KONFLIK DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

Gratis

25
596
37
2 years ago
Preview
Full text
1 ABSTRAK KONFLIK DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) Oleh MITA SUCIATI Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimanakah konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro dan kelayakannya sebagai bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konflik yang terdapat dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro dan menetapkan kelayakan novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro sebagai bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah novel yang berjudul 5 cm karya Donny Dhirgantoro. Data berupa unit-unit teks pada novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro. Teks tersebut berupa paparan bahasa yang menggambarkan konflik yang terkandung di dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro. Hasil penelitian novel 5 cm ditemukan konflik berupa konflik manusia dengan dirinya sendiri (konflik batin), konflik manusia dengan manusia, dan konflik 2 Mita Suciati manusia dengan alam. Pada novel 5 cm tidak ditemukan adanya konflik manusia dengan masyarakat. Konflik utama dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro yaitu konflik manusia dengan dirinya sendiri. Konflik utama berupa pertentangan dalam diri lima tokoh (Arial, Genta, Ian, Riani, dan Zafran) untuk tetap berada dalam dunia mereka (komunitas lima sahabat) atau memilih keluar, melihat dunia luar, keluar dari zona nyaman. Konflik utama tersebut memicu timbulnya konflikkonflik lain dalam alur novel 5 cm. Novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro layak dijadikan sebagai bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA) karena sesuai dengan kriteria pemilihan bahan pembelajaran, yaitu dilihat dari aspek bahasa, aspek psikologis, dan aspek latar belakang budaya. BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan 5.1.1 Konflik dalam Novel Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro adalah sebagai berikut. a. Konflik Manusia dengan dirinya (konflik Batin) 1) Tokoh Arial (a) pertentangan untuk tetap berada dalam dunia yang telah dijalani selama ini atau memilih untuk melihat dunia luar/ dunia di luar komunitas dengan empat sahabatnya, keluar dari zona nyaman; (b) pertentangan untuk mengutarakan isi hati atau memilih untuk memendam saja perasaan cintanya pada seorang wanita. 2) Tokoh Genta (a) pertentangan untuk tetap berada dalam dunia yang telah dijalani selama ini atau memilih untuk melihat dunia luar/ dunia di luar komunitas dengan empat sahabatnya, keluar dari zona nyaman; (b) pertentangan untuk memilih antara cinta atau persahabatan. 3) Tokoh Ian (a) pertentangan untuk tetap berada dalam dunia yang telah dijalani selama ini atau memilih untuk melihat dunia luar/ dunia di luar komunitas dengan empat sahabatnya, keluar dari zona nyaman; (b) pertentangan antara perasaan rendah diri yang dialami tokoh Ian dengan keinginan untuk tetap berada dalam komunitas empat sahabatnya; (c) pertentangan antara perasaan putus asa dengan keinginan untuk segera menyelesaikan kuliah. 4) Tokoh Riani (a) pertentangan untuk tetap berada dalam dunia yang telah dijalani selama ini atau memilih untuk melihat dunia luar/ dunia di luar komunitas dengan empat sahabatnya, keluar dari zona nyaman; (b) pertentangan untuk mengakui semua perasaannya terhadap tokoh Zafran dengan kodratnya sebagai seorang wanita 5) Tokoh Zafran (a) pertentangan untuk tetap berada dalam dunia yang telah dijalani selama ini atau memilih untuk melihat dunia luar/ dunia di luar komunitas dengan empat sahabatnya, keluar dari zona nyaman; (b) pertentangan untuk mengungkapkan perasaan cinta terhadap seorang wanita atau memilih terus memendam perasaan tersebut. b. Konflik Manusia dengan Manusia Konflik terjadi antar tokoh (Arial, Genta, Ian, Riani, Zafran), akibat salah satu tokoh (Ian) bersikap mengadu domba. c. Konflik Manusia dengan Masyarakat Pada novel 5 cm, tidak ditemukan adanya konflik manusia dengan masyarakat d. Konflik Manusia dengan Alam Konflik manusia dengan alam dalam novel yaitu konflik melawan cuaca panas, melawan udara yang amat dingin, melawan kondisi alam Mahameru dengan hutan-hutan lebat, dan melawan alam pendakian yang terjal. Berdasarkan tiga jenis konflik tersebut, dapat disimpulkan bahwa konflik utama dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro yaitu konflik manusia dengan dirinya sendiri. Konflik berupa pertentangan dalam diri masing-masing tokoh untuk tetap berada dalam dunia mereka sendiri (komunitas lima sahabat) atau memilih keluar, melihat dunia luar, keluar dari zona nyaman. Konflik utama tersebut memicu timbulnya konflik-konflik lain dalam alur novel 5 cm. 5.1.2 Kelayakan Konflik dalam Novel 5 cm Karya Donny Dhirgantoro Sebagai Bahan Ajar Sastra Indosesia di Sekolah Menengah Atas (SMA) Novel 5 cm karya donny Dhirgantoro ditinjau dari konflik yang terdapat didalamnya, layak dijadikan alternatif bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA) karena sesuai dengan kriteria pemilihan bahan pembelajaran sastra menurut Rahmanto (1993:27). Kriteria pemilihan bahan pembelajaran tersebut terdiri dari tiga aspek, yaitu aspek bahasa, aspek psikologis, dan aspek latar belakang budaya. 5.2 Saran 5.2.1 Saran Teoretis Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada peneliti selanjutnya agar dapat mengembangkan penelitian/ kajian yang lebih lanjut, lebih dalam, dan lebih luas lagi mengenai struktur alur yang terdapat dalam sebuah karya fiksi khususnya novel. 5.2.2 Saran Praktis Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada a. siswa agar meneladani sikap para tokoh yang bernilai moral baik, terutama mengenai sikap yang diambil para tokoh dalam menyelesaikan konflik yang terjadi. Melalui novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro, siswa diharapkan dapat mengambil hikmah melalui sikap dan tingkah laku tokoh-tokohnya dalam menghadapi konflik. Melalui novel tersebut, siswa juga diharapkan dapat mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, dan memotivasi siswa dalam menentukan tujuan hidupnya; b. guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia agar dalam memilih sebuah karya sastra untuk mencari konflik dalam novel hendaknya secara kreatif memilih karya sastra yang erat hubungannya dengan kehidupan siswa seharihari dan dapat memberi inspirasi serta menggugah semangat belajar bagi siswa. Jadi, siswa tidak hanya mendapat pembelajaran dalam ilmu sastra itu sendiri, tetapi juga motivasi yang dapat membuat siswa lebih bersemangat untuk belajar dan meraih cita-cita untuk masa depan mereka; dan c. guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk menggunakan novel 5 cm Karya Donny Dhirgantoro sebagai alternatif bahan ajar dalam pembelajaran sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA). Hal ini berdasarkan pertimbangan dan kriteria-kriteria pembelajaran sastra yang mencakup aspek bahasa, aspek psikologis, dan aspek latar belakang budaya bahwa novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro ini layak dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial memiliki konflik yang majemuk. Randall Collins (1975) dalam Ritzer (2005:162) mengemukakan bahwa konflik merupakan proses sentral dalam kehidupan sosial. Ia melihat bahwa orang memunyai kepentingan sendiri-sendiri, sehingga benturan-benturan mungkin terjadi karena kepentingan-kepentingan tersebut pada dasarnya saling bertentangan. Konflik merupakan unsur dasar kehidupan manusia dan tidak dapat dilenyapkan dari kehidupan budaya manusia. Manusia dapat mengubah saranasarana, asas-asas, atau pendukungnya, tetapi tidak dapat membuang konflik itu sendiri. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa potensi konflik merupakan naluri kehidupan setiap manusia. Konflik yang terjadi dalam kehidupan manusia pada umumnya dijadikan sebagai sumber ilham bagi para sastrawan yang kemudian ditarik dalam khasanah imajinasi untuk dihayati, direnungkan, diendapkan, kemudian disalurkan dalam wujud karya sastra. Sebuah karya sastra yang baik sudah seharusnya mengangkat persoalan dan dimensi kehidupan manusia. Ibarat sebuah cermin, teks sastra memantulkan nilai-nilai kemanusiaan yang mampu menyentuh kepekaan nurani pembacanya untuk melakukan pencerahan jiwa. (Jakob Sumardjo, 1984:15) Prosa (Inggris: prose) sebagai salah satu genre di samping genre-genre lain yang terdapat dalam dunia kesastraan, menawarkan berbagai permasalahan dalam kehidupan manusia. Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut sebagai fiksi (fiction). Fiksi menurut Altenbernd dan Lewis (1966:14) dalam Nurgiyantoro (1994:2), dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antarmanusia. Fiksi menceritakan berbagai peristiwa kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan, dengan diri sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan. Peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam sebuah karya fiksi dihubungkan berdasarkan pola kausalitas atau sebab akibat, sehingga membentuk suatu alur yang menarik. Alur merupakan bagian dari struktur cerita rekaan (karya fiksi). Alur (plot) merupakan unsur fiksi yang penting (jiwa fiksi), bahkan tak sedikit orang yang menganggapnya sebagai yang terpenting di antara berbagai unsur fiksi yang lain. Tinjauan struktural terhadap karya fiksi pun sering ditekankan pada pembicaraan alur. Alur mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus bertalian satu sama lain, bagaimana suatu insiden memunyai hubungan dengan insiden lain, bagaimana tokoh-tokoh harus digambarkan dan berperan dalam tindakan-tindakan itu, dan bagaimana situasi dan perasaan karakter (tokoh) yang terlibat dalam tindakantindakan itu terikat dalam suatu kesatuan waktu. Kejelasan alur merupakan kejelasan cerita, kesederhanaan alur berarti kemudahan cerita untuk dimengerti (Nurgiyantoro, 1994:110). Sebuah alur memiliki tiga unsur pembangun yaitu peristiwa, konflik, dan klimaks. Pengembangan alur sebuah karya fiksi akan dipengaruhi oleh bangunan konflik yang ditampilkan. Konflik merupakan inti dari sebuah alur, sumber adanya cerita. Ada cerita saja tanpa didasari konflik di dalamnya tidak mungkin ada cerita yang lengkap dan menarik. Sebuah rentetan cerita tanpa konflik di dalamnya tak akan ada alur. Kemampuan pengarang untuk memilih dan membangun konflik melalui berbagai peristiwa akan sangat menentukan kadar kemenarikan cerita yang dihasilkan. Konflik adalah sesuatu yang ―dramatik‖, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan (Warren, 1989: 285). Novel sebagai salah satu bentuk karya sastra yang juga tergolong jenis fiksi, melibatkan permasalahan atau konflik yang kompleks, mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak. Berdasarkan pemaparan di atas, maka penulis merasa penting untuk mengadakan penelitian mengenai konflik dalam novel. Objek dalam penelitian ini adalah novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro. 5 cm merupakan novel baru dari seorang penulis baru yang mengangkat konflik-konflik ringan yang membumi khususnya di kalangan remaja. Selain itu, Isbedy Setiawan mengemukakan bahwa novel 5 cm mampu menghidupkan kekuatan impian dan cita-cita melalui lima tokoh yang ada. 5 cm kental dengan nuansa nasionalisme, tanpa terjebak mendoktrin kepada pembaca. Penulis mengajak pembaca menikmati keindahan alam puncak Mahameru, saat detik-detik prosesi memperingati ulang tahun Republik Indonesia. Siapa pun akan bergetar ketika Sang Saka Merah Putih dikibarkan menantang langit luas. Kecintaan kepada tanah air digambarkan dengan realis dan logis. Penulis mampu memainkan perasan pembaca melalui peran-peran tokoh dalam novel 5 cm. (http://isbedystiawanzs.blogspot.com/2008/12/5-cm-danfenomena-novel-popular.html) Donny Dhirgantoro terbilang baru dalam pentas sastra di Indonesia, tetapi tidak membuat isi novel ini seperti buatan penulis baru. Dengan gaya penulisan yang mudah dipahami, membuat novel yang pertama kali terbit pada 21 Mei 2005 ini patut menjadi bacaan kawulamuda yang menginginkan gaya penulisan berbeda (http://jiwafreud.blogspot.com/2008/01/mimpi-dari-donny-dhirgantoro.html). Novel 5 cm adalah sebuah kisah tentang lima anak muda (Arial, Genta, Ian, Riani dan Zafran) yang telah menjalin persahabatan selama tujuh tahun. Kebiasaan melakukan berbagai hal bersama membawa mereka pada satu titik yaitu rasa bosan pada keadaan yang menurut mereka standar-standar saja. Mereka memutuskan untuk tidak saling berkomunikasi dan bertemu satu sama lain selama tiga bulan. Selama tiga bulan berpisah itulah masing-masing kembali menjadi diri sendiri, berjuang sendiri mengejar mimpi dan cita-cita, masing-masing tokoh memiliki konflik yang harus diselesaikan. Selama tiga bulan berpisah itulah telah terjadi banyak hal yang membuat hati mereka lebih kaya dari sebelumnya. Pertemuan setelah tiga bulan yang penuh dengan rasa kangen akhirnya terjadi dan dirayakan dengan sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan menuju puncak Mahameru yang penuh keyakinan, mimpi, cita-cita, dan cinta. Sebuah perjalanan yang kemudian mengubah mereka menjadi manusia-manusia sesungguhnya, manusia-manusia baru dengan keyakinan tinggi untuk menggapai mimpi, cita-cita, dan cinta, bukan cuma seonggok daging yang bisa berbicara, berjalan, dan punya nama. 5 cm adalah novel yang membangun, ada banyak pelajaran yang bisa didapat ketika membacanya. Banyak kata-kata yang mampu membakar semangat dan perjuangan pembaca. Seperti dalam kutipan berikut. ―...begitu juga dengan mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar taruh disini.‖ Ian membawa jari telunjuknya menggantung mengambang di depan keningnya. ―Biarkan dia menggantung mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apa pun itu, segala keinginan, mimpi, dan cita-cita, keyakinan diri...‖ ―..dan sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja. Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya. Serta mulut yang akan selalu berdoa.‖ ―…kamu akan dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan mimpi dan mengejarnya, bukan seorang pemimpi saja., bukan orang biasabiasa saja tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah oleh keadaan. Percaya pada 5 centimeter di depan kening kamu.‖ (5 cm, 362-363) Betapa pun saratnya pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditawarkan sebuah karya fiksi (dalam hal ini: novel), ia haruslah tetap merupakan cerita yang menarik, tetap merupakan bangunan struktur yang koheren, dan tetap memunyai tujuan estetik dan mendidik. Melalui sarana cerita tersebut pembaca secara tak langsung dapat belajar, merasakan, dan menghayati berbagai permasalahan kehidupan yang secara sengaja ditawarkan pengarang. Hal itu akan mendorong pembaca untuk ikut merenungkan berbagai masalah dalam kehidupan. Oleh karena itu cerita atau fiksi atau karya sastra pada umumnya, sering dianggap dapat membuat manusia menjadi lebih arif, atau dapat dikatakan ―memanusiakan manusia‖. Sebuah karya sastra yang baik, mengajak orang untuk merenungkan masalahmasalah hidup yang musykil. Sebuah karya sastra mengajak orang untuk saling mengasihi manusia lain (Mursal Esten, 1987:9). Jakob Sumardjo (1984: 14), karya sastra berguna untuk mengenal manusia, kebudayan, serta zamannya. Sudarni dalam Konferensi Internasional Kesusastraan XIX mengemukakan bahwa dengan sastra orang akan berbudaya, dengan budaya orang akan bermartabat, dan akhirnya dengan bermartabat orang akan bermanfaat. Pengajaran sastra akan membantu siswa dalam mengembangkan wawasan terhadap tradisi dalam kehidupan manusia, menambah kepekaan terhadap berbagai problema personal dan masyarakat, dan bahkan sastra pun akan menambah pengetahuan siswa terhadap berbagai konsep teknologi dan sains. (http://www.pusatbahasa.diknas. go.id/laman/artikel/Sudarni-Bangka_Barat.pdf) Berdasarkan beberapa pendapat di atas, tersirat betapa pentingnya pengajaran sastra di sekolah. Hal tersebut sejalan pula dengan tujuan umum pengajaran sastra di sekolah yaitu, siswa mampu menikmati, menghayati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, meningkatkan pengetahuan, dan kemampuan berbahasa. Hal ini juga dipertegas dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMA tahun 2007, mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas XI semester 1. Standar kompetensi : (membaca) memahami berbagai hikayat, novel Indonesia/ terjemahan. Kompetensi dasar : menganalisis unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik novel Indonesia/ terjemahan. Melalui kegiatan mengapresiasi karya sastra, dalam hal ini mengenai konflik yang terdapat dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro, diharapkan siswa dapat menikmati dan mengambil hikmah dari novel tersebut, serta dapat mengenal dan mengamalkan nilai-nilai moral yang dianggap baik dan luhur. 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. ―Bagaimanakah konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro dan kelayakannya sebagai bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA)?‖. 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. a. Mendeskripsikan konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro. b. Menetapkan kelayakan konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro sebagai bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA). 1.4 Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoretis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoretis yaitu dapat menambah referensi penelitian dibidang kesastraan, khususnya unsur intrinsik novel. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi para peneliti selanjutnya dalam pengembangan teori sastra yang memusatkan perhatian pada unsur intrinsik novel yaitu konflik yang terdapat dalam alur sebuah karya fiksi. b. Manfaat Praktis 1) Memberikan pengetahuan kepada pembaca, siswa, dan khususnya guru di SMP maupun SMA mengenai materi konflik dalam novel, khususnya yang terdapat dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro. 2) Membantu guru Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya guru Sekolah Menengah Atas (SMA), untuk mendapatkan alternatif bahan ajar sastra Indonesia di sekolah. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. a. Konflik dalam novel yang berjudul 5 cm karya Donny Dhirgantoro. Untuk menganalisis konflik dalam novel ini, penulis mengacu kepada pendapat Gorys Keraf (1981:168) yang membagi konflik yaitu, konflik manusia dengan dirinya sendiri (konflik batin), konflik manusia dengan manusia, konflik manusia dengan masyarakat, konflik manusia dengan alam. b. Kelayakan konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro sebagai bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA) dilihat berdasarkan tiga aspek berikut. 1) Bahasa 2) Psikologis 3) Latar belakang budaya BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Terhadap Novel Istilah novel berasal dari kata Latin novellus yang diturunkan pula dari kata novies yang berarti ―baru‖. Dikatakan baru karena jika dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi atau drama, maka jenis novel ini muncul kemudian. Novel merupakan salah satu jenis prosa yang paling banyak dibaca oleh masyarakat dunia (Tarigan,1984:164). Novel adalah karangan prosa yang panjang yang mengandung rangkaian cerita dalam kehidupan seseorang dengan orang-orang sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku (Depdiknas, 1995: 694). Novel merupakan ragam tulisan yang merupakan bagian dari prosa fiksi. Novel memberi peluang untuk hadirnya banyak tokoh, pertikaian dan alur yang kompleks, pengembangan lingkungan secara lebih luas, eksplorasi terhadap tokoh secara mendalam (Abrams, 1981:119). Novel merupakan pengungkapan dari fragmen kehidupan manusia (dalam jangka yang lebih panjang) dimana terjadi konflik-konflik yang akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan jalan hidup antara para pelakunya (Mursal Esten, 1978: 12). Pendapat serupa dikemukakan Cecep Syamsul Hari (http://cecepsyamsulhari. webs.com/mencaridanmenemukan.htm), novel adalah sebuah prosa naratif yang panjang dan kompleks, yang secara imajinatif berjalin dengan pengalaman manusia melalui suatu rangkaian peristiwa yang saling berhubungan satu sama lain dengan melibatkan sekelompok atau sejumlah orang (tokoh, karakter) di dalam latar yang spesifik. Novel adalah sebuah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan dari latar, serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin sebuah cerita (Aminuddin, 2004:6) Sejalan dengan Aminuddin, Tarigan (1991:164) mengemukakan bahwa novel dibangun oleh jalannya suatu cerita atau alur. Novel adalah suatu cerita yang panjang yang menceritakan kehidupan pria/ wanita. Karena bentuk novel yang panjang, cerita tersebut ditulis dalam satu buku/ lebih. Hal ini sesuai dengan pendapat yang mengatakan bahwa novel adalah sebuah cerita dengan suatu alur yang cukup panjang mengisi satu buku/ lebih yang menggarap kehidupan pria/ wanita yang bersifat imajinatif. Novel terdiri dari pelaku-pelaku, mulai dari waktu muda, mereka menjadi tua, mereka bergerak dari satu adegan ke adegan yang lain, dari suatu tempat ke tempat yang lain (H.E Batus dalam Tarigan, 1991:164). Sumardjo (1984:66) berpendapat bahwa novel merupakan karya sastra/ cerita berbentuk prosa dalam ukuran panjang dan luas. Ia mengungkapkan ciri-ciri pokok novel sebagai berikut. a. Memiliki alur (plot). Sebuah novel biasanya memunyai plot pokok, yakni batang tubuh cerita, ditambah/ dirangkai dengan plot-plot kecil. Plot-plot kecil tadi hanyalah tambahan saja/ anak plot yang harus masih merupakan kesatuan/ bersifat menjelaskan plot utamanya. Karena struktur bentuknya yang luas ini, maka sebuah novel dapat bercerita panjang lebar dan membahas secara luas pula. b. Memiliki tema. Di dalam tema juga terdapat tema utama dan tema-tema sampingan yang fungsinya sama dengan plot. Inilah sebabnya dalam roman/ novel pengarang dapat membahas hampir semua segi persoalan dari tema pokok. c. Karakter. Tokoh-tokoh dalam novel/ roman juga banyak. Ada kalanya memang hanya melukiskan beberapa tokoh utama saja, sedangkan tokoh lain hanya digambarkan sekilas, hanya untuk melengkapi penggambaran tokohtokoh utama. Tetapi dalam novel/ roman, pengarang sering menghadirkan banyak tokoh cerita yang masing-masing digambarkan secara secara lengkap dan utuh, sehingga roman semacam itu seolah-olah merupakan konsentrasi kisah beberapa tokoh besar. Berdasarkan uraian mengenai pengertian novel di atas, penulis mengacu pada pendapat Cecep Syamsul Hari, novel adalah sebuah prosa naratif yang panjang dan kompleks, yang secara imajinatif berjalin dengan pengalaman manusia melalui suatu rangkaian peristiwa yang saling berhubungan satu sama lain dengan melibatkan sekelompok orang (tokoh, karakter) di dalam latar yang spesifik. Novel memiliki cerita dengan alur yang kompleks, karakter yang banyak, suasana cerita beragam, tema yang kompleks, dan setting yang beragam pula. 2.2 Tinjauan Terhadap Alur Stanton dalam Nurgiyantoro (1994:113) mengemukakan bahwa alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, tiap kejadian itu dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Foster dalam Nurgiyantoro juga mengemukakan bahwa alur adalah peristiwaperistiwa cerita yang memunyai penekanan pada adanya hubungan kausalitas. Alur menampilkan kejadian-kejadian yang mengandung konflik yang mampu menarik atau bahkan mencekam pembaca. Abrams mengemukakan bahwa alur sebuah karya fiksi merupakan struktur peristiwa-peristiwa, yaitu sebagaimana yang terlihat dalam pengurutan dan penyajian berbagai peristiwa tersebut untuk mencapai efek emosional dan efek artistik tertentu. Alur ialah urutan peristiwa dari awal hingga akhir dalam sebuah cerita yang berkaitan dengan perilaku tokoh-tokohnya/ perwatakan. Sebuah alur yang meyakinkan terletak pada gambaran watak-watak yang mengambil bagian didalamnya. Peristiwa-peristiwa cerita dalam alur didukung oleh pelukisan watakwatak tokoh dalam suatu rangkian alur yang menceritakan manusia dengan berbagai persoalan, tantangan dalam kehidupannya. Nurgiyantoro (1995:165) mengemukakan bahwa watak menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti ditafsirkan oleh pembaca, lebih merujuk pada kualitas pribadi seorang tokoh. Alur adalah bagaimana cara pengarang menyusun peristiwa-peristiwa tersebut di dalam karya sastra yang didasarkan kepada hubungan kausalitas (Esten, 1984:40). Alur merupakan rangkaian pola tindak-tanduk yang berusaha memecahkan konflik yang terdapat dalam narasi itu, yang berusaha memulihkan situasi narasi ke dalam suatu situasi yang seimbang dan harmonis (Keraf, 1992:147). Pada dasarnya semua pendapat di atas mempergunakan kata ―kunci‖ peristiwaperistiwa yang berhubungan sebab akibat. Berdasarkan uraian mengenai pengertian alur di atas, penulis mengacu pada pendapat Stanton dalam Nurgiyantoro, alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, tiap kejadian itu dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Alur mengemukakan peristiwa yang terjadi, dan mengapa hal itu terjadi. Merupakan rentetan peristiwa sebab akibat, dijalin dengan melibatkan konflik, atau pertikaian yang pada akhirnya terdapat peleraian. Secara teoretis, alur dapat diurutkan atau dikembangkan ke dalam tahap-tahap tertentu secara kronologis. Namun dalam praktiknya, dalam langkah-langkah ―operasional‖, pengarang tak selamanya tunduk pada teori itu. Alur sebuah karya fiksi sering tidak menyajikan urutan peristiwa secara kronologis dan runtut, melainkan penyajian yang dapat dimulai dan diakhiri dengan kejadian yang mana pun juga tanpa adanya keharusan untuk memulai dan mengakhiri dengan kejadian awal dan kejadian (ter-) akhir. Dengan demikian, tahap awal cerita tidak harus berada di awal cerita / dibagian awal teks, melainkan dapat terletak dibagian manapun. Secara teoretis-kronologis, tahapan alur dikemukakan sebagai berikut. a. Tahap penyituasian (situasion), merupakan tahap yang berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh (-tokoh) cerita. Tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita, pemberian informasi awal, dan lain-lain. Terutama, berfungsi untuk melandastumpui cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya. b. Tahap pemunculan konflik (generating circumstances), dalam tahap ini masalah (-masalah) dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan. Jadi tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik dan konflik itu sendiri akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi konflik-konflik pada tahap berikutnya. c. Tahap peningkat konflik (rising action), konflik yang telah dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang dan dikembangkan kadar intensitasnya. Peristiwa-peristiwa dramatik yang menjadi inti cerita semakin mencekam dan menegangkan. Konflik-konflik yang terjadi, internal, eksternal, ataupun keduanya, pertentangan-pertentangan, benturan-benturan antar kepentingan, masalah, dan tokoh yang mengarah ke klimaks semakin tak dapat dihindari. d. Tahap klimaks (climax), konflik atau pertentangan-pertentangan yang terjadi, yang diakui atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak. Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh (-tokoh) utama yang berperan sebagai pelaku dan penderita terjadinya konflik utama. e. Tahap penyelesaian (denouement), konflik yang telah mencapai klimaks diberi penyelesaian, ketegangan dikendorkan. Konflik-konflik yang lain, subsubkonflik atau konflik-konflik tambahan, jika ada, juga diberi jalan keluar, cerita diakhiri. 2.3 Peristiwa, Konflik, dan Klimaks Alur dibangun oleh unsur peristiwa. Namun sebuah peristiwa tidak begitu saja hadir. Peristiwa hadir akibat dari aktivitas tokoh-tokoh di dalam cerita yang memiliki konflik atau pertentangan dengan dirinya sendiri, tokoh lainnya atau dengan lingkungan di mana tokoh itu berada. Selain itu, peristiwa-peristiwa bisa juga disebabkan oleh aktivitas alam yang menimbulkan konflik dengan manusia. Setiap konflik akan bergerak menuju titik intensitas tertinggi, dimana pertentangan tak dapat lagi dihindari. Itulah yang disebut sebagai klimaks. Dengan demikian, sebuah plot dibangun oleh peristiwa, konflik, dan klimaks. Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari satu keadaan ke keadaan yang lain (Luxamburg dkk, 1992: 150) dalam Nurgiyantoro (1994: 117). Peristiwa dan konflik biasanya berkaitan erat, dapat saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain, bahkan konflik pada hakikatnya merupakan peristiwa. Ada peristiwa tertentu yang dapat menimbulkan terjadinya konflik. Sebaliknya, karena terjadi konflik, peristiwa-peristiwa lain pun dapat bermunculan, misalnya yang sebagai akibatnya. Konflik memiliki pengertian pertarungan atau pertentangan antara dua hal yang menyebabakan terjadinya aksi reaksi. Pertentangan itu bisa berupa pertentangan fisik atau pertentangan yang terjadi di dalam batin manusia. Konflik merupakan unsur terpenting dari pengembangan plot. Bahkan bisa dikatakan sebagai elemen inti dari sebuah karya fiksi. Konflik demi konflik yang disusul oleh peristiwa demi peristiwa akan menyebabkan konflik menjadi semakin meningkat. Konflik yang telah sedemikian meruncing disebut klimaks. 2.4 Tinjauan Terhadap Konflik Konflik adalah percekcokan; perselisihan; ketegangan atau pertentangan di dalam cerita rekaan atau drama (pertentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri satu tokoh, pertentangan antara dua tokoh, dan sebagainya) (Depdiknas, 1995:518). Pengertian serupa juga dikemukakan oleh Warren (1989:285), konflik adalah sesuatu yang ―dramatik‖, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan. Dengan demikian, konflik dalam pandangan kehidupan yang normal-wajarfaktual, artinya bukan dalam cerita, menyaran pada konotasi yang negatif, sesuatu yang tak menyenangkan. Itulah sebabnya orang lebih suka menghindari konflik dan menghendaki kehidupan yang tenang. Konflik adalah kejadian yang tergolong penting (berupa peristiwa fungsional atau utama), merupakan unsur yang esensial dalam pengembangan alur. Konflik merupakan dasar suatu alur. Kemampuan pengarang untuk memilih dan membangun konflik melalui berbagai peristiwa akan sangat menentukan kadar kemenarikan, kadar suspense cerita yang dihasilkan. Bahkan sebenarnya, yang dihadapi dan menyita perhatian pembaca sewaktu membaca suatu karya naratif adalah (terutama) peristiwa-peristiwa konflik, konflik yang semakin memuncak , klimaks, dan kemudian penyelesaian (Burhan Nurgiyantoro,1994:122). Konflik adalah persaingan dan pertentangan untuk memenangkan kepentingan atau sumber-sumber daya yang ada dalam mayarakat. Konflik juga merupakan kegalauan yang bersumber dari ketidaksepahaman antar pendapat beberapa pihak. Konflik timbul dalam situasi dimana terdapat dua atau lebih kebutuhan, harapan, keinginan dan tujuan yang tidak berkesesuaian, saling bersaing dan menyebabkan salah satu tokoh atau lebih merasa ditarik ke arah dua jurusan yang berbeda sekaligus, dan menimbulkan perasaan yang sangat tidak enak. Jika memunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya (Linda L. Davidoff, 1991:178). Namun hal tersebut tidak berlaku untuk cerita yang diteksnaratifkan. Kehidupan yang tenang, tanpa adanya masalah (serius) yang memicu munculnya konflik, dapat berarti ―tak akan ada cerita, tak akan ada alur‖. Peristiwa kehidupan baru menjadi cerita jika memunculkan konflik, bersifat dramatik, dan karenanya menarik untuk diceritakan. Di dalam sebuah novel biasanya dimunculkan lebih dari satu konflik, misalnya dengan adanya beberapa tokoh (utama) yang memiliki konflik (-konflik) sendiri, walau kadar keutamaannya berbeda. Masing-masing konflik membangun alur sendiri sehigga mereka akan sampai pada klimaks dan peleraian sendiri pula. Konflik yang baik adalah konflik yang secara logika cerita memang wajar terjadi, dan keberadaannya memang diperlukan untuk menggerakkan cerita, atau menegaskan tema yang dipilih pengarang. Gorys Keraf dalam buku Argumentasi dan Narasi (1981:168), membagi konflik menjadi empat yaitu, konflik manusia dengan dirinya sendiri (konflik batin), konflik manusia dengan manusia, konflik manusia dengan masyarakat, konflik manusia dengan alam. 2.5 Konflik Manusia dengan Dirinya Sendiri Konflik manusia dengan dirinya sendiri (atau: konflik batin) adalah konflik yang terjadi dalam hati, jiwa seorang tokoh (atau: tokoh-tokoh) cerita. Ia lebih merupakan permasalahan intern seorang manusia. Misalnya, hal itu terjadi akibat adanya pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, pilihan yang berbeda, harapan-harapan, atau masalah-masalah lainnya. Suatu pertarungan individual melawan dirinya sendiri. Dalam konflik ini timbul kekuatan-kekuatan yang saling bertentangan dalam batin seseorang, keberanian melawan ketakutan, kejujuran melawan kecurangan, kekikiran melawan kedermawanan, antara keinginan tokoh untuk hidup berkecukupan dengan tekadnya untuk tidak korupsi, dan sebagainya. Konflik manusia dengan dirinya sendiri dapat dilihat pada kutipan berikut ini. Lastri menagis tersedu-sedu di bawah pohon trembesi. Di sana, di dahan trembesi, elang jantan sibuk merayu elang betina. Di atasnya, langit siang begitu cerah, tetapi langit di hati Lastri begitu gundah. Lastri terjebak pada keadaan yang tak berdaya. Akankah kehampaan kehidupan seorang anak akan terus ia pilih, ataukah sepotong cinta yang harus ia korbankan demi menuruti keinginan orang tuanya? Kecantikan Lastri tidak mampu memberikan jawabannya. Kecerdasannya memang mampu memberi tahu kepadanya bahwa terkadang seorang gadis memang bisa saja terjebak pada dilema cinta — cinta pada orang tua ataukah cinta kepada jiwanya. Kecerdasannya memberi tahu bahwa kedua cinta itu harus bisa terdamaikan.Mencintai kedua orang tua seharusnya tidak perlu mengorbankan harapan dan keinginan sendiri sebagai seorang gadis yang akan memikat seorang laki-laki pujaan. Tetapi kecerdasannya ternyata tidak mampu menolong mengatasi dilema itu ketika dia sendiri yang mengalaminya. (Kafilah-Kafilah Cinta, 2008:206) Kutipan di atas menunjukkan bagaimana tokoh Lastri sedang mengalami konflik dalam dirinya. Muncul pertentangan dalam diri tokoh Lastri, ia sebagai seorang gadis desa berada di antara pilihan untuk mengikuti keinginan kedua orang tuanya untuk dijodohkan dengan lelaki yang tidak ia cintai atau memilih mengikuti kata hatinya, memilih lelaki yang memang dicintainya dan menentang keinginan orang tuanya. Konflik manusia dengan dirinya sendiri (konflik batin), dapat pula dilihat pada kutipan berikut. Berkali sudah aku berusaha mencari tahu di mana Salmi Bulan, adakah ia memang dimangsa kematian, atau ia diselamatkan tentara sewaan, dan akhirnya menjadi wanita simpanan, atau dijadikan istri secara paksa. Bertahun-tahun aku memendam kesedihan sendiri. Rasanya ada teriakan khianat dan umpatan keserongan jika aku menyenangkan diriku dengan wanita lain, sementara Salmi Bulan belum kuketahui hidup atau mati. Bukankah ia telah sah menjadi istri, dan aku suami, meskipun kami baru di atas pelaminan? Tetapi, jika Salmi sendiri sudah bersuami? (Percintaan Angin, 2003:53) Pada kutipan di atas, tokoh aku berada dalam situasi konflik yaitu pertentangan dalam diri tokoh aku antara keinginan untuk tetap setia dan mencari istrinya, Salmi Bulan yang telah lama menghilang atau memilih melupakan dan mencari wanita lain. Dalam diri tokoh aku muncul dugaan-dugaan, bahwa kemungkinan Salmi Bulan justru telah bersuami lagi. 2.6 Konflik Manusia dengan Manusia (antar manusia) Konflik antar manusia adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak antara manusia dengan manusia atau masalah–masalah yang muncul akibat adanya hubungan antarmanusia. Ia antara lain berwujud perkelahian antara seorang dengan seorang yang lain karena masalah-masalah pribadi, atau kasus-kasus hubungan antar manusia lainnya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut. Dengkurannya semakin keras. Kali ini masalah di antara kita sudah selesai, kedudukannya sudah berubah. Aku melompat dari meja yang lebih rendah. Kuguncang bahunya dengan keras: ―Ayah, bangunlah.‖ Ia tak akan pernah memahamiku. Kami akan selalu merasa asing terhadap satu sama lainnya. Seperti dua kolam di halaman yang sama tanpa adanya terusan yang menghubungkan keduanya. Quang telah meninggal. Tali penghubung terakhir antara kami telah terputus. ―Keluarga kita tidak ikut bertanggung jawab atas gerakan perlawanan. Aku anak tertua. Sudah menjadi kewajibanku untuk pergi. Tetapi ia berbeda. Ia sangat pandai, berhasil memenangkan pernghargaan kedua dalam kompetisi matematika tingkap provinsi. Ia ingin belajar ilmu komputer. Aku menulis surat kepadamu tentang hal itu...‖ Dengan gusar, ayahku bicara: ―Surat apa? Aku tidak ingat ada surat.‖ ―Kau sebenarnya mengetahui betul surat apa itu.‖ ―Oh, jadi kau menuduhku berbohong?‖ ―Aku menerima surat dari Quang. Ia bilang ia ingin belajar ilmu komputer, tetapi kau mendesaknya untuk mendaftarkan dirinya ke dinas militer. Ia bilang kau yang menyuruhnya, ‗Pada masa perang, masa depan menjadi milik para pejuang.‘ Kau bahkan menghadiri pertemuan partai yang memutuskan untuk memobilisasinya. Itu fakta. ―Tidak banyak orang yang memiliki kecerdasan seperti dia. Ia bisa saja menjadi...‖ Tiba-tiba saja, aku tidak dapat lagi meneruskan ucapanku. Rasanya leherku tercekik. Tidak ada gunanya berbicara dengan ayahku.(Novel Tanpa Nama, 2007:137-138) Pada kutipan di atas, terjadi konflik manusia dengan manusia, yaitu konflik antara tokoh Aku dengan ayah. Tokoh aku merasa marah ketika mendapat kabar tentang kematian adiknya akibat berjuang di medan perang. Tokoh aku menyalahkan ayah karena tokoh ayah yang telah memaksa adiknya untuk mendaftarkan diri ke dinas militer. 2.7 Konflik Manusia dengan Masyarakat Konflik manusia dengan masyarakat adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial antara manusia dengan manusia dalam struktur masyarakat luas. Ia antara lain berwujud masalah suatu kelompok manusia dalam negara melawan pemerintah negara itu, sebuah negara melawan negara yang lain, saingan atau pertarungan dalam perdagangan, persaingan antara kelompok-kelompok dalam masyarakat, atau kasus-kasus hubungan sosial lainnya. Masyarakat merupakan sebuah komunitas yang saling bergantung satu sama lain. Umumnya istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas teratur. Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama (Depdiknas, 1995:635). Sebuah masyarakat hidup dan bekerja sama dalam waktu yang relatif lama dan mampu membuat keteraturan dalam kehidupan bersama dan mereka menganggap sebagai satu kesatuan sosial. Masyarakat tidak begitu saja muncul seperti sekarang ini, tetapi adanya perkembangan yang dimulai dari masa lampau sampai saat sekarang ini. Masyarakat ini kemudian berkembang mengikuti perkembangan zaman sehingga kemajuan yang dimiliki masyarakat sejalan dengan perubahan yang terjadi secara global. Masyarakat seperti ini dikenal sebagai masyarakat besar, seperti dalam sebuah negara. Di dalam sebuah masyarakat besar pasti muncul kelompok kecil (small group). Hal itu disebabkan karena manusia mungkin tidak memunyai kepentingan- kepentingan sama. Manusia memerlukan perlindungan dari rekan-rekannya. Manusia memunyai kemampuan yang terbatas di dalam pergaulan hidup, keadaan demikian menyebabkan timbulnya kelompok kecil yang merupakan wadah orang yang mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama. Kelompok kecil (small group) adalah suatu kelompok yang secara teoretis terdiri dari paling sedikit dua orang, dimana orang-orang saling berhubungan untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu dan yang menganggap hubungan itu sendiri penting baginya. Small group pada hakikatnya merupakan sel yang menggerakkan suatu organisme yang dinamakan masyarakat. (Soekanto, 2007:144) Sebuah kehidupan bermasyarakat tidak akan terlepas dari konflik, konflik merupakan gelajala alamiah yang tidak dapat dielakkan. Menurut Ralf Dahrendorf dalam Ritzer (2005:153), konflik menyebabkan perubahan dan perkembangan. Dahrendorf mengemukakan bahwa segera setelah kelompok konflik muncul, kelompok itu melakukan tindakan yang menyebabkan perubahan dalam struktur sosial. Konflik membantu fungsi komunikasi. Sebelum konflik, kelompokkelompok mungkin tidak percaya terhadap posisi musuh mereka, tetapi akibat konflik, posisi dan batas antar kelompok ini sering menjadi diperjelas. Karena itu, individu bertambah mampu untuk memutuskan mengambil tindakan yang tepat dalam hubungannya dengan musuh mereka. Konflik juga memungkinkan pihak yang bertikai menemukan ide, menemukan kekuatan relatif mereka dan meningkatkan kemungkinan untuk saling mendekati atau saling berdamai. Kutipan berikut ini merupakan contoh konflik antara manusia dengan pemerintah, yaitu terjadi antara anggota pers dengan pemerintah Hindia Belanda, yang diambil dari novel Kembang Jepun karya Remy Sylado. Sehabis J.A. Nieland membacakan dakwaannya, hakim ketua memalu meja, lalu bertanya kepada Tjak Broto, ―Apa tuan paham dakwaan terhadap diri tuan?‖ ―Maaf beribu maaf, tuan hakim, saya tidak paham sama sekali.‖ ―Tuan tidak paham pada beberapa bagian dakwaan, atau salah satu bagian saja?‖ ―Maksud saya, tuan hakim, saya tidak paham jalan logika tuan jaksa, yang mengatakan saya membangkang pada peraturan pemerintah Hindia Belanda, dan bahwa yang saya tulis itu isapan jempol untuk menghasut rakyat.‖ .......................... ―Kalau begitu apa motivasi tuan menulis semua itu?‖ kata Nieland. ―Saya ingin membantu pemerintah Hindia Belanda untuk informasi yang betul. Tugas pers adalah memberikan informasi yang benar bagi segenap pembaca, baik pemerintah maupun rakyat. Pemerintah Hindia Belanda selama ini memperoleh informasi yang tidak benar, sebab infomasi itu datang dari para demang, wedana, bupati yang korup, karena terlalu asyik mementingkan pribadi...‖ (Kembang Jepun, 2004:77) Pada kutipan di atas, Tjak Broto sebagai seorang anggota pers koran Tjahaya Soerabaya dituduh Pemerintah Hindia Belanda menulis berita bohong terkait kelalaian pemerintah menangani mandor dan makelar kuli kontrak, menyebabkan kuli kontrak hidup sengsara di luar Jawa. Pemerintah Hindia Belanda di Surabaya sebenarnya telah sejak lama memperhatikan Tjahaya Soerabaja sebagai suara pembela gerakan nasional sehingga pemerintah berusaha melakukan pembredelan terhadap koran tersebut. Konflik akhirnya berujung di meja pengadilan. Konflik manusia dengan masyarakat, dapat pula dilihat pada kutipan berikut. Ternyata di luar, mahasiswa mulai menggelar demo. Beberapa orang mengangkat poster dan merentang spanduk. Spanduk kebanyakan berisi penolakan kehadiran sang menteri yang menurut mahasiswa tengah mencari dukungan politik. Sang menteri dianggap menggunakan kampus untuk mencari dukungan mencalonkan diri jadi presiden! .................................... Suasana semakin hiruk pikuk, ketegangan mulai menjalar membuat panik mahasiswa yang rada penakut. Beberapa mahasiswa bernyali batu mencoba maju dari barisan, meneriaki aparat yang menyambut dengan ayunan pentungan yang menyambar ke sana kemari, meninggalkan memar memerah di berbagai tempat pada tubuh-tubuh mahasiswa. Keberingasan dari kedua pihak mulai menggumpal. Wajah-wajah keras pasukan berhadapan dengan wajah-wajah marah mahasiswa yang merasa kegiatan mereka di kampus sendiri diintervensi aparat. (Epigram, 2006:63) Kutipan di atas merupakan contoh konflik yang terjadi di sebuah kampus. Konflik terjadi antara mahasiswa dengan aparat keamanan. Mahasiswa menolak kedatangan seorang menteri ke kampus mereka. Mahasiswa merasa bahwa sang menteri tengah mencari dukungan politik. Sang menteri dianggap menggunakan kampus untuk mencari dukungan guna mencalonkan diri menjadi presiden. Mahasiswa menolak kampus mereka dipolitisir. Meskipun maksudnya memang belum jelas, tetapi sebagian kecil aktivis mahasiswa menanggapinya dengan serius. Akhirnya terjadi keributan antara aparat dan mahasiswa, saat para mahasiswa menggelar demonstrasi. 2.8 Konflik Manusia dengan Alam Konflik manusia dengan alam adalah konflik yang disebabkan adanya perbenturan antara tokoh dengan elemen alam. Suatu pertarungan yang dilakukan oleh seorang tokoh atau manusia secara sendiri-sendiri atau bersama-sama melawan kekuatan alam yang mengancam hidup manusia itu sendiri. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut. Hujan. Kepadanya tanah-tanah kering dan tandus berharap. Tanah-tanah sawah terbengkalai dalam pelukan kemarau, bermimpi tentang kesejukan yang ditawarkan selokan. Sungai Serang yang mengalir gagah di tahun 80-an yang mengalir di utara Pedukuhan Tempel, kini seumpama liukan ular kurus yang kelaparan dan tak terurus. Dengan dipimpin sesepuh dukuh, warga tempel sebenarnya telah menjalankan shalat istisqo‘ sebanyak 3 kali, tapi hujan juga tidak datang-datang. Musim kemarau begitu menyengsarakan warga Dukuh Tempel. Semua warga masih ingat, tiga bulan yang lalu, tetua Dukuh Tempel membuat kesepakatan bersama warga dukuh. Tidak ada warga yang tidak tahu bahwa hanya ada dua sumur yang masih menyimpan air. Dari dua sumur itu, hanya satu sumur saja yang boleh digunakan, sebab sumur yang satunya hanya boleh digunakan untuk keperluan masjid. Barang siapa ketahuan menggunakannya, maka ia pantas untuk ―di massa‖— sebuah istilah yang dipakai warga untuk menghakimi dia yang ketahuan mengambil air dari sumur tersebut. (Kafilah-Kafilah Cinta, 2008:3) Berdasarkan kutipan tersebut terlihat konflik yang dialami Warga Dukuh Tempel dengan alam, yaitu melawan kemarau yang berkepanjangan. Betapa kemarau menyengsarakan warga dukuh tersebut. Warga Tempel akhirnya membuat sebuah kesepakatan untuk mengatasi masalah kemarau di dukuh mereka yaitu dengan mengatur pemakaian air seluruh warga dukuh tersebut. Kutipan di atas menggambarkan bagaimana manusia bertarung melawan alam atau melawan bencana yang ditimbulkan oleh sebagian dari lingkungannya. 2.9 Pembelajaran Sastra (Novel) di Sekolah Menengah Atas (SMA) Pembelajaran sastra (dalam hal ini: kegiatan mengapresiasi novel) di sekolah sangat penting. Dalam karya sastra khususnya novel banyak pelajaran dan nilainilai positif yang dapat diambil. Kegiatan mengapresiasi karya sastra berkaitan erat dengan upaya mempertajam perasaan, penalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan. S. Effendi dalam Supriyadi (1996:310) mengemukakan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra. Yus Rusyana dalam Supriyadi (1996:310), apresiasi sastra dapat diterangkan sebagai pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra dan kegairahan kepadanya, serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat semua itu. Dalam mengapresiasi sastra, seseorang mengalami (dari hasil sastra itu) pengalaman yang telah disusun oleh pengarangnya. Panuti dalam Supriyadi juga menyebutkan bahwa apresiasi sastra ialah penghargaan (terhadap karya sastra) yang didasarkan pada pemahaman. Untuk memahami dan menghayati karya sastra, siswa diharapkan langsung membaca karya sastra, bukan membaca ringkasannya. Sapardi Djoko Damono juga mengemukakan bahwa siswa harus diarahkan untuk membaca buku sebanyak-banyaknya. Cara itu akan lebih membuka wawasan siswa. Salah satu sumber bacaan bagi siswa adalah novel. Porsi bacaan yang dibaca oleh siswa harus dibuat secara berjenjang. Hal tersebut bertujuan agar pelajaran sastra bisa berlangsung sistematis. Penjenjangan jumlah bacaan yang dibaca siswa akan membuat penumbuhan kecerdasan siswa berkembang dari tahun ke tahun. Wawasan siswa tidak mandek pada sumber bacaan yang itu-itu saja. (http://pendis.depag.go.id.lama/cfm/index.cfm?fuseaction=kajianBerita& Berita_ID=9428&sub=7) Pada dasarnya tujuan umum pengajaran sastra di sekolah yaitu, siswa mampu menikmati, menghayati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, meningkatkan pengetahuan, dan kemampuan berbahasa. Novel sebagai salah satu jenis karya sastra yang termasuk dalam genre prosa dapat dijadikan alternatif bahan pembelajaran sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA). Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMA tahun 2007, mata pelajaran bahasa dan Sastra Indonesia yang terkait dengan konflik dalam novel, terdapat pada kelas XI semester 1. Standar Kompetensi: (membaca) memahami berbagai hikayat, novel Indonesia/ terjemahan. Kompetensi Dasar: menganalisis unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik novel Indonesia/ terjemahan. Melalui kegiatan mengapresiasi unsur-unsur dalam karya sastra, dalam hal ini konflik dalam novel, memungkinkan siswa untuk menambah wawasan tentang permasalahan-permasalahan hidup, serta cara mengatasinya. Selain itu, siswa juga dapat mengambil nilai-nilai moral yang terkandung dalam novel. Rahmanto (1993:27) mengemukakan

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

ASPEK SOSIAL NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO
0
3
13
ASPEK SOSIAL NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO
0
4
11
PENOKOHAN DAN ALUR DALAM NASKAH DRAMA DAPUR KARYA FITRI YANI DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
3
52
52
CIRI-CIRI KAPITALISTIK PADA NOVEL TANAH TABU KARYA ANINDITA S. THAYF DAN KELAYAKANNYA TERHADAP BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
2
10
12
KONFLIK DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
9
122
151
CIRI-CIRI TOKOH DALAM NOVEL EDENSOR KARYA ANDREA HIRATA DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SMA
2
33
14
KONFLIK DALAM NOVEL DAUN PUN BERZIKIR KARYA TAUFIQURRAHMAN AL AZIZY DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
14
136
51
MAJAS DALAM PUISI PADA KOLOM SASTRA HARIAN LAMPUNG POST EDISI SEPTEMBER 2011 DAN RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
1
39
66
MAJAS DALAM PUISI PADA KOLOM SASTRA HARIAN LAMPUNG POST EDISI SEPTEMBER 2011 DAN RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
1
25
66
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER NOVEL PADANG BULAN KARYA ANDREA HIRATA DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
3
47
21
GAYA BAHASA RETORIS DAN KIASAN DALAM OTOBIOGRAFI AJAHN BRAHM YANG BERJUDUL SI CACING DAN KOTORAN KESAYANGANNYA DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
1
46
72
KONFLIK DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
25
596
37
CITRA PEREMPUAN DALAM ROMAN GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
4
43
54
UNSUR SERAPAN DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA
18
140
55
GAYA BAHASA RETORIS DAN KIASAN DALAM NOVEL NEGERI DI UJUNG TANDUK KARYA TERE LIYE DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
21
164
81
Show more