PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampu

Gratis

3
9
54
2 years ago
Preview
Full text
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE Think Pair Share (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas XI IPA Semester Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2012/2013) Oleh SEPTIAN NURRACHMAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2013 SEPTIAN NURRACHMAN ABSTRAK PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA Semester Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2012/2013) Oleh SEPTIAN NURRACHMAN Hasil observasi proses pembelajaran biologi selama ini yang disampaikan kurang menarik siswa untuk berpikir karena hanya disuguhi materi tanpa melibatkan proses penemuan yang meraka lakukan sendiri, sehingga siswa kurang mengaitkan fakta yang terjadi dilapangan dengan konsep-konsep sains. Sehubungan dengan itu dilakukan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) pada proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis (KBK) siswa.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran TPS terhadap peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis (KBK) dan aktivitas belajar siswa pada materi pokok Sistem Peredaran Darah pada kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan. ii SEPTIAN NURRACHMAN Desain penelitian ini adalah pretes-postes kelompok non equivalen. Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA2 dan XI IPA4 yang dipilih secara acak dengan teknik purposive sampling. Data kuantitatif berupa data kemampuan berpikir kritis siswa pada materi pokok sistem peredaran darah yang diperoleh dari rata-rata nilai pretes dan postes yang dianalisis secara statistik menggunakan uji u dengan bantuan program SPSS 11. Data kualitatif berupa data aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran yang dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran TPS dapat meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis (KBK) siswa, ini terlihat pada kelas eksperimen rata-rata nilai N-gain sebesar 47,8 dan rata-rata nilai N-gain kelas kontrol sebesar 21,5. Peningkatan tertinggi yaitu pada indikator melakukan deduksi dan indikator terendah yaitu pada aspek memberikan argumen. Selain itu, rata-rata aktivitas siswa juga menunjukkan peningkatan sebesar 71,8. Aktivitas tersebut meliputi aktivitas bekerja sama dengan teman, mengungkapkan ide atau gagasan, dan mempresentasikan hasil diskusi. Skor tertinggi terdapat pada aspek aktivitas mempresentasikan hasil diskusi dan skor terendah terdapat pada aspek mengungkapkan pendapat. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran TPS meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis (KBK) siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan materi pokok Sistem Peredaran Darah. Kata kunci: TPS, Kemampuan Berpikir Kritis (KBK), Sistem Peredaran Darah. iii PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA Semester Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2012/2013) Oleh SEPTIAN NURRACHMAN Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG 2013 Judul Skripsi : PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2012/2013) Nama Mahasiswa : Septian Nurrachman Nomor Pokok Mahasiswa : 0743024047 Program Studi : Pendidikan Biologi Jurusan : Pendidikan MIPA Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan MENYETUJUI 1. Komisi Pembimbing Dr. Tri Jalmo, M.Si. NIP 196109101986031005 Rini Rita T. Marpaung, S.Pd.,M.Pd. NIP 197707152008012020 2. Ketua Jurusan Pendidikan MIPA Dr. Caswita, M.Si. NIP 196710041993031004 MENGESAHKAN 1. Tim Penguji Ketua : Dr. Tri Jalmo, M.Si. ……………….. Sekretaris : Rini Rita T. Marpaung, S.Pd., M.Pd. …………......... Penguji Bukan Pembimbing : Drs. Darlen Sikumbang, M. Biomed 2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si. NIP. 196003151985031003 Tanggal Lulus Ujian Skripsi : 3 Mei 2013 ………………. PERNYATAAN SKRIPSI MAHASISWA Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Septian Nurrachman NPM : 0743024047 Program Studi : Pendidikan Biologi Jurusan : P. MIPA Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang telah diajukan memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Bandar Lampung, Februari 2013 Menyatakan Septian Nurrachman NPM. 0743024047 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kotabumi pada tanggal 3 September 1989, yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Bapak Haryanto dan Ibu Eti Yuliani. Pendidikan formal yang ditempuh penulis adalah Sekolah TK Tunas Harapan Kotabumi diselesaikan tahun 1996, Sekolah Dasar (SD) Negeri 6 Kelapa Tujuh Kotabumi diselesaikan tahun 2002, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 7 Kotabumi diselesaikan tahun 2004, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Kotabumi diselesaikan tahun 2007. Pada tahun 2007 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan MIPA Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung melalui jalur Non-Reguler. Pada tahun 2011 penulis melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA YP Unila Bandar Lampung dan pada tahun 2012 penulis melakukan penelitian di SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan untuk meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.). PERSEMBAHAN Aku bersyukur kepadamu ya Allah atas izin Mu lah kebahagiaan ini dapat kuraih. Aku persembahkan kebahagiaan ini kepada:  Ayahandaku Haryanto dan Ibundaku Eti Yuliani yang telah mendidik dan membesarkanku dengan segala do’a terbaik mereka, kesabaran dan limpahan kasih sayang.  Adikku Mayvena Lizora dan Achmad Dwi Wijaya yang amat sangat kucintai, terima kasih atas kasih sayang dan doa tulus untuk keberhasilanku.  Semua teman-temanku satu angkatan Biologi Non Reg 07 yang selalu menyemangatiku.  Almamater tercinta Universitas Lampung. MOTTO ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum (kecuali) bila mereka sendiri mengubah keadaannya...” (Q.S. Ar-Ra’d, 13:11) "Seorang pemenang tidak pernah menyerah, dan orang yang menyerah tidak pernah menang." (Septian Nurrachman) SANWACANA Puji syukur pada Allah SWT, atas segala nikmat dan kehendak-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat dalam meraih gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA, FKIP Unila. Skripsi ini berjudul “Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Materi Pokok Sistem Peredaran Darah” (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA Semester Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2012/2013). Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari peranan dan bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung; 2. Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung; 3. Pramudiyanti, S.Si., M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi; 4. Dr. Tri Jalmo, M.Si., selaku Pembimbing I atas kesabaran, bimbingan, dan masukannya kepada penulis; 5. Rini Rita T. Marpaung, S.Pd, M.Pd., selaku Pembimbing II dan Pembimbing Akademik atas bimbingan, motivasi, dan kasih sayangnya; 6. Drs. Darlen Sikumbang, M. Biomed., selaku pembahas atas saran-saran perbaikan, dan dukungan semangatnya; xi 7. Dra. Hj. Hastutiningsih, selaku guru mitra yang telah banyak memberikan bantuan dan arahan selama penelitian; 8. Ayahku tercinta Haryanto dan Ibuku tercinta Eti Yuliani terima kasih untuk perhatian, doa dan kasih sayang yang tak terhingga selama ini. Adikku tersayang Mayvena Lizora dan Achmad Dwi Wijaya serta seluruh keluarga yang sangat kucintai, terima kasih atas dukungan moril, materil, dan semangat yang diberikan bagi penulis; 9. Sahabat-sahabatku Lamudin, Fery Ardianto, I Gede Suliwan, S.Pd, Ana Septiana, S.Pd, Ulpayani, Eli Suryani, Nuris Mukhton, Antun Sutarya, S.Pd , Adhitian, S.Pd, Aria Seprinda, S.Pd, Wening Sudrajad, S.Pd, Ahmad Fauzi, S.Pd, dan I Komang Suthawijaya, S.Pd terimakasih atas bantuan dan dukungan yang selama ini kalian berikan kepada penulis; 10. Sahabat-sahabatku yang lain di Biologi Nr ’07, kakak serta adik tingkat 08, 09,10. dan 2011 pendidikan biologi, terima kasih motivasi dan kebersamaan selama ini; 11. Almamater tercintaku, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung; Bandar Lampung, Februari 2013 Penulis Septian Nurrachman xii I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Istilah pendidikan mengandung fungsi yang luas dari pemelihara dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat, terutama membawa warga masyarakat yang baru mengenal tanggung jawab bersama di dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah suatu proses yang lebih luas daripada proses yang berlangsung di dalam sekolah saja. Pendidikan adalah suatu aktivitas sosial yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan berkembang. Di dalam masyarakat yang kompleks, fungsi pendidikan ini mengalami spesialisasi dan melembaga dengan pendidikan formal yang senantiasa tetap berhubungan dengan proses pendidikan informal di luar sekolah (Brameld, 1992:2). Biologi termasuk dalam rumpun Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Biologi memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan, khususnya di dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas, yaitu manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, logis, dan berinisiatif dalam menanggapi isu di masyarakat yang diakibatkan oleh dampak perkembangan Ilmu Pengetahuan Alam (BSNP, 2006:4). Biologi adalah bidang ilmu yang menarik dan penting untuk dipelajari. Dengan mempelajari Biologi kita tidak saja memperoleh pengetahuan tentang 2 makhluk hidup, namun juga pengetahuan tentang metode memperoleh ilmu pengetahuan tersebut. Pengetahuan tentang makhluk hidup dimanfaatkan untuk memecahkan berbagai masalah guna meningkatkan kesejahteraan hidup manusia (Aryulina Diah, Dkk. 2004:6). Melihat pentingnya biologi dan peranannya tersebut, maka salah satu upaya meningkatan mutu pembelajaran adalah dengan menggembangkan kecakapan hidup (life skill) melalui proses pendidikan salah satunya yaitu keterampilan berpikir. Berpikir adalah salah satu kecakapan hidup yang harus dimiliki oleh setiap manusia, sehingga siswa yang memiliki kecakapan hidup (life skill) berani menghadapi problema kehidupan dan mampu memecahkannya (Tim BBE, 2002:2). Salah satu kemampuan berpikir yang termasuk ke dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang diperlukan oleh setiap orang untuk menyikapi setiap permasalahan dalam semua aspek kehidupan. Dengan berpikir kritis, seseorang dapat mengatur, menyesuaikan, mengubah, atau memperbaiki pikirannya dalam mengambil suatu keputusan yang tepat (Ennis, 1985). Berpikir kritis merupakan suatu kemampuan yang dapat dimiliki manusia melalui proses latihan dan pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat Filsaisme (2008) yang menyatakan bahwa berpikir kritis, bisa diperkirakan, dan bisa diajarkan. Penerapan proses belajar mengajar di Indonesia kurang mendorong pada pencapaian kemampuan berpikir kritis (Sanjaya, 2009:1). Karena proses di 3 dalam kelas diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menghafal informasi. Padahal keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu modal dasar atau modal intelektual yang sangat penting bagi setiap orang dan merupakan bagian fundamental dan kematangan manusia. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan berpikir kritis menjadi sangat penting bagi siswa di setiap jenjang pendidikan. Dua faktor penyebab tidak berkembangnya kemampuan berpikir kritis selama ini adalah kurikulum yang umumnya dirancang dengan target materi yang luas sehingga pengajaran lebih terfokus pada penyelesaian materi dan kurangnya pemahaman pengajar tentang metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis (Sudaryanto, 2008:1). Salah satu wahana untuk melatih kemampuan berpikir kritis adalah melalui pembelajaran sains yang melibatkan keterampilan proses dan proses berpikir melalui metode ilmiah. Namun, pada kenyataannya dewasa ini pembelajaran sains yang diharapkan untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa masih didominasi oleh penggunaan metode ceramah dan kegiatan yang berpusat pada guru. Hal ini disebabkan pembelajaran yang disampaikan kurang menarik siswa untuk berpikir karena hanya disuguhi materi tanpa melibatkan proses penemuan yang meraka lakukan sendiri, sehingga siswa kurang mengaitkan fakta yang terjadi dilapangan dengan konsep-konsep sains. Alasan lain rendahnya kemampuan siswa dalam belajar adalah kurang tepatnya metode yang digunakan guru dalam mengajar (Oleyede, 2004:2). Metode merupakan salah satu strategi atau cara yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar yang bertujuan hendak dicapai. Semakin tepat 4 metode yang digunakan oleh seorang guru maka pembelajaran semakin baik. (Ulih Bukit Karo-Karo, 1985:7). Hasil observasi di SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan didapatkan bahwa hasil belajar masih rendah dan guru masih kurang mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa. Hal tersebut dapat terjadi karena rendahnya kompetensi guru terhadap materi yang dibelajarkan, kurang tepatnya metode pembelajaran, pembelajaran masih berpusat pada guru, siswa kurang berperan aktif dalam proses pembelajaran untuk membangun dan menemukan sendiri pengetahuannya, sehingga siswa hanya menghafal fakta-fakta dari buku. Dan rendahnya keterampilan berpikir kritis siswa yang dapat terlihat dari kualitas pertanyaan dan jawaban siswa. Siswa juga kurang mampu menggunakan daya nalar dalam menanggapi informasi yang diterimanya. Hal ini mengakibatkan nilai rata-rata ujian harian kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan untuk materi pokok sistem peredaran darah belum memenuhi standar KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) yakni 68 berbeda yang ditentukan oleh sekolah yaitu ≥ 72. Dari permasalahan yang dijelaskan di atas, maka di butuhkan tindakan yang mampu menjadi jalan keluarnya. Salah satu solusinya adalah penggunaan metode yang tepat, yaitu metode yang mampu membuat seluruh siswa terlibat dalam suasana pembelajaran. Metode mengajar merupakan salah satu cara yang dipergunakan guru dalam membelajarkan siswa. Oleh karena itu, peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar (Suryasubroto, 1997:47). 5 Salah satu alternatif yang dapat dilakukan oleh seorang guru guna menjawab dari permasalahan-permasalahan pembelajaran tersebut untuk lebih mengaktifkan pembelajaran di kelas adalah dengan menerapkan pembelajaran kooperatif dengan model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS). Model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang pada pelaksanaannya mengutamakan siswa dalam berbuat untuk menemukan sendiri konsep-konsep materi dalam pembelajaran dengan jalan berpikir (Think), berpasangan (Pair), dan mengemukakan pendapat (Share) (Ibrahim dkk, 2000:26). Model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share ini dapat merangsang siswa untuk berpikir secara mandiri, berpasangan dan secara kelompok dengan bimbingan dari guru mata pelajaran. Oleh karena itu cara tersebut sangat tepat dalam mendorong siswa untuk menganalisis dan mengevaluasi suatu informasi data atau argumen, sehingga keterampilan berpikir kritisnya akan meningkat. Dan diharapkan juga siswa dapat menjadi lebih aktif dalam pembelajaran sehingga dapat membangkitkan aktivitas, semangat belajar, dan keterampilan berpikir kritis siswa. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat meningkatkan secara signifikan kemampuan berpikir kritis siswa pada 6 materi pokok sistem peredaran darah kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan tahun pelajaran 2012/2013? 2. Apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat meningkatkan aktivitas siswa pada materi pokok sistem peredaran darah kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan tahun pelajaran 2012/2013? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: 1. Mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS pada materi pokok sistem peredaran darah kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan tahun pelajaran 2012/2013. 2. Mengetahui peningkatan aktivitas siswa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS pada materi pokok sistem peredaran darah kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan tahun pelajaran 2012/2013. D. Kegunaan Penelitian Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi: 1. Siswa yaitu untuk menciptakan suasana baru yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. 2. Guru yaitu sebagai sumbangan pemikiran dan alternatif pembelajaran dalam usaha untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. 7 3. Peneliti yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman sebagai calon guru tentang penggunaan model pembelajaran khususnya model pembelajaran kooperatif tipe TPS dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. 4. Sekolah yaitu memberikan sumbangan pemikiran untuk meningkatkan pembelajaran biologi disekolah melalui pemilihan model pembelajaran biologi yang tepat dan sesuai. E. Ruang lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah: 1. Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis menggabungkan interaksi antar sesama siswa sebagai latihan hidup di masyarakat nyata. 2. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan suatu strategi diskusi kooperatif dengan cara memproses informasi dengan mengembangkan cara berpikir dan komunikasi. Siswa diberi kesempatan untuk berpikir (Thinking) atas informasi yang diberikan guru, berpasangan (Pairing) dengan teman sebangku untuk berdiskusi, dan berbagi (Sharing) dengan seluruh kelas atas hasil diskusinya. 3. Kemampuan keterampilan berpikir kritis yang diamati dalam penelitian ini adalah (1) memberikan penjelasan sederhana, (2) membangun keterampilan dasar, (3) membuat kesimpulan, (4) membuat penjelasan lebih lanjut, dan (5) membuat strategi dan taktik 8 4. Pengukuran kemampuan berpikir kritis diperoleh dari hasil rata-rata pretes dan postes pada materi pokok sistem peredaran darah. 5. Siswa yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA2 dan XI IPA4 semester ganjil di SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan tahun pelajaran 2012/2013. 6. Materi pelajaran dalam penelitian ini adalah Sistem peredaran darah dengan kompetensi dasar menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan / penyakit yang dapat terjadi pada sistem peredaran darah (KD 3.2). F. Kerangka Pikir Biologi memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan, khususnya di dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Salah satunya yaitu manusia yang mampu berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis merupakan sesuatu yang perlu dilatih secara bertahap. Kemampuan dalam berpikir kritis memberikan arahan yang tepat dalam berpikir dan bekerja, dan membantu dalam menentukan keterkaitan sesuatu dengan yang lainnya dengan lebih akurat. Oleh sebab itu kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan dalam pemecahan masalah / pencarian solusi, dan pengelolaan proyek. Pengembangan kemampuan berpikir kritis merupakan integrasi beberapa bagian pengembangan kemampuan, seperti pengamatan (observasi), analisis, penalaran, penilaian, pengambilan keputusan, dan persuasi. Semakin baik pengembangan kemampuan-kemampuan ini, maka kita akan semakin dapat 9 mengatasi masalah-masalah/proyek komplek dan dengan hasil yang memuaskan. Kemampuan berpikir kritis itu sendiri memiliki lima jenis kemampuan yaitu seperti kemampuan memberikan penjelasan sederhana, membangun keterampilan dasar, membuat kesimpulan, membuat penjelasan lebih lanjut, dan membuat strategi dan taktik. Dilihat dari kemampuan berpikir kritis di atas, guru mempunyai peran tanggung jawab yang besar dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Keterampilan ini muncul tidak secara maksimal apabila tidak diberikan suatu permasalahan atau rangsangan terlebih dahulu. Pada proses pembelajaran guru perlu memberikan masalah-masalah yang dapat merangsang siswa agar menjadi lebih aktif, sehingga siswa dapat mengatasi persoalan yang diberikan oleh guru. Untuk mencapai tujuan tersebut maka aktifitas belajar memegang peranan penting. Sehingga dapat memperlancar proses pembelajaran dan pembelajaran yang optimal dapat tercapai. Oleh karena itu, guru harus menggunakan model pembelajaran yang dapat memberikan kondisi yang tepat dan sesuai dalam proses pembelajaran. Kemudian cara yang tepat untuk menciptakan kondisi yang sesuai sehingga dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa adalah yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS). Metode pembelajaran kooperatif tipeThink-Pair-Share (TPS) merupakan salah satu strategi dalam pembelajaran kooperatif yang dapat memberikan waktu kepada siswa untuk berpikir sehingga strategi ini punya potensi kuat untuk memberdayakan kemampuan berpikir siswa. Peningkatan kemampuan 10 berpikir siswa akan meningkatkan hasil belajar atau prestasi belajar siswa dan kecakapan akademiknya. Siswa dilatih bernalar dan dapat berpikir kritis untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru. Guru juga memberikan kesempatan siswa untuk menjawab dengan asumsi pemikirannya sendiri, kemudian berpasangan untuk mendiskusikan hasil jawabannya kepada teman sekelas untuk dapat didiskusikan dan dicari pemecahannya bersama-sama sehingga terbentuk suatu konsep. Proses kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe TPS ini diharapkan dapat mengembangkan pemikiran siswa secara individu karena adanya berpikir, sehingga kualitas juga dapat meningkat. Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan karena banyak siswa yang antusias saat proses belajar berlangsung. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel X dan variabel Y. Variabel X adalah variabel bebas yaitu model pembelajaran kooperatif tipe TPS dan variabel Y adalah variabel terikat yaitu kemampuan berpikir kritis siswa. Hubungan antara variabel tersebut digambarkan dalam diagram dibawah ini: X Y Keterangan : X = Model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Y = Kemampuan berpikir kritis siswa. Gambar 1. Hubungan antara variabel bebas dan variabel 11 G. Hipotesis Penelitian 1. Ho: Tidak ada pengaruh yang signifikan pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi pokok sistem peredaran darah kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan tahun pelajaran 2012/2013. H1: Ada pengaruh yang signifikan pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi pokok sistem peredaran darah kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan tahun pelajaran 2012/2013. 2. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat meningkatkan aktivitas siswa pada materi pokok sistem peredaran darah. 12 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) Model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini berbasis pembelajaran diskusi kelas. Metode ini memperkenalkan ide “waktu berpikir atau waktu tunggu” yang menjadi faktor kuat dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam merespon pertanyaan. Pembelajaran kooperatif model Think-Pair-Share ini relatif lebih sederhana karena tidak menyita waktu lama untuk mengatur tempat duduk ataupun mengelompokkan siswa. Pembelajaran ini melatih siswa untuk berani berpendapat dan menghargai pendapat teman. (Sa’dijah, 2006:12) Think Pair Share (TPS) dikembangkan oleh Frank Lyman dan rekan-rekannya dari Universitas Maryland. Think Pair Share (TPS) memiliki prosedur yang secara ekplisit dapat memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, saling membantu satu sama lain (Ibrahim dalam Estiti, 2007:10). Melalui cara seperti ini diharapkan siswa mampu bekerja sama, saling membutuhkan dan saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif. 13 Think Pair Share (TPS) merupakan suatu teknik sederhana dengan keuntungan besar. Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, Think Pair Share (TPS) juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas. Think Pair Share (TPS) sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented). Model pembelajaran Think-Pair-Share diharapkan siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikir dan menjawab dalam komunikasi antara satu dengan yang lain, serta bekerja saling membantu dalam kelompok kecil. Hal ini sesuai dengan pengertian dari model pembelajaran Think-PairShare itu sendiri, sebagaimana yang dikemukakan oleh Lie (2002:57) bahwa, “Think-Pair-Share adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain. Dalam hal ini, guru sangat berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi, sehingga terciptanya suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Dengan demikian jelas bahwa melalui model pembelajaran Think-Pair-Share, siswa secara langsung dapat memecahkan masalah, memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu 14 antara satu dengan yang lainnya, membuat kesimpulan (diskusi) serta mempresentasikan di depan kelas sebagai salah satu langkah evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Menurut Muslimin (2001: 26) langkah-langkah Think-Pair-Share ada tiga yaitu : Berpikir (Thinking), berpasangan (Pair), dan berbagi (Share): 1. Thinking (berpikir) Guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan topik pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan tersebut secara untuk beberapa saat.Dalam tahap ini siswa dituntut lebih mandiri dalam mengolah informasi yang dia dapat. 2. Pairing (berpasangan) Pada tahap ini guru meminta siswa duduk berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah difikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat membagi jawaban dengan pasangannya.Biasanya guru memberikan waktu 4-5 menit untuk berpasangan. 3. Sharing (berbagi) Pada tahap akhir guru meminta kepada pasangan untuk berbagi jawaban dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka diskusikan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan. 15 Tahapan pelaksanaan TPS tersebut efektif dalam membatasi aktifitas siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran, kemudian siswa dapat memunculkan kemampuan dan keterampilan siswa yang positif karena mereka belajar dari satu sama lain. Mampu menjunjung akuntabilitas individu karena mereka saling berbagi ide dalam kelompok maupun antar kelompok atau seluruh kelas, lalu mempunyai kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan seyogyanya tidak ada siswa yang mendominasi. Dan pada akhirnya TPS akan mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir secara terstruktur dalam diskusi mereka dan memberikan kesempatan untuk bekerja sendiri ataupun dengan orang lain melalui keterampilan berkomunikasi. B. Kemampuan Berpikir Kritis Berpikir merupakan kegiatan penggabungan antara persepsi dan unsur – unsur yang ada dalam pikiran untuk menghasilkan pengetahuan. Berpikir dapat terjadi pada seseorang bila pada dirinya mendapatkan rangsangan dari luar dan melalui berpikir inilah seseorang mengatasi masalah yang dihadapinya. Dalam Arifin (2000), keterampilan berpikir dikelompokkan menjadi dua golongan besar yaitu : keterampilan dasar dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Menurut Costa dalam Arifin (2000), yang termasuk keterampilan berpikir dasar meliputi : kualifikasi, klasifikasi, hubungan variabel, transformasi, dan hubungna sebab akibat. Sementara itu, ketrampilan berpikir tingkat tinggi meliputi pemecahan masalah, pengambilan keputusan, berpikir 16 kritis dan berpikir kreatif. Keterampilan berpikir kritis termasuk salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi. Keterampilan berpikir kritis secara esensial merupakan keterampilan menyelesaikan masalah (Problem Solving) (Costa, 1985). Sedangkan menurut Scriven dan Paul (1992) mendefinisikan berpikir kritis sebagai suatu proses intelektual dalam pembuatan konsep, mengaplikasikan, menganalisis, mensitesis, dan mengevaluasi berbagai informasi yang didapat dari hasil observasi, pengalaman, refleksi, dimana hasil dari proses ini digunakan sebagai dasar untuk mengambil tindakan. Halpen (dalam Arief Achmad, 2007) menyebutkan bahwa berpikir kritis adalah memberdayakan keterampilan atau strategi kognitif dalam menentukan tujuan. Proses tersebut dilalui setelah menentukan tujuan, mempertimbangkan, dan mengacu langsung kepada sasaran-merupakan bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat keputusan ketika menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe yang tepat. Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi-mempertimbangkan kesimpulan yang akan diambil manakala menentukan beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan. Dengan demikian, berpikir kritis adalah sebuah kemampuan berpikir dalam menilai sebuah informasi sebelum ia menjadi pikiran dan tersimpan menjadi memori. Seorang pemikir kritis diharapkan mampu untuk menyimpulkan 17 informasi yang diketahuinya setelah sebelumnya ia mengurai informasi tersebut berupa peristiwa, berita, dan pikiran yang semula utuh, lalu menjadi satuan-satuan kecil, kategori-kategori, kelompok-kelompok, serta memahami detil dari satuan, kategori, atau kelompok tersebut. Mengetahui cara memanfaatkan informasi untuk memecahkan masalah, dan mencari sumbersumber informasi yang relevan untuk dirinya. Menurut Ennis (dalam Costa, 1988: 54-57), indikator kemampuan berpikir kritis dibagi menjadi 5 kelompok yaitu: 1. Kemampuan memberikan penjelasan sederhana, meliputi: a. Memfokuskan pertanyaan b. Menganalisis pertanyaan c. Bertanya dan menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan atau tantangan 2. Kemampuan membangun keterampilan dasar, meliputi: a. Mempertimbangkan kriteria dan keabsahan informasi b. Mengamati dan mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi 3. Kemampuan membuat kesimpulan, meliputi: a. Mendeduksi dan mempertimbangkan hasil deduksi b. Menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi c. Membuat dan menentukan nilai pertimbangkan 4. Kemampuan memberi penjelasan lebih lanjut, meliputi: a. Mendefinisikan istilah dan definisi pertimbangan dalam tiga dimensi b. Mengidentifikasi asumsi 5. Kemampuan mengatur strategi dan taktik, meliputi: a. Menentukan tindakan b. Berinteraksi dengan orang lain 18 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini telah dilaksanakan di SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan pada bulan November 2012. B. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA semester ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan 2012/2013. Sampel dalam penelitin ini adalah siswa kelas XI IPA2 yang berjumlah 38 siswa sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas XI IPA4 sebagai kelas kontrol yang berjumlah 40 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. C. Desain Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain pretes-postes kelompok ekuivalen. Kelompok eksperimen maupun kontrol menggunakan kelas yang ada dengan kondisi yang homogen. Kelas eksperimen diberi perlakuan dengan model pembelajaran TPS, sedangkan kelas kontrol menggunakan metode diskusi kelompok. 19 Struktur desainnya sebagai berikut: I II O1 X O1 O2 C O2 Keterangan: I= kelas eksperimen; II= kelas kontrol; O1= pretest; O2 = post test; X = perlakuan model Think Pair Share; C= metode diskusi; (dimodifikasi dari Riyanto, 2001:43) Gambar 2. Desain pretes postes kelompok non ekuivalen D. Prosedur Penelitian Penelitian ini terdiri atas dua tahap, yaitu prapenelitian dan pelaksanaan penelitian. Adapun langkah-langkah dari tahap tersebut yaitu sebagai berikut: 1. Prapenelitian Kegiatan yang dilakukan pada prapenelitian adalah sebagai berikut : a. Menetapkan waktu penelitian; b. Mengurus surat penelitian pendahuluan (observasi) ke fakultas untuk sekolah; c. Mengadakan observasi ke sekolah tempat diadakannya penelitian, untuk mendapatkan informasi tentang keadaan kelas yang akan diteliti; d. Menetapkan sampel penelitian untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol; e. Membuat perangkat pembelajaran yang terdiri dari silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS); 20 f. Membuat instrumen evaluasi yaitu soal pretes/postes untuk setiap pertemuan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa; 2. Pelaksanaan Penelitian Mengadakan kegiatan pembelajaran dengan model TPS untuk kelas eksperimen dan dengan metode diskusi biasa untuk kelas kontrol. Penelitian ini dirancang sebanyak dua kali pertemuan. Pretes diberikan sebelum pembelajaran dan postes diberikan setelah pembelajaran. Langkah-langkah pembelajaran kelas eksperimen sebagai berikut: a. Pendahuluan 1. Siswa menerima lembar soal pretes untuk mengukur kemampuan berpikir kritis awal (pertemuan I). 2. Siswa mendengarkan informasi mengenai tujuan pembelajaran yang disampaikan guru. 3. Siswa diberi apersepsi Pertemuan pertama: Menyajikan gambar sel darah merah “Jika dilihat dengan mata telanjang darah kita berwarna merah. Apakah darah hanya tersusun oleh komponen-komponen yang berwarna merah?” Pertemuan kedua: Menyajikan gambar pembuluh vena dan arteri “dari gambar tersebut, apakah kalian tahu fungsi dari masingmasing gambar dan perbedaannya?” 4. Siswa diberi motivasi 21 Pertemuan pertama: “Di dalam tubuh kita terdapat berbagai macam sel darah diantaranya sel darah merah dan sel darah putih. Dari kedua sel darah tersebut memiliki peran yang sangat penting bagi tubuh kita. Untuk itu siswa harus mengetahui peranan dari masingmasing sel darah tersebut”. Pertemuan kedua: “Sering kali terjadi gangguan pada sistem peredaran darah. Dari ke semua gangguan tersebut memiliki penyebab yang berbeda-beda, untuk itu siswa harus mengetahui apa penyebab dari setiap gannguan yang terjadi agar dapat menghindarinnya”. b. Kegiatan Inti 1. Siswa mendengarkan penjelasan tahapan pembelajaran dengan menggunakan model TPS yang disampaikan oleh guru. 2. Siswa mendengarkan penjelasan materi yang disampaikan secara singkat oleh guru. 3. Siswa menerima LKS kemudian diberi waktu berpikir (thinking) selama 2 menit untuk setiap pertanyaan LKS. 4. Siswa berpasangan (pairing) untuk saling mengutarakan hasil pemikirannya, jawaban, atau gagasan atas pertanyaan yang ada dalam LKS selama 5 menit untuk tiap pertanyaan. 5. Siswa mengemukakan (sharing) hasil diskusinya di depan kelas. 6. Siswa yang lain menanggapi hasil diskusi. 7. Guru memberikan respon terhadap jawaban siswa dengan menambahkan materi yang belum diungkapkan siswa. 22 8. Guru mengecek pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan. c. Penutup 1. Siswa dibimbing oleh guru untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari. 2. Siswa mengerjakan postes (pertemuan II). Langkah-langkah pembelajaran kelas kontrol sebagai berikut: a. Pendahuluan 1. Siswa menerima lembar soal pretes untuk mengukur kemampuan awal (pertemuan I). 2. Siswa diberi penjelasan mengenai tujuan pembelajaran. 3. Siswa diberi apersepsi Pertemuan pertama: Menyajikan gambar sel darah merah. “Jika dilihat dengan mata telanjang darah kita berwarna merah. Apakah darah hanya tersusun oleh komponen-komponen yang berwarna merah?” Pertemuan kedua: Menyajikan gambar pembuluh vena dan arteri “Dari gambar tersebut, apakah kalian tahu fungsi dari masingmasing gambar dan perbedaannya?” 4. Siswa diberi motivasi 23 Pertemuan pertama: “Di dalam tubuh kita terdapat berbagai macam sel darah diantaranya sel darah merah dan sel darah putih. Dari kedua sel darah tersebut memiliki peran yang sangat penting bagi tubuh kita. Untuk itu kita harus mengetahui peranan dari masingmasing sel darah tersebut”. Pertemuan kedua: “sering kali terjadi gangguan pada sistem peredaran darah. Dari kesemua gangguan tersebut memiliki penyebab yang berbeda-beda, untuk itu kita harus mengetahui apa penyebab dari setiap gannguan yang terjadi agar kita dapat menghindarinnya ”. 5. Siswa menerima informasi dari guru bahwa pada pembelajaran ini akan dilakukan dengan metode diskusi kemudian akan dipresentasikan di depan kelas. b) Kegiatan Inti 1. Siswa mendengarkan penjelasan materi secara singkat yang disampaikan oleh guru. 2. Siswa dibagi menjadi 6 kelompok. 3. Setiap kelompok menerima LKS yang diberikan oleh guru dan menjawab pertanyaan yang ada pada LKS. 4. Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. 5. Guru memberikan penguatan dengan menjelaskan materi yang belum dipahami siswa. 6. Siswa mengumpulkan hasil diskusi kelompoknya. c) Penutup 24 1. Siswa dibimbing oleh guru untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari. 2. Siswa menjawab soal postes (pertemuan II). E. Jenis Data dan Teknik Pengambilan Data 1. Jenis Data Jenis dan teknik pengambilan data pada penelitian ini adalah: a. Data Kuantitatif Data kuantitatif yaitu berupa data kemampuan berpikir kritis siswa pada materi pokok sistem peredaran darah yang diperoleh dari nilai pretes dan postes. b. Data Kualitatif Data kualitatif berupa data aktivitas siswa selama proses pembelajaran. 2. Teknik Pengambilan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Pretes dan Postes Data berupa nilai pretes yang diambil pada pertemuan awal dan nilai postes pada pertemuan terakhir. Nilai pretes diambil sebelum pembelajaran, sedangkan nilai postes diambil setelah pembelajaran baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Bentuk soal yang 25 diberikan berupa soal essay yang mengandung indikator kemampuan berpikir kritis. Indikator berpikir kritis yang diamati yaitu: 1) memberi penjelasan dasar, 2) membangun keterampilan dasar, 3) membuat kesimpulan, 4) memberi penjelasan lanjut, 5) membuat strategi dan taktik. Masing-masing indikator berpikir kritis memiliki skor yang tertera pada rubrik p enilaian soal Pretes dan Postes. Teknik penskoran nilai pretes dan postes yaitu : = � �100 Keterangan : S = Nilai yang diharapkan (dicari); R = jumlah skor dari item atau soal yang dijawab benar; N = jumlah skor maksimum dari tes tersebut; (Purwanto, 2008:112). 26 Tabel 1.Kemampuan Berpikir Kritis Siswa No . Nama Aspek Kecakapan Berpikir Kritis memberikan membang membuat memberi penjelasan un kesimpula penjelasan sederhana keterampil n lanjut an dasar Skor per Skor per Skor per Skor per soal soal soal soal membuat strategi dan taktik Skor per soal 1 2 3 4 5 Dst No. Soal Jumlah Poin (P) Kriteria Catatan : Isilah skor yang diperoleh pada kolom yang disediakan. (dimodifikasi dari Arief, 2009:9). b. Lembar observasi aktivitas siswa Berisi kegiatan yang diamati pada saat proses pembelajaran. Setiap siswa diamati poin kegiatan yang dilakukan dengan cara memberi tanda (√ ) pada lembar observasi sesuai dengan aspek yang telah ditentukan. 27 Tabel 2. Lembar Observasi Aktivitas Siswa No Nama Aspek yang diamati A B C Xi � 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 4 5 6 \dst Jumlah (n) Catatan : Berilah tanda checklist (√) pada setiap item yang sesuai. Keterangan : � = Persentase aktivitas siswa; ∑Xi= Jumlah skor yang diperoleh; n= Jumlah skor maksimum; (dimodifikasi dari Belina, 2008:133) Keterangan Kriteria penilaian aktivitas siswa: A. Mengungkapkan ide atau gagasan 1. Tidak mengungkapkan ide atau gagasan. 2. Mengungkapkan ide atau gagasan namun tidak sesuai dengan permasalahan. 3. Mengungkapkan ide atau gagasan sesuai dengan permasalahan. 28 B. Bekerjasama dengan teman 1. Tidak bekerjasama dengan teman (diam saja). 2. Bekerjasama tetapi tidak sesuai dengan permasalahan. 3. Bekerjasama baik dengan teman. C. Mempresentasikan kegiatan kelompok 1. Siswa dalam kelompok kurang dapat mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan tidak menjawab pertanyaan. 2. Siswa dalam kelompok kurang dapat mempresentasikan hasil diskusi kelompok, tetapi menjawab pertanyaan dengan benar. 3. Siswa dalam kelompok dapat mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan menjawab pertanyaan dengan benar. Rubrik variabel, sub variabel, indikator, jenis data dan alat ukur data secara rinci dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini: Tabel 3. Hubungan antara variabel, instrumen, jenis data, dan analisis Data. No Variabel Instrumen Jenis data dan Alat ukur Analisis Data 1 kemampuan berpikir kritis Tes Nominal dan tes tertulis Uji t Interval Persentase kemampuan berpikir kritis 2 Aktivitas siswa selama proses pembelajaran siswa Lembar observasi aktivitas siswa 29 F. Teknik Analisis Data 1. Kemampuan berpikir kritis Data kemampuan berpikir kritis siswa diperoleh dari rata-rata skor pretes postes. Untuk memperoleh skor tiap indikator kemampuan berpikir kritis dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut: P= f  100 N Keterangan :`P = Poin yang dicari; F = Jumlah poin kemampuan berpikir kritis yang diperoleh; N = Jumlah total poin kemampuan berpikir kritis tiap indikator. Setelah data diolah dan diperoleh poinnya, maka kemampuan berpikir kritis siswa tersebut dapat dilihat dari kriteria sebagai berikut : Tabel 4.Kriteria kemampuan berpikir kritis siswa Interval Kriteria 80,1-100 Sangat tinggi 60,1-80 Tinggi 40,1-60 Sedang 20,1-40 Rendah 0,0-20 Sangat rendah (dimodifikasi dari Arikunto, 2010:245) 30 Kemudian dihitung selisih antara nilai pretest dan postest dengan menggunakan rumus N-gain lalu dianalisis secara statistik. Untuk mendapatkan skor N-gain menggunakan formula Hake (modifikasi dalam Loranz, 2008:3) sebagai berikut: N  Gain  X Y X 100 Z Y Keterangan : X = Nilai rata-rata postes Y = Nilai rata-rata pretes Z = Skor maksimum Selanjutnya, maka N-gain berpikir kritis siswa dapat dilihat dari kriteria sebagai berikut: Tabel 5. Kriteria N-gain yang diperoleh dari siswa. Nilai rata-rata Ngain (g) Kriteria g>70 Tinggi 30 0,05, tolak Ho untuk harga yang lainnya (Pratisto,2004:10). 2) Kesamaan Dua Varians Apabila masing-masing data berdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji kesamaan dua varian dengan uji Bartlett. a. Hipotesis Ho : Kedua sampel mempunyai varians sama H1 : Kedua sampel mempunyai varians berbeda b. Kriteria Uji - Jika x2hit < x2tab sehingga Ho diterima - Jika x2hit > x2tab sehingga Ho ditolak (Pratisto, 2004:71) 3) Pengujian Hipotesis Untuk menguji hipotesis digunakan uji kesamaan dua rata-rata dan uji perbedaan dua rata-rata dengan menggunakan program SPSS 17. a. Uji Kesamaan Dua Rata-rata 1. Hipotesis Ho = Rata-rata N-gain kedua sampel sama 32 H1 = Rata-rata N-gain kedua sampel tidak sama 2. Kriteria Uji - Jika –ttabel< thitung< ttabel, maka Ho diterima - Jika thitung< -ttabel atau thitung>ttabel maka Ho ditolak (Pratisto, 2004:13) b. Uji Perbedan Dua Rata-rata 1. Hipotesis Ho= rata-rata N-gain pada kelompok eksperimen sama dengan kelompok kontrol. H1 = rata-rata N-gain pada kelompok eksperimen lebih tinggi dari kelompok kontrol. 2. Kriteria Uji - Jika –ttabel < thitung < ttabel, maka Ho diterima - Jika thitung< -t tabel atau thitung> t tabel, maka Ho ditolak (Pratisto, 2004:10). c. Uji hipotesis dengan uji U 1. Hipotesis H0 = Rata-rata N-gain kedua sampel sama H1 = Rata-rata N-gain kedua sampel tidak sama 2. Kriteria Uji - Jika –Ztabel < Zhitung < Ztabel atau p-value > 0,05, maka Ho diterima 33 - Jika Zhitung < -Ztabel atau Zhitung > Ztabel atau p-value < 0,05, maka Ho ditolak (Martono, 2010:158). G. Pengolahan Data Aktivitas Siswa Data aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung merupakan data yang diambil melalui observasi. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan indeks aktivitas siswa. Langkah–langkah yang dilakukan untuk yaitu: Menghitung rata–rata skor aktivitas dengan menggunakan rumus: X = ∑Xi n x 100% Keterangan: X = Rata-rata skor aktivitas siswa; ∑xi = Jumlah skor yang diperoleh; n = Jumlah skor maksimun; (dimodifikasi dari Sudjana, 2002:67). Setelah data diolah dan diperoleh poinnya, maka kemampuan berpikir kritis siswa tersebut dapat dilihat dari kriteria sebagai berikut : Tabel 6. Kriteria Persentase Aktivitas Siswa Persentase Kriteria 87,50-100 Sangat baik 75,00-87,49 Baik 50,00-74,99 Cukup 0-49,99 Kurang (dimodifikasi dari Hidayati, dkk, 2011:17) 43 V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Penggunaan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan pada materi pokok Sistem Peredaran Darah. 2. Penggunaan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) berpengaruh dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan pada materi pokok Sistem Peredaran Darah. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan, penulis menyampaikan saran sebagai berikut: 1. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS erat berhubungan dengan waktu untuk setiap tahapan pembelajaran. Maka dari itu guru hendaknya memperhatikan alokasi waktu, karakteristik bahan ajar, dan pengelolaan 44 kelas yang baik pada saat akan menggunakan model pembelajaran kooperatip tipe TPS. 2. Bagi peneliti diharapkan mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk memilih metode atau teknik pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi yang akan diajarkan sehingga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. 3. Dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS, dimana terdapat banyak kelompok dibutuhkan pengawasan dan observer yang lebih banyak untuk dapat menilai aktivitas belajar siswa. DAFTAR PUSTAKA Anwar. 2006. Pendidikan Kecakapan Hidup. Bandung: Alfabeta. Arends, R.I. 2004. Learning to Teach. Sixth Edition. New York: Mcgraw Hill. Arifin , M. 2000. Strategi Belajar Mengajar Kimia. Bandung: Jurusan Pendidikan Kimia UPI. Arief Achmad , 2007, Memahami Berpikir Kritis, diambil dari http://researchengines.com/1007arief3.html; 13 April 2010; 20:23 wib. Arikunto, S. 2010. Dasar-Dasar Evaluasi pendidikan.Jakarta: Bumi Aksara. Ariyanti, M. 2012.Pengaruh Penggunaan Bahan Ajar Leaflet Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS ( Think Pair Share) Terhadap Penguasaan Konsep Siswa Pada Materi Pokok Sistem Pernapasan. FKIP Universitas Lampung. Bandar Lampung. Aryulina, D, Muslim, C. Manaf, S & Widiwinarsih, E. 2004.Biologi SMA dan MA untuk kelas X. Surabaya: Erlangga. Belina, W.W. 2008. Peningkatan Kecakapan Berpikir Rasional Siswa Dalam Pembelajaran Fisika di SMP Pada Pokok Bahasan Pemantulan Cahaya Melalui Model Pembelajaran PBI (Penelitian eksperimen pada siswa kelas VIII di salah satu SMP Swasta di kota Bandung). (Skripsi) Jurusan Pendidikan Fisika UPI Bandung. Tidak diterbitkan. Brameld. T. 1992. Dasar Konsep Pendidikan Moral. Alfabeta BSNP. 2006. Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus dan Contoh/Model Silabus SMA/MA. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta. Bukit Karo-Karo. Ulih. 1985. Suatu Pengantar Metodologi Pengajaran. Salatiga : CV. Saudara. Costa, A. L. (ed). 1988. Developing Minds: A Resource Book For Teaching Thinking. Virginia: ASCD. 46 Crawford, M.L. 2001. Teaching Contextually: Research, Rationale, and Techniques for Improving Student Motivation and Achievement in Mathematics and Science. Texas: CCI Publishing, Inc.p.18. Ennis, R.H & Weir, E. 1985. The Ennis-Weir Critical Thinking Essay Test. Test Manual,

Dokumen baru

Download (54 Halaman)
Gratis

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KECAKAPAN BERPIKIR RASIONAL SISWA PADA MATERI POKOK EKOSISTEM (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Gajah Mada Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2011/20
0
7
54
PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA PADA MATERI POKOK KEANEKARAGAMAN HAYATI (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Kotagajah Semester Genap
0
6
57
PENGARUH PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PENCERNAAN (Kuasi Eksperimental pada Siswa Kelas XI IPA Semester Genap SMA Neg
0
19
70
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Pagelaran Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
7
54
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMA Negeri 7 Bandar Lampung T.P 2012/2013)
1
5
55
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMA Negeri 7 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
6
56
PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET DENGAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM GERAK MANUSIA (Studi Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Semester Ganjil T
44
262
59
PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET DENGAN MODELPEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE ( (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWAPADA MATERI POKOK SISTEM GERAK MANUSIA (Studi Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Semester Ganjil
0
4
61
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampu
3
9
54
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampu
0
5
54
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Pagelaran Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
10
52
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas X Semester Ganjil SMK Muhammadiyah 2 Bandarlampung Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
11
63
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 12 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
2
49
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK KLASIFIKASI BENDA
0
12
49
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII Semester Genap SMP Negeri 1 Pringsewu Tahun Pelajaran 2013/2014)
0
5
54
Show more