KEABSAHAN STATUS PERNIKAHAN SUAMI ATAU ISTRI YANG MURTAD (Studi Komparatif Ulama Klasik dan Kontemporer)

Gratis

5
99
24
2 years ago
Preview
Full text

  KEABSAHAN STATUS PERNIKAHAN SUAMI ATAU ISTRI YANG MURTAD (Studi Komparatif Ulama Klasik dan Kontemporer) SKRIPSI Oleh DEDI HARIADI NIM.09120020 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG FAKULTAS AGAMA ISLAM JURUSAN SYARI’AH 2013

  

LEMBAR PENGESAHAN

SKRIPSI

  Dipertahankan di depan Dewan Penguji Skripsi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, dan diterima untuk memenuhi persyaratan memproleh gelar Sarjana Hukum Islam (S.Sy)

  Pada tanggal:….

  

Dewan Penguji Tanda Tangan

1. Ahda Bina Afianto, LC, M. HI. 1…………………………..

  2. Drs.M. Munir, MA. 2…………………………..

  3. Moh. Nurhakim, M. Ag, Ph. D. 3…………………………..

  4. Drs. Muh. Syarif, M. Ag. 4…………………………..

  Mengesahkan, Fakultas Agama Islam

  Universitas Muhammadiyah Malang Dekan, Drs. Sunarto, M.Ag.

KATA PENGANTAR

  

ﻢﻴﺣﺮﻟا ﻦﻤﺣﺮﻟا ﷲا ﻢﺴﺑ

  Puji dan syukur kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan karunia, rahmat, hidayah dan inayahNya sehingga atas ridhoNya penyusun dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Keabsahan Status Pernikahan Suami/Isteri Yang Murtad”. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah ke pangkuan junjungan Nabi Muhammad SAW, teladan umat seluruh alam yang telah membawa risalah kebenaran beruapa agama Islam.

  Penyusun menyadari bahwa penulisan ini masih banyak kekurangan di dalamnya, hal ini dikarenakan terbatasnya kemampuan yang ada pada diri penyusun. Penyusun juga menyadari bahwa penulisan ini tidak mungkin dapat terselesaikan tanpa adanya partisipasi atau bantuan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini dengan kerendahan hati, penyusun ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

  1. Kedua orang tuaku tercinta, Ibuku Hj. Dipa dengan segala cinta dan kasih sayang, doa, semangat dan segala pengorbanan yang diberikan selama ini kepadaku, Bapakku H. Murnipa yang telah berkorban dan berjuang mencari nafkah untuk keluarga, tiada kenal lelah dan letih memberikan semangat kepada penulis.

  2. Bapak Dr. Muhadjir Efendi M.AP selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, yang telah memberi kesempatan untuk menimba ilmu di kampus putih tercinta dengan diberikannya beasiswa Program Pendidikan Ulama

  3. Bapak Drs. Sunarto M.Ag selaku Dekan Fakultas Agama Islam.

  4. Bapak Azhar Muttaqien M.Ag selaku Kepala Jurusan Syariah.

  5. Bapak Ahda Bina Afianto,LC, M,Hi selaku pembimbing I yang telah banyak memberikan kontribusi pemikiran dan nasehatnya untuk skripsi penyusun, sehingga skripsi ini bisa terselesaikan.

  6. Bapak Drs.Muhammad Munir, M.A. selaku pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing penyusun demi terselesaikannya skripsi ini dengan baik.

  7. Bapak-Ibu dosen Jurusan Syariah yang telah mentransformasikan ilmunya kepada penyusun, sehingga secara pemikiran, penyusun dapat hijrah ilmiah ke sesuatu yang baru dalam sejarah pemikiran penyusun.

  8. KH. Abdullah Hasyim beserta para pengurus padepokan HW yang telah memberikan wawasan dan menambah rasa cinta kami terhadap Muhammadiyah, di sinilah kami digembleng dan dijadikan kader-kader militan Muhammadiyah, Ust. Ahda Bina selaku koordinator PPUT yang bersusah payah bertanggung jawab terhadap kelangsungan perkuliahan kami di PPUT, tentunya tak lupa kepada teman-teman senasib dan seperjuangan di padepokan, Huda, Nabawi, Bashir, Soleh, Azhari, Syafii , Toriq, Sholin, Fahdi, Faqih, Juned, Iyan, Yusuf, Firman, Mas Malik, Yahya, Agus, Syapii , Soni, Nanang, bersama kalian adalah sesuatu yang tak kan terlupakan.

  9. Kakak-kakakku tercinta, Kak Uyun, Kak Rawenem, Kak Subaedi, Kak Haeli, Kak Baehi (Alm), Kak Ramedhan, Kak Uni’, Kak Mahwiati, Kak Musri, Kak Meli, Kak Syifa’, Kak Noni, Kak Muriono. Terimaksih atas sumbangan semangat baik berupa moril ataupun materil, sehingga penulis bisa menyelesaikan perkuliayahan ini dengan lancar.

  10. Teman-temanku IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammdiyah), Sony Zakariya, Nabawi, Hilman, Basir, Hadiah, Relung, Nurul yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu, terimaksih banyak kita berproses bareng, belajar bareng-bareng dan semangat kalian yang tak pernah terlupakan.

  11. Teman-temanku Syariah 2009 yang selalu ceria belajar bersama dan semangat yang tak pernah pupus.

  12. Kepada Sholehuddin, Mujib, terimakasih banyak telah banyak memudahkan penulis dengan memberikan pinjaman buku-bukunya.

  13. Kepada Yusnia Rahmawati, yang banyak memberikan masukan dan dukungan moril kepada penulis sehingga skripsi ini bisa terselesaikan.

  Akhirnya semoga jasa baik yang telah mereka berikan menjadi amal ibadah dan mendapatkan balasan yang lebih baik dari Allah SWT. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua. Amin.

  Malang, 04 Jumadil Akhir 1434 H

  15 April 2013 M Penyusun Dedi Hariadi

  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………...…………………………i

LEMBAR PERSETUJUAN ………………………..……………………………ii

LEMBAR PENGESAHAN ………..…………………………………...……….iii

MOTTO …………………………………………………….……………………iv

PERSEMBAHAN ………………………………………………..……….………v

SURAT PERNYATAAN ………………………………………………….…….vi

ABSTRAK ………………………………………………………………………vii

KATA PENGANTAR ………………………………………………………..….ix

DAFTAR ISI …………………………………………………………….………xii

  BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang………………………………………… …………………1 B. Definisi Operasional…………………………………… …………..…..…7 C. Rumusan Masalah……………………………….……… ………… …...10 D. Tujuan Penelitian……………………………………… …………… ….10 E. Manfaat Penelitian…………………………….……………………..…..10 F. Metode Penelitian…………………………………………. …… …..…..11 G. Sistematika Penulisan……………………………………… ... … ….….12 BAB II : KAJIAN PUSTAKA A. Definisi Murtad………………… ………………………………………14 B. Hukuman Bagi Orang yang Murtad……………………………………...16

  1. Hukuman bunuh bagi orang yang murtad…...……………………….16

  2. Hukum harta kekayaan orang yang murtad……………...………......19

  3. Hukum waris orang yang murtad……………………………....…….20

  C. Hal-hal yang Membatalkan Pernikahan Menurut Fiqih Islam

  1. Nikah Mut’ah………………………………………………………...21

  2. Nikah Syighar……………..……………………………… …………22

  3. Nikah Muhallil………………..…………………………… ………..23

  5. Menikah dalam masa iddah………………………………. ………....25

  6. Nikah Tanpa Wali……………………………………………………25

  7. Perempuan Murtad……………………………………………….......26

  8. Menikahi Orang Kafir yang Bukan Ahli Kitab…………....…………27

  9. Menikahi Wanita yang Diharamkan…………………….…...………28

  D. Metode Istinbath Hukum Fiqih Islam………………………………........31

  1. Ijma’………………………………………………………….………31

  2. Ijtihad………………………………………………………….……..38

  3. Qiyas………………………………………………………….….......44

  4. Istihsan……………………………………………………….………47

  5. Maslahah Mursalah……………………………….………….………48

  6. Istishab……………………………………………………….………50

  7. Urf……………………………………….………………….………..52

  8. Sad Dzari’ah……………………………………….………………....53

  9. Syar’u mankoblana…………………………………………………..55

  BAB III: PEMBAHASAN A. Keabsahan Status Pernikahan Suami atau Isteri yang Murtad

  1. Imam Al-Ghazali………………………….…………………...……..58

  2. Ibnu Taimiyah……………………………………….………..……...65

  3. Sayyid Sabiq………………………………………….…….….…….70

  4. Wahbah Az-Zuhailli…………………………………………………74

  B. Pendapat yang Rajih …………………………..…………………...….…80

  1. Menurut Pandangan Penulis…………………………………..…….80

  2. Alasan Penulis Menolak Pendapat yang Lain……………..….…….82

  BAB IV: PENUTUP A. Kesimpulan………………………………………………………..…85 B. Saran ………………………………………………………………...86

DAFTAR PUSTAKA.

  Almth , M Faiz. (1991). 1100 Hadist Terpilih. Jakarta : Gema Insani. Asshobuni, M Ali. Rowa’iul Al-bayan Fi Tafsir Al-ahkami Al-qur’an.( Juz I) Makkah : Darul Fikr.

  Aljazairi, Abu Bakr Jabir. (2009) . Minhajul Muslim. Bekasi : Darul Fallah.

  Al-jazairi, Abdurrahman, 1982. Al Fiqhu Ala Madzhibil Arba’ah. (Juz IV). Beirut: Darul Fikri.

  Al-Ghozali ,Muhammad bin Muhammad. (1997). Al-wasith Fi Al- Mazhab(V). Daru Assalam.

  Al-Qardhawi, Yusuf. (2010). Halal Dan Haram Dalam Islam. (terj. Mu’amal Hamidiy). Surabaya: PT Bina Ilmu. Az-zuhaili, Wahbah. (2011). Fiqhul Al-islam Wa adillatuhu,(terj.Buti Hayyie Al-Kattani). Gema Insani: Jakarta.

  Al-Syafi’i , Al-Imam Abil Qosim Abdul Karim bin Muhammad Abdul Karim Al-Rofi’i Al-Kuzaini. (Tt).Al-aziz Syarhi Al-Wajiz, Beirut: Darul Kitab Al-Ilmiyah.

  Al-Bushy ,Abdullah bin Mubarok.(1999). Mausu’ah al-Ijma’ Li Ibni Taimiyah, lebanon: Darul Bayan Haditsah.

  Abdullah Fauzan, bin Shalih bin Fauzan( 2009). Memahami Aqidah, Syari’at, dan Adab. Malang: UMM Press.

  An-Na’im, Ahmed Abdullahi. (2011). Dekonstruksi Syari’ah, Yogyakarta:LKIS.

  Abdurrahman, asjumuni. (2010). Manhaj Tarjih Muhammadiyah, Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

  Bungin, Burhan ( 2001). Metodologi Penelitian Sosial: Format-

  Format Kualitatif dan Kuantitatif. Surabaya: Airlangga University Press.

  Beik, Khudlori. (1980). Tarikh Tasyri al-Islam, (terj.Muhammad Zuhri). Semarang: Dar al-Ihya.

  Dzazuli.(2004). Ilmu Fiqih, Jakarta: kencana.

  Farid, Ahmad. (2008). 60 Biografi Ulama’ Salaf, , Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. fauzan, Sholeh bin fauzan bin Abdullah. (1997). Aqidah Al-tauhid. Riyad: Darul Qosim. Fanani, Muhyar. (2010). fiqih Madani Konstruksi Dunia Fiqih Islam Di Dunia Modern LKIS:Yogyakarta.

  Ghazali, Mohd Rumaizuddin. (2005). Tokoh Islam Kontemporer, Artikel dikutip dari situs http://www.abim.org.my Ibn Surah, Abu Isa Muhammad, Ibn Isa. tt. Al-jami’ al-Sahih Juz 3. Beirut: Dar el-Fikr.

  Iyazi, Sayyid Muhammad Ali. (2004). Al-Mufassirûn Hayâtuhum wa

  Manhajuhum. Artikel dikutip dari situs www.psq.or.id/ tafsir detail.asp, diakses tanggal 1 Desember 2012.

  Ibnu Rusyd. (1989). Bidayatul Mujtahid. (terj. Imam Ghazali Said). Jakarta:Pustaka Amani

  Katsir, Ibnu. (2004). Tafsir Al-qur’anul Adzim. (jilid I). Libanon: Darul kutub Ilmiyah.

  Mustaqin, Abdul. (2012). Epistemologi Tafsir Kontemporer. Yogyakarta : LKIS. Masyhud. (2008, Desember). Jurnal Penelitian Agama, Vol 9/No.2.

  Munawir, Ahmad Warson. ( 1997). Al Munawir Kamus Arab – Indonesia. Surabaya : Pustaka Progresif.

  Manan, Abdul. (2006). Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia. Jakarta : Kencana.

  Nata, Abuddin. (2011). Metodologi studi Islam . Jakarta: Rajawali Pers.

  Nasution, Harun. (1974). Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UIP. Purwantana, Ahmadi. (1994). Seluk beluk Filsafat Islam, Bandung: Remaja Rosda Karya.

  Sukmadinata, Nana Syaodih. (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Pena Ilmu. Sulaiman,Abd al-Wahhab Ibrahim bin. (1983), al-Fikr al-Ushuly, Mekah: Dar al-Syuruq.

  Sabiq, Sayyid. (1990). fiqhu Sunnah. (Terj.Muhammad Thalib) beirut: Libanon: Darul Fatah.

  Sabiq , Sayyid. (1999) Fiqih Sunnah . Kohiroh :darul al-Fath li I’lami

  Syafi’i , Rahmat. ( 2007). Ilmu Usul Fiqih .Pustaka setia: bandung. Syariffuddin, Amir. (2009). Ushul Fiqih, Jakarta: Kencana. Wajdi, Farid Muhammad, tt, Dairah Al-Ma’arif al-Islamiyyah, juz I: Dar al-Ma’rifah at-Tiba’ah.

  Zuhaili, Wahbah. ( 2008). fiqih Imam Syafi’i. Jakarta : Almahira. Zuhri, Muhammad. (1996). Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pernikahan yang baik adalah pernikahan yang dilakukan pria dan

  wanita yang sama aqidah, akhlak dan tujuannya, di samping cinta dan ketulusan hati. Di bawah naungan keterpaduan itu, kehidupan suami istri akan tentram, penuh cinta dan kasih sayang. Keluarga akan bahagia dan anak-anak akan sejahtera. Dalam pandangan Islam, kehidupan keluarga seperti itu tidak akan terwujud secara sempurna kecuali jika suami isteri berpegang kepada agama yang sama. Keduanya beragama dan teguh melaksanakan ajaran Islam. Jika agama keduanya berbeda akan timbul berbagai kesulitan di lingkungan keluarga. Dalam pelaksanaan ibadat, pendidikan anak, pengaturan makanan, pembinaan tradisi keagamaan, dan

  1 lain-lain.

  Menurut hukum Islam, akad perkawinan merupakan suatu perbuatan hukum yang sangat penting dan mengandung akibat-akibat serta konsekuensi-konsekuensinya sebagaimana yang telah ditentukan oleh syari’at Islam. Oleh karena itu, pelaksanaan akad pernikahan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh syari’at Islam adalah perbuatan yang sia-sia, bahkan dipandang sebagai perbuatan yang melanggar hukum yang wajib dicegah oleh siapapun yang mengetahuinya, 1 atau dengan cara pembatalan apabila pernikahan itu telah dilaksanakannya.

  Ahmad Sukarja, Problematika Hukum Islam Kontemporer (I; Jakarta: LSIK, 2008), Hukum Islam menganjurkan agar sebelum pernikahan dibatalkan perlu terlebih dahulu diadakan penelitian yang lebih mendalam untuk memperoleh keyakinan bahwa semua ketentuan yang telah ditetapkan oleh syari’at Islam sudah terpenuhi. Jika persyaratan yang telah ditentukan masih belum lengkap atau terdapat halangan pernikahan, maka

  2 pelaksanaan akad pernikahan haruslah dicegah.

3 Menurut Al-Jazairi jika perkawinan yang telah dilakukakan oleh

  seseorang tidak sah karena kehilafan dan ketidaktahuan atau tidak sengaja dan tidak terjadi persetubuhan, maka perkawinan tersebut harus dibatalkan, yang melakukan perkawinana tersebut dipandang tidak berdosa, jika telah terjadi persetubuhan maka itu dipandang sebagai

  wathhi’ syubhat, tidak dipandang sebagai perzinahan, yang bersangkutan

  tidak dikenakan sanksi zina, isteri diharuskan beriidah apabila pernikahan telah dibatalkan, anak yang lahir dari pernikahan itu dipandang bukan sebagai anak zinah dan nasabnya tetap dipertahankan kepada ayah dan ibunya. Tetapi jika perkawinana yang dilakukan oleh seseorang sehingga perkawinan itu menjadi tidak sah karena sengaja melakukan kesalahan memberikan keterangan palsu, persaksian palsu, surat-surat palsu atau hal- hal lain yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, maka perkawinan yang demikian itu wajib dibatalkan. Jika perkawinan tersebut 2 belum terjadi persetubuhan, maka isteri tersebut tidak wajib ber-iddah,

  Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia (Jakarta: Kencana , 2006), hal. 42. 3 Abdurrahman Al-Jazairi, Al Fiqhu Ala Madzhibil Arba’ah ( IV; Beirut: Darul Fikri,

  orang yang melakukan perkawinan itu dianggap berdosa, dikenakan tuntutan pidana, persetubuhan itu dipandang sebagai perzinahan dan dikenakan had, nasab anak yang dilahirkan tidak dapat dipertalikan kepada ayahnya, hanya dipertalikan kepada ibunya. Dalam salah satu ayat dijelaskan mengenai larangan berlangsungnya pernikahan dengan disengaja dikarenakan salah satu sebab yaitu salah satu mempelai menyekutukan Allah dengan yang lainnya. Allah Berfirman :

            

            

            

        

  Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum

mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik

dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu

menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin)

sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik

dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke

neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.

dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada

  4 manusia supaya mereka mengambil pelajaran. Dalam ayat tersebut sangat jelas menunjukkan tentang bagaimana Allah SWT memerintahkan orang-orang yang beriman supaya tidak

  5

  menikahi orang-orang yang menyekutukan Allah SWT. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat tersebut bahwa ayat ini merupakan pengharaman Allah atas orang-orang yang beriman, untuk menikahi wanita-wanita musyrik dari para penyembah berhala, didalamnya termasuk wanita-wanita musyrik dari ahli kitab dan penyembah berhala. Akan tetapi Allah menghususkan wanita ahli kitab boleh dinikahi dengan

  6 firmannya, dan wanita-wanita yang baik dari ahli kitab halal bagimu ).

  Disini Ibnu katsir membolehkan wanita Ahli kitab untuk dinikahi akan tetapi selanjutnya dia melarang wanita muslimah untuk menikahi orang- orang yang tidak beragama Islam tanpa membedakannya dengannya para penyembah berhala ataupun ahli kitab dengan dalil dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah SAW bersabda “ kita menikahi wanita ahli kitab

  akan tetapi mereka ahli kitab tidak menikahi perempuan kita ( muslimah)”. Kemudian firman Allah juga dalam surat Al-mumtahanah

  ayat 10 “.

  

      

           .. 5           

  Al-imam Al-abi Al-Fada’ ibni katsir al-dimaski, tafsir Al-qur’an Al-adzim,( I; beirut :Darul kitab al-ilmiyah, 2004), hal. 248.

  maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman, janganlah kamu kembalikan mereka kepada suami-suami mereka orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir dan orang- orang kafir itu tiada halal bagi mereka”.

  Ayat ini mengharamkan para wanita muslimah terhadap orang- orang musyrik ( non muslim), yang mana pada masa awal islam

  7

  dibolehkan laki-laki musyrik menikahi wanita mukminah

  8 Selain ibnu Katsir, Muhammad Ali Al-Shabuni juga menjelaskan

  dalam rincian kata musyrik dalam menjelaskan ayat tersebut, beliau menjelaskan janganlah kalian wahai orang yang beriman menikahi para penyembah berhala. Dan orang musyrik adalah dia yang menyembah berhala dan bukan agama samawi, dan beliau juga mengutip salah satu pendapat bahwa ahli kitab juga termsuk orang-orang yang menyembah berhala dengan mengutip firmaan Allah “ dan orang yahudi berkata uzair

  adalah putra Allah dan orang nasroni berkata isa’ putra Allah sampai

  pada firman Allah, maha suci Allah terhadap apa yang mereka sekutukan (musyrik).

  Larangan menikahi orang musyrik dalam ayat tersebut dikarenakan orang-orang musyrik mengajak kepada neraka sedang orang beriman mengajak kepada ampunan Allah yang berahir kepada syurga Allah SWT. 7 Dikhawatirkan ketika seorang muslimah menikahi laki-laki musyrik dia

  

Fauzan bin Abdullah Fauzan, Memahami Aqidah, Syari’at, dan Adab,( islamic

Foundation & UMM Press, Edisi Indonesia, 2009), hal. 307. 8 Muhammad Ali Al-shabuni, Rowa’iu Al-bayan Fi Tafsir al-ahkami Al-qur’an (I ;

  dipaksa oleh suaminya yang musyrik untuk murtad kepada agama suaminya, dan dikarenakan juga laki-laki adalah pemimpin bagi isterinya dalam rumahtangga sehingga wanita muslimah terjatuh kepada kekufuran terhadap Islam, sedangkan anak-anak mengikuti nasab bapak mereka, bagaimana jika seandainya bapaknya seorang yahudi atau nasrani?, maka kemungkinan anaknya akan menjadi yahudi atau nasrani maka jadilah

  

9

  anaknya menjadi penghuni neraka. Akan tetapi walau ulama’ diatas menjelaskan ketidak bolehan wanita muslimah untuk menikahi laki-laki ahli kitab dengan alasan-alasan itu, maka akan timbul pertanyaan bagaimana jika dikhwatirkan juga bagi laki-laki muslim yang ingin menikahi ahli kitab akan terjerumus kepada kepada hal-hal yang dikawatirkan seperti yang dijelaskan, apakah hukum itu akan tetap membolehkan ataukah tidak?, dikarenakan dominasi perempuan atas kaum laki-laki di era modern ini bukan sesuatu yang mustahil. Maka menurut penulis hukumnya tetap tidak boleh.

  Dalam sebuah hadits juga dijelaskan bagaimana Islam sangat memberikan kriteria yang sangat jelas ketika seseorang ingin menikah, Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Muslim “ Wanita dinikahi karena

  

empat hal, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, dan

kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaklah pilihlah yang beragama

  10

agar berkah kedu tanganmu” ini menunjukkan bahwa setiap pasangan 9 suami isteri harus memiliki iman dan ketaqwaan yang kuat kepada Allah Ibid., hal. 226. SWT supaya tujuaan pernikahan sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran

  11 bisa terwujud .

  Permasalahan yang sering muncul ketika salah satu pasangan yang beragama Islam tiba-tiba salah satunya murtad dari agama Islam, pertanyaan yang sering muncul apakah pernikahan kedua pasangan itu tetap sah ataukah harus dibatalkan. ini merupakan penomena yang sering kita jumpai, lalu bagaimana seharusnya kita bersikap dikarenakan tidak adanya satu ayat ataupun hadits yang menjelaskan secara jelas dan terang

  dilalahnya mengenai batal atau tidaknya pernikahan tersebut.

  Oleh karenanya sangat menarik bagi penulis untuk meneliti lebih jauh bagaimana sebenarnya kedudukan hukum perceraian terhadap pasangan suami isteri yang salah satunya murtad dari agama Islam. Untuk meneliti kedudukan hukum pasangan yang murtad penulis melihatnya dari perspektif ulama’ klasik dan ulama’ kontemporer sehingga jelas bagi penulis pandangan-pandangan mereka dan metode-metode istinbath hukum yang mereka gunakan mengenai permasalahan yang akan dikaji.

  Salah satu latar belakang penulis melihat permasalahan ini dari perspektif ulama’ klasik dan kontemporer supaya lebih mengetahui persamaan dan perbedaan mereka dalam menyelesaikan permasalahan ini.

  B. Definisi Operasional

  1. Pernikahan Pengertian nikah secara bahasa adalah mengumpulkan, atau sebuah pengibaratan akan hubungan intim dan akad sekaligus, yang dalam syari’at dikenal dengan akad nikah. Sedangkan secara syari’at berarti sebuah akad yang mengandung pembolehan bersenang-senang dengan perempuan, dengan berhubungan intim, menyentuh, mencium, memeluk dan sebagainya, jika perempuan tersebut bukan termasuk mahram dari segi

  12 nasab, sesusuan, dan keluarga.

  2. Murtad Secara etimologi murtad berasal dari kata ra’-dal yang bermakna

  13

  memalingkan . Sedangkan secara terminologi Murtad adalah orang yang meninggalkan agama Islam beralih kepada agama lain, seperti Nasrani, Yahudi atau beralih kepada aliran yang bukan agama, seperti mulhid (mengingkari agama) dan komunisme. Orang itu berakal dan atas

  

14

  kemauannya sendiri, tidak dipaksa. Hal ini tergambar dalam salah satu firman Allah yang menjelaskan tentang ancaman Allah bagi orang yang

  murtad, disitu Allah berjanji akan mengganti orang-orang yang murtad

  dari Islam dengan orang-orang yang mencintai Allah dan Allah mencintainya, lemah lembut terhadap orang mukmin dan bersikap keras terhadap orang kafir dan tiada takut terhadap celaan bagi orang-orang yang

  15 12 suka mencela sehingga memalingkannya terhadap agama Allah yang 13 Wahbah Az-Zuhailli, Fiqih Islam Wa Adillatuh Al-Ahkam (x: Darulfikr: 2011), hal. 38.

  Ahmad Warson Munawir, Al-munawir Kamus Arab –Indonesia (Yogyakarta: Pustaka 14 Progresif,1997), hal.485

Abu Bakar Jabir Al jazairi, Minhâjul Muslim, terj. Andi Subarkah (bekasi: 2009),hal.

  702.

  16

  benar. Shingga bisa dikatakan bahwa orang yang murtad berarti ia menentang tauhid dan keimanan kepada Allah SWT.

  3. Klasik Klasik menurut Harun Nasution adalah mulai dari tahun 650 M sampai dengan 1250 M yang ditandai dengan zaman kemajuan dan

  17

  disentegrasi. Dan yang kami maksud dengan ulama‘ klasik disini adalah Imam Al-Ghozali dan Syaikh Ibnu Taimiyah.

  4. Kontemporer Kontemporer adalah era masa kini, zaman sekarang, atau yang bersifat kekinian, kontemporer lahir dari modernitas sehingga istilah modern dan kontemporer, meskipun merujuk pada dua era, keduanya tidak memiliki penggalan waktu yang pasti. Adapun batasan pemikiran kontemporer terutama di dunia arab di mulai pada tahun 1967, yakni sejak kekalahan dunia arab oleh israel. Saat itu pula arab memulai sadar akan dirinya, lalu muncul berbagai kritik diri ( al-naqd al-adzâti) di sana sini untuk melakukan reformasi diri, antara lain dengan menjelaskan faktor-

  18

  faktor kekalahan atas israel . Akan tetapi menurut Harun Nasution era kontemporer atau modern dimulai sejak tahun 1800 M sampai hari ini, dan

  19 16 ini yang penulis pakai dalam menentukan kriteria ulama kontemporer. 17 QS. Ali Imron (3): 19 18 Harun Nasution. Islam Ditimjau Dari Berbagai Aspeknya (I; Jakarta: UIP), hal. 50.

  

Abdul Mustaqim, Epistemologi Tafsir Kontemporer ( Yogyakarta: 2012), Hal. 10. Dan yang dimaksud denga Ulama kontemporer di sini adalah Sayyid Sabiq dan Wahbah Zuhaili.

  C. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah di atas, maka dapat di ambil beberapa permasalahan sebagi berikut :

  1. Apa status pernikahan Suami atau istri yang murtad dalam perspektif ulama klasik dan kontemporer?

  2. Apa pendapat yang rajih mengenai status pernikahan suami atau istri yang murtad dari pendapat ulama klsik dan kontemporer? D. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui pandangan ulama klasik dan kontemporer mengenai permasalahan murtadnya salah satu pasangan suami isteri dan hukum yang akan ditimbulkan.

  2. Untuk mengetahui pendapat yang mana yang paling rajih tentang hukum status pernikahan suami atau isteri yang murtad menurut pandangan ulama klasik dan kontemporer .

  E. Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Teoritis Untuk memperluas cakrawala pandang sekaligus berpartisipasi aktif dalam menyumbangkan pikiran guna menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang hukum Islam mengenai hukum murtadnya salah satu pasangan suami isteri dalam pandangan ulama

  2. Manfaat Praktis Agar dapat dijadikan bahan bacaan bagi para pembaca dalam memahami ilmu- ilmu agama khususnya ilmu yang berkaitan dengan hukum Islam dan bagaiamana pandangan ulama klasik dan kontemporer dalam permasalahan ini.

  F. Metode Penelitian

  1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang merujuk kepada referensi literatur kepustakaan (library research), oleh karena itu sumber penelitian diperoleh dari kitab-kitab atau buku-buku secara langsung maupun referensi lain yang berkaitan dengan pokok bahasan.

  2. Sumber Data Berdasarkan jenis penelitian yang akan digunakan oleh penulis

  (library research) maka sumber-sumber data akan diambil dari litelatur- litelatur seperti bahan-bahan tertulis seperti manuskrip, buku-buku,

  20 majalah, surat kabar dan dokument lainnya.

  3. Metode Pengumpulan Data Penulis mengumpulkan data dari sumber sekunder dan primer.

  Adapun data-data primer seperti Al-qur’an , Al-hadist, buku-buku yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang dibahas. Adapun dari bahan primer seperti buku-buku yang membahas tentang pernikahan, jurnal- jurnal dan artikel-artikel yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang dibahas.

  4. Metode Analisa Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

  Deskriptif Analitis, Yaitu Penulis akan menguraikan dan menggambarkan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan hukum perceraian terhadap murtadnya salah satu pasangan suami isteri dalam pandangan ulama’ klasik dan kontemorer beserta analisa yang tajam mengenai pandangan-pandangan ulama’ klasik maupun kontemporer dalam permasalahan ini, sehingga penelitian ini tidak terkesan asal jadi atau bahkan plagiasi dari orang lain.

  Tahapan analisa data dalam penelitian ini diawali dengan mereduksi data, penyajian data, dan yang terahir adalah tahapan analisa data yaitu penarikan kesimpulan.

  G. Sistematika Penulisan Untuk memudahkan dalam pembatasan skripsi ini, maka penulis menyusun sistematika skripsi yang terdiri dari empat bab, yaitu: Bab I merupakan pendahuluan yang meliputi : latar belakang masalah, definisi operasional, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penelitian, dan metode penelitian.

  Bab II merupakan tinjauan pustaka yang membahas tentang hal- hal sebagai berikut, yaitu:, Definisi Murtad, Hukuman bagi orang yang murtad, penyebab batalnya pernikahan menurut Fiqih Islam, dan metode yang berkenaan dengan hal-hal sebagai berikut, yaitu : Biografi ulama klasik dan kontemporer, keabsahan status pernikahan menurut ulama klasik dan kontemporer, dan analisa pendapat yang rajih. Bab IV merupakan penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

POLA KOMUNIKASI SUAMI ISTRI DALAM HUBUNGAN PERNIKAHAN JARAK JAUH (Studi pada pasangan Buruh Migran desa Sumberingin dusun Cangkring Kabupaten Trenggalek)
2
15
21
KEABSAHAN STATUS PERNIKAHAN SUAMI ATAU ISTRI YANG MURTAD (Studi Komparatif Ulama Klasik dan Kontemporer)
5
99
24
KONFLIK INTERPERSONAL DENGAN SUAMI DITINJAU DARI STATUS PEKERJAAN ISTRI
0
4
1
PROSES PSIKOLOGIS ISTRI DALAM MEMAAFKAN SUAMI (Studi Kasus KDRT)
0
4
2
IDENTIFIKASI KECEMASAN ISTRI YANG LEBIH TUA DARI SUAMI
0
14
1
PERBEDAAN KEPUASAN PERNIKAHAN SUAMI DITINJAU DARI STATUS ISTRI
0
6
43
PENYESUAIAN PERKAWINAN PADA ISTRI YANG TINGGAL DI NEGARA SUAMI
0
17
2
KEABSAHAN PERMOHONAN POLIGAMI KARENA ISTRI TIDAK MAU BERTEMPAT TINGGAL BERSAMA DENGAN SUAMI (Studi Putusan Nomor :36 / Pdt.G / 2010 / PA. Bdg
0
18
17
KEABSAHAN PERMOHONAN POLIGAMI KARENA ISTRI TIDAK MAU BERTEMPAT TINGGAL BERSAMA DENGAN SUAMI (Studi Putusan Nomor :36 / Pdt.G / 2010 / PA. Bdg)
1
28
17
KEABSAHAN PERMOHONAN POLIGAMI KARENA ISTRI TIDAK MAU BERTEMPAT TINGGAL BERSAMA DENGAN SUAMI (Studi Putusan Nomor :36 / Pdt.G / 2010 / PA. Bdg)
0
16
17
STATUS HUKUM PERNIKAHAN YANG TIDAK TERCATAT MENURUT UNDANG-UNDANG PERKAWINAN INDONESIA
0
0
13
PERAN SUAMI TERHADAP ISTRI YANG MENDERITA KISTA OVARIUM DI PURWOKERTO
0
0
7
HUBUNGAN KEMATANGAN EMOSI DENGAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA ISTRI YANG BEKERJA
0
0
11
KETERBUKAAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PASANGAN SUAMI ISTRI YANG BERJAUHAN TEMPAT TINGGAL
0
0
10
TANGGUNG JAWAB HUKUM SUAMI ATAU ISTRI DALAM PERCERAIAN TERHADAP ANAK (STUDI KASUS PUTUSAN NOMOR : 209Pdt.G2007PN.Mdn) TESIS
0
0
11
Show more