Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Remaja SMA Wiyata Dharma Medan Terhadap Infeksi Menular Seksual

Gratis

2
39
72
2 years ago
Preview
Full text

KATA PENGANTAR

  Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikankarya tulis ilmiah ini, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan sarjana kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas KedokteranUniversitas Sumatera Utara. Terima kasih yang tiada tara penulis persembahkan kepada Ayahanda tercinta, Irwanto, dan Ibunda tercinta, Rita Hamdani, yang telahmembesarkan dengan penuh kasih sayang dan tiada bosan-bosannya mendoakan serta memberikan semangat kepada penulis dalammenyelesaikan pendidikan.

DAFTAR SINGKATAN

  AAFP American Academy of Family PhysicianAIDS Acquired Immune Deficiency SyndromeBKKBN Badan Koordinasi Keluarga Berencana NasionalDepkes RI Departemen Kesehatan Republik IndonesiaDinkes Dinas Kesehatan ICA International Christian Assembly IMS Infeksi Menular Seksual IUD Intra Uterine DeviceK. I.

DAFTAR LAMPIRAN

BAB 1 PENDAHULUAN

  Angket PenelitianLampiran 3. Lembar Penjelasan dan Persetujuan RespondenLampiran 4.

1.1. Latar Belakang

  Prevalensi infeksi menular seksual di Indonesia gonorrhea sebanyak 37,4%, chlamydia 34,5%, dan syphilis 25,2%; Di kota Surabaya prevalensi infeksi chlamydia 33,7%, syphilis 28,8% dan gonorrhea19,8%; Sedang di Jakarta prevalensi infeksi gonorrhea 29,8%, syphilis 25,2% dan chlamydia 22,7%. Rumusan Masalah Masalah yang menjadi dasar dilakukannya penelitian ini adalah bahwa penulis ingin mengetahui:Bagaimana gambaran pengetahuan dan sikap remaja SMA Wiyata DharmaMedan terhadap infeksi menular seksual?

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Infeksi Menular Seksual

2.1.1. Definisi dan Epidemiologi Infeksi Menular Seksual

  Meskipun demikian, tidak berarti bahwa semuanya harus melalui hubungan kelamin, karenaada beberapa yang dapat juga ditularkan melalui kontak langsung dengan alat-alat, handuk, thermometer, dan ada juga yang dapat ditularkan dari ibu kepada bayinyayang ada di dalam kandungan (Daili, 2007). Menurut American Academy of Family Physician (2007), selain gejala-gejala diatas, juga dijumpai gejala berupa sakit tenggorokan pada orang yang melakukan hubungan seks secara oro-genital dan sakit di sekitar anus pada orang yang melakukanhubungan seks ano-genital.

2.1.5. Komplikasi Infeksi Menular Seksual

  Infeksi menular seksual yang tidak ditangani dapat menyebabkan kemandulan, merusak penglihatan, otak dan hati, menyebabkan kanker leherrahim, menular pada bayi, rentan terhadap HIV, dan beberapa infeksi menular seksual dapat menyebabkan kematian (Dinkes Surabaya, 2009). Suatu studi epidemiologi menggambarkan bahwa pasien dengan infeksi menular seksual lebih rentan terhadap HIV.

2.1.6. Pencegahan Infeksi Menular Seksual

  Pencegahan sekunder bisa dicapai melalui promosi perilakupencarian pengobatan untuk infeksi menular seksual, pengobatan yang cepat dan tepat pada pasien serta pemberian dukungan dan konseling tentang infeksimenular seksual dan HIV. Pencegahan termasuk pengenalan diagnosis yang cepat dan pengobatan yang efektif terhadap infeksi menular seksual, akan mengurangi kemungkinankomplikasi pada masing-masing individu dan mencegah infeksi baru di masyarakat (Depkes RI, 2006; Dinkes Surabaya, 2009).

2.1.7. Penatalaksanaan Infeksi Menular Seksual

  Penanganan infeksi menular seksual (Daili, 2007) secara komprehensif mencakup diagnosa yang tepat, pengobatan yang efektif, pemberian konselingkepada pasien dalam rangka memberikan K. Sedangkan penangananberdasarkan sindrom didasarkan pada identifikasi dari sekelompok tanda dan gejala yang konsisten, dan penyediaan pengobatan untuk mikroba tertentu yangmenimbulkan sindrom.

2.2. Pengetahuan dan Sikap

  Pengukuranpengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden(Notoatmodjo, 2007). Dari berbagai batasan tentang sikap, dapat disimpulkanbahwa manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dari perilaku yang tertutup.

2.3. Remaja

2.3.1. Definisi Remaja

  Menurut Darajad (1995) dalam bukunya yang lain, mendefinisikan remaja sebagai tahap umur yang datang setelah masa anak-anak berakhir, ditandai olehpertumbuhan fisik yang cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan, serta kepribadianremaja. Perkembangan fisik dan psikis menimbulkan kebingungan dikalanganremaja sehingga masa ini disebut oleh orang barat sebagai periode sturm und drung dan akan membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan, serta kepribadian remaja (Monks, 2002).

2.3.2. Perilaku Seksual Remaja

  Tetapi sebagian perilaku seksual yang dilakukan sebelum waktunya justru dapatmemiliki dampak psikologis yang sangat serius, seperti rasa bersalah, depresi, marah dan agresi (Reiss, 2006). Selama masa remaja, seksualitas dan masalah-masalah seksual diperkirakan sebagai masalah yang sangat penting bagi sebagian remaja, dan padamasa ini, banyak remaja yang sudah aktif secara seksual (Goodenov et al., 2008).

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:Pengetahuan Infeksi Menular SeksualSikap Remaja

3.2. Definisi Operasional

  Pengetahuan adalah apa yang diketahui para remaja tentang pengertian infeksi menular seksual, jenis dan penyebab infeksi menular seksual, carapenularan, gejala, pencegahan, pengobatan, dan komplikasi infeksi menular seksual. Pengukuran sikap remaja mengenaiinfeksi menular seksual dilakukan berdasarkan jawaban pertanyaan yang Untuk pertanyaan nomor 1, 2, 4, dan 5 apabila responden menjawab pilihan ‘b’ (tidak setuju), maka akan diberi nilai 1, dan untuk pertanyaan nomor 3dan 6 apabila responden menjawab pilihan ‘a’ (setuju), akan diberi nilai 1.

BAB 4 METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

  Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian yang bersifat deskriptif, yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan 4.2. Dalam menentukanbesarnya sampel, dilakukan perhitungan sampel dengan menggunakan rumus(Notoatmodjo, 2005): n = N 2 1 + N (d )N= besar populasi n= jumlah sampeld= tingkat kepercayaan/ ketepatan yang diinginkan.

4.4. Metode Pengumpulan Data

  Data primer adalah data yangdiperoleh langsung dari responden dimana pengumpulan data dilakukan dengan metode angket yang dibagikan kepada responden untuk mendapatkan jawabanpertanyaan. Sedangkan data sekunder adalah data yang didapatkan dari pihak sekolah yang berhubungan dengan jumlah dan karakteristik siswa/i di SMAWiyata Dharma Medan.

4.4.1. Uji Validitas dan Reliabilitas

  Angket yang dipergunakan dalam penelitian ini telah diuji validitas dan reliabilitasnya dengan menggunakan teknik korelasi “product moment” dan ujiCronbach (Cronbach Alpha) dengan menggunakan program SPSS 15.0. Sampel yang digunakan dalam uji validitas ini memiliki karakteristik yang hampir samadengan sampel dalam penelitian.

4.5. Metode Analisis Data Data dari setiap responden dimasukkan ke dalam komputer oleh peneliti

Analisis data yang diperoleh dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan program komputer SPSS 15.0 .

BAB 5 HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

  Deskripsi Karakteristik Responden Dalam penelitian ini, responden yang terpilih sebanyak 84 siswa/i yang terdiri dari 28 siswa/i tingkat X, 28 siswa/i tingkat XI, dan 28 siswa/i tingkat XII. Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan usia Kelompok usia Frekuensi Persentase(%) 15 22 26,2 16 38 45,2 17 24 28,6 Jumlah 84 100 Dari tabel di atas terlihat bahwa kelompok terbesar responden terdapat pada usia 16 tahun, yaitu sebanyak 45,2%, diikuti usia 17 tahun sebanyak 28,6%,dan terendah pada kelompok usia 15 tahun, yaitu sebesar 26,2%.

5.1.3. Hasil Analisis Data

  Distribusi frekuensi hasil uji tingkat pengetahuan berdasarkan usia Tingkat Pengetahuan Usia Baik Cukup Kurang Buruk Totaln % n % n % n % 15 9 40,9 12 54,5 1 4,5 22 16 2 5,3 14 36,8 17 44,7 5 13,2 38 17 2 8,3 5 20,8 15 62,5 2 8,3 24 Total 4 4,8 28 33,3 44 52,4 8 9,5 84 Dari tabel di atas dapat dilihat pada kelompok responden dengan usia 15 tahun yang mempunyai pengetahuan cukup sebanyak 9 orang (40,9%), pengetahuan kurang sebanyak 12 orang (54,5%), dan pengetahuan buruksebanyak 1 orang (4,5%). Pada kelompok responden usia 16 tahun yang mempunyai pengetahuan baik sebanyak 2 orang (5,3%), pengetahuan cukupsebanyak 14 orang (36,8%), pengetahuan kurang sebanyak 17 orang (44,7%), dan pengetahuan buruk sebanyak 5 orang (13,2%), dan pada kelompok responden usia 17 tahun yang mempunyai pengetahuan baik sebanyak 2 orang (8,3%), cukup sebanyak 5 orang (20,8%), kurang sebanyak 15 orang (62,5%), dan buruksebanyak 2 orang (8,3%).

5.2. Pembahasan

5.2.1. Tingkat Pengetahuan

  Hasil penelitian mengenai tingkatpengetahuan ini juga sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Notobroto (1999) yang mengemukakan bahwa pengetahuan siswa SMAmengenai infeksi menular seksual masih dikategorikan dalam tingkat pengetahuan yang cukup baik, meskipun masih ada yang kurang baik. Hasil ini juga tidak sesuaidengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Prihyugiarto (2008), bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang mengenai infeksi menularseksual adalah usia, yaitu pada kelompok usia yang lebih tua akan memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik dibandingkan pada kelompok usia yangmuda.

BAB 6 KESIMPULAN dan SARAN

  Kesimpulan Berdasarkan analisa data dan pembahasan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dapat diambil kesimpulan: 1. Pengetahuan dan sikap siswa/i SMA Wiyata Dharma Medan terhadap infeksi menular seksual masih relatif rendah, untuk itu perlu dilakukanpemberian pegetahuan kepada remaja secara merata, baik melalui jalur sekolah maupun luar sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

  Pengetahuan, Sikap dan Perilaku remaja Jakarta tentang Seks Aman dan Faktor yang Berhubungan. Perbedaan Pengetahuan dan Sikap tentang Kesehatan Reproduksi Pada Siswa SMA Negeri 1 Makasar dan SMA Negeri 6 Makasar tahun 2006.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  Nama : Linda ChiumanTempat / Tanggal Lahir : Binjai / 20 Juni 1988Agama : BudhaAlamat : Jl. 60 D Binjai Lampiran 2 Angket PenelitianGAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA SMA TERHADAP Jenis kelamin :Umur :Kelas :Riwayat PendidikanRiwayat Organisasi :: 1.

INFEKSI MENULAR SEKSUAL

I. Karakteristik Responden:

II. Pengetahuan Petunjuk: Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat!

  Penyakit yang bisa menular, dengan atau tanpa berhubungan seksual 3. Manakah yang merupakan IMS yang disebabkan oleh “bakteri”?

9. Apakah yang bisa terjadi apabila IMS tidak ditangani/ diobati dengan

  Melakukan hubungan seksual di tempat yang bersih c. IMS terjadi bukan karena perilaku seks yang salah, tapi karena nasib yang kurang beruntung.

LEMBAR PENJELASAN DAN PERSETUJUAN RESPONDEN

  Saudara/i Yth.,Saya yang bernama Linda, untuk selanjutnya disebut sebagai peneliti, adalah seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yangsedang melakukan penelitian mengenai “Gambaran Pengetahuan dan Sikap Remaja SMA Wiyata Dharma Medan terhadap Infeksi Menular Seksual”. Peneliti memerlukan Saudara/i, yang selanjutnya disebut sebagai responden, Peneliti sangat berterima kasih atas waktu yang Anda luangkan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Remaja Tentang HIV/AIDS Di SMA Negeri 1 Medan Tahun 2013
5
47
93
Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang Infeksi Menular Seksual Di SMA Negeri 7 Medan
10
81
63
Gambaran Karakteristik Infeksi Menular Seksual (IMS) Di RSUD Dr. Pirngadi Medan Pada Tahun 2012
4
62
85
Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Sikap Remaja tentang HIV/AIDS di SMA Raksana Medan
16
103
88
Gambaran Infeksi Menular Seksual di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2009.
11
90
71
Gambaran Tingkat Pengetahuan Remaja Berusia 17 Tahun Terhadap Infeksi Menular Seksual di Sekolah Menengah Kebangsaan Pendamaran Jaya, Klang, Selangor, Malaysia.
0
30
83
Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Siswa-Siswi Sma Tentang Penyakit Menular Seksual Di SMA Harapan 1 Medan
3
29
83
Gambaran Pengetahuan Siswi SMK Negeri 1 Medan Tentang Infeksi Menular Seksual Tahun 2010
3
65
53
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Masyarakat Terhadap Penyakit Menular Seksual Di Puskesmas Padang Bulan Medan
3
81
77
Pengetahuan Dan Sikap Remaja SMA Santo Thomas 1 Medan Terhadap Jerawat
8
50
81
Gambaran Pengetahuan Dan Sikap Remaja SMA Wiyata Dharma Medan Terhadap Infeksi Menular Seksual
2
39
72
Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Infeksi Menular Seksual Di SMA Al-Asiyah Cibinong Bogor Tahun 2015
2
25
142
BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL 3.1 Kerangka Konsep Penelitian - Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang Infeksi Menular Seksual Di SMA Negeri 7 Medan
0
0
15
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Infeksi Menular Seksual 2.1.1 Definisi dan Epidemiologi Infeksi Menular Seksual - Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang Infeksi Menular Seksual Di SMA Negeri 7 Medan
0
0
15
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang - Pengetahuan dan Sikap Remaja Tentang Infeksi Menular Seksual Di SMA Negeri 7 Medan
0
0
7
Show more