukurannya yang besar. Mulanya ikan gurami banyak ditemukan di pulau Sumatera , Jawa, dan Kalimantan. Namun karena banyak digemari oleh masyarakat karena rasanya yang enak dan gurih, ikan gurami sudah banyak diperkenalkan 12 ke negara lain sejak abad 18, seperti Madagaskar, Sychales, Australia, Srilanka, Mauritius, Suriname, Haiti, Martinique, dan Guyane (Robert, 1992). E. Penyakit pada Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) Berdasarkan Sitanggang dan Sarwono (2007), penyakit pada ikan dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni penyakit parasit dan non parasit. Penyebab penyakit parasit diantaranya adalah jamur, virus, dan berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Penyakit non parasit disebabkan oleh kerusakan akibat penangkapan, kelainan tubuh karena keturunan, dan pencemaran air, seperti adanya gas beracun berupa amoniak atau belerang. Bila ada gas beracun di dalam air, biasanya ikan lebih suka berenang pada permukaan air untuk mencari udara segar. Berdasarkan letak penyerangannya, Sitanggang dan Sarwono (2007) membagi parasit menjadi dua kelompok yaitu ektoparasit yang menempel pada bagian luar tubuh ikan dan endoparasit yang berada dalam tubuh ikan. Ciri-ciri ikan yang terkena penyakit parasiter menurut Rusito (2013) adalah sebagai berikut : a. Penyakit pada kulit Tubuh ikan biasanya berlendir dan warnanya pucat. Pada bagian dada, perut, dan pangkal sirip berwarna merah. b. Penyakit pada insang Biasanya tutup insang mengembang, lembaran insang pucat, dan tampak semburat merah dan kelabu. c. Penyakit pada organ dalam 13 Ikan yang terserang parasit pada organ dalam biasanya di bagian perut menjadi bengkak, sisiknya berdiri. Terkadang perut menjadi kurus, ikan lemah, dan mudah ditangkap. Penyakit yang sering menyerang ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) adalah cacar ikan. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pseudomonas sp., Aeromonas sp., dan Bacillus (Rahman, 2008). Selain itu penyakit White Spot juga sering menyerang ikan gurami. Penyakit ini disebabkan oleh parasit Ichthyophthyrius sp. yang dicirikan dengan timbulnya bercak-bercak putih pada kulit ikan, mulut ikan kembang kempis seperti kekurangan oksigen. Macam-macam penyakit ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) menurut Daryanto (2012) antara lain : a. Kutu ikan, disebabkan oleh Argulus indicus yang biasanya disebabkan karena kualitas air kolam yang buruk. Argulus indicus menyerang ikan gurami dengan menempel dan menggigit tubuh ikan yang menyebabkan ikan mengalami pendarahan. b. Cacing ikan, disebabkan Dactylogyrus sp. dan Gyrodactylus sp. yang muncul akibat kualitas air yang buruk, kepadatan ikan tinggi di satu kolam. Jenis Dactylogyrus sp. menyerang pada insang ikan gurami ditandai dengan ikan sering muncul kepermukaan air dan nafsu makan ikan menurun. Jenis Gyrodactylus sp. menyerang pada bagian sirip. c. Mata Belo, ditandai dengan nafsu makan berkurang, pergerakan ikan kurang aktif, dan ikan sering muncul ke permukaan air. Apabila tidak segera dilakukan perawatan ikan akan menjadi buta dan mati. 14 d. Jamur, biasanya jenis Saprolegnia yang sering menyerang ikan gurami. Dicirikan dengan adanya benang-benang seperti kapas berwarna krem pada tubuh yang terinfeksi. e. Carp Erytrodermatits, disebabkan oleh bakteri Aeromonas sp. dan Pseudomonas sp. ditandai dengan adanya luka yang mengeluarkan darah di tubuh ikan gurami, lendir mencair, sisik mengelupas, timbul borok di tubuh ikan gurami yang terinfeksi, dan perut membesar. F. Klasifikasi dan Morfologi Myxobolus sp. Berdasarkan Kent, Andree, Bartholomew, El-Matbouli, Desser, Devlin, Hedrick, Hoffmann, Khattra, Hallett, Lester, Siddall, dan Xiao (2001), Myxobolus sp. diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Protozoa Filum : Myxozoa Kelas : Myxosporea Ordo : Bivalvulida Famili : Myxobolidae Genus : Myxobolus Spesies : Myxobolus sp. Myxobolus sp. merupakan ektoparasit yang disebabkan oleh protozoa. Myxobolus sp. memiliki bentuk seperti buah pir atau biji semangka yang terbungkus dalam nodul yang berisi ribuan spora. Spora ini berbentuk oval atau bulat dengan bagian anterior meruncing (berukuran 10–20 µm), memiliki dua buah kapsul polar yang sama tampak jelas di bagian anterior spora yaitu 15 dengan panjang 5–8 mm dan lebar 1,6–2,7 mm (Anshary, 2008). Morfologi Myxobolus sp. dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2. Morfologi Myxobolus sp. ( Anonim, 2012) G. Habitat dan Penyebaran Myxobolus sp. Organ yang menjadi target parasit Myxobolus sp. adalah intestinal, ginjal, gonad, hati, insang, kulit, dan jaringan tulang rawan. Parasit ini berbentuk kista (mengandung spora-spora) dan akan pecah apabila matang (Anshary, 2008). Djajadiredja, Panjaitan, Rukyani, Sarono, Satyani, dan Supriyadi (1982) menyatakan bahwa Myxobolus sp. muncul di Indonesia sejak tahun 1952 di Jawa Tengah dan membunuh ribuan benih ikan koi. Farmer (1980) menyatakan bahwa infeksi terjadi pada saat spora bebas di perairan termakan oleh inang dan masuk ke dalam usus. Isi spora berubah menjadi dua flagel yang mampu menembus dinding sel usus ikan. Beberapa spora yang sudah masuk ke dalam tubuh ikan, sebagian akan masuk ke pembuluh darah dan menyebar ke seluruh anggota tubuh. Kemudian spora 16 yang larut akan keluar bergerak seperti pergerakan amoeba yang kemudian spora tersebut masuk ke dalam peredaran darah seluruh tubuh dan akhirnya membentuk bintil baru. H. Tanda-tanda Serangan Myxobolus sp. Tanda-tanda klinis pada ikan yang terserang oleh parasit ini adalah mempunyai ekor yang khas dan mudah dikenali, yaitu ekor ikan menjadi berwarna gelap sehingga disebut “black tail”, terjadi deformasi tulang sehingga ikan terlihat bengkok-bengkok pada tubuh bagian kepala atau rahangnya, dan ikan memperlihatkan abnormalitas tingkah laku yaitu berenang berputar-putar seperti sedang mengejar ekornya sendiri. Gejala abnormalitas tersebut dinamakan whirling (Anshary, 2008). Schaperclaus (1992) mengatakan bahwa Myxobolus sp. kebanyakan menyerang insang ikan mas dan hidup di antara baris-baris lembaran insang. Nodul yang menempel pada organ insang yang merupakan alat utama pernafasan akan mengganggu suplai oksigen ke dalam darah sehingga menimbulkan kematian. Fungsi pernafasan pada insang kemungkinan akan melemah akibatnya sebagian besar permukaan lembaran insang yang digunakan untuk pertukaran gas ditutupi oleh kista. Kondisi ikan akan semakin parah ketika kista pecah sehingga menyebabkan fungsi pernafasan terganggu. Serangan yang berat pada insang menyebabkan berkurangnya berat ikan, khususnya pada benih, gerakan ikan menjadi lambat, warna tubuh menjadi gelap, dan lemahnya sistem saraf (Dana dan Angka, 1990). Hal ini juga dikatakan oleh Rukyani (1990), kerusakan insang akibat padatnya 17 infestasi parasit akan berimbas pada masalah respirasi, ikan akan berenang lebih ke arah permukaan dengan meregangkan operkulumnya. I. Sistem Pertahanan Tubuh Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) Secara fisiologis, ikan memiliki sistem kekebalan untuk mengantisipasi infeksi mikroorganisme. Pertama pertahanan tubuh yang bersifat non spesifik dan peradangan. Jaringan yang terlibat diantaranya kulit, mukus, sisik, dan lendir. Imunoglobulin adalah antibodi yang dapat menghancurkan patogen yang menyerang tubuh. Pada mukus ikan terdapat IgM yang mampu menghambat koloniasi mikroorganisme pada kulit, insang, dan mukosa. Sisik dan kulit berperan mengendalikan osmolaritas tubuh dan melindungi ikan dari luka fisik (Anggie, 2008). Apabila terjadi luka atau invasi patogen ke dalam tubuh ikan, maka organisme yang bersangkutan akan mengalami inflamasi. Inflamasi akut akan menyebabkan bengkak, kemerah-merahan, dan rasa sakit (Irianto, 2005). Pertahanan yang kedua adalah pertahanan yang bersifat spesifik atau respon imun spesifik. Organ-organ yang berperan adalah ginjal (organ hematopitik dan pembentuk sel limfoid) (Rijkers, 1980), limpa (berperan dalam proliferasi dan diferensiasi limfosit B menjadi sel plasma) dan thymus yang berperan dalam pembentukan antibodi (Anderson, 1997). J. Pakan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) Dalam kegiatan budidaya ikan, pakan merupakan salah satu komponen yang memegang peranan yang sangat penting. Produksi pakan yang melambung tinggi disebabkan karena harga pakan yang mahal terutama komponen utama 18 dalam pakan ikan masih diimpor. Di Indonesia potensi bahan baku pakan cukup memadai, namun daerah penyebarannya terpencar-pencar dan pengelolaannya tidak efisien, sehingga menyebabkan harga jual menjadi tinggi dengan kualitas yang rendah. Pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan budidaya serta tingkat efesiensi pakan yang cukup rendah juga disebabkan seringnya penggunaan pakan yang memiliki kualitas rendah dan penerapan manajemen budidaya yang tidak mengikuti kaidah yang standar (Palinggi dan Usman, 2005). Faktor pembatas produksi dalam suatu kegiatan budidaya terutama budidaya ikan secara intensif, setelah faktor kunci yang lain terpenuhi adalah pakan. Pakan merupakan penentu pertumbuhan, apabila pakan yang diberikan tidak memenuhi syarat maka dapat menyebabkan malnutrisi, laju pertumbuhan akan menurun, dan berkurangnya bobot badan ikan (Haryati, 2005). Selanjutnya Palinggi dan Usman (2005), menyatakan bahwa ikan membutuhkan pakan mula-mula untuk kelangsungan hidupnya dan selebihnya untuk pertumbuhan. Pakan yang berkualitas akan mempengaruhi pertumbuhan ikan menjadi lebih baik. Pakan yang berkualitas yaitu pakan yang mengandung semua nutrien yang dibutuhkan oleh ikan untuk bertumbuh. Pakan yang berkualitas tersebut dapat diperoleh dari hasil ramuan yang baik dari bahan-bahan berkualitas. Berdasarkan Anonim (2013), pakan ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) harus mengandung nutrisi utama yang dibutuhkan ikan gurami tersebut yaitu protein. Akan tetapi karbohidrat, vitamin, lemak, dan mineral juga 19 dibutuhkan ikan gurami untuk pertumbuhan. Pakan ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) dapat berupa plankton, serangga dan tumbuhan yang berdaun lunak. Banyaknya nutrisi yang dibutuhkan ikan gurami tergantung dengan ukuran dan usia ikan yang dipelihara. Pakan ikan gurami berdasarkan ukuran diuraikan sebagai berikut. 1. Pakan larva gurami hingga mencapai ukuran kuku Larva gurami yang baru berumur 10 hari tidak perlu diberi pakan karena pakannya sudah tersedia pada kuning telur dalam tubuhnya. Setelah 10 hari larva sudah mulai diberi pakan berupa fitoplankton seperti Rotifera, Infusoria, Chlorella, dan zooplankton seperti Daphnia, Cladochera, Artemia sampai berumur 40 hari. Pada usia ini larva mencapai ukuran kuku (1-2 cm). 2. Pakan gurami ukuran kuku hingga mencapai ukuran silet Pakan ikan gurami yang berukuran kuku sampai jempol dapat berupa cacing sutra, pelet dengan kandungan protein 38-40 %. Pakan gurami yang berumuran 100 hari, ukuran silet diberi pakan butiran pelet ukuran 1 mm dengan kandungan protein 32-40 %. 3. Pakan gurami ukuran silet hingga mencapai ukuran bungkus rokok Pakan gurami ukuran silet berupa pelet (1-2 mm) dengan kandungan protein 32-40 %, dan talas muda, daun keladi muda, daun pepaya muda, tanaman air sebagai pakan tambahan. Ikan gurami dapat mencapai ukuran bungkus rokok (3-4 jari) setelah usia 6 bulan atau sekitar 190 hari. 4. Pakan gurami ukuran bungkus rokok hingga mencapai ukuran konsumsi 20 Pakan yang diberikan berupa pelet (2 mm) dengan kadar protein 27 %, pakan alami berupa Azolla, daun talas, singkong, dan daun pepaya. 5. Pakan induk gurami Pakan utama berupa daun-daunan, seperti daun talas. Kecambah atau rebusan jagung pipil juga dapat diberikan 1-2 kali seminggu. Kebutuhan pakan berupa pelet per hari adalah 3% dari berat ikan namun jika pakan berupa daun-daunan kebutuhan pakan perhari sebanyak 5-10% dari berat ikan. Untuk penggunaan pakan secara kombinasi diberikan pelet sebanyak 1,5% per hari dari berat ikan dan hijauan sebanyak 5% per hari dari berat ikan. Pemberian pakan secara teratur dalam jumlah yang tepat dapat menghasilkan pertumbuhan ikan gurami yang optimal. Konversi pakan untuk pemeliharaan dalam kolam adalah 1,5-2%, artinya untuk menghasilkan 1 kg daging ikan memerlukan pakan sebanyak 1,5 kg sampai dengan 2 kg. Untuk memberikan pakan yang tepat sesuai kebutuhan dilakukan sampling berat ikan (Risky, Julius, Prasetyo, 2011). Persentase kadar abu, protein, lemak, serat kasar, dan nitrogen bebas yang diberikan berdasarkan ukuran tubuh ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) dapat dilihat pada Tabel 1. Syarat mutu pakan ikan gurami yang baik, mencakup 12% kadar air untuk pertumbuhan 3–5 cm. Kadar abu yang diberikan pada setiap ikan gurami juga memiliki persentase yang berbeda-beda. 21 Tabel 1. Persentase kadar abu, protein, lemak, serat kasar, dan nitrogen bebas yang diberikan berdasarkan ukuran tubuh ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) Bahan Kadar abu Kadar protein Kadar lemak Kadar serat kasar Nitrogen bebas Ukuran tubuh 3 – 5 cm > 15 cm 3 – 5 cm 5 – 15 cm > 15 cm 3 – 5 cm 5 – 15 cm > 15 cm 3 – 5 cm 5 – 15 cm > 15 cm 3 - > 15 cm Persentase 12 % 13 % 38 % 32 % 28 % 7% 6% 5% 5% 6% 8% 0,20 % (Badan Standarisasi Nasional, 2009) K. Klasifikasi dan Morfologi Sargassum sp. Berdasarkan Anggadiredja, Achmad, Heri, dan Sri (2006), rumput laut Sargassum sp. diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisi : Thallophyta Kelas : Phaeophyceae Ordo : Fucales Famili : Sargassaceae Genus : Sargassum Spesies : Sargassum sp. Rumput laut Sargassum sp. memiliki tubuh berupa thallus atau lembaran menyerupai semak yang berbentuk simetris bilateral atau radial. Pada untaian cabang thalli terdapat kantong udara (bladder). Umumnya tanaman ini 22 mempunyai pigmen warna coklat (fukosantin) dan dapat menghasilkan alginat, laminarin, selulosa, fikoidin, dan manitol. Panjang Sargassum sp. dapat mencapai 1-3 meter. Morfologi Sargassum sp. dapat dilihat pada Gambar 3. Di perairan Indonesia diperkirakan terdapat lebih dari 15 jenis alga Sargassum dan yang telah dikenal mencapai 12 jenis, sedangkan di perairan Indo-Pasifik tercatat 58 jenis ( Bosse, 1928). Gambar 3. Morfologi Sargassum sp. (Anonim C, 2014) L. Habitat dan Penyebaran Sargasssum sp. Habitat dan sebaran Sargasssum sp. di Indonesia pada umumnya tumbuh di perairan yang terlindung maupun berombak besar pada habitat batu. Pengaruh alam yang banyak menentukan sebarannya adalah jenis substrat, cahaya matahari, kadar garam, dan lain-lain. Substrat dasar tempat melekatnya adalah berupa batu karang, batu, lumpur, pasir, kulit kerang, dan kayu. Penyebaran spesies ini banyak terdapat di perairan Indonesia yaitu 23 Sumatera, Jawa, Kepulauan Seribu, Sulawesi, dan Aru (Indriani dan Sumiarsih, 2001) M. Kandungan dan Manfaat Sargassum sp. Kandungan nutrisi thalus Sargassum sp. berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Handayani, Sutarno, dan Ahmad (2004) adalah sebagai berikut. 1. Kadar protein sebesar 5,19% (b/b) dengan komposisi asam amino (dalam μmol asam amino /g sampel segar) yang terdiri dari asam glutamat (13,77), asam aspartat (12,92), glisin(12,05), leusin (10,33), alanin (8,38), valin(7,86), serin (7,66), isoleusin (6,90), treonin (6,34), fenilalanin (4,95), prolin (4,92), lisin (4,52), arginin (4,28), tirosin (3,66), sistein (3,09), histidin (1,30), dan hidroksilisin (0,83). 2. Kadar abu (mineral) sebesar 36,93% (b/b), dengan kadar unsur Ca (1540,66 mg/100 g), P ( 474,03 mg/100 g), dan Fe (132,65 mg/100 g). 3. Kadar vitamin A sebesar 489,55 g RE/100 g dan vitamin C sebesar 49,01 mg/100 g. 4. Kadar lemak sebesar 1,63% (b/b), dengan komposisi asam lemak yang terdiri dari asam laurat (12:0) :1,45%, asam miristat (14:0) : 3,53%, asam palmitat (16:0) : 29,49%, asam palmitoleat (16:1) : 4,10%, asam oleat (18:1) : 13,78%, asam linoleat (18:2) : 33,58% dan asam linolenat (18:3) : 5,94%. 5. Kadar alginat sebesar 37,91% (b/b). 24 Rumput laut jenis Sargassum sp. memiliki berbagai manfaat (Izzati, 2007) diantaranya sebagai berikut: 1. Sebagai sumber penghasil alginat yang digunakan sebagai bahan pembuat cangkang kapsul, emulsifier, dan stabilizer. 2. Berguna untuk kosmetik, kandungan koloid alginatnya di gunakan sebagai bahan pembuat sabun, shampo, dan cat rambut. 3. Sebagai bahan baku untuk industri antara lain industri makanan, minuman, farmasi maupun industri lainnya seperti cat tekstil, film, makanan ternak, keramik, kertas, dan fotografi. 4. Dalam perikanan budidaya, keberadaan Sargassum sp. membantu meningkatkan produksi udang windu, sehingga rumput laut jenis Sargassum sp. ini digunakan sebagai model budidaya ganda dengan udang windu. Adanya rumput laut jenis Sargassum sp. di sekitar tambak udang windu dapat mengurangi jumlah bakteri patogen sehingga mampu menurunkan kemungkinan berkembangnya penyakit yang menyerang udang windu. 5. Sebagai obat gondok, anti bakteri, tumor, dan kanker. Potensi rumput laut di bidang pengendalian penyakit masih belum banyak di eksplorasi dan dieksploitasi. Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa rumput laut memiliki prospek yang masih terbuka untuk pengembangannya dalam bidang pengendalian penyakit. Telah diketahui bahwa ekstrak rumput laut mempunyai khasiat sebagai anti tumor, meningkatkan aktivitas kemotaksis macropage, menstimulasi aktivitas sekresi 25 radikal oksigen dan fagositosis pada peritonial dan splenicmurine macrophage (Castro, Zarrab, dan Lamas, 2004). Sargassum sp. memiliki kandungan Mg, Na, Fe, tanin, iodin, dan fenol yang berpotensi sebagai bahan antimikroba terhadap beberapa jenis bakteri patogen yang dapat menyebabkan diare (Sastry dan Rao, 1994). N. Senyawa Inositol Menurut Michael dan Koshio (2008), inositol merupakan nutrisi yang penting untuk sebagian besar hewan air. Di dalam tubuh, inositol berupa myoinositol. Inositol tersusun atas isomer gula alkohol d

Dokumen baru

Aktifitas terbaru

Download (61 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH PENAMBAHAN PROBIOTIK EM-4 (Effective Mikroorganisme-4) DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN FCR DAN SINTASAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy)
4
15
1
PENGARUH PENAMBAHAN HORMON THYROXINE DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN BENIH IKAN GURAMI (Osphronemus Gouramy)
1
7
2
SUBSTITUSI BUNGKIL KEDELAI DENGAN AMPAS KECAP DALAM RANSUM PAKAN TERHADAP RETENSI PROTEIN DAN ENERGI PADA IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy)
0
4
1
PEMANFAATAN AMPAS KECAP SEBAGAI PENGGANTI BUNGKIL DALAM RANSUM TERHADAP DAYA CERNA PROTEIN DAN ENERGI PADA IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy)
0
4
1
OPTIMALISASI DOSIS HORMON METILTESTOSTERON DAN LAMA PERENDAMAN BENIH IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy Lac.) TERHADAP KEBERHASILAN PEMBENTUKAN KELAMIN JANTAN
0
13
1
PEMANFAATAN AMPAS KECAP SEBAGAI PENGGANTI BUNGKIL KEDELAI DALAM RANSUM PAKAN TERHADAP KELULUSHIDUPAN (Survival Rate) DAN PERTUMBUHAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy)
0
16
1
PENGAUH PEMBERIAN KOMBINASI PAKAN ALAMI DAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN BENIH GURAMI (Osphronemus Gouramy) UMUR 10 HARI
0
6
12
PEMBERIAN SENYAWA TAURIN PADA PAKAN ALAMI DAN PAKAN KOMERSIL TERHADAP TINGKAT PERTUMBUHAN JUVENIl IKAN GURAMI (Osprhonemus gouramy)
0
7
51
PENAMBAHAN SUPLEMEN INOSITOL PADA PAKAN KOMERSIAL TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) DALAM SKALA LABORATORIUM
0
10
47
PENAMBAHAN SENYAWA TAURIN PADA PAKAN BUATAN TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN DAN DAYA TAHAN TUBUH JUVENIL IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy)
0
3
44
APLIKASI BAKTERI NITRIFIKASI DALAM BIOFILTER UNTUK PENGURANGAN AMONIAK DAN PENINGKATAN PERFORMA PERTUMBUHAN BENIH IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy)
4
21
52
PEMANFAATAN Sargassum sp. DAN INOSITOL DALAM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN DAYA TAHAN TUBUH JUVENIL IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy Lac. )
6
67
61
PERAN PAKAN ALAMI Daphnia Sp. YANG DIBERI TAURIN TERHADAP PERTUMBUHAN LARVA IKAN GURAME (Osphronemus gouramy Lac.)
1
9
40
PEMBERIAN SENYAWA TAURIN, INOSITOL, dan Gracillaria sp. PADA PAKAN BUATAN TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN JUVENIL IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
0
31
43
KETAHANAN IKAN GURAME (Osphronemus gouramy Lac ) YANG DIBERI INOSITOL TERHADAP INFEKSI PARASIT IKAN
1
23
55
Show more