PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET DENGAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM GERAK MANUSIA (Studi Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Semester Ganjil T

 41  244  59  2017-04-18 20:57:59 Report infringing document
Padilah Fitriana Sari ABSTRAK PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET DENGAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM GERAK MANUSIA (Studi Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Semester Ganjil TP 2012/2013) Oleh PADILAH FITRIANA SARI Hasil observasi kelas XI IPA SMA Negeri 1 Bukit Kemuning diketahui bahwa pada kelas XI IPA semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012 menunjukkan nilai rata-rata penguasaan materi pokok pokok sistem gerak manusia masih rendah terlihat dari rata-rata nilai siswa yakni 60,83 di bawah nilai ketuntasan belajar 65,0. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penggunaan bahan ajar leaflet dengan model TPS terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi pokok Sistem Gerak. Penelitian ini merupakan quasi eksperimen dengan desain penelitian one group pretest posttest design. Sampel penelitian yaitu siswa kelas XI IPA1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning. Data penelitian ini berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari nilai pretes dan postes, dianalisis secara statistik menggunakan uji-t pada taraf kepercayaan 95% melalui bantuan program SPSS 17. Data kualitatif ii Padilah Fitriana Sari berupa data aktivitas dan angket tanggapan siswa terhadap kemenarikan model pembelajaran TPS, dianalisis secara deskriptif dalam bentuk presentase. Hasil penelitian menunjukan terjadi peningkatan rata-rata antara nilai pretest dan posttest, yaitu nilai rata-rata pretest sebesar 53,29 sedangkan nilai rata-rata posttest sebesar 71,73. Aspek kognitif aplikasi (C3) memiliki nilai rata-rata lebih tinggi dibandingkan aspek analisis (C4) yang hanya memiliki rata-rata sebesar 1,26. Selain itu juga terlihat bahwa rata-rata aktivitas siswa pada pertemuan ketiga mengalami peningkatan sebanyak 5,88% dibandingkan dengan rata-rata aktivitas siswa pada pertemuan pertama. Selain itu berdasarkan data angket kemenarikan bahan ajar leaflet, seluruh siswa menyatakan bahwa bahan ajar leaflet menarik (96,32%). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan bahan ajar leaflet berpengaruh terhadap aktivitas belajar dan hasil belajar siswa kelas XI IPA1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning materi pokok Sistem Gerak. Kata kunci : Leaflet, Bahan Ajar, TPS, Aktivitas belajar, Hasil Belajar, Sistem Gerak. iii PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET DENGAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM GERAK MANUSIA (Studi Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA1 SMAN 1 Bukit Kemuning Semester Ganjil TP 2012/2013) (Skripsi) Oleh PADILAH FITRIANA SARI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2013 Judul Skripsi : PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET DENGAN MODELPEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE ( (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWAPADA MATERI POKOK SISTEM GERAK MANUSIA (Studi Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013) Nama Mahasiswa : PADILAH FITRIANA SARI Nomor Pokok Mahasiswa : 0743024042 Program Studi : Pendidikan Biologi Jurusan : Pendidikan MIPA Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan MENYETUJUI, 1.Komisi Pembimbing Drs. Darlen Sikumbang, M.Biomed. NIP 19571107 198603 1002 Rini Rita T Marpaung, S.Pd. M.Pd. NIP 19770715 200604 2001 2. Ketua Jurusan Pendidikan MIPA Dr. Caswita M.Si. NIP 19671004 199303 1 004 v MOTTO “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” ( Q.S Al-Insyirah : 5-7 ) Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka, namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka. ( Alexander Graham Bell ) Lege, lege, relege, ora, labora et Eviense ( Baca, baca, baca lagi, berdoa, bekerja, dan engkau akan menemukan hasilnya.) (Leonardo da Vinci) Trying, pray, believe, be patient, and you will see the results ( Padilah Fitriana Sari) viii PERNYATAAN SKRIPSI MAHASISWA Yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Padilah Fitriana Sari NPM : 0743024042 Program studi : Pendidikan Biologi Jurusan :Pendidikan MIPA Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang telah diajukan memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Bandarlampung, Maret 2013 Yang Menyatakan Padilah Fitriana Sari NPM. 0743024042 Dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang PERSEMBAHAN Alhamdulillahi robbil ‘alamin, segala puji untuk Mu ya Rabb atas segala kemudahan, limpahan rahmad dan karunia yang Engkau berikan selama ini. Teriring doa, rasa syukur dan segala kerendahan hati. Dengan segala cinta dan kasih sayang kupersembahkan karya sederhana ini untuk orang-orang yang akan selalu berharga dalam hidupku:  Papa Syamsul Arifin, S.Pd. dan Mama Marhana, S.Pd. yang sangat aku cintai, yang telah lama menantikan keberhasilanku. Terima kasih atas cinta dan kasih sayang serta doa yang tulus untuk keberhasilan ananda. Semoga Allah SWT memberikan waktu kepada ananda untuk bisa selalu membahagiakan kalian  Adik-adikku tersayang Ihsan Kurniawan dan Wulanda arif , terima kasih atas doa, semangat, cinta dan kasih sayang kalian  Para pendidikku yang telah senantiasa mencurahkan ilmunya yang sangat berguna bagiku  Insan pilihan Allah SWT yang kelak akan menjadi imamku Almamaterku tercinta Universitas Lampung.... ix RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bukit Kemuning pada tanggal 28 Oktober 1989, yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Syamsul Arifin, S.Pd., dan Ibu Marhana, S.Pd. Penulis mengawali pendidikan formal di TK Dharma Wanita Bukit Kemuning. Kemudian dilanjutkan pendidikan formal di SD Negeri 3 Bukit Kemuning diselesaikan tahun 2001, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 1 Bukit Kemuning diselesaikan tahun 2004, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Kotabumi diselesaikan tahun 2007. Pada tahun 2007 penulis terdaftar sebagai mahasiswi Jurusan Pendidikan MIPA Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung. Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Wijaya Bandar Lampung pada tahun 2011 dan melakukan penelitian di SMA Negeri 1 Bukit Kemuning pada tahun 2012 untuk meraih gelar sarjana pendidikan (S.Pd.). vii SANWACANA Puji syukur pada Allah SWT, atas segala nikmat dan kehendak-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat dalam meraih gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA, FKIP Unila. Skripsi ini berjudul “Penggunaan Bahan Ajar Leaflet dengan Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) Terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Sistem Gerak” (Studi Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013). Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari peranan dan bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. H. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung; 2. Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung; 3. Pramudiyanti, S.Pi., M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi; 4. Drs. Darlen Sikumbang, M.Biomed., selaku Pembimbing Akademik sekaligus Pembimbing I atas kesabaran, arahan dan waktu yang diluangkan untuk membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini; 5. Rini Rita T Marpaung, S.Pd., M.Pd., selaku pembimbing II atas kesabaran, bimbingan, arahan, dan masukannya kepada penulis; 6. Drs. Arwin Achmad, M.Si., selaku pembahas atas saran - saran perbaikan serta arahan untuk membantu penulis dalam menyusun skripsi ini; x 7. Seluruh dosen dan staf di Jurusan PMIPA FKIP Unila; 8. Dra. Sri Mastini selaku Kepala SMA Negeri 1 Bukit Kemuning dan Tonifatul Hikmah, S.Pd selaku guru mitra yang telah memberikan izin dan bantuan selama penelitian berlangsung serta siswa-siswi kelas XI IPA 1 atas keceriaan dan kerjasamanya selama penelitian; 9. Teristimewa untuk Mama, Papa, dan adik-adikku atas kasih sayang, doa, nasehat,motivasi serta dukungan yang telah diberikan; 10. Sahabat-sahabatku “QRAP QREW” tersayang Yulisa Wulandari, S.Pd., Melda Ariyanti, S.Pd., Martha Eka P, S.Pd., Fitriadi, S.Pd., Aditya Prayoga S.Pd., Achmad FauziS.Pd., I Gusti Putu H, dan Feri Ardianto, sahabatsahabatku “PASELIN” tersayang Selvi Haryani, Amd.AK., dan Nina Eka Putri Y, Amd., serta adik kecilku Yunita Elva Rizki, S.Pd., kakak-kakakku, Bung Dedi Saputra, S.Pd., dan Uda Alvin Wijaya, S.H terima kasih atas kebersamaan dan canda tawa kita selama ini serta dukungan disaat penulis terpuruk. Semoga tali persaudaraan ini tetap terjaga selamanya; 11. Rekan-rekanku di BEDUC’07, kakak tingkatku angkatan 2005, 2006 serta adik tingkatku angkatan 2008 yang tak dapat disebutkan satu persatu, untuk motivasinya, semoga tali persaudaraan diantara kita tetap berlanjut; 12. Tedi Romansa, SE., terima kasih atas dukungan motivasi dan doanya; 13. Semua pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini; Semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua; Amin. Bandar Lampung, Penulis Padilah Fitriana Sari xi 2013 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan ialah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup serta pendidikan dapat diartikan sebagai pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal (Mudyahardjo, 2006:6). Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Syah (2003:10) bahwa pendidikan diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Dengan kata lain, pendidikan dapat dilakukan secara formal dengan menggunakan metode-metode tertentu sehingga setiap orang dapat memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku sesuai dengan kebutuhan. Menurut Badan Nasional Pendidikan (BNSP), mata pelajaran Biologi termasuk dalam salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang umumnya memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan. Melihat pentingnya Ilmu Biologi dan peranannya tersebut, maka peningkatan mutu pendidikan harus selalu diupayakan. Jadi, guru bertanggung jawab atas tercapainya hasil belajar peserta didik. Menurut Sanjaya (2008:129) guru 2 dalam merancang persiapan mengajar perlu menyusun strategi pembelajaran yang dirancang secara seksama, salah satunya sesuai dengan tujuan pembelajaran untuk mencapai hasil belajar siswa yang optimal. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk ilmu biologi membawa dampak pemilihan materi, metode dan media pembelajaran sehingga sistem pembelajaran yang tepat agar dapat meningkatkan pengetahuan peserta didik serta dapat bersaing dalam menanggapi perkembangan sains tersebut. Dewasa ini pembelajaran sains masih didominasi dengan metode ceramah dan kegiatan lebih berpusat pada guru. Efektifitas peserta didik dapat dikatakan mendengarkan penjelasan guru dan mencatat hal-hal yang dianggap penting. Guru menjelaskan sains hanya sebatas produk dan sedikit proses. Salah satu penyebab yang menjadikan alasan adalah padatnya materi yang harus dibahas dan diselesaikan berdasarkan kurikilum berlaku (Anonim a), 2010:3). Saat ini, perhatian pemerintah terhadap masalah pendidikan masih terasa rendah. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang terjadi. Hasil belajar siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, dan biaya pendidikan yang mahal (Muliani, 2009:1). Dampak dari pendidikan yang buruk itu, pendidikan di negara ini kedepannya makin terpuruk dan belum bisa bersaing dengan negara- negara berkembang lainnya. Dalam pendidikan di sekolah, masalah yang sering dihadapi adalah dari segi proses pembelajaran. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai 3 siswa. Guru dituntut mampu meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah terutama mengenai penguasaan materi pembelajaran siswa sesuai dengan bidang studi yang diajarkan. Harapan yang tidak pernah sirna dan selalu guru tuntut adalah bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan guru dapat dikuasai oleh siswa secara tuntas (Djamarah dan Zain, 2006:1). Hasil observasi pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bukit Kemuning menunjukkan bahwa penguasaan materi oleh siswa masih rendah. Hal ini dapat terlihat dari prestasi belajar siswa yang rendah dibuktikan dengan ratarata nilai siswa pada mata pelajaran biologi materi pokok sistem gerak manusia 60,83 di bawah nilai ketuntasan belajar 65,0. Hal ini mungkin karena model pembelajaran yang digunakan guru masih terpaku pada proses pembelajaran langsung yaitu guru menjelaskan materi pelajaran dan siswa mendengarkan. Selain itu, rendahnya minat baca siswa terhadap buku teks biologi yang diketahui dari data hasil wawancara. Hal ini didukung dengan fakta bahwa siswa memiliki satu buku pegangan berupa LKS dan hanya beberapa orang siswa yang mempunyai buku teks sebagai sumber belajarnya. Selain itu buku teks biologi yang tersedia di perpustakaan sekolah hanya terdapat satu sumber buku saja dan itupun masih jarang digunakan dengan berbagai alasan. Untuk itu perlu adanya terobosan baru dalam memvariasikan bahan ajar yang menarik sebagai salah satu alternatif sumber belajar yang menjadi acuan siswa, dengan harapan dapat meningkatkan minat baca siswa yang terlihat dari kemauan untuk membaca sumber-sumber belajar dan akhirnya berdampak pada meningkatnya prestasi belajar siswa. 4 Berdasarkan permasalahan tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat baca dan prestasi belajar siswa adalah dengan penggunaan bahan ajar bentuk leaflet. Hasil penelitian Aini (2010 : 54) menyimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan bahan ajar leaflet memiliki pengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar pada materi pokok Ekosistem yaitu sebesar 15,74. Leaflet adalah salah satu bentuk bahan ajar cetak yang berisikan rangkuman materi pelajaran yang diambil dari berbagai sumber. Sumber belajar merupakan rangkuman materi baik buku maupun internet yang dijadikan satu dalam bentuk leaflet ini, dengan dilengkapi gambar-gambar serta menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Penggunaan bahan ajar leaflet ini dikombinasikan dengan suatu model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Arends (dalam Trianto, 2009:81) menyatakan bahwa TPS merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. TPS adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang pada pelaksanaannya mengutamakan siswa dalam berbuat untuk menemukan sendiri konsep-konsep materi dalam pembelajaran dengan jalan berfikir (Think), berpasangan (Pair), dan mengemukakan pendapat (Share). Pada pembelajaran kooperatif tipe TPS ini, siswa belajar dengan berpasangan sehingga siswa memiliki kesempatan untuk bertukar pikiran dengan teman sebaya (pasangannya). Dengan berfikir berpasangan maka siswa akan terdorong untuk menemukan dan memahami konsep apabila mereka dapat 5 saling mendiskusikan masalah-masalah tersebut dengan pasangannya. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak positif pada peningkatan hasil belajar siswa. Hasil penelitian Pramudiyanti (2006 : 430) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar sebelum dan sesudah menggunakan model TPS, yaitu meningkat sebesar 83,78%. Sejalan dengan itu, Yulfisa (2007 : 35) menyimpulkan bahwa TPS mampu meningkatkan presentase nilai rata-rata penguasaan konsep siswa dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 13,7% dan siklus 2 ke 3 sebesar 4,4 Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti memandang perlu diadakan penelitian mengenai pengaruh penggunaan bahan ajar leaflet dengan model pembelajaran cooperative tipe TPS terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok sistem gerak manusia kelas XI SMA Negeri 1 Bukit Kemuning T.P. 2012/2013. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimanakah pengaruh penggunaan bahan ajar leaflet dengan model pembelajaran TPS terhadap aktivitas belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bukit Kemuning pada materi pokok Sistem Gerak Manusia? 2. Bagaimanakah pengaruh penggunaan bahan ajar leaflet dengan model pembelajaran TPS terhadap hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bukit Kemuning pada materi pokok Sistem Gerak Manusia? 6 C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui pengaruh penggunaan bahan ajar leaflet dengan model pembelajaran TPS terhadap aktivitas belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bukit Kemuning pada materi pokok Sistem Gerak Manusia. 2. Mengetahui pengaruh penggunaan bahan ajar leaflet dengan model pembelajaran TPS terhadap hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bukit Kemuning pada materi pokok Sistem Gerak Manusia. D. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah : 1. Bagi peneliti, penelitian ini dapat menjadi suatu pengalaman belajar yang menjadi bekal untuk menjadi calon guru yang profesional. 2. Bagi guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam pengembangan pembelajaran biologi dengan suatu strategi yang tepat dan sesuai untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa. 3. Bagi siswa dapat mengoptimalkan penguasaan materi Biologi yang dapat dilihat dari hasil belajar ranah kognitifnya. 7 E. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian yaitu : 1. Penelitian ini akan dilakukan pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bukit Kemuning. 2. Aktivitas belajar adalah serangkaian belajar yang dilakukan oleh siswa yang memiliki potensi dalam diri siswa itu sendiri. Menurut sardiman (2003:98), aktivitas adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia karena manusia memiliki jiwa sebagai sesuatu yang dinamis memiliki potensi dan energi sendiri. 3. Prestasi belajar yang diamati dalam penelitian ini adalah hasil belajar aspek kognitif siswa yang berupa nilai tes awal dan tes akhir pada materi pokok Sistem Gerak. 4. Materi pembelajaran penelitian ini adalah sistem gerak manusia dengan penyampaian materi yang dilakukan dengan menggunakan bahan ajar leaflet. Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi tidak dimatikan/dijahit. Agar terlihat menarik biasanya leaflet didesain secara cermat dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan bahasa yang sederhana, singkat serta mudah dipahami. Leaflet sebagai bahan ajar juga harus memuat materi yang dapat menggiring siswa untuk menguasai satu atau lebih KD (Setyono, 2005:19). 5. Penggunaan bahan ajar ini dikombinasikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Arends (dalam Trianto, 2009:81) menyatakan bahwa think-pair-share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. TPS adalah salah satu tipe model pembelajaran 8 kooperatif yang pada pelaksanaannya mengutamakan siswa dalam berbuat untuk menemukan sendiri konsep-konsep materi dalam pembelajaran dengan jalan berfikir (Think), berpasangan (Pair), dan mengemukakan pendapat (Share). 6. Penelitian ini dibatasi hanya pada satu kompetensi dasar yaitu KD 3.1 Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan yang dapat terjadi pada sistem gerak manusia. F. Kerangka Pikir Berhasil atau tidaknya suatu proses pembelajaran didukung oleh beberapa faktor antara lain media, metode dan pendekatan yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran. Guru bukan hanya berperan sebagai satusatunya sumber ilmu bagi siswa melainkan sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Peran guru sebagai fasilitator sangat diperlukan, bagaimana upaya menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong siswa untuk senang dan bergairah belajar. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan memvariasikan bahan ajar sebagai sumber belajar yang dapat menarik perhatian siswa untuk membacanya. Penggunaan leaflet sebagai bahan ajar diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran. Leaflet ini disusun dari beberapa sumber belajar dan dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti siswa serta disisipkan ilustrasi yang mendukung materi pelajaran sehingga mampu 9 menarik minat baca siswa. Selain itu, penggunaan leaflet ini diduga sesuai apabila dikombinasikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan langkah-langkah yaitu berpikir, berpasangan, dan berbagi. Kombinasi keduanya tercermin pada fase kedua yaitu menyampaikan materi pelajaran kepada siswa yang dapat dilakukan dengan cara mendemonstrasikan atau lewat bahan bacaan. Bahan bacaan yang dimaksud adalah leaflet yang telah disiapkan oleh guru. Saling berdiskusi dengan teman kelompoknya juga akan menambah pengetahuan siswa karena dalam proses diskusi tersebut terjadi saling tukar pendapat dan gagasan yang muncul dari setiap siswa. Pengalaman belajar ini diharapkan akan membuat siswa lebih termotivasi untuk membangun pengetahuannya. Dan pada akhirnya bahan ajar leaflet ini diharapkan dapat berdampak positif terhadap hasil belajar kognitif dan aktivitas belajar siswa. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengaruh penggunaan bahan ajar leaflet. Sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar dan aktivitas belajar siswa. Y1 X Y2 Keterangan: X : Penggunaan bahan ajar leaflet; Y1 : Aktivitas belajar siswa, Y2 : Hasil belajar kognitif siswa Gambar 1. Model teoritis hubungan antara variabel bebas dan terikat 10 G. Hipotesis penelitian Hipotesis dalam penelitian ini adalah : 1. Ada pengaruh penggunaan bahan ajar leaflet dengan model pembelajaran TPS terhadap aktivitas belajar siswa pada materi pokok Sistem Gerak Manusia. 2. H0 : Tidak ada pengaruh signifikan penggunaan bahan ajar leaflet dengan model pembelajaran TPS terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok Sistem Gerak Manusia. H1 : Ada pengaruh signifikan penggunaan bahan ajar leaflet dengan model pembelajaran TPS terhadap hasil belajar siswa pada materipokok Sistem Gerak Manusia. 11 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Bahan Ajar Bahan pelajaran adalah segala bentuk bahan yang dipergunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran berupa bahan tertulis atau tidak tertulis. Bahan ajar atau teaching material terdiri dari mengajar dan bahan. Jadi bahan ajar adalah bahan untuk mengajar ( Darkuni, 2010: 6 ). Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikannya pada siswa (Djamarah dan Zain dan Zain, 2006:43). Hal senada juga diungkapkan oleh Setyono (2005:10) bahwa bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instructor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Sudirman (dalam Djamarah dan Zain, 2006: 43) juga mengungkapkan bahwa bahan adalah salah satu sumber belajar bagi siswa. Bahan yang disebut sebagai sumber belajar (pengajaran) ini adalah sesuatu yang membawa pesan untuk tujuan pengajaran. Sedangkan menurut Rusman (2010: 17) subject content adalah materi atau isi pokok bahasan, bersifat spesifik dan erat hubungannya dengan tujuan (learning objectives) yang telah diterapkan. Jadi, bila kepada 12 siswa diajarkan fakta dan konsep, tentu tidak hanya berhenti sampai prinsip, tetapi harus diadakan pula penerapan prinsip tersebut. Bahan pelajaran merupakan bahan minimal yang harus dikuasai oleh siswa untuk dapat mencapai kompetensi dasar yang telah dirumuskan. Oleh sebab itu, bahan pelajaran terlebih dahulu harus dapat menarik perhatian siswa untuk membacanya. Seperti yang diungkapkan oleh Arikunto (dalam Djamarah dan Zain 2006:44) bahwa minat siswa akan bangkit bila suatu bahan diajarkan sesuai dengan kebutuhan siswa. Maslow berkeyakinan bahwa minat seseorang akan muncul bila sesuatu itu terkait dengan kebutuhannya. Jadi, bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa akan memotivasi siswa dalam jangka waktu tertentu. Menurut Darkuni (2010:7) bahwa bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Oleh karena itu bahan ajar paling tidak mencakup antara lain: 1. Petunjuk belajar (bagi guru dan siswa); dengan demikian maka dalam pembelajaran akanada acuan yang digunakan untuk mencapai kompetensi dasar, 2. Kompetensi yang akan dicapai, ditentukan dalam kurikulum 3. Isi materi, yang sesuai dan selaras dengan kurikulum dan kompetensi yangakan dasar dicapai 4. Informasi pendukung pembelajaran; misalnya petunjuk, acuan atau wawasan yangrelevan dengan materi pembelajaran yang akan diajarkan 13 5. Latihan-latihan; yang berfungsi untuk melatih pemahaman dan penguasaan konsep-konsep yang harus dikuasai dan sesuai dengan KD 6. Petunjuk Kerja (misalnya LKS); yang akan menentukan pencapaian kompetensi 7. Evaluasi; yang digunakan sebagai acuan untuk menilai pencapaian kompetensi oleh siswa, selain itu digunakan juga untuk menilai pencapaian tujuan pembelajaran 8. Respon atau balikan terhadap evaluasi, agar didapat masukkan atau informasi berbagai kelemahan (juga kelebihan) yang memerlukan perbaikan atau peningkatan. Oleh sebab itu, bahan pelajaran terlebih dahulu harus dapat menarik perhatian siswa untuk membacanya. Selanjutnya fungsi Bahan Ajar antara lain: 1. Pedoman bagi Guru yang akan mengarahkan semua aktivitas dalam proses pembelajaran, merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan 2. Pedoman bagi Siswa yang akan mengarahkan semua aktivitas dalam proses pembelajaran, merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari/dikuasainya. 3. Alat evaluasi pencapaian/penguasaan hasil pembelajaran. Kemudian tujuan penyusunan bahan ajar adalah: 1. Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial siswa. 14 2. Membantu siswa dalam memperoleh alternatif bahan ajar di samping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh. 3. Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Manfaat penyusunan bahan ajar 1. Diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa 2. Tidak lagi tergantung kepada buku teks (sulit untuk diperoleh) 3. Bahan ajar menjadi labih kaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi, 4. Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan ajar 5. Bahan ajar akan mampu membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dengan siswa karena siswa akan merasa lebih percaya kepada gurunya. Prinsip penyusunan bahan ajar 1. Mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret ke abstrak 2. Pengulangan akan memperkuat pemahaman 3. Umpan balik memberikan penguatan 4. Memotivasi belajar siswa 5. Setahap demi setahap 6. Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong siswa untuk terus mencapai tujuan 15 Lebih lanjut Djamarah dan Zain berpendapat bahwa biasanya aktivitas siswa akan berkurang bila bahan pelajaran yang guru berikan tidak atau kurang menarik perhatiannya, disebabkan cara mengajar yang mengabaikan prinsipprinsip mengajar, seperti apersepsi dan korelasi, dan lain-lain. Karena itu, lebih baik menyampaikan bahan sesuai dengan perkembangan bahasa siswa daripada menuruti kehendak pribadi. Ini perlu mendapat perhatian yang serius, agar siswa tidak dirugikan oleh sikap dan tindakan guru yang keliru. Dengan demikian, bahan pelajaran merupakan komponen yang tidak bisa diabaikan dalam pengajaran, sebab bahan adalah inti dalam proses belajar mengajar yang akan disampaikan kepada siswa. Natalegawa (2010: 24) mengungkapkan bahwa berdasarkan teknologi yang digunakan, bahan ajar dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu bahan cetak (printed) seperti antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film. Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material) seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajarn interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials) Sebuah bahan ajar cetak paling tidak mencakup antara lain: Judul, Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru), Kompetensi yang akan dicapai, Informasi pendukung, Latihan-latihan, Petunjuk kerja dapat berupa Lembar Kerja (LK) dan Evaluasi. Tetapi dalam penyusunan bahan ajar terdapat perbedaan dalam 16 strukturnya antara bahan ajar yang satu dengan bahan ajar yang lain. Guna mengetahui perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dilihat pada matriks berikut ini: Tabel 1. Struktur bahan ajar N o. 1. 2. 3. 4. Komponen Ht Bu Ml LKS Bro Lf Wch F/G b  ** ** Mo/ M  ** ** Judul        Petunjuk belajar   KD/MP      ** Informasi     **  pendukung 5. Latihan   6. Tugas/ Langkah   ** ** kerja 7. Penilaian      ** ** ** Ket: Ht: handout, Bu: Buku, Ml: Modul, LKS: Lembar Kegiatan Siswa, Bro: Brosur, Lf: Leaflet, Wch: Wallchart, F/Gb: Foto/Gambar, Mo/M: Model/Maket (Setyono, 2005:27-28) Bahan ajar cetak yang tersusun secara baik maka akan mendatangkan beberapa keuntungan seperti yang dikemukakan oleh Ballstaedt (dalam Setyono, 2005:16) yaitu: 1. Bahan tertulis biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan bagi seorang guru untuk menunjukkan kepada siswa bagian mana yang sedang dipelajari. 2. Biaya untuk pengadaannya relatif sedikit 3. Bahan tertulis cepat digunakan dan dapat dipindah-pindah secara mudah 4. Susunannya menawarkan kemudahan secara luas dan kreativitas bagi individu 5. Bahan tertulis relatif ringan dan dapat dibaca di mana saja 6. Bahan ajar yang baik akan dapat memotivasi pembaca untuk melakukan 17 aktivitas, seperti menandai, mencatat, membuat sketsa 7. Bahan tertulis dapat dinikmati sebagai sebuah dokumen yang bernilai besar 8. Pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri. B. Leaflet “Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tapi tidak dimatikan/dijahit. Agar terlihat menarik biasanya leaflet didesain secara cermat dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan bahasa yang sederhana, singkat serta mudah dipahami. Leaflet sebagai bahan ajar juga harus memuat materi yang dapat menggiring peserta didik untuk menguasai satu atau lebih KD” (Anonim, 2011:1). Leaflet sebagai bahan ajar harus disusun secara sistematis, bahasa yang mudah dimengerti dan menarik. Semua itu bertujuan untuk menarik minat baca dan meningkakan motivasi belajar siswa. Sehingga Dalam penyusunannya leaflet sebagai bahan ajar perlu mempertimbangkan hal-hal antara lain sebagai berikut: 1. Substansi materi memiliki relevansi dengan kompetensi dasar atau materi pokok yang harus dikuasai oleh siswa. 2. Materi memberikan informasi secara jelas dan lengkap tentang hal-hal yang penting sebagai informasi. 3. Padat pengetahuan. 4. Kebenaran materi dapat dipertanggungjawabkan 5. Kalimat yang disajikan singkat, jelas. 6. Menarik siswa untuk membacanya baik penampilan maupun isi materinya. 7. Dapat diambil dari berbagai museum, obyek wisata, instansi pemerintah, 18 swasta, atau hasil download dari internet. Dalam menyusun sebuah Leaflet sebagai bahan ajar, leaflet paling tidak memuat antara lain:  Judul diturunkan dari kompetensi dasar atau materi pokok sesuai dengan besar kecilnya materi.  Kompetensi dasar/materi pokok yang akan dicapai, diturunkan dari Kurikulum 2004.  Informasi pendukung dijelaskan secara jelas, padat, menarik, memperhatikan penyajian kalimat yang disesuaikan dengan usia dan pengalaman pembacanya. Untuk siswa SMA upayakan untuk membuat kalimat yang tidak terlalu panjang, maksimal 25 kata perkalimat dan dalam satu paragraf 3 – 7 kalimat.  Tugas-tugas dapat berupa tugas membaca buku tertentu yang terkait dengan materi belajar dan membuat resumenya. Tugas dapat diberikan secara individu atau kelompok dan ditulis dalam kertas lain.  Penilaian dapat dilakukan terhadap hasil karya dari tugas yang diberikan.  Gunakan berbagai sumber belajar yang dapat memperkaya materi misalnya buku, majalah, internet, jurnal hasil penelitian (Setyono, 2005:38-39). C. Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif (Cooperative lerning) merupakan pendekatan pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama 19 dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar (Holubec dalam Nurhadi, 2004:60). Kerja sama dari masing-masing anggota kelompok ini nantinya akan menimbulkan manfaat timbal balik yang sedemikian rupa sehingga semua anggota kelompok memperoleh prestasi, kegagalan maupun keberhasilan yang ditanggung bersama. Anita Lie (dalam Isjoni, 2007: 16) menyebut cooperative learning dengan istilah pembelajaran gotong-royong, yaitu sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan siswa lain dalam tugastugas yang terstruktur. Lebih jauh dikatakan, cooperative learning hanya berjalan kalau sudah terbentuk suatu kelompok atau suatu tim yang di dalamnya siswa bekerja secara terarah untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan jumlah anggota kelompok pada umumnya terdiri dari 4-6 orang. Sedangkan menurut Djajadisastra (dalam Isjoni, 2007: 19) mengemukakan bahwa metode belajar kelompok atau lazim disebut metode gotong-royong, merupakan suatu metode mengajar dimana murid-murid disusun dalam kelompok-kelompok pada waktu menerima pelajaran atau mengerjakan soal-soal dan tugas-tugas. Dalam proses pembelajaran, dikatakan menggunakan pembelajaran kooperatif apabila memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan Isjoni (2007: 20) yaitu: Setiap anggota memiliki peran, terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa, setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya, guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, guru hanya berinteraksi 20 dengan kelompok saat diperlukan. Sedangkan Nurulhayati (dalam Rusman, 2010: 205) mengemukakan ada lima unsur dasar yang membedakan pembelajaran kooperatif dengan kerja kelompok, yaitu: ketergantungan yang positif, pertanggungjawaban individual, kemampuan bersosialisasi, tatap muka, dan evaluasi proses kelompok. Ibrahim dalam Isjoni (2007: 27) juga mengungkapkan pada dasarnya model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu: a. Hasil belajar akademik Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik. b. Penerimaan terhadap perbedaan individu Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari bebagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja 21 dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain. c. Pengembangan keterampilan sosial Tujuan penting ketiga pembelajaran koperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilanketerampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial. Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang memiliki latar belakang dan kondisi yang berbeda untuk saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama sehingga mereka belajar untuk mengahargai rekan-rekan kelompoknya. Ahmadi (2005 : 63) menuliskankan bahwa : “Keunggulan kooperatif adalah: (1) Melatih keterampilan intelektual, (2) Siswa terlibat secara langsung, (3) Saling tukar menukar informasi, (4) Melatih komunikasi dan keterampilan kerjasama. Kelemahan metode kooperatif (1) Latar belakang pengetahuan kematangan harus sama, (2) Menyita waktu lama, (3) Tergantung dengan kesiapan guru dalam menyiapkan diskusi, (4) Menuntut kesanggupan guru untuk mengontrol secara teliti keterlibatan siswa.” Ibrahim (dalam Trianto 2007 : 49) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dilakukan melalui enam langkah/fase, seperti yang terlihat dalam tabel 2. Tabel 2. Enam fase model pembelajaran kooperatif Langkah/Fase Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Fase 2 Menyajikan informasi Kegiatan Guru Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar Guru menyajikan informasi kepada siswa lewat bahan bacaan 22 Fase 3 Mengorganisasikan siswa dalam kelompokkelompok kooperatif Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok belajar agar melakukan transisi secara efisien Fase 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka Fase 5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari / masingmasing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok Fase 6 Memberikan penghargaan D. Think-Pair-Share (TPS) Pembelajaran kooperatif memiliki berbagai tipe, salah satunya adalah tipe Think-Pair-Share (TPS) atau berfikir, berpasangan, dan berbagi yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. TPS adalah suatu struktur yang dikembangkan pertama kali oleh Lyman di Universitas Meryland pada tahun 1981 dan diadopsi oleh banyak penulis sebagai bagian dari pembelajaran kooperatif. Sesuai dengan yang dikutip oleh Arends (1997), menyatakan bahwa TPS merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam TPS dapat memberi siswa lebih banyak waktu berfikir, untuk merespon dan saling membantu (Trianto, 2009:82). 23 Ada empat prinsip kerja dari TPS yang sesuai dengan pembelajaran kooperatif. Empat prinsip kerja itu adalah sebagai berikut : 1. Saling ketergantungan positif diantara siswa sehingga siswa mampu belajar dari siswa lain. 2. Tanggung jawab individual Setiap siswa bertanggung jawab pada gagasan karena akan dipaparkan pada pasangannya dan pada seluruh kelas. 3. Partisipasi yang seimbang Setiap siswa akan mempunyai kesempatan yang sama untuk berbagi (mengemukakan pendapat) dengan pasangan dan pada seluruh kelas. 4. Interaksi bersama Semua siswa akan aktif dalam mengemukakan pendapat dan mendengarkan sehingga menciptakan interaksi tingkat tinggi. Hal ini akan menciptakan pembelajaran yang aktif jika dibandingkan dengan cara Tanya jawab yang sudah biasa dilakukan oleh guru, dimana hanya satu atau dua siwa saja yang aktif (Anonim b, 2010:1). Prosedur pembelajaran yang digunakan dalam TPS ini dapat memberikan lebih banyak waktu kepada siswa untuk berfikir, untuk merespon dan saling membantu satu sama lain. TPS memiliki keunggulan dibanding dengan metode tanya jawab, karena TPS mengedepankan aspek berfikir secara mandiri, tanggung jawab terhadap kelompok, kerjasama dengan kelompok kecil, dan dapat menghidupkan suasana kelas (Nurhadi dan Senduk, 2004:67). 24 Tahapan-tahapan dalam TPS dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Thinking (berfikir) Guru mengajukan pertanyaan/permasalahan yang berkaitan dengan materi yang baru dipelajari, kemudian memberi kesempatan kepada seluruh siswa untuk memikirkan jawabannya secara mandiri dalam 1 menit; 2. Pairing (berpasangan) Jawaban yang telah difikirkan secara mandiri, kemudian disampaikan kepada pasangannya masing-masing (teman sebangkunya). Pada tahap ini, siswa dapat menuangkan idenya, menambahkan gagasan, dan berbagi jawaban dengan pasangan. Tahap ini berlangsung dalam 4 menit; 3. Sharing (berbagi) Guru membimbing kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi secara bergantian. Sampai sekitar seperempat kelompok menyampaikan pendapat. Pada tahap ini seluruh kelompok dapat mendengarkan pendapat yang akan disampaikan oleh perwakilan tiap kelompok. Kelompok yang menyampaikan pendapatnya harus bertanggung jawab atas jawaban dan pendapat yang disampaikan. Pada akhir diskusi guru memberi tambahan materi yang belum terungkapkan oleh kelompok diskusi (Nurhadi dan Senduk, 2004:67). TPS dapat mengoptimalisasikan partisipasi siswa. Siswa diberi kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerjasama dengan orang lain. Waktu berfikir akan memungkinkan siswa untuk mengembangkan jawaban. Siswa akan dapat memberikan jawaban yang lebih panjang dan lebih berkaitan. Jawaban yang dikemukakan juga telah difikirkan dan didiskusikan. Siswa akan lebih 25 berani mengambil resiko dan mengemukakan jawabannya di depan kelas dan karena mereka telah “mencoba” dengan pasangannya. Proses pelaksanaan TPS akan membatasi munculnya aktivitas siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran karena siswa harus mengemukakan pendapatnya, minimal pada pasangannya (Lyman, 2002:3). Menurut Trianto (2007:61), pembatasan waktu merupakan salah satu hal yang dapat memotivasi siswa untuk dapat menyelesaikan tugas belajarnya. Pembelajaran kooperatif tipe TPS juga dapat mengatur dan mengendalikan kelas secara keseluruhan, serta memungkinkan siswa untuk mempunyai lebih banyak waktu berfikir, untuk merespon dan saling membantu. Selain itu dengan pembelajaran kooperatif tipe TPS, siswa dapat mempertimbangkan apa yang telah dijelaskan dan dialaminya selama pembelajaran. TPS pada akhirnya akan mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir secara terstruktur dalam diskusi dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk bekerja sendiri maupun bekerjasama dengan rekannya melalui keterampilan berkomunikasi. E. Aktifitas Belajar Aktivitas belajar adalah serangkaian belajar yang dilakukan oleh siswa yang memiliki potensi dalam diri siswa itu sendiri. Menurut sardiman (2003:98), aktivitas adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia karena manusia memiliki jiwa sebagai sesuatu yang dinamis memiliki potensi dan energi sendiri. Sedangkan Winkel (1983:48) mengemukakan bahwa “aktivitas 26 belajar adalah segala kegiatan belajar siswa yang menghasilkan suatu perubahan khas yaitu hasil belajar yang akan nampak pada prestasi belajar yang akan dicapai”. Aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang di dahului dengan perencanaan dan didasari untuk mencapai tujuan belajar, yaitu perubahan pengetahuan dan keterampilan yang ada pada diri siswa yang melakukan kegiatan belajar. Berikut ini adalah daftar macam-macam kegiatan siswa menurut Diendrich (Sardiman, 2003:101) dan Whipple (Hamalik, 2002:173) sebagai berikut: 1. Visual activities yang termasuk didalamnya misal, membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain. 2. Oral Activities seperti, mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi. 3. Listening Activities meliputi, mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio. 4. Writing Activities meliputi, menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuaman, mengerjakan tes dan mengisi angket. 27 5. Mental Activities misalnya, merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis factor-faktor, melihat hubungan-hubungan, dan membuat keputusan. 6. Emosional Activities seperti, menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup. F. Hasil Belajar Hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, berdasarkan kriteria tertentu dalam pengukuran pencapaian tujuan pembelajaran itu sendiri. Dimyati dan Mujiono ( 2002: 3) berpendapat bahwa: “Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru tindakan mengajar diakhiri dengan proses evaluasi belajar, sedangkan dari sisi siswa hasil belajar merupakan puncak proses belajar”. Hasil belajar merupakan suatu puncak proses pembelajaran. Suatu proses belajar mengajar dinyatakan berhasil jika memenuhi tujuan dari proses belajar mengajar tersebut. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan Djamarah dan Zain (2006: 105) sebagai berikut: 1. “Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi , baik secara individual maupun kelompok. 2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran yang telah dicapai, baik secara individual maupun kelompok.” Dengan berakhirnya suatu proses pembelajaran, maka siswa memperoleh hasil belajar. Hasil belajar siswa merupakan suatu hal yang berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menyerap atau memahami suatu materi yang 28 disampaikan. Dengan kata lain, hasil belajar merupakan bukti adanya proses belajar- mengajar antara guru dan siswa. Hasil belajar dapat diketahui dengan adanya evaluasi hasil belajar. Seperti yang diungkapkan oleh Devies (dalam Dimyati dan Mudjiono,2009:1) evaluasi hasil belajar adalah sebagai kegiatan yang berupaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. Evaluasi hasil belajar memiliki sasaran berupa ranah-ranah yang terkandung dalam tujuan. Ranah tujuan pendidikan berdasarkan hasil belajar siswa secara umum dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yakni: ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Aspek kognitif terdiri dari enam jenis perilaku yaitu sebagai berikut: 1. Remember, mencakup ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. 2. Understand, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna hal yang dipelajari. 3. Apply, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. 4. Analyze, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagianbagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. 5. Evaluate, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. 29 6. Create, mencakup kemampuan menbentuk suatu pola baru. Yang dirangkum dalam Taksonomi Bloom (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2002: 23-28) 30 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan di SMA N 1 Bukit Kemuning pada semester ganjil tahun pelajaran 2012/2013, waktu penelitian pada bulan November 2012. B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI pada semester ganjil di SMA N 1 Bukit Kemuning tahun pelajaran 2012/2013. 2. Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah kelas XI IPA1 yang dipilih berdasarkan asumsi bahwa kelas tersebut memiliki hasil belajar terendah untuk materi pokok Sistem Gerak Manusia pada tahun sebelumnya dibandingkan 4 kelas IPA yang tersedia. C. Faktor yang Diteliti Faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah aktivitas belajar siswa yang meliputi observasi terhadap kegiatan siswa saat proses pembelajaran dan hasil 31 belajar siswa yang meliputi nilai rata-rata tes awal dan tes akhir. Cara mengukurnya adalah dengan soal tes awal yang diberikan pada awal pertemuan pertama dan tes akhir yang diberikan pada akhir pertemuan ketiga dengan batasan satu kompetensi dasar. D. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Experimental. Desain penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini adalah one group pretest posttest design. Hasil dari nilai pretest dan nilai postest yang diberikan kemudian akan dibandingkan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penggunaan bahan ajar leaflet. Sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa. T1 X T2 Keterangan : T1 = Tes awal; T2 = Tes akhir; X = Penggunaan bahan ajar leaflet (modifikasi dari Suryabrata, 2004: 102) Gambar 2. Desain one group pretest posttest. E. Pelaksanaan Penelitian 1. Tahap Perencanaan a. Menetapkan waktu penelitian b. Menetapkan rancangan pembelajaran yang akan diterapkan c. Menentukan kelas yang akan dijadikan sampel penelitian d. Menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). 32 e. Membuat bahan ajar leaflet sebagai sumber belajar siswa yang akan di uji ahli. f. Membuat LKS yang akan dikerjakan oleh siswa g. Membuat lembar observasi untuk mengukur aktivitas siswa h. Membuat soal tes awal dan tes akhir yang akan di uji ahli. i. 2. Membuat angket kemenarikan bahan ajar leaflet. Tahap Pelaksanaan Penelitian ini direncanakan sebanyak tiga kali pertemuan dengan langkahlangkah pembelajaran sebagai berikut: a. Pendahuluan 1) Guru memberikan tes awal pada pertemuan pertama 2) Guru membacakan indikator dan tujuan pembelajaran 3) Guru memberikan apersepsi kepada siswa. Pertemuan I: “Bergerak merupakan salah satu ciri makhluk hidup. Pada manusia, kemampuan bergerak disebabkan oleh adanya suatu kerja sama antara rangka dan otot yang membentuk suatu sistem yang disebut sistem gerak. Apa saja yang kalian ketahui tentang tulang dan rangka manusia? Bagaimana struktur tulang dan rangka manusia?” Pertemuan II: Guru bertanya kepada siswa “kemampuan bergerak disebabkan oleh adanya suatu kerjasama antara rangka dan otot. Rangka tidak dapat bergerak sendiri apabila tidak digerakkan oleh otot. Mengapa demikian? “ 33 Pertemuan III: Guru bertanya kepada siswa “Banyak sekali gangguan yang dapat terjadi pada sistem gerak kita. Gangguan apa saja yang dapat terjadi pada sistem rangka kita? Apa saja faktor yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan tersebut?” 4) Guru memberikan motivasi kepada siswa. Pertemuan I: “Hari ini kita akan mempelajari struktur dan fungsi tulang serta keterkaitannya dalam sistem gerak manusia. Dengan mempelajari ini kalian dapat mengetahui keterkaitan struktur dan fungsi tulang dalam sistem gerak manusia.” Pertemuan II: “Hari ini kita akan mempelajari struktur dan fungsi tulang serta keterkaitannya dalam system gerak manusia, selain itu juga kalian akan mempelajari mekanisme kontraksi otot. Dengan mempelajari ini kalian dapat mengetahui keterkaitan sruktur dan fungsi otot dalam system gerak manusia serta mekanisme kontraksi otot.” Pertemuan III: “Pada pertemuan terakhir ini kita akan mempelajari tentang kelainan/penyakit yang dapat terjadi dalam system gerak manusia. Dengan mempelajarinya kalian dapat mengetahui gangguan apa saja yang dapat terjadi pada system gerak kita serta cara mencegah dan mengobatinya.” b. Kegiatan Inti 1) Guru memberi leaflet yang berisi materi yang akan dipelajari dan meminta siswa untuk membacanya. 34 2) Guru menjelaskan materi pelajaran secara garis besar dengan menggunakan bahan ajar leaflet tersebut. 3) Guru membagi LKS (berisi permasalahan tentang sistem gerak) kepada masing-masing siswa. 4) Siswa diminta untuk mengisi LKS secara mandiri. 6) Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutaran hasil pemikiran masing-masing. 7) Guru memimpin pleno kecil diskusi, kelompok perwakilan mengemukakan hasil diskusinya. 8) Guru memberi penguatan terhadap jawaban hasil diskusi siswa dan meluruskan miskonsepsi yang mungkin masih dimiliki siswa dan menambah materi yang belum diungkapkan. c. Penutup 1) Guru meminta salah satu siswa untuk membuat kesimpulan dari materi yang telah dibahas. 2) Guru memberikan tes akhir pada pertemuan ketiga yang sama dengan tes awal kepada seluruh siswa. F. Data Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data 1. Data Penelitian Data penelitian ini berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif sebagai data utama penelitian yaitu hasil belajar siswa yang diambil dari nilai rata-rata tes awal dan tes akhir sedangkan data kualitatif 35 sebagai data penunjang adalah kemenarikan bahan ajar dan aktivitas belajar siswa. 2. Teknik Pengumpulan Data Data diambil dengan menggunakan instrumen penelitian yang terdiri atas tes awal dan tes akhir, angket dan lembar observasi yang disusun oleh peneliti. Data utama penelitian ini adalah: a. Tes awal dan tes akhir Tes awal diberikan kepada siswa pada awal pertemuan. Sedangkan tes akhir diberikan kepada siswa diakhir pertemuan dengan soal yang sama dengan soal tes sebelumnya. Kemudian dihitung selisih antara nilai tes awal dengan tes akhir. Selisih tersebut disebut sebagai N gain. Sedangkan data penunjang diambil dengan menggunakan: b. Angket Angket (questionnaire) yang diberikan kepada subyek penelitian berupa daftar pertanyaan atau pernyataan tentang topik tertentu dalam hal ini tentang kemenarikan bahan ajar leaflet. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tertentu seperti preferensi, keyakinan, minat dan perilaku siswa. c. Lembar observasi Observasi dilakukan melalui lembar Observasi Aktivitas Siswa. Lembar observasi aktivitas siswa berisi semua aspek kegiatan yang diamati pada saat proses pembelajaran. Setiap siswa diamati point kegiatan yang dilakukan dengan cara memberi tanda check list ( √ ) pada lembar observasi sesuai dengan aspek yang telah ditentukan. 36 G. Teknik Analisis Data Terhadap data hasil belajar siswa yang didapat dalam penelitian ini akan dilakukan uji normalitas, dan pengujian hipotesis. Data aspek kognitif yang di analisis adalah rata-rata nilai skor gain. Untuk mendapatkan N gain pada setiap pertemuan menggunakan formula Rulon (dimodifikasi dari Sudijono, 1996: 215) sebagai berikut: N Gain  X Y X 100 Z Y Keterangan: X = nilai tes akhir Y = nilai tes awal Z = skor maksimum Kemudian data tersebut di uji normalitas data dan uji hipotesis sebagai berikut: 1. Uji Normalitas Data Uji normalitas data dihitung dengan uji Lilliefors menggunakan software SPSS versi 17.0. a. Hipotesis Ho : Data berasal dari sampel berdistribusi normal H1 : Data berasal dari sampel berdistribusi tidak normal b. Kriteria pengujian 1. Terima H0 jika Lhitung < Ltabel atau probabilitasnya > 0,05 2. Tolak H0 jika Lhitung > Ltabel atau probabilitasnya < 0,05 (Anonim, 2009: 37 - 39). 2. Pengujian Hipotesis Untuk menguji hipotesis digunakan uji t. H0 = rata-rata nilai kedua sampel sama. H1 = rata-rata nilai kedua sampel tidak sama. 37 Dengan kriteria uji yaitu: Jika –t tabel < t hitung < t tabel, maka Ho diterima, jika t hitung < -t tabel atau t hitung > t tabel, maka Ho ditolak. (Subana, Rahadi dan Sudrajat, 2000:132). H. Pengolahan Data Kemenarikan bahan ajar leaflet Penyebaran angket dilakukan untuk mengetahui kemenarikan bahan ajar leaflet. Angket ini berisikan 8 pernyataan, 5 pernyataan positif, dan 3 pernyataan negatif. Skor 1 (satu) untuk menyatakan setuju bagi pernyataan positif dan tidak setuju bagi pernyataan negatif. Skor 0 (nol) untuk menyatakan tidak setuju bagi pernyataan positif dan setuju bagi pernyataan negatif. Selain itu terdapat 1 pertanyaan terbuka untuk mengetahui hal-hal lain yang ingin disampaikan oleh siswa tentang leaflet. Jumlah skor setiap angket dihitung untuk mengetahui tanggapan masingmasing siswa tentang kemenarikan bahan ajar leaflet. Menghitung skor yang diperoleh dalam bentuk persentase. Teknik ini sering disebut dengan teknik deskriptif kualitatif dengan persentase. Adapun rumus untuk analisis deskriptif persentase menurut Ali (1992: 46) adalah : Presentase kemenarikan leaflet (%) = n × 100% N Keterangan: n = Nilai yang diperoleh sampel N = Nilai yang semestinya diperoleh sampel % = Persentase kemenarikan leaflet 38 Tabel 3 . Kriteria Tingkat Kemenarikan Bahan Ajar Leaflet No Rentang skor Interval Kriteria 1 16 - 23 76< % ≤ 100% Tinggi 2 8 - 15 51< % ≤ 75% Sedang 3 0-7 25< % ≤ 50% Rendah Sumber: dimodifikasi dari Ali, 1992:46 I. Pengolahan Data Aktivitas Siswa Data aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung merupakan data yang diambil melalui observasi. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan indeks aktivitas siswa. Rata–rata skor aktivitas dihitung menggunakan rumus: x x n i x100 Keterangan: x = Rata-rata skor aktivitas siswa ∑xi = Jumlah skor yang diperoleh n = Jumlah skor maksimum Tabel 4. Lembar Observasi Aktivitas Siswa No Nama Aspek yang diamati A B C D 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 4 5 Jumlah Xi 39 Keterangan : A. Kemampuan mengemukakan pendapat/ ide 1. Tidak mengemukakan pendapat /ide (diam saja) 2. Mengemukakan pendapat/ ide namun tidak sesuai dengan pembahasan pada materi pokok ekosistem 3. Mengemukakan pendapat/ide sesuai dengan pembahasan pada materi pokok ekosistem B. Bekerjasama dengan teman dalam menyelesaikan tugas kelompok : 1. Tidak bekerjasama dengan teman (diam saja) 2. Bekerjasama dengan anggota kelompok tetapi tidak sesuai dengan permasalahan pada LKS materi pokok ekosistem 3. Bekerjasama dengan semua anggota kelompok sesuai dengan permasalahan pada LKS materi pokok ekosistem C. Bertukar informasi 1. Tidak berkomunikasi secara lisan dalam bertukar pendapat dengan anggota kelompok (diam saja) 2. Berkomunikasi secara lisan dengan anggota kelompok tetapi tidak sesuai dengan permasalahan ekosistem dalam LKS 3. Berkomunikasi secara lisan dalam bertukar pendapat untuk memecahkan permasalahan pada LKS sesuai dengan leaflet materi pokok ekosistem D. Mempresentasikan hasil diskusi kelompok (diambil sampel 6 atau 7 kelompok setiap kali pertemuan) 1. Kelompok kurang dapat mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara sistematis, dan tidak dapat menjawab pertanyaan. 2. Kelompok kurang dapat mempresentasikan hasil diskusi kelompok dengan secara sistematis,dan menjawab pertanyaan dengan benar. 3. Kelompok dapat mempresentasikan hasil diskusi secara sistematis, dan menjawab pertanyaan dengan benar (dimodifikasi dari Permatasuri, 2010:39). Setelah diperoleh rata-rata skor aktivitas siswa, kemudian diterjemahkan dalam kategori yang dapat dilihat pada tabel indeks aktivitas siswa sesuai klasifikasi pada tabel 5. 40 Tabel 5. Klasifikasi Indeks Aktivitas Siswa Interval Kategori 0,00 – 29,99 Sangat Rendah 30,00 – 54,99 Rendah 55,00 – 74,99 Sedang 75,00 – 89,99 Tinggi 90,00 – 100,00 Sangat Tinggi Sumber: dimodifikasi dari Hake (dalam Widyaningrum, 2010:40) 54 V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Pembelajaran menggunakan bahan ajar leaflet dengan model pembelajaran TPS berpengaruh terhadap aktivitas belajar siswa kelas XI IPA1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning materi pokok Sistem Gerak yaitu mengalami peningkatan sebanyak 5,88% pada pertemuan ketiga. 2. Pembelajaran menggunakan bahan ajar leaflet dengan model pembelajaran TPS berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPA1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning materi pokok Sistem Gerak yaitu sebesar 18,44. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan, penulis menyampaikan saran sebagai berikut : 1. Bahan ajar leaflet hendaknya dapat dijadikan salah satu bacaan alternatif dalam pembelajaran biologi untuk memotivasi agar siswa aktif dalam pembelajaran pada materi pokok sistem gerak. 55 2. Bagi penelitian selanjutnya yang akan menggunakan bahan ajar baik leaflet hendaknya lebih ditingkatkan lagi kreativitas dalam mendesain bahan ajar yang menarik. 3. Model TPS dapat dijadikan salah satu model pembelajaran alternatif terhadap aktivitas belajar dan hasil belajar siswa. 56 DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, A. dan J.T. Prasetya. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Pustaka Setia. Bandung. Aini, Q. 2010. Pengaruh Penggunaan Bahan Ajar Leaflet terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Pokok Ekosistem. (skripsi). Universitas Lampung. Bandar Lampung. Ali, M. 1992. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Angkasa. Bandung. Anonim. 2009. Solusi Mudah dan Cepat Menguasai SPSS 17.0 Untuk Pengolahan Data Satistik. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta. Anonim a). 2010. Pembelajaran Sains di Sekolah. Dalam http://cobaberbagi.wordpress.com/2010/01/11/pembelajaran-sainsdisekolah/. 17 Maret 2012 (17:35 WIB) Anonim b). 2010. Media Pembelajaran dalam Pendidikan. Dalam http://biologi.blogdetik.com/2010/05/08/media-pembelajaran-dalam pendidikan/. 15 Maret 2012 (09:04 WIB) Anonim. 2011. Pengembangan Bahan Ajar dan Pengumpulan. Dalam http://yunitahatibiemaghi01.blogspot.com/2011/01/pengembangan-bahanajar-dan-pengumpilan.html?m=1. 15 Maret 2012 (09.53 WIB) Darkuni. M. N. 2010. Pengembangan Bahan Ajar Bidang Studi Biologi. UMN. Malang. http://www.scribd.com/doc/69250690/13/f-Penyusunan-Leaflet , 1 November 2011 (12:59 WIB). Dimyati dan Mujiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta. Djamarah, S.B dan A. Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta. Hamalik, O. 2002. Kurikulum dan Pembelajaran. Bumi Aksara: Jakarta. Isjoni. 2007. Cooperative learning. Bandung: Alfabeta. 57 Lyman, F. 2002. Strategies For Reading Comprehension Think-Pair-Share. Cooperative Learning Community. Jones, Raymon C. Reading Quest. Org. http://curry.Edschool.virginia.edu/go/readquest/strat/tps/html 17 Mei 2009 (19:26 WIB). Mudyaharjo. 2006. Filsafat Ilmu Pendidikan. Remaja Rosda karya. Bandung. Muliani. 2009. Masalah Pendidikan di Indonesia. Bangka Belitung. http//:www.ubb.ac.id. 16 Februari 2011 (08.05 WIB) Natalegawa. 2010. Bahan Ajar. Bandung. http://st290171.sitekno.com/?pg=articles&article=5451 1 November 2011 (12:53 WIB) Nurhadi. B.Y. dan A.G. Senduk. 2004. Kurikulum 2004 (Pertanyaan dan Jawaban). Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta. Permatasuri, R. 2010. Pengaruh Animasi Multimedia melalui Model Pembelajaran Student Teams Achievement Division terhadap Keterampilan Proses Sains siswa pada Materi Pokok Sistem Pernapasan. Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan P. MIPA Program Studi S1 Pendidikan Biologi Universitas Lampung. Bandar Lampung. Pramudiyanti. 2008. Hasil Belajar Mahasiswa Botani Tumbuhan Tinggi Dengan Model pembelajaran Kooperatif Think Pair Share. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan. FKIP Universitas lampung. 26 Januari 2008. Bandar Lampung. Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Rajawali Pers. Jakarta. Sardiman. 2003. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Setyono, B. 2005. Penyusunan bahan ajar pdf. Jakarta. http//:www.smasewon.com. 10 Desember 2010 (13.30 wib). Subana, M., dkk. 2000. Statistik Pendidikan. Pustaka Setia. Bandung Sudijono, A. 1996. Evaluasi Pendidikan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Suryabrata, S. 2004. Metodologi Penelitian. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Syah, M. 2003. Psikologi Belajar. Raja Grafindo. Jakarta. 58 Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Kencana. Jakarta. Widiyaningrum, N. 2010. Pengaruh Media Lingkungan Sekitar Sekolah Melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap Kecakapan Berpikir Rasional Siswa(Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas VII A SMP N 16 Bandar Lampug Tahun Pelajaran 2009/2010). Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan MIPA Program Studi Pendidikan Biologi Unila. Lampung. Wina, S. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana. Jakarta. Winkel, W.S. 1983. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Grasindo. Jakarta Yulfisa, A. D. 2007. “Upaya Meningkatkan aktivitas dan penguasaan konsep kimia melalui pembelajaran kooperatif teknik think pair share (TPS)”. (Skripsi). Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET DENGAN MODEL PE..

Gratis

Feedback