Teks Pidato Soekarno Tentang Lahirnya Pancasila Tinjauan Pragmatik

Gratis

3
43
75
3 years ago
Preview
Full text

TEKS PIDATO SOEKARNO TENTANG LAHIRNYA PANCASILA TINJAUAN PRGAMATIK SKRIPSI OLEH FORESTER K. P. MENDROFA NIM 080701017

  PERNYATAAN

  Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya orang yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang tertulis sebagai acuan dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila pernyataan yang saya perbuat ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar kesarjanaan yang saya peroleh.

  Medan, Maret 2012 Forester K. P. Mendrofa

  

TEKS PIDATO SOEKARNO TENTANG LAHIRNYA PANCASILA

TINJAUAN PRAGMATIK

FORESTER K. P. MENDROFA

ABSTRAK

  Penelitian ini berjudul “Teks Pidato Soekarno Tentang Lahirnya Pancasila Tinjauan Prgamatik.” Metode yang digunakan adalah metode padan dengan menggunakan data wacana teks pidato Seokarno yang terdapat dalam buku lahirnya pancasila. Data kemudian dianalisis berdasarkan teori H. Paul Grace, J.L. Austin dan Searle yang digunakan sebagai kerangka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menetukan implikatur dan tindak tutur apa sajakah yang terdapat dalam teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya Pancasila. Teori yang digunakan adalah bagian dari Pragmatik, yaitu teori implikatur oleh H. Paul Grice dan tindak tutur oleh J.L. Austin dan Searle. Temuan ini menunjukkan bahwa implikatur yang terkandung dalam wacana teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya pancasila dapat disimpulkan lebih mengarah pada tindakan untuk menambah wawasan, membakar semangat, mengajak dan mempengaruhi audiens yang hadir pada sidang pertama BPUPKI tersebut pada hari ke empat, mengenai pembicaraan tentang dasar negara Indonesia. Hal ini disesuaikan dengan konteks yang lekat dengan situasi anggota sidang tersebut yang sedang bergulat dengan pendapatnya masing-masing tentang dasar negara Indonesia yang terbaik yang akan diterima dan disetujui oleh pihak Jepang dan juga pihak Indonesia sendiri. Dalam wacana tersebut juga ditemukan tiga jenis tindak tutur yaitu (1) tindak lokusi, (2) tindak ilokusi, (3) tindak perlokusi. Berdasarkan lima kategori yang dikemukakan Searle (Leech, 1993:164), dapat dikatakan bahwa implikatur yang terkandung dalam tuturan wacana teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya pancasila mencakup tindak ilokusi representatif atau asertif, direktif, dan ekspresif. Kategori ilokusi ini disimpulkan berdasarkan analisis pembukaan, isi, dan penutup pidato Soekarno, yang dianggap dapat mewakili keseluruhan teks pidato tersebut.

  PRAKATA

  Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, atas kasih dan karunia-Nya yang senantiasa berlimpah kepada penulis dalam mengerjakan skripsi ini dari awal hingga selesainya penulisan skripsi ini.

  Penulis mempersembahkan skripsi ini kepada orang tua tercinta, Bapak Folata Mendrofa, S.Pd dan Ibu Yasminta Harefa, karena telah memberikan dukungan moral, material, kasih sayang yang tanpa batas, dan doa yang tidak pernah berhenti. Kiranya kasih setia dan kemurahan Tuhan senantiasa bersama dengan kita semua.

  Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis banyak menemui kesulitan, akan tetapi berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak baik berupa dorongan nasihat, dukungan moral, dan petunjuk praktis maka penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak yang telah membantu penulisan ini, yaitu:

  1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

  2. Bapak Prof. Ikhwanuddin Nasution, M. Si., selaku ketua Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, 3. Bapak Drs. Haris Sutan Lubis, SP, selaku Sekretaris Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

  4. Bapak Drs. Asrul Siregar, M. Hum., selaku pembimbing I yang telah banyak memberikan masukan dan saran kepada penulis, baik dalam perkuliahan maupun saat proses penulisan skripsi ini.

  5. Bapak Drs. T. Aiyub Sulaiman, selaku pembimbing II yang telah banyak memberi dukungan dan membantu penulis dalam penyusunan proposal hingga penyelesaian skripsi ini.

  6. Bapak Drs. Amhar Kudadiri, M. Hum., sebagai Dosen Penasehat Akademik yang turut memberikan nasihat dan dukungan selama proses perkuliahan sampai pengerjaan skripsi ini.

  7. Bapak dan Ibu staf pengajar Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara, yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan, baik dalam bidang linguistik, sastra maupun bidang-bidang umum lainnya, yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

  8. Adik penulis tercinta, Cahaya Ningsih Mendrofa, yang selalu menjadi penyemangat dalam segala hal. (Terimakasih telah hadir ke dunia, menemaniku,

  karena tanpamu, aku tidak pernah merasakan bahagianya menjadi seorang kakak.)

  9. Sahabat-sahabat penulis, yang tidak pernah lelah menjadi semangat penulis, untuk menjadi yang lebih baik. (Nama kalian akan selalu ada dihatiku, selamanya).

  Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak terlepas dari kekurangan- kekurangan. Untuk itu dengan kerendahan hati penulis menerima segala saran dan kritik yang dapat menyempurnakan isi skripsi ini. Terima kasih.

  Medan, Maret 2012 Penulis, Forester K. P. Mendrofa

  

DAFTAR ISI

PERNYATAAN ....................................................................................................................i

ABSTRAK ............................................................................................................................ii

PRAKATA ...........................................................................................................................iii

DAFTAR ISI .........................................................................................................................v

  BAB I PENDAHULUAN

  1.1 Latar Belakang dan Masalah .................................................................................1

  1.1.1 Latar Belakang .......................................................................................1

  1.2.1 Masalah ..................................................................................................6

  1.2 Batasan Masalah ...................................................................................................6

  1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian .............................................................................7

  1.3.1 Tujuan Penelitian ...................................................................................7

  1.3.2 Manfaat Penelitian .................................................................................7

  1.3.2.1 Manfaat Teoretis .....................................................................7

  1.3.2.2 Manfaat Praktis .......................................................................7

  BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

  2.1 Konsep ..................................................................................................................8

  2.1.1 Tinjauan .................................................................................................8

  2.1.2 Teks Pidato Soekarno ............................................................................8

  2.1.3 Lahirnya Pancasila .................................................................................9

  2.1.4 Pragmatik ...............................................................................................9

  2.2 Landasan Teori ......................................................................................................9

  2.2.1 Pragmatik ...............................................................................................9

  2.2.2 Implikatur .............................................................................................11

  2.2.3 Tindak Tutur ........................................................................................14

  2.2.4 Konteks ................................................................................................17

  2.3 Tinjauan Pustaka .................................................................................................19

  BAB III METODE PENELITIAN

  3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ...............................................................................21

  3.1.1 Lokasi Penelitian ...................................................................................21

  3.1.2 Waktu Penelitian.....................................................................................21

  3.2 Populasi dan Sampel..............................................................................................21

  3.2.1 Populasi ..................................................................................................21

  3.2.2 Sampel ....................................................................................................21

  3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ................................................................22

  3.4 Metode dan Teknik Analisis Data .........................................................................23

  BAB IV PEMBAHASAN

  4.1 Implikatur dan Tindak Tutur Pembukaan Teks Pidato Soekarno Lahirnya Pancasila ......................................................................................................................29

  4.2 Implikatur dan Tindak Tutur Isi Teks Pidato Soekarno Lahirnya Pancasila.......................................................................................................................35

  4.3 Implikatur dan Tindak Tutur Penutup Teks Pidato Soekarno Lahirnya Pancasila.......................................................................................................................41

  BAB V SIMPULAN DAN SARAN

  5.1 Simpulan ................................................................................................................47

  5.2 Saran ......................................................................................................................48

  DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................vii

  

TEKS PIDATO SOEKARNO TENTANG LAHIRNYA PANCASILA

TINJAUAN PRAGMATIK

FORESTER K. P. MENDROFA

ABSTRAK

  Penelitian ini berjudul “Teks Pidato Soekarno Tentang Lahirnya Pancasila Tinjauan Prgamatik.” Metode yang digunakan adalah metode padan dengan menggunakan data wacana teks pidato Seokarno yang terdapat dalam buku lahirnya pancasila. Data kemudian dianalisis berdasarkan teori H. Paul Grace, J.L. Austin dan Searle yang digunakan sebagai kerangka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menetukan implikatur dan tindak tutur apa sajakah yang terdapat dalam teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya Pancasila. Teori yang digunakan adalah bagian dari Pragmatik, yaitu teori implikatur oleh H. Paul Grice dan tindak tutur oleh J.L. Austin dan Searle. Temuan ini menunjukkan bahwa implikatur yang terkandung dalam wacana teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya pancasila dapat disimpulkan lebih mengarah pada tindakan untuk menambah wawasan, membakar semangat, mengajak dan mempengaruhi audiens yang hadir pada sidang pertama BPUPKI tersebut pada hari ke empat, mengenai pembicaraan tentang dasar negara Indonesia. Hal ini disesuaikan dengan konteks yang lekat dengan situasi anggota sidang tersebut yang sedang bergulat dengan pendapatnya masing-masing tentang dasar negara Indonesia yang terbaik yang akan diterima dan disetujui oleh pihak Jepang dan juga pihak Indonesia sendiri. Dalam wacana tersebut juga ditemukan tiga jenis tindak tutur yaitu (1) tindak lokusi, (2) tindak ilokusi, (3) tindak perlokusi. Berdasarkan lima kategori yang dikemukakan Searle (Leech, 1993:164), dapat dikatakan bahwa implikatur yang terkandung dalam tuturan wacana teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya pancasila mencakup tindak ilokusi representatif atau asertif, direktif, dan ekspresif. Kategori ilokusi ini disimpulkan berdasarkan analisis pembukaan, isi, dan penutup pidato Soekarno, yang dianggap dapat mewakili keseluruhan teks pidato tersebut.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah

1.1.1 Latar Belakang

  Bahasa adalah sebuah media komunikasi yang digunakan manusia dalam berinteraksi. Bahasa sebagai lambang bunyi yang arbitrer digunakan oleh masyarakat untuk berhubungan dan bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri (Harimurti Kridalaksana, 1994:24). Hidayat (dalam Sobur, 2004: 274) mengatakan bahwa pengertian bahasa adalah percakapan, alat untuk melukiskan sesuatu pikiran, perasaan, atau pengalaman; alat ini terdiri dari kata-kata yang merupakan penghubung bahasa dengan dunia luar, sesuai dengan kesepakatan para pemakainya sehingga dapat saling mengerti.

  Bahasa dan pikiran saling berkaitan erat. Sebuah uraian yang cukup menarik mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikiran dinyatakan oleh Whorf dan Saphir.

  Whorf dan Saphir melihat bahwa pikiran manusia ditentukan oleh sistem klasifikasi dari bahasa tertentu yang digunakan manusia.

  Salah satu bentuk penggunaan bahasa dapat dilihat dalam wacana. Kridaklaksana (dalam Tarigan, 1993: 25) mengatakan wacana (discourse) adalah satuan bahasa terlengkap; dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraf, kalimat atau kata yang membawa amanat yang lengkap.

  Menurut Tarigan (1987: 23) istilah wacana mencakup komunikasi pikiran dengan kata-kata, ekspresi ide-ide atau gagasan, komunikasi secara umum serta kegiatan formal seperti laporan ilmiah dan sandiwara atau lakon. Salah satu bentuk wacana berdasarkan media penyampaiannya adalah wacana lisan. Wacana lisan atau

  

spoken discourse adalah wacana yang disampaikan secara lisan, melalui media lisan

(Tarigan 1987: 55). Salah satu wacana yang disampaikan secara lisan adalah pidato.

  Untuk menerima, memahami, atau menikmati sebuah wacana lisan maka penerima harus menyimak dan mendengarkan wacana tersebut. Hal terpenting adalah kemampuan penyimak atau pendengar untuk memahami maksud dan tujuan yang disampaikan dengan tetap menggunakan daya nalar yang dimiliki.

  Istilah penalaran sebagai terjemahan dari bahasa Inggris reasoning menurut kamus The Random House Dictionary berarti the act or process of a person who

  

reasons (kegiatan atau proses menalar yang dilakukan oleh seseorang), sedangkan

reason berarti the mental powers concerned with forming conclusion, judgements or

inferences (kekuatan mental yang berkaitan dengan pembentukan simpulan dan

  penilaian) (Effendy, 1990: 104). Dalam menganalisis wacana, pendengar atau penyimak harus memiliki daya nalar yang baik sehingga pendengar atau penyimak dapat membentuk suatu simpulan dan penilaiannya sendiri terhadap wacana yang disampaikan. Dengan kata lain, pendengar atau penyimak dapat memahami makna yang terkandung dalam wacana tersebut.

  Pemahaman terhadap wacana lisan, dalam hal ini pidato jelas membutuhkan pemikiran dan pengertian yang mendalam terhadap beberapa aspek yang mendukung pendengar atau penyimak dalam menerima isi dan tujuan yang disampaikan oleh pemberi pidato. Aspek tersebur antara lain adalah studi pragmatik yang bergelut pada ranah pengambilan makna melalui hubungan bahasa dengan pemakainya.

  Pragmatik menurut Levinson (dalam Siregar, 1997: 23) adalah penelitian di dalam bidang deiksis, implikatur, praanggapan, pertuturan (tindak ujar) dan struktur wacana. Leech (1974: 22) berpendapat bahwa pragmatik mengkaji makna dalam hubungannya dengan situasi ujar. Leech membatasi pragmatik umum pada kajian komunikasi linguistik yang berkenaan dengan prinsip-prinsip percakapan, dan pada suatu model pragmatik yang retoris.

  Penggunaan istilah ‘retoris’ ini sangat tradisional dan mengacu pada kajian mengenai pemakaian bahasa secara efektif di dalam komunikasi. Dalam tradisi-tradisi historis tertentu, retorik diartikan sebagai seni keterampilan menggunakan bahasa untuk tujuan-tujuan persuasi, sastra, atau berpidato. Istilah retorik memusatkan diri pada situasi ujar yang berorientasi tujuan, dan di dalam situasi tersebut penutur memakai bahasa dengan tujuan menghasilkan suatu efek tertentu pada pikiran petutur.

  Jalan menuju pemahaman tentang bahasa terletak dalam kajian teks. Dijk (dalam Lubis, 1993: 21) berpendapat bahwa teks sama dengan discourse, yaitu kesatuan dari beberapa kalimat yang satu dengan yang lain saling terikat erat.

  Pengertian satu kalimat harus dihubungkan dengan kalimat yang lain dan tidak dapat ditafsirkan satu-satu kalimat. Dengan kata lain, teks adalah satu kesatuan semantik bukan kesatuan gramatikal. Kesatuan yang bukan dikarenakan bentuknya (seperti morfem, klausa, kalimat) tetapi kesatuan artinya.

  Teks adalah suatu contoh proses dan hasil dari makna dalam konteks situasi tertentu. Pemahaman terhadap teks tidak terlepas dari konteks yang menyertai teks tersebut. Teks dan konteks merupakan aspek dari proses yang sama. Ada teks dan ada teks lain yang menyertainya (yang disebut konteks). Pengertian mengenai konteks tidak hanya meliputi hal-hal tertulis melainkan juga hal-hal yang tanpa kata atau nonverbal (Halliday dan Hasan, 1992:6). Teks dan konteks dapat muncul bersama- sama dalam sebuah pidato.

  Pidato adalah mengungkapkan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak atau wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak (KBBI, 2003: 871). Pidato merupakan salah satu bentuk retorika. Retorika atau dalam bahasa Inggris rhetoric bersumber dari perkataan Latin rhetorica yang berarti ilmu bicara (Effendy, 1990: 53). Cleanth Brooks dan Robert Penn Waren (dalam Effendy, 1990: 53) dalam bukunya, Modern Rhetoric, mendefenisikan retorika sebagai the art of using language effectively atau seni penggunaan bahasa secara efektif.

  Pemahaman terhadap sebuah pidato tidak dapat dipisahkan dari struktur yang membangun pidato tersebut. Seperti pada teks pidato lahirnya pancasila, Soekarno sebagai seorang yang terampil dalam berpidato terlihat dengan sangat jelas membangun pidatonya dengan struktur yang sangat terperinci. (Wisanggeni, 2011 : 71) dalam bukunya, Cara Instan Jago MC & Berpidato Dalam Bahasa Indonesia, mengatakan bahwa secara garis besar, kerangka pidato dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut, 1.

  Pendahuluan atau Pembuka Pendahuluan atau pembuka bertujuan untuk mempersiapkan pendengar pada pokok permasalahan yang hendak dikemukakan. Pendahuluan berisi sapaan kepada pendengar, ucapan syukur, dan latar belakang masalah.

  2. Isi Bagian isi berisi gagasan pokok atau materi yang hendak disampaikan.

  3. Penutup Berisi rangkuman, seruan, maupun penegasan kembali. Penutup berupa kesimpulan, saran dan ucapan terimakasih.

  Soekarno yang lebih dikenal dengan sapaan Bung Karno merupakan tokoh nasionalisme Indonesia yang juga sebagai presiden Indonesia pertama lahir di Surabaya pada tangal 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta pada tanggal 21 Juni 1970 dalam umur yang ke-69 tahun.

  Soekarno memilki peranan yang sangat penting dalam memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Soekarno tidak hanya sebagai proklamator kemerdekaan tetapi juga sebagai pemikir dan pencetus dasar negara Republik Indonesia yang sekarang kita kenal sebagai pancasila.

  Tim Redaksi Nera Pustaka (2011 :254) mengatakan bahwa Soekarno dikenal dunia internsional sebagai pejuang dan konseptor kemerdekaan RI yang handal.

  Banyak konsepnya sangat dikagumi oleh dunia karena itu ia sering kali diundang oleh banyak negara. Undangan itu ia manfaatkan untuk mengungkapkan konsepnya tentang pembangunan dan perjuangan yang disampaikannya dengan menarik yang membuat orang terkagum padanya. Soekarno dikenal sebagai pejuang dan peletak dasar RI yang punya kemampuan berpidato yang baik yang dapat ditunjukkan di level internasional dan dalam negara Indonesia. Pidato yang mengesankan dari Soekarno adalah pidato hari lahirnya Pancasila dan hari kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

  Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau dalam bahasa pada tanggaldengan menjanjikan bahwadengan wakil ketua Hibangase Yosio (orang Jepang) dan R.P. Soeroso.

  Rapat pertama diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Pada zaman Belanda, gedung tersebut merupakan gedungembaga DPR pada jaman kolonial Belanda.

  Rapat dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya 29 Mei 1945 dengan tema dasar negara. Pada sidang pertama ini terdapat 3 orang yang mengajukan pendapatnya tentang dasar negara. Pada tanggal 29 Mei 1945, Mrmengusulkan lima asas pula yang disebut Pancasila yaitu:

  a. Kebangsaan Indonesia

  b. Internasionalisme dan peri kemanusiaan

  c. Mufakat atau demokrasi

  d. Kesejahteraan sosial

  e. Ketuhanan yang Maha Esa Kelima asas dari Soekarno disebut pancasila yang menurut beliau bilamana diperlukan dapat diperas menjadi Trisila atau Tiga Sila yaitu: a. Sosionasionalisme

  b. Sosiodemokrasi

  c. Ketuhanan yang berkebudayaan Bahkan masih menurut Soekarno, Trisila tersebut di atas bila diperas kembali disebutnya sebagai Ekasila yaitu merupakan sila gotong royong yang merupakan upaya mun konsep tersebut pada akhirnya disetujui dengan urutan serta redaksi yang sedikit berbeda.

  Lahirnya Pancasila merupakan buah dari pidato Bung Karno yang diucapkan dengan tidak tertulis pada masa dahulu dalam sidang pertama BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945 (hari ke empat) ketika sidang membicarakan Dasar (Beginsel) Negara Indonesia, sebagai wujud dari keinginan bung Karno. Pidato yang disampaikan langsung tanpa naskah ini, sangatlah luar biasa isinya, hingga mampu mencetuskan kelangsungan hidup bangsa Indonesia hingga saat ini.

  Teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya pancasila ini menarik dan penting untuk diteliti karena menunjukkan suatu kekuatan bahasa berkaitan dengan makna bahasa dan pemakai bahasa tersebut dalam menghasilkan sesuatu yang merupakan landasan berlangsungnya kehidupan suatu bangsa yang besar yaitu bangsa Indonesia. Hal tersebut menjadi alasan utama peneliti melakukan penelitian yang lebih mendalam terhadap teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya Pancasila.

  Adapun judul penelitian ini adalah Teks Pidato Soekarno Tentang Lahirnya Pancasila, Tinjauan Pragmatik.

1.1.1 Masalah

  Bertitik tolak dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Implikatur apakah yang terdapat dalam teks pidato Soekarno tentang lahirnya pancasila?

  2. Tindak tutur apa sajakah yang terdapat dalam teks pidato Soekarno tentang lahirnya pancasila

  1.2 Batasan Masalah

  Sebuah penelitian sangat membutuhkan batasan masalah agar penelitian tersebut terarah dan tidak terlalu luas sehingga tujuan penelitian dapat tercapai.

  Adapun yang menjadi batasan dalam penelitian ini terbatas pada analisis pragmatik yang meliputi implikatur dan tindak tutur yang terdapat pada teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya pancasila, pada tanggal 1 Juni 1945.

  1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

  Berdasarkan masalah yang dirumuskan, adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut di bawah ini.

  1. Menentukan implikatur yang terdapat dalam teks pidato Soekarno tentang lahirnya pancasila.

  2. Menemukan dan menganalisis jenis-jenis tindak tutur yang terdapat dalam teks pidato Soekarno tentang lahirnya pancasila.

1.3.2 Manfaat penelitian

1.3.2.1 Manfaat Teoretis

  Secara teoretis, manfaat hasil penelitian tinjauan pragmatik terhadap teks pidato lahirnya pancasia Presiden Soekarno adalah: (1) menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat mengenai pidato lahirnya pancasila Presiden Soekarno yang membuahkan tercetusnya dasar negara kita.

  (2) menjadi sumber masukan bagi peneliti lain yang ingin membicarakan tentang teks pidato lahirnya pancasila Presiden Soekarno.

1.3.2.2 Manfaat Praktis

  Hasil penelitian tinjauan pragmatik terhadap teks pidato lahirnya pancasila Presiden Soekarno secara praktis dapat digunakan sebagai sumbangan pemikiran kepada calon-calon pemimpin bangsa agar memiliki kemampuan retorik yang baik, sehingga mampu menyebarluaskan dan menanamkan nilai-nilai nasional dan rasa kecintaan akan kesatuan dan persatuan bangsa kepada masyarakat, demi tercapainya suatu keadaan yang dikehendaki bersama.

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep

  Konsep adalah gambaran mental dari suatu objek, proses, atau apapun yang ada diluar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (Alwi, dkk 2003: 588).

  2.1.1 Tinjauan

  Tinjauan adalah hasil meninjau; pandangan; pendapat (sesudah menyelidiki, mempelajari dan sebagainya) atau perbuatan meninjau (KBBI, 2007: 1198).

  2.1.2 Teks Pidato Soekarno

  Pidato adalah mengungkapkan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak atau wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak (KBBI, 2003: 871). Berikut ini merupakan sebagian dari pidato Soekarno pada sidang BPUPKI yang pertama tanggal 1 Juni 1945.

  Paduka tuan Ketua yang mulia! Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari

  Paduka tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saya. Saya akan menetapi permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka tuan ketua yang mulia? Paduka tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini.

  Maaf, beribu maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka tuan ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda "philosofische grondslag" dari pada Indonesia merdeka. Philosofische grondslag itulah pundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam- dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saya kemukakan, Paduka tuan Ketua yang mulia, tetapi lebih dahulu izinkanlah saya membicarakan, memberi tahukan kepada tuan-tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan "merdeka".

  Merdeka buat saya ialah: "political independen-ce", politieke onafhankelijkheid. Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid? Tuan-tuan sekalian! Dengan terus-terang saja saya berkata: Tatkala Dokuritu

  Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saya, di dalam hati saya banyak khawatir, kalau-kalau banyak anggota yang - saya katakan di dalam bahasa asing, ma'afkan perkataan ini - "zwaarwichtig" akan perkara yang kecil-kecil "zwaarwichtig" sampai kata orang Jawa "jelimet". Jikalau sudah membicarakan hal yang kecil-kecil sampai jelimet, barulah mereka berani menyatakan kemerdekaan.

  Tuan-tuan yang terhormat! Lihatlah di dalam sejarah dunia, lihatlah kepada perjalanan dunia itu. Banyak sekali negara-negara yang merdeka, tetapi bandingkanlah kemerdekaan negara-negara itu satu sama lain! Samakah isinya, samakah derajatnya negara-negara yang merdeka itu? Jermania merdeka, Saudi Arabia merdeka, Iran merdeka, Tiongkok merdeka, Nippon merdeka, Amerika merdeka, Inggris merdeka, Rusia merdeka, Mesir merdeka. Namanya semuanya merdeka, tetapi bandingkanlah isinya!

  Alangkah berbedanya isi itu! Jikalau kita berkata: Sebelum Negara merdeka, maka harus lebih dahulu ini selesai,itu selesai, itu selesai, sampai njelimet!, maka saya bertanya kepada tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80% dari rakyatnya terdiri kaum Badui, yang sama sekali tidak mengerti hal ini atau itu.

  Bacalah buku Armstrong yang menceriterakan tentang Ibn Saud! Disitu ternyata, bahwa tatkala Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakyat Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin. Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia itu!! Toh Saudi Arabia merdeka!

  Lihatlah pula - jikalau tuan-tuan kehendaki contoh yang lebih hebat - Soviet Rusia! Pada masa Lenin mendirikan Negara Soviet, adakah rakyat soviet sudah cerdas? Seratus lima puluh milyun rakyat Rusia, adalah rakyat musyik yang lebih dari pada 80% tidak dapat membaca dan menulis; bahkan dari buku-buku yang terkenal dari Leo Tolstoi dan Fulop Miller, tuan-tuan mengetahui betapa keadaan rakyat Soviet Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Soviet itu. Dan kita sekarang disini mau mendirikan negara Indonesia merdeka. Terlalu banyak macam-macam soal kita kemukakan!

  Maaf, P. T. Zimukyokutyoo! Berdirilah saya punya bulu, kalau saya membaca tuan punya surat, yang minta kepada kita supaya dirancangkan sampai jelimet hal ini dan itu dahulu semuanya! Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai jelimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, tuan tidak akan mesngalami Indonesia merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia merdeka, - sampai dilobang kubur! (Tepuk tangan riuh).

2.1.3 Lahirnya Pancasila

  Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau dalam bahasa pada tanggaldengan menjanjikan bahwadengan wakil ketua Hibangase Yosio (perwakilan Jepang) dan R.P. Soeroso.

2.1.4 Pragmatik

  Pragmatik menurut levinson (dalam Siregar, 1997:23) adalah penelitian di dalam bidang deiksis, implikatur, praanggapan, pertuturan (tindak ujar) dan struktur wacana. Leech (1974:22) berpendapat bahwa pragmatik mengkaji makna dalam hubungannya dengan situasi ujar.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Pragmatik Teori pragmatik merupakan disiplin ilmu yang relevan untuk penelitian ini.

  Istilah pragmatik lahir dari pemikiran seorang filosof yang bernama Charles Morris (1983) yang mengolah kembali pemikiran filosof-filosof pendahulunya (Locke dan Pierce) mengenai semiotik. Oleh Morris, semiotik dibedakan menjadi sintaksis, pragmatik, dan semantik. Kajian mengenai hubungan antartanda disebut dengan sintaksis; telaah mengenai hubungan antara tanda-tanda dengan denotatanya disebut semantik; dan telaah mengenai hubungan antara tanda dengan pemakai tanda disebut pragmatik (Siregar 1997: 3).

  Di dalam “Kamus Linguistik” Harimurti Kridaklaksana (1982) disebutkan, pragmatik adalah syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi; pragmatika adalah 1. Cabang semiotika yang mempelajari asal- usul, pemakaian dan akibat lambang dan tanda; 2. Ilmu yang menyelidiki pertuturan konteksnya dan maknanya (Siregar 1997: 5).

  Dalam penelitian ini, pembicaraan mengenai kajian pragmatik lebih dibatasi pada implikatur dan tindak tutur yang merupakan bagian dari suatu tuturan dan konteks yang mempunyai peranan penting dalam situasi tuturan.

2.2.2 Implikatur

  Menurut Gunpers (dalam Lubis 1991:68), inferensi (implikatur) adalah proses interpretasi yang ditentukan oleh situasi dan konteks. Selalu benar apa yang dimaksud oleh si pembicara tidak sama dengan apa yang ditanggap oleh si pendengar sehingga terkadang jawaban si pendengar tidak dapat atau sering juga terjadi si pembicara mengulangi kembali ucapannya mungkin dengan cara atau kalimat yang lain supaya dapat ditanggapi oleh si pendengar.

  Hal yang memungkinkan berlangsungnya situasi percakapan seperti di atas dikuasai oleh satu hukum atau kaidah pragmatik umum yang menurut H. Paul Grice (1967 dalam Soemarmo 1988:171) disebut kaidah penggunaan bahasa. Kaidah ini mencakup peraturan tentang bagaimana percakapan dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Kaidah ini terdiri dari dua pokok, yaitu: (1) prinsip koperatif yang menyatakan “katakan apa yang diperlukan pada saat terjadinya percakapan itu dengan memegang tujuan dari percakapan itu.” (2) empat maksim percakapan yang terdiri dari maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim pelaksanaan.

  Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta percakapan mengatakan hal yang

  sebenarnya. Kontribusi peserta percakapan hendaknya didasarkan pada bukti-bukti yang memadai. Misalnya seseorang harus mengatakan bahwa Jakarta adalah ibukota Indonesia, bukan kota-kota yang lain kecuali kalau benar-benar tidak tahu. Akan tetapi, bila terjadi hal yang sebaliknya, tentu ada alasan-alasan mengapa hal demikian bisa terjadi.

  Maksim kuantitas menghendaki setiap peserta pertuturan memberikan kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan oleh lawan bicaranya.

  Contoh: (4) Tetangga saya hamil.

  (5) Tetangga saya yang perempuan hamil.

  Ujaran (4) di atas lebih ringkas, juga tidak menyimpang nilai kebenarannya

(truth value). Setiap orang tentu mengetahui bahwa wanitalah yang mungkin hamil.

  Dengan demikian, elemen yang perempuan dalam tuturan (5) sifatnya berlebihan. Kata hamil dalam (4) sudah menjelaskan tuturan itu. Kehadiran yang perempuan dalam (5) justru menerangkan hal-hal yang sudah jelas. Hal ini bertentangan dengan maksim kuantitas.

  Maksim relevansi mengharuskan setiap peserta percakapan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan.

  Contoh: (6) + Ani, ada telepon untuk kamu.

  • Saya lagi di belakang, Bu!

  Jawaban (-) pada (6) di atas sepintas tidak berhubungan, tetapi bila diamati, hubungan implikasionalnya dapat diterangkan. Jawaban (-) pada (6) mengimplikasikan bahwa saat itu ia tidak dapat menerima telepon itu. Fenomena (6) mengisyaratkan bahwa fenomena relevansi tindak ujar peserta yang kontribusinya tidak selalu terletak pada makna ujarannya, tetapi memungkinkan pula pada apa yang diimplikasikan ujaran itu.

  Maksim pelaksanaan mengharuskan setiap peserta percakapan berbicara secara langsung, tidak takabur, tidak taksa, dan tidak belebihan serta runtut.

  Contoh:

  (7) + let’s stop and get something to eat!

  • Okay, but not M-C-D-O-N-A-L-D-S!

  Dalam (7) tokoh (-) menjawab ajakan (+) secara langsung, yakni dengan mengeja satu per satu kata Mc Donalds. Penyimpangan ini dilakukan karena ia tidak menginginkan anaknya yang sangat menggemari makanan itu mengetahui maksudnya.

  Salah satu pegangan atau kaidah percakapan ialah bahwa pendengarnya menganggap bahwa pembicaraanya mengikuti dasar-dasar atau maksim di atas.

  Apabila terdapat tanda-tanda bahwa salah satu dasar atau maksim tersebut tidak diikuti maka ucapan itu mempunyai implikatur (Siregar 1997:30) Contoh: A. Nasinya sudah masak. Implikaturnya adalah silakan dimakan.

  B. Saya punya sepeda. Implikaturnya adalah sepeda saya boleh Anda pakai.

  Kalimat-kalimat di atas mempunyai implikatur karena keduanya tidak sesuai dengan maksim kuantitas (sesuatu yang jelas masih dinyatakan). Jadi, pendengarnya harus memutuskan bahwa ada makna lain di balik ucapan itu dan karena pada setiap percakapan kita harus menganggap bahwa prinsip kooperatifnya selalu diikuti maka tugas pendengarnya adalah menetapkan atau mengolah ucapan itu untuk menentukan makna di baliknya dengan mempergunakan kaidah-kaidah yang ada.

2.2.3 Tindak Tutur

  Menurut Searle, (dalam Rani 2004:158) komunikasi bahasa terdapat tindak tutur. Ia berpendapat bahwa komunikasi bahasa bukan sekadar lambang, kata, atau kalimat, tetapi akan lebih tepat apabila disebut produk atau hasil dari lambang, kata, atau kalimat yang berwujud perilaku atau tindak tutur. Lebih tegasnya, tindak tutur adalah produk atau hasil dari suatu kalimat dalam kondisi tertentu dan merupakan kesatuan terkecil dari komunikasi bahasa. Sebagaimana komunikasi bahasa yang dapat berwujud pernyataan, pertanyaan, dan perintah, tindak tutur dapat pula berwujud pernyataan, pertanyaan, dan perintah.

  Teori tindak tutur dikemukakan oleh John R. Searle (1983) dalam bukunya

  

Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language. Ia membagi praktik

  penggunaan bahasa menjadi tiga macam tindak tutur, yaitu: 1.

  Tindak “lokusi” yang mengaitkan suatu topik dengan satu keterangan dalam ungkapan, serupa dengan hubungan “pokok” dengan “predikat” atau “topic” dan penjelasan dalam sintaksis. Dalam tindak ini tidak dipermasalahkan maksud dan fungsi tuturan yang disampaikan si penutur, tetapi bermaksud untuk memberi tahu petutur (dalam Lubis 1991:9) Contoh: Saya lapar, seseorang mengartikan Saya sebagai orang pertama tunggal (si penutur), dan lapar mengacu ke “perut yang kosong dan perlu diisi”, tanpa bermaksud untuk meminta makanan.

  2. Tindak “ilokusi” yaitu tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan fungsi tertentu. Pada tindak tutur ini, penutur mengucapkan kalimat tidak dimaksudkan untuk memberi tahu penutur saja, tetapi ada keinginan petutur melakukan tindakan di balik tuturan tersebut.

  Contoh: Saya lapar yang maksudnya adalah meminta makanan merupakan suatu tindak ilokusi. Begitu juga kalimat “ Saya mohon bantuan Anda” tidak hanya suatu pernyataan saja, tetapi maksudnya adalah si penutur benar-benar meminta bantuan.

  3. Tindak ‘perlokusi’ yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat itu (Nababan 1989:18, dalam Lubis 1993:9) Contoh: dari kalimat Saya lapar yang dituturkan oleh si penutur menimbulkan efek kepada pendengar yaitu dengan memberikan atau menawarkan makanan kepada penutur. Dalam ilmu bahasa dapat kita samakan tindak lokusi itu dengan “predikasi”, tindak ilokusi dengan ‘maksud kalimat’ dan tindak perlokusi dengan ‘akibat suatu ungkapan’ atau dengan kata lain dapat kita katakan bahwa lokusi adalah makna dasar atau referensi kalimat itu. Ilokusi sebagai daya yang ditimbulkan oleh pemakainya sebagai perintah, ejekan, keluhan, pujian, dan lain- lain. Perlokusi adalah hasil dari ucapan tersebut terhadap pendengarnya Kalimat: Nilai raportmu bagus sekali!

  Dari segi lokusi, ini hanya sebuah pernyataan bahwa nilai raport itu bagus (makna dasar). Dari segi ilokusi, dapat berupa pujian atau ejekan. Pujian kalau nilai raportnya memang bagus, dan ejekan kalau nilainya tidak bagus. Dari segi perlokusi dapat membuat pendengar itu menjadi sedih (muram) dan sebaliknya dapat mengucapkan terima kasih.

  Ucapan yang tidak langsung itu tidak menyatakan pujian atau ejekan, tetapi mengharuskan si pedengar mengolahnya sehingga makna yang sebenarnya dapat ditentukannya. Jadi, kalimat: nilai raportmu bagus sekali bermakna dasar sebuah raport bernilai bagus. Prinsip kooperatifnya di sini dijalankan karena si pembicara menyatakan sesuai dengan tujuan pembicara itu. Dari segi evaluatifnya dapat dikatakan sebagai berikut: si pembicara menyatakan sesuatu dengan terang dan jelas dan ini biasanya mempunyai makna di balik ujaran tersebut.

  Dalam hal ini, konteks dan penuturnya memegang peranan untuk menyatakan nilai evaluatifnya. Jika yang menyatakan itu adalah orang tua kepada anaknya yang menunjukkan raportnya dan air muka orang tua itu tidak jernih, maka jelas daya ilokusi pernyataan itu adalah kekesalan. Simpulan ini menentukan bagaimana respon si pendengar atau anak yang mempunyai raport tersebut. Ia mungkin akan menyatakan bahwa guru-gurunya tidak jujur atau juga mungkin hanya merasa sedih atau mungkin juga dapat menangis atau ia menyatakan akan berusaha sekuat mungkin. Dan inilah nilai perlokusi.

  Searle mengklasifikasikan tindak ilokusi berdasarkan maksud ke dalam lima kategori, yakni:

1. Representatif atau assertif yaitu ilokusi yang bertujuan menyatakan, mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat, melaporkan.

  2. Direktif yaitu ilokusi yang bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan yang dilakukan oleh penutur, misalnya memesan, memerintah, memohon, menuntut, memberi nasihat 3. Komisif yaitu ilokusi yang terikat pada suatu tindakan pada masa depan, misalnya menjanjikan, menawarkan.

  4. Ekspresif yaitu ilokusi yang bertujuan mengungkapkan atau mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi, misalnya mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam, menuduh, memuji, mengucapkan belasungkawa dan sebagainya.

  5. Deklaratif yaitu menggambarkan perubahan dalam suatu keadaan hubungan, misalnya mengundurkan diri, membabtis, memecat, memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan atau membuang, mengangkat (pegawai), dan sebagainya.

2.2.4 Konteks Konteks berasal dari bahasa latin ‘contexere’ yang berarti ‘menjalin bersama’.

  Kata konteks merujuk pada keseluruhan situasi, latar belakang, atau lingkungan yang berhubungan dengan dirinya, yang terjalin bersama.

  Hymes (1972, dalam Chaer, 1995:62), sorang pakar linguistik terkenal mengatakan bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen yang bila huruf-huruf pertamanya dirangkaikan menjadi akronim SPEAKING. Kedelapan komponen itu adalah:

  1. S (Setting and Scane).

  2. P (Participants).

  3. E (Ends), merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan.

  4. A (Act sguence), mengacu kepada bentuk ujaran dan isi ujaran.

  5. K (Keys), mengacu pada nada, cara dan semangat bahwa suatu pesan disampaikan dengan senang hati, serius, mengejek, bergurau.

  6. I (Instrumentalities).

  7. N (Norm of interaction and interpretation), mengacu pada tingkah laku yang khas dan sikap yang berkaitan dengan peristiwa tutur.

  8. G (Genres), mengacu pada jenis penyampaian.

  Setting berkenaan dengan tempat dan waktu tuturan berlangsung sedangkan

scane mengacu pada situasi tempat dan waktu atau situasi psikologis pembicaraan.

  Waktu, tempat, dan situasi tuturan yang berbeda dapat menyebabkan penggunaan variasi bahasa yang berbeda. Berbicara di lapangan sepak bola pada waktu ada pertandingan sepak bola dalam situasi yang ramai tentu berbeda dengan pembicaraan di ruang perpustakaan pada waktu banyak orang membaca dan dalam keadaan sunyi.

  Di lapangan sepak bola kita boleh bericara keras-keras, tetapi di ruang perpustakaan harus seperlahan mungkin.

  Participants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam pertuturan, bisa pembicara dan pendengar, penyapa dan pesapa, atau pengirim dan penerima (pesan).

  Dua orang yang bercakap-cakap dapat berganti peran sebagai pembicara dan pendengar, tetapi dalam khotbah di mesjid, khotib sebagai pembicara dan jemaah sebagai pendengar tidak dapat bertukar peran. Status sosial partisipan sangat menentukan ragam bahasa yang digunakan. Misalnya, seorang anak akan menggunakan ragam atau gaya bahasa yang berbeda apabila berbicara dengan orang tua atau gurunya bila dibandingkan kalau ia berbicara dengan teman sebayanya.

  Ends merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Peristiwa tutur yang terjadi

  di ruang pengadilan bermaksud untuk menyelesaikan suatu kasus perkara, namun para partisipan di dalam peristiwa tutur itu mempunyai tujuan yang berbeda. Jaksa ingin membuktikan kesalahan terdakwa, pembela berusaha membuktikan bahwa terdakwa tidak bersalah, sedangkan hakim berusaha memberikan keputusan yang adil. Dalam peristiwa tutur di ruang kajian linguistik, dosen yang cantik itu berusaha menjelaskan materi kuliah agar dapat dipahami mahasiswanya namun mungkin ada diantara para mahasiswa datang hanya untuk memandang wajah ibu dosen yang cantik itu.

  Act Sequence mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran ini

  berkenaan dengan kata-kata yang digunakan, bagaimana penggunaannya, dan apa hubungan antara apa yang dikatakan dengan topik pembicaraan. Bentuk ujaran dalam kuliah umum, dalam percakapan biasa, dan dalam pesta adalah berbeda. Begitu juga dengan isi yang dibicarakan.

  Keys mengacu pada nada, cara dan semangat bahwa suatu pesan disampaikan:

  dengan senang hati, dengan serius, dengan singkat, dengan sombong, dengan mengejek, dan sebagainya. Hal ini dapat juga ditunjukkan dengan gerak tubuh dan isyarat.

  Instrumentalities mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur

  lisan, tertulis, melalui telegraf atau telepon. Instrumentatalities ini juga mengacu pada kode ujaran yang digunakan, seperti bahasa, ragam dialek atau register.

  Norms of interaction and interpretation mengacu pada norma atau aturan

  dalam berinteraksi. Misalnya, yang berhubungan dengan cara berinterupsi, bertanya dan sebagainya. Juga mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara.

  Genres mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi, pepatah, doa, dan sebagainya.

2.3 Tinjauan Pustaka

  Tinjauan adalah hasil meninjau, pandangan, dan pendapat (sesudah menyelidiki atau mempelajari). Pustaka adalah kitab, buku, buku primbon (Alwi, dkk 2003: 912).

  Wijana (2001) meneliti implikatur dalam wacana pojok. Dia menyimpulkan tentang fakta bahwa sebuah tuturan khususnya tuturan yang diutarakan untuk maksud mengritik, mengecam, memberikan cara-cara dengan sopan, seperti halnya wacana pojok dikreasikan sedemikian rupa dengan tuturan-tuturan yang berimplikatur. Dalam hal ini kajian pragmatik harus memberikan kepastian konteks agar semakin sempit atau terbatas kemungkinan implikatur yang dapat ditimbulkan oleh sebuah tuturan.

  Dewana (2001), dalam skripsinya Pasangan Bersesuaian dalam Wacana

  Persidangan (Analisis Implikatur Percakapan). Dia menyimpulkan tentang penerapan

  prinsip kerja sama serta empat maksim percakapan pasangaan bersesuaian yang terdapat pada analisis implikatur percakapan dalam wacana persidangan adalah pola panggilan-jawaban, pola permintaan pemersilahan-penerimaan, pola permintaan informasi-pemberian, pola penawaran-penerimaan, pola penawaran-penolakan.

  Dari uraian di atas, penelitian terhadap implikatur dalam wacana khususnya wacana teks pidato masih sedikit. Oleh karena itu, pada kesempatan ini akan diteliti bagaimana bentuk implikatur dalam teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya pancasila dan pesan-pesan apa yang tersirat di balik konteks pidato tersebut.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

  3.1.1 Lokasi Penelitian

  Lokasi adalah letak atau tempat (Alwi, dkk 2003: 680). Adapun lokasi penelitian ini adalah perpustakaan-perpustakaan yang menyimpan bukti-bukti tertulis tentang pidato Presiden Soekarno pada waktu lahirnya pancasila.

  3.1.2 Waktu Penelitian Penulis melakukan penelitian terhadap objek selama dua minggu.

3.2 Populasi dan Sampel

  3.2.1 Populasi

  Populasi adalah sekelompok orang, benda, atau hal yang menjadi sumber pengambilan sampel; suatu kumpulan yang memenuhi syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian (Alwi, dkk 2003: 889).

  Berdasarkan pengertian di atas, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya pancasila yang disampaikan beliau pada rapat BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945.

  3.2.2 Sampel

  Menurut Arikunto (1998: 117) sampel penelitian adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sampel penelitian ini ditentukan dengan menggunakan

  purposive sampling (Bungin, 2003: 53). Sebuah sampel dari populasi ditentukan

  secara sengaja oleh peneliti yang dinilai mampu mewakili populasi. Dari teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya pancasila ditentukan tiga bagian yang dinilai mampu mewakili pembukaan, isi, dan penutup teks pidato tersebut yang berupa rangkaian paragraf yang mengandung satu atau beberapa ide pokok yang berkesinambungan.

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

  Metode adalah cara mendekati, mengamati, menganalisis dan menjelaskan suatu fenomena (Kridalaksana, 2001:136). Data sangat diperlukan dalam penelitian untuk dianalisis. Oleh karena itu, untuk memperoleh data penelitian ini penulis menggunakan metode simak. Disebut metode simak atau penyimakan karena memang berupa penyimakan: dilakukan dengan menyimak, yaitu menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993:133). Metode ini digunakan karena penulis hanya menyimak pemakaian bahasa pada pidato Soekarno tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI yang pertama yang terdapat pada buku Lahirnya Pancasila. Pada dasarnya, penyimakan itu diwujudkan dengan penyadapan. Kegiatan menyadap itu dapat dipandang sebagai teknik dasarnya dan dapat disebut “teknik sadap”. Sebagai teknik lanjutannya, penulis menggunakan teknik simak bebas libat cakap. Hal ini disebabkan penulis tidak terlibat dalam dialog, melainkan penulis berkedudukan sebagai pemerhati bahasa. Dalam hal ini, konsep “dialog” digunakan dalam arti yang seluas- luasnya, yang pada pokoknya melibatkan dua pihak yang berlaku sebagai pembicara dan mitra wicara, baik secara berganti-ganti maupun tidak, baik yang lebih bersifat komunikasi (dua arah dan timbal balik, sehingga bersifat imbal wicara) maupun yang lebih bersifat kontak (satu arah), (Sudaryanto 1993:134). Mengingat objek penelitian ini adalah teks pidato Presiden soekarno lahirnya pancasila, maka penulis mengambil data tentang pidato tersebut dari sumber yang mendukung baik buku maupun internet.

  Selanjutnya, data yang dijadikan bahan untuk penelitian ini adalah data yang bersifat tertulis.

3.4 Metode dan Teknik Analisis Data

  Metode yang digunakan penulis dalam upaya menemukan kaidah dalam tahap analisis data adalah metode padan. Metode padan adalah metode penelitian yang alat penentunya berada di luar, terlepas dan tidak menjadi bagian dari bahasa (language) yang bersangkutan (Sudaryanto 1993:13). Teknik merupakan jabaran metode yang ditentukan oleh alat yang dipakai. Fakta itu menunjukkan bahwa dalam berbicara tentang teknik, ihwal alat yang dipakai sangat penting untuk dibahas. Peneliti sendiri menggunakan teknik pilah unsur penentu atau teknik PUP sebagai teknik dasar di dalam penelitian ini. Adapun alatnya adalah daya pilah yang bersifat mental yang dimiliki oleh penelitinya (Sudaryanto, 1993:21). Sesuai dengan jenis penentu yang akan dipisah-pisahkan atau dibagi menjadi berbagai unsur itu maka daya pilah itu dapat disebut daya pilah referensial. Contoh :

  Paragraf 1 dan 2 pidato Soekarno (data 1) Paduka Tuan Ketua yang Mulia! “Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari

  Paduka tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saya. Saya akan menetapi permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka tuan ketua yang mulia? Paduka tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini.”

  Maaf, beribu maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka tuan ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda "philosofische grondslag" dari pada Indonesia merdeka. Philosofische grondslag itulah pundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam- dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saya kemukakan, Paduka tuan Ketua yang mulia, tetapi lebih dahulu izinkanlah saya membicarakan, memberi tahukan kepada tuan-tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan "merdeka".

  Contoh data (1) dianalisis dengan menggunakan teori implikatur dan tindak tutur yang dijadikan landasan teori pada penelitian ini. Tuturan pada data (1) akan dianalisis sebagai berikut:

  Langkah pertama untuk menganalisis implikaturnya adalah menentukan makna dasarnya. Dalam menentukan makna dasar data (1) di atas, akan dijelaskan berdasarkan paragrafnya. Paragraf 1 dan 2 pidato di atas merupakan pembukaan dari pidato Soekarno, yang bermakna semua pendapat sebelumnya tentang pembahasan

  

dasar Negara Indonesia belum tepat, dan beliau akan menyampaikan bahwa pidato

beliau sudah tepat, sesuai dengan permintaan Paduka Yang Mulia/Saikoo Sikikan.

  Langkah berikutnya adalah menentukan implikaturnya. Dan untuk dapat menentukan implikatur tuturan pada data (1), terlebih dahulu harus diketahui apakah tuturan pada data (1) mematuhi empat maksim percakapan yang dikemukakan Grice atau tidak. Nantinya akan dapat diputuskan bahwa apabila tuturan pada data (1) terbukti telah melanggar salah satu dari empat maksim Grice, maka tuturan pada data (1) memiliki implikatur.

  Empat maksim percakapan tersebut adalah: 1. Maksim kuantitas mewajibkan setiap peserta pertuturan memberikan kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan oleh lawan bicaranya. Tuturan pada data (1) bersifat kooperatif karena participants yang dalam hal ini Presiden Soekarno sebagai pembicara, telah memberikan kontribusi yang secara kuantitas memadai atau mencukupi.

  2. Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta pertuturan mengatakan hal yang sebenarnya dan berdasarkan bukti-bukti yang memadai. Tuturan pada data (1) tidak bersifat kooperatif karena tidak menuturkan hal yang sebenarnya dan berdasarkan bukti-bukti yang memadai. Maksud dan tujuan dari tuturan Presiden

  Soekarno dalam pembukaan pidatonya adalah, ingin menyatakan bahwa anggota yang telah berpidato sebelumnya, belum mengutarakan hal-hal yang sebenarnya diminta oleh Paduka Tuan ketua tentang dasar negara Indonesia. Hal ini, merupakan pendapat Soekarno, dan belum ada bukti yang jelas, apakah benar bahwa pidato sebelumnya sudah atau belum tepat menurut Paduka Tuan Ketua.

  3. Maksim relevansi mewajibkan setiap peserta pertuturan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan. Tuturan pada data (1) memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah. Paragraf 1 dan 2 pidato di atas pastinya membicarakan hal yang sesuai dengan pembahasan pada waktu pidato tersebut disampaikan sehubungan dengan pembahasan dasar Negara Indonesia.

  4. Maksim pelaksanaan mewajibkan setiap peserta pertuturan berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa atau ambigu, dan tidak berlebih-lebihan serta runtut. Tuturan pada data (1) diungkapkan secara berlebih-lebihan. Dapat dipahami melihat penggunaan kata maaf beribu maaf, yang seharusnya cukup dengan mengucapkan kata maaf, sudah menjelaskan makna yang hendak beliau sampaikan.

  Berdasarkan empat maksim percakapan di atas, maka dapat diputuskan bahwa tuturan pada data (1) memiliki implikatur karena terbukti telah melanggar dua dari empat maksim percakapan tersebut,yaitu maksim kualitas dan maksim pelaksanaan.

  Selanjutnya, setelah diketahui bahwa tuturan pada data (1) memiliki implikatur maka penentuan implikatur dapat dilanjutkan dengan melihat penganutan prinsip kooperatifnya. Dalam membicarakan dasar Negara Indonesia pada sidang BPUPKI tersebut, ternyata Soekarno melihat bahwa pidato-pidato sebelumnya belum menyampaikan apa yang sebenarnya ingin didengarkan oleh pihak Paduka Yang Mulia, sehingga ia menyampaikan apa yang dianggapnya sesuai dengan bahasan pada rapat tersebut. Dengan demikian, tuturan pada data (1) menganut prinsip kooperatif.

  Langkah berikutnya adalah menentukan nilai evaluatifnya. Untuk menentukan nilai evaluatif tuturan pada data (1), dibutuhkan pengetahuan konteks dan nilai kultural. Konteks:

  Pada paragraph 1 dan 2 pidato soekarno di atas, dapat disimpulkan bahwa Soekarno sangat yakin bahwa pendapat-pendapat sebelumnya belum memberikan kontribusi tentang dasar Negara Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari sidang pertama BPUPKI yang sudah dilangsungkan selama tiga hari berturut-turut, dari tanggal 29 Mei sampai tanggal 1 Juni, belum membuahkan hasil atau kesepakatan tentang dasar negara Indonesia. Situasi psikologis pembicara (scene) dalam hal ini Presiden Soekarno pada hari ke empat dari sidang pertama BPUPKI tersebut, menginginkan kesatuan pikiran dari seluruh peserta rapat, untuk melahirkan dasar negara Indonesia. Setelah Presiden Soekarno menyampaikan pidatonya, dengan

  keys yang berkobar-kobar, dan menyampaiakan pendapatnya dengan act sequence

  yang berkenaan dengan pembahasan dalam sidang tersbut, maka tercetuslah dasar negara Indonesia yaitu pancasila, yang disetujui oleh seluruh peserta rapat yang redaksi dan urutannya sedikit berbeda, sesuai dengan kesepakatan anggota sidang tersebut.

  Pertimbangan nilai evaluatifnya adalah bahwa pidato-pidato sebelum Soekarno dianggap tidak berbobot atau isinya tidak jelas. Simpulannya, impilkatur dari paragraf di atas adalah, bahwa Soekarno secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa pidato-pidato sebelumnya tidak bermanfaat untuk merumuskan dasar Negara Indonesia, yang pada saat itu merupakan hal yang sangat penting demi kelangsungan hidup bangsa Indonesia.

  Austin mengatakan bahwa ada tiga macam tindak tutur yang terjadi secara bersamaan dalam sebuah tuturan, yaitu: (1) tindak ‘lokusi’ yang mengaitkan suatu topik dengan satu keterangan dalam ungkapan, serupa dengan hubungan ‘pokok’ dengan ‘predikat’ atau ‘topik’ dan penjelasan dalam sintaksis. (2) tindak ‘ilokusi’ yaitu suatu pengucapan atau suatu pernyataan, tawaran, janji pernyataan, dan sebagainya. Ini erat hubungannya dengan bentuk-bentuk kalimat yang mewujudkan suatu ungkapan. (3) tindak ‘perlokusi’ yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat itu.

  Demikian pula halnya dengan data (1), dalam tuturan ini telah terjadi secara serentak tiga macam tindak tutur seperti yang dikemukakan oleh Austin.

  Lokusinya adalah suatu pernyataan yang menyatakan akan memberikan hal apa

  

yang seharusnya disampaikan dalam sidang BPUPKI yang berkenaan dengan

pembentukan dasar Negara Indonesia. Secara kultural, tuturan pada data (1)

  mempunyai daya ilokusi sindiran. Oleh sebab itu, apabila daya ilokusinya merupakan sindiran, maka daya perlokusinya adalah kesadaran. Dengan demikian, setelah seluruh anggota sidang mendengarkan tuturan pada data (1) anggota sidang yang lain akan menyadari bahwa mereka belum memberikan kontribusi yang jelas untuk pembentukan dasar Negara Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari respon anggota sidang pada saat Soekarno berpidato dan hasil akhir yang menunjukkan bahwa konsep dasar negara yang disampaikan oleh Presiden Soekarno diterima dengan sedikit perubahan urutan dan redaksi kata.

  Searle (dalam Rani, 2004: 158) mengklasifikasikan tindak ilokusi berdasarkan maksud ke dalam lima kategori, yakni: (1) Representatif atau assertif yaitu ilokusi yang bertujuan menyatakan, mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat, melaporkan. (2) Direktif yaitu ilokusi yang bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan yang dilakukan oleh penutur, misalnya memesan, memerintah, memohon, menuntut, memberi nasihat. (3) Komisif yaitu ilokusi yang terikat pada suatu tindakan pada masa depan, misalnya menjanjikan, menawarkan. (4) Ekspresif yaitu ilokusi yang bertujuan mengungkapkan atau mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi, misalnya mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam, menuduh, memuji, mengucapkan belasungkawa dan sebagainya. (5) Deklaratif yaitu menggambarkan perubahan dalam suatu keadaan hubungan, misalnya mengundurkan diri, membabtis, memecat, memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan atau membuang, mengangkat (pegawai), dan sebagainya.

  Berdasarkan lima kategori yang dikemukakan Searle tersebut, dapat dikatakan bahwa implikatur yang terkandung dalam tuturan data (1) termasuk ke dalam ilokusi ekspresif yaitu ilokusi yang bertujuan mengungkapkan atau mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi yang dalam hal ini berupa sindiran kepada anggota sidang lainnya, karena pendapat yang mereka sampaikan sebelumnya tentang dasar negara Indonesia, belum dapat disetujui dan diputuskan sebagai dasar negara Indonesia.

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Implikatur dan Tindak Tutur Pembukaan Teks Pidato Soekarno Lahirnya Pancasila

  Paduka tuan Ketua yang mulia! Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari

  Paduka tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saya. Saya akan menetapi permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka tuan ketua yang mulia? Paduka tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini.

  Maaf, beribu maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia, yaitu bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh Paduka tuan ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda

  "philosofische grondslag" dari pada Indonesia merdeka. Philosofische grondslag

  itulah pundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam- dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saya kemukakan, Paduka tuan Ketua yang mulia, tetapi lebih dahulu izinkanlah saya membicarakan, memberi tahukan kepada tuan-tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan "merdeka".

  Merdeka buat saya ialah: "political independen-ce", politieke

  onafhankelijkheid. Apakah yang dinamakan politieke onafhankelijkheid?

  Tuan-tuan sekalian! Dengan terus-terang saja saya berkata: Tatkala Dokuritu Zyunbi Tyoosakai akan bersidang, maka saya, di dalam hati saya banyak khawatir, kalau-kalau banyak anggota yang - saya katakan di dalam bahasa asing, ma'afkan perkataan ini - "zwaarwichtig" akan perkara yang kecil-kecil "zwaarwichtig" sampai kata orang Jawa "jelimet". Jikalau sudah membicarakan hal yang kecil-kecil sampai

  jelimet, barulah mereka berani menyatakan kemerdekaan.

  Tuan-tuan yang terhormat! Lihatlah di dalam sejarah dunia, lihatlah kepada perjalanan dunia itu. Banyak sekali negara-negara yang merdeka, tetapi bandingkanlah kemerdekaan negara-negara itu satu sama lain! Samakah isinya, samakah derajatnya negara-negara yang merdeka itu? Jermania merdeka, Saudi Arabia merdeka, Iran merdeka, Tiongkok merdeka, Nippon merdeka, Amerika merdeka, Inggris merdeka, Rusia merdeka, Mesir merdeka. Namanya semuanya merdeka, tetapi bandingkanlah isinya!

  Alangkah berbedanya isi itu! Jikalau kita berkata: Sebelum Negara merdeka, maka harus lebih dahulu ini selesai,itu selesai, itu selesai, sampai njelimet!, maka saya bertanya kepada tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80% dari rakyatnya terdiri kaum Badui, yang sama sekali tidak mengerti hal ini atau itu.

  Bacalah buku Armstrong yang menceriterakan tentang Ibn Saud! Disitu ternyata, bahwa tatkala Ibn Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakyat Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin. Pada suatu hari otomobil Ibn Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia itu!! Toh Saudi Arabia merdeka!

  Lihatlah pula - jikalau tuan-tuan kehendaki contoh yang lebih hebat - Soviet Rusia! Pada masa Lenin mendirikan Negara Soviet, adakah rakyat soviet sudah cerdas? Seratus lima puluh milyun rakyat Rusia, adalah rakyat Musyik yang lebih dari pada 80% tidak dapat membaca dan menulis; bahkan dari buku-buku yang terkenal dari Leo Tolstoi dan Fulop Miller, tuan-tuan mengetahui betapa keadaan rakyat Soviet Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Soviet itu. Dan kita sekarang disini mau mendirikan negara Indonesia merdeka. Terlalu banyak macam-macam soal kita kemukakan!

  Kutipan di atas adalah beberapa paragraf pada bagian pembukaan teks pidato Presiden Soekarno yang merupakan data dari penelitian ini. Selanjutnya data ini akan dianalisis secara keseluruhan.

  Data tersebut akan dianalisis berdasarkan kaidah pertuturan yang dikemukakan Grace, yaitu menentukan implikatur yang terdiri dari penganutan prinsip koperatifnya dan empat maksim percakapan serta menentukan tindak tutur yang terdapat dalam tuturan tersebut.

  Penentuan implikatur dalam pembukaan teks pidato Soekarno tentang lahirnya pancasila ini menggunakan kaidah pertuturan seperti yang sudah dijelaskan pada landasan teori, yaitu penentuan prinsip kooperatif dan empat maksim percakapan. Prinsip kooperatif yang dikemukakan Grace adalah “katakan apa yang diperlukan pada saat terjadinya percakapan itu dengan memegang tujuan dari percakapan itu”.

  Bagian pembukaan teks pidato Soekarno di atas berisikan tentang pernyataan Soekarno bahwa akan mengutarakan pendapatnya tentang dasar negara namun sebelum itu beliau juga memberitahukan pendapatnya tentang arti kata “merdeka”. Kemudian dilanjutkan dengan penganutan empat maksim percakapan. Apabila salah satu dari empat maksim tersebut dilanggar maka tuturan tersebut memiliki implikatur.

  Berdasarkan empat maksim percakapan yang dikemukakan Grace dapat diputuskan bahwa tuturan data penelitian ini mengandung implikatur karena terbukti melanggar tiga dari empat maksim tersebut yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas dan maksim pelaksanaan. Maksim kuantitas mewajibkan setiap peserta pertuturan memberikan kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan oleh lawan bicaranya. Dalam pembukaan pidatonya, Soekarno sudah melanggar maksim kuantitas, karena telah menyatakan sangat banyak hal-hal yang sesungguhnya tidak dibutuhkan oleh anggota sidang pada waktu itu. Soekarno dalam pidatonya mengemukakan bagaimana negara-negara lain merdeka, dan bagaimana tokoh-tokoh negara tersebut memperjuangkan keberlangsungan kehidupan negaranya, misalnya Ibn Saud ketika mendirikan Saudi Arabia dan Lenin mendirikan negara Soviet. Sidang BPUPKI yang pertama ini adalah sidang yang akan membicarakan dasar negara secara langsung, sehingga Soekarno dalam pidatonya, tidaklah perlu menyampaikan terlalu banyak contoh-contoh negara yang juga pernah merumuskan kemerdekaan dan berdiri pada satu dasar negara, karena yang dibutuhkan oleh seluruh hadirin pada sidang tersebut adalah dasar negara Indonesia yang disampaikan oleh Soekarno secara langsung.

  Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta pertuturan mengatakan hal yang sebenarnya dan berdasarkan bukti-bukti yang memadai. Dalam pembukaan pidatonya, Soekarno menyatakan bahwa pendapat tentang dasar negara yang telah disampaikan sebelumnya belum sesuai dengan apa yang diinginkan oleh P.Y.M Saikoo Sikikan. Hal ini merupakan pendapat Soekarno sendiri tanpa ada bukti yang jelas bahwa P.Y.M Saikoo Sikikan telah mengatakan bahwa pendapat sebelumnya belum sesuai dengan permintaannya.

  Selanjutnya, tuturan dari data penelitian ini juga melanggar maksim pelaksanaan yang mewajibkan setiap peserta pertuturan berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa atau ambigu, dan tidak berlebih-lebihan serta runtut. Pada pembukaan pidatonya, Presiden Soekarno menyampaikan pendapatnya secara tidak langsung. Beliau tidak langsung menyampaikan dasar negara, melainkan menjelaskan pendapatnya tentang arti merdeka atau apa itu kemerdekaan. Selanjutnya, beliau juga membukakan banyak sejarah-sejarah lahirnya negara-negara lain, misalnya Saudi Arabia, Jerman, Rusia dan sebagainya, tanpa langsung menyampaikan akan dasar negara yang hendak beliau kemukakan. Soekarno juga mengungkapan permohononan maaf secara berlebih-lebihan, dengan menggunakan kata maaf beribu maaf yang dapat dilihat pada paragraf 2 yang seharusnya cukup dengan menggunakan kata maaf saja, sudah menjelaskan maksud dari beliau. Dengan demikian, tuturan pada data penelitian ini tidak menganut prinsip kooperatif.

  Langkah berikutnya adalah menentukan nilai evaluatifnya. Menentukan nilai evaluatif data penelitian dibutuhkan pengetahuan mengenai konteks. Konteks merujuk pada keseluruhan situasi, latar belakang, atau lingkungan yang berhubungan dengan diri yang terjalin bersamanya. Situasi dan latar belakang yang menggambarkan data penelitian, merupakan sebuah suasana sidang penentuan dasar sebuah negara yang sedang mengupayakan kemerdekaan. Sidang ini sangat menentukan keberlangsungan suatu negara yang akan memperoleh kemerdekaannya. Sidang BPUPKI yang pertama ini dilaksanakan hingga empat hari berturut-turut, hingga mencapai suatu kesepakan tentang dasar negara Indonesia ialah pancasila. Hal ini tentunya sangat lekat dengan bagaimana tokoh-tokoh pada masa itu berpikir keras untuk merumuskan dasar negara yang menurut pendapat mereka terbaik, dan dapat diterima dan disetujui oleh pihak Jepang, dan juga pihak bangsa Indonesia sendiri. Presiden Soekarno dalam hal ini, sangat yakin bahwa pendapat-pendapat sebelumnya belum memberikan kontribusi yang tepat tentang dasar negara Indonesia, sehingga belum ada keputusan atau kesepakatan yang bulat dari sidang pertama tersebut hingga Soekarno menyampaikan pendapatnya.

  Pertimbangan nilai evaluatifnya adalah, sidang pembahasan tentang dasar negara oleh BPUPKI yang anggota-anggota sidang yang lain juga telah menyampaikan pendapatnya, yaitu Mr. Muhammad Yamin dan Prof. Dr. Mr. Soepomo, oleh Soekaro dianggap belum tepat. Simpulannya, implikatur dari pembukaan pidato Soekarno ini, menyatakan bahwa pidato-pidato sebelumnya tidak bermanfaat untuk merumuskan dasar negara Indonesia, yang pada saat itu merupakan hal yang sangat penting demi kelangsungan hidup bangsa Indonesia, dan peserta rapat tersebut, belum memahami secara benar apa itu kemerdekaan, sehingga mereka tidak mampu merumuskan dasar negara Indonesia.

  Austin mengatakan bahwa ada tiga macam tindak tutur yang terjadi secara bersamaan dalam sebuah tuturan, yaitu: (1) tindak ‘lokusi’ yang mengaitkan suatu topik dengan satu keterangan dalam ungkapan, serupa dengan hubungan ‘pokok’ dengan ‘predikat’ atau ‘topik’ dan penjelasan dalam sintaksis. (2) tindak ‘ilokusi’ yaitu suatu pengucapan atau suatu pernyataan, tawaran, janji pernyataan, dan sebagainya. Ini erat hubungannya dengan bentuk-bentuk kalimat yang mewujudkan suatu ungkapan. (3) tindak ‘perlokusi’ yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat itu. Dapat dikatakan, bahwa di dalam setiap tuturan sudah dapat dipastikan adanya lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Lokusi berupa tuturan, ilokusi berupa maksud si penutur, dan perlokusi berupa reaksi dari lawan tutur.

  Dalam analisis teks pidato Soekarno ini, kita akan fokus melihat ilokusi yang terkandung di dalam teks pidato tersebut. Hal ini disebabkan karena lokusinya adalah keseluruhan dari tuturan dalam teks, dan perlokusinya berada pada lawan tutur, yang dalam hal ini adalah anggota sidang dan seluruh hadirin yang hadir pada saat terjadinya pertuturan tersebut. Perlokusi yang dapat dipastikan adalah, bahwa seluruh anggota sidang dapat menerima usulan “Pancasila” sebagai dasar negara Indonesia.

  Dalam tuturan pembukaan teks pidato Soekarno ini telah terjadi secara serentak tiga macam tindak tutur seperti yang dikemukakan oleh Austin. Lokusinya adalah suatu

  

pernyataan yang menyatakan akan memberikan hal apa yang seharusnya disampaikan

dalam sidang BPUPKI yang berkenaan dengan pembentukan dasar negara Indonesia

namun sebelumnya terlebih dahulu menjelaskan arti kemerdekaan. Secara kultural,

  tuturan pada pidato Soekarno ini mempunyai daya ilokusi sindiran. Oleh sebab itu, apabila daya ilokusinya merupakan sindiran, maka daya perlokusinya adalah kesadaran dari seluruh anggota sidang bahwa mereka belum memberikan kontribusi yang tepat tentang dasar negara, dan kesadaran bahwa pemahaman mereka yang kurang tepat tentang arti kemerdekaan. Dengan demikian, setelah mendengarkan tuturan dari pembukaan pidato Soekarno tersebut, anggota sidang BPUPKI dapat memahami maksud dan tujuan Soekarno tentang dasar negara Indonesia dan menyetujui Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, yang sebelumnya diadakan perundingan sehingga terjadi perubahan redaksi dan urutan dari apa yang disampaikan Soekarno dalam pidatonya. Namun, meskipun redaksi dan urutannya berbeda, nama Pancasila dan maksud-maksud dari isinya, merupakan buah dari pemikiran Soekarno yang disampaikan dalam pidatonya.

  .........Searle mengklasifikasikan tindak ilokusi berdasarkan maksud ke dalam lima kategori, yakni: (1) Representatif atau assertif yaitu ilokusi yang bertujuan menyatakan, mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat, melaporkan. (2) Direktif yaitu ilokusi yang bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan yang dilakukan oleh penutur, misalnya memesan, memerintah, memohon, menuntut, memberi nasihat. (3) Komisif yaitu ilokusi yang terikat pada suatu tindakan di masa depan, misalnya menjanjikan, menawarkan. (4) Ekspresif yaitu ilokusi yang bertujuan mengungkapkan atau mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi, misalnya mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam, menuduh, memuji, mengucapkan belasungkawa dan sebagainya. (5) Deklaratif yaitu menggambarkan perubahan dalam suatu keadaan hubungan, misalnya mengundurkan diri, membabtis, memecat, memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan atau membuang, mengangkat (pegawai), dan sebagainya.

  Berdasarkan lima kategori yang dikemukakan Searle tersebut, dapat dikatakan bahwa implikatur yang terkandung dalam tuturan pada pembukaan teks pidato Soekarno tersebut, mencakup tindak ilokusi ekspresif yaitu ilokusi yang bertujuan mengungkapkan atau mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi, misalnya mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam, menuduh, memuji, mengucapkan belasungkawa dan sebagainya, yang dalam pembukaan pidatonya, beliau mengungkapkan sikap psikologisnya dalam bentuk sindiran.

4.2 Implikatur dan Tindak Tutur Isi Teks Pidato Soekarno Lahirnya Pancasila

  Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan - macam-macam - tetapi alangkah benarnya perkataan Dr. Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadikoesoemo bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan paham. Kita bersama-sama mencari persatuan

  philosophisce grondsland, mencari satu "weltanschauung" yang kita semuanya setuju.

  Saya katakan lagi setuju! Yang saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hadjar setujui, yang saudara Sanusi setujui, yang saudara Abikoesno setujui, yang saudara Lim Koen Hian setujui; pendeknya kita semua mencari satu modus. Tuan Yamin, ini bukan compromis, tetapi kita bersama-sama setujui. Apakah itu? Pertama- tama, Saudara-saudara, saya bertanya: Apakah kita hendak mendirikan Indonesia merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Mendirikan negara Indonesia merdeka, yang namanya saja Indonesia merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan?

  Apakah maksud kita begitu? Sudah tentu tidak! Baik Saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang di sini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara "semua buat semua". Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya - tetapi "semua buat semua". Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti akan saya kupas lagi. Maka, yang selalu mendengung di dalam saya punya jiwa, bukan saja di dalam beberapa hari di dalam sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai ini, akan tetapi sejak tahun 1981. 25 tahun yang lebih ialah dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buat negara Indonesia, ialah dasar kebangsaan.

  Kutipan di atas adalah beberapa paragraf pada bagian isi teks pidato Presiden Soekarno yang merupakan data dari penelitian ini. Selanjutnya data ini akan dianalisis secara keseluruhan.

  Data tersebut akan dianalisis berdasarkan kaidah pertuturan yang dikemukakan Grace, yaitu menentukan implikatur yang terdiri dari penganutan prinsip koperatifnya dan empat maksim percakapan serta menentukan tindak tutur yang terdapat dalam tuturan tersebut.

  Penentuan implikatur dalam isi teks pidato Soekarno tentang lahirnya pancasila ini menggunakan kaidah pertuturan seperti yang sudah dijelaskan pada landasan teori, yaitu penentuan prinsip kooperatif dan empat maksim percakapan. Prinsip kooperatif yang dikemukakan Grace adalah “katakan apa yang diperlukan pada saat terjadinya percakapan itu dengan memegang tujuan dari percakapan itu”.

  Bagian isi teks pidato Soekarno di atas berisikan tentang pendapat Soekarno tentang dasar negara yang pertama yang akan disampaikannya, dengan terlebih dahulu menekankan bahwa negara yang akan dibangun adalah suatu negara “satu buat semua”. Dan dasar negara itu adalah “kebangsaan”. Kemudian dilanjutkan dengan penganutan empat maksim percakapan. Apabila salah satu dari empat maksim tersebut dilanggar maka tuturan tersebut memiliki implikatur. Berdasarkan empat maksim percakapan yang dikemukakan Grace dapat diputuskan bahwa tuturan data penelitian ini mengandung implikatur karena terbukti melanggar dua dari empat maksim tersebut yaitu maksim kualitas dan maksim pelaksanaan.

  Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta pertuturan mengatakan hal yang sebenarnya dan berdasarkan bukti-bukti yang memadai. Dalam isi pidatonya, Soekarno dengan yakin menyatakan bahwa setiap anggota sidang yang hadir memiliki satu pikiran yang sama, yaitu ingin mendirikan negara Indonesia “satu buat semua” dan bukan untuk golongan tertentu. Pernyataan ini sesungguhnya merupakan pendapat Soekarno sendiri tanpa ada bukti yang jelas apakah benar semua anggota sidang memiliki pikiran yang sama dengan beliau.

  Selanjutnya, tuturan dari data penelitian ini juga melanggar maksim pelaksanaan yang mewajibkan setiap peserta pertuturan berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa atau ambigu, dan tidak berlebih-lebihan serta runtut. Pada isi pidatonya, Presiden Soekarno menyampaikan pidato secara berlebih-lebihan. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan Soekarno “kita bersama-sama mencari persatuan

philoshopische grondslag, mencari satu “weltanschauung” yang kita semua setuju.

  Saya katakan lagi setuju! Yang saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hadjar setujui, yang saudara Sanoesi setujui, yang saudara Abikoesno setujui, yang saudara Liem Koen Hian setujui”. Dalam menyatakan hal mencari kesatuan pikiran dan pendapat, tidak perlu lagi Soekarno menyebutkan satu persatu nama-nama beberapa anggota sidang, karena pada awalnya, beliau sudah mengatakan “yang kita semua setuju” yang artinya, semua anggota sidang termasuk yang namanya disebut juga sudah termasuk didalamnya. Dengan demikian, tuturan pada data penelitian ini tidak menganut prinsip kooperatif.

  Langkah berikutnya adalah menentukan nilai evaluatifnya. Menentukan nilai evaluatif data penelitian dibutuhkan pengetahuan mengenai konteks. Konteks merujuk pada keseluruhan situasi, latar belakang, atau lingkungan yang berhubungan dengan diri yang terjalin bersamanya. Situasi dan latar belakang yang menggambarkan data penelitian, merupakan sebuah suasana sidang penentuan dasar sebuah negara yang sedang mengupayakan kemerdekaan. Maksud dan tujuan (ends) dari pertuturan dalam sidang ini sangat menentukan keberlangsungan suatu negara yang akan memperoleh kemerdekaannya. Sidang BPUPKI yang pertama ini dilaksanakan hingga empat hari berturut-turut, hingga mencapai suatu kesepakatan tentang dasar negara Indonesia ialah pancasila. Hal ini tentunya sangat lekat dengan bagaimana participants atau dalam hal ini tokoh-tokoh pada masa kemerdekaan, baik Soekarno sebagai pembicara, dan anggota sidang lainnya yang menjadi pendengar, berjuang merumuskan dasar negara yang menurut pendapat mereka terbaik, dan dapat diterima dan disetujui oleh pihak Jepang, dan juga pihak bangsa Indonesia sendiri. Presiden Soekarno dalam hal ini, ingin menyampaikan pendapatnya tenatang dasar negara Indonesia yang pertama yaitu dasar kebangsaan. Soekarno meyakini, bahwa setiap anggota sidang memiliki tujuan yang sama yaitu mendirikan negara “semua buat semua” tanpa ada yang ingin mendirikan negara untuk kepentingan golongan tertentu.

  Pertimbangan nilai evaluatifnya adalah, Soekarno berupaya menyatukan pendapat dan pemikiran seluruh anggota sidang dalam mendirikan negara Indonesia yang berdasar kebangsaan. Simpulannya, implikatur dari isi pidato Soekarno ini adalah, mengajak seluruh anggota sidang, untuk tidak berlama-lama menentukan dasar negara dan segera memutuskannya dengan suatu kesepakatan bersama yang tidak menguntungkan pihak manapun, dan mendirikan negara Indonesia yang akan menjadi milik seluruh rakyat Indonesia.

  Austin mengatakan bahwa ada tiga macam tindak tutur yang terjadi secara bersamaan dalam sebuah tuturan, yaitu: (1) tindak ‘lokusi’ yang mengaitkan suatu topik dengan satu keterangan dalam ungkapan, serupa dengan hubungan ‘pokok’ dengan ‘predikat’ atau ‘topik’ dan penjelasan dalam sintaksis. (2) tindak ‘ilokusi’ yaitu suatu pengucapan atau suatu pernyataan, tawaran, janji pernyataan, dan sebagainya. Ini erat hubungannya dengan bentuk-bentuk kalimat yang mewujudkan suatu ungkapan. (3) tindak ‘perlokusi’ yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat itu. Dapat dikatakan, bahwa di dalam setiap tuturan sudah dapat dipastikan adanya lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Lokusi berupa tuturan, ilokusi berupa maksud si penutur, dan perlokusi berupa reaksi dari lawan tutur.

  Dalam analisis teks pidato Soekarno ini, kita akan fokus melihat ilokusi yang terkandung di dalam teks pidato tersebut. Hal ini disebabkan karena lokusinya adalah keseluruhan dari tuturan dalam teks, dan perlokusinya berada pada lawan tutur, yang dalam hal ini adalah anggota sidang dan seluruh hadirin yang hadir pada saat terjadinya pertuturan tersebut. Perlokusi yang dapat dipastikan adalah, bahwa seluruh anggota sidang dapat menerima usulan “Pancasila” sebagai dasar negara Indonesia.

  Dalam tuturan pada isi teks pidato Soekarno ini telah terjadi secara serentak tiga macam tindak tutur seperti yang dikemukakan oleh Austin. Lokusinya adalah suatu

  

pernyataan yang mengemukakan dasar negara Indonesia yang pertama yaitu

“kebangsaan” dan menegaskan bahwa negara Indonesia yang didirikan merupakan

suatu negara “semua buat semua”, dan bukan negara buat golongan tertentu. Secara

kultural, tuturan pada pidato Soekarno ini mempunyai daya ilokusi tawaran atau usulan.

  Oleh sebab itu, apabila daya ilokusinya merupakan tawaran atau usulan, maka daya perlokusinya adalah penerimaan dari seluruh anggota sidang akan dasar kebangsaan, dan akan mendirikan negara Indonesia “semua buat semua”. Dengan demikian, setelah mendengarkan tuturan dari isi pidato Soekarno tersebut, anggota sidang BPUPKI dapat memahami maksud dan tujuan Soekarno tentang dasar negara “kebangsaan” dan negara Indonesia yang akan didirikan “semua buat semua”. Dan pada hasil dari Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, yang sebelumnya diadakan perundingan sehingga terjadi perubahan redaksi dan urutan dari apa yang disampaikan Soekarno dalam pidatonya, meskipun kebangsaan tidak menjadi poin dalam urutan pancasila, namun negara Indonesia memang berdiri di atas dasar kebangsaan, dan isi dari pancasila itu sendiri juga bermakna bahwa Indonesia ini adalah milik seluruh rakyat Indonesia, dan bukan hanya milik golongan tertentu.

  Searle mengklasifikasikan tindak ilokusi berdasarkan maksud ke dalam lima kategori, yakni: (1) Representatif atau assertif yaitu ilokusi yang bertujuan menyatakan, mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat, melaporkan. (2) Direktif yaitu ilokusi yang bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan yang dilakukan oleh penutur, misalnya memesan, memerintah, memohon, menuntut, memberi nasihat. (3) Komisif yaitu ilokusi yang terikat pada suatu tindakan di masa depan, misalnya menjanjikan, menawarkan. (4) Ekspresif yaitu ilokusi yang bertujuan mengungkapkan atau mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi, misalnya mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam, menuduh, memuji, mengucapkan belasungkawa dan sebagainya. (5) Deklaratif yaitu menggambarkan perubahan dalam suatu keadaan hubungan, misalnya mengundurkan diri, membabtis, memecat, memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan atau membuang, mengangkat (pegawai), dan sebagainya.

  Berdasarkan lima kategori yang dikemukakan Searle tersebut, dapat dikatakan bahwa implikatur yang terkandung dalam tuturan pada isi teks pidato Soekarno tersebut, mencakup tindak ilokusi representatif atau assertif yaitu ilokusi yang bertujuan menyatakan, mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat, melaporkan, yang dalam isi pidatonya, beliau menawarkan atau mengusulkan dasar negara Indonesia dan mengusulkan juga, Indonesia didirikan menjadi suatu negara yang menjadi milik seluruh rakyat Indonesia dan bukan milik golongan-golongan tertentu.

4.3 Implikatur dan Tindak Tutur Penutup Teks Pidato Soekarno Lahirnya Pancasila

  Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya berkata: di dalam Indonesia Merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu-padu, berjuang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila. Terutama di dalam zaman peperangan ini, yakinlah, insaflah, tanamkan dalam kalbu saudara-saudara bahwa Indonesia Merdeka tidak dapat datang jika bangsa Indonesia tidak berani mengambil resiko – tidak berani terjun menyelami mutiara di dalam samudera yang sedalam-dalamnya. Jikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak bertekad mati-matian untuk mencapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan menjadi milik bangsa Indonesia buat selama- lamanya sampai akhir zaman. Kemerdekaan hanyalah didapat dan dimiliki bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad “Merdeka, merdeka atau mati!” (Tepuk tangan riuh)

  Saudara-saudara! Demikianlah saya punya jawaban atas pertanyaan Paduka Tuan Ketua. Saya minta maaf, karena saya telah mengadakan kritik terhadap catatan Zimukyokutyoo yang sanya anggap “verschrikkelijk zwaarwichtig” itu.

  Terima kasih. (Tepuk tangan riuh-rendah dari segenap hadirin)

  Kutipan di atas adalah beberapa paragraf pada bagian penutup teks pidato Presiden Soekarno yang merupakan data dari penelitian ini. Selanjutnya data ini akan dianalisis secara keseluruhan.

  Data tersebut akan dianalisis berdasarkan kaidah pertuturan yang dikemukakan Grace, yaitu menentukan implikatur yang terdiri dari penganutan prinsip koperatifnya dan empat maksim percakapan serta menentukan tindak tutur yang terdapat dalam tuturan tersebut.

  Penentuan implikatur dalam isi teks pidato Soekarno tentang lahirnya pancasila ini menggunakan kaidah pertuturan seperti yang sudah dijelaskan pada landasan teori, yaitu penentuan prinsip kooperatif dan empat maksim percakapan. Prinsip kooperatif yang dikemukakan Grace adalah “katakan apa yang diperlukan pada saat terjadinya percakapan itu dengan memegang tujuan dari percakapan itu”.

  Bagian penutup teks pidato Soekarno di atas berisikan tentang pernyataan Soekarno bahwa perjuangan dalam mencapai kemerdekaan tidaklah berakhir ketika penjajah sudah membebaskan Indonesia dan mengakui kemerdekaan Indonesia. Beliau mengatakan bahwa kemerdekaan akan terus diperjuangkan bersama-sama, bersatu padu dengan semangat yang berkobar-kobar, demi tercapainya cita-cita bangsa. Kemudian dilanjutkan dengan penganutan empat maksim percakapan. Apabila salah satu dari empat maksim tersebut dilanggar maka tuturan tersebut memiliki implikatur.

  Berdasarkan empat maksim percakapan yang dikemukakan Grace dapat diputuskan bahwa tuturan data penelitian ini mengandung implikatur karena terbukti melanggar maksim maksim pelaksanaan.

  Maksim pelaksanaan mewajibkan setiap peserta pertuturan berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa atau ambigu, dan tidak berlebih-lebihan serta runtut.

  Pada penutup pidatonya, Presiden Soekarno menyampaikan pidato secara berlebih- lebihan. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan Soekarno yang maksudnya sama namun disampaikannya berkali-kali, “bahwa Indonesia merdeka tidak dapat datang jika bangsa Indonesia tidak berani mengambil resiko”, “jikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak bertekad mati-matian untuk mencapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan menjadi milik bangsa Indonesia buat selamanya”, “kemerdekaan hanyalah didapat dan dimiliki bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad merdeka, merdeka atau mati”. Ketiga kalimat di atas memiliki makna dan tujuan yang sama yaitu Indonesia merdeka akan diperoleh jika seluruh rakyatnya bersatu dan mau berjuang dengan keras demi memprtahankan kemerdekaan Indonesia. Beliau mengungkapkan kalimat ini secara berlebihan, karena salah satu kalimat saja dari ketiga kalimat di atas disampaikan oleh beliau, maksud dan tujuan pernyataan tersebut, akan dimengerti oleh seluruh hadirin. Dengan demikian, tuturan pada data penelitian ini tidak menganut prinsip kooperatif.

  Langkah berikutnya adalah menentukan nilai evaluatifnya. Menentukan nilai evaluatif data penelitian dibutuhkan pengetahuan mengenai konteks. Konteks merujuk pada keseluruhan situasi, latar belakang, atau lingkungan yang berhubungan dengan diri yang terjalin bersamanya. Situasi dan latar belakang yang menggambarkan data penelitian, merupakan sebuah suasana sidang penentuan dasar sebuah negara yang sedang mengupayakan kemerdekaan. Maksud dan tujuan (ends) dari pertuturan dalam sidang ini sangat menentukan keberlangsungan suatu negara yang akan memperoleh kemerdekaannya. Sidang BPUPKI yang pertama ini dilaksanakan hingga empat hari berturut-turut, hingga mencapai suatu kesepakatan tentang dasar negara Indonesia ialah pancasila. Hal ini tentunya sangat lekat dengan bagaimana participants atau dalam hal ini tokoh-tokoh pada masa kemerdekaan, baik Soekarno sebagai pembicara, dan anggota sidang lainnya yang menjadi pendengar, berjuang merumuskan dasar negara yang menurut pendapat mereka terbaik, dan dapat diterima dan disetujui oleh pihak Jepang, dan juga pihak bangsa Indonesia sendiri. Presiden Soekarno dalam hal ini, telah menyampaikan pendapatnya tentang dasar negara Indonesia, dan menantang seluruh anggota sidang dan hadirin pada sidang BPUPKI untuk bersiap-siap dan bertekad akan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dan terus memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan semangat yang berkobar-kobar, sampai titik darah penghabisan.

  Pertimbangan nilai evaluatifnya adalah, Soekarno menegaskan bahwa kemerdekaan yang akan diperoleh tidak akan berhasil apabila tidak diisi dengan perjuangan yang lebih, demi tercapainya negara Indonesia yang adil dan makmur. Simpulannya, implikatur dari penutup pidato Soekarno ini adalah, menegaskan bahwa bukan hanya sebatas pengakuan merdeka yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia, melainkan kemerdekaan yang dapat diisi dengan banyak hal yang mampu menyejahterakan kehidupan bangsa, dan membawa nama Indonesia di kancah internasional.

  Austin mengatakan bahwa ada tiga macam tindak tutur yang terjadi secara bersamaan dalam sebuah tuturan, yaitu: (1) tindak ‘lokusi’ yang mengaitkan suatu topik dengan satu keterangan dalam ungkapan, serupa dengan hubungan ‘pokok’ dengan ‘predikat’ atau ‘topik’ dan penjelasan dalam sintaksis. (2) tindak ‘ilokusi’ yaitu suatu pengucapan atau suatu pernyataan, tawaran, janji pernyataan, dan sebagainya. Ini erat hubungannya dengan bentuk-bentuk kalimat yang mewujudkan suatu ungkapan. (3) tindak ‘perlokusi’ yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat itu. Dapat dikatakan, bahwa di dalam setiap tuturan sudah dapat dipastikan adanya lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Lokusi berupa tuturan, ilokusi berupa maksud si penutur, dan perlokusi berupa reaksi dari lawan tutur.

  Dalam analisis teks pidato Soekarno ini, kita akan fokus melihat ilokusi yang terkandung di dalam teks pidato tersebut. Hal ini disebabkan karena lokusinya adalah keseluruhan dari tuturan dalam teks, dan perlokusinya berada pada lawan tutur, yang dalam hal ini adalah anggota sidang dan seluruh hadirin yang hadir pada saat terjadinya pertuturan tersebut. Perlokusi yang dapat dipastikan adalah, bahwa seluruh anggota sidang dapat menerima usulan “Pancasila” sebagai dasar negara Indonesia.

  Dalam tuturan penutup teks pidato Soekarno ini telah terjadi secara serentak tiga macam tindak tutur seperti yang dikemukakan oleh Austin. Lokusinya adalah suatu

  

pernyataan yang menegaskan bahwa kemerdekaan hanya akan didapat dan dimiliki

  

bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad merdeka atau mati. Secara kultural,

tuturan pada pidato Soekarno ini mempunyai daya ilokusi memberi nasihat atau pesan.

  Oleh sebab itu, apabila daya ilokusinya memberi nasihat atau pesan, maka daya perlokusinya adalah kesadaran dari seluruh anggota sidang akan apa yang harus dilakukan dalam mengisi kemerdekaan yang telah diperoleh. Dengan demikian, setelah mendengarkan tuturan dari penutup pidato Soekarno tersebut, anggota sidang BPUPKI semakin menyadari kecintaannya terhadap tanah air Indonesia, dan mau bertekad memperjuangkan kemerdekaan sampai titik darah penghabisan. Sehingga, seluruh anggota sidang dan hadirin yang mendengarkan pidato Soekarno sebagai rakyat Indonesia yang mendambakan kemerdekaan, tentunya akan berjuang menjadi rakyat yang akan mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya.

  Searle mengklasifikasikan tindak ilokusi berdasarkan maksud ke dalam lima kategori, yakni: (1) Representatif atau assertif yaitu ilokusi yang bertujuan menyatakan, mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat, melaporkan. (2) Direktif yaitu ilokusi yang bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan yang dilakukan oleh penutur, misalnya memesan, memerintah, memohon, menuntut, memberi nasihat. (3) Komisif yaitu ilokusi yang terikat pada suatu tindakan di masa depan, misalnya menjanjikan, menawarkan. (4) Ekspresif yaitu ilokusi yang bertujuan mengungkapkan atau mengutarakan sikap psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi, misalnya mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam, menuduh, memuji, mengucapkan belasungkawa dan sebagainya. (5) Deklaratif yaitu menggambarkan perubahan dalam suatu keadaan hubungan, misalnya mengundurkan diri, membabtis, memecat, memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan atau membuang, mengangkat (pegawai), dan sebagainya.

  Berdasarkan lima kategori yang dikemukakan Searle tersebut, dapat dikatakan bahwa implikatur yang terkandung dalam tuturan pada penutup teks pidato Soekarno tersebut, mencakup tindak ilokusi direktif yaitu ilokusi yang bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan yang dilakukan oleh penutur, misalnya memesan, memerintah, memohon, menuntut, memberi nasihat. Dalam penutup pidatonya, beliau berpesan atau memberi nasihat, agar seluruh anggota sidang dan hadirin pada sidang tersebut akan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan semangat dan tekad yang berkobar-kobar, dan akan mempertahankan kemerdekaan itu sampai titik darah penghabisan.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

  Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa penelitian ini merupakan penelitian yang mengkaji implikatur dan tindak tutur yang terdapat dalam wacana teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya pancasila. Simpulan yang diperoleh dari pembahasan tersebut yaitu:

1. Setelah dilakukan analisis melalui data dalam wacana teks pidato Presiden

  Soekarno tentang lahirnya pancasila dapat disimpulkan bahwa implikatur yang terdapat dalam wacana tersebut lebih mengarah pada tindakan untuk menambah wawasan, membakar semangat, mengajak dan mempengaruhi audiens yang hadir pada sidang pertama BPUPKI tersebut pada hari ke empat, mengenai pembicaraan tentang dasar negara Indonesia. Hal ini disesuaikan dengan konteks yang lekat dengan situasi anggota sidang tersebut yang sedang bergulat dengan pendapatnya masing-masing tentang dasar negara Indonesia yang terbaik yang akan diterima dan disetujui oleh pihak Jepang dan juga pihak Indonesia sendiri.

  2. Dari segi tindak tutur percakapan yang dikemukakan oleh J.L. Austin, terdapat tiga jenis tindak tutur yang terdapat dalam tuturan bahasa wacana teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya pancasila yakni tindak lokusi, ilokusi, dan perlokusi

  3. Berdasarkan lima kategori yang dikemukakan Searle (Leech, 1993:164), dapat dikatakan bahwa implikatur yang terkandung dalam tuturan bahasa wacana teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya pancasila mencakup ke dalam beberapa jenis kategori ilokusi, yaitu representatif atau asertif, direktif, dan ekspresif.

  Kategori ilokusi ini disimpulkan berdasarkan analisis pembukaan, isi, dan penutup pidato Soekarno, yang dianggap dapat mewakili keseluruhan teks pidato tersebut.

  4. Sebuah pidato yang baik adalah pidato yang mampu menggugah hati dan pikiran pendengar yang disebabkan oleh maksud dan tujuan sebuah pidato dapat sampai secara jelas kepada pendengarnya. Soekarno dalam pidatonya mampu menyampaikan secara jelas kepada pendengar akan maksud dan tujuannya sehingga respon pendengarnya sangat baik, dan yang terpenting adalah, setelah beliau menyampaikan pidatonya maka lahirlah pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.

5.2 Saran

  Ada beberapa aspek wacana teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya pancasila yang masih dapat diteliti lebih lanjut. Penelitian tersebut jelas bertujuan untuk memahami makna pidato Soekarno tersebut secara menyeluruh sehingga tujuan yang ingin disampaikan Soekarno tentang rumusan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia benar-benar dapat dimengerti khususnya pada masyarakat sekarang. Hal ini tidak lain agar makna pancasila itu tidak menyimpang dari makna dasar yang disampaikan Sokarno pada masa-masa terdahulu. Penelitian tersebut dapat dilakukan pada aspek pragmatik yang tidak dibahas secara mendalam dalam penelitian ini, baik dari sisi deiksis, maupun praanggapan.

  Penelitian ini telah menggambarkan dan memberi penjelasan mengenai implikatur yang terkandung dalam Wacana teks pidato Presiden Soekarno tentang lahirnya pancasila, namun penelitian ini masih perlu dikembangkan dan masih membutuhkan penelitian lanjutan untuk lebih memahami makna yang ingin disampaikan dalam pidato tersebut.

  DAFTAR PUSTAKA Alwi, Hasan, dkk. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

  Bungin, Burhan. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Chaer, Abdul. 1995. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta. Effendy, Onong Uchjana. 2005. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

  Halliday, M.A.K. dan Ruqaiya Hasan. 1992. Bahasa, Konteks, dan Teks. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

  Wijana, I Dewa Putu. 1985. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi. Kridaklaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia. Leech, Geoffrey N. 1983. Principles of Pragmatic. London and New York: Gramedia. Lubis, A. Hamid Hasan.1993. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa. Nababan, P.W.J. 1987. Ilmu Pragmatik, Teori dan Penerapannya. Jakarta: Depdikbud. Nasution, Dewana Indrianti. 2001. “Pasangan Bersesuaian dalam Wacana Persidangan : Analisis Implikatur Percakapan.” (Skripsi). Medan: Fakultas Sastra USU.

  Rani, Abdul. 2004. Analisis Wacana. Malang: Bayumedia. Siregar, Asrul.1997. “Pragmatik dalam Linguistik” (Diktat). Medan: Fakultas Sastra USU. Sudaryanto. 1993. Metode dan Teknik Analisis bahasa: Pengantar Wahana kebudayaan Secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

  Soemarmo, 1988. Pragmatik dan Pengembangan Mutakhirnya. Jakarta: Universitas Katolik Atmajaya.

  Tarigan, Henry Guntur. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa. Tim Redaksi Nera Pustaka. 2011. 101 Tokoh Pembicara Publik Top Dunia. Jakarta: Nera Pustaka.

  Yule, George. 1996. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2006. Lahirnya Pancasila Kumpulan Pidato BPUPKI. Yogyakarta: Media Presindo. Wisanggeni, Tantra. 2011. Cara Instan Jago MC & Berpidato Dalam Bahasa Indonesia.

  Yogyakarta: Pinang Merah Publisher.

  Situs: diakses pada 12 februari 2011)

Dokumen baru

Tags

Teks Pidato Nelson Mandela Tinjauan Yuridis Tentang Sertifikat Deposito Sebagai Agunan Kredit Qanun Nomor 14 Tahun 2003 Tentang Khalwat Teks Pidato Lahirnya Pancasila Tinjauan Pragmatik Nilai Pragmatik Peringkasan Teks Otomatis Pemuda Pancasila
Show more