Mobilitas dan alih status nelayan skala kecil di Provinsi Sulawesi Utara

Gratis

5
28
250
2 years ago
Preview
Full text
MOBILITAS DAN ALIH STATUS NELAYAN SKALA KECIL DI PROVINSI SULAWESI UTARA VICTORIA ERA NICOLINE MANOPPO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Mobilitas dan Alih Status Nelayan Skala Kecil di Provinsi Sulawesi Utara adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada Perguruan Tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini Bogor, Pebruari 2013 Victoria E N Manoppo C462080031 ABSTRACT VICTORIA E N MANOPPO. 2013. Mobility and Exchange Over The Status of Small Scale Fisherman in North Sulawesi Province. Under Direction DOMU SIMBOLON, RUDY C TARUMINGKENG and VICTOR P H NIKIJULUW Fisherman in North Sulawesi Province divided to 2 categories, those are: small scale fisherman (traditional fisherman) and big scale fisherman (modern fisherman). They do arrest of fish in same fishing ground, so that cause various problem for example decreasing the result of cached, followed by decreasing their earnings. For increase of haul, they conducted variously. Which is conducted by fisherman in North Sulawesi Province that is mobility. Target of this research are to; 1) mapping fisherman’s mobility types in North Sulawesi Province; 2) determining factors having an effect on to fisherman mobility; 3) determining the impact of fisherman mobility; 4) formulating strategic solution to quicken to displace fisherman status toward better. Data analysis which is used in this research cover: (a) descriptive-qualitative analysis; (b) structure equation modeling (SEM) analyses; and (c) SWOT analyses. Type of fisherman in North Sulawesi Province are: 1) mobility of geography that is fisherman that conducting mobility of its residence countryside to other place, but linger as fisherman; 2) mobility of geography fisherman and mobility of profession that is fisherman that conducting mobility of its residence countryside to other place, but nonliving as a fisherman; 3) profession mobility that is fisherman which do not conduct mobility of its residence countryside to other place, but linger as non-fisherman ;and 4) do not mobility fisherman that is fisherman which do not conduct any mobility. Factors that having an effect on to fisherman mobility in North Sulawesi Province: a) job experience; b) family responsibility; c) earnings; d) supply of fish; e) saturation; and f) capital. Mobility of fisherman in North Sulawesi Province do not affect significantly to small scale fisherman status, because it does not change to displace their status up at better. Strategic solution to quicken to displace fisherman status toward better, those are: a) SO: to get fishermen who could operate a new modern technology to make finding new fish catching-area become easier; make local role that easy to do by small scale fisherman; b) WO: the government should give easiness to the fishermen to get loan for them; The government provide fisheries extension to make them know about weakness of geography mobility or job changing ; c) ST: Rebserve the law of sharing system; d) WT: giving hard dubious to government officer who is making Illegal fishing for the shake of advantage of person. Keyword : Mobility, displace status, small scale fisherman. RINGKASAN VICTORIA E N MANOPPO. 2013. Mobilitas dan Alih Status Nelayan Skala Kecil di Provinsi Sulawesi Utara. Dibimbing oleh DOMU SIMBOLON, RUDY C TARUMINGKENG dan VICTOR P H NIKIJULUW. Mobilitas merupakan salah satu alternatif yang dipilih nelayan untuk menyiasati berbagai masalah yang timbul akibat paceklik, yaitu diantaranya padatnya persaingan antara nelayan skala besar dan nelayan skala kecil di area penangkapan ikan sehingga hasil tangkapan ikan dan pendapatan menurun. Fenomena serupa pula terjadi di Provinsi Sulawesi Utara, dimana nelayan melakukan mobilitas dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan dan perubahan alih status ke arah yang lebih baik. Maka dari itu dilakukan penelitian dengan tujuan: 1) memetakan tipe mobilitas nelayan di Provinsi Sulawesi Utara. 2) menentukan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap mobilitas nelayan. 3) menentukan dampak terkait perubahan alih status nelayan ke arah yang lebih baik. 4) memformulasikan solusi strategis untuk mempercepat alih status nelayan ke arah yang lebih baik. Adapun jenis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: a) analisis deskriptif-kualitatif; b) analisis SEM; dan c) analisis SWOT. Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa terdapat empat tipe nelayan yang bermobilitas yaitu: 1) mobilitas geografi: nelayan yang melakukan perpindahan wilayah penangkapan ikan, 2) mobilitas geografi dan profesi: nelayan yang melakukan perpindahan lokasi penangkapan ikan dan nelayan yang melakukan perubahan pekerjaan, 3) mobilitas profesi: nelayan yang melakukan perubahan pekerjaan, 4) tidak mobilitas: nelayan yang tidak melakukan perpindahan lokasi penangkapan ikan maupun melakukan perubahan pekerjaan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi nelayan skala kecil untuk bermobilitas yaitu: a) pengalaman kerja, b) tanggungan keluarga, c) pendapatan, d) persediaan ikan, e) kejenuhan, dan f) modal. Mobilitas nelayan di Provinsi Sulawesi Utara tidak berdampak secara signifikan terhadap status nelayan skala kecil, karena tidak merubah alih status mereka ke arah yang lebih baik. Solusi strategis untuk mempercepat alih status nelayan ke arah yang lebih baik, yaitu: a) kekuatan kawasan untuk mendapatkan peluang (SO): menghasilkan nelayan yang mampu mengoperasikan teknologi modern guna mempermudah pencarian DPI baru; membuat peraturan daerah yang memihak nelayan skala kecil, b) pengurangan kelemahan yang ada dengan memanfaatkan peluang (WO): pemerintah memberi kemudahan bagi nelayan untuk memperoleh modal; pemerintah mengadakan penyuluhan tentang kelemahan alih profesi atau pindah wilayah penangkapan, c) kebijakan berdasarkan penggunaan kekuatan yang ada untuk menghadapi ancaman yang akan datang (ST): meninjau kembali sistem bagi hasil yang sementara berlaku saat ini, d) kelemahan yang ada untuk menghadapi ancaman (WT): memberi sangsi yang keras terhadap aparat yang menjadikan illegal fishing demi keuntungan pribadi. Hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk mempercepat alih status nelayan ke arah yang lebih baik adalah: 1) memberikan pemahaman ecology approach kepada nelayan di Provinsi Sulawesi Utara, 2) mengatasi konflik nelayan di Provinsi Sulawesi Utara, 3) meninjau kembali pola hubungan patron-klien dan sistem bagi hasil nelayan di Provinsi Sulawesi Utara, 4) mengembangkan pola usaha perikanan tangkap di Provinsi Sulawesi Utara, 5) menganalisa pengaruh alih teknologi terhadap mobilitas nelayan di Provinsi Sulawesi Utara, 6) mempelajari pengaruh budaya terhadap dinamika mobilitas nelayan di Provinsi Sulawesi Utara, dan 7) mempelajari faktor penarik dan pendorong pada mobilitas profesi nelayan di Provinsi Sulawesi Utara. Tipe Nelayan Provinsi Sulawesi Utara yaitu 1) mobilitas geografi, 2) mobilitas geografi dan profesi, 3) mobilitas profesi, 4) tidak mobilitas. Sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh yaitu 1) pengalaman kerja, 2) tanggungan keluarga, 3) pendapatan, 4) persediaan ikan, 5) kejenuhan, 6) modal. Dampak mobilitas nelayan bagi status nelayan bisa dikatakan tidak berpengaruh secara signifikan. Solusi strategis untuk mempercepat alih status nelayan ke arah yang lebih baik yaitu 1) menghasilkan nelayan yang mampu mengoperasikan teknologi modern guna mempermudah pencarian DPI baru; membuat peraturan daerah yang memihak nelayan skala kecil, 2) pemerintah memberi kemudahan bagi nelayan untuk memperoleh modal, pemerintah mengadakan penyuluhan tentang kelemahan alih profesi atau pindah wilayah penangkapan, 3) meninjau kembali sistem bagi hasil yang sementara berlaku saat ini, 4) memberi sangsi yang keras terhadap aparat yang menjadikan illegal fishing demi keuntungan pribadi. Berdasarkan hasil penelitian terhadap Mobilitas dan Alih Status Nelayan Skala Kecil di Provinsi Sulawesi Utara, dapat disarankan sebagai berikut: 1) menyediakan penyuluh yang lebih bertanggung jawab dan memahami aspek sosial-ekonomi nelayan, 2) memberikan penyuluhan tentang hal-hal yang bisa dilakukan oleh nelayan ketika musim paceklik tiba, 3) sebaiknya nelayan tidak melakukan mobilitas baik lokasi maupun profesi, dan tetap tinggal di desa/wilayah masing-masing kemudian mengusahakan penangkapan dengan alat yang lebih baik dan komitmen waktu yang lebih banyak, 4) meninjau ulang dan merevisi Undang-undang Sistem Bagi Hasil, 5) menyediakan lembaga yang memberikan pinjaman modal dengan mudah dan tidak memberatkan, 6) menindak keras aparat yang menjadikan illegal fishing demi keuntungan pribadi, 7) memberikan pemahaman ecology approach kepada nelayan demi kelangsungan sumberdaya alam, dan 8) membantu nelayan dalam pengadaan dan penggunaan teknologi tepat guna seperti alat pendeteksi daerah penangkapan ikan, motorisasi yang lebih tepat sasaran dan lain sebagainya. Kata kunci : Mobilitas, alih status, nelayan skala kecil. © Hak cipta milik IPB, tahun 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang 1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa seizin IPB. MOBILITAS DAN ALIH STATUS NELAYAN SKALA KECIL DI PROVINSI SULAWESI UTARA OLEH : VICTORIA ERA NICOLINE MANOPPO DISERTASI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Sistem dan Pemodelan Perikanan Tangkap SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tertutup : 1. Dr.Eko Sri Wiyono, S. Pi, M.Si 2. Dr.Ir.Sugeng Hari Wisodo, M.Si Penguji Luar Komisi pada Ujian Terbuka : 1. Prof.Dr.Ir. Daniel Monintja, MSc 2. Dr.Ir.Husni Manggabarani, M.Si LEMBAR PENGESAHAN Judul Disertasi Nama Mahasiswa NRP Program Studi : Mobilitas dan Alih Status Nelayan Skala Kecil di Provinsi Sulawesi Utara : Victoria Era Nicoline Manoppo : C462080031 : Sistem dan Pemodelan Perikanan Tangkap Disetujui, Komisi Pembimbing Dr. Ir. Domu Simbolon. MSi Ketua Prof. Dr. Ir. Rudy C Tarumingkeng,MF Dr. Ir. Victor P H Nikijuluw, MSc. Anggota Anggota Diketahui, Ketua Program Studi SPT Dekan Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Ir. Mulyono S Baskoro ,MSc Dr. Ir. Dahrul Syah, Msc.Agr Tanggal Ujian: 19 Pebruari 2013 Tanggal Lulus: PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Pengasih atas karunia-Nya sehingga Disertasi dengan judul Mobilitas dan Alih Status Nelayan Skala Kecil di Provinsi Sulawesi Utara dapat diselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang tulus kepada: Bapak Dr. Ir. Domu Simbolon, M.Si, Bapak Prof. Dr. Ir. Rudy C Tarumingkeng, M.F, Bapak Dr. Ir. Victor P H Nikijuluw, M.Sc atas kesediannya membimbing penulis. Terima kasih pula kepada Bapak Dr. Eko Wiyono, S.Pi, M.Si dan Dr. Ir. Sugeng Hari Wisodo, M.Si sebagai penguji luar komisi pada ujian tertutup, serta Bapak Prof. Dr. Ir. Daniel R O Monintja, M.Sc dan Bapak Dr. Ir. Husni Manggabarani, M.Si sebagai penguji luar komisi pada ujian terbuka. Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan banyak terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Ir. John Haluan, M.Sc selaku mantan Ketua Mayor SPT, Bapak Dr. Ir. Budy Wiryawan, M.Sc. selaku Ketua Departemen PSP, Bapak Prof. Dr. Ir. Mulyono S Baskoro, M.Sc selaku Ketua Program Studi SPT, Bapak Prof. Dr. Ir. Indra Jaya, MSc selaku Dekan FPIK IPB dan Bapak Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr selaku Dekan Sekolah Pascasarjana IPB dan seluruh Dosen Civitas Akademika Departemen PSP IPB atas segala bantuannya; juga terima kasih disampaikan kepada Civitas Akademika FPIK UNSRAT atas segala kesempatan yang diberikan kepada kami selama ini. Penghargaan dan terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada mama dan papa (Alm.), anak-anakku Jiandrie dan Jereniel, adik-adikku: Stephanny, Olivia, Maudy dan Esther dan juga Mamawoed atas segala bantuan dan kesabaran, dorongan dan pengertian secara tulus dan ikhlas selama penulis menempuh pendidikan. Tak lupa penulis sampaikan terima kasih kepada teman-teman: Indra Erwinda, Marwah, Babe, Gladys dan Senly atas doa dan bantuannya. Penulis menyadari disertasi ini jauh dari sempurna, untuk itu dengan penuh kerendahan hati, penulis berharap semoga dapat dimaklumi dan mohon bantuan untuk perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan selanjutnya. Semoga disertasi ini dapat bermanfaat. Terima kasih. Bogor, Pebruari 2013 Victoria E N Manoppo C462080031 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kota Manado, pada tanggal 17 September 1961 dari ayah Sigfried B Manoppo (Almarhum) dan ibu Prof. Dr. Geraldine Y J Watupongoh (Almarhummah). Penulis merupakan putri tertua dari lima bersaudara. Pendidikan Sarjana ditempuh di jurusan Manajemen Sumberdaya Perikanan (MSP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT Manado), lulus pada tahun 1988. Pada tahun 2004 penulis diterima di program studi Ilmu Perairan pada Program Pascasarjana UNSRAT. Pada tahun 2008 penulis memperoleh kesempatan untuk melanjutkan ke program doktor pada Program Studi Sistem dan Pemodelan Perikanan Tangkap (SPT) Institut Pertanian Bogor dengan beasiswa dari BPPS DIKTI. Penulis bekerja sebagai tenaga pengajar (dosen tetap) sejak tahun 1992 pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado sampai sekarang. DAFTAR ISI  DAFTAR TABEL……………………………………………………………….. iii DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………… iv DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………………. vi DAFTAR ISTILAH ……………………………………………………………. vii 1 PENDAHULUAN ...............................................................................................1 1.1  Latar Belakang...............................................................................................1  1.2  Perumusan Masalah .....................................................................................11  1.3  Tujuan Penelitian .........................................................................................12  1.4  Manfaat Penelitian .......................................................................................12  1.5  Kerangka Pikir Penelitian ............................................................................13 2 TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................................17 2.1  Mobilitas dan Alih Status ............................................................................17  2.2  Sumber daya Perikanan ...............................................................................21  2.3  Pengelolaan Usaha Perikanan Tangkap.......................................................23  2.4  Karakteristik Perikanan Tangkap Skala Kecil .............................................29  2.5  Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap ..................................................35  2.6  Pengaruh Kegiatan Perikanan Tangkap Terhadap Lingkungan ..................39  2.7  Wilayah Pesisir ............................................................................................40  2.8  Konsep Pendapatan dan Kelayakan Investasi .............................................43  2.9  Nelayan dan Pendapatan..............................................................................44  2.10 Karakteristik Kemiskinan Nelayan ............................................................52  2.11 Analisis Deskriptif .....................................................................................71 2.12 Analisis SEM .............................................................................................72 2.13 Analisis SWOT ..........................................................................................74 3 METODOLOGI PENELITIAN.........................................................................77 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian .....................................................................77  3.2  Pengambilan Sampel ...................................................................................77  3.3  Jenis dan Sumber Data ................................................................................80  3.4  Analisis Data ...............................................................................................81  3.4.1 Penentuan status mobilitas nelayan ...................................................81 3.4.2 Penentuan faktor-faktor yang mempengaruhi mobilitas nelayan dan dampak yang ditimbulkan mobilitas nelayan ..............................82 3.4.3 Strategis untuk alih status nelayan ke arah yang lebih baik .............93 4 HASIL ................................................................................................................96 4.1  Kondisi Nelayan di Provinsi Sulawesi Utara ..............................................96  4.2  Mobilitas Nelayan Provinsi Sulawesi Utara ..............................................103  4.3 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap mobilitas nelayan ...................111  4.4 Dampak yang diakibatkan oleh mobilitas nelayan ...................................115  i 4.5  Solusi Strategis untuk Mempercepat Alih Status Nelayan Kearah yang Lebih Baik .................................................................................................118 5 PEMBAHASAN .............................................................................................122 5.1  Kondisi Nelayan di Provinsi Sulawesi Utara ............................................122  5.1.1 Karakteristik nelayan tradisional di Provinsi Sulawesi Utara ........122 5.1.2 Tipe dan jumlah nelayan di Provinsi Sulawesi Utara .....................124 5.1.3 Pendapatan nelayan di Provinsi Sulawesi Utara .............................128 5.1.4 Perumahan nelayan di Provinsi Sulawesi Utara .............................133 5.2  Potensi dan Produksi Perikanan di Provinsi Sulawesi Utara.....................135 5.3  Tipe Mobilitas Nelayan di Provinsi Sulawesi Utara .................................137  5.4 Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Mobilitas Nelayan ................151  5.5   Dampak Mobilitas Nelayan Terhadap Status Nelayan .......................... 157 5.6   Solusi Strategis untuk Mempercepat Alih Status Nelayan Kearah yang Lebih Baik .......................................................................................162 5.7   Tindakan konkrit untuk Mempercepat Alih Status Nelayan ke Arah yang Lebih Baik ……………………………………………………………. 167  5.7.1 Memberikan pemahaman ecosystem approach nelayan.................167 5.7.2 Mengatasi konflik nelayan. .............................................................168 5.7.3 Meninjau kembali pola hubungan patron-klien dan sistem bagi hasil yang berkeadilan .............................................................................174 5.7.4 Meningkatkan efisiensi operasi penangkapan ikan pada daerah penangkapan yang potensial……………………………………. 178 5.7.5 Menentukan teknologi penangkapan ikan yang tepat guna......... 181 5.7.6 Merubah kebiasaan nelayan yang cenderung melakukan mobilitas geografi ketika musim paceklik tiba............................................. 182 5.7.7 Faktor penarik dan pendorong pada mobilitas profesi nelayan….183 6 KESIMPULAN DAN SARAN........................................................................185 6.1  Kesimpulan ................................................................................................185  6.2  Saran ..........................................................................................................186 DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................188 LAMPIRAN .........................................................................................................201  ii DAFTAR TABEL   1 Perbandingan situasi technico-socio-economic antara nelayan tradisional dengan nelayan industri ...................................................................................32 2 Hasil penelitian terkait dengan mobilitas ......................................................... 86  3 Goodness of fit index........................................................................................ 91  4 Kerangka analisis yang dipakai dalam analisis SWOT ................................... 95 5 Karateristik mobilitas nelayan berdasarkan indikator jenis profesi dan lokasi ............................................................................................................... 104  6 Karakteristik nelayan berdasarkan tipe mobilitas di Sulawesi Utara…….... 105 7 Komposisi jumlah nelayan (orang) yang melakukan mobilisasi geografi di Provinsi Sulawesi Utara ............................................................................... 110 8 Hasil Kriteria Kesesuaian Model SEM tahap 1 ............................................. 111  9 Hasil Kriteria Kesesuaian Model SEM tahap 2 ............................................. 114  10 Dampak X1, X2, X3, X4 terhadap Y ........................................................... 116  11 Matriks faktor strategi eksternal solusi strategis untuk mempercepat alih status nelayan kearah yang lebih baik.....................................................118 12 Matrix faktor strategi internal solusi strategis untuk mempercepat alih status nelayan kearah yang lebih baik ............................................................119 13 Strategi kebijakan SWOT .............................................................................. 121  iii DAFTAR GAMBAR 1 Lingkaran setan kemiskinan Ragnar Nurkse (1953) yang diacu dalam (Satria 2002) ....................................................................................................56 2 Lokasi penelitian mobilitas nelayan di Provinsi Sulawesi Utara ...................... 77 3 Tahap pengambilan sampel penelitian .............................................................79 4 Konseptualisasi mobilitas profesi dan alih status nelayan skala kecil di Provinsi Sulawesi Utara ...................................................................................88 5 Diagram Analisis SWOT .................................................................................. 94 6 Komposisi gambaran nelayan di Provinsi Sulawesi Utara ............................... 96 7 Persentase nelayan pemilik versus nelayan buruh di Provinsi Sulawesi Utara............................................................................................................... 99 8 Jumlah perahu / kapal perikanan di Provinsi Sulawesi Utara .......................... 101 9 Pendapatan nelayan di Provinsi Sulawesi Utara .............................................. 101 10 Prosentasi nelayan miskin di Provinsi Sulawesi Utara .................................. 102 11 Komposisi Jenis Perumahan Nelayan di Provinsi Sulawesi Utara ................. 103 12 Arah/tujuan mobilitas nelayan di Provinsi Sulawesi Utara ............................106 13 Komposisi tujuan mobilisasi dan jumlah nelayan yang melakukan mobilitas geografi ..........................................................................................................107 14 Komposisi tujuan mobilisasi dan jumlah nelayan yang melakukan mobilitas geografi tipe mobilitas geografi dan profesi .................................................. 108 15 Komposisi nelayan yang melakukan mobilitas profesi tipe mobilitas geografi dan profesi ...................................................................................................... 108 16 Komposisi tujuan mobilisasi dan jumlah nelayan yang bermobilitas profesi 109 17 Mobilitas profesi nelayan ................................................................................ 109 iv 18 Estimasi model non-fit .................................................................................... 112 19 Estimasi model fit ........................................................................................... 113 20 Perahu Londe .................................................................................................. 131 21 Pembuatan kapal pelang di Desa Kema, Bitung ............................................ 132 22 Perahu Bolotu/Jukung .................................................................................... 132 23 Pemetaan tujuan mobilitas geografi nelayan di Provinsi Sulawesi Utara...... 142 24 Pemetaan tujuan mobilitas geografi nelayan di Provinsi Sulawesi Utara...... 145 DAFTAR LAMPIRAN v DAFTAR LAMPIRAN 1 Tahapan 1 Analisis Structure Equation Modeling (SEM) .............................. 202 2 Tahapan 2 Analisis Structure Equation Modeling (SEM) .............................. 216   vi DAFTAR ISTILAH ABK Anak buah kapal atau dapat pula berarti seseorang yang mengemudikan kapal atau membantu dalam operasi, perawatan atau pelayanan dari sebuah kapal. Hal ini mencakup seluruh orang yang bekerja di atas kapal. Alih Status Alih berarti pindah, tukar; sedangkan status berarti keadaan atau kedudukan seseorang. BBM Bahan bakar minyak yang berupa materi cair yang bisa diubah menjadi energi dan digunakan oleh nelayan pada saat operasional penangkapan. Berkelanjutan Pemanfaatan sumberdaya secara lestari, yaitu dimana laju pemanfaatan harus lebih kecil atau sama dengan laju pemulihan sumberdaya tersebut. BPS Badan Pusat Statistik , dahulu Biro Pusat Statistik, adalah Lembaga non Pemerintah di Indonesia yang mempunyai fungsi pokok sebagai penyedia data statistik dasar, baik untuk pemerintah maupun untuk masyarakat umum, secara nasional maupun regional. Cold storage Media pendingin/merupakan salah satu sarana penunjang dalam proses penanganan pasca penangkapan. Devisa Semua barang yang dapat pembayaran internasional. DKP Departemen dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan kelautan dan perikanan. Sekarang disebut sebagai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Door to door Cara pemasaran langsung “menjemput bola” dari pintu ke pintu, cara penjualan langsung oleh pemilik barang kepada pembeli dari rumah ke rumah. DPI Daerah Penangkapan Ikan yaitu suatu daerah perairan dimana ikan yang menjadi sasaran penangkapan tertangkap dalam jumlah yang maksimal dan alat tangkap dapat dioperasikan serta ekonomis. Ekologi Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. vii digunakan sebagai alat Ekosistem Suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik yang tak terpisahkan antara mahluk hidup dengan lingkungannya. Faktor Internal Pengaruh yang berasal dari dalam lingkungan. Faktor Eksternal Pengaruh yang berasal dari luar lingkungan sekitar. Fish Finder Alat yang digunakan untuk mendeteksi besarnya gerombolan ikan pada lokasi yang ditunjukkan pada peta zona potensi ikan. Dapat mudah digunakan nelayan untuk mengetahui posisi ikan. Geografi Ilmu yang mempelajari tentang lokasi serta persamaan dan perbedaan (variasi) keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan bumi. GPS Global Positioning System adalah sistem satelit dimana alat ini dipasang di kapal, biasanya dilengkapi dengan sounder untuk mengukur kedalaman, radar atau alat pelacak ikan. GT Gross Ton adalah satuan volume dalam palka dan kompartemen kapal, biasanya dipakai untuk kapal perikanan. Hasil Tangkapan Semua ikan yang tertangkap oleh suatu alat penangkap ikan. Investasi Istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan keuangan dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan dimasa depan. Terkadang, investasi disebut juga sebagai penanaman modal. IUU Fishing Illegal Unreported Unregulated Fishing diartikan sebagai kegiatan perikanan yang tidak sah, kegiatan perikanan yang tidak diatur oleh peraturan yang ada, atau aktivitasnya tidak dilaporkan kepada suatu institusi atau lembaga pengelola perikanan yang tersedia. JTB Jumlah tangkapan yang diperbolehkan adalah banyaknya sumber daya alam hayati yang boleh ditangkap dengan memperhatikan pengamanan konservasinya di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Jukung Perahu tanpa motor yang banyak digunakan oleh sebagian besar nelayan tradisional khususnya di Provinsi Sulawesi Utara. viii Kapal Perikanan Kapal perikanan adalah kapal atau perahu atau alat apung lainnya yang dipergunakan, untuk melakukan penangkapan ikan, termasuk kapal atau perahu atau alat apung lainnya yang dipergunakan untuk melakukan survei atau eksplorasi perikanan. Kebijakan Arah kegiatan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan; atau investasi pemerintah untuk mencari pemecahan masalah dalam pembangunan dan mendukung proses pembangunan yang lebih baik. Kemiskinan Keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Konflik Persepsi mengenai perbedaan kepentingan (perceived divergence of interest), atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai secara simultan. Konservasi Sumber daya alam adalah segala upaya yang bertujuan untuk melindungi dan melestarikan sumber daya alam di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Konsumsi Suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung. MEY Maximum economic yields keuntungan maksimum dalam usaha penangkapan. Miskin Keadaan yang serba kurang mampu dan termasuk di dalamnya adalah lingkungan ketidakberdayaan. Mobilitas Mobilitas berasal dari bahasa latin mobilis yang berarti mudah dipindahkan atau banyak bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. MSY Maximum sustainable yield adalah hasil tangkapan maksimum lestari. Nelayan Orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan/binatang air lainnya/tanaman air. Nelayan diartikan sebagai orang yang melakukan penangkapan ikan di laut atau perairan umum. ix Nelayan Penuh Orang yang seluruh waktunya digunakan untuk melakukan pekerjaan operasi penangkapan/ pemeliharaan ikan/binatang air lainnya/tanaman air. Nelayan Sambilan Utama Orang yang sebagian besar waktunya digunakan untuk melakukan pekerjaan operasi penangkapan/ pemeliharaan ikan/binatang air lainnya/tanaman air. Di samping melakukan pekerjaan penangkapan/pemeliharaan, nelayan ini dapat mempunyai pekerjaan lain. Nelayan Sambilan Tambahan Orang yang sebagian kecil waktu kerjanya digunakan untuk melakukan penangkapan/pemeliharaan ikan/binatang air lainnya/tanaman air. Nelayan Tradisional Nelayan yang memanfaatkan sumber daya perikanan dengan peralatan tangkap tradisional, modal usaha yang kecil, dan organisasi penangkapan yang relatif sederhana. Overfishing Jumlah upaya penangkapan yang besar dan berlebihan terhadap stok ikan. Patron-Klien Hubungan antara masyarakat sosial atas/juragan (patron) dan sosial bawah/buruh (klien). PDB Pendapatan domestik bruto adalah nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu.; PDB merupakan salah satu metode untuk menghitung pendapatan nasional. Pembangunan Pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengganggu kemampuan sumberdaya dalam memenuhi kebutuhan generasi mendatang. Penangkap Ikan Penangkapan ikan atau organisme air lainnya. Kapal pengangkut tidak termasuk kapal penangkap. Pengalaman Melaut Lamanya nelayan melakukan usaha penangkapan ikan di laut. Perahu/Kapal Perahu atau kapal yang langsung dipergunakan dalam operasi. Pengelolaan Perikanan Semua upaya, termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumber daya ikan, dan implementasi serta penegakan hukum dari peraturan perundang-undangan di bidang perikanan, yang dilakukan pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai x kelangsungan produktivitas sumber daya hayati perairan dan tujuan yang telah di sepakati. Perikanan Semua upaya, termasuk proses yang terintegrasi yang terdiri dari sumberdaya ikan, sumberdaya lingkungan serta sumberdaya buatan manusia yang digunakan untuk memanfaatkan sumberdaya ikan. Perikanan Tangkap Kegiatan untuk memperoleh ikan diperairan yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah dan/atau mengawetkannya. PK Paardenkracht adalah tenaga mesin dengan satuan daya kuda. Istilah ini berasal dari James Watt, ilmuwan abad 19 asal Skotlandia yang menemukan bahwa pada masa itu, seekor kuda poni miliknya ratarata mampu mengangkat beban seberat 550 pounds (249,4 kg) sejauh 1 kaki (30,48 cm) per detik. Dari 550 pounds dikali 60 detik lalu keluarlah angka sebesar 33.000 foot pounds per min (ft lbs/min)m istilah inilah yang lalu disebut 1 horsepower (daya kuda); 1 PK adalah gaya yang dibutuhkan untuk menggerakkan benda seberat 75 kg sejauh 1 meter dalam waktu 1 detik. 1 PK = 75 kg.m/s 1 PK = 735,5 W PMA Penanaman Modal Asing adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing, baik yang menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri. Potensi Merupakan sesuatu yang mungkin dicapai atau dikembangkan atau dimiliki atau terjadi pada seseorang maupun pada sesuatu. Potensi Lestari Jumlah atau bobot ikan maksimum dalam suatu stok yang dapat diambil oleh penangkap tanpa mengganggu kelestarian stok tersebut. PPI Pangkalan Pendaratan Ikan pada hakekatnya merupakan prasarana ekonomi perikanan yang dibangun dengan maksud untuk memperlancar kegiatan produksi, pengolahan dan pemasaran ikan serta merupakan pusat pengembangan masyarakat perikanan. xi Produktivitas Perbandingan antara hasil yang dicapai (keluaran) dengan keseluruhan sumber daya (masukan) yang terdiri dari beberapa faktor. Profesi Pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan terhadap suatu pengetahuan khusus. penguasaan Pungutan Perikanan Pungutan perikanan adalah sejumlah uang yang harus dibayar oleh perusahaan perikanan asing yang mendapat izin penangkapan ikan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia kepada Pemerintah Republik Indonesia. RTP Rumah tangga perikanan adalah rumah tangga yang melakukan kegiatan penangkapan ikan atau organisme air lainnya dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual. SDM Sumberdaya manusia adalah sebagai bagian integral dari sistem yang membentuk suatu organisasi. melainkan lebih berupa modal atau aset bagi institusi atau organisasi. SEM Structur Equation Modeling adalah teknik statistik yang digunakan untuk membangun dan menguji model statistik yang biasanya dalam bentuk model-model sebab akibat. Soma Pajeko Alat tangkap ikan di Sulawesi Utara yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis yang membentuk gerombolan. Soma Dampar Pukat yang dioperasikan di tepi pantai untuk penangkapan ikan-ikan atau gerombolan ikan yang bermigrasi menyusur pantai, alat penangkap ikan ini terdiri dari lembaran jaring dan tali-temali baik tali untuk pelampung maupun untuk pemberat. Pada prinsipnya alat ini dioperasikan untuk mengurung ikan dan menarik jaring ke arah pantai. Stakeholder Pihak yang berkepentingan atau para pemangku kepentingan. Stok Ikan Bagian dari suatu populasi ikan yang berada dalam suatu wilayah sebar yang kontinu dan memiliki parameter populasi yang sama. Sumberdaya Ikan Potensi semua jenis ikan. SWOT Analisis SWOT yang terdiri atas kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), kesempatan (opportunities), dan ancaman (threats) artinya adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, xii peluang, dan ancaman dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Tauke Juragan nelayan yang memiliki perahu, alat penangkap ikan dan uang tetapi bukan nelayan asli. Trip Perjalanan pergi melakukan operasi penangkapan dan kembali ke darat. Unit Penangkapan Ikan Satu kesatuan teknis dalam suatu operasi penangkapan ikan yang terdiri dari kapal perikanan, alat tangkap, dan nelayan. UUBHP Undang-undang Bagi Hasil Perikanan adalah konsekuensi yang secara ekonomis sesuai dengan dasar pembagian hasil usaha bersama, yaitu keseimbangan antara yang diberikan dengan yang didapatkan.. Wilayah Pesisir Suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. ZEE Zona Ekonomi Eklusif adalah zona yang luasnya 200 mil dari garis dasar pantai, yang mana dalam zona tersebut sebuah negara pantai mempunyai hak atas kekayaan alam di dalamnya, dan berhak menggunakan kebijakan hukumnya, kebebasan bernavigasi, terbang di atasnya, ataupun melakukan penanaman kabel dan pipa. xiii 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Provinsi Sulawesi Utara terdiri dari 11 daerah kabupaten dan 4 daerah kota, yang terdiri dari 150 kecamatan, 306 kelurahan dan 1.200 desa. Luas daerah kab/kota sekitar 15.273,10 (BPS 2008). Berdasarkan hasil pencacahan sensus penduduk 2010, jumlah penduduk Provinsi Sulawesi Utara adalah 2.265.937 orang, yang terdiri atas 1.157.559 lakilaki dan 1.108.378 perempuan. Mata pencaharian pendudukan di Provinsi Sulawesi Utara meliputi bidang pertanian/perikanan (22%), angkutan (8%), bidang jasa-jasa besar (37.57%) dan buruh (31.80%). Terdapat 85,867 orang yang menjadi nelayan dari total jumlah penduduk Sulawesi Utara (BPS-PSU 2010). Nelayan yang berjumlah 85,867 orang tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan skala usaha, menjadi nelayan skala besar dan nelayan skala kecil. Nelayan skala besar menurut Pollnac (1988) memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) diorganisir dengan cara-cara yang mirip dengan perusahaan agro-industri di negara-negara maju, 2) relatif lebih padat modal, 3) memberikan pendapatan yang lebih tinggi dari pada perikanan sederhana bagi pemilik maupun awak perahu dan 4) menghasilkan produk ikan kaleng dan ikan beku berorientasi ekspor. Mereka lebih berorientasi kepada keuntungan (profit-oriented). Nelayan skala kecil termasuk buruh dan anak buah kapal (ABK) tidak mempunyai modal sendiri dalam menjalankan usaha perikanan, memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Memiliki skala usaha relatif kecil (modal terbatas) dan bersifat usaha keluarga. 2) Menggunakan armada penangkapan ikan yang berukuran relatif kecil yang digerakkan dengan tenaga penggerak seperti dayung dan layar dan beberapa dengan motor tempel bertenaga kecil (ketinting 8 PK, motor tempel 15/25 PK), dengan menggunakan alat penangkapan ikan yang berukuran kecil dan relatif sederhana dengan biaya murah. 3) Produktivitas relatif rendah karena sederhananya teknologi armada dan alat penangkapan ikan yang digunakan. 2 4) Daerah operasi penangkapan ikan (fishing ground) terbatas pada pantai yang relatif padat tangkap. 5) Operasi penangkapan ikan tergantung cuaca dan kondisi perairan laut. 6) Dikelola dengan pengetahuan dan pemahaman manajemen usaha yang sangat terbatas. Berdasarkan penangkapan, waktu Ditjen yang Perikanan digunakan yang untuk diacu melakukan dalam Satria operasi (2002) mengklasifikasikan tiga kategori nelayan berdasarkan waktu yang digunakan untuk melakukan profesi operasi penangkapan/pemeliharaan. Pertama, nelayan penuh yaitu orang yang seluruh waktunya digunakan untuk melakukan profesi operasi penangkapan/pemeliharaan ikan/binatang air lainnya/tanaman air. Kedua, nelayan/petani ikan sambilan utama yaitu orang yang sebagian besar waktunya digunakan untuk ikan/binatang air melakukan profesi lainnya/tanaman operasi air. penangkapan/pemeliharaan Selain melakukan profesi penangkapan/pemeliharaan, nelayan kategori ini dapat mempunyai profesi lain. Ketiga, nelayan sambilan tambahan yaitu orang yang sebagian kecil waktu kerjanya digunakan untuk melakukan profesi penangkapan/pemeliharaan ikan/binatang lainnya/tanaman air. Berdasarkan data yang diperoleh jumlah nelayan di Provinsi Sulawesi Utara adalah 85.867 orang, sebanyak 39.727 (46%) diantaranya adalah nelayan pemilik. Hal ini menjelaskan bahwa nelayan buruh lebih dominan yaitu 46.140 orang (54%) dibandingkan dengan nelayan pemilik. Diantara nelayan buruh tersebut, terdapat nelayan penuh sebanyak 17.521 orang (20%), nelayan sambilan utama sebanyak 13.014 orang (15%) dan nelayan sambilan tambahan sebanyak 15.605 orang (18%) (DKP 2010). Menurut Kusnadi (2002), dari segi penguasaan alat produksi atau peralatan tangkap (perahu, jaring dan perlengkapan yang lain), nelayan terbagi dalam kategori nelayan pemilik (alat-alat produksi) dan nelayan buruh. Nelayan buruh tidak memiliki alat-alat produksi dan dalam kegiatan sebuah unit perahu, nelayan buruh hanya menyumbangkan jasa tenaganya dengan memperoleh hak-hak yang sangat terbatas. Dilihat dari sisi kepemilikan perahu/kapal penangkap ikan, nelayan pemilik dibagi menjadi dua kategori menurut Tarigan (2002) yaitu nelayan 3 tradisional dan nelayan bermotor. Nelayan tradisional memakai perahu tanpa mesin/motor. Bila perahu mempunyai mesin yang ditempel di luar perahu disebut perahu motor tempel dan bila perahu/kapal mempunyai mesin di dalam kapal maka disebut kapal motor. Berdasarkan besarnya mesin yang digunakan, diukur dengan gross ton (GT), kapal motor dibagi menjadi: kapal kecil, yaitu < 5GT– 10GT, kapal sedang, yaitu 10GT–30GT, kapal besar, yaitu > 30GT. Berdasarkan tingkat teknologi peralatan tangkap yang digunakan, masyarakat nelayan terbagi ke dalam kategori nelayan modern dan nelayan tradisional. Nelayan-nelayan modern menggunakan teknologi penangkapan yang lebih canggih dibandingkan dengan nelayan tradisional (Kusnadi 2002). Nelayan tradisional merupakan istilah yang lazim digunakan untuk menggambarkan kondisi sosial nelayan yang dicirikan oleh sikap mental yang tidak mudah menerima inovasi teknologi baru, disamping kepemilikan aset produktif yang sangat minimal, pendapatan relatif rendah dan miskin, umumnya hanya memiliki perahu tanpa motor, dengan alat tangkap yang sederhana atau hanya memiliki modal tenaga kerja. Istilah tersebut digunakan untuk membedakannya dengan nelayan modern atau non-tradisional, sebagai penyederhanaan gambaran klasik sistem ekonomi dualistik (Bailey dan Zerner 1992). Nelayan tradisional pada umumnya hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini disebabkan ciri-ciri yang melekat pada mereka yaitu suatu kondisi yang subsisten, dengan modal yang kecil, teknologi yang digunakan dan kemampuan/skill serta perilaku yang tradisional baik dari segi ketrampilan, psikologi dan mentalitas nelayan, di samping itu degradasi lingkungan yang terjadi juga memprihatinkan. Salah satu penyebab rendahnya kinerja perikanan adalah karena terjadinya economic overfishing, bukan Malthusian overfishing (Fauzi 2001). Nelayan miskin di Provinsi Sulawesi Utara sangat dominan dengan jumlah 78.612 orang (92%) sedangkan nelayan tidak miskin hanya berjumlah 7.255 orang (8%). Selanjutnya untuk status nelayan pemilik, di Provinsi Sulawesi Utara berjumlah 39,727 orang (DKP 2012). Rendahnya penghasilan nelayan tradisional di Provinsi Sulawesi Utara merupakan masalah yang sudah lama, namun masalah ini masih belum dapat 4 diselesaikan hingga sekarang, karena terlalu kompleks. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan sosial ekonomi, namun terkait pula dengan lingkungan, pendidikan nelayan dan anak nelayan, kesejahteraan nelayan dan keluarganya dan juga teknologi yang digunakan nelayan tradisional. Pendidikan untuk nelayan pada hakekatnya merupakan human investmen dan social capital, baik untuk kepentingan pembangunan daerah maupun pembangunan nasional. Pendidikan merata dan bermutu, baik melalui pendidikan sekolah maupun luar sekolah akan berdampak pada kecerdasan dan kesejahteraan nelayan. Demikian pula halnya dengan pendidikan memadai, paling tidak dapat dijadikan modal untuk mencari dan menciptakan peluang-peluang kerja yang dapat menjadi sumber kehidupan dan peningkatan kesejahteraan. Dalam banyak hal, terjadinya kemiskinan nelayan bukan semata-mata karena masalah ekonomi akan tetapi salah satu penyebabnya ialah pendidikan yang rendah. Sumber daya manusia merupakan faktor yang paling menentukan dalam mempercepat proses pembangunan. Manusia mampu menciptakan dan menggunakan teknologi hingga produktifitas meningkat. Pengembangan sumber daya manusia perikanan dapat ditempuh dengan cara informal seperti: penyuluhan, latihan, magang, studi banding, serta dengan cara formal melalui pendidikan reguler di sekolah-sekolah perikanan. Namun sayangnya, masyarakat nelayan lokasi penelitian di Provinsi Sulawesi Utara umumnya memiliki tingkat pendidikan formal yang rendah. Hal tersebut terbukti dari jenjang pendidikan yang ditempuh tertinggi hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP), itupun hanya sebagian kecil, sebagian besarnya hanya sampai di Sekolah Dasar (SD), terkadang juga tidak lulus. Dengan tingkat pendapatan nelayan tradisional yang begitu rendah dan kendala biaya yang terbatas, maka sangat masuk akal apabila tingkat pendidikan anak-anaknya juga rendah. Banyak anak nelayan tradisional yang harus berhenti sebelum lulus Sekolah Dasar atau kalaupun lulus ia tidak akan melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Pertama. Kendala ekonomi tidak memungkinkan mereka untuk memperoleh pendidikan yang berarti agar bisa melepaskan diri dari kemelaratan. Dengan demikian nelayan tradisional yang tidak berpendidikan dan tidak memiliki ketrampilan alternatif, mutlak 5 menggantungkan mata pencahariannya pada sektor perikanan, termasuk perikanan tangkap yang pendapatannya tidak menentu. Usaha perikanan merupakan komoditas unggulan yang diusahakan oleh nelayan, yang memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan rumah tangga. Pendapatan nelayan adalah hasil yang diterima oleh seluruh rumah tangga nelayan setelah melakukan kegiatan penangkapan ikan pada waktu tertentu. Namun ikan yang ditangkap belum bisa dikatakan sebagai pendapatan, jika belum terjadi transaksi jual beli. Transaksi yang dimaksud yaitu transaksi jual beli antara nelayan (produsen) dengan pembeli (konsumen) dan transaksi antara nelayan (produsen) dengan bandar ikan (distributor). Pendapatan yang diterima oleh masyarakat nelayan Sulawesi Utara digunakan untuk memenuhi segala kebutuhannya dalam setiap rumah tangga mereka, misalnya membeli perlengkapan rumah tangga, membayar listrik bulanan, membayar bunga atas pinjaman atau utang lainnya, membeli sarana dan prasarana penangkapan ikan, biaya untuk melaut (seperti bensin bagi yang punya mesin, es, rokok dan lain-lain) dan bahkan digunakan untuk biaya pendidikan anak-anak mereka. Berdasarkan hasil prasurvei, diperoleh informasi bahwa, para nelayan sangat kesulitan mengatur rumah tangga dan keluarganya disebabkan karena pendapatan yang tidak mencukupi. Hal ini terjadi karena banyak hal antara lain, ikan bersifat musiman, alat tangkap yang kurang memadai, daerah penangkapan potensial yang dikuasai oleh nelayan asing, kebijakan kelembagaan dan kebijakan pemerintah yang tidak memihak bagi nelayan dan lain-lain. Pendapatan nelayan Sulawesi Utara banyak dipengaruhi oleh tingkat teknologi yang digunakan dalam penangkapan ikan seperti alat pancing dan kapal atau perahu. Semakin tradisional alat tangkap dan perahu yang digunakan, semakin rendah pendapatan yang mereka dapat, begitu juga sebaliknya. Teknologi penangkapan yang umum digunakan di Provinsi Sulawesi Utara untuk memanfaatkan potensi sumber daya ikan adalah purse seine dan pancing (pole and line,pancing tonda, pancing ulur dan long line). Kendala teknologi penangkapan ikan berhubungan dengan alat tangkap, mesin, motor atau infrastruktur pendorong lainnya seperti panjang kapal, fasilitas 6 cool storage, atau peralatan pemrosesan yang dapat meningkatkan kualitas ikan. Nelayan tradisional yang hanya mengandalkan teknologi sederhana, sebagian besar mengaku hasil tangkapan mereka makin lama makin menurun. Teknologi penangkapan ikan yang modern akan cenderung memiliki kemampuan jelajah sampai di lepas pantai (offshore), sebaliknya untuk nelayan tradisional wilayah tangkapnya hanya sebatas perairan pantai. Bagi nelayan tradisional, jelas dengan tidak memiliki alat tangkap ikan yang modern akan menyebabkan kehidupan mereka makin terpuruk tatkala sumber daya laut makin langka. Akibat keterbatasan teknologi yang dimiliki, ruang gerak nelayan tradisional umumnya sangat terbatas, mereka hanya mampu beroperasi di perairan pantai (inshore). Kegiatan penangkapan ikan dilakukan dalam satu hari sekali melaut (one day a fishing trip). Beberapa contoh nelayan yang termasuk tradisional adalah nelayan jukung, nelayan pancingan, nelayan udang dan nelayan teri nasi (Kusnadi, 2002). Namun sayangnya teknologi yang lebih modern, membutuhkan keahlian tersendiri dalam pengoperasian kapal maupun alat tangkapnya. Teknologi juga adalah salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan nelayan. Menurut Kusnadi (2002), tingkat kesejahteraan yang rendah merupakan ciri umum kehidupan masyarakat nelayan dimanapun dia berada. Hasil-hasil studi tentang tingkat kesejahteraan hidup di kalangan nelayan, telah menunjukkan bahwa kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi atau ketimpangan pendapatan merupakan persoalan krusial yang dihadap

Dokumen baru